<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" version="2.0">

<channel>
	<title>Iman Brotoseno</title>
	
	<link>http://blog.imanbrotoseno.com</link>
	<description>living in my viewfinder</description>
	<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 11:04:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/imanbrotoseno/niTd" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">imanbrotoseno/niTd</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Penandatanganan Pesta Blogger 2009</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=853</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=853#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 10:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BLOGGERS]]></category>

		<category><![CDATA[Cameron Humme]]></category>

		<category><![CDATA[Iman Brotoseno]]></category>

		<category><![CDATA[Muhammad Nuh]]></category>

		<category><![CDATA[PB 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Pesta Blogger 2009 semakin dekat. Tak terasa hampir setahun kita melewati keriangan Pesta Blogger tahun lalu.  Hari ini seperti yang dilakukan tahun lalu, di tempat yang sama – Departemen Kominfo, Jl, Medan Merdeka Barat Jakarta - telah dilakukan penandatanganan sponsorship sekaligus peluncuran kegiatan Pesta Blogger 2009.
Saya, selaku Chairman Pesta Blogger 2009 bersama Dirjen Aplikasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.imanbrotoseno.com/wp-content/uploads/2009/07/pb-2009.jpg" alt="pb-2009" title="pb-2009" width="300" height="223" class="alignleft size-full wp-image-862" />Pesta Blogger 2009 semakin dekat. Tak terasa hampir setahun kita melewati keriangan Pesta Blogger tahun lalu.  Hari ini seperti yang dilakukan tahun lalu, di tempat yang sama – Departemen Kominfo, Jl, Medan Merdeka Barat Jakarta - telah dilakukan penandatanganan <em>sponsorship</em> sekaligus peluncuran kegiatan Pesta Blogger 2009.</p>
<p>Saya, selaku Chairman Pesta Blogger 2009 bersama Dirjen Aplikasi Telematika, Tjahyana dan Duta Besar Amerika Serikat, Cameron R. Hume.<br />
Hadir pula disana seluruh member of comitee Pesta Blogger, <em>Enda Nasution, Ong Hock Chuan, Chika Nadya, Muhammad Ikhsan, Yati Maulana, Wicaksono, Shinta Dhanuwardoyo, Hanny Kusumawati dan Amril T Gobel.</em><br />
Tak lupa beberapa teman berasal dari perwakilan komunitas blogger yang kebetulan sedang berada di Jakarta.  Cahandong Jogyakarta, Cikarang, Depok, Loenpia Semarang, BHI Jakarta, Siliwangi Bogor, Benteng Tangerang, Angingmammiri Makasar, Balikpapan, Bengawan Solo, BBC Bali, Batagor Bandung dan Medan.</p>
<p>Kalau tak ada aral melintang. Pesta Blogger tetap akan dilakukan di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009. Sebelumnya akan dilakukan serangkaian mini Pesta Blogger di daerah bersamaan dengan Blogshop,<em> Blogging Workshop</em>.<br />
Kota kota tersebut adalah Balikpapan, Samarinda, Jogyakarta, Bandung, Malang, Makasar, Palembang, Medan, Semarang dan Surabaya.<br />
<span id="more-853"></span><br />
Saya bisa mengatakan bahwa Pesta Blogger kali ini akan lebih heboh. Selain roadshow 10 kota. Kami masih menggodok rangkaian acara yang – sekali lagi masih tergantung dengan dana sponsor –  blogging competition, photo contest, bazaar, break out seassion yang lebih seru dan pameran selama Pesta Blogger.<br />
Sehingga kalau tahun tahun sebelumnya Pesta Blogger diakhiri sampai sore. Kali ini, masih terus berjalan sampai malam !</p>
<p>Mudah mudahan ini akan menjadi Pestanya para blogger Indonesia, yang berbalut keragaman komunitas. Sesuai dengan semangat tema tahun ini. <em>One Spirit One Nation</em>.<br />
Sampai bertemu di sepuluh kota kelak dan tentunya pada puncak acara Pesta Blogger di Jakarta. </p>
<p>* Foto foto dapat dilihat <a href=http://picasaweb.google.com/Ongatlarge/PestaBlogger2009PressCon?authkey=Gv1sRgCNTRpre04oiWFg#> disini </a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=853</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hiruk Pikuk yang usai</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=839</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=839#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 10:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BERBANGSA]]></category>

		<category><![CDATA[POLITIK]]></category>

		<category><![CDATA[demokrat]]></category>

		<category><![CDATA[history of java]]></category>

		<category><![CDATA[inggrid kansil]]></category>

		<category><![CDATA[niti praja]]></category>

		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>

		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<category><![CDATA[sir thomas raffles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[Gadis itu bernama Inggrid Kansil. Saya cukup mengenalnya bertahun tahun lalu ketika sering menjadi model iklan saya.  Setelah dia memutuskan menikah dengan Syarif Hassan, politikus dan ketua fraksi Demokrat di DPR,  Ingrid lebih berkonsentrasi ke rumah tangganya. Apalagi kini ia menjadi anggota DPR hasil pemilu legislative lalu.
Ada yang menarik bahwa, ia masih membalas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.imanbrotoseno.com/wp-content/uploads/2009/07/jawa4.jpg" alt="jawa4" title="jawa4" width="206" height="250" class="alignleft size-full wp-image-847" />Gadis itu bernama Inggrid Kansil. Saya cukup mengenalnya bertahun tahun lalu ketika sering menjadi model iklan saya.  Setelah dia memutuskan menikah dengan Syarif Hassan, politikus dan ketua fraksi Demokrat di DPR,  Ingrid lebih berkonsentrasi ke rumah tangganya. Apalagi kini ia menjadi anggota DPR hasil pemilu legislative lalu.</p>
<p>Ada yang menarik bahwa, ia masih membalas ucapan selamat saya dulu atas kemenangan SBY dan partainya.  Saya hanye mengutip kitab <em>Niti Praja</em> – yang menjadi acuan orang Jawa – dalam ‘ History of Java ‘ dari Sir Thomas Raffles.</p>
<p><em> “ Tapi jika seorang raja mengabaikan untuk memberikan kebaikan dan perlindungan bagi rakyatnya, dia telah menyebabkan dirinya ditinggalkan oleh rakyat dan dalam beberapa tingkatan kehilangan kepercayaan mereka.  Merupakan kebenaran yang tak bisa dipungkiri bahwa tidak ada seorangpun akan percaya atau tertarik pada seseorang yang tidak bisa dijadikan gantungan “.</em></p>
<p>Pemilu baru saja usai. Sekali lagi SBY membuktikan masih dipercaya sebagian besar rakyat. Tanpa mengurangi kekisruhan DPT, kecurangan atau apapun. Kita belajar salah satu elemen paling penting dalam demokrasi. <em> Legowo</em>, kerelaan mengakui sang pemenang.<br />
<span id="more-839"></span><br />
Berbeda dengan kemenangan Obama yang disambut dengan harapan dan ekpektasi luar biasa dari seluruh bangsanya.  Kemenangan SBY seperti anti klimaks.  Tak ada harapan apa apa, tidak ada kejutan baru. Suasana adem ayem, berbanding terbalik dengan tensi dan hiruk pikuk pemilu – legislative dan presiden – hampir sepanjang separuh tahun ini.<br />
Ternyata rakyat sudah percaya dan berada dalam comfort zone bersama SBY.</p>
<p>Ini memang kemenangan individu SBY.  Mega Prabowo bisa terus mengutak atik gugatan tentang kecurangan. Yusuf Kalla bisa saja manyun, melihat kemarin SBY dengan gagah menerima penyerahan sebagian unit panser buatan Pindad ke Mabes TNI. Padahal dulu, JK yang memaksa kontrak pembuatan panser ini untuk diserahkan ke dalam negeri.<br />
Sekali lagi. The Winner takes it all.</p>
<p>Era 80an, pemikir John Naisbitt sudah memperkirakan bahwa masyarakat – dunia – kelak akan mengalami era kemenangan individu. Sistem masyarakat bersifat massal, monolitik sampai ide tentang partai partai akan kurang popular.<br />
Ini adalah kemenangan SBY , bukan kemenangan partai Demokrat. Jika konstitusi kita memungkinkan Presiden sampai 3 kalipun. SBY akan menang sepanjang calon calon  penantang yang muncul dari stock itu itu saja.</p>
<p>SBY mesti tidak terjebak dalam bagaimana meneruskan suksesi kepemimpinannya di masa depan. Bekerja saja memenuhi janji kampanye. Lapindo masih di pelupuk mata.  Keadilan masih jauh. Tidak usah terlalu berepot repot memikirkan Ibas – puteranya – agar matang di politik dan memaksa menjadi penerusnya.<br />
Partai Demokrat juga mesti belajar, bahwa partai yang terlalu tergantung dengan individu seseorang akan sangat rentan ditinggalkan massa pemilihnya.<br />
Inggrid Kansil juga berharap ada perubahan dan kebaikan bangsa ini. Sesuai yang ditawarkan partai dan pemimpinnya.</p>
<p>Sebagaimana lanjutan kitab Niti Praja.<br />
<em>“ Raja yang baik harus melindungi rakyatnya dari semua bentuk penganiayaan dan penindasan, dan harus menjadi sinar dari rakyatnya, bahkan seperti matahari menyinari dunia. Kebaikannya harus mengalir jernih dan penuh, seperti air terjun di gunung, yang ketika mengalir menuju laut memperkaya dan menyuburkan tanah yang dilewati .”</em></p>
<p>Kita masih menunggu janji janji kampanye itu. SBY mestinya tahu bahwa masalah menjadi pemimpin bukan sekadar meneruskan pemerintahan lima tahun kedepan. Tapi bagaimana namanya akan terus dicatat dalam sejarah, jika ia bisa menjadi matahari dan sekaligus air terjun.<br />
Mudah mudahan ia tak ragu ragu. Selamat bekerja. Lanjutkan !</p>
<p>*photo pangeran madura dari <a href=http://tyawar.multiply.com/photos/album/31/Pendoedoek_Tempo_Doeloe#17> sini </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=839</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dublin</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=827</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=827#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 06:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BLOGGERS]]></category>

