<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>Buddhist Temple Jin De Yuan - Jakarta</title>
	
	<link>http://jindeyuan.org</link>
	<description />
	<lastBuildDate>Fri, 11 May 2012 06:05:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/jindeyuan" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="jindeyuan" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">jindeyuan</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Sik Ka Mo Ni Hut – Perintis Agama Buddha</title>
		<link>http://jindeyuan.org/sik-ka-mo-ni-hut-perintis-agama-buddha/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/sik-ka-mo-ni-hut-perintis-agama-buddha/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 06:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[enlightment]]></category>
		<category><![CDATA[siddharta]]></category>
		<category><![CDATA[vesak]]></category>
		<category><![CDATA[Zen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[Sik Ka Mo Ni Hut – Perintis Agama Buddha
Setiap Si Gwe Cap Go (bulan 4 tanggal 15 Imlek), umat Buddha memperingati Hari Trisuci Waisak, yaitu memperingati 3 (tiga) peristiwa suci :

Hari lahir Pangeran Sidharta Gautama.
Saat pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna, &#38;
Hari Pari Nibbana Buddha Sakyamuni.

Namun di kelenteng-kelenteng, hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati setiap bulan 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_dPj3FONvGNZLSqwpzQHmWb00oA/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_dPj3FONvGNZLSqwpzQHmWb00oA/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_dPj3FONvGNZLSqwpzQHmWb00oA/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_dPj3FONvGNZLSqwpzQHmWb00oA/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Sik Ka Mo Ni Hut – Perintis Agama Buddha</strong></p>
<p>Setiap <em>Si Gwe Cap Go </em>(bulan 4 tanggal 15 Imlek), umat Buddha memperingati <strong>Hari Trisuci Waisak</strong>, yaitu memperingati 3 (tiga) peristiwa suci :</p>
<ol>
<li>Hari lahir Pangeran Sidharta Gautama.</li>
<li>Saat pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna, &amp;</li>
<li>Hari Pari Nibbana Buddha Sakyamuni.</li>
</ol>
<p>Namun di kelenteng-kelenteng, hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati setiap bulan 4 tanggal 8 penanggalan Imlek. Sementara hari beliau 成道 <strong><em>Cheng Dao</em></strong> {<strong><em>Sik Ka Mo Ni Hut Sing To</em></strong> = Buddha Sakyamuni mencapai Penerangan Sempurna} diperingati setiap bulan 12 tanggal 8 penanggalan Imlek.</p>
<p>釋迦牟尼佛 <strong><em>Shi Jia Mou Ni Fo</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Sik Ka Mo Ni Hut</em></strong> = <strong>Buddha Sakyamuni</strong>} adalah perintis Agama Buddha yang merupakan salah satu dari 3 (tiga) agama besar di dunia dengan penganut yang berjumlah milyaran orang. Buddha Sakyamuni adalah ahli agama yang agung &amp; mulia, juga adalah orang suci yang arif bijaksana &amp; diakui di seluruh dunia.</p>
<p>Ideologi &amp; peradaban (kebudayaan) agama Buddha yang disabdakan Buddha Sakyamuni, diturunkan dari generasi ke generasi, sejak lama telah menjadi aspek penting &amp; utama yang memberikan nuansa aneka warna kebudayaan Dunia Timur, dan juga telah meninggalkan kebudayaan berharga yang sempurna &amp; berlimpah bagi sejarah dunia.</p>
<p><strong>Sik Ka Mo Ni Hut</strong> adalah guru agung para Dewa &amp; manusia. Perjalanan hidup Beliau yang telah mencapai penerangan sempurna atas usaha sendiri, merupakan kisah perjuangan yang tiada taranya guna mendapatkan kebahagiaan abadi.</p>
<p>Sik Ka Mo Ni Hut lahir pada tahun 623 SM di sebuah Kerajaan yang terletak di daerah Madyadesa, India Utara (sekarang Kerajaan Nepal), dengan ibukotanya Kapilavastu. Beliau terlahir dengan nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti : “Seorang yang tercapai cita-citanya”. Sebelum terlahir sebagai Pangeran Sidharta, beliau sebenarnya adalah Maha Bodhisatva yang datang dari Surga Tusita.</p>
<p>Ayah Sidharta adalah <strong>Raja Sudhodana</strong> yang berasal dari Suku Sakya. Karena berasal dari Suku Sakya inilah maka kemudian beliau disebut sebagai <strong>Buddha Sakyamuni</strong>. Ibunda beliau adalah <strong>Ratu Mahamaya</strong>.</p>
<p>Sebelum melahirkan Sidharta, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih bertaring empat mengelilingi tempat tidurnya searah jarum jam sebanyak 3 X. Kemudian gajah putih tersebut bersama sebuah bintang segi 6 (enam) yang bercahaya amat terang memasuki perut Dewi Mahamaya. Setelah mimpi tersebut, Dewi Mahamaya mengandung. Namun sungguh aneh, walaupun telah mengandung selama lebih dari 9 bulan, anak yang ditunggu-tunggu belum juga lahir.</p>
<p>Pada waktu kandungan permaisuri berusia 10 bulan, beliau mengunjungi keluarganya di Devadaha. Saat itu juga jalan-jalan dari Kapilavastu ke Devadaha dibersihkan &amp; dipenuhi dengan hiasan-hiasan indah. Di antara kedua kota terhampar <strong>Taman Lumbini </strong>yang dipenuhi pohon sal. Pada waktu itu bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, berbagai jenis burung bersiul-siul sepanjang hari. Melihat keindahan Taman Lumbini tersebut, sang permaisuri beristirahat di bawah pohon sal di dalam taman itu. Ketika permaisuri hendak meraih salah satu dahan pohon sal itu, tubuhnya terguncang oleh getaran kelahiran anak. Dengan memegangi dahan pohon &amp; dalam keadaan berdiri, ia melahirkan seorang putra. Waktu itu tepat bulan <strong>Waisaka Purnamasidhi</strong>.</p>
<p>Sewaktu beliau lahir terjadi keajaiban, seperti yang tercatat dalam Kitab Sakyamuni Buddha : Sungguh mengherankan. Bayi tersebut lahir dalam keadaan bersih, tak ternoda oleh cairan, lendir, darah, ataupun kotoran yang lain. Pada saat kelahiran sang pangeran, 2 arus air jatuh dari langit. Yang satu dingin, &amp; yang satunya lagi hangat. 2 arus air ini membasuh bayi tersebut &amp; ibunya. Bahkan bayi tersebut lahir dalam keadaan berdiri tegak.</p>
<p>Begitu bayi tersebut dilahirkan, ia melangkah 7 (tujuh) langkah. Bunga teratai yang berwarna merah &amp; kuning keemasan muncul dari dalam tanah setiap kali ia menapakkan kakinya. Pada langkah terakhir, dengan tangan kanan menunjuk ke langit &amp; tangan kiri menunjuk ke bumi, bayi tersebut mengumandangkan suaranya dengan lantang : “<em>Akulah yang teragung di antara langit &amp; bumi. Aku datang dari Surga Tusita. Aku datang untuk membabarkan rahasia-rahasia alam semesta &amp; kebenaran tentang kehidupan, guna membebaskan makhluk hidup dari penderitaan. Inilah kelahiranku yang terakhir di dunia ini!”</em></p>
<p>Bayi tersebut kemudian dibawa ke istana. Raja Suddhodana amat bahagia menyambut kedatangan putranya. Pada hari itu juga di istana datanglah seorang pertapa dari Gunung Himalaya yang bernama <strong>Kala Dewala</strong> (disebut juga <strong>Pertapa Asita</strong>), bersama keponakannya Nakala. Saat melihat bayi tersebut, ia langsung menjatuhkan diri &amp; berlutut. Pertapa Kala Dewala tertawa bahagia. Namun kemudian ia menangis tersedu-sedu. Raja sangat heran melihat kejadian ini. Raja menanyakan apakah ada yang tidak baik dalam diri putranya? Pertapa Kala Dewala menjelaskan bahwa ia gembira karena di dunia telah lahir seorang manusia agung, seorang calon Buddha. Namun ia menangis sedih karena mengingat usianya yang telah tua, sehingga tidak mungkin baginya untuk mendengarkan ajaran Buddha ini kelak.</p>
<p>Demikianlah seorang Maha Bodhisatva telah dilahirkan melalui kandungan Permaisuri Dewi Maha Maya yang berhati suci &amp; berbudi luhur. Seminggu setelah melahirkan Pangeran Sidharta, sang ibunda meninggal dunia. Pangeran Sidharta kemudian dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh bibinya (adik Dewi Mahamaya) Putri Prajapati.</p>
<p>Sebagai seorang Pangeran, Sidharta menikmati kehidupan istana yang menyenangkan, nikmat &amp; serba berkecukupan. Raja Sudhodana  membangun 3 (tiga) buah istana untuk Pangeran Sidharta. Satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin, &amp; satu lagi untuk musim hujan. Sejak kecil, Sidharta dilimpahi dengan segala jenis kemewahan dunia. Raja Sudhodana mengharapkan putranya naik tahta &amp; menggantikan ayahnya sebagai seorang Raja. Namun Pangeran Sidharta tak terbiasa dengan kehidupan mewah, senang &amp; berkedudukan tinggi seperti ini.</p>
<p>Pangeran Sidharta menikah pada usia 16 tahun dengan <strong>Putri Yasodhara</strong>, yang masih merupakan saudara sepupu Pangeran Sidharta. Putri Yasodhara yang cantik jelita adalah putri tunggal dari <strong>Raja Suprabuddha</strong> &amp; <strong>Ratu Pamita</strong> dari <strong>suku Koliya</strong>. Untuk bisa menyunting Putri Yasodhara ini diadakan sayembara besar-besaran. Yang mengikuti sayembara ini adalah para ksatria gagah &amp; para pangeran dari hampir semua kerajaan-kerajaan di daratan India.</p>
