<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6629246464317961259</id><updated>2024-10-24T09:15:48.570-07:00</updated><title type='text'>shiki kaifu</title><subtitle type='html'>Love our Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6629246464317961259/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08767692282984283977</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6629246464317961259.post-5017215748409283720</id><published>2011-10-21T08:46:00.000-07:00</published><updated>2011-10-21T08:46:32.202-07:00</updated><title type='text'>Atlantis dan Aslia</title><content type='html'>&lt;h6 class=&quot;uiStreamMessage&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:1}&quot;&gt;&lt;span class=&quot;messageBody translationEligibleUserMessage&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:3}&quot;&gt;(Inspirasi Plato dan Mimpi Tan Malaka)&lt;br /&gt;
Oleh: Devy Kurnia Alamsyah, SS*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maluku (is) het verleden, Java (is) het heden, and Sumatera (is) de toekomst.”&lt;br /&gt;
(Madilog, 1946)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah yang muncul di benak Anda ketika kata Atlantis terdengar di  telinga? Bagi yang sedikit mendapat pengetahuan tentu ingatannya akan  tertuju ke berbagai persepsi fiksi mengenai sebuah benua dengan  teknologi termaju dan kemudian hilang begitu saja dari peta dunia.  Memang, sudah banyak novel maupun film yang mengutarakan Atlantis itu  apa; mulai dari dimana lokasinya hingga ke asumsi-asumsi “penghilangan”  benua maju itu. Salah satu pendapat umum yang beredar adalah keterkaitan  penguasaan teknologi dengan kesombongan manusia itu sendiri sehingga  peradaban Atlantis hancur sebagai akibat dari kesalahan manusia. Ada  yang bilang kehancuran itu adalah hukuman dari Langit. Namun, dari  kesemuanya itu selama ini Atlantis diyakini dunia modern (baca: Barat)  terletak bukan di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan dan pernyataan mengenai  Atlantis seakan menggema kembali ketika Prof. Arysio Santos menelurkan  bukunya yang terjemahannya diterbitkan bulan November lalu. Buku itu  berjudul ATLANTIS-The Lost Continent Finally Found (The Definitive  Localization of Plato’s Lost Civilization). Apa yang menarik dari buku  itu adalah hasil dari penelitian selama 30 tahun yang dilakukan Geolog  dan Fisikawan Nuklir Brazil itu tenyata berujung kepada sesuatu yang  dekat dengan kita sesungguhnya. Atlantis, Surga yang Hilang, itu  ternyata ada di Indonesia. Lokasi yang tepatnya adalah Sumatera.  Pertanyaannya, di Sumatera bagian manakah Atlantis itu berada?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atlantis dan Pulau Emas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prof. Arysio Santos berangkat dari satu-satunya teks modern tentang  Atlantis yang dibuat oleh Plato, filsuf kenamaan Yunani. Plato  menghasilkan dua “kitab” tentang Atlantis; Timaeus dan Criteas yang  diyakini Prof. Santos isi buku itu sesuai dengan kondisi geografis  Indonesia dulu dan sekarang. Plato dikisahkan mendapat pengetahuan  tentang Atlantis melalui cerita Solon. Solon mendapatkan legenda “Surga  yang Hilang” itu dari pendeta-pendeta Mesir. Sementara pendeta Mesir itu  mendapatkan cerita ini dari orang-orang Hindu. Satu hal lagi yang  menarik, Prof. Santos meyakini bahwa Hinduisme itu bukan berasal dari  India melainkan dari Indonesia. Indonesia, bagi Prof. Santos, adalah  pusat atau asal kelahiran peradaban dunia. Peradaban India, Cina, Mesir,  Aztec, Inca, dll dianggap sebagai peradaban turunan dari peradaban  Atlantis (Indonesia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prof. Santos membandingkan naskah Plato  dengan epik Ramayana dan Mahabrata serta beberapa naskah Jawa kuno  sebelum menyempurnakan asumsinya tentang Atlantis. Plato menegaskan  Atlantis sebagai negeri tropis berlimpah mineral dan kekayaan hayati  pada zaman Es Pleistosen. Plato sesungguhnya membangun kerangka-kerangka  gagasannya dalam membentuk negara modern dengan menjadikan Atlantis  sebagai acuan. Mimpi-mimpinya mengenai konsep dialektika, demokrasi,  egaliterianisme, dan Republik justru diambil Plato dari Atlantis. Bahkan  sepertinya kita menjadi sadar bagaimana konsep mimesis Plato hadir.  