<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>JejakTamboen.com</title><description>Sejarah | Blogging | Informasi</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</managingEditor><pubDate>Mon, 2 Nov 2026 15:58:34 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">139</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">3</openSearch:itemsPerPage><link>https://www.jejaktamboen.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sejarah | Blogging | Informasi</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Tari Remo: Sejarah, Ciri Khas, dan Maknanya</title><link>https://www.jejaktamboen.com/2026/11/sejarah-tari-remo-jawa-timur.html</link><category>Budaya</category><category>Sejarah Dalam Negeri</category><author>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</author><pubDate>Mon, 2 Nov 2026 11:31:03 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8650078867943030247.post-3380997071410390891</guid><description>
&lt;figure class="gambar-artikel"&gt;
  &lt;img alt="Tari Remo, kesenian tradisional Jawa Timur" loading="lazy" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfvCBZCHkxcYhM52DLjtywZBjPabq8aGWSGdLNLASk-RS-nXgRDqqzp5E8oWnvMiHxJOx9xhO-OflTbIIZ9eCi1I1YpMSwVsWRrSUbKU_nBmk2f66T7Q1dsaLkFdD93M8ruslrdqS2UA_oylC-05IbpRS2rmClidiJcQMt6moZBj8eGiLz-Z5dWkIn0nE/s1600/tari-ngremo-jejaktamboen.png" title="Tari Ngremo" /&gt;

  &lt;figcaption&gt;
    Ilustrasi Tari Remo, salah satu kesenian tradisional Jawa Timur.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span class="sumber-gambar"&gt;Sumber:
      &lt;a href="https://www.youtube.com/@SwargalokaArt" rel="noopener noreferrer" target="_blank"&gt;
       @SwargalokaArt
      &lt;/a&gt;
    &lt;/span&gt;
  &lt;/figcaption&gt;
&lt;/figure&gt;


