<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>JejakTamboen.com</title><description>Sejarah | Blogging | Informasi</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</managingEditor><pubDate>Sat, 10 Oct 2026 02:20:42 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">138</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">3</openSearch:itemsPerPage><link>https://www.jejaktamboen.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sejarah | Blogging | Informasi</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Sejarah Berdirinya Kasultanan Yogyakarta</title><link>https://www.jejaktamboen.com/2026/10/sejarah-berdirinya-kasultanan-yogyakarta.html</link><category>Sejarah Dalam Negeri</category><author>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</author><pubDate>Wed, 7 Oct 2026 10:07:12 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8650078867943030247.post-2823172230150608426</guid><description>&lt;!--Meta Title: Sejarah Berdirinya Kasultanan Yogyakarta dan Perjanjian Giyanti--&gt;

&lt;!--Meta Description: Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755, mulai dari konflik Mataram Islam, Perjanjian Giyanti, hingga pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I.--&gt;
&lt;article&gt;

  &lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755, mulai dari konflik Mataram Islam, Perjanjian Giyanti, hingga pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I" border="0" data-original-height="768" data-original-width="1408" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioF1q27ActAyu_z3ykIKaBNqsB2e-hCKHtwp5yRtq-m8qf4nmZTspuHKDfhO6CYftaJudIlnCE_mCERVlQVX0iGL_AMw6loNCe-SHbxdKdma6edIjcOdQ6hzXSWeE9C7x82vgEkbUMPurU_IS8DBFiQ2v856HeTnAgWw-hCDsc8sqc1pAGkreYjfzMnbQ/s1600/sejarah-kasultanan-yogyakarta-jejaktamboen.jpg" title="Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta 1755" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;&lt;article&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/article&gt;Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat&lt;/strong&gt; atau yang lebih dikenal sebagai Kasultanan Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan penting dalam sejarah Jawa. Berdirinya kasultanan ini tidak dapat dipisahkan dari konflik internal Mataram Islam serta kuatnya pengaruh politik VOC pada abad ke-18.&lt;/article&gt;

  &lt;p&gt;Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta berkaitan erat dengan perjuangan &lt;strong&gt;Pangeran Mangkubumi&lt;/strong&gt;, Perjanjian Giyanti pada 1755, serta pembangunan pemerintahan baru di bawah kepemimpinan &lt;strong&gt;Sultan Hamengkubuwono I&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Latar Belakang Berdirinya Kasultanan Yogyakarta&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Untuk memahami sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta, kita perlu melihat kondisi Mataram Islam pada pertengahan abad ke-18. Pada masa itu, Mataram mengalami ketidakstabilan politik akibat konflik internal keluarga kerajaan dan meningkatnya campur tangan VOC.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Salah satu masalah besar adalah semakin kuatnya pengaruh VOC terhadap pemerintahan Mataram. Perselisihan di lingkungan kerajaan juga semakin tajam. Peristiwa Geger Pacinan pada 1740–1743 bahkan menyebabkan Keraton Kartasura mengalami kehancuran dan pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Surakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpuasan di kalangan bangsawan. Dua tokoh yang menonjol dalam perlawanan terhadap dominasi VOC adalah &lt;strong&gt;Pangeran Mangkubumi&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Raden Mas Said&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Perjuangan Pangeran Mangkubumi&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Perselisihan Pangeran Mangkubumi dengan istana antara lain berkaitan dengan persoalan tanah. Pakubuwana II sebelumnya menjanjikan hadiah tanah kepada pihak yang berhasil memadamkan pemberontakan Raden Mas Said.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pangeran Mangkubumi berhasil menjalankan tugas tersebut. Namun, hadiah tanah yang dijanjikan kemudian dibatalkan. Persoalan tersebut memperburuk hubungan Mangkubumi dengan istana dan VOC.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pada Mei 1746, Pangeran Mangkubumi meninggalkan Keraton Surakarta dan kemudian melakukan perlawanan bersama Raden Mas Said. Konflik tersebut berkembang menjadi &lt;strong&gt;Perang Suksesi Jawa III&lt;/strong&gt; yang berlangsung hingga 1755.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Dalam perang tersebut, Mangkubumi menggunakan kombinasi strategi gerilya dan pertempuran terbuka. Perlawanan yang berlangsung lama membuat VOC menghadapi beban militer dan keuangan yang semakin besar.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;&lt;a href="https://www.jejaktamboen.com/2026/08/sejarah-perjanjian-giyanti-1755.htmlhttps://www.jejaktamboen.com/2026/08/sejarah-perjanjian-giyanti-1755.html" target="_blank"&gt;Perjanjian Giyanti 1755&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah bertahun-tahun menghadapi perlawanan, VOC akhirnya memilih jalur diplomasi. Perundingan dilakukan antara pihak VOC dan Pangeran Mangkubumi untuk mencari penyelesaian konflik.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Puncaknya terjadi pada &lt;strong&gt;13 Februari 1755&lt;/strong&gt; ketika Perjanjian Giyanti ditandatangani di Desa Giyanti, yang sekarang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Perjanjian tersebut menjadi titik penting dalam sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta karena wilayah Mataram Islam dibagi menjadi dua pusat kekuasaan.&lt;/p&gt;

