<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Jurnal terbaru dari www.jurnal-ekonomi.org</title><link>http://jurnal-ekonomi.org</link><description>Jurnal Ekonomi Ideologis adalah jurnal analisis politik ekonomi perspektif ideologi Islam</description><language>in</language><lastBuildDate>Sun, 11 Oct 2009 08:56:14 PDT</lastBuildDate><generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator><sy:updatePeriod xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">1</sy:updateFrequency><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Business/Business News</media:category><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Religion &amp; Spirituality/Islam</media:category><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">News &amp; Politics</media:category><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>Jurnal Analisis Politik Ekonomi Perspektif Ideologi Islam</itunes:subtitle><itunes:category text="Business"><itunes:category text="Business News" /></itunes:category><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam" /></itunes:category><itunes:category text="News &amp; Politics" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/jurnal-ekonomi/JEOr" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>jurnal-ekonomi/JEOr</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item><title>Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/52Y-08kZ0h8/</link><category>JURNAL</category><category>Dollar</category><category>fiat money</category><category>Inflasi</category><category>Perampokan Negara</category><category>Spekulasi</category><category>Taufik Hidayat</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Sun, 11 Oct 2009 06:31:53 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2547</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><em>Oleh <strong>Taufik Hidayat, SEI</strong></em></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2551" style="border: 2px solid black; margin: 3px;" title="Fiat-Empire" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire-300x300.jpg" alt="Fiat-Empire" width="300" height="300" /></a>Kehancuran kapitalisme di Amerika, Eropa dan dunia Internasional tinggal tunggu waktu. Terlebih lagi bila triliunan US Dollar dana penyelamatan itu tak kunjung membuahkan hasil. Inflasi, resesi dan depresi terus mengancam seolah membuktikan bahwa teori-toeri ekonomi sekarang ini mulai terbukti kerusakannya dan tumbang satu-persatu.</p>
<p>Kehancuran perekonomian ini merupakan harga yang sangat mahal dari sebuah transaksi keserakahan terhadap mata uang kertas (<em>fiat money</em>) ala Amerika dan dunia Eropa. Rakus, tamak, serakah, loba yang dibungkus dalam sebuah sistem ekonomi dengan mengandalkan kekuatan US Dollar sebagai Tuhannya. Padahal secara fakta telah terbukti bahwa sistem ekonomi (berdasarkan <em>fiat money</em>) tersebut mengandung banyak permasalahan didalamnya. Berikut beberapa problem mata uang kertas (<em>fiat money</em>).</p>
<p><strong>Ajang Bisnis Menggiurkan</strong></p>
<p>Dikarenakan ada selisih nilai didalam mata uang kertas (<em>fiat money</em>) antara nilai instrinsik dan nilai nominalnya, maka pastilah ada pihak yang akan diuntungkan. Dalam konteks bisnis, pencetakan mata uang kertas (<em>fiat money</em>) merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Bayangkan saja dalam sebuah ilustrasi, jika anda membuat sebuah produk A dengan biaya total produksi hanya Rp 400. Kemudian Produk A tersebut dijual seharga Rp 1.000, maka sudah untung Rp 600. Lantas kalau dijual seharga Rp 10.000, maka akan untung Rp 9.600. Atau bahkan kalau dijual seharga Rp 100.000, maka akan untung Rp 99.600. Coba bayangkan jika anda mencetak 1000 lembar uang RP 100.000, berapa keuntungan akan anda peroleh ?. Semakin tinggi anda menjualnya (angka nominalnya) maka keuntungan semakin banyak, karena berapapun anda jual, total biaya produksi tetap sama yaitu Rp 400 perlembar.</p>
<p>Dalam pencetakan mata uang US Dollar, nilai instrinsiknya sekitar 4 sen perlembar. Sedangkan nilai nominalnya bisa bervariasi, dari mulai $1, $ 10, atau bahkan $ 100. Dengan nilai nominal yang bervariasi tersebut, biaya Instrinsiknya tetap sama yaitu 4 sen. Kalau The Fed mencetak dengan nominal  US $ 100 per lembarnya, padahal nilai sebenarnya cuma 4 sen, berapa keuntungan perlembarnya ?.  Ternyata Amerika telah mencetak uang dengan nominal  US $ 100 berlembar-lembar dan disebar ke seluruh penjuru dunia. Maka bisa dibayangkan, dengan pola bisnis seperti ini Amerika meraup keuntungan yang sangat besar. Bentuk keuntungan tersebut, kompensasinya Amerika mendapatkan begitu banyak komoditi barang dari berbagai negara yang menggunakan dollar. Hal ini <strong>sungguh bisnis yang sangat menggiurkan</strong>.</p>
<p>Amerika menikmati pendapatan yang luar biasa besar dari penciptaan mata uang dollar dengan hanya mengandalkan <em>seignorage</em> (selisih biaya cetak atau biaya produksi dengan nilai yang tertera di mata uang/nilai nominal). Keuntungan tersebut semakin besar didapatkan Amerika, ketika semakin banyak negara mensirkulasikan untuk kebutuhan transaksinya. Inilah bisnis abad ini yang sangat menggiurkan sekali. Cuma berbekal selembar kertas mirip kwarto dan sebotol tinta warna serta sebuah mesin cetak mampu meraup keuntungan yang sangat banyak sekali.</p>
<p><strong>Inflasi</strong></p>
<p>Salah satu virus yang ditakuti para ekonom saat ini adalah inflasi yang tidak terkendali. Lantaran itu, Hayek yang meraih Nobel ekonomi tahun 1974, mengkritik keras penggunaan <em>fiat money</em>. Ia mengajukan proposal radikal untuk menghapuskan peran bank sentral dan pada saat yang sama menawarkan ide untuk menggunakan mata uang yang berbasis komoditi (<em>commodity money</em>) seperti emas&#8230;Hayek yakin pengguna mata uang akan bisa memilih mana dari mata uang yang beredar (Apakah <em>fiat money</em> atau <em>commodity money</em>) yang akan terus bertahan, lebih kompetitif, dan memuaskan keinginan para penggunanya.</p>
<p>Statmen yang dilontarkan Hayek tersebut, bisa dijabarkan dalam sebuah percontohan yang lebih gamblang sebagai berikut; seseorang meminjam Rp 13 juta dari kawannya, dan berjanji akan mengembalikan dalam jumlah yang sama 10 tahun kemudian. Tentu saja rekan tersebut akan menolaknya, karena nilai Rp 13 juta sekarang akan lebih berharga dibandingkan 10 tahun kemudian. Jika Rp 13 juta saat ini (tahun 2009) bisa untuk membeli setidaknya dapat 1 motor bebek merk Honda, tapi apa yang terjadi 10 tahun kemudian. Sangat mungkin uang Rp 13 juta tidak bisa untuk membeli 1 buah motor Honda lagi, bisa jadi cuma dapat untuk membeli 1 ban motor saja. Hal ini dikarenakan terkena dampak inflasi.</p>
<p>Bagaimana misal, bila uang Rp 13 juta tadi diganti dengan Dinar (1 Dinar = 1,3 juta rupiah pada tahun 2009, jadi kalau Rp13 juta sebanding dengan 10 Dinar). Pertanyaannya, apakah 10 Dinar sekarang lebih berharga dibandingkan 10 tahun yang akan datang?. Memang tidak ada yang bisa memastikan. Tetapi Dinar mempunyai kecenderungan terapresiasi terhadap mata uang kertas (<em>fiat money</em>) manapun. Dalam perbandingan dengan mata uang rupiah, terlihat pada bulan oktober 2003 nilai tukar 1 Dinar adalah Rp 450.000, tahun 2004 senilai Rp 540.000, tahun 2005 senilai Rp 652.000, 2006 senilai Rp 785.000, 2007 senilai 974.000, dan pada juli 2008 senilai Rp 1.150.000, 2009 bulan ini senilai Rp 1.330.000. Dengan kata lain <strong>mata uang kertas (fiat money) akan terus terancam inflasi</strong> dan mata uang Dinar terbukti terus terapresiasi.</p>
<p><strong>Spekulasi</strong></p>
<p>Aksi spekulasi dari pendekatan secara historis sudah terjadi semenjak beredarnya mata uang kertas yang tanpa di back up dengan emas. Setelah PD I sistem standar emas berakhir, mata uang dunia diganti oleh US Dollar. Baru setelah PD II, persoalan moneter mengarah menjadi sebuah sistem dunia, dengan dimulainya Sistem Bretton Woods. Ditandai dengan lahirnya IMF dan World Bank sejak 1944.</p>
<p>Sejak saat itu semua mata uang dunia berhubungan satu sama lain, dan dikaitkan dengan nilai US Dollar. Nilainya saat itu secara fixed setara dengan satu ounce emas sebanding dengan 35 Dollar. Baru pada awal 1970-an, ketika Richard Nixon menghentikan sistem <em>fixed rate</em> dollar, muncul fenomena sistem &#8220;pasar bebas&#8221; untuk uang. Jadi baru awal tahun 1970-an, metamorfosis mata uang kertas terjadi. Semula mata uang kertas difungsikan sebagai alat tukar semata, kemudian dijadikan sebagai alat komoditi yang sangat berharga untuk diperdagangkan. Kondisi seperti inilah yang menumbuh suburkan para spekulan dunia bermain kurs mata uang.</p>
<p>Dengan kejadian tersebut, aksi spekulan semakin menggila dan merobohkan bangunan ekonomi sebuah negara. Bayangkan saja, semenjak tahun 1970-an aksi spekulasi omsetnya sudah mencapai sekitar 15 milliar US Dollar. Pada periode 1980-an, saat kontrol mulai mengendor, omset tersebut meningkat empat kali lipat menjadi 60 milliar US Dollar. Dan sekarang, ketika pasar bebas semakin liberal, omset para spekulan diperkirakan mencapai 1,3 triliun US Dollar, alias melonjak lebih dari 20 kali.</p>
<p>Masih ingat dalam benak kita, krisis tahun1997-1998 yang menghancurkan perekonomian Indonesia. Banyak investor domestik pada panik dan trauma akan kejadian tersebut. Tetapi hal ini beda dengan yang dialami George Soros, pemilik Quantum Fund tersebut, dia justru meraup keuntungan besar sekali dari aksi spekulasi di pasar valas. Seorang spekulan kelas kakap yang meraup keuntungan miliaran dollar dari gerak naik-turunnya kurs mata uang kertas (<em>fiat money</em>).</p>