&lt;p&gt;
  Tari Remo merupakan salah satu kesenian tari tradisional yang berkembang di
  Jawa Timur. Tarian ini dikenal melalui gerakannya yang dinamis, hentakan kaki
  yang tegas, serta penggambaran sosok kesatria yang gagah dan berani. Dalam
  perkembangannya, Tari Remo menjadi bagian penting dari pertunjukan ludruk
  dan sering ditampilkan untuk menyambut tamu dalam berbagai acara kebudayaan.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mencerminkan
  karakter masyarakat Jawa Timur yang bersemangat, terbuka, dan menjunjung
  tinggi keberanian. Hingga sekarang, Tari Remo tetap dipelajari dan
  dipentaskan sebagai bagian dari upaya melestarikan kebudayaan daerah.
&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Sejarah Tari Remo&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;
  Sejarah Tari Remo berkaitan erat dengan perkembangan kesenian tradisional di
  Jawa Timur, terutama ludruk. Pada awalnya, tarian ini berfungsi sebagai
  pembuka pertunjukan ludruk sebelum penonton menyaksikan cerita utama yang
  dibawakan oleh para pemain.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Dalam berbagai sumber sejarah kebudayaan, perkembangan Tari Remo dikaitkan
  dengan Kabupaten Jombang.&amp;nbsp; Sejumlah sumber menyebutkan Desa Ceweng,
  Kecamatan Diwek, sebagai salah satu tempat yang berkaitan dengan perkembangan
  awal tarian ini.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Salah satu kisah yang dikenal masyarakat menyebutkan bahwa
  &lt;b&gt;tarian Remo diperkenalkan oleh seorang seniman bernama Cak Mo&lt;/b&gt;. Ia
  mengembangkan gaya tari yang memadukan sejumlah unsur kesenian tradisional,
  termasuk gerakan jathilan, warok, dan tayub.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Tarian tersebut kemudian dikenal luas melalui pertunjukan keliling dan ludruk.
  Seiring waktu, Tari Remo mengalami perkembangan dalam bentuk gerakan,
  iringan musik, kostum, serta cara penyajiannya.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Perjalanan tersebut menjadikan Tari Remo tidak lagi terbatas sebagai pembuka
  pertunjukan ludruk. Tarian ini juga berkembang menjadi tarian penyambutan dan
  pertunjukan mandiri dalam berbagai kegiatan resmi maupun festival budaya.
&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Ciri Khas Tari Remo&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;
  Tari Remo mempunyai beberapa ciri khas yang membuatnya mudah dikenali.
  Keunikan tersebut terlihat dari gerakan, kostum, iringan musik, dan karakter
  yang dibawakan oleh penarinya.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;1. Gerakan yang Tegas dan Dinamis&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Gerakan Tari Remo menggambarkan ketangkasan serta keberanian seorang
  kesatria. Penari melakukan gerakan kaki yang rancak, perubahan posisi tubuh,
  gerakan tangan yang ekspresif, dan langkah-langkah yang mengikuti irama musik.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Perpaduan gerakan tersebut menciptakan kesan kuat dan penuh energi. Meskipun
  terlihat tegas, setiap gerakan tetap membutuhkan penguasaan teknik,
  keseimbangan, dan ketepatan mengikuti iringan.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;2. Hentakan Kaki dan Bunyi Gongseng&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Salah satu ciri yang menonjol dalam Tari Remo adalah gerakan kaki yang
  tegas. Pada sejumlah gaya pertunjukan, penari mengenakan gongseng, yaitu
  lonceng kecil yang dipasang di sekitar pergelangan kaki.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Bunyi gongseng muncul ketika penari melangkah atau menghentakkan kaki. Suara
  tersebut berpadu dengan iringan musik sehingga menambah daya tarik pertunjukan
  dan memperkuat kesan dinamis.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;3. Kostum Tradisional&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Kostum Tari Remo umumnya menampilkan unsur busana tradisional Jawa Timur
  dengan variasi sesuai gaya daerah dan karakter pertunjukan.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Busana yang dikenakan dapat terdiri atas ikat kepala, pakaian berlengan
  panjang atau rompi, kain batik, sampur, serta aksesori lainnya. Kombinasi
  warna dan perlengkapan tersebut membantu mempertegas karakter penari yang
  gagah dan berwibawa.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Dalam perkembangannya, desain kostum mengalami penyesuaian tanpa harus
  meninggalkan ciri utama tarian.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;4. Iringan Musik Gamelan&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Pertunjukan Tari Remo biasanya diiringi musik tradisional Jawa Timur,
  terutama gamelan. Iringan tersebut berperan dalam mengatur tempo, membangun
  suasana, dan membantu penari menyesuaikan gerakan.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Perpaduan bunyi kendang, gong, kenong, serta instrumen gamelan lainnya
  menghasilkan irama yang mendukung karakter tarian. Pada beberapa pertunjukan,
  iringan juga disertai kidungan atau vokal tradisional sesuai kebutuhan
  penyajian.
&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Makna dan Nilai dalam Tari Remo&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;
  Tari Remo memiliki makna yang berkaitan dengan keberanian, ketegasan,
  semangat, dan jiwa keprajuritan. Nilai tersebut tercermin melalui gerakan yang
  mantap serta penggambaran sosok kesatria yang siap menghadapi tantangan.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Selain itu, tarian ini mengandung nilai budaya yang diwariskan melalui praktik
  seni dari satu generasi ke generasi berikutnya.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa nilai yang dapat dipahami dari Tari Remo antara lain:&lt;/p&gt;
