<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ILoveAllaah.com Indonesian Version</title>
	<atom:link href="http://indonesian.iloveallaah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesian.iloveallaah.com</link>
	<description>Sumber Data Otentik Keseluruhan Material Islami dalam Bahasa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Aug 2013 13:10:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=4.2.2</generator>
	<item>
		<title>Setiap Ucapan akan Masuk Catatan Amal</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/catatan-amal/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/catatan-amal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Aug 2013 13:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[catatan amal]]></category>
		<category><![CDATA[jaga lisan]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1240</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/catatan-amal/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/08/cosmos_i_by_fionafoto-d6gs2mq.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1241" alt="cosmos_i_by_fionafoto-d6gs2mq" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/08/cosmos_i_by_fionafoto-d6gs2mq.jpg" width="486" height="324" /></a>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Sebuah ayat yang menarik sekali untuk dikaji yang berisi pelajaran agar kita pintar-pintar menjaga lisan. Ayat tersebut terdapat dalam surat Qaaf tepatnya ayat 18.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<blockquote><p>مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ</p>
<p>“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)</p></blockquote>
<p>Ucapan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah yang diucapkan oleh manusia, keturunan Adam. Ucapan tersebut dicatat oleh malaikat yang sifatnya roqib dan ‘atid yaitu senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba. Malaikat tersebut tidak akan membiarkan satu kalimat dan satu gerakan melainkan ia akan mencatatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,</p>
<blockquote><p>وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)</p>
<p>“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)</p></blockquote>
<p>Apakah semua perkataan akan dicatat? Apakah hanya yang bernilai pahala dan dosa saja yang dicatat? Ataukah perkataan yang bernilai netral pun dicatat?</p>
<p>Tentang masalah ini para ulama ada dua pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah yang bernilai pahala dan dosa. Namun jika kita melihat dari tekstual ayat, yang dimaksud ucapan dalam ayat tersebut adalah ucapan apa saja, sampai-sampai ucapan yang mubah sekalipun. Akan tetapi, untuk masalah manakah yang kena hukuman, tentu saja amalan yang dinilai berpahala dan dinilai dosa.</p>
<p>Sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ucapan yang bernilai netral (tidak bernilai pahala atau dosa) akan masuk dalam lembaran catatan amalan, sampai-sampai punya sikap yang cukup hati-hati dengan lisannya. Cobalah kita saksikan bagaimana kisah dari Imam Ahmad ketika beliau merintih sakit.</p>
<p>Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih kala itu. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, dan beliau tidak merintih lagi. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.</p>
<p>Coba bayangkan bahwa perbuatan yang asalnya wajar-wajar saja ketika sakit, Imam Ahmad pun tidak ingin melakukannya karena beliau takut perbuatannya tadi walaupun dirasa ringan masuk dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, beliau rahimahullah pun menahan lisannya. Barangkali saja rintihan tersebut dicatat dan malah dinilai sebagai dosa nantinya. Barangkali rintihan tersebut ada karena bentuk tidak sabar.</p>
<h4><span style="color: #800080;">Mampukah kita selalu memperhatikan lisan?</span></h4>
<p>Sungguh nasehat yang amat bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya kita bisa resapi dalam-dalam dan selalu mengingatnya.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ</p>
<p>“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)</p></blockquote>
<p>Intinya, penting sekali memperhatikan lisan sebelum berucap. An Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam kitabnya Riyadhush Sholihin nasehat yang amat bagus, “Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang telah dibebani berbagai kewajiban untuk menahan lisannya dalam setiap ucapan kecuali ucapan yang jelas maslahatnya. Jika suatu ucapan sama saja antara maslahat dan bahayanya, maka menahan lisan untuk tidak berbicara ketika itu serasa lebih baik. Karena boleh saja perkataan yang asalnya mubah beralih menjadi haram atau makruh. Inilah yang seringkali terjadi dalam keseharian. Jalan selamat adalah kita menahan lisan dalam kondisi itu.”</p>
<p>Jika lisan ini benar-benar dijaga, maka anggota tubuh lainnya pun akan baik. Karena lisan adalah interpretasi dari apa yang ada dalam hati dan hati adalah tanda baik seluruh amalan lainnya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا</p>
<p>“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan akan patuh pada lisan. Lalu anggota badan tersebut berkata pada lisan: Takutlah pada Allah bersama kami, kami bergantung padamu. Bila engkau lurus kami pun akan lurus dan bila engkau bengkok (menyimpang) kami pun akan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 2407. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini pertanda bahwa jika lisan itu baik, maka anggota tubuh lainnya pun akan ikut baik.</p></blockquote>
<p>Semoga yang singkat ini dari kajian tafsir surat Qaaf bermanfaat. Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menjaga lisan kami ini agar tidak terjerumus dalam kesalahan.</p>
<p>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</p>
<h6><span style="color: #333399;">Referensi:</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H.</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, kaset no. 11</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid dan Dar Ibni Rajab, 4/278.</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;"> </span><span style="color: #333399;">—</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span><br />
<span style="color: #333399;">Artikel Muslim.Or.Id</span></h6>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/setiap-ucapan-akan-masuk-catatan-amal/' rel='bookmark' title='Setiap Ucapan akan Masuk Catatan Amal'>Setiap Ucapan akan Masuk Catatan Amal</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/setiap-ucapan-akan-masuk-catatan-amal-2/' rel='bookmark' title='Setiap Ucapan akan Masuk Catatan Amal'>Setiap Ucapan akan Masuk Catatan Amal</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/dialog-dengan-jin-yang-masuk-ke-tubuh-manusia/' rel='bookmark' title='Dialog Dengan Jin Yang Masuk ke Tubuh Manusia'>Dialog Dengan Jin Yang Masuk ke Tubuh Manusia</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-berdzikir-ketika-masuk-pasar/' rel='bookmark' title='Keutamaan Berdzikir Ketika Masuk Pasar'>Keutamaan Berdzikir Ketika Masuk Pasar</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/pentingnya-niat-ikhlas/' rel='bookmark' title='Pentingnya Niat Ikhlas dalam setiap amalan dan menjauhi Riya'>Pentingnya Niat Ikhlas dalam setiap amalan dan menjauhi Riya</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/jagalah-allah-dia-akan-menjagamu/' rel='bookmark' title='Jagalah Allah, Dia Akan Menjagamu'>Jagalah Allah, Dia Akan Menjagamu</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/catatan-amal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Momen Lebaran, Kesempatan Mempraktekan Akhlak Karimah</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/lebaran-akhlak-karimah/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/lebaran-akhlak-karimah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2013 12:36:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[eid]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1237</guid>
		<description><![CDATA[Saling mengunjungi antar-kerabat, antar-tetangga dan teman baik menjadi aktifitas yang rutin dilakukan ketika lebaran. Aktifitas ini dibolehkan dalam syari’at bahkan merupakan perbuatan yang memiliki landasan dalil.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/lebaran-akhlak-karimah/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/08/eid-al-fitr-usa.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1238" alt="eid-al-fitr-usa" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/08/eid-al-fitr-usa.jpg" width="283" height="424" /></a>Saling mengunjungi antar-kerabat, antar-tetangga dan teman baik menjadi aktifitas yang rutin dilakukan ketika lebaran. Aktifitas ini dibolehkan dalam syari’at bahkan merupakan perbuatan yang memiliki landasan dalil.</p>
<p align="LEFT">Dengan aktifitas ini, anggota keluarga dan kerabat pun saling bertemu atau bahkan berkumpul di satu tempat. Para tetangga pun saling berjumpa satu sama lain, juga dengan teman-teman yang dikenal. Berangkat dari semua ini, momen lebaran tentunya menjadi kesempatan tersendiri bagi seorang muslim untuk mempraktekan akhlak <em>karimah</em>, tentunya tanpa harus melanggar aturan syari’at.</p>
<p align="LEFT">Terlebih lagi bagi para penuntut ilmu agama dan orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, momen ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa anda berpegang teguh pada sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bukan hanya dalam aqidah dan ibadah namun juga dalam akhlak, dan akhlak mulia adalah hasil dari pelajaran tauhid yang anda terapkan.</p>
<p align="LEFT">Diantara akhlak mulia yang dapat dipraktekkan antara lain:</p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Memperbanyak senyum</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Wajah yang penuh senyuman adalah akhlak Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Sahabat Jarir bin Abdillah <em>Radhiallahu’anhu</em> berkisah:</p>
<blockquote><p>مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلاَ رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي</p>
<p align="LEFT">“<em>Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku</em>” (HR. Bukhari, no.6089).</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Beliau juga memerintahkan hal tersebut kepada ummatnya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>تبسمك في وجه أخيك لك صدقة</p>
<p align="LEFT">“<em>Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah</em>” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib”. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Al Albani dalam <em>Shahih At Targhib</em>)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Bermuka cerah dan ramah</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Tidak sepatutnya seorang muslim bermuka masam kepada saudaranya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ</p>
<p align="LEFT">“<em>Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu</em>” (HR. Muslim, no. 2626)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Berkata-kata yang baik dan sopan</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Allah memerintahkan hamba-Nya berkata yang baik. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<blockquote><p>&gt;وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا</p>
