<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>jengjeng matriphe!</title>
	
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Jul 2009 13:53:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<geo:lat>-7.46</geo:lat><geo:long>110.22</geo:long><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/jengjeng" type="application/rss+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Sejarah Panjang Guinness Si Bir Hitam</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/jengjeng/~3/LsGHf97hbWY/sejarah-panjang-guinness-si-bir-hitam.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/07/05/sejarah-panjang-guinness-si-bir-hitam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 17:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Piye Carane]]></category>
		<category><![CDATA[Sayembara]]></category>
		<category><![CDATA[Sok Tau]]></category>
		<category><![CDATA[bir]]></category>
		<category><![CDATA[dublin]]></category>
		<category><![CDATA[guinness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1300</guid>
		<description><![CDATA[
Bagi kaum muslim, bir merupakan salah satu minuman yang diharamkan. Namun ndak dapat dipungkiri, di lain sisi, bir juga menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup manusia yang mempunyai sejarah panjang.
Saya bukan peminum bir, namun saya tertarik dengan proses pembuatan dan sejarah panjang yang melatari sebuah bir menjadi salah satu minuman yang populer hingga sekarang.
Apalagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/guinness-beer.jpg" alt="Bir hitam Guinness" title="Bir hitam Guinness" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1299" /></p>
<p>Bagi kaum muslim, bir merupakan salah satu minuman yang diharamkan. Namun ndak dapat dipungkiri, di lain sisi, bir juga menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup manusia yang mempunyai sejarah panjang.</p>
<p>Saya bukan peminum bir, namun saya tertarik dengan proses pembuatan dan sejarah panjang yang melatari sebuah bir menjadi salah satu minuman yang populer hingga sekarang.</p>
<p>Apalagi bir ini banyak sekali ragam dan jenis, sehingga saya pun mencoba menelusuri kisah Guinness, salah satu produsen bir yang <a href="http://g250years.com/" title="250 Remarkable Years Guinness" target="_blank">berhasil berjaya selama 250 tahun</a>.</p>
<p><span id="more-1300"></span>Konon bir sudah dikenal lama, bahkan prasasti tanah liat di Mesopotamia dan Mesir menjelaskan dengan rinci resep pembuatan bir pada tahun 4.300 sebelum masehi. Bir juga telah dikenal dan dibuat oleh bangsa Cina kuno, Syiria, dan suku Inka.</p>
<p><strong>Pembuatan dan Jenis-Jenis Bir</strong></p>
<p>Bir biasanya terbuat dari air fermentasi biji-bijian. Biasanya terbuat dari biji Barley (<em>Hordeum vulgare</em>), yang bentuknya seperti gandum, yang direndam di dalam air hingga berkecambah. Setelah berkecambah, proses ini dihentikan dengan cara dijemur atau dipanggang. Biji kering inilah yang disebut dengan &#8220;malt&#8221;.</p>
<p>Cita rasa bir ditentukan oleh bahan-bahan malt ini. Setiap daerah biasanya mempunyai bir dengan cita rasa khas daerahnya, tergantung dari biji apa yang digunakan dan bagaimana cara mengolah <em>malt</em> ini.</p>
<p><em>Malt</em> ini kemudian direbus dalam air dan diberi ragi agar terjadi proses fermentasi yang mengubah karbohidrat (gula) menjadi alkohol. Jika proses ini salah, maka alkohol yang dihasilkan bisa beracun.</p>
<p>Nah, alkohol yang dihasilkan pada minuman fermentasi adalah jenis <em>ethanol</em> (C<sub>2</sub>H<sub>5</sub>OH), sedangkan alkohol yang beracun dan sering dipakai di dunia medis untuk sterilisasi adalah <em>methanol</em> (CH<sub>3</sub>OH).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/fermentasi-bir.jpg" alt="Tabung fermentasi bir" title="Tabung fermentasi bir" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1302" /></p>
<p>Untuk menambah rasa dan mengimbangi rasa manis <em>malt</em>, ditambahkan bahan-bahan lain. Biasanya yang sering digunakan adalah buah atau bunga Hop yang akan memberikan rasa pahit sebelum larutan <em>malt</em> masuk ke proses fermentasi.</p>
<p>Tanaman Hop (<em>Humulus lupulus</em>) merupakan salah satu spesies dari genus <em>Humulus</em> keluarga <em>Cannabaceae</em>. Nah, tanaman Hop ini berbeda dengan ganja (<em>Cannabis sativa</em>) meski ganja merupakan salah satu species dari genus <em>Cannabis</em> yang merupakan famili <em>Cannabaceae</em> juga loh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ragi yang digunakan dalam pembuatan bir menentukan jenis bir. Ada beberap jenis bir, namun beberapa yang populer antara lain <em>Ale</em>, <em>Lager</em>, <em>Pilsener</em>, dan bir hitam.</p>
<p>Ragi <em>Saccharomyces cerevisiae</em> digunakan dalam proses pembuatan bir jenis <em>Ale</em>, sedangkan bir jenis <em>Lager</em> menggunakan ragi <em>Saccharomyces uvarum</em>, <em>Saccharomyces pastorianus</em>, atau <em>Saccharomyces carlsbergensis</em>.</p>
<p>Bir jenis <em>Pilsener</em> sebenernya merupakan varian dari bir <em>Lager</em>, namun metodenya sedikit berbeda. Metode ini ditemukan pertama kali di Pilsen, yang sekarang masuk ke dalam wilayah Republik Czech.</p>
<p>Bir hitam merupakan varian dari <em>Ale</em> yang menggunakan jenis <em>malt</em> yang berwarna gelap yang terjadi akibat proses pemanggangan ketika pengeringannya.</p>
<p><strong>Guinness, Produsen Bir Hitam Tersohor</strong></p>
<p>Bir hitam tercatat pertama kali dibuat pada tahun 1730-an di London, Inggris. Bir hitam kemudian menjadi populer di daratan Britania Raya dan Irlandia.</p>
<p><a title="The Story of Arthur Guinness" href="http://www2.guinness.com/bh-id/Pages/thestory.aspx" target="_blank">Arthur Guinness</a>, seorang Irlandia memulai usaha <em>brewery</em> (pembuatan bir) dengan bermodalkan uang £ 100 pada tahun 1755 di kota kelahirannya, Leixlip.</p>
<p>Empat tahun kemudian, pada tahun 1759, Arthur Guinness menyewa sebuah pabrik pembuatan bir di St. James&#8217;s Gate, Dublin, Irlandia, untuk jangka waktu 9.000 tahun dengan uang muka £ 100 dan biaya sewa £ 45 per tahun yang sudah termasuk biaya penggunaan air, salah satu bahan utama pembuatan bir.</p>
<p>Dari pabrik pembuatan bir seluas sekitar 1,6 hektar ini lah Guinness pertama kali memproduksi bir jenis <em>Ale</em> dan <em>Porter</em>. Pabrik ini kemudian berganti nama menjadi St. Jame&#8217;s Brewery dan sekarang lebih dikenal dengan dengan nama House of Guinness.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1301" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/st-james-street-brewery.jpg" alt="St. James Street Brewery, Dublin" width="350" height="263" /></p>
<p><em>Porter</em> sendiri merupakan sebutan untuk bir berwarna hitam yang terbuat dari <em>malted Barley</em> yang berwarna gelap. Minuman jenis ini pada saat itu sering dikonsumsi oleh para porter (buruh pengangkut barang) di London, sehingga minuman ini sering disebut dengan minuman &#8220;porter&#8221;.</p>
<p>Dari istilah &#8220;porter&#8221; ini kemudian muncullah istilah &#8220;stout&#8221; yang kurang lebih artinya sama, yaitu bir hitam. Nama &#8220;stout&#8221; digunakan untuk bir hitam yang rasanya cenderung lebih kuat.</p>
<p>Ceritanya sih, berawal dari sebutan untuk porter yang kuat, sehingga disebut dengan &#8220;extra porter&#8221;, &#8220;double porter&#8221;, atau &#8220;stout porter&#8221;. Kemudian nama &#8220;stout porter&#8221; lebih sering dipakai dan lama-lama menjadi &#8220;stout&#8221; saja.</p>
<p>Sejak tahun 1799, Arthur Guinness menghentikan produksi bir jenis <em>Ale</em> dan lebih berkonsentrasi pada pembuatan bir jenis <em>Porter</em> yang semakin populer. Pada tahun 1840-an, Guinness memakai sebutan &#8220;stout&#8221; untuk bir produksinya yang berasa lebih kuat.</p>
<p><strong>Ciri Khas Bir Guinness</strong></p>
<p>Bir hitam &#8220;Stout&#8221; Guinness dibuat seperti bir hitam biasa, yaitu <em>malted Barley</em> dan bunga Hop yang dilarutkan di dalam air kemudian diberi ragi agar terjadi proses fermentasi. Namun pada bir Guinness ada beberapa keistimewaan.</p>
<p>Barley yang digunakan Guinness berkadar serat tinggi. Setelah berkecambah, Barley dikeringkan dengan cara dibakar dengan cara tradisional sehingga memberikan warna rubi gelap sehingga seperti warna hitam dan cita rasa khas Guinness.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/guinness-is-good-for-you1.jpg" alt="Poster iklan &quot;Guinness is Good for You&quot; tahun 1920-an" title="Poster iklan &quot;Guinness is Good for You&quot; tahun 1920-an" width="199" height="300" class="alignright strip size-full wp-image-1304" /></p>