&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;
      &lt;strong&gt;Keberanian:&lt;/strong&gt; menggambarkan sikap berani menghadapi
      tantangan.
    &lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;
      &lt;strong&gt;Ketangkasan:&lt;/strong&gt; tercermin dari kemampuan menguasai gerakan
      dan menjaga keseimbangan.
    &lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;
      &lt;strong&gt;Disiplin:&lt;/strong&gt; terlihat dalam latihan, penguasaan teknik, dan
      ketepatan mengikuti iringan.
    &lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;p&gt;
  Makna tersebut dapat memiliki penekanan berbeda sesuai dengan gaya Tari Remo, koreografi, dan konteks pertunjukannya.
&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Fungsi Tari Remo dalam Masyarakat&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;
  Dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur, Tari Remo mempunyai fungsi yang terus
  berkembang. Pada awalnya, tarian ini dikenal sebagai bagian pembuka
  pertunjukan ludruk. Kini, penggunaannya semakin beragam.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;Sebagai Pembuka Pertunjukan Ludruk&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Tari Remo berfungsi mengawali pertunjukan ludruk dan membangun suasana
  sebelum cerita utama dimulai. Gerakannya yang dinamis membantu menarik
  perhatian penonton.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;Sebagai Tarian Penyambutan&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Tari Remo juga ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan dalam acara
  pemerintahan, kegiatan pendidikan, dan perhelatan kebudayaan. Dalam konteks
  ini, tarian menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengenalan identitas budaya
  Jawa Timur.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;Sebagai Media Pendidikan Budaya&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Tari Remo dipelajari di sanggar seni, sekolah, dan berbagai komunitas
  kebudayaan. Melalui kegiatan tersebut, generasi muda dapat mengenal gerak tari
  tradisional, musik pengiring, serta nilai budaya yang menyertainya.
&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;Sebagai Pertunjukan Seni&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;
  Selain menjadi bagian dari ludruk, Tari Remo dapat dipentaskan secara
  mandiri dalam festival seni, perlombaan tari, dan pertunjukan budaya.
  Perkembangan ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat beradaptasi
  dengan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan akar budayanya.
&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Perkembangan Tari Remo pada Masa Kini&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;
  Perkembangan zaman membawa perubahan dalam cara Tari Remo dipelajari dan
  dipentaskan. Seniman melakukan berbagai penyesuaian terhadap durasi,
  koreografi, tata busana, serta bentuk penyajian agar sesuai dengan kebutuhan
  pertunjukan modern.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Di sejumlah daerah, Tari Remo berkembang menjadi berbagai gaya dengan
  karakteristik masing-masing. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kesenian
  tradisional bukanlah sesuatu yang sepenuhnya statis, melainkan dapat
  berkembang melalui kreativitas seniman dan dukungan masyarakat.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Meskipun mengalami perubahan, pelestarian unsur gerak, iringan, dan karakter
  dasar tarian tetap penting. Dokumentasi, pendidikan seni, serta pertunjukan
  rutin dapat membantu menjaga keberlanjutan Tari Remo sebagai bagian dari
  kekayaan budaya Jawa Timur.
&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Upaya Melestarikan Tari Remo&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;
  Pelestarian Tari Remo membutuhkan keterlibatan seniman, lembaga pendidikan,
  pemerintah daerah, dan masyarakat. Salah satu langkah yang dapat dilakukan
  adalah mengenalkan tarian ini kepada anak-anak dan generasi muda melalui
  pembelajaran seni di sekolah maupun sanggar.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Selain itu, penyelenggaraan festival budaya dan pertunjukan ludruk dapat
  membantu memperluas pengenalan Tari Remo kepada masyarakat. Dokumentasi
  dalam bentuk foto, video, dan tulisan juga penting untuk merekam perkembangan
  gaya tari serta pengetahuan yang dimiliki para pelaku seni.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Pemanfaatan media digital dapat menjadi sarana tambahan untuk memperkenalkan
  Tari Remo kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, tarian
  tradisional ini tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga
  dapat terus hidup dalam kehidupan kebudayaan masa kini.
&lt;/p&gt;
&lt;h2&gt;Kesimpulan&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;
  Tari Remo merupakan kesenian tradisional Jawa Timur yang memiliki hubungan
  erat dengan perkembangan ludruk dan tradisi tari di wilayah Jombang serta
  daerah sekitarnya. Tarian ini dikenal melalui gerakan yang dinamis, hentakan
  kaki yang tegas, iringan gamelan, dan penggambaran karakter kesatria.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Seiring perkembangan zaman, Tari Remo tidak hanya ditampilkan sebagai
  pembuka pertunjukan ludruk, tetapi juga menjadi tarian penyambutan dan
  pertunjukan seni dalam berbagai kegiatan kebudayaan.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Keberadaan Tari Remo memperlihatkan kekayaan tradisi Jawa Timur yang perlu
  dijaga dan diwariskan. Melalui pendidikan, pertunjukan, dokumentasi, dan
  dukungan masyarakat, kesenian ini diharapkan tetap dikenal oleh generasi
  mendatang.
&lt;/p&gt;