  &lt;h3&gt;Pokok Penting Perjanjian Giyanti&lt;/h3&gt;

  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;Mataram Islam dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;Pangeran Mangkubumi memperoleh wilayah bagian barat.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi penguasa Kasultanan Yogyakarta.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;Wilayah lainnya tetap berada di bawah kekuasaan Pakubuwana III dengan pusat pemerintahan di Surakarta.&lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;

  &lt;p&gt;Pembagian wilayah Mataram tersebut dikenal dengan istilah &lt;strong&gt;Palihan Nagari&lt;/strong&gt;. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan munculnya dua kerajaan besar di Jawa, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi mulai membangun pemerintahan baru. Pada &lt;strong&gt;13 Maret 1755&lt;/strong&gt;, ia mengumumkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi raja pertama dengan gelar &lt;strong&gt;Sultan Hamengkubuwono I&lt;/strong&gt;. Momentum tersebut dikenal sebagai &lt;em&gt;Hadeging Nagari&lt;/em&gt;, yaitu berdirinya negara atau pemerintahan Kasultanan Yogyakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Dengan demikian, terdapat dua tanggal penting dalam sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta:&lt;/p&gt;

  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;13 Februari 1755:&lt;/strong&gt; Perjanjian Giyanti ditandatangani.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;13 Maret 1755:&lt;/strong&gt; Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri.&lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;

