<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
			<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" >
			  <channel>
				<title>fm.Kakilangit.Com</title>
				<link>http://fm.kakilangit.com/</link>
				<description>fm.Kakilangit.Com feed | Firman Maulana Personal Journal. Soliquizer. Live in Yogyakarta. Indonesia.</description>
				<pubDate>Kam, 14 Agu 2008 07:10:54 +0700</pubDate>
				<generator>kakilangit v.3</generator>
				<copyright>copyright 2009</copyright><item>
					<title>Hatimu Ditinggal Dulu</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/08/14/hatimu_ditinggal_dulu.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/08/14/hatimu_ditinggal_dulu.html#comment</comments>
					<pubDate>Kam, 14 Agu 2008 07:10:54 +0700</pubDate>
					<category>Solilokui</category>
					<guid isPermaLink="false">173 @ http://fm.kakilangit.com/tag/solilokui/</guid>
					<description>Manusia-manusia kuat, begitu aku menyebutnya, temanku. Segelintir, tampak rapuh, termarjinalkan, menyatu dengan tumpukan sampah, kardus bekas, botol-botol plastik, ranting-ranting kering, bebatuan dan aspal yang keras. Mereka yang mampu membuat kita menangis dan melihat betapa miskin, rakus, lemah d... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia-manusia kuat, begitu aku menyebutnya, temanku. Segelintir, tampak rapuh, termarjinalkan, menyatu dengan tumpukan sampah, kardus bekas, botol-botol plastik, ranting-ranting kering, bebatuan dan aspal yang keras. Mereka yang mampu membuat kita menangis dan melihat betapa miskin, rakus, lemah dan tak bersyukurnya diri kita. Bersentuhan dengan mereka selalu menjadi pencerahan yang ironis; pahit. Proses belajar yang selalu menusuk relung hati nurani. Jangan pernah ditinggal ya, bawa terus hatimu... <br />;untuk menjadikanmu manusia.</p><p><small>untuk seorang teman wartawati yang lupa meninggalkan hatinya ketika bekerja, <br />ketika bertemu dengan manusia-manusia kuat</small>                                </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/hatimu_ditinggal_dulu/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Hadiah</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/07/31/hadiah.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/07/31/hadiah.html#comment</comments>
					<pubDate>Kam, 31 Jul 2008 08:45:58 +0700</pubDate>
					<category>Solilokui</category>
					<guid isPermaLink="false">172 @ http://fm.kakilangit.com/tag/solilokui/</guid>
					<description>&quot;Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. And today? Today is a gift. That's why we call it the present.&quot; Babatunde OlatunjiAku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari; 
embun pagi, terik matari, lembayung senja, jatuh, terpuruk, sakit, sedih, kehi... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p><!--hack--></p><blockquote><p>"Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. And today? Today is a gift. That's why we call it the present." <em>Babatunde Olatunji</em></p></blockquote><p>Aku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari; <br />embun pagi, terik matari, lembayung senja, jatuh, terpuruk, sakit, sedih, kehilangan, bangun, kesempatan, kesehatan, tuhan, dan sunggingan senyummu, nyamanku...</p><p>Aku menjadi tua, menikmati setiap detik hidup dan mendapati hadiahku setiap hari.</p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/hadiah/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Klise yang Cantik</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/06/29/klise_yang_cantik.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/06/29/klise_yang_cantik.html#comment</comments>
					<pubDate>Min, 29 Jun 2008 23:36:46 +0700</pubDate>
					<category>Harian</category>
					<guid isPermaLink="false">171 @ http://fm.kakilangit.com/tag/harian/</guid>
					<description>Ketinggian sekitar 2.329 meter sudah cukup untuk membuat udara menjadi sejuk kalau tidak bisa dikatakan dingin menusuk tulang saat kemarau seperti ini; kemewahan bagi para penghirup polusi. Medan yang mudah membuat tak hanya traveler dan pendaki gunung saja yang bisa menikmati puncaknya.