&lt;section class="sumber-pustaka"&gt;
  &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber Pustaka&lt;/span&gt;
  &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;ol&gt;
      &lt;li&gt;
        &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;
          Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
          &lt;em&gt;Tari Ngremo Surabayan.&lt;/em&gt;
          Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia, 2023.
          &lt;a href="https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001807" rel="noopener noreferrer" target="_blank"&gt;
            Baca sumber resmi &lt;/a&gt;.
        &lt;/span&gt;
      &lt;/li&gt;
      &lt;li&gt;
        &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;
          Kompas.com. (2023).
          &lt;em&gt;Sejarah Tari Remo, Tari Penyambut Tamu Asal Jombang.&lt;/em&gt;
          &lt;a href="https://www.kompas.com/stori/read/2023/01/13/170000279/sejarah-tari-remo-tari-penyambut-tamu-asal-jombang" rel="noopener noreferrer" target="_blank"&gt;
            Baca artikel &lt;/a&gt;.
        &lt;/span&gt;
      &lt;/li&gt;
      &lt;li&gt;
        &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;
          Institut Seni Indonesia Surakarta.
          &lt;em&gt;Tari Remo Jombangan sebagai Tari Penyambutan Kebudayaan Khas
            Jombang.&lt;/em&gt;
          Jurnal Greget. Referensi melalui Garba Rujukan Digital.
          &lt;a href="https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5553673" rel="noopener noreferrer" target="_blank"&gt;
            Baca referensi jurnal &lt;/a&gt;.
        &lt;/span&gt;
      &lt;/li&gt;
      &lt;li&gt;
        &lt;span style="font-size: x-small;"&gt;
          Kompas.com. (2021).
          &lt;em&gt;Tari Remo, Bertema Keprajuritan dari Jawa Timur.&lt;/em&gt;
          &lt;a href="https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/05/141059069/tari-remo-bertema-keprajuritan-dari-jawa-timur" rel="noopener noreferrer" target="_blank"&gt;
            Baca artikel &lt;/a&gt;.
        &lt;/span&gt;
      &lt;/li&gt;
    &lt;/ol&gt;
  &lt;/span&gt;
&lt;/section&gt;

