<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Jelajah IPTEK</title><description>Jelajah IPTEK - Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 04:18:03 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">192</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Jelajah IPTEK - Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Bahasan Tentang IPTEK dan Kemiskinan</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/09/bahasan-tentang-iptek-dan-kemiskinan.html</link><category>Diskusi IPTEK</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 7 Sep 2012 09:59:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-4775107780846653071</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigCZyXth_4IOKk_Ni3vjgT9YrPwjHSwbpW94KCF3RWw5iYVQy5KZv291MBCjxP3xkg3AVBz-odsEi7cgBKWkZWrzo4dpkTKpwDQ2fWld5Ho7BU77fOEZPtMlCqlCIaYSQeEzys8cQCts36/s1600/Bahasan+Tentang+IPTEK+dan+Kemiskinan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigCZyXth_4IOKk_Ni3vjgT9YrPwjHSwbpW94KCF3RWw5iYVQy5KZv291MBCjxP3xkg3AVBz-odsEi7cgBKWkZWrzo4dpkTKpwDQ2fWld5Ho7BU77fOEZPtMlCqlCIaYSQeEzys8cQCts36/s320/Bahasan+Tentang+IPTEK+dan+Kemiskinan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b style="text-align: justify;"&gt;IPTEK DAN KEMISKINAN&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbicara tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan tidak mustahil kita akan melihat ke masa lampau atau masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Yang mungkin permasalahannya adalah kontinuitas dan perubahan, harmoni dan disharmoni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahasa “ilmu pengetahuan” sudah lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Terdiri dari dua kata yaitu “ilmu” dan “pengetahuan”. Namun, berbicara tentang pengetahuan saja akan menghadapi berbagai masalah, seperti kemampuan kita dalam memahami fakta pengalaman dan dunia realitas, hakihat pengetahuan, kebenaran, kebaikan, membentuk pengetahuan, sumber pengetahuan dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teknologi dalam penerapannya sebagai jalur utama yang dapat menyonsong masa depan, sudah diberi kepercayaan yang mendalam. Dia dapat mempermudah kegiatan manusia, meskipun mempunyai dampak sosial yang muncul sering lebih penting artinya daripada kehebatan teknologi itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemiskinan sendiri merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai perjuangan yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental dari cita-cita masyarakat adil dan makmur. Berbicara tentang kemiskinan akan menghadapkan kita pada persoalan lain, seperti persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok, posisi manusia dalam lingkungan sosial dan persoalan yang lebih jauh, bagaimana ilmu pengetahuan (ekonomi) dan teknologi memanfaatkan sumber daya alam untuk mengurangi kemiskinan di tengah masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;PERMASALAHAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari uraian di atas, adalah tugas penulis untuk menjelaskan masing-masing pengertian judul dan keterkaitannya. Mengenai batasan dan rumusan masalah pada makalah ini, kami mengutamakan pada 2 point, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;b&gt;Apakah ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan itu ?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bagaimana kaitan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kemiskinan ?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
A. Ilmu Pengetahuan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di kalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa “ilmu” itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dalam pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/ logis, empiris, umum dan akumulatif. Sedangkan dalam memberikan pengertian pada “pengetahuan”, Bacon dan David Home, menyatakan pengetahuan sebagai pengalaman indera dan bathin, Immanuel Kant menyatakan bahwa pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman, sedangkan teori Phyrro menjelaskan bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari pandangan diatas, kita memperoleh sumber-sumber pengetahuan yaitu : ide, kenyataan, kegiatan akal budi, pengalaman atau meragukan karena tidak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang pasti. Sedangkan secara umum, dapat diartikan bahwa pengetahuan adalah kesan dalam pemikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berbeda sekali dengan kepercayaan, dan penerangan-penerangan yang keliru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari pengertian ilmu dan pengetahuan di atas, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun dengan sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat diperiksa dan dikontrol dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Unsur pokok dalam suatu ilmu pengetahuan adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengetahuan, sebagaimana pengertian di atas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tersusun secara sistematis. Tidak semua pengetahuan merupakan ilmu, hanyalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan ilmu pengetahuan. Sistematik berarti urutan-urutan strukturnya tersusun sebagai suatu kebulatan. Sehingga akan jelas tergambar apa yang merupakan garis besar dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Sistem tersebut adalah sistem konstruksi yang abstrak dan teratur. Artinya, setiap bagian dari suatu keseluruhan dapat dihubungkan satu dengan lainnya. Abstrak berarti bahwa konstruksi tersebut hanya ada dalam pikiran, sehingga tidak dapat diraba ataupun dipegang. Ilmu pengetahuan harus bersifat terbuka artinya dapat ditelaah kebenarannya oleh orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Menggunakan pemikiran yaitu menggunakan akal sehat. Pengetahuan didapatkan melalui kenyataan dengan melihat dan mendengar serta melalui alat-alat komunikasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau masyarakat umum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu pengetahuan harus dapat dikemukakan, harus diketahui oleh umum sehingga dapat diperiksa dan dikontrol umum yang mungkin berbeda pemahamannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari sudut penerapannya, ilmu pengetahuan dibedakan antara ilmu pengetahuan murni dan ilmu pengetahuan terapan. Ilmu pengetahuan murni bertujuan membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak untuk mempertinggi mutunya. Ilmu pengetahuan terapan bertujuan menggunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut ke dalam masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kehidupan di dunia ini, manusia tidak akan pernah lepas dari keterkaitan dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Sebagai fithrah yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain adalah adanya akal pikiran manusia yang menjadi dasar munculnya ilmu pengetahuan. Dalam hidup ini, manusia selalu menggunakan ilmu pengetahuan untuk &amp;nbsp;mempermudah kegiatan mereka. Ilmu pengetahuan selain tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran juga harus mengandung nilai etis dan moral. Yaitu bermakna, berarti atau berguna bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan ilmu pengetahuan hendaknya didasari pada hal-hal yang asasi, untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Ilmu pengetahuan yang tidak dilandasi dengan etika dan moral hanya akan membawa penderitaan bagi orang lain. Karenanya, alangkah sangat bijaksana apabila manusia dapat memanfaatkan ilmunya untuk mempelajari berbagai gejala atau peristiwa yang mempunyai manfaat bagi manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dunia modern saat ini tidak bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah, sebab manusia hidup dalam satu dunia, hasil ilmu pengetahuan harus membawakan manfaat bagi kehidupan manusia bukan penderitaan. Manusia dalam pekerjaan ilmiah tidak hanya bekerja dengan akal budi saja, melainkan dengan seluruh eksistensinya dengan seluruh keberadaannya, dengan hatinya dan dengan panca inderanya. Sehingga manusia dalam mengambil keputusannya, membuat pilihannya terlebih dahulu mendapatkan pertimbangan dengan ajaran agama, nilai etika dan norma kesusilaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konteks ilmu dengan ajaran agama dalam rangka meningkatkan ilmuwan itu sendiri sejajar dengan orang yang beriman pada derajat yang tinggi, sebagai pemegang amanat khalifah di muka bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;B. TEKNOLOGI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Walter Buckingham yang dimaksud dengan teknologi adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan ke dalam seni industri, oleh karenanya mencakup alat-alat yang memungkinkan terlaksananya efisiensi kerja menurut keragaman kemampuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atau menurut pengertian lain, teknologi adalah pemanfaatan ilmu untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan skala nilai yang ada. Kalau ilmu dasar bertujuan untuk mengetahui lebih banyak dan memahami lebih mendalam tentang alam semesta dengan isinya, teknologi bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah praktis serta untuk mengatasi semua kesulitan yang mungkin dihadapi manusia. Hubungan ilmu pengetahuan dengan teknologi sering diungkapkan sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu tanpa teknologi adalah steril dan teknologi tanpa ilmu adalah statis (Ilmu tanpa teknologi tidak berkembang dan teknologi tanpa ilmu tidak berakar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang dimaksud dengan teknologi tepat guna adalah suatu teknologi yang telah memenuhi tiga syarat utama yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a. &amp;nbsp;Persyaratan Teknis, yang termasuk di dalamnya adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;memperhatikan kelestarian tata lingkungan hidup, menggunakan sebanyak mungkin bahan baku dan sumber energi setempat dan sesedikit mungkin menggunakan bahan impor.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;jumlah produksi harus cukup dan mutu produksi harus diterima oleh pasar yang ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;menjamin agar hasil dapat diangkut ke pasaran dan masih dapat dikembangkan, sehingga dapat dihindari kerusakan atas mutu hasil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;memperlihatkan tersedianya peralatan serta operasi dan perawatannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b. &amp;nbsp;Persyaratan Sosial, meliputi :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;memanfaatkan keterampilan yang sudah ada&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;menjamin timbulnya perluasan lapangan kerja yang dapat terus menerus berkembang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;menekan seminimum mungkin pergeseran tenaga kerja yang mengakibatkan bertambahnya pengangguran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;membatasi sejauh mungkin timbulnya ketegangan sosial dan budaya dengan mengatur agar peningkatan produksi berlangsung dalam batas-batas tertentu sehingga terwujud keseimbangan sosial dan budaya yang dinamis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Persyaratan Ekonomik, yaitu :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;membatasi sedikit mungkin kebutuhan modal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;mengarahkan pemakaian modal agar sesuai dengan rencana pengembangan lokal, regional dan nasional&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;menjamin agar hasil dan keuntungan akan kembali kepada produsen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp;dapat mengarahkan lebih banyak produsen ke arah cara penghitungan ekonomis yang sehat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teknologi, selain menimbulkan dampak positif bagi kehidupan manusia, terutama mempermudah pelaksanaan kegiatan dalam hidup, juga memiliki berbagai dampak negatif jika tidak dimanfaatkan secara baik. Contoh masalah akibat perkembangan teknologi adalah kesempatan kerja yang semakin kurang sementara angkatan kerja makin bertambah, masalah penyediaan bahan-bahan dasar sebagai sumber energi yang berlebihan dikhawatirkan akan merugikan generasi yang akan datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;C. KEMISKINAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problema yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya pada negara-negara yang sedang berkembang. Kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan dalam bidang ekonomi. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian dan tempat berteduh. Atau dengan pendapat lain, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemiskinan bukanlah suatu yang terwujud dengan sendiri terlepas dari aspek-aspek lainnya, tetapi kemiskinan itu terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Terutama aspek sosial dan aspek ekonomi. Aspek sosial adalah adanya ketidaksamaan sosial di antara sesama warga masyarakat yang bersangkutan, seperti perbedaan suku bangsa, ras, kelamin, usia yang bersumber dari corak sistem pelapisan yang ada dalam masyarakat. Sedangkan aspek ekonomi adalah adanya ketidaksamaan di antara sesama warga masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat dikatakan miskin ditetapkan dengan menggunakan tolak ukur utama, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v &amp;nbsp;Tingkat pendapatan. Misalkan saja di Indonesia, tingkat pendapatan digunakan ukuran kerja waktu sebulan. Dengan adanya tolak ukur ini, maka jumlah dan siapa yang tergolong dalam orang miskin dapat diketahui. Atau dengan menggunakan batas minimal jumlah kalori yang dikonsumsi, yang diambil persamaannya dalam kg beras.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v &amp;nbsp;Kebutuhan relatif per keluarga. Dibuat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi dalam sebuah keluarga agar dapat melangsungkan kehidupannya secara sederhana tetapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika dikaitkan dengan kemakmuran, maka ada dua persepsi masyarakat yang cukup berlawanan tentang hal ini. Persepsi pertama adalah yang berpikir rasional dan eksak. Bahwa kemakmuran seseorang diukur dengan jumlah serta nilai bahan-bahan dan barang-barang yang dimiliki atau dikuasai untuk memelihara dan menikmati hidupnya. Semakin banyak jumlah dan makin tinggi nilainya, maka akan makin tinggi taraf kemakmuran hidupnya. Sedangkan persepsi kedua adalah pandangan masyarakat umum, terutama pedesaan. Mereka beranggapan bahwa kemakmuran tidaklah berbeda dengan kebahagiaan. Seseorang akan merasa makmur bila sudah ada keserasian antara keinginan-keinginan dan keadaan materil atau sosial yang dimiliki atau dikuasainya. Karenanya mereka selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara keinginan dan keadaan materinya. Jika keinginan mereka berlebih, sementara keadaan materil mereka tidak mencukupi maka mereka harus mengurangi keinginan yang ada. Begitu juga sebaliknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemiskinan menurut pendapat umum dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniah atau mental seseorang. Pada aspek badaniah, biasanya orang tersebut tidak bisa berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmani. Sedangkan aspek mental, biasanya mereka disifati oleh sifat malas bekerja dan berusaha secara wajar, sebagaimana manusia lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam. Biasanya pihak pemerintah menempuh dua cara, yaitu memberi pertolongan sementara dengan bantuan secukupnya dan mentransmigrasikan ke tempat hidup yang lebih layak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kemiskinan buatan atau kemiskinan struktural. Selain disebabkan oleh keadaan pasrah pada kemiskinan dan memandangnya sebagai nasib dan takdir Tuhan, juga karena struktur ekonomi, sosial dan politik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Usaha memerangi kemiskinan dapat dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang memberikan pendapatan yang layak kepada orang-orang miskin. Karena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dapat dinaikkan seperti warga lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan-kegiatan di sektor ekonomi lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;D. ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KAITANNYA DENGAN KEMISKINAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan memiliki kaitan struktur yang jelas. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi kebutuhan insani. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan teknologi mengetahui “bagaimana”. Ilmu pengetahuan sebagai suatu badan pengetahuan sedangkan teknologi sebagai seni yang berhubungan dengan proses produksi, berkaitan dalam suatu sistem yang saling berinteraksi. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi mengandung ilmu pengetahuan di dalamnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila ditelaah, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia (satu dunia), yang diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Padahal manusia dalam pekerjaan ilmiahnya tidak hanya bekerja dengan akal budinya, melainkan dengan seluruh eksistensinya. Oleh karena itu, ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu pengetahuan (kebenaran) dengan etika (kebaikan), maka kita tidak dapat netral dan bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam penerapan atau mengambil keputusan terhadap sikap ilmiah dan teknologi, terlebih dahulu mendapat pertimbangan moral dan ajaran agama. Ilmuwan selaku ahli teknologi harus bersikap mempunyai tanggung jawab sosial, yakni tanggung jawab terhadap masyarakat menyangkut asas moral mengenai penelitian etis terhadap obyek penelaahankeilmuan dan penggunaan pengetahuan ilmiah (teknologi) dengan segala akibat sosialnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam hal kemiskinan struktural, ternyata adalah buatan manusia terhadap manusia lainnya yang timbul dari akibat dan dari struktur politik, ekonomi, teknologi dan sosial buatan manusia pula. Perubahan teknologi yang cepat mengakibatkan kemiskinan, karena mengakibatkan terjadinya perubahan sosial yang fundamental. Sebab kemiskinan diantaranya disebabkan oleh struktur ekonomi, dalam hal ini pola relasi antara manusia dengan sumber kemakmuran, hasil produksi dan mekanisme pasar. Kesemuanya merupakan sub sistem atau sub struktur dari sistem kemasyarakatan. Termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Image From : tisnajelek.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigCZyXth_4IOKk_Ni3vjgT9YrPwjHSwbpW94KCF3RWw5iYVQy5KZv291MBCjxP3xkg3AVBz-odsEi7cgBKWkZWrzo4dpkTKpwDQ2fWld5Ho7BU77fOEZPtMlCqlCIaYSQeEzys8cQCts36/s72-c/Bahasan+Tentang+IPTEK+dan+Kemiskinan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Ternate Rawan Dengan Bencana Tsunami</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/ternate-rawan-dengan-bencana-tsunami.html</link><category>Berita IPTEK</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 13 Jul 2012 15:08:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-7018843657734962681</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7bvMlE3slW3UgrDD1WqEVUY3EMS_4OBPDG1oqTYoePQcHCtuX5juAQTBfkQOQ4r77tOYEbNXbyZhiPFzJVBH7Gfh4CfzINblQ4TOuYpStCr4J5ArzKLy9Fuf60-jMbfAnMFBZWQvnjHNL/s1600/info+images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7bvMlE3slW3UgrDD1WqEVUY3EMS_4OBPDG1oqTYoePQcHCtuX5juAQTBfkQOQ4r77tOYEbNXbyZhiPFzJVBH7Gfh4CfzINblQ4TOuYpStCr4J5ArzKLy9Fuf60-jMbfAnMFBZWQvnjHNL/s200/info+images.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peneliti LIPI: Ternate Rawan Bencana Tsunami."&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Sebagai daerah kepulauan yang diapit tiga lempeng besar, yakni lempeng Pasifik, Laut Sula dan Laut Sorong, Ternate rawan dihantam gempa besar yang berpotensi menimbulkan tsunami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demikian diungkapkan Fidel Afriadi Bustani, pakar peneliti LIPI di sela-sela kegiatan Latihan Penyelamatan Diri Terpadu (LPTD) di Kelurahan Jambula, Kecamatan Pulau Ternate, Sabtu (23/8/2008).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Fidel, pergerakan tiga lempeng di atas setiap tahunnya, mencapai tujuh centi meter. Dikhawatirkan hal itu bisa menimbulkan bencana besar. "Karena jarang diguncang gempa, energi tiga lempeng tersebut makin meningkat karena tidak ada pelepasan energi. Jika saja diguncang gempa sekuat 7 Skala Richter (SR), bisa dipastikan akan menimbulkan tsunami," paparnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pria yang merupakan koordinator Edukasi Publik dan Kesigapan Masyarakat Compress LIPI ini menjelaskan, daerah pesisir barat pulau Ternate memiliki tingkat kerawanan tinggi dihantam tsunami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Kontur wilayah yang sangat rendah hampir mencapai 500 meter dan menghadap langsung ke Barat Laut yang menjadi pusat kegiatan lempeng tersebut, jadi memang cukup rawan," tambahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengantisipasi segala kerawanan yang bisa muncul, pihak LIPI berencana menggelar Pameran Daerah Siaga Bencana yang mengusung tema "Indonesia Rawan bencana, Mari Kita Siaga" di Ternate 24 dan 25 Agustus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kegiatan ini diharapkan dapat memberi pemahaman konfrehensif kepada masyarakat setempat. "Kita tak ingin kecolongan seperti derah lainnya. Makanya masyarakat perlu diberi pengetahuan dini. Termasuk mengubah pemikiran tentang bahaya bencana terutama tsunami, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir," tambahnya. (ful)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Oleh : Rival Fahmi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber : Okezone&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7bvMlE3slW3UgrDD1WqEVUY3EMS_4OBPDG1oqTYoePQcHCtuX5juAQTBfkQOQ4r77tOYEbNXbyZhiPFzJVBH7Gfh4CfzINblQ4TOuYpStCr4J5ArzKLy9Fuf60-jMbfAnMFBZWQvnjHNL/s72-c/info+images.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tenaga Nuklir Untuk Sumber Air di Jepara</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/tenaga-nuklir-untuk-sumber-air-di.html</link><category>Berita IPTEK</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 13 Jul 2012 15:02:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-7852819400992348502</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPAQrKFUhyUOs0cu9QOTtK1ipuz01SE-kvBBDBlKstOzjqtlc1zEFjgq0OmSPvAQJmvDH2yNUuqTIuuDoldlWtNCt7n0jOvSP9oN2QB6dP_gthtZ54_INQEr40_AJ_1hvT7DsWhqQIaoVW/s1600/Sumur+Jepara.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPAQrKFUhyUOs0cu9QOTtK1ipuz01SE-kvBBDBlKstOzjqtlc1zEFjgq0OmSPvAQJmvDH2yNUuqTIuuDoldlWtNCt7n0jOvSP9oN2QB6dP_gthtZ54_INQEr40_AJ_1hvT7DsWhqQIaoVW/s1600/Sumur+Jepara.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;JEPARA (25/08/2008):&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Nuklir untuk Sumber Air di Jepara."&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Aplikasi teknik nuklir di bidang hidrogeologi salah satunya adalah untuk menemukan sumber air tanah dalam, dengan menggunakan teknik perunut dapat ditentukan sumber air tanah dalam terutama untuk daerah yang sering dilanda kekeringan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat ini di Jepara tepatnya di Kampung Teknologi, desa Suwawal Timur, kec. Pakis Aji, kira-kira 10 km dari kota Jepara sedang dibangun sumur air tanah dalam di dua titik. Sumur dengan kedalaman 110 m ini diharapkan mampu dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian kampung teknologi dan masyarakat sekitar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kegiatan pengeboran sumur ini sudah dimulai BATAN satu bulan yang lalu dan saat ini sudah selesai. Tahap selanjutnya adalah konstruksi bangunan, walaupun konstruksi bangunannya tidak sebesar sumur Bribin (Yogyakarta red.) tetapi teknologi perunut yang digunakan sama, demikian menurut M. Busthomi, KaSubbid Diseminasi Non Energi PDIN BATAN. Selanjutnya Busthomi menyebutkan bahwa ini adalah salah satu peranan BATAN yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jepara khususnya selain di bidang pertanian dan peternakan yang sudah lebih dulu dilakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diberi nama Kampung Teknologi karena konsepnya adalah pengembangan pertanian, peternakan, industri dan pariwisata untuk meningkatkan daya saing produk Jepara dengan berbasis aplikasi teknologi. Kampung Teknologi juga dirancang untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan budaya inovasi melalui pelatihan, demo dan peragaan teknologi, serta permainan berbasis iptek. Menempati area seluas 120 Ha, Kampung Teknologi merupakan kerjasama Kementerian Ristek, LIPI, BPPT, BATAN dan Bappeda Jepara, sebagai role model diharapkan kedepan Kampung Teknologi mampu meningkatkan kegiatan perekonomian masyarakat Jepara dan sekitarnya. Saat ini kegiatan di Kampung Teknologi diantaranya, demplot kacang tanah, ketela pohon serta peternakan sapi dengan jumlah sapi 80 ekor, sebagian besar lahan juga dimanfaatkan untuk perkebunan tebu masyarakat. Saat ini Kampung Teknologi masih dikelola oleh Perusda Agria Pakis Jepara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anik Susila Ka Unit Litbang Bappeda Jepara menyebutkan teknik nuklir dengan berbagai aplikasinya diharapkan mampu sinergis dengan aplikasi teknologi di bidang lainnya demi kemakmuran rakyat, selama ini petani Jepara masih bekerja dengan cara-cara yang sangat konvensional. Lebih lanjut Anik mengemukakan keprihatinannya bahwa saat ini aplikasi iptek belum sepenuhnya membudaya di masyarakat maupun pemerintah, dan menjadi tugas para peneliti saat ini untuk terus mensosialisasikan hasil-hasil litbangnya agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat itu sendiri, sementara fungsi Pemerintah Daerah adalah memfasilitasi sekaligus mengambil peran intermediasi. Sisi pemberdayaan masyarakat diharapkan berkelanjutan dengan menempatkan masyarakat pada proses produksi sampai ke teknologi pasca panen sehingga berhubungan dengan pihak industri dan menjadi siklus saling menguntungkan yang tidak terputus. (eph/shiddiq)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber: www.infonuklir.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPAQrKFUhyUOs0cu9QOTtK1ipuz01SE-kvBBDBlKstOzjqtlc1zEFjgq0OmSPvAQJmvDH2yNUuqTIuuDoldlWtNCt7n0jOvSP9oN2QB6dP_gthtZ54_INQEr40_AJ_1hvT7DsWhqQIaoVW/s72-c/Sumur+Jepara.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Berita IPTEK Tentang Mikroskop Nano</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/berita-iptek-tentang-mikroskop-nano.html</link><category>Berita IPTEK</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 13 Jul 2012 14:43:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-5245307261833767383</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG9XOtwM4XBbsZHKdPaV6Kp-THzaP9nXDMTdhv0ub6ykV5AZ0TDY0RhBhMlHbimzSGZ5i5JqsUctyY82BgeXS_G5yqqq_NioRaExNB2jusos_xP9xspMOVYl5zYg7avDreUGcwRk_PHMLB/s1600/timthumb.php.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG9XOtwM4XBbsZHKdPaV6Kp-THzaP9nXDMTdhv0ub6ykV5AZ0TDY0RhBhMlHbimzSGZ5i5JqsUctyY82BgeXS_G5yqqq_NioRaExNB2jusos_xP9xspMOVYl5zYg7avDreUGcwRk_PHMLB/s1600/timthumb.php.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;Dr. Ratno Nuryadi Ciptakan Mikroskop Nano."&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Bagaimana caranya meneliti material berukuran nanometer atau sepermiliar meter? Peneliti Pusat Teknologi Material BPPT Dr Eng Ratno Nuryadi (mantan Ketua ISTECS-Jepang 2006-2008, red) bisa menciptakan mikroskop untuk melihat struktur materi renik tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Untuk melihat struktur materi seukuran nano atau 10 pangkat minus sembilan meter, perlu perlengkapan khusus yang tak ada di Indonesia. Alat itu hanya bisa diimpor dengan harga satu unitnya mencapai sekitar Rp2-3 miliar,” kata Ratno yang menjadi pemenang Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) XIV bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prihatin atas kondisi itu, Ratno yang memenangkan penghargaan PPMI dengan makalah berjudul “Manufactur Atomic Force Microscope (AFM) dan Aplikasinya pada Nanoteknologi” itu kemudian menciptakan mikroskop material renik yang disebut AFM (Atomic Force Microscope).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ini adalah mikroskop nano pertama yang diciptakan di Indonesia dengan modal sekitar Rp50 juta saja dan dibuat dengan bahan-bahan sederhana,” kata pria kelahiran Bantul 17 Oktober 1973 itu sambil berpromosi usai menerima penghargaan dari Kepala LIPI Umar A Jenie serta uang tunai Rp25 juta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mikroskop nano itu, urainya, bukan mikroskop biasa, karena menggunakan teknologi peraba materi seperti jarum yang akan menyusuri struktur materi dan kemudian menampilkan strukturnya di layar komputer dengan menggunakan software tertentu. Cara kerjanya mirip perlengkapan mikroskop nano yang ada di dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ditanya soal kehandalan alatnya, ia mengatakan, mikroskopnya itu prinsipnya sudah bekerja secara normal, namun secara teknis perlu dioptimalisasi lagi agar penampilannya lebih baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nanoteknologi, jelasnya, merupakan teknologi yang sedang berkembang pesat di dunia karena materi yang disusun dengan teknologi nano akan memiliki karakter dan fungsi berbeda dengan materi yang tersusun tanpa teknologi nano.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: Republika.com, 7-8-2008&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG9XOtwM4XBbsZHKdPaV6Kp-THzaP9nXDMTdhv0ub6ykV5AZ0TDY0RhBhMlHbimzSGZ5i5JqsUctyY82BgeXS_G5yqqq_NioRaExNB2jusos_xP9xspMOVYl5zYg7avDreUGcwRk_PHMLB/s72-c/timthumb.php.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Definisi Teknik dan Cabang Rekayasanya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/definisi-teknik-dan-cabang-rekayasanya.html</link><category>Teknik</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 11 Jul 2012 09:13:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-1755569876696083534</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Teknik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teknik atau rekayasa adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan, matematika dan pengalaman praktis yang diterapkan untuk mendesain objek atau proses yang berguna. Para praktisi teknik profesional disebut insinyur (sarjana teknik).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut sejarahnya, banyak para ahli yang meyakini kemampuan teknik manusia sudah tertanam secara natural. Hal ini ditandai dengan kemampuan manusia purba untuk membuat peralatan peralatan dari batu. Dengan kata lain teknik pada mulanya didasari dengan trial and error untuk menciptakan alat untuk mempermudah kehidupan manusia. Seiring dengan berjalannya waktu, ilmu pengetahuan mulai berkembang, dan mulai mengubah cara pandang manusia terhadap bagaimana alam bekerja. Perkembangan ilmu pengetahuan ini lah yang kemudian mengubah cara teknik bekerja hingga seperti sekrang ini. Orang tidak lagi begitu mengandalakan trial and error dalam menciptakan atau mendesain peralatan, melainkan lebih mengutamakan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam mendesain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Cabang-cabang rekayasa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik elektro&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik fisika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik astronautika dan aeronautika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik geodesi dan geomatika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik industri&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik informatika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik kimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik lingkungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik metalurgi dan material&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik mesin&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik molekular&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik nuklir&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik penerbangan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik perkapalan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik perminyakan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik geologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik pertambangan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik pertanian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik sipil&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik bioprosess&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teknik planologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Manajemen Rekayasa Industri&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pranala luar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Persatuan Insinyur Indonesia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ref:Wikipedia&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Glasiologi dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengertian-glasiologi-dan-penjelasannya.html</link><category>Glasiologi</category><category>Hydrosfer</category><category>Ilmu Bumi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 12:11:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-3957606162131392228</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyFNEB2fu1OVs8IJCsw27Kiu5gMLeNbcdMt-1GTveUbKPtQuePGbrRmXithon1jTGFTCecl6UXGyLlW6eu14yLaKR-j438truBy3Y0O5jg4Qtd4hmfRhfahiLBy8dYe4tF7QlANwtPXFGS/s1600/Glacier.zermatt.arp.750pix.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyFNEB2fu1OVs8IJCsw27Kiu5gMLeNbcdMt-1GTveUbKPtQuePGbrRmXithon1jTGFTCecl6UXGyLlW6eu14yLaKR-j438truBy3Y0O5jg4Qtd4hmfRhfahiLBy8dYe4tF7QlANwtPXFGS/s1600/Glacier.zermatt.arp.750pix.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Gletser Gorner di Zermatt, Swiss&lt;br /&gt;
Glasiologi (dari bahasa Perancis glace yang berarti es dan bahasa Yunani Λoγος (logos) yang berarti ilmu) adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat fisika dan kimia dari es dan salju (gletser), pembentukan formasi, pergerakan dan juga evolusinya.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyFNEB2fu1OVs8IJCsw27Kiu5gMLeNbcdMt-1GTveUbKPtQuePGbrRmXithon1jTGFTCecl6UXGyLlW6eu14yLaKR-j438truBy3Y0O5jg4Qtd4hmfRhfahiLBy8dYe4tF7QlANwtPXFGS/s72-c/Glacier.zermatt.arp.750pix.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ilmu Bumi - Biosfer dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/ilmu-bumi-biosfer-dan-penjelasannya.html</link><category>Biosfer</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 12:09:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-2127105694918393164</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="background-color: white;"&gt;Biosfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biosfer adalah bagian luar dari planet Bumi, mencakup udara, daratan, dan air, yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung. Dalam pengertian luas menurut geofisiologi, biosfer adalah sistem ekologis global yang menyatukan seluruh makhluk hidup dan hubungan antarmereka, termasuk interaksinya dengan unsur litosfer (batuan), hidrosfer (air), dan atmosfer (udara) Bumi. Bumi hingga sekarang adalah satu-satunya tempat yang diketahui yang mendukung kehidupan. Biosfer dianggap telah berlangsung selama sekitar 3,5 miliar tahun dari 4,5 miliar tahun usia Bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kondisi geologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bumi kita ini menurut beberapa teori dahulu terdiri atas satu benua besar dan satu samudra, namun karena adanya gaya endogen yang sangat kuat maka benua yang besar itu menjadi terpisah. Pecahan benua ini yang sering disebut sebagai puzzle raksasa. Apabila diperhatikan peta dunia maka Benua Afrika dan Amerika Selatan dapat digabungkan menjadi satu sesuai dengan pola garis pantainya. Keanekaragaman flora dan fauna di permukaan bumi ini diperkirakan sesuai dengan perkembangan bumi dalam membentuk benua (kontinen) menurut Teori ”Apungan” dan ”Pergeseran Benua” yang disampaikan oleh Alfred Wegener (1880-1930).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Iklim&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suhu dan kelembapan udara berpengaruh terhadap proses perkembangan fisik flora dan fauna, sedangkan sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk fotosintesis dan metabolisme tubuh bagi beberapa jenis hewan. Angin sangat berperan dalam proses penyerbukan atau bahkan menerbangkan beberapa biji-bijian sehingga berpengaruh langsung terhadap persebaran flora. Kondisi iklim yang berbeda menyebabkan flora dan faunaberbeda pula. Di daerah tropis sangat kaya akan keanekaragamanflora dan fauna, karena pada daerah ini cukup mendapatkan sinar matahari dan hujan, keadaan ini berbeda dengan di daerah gurun. Daerah gurun beriklim kering dan panas, curah hujan sangat sedikit menyebabkan daerah ini sangat minim jenis flora dan faunanya. Flora dan fauna yang hidup di daerah gurun mempunyai daya adaptasi yang khusus agar mampu hidup di daerah tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Ketinggian tempat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ahli klimatologi dari Jerman yang bernama Junghuhn membagi habitat beberapa tanaman di Indonesia berdasarkan suhu, sehingga didapatkan empat penggolongan iklim sebagai berikut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Wilayah berudara panas (0 – 600 m dpal).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suhu wilayah ini antara 23,3 °C – 22 °C, Tanaman yang cocok ditanam di wilayah ini adalah tebu, kelapa, karet, padi, lada, dan buah-buahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Wilayah berudara sedang (600 – 1.500 m dpal)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suhu wilayah ini antara 22 °C – 17,1 °C. Tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini adalah kapas, kopi, cokelat, kina, teh, dan macam-macam sayuran, seperti kentang, tomat, dan kol.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Wilayah berudara sejuk (1.500 – 2.500 m dpal)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suhu wilayah ini antara 17,1 °C – 11,1 °C. Tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini antara lain sayuran, kopi, teh, dan aneka jenis hutan tanaman industri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Wilayah berudara dingin (lebih 2.500 m dpal)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wilayah ini dijumpai tanaman yang berjenis pendek. Contohnya, edelweis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Faktor biotik.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pohon beringin merupakan salah satu tanaman yang disukai burung. Burung-burung tersebut memakan biji beringin yang telah matang, lalu burung tersebut tanpa sadar ternyata telah menyebarkan tanaman beringin melalui biji yang masuk ke dalam tubuh burung lalu keluar bersama kotorannya. Pencernaan burung ternyata tidak mampu memecah kulit keras biji-biji tertentu sehingga biji tersebut keluar bersama kotoran. Biji yang keluar bersama kotoran tersebut apabila berada di habitat yang cocok akan tumbuh menjadi tanaman baru. [1]&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ref: Wikipedia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #f3f3f3; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Atmosfer dan Penjelasan Secara Detail</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/atmosfer-dan-penjelasan-secara-detail.html</link><category>Atmosfer</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 11:59:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-3951561221325220089</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBxgo8n0PRkGXRh3dFujN4_wZZIYy8c_G1zNDDU4NvRNmM8Ek7TRFt6s-yLlJ97GJJlf8wQ3Tl8g_2KLMZ2kbrtAlLiSk16hjYCy4cPIQbVaqeMuWxKd9S1ucog0SqP8dLbpBicHj64w0R/s1600/200px-Atmosphere_layers-id.svg.png" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBxgo8n0PRkGXRh3dFujN4_wZZIYy8c_G1zNDDU4NvRNmM8Ek7TRFt6s-yLlJ97GJJlf8wQ3Tl8g_2KLMZ2kbrtAlLiSk16hjYCy4cPIQbVaqeMuWxKd9S1ucog0SqP8dLbpBicHj64w0R/s1600/200px-Atmosphere_layers-id.svg.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Atmosfer&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di Bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan Bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari Matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi agak menipis lambat laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Troposfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lapisan ini berada pada level yang terendah, campuran gasnya paling ideal untuk menopang kehidupan di bumi. Dalam lapisan ini kehidupan terlindung dari sengatan radiasi yang dipancarkan oleh benda-benda langit lain. Dibandingkan dengan lapisan atmosfer yang lain, lapisan ini adalah yang paling tipis (kurang lebih 15 kilometer dari permukaan tanah). Dalam lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin, tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung. Suhu udara pada permukaan air laut sekitar 27 derajat Celsius, dan semakin naik ke atas, suhu semakin turun. Setiap kenaikan 100m suhu berkurang 0,61 derajat Celsius (sesuai dengan Teori Braak). Pada lapisan ini terjadi peristiwa cuaca seperti hujan, angin, musim salju, kemarau, dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketinggian yang paling rendah adalah bagian yang paling hangat dari troposfer, karena permukaan bumi menyerap radiasi panas dari matahari dan menyalurkan panasnya ke udara. Biasanya, jika ketinggian bertambah, suhu udara akan berkurang secara tunak (steady), dari sekitar 17℃ sampai -52℃. Pada permukaan bumi yang tertentu, seperti daerah pegunungan dan dataran tinggi dapat menyebabkan anomali terhadap gradien suhu tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di antara stratosfer dan troposfer terdapat lapisan yang disebut lapisan Tropopause, yang membatasi lapisan troposfer dengan stratosfer.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Stratosfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perubahan secara bertahap dari troposfer ke stratosfer dimulai dari ketinggian sekitar 11 km. Suhu di lapisan stratosfer yang paling bawah relatif stabil dan sangat dingin yaitu -70°F F atau sekitar -57°C. Pada lapisan ini angin yang sangat kencang terjadi dengan pola aliran yang tertentu. Lapisan ini juga merupakan tempat terbangnya pesawat. Awan tinggi jenis cirrus kadang-kadang terjadi di lapisan paling bawah, namun tidak ada pola cuaca yang signifikan yang terjadi pada lapisan ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari bagian tengah stratosfer keatas, pola suhunya berubah menjadi semakin bertambah seiring kenaikan ketinggian. Hal ini dikarenakan bertambahnya lapisan dengan konsentrasi ozon. Lapisan ozon ini menyerap radiasi sinar ultra violet. Suhu pada lapisan ini bisa mencapai sekitar 18°C pada ketinggian sekitar 40 km. Lapisan stratopause memisahkan stratosfer dengan lapisan berikutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mesosfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adalah lapisan udara ketiga, di mana suhu atmosfer akan berkurang dengan pertambahan ketinggian hingga lapisan keempat, termosfer. Udara yang di sini akan mengakibatkan pergeseran berlakudengan objek yang datng dari angkasa dan menghasilkan suhu yang tinggi. Kebanyakan meteor yang sampai ke bumi terbakar lapisan ini. Kurang lebih 25 mil atau 40km di atas permukaan bumi, saat suhunya berkurang dari 290 K hingga 200 K, terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, hingga menjadi sekitar -143°C (dekat bagian atas dari lapisan ini, yaitu kurang lebih 81 km di atas permukaan bumi). Suhu serendah ini memungkinkan terjadi awan noctilucent, yang terbentuk dari kristal es. Antara lapisan Mesosfer dan lapisan Atmosfer terdapat lapisan perantara yaitu Mesopause&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Termosfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 81 km. Dinamai termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982°C. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra violet. Radiasi ini menyebabkan reaksi kimia sehingga membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal dengan nama ionosfer, yang dapat memantulkan gelombang radio. Sebelum munculnya era satelit, lapisan ini berguna untuk membantu memancarkan gelombang radio.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Ionosfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lapisan ionosfer yang terbentuk akibat reaksi kimia ini juga merupakan lapisan pelindung bumi dari batu meteor yang berasal dari luar angkasa karena ditarik oleh gravitasi bumi. Pada lapisan ionosfer ini, batu meteor terbakar dan terurai. Jika ukurannya sangat besar dan tidak habis terbakar di lapisan udara ionosfer ini, maka akan jatuh sampai ke permukaan bumi yang disebut Meteorit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Fenomena aurora yang dikenal juga dengan cahaya utara atau cahaya selatan terjadi pada lapisan ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengertian Lapisan Termosfer sebagai Lapisan Atmosfer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lapisan Termosfer Berada di atas mesopouse dengan ketinggian sekitar 75 km sampai pada ketinggian sekitar 650 km. Pada lapisan ini, gas-gas akan terionisasi, oleh karenanya lapisan ini sering juga disebut lapisan ionosfer. Molekul oksigen akan terpecah menjadi oksegen atomik di sini. Proses pemecahan molekul oksigen dan gas-gas atmosfer lainnya akan menghasilkan panas, yang akan menyebabkan meningkatnya suhu pada lapisan ini. Suhu pada lapisan ini akan meningkat dengan meningkatnya ketinggian. Ionosfer dibagi menjadi tiga lapisan lagi, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Lapisan ozon Terletak antara 80 – 150 km dengan rata-rata 100 km dpl. Lapisan ini tempat terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan juga lapisan ozon. mempunyai sifat memantulkan gelombang radio. Suhu udara di sini berkisar – 70° C sampai +50° C .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Lapisan udara F Terletak antara 150 – 400 km. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara appleton.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Lapisan udara atom Pada lapisan ini, materi-materi berada dalam bentuk atom. Letaknya lapisan ini antara 400 – 800 km. Lapisan ini menerima panas langsung dari matahari, dan diduga suhunya mencapai 1200° C .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Eksosfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Eksosfer adalah lapsan bumi yang terletak paling luar. Pada lapisan ini terdapat refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga dikenal sebagai cahaya Zodiakal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Komposisi dari atmosfer Bumi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7mFwxybqVrKn8-uLm-G5Koex6alaTLWqklJ_aifJKqoUJJxZhVASthIyYxcpNDP0MHITmWatznWzpTUOzBjgCkN-Nao2ekVP313v09hDuJ4Er1hPJrvnd2RwvrjbUcH-QWSvSGXjx3WyY/s1600/Air_composition_pie_chart.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7mFwxybqVrKn8-uLm-G5Koex6alaTLWqklJ_aifJKqoUJJxZhVASthIyYxcpNDP0MHITmWatznWzpTUOzBjgCkN-Nao2ekVP313v09hDuJ4Er1hPJrvnd2RwvrjbUcH-QWSvSGXjx3WyY/s1600/Air_composition_pie_chart.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atmosfer tersusun oleh:&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Nitrogen&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; (N&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;2,&lt;/span&gt; 78%)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Oksigen &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; (&lt;span style="font-size: large;"&gt;0&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;2&lt;/span&gt;&amp;nbsp;,21%)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Argon &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;( A&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;2&lt;/span&gt;&amp;nbsp;,1%)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Air &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;
( H&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;0&lt;/span&gt;,07%)&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ozon&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;( &lt;span style="font-size: large;"&gt;O&lt;/span&gt;,&lt;span style="font-size: large;"&gt;0-&lt;/span&gt;0.01%)&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Karbondioksida &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; (CO