		<category><![CDATA[PERJALANAN]]></category>

		<category><![CDATA[Dublin]]></category>

		<category><![CDATA[G250]]></category>

		<category><![CDATA[Guiness]]></category>

		<category><![CDATA[Irlandia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang menarik tentang Irlandia. Negeri yang banyak gunung gunung, sungai dan danau.  Sejak dahulu Bung karno sudah menarik garis kesamaan perjuangan kemerdekaan kedua bangsa ini.  Ia pernah menyitir dalam pidatonya bagaimana wakil Irlandia yang duduk dalam parlemen Westminster Inggris Raya, sama dengan wakil Hindia Belanda dalam Tweede Kamer parlemen Belanda.
Sejarah panjang Irlandia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2882525760102872335RNaRDZ"><img src="http://inlinethumb07.webshots.com/45574/2882525760102872335S500x500Q85.jpg" alt="dubblin"></a>Apa yang menarik tentang Irlandia. Negeri yang banyak gunung gunung, sungai dan danau.  Sejak dahulu Bung karno sudah menarik garis kesamaan perjuangan kemerdekaan kedua bangsa ini.  Ia pernah menyitir dalam pidatonya bagaimana wakil Irlandia yang duduk dalam parlemen <em>Westminster</em> Inggris Raya, sama dengan wakil Hindia Belanda dalam <em>Tweede Kamer</em> parlemen Belanda.<br />
Sejarah panjang Irlandia memang memiliki kesamaan dengan Indonesia. Negara itu salah satu bentuk kolonialisasi yang tersisa di Eropa.  Seperti Indonesia, dimana Islam menjadi salah satu sumber pergerakan nasional.  Agama Katolik menjadi simbol pemersatu negeri melawan penjajahan Inggris. Setelah mengalami perjalanan panjang peperangan. Irlandia bisa memproklamirkan kemerdekaannya.</p>
<p>Inggris masih mempertahankan sisa teritorinya di Irlandia Utara dengan alasan melindungi komunitas Protestan dari mayoritas Katolik Irlandia.  Sebuah teknik - devide it impera – memecah belah ala Belanda ketika menganggap entitas Ambon atau Papua yang beragama Kristen, bukan sebagai bagian dari Indonesia yang mayoritas Islam.</p>
<p>Kini Irlandia dibagi dua kawasan. Republik Irlandia dengan ibu kota Dublin dan Irlandia Utara dengan ibu kota Belfast.  Perang berdarah masih terus berlangsung di kawasan utara sampai awal 2000. Sayap militer ‘ Tentara Pembebasan Irlandia ‘ ( IRA ) dan sayap politik <a href=http://en.wikipedia.org/wiki/Sinn_F%C3%A9in> Sinn Feinn </a> selalu memperjuangkan persatuan negeri Irlandia.<br />
Group musik U 2 – asal Irlandia - pernah membuat lagu <a href=http://en.wikipedia.org/wiki/Bloody_Sunday_(1972)>‘ Sunday Bloody Sunday ‘</a> tentang pembantaian berdarah oleh Tentara Inggris di kawasan Irlandia Utara.<br />
<span id="more-827"></span><br />
Negeri ini yang membuat saya penasaran untuk dikunjungi. Ketika menjadi <em>the happy selected few</em> yang bisa belajar film di London, awal 90an. Hanya sekali, dan sangat berkesan waktu itu. Ditemani seorang teman asal Glasgow, Skotlandia yang juga belajar di sekolah yang sama.<br />
Ticket kereta api Eurail Pass  - hanya berlaku di Eropa Barat – waktu itu tidak berlaku di kawasan Inggris Raya. Sehingga harus membeli ticket kereta sendiri di negeri ini.</p>
<p>Saya lupa di daerah mana, tetapi ada negeri ini meninggalkan sejarah historis megalitikum jaman dulu. Banyak situs yang menjadi warisan budaya dunia. Batu batu besar dan kuburan kuno bertautan dengan biara biara jaman dulu. </p>
<p>Dublin lebih menarik dari London, dengan gedung gedung sejarahnya dan museumnya, dan tentu saja kehidupan malamnya.  Sebenarnya tidak saja malam. Bar bar dan pub sudah ramai dikunjungi orang sejak siang hari.  Mereka lebih banyak minum bir daripada makan siang. Mungkin karena cuaca di luar yang ‘ moody ‘, dingin dan melankolis waktu itu.</p>
<p>Saya lebih membayangkan jalanan tempat <a href=http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Collins_(film)>Michael Collins</a>, pejuang kemerdekaan Irlandia bertempur dan menyusup di lorong lorong pemukiman yang sempit.  Juga pub pub tempat dia secara rahasia mengatur perlawanannya terhadap penjajahan Inggris.</p>
<p>Tentu saja sekarang Irlandia tidak seseram yang kita bayangkan. Bom dan asap mesiu sudah berganti tawa dan salam persahabatan dari masyarakat Dublin, menawarkan segelas bir. Walau agak susah menangkap aksen Inggrisnya.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2779154120102872335jIkhgC"><img src="http://inlinethumb48.webshots.com/45039/2779154120102872335S500x500Q85.jpg" alt="guiness house"></a>Perjalanan lebih 15 tahun yang lalu sangat menyenangkan. Entah karena perjalanannya, atau entah karena memang Dublinnya. Yang jelas saya ingin kembali ke sana. Waktu itu belum ada <a href=http://en.wikipedia.org/wiki/Guinness_Storehouse> museum Guinness</a>, seperti sekarang.<br />
Kesempatan itu ada. Sehubungan dengan peringatan Ulang Tahun <a href=http://www2.guinness.com/Pages/Gateway-en-row.aspx?RefUrl=http%3a%2f%2fwww2.guinness.com%2fbh-ID%2fPages%2f250-home.aspx&#038;Lang=en-row&#038;BrandId=SO&#038;RhCountry=&#038;RhYear=> Guiness ke 250 </a>, dibuka perlombaan kesempatan penulisan blog. Baik <a href=http://www2.guinness.com/Pages/Gateway-en-row.aspx?RefUrl=http%3a%2f%2fwww2.guinness.com%2fbh-ID%2fPages%2f250-Mechanism.aspx&#038;Lang=en-row&#038;BrandId=SO&#038;RhCountry=&#038;RhYear=>photo </a> maupun <a href=http://www2.guinness.com/Pages/Gateway-en-row.aspx?RefUrl=http%3a%2f%2fwww2.guinness.com%2fbh-ID%2fPages%2f250-BlogRoll.aspx&#038;Lang=en-row&#038;BrandId=SO&#038;RhCountry=&#038;RhYear=> kompetisi penulisan </a>, dengan hadiah perjalanan ke Dublin berikut akomodasinya.</p>
<p>Saya bukan <a href=http://tikabanget.com/> penulis yang baik </a>, tapi mungkin saya bisa mengadu di ajang photo. Siapa tahu ? Saya ingin mengenang kenangan manis perjalanan masa lalu. Sebagaimana <em>Michael Longley</em> , seorang penyair Irlandia yang justru ingin melupakan kenangan pahit peperangan</p>
<p><em>I thought you blew a kiss before you died,<br />
But the bony fingers that waved to and fro<br />
Were asking for a Woodbine, the last request<br />
Of many soldiers in your company,<br />
The brand you chose to smoke for forty years<br />
Thoughtfully, each one like a sacrament.<br />
I who bought peppermints and grapes only<br />
Couldn&#8217;t reach you through the oxygen tent.</em></p>
<p>Tiba tiba siang ini begitu sendu dan dengan udara Jakarta yang begitu panas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=827</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Simbol</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=818</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=818#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:10:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BERBANGSA]]></category>

