<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>The Official Weblog of Mahardhika Zifana</title>
	
	<link>http://mahardhikazifana.com</link>
	<description>His Knowledge, Thinking, and Journal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Aug 2010 11:52:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/kakazifana" /><feedburner:info uri="kakazifana" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Perang Badar [Lampiran 1: Peta Kekuatan Quraisy vs Muslimin dalam Perang Badar]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/Ckt0qH5V2sU/perang-badar-lampiran-1-peta-kekuatan-quraisy-vs-muslimin-dalam-perang-badar.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-lampiran-1-peta-kekuatan-quraisy-vs-muslimin-dalam-perang-badar.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 12:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1084</guid>
		<description><![CDATA[


Tanggal
17 Maret 624 M / 17 Ramadhan 2 H


Lokasi
Lembah di kaki Bukit Badar, 80 mil   barat daya Madinah


Hasil
Kemenangan Muslim



 
Panglima
Muslimin         : Muhammad Saw
Quraisy            : Abu Sufyan

Komandan Lapangan
Muslimin         : Hamzah bin Abdul Muthalib
Quraisy            : Abu Jahal

Jumlah Pasukan
Muslimin         : 300-350
Quraisy            : 900-1000

Jumlah korban 
Muslimin         : 14 tewas
Quraisy            : 50-70 tewas &#38; 43-70 tertawan
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="text-align: justify;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Tanggal</strong></td>
<td>17 Maret 624 M / 17 Ramadhan 2 H</td>
</tr>
<tr>
<td><strong>Lokasi</strong></td>
<td>Lembah di kaki Bukit Badar, 80 mil   barat daya Madinah</td>
</tr>
<tr>
<td><strong>Hasil</strong></td>
<td>Kemenangan Muslim</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Panglima</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muslimin         : Muhammad Saw</p>
<p style="text-align: justify;">Quraisy            : Abu Sufyan<span id="more-1084"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Komandan Lapangan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muslimin         : Hamzah bin Abdul Muthalib</p>
<p style="text-align: justify;">Quraisy            : Abu Jahal</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jumlah Pasukan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muslimin         : 300-350</p>
<p style="text-align: justify;">Quraisy            : 900-1000</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jumlah korban </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muslimin         : 14 tewas</p>
<p style="text-align: justify;">Quraisy            : 50-70 tewas &amp; 43-70 tertawan</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-lampiran-1-peta-kekuatan-quraisy-vs-muslimin-dalam-perang-badar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-lampiran-1-peta-kekuatan-quraisy-vs-muslimin-dalam-perang-badar.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 13 (Selesai) : Semangat Penduduk Madinah Menyambut Kemenangan di Bulan Suci]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/6iRqLES5ma0/perang-badar-bagian-13-selesai-semangat-penduduk-madinah-menyambut-kemenangan-di-bulan-suci.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-13-selesai-semangat-penduduk-madinah-menyambut-kemenangan-di-bulan-suci.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 12:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1081</guid>
		<description><![CDATA[Sehari sebelum Nabi Saw dan tentara Islam sampai di Madinah, kedua utusan beliau (Saw) Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah sudah lebih dulu sampai. Mereka masing-masing memasuki kota dari gerbang yang berbeda. Dari atas unta yang dikendarainya, Abdullah mengumumkan dan memberikan kabar gembira kepada Kaum Anshar tentang kemenangan Rasulullah Saw dan para sahabatnya, sambil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sehari sebelum Nabi Saw dan tentara Islam sampai di Madinah, kedua utusan beliau (Saw) Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah sudah lebih dulu sampai. Mereka masing-masing memasuki kota dari gerbang yang berbeda. Dari atas unta yang dikendarainya, Abdullah mengumumkan dan memberikan kabar gembira kepada Kaum Anshar tentang kemenangan Rasulullah Saw dan para sahabatnya, sambil menyebutkan nama-nama pihak musyrikin Mekkah yang terbunuh. Begitu juga Zaid bin Haritsah, ia melakukan hal yang sama sambil ia menunggang Qashwa&#8217;, unta milik Nabi.<span id="more-1081"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kaum Muslimin serentak bergembira. Mereka berkumpul, dan mereka yang masih berada dalam rumah keluar beramai-ramai dan berangkat menyambut berita kemenangan besar ini. Semuanya meneriakkan takbir. Sebagian lagi melantunkan syair yang memuji para pejuang Badar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya dengan orang-orang musyrik dan orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah. Meraka merasa terpukul dengan berita itu. Mereka berusaha meyakinkan diri mereka sendiri dan meyakinkan orang-orang Islam yang tinggal di Madinah, bahwa berita itu tidak benar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Muhammad sudah terbunuh dan teman-temannya sudah ditaklukkan,&#8221; teriak mereka. &#8220;Ini untanya seperti sudah sama-sama kita kenal. Kalau dia yang menang, niscaya unta ini masih di sana. Apa yang dikatakan Zaid hanya mengigau saja dia, karena sudah gugup dan ketakutan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi pihak Muslimin mendapat kepastian benar dari kedua utusan itu dan yakin sekali akan kebenaran berita itu. Temyata Muhammad Saw dan pasukan kecilnya memang pemenang, membuat kaum kafir dan Yahudi Madinah merasa sangat terkejut. Posisi mereka terhadap kaum Muslimin jadi lebih rendah dan hina sekali, sampai-sampai ada salah seorang pembesar Yahudi yang mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagi kita sekarang lebih baik berkalang tanah daripada tinggal di atas bumi ini sesudah kaum bangsawan, pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka Arab serta penduduk Mekkah itu mendapat bencana.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian tentara Muslimin memasuki Madinah sehari sebelum tawanan-tawanan perang sampai. Setelah seluruh pasukan tiba, Muhammad Saw memisah-misahkan para tawanan itu dan menitipkan mereka di antara para sahabatnya, sambil berkata kepada mereka,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Perlakukanlah mereka sebaik-baiknya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring berakhirnya perang, 313 orang pasukan yang berlaga dalam pertempuran di lembah Badar itu kemudian memeroleh kedudukan yang sangat istimewa dalam sejarah dan, tentunya, di tengah masyarakat. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan <em>ashabul badri</em>. Selepas Rasulullah Saw wafat, pada setiap pembaiatan Khalifah, seakan tidak sah jika tidak dihadiri<em> ashabul badri</em>. Palu yang sudah diketuk seakan belum sempurna. Musyawarah-musyawarah terasa hambar kalau di dalamnya tidak terdapat <em>ashabul badri</em>. <em>Ashabul Badri</em> adalah orang-orang yang telah membabat hutan belantara menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Layaklah jika kemudian <em>Ashabul Badri</em> mendapat kedudukan yang mulia di mata siapa pun, karena Allah telah memberikan keutamaan kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Semangat kemenangan mereka yang terjadi di bulan suci Ramadhan selayaknya diteladani dan diikuti oleh segenap Umat Islam. Merekalah manusia-manusia terbaik, orang-orang pemberani yang menjadi pengawal Nabi Muhammad Saw di dunia ini dan di surga kelak. Semoga Allah Swt memberikan keberanian dan kekuatan <em>ashabul badri</em> kepada mereka yang masih konsisten berjuang di jalan-Nya hingga detik ini. Aamiin.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-13-selesai-semangat-penduduk-madinah-menyambut-kemenangan-di-bulan-suci.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-13-selesai-semangat-penduduk-madinah-menyambut-kemenangan-di-bulan-suci.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 12: Menuju Madinah]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/NHvE0YCgCG8/perang-badar-bagian-12-menuju-madinah.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-12-menuju-madinah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 12:23:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1078</guid>
		<description><![CDATA[Keesokan harinya pagi-pagi, saat pasukan Muslimin sudah siap-siap berangkat pulang menuju Madinah, mulailah timbul pertanyaan sekitar masalah harta rampasan, buat siapa seharusnya. Apakah harta itu untuk pasukan yang melakukan serangan, pasukan yang mengejar, ataukah pasukan yang mengawal Muhammad Saw.
Tetapi kemudian Muhammad Saw menyuruh mengumpulkan semua harta rampasan yang ada di tangan mereka, dan dimintanya supaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya pagi-pagi, saat pasukan Muslimin sudah siap-siap berangkat pulang menuju Madinah, mulailah timbul pertanyaan sekitar masalah harta rampasan, buat siapa seharusnya. Apakah harta itu untuk pasukan yang melakukan serangan, pasukan yang mengejar, ataukah pasukan yang mengawal Muhammad Saw.<span id="more-1078"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi kemudian Muhammad Saw menyuruh mengumpulkan semua harta rampasan yang ada di tangan mereka, dan dimintanya supaya dibawa agar beliau (Saw) dapat memberikan pendapat atau akan turun wahyu Allah yang akan menjadi keputusan.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Saw kemudian mengutus Abdullah bin Rawahah dan Zaid bin Haritsah ke Madinah guna menyampaikan berita gembira kepada penduduk Madinah tentang kemenangan yang telah dicapai kaum Muslimin. Sementara beliau (Saw) sendiri dan para sahabatnya berangkat menuju Madinah dengan membawa tawanan dan rampasan perang yang telah diperolehnya dari kaum musyrik. Mereka pun berangkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesudah menyeberangi Shafra&#8217;, pada sebuah bukit pasir, Muhammad Saw berhenti. Di tempat inilah rampasan perang yang sudah ditentukan Allah bagi kaum Muslimin itu dibagi rata. Beberapa ahli sejarah mengatakan, bahwa pembagian kepada mereka itu sesudah dikurangi seperlimanya sesuai dengan firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan hendaklah kamu ketahui, bahwa rampasan perang yang kamu peroleh, seperlimanya untuk Tuhan, untuk Rasul, untuk para kerabat dan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang terlantar dalam perjalanan, kalau kamu benar-benar beriman kepada Allah dan pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari yang menentukan itu, hari, ketika dua golongan itu saling berhadapan. Dan atas segala sesuatu Allah Maha Kuasa.&#8221; (Qur&#8217;an, 8: 41)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan pulang ke Madinah itu, dua orang tawanan dibunuh, yakni seorang bernama Nadzr bin Al-Harith dan yang seorang lagi bernama &#8216;Uqba bin Abi Mu&#8217;ait. Sampai pada waktu itu, Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya belum membuat peraturan tertentu dalam memperlakukan para tawanan itu: apakah mengharuskan mereka dibunuh, ditebus, atau dijadikan budak. Tetapi Nadzr dan &#8216;Uqba tergolong bahaya yang selalu mengancam Muslimin saat di Mekkah. Setiap ada kesempatan kedua orang ini selalu mengganggu mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Nadzr dihukum bunuh saat pasukan sampai di Uthail. Ketika itu para tawanan itu diperlihatkan kepada Nabi Saw. Beliau menatap Nadzr ini dengan pandangan mata yang tajam, sehingga tawanan ini gemetar seraya berkata kepada seseorang yang berada di sampingnya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Muhammad pasti akan membunuh aku,&#8221; katanya, &#8220;Ia menatapku dengan pandangan mata yang mengandung maut.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ini hanya karena kau merasa takut saja,&#8221; jawab orang yang di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Nadzr berkata kepada Mushiab bin &#8216;Umair –Muslim yang paling berbelas kasih  di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katakan kepada temanmu itu supaya aku dipandang sebagai salah seorang sahabatnya. Kalau tidak pasti dia akan membunuh aku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tetapi dulu kau mengatakan hal-hal buruk tentang Islam, Kitabullah, dan tentang diri Nabi,&#8221; kata Mushiab, &#8220;Dulu kau menyiksa sahabat-sahabatnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekiranya engkau yang ditawan oleh Quraisy, kau takkan dibunuh selama aku masih hidup,&#8221; kata Nadzr lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kafir sepertimu tak dapat dipercaya,&#8221; kata Mushiab</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya Nadzr dihitung sebagai tawanan Miqdad. Sebelumnya Miqdad ingin memperoleh tebusan yang cukup besar dari keluarga Nadzr.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mendengar percakapan bahwa Nadzr akan dihukum mati, ia segera berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Nadzr tawananku,&#8221; teriaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pancung!&#8221; kata Nabi Saw, &#8220;Ya Allah, semoga Miqdad mendapat karunia-Mu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tebasan pedang kemudian ia dipancung oleh Ali bin Abi Talib.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat mereka dalam perjalanan ke &#8216;Irq&#8217;z-Zubya Nabi Saw memerintahkan agar &#8216;Uqba bin Abi Mu&#8217;ait juga dihukum pancung.