<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnal Footage</title>
	<atom:link href="https://jurnalfootage.net/v4/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jurnalfootage.net/v4</link>
	<description>Film, Video, Sinema, dan Sosialita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Mar 2025 22:20:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">57060099</site>	<item>
		<title>Watak BACHTIAR (Bag. 2): Teks Arsip dan Aksi Membacanya</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/watak-bachtiar-bag-2-teks-arsip-dan-aksi-membacanya/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/watak-bachtiar-bag-2-teks-arsip-dan-aksi-membacanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Manshur Zikri]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2025 21:37:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[2025]]></category>
		<category><![CDATA[BACHTIAR]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hafiz Rancajale]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9516</guid>

					<description><![CDATA[Dalam BACHTIAR, montase ulang-alik antara subjek (si pembaca) dan arsip (teks yang dibaca) tidak sekadar menampilkan hubungan linear antara masa lalu dan masa kini. Sebab, sebagai suatu realitas historiografis, sekuen-sekuen aksi membaca teks justru menciptakan suatu ketegangan produktif yang membuka pemaknaan alternatif atas sejarah berdasarkan pada bagaimana ia dihadirkan, dialami, dan ditafsirkan kembali di dalam film. Posisi pembuat film bukan dalam kedudukannya sebagai sang-maha-tahu, melainkan sebagai subjek yang berproses. Dengan demikian, sinema bukan lagi alat afirmasi kebenaran sejarah, tetapi medium konfigurasi yang memposisikan sejarah sebagai pengalaman dalam keberlanjutan dialogisnya dengan masa kini. ]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/watak-bachtiar-bag-2-teks-arsip-dan-aksi-membacanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9516</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Watak BACHTIAR (Bag. 1): Lima Menit Pukauan Sekuen Pembuka</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/watak-bachtiar-bag-1-lima-menit-pukauan-sekuen-pembuka/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/watak-bachtiar-bag-1-lima-menit-pukauan-sekuen-pembuka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Manshur Zikri]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Feb 2025 09:53:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[2025]]></category>
		<category><![CDATA[BACHTIAR]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hafiz Rancajale]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9483</guid>

					<description><![CDATA[BACHTIAR, yang dalam konteks pembahasan di artikel ini diwakili oleh sekuen pembukanya, begitu kentara mencerminkan gagasan yang memandang film sebagai metode aktif dari historiografi—bukan sekadar dokumen pasif tentang masa lalu. Sekuen pembuka yang juga bersifat meta-refleksif ini membekali penonton dengan pemahaman bahwa film adalah perangkat historiografis, yang tidak melulu hanya diperlakukan sebagai sumber sejarah, tetapi juga sebuah medium untuk menciptakan-nya.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/watak-bachtiar-bag-1-lima-menit-pukauan-sekuen-pembuka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9483</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Roman Picisan: Dialog Gelap dan Terang yang Mengungkap Logika Sinematik</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/roman-picisan-dialog-gelap-dan-terang-yang-mengungkap-logika-sinematik/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/roman-picisan-dialog-gelap-dan-terang-yang-mengungkap-logika-sinematik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ilham Natsir]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Dec 2024 16:20:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1944]]></category>
		<category><![CDATA[1947]]></category>
		<category><![CDATA[1949]]></category>
		<category><![CDATA[Billy Wilder]]></category>
		<category><![CDATA[Double Indemnity]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Henri-Georges Clouzot]]></category>
		<category><![CDATA[Kamal Amrohi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahal]]></category>
		<category><![CDATA[Quai des Orfèvres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9475</guid>

					<description><![CDATA[Dalam film-film Ekspresionisme Jerman, bayangan menjadi komponen penting yang membentuk visual khas. Selain itu, bayangan sering digunakan untuk menggambarkan kondisi emosional karakter. Pengaruh estetika ini berlanjut hingga dekade 1940-an, di mana sutradara Jerman yang bermigrasi ke Hollywood membawa gaya tersebut. Hal ini mendorong munculnya film-film dengan nuansa serupa pada periode 1940-an hingga 1950-an, yang menonjolkan permainan cahaya dan bayangan kontras. Fenomena ini kemudian dirangkum oleh Nino Frank, seorang kritikus Prancis, dalam istilah film noir, yang diperkenalkan pada tahun 1946. Istilah ini berarti ‘gelap’ atau ‘hitam’ dalam bahasa Prancis. Bayangan dalam film noir tidak hanya sekadar elemen visual, tetapi juga mampu mengungkap lapisan makna yang lebih dalam, memperkuat narasi, dan membentuk pemahaman penonton tentang karakter serta situasi yang dihadapi.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/roman-picisan-dialog-gelap-dan-terang-yang-mengungkap-logika-sinematik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9475</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Obat Penawar Pascaperang</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/obat-penawar-pascaperang/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/obat-penawar-pascaperang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ryan Kelana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Nov 2024 17:08:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1946]]></category>
		<category><![CDATA[1948]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Fei Mu]]></category>
		<category><![CDATA[Frank Capra]]></category>
		<category><![CDATA[Georg Wilhelm Pabst]]></category>
		<category><![CDATA[It’s A Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[Spring in a Small Town]]></category>
		<category><![CDATA[The Trial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9457</guid>

