<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
     xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
     xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
>

    <channel>
        <title>www.itb.ac.id</title>
        <link>https://www.itb.ac.id/rss/feed</link>
        <description>Institut Teknologi Bandung</description>
        <dc:language>id-id</dc:language>
        <dc:creator></dc:creator>

        <image>
            <title>www.itb.ac.id</title>
            <url>https://itb.ac.id/images/logo-itb.png</url>
            <link>https://itb.ac.id</link>
        </image>

        <dc:rights>Copyright 2026</dc:rights>
        <admin:generatorAgent rdf:resource="https://www.itb.ac.id/" />

        
            <item>
                <title>Pengabdian Masyarakat Mahasiswa ITB Perkuat Ketahanan Lahan Pertanian Desa Sukawangi</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63197/pengabdian-masyarakat-mahasiswa-itb-perkuat-ketahanan-lahan-pertanian-desa-sukawangi</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63197/pengabdian-masyarakat-mahasiswa-itb-perkuat-ketahanan-lahan-pertanian-desa-sukawangi</guid>
                <pubDate>Fri, 02 Jan 2026 15:14:07 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    JATINANGOR, itb.ac.id — Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian (HIMAREKTA) “Agrapana” berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Kehutanan (HMH) “Selva” menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pemetaan bahaya erosi dan penanaman pohon buah di Desa Sukawangi, Sabtu (15/11/2025).Kegiatan ini bertujuan mengurangi risiko erosi di lahan pertanian, mencegah potensi longsor pada wilayah bertopografi curam, serta menjaga kesuburan tanah agar produktivitas lahan tetap berkelanjutan. Melalui pemetaan tingkat bahaya erosi, masyarakat Desa Sukawangi diharapkan memperoleh informasi yang dapat dijadikan dasar dalam perencanaan pembangunan dan pengelolaan lahan berbasis risiko.Pemetaan erosi dilakukan dengan memanfaatkan keilmuan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG) yang dipelajari mahasiswa Program Studi Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan. Data spasial dan analisis keruangan digunakan untuk mengolah informasi terkait topografi, tutupan lahan, serta karakteristik wilayah, sehingga menghasilkan peta bahaya erosi yang aplikatif dan sesuai dengan kondisi lapangan.Hasil pemetaan bahaya erosi di Desa Sukawangi.Kegiatan ini berawal dari inisiatif HIMAREKTA “Agrapana” yang merancang pemetaan wilayah Desa Sukawangi. Sejumlah jenis peta sempat direncanakan, antara lain peta tutupan lahan, peta kesesuaian lahan, dan peta erosi. Namun, berdasarkan kebutuhan masyarakat serta pertimbangan keterlaksanaan kegiatan, pemetaan bahaya erosi dipilih sebagai fokus utama. Dalam kolaborasi ini, HMH “Selva” berperan dalam penyusunan peta, sementara HIMAREKTA “Agrapana” melakukan edukasi pencegahan erosi serta kegiatan penanaman pohon buah.Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat HIMAREKTA “Agrapana”, Susilo Eko, berharap kegiatan pemetaan dapat dikembangkan lebih lanjut. “Kami berharap ke depan dapat dilakukan pemetaan lanjutan, terutama terkait kesesuaian lahan, sehingga dapat menjadi acuan bagi petani dalam praktik budidaya,” ujarnya.Dokumentasi penanaman pohon buah oleh HIMAREKTA “Agrapana”.Selain pemetaan, mahasiswa juga menanam 42 pohon buah yang terdiri atas alpukat, mangga, durian, dan jeruk. Penanaman ini diharapkan dapat meningkatkan daya serap air hujan untuk mengurangi risiko longsor, sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat. “Berdasarkan hasil survei dan diskusi dengan warga, pohon buah dipilih karena berfungsi sebagai konservasi tanah dan berpotensi menjadi sumber pendapatan jangka panjang,” tambah Eko.Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa dan masyarakat dalam pengelolaan lahan yang berwawasan lingkungan, sekaligus mendorong pemanfaatan keilmuan rekayasa secara nyata untuk menjawab permasalahan di tingkat desa.                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/Screenshot-2026-01-02-145259.jpg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>Kolaborasi SITH ITB–BRIN Ungkap 12 Spesies Tumbuhan Baru Indonesia Sepanjang 2025</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63196/kolaborasi-sith-itbbrin-ungkap-12-spesies-tumbuhan-baru-indonesia-sepanjang-2025</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63196/kolaborasi-sith-itbbrin-ungkap-12-spesies-tumbuhan-baru-indonesia-sepanjang-2025</guid>
                <pubDate>Wed, 31 Dec 2025 14:10:49 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    Spesies baru Homalomena mamasaensis A.S.D. Irsyam, M.R. Hariri &amp; D. RosleineJATINANGOR, itb.ac.id – Eksplorasi kekayaan biodiversitas Indonesia kembali mencatat capaian penting. Melalui kolaborasi riset antara Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebanyak 12 spesies tumbuhan baru berhasil diidentifikasi dan dideskripsikan secara ilmiah sepanjang tahun 2025.Sebelas spesies baru tersebut ditemukan oleh Kurator Herbarium Bandungense SITH ITB, Arifin Surya Dwipa Irsyam, S.Si., M.Si., bekerja sama dengan peneliti BRIN Muhammad Rifqi Hariri, S.Si., M.Si. Sementara itu, satu spesies lainnya, Homalomena mamasaensis, yakni keladi liar endemik Sulawesi, begitu yang dideskripsikan oleh Arifin bersama Muhammad Rifqi Hariri dan Dr. Dian Rosleine, Kepala Herbarium Bandungense sekaligus Wakil Dekan Sumber Daya SITH ITB.Penemuan belasan spesies ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional mampu mempercepat upaya pendataan flora Nusantara yang selama ini masih belum sepenuhnya terungkap.Spesies