<p>Sayembara ini selain untuk memperebutkan Putri Yasodhara, juga sekaligus sebagai ajang pembuktian siapa yang terbaik di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Sayembara itu adalah perlombaan memanah dengan busur raksasa, perlombaan menjinakkan kuda liar, perlombaan merobohkan pohon raksasa dengan sebilah pedang. Pangeran Sidharta memenangi seluruh perlombaan yang diadakan &amp; akhirnya menikah dengan Putri Yasodhara. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama <strong><em>Rahula</em></strong><em>, </em>yang berarti belenggu.</p>
<p>Pada usia 29 tahun, Pangeran Sidharta <strong>melihat 4 peristiwa</strong> yang kemudian sama sekali mengubah jalan kehidupannya. <strong>Pertama</strong>, ia melihat seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bersandar pada tongkatnya. <strong>Kedua</strong>, ia melihat seorang yang menderita sakit parah. <strong>Ketiga</strong>, ia melihat seorang yang telah meninggal dunia. <strong>Keempat</strong>, ia melihat seorang pertapa dengan jubah kuning berjalan tenang dengan wajah yang penuh kedamaian. Ketiga peristiwa pertama menyadarkan pangeran akan hukum alam yang pasti akan dialami setiap orang tanpa pandang bulu. Peristiwa keempat menunjukan cara untuk mengatasi penderitaan dunia &amp; mencapai ketentraman hidup.</p>
<p>Demikianlah Sang Pangeran Sidharta meninggalkan istana pada usia 29 tahun bersama pengiringnya yang setia, <strong>Channa</strong> &amp; kuda putihnya <strong>Kanthaka</strong>. Beliau membina diri dengan penuh penderitaan di hutan. Ia berguru kepada pertapa-pertapa terkenal, seperti <strong>Resi Alara Kalama</strong> &amp; <strong>Uddaka Ramaputra</strong>.</p>
<p>Enam tahun lamanya beliau membina diri hidup sebagai seorang pertapa di hutan Uruvela. Ia menjalani penyiksaan diri &amp; pantang makan yang keras, sehingga beliau menjadi kurus kering &amp; amat lemah. Pada waktu beliau diliputi kekosongan bathin &amp; penderitaan badan yang amat sangat, serombongan penari lewat di dekat tempatnya bertapa, sambil mendendangkan nyanyian merdu: “Jika senar mandolin ditarik terlalu kencang, akan putuslah senarnya. Sebaliknya jika senar mandolin terlalu dikendurkan, akan hilanglah suaranya.” Bait lagu ini menyadarkan beliau akan perlunya merawat badan untuk menjamin kesegaran bathin. Ia sadar bahwa dengan penyiksaan diri yang berat seperti itu tidak akan berhasil mencapai penerangan sempurna.</p>
<p>Pada suatu hari datanglah <strong>Sujata</strong>, seorang wanita muda, mempersembahkan makanan dari susu murni ke hadapan pertapa Gautama, sebagai pernyataan terima kasih atas terkabulnya permintaannya untuk memiliki seorang putra. Sujata mengira pertapa Gautama adalah penjelmaan dari dewa yang telah mengabulkan permintaannya, sehingga ia menyajikan masakan yang enak bagi pertapa kurus namun agung itu. Pertapa Gautama menerima persembahan makanan Sujata.</p>
<p>Sementara itu 5 orang pertapa yang mengikuti pertapa Gautama semenjak ia menjalani penyiksaan diri, ketika melihat ia mulai makan secukupnya, meninggalkan pertapa Gautama karena menganggap beliau telah kalah, karena telah menjalani kehidupan yang berlebihan.</p>
<p>Kemudian pertapa Gautama berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan bangkit &amp; berhenti samadhi sebelum cita-citanya untuk mendapatkan penerangan sempurna demi kebahagiaan umat manusia sejagat raya tercapai. Dengan tekad yang tak tergoyahkan pertapa Gautama menekuni kembali <strong>Samadhi Anapanasati Bhavana</strong> selama 7 minggu, yang pernah dilatihnya sewaktu beliau berusia 7 tahun.</p>
<p>Dalam samadhinya, pertapa Gautama mencapai <strong><em>Jhana </em></strong>pertama, di mana kegiuran &amp; kegembiraan muncul dari penyepian bersama dengan penalaran &amp; pengamatan. Namun, perasaan itu tidak menguasai pikirannya. Dengan berakhirnya penalaran &amp; pengamatan ia mencapai &amp; tinggal di dalam jhana kedua, di mana kegiuran &amp; kegembiraan muncul dari konsentrasi, dengan kedamaian &amp; pemusatan pikiran pada 1 titik, tanpa penalaran &amp; pengamatan.</p>
<p>Ia tinggal dengan penuh perhatian &amp; sadar, tinggal dengan keseimbangan. Ia mencapai &amp; tinggal dalam jhana ketiga. Meninggalkan kenikmatan bahkan sebelum lenyapnya kegembiraan &amp; ketenangan bathin, ia mencapai &amp; tinggal dalam jhana keempat, yang adalah tanpa rasa sakit maupun kenikmatan, hanya berisikan kesucian yang timbul dari perhatian &amp; keseimbangan.</p>
<p>Pada pengamatan pertama malam itu, beliau memperoleh pengetahuan pertama, yaitu ia mengingat banyak rincian kehidupannya di masa yang lalu dengan amat jelas, beliau juga melihat banyak siklus kehancuran &amp; pembentukan alam semesta. Pada pengamatan yang kedua kalinya pada malam itu, dengan pandangan yang terang &amp; suci beliau memperoleh pengetahuan kedua, yaitu ia melihat mahluk hidup mati &amp; dilahirkan kembali (tumimbal lahir), mahluk hidup yang melakukan perbuatan jahat, pada saat kematiannya dilahirkan kembali dalam keadaan yang menderita &amp; sengsara. Tetapi mahluk hidup yang menjalani hidup baik dalam perbuatan, kata-kata &amp; pikiran, pada saat kematian dilahirkan kembali dalam keadaan yang membahagiakan.</p>
<p>Kemudian pada pengamatan terakhir malam itu ia memusatkan pikirannya yang jernih &amp; bersih pada pengetahuan terhadap kehancuran kekotoran bathin. Ia memperoleh pengetahuan ketiga yaitu: ia menyadari adanya penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, &amp; jalan menuju lenyapnya penderitaan. Setelah menyadari kebenaran ini, pikirannya bebas dari nafsu indria, bebas dari nafsu keinginan, &amp; bebas dari ketidaktahuan. Ia menyadari bahwa kelahiran kembali telah dilenyapkan; bahwa telah terlaksana apa yang harus dilaksanakan.</p>
<p>Akhirnya di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, tepat pada malam <strong>Purnamasidhi</strong> di bulan Waisak, pada usia 35 tahun pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna atau <strong>Samyak Sambodhi</strong>, &amp; dengan demikian menjadi <strong>Samyak Sambuddha, Buddha Yang Maha Sempurna.</strong> Sejak itu beliau disebut sebagai Buddha Gautama.</p>
<p>Tepat 2 bulan setelah mencapai kesempurnaan, di <strong>Taman Rusa Isipatana, </strong>Buddha Gautama untuk pertama kalinya membabarkan Dharma, Ajaran-Nya, kepada 5 orang pertapa yang menemaninya selama masa penyiksaan diri. Dalam khotbah-Nya yang pertama, Buddha membabarkan <strong>Empat Kesunyataan Mulia </strong>&amp; <strong>Jalan Mulia Beruas Delapan. </strong>Peristiwa ini sekarang diperingati oleh umat Buddha sebagai Hari Suci <strong>Asadha</strong>, hari pemutaran roda Dharma. Selanjutnya, kelima orang pertapa itu ditahbiskan oleh Buddha menjadi Bhikkhu-bhikkhu yang pertama.</p>
<p>Buddha membabarkan Dharma selama 45 tahun kepada murid-muridnya yang tak terhitung jumlahnya &amp; mendirikan Sangha (persaudaraan suci para Bikkhu/Bikkhuni).</p>
<p>Pada tahun 543 SM pada usia 80 tahun, pada bulan Waisaka Purnamasidhi, di kota <strong>Kusinara</strong>, di kebun bunga Sala, di bawah 2 batang pohon sal, Buddha Sakyamuni, Guru Agung para Dewa &amp; manusia, dengan tenang Parinibbana (wafat). Para dewa &amp; brahma terus menaburkan bunga-bunga &amp; air suci menyambut Buddha Yang Maha Sempurna meninggalkan bentuk-Nya di dunia fana ini. Raga Buddha telah disempurnakan, tetapi ajaran Dharma-Nya tetap hidup &amp; jaya sepanjang masa mengarungi seluruh penjuru alam semesta.</p>
<p>Dalam bahasa Mandarin, 如來佛<strong><em>Ru Lai Fo</em></strong><em> </em>{Hok Kian = <strong><em>Ji Lay Hud</em></strong><em> </em>} merupakan sebutan penghormatan kepada Buddha Sakyamuni. Sebutan Ru Lai merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, <strong><em>Tathagata</em></strong>, yang berarti <em>Ia Yang Datang.</em></p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_677" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/05/SiKaMoNiHut-04.jpg"><img class="size-full wp-image-677" title="Sik Ka Mo Ni Hut – Perintis Agama Buddha  " src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/05/SiKaMoNiHut-04.jpg" alt="Sik Ka Mo Ni Hut – Perintis Agama Buddha  " width="224" height="300" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Sik Ka Mo Ni Hut – Perintis Agama Buddha  </p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/sik-ka-mo-ni-hut-perintis-agama-buddha/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hwa Kong Hwa Pho – Dewa/i Perjodohan</title>
		<link>http://jindeyuan.org/hwa-kong-hwa-pho-dewai-perjodohan-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/hwa-kong-hwa-pho-dewai-perjodohan-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 17:50:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Bu Ong]]></category>
		<category><![CDATA[Ciu Kong Tan]]></category>
		<category><![CDATA[Ciu Lee]]></category>
		<category><![CDATA[Hwa Lan]]></category>
		<category><![CDATA[Jodoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[Hwa Kong Hwa Pho – Dewa/i Perjodohan
Hua Gong 花公 {Hok Kian = Hwa Kong} adalah salah satu putra dari Pangeran Bun dan merupakan saudara muda Kaisar Bu Ong. Beliau hidup semasa dinasti Ciu Barat (1027-771 SM). Hwa Kong merupakan salah satu orang suci pada masa itu dengan panggilan Ciu Kong Tan.