<p>Campuran Barley ini juga ditambahkan kuntum bunga Hops betina dengan jumlah yang lebih banyak daripada pada bir lain sehingga memberikan rasa dan aroma yang lebih kuat.</p>
<p>Penambahan bunga Hops ini selain untuk menyeimbangkan rasa manis, juga berfungsi sebagai pengawet alami.</p>
<p>Guinness juga dikenal sebagai &#8220;meal in a glass&#8221; karena kandungan kalorinya yang rendah, sekitar 198 Kkal, lebih rendah dari jumlah kalori susu skim atau jus jeruk pada takaran yang sama. </p>
<p>Karena kandungan rendah kalori inilah, Guinness sempat terkenal dengan semboyan &#8220;Guinness is Good for You&#8221; pada tahun 1920-an.</p>
<p><strong>Penampilan dan Penyajian</strong></p>
<p>Selain cita rasa, Guinness memperhatikan betul cara penyajian dan penampilan bir hitamnya. Penyajian bir dalam gelas <em>pint</em> berwarna hitam pekat dengan busa di bagian atas yang creamy dan bertahan lama adalah ciri khas Guinnes.</p>
<p>Gelas <em>pint</em> berbentuk seperti bunga tulip membuat genggaman gelas begitu mantab. Gelas bersih akan menampilkan warna bir yang begitu cantik terutama pada proses terbentuknya busa.</p>
<p>Busa berwarna putih creamy yang terbentuk perlahan yang merupakan hasil karbonasi nitrogen dan karbondioksida membuat busa ini bertahan lama, tidak seperti busa pada bir lain yang akan hilang dalam beberapa saat.</p>
<p>Busa merupakan ciri khas Guinness sejak dulu. Ketika menuangkannya ke dalam gelas pun diperlukan teknik tertentu agar busanya tampil cantik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/penampilan-guinness.jpg" alt="Penampilan bir Guinness" title="Penampilan bir Guinness" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1305" /></p>
<p>Caranya dengan memiringkan gelas sebesar 45&deg;, kemudian mengisinya dengan bir hingga hampir &#190; tinggi gelas dan ketika hampir mencapai &#190; tinggi gelas lalu gelas ditegakkan. Biarkan busanya terbentuk dengan sempurna, baru setelah itu ditambahkan lagi hingga busa nyempil-nyempil di permukaan gelas.</p>
<p>Untuk caranya bisa dilihat di video berikut ini:</p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/d15lJn1r0Mk&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/d15lJn1r0Mk&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p>Tradisi khas penuangan Guinness lainnya adalah ketika busa terbentuk. Karena proses terbentuknya busa ini cukup lama dan cantik, pecinta Guinness harus menunggu hingga busa terbentuk sempurna sebelum diminum.</p>
<p>Warna coklat yang berubah menghitam bergerak merambat dari bagian dasar gelas menuju ke atas yang terjadi dari reaksi nitrogen sebelum berubah menjadi busa putih menjadi pertunjukkan tersendiri. Ini lah ciri lain penyajian bir Guinness yang ndak ada di bir lainnya.</p>
<p>Kebiasaan menunggu dan mengamati proses terbentuknya busa bir ini memunculkan istilah populer di antara pecinta Guinness, &#8220;Good things come to those who wait&#8221;.</p>
<p><strong>Perkembangan Kemasan Guinness</strong></p>
<p>Tahun 1834, Guinness dipasarkan dalam botol ketika pajak kemasan berbahan kaca dihapuskan. Sebelumnya, Guinness dipasarkan dalam gentong-gentong dalam ukuran barel.</p>
<p>Tahun 1959, Guinness akhirnya dijual dalam bentuk <em>draught</em>, yaitu tabung-tabung besar (<em>keg</em> atau <em>cask</em>) dengan kran-kran khusus bertekanan yang biasa ada di bar-bar. Seorang bartender akan menuangkan bir ke dalam gelas dari <em>draught</em>.</p>
<p><em>Draught</em> ini pun mengalami berbagai perkembangan, terutama dalam teknologi penuangan bir ke dalam gelas.</p>
<p>Tahun 1988, Guinness mulai dikemas menggunakan kaleng. Yang membedakan kaleng bir Guinness dengan yang lainnya adalah digunakannya sebuah pelampung yang berfungsi menjaga tekanan di dalam kaleng agar ketika dituang ke dalam gelas dapat menghasilkan reaksi yang sama ketika bir dituangkan dari <em>draught</em>.</p>
<p>Teknologi ini sudah dipatenkan dan bahkan pada tahun 1991, teknologi ini mendapatkan penghargaan dari Ratu Inggris.</p>
<p>Tahun 1999, teknologi pelampung yang digunakan pada kaleng diterapkan juga di dalam botol. Pelampung berbentuk roket ini juga difungsikan untuk menjaga tekanan agar ketika dituang, bir memberikan efek yang sama seperti ketika dituang dari <em>draught</em>.</p>
<p><strong>Dublin dan Brand Guinness</strong></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/logo-guinness.jpg" alt="Logo Guinness" title="Logo Guinness" width="200" height="267" class="alignleft size-full wp-image-1306" /></p>
<p>Guinness begitu identik dengan Irlandia. Maklum aja, logo Guinness menggunakan gambar harpa dari Brian Boru yang juga merupakan simbol dari negara Irlandia.</p>
<p>Bedanya, logo harpa Guinness ini dicerminkan (flip vertikal) dari simbol negara Irlandia.</p>
<p>Logo yang bernama The Harp ini mulai diperkenalkan pada tahun 1862 dan terdaftar sebagai merek dagang pada tahun 1876.</p>
<p>Selain logo, Guinness juga begitu dekat dengan tradisi masyarakat Irlandia. Guinness seolah-olah menjadi minuman yang wajib ada di setiap perayaan.</p>
<p>Sejak dulu, Guinness telah memberikan kontribusi terhadap dunia industri Dublin dengan memberikan upah yang layak dan kesejahteraan kepada pegawainya.</p>
<p>Melalui bisnis <em>brewery</em> yang dirintis Guinness, Dublin kini berkembang menjadi salah satu kota industri yang diperhitungkan duina. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/trambule-dab.jpg" alt="Tulisan di poster: BEER helping ugly people having sex since 1862!" title="Tulisan di poster: BEER helping ugly people having sex since 1862!" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1307" /></p>
<p>Sejarah panjang Guinness tak lepas juga dari sejarah panjang Dublin. Kota yang hampir tak tersentuh perang dunia kedua ini memiliki banyak bangunan kuno dan bersejarah.</p>
<p>Salah satunya adalah pabrik mereka di St. Jame&#8217;s Gate yang meski mesin-mesin mereka menggunakan mesin-mesin modern, arsitektur dan bentuk bangunannya tidak berubah.</p>
<p>Hawa yang sejuk, suasana tenang, juga menjadi suasana sehari-hari di Dublin. Ndak heran kalo untuk menikmati bir saja, masyarakat Dublin masih mempertahankan tradisi &#8220;Good things come to those who wait&#8221;.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/drunk.gif' alt='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' class='wp-smiley' width='58' height='30' title='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' /></p>
<p>Nah, dalam <a href="http://g250years.com/" title="250 Remarkable Years Guinness" target="_blank">perayaan ulang tahun ke-250 tahunnya ini</a>, Guinness memberikan kesempatan buat kita yang ingin merasakan suasana di Dublin, sambil menikmati suasana tradisi perayaan ala masyarakat Irlandia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/blog-badge_200.jpg" alt="blog-badge_200" title="blog-badge_200" width="200" height="130" class="alignleft strip size-full wp-image-1308" /></p>
<p>Kita ndak harus mengkonsumsi bir untuk mendapatkan <a href="http://www2.guinness.com/bh-ID/Pages/250-BlogCompetition.aspx" title="250-Blog Competition" target="_blank">kesempatan ini</a>. Cukup dengan <a href="http://www2.guinness.com/bh-ID/Pages/250-BlogMechanism.aspx" title="Mekanisme Blog Competition" target="_blank">kepiawaian menulis blog</a> atau <a href="http://www2.guinness.com/bh-ID/Pages/250-Mechanism.aspx" title="Mekanisme Photo Competition" target="_blank">kemampuan memotret</a>, kita bisa mendapat kesempatan meraih tiket terbang ke Dublin.</p>
<p>Kalo misalnya saya yang dapet dan terbang ke Dublin, saya pasti akan berfoto-foto di depan gerbang St. Jame&#8217;s Gate yang terkenal itu!</p>
<p>Trambule, dab! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/drunk.gif' alt='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' class='wp-smiley' width='58' height='30' title='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' /></p>
<p><small>Gambar diambil dari Google</small></p>
 jengjeng matriphe!<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=LsGHf97hbWY:9OX3INzwgcc:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/07/05/sejarah-panjang-guinness-si-bir-hitam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/07/05/sejarah-panjang-guinness-si-bir-hitam.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/jengjeng/~3/0NfeVxeUHJI/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/23/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluyuran]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1290</guid>
		<description><![CDATA[
Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah Jakarta Fair yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran.
Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli Betawi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/rumah-betawi.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi" title="Perkampungan Budaya Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1294" /></p>
<p>Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah <a href="http://www.jakartafair.biz/" title="Jakarta Fair" target="_blank">Jakarta Fair</a> yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran.</p>
<p>Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli Betawi, yaitu Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan, yang terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.</p>
<p><span id="more-1290"></span>Situ Babakan sendiri sebenernya nama sebuah danau buatan yang luasnya mencapai 32 hektar. Namun karena letak perkampungan ini sangat dekat dengan danau ini, orang lebih mengenal perkampungan ini dengan nama Situ Babakan.</p>
<p>Lokasi yang diresmikan menjadi kawasan wisata cagar budaya pada bulan Desember 2001 ini menggantikan perkampungan Betawi di Condet, Jakarta Timur, yang tergerus zaman.</p>
<p>Di kawasan ini kita bisa melihat kehidupan masyarakat Betawi asli lengkap dengan tradisi dan keseniannya, mulai dari bentuk arsitektur rumah, makanan khas, hingga kesenian ada semua di sini.</p>
<p>Saya menuju ke kawasan ini dengan menggunakan bus Kopaja S.616 jurusan Blok M-Pasar Minggu-Cipedak dan turun tepat di gerbang utama yang diberi nama Gerbang Bang Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-bang-pitung.jpg" alt="Gerbang I Bang Pitung" title="Gerbang I Bang Pitung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1295" /></p>
<p>Dari pintu gerbang ini saya berjalan kaki melalui jalan Moh. Kahfi II yang berpaving-blok sejauh kurang lebih 300 meter untuk mencapai danau, kemudian dilanjutkan dengan berjalan lagi sejauh 300 meter dari danau untuk mencapai Perkampungan Budaya Betawi.</p>
<p>Rumah-rumah di sekitar tempat ini sebagian besar berarsitektur Betawi. Memang ada aturan kepada warga di sini untuk membentuk rumahnya dengan arsitektur Betawi. Bahkan ketika saya mampir di masjid At-Taubah untuk melakukan sholat, saya terkagum-kagum dengan arsitektur masjid yang juga bercorak Betawi.</p>
<p>Mungkin karena akhir pekan, kawasan ini sangat ramai. Motor yang kebanyakan berisi pasangan muda-mudi banyak lalu lalang. Di lapangan tanah saya melihat anak-anak kecil sedang bermain sepak bola seperti melontarkan saya ke sisi lain Jakarta yang lebih membumi.</p>
<p>Saya pun mencapai danau. Wuih, rame banget! Para pengunjung pun terlihat asyik menikmati pemandangan danau yang bersih ini. Di tengah danau rupanya ada orang sedang bermain kano dan di pinggir-pinggir danau tampak beberapa orang sedang memancing.</p>
<p>Pengunjung juga bisa menyewa perahu bebek yang harus dikayuh untuk menggerakannya. Ongkosnya lima ribu rupiah per orang.</p>
<p>Berbagai makanan dan jajanan khas Betawi banyak dijajakan di sini. Hampir setiap 5 meter saya menemukan penjual Kerak Telor. Selain Kerak Telor, makanan lain yang bisa dijumpai adalah Soto Betawi, Bir Pletok, Roti Buaya, Dodol Betawi, dan lain sebagainya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/penjual-kerak-telor.jpg" alt="Penjual kerak telor" title="Penjual kerak telor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1293" /></p>
<p>Konon Roti Buaya merupakan salah satu syarat makanan yang harus ada pada upacara penganten Betawi. Buaya sendiri merupakan hewan yang paling setia. Mungkin sikap kesetiaan inilah yang disimbolkan dalam Roti Buaya yang disuguhkan pas acara penganten. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selain makanan, saya juga menemukan penjual suvenir lucu dan unik. Kaos-kaos bergaya Betawi dan bergambar wajah legenda Betawi, alamarhum Benyamin S. juga dijual di sini. Lantunan lagu <em>Kompor Mleduk</em> yang dinyanyikan Bang Ben lantang terdengar dari VCD player yang diputar dari lapak penjual VCD lagu-lagu Bang Ben.</p>
<p>Untuk masuk kawasan ini gratis, hanya saja bagi pengguna motor akan diminta membayar biaya parkir sebesar seribu rupiah.</p>
<p>Sayang sekali jalanan paving blok hanya berakhir hingga ke danau. Mungkin jalan menuju ke kawasan perkampungan budaya ini masih dalam tahap pembangunan karena ketika saya ke sana, jalanan masih rusak berbatu.</p>
<p>Ndak berapa lama, saya pun sampai di gerbang perkampungan budaya. Sebuah tangga pendek dengan sebuah gerbang menyambut saya. Di sekitar gerbang nampak beberapa pemuda berpakaian hitam-hitam plus peci dengan berkalung kain sarung di leher ala si Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-kampung.jpg" alt="Gerbang perkampungan budaya" title="Gerbang perkampungan budaya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1296" /></p>
<p>Ada beberapa rumah yang berada di kompleks ini. Semuanya bercorak Betawi modern, karena rumah asli Betawi semua terbuat dari kayu, sedangkan rumah Betawi modern sudah menggunakan semen.</p>
<p>Rumah-rumah Betawi ini sebenernya ndak jauh berbeda dengan rumah Joglo. Rumah-rumah ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu wilayah publik (beranda untuk menerima tamu), wilayah semi publik (ruang keluarga), dan wilayah privat (kamar tidur dan dapur).</p>
<p>Ciri masyarakat Betawi yang terbuka dan gemar bergaul dituangkan dalam bentuk beranda rumah yang dipakai untuk menerima tamu. Seperangkat meja-kursi kecil nampak tertata rapi di beranda. Di beberapa rumah nampak juga sebuah lincak lebar yang kadang juga dipakai untuk menerima tamu, umumnya tamu yang sudah dekat semacam kerabat.</p>
<p>Duduk di atas lincak ini mengingatkan saya adegan Bang Benyamin yang suka tiduran di atas lincak bambu di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lincak-betawai.jpg" alt="Lincak Betawi" title="Lincak Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1291" /></p>
<p>Karena semua rumah yang ada di kompleks ini adalah rumah pribadi, saya ndak dapat masuk lebih ke dalam dan cuma bisa masuk sampai beranda.</p>
<p>Bila memperhatikan, pola-pola ornamen dan hiasan yang ada di rumah-rumah Betawi ini sangat terpengaruh dari berbagai corak, yaitu Arab, Portugis, Cina dan Belanda.</p>
<p>Bentuk pintu dan jendela berdaun sirip-sirip horisontal merupakan pola khas yang ada di rumah Betawi. Daun jendela yang dibuka ke samping kanan-kiri dengan teralis kayu bulat bertirai separo di bagian dalam, selalu ada di samping kanan dan kiri rumah.</p>
<p>Di beberapa rumah yang memiliki halaman cukup luas, berbagai pohon buah yang tumbuh di halaman juga menjadi ciri khas rumah Betawi. Pohon belimbing, nangka, rambutan, melinjo, duku, kecapi, jambu air, bisa ditemui di beberapa halaman rumah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/nemplok.jpg" alt="Nemplok di pohon belimbing" title="Nemplok di pohon belimbing" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1292" /></p>
<p>Sayang sekali, saya melihat beberapa motor nampak parkir seenaknya sehingga menggangu kerapihan yang ada. </p>
<p>Di kawasan ini terdapat sebuah panggung yang sering dipakai untuk pertunjukkan seni, mulai dari tari-tarian, pencak silat, Lenong, Gambang Kromong, dan Topeng Betawi, setiap hari Minggu jam 2 siang sampai jam 5 sore. Pada hari-hari tertentu, wisatawan juga bisa melihat latihan tari anak-anak dan remaja.</p>
<p>Karena saya datang kesorean, saya kelewatan berbagai acara seni yang menarik tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Pada bulan-bulan tertentu, terutama bulan Juli, wisatawan bisa melihat ritual budaya seperti upacara pernikahan, akekahan, sunatan, khataman Quran, dan sebagainya.</p>
<p>Perkampungan ini juga terbuka bagi wisatawan yang hendak menginap dan merasakan kehidupan masyarakat Betawi. Ada sekitar 67 homestay (rumah penduduk) yang siap ditinggali wisatawan. Bahkan pada bulan Ramadhan, wisatawan juga bisa merasakan suasana berpuasa hingga Lebaran di kampung ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lompat.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi keren!" title="Perkampungan Budaya Betawi keren!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1297" /></p>
<p>Namun ada satu hal yang menjadi pemikiran saya. Mengingat lokasi yang cukup &#8220;terpencil&#8221; ini, apakah ini menandakan bahwa masyarakat Betawi mulai &#8220;tersingkir&#8221; dari kawasan pusat Kota Jakarta yang makin dipadati oleh pendatang, sehingga harus &#8220;dikumpulkan&#8221; di suatu kawasan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
 jengjeng matriphe!<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=0NfeVxeUHJI:k9hlZdjdj_w:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/23/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/23/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sony Camcorder HDD DCR-SR45E di Alnect Computer</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/jengjeng/~3/s1jXcQo0JYQ/sony-camcorder-hdd-dcr-sr45e-di-alnect-computer.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/23/sony-camcorder-hdd-dcr-sr45e-di-alnect-computer.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 20:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coba Barang]]></category>
		<category><![CDATA[Sayembara]]></category>
		<category><![CDATA[camcorder]]></category>
		<category><![CDATA[sony]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1259</guid>
		<description><![CDATA[
Setiap kali jeng-jeng atau keluyuran, saya sering menemukan tempat-tempat menarik yang pantas untuk diabadikan. Namun hanya dengan sebuah foto hasil jepretan kamera digital rupanya ndak cukup untuk menunjukkannya.
Seringkali terlintas keinginan untuk mengabadikan momen atau lokasi-lokasi tersebut dengan menggunakan kamera video, namun sayangnya saya belum memilikinya. Apalagi era blogging sekarang ini konon akan memuat lebih banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/sony-DCR-SR45E.jpg" alt="Sony Camcoder HDD DCR-SR45E" title="Sony Camcorder HDD DCR-SR45E" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1289" /></p>
<p>Setiap kali jeng-jeng atau keluyuran, saya sering menemukan tempat-tempat menarik yang pantas untuk diabadikan. Namun hanya dengan sebuah foto hasil jepretan kamera digital rupanya ndak cukup untuk menunjukkannya.</p>
<p>Seringkali terlintas keinginan untuk mengabadikan momen atau lokasi-lokasi tersebut dengan menggunakan kamera video, namun sayangnya saya belum memilikinya. Apalagi era blogging sekarang ini konon akan memuat lebih banyak konten multimedia (video) seperti yang dibahas pada acara FreSh pada bulan Juni 2009 di JaCC beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Lalu, ketika terlintas keinginan untuk memiliki kamera video, kamera seperti apakah yang sekiranya cocok untuk dijadikan teman perjalanan dan gadget yang tepat untuk merekam momen-momen berharga tersebut?</p>
<p><span id="more-1259"></span>Setelah gugling sana-sini untuk mencari produk yang asyik, saya tertarik dengan kamera <a href="http://www.alnect.net/products.php?/10/58/246/364/Gadget/Camcorder/Sony/Camcorder_HDD_Sony_DCR-SR45E" title="Sony Camcorder HDD DCR-SR45E" target="_blank">Sony Camcorder HDD DCR-SR45E</a>. Kenapa saya tertarik dengan kamera ini?</p>
<p>Pertama adalah bentuknya yang mungil (panjang 113 mm, lebar 76 mm, tinggi 77 mm) dan ringan (350 gram) membuat kamera ini mudah dan praktis dibawa dalam perjalanan. Desainnya yang kompak membuatnya mudah untuk dioperasikan dan nyaman ketika digunakan.</p>
<p>Media penyimpanan berupa hardisk dengan format MPEG-2 yang mampu mencapai resolusi 1920 x 1080 pixel lebih saya sukai karena memudahkan dalam memindah melalui koneksi USB 2.0 High Speed dan mengolah hasil rekaman tanpa perlu melakukan konversi tanpa kehilangan kualitas gambar.</p>
<p>Apalagi kapasitasnya yang cukup besar, 30 GB ditambah kemampuan HYBRID yang memungkinkan perekaman gambar ke dalam penyimpan tambahan berupa <em>Memory Stick Duo</em> membuat kita ndak kehilangan momen-momen berharga.</p>
<p>Didukung lensa <em>Carl Zeiss Vario-Tessar</em> berdiameter 30 mm membuat kualitas gambar yang jernih dan bersih. Setiap sudut gambar bahkan yang jauh dan detil bisa diabadikan karena kamera ini memiliki kemampuan zoom optikal sebesar 40x plus 2000x zoom digital.</p>
<p>Situasi perjalanan yang biasanya bergoncang dan banyak bergerak ndak mengurangi ketajaman gambar karena fitur image stabilizer <em>Super SteadyShot</em>. Bahkan momen-momen perjalanan di malam hari pun masih bisa diambil dengan baik karena adanya fitur <em>Super NightShot Plus</em>.</p>
<p>Hasil rekaman pun bisa langsung dilihat melalui layar 2.7&#8221; Wide Hybrid LCD berresolusi 123K pixels (rasio 16:9). Naigasi pun bisa dilakukan dengan mudah melalui tombol yang ada di layar.</p>
<p>Mengenai harga, cukup terjangkau apalagi melihat fitur-fitur yang diusung kamera berkelas pemula ini. Setelah melakukan gugling, saya menemukan produk ini dijual dengan harga kompetitif di <a href="http://www.alnect.net" title="Alnect Computer" target="_blank">Alnect Computer</a>.</p>
<p><a href="http://alnect.net/blogcontest/?ref=muhammad.zamroni@gmail.com"><img class="strip" src="http://alnect.net/blogcontest/ticket.php?u=muhammad.zamroni@gmail.com" alt="Alnect computer Blog Contest" border="0"></a</p>
 jengjeng matriphe!<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=s1jXcQo0JYQ:SFZyzJ1_mRg:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/23/sony-camcorder-hdd-dcr-sr45e-di-alnect-computer.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/23/sony-camcorder-hdd-dcr-sr45e-di-alnect-computer.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Taman Nasional Komodo, Pesona Purba Yang Tiada Dua</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/jengjeng/~3/PbBOeiVm_54/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/18/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 09:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluyuran]]></category>
		<category><![CDATA[Sayembara]]></category>
		<category><![CDATA[bubuawards]]></category>
		<category><![CDATA[komodo]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[
Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata komodo? Seekor reptilia purba yang dipercaya sebagai turunan dinosaurus? Karnivora dengan ludah beracun yang bisa membunuh seekor kerbau hanya dengan sekali gigit?