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-12-menuju-madinah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-12-menuju-madinah.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 11: Kondisi Tentara Islam Pasca Perang]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/Xh_bs_4FggQ/perang-badar-bagian-11-kondisi-tentara-islam-pasca-perang.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-11-kondisi-tentara-islam-pasca-perang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 12:21:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1075</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Muhammad Saw sangat welas asih. Sejak sebelum pertempuran di Badar, beliau (Saw) sudah minta kepada Muslimin untuk tidak membunuh orang-orang tertentu dari kalangan Bani Hasyim dan pembesar Quraisy, terlepas dari fakta bahwa mereka akan membunuh setiap orang Islam yang dapat mereka bunuh. Beliau (Saw) memerintahkan itu bukan karena beliau (Saw) ingin membela keluarganya atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad Saw sangat welas asih. Sejak sebelum pertempuran di Badar, beliau (Saw) sudah minta kepada Muslimin untuk tidak membunuh orang-orang tertentu dari kalangan Bani Hasyim dan pembesar Quraisy, terlepas dari fakta bahwa mereka akan membunuh setiap orang Islam yang dapat mereka bunuh. Beliau (Saw) memerintahkan itu bukan karena beliau (Saw) ingin membela keluarganya atau siapa saja yang punya pertalian keluarga dengan beliau (Saw). Jiwa seorang Muhammad Saw sangat besar dan tak akan terpengaruh oleh hal-hal macam itu. Apa yang menjadi pertimbangan beliau (Saw) ialah, karena beliau (Saw) teringat bahwa ketika masih di Mekkah, Bani Hasyim telah melindungi beliau (Saw)  selama tigabelas tahun sejak awal masa kerasulannya hingga masa hijrahnya, sampai-sampai paman beliau (Saw), Abbas bin Abdul Muthalib, ikut menyertai beliau (Saw) pada malam diadakannya Baiat &#8216;Aqaba. Selain itu, beliau (Saw) juga mengingat jasa beberapa orang kafir di kalangan Quraisy di luar Bani Hasyim yang menuntut dibatalkannya piagam pemboikotan oleh Quraisy atas beliau (Saw) dan para sahabatnya yang memaksa beliau (Saw) tinggal di celah-celah gunung. Segala kebaikan yang diberikan oleh mereka dianggap beliau (Saw)sebagai suatu jasa yang harus mendapat balasan setimpal, harus mendapat balasan sepuluh kali lipat. Karena itu, oleh kaum Muslimin beliau (Saw) dianggap sebagai perantara bagi mereka masing-masing selama terjadi pertempuran, meskipun di kalangan Quraisy sendiri masih ada yang menolak pemberian pengampunan itu –seperti yang dilakukan oleh Abu Al-Bakhtari. Dia dikenal sebagai salah seorang yang ikut melaksanakan dicabutnya piagam pemboikotan. Namun ia menolak dan terbunuh.<span id="more-1075"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pasukan Mekkah telah lari tunggang langgang dengan perasaan dongkol. Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Jika mata mereka tertumbuk pada salah seorang kawan sendiri, karena rasa malunya ia segera membuang muka, mengingat nasib buruk yang telah menimpa mereka semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sore hari itu, pihak Muslimin masih tinggal di Badar. Kemudian mereka mengumpulkan mayat-mayat Quraisy dan menguburkan semua mayat itu dalam satu lubang besar. Pada malam harinya, Muhammad Saw dan para sahabatnya sibuk menyelesaikan persoalan ghanimah (barang rampasan perang) serta menjaga para tawanan. Saat malam sudah gelap, Muhammad Saw mulai merenungkan pertolongan yang diberikan Allah kepada pasukan Muslimin yang dengan jumlah yang begitu kecil telah dapat menghancurkan kaum musyrik dengan jumlah besarnya. Saat beliau (Saw) merenung, pada waktu larut malam itu, para sahabatnya mendengar beliau (Saw) berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wahai penghuni kubur! Wahai &#8216;Utba bin Rabi&#8217;a! Syaiba bin Rabi&#8217;a! Umayya bin Khalaf! Wahai Abu Jahal bin Hisyam! &#8230;&#8221; &#8211; Seterusnya beliau (Saw) menyebutkan nama orang-orang yang dikubur dalam satu lubang itu satu-persatu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wahai penghuni kubur! Adakah yang dijanjikan tuhanmu itu benar-benar ada? Aku telah bertemu dengan apa yang telah dijanjikan Tuhanku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasulullah! Kenapa bicara dengan orang-orang yang sudah mati?&#8221; kaum Muslimim kemudian bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mereka lebih mendengar apa yang kukatakan daripada kamu,&#8221; jawab Rasulullah Saw.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tetapi mereka tidak dapat menjawab?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu Rasulullah memperhatikan wajah Abu Hudhaifa bin &#8216;Utba. Ia nampak sedih dan mukanya berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Barangkali ada sesuatu dalam hatimu mengenai ayahmu, Abu Hudhaifa&#8221;? tanya Rasulullah Saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada siang harinya, ayah dari Abu Hudhaifa berperang untuk Quraisy dan terbunuh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekali-kali tidak, Rasulullah,&#8221; jawab Abu Hudhaifa. &#8220;Tentang ayah saya, saya tidak sangsi lagi, juga tentang kematiannya. Hanya saja, saya memandang beliau sebagai orang yang baik, bijaksana dan berjasa. Jadi saya pernah berharap ia akan mendapat petunjuk menjadi seorang Islam. Tetapi sesudah saya lihat apa yang teriadi, dan teringat pula hidupnya dalam kekafiran, semakin jauh apa yang saya harapkan dari dia, itulah yang membuat saya sedih.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi Rasulullah Saw mengatakan hal-hal yang baik tentang ayahnya serta mendoakan kebaikan baginya.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-11-kondisi-tentara-islam-pasca-perang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-11-kondisi-tentara-islam-pasca-perang.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 10: Kemenangan yang Nyata]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/8sbFYSMA-B0/perang-badar-bagian-10-kemenangan-yang-nyata.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-10-kemenangan-yang-nyata.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 12:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1072</guid>
		<description><![CDATA[Dengan kekuatan dahsyat, pasukan Muslimin yang hanya tersisa mampu mengobrak-abrik barisan Quraisy yang jumlahnya lebih banyak dan mengepung, mengelilingi mereka. Pertahanan Quraisy yang goyah setelah tewasnya Umayya bin Khalaf dan Abu Jahal semakin tak terkendali. Beberapa orang tentara Quraisy mulai histeris dan ketakutan. Tak sedikit pula yang menyerah dan meminta agar dirinya ditawan saja.
