<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589</id><updated>2024-09-09T12:00:53.309+07:00</updated><title type="text">Kenotariatan dan Pertanahan</title><subtitle type="html">Berbagai penelitian di bidang kenotariatan dan pertanahan Indonesia.</subtitle><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/posts/default" rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default?redirect=false" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/" rel="alternate" type="text/html"/><link href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" rel="hub"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false" rel="next" type="application/atom+xml"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><generator uri="http://www.blogger.com" version="7.00">Blogger</generator><openSearch:totalResults>108</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-1089032960461351434</id><published>2013-12-30T12:00:00.000+07:00</published><updated>2013-12-30T12:00:10.911+07:00</updated><title type="text">Pemungutan PPh. Final Atas Akta Sewa Tanah dan/atau Bangunan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kemas D. Hamdani, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Pajak
Penghasilan merupakan salah satu pelaksanaan pengenaan pajak kepada masyarakat
yang ditujukan agar setiap penghasilan yang diperoleh oleh Wajib Pajak
diharapkan dapat diberikan kepada Negara guna pembangunan sesuai tarif pajak
yang telah ditetapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan
untuk mengetahui peranan Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam pelaksanaan
pemungutan Pajak Penghasilan yang bersifat final atas sewa tanah dan/atau
bangunan, apakah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku yaitu
Undang-undang Pajak Penghasilan beserta aturan pelaksanaannya dalam Peraturan
Pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Penulisan
tesis ini menggunakan sumber hukum berupa bahan hukum primer maupun bahan hukum
sekunder. Bahan hukum primer berisi tentang norma hukum berupa peraturan
Perundang-undangan. Sedangkan bahan hukum sekunder dapat diperoleh dari
literatur-literatur mengenai ilmu hukum, khususnya mengenai pajak penghasilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;PPh
Final berbeda dengan objek pajak pada umumnya, baik dari segi obyek yang
dikenakan, tarifnya, maupun tata cara pelaksanaannya. Objek PPh Final itu
sendiri didapat dari Sewa Tanah dan/atau bangunan, apartemen, rumah susun dan
lain-lain. Berbicara Sewa Tanah dan/atau bangunan itu sendiri tidak lepas dari Pejabat
Pembuat Akta Tanah karena ia berwenang untuk membuat aktanya. Berkaitan dengan
Pasal 6 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, bahwa itu bukanlah
wewenang atribusi dan delegasi untuk Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam rangka
pendaftaran tanah, karena sejak awal pembuatan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah
bukanlah wewenang Badan Pertanahan Nasional/Kepala Kantor Pertanahan. Akan
tetapi terkait dengan tugas Pejabat Pembuat Akta Tanah sebagai pemungut PPh
Final, hal tersebut merupakan pendelegasian terhadap perundang-undangan. Ini
dapat dibuktikan dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 Tentang Pembayaran
Pajak Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/1089032960461351434/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/pph-final-sewa-tanah-dan-bangunan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1089032960461351434" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1089032960461351434" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/pph-final-sewa-tanah-dan-bangunan.html" rel="alternate" title="Pemungutan PPh. Final Atas Akta Sewa Tanah dan/atau Bangunan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-4834159863807670156</id><published>2013-12-29T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-12-29T11:30:01.602+07:00</updated><title type="text">Sanksi Hukum Bagi Notaris yg Menolak Menerima Magang</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;(Menurut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Undang-Undang Jabatan Notaris&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt; dan Kode Etik Notaris)&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Rika R. Cahyaningrum, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Penulisan
tesis ini berjudul sanksi hukum bagi Notaris yang menolak menerima magang
(Menurut Kode Etik Notaris dan Undang-Undang Jabatan Notaris), yang bertujuan
untuk: pertama, menganalisa peraturan tentang magang calon Notaris. Kedua,
menganalisa penjatuhan sanksi terhadap NotarIs yang menolak magang calon
Notaris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Metode
penelitian menggunakan tipe penelitian doctrinal research, yakni tipe
penelitian hukum yang berusaha untuk menemukan prinsip-prinsip hukum, aturan
hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab issue hukum yang dihadapi dan
pendekatan masalah statute approach (pendekatan perundang-undangan) yaitu
pendekatan masalah yang dikaji melalui perundang-undangan yang kemudian
dikaitkan dengan permasalahan yang dibahas, yaitu Undang-Undang No.30 tahun
2004 tentang Jabatan Notaris dan conceptual approach (pendekatan konseptual),
yaitu pendekatan yang didasarkan pada literatur-literatur yang berkaitan dengan
sanksi hukum terhadap Notaris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Berdasarkan
hasil penelitian dapat disimpulkan pertama, seorang calon Notaris wajib
melakukan magang untuk memenuhi syarat pengangkatan Notaris yang diatur dalam
pasal 3 huruf f Undang-Undang Jabatan Notaris yang mana syarat pengangkatan ini
bersifat mutlak dan harus dilaksanakan oleh calon Notaris, apabila calon
Notaris tidak melakukan magang maka calon Notaris tidak memenuhi syarat
pengangkatan dan tidak dapat diangkat menjadi Notaris. Penerimaan magang calon
Notaris ini merupakan kewajiban Notaris hal ini ditegaskan dalam pasal 16 huruf
m dan kedua, sanksi yang dapat diberikan kepada Notaris yang menolak magang
calon Notaris termuat secara implisit dalam pasal 12 huruf d Undang-Undang
Jabatan Notaris yang menegaskan bahwa Notaris dapat diberhentikan secara tidak
hormat apabila melakukan pelanggaran berat dengan kewajiban dan larangan
Notaris, sehingga Notaris dapat dikenakan sanksi administratif yang penjatuhan
sanksinya berjenjang dari teguran lisan hingga pemberhentian secara tidak
hormat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/4834159863807670156/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/sanksi-hukum-bagi-notaris-yg-menolak.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/4834159863807670156" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/4834159863807670156" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/sanksi-hukum-bagi-notaris-yg-menolak.html" rel="alternate" title="Sanksi Hukum Bagi Notaris yg Menolak Menerima Magang" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-6455405408012316363</id><published>2013-12-27T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-12-27T11:30:00.069+07:00</updated><title type="text">Analisa Pembiayaan sbg Pelaksanaan Prinsip Kehati-hatian dlm Perbankan Syariah</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Anastasia E. Widayati, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang dalam hal memperoleh
penyaluran dana atau pembiayaan dari suatu bank khususnya bank syariah, maka
dibutuhkan kepercayaan yang dari pihak nasabah atau dari pihak bank yang
bersangkutan. Bank syariah dalam penyaluran dana atau pembiayaan kepada
masyarakat sangat memperhatikan beberapa prinsip, terutama prinsip
kehati-hatian. Dalam melakukan penyaluran dana atau pembiayaan kepada nasabah
harus berdasarkan prinsip syariah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Dalam
tesis ini penyusun memfokuskan pada penerapan prinsip kehati-hatian dari bank
syariah dalam melakukan penyaluran dana atau pembiayaan kepada nasabah
berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan
Syariah. Prinsip kehati-hatian diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008
Tentang Perbankan Syariah pasal 35 yang membahas Unit Usaha Syariah dan Bank
Syariah dalam melakukan kegiatan usahanya wajib menerapkan prinsip
kehati-hatiannya. Prinsip kehati-hatian itu sendiri adalah pedoman pengelolaan
yang wajib dianut guna mewujudkan perbankan yang kuat, sehat, dan efisien serta
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dan yang menjadi
perhatian dalam tesis ini adalah pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian
dalam perbankan syariah untuk menganalisa penyaluran dana atau pembiayaan
kepada nasabah sebelum memutuskan pemberian kredit kepada nasabahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/6455405408012316363/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/prinsip-kehati-hatian-bank-syariah.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/6455405408012316363" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/6455405408012316363" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/prinsip-kehati-hatian-bank-syariah.html" rel="alternate" title="Analisa Pembiayaan sbg Pelaksanaan Prinsip Kehati-hatian dlm Perbankan Syariah" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-1886545525499801281</id><published>2013-12-21T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-12-21T11:30:01.393+07:00</updated><title type="text">Tanggung Gugat Notaris yg Tergabung dlm Perserikatan Perdata</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Mahkamah I. P. Putra, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Perserikatan
Perdata Notaris yang tertuang dalam Pasal 20 ayat (1) UUJN yang menjelaskan
hanya sebatas kantor bersama, tentunya menuai kontroversi. Hal ini disebabkan
perserikatan perdata telah ada aturan yang mengaturnya dalam BW, sementara
penjelasan Pasal 20 ayat (1) UUJN mengatakan perserikatan perdata notaris
merupakan kantor bersama, sehingga telah menimbulkan pertentangan antara
penjelasan dan batang tubuh serta menimbulkan suatu norma baru. Perserikatan
pada BW, dalam hal pertanggung jawaban, bertanggung jawab secara pribadi
sepanjang sekutu tersebut tidak mendapat kuasa dari sekutu lainnya ataupun
tindakan dari sekutu tersebut tidak telah mendapat manfaat bagi persekutuan.