Plato sendiri mencoba meniru konsep Atlantis dalam karya-karyanya.  Sekarang, jika memang Atlantis itu memang benar adalah Indonesia, atau  lebih tepatnya Sumatera, tentu Anda akan tahu di Sumatera bagian mana  yang paling menjunjung apa yang dianggap Plato itu penting ada dalam  peradaban modern.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kemudian, semua kemegahan itu lenyap  tiba-tiba tersapu bencana mahadahsyat sebagai akibat dari meletusnya  Gunung Berapi Krakatau 11.600 tahun yang lalu. Letusan itu telah  menciptakan gempa bumi dan tsunami yang seratus kali lebih besar jika  dibandingkan dengan yang terjadi di Aceh tahun 2004. Pada masa itulah  Jawa dan Sumatera menjadi pulau yang terpisah dan tenggelamnya sebagian  Nusantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelahiran epik Ramayana dan Mahabarata, diyakini  Prof. Santos, sangat terkait dengan kedatangan bangsa Dravida (Atlantis)  ke India. Rahwana, Raja Lanka (Alengka) dari Pulau Swarnadwipa, yang  digambarkan sebagai antagonis dalam epik Ramayana membuktikan  “kedatangan’ bangsa Indonesia ke India. Dengan menciptakan Rahwana  sebagai “musuh” dan Hanuman sebagai “penghianat bangsa Dravida”, bangsa  India mengkonstruksi dan melegitimasi kekuasaan Arya-Semit di India.  Hinduisme yang dibawa dari Indonesia kemudian mengalami modifikasi di  sana. Oleh karena itu, setelah Atlantis tenggelam Hinduisme dari India  mulai dibawa kembali ke Indonesia. Bahkan, dicurigai Sidharta Gautama  itu justru adalah salah seorang Pangeran dari Nusantara. Bandingkanlah  ketika di jaman Sriwijaya, justru Sumatera adalah pusat penyebaran dan  pendidikan agama Budha bukan di India. Pada zaman Hindu, Sumatera itu  dulunya bernama Swarnadwipa yang artinya adalah Pulau Emas. Bandingkan  pula dengan sebutan Yunani untuk Sumatera; Chrisye yang berarti sama.  Bahkan apa yang kini dikenal Sri Lanka itu keliru, karena Lanka yang  sebenarnya adalah Sumatera itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu asumsi-asumsi ini  mesti dijajaki kembali kebenarannya. Permasalahannya adalah yang mesti  kita hadapi adalah kemapanan dari peradaban Barat (Eropa) yang terlanjur  sudah berurat berakar dalam metode pendidikan universal. Akan menjadi  sesuatu yang berat untuk bisa merubah peta sejarah dunia. Penemuan Prof.  Santos ini akan menjadi polemik panjang yang luar biasa jika  “disetujui” oleh akademisi-akademisi dunia. Tak hanya sejarah nasional  yang akan berubah tapi sejarah dunia. Pertanyaan selanjutnya adalah  seberapa siap kita untuk sebuah perubahan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aslia; Masa Depan Dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep Aslia pertama kali dikumandangkan oleh Tan Malaka, Pahlawan  Kemerdekaan Nasional kelahiran Pandan Gadang, Sumatera Barat. Tan Malaka  dalam magnum opus-nya, Madilog, menyebut Aslia sebagai akronim dari  Federasi Asia dan Australia. Jika Plato memimpikan Atlantis sebagai  acuan utopis peradaban modern maka Tan Malaka bermimpi Aslia sebagai  simbol peradaban modernnya. Kata Aslia itu sendiri sering diartikan  sebagai Asia Asli atau Indonesia Asli dan sepertinya asumsi ini tak  sepenuhnya salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Madilog ditulis oleh Tan Malaka di Rawajati  dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta dari tahun 1942 hingga  tahun 1943. Namun baru pada tahun 1946 karya agung itu diterbitkan. Kata  Aslia beberapa kali muncul di dalam Madilog, padahal sebenarnya Tan  Malaka sudah menyiapkan satu buku khusus tentang Gabungan Aslia namun  tak sempat terbit. Dalam pandangan Tan Malaka, orang yang disebut Hamka  sebagai pemikir Muslim modern terbesar Indonesia, proses teknologi  adalah salah satu basis pemikiran dan cara pandang Indonesia modern yang  dituangkannya dalam Madilog. Penggabungan filsafat Minang (tradisional)  dan modern sangat kentara di beberapa bagian buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tan Malaka  menyimbolkan peradaban Indonesia modern (Aslia) itu laksana kereta api  dan dengan cendekiawan Minang sebagai lokomotifnya. Aslia sebagai bentuk  poskapitalis dianggap Tan Malaka memiliki level yang lebih advance jika  dibandingkan dengan konsep Indonesia Asli di Zaman Besi dulu. Jika  dalam konsep Minangkabau, peradaban mereka dimulai dari sekitar Gunung  Merapi yang kemudian menjadi “Ibu” (heartland) yang melahirkan seluruh  alam Minangkabau maka dalam konsep Aslia Tan Malaka juga memberi  heartland-nya. Karakter dan posisi geografis dari Aslia cukup penting  untuk kita bahas. Pusat Aslia, bagi tokoh yang disebut M.Yamin sebagai  Bapak Republik Indonesia ini, terletak “segaris dengan sumbu (ekuator),  dekat khatulistiwa, yang kira-kira ditentukan oleh garis Bonjol-Malaka”.  Masa depan dan eksistensi federasi ini ditentukan oleh titik pusat ini.  Karena dalam sejarahnya, siapapun yang bisa menaklukkan titik ini dapat  menaklukkan Indonesia secara keseluruhan. Bagi Tan Malaka sendiri titik  ini sangat strategis, diplomatis dan bernilai ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada hal  yang menarik, jika tak mau dibilang suatu kebetulan belaka, ketika  Prof. Santos akhirnya menemukan titik tepat dimana “Pulau Atlantis” itu  berada. “Pulau Atlantis” merujuk kepada Swarnadwipa (Pulau Emas) yang  merupakan nama lain Sumatera di zaman Hindu. Di pulau inilah terdapat  Istana Lanka, ibukota kerajaan Rahwana, nama lain dari imperium  Atlantis. Lanka dianggap sebagai lokasi awal Meridian 00 yang tepat  berada di atas pusat Sumatera; lokasi tak terbantahkan SurgaBumi. Jadi,  bisa diambil pemahaman bahwa titik 0 dunia bukanlah di Greenwich. Jika  kita bandingkan dengan axis Aslia-nya Tan Malaka tentu kita akan  bertanya kenapa bisa sekebetulan ini lokasinya. Plato dan Tan Malaka  sepertinya merujuk ke dua hal yang serupa; Sumatera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu  alasan yang ingin diajukan Tan Malaka dalam Madilog adalah mereformulasi  slogan “Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa kini dan Sumatera  adalah masa depan,” menjadi “Sumatera adalah pelopor (pioneer), Jawa  adalah masa kini dan masa depannya Indonesia akan kembali ke Sumatera.”  Dulu ketika Tan Malaka keluar dari PKI dan Komintern (Komunis  Internasional) ia mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok  pada tahun 1927. Lalu kemudian pada tahun 1946 ia rubah menjadi  Proletaris Aslia Republik Internasional yang bagi Tan Malaka adalah  “arti luas” dari Pari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Plato melalui Prof. Santos  menyanjung Sumatera sebagai Atlantis, asal peradaban dunia, dan Tan  Malaka memimpikan Sumatera sebagai pusat peradaban modern dunia maka  generasi muda (Sumatera) saat ini justru kehilangan mimpi-mimpi  besarnya. Tanah kelahiran dirasa tak cukup signifikan dalam meningkatkan  kreativitas dan standar hidup sehingga mereka berlomba-lomba  meninggalkan tanah kelahirannya. Tak ada lagi pendidikan kerakyatan  bermutu, tak ada lagi penerbitan-penerbitan bermutu dan kini, sayangnya,  tak ada lagi pemikir-pemikir besar yang lahir dari Pulau Emas ini.  