Sudah te... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i262.photobucket.com/albums/ii118/kakilangit_com/blog/20080622-IMG_2106ps2.jpg" class="imgLeft floatLeft" alt="Cliche but Beautiful">Ketinggian sekitar 2.329 meter sudah cukup untuk membuat udara menjadi sejuk kalau tidak bisa dikatakan dingin menusuk tulang saat kemarau seperti ini; kemewahan bagi para penghirup polusi. Medan yang mudah membuat tak hanya <em>traveler</em> dan pendaki gunung saja yang bisa menikmati puncaknya.</p><p>Sudah terlalu banyak cerita indah pendongeng-pendongeng, lukisan elok para seniman ataupun citra menakjubkan bidikan fotografer dari dunia di balik <em>viewfinder</em> mereka yang berkisah tentang lansekap ini. </p><p>Yah, Bromo adalah sebuah klise; klise yang cantik. Dan aku tak juga bosan mengunjunginya.                                                                                                   </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/klise_yang_cantik/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Rumah Senyumpagi</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/05/11/rumah_senyumpagi.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/05/11/rumah_senyumpagi.html#comment</comments>
					<pubDate>Min, 11 Mei 2008 23:14:29 +0700</pubDate>
					<category>Solilokui</category>
					<guid isPermaLink="false">170 @ http://fm.kakilangit.com/tag/solilokui/</guid>
					<description>Selamat datang di rumah senyumpagi; rumah rumput teki dan bunga-bunga matahari, dimana seribu jendela menjadi sahabat cahya mentari, berjumpa angin sejuk di ruang-ruang sederhana beratap tinggi. Selamat datang di rumah senyumpagi; persembunyian rahasia yang teduh dari terik hari, tempat pelarian sem... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i262.photobucket.com/albums/ii118/kakilangit_com/blog/selamatdatangrumahsenyumpagi-1.jpg" class="imgLeft floatLeft" alt="Rumah Senyumpagi">Selamat datang di rumah senyumpagi; rumah rumput teki dan bunga-bunga matahari, dimana seribu jendela menjadi sahabat cahya mentari, berjumpa angin sejuk di ruang-ruang sederhana beratap tinggi. Selamat datang di rumah senyumpagi; persembunyian rahasia yang teduh dari terik hari, tempat pelarian sempurna setelah jengah dengan hiruk pikuk jakarta.</p><p>"Selamat datang di rumah senyumpagi, bulan dan bintang," sapa senyumpagi dan pendongeng ajaib.                                                                                        </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/rumah_senyumpagi/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Anyone Else But You</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/05/06/anyone_else_but_you.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/05/06/anyone_else_but_you.html#comment</comments>
					<pubDate>Sel, 06 Mei 2008 04:57:24 +0700</pubDate>
					<category>Harian</category>
					<guid isPermaLink="false">169 @ http://fm.kakilangit.com/tag/harian/</guid>
					<description>&quot;Udah nonton Juno belum? Kemarin tiba-tiba bulan sms gitu,&quot; tanyamu, si senyumpagi.
&quot;Belum,&quot; jawabku, &quot;kayaknya bulan udah beli dvd bajakannya. Bagus ya?&quot;
&quot;Baguuuuss.&quot;
&quot;Bajakan juga?&quot;
&quot;Iyaa&quot;
&quot;Hahaha&quot;
&quot;Sama download lagu... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p>"Udah nonton Juno belum? Kemarin tiba-tiba bulan sms gitu," tanyamu, si senyumpagi.<br />"Belum," jawabku, "kayaknya bulan udah beli dvd bajakannya. Bagus ya?"<br />"Baguuuuss."<br />"Bajakan juga?"<br />"Iyaa"<br />"Hahaha"<br />"Sama download lagu-lagu soundtracknya"<br />"Apa aja? Aku ikutan download aja kalo bagus." iya, itu juga membajak namanya.<br />"Anyone else but you by Moldy Peaches," jawabmu, "itu keren bangeeeeeeet"<br />"Hahahaha," iya deh.<br />"Udah dapet? Just tell me yah?"