Sebagai orang suci bijaksana beliau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KlOe8a06qEQXiDqXI0vEmlW36cI/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KlOe8a06qEQXiDqXI0vEmlW36cI/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KlOe8a06qEQXiDqXI0vEmlW36cI/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KlOe8a06qEQXiDqXI0vEmlW36cI/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Hwa Kong Hwa Pho – Dewa/i Perjodohan</strong></p>
<p>Hua Gong 花公 {Hok Kian = <em>Hwa Kong</em>} adalah salah satu putra dari Pangeran <em>Bun</em> dan merupakan saudara muda Kaisar <em>Bu Ong</em>. Beliau hidup semasa dinasti <em>Ciu</em> Barat (1027-771 SM). Hwa Kong merupakan salah satu orang suci pada masa itu dengan panggilan <em>Ciu Kong Tan</em>.</p>
<p>Sebagai orang suci bijaksana beliau menyusun kitab-kitab peradaban. Misalnya <em>Ciu Lee</em> (kitab adat istiadat dinasti Ciu), yang berisi adat perkawinan &amp; perkabungan. Ada juga kitab tafsir mimpi, firasat, dan lain-lain yang sampai detik ini masih menjadi rujukan berbagai kalangan.</p>
<p>Namun rakyat terutama menghormati beliau sebagai <strong>Dewata Pengikat Perjodohan</strong>. Pada hari ulang tahunnya para umat yang belum menikah mempersembahkan keranjang bunga (<em>Hwa Lan</em>) dengan harapan agar cepat memperoleh jodoh (enteng jodoh).</p>
<p>Hwa Kong biasa ditampilkan dengan kedua istrinya, yang pertama (Twa Ma) di sebelah kirinya, sedangkan yang bercengkerama dengan anak-anak kecil adalah istri keduanya (Ji Ma). Perlu ditambahkan dalam beberapa hal Khong Hu Cu menganggap Ciu Kong Tan sebagai guru spiritualnya.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_673" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/05/HwaKongHwaPho_02.jpg"><img class="size-medium wp-image-673" title="Hwa Kong Hwa Pho – Dewa/i Perjodohan" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/05/HwaKongHwaPho_02-300x187.jpg" alt="Hwa Kong Hwa Pho – Dewa/i Perjodohan" width="300" height="187" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Hwa Kong Hwa Pho – Dewa/i Perjodohan</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/hwa-kong-hwa-pho-dewai-perjodohan-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau</title>
		<link>http://jindeyuan.org/go-ho-ciong-kun-lima-jendral-harimau-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/go-ho-ciong-kun-lima-jendral-harimau-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 15:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Tho Te Kong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau
五虎將軍 Wu Hu Jiang Jun {Hok Kian = Go Ho Ciong Kun} adalah Lima Jendral Harimau. Dalam cerita-cerita klasik Tiongkok banyak terdapat kisah-kisah yang menceritakan tentang keberanian jendral yang karena keperwiraannya diberi julukan Jendral Harimau. Dalam cerita San Guo Yan Yi {Sam Kok Yen Gi = Kisah Tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rSWqdPOHA6Bsfr1BnFoGWoeymuw/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rSWqdPOHA6Bsfr1BnFoGWoeymuw/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rSWqdPOHA6Bsfr1BnFoGWoeymuw/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rSWqdPOHA6Bsfr1BnFoGWoeymuw/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Go Ho Ciong Kun</strong> – <strong>Lima Jendral Harimau</strong></p>
<p>五虎將軍 <strong><em>Wu Hu Jiang Jun</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Go Ho Ciong Kun</em></strong>} adalah Lima Jendral Harimau. Dalam cerita-cerita klasik Tiongkok banyak terdapat kisah-kisah yang menceritakan tentang keberanian jendral yang karena keperwiraannya diberi julukan Jendral Harimau. Dalam cerita <strong><em>San Guo Yan Yi</em></strong> {<strong><em>Sam Kok Yen Gi</em></strong> = Kisah Tiga Kerajaan}, kelima Jendral Harimau tersebut adalah sbb:</p>
<p>1.      關公 <em>Guan Gong</em> {<em>Kwan Kong</em>}</p>
<p>2.      張飛  <em>Zhang Fei</em> {<em>Thio Hui</em>}</p>
<p>3.      張朱龍  <em>Zhang Zhu Long</em> {<em>Thio Cu Liong</em>}</p>
<p>4.      黃仲  <em>Huang Zhong</em> {<em>Oey Tiong</em>}</p>
<p>5.      馬銚  <em>Ma Diao</em> {<em>Ma Tiauw</em>}</p>
<p>Namun di Kim Tek Ie ini bukan kelima Jendral Harimau tersebut yang dihormati, namun semata-mata adalah perwujudan dari <strong><em>Tu Di Gong</em></strong> {<strong><em>Tho Te Kong</em></strong> = Dewa Bumi).</p>
<p>Menurut kepercayaan Tho Te Kong sering kali mengejawantah sebagai harimau. Tho Te Kong sendiri dianggap sebagai dewa yang berkuasa memberi rahmat kepada umatnya. Ditampilkan dengan wujud Lima Harimau dan ada di Lima Penjuru (Timur, Selatan, Tengah, Barat &amp; Utara), bermakna Tho Te Kong itu ada di mana saja. Dalam wujud animasi harimau dipercaya dapat menolak pengaruh-pengaruh buruk yang mungkin datang dari 5 penjuru.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong></p>
<div id="attachment_669" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/GoHo_04.jpg"><img class="size-full wp-image-669" title="Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/GoHo_04.jpg" alt="Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau" width="300" height="276" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau</p></div>
<p></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/go-ho-ciong-kun-lima-jendral-harimau-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva</title>
		<link>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisatva/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisatva/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 02:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Keagungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesesatan]]></category>
		<category><![CDATA[Lemah Lembut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva
Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 Kesesatan (Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.
文殊菩薩Wen Shu Pu Sa {Hok Kian = Bun Cu Pho Sat} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/etxWPPk8EcI8jOuQrKv4sbf6gP8/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/etxWPPk8EcI8jOuQrKv4sbf6gP8/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/etxWPPk8EcI8jOuQrKv4sbf6gP8/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/etxWPPk8EcI8jOuQrKv4sbf6gP8/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva</strong></p>
<p>Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 <strong>Kesesatan </strong>(Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.</p>
<p><strong>文殊菩薩</strong><strong><em>Wen Shu Pu Sa</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Bun Cu Pho Sat</em></strong>} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh sebab itu, walaupun beliau bukan tokoh dalam sejarah, tapi karena beliau bisa menampilkan ciri khas dari ideologi agama Buddha secara jelas &amp; nyata, maka kedudukannya dalam agama Buddha sangat tinggi. Beliau adalah Bodhisatva pertama yang disebut dalam kitab-kitab suci. Bahkan ada kitab suci tertentu yang menyatakan bahwa Wen Shu Pu Sa adalah guru dari semua Buddha pada 3 masa kehidupan.</p>
<p>Wen Shu Pu Sa disebut juga 文殊師利<strong><em>Wen Shu Shi Li </em></strong>(baca: Wen Su Se Li), diterjemahkan secara bebas menjadi 妙吉祥 <strong><em>Miao Ji Xiang (Keberuntungan Yang Mukjizat), </em></strong>法王子 <strong><em>Fa Wang Zi (Putra Raja Dharma), </em></strong>dsb. Wen Shu Pu Sa yang mewakili kebijaksanaan, &amp; 普賢菩薩 <strong><em>Pu Xian Pu Sa</em></strong> yang mewakili Budi Pekerti, di kelenteng-kelenteng di Tiongkok &amp; Jepang seringkali ditampilkan di samping Sang Buddha Sakyamuni.</p>
<p>Manjusri adalah Bodhisatva Kebijaksanaan &amp; Pengetahuan, &amp; dianggap sejajar dengan Bodhisatva Avalokitesvara atau 觀音菩薩 <strong><em>Guan Yin Pu Sa </em></strong>{<strong><em>Kwan Im Pho Sat</em></strong>} yang merupakan Bodhisatva Welas Asih. Manjusri dalam bahasa Sansekerta berarti “Keagungan Yang Lemah Lembut”. Orang Tionghoa menganggap Manjusri adalah Bodhisatva yang memberi penerangan &amp; kebijaksanaan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma.</p>
<p>Tempat suci Bun Cu Pho Sat adalah di Gunung 五臺山 <strong><em>Wu Tai Shan</em></strong>, propinsi <em>Shan Xi</em>. Di tempat ini Bun Cu Pho Sat sering menampakkan kemukjizatannya. Gunung Wu Tai Shan ini adalah salah satu dari 4 gunung suci Buddhisme di Tiongkok, &amp; menjadi tempat berkumpul para penganut Bun Cu Pho Sat.  Walaupun untuk mencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui perjalanan yang sulit &amp; berliku-liku. Mereka ingin merasakan suatu ketentraman bathin dengan mencapai kelenteng Wen Shu Pu Sa yang berada di puncak gunung tersebut.</p>
<p>Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak umat di puncak gunung suci tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap sebagai “hallusinasi” dari mereka yang mengalami kelelahan karena mendaki gunung tersebut. Namun harus diingat bahwa orang-orang yang naik ke sana umumnya adalah mereka yang ingin mencari “Kebijaksanaan”, &amp; mereka telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga mempunyai pikiran yang tidak akan mudah goyah atau tidak stabil, atau mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan hallusinasi tersebut.</p>
<p>Bentuk Bun Cu Pho Sat yang paling sering dilihat adalah tangan kanan memegang pedang mestika, tangan kiri memegang gulungan kitab suci, menunggang seekor singa berbulu hijau. Pedang mestika melambangkan kearifan yang dapat memutuskan semua kilesa (kegelisahan bathin). Gulungan kitab suci melambangkan kearifan yang seperti lautan &amp; menuntun umat manusia memasuki gudang kitab suci. Singa yang ditunggangi dihargai sebagai Raja Hewan, &amp; disebut juga <em>Auman Singa, </em>menyebarkan Dharma Buddha. Maka Bun Cu Pho Sat menunggang singa mengandung arti mengembangkan Buddha Dharma &amp; menyelamatkan umat manusia.</p>
<p>Dalam kisah <em>Miao Shan</em>, singa hijau Wen Shu Pu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api, sedangkan gajah putih Pu Xian Pu Sa adalah Dewa Air. Kedua Dewa ini menangkap rombongan Raja <em>Miao Zhuang</em> yang akan berziarah ke <em>Xiang Shan</em>, tempat Miao Shan. Kemudian keduanya ditaklukan oleh para Panglima Langit. Setelah Miao Shan menjadi Bodhisatva, kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. <em>Miao Shu</em> (dalam versi yang lain disebut sebagai <em>Miao Qing</em>) diangkat sebagai Wen Shu Pu Sa &amp; <em>Miao Yin</em> diangkat sebagai Pu Xian Pu Sa. Walaupun Wen Shu Pu Sa &amp; Pu Xian Pu Sa berasal dari India, akhirnya mempunyai bentuk Tionghoa 100 %.</p>