  &lt;h2&gt;Pembangunan Keraton Yogyakarta&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah mendirikan pemerintahan baru, Sultan Hamengkubuwono I membutuhkan pusat pemerintahan. Ia kemudian memilih kawasan yang berada di sekitar Hutan Beringin sebagai lokasi pembangunan keraton.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Sebelum Keraton Yogyakarta selesai dibangun, Sultan Hamengkubuwono I menggunakan &lt;strong&gt;Pesanggrahan Ambarketawang&lt;/strong&gt; sebagai tempat tinggal sementara.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Keraton kemudian menjadi pusat pemerintahan Kasultanan sekaligus pusat kehidupan sosial dan kebudayaan. Pembangunan keraton juga menjadi dasar perkembangan kawasan Yogyakarta sebagai pusat politik dan budaya.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Salah satu konsep penting dalam tata ruang Yogyakarta adalah hubungan antara &lt;strong&gt;Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan&lt;/strong&gt;. Konsep tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas ruang dan kebudayaan Yogyakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Perjanjian Jatisari dan Identitas Budaya Yogyakarta&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah pembagian Mataram, perbedaan antara Yogyakarta dan Surakarta tidak hanya terjadi dalam bidang politik. Keduanya juga mulai memiliki perkembangan budaya yang berbeda.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pertemuan Jatisari pada &lt;strong&gt;15 Februari 1755&lt;/strong&gt; menjadi salah satu momentum penting dalam pembentukan identitas budaya kedua kerajaan. Tata cara berpakaian, bahasa, kesenian, dan adat kemudian berkembang dengan ciri masing-masing.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Di Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I berusaha mempertahankan berbagai warisan budaya Mataram sekaligus membangun identitas baru bagi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Masa Pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Sultan Hamengkubuwono I tidak hanya berperan sebagai pemimpin politik dan militer. Ia juga memiliki peran besar dalam pembangunan tata kota, arsitektur, pertahanan, dan kebudayaan Yogyakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Keraton Yogyakarta dibangun sebagai pusat pemerintahan. Selain itu, berbagai bangunan pertahanan dan fasilitas kerajaan dikembangkan untuk memperkuat pemerintahan baru.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Di bawah pemerintahannya, Kasultanan Yogyakarta mulai membangun struktur pemerintahan dan identitas politik yang membedakannya dari Kasunanan Surakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Perkembangan Kasultanan Yogyakarta dalam Sejarah&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Dalam perjalanan sejarahnya, Kasultanan Yogyakarta menghadapi berbagai perubahan politik. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 1812 ketika Keraton Yogyakarta diserang oleh pasukan Inggris dalam peristiwa yang dikenal sebagai &lt;strong&gt;Geger Sepehi&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Yogyakarta juga berkaitan erat dengan &lt;strong&gt;Perang Jawa 1825–1830&lt;/strong&gt; yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Konflik tersebut menjadi salah satu perang terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pada masa menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia, Kasultanan Yogyakarta kembali memainkan peran penting. Sultan Hamengkubuwono IX mendukung Republik Indonesia dan Yogyakarta kemudian menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia pada masa revolusi.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Kasultanan Yogyakarta dan Republik Indonesia&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia. Sikap tersebut menjadi bagian penting dari hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan negara Indonesia.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Yogyakarta kemudian menjadi ibu kota Republik Indonesia pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peran tersebut memperkuat posisi Yogyakarta dalam sejarah pembentukan Indonesia modern.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, Yogyakarta memperoleh status sebagai &lt;strong&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;/strong&gt;. Keistimewaan tersebut memiliki kaitan erat dengan sejarah pemerintahan Kasultanan dan peran Yogyakarta dalam perjalanan Republik Indonesia.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Mengapa Berdirinya Kasultanan Yogyakarta Penting?&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta penting karena menjadi bagian dari perubahan besar dalam politik Jawa pada abad ke-18. Kasultanan ini lahir dari konflik Mataram Islam, perjuangan Pangeran Mangkubumi, dan Perjanjian Giyanti.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Lebih dari sekadar kerajaan, Kasultanan Yogyakarta berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa. Warisan politik, arsitektur, kesenian, adat, dan tata ruangnya masih dapat ditemukan hingga sekarang.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Kesimpulan&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta&lt;/strong&gt; berawal dari konflik politik di Mataram Islam dan meningkatnya campur tangan VOC. Pangeran Mangkubumi kemudian memimpin perlawanan yang berlangsung selama beberapa tahun sebelum akhirnya mencapai penyelesaian melalui diplomasi.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Perjanjian Giyanti pada &lt;strong&gt;13 Februari 1755&lt;/strong&gt; menjadi titik penting pembagian Mataram. Sebulan kemudian, pada &lt;strong&gt;13 Maret 1755&lt;/strong&gt;, Pangeran Mangkubumi mengumumkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan menjadi sultan pertama dengan gelar Hamengkubuwono I.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Sejak saat itu, Yogyakarta berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Jawa yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia hingga masa kini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;