baru Homalomena sungaikeliensis A.S.D.Irsyam &amp; M.R.HaririDekan SITH ITB, Dr. Indra Wibowo, menyampaikan apresiasi atas capaian luar biasa Herbarium Bandungense SITH ITB bersama mitra riset.&nbsp;Sepanjang 2025, kolaborasi ini berhasil mengungkap 12 spesies tumbuhan baru endemik Indonesia, yang terdiri atas 11 spesies dari famili Araceae serta satu spesies dari genus Syzygium (Myrtaceae) asal Sulawesi Tenggara.“Prestasi ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga mengukuhkan komitmen SITH ITB dalam menginventarisasi dan menjaga kekayaan flora nasional melalui pendekatan ilmiah yang integratif, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ujar Dr. Indra.&nbsp;Ia menambahkan bahwa capaian ini sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan edukasi dan konservasi bagi generasi peneliti masa depan.Kolaborasi Kampus, Laboratorium Riset, dan Peran Serta Masyarakat LokalSpesies
baru Homalomena belitungensis A.S.D.Irsyam &amp; M.R.HaririKeberhasilan identifikasi spesies baru ini tidak terlepas dari pemanfaatan keunggulan fasilitas dan kepakaran masing-masing institusi. SITH ITB berperan utama dalam pengamatan morfologi secara mendalam serta kurasi spesimen, sementara BRIN mendukung validasi temuan melalui analisis molekuler dan dokumentasi fotografi beresolusi tinggi.“Proses identifikasi diawali dengan pengamatan morfologi yang sangat detail di Herbarium Bandungense SITH ITB. Selanjutnya, konfirmasi kebaruan jenis secara molekuler serta dokumentasi visual dilakukan di BRIN,” jelas Arifin.Selain dukungan institusional, penemuan ini juga melibatkan peran penting masyarakat lokal. Beberapa spesies telah lebih dahulu dibudidayakan oleh masyarakat sebelum akhirnya dideskripsikan secara ilmiah. Salah satunya adalah Homalomena polyneura yang dikenal sebagai Homalomena “Samurai”, pertama kali dibudidayakan oleh Ibu Rachmawati (Zelika Badu).Sementara itu, Syzygium rubrocarpum (ruruhi) dan Homalomena belitungensis diperkenalkan kepada publik melalui media sosial oleh Tulla Jingga dan Bapak Firman Yusnandar. Melalui wawancara, Arifin menyampaikan apresiasi serta terima kasih atas kontribusi masyarakat lokal yang telah mendukung perkembangan ilmu pengetahuan botani di Indonesia.Menyingkap Permata dari Sumatera hingga PapuaSpesies
baru Homalomena polyneura A.S.D.Irsyam &amp; M.R.HaririPenemuan spesies baru pada tahun ini didominasi oleh tumbuhan dari famili Araceae, khususnya marga Homalomena, Schismatoglottis, dan Cyrtosperma, serta satu jenis dari famili Myrtaceae. Kedua belas spesies tersebut tersebar di berbagai ekosistem unik, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.Secara rinci, temuan ini mencakup sepuluh spesies dari marga Homalomena, yaitu H. adei, H. amarii, H. belitungensis, H. chikmawatiae, H. mamasaensis, H. pistioides, H. polyneura, H. renda, H. sungaikeliensis, dan H. siaisensis. Selain itu, dideskripsikan pula satu spesies Syzygium (S. rubrocarpum) serta satu spesies Schismatoglottis (S. ambigua).Pada tahun sebelumnya, Arifin dan Hariri juga telah mendeskripsikan dua spesies baru dari marga Cyrtosperma, yaitu C. hayii dan C. prasinispathum. Tim peneliti turut melakukan revisi taksonomi dengan menggabungkan marga Furtadoa ke dalam Homalomena, sehingga menghasilkan nama baru Homalomena indrae dan Homalomena sumatrensis.“Insyaallah, dalam waktu dekat akan terbit satu deskripsi spesies baru lagi, sehingga total temuan kami menjadi 15 spesies,” tambah Arifin.Dari sisi morfologi, spesies-spesies baru ini menunjukkan karakteristik yang menonjol, seperti daun dengan kilau iridesensi kebiru-hijauan, helai daun berukuran besar dengan puluhan pasang tulang daun, hingga bentuk daun unik menyerupai lumba-lumba atau memiliki tepian berenda. Pada kelompok Syzygium, ciri khas terlihat pada warna buah yang mencolok.Selain keunikan morfologi, beberapa spesies menunjukkan adaptasi habitat yang sangat spesifik. Sebagian tumbuh terbatas di celah batuan granit, sementara yang lain ditemukan di ekosistem hutan rawa gambut.Pesan Konservasi dan Aset IlmiahSeluruh spesimen tipe (holotipe) dari 14 spesies baru yang ditemukan pada periode 2024–2025 kini disimpan secara resmi di Herbarium Bandungense SITH ITB. Hal ini semakin memperkuat peran ITB sebagai salah satu pusat referensi botani penting di Indonesia.Di balik capaian ilmiah tersebut, para peneliti juga menyoroti tantangan konservasi. Salah satu spesies yang tumbuh di celah batuan granit telah dikategorikan berstatus Terancam Kritis (Critically Endangered/CR) akibat tekanan aktivitas pertambangan.&nbsp;Sementara itu, sebagian besar spesies lainnya masih berstatus Data Deficient (DD) dalam Daftar Merah IUCN karena keterbatasan data populasi di alam.Penemuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi konservasi yang lebih kuat untuk melindungi habitat asli spesies-spesies unik tersebut dari ancaman kepunahan.Editor: Ardhiani Kurnia Hidayanti                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/20251231-SITH1.jpg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>Dorong Kemandirian Alat Kesehatan Nasional, Prof. Trio Adiono Raih Penghargaan HAIFEST 2025</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63195/dorong-kemandirian-alat-kesehatan-nasional-prof-trio-adiono-raih-penghargaan-haifest-2025</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63195/dorong-kemandirian-alat-kesehatan-nasional-prof-trio-adiono-raih-penghargaan-haifest-2025</guid>