Rasulullah Saw [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dengan kekuatan dahsyat, pasukan Muslimin yang hanya tersisa mampu mengobrak-abrik barisan Quraisy yang jumlahnya lebih banyak dan mengepung, mengelilingi mereka. Pertahanan Quraisy yang goyah setelah tewasnya Umayya bin Khalaf dan Abu Jahal semakin tak terkendali. Beberapa orang tentara Quraisy mulai histeris dan ketakutan. Tak sedikit pula yang menyerah dan meminta agar dirinya ditawan saja.<span id="more-1072"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah Saw kemudian mulai melihat bahwa Allah telah melaksanakan janji-Nya. Beberapa orang Quraisy mulai berlarian dan kocar-kacir. Sebagian besar mulai kabur, memacu kudanya untuk pulang menuju Mekkah. Ada pula yang mendadak gila dan melolong seperti anjing. Mereka lari tunggang langgang seperti kawanan kerbau dungu yang dikejar hanya seekor macan saja. Pasukan Muslimin yang sedikit itu terus mengejar. Orang yang tidak terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seketika lembah di kaki bukit Badar itu kembali sunyi. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, sebagian besar mayat orang-orang Quraisy. Pasir membasah dan memerah karena darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah akhirnya. Inilah akhir Perang Badar. Perang inilah yang kemudian memberikan tempat yang stabil kepada Umat Islam di seluruh Semenanjung Arabia. Peran inilah yang menjadikan Umat Islam sebagai kekuatan politik yang layak diperhitungkan. Perang ini pula yang merupakan pendahuluan untuk lahirnya persatuan seluruh semenanjung itu di bawah naungan Islam. Perang ini juga yang menjadi pendahuluan lahirnya imperium Islam yang terbentang luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang Badar adalah awal tertanamnya sebuah peradaban besar dunia, yang sampai sekarang masih dan akan terus mempunyai pengaruh yang dalam di dalam jantung kehidupan dunia.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-10-kemenangan-yang-nyata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-10-kemenangan-yang-nyata.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 9: Terbunuhnya Abu Jahal]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/--G8KDBFMC8/perang-badar-bagian-9-terbunuhnya-abu-jahal.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-9-terbunuhnya-abu-jahal.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 12:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pertempuran dahsyat itu, Dua orang pemuda, kakak-beradik Muawwadz dan Muadz bin Afra telah berniat untuk membunuh Abu Jahal sejak pertama kali melangkahkan kaki mereka ketika hendak menuju Badar. Mereka ikut bersama-sama Rasulullah Saw tetapi mereka telah berkonsentrasi kepada satu misi yang begitu penting menurut mereka. Di medan pertempuran, mereka seolah tak menghiraukan keberadaan musuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam pertempuran dahsyat itu, Dua orang pemuda, kakak-beradik Muawwadz dan Muadz bin Afra telah berniat untuk membunuh Abu Jahal sejak pertama kali melangkahkan kaki mereka ketika hendak menuju Badar. Mereka ikut bersama-sama Rasulullah Saw tetapi mereka telah berkonsentrasi kepada satu misi yang begitu penting menurut mereka. Di medan pertempuran, mereka seolah tak menghiraukan keberadaan musuh yang lainnya. Mereka hanya mencari sosok yang sangat membenci Umat Islam. Ketika dari kejauhan mereka melihat Abu Jahal, mereka langsung menerobos medan perang yang sedang membara itu dan langsung membenamkan pedang-pedang mereka berdua di tubuh Abu Jahal.<span id="more-1070"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sekaratnya Abu Jahal, datanglah Ibnu Mas’ud yang selama di Mekah pernah dihina dan disiksa Abu Jahal. Dia menginjak dada Abu Jahal. Sementara Abu Jahal pun berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">“Cepat bunuh aku! Bunuh aku! Aku sudah tidak kuat!” ujarnya di ujung kehidupannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud segera mengabulkan permintaan Abu Jahal dan langsung menebas lehernya hingga terpisah dari jasadnya. Berakhirlah kisah titisan setan itu dengan kematian yang sangat mengenaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sebagian pasukan Muslimin mengetahui bahwa Abu Jahal telah menjadi mayat, mereka segera mengaraknya dengan diiringi  sumpah serapah, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah sumur tanpa sepengetahuan Rasulullah Saw. Sungguh sebuah akhir kehidupan yang sangat tidak diinginkan oleh setiap orang. Badar telah menewaskan dedengkot kaum kafir yang selalu berusaha merintangi langkah Rasulullah Saw. Dialah paman Rasulullah yang selalu menambah terjal jalan yang harus dilalui Rasulullah Saw. Mungkin akan selalu terngiang dalam telinga pasukan Muslimin celaan sang paman yang sesat itu kepada keponakannya yang mulia,</p>
<p style="text-align: justify;">“Celakalah engkau Muhammad! Apakah untuk hal sepele ini saja engkau mengumpulkan kami?” itulah ucapan Abu Jahal ketika Rasulullah berusaha mengajak seluruh kerabat terdekatnya untuk memeluk Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Hamzah, Ali, dan pahlawan-pahlawan Islam yang lain terus bertempur dengan gagah berani di tengah-tengah pertempuran sengit itu. Mereka sudah lupa akan dirinya masing-masing dan lupa pula akan jumlah kawan-kawannya yang hanya sedikit berhadapan dengan musuh yang begitu besar. Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara. Kepala-kepala ketika itu sudah lepas berjatuhan dari tubuh Quraisy. Berkat iman yang teguh keadaan Muslimin bertambah kuat juga. Dengan gembira mereka menyerukan rintihan yang biasa diucapkan Bilal saat disiksa di Mekkah: Ahad! Ahad!</p>