</p><p>Beberapa menit kemudian lagu cantik ini sudah ada di playlist, dan hanya lagu ini dalam 30 antrian kedepan, atau mungkin satu-satunya lagu sampai akhir hari ini.</p><blockquote><p><strong>Anyone Else But You</strong><br />The Moldy Peaches</p><p>You're a part time lover and a full time friend<br />The monkey on you're back is the latest trend<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>I kiss you on the brain in the shadow of a train<br />I kiss you all starry eyed, my body's swinging from side to side<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>Here is the church and here is the steeple<br />We sure are cute for two ugly people<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>The pebbles forgive me, the trees forgive me<br />So why can't, you forgive me?<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>I will find my nitch in your car<br />With my mp3 DVD rumple-packed guitar<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>Up up down down left right left right B A start<br />Just because we use cheats doesn't mean we're not smart<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>You are always trying to keep it real<br />I'm in love with how you feel<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>We both have shiny happy fits of rage<br />You want more fans, I want more stage<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>Don Quixote was a steel driving man<br />My name is Adam I'm your biggest fan<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</p><p>Squinched up your face and did a dance<br />You shook a little turd out of the bottom of your pants<br />I don't see what anyone can see, in anyone else<br />But you</blockquote><p><!--hack--><br />                                                                        </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/anyone_else_but_you/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>#1 Matikan Mesin di Traffic Light</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/04/29/1_matikan_mesin_di_traffic_light.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/04/29/1_matikan_mesin_di_traffic_light.html#comment</comments>
					<pubDate>Sel, 29 Apr 2008 22:40:19 +0700</pubDate>
					<category>Hijau</category>
					<guid isPermaLink="false">168 @ http://fm.kakilangit.com/tag/hijau/</guid>
					<description>Sudah cukup lama Yogyakarta memiliki penghitung waktu di sejumlah traffic light. Hal ini sangat membantu pemakai jalan; baik pedestrian yang akan menyeberang maupun pengguna kendaran bermotor dan yang tidak bermotor. Membantu dalam mengalkulasi tindakan serta memperbaiki kebiasan berkendara dan mema... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah cukup lama Yogyakarta memiliki penghitung waktu di sejumlah <em>traffic light</em>. Hal ini sangat membantu pemakai jalan; baik pedestrian yang akan menyeberang maupun pengguna kendaran bermotor dan yang tidak bermotor. Membantu dalam mengalkulasi tindakan serta memperbaiki kebiasan berkendara dan memakai jalan raya.</p><p>Saya memperhatikan waktu menunggu hijau di beberapa <em>traffic light</em> lebih lama dibanding <em>traffic light</em> lainnya, lampu merah menyala bisa sekitar 90 sampai 120 detik. Dalam waktu yang tidak sebentar itu, saya sebagai pengguna kendaraan bermotor merasa lebih baik membiasakan diri untuk mematikan mesin dan menghidupkannya lagi di hitungan mundur ke duapuluh atau sepuluh ketimbang membiarkannya hidup dalam persneling netral. </p><p>Saya tidak tahu berapa energi yang bisa saya hemat dari tindakan semacam ini, tapi saya tahu dalam hitungan beberapa detik sampai menit saya telah mengurangi emisi gas buang dari kendaraan saya. Saya percaya jumlah hari dengan udara bersih dalam setahun akan terus meningkat jika tidak hanya saya yang mematikan mesin di <em>traffic light</em> ketika menunggu lampu hijau.</p><blockquote><p>Sekedar pengingat bagi saya yang kerap lupa. Beberapa gagasan, entah baru atau usang, dan daftar yang bisa saya kerjakan; mungkin saja membuat bumi menjadi tempat tinggal yang lebih baik.</p></blockquote><p><!--hack-->                                                                        </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/1_matikan_mesin_di_traffic_light/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Canon atau Nikon</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/04/26/canon_atau_nikon.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/04/26/canon_atau_nikon.html#comment</comments>