Apabila terjadi permasalahan yang mengakibatkan sekutu tersebut harus
bertanggung jawab, maka sekutu lainnya juga harus bertanggung jawab, atau
disebut tanggung renteng. Akan tetapi, dalam perserikatan perdata Notaris,
tidak dikenal pemberian kuasa antar sekutu/Notaris, ataupun jika tindakan hukum
notaris tersebut mendapatkan manfaat bagi perserikatan perdata notaris. Hal ini
bertentangan dengan prinsip dalam Perserikatan yang diatur dalam BW, di satu
sisi, apabila konsep Perserikatan dalam BW murni diterapkan, akan bertentangan
dengan Prinsip kemandirian Notaris dimana otoritas pembuatan akta hanya ada
pada diri Notaris, tidak atas nama perserikatan perdata. Hubungan hukum antara
Notaris dan klien yang datang menghadap untuk memformulasikan keinginan mereka
ke dalam akta otentik, menjadi landasan bagi para penghadap menggugat Notaris
jika terjadi cacat yuridis yang disebabkan oleh kesalahan Notaris yang
bersangkutan. Kesalahan Notaris yang menyebabkan kerugian bagi penghadap
menjadi awal tanggung gugat Notaris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/1886545525499801281/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/perserikatan-perdata-notaris.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1886545525499801281" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1886545525499801281" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/perserikatan-perdata-notaris.html" rel="alternate" title="Tanggung Gugat Notaris yg Tergabung dlm Perserikatan Perdata" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-6192191557915726900</id><published>2013-12-19T12:00:00.000+07:00</published><updated>2013-12-19T12:00:00.267+07:00</updated><title type="text">Notaris sbg Deelnemer dlm Tindak Pidana Pemalsuan Akta Otentik</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Andina W. M. Teguh, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Notaris
merupakan pejabat umum yang diberi kewenangan oleh negara untuk membuat akta
otentik. Dalam jabatan notaris terdapat kepercayaan publik yang sangat besar. Kewenangan
dan tugas notaris membuat akta otentik diikuti pula oleh tanggung jawab
notaris, baik yang sudah ditentukan dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004
tentang Jabatan Notaris maupun Kode Etik Jabatan Notaris. Namun, terdapat
beberapa kasus tindak pidana pemalsuan akta otentik yang menyangkut Notaris
baik sebagai saksi maupun terdakwa. Perlu ditelaah lebih lanjut, dalam hal
Notaris tersebut sebagai pelaku tindak pidana pemalsuan akta otentik atau
sebagai pelaku penyerta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Dalam
penulisan ini dianalisa lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk dan teori penyertaan.
Bentuk penyertaan dapat dilihat didalam Pasal 55 dan 56 KUHP. Didalam rumusan
Pasal 55 KUHP dibedakan bentuk-bentuk mededader (para peserta, para pembuat).
Kelompok ini terdiri dari orang yang melakukan/pelaku (plegen), yang turut
serta melakukan (mede plegen), yang menyuruhlakukan (doen plegen), sengaja
menganjurkan/penganjur (uitlokken). Sedangkan di dalam Pasal 56 KUHP dijelaskan
mengenai pembantuan (medeplichtige). Penulis menganalisa bentuk-bentuk tindak
pidana penyertaan (deelneming) pemalsuan akta otentik yang mungkin dapat
dilakukan oleh Notaris. Sedangkan pertanggungjawaban pidana Notaris sebagai
“Deelnemer” dalam tindak pidana pemalsuan akta otentik dapat dilihat sesuai
kapasitas peran Notaris dalam kasus penyertaan (deelneming) tersebut. Prinsip
pertanggungjawaban pelaku tindak pidana juga harus dilakukan pertanggungjawaban
pidana terhadap perbuatan penyertaan (deelneming).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/6192191557915726900/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/tindak-pidana-penyertaan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/6192191557915726900" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/6192191557915726900" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/tindak-pidana-penyertaan.html" rel="alternate" title="Notaris sbg Deelnemer dlm Tindak Pidana Pemalsuan Akta Otentik" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-8485479030583292569</id><published>2013-12-17T18:00:00.000+07:00</published><updated>2013-12-17T18:00:02.733+07:00</updated><title type="text">Perjanjian Pemberian Jaminan dan Kuasa (PPJK) dlm Rangka Pengadaan Rumah Hunian</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Mario U. Jeremia, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Pembiayaan
rumah yang dibeli oleh konsumen dari pengembang yang uang pembayarannya
dilunasi oleh bank penyalur KPR, sertifikat komplek perumahan itu dijaminkan
oleh pihak pengembang kepada bank yang memberikan pinjaman dana guna membangun
kompkek perumahan yang bersangkutan. Kalau kemudian konsumen membeli satu unit
rumah yang pembayarannya dilunasi oleh bank penyalur KPR, sesuai prinsip
kehati-hatian, bank yang bersangkutan ingin dana yang disalurkan tetap aman,
maka bank akan minta jaminan. Rumah yang dibeli itulah yang dijadikan jaminan,
jelas belum dapat dilihat dengan perjanjian pembebanan. Dalam praktek ada
beberapa cara yang ditempuh oleh pihak bank sebagai upaya awal untuk
menyelamatkan dana pinjaman, antara lain dibuatlah Perjanjian Pemberian Jaminan
dan Kuasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Permasalahan
dalam penelitian ini adalah hubungan hukum para pihak dalam rangka pengadaan
Rumah Hunian yang sertifikat induknya masih dijaminkan oleh pengembang dan
upaya hukum apa yang dilakukan oleh pihak Bank yang mengeluarkan dana pembelian
rumah hunian pada konsumen apabila debitor wanprestasi? Penelitian ini
menggunakan tipe penelitian yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan
konseptual (conceptual approach) dan pendekatan undang-undang (statute approach).