<p><strong>Perampokan</strong></p>
<p>Biasanya, sebuah negara mendapatkan pendanaan salah satunya dari memungut pajak dari rakyatnya. Namun bagi negara super power mereka memungut pajak dari negara-negara lainnya. Itulah berabad-abad yang lalu dikerjakan oleh Imperium Yunani, Romawi, bahkan Inggris Raya. Umumnya negara-negara lain tersebut menyerahkan upeti dalam bentuk emas dan perak. Dalam perjalannya, praktek ini semakin bermetamorfosis dalam bentuk yang lebih canggih lagi.</p>
<p>Namun, untuk pertama kalinya, Amerika Serikat pada abad ke-20 bisa memajaki negara-negara lain di dunia secara tidak langsung, melalui beban inflasi penciptaan mata uang dollar yang tidak di <em>backed</em> dengan emas. Mata uang dollar yang terdistribusi secara luas menempatkan Amerika pada tempat istimewa. Negara-negara lain harus berkeringat menyerahkan hasil buminya berupa minyak, rotan, kayu, emas, dll. Sementara sang super power cukup menukarkannya dengan uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dengan nilai instrinsik yang tidak sebanding.</p>
<p>Resiko terjadinya inflasi karena pencetakan mata uang kertas (<em>fiat money</em>) yang melampaui batas, bisa dialihkan oleh Amerika ke beberapa negara yang lain. Caranya dengan memaksa negara-negara tersebut menggunakan mata uang dollar dalam setiap transaksinya serta menyimpannya dalam bentuk devisa negara. Dengan licik inflasi akan beralih dari Amerika ke negara-negara pengguna dollar Amerika.</p>
<p>Bayangkan saja, misal masyarakat Indonesia dengan susah payah mengelola minyak dan hasil bumi. Tenaga, waktu, pikiran, dibawah terik panasnya matahari, banting tulang semua sudah dicurahkan dalam rangka mengolah hasil bumi tersebut. Ternyata setelah semua berhasil dipanen/diolah, harus ditukarkan dengan beberapa lembar mata uang dollar Amerika. Apakah sebanding ? mata uang US $1000 yang sebenarnya harganya cuma 4 sen (mungkin cuma sekitar 400 rupiah) ditukar dengan beras ber ton-ton, minyak berjuta-juta barel, hasil hutan beberapa hektar, gas alam yang sangat banyak sekali.</p>
<p>Minyak bumi, gas alam, kerajinan, hasil hutan, ikan, bahan-bahan mentah di ekspor ke Amerika, dan ditukar oleh Amerika cuma dengan beberapa lembar kertas bertuliskan US $. Apakah sebanding ?, Apakah adil ?. Fenomena tersebut, bukannya berbicara sebanding atau tidak sebanding tukar-menukarnya, tetapi hal ini sudah merupakan perampokan besar-besaran abad ini. Perampokan yang dilakukan negara super power terhadap negara lain yang mengatasnamakan sistem mata uang kertas (<em>fiat money</em>). Jadi semakin banyak bangsa ini memegang dan menyimpan dollar Amerika, maka perampokan juga semakin merajalela di negeri ini.</p>
<p><strong>Kepercayaan Semu</strong></p>
<p>Ketika muncul sebuah pertanyaaan, &#8220;Apa bedanya mata uang Rupiah dengan mata uang pada permainan monopoli ?&#8221;. Secara fisik tidak ada bedanya, mata uang rupiah ada gambarnya, ada angka nominalnya, ada warnanya. Sedangkan mata uang pada permainan monopoli juga sama, ada gambarnya, ada angka nominalnya, ada warnanya. Kalau memang secara fisik sama dan hampir serupa, lantas kenapa mata uang rupiah berharga dan bisa digunakan untuk transaksi jual beli, sedangkan mata uang monopoli tidak berharga sama sekali . Apa yang sebenarnya terjadi ?.</p>
<p>Jika dikaji lebih mendalam lagi, sebenarnya semua mata uang kertas (<em>fiat money</em>) tidak ada harganya, tidak jauh berbeda dengan uang-uangan pada permainan monopoli. Cuma pada kasus mata uang kertas (<em>fiat money</em>), setiap masyarakat dipaksa oleh kebijakan pemerintah melalui sebuah undang-undang untuk mau menerima mata uang kertas (<em>fiat money</em>).</p>
<p>Agar selembar mata uang kertas (<em>fiat money</em>) tersebut seolah-olah berharga, anda selaku masyarakat dipaksa untuk menerimanya. Pemerintah melarang siapa pun untuk menerbitkan dan mencetak uang kertas. Siapa saja yang berani mencetak uang kertas (selain bank sentral) maka akan diancam penjara bahkan dihukum mati. Sebagai masyarakat harus menerima kebijakan ini <em>taken for granted</em>, tidak boleh ada protes, demo, dan perlawanan dalam bentuk apapun. Pokoknya masyarakat harus menerima mata uang kertas (<em>fiat money</em>) ini. Titik !.</p>
<p>Inilah paksaan dari setiap Bank sentral di setiap negara kepada rakyatnya. Dikemudian hari menimbulkan kebodohan warganya untuk mau menerima mata uang kertas (<em>fiat money</em>) yang sebenarnya adalah mata uang bohong-bohongan. Inilah gambaran betapa arogannya dan otoriternya pemerintah melalui Bank sentral kepada rakyatnya dengan mengatasnamakan &#8220;kepercayaan kepada mata uang kertas&#8221; [].</p>
<p><strong><em>Taufik Hidayat, SEI</em></strong><em> adalah pengajar pada Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara</em>.</p>
<p><strong>Referensi </strong></p>
<ol>
<li>Muhaimin Iqbal, Dinar The Real Money, Gema Insani,      Jakarta, 2009</li>
<li>Nofie Iman, Investasi Emas Investasi Bijak di Masa      Krisis, Daras Books, Jakarta, 2009</li>
<li>Indra Ismawan, Warren Buffet Takutlah Saat Orang Lain      Serakah, Serakahlah Saat Orang Lain Takut, Media Pressindo, Yogyakarta,      2009</li>
<li>Dinar Emas Solusi Krisis Moneter, Pirac, SEM Institute,      INFID, Jakarta, 2001</li>
<li>M Luthfi Hamidi, Gold Dinar Sistem Moneter Global yang      Stabil dan Berkeadilan, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2007</li>
<li>Muhammad Ma&#8217;ruf, Tsunami Finansial, Hikmah, Jakarta,      2009</li>
<li>Anonim, Uang Kertas VS Dinar dan Dirham Islam, PTI,      Jakarta, 2009</li>
</ol>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/" title="Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar">Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/" title="Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)">Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/05/forum-ekonomi-davos-gagal-tanggulangi-krisis-dan-tanda-kematian-neoliberalisme/" title="FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme">FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/31/membongkar-kerusakan-teori-inflasi-moderat/" title="Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat">Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/25/memprihatinkan-spekulasi-di-lantai-bursa-indonesia-meningkat-13888/" title="Memprihatinkan Spekulasi  di Lantai Bursa Indonesia Meningkat 138,88% ">Memprihatinkan Spekulasi  di Lantai Bursa Indonesia Meningkat 138,88% </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/16/telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/" title="Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam">Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2547-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/&quot;&gt;Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F10%2F11%2Fproblem-mata-uang-kertas-fiat-money%2F&amp;linkname=Problem%20Mata%20Uang%20Kertas%20%28Fiat%20Money%29"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=52Y-08kZ0h8:h6M8lnWaMLQ:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/52Y-08kZ0h8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>&lt;a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire.jpg"&gt;&lt;img class="alignleft size-medium wp-image-2551" style="border: 2px solid black; margin: 3px;" title="Fiat-Empire" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/10/Fiat-Empire-300x300.jpg" alt="Fiat-Empire" width="120" height="120" /&gt;&lt;/a&gt;Kehancuran kapitalisme di Amerika, Eropa dan dunia Internasional tinggal tunggu waktu. Terlebih lagi bila triliunan US Dollar dana penyelamatan itu tak kunjung membuahkan hasil. Inflasi, resesi dan depresi terus mengancam seolah membuktikan bahwa teori-toeri ekonomi sekarang ini mulai terbukti kerusakannya dan tumbang satu-persatu. Kehancuran perekonomian ini merupakan harga yang sangat mahal akibat keserakahan terhadap mata uang kertas (fiat money) ala Amerika dan dunia Eropa.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/</feedburner:origLink></item><item><title>Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/oXfhw43saRU/</link><category>JURNAL</category><category>Dinar</category><category>fiat money</category><category>Taufik Hidayat</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Wed, 23 Sep 2009 18:22:50 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2542</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><i>Oleh : <b>Taufik Hidayat, SEI<b /></b></i></p>
<p>Sejak jaman dahulu kala, emas merupakan barang yang sangat berharga. Nilainya tidak pernah turun dan cenderung stabil terhadap barang/aset. Bahkan emas dianggap sebagai lambang kemegahan, kekuasaan, dan kewibawaan sebagai seorang raja/ pemimpin. Itulah sebabnya sejak jaman Nabi Sulaiman as hingga sekarang, emas tetap diburu dan disenangi banyak orang.<br />
Gambaran di atas bertolak belakang dengan realitas mata uang kertas (<i>fiat money</i>). Penerimaan masyarakat terhadap mata uang kertas sebenarnya bukanlah karena senang menerima keberadaannya, melainkan karena paksaan dan doktrin menyesatkan dari kebijakan pemerintah. Masyarakat jika menyadari makna uang kertas yang sebenarnya, pasti akan membuang uang kertas tersebut di tong sampah bak seperti kotoran yang tidak ada harganya.<br />
Dalam perkembangan terbaru, sudah banyak analisis dan teori-teori yang mulai mempertanyakan keampuhan mata uang kertas. Dari berbagai pengalaman krisis dunia, mata uang <i>fiat money</i> tidak berdaya menyelamatkan kekayaan/aset umat manusia. Masyarakat dunia internasional pun mulai berangsur-angsur meninggalkan US dollar, Yen, Poundsterling dll. Mata uang dinar pun mulai jadi buah bibir dikalangan para tokoh ekonomi sebagai alternatif masa depan.<br />