Malahan baru-baru ini Kompas memberitakan sebuah penemuan bahwa di Muara  Jambi ditemukan situs kuno yang jauh lebih besar diameternya daripada  candi Borobudur. Kebesaran Sumatera di masa lalu mulai kembali diteliti  oleh bangsa asing. Dimanakah peran kita sebagai anak muda dalam hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disampaikan di Student Center Universitas Putra Indonesia (UPI) Padang, 21/1/10&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Mahasiswa Magister Ilmu Susastra Universitas Indonesia,&lt;br /&gt;
Periset National Press Club of Indonesia, dan&lt;br /&gt;
Redaktur Jurnal Yayasan Suluh Nuswantara Bakti&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/feeds/5017215748409283720/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/2011/10/atlantis-dan-aslia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6629246464317961259/posts/default/5017215748409283720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6629246464317961259/posts/default/5017215748409283720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/2011/10/atlantis-dan-aslia.html' title='Atlantis dan Aslia'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08767692282984283977</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6629246464317961259.post-6911380053426629988</id><published>2011-07-13T12:07:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T12:07:28.295-07:00</updated><title type='text'>NASIONALISME MELALUI FILM KARTUN</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12pt; margin-bottom: 0in; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: red;&quot;&gt;MENANAMKAN SIKAP NASIONALISME DAN PATRIOTISME ANAK MELALUI FILM KARTUN &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Indonesia  sukses memproklamasikan kemerdekaannya lebih kurang 65 tahun yang lalu,  tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Melalui perjuangan yang amat  panjang, para pahlawan homeros bangsa ini terus berjuang melepaskan diri  dari belenggu penjajahan seperti Belanda maupun Jepang. Dimulai dari  perjuangan yang bersifat kedaerahan, para pejuang telah berusaha  mengusir para penjajah dari tanah bumi pertiwi. Pada tanggal 28  oktober,diadakan kongres pemuda II sebagai kelanjutan dari kongres  pemuda I. Pada kongres ini lahirlah sumpah pemuda yang merupakan titik  awal dari persatuan bangs&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;a indonesia melawan  penjajah yang terus menguras kekayaan bangsa ini. Dengan sikap patriotis  dan nasionalis yaang terpatri dalam jiwa para pahlawan, Dengan gagah  berani para pejuang berusaha mengusir para penjajah dari bumi pertiwi  dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan. Cita-cita itu berhasil  diproklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Diakui  atau tidak, kenyataannya bahwa sikap nasionalisme dan patriotismelah  yang tertanam kuat dalam jiwa para pahlawan yang akhirnya mampu membawa  bangsa ini meraih kemerdekaan. Dimulai dari perjuangan yang bersifat  kedaerahan yang akhirnya tidak mampu mengangkat mereka ke titik  kemerdekaan. Namun setelah berjuang secara bersama-sama, bangsa inipun  berhasil mencapai kemerdekaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;Pasca  proklamasi kemerdekaan Indonesia, sikap nasionalisme dan patriotisme  pun masih begitu kuat dalam jiwa masyarakat Indonesia dan para pahlawan  Kemerdekaan. Langkah cerdas yang diambil oleh para pendiri Negara  Indonesia untuk menyatukan bangsa indonesia yang begitu beragam melalui  semboyan negara, yaitu&amp;nbsp;&lt;i&gt;Bhineka tunggal ika&lt;/i&gt;yang berarti berbeda-beda tapi satu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Seiring perjalanan Bangsa ini, Sikap nasionalisme dan patriotisme lambat laun mulai memudar.