Bahan hukum yang digunakan yaitu bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Hasil
penelitian menjelaskan bahwa hubungan hukum para pihak antara pengembang dengan
konsumen didasarkan atas perjanjian pemesanan tanah berupa perumahan dan ikatan
jual beli hak atas tanah, pengembang dengan bank penyedia dana didasarkan atas
perjanjian kerjasama dan hubungan antara konsumen dengan bank didasarkan atas
perjanjian pemberian kredit. Pada perjanjian pemberian kredit yang dibuat
antara pengembang dengan bank penyedia dana dengan menyerahkan sertifikat unduk
sebagai jaminan kredit. Upaya hukum yang dilakukan oleh pihak Bank terhadap
debitor yang tidak mampu mengembalikan kreditnya, ialah bank mengambil
pelunasan dengan mendasarkan pada akta perjanjian kerjasama antara pengembang
dengan bank berdasarkan pasal 1 ayat (6) bagian c bahwa apabila pembeli tidak
membayar angsuran tiga bulan berturut-turut, maka pihak pertama (pengembang)
wajib membayar utang seketika dan sekaligus lunas, yang lebih dikenal dengan
buyback.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/8485479030583292569/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/perjanjian-pemberian-jaminan-dan-kuasa.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/8485479030583292569" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/8485479030583292569" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/perjanjian-pemberian-jaminan-dan-kuasa.html" rel="alternate" title="Perjanjian Pemberian Jaminan dan Kuasa (PPJK) dlm Rangka Pengadaan Rumah Hunian" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-2368092925157607683</id><published>2013-12-10T18:30:00.000+07:00</published><updated>2013-12-10T18:30:00.850+07:00</updated><title type="text">Konflik Norma dlm Peraturan Lelang Tentang Kewenangan Membuat Risalah Lelang dan Undang Undang Jabatan Notaris</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Prawita Trisnawati, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Dalam
penulisan tesis ini, penulis mencoba untuk menulis mengenai adanya konflik atau
tumpang tindih norma hukum dalam Undang-Undang mengenai Risalah Lelang tentang
siapa pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam membuat risalah lelang dan Undang-Undang
mengenai Jabatan Notaris, dan bagaimana pula kedudukan risalah lelang dalam hal
kedudukannya sebagai akta otentik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Dalam
kehidupan masyarakat, Notaris telah menjadi profesi yang memegang peranan
penting karena mempunyai tugas memberikan penyuluhan dan pelayanan hukum kepada
masyarakat dan juga mempunyai kewenangan untuk membuat akta otentik yang
merupakan alat bukti tertulis dari suatu perbuatan hukum atau keadaan,
peristiwa hukum. Notaris menuangkan segala kejadian ataupun kehendak para pihak
ke dalam akta otentik tersebut sehingga isi dari akta otentik tersebut secara
formil mengikat para pihak dan menjadi alat bukti yang sempurna bagi
pihak-pihak yang terkait.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117 Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4432 (selanjutnya akan disebut Undang-Undang
Jabatan Notaris), ada beberapa hal baru yang diatur, salah satu diantaranya
dapat dijumpai pada ketentuan Pasal 15 ayat (2) huruf g dimana Notaris
berwenang pula membuat akta Risalah Lelang. Hal ini tentu sangat menarik karena
dengan diberlakukannya Undang-Undang Jabatan Notaris berarti Notaris mempunyai
kewenangan yang sama dengan Pejabat Lelang untuk membuat akta Risalah Lelang
yang merupakan berita acara yang dibuat oleh Pejabat Lelang dalam suatu
pelaksanaan lelang. Untuk Pejabat Lelang acuan hukumnya adalah Peraturan Lelang
(Vendu Reglement, Stbl. 1908 : 189 sebagaimana telah diubah dengan Stbl. 1940 :
56), sedangkan untuk Notaris, acuan yang digunakan untuk membuat sebuah akta
otentik adalah Undang-Undang Jabatan Notaris. Sehingga dapat dikatakan telah
timbul banyak pertanyaan terkait dengan akta otentik dan Risalah Lelang yang
dibuat Notaris tersebut. Dalam hal untuk menemukan bagaimana kedudukan notaris
dalam pembuatan risalah lelang dan bagaimana kedudukan risalah lelang tersebut,
penulis mempergunakan metode yuridis normatif untuk menganalisa fakta
perundang-undangan yang ada tersebut serta memberikan kajian yang komprehensif.
Belum adanya penyelesaian yang signifikan akan tumpang tindih semacam ini pada
saatnya nanti akan menimbulkan satu konflik norma yang akan mengarah kepada
satu bentuk ketidakpastian hukum akan risalah lelang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Melalui
penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka diperoleh jawaban bahwa pejabat
lelang sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan adalah pihak
yang paling berwenang dalam pembuatan risalah lelang. Hal ditegaskan dengan
penggunaan azas hukum lex specialist derogat lex generalis, dimana Peraturan
Menteri Keuangan nomor 305/KMK.01/2002 tentang Pejabat Lelang, berkedudukan
sebagai peraturan yang lebih khusus dalam peraturan mengenai pembuatan risalah
lelang. Menilai fakta-fakta hukum tersebut, maka dibutuhkan adanya keseriusan
dari pembuat undang-undang untuk dengan segera mengakhiri tumpang tindih
semacam ini. Adanya konflik dengan Undang-Undang mengenai Jabatan Notaris
membuat penulis memberikan solusi atau saran untuk supaya Undang-Undang tersebut
diadakan sebuah revisi mengenai kewenangan notaris dalam membuat risalah lelang
dengan mengadopsi atau menambah satu klausul sebagaimana yang tertera dalam
Peraturan yang lebih khusus. Sehingga dengan demikian, segala proses
pembentukan hingga kedudukan risalah lelang dapat memiliki satu kepastian norma
hukum. Segala konflik norma dan kesimpang-siuran dapat tereduksi dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/2368092925157607683/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/konflik-norma-dlm-peraturan-lelang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/2368092925157607683" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/2368092925157607683" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/konflik-norma-dlm-peraturan-lelang.html" rel="alternate" title="Konflik Norma dlm Peraturan Lelang Tentang Kewenangan Membuat Risalah Lelang dan Undang Undang Jabatan Notaris" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-9149530650102786882</id><published>2013-12-09T18:00:00.000+07:00</published><updated>2013-12-09T18:00:10.803+07:00</updated><title type="text">Pembuatan WEB oleh Notaris di Internet Terkait dgn Larangan Promosi atau Publikasi Lewat Media Elektronik</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Boy F. Halim, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Tesis
ini menjelaskan mengenai larangan promosi atau publikasi bagi seorang Notaris
serta mengkaji dan menganalisa apakah tindakan pembuatan Web oleh Notaris
tersebut merupakan Promosi atau Publikasi sebagaimana yang dilarang dalam Pasal
4 ayat (3) Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia. Metode yang digunakan yaitu
Penelitian Hukum Normatif dimana dalam Penelitian ini memberikan suatu
penjelasan yang sistematis tentang norma yang mengatur kategori tertentu,
menganalisa hubungan antara norma, menjelaskan bidang-bidang yang sulit atau
menimbulkan masalah Hukum dan mungkin dapat memprediksi perkembangan masa
depan. Penulisan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan
(Statute Approach) dan pendekatan konseptual (Conceptual Apprroach).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Kesimpulan
dari permasalahan di dalam tesis ini adalah Pengertian mengenai Promosi atau Publikasi
haruslah dipilah terlebih dahulu dimana dalam hal ini yang menentukan adalah
kewenangan dari Dewan Kehormatan, berkaitan dengan Pembuatan Web oleh Notaris
hal ini tidak menjadi masalah asalkan Notaris tidak mencantumkan jabatan dan
kedudukannya sebagai Notaris sebagaimana yang diatur dalam Pasal 5 Kode Etik
Ikatan Notaris Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/9149530650102786882/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/pembuatan-web-oleh-notaris-di-internet.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/9149530650102786882" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/9149530650102786882" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/pembuatan-web-oleh-notaris-di-internet.html" rel="alternate" title="Pembuatan WEB oleh Notaris di Internet Terkait dgn Larangan Promosi atau Publikasi Lewat Media Elektronik" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-7632654186949838886</id><published>2013-12-08T18:30:00.000+07:00</published><updated>2013-12-08T18:30:00.371+07:00</updated><title type="text">Keabsahan Akta Akad Bank Syariah yg Dibuat oleh Notaris yg Tidak Bersertifikat Lembaga Keuangan Syariah</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;(Studi Kasus di Kupang NTT)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Lilies Pratiwipuspa, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Sasaran
utama dalam penelitian ini untuk mengetahui tentang keabsahan akta akad Bank
Syariah yang dibuat oleh Notaris yang tidak bersertifikat Lembaga Keuangan
Syariah dan Sanksi terhadap Notaris yang bersertifikat Lembaga Keuangan Syariah
di luar tempat kedudukan dan wilayah jabatannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Metode
penelitian ini dibatasi oleh perumusan masalah, tradisi keilmuan dan obyek yang
diteliti itu sendiri. Tipe penelitian ini merupakan pengkajian normatif dan
dilakukan dengan cara melakukan evolusi terhadap Undang-Undang yang diinginkan
(Law Reform Oriented). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan konseptual
(Conceptual Apprroach), beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin
yang berkembang di dalam Ilmu Hukum, pendekatan perundang-undangan (Statute
Approach) yang dilakukan dengan menelaah regulasi dan undang-Undang yang
bersangkut paut dengan issu yang dihadapi dan studi kasus (Case Study) merupakan
studi terhadap kasus tertentu yang dilihat dari berbagai aspek hukum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Untuk
menemukan jawaban di atas, dilakukan penelitian, setelah bahan hukum
dikumpulkan, kemudian dianalisis dan diolah. Pertama-tama bahan hukum
dikualifikasikan menurut permasalahan yang diajukan, kemudian disusun secara
sistematis sesuai dengan kerangka penulisan yang telah disiapkan. Keseluruhan
bahan hukum kemudian dianalisa dengan menggunakan penafsiran-penafsiran untuk
dapat diperoleh kesimpulan, selanjutnya disajikan secara deskriptif analisis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Pada
dasarnya semua Notaris berwenang membuat akta akad Bank Syariah, namun apabila
Notaris tersebut tidak bersertifikat Lembaga Keuangan Syariah, dalam proses
pembuatannya cenderung melanggar UUJN sehingga produk akta akad Bank Syariah
yang telah dibuatnya akan terdegradasi menjadi akta di bawah tangan bahkan akta
tersebut dapat dibatalkan sehingga akta tersebut dianggap tidak pernah ada.