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;2,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;0.01&amp;nbsp;-&amp;nbsp;0.1%&amp;nbsp;)&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ref: Wikipedia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBxgo8n0PRkGXRh3dFujN4_wZZIYy8c_G1zNDDU4NvRNmM8Ek7TRFt6s-yLlJ97GJJlf8wQ3Tl8g_2KLMZ2kbrtAlLiSk16hjYCy4cPIQbVaqeMuWxKd9S1ucog0SqP8dLbpBicHj64w0R/s72-c/200px-Atmosphere_layers-id.svg.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Ilmu Tanah dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengertian-ilmu-tanah-dan-penjelasannya.html</link><category>Hydrosfer</category><category>Ilmu Bumi</category><category>Pedosfer</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 02:24:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-1925563496101930745</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiz0hO9EXCKGX2NbGklUG5ziEDGnjyK5ukKSGpk3MDKqNpFnPKALMmG0WPCkbQbt5tj_5s6gTAQKnQbcUlKbUAyQABI84BGn4xZ15pnb3WxD42C8w8bKdiYOGMxTvCRZO6se9FMTcJt9lQd/s1600/397px-Erosion.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiz0hO9EXCKGX2NbGklUG5ziEDGnjyK5ukKSGpk3MDKqNpFnPKALMmG0WPCkbQbt5tj_5s6gTAQKnQbcUlKbUAyQABI84BGn4xZ15pnb3WxD42C8w8bKdiYOGMxTvCRZO6se9FMTcJt9lQd/s1600/397px-Erosion.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Ilmu tanah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu tanah adalah pengkajian terhadap tanah sebagai sumber daya alam. Dalam ilmu ini dipelajari berbagai aspek tentang tanah, seperti pembentukan, klasifikasi, pemetaan, berbagai karakteristik fisik, kimiawi, biologis, kesuburannya, sekaligus mengenai pemanfaatan dan pengelolaannya. Tanah adalah lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) dan atmosfer. Tanah menjadi tempat tumbuh tumbuhan dan mendukung kehidupan hewan dan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu tanah dipelajari oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu keteknikan (rekayasa), agronomi/pertanian, kimia, geologi, geografi, ekologi, biologi (termasuk cabang-cabangnya), ilmu sanitasi, arkeologi, dan perencanaan wilayah. Akibat banyaknya pendekatan untuk mengkaji tanah, ilmu tanah bersifat multidisiplin dan memiliki sisi ilmu murni maupun ilmu terapan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu tanah dibagi menjadi dua cabang utama: pedologi dan edafologi. Pedologi mempelajari tanah sebagai objek geologi. Edafologi, atau ilmu kesuburan tanah, mempelajari tanah sebagai benda pendukung kehidupan. Keduanya menggunakan alat-alat dan sering kali juga metodologi yang sama dalam mempelajari tanah, sehingga muncul pula disiplin ilmu seperti fisika tanah, kimia tanah, biologi tanah (atau ekologi tanah), serta ilmu konservasi tanah. Karena tanah juga memiliki aspek ketataruangan dan sipil, berkembang pula disiplin seperti mekanika tanah, pemetaan (kartografi), geodesi dan survai tanah, serta pedometrika atau pedostatistika. Penggunaan informatika juga melahirkan beberapa ilmu campuran seperti geomatika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sejarah ilmu tanah di Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu tanah di Indonesia Pertama diajarkan di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (merupakan kelanjutan dari Landbouw Hogeschool yang didirikan 1940, selanjutnya menjadi Institut Pertanian Bogor) oleh staf pengajar berkebangsaan Belanda, seperti Prof. Dr. Ir. F.A. van Baren (pakar agrogeologi dan mineralogi) dan Prof. Dr. H.J. Hardon (pakar ilmu tanah dan kesuburan tanah). Mereka kemudian digantikan oleh Drs. F.F.F.E. van Rummelen dan Dr. J. van Schuylenborgh. Akibat nasionalisasi, sejak tahun 1957 digantikan oleh Drs. Manus dan Dr. Ir. Tan Kim Hong. Penelitian tanah di Indonesia mulai saat Indonesia masih dalam kekuasaan kolonial Belanda oleh Dr. E.C.Jul. Mohr (1873–1970). Dr. Mohr yang bertugas di Indonesia sebagai kepala Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek di Bogor (sekarang menjadi Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat) telah menjalankan survai di Indonesia sejak tahun 1920. Ia menerbitkan buku pentingnya tahun 1933[1]. Buku tersebut memaparkan iklim dan komposisi tanah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor, Papua, Maluku, Halmahera, Kalimantan, dan Sulawesi. Versi yang disempurnakan diedarkan kembali pada tahun 1972[2]. Buku ini masih menjadi rujukan bagi pakar tanah di daerah tropika sampai sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Tokoh ilmu tanah Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Go Ban Hong&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tan Kim Hong&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kang Biauw Tjwan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tejoyuwono Notohadiprawiro&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Referensi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Mohr, E.C.J., 1933. De Bodem der Tropen in het Algemeen, en die van Nederlandsch-Indie in het Bijzonder. (Tanah-tanah di Daerah Tropis, dengan rujukan khusus di Hindia Belanda)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Mohr, E.J.C., van Baren, F.A. and van Schuylenborgh, J., 1972. Tropical soils: a comprehensive study of their genesis. 3rd edition. Mouton – Ichtiar Baru – van Hoeve, Den Haag&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pranala luar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://soil.faperta.ugm.ac.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Ilmu Tanah UGM&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://kmit.faperta.ugm.ac.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;KMIT&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://soil-ipb.org/JTSejarah.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Ilmu Tanah IPB&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) Puslitbangtanak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ref: Wikipedia&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiz0hO9EXCKGX2NbGklUG5ziEDGnjyK5ukKSGpk3MDKqNpFnPKALMmG0WPCkbQbt5tj_5s6gTAQKnQbcUlKbUAyQABI84BGn4xZ15pnb3WxD42C8w8bKdiYOGMxTvCRZO6se9FMTcJt9lQd/s72-c/397px-Erosion.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Geodesi dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengertian-geodesi-dan-penjelasannya.html</link><category>Geodesi</category><category>Ilmu Alam</category><category>Ilmu Bumi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 02:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-3318700491618649782</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Geodesi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Geodesi menurut pandangan awam adalah cabang ilmu geosains yang mempelajari tentang pemetaan bumi. Geodesi adalah salah satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Etimologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Geodesi berasal dari bahasa Yunani, Geo (γη) = bumi dan daisia / daiein (δαιω) = membagi, kata geodaisia atau geodeien berarti membagi bumi. Sebenarnya istilah “Geometri” sudah cukup untuk menyebutkan ilmu tentang pengukuran bumi, dimana geometri berasal dari bahasa Yunani, γεωμετρία = geo = bumi dan metria = pengukuran. Secara harafiah berarti pengukuran tentang bumi. Namun istilah geometri (lebih tepatnya ilmu spasial atau keruangan) yang merupakan dasar untuk mempelajari ilmu geodesi telah lazim disebutkan sebagai cabang ilmu matematika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Definisi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Definisi Klasik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Helmert dan Torge (1880), Geodesi adalah Ilmu tentang pengukuran dan pemetaan permukaan bumi yang juga mencakup permukaan dasar laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Definisi Modern&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut IAG (International Association Of Geodesy, 1979), Geodesi adalah Disiplin ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan perepresentasian dari Bumi dan benda-benda langit lainnya, termasuk medan gaya beratnya masing-masing, dalam ruang tiga dimensi yang berubah dengan waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada laporan Dewan Riset Nasional Amerika Serikat, definisi Geodesi dapat dibaca sebagai berikut: a branch of applied mathematics that determines by observations and measurements the exact position of points and the figures and areas of large portions of the earth's surface,the shape and size of the earth, and the variations of terrestrial gravity.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam bahasa yang berbeda, geodesi adalah cabang dari ilmu matematika terapan, yang dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dan pengamatan untuk menentukan:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Posisi yang pasti dari titik-titik di muka bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Ukuran dan luas dari sebagian besar muka bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bentuk dan ukuran bumi serta variasi gaya berat bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Definisi ini mempunyai dua aspek, yakni:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Aspek ilmiah (aspek penentuan bentuk), berkaitan dengan aspek geometri dan fisik bumi serta variasi medan gaya berat bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Aspek terapan (aspek penentuan posisi), berhubungan dengan pengukuran dan pengamatan titik-titik teliti atau luas dari suatu bagian besar bumi. Aspek terapan ini yang kemudian dikenal dengan sebutan survei dan pemetaan atau teknik geodesi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kini teknik geodesi tidak lagi hanya berhubungan dengan survei dan pemetaan. Perkembangan teknologi komputer dijital telah memperluas ruang lingkup keilmuan dan keahlian teknik geodesi. Peta telah dikelola sebagai informasi geografis berkomputer. Itu sebabnya dunia internasional telah mengadopsi terminologi baru: Geomatika atau Geoinformatika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sejarah Geodesi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak zaman dahulu, Ilmu Geodesi digunakan oleh manusia untuk keperluan navigasi. Secara signifikan, kegiatan pemetaan bumi sebagai bidang ilmu Geodesi telah dimulai sejak banjir sungai nil (2000 SM) oleh kerajaan Mesir Kuno. Perkembangan Geodesi yang lebih signifikan lagi pada saat manusia mempelajari bentuk bumi &amp;amp; ukuran bumi lebih dalam oleh tokoh Yunani, Erastotenes yang dikenal sebagai bapak geodesi. Hingga teknik geodesi dijadikan sebagai disiplin ilmu akademis hampir disetiap negara. Saat ini, dikarenakan kemajuan teknologi informasi, cakupan ilmu geodesi semakin luas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pranala luar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.bakosurtanal.go.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Bakosurtanal (Badan Survei dan Pemetaan Nasional)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.isi-surveyor.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;ISI (Ikatan Surveyor Indonesia)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) ISI (Ikatan Surveyor Indonesia)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.bpn.go.id/home.aspx" rel="nofollow" target="_blank"&gt;BPN (Badan Pertanahan Nasional)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.geodesi-engineer.blogspot.com/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;tekhnik Geodesi ITENAS&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.gd.itb.ac.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Teknik Geodesi dan Geomatika ITB&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.geodesi.ugm.ac.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Teknik Geodesi dan Geomatika UGM&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.geodesi.undip.ac.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Teknik Geodesi dan Geomatika UNDIP&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Indonesia) &lt;a href="http://www.iggc.org/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;IGGC (Indonesian young Geodesy and Geomatics Community)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Inggris) &lt;a href="http://www.iag-aig.org/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;IAG (International Association Of Geodesy)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Inggris) &lt;a href="http://www.iers.org/sid_1768637B9540DC49785128C1D22A722D/IERS/EN/IERSHome/home.html?__nnn=true" rel="nofollow" target="_blank"&gt;IERS (International Earth Rotation System)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Inggris) &lt;a href="http://www.fig.net/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;FIG (Federation Internationale des Geometres)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; (Inggris) &lt;a href="http://www.iugg.org/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;IUGG (The International Union of Geodesy and Geophysics)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ref: Wikipedia&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Geofisika dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengertian-geofisika-dan-penjelasannya.html</link><category>Ilmu Alam</category><category>Ilmu Bumi</category><category>Lithosfer (Geosfer)</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 01:31:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-5637184891879408596</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Geofisika&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga meteorologi, elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam skala yang berbeda, metode geofisika dapat diterapkan secara global yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara lokal yaitu untuk eksplorasi mineral dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala kecil yaitu untuk aplikasi geoteknik (penentuan pondasi bangunan dll).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Indonesia, ilmu ini dipelajari hampir di semua perguruan tinggi negeri yang ada. Biasaya geofisika masuk ke dalam fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), karena memerlukan dasar-dasar ilmu fisika yang kuat, atau ada juga yang memasukkannya ke dalam bagian dari Geologi. Saat ini, baik geofisika maupun geologi hampir menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan Ilmu bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bidang kajian ilmu geofisika meliputi meteorologi (udara), geofisika bumi padat dan oseanografi(laut).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa contoh kajian dari geofisika bumi padat misalnya seismologi yang mempelajari gempabumi, ilmu tentang gunungapi (Gunung Berapi) atau volcanology, geodinamika yang mempelajari dinamika pergerakan lempeng-lempeng di bumi, dan eksplorasi seismik yang digunakan dalam pencarian hidrokarbon.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Metode-metode geofisika&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu metode pasif dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan oleh bumi. Medan alami yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan gravitasi bumi, medan magnetik bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta radiasi radioaktivitas bumi. Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
Secara praktis, metode yang umum digunakan di dalam geofisika tampak seperti tabel di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" border="1" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;th style="background: #efefef;"&gt;Metode&lt;/th&gt;
&lt;th style="background: #ffdead;"&gt;Parameter yang diukur&lt;/th&gt;
&lt;th style="background: #ffdedd;"&gt;Sifat-sifat fisika yang terlibat&lt;/th&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Seismik&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Waktu tiba gelombang seismik pantul atau bias, amplitudo dan frekuensi gelombang seismik&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Densitas dan modulus elastisitas yang menentukan kecepatan rambat gelombang seismik&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Gravitasi&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Variasi harga percepatan gravitasi bumi pada posisi yang berbeda&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Densitas&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Magnetik&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Variasi harga intensitas medan magnetik pada posisi yang berbeda&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Suseptibilitas atau remanen magnetik&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Resistivitas&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Harga resistansi dari bumi&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Konduktivitas listrik&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Polarisasi terinduksi&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Tegangan polarisasi atau resistivitas batuan sebagai fungsi dari frekuensi&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Kapasitansi listrik&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Potensial diri&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Potensial listrik&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Konduktivitas listrik&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Elektromagnetik&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Respon terhadap radiasi elektromagnetik&lt;/td&gt;
&lt;td&gt;Konduktivitas atau Induktansi listrik&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td style="border-bottom: 3px solid grey;"&gt;Radar&lt;/td&gt;
&lt;td style="border-bottom: 3px solid grey;"&gt;Waktu tiba perambatan gelombang radar&lt;/td&gt;
&lt;td style="border-bottom: 3px solid grey;"&gt;Konstanta dielektrik&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pranala luar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;a href="http://www.bmg.go.id/geofisika.asp" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Badan Meteorologi dan Geofisika&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;a href="http://www.geoph.itb.ac.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Dept. Geofisika dan Meteorologi Institut Teknologi Bandung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;a href="http://www.uh.edu/~jbutler/geophysics/seg.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt; Geofisika di Internet&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Asosiasi Geofisikawan Eropa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;a href="http://www.hagi.or.id/" rel="nofollow" target="_blank"&gt; Himpunan Ahli Geofisika Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
ref: Wikipedia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Geologi dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengertian-geologi-dan-penjelasannya.html</link><category>Ilmu Alam</category><category>Ilmu Bumi</category><category>Lithosfer (Geosfer)</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 01:22:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-9197143006664381255</guid><description>&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Geologi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Geologi (berasal dari Yunani: γη- [ge-, "bumi"] dan λογος [logos, "kata", "alasan"]) adalah Ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Geologiwan telah membantu dalam menentukan umur bumi yang diperkirakan sekitar 4.5 miliar (4.5x109) tahun, dan menentukan bahwa kulit bumi terpecah menjadi lempeng tektonik yang bergerak di atas mantel yang setengah cair (astenosfir) melalui proses yang sering disebut tektonik lempeng. Geologiwan membantu menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, dan uranium serta mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan helium.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Astrogeologi adalah aplikasi ilmu geologi tentang planet lainnya dalam tata surya (solar sistem). Namun istilah khusus lainnya seperti selenology (pelajaran tentang bulan), areologi (pelajaran tentang planet Mars), dll, juga dipakai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kata "geologi" pertama kali digunakan oleh Jean-André Deluc dalam tahun 1778 dan diperkenalkan sebagai istilah yang baku oleh Horace-Bénédict de Saussure pada tahun 1779.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bidang disiplin atau yang berhubungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geoarkeologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geodesi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geofisika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; geofisika reservoir&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; geofisika lingkungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geokimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; biogeokimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; geokimia isotop&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geokronologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi ekonomi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi minyak bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi tambang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi rekayasa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi panas bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi lingkungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi struktur&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi sejarah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geomikrobiologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; geomorfologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; glaciologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; hidrogeologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ilmu bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ilmu tanah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; mineralogi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; oseanografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; geologi kelautan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; paleoklimatologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; paleontologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; mikropaleontologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; palinologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; petrofisik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; petrologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; batuan beku&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; batuan metamorf&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; batuan sedimen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; sedimentologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; seismologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; speleologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; stratigrafi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; biostratigrafi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; kronostratigrafi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; lithostratigrafi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; tektonik lempeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; vulkanologi&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ref: Wikipedia&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Ilmu Bumi dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengertian-ilmu-bumi-dan-penjelasannya.html</link><category>Ilmu Bumi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 01:09:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-312627411278552975</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIf_34OnZX9b_0ltl_PIqtOT4TPEFKXjyqt9A3lxxZybAfy6H38rd1rf6d-jbyQiL5OhcvJ6N5upffW2VdkWQP10DawIj9-w5kZh4y7DtjeTX4SetYAp-8KAc2jByRNrDi7Jg3mshYg9k7/s1600/599px-The_Earth_seen_from_Apollo_17.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIf_34OnZX9b_0ltl_PIqtOT4TPEFKXjyqt9A3lxxZybAfy6H38rd1rf6d-jbyQiL5OhcvJ6N5upffW2VdkWQP10DawIj9-w5kZh4y7DtjeTX4SetYAp-8KAc2jByRNrDi7Jg3mshYg9k7/s1600/599px-The_Earth_seen_from_Apollo_17.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bumi, subyek studi ilmu Bumi.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;Ilmu bumi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;Ilmu Bumi (Inggris: earth science, geoscience) adalah suatu istilah untuk kumpulan cabang-cabang ilmu yang mempelajari bumi. Cabang ilmu ini menggunakan gabungan ilmu fisika, geografi, matematika, kimia, dan biologi untuk membentuk suatu pengertian kuantitatif dari lapisan-lapisan Bumi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam melaksanakan kajiannya, ilmuwan dalam bidang ini menggunakan metode ilmiah, yaitu formulasi hipotesa melalui pengamatan dan pengumpulan data mengenai fenomena alam yang dilanjutkan dengan pengujian hipotesa-hipotesa tersebut. Dalam ilmu Bumi, peranan data sangat penting dalam menguji dan membentuk suatu hipotesa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Cabang utama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Geologi mempelajari lapisan batuan dari kulit Bumi (atau litosfer) dan perkembangan sejarahnya. Cabang utama dari ilmu ini adalah mineralogi, petrologi, geokimia, paleontologi, stratigrafi dan sedimentologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Geofisika mempelajari sifat-sifat fisis Bumi, seperti bentuk Bumi, reaksi terhadap gaya, serta medan potensial Bumi (medan magnet dan gravitasi). Geofisika juga menyelidiki interior Bumi seperti inti, mantel Bumi, dan kulit Bumi serta kandungan-kandungan alaminya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Geodesi ilmu tentang pengukuran dan pemetaan permukaan Bumi dan dasar laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Ilmu tanah mempelajari lapisan terluar kulit Bumi yang terlibat dalam proses pembentukan tanah (atau pedosfer). Disiplin ilmu utama antara lain adalah edafologi dan pedologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. Glasiologi mempelajari bagian es dari Bumi (atau kriosfer).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. Ilmu atmosfer mempelajari bagian gas dari Bumi (atau atmosfer) antara permukaan Bumi sampai lapisan eksofer (~1000 km).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cabang utama bidang ini adalah meteorologi, klimatologi, dan aeronomi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Klimatologi (Yunani: κλίμα, Klima, "wilayah, zona"; dan-λογία,-logia) adalah studi iklim, ilmiah didefinisikan sebagai kondisi cuaca rata-rata selama periode waktu tertentu, dan merupakan cabang dari ilmu atmosfer . Pengetahuan dasar iklim dapat digunakan dalam peramalan cuaca jangka pendek dengan menggunakan teknik analog seperti El Niño - Southern Oscillation (ENSO), yang Madden-Julian Oscillation (MJO), Osilasi Atlantik Utara (NAO), Annualar Utara Mode (NAM ), osilasi Arktik (AO), Pasifik Utara (NP) Index, Decadal Pasifik Oscillation (PDO), dan Pasifik Interdecadal Osilasi (IPO). Model iklim digunakan untuk berbagai tujuan dari studi mengenai dinamika iklim cuaca dan sistem untuk proyeksi iklim pada masa mendatang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kimia atmosfer adalah cabang ilmu atmosfer yang mempelajari kimia atmosfer Bumi dan planet-planet lain. Bidang multidisiplin ini melibatkan kimia lingkungan, fisika, meteorologi, pemodelan komputer, oseanografi, geologi, vulkanologi, dan disiplin-disiplin lainnya. Riset-riset yang dilakukannya semakin berhubungan dengan bidang ilmu lain seperti klimatologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari atmosfer Bumi khususnya untuk keperluan prakiraan cuaca. Kata ini berasal dari bahasa Yunani meteoros atau ruang atas (atmosfer), dan logos atau ilmu pengetahuan yang mempelajari dan membahas gejala perubahan cuaca yang berlangsung di atmosfer.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrometeorologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Paleoklimatologi merupakan ilmu mengenai perubahan iklim yang terjadi dalam seluruh rentang sejarah Bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7. Biogeografi adalah cabang dari biologi yang mempelajari tentang keaneka ragaman hayati berdasarkan ruang dan waktu. Cabang keilmuan ini bertujuan untuk mengungkapkan mengenai kehidupan suatu organisme dan apa yang mempengaruhinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah kehidupan di Bumi termasuk hewan dan tumbuhan zaman lampau yang telah menjadi fosil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Palinologi merupakan ilmu yang mempelajari polinomorf yang ada saat ini dan fosilnya, diantaranya serbuk sari, sepura, dinoflagelata, kista, acritarchs, chitinozoa, dan scolecodont, bersama dengan partikel material organik dan kerogen yang terdapat pada sedimen dan batuan sedimen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mikropaleontologi merupakan cabang paleontologi yang mempelajari mikrofosil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8. Geomikrobiologi adalah ilmu yang menggabungkan geologi dan mikrobiologi, dan mempelajari interaksi organisme mikroskopis dengan lingkungan anorganik, seperti pada batuan sedimen. Bidang ini menjadi penting ketika berhubungan dengan mikroorganisme dalam akuifer dan suplai air minum umum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9. Hidrologi (berasal dari Bahasa Yunani: Yδρoλoγια, Yδωρ+Λoγos, Hydrologia, "ilmu air") adalah cabang ilmu teknik sipil yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh Bumi, termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air. Orang yang ahli dalam bidang hidrologi disebut hidrolog, bekerja dalam bidang ilmu Bumi dan ilmu lingkungan, serta teknik sipil dan teknik lingkungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Glasiologi (dari bahasa Perancis glace yang berarti es dan bahasa Yunani Λoγος (logos) yang berarti ilmu) adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat fisika dan kimia dari es dan salju (gletser), pembentukan formasi, pergerakan dan juga evolusinya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Limnologi (dari bahasa Inggris: limnology, dari bahasa Yunani: lymne, "danau", dan logos, "pengetahuan") merupakan padanan bagi biologi perairan darat, terutama perairan tawar. Lingkup kajiannya kadang-kadang mencakup juga perairan payau (estuaria). Limnologi merupakan kajian menyeluruh mengenai kehidupan di perairan darat, sehingga digolongkan sebagai bagian dari ekologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrogeologi (hidro- berarti air, dan -geologi berarti ilmu mengenai batuan) merupakan bagian dari hidrologi yang mempelajari penyebaran dan pergerakan air tanah dalam tanah dan batuan di kerak Bumi (umumnya dalam akuifer). Istilah geohidrologi sering digunakan secara bertukaran. Beberapa kalangan membuat sedikit perbedaan antara seorang ahli hidrogeologi atau ahli rekayasa yang mengabdikan dirinya dalam geologi (geohidrologi), dan ahli geologi yang mengabdikan dirinya pada hidrologi (hidrogeologi)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10. Oseanografi (berasal dari bahasa Yunani oceanos yang berarti laut dan γράφειν atau graphos yang berarti gambaran atau deskripsi juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang dari ilmu Bumi yang mempelajari segala aspek dari samudera dan lautan. Secara sederhana oseanografi dapat diartikan sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui bahwa Bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer. Ilmu oceanografi dapat dibagi menjadi beberapa cabang :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Biologi laut atau oceanografi biologi, ilmu mengenai tumbuhan, binatang dan mikrobe (biota) samudera dan interaksi ekologi mereka;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Oceanografi kimia atau kimia laut, ilmu mengenai kimia samudera dan interaksi kimianya dengan atmosfer;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi laut atau oceanografi geologi, ilmu mengenai geologi dasar laut termasuk tektonik lempeng;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Oceanografi fisika ilmu mengenai ciri fisik samudera termasuk struktur suhu-salinitas, pencampuran, ombak, pasang, dan arus;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Rekayasa laut mencakup disain dan membangun anjungan minyak, kapal, pelabuhan, dan struktur lainnya sehingga memungkinkan kita untuk menggunakan samudera dengan bijaksana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11. Geologi ekonomi berhubungan dengan material Bumi yang dapat digunakan untuk tujuan ekonomi dan/atau industri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
12. Geologi rekayasa adalah penerapan ilmu geologi dalam praktek rekayasa untuk tujuan menjamin faktor-faktor geologi yang mempengaruhi lokasi, disain, konstruksi, operasi dan perawatan pekerjaan rekayasa telah dikenali dan diperhitungkan dengan matang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
13. Geologi lingkungan Mengelola sumberdaya geologi dan hidrogeologi seperti bahan bakar fosil, mineral, air (permukaan dan air bawah permukaan), dan tata guna lahan. Menetapkan dan mengurangi kemungkinan akibat bencana alam pada manusia. Mengelola pembuangan sampah industri dan rumah tangga serta mengurangi atau menghilangkan efek polusi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
14. Geologi sejarah menggunakan prinsip-prinsip geologi untuk merekonstruksi dan memahami sejarah Bumi. Bidang ini berfokus pada proses-proses geologi yang mengubah permukaan dan bawah permukaan Bumi, dan penggunaan stratigrafi, geologi struktur, serta paleontologi untuk menjelaskan urutan kejadian tersebut. Bidang ini juga berfokus pada evolusi tumbuhan dan binatang selama periode waktu berbeda dalam skala waktu geologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
15. Geologi kuarter&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
16. Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari pembentukan lapisan tanah karena pengendapan tanah yang mengalami perpindahan dari tempat lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
17. Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antarlapisan yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi (litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
18. Geologi struktur adalah studi mengenai distribusi tiga dimensi tubuh batuan dan permukaannya yang datar ataupun terlipat, beserta susunan internalnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
19. Geokimia adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari komposisi-komposisi kimia bagian dari Bumi misalnya pada lithosfer yang sebagian besar komposisi kimianya adalah silikat serta pada daerah stalaktit dan stalagmit banyak ditemukan CaCO3.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
20. Geomorfologi adalah sebuah studi ilmiah terhadap permukaan Bumi dan poses yang terjadi terhadapnya. Secara luas, berhubungan dengan landform (bentuk lahan) tererosi dari batuan yang keras, namun bentuk konstruksinya dibentuk oleh runtuhan batuan, dan terkadang oleh perolaku organisme di tempat mereka hidup. “Surface” (permukaan) jangan diartikan secara sempit; harus termasuk juga bagian kulit Bumi yang paling jauh. Kenampakan subsurface terutama di daerah batugamping sangat penting dimana sistem gua terbentuk dan merupakan bagian yang integral dari geomorfologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
21. Geofisika adalah bagian dari ilmu Bumi yang mempelajari Bumi menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga meteorologi, elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan Bumi melibatkan pengukuran di atas permukaan Bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di dalam Bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan kondisi di bawah permukaan Bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
22. Geokronologi merupakan ilmu untuk menentukan umur absolut batuan, fosil, dan sedimen, dalam suatu tingkat ketidakpastian tertentu yang melekat dalam metode yang digunakan. Berbagai macam metode penentuan umur digunakan oleh ahli geologi untuk mencapai hal tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
23. Hidrogeologi (hidro- berarti air, dan -geologi berarti ilmu mengenai batuan) merupakan bagian dari hidrologi yang mempelajari penyebaran dan pergerakan air tanah dalam tanah dan batuan di kerak Bumi (umumnya dalam akuifer). Istilah geohidrologi sering digunakan secara bertukaran. Beberapa kalangan membuat sedikit perbedaan antara seorang ahli hidrogeologi atau ahli rekayasa yang mengabdikan dirinya dalam geologi (geohidrologi), dan ahli geologi yang mengabdikan dirinya pada hidrologi (hidrogeologi).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
24. Mineralogi merupakan ilmu Bumi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika (termasuk optik) dari mineral. Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
25. Kristalografi adlah sains eksperimental yang bertujuan menentukan susunan atom dalam zat padat. Dahulu istilah ini digunakan untuk studi ilmiah kristal. Kata "kristalografi" berasal dari kata bahasa Yunani crystallon = tetesan dingin/beku, dengan makna meluas kepada semua padatan transparan pada derajat tertentu, dan graphein = menulis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
26. Gemologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
27. Petrologi adalah bidang geologi yang berfokus pada studi mengenai batuan dan kondisi pembentukannya. Ada tiga cabang petrologi, berkaitan dengan tiga tipe batuan: beku, metamorf, dan sedimen. Kata petrologi itu sendiri berasal dari kata Bahasa Yunani petra, yang berarti "batu".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
28. Vulkanologi merupakan studi tentang gunung berapi, lava, magma, dan fenomena geologi yang berhubungan. Seorang ahli vulkanologi adalah orang yang melakukan studi pada bidang ini. Istilah vulkanologi berasal dari Bahasa Latin Vulcan, dewa api Romawi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
29. Ilmu tanah adalah pengkajian terhadap tanah sebagai sumber daya alam. Dalam ilmu ini dipelajari berbagai aspek tentang tanah, seperti pembentukan, klasifikasi, pemetaan, berbagai karakteristik fisik, kimiawi, biologis, kesuburannya, sekaligus mengenai pemanfaatan dan pengelolaannya. Tanah adalah lapisan yang menyeliputi Bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak Bumi) dan atmosfer. Tanah menjadi tempat tumbuh tumbuhan dan mendukung kehidupan hewan dan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
30. Edafologi (dipinjam dari bahasa Inggris: edaphology, yang membentuknya dari dua kata bahasa Yunani ἔδαφος, edaphos, "tanah, pijakan"; dan -λογία, -logia, "lambang", "pengetahuan"), atau ilmu kesuburan tanah, adalah salah satu dari dua cabang utama ilmu tanah yang mempelajari peran tanah sebagai pendukung kehidupan, terutama tumbuhan. Cabang utama ilmu tanah yang lain adalah pedologi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
31. Pedologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
32. Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan Bumi. Kata geografi berasal dari Bahasa Yunani yaitu gêo ("Bumi") dan graphein ("menulis", atau "menjelaskan").&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
33. Penginderaan Jauh ,merupakan terjemahan dari istilah remote sensing adalah ilmu, teknologi dan seni dalam memperoleh informasi mengenai objek atau fenomena di (dekat) permukaan Bumi tanpa kontak langsung dengan objek atau fenomena yang dikaji, melainkan melalui media perekam objek atau fenomena yang memanfaatkan energi yang berasal dari gelombang elektromagnetik dan mewujudkan hasil perekaman tersebut dalam bentuk citra.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengertian 'tanpa kontak langsung' di sini dapat diartikan secara sempit dan luas. Secara sempit berarti bahwa memang tidak ada kontak antara objek dengan analis, misalnya ketika data citra satelit diproses dan ditransformasi menjadi peta distribusi temperatur permukaan pada saat perekaman. Secara luas berarti bahwa kontak dimungkinkan dalam bentuk aktivitas 'ground truth', yaitu pengumpulan sampel lapangan untuk dijadikan dasar pemodelan melalui interpolasi dan ekstrapolasi pada wilayah yang jauh lebih luas dan pada kerincian yang lebih tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Kartografi atau pemetaan3 mempelajari representasi permukaan Bumi dengan simbol abstrak. Bisa dibilang, tanpa banyak kontroversi, kartografi merupakan penyebab meluasnya kajian geografi. Kebanyakan geografer mengakui bahwa ketertarikan mereka pada geografi dimulai ketika mereka terpesona oleh peta pada masa kecil mereka. walaupun subdisiplin ilmu geografi lainnya masih bergantung pada peta untuk menampilkan hasil analisisnya, pembuatan peta itu sendiri masih terlalu abstrak untuk dianggap sebagai ilmu terpisah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Interaksi yang terjadi antara lapisan-lapisan Bumi membuat banyak cabang modern ilmu ini yang melakukan pendekatan interdisiplin untuk mempelajarinya. Contohnya adalah untuk memahami sirkulasi lautan, interaksi antara laut, atmosfer, dan perputaran Bumi juga harus diperhitungkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Daftar sebagian topik utama Ilmu Bumi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atmosfer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kimia atmosfer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Klimatologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Meteorologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrometeorologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Paleoklimatologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biosfer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Biogeografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Paleontologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Palinologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mikropaleontologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geomikrobiologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hydrosfer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Glasiologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Limnologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrogeologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Oseanografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Oceanografi kimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Biologi kelautan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi kelautan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Paleoseanografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Oseanografi fisik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lithosfer atau geosfer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi ekonomi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi rekayasa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi lingkungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi sejarah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Glasiologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi kuarter&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi planet&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sedimentologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Stratigrafi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geologi struktur&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geokimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geomorfologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geofisika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geokronologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geodinamik (lihat juga Tektonik)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geomagnetik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gravimetri (juga bagian dari Geodesi)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Seismologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrogeologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mineralogi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kristalografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gemologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Petrologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Vulkanologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pedosfer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Ilmu tanah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Edafologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pedologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sistem&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Ilmu sistem Bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geografi manusia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Geografi fisik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Teori gaia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Ilmu holistik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lainnya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kartografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geoinformatika (GIS)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geostatistik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geodesi dan Survei&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ref: Wikipedia&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIf_34OnZX9b_0ltl_PIqtOT4TPEFKXjyqt9A3lxxZybAfy6H38rd1rf6d-jbyQiL5OhcvJ6N5upffW2VdkWQP10DawIj9-w5kZh4y7DtjeTX4SetYAp-8KAc2jByRNrDi7Jg3mshYg9k7/s72-c/599px-The_Earth_seen_from_Apollo_17.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Fisika Kelautan (Oseanografi Fisik)</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/fisika-kelautan-oseanografi-fisik.html</link><category>Fisika Kelautan</category><category>Hydrosfer</category><category>Ilmu Bumi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 8 Jul 2012 03:57:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-3729678519865234326</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b style="background-color: white;"&gt;BAB I&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.1. Latar Belakang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani : oceanus (samudera) dan graphos (uraian/deskripsi) sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang samudera. Tetapi lingkup oseanografi pa da kenyataannya lebih dari sekedar deskripsi tentang samudera, karena samudera sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu jika ingin diungkapkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan seg ala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para ahli oseanografi mempelajari berbagai topik, termasuk organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut; dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai samudera d an memahami proses di dalamnya: biologi, kimia, geologi, meteorologi, dan fisika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa sumber lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar ya ng membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri da ri dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dan lain-lain ke dalam segala aspek mengenai laut .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi da pat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota di laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Studi menyeluruh (komprehensif) mengenai laut dimulai pertama kali dengan dilakukannya ekspedisi Challenger (1872-1876) yang dipimpin oleh naturalis bernama C.W. Thomson (yang berkebangsaan Skotlandia) dan John Murray (yang berkebangsaan Kanada). Istilah Oseanografi sendiri digunakan oleh mereka di dalam laporan yang diedit oleh Murray. Selanjutnya Murray menjadi pemimpin dalam studi berikutnya mengenai sedimen laut. Keberhasilan dari ekspedisi Challenger dan pentingnya ilmu pengetahuan tentang laut dalam perkapalan/perhubungan laut, perikanan, kabel laut dan studi mengenai iklim akhirnya membawa banyak negara untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Organisasi oseanografi internasional yang pertama kali didirikan adalah The International Council for the Exploration of the Sea (1901).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oseanografi fisis meliputi dua kegiatan utama (1) studi observasi langsung pada samudera dan penyiapan peta sinoptik elemen – elemen yang membangun karakter samudera, serta (2) study teoritis proses fisis yang diharapkan dapat member arah dalam observasi samudera (William, 1962). Keduanya tidak dapat berdiri sendiri tanpa informasi dari sisi kimiawi, biologi, dan geologi sebagai bagian dari deskripsi samudera dan sebagai validitas kondisi fisisnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1. Tujuan Praktikum&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tujuan dari laporan praktikum ini adalah sebagai tugas akhir mata kuliah oseanografi &amp;nbsp; fisika dan sebagai bahan referensi ilmiah untuk kajian studi oseanografi fisika khususnya pada kajian tentang pasang surut, gelombang, dan arus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1. Pantai Pelabuhan Kejawanan Cirebon&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
PPN Kejawanan terletak di Kelurahan Lemah Wungkuk Kota Cirebon, tepatnya pada posisi 060-44’-14” LS/1080-34’-53” BT, dilengkapi dengan berbagai sarana seperti sarana pokok, sarana fungsional dan sarana tambahan/penunjang, PPN Kejawanan yang berada di bagian Timur Jawa Barat, secara geografis sangat strategis karena merupakan pintu gerbang Jawa Barat bagian Timur dan dengan mudah menghubungkan daerah pemasaran potensial yaitu Bandung dan Jakarta sekaligus sebagai pintu gerbang keluar masuknya arus komiditi barang ekspor impor yang berfungsi sebagai pusat perdagangan dan industri serta wisatawan domestik maupun asing ke Jawa Barat khususnya Cirebon. Oleh karena itu, &amp;nbsp;Pelabuhan Cirebon diklasifikasikan sebagai pelabuhan Indonesia II, merupakan pelabuhan paling besar yang terletak di Jawa Barat. Pantai pelabuhan Kejawanan memiliki topografi pantai yang landai dan merupakan pantai dengan perairan tenang dan gelombang yang tidak terlalu besar. Arah angin dominan sepanjang tahun yang mempengaruhi pembentukan gelombang laut yang menuju ke arah pantai Teluk Cirebon. Ketinggian gelombang di laut Jawa umumnya disebabkan oleh angin biasanya mencapai lebih dari 2 meter dan merupakan gelombang laut dalam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.2. Pasang Surut Muka Air Laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gelombang–gelombang laut yang paling panjang adalah yang berhubungan dengan pasang surut, dan dikarakterisasi oleh naik dan turunnya permukaan laut yang berirama setelah periode beberapa jam. Pasang naik biasanya disebut sebagai aliran/flow (atau flood), sedangkan sedangkan pasang turun dinamakan (ebb). Istilah surut dan aliran pada pasang surut juga biasa digunakan untuk mengartikan arus – arus pasang itu sendiri (dan, tentu saja, pasang ‘flood’ lebih sering digunakan daripada ‘aliran/flow’). Dari awal mulanya telah diketahui bahwa ada hubungan antara pasang surut dengan matahari dan bulan. Pasang surut dalam keadaan tertinggi pada saat bulan purnama atau baru, dan waktu – waktu pasang surut yang tinggi pada lokasi tertentu dapat diperkirakan (tapi tidak tepat sekali) dihubungkan dengan posisi bulan di langit. Karena pergerakan relatif bumi, matahari, bulan cukup rumit, maka mengakibatkan pengaruh mereka akan peristiwa pasang surut menghasilkan pola – pola kompleks yang sama. Meskipun begitu, jarak gaya – gaya yang ditimbulkan oleh pasang surut dapat dirumuskan dengan tepat, walaupun respon lautan atas gaya – gaya ini dimodifikasi oleh efek – efek permanen topografi dan efek sementara dari pola – pola cuaca (Dr. Agus Supangat, Pengantar Oseanografi. ITB).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasang surut air laut adalah suatu gejala fisik yang selalu berulang dengan periode tertentu dan pengaruhnya dapat dirasakan sampai jauh masuk kearah hulu dari muara sungai. Pasang surut terjadi karena adanya gerakan dari benda benda angkasa yaitu rotasi bumi pada sumbunya, peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bulan mengelilingi matahari. Gerakan tersebut berlangsung dengan teratur mengikuti suatu garis edar dan periode yang tertentu. Pengaruh dari benda angkasa yang lainnya sangat kecil dan tidak perlu diperhitungkan .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gerakan dari benda angkasa tersebut di atas akan mengakibatkan terjadinya beberapa macam gaya pada setiap titik di bumi ini,yang disebut gaya pembangkit pasang surut. Masing masing gaya akan memberikan pengaruh pada pasang surut dan disebut komponen pasang surut, dan gaya tersebut berasal dari pengaruh matahari, bulan atau kombinasi keduanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasang purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4 dan 3/4.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt5kxNwmxrJ1RJcHxOvvjNdQIcrdANazILMkHI_6JCJQ54d9YYNz1XQAxN2BrJm3Is7VDo5aDBYZaWmnUe8p_lX8g-V59wlhapo10aAKWuFPKL945I0nhPf55SayA2LIX3Avu6Ck8VXK4q/s1600/Gambar.+Spring+Tide+dan+Neap+Tide.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt5kxNwmxrJ1RJcHxOvvjNdQIcrdANazILMkHI_6JCJQ54d9YYNz1XQAxN2BrJm3Is7VDo5aDBYZaWmnUe8p_lX8g-V59wlhapo10aAKWuFPKL945I0nhPf55SayA2LIX3Avu6Ck8VXK4q/s1600/Gambar.+Spring+Tide+dan+Neap+Tide.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Gambar. Spring Tide dan Neap Tide&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menjelaskan terjadinya pasang surut maka mula-mula dianggap bahwa bumi benar-benar bulat serta seluruh permukaannya ditutupi oleh lapisan air laut yang sama tebalnya sehingga didalam hal ini dapat diterapkan teori keseimbangan. Pada setiap titik dimuka bumi akan terjadi pasang surut yang merupakan kombinasi dari beberapa komponen yang mempunyai amplitudo dan kecepatan sudut yang tertentu sesuai dengan gaya pembangkitnya. Pada keadaan sebenarnya bumi tidak semuanya ditutupi oleh air laut melainkan sebagian merupakan daratan dan juga kedalaman laut berbeda beda. Sebagai konsekwensi dari teori keseimbangan maka pasang surut akan terdiri dari beberapa komponen yang mempunyai kecepatan amplitudo dan kecepatan sudut tertentu, sama besarnya seperti yang diuraikan pada teori keseimbangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kisaran pasang-surut (tidal range), yakni perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi air pada saat surut minimum, rata-rata berkisar antara 1 m hingga 3 m.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tipe pasut ditentukan oleh frekuensi air pasang dengan surut setiap harinya. Hal ini disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi terhadap gaya pembangkit pasang surut. Jika suatu perairan mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, maka kawasan tersebut dikatakan bertipe pasut harian tunggal (diurnal tides), namun jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, maka tipe pasutnya disebut tipe harian ganda (semidiurnal tides). Tipe pasut lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda disebut dengan tipe campuran (mixed tides) dan tipe pasut ini digolongkan menjadi dua bagian yaitu tipe campuran condong harian ganda (Mixed Tide predominantly Semi-diurnal Tide) dan tipe campuran condong harian tunggal (Mixed Tide predominantly Diurnal Tide).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiH_jVm9e-EY1JLPhCnpikxdOMH2gla1xgn5JrlQEPf8F36oE2JfOCcDKr377Rwe7Z3kLOwaZc5qa4ZxjHocsbM_gh2mQd5Lpw64Lpd6Ew-sbv8RJf6ZXSI94TgX4G3WjMkuNuRM7KHcY3/s1600/Gambar+Tipe-Tipe+Pasut.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiH_jVm9e-EY1JLPhCnpikxdOMH2gla1xgn5JrlQEPf8F36oE2JfOCcDKr377Rwe7Z3kLOwaZc5qa4ZxjHocsbM_gh2mQd5Lpw64Lpd6Ew-sbv8RJf6ZXSI94TgX4G3WjMkuNuRM7KHcY3/s1600/Gambar+Tipe-Tipe+Pasut.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Gambar Tipe-Tipe Pasut&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Penyebab variasi pasang surut, antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Kedalaman Laut&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Agar tonjolan air laut dapat mengikuti gerakan bulan, haruslah dapat bergerak mengellingi bumi dalam 25 jam, namun kecepatan maksimum gelombang untuk bergerak dibatasi oleh kedalaman laut. Dibutuhkan kedalaman samudera rata-rata 22 km agar ketinggian pasut dapat orbit 25 jam, nyatanya kedalaman laut rata-rata hanya 4 km.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Massa Daratan dan Topografi Dasar Laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adanya daratan menghalangi tonjolan untuk bergerak mengitari bumi. Bukit dan palung di laut menghalangi berkembangnya pasut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gesekan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori pasut mengabaikan gesekan antara dasar laut dengan air maupun gesekan dalam air itu sendiri. Viskositas memperlambat reaksi air terhadap gaya penyebab pasut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengaruh Gaya Coriolis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akibat putaran bumi pada porosnya, membelokkan gaya yang bekerja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Resonansi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiap bagian air mempunyai periode osilasi alami tergantung ukuran dan kedalaman. Jika gelombang terjadi dalam bagian air yang mempunyai frekuensi sama, maka gelombang tersebut cenderung diperbesar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk meramalkan pasang surut, diperlukan data amplitudo dan beda fasa dari masing-masing komponen pembangkit pasang surut. Komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian. Namun demikian, karena interaksinya dengan bentuk (morfologi) pantai dan superposisi antar gelombang pasang surut komponen utama, akan terbentuklah komponen-komponen pasang surut yang baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRuaw9nyxyx2mhE4sQoT4r8VlqfwjijCEgUFvo4Dc9AxXMMtx5thFAsWiJlfvZYLUrSNGMklohNcoc3QppvV19jFZ4Okng7_xYq2-kAtdGUE6nIbq1ujTHlhkwhITzcaNrkBdpdI8fVMyO/s1600/Gambar+1.+Pola+gerak+muka+air+pasut+di+Indonesia+(Triatmodjo,+1996)..jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRuaw9nyxyx2mhE4sQoT4r8VlqfwjijCEgUFvo4Dc9AxXMMtx5thFAsWiJlfvZYLUrSNGMklohNcoc3QppvV19jFZ4Okng7_xYq2-kAtdGUE6nIbq1ujTHlhkwhITzcaNrkBdpdI8fVMyO/s1600/Gambar+1.+Pola+gerak+muka+air+pasut+di+Indonesia+(Triatmodjo,+1996)..jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Gambar 1. Pola gerak muka air pasut di Indonesia (Triatmodjo, 1996).&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti telah disebutkan di atas, komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian. Namun demikian, karena interaksinya dengan bentuk (morfologi) pantai, superposisi antar komponen pasang surut utama, dan faktor-faktor lainnya akan mengakibatkan terbentuknya komponen-komponen pasang surut yang baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.2.1 Energi Pasang Surut Air Laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Indonesia dengan luas perairan hampir 60% dari total luas wilayah sebesar 1.929.317 km2, Indonesia seharusnya bisa menerapkan teknologi alternatif ini. Apalagi dengan bentangan Timur ke Barat sepanjang 5.150 km dan bentangan Utara ke Selatan 1.930 km telah mendudukkan Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Pada musim hujan, angin umumnya bergerak dari Utara Barat Laut dengan kandungan uap air dari Laut Cina Selatan dan Teluk Benggala. Di musim Barat, gelombang air laut naik dari biasanya di sekitar Pulau Jawa. Fenomena alamiah ini mempermudah pembuatan teknik pasang surut tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penerapannya di Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil. Tapi perlu ada master plan yang jelas untuk mewujudkannya. Karena ini dapat menjadi sumber energi alternatif potensial. Apalagi proses pembuatannya tidak merusak alam, melainkan ramah lingkungan. Tetapi sebelumnya, harus dilakukan sebuah riset yang berguna untuk mengukur kedalaman sepanjang garis pantai Indonesia. Sehingga dapat ditentukan di daerah mana saja yang layak. Bangsa Indonesia seharusnya menyadari bahwa alam menyediakan semua yang dibutuhkan. Hanya perlu kerja keras dan kebijakan yang memperhatikan sumber daya alam yang terbatas. Sehingga Indonesia tidak perlu risau akan cadangan energy.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pasang-surut tidak hanya mempengaruhi lapisan di bagian teratas saja, melainkan seluiruh massa air. Energinya pun sangat besar. Di perairan-perairan pantai, terutama di teluk-teluk atau selat-selat yang sempit, gerakan naik-turunnya muka air akan menimbulkan terjadinya arus pasang-surut. Di tempat-tempat tertentu arus pasang-surut ini cukup kuat. Berbeda dengan arus yang disebabkan oleh angin yang hanya terjadi pada air lapisan tipis di permukaan, arus pasang-surut bisa mencapai lapisan yang lebih dalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.2.2. Daftar Istilah pada pasang surut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Sea Level (MSL) atau Duduk Tengah adalah muka laut rata-rata pada suatu periode pengamatan yang panjang, sebaiknya selama 18,6 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Tide Level (MTL) adalah rata-rata antara air tinggi dan air rendah pada suatu periode waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean High Water (MHW) adalah tinggi air rata-rata pada semua pasang tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Low Water (MLW) adalah tinggi air rata-rata pada semua surut rendah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Higher High Water (MHHW) adalah tinggi rata-rata pasang tertinggi dari dua air tinggi harian pada suatu periode waktu yang panjang. Jika hanya satu air tinggi terjadi pada satu hari, maka air tinggi tersebut diambil sebagai air tinggi terttinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Lower High Water (MLHW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air tinggi harian pada suatu periode waktu yang panjang. Hal ini tidak akan terjadi untuk pasut harian (diurnal).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Higher Low Water (MHLW) adalah tinggi rata-rata air tertinggi dari dua air rendah harian pada suatu periode waktu yang panjang. Hal ini tidak akan terdapat pada pasut diurnal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Lower Low Water (MLLW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air rendah harian pada suatu periode waktu yang panjang. Jika hanya satu air rendah terjadi pada satu hari, maka harga air rendah tersebut diambil sebagai air rendah terendah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean High Water Springs (MHWS) adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama periode pasang purnama, yaitu jika tunggang (range) pasut itu tertinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Low Water Springs (MLWS) adalah tinggi rata-rata yang diperoleh dari dua air rendah berturut-turut selama periode pasang purnama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean High Water Neaps (MHWN) adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama periode pasut perbani (neap tides), yaitu jika tunggang (range) pasut paling kecil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Low Water Neaps (MLWN) adalah tinggi rata-rata yang dihitung dari dua air berturut-turut selama periode pasut perbani.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Highest Astronomical Tide (HAT)/Lowest Astronomical Tide (LAT) adalah permukaan laut tertinggi/terendah yang dapat diramalkan terjadi di bawah pengaruh keadaan meteorologis rata-rata dan kombinasi keadaan astronomi. Permukaan ini tidak akan dicapai pada setiap tahun. HAT dan LAT bukan permukaan laut yang ekstrim yang dapat terjadi, storm surges mungkin saja dapat menyebabkan muka laut yang lebih tinggi dan lebih rendah. Secara umum permukaan (level) di atas dapat dihitung dari peramalan satu tahun. Harga HAT dan LAT dihitung dari data beberapa tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Range (Tunggang Rata-rata) adalah perbedaan tinggi rata-rata antara MHW dan MLW.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Spring Range adalah perbedaan tinggi antara MHWS dan MLWS.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mean Neap Range adalah perbedaan tinggi antara MHWN dan MLWN.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.3. Arus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arus laut adalah gerakan massa air laut yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Arus di permukaan laut terutama disebabkan oleh tiupan angin, sedang arus di kedalaman laut disebabkan oleh perbedaan densitas massa air laut. Selain itu, arus di permukan laut dapat juga disebabkan oleh gerakan pasang surut air laut atau gelombang. Arus laut dapat terjadi di samudera luas yang bergerak melintasi samudera (ocean currents), maupun terjadi di perairan pesisir (coastal currents).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga74JYg3nqndPY_2eDYRk0DOYXHIkIs6ufK93tKhi0QKZ23RjONawqwhVGeIZoNEdmY8mblGJpS0k_qiXPxIlLJ1ypiyLDePbyoHEf6jzxgLFxxyp0DrWqr1KY94S23PCXEkuEXFbdF-xW/s1600/Pola+umum+sirkulasi+arus+global+(Nearshore+current).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga74JYg3nqndPY_2eDYRk0DOYXHIkIs6ufK93tKhi0QKZ23RjONawqwhVGeIZoNEdmY8mblGJpS0k_qiXPxIlLJ1ypiyLDePbyoHEf6jzxgLFxxyp0DrWqr1KY94S23PCXEkuEXFbdF-xW/s1600/Pola+umum+sirkulasi+arus+global+(Nearshore+current).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Pola umum sirkulasi arus global&lt;/em&gt; &lt;em&gt;(Nearshore current)&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.1 Arus Samudera&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Arus Permukaan Laut di Samudera (Surface Circulation)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyebab utama arus permukaan laut di samudera adalah tiupan angin yang bertiup melintasi permukaan Bumi melintasi zona-zona lintang yang berbeda. Ketika angin melintasi permukaan samudera, maka massa air laut tertekan sesuai dengan arah angin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pola umum arus permukaan samudera dimodifikasi oleh faktor-faktor fisik dan berbagai variabel seperti friksi, gravitasi, gerak rotasi Bumi, konfigurasi benua, topografi dasar laut, dan angin lokal. Interaksi berbagai variabel itu menghasilkan arus permukaan samudera yang rumit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arus di samudera bergerak secara konstan. Arus tersebut bergerak melintasi samudera yang luas dan membentuk aliran yang berputar searah gerak jarum jam di Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), dan berlawanan arah gerak jarum jam di Belahan Bumi Selatan (Southern Hemisphere). Karena gerakannya yang terus menerus itu, massa air laut mempengaruhi massa udara yang ditemuinya dan merubah cuaca dan iklim di seluruh dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Arus di Kedalaman Samudera (Deep-water Circulation)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Faktor utama yang mengendalikan gerakan massa air laut di kedalaman samudera adalah densitas air laut. Perbedaan densitas diantara dua massa air laut yang berdampingan menyebabkan gerakan vertikal air laut dan menciptakan gerakan massa air laut-dalam (deep-water masses) yang bergerak melintasi samudera secara perlahan. Gerakan massa air laut-dalam tersebut kadang mempengaruhi sirkulasi permukaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perbedaan densitas massa air laut terutama disebabkan oleh perbedaan temperatur dan salinitas air laut. Oleh karena itu gerakan massa air laut-dalam tersebut disebut juga sebagai sirkulasi termohalin (thermohaline circulation). Model sirkulasi termohalin secara global dapat dilihat pada gambar berikut ini.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhil2G9GYzuvmbUfbO8FztvX8P88_R3Fxzp_oTKNzvsX5Ksk-KWmrnopryBSjSfssXFLmgX1s4M_ynoP5H4bdl2bvd5hYTbhDP3YyRpqA7a4jltqva3rVuA6I87zIc-xAG6EdxIm9T62_w4/s1600/Model+sirkulasi+termohalin+secara+global.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhil2G9GYzuvmbUfbO8FztvX8P88_R3Fxzp_oTKNzvsX5Ksk-KWmrnopryBSjSfssXFLmgX1s4M_ynoP5H4bdl2bvd5hYTbhDP3YyRpqA7a4jltqva3rVuA6I87zIc-xAG6EdxIm9T62_w4/s1600/Model+sirkulasi+termohalin+secara+global.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Model sirkulasi termohalin secara global&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.1 Arus Perairan Pesisir&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Arus Pasang Surut (Tidal Current)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arus pasang surut terjadi terutama karena gerakan pasang surut air laut. Arus ini terlihat jelas di perairan estuari atau muara sungai. Bila air laut bergerak menuju pasang, maka terlihat gerakan arus laut yang masuk ke dalam estuari atau alur sungai; sebaliknya ketika air laut bergerak menuju surut, maka terlihat gerakan arus laut mengalir ke luar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Arus Sepanjang Pantai (longshore current) dan Arus Rip (rip current)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua macam arus ini terjadi di perairan pesisir dekat pantai, dan terjadi karena gelombang mendekat dan memukul ke pantai dengan arah yang muring atau tegak lurus garis pantai. Arus sepanjang pantai bergerak menyusuri pantai, sedang arus rip bergerak menjauhi pantai dengan arah tegak lurus atau miring terhadap garis pantai.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4eYXiKR8oseS6pBGySzM8fR0JGRPUJOGbW3R3e2VGCCb5sHGvMNbi2l_K1GDnvvAjY1MbaHzSsb5plf9MHDJs0ORvIXQj6_MN_7CWYQ_XlYcYFk9frNoChr-sQb3t8ofyBN6iBmMa8dJq/s1600/Arus+sepanjang+pantai+dan+arus+rip.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4eYXiKR8oseS6pBGySzM8fR0JGRPUJOGbW3R3e2VGCCb5sHGvMNbi2l_K1GDnvvAjY1MbaHzSsb5plf9MHDJs0ORvIXQj6_MN_7CWYQ_XlYcYFk9frNoChr-sQb3t8ofyBN6iBmMa8dJq/s1600/Arus+sepanjang+pantai+dan+arus+rip.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Arus sepanjang pantai dan arus rip&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