					<pubDate>Sab, 26 Apr 2008 00:39:11 +0700</pubDate>
					<category>Opini</category>
					<guid isPermaLink="false">167 @ http://fm.kakilangit.com/tag/opini/</guid>
					<description>Ya, saya sedang berbicara tentang memilih kamera. Kamera apapun jenisnya; dari point and shoot sampai digital single lens reflex selalu ada persaingan abadi di antara produsen-produsen kamera dan selalu menyisakan dua nama besar ini di deretan atas; Canon dan Nikon. Ini memudahkan saya dalam memilih... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, saya sedang berbicara tentang memilih kamera. Kamera apapun jenisnya; dari <em>point and shoot</em> sampai <em>digital single lens reflex</em> selalu ada persaingan abadi di antara produsen-produsen kamera dan selalu menyisakan dua nama besar ini di deretan atas; Canon dan Nikon. Ini memudahkan saya dalam memilih kamera, karena otomatis pilihan menjadi lebih fokus dan saya lebih tahu apa yang saya butuhkan. </p><p>Canon dan Nikon sudah menjadi agama bagi sebagian orang yang fanatik. Ini membuat referensi yang saya temukan di beberapa forum cenderung subyektif. Untung saja memilih kamera tidak seperti memilih agama betulan. Saya bisa memilih yang menurut saya lebih nyaman untuk saya. </p><p>Dalam lingkup DSLR entry level pilihan saya menjadi lebih sedikit. Itu bagus. <a href="http://www.dpreview.com/reviews/canoneos400d/" title="Canon EOS 400D">Canon EOS 400D</a> atau <a href="http://www.dpreview.com/reviews/NikonD40X/" title="Nikon D40X">Nikon D40X</a>. Saya berselancar untuk menemukan <a href="http://www.digitalslrphoto.com/gear-review.php?id=00000015&cat=00000001" title="Canon EOS 400D / Digital Rebel XTi vs Nikon D40x">perban</a><a href="http://www.digitalslrphoto.com/gear-review.php?id=00000014&cat=00000001" title="Canon EOS 400D / Digital Rebel XTi vs Nikon D40x">dingan</a>.  Pilihan yang sulit. Dua-duanya bagus menurut <em>reviews</em> yang bagi saya obyektif. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. <!--more-->Lalu saya masuk ke sebuah situs seorang <a href="http://kenrockwell.com/" title="Ken Rockwell">Nikonian</a> yang mengulas Canon dengan cukup adil. Dari sana saya tahu bahwa <a href="http://www.kenrockwell.com/tech/nikcan.htm"  title="Use Nikon Lenses on Canon Cameras ">lensa Nikkor bisa </a><a href="http://photokina06.ivrpa.org/vr/canon_guys_freaking_out_over_nikkor_lens" title=" Canon guys freaking out over Nikkor lens">dipakai oleh kamera Canon</a> tapi tidak sebaliknya. Jika investasi lensa lebih berharga daripada investasi pada kamera, berarti poin tambahan bagi Canon.</p><p>Beruntung saya mendapat kesempatan mencoba beberapa model kamera sebelum membelinya. Begitu memegang Nikon D40x milik seorang teman dengan lensa standar 18-55mm f/3.5-5.6, saya merasa kameranya solid. Mencoba mengambil beberapa gambar. Baru di percobaan kesekian bidikan saya tajam. Saya yang payah mugkin. Mata saya silinder dan tak memakai kacamata, sementara Nikon D40X membutuhkan lensa AF-S/AF-I untuk mode fokus auto karena motor pada kamera Nikon baru bisa ditemukan di Nikon D80. Gambarnya benar-benar tajam pada ISO rendah. Kontrasnya kuat. Tapi <em>noise</em> mulai muncul pada ISO tinggi. Dan ada satu yang mengganjal saya ketika menekan shutter Nikon D40X; ada yang kurang, kurang berasa kamera DSLR, bunyi shutternya janggal, kurang