Pada dasarnya Notaris hanya berwenang membuat akta dalam wilayah jabatannya
sehingga proses pembuatan akta akad Bank Syariah oleh Notaris yang
bersertifikat Lembaga Keuangan Syariah hanya dapat dilakukan dalam wilayah
jabatan Notaris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/7632654186949838886/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/keabsahan-akta-akad-bank-syariah.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7632654186949838886" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7632654186949838886" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/keabsahan-akta-akad-bank-syariah.html" rel="alternate" title="Keabsahan Akta Akad Bank Syariah yg Dibuat oleh Notaris yg Tidak Bersertifikat Lembaga Keuangan Syariah" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-8720901082772147806</id><published>2013-12-07T18:00:00.000+07:00</published><updated>2013-12-07T18:00:04.546+07:00</updated><title type="text">Jual Beli Kavling Tanah Matang</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Justian Pranata, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Pembangunan
permukiman dan perumahan bertujuan agar seluruh rakyat Indonesia memperoleh tempat tinggal
yang layak dalam lingkungan yang aman, sehat, teratur dan serasi. Dewasa ini,
rumah tidak lagi hanya berfungsi sebagai hunian atau tempat tinggal, namun juga
sebagai sarana investasi. Demikian pula dengan tanah, selain sebagai tempat
untuk membangun permukiman dan perumahan, dewasa ini tanah juga dijadikan sebagai
salah satu bentuk investasi. Pembangunan permukiman dan perumahan umumnya
dilakukan oleh penyelenggara pembangunan rumah atau perumahan yang dapat berupa
badan hukum atau perseorangan. Tujuan utama perusahaan pembangunan perumahan
adalah membangun dan menjual rumah bukan menjual tanah. Terdapat pula ketentuan
mengenai larangan bagi perusahaan pembangunan perumahan menjual kavling tanah
matang saja tanpa rumah dalam Pasal 26 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1992 tentang
Perumahan dan Pemukiman. Namun dalam prakteknya, perusahaan pembangunan
perumahan hanya menjual tanah saja (kavling tanah matang) tanpa rumah yang
disiasati dengan perjanjian pengikatan jual beli tanah beserta bangunan (rumah)
dengan walaupun hal tersebut dilarang dan ada sanksi pidananya bila melanggar
sebagaimana tertulis dalam Pasal 36 ayat (1) dan 36 ayat (3) UU No. 4 Tahun
1992.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/8720901082772147806/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/jual-beli-kavling-tanah-matang.html#comment-form" rel="replies" title="2 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/8720901082772147806" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/8720901082772147806" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/jual-beli-kavling-tanah-matang.html" rel="alternate" title="Jual Beli Kavling Tanah Matang" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-7724030802242208602</id><published>2013-12-05T18:00:00.000+07:00</published><updated>2013-12-05T18:00:03.157+07:00</updated><title type="text">Pendaftaran Pewarisan Hak Milik Atas Tanah dgn Akta Pembagian Hak Bersama thd Anak Kandung yg Belum Dewasa</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Suhariyati, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Untuk
melaksanakan pendaftaran tanah telah diundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 10
Tahun 1961, kemudian disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun
1997, dilaksanakan dengan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Kegiatan dalam pendaftaran tanah
meliputi pendaftaran tanah untuk pertama kali dan pemeliharaan data pendaftaran
tanah. Salah satu macam kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah adalah
peralihan hak karena pewarisan. Pendaftaran peralihan hak karena pewarisan
dapat dilaksanakan apabila dipenuhinya syarat formal dan syarat materiil. Pada
saatnya suatu hak bersama yang diperoleh sebagai warisan dibagi sehingga menjadi
hak individu, untuk itu kesepakatan antara pemegang hak bersama tersebut perlu
dituangkan dalam akta Pejabat Pembuat Akta Tanah yang akan menjadi dasar bagi
pendaftarannya. Dalam prakteknya anak yang belum dewasa yang belum cakap
bertindak dalam hukum dapat menjadi pemegang hak individu atas dasar
kesepakatan yang dituangkan dalam Akta Pembagian Hak Bersama oleh seluruh
penerima warisan sebagai pemegang hak bersama. Anak yang belum dewasa yang
karena kematian oleh salah satu orang tuanya (ibu atau bapaknya) berada di bawah
perwalian, yakni orang tua yang hidup terlama (langstlevende ouder) dengan
sendirinya menjadi wali, tanpa harus meminta kepada Pengadilan mengambil
ketetapannya untuk menunjuk seorang wali. Dalam menerima pewarisan hak atas
tanah dan melaksanakan pendaftaran pewarisan dengan Akta Pembagian Hak Bersama
dikuasakan kepada orang tuanya yang hidup terlama untuk dan atas nama anak yang
belum dewasa tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/7724030802242208602/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/akta-pembagian-hak-bersama.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7724030802242208602" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7724030802242208602" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/akta-pembagian-hak-bersama.html" rel="alternate" title="Pendaftaran Pewarisan Hak Milik Atas Tanah dgn Akta Pembagian Hak Bersama thd Anak Kandung yg Belum Dewasa" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-1362831472185301869</id><published>2013-12-02T18:00:00.000+07:00</published><updated>2013-12-02T18:00:05.123+07:00</updated><title type="text">Penyelundupan Hukum dlm Kepemilikan Tanah Secara Absentee</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Awor Yudho, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Tanah
memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena kehidupan
manusia sama sekali tidak dapat dipisahkan dari tanah. Berbagai macam masalah
pertanahan muncul seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia akan tanah.