&lt;style&gt;
  /* Gambar artikel dan caption sumber */
.gambar-artikel {
  margin: 24px 0;
  padding: 0;
  text-align: center;
}

.gambar-artikel img {
  display: block;
  width: 100%;
  height: auto;
  margin: 0 auto;
  border-radius: 5px;
}

.gambar-artikel figcaption {
  margin-top: 8px;
  color: #666;
  font-size: 12px;
  line-height: 1.6;
  text-align: left;
}

.gambar-artikel .sumber-gambar {
  display: inline;
  color: #777;
}

.gambar-artikel .sumber-gambar a {
  color: #2563eb;
  text-decoration: none;
}

.gambar-artikel .sumber-gambar a:hover {
  text-decoration: underline;
}

&lt;/style&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://jejaktamboen.com"&gt;Copyright by: JEJAKTAMBOEN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfvCBZCHkxcYhM52DLjtywZBjPabq8aGWSGdLNLASk-RS-nXgRDqqzp5E8oWnvMiHxJOx9xhO-OflTbIIZ9eCi1I1YpMSwVsWRrSUbKU_nBmk2f66T7Q1dsaLkFdD93M8ruslrdqS2UA_oylC-05IbpRS2rmClidiJcQMt6moZBj8eGiLz-Z5dWkIn0nE/s72-c/tari-ngremo-jejaktamboen.png" width="72"/></item><item><title>Sejarah Berdirinya Kasultanan Yogyakarta</title><link>https://www.jejaktamboen.com/2026/10/sejarah-berdirinya-kasultanan-yogyakarta.html</link><category>Sejarah Dalam Negeri</category><author>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</author><pubDate>Wed, 7 Oct 2026 10:07:12 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8650078867943030247.post-2823172230150608426</guid><description>&lt;!--Meta Title: Sejarah Berdirinya Kasultanan Yogyakarta dan Perjanjian Giyanti--&gt;

&lt;!--Meta Description: Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755, mulai dari konflik Mataram Islam, Perjanjian Giyanti, hingga pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I.--&gt;
&lt;article&gt;

  &lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755, mulai dari konflik Mataram Islam, Perjanjian Giyanti, hingga pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I" border="0" data-original-height="768" data-original-width="1408" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioF1q27ActAyu_z3ykIKaBNqsB2e-hCKHtwp5yRtq-m8qf4nmZTspuHKDfhO6CYftaJudIlnCE_mCERVlQVX0iGL_AMw6loNCe-SHbxdKdma6edIjcOdQ6hzXSWeE9C7x82vgEkbUMPurU_IS8DBFiQ2v856HeTnAgWw-hCDsc8sqc1pAGkreYjfzMnbQ/s1600/sejarah-kasultanan-yogyakarta-jejaktamboen.jpg" title="Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta 1755" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;&lt;article&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/article&gt;Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat&lt;/strong&gt; atau yang lebih dikenal sebagai Kasultanan Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan penting dalam sejarah Jawa. Berdirinya kasultanan ini tidak dapat dipisahkan dari konflik internal Mataram Islam serta kuatnya pengaruh politik VOC pada abad ke-18.&lt;/article&gt;