mantap mungkin. Baru berumur sebulan jadi tidak bisa dikatakan sudah rusak. </p><p>Pertama mencoba EOS 400D adalah milik <a href="http://15june.com" title="Denny">teman sekantor</a> waktu makan siang, kameranya tak sesolid Nikon D40X. Dengan lensa Canon termurah EF 50mm f/1.8, bidikan saya tidak mengecewakan. Warnanya tajam meski cenderung lembut. Tak perlu memakai lensa USM untuk mode fokus auto pada Canon EOS 400D karena memang telah dilengkapi motor dalam kameranya. Saya bisa membidik pada ISO 800 atau 1600 tanpa <em>noise</em> yang berarti. Tak ada lampu AF yang merah-merah seperti pada Nikon D40X karena Canon EOS 400D menggunakan cahaya dari flash internal. Minus <em>spot metering</em>. Dan saya lebih menyukai respon Canon EOS 400D dibanding Nikon D40X. Ia lebih cepat menurut saya. </p><p>Tak perlu seorang jenius untuk menebak apa yang saya beli setelah mengalami pengalaman itu. Memilih kamera untung saja tidak serumit dan sesulit memilih agama. Pilih yang nyaman dan sesuai kebutuhan. Tak perlu menyesal ketika sudah menetapkan pilihan. Bukan kamera yang menjadikan gambar itu bagus, tapi ketika juru foto mengambilnya dengan segenap hati.                                                                        </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/canon_atau_nikon/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Alan</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/03/14/alan.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/03/14/alan.html#comment</comments>
					<pubDate>Jum, 14 Mar 2008 17:14:24 +0700</pubDate>
					<category>Harian</category>
					<guid isPermaLink="false">166 @ http://fm.kakilangit.com/tag/harian/</guid>
					<description>Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu ... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p>Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu kumal. Tapi tak bisa dibilang bersih. </p><p>Sejenak kamu menyadari perbedaan kultur berpakaian penikmat budaya di Yogyakarta dan Surabaya. Celana jeans, kaus T; biasanya hitam, karena itu adalah warna yang tak mudah kotor, sandal atau sepatu keds. Natural. Nyaman. Dan biasanya penonton pertunjukan seni dan budaya selalu membludag di sini. Kamu lalu membandingkan penikmat di Cak Durasim ketika Sarimin dipentaskan. Lalu kita tertawa.</p><p>Ia membawa <em>papir</em> dan tembakau. Kulit wajahnya sudah bergurat banyak, menandakan ia tak lagi muda. Kurus. Ceria. Kulit putih, mata biru dan rambut pirang. Sejenak dia memandangi kami yang duduk lesehan di depan pintu yang tak terbuka.</p><p>"Saya dapat tiket dari calo," tanpa basa-basi dia menggerutu pada kami dengan bahasa Indonesia yang fasih.<br />"Berapa harganya?" tanyamu.<br />"Tigapuluh lima ribu," sambil duduk di samping kami ia masih menyatakan kekesalannya. Ia lalu mengacungkan sekilas tiket Sidang Susila berwarna kuning.<br />"Selamat datang di Indonesia," gurauku. Kami tertawa. Ia tidak.<!--more-->Orang-orang kaukasoid yang menyukai budaya Indonesia cenderung tidak mau ber-<em>lingua franca</em>, sebisa mungkin mereka akan memakai bahasa Indonesia. Begitu juga dengannya.</p><p>"Seharusnya para calo itu ditangkap," lanjutnya, "mereka tidak punya hak menjual tiket. Di Negara saya para calo bisa langsung ditangkap karena mereka melanggar hukum."</p><p>Ah, melihat para calo yang berkeliaran tepat di depan loket adalah hal biasa di sini. Bisa jadi calo-calo itu orang dalam juga atau setidaknya mendapat restu dari dalam. Alasan ekonomi menjadi klasik, cenderung basi.</p><p>"Dari negara mana?" Tanyamu.<br />"Perancis. Saya Alan." </p><p>Lalu kami berkenalan. Dengan ceria ia menanyakan nama dan beberapa detail tentang kami. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui kami sudah bekerja.</p><p>"Sudah berapa lama di Yogya?" Aku ganti bertanya.<br />"Sejak Orde baru jatuh," ia <em>cengengesan</em>, sambil melinting <em>papir</em> dan tembakau untuk dijadikan rokok.