Salah satu permasalahan itu adalah munculnya rasa ingin memiliki tanah
seluas-luasnya, meskipun kadangkala dalam memperoleh tanah tersebut terdapat
suatu bentuk penyelundupan hukum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Kepemilikan
tanah secara absentee merupakan sesuatu yang tidak diperkenankan oleh peraturan
yang berlaku di Indonesia, yakni sebagaimana tercantum dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah Dan
Pemberian Ganti Kerugian Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1964 tentang
Perubahan dan Tambahan Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang
Pelaksanaan Pembagian Tanah Dan Pemberian Ganti Kerugian. Namun, larangan
tersebut seringkali diterobos dengan melakukan suatu penyelundupan hukum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Penelitian
ini dilakukan berdasarkan pada 2 permasalahan yang hendak dicari jawabannya,
yakni berkaitan dengan bentuk penyelundupan hukum dalam kepemilikan tanah secara
absentee, dan akibat penyelundupan hukum dalam kepemilikan tanah secara
absentee. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, dimana dalam pelaksanaanya
menggunakan 2 pendekatan masalah, yakni pendekatan konseptual (conceptual
approach) dan pendekatan undang-undang (statute approach).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Hasil
penelitian ini menemukan bahwa penyelundupan hukum dalam kepemilikan tanah
absentee memiliki 2 bentuk yang sering digunakan yakni dengan menggunakan kartu
tanda penduduk ganda atau menggunakan surat
kuasa mutlak. Sedangkan akibat dari adanya penyelundupan hukum dalam
kepemilikan tanah absentee ini dibagi menjadi 2 macam tergantung dari bentuk
penyelundupan hukumnya. Penyelundupan hukum yang berbentuk penggunaan kuasa
mutlak terdiri dari 2 macam akibat hukum, yakni akibat hukum bagi notaris yang
dihadapannya dibuat akta kuasa mutlak, jika akta kuasa mutlak tersebut dibuat
dalam bentuk akta otentik, dan akibat hukum bagi akta kuasa mutlak yang telah
dibuat. Sedangkan penyelundupan hukum yang berbentuk penggunaan kartu tanda
penduduk ganda atau lebih dari satu terdiri dari 3 macam akibat hukum, yakni
akibat hukum bagi pembeli yang dengan sengaja membuat kartu tanda penduduk
lebih dari satu, akibat hukum bagi pejabat pembuat akta tanah yang dihadapannya
telah dibuat akta jual beli tanah absentee tersebut dan akibat hukum bagi obyek
hak atas tanah yang diperjualbelikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/1362831472185301869/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/kepemilikan-tanah-absentee.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1362831472185301869" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1362831472185301869" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/12/kepemilikan-tanah-absentee.html" rel="alternate" title="Penyelundupan Hukum dlm Kepemilikan Tanah Secara Absentee" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-1092502777933771837</id><published>2013-11-21T12:00:00.000+07:00</published><updated>2013-11-21T12:00:03.633+07:00</updated><title type="text">Akad Bai Al Murabahah pada Pembiayaan Perumahan di Bank Syariah</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Yogi Adrianto, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Permasalahan
hukum yang melandasi kajian margin keuntungan dalam Akad Bai al Murabahah dalam
pengadaan rumah dibenarkan oleh Syariah dan apakah obyek dalam pembiayaan
murabahah pengadaan rumah dapat dialihkan. Margin keuntungan dalam murabahah dibenarkan
syariah dengan alasan:jual beli merupakan suatu transaksi yang mulya yang
disebut dalam firman Allah. Surat
Al Baqarah 92) : 275. Murabahah merupakan salah satu jenis jual beli yang
dianjurkan dalam sunnah Nabi Muhammad`SAW Salah satu rukun murabahah adalah
Harga (Tsaman) yang memiliki unsur Harga Beli , Margin Keuntungan dan Harga
Jual. Dalam jual beli telah terjadi perpindahan kepemilikan sejak terjadi ijab
dan qabul. Demikian pula halnya dengan jual beli murabahah. Objek pembiayaan
murabahah telah berpindah kepemilikan menjadi milik nasabah. Kewajiban nasabah
ialah membayar hutang piutang karena penundaan pembayaran yang terjadi. Apabila
objek murabaha dijadikan objek jaminan, maka tidak dapat dipindah tangankan dan
apabila objek jaminan hutang piutangnya adalah benda lain, maka objek
pembiayaan murabahah tidak melanggar prinsip murabahah apabila dipindah
tangankan. Sehingga disarankan Untuk menjaga konsistensi terhadap kepatuhan
pada prinsip syariah, maka diperlukan pembinaan dan pencerahaan terhadap SDM
bisnis syariah. Kepatuhan atas prinsip syariah harus dilakukan oleh semua pihak
yang terlibat dalam bisnis syariah. Nasabah harus menjaga amanah bahwa objek
pembiayaan yang dijadikan salah satu objek jaminan adalah untuk menjaga
keseriusan nasabah menyelesaikan hutangnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/1092502777933771837/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/akad-bai-al-murabahah-pada-pembiayaan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1092502777933771837" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1092502777933771837" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/akad-bai-al-murabahah-pada-pembiayaan.html" rel="alternate" title="Akad Bai Al Murabahah pada Pembiayaan Perumahan di Bank Syariah" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-9040031675721467221</id><published>2013-11-14T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-11-14T11:30:00.640+07:00</updated><title type="text">Peran Notaris dlm Penyelenggaraan Undian Berhadiah Kaitannya dgn Perlindungan Konsumen</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Felicia I. Puspita, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Pelaku
usaha menyelenggarakan program undian berhadiah untuk menarik minat konsumen
dalam rangka penjualan barang dan/atau jasa. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1954 tentang Undian jo. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor
14A/HUK/2006 Tahun 2006 tentang Izin Undian, pelaku usaha wajib mengajukan
permohonan kepada Menteri Sosial dan melibatkan beberapa pejabat dan instansi
terkait antara lain Notaris. Dewasa ini, telah berkembang fenomena rekayasa
program undian oleh para pelaku usaha dengan terlebih dahulu mengatur para
pemenangnya, sehingga terselenggara pengundian yang tidak murni dan obyektif.
Selain itu, pelaku usaha mencantumkan klausula “ keputusan juri/penyelenggara
undian tidak dapat diganggu gugat “. Hal ini termasuk indikasi rangkaian
penyimpangan yang merugikan masyarakat dan konsumen pada khususnya sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Peran notaris cukup penting mengingat wewenangnya untuk menyatakan sah atau
tidaknya suatu penyelenggaraan program undian berhadiah dan membuat akta berita
acara pengundian untuk jenis undian tidak langsung. Notaris merupakan jabatan
kepercayaan sehingga wajib menjalankan wewenangnya dengan penuh tanggung jawab,
sebab produk yang dihasilkan adalah berupa akta otentik yang mempunyai kekuatan
pembuktian sempurna. Diharapkan pula bahwa notaris mampu menegakkan
independensi jabatannya dengan tidak memihak salah satu pihak dalam memberikan
pelayanan jasa hukumnya. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris jo. Kode Etik Notaris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/9040031675721467221/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/peran-notaris-dalam-undian-berhadiah.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/9040031675721467221" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/9040031675721467221" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/peran-notaris-dalam-undian-berhadiah.html" rel="alternate" title="Peran Notaris dlm Penyelenggaraan Undian Berhadiah Kaitannya dgn Perlindungan Konsumen" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-3005338530223763087</id><published>2013-11-07T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-11-07T11:30:03.196+07:00</updated><title type="text">Pertanggungjawaban Pidana Malpraktik Notaris</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Ika Nurmasari, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Malpraktik
notaris adalah tindakan tertentu yang dilakukan / tidak dipenuhinya oleh
notaris dalam menjalankan tugas jabatannya, berupa kewajiban dan larangan yang
tercantum di dalam Undang-Undang No.30 tahun 2004 tentang Kode Etik Notaris dan
Peraturan Jabatan Notaris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Banyaknya
pelanggaran terhadap kode etik jabatan notaris menyebabkan notaris kerap
menjadi sorotan. Tidak jarang pelanggaran kode etik ini, terindikasi mengandung
unsur pidana, yang berakibat notaris yang bersangkutan ikut diperiksa dalam
suatu dugaan tindak pidana. Kebersinggungan profesi notaris dengan hukum pidana
berkenaan dengan tidak dipenuhinya kewajiban dan/atau melampaui kewenangan yang
diberikan oleh Undang-Undang No.30 tahun 2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris
kepadanya, dan peraturan pelaksanaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Undang-Undang
No.30 tahun 2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris mengatur secara tegas bahwa
notaris adalah pejabat umum. Profesi saja yang tugas serta fungsinya hanya
diatur didalam Kode Etik tidak boleh melakukan malpraktik, apalagi notaris
sebagai pejabat umum yang tugas, fungsi serta kewenangannya diatur secara tegas
di dalam undang-undang negara dan kode etik. Tentulah beban mereka untuk
bekerja lebih baik (bahkan menurut penulis harus lebih baik dari sebuah profesi)
agar tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat menjadi lebih berat. Karena
apabila mereka melakukan kesalahan dan menimbulkan kerugian, bukan notaris
secara pribadi saja yang akan menanggung beban kesalahan tersebut, namun negara
pun ikut dianggap bertanggung jawab karena tidak mampu memberikan pelayanan yang
baik kepada masyarakat. Hal ini timbul, karena kewenangan notaris sebagai
pejabat umum pembuat akta otentik lahir dari delegasi kewenangan yang diberikan
oleh negara kepada mereka. Jadi negara memberi andil bagi lahirnya notaris yang
mengabaikan larangan dan kewajiban yang tercantum di dalam Undang-Undang No.30
tahun 2004 tentang Kode Etik Notaris dan Peraturan Jabatan Notaris, sehingga
berakibat merugikan kepentingan para penghadap dan masyarakat secara umum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Negaralah
yang mengangkat, menempatkan serta memberhentikan seorang notaris dari
jabatannya. Notaris menjalankan perintah negara yang termuat didalam undang-undang.