<p>Kelenteng yang khusus untuk menghormati Bun Cu Pho Sat jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan tersebut. Namun arca-arcanya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Bun Cu Pho Sat sering ditampilkan dalam bentuk <strong>3 Serangkai</strong> bersama dengan Buddha Sakyamuni &amp; Pho Hian Pho Sat. Atau bersama dengan <strong>Kwan Im Pho Sat</strong> &amp; <strong>Pho Hian Pho Sat</strong>.</p>
<p>Dalam bentuk 3 Serangkai dengan Kwan Im, biasanya Bun Cu Pho Sat &amp; Pho Hian Pho Sat ditampilkan dalam wujud wanita. Kwan Im sebagai lambang Maha Pengasih &amp; Penyayang, Bun Cu melambangkan kebijaksanaan, Pho Hian sebagai lambang pelaksanaan cinta kasih. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme.</p>
<p>Hari lahir Wen Shu Pu Sa diperingati setiap tanggal 4 bulan 4 Imlek, &amp; diperingati secara khusus setiap tahun oleh umat Buddhisme Zen.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_665" class="wp-caption aligncenter" style="width: 327px"><strong><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/BunCuPhoSat_04.jpg"><img class="size-full wp-image-665" title="Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/BunCuPhoSat_04.jpg" alt="Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva" width="317" height="480" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva</p></div>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisatva/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</title>
		<link>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 07:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Can Kui]]></category>
		<category><![CDATA[hakka]]></category>
		<category><![CDATA[Ling Guang Si]]></category>
		<category><![CDATA[Malu]]></category>
		<category><![CDATA[Pan Liao Quan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka
Dalam Kitab Suci Buddha ada tertulis : Perbedaan terbesar antara manusia dengan hewan adalah karena manusia memiliki rasa malu. Malu di sini berarti malu berbuat kejahatan, malu berbuat dosa. Seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, semasa masih hidup banyak berbuat amal kebajikan, maka setelah meninggal dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GerLX_ixuLEWzHqTsxQrjLgoVoU/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GerLX_ixuLEWzHqTsxQrjLgoVoU/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GerLX_ixuLEWzHqTsxQrjLgoVoU/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GerLX_ixuLEWzHqTsxQrjLgoVoU/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</strong></p>
<p>Dalam Kitab Suci Buddha ada tertulis : Perbedaan terbesar antara manusia dengan hewan adalah karena manusia memiliki rasa malu. Malu di sini berarti malu berbuat kejahatan, malu berbuat dosa. Seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, semasa masih hidup banyak berbuat amal kebajikan, maka setelah meninggal dunia ia dapat menjadi dewa. Dalam bahasa Mandarin, <strong><em>Can Kui</em></strong> berarti rasa malu. Disebut <strong><em>Can Kui Zu Shi</em></strong>, bukan karena beliau malu telah berbuat kejahatan, melainkan beliau merasa malu karena diri sendiri merasa kebajikan yang telah dilakukan masih belum cukup.</p>
<p>慚愧祖師 <strong><em>Can Kui Zu Shi</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Can Khui Co Su</em></strong>} adalah Dewa Pelindung yang dipuja oleh masyarakat keturunan Hakka. Nama asli Can Kui Zu Shi adalah <strong><em>Pan Liao Quan</em></strong>. Beliau adalah seorang Bikkhu yang berasal dari Yan Ping, propinsi Fu Jian.</p>
<p>Konon, pada waktu dilahirkan, ia tak dapat membuka sebelah tangannya. Ketika seorang Bikkhu menuliskan sebuah huruf <strong><em>Liao </em></strong>di punggung tangan yang terkatup itu, barulah tangannya berhasil dibuka. Karena itu ia diberi nama <strong><em>Liao Qian </em></strong>yang berarti “Tinju Ulung”.</p>
<p>Pada waktu kecil beliau hidup sebagai pengembala ternak. Untuk menjaga agar ternaknya tidak pergi ke tempat yang jauh, ia menggambar lingkaran di tanah sekeliling rombongan sapinya. Anehnya, ternyata tidak ada seekor sapipun yang keluar dari lingkaran tersebut.</p>
<p>Pan Liao Quan menjadi Bikkhu di bukit Yun Nan Shan, Kabupaten Mei Xian, propinsi Guang Dong. Di sana ia mendirikan kelenteng yang terkenal sampai sekarang, 靈光寺 <strong><em>Ling Guang Si</em></strong> yang merupakan salah satu kelenteng tertua di daerah tersebut.</p>
<p>Satu keanehan yang menakjubkan orang hingga kini adalah sampai sekarang di depan kelenteng tersebut terdapat sepasang pohon cemara (siong); yang satu masih hidup dan segar sedangkan yang ke dua sudah mati dan kering. Namun tinggi dari ke dua pohon tersebut selalu sama tinggi. Pohon yang hidup tidak pernah lebih tinggi daripada pohon yang mati. Selain itu kelenteng Ling Guang Si meskipun dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi &amp; lebat, tidak selembar daunpun yang pernah terlihat jatuh mengotori atap kelenteng Ling Guang Si, &amp; tidak tampak seekor burung pun yang bersarang di atapnya. Keanehan ini menjadikan Ling Guang Si menjadi obyek wisata yang sangat penting di daerah tersebut.</p>
<p>Pemujaan Can Khui Co Su dibawa oleh para imigran Hakka sampai ke Taiwan &amp; Asia Tenggara. Di Taiwan terdapat lebih dari 20 kelenteng Can Khui Co Su, sebagian besar terdapat di Nan Tou. Di Indonesia, selain di Kelenteng Kim Tek Ie ini, pemujaan kepada Can Khui Co Su juga terdapat di Kelenteng Ling Guang Si, Jakarta.</p>
<p>Hari kelahiran Can Khui Co Su diperingati setiap tanggal 25 bulan 3 penanggalan Imlek. Menurut catatan, beliau wafat pada tahun 861 M.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_661" class="wp-caption aligncenter" style="width: 206px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/CamKuiCoSu_04.jpg"><img class="size-full wp-image-661" title="Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/CamKuiCoSu_04.jpg" alt="Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka" width="196" height="300" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran</title>
		<link>http://jindeyuan.org/ma-co-dewi-pelindung-pelayaran-5/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/ma-co-dewi-pelindung-pelayaran-5/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 05:02:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Bibi Sakti]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda Ma Zu]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda Suci dari Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Dewi Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Mukjizat]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Naga]]></category>
		<category><![CDATA[Ma Co Po]]></category>
		<category><![CDATA[Permaisuri Surgawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran
媽祖 Ma Zu {Hok Kian = Ma Co} adalah salah satu dari khasanah Dewata Tiongkok yang paling dihormati di kalangan rakyat. Oleh orang di luar Tiongkok  Ma Co dijuluki sebagai “Dewi Laut dari Tiongkok”, Kelenteng-kelenteng Ma Co di Taiwan saja, jumlahnya mencapai 800 buah. Kelenteng yang paling ramai adalah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsaJIDLHuHm8jbqFHl2sgcctMPU/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsaJIDLHuHm8jbqFHl2sgcctMPU/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsaJIDLHuHm8jbqFHl2sgcctMPU/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rsaJIDLHuHm8jbqFHl2sgcctMPU/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran</strong></p>
<p>媽祖 <strong><em>Ma Zu</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Ma Co</em></strong>} adalah salah satu dari khasanah Dewata Tiongkok yang paling dihormati di kalangan rakyat. Oleh orang di luar Tiongkok  Ma Co dijuluki sebagai “Dewi Laut dari Tiongkok”, Kelenteng-kelenteng Ma Co di Taiwan saja, jumlahnya mencapai 800 buah. Kelenteng yang paling ramai adalah di 北港 <strong><em>Bei Gang</em></strong> (baca: Pei Kang). Setiap tahun pada tanggal 23 bulan 3 Imlek (bertepatan dengan Ulang Tahun Ma Zu), orang yang datang bersembahyang di kelenteng ini, jumlahnya mencapai 1 juta orang lebih.</p>
<p>Ma Co dikenal juga dengan sebutan 天上聖母 <strong><em>Tian Shang Sheng Mu </em></strong><em>{<strong>Thian Siang Sing Bu</strong>}.</em> Panggilan akrab beliau adalah 媽祖婆 <strong><em>Ma Co Po. </em></strong>Nama aslinya adalah<em> </em>林默娘<em> </em><em> </em><strong><em>Lin Mo Niang</em></strong><em> {<strong>Lim Bik Nio</strong>}, </em>lahir di propinsi 福建 <em>Fu Jian</em> {<em>Hok Kian</em>}, pulau 湄洲 <em>Mei Zhou {Bi Ciu}</em> dekat 莆田 <em>Pu Tian {Poh Chan}</em>. Lin Mo Niang lahir pada malam hari tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun 960 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian Long pertama. Sewaktu dilahirkan sinar merah menyorot dari langit ke kamar bersalinnya &amp; bau harum tercium ke mana-mana. Mengapa diberi nama Mo, yang berarti diam? Sejak dilahirkan sampai berusia 1 bulan lebih, Ma Zu tidak pernah menangis sama sekali. Maka ayahnya memberi nama Lin Mo Niang (Gadis Pendiam).</p>
<p>Sejak masih dalam gendongan (berusia sekitar 1 tahun), begitu melihat Buddha Rupang atau arca dewa, beliau langsung memberi hormat dengan <em>Pai</em> &#8211; bersikap <em>Anjali </em>(sikap sembahyang dengan kedua tangan ditelungkupkan di depan dada). Sewaktu berusia 5 tahun, Lim Bik Nio bisa membaca 觀音經 <strong><em>Guan Yin Jing {Kwan Im Keng = Kitab Suci Kwan Im}</em></strong> di luar kepala. Hal ini membuktikan bahwa Lim Bik Nio memiliki sebab jodoh yang mendalam dengan Buddha &amp; Dewa.</p>
<p>Pada usia sekolah beliau dapat mencerna pelajaran-pelajaran <strong><em>San Jiao {Sam Kaw = Tridharma: Buddha, Taoisme, Khong Hu Cu}</em></strong> dengan pemahaman yang luar biasa. Selain tekun belajar, ia juga tekun bersembahyang. Ia sangat berbakti kepada orangtuanya, &amp; suka menolong para tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Oleh karena itu penduduk desa sangat menghormatinya.</p>
<p>Setelah cukup dewasa beliau tak mau menikah walau dipinang oleh hartawan <em>Bu</em> dari Hok Kian. Misinya datang ke dunia untuk menolong umat manusia mulai menampakkan gregetnya pada usia 16 tahun.</p>