                <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 15:18:07 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    Dok. STEI ITBJAKARTA, itb.ac.id – Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Trio Adiono, S.T., M.T., Ph.D., meraih Penghargaan Karya Anak Bangsa Kategori Individu Berprestasi pada ajang Health Innovation Festival (HAIFEST) 2025 yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (8/12/2025). Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengembangkan desain chip prosesor dalam negeri yang telah diimplementasikan pada berbagai perangkat alat kesehatan vital.Inovasi Chip Lokal untuk Alat KesehatanChip merupakan komponen inti dalam perangkat elektromedis di era digital. Melalui inovasi ini, Prof. Trio bersama tim dosen dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB berhasil mengintegrasikan chip lokal pada berbagai perangkat alat kesehatan, antara lain alat antropometri, patient monitor, ventilator noninvasif, high-flow nasal cannula (HFNC), elektrokardiogram (EKG), hingga infusion pump.Prof. Trio menjelaskan bahwa kemandirian dalam desain chip memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan nilai tambah produk nasional. “Dengan dirancangnya chip di dalam negeri, tingkat kandungan lokal alat kesehatan dapat meningkat secara signifikan,” ujarnya. Hal ini menjadi penting mengingat hingga saat ini sebagian besar alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada komponen impor.Tantangan Ekosistem Semikonduktor di IndonesiaMeski memiliki potensi besar, pengembangan desain chip di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Prof. Trio menyoroti belum terbentuknya rantai pasok serta ekosistem industri semikonduktor yang matang di dalam negeri. “Tantangan utama perancangan chip di Indonesia adalah belum terbentuknya rantai pasok dan ekosistem industri semikonduktor yang kuat,” ungkapnya.Kondisi tersebut mengharuskan banyak proses dilakukan secara mandiri, sehingga berdampak pada tingginya biaya produksi. Selain itu, kebutuhan pendanaan yang besar untuk proses fabrikasi, penggunaan perangkat lunak desain (electronic design automation/EDA tools) yang berbiaya tinggi, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat penguasaan teknologi semikonduktor nasional.Sinergi Riset, Industri, dan Standar KeamananKeberhasilan pengembangan chip ini tidak terlepas dari kolaborasi antara akademisi ITB dan mitra industri, seperti PT Miki dan PT Xirka. Prof. Trio menegaskan bahwa sinergi dengan industri memegang peranan penting dalam menjembatani hasil riset di laboratorium menuju tahap produksi massal yang membutuhkan investasi besar serta skala ekonomi yang memadai.Dari sisi keamanan, setiap chip yang dikembangkan harus melalui proses perancangan terstruktur dan memenuhi standar mutu ketat yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Seluruh perangkat wajib melewati tahapan pengujian kinerja fungsional, ketahanan (endurance), serta keselamatan listrik dan elektromagnetik sesuai dengan standar nasional dan internasional sebelum dinyatakan layak digunakan oleh pasien.Harapan dan Langkah Menuju Ekosistem NasionalBagi Prof. Trio, penghargaan ini menjadi pijakan awal untuk langkah yang lebih besar. Ke depan, fokus utama adalah menghasilkan produk dengan keunggulan inovatif agar mampu bersaing secara kompetitif, baik di pasar nasional maupun global.Ia juga mendorong dukungan regulasi dari pemerintah, antara lain melalui pemberian prioritas kepada industri dalam negeri serta penerapan mekanisme sandboxing guna mempercepat proses uji coba produk. “Kami berkomitmen membangun ekosistem nasional dengan mendidik talenta-talenta baru serta menjalin kolaborasi dengan rantai nilai global (global value chain) dalam industri semikonduktor,” pungkasnya.                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/Screenshot-2025-12-30-151430.jpg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>Mengapa Korsleting Masih Jadi Pemicu Kebakaran Rumah? Begini Penjelasan Pakar ITB</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63194/mengapa-korsleting-masih-jadi-pemicu-kebakaran-rumah-begini-penjelasan-pakar-itb</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63194/mengapa-korsleting-masih-jadi-pemicu-kebakaran-rumah-begini-penjelasan-pakar-itb</guid>
                <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 15:09:27 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    Ilustrasi.BANDUNG, itb.ac.id — Korsleting listrik masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran rumah tinggal, terutama di kawasan permukiman padat. Meski kerap bermula dari kondisi sederhana seperti kabel terkelupas atau sambungan longgar, gangguan ini dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila tidak dikenali sejak awal.  Pemahaman yang baik mengenai mekanisme terjadinya korsleting dan faktor-faktor penyebabnya menjadi kunci utama dalam meningkatkan keamanan instalasi listrik di lingkungan rumah.Bagaimana Korsleting Memicu Kebakaran?Dosen dan Peneliti Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjarnahor, S.T., M.T., menjelaskan bahwa korsleting listrik pada dasarnya terjadi ketika dua konduktor yang seharusnya tidak saling bersentuhan justru terhubung akibat kerusakan isolasi.“Secara teknis, korsleting listrik adalah kondisi ketika konduktor bertegangan bersentuhan dengan konduktor yang tidak bertegangan, misalnya karena isolasi kabel rusak akibat gigitan tikus,” ujarnya.Ketika hubungan singkat terjadi, arus listrik dapat melonjak melebihi kapasitas kabel. Kenaikan arus ini menyebabkan temperatur meningkat sangat cepat pada penghantar maupun sambungan instalasi.Dr. Kevin menekankan bahwa percikan yang muncul dapat memiliki suhu ekstrem. “Percikan listrik bisa mencapai lebih dari 3.000 derajat Celsius. Jika mengenai material yang mudah terbakar, api dapat langsung menyambar, terlebih bila MCB tidak bekerja optimal,” katanya.Kondisi ini semakin berbahaya karena korsleting sering tidak menunjukkan gejala awal. Banyak instalasi listrik tersembunyi di balik dinding atau plafon sehingga gangguan seperti rembesan air atau gigitan hewan tidak mudah terdeteksi.Faktor Umum Penyebab KorsletingMenurut Dr. Kevin, terdapat beberapa kondisi yang paling sering memicu korsleting di rumah tinggal:•	Isolasi kabel rusak akibat usia, panas berlebih, atau gigitan hewan;•	Sambungan kabel yang tidak sesuai standar, misalnya hanya dililit atau dibalut lakban;•	Stopkontak dan ekstensi berkualitas rendah atau menggunakan kabel berdiameter kecil;•	Peralatan dalam ruangan yang