2.4. Gelombang Laut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gelombang laut telah menjadi perhatian utama dalam catatan sejarah. Aristoteles (384 – 322 SM) mengamati hubungan antara angin dan gelombang. Namun, sampai sekarang, pengetahuan tentang mekanisme pembentukan gelombang dan bagaimana gelombang berjalan di lautan masih belum sempurna. Ini sebagian karena pengamatan karakteristik gelombang di laut sulit dilakukan dan sebagian karena model matematika tentang perilaku gelombang didasarkan pada dinamika fluida ideal, dan perairan laut tidak sepenuhnya ideal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gelombang/ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang laut dapat disebabkan oleh: angin (gelombang angin), gaya tarik menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau tektonik) di dasar laut (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam bidang teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut). Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh pada bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan membangkitkan arus dan mempengaruhi pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan sejajar pantai (longshore). Pada perencanaan teknis bidang teknik pantai, gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena akan menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan, menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut sebagai gelombang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOEVjIrKmrJ3-afgV9gVG5YZrIs3yAmNR4H9Gl2qA_rbKdIPpSdJecNiWXS5lSVveHbAtY3V8RJZZFzR3yEkdy4hwnjblj9JNQs-zzxjHFvkYEmffqiM4cUCfJ97qrGi7MkIhai7PJM9OS/s1600/Pergerakan+partikel+zat+cair+pada+gelombang..jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOEVjIrKmrJ3-afgV9gVG5YZrIs3yAmNR4H9Gl2qA_rbKdIPpSdJecNiWXS5lSVveHbAtY3V8RJZZFzR3yEkdy4hwnjblj9JNQs-zzxjHFvkYEmffqiM4cUCfJ97qrGi7MkIhai7PJM9OS/s1600/Pergerakan+partikel+zat+cair+pada+gelombang..jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiTl23GAJUZGEp6qQTSEujwNzcIRhjsRWtCQ0AOq2hEi7xAHw9Pitiv8ATcJ4_1xrYXs0Jo66muJaR_6sJpAH5dtdog-5XsMj_o4oKs3l_9BFODyCdDotN0QQ3nSmSf8K8DcavLMBbsch5/s1600/Pergerakan+partikel+zat+cair+pada+gelombang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiTl23GAJUZGEp6qQTSEujwNzcIRhjsRWtCQ0AOq2hEi7xAHw9Pitiv8ATcJ4_1xrYXs0Jo66muJaR_6sJpAH5dtdog-5XsMj_o4oKs3l_9BFODyCdDotN0QQ3nSmSf8K8DcavLMBbsch5/s1600/Pergerakan+partikel+zat+cair+pada+gelombang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Pergerakan partikel zat cair pada gelombang&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari gambar diatas sebenarnya pelampung bergerak dalam suatu lingkaran (orbital) ketika gelombang bergerak naik dan turun. Partikel air berada dalam satu tempat, bergerak di suatu lingkaran, naik dan turun dengan suatu gerakan kecil dari sisi satu kembali ke sisi semula. Gerakan ini memberi gambaran suatu bentuk gelombang. Pelampung yang mengapung di air pindah ke pola yang sama, naik turun di suatu lingkaran yang lambat, yang dibawa oleh pergerakan air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di bawah permukaan, gerakan berputar gelombang itu semakin mengecil. Ada gerak orbital yang mengecil seiring dengan kedalaman air, sehingga kemudian di dasar hanya akan meninggalkan suatu gerakan kecil mendatar dari sisi ke sisi yang disebut “surge” .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.4.1. Pengaruh Gelombang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada kondisi sesungguhnya di alam, pergerakan orbital di perairan dangkal (shallow water) dekat dengan kawasan pantai dan energi gelombang mampu mempengaruhi kondisi pantai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-Q0mcT26j9h185V37xUd_YNhz_5HUPkNG4PcF2Ih4gwGE-oM8s1VufGFZdPay7Y3iD4ntqDCAQBglYqDjpzbI9F_FOJHNmI6Dv7wBXT0oCG6XF3fJfm-sKeBedI3llT1hdPNdzLk6jNhz/s1600/Perubahan+bentuk+gelombang+yang+menjalar+mendekati+pantai.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-Q0mcT26j9h185V37xUd_YNhz_5HUPkNG4PcF2Ih4gwGE-oM8s1VufGFZdPay7Y3iD4ntqDCAQBglYqDjpzbI9F_FOJHNmI6Dv7wBXT0oCG6XF3fJfm-sKeBedI3llT1hdPNdzLk6jNhz/s1600/Perubahan+bentuk+gelombang+yang+menjalar+mendekati+pantai.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Perubahan bentuk gelombang yang menjalar mendekati pantai&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada dua tipe gelombang, bila dipandang dari sisi sifat-sifatnya, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Gelombang pembangun/pembentuk pantai (Constructive wave).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Gelombang perusak pantai (Destructive wave).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEPqNwXKC71LBwwHIrvN6iUrcj-s4nxWHlABmlwSi-Q1ydm88LyibQNRfBPTjVr8y0NFbVM2gNRLpOit2bV2IWunyJK8wU9sE5aXjCCDmNitBHukn4rZv3UXVcqjU4SXulB94OceTN8GHI/s1600/Gelombang+pembentuk+pantai.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEPqNwXKC71LBwwHIrvN6iUrcj-s4nxWHlABmlwSi-Q1ydm88LyibQNRfBPTjVr8y0NFbVM2gNRLpOit2bV2IWunyJK8wU9sE5aXjCCDmNitBHukn4rZv3UXVcqjU4SXulB94OceTN8GHI/s1600/Gelombang+pembentuk+pantai.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Gelombang pembentuk pantai&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yang kembali berputar mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Ketika gelombang datang kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air yang terkumpul dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhh4q9bCXdKPulghFpXaF_rFT21fL01lDZl7zxWjpPrLDDIoph7Rs1-4HbruZ7BT4xC-1Uv5cXFyTZpWW1USm2aAISsfYWh4PILJ4VnOdI7vdRbjKpYNyZq5kOoBnEeM6OWJqkZYNVTqaT0/s1600/Gelombang+perusak+pantai.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhh4q9bCXdKPulghFpXaF_rFT21fL01lDZl7zxWjpPrLDDIoph7Rs1-4HbruZ7BT4xC-1Uv5cXFyTZpWW1USm2aAISsfYWh4PILJ4VnOdI7vdRbjKpYNyZq5kOoBnEeM6OWJqkZYNVTqaT0/s1600/Gelombang+perusak+pantai.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Gelombang perusak pantai&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB III&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;MATERI DAN METODE&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.1. Metode Penghitungan Pasang Surut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adanya gaya tarik bumi dan benda langit (bulan dan matahari), gaya gravitasi bumi, perputaran bumi pada sumbunya dan perputaran bumi mengelilingi matahari menimbulkan pergeseran air laut, salah satu akibatnya adalah terjadinya pasang surut laut. Fenomena alam tersebut merupakan gerakan periodik, maka pasang surut yang ditimbulkan dapat dihitung dan diprediksikan (www.bakosurtanal.go.id).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam penelitian lebih lanjut diketahui bahwa untuk setiap tempat yang mengalami pasang surut mempunyai ciri tertentu yaitu besar pengaruh dari tiap-tiap komponen selalu tetap dan hal ini disebut tetapan pasang surut. Selama tidak terjadi perubahan pada keadaan geografinya, tetapan. tersebut tidak akan berubah. Apabila tetapan pasang surut untuk suatu tempat tertentu sudah diketahui maka besar pasang surut untuk setiap waktu dapat diramalkan (www. digilib.itb.ac.id).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Metode Tide Pole (Palem Pasut)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Metode yang digunakan untuk mengukur pasang surut yaitu dengan Tide Pole yang merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana yang berupa papan dengan tebal 1 – 2 inci dan lebar 4 – 5 inci. Sedangkan panjangnya harus lebih dari tunggang pasut. Dimana pemasangan tide pole ini haruslah pada kondisi muka air terendah (lowest water) skala nolnya masih terendam air, dan saat pasang tertinggi skala terbesar haruslah masih terlihat dari muka air tertinggi (highest water). Dengan demikian maka tinggi rendahnya muka air laut dapat kita ketahui dengan melihat menggunakan teropong atau melakukan pengamatan secara langsung mendekati pelem pasut tersebut, kita dapat mengetahui pola pasang surut pada suatu daerah pada waktu tertentu. Lokasi pemasangan palem pasut harus berada pada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak bergerak-gerak akibat gelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah kering pada saat kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu pasut yang dipakai sangat tergantung sekali pada kondisi pasut air laut di tempat tersebut. Pada prinsipnya bentuk rambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai pada pengukuran sifat datar (leveling). Perbedaannya hanya dalam mutu rambu yang dipakai. Mengingat bagian bawah palem pasut harus dipasang terendam air laut, maka palem dituntut pula harus terbuat dari bahan yang tahan air laut. Biasanya titik nol skala rambu diletakkan sama dengan muka surutan setempat, sehingga setiap saat tinggi permukaan air laut terhadap muka surutan tersebut atau kedalaman laut dapat diketahui berdasarkan pembacaan pada rambu. Palem pasut hampir selalu digunakan pada pelabuhan-pelabuhan laut. Dengan demikian hal ini sangat membantu bagi keamanan kapal yang akan berlabuh atau meninggalkan pelabuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alat yang diperlukan :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Alat pertukangan (palu, kayu)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bambu seperlunya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kerung Beras Plastik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Palem pasut yaitu papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeGxQy3FT2oxlGettiJqoTjgRK2NG2dt5KcocJXWaXqC-p93i2-vDQCz7Ey4WDG0IgWdepdnXYa2CrSyaYvMKWJN4v6vfduH1VlUQPrZkvrhvd_weR-gc1MO0Sl5SoYoCvf_ZrI1uh1VVo/s1600/papan+kayu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeGxQy3FT2oxlGettiJqoTjgRK2NG2dt5KcocJXWaXqC-p93i2-vDQCz7Ey4WDG0IgWdepdnXYa2CrSyaYvMKWJN4v6vfduH1VlUQPrZkvrhvd_weR-gc1MO0Sl5SoYoCvf_ZrI1uh1VVo/s1600/papan+kayu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; 1. Papan kayu 15 cm dan panjang 3 meter&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; 2. Tali nylon&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencatatan data Pasut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; 1. Pengamatan tinggi air dilaksanakan setiap 30 menit sekali dengan menggunakan palm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; 2. Pencatatan data pasut dilakukan dengan membaca ketinggian permukaan air yang ditunjukkan oleh &amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: white;"&gt;skala palem.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; 3. Dilakukan pada malam hari, hendaknya diterangi dengan menggunakan senter.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.2.Metode Pengukuran Arus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Float Tracking (Metode Lagrangian)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk mengukur arus laut menggunakan Float Tracking dengan prinsip kerja &amp;nbsp;berdasarkan pada gerak naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui &amp;nbsp;pelampung. &amp;nbsp;Alat ini harus dipasang pada tempat yang tidak begitu besar dipengaruhi oleh gerakan air laut sehingga pelampung dapat bergerak secara vertikal dengan bebas. Setelah itu, diamati pergerakan pelampung selama 5 menit. &amp;nbsp;Kemudian catat koordinat daerah kemana pelampung bergerak dengan GPS (Global Position System).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Alat yang diperlukan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Float Tracking : untuk mengukur arus&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXntJBmu3TYPAwOf0KG8QQmaIUrDVbxPNXjqQQ0gnOMI24M8DLXKzGytedoAcL4RLU1GGI2y4-FiY69p4Yq9_7Bq-d8uBYFBj7cULUOWxu26oQ7hUnkziCqt0Dp2bF0r7NqcpuJg70iPTH/s1600/pemberat+batu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXntJBmu3TYPAwOf0KG8QQmaIUrDVbxPNXjqQQ0gnOMI24M8DLXKzGytedoAcL4RLU1GGI2y4-FiY69p4Yq9_7Bq-d8uBYFBj7cULUOWxu26oQ7hUnkziCqt0Dp2bF0r7NqcpuJg70iPTH/s1600/pemberat+batu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
a. &amp;nbsp; GPS (Global Position System) : untuk mengetahui titik koordinat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvXRS1tjpDoU-xg3NexjzHyPB5z0G0aJiAxWimbeSQCKwakd9XHyUq0C-Xfu61OqafTpN3_SS2JXu2Hd5oVqig849aYsDvsEdSxQgWBqHbgbF7Dyy-z8WFy4sca3eLch-5ezAokVdPpfMt/s1600/gpsmap-545s.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvXRS1tjpDoU-xg3NexjzHyPB5z0G0aJiAxWimbeSQCKwakd9XHyUq0C-Xfu61OqafTpN3_SS2JXu2Hd5oVqig849aYsDvsEdSxQgWBqHbgbF7Dyy-z8WFy4sca3eLch-5ezAokVdPpfMt/s1600/gpsmap-545s.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kompas : untuk mengetahui arah pergerakan arus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Topdal (dari pelampung bola)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Stopwatch : untuk menghitung gelombang laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan cara kerja sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Persiapkan alat Float Tracking&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Lepaskan alat Float Tracking ke laut dengan jarak 15 meter dari pinggir pantai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
c. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Catat posisi waktu pelepasan dengan GPS. Biarkan Float Tracking hanyut mengikuti arus. Setelah rentang waktu 5 menit catat kembali posisi float tracking dengan GPS.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
d. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Catat semua kondisi local seperti cuaca (hujan, cerah) dan kondisi banjir, normal atau musim kemarau, laut dalam kondisi pasang atau surut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
e. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bilamana terjadi floating tracking berhenti karena pembeban mengenai dasar laut. Maka float tracking dapat dipindahkan kembali ke posisi pencatatan terakhir. Kemudian float tracking dilepas kembali.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
f. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Demikian seterusnya hingga float tracking berhenti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.2. Metode Pengukuran Gelombang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengukuran gelombang dilakukan dengan menggunakan Wave Pole, yaitu papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm. Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati puncak dan lembah, perhitungan periode gelombang dilakukan dengan menghitung waktu gerakan gelombang melewati titik tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peralatan lain yang digunakan :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Alat pertukangan (palu, kayu)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bambu seperlunya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kerung Beras Plastik&lt;/div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kompas dan Stopwatch&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB IV&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;HASIL PENGAMATAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
4.1. Pengukuran Pasang Surut&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam praktikum kali ini kita melakukan pengukuran pasang surut dengan metode Tide Pole (Palem Pasut), yaitu pengukuran dengan menggunakan rambu pasut sudah tertera angka-angka yang dapat menunjukkan ketinggian pasang surut terendah dan tertinggi. Praktikum ini dilakukan pada tanggal 31 – 1 Mei 2010 mulai pukul 14:00 s/d 12:00 WIB dengan kondisi cuaca yang relatif cerah, ombak sedang, angin berhembus sedikit kencang, semakin lama angin dan ombak semakin tinggi, dan air laut keruh. Hasil pengukuran berupa ketinggian air setiap 30 menit sekali. Berikut ini adalah data pasut yang diperoleh dari pengamatan yang kami lakukan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Tabel Pengamatan Pasut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;&lt;strong&gt;Waktu   Pengamatan (WIB)&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;&lt;strong&gt;Ketinggian   air (m)&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;14:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,69&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;14:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,85&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;15:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,75&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;15:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,9&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;16:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,8&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;16:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,7&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;17:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,8&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;17:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;18:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,7&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;18:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;21:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,28&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;21:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,28&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;22:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,3&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;&lt;strong&gt;Waktu   Pengamatan (WIB)&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;&lt;strong&gt;Ketinggian   air (m)&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;&lt;strong&gt;22:30&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,34&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;23:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,38&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;23:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,34&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;24:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,44&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;00:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,44&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;01:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,36&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;01:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,43&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;02:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,38&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;02:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,4&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;03:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,44&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;03:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,46&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;04:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,5&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;06:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,38&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;06:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,3&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;07:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,3&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;07:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,38&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;08:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,38&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;08:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,36&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;09:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,36&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;09:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,38&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;10:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,4&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;10:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,42&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;11:00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,41&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;11:30&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,58&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="225"&gt;12.00&lt;/td&gt;
&lt;td width="142"&gt;0,61&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;4.2. Pengukuran Arus&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam praktikum kali ini kita melakukan pengukuran arus dengan metode lagrangian (Float Tracking), yaitu pengukuran arus menggunakan alat Float tracking yang sederhana menggunakan topdal (dari pelampung bola) dan GPS ( Global Position System ), stopwatch, dan kompas. Prinsip kerjanya &amp;nbsp;berdasarkan pada gerak naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui &amp;nbsp;pelampung. &amp;nbsp; Pengukuran dilakukan pada tanggal 31 Mei 2010, tepatnya pada pukul 15.00 WIB dengan kondisi cuaca yang relatif cerah, ombak sedang, angin berhembus sedikit kencang, semakin lama angin dan ombak semakin tinggi, dan air laut keruh. Hasil pengukuran berupa data koordinat dengan pergerakan alat float tracking. Berikut ini beberapa koordinat yang didapat di beberapa titik tracking yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Titik A = S: 06º44’02.1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E: 108º35’11.2”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Titik B = S: 06º44’02.8”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E: 108º35’11.0”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Titik C = S: 06º44’03.1”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E: 108º35’10.9”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2. Pengukuran Gelombang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Data Gelombang&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="137"&gt;&lt;strong&gt;Puncak   Gelombang&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="126"&gt;&lt;strong&gt;Lembah   Gelombang&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;Periode&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2 m&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;Periode&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3 m&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;Periode&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4 m&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;Periode&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5 m&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="137"&gt;&lt;strong&gt;10.5&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="126"&gt;&lt;strong&gt;6.5&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.40&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.63&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.83&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.72&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="137"&gt;&lt;strong&gt;9&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="126"&gt;&lt;strong&gt;7&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.42&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.90&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.29&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.39&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="137"&gt;&lt;strong&gt;9.2&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="126"&gt;&lt;strong&gt;6.8&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.51&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.12&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.61&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.59&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="137"&gt;&lt;strong&gt;9.2&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="126"&gt;&lt;strong&gt;7.2&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.67&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.91&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.15&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.82&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="137"&gt;&lt;strong&gt;8.8&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="126"&gt;&lt;strong&gt;6.8&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;1.34&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.00&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.00&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="92"&gt;&lt;strong&gt;2.28&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB V&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.1. Pengukuran Pasang Surut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengamatan pasut secara langsung dilakukan pada tanggal 31 – 1 Mei 2010 sekitar pukul 15.00 – 12.00 WIB di Pantai Pelabuhan, Kejawanan, Cirebon selama 1 hari atau ± 24 jam, secara berkelompok dengan menggunakan peralatan antara lain : palm pasut dan teropong. Palm pasut diamati per 30 menit kemudian dicatat ketinggian air tertinggi dan air terendah. Dalam pengamatan mungkin terdapat kesalahan pengukuran ketinggian air karena faktor ketepatan dalam menentukan tinggi air. Setelah data yang didapatkan kemudian dimasukkan dalam table pengamatan pasut. Lalu, setelah data dimasukkan dalam tabel kemudian diplotkan dalam grafik. Dari grafik tersebut dapat terlihat bahwa dari ketinggian air jenis perairan tersebut memiliki tipe pasang surut Campuran Condong Harian Ganda (Mixed Tide predominantly Semi-diurnal Tide). &amp;nbsp;Karena di perairan Cirebon cenderung terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Disini terlihat bahwa gerakan naik turun tidak stabil karena pada saat pukul 21:00 mulai surut dan mulai naik turun pasang surutnya. Dan pada saat puku 09:00 pagi pasang mulai terlihat secara perlahan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini grafik pasut yang telah diplotkan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBbl91rr5Y-aOwGsQo4w-Mt6SXdK1BFPlB4Iqw1oY9TEW3vWwwPkYSeDyppT5z92YnLUG2tBgpWkDLGrcAMNmqEpelyB2svq-SY4N04t7l9gnOYQU8_Uny0UEBvY0Lu_UAOzaaW-HamkQc/s1600/Grafik+Pasang+Surut.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBbl91rr5Y-aOwGsQo4w-Mt6SXdK1BFPlB4Iqw1oY9TEW3vWwwPkYSeDyppT5z92YnLUG2tBgpWkDLGrcAMNmqEpelyB2svq-SY4N04t7l9gnOYQU8_Uny0UEBvY0Lu_UAOzaaW-HamkQc/s1600/Grafik+Pasang+Surut.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan Data Pengamatan dari data sekunder yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="width: 322px;"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="171"&gt;&lt;strong&gt;Waktu Pengamatan (WIB)&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="151"&gt;&lt;strong&gt;Ketinggian air (m)&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;14:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,9&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;15:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,9&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;15:30&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,9&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;16:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,9&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;17:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,8&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;18:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,7&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;19:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;20:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,5&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;21:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,4&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;22:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,4&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;23:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,5&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;24:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,5&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;01:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;02:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;03:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,7&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;04:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;05:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;06:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,5&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;07:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,4&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;08:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,4&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;09:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,4&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;10:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,5&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;11:00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,6&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="bottom" width="171"&gt;12.00&lt;/td&gt;
&lt;td valign="bottom" width="151"&gt;0,7&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDMTMWdCh5SAmfCLf4i4hqD5BMNBP17AsUh82otXoFCSO8BNctpe5M9o57P9qrTr_AqcrSWeZH7zbJNMXUgJzmvihyphenhyphen8L7whTBd_TJ8ur5LrYCPvwMfM9TGvqLBgVKZNDH8zt9sjTUOpEnd/s1600/grafik+pasang+surut.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDMTMWdCh5SAmfCLf4i4hqD5BMNBP17AsUh82otXoFCSO8BNctpe5M9o57P9qrTr_AqcrSWeZH7zbJNMXUgJzmvihyphenhyphen8L7whTBd_TJ8ur5LrYCPvwMfM9TGvqLBgVKZNDH8zt9sjTUOpEnd/s1600/grafik+pasang+surut.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Grafik di atas menunjukkan bahwa grafik di atas tidak jauh berbeda dengan data yang kelompok kami amati. Jenis &amp;nbsp;tipe pasang surut Campuran Condong Harian Ganda (Mixed Tide predominantly Semi-diurnal Tide). Karena pasang dan surutnya tidak stabil. Pada pukul 21.00 terlihat mulai surut, kemudian mulai pasang pada pukul 10:00 pagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;GRAFIK PASANG SURUT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhDBEOxPMdbTYsyErADd9MYkS0llTZ6Y5GTvNhfRKKsieh5rS003V4AZzYsewdaaPR-IJmfflXP1nwTlYI_K_VBcWWsiJD_L_04ueX8S9ydtQo6h4NSk1NrR6M5KTRLVbJFJVeKJnpNdQ7/s1600/grafik+pasang+surut..jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhDBEOxPMdbTYsyErADd9MYkS0llTZ6Y5GTvNhfRKKsieh5rS003V4AZzYsewdaaPR-IJmfflXP1nwTlYI_K_VBcWWsiJD_L_04ueX8S9ydtQo6h4NSk1NrR6M5KTRLVbJFJVeKJnpNdQ7/s1600/grafik+pasang+surut..jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.2. Pengukuran Arus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengamatan arus secara langsung dilakukan pada tanggal 31 Mei 2010 sekitar pukul 15.00 WIB secara berkelompok dengan menggunakan peralatan antara lain : GPS, stopwatch, kompas, dan alat float tacking yang sederhana menggunakan topdal (dari pelampung bola). Kemudian cara kerjanya dengan mengamati arah pergerakan permukaan laut yang kemudian dicatat dengan GPS dengan waktu 5 menit sekali. Dalam pengamatan mungkin terdapat kekurangan dalam mengambil titik tracking karena adanya keterbatasan waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah didapat beberapa koodinat di beberapa titik tracking, maka selanjutnya koordinat yang paling selatan dan koordinat yang paling timur diurutkan dan dapat disusun pada tabel sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;strong&gt;No&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="284"&gt;&lt;strong&gt;South&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="256"&gt;&lt;strong&gt;East&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="284"&gt;&lt;strong&gt;06º44’03.1”&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="256"&gt;&lt;strong&gt;108º35’11.2”&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="284"&gt;&lt;strong&gt;06º44’02.8”&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="256"&gt;&lt;strong&gt;108º35’11.0”&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="45"&gt;&lt;strong&gt;3.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="284"&gt;&lt;strong&gt;06º44’02.1”&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="256"&gt;&lt;strong&gt;108º35’10.9”&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian diplotkan dalam kertas grafik yang memperlihatkan arah pergerakan arus. Grafik pergerakan arus dapat digambarkan pada grafik di bawah ini :&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbCAGWm0NREp4-PQ6X5M1u7uqlUHItumbPhGrIVpZjD1gao-1jzrUUsHcGYGbvOPhPkn4bQrVkWmA31L933bmxi5Rg_ewRK3itKU8qFvuWDz7iLVi7m93FhBhTGXkD1_ZA-Jx_mxAu_gve/s1600/Grafik+pergerakan+arus.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbCAGWm0NREp4-PQ6X5M1u7uqlUHItumbPhGrIVpZjD1gao-1jzrUUsHcGYGbvOPhPkn4bQrVkWmA31L933bmxi5Rg_ewRK3itKU8qFvuWDz7iLVi7m93FhBhTGXkD1_ZA-Jx_mxAu_gve/s1600/Grafik+pergerakan+arus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari gambar grafik yang telah diplotkan di atas, kemudian perlu menghitung variabel kecepatannya, yaitu dengan cara menghitung jarak tempuh arus selama selang waktu yang ditentukan yaitu selama &amp;nbsp;5 menit sekali dengan rumus kecepatan &amp;nbsp;:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berikut perhitungannya:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Titik A (x,y) = (2.1 , 11.2)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Titik B (x,y) = (2.8, 11.0)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Titik C (x,y) = (3.1, 10,9)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jarak titik A ke B dapat kita hitung AB = √(2.1-2.8)2 + (11.2-11)2&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
= √0,49 + 0.4 = 1.1&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena jarak AB masih dalam detik, maka kita ubah ke dalam meter dengan persamaan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1 menit = 1 mil = 1852 m.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, jarak dalam meter di dapat 33,95 m dengan selang waktu 5 menit ( 300 detik )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
V AB = &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; V = &amp;nbsp; = &amp;nbsp; 0,113 m ∕ s&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jarak dari titik &amp;nbsp;B ke C dapat kita hitung BC = √(2.8-3.1)2 + (11.0-10,9)2&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
= √0,09 + 0.01 = 0,31&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
V BC= &amp;nbsp;0,31m ∕ s&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah didapat beberapa nilai kecepatan arus di beberapa titik, kita bisa menghitung &amp;nbsp;kecepatan arus rata-ratanya dalam selang waktu praktikum pengukuran ( 5menit x 2 ), yaitu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v AB+ v BC = &amp;nbsp;0.113+0.31 = &amp;nbsp;0,212 &amp;nbsp;m ∕ s&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2 &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;2&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi dari perhitungan diatas didapat nilai kecepatan rata-rata arus saat pengukuran adalah &amp;nbsp;0,212 m ∕ s &amp;nbsp;dari arah barat menuju ke timur&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari hasil pengolahan data , kita dapat melihat bahwa arus bergerak dari arah barat menuju timur, kita dapat melihat bahwa arus bergerak dari arah barat menuju timur. Seperti yang diketahui, pola arus di lautan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu; arus yang disebabkan akibat sebaran densitas air laut yang tidak merata, arus akibat pergerakan angin di permukaan dan arus yang ditimbulkan oleh pasang surut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada praktikum kali ini dilaksanakan di pantai Pelabuhan Kejawanan Cirebon pada bulan Mei &amp;nbsp;yang berarti angin yang berhembus adalah angin yang dipengaruhi angin Muson Barat (bulan Oktober-Mei) yang menyebabkan Benua Australia musim panas, sehingga bertekanan rendah. Sedangkan Benua Asia lebih dingin, sehingga tekanannya tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg36ie0eYALerzl5H-jq2MCdF30955f-_Fumbfz1ifRJXtKJL4mMwPUn58vkCtY8LkVP0WT1LySmzzstSPCa562U6VoNPZPTe57XAkc0Q9kQ7Nxkkqbvk3ndrB7PRo2EZQ3xlj-xyY-H45n/s1600/rata+rata+arah+angin+bulanan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg36ie0eYALerzl5H-jq2MCdF30955f-_Fumbfz1ifRJXtKJL4mMwPUn58vkCtY8LkVP0WT1LySmzzstSPCa562U6VoNPZPTe57XAkc0Q9kQ7Nxkkqbvk3ndrB7PRo2EZQ3xlj-xyY-H45n/s320/rata+rata+arah+angin+bulanan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nampak gambar pada gambar di atas selama musim barat, Angin ini bertiup saat matahari berada di belahan bumi selatan, dan terlihat arus angin dari daratan Asia ke selatan bertemu dengan arus angin dari Australia yang ke utara berarti daerah perairan Cirebon, arah pergerakan arus laut &amp;nbsp;bergerak dari barat ke timur.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;5.3.&amp;nbsp; Pengukuran Gelombang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td width="43"&gt;&lt;strong&gt;No.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="162"&gt;&lt;strong&gt;Waktu Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="144"&gt;&lt;strong&gt;Tinggi Gelombang&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="150"&gt;&lt;strong&gt;Periode gelombang 5 meter&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td width="132"&gt;&lt;strong&gt;Arah gelombang&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt;14.30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt;40 cm&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt;2.28 detik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt;Menuju Pantai&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt;14.30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt;24 cm&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt;2.39 detik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt;Menuju Pantai&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;3.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt;14.30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt;24 cm&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt;2.59 detik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt;Menuju Pantai&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;4.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt;14.30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt;20 cm&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt;2.72 detik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt;Menuju Pantai&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;5.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt;14.30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt;20 cm&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt;2.52 detik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt;Menuju Pantai&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;6.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt;14.30 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt;20 cm&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt;2.82 detik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt;Menuju Pantai&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;7.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;8.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;9.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top" width="43"&gt;&lt;strong&gt;10.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="162"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td colspan="2" valign="top" width="205"&gt;&lt;strong&gt;Rata-rata =&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="144"&gt;&lt;strong&gt;24.67 cm&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="150"&gt;&lt;strong&gt;2.55 detik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td valign="top" width="132"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
&lt;strong&gt;Tinggi Gelombang Signifikan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-weight: bold;"&gt;
v &amp;nbsp;33% x 6 = 1.8 (2)&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-weight: bold;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-weight: bold;"&gt;
Ø &amp;nbsp;Pembahasan Pengukuran Gelombang&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-weight: bold;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengamatan gelombang secara langsung dilakukan pada sekitar pukul 14.30 WIB secara berkelompok dengan pola kerjasama dengan menggunakan peralatan antara lain: wave pole (papan kayu panjang 4 meter berskala tiap 20 cm) yang dibawahnya di kaitkan dengan karung beras berisi pasir yang berfungsi sebagai pemberat yang menstabilkan tegakkan wave pole, stopwatch yang berfungsi menghitung waktu, dan buku pencatat gelombang yang berfungsi mencatat hasil-hasil pengamatan. Pengamatan gelombang yang dilakukan yaitu mengukur tinggi gelombang dan menghitung periode gelombang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati batas puncak gelombang dan batas lembah gelombang yang melewati wave pole yang kami letakkan di sekitar 30 meter dari garis pantai untuk kemudian dicatat. Perhitungan periode gelombang dilakukan dengan cara ; pertama, menentukan titik tetap dari letak wave pole dengan jarak 2 meter, 3 meter, 4 meter, dan 5 meter yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukan periode/waktu gelombang. Periode gelombang di hitung pada saat gelombang melewati wave pole sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang tadi telah ditentukan (perhitungan periode gelombang ini dilakukan sebanyak 5 kali ulangan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam melakukan setiap pengamatan, kami tidak secara sembarangan menentukan gelombang datang yang akan kami amati, akan tetapi kami menentukan gelombang berdasarkan kriteria tertentu yang di antaranya: gelombang tidak rusak terkena pengaruh dari gelombang lain (bertumbukan, belok), gelombang harus gelombang yang sempurna atau masih utuh / belum pecah, dan gelombang datang searah horizontal terhadap letak kami berdiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam melakukan pengamatan gelombang, terdapat beberapa kendala yang terjadi, salah satunya yaitu wave pole kurang sempurna berdiri vertikal disebabkan kurangnya karung berisi pasir dan kuatnya gelombang serta arus yang membuat wave pole menjadi miring. Hal tersebut tentu saja mengganggu pengamatan kami dalam hal keakuratan hasil pengamatan gelombang yang kami dapatkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
BAB VI&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