<p>Lim Bik Nio amat mengerti ilmu falak &amp; peredaran cuaca. Kehidupan di tepi laut menempanya menjadi seorang gadis yang tak gentar menghadapi dahsyatnya angin topan &amp; gelombang yang dihadapi para pelaut. Selain itu, ia juga dapat menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan para penduduk desa menyebutnya sebagai 靈女 <strong><em>Ling Ni</em></strong><em> </em>yang berarti Gadis Mukjizat, 龍女 <strong><em>Long Ni</em></strong><em> </em>(Gadis Naga), &amp; 神姑 <strong><em>Shen Gu</em></strong><em> </em>(Bibi yang Sakti).</p>
<p>Dalam usia 23 tahun, Lim Bik Nio berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah <em>Qian Li Yan {Cian Li Gan}</em> yang dapat melihat sejauh ribuan <em>Li,</em> &amp; <em>Sun Feng Er {Sun Hong Ni}</em> yang dapat mendengar ribuan kilometer, kemudian menjadi pengawalnya. Selanjutnya Lim Bik Nio banyak membantu rakyat membasmi kejahatan &amp; menolong kapal-kapal yang diserang badai di laut. Karena kebajikannya ini namanya terkenal di seluruh propinsi.</p>
<p>Suatu ketika beliau tidur, dalam penglihatannya tampak ayah &amp; kedua kakak laki-lakinya mendapat bahaya di tengah laut. Perahu yang ditumpangi dihantam gelombang hingga pecah berantakan. Tak ayal lagi Bik Nio terbang dari atas langit &amp; turun untuk menolong mereka. Kakak tertua dipegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar kakak kedua. Ayahnya yang telah tak berdaya ditolongnya dengan menggigit baju sang ayah. Apa lacur ibunda Bik Nio membangunkan dari tidurnya karena mendengar suara ganjil Bik Nio seperti sedang mengigau. Bik Nio pun tersentak bangun. Setelah tenang, Bik Nio menuturkan kepada ibunya bahwa ia baru saja menolong kedua kakaknya, namun sang ayah tak tertolong karena ketika sedang menggigit baju sang ayah, ia menjawab panggilan ibu (yang membangunkannya). Sehingga mulutnya terbuka &amp; gigitannya terlepas.</p>
<p>Sejak itu misi Ke-Ilahiannya semakin kental, beliau menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan di laut.</p>
<p>Pada perayaan Tiong Yang, tanggal 9 bulan 9 Imlek tahun 987 Masehi, sewaktu berusia 27 tahun, Lim Bik Nio naik ke surga. Pagi hari itu, penduduk Mei Zhou melihat awan warna-warni menyelimuti pulau tersebut. Di angkasa terdengar musik yang amat merdu. Terlihat Lim Bik Nio perlahan-lahan naik ke angkasa &amp; menjadi Dewi. Setahun kemudian, penduduk mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga. Kelenteng yang didirikan di Mei Zhou ini merupakan Kelenteng Ma Zu yang pertama di Tiongkok.</p>
<p>Seperti halnya <strong><em>Kwan Kong </em></strong>yang dihormati di seluruh dunia, Ma Co pun dipuja dengan penuh penghormatan. Karena tanpa beliau orang-orang Tionghoa yang melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, mustahil dapat tiba dengan selamat. Mengingat teknologi kebaharian pada waktu itu sangat terbatas. Di mana kaum imigran itu sampai, di situlah mereka mendirikan kelenteng untuk menghormati Ma Co yang telah melindungi selama dalam pelayaran.</p>
<p>Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari propinsi Hok Kian sangat berkembang. Namun para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara bahaya yang setiap saat bisa mengancam. Untuk memohon perlindungan &amp; keselamatan, arca Ma Co selalu dibawa serta ke mana-mana. Kisah kemukjizatan tentang pemunculan Dewi Ma Zu dalam memberi pertolongan kepada para pelaut mulai tersebar.</p>
<p>Pada tahun 1122 M, Kaisar <strong><em>Song Hui Zong</em></strong> memerintahkan seorang menteri yang bernama <em>Lu Yun Di</em> untuk menjadi Duta ke negeri <strong><em>Gao Li</em></strong> (sekarang Korea). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ikut berlayar, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang dinaiki Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main. Ia bertanya kepada anak buahnya, siapakah Dewa yang telah menyelamatkan mereka? Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian &amp; biasa bersembahyang kepada Dewi Ma Zu. Ia lalu mengatakan kepada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi yang berasal dari pulau Mei Zhou yaitu Lin Mo Niang. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini kepada Kaisar Song Hui Zong. Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar <strong><em>Sun Ji Fu Ren </em></strong>kepada Lin Mo Niang &amp; sebuah papan bertuliskan <strong><em>Sun Ji, </em></strong>yang berarti <em>Pertolongan Yang Amat Dibutuhkan. </em>Hasil tulisan tangan sang Kaisar lalu dipasang di kelenteng di Mei Zhou. Sejak itulah pemujaan terhadap Ma Zu mulai mendapat pengakuan resmi dari Kerajaan.</p>
<p>Sejak zaman Dinasti Song [960 – 1279 M] sampai Dinasti Qing [1644 – 1911 M], kerajaan telah menganugerahkan tidak kurang dari 28 gelar kehormatan kepada Ma Zu. Gelar-gelar itu antara lain adalah : <strong>Fu Ren </strong>yang berarti Nyonya Agung, <strong>Tian Hou </strong>atau <strong>Tian Fei </strong>(Permaisuri Surgawi), <strong>Tian Shang Sheng Mu </strong>(Bunda Suci dari Langit), <strong>Ma Zu Po </strong>(Bunda Ma Zu).</p>
<p>Sejak Dinasti Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok Timur yang memanjang dari Utara sampai ke Selatan seperti : <em>Dan Dong, Yan Tai, Qin Huang Dao, Tian Jin, Shang Hai, Ning Po, Hang Zhou, Fu Zhou, Xia Men, Guang Zhou, Macao </em>dan lain-lain, telah bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini. Ma Zu telah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Mei Zhou saja.</p>
<p>Telah menjadi kebiasaan pada waktu itu, sebelum pelayaran dimulai, selalu diadakan sembahyang besar untuk mohon perlindungan Ma Zu. Pada setiap kapal pun selalu disediakan ruang sembahyang untuk arcanya.</p>
<p>Pelaut terkenal pada masa Dinasti Ming, <strong><em>Zheng He {Ceng Ho}, </em></strong>yang dikenal dengan sebutan <strong><em>San Bao Da Ren {Sam Po Tai Jin}</em></strong>, walaupun seorang Islam, tidak melupakan kebiasaan ini. 7 kali Zheng He memimpin armada besar yang terdiri dari puluhan kapal, mengunjungi berbagai negeri Asia &amp; Afrika. Setiap akan memulai pelayarannya, Zheng He selalu memimpin upacara sembahyang besar kepada Ma Zu untuk memohon perlindungan akan keselamatan perjalanannya.</p>
<p>Pada pelayaran Ceng Ho yang ke-3 kali yaitu pada tahun  1409 M (Tahun ke-7 pemerintahan Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming), atas perintah Kaisar, Ceng Ho menyempatkan diri bersembahyang di kelenteng Ma Zu di pulau Mei Zhou. Sebuah prasasti peninggalan Ceng Ho yang terdapat di <em>Zhang Le, </em>propinsi Fu Jian, secara teliti menyebutkan bahwa keselamatan perjalanan Zheng He sampai berhasil menyelesaikan tugas melakukan kunjungan muhibah ke manca Negara sampai 7 X, adalah berkat kemukjizatan &amp; perlindungan Tian Shang Sheng Mu. Gelar <strong>Tian Fei</strong> dianugerahkan kepada Ma Zu pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le zaman Dinasti Ming, berkat perlindungannya pada armada Ceng Ho.</p>
<p>Pada masa Dinasti Ming ini, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk propinsi Hok Kian yang pergi merantau, penghormatan kepada Ma Zu memasuki pulau Taiwan. Kelenteng Ma Zu tertua di propinsi Taiwan adalah yang terdapat di kota <strong><em>Ma Gong</em></strong>, kepulauan <em>Peng Hu</em>. Kini di Taiwan terdapat lebih dari 800 buah kelenteng Ma Zu, dan dua per tiga penduduknya memuja arcanya di dalam rumah.</p>
<p>Kelenteng Ma Zu terbesar &amp; paling ramai dikunjungi orang di Taiwan adalah di Bei Gang. Arca Tian Fei yang dihormati di sini berasal dari Mei Zhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar <strong><em>Kang Xi. </em></strong>Gelar kehormatan <strong><em>Tian Hou</em></strong> adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan Kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan. Dengan demikian <strong>Bei Gang </strong>dianggap tempat suci bagi penghormatan Ma Zu. Setiap tahun bertepatan dengan ulang tahun Ma Zu (tanggal 23 bulan 3 Imlek), jutaan warga Taiwan membanjiri kota Bei Gang untuk berziarah.</p>
<p>Penghormatan kepada Ma Zu juga bermunculan di banyak negara, bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai penjuru dunia. Di negara-negara seperti Jepang, Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, bahkan hingga ke Amerika Serikat, dan lain-lain, di mana banyak bermukim para Tionghoa perantau, banyak dijumpai Kelenteng Ma Zu. Di Jepang, penghormatan kepada Ma Zu dimulai pada akhir Dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang, Sui Hu, Ma Zu telah dimasukkan ke dalam jajaran Dewata Jepang, &amp; dihormati di kuil utama kota itu. Di Jepang terdapat tak kurang dari 100 buah kuil Ma Zu.</p>
<p>Ma Zu selalu ditampilkan sebagai seorang Dewi yang cantik &amp; berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dengan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) &amp; Sun Feng Er (Si Kuping Angin). Qian Li Yan berkulit hijau kebiru-biruan dengan mulut bertaring, &amp; senjata tombak bercagak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, &amp; bersenjata kapak bergagang panjang.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_657" class="wp-caption aligncenter" style="width: 240px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/MaCu_05.jpg"><img class="size-full wp-image-657" title="Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/04/MaCu_05.jpg" alt="Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran" width="230" height="300" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/ma-co-dewi-pelindung-pelayaran-5/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Asul Hari Raya Ceng Beng</title>
		<link>http://jindeyuan.org/asal-asul-hari-raya-ceng-beng-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/asal-asul-hari-raya-ceng-beng-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 16:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[ceng beng]]></category>
		<category><![CDATA[leluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Qing Ming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[Asal Asul Hari Raya Ceng Beng
Kita setiap orang tentu mengetahui bahwa diri sendiri dilahirkan oleh ayah &#38; ibu (orang tua). Tapi di antara sekian banyak orang tua, siapa pula yang melahirkan mereka? Kemudian, ayah ibu orang-orang Tionghoa, siapakah yang melahirkan mereka? Ini adalah pertanyaan tentang asal-usul bangsa Tionghoa.