<p align="LEFT">“<em>… dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia</em>” (QS. Al Baqarah: 83)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Para da’i serta penuntut ilmu agama lebih ditekankan lagi untuk mampu berkata baik dan sopan. Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman:</p>
<blockquote><p>وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا</p>
<p align="LEFT">“<em>Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih</em>” (QS. Fushilat: 33)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Jika tidak mampu berkata baik, maka diam itu lebih baik. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ</p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, katakanlah yang baik atau diam</em>” (HR. Bukhari 6018, Muslim 47)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Banyak memberi bantuan</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Ketika berinteraksi dengan para kerabat, bersemangatlah memberikan bantuan-bantuan walaupun kecil, seperti menuangkan minuman pada orang-orang yang lebih tua, membukakan pintu, memarkirkan kendaraan, membawakan barang para tetamu, dll. Demikianlah akhlak seorang muslim. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ، وَإِنَّ مِنَ المَعْرُوفِ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ، وَأَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ أَخِيكَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Setiap perbuatan baik adalah sedekah. Dan diantara bentuk perbuatan baik itu adalah bermuka cerah kepada saudaramu, serta menuangkan air ke bejana saudaramu</em>” (HR. Tirmidzi 1970, ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga bersabda</p>
<blockquote><p>كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ</p>
<p align="LEFT">“<em>Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya dari mulai matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah…</em>” (HR. Bukhari 2989, Muslim 1009)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Bantuan-bantuan yang anda berikan kepada kerabat atau saudara anda itu akan menjadi sebab datangnya bantuan Allah untuk anda kelak. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ</p>
<p align="LEFT">“<em>Pertolongan Allah itu senantiasa diberikan kepada seorang hamba selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya</em>” (HR. Muslim, no. 2699)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Banyak bersedekah</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Keluarga dan kerabat adalah orang yang lebih utama daripada yang lain untuk mendapatkan sedekah anda. Terutama bila diantara kerabat anda ada yang tergolong kurang mampu. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<blockquote><p>إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى</p>
<p align="LEFT">“<em>Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat … </em>“ (QS. An Nahl: 90)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Orang yang bersedekah akan dilipat-gandakan pahalanya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<blockquote><p>إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ</p>
<p align="LEFT">“<em>Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.</em>” (Qs. Al Hadid: 18)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Sedekah juga bisa menghapus dosa-dosa anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار</p>
<p align="LEFT">“<em>Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api</em>.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Bersalaman</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Ketika bertemu dengan kerabat, sambutlah ia dengan jabatan erat tangan anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Tidaklah dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya sudah diampuni sebelum mereka berpisah</em>” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dishahihkan oleh al-Albani)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Namun perlu menjadi catatan, anda tidak diperkenankan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram anda, walaupun ia termasuk kerabat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ</p>
<p align="LEFT">“<em>Andai kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu masih lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya</em>”. (HR. Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman </em>no. 4544, dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Ash-Shahihah </em>no. 226)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Anda bisa memberikan anggukan, senyuman atau isyarat lain yang bisa menggantikan fungsi jabat tangan menurut adat di tempat anda.</p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong><em>Tawadhu’</em> dan tidak pamer kekayaan</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Ketika berkumpul di tengah banyak orang, seringkali hati kita mengajak untuk pamer harta dan kelebihan yang ia miliki. Ini adalah sifat yang tercela. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman:</p>
<blockquote><p>أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)</em>” (QS. At Takatsur 1-3)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Sebaliknya, seorang muslim itu hendaknya bersikap <em>tawadhu’</em> (rendah hati). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ</p>
<p align="LEFT">“<em>Sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang. Allah akan menambahkan kewibawaan seseorang hamba yang pemaaf. Tidaklah seorang hamba itu bersikap tawadhu kecuali Allah akan tinggikan ia</em>” (HR. Muslim, no.2588)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Sifat suka pamer, sombong dan tidak <em>tawadhu</em> itu akan menumbuhkan kedengkian, persaingan dan bahkan kezhaliman. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ</p>
<p align="LEFT">“<em>Sungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain</em>” (HR. Muslim no. 2865)” (HR. Muslim no. 2865)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Memperbanyak salam</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Menebar salam lebih baik dari sapaan-sapaan gaul atau pun <em>greets </em>ala barat. Karena saling mengucapkan salam akan menumbuhkan kecintaan terhadap hati sesama muslim serta dengan sendirinya membuat suasana Islami di tengah kerabat dan keluarga anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا. ولا تؤمنوا حتى تحابوا أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم ؟ أفشوا السلام بينكم</p>
<p align="LEFT">“<em>Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam diantara kalian</em>” (HR. Muslim, no.54)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Sesekali bercanda untuk mencairkan suasana</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Bercanda untuk mencairkan suasana agar timbul kedekatan dan terikatnya silaturahim adalah hal yang dianjurkan. Selama bercanda ini tidak dijadikan kebiasaan atau terlalu sering dilakukan. Bahkan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> pun terkadang bercanda. Sahabat Anas ibnu Malik berkisah,</p>
<blockquote><p>جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم يستحمله فقال أنا حاملك على ولد ناقة قال يا رسول الله وما أصنع بولد ناقة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وهل تلد الإبل إلا النوق</p>
<p align="LEFT">“<em>Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta beliau memboncengnya, lalu Nabi berkata, ‘Saya akan menaikkanmu di atas anak unta betina!’ (padahal yang dimaksud adalah unta dewasa). Orang itu berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apa yang dapat saya lakukan terhadap anak unta betina?’ Rasulullah menjawab,’Bukankah setiap unta yang dilahirkan itu disebut anak unta?</em>’ (HR. Abu Daud no.4998, di-shahih-kan Al Albani dalam <em>Shahih Abi Daud</em>)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata:</p>
<blockquote><p>قالوا : يا رسول الله إنك تداعبنا قال إني لا أقول إلا حقا</p>
<p align="LEFT">“<em>Para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah! Sungguh engkau terkadang mencandai kami’. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sungguh aku tidak akan berkata kecuali kebenaran</em>” (HR. Tirmidzi, no.1990, ia berkata: “Hasan shahih”)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Dari Bakr bin Abdillah, ia berkata,</p>
<blockquote><p>انَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَبَادَحُونَ بِالْبِطِّيخِ، فَإِذَا كَانَتِ الْحَقَائِقُ كَانُوا هُمُ الرِّجَالَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah saling melempar kulit semangka, padahal mereka adalah sebenarnya mereka adalah orang-orang terhormat</em>” (HR. Bukhari dalam <em>Adabul Mufrad</em> 226, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Adabil Mufrad</em>)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Mendahulukan orang lain dalam perkara non-ibadah</strong></span></h4>
<p>Kita diperintahkan untuk berlomba-lomba untuk dalam perkara ibadah dan kebaikan akhirat, namun dalam perkara duniawi, keuntungan dunia, kesenangan dunia, yang lebih utama adalah mendahulukan orang lain dan membiarkan orang lain menikmatinya lebih dahulu daripada kita. Allah <em>Ta’ala</em> memuji kaum Anshar:</p>
<blockquote><p>وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p align="LEFT">“<em>mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung</em>” (QS. Al Hasyr: 9)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Jika anda menyukai untuk mendapatkan sesuatu yang bagus, dan anda juga senang bila saudara anda semuslim bisa mendapatkannya, itulah salah satu tanda keimanan anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه</p>
<p align="LEFT">“<em>Tidak beriman seseorang hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya</em>” (HR. Bukhari no.13, Muslim no.45)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Memuliakan tamu</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Ketika anda dikunjungi kerabat, anda sebagai tuan rumah hendaknya memuliakan mereka yang berstatus sebagai tamu. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ</p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, katakanlah yang baik atau diam</em>” (HR. Bukhari 6018, Muslim 47)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Menjaga pandangan</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Terkadang ada sebagian kerabat atau keluarga kita yang tidak menutup auratnya dengan baik atau membawa hal-hal yang tidak sepatutnya dilihat. Allah <em>Ta’ala </em>memerintahkan kaum lelaki yang beriman untuk menjaga pandangan mereka dari yang haram:</p>
<blockquote><p>قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat</em>“. (QS. An Nuur: 30)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Kepada kaum wanita yang beriman, selain diperintahkan juga untuk menjaga pandangan juga diperintahkan untuk memakai busana muslimah yang syar’i agar kaum lekaki bisa menjaga pandangan mereka. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman:</p>
<blockquote><p>وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p align="LEFT">“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An Nuur: 31)</p>
</blockquote>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #800080;"><strong>Saling menasehati dalam kebaikan</strong></span></h4>
<p align="LEFT">Ketika bertemu dengan keluarga dan kerabat, itu adalah kesempatan emas untuk mendakwahkan mereka kepada agama yang benar sesuai dengan Al Qur’an, sunnah serta pemahaman para salaf. Jangan buang kesempatan ini, walaupun itu sekedar memberikan majalah, memberikan info <em>channel </em>radio sunnah, website sunnah, menghadiahkan jilbab yang lebar, mengajak shalat, mengajak berzakat atau semacamnya. Karena Islam adalah agama nasehat, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم</p>