Apa jadinya kalo misalnya kita berada di Pulau Komodo, dikelilingi oleh hewan &#8220;ganas&#8221; yang menjadi kebanggaan republik ini karena hanya satu-satunya di dunia?
Taman Nasional Komodo adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/go-komodo.jpg" alt="Go Komodo!" title="Go Komodo!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1252" /></p>
<p>Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata komodo? Seekor reptilia purba yang dipercaya sebagai turunan dinosaurus? Karnivora dengan ludah beracun yang bisa membunuh seekor kerbau hanya dengan sekali gigit?</p>
<p>Apa jadinya kalo misalnya kita berada di Pulau Komodo, dikelilingi oleh hewan &#8220;ganas&#8221; yang menjadi kebanggaan republik ini karena hanya satu-satunya di dunia?</p>
<p><span id="more-1246"></span>Taman Nasional Komodo adalah salah satu dari beberapa tempat yang pengen saya kunjungi. Cerita dari <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Mbilung" target="_blank">Pakde Mbilung</a> yang sering berkunjung ke sana telah mengobsesi saya untuk menginjakkan kaki di sana suatu hari nanti. Saya berjanji. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Tentu saja, hewan purba langka ini menjadi daya tarik utama selain pemandangan alamnya yang tak kalah eksotis. Komodo Dragon (<em>Varanus komodoensis</em>), hewan endemik yang hidup tersebar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan pulau-pulau kecil lain yang termasuk ke dalam kawasan <a href="http://www.komodonationalpark.org/" title="Taman Pulau Komodo" target="_blank">Taman Nasional Komodo</a>.</p>
<p><strong>Cara Menuju ke Sana</strong></p>
<p>Setelah bertanya kepada Pakde Mbilung ditambah melakukan gugling di sana-sini, saya mencoba mengumpulkan berbagai informasi untuk menuju ke sana. Selain berguna untuk saya, siapa tahu informasi ini juga bisa digunakan oleh temen-temen yang hendak ke sana dalam waktu dekat ini.</p>
<p>Kawasan ini dapat ditempuh dengan jalur darat, laut, dan udara. Cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan melalui jalur udara. Setidaknya ada 3 maskapai penerbangan yang melayani rute Denpasar ke Labuan Bajo setiap hari, yaitu <a href="http://www.merpati.co.id/" title="Merpati" target="_blank">Merpati</a>, <a href="http://www.iat.co.id/" title="Indonesia Air Transport" target="_blank">Indonesia Air Transport</a>, dan <a href="http://www.transnusa.co.id/flightinfo/jadwal-penerbangan.html" title="Jadwal Penerbangan Transnusa" target="_blank">Pelita Air/Transnusa</a>.</p>
<p>Dari Labuan Bajo, kota pelabuhan di ujung barat Flores, barulah menyeberang ke pulau-pulau yang termasuk ke Taman Nasional Komodo dengan menggunakan perahu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/perahu-komodo.jpg" alt="Kapal pesiar menuju Pulau Komodo" title="Kapal pesiar menuju Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1253" /></p>
<p>Bila Anda termasuk kaum <em>the have</em>, menyewa kapal pesiar dari Benoa, Bali untuk menuju ke Taman Nasional Komodo mungkin bisa menjadi pilihan. Kapal-kapal seperti ini menyediakan fasilitas yang nyaman untuk tidur dan makan layaknya hotel terapung. Selain itu kapal-kapal semacam ini biasanya juga dilengkapi dengan peralatan menyelam.</p>
<p><em>Backpackers</em> tak perlu berkecil hati. Menuju ke Labuan Bajo melalui jalur darat sepertinya akan menjadi catatan perjalanan yang menarik. Belum lagi ketika harus menumpang kapal-kapal nelayan pengangkut barang kebutuhan untuk bisa menyeberang, atau bahkan ikut menginap di atas perahu tentu memberikan cerita tersendiri.</p>
<p>Kalo disuruh milih, tentu saya pengen menikmati berlayar dengan kapal pesiar! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strong>Komodo Dragon, Sang Penguasa</strong></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/komodo_dragon.jpg" alt="Komodo Dragon (Varanus komodoensis)" title="Komodo Dragon (Varanus komodoensis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1251" /></p>
<p>Hamparan sabana gersang yang menjadi habitat komodo tentu menarik untuk dijelajahi. Bila ndak berhati-hati, hewan yang aktif di siang hari ini bisa saja tiba-tiba nongol dari balik semak-semak dan menyerang bila merasa terganggu. Tentu rasa deg-deg-an ini memberikan sensasi adrenalin tersendiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita meminta bantuan petugas jagawana Taman Nasional Komodo untuk menemani dan memandu kita mengeksplorasi keunikan dan kecantikan kawasan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/komodo_makan.jpg" alt="Komodo makan" title="Komodo makan" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1254" /></p>
<p>Biasanya komodo (dalam bahasa lokal sering disebut dengan &#8220;ora&#8221;) ini harus &#8220;dipancing&#8221; dahulu supaya keluar dengan cara menyajikan daging yang sudah membusuk.</p>
<p>Ketika komodo datang berbondong-bondong dan berebut makanan, wisatawan pun berbondong-bondong mengabadikan momen yang ditunggu-tunggu ini.</p>
<p>Namun cara memanggil komodo seperti ini sudah jarang dilakukan karena akan membuat komodo manja, demikian kata Pakde Mbilung. Selain itu komodo memang mudah untuk ditemui, terutama di Pulau Rinca.</p>
<p>Selain sabana yang gersang, pemandangan bukit-bukit di Pulau Komodo memang layak dipujikan. Maklum saja, pulau ini sangat unik.</p>
<p>Pulau ini terbentuk dari aktivitas letusan vulkanik purba plus aktivitas tektonik yang membuat dasar laut terangkat. Makanya ndak mengherankan kalo pantai-pantai di sini berbeda dengan tempat lain, hamparan pasir pantai yang dibentengi bukit-bukit.</p>
<p>Hamparan pegunungan yang membentang dari utara ke selatan dengan tinggi rata-rata 400-500 meter dpl dengan puncak tertinggi bernama Satalibo (735 m dpl) menjadi pemandangan eksotis lainnya.</p>
<p>Di dataran yang agak tinggi, hamparan pohon Lontar dan hutan hujan merupakan pemandangan yang ndak boleh terlewatkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/pulau_komodo.jpg" alt="Pulau Komodo" title="Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1250" /></p>
<p>Hwaa!! Makin penasaran aja nih dengan Pulau Komodo!</p>
<p><strong>Kekayaan Bahari Taman Nasional Komodo</strong></p>
<p>Jika Anda penggemar olah raga air semacam <em>snorkeling</em> dan <em>diving</em>, keindahan laut di taman nasional ini patut diselami. Namun arus yang kuat harus menjadi perhatian tersendiri. Arusnya yang kuat terjadi karena laut ini merupakan pertemuan air laut tropis dari utara dan air laut dari selatan.</p>
<p>Ada beberapa <a href="http://www.komodonationalpark.org/dive_sites.htm" title="Diving Site in Komodo" target="_blank">titik penyelaman</a> yang bisa dijelajahi di sekitar Pulau Komodo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/pantai_merah.jpg" alt="Pantai Merah, Pulau Komodo" title="Pantai Merah, Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1249" /></p>
<p>Salah satu titik yang sering didatangi adalah Pantai Merah. Disebut pantai merah karena pasirnya yang terdiri dari pecahan-pecahan koral dan cangkang hewan laut lainnya sehingga berwarna kemerahan. </p>
<p>Pantai ini menjadi pantai favorit para wisatawa asing maupun lokal karena hanya dengan ber-<em>snorkeling</em> saja, keindahan bawah laut di pantai ini bisa dinikmati, apalagi bila mencoba <em>diving</em>.</p>
<p>Dengan kedalaman hingga 30 meter, situs penyelaman Pantai Merah didiami berbagai jenis ikan, seperti ikan scorpion yang dikenal memiliki sengat beracun, siput tak bercangkang dan hewan molusca lain.</p>
<p>Penyelaman di malam hari juga sering dilakukan di situs Pantai Merah untuk melihat kehidupan malam hewan laut di situs ini. Selain karena jarak pandang, banyaknya organisme laut yang mendiami situs ini tentu menjadi daya tarik.</p>
<p>Selain Pantai Merah, situs penyelaman favorit adalah Batu Bolong. Batu Bolong adalah situs penyelaman terbaik di Komodo yang berupa &#8220;pulau&#8221; karang di selat antara Pulau Tatawa dan Pulau Komodo.</p>
<p>Dengan topografinya yang berbentuk tebing curam membuat situs penyelaman ini menawarkan pemandangan bawah laut yang sangat alami karena nelayan lokal ndak bisa menggunakan bom atau racun sianida untuk menangkap ikan di sekitar lokasi ini yang tentunya berakibat merusak ekosistem di bawah laut.</p>
<p>Karena topografinya pula, arus di situs penyelaman ini menjadi sangat berbahaya, sehingga penyelaman disarankan dilakukan saat laut sedang surut.</p>
<p>Berbagai jenis ikan dan biota laut dapat ditemui di lokasi ini. Biota ini hidup di sekitar tebing karang dan pada kedalaman tertentu bisa ditemukan ikan hiu.</p>