karena delegasi kewenangan notaris sebagai pejabat umum pembuat akta otentik
berasal dari negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/3005338530223763087/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/pidana-malpraktik-notaris.html#comment-form" rel="replies" title="1 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/3005338530223763087" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/3005338530223763087" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/pidana-malpraktik-notaris.html" rel="alternate" title="Pertanggungjawaban Pidana Malpraktik Notaris" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-3005524016018253540</id><published>2013-11-06T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-11-06T11:30:02.487+07:00</updated><title type="text">Rukun dan Syarat Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif Berbasis Syariah</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Vitria F. Mayasari, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Reksa
dana syariah sebagai suatu bentuk alternatif lembaga investasi memiliki
karakteristik yang berbeda dengan reksa dana konvensional. Perbedaan tersebut
dapat dilihat dari kebijakan investasi yang dirumuskannya. Dalam melakukan pengelolaan
investasi, maka reksa dana syariah harus berpedoman pada nilai-nilai syariah.
Pada dasarnya, pembentukan reksa dana syariah sangat memiliki keterkaitan yang
erat dengan implementasi konsep ekonomi Islam yang mengacu pada asas-asas pokok
dan sistem nilai filsafat ekonomi Islam yang berpedoman pada Al Quran serta
sumber-sumber hukum Islam lainnya. Eksistensi reksa dana syariah khususnya yang
berbentuk Kontrak Investasi Kolektif, dalam kapasitasnya sebagai lembaga trust
mempunyai karakteristik akad mudharabah dan wakalah. Dalam operasionalisasinya,
reksa dana syariah membutuhkan lembaga pengawas khusus selain Bapepam, yaitu
Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Pengawas Syariah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/3005524016018253540/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/investasi-reksa-dana-syariah.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/3005524016018253540" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/3005524016018253540" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/investasi-reksa-dana-syariah.html" rel="alternate" title="Rukun dan Syarat Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif Berbasis Syariah" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-7478350827824275344</id><published>2013-11-04T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-11-04T11:30:02.641+07:00</updated><title type="text">Akibat Hukum Perkawinan Campuran thd Status Kewarganegaraan Anak dan Kepemilikan Hak Atas Tanah</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Yustin Srinugroho, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Magister Notariat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Globalisasi
ekonomi, pendidikan, informasi, dan transportasi telah menyebabkan banyaknya
perkawinan campuran merambah seluruh pelosok Tanah Air. Dengan banyak
terjadinya perkawinan campuran di Indonesia
sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diatur dengan
baik dalam perundang-undangan di Indonesia. Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan secara substansi jauh lebih maju dan
demokratis dari pada Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958, karena dalam
pembentukan Undang-Undang tersebut telah mengakomodasi berbagai pemikiran yang
mengarah kepada pemberian perlindungan warga negaranya dengan memperhatikan
kesetaraan gender, tapi yang tidak kalah penting adalah pemberian perlindungan
terhadap anak-anak hasil perkawinan campuran antara warga negara Indonesia
dengan warga negara asing. Anak yang lahir dari perkawinan campuran menurut
Pasal 6 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006, tersebut akan berkewarganegaraan
ganda dan setelah anak sudah kawin atau berusia 18 tahun maka ia harus menentukan
pilihannya. Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3
(tiga) tahun setelah kawin atau setelah anak berusia 18 tahun. Terhadap hak
atas tanah yang dimiliki oleh anak berkewarganegaraan ganda, maka apabila anak
tersebut menentukan untuk memilih menjadi warga negara asing, dalam waktu 1
(satu) tahun wajib mengalihkan atau melepaskan tanahnya kepada pihak lain yang
memenuhi syarat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/7478350827824275344/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/akibat-hukum-perkawinan-campuran.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7478350827824275344" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7478350827824275344" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/akibat-hukum-perkawinan-campuran.html" rel="alternate" title="Akibat Hukum Perkawinan Campuran thd Status Kewarganegaraan Anak dan Kepemilikan Hak Atas Tanah" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-2116108309133461964</id><published>2013-11-03T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-11-03T11:30:01.174+07:00</updated><title type="text">Kedudukan Pasal 16 UU No 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yg Berkaitan dgn Tanah dlm Take Over Kredit</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Riska B. Adiputra, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Di
tengah persaingan dunia perbankan yang semakin ketat, banyak bank bersaing
untuk mendapatkan calon debitur sehingga berbagai cara dilakukan untuk menarik calon debitur, antara lain dengan persaingan fasilitas kredit dan
bunga kredit yang diberikan. Karena adanya perbedaan itu maka tidak jarang
debitur dari suatu bank beralih ke bank yang lain demi mendapatkan nilai lebih.
Karena itu di dalam dunia kredit, take over merupakan hal yang tidak asing lagi.