    &lt;/b&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Carey, Peter. (2012). &lt;em&gt;Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785–1855)&lt;/em&gt;. Jakarta: Penerbit Kompas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Ricklefs, M. C. (2002). &lt;em&gt;Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749–1792: Sejarah Pembagian Jawa&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Matabangsa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Ricklefs, M. C. (2008). &lt;em&gt;Sejarah Indonesia Modern 1200–2008&lt;/em&gt;. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Moertono, Soemarsaid. (1985). &lt;em&gt;State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century&lt;/em&gt;. Ithaca: Cornell University Modern Indonesia Project.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. (2015). &lt;em&gt;Sejarah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Margana, Sri. (2004). &lt;em&gt;Pujangga dan Kekuasaan: Perubahan Politik dan Kebudayaan di Jawa Abad XIX&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Ombak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;
  &lt;/ol&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://jejaktamboen.com"&gt;Copyright by: JEJAKTAMBOEN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioF1q27ActAyu_z3ykIKaBNqsB2e-hCKHtwp5yRtq-m8qf4nmZTspuHKDfhO6CYftaJudIlnCE_mCERVlQVX0iGL_AMw6loNCe-SHbxdKdma6edIjcOdQ6hzXSWeE9C7x82vgEkbUMPurU_IS8DBFiQ2v856HeTnAgWw-hCDsc8sqc1pAGkreYjfzMnbQ/s72-c/sejarah-kasultanan-yogyakarta-jejaktamboen.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Apakah Dunia Blogging Masih Diminati saat ini? Mari kita bedah !</title><link>https://www.jejaktamboen.com/2026/10/apakah-dunia-blogging-masih-diminati.html</link><category>Blogging</category><author>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</author><pubDate>Wed, 7 Oct 2026 10:05:47 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8650078867943030247.post-5171407250674145624</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Apakah dunia blogging masih diminati saat ini." border="0" data-original-height="768" data-original-width="1408" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgcdMTv3XJFlyE9yAa_ucy32M8iRmxpA9NilB1XqKe10JqxwDTRgURzumHCIYTvkt6BxKa3Cn8ou0U5r4nudY9R2fpAE-QrqBCuPP5tyYaKpQCCvHSs2I5hIgpA0wt9rJOr6DNgQV5xtohttfHiBgcxjJC-XHEaU1v74BNxBLj8bAol8YgXxYbNZVwHMQ/s1600/apakah-blogging-masih-diminati-jejaktamboen.jpg" title="Apakah blogging masih diminati ?" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Dunia blogging masih diminati pada 2026, tetapi bentuknya sudah berubah dibandingkan era 2010-an. Blog yang hanya mengandalkan artikel umum dan berharap mendapat trafik dari Google semakin sulit bersaing. Sebaliknya, blog yang punya niche jelas, informasi terpercaya, pengalaman/orisinalitas, dan strategi SEO yang baik masih memiliki peluang besar.&lt;/p&gt;&lt;h2 style="text-align: left;"&gt;&lt;span&gt;Mengapa blogging masih relevan?&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Orang masih mencari informasi lewat Google. Ketika seseorang mencari informasi seperti "sejarah Perang Diponegoro", "siapa Raden Wijaya", atau "Perjanjian Giyanti 1755", artikel web masih menjadi salah satu sumber informasi utama.&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;- Konten blog bisa bertahan lama&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Berbeda dengan media sosial yang cepat tenggelam, artikel evergreen seperti sejarah, tutorial, panduan, dan referensi dapat mendatangkan pengunjung selama bertahun-tahun jika terus diperbarui.&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;- Blog bisa menjadi aset digital&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Blog tidak hanya menghasilkan trafik. Jika sudah berkembang, bisa dimonetisasi melalui:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Google AdSense&lt;/li&gt;&lt;li&gt;iklan langsung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;affiliate&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sponsored content&lt;/li&gt;&lt;li&gt;produk digital&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jasa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;membership atau newsletter&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Blog yang memiliki riset sendiri, sumber jelas, sudut pandang unik, dokumentasi, foto/ilustrasi, dan informasi yang benar-benar berguna justru mempunyai nilai lebih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Namun ada perubahan besar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dulu: Tulis 100 artikel - optimasi keyword - tunggu Google - trafik datang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Sekarang lebih realistis:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Topik yang tepat + riset + pengalaman/keahlian + SEO + internal linking + sumber terpercaya + distribusi ke berbagai platform.