<p align="LEFT">“<em>Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya</em>” (HR. Muslim, 55)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Ilmu yang anda sampaikan sekecil apapun akan menjadi amal <em>jariyah</em> anda yang terus mengalir kelak jika orang yang dakwahkan senantiasa mengamalkan dan mendakwakannya lagi kepada orang lain. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<blockquote><p>إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له</p>
<p align="LEFT">“<em>Jika seorang manusia mati, terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya</em>” (HR. Muslim no.1631)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga bersabda:</p>
<blockquote><p>من دل على خير كان له مثل أجر فاعله</p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, ia akan mendapatkan pahala orang yang melakukannya</em>” (HR. Muslim no.1893)</p>
</blockquote>
<p align="LEFT">Demikianlah beberapa akhlak mulia yang bisa anda praktekan ketika momen lebaran. Semoga Allah menolong kita untuk dapat menerapkan akhlak mulia ini sehingga menjadi hamba-Nya yang sempurna imannya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga bersabda:</p>
<blockquote><p>أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا</p>
<p>“<em>Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlak-nya</em>” (HR. Tirmidzi no.1162, ia berkata: “Hasan shahih”)</p></blockquote>
<p>—</p>
<p><span style="color: #333399;"><em>Penulis: Yulian Purnama</em></span></p>
<p><span style="color: #333399;"><em>Sumber: muslim.or.id</em></span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/akhlak-mulia/' rel='bookmark' title='Akhlak Mulia'>Akhlak Mulia</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/di-antara-pengertian-lebaran/' rel='bookmark' title='Di antara Pengertian Lebaran'>Di antara Pengertian Lebaran</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-meninggalkan-haji-sunnah-untuk-memberikan-kesempatan-kepada-kaum-muslimin/' rel='bookmark' title='Hukum Meninggalkan Haji Sunnah Untuk Memberikan Kesempatan Kepada Kaum Muslimin'>Hukum Meninggalkan Haji Sunnah Untuk Memberikan Kesempatan Kepada Kaum Muslimin</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/lebaran-akhlak-karimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Ramadhan 1: Keberkahan dalam Makan Sahur</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/keberkahan-makan-sahur/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/keberkahan-makan-sahur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jul 2013 12:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1233</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/keberkahan-makan-sahur/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/07/RamadanImage2.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1234" alt="RamadanImage2" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/07/RamadanImage2.jpg" width="547" height="270" /></a>Di bulan Ramadhan ada amalan sunnah yang bisa dijalani yaitu makan sahur. Amalan ini disepakati oleh para ulama dihukumi sunnah dan bukanlah wajib, sebagaimana kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 7: 206. Namun amalan ini memiliki keutamaan karena dikatakan penuh berkah.</p>
<p>Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً</p>
<p>“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).</p></blockquote>
<p>Yang dimaksud barokah adalah turunnya dan tetapnya kebaikan dari Allah pada sesuatu. Barokah bisa mendatangkan kebaikan dan pahala, bahkan bisa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Namun patut diketahui bahwa barokah itu datangnya dari Allah yang hanya diperoleh jika seorang hamba mentaati-Nya.</p>
<h4><span style="color: #800080;">Keberkahan dalam Makan Sahur</span></h4>
<p>Memenuhi perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas. Keutamaan mentaati beliau disebutkan dalam ayat,</p>
<blockquote><p>مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</p>
<p>“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An Nisaa’: 80).</p></blockquote>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman,</p>
<blockquote><p>وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا</p>
<p>“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 71).</p></blockquote>
<p>Makan sahur merupakan syi’ar Islam yang membedakan dengana ajaran Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ</p>
<p>“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096).</p></blockquote>
<p>Ini berarti Islam mengajarkan baro’ dari orang kafir, artinya tidak loyal pada mereka. Karena puasa kita saja dibedakan dengan orang kafir.</p>
<p>Dengan makan sahur, keadaan fisik lebih kuat dalam menjalani puasa. Beda halnya dengan orang yang tidak makan sahur. Imam Nawawi rahimahullah berkata, <strong>“Barokah makan sahur amat jelas yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa.”</strong> (Syarh Shahih Muslim, 7: 206).</p>
<p>Orang yang makan sahur mendapatkan shalawat dari Allah dan do’a dari para malaikat-Nya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ</p>
<p>“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad 3: 44. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).</p></blockquote>
<p>Waktu makan sahur adalah waktu yang diberkahi. Karena ketika itu, Allah turun ke langit dunia. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ</p>
<p>“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).</p></blockquote>
<p>Waktu sahur adalah waktu utama untuk beristighfar. Sebagaimana orang yang beristighfar saat itu dipuji oleh Allah dalam beberapa ayat,</p>
<blockquote><p>وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ<br />
“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17).</p>
<p>وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ<br />
“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. ” (QS. Adz Dzariyat: 18).</p></blockquote>
<p>Orang yang makan sahur dijamin bisa menjawab adzan shalat Shubuh dan juga bisa mendapati shalat Shubuh di waktunya secara berjama’ah. Tentu ini adalah suatu kebaikan.</p>
<p>Makan sahur sendiri bernilai ibadah jika diniatkan untuk semakin kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah.</p>
<p>Intinya, makan sahur punya berbagai keberkahan. Itulah rahasia-rahasia yang mungkin sebagian kita tidak mengetahuinya.</p>
<p>Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.</p>
<p>Referensi Utama:<br />
Romadhon Durusun wa ‘Ibarun – Tarbiyatun wa Usrorun, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan kedua, tahun 1424 H.<br />
—</p>
<p><span style="color: #333399;"><em>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</em></span><br />
<span style="color: #333399;"><em>Sumber: Muslim.Or.Id</em></span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/sahur-makan-saat-dinihari-di-bulan-ramadhan/' rel='bookmark' title='Sahur (makan saat dinihari di Bulan Ramadhan)'>Sahur (makan saat dinihari di Bulan Ramadhan)</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/barakah-dalam-makanan-sahur/' rel='bookmark' title='Barakah dalam Makanan Sahur'>Barakah dalam Makanan Sahur</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tidak-makan-sebelum-shalat-idul-adha/' rel='bookmark' title='Anjuran Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha'>Anjuran Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan/' rel='bookmark' title='Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?'>Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keajaiban-puasa-ramadhan-pembaruan-struktur-otak-relaksasi-sistem-saraf/' rel='bookmark' title='Keajaiban Puasa Ramadhan: Pembaruan Struktur Otak &amp; Relaksasi Sistem Saraf'>Keajaiban Puasa Ramadhan: Pembaruan Struktur Otak &#038; Relaksasi Sistem Saraf</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/adab-adab-makan/' rel='bookmark' title='Adab-Adab Makan'>Adab-Adab Makan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/puasa-sebelum-ramadhan/' rel='bookmark' title='Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan'>Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keistimewaan-bulan-ramadhan/' rel='bookmark' title='Keistimewaan Bulan Ramadhan'>Keistimewaan Bulan Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/6-hal-sunnah-puasa/' rel='bookmark' title='6 Hal Sunnah Puasa'>6 Hal Sunnah Puasa</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan/' rel='bookmark' title='Semakin Semangat Ibadah di Akhir Ramadhan'>Semakin Semangat Ibadah di Akhir Ramadhan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/keberkahan-makan-sahur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jul 2013 13:15:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1231</guid>
		<description><![CDATA[ Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

العامل بلا علم كالسائر بلا دليل ومعلوم ان عطب مثل هذا اقرب من سلامته وان قدر سلامته اتفاقا نادرا فهو غير محمود بل مذموم عند العقلاء

"Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan."]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/07/4883252374_743325b662_o.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1232" alt="4883252374_743325b662_o" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/07/4883252374_743325b662_o.jpg" width="486" height="287" /></a>Puasa punya keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Maka tentu saja untuk memasuki bulan yang mulia ini dan ingin menjalani kewajiban puasa, hendaklah kita punya persiapan yang matang. Persiapan yang utama yang mesti ada adalah persiapan ilmu. Karena orang yang beribadah pada Allah tanpa didasari ilmu, maka tentu ibadahnya bisa jadi sia-sia. Sebagaimana ketika ada yang mau bersafar ke Jakarta lalu tak tahu arah yang mesti ditempuh, tentu ia bisa 'nyasar' dan  tersesat. Ujuk-ujuk sampai di tujuan, bisa jadi malah ia menghilang tak tahu ke mana. Demikian pula dalam beramal, seorang muslim mestilah mempersiapkan ilmu terlebih dahulu sebelum bertindak.</p>
<p> Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,</p>
<blockquote><p>العامل بلا علم كالسائر بلا دليل ومعلوم ان عطب مثل هذا اقرب من سلامته وان قدر سلامته اتفاقا نادرا فهو غير محمود بل مذموم عند العقلاء</p>
<p>"Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan."</p></blockquote>
<p>Guru dari Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,</p>
<blockquote><p>من فارق الدليل ضل السبيل ولا دليل إلا بما جاء به الرسول</p>
<p>"Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul -shallallahu 'alaihi wa sallam-." (Lihat Miftah Daris Sa'adah, 1: 299)</p></blockquote>
<p>'Umar bin 'Abdul 'Aziz juga pernah berkata,</p>
<blockquote><p>مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ</p>
<p>"Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuatan lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh." (Majmu' Al Fatawa, 2: 282)</p></blockquote>
<p>Juga amalan yang bisa diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala,</p>
<blockquote><p>إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ</p>
<p>"Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maidah: 27).</p></blockquote>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,</p>
<blockquote><p>"Tafsiran yang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tentu saja ini perlu didasari dengan ilmu." (Miftah Daris Sa'adah, 1: 299)</p></blockquote>