<br />"Senang dengan teater?"<br />"Ya, tentu saja. Saya orang teater."</p><p>Ia lalu menceritakan kelompok teaternya yang bubar sejak gempa 2006. Dengan mata yang berbinar-binar ia bercerita tentang kesukaannya pada padepokan seni Bagong Kussudiarja, tempat ia kerap menonton pertunjukan seni, dengan konsep yang ia sukai. Ia membenci hirarki dalam hal menikmati pertunjukan. Tidak suka dengan kata VIP cerocosnya.</p><p>"Pernah ke Bali?" Selidikku. Bali adalah maskot wisata Indonesia. Turis-turis <em>backpacker</em> setidaknya pernah ke sana. Singgah. Jatuh cinta. Menetap barangkali.<br />"Pernah. Tahun 99. Tapi saya tidak menyukai Bali," jawabnya terang-terangan.  "Saya menyukai teater dan Yogya."<br /> <br />Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata andalan kedua setelah Bali. Yogya tak punya Kuta, Tanah Lot atau Besakih. Ya, ia memiliki beberapa bangunan maupun lanskap yang kerap dibandingkan dengan kekayaan Bali. Tapi kekuatan Yogyakarta bagi Alan adalah terletak pada dinamika berkesenian, semangat berkreatifitas, dan tentu saja budaya Jawa yang masih kental di sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. </p><p>Yogyakarta menawarkan eksotisme yang lain menurut Alan. </p><p>"Saya ke dalam dulu, sudah mau mulai," pamitnya pada kami. "Kalian tidak masuk?"<br />"Kami menunggu seorang teman," kami menjawab hampir bersamaan.</p><p>Ia melihat penunjuk waktu di tangannya. Menyadari sudah saatnya pertunjukan teater Gandrik itu dimulai, ia sedikit mencibirkan bibir lalu berkata, "dasar orang Indonesia."                                                                                                                </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/alan/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Kiri atau Kanan</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/03/14/kiri_atau_kanan.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/03/14/kiri_atau_kanan.html#comment</comments>
					<pubDate>Jum, 14 Mar 2008 11:49:45 +0700</pubDate>
					<category>Harian</category>
					<guid isPermaLink="false">165 @ http://fm.kakilangit.com/tag/harian/</guid>
					<description>Aku melihat jam mekanik di pergelangan tanganku. Pukul duapuluh kurang beberapa detik. 

&quot;Dah mulai tuh teaternya,&quot; aku menggodamu.

Kamu tersenyum-senyum. Tenang atau kalut, aku tak tahu.

 &quot;Aku tunggu dia.  Kamu masuk aja dulu,&quot; sahutku lagi. &quot;Nanti aku susul&quot;.... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p>Aku melihat jam mekanik di pergelangan tanganku. Pukul duapuluh kurang beberapa detik. </p><p>"Dah mulai tuh teaternya," aku menggodamu.</p><p>Kamu tersenyum-senyum. Tenang atau kalut, aku tak tahu.</p><p> "Aku tunggu dia.  Kamu masuk aja dulu," sahutku lagi. "Nanti aku susul".<br />"Gak ah," jawabmu sambil mencoba menghubungi seorang teman yang tak kunjung datang.</p><p>Seorang teman dari kota yang jauh, sedang berkunjung ke Yogya. Terpesona dengan monolog Sarimin, dia mencoba peruntungannya dalam Sidang Susila. Pukul duapuluh seharusnya pentas teater Gandrik itu dimulai. Ia masih juga belum tampak. Kami berdua sedikit was-was. Tersesat. Tak tahu arah. Itu dugaan terburuk. Untung saja belum ada tanda-tanda pertunjukan dibuka.</p><p>Kami harus menunggunya.</p><p>"Dimana?" Tanyamu setengah berteriak begitu hubungan telekomunikasi tersambung. <br />"Nih ngomong aja sama Firman," serumu setelah beberapa saat, lalu menyerahkan k750i-mu padaku. Putus asa mungkin. Atau malah semakin bingung setelah mencoba mengarahkannya menuju tempat ini. Perempuan memang dikaruniai pemetaan yang lebih buruk dari laki-laki. </p><p>"Halo, sampai di mana?" Tanyaku padanya.<br />"Hai Fir, di halte Trans Jogja nih. Terus ke mana?"<br />"Eh?" </p><p>Halte bus berwarna hijau teduh itu puluhan. Di sekitar Taman Budaya Yogyakarta saja ada sekitar tiga kalau tak salah. Dua di dekat Shopping. Satu di depan Vredeburg.