					<description><![CDATA[Sinema, sebagai alat untuk memvisualisasikan sudut pandang terhadap realitas, menawarkan beragam perspektif dalam wacana pemulihan. Manifestasi dari kerangka berpikir ini tercermin dalam berbagai cara pandang terhadap persoalan yang dihadapi. Pemulihan pascaperang dapat dimulai dengan memperbaiki tatanan sosial-ekonomi masyarakat, baik melalui sistem hukum, ekonomi alternatif, maupun kehidupan rumah tangga di kota-kota kecil.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/obat-penawar-pascaperang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9457</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menatap pada yang Berikutnya</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/menatap-pada-yang-berikutnya/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/menatap-pada-yang-berikutnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dahlan Khatami]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Nov 2024 07:43:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1940]]></category>
		<category><![CDATA[1946]]></category>
		<category><![CDATA[1949]]></category>
		<category><![CDATA[Akira Kurosawa]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[John Ford]]></category>
		<category><![CDATA[Shoeshine]]></category>
		<category><![CDATA[Stray Dog]]></category>
		<category><![CDATA[The Grapes of Wrath]]></category>
		<category><![CDATA[Vittorio de Sica]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9433</guid>

					<description><![CDATA[Tiga film yang akan dibahas dalam tulisan ini—The Grapes of Wrath (AS, 1940) karya John Ford, Shoeshine (Italia, 1946) karya Vittorio de Sica, dan Stray Dog (Jepang, 1949) karya Akira Kurosawa—menampilkan berbagai bentuk persinggungan antarpranata sosial dalam masyarakat. Ketiga film ini menggambarkan perpindahan subjek dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mengungkap relasi dan negosiasi antarpranata sosial. Dari pengadilan ke penjara, dari tanah yang telah dihuni turun-temurun ke tanah baru yang lebih subur, serta dari satu tempat publik ke tempat publik lainnya. Subjek-subjek ini diwakili oleh anak-anak remaja, keluarga petani penggarap lahan, dan seorang polisi yang kehilangan pistolnya. Migrasi yang digambarkan dalam ketiga film tersebut memetakan persoalan di wilayah latar tempat film-film itu diproduksi. Konteks peristiwa sejarah yang traumatis direkatkan dengan pengalaman manusia-manusia yang menghidupi ruang-ruang yang berbeda sebagai upaya untuk menelusuri akar permasalahan sosial sekaligus mencari jalan keluarnya.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/menatap-pada-yang-berikutnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9433</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ruang Kosong dan Strategi Bergerak di Celahnya</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/ruang-kosong-dan-strategi-bergerak-di-celahnya/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/ruang-kosong-dan-strategi-bergerak-di-celahnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dyah Pawitra Nindyasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Oct 2024 15:19:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1950]]></category>
		<category><![CDATA[1954]]></category>
		<category><![CDATA[1959]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Johnny Guitar]]></category>
		<category><![CDATA[Los Olvidados]]></category>
		<category><![CDATA[Luis Buñuel]]></category>
		<category><![CDATA[Nicholas Ray]]></category>
		<category><![CDATA[Pickpocket]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Bresson]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9410</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai salah satu hal yang menentukan gaya dan ekspresi sinematik, strategi keruangan merefleksikan sekaligus juga dipengaruhi oleh estetika, storytelling, dan teknologi film yang berkembang dari waktu ke waktu. Mengulas aspek keruangan di dalam film terbilang penting untuk memahami estetika lebih daripada sekadar apa yang tampak di permukaan semata. Eksplorasi bentuk penceritaan berdasarkan aspek keruangan ini melampaui persoalan tematik, karena juga mengangkat lapisan-lapisan yang lebih mendalam dan sering kali implisit, seperti motivasi karakter dan bangunan psikologisnya. Kalau audiens belum berhasil “tertarik” dengan konstruksi dunia material yang terlihat di permukaan, di sini diciptakan “dunia batin” dengan segala kompleksitasnya yang menuntut keterlibatan penuh.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/ruang-kosong-dan-strategi-bergerak-di-celahnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9410</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dari Neraka ke Labirin Kota</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/dari-neraka-ke-labirin-kota/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/dari-neraka-ke-labirin-kota/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Alvian Dharma]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Oct 2024 13:05:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1911]]></category>
		<category><![CDATA[1920]]></category>
		<category><![CDATA[Adolfo Padovan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Francesco Bertolini]]></category>
		<category><![CDATA[Giuseppe De Liguoro]]></category>
		<category><![CDATA[L'Inferno]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Wiene]]></category>
		<category><![CDATA[The Cabinet of Dr. Caligari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9316</guid>

