<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0">
<channel>
<title>RSS Feed</title>
<link>https://www.unesa.ac.id/</link>
<description>RSS Feed</description>
<language>id-id</language>
<copyright>www.unesa.ac.id</copyright>
<lastBuildDate>Mon, 17 Aug 2026 16:28:51</lastBuildDate>
<generator>feed_domain (info@unesa.ac.id)</generator>
<item>
  <id>9202</id>
  <title>Unesa Perkuat Riset, Mutu Akademik, dan Kualitas Jurnal Standar Scopus untuk Menuju World Class University</title>
  <description>  Unesa.ac.id. SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat ekosistem jurnal ilmiah dengan mengarahkan pengelolaan jurnal pada standar internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan reputasi akademik dan visibilitas riset di tingkat global. Strategi tersebut dibahas dalam penguatan Academic Reputation dan Employer Reputation serta Best Practice Journal terindeks Scopus yang berlangsung di Home Theater Rektorat Unesa, Kampus II Lidah Wetan, Jumat (14/8/2026). Penguatan jurnal menjadi salah satu langkah yang ditempuh Unesa untuk memperkuat posisi akademik dan riset dalam komunitas internasional, termasuk dalam pemeringkatan perguruan tinggi global. Wakil Rektor Unesa Bidang III, Bambang Sigit Widodo mengatakan, pengembangan jurnal menuju indeks global membutuhkan proses yang konsisten. Menurutnya, indeksasi bukan semata-mata persoalan pemeringkatan, tetapi berkaitan dengan kualitas dan kepercayaan terhadap publikasi ilmiah yang dihasilkan perguruan tinggi. “Jurnal yang memang dirancang dengan standar dan indikator dari CSAB sehingga mulai dari diversity penulis, dari sitasi, dari kualitas artikel, dari diversity editorialnya, semuanya sudah terstandar ke arah yang Scopus. Di akhir 2026 atau 2027 sudah bisa di-submit,” ujarnya.  Ia menjelaskan, Unesa telah merintis kebijakan pengembangan jurnal proyeksi Scopus sejak 2024. Jurnal-jurnal tersebut diarahkan untuk memenuhi sejumlah indikator yang diperlukan, mulai dari keberagaman penulis dan editor, kualitas artikel, hingga sitasi. Pengembangan jurnal juga diarahkan agar selaras dengan bidang keunggulan Unesa, termasuk tema-tema yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Unesa memiliki keunggulan pada SDG-4 tentang pendidikan berkualitas, SDG-5 tentang kesetaraan gender, dan SDG-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. “Tema-tema yang ada di SDGs pasti relate dengan scope yang ada di jurnal. Mengingat SDGs dari 1 hingga 17, semuanya terkait dengan apa pun yang ada di dunia ini, termasuk pendidikan, lingkungan, kemiskinan lainnya,” jelasnya. Penjelasan Wakil Rektor Bidang III ini selaras dengan yang disampaikan oleh Direktur Regional QS untuk Asia Pasifik, Mr. E Way Chong, pemeringkatan perguruan tinggi merupakan proses yang dinamis karena posisi sebuah universitas dipengaruhi oleh perkembangan perguruan tinggi lain. “Pemeringkatan itu seperti maraton. Apakah Anda berada di posisi nomor satu atau nomor 1.000, itu juga dipengaruhi oleh pelari lainnya dan hasil yang mereka peroleh,” ujarnya. Menurutnya, posisi Unesa pada subjek pendidikan menunjukkan peluang yang masih terbuka untuk terus diperkuat. Ia menyebut peringkat Unesa pada bidang pendidikan berada di sekitar posisi 480–470 dunia dan mendekati posisi 450. Sementara itu, narasumber lainnya, Aris Doyan, memaparkan langkah penguatan jurnal menuju indeks Scopus. Strategi tersebut dimulai dari audit kondisi jurnal, penguatan tata kelola dan kebijakan, serta perbaikan proses peer review dan kualitas artikel. Tahapan berikutnya mencakup internasionalisasi editor, reviewer, dan penulis; penguatan website, DOI, dan metadata; menjaga regularitas dan integritas publikasi; hingga melakukan audit terhadap 14 kriteria CSAB sebelum jurnal diajukan untuk proses evaluasi menuju Scopus.][ *** Reporter: Medina Azzahra (FBS) Editor: @zam* Foto: Tim Humas Unesa   </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/unesa-perkuat-riset-mutu-akademik-dan-kualitas-jurnal-standar-scopus-untuk-menuju-world-class-university</link>
  <pubDate>Fri, 14 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-16-08-2026-04-41-19-9315.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/unesa-perkuat-riset-mutu-akademik-dan-kualitas-jurnal-standar-scopus-untuk-menuju-world-class-university</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>73</views>
</item>
<item>
  <id>9200</id>
  <title>Tawarkan Solusi Ekonomi bagi Nelayan, Mahasiswa Unesa Bawa Pulang 2 Medali Emas Internasional lewat Inovasi Marivest</title>