<b>Pendapat Ekonom Barat</b><br />
Dengan runtuhnya rezim mata uang kertas US dollar yang mulai konspirasinya semenjak kejadian di Bretton Woods 1944 dilanjutkan dengan keputusan Prsiden Nixon tahun 1970an, banyak orang mulai berpikir alternatif mencari mata uang yang aman dan stabil. Orang mulai meninggalkan US dollar yang terbukti semakin hancur nilainya dikarenakan krisis ekonomi. Seperti ungkapan Warren Buffet di CNBC tanggal 22 agustus 2008 &#8220;Perekonomian Amerika Serikat akan terus memburuk dan menuju resesi&#8221;. Sebaliknya, dinar malah menunjukkan prestasi yang gemilang dengan semakin menguat nilainya dari tahun ke tahun terhadap semua mata <i>fiat money</i>.<br />
<b>Para pecinta emas (<i>goldbugs</i>)</b> sangat menyakini akan kejatuhan dollar Amerika di masa mendatang. Bahkan tinggal menghitung jam saja alias tidak lama lagi. Kalau nilai dollar jatuh, mata uang kebangggan Amerika ini akan menjadi lembaran kertas tidak berharga. Di titik itulah emas akan semakin membumbung tinggi harganya. Bahkan ketika potensi imbalan (<i>return</i>) berinvestasi dalam saham atau obligasi tidak lagi menarik dan dianggap tidak mampu mengkompensasi resiko yang ada, maka investor akan mengalihkan dananya ke dalam aset riil, seperti logam mulia atau properti yang dianggap lebih layak dan aman (<i>secure</i>).<br />
Hal ini sesuai pernyataan Alan Greenspan (mantan <i>Chairman the Fed</i>), <i>&#8220;Emas masih menjadi bentuk utama pembayaran di dunia. Dalam kondisi ekstrem, tidak ada yang mau menerima uang fiat. Tapi emas selalu diterima&#8221;</i>. Hal senada juga diungkapkan Jerome F. Smith, dia mengatakan <i>&#8220;Semakin sedikit orang yang percaya pada kertas sebagai media penyimpanan nilai, maka harga emas akan terus melonjak&#8221;</i>.<br />
Secara tegas, kerapuhan uang kertas serta kuatnya emas (Dinar) sebagai mata uang diungkapkan oleh John Naisbitt, yang di dunia barat dianggap sebagai &#8216;dewa&#8217; nya ekonomi modern. Dia menyimpulkan bahwa monopoli terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh umat manusia adalah monopoli uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara. Masyarakat tidak akan lagi mempercayai mata uang kertas dan pindah ke yang dia sebut mata uang privat (benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik).<br />
Peter Bernstein seorang pakar keuangan terkemuka dunia, pernah mengatakan secara terbuka bahwa, <i>&#8220;Gold is the ultimate certainly and escape from risk&#8221;</i>. Ketika semua mata uang kertas berjatuhan, emas akan menunjukkan kesaktiannya. Ketika <i>fiat money</i> satu per satu berjatuhan, emas (dinar) menunjukkan nilai yang stabil dan cenderung menguat terhadap mata uang kertas. Ungkapan senada juga dilontarkan oleh Jerome F Smith <i>&#8220;As fewer and fewer people have confidence in paper as store of value, the price of gold will continue to rise&#8221;</i>.<br />
Bahkan prospek kegemilangan dinar untuk menggantikan fiat money sudah nampak pada ketahannya terhadap krisis keuangan yang terjadi berkali-kali. Seolah-olah dinar adalah mata uang untuk sampai akhir hayat hidup umat manusia. James Blakely mengungkapkan sebuah keunggulan dinar dengan pernyataan <i>&#8220;Gold is forever. It is beautiful, useful, and never wears out. Small wonder that gold has been prized over all else, in all ages, as a store of value that will survive the travails of live and the ravages of time&#8221;</i>.<br />
Fakta menunjukkan bahwa mata uang kertas (<i>fiat money</i>) sudah tidak bisa dipertahankan. Bahkan kecenderungan setiap tahun kehilangan nilainya dan penurunan daya beli terutama dibandingkan dengan emas (Dinar). Sinyal-sinyal tersebut ditandai dengan berbagai peristiwa, dari mulai konspirasi perang di Afganistan, perang Irak, badai Katrina dan sejumlah bencana lainnya, skandal korporat seperti Enron hingga Bear Stearns atau Lehman Brothers, sampai krisis kredit perumahan (<i>subprime mortgage</i>), ini semua telah membuka pintu gerbang kebangkrutan dollar Amerika.<br />
<b>REFERENSI</b><br />
Muhaimin Iqbal, <i>Dinar The Real Money</i>, Gema Insani, Jakarta, 2009<br />
Nofie Iman, <i>Investasi Emas Investasi Bijak di Masa Krisis</i>, Daras Books, Jakarta, 2009<br />
William Tanuwidjaja, <i>Cerdas Investasi Emas</i>, Media Pressindo, Yogyakarta, 2009<br />
Indra Ismawan, <i>Warren Buffet Takutlah Saat Orang Lain Serakah, Serakahlah Saat</i><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/" title="Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)">Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/15/internastional-conference-of-islamic-economic-system-dinar-will-be-back/" title="Internastional Conference of Islamic Economic System: DINAR WILL BE BACK">Internastional Conference of Islamic Economic System: DINAR WILL BE BACK</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/16/rupiah-melemah-dinar-solusinya/" title="Rupiah Melemah, Dinar Solusinya">Rupiah Melemah, Dinar Solusinya</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/05/forum-ekonomi-davos-gagal-tanggulangi-krisis-dan-tanda-kematian-neoliberalisme/" title="FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme">FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/11/10/bagaimana-teknik-konversi-rupiah-ke-dinar-dirham/" title="Bagaimana Teknik Konversi Rupiah ke Dinar / Dirham?">Bagaimana Teknik Konversi Rupiah ke Dinar / Dirham?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/28/tantangan-dinarisasi/" title="Tantangan Dinarisasi">Tantangan Dinarisasi</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/05/26/sistem-dinar-emas-solusi-untuk-perbankan-syariah/" title="Sistem Dinar Emas: Solusi untuk Perbankan Syariah">Sistem Dinar Emas: Solusi untuk Perbankan Syariah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/04/27/sistem-moneter-islam-solusi-atas-kerusakan-moneter-dunia/" title="Sistem Moneter Islam Solusi atas Kerusakan Moneter Dunia">Sistem Moneter Islam Solusi atas Kerusakan Moneter Dunia</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2542-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/&quot;&gt;Pendapat Tokoh-Tokoh Barat terhadap Keunggulan Dinar&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F24%2Fpendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar%2F&amp;linkname=Pendapat%20Tokoh-Tokoh%20Barat%20terhadap%20Keunggulan%20Dinar"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=oXfhw43saRU:aQlYiIzCAbk:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/oXfhw43saRU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Sejak jaman dahulu kala, emas merupakan barang yang sangat berharga. Nilainya tidak pernah turun dan cenderung stabil terhadap barang/aset. Hal ini berbeda dengan nilai mata uang berbasis kertas belaka atau fiat money seperti Rupiah dan Dollar. Berikut ini pendapat beberapa tokoh Barat tentang mata uang dinar.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">2</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/pendapat-tokoh-tokoh-barat-terhadap-keunggulan-dinar/</feedburner:origLink></item><item><title>Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/c2DZci-hh5M/</link><category>ANALISIS</category><category>Hidayatullah Muttaqin</category><category>Paradoks Ekonomi</category><category>Pengangguran</category><category>Resesi</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Wed, 23 Sep 2009 16:17:17 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2540</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><i>Oleh <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>Posisi perekonomian di banyak negara saat ini mulai membaik dari sisi indikator permintaan dan pertumbuhan. Kondisi ini mendorong berbagai negara mendeklarasikan diri telah keluar dari resesi ekonomi atau mungkin akan mengakhri masa ekonomi suram.</p>
<p>Di Asia, ADB meramalkan perekonomian negara-negara Asia dengan pertumbuhan ekonominya akan memimpin pemulihan ekonomi global. Di Amerika, gubernur bank sentral AS, The Fed, Ben Bernake mendeklarasikan kejatuhan ekonomi AS segera berakhir. Sedangkan di Eropa, gubernur bank sentral Inggris, BoE (Bank of England), Mervyn King minggu lalu menyatakan Inggris telah bergabung dengan Jerman dan Prancis dalam barisan negara yang keluar dari resesi.</p>
<p><b>Paradoks Krisis</b></p>
<p>Harian Inggris The Independent (20/9) menurunkan sebuah laporan tentang paradoks ekonomi yang mengiringi pemulihan ekonomi. Meski berbagai negara besar telah menyatakan sudah keluar dari resesi atau akan berhenti dari kejatuhan ekonomi, pada kenyataannya negara-negara tersebut menghadapi masalah semakin meningkatnya jumlah pengangguran.</p>
<p>Di Inggris, jumlah pengangguran bertambah 2,5 juta orang dalam 3 bulan hingga Juli. Ini merupakan level tertinggi sejak tahun 1995. </p>
<p>Posisi angka pengangguran di Inggris sendiri 7,9% masih di bawah angka pengangguran rata-rata Uni Eropa, OECD, dan G7. Sementara Amerika Serikat dan Prancis telah menembus tingkat pengangguran 10%. Negara lain seperti Irlandia angka pengangguran mencapai 12%.</p>
<p>OECD, organisasi yang menghimpun negara-negara industri minggu lalu melaporkan akibat pelambatan ekonomi global di seluruh dunia telah kehilangan 25 juta lapangan kerja. Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria menyatakan pengangguran akan tetap bertambah pada tahun depan.</p>