KESIMPULAN&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah praktikum dilaksanakan di Pantai Pelabuhan Kejawanan Cirebon pada tanggal 31 Mei – 1 Juni 2010. Disana kami melakukan pengambilan data arus, pasang-surut, dan gelombang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari pengolahan data tersebut kami peroleh hasil bahwa jenis perairan tersebut memiliki tipe pasang surut Campuran Condong Harian Ganda (Mixed Tide predominantly Semi-diurnal Tide), arus di perairan tersebut bergerak dari arah barat menuju timur karena angin dipengaruhi angin Muson Barat (bulan Oktober-Mei) yang menyebabkan Benua Australia musim panas, sehingga bertekanan rendah. Sedangkan Benua Asia lebih dingin, sehingga tekanannya tinggi. Gelombang pada perairan tersebut tidak terlalu besar karena topografi perairan yang landai merupakan perairan pantai utara yang tenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- Wibisono, M.S. (2005) Pengantar Ilmu Kelautan, Grasindo : Jakarta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Supangat, Agus. (2000) Pengantar Oseanografi, ITB : Bandung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Nontji, Anugerah, Dr. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Triatmodjo, Bambang. 1996. Pelabuhan. Beta Offset. Yogyakarta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Triatmadja , Radianta. 2010. Teknik Pantai. http://elisa.ugm.ac.id/ teknik pantai&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Anonim, 2010. ARUS-LAUT http://thebloghub.com/pages/Aku-Cinta-Bahari/ arus laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Anonim, 2010. Gelombang-Laut .http://faiqun.edublogs.org/2008/04/13/gelombang-laut/&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Anonim, 2010. Pasang Surut. http://www.geography.learnontheinternet.co.uk/pasang surut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Anonim, 2010. http://www.operationaloceanography-brokdkp.com/index.php?news=14&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Anonim, 2010. http://rageagainst.multiply.com/journal/item/35&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt5kxNwmxrJ1RJcHxOvvjNdQIcrdANazILMkHI_6JCJQ54d9YYNz1XQAxN2BrJm3Is7VDo5aDBYZaWmnUe8p_lX8g-V59wlhapo10aAKWuFPKL945I0nhPf55SayA2LIX3Avu6Ck8VXK4q/s72-c/Gambar.+Spring+Tide+dan+Neap+Tide.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Geologi Kelautan (Oseanografi Geologi)</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/geologi-kelautan-oseanografi-geologi.html</link><category>Geologi Kelautan</category><category>Hydrosfer</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 8 Jul 2012 02:15:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-3907629424014746549</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB I&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.Latar Belakang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki seismisitas tinggi, dengan kata lain daerah yang sangat sering terjadi gempa. &amp;nbsp;Gempa terjadi karena terjadinya tumbukan (tabrakan) antara dua lempeng tektonik&#157; baik itu oceanic crust (lempeng samudera) dengan continet crust (lempeng benua) maupun antara crust yang sama. Di samping itu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk dapat memahami mengapa dan bagaimana salinitas samudera dapat terjadi kita perlu paling tidak sedikit mengerti tentang konsep tektonik . &amp;nbsp;Mempelajari konsep tektonik atau istilah yang sering dipakai para geologist yaitu Teori Tektonik Lempeng&#157;yang berarti mempelajari mekanisme bumi itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.Perumusan Masalah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keberlangsungan hidup suatu ekosistem tidak bisa lepas dari perngaruh lingkungan atau habitat yang mengelilinginya. Pengaruh tersebut antara lain dikarenakan oleh adanya gejala alam seperti terjadinya pergerakan tektonik divergen yang nantinya dari gejala alam ini akan terbentuk perbedaan sebaran salinitas lingkungan (samudera). Dalam makalah ini sorotan masalah utama kami adalah mempelajari pengaruh akibat terjadinya kedaan tektonik divergen lempeng terhadap sebaran salinitas samudra.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.Maksud dan Tujuan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan disusunya makalah yang berjudul “PENGARUH KONDISI TEKTONIK LEMPENG DIVERGEN TERHADAP SEBARAN SALINITAS SAMUDERA” diharapkan menjadi salah satu sumber referensi pada kegiatan belajar-mengajar mata kuliah Oseanografi Geololgi bagi sarjana S1 Ilmu Kelautan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN UMUM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1. Pergerakan Lempeng (Plate Movement)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan arah pergerakannya, perbatasan antara lempeng tektonik yang satu dengan lainnya (plate boundaries) terbagi dalam 3 jenis, yaitu divergen, konvergen, dan transform. Selain itu ada jenis lain yang cukup kompleks namun jarang, yaitu pertemuan simpang tiga (triple junction) dimana tiga lempeng kerak bertemu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.1. Batas Divergen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling memberai (break apart). Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan terbelah, membentuk batas divergen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada lempeng samudra, proses ini menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor spreading). Sedangkan pada lempeng benua, proses ini menyebabkan terbentuknya lembah retakan (rift valley) akibat adanya celah antara kedua lempeng yang saling menjauh tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pematang Tengah-Atlantik (Mid-Atlantic Ridge) adalah salah satu contoh divergensi yang paling terkenal, membujur dari utara ke selatan di sepanjang Samudra Atlantik, membatasi Benua Eropa dan Afrika dengan Benua Amerika. (Gambar 1)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.2. Batas Konvergen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan (consumed) ke arah kerak bumi, yang mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu satu sama lain (one slip beneath another).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng benua atau lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman (subduction zones). Di zona tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang gunung-api (volcanic ridges) dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini. (gambar 2)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Batas konvergen ada 3 macam, yaitu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1)antara lempeng benua dengan lempeng samudra,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2)antara dua lempeng samudra, dan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) antara dua lempeng benua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konvergen lempeng benua—samudra (Oceanic—Continental)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(gambar 3)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika suatu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua, lempeng ini masuk ke lapisan astenosfer yang suhunya lebih tinggi, kemudian meleleh. Pada lapisan litosfer tepat di atasnya, terbentuklah deretan gunung berapi (volcanic mountain range). Sementara di dasar laut tepat di bagian terjadi penunjaman, terbentuklah parit samudra (oceanic trench).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah salah satu pegunungan yang terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng Nazka dan Lempeng Amerika Selatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konvergen lempeng samudra—samudra (Oceanic—Oceanic)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Gambar 4)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng samudra lainnya, menyebabkan terbentuknya parit di dasar laut, dan deretan gunung berapi yang pararel terhadap parit tersebut, juga di dasar laut. Puncak sebagian gunung berapi ini ada yang timbul sampai ke permukaan, membentuk gugusan pulau vulkanik (volcanic island chain).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pulau Aleutian di Alaska adalah salah satu contoh pulau vulkanik dari proses ini. Pulau ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konvergen lempeng benua—benua (Continental—Continental)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(gambar 5)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu lempeng benua menunjam ke bawah lempeng benua lainnya. Karena keduanya adalah lempeng benua, materialnya tidak terlalu padat dan tidak cukup berat untuk tenggelam masuk ke astenosfer dan meleleh. Wilayah di bagian yang bertumbukan mengeras dan menebal, membentuk deretan pegunungan non vulkanik (mountain range).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pegunungan Himalaya dan Plato Tibet adalah salah satu contoh pegunungan yang terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Negeri kita tercinta berada di dekat batas lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia. Jenis batas antara kedua lempeng ini adalah konvergen. Lempeng Indo-Australia adalah lempeng yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Selain itu di bagian timur, bertemu 3 lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Philipina, Pasifik, dan Indo-Australia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.3. Batas Transform&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar (slide each other), yaitu bergerak sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling memberai maupun saling menumpu. Batas transform ini juga dikenal sebagai sesar ubahan-bentuk (transform fault). (gambar 6)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Batas transform umumnya berada di dasar laut, namun ada juga yang berada di daratan, salah satunya adalah Sesar San Andreas (San Andreas Fault) di California, USA. Sesar ini merupakan pertemuan antara Lempeng Amerika Utara yang bergerak ke arah tenggara, dengan Lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat laut. (gambar 7)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, subduksi antara dua lempeng menyebabkan terbentuknya deretan gunung berapi dan parit samudra. Demikian pula subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menyebabkan terbentuknya deretan gunung berapi yang tak lain adalah Bukit Barisan di Pulau Sumatra dan deretan gunung berapi di sepanjang Pulau Jawa, Bali dan Lombok, serta parit samudra yang tak lain adalah Parit Jawa (Sunda).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng tektonik terus bergerak. Suatu saat gerakannya mengalami gesekan atau benturan yang cukup keras. Bila ini terjadi, timbullah gempa dan tsunami, dan meningkatnya kenaikan magma ke permukaan. Jadi, tidak heran bila terjadi gempa yang bersumber dari dasar Samudra Hindia, yang seringkali diikuti dengan tsunami, aktivitas gunung berapi di sepanjang pulau Sumatra dan Jawa juga turut meningkat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.4. Jenis-jenis Batas Lempeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiga jenis batas lempeng (plate boundary). (gambar 8)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang (Japanese island arc).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.5. Kekuatan Penggerak Pergerakan Lempeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer samudera dan karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelepasan panas dari mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energi yang menggerakkan tektonik lempeng. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat pergerakan lempeng. Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak pergerakan lempeng. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempeng untuk bergerak secara mudah menuju ke arah zona subduksi [19] Meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak pergerakan lempeng, masih ada gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempeng seperti lempeng Amerika Utara, juga lempeng Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik penelitian intensif dan diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi. Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik) menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy forces) [20] Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini harus dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan gravitasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.6. Gaya Gesek&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Basal drag&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga pergerakan didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Slab suction&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di palung samudera. Penyerotan lempengan (slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi lempengan, atas dan bawah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.7. Gravitasi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Runtuhan gravitasi: Pergerakan lempeng terjadi karena lebih tingginya lempeng di oceanic ridge. Litosfer samudera yang dingin menjadi lebih padat daripada mantel panas yang merupakan sumbernya, maka dengan ketebalan yang semakin meningkat lempeng ini tenggelam ke dalam mantel untuk mengkompensasikan beratnya, menghasilkan sedikit inklinasi lateral proporsional dengan jarak dari sumbu ini. :Dalam teks-teks geologi pada pendidikan dasar, proses ini sering disebut sebagai sebuah doronga. Namun, sebenarnya sebutan yang lebih tepat adalah runtuhan karena topografi sebuah lempeng bisa jadi sangat berbeda-beda dan topografi pematang (ridge) yang melakukan pemekaran hanyalah fitur yang paling dominan. Sebagai contoh, pembengkakan litosfer sebelum ia turun ke bawah lempeng yang bersebelahan menghasilkan kenampakan yang bisa mempengaruhi topografi. Lalu, mantel plume yang menekan sisi bawah lempeng tektonik bisa juga mengubah topografi dasar samudera.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Slab-pull (tarikan lempengan)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat lempeng yang dingin dan padat yang turun ke mantel di palung samudera.[21] Ada bukti yang cukup banyak bahwa konveksi juga terjadi di mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di mid-oceanic ridge mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini. Beberapa model awal Tektonik Lempeng menggambarkan bahwa lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti ban berjalan. Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer tidaklah cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan pergerakan oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab pull sendiri sangat mungkin menjadi gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang lebih baru juga memberi peranan yang penting pada penyerotan (suction) di palung, tetapi lempeng seperti Lempeng Amerika Utara tidak mengalami subduksi di manapun juga, tetapi juga mengalami pergerakan seperti juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antarktika. Kekuatan penggerak utama untuk pergerakan lempeng dan sumber energinya itu sendiri masih menjadi bahan riset yang sedang berlangsung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.8. Gaya dari luar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam studi yang dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006 dari buletin Geological Society of America Bulletin, sebuah tim ilmuwan dari Italia dan Amerika Serikat berpendapat bahwa komponen lempeng yang mengarah ke barat berasal dari rotasi Bumi dan gesekan pasang bulan yang mengikutinya. Mereka berkata karena Bumi berputar ke timur di bawah bulan, gravitasi bulan meskipun sangat kecil menarik lapisan permuikaan bumi kembali ke barat. Beberapa juga mengemukakan ide kontroversial bahwa hasil ini mungkin juga menjelaskan mengapa Venus dan Mars tidak memiliki lempeng tektonik, yaitu karena ketiadaan bulan di Venus dan kecilnya ukuran bulan Mars untuk memberi efek seperti pasang di bumi.[22] Pemikiran ini sendiri sebetulnya tidaklah baru. Hal ini sendiri aslinya dikemukakan oleh bapak dari hipotesis ini sendiri, Alfred Wegener, dan kemudian ditentang fisikawan Harold Jeffreys yang menghitung bahwa besarnya gaya gesek oasang yang diperlukan akan dengan cepat membawa rotasi bumi untuk berhenti sejak waktu lama. Banyak lempeng juga bergerak ke utara dan barat, bahkan banyaknya pergerakan ke barat dasar Samudera Pasifik adalah jika dilihat dari sudut pandang pusat pemekaran (spreading) di Samudera Pasifik yang mengarah ke timur. Dikatakan juga bahwa relatif dengan mantel bawah, ada sedikit komponen yang mengarah ke barat pada pergerakan semua lempeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.1.9. Signifikansi relatif masing-masing mekanisme&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan lempeng berdasar pada data satelit GPS NASA JPL. Vektor di sini menunjukkan arah dan magnitudo gerakan. (gambar 9)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Vektor yang sebenarnya pada pergerakan sebuah planet harusnya menjadi fungsi semua gaya yang bekerja pada lempeng itu. Namun, masalahnya adalah seberapa besar setiap proses ambil bagian dalam pergerakan setiap lempeng Keragaman kondisi geodinamik dan sifat setiap lempeng seharusnya menghasilkan perbedaan dalam seberapa proses-proses tersebut secara aktif menggerakkan lempeng. satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melihat laju di mana setiap lempeng bergerak dan mempertimbangkan bukti yang ada untuk setiap kekuatan penggerak dari lempeng ini sejauh mungkin. Salah satu hubungan terpenting yang ditemukan adalah bahwa lempeng litosferik yang lengket pada lempeng yang tersubduksi bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng yang tidak. Misalnya, Lempeng Pasifik dikelilingi zona subduksi (Ring of Fire) sehingga bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng di Atlantik yang lengket pada benua yang berdekatan dan bukan lempeng tersubduksi. Maka, gaya yang berhubungkan dengan lempeng yang bergerak ke bawah (slab pull dan slab suction) adalah kekuatan penggerak yang menentukan pergerakan lempeng kecuali untuk lempeng yang tidak disubduksikan. Walau bagaimanapun juga, kekuatan penggerak pergerakan lempeng itu sendiri masih menjadi bahan perdebatan dan riset para ilmuwan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB III&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN KHUSUS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.1. Teori Tektonik Lempeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bumi itu dinamis, tidak statis, didalam perut bumi inti bumi cair liquid outer core&#157; yang sangat panas terus berputar mengelilingi inti bumi padat solid inner core yang dipercaya merupakan metal. &amp;nbsp;Pengaruhnya terhadap magnet bumi membuat bumi mempunyai 2 kutub magnet bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ada banyak lempeng benua dan lempeng samudera yang bergerak dengan arah dan kecepatan tertentu. &amp;nbsp;Dibawah lithosphere adalah asthenosphere dimana terdapat dapur magma yang sangat panas dan dinamis berputar dengan siklusnya sendiri. &amp;nbsp;Ini mendorong lithosphere dimana terdapat plate diatasnya untuk bergerak dan SELALU BERGERAK. Gerakan awalnya sendiri (kita anggap awal karena merupakan sumber dorongan) dari tempat naiknya magma yang mendorong lapisan diatasnya untuk bergerak (magma yang keluar nanti setelah dingin dan membeku ikut membetuk lapisan itu sendiri). &amp;nbsp;Daerah itu disebut Divergent margin (atau biasa dikenal dengan spreading center) bisa juga disebut daerah bukaan. &amp;nbsp;Karena lempeng-lempeng bergerak, maka ada yang saling bertumbukan atau bertabrakan yang disebut Convergent Margin. &amp;nbsp;Convergent margin sendiri ada dua jenis, yaitu subduction (dimana terjadi penunjaman) dan collision (terjadi pengangkatansepertiHimalaya).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Dibawah ini kita lihat gambaran plate tektonik seluruh dunia dan daerah-daerah divergen maupun convergent margin. (gambar 10)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Daerah Divergen biasanya berada di dasar samudera dan membelah dasar samudera karena memang sumber magmanya sendiri yang mendorong lapisan batuan didasar samudera bergerak berasal dari lapisan asthenosphere &amp;nbsp;dibawahnya. &amp;nbsp;Namun ada beberapa tempat kondisi ini mendorong daratan diatasnya untuk saling menjauh (seperti di Afrika Timur dan Iceland). Jadi, pada dasarnya ada plate saling menjauh, dan ada plate yang saling menekan,dan TERUS SALING MENEKAN. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kondisi tektonik di asia tenggara sangat-sangat komplek. &amp;nbsp;Untuk Indonesia sendiri, secara umum, dasar samudera pada bagian luar dari pantai terluar di Indonesia merupakan daerah convergen dimana merupakan tempat tumbukan antara dua lempeng (atau lebih untuk daerah Indonesia Timur), disebut juga subduction zone. &amp;nbsp;Dan di sepanjang jalur subduction zone tersebut itulah jalur gempa terjadi (Kecuali untuk gempa-gempa di darat).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB IV&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.1. â€¢ &amp;nbsp; Mekanisme Gempa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Secara sederhana terjadinya gempa dapat dijelaskan karena patah, atau karena adanya patahan (disebut juga fault atau biasa disebut juga sesar oleh para geologist). Patahnya adalah batuan, batuan yang berlapis-lapis yang menyusun permukaan bumi. (gambar 11)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Batuan memang bisa berlapis dan bisa patah, bahkan sebelum patah dia terbengkokkan (folding) dulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dibawah ini adalah beberapa gambar yang menunjukkan hal tersebut ternyata ada disekitar kita walau kita jarang memperhatikannya. (gambar 12)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Secara umum ada tiga jenis patahan atau sesar, menurut mekanismenya, sesar naik (thrust fault atau reverse fault), sesar mendatar atau sesar geser (strike slip), dan sesar normal (normal fault).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Jadi secara umum bisa dikatakan gempa terjadi ketika batuan patah, baik itu patah dan naik, patah dan bergeser, maupun patah dan turun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Patahan terjadi dikarenakan batuan mengalami tekanan ataupun tarikan secara terus menerus. &amp;nbsp;Apabila elastisitas batuan sudah jenuh, maka batuan akan patah untuk melepaskan energi dari tekanan dan tarikan tersebut. &amp;nbsp;Disaat menerima tekanan batuan akan terbengkokkan, dan setelah melepaskan tekanannya batuan akan kembali ke bentuknya semula, ini dikenal dengan Elastic Rebound Theory&#157;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian semakin menjelaskan kenapa pada jalur subduction zone merupakan jalur gempa, atau merupakan tempat dimana pusat gempa terjadi. &amp;nbsp;Subduction zone merupakan zona dimana bertemunya dua lempeng, maka disitulah tempat yang mengalami tekanan secara terus menerus selama jutaan tahun yang lalu sampai sekarang. &amp;nbsp;Pada saat energi tekanan semakin besar dan elastisitas batuannya sudah jenuh maka dia akan patah untuk melepaskan energi tekanan tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Jadi gempa terjadi BUKAN karena tumbukan dua lempeng seperti 2 mobil yang saling bertabrakan yang asalnya saling jauh kemudian secara tiba-tiba saling bertabrakan sehingga terjadi crash, memang untuk subduction zone gempa terjadi karena interaksi antara dua lempeng yang saling menekan sehingga terakumulasi energi yang cukup besar, gempanya sendiri terjadi karena kondisi batuan pada lempeng (crust) maupun/ataupun pada lithosphere patah untuk melepaskan energi tekanan yang sudah tertumpuk disana selama kurun waktu tertentu. &amp;nbsp;Mekanisme pelepasan energi gempa pun bermacam-macam dan masih menjadi penelitian yang menarik bagi para peneliti di bidang geosience dankegempaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gempa yang terjadi di subduction zone di Indonesia bisa merupakan gempa dangkal (shallow earthquake), menengah (intermediate earthquake), dan dalam (deep earthquake). &amp;nbsp;Saya tidak akan membahas mengenai hal ini dalam uraian ini karena mekanisme ketiga jenis gempa tersebut berbeda dan membutuhkan uraian tersendiri untuk pembahasannya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bagaimana untuk gempa yang di darat?. &amp;nbsp;Konsep dasarnya sama, itu terjadi karena adanya tekanan atau tarikan dari kondisi tektonik bumi, kondisi geologi maupun kondisi morfologi. &amp;nbsp;Maka di darat pun dapat muncul sesar-sesar baru yang terjadi akibat gempa tektonik maupun akibat proses geologi yang mengakibatkan sesar-sesar baru (sesar kuarter) apakah itu karena longsor (landslide) maupun karena gempa vulkanik yang besar, atau proses geologi lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bagaimana untuk sesar-sesar yang sudah ada di daratan, seperti sesar sumatera yang panjang membentang dan terbagi beberapa segmen?, Untuk sesar-sesar yang sudah ada di darat, itu akan menjadi zona lemah. &amp;nbsp;Maksudnya adalah daerah tersebut menjadi daerah rawan gempa dikarenakan batuannya sudah patah, sehingga bisa bergeser kembali apabila mendapat tekanan maupun tarikan. &amp;nbsp;Ditambah lagi gempa di daerah sesar bisa dipicu oleh gempa lain yang memberikan cukup tekanan pada daerah patahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aktivitas gempa di Indonesia salah satu yang paling tingi di dunia, kalau dari pembaca sekalian ada yang menyempatkan diri berkunjung ke Pusat Gempa Nasional gedung operasional BMG lantai 3 disana dapat dilihat Peta Seismotektonik Indonesia, dimana menunjukan aktivitas seismik (kegempaan) di wilayah Indonesia. &amp;nbsp;Dapat dilihat disana bahwa Indonesia memiliki kerentanan yang tinggi terhadap gempa. &amp;nbsp;Lalu kita harus bagaimana?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sangat bijaksana untuk mengetahui kondisi daerah Indonesia, khususnya daerah kita sendiri dimana kita tinggal. &amp;nbsp;Cari tahu dan pahami kondisi sekitar kita. &amp;nbsp;Apakah daerah kita merupakan daerah rawan gempa?, atau merupakan daerah sesar?, daerah patahan aktif?. &amp;nbsp;Dimanapun kita berada usahakan mengenal daerah kita dengan baik, sehingga kita tahu kemana arah pembangunan daerah kita, apa yang diperlukan daerah tempat tinggal kita, dapat menyesuaikan pembangunan daerah dengan kondisi alam di daerah kita, bahkan kita dituntut siap akan segala kemungkinan apabila terjadi bencana harus berada dimana dan harus berbuat apa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.2. Tatanan Tektonik Indonesia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.2.1. Tektonik Lempeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika bumi tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng.( gambar 13 )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.3. Lempeng dan pergerakannya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut teori ini kerakbumi (lithosfer) dapat diterangkan ibarat suatu rakit yang sangat kuat dan relatif dingin yang mengapung di atas mantel astenosfer yang liat dan sangat panas, atau bisa juga disamakan dengan pulau es yang mengapung di atas air laut. Ada dua kjenis kerak bumi yakni kerak samudera yang tersusun oleh batuan bersifat basa dan sangat basa, yang dijumpai di samudera sangat dalam, dan kerak benua tersusun oleh batuan asam dan lebih tebal dari kerak samudera. Kerakbumi menutupi seluruh permukaan bumi, namun akibat adanya aliran panas yang mengalir di dalam astenofer menyebabkan kerakbumi ini pecah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil yang disebut lempeng kerakbumi. Dengan demikian lempeng dapat terdiri dari kerak benua, kerak samudera atau keduanya. Arus konvensi tersebut merupakan sumber kekuatan utama yang menyebabkan terjadinya pergerakan lempeng.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.4. Akibat Pergerakan Lempeng&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan lempeng kerakbumi ada 3 macam yaitu pergerakan yang saling mendekati, saling menjauh dan saling berpapasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan lempeng saling mendekati akan menyebabkan tumbukan dimana salah satu dari lempeng akan menunjam ke bawah yang lain. Daerah penunjaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang jalur penunjaman akan terbentuk rangkaian kegiatan magmatik dan gunungapi serta berbagai cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara lempeng Ind0-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di selatan Pulau Jawa dan jalur gunungapi Sumatera, Jawa dan Nusatenggara dan berbagai cekungan seperti Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan dan Cekungan Jawa Utara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan lempeng saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerakbumi dan akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel membentuk jalur magmatik atau gunungapi. Contoh pembentukan gunungapi di Pematang Tengah Samudera di Lautan Pasific dan Benua Afrika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan saling berpapasan dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar seperti misalnya Sesar Besar San Andreas di Amerika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.5. Kegiatan Tektonik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan lempeng kerakbumi yang saling bertumbukan akan membentuk zona sudaksi dan menimbulkan gaya yang bekerja baik horizontal maupun vertikal, yang akan membentuk pegunungan lipatan, jalur gunungapi/magmatik, persesaran batuan, dan jalur gempabumi serta terbentuknya wilayah tektonik tertentu. Selain itu terbentuk juga berbagai jenis cekungan pengendapan batuan sedimen seperti palung (parit), cekungan busurmuka, cekungan antar gunung dan cekungan busur belakang. Pada jalur gunungapi/magmatik biasanya akan terbentuk zona mineralisasi emas, perak dan tembaga, sedangkan pada jalur penunjaman akan ditemukan mineral kromit. Setiap wilayah tektonik memiliki ciri atau indikasi tertentu, baik batuan, mineralisasi, struktur maupun kegempaanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.6. Perkembangan Tatanan Tektonik Indonesia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada 50 juta tahun yang lalu (Awal Eosen), setelah benua kecil India bertubrukan dengan Himalaya, ujung tenggara benua Eurasia tersesarkan lebih jauh ke arah tenggara dan membentuk kawasan Indonesia bagian barat. Saat itu kawasan Indonesia bagian timur masih berupa laut (laut Filipina dan Samudra Pasifik). Lajur penunjaman yang bergiat sejak akhir Mesozoikum di sebelah barat Sumatera, menyambung ke selatan Jawa dan melingkar ke tenggara - timur Kalimantan - Sulawesi Barat, mulai melemah pada Paleosen dan berhenti pada kala Eosen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada 45 juta tahun lalu. Lengan Utara Sulawesi terbentuk bersamaan dengan jalur Ofiolit Jamboles. Sedangkan jalur Ofiolit Sulawesi Timur masih berada di belahan selatan bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada 20 jutatahun lalu benua-benua mikro bertubrukan dengan jalur Ofiloit Sulawesi Timur, dan Laut Maluku terbentuk sebagai bagian dari Lut pilipina. Laut Cina Selatan mulai membuka dan jalur tunjaman di utara Serawak - Sabah mulai aktif.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
pada 10 juta tahun lalu, benua mikro Tukang Besi - Buton bertubrukan dengan jalur Ofiolit di Sulawesi Tenggara, tunjaman ganda terjadi di kawasan Laut Maluku, dan Laut Serawak terbentuk di Utara Kalimantan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
pada 5 juta tahun lalu, benua mikro Banggai-Sula bertubrukan dengan jalur ofiolit Sulawesi Timur, dan mulai aktif tunjangan miring di utara Irian Jaya-Papua Nugini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.7. Lempeng Tektonik (Tectonic Plate)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu lempengan tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupun kerak samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi (earth's mantle). Kerak benua dan kerak samudra, beserta lapisan teratas mantel ini dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi dibanding kepadatan pada kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat pada kerak samudra (mafik) lebih berat disbanding elemen-elemen pada kerak bumi (felsik)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan astenosfer ini sangat tinggi, batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir seperti cairan (fluid)/&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Litosfer terpecah ke dalam beberapa lempeng tektonik yang saling bersinggungan satu dengan lainnya. Berikut adalah nama-nama lempenglempeng tektonikyang ada di bumi, dan lokasinya bisa dilihat pada peta tektonik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aktivitas tektonik adalah aktivitas yang berasal dari pergerakan lempeng-lempeng yang ada pada kerak bumi ( litosphere ). Hasil dari tumbukan antar lempeng dapat menghasilkan pegunungan ( orogenesa ), aktivitas magmatis dan aktivitas gunug api ( volcanism). Teori tektonik lempeng adalah suatu teori yang mendasarkan pada hipotesa ”Pemekaran Lantai Samudera” ( Sea-floor spreading ) dan hipotesa “Pengapungan benua”(Continental drift).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hipotesa pemekaran lantai samudera menjelaskan bahwa bagian kulit bumi yang ada di dasar samudera Atlantik tepatnya di pematang tengah samudera ( mid-oceanic ridges ) terjadi suatu pembentukan material baru ( litosphere ) yang berasal dari dalam bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang disokong oleh magma di bawahnya. Disebabkan ini maka lempeng tektonik ini bebas untuk menggesek satu sama lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan antara lempeng tektonik ini tidak berjalan secara perlahan-lahan. Sebaliknya pergeseran antara tanah dan batu yang membentuk lempeng tektonik menyebabkan pergeseran itu berjalan tersentak-sentak. Pergerakan inilah yang menyebabkan terjadinya gempa bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daratan dan juga dasar lautan akan secara perlahan-lahan dibawa ke arah kedudukan baru apabila lempeng beralih. Batas lempeng ditandai oleh lingkaran gempa bumi dan rangkaian gunung berapi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori lempeng tektonik muncul setelah Alfred Wegener dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans (1915) mengemukakan bahwa benua yang padat sebenarnya terapung dan bergerak di atas massa yang relatif lembek (continental drift).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gravitasi dianggap sebagai penyebab utama dari semua pergerakan lempeng. Gaya gravitasi menarik lempeng yang tersubduksi karena bagian itu memang lebih tua dan lebih berat bobotnya. Kemudian karena tertarik, ada celah di tengah punggung samudera yang kemudian terisi material dari dalam mantel.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang disokong oleh magma di bawahnya. Disebabkan ini maka lempeng tektonik ini bebas untuk menggesek satu sama lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergerakan antara lempeng tektonik ini tidak berjalan secara perlahan-lahan. Sebaliknya pergeseran antara tanah dan batu yang membentuk lempeng tektonik menyebabkan pergeseran itu berjalan tersentak-sentak. Pergerakan inilah yang menyebabkan terjadinya gempa bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daratan dan juga dasar lautan akan secara perlahan-lahan dibawa ke arah kedudukan baru apabila lempeng beralih. Batas lempeng ditandai oleh lingkaran gempa bumi dan rangkaian gunung berapi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori lempeng tektonik muncul setelah Alfred Wegener dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans (1915) mengemukakan bahwa benua yang padat sebenarnya terapung dan bergerak di atas massa yang relatif lembek (continental drift).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gravitasi dianggap sebagai penyebab utama dari semua pergerakan lempeng. Gaya gravitasi menarik lempeng yang tersubduksi karena bagian itu memang lebih tua dan lebih berat bobotnya. Kemudian karena tertarik, ada celah di tengah punggung samudera yang kemudian terisi material dari dalam mantel.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng Eurasia adalah lempeng tektonik terbesar ketiga yang berada di daerah Eurasia, daratan yang terdiri dari benua Eropa dan Asia kecuali di daerah India, Jazirah Arab, dan timur Pegunungan Verkhoyansk di Siberia Timur. Sisi timurnya dibatasi Lempeng Amerika Utara dan Lempeng Filipina. Sisi selatannya dibatasi Lempeng Afrika, Lempeng Arab dan Lempeng Indo-Australia. Sisi baratnya dibatasi oleh Lempeng Amerika Utara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng Burma adalah lempeng tektonik kecil yang terletak di Asia Tenggara, sering dianggap sebagai bagian dari lempeng Eurasia. Kepulauan Andaman, Kepulauan Nikobar, dan Sumatra barat laut terletak di lempeng ini. Busur pulau ini memisahkan Laut Andaman dari Samudra Hindia. (gambar 13)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pergeseran kerak bumi atau diastropisme merupakan terjadinya pergeseran muka bumi yang dipengaruhi oleh adanya gerakan-gerakan kerak bumi. Gerakan-gerakan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang menghasilkan pola baru yang disebut struktur diastropik. Termasuk dalam struktur diastropik tersebut, yaitu pelengkungan, pelipatan, patahan, dan retakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng Pasifik ialah lempeng tektonik samudra di dasar Samudra Pasifik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ke utara di sisi timur ada batas divergen dengan Lempeng Penjelajah, Juan de Fuca dan Gorda yang berturut-turut membentuk Punggung Penjelajah, Juan de Fuca dan Gorda. Ke tengah di bagian sisi timur ada batas peralihan dengan Lempeng Amerika Utara sepanjang Patahan San Andreas dan batas dengan Lempeng Cocos. Ke selatan di bagian timur ada batas divergen dengan Lempeng Nazca yang membentuk Tanjakan Pasifik Timur. (gambar 14)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng Pasifik, ditunjukkan dalam warna kuning muda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di bagian selatan ada batas divergen dengan Lempeng Antarktika yang membentuk Punggung Pasifik-Antarktika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di bagian barat ada batas konvergen yang mensubduksi di bawah Lempeng Eurasia ke utara dan Lempeng Filipina di tengah yang membentuk Parit Mariana. Di selatan, Lempeng Pasifik memiliki batas yang kompleks namun umumnya konvergen dengan Lempeng Indo-Australia, yang mensubduksi di bawahnya ke utara Selandia Baru. Patahan Alpen menandai batas peralihan antara 2 lempeng, dan lebih lanjut ke utara Lempeng Indo-Australia mensubduksi di bawah Lempeng Pasifik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di bagian utara ada batas konvergen yang mensubduksi di bawah Lempeng Amerika Utara yang membentuk Parit Aleut dan Kepulauan Aleut di dekatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lempeng Pasifik memuat interior hot spot dalam yang membentuk Kepulauan Hawaii&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB V&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesimpilan yang dapat kami petik dari penyusunan makalah ini adalah bahwa pengaruh kondisi tektonik divergen terhadap sebaran salinitas samudera adalah batas antara lempeng yang saling menjauh satu dan yang lainnnya yang menyebabkans ebaran salinitas di samurdera berbeda-beda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB VI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.^ Read HH, Watson Janet (1975). Introduction to Geology. Halsted, 13-15.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2.^ Kious WJ, Tilling RI [February 1996]. "Historical perspective", This Dynamic Earth: the Story of Plate Tectonics, Online edition, U.S. Geological Survey. ISBN 0160482208. Diakses pada 29 Januari 2008. “Abraham Ortelius in his work Thesaurus Geographicus ... suggested that the Americas were "torn away from Europe and Africa ... by earthquakes and floods ... The vestiges of the rupture reveal themselves, if someone brings forward a map of the world and considers carefully the coasts of the three [continents]."”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3.^ a b Frankel Henry (1978-07). "Arthur Holmes and Continental Drift". The British Journal for the History of Science 11 (2): 130–150.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4.^ Joly J (1909). Radioactivity and Geology: An Account of the Influence of Radioactive Energy on Terrestrial History. Archibald Constable. ISBN 1402135777.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.^ Thomson W (1863). "On the secular cooling of the earth". Philosophical Magazine 4 (25): 1–14. DOI:10.1080/14786435908238225.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.^ Hughes Patrick. Alfred Wegener (1880-1930): A Geographic Jigsaw Puzzle. On the Shoulders of Giants. Earth Observatory, NASA. Diakses pada 2007-12-26 Kutipan: ... on January 6, 1912, Wegener ... proposed instead a grand vision of drifting continents and widening seas to explain the evolution of Earth's geography.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7.^ Alfred Wegener (1966). The Origin of Continents and Oceans. Courier Dover, 246. ISBN 0486617084.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.^ Hughes Patrick. Alfred Wegener (1880-1930): The Origin of Continents and Oceans. On the Shoulders of Giants. Earth Observatory, NASA. Diakses pada 2007-12-26 Kutipan: By his third edition (1922), Wegener was citing geological evidence that some 300 million years ago all the continents had been joined in a supercontinent stretching from pole to pole. He called it Pangaea (all lands), ...&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.Curray, JR. 2002 Chapman Conference on Continent - Ocean Interactions within the East Asian Marginal Seas. Tectonics and History of the Andaman Sea Region (abstract). Diakses pada 7 September 2005 pdf&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10.Paul, J., Burgmann, R., Gaur, V. K., Bilham, R. Larson, K. M., Ananda, M. B., Jade, S., Mukal, M., Anupama, T. S.. Satyal, G., Kumar, D. 2001 The motion and active deformation of India. Geophys. Res. Lett. Vol. 28 , No. 04 , 647-651 2001.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.^ Korgen Ben J (1995). "A Voice From the Past: John Lyman and the Plate Tectonics Story" (PDF). Oceanography 8 (1): 19–20.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
12.^ Spiess Fred, Kuperman William (2003). "The Marine Physical Laboratory at Scripps" (PDF). Oceanography 16 (3): 45–54.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
13.^ Mason RG, Raff AD (1961). "Magnetic survey off the west coast of the United States between 32°N latitude and 42°N latitude". Bulletin of the Geological Society of America 72: 1259–1266. DOI:[1259:MSOTWC2.0.CO;2 10.1130/0016-7606(1961)72[1259:MSOTWC]2.0.CO;2].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
14.^ Raff AD, Mason RG (1961). "Magnetic survey off the west coast of the United States between 40°N latitude and 52°N latitude". Bulletin of the Geological Society of America 72: 1267–1270. DOI:[1267:MSOTWC2.0.CO;2 10.1130/0016-7606(1961)72[1267:MSOTWC]2.0.CO;2].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
15.^ Huang Zhen Shao. (1997). Speed of the Continental Plates. The Physics Factbook.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
16.^ (2000) The Oxford Companion to The Earth. Oxford University Press. -ISBN 0198540396.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
17.^ Schmidt Victor A, Harbert William. "The Living Machine: Plate Tectonics", Planet Earth and the New Geosciences, third. ISBN 0787242969. Diakses pada 28 Januari 2008.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
18.^ Pedro Mendia-Landa. Myths and Legends on Natural Disasters: Making Sense of Our World. Diakses pada 2008-02-05&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
19.^ Tanimoto Toshiro, Lay Thorne (2000-11-07). "Mantle dynamics and seismic tomography". Proceedings of the National Academy of Science 97 (23): 12409–12410. DOI:10.1073/pnas.210382197.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
20.^ Conrad CP, Lithgow-Bertelloni C (2002). "How Mantle Slabs Drive Plate Tectonics". Science 298 (5591): L45. DOI:10.1126/science.1074161.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
BAB VII&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
LAMPIRAN&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
---&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&amp;nbsp;agus nurul&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Arti Kimia Kelautan (Oseanografi kimia)</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/arti-kimia-kelautan-oseanografi-kimia.html</link><category>Hydrosfer</category><category>Ilmu Bumi</category><category>Kimia Kelautan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 8 Jul 2012 01:51:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-1316747620105947797</guid><description>&lt;b style="background-color: white; text-align: justify;"&gt;Oseanografi Kimia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salinitas Air Laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya.Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas.Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjngYwGOmK15O5uFAoZPvJ0ZCYSLbYBpTXooBoR7fWo4Sq9KzUM1O0x1kJ5UsVtC8C2RnE4Os0ebbu2wSPI3Jrga7iSCBf65R3zRvv7_Pk6tMQmORBCuGry7ztB6K8SGk7fAp8RiXWQize2/s1600/salinitas1.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjngYwGOmK15O5uFAoZPvJ0ZCYSLbYBpTXooBoR7fWo4Sq9KzUM1O0x1kJ5UsVtC8C2RnE4Os0ebbu2wSPI3Jrga7iSCBf65R3zRvv7_Pk6tMQmORBCuGry7ztB6K8SGk7fAp8RiXWQize2/s1600/salinitas1.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Referensi :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tomczak, M, An Introduction to Physical Oceanography&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Talley, L, Properties of Seawater&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prager, Ellen J, and Sylvia A. Earle, The Oceans, McGraw-Hill, 2000.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pickard and Emery, Descriptive Physical Oceanography&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/salinitas-air-laut.html&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh : Yogi Suardi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Arti Kimia Kelautan (Oseanografi kimia) Bagian ke 2&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian 
atau earth sciences yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa 
yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, 
oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama 
yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau 
litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari 
masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan 
temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah 
kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari 
masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau biota di 
laut. Kimia Oseanografi : ilmu ini membahas reaksi kimia yang terjadi di
 dalam dan di dasar lautan dan juga menganalisa sifat- sifat kimia dari 
air laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komposisi kimia air laut telah diteliti oleh seorang ahli 
oseanografi yang sangat terkenal, W. Dittmar pada tahun 1873. Peneliti 
ini menggunakan contoh air laut sebanyak 77 contoh yang diambil dari 
beberapa perairan di Samudera Pasifik, Hindia, dan Atlantik melalui 
suatu ekspedisi yang dilakukan oleh H.M.S. Challenger. Ia mendeterminasi
 tentang garam-garam, sulfat, magnesium, kalsium, dan kalium (potassium)
 dan jenis kimia lainnya dalam takaran garam per kilogram (ppm). 
Penelitian kandungan kimia yang ada di laut terus berlangsung sejak abad
 ke-18, dan hasil kajian terakhir yang diberitakan lewat buku yang 
dikeluarkan oleh The Open University dan buku Marine Chemistry, 
komposisi kimia yang terlarut di dalam air sebanyak 81 unsur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kimia 
yang terkandung di air laut ada yang merupakan unsur utama (mayor) , 
unsur tambahan (minor), dan unsur yang langka (trace). Kimia unsur utama
 adalah zat kimia yang melekat langsung dengan salinitas. Komposisi air 
laut yang konstan tetap dipertahankan karena kebanyakan unsur utama 
menunjukkan sifat konservatif, yaitu konsentrasi di air laut tidak 
mengalami perubahan yang berarti akibat reaksi biologi dan kimia di 
laut. Namun, secara umum di dalam air laut terdapat sejumlah unsur yang 
dominan (bagian mayoritas) dan unsur pelengkap(bagian minoritas). Salah 
satu unsur dominan komponen penyusun air laut adalah Klorin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikatan kimia ini ditunjang oleh;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Ikatan ionik, yaitu: ikatan 2 atom yang berlainan muatan yang diikat oleh gaya elektrostatik) (mis: H2O, NaCl, H2SO4, dll.)&lt;br /&gt;
- Ikatan kovalen, yaitu: ikatan penggabungan sesama atom dalam memperkuat pasangan elektron atau proton (mis: H2 dan O2).&lt;br /&gt;
Ikatan
 kovalen H2 ini dikenal sebagai ikatan hidrogen, dan molekul yang 
bergabung dalam ikatan ini disebut molekul bipolar. Dengan 
micro-spectro-elektromagnetik ikatan kovalen-bipolar H2 dapat diterka 
orbital atomnya terhadap Oksigen seperti Gambar berikut. Ikatan-ikatan 
Hidrogen dalam molekul H2¬O menyebabkan penggabungan dalam bentuk 
multiform molekul yang lebih dikenal sebagai polimerisasi (dengan sifat 
ini air dapat ber-dipolemoment yang berarti air mampu untuk berorientasi
 sendiri dalam medan listrik yang artinya posisi proton menghadap dan 
tertarik ke posisi neutron tanpa bantuan senyawa lain). Sifat ini pula 
menyebabkan air ber-dielektrik konstan yang artinya air mampu 
menetralkan medan listrik (bersifat netralisasi, pelarut universal, dan 
penyangga atau buffer terhadap keadaan ekstrim). Ikatan Hidrogen dalam 
molekul H2O dapat diatasi dengan agitasi termis (thermal agitation), hal
 ini karena air mempunyai titik beku dan titik didih yang lebih tinggi 
dari dari kebanyakan senyawa yang serupa air sendiri (sep: H2S, H2Se, 
H2Te).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;• Derajat Keasaman (pH)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut (Brotowidjoyo,1999) 
biasanya ph air laut itu 7,6-8,3 dan terutama mengandung ion HCO3-.Air 
lautan juga mengandung asam-asam lemah seperti asam karbon (H2CO3) dan 
asam boric (H3BO3) damn karena asam-asam itu berdissosiasi maka 
terjadilah kondisi bahwa air lautan itu sebagai buffer yang baik sekali 
yaitu bila kedalam larutan ditambahkan NaOH ,maka H2CO3 dan H3BO3 akan 
lebih terdissosiasi dan ph air lautan konstan sampai H2CO3 dan H3BO3 itu
 terpakai semua,bila kedalam air lautan ditambahakan asam keras seoerti 
H2SO4 maka akan terjadi proses kebalikannya dan ph tetap konstan yaitu 
7,6-8,3.Fakta inilah yang menjamin berbagai jenis ikan laut dapat hidup.
 &lt;br /&gt;
Berdasarkan ph,perairan dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu 
asam dengan ph 3-6,9,netral antara 7-8,5 dan basa diatas 8,5.Denagn ph 
sebesar 8 di perairan)berarti terdapat organism dalam jumlah banyak 
karena organism /biota laut menyukai perairan dengan ph tersebut 
(Scribd,2009).   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;• DO (Oksigen terlarut)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut 
(Brotowidjoyo,1999) kandungan oksigen air laut dalam kondisi normal 
tidak mengganggu ikan,sebab kandungan oksigen itu secara relative 
bervariasi dalam batas-batas yang sangat sempit.Hanya di lapisan-lapisan
 oksigen monomum di bawah termokllin tropis dan dalam rongga-rongga di 
laut Baltik yang yang kandungan oksigennya rendah kehidupan ikan 
terganggu.Pernafasan ikan dalam air itu adalah pengambilan O2 dari air 
dan pelepasan CO2 kedalam air.Pertukaran gas (O2 dan CO2) itu 
berlangsung dalam insang dan pada beberapa spesies ikan pernafasan 
berlangsung melalui kulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut (Hutabarat,1985) di lapisan 
permukaan laut kosentrasi gas oksigen sangat bervariasi dan sangat 
dipengaruhi oleh suhu,semakin tinggi suhu maka semakin berkurang tingkat
 kelarutan oksigen .Di laut,oksigen terlarut (DO) berasal dari dua 
sumber yakni dari atmosfer dan dari hasil fotosintesis fitoplankton dan 
berjenis tanaman laut.Keberadaan oksigen terlarut ini,memungkinkan untuk
 langsung dimanfaatkan kebanyakan organism untuk kehidupan antara lain 
pada proses respirasi dimana oksigen diperlukan untuk pembakaran 
(metabolosme) bahan organic sehingga terbentuk energy yang diikuti 
dengan pembentukan CO2 dan H2O.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut (Zenyfapussy,2010) 
DO(dissolved oxygen) menunjukkan kandungan oksigen terlarut dalam 
air.Banyak sedikitnya kandungan oksigen dapat dipakai untuk menunjukkan 
banyak sedikitnya air.Angka DO yang kecil menunjukkan bahwa banyak 
pengotor atau bahan organic dalam air.Oksigen terlarut diperlukan oleh 
hampir semua bentuk kehidupan akuatik untuk proses pembakaran dalam 
tubuh.Oksigen terlarut juga sangat penting dalam mendeteksi adanya 
pencemaran lingkungan perairan.Karena oksigen dapat digunakan untuk 
melihat perubahan biota dalam perairan .Adapun kelarutan oksigen dalam 
air dipengaruhi oleh suhu,tekanan partikel gas yang ada di udara dan di 
air.Semakin tinggi suhu,salinitas dan tekanan gas yang terlarut dalam 
air maka kandungan oksigen makin berkurang .Kandungan oksigen 
terlarutideal bagi biota di perairan adalah mencapai antara 4,0-10,5 
mg/l pada lapisan permukaan dan 4,3-10,5 mg/l pada kedalaman 10 meter.  
  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;• Temperatur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Temperatur di lautan mempunyai peran yang 
penting bagi kehidupan organisme, karena dapat mempengaruhi baik 
aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme. 
Suhu yang berada didekat pantai biasanya sedikit lebih tinggi dari pada 
lepas pantai. Laut tropik memiliki massa air permukaan hangat yang 
disebabkan oleh adanya pemanasan yang terjadi secara terus-menerus 
sepanjang tahun. Temperatur di pengaruhi oleh radiasi matahari, posisi 
matahari, letak geografis, kondisi awan dan interaksi antara air dan 
udara (proses penguapan, hantaran radiasi panas, presipitasi dan 
hembusan angin). Presipitasi dapat menurunkan suhu permukaan laut 
sedangkan evaporasi dapat meningkatkan suhu permukaan.&lt;br /&gt;
Pada suatu 
perairan yang distribusi temperaturnya secara vertikal akan menurunkan 
eksponensial ke bawah. Lapisan homogen di perairan cenderung disebabkan 
oleh angin ynag bertiup sehingga menimbulkan gerakan turbulen pada 
lapisan atas. Umumnya lapisan ini ditemukan pada kedalaman 50-200 m. 
Pada kedalaman dibawah lapisan homogen, terjadi penurunan temperatur 
yang drastis dengan bertambahnya kedalaman, dimana daerah ini disebut 
daerah termoklin. Lapisan di bawah termoklin memiliki kondisi yang 
hampir homogen dimana suhu berkurang secara perlahan-lahan ke arah dasar
 perairan. Pengukuran suhu permukaan biasanya digunakan termometer air 
raksa. Sedangkan untuk pengukuran temperatur pada kedalaman tertentu 
dapat menggunakan bathythermograph atau CTD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;• Salinitas Air Laut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan 
organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman 
mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, 
titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa 
tingkat, tetapi tidak menentukannya.Beberapa sifat (viskositas, daya 
serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua 
sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) 
adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), 
natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) 
dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam 
borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut 
adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi 
lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.&lt;br /&gt;
Secara
 ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram
 pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk 
mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas 
dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida 
(Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam 
gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen 
digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi 
titrasi untuk menentukan kandungan klorida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salinitas ditetapkan pada
 tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam 
satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua
 bromida dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan 
organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida 
ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium 
berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan 
sebagai: S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902); Lambang o/oo (dibaca 
per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan
 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 
0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik 
perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan
 untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO 
memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara 
klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal 
sebagai salinitas absolut dengan rumus: S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) 
(1969).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata
 didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya. Definisi 
salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas 
dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. 
Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical 
Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio 
dari konduktivitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di 
atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan 
bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah 
subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 
23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman
 akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 
1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara 
monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas 
di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya 
presipitasi (curah hujan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;• Kimia Air Laut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air di laut 
merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya 
seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan 
partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut 
ditentukan oleh 96,5% air murni. Unsur kimia yang tergabung dalam 
larutan air laut  yaitu khlor (Cl) 55%, Natrium (Na) 31%, kemudian 
Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Belerang (S), dan Kalium (K). dismping itu
 dalam jumlah kecil terdapat juga Bromiun (Br), Karbon (C), Strontium 
(Sr),  Barium (Ba), Silikon (Si), dan Florium (F). air laut juga 
mnegandung larutan berbagai gas seperti Oksigen (O2) dan gas asam arang 
(CO2) yang merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan vegetasi dan hewan 
laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ion klorida adalah salah satu anion organik utama yang 
ditemukan di perairan alami. Ion klorida ditemukan dalam jumlah besar, 
sedangkan ion halogen lainnya ditemukan dalam jumlah yang relatif 
sedikit. Klorin, Bromin, dan Iodin terkandung pada air laut dalam bentuk
 garam-garam halida dari natrium, magnesium, kalium, dan kalsium. 
Klorida biasanya terdapat dalam bentuk senyawa natrium klorida (NaCl), 
Kalium klorida (KCl), dan Kalsium klorida (CaCl2). Garam halida yang 
paling banyak adalah NaCl. Klorida membentuk kebanyakan garam zat 
terlarut dalam lautan bumi, kira-kira 1.9% komposisi air laut adalah ion
 klorida. Larutan klorida dengan kepekatan lebih tinggi dijumpai di Laut
 Mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadar klorida bervariasi menurut iklim. Pada perairan yang di
 wilayah yang beriklim basah (humid), kadar klorida biasanya kurang dari
 10 mg/liter; sedangkan pada perairan di wilayah semi-arid dan arid 
(kering), kadar klorida mencapai ratusan mg/liter. Keberadaan klorida 
pada perairan alami berkisar antara 2-20 mg/liter. Kadar klorida 250 
mg/liter dapat mengakibatkan air menjad asin . Air laut mengandung 
klorida sekitar 19.300 mg/liter. Kadar klorida yang tinggi, misalnya 
pada air laut, yang diikuti oleh kadar kalsium dan magnesium yang juga 
tinggi dapat meningkatkan sifat korosivitas air. Perairan yang demikian 
mudah mengakibatkan terjadinya perkaratan peralatan yang terbuat dari 
logam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa asin pada air laut berasal dari garam. air laut terdiri 
atas 96% air dan 3% garam (Sodium Klorida), 1% berupa sejumlah mineral 
seperti kalsium dan magnesium. garam berasal dari batuan dan mineral 
yang dilarutkan oleh air hujan yang turun dan masuk kesungai yang akan 
membawa air dan garam kelaut. sejumlah garam juga bisa berasal dari 
gunung berapi dibawah laut. Lebih dari sepertiga garam yang digunakan 
didunia berasal dari laut. garam dikumpulkan melalui proses penguapan. 
dinegara beriklim panas orang membuat garam lebih banyak ditempat 
dangkal, yaitu dengan cara mengumpulkan garam disepanjang pesisir 
berlumpur yang ditampung dalam kolam kolam apabila pasang datang air 
laut akan tertampung dalam kolam tersebut, pada saat penyinaran matahari
 akan menyebabkan air menguap dan meninggalkan kristal-kristal garam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penyebaran salinitas secara horizontal :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Daerah Ekuator (tropik), temperatur tinggi, penguapan tinggi, curah hujan banyak maka salinitasnya rendah (34-35 permil).&lt;br /&gt;
2. Daerah lintang  20 derajat - 25 derajat LU/LS, penguapan tinggi, curah hujan kurang, maka salinitas tinggi (36-37 permil).&lt;br /&gt;
3. Daerah lintang sedang, penguapan kurang, kelembapan besar, maka salinitas rendah (33-35 permil).&lt;br /&gt;
4. Daerah kutub, temperatur rendah, penguapan kecil, adanya pencairan es, maka saliniasnya rendah (32-34 permil).&lt;br /&gt;
berikut
 beberapa contoh laut yang mempunyai salinitas yang berbeda, karena 
dipengaruhi oleh keadaan setempat dan lautnya tertutup :&lt;br /&gt;
1. laut 
merah, tidak terdapat sungai yang bermuara kelaut tersebut, curah huja 
relatif kecil, maka salinitasnya air lautnya tinggi (40-41 permil).&lt;br /&gt;
2.
 laut tengah, banyak air sungai dari laut hitam, kemudian masuk kelaut 
tengah,  maka salinitasnya tidak terlalu tinggi (37-39 permil).&lt;br /&gt;
3. 
laut mati, terletak didaerah arit (kering), lautnya sempit, tidak 
berpelepasan, sehingga salinitasnya tinggi (250-400 permil).&lt;br /&gt;
4. laut hitam, penguapan kurang, banyak sungai yang bermuara, sehingga salinitasnya rendah (17-18 permil).&lt;br /&gt;
5. laut Baltik, penguapan kurang, banyak sungai yang bermuara, pencairan es/ salju maka salinitasnya rendah (3-4 permil).&lt;br /&gt;
penyebaran salinitas secara vertikal :&lt;br /&gt;
1.