  <description>  Unesa.ac.id. SURABAYA—Mahasiswa Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dustin Favian Baihaqi, meraih dua medali emas dan enam penghargaan internasional pada Global Youth Innovation Summit (GYIS) Batch 17 Singapore–Malaysia yang berlangsung pada 26–29 Juli 2026. Capaian tersebut diraih melalui inovasi Marivest, sebuah ekosistem digital yang dirancang untuk memperkuat kemandirian ekonomi nelayan Indonesia. Marivest sendiri dikembangkan Dustin sebagai ketua bersama tim yang terdiri dari; Sabrina Putri Azizah dari Universitas Airlangga, Nizam Panca dari SMAN 3 Cikarang Utara, Syafa Mutia Indrajaya dari SMPIP Daarul Jannah, serta Kayyisah Adeeva dari SMP Labschool Cibubur. Prestasi itu tidak hanya menjadi pengakuan atas kemampuan mahasiswa di tingkat global, tetapi juga menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari kampus dapat berangkat dari persoalan riil masyarakat. Marivest dikembangkan sebagai respons terhadap masih kuatnya praktik sistem ijon yang membuat banyak nelayan kehilangan posisi tawar, sekaligus menghadapi keterbatasan akses terhadap permodalan, pemasaran, dan pendampingan usaha. GYIS merupakan forum internasional yang diinisiasi organisasi kepemudaan Pemuda Mendunia untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai negara dalam mengembangkan kapasitas kepemimpinan, memperluas jejaring global, dan mendorong kolaborasi menuju pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Selain kompetisi inovasi, kegiatan tersebut juga diisi seminar internasional, kunjungan akademik ke Nanyang Technological University (NTU), International Islamic University Malaysia (IIUM), dan Universiti Malaya (UM), serta rangkaian eksplorasi budaya. Dalam ajang tersebut, Dustin yang merupakan mahasiswa angkatan 2023 berhasil meraih Fully Funded Awardee, 1st Place Most Inspirational Leader, 1st Place Most Creative Delegate, 1st Place SDGs Project Video, 2nd Place SDGs Project Presentation, 2nd Place Best Team, 3rd Place Best Speaker, serta membawa pulang dua Gold Medal melalui inovasi Marivest.  Dustin menjelaskan bahwa Marivest menjadi platform digital untuk transaksi hasil laut sekaligus menjadi ekosistem yang menghubungkan nelayan, investor, dan konsumen agar rantai ekonomi perikanan berjalan lebih adil dan berkelanjutan. "Marivest tidak hanya menjadi aplikasi jual beli, tetapi sebuah ekosistem yang memastikan nilai ekonomi hasil laut kembali secara adil kepada nelayan sebagai pihak yang menciptakannya," ujarnya. Platform tersebut menghadirkan empat layanan utama, yakni Marivest Financial sebagai skema pendanaan berbasis bagi hasil, Marivest Marketplace untuk mempertemukan nelayan dan pembeli tanpa perantara, Marivest Consultant sebagai layanan pendampingan usaha, serta Marivest Rantai Pasok yang mendukung distribusi produk sekaligus sertifikasi halal bagi UMKM pengolah hasil laut. Menurutnya, keunggulan Marivest terletak pada pendekatan yang menyeluruh. Selain menawarkan solusi atas persoalan permodalan, inovasi tersebut juga dilengkapi analisis kelayakan finansial, model bisnis berkelanjutan, serta proyeksi dampak sosial yang disusun berdasarkan riset terhadap kondisi pelaku perikanan di Indonesia. "Marivest kami rancang bukan hanya sebagai produk teknologi, tetapi juga solusi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, kami menyusun konsep bisnis, proyeksi keuangan, hingga strategi implementasinya secara realistis," katanya. Bagi Dustin, penghargaan internasional tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanan inovasi yang dikembangkan. Sebaliknya, capaian itu menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan Marivest agar dapat diimplementasikan lebih luas dan memberi manfaat nyata bagi pelaku perikanan Indonesia. "Semoga Marivest dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak anak muda untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. Kami juga ingin terus mengembangkan inovasi ini agar memberi manfaat yang lebih luas bagi pelaku perikanan Indonesia," pungkasnya. ][ *** Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP) Editor: @zam* Dokumentasi: Dustin Favian Baihaqi </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/tawarkan-solusi-ekonomi-bagi-nelayan-mahasiswa-unesa-bawa-pulang-2-medali-emas-internasional-lewat-inovasi-marivest</link>
  <pubDate>Sat, 15 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-08-2026-08-32-53-1665.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/tawarkan-solusi-ekonomi-bagi-nelayan-mahasiswa-unesa-bawa-pulang-2-medali-emas-internasional-lewat-inovasi-marivest</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>182</views>
</item>
<item>
  <id>9199</id>
  <title>Gandeng INOVASI, Unesa Bekali Mahasiswa PPG dengan Model Pembelajaran Inovatif dan Inklusif</title>
  <description>  Unesa.ac.id. SURABAYA—Di ruang kelas, tidak semua peserta didik datang dengan kebutuhan belajar yang sama. Karena itu, 613 calon guru Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dipersiapkan bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga memastikan keberagaman peserta didik tidak menjadi penghalang untuk belajar. Calon guru dimatangkan melalui melalui Bimbingan Teknis Pembelajaran Pendidikan Inklusi bagi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang 1 Semester 2 Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Pendidikan Profesi Guru Unesa bekerja sama dengan Tim Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) pada 14–15 Agustus 2026 di Gedung W1 Kampus 2 Lidah Wetan. Kebutuhan pembekalan yang diikuti mahasiswa dari 15 program studi itu semakin penting karena calon guru akan berhadapan dengan peserta didik yang memiliki karakteristik, latar belakang, dan kebutuhan belajar yang beragam. Dalam konteks tersebut, pendidikan inklusi tidak hanya berkaitan dengan penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga kemampuan guru menyesuaikan proses pembelajaran agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang layak.  