<p>Ketika bisnis mulai tumbuh akibat dorongan permintaan domestik ataupun pasar internasional yang mulai menaik, tidak otomatis lapangan kerja bertambah dalam sebuah perusahaan sebanyak lapangan kerja yang hilang sebelumnya.</p>
<p>Di sisi lain <i>bailout</i> dan stimulus fiskal yang dijalankan sebuah negara untuk mendorong permintaan dan pertumbuhan ekonomi domestiknya harus dibiayai dengan hutang dengan kompensasi bunga. Dalam jangka pendek dan jangka panjang langkah ini menimbulkan beban keuangan pemerintah yang cukup berat dan lagi-lagi harus ditanggung rakyat negara bersangkutan. Ini juga sebuah paradoks.</p>
<p>Hal ini merefleksikan: <i>&#8220;Jika resesi (akan) berlalu dengan pemulihan di sisi permintaan (domestik) dan laju pertumbuhan telah beranjak dari negatif ke positif, maka tidak otomatis krisis pasti akan berakhir.&#8221;</i> Dengan kata lain, <i>&#8220;jangan tertipu oleh gejala-gejala di permukaan&#8221;.</i></p>
<p>Ekonomi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak memecahkan masalah pengangguran. Permintaan memang mulai pulih tetapi permintaan tersebut didorong oleh konsumsi yang dibiayai hutang. Hal ini berbeda jika permintaan lahir dari kemampuan finansial mandiri.</p>
<p>Ibarat pasien yang sedang sakit, negara-negara di dunia saat ini memfokuskan perhatiannya pada gejala-gejala sakit saja. Mereka hanya memperhatikan bagaimana caranya keluar dari krisis atau resesi dengan mendorong permintaan dan pertumbuhan. </p>
<p>Jika ekonomi mulai tumbuh dan terkatagori keluar dari resesi, maka perekonomian negara tersebut dianggap telah sembuh dari sakitnya. Padahal resesi hanyalah gejala yang tidak muncul kecuali ada problem sistemik di dalamnya. Tidak aneh karena salah diagnosis, krisis yang terjadi datang secara berulang-ulang, dengan rentang waktu yang lebih pendek dan konskwensi yang lebih berat. (Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org)</p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/29/out-put-jepang-meningkat-pengangguran-juga-meningkat/" title="Out Put Jepang Meningkat Pengangguran Juga Meningkat">Out Put Jepang Meningkat Pengangguran Juga Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/resesi-sebabkan-57-juta-warga-as-di-phk/" title="Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK">Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/15/jerman-alami-defisit-dan-pertumbuhan-terburuk-paska-perang/" title="Jerman Alami Defisit dan Pertumbuhan Terburuk Paska Perang">Jerman Alami Defisit dan Pertumbuhan Terburuk Paska Perang</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/10/tidak-ada-negara-yang-lolos-dari-krisis/" title="Tidak Ada Negara yang Lolos Dari Krisis">Tidak Ada Negara yang Lolos Dari Krisis</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/09/ekonomi-dunia-tempati-posisi-terburuk-sejak-pd-ii/" title="Ekonomi Dunia Tempati Posisi Terburuk Sejak PD II">Ekonomi Dunia Tempati Posisi Terburuk Sejak PD II</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/09/roubini-resesi-bisa-berlanjut-hingga-akhir-2010/" title="Roubini: Resesi Bisa Berlanjut Hingga Akhir 2010">Roubini: Resesi Bisa Berlanjut Hingga Akhir 2010</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/09/terjerumus-krisis-defisit-transaksi-berjalan-jepan-capai-rekor-terburuk/" title="Terjerumus Krisis, Defisit Transaksi Berjalan Jepang Capai Rekor Terburuk">Terjerumus Krisis, Defisit Transaksi Berjalan Jepang Capai Rekor Terburuk</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/amerika-semakin-suram/" title="Amerika Semakin Suram">Amerika Semakin Suram</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/06/apakah-krisis-saat-ini-lebih-hebat-dibanding-great-depression-1929/" title="Apakah Krisis Saat Ini Lebih Hebat dari Great Depression 1929?">Apakah Krisis Saat Ini Lebih Hebat dari Great Depression 1929?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/kontraksi-62-ekonomi-as-semakin-terpuruk/" title="Ekonomi AS Menyusut 6,2%">Ekonomi AS Menyusut 6,2%</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2540-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/&quot;&gt;Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F24%2Fparadoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat%2F&amp;linkname=Paradoks%20Ekonomi%20%3A%20Resesi%20Berakhir%20Pengangguran%20Meningkat"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=c2DZci-hh5M:mQg950Y9LxI:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/c2DZci-hh5M" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Posisi perekonomian di banyak negara saat ini mulai membaik dari sisi indikator permintaan dan pertumbuhan. Kondisi ini mendorong berbagai negara mendeklarasikan diri telah keluar dari resesi ekonomi. Namun di tengah deklarasi tersebut terdapat paradoks, yakni semakin bertambahnya jumlah pengangguran.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/</feedburner:origLink></item><item><title>ADB: Asia Memimpin Pemulihan Ekonomi Dunia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/x6dRJVlSdSc/</link><category>BERITA dan OPINI</category><category>ADB</category><category>Asia</category><category>Pemulihan Ekonomi</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Tue, 22 Sep 2009 23:15:06 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2538</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><i>Oleh <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>Dalam rilis berita ADB yang diterima Jurnal Ekonomi Ideologis kemarin (22/9), ADB memprediksi Asia akan memimpin pemulihan ekonomi global. Hal ini tertuang dalam update Asian Development Outlook (ADO) 2009.</p>
<p>Kepala ahli ekonomi ADB, Jong-Wha Lee menyatakan ketahanan ekonomi Asia akan memimpin pemulihan ekonomi global di tengah situasi perekonomian dunia yang masih krisis. </p>
<p>Dalam Asian Development Outlook 2009, perekonomian Asia diprediksi tumbuh 3,9% dari perkiraan semula 3,4% pada saat ADO diril bulan Maret lalu. Untuk tahun 2010, ADB juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan Asia dari 6% menjadi 6,4%.</p>
<p>Asia Selatan dan Asia Timur memimpin laju pertumbuhan di Asia. Menurut ADB kedua kawasan tersebut tumbuh 5,6% dan 4,4% pada tahun ini dari perkiraan semula 4,8% dan 3,6%. India dan China tetap menjadi pionir penggerak pertumbuhan di kawasan ini, yakni 6% dan 8,2%.</p>
<p>Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara diturunkan dari 0,7% menjadi 0,1%. Hal ini didorong oleh penurunan perekonomian Malaysia dan Thailand.</p>
<p>Sedangkan proyeksi pertumbuhan Asia Tengah anjlok dari 3,9% menjadi 0,5%. Hal ini disebabkan jatuhnya harga-harga komoditas primer yang menjadi andalan ekspor negara-negara Asia Tengah. </p>
<p>Terhadap semakin positifnya perekonomian Asia terkini, Jong-Wha Lee memperingatkan agar negara-negara Asia jangan berpuas diri dengan kondisi ekonomi yang mereka capai. </p>
<p>Memang jika ditinjau dari besaran angka makro ekonomi semata, negara-negara Asia di barisan terdepan jauh meninggalkan negara-negara Barat. Tapi harus kita pahami perekonomian yang tumbuh, secara internal belum tentu dapat memecahkan permasalahan ekonomi negara yang bersangkutan. Bahkan seringkali pertumbuhan menghasilkan berbagai problem.</p>
<p>Memimpin pemulihan ekonomi global tidak berarti Asia memimpin ekonomi dunia. Ketergantungan Asia terhadap kawasan lain khususnya Amerika masih cukup tinggi. Asia tetap menjadi subordinasi ekonomi Barat selama kawasan ini masih menjadi bagian dari Kapitalisme Global. (Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org)</p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/10/adb-kerugian-dunia-akibat-krisis-50-trilyun-dollar/" title="ADB: Kerugian Dunia Akibat Krisis 50 trilyun Dollar">ADB: Kerugian Dunia Akibat Krisis 50 trilyun Dollar</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2538-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/23/adb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia/&quot;&gt;ADB: Asia Memimpin Pemulihan Ekonomi Dunia&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F23%2Fadb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia%2F&amp;linkname=ADB%3A%20Asia%20Memimpin%20Pemulihan%20Ekonomi%20Dunia"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=x6dRJVlSdSc:qx7YM4JY2FU:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/x6dRJVlSdSc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Dalam rilis berita ADB yang diterima Jurnal Ekonomi Ideologis kemarin (22/9), ADB memprediksi Asia akan memimpin pemulihan ekonomi global. Hal ini tertuang dalam update Asian Development Outlook (ADO) 2009.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/23/adb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/23/adb-asia-memimpin-pemulihan-ekonomi-dunia/</feedburner:origLink></item><item><title>Di Hari Kemenangan, Telah Satu Koma Tiga Juta Rakyat Irak Dibantai Amerika</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/brTBquQeLsQ/</link><category>BERITA dan OPINI</category><category>Amerika</category><category>Imperialis</category><category>Irak</category><category>Kapitalis</category><category>Kejahatan Perang</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Tue, 22 Sep 2009 01:10:23 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2536</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><i>Sejak invasi Amerika Serikat ke Irak sudah 1.339.771 umat manusia yang dibantai  (justforeignpolicy.org).</i> </p>
<p><i>Oleh: <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>Rakyat Irak adalah manusia sebagaimana manusia lainnya yang memiliki hak fundamental untuk hidup. Mereka bukan binatang dan binatang pun tidak boleh dibantai.</p>