 pada permukaan, terjadi penguapan baik karena angin atau karena 
perbedaan temperatur antara air dan udara (temperatur air lebih tinggi 
dari temperatur udara) atau karena kelembapan udara kecil maka salinitas
 permukaan biasanya besar.&lt;br /&gt;
2. makin kebawah, salinitas semakin kecil,
  karena temperaturnya makin rendah, pada kedalaman 800-1200 meter 
biasanya salinitas paling kecil.&lt;br /&gt;
3. lebih dari 1200 meter, salinitas naik sampai 34,9% karena tidak ada turbulensi lagi.&lt;br /&gt;
catatan
 :  untuk daerah ekuator  (tropik), salinitas terbesar bukan pada 
permukaan sebab banyak curah hujan, tetapi terdapat pada kedalaman 
100-200 meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• http://abdul-kholik.tripod.com/laut2.htm&lt;br /&gt;
• http://www.ilmukelautan.com/oseanografi/kimia-oseanografi?start=2&lt;br /&gt;
• http://id.wikipedia.org/wiki/Oseanografi&lt;br /&gt;
• http://fika-star.blogspot.com/2011/03/klorin-sebagai-salah-satu-komponen-air_20.html&lt;br /&gt;
• http://duniaperikanan.wordpress.com/2009/10/15/dasar-oceanografi/&lt;br /&gt;
• http://laporanpraktikumoceanografi.blogspot.com/2011/02/laporan-praktikum-oceanografi.html&lt;br /&gt;
• http://novigeografi.blogspot.com/2011/03/bahan-kuliah-oseanografi.html&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjngYwGOmK15O5uFAoZPvJ0ZCYSLbYBpTXooBoR7fWo4Sq9KzUM1O0x1kJ5UsVtC8C2RnE4Os0ebbu2wSPI3Jrga7iSCBf65R3zRvv7_Pk6tMQmORBCuGry7ztB6K8SGk7fAp8RiXWQize2/s72-c/salinitas1.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Arti Oseanografi Biologi (Biologi Laut)</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/arti-oseanografi-biologi-biologi-laut.html</link><category>Biologi Kelautan</category><category>Hydrosfer</category><category>Ilmu Bumi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 8 Jul 2012 01:20:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-4672230954792341186</guid><description>&lt;span style="background-color: white; text-align: justify;"&gt;Biologi laut adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan biologi laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keaneka ragaman biologi laut terdapat 833 jenis tumbuhan laut diantaranya : Algae, mangrove, lamun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 910 jenis karang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 850 spora&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 745 hewan berkulit duri&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 148 hewan menyusui&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 3 jenis buaya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 2500 jenis karang / keong&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 1502 jinis udang dan kepiting&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 200 jenis ikan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· 7 jenis penyu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hewan tingkat rendah : Mikrobiologi ( bakteri )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tumbuhan tingkat rendah : algae&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Faktor lingkungan berubah secara drastis karena banyaknya terjadi pencemaran lingkungan, penebangan mangrove&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Faktor fisika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Suhu ( cahaya matahari, musim )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Cahaya di pengaruhi oleh sinar matahari&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Gelombang pasang surut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Faktor kimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Salinitas ( air hujan dan pasang surut )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Bahan nutrient ( aliran air sungai dan pembusukan bahan organik )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Limbah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Zonasi ( pemintakat lingkungan laut )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Lingkungan pelagik dan lingkuingan beltik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lingkungan pelagic&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Mintakat neritik ( 0-200 m )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· Mintakat oceanic ( &amp;gt; 200 m )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bentik ( kedalaman yang lebih dari 4000 m )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lingkugan benthic&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v Mintakat litoral ( 0 – 200 m )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v Mintakat abisal ( 200 – 400&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penembusan sinar matahari dan sedimen yang berbeda, berubah – ubahbaik dalam waktu dan ruang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mintakat oceanic di bagi menjadi 4 lapisan .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v Epipelagic ( permukaan sampai kedalam / 0 – 200 )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v Mesopelagic ( 200 – 1000 m ) : intensitas cahaya matahari rendah, perubahan suhu, tidak ada kegiatan produksi primer&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v Bathypelagic ( 1000-4000 )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v Abisopelagic ( &amp;gt; 4000 ) dipengaruhi suhu ( dingin ), gelap biolimines ( kehidupan di dasar laut ) tekanan air sangat tinggi, perubahan lingkungan paling kecil, kandungan CO2 tinggi O2 rendah sehingga kapur mudah larut dalam air,ketenangan air sangat tinggi, langkanya persediaan makanan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Plankton : organisme yang berukuran renik baik sifat tumbuhan / phytoplankton / zooplankton ( hewn yang melayang –layang di perairan geraknya pasif dan mengikuti arus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan siklus hidupnya plankton di bagi menjadi 3 :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ü Meroplankton : seluruh hidupnya dijalani sebagai plankton&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh: Naoprius ( dari telur menjadi naopri )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ü Holoplankton : seluruh hidupnya dijalani sebagai plankton&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh : rebon&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ü Nekton : biota yang berukuran besar / makro yang terdiri dari hewan yang bergerak aktif&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh : ikan, reptile, mollusca, mamalia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ü Bentos : menempel merayap dan meliayang – liang di dasar laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh : spong, belut, tiram, bintang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tasonomi dan klasifikasi laut ada 384 ( Arithoteles dari yunani ) :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v NOMENCLATUR : ilmu yang mempelajari tentang klasifiksi dan morfologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v BINOMIAL NOMENCLATUR : suatu system 2 nama marga dan jenis untuk jasad hidup&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh : claries gariepinus --- jenis sama ( penacus gariepinus ), marga sama ( clarias batrakus )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Udang ( penaeus monodon, indikus ), gareapinus ( udang putih )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kode internasional nomenclature ( KIN ), menurut KIN&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang menciptakan prosedur penamaan dari suku kejenis sbb:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Nama-nama zoology dan biotani adalah berbeda ( nama marga dan jenis sama baik hewan maupun tumbuhan ) jenis marga 1 dimulai dari :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Kingdom ( dunia )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Fillum ( genetic )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Class ( golongan / daur hidup )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Ordo ( ukuran )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. Family&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. Genus ( marga )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7. Spesies ( jenis )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tumbuhan – tumbuhan laut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Talophita&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Myxophyceae ( laga hijau biru ) mengandung pigmen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Chorophyceae ( alga hijau yang hidupnya dikedalaman 10m )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Phaeophyceae ( alga merah )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Chysophyceae ( alga hijau kuning )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diatom tergolong dalam bentuk mikroskopis yang sifatnya crustulanya ( cangkang terdiri dari silica bening / transparan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Dinoflagelata memegang peranan penting dalam ekonomi laut yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Sebagai produsen plankton laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Tempat disemua lautan tetapi perkembanganjenis tertentu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Terdapat dilaut hangat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Fungsi rumput laut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Sebagai bahan pangan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Sebagai sumber obat-obatan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Mencegah penyakit dari udang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Sebagai sumber bahan kimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. Sebagai pupuk pertanian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Spermatophyta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Lamun (seagrass / ilalang laut ) adalah satu-satunya kelompok tumbuhan berbunga yang tercatat di lingkungan laut, hidupnya di perairan dangkal dan bunganya dipolynasi ( terbawa arus )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Indonesia terdapat 50 jenis lamun, ada 12 lamun yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Lamun berujung bulat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Lamun bergigi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Lamun tropika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Lamun serabut ( ponyfera, ponyforia, uninever )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. Lamun senduk tak berucat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. Lamun senduk kecil&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7. Lamun senduk biasa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8. Lamun alat suntik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9. Lamun dugong&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10. Lamun kayu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pentingnya lamun dalam ekologi perairan laut, yaitu membentuk suatu ekosistem yang membentuk rantai makanan sebagai tempat penyuplay makanan dimana hasil sisa metabolisme pada ikan turun di padang lamun / sisa – sisa makanan ikan yang ada diatas perairan berkumpulnya dilamun tersebut, sehingga sisa- sisa tersebut tidak bisa terbawa oleh arus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tumbuhan laut .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Merupakan makro algae yang tidak mempunyai akar, batang dan daun sejati ( menempel pada substrat dasar )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Substrat ( tempat menempelnya rumput laut yang tidak merugikan )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagian –bagian rumput laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Thallus topita akar batang dan daun tidak bertingkat tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Talopita ( tumbuhan tingkat rendah )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Holdfast ( media yang ada pada rumput laut / substratnya ) berkembang biak dengan cara vegetative dan generative ( tunas )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bentuk-bentuk percabangan tunas ada 5 :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Tidak bercabang atau tunggal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Dichotermaus ( bercabang dua )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Pinnate alternate ( bercabang dua – dua )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Pinnate distichous ( cabang utama beraturan )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. Tetratichous cabang lurus tapi beraturan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Thallus ( tempat penghasil makanan pada rumput laut )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bentuk holdfast dari rumput&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. sederhana&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. uniseluler&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. stolon merambat ( kaya akar tapi besar / padu )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. pelekat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. kerucut cakram&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ciri-ciri algae merah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. mempunyai karotin clorofil ( sinar matahari yang ful )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. zat tofin&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. fikobilin&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. erokabilin menyebabkan warna merah enjadi clorofil A dan clorofil B&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biologi terumbu karang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit, kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hewan karang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karang ( hewan tak bertulang belakang / pholiph&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anatomi karang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mulut : dikelilingi tentakle ( perasa ) yang berfungsi untuk menangkap mangsa / makanan, serta sebagai alat pertahanan diri / merayap&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rongga tubuh ( coelenterons / saluran pencernaan / gastrofakuler&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dua lapisan tubuh terdiri dari :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø ectodermis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
jaringan pengikat tipis ( mesoglea )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø endodermis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
yang mengandung kalsium karbonat ( CO3HO3 ), (H2O)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
cara makan terumbu karang :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· menangkap zooplankton dalam air&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· manerima hasil fotosintesis zooplankton ( algae )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
karang : cara geraknya pasif&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Reproduksi dan pertumbuhan karang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Asexual : tidak melibatkan peleburan gamen ( sel sperma dan telur ) dan sexual&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akresi adalah cara tumbuh koloni dan tumbuh kearah vertical adan horizontal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bentuk – bentuk koloni karang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø padat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø lembaran&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Barier rif ( terumbu karang )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atol ( karang yang membentuk seperti lingkaran cincin )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bioresi adalah proses biologi yang bersifat merusak struktur terumbu karang .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Organisme terumbu karang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø lamun laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø algae&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø dan ikan – ikan tertentu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
metode budidaya rumput laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø bottom methode ( metode dasar )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø off bottom method ( metode lepas dasar )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø floating method ( metode apung )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
syarat lokasi budidaya rumput laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. areal budidaya harus jauh dari muara sungai dan sumber air tawar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. substrat dasar terdiri dari pasir, rumput, lumpur berpasir maupun perairan yang berkarang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. terlindung dari ombak dan arus yang besar / kuat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. memiliki pergerakan air yang lancar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. kedalaman air pada saat surut terendam minimal 30-60cm ( pada saat surut )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø sinar yang ekstra&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø kisaran suhu yang baik 25-300C&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Ph 7-9&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Kejernihan 5-10m&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1h membutuhkan 50kg pupuk tohor&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cirri-ciri rumput laut yang bagus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Yang berusia muda&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Bersih dari kotoran yang menempel&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Segar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Berlendir&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Lentur&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Talusnya masih lekat tidak ada bekas di makan ikan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cara yang baik untuk mengangkat bibit rumput laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
v Menutupi rumput laut dengan kain yang di basahi air laut dan menyiraminya setiap 30 menit sekali&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Metode tebar rumput laut yaitu dikasih tali memanjang dan dikasih pemberat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hewan laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ukuran paling renik ( tidak dapat dilihat dengan mata telanjang )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh : zooplankton&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bertulang belakang dan tidak bertulang belakang ( Vertebrata dan avertebrata )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyebaran zooplankton dari ( permukaan sampai dasar perairan yang masih dijangkau oleh cahaya sinar matahari&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Surface ( permukaan )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Tengah ( metode dasar )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ø Dasar ( bottom )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ikan bertulang rawan ( chondrichthyes )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh : hiu dan pari ( ikan yang banyak mengandung air banyak )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ikan bertulang keras ( kelas osteichthyes )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Eutropick ( lingkungan yang terdapat banyak unsur hara ) contoh : danau&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Reptilia ( hewan melatah )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh : ular laut, penyu ( hewan melatah yang hidupnya dilaut (chelolomia myder ) )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Urut-urutanya : telur, inkubas, penetasan, penyu muda, dewasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mamalia ( menyusui )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. paus, lumba-lumba, paus biru ( balaenoptera )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sifat umum ekosistem laut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. laut menutupi 70% permukaan bumi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. laut itu jeluk dan kehidupan dan kehidupan terdapat disemua kejelukan meskipun tidak ada mintakat abiotic&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. laut itu bersambung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. laut selalu bersikulasi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. laut dikuasai oleh bermacam-macam gelombang, pasut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. laut bersalinitas tinggi sekitar 35%0&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7. kadar zat hara terlarut rendah mempunyai faktor pembatas dalam menetukan populasi biota dilaut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sifat – sifat umum ekosistem pantai&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· wilayahnya merupakan samudra yang sempit sekali dibandingkan dengan perairan lepas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· merupakan wilayah yang mempunyai sifat-sifat majemuk. Contoh : mintakat pasut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· perubahan sifat lingkungan sangat cepat dalam waktu dan ruang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· perairan pantai yang umumnya dangkal mempunyai keragaman faktor lingkungan yang besar dari pada samudra lepas baik musiman maupun geografis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
· pengaruh daratan pada perairan pantai dapat dikaitkan dengan rendahnya salinitas&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber:&amp;nbsp;faruk basyori&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Makalah Ilmu Kelautan (Oseanografi)</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/makalah-ilmu-kelautan-oseanografi.html</link><category>Hydrosfer</category><category>Ilmu Bumi</category><category>Ilmu Kelautan</category><category>Oseanografi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 8 Jul 2012 00:55:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-3318094229634096569</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BAB I&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;A.Latar Belakang Masalah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Study tentang kelautan merupakan salah satu wahana untuk lebih memperdalam ilmu lingkungan karena besarnya peran serta laut terhadap siklus dan dinamika lingkungan hidup. Laut merupakan sumber kontribusi terbesar dalam tata system hidrologi. Namun, tidak hanya sampai pada batasan itu karena laut memiliki keunikan dibandingkan dengan sumber air lain yaitu komponen dasar penyusun air laut berupa zat-zat kimia mikro maupun makro. Oleh karena itu perlu suatu kajian tentang laut, komponen penyusunnya, dan pergeseran stabilitas kelautan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;B. Rumusan Masalah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Apa itu oceanografi?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Bagaimana model komposisi air laut?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Bagaimana sumber energi mempengaruhi reaksi kimia di lautan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Apa saja proses yang terjadi di lautan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.Apa komponen yang terdapat di lautan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. Bagaimana pengaruh zat pencemar terhadap keseimbangan laut?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;C.Tujuan Penulisan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1.Mengetahui apa itu oceanografi?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Mengetahui bagaimana model komposisi air laut?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Mengetahui bagaimana sumber energi mempengaruhi reaksi kimia di lautan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Mengetahui apa saja proses yang terjadi di lautan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.Mengetahui apa komponen yang terdapat di lautan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. Mengetahui bagaimana pengaruh zat pencemar terhadap keseimbangan laut?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;ISI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;A. Pengertian Oseanografi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Osean yang berarti lautan atau samudra adalah subdivisi dari massa air yang luas terletak diantara kontinen-kontinen. Bagian yang lebih kecil dari Osean disebut Sea Dalam bahasa latin Oceanus, sedangkan secara harfiah, oseanografi berasal dari bahasa yunani Oceanos yang berarti laut, dan ghrapos yang berarti gambaran atau deskripsi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oseanografi dapat didefinikan secara sederhana sebagai ilmu yang mempelajari lautan dan aspek- aspek yang ada di dalamnya. Danau, sungai, air tanah, uap air di atmosfer, samudera merupakan bagian besar dari muka bumi yang dikenal sebagai Hidrosphere&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan kata lain Oceanografi itu ialah Scientific study dan explorasi lautan dan laut-laut serta semua aspek-aspek dan fenomenanya. Termasuk sedimen,batuan yang membentuk dasar laut, interaksi antara laut dengan atmosfer, pergerakan air, serta faktor-faktor tenaga yang menyebabkan adanya gerakan tersebut baik tenaga dari dalam maupun tenaga dari luar, kehidupan organisma, susunan kimia air laut, serta asal mula terjadinya lautan dan laut-laut purbakala. Oleh karena itu oceanografi dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu mengenai laut yang terdiri dari beberapa cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu geologi, meteorology, biologi, kimia fisis, geofisika, geokimia, gerakan mekanis dan aspek-aspek teoritis yang harus menggunakan ilmu pasti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cakupan oseanografi yaitu organisme lsut dan dinamika fluida, tektonik lempeng dan geologi dasar laut, dan aliran berbagai zat kimia dan sifat fisik di dalam samudra dan pada batas- batasnya, juga mengenai samudra dan memahami proses di dalamnya, seperti proses biologi, kimia, geologi, meteorology, dan fisika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sahala Hutabarat dan Stewart M.Evans (1985: 1), oseanografi dibagi menjadi empat cabang ilmu, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;1. Fisika Oseanografi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Fisika oseanografi yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat-sifat fisika yang terjadi dalam lautan sendiri dan yang terjadi antara lautan dengan atmosfer dan daratan termasuk kejadian-kejadian seperti terjadinya tenaga pembangkit pasang dan gelombang,arus,temperatur air laut, iklim dan sistem arus yang terdapat di lautan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2. Geologi Oseanografi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yaitu yang mempelajari lantai samudra atau litosfer di bawah laut. Ilmu geologi penting artinya bagi kita dalam mempelajari asal terbentuknya lautan, termasuk di dalamnya penelitian tentang lapisan kerak bumi, gunung berapi dan terjadinya gempa bumi. Geologi oseanografi juga menjelaskan struktur dari bebatuan dan bentuk- bentuk fisik dari lautan tersebut, misalnya adanya palung laut, lembah laut, lubuk laut, lembah, dll serta memelajari terjadinya patahan- patahan yang menyebabkan gempa bumi di laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;3. Kimia Oseanografi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kimia oseanografi yaitu ilmu yang berhubungan dengan reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam dan di dasar laut dan juga menganalisa sifat-sifat dari air laut itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Misalnya kadar garam yang terdapat dalam air laut, zat- zat kimia yang mencemari, dll. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;4. Biologi Oseanografi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biologi oseanografi adalah cabang ilmu oseanografi yang sering dinamakan Biologi Laut yang mempelajari semua organisme yang hidup di lautan termasuk binatang-binatang yang berukuran sangat kecil (plankton) sampai yang berukuran besar dan tumbuh-tumbuhan air laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di lautanpun juga terdapat kehidupan seperti di daerah terestial, misalnya fitoplankton, zooplankton, terumbu karang, nekton, bentos, dan lain- lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari uraian di atas, Oseanografi juga merupakan ilmu lingkungan yang menerangkan semua proses di dalam osean dan interelasi antara osean dengan tanah,udara dan semesta alam sehingga dalam mempelajarinya selain di dalam laborarotium biota juga perlu pergi ke laut dengan kapal-kapal expedisi melihat dan menyelidiki secara nyata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;B. Batas-Batas Pantai&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daerah peralihan antara daratan dan lautan sering ditandai dengan adanya suatu perubahan kedalaman yang berangsur – angsur. Di sini dapat dikenal dan dibedakan adanya tiga buah daerah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg16S6Y8-F11ZV1z5REhyphenhyphen2wY5SCm8aQ4xZBI88Bz74D9BLfBhPi0zIYr_VBJA7TQJS_um2j4mFJ1fdKcJeE_wrXnQmmBD_FUNkzyh6TyS9h9KXIxVO771cuDWvhvPGjUFhdtHlrmpAnYKh9/s1600/preview_html_m2305f3f0.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg16S6Y8-F11ZV1z5REhyphenhyphen2wY5SCm8aQ4xZBI88Bz74D9BLfBhPi0zIYr_VBJA7TQJS_um2j4mFJ1fdKcJeE_wrXnQmmBD_FUNkzyh6TyS9h9KXIxVO771cuDWvhvPGjUFhdtHlrmpAnYKh9/s1600/preview_html_m2305f3f0.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Paparan Benua ( Continental Shelf )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adalah suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai ( kemiringannya kira – kira sebesar 0,4% ) dan berbatasan langsung dengan daerah daratan. Daerah ini biasanya mempunyai lebar antara 50 sampai 70 kilometer dan kedalaman maksimum dari lautan yang ada di atasnya tidak lebih besar di antara 100 sampai 200 meter (bergantung kelandaian sekitar pantai ;paparan lebar pada daerah landai, paparan sempit pada daerah perbukitan). Dasar tertutup endapan tebal dari silt,pasir dan lumpur dari sungai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Lereng Benua ( Continental Slope )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lereng benua mempunyai lereng yang lebih terjal dari paparan benua di mana kemiringannya bevariasi antara 3% dan 6%. Lerengan curam dicirikan perubahan cepat terhadap kedalaman dari 200 m ke 3000 m. Permukaan banyak batuan sedikit endapan karena kecuraman. Submarine canyons – berasosiasi dengan keberadaan system sungai pada masa lalu dan dengan turbidity current.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj111bNLu6Uu9taG2LhDL7__6wf7Cy0Qxm6U-IT_r5ZEoYgMU5FYOhIN-Ca8nuL-PW5dk970qLMrgi9OWphnoyJ3WYP8_iLRtmlF-7Mt6ieOOMhVHzNdnrVE7NWkmaZ_hz-LZp0qjeOuj37/s1600/preview_html_m569dd907.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj111bNLu6Uu9taG2LhDL7__6wf7Cy0Qxm6U-IT_r5ZEoYgMU5FYOhIN-Ca8nuL-PW5dk970qLMrgi9OWphnoyJ3WYP8_iLRtmlF-7Mt6ieOOMhVHzNdnrVE7NWkmaZ_hz-LZp0qjeOuj37/s1600/preview_html_m569dd907.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanjakan Benua ( Continental Rise )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daerah ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang kemudian perlahan – lahan menjadi datar pada dasar laut. Lerengan landai terbentuk dari akumulasi endapan. Endapan berasan dari turbidity current, longsoran bawah laut, dan proses bawaan lainnya. Ciri dari Lautan Atlantik dan India.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Dasar Palung ( Ocean Basin Floor)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedalaman antara 4000 – 6000 m (30 % dari luasan muka bumi). Biasanya berupa hamparan luas (abyssal plain). Terdapat perbukitan abyssal (abyssal hills – tinggi &amp;lt; 1000 m). Gunung laut (seamount) yang dapat muncul ke permukaan menjadi pulau yang berasosiasi dengan pulau karang (reefs). Guyot (gunung laut dengan puncak datar yang tenggelam antara 1000 – 1700 m).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada mulanya dipercaya bahwa permukaan dasar lautan itu adalah datar dan tidak mempunyai bentuk, tetapi ilmu – ilmu modern sekarang telah membuktikan bahwa topografi mereka adalah kompleks seperti daratan. Bentuk – bentuk itu adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Ridge dan Rise&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ini adalah suatu bentuk proses peninggian yang terdapat di atas lautan (sea floor) yang hampir serupa dengan adanya gunung – gunung di daratan. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan antara ridge dan rise. Hanya dapat dibedakan dari letak kemiringan lereng – lerengnya saja. Ridge lerengnya lebih bersifat terjal dari rise.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Trench&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagian laut yang terdalam adalah berbentuk seperti saluran yang seolah – olah terpisah sangat dalam yang terdapat diperbatasan antara benua dengan kepulauan. Biasanya mempunyai kedalaman yang sangat besar. Sebagai contoh sebagian dari Jawa Trench mempunyai kedalaman sebesar 7.700 meter.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Abyssal Plain ( Daratan Abisal )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daerah ini relatif terbagi rata dari permukaan bumi yang terdapat di bagian sisi yang mengarah ke daratan dari sistem mid oceanic ridge.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Continental Island ( Pulau – Pulau Benua )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa pulau seperti Greenland dan Madagaskar menurut geologinya merupakan bagian dari massa tanah daratan benua besar yang kemudian terpisah. Daerah – daerah ini lapisan kerak buminya terdiri dari batu – batuan esi ( granitic ) yabg jenisnya sama dengan yang terdapat di daratan benua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Island Arc (Kumpulan Pulau – pulau )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kumpulan pulau – pulau seperti Kepulauan Indonesi juga mempnyai perbatasan dengan benua, tetepi mereka mempunyai asal yang berbeda. Kepulauan ini terdiri dari batu – batuan vulkanik dan sisa – sisa sendimen pada bagian permukaan kulit lautan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Mid-Oceanik volcanic Island (Pulau – pulau vulkanik yang terdapat di tengah – tengah lautan )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daerah ini terdiri dari banyak pulau – pulau kecil, khususnya terdapat di Lautan Pasifik, dimana letak mereka sangat jauh dari massa daratan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Atol – Atol&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Daerah ini terdiri dari kumpulan pulau – pulau yang sebagian tebggelam di bawah permukaan air. Batu – batuan yang terdapat disini ditandai oleh adanya terumbu karang yang terbentuk seperti cincin yang mengelilingi sebuah lagon yang dangkal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Seamount dan Guyot&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka adalah gunung – gunung berapi yang muncul dari dasar lantai lautan, tetapi tidak dapat mencapai sampai ke permukaakn lut. Seamount mempunyai lereng yang curam dan berpuncak runcing dan kemungkinan mempunyai tinggi sampai 1 kilometer atau lebih. Guyot mempunyai bentuk yang serupa dengan seamount tetepi bagian puncaknya datar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;C. Sumber Energi Untuk Reaksi Kimia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Reaksi kimia berada di laut, seperti pada kesetimbangan kimia. Kesetimbangan ini membawa masukan energy dari dua sumber : matahari dan energy dari dalam bumi. Energi matahari, dari fotosintesis, memungkinkan perubahan oleh tanaman laut oleh materi organik dan perubahan karang (silica) yang mengadakan kesetimbangan dalam air laut. Sebagai tambahan, hewan laut berfotosintesis menghasilkan materi organic dan juga perubahan struktur kimia. Sebagai akibat di antara tanaman dan aktivitas hewan. Permukaan air menjadi dalam, dengan kedalaman dan sisa organic menjadi kaya beberapa elemen dalam uji coba untuk kesetimbangan kimia. Aktivitas fotosintesis dari konsentrasi permukaan air (dari permukaan laut sampai 200 m) karena kekurangan penetrasi dari cahaya matahari untuk kedalaman yang dalam (sintesis dari materi organic dalam daerah yang gelap oleh organism laut yang tidak berfotosintesis yang berada di dekat pusat vulkanik dan tengah laut juga terjadi, tetapi dalam laju yang ekstrim.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber energy utama yang lain dalam kesetimbangan kimia pada laut adalah panas bumi. Contoh sumber panas bumi adalah energy vulkanik. Mineral di dalam laut yang bersifat basa akan membentuk magma yang sangat panas. Apabila itu tidak berinterajsi dengan air laut maka akan terjadi kestabilan. Reaksi mungkin dapat terjadi pada temperature yang tinggi ataupun yang rendah, temperature dasar laut reaksi antara basa dengan air akan semakin cepat dengan kenaikan temperature.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Energi matahari dan panas bumi juga mempunyai efek tidak langsung pada komposisi laut. Energi matahari membantu penguapan air laut, pengangkutan uap air ke benua, dan pembentukan air hujan, yang kemudian jatuh ke benua untuk membentuk air tanah, groundwater, danau dan sungai. Sementara itu, energi dalam bumi, yang menunjukkan pengangkatan tektonis dan volcanis, menyebabkan pembentukan batu karang pada kedalaman untuk diangkat ke dalam zona kerusakan karena iklim pada benua itu. batu karang tidak stabil dan bereaksi dengan air tanah dan groundwaters lewat mediasi dari( digunakan proses fotosintesis) tumbuhan hijau, untuk menyempurnakan pembentukan dari pelarutan unsur-unsur dan mineral baru. Mineral berbentuk kasar pada kesetimbangan dengan perairan kontinental tetapi tidak penting pada kesetimbangan dengan air laut,yang mana mempunyai suatu komposisi yang berbeda. sebagai konsekwensi, secara terestrial membentuk produk kerusakan karena iklim ( larutan dan suspensi padat) dibawa dari sungai ke samudra, di mana mereka mengalami berbagai reaksi kimia dengan air laut. Sebagai tambahan, berbagai bahan kimia yang tidak stabil dan mineral metamorphic yang diatur untuk melepaskan kerusakan karena iklim kimia juga ditambahkan ke samudra dan mungkin juga mengalami reaksi kimia. proses yang berlangsung pada benua sebagai jawaban atas matahari dan masukan energi dalam bumi dapat mempengaruhi komposisi air laut juga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;D. Proses Utama Pada Modifikasi Air Laut&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;- Proses Biologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Reaksi kimia di dalam samudra terjalin dengan proses hidup sebagai kendali utama pada konsentrasi unsur air laut berikut: Ca2+,HCO3-,SO42-,H4SiO4,CO2,O2,NO3-, dan Orthophosphate. Biogeochemistry berhubungan laut dan perannya di dalam cycles, konsultan dunia Berger et al. ( 1989) dan Wollast et Al. ( 1993).] aktivitas biologis juga betul-betul mempengaruhi jejak-jejak elements,sebagai contoh: copper dan nikel ( Boyle Et Al. 1997;Sclater et al.1976). Tiga proses prinsip dapat dikenali: (1) sintesis jaringan/tisu lembut atau organik, (2) pembusukan (dekomposisi) senyawa organik yang telah mati oleh bakteri , dan (3) pengeluaran bagian yang keras.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;- Reaksi vulkanis-air laut&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aktivitas volkanis di dalam samudra itu luas dan produknya terdiri dari arus lahar basalt kapal selam. Produk vulkanik yang berlimpah ini meliputi gelas/kaca volkanis, pyroxenes, zat kapur plagioclase, dan olivine, semua dari air laut yang secara kimiawi tidak stabil. Sebagai hasil ketidakstabilan dan distribusi tersebar luas, unsur ini bereaksi dengan air laut, mengubah komposisinya dan mineral baru diproduksi di berbagai temperatur lingkungan, baik temperature tinggi maupun temperature rendah. Bersama dengan itu proses biological (termasuk sungai), reaksi vulkanis-air laut mendasari dua mekanisme komposisi samudra modern diciptakan dan dirawat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;- Interaksi dengan Detrital Padat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Detrital Material memindahkan mineral silikat besar dalam samudra dan sungai, terutama tanah liat yang tidak berhubungan dengan keseimbangan air laut. Oleh karena itu, ketika mereka memasuki lautan, reaksi kimia berlangsung. Reaksi melibatkan keseluruhan mineral silikat, atau hanya permukaan nya. Pada kasus terdahulu kita mempunyai pembentukan baru, biasanya lebih kation-kaya mineral dari kaum tua detrital satu, dan proses menyerupai kerusakan karena iklim, dikenal sebagai membalikkan kerusakan karena iklim ( Mackenzie dan Garrels 1960). Kemudian karena kelambanan reaksi, hanya perubahan kimia yang menyertakan jenis pada permukaan mineral berlangsung, dan proses ini dikenal sebagai adsorption-desorption atau, jika ion adalah involved,ion pertukaran. Bersamaan dengan itu, kerusakan disebabkan karena iklim, Adsorpsi-Desorpsi dan Pertukaran Ion meliputi semua reaksi utama antar runtuhan silikat pada sungai dan air laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;E. Kadar Bahan Kimia dalam Bentuk Elemen Tunggal&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Air laut umumnya terdiri dari beberapa elemen ion, Chloride, Sodium ( Natrium ), Sulfate, Magnesium, Potassium ( Kalium ), Calcium, Bicarbonate, Silica, Phosphorus, Nitrogen. Kumpulan ion-ion ini umumnya dikenal sebagai salinitas. Sifat air laut yang cukup penting dalam menentukan produktivitas perairan adalah viskositas (kepekatan) yang sangat dipengaruhi oleh salinitas dan suhu. Air laut yang mempunyai suhu tinggi dan salinitas rendah akan mempunyai viskositas yang rendah. Apabila air laut mempunyai suhu rendah dan salinitas tinggi maka viskositas menjadi sangat pekat. Rata-rata konsentrasi garam-garam terlarut di air laut berkisar 3.5%, namun konsentrasi tersebut tergantung pada lokasi dan laju evaporasi (Brown et al 1989 dan Millero, 1996). Konsentrasi ion utama terlarut bervariasi dari stu lokasi ke lokasi lain, namun secara proporsi relatifnya konstan (Brown et al 1989 dan Pichard and Emery, 1990). Air laut sudah banyak digunakan untuk mengairi tanaman yang toleran terhadap salinitas (halophytes) pada daerah-daerah dekat pantai (Pasternak et al 1985). Mengingat tingginya kandungan kation, air laut dapat digunakan sebagai salah satu sumber hara bagi tanaman termasuk tanaman yang sensitive terhadap kadar garam yang tinggi (glycophyte plants).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border="1" bordercolor="#000000" cellpadding="7" cellspacing="0" style="width: 646px;"&gt;
 &lt;colgroup&gt;&lt;col width="493"&gt;&lt;/col&gt;
 &lt;col width="123"&gt;&lt;/col&gt;
 &lt;/colgroup&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td colspan="2" height="19" valign="TOP" width="630"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;&lt;b&gt;Tabel
   1. Rata-rata konsentrasi ion pada air laut (Brown et al 1989) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="19" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Ion
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Parts
   per thousand by weight &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Chloride,
   Cl- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;18.98
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Sodium,
   Na+ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;10.556
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Sulphate,
   SO42- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;2.649
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Magnesium,
   Mg2+ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;1.272
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Calcium,
   Ca2+ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;0.400
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Potassium,
   K+ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;0.380
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Bicarbonate,
   HCO3- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;0.140
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Bromide,
   Br- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;0.065
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Borate,
   H2BO3- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;0.026
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="6" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Srontium,
   Sr2+ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;0.013
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td height="5" width="493"&gt;&lt;div align="JUSTIFY"&gt;
&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;Fluoride,
   F- &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="123"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', 'Bookman Old Style', serif;"&gt;0.001
   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
   &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div align="JUSTIFY" class="western" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="JUSTIFY" class="western" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;
&lt;b&gt;Tabel 2. Perbedaan kandungan garam dan ion utama antara air laut
dan air sungai &lt;/b&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="width: 553px;"&gt;
 &lt;colgroup&gt;&lt;col width="187"&gt;&lt;/col&gt;
 &lt;col width="181"&gt;&lt;/col&gt;
 &lt;col width="185"&gt;&lt;/col&gt;
 &lt;/colgroup&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
NAMA UNSUR&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td colspan="2" width="366"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
% jumlah berat seluruh gram&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
AIR LAUT&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
AIR SUNGAI&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Klorida&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
55,04&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
5,68&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Natrium&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
30,61&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div class="western"&gt;
5,79&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Sulfat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
7,68&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
12,14&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Magnesium&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
3,69&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
3,41&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Kalsium&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
1,16&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
20,29&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Kalium&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
1,10&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
2,12&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Bikarbonat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
0,41&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Karbonat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
35,15&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Brom&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
0,19&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Asam borak&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
0,07&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Strontium&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
0,04&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Flour&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
0,00&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Silika&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div class="western"&gt;
11,67&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Oksida&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
2,75&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
  &lt;td width="187"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Nitrat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="181"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
-&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  &lt;td width="185"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
0,90&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Chloride (Klorida)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Klorida adalah ion yang terbentuk sewaktu unsur klor mendapatkan satu elektron untuk membentuk suatu anion (ion bermuatan negatif) Cl−. Garam dari asam hidroklorida HCl mengandung ion klorida; contohnya adalah garam meja, yang adalah natrium klorida dengan formula kimia NaCl. Dalam air, senyawa ini terpecah menjadi ion Na+ dan Cl−.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Klorida adalah merupakan anion pembentuk Natrium Klorida yang menyebabkan rasa asin dalam air bersih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ciri yang paling khas pada air laut yang diketahui oleh semua orang adalah rasanya yang asin. Ini disebabkan karena di dalam air laut terlarut bermacam-macam garam, yang paling utama adalah garam natrium korida (NaCl) yang sering pula disebut garam dapur. Selain garam-garam korida, di dalam air laut terdapat pula garam-garam magnesium, kalsium, kalium dan sebagainya. Dalam literatur oseanologi dikenal istilah salinitas (acapkali pula disebut kadar garam atau kegaraman) yang maksudnya ialah jumlah berat semua garam (dalam garam) yang terlarutdalam satu liter air, biasanya dinyatakan dengan satuan 0/00 (per mil, gram per liter).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada berbagai cara menentukan salinitas, baik secara kimia maupun fisika. Secara &amp;nbsp;kimia untuk menentukan nilai salinitas dilakukan dengan cara menghitung jumlah kadar klor dalam sample air laut. Hal ini dilakukan karena sangat susah untuk menentukan salinitas senyawa terlarut secara keseluruhan. Oleh sebab itu hanya dilakukan peninjauan pada komponen terbesar yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai: S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902) Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salinitas wilayah estuarine di daerah tropis umumnya cukup rendah karena banyaknya muara sungai yang mengalir, dan adanya curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun. Oleh karena daerah estuarine merupakan daerah yang salinitasnya selalu berubah-ubah, maka organisme yang dapat hidup umumnya organisme yang dapat tahan terhadap perubahan salinitas yang besar. Dengan demikian ditinjau dari salinitasnya daerah estuarine ini merupakan lingkungan yang khas sebagai tempat berlindung bagi organisme yang masih muda (larva).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Estuaria adalah perairan muara sungai semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Estuaria dapat terjadi pada lembah-lembah sungai yang tergenang air laut, baik karena permukaan laut yang naik (misalnya pada zaman es mencair) atau pun karena turunnya sebagian daratan oleh sebab-sebab tektonis. Estuaria juga dapat terbentuk pada muara-muara sungai yang sebagian terlindungi oleh beting pasir atau lumpur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sodium ( Natrium )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Natrium atau sodium adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Na dan nomor atom 11. Natrium adalah logam reaktif yang lunak, keperakan, dan seperti lilin, yang termasuk ke logam alkali yang banyak terdapat dalam senyawa alam (terutama halite). Dia sangat reaktif, apinya berwarna kuning, beroksidasi dalam udara, dan bereaksi kuat dengan air, sehingga harus disimpan dalam minyak. Karena sangat reaktif, natrium hampir tidak pernah ditemukan dalam bentuk unsur murni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti logam alkali lainnya, natrium adalah unsur reaktif yang lunak, ringan, dan putih keperakan, yang tak pernah berwujud sebagai unsur murni di alam. Natrium mengapung di air, menguraikannya menjadi gas hidrogen dan ion hidroksida. Jika digerus menjadi bubuk, natrium akan meledak dalam air secara spontan. Namun, biasanya ia tidak meledak di udara bersuhu di bawah 388 K.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Efek buruk tingginya konsentrasi Na di tanah terhadap pertumbuhan tanaman dapat dibedakan atas 3 kelompok:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a) terhambatnya serapan air karena rendahnya potensi osmotik (Lea-Cox dan Syverstsen 1993)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b) terganggunya metabolisme disebabkan tingginya konsentrasi Na pada jaringan tanaman (Cramer et al 1990)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
c) terhambatnya absorpsi kation lainnya (Cachorro et al 1994). Menurut toleransinya terhadap salinitas, tanaman dibedakan atas halophytic dan glycophytic. Halophytic adalah tanaman yang toleran terhadap tingginya salinitas karena kemampuannya menyerap air dengan mempertahankan potensi osmotik yang tinggi melalui akumulasi ion-ion anorganik (Bradley dan Morris 1991), sebaliknya tanaman yang tergolong glycophytic sensitif terhadap salinitas yang tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sodium dikenal sebagai unsur tambahan yang menguntungkan dan untuk beberapa jenis tanaman ia dapat menggantikan sebagian fungsi Kalium (Marschner 1995). Menurut Wild dan Jones (1996) pengaruh Natrium akan sangat besar bila pasokan Kalium bagi tanaman tidak mencukupi. Lebih lanjut dikatakan Mills dan Jones (1996) bahwa unsur ini dapat mengurangi pengaruh yang ditimbulkan oleh kekurangan Kalium tapi tidak dapat menggantikan fungsi Kalium sepenuhnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sulfate ( Sulfat )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam sulfat pada tahun 2001 adalah 165 juta ton, dengan nilai perdagangan seharga US$8 juta. Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara alami di bumi oleh karena sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat merupakan komponen utama hujan asam, yang terjadi karena oksidasi sulfur dioksida di atmosfer dengan keberadaan air (oksidasi asam sulfit). Sulfur dioksida adalah produk sampingan utama dari pembakaran bahan bakar seperti batu bara dan minyak yang mengandung sulfur (belerang). Asam sulfat terbentuk secara alami melalui oksidasi mineral sulfida, misalnya besi sulfida. Air yang dihasilkan dari oksidasi ini sangat asam dan disebut sebagai air asam tambang. Air asam ini mampu melarutkan logam-logam yang ada dalam bijih sulfida, yang akan menghasilkan uap berwarna cerah yang beracun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