<p style="text-align: justify;">Di hadapan mereka terbuka tabir ruang dan waktu, sebagai bantuan Allah kepada mereka dengan para malaikat yang memberikan berita gembira, yang membuat iman mereka bertambah teguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkat pedang dan mengayunkannya ke leher musuh, seolah-olah tangan mereka digerakkan dengan tenaga Ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah-tengah medan pertempuran yang sedang sibuk dikunjungi malaikat maut memunguti leher orang-orang kafir itu, Muhammad Saw berdiri sambil memegang segenggam pasir, dihadapkannya kepada barisan tentara Quraisy,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Celakalah wajah-wajah mereka itu!&#8221; kata beliau (Saw) sambil menaburkan pasir itu ke arah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sahabat-sahabat beliau (Saw) seakan makin tersulut semangatnya. Hamzah kembali menggalang barisan dan berteriak,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Serbu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Serentak pihak Muslimin menyerbu ke depan, masih dalam jumlah yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Tetapi jiwa mereka sudah penuh terisi oleh semangat dari Tuhan. Sudah bukan mereka lagi yang membunuh musuh, sudah bukan mereka lagi yang menawan tawanan perang. Hanya karena adanya semangat dari Tuhan yang tertanam dalam jiwa mereka itu kekuatan moril mereka bertambah, sehingga kekuatan materi merekapun bertambah pula. Dalam situasi itu Malaikat Jibril kembali menyampaikan firman,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ingat, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: &#8216;Aku bersama kamu.&#8217; Teguhkanlah pendirian orang-orang beriman itu. Akan kutanamkan rasa gentar ke dalam hati orang-orang kafir itu. Tebaslah bagian atas leher mereka dan pukul pula setiap ujung jari mereka.&#8221; (Qur&#8217;an, 8: 12)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah juga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan, sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhan juga.&#8221; (Qur&#8217;an, 8: 17)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-9-terbunuhnya-abu-jahal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-9-terbunuhnya-abu-jahal.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 8: Hilangnya Keraguan Pasukan Muslimin]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/sBCcXENvHTU/perang-badar-bagian-8-hilangnya-keraguan-pasukan-muslimin.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-8-hilangnya-keraguan-pasukan-muslimin.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 12:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[Keadaan Muslimin bertambah kuat setelah Muhammad Saw membangkitkan semangat mereka. Rasulullah Saw turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka dalam melakukan perlawanan terhadap musuh. Rasulullah Saw menyerukan kepada mereka, bahwa surga bagi mereka yang telah teruji. Rasulullah Saw pun ikut langsung terjun ke tengah-tengah musuh. Dalam peperangan itu, kaum Muslimin mengarahkan fokus dan perhatiannya kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Keadaan Muslimin bertambah kuat setelah Muhammad Saw membangkitkan semangat mereka. Rasulullah Saw turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka dalam melakukan perlawanan terhadap musuh. Rasulullah Saw menyerukan kepada mereka, bahwa surga bagi mereka yang telah teruji. Rasulullah Saw pun ikut langsung terjun ke tengah-tengah musuh. Dalam peperangan itu, kaum Muslimin mengarahkan fokus dan perhatiannya kepada para pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Mereka perlu dikikis habis sebagai balasan yang seimbang atas segala kekejaman yang diterima Rasulullah Saw dan para sahabatnya semasa tinggal di Mekkah.<span id="more-1068"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Maka, perang dahsyat ini menjelma sebagai drama yang sungguh dramatis. Ada anak yang menghadapi ayahnya. Ada menantu yang menebas leher mertuanya. Ada sepupu yang menggorok leher sepupunya. Ada paman yang menerjang keponakannya. Sudah tak terhitung berapa tetangga yang bertemu tetangganya. Yang membedakan mereka hanya sikap dan posisi yang mereka pilih. Sungguh peristiwa dramatis yang memberikan pelajaran besar bagi orang-orang beriman bahwa kebenaran tidak dapat dipupus oleh kekerabatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada pula drama lain dalam pertempuran Badar itu. Ada bekas budak yang bertemu dengan majikannya. Dalam pertempuran, Bilal bin Rabah Al Habsyi melihat Umayya bin Khalaf dan anaknya. Umayya adalah bekas majikan Bilal. Dialah orang yang sering menyiksa Bilal saat di Mekkah dengan siksaan-siksaan di luar batas kemanusiaan. Ketika masa-masa penyiksaan itu Bilal hanya dapat meneteskan air mata sambil berkata, &#8220;Ahad, Ahad. Yang Satu, Yang Satu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Namun itu dulu, saat menjalani peristiwa getir di Mekkah. Ketika dilihatnya Umayya dalam pertempuran, Bilal pun berteriak,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Umayya! Gembong kafir! Lebih baik aku mati daripada kau lolos!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Allah pun memberikan ganjaran setimpal bagi Umayya. Bilal tak dapat dibendungnya. Umayya terbunuh oleh pedang Bilal. Bukan dendam penyiksaan yang membuat Bilal mampu menebas leher Umayya. Namun permusuhan dan kerasnya sikap Umayya kepada Umat Islam yang membuat Bilal perlu menebas leher gembong Quraisy itu.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-8-hilangnya-keraguan-pasukan-muslimin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-8-hilangnya-keraguan-pasukan-muslimin.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 7: Kedua Belah Pihak Menata Pasukan di Badar]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/IH939JBplLc/perang-badar-bagian-7-kedua-belah-pihak-menata-pasukan-di-badar.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-7-kedua-belah-pihak-menata-pasukan-di-badar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 12:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1065</guid>