<p>Ulama hadits terkemuka, yakni Imam Bukhari membuat bab dalam kitab shahihnya "Al 'Ilmu Qoblal Qouli Wal 'Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)". Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah Ta'ala,</p>
<blockquote><p>فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ</p>
<p>"Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (QS. Muhammad: 19).</p></blockquote>
<p>Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.</p>
<p>Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan.  Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1: 108)</p>
<p>Mengapa kita mesti belajar sebelum beramal? Karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</p>
<p>"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik. Hadits ini hasan karena berbagai penguatnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan dari beberapa sahabat di antaranya Anas bin Malik, 'Abdullah bin Mas'ud, Abu Sa'id Al Khudri, Ibnu 'Abbas, Ibnu 'Umar, 'Ali bin Abi Tholib, dan Jabir. Lihat catatan kaki Jaami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhlihi, 1: 69)</p></blockquote>
<p>Ilmu apa saja yang mesti disiapkan sebelum puasa? Yang utama adalah ilmu yang bisa membuat puasa kita sah, yang bila tidak dipahami bisa jadi ada kewajiban yang kita tinggalkan atau larangan yang kita terjang. Lalu dilengkapi dengan ilmu yang membuat puasa kita semakin sempurna. Juga bisa ditambahkan dengan ilmu mengenai amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, ilmu tentang zakat, juga mengenai aktifitas sebagian kaum muslimin menjelang dan saat Idul Fithri, juga setelahnya. Semoga dengan mempelajarinya, bulan Ramadhan kita menjadi lebih berkah.</p>
<p>Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu sebelum memasuki Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #333399;"><em>Sumber: rumaysho</em></span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/puasa-sebelum-ramadhan/' rel='bookmark' title='Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan'>Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keberkahan-makan-sahur/' rel='bookmark' title='Kajian Ramadhan 1: Keberkahan dalam Makan Sahur'>Kajian Ramadhan 1: Keberkahan dalam Makan Sahur</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tip-tip-untuk-memperdalam-hubungan-anda-dengan-al-quran/' rel='bookmark' title='Tip-tip untuk Memperdalam Hubungan Anda dengan Al-Qur&#8217;an'>Tip-tip untuk Memperdalam Hubungan Anda dengan Al-Qur&#8217;an</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keajaiban-puasa-ramadhan-pembaruan-struktur-otak-relaksasi-sistem-saraf/' rel='bookmark' title='Keajaiban Puasa Ramadhan: Pembaruan Struktur Otak &amp; Relaksasi Sistem Saraf'>Keajaiban Puasa Ramadhan: Pembaruan Struktur Otak &#038; Relaksasi Sistem Saraf</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tidak-makan-sebelum-shalat-idul-adha/' rel='bookmark' title='Anjuran Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha'>Anjuran Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keistimewaan-bulan-ramadhan/' rel='bookmark' title='Keistimewaan Bulan Ramadhan'>Keistimewaan Bulan Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/amalan-setelah-ramadhan/' rel='bookmark' title='Amalan Setelah Ramadhan'>Amalan Setelah Ramadhan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpuasa Karena Ru&#8217;yah Hilal Bukan dengan Hisab</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/berpuasa-karena-ruyah-hilal-bukan-dengan-hisab/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/berpuasa-karena-ruyah-hilal-bukan-dengan-hisab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Jun 2013 13:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1228</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Islam, memulai dan mengakhiri bulan Ramadhan dilakukan dengan melihat hilal. Inilah yang disepakati oleh para ulama.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/berpuasa-karena-ruyah-hilal-bukan-dengan-hisab/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/Sunset-over-Sea.png"><img class="aligncenter  wp-image-1229" alt="Sunset-over-Sea" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/Sunset-over-Sea.png" width="540" height="338" /></a>Dalam Islam, <span style="color: #993300;"><strong>memulai dan mengakhiri bulan Ramadhan dilakukan dengan melihat hilal.</strong></span> Inilah yang disepakati oleh para ulama.</p>
<p>Jika pada malam 30 Sya'ban tidak nampak hilal, maka bulan Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari. Dan asalnya hari yang tidak nampak hilal tersebut masih termasuk bulan Sya'ban sehingga belum disyari'atkan puasa. Adapun cara hisab yang biasa dipakai sebagian ormasbahkan dijadikan patokan walau bertentangan dengan cara ru'yah hilal, ketahuilah cara hisab ini bukan cara Islam dan tidak pernah diajarkan oleh Islam.</p>
<p>Ibnu Hajar kembali menyebutkan hadits dalam Bulughul Marom, yaitu hadits no. 652 dan 653. Haditsnya adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا [ قَالَ ]: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ: - إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</p>
<p>وَلِمُسْلِمٍ: - فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا [ لَهُ ] . ثَلَاثِينَ .</p>
<p>وَلِلْبُخَارِيِّ: - فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ.</p>
<p>وَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - - فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ.</p>
<p>Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, makaberhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya'ban menjadi 30 hari)." (Muttafaqun 'alaih).</p></blockquote>
<p>Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Jika hilal tertutup bagi kalian, maka genapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari." Dalam riwayat Bukhari disebutkan, "Genapkanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari."</p>
<p>Dalam shahih Bukhari pada hadits Abu Hurairah disebutkan,<strong> "Genapkanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari."</strong></p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Beberapa faedah dari hadits di atas:</strong></span></p>
<p><strong>1-</strong> Hadits di atas menunjukkan wajibnya berpuasa Ramadhan jika sudah nampak hilal. Dan wajibnya berhari raya Idul Fithri ketika nampak hilal yang menandakan masuknya bulan Syawal.</p>
<p><strong>2-</strong> Hukum memulai puasa dan berhari raya berkaitan dengan penglihatan hilal walaupun dengan menggunakan teropong atau alat yang bisa memaksimalkan pandangan. Cara terakhir ini dianggap seperti melihat dengan mata telanjang secara langsung.</p>
<p><strong>3-</strong> Hadits ini merupakan dalil kelirunya cara hisab dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama lainnya telah menukil adanya ijma' (konsensus ulama) dalam hal ini. Karena Nabi kita -shallallahu 'alaihi wa sallam- mengaitkan hukum dengan melihat hilal, bukan dengan cara hisab. Cara ru'yah atau melihat hilal bisa dilakukan oleh orang tertentu dan orang awam sekaligus, orang bodoh dan alim sekali pun. Inilah cara yang diberikan oleh Allah untuk kemudahan seluruh hamba-Nya. Namun beda halnya dengan cara hisab yang hanya segelintir orang yang menguasainya.</p>
<p><strong>4-</strong> Hadits ini menunjukkan jika hilal tertutup pada malam ke-30 karena adanya mendung atau debu, maka bulan Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari. Pada hari ke-30 tidak dibolehkan untuk puasa. Karena dalam hadits secara jelas menyebutkan demikian, yaitu genapkanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari ketika hilal tertutupi oleh mendung. Inilah dalil tegas yang tidak perlu ada pentakwilan (penyelewengan makna).</p>
<p><strong>5-</strong> Puasa tidak diwajibkan ketika belum terlihat hilal. Dan tidak diwajibkan puasa dalam kondisi meragukan sebagaimana dijelaskan dalam hadits sebelumnya dalam Bulughul Marom.</p>
<p><strong>6-</strong> Hadits berikut,</p>
<p>فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ</p>
<p>"Jika hilal tertutupi bagi kalian, maka hitunglah." Maksudnya adalah bukan perintah lakukan "hisab". Karena hadits yang satu bisa diterangkan dengan hadits lainnya, itu yang mesti dilakukan. Dalam riwayatlain disebutkan,</p>
<p>فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ</p>
<p>"Genapkanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari." Itulah maksudnya. Sehingga bagi para pendukung hisab, dalil di atas bukanlah untuk mendukung kalian.</p>
<p>Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.</p>
<h6><span style="color: #333399;">Referensi:</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 39-59.</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 11-13.</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">---</span><br />
<span style="color: #333399;">Sumber: Rumaysho</span></h6>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/puasa-sebelum-ramadhan/' rel='bookmark' title='Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan'>Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/disunnahkan-mengeraskan-suara-adzan-bukan-dengan-sayup-sayup/' rel='bookmark' title='Disunnahkan Mengeraskan Suara Adzan, Bukan Dengan Sayup-sayup'>Disunnahkan Mengeraskan Suara Adzan, Bukan Dengan Sayup-sayup</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/bagaimana-nabi-saw-berpuasa-di-bulan-ramadhan/' rel='bookmark' title='Bagaimana Nabi (SAW) Berpuasa di Bulan Ramadhan'>Bagaimana Nabi (SAW) Berpuasa di Bulan Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hikmah-disyariatkan-berpuasa/' rel='bookmark' title='Hikmah Disyariatkan Berpuasa'>Hikmah Disyariatkan Berpuasa</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/aturan-berpuasa-khusus-untuk-wanita/' rel='bookmark' title='Aturan Berpuasa Khusus Untuk Wanita'>Aturan Berpuasa Khusus Untuk Wanita</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/golongan-kaum-yang-tidak-diwajibkan-untuk-berpuasa-selama-ramadhan/' rel='bookmark' title='Golongan kaum yang tidak diwajibkan untuk berpuasa selama Ramadhan'>Golongan kaum yang tidak diwajibkan untuk berpuasa selama Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/anjuran-untuk-mencintai-dan-membenci-karena-allah/' rel='bookmark' title='Anjuran Untuk Mencintai dan Membenci  Karena Allah'>Anjuran Untuk Mencintai dan Membenci  Karena Allah</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-menunda-zakat-karena-uzur/' rel='bookmark' title='Hukum Menunda Zakat  Karena Uzur'>Hukum Menunda Zakat  Karena Uzur</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/buku-puasa-unduh-gratis/' rel='bookmark' title='Buku &#8211; Puasa &#8211; Unduh Gratis'>Buku &#8211; Puasa &#8211; Unduh Gratis</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/jangan-sampai-dilupakan-allah-karena-maksiatmu/' rel='bookmark' title='Jangan Sampai Dilupakan Allah Karena Maksiatmu!'>Jangan Sampai Dilupakan Allah Karena Maksiatmu!</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/berpuasa-karena-ruyah-hilal-bukan-dengan-hisab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/puasa-sebelum-ramadhan/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/puasa-sebelum-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jun 2013 13:18:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1225</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
"Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali seseorang yang punyakebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa." (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082).]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/puasa-sebelum-ramadhan/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/rocks_in_evening_sundown_by_eskile-d67stro.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1226" alt="rocks_in_evening_sundown_by_eskile-d67stro" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/rocks_in_evening_sundown_by_eskile-d67stro-1024x580.jpg" width="491" height="278" /></a>Ada ilmu yang mesti diperhatikan sebelum melaksanakan puasa Ramadhan. Ada larangan yang berisi perintah untuk tidak berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Karena ada yang punya tujuan melaksanakan puasa sebelum itu untuk hati-hati atau hanya sekedar melaksanakan puasa sunnah biasa.</p>
<p>Hadits yang membicarakan hal ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom hadits no. 650 sebagai berikut:</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,</p>
<blockquote><p>لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>"Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali seseorang yang punyakebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa." (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082).</p></blockquote>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Beberapa faedah dari hadits di atas:</strong></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1-</strong> Dalil ini adalah larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan karena ingin hati-hati dalam penentuan awal Ramadhan atau hanya ingin melaksanakan puasa sunnah biasa (puasa sunnah mutlak).</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2-</strong> Larangan di sini adalah larangan haram, menurut pendapat lebih kuat karena hukum asal larangan demikian sampai ada dalil yang menyatakan berbeda.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>3-</strong> Dikecualikan di sini kalau seseorang yang punya kebiasaan puasa tertentu seperti puasa Senin Kamis, atau puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak puasa), kalau dilakukan satu atau dua hari sebelum Ramadhan, maka tidaklah mengapa.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>4-</strong> Begitu pula dikecualikan jika seseorang ingin melaksanakan puasa wajib, seperti puasa nadzar, kafaroh atau qodho' puasa Ramadhan yang lalu, itu pun masih dibolehkan dan tidak termasuk dalam larangan hadits yang kita kaji.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>5-</strong> Hikmah larangan ini adalah supaya bisa membedakan antara amalan wajib (puasa Ramadhan) dan amalan sunnah. Juga supaya kita semakin semangat melaksanakan awal puasa Ramadhan. Di samping itu, hukum puasa berkaitan dengan melihat hilal (datangnya awal bulan). Maka orang yang mendahului Ramadhan dengan sehari atau dua hari puasa sebelumnya berarti menyelisihi ketentuan ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>6-</strong> Ada hadits yang berbunyi,</p>
<p style="padding-left: 30px;">إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا</p>
<p style="padding-left: 30px;">"Jika sudah mencapai separuh dari bulan Sya'ban, janganlah kalian berpuasa." (HR. Abu Daud no. 2337). Hadits ini seakan-akan bertentangan dengan hadits yang sedang kita kaji yang menyatakan larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan. Artinya, puasa sebelum itu masih boleh meskipun setelah pertengahan Sya'ban. Dan sebenarnya, hadits ini pun terdapat perselisihan pendapat mengenai keshahihannya. Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan adalah larangan puasa sunnah mutlak yang dimulai dari pertengahan bulan Sya'ban. Adapun jika seseorang punya kebiasaan puasa seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, atau ingin menyambung puasa Sya'ban karena separuh pertama melakukannya, begitu pula karena ingin mengqodho' puasa Ramadhan, maka seperti itu tidaklah masuk dalam larangan berpuasa setelah pertengahan Sya'ban.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>7-</strong> Islam memberikan batasan dalam melakukan persiapan sebelum melakukan amalan sholih seperti yang dimaksudkan dalam hadits ini untuk puasa Ramadhan.</p>
<p>Semoga sajian singkat di sore ini bermanfaat bagi pengunjung Rumaysho.Com sekalian sebagai persiapan ilmu sebelum Ramadhan. Wallahu waliyyut taufiq.</p>
<h6><span style="color: #333399;">Referensi:</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 18-27.</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 7-8.</span></h6>
<h6></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Sumber: rumaysho</span></h6>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/berpuasa-karena-ruyah-hilal-bukan-dengan-hisab/' rel='bookmark' title='Berpuasa Karena Ru&#8217;yah Hilal Bukan dengan Hisab'>Berpuasa Karena Ru&#8217;yah Hilal Bukan dengan Hisab</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan/' rel='bookmark' title='Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?'>Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/bagaimana-nabi-saw-berpuasa-di-bulan-ramadhan/' rel='bookmark' title='Bagaimana Nabi (SAW) Berpuasa di Bulan Ramadhan'>Bagaimana Nabi (SAW) Berpuasa di Bulan Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/golongan-kaum-yang-tidak-diwajibkan-untuk-berpuasa-selama-ramadhan/' rel='bookmark' title='Golongan kaum yang tidak diwajibkan untuk berpuasa selama Ramadhan'>Golongan kaum yang tidak diwajibkan untuk berpuasa selama Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-puasa-enam-hari-dibulan-syawal/' rel='bookmark' title='Keutamaan Puasa Enam Hari dibulan Syawal'>Keutamaan Puasa Enam Hari dibulan Syawal</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/aturan-berpuasa-khusus-untuk-wanita/' rel='bookmark' title='Aturan Berpuasa Khusus Untuk Wanita'>Aturan Berpuasa Khusus Untuk Wanita</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hikmah-disyariatkan-berpuasa/' rel='bookmark' title='Hikmah Disyariatkan Berpuasa'>Hikmah Disyariatkan Berpuasa</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-puasa-6-hari-di-bulan-syawal/' rel='bookmark' title='Hukum Puasa 6 Hari di Bulan Syawal'>Hukum Puasa 6 Hari di Bulan Syawal</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keistimewaan-bulan-ramadhan/' rel='bookmark' title='Keistimewaan Bulan Ramadhan'>Keistimewaan Bulan Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keberkahan-makan-sahur/' rel='bookmark' title='Kajian Ramadhan 1: Keberkahan dalam Makan Sahur'>Kajian Ramadhan 1: Keberkahan dalam Makan Sahur</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/puasa-sebelum-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potret Suami Ideal Dalam Rumah Tangga</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/potret-suami-ideal-dalam-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/potret-suami-ideal-dalam-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jun 2013 12:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga muslim]]></category>
		<category><![CDATA[suami ideal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1223</guid>
		<description><![CDATA[Sosok kepala rumah tangga ideal yang sejati, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى»
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku” [HR at-Tirmidzi (no. 3895) dan Ibnu Hibban (no. 4177).]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/potret-suami-ideal-dalam-rumah-tangga/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/1011318_10151973928713219_577812177_n.png"><img class="aligncenter  wp-image-1224" alt="1011318_10151973928713219_577812177_n" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/1011318_10151973928713219_577812177_n.png" width="486" height="339" /></a>Menjadi suami dan bapak ideal dalam rumah tangga? Tentu ini dambaan setiap lelaki, khususnya yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir. Dan tentu saja ini tidak mudah kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala.</p>
<p>Sosok kepala rumah tangga ideal yang sejati, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:</p>
<blockquote><p>«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى»<br />
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku”1.</p></blockquote>
<p>Karena kalau bukan kepada anggota keluarganya seseorang berbuat baik, maka kepada siapa lagi dia akan berbuat baik? Bukankah mereka yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kasih sayang dari suami dan bapak mereka karena kelemahan dan ketergantungan mereka kepadanya?2. Kalau bukan kepada orang-orang yang terdekat dan dicintainya seorang kepala rumah tangga bersabar menghadapi perlakuan buruk, maka kepada siapa lagi dia bersabar?.</p>
<p>Imam al-Munawi berkata: <em>“Dalam hadits ini terdapat argumentasi yang menunjukkan (wajibnya) bergaul dengan baik terhadap istri dan anak-anak, terlebih lagi anak-anak perempuan, (dengan) bersabar menghadapi perlakuan buruk, akhlak kurang sopan dan kelemahan akal mereka, serta (berusaha selalu) menyayangi mereka”</em>3.</p>
<h4><span style="color: #800080;">Potret Kepala Keluarga Ideal Dalam Al-Qur-an</span></h4>
<p>Allah Ta’ala menggambarkan sosok dan sifat kepala keluarga ideal dalam beberapa ayat al-Qur-an, di antaranya dalam firman-Nya:</p>
<blockquote><p>{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}<br />
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa’: 34).</p></blockquote>
<p>Inilah sosok suami ideal, dialah lelaki yang mampu menjadi pemimpin dalam arti yang sebenarnya bagi istri dan anak-anaknya. Memimpin mereka artinya mengatur urusan mereka, memberikan nafkah untuk kebutuhan hidup mereka, mendidik dan membimbing mereka dalam kebaikan, dengan memerintahkan mereka menunaikan kewajiban-kewajiban dalam agama dan melarang mereka dari hal-hal yang diharamkan dalam Islam, serta meluruskan penyimpangan yang ada pada diri mereka4.</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا}<br />
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia (selalu) memerintahkan kepada keluarganya untuk (menunaikan) shalat dan (membayar) zakat, dan dia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Allah” (QS Maryam: 54-55).</p></blockquote>
<p>Inilah potret hamba yang mulia dan kepala rumah tangga ideal, Nabi Ismail ‘alaihissalam, sempurna imannya kepada Allah, shaleh dan kuat dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya, sehingga beliau ‘alaihissalam meraih keridhaan-Nya. Tidak cukup sampai di situ, beliau ‘alaihissalam juga selalu membimbing dan memotivasi anggota keluarganya untuk taat kepada Allah, karena mereka yang paling pertama berhak mendapatkan bimbingannya5.</p>
<p>Demukian pula dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}<br />
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqaan: 74).</p></blockquote>
<p>Dalam ayat ini Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang beriman karena mereka selalu mendokan dan mengusahakan kebaikan dalam agama bagi anak-anak dan istri-istri mereka. Inilah makna “qurratul ‘ain” (penyejuk hati) bagi orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat6.</p>
<p>Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata: <em>“Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah. Demi Allah, tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata (hati) seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala”</em>7.</p>