<!--more-->"Ada bangunan unik yang berada di dekatmu?" tanyaku lagi. <br />"Sebentar," sepertinya ia sedang mencari-cari <em>ancer-ancer</em>, istilah orang Jawa, semacam penanda pada kosa kata pemetaan. "Taman Pintar!" Serunya, aku seperti mendengar Eureka. Bagus. Ia tidak tersesat.</p><p>Berada di dalam hiruk pikuk kota kala malam tak jarang membuat seseorang lebih sulit untuk memetakan ruang. Tak terlihat lagi biduk penceng atau rasi bintang utara untuk menerjemahkan kata dari beberapa manusia baik hati penunjuk arah. Tak jelas di mana Utara dan Selatan. Yang ada hanya Einstein. </p><p>"Taman Pintar ada di sebelah kanan atau kirimu?" Relativitas. Kanan dan kiri adalah penunjuk arah paling mudah dimengerti.<br />"Kanan" </p><p>Itu menunjukkan ia berjalan menuju Barat.  </p><p>"Mundur. Berbaliklah. Sampai Taman Pintar ada di sebelah kirimu," aku mulai mengarahkan. "Setelah Taman Pintar. Tepat setelahnya ada jalan ke kiri. Berjalanlah sekitar 100 meter. Pertunjukan hampir dimulai". </p><p>Aku menutup komunikasi. Lalu tertawa kecil. Menggodamu.</p><p>Sebenarnya ini cuma masalah kiri atau kanan.</p><p>---</p><p>Sehari sebelumnya. PKU Muhammadiyah.</p><p>"Coba kamu tangkupkan tanganmu," pintamu, "seperti orang berdoa"<br />"Gaya doa seperti apa? Tiap agama punya klaim pose doa yang berbeda-beda."<br />"Hahaha" </p><p>Maksudmu mengatupkan kedua tangan. Sehingga kesepuluh jari-jari berselingan. Model kebanyakan Kristiani berdoa.</p><p>"Seperti ini?"<br />"Ya, betul," kamu tersenyum. Sekilas menganalisa, lalu, "Otak kiri!"<br />"Sok tau," cibirku.<br />"Jempol kirimu di atas yang kanan," jelasmu.<br />"Apa hubungannya jempol sama otak?" Protesku. Otak bisa saja memerintahkan sebaliknya. Ada yang pernah mendengar teori ini?</p><p>Kamu hanya tersenyum-senyum.</p><p>"Otak kiri itu logika," lanjutmu lagi.<br />"Bukannya otak kanan?" Atau jempol kanan?<br />"Taruhan?"<br />"Boleh."<br />"Berapa kecupan?" Tantangmu. Aku tertawa. Itu bukan taruhan, sahabatku. Aku lapar.<br />"Pizza Hut saja, dah lama ga kesana," tawarku. </p><p>Aku mengeluarkan ponsel lalu mengetik left brain pada kolom Google di Opera Mini.</p><p>"Mba, kita ke martabak tugu," ajakmu pada kakakmu. Martabak tugu, orang Yogya menyebutnya karena gerai Pizza Hut pertama di Yogya berada tepat di pojok perempatan Tugu Yogyakarta. "ada yang kalah taruhan."</p><p>Kamu tersenyum licik.</p><p>Sebenarnya ini cuma masalah kiri atau kanan.                                </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/kiri_atau_kanan/</wfw:commentRSS>
					</item><item>
					<title>Paman Gober Belum Juga Mati</title>
					<link>http://fm.kakilangit.com/2008/01/16/paman_gober_belum_juga_mati.html</link>
					<comments>http://fm.kakilangit.com/2008/01/16/paman_gober_belum_juga_mati.html#comment</comments>
					<pubDate>Rab, 16 Jan 2008 19:13:03 +0700</pubDate>
					<category>Teriak</category>
					<guid isPermaLink="false">163 @ http://fm.kakilangit.com/tag/teriak/</guid>
					<description>Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan ... (more)</description>
					<content:encoded><![CDATA[<p><!--hack--></p><blockquote><p>Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.</p><p><em>Kematian Paman Gober - SGA</em></p></blockquote><p>Paman Gober belum juga mati. Koran, radio, blog bahkan semua media informasi di seluruh negeri membuatnya menjadi <em>headline</em>. Pemerintah negeri bebek tersenyum simpul. Sedikit lega. Tak lagi menjadi sorotan, tak lagi dicecar rakyat; yang masih terendam banjir, tertimbun longsor dan tercekik harga kedelai. </p><p>Pemerintah negeri bebek belum lupa jika rakyatnya mudah dibuat lupa.                        </p>]]></content:encoded>
					<wfw:commentRSS>http://fm.kakilangit.com/rss/comment/page/paman_gober_belum_juga_mati/</wfw:commentRSS>
					</item></channel>
		</rss>