<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Cerita kisah cinta penggugah jiwa</title>
	
	<link>http://kisahmuslim.com</link>
	<description>Cerita kisah cinta penggugah jiwa: kisah para nabi, rasul, orang shaleh, umat terdahulu, dan masa depan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 May 2013 02:28:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/kisahmuslim" /><feedburner:info uri="kisahmuslim" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><feedburner:emailServiceId>kisahmuslim</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Murtad dari Islam karena Sombong</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/UTs-rll2AUM/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/kisah-murtad-dari-islam-karena-sombong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 02:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia murtad]]></category>
		<category><![CDATA[islam murtad]]></category>
		<category><![CDATA[kisah orang sombong]]></category>
		<category><![CDATA[murtad]]></category>
		<category><![CDATA[muslim murtad]]></category>
		<category><![CDATA[orang sombong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3395</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Murtad dari Islam karena Sombong Semua orang mengharapkan hidayah&#8230;, namun rasa sombongnya menghalanginya untuk bisa merangkulnya. Tak terkecuali sombong karena penampilan. Dan saya rasa, banyak wanita enggan berjilbab dan menutup aurat adalah contoh yang paling ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Kisah <a href="http://kisahmuslim.com/tag/murtad/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with murtad">Murtad</a> dari Islam karena Sombong</strong></h2>
<p>Semua orang mengharapkan hidayah&#8230;, namun rasa sombongnya menghalanginya untuk bisa merangkulnya. Tak terkecuali sombong karena penampilan. Dan saya rasa, banyak wanita enggan berjilbab dan menutup aurat adalah contoh yang paling layak untuk ini. Meskipun tidak tidak dipungkiri, lelaki juga memiliki sikap yang sama.</p>
<p>Tersebutlah seorang raja, Jabalah bin Aiham. Pengusaha kerajaan Ghassan.. Sangat tertarik dengan islam. Diapun menulis surat kepada Khalifah Umar radhiyallahu &#8216;anhu meminta izin untuk datang ke Madinah, memeluk islam. Spontan Umar dan kaum muslimin sangat senang dengan maksud si Raja yang dulunya nasrani ini. Beliaupun menulis balasan, &#8220;Silahkan datang untuk bergabung dengan kami. Kita memiliki dan kewajiban yang sama.&#8221; Datanglah Jabalah bersama 500 penunggang kuda dari pasukannya. Ketika sudah dekat kita madinah, dia memakai baju yang dipintal dengan emas.., dan memakai mahkota kepala dengan manik-manik permata.</p>
<p>Sementara pasukannya memakai baju yang sangat indah. Masuklah Jabalah bersama pasukannya ke kota Madinah. Tidak ada satupun penduduk Madinah, kecuali semua mata mereka terbelalak melihat raja Ghassan. Sampai anak-anak dan wanita. Setelah sampai di rumah Umar, beliau menyambutnya dan mengajaknya duduk mendekat&#8230;</p>
<p>Sang raja memang benar <a href="http://kisahmuslim.com/tag/masuk-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk islam">masuk islam</a>.., hingga akhirnya datang musim haji.</p>
<p>Pada musim haji kali ini, Umar melaksanakan haji, demikian pula Jabalah. Di sinilah mulai muncul masalah. Ketika thawaf, tiba-tiba kain ihram Jabalah terinjak seorang yang fakir dari suku Fazarah. Melihat hal itu, Jabalah langsung marah besar dan menempeleng si fakir, hingga hidungnya terluka. Si fakirpun marah, dan dia hanya bisa mengadu kepada Umar bin Khatab, sang Khalifah yang adil nan bijaksana.</p>
<p>Setelah Jabalah menghadap Umar, terjadilah dialog,</p>
<p>&#8220;Apa sebabnya kamu menampar saudaramu ketika tahawaf?, wahai Jabalah.., sampai hidungnya terluka.&#8221; Tanya Amirul Mukminin.</p>
<p>&#8220;Dia menginjak kain ihramku. Andaikan bukan karena menghormati Ka&#8217;bah, ingin kupenggal kepalanya.&#8221; Jawab si raja.</p>
<p>&#8220;Nah, sekarang kamu sudah mengakui. Ada dua pilihan, bayar denda kepadanya yang membuat dia merelakan kesalahanmu atau qishas, dan aku akan menampar wajahmu.&#8221; Umar memutuskan.</p>
<p>&#8220;Saya diqishas?? &#8230; Padahal saya raja dan dia jongos!!&#8221; Jabalah keheranan.</p>
<p>&#8220;Wahai Jabalah, Sesungguhnya islam menyamakan statusmu dengan dia. Tidak ada yang membuat lebih mulia selain taqwa.&#8221; Jawab Umar.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, saya akan balik nasrani.&#8221; Tukas Jabalah.</p>
<p>&#8220;Siapa yang mengganti agamanya (<a title="murtad" href="http://kisahmuslim.com/kisah-murtad-dari-islam-karena-sombong" target="_blank"><strong>murtad</strong></a>) maka dia dibunuh&#8230; jika kamu kembali jadi nasrani, aku akan penggal kepalamu.&#8221; Jawab Umar tegas.</p>
<p>&#8220;Berikan aku waktu sampai besok, wahai amirul mukminin.&#8221; Pinta Jabalah</p>
<p>&#8220;Ya, kami tunggu.&#8221; Jawab Umar.</p>
<p>Malam harinya, Jabalah dan beberapa tentaranya keluar dari Mekah.., dia menuju Konstatinopel dan kembali nasrani.</p>
<p>Setelah berlalu waktu yang lama dia tinggal di negeri nasrani, kesempatan menikmati lezatnya dunia mulai berkurang.. seiring dengan berkurangnya kemampuan indera manusia untuk menikmati dunia.</p>
<p>Tinggallah kerugian. Jabalah masih mengingat kenangan indah ketika menjadi muslim. Dia ingat betapa lezatnya shalat dan puasa bersama kaum muslimin.</p>
<p>Suatu ketika dia melantunkan bait syair sambil menangis,</p>
<blockquote><p>Orang terhormat menjadi nasrani karena tamparan *** Andaikan dia bersabar, itu tidak membahayakan dirinya<br />
Aku terdorong melakukannya karena kebanggaan dan kehormatan *** yang saat ini kutukar dengan mata yang buta<br />
Andaikan ibuku tidak melahirkanku, duh andaikan aku *** kembali pada keputusan Umar<br />
Duh andaikan aku memperhatikan si fakir *** dan aku berjalan di suku Rabi&#8217;ah dan Mudhor<br />
Andaikan aku di syam, dengan hidup yang lebih sengsara *** saya duduk bersama rakyatku, dengan tuli dan buta.</p></blockquote>
<p>Jabalah tak kuasa untuk kembali masuk islam. Dia tetap masuk nasrani sampai mati.. mati di atas kekufuran karena sikap sombongnya untuk tunduk pada aturan Tuhan semesta alam.</p>
<p><em><strong>(Sumber: Syabakah Al-MiSykah Al-Islamiyah)</strong></em></p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah islam" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>

	<br /><br /><strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>islam murtad</strong>, <strong>indonesia murtad</strong>, <strong>orang sombong</strong>, <strong>murtad</strong>, <strong>kisah orang sombong</strong>, <strong>muslim murtad</strong><br />
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/UTs-rll2AUM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/kisah-murtad-dari-islam-karena-sombong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/kisah-murtad-dari-islam-karena-sombong/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/MwGqhKjQyNY/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/sejarah-islam-aurangzeb-alamgir-raja-kerajaan-islam-mughal-di-india/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 07:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah india]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3376</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Islam &#8211; Di masa abad pertengahan, setidaknya ada dua kerajaan besar Islam yang menguasai sebagian besar wilayah dunia; Kerajaan Utsmani di Turki dan Kerajaan Mughal di India. Banyak data-data sejarah yang telah membahas tentang kerajaan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://kisahmuslim.com/tag/sejarah-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with sejarah islam">Sejarah Islam</a></strong> &#8211; Di masa abad pertengahan, setidaknya ada dua kerajaan besar Islam yang menguasai sebagian besar wilayah dunia; Kerajaan Utsmani di Turki dan Kerajaan Mughal di India. Banyak data-data sejarah yang telah membahas tentang kerajaan Turki Utsmani yang begitu fenomenal, namun sangat sedikit tulisan-tulisan yang mengisahkan bagaimana <strong>kerajaan Mughal</strong> itu.</p>
<p><a href="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/Benteng-Mughal.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-3377" alt="Benteng Mughal 564x378 Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" src="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/Benteng-Mughal-564x378.jpg" width="564" height="378" title="Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" /></a></p>
<p>Mughal adalah kerjaan Islam di anak benua India, dengan Delhi sebagai ibu kotanya, beridiri antara tahun 1526 -1858 M. Kerajaan ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur. Di antara raja-raja Mughal yang membawa kerajaan ini mencapai masa keemasannya adalah Aurangzeb Alamgir yang memerintah 1658 – 1707 M. Dalam sejarah, ia terkesan sebagai sosok yang kontroversial, seorang raja yang agamis, namun di sisi lain sebagian sejarawan mengatakan kebijakan-kebijakannya sangat bertentangan dengan apa yang ia yakini; seperti intoleran, merusak tempat-tempat ibadah agama lain, dsb. Begitulah saat kita membaca sejarah, selalu ada kubu yang pro dan yang kontra.</p>
<p>Para sejarawan membaca rekam jejak pemerintahan Islam di India, maka perspektif mereka sangat membentuk opini mereka dalam menyajikan sejarah. Sebagian orang melihat seorang tokoh sejarah sebagai tokoh besar yang menginspirasi, namun sebagian yang lain bisa jadi malah menganggap tokoh yang sama sebagai seorang tiran.</p>
<p>Orang-orang Hindu dan Sikh menganggap Aurangzeb sebagai sosok seorang raja yang kejam dan bengis, mengekang kebebasan, dan intoleran. Sebaliknya, orang-orang Islam menganggapnya sebagai profil pemimpin yang agamis dan adil. Pembahasan kali ini akan menyibak retorika tersebut, mendudukkan dan memberikan penjelasan tentang Aurangzeb sebagai seorang raja muslim yang memerintah sebuah negeri yang mayoritas masyarakatnya adalah orang-orang Hindu.</p>
<p><b>Latar Belakang Aurangzeb</b></p>
<p>Untuk mengetahui seperti apa Aurangzeb, penting bagi para pembaca untuk mengetahui secara utuh masa pemerintahan Aurangzeb selama 49 tahun. Kerajaan Mughal menguasai India sejak masa kepemimpinan Babur pada tahun 1526 M. 150 tahun kemudian, Aurangzeb menduduki puncak tahta, sebagai raja kerajaan Mughal. Saat itu, Mughal mencapai puncak kejayaannya. KerAjaan ini menguasai anak benua India dan kerajaan terkaya di dunia kala itu.</p>
<p><a href="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/0Quran-450x300.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3379" alt="0Quran 450x300 Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" src="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/0Quran-450x300.jpg" width="450" height="300" title="Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" /></a></p>
<p>Sebenarnya, kejayaan kerajaan telah dirintis pendahulunya semenjak pemerintahan Raja Akbar, Jehangir, dan Syah Jehan. Shah Jahan adalah ayah dari Aurangzeb, ialah yang membangun Taj Mahal di Agra. Ayahnya memilihkan guru-guru terbaik untuk mendidiknya sejak kecil. Di usia kanak-kanak, Aurangzeb mendalami Alquran, hadis, dan cabang-cabang ilmu keislaman lainnya. Ia memiliki semangat yang luar biasa dalam membaca, kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa Arab, Persia, dan Turki-nya pun luar biasa. Aurangzeb juga dilatih agar pandai dalam menulis kaligrafi, beberapa karya kaligrafinya masih bisa temui saat ini.</p>
<p><b>Mendakwahkan Islam</b></p>
<p>Salah satu cita-cita luhur yang diidamkan Aurangzeb adalah melandasi pemerintahan kerajaan Mughal dengan ajaran Islam yang murni. Raja-raja sebelumnya, walaupun mereka muslim, tidak menerapkan syariat Islam secara kafah dalam pemerintahan mereka. Contohnya adalah sang kakek, Raja Akbar, dalam kehidupan dan pemerintahannya, sang kakek sering kali menentang prinsip ajaran Islam dengan mengadopsi tata nilai; akidah dan amalan yang bukan berasal dari Islam. Cita-cita Aurangzeb ini diilhami oleh pendidikan dan keyakinannya yang kuat akan ajaran Islam.</p>
<p>Aurangzeb menjadi raja Mughal sebelum ayahnya mangkat. Meskipun ia sangat menghormati ayahnya, namun Aurangzeb cukup vokal menentang kebijakan-kebijakan ayahnya, seperti gaya hidup yang boros dan berlebih-lebihan. Di antara kebijakan sang ayah yang ia kritik adalah pembangunan Taj Mahal, sebuah makam yang dibangun oleh ayahnya untuk mendiang ibunya, Mumtaz Mahal. Menurut Aurangzeb, pembangunan makam tersebut bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang melarang meninggikan bangunan di atas makam, dan tentu saja hiasan dan ornamen-ornamen Taj Mahal pasti membutuhkan biaya yang besar. Ia menyatakan, “Meninggikan bangunan di atas makam adalah sesuatu yang ilegal, dan tidak diragukan lagi hal itu merupakan pemborosan (sesuatu yang mubadzir).” Ia juga lantang menyerukan larangan mengagungkan kuburan-kuburan tokoh-tokoh agama karena yang demikian menurutnya adalah praktik pengkultusan terhadap penghuni kubur dan sangat jauh dari tuntunan syariat Islam.</p>
<p>Untuk mewujudkan penerapan syariat Islam dalam pemerintahannya, Aurangzeb berupaya mengumpulkan jurnal-jurnal fikih menjadi sebuah buku yang sistematis sehingga mudah untuk dijadikan acuan. Ia juga memfasilitasi ratusan cendekiawan muslim dari berbagai penjuru negeri untuk memformulasikan fikih Islam. Hasilnya adalah sebuah buku fenomenal dalam fikih Hanafi yang berjudul Fatawa al-Amgiri atau juga dikenal dengan Fatawa al-Hindiya yang merupakan ikhtisar dari fikih Madzhab Hanafi.</p>
<p><a href="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/Fatawa-e-alamgiri1-203x300.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3380" title="fikih Madzhab Hanafi" alt="Fatawa e alamgiri1 203x300 Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" src="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/Fatawa-e-alamgiri1-203x300.jpg" width="203" height="300" /></a></p>
<p>Buku ini kemudian disebarkan ke penjuru wilayah Mughal agar dijadikan panduan hukum dan memberantas penyakit-penyakit sosial, seperti: mabuk-mabukan, perjudian, dan prostitusi yang memang berusaha dihabisi oleh kerajaan. Pungutan pajak yang tidak sesuai syariat juga ia hapuskan, padahal tata perpajakan ini sudah sejak dulu dipratikkan oleh kerajaan Mughal.</p>
<p>Untuk mem-<i>back up</i> pendapatan besar yang sebelumnya diperoleh dari pajak, Aurangzeb mengurangi gaya hidup mewah yang dipratikkan para raja sebelumnya. Ia tidak tinggal di istana mewah seperti yang dilakukan oleh ayahnya, tradisi-tradisi kerajaan yang dianggap menghambur-hamburkan uang dihapuskan; seperti pentas musik dan perayaan ulang tahun raja.</p>
<p><b>Sikap Aurangzeb Terhadap Masyarakat Hindu dan Sikh</b></p>