		<description><![CDATA[Pada Jum&#8217;at pagi 17 Ramadan 2 H itu, pihak Quraisy akhirnya tiba di Badar. Mereka mengutus orang yang akan memberikan laporan tentang keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui bahwa jumlah kaum Muslimin kurang lebih hanya tiga ratus orang, tanpa pasukan pengintai, tanpa bala bantuan, dengan hanya satu ekor kuda. Kaum Muslimin hanya orang-orang yang berlindung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada Jum&#8217;at pagi 17 Ramadan 2 H itu, pihak Quraisy akhirnya tiba di Badar. Mereka mengutus orang yang akan memberikan laporan tentang keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui bahwa jumlah kaum Muslimin kurang lebih hanya tiga ratus orang, tanpa pasukan pengintai, tanpa bala bantuan, dengan hanya satu ekor kuda. Kaum Muslimin hanya orang-orang yang berlindung dengan pedang mereka sendiri.<span id="more-1065"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara, di sisi lain, Ketika melihat pasukan kafir dengan matanya sendiri, Rasulullah Saw langsung menghadap kiblat, menengadahkan wajah dan mengangkat kedua telapak tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya Allah, Pasukan Quraisy telah datang dengan membawa keangkuhan mereka. Mereka telah memusuhi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, datangkanlah kemenangan yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, hancurkanlah mereka siang ini juga.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat bahwa gembong-gembong Quraisy telah juga ikut serta dalam pasukan perang, beberapa orang terkemuka dari kalangan Quraisy merasa khawatir akan kemungkinan banyaknya dari mereka yang akan terbunuh, sehingga Mekkah nanti akan kehilangan banyak pemuka. Walau begitu, mereka masih takut kepada Abu Jahal yang keras, mereka juga takut dituduh pengecut dan penakut. Tiba-tiba &#8216;Utba bin Rabi&#8217;a tampil ke hadapan mereka itu sambil berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saudara-saudaraku, kaum Quraisy. Apa yang hendak kalian lakukan dengan memerangi Muhammad dan kawan-kawannya itu sebenarnya tak ada gunanya. Kalau dia sampai binasa karena kalian, masih ada orang lain dari kalangan kalian sendin yang akan melihat bahwa yang terbunuh itu adalah saudaranya, atau sepupunya, dari pihak bapaknya ataupun pihak ibunya, siapa saja dari keluarganya. Kembali sajalah dan biarkan Muhammad dengan teman-temannya itu. Kalau dia binasa karena pihak lain, maka itu yang kalian hendaki. Tetapi kalau bukan itu yang terjadi, kita tidak perlu melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak kita inginkan.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar kata-kata &#8216;Utba itu, Abu Jahal naik darah. Ia segera memanggil &#8216;Amir bin Al-Hadzrami lalu berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekutumu ini ingin supaya semua orang pulang. Kau sudah melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang harus dituntut balas. Sekarang, tuntutlah pembunuhan terhadap saudaramu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Amir segera bangkit dan berteriak</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saudaraku! Tak ada jalan lain! Kita harus berperang!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka selesailah perdebatan kaum Quraisy. Dengan cepatnya pertempuran itu, tiba-tiba saja Aswad bin ‘Abdul-Asad dari Bani Makhzum keluar dari barisan Quraisy. Bagai orang gila, ia langsung menyerbu ke tengah-tengah barisan Muslimin dengan maksud hendak menghancurkan kolam air yang sudah selesai dibuat. Tetapi ketika itu juga Hamzah bin ‘Abdul-Muthalib segera menyambutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hamzah yang sejak remaja telah pandai berkelahi hanya perlu menebaskan pedangnya satu kali, langsung mengenai kaki Aswad, sehingga ia tersungkur dengan kaki yang berlumuran darah. Hamzah langsung menerjang dan menebaskan pedangnya, sehingga Aswad terbunuh di tepi kolam itu. Tak ada sesuatu yang lebih keras membakar semangat perang dan pertempuran dalam jiwa manusia daripada melihat orang yang mati berlumur darah di tangan musuh sedang teman-temannya hanya berdiri menyaksikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu melihat Aswad jatuh, maka tampillah &#8216;Utba bin Rabi&#8217;a didampingi oleh saudaranya, Syaiba, dan Walid bin &#8216;Utba (anaknya), mereka bertiga mengajak duel. Salah satu tradisi perang di zaman itu adalah diadakannya perang tanding atau duel, sebelum pertempuran, di antara beberapa orang petarung terbaik dari dua kubu yang hendak berperang. Seruan itu langsung disambut oleh pemuda-pemuda Anshar dari Madinah. Tetapi setelah melihat itu, ketiga pemuka Quraisy itu berkata lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami tidak memerlukan kamu. Yang kami maksudkan ialah golongan kami, sesama Quraisy.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, pahamlah Rasulullah Saw bahwa gembong-gembong kafir Quraisy itu ingin berkelahi dengan Muhajirin, dengan sesama orang Mekkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasukan Quraisy terus berteriak-teriak,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hai Muhammad! Suruh mereka yang berwibawa dari kalangan Quraisy tampil!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Saw menghentakkan tongkatnya. Kemudian beliau (Saw) berseru,</p>
<p style="text-align: justify;">“Majulah Ubaidah! Majulah Hamzah! Majulah Ali!” Rasulullah memerintahkan Ubaidah bin Al Haris, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib untuk menghadapi tiga jagoan Quraisy yang tengah memamerkan kecongkakannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka pun saling berhadap-hadapan, saling berpasangan. Ubaidah berhadapan dengan Utbah, Hamzah dengan Syaibah, dan Ali dengan Al Walid. Para petarung ini berada di tengah-tengah kedua pasukan yang sudah siap siaga untuk berperang. Perbedaan jumlah pasukan sangat terlihat jelas ketika mereka membentuk dua kubu yang saling berdekatan. 1000 orang prajurit dengan persenjataan lengkap akan menghadapi  300 orang prajurit dengan senjata seadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua singa Muhajirin, Hamzah dan Ali, tak membutuhkan waktu yang lama. Mereka dengan mudah bisa membunuh lawan-lawan mereka. Sementara duel Utbah dan Ubaidah terihat paling seru karena pertarungan mereka nampak seimbang. Mereka menyerang saling bergantian. Darah mengucur dari luka-luka mereka. Pedang dan tameng mereka saling beradu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu kesempatan, Utbah mengayunkan pedangnya dengan sasaran yang tidak disangka oleh Ubaidah. Kaki kiri Ubaidah pun putus dan dia roboh bersimbah darah. Ketika Utbah hendak mengakhiri hidup Ubaidah, Hamzah dan Ali segera berlari menolong sahabat mereka yang hidupnya tengah berada di ujung tanduk. Hamzah dan Ali, secara bersama-sama, membunuh Utbah dengan mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat ketiga jagoannya keok, terbujur bersimbah darah, panaslah dada kaum kafir Quraisy. Mereka secara beramai-ramai langsung menyerbu, merangsek, dan melancarkan serangan membabi buta. Suara gemuruh teriakan mereka pun bersambut dengan suara takbir kaum Muslimin yang menggelegar. Suara tameng, pedang, dan tombak pun berdentang. Debu ikut menari-nari, membubung, seolah membungkus arena perang di tengah