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Google juga semakin mampu memahami maksud pencarian, sehingga artikel yang ditulis hanya untuk memasukkan keyword berkali-kali tidak lagi menjadi strategi yang bagus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Studi kasus untuk blog sejarah, peluangnya bagaimana?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut saya masih cukup bagus, terutama jika tidak hanya menjadi blog yang "menceritakan sejarah", tetapi dibangun sebagai referensi sejarah Indonesia yang mudah dipahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;u&gt;Misalnya satu topik besar:&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Majapahit&amp;nbsp;&lt;/b&gt;bisa dikembangkan menjadi cluster:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="https://www.jejaktamboen.com/2026/07/sejarah-kerajaan-majapahit.html" target="_blank"&gt;Sejarah Kerajaan Majapahit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="https://www.jejaktamboen.com/2026/09/sejarah-asal-usul-raden-wijaya.html" target="_blank"&gt;Asal-usul Raden Wijaya&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdirinya Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hayam Wuruk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gajah Mada&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sumpah Palapa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perang Bubat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wilayah kekuasaan Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor kejayaan Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyebab runtuhnya Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peninggalan Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prasasti Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab Negarakertagama&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab Pararaton&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian semua artikel tersebut saling dihubungkan dengan internal link. Ini jauh lebih kuat daripada membuat puluhan artikel sejarah yang tidak berhubungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;u&gt;Jika anda ingin serius mengembangkan blog, sebaiknya anda memprioritaskan beberapa hal berikut:&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;1. Niche&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan terlalu melebar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Originalitas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan sekadar memparafrase artikel dari situs lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Sumber&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gunakan jurnal, buku, arsip, museum, lembaga pemerintah, dan sumber akademik ketika memungkinkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;4. Topical authority&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bangun banyak artikel yang saling berkaitan dalam satu bidang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;5. SEO modern&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya keyword, tetapi juga search intent, struktur artikel, internal linking, entity, dan kualitas informasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;6. Visual&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gunakan ilustrasi, peta, timeline, foto artefak, atau infografik yang relevan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;7. Update artikel lama&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Artikel lama yang potensial sering lebih berharga untuk diperbaiki daripada terus membuat artikel baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Jadi, apakah masih layak memulai blog sekarang?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, tetapi jangan memulai blog dengan pola pikir &lt;b&gt;"saya akan membuat banyak artikel agar mendapat trafik".&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Lebih baik berpikir, &lt;b&gt;"Saya akan membangun sebuah situs yang menjadi rujukan terbaik untuk satu bidang tertentu."&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian semoga bermanfaat.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://jejaktamboen.com"&gt;Copyright by: JEJAKTAMBOEN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgcdMTv3XJFlyE9yAa_ucy32M8iRmxpA9NilB1XqKe10JqxwDTRgURzumHCIYTvkt6BxKa3Cn8ou0U5r4nudY9R2fpAE-QrqBCuPP5tyYaKpQCCvHSs2I5hIgpA0wt9rJOr6DNgQV5xtohttfHiBgcxjJC-XHEaU1v74BNxBLj8bAol8YgXxYbNZVwHMQ/s72-c/apakah-blogging-masih-diminati-jejaktamboen.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Biografi sejarah Asal-Usul Raden Wijaya Raja Pertama Majapahit</title><link>https://www.jejaktamboen.com/2026/09/sejarah-asal-usul-raden-wijaya.html</link><category>Biografi</category><category>Sejarah Dalam Negeri</category><author>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</author><pubDate>Mon, 21 Sep 2026 09:03:59 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8650078867943030247.post-2879190757498840573</guid><description>
&lt;!--SEO META--&gt;
&lt;title&gt;Biografi Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit dan Pendiri Majapahit&lt;/title&gt;
&lt;meta content="Biografi Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Pelajari asal-usul, perjuangan, strategi politik, hingga berdirinya Kerajaan Majapahit." name="description"&gt;&lt;/meta&gt;
&lt;meta content="biografi Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya, sejarah Raden Wijaya, berdirinya Kerajaan Majapahit, Kertarajasa Jayawardhana" name="keywords"&gt;&lt;/meta&gt;