H2SO4 anhidrat adalah cairan yang sangat polar. Walaupun asam ini memiliki viskositas yang cukup tinggi, konduktivitas efektif ion H3SO4+ dan HSO4− tinggi dikarenakan mekanisme ulang alik proton intra molekul, menjadikan asam sulfat sebagai konduktor yang baik. Ia juga merupakan pelarut yang baik untuk banyak reaksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Magnesium&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Magnesium adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Mg dan nomor atom 12 serta berat atom 24,31. Magnesium adalah elemen terbanyak kedelapan yang membentuk 2% berat kulit bumi, serta merupakan unsur terlarut ketiga terbanyak pada air laut. Logam alkali tanah ini terutama digunakan sebagai zat campuran untuk membuat campuran alumunium-magnesium yang sering disebut "magnalium" atau "magnelium".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di samping itu sulfat, magnesium (Mg), calsium (Ca) dan kalium (K) juga terdapat dalam konsentrasi yang cukup tinggi dibandingkan unsur lainnya. Tingginya kandungan nutrien yang terdapat pada air laut, khususnya unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman seperti Mg, Ca dan K memberi petunjuk bahwa air laut dapat menjadi salah satu sumber alternatif nutrien bagi tanaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Potassium ( Kalium )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kalium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang K dan nomor atom 19. Kalium berbentuk logam lunak berwarna putih keperakan dan termasuk golongan alkali tanah. Secara alami, kalium ditemukan sebagai senyawa dengan unsur lain dalam air laut atau mineral lainnya. Kalium teroksidasi dengan sangat cepat dengan udara, sangat reaktif terutama dalam air, dan secara kimiawi memiliki sifat yang mirip dengan natrium. Dalam bahasa Inggris, Kalium sering disebut Potassium.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kalium adalah unsur yang mudah larut, oleh karenanya unsur ini yang terakhir mengalami presipitasi setelah kalsium, karbonat, kalsium sulfat dan natrium sulfat. Ketika 90.5% larutan air laut telah terevaporasi, larutan yang masih tinggal mengandung kalium chlorid dan magnesium chlorid (Brown et al., 1989; Millero, 1996). Pilson (1998) menerangkan bahwa sejumlah kalsium karbonat dihasilkan ketika tiga perempat dari 1000 mL air laut telah terevaporasi. Selanjutnya gypsum terbentuk sampai volume air laut tingal 10 – 12% dari volume awal, diikuti dengan terbentuknya natrium chlorid, terbentuk di bagian atas gypsum. Setelah volume air laut tinggal 3 – 4% dari volume awal maka terbentuk 21 g NaCl, 0.1 g CaCO3 dan 1.7 g gypsum. Air laut yang tersisa sekitar 30 mL mengandung Mg, Na, K, SO4, Cl dan Br. Larutan ini disebut bitterns karena tingginya konsentrasi Mg yang mengakibatkan rasa pahit. Dalam skala besar, pada tahun 1986 China telah mengembangkan cara modern dalam menghasilkan KCl dari larutan garam dengan kapasitas 1 juta ton KCL di Qinghai Potash (ASIAFAB, 1999).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Potasium klorat atau kalium klorat yang memiliki rumus kimia KCL seperti bahan klorat lain adalah bahan oksidator umum yang ditemui di laboratorium kimia. Bahan ini merupakan oksidator yang relatif kuat. Kalium klorat diproduksi dalam skala besar untuk industri kembang api korek api, peledak, dan antiseptik. Sebagian besar piroteknik dan bahan peledak berdaya ledak rendah, beroperasi berdasarkan proses reaksi antara "bahan bakar" dan oksigen untuk menghasilkan panas, suara, atau gas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai contoh : Aktivitas penangkapan berlebih dan praktek perikanan merusak menggunakan potasium sianida dan bom ikan menjadi ancaman utama populasi kima atau kerang laut raksasa (tridacna). Sedikitnya tiga spesies di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku Utara, terancam hilang. &amp;nbsp;Tingginya angka kematian bibit kima itu disebabkan salinitas dan ph (tingkat keasaman) air yang tinggi dan kadar oksigen rendah. Kedua pendukung hidrologi itu sudah terganggu akibat pencemaran laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Nitrogen&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Variasi musiman dari nitrit, nitrat dan ammonia terjadi pada lapisan permukaan laut sebagai hasil dari aktifitas biologi. Perubahan konsentrasi Nitrogen secara musiman sebagian besar terjadi di perairan dangkal daerah lintang sedang atau lintang tinggi. Saat musim semi, terjadi peningkatan intesitas cahaya dan durasi (lama penyinaran) yang menyebabkan peningkatan populasi fitoplankton. Hal ini menimbulkan perpindahan Nitrogen anorganik terlarut dari daerah eufotik. Populasi fitoplankton kemudian dimangsa oleh zooplankton dan ikan. Nitrogen kemudian dikembalikan ke perairan dalam bentuk excrete (kotoran), urine (amoniak dan urea) atau partikel feses yang akan didekomposisi oleh bakteri sebelum dikembalikan ke perairan. Pada musim semi, proses percampuran vertical (vertical mixing) memiliki konstribusi mengangkat nutrien dari perairan bawah ke zona eufotik. Akibatnya populasi fitoplankton bertambah dengan cepat dan mulai menurun saat terbentuk zona termoklin yang menghalangi suplai Nitrogen ke lapisan permukaan. Nutrien yang dominan pada waktu ini adalah amoniak yang diekskresikan oleh Zooplankton dan selanjutnya dimanfaatkan oleh algae dalam proses fotosintesis. Pada beberapa lokasi, terjadi penurunan konsentrasi Nitrogen terlarut hingga mencapai taraf yang dapat mematikan organisme. Ekskresi Nitrogen oleh zooplankton mencapai tingkat maksimum saat populasi fitoplankton jarang. Hal ini terjadi karena kemungkinan pemanfaatan protein sebagai sumber energi menurun saat makanan (fitoplankton) berlimpah. Saat organisme mati atau dikonsumsi dan dikeluarkan dalam bentuk feses oleh zooplankton, maka bakteri akan melakukan regenerasi Nitrogen.Regenerasi nitrat seringkali menyebabkan blooming algae pada akhir musim panas. Konsentrasi nitrat akan meningkat hingga mencapai titik maksimum pada musim gugur dan kemudian menurun. Nitrifikasi akan selesai saat bulan Januari saat permukaan mendingin dan badai membongkar lapisan termoklin, menyebabkan nirat dapat terdistribusi kembali ke kolom air dan dasar perairan. Kondisi yang berbeda terjadi pada daerah perairan yang memiliki up-welling yang membawa nutrient dari perairan bawah ke lapisan permukaan. Kondisi perairan di daerah up-welling sangat subur dan mendukung kehidupan fitoplankton yang melimpah. Dengan demikian nutrient bukan merupakan faktor pembatas di daerah ini. Perubahan konsentrasi nutrient di lautan terbuka yang jauh dari daratan juga dipengaruhi oleh produktifitas fitoplankton dan hanya terbatas di lapisan permukaan. Namun, proses regenerative terjadi di seluruh kolom perairan. Organisme mati dan detritus organik akan diuraikan oleh bakteri saat tenggelam dari permukaan air. Partikel organik akan tenggelam dengan lambat karena ukuran partikel mengalami penyusutan dan densitas air laut yang lebih tinggi pada perairan yang lebih dalam. Oksidasi partikel menyebabkan berpindahnya oksigen dari dalam air, demikian pula dengan karbondioksida dan ion nitrat yang menjadi produk akhir dari oksidasi senyawa organik akan terakumulasi di daerah perairan yang lebih dalam. Konsentrasi nitrogen di seluruh samudera di dunia memiliki konsentrasi yang konstan mulai dari kedalaman di daerah pertengahan hingga dasar perairan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Manfaat Nitrogen dalam air laut umumnya terlarut dalam bentuk nitrat (NO3), nitrit (NO2) dan Amoniak (NH4). Bentuk-bentuk senyawa dari nitrogen tersebut diabsorbsi oleh organisme laut untuk memenuhi kebutuhan akan nitrogen sebagai salah satu komponen utama pembentukan asam amino yang menjadi cikal bakal terbentuknya protein. Nitrogen penting untuk membangun jaringan tubuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Fosfor&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Fosforus dalam air kebanyakan dijumpai dalam bentuk ortho-phospat (organik) yaitu : H2PO4 , H2PO4 2- dan PO4 3-. Konsentrasinya didalam air dipengaruhi oleh PH dan SUHU. Jika PH : 8,0 dan Suhu 20 derajat Celcius, maka konsentrasi H2PO4 87%, H2PO4 2- 12% dan PO4 3- 1% .&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kandungan fosfat didalam air umumnya &amp;lt; 0,1 ppm dan fosforus 0,03 ppm. Jika kandungan fosforus &amp;gt; 0,6 ppm maka air sudah dikatakan RUSAK. Perbandingan Nitrogen dan fosforus yang dibutuhkan oleh Phytoplankton adalah 10 : 1.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di perairan dangkal daerah temperate, variasi musiman ditemukan pada fosfat dan konsentrasi fosfor organik terlarut. Pada musim dingin, sebagian besar fosfor berada dalam bentuk orthofosfat. Namun, hal ini akan menurun dengan cepat pada bulan maret saat fosfat digunakan oleh fitoplankton. Zooplankton dan ikan akan memakan fitoplankton dan mengembalikan fosfat ke dalam perairan melalui feses/buangan metabolisme dalam bentuk fosfat dan fosfor organik terlarut. Pada bulan mei-Juni, konsentrasi fosfat akan menurun di daerah eufotik sehingga konsentrasi fosfor organik terlarut lebih dominan. Setelah fitoplankton mengalami blooming, regenerasi fosfat dari fitoplankton, detritus dan fosfor organik terlarut akan kembali meningkat dengan cepat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Senyawa Fosfor seperti ATP (adenosine tri-fosfat) dan ko-enzim nukleotida, memiliki peran yang penting dalam fotosintesis dan proses lainnya dalam tumbuhan. Fitoplankton umumnya memenuhi kebutuhan fosfor melalui asimilasi secara langsung dalam bentuk ortho-fosfat. Absorbsi dan konversi menjadi senyawa fosfor organik terjadi saat kondisi gelap&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Silika&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Annonymous (2007), Silikon (Latin: silicium) adalah merupakan unsur kimia dalam jadual berkala yang mempunyai simbol Si dan nomor atom 14. Silikon adalah sejenis metaloid tetravalen yang kurang reaktif dibandingkan dengan analog kimianya, karbon. Ia merupakan unsur kedua paling berlimpah di dalam kerak Bumi, yaitu mencapai hampir 25.7%. Dalam bentuk aslinya, silikon berwarna kelabu gelap dengan kilauan logam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Silikon (Si) merupakan salah satu unsur yang terdapat ada kerak bumi secara berlimpah. Di alam silikon tidak ditemukan dalam bentuk elemen bebas, melainkan berikatan dengan oksigen dan elemen lain. Silikon banyak ditemukan dalam bentuk silika (SiO2).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Effendi (2003), silika bersifat tidak larut dalam air maupun asam dan biasanya berada dalam bentuk koloid. Silika terdapat pada hampir semua batuan dan mudah mengalami pelapukan. Sumber alami silika adalah mineral kuarsa dan feldspar. Sumber antropogenik silika relatif sangat kecil. Pada perairan alami, silikon biasanya terdapat dalam bentuk asam silika. Perairan tawar alami memiliki kadar silika kurang dari 5 mg/liter. Perairan sungai dan danau memiliki kadar silika antara 5-25 mg/liter (Cole, 1988). Pada air tanah dalam, kadar silika dapat mencapai 65 mg/liter. Pada perairan yang melewati batuan vulkanik, kadar silka dapat mencapai 100 mg/l. Pada perairan payau dan laut, kadar silika berkisar 4.000 mg/liter.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Silikon terlarut di daerah perairan pantai umumnya cukup tinggi karena efek “run-off” dari daratan. Pada musim semi, ledakan populasi fitoplankton dengan cepat menyebabkan menurunnya konsentrasi silikon. Regenerasi silikon akan dimulai kembali pada musim panas saat pertumbuhan fitoplankton menjadi lambat dan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada awal musim dingin. Pada beberapa daerah, ledakan populasi fitoplankton pada musim gugur dapat menyebabkan terhambatnya regenerasi silikon untuk sementara waktu. Konsentrasi silikon terlarut di permukaan laut umumnya rendah, kecuali di daerah yang mengalami up-welling. Pada lapisan yang lebih dalam, ditemukan peningkatan yang tajam dari konsentrasi silikon. Pola distribusi silikon berbeda dari satu samudera ke samudera lainnya dan ditentukan oleh pola sirkulasi air dan oleh suplai silikon terlarut dari Antartik dan dari diatom terlarut yang jatuh dari permukaan. Proses absorbsi oleh organisme juga berpengaruh terhadap pola distribusi silikon.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Silikon termasuk salah satu unsur yang esensial bagi makhluk hidup. Beberapa alge, terutama diatom (Bacillariophyta), membutuhkan silica untuk membentuk frustule (dinding sel). Biota perairan tawar : misalnya sponge, menggunakan silica untuk membentuk spikul. Keberadaan silika pada perairan tidak menimbulkan masalah karena tidak bersifat toksik bagi makhluk hidup. Akan tetapi, pada perairan diperuntukkan bagi keperluan industri, keberadaan silika dapat menimbulkan masalah pada pipa karena dapat membentuk deposit silika (Effendi, 2003).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bikarbonat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat ini konsentrasi Karbondioksida (CO2) di atmosfer sudah hampir mencapai 380 ppm, 80 ppm diatas nilai maksimum konsentrasi di atmosfer pada 740.000 tahun sebelumnya. Sepanjang abad ke 20 hal ini telah berdampak pada naiknya suhu global di laut dengan rata-rata 0,74ºC, kadar pH laut menjadi jauh lebih asam dan hal ini juga menyebabkan konsentrasi ion carbonat dilaut menjadi 210 µmol kg-1, angka ini jauh lebih rendah dari 420.000 tahun yang lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dampak yang terjadi akibat adanya pengasaman dilaut akibat pH menjadi lebih rendah adalah berkaitan dengan proses terserapnya CO2 kedalam laut yang juga akan berpengaruh terhadap proses pembentukan kapur pada karang, seperti ditunjukan pada gambar dibawah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbdQntSdsEr0f5EA90gy0dDp2t841TTrqR4QVLVvRoEKbgTBoazHQyQY9miYyDZuFCZ8IvO4ZvtNVd8XLWTjDl6l5gF_pRr5_lnb_CSLEOd45eiN9o4fLFoZc_vIOMqHQp1vfKHpKgqy4p/s1600/preview_html_61cfb4d8.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbdQntSdsEr0f5EA90gy0dDp2t841TTrqR4QVLVvRoEKbgTBoazHQyQY9miYyDZuFCZ8IvO4ZvtNVd8XLWTjDl6l5gF_pRr5_lnb_CSLEOd45eiN9o4fLFoZc_vIOMqHQp1vfKHpKgqy4p/s1600/preview_html_61cfb4d8.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hampir 25% sumber CO2 selama ini berasal dari aktivitas manusia seperti industri dan transportasi yang hampir sebagian besar telah terserap di lautan. CO2 yang telah terserap tersebut bergabung dengan air laut sehingga menghasilkan senyawa asam karbonat (HCO3-) dan ion Hidrogen (H-) yang selanjutnya juga akan berikatan dengan ion karbonat dilaut (CO32-) sehingga menghasilkan asam karbonat juga, oleh karena itu semakin tinggi konsentrasi CO2 maka semakin tinggi juga konsentrasi asam karbonat dilaut yang akan menyebabkan laut menjadi lebih asam (Ascidification) dan juga dapat mengurangi ion karbonat dilaut yang seharusnya digunakan dalam proses pengkapuran dilaut (Calcification) seperti pada karang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berkurangnya konsentrasi senyawa karbonat dalam pembentukan kalsium karbonat (CaCO3) dilaut sangat berpengaruh terhadap proses pengkapuran karang, menurut Hoegh,et al, 2007 ada 3 mekanisme karang dalam menerima respon terhadap hal tersebut, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- karang akan mengurangi tingkat pertumbuhan dan densitas skeletalnya dari koloni karang,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- karang kemungkinan tetap mempertahan tingkat pertumbuhannya dengan mengurangi densitas skeletalnya,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- karang tetap mempertahankan pertumbuhan dan densitas skeletalnya dengan memfokuskan energi untuk proses pengkapuran (calcification) tetapi efek sampingnya adalah mengurangi proses reproduksinya sehingga dapat menyebabkan berkurangnya jumlah larva yang dikeluarkan karang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dampak yang dirasakan bagi kita sendiri dalam jangka panjang akibat pengasaman laut tersebut adalah berkurangnya hasil perikanan laut akibat tingginya tingkat kematian juvenil ikan karang dikarenakan kurangnya tempat berlindung dikarang akibat lambatnya pertumbuhan karang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal yang jelas harus kita lakukan saat ini adalah dengan mengurangi emisi CO2 dan dan mengurangi limbah rumah tangga maupun industri yang dapat mempengaruhi kualitas air dilautan yang jangka panjangnya dapat meningkatkan pertumbuhan alga yang menjadi kompetitor karang dilaut (YG).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kalsium&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kalsium adalah unsur kimia dalam jadual berkala yang bersimbolkan Ca dan mempunyai nombor atom 20. Kalsium logam alkali bumi kelabu yang lembut yang digunakan sebagai agen penurun dalam penyarian torium, zirkonium dan uranium. Kalsium adalah unsur kelima paling berlimpah dalam kerak Bumi. Ia amatlah penting bagi organisme hidup, terutamanya dalam fisiologi sel, dan merupakan unsur paling biasa dalam kebanyakan hewan. Kalsium penting untuk pengecutan otot, pengaktifan oosit, membentuk tulang dan gigi yang kuat, pembekuan darah, penghantaran impuls saraf, pengawalaturan degupan jantung, dan keseimbangan bendalir dalam sel.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kalsium dijumpai dalam sistem tanah biasanya dalam bentuk batu kapur, gipsum dan fluorit. Stalagmit dan stalaktit mengandungi kalsium karbonat. Oleh sebab ia merupakan zat makro dalam diet manusia, amalan pemuliharaan tanah selalunya mengambil kira keseimbangan lestari kepekatan kalsium dalam tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Calcium merupakan nutrisi didalam air yang membuat jumlah Karbonate dan Bikarbonate menjadi seimbang. Semakin banyak jumlah Calcium yang terdapat dalam air, maka jumlah family plankton akan semakin banyak. Juga karena Calcium didalam air, akan menghasilkan bikarbonat yang menambah jumlah Carbondioksida ( CO2 ) untuk proses fotosintesis. Jumlah Calcium didalam air menunjukkan bagus atau tidaknya sumber air tersebut. Jika Calsium &amp;lt; 10 ppm kurang baik. 10 ~ 25 ppm baik, dan &amp;gt; 25 ppm lebih baik lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jenis plankton yang dijumpai dalam air yang banyak mengandung Calcium adalah : Microcystis sp., Chreoeoccus sp., Anabaena sp., Pediastrum sp., Staurastrum sp., Coscinodiscus sp., Melosira sp. Ada juga beberapa jenis plankton yang dijumpai pada air yang unsur Calcium rendah yaitu : Ankistradesmus sp., Dinobryon sp., dan Closterium sp. Plankton yang dapat digunakan sebagai penunjuk kualitas air, untuk menentukan rendahnya kadar Calcium dan Magnesium adalah Cosmarium sp.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;F. Pencemaran Laut&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencemaran laut merupakan salah satu problema yang cukup menyita para ilmuwan sejak revolusi industri. Meningkatnya konsumsi bahan-bahan kimia yang akan menjadi toksik di dalam lingkungan hidup ditengarai sebagai salah satu factor penyebab pencemaran laut. Pada prinsipnya pencemaran laut terjadi karena komposisi komponen-komponen alami di lautan terganggu. Pencemaran laut secara garis besar dibagi menjadi lima kelompok berdasarkan zat pencemarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pencemaran Minyak.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Minyak merupakan sumber pencemaran laut yang besar. Rata-rata pencemaran laut akibat tumpahan minyak menyumbang 30 juta ton minyak per tahun di seluruh dunia (David A. Rose,1977)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Minyak yang terapung amat berbahaya bagi kehidupan laut karena minyak merupakan senyawa karbon yang sulit untuk terdegradasi. Tumpahan minyak akan terbawa arus dan angin menuju tempat yang lebih jauh sehingga pencemaran minyak di lautan sangat mudah meluas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pembersihan akibat tumpahan minyak dapat dilakukan dengan detergen atau bioremidiasi dengan mikroorganisme pemakan minyak. Remidiasi dengan detergen akan menimbulkan masalah baru karena membahayakan organisme microbial.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Contoh pencemaran minyak&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenggelamnya kapal tanker Torrey Canyon di perairan Inggris pada tahun 1967&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tumpahnya minyak Exxon Valdez di Selat Prince William, Alaska pada 24 Maret 1989. Sebanyak 10,8 juta gallon (257.000 barel) minyak tumpah dan mencemari 1.300 mil (2.100 km) garis pantai Alaska. Menyebar hingga 740 km dari Semenanjung Alaska ke Chignik ( 1,5 juta gallon dibersihkan, sisanya tenggelam).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bocornya kilang minyak Montara milik Australia di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Keenam kabupaten yang terkena dampak pencemaran yaitu Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Belu, Alor dan Ende pada Agustus 2009. M encemari pertanian rumput laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pencemaran Logam Berat.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa logam berat merupakan komponen penting yang dibutuhkan oleh biota laut dalan konsentrasi yang sangat kecil. Contohnya adalah besi dalam pembentukan oksidasi enzim sitokrom dan hemoglobin, tembaga untuk pigmen haemocyanin. Namun, logam berat akan menjadi racun apabila berada pada konsentrasi yang tinggi. Misalnya cadmium, timah hitam, merkuri, dsb. Ambang batas merkuri 0,5 ppm. Pada kasus minamata&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;dl&gt;
&lt;dl&gt;&lt;dd&gt;&lt;table border="1" bordercolor="#000000" cellpadding="7" cellspacing="0" style="width: 379px;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;&lt;td width="266"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Tempat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
    &lt;td width="83"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
K onsentrasi&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
    &lt;td width="266"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Rambut penderita minamata&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
    &lt;td width="83"&gt;&lt;div class="western"&gt;
705 ppm&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
    &lt;td width="266"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Warga sehat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
    &lt;td width="83"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
191 ppm&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
    &lt;td width="266"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Warga di luar minamata&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
    &lt;td width="83"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
4,42 ppm&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
    &lt;td width="266"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Air seni penderita&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
    &lt;td width="83"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
30-120 gamma&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="TOP"&gt;
    &lt;td width="266"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
Ikan dan kerang&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
    &lt;td width="83"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" class="western"&gt;
20-40 ppm&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;
&lt;/dl&gt;
&lt;div align="JUSTIFY" class="western" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;(Harada Masazumi, 2005)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pencemaran limbah domestic, industri dan pertanian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pestisida bersifat persisten terhadap degradasi kimia dan microbial serta bersifat lipofilik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
DDT, Aldrin, Dieldrin merupakan senyawa kimia berbahaya yang sangat sulit terdegradasi di lingkungan dan tingginya tingkat toxicnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemakaian DDT sudah mulai dilarang kecuali untuk penggunaan pencegahan nyamuk penyebab malaria.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh efek toksik DDT menyebabkan senyawa kimia berbahaya teakumulasi pada ikan dan kerang. Ketika ikan dikonsumsi oleh burung maka saat burung itu bertelur, telur yang dihasilkan memiliki cangkang yang lebih tipis dan mengurangi reproduksinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aktivitas fotosintesis fitoplankton terganggu dengan adanya DDT sebesar 10 ppb.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencemaran lain adalah pencemaran sampah plastic dan polistirena yang menutupi permukaan laut. Pada tahun 1972 di Laut Sargasso, AS terjadi ledakan konsentrasi plastic dan polistirena hingga 12.080 partikel per km2. selain akan menutupi permukaan laut, plastic juga mengandung PCB (polyclhorinated byphenils)yang berbahaya seperti pestisida.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;(David A. Rose, 1977)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pencemaran Zat Radioaktif dan Thermal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencemaran zat radioaktif berasal dari atmosfer. Atmosfer menyumbang zat radioaktif melalui siklus hidrologi dimana zat radioaktif di atmosfer dapat berasal dari uji coba senjata nuklir atau bom.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencemaran thermal juga berasal dari sir pembuatan senjata nuklir yang dialirkan melalui kanal atau sungai. Suhu biasanya ada di lingkungan lebih tinggi hingga 20-30 F. tingginya suhu ini akan mengancam biota laut dengan mengganggu aktivitas metabolismenya serta dapat menurunkan kadar oksigen dan kelarutan oksigen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Mukhlis Akhadi, 2009 )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bioakumulasi adalah proses pengambilan dan retensi polutan oleh makhluk hidup dari lingkungan. Macam bioakumulasi :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a. BIOKONSENTRASI : Pergerakan senyawa polutan langsung dari medium(massa air)ke makhluk hidup melalui jaringan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b. BIOMAGNIFIKASI : Proses perpindahan polutan dari satu tingkat trofik ke tingkat trofik lain dan menunjukkan kadar polutan dalam makhluk hidup menurut tingkat trofiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan.Andi: Yogyakarta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhadi, Mukhlis. 2009. Ekologi Energi.Graha Ilmu:Yogyakarta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berner, Elizabet Kay. 1996. Global environment: Water, Air, ang Geological Chemical Cycles. New Jersey : Prentice Hall&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hutabarat, SAhala. 1985. Pengantar Oceanografi.Jakarta:UI Press&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masazumi, Harada.2005. Tragedi Minamata.Media Kajian Sulawesi: Makasar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rosse, David A.1977. Introduction Oceanography. Englewood Clifft:Prentice Hall&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://ataplaut.wordpress.com/2009/01/10/co2-dilautan/&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://dhamadharma.wordpress.com/2010/02/11/minor-elemen-di-laut/&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://forum.o-fish.com/viewtopic.php?f=5&amp;amp;t=8076&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://hidayat-idien.blogspot.com/2007/06/tugas-siklus-silikon.html&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
http://moszablinkers182.blogspot.com/2010/03/hand-out-oseanografi.html&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg16S6Y8-F11ZV1z5REhyphenhyphen2wY5SCm8aQ4xZBI88Bz74D9BLfBhPi0zIYr_VBJA7TQJS_um2j4mFJ1fdKcJeE_wrXnQmmBD_FUNkzyh6TyS9h9KXIxVO771cuDWvhvPGjUFhdtHlrmpAnYKh9/s72-c/preview_html_m2305f3f0.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Budaya Indonesia dan Penjelasannya</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/budaya-indonesia-dan-penjelasannya.html</link><category>Budaya Indonesia</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 7 Jul 2012 23:57:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-1235589269441249498</guid><description>&lt;br /&gt;
Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebudayaan nasional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:&lt;br /&gt;
“ &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&amp;amp;K, 199 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wujud kebudayaan daerah di Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Berikut ini beberapa kebudayaan Indonesia berdasarkan jenisnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah adat&lt;br /&gt;
Rumah gadang, rumah adat sumatera barat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Aceh: Rumoh Aceh&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Barat: Rumah Gadang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Riau: Selaso Jatuh Kembar, Lontiok&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Selatan: Rumah Limas&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jawa: Joglo&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Papua: Honai&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sulawesi Selatan: Tongkonan (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla Lompoa (Makassar Gowa)&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sulawesi Tenggara: Istana Buton&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sulawesi Utara: Rumah Panggung&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kalimantan Barat: Rumah Betang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Nusa Tenggara Timur: Lopo&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Maluku: Balieu (dari bahasa Portugis)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tarian&lt;br /&gt;
Tari tradisional, bagian dari budaya daerah yang menyusun kebudayaan nasional Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia: dapat terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri; Di Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi kuno tarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang dilindungi oleh pihak keraton atau akademi seni yang dijalankan pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk keperluan penggolongan, seni tari di Indonesia dapat digolongkan ke dalam berbagai kategori. Dalam kategori sejarah, seni tari Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung dan pendukungnya, dapat terbagi dalam dua kelompok, tari keraton (tari istana) yang didukung kaum bangsawan, dan tari rakyat yang tumbuh dari rakyat kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua kelompok; tari tradisional dan tari kontemporer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagu daerah atau musik daerah atau lagu kedaerahan, adalah lagu atau musik yang berasal dari suatu daerah tertentu dan menjadi populer dinyanyikan baik oleh rakyat daerah tersebut maupun rakyat lainnya. Pada umumnya pencipta lagu daerah ini tidak diketahui lagi alias noname.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagu kedaerahan mirip dengan lagu kebangsaan, namun statusnya hanya bersifat kedaerahan saja. Lagu kedaerahan biasanya memiliki lirik sesuai dengan bahasa daerahnya masing-masing seperti Manuk Dadali dari Jawa Barat dan Rasa Sayange dari Maluku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain lagu daerah, Indonesia juga memiliki beberapa lagu nasional atau lagu patriotik yang dijadikan sebagai lagu penyemangat bagi para pejuang pada masa perang kemerdekaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan antara lagu kebangsaan dengan lagu patriotik adalah bahwa lagu kebangsaan ditetapkan secara resmi menjadi simbol suatu bangsa. Selain itu, lagu kebangsaan biasanya merupakan satu-satunya lagu resmi suatu negara atau daerah yang menjadi ciri khasnya. Lagu Kebangsaan Indonesia adalah Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Identitas musik Indonesia mulai terbentuk ketika budaya Zaman Perunggu bermigrasi ke Nusantara pada abad ketiga dan kedua Sebelum Masehi. Musik-musik suku tradisional Indonesia umumnya menggunakan instrumen perkusi, terutama gendang dan gong. Beberapa berkembang menjadi musik yang rumit dan berbeda-beda, seperti alat musik petik sasando dari Pulau Rote, angklung dari Jawa Barat, dan musik orkestra gamelan yang kompleks dari Jawa dan Bali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musik di Indonesia sangat beragam dikarenakan oleh suku-suku di Indonesia yang bermacam-macam, sehingga boleh dikatakan seluruh 17.508 pulaunya memiliki budaya dan seninya sendiri.[2] Indonesia memiliki ribuan jenis musik, kadang-kadang diikuti dengan tarian dan pentas. Musik tradisional yang paling banyak digemari adalah gamelan, angklung dan keroncong, sementara musik modern adalah pop dan dangdut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jawa: Wayang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Utara: Tortor&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Patung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jawa: Patung Buto&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bali: Garuda Wisnu Kencana&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Papua: Asmat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakaian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jawa: Batik&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Utara: Ulos, Suri-suri, Gotong&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Barat/Minang: Anak Daro, Marapule.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Riau/Melayu: Baju Kurung Melayu, Kebaya Laboh, Cekak Musang, Teluk Belanga&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Selatan: Songket&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Lampung: Tapis&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Nusa Tenggara Timur: Tenun Ikat&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bugis/Makassar: Baju Bodo, Jas Tutup, Baju La'bu&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Papua Timur: Manawou&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Papua Barat: Ewer&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jawa: Sinden&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sumatera Utara: Talibun&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Gorontalo: Dikili&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sastra/tulisan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masakan Indonesia merupakan pencerminan beragam budaya dan tradisi berasal dari kepulauan Nusantara yang terdiri dari sekitar 6.000 pulau dan memegang tempat penting dalam budaya nasional Indonesia secara umum dan hampir seluruh masakan Indonesia kaya dengan bumbu berasal dari rempah-rempah seperti kemiri, cabai, temu kunci, lengkuas, jahe, kencur, kunyit, kelapa dan gula aren dengan diikuti penggunaan teknik-teknik memasak menurut bahan dan tradisi-adat yang terdapat pula pengaruh melalui perdagangan yang berasal seperti dari India, Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya tidak ada satu bentuk tunggal "masakan Indonesia", tetapi lebih kepada, keanekaragaman masakan regional yang dipengaruhi secara lokal oleh Kebudayaan Indonesia serta pengaruh asing. Sebagai contoh, beras yang diolah menjadi nasi putih, ketupat atau lontong (beras yang dikukus) sebagai makanan pokok bagi mayoritas penduduk Indonesia namum untuk bagian timur lebih umum dipergunakan juga jagung, sagu, singkong, dan ubi jalar. Bentuk lanskap penyajiannya umumnya disajikan di sebagian besar makanan Indonesia berupa makanan pokok dengan lauk-pauk berupa daging, ikan atau sayur disisi piring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era awal perfilman Indonesia ini diawali dengan berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900 di daerah Tanah Abang, Batavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Saat film ini dibuat dan dirilis, negara Indonesia belum ada dan masih merupakan Hindia Belanda, wilayah jajahan Kerajaan Belanda. Film ini dibuat dengan didukung oleh aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perfilman Indonesia sendiri memiliki sejarah yang panjang dan sempat menjadi raja di negara sendiri pada tahun 1980-an, ketika film Indonesia merajai bioskop-bioskop lokal. Film-film yang terkenal pada saat itu antara lain, Catatan si Boy, Blok M dan masih banyak film lain. Bintang-bintang muda yang terkenal pada saat itu antara lain Onky Alexander, Meriam Bellina, Lydia Kandou, Nike Ardilla, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain film-film komersil, juga ada banyak film film nonkomersil yang berhasil memenangkan penghargaan di mana-mana yang berjudul Pasir Berbisik yang menampilkan Dian Sastrowardoyo dengan Christine Hakim dan Didi Petet. Selain dari itu ada juga film yang dimainkan oleh Christine Hakim seperti Daun di Atas Bantal yang menceritakan tentang kehidupan anak jalanan. Tersebut juga film-film Garin Nugroho yang lainnya, seperti Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, juga ada film Marsinah yang penuh kontroversi karena diangkat dari kisah nyata. Selain itu juga ada film film seperti Beth, Novel tanpa huruf R, Kwaliteit 2 yang turut serta meramaikan kembali kebangkitan film Indonesia. Festival Film Indonesia juga kembali diadakan pada tahun 2004 setelah vakum selama 12 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Direktorat Sejarah dan Nilai Tradsional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Indonesian Geography http://countrystudies.us/indonesia/28.htm&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Ilmu Kelautan (Oseanografi)</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengertian-ilmu-kelautan-oseanografi.html</link><category>Hydrosfer</category><category>Ilmu Bumi</category><category>Ilmu Kelautan</category><category>Oseanografi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 7 Jul 2012 23:55:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-1708898397321818934</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVm2G6OKN5kFbfOH8MW9pIsMn2PGP4JngLgx2-XYtR94AGHab6_oOSOv7-pPSPzuTDfAYDfyACZCN4aXQjx_IyRVpGOTrFY4Gw5EMITlIltKK6ajXfti0Re0eC1fGY0EwbBX-7eCSjhwTE/s1600/800px-Thermohaline_Circulation_2.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVm2G6OKN5kFbfOH8MW9pIsMn2PGP4JngLgx2-XYtR94AGHab6_oOSOv7-pPSPzuTDfAYDfyACZCN4aXQjx_IyRVpGOTrFY4Gw5EMITlIltKK6ajXfti0Re0eC1fGY0EwbBX-7eCSjhwTE/s1600/800px-Thermohaline_Circulation_2.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sirkulasi termohalin&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b style="background-color: white;"&gt;Oseanografi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oseanografi (gabungan kata Yunani ωκεανός yang berarti "samudra" dan γράφω yang berarti "menulis"), juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan, adalah cabang ilmu Bumi yang mempelajari samudra atau lautan. Ilmu ini mencakup berbagai topik seperti organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudra, gelombang, dan dinamika cairan geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut, dan arus berbagai zat kimia dan fisika di dalam lautan dan perbatasannya. Topik-topik yang beragam ini menggambarkan berbagai macam disiplin ilmu yang digabungkan para oseanograf untuk mempelajari lautan dunia dan memahami proses di dalamnya, yaitu biologi, kimia, meteorologi, fisika, dan geografi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Sejarah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjfnIoMXwkDgQefy-HMb0m9WK0pC0dyMRpQ8jRsY4cda6C323ivk5w6koPue6JEFGYisJjOyzNsZfjPEiWQW-Reve-_GyWXxZy0d5xURkD9OLcBiGiBhGikkmyDQQihMRnonfPaWy24pWm/s1600/686px-Gulf_stream_map.gif" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjfnIoMXwkDgQefy-HMb0m9WK0pC0dyMRpQ8jRsY4cda6C323ivk5w6koPue6JEFGYisJjOyzNsZfjPEiWQW-Reve-_GyWXxZy0d5xURkD9OLcBiGiBhGikkmyDQQihMRnonfPaWy24pWm/s1600/686px-Gulf_stream_map.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Peta Arus Teluk oleh Benjamin Franklin, 1769-1770. Sumber: NOAA Photo Library.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Manusia pertama kali memperoleh ilmu mengenai gelombang dan arus laut dan samudra pada zaman prasejarah. Pengamatan terhadap pasang laut dicatat oleh Aristoteles dan Strabo. Penjelajahan samudra modern awal dilakukan untuk kartografi dan hanya terbatas hingga permukaannya saja dan makhluk-makhluk yang terjaring oleh nelayan, meski pada masa itu pengukuran kedalaman laut menggunakan timah sudah dilakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski Juan Ponce de León pada tahun 1513 merupakan orang yang pertama kali mengidentifikasi keberadaan Arus Teluk yang dikenal baik oleh para pelaut, justru Benjamin Franklin yang melakukan studi ilmiah pertama mengenai arus ini dan memberi nama "Arus Teluk". Franklin mengukur suhu air pada beberapa pelayarannya melintasi Atlantik dan secara tepat menjelaskan sebab Arus Teluk. Franklin dan Timothy Folger menerbitkan peta Arus Teluk pertama pada tahun 1769-1770.[1][2]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika Louis Antoine de Bougainville (berlayar antara 1766 dan 1769) dan James Cook (berlayar sejak 1768 sampai 1779) melakukan penjelajahan mereka di Pasifik Selatan, informasi mengenai samudra itu sendiri membentuk bagian dari laporan-laporan mereka. James Rennell menulis buku tes ilmiah pertama mengenai arus di samudra Atlantik dan Hindia pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Sir James Clark Ross melakukan penggaungan modern pertama di laut dalam pada tahun 1840, dan Charles Darwin menerbitkan karya ilmiah mengenai terumbu dan pembentukan atol sebagai hasil dari pelayaran kedua HMS Beagle pada tahun 1831-6. Robert FitzRoy menerbitkan empat volume laporan mengenai tiga pelayaran Beagle. Tahun 1841–1842, Edward Forbes melakukan pengerukan di Laut Aegean yang menghasilkan penemuan ekologi laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai pengawas pertama United States Naval Observatory (1842–1861), Matthew Fontaine Maury menghabiskan waktunya untuk mempelajari meteorologi laut, navigasi, dan memetakan angin dan arus kuat. Karyanya tahun 1855, Physical Geography of the Sea, adalah buku teks oseanografi pertama. Banyak negara yang mengirimkan hasil penelitian oseanografi ke Maury di Naval Observatory, tempat ia dan teman-temannya menilai informasi tersebut dan memberikan hasilnya ke seluruh dunia.[3]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lembah curam di balik landas kontinen ditemukan tahun 1849. Peletakan kabel telegraf transatlantik pertama berhasil dilakukan pada Agustus 1858 yang membenarkan keberadaan pegunungan tengah samudra atau "plato telegraf" bawah laut. Setelah pertengahan abad ke-19, para ilmuwan mulai memproses berbagai informasi baru mengenai botani dan zoologi darat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahun 1871, dengan rekomendasi dari Royal Society di London, pemerintah Britania Raya mendanai sebuah ekspedisi untuk menjelajahi samudra dunia dan melakukan penyelidikan ilmiah. Dengan bantuan tersebut, Charles Wyville Thompson dan Sir John Murray dari Skotlandia meluncurkan penjelajahan Challenger (1872–1876). Hasilnya diteritkan dalam 50 volume yang mencakup aspek biologi, fisika dan geologi. 4.417 spesies baru ditemukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bangsa-bangsa Eropa dan Amerika yang lain juga mengirim ekspedisi ilmiah, termasuk oleh para individu dan institusi swasta. Kapal khusus oseanografi pertama, "Albatros", dibangun tahun 1882. Ekspedisi Atlantik Utara tahun 1910 selama empat bulan yang dipimpin Sir John Murray dan Johan Hjort merupakan proyek penelitian oseanografi dan zoologi laut paling ambisius pada masa itu, dan mendorong terbitnya buku klasik The Depths of the Ocean pada tahun 1912.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai institusi oseanografi yang berkecimpung dalam ilmu oseanografi didirikan. Di Amerika Serikat, ada Scripps Institution of Oceanography pada tahun 1892, Woods Hole Oceanographic Institution tahun 1930, Virginia Institute of Marine Science tahun 1938, Lamont-Doherty Earth Observatory di Columbia University, dan School of Oceanography di University of Washington. Di Britania Raya, ada sebuah institusi peneilitian besar bernama National Oceanography Centre, Southampton yang merupakan penerus bagi Institute of Oceanography. Di Australia, CSIRO Marine and Atmospheric Research, disebut CMAR, adalah pusat oseanografi terdepan di negara ini. Pada tahun 1921, Biro Hidrografi Internasional (IHB) didirikan di Monako.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJr23KmDee8VSQ6N8GxDq4blyGWtDRY06Sknhvo406dIS9gQxvl4qacDyUriMQW9t0FNfKEoNntwx6TwKQALsw8-1BTVByovMwNcZeff7phd14Rdc_YgblydY6XhEkPQdQhe2iNzVT8_4S/s1600/800px-Ocean_currents_1911.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJr23KmDee8VSQ6N8GxDq4blyGWtDRY06Sknhvo406dIS9gQxvl4qacDyUriMQW9t0FNfKEoNntwx6TwKQALsw8-1BTVByovMwNcZeff7phd14Rdc_YgblydY6XhEkPQdQhe2iNzVT8_4S/s1600/800px-Ocean_currents_1911.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Arus samudra (1911)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahun 1893, Fridtjof Nansen membiarkan kapalnya "Fram" membeku di lautan es Arktik. Hasilnya, ia mampu memperoleh data oseanografi serta meteorologi dan astronomi. Organisasi oseanografi internasional pertama dibentuk tahun 1902 dengan nama Dewan Penjelajahan Laut Internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengukuran kedalaman laut akustik pertama dilakukan tahun 1914. Antara 1925 dan 1927, ekspedisi "Meteor" menghasilkan 70.000 pengukuran kedalaman lautan menggunakan pemancar gaung ketika menyelidiki Pegunungan Atlantik Tengah. Pegunungan Global Raya yang membentang sepanjang Pegunungan Atlantik Tengah ditemukan oleh Maurice Ewing dan Bruce Heezen tahun 1953, sementara untaian pegunungan di bawah Arktik ditemukan tahun 1954 oleh Arctic Institute of the USSR. Teori penyebaran dasar laut muncul pada tahun 1960 dan dicetuskan oleh Harry Hammond Hess. Proyek Pengeboran Samudra dimulai tahun 1966. Ventilasi laut dalam ditemukan tahun 1977 oleh John Corlis dan Robert Ballard menggunakan kapal selam "Alvin".&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada 1950-an, Auguste Piccard menemukan batiskap dan menggunakan "Trieste" untuk menyelidiki kedalaman lautan. Kapal selam nuklir Nautilus melakukan perjalanan pertamanya di bawah es menuju Kutub Utara pada 1958. Pada 1962, FLIP (Floating Instrument Platform), sebuah pelampung spar setinggi 355 kaki diapungkan untuk pertama kalinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian, pada 1966, Kongres AS membentuk National Council for Marine Resources and Engineering Development. NOAA ditugaskan menjelajahi dan mempelajari segala aspek oseanografi di Amerika Serikat. Kongres juga membentuk National Science Foundation untuk menghadiahkan dana Sea Grant College kepada para peneliti multi-disiplin dalam bidang oseanografi.[4][5]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak 1970-an, telah muncul berbagai tekanan penerapan komputer berskala besar terhadap oseanografi agar prediksi numerik kondisi lautan dapat dilakukan dan menjadi bagian dari prediksi perubahan lingkungan secara keseluruhan. Sebuah jaringan pelampung oseanografi diapungkan di Pasifik untuk memudahkan peramalan peristiwa-peristiwa akibat El Niño.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada 1990, World Ocean Circulation Experiment (WOCE) dilaksanakan yang berlangsung hingga 2002. Data pemetaan dasar laut Geosat mulai tersedia pada tahun 1995.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahun 1942, Sverdrup dan Fleming menerbitkan "The Ocean" yang menjadi karya ilmiah terkenal. "The Sea" (tiga volume yang membahas oseanografi gisik, air laut dan geologi) disunting oleh M. N. Hill dan diterbitkan tahun 1962, sementara "Encyclopedia of Oceanography" karya Rhodes Gairbridge diterbitkan tahun 1966.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Hubungan dengan atmosfer&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu yang mempelajari lautan terhubung dengan pemahaman terhadap perubahan iklim global, potensi pemanasan global dan masalah biosfer terkait. Atmosfer dan lautan terhubung karena adanya penguapan dan curah hujan serta fluks termal (dan insolasi matahari). Tekanan angin adalah penggerak utama arus samudra, sementara samudra adalah penyerap karbon dioksida di atmosfer.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Our planet is invested with two great oceans; one visible, the other invisible; one underfoot, the other overhead; one entirely envelopes it, the other covers about two thirds of its surface.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; —Matthew F. Maury, The Physical Geography of the Seas and Its Meteorology (1855)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Cabang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2gqhlLPb1HH4fksTkm5m9bVGsSBLhdGdgR8hsOchNrNHNhcVTmZzNxkEL21TV209wjZPxlH6dPqFr-yLzx7g5XAfKIcvmR7EB_BKaX9nBL42ldRrlTX4K-sVoFGBRhb0zxVBPqdbJf-He/s1600/588px-Antarctic_frontal-system_hg.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2gqhlLPb1HH4fksTkm5m9bVGsSBLhdGdgR8hsOchNrNHNhcVTmZzNxkEL21TV209wjZPxlH6dPqFr-yLzx7g5XAfKIcvmR7EB_BKaX9nBL42ldRrlTX4K-sVoFGBRhb0zxVBPqdbJf-He/s1600/588px-Antarctic_frontal-system_hg.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sistem frontal oseanografi belahan Bumi selatan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ilmu oseanografi dibagi menjadi beberapa cabang:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Oseanografi biologi, atau biologi laut, adalah ilmu yang mempelajari tumbuhan, hewan dan mikroba lautan dan interaksi ekologisnya dengan samudra;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Oseanografi kimia, atau kimia laut, adalah ilmu yang mempelajari kimia lautan dan interaksi kimiawinya dengan atmosfer;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Oseanografi geologi, atau geologi laut, adalah ilmu yang mempelajari geologi dasar samudra, termasuk tektonik lempeng dan paleoseanografi;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Oseanografi fisik, atau fisika laut, mempelajari atribut fisik lautan yang meliputi struktur suhu-salinitas, pencampuran, gelombang, gelombang internal, pasang laut permukaan, pasang laut internal, dan arus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cabang-cabang ini menggambarkan fakta bahwa banyak oseanograf yang pertama kali dilatih ilmu pasti atau matematika, kemudian fokus kepada penerapan ilmu dan kemampuan interdisipliner oseanografi mereka.[6]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Data yang diperoleh dari kerja keras pada oseanograf digunakan dalam teknik kelautan, dalam desain dan pembangunan pengeboran minyak lepas pantai, kapal, pelabuhan, dan struktur lain yang memungkinkan manusia memanfaatkan lautan dengan aman.[7]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengelolaan data oseanografi adalah disiplin ilmu yang menjamin bahwa data oseanografi masa lalu dan sekarang tersedia bagi para peneliti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Disiplin ilmu terkait&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Biogeokimia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Biogeografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geografi pantai&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Ilmu lingkungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geofisika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Glasiologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrografi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hidrologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Limnologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Meteorologi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Dinamika lautan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Geografi fisik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Catatan kaki&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ 1785: Benjamin Franklin's 'Sundry Maritime Observations'&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Wilkinson, Jerry. History of the Gulf Stream January 01, 2008.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Williams, Frances L. Matthew Fontaine Maury, Scientist of the Sea. (1969) ISBN 0-8135-0433-3.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ NOAA National Sea Grant Office (NSGO).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Topic: Sea Grant Colleges.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Impact from the Deep; October 2006; Scientific American Magazine; by Peter D. Ward; 8 Page(s)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ^ Tom Garrison. "Oceanography: An Invitation to Marine Science" 5th edition. Thomson, 2005. Page 4.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bacaan lanjutan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Hamblin, Jacob Darwin (2005) Oceanographers and the Cold War: Disciples of Marine Science. University of Washington Press. ISBN 978-0-295-98482-7&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Steele, J., K. Turekian and S. Thorpe. (2001). Encyclopedia of Ocean Sciences. San Diego: Academic Press. (6 vols.) ISBN 0-12-227430-X&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sverdrup, Keith A., Duxbury, Alyn C., Duxbury, Alison B. (2006). Fundamentals of Oceanography, McGraw-Hill, ISBN 0-07-282678-9.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Lang, Michael A., Ian G. Macintyre, and Klaus Rützler, eds. Proceedings of the Smithsonian Marine Science Symposium. Smithsonian Contributions to the Marine Sciences, no. 38. Washington, D.C.: Smithsonian Institution Scholarly Press, 2009.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pranala luar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; NASA Jet Propulsion Laboratory - Physical Oceanography Distributed Active Archive Center (PO.DAAC). A data center responsible for archiving and distributing data about the physical state of the ocean.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI). The world's largest private, non-profit ocean research, engineering and education organization.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; British Oceanographic Data Centre. A source of oceanographic data and information.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; NOAA Ocean and Weather Data Navigator. Plot and download ocean data.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Freeview Video 'Voyage to the Bottom of the Deep Deep Sea' Oceanography Programme by the Vega Science Trust and the BBC/Open University.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVm2G6OKN5kFbfOH8MW9pIsMn2PGP4JngLgx2-XYtR94AGHab6_oOSOv7-pPSPzuTDfAYDfyACZCN4aXQjx_IyRVpGOTrFY4Gw5EMITlIltKK6ajXfti0Re0eC1fGY0EwbBX-7eCSjhwTE/s72-c/800px-Thermohaline_Circulation_2.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Contoh Gambar Rumah Adat di Indonesia</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/contoh-gambar-rumah-adat-di-indonesia.html</link><category>Budaya Indonesia</category><category>Produk Arsitektur</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 6 Jul 2012 03:29:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-6029916844642733073</guid><description>&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;NAMA-NAMA RUMAH ADAT DI INDONESIA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Indonesia di kalangan masyarakat internasional dikagumi karena seni budaya dan rumah adatnya yang beragam. Masing-masing provinsi mempunyai identitas budaya masing-masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun budaya Indonesia banyak dikagumi oleh bangsa-bangsa lain, namun sungguh ironis sekali karena banyak generasi muda-mudi Indonesia pada zaman sekarang kurang memperdulikan atau kurang tertarik dengan keanekaragaman budaya yang ada di seluruh pelosok Indonesia. Padahal apabila budaya Indonesia terus dilestarikan, bukan tidak mungkin itu malah mendatangkan devisa bagi masyarakat setempat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lihatlah orang-orang Bali yang masih mempertahankan rumah adat ataupun tarian adat bali maupun budaya asli Bali, sehingga banyak sekali turis-turis mancanegara yang tiap tahunnya banyak berkunjung ke Bali. Tentunya hal seperti itu juga akan mendatangkan devisa yang sangat besar untuk kemajuan masyarakat setempat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Oleh karena itu, mari kita lihat dibawah ini Kumpulan Gambar Rumah Adat Indonesia yang berisi : rumah adat palembang, rumah adat sumatera barat, rumah adat gorontalo, rumah adat minang, rumah adat mentawai, rumah adat melayu, rumah adat bangka belitung, rumah adat maluku utara, rumah adat jakarta, rumah adat kalimantan tengah, rumah adat sulawesi tenggara, rumah adat banjar, rumah adat suku dayak, rumah adat bugis, rumah adat kepulauan riau, rumah adat papua barat, rumah adat makassar, rumah adat tradisional, rumah adat ntb, rumah adat lombok, rumah adat irian jaya, rumah adat tongkonan dan gambar rumah adat betawi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Rumoh Aceh (Rumah Adat Nanggroe Aceh Darussalam)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIeqZeekKhonilePWy-7TJ_XegeZcOKpuWCq24wjo2jl5q4rdDKtE1omauYbKD-N_tARKGceME4369Divbnrzt4Te7Nljoz4CoC2EbgmwZquzQBLHMBCElwW6kAWI2KE-S98iciHHERzn4/s1600/1.+Rumah+Aceh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIeqZeekKhonilePWy-7TJ_XegeZcOKpuWCq24wjo2jl5q4rdDKtE1omauYbKD-N_tARKGceME4369Divbnrzt4Te7Nljoz4CoC2EbgmwZquzQBLHMBCElwW6kAWI2KE-S98iciHHERzn4/s1600/1.+Rumah+Aceh.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Aceh&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Rumah Balai Batak Toba (Rumah Adat Sumatera Utara/Sumut)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOZA0vWq0qbGvXwc4jWiPwdM8a2on9ZJqNoY86Q5ftr4GQC2tn752_SYkHwgyM6EU08scODRA1qr1lkpJ3Qcut7JxiH6NmtcboEHNaB-pSzJl0OjoueaPEC6_FmKyLYUeC-bEjOaygCYqB/s1600/2.+Rumah+Adat+Balai+Batak+Toba.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOZA0vWq0qbGvXwc4jWiPwdM8a2on9ZJqNoY86Q5ftr4GQC2tn752_SYkHwgyM6EU08scODRA1qr1lkpJ3Qcut7JxiH6NmtcboEHNaB-pSzJl0OjoueaPEC6_FmKyLYUeC-bEjOaygCYqB/s1600/2.+Rumah+Adat+Balai+Batak+Toba.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Adat Balai Batak Toba&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3. Rumah Gadang (Rumah Adat Sumatera Barat/Sumbar)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrytwMEIvb6kAkxAwsHMFtlq3YdMVjIl5T4tK3QIfhABNU5JCFibOS83kJYDe8it7Nihx7Q-96-bTPTsbxYAhLvjipoKNvPkjplXSHnP1MwjK-oUzs5QfmgeCBS1qMxuUcqz8wyy4EessY/s1600/3.+Rumah+Gadang+Minangkabau+Sumatera+Barat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrytwMEIvb6kAkxAwsHMFtlq3YdMVjIl5T4tK3QIfhABNU5JCFibOS83kJYDe8it7Nihx7Q-96-bTPTsbxYAhLvjipoKNvPkjplXSHnP1MwjK-oUzs5QfmgeCBS1qMxuUcqz8wyy4EessY/s1600/3.+Rumah+Gadang+Minangkabau+Sumatera+Barat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Gadang Minangkabau Sumatera Barat&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4. Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar (Rumah Adat Kepulauan Riau)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpVhyphenhyphenUFse8kaT2MdF-Eh8PAFHI5H8ESSc_OmQNTAid-JkKqXLRNQ2Q9QJp9zKFM75wU0I9NJY1OFvrFmFgDbG3IkE6_NyAmL6D0i-OgQbhNq9hVVNSXS_M69beZpe8FgnLAQhzn_QxzqdH/s1600/4.+Rumah+Melayu+Selaso+Jatuh+Kembar+Kepulauan+Riau.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpVhyphenhyphenUFse8kaT2MdF-Eh8PAFHI5H8ESSc_OmQNTAid-JkKqXLRNQ2Q9QJp9zKFM75wU0I9NJY1OFvrFmFgDbG3IkE6_NyAmL6D0i-OgQbhNq9hVVNSXS_M69beZpe8FgnLAQhzn_QxzqdH/s1600/4.+Rumah+Melayu+Selaso+Jatuh+Kembar+Kepulauan+Riau.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar Kepulauan Riau&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5. Rumah Panggung (Rumah Adat Provinsi Jambi)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyD0EePeBIIFVdAzfFJTa4hImnBXRH2J8oaSOD54QKNFodEzXtCsXAqxntkDKtyKLo9WHhrnKkpiTWxF5AxiAQ5pQRua6QI-AnprdNaxzu36MNKz-4suo-OZoiI3ocbZ27DAozD-saRIoC/s1600/5.+Rumah+Panggung+Provinsi+Jambi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyD0EePeBIIFVdAzfFJTa4hImnBXRH2J8oaSOD54QKNFodEzXtCsXAqxntkDKtyKLo9WHhrnKkpiTWxF5AxiAQ5pQRua6QI-AnprdNaxzu36MNKz-4suo-OZoiI3ocbZ27DAozD-saRIoC/s1600/5.+Rumah+Panggung+Provinsi+Jambi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Panggung Provinsi Jambi&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. Rumah Limas (Rumah Adat Provinsi Sumatera Selatan/Sumsel)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhR3iur4bxQ0mnNRF6qmznfxcC9FA5Cp7CsmBEDNDbZXAdX7alUsh4oTLHW4KA5odc50wS35GmHewnGYBN6Dp9FMk4ug4Pu2bHrMUqZJ2lQwMi8U2VvyDFcs16qEGe793RnXlvVLgQcdr6l/s1600/6.+Rumah+Limas+Palembang+Sumatera+Selatan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhR3iur4bxQ0mnNRF6qmznfxcC9FA5Cp7CsmBEDNDbZXAdX7alUsh4oTLHW4KA5odc50wS35GmHewnGYBN6Dp9FMk4ug4Pu2bHrMUqZJ2lQwMi8U2VvyDFcs16qEGe793RnXlvVLgQcdr6l/s1600/6.+Rumah+Limas+Palembang+Sumatera+Selatan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Limas Palembang Sumatera Selatan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7. Rumah Nuwo Sesat (Rumah Adat Provinsi Lampung)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwsA-xC0ivT76Dkb-zGkX-QDQgbW83BaWEn_dICoN3APqWZWWCVY0VpwTZDbTf9C89bg6bgZVI7RaLMcfey3B7kMCjpovoffds9EjXjf3tPEetbK6HhuGm8BDEtQ0dxQl23sFLV6AIOriK/s1600/7.+Nuwo+Sesat+Rumah+Adat+Provinsi+Lampung.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwsA-xC0ivT76Dkb-zGkX-QDQgbW83BaWEn_dICoN3APqWZWWCVY0VpwTZDbTf9C89bg6bgZVI7RaLMcfey3B7kMCjpovoffds9EjXjf3tPEetbK6HhuGm8BDEtQ0dxQl23sFLV6AIOriK/s1600/7.+Nuwo+Sesat+Rumah+Adat+Provinsi+Lampung.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Nuwo Sesat Rumah Adat Provinsi Lampung&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8. Rumah Bubungan Lima (Rumah Adat Provinsi Bengkulu)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxbTmDvjxFAIleGbBlu-oGL019adTb6H3RrWcgqjebXFPeWtp1I4wxf2So8M6srXeiNlbdEidmtLRH3vpq3oOdSmEabW1iYCbXvDmK7Wb8KNt6rhMSX1089b-Yl_1ZdhxRW1Z6Cqun7RAg/s1600/8.+Rumah+Bubungan+Lima+Bengkulu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxbTmDvjxFAIleGbBlu-oGL019adTb6H3RrWcgqjebXFPeWtp1I4wxf2So8M6srXeiNlbdEidmtLRH3vpq3oOdSmEabW1iYCbXvDmK7Wb8KNt6rhMSX1089b-Yl_1ZdhxRW1Z6Cqun7RAg/s1600/8.+Rumah+Bubungan+Lima+Bengkulu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Bubungan Lima Bengkulu&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9. Rumah Kebaya (Rumah Adat Provinsi DKI Jakarta)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyYc5SahuTsnxYqEOZLyVI-1ByvI-lN1oV0M22dBUpiDIYBTFP4isF5DY8Ft9GzmUzQ6VMNRYx9sOW-1JkH14jbXOagta_nXrl8A0ibsJbJCsx70J5Ev73djA1L9Jq8oPhojnW_RzpdYMN/s1600/9.+Rumah+Kebaya+Rumah+Adat+DKI+Jakarta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyYc5SahuTsnxYqEOZLyVI-1ByvI-lN1oV0M22dBUpiDIYBTFP4isF5DY8Ft9GzmUzQ6VMNRYx9sOW-1JkH14jbXOagta_nXrl8A0ibsJbJCsx70J5Ev73djA1L9Jq8oPhojnW_RzpdYMN/s1600/9.+Rumah+Kebaya+Rumah+Adat+DKI+Jakarta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Kebaya Rumah Adat DKI Jakarta&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10. Rumah Kasepuhan (Rumah Adat Provinsi Jawa Barat)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiH3PYmKrhyphenhyphen2lYALVWsZ_xbilfIxmgLZ3NuQ1vqvwvfV4qnJJIM_7aNnE1YL-WGLymageQDuxALv7ZDmpDASi32xgaDLNkgENA9Z3d6uQXHKWwbUc8s4i_pUzBWcOuqG3nawQTNcJKIfp4p/s1600/10.+Kasepuhan++atau+Rumah+Adat+Jawa+Barat+Jabar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiH3PYmKrhyphenhyphen2lYALVWsZ_xbilfIxmgLZ3NuQ1vqvwvfV4qnJJIM_7aNnE1YL-WGLymageQDuxALv7ZDmpDASi32xgaDLNkgENA9Z3d6uQXHKWwbUc8s4i_pUzBWcOuqG3nawQTNcJKIfp4p/s1600/10.+Kasepuhan++atau+Rumah+Adat+Jawa+Barat+Jabar.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kasepuhan (Rumah Adat Jawa Barat/Jabar)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11. Rumah Joglo (Rumah Adat Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDjg8eP8FgTrKHPV3m7bys6hX1UDaOs1LlUqIq52FDmsNiNRpaNGgVukiB9TJx2xvYiW0aosYJIIRaNMV9q7FY00POxE4u-m3LVbVSZMbDZyjbR3T_zu79OIwR0k0LD8VHcq555yOI0DKZ/s1600/11.+Rumah+Joglo+Jawa+Timur.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDjg8eP8FgTrKHPV3m7bys6hX1UDaOs1LlUqIq52FDmsNiNRpaNGgVukiB9TJx2xvYiW0aosYJIIRaNMV9q7FY00POxE4u-m3LVbVSZMbDZyjbR3T_zu79OIwR0k0LD8VHcq555yOI0DKZ/s1600/11.+Rumah+Joglo+Jawa+Timur.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Joglo Jawa Timur&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJ4Pp4bB9zdQi6H35q-xRzRKpm4klIRNE0coo25UCLppoVNsXWrA5KbVPw50XjzTPOrGKoLiTfE9yRnu39l9R3pwlFc1u-GYN1m7yvtpZ3M18V0omZEQTQQaaXjQ8_j0UyW9bMYZ1RQ9ee/s1600/Rumah+Joglo+Jawa+Tengah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJ4Pp4bB9zdQi6H35q-xRzRKpm4klIRNE0coo25UCLppoVNsXWrA5KbVPw50XjzTPOrGKoLiTfE9yRnu39l9R3pwlFc1u-GYN1m7yvtpZ3M18V0omZEQTQQaaXjQ8_j0UyW9bMYZ1RQ9ee/s1600/Rumah+Joglo+Jawa+Tengah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Joglo Jawa Tengah&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUKimjLHgQU0HIpFFfeEQ-Rd9iTRacRpdRnjjjxJCaIK6yb6pV45osIQY0OKEQT8U5XsjCRqZOn5LRNHGK6X254WN9B_TMCobHolVROAHimxLPocthFK2EBVrZ61jBEZGuOgtEZbjp_PRH/s1600/Rumah+Joglo+DI+Yogyakarta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUKimjLHgQU0HIpFFfeEQ-Rd9iTRacRpdRnjjjxJCaIK6yb6pV45osIQY0OKEQT8U5XsjCRqZOn5LRNHGK6X254WN9B_TMCobHolVROAHimxLPocthFK2EBVrZ61jBEZGuOgtEZbjp_PRH/s1600/Rumah+Joglo+DI+Yogyakarta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Joglo DI Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