<p>Jika ingin melihat berbagai ikan besar, menyelam di situs Batu Tiga sangat disarankan. Disebut Batu Tiga karena situs penyelaman yang terletak di sebelah tenggara Tanjung Kuning di Selat Linta ini terdapat tiga buah batu karang yang merupakan &#8220;perpanjangan&#8221; dari bagian bawah Pulau Komodo.</p>
<p>Primadona dari situs Batu Tiga adalah ikan pari Manta (<em>Manta birostris</em>) yang lebarnya bisa mencapai 8 meter! Selain itu di situs yang berarus sangat kuat ini menjadi habitat berkembangnya terumbu karang yang cantik-cantik dan segerombolan ikan-ikan kecil.</p>
<p>Sayangnya situs-situs penyelaman di Taman Nasional Komodo ini arusnya terkenal sangat kuat sehingga ndak disarankan untuk diver pemula apalagi yang belum pernah diving seperti saya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /> </p>
<p><strong>Lokasi Eco-Wisata Terunik di Dunia</strong></p>
<p><a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/?firstselect=6:91"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/vote-komodo-150x150.jpg" alt="Vote Komodo for the New 7 Wonders of Nature" title="Vote Komodo for the New 7 Wonders of Nature" width="150" height="150" class="alignleft strip size-thumbnail wp-image-1257" style="border: 0" /></a></p>
<p>Melihat berbagai potensi kekayaan alam Taman Nasional Komodo, memang pantas kalo lokasi yang pada tahun 1991 masuk dalam <a href="http://whc.unesco.org/en/list/609" title="Komodo National Park: UNESCO Wolrd Heritage" target="_blank">daftar Situs Warisan Dunia UNESCO</a> ini <a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/nominees/asia/c/KomodoNationalParkNationalPark/" title="New7Wonders: Komodo National Park" target="_blank">dinominasikan ke dalam New 7 Wonders of Nature</a> dan kita harus mendukungnya dengan <a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/?firstselect=6:91" title="Vote for Komodo National Park!" target="_blank">memberikan suara untuk lokasi ini</a>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>Harapan saya, selain bisa jeng-jeng ke Taman Nasional Komodo sekaligus mendukung <a href="http://www.indonesia.travel/" title="Visit Indonesia Year 2009" target="_blank">tahun kunjungan ke Indonesia (Visit Indonesia Year 2009)</a> ini, saya berharap kita bisa menyadari betapa pentingnya pelesatarian alam Indonesia, terutama fauna langka seperti Komodo. Bahkan ajang <a href="http://www.bubuawards.com/" title="Bubu Awards" target="_blank">Bubu Awards</a> tahun ini pun ikut mengangkat isu Taman Nasional Komodo untuk masuk ke dalam daftar New 7 Wonders of Nature. </p>
<p>Jadi, kapan kita ke Komodo? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p><small>Gambar ilustrasi diambil dari Google Images.</small></p>
 jengjeng matriphe!<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=PbBOeiVm_54:kG3NQ5GgWlk:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/18/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/18/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>JanjiHati.Com: Situs Pernikahan Fany &amp; Yudis</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/jengjeng/~3/Rp6oe7Gmmx4/janjihaticom-situs-pernikahan-fany-yudis.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/01/janjihaticom-situs-pernikahan-fany-yudis.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 10:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemaki]]></category>
		<category><![CDATA[portofolio]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1244</guid>
		<description><![CDATA[
Akhir Mei 2009, saya dimintai tolong Fany untuk membuatkan desain situs pernikahannya dia ama Yudis. Karena waktunya mepet banget, saya cuma mengkonversi konsep undangan cetak ke web.
Situs ini dibuat pake WordPress. Dengan hanya berbekal theme khusus, kita bisa membuat WordPress tidak lagi menjadi mesin blog namun lebih ke sebuah CMS yang fleksibel dan lengkap.
Saya akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/wedfany.jpg" alt="JanjiHati.com - The Wedding Page Fany &amp; Yudis" title="JanjiHati.com - The Wedding Page Fany &amp; Yudis" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1248" /></p>
<p>Akhir Mei 2009, saya dimintai tolong <a href="http://blog.faniez.net/" title="Fany" target="_blank">Fany</a> untuk membuatkan desain <a href="http://janjihati.com/" title="JanjiHati.Com" target="_blank">situs pernikahannya dia ama Yudis</a>. Karena waktunya mepet banget, saya cuma mengkonversi konsep undangan cetak ke web.</p>
<p>Situs ini dibuat pake <a href="http://wordpress.org" title="WordPress" target="_blank">WordPress</a>. Dengan hanya berbekal theme khusus, kita bisa membuat WordPress tidak lagi menjadi mesin blog namun lebih ke sebuah CMS yang fleksibel dan lengkap.</p>
<p><span id="more-1244"></span>Saya akan mencoba berbagi tips saat mengerjakan desain ini. Berbekal sebuah gambar hasil kerjaan <a href="http://goenrock.com/" title="Goenrock" target="_blank">Goenrock</a> dan <a href="http://tukangkopi.com/" title="Yudis" target="_blank">Yudis</a>, saya mulai mengolahnya di Photoshop.</p>
<p>Gambar dari desain undangan saya potong-potong dan disusun ulang dengan mengkoding langsung ke HTML. Saya memang lebih suka melakukan koding langsung menggunakan text editor. Dengan pengaturan melalui CSS, saya merasa saya bisa lebih &#8220;presisi&#8221; dalam meletakkan elemen-elemen HTML tersebut.</p>
<p>Setelah mockup desain HTML selesai, baru saya konversikan ke format theme WordPress. Kita tentu harus mengetahui <a href="http://codex.wordpress.org/Theme_Development" title="Theme Development" target="_blank">aturan pembuatan theme WordPress</a>.</p>
<p>Karena simple banget, saya hanya membutuhkan satu file induk <code>index.php</code> saja untuk menangani seluruh konten dengan bertumpu pada statemen <em>if-else</em>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Fany meminta tampilan utama tidak mengarah ke artikel blog, namun ke sebuah halaman statis. Ini bisa diatur melalui menu <code>Settings &#10230; Reading</code>. Kemudian pada opsi <em>Front page displays</em> dipilih ke <em>static page</em> dan pilih halaman mana yang akan ditampilkan sebagai default.</p>
<p>Untuk Gallery, saya ndak menggunakan plugin apa pun. Saya hanya memanfaatkan <a href="http://codex.wordpress.org/Gallery_Shortcode" title="Gallery Shortcode" target="_blank">fitur Gallery</a> yang ada pada WordPress.</p>
<p>Album dibuat dengan menggunakan posting artikel dan kategorinya diset &#8220;gallery&#8221;. Halaman Gallery akan memanggil semua postingan alias album yang memiliki kategori &#8220;gallery&#8221;.</p>
<p>Untuk Guestbook juga hampir sama caranya. Guestbook ini sebenernya hanya memanfaatkan fitur komentar. Komentar hanya diaktifkan pada halaman Guestbook ini saja.</p>
<p>Untuk halaman Blog, prinsipnya hanya memanggil postingan-postingan yang memiliki kategori &#8220;blog&#8221;. Mudah banget, kan?</p>
<p>Secara konten, wedding site Fany berbeda dengan yan lain. Selain menonjolkan diri si pengantin, situs ini cukup informatif. <a href="http://janjihati.com/blog" title="Blog" target="_blank">Di menu blog</a>, Fany memberikan informasi tentang cara menuju ke lokasi, moda transportasi yang bisa digunakan, hingga info penginapan.</p>
<p>Nah, ternyata membuat sebuah wedding site dengan menggunakan WordPress itu gampang banget. Ada yang mau saya bikinkan juga? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selamat ya, Fan! Semoga langgeng dan bahagia! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
 jengjeng matriphe!<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=Rp6oe7Gmmx4:eACwN4FMDBk:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/01/janjihaticom-situs-pernikahan-fany-yudis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/06/01/janjihaticom-situs-pernikahan-fany-yudis.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Mangrove Terakhir Jakarta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/jengjeng/~3/EyFoQm9pmwg/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/26/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 11:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluyuran]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mangrove]]></category>
		<category><![CDATA[suakamargasatwa]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[
Mungkin ndak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai suaka margasatwa yang sekaligus menjadi hutan mangrove dan lahan basah yang menjadi benteng terakhir untuk melawan abrasi.