Dalam Undang-Undang nomor 7 Tahun 1992 jo. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang
Perbankan, pemberian kredit yang yang dilakukan oleh dunia perbankan wajib mempunyai
keyakinan dan kemampuan pelunasan dari pihak debitur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Dalam
tesis ini penyusun memfokuskan pada proses take over dan kedudukan Pasal 16
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta
Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah di dalam proses take over kredit beserta
proses sekuritisasi aset sebagai salah satu bentuk take over pihak kreditur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/2116108309133461964/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/tanah-take-over-kredit.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/2116108309133461964" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/2116108309133461964" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/11/tanah-take-over-kredit.html" rel="alternate" title="Kedudukan Pasal 16 UU No 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yg Berkaitan dgn Tanah dlm Take Over Kredit" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-820926882471014115</id><published>2013-10-31T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-10-31T11:30:00.461+07:00</updated><title type="text">Klausula Pengakhiran Perjanjian Secara Sepihak dlm Perjanjian Waralaba</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Aida Zuhrufa, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Penelitian
tentang klausula pengakhiran perjanjian secara sepihak dalam perjanjian waralaba
ini mengkaji 2 issu hukum yang terkait dengan: 1). upaya hukum yang dapat
dilakukan penerima waralaba jika dirugikan akibat pemutusan perjanjian sepihak,
dan 2). pengakhiran perjanjian waralaba secara sepihak sah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Metode pendekatan yang digunakan dalam pengkajian terhadap 2 issu hukum ini,
yaitu pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan peraturan
perundang-undangan (statute approach).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Hasil penelitian ini menemukan : &lt;br /&gt;
- Adanya perbuatan melanggar hukum yang menimbulkan kerugian pada penerima
waralaba memungkinkan pihak yang dirugikan menggugat pemberi waralaba.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;-
Dalam perjanjian waralaba lazimnya terdapat klausula tata cara perpanjangan,
pengakhiran, dan pemutusan perjanjian dengan kesepakatan para pihak tetapi dalam
pelaksanaannya pengakhiran perjanjian secara sepihak dilakukan oleh pemberi
waralaba kepada penerima waralaba tanpa persetujuan pihak lain.&lt;br /&gt;
- Kesepakatan antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah di luar
pengadilan dengan mencapai keputusan musyawarah mufakat, maka suatu perjanjian
dapat dimintakan pembatalannya ke pengadilan kecuali jika para pihak sepakat
untuk menyimpangi ketentuan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/820926882471014115/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/klausula-pengakhiran-perjanjian.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/820926882471014115" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/820926882471014115" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/klausula-pengakhiran-perjanjian.html" rel="alternate" title="Klausula Pengakhiran Perjanjian Secara Sepihak dlm Perjanjian Waralaba" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-773819109518150104</id><published>2013-10-30T11:30:00.000+07:00</published><updated>2013-10-30T11:30:03.778+07:00</updated><title type="text">Akta Perjanjian Kawin antara Subyek Hukum yg Beragama Islam Berdasarkan Hukum Islam dan BW</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Nury Nurmala, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Permasalahan
dalam tesis ini ialah Apakah dasar hukum yang digunakan dalam pembuatan Akta
Perjanjian Kawin Bagi Subyek Hukum Yang Beragama Islam? Dan Apakah yang melatar
belakangi Subyek Hukum yang beragama Islam menggunakan dasar hukum BW dalam
membuat perjanjian kawin? Simpulannya ialah dasar hukum yang digunakan dalam
pembuatan Akta Perjanjian Kawin Bagi Subyek Hukum Yang Beragama Islam. Adalah
Pasal 29 Undang-Undang Perkawinan yang mengatakan: Pada waktu Perkawinan atau
sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat
mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan,
setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga
bersangkutan; perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar
batas-batas hukum, agama dan kesusilaan; perjanjian tersebut berlaku sejak
perkawinan dilangsungkan selama perkawinan berlangsung perjajian tersebut tidak
dapat dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk
merubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga; hal yang melatarbelakangi
subyek hukum yang beragama Islam menggunakan dasar hukum BW dalam membuat
perjanjian perkawinan ialah ketidakpahaman para notaris bahwa dengan berlakunya
UU maka hukum perkawinan Islam berlaku untuk pasangan yang beragama Islam,
ketidaksepahaman penafsiran UU perkawinan di kalangan akademi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ketidaksepahaman
penafsiran UU Perkawinan di kalangan pengajar program kenotariatan menyebabkan
pemahaman yang berbeda di kalangan notaris yang menjadi alumni. Sehingga muncul
pemahaman bahwa jika berhubungan dengan notaris harus mendasarkan diri pada BW
serta kalau dilihat dari filosofisnya UU Perkawinan mengatur berbeda dengan BW tentang
harta dalam perkawinan. Didasarkan perlu sosialisasi dan pengkajian lebih
lanjut tentang model perjanjian kawin bagi subyek hukum yang beragama Islam
berdasarkan syariaah Islam serta perlu kesatuan paham untuk meningkatkan fungsi
notaris dalam membuat akta-akta perjanjian dan akta yang lain yang berlandaskan
pada hukum Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/773819109518150104/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/akta-perjanjian-kawin.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/773819109518150104" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/773819109518150104" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/akta-perjanjian-kawin.html" rel="alternate" title="Akta Perjanjian Kawin antara Subyek Hukum yg Beragama Islam Berdasarkan Hukum Islam dan BW" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-45655472066617073</id><published>2013-10-29T11:00:00.000+07:00</published><updated>2013-10-29T11:00:03.846+07:00</updated><title type="text">Notaris yg Berkedudukan Sebagai Pemegang Saham dlm Perseroan Terbatas</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Fitriyana, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Notaris
yang berkedudukan sebagai pemegang saham pada Badan Hukum Perseroan Terbatas,
adalah pokok permasalahan yang ingin diungkap dalam tesis ini. Permasalahan
Notaris yang juga sebagai pemegang saham pada Badan Hukum Perseroan Terbatas,
yang mempunyai sub-sub pokok permasalahan adalah Notaris yang berkedudukan
sebagai pemegang Saham dalam Perseroan Terbatas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Secara
umum penulisan ini untuk menganalisa landasan hukum Undang-undang Nomor 30
tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, yang merupakan hukum positif bagi Notaris
untuk melaksanakan jabatannya sehari-hari termasuk kedudukan jabatan Notaris
sebagai pemegang Saham dalam Perseroan Terbatas. Pendekatan masalah yang
digunakan adalah pendekatan yuridis normatif, karena bersumber pada peraturan
perundang-undangan, konsep-konsep teori-teori dan doktrin-doktrin yang
berhubungan dengan permasalahan di atas. Dalam melakukan inventarisasi dan
identifikasi bahan hukum digunakan sistem kartu yang tata pelaksanaannya
dilakukan secara kritis, logis dan sistematis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Berdasarkan
hasil penelitian terungkap, Notaris dapat berkedudukan sebagai pemegang Saham
dalam Perseroan Terbatas. Dan tidak bertentangan Pasal 17 huruf Undang-Undang
Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Selain itu ditemukan analisa dalam
melihat posisi pada Pemegang Saham dalam Perseroan Terbatas. Pemegang Saham
dalam Perseroan Terbatas adalah tidak termasuk kategori sebagai pemimpin atau
pegawai badan usaha milik swasta, badan usaha milik daerah atau badan usaha
milik negara. Bila Notaris yang berkedudukan sebagai pemegang saham, tidak
diperkenankan membuat segala akta yang menyangkut dalam perseroan terbatas
tersebut, karena menyangkut kepentingan diri Notaris itu sendiri. Sebab ada
batasan sesuai pasal 52 Undang-Undang Jabatan Notaris. Dan Notaris tersebut
harus menunjuk seorang Notaris Pengganti Khusus sesuai pasal 1angka 4
Undang-Undang Jabatan Notaris, untuk menangani akta-akta Perseroan Terbatas
dimana salah satu pemegang sahamnya adalah seorang yang menjabat Notaris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Analisa
selanjutnya seorang Notaris yang berkedudukan sebagai pemegang saham dalam
Perseroan terbatas berakibat Hukum mempunyai Hak, Kewajiban dan Tanggung Jawab
terhadap Badan Hukum Perseroan Terbatas yang di atur dalam Undang-undang Nomor
40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/45655472066617073/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/notaris-sebagai-pemegang-saham.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/45655472066617073" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/45655472066617073" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/notaris-sebagai-pemegang-saham.html" rel="alternate" title="Notaris yg Berkedudukan Sebagai Pemegang Saham dlm Perseroan Terbatas" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-2871791492642552526</id><published>2013-10-28T11:00:00.000+07:00</published><updated>2013-10-28T11:00:05.759+07:00</updated><title type="text">Kewenangan Kantor Pertanahan Menolak Pendaftaran Pemindahan Hak Atas Tanah dlm Jual Beli Hak Atas Tanah</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Nancy S. Kurnia, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Jual
beli hak atas tanah dan pendaftarannya telah ditentukan dalam UUPA dan
peraturan perundang-undangan di bawahnya, dalam peraturan yang telah ada
menentukan bahwa dalam perpindahan hak atas tanah melalui jual beli harus
dengan akta PPAT. Jual beli tersebut harus segera didaftarkan, hal ini terkait
dengan kepastian hukum bagi pemilik baru selaku pemegang hak atas tanah
tersebut. Perihal penentuan sah atau tidaknya pendaftaran pemindahan hak atas
tanah dalam jual beli hak atas tanah (lebih banyak dikenal dengan istilah balik
nama) oleh Kantor Pertanahan telah diatur berdasarkan peraturan perundangan
dalam PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Dasar kewenangan
penolakan oleh Kantor Pertanahan terhadap pendaftaran pemindahan hak atas tanah
diatur dalam Pasal 45 PP No. 24 Tahun 1997 dan dalam pasal tersebut juga diatur
faktor-faktor yang dapat dijadikan alasan oleh Kantor Pertanahan untuk menolak
permohonan pendaftaran hak atas tanah melalui jual beli hak atas tanah.