<p>Hingga kini tidak ada satu negara pun termasuk badan dunia seperti PBB yang memandang AS sebagai penjahat perang dan negara teroris, apalagi melawannya dengan mengangkat senjata. </p>
<p>Logika-logika berpikir politik internasional pun menjadi jungkir balik. Mengapa peradaban modern melahirkan pembantaian demi pembantaian?</p>
<p>Yang kita ingat ketika Amerika memaksakan diri menginvasi Irak tanpa legalitas perang adalah untuk mencari senjata pemusnah massal dan memerangi rezim pro teroris. Ternyata tidak ditemukan bukti senjata pemusnah massal dan tidak ada pula kaitan rezim Saddam Husein dengan al-Qaidah.</p>
<p>Yang kita dengar AS datang untuk membebaskan rakyat Irak dari kediktatoran rezim Saddam Husein dan membangun Demokrasi yang menjunjung tinggi harkat manusia. Tetapi yang kita ketahui AS tidak sekedar negara diktator terhadap negara lainnya melainkan negara imperialis sejati yang tanpa sungkan membunuh ratusan hingga ribuan nyawa dalam sekejap. Demokrasi telah menjadi alat AS untuk menjajah dunia dan merampok kekayaan minyak sebuah negara berdaulat.</p>
<p>Peradaban modern begitu ganas bagi yang tidak memiliki kekuatan. Karena yang lemah tersebut seperti buih di lautan atau seperti hidangan di atas meja makan yang menjadi santapan manusia serakah. </p>
<p>Keganasan peradaban modern disebabkan oleh nilai-nilai sekuler yang menjadi paradigma berpikir para pemimpin dunia. Mereka tidak takut terhadap Tuhan, bahkan kadang-kadang Tuhan pun mereka anggap tidak ada. Maka wajar mereka tidak memiliki rasa takut terhadap umat manusia yang mereka zalimi.</p>
<p>Keganasan peradaban modern juga disebabkan oleh dominasi ideologi Kapitalisme atas dunia. Ideologi ini adalah ideologi yang didorong oleh motif keserakahan dan ketamakan. Karenanya, ideologi ini menjadikan imperialisme atau penjajahan sebagai metode untuk memajukan dan melestarikan peradaban modern.</p>
<p>Lihatlah bagaimana krisis finansial global telah memukul AS yang oleh para pakar ekonomi dunia disebabkan oleh keserakahan pemodal di sektor keuangan. Lihatlah bagaimana keserakahan elit penentu kebijakan Amerika telah meluluhlantakkan negeri Irak dan Afghanistan.</p>
<p>Apakah dunia masih dapat disebut beradab jika tidak dapat menghukum kejahatan perang ini dan mencegahnya di masa depan? Apakah sebuah negara dapat disebut beradab jika diam atas kejahatan berat ini bahkan menganggap AS sebagai negara sahabat atau negara mitra? </p>
<p>Alasan-alasan ini sudah cukup untuk mendongkel Kapitalisme dari dominasi dunia. Bagi dunia Islam, tidak ada lagi argumentasi untuk mempertahankan nilai-nilai dan sistem yang berkarakter imperialis kecuali kembali pada sistem Islam itu sendiri. </p>
<p>Tidak pantas hari kemenangan dirayakan jika masih terdapat kaum Muslimin yang menderita akibat penjajahan seperti di Irak, Afghanistan, Palestina, Xinjiang, Somalia, Sudan, Pattani, Moro, Kashmir, India, dan Pakistan. Begitu pula tidak pantas jika problematika kaum Muslim belum dapat dipecahkan di mana sampai saat ini ratusan juta menderita kemiskinan dan kemelaratan.</p>
<p>Satu koma tiga juta rakyat Irak yang dibantai jangan lagi dibiarkan bertambah. Sudah saatnya hari kemenangan bagi umat Islam direngkuh dengat tegaknya Khilafah dan Syariah Islam. (Jurnal Ekonomi Ideologis / www.jurnal-ekonomi.org)<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/resesi-sebabkan-57-juta-warga-as-di-phk/" title="Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK">Resesi Sebabkan 5,7 juta Warga AS di-PHK</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/08/taliban-atau-amerika-yang-menjadi-ancaman/" title="Taliban atau Amerika yang Menjadi Ancaman?">Taliban atau Amerika yang Menjadi Ancaman?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/20/amerika-keluarkan-jurus-cetak-dollar/" title="Akhirnya Amerika Keluarkan Jurus Cetak Dollar">Akhirnya Amerika Keluarkan Jurus Cetak Dollar</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/19/amerika-serba-defisit/" title="Amerika Serba Defisit">Amerika Serba Defisit</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/dunbar-ortizm-amerika-dirancang-sebagai-negara-penjajah/" title="Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah">Dunbar-Ortiz: Amerika Dirancang sebagai Negara Penjajah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/amerika-semakin-suram/" title="Amerika Semakin Suram">Amerika Semakin Suram</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/makin-jelas-dukungan-amerika-terhadap-penjajahan-israel/" title="Hillary: Komitmen AS Kuat untuk Keamanan Israel">Hillary: Komitmen AS Kuat untuk Keamanan Israel</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/kontraksi-62-ekonomi-as-semakin-terpuruk/" title="Ekonomi AS Menyusut 6,2%">Ekonomi AS Menyusut 6,2%</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/27/alamak-defisit-apbn-as-membengkak-us-175-trilyun/" title="Alamak! Defisit APBN AS membengkak US$ 1,75 trilyun">Alamak! Defisit APBN AS membengkak US$ 1,75 trilyun</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2536-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/22/di-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika/&quot;&gt;Di Hari Kemenangan, Telah Satu Koma Tiga Juta Rakyat Irak Dibantai Amerika&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F22%2Fdi-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika%2F&amp;linkname=Di%20Hari%20Kemenangan%2C%20Telah%20Satu%20Koma%20Tiga%20Juta%20Rakyat%20Irak%20Dibantai%20Amerika"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=brTBquQeLsQ:oXQGk7ZfmA0:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/brTBquQeLsQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Sejak invasi Amerika Serikat ke Irak sudah 1.339.771 umat manusia yang dibantai  (justforeignpolicy.org).</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/22/di-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/22/di-hari-kemenangan-telah-satu-koma-tiga-juta-rakyat-irak-dibantai-amerika/</feedburner:origLink></item><item><title>Selamat Idul Fitri 1430 H</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/SCQbboughPA/</link><category>BERITA dan OPINI</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Sun, 20 Sep 2009 04:18:47 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS mengucapkan <b>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H</b><br />
Mohon Maaf Lahir&#038;Batin.<br />
Taqabalallahu Minna Waminkum.<br />
<i>&#8220;Semoga umat kembali melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya Syariah dan Khilafah.&#8221;</i><br />
<h3>Random Posts</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/16/dialog-delegasi-hti-china-kedubes-cina-kehabisan-argumentasi/" title="Dialog Delegasi HTI-China : Kedubes Cina Kehabisan Argumentasi">Dialog Delegasi HTI-China : Kedubes Cina Kehabisan Argumentasi</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/29/indonesia-keluar-dari-opec-ada-apa/" title="Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?">Indonesia Keluar dari OPEC, Ada Apa?</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2007/09/23/nota-keuangan-dan-rapbn-2008/" title="Nota Keuangan dan RAPBN 2008">Nota Keuangan dan RAPBN 2008</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/05/forum-ekonomi-davos-gagal-tanggulangi-krisis-dan-tanda-kematian-neoliberalisme/" title="FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme">FORUM EKONOMI DAVOS: Gagal Tanggulangi Krisis dan Tanda Kematian Neoliberalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/aig-mewakili-kerakusan-kapitalisme/" title="AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme">AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/bank-dunia-senang-yang-paling-neolib-menang/" title="Bank Dunia Senang yang Paling Neolib Menang">Bank Dunia Senang yang Paling Neolib Menang</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/05/27/jubir-hti-liberalisasi-sektor-migas-sangat-mengkhawatirkan/" title="JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan">JUBIR HTI: Liberalisasi Sektor Migas Sangat Mengkhawatirkan</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2004/06/16/kejahatan-kapitalisme-dalam-angka/" title="Kejahatan Kapitalisme dalam Angka">Kejahatan Kapitalisme dalam Angka</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/05/27/dusta-kaum-neolib/" title="Dusta Kaum Neolib">Dusta Kaum Neolib</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2006/09/19/membangun-ekonomi-rumah-tangga-islami/" title="Membangun Ekonomi Rumah Tangga Islami">Membangun Ekonomi Rumah Tangga Islami</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2535-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/&quot;&gt;Selamat Idul Fitri 1430 H&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F09%2F20%2Fselamat-idul-fitri-1430%2F&amp;linkname=Selamat%20Idul%20Fitri%201430%20H"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SCQbboughPA:8J_xTZMsDa4:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/SCQbboughPA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Mohon Maaf Lahir&amp;#038;Batin.
Taqabalallahu Minna Waminkum.
&amp;#8220;Semoga umat kembali melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya Syariah dan Khilafah.&amp;#8221;
Random Posts

Menanggulangi  Legalisasi Bisnis MIRAS?
Apakah Krisis Saat Ini Lebih Hebat dari Great Depression 1929?
Menata Pegawai Negeri Sipil Sesuai Syariat Islam
Benarkah Hukum Asal Muamalah Mubah ?