dipakai di area luar ruangan sehingga mudah terkena air;•	Penggunaan MCB atau sekring dengan rating terlalu besar sehingga tidak sensitif terhadap gangguan.Dr. Kevin juga menyoroti bahwa banyak rumah di Indonesia masih menggunakan instalasi lawas atau tidak memenuhi standar Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL), termasuk tidak adanya grounding yang memadai maupun proteksi tambahan seperti GPAS (Grounding Pole and Surge Arrester System).Indikasi Awal yang Perlu DiwaspadaiPendeteksian sejak dini dapat mencegah korsleting berkembang menjadi kebakaran. Beberapa tanda yang patut diperhatikan di antaranya:•	Stopkontak, kabel, atau steker terasa panas;•	Bau gosong atau aroma kabel terbakar;•	Lampu berkedip atau peralatan listrik mati-hidup tanpa sebab;•	Miniature Circuit Breaker (MCB) sering turun;•	Isolasi kabel terlihat meleleh, retak, atau menghitam;•	Colokan terasa longgar atau terdengar bunyi berdengung dari stopkontak.“Sebelum korsleting terjadi, biasanya muncul percikan intermiten yang sebenarnya sudah dapat menjadi sumber api,” katanya.Langkah Penanganan Saat Terjadi KorsletingPenanganan cepat sangat penting untuk meminimalkan risiko kebakaran. Dr. Kevin memberikan beberapa langkah utama:1.	Pastikan perangkat proteksi bekerja, atau matikan MCB utama secara manual;2.	Gunakan APAR jenis CO? atau dry powder bila muncul api, dan jangan menyiram dengan air;3.	Evakuasi penghuni rumah untuk memastikan keselamatan;4.	Hubungi pemadam kebakaran bila api tidak terkendali dalam 30 detik;5.	Pastikan aliran listrik sudah terputus sebelum menolong korban tersengat;6.	Gunakan alat berisolasi seperti kayu saat memberikan pertolongan;7.	Lakukan pengecekan instalasi oleh teknisi bersertifikat sebelum menyalakan listrik kembali.Di tengah meningkatnya risiko korsleting listrik pada musim hujan maupun di kawasan permukiman padat, kewaspadaan terhadap instalasi listrik menjadi semakin penting. Kebakaran akibat korsleting tidak pernah terjadi dalam sekejap—hal itu kerap bermula dari detail kecil yang luput dari perhatian. Di sinilah literasi ketenagalistrikan berperan: semakin baik memahami cara kerja dan potensi gangguannya, semakin kecil peluang masalah kecil berkembang menjadi bencana. Pada akhirnya, rumah yang aman tidak hanya dibangun dari dinding dan atap, tetapi juga dari pengetahuan serta kehati-hatian yang diterapkan setiap hari.Informasi lebih lanjut mengenai standar instalasi listrik rumah tinggal dapat dilihat pada Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) melalui laman resmi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan: https://gatrik.esdm.go.id/frontend/download_index/?kode_category=buku_puil                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/20251230---Listrik.jpeg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>Perkuat Mitigasi Gempa: Dosen ITB Laksanakan Pengabdian Masyarakat di Pulau Madu dan Pulau Karumpa</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63193/perkuat-mitigasi-gempa-dosen-itb-laksanakan-pengabdian-masyarakat-di-pulau-madu-dan-pulau-karumpa</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63193/perkuat-mitigasi-gempa-dosen-itb-laksanakan-pengabdian-masyarakat-di-pulau-madu-dan-pulau-karumpa</guid>
                <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 11:09:19 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    BANDUNG, itb.ac.id - Gabriella Alodia, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen Kelompok Keahlian Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Pulau Madu dan Pulau Karumpa, Kepulauan Selayar, pada awal September 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program DPMK ITB melalui skema 3T, yang ditujukan untuk mendukung edukasi kebencanaan di wilayah tertinggal.Pulau Madu dan Pulau Karumpa dipilih karena lokasinya berada sangat dekat dengan sumber gempa M7,3 yang terjadi pada 2021. Meski empat tahun telah berlalu, jejak ketakutan dan keterbatasan akses bantuan masih terasa di dua pulau kecil tersebut. Melihat kondisi itu, tim ITB berupaya mendorong peningkatan literasi kebencanaan dan menyediakan dasar pemetaan untuk rencana mitigasi ke depan.“Masyarakat di sini masih menyimpan ingatan kuat tentang guncangan besar itu, sehingga kebutuhan akan edukasi dan kesiapsiagaan menjadi sangat mendesak,” ujarnya.Edukasi Kebencanaan dan Pemetaan Drone Selama tiga hari kegiatan di lapangan, tim melakukan edukasi gempa bumi kepada siswa SD, SMP, serta kelompok ibu-ibu. Pendekatan dilakukan melalui aktivitas interaktif seperti mewarnai, permainan sederhana, hingga diskusi santai yang membantu membangun kedekatan dan mengurangi kecemasan masyarakat terkait gempa.Di sisi teknis, tim juga melakukan pemotretan udara menggunakan drone untuk menghasilkan peta dasar Pulau Madu dan Pulau Karumpa. Peta ini akan menjadi landasan awal dalam penentuan jalur evakuasi dan area aman, sekaligus mendukung penyusunan program ketangguhan bencana di masa mendatang.“Pulau-pulau kecil ini berada paling dekat dengan sumber gempa 2021. Pemetaan diperlukan agar perencanaan evakuasi lebih jelas dan dapat dipahami masyarakat,” ujarnya.Tantangan Akses dan KoordinasiAkses menuju kedua pulau tidak mudah karena hanya dapat ditempuh dengan kapal kayu, sehingga mobilisasi tim menjadi cukup menantang. Koordinasi lintas lembaga juga membutuhkan penyesuaian, mengingat tim terdiri dari berbagai unsur: ITB, komunitas lokal Rumah Baca Saku, Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, serta kolaborator dari Universitas Brawijaya.Meski demikian, kegiatan berjalan lancar berkat dukungan masyarakat dan pendekatan budaya yang difasilitasi pendamping lokal. Perbedaan karakter sosial antara Pulau Madu dan Pulau Karumpa memberikan wawasan penting bagi tim mengenai pola komunikasi yang lebih efektif. “Setiap pulau punya dinamika dan cara berinteraksi yang berbeda, jadi kami harus belajar mengikuti alurnya,” ungkapnya.Kolaborasi Lintas Bidang yang Terbentuk Secara OrganikProgram ini juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas keilmuan dapat tumbuh secara alami. Kerja sama antara ITB dan Universitas Brawijaya berawal dari diskusi ringan mengenai kerangka Sendai Framework, sementara kolaborasi dengan FSRD ITB muncul melalui pengembangan materi edukasi visual dan buku pop-up gempa.