Salah satu instruktur kegiatan, Wulan Patria Saroinsong menjelaskan materi yang mencakup prinsip dasar inklusi, penyusunan perencanaan pembelajaran, penyesuaian metode mengajar, penilaian yang adil, hingga pendekatan Desain Universal Pembelajaran (DUP). “Pendekatan ini melatih calon guru merancang pembelajaran yang mengakomodasi segala perbedaan karakteristik, latar belakang, dan gaya belajar setiap anak,” ujarnya. Menurut Silfia Asningtias dari PUI Disabilitas Unesa, pembekalan praktis tetap dibutuhkan meskipun mahasiswa telah memperoleh mata kuliah pendidikan inklusi selama perkuliahan. Bimtek memberikan kesempatan kepada calon guru untuk menghubungkan pengetahuan teoritis dengan penerapannya di lapangan. “Pembelajaran di perkuliahan lebih banyak berisi teori, sedangkan bimtek ini memberikan ruang bagi calon guru untuk langsung mempraktikkan cara-cara penerapan inklusi di lapangan,” tegasnya. Manfaat pembekalan tersebut juga dirasakan mahasiswa yang telah menjalani praktik pengalaman lapangan (PPL). Nur Hidayati Septi Rofiko, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Ia mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut, terutama karena saat ini ia menjalani PPL di sekolah yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus.  “Saat ini saya sedang menjalani PPL yang terdapat siswa berkebutuhan khusus di dalamnya. Melalui kegiatan ini, saya jadi lebih paham bagaimana cara melayani dan mendampingi mereka dengan tepat,” ujarnya. Pengalaman serupa disampaikan Indria Widayana dari prodi yang sama. Menurutnya, ruang diskusi yang interaktif selama bimtek membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi persoalan yang mungkin ditemui ketika mengajar. “Selama bimtek, saya sangat menikmati pembelajarannya karena instruktur membuka ruang diskusi yang interaktif, sehingga kami diberi banyak kesempatan bertanya dan berdiskusi secara terbuka. Tentu ini sangat membantu kami dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan di sekolah nanti,” ungkapnya. Pembekalan pendidikan inklusi tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif serta SDGs 10 tentang pengurangan kesenjangan. Melalui penguatan kapasitas calon guru, pembelajaran inklusif diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi dapat diterapkan dalam praktik pendidikan sehingga setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar tanpa terkecuali. ][ *** Reporter: Jessy Nora Sandy (FBS) Editor: @zam* Foto: Tim Humas Unesa </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/gandeng-inovasi-unesa-bekali-mahasiswa-ppg-dengan-model-pembelajaran-inovatif-dan-inklusif</link>
  <pubDate>Sat, 15 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-08-2026-08-29-26-5211.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/gandeng-inovasi-unesa-bekali-mahasiswa-ppg-dengan-model-pembelajaran-inovatif-dan-inklusif</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>154</views>
</item>
<item>
  <id>9198</id>
  <title>Puluhan Anak Disabilitas Peringati Kemerdekaan lewat â€˜Aktivitas Terapiâ€™ yang Melatih Fokus dan Interaksi</title>
  <description>  Unesa.ac.id., SURABAYA— Sebanyak 22 anak disabilitas merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia melalui perlombaan yang dirancang bukan sekadar untuk bersenang-senang, tetapi juga melatih komunikasi, fokus, keberanian, dan interaksi sosial. Kegiatan yang digelar Unit Layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ULABK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Gedung Unesa Science Center, Jumat (14/8/2026) itu menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri sekaligus merasakan pengalaman merayakan kemerdekaan bersama. Berbagai perlombaan diadakan dan disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta. Cabang yang digelar antara lain lomba bendera, kreasi melukis kipas, meronce, memindahkan bendera, hingga menyusun kata. Seluruh kegiatan diberikan secara gratis dan diikuti anak-anak bersama orang tua. Ketua Disability Innovation Center Unesa, Budiyanto mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan ULABK yang tahun ini lebih diarahkan untuk memberikan ruang kepada anak-anak agar dapat mengekspresikan diri dan merasakan pengalaman sosial seperti anak-anak lainnya.  Menurutnya, peserta berasal dari berbagai kondisi disabilitas, termasuk hambatan intelektual, hambatan emosi, dan autisme. Karena itu, kegiatan dirancang agar seluruh anak yang mendapatkan layanan di ULABK dapat berpartisipasi sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Bagi anak itu sendiri, kegiatan ini dapat mengekspresikan diri meerka secara bebas dan fun. Bagi masyarakat ini dapat menjadi semangat bahwa semua anak perlu didorong untuk terus berkembang. Anak-anak seperti ini, sebenarnya kalau mendapatkan sentuhan layanan yang baik, bukan tidak mungkin bisa berkembang dengan baik,” tandasnya. Guru besar disabilitas Unesa itu menambahkan, interaksi yang muncul selama kegiatan menjadi bagian dari proses terapi. Anak-anak yang sebelumnya tidak saling mengenal didorong untuk beraktivitas bersama, sehingga memiliki pengalaman berkomunikasi dan membangun relasi dengan lingkungan sosialnya. Ketua Pelaksana sekaligus terapis ULABK, Dara Widya Ningrum, menjelaskan setiap permainan dirancang dengan mempertimbangkan kemampuan peserta. Aktivitas seperti berjalan zig-zag, memindahkan bola menggunakan nampan, hingga permainan sensorik tidak hanya memberikan pengalaman bermain, tetapi juga melatih fokus, koordinasi, dan kemampuan kognitif.  “Jadi nggak hanya sekadar lomba, tapi lombanya itu yang bisa bermanfaat untuk perkembangan kognitif dan fokusnya,” ujarnya.  Pembagian kelompok peserta juga disesuaikan berdasarkan usia dan kemampuan. Pendekatan tersebut dilakukan agar setiap anak dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan kapasitasnya sekaligus memperoleh pengalaman berkompetisi, bekerja sama, dan berinteraksi. “Harapannya setelah acara ini, orang tua itu bisa mendukung anak lebih baik dan mengetahui potensi atau kemampuan anak masing-masing. Terus juga tidak menuntut anak terlalu lebih, karena harus berdasarkan dengan kemampuan yang masing-masing. Karena setiap anak itu punya milestone-nya sendiri-sendiri,” tandasnya. Bagi orang tua peserta, kegiatan tersebut memberikan pengalaman positif bagi anak sekaligus menjadi ruang untuk melatih kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Sri Jayanti, orang tua Nayan Krishnan, mengatakan anaknya menikmati seluruh rangkaian kegiatan, termasuk saat mengikuti lomba meronce dan mewarnai kipas. “Ini termasuk latih untuk kontrol diri juga. Saya tanamkan kepada anak kalau menang kalah bagi saya tidak terlalu penting. Menurut saya, yang paling penting adalah kejujuran,” ujarnya. ][ *** Reporter: Medina Azzahra (FBS) Editor: @zam* Foto: Tim Humas Unesa   </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/puluhan-anak-disabilitas-peringati-kemerdekaan-lewat-aktivitas-terapi-yang-melatih-fokus-dan-interaksi</link>
  <pubDate>Sat, 15 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-08-2026-08-26-20-3649.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/puluhan-anak-disabilitas-peringati-kemerdekaan-lewat-aktivitas-terapi-yang-melatih-fokus-dan-interaksi</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>123</views>
</item>
<item>
  <id>9197</id>
  <title>Raih IPK 4,00, Wisudawan Terbaik Unesa Kembangkan E-Gamelan untuk Memudahkan Siswa Mempelajari Materi Sains</title>
  <description>  Unesa.ac.id. SURABAYA— Meraih IPK sempurna 4,00 mengantarkan Weni Rahmawanti menjadi wisudawan terbaik Program Magister Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Namun, bagi guru IPA di SMKN 1 Nganjuk itu, capaian akademik tersebut tidak berhenti pada angka. Melalui tesisnya, ia mengembangkan E-Gamelan sebagai media pembelajaran untuk membantu siswa memahami konsep bunyi sekaligus mengenalkan budaya lokal. Perempuan kelahiran Nganjuk itu mengembangkan perangkat pembelajaran inkuiri berbasis etnosains berbantuan E-Gamelan untuk meningkatkan literasi sains pada materi bunyi. Inovasi itu memadukan budaya lokal, khususnya gamelan, dengan teknologi digital serta dirancang selaras dengan Kurikulum Merdeka, pendekatan STEAM, dan pembelajaran kontekstual. Menurutnyai, pembelajaran sains selama ini masih banyak didominasi penyampaian teori sehingga konsep yang dipelajari terkadang terasa jauh dari pengalaman nyata siswa. Padahal, budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan kehidupan siswa. Melalui pendekatan etnosains, siswa tidak hanya mempelajari konsep ilmiah, tetapi juga diajak mengenal, menghargai, dan melestarikan budaya bangsa. E-Gamelan digunakan sebagai jembatan untuk membuat materi bunyi yang abstrak menjadi lebih mudah dipahami secara interaktif. “Kehadiran E-Gamelan menjadi jembatan untuk menjadikan materi bunyi yang abstrak lebih mudah dipahami secara interaktif dan menyenangkan,” ujar Weni usai jalani proses wisuda ke-121 Unesa, pada 12 Agustus 2026 lalu. Hasil penelitian menunjukkan perangkat pembelajaran tersebut mampu meningkatkan antusiasme belajar siswa. Mereka menjadi lebih aktif berdiskusi, bereksplorasi, dan memahami konsep melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna.  Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak harus meninggalkan budaya lokal. Sebaliknya, budaya dapat menjadi bagian dari strategi pembelajaran untuk meningkatkan literasi sains sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas bangsa. Di balik capaian akademiknya, perjalanan Weni menyelesaikan studi magister juga diwarnai perjuangan membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga. Sebagai guru, ia tetap menjalankan tugas mengajar sekaligus menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Ia bahkan terbiasa bangun pukul 01.00 dini hari untuk melaksanakan salat malam sebelum melanjutkan penulisan tesis hingga menjelang subuh. Setelah itu, rutinitas keluarga kembali dijalankan sebelum berangkat mengajar. Dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan utama Weni selama menyelesaikan studi. Suami dan anak-anaknya memberikan dukungan penuh, sementara kedua anaknya juga menjadi sumber inspirasi melalui prestasi mereka di bidang seni, mulai dari musik tradisional hingga mendongeng. Di luar aktivitas akademik, Weni aktif sebagai pembina OSIS, Pramuka, dan ekstrakurikuler karawitan di SMKN 1 Nganjuk. Ia juga rutin mengikuti pelatihan dan seminar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta mendirikan TPQ Ar Rahman sebagai lembaga pendidikan untuk belajar Alquran. Setelah menyelesaikan studi magister, Weni ingin terus mengembangkan pembelajaran sains yang inovatif, kontekstual, dan berbasis budaya lokal. Ia berharap hasil penelitiannya dapat diterapkan lebih luas sehingga memberi manfaat bagi guru dan peserta didik di berbagai daerah. ][ *** Reporter: Sindy Riska Fadillah (Fisipol) Editor: @zam* Dokumentasi: Weni Rahmawanti </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/raih-ipk-400-wisudawan-terbaik-unesa-kembangkan-e-gamelan-untuk-memudahkan-siswa-mempelajari-materi-sains</link>