&amp;nbsp; isi dari semboyan&amp;nbsp;&lt;i&gt;bhineka tunggal ika&amp;nbsp;&lt;/i&gt;cenderung  tidak dipahami lagi oleh generasi bangsa Indonesia. Perpecahan dan  disintegrasi bangsa menjadi ancaman yang serius terhadap keutuhan bangsa  ini. Terlepas dari faktor-faktor lain, namun hal tersebut menjadi salah  satu indikator betapa pudarnya jiwa nasionalisme dan patriotisme  terhadap negara Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Pada  zaman sekarang, semangat nasionalisme dan patriotisme sangat perlu  ditanamkan kepada generasi muda. Karena masa depan bangsa ini tergantung  dari apa yang ingin mereka persembahkan kepada bangsa ini.Dan untuk  mempersembahkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi &amp;nbsp;bangsa, maka  prasyaratnya adalah semangat nasionalisme dan patriotisme.Walaupun zaman  sudah berbeda dari masa perang kemerdekaan, setidaknya apa yang telah  dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan bisa menjadi spirit bagi  generasi penerus bangsa dalam menghadapi tantangan global yang begitu  cepat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Kini,  ketika globalisasi dan berkembangnya teknologi informasi telah  mengakibatkan kaburnya batas-batas antar negara, baik secara politik,  ekonomi, maupun sosial, maka masalah nasionalisme dan patriotisme tidak  lagi dapat dilihat sebagai masalah sederhana yang dapat dilihat dari  satu perspektif saja. Dalam dunia yang oleh sebagian orang disifatkan  sebagai dunia yang semakin&amp;nbsp;&lt;i&gt;borderless,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;banyak pengamat yang mulai mempertanyakan kembali pengertian negara beserta aspek-aspeknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sangat  menyedihkan ketika melihat keadaan generasi bangsa sekarang ini, yang  hampir sudah tidak ada lagi yang bersikap layaknya seorang ksatria yang  berjiwa patriot dan cinta tanah air. Bagaimana kemudian di zaman yang  akan datang ?. Sejarah akan benar-benar terlupakan. Padahal salah satu  pendiri Negara Indonesia telah mengingatkan bahwa jangan sampai kita  melupakan sejarah. Oleh sebab itu sikap patriotisme dan nasionalisme  harus ditanamkan sejak dini kepada anak sebagai generasi penerus bangsa  ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Masa  kanak-kanak adalah masa yang sangat penting untuk pembentukan  kepribadian dan karakter. Dengan demikian, masa kanak-kanak adalah suatu  tahap di mana manusia itu belajar sebanyak-banyaknya tentang kehidupan  sebagai modal hidupnya kelak. Di masa tersebut, manusia bersifat  imitatif atau menirukan dari apa saja yang ada dan terjadi di  sekitarnya. Masa kanak-kanak merupakan masa yang masih sangat labil.  Anak sangatlah peka terhadap berbagai hal-hal baru yang mereka dapatkan.  Anak cenderung ingin selalu mencoba dan meniru terhadap apa yang mereka  lihat dan dengar dari lingkungan sekitarnya. Dalam  tindakannya,kemenurutan anak sangat ditentukan oleh idolanya yang  kemungkinan akan selalu dicontohnya, tanpa mempertimbangkan apakah itu  baik atau tidak. Dalam pertumbuhan seorang anak, setiap tindakannya  terkait dengan kecenderungan dan kemauan serta kehidupan emosional yang  bersentuhan dengan faktor eksogen (lingkungan) yang sifatnya amat  kompleks dan bervariasi. Salah satu faktor eksogen yang berpengaruh  terhadap pembentukan watak dan pribadi seseorang adalah media yang  berbentuk bacaan atau film.