Peran Negara dalam Pengelolaan Sumber Daya [...]</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1430/</feedburner:origLink></item><item><title>Indonesia Disandera Kapitalisme Global</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/bmrKzXwUUiQ/</link><category>BERITA dan OPINI</category><category>Ekonomi</category><category>Hidayatullah Muttaqin</category><category>Kapitalisme</category><category>Presiden SBY</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 05:03:56 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2530</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<pre>EKONOMI: Kapitalisme Global</pre>
<p><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/08/SBY-okezone.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2532" style="border: 1px solid black; margin: 3px;" title="SBY-okezone" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/08/SBY-okezone.jpg" alt="SBY-okezone" width="250" height="250" /></a>Hari ini (14/8) dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR RI, Presiden SBY menyampaikan pandangannya tentang paradigma dan strategi pembangunan ekonomi. Menurut SBY, <strong><span style="color: #800000;">Indonesia tidak boleh terjerat Kapitalisme Global.</span></strong></p>
<p>Sebagaimana dipetik <a href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/08/14/10172077/Ekonomi.Indonesia.Tak.Boleh.Tersandera.Kapitalisme.Global">Kompas.com (14/8)</a>, presiden mengatakan: <em>&#8220;Paradigma dan grand strategy pembangunan ekonomi seperti itulah yang mesti kita anut dan perkokoh. Intinya kita tidak boleh terjerat, menyerah, dan tersandera oleh kapitalisme global yang fundamental yang sering membawa ketidakadilan bagi kita semua.&#8221;</em></p>
<p>Pernyataan presiden tersebut terasa sangat mempesona. Sepertinya rakyat memiliki seorang pemimpin yang berani melawan arus politik ekonomi global. Namun sayangnya, realitas paradigma dan <em>track record</em> kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan presiden SBY justru bertolakbelakang dengan ucapan-ucapannya.</p>
<p>Begitu pula, <em>track record</em> bagaimana SBY berhadapan dengan publik sudah diketahui umum bahwa ia merupakan orang yang gemar membangun citra dirinya dari pada bertindak sesuai ucapannya. Di bawah kepemimpinannya, birokrasi pusat hingga ke daerah lebih sibuk memoles &#8220;gincu&#8221; dalam bentuk iklan-iklan di media elektronik dan cetak dari pada menyelesaikan permasalahan negara dan masyarakat.</p>
<p>Sementara itu, realitas paradigma kebijakan pemerintah tetap setia pada liberalisme ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah justru membangun keterikatan dengan lembaga-lembaga global Kapitalisme seperti organisasi perdagangan bebas dunia (WTO), IMF, World Bank, dan ADB.</p>
<p>Satu contoh, betapa Indonesia terikat dengan Kapitalisme global adalah upaya pemerintah menyerahkan harga BBM pada mekanisme pasar internasional. Ini artinya pemerintah menyerahkan harga komoditas BBM (yang sebagian sumber dayanya ada di negeri sendiri) mengikuti turun naiknya harga minyak mentah yang ditentukan oleh para penjudi (spekulan) di lantai bursa dunia.</p>
<p>Ketika Mahkamah Konstitusi melarang pemerintah menetapkan harga BBM berdasarkan harga pasar internasional, pemerintah pun mengakalinya dengan mengubah istilahnya menjadi harga kekinian.</p>
<p>Sungguh kita mengetahui begitu beratnya dampak dari kenaikan harga BBM bagi masyarakat khususnya lapisan menengah ke bawah. Namun pemerintah tidak bergeming.</p>
<p>Inilah satu contoh negara kita dan pemimpin negeri ini telah mengikatkan tali Kapitalisme Global sehingga Indonesia tersendera. Dan untuk itu, penguasa negeri ini terus melakukan kebohongan publik dengan konsekwensi semakin langgengnya penjajahan Kapitalisme Global di Indonesia. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS/ www.jurnal-ekonomi.org]<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/04/03/perebutan-hegemoni-kapitalisme-global/" title="G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global">G-20: Perebutan Hegemoni Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/31/keynes-ekonom-gay/" title="Keynes Ekonom Gay">Keynes Ekonom Gay</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/17/aig-mewakili-kerakusan-kapitalisme/" title="AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme">AIG Mewakili Kerakusan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/kerusakan-sistem-barat-semakin-tidak-teratasi/" title="Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi">Kerusakan Sistem Barat Semakin Tidak Teratasi</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/barat-terjungkal-karena-ekonomi-non-riil/" title="Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil">Barat Terjungkal karena Ekonomi Non Riil</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/14/kapitalisme-sistem-yang-gagal/" title="Kapitalisme Sistem yang Gagal">Kapitalisme Sistem yang Gagal</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/07/neoliberalisme-dan-kebangkrutan-ideologi-kapitalisme/" title="Neoliberalisme dan Kebangkrutan Ideologi Kapitalisme">Neoliberalisme dan Kebangkrutan Ideologi Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/11/13/obama-loyalis-yahudi-dan-babak-baru-imperialisme-as/" title="Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS">Obama, Loyalis Yahudi, dan Babak Baru Imperialisme AS</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/20/hidayatullah-muttaqin-indonesia-for-sale/" title="Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale">Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/24/goncangan-pasar-global-dan-urgensi-khilafah/" title="Goncangan Pasar Global dan Urgensi Khilafah">Goncangan Pasar Global dan Urgensi Khilafah</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2530-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/&quot;&gt;Indonesia Disandera Kapitalisme Global&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F08%2F14%2Findonesia-disandera-kapitalisme-global%2F&amp;linkname=Indonesia%20Disandera%20Kapitalisme%20Global"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=bmrKzXwUUiQ:WldA4Wt6lzw:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/bmrKzXwUUiQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>&lt;img class="alignleft size-full wp-image-2532" style="border: 1px solid black; margin: 3px;" title="SBY-okezone" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2009/08/SBY-okezone.jpg" alt="SBY-okezone" width="80" height="80" /&gt;Hari ini (14/8) dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR RI, Presiden SBY menyampaikan pandangannya tentang paradigma dan strategi pembangunan ekonomi. Menurut SBY, Indonesia tidak boleh terjerat Kapitalisme Global.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/</feedburner:origLink></item><item><title>PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/QBPPfDubnwI/</link><category>ANALISIS</category><category>Hidayatullah Muttaqin</category><category>Hutang</category><category>Obligasi</category><category>PLN</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Tue, 04 Aug 2009 23:11:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2522</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p><i>Oleh <b>Hidayatullah Muttaqin</b></i></p>
<p>PLN merupakan badan usaha milik negara yang sejatinya didirikan untuk memberikan pelayanan listrik kepada seluruh warga negara. Karena itu pula, sudah seharusnya sumber daya yang diperlukan PLN untuk memberikan pelayanan tersebut harus disediakan dan diupayakan oleh negara. Termasuk dalam hal ini sumber pendanaan.</p>
<p>Namun, arus globalisasi dan neolibisasi yang dijalankan pemerintah khususnya sejak era reformasi telah membuat PLN kehilangan sumber-sumber pendanaan yang selama ini dibackup oleh negara. PLN kini harus mencari sendiri pembiayaan untuk pemeliharaan dan investasi pengembangan kelistrikan di Indonesia.</p>
<p>Konsekwensinya tentu saja PLN dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih bersifat komersiil, di samping kekuatan PLN sendiri saat ini sudah dipecah-pecah dalam kerangka privatisasi. </p>
<p>Salah satu dampak terbesar dari &#8220;berlepas tangannya&#8221; pemerintah adalah PLN melakukan pembiayaan melalui hutang. </p>
<p>Seperti diberitakan Kompas hari ini (5/8/2009), PLN baru saja menerbitkan obligasi internasional senilai U$ 750 juta atau setara Rp 7,5 trilyun. Obligasi bertenor 10 tahun tersebut di pasar modal mengalami kelebihan permintaan sebanyak 11 kali lipat, yakni sebesar U$ 8,6 milyar. Obligasi PLN diminta  310 pembeli dari Asia, Amerika Serikat, dan Eropa.</p>
<p>Menyambut besarnya minat atas obligasi PLN, wakil direktur PLN Rudianto (4/8/2009) menyatakan optimis akan penerbitan kembali obligasi. Hal ini sangat memprihatinkan. Sebab, tidak sedikit beban bunga yang harus dibayar PLN mengingat imbal hasil yang dijanjikan mencapai 8,125 persen. </p>
<p>Kondisi beban keuangan PLN sendiri dari segi jumlah hutang tidak sedikit. Menurut laporan Kompas (5/8/2009), beban hutang yang ditanggung PLN hingga akhir tahun 2008 mencapai Rp 35 trilyun dalam mata uang dollar AS dan Rp 23 trilyun dalam Yen. Ditambah dengan hutang baru PLN senilai U$ 750 juta plus bunganya dan rencana penerbitan kembali obligasi, menjadikan BUMN ini terjerambat dalam lingkaran hutang.</p>
<p>PLN, sekarang dan ke depan akan selalu terlilit masalah hutang yang berdampak pada perubahan fungsi PLN itu sendiri. Para kreditor PLN sudah pasti menuntut PLN membayar hutang-hutangnya plus bunga tepat waktu sesuai jadwal. Kondisi ini menuntun PLN pada pelayanan yang bersifat komersial dengan mengutamakan pemasukan. Akibatnya, tarif listrik ke depan akan menjadi lebih mahal. </p>
<p>Masalah hutang PLN dan problem kelistrikan secara menyeluruh tidak dapat ditimpakan kepada BUMN ini. Sebab kondisi PLN sekarang erat kaitannya dengan grand design global yang dikawal IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan WTO. Lembaga-lembaga neoliberal ini selalu menyertakan syarat liberalisasi dan privatisasi sektor publik Indonesia agar pemerintah Indonesia mendapatkan pinjaman. Inilah penjajahan ekonomi terhadap negeri kita. </p>
<p>&#8220;Kata kunci&#8221; untuk melepaskan PLN dari jerat hutang dan mengembalikan fungsinya ada di tangan pemerintah. Pemerintah harus mengambilalih pemenuhan sumber daya yang dibutuhkan PLN. Memperkuat PLN dengan tidak memisahkan PLN dari sumber daya energi yang dimiliki Indonesia (migas, batubara, dll), produksi, dan distribusi listrik ke masyarakat. </p>
<p>Namun hal itu hanya akan tercapai jika negara kita mampu membebaskan diri dari cengkraman hutang dan pasar bebas dengan mengelola kekuatan dan potensi ekonomi berdasarkan syariah. (JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org)</p>