Walau suaka margasatwa yang terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk ini merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki sekitar 30 jenis vegetasi berupa mangrove [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/suaka-margasatwa-muara-angk.jpg" alt="Di Suaka Margastwa Muara Angke" title="Di Suaka Margastwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1239" /></p>
<p>Mungkin ndak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai suaka margasatwa yang sekaligus menjadi hutan mangrove dan lahan basah yang menjadi benteng terakhir untuk melawan abrasi.</p>
<p>Walau suaka margasatwa yang terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk ini merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki sekitar 30 jenis vegetasi berupa mangrove dan tumbuhan lainnya, 91 jenis burung air dan burung hutan, serta satwa lain seperti monyet dan biawak.</p>
<p><span id="more-1232"></span>Bersama <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=643418838" title="Taufiq Ismail" target="_blank">Tupic</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1577900179" title="Wahyu Ardi Kurniawan" target="_blank">Didit</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=531469679" title="Arsyad M Fajri" target="_blank" target="_blank">Aad</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1320197433" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a>, dan <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1074934683" title="Widi Astuti Ari Setiyaningsih" target="_blank">Widi</a>, saya berkesempatan mengunjungi suaka margasatwa yang sejak tahun 1939 sudah diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda ini.</p>
<p>Menuju lokasi yang secara administratif terletak di wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum.</p>
<p>Dari terminal Blok M, kami naik bus PPD 37 jurusan Blok M-Muara Angke yang cuma berhenti sampai Mega Mall Pluit. Dari depan Mega Mall ini, kami naik angkot merah U11 dan turun di perempatan gerbang masuk Pantai Indah Kapuk.</p>
<p>Kemudian kami berjalan masuk ke arah PIK, melewati gerbang dan setelah menyeberang Sungai Angke berbelok ke kanan menyusuri trotoar di seberang kompleks ruko Mediterania Niaga. Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke terletak sekitar 300 meter dari jembatan ini.</p>
<p>Selain dari Blok M, bisa juga ditempuh dari Terminal Grogol. Dari Terminal Grogol, naik angkot merah B01 yang mempunyai jurusan Grogol-Muara Angke, kemudian turun di perempatan Pantai Indah Kapuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/gerbang-suaka-margasatwa.jpg" alt="Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke" title="Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1241" /></p>
<p>Di dalam, rupanya rombongan dari <a href="http://www.jgm.or.id/" title="Jakarta Green Monser" target="_blank">Jakarta Green Monster</a> sedang mengadakan acara. Kru TransTV juga nampak sedang melakukan liputan.</p>
<p>Seorang penjaga langsung menyambut kami dengan tatapan yang kurang menyenangkan. Untuk masuk, kami ditanyai mengenai Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) yang harus dibuat sehari sebelumnya di Departemen Kehutanan. Blah! Apa-apaan ini? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Kami kan cuma berniat berwisata, kenapa harus menggunakan surat ijin? Belum lagi si petugas meminta ongkos untuk penggunaan kamera yang saya rasa tidak masuk akal, 100 ribu rupiah! Udah gitu si petugas meminta uang rokok.</p>
<p>Namun setelah melalui proses negosiasi, kami akhirnya diijinkan masuk juga. Kami bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk &#8220;uang rokok&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Saya sebenernya lebih sreg kalo ada semacam retribusi, dengan diberi karcis tanda masuk resmi, sehingga uang yang masuk juga jelas. Kalo pun harus ijin, kenapa harus ke Departemen Kehutanan yang lokasinya sangat jauh itu?</p>
<p>Kalo untuk melakukan kegiatan, boleh lah. La kalo cuma pengen berwisata biasa? Kasihan buat yang datang jauh-jauh dan tidak mengetahui adanya aturan Simaksi ini. Minimal dibuatkan Simaksi sementara di tempat gitu.</p>
<p>Namun untuk menghindari masalah, sebelum berkunjung ke tempat-tempat yang termasuk kawasan konservasi semacam cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional, sebaiknya kita mengurus Simaksi di Departemen Kehutanan, meski hanya berwisata.</p>
<p>Departemen Kehutanan juga sebaiknya memberikan informasi mengenai syarat-syarat dan tata cara mengurus Simaksi ini. Bahkan ketika saya googling, saya belum nemu informasi yang oke mengenai pengurusan Simaksi ini.</p>
<p>Harus diakui, kami cukup beruntung bisa masuk ke sana tanpa Simaksi. Hehehe. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_whistling.gif' alt='&#58;&#45;&#34;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#45;&#34;' /></p>
<p>Selesai urusan di pintu masuk dan Simaksi, kami pun mulai meniti jembatan-jembatan kayu yang menjadi track penjelajahan sepanjang kurang lebih 1 km ini. Di awal, track masih rindang karena banyaknya pohon Pidada (<em>Sonneratia caseolaris</em>) yang menaungi. Bila &#8220;beruntung&#8221;, kepala bisa kejatuhan buah Pidada dari atas, jadi berwaspadalah.</p>
<p>Buah Pidada menjadi makanan favorit Monyet Ekor Panjang (<em>Macaca fascicularis</em>) yang merupakan salah satu satwa penghuni suaka margasatwa ini. Pohon Pidada mempunyai ciri akar nafas berbentuk seperti tombak yang menancap ke dalam lumpur dengan air yang memiliki kadar garam rendah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/buah-pidada.jpg" alt="Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)" title="Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1234" /></p>
<p>Buah Pidada berbentuk bulat dengan bagian tengah buah ada semacam tangkai, bila dimakan rasanya masam. Bunga Pidada mekar pada dini hari.</p>
<p>Di kawasan yang masih rimbun ini terdapat pula sebuah menara pengawas yang tampaknya sudah tidak dipakai. Warna coklat karat yang menempel di batang-batang besi mengukuhkan hal ini.</p>
<p>Lepas dari kawasan Pidada, kami memasuki kawasan rawa dengan vegetasi berupa Gelagah (<em>Saccharum spontaneum</em>) dan Eceng Gondok (<em>Eichchornia crassipes</em>). Di kejauhan, terlihat bangunan-bangunan megah pemukiman PIK.</p>
<p>Di tengah track terdapat semacam bangunan untuk beristirahat. Ketika kami tiba, tampak seorang bule yang dari perawakannya saya menduga seorang backpacker, sedang duduk beristirahat.</p>
<p>Dua orang fotografer sedang memotret model wanita yang sedang berpose di atas track kayu. Lokasi ini rupanya juga dipakai untuk pemotretan.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan dan di kejauhan nampak beberapa ekor burung Cangak Abu (<em>Ardea cinerea</em>) sedang terbang dan seekor tampak sedang bertengger yang seolah-olah sedang berdiri di atas permukaan rawa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/ardea-cinerea.jpg" alt="Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)" title="Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1233" /></p>
<p>Di tengah penjelajahan, sayup-sayup saya mendengar suara &#8220;koak-koak&#8221; di antara rerimbunan semak. Kemungkinan itu suara burung Kowak Malam Kelabu (<em>Nycticorax nycticorax</em>).</p>
<p>Panas mentari semakin menyengat ditambah bau amis membuat keringat bercucuran dan badan terasa lengket. Setelah melewati area yang banyak ditumbuhi Api-api (<em>Avicennia marina</em>) dan Nipah (<em>Nypa fruticans</em>), kami pun beristirahat sejenak di bawah pohon Pidada besar.</p>
<p>Semilir angin begitu sejuk membuat kami betah berlama-lama duduk ngemper sambil menikmati bekal logistik yang kami bawa. Saya mengamati sekitar dan tampak seekor pelatuk Caladi Ulam (<em>Picoides macei</em>) sedang mematuk-matuk batang Pidada.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/picoides-macei.jpg" alt="Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)" title="Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1238" /></p>
<p>Ndak jauh dari situ, nampak burung kecil berwarna kuning, yang sepertinya burung madu Sriganti (<em>Nectarinia jugularis</em>) betina.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/nectarinia-jugularis-betina.jpg" alt="nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed Sunbird (Nectarinia jugularis) betina" title="nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed Sunbird (Nectarinia jugularis) betina" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1237" /></p>
<p>Setelah puas ngaso, kami pun beranjak untuk meneruskan perjalanan. Masih didominasi pohon Nipah, kami harus menghalau beberapa daun Nipah yang menutupi jalan hingga kami sampai di ujung jembatan.</p>
<p>Awalnya kami mengira jembatan ini akan mengarah kembali ke gerbang masuk, tapi ternyata tidak. Untuk kembali, kami harus melalui rute yang sama dengan rute kami tadi. Apa boleh buat, kami memang tidak bisa ke mana-mana lagi.</p>
<p>Ketika kami kembali, Widi berteriak karena melihat seekor Biawak (<em>Varanus salvator</em>) kecil sepanjang sekitar 30 cm sedang berenang di atas rawa. Kami pun segera menghampiri dan rupanya si Biawak kecil ini sedang memanjat tiang jembatan kayu. Setelah menungu sebentar, Biawak ini kemudian nongol dan nampak sedang berjemur sebentar.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/varanus-salvator.jpg" alt="Biawak (Varanus salvator)" title="Biawak (Varanus salvator)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1240" /></p>
<p>Sepanjang perjalanan, saya masih penasaran dengan kehadiran Monyet Ekor Panjang yang menjadi primadona suaka margasatwa ini. Namun sepanjang perjalanan saya tidak melihatnya.</p>
<p>Monyet yang sering dipakai untuk pertunjukan topeng monyet ini mempunyai peranan penting dalam penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan di Suaka Margasatwa Muara Angke melalui fecesnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/bukan-monyet.jpg" alt="Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)" title="Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1235" /></p>
<p>Mengunjungi Suaka Margasatwa Muara Angke memang menyenangkan. Namun sayangnya pengelolaannya yang kurang maksimal serta ribetnya jalur birokrasi membuat potensi tempat wisata edukasi ini menjadi kurang terekspos.</p>
<p>Beberapa sampah plastik juga menjadi keprihatinan tersendiri. Lokasinya yang memang berdekatan dengan lokasi pemukiman kumuh nelayan Muara Angke menjadikan lokasi ini kerap menjadi penampungan sampah yang mengalir dari Sungai Angke.</p>
<p>Padahal suaka margasatwa ini menjadi lahan basah dan benteng terakhir Jakarta dari ancaman abrasi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/jembatan-kayu.jpg" alt="Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke" title="Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1236" /></p>
<p>Terima kasih kepada <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Rudyanto" target="_blank">Pakde Mbilung</a> atas bantuan identifikasi beberapa spesies burung yang saya temui. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
 jengjeng matriphe!<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=EyFoQm9pmwg:ngB26W-5BdY:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/26/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/26/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Green Canyon &amp; Pangandaran</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/jengjeng/~3/zcGY9YRNQaY/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/05/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 18:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluyuran]]></category>
		<category><![CDATA[ciamis]]></category>
		<category><![CDATA[green canyon]]></category>
		<category><![CDATA[jengjeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[
Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis.
Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. Hamparan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/green-canyon.jpg" alt="Menuju Green Canyon" title="Menuju Green Canyon" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1137" /></p>
<p>Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis.</p>
<p>Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. Hamparan pantai berpasir putih yang memiliki garis pantai barat dan garis pantai timur ini cukup menawan terutama ketika sunset dan sunrise. Boleh dibilang Pangandaran menjadi basis jika kita ingin mengunjungi berbagai obyek wisata lain di sekitarnya.</p>
<p><span id="more-1133"></span>Perjalanan melelahkan untuk menuju ke sana yang memakan waktu kurang lebih 8-9 jam dari Jakarta terbayar lunas. Dan seperti biasa, tanpa rencana, hanya bermodalkan beberapa lembar pakaian dan logistik seadanya yang tersimpan di dalam backpack, saya pun ndoyok ke sana.</p>
<p>Ada beberapa rute yang bisa ditempuh untuk mencapai Green Canyon. Seperti yang saya bilang, Pangandaran menjadi basis sebelum menuju ke Green Canyon. Untuk menuju ke Pangandaran bisa langsung dari Jakarta atau dari Bandung.</p>
<p>Saya menggunakan bus Perkasa Jaya tujuan Pangandaran yang berangkat dari terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Macet yang amat parah di akhir pekan membuat saya hampir tertinggal bus terakhir yang berangkat sekitar pukul 9 malam ini.</p>
<p>Sebenernya ada bus AC dengan rute yang sama, namun bus ini sudah berangkat sejam sebelumnya. Bus yang saya tumpangi ini berkelas ekonomi non-AC dengan tarif 55 ribu rupiah.</p>
<p>Awalnya saya khawatir jika bus ini akan berhenti di tengah jalan untuk mengangkut penumpang sehingga waktu tempuh semakin lama, namun karena bus ini langsung masuk tol menuju Bandung membuat kekhawatiran saya sirna. Penumpang yang tidak begitu penuh karena perjalanan di malam hari membuat perjalanan cukup nyaman.</p>
<p>Saya berangkat pada Jumat malam hari karena ingin menghemat waktu serta penginapan. Niatnya sih mau tidur di bus sehingga paginya siap untuk jeng-jeng namun apa daya, desain kursi bus ekonomi ini membuat badan saya pegel-pegel dan ndak bisa tidur! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Sampai di Pangandaran pagi sekitar pukul 6. Begitu turun dari bus, saya langsung ditawari jasa ojek. Karena hari masih sangat pagi untuk meneruskan perjalanan ke Green Canyon, saya pun memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar kawasan wisata Pantai Pangandaran.</p>
<p>Dengan menyewa ojek yang cukup mahal, 30 ribu rupiah, saya berkeliling mencari penginapan yang cocok. Mulai dari yang bentuknya mirip kamar kos-kosan mahasiswa yang umpel-umpelan hingga hotel mewah dan bungalow pun ada. Harganya pun bervariatif, mulai dari 100 rebu per malam hingga yang bertarif jutaan. Karena masih pagi, saya bisa lebih leluasa survei dan berkeliling untuk bertanya dari satu penginapan ke penginapan lainnya.</p>
<p>Saya menginap di Hotel Sunset, dengan tarif 300 rebu (kelasnya menengah), dengan fasilitas yang mirip dengan hotel berbintang 3 lah. Fasilitasnya selain AC, TV, breakfast, dan yang penting kasur empuk dan air panas! Apalagi view dari kamar lumayan bagus dan jarak ke pantai cuma sekali salto. Bila dibandingkan dengan fasilitasnya dan lokasinya, tarifnya masih masuk akal menurut saya. Apalagi saya kan mau liburan dan bermanja-manja diri. Hehehe.</p>
<p>Backpacking bukan berarti harus &#8220;kere&#8221; dan menyiksa diri dengan meminimalisir pengeluaran seirit mungkin, namun bila mampu, boleh lah merasakan &#8220;kemewahan&#8221; demi kenyamanan. Selama budget dan kemampuan finansial masih masuk, menurutku sih tiada masalah. Hehehe.</p>
<p>Maksud hati cuma menaruh backpack, bebersih diri, dan beristirahat sejenak, tapi karena tidak bisa tidur selama di perjalanan membuat saya terlelap di hotel. Badan yang segar sehabis mandi air hangat yang pasrah di dalam pelukan kasur empuk dan buaian AC membuat saya bangun kesiangan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Sehabis dhuhur dan mencari makan di warung makan Holiday yang menyediakan berbagai menu masakan dengan harga yang wajar yang tak jauh dari hotel, saya berangkat ke Green Canyon.</p>
<p>Ada beberapa cara untuk sampai Green Canyon. Dari terminal Pangandaran, kita bisa naik bus kecil ke arah Terminal Cijulang. Dari terminal Cijulang, kita bisa naik ojek lagi hingga sampai ke Dermaga Ciseureuh. </p>
<p>Saya sekali lagi mengandalkan ojek. Dengan tarif sekitar 60 ribu, si tukang ojek akan mengantarkan saya dari hotel hingga ke dermaga, menunggu saya selama berada di Green Canyon, kemudian mengantarkan saya ke obyek wisata Pantai Batu Hiu, dan mengantarkan saya kembali ke hotel.</p>
<p>Jarak dari Pangandaran ke Dermaga Ciseureuh yang terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, sekitar 30 km. Waktu tempuh dengan menggunakan ojek sekitar 30 menit. Dari dermaga ini, kita harus menyewa perahu untuk sampai ke Green Canyon.</p>
<p>Dermaga Ciseureuh dibangun sekitar tahun 1993. Sebelumnya para penyedia jasa perahu bekerja sendiri-sendiri dalam menawarkan perahunya. Dengan adanya dermaga ini, para penyedia jasa perahu bisa diatur dan menjadi lebih tertib.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/dermaga-cisereuh.jpg" alt="Di Dermaga Ciseureuh" title="Di Dermaga Ciseureuh" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1134" /></p>
<p>Ongkos sewa perahu 75 ribu per perahu dengan maksimal jumlah penumpang 5 orang. Cukup mahal bila kita menyewa untuk sendiri dan tentunya menjadi lebih murah bila kita berombongan.</p>
<p>Perjalanan dari dermaga ke Green Canyon yang berjarak sekitar 3 km ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan perahu motor. Kita akan ditemani seorang juru mesin dan seorang guide.</p>
<p>Kami berjalan menuju hulu, menyusuri Sungai Cijulang dengan air berwarna hijau keruh. Menurut guide saya, warna air akan menjadi hijau jernih pada musim kemarau.</p>
<p>Di sepanjang sungai, bila beruntung kita bisa melihat beberapa ekor biawak yang terlihat nemplok di pepohonan. Kedalaman sungai ini menurut guide bisa mencapai 7 meter. Sedangkan di Green Canyon sendiri bisa sampai 4 meter.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/mulut-green-canyon.jpg" alt="Mulut Green Canyon" title="Mulut Green Canyon" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1143" /></p>
<p>Kami pun akhirnya tiba di mulut Green Canyon. Mulutnya berbentuk seperti goa, namun di bagian lainnya &#8220;atap&#8221; goanya tidak ada alias tebing terbuka.</p>
<p>Bagian atap goa yang menghubungkan kedua tebing inilah yang disebut dengan Cukang Taneuh, yang berarti &#8220;jembatan tanah&#8221;. Jembatan ini menghubungkan Desa Batukaras dan Desa Kertajaya.</p>
<p>Sampai di sana rupanya sudah banyak perahu yang sedang menambatkan diri. Perahu ndak dapat masuk lebih ke dalam lagi karena terhadang batuan besar di mulut gua. Bila ingin masuk ke dalam lagi harus berenang dengan menggunakan pelampung. Hampir semua perahu kosong karena para penumpangnya sedang masuk menjelajah lebih ke dalam. </p>
<p>Bila ingin dipandu menyusuri gua oleh guide, ada biaya tambahan yang bisa didiskusikan dengan si guide. Biayanya bisa mencapai harga sekali sewa perahu, karena guide menghitung berdasarkan waktu kita menjelajah gua sekitar 45 menit hingga 1 jam.</p>
<p>Nanggung bila cuma sampai di mulut gua, saya pun menyepakati harga agar bisa menjelajah lebih dalam. Si guide pun meminjamkan pelampung yang harus dikenakan dan si juru mesin akan berada di atas perahu sambil menjaga barang-barang. Kamera kemudian saya bungkus plastik dan saya titipkan ke guide agar saya bisa berfoto-foto di dalam.</p>
<p>Saya pun langsung nyemplung ke dalam air. Hati-hati, karena arus yang cukup deras, kita bisa terseret. Belum lagi batu-batuan di dasar membuat kaki bisa terluka bila tidak berhati-hati.</p>
<p>Karena Green Canyon itu strukturnya seperti gua, kita bisa melihat stalagtit dan stalagmit yang begitu indah. Ada bagian di dalam gua di mana tetes-tetes air yang jatuh dari stalagtit begitu deras dan berbentuk seperti air hujan yang disebut dengan air terjun Palatar karena letaknya berada di depan mulut gua.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/di-antara-tebing-green-cany.jpg" alt="Green Canyon" title="Green Canyon" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1135" /></p>
<p>Pemandangan stalagtit dan stalagmit yang eksotis, ditambah percikan air yang menetes, dan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam melewati tebing tak beratap memberikan pemandangan yang cantik.</p>
<p>Karena saya datang di saat musim hujan, air masih begitu deras. Guide saya selalu menunjukkan ke arah mana saya harus berenang agar ndak terseret arus dengan meminta saya mengikutinya. Lincah sekali dia, berenang dengan satu tangan di mana salah satu tangannya berada di atas membawa kamera agar tidak tercelup air.</p>
<p>Ketika beristirahat sejenak, saya melihat beberapa orang nampak duduk di atas sebuah batu besar. Kemudian mereka meloncat dari atas batu yang tingginya sekitar 4 meter dan nyemplung ke air. Melihatnya, saya ingin mencoba. Guide saya menyarankan saya mencobanya ketika hendak pulang karena perjalanan menelusuri gua masih panjang.</p>
<p>Ada sebuah bagian di mana air cukup deras, sehingga kami harus meniti pada dinding tebing. Dengan berpegangan pada celah-celah batu, mengingatkan saya pada olah raga panjat tebing yang bertumpu pada kekuatan jari. Bila tidak berhati-hati, kita juga bisa terluka karena beberapa permukaan batu yang tajam.</p>