  <pubDate>Sat, 15 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-08-2026-08-16-44-203.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/raih-ipk-400-wisudawan-terbaik-unesa-kembangkan-e-gamelan-untuk-memudahkan-siswa-mempelajari-materi-sains</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>305</views>
</item>
<item>
  <id>9196</id>
  <title>Peringatan Kemerdekaan HUT ke-81 RI di FIKK Unesa Diwarnai dengan Penguatan Budaya Hidup Sehat dan Bugar</title>
  <description>  Unesa.ac.id. SURABAYA—Kebugaran dan kekompakan menjadi dua hal yang dibangun Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia. Bukan sekadar perlombaan, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang untuk menjaga kebugaran sekaligus memperkuat kerja sama antarunit di lingkungan fakultas. Kegiatan dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia tersebut berlangsung pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Gedung U4 dan Lapangan FIKK, Kampus 2 Lidah Wetan. Rangkaian kegiatan sekaligus menjadi bagian dari program ‘FIKK Bugar’ yang selama ini dikembangkan sebagai agenda rutin fakultas. Dekan FIKK Unesa, Irmantara Subagio mengatakan kebugaran fisik merupakan salah satu fondasi untuk mendukung produktivitas kerja dan pelayanan akademik. Karena itu, momentum kemerdekaan dimanfaatkan untuk menginternalisasi nilai-nilai keolahragaan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan fakultas. “Melalui kegiatan ini, kami berupaya mewujudkan kemerdekaan yang nyata bagi civitas melalui kebugaran raga. Kami merancang perlombaan ini secara inklusif, tanpa membedakan gender, di mana setiap tim wajib melibatkan peserta perempuan untuk memupuk kekompakan dan kerja sama tim yang solid,” tuturnya.  Ketua Pelaksana, Denita Mayasari Sitio menuturkan, konsep kegiatan disusun dengan menyesuaikan karakter FIKK yang berbasis sport science. Lapangan basket dipilih sebagai arena utama untuk memberikan atmosfer kompetisi sekaligus menghadirkan pengalaman olahraga yang lebih dekat dengan identitas fakultas. Sebanyak enam jenis perlombaan digelar, mulai dari memasak mi goreng, voli sarung, hingga estafet bola pingpong. Menurut Denita, keberagaman permainan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memeriahkan perayaan, tetapi juga membangun interaksi dan koordinasi antarpeserta. “Kemasan lomba mulai dari memasak, voli sarung, hingga estafet bola pingpong diharapkan chemistry yang terbangun di lapangan ini dapat terbawa dalam aktivitas kerja sehari-hari, sehingga koordinasi antarunit di FIKK menjadi semakin kompak dan solid,” ungkapnya. Nilai sportivitas juga menjadi bagian yang dilihat peserta sebagai pengalaman yang dapat dibawa ke dalam lingkungan akademik. Yanuar Alfan Tridhana, dosen Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga yang mengikuti perlombaan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempraktikkan nilai kejujuran, sportivitas, dan pantang menyerah.  “Nilai sportivitas dan kejujuran dalam berkompetisi adalah bagian dari pendidikan karakter yang kami bawa ke dalam kelas saat berinteraksi dengan mahasiswa. Sebagai warga FIKK, menjaga kebugaran adalah sebuah keharusan agar kita mampu menyelesaikan seluruh tanggung jawab harian secara maksimal tanpa kendala kelelahan yang berarti,” ujarnya. Wakil Rektor IV Unesa, Dwi Cahyo Kartiko menegaskan bahwa kemerdekaan memiliki makna yang luas, salah satunya bebas dari masalah kesehatan. Semangat kemerdekaan, juga dapat dipahami sebagai semangat membudayakan pola hidup sehat dan bugar, sebagai salah satu cara menjaga kesehatan. “Olahraga itu butuh semangat dan semangat perlu dirawat dengan kebersamaan, sehingga bisa menjadi budaya yang sehat. Lebih jauh, dengan kegiatan seperti ini, harapnya tidak hanya sehat, tetapi juga kekompakan dan sportivitas dalam bekerja untuk Unesa dan Indonesia,” ucap guru besar FIKK tersebut. ][ *** Reporter: Dinda Aulia (FBS) Editor: @zam* Foto: Tim Humas Unesa </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/peringatan-kemerdekaan-hut-ke-81-ri-di-fikk-unesa-diwarnai-dengan-penguatan-budaya-hidup-sehat-dan-bugar</link>
  <pubDate>Fri, 14 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-08-2026-08-11-20-0796.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/peringatan-kemerdekaan-hut-ke-81-ri-di-fikk-unesa-diwarnai-dengan-penguatan-budaya-hidup-sehat-dan-bugar</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>76</views>
</item>
<item>
  <id>9195</id>
  <title>Bangkit dari Rasa Minder, Kegigihan Habib Berbuah Prestasi hingga ke Mimbar Wisudawan Terbaik</title>