  &lt;p&gt;Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta berkaitan erat dengan perjuangan &lt;strong&gt;Pangeran Mangkubumi&lt;/strong&gt;, Perjanjian Giyanti pada 1755, serta pembangunan pemerintahan baru di bawah kepemimpinan &lt;strong&gt;Sultan Hamengkubuwono I&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Latar Belakang Berdirinya Kasultanan Yogyakarta&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Untuk memahami sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta, kita perlu melihat kondisi Mataram Islam pada pertengahan abad ke-18. Pada masa itu, Mataram mengalami ketidakstabilan politik akibat konflik internal keluarga kerajaan dan meningkatnya campur tangan VOC.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Salah satu masalah besar adalah semakin kuatnya pengaruh VOC terhadap pemerintahan Mataram. Perselisihan di lingkungan kerajaan juga semakin tajam. Peristiwa Geger Pacinan pada 1740–1743 bahkan menyebabkan Keraton Kartasura mengalami kehancuran dan pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Surakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpuasan di kalangan bangsawan. Dua tokoh yang menonjol dalam perlawanan terhadap dominasi VOC adalah &lt;strong&gt;Pangeran Mangkubumi&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Raden Mas Said&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Perjuangan Pangeran Mangkubumi&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Perselisihan Pangeran Mangkubumi dengan istana antara lain berkaitan dengan persoalan tanah. Pakubuwana II sebelumnya menjanjikan hadiah tanah kepada pihak yang berhasil memadamkan pemberontakan Raden Mas Said.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pangeran Mangkubumi berhasil menjalankan tugas tersebut. Namun, hadiah tanah yang dijanjikan kemudian dibatalkan. Persoalan tersebut memperburuk hubungan Mangkubumi dengan istana dan VOC.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pada Mei 1746, Pangeran Mangkubumi meninggalkan Keraton Surakarta dan kemudian melakukan perlawanan bersama Raden Mas Said. Konflik tersebut berkembang menjadi &lt;strong&gt;Perang Suksesi Jawa III&lt;/strong&gt; yang berlangsung hingga 1755.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Dalam perang tersebut, Mangkubumi menggunakan kombinasi strategi gerilya dan pertempuran terbuka. Perlawanan yang berlangsung lama membuat VOC menghadapi beban militer dan keuangan yang semakin besar.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;&lt;a href="https://www.jejaktamboen.com/2026/08/sejarah-perjanjian-giyanti-1755.htmlhttps://www.jejaktamboen.com/2026/08/sejarah-perjanjian-giyanti-1755.html" target="_blank"&gt;Perjanjian Giyanti 1755&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah bertahun-tahun menghadapi perlawanan, VOC akhirnya memilih jalur diplomasi. Perundingan dilakukan antara pihak VOC dan Pangeran Mangkubumi untuk mencari penyelesaian konflik.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Puncaknya terjadi pada &lt;strong&gt;13 Februari 1755&lt;/strong&gt; ketika Perjanjian Giyanti ditandatangani di Desa Giyanti, yang sekarang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Perjanjian tersebut menjadi titik penting dalam sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta karena wilayah Mataram Islam dibagi menjadi dua pusat kekuasaan.&lt;/p&gt;

  &lt;h3&gt;Pokok Penting Perjanjian Giyanti&lt;/h3&gt;

  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;Mataram Islam dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;Pangeran Mangkubumi memperoleh wilayah bagian barat.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi penguasa Kasultanan Yogyakarta.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;Wilayah lainnya tetap berada di bawah kekuasaan Pakubuwana III dengan pusat pemerintahan di Surakarta.&lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;

  &lt;p&gt;Pembagian wilayah Mataram tersebut dikenal dengan istilah &lt;strong&gt;Palihan Nagari&lt;/strong&gt;. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan munculnya dua kerajaan besar di Jawa, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi mulai membangun pemerintahan baru. Pada &lt;strong&gt;13 Maret 1755&lt;/strong&gt;, ia mengumumkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi raja pertama dengan gelar &lt;strong&gt;Sultan Hamengkubuwono I&lt;/strong&gt;. Momentum tersebut dikenal sebagai &lt;em&gt;Hadeging Nagari&lt;/em&gt;, yaitu berdirinya negara atau pemerintahan Kasultanan Yogyakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Dengan demikian, terdapat dua tanggal penting dalam sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta:&lt;/p&gt;