“Tidak ada yang direncanakan sejak awal, tetapi diskusi-diskusi kecil justru membuka peluang kolaborasi yang lebih luas,” katanya.Harapan untuk Program KeberlanjutanKe depan, tim berharap kegiatan ini dapat berkembang menjadi program berkelanjutan yang semakin bermanfaat bagi masyarakat. Rencana lanjutan mencakup simulasi gempa yang aman bagi anak, peningkatan pemahaman risiko, serta pemanfaatan hasil pemetaan untuk perencanaan desa.Melalui langkah ini, ITB diharapkan dapat terus memperkuat literasi kebencanaan di wilayah kepulauan yang rentan dan membangun kerja sama jangka panjang untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat.                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/20251230-Gabriel1(1).jpg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>Kolaborasi 2 Himpunan Mahasiswa ITB, Ajak Siswa SDN Cangkol Mengenal Isu Sampah dan Banjir Rob Lewat Edukasi Interaktif</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63192/kolaborasi-2-himpunan-mahasiswa-itb-ajak-siswa-sdn-cangkol-mengenal-isu-sampah-dan-banjir-rob-lewat-edukasi-interaktif</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63192/kolaborasi-2-himpunan-mahasiswa-itb-ajak-siswa-sdn-cangkol-mengenal-isu-sampah-dan-banjir-rob-lewat-edukasi-interaktif</guid>
                <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 10:55:24 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    Lomba poster mengenai bahaya banjir rob (22/11/2025). (Dok. Tim Pengmas, 2025)CIREBON, itb.ac.id – Dua oganisasi mahasiswa ITB Kampus Cirebon, yakni Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, HMP PL ITB Komisariat dan Mahasiswa Teknik Geofisika, BSO HIMA TG “TERRA” ITB, berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan edukasi lingkungan bagi siswa SDN 1, 2, dan 3 Cangkol. Kegiatan ini secara khusus menargetkan siswa kelas 5 dan 6 SD yang bertujuan memperkenalkan isu pengelolaan sampah serta risiko banjir rob melalui metode pembelajaran interaktif.Kegiatan diawali dengan penyampaian materi di dalam kelas, Mahasiswa menjelaskan mengenai sampah, dan potensi banjir rob yang kerap terjadi di wilayah pesisir. Melalui pendekatan visual dan dialog terbuka, fasilitator mengajak siswa untuk memahami bagaimana tindakan kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, dapat berkontribusi dalam mencegah masalah lingkungan yang lebih besar. Siswa terlihat sangat antusias mengikuti sesi ini, mereka aktif menjawab pertanyaan, berbagi pengalaman, serta menunjukkan ketertarikan terhadap isu-isu yang diangkat.Selain itu, kegiatan dilengkapi dengan lomba pembuatan poster sebagai upaya memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Dalam kegiatan ini, siswa diajak menuangkan kembali pengetahuan mereka mengenai sampah dan banjir rob melalui gambar dan warna. Peserta tampak antusias dan kreatif saat mewarnai serta menggambar poster masing-masing.Membersihkan Kawasan Sekolah Bersama dengan Siswa (22/11/ 2025). (Dok. Tim Pengmas, 2025)Antusiasme semakin terlihat ketika kegiatan berlanjut pada sesi permainan edukatif di area sekolah. Dalam kelompok-kelompok kecil, siswa mengikuti aktivitas “bersih kawasan” yang dirancang untuk melatih kepekaan terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mempraktikkan pemilahan dan pengumpulan sampah. Suasana kegiatan berlangsung meriah, dengan siswa bersemangat berlari, bekerja sama, dan berlomba menjadi kelompok yang paling sigap membersihkan area sekolah.Kegiatan Edukasi Pengelolaan Sampah serta Risiko Banjir Rob  (22/11/ 2025). (Dok. Tim Pengmas, 2025)Melalui kolaborasi ini, diharapkan siswa mendapatkan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga kebersihan serta dampaknya terhadap risiko banjir rob. “Harapannya kolaborasi ini bisa mempererat hubungan antarhimpunan, dan untuk teman-teman yang turun ke lapangan lebih bisa melihat, mendengar, dan merasakan dengan hati kondisi aktual yang terjadi saat ini, dan untuk adik-adik SDN Cangkol semoga apa yang sudah disampaikan bisa dipahami dan diimplementasikan di kehidupan sehari-hari, semoga bisa menambah wawasan dan pengalaman dari kakak-kakak.” ujar Adifa Putri Ramadhani Zahra selaku koordinator acara HMP PL ITB Komisariat.                     ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/20251230-Hima1(1).jpg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>ITB Perkuat Jejaring Pendidikan dan Riset di Maluku melalui Kunjungan Kerja Rektor ke Ambon</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63191/itb-perkuat-jejaring-pendidikan-dan-riset-di-maluku-melalui-kunjungan-kerja-rektor-ke-ambon</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63191/itb-perkuat-jejaring-pendidikan-dan-riset-di-maluku-melalui-kunjungan-kerja-rektor-ke-ambon</guid>