  <description>  Unesa.ac.id. SURABAYA— Berangkat dari keluarga guru ngaji dan penenun, Habib Nihla Thohari berhasil menyelesaikan studi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan IPK 3,91 dan predikat pujian pada wisuda ke-121 Unesa, pada 12 Agustus 2026 lalu. Penerima KIP Kuliah tersebut juga menorehkan sejumlah prestasi akademik dan nonakademik hingga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Perjalanan Habib menuju perguruan tinggi tidak lepas dari peran kedua orang tuanya, Busairi dan Merwahidatun. Keduanya berprofesi sebagai guru ngaji sekaligus bekerja sebagai penenun di kampung halaman. Meski berasal dari keluarga dengan latar pendidikan sederhana, keduanya selalu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengubah masa depan. Kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi diperoleh Habib melalui program KIP Kuliah. Baginya, beasiswa tersebut tidak hanya membantu dari sisi pembiayaan pendidikan, tetapi juga menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi. Dari proses akademiknya, Habib mengangkat isu perundungan dalam skripsi berjudul ‘Penguatan Karakter Cinta Damai dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila sebagai Upaya Pencegahan Bullying.’ Penelitian tersebut dilakukan di SMP Wachid Hasyim Dharma Surabaya, tempat ia menjalankan Program Kampus Mengajar. Menurutnya, pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman bagi setiap peserta didik. Karena itu, penguatan karakter cinta damai perlu ditanamkan melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila sejak dini. Penelitian tersebut kemudian dikembangkan menjadi artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 3. Di luar akademik, Habib aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Pengalaman tersebut membantunya mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, jejaring, serta penyelesaian konflik. Ia melihat aktivitas organisasi dan akademik dapat berjalan beriringan selama dikelola dengan baik. Perjalanan prestasinya pun tidak langsung berjalan mulus. Pada semester awal, ia beberapa kali mengikuti perlombaan tetapi belum berhasil meraih kemenangan. Pengalaman tersebut justru menjadi titik balik untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Memasuki semester empat, capaian mulai datang. Habib meraih Juara I Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) tingkat Fisipol sekaligus Best Speaker, lolos pendanaan Program Mahasiswa Berdampak, menembus semifinal lomba debat nasional tingkat Otorita Ibu Kota Nusantara, serta meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat internasional bersama tim. Konsistensinya juga mengantarkan Habib menjadi Mahasiswa Berprestasi tingkat program studi. Namun, capaian tersebut tidak serta-merta menggambarkan perjalanan Habib. Ia mengaku pernah menjadi pribadi yang minder. Latar belakang sebagai anak desa dan pengalaman belum pernah bersekolah di sekolah negeri membuatnya sempat kesulitan beradaptasi ketika memasuki lingkungan kampus. Lingkungan organisasi yang suportif kemudian membantunya membangun kepercayaan diri. Dari sana, ia mulai berani mengambil peluang, memperluas pergaulan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Kini, setelah menyelesaikan studi sarjana, Habib menyiapkan langkah berikutnya. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui beasiswa dan bercita-cita menjadi dosen. “Ilmu akan tetap hidup ketika dibagikan kepada orang lain. Itulah alasan saya ingin menjadi dosen,” pungkasnya. ][ *** Reporter: Sindy Riska Fadilah (Fisipol) Editor: @zam* Dokumentasi: Habib Nihla Thohari </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/bangkit-dari-rasa-minder-kegigihan-habib-berbuah-prestasi-hingga-ke-mimbar-wisudawan-terbaik</link>
  <pubDate>Fri, 14 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-08-2026-08-08-52-3346.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/bangkit-dari-rasa-minder-kegigihan-habib-berbuah-prestasi-hingga-ke-mimbar-wisudawan-terbaik</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>83</views>
</item>
<item>
  <id>9194</id>
  <title>Unesa Perluas Akses Pendidikan Tinggi di Kalimantan, dan Perkuat Kolaborasi dan Jejaring Alumni</title>
  <description>  Unesa.ac.id., SURABAYA— Akses informasi mengenai pendidikan tinggi menjadi salah satu kebutuhan penting bagi calon mahasiswa dalam menentukan pilihan studi. Karena itu, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui bidang kerja sama hadir dalam Campus Fair 2026 di Kutai Kartanegara, 8–9 Agustus 2026 lalu. Kegiatan tersebut menjadi agenda penting dalam membuka akses informasi, memperluas akses pendidikan sekaligus memperkuat jejaring akademik dan alumni di Kalimantan Timur. Kegiatan yang diikuti 26 perguruan tinggi dari berbagai daerah tersebut dimaksimalkan Unesa tidak hanya untuk mengenalkan program studi dan keunggulan kampus kepada siswa SMA sederajat, tetapi juga mengembangkan jejaring alumni serta membuka peluang implementasi kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Kalimantan Timur. Kasubdit Partnership and Promotion Unesa, Slamet Setiawan, mengatakan keikutsertaan Unesa dalam Campus Fair 2026 menjadi bagian dari upaya mendekatkan informasi pendidikan tinggi kepada calon mahasiswa di Kalimantan. Interaksi secara langsung juga memberikan ruang bagi Unesa untuk mengetahui bidang studi yang diminati calon mahasiswa. “Dari kunjungan ke booth Unesa, tercatat sebanyak 240 siswa mengisi Google Form. Data tersebut memuat pilihan program studi atau bidang yang diminati calon mahasiswa di Unesa,” jelas guru besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa itu. Menurut Slamet, data tersebut dapat menjadi bagian dari pemetaan minat calon mahasiswa sekaligus bahan untuk memperkuat strategi pengenalan program studi Unesa di wilayah Kalimantan. Kehadiran Unesa di Kutai Kartanegara juga melibatkan alumni yang berada di Kalimantan Timur. Para alumni mengikuti parade kampus sebagai bagian dari rangkaian Campus Fair 2026. Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menginisiasi penguatan jejaring alumni melalui rencana pembentukan Ikatan Alumni Unesa (IKA) di Kalimantan Timur. Dengan demikian, keberadaan alumni tidak hanya menjadi bagian dari jejaring informal, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai mitra dalam memperluas hubungan Unesa di daerah. Selain memperkuat jejaring alumni, Campus Fair 2026 membuka ruang bagi Unesa untuk memperkenalkan keunggulan institusi kepada perguruan tinggi lain. Salah satunya melalui pengenalan program Tri Metric yang mencakup tiga bidang, yakni disabilitas, olahraga, dan seni. Ruang kolaborasi juga diperluas melalui pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Unesa sebelumnya telah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan Pemkab Kukar. Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah peluang implementasi kerja sama, antara lain bidang riset, penerimaan mahasiswa melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta studi lanjut jenjang magister dan doktor. Pembahasan pengembangan studi lanjut juga dilakukan bersama Rektor Universitas Kutai Kartanegara. Unesa menawarkan peluang kerja sama bagi dosen yang belum menempuh pendidikan doktor. “Untuk dosen-dosen yang belum S3, kami tawarkan kerja sama dengan Unesa. Ini disambut baik dan nantinya mungkin akan ditindaklanjuti dengan PKS,” pungkasnya. ][ *** Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq Editor: @zam* Foto: Tim Kerja Sama Unesa </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/unesa-perluas-akses-pendidikan-tinggi-di-kalimantan-dan-perkuat-kolaborasi-dan-jejaring-alumni</link>
  <pubDate>Thu, 13 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-08-2026-07-59-05-6111.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/unesa-perluas-akses-pendidikan-tinggi-di-kalimantan-dan-perkuat-kolaborasi-dan-jejaring-alumni</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>74</views>
</item>
<item>
  <id>9193</id>
  <title>Unesa-NAIST Jepang Buka Ruang Belajar dan Riset Mahasiswa di Bidang AI hingga Material Sains</title>
  <description>  Unesa.ac.id. SURABAYA— Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang, membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas bagi mahasiswa dan peneliti melalui kerja sama di bidang sains dan teknologi. Kolaborasi tersebut diarahkan pada program student internship, student exchange, serta penelitian bersama, dengan fokus awal pada sains informasi, kecerdasan buatan (AI), sains digital, dan material sains. Peluang tersebut diperluas melalui Unesa dan NAIST menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di Gedung Rektorat Kampus II Lidah Wetan, Surabaya, Kamis, 13 Agustus 2026. Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Unesa, Dwi Cahyo Kartiko, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari perluasan jejaring akademik internasional Unesa yang diarahkan pada program-program konkret. Menurutnya, kerja sama dengan NAIST dapat dikembangkan melalui pertukaran mahasiswa, publikasi ilmiah bersama, seminar, konferensi akademik, hingga berbagai kegiatan yang mendukung peningkatan kapasitas akademik.  “Unesa sebelumnya telah membangun hubungan dengan sejumlah perguruan tinggi di Jepang, seperti Osaka Kyo University, Kyushu University, Shunan University, dan Nara Women’s University. Kerja sama dengan NAIST menjadi bagian dari perluasan kemitraan tersebut untuk membuka peluang baru dalam pengembangan pendidikan dan riset berbasis sains teknologi,” ujarnya. Implementasi awal kerja sama tersebut akan diarahkan pada program student internship, student exchange, dan penelitian bersama. Assistant Professor dari Graduate School of Information Science NAIST, Christopher Wiraatmaja, menjelaskan mahasiswa Unesa berkesempatan mengikuti kegiatan akademik di NAIST dengan durasi mulai satu minggu hingga enam bulan, sesuai kebutuhan program. Kolaborasi awal juga melibatkan Fakultas Teknik Unesa dengan sejumlah topik karya ilmiah yang telah dikembangkan bersama. Bidang yang menjadi perhatian mencakup sains informasi, AI, sains digital, serta material sains.  Selain mobilitas mahasiswa, kerja sama tersebut membuka ruang bagi dosen dan laboratorium dari kedua institusi untuk mengembangkan penelitian bersama. Kolaborasi ini diharapkan dapat berkembang lebih luas hingga membangun kerja sama antarlaboratorium. Professor of Graduate School of Information Science NAIST, Shoji Kasahara, menyampaikan apresiasi atas terwujudnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kemitraan Unesa dan NAIST menjadi dasar untuk membangun hubungan jangka panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ia berharap kolaborasi kedua institusi dapat menghasilkan inovasi baru, memperkuat pertukaran pengetahuan, serta mendukung pengembangan generasi peneliti dan pemimpin masa depan. Program kerja sama juga mencakup seminar, lokakarya, serta berbagai program pendidikan inovatif. ][ *** Reporter: Puput Editor: @zam* Foto: Tim Humas Unesa </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/unesa-naist-jepang-buka-ruang-belajar-dan-riset-mahasiswa-di-bidang-ai-hingga-material-sains</link>