		<category><![CDATA[POLITIK]]></category>

		<category><![CDATA[REFLEKSI]]></category>

		<category><![CDATA[black campaign]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[ISLAM]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye]]></category>

		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>

		<category><![CDATA[soe hok gie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[Dalam surat kabar ‘ Indonesia Raya ‘ minggu keempat bulan Juni 1968, Soe Hok Gie menulis pengalamannya saat duduk sebagai pimpinan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.  Saat itu ada resolusi dari golongan nasionalis kiri dan komunis untuk membersihkan senat dari golongan kontra revolusi, yakni HMI – Manikebu.
Ia membela mati matian dan mengatakan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2697037410102872335oifzWT"><img src="http://inlinethumb26.webshots.com/43353/2697037410102872335S500x500Q85.jpg" alt="simbol"></a>Dalam surat kabar ‘ Indonesia Raya ‘ minggu keempat bulan Juni 1968, Soe Hok Gie menulis pengalamannya saat duduk sebagai pimpinan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.  Saat itu ada resolusi dari golongan nasionalis kiri dan komunis untuk membersihkan senat dari golongan kontra revolusi, yakni HMI – Manikebu.<br />
Ia membela mati matian dan mengatakan bahwa prinsip yang harus ditegakan adalah prinsip kepemimpinan yang sehat dalam dunia mahasiswa. Seorang mahasiswa tidak dinilai oleh afiliasinya, agamanya, sukunya,keturunan maupun ormasnya. Penilaian satu satunya yang dipakai adalah benar atau salah, jujur atau maling, mampu atau tidak mampu.<br />
Mereka saat itu setuju semuanya.</p>
<p>Apa yang ditulis Soe Hok Gie kini merefleksikan hiruk pikuk kampanye di Indonesia. Bahwa opini dan keberpihakan selalu diarahkan kepada kelompok mayoritas ( Jawa dan Islam ).  Kita akhirnya terjebak dalam simbol simbol pembenaran absolut.<br />
<span id="more-818"></span><br />
Paling mudah dalam kampanye adalah membuat stigma yang bukan mewakili Islam, maka tidak layak dipilih.  Tahun 1999, para ulama membuat fatwa tidak memilih PDI karena calon legislatifnya dianggap banyak orang Kristen.<br />
Gara gara isteri isteri SBY dan Budiono tidak memakai jilbab, juga dianggap kurang Islami.   Sehingga <em>Jaffar Umar Thalib</em> harus menulis opini khusus mengcounter<em> Tifatul Sembiring</em> yang mengatakan, Mengapa mempersoalkan selembar kain.<br />
JK dianggap tidak mewakili mayoritas Jawa, karena berasal dari Bugis.</p>
<p>Ibunya Prabowo, yang orang Manado dan beragama Kristen dipersoalkan. Sekarang istrinya Budiono diissuekan beragama Katolik. Apakah penting ? memang kalau ia beragama Katolik kenapa ? bukankah seorang pria muslim bisa saja mengawini wanita dari golongan ahli kitab.</p>
<p>Sejarah bangsa kita mengajarkan persamaan nasib yang membentuk negeri ini. Bukan karena agama, suku atau golongan. Bung Karno mengutip <em>Otto Bauer</em> yang mengatakan bahwa suatu bangsa terbentuk karena kesamaan watak  yang muncul dari kesamaan nasib.  </p>
<p>Saya – beragama Islam – terpaksa harus sepakat dengan pendapat Soe Hok Gie, bahwa seseorang dinilai kemampuan yang mumpuni bukan karena beragama Islam . Ironisnya para anggota dewan yang terjerat kasus korupsi sekarang, seluruhnya beragama Islam atau berasal dari partai partai Islam.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2952868590102872335GpbDHl"><img src="http://inlinethumb33.webshots.com/42144/2952868590102872335S500x500Q85.jpg" alt="kanpanye"></a>Ini memang masih mimpi yang teramat jauh di Indonesia. Katakanlah memiliki presiden asal pulau Rote, dan beragama Katolik.  Kata almarhum Timbul Srimulat. Suatu <em>hil yang mustahal</em>. Sementara di India, seorang muslim bisa menjadi Presiden.<br />
Namun setidaknya dengan usia negeri ini semakin banyak. Sudah semestinya ada pembelajaran politik tentang kedewasaan. Mereka yang menyatakan kebenaran atas dasar prinsip prinsip kebenaran, dan tidak menyatakan kebenaran atas neraca Islam atau Kristen dan pertimbangan praktis lainnya. Konstitusi kita menjelaskan bahwa semua penduduk memiliki hak yang sama dalam kehidupan berbangsa.</p>
<p>Kampanye presiden di Indonesia tidak pernah menawarkan pembelajaran politik. Selalu digembar gemborkan keunggulan diri sendiri, gagasan yang dangkal dan menyerang kandidat lain dengan black campaign.  Apalagi kalau bukan urusan Islam dan Kristen. Asli atau tidak.  Jawa atau bukan.</p>
<p>Tak ada salahnya melihat kampanye Obama di Amerika. Ia menang bukan karena kampanye menonjolkan kemampuannya, tetapi karena menawarkan sesuatu perubahan. Inilah pembelajaran politik yang elegan.  Amerika yang sebelum tumbuh karena keterbukaan tiba tiba menjadi paranoid dengan dunia luar.  Menciptakan musuh musuh yang dianggap bibit teroris.<br />
Sosiolog <em>Ignas Kleden</em> mengatakan Amerika melakukan embargo mental terhadap dirinya sendiri. Obama tidak mampu menyelesaikan semua masalah. Tapi dia bisa meyakinkan rakyat Amerika bahwa penyelesaian bisa dilakukan dengan perubahan, karena sikap yang berubah akan mengubah identifikasi masalah dan memperbaharui pendekatan yang diterapkan.</p>
<p>Indonesia sepertinya masih akan terus berkutat dengan simbol simbol ini.  Masalah kepemimpinan nasional hanya merupakan kompromi disana sini.  Seperti Soe Hok Gie, saya memimpikan masyarakat Indonesia yang memahami politik dengan dengan huruf <strong>P</strong> besar, bukan<strong> P</strong> kecil yang merupakan politik praktis untuk kepentingan sesaat.</p>
<p>Padahal dulu saya mempunyai mimpi yang lebih ekstrem. Kalau ujung ujungnya untuk membawa kemakmuran rakyat. Lupakan kampanye kampanye. Sewa saja <em>Lee Kuan Yew</em> sebagai Presiden Indonesia setelah dia pensiun dari kursi Perdana Menteri Singapura.<br />
Barangkali saya terlalu apatis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=818</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan remehken Logika</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=813</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=813#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 18:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FILM]]></category>