Pada waktu清明節 Qing Ming Jie – Hari Raya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GR7oTcyVEuk6pqUfvqRRvxqKUGU/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GR7oTcyVEuk6pqUfvqRRvxqKUGU/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GR7oTcyVEuk6pqUfvqRRvxqKUGU/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GR7oTcyVEuk6pqUfvqRRvxqKUGU/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Asal Asul Hari Raya Ceng Beng</strong></p>
<p>Kita setiap orang tentu mengetahui bahwa diri sendiri dilahirkan oleh ayah &amp; ibu (orang tua). Tapi di antara sekian banyak orang tua, siapa pula yang melahirkan mereka? Kemudian, ayah ibu orang-orang Tionghoa, siapakah yang melahirkan mereka? Ini adalah pertanyaan tentang asal-usul bangsa Tionghoa.</p>
<p>Pada waktu清明節 <strong><em>Qing Ming Jie</em></strong> – Hari Raya Ceng Beng (biasanya jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahun), adalah waktu membersihkan makam/kuburan, adalah saat orang Tionghoa sembahyang kepada leluhur (kakek-nenek atau orangtua, dsb) yang telah meninggal dunia &amp; mengenang jasa-jasa leluhur. Hal ini bukanlah tahayul, tetapi adalah menyatakan rasa hormat yang tinggi kepada leluhur, berarti kita tidak melupakan asal-usul kita, dengan kata lain kita tidak melupakan dari mana kita berasal.</p>
<p>Hari Raya <strong><em>Qing Ming</em></strong> {Hok Kian =<strong><em> Ceng Beng</em></strong>} adalah Hari Raya Membersihkan Kuburan, juga disebut <strong>Hari Raya Musik</strong>, adalah suatu hari yang mengandung makna yang amat mendalam.</p>
<p>2 huruf 清明 <strong>Qing Ming</strong> ini, artinya adalah langit terang dengan cuaca cerah, dimana siang hari lebih panjang daripada malam hari, suasana musim semi tampak di mana-mana, bunga-bunga bermekaran, tumbuh-tumbuhan &amp; makhluk hidup terasa bersih, segar &amp; sejuk. Cuaca bersih, pemandangan terang, sehingga disebut Hari Raya Qing Ming (arti harfiah = bersih &amp; terang).</p>
<p>Ceng Beng adalah hari ke-5 dari 24 <strong><em>Jie Qi</em></strong>, adalah musim di mana petani menabur benih &amp; menanam bunga. Sebelum mulai bercocok tanam, para petani terlebih dulu sembahyang kepada leluhur, berterima kasih kepada leluhur yang telah memberikan sawah ladang, kehidupan, harta benda (warisan), budi kebajikan, dll. Ini adalah suatu hal yang amat bermakna. Maka hari ini disebut juga sebagai 思親節 <strong><em>Si Qin Jie</em></strong><em> </em>(baca: <em>Se Chin Cie</em>), yaitu <strong>Hari Raya Mengenang Leluhur.</strong></p>
<p>Zaman dulu pada waktu hari raya Ceng Beng ini, nasi, sayur &amp; buah-buahan yang telah disembahyangkan kepada leluhur, dibagikan kepada anak gembala, anak orang miskin, atau fakir miskin yang ada di sekitar kuburan. Hal ini menyatakan bahwa budi kebajikan leluhur juga dibagikan untuk dapat dinikmati orang lain.</p>
<p>Suku bangsa Tionghoa disebut 中華民族 <strong><em>Zhong Hua Min Zu</em></strong><em> </em>{Hok Kian = <strong><em>Tiong Hoa Bin Cu</em></strong><em>}</em>. Nenek moyang yang pertama bangsa Tiong Hoa adalah 軒轅黃帝 <strong><em>Xuan Yuan Huang Di</em></strong> (baca: Sien Yen Huang Ti). Menurut legenda, Xuan Yuan Huang Di lahir pada tanggal 5 bulan 4 tahun 4608 Sebelum Masehi. Pada waktu itu, di sekitar daerah aliran Sungai Huang He {Huang Ho}, ada sangat banyak suku bangsa. Semua suku saling menyerang, sehingga rakyat tidak bisa melewati kehidupan yang aman &amp; damai.</p>
<p>Pada waktu Xuan Yuan Huang Di &amp; Chi You (salah satu pemimpin suku bangsa yang kejam &amp; bengis) berperang, pasukan Huang Di menyerang sampai ke Zhang He, mendapat perlawanan sengit dari Chi You &amp; pasukannya, sehingga tidak bisa melewati Zhang He. Lalu Xuan Yuan Huang Di mengundang ahli music Ling Lun untuk mengarang <strong>渡漳之歌</strong><strong> </strong>“<strong>Lagu Melewati Zhang” </strong>untuk dinyanyikan seluruh pasukan. Akhirnya dalam suara nyanyian &amp; alunan musik yang gagah &amp; berwibawa, Xuan Yuan Huang Di &amp; pasukannya berhasil melewati Zhang He, &amp; menaklukan Chi You. Dari hal ini dapat diketahui, bahwa musik bukan saja dapat menghibur diri, juga dapat mendatangkan kemenangan.</p>
<p>Setelah Xuan Yuan Huang Di menaklukkan Chi You yang kejam &amp; bengis, mempersatukan seluruh negara, lalu mendirikan negara baru &amp; memperbaiki taraf kehidupan rakyat dalam suasana yang aman &amp; damai.</p>
<p>Setelah memindahkan ibukota ke Nan Jing, pemerintahan Tiongkok menetapkan Ceng Beng sebagai <strong><em>Hari Raya Membersihkan Makam Bangsa Tionghoa</em></strong><em>, </em>menyatakan bahwa seluruh rakyat Tiongkok selamanya tidak melupakan nenek moyang pertama pendiri negara, Xuan Yuan Huang Di.</p>
<p>Pada waktu perang anti Jepang (1937 – 1945), pemerintah Tiongkok menetapkan 5 April sebagai Hari Raya Musik, juga untuk memperingati persembahan karya musik agung yang diciptakan pada masa Xuan Yuan Huang Di.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/asal-asul-hari-raya-ceng-beng-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hian Thian Siang Te – Dewa Langit Utara</title>
		<link>http://jindeyuan.org/hian-thian-siang-te-dewa-langit-utara-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/hian-thian-siang-te-dewa-langit-utara-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 17:37:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Kura-kura]]></category>
		<category><![CDATA[Ular]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=649</guid>
		<description><![CDATA[Hian Thian Siang Te – Dewa Langit Utara
玄天上帝Xuan Tian Shang Di {Hok Kian = Hian Thian Siong Te} oleh sebagian orang disebut sebagai 上帝公Shang Di Gong {Siong Te Kong}. Nama lain Hian Thian Siong Te adalah 玄天大帝 Xuan Tian Da Di、元天大帝 Yuan Tian Da Di、北極大帝 Bei Ji Da Di、真武大帝 Zhen Wu Da Di、開天大帝 Kai Tian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/495ggkDYOnBOYsJVcVX9fdmSavA/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/495ggkDYOnBOYsJVcVX9fdmSavA/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/495ggkDYOnBOYsJVcVX9fdmSavA/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/495ggkDYOnBOYsJVcVX9fdmSavA/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Hian Thian Siang Te – Dewa Langit Utara</strong></p>
<p>玄天上帝<strong><em>Xuan Tian Shang Di</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Hian Thian Siong Te</em></strong><em>}</em> oleh sebagian orang disebut sebagai 上帝公<strong><em>Shang Di Gong</em></strong><em> {<strong>Siong Te Kong</strong>}</em>. Nama lain Hian Thian Siong Te adalah 玄天大帝 Xuan Tian Da Di、元天大帝 Yuan Tian Da Di、北極大帝 Bei Ji Da Di、真武大帝 Zhen Wu Da Di、開天大帝 Kai Tian Da Di、玄武帝 Xuan Wu Di、真武帝 Zhen Wu Di、元武帝 Yuan Wu Di, adalah salah satu Dewa yang paling terkenal dengan wilayah penghormatan yang amat luas, dari Tiongkok Utara sampai Selatan, Taiwan, Malaysia &amp; Indonesia. Kedudukannya di kalangan Dewa Langit sangat tinggi, berada setingkat di bawah <em>Yu Huang Da Di {Giok Hong Tai Te}. </em>Merupakan salah satu dari <em>Si Tian Shang Di</em> (baca: Se Thian Sang Ti = Empat Maha Raja Langit), yang terdiri dari :</p>
<ol>
<li>青天上帝 Qing Tian Shang Di      di Timur.</li>
<li>殷天上帝 Yan Tian Shang Di      di Selatan.</li>
<li>白天上帝 Bai Tian Shang Di      di Barat.</li>
<li>玄天上帝 Xuan Tian Shang Di      di Utara.</li>
</ol>
<p>Hian Thian Siang Te mempunyai kekuasaan di Langit bagian Utara &amp; menjadi pemimpin tertinggi para Dewa di kawasan tersebut. Arcanya selalu digambarkan dengan menginjak kura-kura &amp; ular. <strong><em>Xuan Wu</em></strong> adalah dewa yang berkedudukan di wilayah Utara &amp; dilambangkan sebagai ular &amp; kura-kura. Hian Thian Siang Te<em> </em>yang disebut juga <strong><em>Zhen Wu Da Di</em></strong><em> {<strong>Cin Bu Tay Tee</strong>}</em> adalah <em>Xuan Wu. </em>Pada zaman Dinasti Song secara resmi huruf Xuan diganti Zhen, dan sebutan Xuan Wu diganti menjadi Zhen Wu Da Di. Di sebelah kiri &amp; kanan Hian Thian Siang Te biasanya terdapat 2 orang pengawal yaitu Jendral Zhao &amp; Jendral Kang.</p>
<p>Penghormatan kepada  Hian Thian Siang Te mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakan Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di Pegunungan <em>Wu Tang Shan {Bu Tong San}, </em>propinsi<em> Hu Bei, </em>dalam sebuah Kelenteng <em>Shang Di Miao. </em>Berkat perlindungan Hian Thian Siang Te, Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol, yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya.</p>
<p>Kemudian berkat bantuan Hian Thian Siang Te pula, Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongolia dan menumbangkan Dinasti Yuan. Zhu Yuan Zhang mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.</p>
<p>Untuk mengenang jasa-jasa Hian Thian Siang Te &amp; berterima kasih atas perlindungannya, Zhu Yuan Zhang lalu mendirikan kelenteng penghormatan kepadanya di ibukota Nan Jing (Nan King) &amp; di Gunung Bu Tong San. Sejak itu Bu Tong San menjadi tempat suci bagi penganut Taoisme. Kemudian penghormatan kepada Hian Thian Siang Te meluas ke seluruh negeri, &amp; hampir di setiap kota besar ada kelenteng yang menghormatinya. Kelenteng Hian Thian Siang Te dengan arcanya yang terbuat dari tembaga, bisa dilihat sampai sekarang. Selain itu Hian Thian Siang Te juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara.</p>
<p>Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong {Siang Te Kong} didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, &amp; menjadi pusat pemujaan bersama rakyat &amp; tentara. Oleh karena itu, kelenteng Shang Di Miao {Siang Te Bio} tersebar di berbagai tempat. Di antaranya yang terbesar adalah di Tai Nan (Taiwan Selatan), yang dibangun pada saat Belanda berkuasa di Taiwan.</p>
<p>Setelah kekuasaan Zheng Cheng Gong jatuh, Dinasti Qing dari Manzhu yang berkuasa, mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebenarnya adalah seorang tukang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan &amp; mengikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng ajaran Buddha tentang seorang tukang jagal yang telah bertobat, lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya &amp; menjadi pengikut Buddha. Kura-kura &amp; ular yang diinjak tersebut dikatakan sebagai usus &amp; jeroan si tukang jagal. Oleh karena itu tingkatannya diturunkan menjadi Malaikat Pelindung Pejagalan.</p>
<p>Sejak itu pembangunan kelenteng-kelenteng Siang Te Bio amat berkurang. Pada masa ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu Shi Miao di Tai Nan.</p>
<p>Namun sebenarnya Kaisar-Kaisar Manzhu sangat menghormati Hian Thian Siang Te, terbukti dengan dibangunnya kelenteng penghormatan khusus untuk Hian Thian Siang Te di komplek Kota Terlarang, Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian. Satu kelenteng lagi dibangun di Istana Persinggahan di Cheng De.</p>
<p>Wu Dang Shan, gunung suci para penganut Taoisme, terletak di propinsi Hu Bei, Tiongkok Tengah. Sejak zaman Dinasti Tang, kelenteng-kelenteng sudah mulai didirikan di sana. Namun pembangunan secara besar-besaran adalah pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le pada zaman Dinasti Ming. Hal ini tidak mengherankan karena Xuan Tian Shang Di diangkat sebagai Dewa Pelindung Kerajaan.</p>
<p>Di antara kelenteng-kelenteng di sana yang terkenal adalah <em>Yu Xu Gong {Giok Hi Kiong}</em> dengan bangunannya bergaya istana Beijing, terletak di bagian Barat Laut puncak utama Bu Tong San. Adalagi kelenteng <em>Yu Zhen Gong</em> yang dibangun pada tahun Yong Le ke-15, terletak di kaki Utara Bu Tong San. Di kelenteng ini terdapat penghormatan &amp; arca <em>Zhang San Feng {Thio Sam Hong}, </em>pendiri perguruan silat cabang <em>Wu Dang {Bu Tong Pay}.</em></p>