                <pubDate>Tue, 30 Dec 2025 10:32:43 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    Kunjungan Rektor dan WRAM ITB ke Universitas Pattimura.AMBON, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan rangkaian kunjungan kerja strategis ke Ambon pada bulan Desember 2025 guna memperluas kolaborasi pendidikan tinggi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia di kawasan Indonesia Timur. Penguatan Kemitraan Daerah dan Penutupan Program PatriotDirektur Direktorat Persiapan Bersama ITB, Prof. Dr. Fatimah Arofiati Noor, S.Si., M.Si., mengatakan kunjungan diawali dengan kehadiran Rektor ITB pada penutupan Program Patriot di Maluku, sebuah program nasional untuk pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan pemuda terlatih. Kehadiran Rektor ITB menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi para peserta Patriot sekaligus komitmen ITB mendukung pembangunan daerah.Dalam kesempatan yang sama, Rektor ITB melakukan pertemuan resmi dengan Pemerintah Daerah Maluku Tengah untuk membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, riset, dan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan lokal. Pertemuan tersebut membuka ruang dialog strategis terkait pengembangan SDM dan penguatan ekosistem pendidikan di Maluku.Sinergi Akademik ITB - Universitas PattimuraKunjungan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan resmi di Universitas Pattimura (Unpatti). Agenda diawali dengan silaturahmi pimpinan dan diskusi akademik mengenai penguatan kerja sama kelembagaan, riset lintas bidang, serta peluang implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).Rektor ITB juga memberikan kuliah umum yang dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan pimpinan Unpatti. Melalui kuliah ini, ITB menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai mitra dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi di kawasan timur Indonesia.“Sinergi antarperguruan tinggi merupakan fondasi penting untuk memperkuat kapasitas riset dan kepemimpinan akademik di Indonesia Timur,” ujar Prof. Fatimah.Selain agenda akademik, Rektor ITB juga berkesempatan mengunjungi kampung halaman Rektor Universitas Pattimura sebagai bagian dari rangkaian silaturahmi dan penghormatan antarpimpinan perguruan tinggi. Kunjungan ini tidak hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan dan kolaborasi yang menjadi fondasi utama kerja sama antara ITB dan Unpatti.Nota Kesepahaman ITB-UIN Abdul Muthalib Sangadji AmbonKunjungan Rektor dan WRAM ITB di UIN Ambon.Agenda lainnya adalah penandatanganan Nota Kesepahaman antara ITB dan UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon. Kesepakatan ini mencakup kerja sama dalam pendidikan pascasarjana, penguatan STEM, penelitian bersama, hingga pengabdian kepada masyarakat. Kerja sama strategis ini diharapkan menjadi langkah awal bagi penguatan kapasitas akademik dan peningkatan kualitas SDM Maluku. “ITB melihat potensi besar di Maluku, dan melalui Nota Kesepahaman ini kami berkomitmen untuk memperluas dampak pendidikan dan riset bagi masyarakat,” ujar Prof. Fatimah.Penguatan Sekolah Unggul, Program Pra-Universitas, dan Pengembangan SDMMelalui Direktorat Persiapan Bersama (Ditsama), ITB turut menjajaki peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk pengembangan program pra-universitas dan peningkatan kompetensi pendidik. Salah satu implementasinya adalah pendampingan Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT) di SMA Siwalima Ambon.Dalam kegiatan tersebut, Rektor ITB memberikan kuliah motivasi untuk mendorong semangat belajar, kepemimpinan, serta kesiapan siswa melanjutkan studi di perguruan tinggi. Selain itu, berbagai potensi kolaborasi riset, inovasi, dan program S2 Pengajaran yang menekankan penguatan STEM, kepemimpinan, dan literasi kecerdasan artifisial turut dibahas sebagai bagian dari pengembangan SDM Maluku.Pada akhir kegiatan, Prof. Fatimah menegaskan pentingnya memperkuat jejaring ITB di Maluku secara berkelanjutan.“ITB memandang Maluku sebagai wilayah strategis yang kaya potensi dan membutuhkan dukungan kolaborasi akademik yang inklusif serta berkelanjutan. Kami berharap kerja sama yang terbangun dapat memberikan dampak nyata bagi pendidikan, riset, dan pengembangan SDM,” tuturnya.Sebagai tindak lanjut, ITB akan mulai mengimplementasikan program-program kerja sama, memperluas kegiatan riset bersama, serta mengembangkan pendampingan pendidikan bagi sekolah dan calon mahasiswa unggul di Maluku.                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/1230-Ambone1.jpg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>ITB Berkolaborasi Lintas Universitas dalam Tanggap Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera Barat</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63190/itb-berkolaborasi-lintas-universitas-dalam-tanggap-bencana-banjir-dan-longsor-di-sumatera-barat</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63190/itb-berkolaborasi-lintas-universitas-dalam-tanggap-bencana-banjir-dan-longsor-di-sumatera-barat</guid>
                <pubDate>Mon, 29 Dec 2025 11:26:15 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    BANDUNG, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi dalam kegiatan tanggap darurat bencana banjir dan longsor di Provinsi Sumatera Barat pada 17–20 Desember 2025. Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari ITB, Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Andalas (UNAND), serta UIN Imam Bonjol Padang.ITB bertindak sebagai penyelenggara sekaligus penerima hibah Program Tanggap Darurat Bencana Sumatera Barat. Melalui program ini, ITB mengikutsertakan universitas mitra di Sumatera Barat dengan melibatkan akademisi, mahasiswa, serta tenaga kesehatan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di dua lokasi utama, yakni Posko Pengungsian Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.Kedua wilayah tersebut merupakan daerah yang terdampak cukup parah dan memiliki tingkat aksesibilitas yang rendah akibat putusnya sejumlah jalur transportasi serta kondisi geografis yang sulit dijangkau. Selama empat hari pelaksanaan kegiatan, tim gabungan melakukan penyaluran bantuan sekaligus layanan kemanusiaan secara langsung di lokasi pengungsian.Tim ITB yang terjun ke lapangan terdiri atas lima dosen lintas fakultas, yaitu Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, S.Farm., M.Si. (Ketua Tim, Sekolah Farmasi ITB), Dr. Eng. Ir. Febri Zukhruf, S.T., M.T. (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB), Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si. (FMIPA ITB), Syarif Hidayat, S.T., M.T. (FTSL ITB), serta Dr. Hendhy Nansha, S.Ds., M.Sn., M.H. (Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB).Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pangan, minuman, obat-obatan, peralatan memasak, dan pakaian. Selain itu, tim juga memberikan layanan kesehatan gratis, edukasi darurat mengenai identifikasi dan penyaringan air bersih sederhana berbasis sains, serta pendampingan psikososial bagi anak-anak melalui kegiatan literasi dan menggambar untuk membantu pemulihan trauma pascabencana. Tim juga membangun fasilitas sanitasi berupa MCK darurat dan sistem penyaringan air bersih di beberapa lokasi pengungsian.Ketua Tim ITB, Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, S.Farm., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Program tersebut mengusung delapan prioritas utama, meliputi penyediaan sandang dan pangan, layanan kesehatan, pendampingan psikososial, penjernihan air dan pendirian MCK darurat, pendidikan darurat, pemulihan ekonomi, dukungan administrasi publik, serta mitigasi dan edukasi kebencanaan.“Tim ITB mengangkat tema implementasi solusi multidisiplin untuk pemulihan cepat dan mitigasi banjir berkelanjutan di wilayah Sumatera Barat. Kami memilih dua lokasi yang memiliki dampak besar serta keterbatasan akses akibat bencana,” ujarnya. Ia menambahkan, di beberapa wilayah seperti Desa Ngalau Gadang, Kecamatan Bayang Utara, terdapat rumah warga yang tertimbun longsor, sementara di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, sejumlah rumah hanyut akibat banjir.Kondisi di lapangan menghadirkan berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sinyal komunikasi, medan berlumpur yang berpotensi memicu longsor susulan, cuaca yang tidak menentu, serta akses yang hanya dapat dilalui dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Berkat dukungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi), kegiatan tanggap bencana ini dapat berjalan dengan aman dan lancar.Melalui kolaborasi lintas universitas dan dukungan berbagai pihak, kegiatan ini berhasil menjangkau lebih dari 500 pengungsi di dua lokasi terdampak. Program ini diharapkan menjadi langkah awal kontribusi nyata dosen dan mahasiswa dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana di Indonesia.                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/WhatsApp-Image-2025-12-28-at-18.49.02(1).jpeg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>Leadership Night 2025, SBM ITB Dorong Kepemimpinan Berbasis Riset dan Inovasi</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63189/leadership-night-2025-sbm-itb-dorong-kepemimpinan-berbasis-riset-dan-inovasi</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63189/leadership-night-2025-sbm-itb-dorong-kepemimpinan-berbasis-riset-dan-inovasi</guid>
                <pubDate>Wed, 24 Dec 2025 15:21:04 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    JAKARTA, itb.ac.id — Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) kembali menyelenggarakan Leadership Night 2025 di Lippo Kuningan, Jakarta, Selasa (17/12/2025). Agenda tahunan ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan tokoh nasional, para pendiri perusahaan (founder), akademisi, serta sivitas akademika SBM ITB untuk membahas kepemimpinan dan masa depan Indonesia.Mengusung tema “Bridging Brilliance: Building Indonesia’s Next Generation Through Research and Beyond”, Leadership Night 2025 menegaskan peran pendidikan tinggi dalam membangun kepemimpinan yang berlandaskan riset, inovasi, dan integritas.Sejumlah tokoh nasional dan founder ternama hadir sebagai pembicara, di antaranya Prof. Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia; Dr. Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI periode 2020–2024 sekaligus Founder Saratoga Investama; Zaky Muhammad Syah, Founder &amp; CEO Dibimbing.id dan University of Cakrawala; Dimas Ramadhan Pangestu, Founder &amp; CEO Meatguy; Haidhar Wurjanto, Founder &amp; CEO Es Teh Indonesia; serta Achmad Nurul Fajri, Founder &amp; Director PT Luxury Cantika Indonesia (Luxcrime) sekaligus CEO Feel Matcha.Kegiatan ini juga menjadi momen refleksi dan penghormatan kepada Prof. Kuntoro Mangkusubroto dan Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat sebagai tokoh yang meletakkan fondasi kuat bagi SBM ITB serta penggagas Leadership Night. Sejak pertama kali digelar pada 2010, Leadership Night secara konsisten menjadi wadah inspirasi kepemimpinan bagi sivitas akademika dan pemangku kepentingan.Leadership Night 2025 dibuka oleh Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, yang menegaskan peran ITB dalam pembangunan bangsa. “Ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa ITB memiliki tanggung jawab dalam mengawal kemajuan Indonesia, memantik ide-ide strategis, serta menyiapkan calon pemimpin yang mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul dan berkarakter,” ujarnya.Dalam sesi keynote speech, Prof. Brian Yuliarto menyoroti kompleksitas tantangan global yang menuntut Indonesia memiliki keunggulan teknologi serta kepemimpinan industri yang berintegritas. Menurutnya, pemimpin yang kuat adalah mereka yang mampu mengubah ketidakpastian global menjadi peluang strategis bagi bangsa.Pandangan tersebut diperkuat oleh Dr. Sandiaga Uno melalui tayangan video. Ia menekankan pentingnya keberanian dalam mengambil dan mengelola risiko. “Seorang pemimpin harus menjadi problem solver, mendorong kolaborasi lintas sektor, menjaga keberlanjutan bisnis, serta menciptakan dampak ekonomi nyata melalui penciptaan lapangan usaha,” ungkapnya.Selain diskusi kepemimpinan, Leadership Night 2025 juga menjadi ajang apresiasi bagi dosen, staf, mahasiswa berprestasi, serta alumni SBM ITB yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi Indonesia. Penghargaan Best Lecturers diberikan kepada Dr. Dina Dellyana dan Gatot Yudoko, Ph.D.Sesi talkshow yang mengangkat tema multi-hyphenate leadership menghadirkan perspektif para founder, kreator, dan pemimpin lintas industri. Diskusi ini menegaskan bahwa kepemimpinan masa kini menuntut sikap rendah hati, dukungan sistem yang kuat, keberanian berinovasi, serta komitmen terhadap praktik bisnis berkelanjutan.Founder &amp; CEO Dibimbing.id dan University of Cakrawala, Zaky Muhammad Syah, dalam diskusi tersebut menekankan pentingnya menghindari pola pikir kepahlawanan semu.