		<category><![CDATA[INDONESIANA]]></category>

		<category><![CDATA[PERIKLANAN]]></category>

		<category><![CDATA[REMAH REMAH]]></category>

		<category><![CDATA[Dikejar Setan]]></category>

		<category><![CDATA[Ketika Cinta Bertasbih]]></category>

		<category><![CDATA[Michael Jackson]]></category>

		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>

		<category><![CDATA[Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Suatu periode tahun delapan puluhan. Sebagai mahasiswa baru di Universitas Indonesia, kami wajib menyiapkan sebuah acara di malam perkenalan kampus. Sempat bingung sebentar, sampai kami sepakat membuat operet tari tarian ala Michael Jackson. Video Klip  “ Beat it “ menjadi referensi. Contoh gerakan tari, kostum dan gaya menyanyi sound alike, di contek habis.
Seorang teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2700321320102872335rNKFyB"><img src="http://inlinethumb39.webshots.com/42342/2700321320102872335S500x500Q85.jpg" alt="logika"></a>Suatu periode tahun delapan puluhan. Sebagai mahasiswa baru di Universitas Indonesia, kami wajib menyiapkan sebuah acara di malam perkenalan kampus. Sempat bingung sebentar, sampai kami sepakat membuat operet tari tarian ala Michael Jackson. Video Klip  “ Beat it “ menjadi referensi. Contoh gerakan tari, kostum dan gaya menyanyi sound alike, di contek habis.<br />
Seorang teman yang menjadi anggota Swara Mahardikanya, mengajari kami bagaimana menari dan bergoyang.  Jadilah sebuah operet yang sebenarnya memalukan, sekaligus mengundang tepuk tangan. </p>
<p>Apa yang bisa ditarik dari seorang Michael Jackson pada masa itu ? Sebuah budaya barat egaliter yang bisa menginspirasikan sebuah operet picisan mahasiswa mahasiswa baru di negeri berjarak ribuan mil jauhnya.<br />
Bahwa seni - musik, film, tari, bahkan komunikasi – selain bersifat menghibur atau alat propaganda. Ia harus dalam paparan universal dan logis bagi siapapun yang menerimanya.</p>
<p>Orang daratan Cina, mungkin tidak bisa berbahasa Inggris tapi bisa berdendang mengikuti irama lagu lagunya Michael Jackson.  Kenapa Islam bisa diterima ? karena Wali Sanga tidak melulu menafsirkan budaya arabnya.  Ada unsur wayang dan budaya lokal yang diselipkan.<br />
<span id="more-813"></span><br />
Kita bicara teknik komunikasi , penyampaian ide harus memahami pikiran  target audiensnya.  Baru baru ini saya di tanya oleh team pencitraan JK Wiranto. Bagaimana pendapat saya tentang iklan iklan mereka.<br />
Saya mengkritiknya, bahwa iklan iklan ( terdahulu ) terlalu cantik, indah dan membingungkan bagi target audiens. Mereka mestinya bicara kepada <em>grass root</em>, sesuai kapasitasnya.  Gambar gambar indah , tema taktikal seperti JK membangun bandara justru tidak dipahami oleh kalangan C, D yang sebagian besar merupakan penduduk Indonesia.<br />
Iklan SBY yang ‘norak ‘ dan kampungan justru lebih mudah dipahami. Karena ia bicara tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupan rakyat grass root sehari hari. </p>
<p>Ini menjelaskan mengapa dulu larutan <em>Cap Kaki Tiga</em> bisa menerterjemahkan misteri yang terjadi dalam alam subkultur kehidupan masyarakat Indonesia.<br />
Panas Dalam. Ini adalah penyakit khusus orang Indonesia, karena sampai sekarang tidak ada obat kedokteran yang dibuat untuk menyembuhkan panas dalam.<br />
Meminjam istilah <em>Prof Warren Keegan</em>. Obat panas dalam bisa disebut sebagai <em>deep – need</em> ( kebutuhan mendalam ) yang sering terselubung , namun tidak bisa terartikulasikan oleh konsumen.  Dulu ada perusahaan yang mengetes cairan Cap Kaki Tiga di laboratorium. “ Just water “. Namun anehnya orang percaya jika minum secara teratur, badannya akan menjadi lebih enak.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2996508840102872335gJMFYp"><img src="http://inlinethumb32.webshots.com/42783/2996508840102872335S500x500Q85.jpg" alt="setan"></a>Ini sebenarnya resep yang mudah dalam teknik komunikasi. Pahami apa yang berlaku dalam alam subkultur masyarakatnya. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari hari.  Sesuai dengan logika pikiran orang Indonesia.<br />
Makanya film film horror masih saja laku di Indonesia. Apapun itu seri pocong atau Kuntilanak,  orang masih saja membeli karcis bioskop. Karena bagi logika berpikir <em>klenik</em> orang Indonesia, rumah kosong pasti ada hantunya.</p>
<p>Apakah logika pikiran orang Indonesia, karakteristik masyarakat C, D memahami neolib, ekonomi pancasila dan segala tetek bengek istilah di awang awang yang sering dibicarakan para kandidat capres ?<br />
Logika mereka adalah hidup sulit, antri minyak goreng dan mimpi bisa menyekolahkan atau ke dokter dengan gratis.</p>
<p>Jangan meremehkan logika berpikir. Minggu lalu saya nonton dua film Indonesia. Ternyata ‘ Di kejar Setan ‘ lebih menarik dibanding ‘ <a href=http://hermansaksono.com/2009/06/ketika-cinta-bertasbih.html> Ketika Cinta Bertasbih </a> ‘. Pasalnya walau dipenuhi adegan jerit jerit ketakutan, pemaparan film horror itu masih terasa logis dibanding film yang bertag line ‘ asli mesir ‘ itu.  Sesuatu dalam logika berpikir saya mengatakan demikian.</p>
<p>Kalau sudah begini, saya tinggal menunggu diputarnya film ‘ Hantu Neolib ‘. Siapa tahu ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=813</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Megawati dan Fatmawati</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=803</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=803#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 09:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BERBANGSA]]></category>