<p>Telah kita ketahui prestasi-prestasi dan sosok Aurangzeb yang begitu religius, namun ada beberapa sejarawan dan akademisi berpendapat bahwa Aurangzeb hanyalah seorang raja yang mewarisi kekerasan dan intoleran. Ia juga disebut sebagai penghancur kuil dan raja yang selalu berusaha mengeliminasi orang-orang non-muslim dari wilayah kekuasaannya. Benarkah demikian?</p>
<p>Sikap Aurangzeb terhadap orang-orang Hindu dan Shikh bukanlah sikap diskriminatif seperti yang dituduhkan sebagian sejarawan. Puluhan orang-orang Hindu ia angkat jadi pegawainya di istana, kantor, dan penasihatnya bahkan Aurangzeb adalah raja yang paling toleran dalam perjalanan kerajaan Mughal. Terbukti dengan orang-orang Hindu dan Shikh ambil bagian dalam jajaran pemerintahan dan militernya, tentu saja ini menunjukkan bahwa Aurangzeb bukanlah seorang yang kaku dalam keagamaan dan serta merta menolak kontribusi non-muslim.</p>
<p><a href="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/764px-Asif_tomb.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-3382" alt="764px Asif tomb 564x442 Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" src="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/764px-Asif_tomb-564x442.jpg" width="564" height="442" title="Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" /></a></p>
<p>Isu negatif lainnya yang ditudingkan kepada Aurangzeb adalah, masa pemerintahannya diwarnai dengan penghancuran kuil-kuil Hindu dan Shikh serta menolak adanya pembangunan rumah ibadah yang baru. Hal ini seolah-olah menjadi fakta sejarah yang tak terbantahkan.</p>
<p>Perlu diketahui, penjagaan dan pelestarian candi dan kuil oleh umat Islam –dengan standar legal dalam hukum Islam- telah berlangsung sekian lama. Pasukan Islam pertama kali datang ke India pada tahun 711 M di bawah pimipinan Muhammad bin Qasim yang telah memberikan jaminan beragama dan keamanan pada kuil-kuil Hindu dan Budha. Aturan yang sama pun diberlakukan selama ratusan tahun sebelum kerajaan Mughal berkuasa. Aurangzeb tidak mengabaikan hukum-hukum Islam terhadap kelompok minoritas atau kelompok mayoritas yang tidak memiliki kekuasaan. Ia juga mengetahui bahwa syariat Islam melarang penodaan-penodaan terhadap tempat ibadah. Ia mengatakan, “Menurut keyakinan dan syariat Islam, kuil-kuil yang merupakan peninggalan zaman sebelumnya tidak selayaknya dihancurkan.”</p>
<p>Jika Aurangzeb berkeyakinan bahwa penghancuran kuil-kuil atau tempat peribadatan adalah bertentangan dengan syariat Islam, lalu bagaimana isu bahwa ia melakukan pengrusakan bisa muncul? Jawabannya adalah hal tersebut merupakan kebohongan yang dibuat-buat oleh lingkungan politik kuil.</p>
<p>Perlu diketahui, kuil-kuil Hindu dan Shikh bukan hanya tempat untuk beribadah semata, akan tetapi kuil juga memiliki pengaruh politik yang siknifikan. Kuil berfungsi sebagai pusat perpolitikan dan bagian dari negara, kepala kuil juga bekerja kepada pemerintah. Saat raja-raja Mughal atau raja Hindu di luar daerah Mughal ingin mendekati rakyat, maka mereka terlebih dahulu mendekati tokoh-tokoh agama di kuil untuk mendapatkan simpatik dari rakyat di wilayah tersebut. Dengan demikian, kuil pada saat itu lebih dari sekedar bangunan yang bersifat religius, akan tetapi ia juga merupakan sebuah potensi untuk menggapai pengaruh politik.</p>
<p><a href="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/somnath-temple-demolition.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3383" title="somnath-temple-demolition" alt="somnath temple demolition Sejarah Islam: Aurangzeb Alamgir, Raja Kerajaan Islam Mughal di India" src="http://kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/05/somnath-temple-demolition.jpg" width="460" height="303" /></a></p>
<p>Setelah mengetahui fungsi kuil yang signifikan, barulah kita membahas dan memahami mengapa Aurangzeb sampai menghancurkan kuil-kuil tertentu. Tidak ada catatan minor dalam sejarah yang mengisahkan bahwa Aurangzeb menghancurkan kuil di India secara serampangan. Kuil-kuil yang ia hancurkan benar-benar telah diputuskan dengan kebijakan yang matang dan juga hanya sebagian kecil dari total kuil-kuil Hindu yang ada di India. Keputusan penghancuran kuil itu tidak dilandasi oleh sentiment keagamaan, akan tetapi lebih kepada faktor politik yang dapat membahayakan stabilitas kerajaan dan masyarakat Mughal.</p>
<p>Kepala-kepala suku dan tokoh-tokoh agama mengadakan pemberontakan di masa Aurangzeb juga dilatarbelakangi kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan Shah Jahan –ayah Aurangzeb- yang mengutamakan kemewahan dan menyebabkan himpitan perekonomian. Ketika pemberontakan pecah di salah satu wilayah Mughal, maka kuil-kuil setempat merupakan corong utama yang memprovokasi masyarakat untuk mengadakan pemberontakan. Oleh karena itu, selama pemimpin pemberontakan ada dan kuil-kuil pendukung mereka tetap eksis, maka stabilitas keamanan di wilayah Mughal akan sulit diwujudkan.</p>
<p>Oleh karena itu ditegakkan aturan, perang terhadap para pemberontak berkonsekuensi menghancurkan tempat pemberontakan itu dirancang, yaitu kuil. Contohnya adalah pemberontakan yang terjadi pada tahun 1669 M, di Banaras yang dipimpin oleh rival politik Mughal, Shivaji. Ia menggunakan kuil setempat untuk mendukung aksinya. Setelah memberantas kelompok Shivaji, Aurangzeb menghancurkan kuil di Banaras yang digunakan sebagai tempat penyusunan strategi untuk memberontak kepada pemerintah. Peristiwa serupa juga terjadi pada tahun 1670 M di Mathura, pemberontak di daerah tersebut membunuh tokoh-tokoh agama Islam. Metode pemberantasan yang sama diterapkan Aurangzeb, yakni menghancurkan kuil yang menyeponsori pemberontakan tersebut.</p>
<p>Dengan demikian, kebijakan penghancuran kuil-kuil Hindu ini adalah sebuah hukuman bagi orang-orang Hindu yang telah berhianat kepada negara, bukan sebagai bentuk intoleran yang dilakukan oleh Aurangzeb.</p>
<p>Inilah sosok Raja Aurangzeb, seorang raja yang berusaha meniti jalan kebenaran, mempelajari Islam yang murni dan menerapkannya secara pribadi dan untuk masyarakatnya. Semoga Allah merahmati Raja Aurangzeb.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>http://lostislamichistory.com/aurangzeb-and-islamic-rule-in-india/</em></p>
<p><strong>Artikel <a title="sejarah islam" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>

	<br /><br /><strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>sejarah islam</strong>, <strong>sejarah india</strong>, <strong>kerajaan islam</strong><br />
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/MwGqhKjQyNY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/sejarah-islam-aurangzeb-alamgir-raja-kerajaan-islam-mughal-di-india/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/sejarah-islam-aurangzeb-alamgir-raja-kerajaan-islam-mughal-di-india/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kisah Sahabat: Masuk Islamnya Salman Al-Farisi Radhiallahu ‘anhu</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/hC-OtfKA6pU/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/kisah-sahabat-masuk-islamnya-salman-al-farisi-radhiallahu-anhu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 09:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hidayah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[masuk islam]]></category>
		<category><![CDATA[salman al-farisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3371</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Sahabat: Salman Al-Farisi Radhiallahu &#8216;anhu Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu &#8216;anhu berkata, &#8220;Salman al-Farisi menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, &#8216;Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://kisahmuslim.com/tag/kisah-sahabat/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kisah sahabat">Kisah Sahabat</a>: <a href="http://kisahmuslim.com/tag/salman-al-farisi/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with salman al-farisi">Salman Al-Farisi</a> Radhiallahu &#8216;anhu</strong></h2>
<p>Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu &#8216;anhu berkata, &#8220;<a title="Salman al-Farisi" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">Salman al-Farisi</a> menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, &#8216;Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.</p>
<p>Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.</p>
<p>Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, &#8216;Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana!&#8217; Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.</p>
<p>Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).</p>
<p>Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?</p>
<p>Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, &#8216;Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.&#8217;</p>
<p>Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, &#8216;Dari mana asal usul agama ini?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Dari Syam (Syiria).&#8217;</p>
<p>Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, &#8216;Anakku, ke mana saja kamu pergi?</p>
<p>Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.&#8217;</p>
<p>Ayahku menjawab, &#8216;Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.&#8217; Aku membantah, &#8216;Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.&#8217; Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.</p>
<p>Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, &#8216;Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.&#8217; Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.</p>
<p>Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.</p>
<p>Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, &#8216;Siapakah orang yang ahli agama di sini?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.&#8217; Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, &#8216;Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.&#8217; Pendeta itu menjawab, &#8216;Silahkan.&#8217;</p>
<p>Maka akupun tinggal bersamanya.</p>
<p>Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sedekah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.</p>
<p>Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk mengebumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, &#8216;Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.&#8217;</p>
<p>Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, &#8216;Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?&#8217; Aku menjawab, &#8216;Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.&#8217; Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.&#8217;<br />
Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, &#8216;Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.&#8217; Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.</p>
<p>Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.</p>
<p>Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, &#8216;Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perintahkan kepadaku?&#8217;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8216;Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku.<br />
Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!&#8217;</p>
<p>Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, &#8216;Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.&#8217;</p>
<p>Kemudian orang yang kutemui itu berkata, &#8216;Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.&#8217; Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, &#8216;Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?&#8217;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8216;Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!&#8217;</p>
<p>Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.</p>
<p>Orang itu berkata, &#8216;Silahkan tinggal bersamaku.&#8217; Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.</p>
<p>Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, &#8216;Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewasiatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?&#8217;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8216;Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.&#8217;</p>
<p>Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, &#8216;Silahkan tinggal bersamaku.&#8217;</p>
<p>Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.</p>
<p>Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, &#8216;Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku untuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan?dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?&#8217;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8216;Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!&#8217;</p>
<p>Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.</p>
<p>Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, &#8216;Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Ya.&#8217; Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.</p>
<p>Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.</p>
<p>Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.</p>
<p>Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.</p>
<p>Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, &#8216;Fulan,</p>
<p>Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.&#8217;</p>
<p>Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, &#8216;Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?&#8217; Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, &#8216;Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.&#8217;</p>
<p>Aku menjawab, &#8216;Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.&#8217;</p>
<p>Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, &#8216;Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.&#8217;</p>
<p>Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, &#8216;Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, &#8216;Ini satu tanda kenabiannya.&#8217;</p>
<p>Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wasallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, &#8216;Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.&#8217;</p>
<p>Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, &#8216;Inilah tanda kenabian yang kedua.&#8217;</p>
<p>Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam saat beliau berada di kuburan Baqi&#8217; al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku.</p>
<p>Pada saat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.</p>
<p>Rasulullah bersabda kepadaku, &#8216;Geserlah kemari,&#8217; maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wasallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.&#8221;</p>
<p>Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. &#8220;Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wasallam suatu hari bersabda kepadaku, &#8216;Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!&#8217; Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa salllam</em> mengumpulkan para sahabat dan bersabda, &#8216;Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.&#8217; Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.</p>