&lt;article&gt;

  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Biografi Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Pelajari asal-usul, perjuangan, strategi politik, hingga berdirinya Kerajaan Majapahit." border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihD2npMNPOfqA05XMaR0JqnQ0evpXX68Yp2cY6ggR8RW9oekes7EQVY7X18I5YvIxE58sXXcd4tglF45ft8M1BAsJ51dsZDA_HKK0nAlIZWDGyJ0b3UDbgccTVXzMDhT1sehpUvLoci1YEAmLfLTUqIaNPCYnoB2NomlESP0byKTQLjjF0XorojO3zS3U/s1600/raden-wijaya-jejaktamboen.jpg" title="Asal-Usul Raden Wijaya" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
    &lt;strong&gt;Raden Wijaya&lt;/strong&gt; merupakan tokoh penting dalam sejarah Indonesia karena dikenal sebagai
    &lt;strong&gt;raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit&lt;/strong&gt;. Ia berhasil membangun kerajaan
    baru setelah runtuhnya kekuasaan Singhasari dan menjadikan Majapahit sebagai salah satu kerajaan
    besar dalam sejarah Nusantara.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Raden Wijaya kemudian dikenal dengan gelar &lt;strong&gt;Kertarajasa Jayawardhana&lt;/strong&gt; setelah naik
    takhta. Masa pemerintahannya menjadi tahap awal perkembangan Majapahit yang kelak mencapai puncak
    kejayaan pada masa Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Asal-Usul Raden Wijaya&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    Raden Wijaya memiliki hubungan erat dengan keluarga kerajaan Singhasari. Sumber sejarah, terutama
    &lt;strong&gt;Prasasti Kudadu&lt;/strong&gt;, menjadi salah satu sumber penting untuk mengetahui perjalanan
    Raden Wijaya sebelum mendirikan Majapahit.
  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Raden Wijaya, yang dalam sumber sezaman juga disebut Dyah Wijaya atau Nararya Sanggramawijaya, berasal dari lingkungan bangsawan Jawa dan memiliki hubungan dengan keluarga penguasa Singhasari. Salah satu sumber penting mengenai dirinya adalah Prasasti Kudadu tahun 1294, yang dikeluarkan setelah ia menjadi penguasa Majapahit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Menurut Kakawin Nagarakretagama&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, Raden Wijaya merupakan putra Dyah Lembu Tal dan cucu Narasinghamurti. Dalam sejumlah kajian, Narasinghamurti diidentifikasi dengan tokoh yang juga dikenal sebagai Mahisa Campaka, salah satu tokoh penting dalam keluarga penguasa Singhasari. Dengan demikian, garis keturunan Raden Wijaya melalui Lembu Tal terhubung dengan wangsa Rajasa yang sebelumnya berkuasa di Singhasari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Silsilah Singkat Raden Wijaya berdasar keterangan Nagarakretagama, garis keturunannya dapat disederhanakan sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Ken Angrok → Mahisa Wonga Teleng → Narasinghamurti/Mahisa Campaka → Dyah Lembu Tal → Dyah Wijaya (Raden Wijaya).&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan demikian, Narasinghamurti/Mahisa Campaka lebih tepat disebut sebagai kakek Raden Wijaya, bukan ayahnya, apabila menggunakan keterangan Nagarakretagama dan pembacaan terhadap Prasasti Kudadu. Ini penting karena beberapa tulisan populer di internet masih mencampuradukkan kedua versi tersebut.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Raden Wijaya merupakan menantu &lt;strong&gt;Kertanegara&lt;/strong&gt;, raja terakhir Singhasari. Ketika
    Singhasari diserang oleh pasukan Jayakatwang dari Kadiri pada 1292, pemerintahan Kertanegara
    berakhir. Raden Wijaya kemudian berusaha menyelamatkan diri sekaligus mencari kesempatan untuk
    membangun kembali kekuasaan politiknya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan Raden Wijaya. Ia tidak langsung
    menghadapi lawan dengan kekuatan militer, tetapi memilih menggunakan strategi politik dan
    membangun kekuatan secara bertahap.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Perjuangan Raden Wijaya Sebelum Mendirikan Majapahit&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah Singhasari jatuh, Raden Wijaya meminta izin kepada Jayakatwang untuk membuka sebuah