		<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>

		<category><![CDATA[SOEKARNO]]></category>

		<category><![CDATA[Fatmawati]]></category>

		<category><![CDATA[Megawati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu yang tak dapat saya mengerti tentang Megawati.  Kenapa ia harus  - keras kepala – maju lagi dalam pencalonan kali ini.  Apakah hanya karena keputusan kongres partai yang mengharuskan itu. Sesakral itukah ?
Ia bisa sangat marah ketika beberapa pengurus partai dan orang dekatnya memberikan fakta, bahwa ia sudah tak terlalu popular [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.imanbrotoseno.com/wp-content/uploads/2009/06/keluarga-soekarno.jpg" alt="keluarga-soekarno" title="keluarga-soekarno" width="250" height="147" class="alignleft size-full wp-image-805" />Ada satu yang tak dapat saya mengerti tentang Megawati.  Kenapa ia harus  - keras kepala – maju lagi dalam pencalonan kali ini.  Apakah hanya karena keputusan kongres partai yang mengharuskan itu. Sesakral itukah ?<br />
Ia bisa sangat marah ketika beberapa pengurus partai dan orang dekatnya memberikan fakta, bahwa ia sudah tak terlalu popular di mata rakyat.  Ia mempersilahkan penasehat partai Sabam Sirait untuk makan di ruang sebelah. Tidak satu ruangan dengannya.<br />
Sabam Sirait tidak salah. Jaman sudah berubah, tidak seperti lebih sepuluh tahun lalu, ketika ia dipersepsikan sebagai simbol perlawanan terhadap orde baru.<br />
Saya berani bertaruh, jika saat itu pemilihan presiden sudah dilakukan secara langsung, pasti dengan mudah ia akan memenangi kontes itu.</p>
<p>Mungkin keras kepala ini, salah satu sifat yang menurun dari ibunya.  Bung Karno konon tidak sekeras Fatmawati istrinya. </p>
<p>Kilas balik dalam pembuangan  di tanah Bengkulu , Fatwamati adalah teman anak anak angkat Bung Karno yang bersekolah di sebuah sekolah katolik di sana. Ketika Bung Karno menyatakan keinginannya untuk memperistri. Saat itu Fatmawati berusia 19 tahun dan Bung Karno 41 tahun. Ia dengan tegas menolak, kecuali Bung Karno menceraikan istrinya terlebih dahulu. Ia tak mau dimadu.<br />
Ada cerita menarik di balik ini.  Sebenarnya justru Fatmawati sedang meminta pendapat  Bung Karno tentang pinangan seorang anak wedana terhadap dirinya. Alih alih mendapat jawaban, justru Bung Karno mengutarakan perasaan cintanya.<br />
<span id="more-803"></span><br />
Kelak Fatmawati bersikeras keluar dari istana setelah mengetahui Bung Karno memperistri Hartini.  Bung Karno juga menghormati pilihan itu. Sampai akhir hayatnya istri istrinya tidak ada yang tinggal secara resmi di Istana.</p>
<p>Ada satu hal yang mungkin tidak di miliki Megawati. Kepekaan. Berbeda dengan Fatwamati yang mengikuti arus kemerdekaan bersama suaminya.  Ia peka terhadap semangat revolusioner negerinya. Diam diam ia menjahitkan sebuah bendera merah putih untuk dikibarkan pada hari kemerdekaan. </p>
<p>Mestinya Megawati juga teringat salah satu pidato ayahnya. Jasmerah. Jangan sekali kali meninggalkan sejarah.  Ia sudah kehilangan kesempatan ketika sempat memimpin negeri ini. Sejarah pasti menulisnya.</p>
<p>Dalam segala aspek Megawati tak akan bisa menyamai ayahnya. Ia hanya teh celup rasa Soekarno. Begitu kolumnis Buddiarto Shambazy pernah menulis.<br />
Ketika ia mengingatkan rakyat Jawa Barat tentang imperialisme dalam kampanyenya minggu lalu, dengan mengutip ajaran ayahnya.  Sesungguhnya ia tidak memberikan sebuah pemikiran.</p>
<p>Saya tak tahu apa yang dilakukan oleh Megawati pada tanggal 21 Juni kemarin.  Peringatan tanggal wafatnya Bung Karno. Apa dia pernah menyelami pemikiran ayahnya saat memutuskan mundur dari kekuasaan.  Rela, demi menghindarkan pertumpahan darah sesama bangsa, karena saat itu sebagian rakyat dan militer masih mendukung Soekarno.</p>
<p>Keras kepala tidak menghasilkan apa apa kecuali kepuasaan diri sendiri yang prematur.  Pembuktian di bilik suara kelak akan menjadi jawaban. Tanpa mengesampingkan 14 persen suara fanatik PDI-P. Apakah ia masih dicintai rakyatnya. Megawati mestinya memilih mencintai bangsa ini dengan cara yang lain. Tanpa harus keras kepala memutuskan maju lagi.</p>
<p>Fatmawati tetap keras kepala sampai ajal Bung Karno. Ia tak mau menghadiri ke pemakaman suaminya. Ia tetap tak bisa memaafkan tindakan suaminya mengawini orang lain. Namun satu hal , ia tetap mencintai Bung Karno. Dengan caranya sendiri.<br />
Ia hanya mengirim karangan bunga bertuliskan.<br />
“ Cintamu yang selalu menjiwai rakyat. Cinta Fat “</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=803</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blogger Calo atau Blogger pebisnis ?</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=792</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=792#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 15:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BLOGGERS]]></category>