<p>Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, &#8216;Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.&#8217; Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa salllam</em> dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.</p>
<p>Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa salllam</em> membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, &#8216;Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?&#8217; Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, &#8216;Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!&#8217;</p>
<p>Wahai Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa salllam</em>, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, &#8216;Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan memberi kebaikan kepadanya.&#8217; Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.</p>
<p>Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah <em>shallallohu &#8216;alaihi wasallam</em> dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.&#8221; [1]</p>
<p>PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:</p>
<ol>
<li>Di antara hasil/buah mentaati kedua orang tua adalah dicintai orang.</li>
<li>Masuk penjara, cekal, rantai adalah cara <a href="http://kisahmuslim.com/tag/musuh-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musuh islam">musuh Islam</a> menghalangi kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah.</li>
<li>Jika gigih memperjuangkan keimanan maka urusan dunia terasa ringan.</li>
<li>Berpegang pada keimanan lebih kokoh dari seluruh rayuan.</li>
<li>Hendaknya seorang mukmin senantiasa siap mental menghadapi segala kemungkinan.</li>
<li>Terkadang orang-orang jahat mengenakan pakaian/menampakkan diri sebagai orang baik-baik.</li>
<li>Jalan mencapai ilmu tidak bisa ditempuh melainkan dengan senantiasa dekat dengan orang yang berilmu.</li>
<li>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah memberikan jalan keluar dari problematika hidupnya.</li>
<li>Takaran keimanan seseorang adalah mencintai dan membenci karena Allah.</li>
<li>Di antara akhlak terpuji para nabi adalah mau mendengarkan seseorang yang sedang berbicara dengan baik.</li>
<li>Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memantau kondisi bawahannya.</li>
<li>Diperbolehkan membeli budak dari tawanan perang, menghadiahkan dan memerdekakannya.</li>
<li>Saling tolong menolong adalah gambaran dari wujud hidup bermasyarakat.</li>
</ol>
<p>________________</p>
<p>[1] HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabrani dalam al-Kabir (6/222); Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, 4/75; al-Baihaqi dalam al-Kubra, 10/323.</p>
<p>[<a href="http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatkisah&amp;id=301" target="_blank" rel="nofollow">Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta</a>]</p>

	<br /><br /><strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kisah sahabat</strong>, <strong>salman al-farisi</strong>, <strong>masuk islam</strong><br />
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/hC-OtfKA6pU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/kisah-sahabat-masuk-islamnya-salman-al-farisi-radhiallahu-anhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/kisah-sahabat-masuk-islamnya-salman-al-farisi-radhiallahu-anhu/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kisah Orang Durhaka: Perjalanan Hidup Utbah bin Rabi’ah Hingga Ajalnya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/gzVOEOm8PAQ/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/kisah-orang-durhaka-perjalanan-hidup-utbah-bin-rabiah-hingga-ajalnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 May 2013 07:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[kisah islam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah muslim]]></category>
		<category><![CDATA[kisha orang durhaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3362</guid>
		<description><![CDATA[Utbah Mengakui Kebenaran Risalah Kisah Muslim &#8211; Tatkala Utbah bergegas pergi meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menyelesaikan kepentingan diplomasinya, dia kembali ke kumpulan orang-orang Quraisy yang sedang menunggunya. Mereka melihat Utbah kembali dengan raut ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://kisahmuslim.com/tag/utbah/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utbah">Utbah</a> Mengakui Kebenaran Risalah</strong></h2>
<p><strong><a href="http://kisahmuslim.com/tag/kisah-muslim/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with kisah muslim">Kisah Muslim</a></strong> &#8211; Tatkala Utbah bergegas pergi meninggalkan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> setelah menyelesaikan kepentingan diplomasinya, dia kembali ke kumpulan orang-orang Quraisy yang sedang menunggunya. Mereka melihat Utbah kembali dengan raut muka yang berbeda dari semula, seolah-olah dia kehilangan kesimbangan jiwanya dan apa yang ada di sekelilingnya, kebingungan menyelimuti dirinya. Mereka saling berkata, “Demi Allah, Abul Walid telah datang kepada kalian dengan wajah yang berbeda dari semula.”</p>
<p>Tatkala dia duduk dengan mereka, mereka pun menghujaninya dengan pertanyaan yang menyesalkan, “Apa yang menyebabkanmu berubah muka, wahai Abul Walid?”</p>
<p>Dia menjawab dengan jawaban yang meyakinkan, “Aku mendengar perkataan –demi Allah- tidak pernah aku mendengar sepertinya selama ini. Demi Allah itu bukanlah syair atau sihir atau mantra. Biarkanlah lelaki ini dan apa yang dibawanya, tinggalkanlah ia! Demi Allah, apa yang aku dengar darinya merupkan berita yang agung, jika orang Arab maka kepunyaannya adalah milik kalian, kemuliaannya adalah kemuliaan kalian juga, dan kalian akan menjadi manusia paling berbahagia dengannya.</p>
<p>Para penyembah patung berkata, “Demi Allah, dia telah menyihirmu dengan lisannya.”</p>
<p>Dia berkata, “Inilah pendapatku tentangnya, berbuatlah apa yang kalian suka.”</p>
<p>Alangkah baiknya perkataan:</p>
<p>“Kalau sekiranya dia tidak memiliki tanda yang jelas bagimu. Niscaya cukuplah gerak hatinya yang akan mengabarkanmu.”</p>
<p>Nampak dari sikap Utbah, bahwa dia menerima bulat kejujuran Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, dia memahami apa yang dibaca Rasulullah kepadaya, tidak mungkin bagi orang Arab seperti Utbah tidak memahami dari metode pancaran sinar Alquran, kejernihan penjabaran, dan mukjizatnya, akan tetapi Utbah –bersamaan dengan ini- kembali pada kefanatikan dan kejumudan dalam kekufuran serta kedengkian. Setan menunggangi kebodohan itu. Maka dia mengundang turunnya kemurkaan Allah dan laknat-Nya terhadap dirinya, hingga dia tergolong orang-orang yang dihinakan.</p>
<p>Dengan demikian, usai sudah dialog antara Rasulullah dengan para pembesar Quraisy yang kafir, setelah mereka berpecah belah dikarenakan sikap delegasi mereka, ‘Utbah. Mereka menduga ‘Utbah telah terkena sihir Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dengan ucapannya. Semakin parahlah gangguan kaum Quraisy terhadap Rasulullah dan para sahabatnya, mereka tetap menimpakan kaum muslimin berbagai penyiksaan yang tidak kuat dipikul oleh gunung-gunung yang tegar lagi kokoh.</p>
<h3><b>Di Tha’if</b></h3>
<p>Pintu penyampaian dakwah di Mekah menjadi buntu setelah wafatnya Khadijah <i>radhiyallahu ‘anh</i><i>a</i> dan Abu Thalib. Lantas Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> keluar ke Tha’if mencari bantuan dari Tsaqif. Tha’if merupakan kota penting layaknya Mekah, dari segi pembangunan, padatnya penduduk dan menjadi tempat berekreasi bagi orang yang berlebih. Kekayaan dan kelapangan telah mewariskan kesombongan dan mengacuhkan orang lain, kepada para pemilik kebun dan harta. Utbah dan saudaranya Syaibah memiliki kebun tempat berlibur menghabiskan musim kemarau di sana.</p>
<p>Tatkala Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> datang ke Tha’if, Beliau sengaja mendatangi tokoh-tokoh Tsaqif dan orang-orang mulia. Beliau duduk mengajak mereka ke jalan Allah <i>‘Azza wa Jalla</i>. Balasannya adalah sejelek-jelek jawaban, mereka mengejek Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> memobilisasi orang-orang bodoh, para budak, para penjahat dan para penyamun.</p>
<p>Mereka membagi kelompok menjadi dua baris di jalan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> keluar dari negeri mereka. Tatkala Beliau lewat di antara barisan itu, mereka silih berganti melempar Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dengan batu, hingga kedua sandal Beliau berlumuran darah.</p>
<p>Mereka lihati berbuat kejahatan, disertai ejekan dan tertawa hingga beliau melepaskan diri dari mereka, Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menuju ke salah satu kebun yang ada di Tha’if, bernaung di bawah bayangan pohon anggur dalam keadaan murung kesakitan. Lantas hati dan lisan mengadu kepada Allah, akan kelemahan daya dan upaya, strategi dan kelemahannya di depan manusia. Beliau memohon perlindungan kepada Allah serta memohon kemenangan dan dukungan dengan berdoa:</p>
<p>“Ya Allah, kepada-Mu kuadukan kelemahanku, sedikitnya strategiku dan kelemahanku di depan manusia, wahai Dzat yang Maha Penyayang. Engkaulah Rabb orang-orang yang tertindas, Engkaulah Rabbku, kemanakah Engkau melabuhkan diriku? Ke tempat jauh yang menyiksaku? Ataukah kepada musuh, Engkau serahkan urusanku? Jika saja Engkau tidak murka, pasti aku tidak perduli, akan tetapi karunia-Mu yang paling luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang dengannya Engkau menyinari kegelapan dan memperbaiki perkara dunia dan akhirat, aku berlindung dari kemurkaan-Mu, juga kebencian-Mu. Untuk-Mu segala pujian hingga Engkau rela. Dan tidak daya serta upaya melainkan dengan-Mu.”</p>
<p>Allah mengutus kepadanya penguasa gunung, dia meminta izin kepada Nabi untuk menghimpit dua gunung yang mengitari Tha’if. Maka Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> yang penuh rahmat berkata kepadanya, “Bahkan aku berharap akan keluar dari keturunan mereka, orang yang menyembah Allah semata, tidak berbuat syirik sedikit pun.”</p>
<h3><b>Rasa Kekerabatan Utbah Tergerak</b></h3>
<p>Setelah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bermunajat kepada Rabbnya saat Beliau bernaung di bawah pohon anggur. Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> melihat sekelilingnya dan mendapati Utbah dan Syaibah, dua anak Rabi’ah. Tatkala Beliau melihat keduanya, Beliau merasa tidak senang akan keberadaan keduanya, karena telah ada permusuhan mereka terhadap Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dan Rasul-Nya <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, dan tatkala keduanya melihat Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dalam keadaan demikian, maka tergeraklah hati keduanya menjadi iba. Mereka memanggil salah seorang dari budak keduanya yang Nashrani bernama (Addas), keduanya berkata,</p>
<p>“Ambillah petikan buah anggur dan letakkan di nampan ini, kemudian pergilah ke lelaki itu agar ia memakannya.”</p>
<p>Addas melakukan, dia menghampiri dan meletakkan anggur di hadapan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> seraya berkata, “Makanlah.” Tatkala Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> akan menjamahnya, Beliau membaca, “Bismillah.” Kemudian memakannya. Addas melihat ke wajah Beliau seraya berkata, “Demi Allah, perkataan ini tidak diucapkan oleh seorang pun dari penduduk negeri ini!”</p>
<p>Maka Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bertanya, “Dari negeri mana engkau berasal wahai Addas? Dan apa agamamu?”</p>
<p>Dia menjawab, “Aku seorang Nashrani, berasal dari Nainawa.”</p>
<p>Lantas Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berkata, “Dari negeri lelaki shalih Yunus bin Matta.”</p>
<p>Addas lanjut berkata, “Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta? Demi Allah aku telah keluar dari Nainawa. Di antara sepuluh orang penduduk, tidak ada yang mengetahui siapa Matta! Dari mana engkau mengetahuinya? Sedangkan engkau seorang yang buta huruf dari umat yang buta Huruf pula?!”</p>
<p>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menjawab, “Dia itu saudaraku, seorang Nabi, dan aku seorang Nabi.”</p>
<p>Maka Addas menunduk kepada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mencium kening Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, kedua tangan dan kaki Beliau.</p>
<p>Tatkala Utbah dan Syaibah melihat apa yang dilakukan budaknya, salah seorang dari mereka, “Budakmu telah dirusak olehnya.” Tatkala Addas berbalik pada keduanya, mereka berkata, “Celaka engkau wahai Addas! Mengapa engkau mencium kening lelaki ini, serta kedua tangan dan kakinya? Kami belum pernah melihatmu berbuat hal yang sama, pada salah seorang dari kami?!”</p>
<p>Addas berkata, “Demi Allah wahai Tuanku, tiada di muka bumi sesuatu yang lebih baik dari orang ini. Dia telah mengabariku suatu perkara yang tidak diketahui melainkan oleh seorang Nabi.”</p>
<p>Keduanya berkata pada Addas, “Celaka engkau wahai Addas, jangan sampai dia memalingkanmu dari agamamu, sesungguhnya agamamu lebih baik dari agamanya.”</p>
<p>Alangkah indahnya apa yang ditulis oleh mendiang Mushtafa Shadiq ar-Rafi’i tentang rasa kemanusiaan dan ibanya hati Ibnu Rabi’ah. Hal itu ia sebut di akhir makalahnya (falsafat kisah) sesudah kisah Addas dan kedua anak Rabi’ah. Dia berkata:</p>
<p>“Duhai alangkah anehnya rumusan taqdir pada kisah ini!</p>
<p>Kebaikan dan kemuliaan serta pengagungan demikian cepatnya, dia menghadap meminta maaf dari kejelekan, kebodohan, dan kecerobohan disertai dengan ciuman penghormatan setelah kalimat permusuhan.</p>
<p>Kedua anak Rabi’ah termasuk musuh berat Islam dan mereka termasuk dari orang yang menemui paman Nabi dari para pemuka Quraisy, yang merencanakan untuk menyingkirkan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> atau membiarkan mereka beraksi terhadap Beliau atau memeranginya hingga celaka salah satu dari keduanya. Sifat berbalik menjadi makna kemanusiaan yang dibawa oleh agama, karena masa depan agama dengan berfikir, bukannya dengan menuruti perasaan.</p>
<p>Datanglah Nashraniyyah merangkul Islam dan mengagungkannya, suatu agama dikatakan sebagai agama yang benar karena berasal dari sumber yang sama, sebagaimana seseorang berasal dari satu nasab dengan saudaranya, hanya saja persaudaraan itu diikat dengan pertalian darah, sedangkan agama itu pertalian dengan akal.</p>
<p>Kemudian taqdir menyempurnakan ciri khasnya dalam kisah ini dengan memetik anggur yang segar penuh dengan rasa manis. Maka dengan nama Allah buah anggur itu dipetik sebagai tanda akan keagungan Islam yang penuh dengan kecintaan dan setiap biji darinya, bagaikan kerajaan.”</p>