<p>Bangunan kuil yang paling lengkap adalah kelenteng <em>Zi Xiao Gong </em>yang terletak di puncak Timur Laut, merupakan pusat dari keseluruhan rangkaian tempat ibadah di gunung tersebut. Arca perunggu Hian Thian Siang Tee hasil pahatan Guru Ji (pemahat ulung dari Korea yang amat terkenal sampai ke manca negara) ditempatkan di sini. Di kelenteng ini dapat terlihat lambang Gunung Bu Tong San yaitu patung kura-kura &amp; ular. Patung logam itu menggambarkan seekor kura-kura sedang dililit erat-erat oleh seekor ular. Katanya sang ular bermaksud memaksa sang kura-kura memuntahkan semua isi perutnya.</p>
<p>Menurut kepercayaan, kura-kura tersebut berasal dari perut besar (lambung/maag), &amp; sang ular dari usus Zhen Wu yang berubah ujud. Dikisahkan bahwa suatu ketika dalam samadhinya yang tanpa makan &amp; minum, Zhen Wu merasakan usus &amp; lambungnya sedang bertengkar. Rupanya rasa lapar yang amat sangat menyebabkan kedua organ tubuh tersebut saling menyalahkan. Zhen Wu menyadari kalau dibiarkan, hal ini dapat mempengaruhi ketentraman batinnya. Dalam kejengkelannya, ia membelah perutnya &amp; mengeluarkan kedua organ tubuh tersebut, lalu melemparkan ke rerumputan di belakangnya. Kemudian seperti tanpa terjadi sesuatu ia melanjutkan samadhinya.</p>
<p>Sang lambung &amp; usus karena setiap hari mendengarkan Zhen Wu membaca ayat-ayat suci Tao, lama kelamaan memiliki tenaga gaib juga. Keduanya lalu berubah menjadi kura-kura &amp; ular, kemudian menyelinap turun gunung untuk memakan ternak &amp; juga manusia. Zhen Wu yang telah menjadi Dewa, amat murka akan kejadian ini. Dengan mengendarai awan &amp; pedang terhunus ia turun gunung. Tebasan pedangnya di punggung kura-kura meninggalkan bekas sampai sekarang. Sejak itu di punggung kura-kura tampak guratan-guratan seperti bekas tebasan pedang. Dengan tali wasiat diikatnya leher sang ular, sehingga sejak itu leher ular menjadi lebih kecil daripada tubuhnya.</p>
<p>Setelah ditaklukkan, kura-kura &amp; ular memperoleh pangkat <em>Er Jiang </em>yang berarti “Dua Panglima”, dan menjadi landasan tempat duduk Zhen Wu Da Di. Tapi sang kura-kura rupanya masih belum hilang watak silumannya. Hal ini diketahui oleh Zhen Wu, beliau lalu menyuruh sang ular melilit tubuh kura-kura erat-erat, agar segala benda yang telah ditelannya dimuntahkan kembali, &amp; agar mengungkapkan semua kejahatan yang pernah dilakukannya. Patung kura-kura &amp; ular ini sampai sekarang masih ada di ruang belakang kelenteng Zi Xiao Gong, &amp; selanjutnya dijadikan logo yang melambangkan gunung Bu Tong San.</p>
<p>Masih ada 1 peninggalan penting yang ada kaitannya dengan Hian Thian Siang Tee, yaitu sebuah sumur yang dinamakan <strong><em>Mo Zhen Jing</em></strong> (Sumur tempat mengasah jarum). Konon pada waktu Zhen Wu sedang melakukan tapa di gunung ini, hatinya merasa goyah. Ia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Sampai di tepi sumur ini ia melihat seorang wanita tua sedang mengasah alu besi. Zhen Wu merasa heran, lalu menanyakan apa maksud si nenek mengasah alu besi. Dengan tertawa si nenek berkata bahwa ia sedang mengasah alu untuk membuat jarum sulam. Mendengar jawaban ini Zhen Wu baru menyadari maksud yang terkandung di balik perkataan sang nenek. Segera ia kembali ke atas gunung untuk melanjutkan tapanya. Nama <em>Mo Zhen Jing</em> kemudian menjadi terkenal. Kini di dekat sumur itu dibangun rangon &amp; patung seorang nenek tua yang sedang mengasah alu.</p>
<p>Sehubungan dengan kura-kura &amp; ular ini, para pengusaha rakit bambu di Taiwan &amp; Hongkong sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee, agar kura-kura &amp; ular di sungai-sungai tidak berani menimbulkan ombak &amp; gelombang yang mengancam usaha mereka. Selain di Taiwan &amp; Hongkong, persembahyangan kepada Hian Thian Siang Tee ini telah menyebar ke Asia Tenggara, terutama di Malaysia, Singapura &amp; Indonesia. Di Singapura, kelenteng Wak Hai   Cheng Bio di Philip Street, terkenal sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee. Di Indonesia hampir setiap kelenteng menyediakan altar untuknya.</p>
<p>Menurut cerita, Kelenteng Hian Thian Siang Tee yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang, sebagian besar kelenteng ada menyediakan altar khusus untuknya. Sedangkan kelenteng yang khusus sembahyang Hian Thian Siang Tee sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen &amp; Bugangan.</p>
<p>Hian Thian Siang Tee (Zhen Wu Da Di / Cin Bu Tay Tee) ditampilkan sebagai seorang dewa yang memakai pakaian perang keemasan dengan tangan kanan menghunus pedang penakluk iblis, kedua kakinya yang tanpa sepatu menginjak kura-kura &amp; ular. Hari <em>Se Jit</em> Hian Thian Siang Te diperingati setiap <em>Ji Gwe Ji Cap Go </em>(tanggal 25 bulan 2 Imlek).</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_650" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/HianThianSiangTe_04.jpg"><img class="size-full wp-image-650" title="Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/HianThianSiangTe_04.jpg" alt="Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara" width="300" height="274" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/hian-thian-siang-te-dewa-langit-utara-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pho Hien Pho Sat – Bodhisatva Samanta Bhadra</title>
		<link>http://jindeyuan.org/pho-hien-pho-sat-bodhisatva-samanta-bhadra-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/pho-hien-pho-sat-bodhisatva-samanta-bhadra-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2012 15:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[10 Sumpah Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Kebajikan]]></category>
		<category><![CDATA[Universal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Pho Hien Pho Sat – Bodhisatva Samanta Bhadra
 
 普賢菩薩Pu Xian Pu Sa {Hok Kian = Pho Hien Pho Sat} dalam bahasa Sansekerta adalah Bodhisatva Samanta Bhadra yang berarti Kebajikan Yang Universal. Pho Hien Pho Sat merupakan perwujudan dari cinta, kebajikan, ketekunan, kesabaran &#38; aktivitas yang suci. Dalam khasanah Dewata Tiongkok, Pu Xian Pu Sa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YwS_GxNrW69RApeeUTKLKZVWqV4/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YwS_GxNrW69RApeeUTKLKZVWqV4/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YwS_GxNrW69RApeeUTKLKZVWqV4/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YwS_GxNrW69RApeeUTKLKZVWqV4/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Pho Hien Pho Sat </strong><strong>–</strong><strong> Bodhisatva Samanta Bhadra</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>普賢菩薩<strong><em>Pu Xian Pu Sa</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Pho Hien Pho Sat</em></strong>} dalam bahasa Sansekerta adalah <strong>Bodhisatva Samanta Bhadra</strong> yang berarti <em>Kebajikan Yang Universal. </em>Pho Hien Pho Sat merupakan perwujudan dari cinta, kebajikan, ketekunan, kesabaran &amp; aktivitas yang suci. Dalam khasanah Dewata Tiongkok, Pu Xian Pu Sa ditampilkan dalam <strong>Tiga Serangkai</strong> bersama 觀音菩薩 <strong><em>Guan Yin Pu Sa</em></strong> &amp; 文殊菩薩 <strong><em>Wen Su Pu Sa</em></strong>. Namun di dalam Kelenteng-kelenteng di Tiongkok &amp; Jepang, Pu Xian Pu Sa sering juga tampil bersama Buddha Sakyamuni &amp; Wen Su Pu Sa. Pu Xian dalam bahasa Jepang disebut <em>Fu Gen.</em></p>
<p>Arca Pho Hien Pho Sat biasanya ditampilkan duduk di atas gajah putih dengan membawa setangkai bunga teratai atau gulungan kitab suci. Gajah putih tersebut umumnya dalam keadaan berdiri atau jongkok, kadang-kadang berkepala 1 atau 3, dengan 6 batang gading</p>
<p>Pho Hien Pho Sat terkenal karena persembahannya yang tak terbatas &amp; 10 Sumpah Agungnya yang ditujukan kepada para Buddha &amp; mahkluk yang sengsara, yaitu sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Memuja para Buddha.</li>
<li>Memuja Tatagatha.</li>
<li>Menghaturkan sembah-sujud      kepada para Buddha.</li>
<li>Mengakui dosa-dosa pada masa      kehidupan yang lalu &amp; berbuat kebaikan.</li>
<li>Bergembira dalam kebajikan      &amp; kebaikan orang lain.</li>
<li>Memohon kepada Buddha untuk      membabarkan ajarannya.</li>
<li>Memohon kepada Buddha untuk      tetap tinggal di dunia.</li>
<li>Mempelajari Dharma &amp;      mengajarkannya kembali.</li>
<li>Membantu sesama makhluk yang      sengsara.</li>
<li>Menyalurkan hal-hal yang baik      kepada pihak lain.</li>
</ol>
<p>Di dalam普賢菩薩蓮花經 <em>Sutra Bunga Teratai Pu Xian Pu Sa, </em>Sang Buddha<em> </em>memujinya &amp; mengatakan bahwa Pu Xian Pu Sa terlahir di tanah suci sebelah Timur. Di dalam <em>Sutra Bunga Teratai</em> ini Sang Buddha menggambarkan sebagai berikut:</p>
<p><em>Pu Xian Pu Sa memiliki tubuh yang besarnya tidak terbatas. Namun karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, ia mengubah dirinya menjadi manusia biasa. Pu Xian Pu Sa muncul dengan menunggang seekor gajah putih. Di bawah telapak kaki gajah tersebut, bunga-bunga teratai yang berwarna putih bermekaran. Gajah ini berwarna yang paling cemerlang di antara semua warna putih, sampai-sampai Kristal maupun Puncak Gunung Himalaya – pun tidak bisa menandinginya ………</em></p>
<p><em> Sutra Bunga Teratai Pu Xian Pu Sa</em> ini menarik perhatian banyak orang, terutama kaum wanita, sebab mereka dijanjikan juga dapat mencapai tingkat kesucian Buddha.</p>
<p>Tempat suci Pu Xian Pu Sa adalah di Gunung 峨嵋山 <em>E Mei Shan</em> <em>{Go Bi San}</em> di propinsi Xi Chuan yang merupakan salah satu dari 4 Gunung Suci agama Buddha di Tiongkok. Di Jepang ia sering kali dihormati oleh para umatnya untuk memperoleh kemakmuran &amp; panjang umur. Bahkan oleh sebagian orang ia dianggap pelindung pengobatan.</p>
<p>Arca Pho Hien Pho Sat biasanya dapat dijumpai di kelenteng-kelenteng yang menghormati Kwan Im Pho Sat. Hari ulang tahun Pho Hien Pho Sat diperingati setiap bulan 2 tanggal 21 Imlek.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong></p>
<div id="attachment_646" class="wp-caption aligncenter" style="width: 188px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/PoHienPoSat_04.jpg"><img class="size-full wp-image-646" title="Pho Hien Pho Sat – Bodhisatva Samanta Bhadra" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/PoHienPoSat_04.jpg" alt="Pho Hien Pho Sat – Bodhisatva Samanta Bhadra" width="178" height="300" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Pho Hien Pho Sat – Bodhisatva Samanta Bhadra</p></div>
<p></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/pho-hien-pho-sat-bodhisatva-samanta-bhadra-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita</title>
		<link>http://jindeyuan.org/kwan-im-pho-sat-pria-atau-wanita-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/kwan-im-pho-sat-pria-atau-wanita-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 09:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Cure]]></category>
		<category><![CDATA[Goddess of Mercy]]></category>
		<category><![CDATA[Mercy]]></category>
		<category><![CDATA[Pagoda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=641</guid>
		<description><![CDATA[Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita
Ada umat yang bertanya: “Kwan Im Pho Sat sebetulnya pria atau wanita ???” Ada yang menjawab Kwan Im Pho Sat sebenarnya pria. Namun banyak juga yang menjawab Kwan Im Pho Sat adalah wanita.