		<category><![CDATA[Blogger]]></category>

		<category><![CDATA[Calo suara]]></category>

		<category><![CDATA[pemilu capres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=792</guid>
		<description><![CDATA[Konsultan politik sebuah kandidat capres itu terhenyak melihat angka rupiah yang diajukan.  Ratusan juta rupiah untuk menyelenggarakan sebuah perhelatan blogger skala nasional untuk mendukung capres tertentu.  Katakanlah jamboree blogger. Mewakili dari sekian puluh kota tersebar di Indonesia, plus jaringan postingan yang akan membantu mendongkrak suara sang capres/cawapres.
Proposal yang diajukan seorang blogger itu agaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2460931360102872335PmpKPf"><img src="http://inlinethumb22.webshots.com/16725/2460931360102872335S500x500Q85.jpg" alt="money politic"></a>Konsultan politik sebuah kandidat capres itu terhenyak melihat angka rupiah yang diajukan.  Ratusan juta rupiah untuk menyelenggarakan sebuah perhelatan blogger skala nasional untuk mendukung capres tertentu.  Katakanlah jamboree blogger. Mewakili dari sekian puluh kota tersebar di Indonesia, plus jaringan postingan yang akan membantu mendongkrak suara sang capres/cawapres.<br />
Proposal yang diajukan seorang blogger itu agaknya gagal.  Tidak berhenti disitu, konsultan ini menanyakan seandainya bisa menjadi penyelenggara sebuah kegiatan temu wicara sang kandidat. </p>
<p>Revisi proposal terjadi. Surat menyurat lewat email terus dilakukan intensif. Angka yang masuk kini sekian puluh juta. Termasuk biaya penyelenggaraan, tempat, administrasi, termasuk biaya transportasi mendatangkan sekian ratus blogger, dan <em>successful fee</em> – gaji – bagi beberapa blogger pemrakasa kegiatan ini.<br />
Ada yang aneh ? Tentu saja tidak kalau kita melihat dari kaca mata profesi. Biasa saja dalam bisnis.</p>
<p>Dalam sebuah perusahaan <em>event organizer</em>, hal itu biasa. Ada penawaran harga sekaligus memberikan promosi atau pencitraan yang diinginkan oleh pemilik produk atau pemberi order.<br />
Saya juga pernah membuat iklan partai, atau kandidat capres. Setelah konsep treatment cerita diterima berikut aspek aspek produksinya. Terjadi tawar menawar dan kesepakatan harga.  Bukan sombong, tapi saya dibayar cukup layak.<br />
Itulah harga profesi saya. Tak ada harga baku dalam karya seni. Harga sebuah lukisan bisa berbeda antara yang dijajakan di taman suropati dan di gallery Kemang.<br />
<span id="more-792"></span><br />
Seorang blogger juga boleh dan berhak mencari uang di dunia politik. Ia bisa menggetok harga seberapa dia mau. Tanpa harus memahami posisi keberpihakannya pada suatu partai atau tokoh. Sebagai pribadi pribadi, saya tak akan menggugat jika ia menjadi anggota team sukses, menjadi relawan atau <em>purely</em> bisnis.<br />
Tapi jika mengatasnamakan kelompok blogger ?  Lalu mengklaim bahwa akan ada gelombang pencitraan yang luar biasa. Rasa rasanya agak berlebihan.<br />
Sebagaimana saya tidak pernah berjanji kepada para partai atau kandidat capres bahwa mereka akan menang begitu iklannya saya buat.</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2620035170102872335LDZLob"><img src="http://inlinethumb35.webshots.com/42722/2620035170102872335S500x500Q85.jpg" alt="SBY Budiono"></a>Semua pasti mengerti bahwa blog menempati posisi unik dalam strategi kampanye pemilihan umum kali ini. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Sekarang blog dianggap sebagai jaringan media alternative yang mempunyai massa tertentu. Jadi banyak partai politik, kandidat capres yang melirik dan mencoba merangkul spectrum media online ini.<br />
Tapi dalam dunia politik semuanya serba sensitive. Apalagi ini yang menawarkan adalah blogger.   Saat pemilu legislative, kita seolah mencibirkan melihat sepak terjang calo yang menjual suara suara pemilih dengan imbalan uang.  Kita trenyuh melihat orang orang yang dibayar untuk meramaikan kampanye politik.<br />
Lalu apa bedanya dengan blogger yang menjanjikan dukungan – katakanlah - sekian ratus blogger, dengan imbalan uang. Walau itu adalah sekadar uang transport.</p>
<p>Kalau saya diundang Yusuf Kalla atau Prabowo. Sebagai orang timur saya menghormati undangan itu. Selalu saya katakan, jangan berharap postingan pesanan.  Saya menulis apa yang saya lihat. Hal hal baik, dan begitu pula kalau ada sesuatu yang tidak beres.<br />
Bagi saya integritas blogger dinilai bagaimana ia bisa menyuarakan sebuah penilaian kepada pembacanya. Ia bisa jujur terhadap nilai nilai yang dilihatnya  dalam politik pemilu kali ini. Blogger ingin menulis karena hati nuraninya. Karena kesukarelaannya ia datang ke sebuah pertemuan dengan kandidat capres. Tanpa harus diiming imingi uang transport.</p>
<p>Seorang <a href=http://blontankpoer.blogsome.com/> teman </a> mengatakan kepada saya. Ketika saat ini media jurnalisme mainstream kadang bisa ambivalen, dan sering berpihak kepada pemilik modal atau patron patron politiknya. Justru blogger harus menjadi tumpuan jurnalisme masyarakat yang jujur.</p>
<p>Menyedihkan jika ada blogger yang bisa mengklaim dalam proposalnya, bahwa perhelatan untuk seorang kandidat capres itu akan lebih heboh.  Bahkan dengan membandingkan peluncuran portal atau kegiatan blogger lainnya – yang katanya didukung nama nama besar dunia blog – ternyata sangat sepi gaungnya di dunia maya.<br />
Apa sedemikian mengertinya para capres capres dengan urusan pencarian search engine ?. Apa seseorang atau masyarakat dengan mudahnya dipengaruhi oleh nama nama besar atau nama kecil, atau nama biasa biasa saja dalam blogsphere ini ?</p>
<p>Si konsultan politik itu kembali tertegun ketika disodori si blogger itu, angka dua puluh lima dollar untuk sebuah postingan <em>paid review</em>.<br />
“ Memang harganya segitu ya ? “ tanyanya polos kepada saya.<br />
Saya hanya tersenyum. Saya katakan bahwa saya tidak berhak menilai.<br />
Fenomena dunia politik memang seru sekaligus mencengangkan. Mau maunya di <em>kibuli</em> blogger.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=792</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BF - Bicara Film</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=785</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=785#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 05:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FILM]]></category>

		<category><![CDATA[PERIKLANAN]]></category>

		<category><![CDATA[Arief Budiman]]></category>

		<category><![CDATA[BF]]></category>

		<category><![CDATA[Bicara Film]]></category>

		<category><![CDATA[Iklan]]></category>

		<category><![CDATA[Iman Brotoseno]]></category>

		<category><![CDATA[Paquita Widjaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[Dalam waktu dekat sebuah komunitas baru akan diluncurkan.  Komunitas BF.  Jangan berpikir ngeres. Ini tentang dunia film dan seluk beluknya. BF atau Bicara Film menjadi simpul baru bagi mereka yang menggandrungi film tapi tidak secanggih pemahaman pekerja film atau anggota kine klub.  Namun mereka terbiasa menjadi hakim tentang sebuah film diantara teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://entertainment.webshots.com/photo/2268224800102872335IAAaMf"><img src="http://inlinethumb52.webshots.com/41907/2268224800102872335S500x500Q85.jpg" alt="BF logo"></a>Dalam waktu dekat sebuah komunitas baru akan diluncurkan.  Komunitas BF.  Jangan berpikir ngeres. Ini tentang dunia film dan seluk beluknya. BF atau Bicara Film menjadi simpul baru bagi mereka yang menggandrungi film tapi tidak secanggih pemahaman pekerja film atau anggota kine klub.  Namun mereka terbiasa menjadi hakim tentang sebuah film diantara teman temannya.<br />
Mereka yang terbiasa menonton nomad, kagum dengan special effect ketika Neo menghindar peluru dalam film Matrix, ingin tahu bagaimana film animasi dibuat, penasaran bagaimana film iklan rokok bisa menghabiskan budget milyaran rupiah.  Juga ingin tahu behind the scene sebuah film layar lebar.</p>
<p>Sebagaimana dikutip dari <a href=http://bicarafilm.com/> situsnya </a>, yang masih belum selesai dibangun.<br />
<em> &#8221; Siapa bilang film itu ekslusif, sulit dan jauh di awang awang. Film itu menyenangkan dan siapapun bisa bicara, masuk kedalam dunia ini. Bicara Film adalah sebuah wadah diskusi dan tukar info yang cenderung informal, menampung peminat film dari dari kalangan biasa. Basis komunitas BF adalah blogger dan pengguna layanan media social serta jejaring sosial.<br />
Mereka itulah yang akan menyebarluaskan kegiatan, dan terutama opininya tentang film.  Mulai dari film layar lebar, film iklan, film indie, film pendek, musik video, film TV/ sinetron, film animasi/ kartun , company profile sampai dokumenter &#8220;</em><br />
<em><br />
&#8221; Ini adalah situs yang baru kami luncurkan. Tidak sekadar situs karena selain kegiatan online,  ada juga kegiatan offline yang tak kalah menarik, yakni diskusi, bincang dan tukar pengalaman tentang dunia film.<br />
Semua bisa bicara. Tak cukup hanya nonton. Begitu motto kami &#8220;.</em><br />
<span id="more-785"></span><br />
Jadilah tanggal 19 Juni nanti. Jam 7 sampai 10 malam. BF akan melakukan perkenalan perdana. Yang diawali dengan bicara Tentang Film Iklan. Saya dan <a href=http://id.wikipedia.org/wiki/Paquita_Widjaya> Paquita Widjaya </a> akan bicara apa saja tetang seluk beluk kerepotan pembuatan film iklan. Lalu <a href=http://mybothsides.com/> Arief Budiman </a>, seorang creative director akan berbicara tentang konsep sebuah iklan sekaligus strategi marketingnya.<br />
Sebagai penutup pamungkas. Budayawan Goenawan Mohamad akan memberikan orasi budaya tentang film iklan sebagai bagian dari budaya modern.</p>
<p>Ini baru permulaan, untuk berikutnya kami akan membuat secara regular, entah sebulan sekali atau 2 bulan sekali, dengan topik menarik. Layar lebar, menulis skenario, Video klip, dokumenter atau apa saja. Mira Lesmana, Garin Nugroho, Andy Yusuf Bachtiar, Riri Reza, Dimas Djayadiningrat, Joko Anwar tentu tak segan memberi cerita cerita serunya. Juga pengalaman para pekerja film lainnya seperti penulis skenario, editor, animator sampai tukang katering. Siapa tahu.</p>
<p>Bicara Film. Saya tahu diluar sana begitu banyak orang tertarik ingin bicara tentang film. Siapapun bisa bicara. Terima kasih atas dukungan dagdigdug serta Komunitas Salihara.<br />
Mari mulai bicara.</p>
<p><a href="http://entertainment.webshots.com/photo/2247833280102872335ubTJue"><img src="http://inlinethumb15.webshots.com/20878/2247833280102872335S500x500Q85.jpg" alt="poster-bf-001-new-big"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=785</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Solidarnosc</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=770</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=770#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 10:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BERBANGSA]]></category>