  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;13 Februari 1755:&lt;/strong&gt; Perjanjian Giyanti ditandatangani.&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;strong&gt;13 Maret 1755:&lt;/strong&gt; Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri.&lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;

  &lt;h2&gt;Pembangunan Keraton Yogyakarta&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah mendirikan pemerintahan baru, Sultan Hamengkubuwono I membutuhkan pusat pemerintahan. Ia kemudian memilih kawasan yang berada di sekitar Hutan Beringin sebagai lokasi pembangunan keraton.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Sebelum Keraton Yogyakarta selesai dibangun, Sultan Hamengkubuwono I menggunakan &lt;strong&gt;Pesanggrahan Ambarketawang&lt;/strong&gt; sebagai tempat tinggal sementara.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Keraton kemudian menjadi pusat pemerintahan Kasultanan sekaligus pusat kehidupan sosial dan kebudayaan. Pembangunan keraton juga menjadi dasar perkembangan kawasan Yogyakarta sebagai pusat politik dan budaya.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Salah satu konsep penting dalam tata ruang Yogyakarta adalah hubungan antara &lt;strong&gt;Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan&lt;/strong&gt;. Konsep tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas ruang dan kebudayaan Yogyakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Perjanjian Jatisari dan Identitas Budaya Yogyakarta&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah pembagian Mataram, perbedaan antara Yogyakarta dan Surakarta tidak hanya terjadi dalam bidang politik. Keduanya juga mulai memiliki perkembangan budaya yang berbeda.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pertemuan Jatisari pada &lt;strong&gt;15 Februari 1755&lt;/strong&gt; menjadi salah satu momentum penting dalam pembentukan identitas budaya kedua kerajaan. Tata cara berpakaian, bahasa, kesenian, dan adat kemudian berkembang dengan ciri masing-masing.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Di Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I berusaha mempertahankan berbagai warisan budaya Mataram sekaligus membangun identitas baru bagi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Masa Pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Sultan Hamengkubuwono I tidak hanya berperan sebagai pemimpin politik dan militer. Ia juga memiliki peran besar dalam pembangunan tata kota, arsitektur, pertahanan, dan kebudayaan Yogyakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Keraton Yogyakarta dibangun sebagai pusat pemerintahan. Selain itu, berbagai bangunan pertahanan dan fasilitas kerajaan dikembangkan untuk memperkuat pemerintahan baru.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Di bawah pemerintahannya, Kasultanan Yogyakarta mulai membangun struktur pemerintahan dan identitas politik yang membedakannya dari Kasunanan Surakarta.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Perkembangan Kasultanan Yogyakarta dalam Sejarah&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Dalam perjalanan sejarahnya, Kasultanan Yogyakarta menghadapi berbagai perubahan politik. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 1812 ketika Keraton Yogyakarta diserang oleh pasukan Inggris dalam peristiwa yang dikenal sebagai &lt;strong&gt;Geger Sepehi&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Yogyakarta juga berkaitan erat dengan &lt;strong&gt;Perang Jawa 1825–1830&lt;/strong&gt; yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Konflik tersebut menjadi salah satu perang terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Pada masa menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia, Kasultanan Yogyakarta kembali memainkan peran penting. Sultan Hamengkubuwono IX mendukung Republik Indonesia dan Yogyakarta kemudian menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia pada masa revolusi.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Kasultanan Yogyakarta dan Republik Indonesia&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia. Sikap tersebut menjadi bagian penting dari hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan negara Indonesia.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Yogyakarta kemudian menjadi ibu kota Republik Indonesia pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peran tersebut memperkuat posisi Yogyakarta dalam sejarah pembentukan Indonesia modern.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, Yogyakarta memperoleh status sebagai &lt;strong&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;/strong&gt;. Keistimewaan tersebut memiliki kaitan erat dengan sejarah pemerintahan Kasultanan dan peran Yogyakarta dalam perjalanan Republik Indonesia.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Mengapa Berdirinya Kasultanan Yogyakarta Penting?&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta penting karena menjadi bagian dari perubahan besar dalam politik Jawa pada abad ke-18. Kasultanan ini lahir dari konflik Mataram Islam, perjuangan Pangeran Mangkubumi, dan Perjanjian Giyanti.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Lebih dari sekadar kerajaan, Kasultanan Yogyakarta berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa. Warisan politik, arsitektur, kesenian, adat, dan tata ruangnya masih dapat ditemukan hingga sekarang.&lt;/p&gt;