  <pubDate>Thu, 13 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-13-08-2026-07-16-20-3269.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/unesa-naist-jepang-buka-ruang-belajar-dan-riset-mahasiswa-di-bidang-ai-hingga-material-sains</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>303</views>
</item>
<item>
  <id>9192</id>
  <title>Usia 72 Tahun, Tri Prasetiyowati ke â€˜Bangku Perkuliahanâ€™ untuk Memahami Perkembangan Zaman dan Generasi yang Berubah</title>
  <description>  Unesa.ac.id., SURABAYA— Bagi Tri Prasetiyowati, pendidikan tidak mengenal kata terlambat. Di usia 72 tahun, ia masih duduk di bangku kuliah dan menyelesaikan pendidikan magister Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Pada Wisuda Unesa Periode ke-121, Rabu, 12 Agustus 2026, Tri menjadi wisudawan tertua. Namun, Tri tidak kembali ke bangku kuliah untuk mengejar pekerjaan atau sekadar menambah gelar. Ada alasan yang lebih personal. Ia ingin memahami perubahan cara berkomunikasi dan mendidik anak-anak yang menurutnya semakin berbeda dengan generasinya. Sebagai ibu dua anak, Tri merasakan sendiri perubahan tersebut. Cara anak-anak berkomunikasi dan menyampaikan pendapat kini tidak lagi sama dengan ketika dirinya tumbuh dan dibesarkan. “Ketika anak-anak semakin besar, saya selalu mendidik mereka dengan cara saya sendiri. Mulai dari bayi itu saya tangani sendiri. Lama-lama saya merasa sebagai ibu itu dengan zaman saya dulu jauh berbeda. Kalau saya dulu melihat orang tua, saya tirukan. Dikasih kode sudah mengerti. Kalau masa anak saya, kalau saya bilang gitu, dia bisa ngomong pendapatnya sendiri,” ujarnya. Keinginan untuk memahami perubahan zaman dan generasi itu kemudian membawanya kembali ke dunia pendidikan. Sebelumnya, Tri pernah menempuh pendidikan tinggi hingga semester empat ketika masih muda. Namun, perjalanan tersebut terhenti setelah ia menikah dan menjalani peran sebagai ibu sekaligus mendampingi suaminya yang merupakan prajurit TNI Angkatan Laut. Keinginan belajar tidak pernah benar-benar hilang. Ketika pandemi Covid-19 membatasi berbagai aktivitas pada 2020, Tri yang saat itu berusia 66 tahun memutuskan kembali menempuh pendidikan S-1 Bimbingan dan Konseling di Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA). Empat tahun kemudian, pada September 2024, ia menyelesaikan pendidikan sarjananya. Setelah itu, Tri melanjutkan pendidikan magister Bimbingan dan Konseling di Unesa. Perjalanan kembali ke bangku kuliah pada usia itu tentu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dirasakan Tri adalah kemampuan mengingat materi yang menurutnya tidak lagi sama seperti ketika masih muda. Ia pun menemukan cara sendiri untuk mengatasinya. Selain memiliki buku dan membaca kembali materi, Tri merekam penjelasan dosen, memanfaatkan Google, hingga membuat singkatan agar lebih mudah mengingat materi perkuliahan. “Tantangannya kalau sudah usia gini, dijelasin materi itu memang ingat tapi gampang hilang. Jadi saya harus punya bukunya dan penjelasan dari dosen saya rekam. Di samping itu bantuan dari Google. Itu luar biasa. Dulu kalau kuliah harus itu perpustakaan, dengan usia yang segini enggak usah wira-wiri,” tuturnya. Dukungan keluarga turut menjadi sumber kekuatan selama menjalani pendidikan. Di sisi lain, pengalaman belajar bersama mahasiswa yang usianya jauh lebih muda justru memberinya pengalaman baru dalam memahami generasi muda. Menariknya, pengalaman Tri sebagai mahasiswa juga membawanya meneliti persoalan yang banyak dihadapi mahasiswa muda. Dalam tesis magisternya, ia mengkaji pengaruh mekanisme coping, penyesuaian akademik, dan dukungan sosial terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa tahun pertama. Bagi Tri, kembali belajar bukan sekadar tentang memperoleh gelar. Pendidikan memberinya kesempatan untuk memahami perubahan, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, sekaligus melihat generasi muda dari perspektif yang berbeda. Perjalanannya menunjukkan bahwa belajar tidak selalu harus dimulai pada usia tertentu atau berhenti ketika seseorang telah memasuki usia tertentu. Pada usia 72 tahun, ketika fase pendidikan bagi sebagian orang mungkin dianggap telah selesai, Tri justru menemukan alasan baru untuk terus belajar: memahami perubahan dan tetap bertumbuh bersama generasi yang terus bergerak.][ *** Reporter: Dava Yessy Marshela (FBS) Editor: @zam* Foto: Tim Humas Unesa </description>
  <link>https://www.unesa.ac.id/usia-72-tahun-tri-prasetiyowati-ke-bangku-perkuliahan-untuk-memahami-perkembangan-zaman-dan-generasi-yang-berubah</link>
  <pubDate>Thu, 13 Aug 2026</pubDate>
  <image>https://www.unesa.ac.id/images/foto-13-08-2026-07-14-39-4776.png</image>
  <guid isPermaLink="false">https://www.unesa.ac.id/usia-72-tahun-tri-prasetiyowati-ke-bangku-perkuliahan-untuk-memahami-perkembangan-zaman-dan-generasi-yang-berubah</guid>
  <kategori>Berita Unesa</kategori>
  <views>315</views>
</item>
</channel>
</rss>