		<category><![CDATA[BLOGGERS]]></category>

		<category><![CDATA[HUKUM & ETIKA]]></category>

		<category><![CDATA[PERIKLANAN]]></category>

		<category><![CDATA[POLITIK]]></category>

		<category><![CDATA[REFLEKSI]]></category>

		<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>

		<category><![CDATA[Lech Walesa]]></category>

		<category><![CDATA[Prita Mulyasari]]></category>

		<category><![CDATA[Solidarnosc]]></category>

		<category><![CDATA[Yap Thien Hien]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=770</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kapankah sebuah solidaritas dapat dibangun ? sejak ada persamaan nasib , persamaan kepentingan dan persamaan suara.  Begitulah untaian jarring solidaritas terbentuk.  Dari dinginnya pelabuhan Gdanks , Polandia di tepi lautan Baltik, buruh buruh galangan kapal membentuk ‘ Solidarnosc ‘.
Organisasi yang dipimpin Lech Walesa, bersatu menyuarakan kesejahteraan buruh pada awalnya.  Lama kelamaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2278916390102872335FrkHfB"><img src="http://inlinethumb09.webshots.com/15496/2278916390102872335S500x500Q85.jpg" alt="Solidarnosc"></a>Sejak kapankah sebuah solidaritas dapat dibangun ? sejak ada persamaan nasib , persamaan kepentingan dan persamaan suara.  Begitulah untaian jarring solidaritas terbentuk.  Dari dinginnya pelabuhan Gdanks , Polandia di tepi lautan Baltik, buruh buruh galangan kapal membentuk ‘ <em>Solidarnosc</em> ‘.<br />
Organisasi yang dipimpin<em> Lech Walesa</em>, bersatu menyuarakan kesejahteraan buruh pada awalnya.  Lama kelamaan Solidarnosc tidak hanya dianggap urusan pekerja pelabuhan. Ia mendapat simpati masyarakat luar dan menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap rezim komunis Polandia.</p>
<p>Jangan anggap remeh kekuatan simpul solidaritas. Bagaikan batu magma yang menyumbat gunung berapi, ia akan meletus menggelegar. Siapa sangka dukungan hampir 80,000 orang dalam Jaringan Face book dan suara dukungan di dunia internet mampu menggerakan media, pengadilan, pimpinan negeri, politisi, organisasi masyarakat untuk memberi perhatian pada Prita, ibu rumah tangga yang dijebloskan ke penjara karena menyuarakan hak konsumennya.<br />
Sekaligus menjelaskan bahwa dukungan luar biasa melalui media akan membentuk opini luar biasa di masyarakat.<br />
<span id="more-770"></span><br />
Sejarah mencatat tidak sekali saja. Pengacara terkenal <a href=http://id.wikipedia.org/wiki/Yap_Thiam_Hien/> Yap Thiem Hien </a>, pernah tahun 1968 membela seorang kliennya. Dalam persidangan Yap, malahan membeberkan bahwa kliennya karena kasusnya justru diperas oleh Jaksa Simandjutak dan Deputi Panglima Polisi. Jakarta, Inspektur Jendral Mardjaman.  Akhirnya Yap justru di jerat pasal fitnah dan mencemarkan nama baik.<br />
Ia divonis penjara setahun.<br />
Dukungan mengalir dari berbagai pihak, dan banyak tulisan di media massa yang justru membela integritas advokat senior ini.  Hiruk pikuk suara menentang kesewang wenangan Pemerintah akhirnya berpengaruh dalam proses banding. Pengadilan tinggi menurunkan hukumannya menjadi 14 hari.</p>
<p>Yap terus menyuarakan pembelaan, karena yakin dengan prinsip prinsip keadilan yang dijunjungnya. Walhasil Mahkamah Agung, membebaskan segala tuduhannya.<br />
Hakim Agung Prof Soebekti membebaskan Yap karena tindakannya dinilai masih dalam batas batas fungsinya selaku pembela.</p>
<p>Ini menunjukan yurisprudensi bahwa pasal penghinaan tidak harus disikapi secara ‘ an sich ‘.  Harus sesuai konteksnya. Jika Yap dibebaskan karena ucapannya tentang pemerasan, justru membuka borok lembaga peradilan dan aparat. Sekaligus merupakan bagian dari eksepsi pembelaan terhadap kliennya.</p>
<p>Kasus Prita memang harus dilihat sebagai aspirasi hak konsumen serta hak pasien untuk mendapatkan data medisnya. Pun, konteksnya bukan dilihat sebagai bagian dari konspirasi pencemaran nama baik.<br />
Kita masih membutuhkan hakim hakim seperti Profesor Soebekti yang memutuskan berdasarkan asas keadilan dan nurani. </p>
<p>Fungsi masyarakat sudah semestinya menjadi fungsi kontrol yang dapat memberikan keseimbangan.  Solidaritas bisa menjadi pondasi dari suara masyarakat.  Jika konsisten bisa merobohnya tembok Berlin sekalipun.<br />
Solidaritas bisa juga menimbulkan kengerian, seperti yang diperlihatkan gerakan gerakan fundamentalis. Namun masyarakat cukup dewasa untuk menilai mana gerakan yang layak dibela dan hanya dilirik sebagai keranjang sampah.</p>
<p>Saya menduga, pada akhirnya Prita mungkin akan dibebaskan. Terlalu banyak intervensi - secara langsung atau tak langsung – akan memaksa peradilan lebih mementingkan political aspectnya.<br />
Lalu apakah bola yang bergulir akan berhenti disini saja ? Begitu Prita menghirup kebebasan yang permanen.<br />
Solidaritas ini masih diperlukan untuk menggerus tembok yang lebih tinggi lagi.  Yakni tembok pasal pasal  penghinaan dalam UU ITE.  Jika sekarang ada sekitar 25 juta pengguna internet di Indonesia, maka sudah seyogyanya mereka bersatu untuk menolak apa saja yang bisa memasung aspirasi  menyuarakan  hak hak sebagai warga masyarakat.</p>
<p>Dalam era informasi yang sangat cepat, perkembangan media internet sebagai alternatif jurnalisme warga mesti disikapi dengan arif oleh penggunanya juga.  Bukan kebebasan yang membabi buta.<br />
Sepanjang pasal pasal penghinaan belum dicabut. Opsi penyalahgunaan pasal itu selalu ada. Perlu dipikirkan kiat kiat bagaimana bermain jurnalisme di ranah dunia maya. Bagaimana membuat tulisan yang mengkritik tanpa harus terlihat kasar  dan tendensius misalnya. </p>
<p>Seperti di Polandia, gerakan Solidarnosc akhirnya tak begitu dihiraukan lagi. Lech Walesa kelak menjadi presiden. Polandia sudah menjadi kapitalis, dan saya juga tidak tahu apakah buruh buruh kapal Gdanks hidupnya bertambah sejahtera atau malahan lebih susah seperti jaman komunis dulu. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=770</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>1 Juni 1945</title>
		<link>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=762</link>
		<comments>http://blog.imanbrotoseno.com/?p=762#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 23:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[BERBANGSA]]></category>