<p>Di parlemen Mekah –Daar an-Nadwah- kaum <a href="http://kisahmuslim.com/tag/musyrikin/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrikin">musyrikin</a> menggelar pertemuan paling kejinya dalam sejarah bangunan ini. Mereka merencanakan taktik yang mematikan –menurut mereka- yang bisa memadamkan cahaya kehidupan dalam waktu singkat, dengan membunuh Nabi tercinta <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>.</p>
<p>Dahulu, yang paling menonjol di antara orang-orang zhalim yang datang menggencet guna melampiaskan kedengkian dan perbuatan yang melampaui batas, adalah Utbah bin Rabi;ah dan saudaranya Syaibah bin Rabi’ah, Firaunnya umat ini Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, An-Nadhr bin al-Harits dan yang lainnya, dari orang-orang yang dikuasai api kedengkian di hati yang membakar jiwa mereka.</p>
<p>Tatkala mereka sepakat untuk membunuh Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, Jibril turun mewahyukan apa yang dari Allah dan mengabari Beliau mengenai rencana Quraisy, dan Allah mengizinkan Beliau untuk hijrah.</p>
<p>Jibril mengabarkan dari Allah <i>Ta’ala</i>, “Malam ini janganlah engkau tidur di atas kasurmu sebagaimana biasanya.”</p>
<p>Para tentara berjaga malam, menunggu detik-deitk menegangkan itu, sedangkan Allah yang Maha Unggul dalam perkara-Nya.</p>
<p>“<i>Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya</i>.” (QS. Al-Anfaal: 30)</p>
<p>Mereka tetap dalam keadaan merugi, berjatuhanlah apa-apa yang ada di tangan mereka, menjadi gilalah orang-orang itu, tatkala mendapati kegagalan tipu daya busuk mereka.</p>
<p>Di saat berkeliling antara rumah-rumah kaum muhajirin, Utbah bin Rabi’ah lewat dan melihat rumah-rumah yang pintunya tertutup tak berpenghuni. Maka sifat kemanusiaan tergerak, dan menarik nafas panjang sebagaimana yang digambarkan Abu Duad al-Iyadi:</p>
<p>Setiap rumah meski lama keselamatannya pada suatu saat akan menemui bencana dan kebinasaan yang menimpanya</p>
<p>Akan tetapi apa untungnya dari merintih? Utbah sendiri termasuk orang-orang yang mengacuhkan Alquran atau orang-orang yang berpaling dari jalan Allah <i>‘Azza wa Jalla</i> dan menyiksa kaum mukminin. Di antara mereka, anaknya sendiri Abu Hudzaifah yang ikut hijrah dua kali, karena menyelamatkan agamanya dari cengkraman Utbah dan kelompoknya, lalu apa lagi wahai Utbah?!</p>
<h3><b>Jika Saja Mereka Taat Niscaya Mendapat Petunjuk</b></h3>
<p>Utbah bin Rabi’ah berjalan menuju Badr bersama orang-orang Quraisy, guna berperang menghadapi kaum muslimin. Di Badr, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> melihat Utbah menunggang unta merah miliknya, Beliau bersabda, “Jika ada kebaikan pada seseorang di kaum itu, niscaya hal itu terdapat pada penunggang unta merah, jika mereka menaatinya niscaya mereka mendapat petunjuk.”</p>
<p>Dan inilah hakekat kenabian, Hakim bin Hizam –dia termasuk intelek dari kalangan Quraisy- berusaha menemui Utbah bin Rabi’ah seraya berkata:</p>
<p>“Wahai Abu Walid, sesungguhnya engkau pemebsar Quraisy dan pemuka yang ditaati, apakah engkau ingin agar senantiasa dikenang sepanjang masa?”</p>
<p>Utbah menjawab, “Apa maksudmu wahai Hakim?”</p>
<p>Hakim berkata, “Pulanglah bersama orang-orang dan tanggunglah diyat Amr Ibnul Hadrami.” Dia rekan Utbah dan terbunuh dalam pertempuran Nakhlah yang dimpin Abdullah bin Jahsy.</p>
<p>Utbah berkata, “Saya telah melakukannya, engkau jaminannya bagiku, sedangkan aku menanggung diyatnya dan apa yang menimpa hartanya, datangkanlah si Sial bin al-Handzaliyyah –maksudnya Abu Jahal dan Al-Handzaliyyah adalah ibunya- sesungguhnya aku tidak takut, akan percekcokan dalam persatuan suku karenanya darinya.”</p>
<p>Kemudian Utbah berdiri di hadapan khalayak yang berusaha untuk bergabung di antara orang-orang Quraisy seraya berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah kalian tidak patut berhadapan dengan Muhammad dan para sahabatnya sedikit pun, demi Allah seandainya kalian menang, niscaya seorang laki-laki akan melihat kepada yang lain dengan pandangan kebencian. Anak pamannya terbunuh (dari ayah atau ibunya) atau seseorang dari keluarganya. Maka pualgnlah! Dan biarkanlah urusan antara Muhammad dengan seluruh orang Arab. Jika mereka membunuhnya maka kemauan kalian tercapai, jika tidak, dia telah melalaikan kalian, walaupun kalian tidak mendapatkan apa yang kalian inginkan.</p>
<h3><b>Utbah dan Kecemburuan Abu Jahal</b></h3>
<p>Hakim bin Hizam pergi bergegas menemui Abu Jahal dan mengabarinya bahwa Utbah bin Rabi’ah mengutusnya untuk ini dan itunya. Maka Abu Jahal berkata dengan perasaan diliputi kecemburuan dan dosa, “Demi Allah, telah menjalar perasaan takutnyanya tatkala melihat Muhammad dan para sahabatnya. Demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum Allah memutuskan perkara antara kami dengan Muahmmad. Akant etapi dia melihat Muhammad dan sahabatnya pemakan sesembelihan unta, dan di antara mereka ada anaknya –yaitu Abu Hudzaifah bin Utbah- ia yang telah menakuti kalian terhadapnya.</p>
<p>Tatkala Utbah mendengar perkataan Abu Jahal, menjalar perasaan takutnya. Utbah berkata, “Dia akan mengetahui siapa yang dijangkiti rasa takut, aku ataukah dia.” Si Utbah memiliki firasat yang tidak dimiliki oleh Abu Jahal. Dia berkata kepada orang yang ada di sekelilingnya saat perang Badr setelah melihat pasukan kaum muslimin, “Tidakkah kalian lihat mereka 0maksudnya apra sahabat Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>- dalam keadaan berlutut di atas tunggangannya seakan-akan mereka bisu, seraya menjulurkan lidahnya bagaikan ular.”</p>
<p>Abu Jahal mampu memporak-porndakan pasukan tersebut, menyulut api fitnah, meniup api peperangan dan alangkah berat baginya (gengsi) kalau Utbah memimpin Quraisy serta merampas hal itu darinya. Dia membujuk Amr Ibnul Hadrami guna menuntut balas atas kematian saudaraya Amr. Dia memenuhi Amr dan berteriak, “Duhai Amrku duhai Amrku.” Maka kaum itu menjadi panas, kecerobohan mengalahkan kearifan, dan perkara Allah telah ditentukan.</p>
<h3><b>Terbunuhnya Utbah dalam </b><b>Pertempuran</b></h3>
<p>Genderang perang telah ditabuh, Utbah memakai pakaian perangnya dalam keadaan marah. Dia merabah kain putih untuk dimasukkan ke dalam kepalanya, maka dia tidak mendapati dalam pasukan itu kain putih yang cukup karena kebesaran kepalanya. Tatkala dia melihat hal itu, dia mencukupkan kainnya untuk kepala. Kemudian Utbah keluar di antara saudaranya untuk beradu tanding. Utbah menginginkan dari kecerobohan yang dungu ini untuk menampakkan keberaniannya dan membantah celaan Abu Jahal terhadapnya berupa sifat pengecut dan takut.</p>
<p>Di medan pertempuran Utbah berdiri beserta orang-orang yang bersamanya yang baka menjadi kayu bakar api Neraka berseru memanggil, “Wahai Muhammad, keluarkanlah mereka yang sebanding dengan kami dari para pembesar kaum.”</p>
<p>Maka Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda, “Bangkitlah wahai Ubaidah Ibnul Harits, bangkitlah wahai Hamzah dan bangunlah wahai Ali.”</p>
<p>Ubaidah berhadapan dengan Utbah, Hamzah menghadapi Syaibah dan Ali bertarung dengan Al-Walid bin Utbah. Ali berhasil membunuh Al-Walid, demikian pula Hamzah berhasil membunuh Syaibah. Sementara Ubaidah dan Utbah sama-sama terluka masing-masing terkena dua pukulan. Maka Hamzah dan Ali segera melindungi temannya dari Utbah.</p>
<p>Usai pertandingan ditandai dengan terbunuhnya musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> di tangan para pahlawan Islam, kedua pasukan beradu. Tak lama kemudian orang-orang jahat yaitu kaum musyrikin terpukul mundur dan kalah.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> –sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari- berada dalam kubah di Badr, Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta jaminan dan janji-Mu, ya Allah jika Engkau menghendaki, Engkau tidak akan disembah setelah hari ini untuk selamanya.” Kemudian Abu Bakar <i>radhiyallahu ‘anhu</i> mengambil tangan Beliau seraya berkata, “Cukup bagimu wahai Rasulullah, engkau telah berulang-ulang memohon kepada Rabbmu.” Beliau mengenakan tameng, lantas Beliau keluar seraya membaca firman Allah:</p>
<p>“<i>Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit</i>.” (QS. Al-Qamar: 45-46)</p>
<p>Demikianlah Utbah bin Rabi’ah bersama 70 pembesar Quraisy menemui kebinasaan mereka, laknat Allah benar-benar menimpa musuh, hingga mereka terbunuh dengan cara demikian. Sebagian ditawan dan yang lain tercerai berai bertebaran di muka bumi, melarikan diri karena takut berhadapan dengan tentara yang beriman. Maha benar Allah dengan janjinya, dia memuliakan pasukan-Nya, menolong hamba-Nya dan kalahlah orang-orang yang berdosa. Dia memenuhi janji-Nya terhadap Rasul-Nya berupa kemenangan yang menakjubkan dan membuatnya perkasa. Jumlah sedikit yang bersabar menang atas kaum kafir yang berdosa dengan jumlah yang banyak.</p>
<p>Dan yang patut disebut di sini bahwa para perawi menyebutkan bahwa Utbah tatkala terbunuh usianya 140 tahun sedangkan Syaibah lebih tua darinya tiga tahun. Indah apa yang diungkapkan Ibnu Jabir al-Andalusi rahimahullah saat menggambarkan perang Bdr dan pertempuran kaum musyrikin dengan berkata:</p>
<p>“Bulan di hari Badr telah nampak menyinari sekelilingnya bintang-bintang di angkasa telah menampakkan cahayanya. Jibril bergabung di antara Malaikat yang mendekatinya. Tidaklah jumlah musuh yang banyak, dapat mengangkat kehinaan pada mereka. Dia melempar dengan batu ke muka kaum itu Lantas ia mengoyaknya hingga membuat kenikmatan tersebut seakan hilang. Dia berbuat baik dengan mengawasi hingga mereka selamat Dia membuat jiwa menjadi baik setiap kali ia membatu. Tanyakanlah kepada mereka Ubaidah dan Hamzah serta perhatikanlah pembicaraan mereka pada hari itu tentang Ali. Mereka menghukum Utbah dengan pedang saat dia nampak maka Al-Walid merasakan kematian itu yang tak terwakilkan. Dan Syaikh tatkala muda diliputi rasa takut yang menghantui kepadanya dipercayakan untuk mengubah keadaan dengan cepat. Abu Jahal memilih kebodohan yang nyata, pagi-pagi sekali dia kembali dengan kematian yang menghinakan. Dia berputar-putar dalam kelompok dan kaumnya. Mereka menggiringnya ke sumur sebagai tempat kembali.”</p>
<p><strong>Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M</strong></p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan pendidikan agama islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>

	<br /><br /><strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>kisah muslim</strong>, <strong>kisah islam</strong>, <strong>kisha orang durhaka</strong><br />
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/gzVOEOm8PAQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/kisah-orang-durhaka-perjalanan-hidup-utbah-bin-rabiah-hingga-ajalnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/kisah-orang-durhaka-perjalanan-hidup-utbah-bin-rabiah-hingga-ajalnya/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Amal Perbuatan Utbah bin Rabi’ah Yang Mengantarkannya ke Neraka</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/wyvWTauTenY/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/amal-perbuatan-utbah-bin-rabiah-yang-mengantarkannya-ke-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 06:14:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3354</guid>
		<description><![CDATA[Prediksi Kenabian Umayyah bin Abi Shalt adalah seorang penyihir Jahiliyah yang terkenal. Dia banyak menelaah buku lagi membaca, bahwa seorang Nabi dari kalangan Arab akan diutus, diberitakan pula telah tiba masanya seorang Nabi akan keluar. Referensi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><b>Prediksi Kenabian</b></h2>
<p><strong>Umayyah bin Abi Shalt</strong> adalah seorang penyihir Jahiliyah yang terkenal. Dia banyak menelaah buku lagi membaca, bahwa seorang Nabi dari kalangan Arab akan diutus, diberitakan pula telah tiba masanya seorang Nabi akan keluar. Referensi menyebutkan kabar yang mengisyaratkan, Umayyah menduga bahwa <a href="http://kisahmuslim.com/tag/utbah/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utbah">Utbah</a> bin Rabi’ah yang akan menjadi nabi.</p>
<p>Ibnu Asakir dan yang lainnya dari para sejarawan meriwayatkan kisah panjang seputar berita ini. Dia menyebutkan dari Abu Sufyan bin Harb, bahwasanya dia berkata:</p>
<p>Aku keluar bersama Umayyah bin Abi Shalt untuk berdagang ke Syam.</p>
<p>Dalam kisah disebutkan bahwa Umayyah mengetahui akan diutusnya seorang nabi dari kalangan Arab Hijaz. Dia menduga bahwa dialah Nabi itu. Hanya saja sewaktu di perjalanan menuju Syam dia bertemu dengan seorang pendeta Nashrani. Darinya dia mengetehaui, bahwa nabi itu akan diutus dari kalangan Quraisy yang umurnya 40 tahun. Karena itu Umayyah mengabarkan kepada Utbah bahwa dialah Nabi.”</p>
<p>Abu Sufyan berkata: Umayyah bertanya kepadaku tentang Utbah bin Rabi’ah. Katanya, “Wahai Abu Sufyan, kabarkanlah kepadaku tentang Utbah bin Rabi’ah, apakah dia menghindari kezhaliman dan hal-hal yang haram?”</p>
<p>Aku menjawab, “Ya, demi Allah.”</p>
<p>Umayyah berkata, “Dia menyambung tali persaudaraan dan berseru untuk menyambungnya?”</p>
<p>Aku menjawab, “Ya demi Allah.”</p>
<p>Umayyah berkata, “Dia memuliakan kedua belah pihak, penengah dalam keluarga/suku?”</p>
<p>Aku menjawab, “Ya.”</p>
<p>Umayyah berkata, “Apakah engkau mengetahui orang Quraisy yang lebih mulia darinya?”</p>
<p>Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak mengetahuinya.”</p>
<p>Dia berkata, “Apakah dia memiliki kebutuhan?”</p>
<p>Aku menjawab, “Tidak, bahkan dia seorang yang kaya raya.”</p>
<p>Dia berkata, “Berapa umurnya?”</p>
<p>Aku menjawab, “Lebih dari seratus tahun.”</p>
<p>Dia berkata, “Sesungguhnya usia kemuliaan dan harta menghinakannya.”</p>
<p>Maka kukatakan padanya, “Tidaklah usia bertambah melainkan kemuliaan pun bertambah.”</p>
<p>Dia berkata, “Aku mendapati dalam kitab-kitabku, bahwa Nabi itu diutus di wilayah kita ini. Aku mengira dirikulah orangnya. Tatkala aku belajar kepada ahli ilmu, ternyata dia dari Bani Abdi Manaf. Lantas kulihat dia dari Bani Abdi Manaf, lalu kuperhatikan dan tidak kudapati orang yang layak untuk ini selain Utbah bin Rabi’ah. Maka tatkala engkau mengabariku tentang usianya aku mengetahui bahwa dia orangnya, karena dia telah melewati 40 tahun sementara wahyu belum turun kepadanya.”</p>
<p>Umayyah meyakinkan bahwa sifat-sifat Utbah telah gugur dan jauh dari kenabian.</p>
<p>Abu Sufyan berkata: Tatkala aku pulang ke Mekah, aku mendapati Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> telah diutus. Kemudian aku menemui Umayyah di Tha’if lantas kukatakan padanya seakan aku menghinakannya, “Wahai Abu Utsman –kunyah (panggilan) Umayah- Nabi yang engkau gambarkan telah keluar!”</p>
<p>Dia berkata, “Jika dia berada di atas kebenaran, maka ikutilah dia.”</p>
<p>Aku berkata, “Apa yang menghalangimu untuk mengikutinya padahal engkau telah mengetahui kebenaran?”</p>