12. Gapura Candi Bentar (Rumah Adat Provinsi Bali)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiezfGLpA8P-Hcq_Z7upjiRtGM6-oVwKiNU2_TxQVifsBCLLeBasqNYhJW9QlrCwzwpcHxsF8NGmY7BSXlqSfBe331_TeFQ-WwTrqaPeW8MDUG_T0u7-GtC2_7alxXX5IkN6tZNPc2bEbw5/s1600/12.+Gapura+Candi+Bentar+Bali.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiezfGLpA8P-Hcq_Z7upjiRtGM6-oVwKiNU2_TxQVifsBCLLeBasqNYhJW9QlrCwzwpcHxsF8NGmY7BSXlqSfBe331_TeFQ-WwTrqaPeW8MDUG_T0u7-GtC2_7alxXX5IkN6tZNPc2bEbw5/s1600/12.+Gapura+Candi+Bentar+Bali.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Gapura Candi Bentar Bali&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
13. Dalam Loka Samawa (Rumah Adat Nusa Tenggara Barat/NTB)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvZPUa_1NQeDG7pY7HRft-UQeH4gSlWZT68HvYgYRpMAu_EYh3X8qE_IFkaXy6jHvJIkNQMRmRfGqJe4RsjBIJ37GB6WKUPQIjV2RNWlu5UEMxx1OoEm-LChstUN0IumnKCd4XffLC__6E/s1600/13.+Dalam+Loka+Samawa+Nusa+Tenggara+Barat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvZPUa_1NQeDG7pY7HRft-UQeH4gSlWZT68HvYgYRpMAu_EYh3X8qE_IFkaXy6jHvJIkNQMRmRfGqJe4RsjBIJ37GB6WKUPQIjV2RNWlu5UEMxx1OoEm-LChstUN0IumnKCd4XffLC__6E/s1600/13.+Dalam+Loka+Samawa+Nusa+Tenggara+Barat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Dalam Loka Samawa Nusa Tenggara Barat&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
14. Sao Ata Mosa Lakitana (Rumah Adat Nusa Tenggara Timur/NTT)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu_38SrfoptdwZ646gLcfD6WmdstWixsm6EZwDuVGAMfeqLrEoREkMJnsdjpibffhfTgKaOTOyEzguoowsqHb9MeFqECyrvJiXWbVtlrxaoQVMTKRp91sz-LgYkwDS4qaoExG8yaQltenm/s1600/14.+Sao+Ata+Mosa+Lakitana+NTT.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu_38SrfoptdwZ646gLcfD6WmdstWixsm6EZwDuVGAMfeqLrEoREkMJnsdjpibffhfTgKaOTOyEzguoowsqHb9MeFqECyrvJiXWbVtlrxaoQVMTKRp91sz-LgYkwDS4qaoExG8yaQltenm/s1600/14.+Sao+Ata+Mosa+Lakitana+NTT.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Sao Ata Mosa Lakitana NTT&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
15. Rumah Panjang (Rumah Adat Kalimantan Barat/Kalbar)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoeBcOYYJbv7ZZJj4pHmh2LlCPs9ic9mvAWLYwfTgoKMcg3hLpHHM7o1gE1pF6tEobjWXSFYIcJfbidcObE3WVpWsz_iei-FK7asoNG1e090TKwrOY_IKwfK36Wq0mCY3qHGj1zLeaftMs/s1600/15.+Rumah+Panjang+Rumah+Adat+Suku+Dayak+Kalimantan+Barat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoeBcOYYJbv7ZZJj4pHmh2LlCPs9ic9mvAWLYwfTgoKMcg3hLpHHM7o1gE1pF6tEobjWXSFYIcJfbidcObE3WVpWsz_iei-FK7asoNG1e090TKwrOY_IKwfK36Wq0mCY3qHGj1zLeaftMs/s1600/15.+Rumah+Panjang+Rumah+Adat+Suku+Dayak+Kalimantan+Barat.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Panjang (Rumah Adat Suku Dayak) Kalimantan Barat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
16. Rumah Betang (Rumah Adat Kalimantan Tengah/Kalteng)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAEqYMbtdtMJKgOovJuwKbUN22-2ONc7EmhikAnaMHqWzA8NGisw64N3MWLSWU6V6A2uULDPz_3Tb9ndmYN7_ytNl3CQkaSUsT5HdWR_UGP2PVjGjr6Xxxb8kwdDtJc7kD78KJ_LmMzpsh/s1600/16.+Rumah+Betang+Rumah+Adat+Kalimantan+Tengah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAEqYMbtdtMJKgOovJuwKbUN22-2ONc7EmhikAnaMHqWzA8NGisw64N3MWLSWU6V6A2uULDPz_3Tb9ndmYN7_ytNl3CQkaSUsT5HdWR_UGP2PVjGjr6Xxxb8kwdDtJc7kD78KJ_LmMzpsh/s1600/16.+Rumah+Betang+Rumah+Adat+Kalimantan+Tengah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Betang (Rumah Adat Kalimantan Tengah)&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
17. Rumah Banjar (Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan/Kalsel)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMWtL2dtou3DAimsJe1v-VUqLU7SNBRJykgaD-M05TA0KBiXXpjGhQ_ZyzDk4Y-FzASclLrmLPTLWelXRvldWTVjHOh3PeajQ8krBS7Fb9-_KMYETmTNlI1XnHA3Uv0k_i8z8qByLUTkmM/s1600/17.Rumah+Banjar+(Rumah+Adat+Kalimantan+Selatan).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMWtL2dtou3DAimsJe1v-VUqLU7SNBRJykgaD-M05TA0KBiXXpjGhQ_ZyzDk4Y-FzASclLrmLPTLWelXRvldWTVjHOh3PeajQ8krBS7Fb9-_KMYETmTNlI1XnHA3Uv0k_i8z8qByLUTkmM/s1600/17.Rumah+Banjar+(Rumah+Adat+Kalimantan+Selatan).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Banjar (Rumah Adat Kalimantan Selatan)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
18. Rumah Lamin (Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur/Kaltim)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLkKdyt7S-7CGTR_Y52UbdLiq2XjQzzKwXPQQEDKU4htM2n1NqYprJVnpc4o_J-JtC_lUTGKezvkIxdOBjQ6ipLDHjasw_mki20d1GImoT50GSd6Ybl0cWa40I9xvWaym8TkFCJNjdRHNJ/s1600/18.+Rumah+Lamin+Rumah+Adat+Kalimantan+Timur.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLkKdyt7S-7CGTR_Y52UbdLiq2XjQzzKwXPQQEDKU4htM2n1NqYprJVnpc4o_J-JtC_lUTGKezvkIxdOBjQ6ipLDHjasw_mki20d1GImoT50GSd6Ybl0cWa40I9xvWaym8TkFCJNjdRHNJ/s1600/18.+Rumah+Lamin+Rumah+Adat+Kalimantan+Timur.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Lamin Rumah Adat Kalimantan Timur&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
19. Rumah Bolaang Mongondow (Rumah Adat Provinsi Sulawesi Utara/Sulut)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitDR3oNC6hzktpRQgHq03XK5wDu4fWgnNXmy3p5AF0NeDDMRGWFFriOXoNoSJLh-VT1e5AC1CtyovYaM1VP6x_aW3saEOcDByAjNVlMlFOAv6fB0CaDhByrjFmRMlTM3oX_W16QyvOF-tI/s1600/19.+Rumah+Bolaang+Mongondow+Sulawesi+Utara.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitDR3oNC6hzktpRQgHq03XK5wDu4fWgnNXmy3p5AF0NeDDMRGWFFriOXoNoSJLh-VT1e5AC1CtyovYaM1VP6x_aW3saEOcDByAjNVlMlFOAv6fB0CaDhByrjFmRMlTM3oX_W16QyvOF-tI/s1600/19.+Rumah+Bolaang+Mongondow+Sulawesi+Utara.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Bolaang Mongondow Sulawesi Utara&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
20. Souraja atau Rumah Raja atau Rumah Besar (Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tengah/Sulteng)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhW4fKHSOynf_9wi911To0QvdAE8fe5Mt7gFE_nUf1KC3g8qVksItC2uzf2_ktT3WDcDNvqwXOQ9SGXWF-CK5W-H42UWXQtQOu21GkQKQhmMT8QTv2vmVdE-AASp5bcPclhiokLsH2Gkl0W/s1600/20.+Rumah+Souraja+(Rumah+Adat+Sulawesi+Tengah).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhW4fKHSOynf_9wi911To0QvdAE8fe5Mt7gFE_nUf1KC3g8qVksItC2uzf2_ktT3WDcDNvqwXOQ9SGXWF-CK5W-H42UWXQtQOu21GkQKQhmMT8QTv2vmVdE-AASp5bcPclhiokLsH2Gkl0W/s1600/20.+Rumah+Souraja+(Rumah+Adat+Sulawesi+Tengah).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Souraja (Rumah Adat Sulawesi Tengah)&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
21. Laikas (Rumah Adat Provinsi Sulawesi Tenggara/Sultra)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOiR3zxdT-8Ehc0gplxi-MRZfMZaPIi1I_n4YZmCoelDSvE-800675mXDDpAcSa-9sFWWqQosodh0DTutPp219rz09k9v-jNDRzbVv0s8lfC4AgFZTz809W0Dnc3-Bp752PSnPrRlmTcNB/s1600/21.+Laikas+(Rumah+Adat+Sulawesi+Tenggara).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOiR3zxdT-8Ehc0gplxi-MRZfMZaPIi1I_n4YZmCoelDSvE-800675mXDDpAcSa-9sFWWqQosodh0DTutPp219rz09k9v-jNDRzbVv0s8lfC4AgFZTz809W0Dnc3-Bp752PSnPrRlmTcNB/s1600/21.+Laikas+(Rumah+Adat+Sulawesi+Tenggara).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Laikas (Rumah Adat Sulawesi Tenggara)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
22. Rumah Adat Tongkonan (Rumah Adat Provinsi Sulawesi Selatan/Sulsel/Suku Toraja)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVlIwbp-QmYEdA381CwSlngE2B8a5xhF022nA7xMpLh9ddcCbEdQqoEtNNTX6Vkd5BdhhVB9StLASjxGAo6dMG3Y8MyW6eLsx1NQFUvPIUEpKLNy0y07qa_eSh9GhxBl_llx2uHzCmpca8/s1600/22.+Rumah+Adat+Tongkonan+Sulawesi+Selatan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVlIwbp-QmYEdA381CwSlngE2B8a5xhF022nA7xMpLh9ddcCbEdQqoEtNNTX6Vkd5BdhhVB9StLASjxGAo6dMG3Y8MyW6eLsx1NQFUvPIUEpKLNy0y07qa_eSh9GhxBl_llx2uHzCmpca8/s1600/22.+Rumah+Adat+Tongkonan+Sulawesi+Selatan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Adat Tongkonan Sulawesi Selatan&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
23. Baileo (Rumah Adat Provinsi Maluku)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGs63z2SHzgO_HgyC5XoUWhi2FARTdOZfyOWZChSPpzNYVNiEx0vgW_EeEox1km3POeTI7eAyBVidHq0IS7qlhuP0wT6yiOeHsQTd6plwYH-7gXG2LukQCBON-dDK1NXRR5_1qTH4N-jIo/s1600/23.+Rumah+Adat+Baileo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGs63z2SHzgO_HgyC5XoUWhi2FARTdOZfyOWZChSPpzNYVNiEx0vgW_EeEox1km3POeTI7eAyBVidHq0IS7qlhuP0wT6yiOeHsQTd6plwYH-7gXG2LukQCBON-dDK1NXRR5_1qTH4N-jIo/s1600/23.+Rumah+Adat+Baileo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Adat Baileo&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
24. Rumah Honai (Rumah Adat Provinsi Papua)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl98SdP6KjKeF67B-VERKG2bxyJcdD3RGhrxSkTk0kiU6rQHMHBiLEw-2MpDYm7jK5cZ44-Dqed9CNewE6tt7RxnzLinjp-r9ilplxbVNIw1lo_R3yk_QrhSYjFbpgZ8ZI4mUOav0VBRRd/s1600/24.+Rumah+Honai+(Rumah+Adat+Papua).jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl98SdP6KjKeF67B-VERKG2bxyJcdD3RGhrxSkTk0kiU6rQHMHBiLEw-2MpDYm7jK5cZ44-Dqed9CNewE6tt7RxnzLinjp-r9ilplxbVNIw1lo_R3yk_QrhSYjFbpgZ8ZI4mUOav0VBRRd/s1600/24.+Rumah+Honai+(Rumah+Adat+Papua).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Honai (Rumah Adat Papua)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
25. Rumah Adat Doloupa (Rumah Adat Provinsi Gorontalo)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRuPe-BOXSwyF_zKIxaGII5Yii6jfuCOgfagr2IOUbSY89BPV8rQj63pcXTjRnYW0YqLXgb-QRCf4vE6A-EqQGn1t73cV6WMyPNWDpal9cm7vVGFkJR15DDABUSSVbw_8u-NDdfvlUiOMX/s1600/25.+Rumah+Adat+Doloupa+Gorontalo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRuPe-BOXSwyF_zKIxaGII5Yii6jfuCOgfagr2IOUbSY89BPV8rQj63pcXTjRnYW0YqLXgb-QRCf4vE6A-EqQGn1t73cV6WMyPNWDpal9cm7vVGFkJR15DDABUSSVbw_8u-NDdfvlUiOMX/s1600/25.+Rumah+Adat+Doloupa+Gorontalo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Adat Doloupa Gorontalo&lt;/span&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
26. Rumah Adat Bangka Belitung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWafgqwYdA41Cfg9FslOD_XxqsgVPqHoATuvQLSdcm4PyEW82kPbtIcwCQz6Tm5CFw8Sg656An5K2hPmHSH7l9iZDMo9OLLoWgkzibqD9ym0NN9AtuSub_1B1UrKqeB844Ko2_A9JwHvHM/s1600/26.+Rumah+Adat+Bangka+Belitung.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWafgqwYdA41Cfg9FslOD_XxqsgVPqHoATuvQLSdcm4PyEW82kPbtIcwCQz6Tm5CFw8Sg656An5K2hPmHSH7l9iZDMo9OLLoWgkzibqD9ym0NN9AtuSub_1B1UrKqeB844Ko2_A9JwHvHM/s1600/26.+Rumah+Adat+Bangka+Belitung.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Adat Bangka Belitung&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
27. Rumah Adat Bugis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfmhjhe-pgPpsTQonuu4wWNe_dolEsIsoLo_XDxc8B094y8tMjB8CoLQOjme_wxynFhK-xkwnAzZ1JH7D3e6hl2AiIhVn2mV2u0W3QJJ0emoOYUryquS3UK9vrHm5es6jJQ4vFGbHAZekD/s1600/27.+Rumah+Adat+Bugis.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfmhjhe-pgPpsTQonuu4wWNe_dolEsIsoLo_XDxc8B094y8tMjB8CoLQOjme_wxynFhK-xkwnAzZ1JH7D3e6hl2AiIhVn2mV2u0W3QJJ0emoOYUryquS3UK9vrHm5es6jJQ4vFGbHAZekD/s1600/27.+Rumah+Adat+Bugis.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: justify;"&gt;Rumah Adat Bugis&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Itu tadi adalah artikel kali ini yang berjudul Gambar Rumah Adat Indonesia. Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua. Semoga dengan adanya artikel Gambar Rumah Adat Indonesia dapat mempertebal rasa nasionalisme kita kepada negara Republik Indonesia. Salam dan selamat membaca Gambar Rumah Adat Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIeqZeekKhonilePWy-7TJ_XegeZcOKpuWCq24wjo2jl5q4rdDKtE1omauYbKD-N_tARKGceME4369Divbnrzt4Te7Nljoz4CoC2EbgmwZquzQBLHMBCElwW6kAWI2KE-S98iciHHERzn4/s72-c/1.+Rumah+Aceh.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengelolaan Air Dengan Pompa Bambu</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/pengelolaan-air-dengan-pompa-bambu.html</link><category>Pengelolaan dan Sanitasi</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 5 Jul 2012 14:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-8130192759279586833</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Di daerah pedesaan sebagian besar cara pengambilan air terdiri dari sumur masih menggunakan timba. Hal ini kurang menguntungkan bila dihitung dari segi waktu dan tenaga yang dipakai untuk menimba air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kegunaan pompa air perlu dikenalkan kepada masyarakat pedesaan. Mereka perlu didorong untuk mencoba cara yang lebih menguntungkan dalam pengambilan air. Waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk menimba air dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan pekerjaan lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Dalam bahasan berikut akan dijelaskan cara pembuatan pompa air yang dapat dikerjakan oleh masyarakat pedesaan. Bahan dan alat-alatnya mudah diperoleh di desa dan biayanya pun murah. Pemakaian serta pemeliharaannya juga mudah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; URAIAN SINGKAT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pembuatan pompa bambu ini mudah dan sederhana. Bahan dan alat juga dapat diperoleh dengan mudah. Pompa bambu ini menghisap air dari dalam sumur, dan menekan/mendorong air ke bak penampungan. Pompa bambu terdiri dari : bambu; tabung piston; pengungkit; bambu penghubung dengan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; klep dan dudukan pompa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; BAHAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 2 (dua) batang bambu yang tua dan kering.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu keras ukuran 6 x 12 cm, panjang 1,5.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu keras ukuran 3 x 2 cm, panjang 2,5 m.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu keras bentuk silinder (diameter sama dengan bambu).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu ukuran panjang 1 m, lebar 4 cm dan tebal 4 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kulit lunak yang telah dimasak, diameter 20 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Meni.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Cat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Paku kecil (0,1 inci) ukuran 2 cm, 5 cm dan 15 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tali ijuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kawat ban bekas mobil diameter 5 cm sebanyak 2 buah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Seng tipis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Baut dan mur ukuran 3/8 inci 1 buah, panjang 20 cm dan 1 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bambu kecil diameter 5 cm, panjang 10 cm 3 buah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; PERALATAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gergaji&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pisau raut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pahat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sugu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tali ijuk atau tali plastik&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Golok/parang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kikir kayu atau parut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Catut/gegep&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Paku&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Palu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; PEMBUATAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Membuat sumur&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; buat sumur dengan diameter 1 m dan kedalaman 7 m&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; kedalaman air sumur 2 m&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; tinggi bibir sumur 1 m&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bentuk dasar pompa bambu (Gambar 1)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; bambu I : panjang sama dengan kedalaman sumur&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; bambu II : untuk tabung piston, yang di dalamnya terdapat piston&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; bambu III : untuk menyalurkan air ke bak penampungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bambu I, II, dan III dihubungkan dengan bambu kecil yang mempunyai kelep karet. (Gambar 1.)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Komponen pompa bambu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pompa bambu terdiri dari bambu, piston, pengungkit, bambu penghubung dengan kelep, dan dudukan pompa. Potong bambu 7,6 meter, kemudian buat lubang untuk menempelkan bambu penghubung dengan jarak 20 cm dari atas (Gambar 2).&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgr2OtXamUme_CwkFbyRV0TJSZy-B0x6iNMygVCyr-Ypbau4isR6rEIzka473rWyiUa-DsJsJ3KoeYLc0iRIEChDOFBadcYH2jRDWDsPv3xAo7JoW-48kweS03q6429p5P7kQ1tFvoAeLLE/s1600/Gambar+1.+Bentuk+Dasar+Pompa+Bambu.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgr2OtXamUme_CwkFbyRV0TJSZy-B0x6iNMygVCyr-Ypbau4isR6rEIzka473rWyiUa-DsJsJ3KoeYLc0iRIEChDOFBadcYH2jRDWDsPv3xAo7JoW-48kweS03q6429p5P7kQ1tFvoAeLLE/s1600/Gambar+1.+Bentuk+Dasar+Pompa+Bambu.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 1. Bentuk Dasar Pompa Bambu&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8loE7HMjJgR3UqQT0osATGss6vkPNMTzRlGL4D2rke6L5HaiFYTfEFLFY4BK91gOPdccCdqf3T6AEShwgByZ7izyxNVM9FU6z8STZVnWWn65eF2GFYo3Ee0aKhz-EqBTCfAd6O47mKMSn/s1600/Gambar+2.+Pembuatan+Bambu+I.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8loE7HMjJgR3UqQT0osATGss6vkPNMTzRlGL4D2rke6L5HaiFYTfEFLFY4BK91gOPdccCdqf3T6AEShwgByZ7izyxNVM9FU6z8STZVnWWn65eF2GFYo3Ee0aKhz-EqBTCfAd6O47mKMSn/s1600/Gambar+2.+Pembuatan+Bambu+I.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 2. Pembuatan Bambu I&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ukuran untuk tabung piston (bambu II) (lihat Gambar 3a; 3b). Potong bambu untuk menyalurkan air ke bak penampungan (bambu III).&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSrONh-Gi6Bp4-ZFqRP80_w3-AQqgTrcw-jA4b6hazUofGcGdQm1eHSPyMn5FUDXTpZ-Rcy6p6I2KPHZd84q-f8AMwi0AxUwNltn2h5A8HbEqhzvHCZMr2WY-WIGuQ3hrPk-SU2XUAR8if/s1600/Gambar+3a.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSrONh-Gi6Bp4-ZFqRP80_w3-AQqgTrcw-jA4b6hazUofGcGdQm1eHSPyMn5FUDXTpZ-Rcy6p6I2KPHZd84q-f8AMwi0AxUwNltn2h5A8HbEqhzvHCZMr2WY-WIGuQ3hrPk-SU2XUAR8if/s1600/Gambar+3a.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 3a&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheR58qpHmYcnP5lduauwa4FxjrLgsk__kehLmKJU5ppp_M4ct9-RHEFiYSZ_V4kRcTYsvcCi4bGN57VNlkUMMXMERyzSqZxQWKDTo8Irn2y_24HFfZS883_VDlF2qnDmV1sv50RTGRmy7s/s1600/Gambar+3b.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheR58qpHmYcnP5lduauwa4FxjrLgsk__kehLmKJU5ppp_M4ct9-RHEFiYSZ_V4kRcTYsvcCi4bGN57VNlkUMMXMERyzSqZxQWKDTo8Irn2y_24HFfZS883_VDlF2qnDmV1sv50RTGRmy7s/s1600/Gambar+3b.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 3b&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 3a. Pembuatan Tabung Piston (Bambu II) Dengan Satu Ruas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 3b. Pembuatan Tabung Piston (Bambu II) Dengan Dua Ruas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Keterangan :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Lubang I = menghubungkan dengan bambu I&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Lubang II = menghubungkan dengan bambu III&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Panjang bambu III (Gambar 4) tergantung pada tingginya bak penampung, sedang panjang dari bambu ke bak tergantung pada jarak sumur ke bak penampung.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaT_-1AbWBhyHv-T6b-v-S2NSxrOt5qqFeBSA9WdVaiNxqUbVNXb38sYfCxqiIINKtsIFqEY3oxU6QW1gDyuqn08LVjjKj8VihfyCbCrQSmKIqnBmEZGlyF2r8IYY2BxUv3WPMfGj4ZN2G/s1600/Gambar+4.+Pembuatan+bambu+III.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaT_-1AbWBhyHv-T6b-v-S2NSxrOt5qqFeBSA9WdVaiNxqUbVNXb38sYfCxqiIINKtsIFqEY3oxU6QW1gDyuqn08LVjjKj8VihfyCbCrQSmKIqnBmEZGlyF2r8IYY2BxUv3WPMfGj4ZN2G/s1600/Gambar+4.+Pembuatan+bambu+III.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 4. Pembuatan bambu III&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Keterangan :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Lubang 1 = menghubungkan dengan bambu II&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Lubang 2 = menghubungkan dengan bak penampungan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Membuat bambu penghubung dan kelepnya:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bambu kecil diameter 4 cm, panjang 10 cm, harus pas betul dengan lubang-lubang yang ada di bambu I, II, III. (Gambar 5).&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9d2JMj0QYrvKfFaaIyzWXsUqCQnX1e_BO1z8WCDTliL0l9w87dYflmqPM9UFbEZWwX9VMZ-RpZ0dl25M2R1J1oFf-EaaEw1ydIX0dpGuzuEujaBJHAMPouTe3iiIbZGl4KhVPZPycudIt/s1600/Gambar+5.+Cara+Pembuatan+Bambu+Penghubung.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9d2JMj0QYrvKfFaaIyzWXsUqCQnX1e_BO1z8WCDTliL0l9w87dYflmqPM9UFbEZWwX9VMZ-RpZ0dl25M2R1J1oFf-EaaEw1ydIX0dpGuzuEujaBJHAMPouTe3iiIbZGl4KhVPZPycudIt/s1600/Gambar+5.+Cara+Pembuatan+Bambu+Penghubung.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 5. Cara Pembuatan Bambu Penghubung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Cara membuat kelep seperti Gambar 6.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1f-arcw8BcD70mYdgZTiCkHIwwdaCewXKgVJYl7HUdTTYBDkp15J7TznOWZeRGI2hC_9mYJWynw8y1z5-ZUmOg36pPaeQmLqiZoOdaG-bcC6anJRCQsitqGv0HlhWNRHDZZ7ReqmvB5W1/s1600/Gambar+6.+Cara+Membuat+dan+Memasang+Klep.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1f-arcw8BcD70mYdgZTiCkHIwwdaCewXKgVJYl7HUdTTYBDkp15J7TznOWZeRGI2hC_9mYJWynw8y1z5-ZUmOg36pPaeQmLqiZoOdaG-bcC6anJRCQsitqGv0HlhWNRHDZZ7ReqmvB5W1/s1600/Gambar+6.+Cara+Membuat+dan+Memasang+Klep.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 6. Cara Membuat dan Memasang Klep&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Membuat piston&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Piston terdiri dari : tangkai piston; kayu piston bagian atas dan bawah; dan kulit piston. Lihat Gambar 7.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgq68S8Vnmd9Q9eG2aDNMgHnXsVe1AxrfHyyCbfMPH1WBnTZTK_LFfpO7HSnW49pzRZH-ZsuJMPF5lLwjZRjHvwDY2EYHTRI3357KcEekSviaSZfQYeTI_u5r75552QdcJMm-zDj94l9_11/s1600/Gambar+7.+Piston.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgq68S8Vnmd9Q9eG2aDNMgHnXsVe1AxrfHyyCbfMPH1WBnTZTK_LFfpO7HSnW49pzRZH-ZsuJMPF5lLwjZRjHvwDY2EYHTRI3357KcEekSviaSZfQYeTI_u5r75552QdcJMm-zDj94l9_11/s1600/Gambar+7.+Piston.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 7. Piston&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tangkai piston, ukuran tangkai piston : lebar 6 cm; tebal 3 cm dan panjang 42 cm. Cara membuatnya lihat Gambar 8.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRkLXGznxXyvqNTMIhciYl5qLwZIsZlaRAEA-kZy7vkItqwHA9ZP55NM7dktcmYPiN-ZKYSlj65tLBJVi5EFkeFZT1-YIpgiSuabNhyqPzmgSwZw4AeHtXAb0G_qCEn2EeZnkv63eH4hN6/s1600/Gambar+8.+Tangkai+Piston.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRkLXGznxXyvqNTMIhciYl5qLwZIsZlaRAEA-kZy7vkItqwHA9ZP55NM7dktcmYPiN-ZKYSlj65tLBJVi5EFkeFZT1-YIpgiSuabNhyqPzmgSwZw4AeHtXAb0G_qCEn2EeZnkv63eH4hN6/s1600/Gambar+8.+Tangkai+Piston.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 8. Tangkai Piston&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu biston bagian atas dan bawah merupakan 2 silinder kayu dengan diameter 7,5 cm dan 7 cm, tebal 2 cm. Bagian tengah diberi lubang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; dengan diameter 1,5 cm. Lihat Gambar 9.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHL9zBf-l38PvN4y2v2ZLpwJJu1ThJQ1jxbZQm-Azb31AfEJCBHFalpjf6JKmc8CZQqJKDGlkI5GEoebO2aO6DmiisbiyU2XWtgiAi6DN0tCAInT_F4gQuG_c9m4YKLuYjb1zBbbTUxqh_/s1600/Gambar+9.+Kayu+Piston.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHL9zBf-l38PvN4y2v2ZLpwJJu1ThJQ1jxbZQm-Azb31AfEJCBHFalpjf6JKmc8CZQqJKDGlkI5GEoebO2aO6DmiisbiyU2XWtgiAi6DN0tCAInT_F4gQuG_c9m4YKLuYjb1zBbbTUxqh_/s1600/Gambar+9.+Kayu+Piston.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 9. Kayu Piston&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dibutuhkan 2 kulit piston (atas, bawah dang tengah). Kulit piston bagian atas dan bawah berdiameter 7,5 cm. Kulit piston bagian tengah berdiameter 12,5.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Cara memasang piston lihat Gambar 10.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMoYDwgyFXf0wY_MegM6PVhtxiSWqETGbnlWhv5m2RG5b9fd_TvernepBLHIJmwUFg8Jdg6SMzr4PzEyd1M3rq8ex7KmDYfAKTEIaDoBr7MYmz_iC2I74CweccamU9AI77qfFs8QbuO-Rg/s1600/Gambar+10.+Cara+Pemasangan+Piston.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMoYDwgyFXf0wY_MegM6PVhtxiSWqETGbnlWhv5m2RG5b9fd_TvernepBLHIJmwUFg8Jdg6SMzr4PzEyd1M3rq8ex7KmDYfAKTEIaDoBr7MYmz_iC2I74CweccamU9AI77qfFs8QbuO-Rg/s1600/Gambar+10.+Cara+Pemasangan+Piston.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 10. Cara Pemasangan Piston&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Keterangan :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu piston bagian atas 4. Kulit piston bagian bawah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kulit piston bagian atas 5. Kayu piston bagian bawah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kulit piston bagian tengah 6. Paku penguat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Membuat pengukit pompa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu pengungkit pompa berukuran panjang 1 m (100 cm); lebar 6 cm dan tebal 4 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Cara buat lihat Gambar 11&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqtNpHwoHJAdR7FibIsf8h0NWfski6-VOoFz6xxIxHmiDbupo-n1giT9OQIoELGhamXEXnR8fk6UTvwi7aIMV8fmFL6VscRDrbRiyPDbQBhY0lG0SJDfZB_VxyiB_T7Oihhf6pGne37u5W/s1600/Gambar+11.+Pengungkit+Pompa..gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqtNpHwoHJAdR7FibIsf8h0NWfski6-VOoFz6xxIxHmiDbupo-n1giT9OQIoELGhamXEXnR8fk6UTvwi7aIMV8fmFL6VscRDrbRiyPDbQBhY0lG0SJDfZB_VxyiB_T7Oihhf6pGne37u5W/s1600/Gambar+11.+Pengungkit+Pompa..gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 11. Pengungkit Pompa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Membuat dudukan pompa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bahan kayu ukuran 6 x 12 cm, panjang 1 m, 35 cm dan 15 cm dudukan pompa terdiri dari kayu mendatar untuk menempel bambu-bambu I, II, III.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kayu tegak untuk pengungkit. (Gambar 12, 13)&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPa6MHu_6MIXWeerCAKWUcCCqrUBFsGMqbRgyT3G4M7BS6jbI11uMeTLWhLdcLMvJplnnNuZWcQQLJZ_A4I2TDtwXTtjY2VqvkeJaLgwUIYGH2nkaX4FfGjmCafIev2gsVXC_PXsJGZM3G/s1600/Gambar+12.+Membuat+Dudukan+Pompa.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPa6MHu_6MIXWeerCAKWUcCCqrUBFsGMqbRgyT3G4M7BS6jbI11uMeTLWhLdcLMvJplnnNuZWcQQLJZ_A4I2TDtwXTtjY2VqvkeJaLgwUIYGH2nkaX4FfGjmCafIev2gsVXC_PXsJGZM3G/s1600/Gambar+12.+Membuat+Dudukan+Pompa.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 12. Membuat Dudukan Pompa&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrYaEEEdJYMBDBjv7Kzn1RZpgleZe5HIqsCSek7qYSDwMtN9tBw9bheSNxJ0fw2DIK7q4y16PSWfVIr0xgt75B3aeB5r-jglwR0Q2cKtQBYe-Nh0nnouq77c_rfIgQDdNSfnh28v2tYf9W/s1600/Gambar+13.+Merangkai+Dudukan+Pompa.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrYaEEEdJYMBDBjv7Kzn1RZpgleZe5HIqsCSek7qYSDwMtN9tBw9bheSNxJ0fw2DIK7q4y16PSWfVIr0xgt75B3aeB5r-jglwR0Q2cKtQBYe-Nh0nnouq77c_rfIgQDdNSfnh28v2tYf9W/s1600/Gambar+13.+Merangkai+Dudukan+Pompa.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 13. Merangkai Dudukan Pompa&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Merangkai pompa bambu. (Gambar 14)&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMrr30L1mInytBH6C0OhpB_aM5IpFDhIKBTVz49Z8daQGcjENZi5ZgJxiGLvYJx1lNUl0mlz6INVQjw9wrjlXEahWn5DHODbxeeCSkQzqYi2GcSi2KEpZdoohNXvg__BhxekEv1u1B7qIJ/s1600/Gambar+14.+Merangkai+Pompa+Bambu.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMrr30L1mInytBH6C0OhpB_aM5IpFDhIKBTVz49Z8daQGcjENZi5ZgJxiGLvYJx1lNUl0mlz6INVQjw9wrjlXEahWn5DHODbxeeCSkQzqYi2GcSi2KEpZdoohNXvg__BhxekEv1u1B7qIJ/s1600/Gambar+14.+Merangkai+Pompa+Bambu.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gambar 14. Merangkai Pompa Bambu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; PENGGUNAAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pemompaan harus teratur dan hati-hati&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pompa dipakai setiap hari&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; KEUNTUNGAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Daya tahan pompa cukup lama&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kapasitas air yang diperoleh cukup besar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Air yang terhisap ke atas jernih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; KERUGIAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Apabila bahan yang digunakan (bambu) tidak cukup tua, kering dan tebal, akan mengakibatkan kerusakan pada rangkaian bambu. Kerusakan tersebut akan menyebabkan konstruksi dari bambu-bambu tersebut berubah dan tidak berfungsi lagoi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Kismosudirdjo, Prijono. Pompa bambu. Bandung : Terate, 1982, 35 hal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pompa bambu ini pernah dicoba dan banyak dipakai di Daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; INFORMASI LEBIH LANJUT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; 250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgr2OtXamUme_CwkFbyRV0TJSZy-B0x6iNMygVCyr-Ypbau4isR6rEIzka473rWyiUa-DsJsJ3KoeYLc0iRIEChDOFBadcYH2jRDWDsPv3xAo7JoW-48kweS03q6429p5P7kQ1tFvoAeLLE/s72-c/Gambar+1.+Bentuk+Dasar+Pompa+Bambu.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Alat Pengolahan Berondong Jagung</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/alat-pengolahan-berondong-jagung.html</link><category>Alat Pengolahan</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 5 Jul 2012 13:45:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-2292413667604932329</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgei2DiAuTqCBRjQniJw_08k3MB_Mk6nOKHEUndgbETtZOP8hIUyRahj1ZpejcleVBtNcTAM0U9h_kSwuFuhyphenhyphenO2lFS-UaUSf03CB7zzabT4zyWRFUjtaJb3ufINMnDjmOvEZ1OxE9rPFia4/s1600/AlatBerondongJagung.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgei2DiAuTqCBRjQniJw_08k3MB_Mk6nOKHEUndgbETtZOP8hIUyRahj1ZpejcleVBtNcTAM0U9h_kSwuFuhyphenhyphenO2lFS-UaUSf03CB7zzabT4zyWRFUjtaJb3ufINMnDjmOvEZ1OxE9rPFia4/s1600/AlatBerondongJagung.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b style="background-color: white;"&gt;ALAT BERONDONG JAGUNG&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. FUNGSI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meledakkan jagung butiran (beras) pada tekanan tertentu yang hasilnya bisa diolah lagi menjadi makanan ringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. CARA KERJA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tabung penampung bahan dipanasi terlebih dahulu selama 15 menit.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Masukkan jagung ke dalam tabung penampung selama kurang lebih 6 menit, sambil mengatur tekanan sesuai dengan kebutuhan jenis bahan yang digunakan (jagung atau beras, tekanan yang digunakan berbeda).&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Karung penampung berondong dipasang pada tabung alat berondong jagung yang berisi bahan siap proses. Setelah semuanya siap, tutup tabung dibuka dan bahan sudah terproses menjadi berondong. Catatan: ketika tutup tabung dibuka, akan terjadi ledakan keras.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Setelah bekerja, alat dibersihkan supaya tahan lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. SPESIFIKASI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Dimensi alat : P = 80 cm; L = 40 cm; T = 60 cm&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Berat : 90 kg&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenaga penggerak : Kompor minyak&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kapasitas kerja : 6 kg/jam.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Operator : 2 orang&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bahan : besi beton, besi plat, kompor, pompa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. KONTAK HUBUNGAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian Proyek Teknologi Tepat Guna, Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna, LIPI; Jl. KS. Tubun No. 5 Subang; Tel./Fax. (0260) 417348, 411478 Jakarta, Maret 2001&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Alat-Alat Teknologi Pedesaan Spesifikasi Produk, Bagian Proyek Teknologi Tepat Guna, Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna, LIPI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgei2DiAuTqCBRjQniJw_08k3MB_Mk6nOKHEUndgbETtZOP8hIUyRahj1ZpejcleVBtNcTAM0U9h_kSwuFuhyphenhyphenO2lFS-UaUSf03CB7zzabT4zyWRFUjtaJb3ufINMnDjmOvEZ1OxE9rPFia4/s72-c/AlatBerondongJagung.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Budidaya Pertanian Tentang Jambu Air</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/budidaya-pertanian-tentang-jambu-air.html</link><category>Budidaya Pertanian</category><category>Teknologi Tepat Guna</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 5 Jul 2012 02:28:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-3842641671918200909</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFu1bTGJKu7z5lLhVFkMc25qYh9gLfFIN6QVELiEE3NujSuycATkPXOceymH0bcWMbOaFLc9KvJWbr_tGw3DONrmvOBdK7YytzEEMca2c7JT3JhxSk5xRADwO7TOo5HYHhazbFvWC0xWlo/s1600/JAMBU+AIR.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFu1bTGJKu7z5lLhVFkMc25qYh9gLfFIN6QVELiEE3NujSuycATkPXOceymH0bcWMbOaFLc9KvJWbr_tGw3DONrmvOBdK7YytzEEMca2c7JT3JhxSk5xRADwO7TOo5HYHhazbFvWC0xWlo/s320/JAMBU+AIR.bmp" width="188" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jambu air berasal dari daerah Indo Cina dan Indonesia, tersebar ke Malaysia dan pulau-pulau di Pasifik. Selama ini masih terkonsentrasi sebagai tanaman pekarangan untuk konsumsi keluarga. Buah Jambu air tidak hanya sekedar manis menyegarkan, tetapi memiliki keragaman dalam penampilan. Jambu air (Eugenia aquea Burm) dikategorikan salah satu jenis buah-buahan potensial yang belum banyak disentuh pembudidayannya untuk tujuan komersial.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sifatnya yang mudah busuk menjadi masalah penting yang perlu dipecahkan. Buahnya dapat dikatakan tidak berkulit, sehingga rusak fisik sedikit saja pada buah akan mempercepat busuk buah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2. JENIS TANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sistematika tanaman jambu air adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kingdom : Plantarum&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sub Kingdom : Kormophyta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Super Divisio : Kormophyta biji&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Divisio : Spermatophyta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sub Divisio : Angiospermae&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Classis : Dycotyledoneae&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ordo : Myrtales&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Familia : Myrtaceae&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Genus : Syzygium&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Species : Eugenia aquea&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu juga terdapat 2 jenis jambu air yang banyak ditanam, tetapi keduanya tidak begitu menyolok perbedaannya. Ke dua jenis tersebut adalah Syzygium quaeum (jambu air kecil) dan Syzygium samarangense (jambu air besar). Varietas jambu air besar yakni: jambu Semarang, Madura, Lilin (super manis), Apel dan Cincalo (merah dan hijau/putih) dan Jenis-jenis jambu air lainnya adalah: Camplong (Bangkalan), Kancing, Mawar (jambu Keraton), Sukaluyu, Baron, Kaget, Rujak, Neem, Lonceng (super lebat), dan Manalagi (tanpa biji). Sedangkan varietas yang paling komersil adalah Cincalo dan Semarang, yang masing-masing terdiri dari 2 macam (merah dan putih).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada umumnya jambu air dimakan segar, tetapi dapat juga dibuat puree, sirop, jeli, jam/berbentuk awetan lainnya. Selain sebagai “buah meja” jambu air juga telah menjadi santapan canggih dengan dibuat salada dan fruit coctail. Kandungan kimia yang penting dari jambu air adalah gula dan vitamin C. Buah jambu air masak yang manis rasanya, selain disajikan sebagai buah meja juga untuk rujak dan asinan. Kadang-kadang kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut data statistik dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Jawa Barat, Kabupaten Karawang, Tangerang, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Cirebon, Subang dan Bekasi termasuk 10 besar sentra penanaman pohon jambu. Jambu air Cincalo merah banyak terdapat di Karawang dan terkenal dengan jambu Bolang yang bila matang benar berwarna merah tua kebiruan dengan rasa manis-asam segar sedangkan Jambu air Semarang (merah dan putih) banyak terdapat di Indramayu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;5. SYARAT TUMBUH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.1. Iklim&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Angin sangat berperan dalam pembudidayaan jambu air. Angin berfungsi dalam membantu penyerbukan pada bunga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanaman jambu air akan tumbuh baik di daerah yang curah hujannya rendah/kering sekitar 500–3.000 mm/tahun dan musim kemarau lebih dari 4 bulan. Dengan kondisi tersebut, maka jambu air akan memberikan kualitas buah yang baik dengan rasa lebih manis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Cahaya matahari berpengaruh terhadap kualitas buah yang akan dihasilkan. Intensitas cahaya matahari yang ideal dalam pertumbuhan jambu air adalah 40–80 %.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Suhu yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu air adalah 18-28 derajat C.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kelembaban udara antara 50-80 %.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.2. Media Tanam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanah yang cocok bagi tanaman jambu air adalah tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok sebagai media tanam jambu air adalah 5,5–7,5.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kedalaman kandungan air yang ideal untuk tempat budidaya jambu air adalah 0- 50 cm; 50-150 cm dan 150-200 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanaman jambu air sangat cocok tumbuh pada tanah datar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.3. Ketinggian Tempat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanaman jambu air mempunyai daya adaptasi yang cukup besar di lingkungan tropis dari dataran rendah sampai tinggi yang mencapai 1.000 m dpl.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.1. Pembibitan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Persyaratan Benih/Bibit&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biji berasal dari varietas unggul, berumur lebih dari 15 tahun, produktif dan produksi stabil. Biji berasal dari buah masak pohon, yang besarnya normal dan mulus. Biji dikeringanginkan selama 1-3 hari di tempat teduh. Biji-biji yang memenuhi syarat adalah berukuran relatif besar, ukuran seragam, bernas dan tidak cacat, dianjurkan dalam meggunakan bibit jambu air hasil cangkokan/okulasi. Selain lebih mudah dilakukan, cara ini lebih cepat menghasilkan buah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Persiapan Benih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a. Bibit Enten (Grafting)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Model sambungan yang terbaik adalah sambungan celah. Batang bawah berasal dari bibit hasil perbanyakan dengan biji yang berumur 10 tahun, sedangkan pucuk berasal dari pohon induk unggul. Setelah disambung bibit dipelihara selama 2-3 bulan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b. Bibit Cangkok&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cabang yang akan dicangkok berada pada tanaman yang unggul dan produktif. Cabang yang dipilih tidak telalu tua/muda, berwarna hijau keabu-abuan/kecoklat-coklatan dengan diameter sedikitnya 1.5 cm. Setelah 2-2.5 bulan (sudah berakar), bibit segera dipotong dan ditanam dipolibag dengan media campuran : pupuk kandang 1 : 1. Bibit dipelihara selama 1 bulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Teknik Penyemaian Benih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Persemaian dapat dilakukan di dalam bedengan atau di polibag.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a) Bedengan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Olah tanah sedalam 30-40 cm dengan cangkul kemudian keringkan selama 15-30 hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Buat bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang sesuai lahan dan jarak antar bedengan 60 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Campurkan 2 kg/m 2 pupuk kandang dengan tanah bedengan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Buat sungkup bedengan berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi pusat lingkaran minimal 50 cm. Naungi sungkup dengan plastik bening.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b) Polybag&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Lubangi dasar polybag diameter 10-15 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Isi polibag dengan media berupa campuran tanah, pupuk kandang (2 : 1).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Simpan polybag di dalam sungkup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemeliharaan pembibitan dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, terutama jika kemarau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Penyiangan dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pemupukan setiap 3 bulan dengan urea, SP-36 dan KCl (2:1) sebanyak 50-100 gram/m 2 atau 4 gram/polibag.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Penyemprotan pestisida dengan konsentrasi 30-50% dari dosis anjuran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Membuka sungkup jika cuaca cerah secara berangsur-angsur agar tanaman dapat beradaptasi dengan lingkungan kebun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5) Pemindahan Bibit&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bibit di bedengan dipindahkan ke polybag setelah berumur 6 bulan. Pindah tanam ke lapangan dilakukan setelah bibit berumur 10-12 bulan di persemaian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Persiapan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Calon tempat tumbuh tanaman jambu air harus dibersihkan dahulu dari berbagai pengganggu seperti: rerumputan, semak/onak dan binatang. Lahan hanya diolah di lubang tanam dan dilaksanakan 15-30 m hari sebelum tanam. Jarak tanam jambu air adalah 8 x 8 m dengan lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Pembukaan Lahan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanah yang akan dipergunakan untuk Tanaman jambu air dikerjakan semua secara bersama, tanaman pengganggu seperti semak-semak dan rerumputan dibuang, dan benda-benda keras disingkirkan kemudian tanah dibajak atau dicangkul sampai dalam, dengan mempertimbangkan bibit yang akan ditanam. Bila bibit berasal dari cangkokan pengolahan tanah tidak perlu terlalu dalam tetapi bila hasil okulasi perlu pengolahan yang cukup dalam. Kemudian dibuatkan saluran air selebar 1 m dan kedalam disesuaikan dengan kedalaman air tanah, guna mengatasi sistem pembuangan air yang kurang lancar. Tanah yang kurus dan kurang humus/tanah cukup liat diberikan pupuk hijau yang dibuat dengan cara mengubur ranting-ranting dan dedaunan, dengan kondisi seperti ini dibiarkan selama kurang lebih 1 tahun kemudian dilanjutkan pembuatan bedengan sesuai dengan kebutuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Pengapuran&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengapuran tanah sebaiknya dilakukan 1 atau 2 bulan menjelang hujan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4) Pemupukan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebelum penanaman kedalam lubang tanam perlu dimasukkan pupuk kandang sekitar 1 blek minyak tanah. Jika perlu ditambah 2 genggam pupuk NPK. Setelah itu perlu diberi pelindung&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.3. Teknik Penanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penanaman jambu air dapat dilakukan di pot/di kebun, Jika yang digunakan adalah bibit cangkokan maka penanaman batang lebih dalam agar pohon bisa tumbuh secara kuat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Penentuan Pola Tanam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bibit jambu air dikebun dapat ditanam dengan pola tanam/jarak tanam 8 x 8 m.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lubang tanam sebaiknya dibuat pada akhir musim kemarau/menjelang musim hujan, agar pada saat mendekati musim hujan, tanaman sudah berdiri. Dengan demikian tanaman baru (pada musim hujan) tidak perlu disiram 2 kali sehari. Penyiapan lubang tanaman terdiri dari:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; mula-mula tanah digali di tempat yang sudah ditentukan;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; ukuran lubang ukuran lubang: panjang x lebar x dalam = 60 x 60 x 60 cm. atau panjang x lebar x dalam = 1 x 1 x 0,5 m.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Cara Penanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bibit jambu air ditanam ke dalam lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm. Perlu memperhatikan kedalaman penanaman dan waktu penanaman sebaiknya dilaksanakan persis pada awal musim hujan dan pada sore hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 1 bulan. Bibit yang tidak tumbuh diganti dengan bibit baru yang ditanam pada lubang tanam yang sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Penyiangan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyiangan dilakukan dengan maksud menyuburkan tanah, membuang rumput liar/tanaman liar (kalau ada) atau binatang yang mendekap diantara tanah. Dengan penyiangan dapat memeriksa keadaan lapisan tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Pemupukan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemupukan jambu air dapat diberikan sebelum berbuah dan sesudah berbuah, sebaiknya setelah dilakukan penyiangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a) Tanaman belum berbuah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang diberikan sekali gus pada awal musim hujan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk urea diberikan 1/3 bersamaan dengan pupuk kandang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; 2 minggu setelah itu, sisa urea diberikan bersamaan dengan TSP dan KCl.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b) Tanaman sudah berbuah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang diberikan sekaligus pada awal musim hujan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk urea 2/3, TSP 1/2, KCl 1/3 diberikan pada saat tanaman belum berbunga (bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dan saat hujan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; pertama mulai turun).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sisa pupuk diberikan setelah buah membesar (umur buah sekitar 1-2 bulan sejak berbunga dan ukuran buah ± sebesar telur puyuh). Cara pemberian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; pupuk tersebut sebaiknya dibenam dalam Rorak (got) sedalam 20-30 cm mengelilingi tajuk pohon. Dosis pupuk bagi pohon jambu air umur =15 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang: maksimal 30 kaleng minyak tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk Urea, pupuk TSP, pupuk KCl (masing-masing) : 2500 gram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kenaikan takaran pupuk tersebut setiap tahun setelah jambu air berumur =10 tahun ialah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang: 2 kaleng minyak tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk Urea: 100 gram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk TSP: 50 gram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk KCl: 50-100 gram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4) Pengairan dan Penyiraman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanaman jambu air yang hidup pada tanah dengan kedalaman air tanah 150-200 cm, pada musim kemarau sangat memerlukan penyiraman, agar tanah tetap lembab. Ketika masih muda, selama 2 minggu pertama tanaman muda perlu diairi 1-2 kali sehari. Jika sudah cukup besar dan perakarannya dalam, tanaman disirami 10-12 kali sebulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyemprotan dilakukan secara teratur 1-2 kali seminggu. Awal penyemprotan dilakukan saat buah jambu air sebesar telur puyuh (umur ± 1-2 bulan sejak berbunga). Akhir penyemprotan dilakukan saat buah jambu air akan dipetik (sebulan sebelum dipetik dan warna buah sudah berubah) atau sampai gejala serangannya hilang. Ketika hendak melakukan penyemprotan pestisida, atau pupuk daun/hormon, kita harus memperhatikan cuaca waktu itu. Kalau langit mendung dan kemungkinannya akan turun hujan, sebaiknya penyemprotan ditunda dulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6) Pemeliharaan Lain&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemangkasan dilakukan dengan tujuan untuk membentuk pohon, pemeliharaan dan peremajaan. Membentuk pohon: dilakukan setelah mencapai ketinggian 2 meter, dengan ketinggian 1,35-1,5 m dari permukaan tanah dan bagian yang dipangkas adalah cabang/tunas. Untuk pemeliharaan: dilakukan setiap saat kecuali ketika tanaman sedang berbunga, bagian yang ditanam adalah dahan-dahan yang tua, yang mati kering, luka serta tidak sempurna. Untuk peremajaan: memangkas seluruh bagian tanaman yang sudah kelewat tua, tidak berproduksi atau diserang hama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7.1. Hama&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Ulat kupu-kupu gajah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ciri: panjang 12 cm, warna hijau muda kebiru-biruan, bertubuh gemuk dan lunak, tertutup lapisan lilin keputih-putihan. Telur-telurnya ditaruh di tepi daun, 2-3 butir bersama-sama, warna merah muda. Kepompong berada di antara beberapa daun atau di sebelah bawah daun. Ulat-ulat tersebut sangat rakus memakan daun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengendalian: dengan cara mengumpulkan telur, ulat, dan kepompong untuk dimusnahkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Kutu perisai hijau&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ciri: panjang kutu 3-5 mm, warna hijau (kadang agak kemerahan). Melekat pada bagian-bagian pohon yang hijau dan di bagian bawah daun. Menyebabkan terjadinya cendawan hitam seperti jelaga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengendalian: cara alami dimakan oleh beberapa macam kepik (merah tua, panjang 5 mm dan biru panjang 6 mm) dan ulat (warna merah muda, panjang 13 mm). Kutu ini di musim penghujan bisa musnah oleh serangan beberapa macam cendawan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Keluang dan codot&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengendalian: buah-buahan yang hampir tua dibungkus kantong kertas/kain-kain bekas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4) Pasilan atau benalu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengendalian: dibuang dan dibersihkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5) Lalat buah (dacus pedestris)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah dan daun yang terserang oleh ulat ini. Lalat ini meletakkan telurnya pada daging buah, sehingga setelah menetas larvanya memakan buah jambu air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengendalian: dengan insektisida Diazinon atau Bayrusil yang disemprotkan ke pohon, daun dan buah yang masih pentil dengan dosis sesuai anjuran.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6) Penggerek batang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengendalian: dengan cara menyumbatkan kapas yang telah direndam insektisida Diazinon atau Bayrusil kedalam lubang batang yang digerek.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7) Ulat penggulung/pemakan daun&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7.2. Penyakit&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Gangguan pada akar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemupukan yang kurang hati-hati pada jambu air yang sedang berbuah dapat menyebabkan akar tanaman luka, maka bunga atau buah jambu air bisa rontok. Semua ini terjadi karena tanaman tidak mendapat suplai air dan zat makanan sebagaimana mestinya akibat rusaknya akar tersebut. Selain itu tanah yang berlebihan supali air juga dapat merontokkan bunga/buah, sebab sebab air yang menggenang membuat akar susah bernafas dan mengundang cendawan yang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