		<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>

		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>

		<category><![CDATA[SOEKARNO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.imanbrotoseno.com/?p=762</guid>
		<description><![CDATA[Ditengah pidatonya yang heroik, tiba tiba Soekarno menyergah salah seorang anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosa Kai  atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan IndonesiaI, Lim Koen Hian.
“ Maaf, Tuan Lim Koen Hian , Tuan tidak mau akan kebangsaan ? “
Agak terkaget kaget karena ditanya begitu,Lim Koen Hian menyatakan tidak begitu maksudnya.  Lalu Soekarno melanjutkan pidatonya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2192341090102872335xjnwcU"><img src="http://inlinethumb05.webshots.com/17924/2192341090102872335S500x500Q85.jpg" alt="pancasila"></a>Ditengah pidatonya yang heroik, tiba tiba Soekarno menyergah salah seorang anggota <em>Dokuritu Zyunbi Tyoosa Kai</em>  atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan IndonesiaI, Lim Koen Hian.<br />
“ Maaf, Tuan Lim Koen Hian , Tuan tidak mau akan kebangsaan ? “<br />
Agak terkaget kaget karena ditanya begitu,Lim Koen Hian menyatakan tidak begitu maksudnya.  Lalu Soekarno melanjutkan pidatonya tentang <em>Weltanschauuung</em> - sebuah dasar Negara - di tengah udara panas dan asap rokok yang menyesakan.<br />
Soekarno memang harus menegaskan pentingnya arti kebangsaan sebagai landasan pertama dasar Negara yang akan dibentuk.  Negara bukan untuk satu golongan.  Sekaligus menepis keraguan raguan  Ki Bagoes Hadikoesoemo dan pemuka pemuka Islam lainnya.</p>
<p>Kelima prinsip Kebangsaan, Internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan social dan  Ketuhanan menurut Soekarno bisa diperas lagi menjadi tiga. Sosio-nasionalisme, sosio-democratie dan Ketuhanan.<br />
Demikian pula dari tiga prinsip jika digabungkan menjadi satu prinsip, akan melahirkan, - demikian kata Soekarno – perkataan Indonesia tulen. Gotong Royong.<br />
“ Alangkah hebatnya, Negara gotong royong !. Gotong royong adalah faham yang dinamis. Lebih dinamis dari ‘ kekeluargaan ‘ saudara saudara …”<br />
<span id="more-762"></span><br />
Pidato yang heroik di depan BPUPKI tentang <em>philospfische grondslag </em>meredakan pendapat 67 anggota tentang dasar Negara yang akan dibentuk kelak.   Pancasila adalah sebuah tatanan ideal, sebuah warisan yang pernah digali oleh Soekarno untuk bangsa yang dibegitu dicintai.  Seperti apa yang diucapkan Multatuli dalam “ Max Havelaar “. Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit lilit di sekeliling katulistiwa.</p>
<p>Pemerintah orde baru berusaha mengkerdilkan kaitan pidato bersejarah tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari kelahiran Pancasila. Justru menciptakan ikon baru. Kesaktian Pancasila yang dirayakan setiap tanggal 1 Oktober.<br />
Sukmawati Soekarno tak pernah mau menghadiri undangan upacara tujuh belasan di Istana jaman dulu, sebelum tuntutannya dipenuhi agar Pemerintah mengakui peran Soekarno pada kelahiran Pancasila.</p>
<p>Justru Pancasila menjadi simbol represif selama kurun waktu itu. Sebagai mahasiswa jaman orde baru, saya wajib menjalani penataran P 4 tentang Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila,<em> brainwashed</em> tepatnya selama sebulan penuh.<br />
Membosankankan setiap hari dari pagi sampai malam, kecuali akhirnya dapat pacar anak sastra.  Pancasila lebih terlihat sebagai dogma yang dipaksakan.   Kami berdiskusi, mendengarkan ceramah sampai terkantuk kantuk.<br />
Lebih mirip kamp Revolusi Kebudayaan di Cina.  Tak heran, jaman itu ada film horror dimana sang Kuntilanak berbicara tentang Pancasila terhadap sekelompok penduduk !</p>
<p><a href="http://good-times.webshots.com/photo/2763687690102872335JoGwjc"><img src="http://inlinethumb07.webshots.com/29254/2763687690102872335S500x500Q85.jpg" alt="dibawah bendera revolusi"></a>Pidato Soekarno tentang Pancasila yang terus mendapat tepukan tangan meriah dari anggota BPUPKI bisa jadi menjadi salah satu pidato atau konsep tulisan terpenting dalam sejarah Indonesia. Semangat Soekarno adalah refleksi jiwa seluruh bangsa, yang sudah ditanam selama ratusan tahun oleh orang orang jaman dulu.<br />
Namun saya melihat bahwa ujung pidato, Soekarno menegaskan kata perjuangan.  Tidak ada satu dasar Negara yang menjadi <em>realiteit</em> jika tidak dengan perjuangan. Setelah Indonesia merdeka, bukan berarti perjuangan selesai.<br />
Dus, saya mengartikan bahwa Pancasila memang harus terus berjuang sesuai jamannya. Dia tidak bisa statis, kaku dan sakral. Pancasila harus terus bergerak dan dinamis.</p>
<p>Saya masih merasa Pancasila tetap relevan dengan jaman sekarang.  Pancasila jauh lebih hebat daripada <em>Declaration of Independence</em>nya Thomas Jeferson atau George Washington.  Lebih dasyat dari <em>San Min Chu I </em>nya dr. Sun Yat Sen. Tak bosan bosan Soekarno kelak menawarkan kepada dunia, bangsa bangsa luar untuk mengadopsi Pancasila sebagai paham universal.</p>
<p>Ditengah gerusan budaya hip hop, dan MTV, generasi sekarang mungkin tak peduli dengan Pancasila.  Ia menjadi barang rongsokan di pojokan museum.  Pancasila menjadi jargon yang kurang menarik untuk digadang gadangkan para capres.<br />
Ekonomi kerakyatan yang terdengar lebih sexy sesungguhnya adalah prinsip <em>social rechtvaardigheid</em>  - kesejahteraan -  sudah diucapkan Soekarno 64 tahun lalu. Ia mengartikan dalam lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan.  Kesejahteraan bersama yang sebaik baiknya.</p>
<p>Kita  mesti bersyukur bahwa para <em>founding fathers</em> mendirikan Negara Indonesia tidak di bawah sinar bulan purnama. Tetapi dalam palu godam peperangan. Ini yang membuat Indonesia kuat dan tidak lemah.<br />
Pancasila adalah jawaban atas simpul simpul kebangsaan yang longgar.  Jika ini kelak terwujud, Tuan Liem Koen Hian di alam baka tentu akan menyesal telah melepaskan kewarganegaraan Indonesianya dulu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.imanbrotoseno.com/?feed=rss2&amp;p=762</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