<p>Dia menjawab, “Tidak ada yang menghalangiku melainkan rasa malu terhadap kaum wanita Tsaqif. Aku pernah berbicara kepada mereka bahwa aku seorang Nabi, kemudian bagaimana kalau mereka mengetahui aku tunduk kepada anak muda dari Bani Abdi Manaf!”</p>
<p>Kabar ini barangkali memberikan titik terang pada kita tentang kemuliaan turun menurun yang terpendam dalam jiwa Utbah bin Rabi’ah, yang menjadikan dirinya berhak dinobatkan sebagai nabi dari yang lain. Dan nampaknya bagi saya –<i>wallahu a’lam</i>- bahwa ini merupakan salah satu sebab yang menjadikan Utbah termasuk orang-orang yang berbuat kriminal yang terbesar permusuhannya terhadap Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Tatkala benih-benih keislaman mulai menyentuh hati kaum mukminin, Utbah bin Rabi’ah tergolong di antara orang yang berdiri menentang dengan kesombongan dan kecongkakannya di hadapannya kaum muslimin dan menghalangi Rasul yang mulia beserta para sahabatnya, mereka mendapat gangguan darinya, mereka selalu berhadapan dengan kekerasan dan kezhalimannya. Di antara yang mendapat gangguannya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq <i>radhiallahu ‘anhu</i>.</p>
<p>Abu Bakar <i>radhiallahu ‘anhu</i> seorang pemberani di saat tak seorang pun dari kaum muslimin terang-terangan berbicara di hadapan para penyembah berhala dari kalangan Quraisy, mereka berada di Darul Arqam bersembunyi dari kaum <a href="http://kisahmuslim.com/tag/musyrikin/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrikin">musyrikin</a>.</p>
<p>Ash-Shiddiq <i>radhiallahu ‘anhu</i> menyampaikan ide kepada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> –jumlah kaum muslimin kala itu mencapai 38 orang- agar mengumumkan dakwah, Maka Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengatakan, “Wahai Abu Bakar, kita ini masih sedikit.”</p>
<p>Ash-Shiddiq <i>radhiallahu ‘anhu</i> mendesak Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, hingga Beliau mengizinkan mereka keluarga ke Masjidil Haram, kaum muslimin berpencar, setiap orang bersama keluarganya, sementara Abu Bakar berdiri berkhutbah di hadapan manusia dan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> duduk, dialah orang pertama yang menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Kaum musyrikin menyerang Abu Bakar dan kaum muslimin, dengan penyerangan serempak ala Jahiliyah, mereka menyerang kaum muslimin di segenap penjuru masjid. Abu Bakar <i>radhiallahu ‘anhu</i> diinjak dan dipukul dengan pukulan yang melukai. Si Fasiq yang berlagak mulia Utbah bin Rabi’ah mendekat dan memukul dengan kedua sandalnya yang menyakitkan muka Abu Bakar, sampai dia tak sadarkan diri. Kemudian keluarganya menbawanya ke rumah, seraya berkata, “Demi Allah, kalau seandainya Abu Bakar meninggal, kami akan membunuh Abul Walid Utbah bin Rabi’ah.</p>
<p>Abu Quhafah –ayah Ash-Shiddiq <i>radhiallahu ‘anhu</i>- dan kaumnya berusaha mengajaknya berbicara hingga dia sadar dan menjawab mereka di akhir siang. Tahukah anda, kalimat pertama yang diucapkan Ash-Shiddiq <i>radhiallahu ‘anhu</i> saat itu?</p>
<p>Dia tidak bertanya tentang dirinya dan apa yang diperbuat oleh si Fasiq Utbah, serta apa yang dideritanya akibat siksaan dan cercaan, melainkan dia berkata, “Apa yang diperbuat Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>?”</p>
<p>Semuanya merasa kebingungan, mereka mencerca, mengecam dan meninggalkannya dalam kesal dan marah karena apa yang diucapkan oleh Ash-Shiddiq <i>radhiallahu ‘anhu</i>.</p>
<p>Setelah kaumnya meninggalkan Abu Bakar <i>radhiallahu ‘anhu</i>, tinggallah sang Ibu –Salma binti Shakhr- (Ummul Khair) berduaan dengannya. Abu Bakar berkata kepadanya,</p>
<p>“Apa yang diperbuat Rasulullah wahai ibuku?”</p>
<p>Dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui keadaan temanmu pada hari ini.”</p>
<p>Abu Bakar <i>radhiallahu ‘anhu</i> berkata, “Pergilah ke Ummu Jamil Fathimah bintil Khaththab tanyakan padanya –dia termasuk orang yang menyembunyikan keislamannya-.” Maka sang ibu pergi menemuinya seraya berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang temannya Muhammad bin Abdillah.”</p>
<p>Fatimah berkata, “Aku tidak mengetahui seorangpun, jika engkau menginginkan aku pergi bersamamu ke anakmu, aku akan melakukannya.”</p>
<p>Dia berkata, “Ya.”</p>
<p>Maka dia pergi bersamanya hingga menemui Abu Bakar yang menderita sakit parah, dia bertanya padanya, “Apa yang dilakukan Rasulullah?”</p>
<p>Fatimah merasa takut terhadap ibunya Salma binti Shakhr dan berkata,</p>
<p>“Ini adalah ibumu, apakah engkau mendengar wahai Abu Bakar?”</p>
<p>Dia berkata, “Jangan khawatir tentangnya dan jangan takut, insya Allah.”</p>
<p>Fatimah berkata, “Dia selamat dan baik Alhamdulillah, dia di Darul Arqam.”</p>
<p>Abu Bakar <i>radhiallahu ‘anhu</i> berkata, “Aku tidak akan makan dan minum sehingga menjumpai Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>.</p>
<p>Setelah suasana sepi, keduanya membawa Abu Bakar kepada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, beliau dituntun sambil bersandar kepada ibu dan Fatimah. Setibanya di tempat tujuan, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengecupnya, lalu diikuti oleh kaum muslimin yang lain, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> merasa sedih, lantas Abu Bakar berkata,</p>
<p>Ayah ibuku sebagai taruhannya wahai Rasulullah, aku baik-baik saja, hanya wajahku yang agak sakit terkena pukulan si Fasiq Utbah bin Rabi’ah –wajah Abu Bakar bengkak karena kerasnya pukulan- ini ibuku yang berbuat baik terhadap anaknya, engkau diberkahi, maka ajaklah dia ke jalan Islam, semoga Allah menyelamatkannya dari api Neraka. Maka Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mendoakannya, agar dia <a href="http://kisahmuslim.com/tag/masuk-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk islam">masuk Islam</a> dan mengajaknya ke Jalan Allah Azza wa Jalla, lantas dia <a href="http://kisahmuslim.com/tag/masuk-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk islam">masuk Islam</a> dan berbai’at.</p>
<p>Dari kejadian ini mulailah Utbah bin Rabi’ah menyiksa kaum muslimin dengan beragam gangguan dan penyiksaan. Di sisi lain, hal itu menjadiakn ketinggian dan kemuliaan bagi Abu Bakar ash-Shiddiq <i>radhiallahu ‘anhu</i>.</p>
<p>Al-Qasthalani rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mawahib, tentang keistimewaan Abu Bakar <i>radhiallahu ‘anhu</i> yang langka dengan menyatakan, “Para Ulama menyebutkan, Abu Bakar <i>radhiallahu ‘anhu</i> lebih utama daripada orang beriman dari keluarga Fir’aun, karena dia hanya berjuang dengan lisan, sementara Abu Bakar berjuang dengan lisan dan tangan, dia membela Nabi dengan perkataan juga perbuatan.”</p>
<p><b>Duta Besar Orang-orang Jahat</b></p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mendakwahi orang-orang Quraisy dan manusia pada umumnya, agar beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Utbah bin Rabi’ah dan orang-orang yang bersamanya merintangi petunjuk, dengan berbuat zhalim dan menampakkan kebodohan orang Jahiliyyah. Penglihatan mereka buta tidak bisa melihat cahaya kebanran. Mereka merasakan bahaya dakwah yang mengancam patung-patung mereka. Maka guncanglah keadaan mereka, khususnya Utbah yang –menurut pengakuannya- mengetahui ilmu sihir, perdukunan dan sya’ir. Dia mengira dengan kebodohannya, bahwa dia akan membuat Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menerima tawarannya agar meninggalkan dakwah.</p>
<p>Suatu saat Utbah bersama segolongan kaum musyrikin duduk di Masjidil Haram saling berunding sesama mereka, menimbang dan berdebat serta mengutarakan usul. Saat itu, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> duduk sendirian di samping mereka, namun jauh dari pemikiran mereka yang rapuh.</p>
<p>Utbah tampil di tengah-tengah kelompok, dia mengutarakan apa yang ada di kepalanya yang dianggapnya dapat mengenyahkan segala problematika mereka dengan Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, mereka menyerahkan kepada Utbah segala keadaan mereka, dengan harapan nantinya, orang yang dianggap mampu menyingkirkan gelombang yang mendera dapat menyelematkan mereka, mereka berkata dengan satu saura, “Kerjakanlah wahai Abul Walid, apa yang menjadi pendapatmu.”</p>
<p>Maka berdirilah Utbah seraya berjalan dalam keadaan penuh dusta, hingga dia menghampiri dan duduk bersama Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Lantas dia mengajak Beliau berbicara dengan apa yang di pikirannya, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya engkau bagian dari kami, kita termasuk orang-orang pilihan dan yang memiliki kedudukan juga kehormatan.”</p>
<p>Kemudian Utbah beranjak mendustakan dan berdusta dengan kebodohannya, dan mengaku bahwa dakwah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan risalah yang dibawanya merupakan khayalan dari setan juga sekutunya, serta apa yang digambarkan oleh dirinya yang rendah. Dia berkata:</p>
<p>“Sesungguhnya engkau mendatangi kaummu dengan perkara yang besar, memecah belah kesatuan mereka dan engkau anggap mimpi mereka adalah kebodohan, engkau anggap aib tuhan dan agama mereka, serta engkau kafirkan nenek moyang mereka.”</p>
<p>Kemudian dia meminta kepada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> agar memenuhi permintaannya, hingga dia mengutarakan pada Beliau beberapa perkara, yang diharapkan beliau menerima sebagiannya. Dengan demikian tersingkap problematika Quraisy, sebagaimana akan lenyap problema Utbah sendiri, jika kaum Quraisy memilihnya sebagai duta yang menjembatani antara kaum Quraisy dengan Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>.</p>
<p>Dalam keadaan yang tenang, percaya diri dan hati yang penuh dengan keimanan, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berkata kepadanya,</p>
<p>“Katakanlah wahai Abul Walid, aku akan mendengarmu.”</p>
<p>Duhai, apakah hal yang diutarakan Utbah dalam majlis itu?!</p>
<p><b>Pemikiran yang Rendah dan Lapuk</b></p>
<p>Utbah bin Rabi’ah mengemukakan pemikiran-pemikiran rapuhnya yang tergambar dalam otaknya yang hanya berisi kesesatan. Dia beranjak dari tempat perkumpulan kaumnya ke majelis Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> untuk memaparkan pemikirannya. Barangkali Nabi bersedia menerima sebagiannya, hingga kaum Quraisy mengaplikasikannya, dan sedikit demi sedikit terpecahlah berbagai problema dan kesulitan.</p>
<p>Utbah mengungkapkan kepada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> empat perkara, yang menunjukkan kadar pemikirannya yang rendah lagi terbelakang, Dia berkata:</p>
<p>“Wahai pura saudaraku,</p>
<p>Jika engkau menghendaki dengan seruanmu itu harta benda, kami akan mengumpulkan untukmu harta hingga engkau menjadi orang terkaya di antara kita.</p>
<p>Jika engkau menghendaki kemuliaan (kekuasaan), kami tidak memutus perkara melainkan dengan persetujuanmu.</p>
<p>Jika engkau menghendaki kedudukan, akan kami jadikan engkau sebagai raja.</p>
<p>Jika apa yang kau bawa datangnya dari bangsa jin yang engkau lihat, sedang engkau tidak bisa menolaknya, akan kami datangkan untukmu tabib dan kami nafkahkan harta kami demi kesembuhanmu.”</p>
<p>Ini pemikiran yang bercokol di kepala Utbah, intelek Quraisy dan salah seorang yang berpura-pura menggunakan otaknya untuk menuntaskan problematika yang diangkat bersama Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, bukanlah suatu keanehan bagi kepala dan ubun-ubun busuk, yang disanggah oleh leher yang panjang lagi keras, mengungkapkan hal semacam ini?</p>
<p>Tidak sampai di situ, bahkan si Utbah ini –semoga Allah memburukkannya- termasuk orang Quraisy yang dekat nasabnya kepada Nabi Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan manusia paling tahu akan kegiatan serta kehidupan dan pertumbuhan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>!!</p>
<p>Tidak ada laporan sama sekali bahwa Nabi pilihan dan tercinta berambisi mengumpulkan harta dunia, tidak diketahui dari Beliau –atau tercatat dalam sejarah- bahwa beliau meminta kepada mereka untuk menjadikan pemimpin atau raja di Mekah, bahkan Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> hanya meminta mereka agar menyucikan diri dan hati dari kotornya penyembahan patung, juga memerdekakan akal mereka dari lumut-lumut Jahiliyah yang hina.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> masih terdiam tidak menjawab apa yang didengarnya, dari orang yang berlagak intelek, namun sebenarnya bodoh seperti Utbah, hingga si Utbah usai dari perkataan dan pemaparannya. Hal itu tidak menggoyahkan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, bahkan Beliau berkata, “Sudah puaskah engkau wahai Abul Walid?”</p>
<p>Utbah berkata, “Ya.”</p>
<p>Nabi bersabda, “Dengarkanlah aku.”</p>
<p>Utbah mendekatkan telinganya mempersiapkan panca indera dan perasaannya, maka Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> membacakan ayat-ayat yang jelas berupa petunjuk dan pembeda yaitu firman Allah:</p>
<p>“Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)’.” (QS. Al-Fushilat: 1-5)</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menyelesaikan bacaannya sedangkan Utbah diam dengan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung sambil bersandar pada keduanya mendengarkan Beliau. Tatkala Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> usai hingga ayat sajadah, Beliau pun sujud kemudian Beliau bersabda, “Engkau telah mendengarnya wahai Abul Walid baru saja, maka perhatikanlah hal itu olehmu!”</p>
<p>Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M</p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah penggugah jiwa" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/wyvWTauTenY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/amal-perbuatan-utbah-bin-rabiah-yang-mengantarkannya-ke-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/amal-perbuatan-utbah-bin-rabiah-yang-mengantarkannya-ke-neraka/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kisah Orang Durhaka dalam Islam – Utbah bin Rabi’ah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/AljapTZA44w/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/kisah-orang-durhaka-dalam-islam-utbah-bin-rabiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 May 2013 02:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[kisah islam]]></category>
		<category><![CDATA[musyrikin]]></category>
		<category><![CDATA[orang durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[utbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3351</guid>
		<description><![CDATA[Utbah bin Rabi’ah -  Duta orang-orang kafir yang berbuat jahat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membujuk Beliau meninggalkan dakwah yang benar. -  Musuh bebuyutan Islam, terbunuh dalam perang Badr. -  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><a href="http://kisahmuslim.com/tag/utbah/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utbah">Utbah</a> bin Rabi’ah</strong></h2>