<p>Setelah petualangan menyusuri gua yang cukup melelahkan, sampai lah kami di satu titik di mana kami harus berhenti. Selain medan yang lebih sulit karena batuan licin dan berlumut, kami tidak bisa berlama-lama di dalam gua.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/jacuzzi-alam.jpg" alt="Di Kolam Putri" title="Di Kolam Putri" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1138" /></p>
<p>Namun sebelum pulang, guide mengajak saya menuju sebuah kolam di atas tebing di mana airnya berasal dari tetes-tetes air yang tertampung di dalam cekungan. Cekungan ini sering disebut dengan Kolam Putri.</p>
<p>Untuk menuju ke sana, kami harus memanjat tebing setinggi sekitar 5 meter. Bebatuan yang licin sempat membuat saya beberapa kali terpeleset namun untungnya saya masih bisa berpegangan pada batu. Dan begitu sampai di atas, benar saja, sebuah kolam berisi air nampak pasrah untuk dicemplungi.</p>
<p>Saya sangat menikmati nyemplung di kolam ini, selain airnya yang jernih dan segar pemandangan dari atas sini lebih mantab!</p>
<p>Puas berendam di Kolam Putri, kami pun kembali ke perahu. Saya menikmati mengapung dengan telentang dan membiarkan badan terseret arus sembari menikmati pemandangan di atap gua. Bener-bener indah!</p>
<p>Guide pun mengingatkan saya apakah saya jadi mencoba meloncat dari atas Batu Payung, yang tadi sempet saya pengeni tadi. Tentu saja saya mau dan guide menunjukkan jalan agar sampai di atas batu tersebut. </p>
<p>Disebut Batu Payung karena bentuknya setengah lingkaran seperti payung, padahal kalo diamat-amati ndak berbentuk seperti payung, loh. Heheheh.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/di-atas-batu-payung.jpg" alt="Di atas Batu Payung sebelum meloncat" title="Di atas Batu Payung sebelum meloncat" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1136" /></p>
<p>Saya yang awalnya pede abis langsung sedikit ciut nyali. Njrit! Ternyata kalo dari atas, pemandangannya sedikit menyeramkan. Apalagi permukaan batu yang bulat menyulitkan saya menentukan titik tolakan.</p>
<p>Dengan mengumpulkan nyali yang tadi sempat mengkerut, saya pun ambil ancang-ancang dan setelah melangkah 3-4 langkah setengah berlari saya lantas meloncat ke dalam air.</p>
<p>Hup! Waktu seperti terasa berhenti selama 2 detik sebelum badan nyemplung ke air. Adrenalin langsung mengalir deras ketika saya &#8220;melayang&#8221;!</p>
<p>Byur!! Blup blup blup! Saya pun berusaha mencari udara. Begitu kepala saya nongol di permukaan, rupanya saya berada cukup jauh dari Batu Payung karena terseret arus.</p>
<p>Penasaran, saya pun ingin mencobanya sekali lagi. Dengan susah payah, saya berenang melawan arus untuk kembali ke Batu Payung, segera naik ke atas, dan kembali merasakan adrenalin yang menjalar di sekujur tubuh.</p>
<p>Meloncat dari Batu Payung menutup perjalanan saya mengeksplorasi Green Canyon. Kami pun kembali ke perahu untuk kembali ke dermaga. Saya menikmati angin yang berdesir serta sengatan matahari untuk mengeringkan badan yang basah. Ah, nikmatnya!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/perahu-cijulang.jpg" alt="Di atas perahu di sungai Cijulang" title="Di atas perahu di sungai Cijulang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1139" /></p>
<p>Dari Green Canyon, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Karena saya cuma bawa selembar kaos cadangan, dengan berbasah-basah saya kembali ke hotel menggunakan ojek yang tadi menunggu saya. Di perjalanan, saya berharap celana saya bisa kering karena tersapu angin.</p>
<p>Seperti janji si tukang ojek, saya diantarkan ke Pantai Batu Hiu yang terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, sekitar 15 km dari Pangandaran.</p>
<p>Sekitar 15 menit, saya telah sampai di pantai tersebut. Disebut Pantai Batu Hiu karena ada sebuah batu di tengah laut yang katanya mirip dengan hiu. Saya kira karena ada kepala hiu yang lagi mangap yang menjadi gerbang masuk. Hehehe.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/kepala-hiu.jpg" alt="Gerbang masuk Pantai Batu Hiu" title="Gerbang masuk Pantai Batu Hiu" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1140" /></p>
<p>Pantai pasir putih menjadi pesona dari pantai ini. Namun saya penasaran dengan batu berbentuk hiu yang didengung-dengungkan orang. Saya pun menyusuri jalan setapak menuju bukit yang banyak ditumbuhi pohon Pandan Wong yang besar-besar.</p>
<p>Dari atas bukit ini memang pemandangannya sangat elok. Kita bisa duduk-duduk di atas rumput hijau yang seolah-olah menjadi permadani di bukit ini.</p>
<p>Selain pemandangan alamnya yang ciamik, pantai ini rupanya juga menjadi lokasi ziarah bagi orang yang ingin menjadi sinden atau penabuh gamelan terkenal. Konon kepercayaan ini berasal dari sebuah cerita rakyat.</p>
<p>Beberapa anjing kampung nampak berkeliaran ke sana kemari, namun jangan khawatir, anjing-anjing ini cukup ramah, kok. Bila berbaik hati, berikan beberapa makanan ke anjing-anjing ini, asal bukan makanan berbahan coklat karena coklat bisa membunuh anjing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di ujung, saya melihat sebuah batu yang berada di tengah lautan. Setelah bertanya kepada penjual makanan yang juga banyak tersebar di sepanjang jalan setapak, rupanya benar kalo batu itulah yang dimaksud dengan Batu Hiu. Padahal kalo menurut saya, ndak ada mirip-miripnya sama hiu. Hihihihi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/pantai-batu-hiu.jpg" alt="Di Pantai Batu Hiu" title="Di Pantai Batu Hiu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1141" /></p>
<p>Menikmati pemandangan yang cantik di pantai ini mengingatkan saya akan sebuah tembang dari Doel Sumbang yang berjudul Bulan di Atas Batu Hiu.</p>
<blockquote><p>Bulan nu ngagantung di atas Batu Hiu<br />
Tinggal sapasi sesa purnama kamari<br />
Ikrar janji, sahidup samati<br />
Moal khianat, insya Allah moal pegat..</p></blockquote>
<p>Woh, malah nyanyi! Dan kok ya pas banget, di atas langit bulan nampak nongol separo, <em>tinggal sapasi sesa purnama kamari</em>.. Hihihi.</p>
<p>Saya sampai di hotel menjelang mentari terbenam. Nanggung, sebelum bebersih diri dan karena pakaian sudah lumayan kering, saya menghabiskan waktu menikmati sunset di Pantai Pangandaran di sisi barat.</p>
<p>Nampak perahu-perahu wisata yang bisa disewa untuk berkeliling laut atau mengantarkan penumpang ke Cagar Alam Pananjung mulai mendarat. Laut yang bentar lagi pasang membuat aktivitas wisata berkurang. Melihat aktivitas awak perahu meminggirkan perahunya menjadi pemandangan menarik.</p>
<p>Penjaja kuda mulai menggiring kudanya pulang dan penyewaan papan selancar mini mulai mengemasi papan selancarnya. Nampak beberapa orang tengah mengendarai ATV (All-Terrain Vehicle) yang banyak disewakan di sepanjang pantai. Beberapa pasangan nampak asyik bersepeda menggunakan sepeda tandem yang juga bisa disewa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/sunset-pangandaran.jpg" alt="Sunset di Pangandaran" title="Sunset di Pangandaran" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1142" /></p>
<p>Puas menikmati sunset, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Saya ingin berkunjung ke Pasar Ikan yang berada di pantai timur untuk sekedar melihat-lihat.</p>
<p>Di Pasar Ikan, kita bisa langsung membeli hasil laut yang masih segar. Menariknya, di rumah makan yang ada di seputaran Pasar Ikan menjual menunya dengan cara berbeda.</p>
<p>Calon konsumen dipersilakan memilih sendiri menu makan malam mereka, apakah udang, cumi, kerang, atau kepiting. Menu ini dijual dalam satuan kilo, dengan pembelian minimal setengah kilo. Harga yang dibayar per kilo tersebut sudah termasuk ongkos memasak.</p>
<p>Dari hotel, saya menaiki becak yang banyak dijajakan. Dengan ongkos 20 ribu rupiah, saya bisa berkeliling dari hotel menuju pasar ikan dan kembali lagi ke hotel. Suasana malam di pantai ini rupanya ndak begitu ramai padahal malam itu malam minggu, walau nampak satu-dua pasangan muda-mudi sedang memadu kasih.</p>
<p>Sehabis berkeliling, malam itu saya terlelap karena capek yang tiada terkira. Meskipun begitu, kesenangan yang saya dapatkan siang tadi masih membekas.</p>
<p>Paginya, setelah check-out dari hotel, saya memanggul backpack lagi untuk kembali ke Jakarta dengan lebih dulu mampir ke Bandung. Untuk ke Bandung, saya naik bus Budiman yang berangkat setiap jam dari Terminal Pangandaran menuju Terminal Cicaheum, Bandung.</p>
<p>Untungnya saya dapat bus AC dengan tarif 35 ribu rupiah. Rencananya dari Bandung saya kembali ke Jakarta menggunakan kereta api. Namun apa lacur, tiket kereta api sudah ludes terjual ketika saya nyampe di Stasiun Bandung. Damn! Saya lupa kalo ini awal pekan!</p>
<p>Plan B, saya segera menuju Terminal Leuwi Panjang untuk naik bus tujuan Jakarta. Saya sempat berlari-lari mengejar bus Damri jurusan Dago-Leuwi Panjang ketika bus terjebak macet walau akhirnya bus itu lolos juga. Terpaksa lah saya naik angkot dengan oper 2 kali untuk sampai di Leuwi Panjang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /> </p>
<p>Dari Terminal Leuwi Panjang, saya naik bus AC Prima Jasa tujuan Terminal Lebak Bulus, Jakarta. Ongkos bus ini 50 ribu rupiah. Tempat duduk yang lebih nyaman di bus ini membuat saya bisa beristirahat.</p>
<p>Meskipun capek, saya puas telah memenuhi salah satu wishlist saya. Semoga saya bisa memenuhi wishlist saya yang lainnya!</p>
 jengjeng matriphe!<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?a=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jengjeng?i=zcGY9YRNQaY:3xIe-N6bL8I:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/05/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/05/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