Kewenangan yang didapat oleh Kantor Pertanahan untuk melakukan penolakan
pendaftaran hak atas tanah telah diatur dalam Pasal 6 PP No. 24 Tahun 1997,
dimana dalam pasal tersebut diatur dengan tegas bahwa kewenangan Kantor
Pertanahan merupakan delegasi dari BPN dimana Kantor Pertanahan sebagai
pelaksana dari pada sistem pendaftaran tanah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/2871791492642552526/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/kewenangan-kantor-pertanahan-menolak.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/2871791492642552526" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/2871791492642552526" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/kewenangan-kantor-pertanahan-menolak.html" rel="alternate" title="Kewenangan Kantor Pertanahan Menolak Pendaftaran Pemindahan Hak Atas Tanah dlm Jual Beli Hak Atas Tanah" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-1176814143460149134</id><published>2013-10-26T11:00:00.000+07:00</published><updated>2013-10-26T11:00:00.956+07:00</updated><title type="text">Perlindungan Hukum thd Penelantaran Anak oleh Orang Tua Angkatnya</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Yunita P. Aji, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Anak
adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita
jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia
yang harus dijunjung tinggi. Pengangkatan anak bertujuan untuk kepentingan
terbaik bagi anak dalam rangka mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak,
yang dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan adat
kebiasaan setempat. Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya
perlindungan hukum terhadap berbagai hak asasi dan kebebasan anak serta
berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Prinsipnya
anak-anak harus mendapat perlindungan atas hak-hak mereka agar dapat tumbuh dan
berkembang secara berkesinambungan dan wajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Orangtua
angkat bertanggungjawab dalam memberikan kesejahteraan dan perlindungan bagi
anak angkatnya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Orangtua
angkat yang melalaikan kewajibannya dalam merawat dan memelihara anaknya dapat
dikenakan ketentuan hukum sesuai dengan Undang-undang Nomor 4 tahun 1979
tentang Kesejahteraan Anak dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak. Dan bagi anak yang ditelantarkan orangtua angkatnya dapat
dilakukan pelayanan, konseling, rehabilitasi, atau perawatan yang diperlukan.
Upaya-upaya perlindungan hukum sangat diperlukan untuk menjamin kesejahteraan
hidup anak angkat di masa yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/1176814143460149134/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/perlindungan-hukum-anak-angkat.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1176814143460149134" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/1176814143460149134" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/perlindungan-hukum-anak-angkat.html" rel="alternate" title="Perlindungan Hukum thd Penelantaran Anak oleh Orang Tua Angkatnya" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-7140895238060007097</id><published>2013-10-25T11:00:00.000+07:00</published><updated>2013-10-25T11:00:10.869+07:00</updated><title type="text">Peran Organisasi Ikatan Notaris Indonesia dlm Pengawasan dan Pembinaan Notaris</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Rony Yuanto, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Intisari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Penulisan
ini membahas tentang wadah tunggal organisasi notaris yang diakui di Indonesia
dan peran apa yang dijalankan organisasi tersebut, sebagaimana pasal 82 ayat
(1) mengatur bagaimana notaris harus tergabung dalam satu wadah organisasi
profesi dan pasal 1 ayat (5) UUJN menyebutkan bahwa organisasi notaris harus
berbentuk perkumpulan yang berbadan hukum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Penelitian
hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum,
maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Tipe
penelitian hukum yang digunakan dalam karya tulis berupa tesis ini adalah
Juridis Normatif. Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan
konseptual dan pendekatan undang-undang. Analisis dilakukan secara sistematis
dan teratur sehingga memperoleh jawaban yang benar. Undang-Undang Jabatan
Notaris tidak menegaskan nama wadah tunggal organisasi jabatan Notaris. Hal
tersebut bisa kita lihat pada Pasal 82 ayat (1) UUJN, dimana dalam pasal
tersebut hanya mewajibkan para notaris untuk berkumpul pada satu wadah tunggal
organisasi jabatan notaris. Organisasi jabatan notaris berbentuk perkumpulan
dan berbadan hukum, sebagaimana pasal 1 ayat 5 UUJN dan wadah organisasi
jabatan Notaris yang telah mendapat status badan hukum sampai saat ini hanyalah
Ikatan Notaris Indonesia. Keberadaan pasal 82 (1) UUJN yang tidak tegas dan
jelas isinya kemudian diajukan ke mahkamah konstitusi, meskipun pada akhirnya
Mahkamah Konstitusi tidak memutuskan secara tegas adanya satu satunya
organisasi jabatan Notaris, hanya menegaskan dalam kenyataan selama ini, bahwa
Ikatan Notaris Indonesia yang sudah ada sebagai suatu organisasi jabatan
notaris di Indonesia dan telah berbadan hukum. Bahwa pengawasan dan pembinaan
yang dilakukan oleh Ikatan Notaris Indonesia adalah dengan membentuk
Dewan Kehormatan, serta keanggotaannya dalam Majelis Pengawas Notaris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/7140895238060007097/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/peran-organisasi-ikatan-notaris.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7140895238060007097" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/7140895238060007097" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/peran-organisasi-ikatan-notaris.html" rel="alternate" title="Peran Organisasi Ikatan Notaris Indonesia dlm Pengawasan dan Pembinaan Notaris" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6907375910312602589.post-5219960025406485669</id><published>2013-10-24T11:00:00.000+07:00</published><updated>2013-10-24T11:00:01.578+07:00</updated><title type="text">Hak Waris Anak Perempuan dlm Sistem Kekeluargaan Patrilineal</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;(Studi pada Suku Batak)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Disusun oleh:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Ricad T. Sitorus, S.H.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Program
Pascasarjana Universitas Airlangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fakultas:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Hukum&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Program Studi:&lt;span style="mso-bidi-font-style: italic;"&gt; Kenotariatan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Ringkasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Hukum
Adat adalah aturan aturan perilaku yang berlaku bagi orang-orang pribumi dan
orang orang timur asing, yang di satu pihak mempunyai sanksi (maka dikatakan
hukum) dan di lain pihak hukum adat tersebut tidak dikodifikasi atau tidak
tertulis (maka dikatakan adat). Pewarisan dalam hukum adat masih diberlakukan
dengan didasarkan atas pasal 18 B ayat (2) UUD 1945. Pada masyarakat adat suku
Batak yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal, anak perempuan tidak
mewaris harta peninggalan orang tuanya, dan harta diwaris atau jatuh kepada
saudara kandung laki-laki pewaris. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai dan konsep
budaya mengenai perempuan dan laki-laki pada masyarakat Batak, yang
mencerminkan hubungan kekuasaan yang timpang antara laki-laki dan perempuan,
menempatkan perempuan pada posisi yang lemah, khususnya dalam hal waris.
Padahal secara teoritis ahli waris terjadi karena adanya hubungan perkawinan dan
karena adanya hubungan darah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Dalam
tesis ini penulis memfokuskan pada perkembangan hak mewaris anak perempuan
dalam sistem kekeluargaan patrilineal Suku Batak. Sasaran dalam tesis ini
adalah hak mewaris anak perempuan dalam sistem kekeluargaan patrilineal dan
upaya hukum yang dilakukan oleh anak perempuan pada masyarakat adat Batak untuk
mendapatkan hak warisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/feeds/5219960025406485669/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/hak-waris-anak-perempuan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/5219960025406485669" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6907375910312602589/posts/default/5219960025406485669" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ilmukenotariatan.blogspot.com/2013/10/hak-waris-anak-perempuan.html" rel="alternate" title="Hak Waris Anak Perempuan dlm Sistem Kekeluargaan Patrilineal" type="text/html"/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>