<p>-  Duta orang-orang kafir yang berbuat jahat kepada Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> agar membujuk Beliau meninggalkan dakwah yang benar.</p>
<p>-  Musuh bebuyutan Islam, terbunuh dalam perang Badr.</p>
<p>-  Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> melaknatnya dengan bersabda, “Ya Allah laknatilah ‘Utbah bin Rabi’ah.”</p>
<p>-  Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengajaknya berdialog setelah dia dan para pembesar Quraisy dilempar ke sumur sesudah terbunuh, “Wahai Utbah bin Rabi’ah bukankah kalian telah mendapati apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian benar adanya?”</p>
<p>Dia di antara orang-orang Jahiliyah yang pura-pura berakal, tempat bertumpunya syirik, penopang para penyembah patung, salah seorang pengibar bendera permusuhan terhadap dakwah Nabi yang mulia, Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Akan tetapi kebodohannya, tidak sampai ke derajat rendah, perbuatan dosa dan kedengkian Abu Jahal bin Hisyam. Dia tidak sampai ke derajat terpuruk, seperti si jahat Uqbah bin Abi Mu’ith dengan kepribadian yang sangat rendah, juga sifat dan perbuatan yang sangat tercela. Bahkan dia di tengah kaumnya –Quraisy- sebagai orang yang mulia, cerdik dalam menentang dakwah yang haq, petunjuk, dan cahaya.</p>
<p>Dia menampakkan perdamaian dan persetujuan, suatu hal yang menjadikannya sebagai duta Quraisy yang vokal dalam forum Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Untuk memalingkannya dari dakwah, mengajak orang lain ke jalan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>, dengan memberi motivasi membanggakan Quraisy di masa Jahiliyah, yang berkisar antara bisikan setan dan desah nafas orang-orang yang sesat.</p>
<p>Siapakah orang yang terfitnah dengan bualannya sendiri, yang merasa mulia dengan kesombongannya, dan lagak menampakkan intelektualitasnya?</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi <i>rahimahullah</i> menyifatinya sebagai Syaikhul Jahiliyyah.</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Asakir dan yang lainnya menyebut nasab dia, sebagai berikut: Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab al-Qurasyi al-Absyami.</p>
<p><a title="utbah" href="http://kisahmuslim.com/kisah-orang-durhaka-dalam-islam-utbah-bin-rabiah" target="_blank"><strong>Utbah</strong></a> memiliki anak bernama Abu Hudzaifah bin Utbah yang merupakan salah seorang pasukan penunggang kuda Rasul yang suci, bergerak maju memeluk Islam di awal kemunculannya. Dia tidak takut kepada ayahnya, Syaikhul Jahiliyyah, orang yang mulia dan memiliki kedudukan di kalangan Quraisy. Memeluk Islam bukan karena dorongan dunia, yang mendorongnya hanyalah keimanan, kuatnya kemauan, sucinya aqidah, dan bersihnya hati.</p>
<p>Dia <a href="http://kisahmuslim.com/tag/masuk-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk islam">masuk Islam</a> sebelum Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, masuk ke Darul Arqam menyembunyikan seruannya, mengkhawatirkan orang yang bersamanya, para pengikut petunjuk, untuk berjaga-jaga dari gangguan para penyembah syirik yang dipimpin Utbah bin Rabi’ah, ayah Abu Hudzaifah dan kelompok kecil keluarganya dari Bani Abdi Syams, termasuk orang yang tertutup fikirannya dengan kegelapan syirik dan kezhaliman, mereka berbuat congkak dan sombong, menentang kebenaran dan mencegah semua jalan untuknya, hingga mereka membendung lantas Allah menghinakan mereka. Menjadikan kalimat mereka rendah dan kalimat-Nya yang tinggi.</p>
<p>Adapun anak perempuannya adlaah Hindun binti Utbah, salah seorang Shahabiyyah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, dan salah seorang wanita yang terkenal dalam dunia sejarah dan sejarah dunia.</p>
<p><b>Bekas Peninggalan Jahiliyah</b></p>
<p>Utbah bin Rabi’ah dikenal di kalangan Quraisy dengan kemuliaan turun-menurun, yang menjadikannya memperoleh kedudukan sosial yang tinggi di antara orang Quraisy. Di antaranya dia mengesampingkan hal-hal kecil, dan kesabarannya di masa muda yang umumnya terburu nafsu.</p>
<p>Diriwayatkan, dia melewati sekelompok pemuda dari Bani Mughirah. Mereka berkata, “Apa yang menjadikannya sebagai tuan? Padahal dia tidak memiliki harta, tidak pula ini atau itu?” Mereka mencelanya, sedangkan dia mendengarnya. Kemudian dia bergegas pergi, tidak menyahuti komentar itu, bahkan dia mengumpulkan baju dan pakaian, lantas dia memberikannya kepada mereka, dengan begitu bertambahlah kedudukan di hadapan kaum Quraisy.</p>
<p>Dinukil perkataan, tentang kepimpinan Utbah yang menunjukkan kedudukan dan kepemimpinannya:</p>
<p>Abu az-Zinad berkata, “Kami tidak mengetahui seorang pun yang memimpin di masa Jahiliyah tanpa memakai harta selain Utbah bin Rabi’ah.”</p>
<p>Abdurrahman bin Abdillah az-Zuhri berkata, “Tidak ada orang miskin dari Quraisy yang memimpin, selain Utbah bin Rabi’ah dan Abu Thalib bin Abdil Muththalib. Keduanya adalah pemimpin yang tidak memiliki harta.”</p>
<p>Karena itu kaum Quraisy mengajaknya ikut serta dalam perkara-perkara besar, misalnaya dalam pembangunan Ka’bah yang mulia. Putusan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> di antara kaum Quraisy untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya yang semula, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> memerintahkan agar didatangkan kain, lalu Hajr Aswad diletakkan di tengahnya, kemudian Beliau bersabda, “Setiap kabilah hendaknya mengambil bagian dari ujung baju, kemudian angkatlah bersama-sama.” Maka mereka melakukannya, dikelompok Abdu Manaf terdapat Utbah bin Rabi’ah. Akhirnya kekompakkan menggantikan perpecahan.</p>
<p>Utbah mendapat bagian kehormatan mengangkat Hajar Aswad, hal itu terjadi beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> diutus menjadi Rasul.</p>
<p>Di antara kemuliaan turun menurun pada masa jahiliyah yang tercatat dalam sejarah Utbah, adalah mendamaikan manusia yang bertikai tatkala terjadi Harbul Fijar, Utbah menunggangi untanya seraya berteriak, “Wahi suku Mudhar, atas dasar apa kalian saling membunuh? Wahai suku Quraisy marilah kita sambung tali persaudaraan dan perdamaian.”</p>
<p>Mereka menjawab, “Bagaimana kami menghentikan?”</p>
<p>Dia berkata, “Hitunglah yang terbunuh dari kalian, kami akan menghadiahkan kepada kalian para tawanan kami dan kami akan memaafkan kalian atas orang-orang yang terbunuh.”</p>
<p>Mereka berkata, “Siapakah yang menjadi jaminan untuk kami?!”</p>
<p>Dia menjawab, “Saya.”</p>
<p>Lantas mereka rela dan terjadilah perdamaian.</p>
<p>Tatkala orang-orang Hawazin melihat para tawanan Quraisy sudah di tangan mereka, mereka mau memaafkan. Kemudian mereka membebaskan dan menghapus dendanya. Dengan Demikian usailah perang (Harbul Fijar). Karena inilah dikatakan, “Utbah menjadi pemimpin tanpa harta, bahkan keadaannya faqir.”</p>
<p>Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M</p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah penggugah jiwa" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>

	<br /><br /><strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>utbah</strong>, <strong>kisah islam</strong>, <strong>musyrikin</strong>, <strong>orang durhaka</strong><br />
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/AljapTZA44w" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/kisah-orang-durhaka-dalam-islam-utbah-bin-rabiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/kisah-orang-durhaka-dalam-islam-utbah-bin-rabiah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tewasnya Musuh Islam Umayyah bin Khalaf</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/Gi_lV-4xK9U/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/tewasnya-musuh-islam-umayyah-bin-khalaf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 02:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[musuh islam]]></category>
		<category><![CDATA[tewasnya musuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3347</guid>
		<description><![CDATA[Pada Perang Badar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang yang dianiaya olehnya. Dia menjadi tuan, Maha benar Allah tatkala berfirman, “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pada Perang Badar</strong>, Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> telah memuliakan Bilal bin Rabah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> dan orang-orang yang dianiaya olehnya. Dia menjadi tuan, Maha benar Allah tatkala berfirman,</p>
<p>“<i>Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)</i>.” (QS. Al-Qashash: 5)</p>
<p>Adapun Umayyah bin Khalaf, kesudahannya adalah akhir kehidupan paling buruk dan paling mengerikan. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> memerintahkan untuk melemparkan bangkai kaum <a href="http://kisahmuslim.com/tag/musyrikin/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrikin">musyrikin</a> ke dalam sumur Badr, hanya saja Umayyah adalah orang yang gemuk, dia membengkak seketika itu juga. Tatkala akan diceburkan ke sumur dagingnya mengelupas, maka Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menyatakan, “Biarkanlah dia.” Lantas mereka membiarkannya di tempatnya dan menimbuninya dengan tanah, hingga terpendam.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> melaknat mereka saat beridiri, sambil menyebut nama-nama mereka seraya berkata, “Apakah kalian telah mendapati apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian?!”</p>
<p>Sungguh indah, apa yang diungkapkan penyair Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, yaitu Hassan bin Tsabit dalam menggambarkan orang-orang yang dimasukkan ke sumur, dia berkata dari sebuah syair yang panjang. Kami pilih darinya bait-bait berikut ini:</p>
<p>Rasulullah memanggil mereka ketika kami melempar bangkai mereka secara bersama-sama ke dalam sumur. Bukankah kalian mendapati perkataanku benar dan siksa Allah menyentuh sampai ke hati. Mereka bisu, seandainya mereka berucap niscaya akan mengatakan. Engkau benar dan engkau pemilik ide yang jitu.</p>
<p>Orang kuffar Quraisy kembali ke Mekah dalam keadaan murung penuh dengan kesusahan serta kekalahan yang telak. Yang pertama kali tiba dengan membawa kekalahan kaum musyrikin dan bencana mereka, adalah al-Husaiman bin Abdillah al-Khuza’i, dialah yang menyesali terbunuhnya orang-orang terhormat Quraisy seraya berkata, “<a href="http://kisahmuslim.com/tag/utbah/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utbah">Utbah</a> telah terbunuh, demikian pula Syaibah, Abu Jahal, dan Umayyah. Kemudian dia menyebut-nyebut para petinggi itu.”</p>
<p>Shafwan bin Umayyah bin Khalaf berkata, sedang dia duduk dalam kamar bersama sekelompok orang dari Quraisy, “Demi Allah orang ini tidak berakal, hatinya telah terbang. Tanyakanlah kepadanya tentang aku, sesungguhnya aku mengira dia akan menyebutku.”</p>
<p>Sebagian mereka berkata kepada al-Husaiman, “Apakah engkau mengetahui berita tentang Shafwan bin Umayyah dan apa yang dilakukannya?”</p>
<p>Dia menjawab, “Ya, dia sedang duduk di kamar. Sungguh aku telah melihat bagaimana ayahnya Umayyah bin Khalaf dan saudaranya saat keduanya dibunuh.”</p>
<p>Demikianlah Allah telah menghinakan Umayyah, kabar kematiannya telah sampai kepada keluarganya. Dia adalah orang yang hina saat hidup dan ketika mati.</p>
<p>Al-Halabi <i>rahimahullah</i> menyebutkan dalam buku sejarahnya, “Telah sampai penghinaan ucapan laknat kepada Umayyah bin Khalaf melalui lisan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> setelah hijrah ke Madinah, karena Umayyah merupakan penyebab gangguan Rasul tercinta dan para sahabatnya yang mulia, yaitu orang-orang yang tertimpa sakit dan demam di awal hijrah mereka. Rasul <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berdoa, “Ya Allah, laknatlah Syaibah bin Rabi’ah dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka mengeluarkan kami dari tempat tinggal kami, ke tempat yang berwabah.”</p>
<p>Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mendoakan Umayyah bin Khalaf dan sekelompok kaum musyrikin tatkala mereka menyiksa Beliau di Mekah. Mereka semua terbunuh di Badr, karena itu di hari Badr, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berdiri di atas sumur seraya mengajak mereka berbicara dengan menyebut nama-nama mereka, “Wahai ‘Utbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah, wahai Umayyah bin Khalaf, wahai Abu Jahal bin Hisyam.” Beliau menghitung mereka seraya bersabda, “Apakah kalian mendapati apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya aku mendapati apa yang dijanjikan Rabbku benar terjadi (kemenangan).”</p>
<p>Ya, Maha Benar Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dan Rasul-Nya <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, janji Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> benar adanya. Umayyah bin Khalaf memperoleh kehinaan sebagai imbalan atas apa yang diperbuat oleh kedua tangannya, Dia menjadi salah satu penghuni Neraka.</p>
<p>Gembong kekufuran, Umayyah bin Khalaf, salah seorang pemilik hati yang keras dari kalangan musyrikin Quraisy, termasuk  salah seorang yang berbuat keonaran dan kerusakan di muka bumi dan merusak hubungan antar sesama manusia. Jelas bagi kita perjalanan hidupnya, tidak tersisa celah dari kesempatan untuk mengganggu Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> melainkan Umayyah adalah salah seorang yang paling berperan di kalangan orang-orang yang berbuat kejam baik dengan perkataan maupun perbuatan. Maka dia layak menerima siksa paling berat dari Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> di dunia. Dan di akhirat lebih pedih dan kekal serta lebih dahsyat.</p>
<p>Bagi orang yang menelusuri pemikiran <a title="umayyah-bin-khalaf" href="http://kisahmuslim.com/tewasnya-musuh-islam-umayyah-bin-khalaf" target="_blank">Umayyah</a> dan kejiwaannya, dia akan melihat Umayyah meliuk-liuk dalam hal harta yang hina sebagai bahan pertumbuhannya, dan berkembang pemikirannya. Dia mengira bahwa harta dan kedudukan, merupakan tonggak kehidupan dan tambatan kemuliaan.</p>
<p>Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i> menyebutkan bahwa Umayyah bin Khalaf al-Jumahi mengajak Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> kepada perkara yang dibencinya, menjauhkan diri dari orang-orang miskin dan mendekati para pembesar Mekah. Maka Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menurunkan firman-Nya:</p>
<p>“<i>Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami</i>.” (QS. Al-Kahfi: 28), maksudnya kami tutup hatinya dari menerima tauhid.</p>
<p>“<i>Serta menuruti hawa nafsunya</i>.” (QS. Al-Kahfi: 28), maksudnya syirik.</p>
<p>Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> telah menurunkan sejumlah ayat yang mulia berkenaan dengan Umayyah, memperingatkan sifatnya yang tercela, mengancamnya dengan neraka. Alangkah buruknya neraka sebagai tempat kembali. Kemudian menyebut sebagian sifat yang menjadikannya termasuk penghuni neraka.</p>