  &lt;h2&gt;Kesimpulan&lt;/h2&gt;

  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta&lt;/strong&gt; berawal dari konflik politik di Mataram Islam dan meningkatnya campur tangan VOC. Pangeran Mangkubumi kemudian memimpin perlawanan yang berlangsung selama beberapa tahun sebelum akhirnya mencapai penyelesaian melalui diplomasi.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Perjanjian Giyanti pada &lt;strong&gt;13 Februari 1755&lt;/strong&gt; menjadi titik penting pembagian Mataram. Sebulan kemudian, pada &lt;strong&gt;13 Maret 1755&lt;/strong&gt;, Pangeran Mangkubumi mengumumkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan menjadi sultan pertama dengan gelar Hamengkubuwono I.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Sejak saat itu, Yogyakarta berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Jawa yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia hingga masa kini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;
    &lt;/b&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Carey, Peter. (2012). &lt;em&gt;Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785–1855)&lt;/em&gt;. Jakarta: Penerbit Kompas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Ricklefs, M. C. (2002). &lt;em&gt;Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749–1792: Sejarah Pembagian Jawa&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Matabangsa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Ricklefs, M. C. (2008). &lt;em&gt;Sejarah Indonesia Modern 1200–2008&lt;/em&gt;. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Moertono, Soemarsaid. (1985). &lt;em&gt;State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century&lt;/em&gt;. Ithaca: Cornell University Modern Indonesia Project.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. (2015). &lt;em&gt;Sejarah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Margana, Sri. (2004). &lt;em&gt;Pujangga dan Kekuasaan: Perubahan Politik dan Kebudayaan di Jawa Abad XIX&lt;/em&gt;. Yogyakarta: Ombak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;
  &lt;/ol&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://jejaktamboen.com"&gt;Copyright by: JEJAKTAMBOEN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioF1q27ActAyu_z3ykIKaBNqsB2e-hCKHtwp5yRtq-m8qf4nmZTspuHKDfhO6CYftaJudIlnCE_mCERVlQVX0iGL_AMw6loNCe-SHbxdKdma6edIjcOdQ6hzXSWeE9C7x82vgEkbUMPurU_IS8DBFiQ2v856HeTnAgWw-hCDsc8sqc1pAGkreYjfzMnbQ/s72-c/sejarah-kasultanan-yogyakarta-jejaktamboen.jpg" width="72"/></item><item><title>Apakah Dunia Blogging Masih Diminati saat ini? Mari kita bedah !</title><link>https://www.jejaktamboen.com/2026/10/apakah-dunia-blogging-masih-diminati.html</link><category>Blogging</category><author>noreply@blogger.com (Jejak Tamboen)</author><pubDate>Wed, 7 Oct 2026 10:05:47 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8650078867943030247.post-5171407250674145624</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Apakah dunia blogging masih diminati saat ini." border="0" data-original-height="768" data-original-width="1408" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgcdMTv3XJFlyE9yAa_ucy32M8iRmxpA9NilB1XqKe10JqxwDTRgURzumHCIYTvkt6BxKa3Cn8ou0U5r4nudY9R2fpAE-QrqBCuPP5tyYaKpQCCvHSs2I5hIgpA0wt9rJOr6DNgQV5xtohttfHiBgcxjJC-XHEaU1v74BNxBLj8bAol8YgXxYbNZVwHMQ/s1600/apakah-blogging-masih-diminati-jejaktamboen.jpg" title="Apakah blogging masih diminati ?" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Dunia blogging masih diminati pada 2026, tetapi bentuknya sudah berubah dibandingkan era 2010-an. Blog yang hanya mengandalkan artikel umum dan berharap mendapat trafik dari Google semakin sulit bersaing. Sebaliknya, blog yang punya niche jelas, informasi terpercaya, pengalaman/orisinalitas, dan strategi SEO yang baik masih memiliki peluang besar.&lt;/p&gt;&lt;h2 style="text-align: left;"&gt;&lt;span&gt;Mengapa blogging masih relevan?&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Orang masih mencari informasi lewat Google. Ketika seseorang mencari informasi seperti "sejarah Perang Diponegoro", "siapa Raden Wijaya", atau "Perjanjian Giyanti 1755", artikel web masih menjadi salah satu sumber informasi utama.&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;- Konten blog bisa bertahan lama&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Berbeda dengan media sosial yang cepat tenggelam, artikel evergreen seperti sejarah, tutorial, panduan, dan referensi dapat mendatangkan pengunjung selama bertahun-tahun jika terus diperbarui.&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;- Blog bisa menjadi aset digital&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Blog tidak hanya menghasilkan trafik. Jika sudah berkembang, bisa dimonetisasi melalui:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Google AdSense&lt;/li&gt;&lt;li&gt;iklan langsung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;affiliate&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sponsored content&lt;/li&gt;&lt;li&gt;produk digital&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jasa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;membership atau newsletter&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Blog yang memiliki riset sendiri, sumber jelas, sudut pandang unik, dokumentasi, foto/ilustrasi, dan informasi yang benar-benar berguna justru mempunyai nilai lebih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Namun ada perubahan besar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dulu: Tulis 100 artikel - optimasi keyword - tunggu Google - trafik datang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Sekarang lebih realistis:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Topik yang tepat + riset + pengalaman/keahlian + SEO + internal linking + sumber terpercaya + distribusi ke berbagai platform.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Google juga semakin mampu memahami maksud pencarian, sehingga artikel yang ditulis hanya untuk memasukkan keyword berkali-kali tidak lagi menjadi strategi yang bagus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Studi kasus untuk blog sejarah, peluangnya bagaimana?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut saya masih cukup bagus, terutama jika tidak hanya menjadi blog yang "menceritakan sejarah", tetapi dibangun sebagai referensi sejarah Indonesia yang mudah dipahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;u&gt;Misalnya satu topik besar:&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Majapahit&amp;nbsp;&lt;/b&gt;bisa dikembangkan menjadi cluster:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="https://www.jejaktamboen.com/2026/07/sejarah-kerajaan-majapahit.html" target="_blank"&gt;Sejarah Kerajaan Majapahit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="https://www.jejaktamboen.com/2026/09/sejarah-asal-usul-raden-wijaya.html" target="_blank"&gt;Asal-usul Raden Wijaya&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdirinya Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hayam Wuruk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gajah Mada&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sumpah Palapa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perang Bubat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wilayah kekuasaan Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor kejayaan Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyebab runtuhnya Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peninggalan Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prasasti Majapahit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab Negarakertagama&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab Pararaton&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian semua artikel tersebut saling dihubungkan dengan internal link. Ini jauh lebih kuat daripada membuat puluhan artikel sejarah yang tidak berhubungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;u&gt;Jika anda ingin serius mengembangkan blog, sebaiknya anda memprioritaskan beberapa hal berikut:&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;1. Niche&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan terlalu melebar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Originalitas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan sekadar memparafrase artikel dari situs lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;3. Sumber&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gunakan jurnal, buku, arsip, museum, lembaga pemerintah, dan sumber akademik ketika memungkinkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;4. Topical authority&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bangun banyak artikel yang saling berkaitan dalam satu bidang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;5. SEO modern&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya keyword, tetapi juga search intent, struktur artikel, internal linking, entity, dan kualitas informasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;6. Visual&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gunakan ilustrasi, peta, timeline, foto artefak, atau infografik yang relevan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;7. Update artikel lama&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Artikel lama yang potensial sering lebih berharga untuk diperbaiki daripada terus membuat artikel baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Jadi, apakah masih layak memulai blog sekarang?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, tetapi jangan memulai blog dengan pola pikir &lt;b&gt;"saya akan membuat banyak artikel agar mendapat trafik".&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Lebih baik berpikir, &lt;b&gt;"Saya akan membangun sebuah situs yang menjadi rujukan terbaik untuk satu bidang tertentu."&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian semoga bermanfaat.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://jejaktamboen.com"&gt;Copyright by: JEJAKTAMBOEN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgcdMTv3XJFlyE9yAa_ucy32M8iRmxpA9NilB1XqKe10JqxwDTRgURzumHCIYTvkt6BxKa3Cn8ou0U5r4nudY9R2fpAE-QrqBCuPP5tyYaKpQCCvHSs2I5hIgpA0wt9rJOr6DNgQV5xtohttfHiBgcxjJC-XHEaU1v74BNxBLj8bAol8YgXxYbNZVwHMQ/s72-c/apakah-blogging-masih-diminati-jejaktamboen.jpg" width="72"/></item></channel></rss>