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/04/jangan-tertipu-dengan-perhatian-imf-terhadap-negara-negara-miskin/" title="Jangan Tertipu dengan Perhatian IMF terhadap Negara-Negara Miskin">Jangan Tertipu dengan Perhatian IMF terhadap Negara-Negara Miskin</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/02/terbitkan-obligasi-us-3-m-hutang-indonesia-semakin-menggunung/" title="Terbitkan Obligasi US$ 3 m, Hutang Indonesia Semakin Menggunung">Terbitkan Obligasi US$ 3 m, Hutang Indonesia Semakin Menggunung</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/10/25/penerbitan-obligasi-negara-perangkap-kapitalisme/" title="Penerbitan Obligasi Negara: Perangkap Kapitalisme">Penerbitan Obligasi Negara: Perangkap Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/" title="Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen">Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/ac-manullang-ada-grand-strategy-global-amerika/" title="AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika">AC Manullang: Ada Grand Strategy Global Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/18/jangan-kambing-hitamkan-islam/" title="Jangan Kambing Hitamkan Islam">Jangan Kambing Hitamkan Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/15/indonesia-diam-dengan-genosida-muslim-uighur/" title="Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur">Indonesia Diam dengan Genosida Muslim Uighur</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/12/neolib-tidak-mungkin-memajukan-ekonomi-syariah/" title="Neolib Tidak Mungkin Memajukan Ekonomi Syariah">Neolib Tidak Mungkin Memajukan Ekonomi Syariah</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2522-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/&quot;&gt;PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F08%2F05%2Fpln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang%2F&amp;linkname=PLN%20Terjerambat%20dalam%20Jebakan%20Hutang"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=QBPPfDubnwI:N3A6jrLOsoA:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/QBPPfDubnwI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Arus liberalisasi ekonomi yang didorong oleh pemerintah telah menimpa PLN. Langkah pemerintah "berlepas tangan" dan melakukan privatisasi terhadap PLN menyebabkan BUMN ini harus mencari sendiri sumber pendanaan. Salah satunya adalah dengan menarik hutang melalui obligasi.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/</feedburner:origLink></item><item><title>Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/SkuMV1XXzJk/</link><category>JURNAL</category><category>SISTEM EKONOMI SYARIAH</category><category>Inflasi</category><category>Khilafah</category><category>M. Hatta</category><category>Moneter</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Wed, 29 Jul 2009 04:09:11 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2506</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<pre>EKONOMI : Moneter</pre>
<p><a href="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/inflasi.jpg"><img title="inflasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/inflasi.jpg" alt="inflasi" width="118" height="91" /></a></p>
<p><em>Oleh <strong>M. Hatta</strong></em></p>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p>Sebagaimana diketahui, banyak para ekonom, baik itu ekonom konvensional maupun Islam, mengatakan bahwa salah satu permasalahan ekonomi yang harus atau wajib dipecahkan adalah persoalan inflasi. Mereka semua memandang (dari segi dampak) bahwa inflasi sangat tidak baik bagi masyarakat, meskipun dalam hal tertentu mereka memiliki pandangan yang sangat berbeda terutama dalam hal upaya penyelesaiannya.</p>
<p>Betapa pentingnya penyelesaian masalah inflasi bukanlah tanpa alasan. Betapa tidak, inflasi secara faktual sesungguhnya menggambarkan tingkat harga dari barang dan jasa yang sejatinya sering dibutuhkan oleh masyarakat kebanyatakan.</p>
<p>Dari segi urgensitas penyelesaiannya, sesungguhnya permasalahan inflasi tidaklah memandang siapa dan dari mana orangnya, apakah orang Islam atau bukan. Hal ini dikarenakan inflasi sejatinya adalah sebuah fenomena faktual dalam sebuah ekonomi. Namun, dalam dataran sebab dan bagaimana solusinya akan sangat berbeda bagaimana antara orang (ekonom) Islam dan konvensional dalam memandangnya.</p>
<p>Bagaimana dari segi pengukurannya atau perhitungannya, apakah juga terdapat perbedaan antara ekonom Islam dan konvensional? Dalam konsep sistem ekonomi konvensional, inflasi diukur dan diamati sedemikian rupa dengan menggunakan berbagai cara. Istilah yang terlahirpun bermacam-macam, ada inflasi inti, inflasi IHK, dan inflasi IHPB. Jenis barang dan jasa yang diukurpun juga dikelompokkan bermacam-macam, ada kelompok bahan makanan, sandang, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga. Begitu pula teknik dan metode yang digunakan untuk mengukur besaran inflasi yang terjadi juga bermacam-macam adanya. Bagaimana dalam konsep sistem ekonomi Islam?</p>
<p>Tulisan ini dimaksudkan penulis sebagai kajian awal konsep inflasi dalam kerangka Daulah Khilafah. Sebuah pemerintahan yang sudah pernah berkuasa kurang lebih tiga belas abad lamanya dan diprediksikan akan kembali memimpin dunia dalam waktu dekat ini.</p>
<p><strong>Urgensitas Penyelesaian Inflasi Dalam Perspektif Islam</strong></p>
<p>Pentingnya persoalan inflasi diselesaikan menurut Islam dapat dimulai dari pandangan politik ekonomi Islam yang disampaikan oleh Taqiyuddin an Nabhani. Beliau mengatakan, Politik ekonomi Islam adalah menjamin terealisasinya pemenuhan semua kebutuhan primer (basic needs) setiap orang secara menyeluruh, berikut kemungkinan dirinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sabagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu (Islam).<sup>1</sup></p>
<p>Oleh karenanya, agar semua basic needs beserta sekunder dan tersiernya dapat terpenuhi, maka pemerintah (Khalifah) memiliki tanggung jawab untuk senantiasa menjaga tingkat harga barang dan jasa yang beredar sehingga berada dalam jangkauan masyarakat untuk membelinya.<sup>2</sup></p>
<p>Dalam kerangka menjaga tingkat harga inilah kemudian dibutuhkan sebuah pengamatan terhadap barang dan jasa yang beredar sehingga dapat diketahui perkembangan tingkat harga terkini.</p>
<p><strong>Menjernihkan Definisi dan Hakikat Persoalan Inflasi</strong></p>
<p><em><strong>Definisi inflasi</strong></em></p>
<p>Dalam mendefinisikan inflasi, ekonom konvensional memberikan definisi yang saling berbeda. Dari beberapa definisi yang ada, setidaknya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: pertama, definisi yang menggabungkan antara penyebab dengan fenomena inflasi itu sendiri. Kedua, definisi yang hanya sebatas memberikan definisi kepada fenomenanya saja.</p>
<p>Contoh dari definisi yang pertama adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Ludwig von Mises (salah seorang ekonom mazhab Austria). Ia mengatakan Inflasi adalah “peningkatan jumlah uang dan uang kertas yang beredar serta kuantitas deposito bank yang dapat dicairkan.”<sup>3</sup></p>
<p>Aliminsyah dan Padji memberikan definisi inflasi sebagai berikut “suatu keadaan yang menunjukkan jumlah peredaran uang yang lebih banyak dari pada jumlah barang yang beredar, sehingga menimbulkan penurunan daya beli uang dan selanjutnya terjadi kenaikan harga yang menyolok”<sup>4</sup>.</p>
<p>Downes dan Elliot Goodman mengatakan, inflasi adalah kenaikan dalam harga barang dan jasa, yang terjadi jika pembelanjaan bertambah dibandingkan dengan penawaran barang di pasar (dengan kata lain terlalu banyak uang yang memburu barang yang terlalu sedikit).<sup>5</sup></p>
<p>Higher prices:<strong> </strong>an increase in the supply of currency or credit relative to the availability of goods and services, resulting in higher prices and a decrease in the purchasing power of money.<sup>6</sup></p>
<p>A continuing rise in the general price level usu. Attributed to an increase in the volume of money and credit relative to available goods and services.<sup>7</sup></p>
<p>Adapun contoh dari definisi yang kedua misalnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Inflasi dalam <em>Dictionary of Economics </em>didefinisikan dengan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu.<sup>8</sup></p>
<p>Samuelson dan Nordhaus dalam buku mereka <em>Macro Economics</em> mendefinisikan inflasi dengan cukup singkat yaitu kenaikan tingkat harga umum.<sup>9</sup></p>
<p>Bank Indonesia mendefinisikan inflasi dengan kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus.<sup>10</sup></p>
<p>Badan kebijakan fiskal Departemen Keuangan mendefinisikan inflasi dengan sebuah proses kenaikan harga-harga secara umum dan berkelanjutan sebagai akibat adanya ketidakseimbangan (<em>excess demand</em>) dalam perekonomian.<sup>11</sup></p>
<p>Terjadinya perbedaan dalam mendefinisikan inflasi di atas dikarenakan sebagian pakar ekonomi menjelaskan makna inflasi berdasarkan sebab yang menimbulkan inflasi dan sebagian yang lain berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh inflasi.<sup>12</sup></p>
<p>Dari dua kelompok definisi di atas, penulis cenderung untuk sepakat dan menggunakan definisi inflasi dari kelompok yang kedua dengan menambahkan beberapa point. Mengapa kelompok yang kedua?</p>
<p>Pertama, harus kita pahami bahwa sebuah definisi adakalanya berasal dari sebuah konsep tentang nilai yang dalam perumusannya diharuskan merujuk kepada dalil-dalil syar&#8217;i dan adakalanya terkait dengan konsep yang murni berasal dari sebuah fakta.<sup>13</sup></p>
<p>Definisi inflasi sepenuhnya didasarkan pada penelaahan yang cermat (dan tepat) terhadap fakta fenomena perkembangan harga barang dan jasa. Dengan kata lain, definisi inflasi adalah berbicara fakta apa adanya (<em>das sein</em>), bukan berbicara apa yang seharusnya (<em>das sollen</em>).<sup>14</sup> Dalam hal ini, definisi inflasi kelompok yang ke pertama tidaklah menggambarkan fakta apa adanya.<sup>15</sup></p>
<p>Ini sama halnya ketika kita mendefinisikan tentang akal. Akal atau berpikir adalah proses pemindahan fakta melalui indera ke dalam otak disertai dengan informasi sebelumnya yang digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Definisi ini diperoleh dari fakta kegiatan berpikir manusia.<sup>16</sup> Metode telaah seperti inilah yang seharusnya juga diterapkan dalam mendefinisikan fakta tentang inflasi.</p>
<p>Kedua, sebagaimana halnya definisi kebijakan moneter, definisi inflasi kelompok yang ke dua memasukkan unsur besaran jumlah uang beredar sehingga definisi tersebut tidak bersifat netral (mengikuti aliran moneteris). Dengan kata lain, ia hanya memuat salah satu dari penyebab terjadinya inflasi. Padahal secara faktual penyebab inflasi sangatlah beragam.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas, Penulis mendefinisikan inflasi adalah sebagai suatu fakta (kejadian) yang menunjukkan telah terjadi kenaikan relatif harga barang dan jasa baik dalam satu jenis maupun secara umum (dalam banyak jenis), dimana kenaikan itu dapat dinilai berdasarkan nilai sebuah mata uang ataupun benda yang lainnya.</p>
<p><strong>Penjelasan definisi:</strong></p>
<p><strong>Sebagai suatu fakta</strong>, maksudnya adalah inflasi merupakan sebuah kejadian yang benar-benar terjadi.</p>
<p><strong>Kenaikan relatif,</strong> maksudnya adalah meskipun kenaikan dari harga barang dan jasa yang ada tidaklah sama atau dalam prosentase yang saling berbeda tetaplah dikatakan sebagai sebuah inflasi.</p>