<p>Di dalam surat Al-Lail firman Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>:</p>
<p>“<i>Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).</i>” (QS. Al-Lail: 14-16)</p>
<p>Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menyifati Umayyah, bahwa dia orang yang plaing melarat, karena dia mendustakan Alquran dan berpaling dari ketaatan terhadapnya. Sebagaimana dia mendustakan Nabi Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan berpaling dari keimanan kepadanya, bahkan menghalanginya dan mengganggu orang yang beriman. Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menyifatinya (orang yang paling celaka), mengkhususkan baginya siksa yang menyala-nyala dan api neraka paling panas.</p>
<p>Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i> berkata tatkala menafsirkan firman Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>:</p>
<p>“Tidak ada yang masuk ke dalamnya, kecuali orang yang paling celaka.”</p>
<p>“Orang yang paling celaka adalah Umayyah bin Khalaf dan yang semisalnya dari orang-orang yang mendustakan Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan para Nabi sebelumnya.”</p>
<p>Di tempat lain dalam Alquran al-Karim, Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> mengisyaratkan sifat tercela lainnya yang ada pada Umayyah, semuanya menunjukkan keburukannya dan sifat pengecut serta kesewenang-wenanganannya. Dia tukang mengumpat, memfitnah, dan mencela. Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menurunkan surat al-Humazah yang menjanjikan baginya api neraka yang menyala-nyala.</p>
<p>“<i>Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam </i><i>Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang</i>.” (QS. Al-Humazah: 1-9)</p>
<p>Sekumpulan ulama tafsir dan para penulis sejarah menyebutkan, surat ini turun berkenaan dengan Umayyah bin Khalaf.</p>
<p>Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Utsman dan Ibnu Umar, keduanya berkata: (Mengenai ayat ini)</p>
<p>“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”</p>
<p>“Kami senantiasa mendengar bahwa (ayat inI) turun karena Umayyah Khalaf.”</p>
<p>Ibnu Ishaq <i>rahimahullah</i> berkata, “Umayyah bin Khalaf, apabila dia melihat Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, maka dia mengumpat dan mencelanya.”</p>
<p>Mengenai makna Al-Humazah dan Al-Lumazah terdapat banyak pendapat:</p>
<p>Al-Humazah adalah orang yang suka mencari aib, orang yang suka mencari cela manusia dan menghina di depan yang bersangkutan. Al-Lumazah adalah orang yang suka mencela, menjelakkan nasab manusia dan menghina di belakang yang bersangkutan.</p>
<p>Sebagian besar para tabi’in serta fuqaha di kalangan mereka, seperti al-Hasan al-Bashri, Mujahid bin Jubair –atau Jabr- dan Atha bin Abi Rabah <i>rahimahullah</i> berkata, “Al-Humazah adalah yang mencela, menuduh seseorang di depan orangnya. Al-Lumazah adalah yang mencela seseorang saat dia tidak ada (menggunjing).”</p>
<p>Inilah sifat tercela yang ada pada diri Umayyah bin Khalaf, selain mencela dan mengumpat Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, dia pun mencerca manusia dan mencari aib mereka, saat berhadapan maupun tatkala berjauhan, ialah akhlak terendah, karenanya dia dibalas –selain dengan kekufurannya- Neraka Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> yang menyala-nyala yang disediakan untuknya dan orang-orang sepertinya, yakni mereka yang melukan pelanggaran, melampui batas dan durhak terhadap perintah Rabb mereka, dan tidaklah Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menzhalimi seorang pun.</p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah penggugah jiwa" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>

	<br /><br /><strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>tewasnya musuh</strong>, <strong>musuh islam</strong><br />
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/Gi_lV-4xK9U" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/tewasnya-musuh-islam-umayyah-bin-khalaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/tewasnya-musuh-islam-umayyah-bin-khalaf/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tewasnya Gembong Musyrikin Quraisy: Umayyah bin Khalaf</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/s1F0I4Wf234/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/tewasnya-gembong-musyrikin-quraisy-umayyah-bin-khalaf/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2013 06:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3341</guid>
		<description><![CDATA[Matinya Umayyah bin Khalaf Di antara tanda kenabian junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah apa yang disebutkan para sahabatnya yang mulia, ketika di Madinah, Beliau memperlihatkan kepada mereka orang-orang yang akan tewas di ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Matinya Umayyah bin Khalaf</strong></h2>
<p>Di antara tanda kenabian junjungan kita Nabi Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, adalah apa yang disebutkan para sahabatnya yang mulia, ketika di Madinah, Beliau memperlihatkan kepada mereka orang-orang yang akan tewas di Badar dengan menyatakan, “Ini tempat kematian fulan besok, Insya Allah dan ini tempat kematian fulan.”</p>
<p>Di antara anugerah penghormatan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> bagi Rasul-Nya bahwa tempat-tempat kematian kaum <a href="http://kisahmuslim.com/tag/musyrikin/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrikin">musyrikin</a> tidak meleset dari yang beliau tunjukkan.</p>
<p>Demikianlah, salah seorang sahaat yang mulia Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari <i>radhiallahu ‘anhu</i> telah memahami apa yang dikatakan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> tentang kematian penyanjung syirik dari Quraisy di Badr. Sa’ad bin Mu’adz <i>radhiallahu ‘anhu</i> teman <strong>Umayyah bin Khalaf</strong> di Mekah, kematian Umayyah masih terekam dalam ingatan Sa’ad. Dia mengabarkan hal itu kepadanya, lantas Umayyah merasa gentar dan takut.</p>
<p>Adapun kisah terbunuhnya Umayyah bin Khalaf, telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari <i>rahimahullah</i> dalam shahihnya dengna sanad dari Amr bin Maimun, dia mendengar Abdullah bin Mas’ud <i>radhiallahu ‘anhu</i> berkata, bahwa Sa’ad bin Muadz <i>radhiallahu ‘anhu</i> mengabarkan kepadanya, kemudian Ibnu Mas’ud <i>radhiallahu ‘anhu</i> berkata,</p>
<p>“Sa’ad bin Mu’adz <i>radhiallahu ‘anhu</i> adalah teman Umayyah bin Khalaf, apabila Umayah lewat Madinah dia mampir ke Sa’ad. Dan kebalikannya, apabila Sa’ad melewati Mekah dia mampir ke Umayyah.</p>
<p>Tatkala Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> datang ke Madinah, Sa’ad pergi menunaikan umrah lantas dia mampir ke Umayyah di Mekah seraya berkata, ‘Caarilah untukku saat yang sepi barangkali aku bisa melakukan thawaf di Ka’bah.’</p>
<p>Maka tak lama kemudian keduanya keluar pertengahan siang, keduanya bertemu dengan Abu Jahal. Dia berkata, ‘Siapa yang bersamamu wahai Abu Sufyan?’</p>
<p>Umayyah menjawab, ‘Dia adalah Sa’ad.’</p>
<p>Abu Jahal berkata kepadanya, ‘Sungguh aku melihatmu thawaf di Mekah denan aman, sedang kalian yang menampng para pemeluk agama baru, kalian mengira bahw akalian telah meolong dan mengayomi mereka. Ketahuilah bahwa kalau sekiranya engkau tidak bersama Abu Sufyan engkau tidak akan pulang selamat kembali ke rumah.’</p>
<p>Sa’ad menjawab kepadanya seraya mengangkat suaranya dengan keras, ‘Demi Allah, sekiranya engkau mencegahku, niscaya kau akan kucegah dari yang lebih penting bagimu, yaitu berjalan ke Madinah.’</p>
<p>Lantas Umayyah berkata kepadanya, ‘Jangan kau angkat suaramu wahai Sa’addi atas suara Abul Hakam pemimpin penduduk lembah ini.’</p>
<p>Sa’ad berkata, ‘Biarkanlah kami wahai Umayah, demi Allah aku telah mendengar Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berkata, merekalah yang akan membunuhmu.’</p>
<p>Umayyah berkata, ‘Di Mekah?’</p>
<p>Sa’ad menjawab, ‘Aku tidak tahu.’</p>
<p><a title="umayyah bin khalaf" href="http://kisahmuslim.com/tewasnya-gembong-musyrikin-quraisy-umayyah-bin-khalaf" target="_blank">Umayyah</a> merasa gundah dengan berita itu, sepulangnya ke rumah, dia berkata ke istrinya, ‘Wahai Ummu Shafwan, tahukah apa yang dikatakan Sa’ad tentang diriku?’</p>
<p>Ummu Shafwan bertanya, ‘Apa yang dikatakannya?’</p>
<p>Kata Sa’ad, ‘Dia berkata, Muhammad mengabarkan, bahwa mereka akan membunuhku. Lalu aku bertanya kepadanya: Di makkah? Aku tidak tahu, jawabnya.’</p>
<p>Umayyah berkata, ‘Demi Allah aku tidak akan keluar dari Mekah.”</p>
<p>Kalimat (mereka akan membunuhmu) tetap terngiang menghantui diri Umayyah, berita yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, karena dia mengakui dalam hatinya, benarnya kenabian Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Umayyah bin Khalaf sendiri bersaksi akan hal ini dalam pernyataannya kepada Mu’adz, “Demi Allah Muhammad tidak berbohong apabila dia berbicara.”</p>
<p>Akan tetapi ketetapan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menjadikan taqdir segala sesuatu terjadi. Tatkala peperangan Badar Umayyah menjumpai apa yang diucapkan Sa’ad, dia mengalami apa yang telah dialami oleh kaum musyrikin. Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> membenarkan Rasul-Nya <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>.</p>
<p><b>Tali Permusuhan yang Tidak Terputus</b></p>
<p>Umayyah bin Khalaf –baginya laknat Allah- terus memantau langkah dalam rangka memusuhi Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dan Rasul-Nya serta kaum mukminin. Dia bersama Quraisy bermusyawarah di Darun Nadwah untuk mengantisipasi Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, dia termasuk orang yang menunggi di hari keluarnya Rasul untuk hijrah ke Madinah.</p>
<p>Setelah hijrah, permusuhan berlanjut tidak terputus. Dia menyakiti kaum muslimin dengan lisan, dengan pengumpatan kehormatan mereka, dan menyebut kekurangan mereka. Tersebut dalam kitab Al-Lisan dan Ash-Shihah, Umayyah bin Khalaf berkata mencecmooh Hassan bin Tsabit <i>radhiyallahu ‘anhu</i>:</p>
<p>Bukankah dahulu ayahmu di sisi kami adalah seorang tukang hias bagi kalangan biduanita, sebagai tanda kebejatan tidak bisa menjaga diri. Aku bersumpah dia masih tetap mengasah besi. Meniup dengna sungguh-sungguh bara api yang tidak berasap lagi.</p>
<p>Maka Hassan <i>radhiyallahu ‘anhu</i> menjawabnya dengan bait yang panjang, kita ambil sebagian di antaranya:</p>
<p>Perkataan yang dusta datang kepadaku dari Umayyah. Dia bukanlah orang yang menjaga diri saat menyendiri. Membangun kebejatan karena keterbatasan tangannya untuk bisa meraih keagungan yang tinggi dalam pembicaraannya. Akan aku sebarkan jika tersisa bagiku perkataan hingga dibahas dalam perkumpulan Ukkadz. Perkataan itu memburumu jika engkau menemui musim dingin di bumi manapun. Dan mematahkan apa yang ada di tempatmu saat ia diadakan di musim panas.</p>
<p>Umayyah tetap berjalan di jalan yang bengkok dan sesat, hingga tiba saatnya perang Badr, kaum musyrikin berkemas merekrut orang-orang dan persenjataan, bahan makanan, perbekalan dan jumlah pasukan. Akan tetapi Umayyah, keadaannya berbeda dari kaum musyrikin lainnya pada waktu itu. Prediksinya dalam menghadapi kaum muslimin berbeda dengan pengamatan kaum musyrikin. Dia telah memahami medan pertempuran sebelum dia sendiri keluar, terlebih setelah mendengar berita dari Sa’ad bin Mu’adz. Hanya saja, apa yang dikehendaki Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> itulah yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Maha Suci Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dari apa yang mereka sekutukan.</p>
<p><b>Umayyah Enggan Keluar Menuju Badr</b></p>
<p>Kaum musyrikin berkumpul di Badr, adapun pemimpin orang-orang jahat Umayyah merasa takut dan enggan keluar. Hampir saja dia tidak ikut, dia seorang yang sudah tua lagi dimuliakan serta gemuk. Dia teringat kisah Sa’ad bin Mu’ad yang selalu menghantuinya, hingga dia tidak bisa melupakan kejadian itu sama sekali. Akan tetapi Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> apabila menjalankan sesuatu dari hukumnya, Dia telah mempersiapkan sebab-sebab yang akan mengantarkan pada hukum tersebut.</p>
<p>Al-Bukhari rahimahullah meriwayatatkan dalam Shahihnya, beliau berkata, “Maka tatkala hari peperangan Badr, Abu Jahal menggiring orang-orang, dia berkata, ‘Susullah kafilah kalian.’ Maka Umayyah enggan untuk keluar, hingga Abu Jahal mendatanginya seraya berkata, ‘Wahai Abu Sufyan, sejak kapan engkau mundur, padahal orang-orang tidak pernah mendapatimu demikian? Engkau adalah pemimpin lembah ini, mereka akan menirumu.’ Abu Jahal terus merayunya seraya berkata, ‘Jika engkau bisa mengungguliku, demi Allah aku akan membelikan onta terbaik di Mekah.’ Kemudian Umayyah berkata, ‘Wahai Ummu Sufyan persiapkanlah bekal untukku.’</p>
<p>Istrinya menjawab, ‘Wahai Abu Sufyan, apakah engkau lupa, apa yang dikatakan oleh saudaramu Al-Yatsribi (Sa’ad bin Muadz)?’</p>
<p>Dia menjawab, ‘Tidak, aku akan selalu dekat bersama mereka.’</p>
<p>Tatkala Umayyah keluar, dia tidak meninggalkan rumah melainkan mengikat kudanya. Demikianlah hingga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menewaskannya tatkala perang Badar.</p>
<h3><b>Tiga Orang yang Celaka</b></h3>
<p>Beberapa referensi meriwayatkan dengan sanad yang terpercaya, bahwa ketika Abu Jahal mengetahui Umayyah mengundurkan diri, dia berusaha membujuk ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. ‘Uqbah seorang yang bodoh. Maka datanglah ‘Uqbah bersama Abu Jahal –semoga Allah melaknat keduanya- Uqbah membawa tungku api, di dalamnya terdapat dupa, sedangkan Abu Jahal membawa botol celak dan pensil alis. Uqbah meletakkan tungku api di antara kedua tangannya seraya berkata padanya, “Wahai Abu Ali, berukuplah sesungguhnya engkau ini seperti wanita.”</p>
<p>Abu Jahal berakata, “Wahai Abu Ali, pakailah celak sesungguhnya engkau seorang wantia.”</p>
<p>Uamyyah berkata, “Semoga Allah menjelekkan kalian berdua.”</p>
<p>Kedua orang yang busuk ini, bertujuan untuk memanasi kefanatikan Umayyah dengan cara itu. Dan benar, Umayyah membeli onta paling bagus di Mekah, dia pun bersiap-siap bersama kaum musyrikin.</p>
<p>Di jalan menuju ke Badr, Umayyah menyembelih 9 onta dan memberi makan orang-orang musyrikin yang pergi berperang dengan sombong dan penuh kekafiran. Keluar bersama-sama orang Quraisy, serombongan para perias dan penyanyi wanita dengan tabuhannya, di antara mereka budak wanita Umayyah bin Khalaf. Mereka bernyanyi di setiap sumber air dan di setiap rumah yang mereka singgahi untuk beristirahat dan makan. Sementara itu Umayyah bersama kaum tersebut melangkah dalam keraguan. Dia berniat untuk kabur sesaat lagi, dengan menyusup di antara mereka. Hanya saja, dia tidak mendapat kesempatan mewujudkan apa yang dia inginkan.</p>