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sebagai  media, film berfungsi mewujudkan komunikasi yang mencakup berbagai fase  dalam kegiatan kehidupan. Media ini merupakan landasan pembentukan  pengertian dengan tujuan mempengaruhi penerima pesan untuk bertindak  sesuai dengan tujuan dari komunikasi tersebut. Film yang sangat digemari  oleh anak adalah film kartun. Hampir semua tokoh-tokoh kartun yang  sering ditayangkan dikenali oleh anak. Itu karena pengaruh media film  kartun tersebut sangat mampu mempengaruhi anak dengan tampilan-tampilan  lucu dan menyenangkan. Namun ketika dikaitkan dengan sikap nasionalisme  dan patriotisme yang mulai ditinggalkan, sangatlah menyedihkan karena  kecenderungan anak sekarang lebih mengenal pahlawan-pahlawan fiksi yang  ada di film kartun daripada para pahlawan yang memperjuangkan  kemerdekaan bangsa ini. Siapa yang tidak mengenal naruto,avatar, dan  tokoh-tokoh kartun yang lain. Tapi apakah mereka mengenal siapa  Soekarno,Siapa bung Hatta, dan semua pahlawan yang telah mengorbankan  jiwa raganya demi negeri ini. Apakah generasi yang akan datang hanya  akan mengenal Kapitan Pattimura lewat uang seribu rupiah. Saya pikir  akan seperti itu jika kita tidak segera membenahinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Melihat  kemampuan film kartun untuk mempengaruhi kehidupan anak,dan jika  dihubungkan dengan realita bahwa sikap nasionalisme dan patriotisme di  Indonesia mulai ditinggalkan,maka untuk menanamkan sikap nasionalisme  dan patriotisme pada anak,akan sangat efektif jika menggunakan media  film. Dalam hal ini film yang digemari oleh anak-anak yaitu film kartun.  Maksudnya adalah pembuatan film kartun yang menceritakan dan  menggambarkan &amp;nbsp;para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  Sehingga anak tidak saja lebih mengenal,mengidolakan dan mencontoh  sikap kesatria para pahlawan,Tapi anak juga akan mengerti betapa  susahnya mencapai kemerdekaan. Dan akhirnya sikap nasionalisme dan  patriotisme akan tumbuh dalam jiwa mereka.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/feeds/6911380053426629988/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/2011/07/nasionalisme-melalui-film-kartun.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6629246464317961259/posts/default/6911380053426629988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6629246464317961259/posts/default/6911380053426629988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/2011/07/nasionalisme-melalui-film-kartun.html' title='NASIONALISME MELALUI FILM KARTUN'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08767692282984283977</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6629246464317961259.post-4721383106339907179</id><published>2011-07-11T13:12:00.000-07:00</published><updated>2011-07-11T13:12:02.982-07:00</updated><title type='text'>MENANAMKAN SIKAP NASIONALISME DAN PATRIOTISME ANAK MELALUI FILM KARTUN</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Indonesia sukses memproklamasikan kemerdekaannya lebih kurang 65 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Melalui perjuangan yang amat panjang, para pahlawan homeros bangsa ini terus berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan seperti Belanda maupun Jepang. Dimulai dari perjuangan yang bersifat kedaerahan, para pejuang telah berusaha mengusir para penjajah dari tanah bumi pertiwi. Pada tanggal 28 oktober,diadakan kongres pemuda II sebagai kelanjutan dari kongres pemuda I. Pada kongres ini lahirlah sumpah pemuda yang merupakan titik awal dari persatuan bangs&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;a indonesia melawan penjajah yang terus menguras kekayaan bangsa ini. Dengan sikap patriotis dan nasionalis yaang terpatri dalam jiwa para pahlawan, Dengan gagah berani para pejuang berusaha