“Hindari heroic mindset. Pemimpin tidak harus selalu paling sibuk atau memulai semuanya sendiri. Kepemimpinan yang baik adalah membangun sistem, bukan hanya bergantung pada individu,” ujarnya.Melalui Leadership Night 2025, SBM ITB berharap nilai-nilai kepemimpinan yang dibagikan dapat diteruskan kepada mahasiswa dan para pemimpin muda, sekaligus memperkuat peran institusi pendidikan dalam mencetak generasi pemimpin Indonesia yang adaptif, berintegritas, dan berdampak.                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/WhatsApp-Image-2025-12-24-at-09.24.20.jpeg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
            <item>
                <title>Mendiktisaintek Tekankan Peran Pemimpin Masa Depan dalam Leadership Night 2025 SBM ITB</title>
                <link>https://itb.ac.id/berita/detail/63188/mendiktisaintek-tekankan-peran-pemimpin-masa-depan-dalam-leadership-night-2025-sbm-itb</link>
                <guid>https://itb.ac.id/berita/detail/63188/mendiktisaintek-tekankan-peran-pemimpin-masa-depan-dalam-leadership-night-2025-sbm-itb</guid>
                <pubDate>Wed, 24 Dec 2025 11:30:55 +0700</pubDate>
                <description>
                    <![CDATA[
                    Dok. SBM ITBJAKARTA, itb.ac.id — Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menyelenggarakan Leadership Night 2025 di Jakarta, Rabu (17/12/2025). Agenda ini menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan akademisi, pemimpin publik, dan para pendiri perusahaan untuk membahas peran kepemimpinan dalam menyiapkan generasi masa depan Indonesia.Mengusung tema “Bridging Brilliance: Building Indonesia’s Next Generation Through Research and Beyond”, Leadership Night 2025 menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pelaku industri. Mereka antara lain Prof. Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia; Dr. Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI periode 2020–2024 sekaligus Founder Saratoga Investama; Zaky Muhammad Syah, Founder &amp; CEO Dibimbing.id dan University of Cakrawala; Dimas Ramadhan Pangestu, Founder &amp; CEO Meatguy; Haidhar Wurjanto, Founder &amp; CEO Es Teh Indonesia; serta Achmad Nurul Fajri, Founder &amp; Director PT Luxury Cantika Indonesia (Luxcrime) dan CEO Feel Matcha.Sebagai pembicara utama, Prof. Brian Yuliarto membuka dialog dengan menekankan urgensi pembangunan kepemimpinan generasi muda guna mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ia menyampaikan bahwa di tengah ketidakpastian global, para pemimpin dituntut mampu mengelola kompleksitas dan mengubah tantangan menjadi peluang pertumbuhan.“Kita sama-sama menghadapi kompleksitas persoalan global, mulai dari geopolitik hingga meningkatnya ketidakpastian. Bagi negara berkembang, kondisi ini memang menimbulkan kecemasan, tetapi justru dapat menjadi momentum untuk melompat menjadi negara maju,” ujar Prof. Brian.Lebih lanjut, Prof. Brian memaparkan visi pemerintah untuk membawa Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi (high-income country), yang membutuhkan pertumbuhan ekonomi industri hingga 8%. Namun demikian, ia juga menyoroti tantangan struktural yang masih dihadapi Indonesia.“Data menunjukkan bahwa baru sekitar 10,2% penduduk Indonesia yang merupakan lulusan perguruan tinggi, sementara kapasitas industri nasional juga belum cukup besar. Untuk mencapai pertumbuhan 8%, dibutuhkan terobosan nyata dalam meningkatkan nilai tambah serta kapabilitas industri,” jelasnya.Menjawab tantangan tersebut, Prof. Brian berharap Leadership Night dapat menjadi pemantik semangat bagi sivitas akademika SBM ITB untuk mengambil peran strategis sebagai agen perubahan.Dok. SBM ITB“Indonesia membutuhkan creative minority, yaitu kelompok kecil pemimpin yang bekerja secara luar biasa, melahirkan industri baru, dan menggerakkan bangsa. Kita tidak bisa lagi menjalankan bisnis seperti biasa; kita harus membangun bisnis berbasis sains dan teknologi yang kuat,” tegasnya.Ia juga mengajak para peserta untuk tetap optimistis dengan berkaca pada sejarah, ketika Indonesia pernah mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,2% pada 1995 dengan sektor manufaktur sebagai motor utama pertumbuhan nasional.Menutup pidatonya, Prof. Brian menyampaikan pesan kepemimpinan agar para calon pemimpin memiliki ketangguhan dalam menghadapi tekanan dan perubahan.“Pemimpin sejati adalah mereka yang terus haus untuk belajar, rendah hati, konsisten dalam bekerja, dan tangguh menghadapi tekanan. Hanya bangsa yang menguasai sains dan teknologi yang dapat menjadi bangsa yang makmur,” pungkasnya.Menyambung dialog tersebut, Dr. Sandiaga Salahuddin Uno menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai pemecah masalah (problem solver), penggerak kolaborasi lintas sektor, serta pencipta usaha berkelanjutan yang mampu memberikan dampak ekonomi nyata melalui penciptaan lapangan kerja.Leadership Night 2025 juga menjadi momentum apresiasi dan refleksi atas visi para pendahulu SBM ITB, yakni Prof. Kuntoro Mangkusubroto dan Prof. Surna Tjahja Djajadiningrat. Keduanya dinilai telah meletakkan fondasi yang kuat bagi pengembangan SBM ITB serta menginisiasi Leadership Night sebagai forum strategis pembentukan pemimpin masa depan Indonesia.                    ]]>
                </description>

                <enclosure url="https://itb.ac.id/files/dokumentasi/WhatsApp-Image-2025-12-24-at-09.24.18.jpeg" length="10240" type="image/jpg" />

            </item>

        
    </channel>
</rss>