<h4><span style="color: #800080;">Beberapa Sifat Kepala Rumah Tangga Ideal</span></h4>
<p><span style="color: #993300;"><strong>1. Shalih Dan Taat Beribadah</strong></span></p>
<p>Keshalehan dan ketakwaan seorang hamba adalah ukuran kemuliaannya di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<blockquote><p>{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}<br />
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS al-Hujuraat: 13).</p></blockquote>
<p>Seorang kepala rumah tangga yang selalu taat kepada Allah Ta’ala akan dimudahkan segala urusannya, baik yang berhubungan dengan dirinya sendiri maupun yang berhubungan dengan anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ}<br />
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. ath-Thalaaq:2-3).</p></blockquote>
<p>Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:</p>
<blockquote><p>{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً}<br />
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4).</p></blockquote>
<p>Artinya: Allah Ta’ala akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya)8.</p>
<p>Bahkan dengan ketakwaan seorang kepala rumah tangga, dengan menjaga batasan-batasan syariat-Nya, Allah Ta’ala akan memudahkan penjagaan dan taufik-Nya untuk dirinya dan keluarganya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:</p>
<blockquote><p>“Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu”9.</p></blockquote>
<p>Makna “menjaga (batasan-batasan/syariat) Allah” adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepada-Nya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya10. Dan makna “kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu”: Dia akan selalu bersamamu dengan selalu memberi pertolongan dan taufik-Nya kepadamu11.</p>
<p>Penjagaan Allah Ta’ala dalam hadits ini juga mencakup penjagaan terhadap anggota keluarga hamba yang bertakwa tersebut12.</p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>2. Bertanggung Jawab Memberi Nafkah Untuk Keluarga</strong></span></p>
<p>Menafkahi keluarga dengan benar adalah salah satu kewajiban utama seorang kepala keluarga dan dengan inilah di antaranya dia disebut pemimpin bagi anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}<br />
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa’: 34).</p></blockquote>
<p>Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ}<br />
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (QS al-Baqarah: 233).</p></blockquote>
<p>Dalam hadits yang shahih, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya tentang hak seorang istri atas suaminya, beliau  bersabda: “Hendaknya dia memberi (nafkah untuk) makanan bagi istrinya sebagaimana yang dimakannya, memberi (nafkah untuk) pakaian baginya sebagaimana yang dipakainya, tidak memukul wajahnya, tidak mendokan keburukan baginya (mencelanya), dan tidak memboikotnya kecuali di dalam rumah (saja)”13.</p>
<p>Tentu saja maksud pemberian nafkah di sini adalah yang mencukupi dan sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan dan tidak kurang. Karena termasuk sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa adalah mereka selalu mengatur pengeluaran harta mereka agar tidak terlalu boros adan tidak juga kikir. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}<br />
“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqaan:67).</p></blockquote>
<p>Artinya: mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan)14.</p>
<p>Ini semua mereka lakukan bukan karena cinta yang berlebihan kepada harta, tapi kerena mereka takut akan pertanggungjawaban harta tersebut di hadapan Allah Ta’ala di hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”15.</p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>3. Memperhatikan Pendidikan Agama Bagi Keluarga</strong></span></p>
<p>Ini adalah kewajiban utama seorang kepala rumah tangga terhadap anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}<br />
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).</p></blockquote>
<p>Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata:<em> “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu sendiri dan keluargamu”</em>16.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”17.</p>
<p>Dalam sebuah hadits shahih, ketika shahabat yang mulia, Malik bin al-Huwairits radhiallahu’anhu dan kaumnya mengunjungi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selama dua puluh hari untuk mempelajari al-Qur-an dan sunnah beliau, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada mereka: “Pulanglah kepada keluargamu, tinggallah bersama mereka dan ajarkanlah (petunjuk Allah Ta’ala) kepada mereka”18.</p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>4. Pembimbing Dan Motivator</strong></span></p>
<p>Seorang kepala keluarga adalah pemimpin dalam rumah tangganya, ini berarti dialah yang bertanggung jawab atas semua kebaikan dan keburukan dalam rumah tangganya dan dialah yang punya kekuasaan, dengan izin Allah Ta’ala, untuk membimbing dan memotivasi anggota keluarganya dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya…seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka”19.</p></blockquote>
<p>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mencontohkan sebaik-baik teladan sebagai pembimbing dan motivator. Dalam banyak hadits yang shahih, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam selalu memberikan bimbingan yang baik kepada orang-orang yang berbuat salah, sampaipun kepada anak yang masih kecil.</p>
<p>Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melihat seorang anak kecil yang berlaku kurang sopan ketika makan, maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menegur dan membimbing anak tersebut, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (ketika hendak makan), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah (makanan) yang ada di depanmu”20.</p></blockquote>
<p>Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melarang cucu beliau, Hasan bin ‘Ali radhiallahu’anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan masih kecil, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”21.</p></blockquote>
<p>Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut22.</p>
<p>Memotivasi anggota keluarga dalam kebaikan juga dilakukan dengan mencontohkan dan mengajak anggota keluarga mengerjakan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dalam Islam.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan istrinya, kalau istrinya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya…”23.</p></blockquote>
<p>Teladan baik yang dicontohkan seorang kepala keluarga kepada anggota keluarganya merupakan sebab, setelah taufik dari Allah Ta’ala untuk memudahkan mereka menerima nasehat dan bimbingannya. Sebaliknya, contoh buruk yang ditampilkannya merupakan sebab besar jatuhnya wibawanya di mata mereka.</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibrahim al-Harbi24. Dari Muqatil bin Muhammad al-’Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”25.</p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>5. Bersikap Baik Dan Sabar Dalam Menghadapi Perlakuan Buruk Anggota Keluarganya</strong></span></p>
<p>Seorang pemimpin keluarga yang bijak tentu mampu memaklumi kekurangan dan kelemahan yang ada pada anggota keluarganya, kemudian bersabar dalam menghadapi dan meluruskannya.</p>
<p>Ini termasuk pergaulan baik terhadap keluarga yang diperintahkan dalam firman Allah Ta’ala:</p>
<blockquote><p>{وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا}<br />
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS an-Nisaa’: 19).</p></blockquote>
<p>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bemgkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita”26.</p></blockquote>
<p>Seorang istri bagaimanapun baik sifat asalnya, tetap saja dia adalah seorang perempuan yang lemah dan asalnya susah untuk diluruskan, karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, ditambah lagi dengan kekurangan pada akalnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<blockquote><p>“إن المرأة خلقت من ضلع لن تستقيم لك على طريقة”<br />
“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), (sehingga) dia tidak bisa terus-menerus (dalam keadaan) lurus jalan (hidup)nya”27.</p></blockquote>
<p>Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyifati perempuan sebagai:</p>
<blockquote><p>“…ناقصات عقل ودين”<br />
“…Orang-orang yang kurang (lemah) akal dan agamanya”28.</p></blockquote>
<p>Maka seorang istri yang demikian keadaannya tentu sangat membutuhkan bimbingan dan pengarahan dari seorang laki-laki yang memiliki akal, kekuatan, kesabaran, dan keteguhan pendirian yang melebihi perempuan29. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menjadikan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penegak urusan kaum perempuan.</p>
<p>Seorang laki-laki yang beriman tentu akan selalu menggunakan pertimbangan akal sehatnya ketika menghadapi perlakuan kurang baik dari orang lain, untuk kemudian dia berusaha menasehati dan meluruskannya dengan cara yang baik dan bijak, terlebih lagi jika orang tersebut adalah orang yang terdekat dengannya, yaitu istri dan anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah seorang lelaki beriman membenci seorang wanita beriman, kalau dia tidak menyukai satu akhlaknya, maka dia akan meridhai/menyukai akhlaknya yang lain”30.</p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>6. Selalu Mendoakan Kebaikan Bagi Anak Dan Istrinya</strong></span></p>
<p>Termasuk sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang beriman adalah selalu mendoakan kebaikan bagi dirinya dan anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}<br />
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqaan: 74).</p></blockquote>
<p>Dalam hadits yang shahih, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan tentang kewajiban seorang suami terhadap istrinya, diantaranya:</p>
<blockquote><p>“…Dan tidak mendokan keburukan baginya”31.</p></blockquote>
<p>Maka kepala keluarga yang ideal tentu akan selalu mengusahakan dan mendoakan kebaikan bagi anggota keluarganya, istri dan anak-anaknya, bahkan inilah yang menjadi sebab terhiburnya hatinya, yaitu ketika menyaksikan orang-orang yang dicintainya selalu menunaikan ketaatan kepada Allah Ta’ala32.</p>
<h4><span style="color: #800080;">Penutup</span></h4>
<p>Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi orang-orang yang beriman, khusunya para kepala keluarga, untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji ini, untuk menjadikan mereka meraih kemuliaan dan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat bersama anggota keluarga mereka, dengan taufik dari Allah Ta’ala.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 9 Rajab 1434 H</p>
<h6><span style="color: #333399;">Catatan Kaki</span><br />
<span style="color: #333399;">1 HR at-Tirmidzi (no. 3895) dan Ibnu Hibban (no. 4177), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.</span><br />
<span style="color: #333399;">2 Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (4/273).</span><br />
<span style="color: #333399;">3 Kitab “Faidul Qadiir” (3/498).</span><br />
<span style="color: #333399;">4 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/653) dan “Taissirul kariimir Rahmaan” (hal. 177)..</span><br />
<span style="color: #333399;">5 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/169) dan “Taissirul kariimir Rahmaan” (hal. 496).</span><br />