    wilayah hutan di daerah Tarik. Wilayah tersebut kemudian dikembangkan menjadi permukiman yang
    menjadi cikal bakal &lt;strong&gt;Majapahit&lt;/strong&gt;.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Menurut tradisi sejarah, nama Majapahit dikaitkan dengan buah maja yang memiliki rasa pahit.
    Dari wilayah inilah Raden Wijaya mulai membangun basis kekuatan baru.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Keadaan berubah ketika pasukan Mongol yang dikirim oleh &lt;strong&gt;Kubilai Khan&lt;/strong&gt; tiba di
    Jawa. Pasukan tersebut sebenarnya datang untuk menundukkan Kertanegara karena sebelumnya terjadi
    konflik antara Singhasari dan Kekaisaran Mongol.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol tersebut sebagai bagian dari strategi
    politiknya. Ia bekerja sama dengan pasukan Mongol untuk menghadapi Jayakatwang. Setelah
    Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol hingga mereka meninggalkan
    Jawa.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Strategi tersebut menunjukkan kemampuan Raden Wijaya dalam membaca situasi politik. Ia
    memanfaatkan kekuatan pihak lain tanpa membiarkan dirinya berada di bawah kendali mereka.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Berdirinya &lt;a href="https://www.jejaktamboen.com/2026/07/sejarah-kerajaan-majapahit.html" target="_blank"&gt;Kerajaan Majapahit&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah berhasil mengusir pasukan Mongol, Raden Wijaya memiliki kesempatan untuk membangun
    pemerintahan sendiri. Pada &lt;strong&gt;1293&lt;/strong&gt;, ia mendirikan Kerajaan Majapahit dan kemudian
    naik takhta dengan gelar &lt;strong&gt;Sri Kertarajasa Jayawardhana&lt;/strong&gt;.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tahun 1293 umumnya dipandang sebagai tahun berdirinya Majapahit. Peristiwa tersebut menandai
    munculnya salah satu kerajaan terpenting dalam sejarah politik Jawa dan Nusantara.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Pada masa awal pemerintahannya, Raden Wijaya harus menghadapi berbagai persoalan. Kerajaan baru
    tersebut masih membutuhkan konsolidasi karena sebelumnya terjadi konflik berkepanjangan antara
    Singhasari, Kadiri, serta berbagai kelompok politik di Jawa.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Pemerintahan Raden Wijaya&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    Sebagai raja pertama Majapahit, Raden Wijaya berusaha memperkuat pemerintahan dan menjaga
    kestabilan kerajaan. Ia memberikan kedudukan penting kepada sejumlah tokoh yang sebelumnya
    membantu perjuangannya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Raden Wijaya juga harus menghadapi pemberontakan dari sejumlah pengikutnya. Beberapa sumber
    sejarah mencatat adanya pemberontakan seperti yang dilakukan &lt;strong&gt;Ranggalawe, Sora, dan
    Nambi&lt;/strong&gt; pada masa awal Majapahit.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Berbagai pemberontakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Majapahit pada masa Raden Wijaya
    belum sepenuhnya stabil. Namun, kerajaan mampu bertahan dan berkembang setelah melewati berbagai
    konflik internal.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Raden Wijaya dan Strategi Politik&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    Salah satu hal yang membuat Raden Wijaya menarik untuk dikaji adalah kemampuannya dalam
    menggunakan strategi politik.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan militer. Ketika menghadapi situasi yang sulit, Raden Wijaya
    mampu menjalin hubungan dengan berbagai kelompok dan memanfaatkan perubahan keadaan untuk
    mencapai tujuan politiknya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Strategi menghadapi pasukan Mongol merupakan contoh paling terkenal. Setelah menggunakan bantuan
    pasukan Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya kemudian menyerang mereka dan