Sebenarnya tingkat kesucian Bodhisatva telah berada di atas perbedaan bentuk : pria – wanita, tua – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XJl6ei_9roW076yVmkTU93hyUHA/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XJl6ei_9roW076yVmkTU93hyUHA/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XJl6ei_9roW076yVmkTU93hyUHA/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XJl6ei_9roW076yVmkTU93hyUHA/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p style="text-align: center;"><strong>Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita</strong></p>
<p>Ada umat yang bertanya: “<em>Kwan Im Pho Sat sebetulnya pria atau wanita</em> ???” Ada yang menjawab Kwan Im Pho Sat sebenarnya pria. Namun banyak juga yang menjawab Kwan Im Pho Sat adalah wanita.</p>
<p>Sebenarnya tingkat kesucian Bodhisatva telah berada di atas perbedaan bentuk : pria – wanita, tua – muda, cantik – jelek, kaya – miskin, mulia – hina, dan sebagainya. Dengan kata lain tingkat kesucian Bodhisatva telah menghilangkan perbedaan wujud pria atau wanita. Bodhisatva bisa menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi / keadaan. Seorang Bodhisatva bisa berubah wujud menjadi sesuatu yang sesuai dengan sebab jodoh orang yang memohon pertolongan kepadanya.</p>
<p>Maka Kwan Im Pho Sat bisa berwujud pria, bisa juga berwujud wanita. Semua ini berdasarkan kebutuhan umat manusia yang membutuhkan pertolongannya.</p>
<p>Jauh sebelum agama Buddha disebarkan dari India ke Tiongkok, di Tiongkok Kuno sudah ada kepercayaan kepada seorang Dewi yang welas asih dengan penampilan memakai jubah putih. Pada waktu memasuki Tiongkok pada masa Dinasti Han [ 206 SM – 220 M ), agama Buddha memperkenalkan Bodhisatva Avalokitesvara – 觀自在菩薩 <strong><em>Guan Zi Zai Pu Sa</em></strong> (kemudian dikenal sebagai Kwan Im Pho Sat) sebagai pria.</p>
<p>Mulai zaman Dinasti Tang [ 618 – 907 M ], Kwan Im ditampilkan sebagai wanita. Mungkin ini terpengaruh ajaran Konfusianisme yang telah berurat akar dalam sistem sosial masyarakat pada saat itu. Mereka menganggap tidak layak kalau wanita memohon anak dari seorang Dewata pria. Bagi para umatnya, hal itu dianggap sebagai kehendak dari Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai wanita, agar beliau dapat leluasa dengan kaum wanita yang banyak memohon bantuannya.</p>
<p>Nampaknya perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan. Mula-mula Kwan Im ditampilkan sebagai pasangan Avalokitesvara (seperti halnya Dewa-dewa dari India yang selalu berpasangan). Lambat laun oleh para penganutnya di Tiongkok, Dewata pria Avalokitesvara mulai dilupakan. Pada abad ke-12 Masehi, Kwan Im telah dipuja tersendiri sebagai Dewata yang khas Tiongkok, begitu pula Dewata-dewata Buddhis lainnya.</p>
<p>Sebelum masuknya Buddhis ke Tiongkok, kaum wanita di sana telah banyak menghormati para Dewi dari Taoisme yang mereka panggil dengan sebutan 娘娘 <em>Niang Niang </em>{Hok Kian = <em>Nio Nio </em>}, sebagai tempat mereka memohon perlindungan, keselamatan &amp; keturunan. Oleh karena itu ketika muncul Guan Yin, mereka menyebutnya dengan panggilan Niang Niang pula. Sebutan <strong>觀音菩薩</strong> <em>Guan Yin Pu Sa </em>{Hok Kian = <em>Kwan Im Pho Sat</em>} yang sepenuhnya bersifat Buddhisme, di kalangan rakyat Tiongkok akhirnya terkenal dengan sebutan <strong>觀音娘娘</strong> <strong><em>Guan Yin Niang Niang {Kwan Im Nio Nio}</em></strong>.</p>
<p>Tidak hanya sampai di situ, kaum Taois-pun akhirnya ikut pula menghormati, bahkan menempatkannya sejajar dengan Dewi mereka, yaitu 天后聖母 <strong>Tian Hou Sheng Mu (Tian Shang Sheng Mu). </strong>Nama Taois untuk Guan Yin adalah 慈航道人 <strong>Ci Hang Dao Ren {Cu Hang To Jin} </strong>yang berarti Dewa Penyelamat Pelayaran.</p>
<p>Demikianlah Guan Yin memperoleh kepopuleran yang jauh melebihi Dewata Buddhisme yang tertinggi – Sakyamuni Buddha, walaupun dalam banyak kelenteng &amp; wihara, Buddha Sakyamuni duduk di altar yang paling terhormat.</p>
<p>E.T.C. Werner dalam bukunya <strong><em>Myths and Legends of China</em></strong> menyebut Dewi Kwan Im sebagai Buddhist Saviour atau Dewi Penyelamat dari Buddhis. Kutipan dari buku tersebut tentang kepercayaan rakyat kepada Dewi Kwan Im adalah sebagai berikut:</p>
<p><em>Ia disebut Guan Yin karena ia mau mendengarkan ratapan dari dunia &amp; turun memberikan pertolongan. Ia memperoleh sebutan Buddha yang mengusir rasa takut. Jika nama Guan Yin disebut di tengah kobaran api, maka api tak akan dapat membakar. Jika namanya disebut di tengah hempasan ombak yang setinggi gunung, maka air tersebut akan menjadi dangkal. Apabila seorang awak perahu yang tengah dihantam gelombang besar menyebut nama Guan Yin yang Maha Penyayang, maka ia akan selamat sampai tujuan. Di tengah-tengah gemerincingan pedang &amp; tombak di medan perang, apabila menyebut nama Guan Yin akan luputlah ia dari maut. Jika ada iblis yang merasuki ke dalam dirimu, sebutlah nama Guan Yin, maka anda akan memperoleh kedamaian &amp; ketenangan bathin.</em></p>
<p><em>Napsu amarah &amp; kebencian akan sirna kalau nama beliau diucapkan. Seorang yang menderita penyakit ingatan akan pulih kembali kalau berdoa dengan penuh ketulusan kepada Guan Yin. Guan Yin yang Maha Pengasih &amp; Penyayang akan memberikan anak bagi para ibu yang mendambakannya, seorang putra yang tampan &amp; seorang putri yang cantik. Seorang yang menyebutkan nama-nama dari 6.200.000 Buddha atau jumlah yang banyak laksana pasir Sungai Gangga, sama nilainya dengan orang lain yang hanya mengucapkan nama <strong>Guan Yin</strong> sekali saja. Guan Yin dapat muncul dalam wujud Buddha, Pangeran, Bikkhu, Pelajar, Nenek tua, dan lain-lain. Beliau dapat pergi ke negara mana saja, membabarkan ajaran suci ke berbagai penjuru dunia.</em></p>
<p>Demikianlah seorang Dewi Welas Asih yang Asli Tiongkok menyatu dengan Avalokitesvara, jadilah Dewata Buddhis khas Tiongkok, bahkan ciri-ciri ke-India-annya hilang sama sekali. Kisah Putri Miao Shan (Biao Sian) dalam kisah <em>Lam Hai Kwan Im Cwan Thwan</em> amat dikenal dalam Buddhisme Tiongkok, dan telah menyatu dalam sanubari orang-orang Tionghoa. Kisah Putri Miao Shan yang amat berbakti kepada orangtua ini merupakan cerminan dari kisah Sang Buddha Gautama, di mana beliau meninggalkan keduniawian menjadi pertapa dan sempurna di Gunung <em>Pu To Shan.</em></p>
<p>Figure Kwan Im yang dekat dengan segala lapisan masyarakat membuatnya amat termashur bahkan melebihi Sang Buddha Gautama sendiri. Dalam perujudannya sebagai <em>Chien Chiu Kwan Im</em> (Kwan Im Tangan Seribu) beliau secara Esotoris seolah-olah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sanggup mengabulkan semua permohonan umatnya.</p>
<p>Kwan Im Hut Co dikenal luas sebagai Dewi Welas Asih, yang dipuja tidak hanya di kalangan Buddhis saja, tapi juga di kalangan umat Taoisme dan semua lapisan masyarakat awam di pelbagai negara terutama di benua Asia.</p>
<p>Coba kita perhatikan, di setiap kelenteng atau wihara, siapapun yang menjadi <em>Tuan Rumah</em>–nya, misalnya玄壇公 <strong><em>Xian Tan Gong</em></strong><em> {Hian Than Kong}</em>; 地藏王 <strong><em>Di Zang Wang</em></strong><em> {Te Cong Ong}</em>; 媽祖 / 天后聖母 <strong><em>Ma Zhu</em></strong><em> / Tian Hou Sheng Mu {<strong>Ma Co</strong> / Thien Hou Sing Bo}</em>; 關聖帝君 / 關公 <strong><em>Guan Sheng Di Jun</em></strong><em> / Guan Gong {Kwan Seng Te Kun / <strong>Kwan Kong</strong>}</em>; 清元真君 <em>Qing Yuan Zhen Jun {<strong>Ceng Guan Ceng Kun</strong>}</em>; dan lain-lain, pasti di dalam kelenteng tersebut ada sebuah altar khusus untuk menghormati Kwan Im Hut Co ! Mengapa bisa demikian ? Ini karena Maha Cinta Kasih &amp; Maha Karuna (大慈大悲) beliau. Maka beliau disebut Guan Shi Yin. Bahkan Dunia Barat pun mengenal Dewi Kwan Im sebagai <strong>Goddess of Mercy</strong> !!!</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_642" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/KwanIm_06b.jpg"><img class="size-full wp-image-642" title="Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/KwanIm_06b.jpg" alt="Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita" width="300" height="299" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/kwan-im-pho-sat-pria-atau-wanita-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