mengusir para penjajah dari bumi pertiwi dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan. Cita-cita itu berhasil diproklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Diakui atau tidak, kenyataannya bahwa sikap nasionalisme dan patriotismelah yang tertanam kuat dalam jiwa para pahlawan yang akhirnya mampu membawa bangsa ini meraih kemerdekaan. Dimulai dari perjuangan yang bersifat kedaerahan yang akhirnya tidak mampu mengangkat mereka ke titik kemerdekaan. Namun setelah berjuang secara bersama-sama, bangsa inipun berhasil mencapai kemerdekaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, sikap nasionalisme dan patriotisme pun masih begitu kuat dalam jiwa masyarakat Indonesia dan para pahlawan Kemerdekaan. Langkah cerdas yang diambil oleh para pendiri Negara Indonesia untuk menyatukan bangsa indonesia yang begitu beragam melalui semboyan negara, yaitu&amp;nbsp;&lt;i&gt;Bhineka tunggal ika&lt;/i&gt;yang berarti berbeda-beda tapi satu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Seiring perjalanan Bangsa ini, Sikap nasionalisme dan patriotisme lambat laun mulai memudar.&amp;nbsp; isi dari semboyan&amp;nbsp;&lt;i&gt;bhineka tunggal ika&amp;nbsp;&lt;/i&gt;cenderung tidak dipahami lagi oleh generasi bangsa Indonesia. Perpecahan dan disintegrasi bangsa menjadi ancaman yang serius terhadap keutuhan bangsa ini. Terlepas dari faktor-faktor lain, namun hal tersebut menjadi salah satu indikator betapa pudarnya jiwa nasionalisme dan patriotisme terhadap negara Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Pada zaman sekarang, semangat nasionalisme dan patriotisme sangat perlu ditanamkan kepada generasi muda. Karena masa depan bangsa ini tergantung dari apa yang ingin mereka persembahkan kepada bangsa ini.Dan untuk mempersembahkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi &amp;nbsp;bangsa, maka prasyaratnya adalah semangat nasionalisme dan patriotisme.Walaupun zaman sudah berbeda dari masa perang kemerdekaan, setidaknya apa yang telah dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan bisa menjadi spirit bagi generasi penerus bangsa dalam menghadapi tantangan global yang begitu cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Kini, ketika globalisasi dan berkembangnya teknologi informasi telah mengakibatkan kaburnya batas-batas antar negara, baik secara politik, ekonomi, maupun sosial, maka masalah nasionalisme dan patriotisme tidak lagi dapat dilihat sebagai masalah sederhana yang dapat dilihat dari satu perspektif saja. Dalam dunia yang oleh sebagian orang disifatkan sebagai dunia yang semakin&amp;nbsp;&lt;i&gt;borderless,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;banyak pengamat yang mulai mempertanyakan kembali pengertian negara beserta aspek-aspeknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sangat menyedihkan ketika melihat keadaan generasi bangsa sekarang ini, yang hampir sudah tidak ada lagi yang bersikap layaknya seorang ksatria yang berjiwa patriot dan cinta tanah air. Bagaimana kemudian di zaman yang akan datang ?. Sejarah akan benar-benar terlupakan. Padahal salah satu pendiri Negara Indonesia telah mengingatkan bahwa jangan sampai kita melupakan sejarah. Oleh sebab itu sikap patriotisme dan nasionalisme harus ditanamkan sejak dini kepada anak sebagai generasi penerus bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat penting untuk pembentukan kepribadian dan karakter. Dengan demikian, masa kanak-kanak adalah suatu tahap di mana manusia itu belajar sebanyak-banyaknya tentang kehidupan sebagai modal hidupnya kelak. Di masa tersebut, manusia bersifat imitatif atau menirukan dari apa saja yang ada dan terjadi di sekitarnya. Masa kanak-kanak merupakan masa yang masih sangat labil. Anak