					<description><![CDATA[Dalam perkembangannya, film dimulai dengan lanskap yang dekat dengan kenyataan material: kamera ditempatkan di pabrik, di pinggir sungai, atau di stasiun untuk menangkap visual kehidupan sehari-hari tanpa bumbu fantasi atau unsur sastrawi sama sekali. Imajinasi dalam penggambaran lanskap dimulai ketika para seniman menyadari potensi dari medium yang diciptakan oleh kaum industrialis. Pengimajinasian lanskap membuka gerbang-gerbang potensi baru bagi film untuk keluar dari labelnya sebagai atraksi pasar malam yang unik menjadi medium bercerita zaman modern, dengan mengubah konsep lanskap dari realitas objektif yang ditangkap dengan kamera menjadi realitas subjektif yang dibangun menggunakan kamera.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/dari-neraka-ke-labirin-kota/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9316</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Subversi Melankolia: Performa Gulana Nikolai</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/subversi-melankolia-performa-gulana-nikolai/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/subversi-melankolia-performa-gulana-nikolai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Manshur Zikri]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2024 17:16:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1989]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Muratova]]></category>
		<category><![CDATA[The Asthenic Syndrome]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9213</guid>

					<description><![CDATA[Dapat kita sadari bahwa Muratova menghadirkan perihal “tidur” dan/atau “ketiduran” secara berulang-ulang, baik melalui protagonis maupun karakter-karakter lain di sekitarnya, seolah ingin memberitahu kita bahwa itu adalah sebuah gesture yang penting. Menjadi kode kunci, nyatanya memang itulah gestur yang secara visual memanifestasikan subject matter film ini: sindrom astenik, yaitu suatu kondisi mental di mana seseorang dilanda kelesuan, kerengsaan, dan kelelahan kronis, kerap mengalami narkolepsi (kecenderungan ekstrem untuk tertidur secara mendadak di mana pun), kesulitan dalam berkonsentrasi, dan bahkan menjadi apatis dengan keadaan lingkungan sekitar.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/subversi-melankolia-performa-gulana-nikolai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9213</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Subversi Melankolia: Histeria Duka Natasha</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/subversi-melankolia-histeria-duka-natasha/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/subversi-melankolia-histeria-duka-natasha/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Manshur Zikri]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Sep 2024 21:51:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1989]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Muratova]]></category>
		<category><![CDATA[The Asthenic Syndrome]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9172</guid>

					<description><![CDATA[Ornamentalitas kenistaan di cerita segmen pertama dalam film ini, sebagaimana tukikan subversif dari estetika pesimisme, menggeser sensualitas sembari mengetengahkan empati tentang “tubuh” dan “perasaan” yang, pada akhirnya kembali kita sadari, selalu dihegemoni oleh patriarki. Histeria Natasha menghidupkan daya puitik dari yang getir.]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/subversi-melankolia-histeria-duka-natasha/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9172</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Yang Diperluas dari Surat: Ornamentalisme Sinematik</title>
		<link>https://jurnalfootage.net/v4/yang-diperluas-dari-surat-ornamentalisme-sinematik/</link>
					<comments>https://jurnalfootage.net/v4/yang-diperluas-dari-surat-ornamentalisme-sinematik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Manshur Zikri]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 May 2024 20:41:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[1987]]></category>
		<category><![CDATA[Change of Fortune]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Muratova]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jurnalfootage.net/v4/?p=9100</guid>

					<description><![CDATA[Ornamentalisme Sinematik seakan menemukan peluangnya sebagai teknik jitu pengempang kekakuan ideologis justru di era setelah Lenin, tatkala Realisme Sosialis mulai dilihat sebagai tirani kebudayaan. Pada konteks inilah kemudian kita bisa memahami bahwa pendekatan formalistik dari ornamentalisme yang “mengabaikan” ideologi justru merupakan aspek terpenting kritisismenya; “pengabaian ideologi” menjadi aksi politik. “Anti-Ideologi” sinematik adalah instrumentasi verbal dari “ideology itself”, menjadi “ideology as such”, yaitu kepercayaan untuk menolak batas-batas “I” besar, menjadi ideologi yang terbuka bagi keberagaman ideologis. Dan Ornamentalisme sendiri, bukan saja karena teknik yang mendasari mesin bahasanya bersifat disruptif, mempunyai implementasi dan implikasi sosial yang pada hakikatnya selalu mengandaikan "ketergangguan sang mapan", "alternativitas dari yang biasa", dan "alteritas terhadap kaidah".]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://jurnalfootage.net/v4/yang-diperluas-dari-surat-ornamentalisme-sinematik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9100</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