<span style="color: #333399;">6 Lihat kitab “Fathul Qadiir” (4/131).</span><br />
<span style="color: #333399;">7 Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439).</span><br />
<span style="color: #333399;">8 Tafsir Ibnu Katsir (4/489).</span><br />
<span style="color: #333399;">9 HR at-Tirmidzi (no. 2516), Ahmad (1/293) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Shahihul jaami’ish shagiir” (no. 7957).</span><br />
<span style="color: #333399;">10 Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul uluumi wal hikam” (hal. 229).</span><br />
<span style="color: #333399;">11 Ibid (hal. 233).</span><br />
<span style="color: #333399;">12 Ibid.</span><br />
<span style="color: #333399;">13 HR Abu Dawud (no. 2142) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.</span><br />
<span style="color: #333399;">14 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/433).</span><br />
<span style="color: #333399;">15 HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.</span><br />
<span style="color: #333399;">16 Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.</span><br />
<span style="color: #333399;">17 Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).</span><br />
<span style="color: #333399;">18 HSR al-Bukhari (no. 602).</span><br />
<span style="color: #333399;">19 HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).</span><br />
<span style="color: #333399;">20 HSR al-Bukhari (no. 5061) dan Muslim (no. 2022).</span><br />
<span style="color: #333399;">21 HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).</span><br />
<span style="color: #333399;">22 Fathul Baari (3/355).</span><br />
<span style="color: #333399;">23 HR Abu Dawud (no. 1308) dan Ibnu Majah (no. 1336), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.</span><br />
<span style="color: #333399;">24 Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (13/356).</span><br />
<span style="color: #333399;">25 Shifatush shafwah (2/409).</span><br />
<span style="color: #333399;">26 HSR al-Bukhari (no. 3153) dan Muslim (no. 1468).</span><br />
<span style="color: #333399;">27 HSR Muslim (no. 1468).</span><br />
<span style="color: #333399;">28 HSR al-Bukhari (no. 298) dan Muslim (no. 132).</span><br />
<span style="color: #333399;">29 Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 101).</span><br />
<span style="color: #333399;">30 HSR Muslim (no. 1469).</span><br />
<span style="color: #333399;">31 HR Abu Dawud (no. 2142) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.</span><br />
<span style="color: #333399;">32 Sebagaimana yang telah kami nukil di atas tentang makna ayat ini.</span><br />
<span style="color: #333399;">—</span><br />
<span style="color: #333399;">Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, MA.</span><br />
<span style="color: #333399;">Sumber: Muslim.Or.Id</span></h6>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/adab-di-dalam-rumah/' rel='bookmark' title='Adab di Dalam Rumah'>Adab di Dalam Rumah</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/nasehat-untuk-suami-isteri/' rel='bookmark' title='Nasehat untuk Suami-Istri'>Nasehat untuk Suami-Istri</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/kedudukan-wanita-dalam-islam/' rel='bookmark' title='Kedudukan Wanita Dalam Islam'>Kedudukan Wanita Dalam Islam</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/potret-suami-ideal-dalam-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Anjuran Memperlama Sujud Terakhir untuk Berdo’a?</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/adakah-anjuran-memperlama-sujud-terakhir-untuk-berdoa/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/adakah-anjuran-memperlama-sujud-terakhir-untuk-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2013 18:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[berdo'a]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sujud terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[tashahhud akhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1219</guid>
		<description><![CDATA[“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)
Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat, tujuannya adalah agar memperbanyak do’a ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/adakah-anjuran-memperlama-sujud-terakhir-untuk-berdoa/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p><em><span style="color: #333399;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/549084_437768629643772_1003655079_n.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-1220" alt="549084_437768629643772_1003655079_n" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/549084_437768629643772_1003655079_n.png" width="400" height="400" /></a>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></em></p>
<p>Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Kita ketahui bersama bahwa do’a ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdo’a.</p>
<p>Seperti disebutkan dalam hadits,</p>
<blockquote><p>أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ</p>
<p>“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)</p></blockquote>
<p>Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat, tujuannya adalah agar memperbanyak do’a ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.</p>
<p>Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan,</p>
<blockquote><p>كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ</p>
<p>“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” (HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471)</p></blockquote>
<p><strong>Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya,</strong></p>
<p><em>“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak do’a dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”</em></p>
<p><strong>Beliau rahimahullah menjawab,</strong></p>
<blockquote><p>“Memperpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu hampir sama lamanya. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits Baro’ bin ‘Azib, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya). ” Inilah yang afdhol. Akan tetapi ada tempat do’a selain sujud yaitu setelah tasyahud (sebelum salam). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda, “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdo’a dengan doa apa saja”. Maka berdo’alah ketika itu sedikit atau pun lama setelah tasyahud akhir sebelum salam. (Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B)</p></blockquote>
<p>Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah berkata, <span style="color: #993300;"><strong>“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai hadits, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”</strong></span></p>
<p>Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan,</p>
<blockquote><p>“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum bahwa ketika itu adalah raka’at terakhir atau ketika itu adalah amalan terkahir dalam shalat. Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jama’ah tahu bahwa setelah itu adalah duduk terakhir yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.” (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau)</p></blockquote>
<p>Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa tidak ada anjuran untuk memperlama sujud terakhir ketika shalat agar bisa memperbanyak do’a ketika itu. Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya. Silakan membaca do’a ketika sujud terakhir, namun hendaknya lamanya hampir sama dengan sujud sebelumnya atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ</p>
<p>“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” (HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah)</p></blockquote>
<p>Hanya Allah yang memberi taufik.</p>
<p><span style="color: #333399;"><em>Referensi: Website Syaikh Sholih Al Munajid - Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/111889/ )</em></span><br />
<em>Sumber: rumaysho</em></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/anjuran-untuk-mencintai-dan-membenci-karena-allah/' rel='bookmark' title='Anjuran Untuk Mencintai dan Membenci  Karena Allah'>Anjuran Untuk Mencintai dan Membenci  Karena Allah</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tidak-makan-sebelum-shalat-idul-adha/' rel='bookmark' title='Anjuran Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha'>Anjuran Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/waktu-waktu-yang-terlarang-untuk-shalat/' rel='bookmark' title='Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Shalat'>Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Shalat</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/mengenal-seluk-beluk-bid%e2%80%99ah-2-adakah-bid%e2%80%99ah-hasanah/' rel='bookmark' title='Mengenal Seluk Beluk BID’AH (2): Adakah BID’AH HASANAH?'>Mengenal Seluk Beluk BID’AH (2): Adakah BID’AH HASANAH?</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/kenapa-harus-berdoa/' rel='bookmark' title='Kenapa Harus Berdo&#8217;a?'>Kenapa Harus Berdo&#8217;a?</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/mengirim-al-fatihah-adakah-dalam-syariat/' rel='bookmark' title='Mengirim al-Fatihah, Adakah dalam Syariat?'>Mengirim al-Fatihah, Adakah dalam Syariat?</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-meminta-pertolongan-jin-untuk-mengetahui-perkara-gaib-dan-untuk-hipnotis/' rel='bookmark' title='Hukum Meminta Pertolongan Jin Untuk Mengetahui Perkara Gaib  Dan Untuk Hipnotis'>Hukum Meminta Pertolongan Jin Untuk Mengetahui Perkara Gaib  Dan Untuk Hipnotis</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/adakah-anjuran-memperlama-sujud-terakhir-untuk-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Hadits Malam Nishfu Sya&#8217;ban</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Jun 2013 11:01:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[dho'if]]></category>
		<category><![CDATA[nisfu sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1217</guid>
		<description><![CDATA[Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/sunset_field_2_fictionchick_by_fictionchick_stock-d60j3z7.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1218" alt="sunset_field_2_fictionchick_by_fictionchick_stock-d60j3z7" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/sunset_field_2_fictionchick_by_fictionchick_stock-d60j3z7.jpg" width="480" height="343" /></a>Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, <strong>“Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).”</strong> Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Pertama:</strong></span> Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ<br />
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390).</p></blockquote>
<p>Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if].</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Kedua:</strong> </span>Hadits ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<blockquote><p>قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْت أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ ، فَلَمَّا رَأَيْت ذَلِكَ قُمْت حَتَّى حَرَّكْت إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ : " يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْت أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِك ؟ " قُلْت : لَا وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْت أَنْ قُبِضْت طُولَ سُجُودِك ، قَالَ " أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ ؟ " قُلْت : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : " هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ</p>