udaranya panas yang pekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Saw tampil langsung memimpin pasukan Muslimin, menata barisan mereka. Tetapi ketika melihat pasukan Quraisy demikian besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, di samping perlengkapan yang sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, Abu Bakar menyeret Nabi Saw kembali ke tendanya. Abu Bakar cemas akan peristiwa yang terjadi hari itu. Sementara bagi Nabi Saw, sungguh pilu hatinya melihat nasib yang akan menimpa Islam sekiranya Muslimin tidak sampai mendapat kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Saw menghadapkan wajahnya ke kiblat. Dengan seluruh jiwanya, beliau (Saw) menghadapkan diri kepada Allah, beliau memohon segala yang telah dijanjikan kepadanya, ia membisikkan permohonan dalam hatinya agar Tuhan memberikan pertolongan. Begitu dalam beliau hanyut dalam doa, dalam permohonan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadat kepada-Mu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu Abu Bakar sangat terenyuh. Ia meletakkan mantel itu kembali ke bahu Rasulullah Saw,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Rasulullah. Dengan doamu itu, Allah akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya beliau (Saw) dan Abu Bakar kembali keluar menemui sahabat-sahabatnya. Disampaikannya wahyu yang baru diterima nya di dalam tenda,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad! Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jiwa Muhammad Saw yang begitu kuat, yang telah diberikan Allah begitu tinggi melampaui segala kekuatan, telah tertanam pula dengan ajarannya ke dalam jiwa orang-orang beriman. Kekuatan mereka itu pun seolah melampaui semangat mereka sendiri, walau setiap orang dari pasukan Muslimin harus menghadapi dua-tiga orang, bahkan Hamzah menghadapi sepuluh orang sekaligus.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keadaan Nabi dan sahabat-sahabatnya yang demikian inilah kedua ayat berikut ini turun:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya Nabi! Bangunkanlah semangat orang-orang beriman itu dalam menghadapi perang. Bila kamu berjumlah duapuluh orang yang tabah, mereka ini akan mengalahkan duaratus orang. Bila kamu berjumlah seratus orang, niscaya akan mengalahkan seribu orang kafir; sebab mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti. Sekarang Tuhan meringankan kamu, karena Ia mengetahui, bahwa pada kamu masih ada kelemahan. Maka, jika kamu berjumlah seratus orang yang tabah, akan dapat mengalahkan duaratus orang, dan jika kamu seribu orang, akan dapat mengalahkan duaribu dengan ijin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang berhati tabah.&#8221; (Qur&#8217;an, 8:55-56.)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-7-kedua-belah-pihak-menata-pasukan-di-badar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-7-kedua-belah-pihak-menata-pasukan-di-badar.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 6: Tiba di Badar]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/sVtiKD127IQ/perang-badar-bagian-6-tiba-di-badar.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-6-tiba-di-badar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 12:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[Berbeda dengan pasukan Quraisy, pihak Muslimin yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan telah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Karena itu mereka segera berangkat ke tempat mata air di Badar. Perjalanan menjadi lebih mudah lagi karena saat itu hujan turun. Setelah mereka mendekati mata air, Muhammad Saw memerintahkan pasukan untuk berhenti. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan pasukan Quraisy, pihak Muslimin yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan telah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Karena itu mereka segera berangkat ke tempat mata air di Badar. Perjalanan menjadi lebih mudah lagi karena saat itu hujan turun. Setelah mereka mendekati mata air, Muhammad Saw memerintahkan pasukan untuk berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundhir bin Jamuh, orang yang paling mengenal tempat itu, setelah dilihatnya Nabi Saw turun di tempat tersebut, ia bertanya:<span id="more-1063"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasulullah, mengapa anda berhenti di tempat ini? Jika ini wahyu Allah, kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri? Suatu taktik perang belaka?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,&#8221; jawab Muhammad Saw.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasulullah,&#8221; katanya lagi. &#8220;Kalau begitu, tidak tepat jika kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat. Sementara sumur-sumur kering yang di belakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, sedangkan mereka tidak.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saran Hubab itu sangat tepat bagi San Nabi Saw. Maka Muhammad Saw dan rombongannya segera bersiap-siap dan mengikuti pendapat sahabat mereka itu. Muhammad Saw mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa dia juga manusia seperti mereka, dan bahwa suatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama dan beliau (saw) tidak akan menggunakan pendapat beliau (saw) sendiri. Beliau (saw) menyatakan bahwa beliau (saw) perlu sekali mendapat konsultasi yang baik dari sesama mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kolam telah selesai dibuat, Sa&#8217;d bin Mu&#8217;adh mengusulkan,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rasulullah,&#8221; katanya, &#8220;biarkan kami akan membuat sebuah dangau di dekat tenda anda. Biarkan kami menyediakan kendaraan pula bagi anda. Kemudian biarkanlah kami saja yang menghadapi musuh. Jika Allah memberi kemenangan atas musuh kepada kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi; dengan kendaraan itu anda dapat berangkat mendahului kami menuji Madinah. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di Madinah, dan cinta mereka kepada anda tidak kurang dari cinta kami kepada anda. Sekiranya mereka menduga bahwa anda dihadapkan kepada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari anda. Dengan merekalah Allah menjaga anda. Mereka benar-benar ikhlas kepada anda, berjuang bersama anda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Saw sangat menghargai dan menerima baik saran Sa&#8217;d itu. Sebuah dangau pun dibuatkan untuk Sang Nabi Saw. Jadi bila nanti kemenangan tidak jatuh ke tangan kaum Muslimin, beliau (Saw) takkan jatuh ke tangan musuh dan masih akan dapat bergabung dengan para sahabat yang masih berada di Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itulah Rasulullah Saw menyadari betapa para sahabatnya sangat mencintai dirinya (Saw). Beliau (Saw) diliputi kekaguman, kagum melihat kesetiaan Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada beliau (Saw), serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya (Saw). Mereka mengetahui bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar daripada kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Tetapi, walau begitu, mereka menyatakan diri mereka sanggup menghadapi, mereka sanggup melawan. Mereka sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan. Tetapi bukan pengaruh materi yang mendorong mereka bertempur, mereka selalu siap disamping Nabi Saw, memberikan dukungan, memberikan kekuatan. Mereka juga sangsi, antara harapan akan menang, dan kecemasan akan kalah. Tetapi, pikiran mereka selalu terfokus untuk melindungi Nabi Saw, menyelamatkan beliau (Saw) dari tangan musuh. Mereka menyiapkan jalan baginya (Saw) untuk menghubungi orang-orang yang masih tinggal di Madinah. Suasana bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini? Iman mana lagi yang lebih menjamin akan memberikan kemenangan seperti iman yang ada?</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-6-tiba-di-badar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-6-tiba-di-badar.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perang Badar [Bagian 5: Keraguan Pasukan Quraisy dan Muslimin Menjelang Perang]</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kakazifana/~3/cQ7BaAEp_oY/perang-badar-bagian-5-keraguan-pasukan-quraisy-dan-muslimin-menjelang-perang.html</link>
		<comments>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-5-keraguan-pasukan-quraisy-dan-muslimin-menjelang-perang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 12:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion & Philosophy >< Agama & Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Social & History >< Sosial & Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahardhikazifana.com/?p=1061</guid>
		<description><![CDATA[Hingga keesokan harinya, kaum Muslimin masih menanti lewatnya rombongan kafilah Abu Sufyan. Namun setelah ada tanda-tanda dan berita-berita bahwa mereka telah lolos dan yang masih berada di dekat mereka adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang yang tadinya mempunyai harapan penuh akan beroleh harta rampasan, berbalik menjadi layu. Beberapa orang bertukar pikiran dengan Nabi Saw dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hingga keesokan harinya, kaum Muslimin masih menanti lewatnya rombongan kafilah Abu Sufyan. Namun setelah ada tanda-tanda dan berita-berita bahwa mereka telah lolos dan yang masih berada di dekat mereka adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang yang tadinya mempunyai harapan penuh akan beroleh harta rampasan, berbalik menjadi layu. Beberapa orang bertukar pikiran dengan Nabi Saw dengan maksud memengaruhi Nabi Saw supaya kembali saja ke Madinah, tidak perlu berhadapan dengan pasukan yang datang dari Mekkah untuk berperang.<span id="more-1061"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itulah firman Allah turun,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ingat! Tuhanmu menjanjikan salah satu dari dua keIompok (musuh) itu untuk kamu. Sedang kamu menginginkan, bahwa yang tidak bersenjata itulah yang untuk kamu. Tetapi Allah hendak membuktikan kebenaran itu sesuai dengan ayat-ayat-Nya, dan akan mencabut akar orang-orang yang tak beriman itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula pada pihak Quraisy, keraguan pun ada. Untuk apa mereka berperang? Bukankan perdagangan mereka telah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak Islam kembali ke tempat mereka. Abu Sufyan juga sempat berpikir begitu. Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada Quraisy untuk mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita. Sekarang kita sudah diselamatkan Allah. Kembalilah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun saat Abu Jahal mendengar pesan itu, ia tiba-tiba berteriak,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita tidak akan kembali sebelum sampai di Badar! Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita memotong ternak, kita makan-makan, minum-minum khamr, kita minta biduanita-biduanita bernyanyi. Biar orang-orang Arab mendengar dan mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar mereka tidak lagi menakut-nakuti kita.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Soalnya pada waktu itu, Badar merupakan tempat pesta tahunan. Apabila pihak Quraisy menarik diri dari tempat itu setelah perdagangan mereka selamat, Abu Jahal berpendapat seisi Jazirah Arab akan memandang bahwa Kaum Quraisy takut kepada Muhammad Saw dan para sahabatnya. Ini akan berarti bahwa kekuasaan Muhammad makin terasa, ajarannya akan makin tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya peristiwa yang melibatkan Abdullah bin Jahsy, terbunuhnya Ibn&#8217;l-Hadzrami, serta dirampas dan ditawannya beberapa orang Quraisy.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian pasukan Mekkah pun menjadi ragu: antara ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut, atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Tetapi ternyata yang kemudian kembali pulang hanya Bani Zuhra, setelah mereka mau mendengarkan saran Akhnas bin Syariq, orang yang terpandang di kalangan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bani Quraisy lain yang tersisa mengikuti Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat itu mereka mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik sebuah bukit pasir.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://mahardhikazifana.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-5-keraguan-pasukan-quraisy-dan-muslimin-menjelang-perang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://mahardhikazifana.com/religion-philosophy-agama-filsafat/perang-badar-bagian-5-keraguan-pasukan-quraisy-dan-muslimin-menjelang-perang.html</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