bisamembusukkan akar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Gangguan pada buah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyebab: ulat (lalat) buah dan sejenis cendawan yang mengakibatkan buah rontok, busuk. Serangga ini langsung menyerang buah dengan ciri noda berwarna kecoklatan atau kehitaman pada permukaan buah. Pengendalian: (1) cara membungkus buah sewaktu masih dipohon (2) dengan penyemprotan insektisida thioda (2-3 cc/liter air) dan fungisida dithane (3 cc/liter air)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;8. PANEN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanaman jambu air dapat berbuah setelah berumur 3-4 tahun, berbunga sebanyak 2 kali dalam setahun (Juli dan September) dan buahnya masak pada Agustus dan Nopember. Ciri-ciri buah yang dapat dipanen dinilai dari tingkat kematangan berdasarkan warna kulit buah, yaitu hijau muda, hijau tua, hijau sedikit merah hijau-merah dan merah hijau. Keadaan fisik buah juga menjadi kriteria dalam panen yaitu semakin terlihat matang buah yang nampak, maka semakin merah warna kulitnya dan makin besar pula ukuran fisiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.2. Cara Panen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah dipetik dari rangkaiaanya dengan hati hati jangan sampai rusak, apalagi jatuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.3. Periode Panen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masa berbuah jambu air bisa lebih dari 1 kali dalam setahun, tergantung pada keadaan lingkungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.4. Prakiraan Produksi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah jambu air jenis merah–hijau dapat dipanen bila warna merah pada buah jambu lebih banyak dari pada warna hijaunya, Pada saat tersebut nisbah PT/asam dan Vitamin C-nya masing-masing adalah 80,8 dan 48 kg/100 gram&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;9. PASCAPANEN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.1. Pengumpulan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah hasil panen dikumpulkan dimasukan kedalam keranjang plastik dan disimpan sementara di ruangan yang sejuk. Buah dari jenis yang berbeda tidak disatukan dengan jenis yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pisahkan buah yang cacat dari yang baik, kemudian klasifikasikan buah berdasarkan ukurannya. Buah dicuci bersih dengan air mengalir atau dialiri air kemudian ditiriskan di rak pengeringan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.3. Penyimpanan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah yang telah dikemas disimpan di daerah yang teduh kering dan sejuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah dikemas dalam keranjang plastik dan disusun rapi agar tidak berpindah tempat selama dalam pengangkutan. Sebaiknya bauh disimpan dalam cold storage jika tidak langsung diangkut ke pasar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perkiraan analisis budidaya jambu air seluas 1 hektar dengan jarak tanam 8 x 8 m, populasi 156 pohon di Jawa Barat pada tahun 1999.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Biaya produksi tahun ke-1&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sewa Lahan Rp. 30.000.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bibit 160 batang @ Rp. 3.000,- Rp. 480.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang 6 ton @ Rp. 150.000,-/ton Rp. 900.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Urea 25 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 37.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; SP-36 25 kg @ Rp.1.900,- Rp. 47.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; KCl 25 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 45.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pestisida 4 liter Rp. 625.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenaga kerja&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Lubang tanam, ajir 15 HKP @ Rp. 7.500,- Rp. 112.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Beri pupuk 5HKP + 10 HKW @ Rp. 5.000,- Rp. 87.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanam 5 HKP + 6 HKW Rp. 67.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pemeliharaan 40 HKP+20 HKW Rp. 400.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Biaya produksi tahun ke-2 s.d. ke-4&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang 10 ton @ Rp. 150.000,- Rp. 1.500.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Urea 75 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 112.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; SP-36 50 kg @ Rp.1.900,- Rp. 95.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; KCl 50 kg @ Rp.1.800,- Rp. 90.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pestisida 5 liter Rp. 781.250,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenaga kerja&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenaga pemeliharaan 50 HKP+50 HKW Rp. 625.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Alat Rp. 600.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Biaya produksi tahun ke-5 s.d. ke-15&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang 24 ton @ Rp. 150.000,- Rp. 3.600.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Urea 125 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 187.500,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; SP-36 300 kg @ Rp.1.900,- Rp. 570.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; KCl 150 kg @ Rp. 1.800,- Rp. 270.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pestisida 7 liter Rp. 1.093.750,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Alat Rp. 450.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenaga kerja&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pemeliharaan 50 HKP + 60 HKW Rp. 675.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Panen &amp;amp; pasca panen 40 HKP + 50 HKW Rp. 550.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah biaya produksi dalam 15 tahun Rp. 125.574.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pendapatan dari hasil produksi (15 tahun) : 73,32 ton Rp. 219.960.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Keuntungan bersih 15 tahun Rp. 94.386.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Parameter kelayakan usaha 1. B/C rasio = 1,752&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Panen dimulai pada tahun ke 5 dan keuntungan mulai diraih pada tahun ke enam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prospek komoditi jambu air cukup cerah, sebab permintaan terhadap komoditi ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Hanya dalam membudidayakan tanaman jambu air perlu memilih jenis yang tepat, yakni yang banyak digemari masyarakat, seperti cincalo.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;11. STANDAR PRODUKSI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.1. Ruang Lingkup&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.2. Diskripsi …&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu …&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.4. Pengambilan Contoh&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat di bawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 buah dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (startified random sampling) sampai diperoleh minimum 20 buah untuk dianalisis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah kemasan dalam partai (lot) sampai dengan 100, contoh yang diambil 5.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah kemasan dalam partai (lot) 101 sampai dengan 300, contoh yang diambil 7.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah kemasan dalam partai (lot) 301-500, contoh yang diambil 9.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah kemasan dalam partai (lot) 501-1000, contoh yang diambil 10.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah kemasan dalam partai (lot) lebih dari 1000, contoh yang diambil 15 (minimum).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.5. Pengemasan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jambu air dikemas dengan peti kayu/bahan lain yang sesuai dengan berat bersih maksimum 30 kg. Dibagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain: nama barang, golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat bersih, negara/tempat tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;12. DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sarwono B. (1990). Jenis-jenis Jambu Air Top. Jakarta, Trubus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Guntur, Henny. (1985). Jambu Baron. Jakarta, Asri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kanisius, Aksi agraris. (1980). Bertanam Pohon Buah-buahan I.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Yayasan Kanisius, Yogyakarta.(1987). Bertanam Jambu Air. Jakarta, Trubus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFu1bTGJKu7z5lLhVFkMc25qYh9gLfFIN6QVELiEE3NujSuycATkPXOceymH0bcWMbOaFLc9KvJWbr_tGw3DONrmvOBdK7YytzEEMca2c7JT3JhxSk5xRADwO7TOo5HYHhazbFvWC0xWlo/s72-c/JAMBU+AIR.bmp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Budidaya Pertanian Tentang Durian</title><link>http://jelajahiptek.blogspot.com/2012/07/budidaya-pertanian-tentang-durian.html</link><category>Budidaya Pertanian</category><category>Teknologi Tepat Guna</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 5 Jul 2012 01:54:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3551598398328032728.post-6085314301402413865</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7PNU7Bnfa0ERWePuF3-t7vGlhiTpLWJzjgieZdTTchQKvri25uoI4Fxo4uOhzyt1NpRr_TdRuczW3KJXRbBeFg1nFP1UVJyogZ8jd4r3tS9qGQg08BHl2FU4643fTM6wct8Z6vL7oOSC0/s1600/durian.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7PNU7Bnfa0ERWePuF3-t7vGlhiTpLWJzjgieZdTTchQKvri25uoI4Fxo4uOhzyt1NpRr_TdRuczW3KJXRbBeFg1nFP1UVJyogZ8jd4r3tS9qGQg08BHl2FU4643fTM6wct8Z6vL7oOSC0/s1600/durian.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;b&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam. Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M. Nama lain durian adalah duren (Jawa, Gayo), duriang (Manado), dulian (Toraja), rulen (Seram Timur).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2. JENIS TANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanaman durian termasuk famili Bombaceae sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Lahia, Boschia dan Coelostegia. Ada puluhan durian yang diakui keunggulannya oleh Menteri Pertanian dan disebarluaskan kepada masyarakat untuk dikembangkan. Macam varietas durian tersebut adalah: durian sukun (Jawa Tengah), petruk (Jawa Tengah), sitokong (Betawi), simas (Bogor), sunan (Jepara), otong (Thailand), kani (Thailand), sidodol (Kalimantan Selatan), sijapang (Betawi) dan sihijau (Kalimantan Selatan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Manfaat durian selain sebagai makanan buah segar dan olahan lainnya, terdapat manfaat dari bagian lainnya, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanamannya sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Batangnya untuk bahan bangunan/perkakas rumah tangga. Kayu durian setaraf dengan kayu sengon sebab kayunya cenderung lurus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bijinya yang memiliki kandungan pati cukup tinggi, berpotensi sebagai alternatif pengganti makanan (dapat dibuat bubur yang dicampur daging buahnya).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kulit dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus, dengan. cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Indonesia, tanaman durian terdapat di seluruh pelosok Jawa dan Sumatra. Sedangkan di Kalimantan dan Irian Jaya umumnya hanya terdapat di hutan, di sepanjang aliran sungai. Di dunia, tanaman durian tersebar ke seluruh Asia Tenggara, dari Sri Langka, India Selatan hingga New Guenea. Khusus di Asia Tenggara, durian diusahakan dalam bentuk perkebunan yang dipelihara intensif oleh negara Thailand.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jumlah produksi durian di Filipina adalah 16.700 ton (2.030 ha), di Malaysia 262.000 ton (42.000 ha) dan di Thailand 444.500 ton (84.700 ha) pada tahun 1987-1988. Di Indonesia pada tahun yang sama menghasilkan 199.361 ton (41.284 ha) dan pada tahun 1990 menghasilkan 275.717 ton (45.372 ha).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;5. SYARAT TUMBUH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.1. Iklim&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Curah hujan untuk tanaman durian maksimum 3000-3500 mm/tahun dan minimal 1500-3000 mm/tahun. Curah hujan merata sepanjang tahun, dengan kemarau 1-2 bulan sebelum berbunga lebih baik daripada hujan terus menerus.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan durian adalah 60-80%. Sewaktu masih kecil (baru ditanam di kebun), tanaman durian tidak tahan terik sinar matahari di musim kemarau, sehingga bibit harus dilindungi/dinaungi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanaman durian cocok pada suhu rata-rata 20°C-30°C. Pada suhu 15°C durian dapat tumbuh tetapi pertumbuhan tidak optimal. Bila suhu mencapai 35°C daun akan terbakar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.2. Media Tanam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanaman durian menghendaki tanah yang subur (tanah yang kaya bahan organik). Partikel penyusunan tanah seimbang antara pasir liat dan debu sehingga mudah membentuk remah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanah yang cocok untuk durian adalah jenis tanah grumosol dan ondosol. Tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur tanah lapisan atas bebutir-butir, sedangkan bagian bawah bergumpal, dan kemampuan mengikat air tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Derajat keasaman tanah yang dikehendaki tanaman durian adalah (pH) 5-7, dengan pH optimum 6-6,5.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanaman durian termasuk tanaman tahunan dengan perakaran dalam, maka membutuhkan kandungan air tanah dengan kedalam cukup, (50-150 cm) dan (150-200 cm). Jika kedalaman air tanah terlalu dangkal/ dalam, rasa buah tidak manis/tanaman akan kekeringan/akarnya busuk akibat selalu tergenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5.3. Ketinggian Tempat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketinggian tempat untuk bertanam durian tidak boleh lebih dari 800 m dpl. Tetapi ada juga tanaman durian yang cocok ditanam diberbagai ketinggian. Tanah yang berbukit/yang kemiringannya kurang dari 15 kurang praktis daripada lahan yang datar rata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.1. Pembibitan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Persyaratan Benih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biji untuk bibit dipilih dari biji yang memenuhi persyaratan:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Asli dari induknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Segar dan sudah tua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tidak kisut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tidak terserang hama dan penyakit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Penyiapan Benih dan Bibit&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pernanyakatan tanaman durian dapat dilakukan melalui cara generatif (dengan biji) atau vegetatif (okulasi, penyusuan atau cxangkokan).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a) Pengadaan benih dengan cara generatif&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Memilih biji-biji yang tulen/murni dilakukan dengan mencuci biji-biji dahulu agar daging buah yang menempel terlepas. Biji yang dipilih dikeringkan pada tempat terbuka, tidak terkena sinar matahari langsung. Penyimpanan diusahakan agar tidak berkecambah/rusak dan merosot daya tumbuhnya. Proses pemasakan biji dilakukan dengan baik (dengan cara diistirahatkan beberapa saat), dalam kurun waktu 2-3 minggu sesudah diambil dari buahnya. Setelah itu biji ditanam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b) Pengadaan bibit dengan cara okulasi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Persyaratan biji durian yang akan diokulasi berasal dari biji yang sehat dan tua, dari tanaman induk yang sehat dan subur, sistem perakaran bagus dan produktif. Biji yang ditumbuhkan, dipilih yang pertumbuhannya sempurna. Setelah umur 8-10 bulan, dapat diokulasi, dengan cara:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kulit batang bawah disayat, tepat di atas matanya (.... 1 cm). Dipilih mata tunas yang berjarak 20 cm dari permukaan tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sayatan dibuat melintang, kulit dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm sehingga mirip lidah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kulit yang mirip lidah dipotong menjadi 2/3-nya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sisipan “mata” yang diambil dari pohon induk untuk batang atas (disayat dibentuk perisai) diantara kulit. Setelah selesai dilakukan okulasi, 2 minggu kemudian di periksa apakah perisai mata tunas berwarna hijau atau tidak. Bila berwarna hijau, berarti okulasi berhasil, jika coklat, berarti okulasi gagal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
c) Penyusuan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1. Model tusuk/susuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanaman calon batang atas dibelah setengah bagian menuju kearah pucuk. Panjang belahan antara 1-1,5 cm diukur dari pucuk. Tanaman calon batang bawah sebaiknya memiliki diameter sama dengan batang atasnya. Tajuk calon batang bawah dipotong dan dibuang, kemudian disayat sampai runcing. Bagian yang runcing disisipkan kebelahan calon batang atas yang telah dipersiapkan. Supaya calon batang bawah tidak mudah lepas, sambungannya harus diikat kuat-kuat dengan tali rafia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Selama masa penyusuan batang yang disatukan tidak boleh bergeser. Sehingga, tanaman batang bawah harus disangga atau diikat pada tanaman induk (batang tanaman yang besar) supaya tidak goyah setelah dilakukan penyambungan. Susuan tersebut harus disiram agar tetap hidup. Biasanya, setelah 3-6 bulan tanaman tersebut bisa dipisahkan dari tanaman induknya, tergantung dari usia batang tanaman yang disusukan. Tanaman muda yang kayunya belum keras sudah bisa dipisahkan setelah 3 bulan. Penyambungan model tusuk atau susuk ini dapat lebih berhasil kalau diterapkan pada batang tanaman yang masih muda atau belum berkayu keras.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2. Model sayatan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pilih calon batang bawah (bibit) dan calon batang atas dari pohon induk yang sudah berbuah dan besarnya sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kedua batang tersebut disayat sedikit sampai bagian kayunya. Sayatan pada kedua batang tersebut diupayakan agar bentuk dan besarnya sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Setelah kedua batang tersebut disayat, kemudian kedua batang itu ditempel tepat pada sayatannya dan diikat sehingga keduanya akan tumbuh bersama-sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Setelah 2-3 minggu, sambungan tadi dapat dilihat hasilnya kalau batang atas dan batang bawah ternyata bisa tumbuh bersama-sama berarti penyusuan tersebut berhasil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kalau sambungan berhasil, pucuk batang bawah dipotong/dibuang, pucuk batang atas dibiarkan tumbuh subur. Kalau pertumbuhan pucuk batang atas sudah sempurna, pangkal batang atas juga dipotong.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Maka akan terjadi bibit durian yang batang bawahnya adalah tanaman biji, sedangkan batang atas dari ranting/cabang pohon durian dewasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
d) Cangkokan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Batang durian yang dicangkok harus dipilih dari cabang tanaman yang sehat, subur, cukup usia, pernah berbuah, memiliki susunan percabangan yang rimbun, besar cabang tidak lebih besar daripada ibu jari (diameter=2–2,5 cm), kulit masih hijau kecoklatan. Waktu mencangkok adalah awal musim hujan sehingga terhindar dari kekeringan, atau pada musim kering, tetapi harus disiram secara rutin (2 kali sehari), pagi dan sore hari. Adapun tata cara mencangkok adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pilih cabang durian sebesar ibu jari dan yang warna kulitnya masih hijau kecoklatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sayap kulit cabang tersebut mengelilingi cabang sehingga kulitnya terlepas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bersihkan lendir dengan cara dikerok kemudian biarkan kering angin sampai dua hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bagian bekas sayatan dibungkus dengan media cangkok (tanah, serabut gambut, mos). Jika menggunakan tanah tambahkan pupuk kandang/kompos perbandingan 1:1. Media cangkok dibungkus dengan plastik/sabut kelapa/bahan lain, kedua ujungnya diikat agar media tidak jatuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Sekitar 2-5 bulan, akar cangkokan akan keluar menembus pembungkus cangkokan. Jika akar sudah cukup banyak, cangkokan bisa dipotong dan ditanam di keranjang persemaian berisi media tanah yang subur.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Teknik Penyemaian dan Pemeliharaan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bibit durian sebaiknya tidak ditanam langsung di lapangan, tetapi disemaikan terlebih dahulu ditempat persemaian. Biji durian yang sudah dibersihkan dari daging buah dikering-anginkan sampai kering tidak ada air yang menempel. Biji dikecambahkan dahulu sebelum ditanam di persemaian atau langsung ditanam di polibag. Caranya biji dideder di plastik/anyaman bambu/kotak, dengan media tanah dan pasir perbandingan 1:1 yang diaduk merata. Ketebalan lapisan tanah sekitar 2 kali besar biji (6-8 cm), kemudian media tanam tadi disiram tetapi (tidak boleh terlalu basah), suhu media diupayakan cukup lembab (20°C-23°C). Biji ditanam dengan posisi miring tertelungkup (bagian calon akar tunggang menempel ke tanah), dan sebagian masih kelihatan di atas permukaan tanah (3/4 bagian masih harus kelihatan). Jarak antara biji satu dengan lainnya adalah 2 cm membujur dan 4-5 cm melintang. Setelah biji dibenamkan, kemudian disemprot dengan larutan fungisida, kemudian kotak sebelah atas ditutup plastik supaya kelembabannya stabil. Setelah 2-3 minggu biji akan mengeluarkan akar dengan tudung akar langsung masuk ke dalam media yang panjangnya ± 3-5 cm. Saat itu tutup plastik sudah bisa dibuka. Selanjutnya, biji-biji yang sudah besar siap dibesarkan di persemaian pembesar atau polibag.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4) Pemindahan Bibit&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bibit yang akan ditanam di lapangan sebaiknya sudah tumbuh setinggi 75-150 cm atau berumur 7 - 9 bulan setelah diokulasi, kondisinya sehat dan pertumbuhannya bagus. Hal ini tercermin dari pertumbuhan batang yang kokoh, perakarannya banyak dan kuat, juga adanya helaian daun dekat pucuk tanaman yang telah menebal dan warnanya hijau tua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Persiapan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penanaman durian, perlu perencanaan yang cermat. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengukuran pH tanah, analisis tanah, penetapan waktu/jadwal tanam, pengairan, penetapan luas areal penanaman, pengaturan volume produksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Pembukaan Lahan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pembersihan dan pengolahan lahan dilakukan beberapa minggu sebelum penanaman bibit berlangsung. Batu-batu besar, alang-alang, pokok-pokok batang pohon sisa penebangan disingkirkan. Perlu dibersihkan dari tanaman liar yang akan menganggu pertumbuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Pembentukan Bedengan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanah untuk bedengan pembesaran harus dicangkul dulu sedalam 30 cm hingga menjadi gembur, kemudian dicampur dengan pasir dan kompos yang sudah jadi. Untuk ukuran bedengan lebar 1 m panjang 2 m, diberi 5 kg pasir dan 5 kg pupuk kompos. Setelah tanah, pasir dan kompos tercampur merata dan dibiarkan selama 1 minggu. Pada saat itu juga tanah disemprot Vapan/Basamid untuk mencegah serangan jamur/bakteri pembusuk jamur. Di sekeliling bedengan, perlu dibuatkan saluran untuk penampung air. Jika bedengan sudah siap, biji yang telah tumbuh akarnya tadi segera ditanam dengan jarak tanam 20 x 30 cm. Penanaman biji durian dilakukan dengan cara dibuatkan lubang tanam sebesar biji dan kedalamannya sesuai dengan panjang akar masing-masing. Setelah biji tertanam semua, bagian permukaan bedengan ditaburi pasir yang dicampur dengan tanah halus (hasil ayakan) setebal 5 cm.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4) Pengapuran&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keadaan tanah yang kurang subur, misalnya tanah podzolik (merah kuning) dan latosol (merah-coklat-kuning), yang cenderung memiliki pH 5 - 6 dan penyusunannya kurang seimbang antara kandungan pasir, liat dan debu, dapat diatasi dengan pengapuran. Sebaiknya dilakukan menjelang musim kemarau, dengan kapur pertanian yang memiliki kadar CaCO3 sampai 90%. Dua sampai 4 minggu sebelum pengapuran, sebaiknya tanah dipupuk dulu dan dilsiram 4-5 kali. Untuk mencegah kekurangan unsur Mg dalam tanah, sebaiknya dua minggu setelah pengapuran, segera ditambah dolomit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.3. Teknik Penanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Penentuan Pola Tanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jarak tanam sangat tergantung pada jenis dan kesuburan tanah, kultivar durian, serta sistem budidaya yang diterapkan. Untuk kultivar durian berumur genjah, jarak tanam: 10 m x 10 m. Sedangkan kultivar durian berumur sedang dan dalam jarak tanam 12 m x 12 m. Intensifikasi kebun durian, terutama waktu bibit durian masih kecil (berumur kurang dari 6 tahun), dapat diupayakan dengan budidaya tumpangsari. Berbagai budidaya tumpangsari yang biasa dilakukan yakni dengan tanaman horti (lombok, tomat, terong dan tanaman pangan: padi gogo, kedelai, kacang tanah dan ubi jalar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengolahan tanah terutama dilakukan di lubang yang akan digunakan untuk menanam bibit durian. Lubang tanam dipersiapkan 1 m x 1 m x 1 m. Saat menggali lubang, tanah galian dibagi menjadi dua. Sebelah atas dikumpulkan di kiri lubang, tanah galian sebelah bawah dikumpulkan di kanan lubang. Lubang tanam dibiarkan kering terangin-angin selama ± 1 minggu, lalu lubang tanam ditutup kembali. Tanah galian bagian atas lebih dahulu dimasukkan setelah dicampur pupuk kompos 35 kg/lubang, diikuti oleh tanah bagian bawah yang telah dicampur 35 kg pupuk kandang dan 1 kg fospat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menghindari gangguan rayap, semut dan hama lainnya dapat dicampurkan insektisida butiran seperti Furadan 3 G. Selanjutnya lubang tanam diisi penuh sampai tampak membukit setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah. Tanah tidak perlu dipadatkan. Penutupan lubang sebaiknya dilakukan 7-15 hari sebelum penanaman bibit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Cara Penanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bibit yang akan ditanam di lapangan sebaiknya tumbuh 75-150 cm, kondisinya sehat, pertumbuhan bagus, yang tercermin dari batang yang kokoh dan perakaran yang banyak serta kuat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lubang tanam yang tertutup tanah digali kembali dengan ukuran yang lebih kecil, sebesar gumpalan tanah yang membungkus akar bibit durian. Setelah lubang tersedia, dilakukan penanaman dengan cara sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Polybag/pembungkus bibit dilepas (sisinya digunting/diiris hati-hati)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam sampai batas leher&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Lubang ditutup dengan tanah galian. Pada sisi tanaman diberi ajir agar pertumbuhan tanaman tegak ke atas sesuai arah ajir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pangkal bibit ditutup rumput/jerami kering sebagai mulsa, lalu disiram air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Di atas bibit dapat dibangun naungan dari rumbia atau bahan lain. Naungan ini sebagai pelindung agar tanaman tidak layu atau kering tersengat sinar matahari secara langsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penjarangan buah bertujuan untuk mencegah kematian durian agar tidak menghabiskan energinya untuk proses pembuahan. Penjarangan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, rasa buah, ukuran buah dan frekuensi pembuahan setiap tahunnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penjarangan dilakukan bersamaan dengan proses pengguguran bunga, begitu gugur bunga selesai, besoknya harus dilakukan penjarangan (tidak boleh ditunda-tunda).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penjarangan dapat dilakukan dengan menyemprotkan hormon tertentu (Auxin A), pada saat bunga atau bakal buah baru berumur sebulan. Pada saat itu sebagian bunga sudah terbuka dan sudah dibuahi. Ketika hormon disemprotkan, bunga yang telah dibuahi akan tetap meneruskan pembuahannya sedangkan bunga yang belum sempat dibuahi akan mati dengan sendirinya. Jumlah buah durian yang dijarangkan ± 50-60% dari seluruh buah yang ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Penyiangan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menghindari persaingan antara tanaman dan rumput disekeliling selama pertumbuhan, perlu dilakukan penyiangan (.... diameter 1 m dari pohon durian).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Pemangkasan/Perempelan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a) Akar durian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemotongan akar akan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman sampai 40% selama ± 1 musim. Selama itu pula tanaman tidak dipangkas. Pemangkasan akar selain membuat tanaman menjadi cepat berbuah juga meningkatkan kualitas buah, menarik, buah lebih keras dan lebih tahan lama. Waktu pemotongan akar paling baik pada saat tanaman mulai berbunga, paling lambat 2 minggu setelah berbunga. Jika dilakukan melewati batas, hasil panen berkurang dan pertumbuhan terhambat. Cara pemotongan: kedua sisi barisan tanaman durian diiris sedalam 60-90 cm dan sejauh 1,5-2 meter dari pangkal batang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b) Peremajaan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanaman yang sudah tua dan kurang produktif perlu diremajakan. Tanaman durian tidak harus dibongkar sampai ke akar-akarnya, tetapi cukup dilakukan pemangkasan. Luka pangkasan dibuat miring supaya air hujan tidak tertahan.Untuk mencegah terjadinya infeksi batang, bekas luka tersebut dapat diolesi meni atau ditempeli lilin parafin. Setelah 2-3 minggu dilakukan pemangkasan (di musim hujan) maka pada batang tersebut akan tumbuh tunas-tunas baru. Setelah tunas baru mencapai 2 bulan, tunas tersebut dapat diokulasi. Cara okulasi cabang sama dengan cara okulasi tanaman muda (bibit). Tinggi okulasi dari tanah ± 1 - 1,5 m atau 2 - 2,5 m tergantung pada pemotongan batang pokok. Pemotongan batang pokok tidak boleh terlalu dekat dengan tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
c) Pembentukan tanaman yang terlanjur tua&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dahan-dahan yang akan dibentuk tidak usah dililiti kawat, tetapi cukup dibanduli atau ditarik dan dipaksa ke bawah agar pertumbuhan tanaman tidak mengarah ke atas. Cabang yang akan dibentuk dibalut dengan kalep agar dahan tersebut tidak terluka. Balutan kalep tadi diberi tali, kemudian ditarik dan diikat dengan pasak. Dengan demikian, dahan yang tadinya tumbuh tegak ke atas akan tumbuh ke bawah mengarah horizontal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
4) Pemupukan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebelum melakukan pemupukan kita harus melihat keadaan tanah, kebutuhan tanaman akan pupuk dan unsur hara yang terkandung dalam tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
a) Cara memupuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahap awal buatlah selokan melingkari tanaman. Garis tengah selokan disesuaikan dengan lebarnya tajuk pohon. Kedalaman selokan dibuat 20-30 cm. Tanah cangkulan disisihkan di pinggirnya. Sesudah pupuk disebarkan secara merata ke dalam selokan, tanah tadi dikembalikan untuk menutup selokan. Setelah itu tanah diratakan kembali, bila tanah dalam keadaan kering segera lakukan penyiraman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
b) Jenis dan dosis pemupukan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jenis pupuk yang digunakan untuk memupuk durian adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau serta pupuk buatan. Pemupukan yang tepat dapat membuat tanaman tumbuh subur. Setelah tiga bulan ditanam, durian membutuhkan pemupukan susulan NPK (15:15:15) 200 gr perpohon. Selanjutnya, pemupukan susulan dengan NPK itu dilakukan rutin setiap empat bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun. Setahun sekali tanaman dipupuk dengan pupuk organik kompos/pupuk kandang 60-100 kg per pohon pada musim kemarau. Pemupukan dilakukan dengan cara. menggali lubang mengelilingi batang bawah di bawah mahkota tajuk paling luar dari tanaman. Tanaman durian yang telah berumur =3 tahun biasanya mulai membentuk batang dan tajuk. Setelah itu, setiap tahun durian membutuhkan tambahan 20–25% pupuk NPK dari dosis sebelumnya. Apabila pada tahun ke-3, durian diberi pupuk 500 gram NPK per pohon maka pada tahun ke-4 dosisnya menjadi 600-625 gram NPK per pohon. Kebutuhan pupuk kandang juga meningkat, berkisar antara 120-200 kg/pohon menjelang berbunga durian membutuhkan NPK 10:30:10. Pupuk ini ditebarkan pada saat tanaman selesai membentuk tunas baru (menjelang tanaman akan berbunga).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
5) Pengairan dan Penyiraman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Durian membutuhkan banyak air pada pertumbuhannya, tapi tanah tidak boleh tergenang terlalu lama atau sampai terlalu basah. Bibit durian yang baru ditanam membutuhkan penyiraman satu kali sehari, terutama kalau bibit ditanam pada musim kemarau. Setelah tanaman berumur satu bulan, air tanaman dapat dikurangi sekitar tiga kali seminggu. Durian yang dikebunkan dengan skala luas mutlak membutuhkan tersedianya sumber air yang cukup. Dalam pengairan perlu dibuatkan saluran air drainase untuk menghindari air menggenangi bedengan tanaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
6) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit tanaman yang baik, setiap 2 minggu sekali bibit disemprot zat pengatur tumbuh Atonik dengan dosis 1 cc/liter air dan ditambah dengan Metalik dengan dosis 0,5 cc/liter air. Hal ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih sempurna. Jenis insektisida yang digunakan adalah Basudin yang disemprot sesuai aturan yang ditetapkan dan berguna untuk pencegahan serangga. Untuk cendawan cukup melaburi batang dengan fungisida (contohnya Dithane atau Antracol) agar sehat. Lebih baik bila pada saat melakukan penanaman, batang durian dilaburi oleh fungisida tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7) Pemeliharan Lain&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) berfungsi mempengaruhi jaringan-jaringan pada berbagai organ tanaman. Zat ini sama sekali tidak memberikan unsur tambahan hara pada tanaman. ZPT dapat membuat tanaman menjadi lemah sehingga penggunannya harus disesuaikan dengan petunjuk pemakaian yang tertera pada label yang ada dalam kemasan, sebab pemakaian ZPT ini hanya dicampurkan saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7.1. Hama&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Penggerek buah (Jawa : Gala-gala)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ciri: telur diletakkan pada kulit buah dan dilindungi oleh jaring-jaring mirip rumah laba-laba. Larva yang telah menetas dari telur langsung menggerek dan melubangi dinding-dinding buah hingga masuk ke dalam. Larva tersebut tinggal di dalam buah sampai menjadi dewasa. Buah yang diserang kadang-kadang jatuh sebelum tua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Penyebaran: serangga penggerek buah menyebar dengan cara terbang dari pohon durian yang satu ke pohon lainnya. Serangga penggerek buah ini bertelur pada buah durian yang dihinggapinya. Kegiatan bertelur ini dilakukan secara periodik setiap menjelang musim kemarau.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengendalian: dilakukan dengan insektisida, seperti Basudin, Sumithion 50 AC, Thiodan 35 EC, dengan dosis 2-3 cc/liter air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Lebah mini&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ciri: hama ini berukuran kecil, tubuhnya berwarna coklat kehitaman dan sayapnya bergaris putih lebar. Setelah lebah menjadi merah violet, ukuran panjangnya menjadi 3,5 cm. Pada fase ulat (larva), hama ini menyerang daun-daun durian muda. Selama hama tersebut mengalami masa istirahat (bentuk kepompong), mereka akan menempel erat pada kulit buah. Setelah menjadi lebah serangga ini mencari makan dengan cara menggerek ranting-ranting muda dan memakan daun-daun muda.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengendalian: menggunakan parvasida, seperti Hostathion 40 EC (Triazofos 420 gram/liter), dan insektisida, seperti Supracide 40 EC dosis 420 gram/liter dan Temik 106 (Aldikarl 10%).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Ulat penggerek bunga (Prays citry)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ulat ini menyerang tanaman yang baru berbunga, terutama bagian kuncup bunga dan calon buah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ciri: ulat ini warna tubuhnya hijau dan kepalanya merah coklat, setelah menjadi kupu-kupu berwarna merah sawo agak kecoklatan, abu-abu dan bertubuh langsing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gejala: kuncup bunga yang terserang akan rusak dan putiknya banyak yang berguguran. Demikian pula, benang sari dan tajuk bunganya pun rusak semua, sedangkan kuncup dan putik patah karena luka digerek ulat. Penularan ke tanaman lain dilakukan oleh kupu-kupu dari hama tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengendalian: dengan menyemprotkan obat-obatan seperti Supracide 40 EC, nuvacrom SWC, Perfekthion 400 EC (Eimetoat 400 gram/liter).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kutu loncat durian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ciri: serangga berwarna kecoklatan dan tubuhnya diselimuti benang-benang lilin putih hasil sekresi tubuhnya; bentuk tubuh, sayap dan tungkainya mirip dengan kutu loncat yang menyerang tanaman lamtoro.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gejala: kutu loncat bergerombol menyerang pucuk daun yang masih muda dengan cara menghisap cairan pada tulang-tulang daun sehingga daun-daun akan kerdil dan pertumbuhannya terhambat; setelah menghisap cairan, kutu ini mengeluarkan cairan getah bening yang pekat rasanya manis dan merata ke seluruh permukaan daun sehingga mengundang semut-semut bergerombol.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengendalian: daun dan ranting-ranting yang terserang dipangkas untuk dimusnahkan. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Supracide 40 EC dosis 100-150 gram/5 liter air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
7.2. Penyakit&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Phytopthora parasitica dan Pythium complectens&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Penyebab: Pythium complectens, yang menyerang bagian tanaman seperti daun, akar dan percabangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Penularan dan penyebab: penyakit ini menular dengan ke pohon lain yang berdekatan. Penularan terjadi bila ada akar yang terluka. Penularan terjadi bersama-sama dengan larutnya tanah atau bahan organik yang terangkut air.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gejala: daun durian yang terserang menguning dan gugur mulai dari daun yang tua, cabang pohon kelihatan sakit dan ujung-ujungnya mati, diikuti dengan berkembangnya tunas-tunas dari cabang di bawahnya. Kulit di atas permukaan tanah menjadi coklat dan membusuk. Pembusukan pada akar hanya terbatas pada akar-akar sebelah bawah, tetapi dapat meluas dari ujung akar lateral sampai ke akar tunggang. Jika dilihat dari luar akar yang sakit tampak normal, tetapi jaringan kulitnya menjadi colat tua dan jaringan pembuluh menjadi merah jambu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengendalian:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; upayakan drainase yang baik agar tanah tidak terlalu basah dan air tidak mengalir ke permukaan tanah pada waktu hujan;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; pohon yang sakit dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; pilih bibit durian kerikil untuk batang bawah karena jenis ini lebioh tahan terhadap serangan jamur sehingga dapat terhindar dari serangan penyakit busuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kanker bercak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Penyebab: Pythium palvimora, terutama menyerang bagian kulit batang dan kayu. Penyebaran oleh spora sembara bersamaan dengan butir-butir tanah atau bahan organik yang tersangkut air. Penyebaran penyakit ini dipacu oleh curah hujan yang tinggi dalam cuaca kering. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 12-35°C.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gejala: kulit batang durian yang terserang mengeluarkan blendok (gum) yang gelap; jaringan kulit berubah menjadi merah kelam, coklat tua atau hitam; bagian yang sakit dapat meluas ke dalam sampai ke kayu; daun-daun rontok dan ranting-ranting muda dari ujung mulai mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengendalian: (1) perbaikan drainase agar air hujan tidak mengalir dipermukaan tanah dan untuk batang yang sakit; (5) dilakukan dengan cara memotong kulit yang sakit sampai ke kayunya yang sehat dan potongan tanaman yang sakit harus dibakar, sedangkan bagian yang terluka diolesi fungisida, misalnya difolatan 4 F 3%.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jamur upas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gejala: pada cabang-cabang dan kulit kayu terdapat benang-benang jamur mengkilat seperti sarang laba-laba pada cabang-cabang. Jamur berkembang menjadi kerak berwarna merah jambu dan masuk ke dalam kulit dan kayu sehingga menyebabkan matinya cabang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pengendalian:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; serangan jamur yang masih pada tingkat sarang laba-laba dapat dikendalikan dengan cara melumasi cabang yang terserang degan fungisida, misalnya calizin RM;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; jika jamur sudah membentuk kerak merah jambu, sebaiknya dilakukan pemotongan cabang kira-kira lebih 30 cm ke bawah bagian yang berjamur;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; dengan menyemprotkan Antrocol 70 WP (propineb 70,5%), dosis 100-200 gram/liter air atau 1-1,5 kg/ha aplikasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;8. PANEN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada umur sekitar 8 tahun, tanaman durian sudah mulai berbunga. Musim berbunga jatuh pada waktu kemarau, yakni bulan Juni-September sehingga bulan Oktober-Februari buah sudah dewasa dan siap dipetik. Panen durian diusahakan sebelum musim hujan tiba karena air hujan dapat merusak kualitas buah. Warna durian yang hampir masak agak berbeda-beda tergantung pada kultivarnya. Buah yang sudah masak umumnya ditandai dengan bau harum yang menyengat. Pada durian yang sudah masak bila diketuk duri atau buahnya akan terdengar dentang udara antara isi dan kulitnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.2. Cara Panen&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah durian yang sudah matang akan jatuh sendiri. Untuk menjaga agar buah tidak langsung jatuh, kira-kira sebulan sebelum matang buah dapat diikat dengan tali plastik. Tujuan pengikatan tersebut agar tangkai buah yang terlepas dari batang atau ranting pohon tetap menggantung pada tali sehingga buah durian tersebut dapat diambil dalam keadaan utuh. Buah durian dari pohon rendah dapat dipetik dengan menggunakan pisau tajam. Tangkai buah dipotong mulai dari bagian paling atas, ± 1,5 cm dari dahan. Pemotongan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena di tempat ini terdapat bahan tunas yang akan berbunga pada musim berikutnya. Buah durian yang terletak pada bagian pohon yang tinggi sebaiknya dipetik dengan menggunakan alat bantu yang sesuai agar tidak jatuh ke tanah. Durian yang jatuh ke tanah biasanya retak, daging buahnya menjadi asam/pahit karena terjadi fermentasi pembentukan alkohol dan asam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
8.3. Prakiraan Produksi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jumlah durian yang dapat dipanen dalam satu pohon adalah 60-70 butir perpohon pertahun dengan bobot rata-rata 2,7 kg. Apabila diinginkan jumlah buah yang lebih banyak lagi maka bobot buah akan turun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;9. PASCAPANEN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.1. Pengumpulan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di tempat pengumpulan setiap tangkai durian diberi label khusus atau dicat dengan warna tertentu untuk menunjukkan kebun asal durian. Bila kualitasnya kurang baik dapat diperbaiki pada tahun berikutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hasil panen dikumpulkan, diseleksi dan dipilah-pilah berdasarkan ukuran. Seleksi perlu dilakukan agar tidak ada buah cacat yang ikut terkirim, terutama bila buah ini akan dijual atau diekspor.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.3. Penyimpanan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Durian yang sudah terpilih dicuci dan disemprot dengan air agar kotoran yang menempel pada kulitnya menjadi bersih. Selanjutnya buah dicelupkan ke dalam air yang telah diberi fungisida Aliette 800 WP yang berbahan aktif Aluminium tris (Oethy/phosphonate) 22 cc/liter. Tujuan pencelupan ini adalah untuk menghindari serangan busuk buah yang disebabkan oleh jamur Phytophtora sp selama pemeraman dan transportasi. Lalu buah dikeringanginkan. Durian beserta petinya dimasukkan ke dalam gudang yang cukup mendatangkan penerangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah durian yang akan diekspor diberi perlakuan: setelah buah kering, buah dibungkus kantong plastik dan diikat dengan tali rafia Setiap kantung plastik berisi satu butir buah durian. Buah yang sudah dibungkus kantung plastik dibungkus lagi dengan kantung kertas semen. Setelah itu, dimasukkan ke dalam kotak karton setebal 3 mm. Setiap ungkus berisi 5-6 butir durian sehingga setiap kotak karton berisi 10-15 kg durian. Kotak ini dilekat dengan lakban (perekat plastik) tebal yang tidak mudah robek jika terkena gesekan. Teknologi pengemasan ini memperhatikan adanya lubang udara agar ada sirkulasi udara, tetapi juga ada lapisan plastik luar untuk menahan keluarnya bau, sehingga tidak ada kontak antar udara di dalam kotak pengepakan dengan udara luar maka jika di dalam ada durian yang matang baunya tidak tercium menyengat sampai keluar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
9.5. Penanganan Lain&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila ingin menghasilkan durian beku untuk dipasarkan ke tempat yang jauh, maka dapat dilakukan cara pengepakan fakum udara, cara ini banyak dipakai oleh petani Thailand. Setelah dikupas kulitnya, durian dimasukkan ke dalam alat fakum udara selama 35-40 menit dengan suhu 40°C di bawah nol. Setelah itu, buah durian dimasukkan ke dalam plastik berukuran 300 gram dan diletakkan dalam kamar pendingin dengan suhu 18°C di bawah nol.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perkiraan analisis usaha tani tanaman durian seluas 1 ha pada tahun 1998.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) Biaya produksi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanah 1 ha @ m 2 x Rp. 15.000,- Rp. 15.000.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Bibit :150 pohon @ Rp. 50.000,- Rp. 7.500.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pupuk kandang: 9500 kg @ Rp. 60,- Rp. 570.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; UREA: 1400 kg @ Rp. 1.600,- Rp. 2.240.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; TSP: 1400 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 2.100.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; KCl: 1400 kg @ Rp. 1.600,- Rp. 2.240.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; NPK: 1400 kg @ Rp. 2.800,- Rp. 3.920.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Hormon/mineral: 70 liter @ Rp. 3.500,- Rp. 245.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Obat dan pestisida&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Insektisida: 150 liter @ Rp. 5.000,- Rp. 750.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Fungisida: 150 liter @ Rp. 5.000,- Rp. 750.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Alat dan bangunan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Bangunan dan sumur Rp. 2.500.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Alat semprot: 2 unit @ Rp. 75.000,- Rp. 150.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Cangkul: 2 buah @ Rp. 5.000,- Rp. 10.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Sabit: 2 buah @ Rp. 3.500,- Rp. 7.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Garpu: 2 buah @ Rp. 3.000,- Rp. 6.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Golok: 2 buah @ Rp. 7.500,- Rp. 15.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gunting pangkas: 3 buah @ Rp. 5.000,- Rp. 15.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Gergaji pangkas: 2 buah @ Rp. 6.000,- Rp. 12.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Ember: 5 buah @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenaga kerja tetap&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Upah 5 bok 12 x 2 orang x Rp. 30.000,- Rp. 3.600.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pakaian 5 x Rp. 45.000,- Rp. 225.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; THR 5 x Rp. 25.000,- Rp. 125.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tenaga kerja lepas&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Membuat lubang tanam 15 OH @ Rp. 3.000,- Rp. 45.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Memupuk dan menanam 25 OH @ Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jumlah biaya produksi Rp. 42.115.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) Pendapatan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tahun ke-5 produk ke 1 = 25/100 x 150 x 30 x Rp. 30.000= Rp. 33.750.000,-= Rp. 33.750.000 – Rp. 42.115.000 - Rp. 8.365.000,-&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tahun ke-6 produk ke 2 =25/100 x 150 x 60 x Rp. 30.000= Rp. 67.500.000,-= Rp. 67.500.000 – (Rp.8.365.000 + Rp. 16.765.000) - Rp. 42.370.000&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pada tahun ke-7 keuntungan sudah dapat menutupi investasi yang dikeluarkan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
3) Investasi rata-rata/pohon: Rp. 175.096,66&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peluang bisnis durian sangat bagus. Untuk pasar luar negeri pada tahun 1983-1987 dikirim ke negara Taiwan, Singapura, Malaysia dan Hongkong. Dan pada tahun 1989 permintaan meningkat ke negara Prancis, Belanda, Brunei, australia, Saudi Arabia dan Jepang. Bahkan pada tahun 1999 di Jepang harga durian dapat mencapai 10.000 yen (Rp 700.000,-). Peluang pasar di Indonesia juga sangat bagus, harga durian berkualitas dapat mencapai Rp 30.000,-/kg. Sedangkan untuk buah durian dipasaran dan kualitasnya biasa-bisa saja mencapai Rp. 15.000,-/buah. Selama ini perdagangan durian lebih dikuasai oleh negara Thailand, hal ini disebabkan oleh mutu buah yang bagus. Padahal Indonesia dapat melakukan hal yang sama apabila mutu ditingkatkan. Bahkan Indonesia memiliki varietas yang beragam dan berbuah sepanjang tahun. Dengan penanganan yang profesional dan dibantu oleh kemudahan-kemudahan dari pemerintah durian Indonesia mampu menguasai pasar dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;11. STANDAR PRODUKSI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.1. Ruang Lingkup&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Standar produksi ini meliputi: klasifikasi dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, pengemasan dan syarat penandaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.2. Diskripsi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Standar mutu buah durian di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-4482-1998.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah durian diklasifikasikan dalam 3 jenis mutu, yaitu Mutu I, Mutu II dan Mutu III.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kerusakan: mutu I=tidak ada (bebas penyakit dan serangga); mutu II=tidak ada (bebas penyakit dan serangga); mutu III=tidak ada (bebas penyakit dan serangga).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Cacat: mutu I=tidak ada; mutu II=ada; mutu III=ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Rasa dan aroma: mutu I=baik sesuai kultivar; mutu II=baik sesuai kultivar; mutu III=baik sesuai kultivar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kekerasan daging: mutu I=keras/sedang; mutu II=keras/sedang; mutu III=keras/sedang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kesegaran buah: mutu I=segar; mutu II=segar; mutu III=segar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Warna daging buah: mutu I=sesuai kultivar/kuning; mutu II=sesuai kultivar/kuning; mutu III=sesuai kultivar/kuning.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kesegaman Kultivar: mutu I=seragam; mutu II=seragam; mutu III=seragam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Perbandingan berat dengan biji: mutu I &amp;gt;2; mutu II &amp;gt;1; mutu III=boleh &amp;lt; 1.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengujian buah durian dilakukan berdasarkan pengamatan dari bentuk fisik dan visualisasi dari standar mutu yang ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.4. Pengambilan Contoh&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Satu partai/lot buah durian segar yang terdiri maksimum 1.000 kemasan atau 1000 buah, contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan atau jumlah buah dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 1–5, pengambilan contoh semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 6–100, pengambilan contoh minimum 5.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 101–300, pengambilan contoh minimum 7.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 301–500, pengambilan contoh minimum 9.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 501-1001, pengambilan contoh minimum 10.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari setiap kemasan yang dipilih secara acak diambil sekurang-kurangnya tiga buah kemudian dicampur. Untuk kemasan dengan isi kurang dari tiga buah diambil satu buah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat, yaitu orang yang telah dilatih terlebih dahulu dan diberi wewenang untuk melakukan hal tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
11.5. Pengemasan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buah durian seyogyanya dikemas sesuai dengan pasar yang dituju. Untuk Pasar Eropa, Ameriak dan Kanada, disukai buah durian yang beratnya 2,5-3,5 kg/buah dan dikemas dengan kotak karton berkapasitas 10-12 kg. Untuk pasaran Hongkong dipilih buah durian yang beratnya 2-4 kg/buah dan dikemas dalam keranjang bambu berkapasitas 35-50 kg. Sedangkan untuk Malaysia dan Singapura atau pasar lokal dikehendaki buah durian dengan berat 2,0-5,0 kg/buah yang dikemas dalam keranjang bambu atau peti kayu, atau tanpa kemasan langsung ditumpuk ai atas bak truk. Label atau gantungan yang menyertai setiap kemasan harus mudah dilihat dan berisi informasi :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Dihasilkan di Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Nama perusahaan/eksportir.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Nama kultivar durian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Kelas mutu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jumlah buah dalam kemasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Berat kotor.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Berat bersih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Identitas pembeli di tempat tujuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanggal panen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanggal buah itu enak dimakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Tanggal buah itu tidak enak lagi dimakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Petunjuk cara penanganan (suhu, kelembaban) yang dianjurkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;12. DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; AAK. Bertanam Pohon Buah-buahan II. Kanisius : Yogyakarta, 1997.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; AAK. Budi daya Durian. Kanisius : Yogyakarta, 1997.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Rambe, Sri Suryani Maphilindowati. “ Pasca Panen Buah Durian “. Trubus, 1988&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Redaksi Trubus. Berkebun Durian Ala Petani Thailand. Jakarta : Penebar Swadaya, 1998.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; _____________ Mengebunkan Durian Unggul. Jakarta : Penebar Swadaya, 1997&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: white; font-size: xx-small;"&gt;Rating: &lt;span itemprop="rating"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7PNU7Bnfa0ERWePuF3-t7vGlhiTpLWJzjgieZdTTchQKvri25uoI4Fxo4uOhzyt1NpRr_TdRuczW3KJXRbBeFg1nFP1UVJyogZ8jd4r3tS9qGQg08BHl2FU4643fTM6wct8Z6vL7oOSC0/s72-c/durian.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>