<p>“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan merampungkan shalatnya, beliau mengatakan, “Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi ampunan ampunan pada orang yang meminta ampunan dan akan merahmati orang yang memohon rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang pendendam.”</p></blockquote>
<p>Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus sanadnya]</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Ketiga:</strong> </span>Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,</p>
<blockquote><p>يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ</p>
<p>“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”Al Mundziri dalam At Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri.</p></blockquote>
<p>Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah hadits yang dho’if]</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Keempat:</strong></span> Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ</p>
<p>“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini bermasalah].</p></blockquote>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Kelima:</strong></span> Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di malam Nishfu Sya’ban,</p>
<blockquote><p>يَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا مُشْرِكٌ أَوْ مُشَاحِنٌ</p>
<p>“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”.</p></blockquote>
<p>Al Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus]. Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَيُمْهِلُ الْكَافِرِينَ وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ</p>
<p>“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia akan mengampuni orang yang beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia meninggalkan orang yang pendendam.”</p></blockquote>
<p>Al Baihaqi mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini pun dho’if].</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Keenam:</strong></span> Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَّا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ</p>
<p>“Apabila malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar.”</p></blockquote>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al Madani. Ada yang menyebut namanya adalah ‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad. Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, “Imam Al Bukhari dan ulama lainnya mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di antara maudhu’ dan dho’if]</p>
<p>Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”</p>
<p>Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, <strong>“Hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.”</strong> (Lathoif Al Ma’arif, 245)</p>
<p>Tanggapan penulis, “Ibnu Hibban adalah di antara ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang bergampang-gampangan dalam menshahihkan hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban perlu dicek kembali.”</p>
<p>Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, <em>“Mengenai shalat malam di malam Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat.”</em> (Lathoif Al Ma’arif, 248)</p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah mengatakan, <strong>“Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.”</strong> (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/188).</p>
<p>Begitu juga di halaman yang sama, Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.”</p>
<h4><span style="color: #800080;">Malam Nishfu Sya'ban Sama Seperti Malam Lainnya</span></h4>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu." (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115)</p>
<p>Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebenarnya sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.</p>
<p>‘Abdullah bin Al Mubarok rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).</p>
<p>Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).<br />
Wallahu waliyyut taufiq.</p>
<p><span style="color: #333399;"><em>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal - Sumber: rumaysho</em></span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hadits-palsu-tentang-khasiat-surat-yasin/' rel='bookmark' title='Hadits Palsu Tentang Khasiat Surat Yasin'>Hadits Palsu Tentang Khasiat Surat Yasin</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-malam-tahajjud-apakah-harus-tidur-dahulu/' rel='bookmark' title='Shalat Malam (Tahajjud), Apakah Harus Tidur Dahulu?'>Shalat Malam (Tahajjud), Apakah Harus Tidur Dahulu?</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/imam-syafii-dalam-membagi-waktu-malam/' rel='bookmark' title='Imam Syafi&#8217;i Dalam Membagi Waktu Malam'>Imam Syafi&#8217;i Dalam Membagi Waktu Malam</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tafsir-surat-al-qadr-malam-kemuliaan/' rel='bookmark' title='Tafsir Surat Al-Qadr (Malam Kemuliaan)'>Tafsir Surat Al-Qadr (Malam Kemuliaan)</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/menyambung-sillaturrahmi-dan-shalat-malam/' rel='bookmark' title='Menyambung Sillaturrahmi dan Shalat Malam'>Menyambung Sillaturrahmi dan Shalat Malam</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amanat Berat pada Manusia</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/amanat-berat-pada-manusia/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/amanat-berat-pada-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2013 13:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[iloveAllaah.com Editor]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepribadian]]></category>
		<category><![CDATA[amanat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=1215</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al Ahzab: 72).]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/amanat-berat-pada-manusia/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: left;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/lighting_the_night_by_devi_cat-d64evw5.png"><img class="aligncenter  wp-image-1216" alt="lighting_the_night_by_devi_cat-d64evw5" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2013/06/lighting_the_night_by_devi_cat-d64evw5.png" width="504" height="336" /></a>Amanat berat telah disematkan pada manusia. Amanat ini berupa perintah dan larangan dari Allah. Ada manusia yang bisa memikul beban ini secara lahir dan batin, merekalah orang-orang beriman. Dan ada yang menerimanya dengan melakukan kemunafikan dan kesyirikan.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<blockquote><p>إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al Ahzab: 72).</p></blockquote>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata,</p>
<p>Allah Ta’ala menerangkan mengenai beratnya amanat yang diemban. Amanat ini adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amanat ini ditunaikan dalam keadaan diam-diam atau tersembunyi, sebagaimana pula terang-terangan. Asalnya, Allah memberikan beban ini kepada makhluk yang besar seperti langit, bumi dan gunung. Jika amanat ini ditunaikan, maka akan memperoleh pahala yang besar. Namun jika dilanggar, maka akan memperoleh hukuman. Karena makhluk-makhluk ini takut tidak bisa mengembannya, bukan karena mereka ingin durhaka pada Rabb mereka atau ingin sedikit saja menuai pahala.</p>
<p>Lalu amanat tersebut diembankan pada manusia dengan syarat yang telah disebutkan. Mereka mengemban dan memikulnya, namun dalam keadaan berbuat zalim disertai kebodohan. Mereka senyatanya telah memikul beban yang teramat berat.</p>
<h4><span style="color: #800080;">Dilihat dari menjalankan amanat ataukah tidak, manusia dibagi menjadi tiga:</span></h4>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1-</strong> Kaum munafik, yaitu yang secara lahir nampak memikul amanat, namun secara bati tidak.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2-</strong> Kaum musyrik, yaitu yang secara lahir dan batin tidak menjalankan amanat tersebut.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>3-</strong> Kaum mukmin, yaitu yang secara lahir dan batin menjalankan amanat dengan baik.</p>
<p>Mengenai tiga golongan tersebut dijelaskan amalan, pahala dan balasan bagi mereka pada ayat selanjutnya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<blockquote><p>لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</p>
<p>“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 73).</p></blockquote>
<p>Segala puji bagi Allah. Ayat terakhir ini, Allah tutup dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia yang menunjukkan kemahasempurnaan ampunan, rahmat serta karunia Allah. Sedangkan kebanyakan makhluk tidak mensyukuri ampunan dan rahmat-Nya, malah membalasnya dengan berbuat kemunafikan dan kesyirikan.” (Taisir Al Karimir Rahman, 673-674).</p>
<p>Ada dua sebab kata Ibnu Taimiyah rahimahullah yang disimpulkan dari ayat ini bahwa manusia itu sulit memikul amanat yang Allah bebankan. Dua sebab itu adalah: <strong>(1) zalim, (2) tidak memiliki ilmu.</strong> Zalim dan tidak memiliki ilmu adalah dua sifat yang hampir berdekatan. Orang yang bodoh tidak tahu dirinya zalim. Sedangkan orang yang zalim adalah orang yang hakekatnya itu bodoh yang menghalanginya untuk meraih ilmu. <em>(Lihat Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 5: 279-280).</em></p>
<p>Semoga Allah menghindarkan kita dari sifat zalim dan bodoh sehingga kita bisa memikul amanat berat yang Allah bebankan untuk menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya.</p>
<p>Wallahu waliyyut taufiq.</p>
<h6><span style="color: #333399;">Referensi:</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, cetakan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H.</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;">Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Iyad bin ‘Abdul Lathief bin Ibrahim Al Qosim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H.</span></h6>
<h6><span style="color: #333399;"><em>Sumber: rumaysho</em></span></h6>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/pegawai-yang-amanat/' rel='bookmark' title='Pegawai Yang Amanat'>Pegawai Yang Amanat</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/dialog-dengan-jin-yang-masuk-ke-tubuh-manusia/' rel='bookmark' title='Dialog Dengan Jin Yang Masuk ke Tubuh Manusia'>Dialog Dengan Jin Yang Masuk ke Tubuh Manusia</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/lorong-lorong-syetan-untuk-menyesatkan-manusia/' rel='bookmark' title='Lorong-lorong Syetan untuk Menyesatkan Manusia'>Lorong-lorong Syetan untuk Menyesatkan Manusia</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/jin-dan-manusia-bisa-saling-menyakiti-dan-membunuh-sengaja-atau-tidak/' rel='bookmark' title='Jin dan Manusia  Bisa Saling Menyakiti dan Membunuh, Sengaja atau Tidak'>Jin dan Manusia  Bisa Saling Menyakiti dan Membunuh, Sengaja atau Tidak</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/surat-al-kahfi-pada-hari-jumat/' rel='bookmark' title='Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at'>Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/amanat-berat-pada-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching using disk: basic
Object Caching 1943/2141 objects using disk: basic

Served from: indonesian.iloveallaah.com @ 2015-06-10 10:29:47 -->