<p><strong>Dalam satu satu jenis maupun secara umum, </strong>artinya dikatakan inflasi meskipun barang dan jasa yang mengalami kenaikan harganya hanya satu jenis.</p>
<p><strong>Kenaikan itu dapat dinilai berdasarkan nilai sebuah mata uang ataupun benda yang lainnya,</strong> maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa kenaikan harga barang yang terjadi dapat diketahui dari nilai sebuah mata uang ataupun dengan benda lainnya. Tidak semata-mata hanya dapat diketahui dari mata uang. Lebih dari itu, bagian dari definisi ini bukan bermaksud menunjukkan bahwa penyebab terjadinya inflasi hanya karena nilai uang yang turun atau banyaknya uang yang beredar. <strong>BERSAMBUNG</strong> [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]</p>
<p><span style="color: #800000;"><em><strong>M. Hatta</strong> adalah aktivis Hizbut Tahrir Indonesia Sleman dan mahasiswa Pasca Sarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Yogyakarta Konsentrasi Ekonomi Islam.</em></span><br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/10/31/membongkar-kerusakan-teori-inflasi-moderat/" title="Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat">Membongkar Kerusakan Teori Inflasi Moderat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/06/16/telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/" title="Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam">Telaah Singkat Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/10/11/problem-mata-uang-kertas-fiat-money/" title="Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)">Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/kebutuhan-khilafah-sangat-mendesak/" title="Kebutuhan Khilafah Sangat Mendesak ">Kebutuhan Khilafah Sangat Mendesak </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/mengenal-apbn-khilafah/" title="Mengenal APBN Khilafah ">Mengenal APBN Khilafah </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/06/20/mengontekstualkan-kapitalisme/" title="Mengontekstualkan Kapitalisme">Mengontekstualkan Kapitalisme</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/29/e-book-makna-kebangkrutan-amerika/" title="Free e-Book: Makna Kebangkrutan Amerika">Free e-Book: Makna Kebangkrutan Amerika</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/15/demokrasi-kapitalis-tidak-berkah-ekonomi-islam-khilafah-itu-berkah/" title="Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah">Demokrasi Kapitalis Tidak Berkah, Ekonomi Islam Khilafah itu Berkah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/07/sudan-membutuhkan-khilafah/" title="Sudan Membutuhkan Khilafah">Sudan Membutuhkan Khilafah</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/03/01/%e2%80%98blame-the-victim%e2%80%99/" title="&#8220;Blame The Victim&#8221;">&#8220;Blame The Victim&#8221;</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2506-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/&quot;&gt;Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F07%2F29%2Fmengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i%2F&amp;linkname=Mengkonstruksi%20Konsep%20Inflasi%20dalam%20Daulah%20Khilafah%20%28bagian%20I%29"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=SkuMV1XXzJk:TF745tmplY4:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/SkuMV1XXzJk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>&lt;img class="size-full wp-image-1380 alignnone" title="inflasi" src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/uploads/2008/10/inflasi.jpg" alt="inflasi" width="118" height="91" align="left" /&gt;Sebagaimana diketahui, banyak para ekonom, baik itu ekonom konvensional maupun Islam, mengatakan bahwa salah satu permasalahan ekonomi yang harus atau wajib dipecahkan adalah persoalan inflasi. Tulisan ini dimaksudkan penulis sebagai kajian awal konsep inflasi dalam kerangka Daulah Khilafah.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/29/mengkonstruksi-konsep-inflasi-dalam-daulah-khilafah-bagian-i/</feedburner:origLink></item><item><title>Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~3/26sVdbVXmAM/</link><category>BERITA dan OPINI</category><category>BUMN</category><category>Hidayatullah Muttaqin</category><category>Pajak</category><category>Privatisasi</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Admin</dc:creator><pubDate>Sun, 19 Jul 2009 08:21:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://jurnal-ekonomi.org/?p=2497</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<pre>EKONOMI : BUMN</pre>
<p><img src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=c66bc96cfbb312c7f2f284b99b5cedcd&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.detikfinance.com%2Fimages%2Fcontent%2F2009%2F07%2F18%2F4%2Fkantor-bumnjelas-4-dalam.jpg" alt="" /></p>
<p>Foto: Detikcom</p>
<p><em>Oleh <strong>Hidayatullah Muttaqin</strong></em></p>
<p>Membaca berita yang dilaporkan Detikcom (18/7/2009) dengan judul <strong><a title="http://www.detikfinance.com/read/2009/07/18/153938/1167667/4/pemerintah-minta-setoran-dividen-bumn-ditambah" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=116805095896&amp;h=d747871498fe39b54f6a1506e7ec9e64&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.detikfinance.com%2Fread%2F2009%2F07%2F18%2F153938%2F1167667%2F4%2Fpemerintah-minta-setoran-dividen-bumn-ditambah" target="_blank">Pemerintah Minta Setoran Dividen BUMN Ditambah</a></strong>, seperti melihat pemerintah sedang melakukan “kekonyolan”. Betapa tidak, pada saat yang sama khususnya sepanjang pemerintahan neolib saat ini BUMN telah dibonsai sedemikian rupa melalui program privatisasi.</p>
<p>Konsekwensi dari pembonsaian kepemilikan pemerintah pada BUMN mengakibatkan semakin menipisnya potensi penerimaan negara baik dari penerimaan langsung maupun dari dividen.</p>
<p>Privatisasi juga semakin melemahkan peran pemerintah dalam perekonomian yang selama ini didukung oleh keberadaan BUMN. Dengan lepasnya sejumlah BUMN Indonesia dan semakin tipisnya kepemilikan pemerintah pada sebagian BUMN, maka kemampuan pemerintah mengarahkan BUMN pada kepentingan nasional menjadi lebih sulit.</p>
<p>Sepanjang pemerintahan SBY-JK dalam lima tahun terakhir, privatisasi BUMN menjadi agenda utama pemerintah sebagai pra syarat diberikannya pinjaman oleh ADB dan Bank Dunia. Tahun 2007 Pemerintah merencanakan 15 BUMN diprivatisasi, sedangkan tahun 2008 BUMN yang hendak diprivatisasi mencapai 44. Namun akibat krisis keuangan global, agenda privatisasi tersebut tertunda. Sementara itu, <a title="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/obral-bumn-menanti-sby-boediono/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=116805095896&amp;h=b2940bbba2c1f513628dd19d8d629c1e&amp;url=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F07%2F11%2Fobral-bumn-menanti-sby-boediono%2F" target="_blank">obral BUMN menanti </a>pemerintahan baru ke depan yang kemungkinan dilanjutkan oleh SBY-Boediono.</p>
<p>Permintaan penambahan setoran dividen BUMN yang oleh Sekretaris Kementrian Negara BUMN, M Said Didu untuk menutupi lubang akibat penerimaan pajak yang tidak mencapai target pada tahun ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi pemerintah. Bahwa kebijakan pemerintah telah berjalan di atas “kekonyolan” tanpa berpikir panjang. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]<br />
<h3>Tulisan terkait lainnya &#8230;.</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/11/obral-bumn-menanti-sby-boediono/" title="Obral BUMN Menanti SBY-Boediono">Obral BUMN Menanti SBY-Boediono</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/02/22/kuat-dugaan-privatisasi-untuk-pembiayaan-parpol/" title="Kuat Dugaan Privatisasi untuk Pembiayaan Parpol">Kuat Dugaan Privatisasi untuk Pembiayaan Parpol</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/09/20/hidayatullah-muttaqin-indonesia-for-sale/" title="Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale">Hidayatullah Muttaqin: Indonesia for Sale</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/18/fakta-dan-kebohongan-privatisasi-di-indonesia/" title="Fakta dan Kebohongan Privatisasi di Indonesia">Fakta dan Kebohongan Privatisasi di Indonesia</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2008/02/06/bom-privatisasi-indonesia-2008/" title="BOM Privatisasi Indonesia 2008 ">BOM Privatisasi Indonesia 2008 </a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/bumn-diprivatisasi-lagi-pemerintah-harus-bertanggung-jawab/" title="BUMN Diprivatisasi lagi: Pemerintah Harus Bertanggung Jawab">BUMN Diprivatisasi lagi: Pemerintah Harus Bertanggung Jawab</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2003/09/15/yahudi-di-balik-pembelian-indosat/" title="Yahudi di Balik Pembelian Indosat">Yahudi di Balik Pembelian Indosat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/09/24/paradoks-ekonomi-resesi-berakhir-pengangguran-meningkat/" title="Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat">Paradoks Ekonomi : Resesi Berakhir Pengangguran Meningkat</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/14/indonesia-disandera-kapitalisme-global/" title="Indonesia Disandera Kapitalisme Global">Indonesia Disandera Kapitalisme Global</a></li>
<li><a href="http://jurnal-ekonomi.org/2009/08/05/pln-terjerambat-dalam-jebakan-hutang/" title="PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang">PLN Terjerambat dalam Jebakan Hutang</a></li>
</ul>
<div class="su-linkbox" id="post-2497-linkbox"><div class="su-linkbox-label">Salin link tulisan ini:</div><div class="su-linkbox-field"><input type="text" value="&lt;a href=&quot;http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/&quot;&gt;Aneh, Bonsai BUMN tapi Berharap Tambah Dividen&lt;/a&gt;" onclick="javascript:this.select()" readonly="readonly" style="width: 100%;" /></div></div><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fjurnal-ekonomi.org%2F2009%2F07%2F19%2Faneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen%2F&amp;linkname=Aneh%2C%20Bonsai%20BUMN%20tapi%20Berharap%20Tambah%20Dividen"><img src="http://jurnal-ekonomi.org/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:l6gmwiTKsz0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=l6gmwiTKsz0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?a=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:KwTdNBX3Jqk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/jurnal-ekonomi/JEOr?i=26sVdbVXmAM:HybCmIVfIck:KwTdNBX3Jqk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/jurnal-ekonomi/JEOr/~4/26sVdbVXmAM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Membaca berita yang dilaporkan Detikcom (18/7/2009) dengan judul Pemerintah Minta Setoran Dividen BUMN Ditambah, seperti melihat pemerintah sedang melakukan “kekonyolan”. Betapa tidak, pada saat yang sama khususnya sepanjang pemerintahan neolib saat ini BUMN telah dibonsai sedemikian rupa melalui program privatisasi.</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">0</slash:comments><feedburner:origLink>http://jurnal-ekonomi.org/2009/07/19/aneh-bonsai-bumn-tapi-berharap-tambah-dividen/</feedburner:origLink></item><media:rating>adult</media:rating></channel></rss>