sangatlah peka terhadap berbagai hal-hal baru yang mereka dapatkan. Anak cenderung ingin selalu mencoba dan meniru terhadap apa yang mereka lihat dan dengar dari lingkungan sekitarnya. Dalam tindakannya,kemenurutan anak sangat ditentukan oleh idolanya yang kemungkinan akan selalu dicontohnya, tanpa mempertimbangkan apakah itu baik atau tidak. Dalam pertumbuhan seorang anak, setiap tindakannya terkait dengan kecenderungan dan kemauan serta kehidupan emosional yang bersentuhan dengan faktor eksogen (lingkungan) yang sifatnya amat kompleks dan bervariasi. Salah satu faktor eksogen yang berpengaruh terhadap pembentukan watak dan pribadi seseorang adalah media yang berbentuk bacaan atau film.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Sebagai media, film berfungsi mewujudkan komunikasi yang mencakup berbagai fase dalam kegiatan kehidupan. Media ini merupakan landasan pembentukan pengertian dengan tujuan mempengaruhi penerima pesan untuk bertindak sesuai dengan tujuan dari komunikasi tersebut. Film yang sangat digemari oleh anak adalah film kartun. Hampir semua tokoh-tokoh kartun yang sering ditayangkan dikenali oleh anak. Itu karena pengaruh media film kartun tersebut sangat mampu mempengaruhi anak dengan tampilan-tampilan lucu dan menyenangkan. Namun ketika dikaitkan dengan sikap nasionalisme dan patriotisme yang mulai ditinggalkan, sangatlah menyedihkan karena kecenderungan anak sekarang lebih mengenal pahlawan-pahlawan fiksi yang ada di film kartun daripada para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Siapa yang tidak mengenal naruto,avatar, dan tokoh-tokoh kartun yang lain. Tapi apakah mereka mengenal siapa Soekarno,Siapa bung Hatta, dan semua pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raganya demi negeri ini. Apakah generasi yang akan datang hanya akan mengenal Kapitan Pattimura lewat uang seribu rupiah. Saya pikir akan seperti itu jika kita tidak segera membenahinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 12.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Melihat kemampuan film kartun untuk mempengaruhi kehidupan anak,dan jika dihubungkan dengan realita bahwa sikap nasionalisme dan patriotisme di Indonesia mulai ditinggalkan,maka untuk menanamkan sikap nasionalisme dan patriotisme pada anak,akan sangat efektif jika menggunakan media film. Dalam hal ini film yang digemari oleh anak-anak yaitu film kartun. Maksudnya adalah pembuatan film kartun yang menceritakan dan menggambarkan &amp;nbsp;para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sehingga anak tidak saja lebih mengenal,mengidolakan dan mencontoh sikap kesatria para pahlawan,Tapi anak juga akan mengerti betapa susahnya mencapai kemerdekaan. Dan akhirnya sikap nasionalisme dan patriotisme akan tumbuh dalam jiwa mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/feeds/4721383106339907179/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/2011/07/menanamkan-sikap-nasionalisme-dan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6629246464317961259/posts/default/4721383106339907179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6629246464317961259/posts/default/4721383106339907179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shiki-kaifu.blogspot.com/2011/07/menanamkan-sikap-nasionalisme-dan.html' title='MENANAMKAN SIKAP NASIONALISME DAN PATRIOTISME ANAK MELALUI FILM KARTUN'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08767692282984283977</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total><georss:featurename>Makassar, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-5.143662 119.42633899999998</georss:point><georss:box>-5.152518 119.41787549999998 -5.134806 119.43480249999999</georss:box></entry></feed>