    memaksa pasukan tersebut meninggalkan Jawa.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Keputusan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan berdirinya Majapahit
    sebagai kerajaan yang merdeka.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Akhir Hayat Raden Wijaya&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    Raden Wijaya memerintah Majapahit hingga wafat pada &lt;strong&gt;1309&lt;/strong&gt;. Ia kemudian
    didharmakan di beberapa tempat menurut tradisi sumber sejarah Jawa, termasuk di Antahpura.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah Raden Wijaya meninggal, takhta Majapahit diteruskan oleh putranya,
    &lt;strong&gt;Jayanegara&lt;/strong&gt;, yang menjadi penerus langsung kekuasaan kerajaan. Sementara itu,
    &lt;strong&gt;Tribhuwana Tunggadewi&lt;/strong&gt; baru memerintah Majapahit pada masa berikutnya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Meskipun masa pemerintahannya relatif singkat, peran Raden Wijaya sangat besar. Ia berhasil
    mengubah situasi politik yang kacau setelah runtuhnya Singhasari menjadi awal berdirinya
    kerajaan baru.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Mengapa Raden Wijaya Penting dalam Sejarah Majapahit?&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    Raden Wijaya bukan hanya dikenal sebagai raja pertama Majapahit. Ia juga merupakan tokoh yang
    meletakkan dasar politik dan pemerintahan bagi perkembangan kerajaan tersebut.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Majapahit pada masa berikutnya berkembang semakin kuat, terutama ketika berada di bawah
    pemerintahan &lt;strong&gt;Hayam Wuruk&lt;/strong&gt; dan kepemimpinan politik &lt;strong&gt;Gajah Mada&lt;/strong&gt;.
    Namun, perkembangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari fondasi yang dibangun Raden Wijaya
    pada akhir abad ke-13.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Keberhasilan Raden Wijaya mendirikan kerajaan di tengah perubahan politik Jawa menunjukkan
    bahwa berdirinya Majapahit bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Kerajaan
    tersebut lahir melalui rangkaian konflik, aliansi, strategi politik, dan perjuangan untuk
    memperoleh kekuasaan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Kesimpulan&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;
    &lt;strong&gt;Raden Wijaya adalah raja pertama dan pendiri Kerajaan Majapahit&lt;/strong&gt; yang memerintah
    dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Ia mendirikan Majapahit pada 1293 setelah melalui berbagai
    konflik politik sejak runtuhnya Singhasari.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Keberhasilannya memanfaatkan konflik antara Jayakatwang dan pasukan Mongol menjadi salah satu
    bagian penting dalam proses berdirinya Majapahit. Dari kerajaan yang dibangun Raden Wijaya
    inilah kemudian berkembang sebuah kekuatan politik besar yang memiliki pengaruh luas dalam
    sejarah Nusantara.
  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;

  &lt;h3&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Sumber Pustaka&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;

  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;
      Poesponegoro, Marwati Djoened &amp;amp; Nugroho Notosusanto (ed.).
      Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
    &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;

    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;
      Muljana, Slamet.
      Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Historia.id, Sejarah Asal -Usul Raden Wijaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;

&lt;/article&gt;

&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://jejaktamboen.com"&gt;Copyright by: JEJAKTAMBOEN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihD2npMNPOfqA05XMaR0JqnQ0evpXX68Yp2cY6ggR8RW9oekes7EQVY7X18I5YvIxE58sXXcd4tglF45ft8M1BAsJ51dsZDA_HKK0nAlIZWDGyJ0b3UDbgccTVXzMDhT1sehpUvLoci1YEAmLfLTUqIaNPCYnoB2NomlESP0byKTQLjjF0XorojO3zS3U/s72-c/raden-wijaya-jejaktamboen.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>