<p><b>Mimpi yang Aneh Membuat Takut Umayyah</b></p>
<p>Perjalanan kaum Quraisy berlanjut dalam keadaan kacau, hingga sampai ke tempat yang bernama al-Juhfah. Saat itu waktu sudah malam, mereka turun untuk menambah perbekalan air, di antara mereka ada seorang lelaki berasal dari Bani al-Muththalib, yang bernama Juhaim bin ash-Shalt bin Mukhramah, dia meletakkan kepalanya, lantas tertidur. Kemudian ia tersentak bangun ketakutan. Kemudian berkata kepada teman-temannya, “Apakah kalian melihat penunggang kuda yang berdiri di atasku barusan?!”</p>
<p>Mereka menjawab, “Tidak, sesungguhnya engkau telah gila, bahkan engkau pasti sudah gila!”</p>
<p>Dia berkata, “Seorang penunggang kuda berdiri di hadapanku baru saja. Dia berkata, ‘Abu Jahal terbunuh, <a href="http://kisahmuslim.com/tag/utbah/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with utbah">Utbah</a>, Syaibah, Zam’ah, Abul Bakhtari dan Umayyah bin Khalaf.’ Lalu dia menghitung sekelompok dari kuffar Quraisy dan orang-orang terkemuka dari mereka.”</p>
<p>Teman-temannya berkata dengan anda mengejek, “Sesungguhnya setan telah bermain-main denganmu, wahai Juhaim.”</p>
<p>Perkataan Juhaim disampaikan ke Abu Jahal, Abu Jahal pun berkata, “Kalian telah datang kepada kami membawa berita bohong dari Bani Al-Muththalib bersama kebohongan Bani Hasyim, kalian akan melihat besok siapa yang terbunuh.”</p>
<p>Tidak diragukan lagi, bahwa Umayyah bin Khalaf mendengar apa yang didengar oleh Abu Jahal dan orang-orang kuffar Quraisy, didirnya merasa ketakutan lebih dahsyat dari sebelumnya. Akan tetapi ajalnya telah menggiringnya pada kematian meski dia enggan. Menjadi nyatalah kenabian junjungan kita Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berkaitan dengan berita kematian Umayyah –semoga Allah melaknatnya-</p>
<p><b>Umayyah </b><b>Gembong Orang Kafir</b></p>
<p>Di medan Badr, kaum muslimin bertemu dengan orang-orang musyrik, dalam pertempuran yang berakhir dengan kehinaan bagi kaum musyrikin, hingga menamatkan perlawanan mereka, mematahkan tombak mereka, kaum muslimin menghabisi para pembesar dan orang-orang mulia di kalangan mereka, menawan para thaghut mereka, serta orang-orang yang durjana, juga mengusir rakyat jelata dan orang-orang biasa dari mereka.</p>
<p>Selesailah pertempuran itu dengan kemenangan gemilang yang dijanjikan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>, pertolongan untuk golongan beriman yang didambakan oleh masyarakat muslim, bersatu dengan kepemimpinan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> hingga ia menjadi kemenangan yang pertama kali, dengannya Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> memuliakan Islam.</p>
<p>Indah, apa yang dikatakan Hassan bin Tsabit <i>radhiyallahu ‘anhu</i> kala memberikan gambaran mengenai peperangan tersebut dalam syairnya:</p>
<p>Kami dan mereka berjalan menuju Badr saat itu sekiranya mereka mengetahui dengan yakin, niscaa akan mengurungkan niat itu. Pujian telah menggiring mereka, kemudian membuat mereka menyerah. Sesungguhnya julukan orang jahat, hanya bagi pecinta pujian dalam bentuk tipuan.</p>
<p>Alangkah beda, Umayyah bin Khalaf dari golongan orang yang dengki itu, sementara Bilal bin Rabah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> dalam pertempuran yang barokah!</p>
<p>Umayyah, telah menjadi tawanan yang hina bersama anaknya Ali, di tangan pejuang yang mulia lagi dermawan dari para pejuang Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, yaitu Abdurrahman bin Auf <i>radhiyallahu ‘anhu</i>.</p>
<p>Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> melihat pimpinan orang yang berdosa lagi kafir, Umayyah diseret Abdurrahman bin Auf. Pada detik-detik yang singkat ini, terbayanglah dalam ingatan Bilal kejiadn dulu saat di Mekah, seolah-olah dia melihat gambaran penyiksaan yang dilakukan orang kafir ini, demikian halnya saudara-saudaranya dari kalangan orang tertindas, yaitu mereka yang pertama-tama <a href="http://kisahmuslim.com/tag/masuk-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk islam">masuk Islam</a>. Saat Bilal tidak kuasa mengendalikan dirinya, kala posisi beliau dekat kalangan Anshar, beliau berteriak sekuat-kuatnya:</p>
<p>“Wahai para penolong Allah, pimpinan orang kafir Umayyah bin Khalaf, kalian tidak selamat jika dia selamat.”</p>
<p>Para prajurit sukarelawan dari pimpinan Anshar memenuhi seruan orang yang memanggil, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Lima kali dalam sehari mereka berkata, “Janganlah kau bersedih, wahai Bilal.” Kemudian mereka menyergap Umayyah dan anaknya Ali dengan pedang-pedang mereka, dan yang terdepan adalah Khabib bin Isaf al-Anshari, dia menebas dengan pedangnya.</p>
<p>‘Abdurrahman bin Auf <i>radhiyallahu ‘anhu</i> mencoba melindungi Umayyah dan anak-anaknya dari serangan kaum Anshar tersebut, akan tetapi Ansharullah telah lebih dahulu mengambil tindakan, maka mereka memukul Umayyah dan anaknya dengan pedang, untuk menyucikan bumi dari najis dan kekufuran, serta keganasannya.</p>
<p><b>Kronologi Terbunuhnya Umayyah</b></p>
<p>Banyak riwayat yang bervariatif dalam mengungkap terbunuhnya Umayyah –semoga Allah melaknatnya-, riwayat yang terpercaya dan terkuat adalah apa terdapat dalam Shahih al-Bukhari yang meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Auf <i>radhiyallahu ‘anhu</i> dia berkata:</p>
<p>“Aku terikat perjanjian dengan Umayyah bin Khalaf –maksudnya aku mengadakan perjanjian kesepakatan denagnnya- agar dia menjagaku, juga anggota keluargaku di Mekah –maksudnya keluarga terdekat juga harta- dan aku menjaganya saat di Madinah. Maka tatkala kusebut (Ar-Rahman) –yakni namanya yang muslim Abdurrahman- dia berkata, ‘Aku tidak tahu Ar-Rahman, tulislah dengan namamu saat masa Jahiliyah.’ Maka aku menulisnya (Abda Amr).</p>
<p>Di hari peperangan Badr, aku keluar ke gunung untuk memberikan haknya tatkala orang-orang tidur, lantas Bilal melihatnya. Dia keluar hingga berdiri di majlis kaum Al-Anshar. Dia berkata, ‘Umayyah bin Khalaf, aku tidak selamat jika Umayyah lolos.’</p>
<p>Maka sekelompok al-Anshar keluarlah bersamanya mengikuti jejak kami. Tatkala aku takut mereka menyusul, kutinggalkan anaknya, agar menyibukkan mereka lantas mereka pun membunuhnya. Kemudian mereka terus mengikuti kami. Aku berkata kepadanya, ‘Duduklah!’ Maka dia pun duduk aku berusaha menghalangi, maka mereka menyelinapkan pedang dari bawahku hingga mereka membunuhnya, bahkan kakiku tertimpa pedang salah seorang dari mereka.”</p>
<p><b>Riwayat Lain yang Mengisahkan Tewasnya Umayyah</b></p>
<p>Dalam sejarah yang harum, Ibnu Ishaq rahimullah menyebutkan riwayat terbunuh Umayyah yang senada dengan banyaknya riwayat Al-Bukhari. Hanya saja riwayat Ibnu Ishaq memberikan gambaran yang jelas kepada kita mengenai sikap si Thaghut yang pankut, nampak padanya sikap pengecut dan gelisah yang terungkap dari fakta dan karakternya, penganiayaan dengan berbagai macam bentuknya terhadap Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> di Mekah.</p>
<p>Ibnu Ishaq menyebutkan lewat dua jalur, dari Abdurrahman bin Auf <i>radhiyallahu ‘anhu</i> yang berkata:</p>
<p>“Umayyah bin Khalafa adalah temanku sewaktu di Mekah, dulu aku bernama Abdu Amr. Sewaktu masuk Islam aku bernama (Abdurrahman). Dia menemuiku saat kami di Mekah katanya, ‘Wahai Abdu Amr apakah kau membenci nama yang telah diberikan ayahmu?’</p>
<p>Aku menjawab, ‘Ya.’</p>
<p>Umayyah berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak mengetahui Ar-Rahman maka buatlah sebutan yang bisa kupanggil dengannya.’</p>
<p>Maka kukatakan, ‘Wahai Abu Ali, buatlah apa yang kau suka.’</p>
<p>Dia berkata, ‘Engkau Abdul Ilah.’</p>
<p>Aku menjawab, ‘Ya.’</p>
<p>Apabila aku melewatinya dia berkata, ‘Wahai Abdul Ilah.’ Kudatangi dan aku berbincang-bincang dengannya. Tatkala perang Badr, aku melewatinya sedang dia dalam keadaan berdiri bersama anaknya Ali, sedangkan aku mengenakan pakaian besi hasil rampasan. Dia berkata, ‘Wahai Abdul Ilah apakah aku mendapat bagian dari perlindunganmu? Aku lebih baik bagimu daripada baju besi yang kau kenakan ini.’</p>
<p>Aku menjawab, ‘Tentu, Ya Allah,’ lantas kulepaskan baju besi itu dari tanganku. Aku mengambil tangannya dan tangan anaknya.</p>
<p>Sedang ia berkata, ‘Tidak pernah aku melihat seperti hari ini. Tidakkah kalian membutuhkan susu –maksudnya makanan-, kemudian aku keluarkan berjalan kaki bersama keduanya.”</p>
<p>Abdurrahman berkata, “Demi Allah, saat aku menggandeng keduanya, tiba-tiba Bilal melihatku bersamanya, dia berkata, ‘Pemimpin orang kafir, Umayyah bin Khalaf aku tidak akan selamat jika dia selamat.’</p>
<p>Kemudian dia berteriak sekencang-kencengnya, ‘Wahai Anshar, kepala orang kafir Umayyah bin Khalaf, aku tidak akan selamat jika dia selamat, maka kepunglah ia sebagaimana gelang melingkari pangkal tangan.’ Kemudian aku membelanya, sementara salah seorang dari mereka menghunus pedang lantas ia menyabet kaki anaknya hingga terjatuh.</p>
<p>Umayyah berteriak, tidak pernah kudengar teriakan seperti itu, maka kukatakan, ‘Selamatkanlah dirimu sendiri dan tidak ada yang bisa menyelamatkanmu, demi Allah aku tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun untukmu, kemudian mereka menghabisi keduanya dengan pedang mereka hingga tamat riwayat keduanya.”</p>
<p>Abdurrahman bin Auf <i>radhiyallahu ‘anhu</i> berkata, “Semoga Allah merahmati Bilal, telah lenyap baju besiku dan dia mengejutkanku dengan (tewasnya) tawananku.”</p>
<p>Sebagian referensi mengisyaratkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq <i>radhiyallahu ‘anhu</i> mengucapkan selamat kepada Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> atas terbunuhnya pimpinan orang kafir dan penyenggah kesesatan Umayyah bin Khalaf, dengan bait-bait syair di antaranya:</p>
<p>Selamat, semoga Allah menambah keutamaan bagimu. Wahai Bilal, engkau telah mampu membalas dendammu. Maka, mundur dan rasa takut tidak akan kau dapati rerumputan yang panjang, menguburmu di pagi hari.</p>
<p>Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M</p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah penggugah jiwa" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/s1F0I4Wf234" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/tewasnya-gembong-musyrikin-quraisy-umayyah-bin-khalaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/tewasnya-gembong-musyrikin-quraisy-umayyah-bin-khalaf/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Orang-orang Yang Dijamin Masuk Neraka: Umayyah bin Khalaf</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/2uhifW28OOY/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/orang-orang-yang-dijamin-masuk-neraka-umayyah-bin-khalaf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 04:25:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[orang durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[orang masuk neraka]]></category>
		<category><![CDATA[ummayaj bin khalaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3336</guid>
		<description><![CDATA[Umayyah bin Khalaf mengira bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu seorang budak yang dimiliki, badan, akal, serta jiwa dan seluruh anggota badannya. Akalnya tidak mampu meyakini apa yang dia kehendaki, ataupun memikirkan apa yang diinginkannya. Umayyah lupa dan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Umayyah bin Khalaf</strong> mengira bahwa Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> seorang budak yang dimiliki, badan, akal, serta jiwa dan seluruh anggota badannya. Akalnya tidak mampu meyakini apa yang dia kehendaki, ataupun memikirkan apa yang diinginkannya. Umayyah lupa dan tidak terlintas padanya bahwa akal Bilal dan keimanannya serta aqidahnya tidak berada di bawah kekuasaannya. Dia tidak bisa membendung celah-celah cahaya dalam hati yang bersinar, dengan cahaya Allah.</p>
<p>Mulailah penyiksaan menggiring Umayyah dengan sikap kefajiran dan kedengkiannya. Umayyah seorang yang kaku kepribadiannya, keras hatinya, tidak mengalir di hatinya setetes rasa kemanusiaan. Karena itu sifat jelek tersebut mendorongnya untuk melampiaskan bersama kedengkiannya terhadap Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, di mana sikap Bilal menjadi lambang bagi kemanusiaan dan kebebasan hak.</p>
<p>Sekiranya seseorang menelusuri tingkatan penyiksaan yang begitu pedih dialami oleh Bilal, membayangkan atau menggambarkan keadaan lingkungan Mekah pada waktu itu, dan ia melihat Bilal mampu menanggung bebak siksaan paling pedih, niscaya orang itu mengetahui kedudukan pahlawan ini yang selalu kita ingat setiap hari lima kali, yakni tatkala muadzdzin mengumandangkan seruan untuk shalat. Kita akan mengingat kalimatnya yang kekal penuh barakah lagi indah di bawah siksaan, “Ahad&#8230; Ahad..” (Isyarat bahwa Allah Yang Maha esa). Hal ini yang menjadikan Umar ibnil Khaththab yang kuat lagi jenius menghormati Bilal, menghargai keimanan juga kesabarannya, dia memanggilnya, “Tuan kami.” Demi Allah ini merupakan keutamaan yang nyata dan kemuliaan yang agung.</p>
<h2><strong>Berbagai Kejadian Sebagai Gambaran Perbuatan Dosa Umayyah</strong></h2>
<p>Si kafir lagi pelaku dosa, <a title="umayyah bin khalaf" href="http://kisahmuslim.com/orang-orang-yang-dijamin-masuk-neraka-umayyah-bin-khalaf" target="_blank"><em>Umayyah bin Khalaf</em></a> menyiksa Bilal, menimpali siksa dalam berbagai bentuk dan gambaran dari kebejatannya, berupa kekerasan serta kengerian yang menjadikan kulit merinding, mengguncang pasak gunung karena keganasannya. Umayyah menyiksa Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> dengan penyiksaan yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun di dunia, ia betul-betul mendera Bilal dengan sekuat tenaga, sedangkan Bilal merasakan ketenangan hati dengan cahaya rohani keimanan, dia merasakan adzab seakan kenikmatan yang jarang didapatkan dalam agama dan keimanannya, dia menganggap manis pahitnya empedu di jalan Allah untuk menjaga iman. Berikut ini sebagai fakta dan gambaran dari penyiksaan yang pedih itu.</p>
<p>Umayyah memerintahkan para pembantunya untuk mengeluarkan Bilal di terik matahari, di mana padang pasir Mekah menjadi bara api yang membinasakan, mereka menyungkurkan Bilal di atas kepanasan yang membakar dalam keadaan telanjang, kemudian mereka mendatangkan batu panas ibarat bara api dan meletakkan di atas dadanya, lantas Umayyah berkata pada Bilal, “Demi Allah, kau akan tetap seperti ini hingga meninggalkan agama Muhammad.” Bilal berkata, “Ahad.. Ahad.”</p>
<p>Kalimat Ahad seakan petir yang menyambar Umayyah, kemudian kemarahan menguasainya dan menumpahkan pemukulan kepada Bilal juga cacian. Hal itu tidak menambah seruan Bilal melainkan kembali berkata, “Ahad, Ahad.”</p>
<p>Mereka, para saksi mata melihat sebagian pemandangan yang dialami Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, mereka menukil gambar sidik jari Umayyah yang zhalim dalam kumpulan catatan kehinaannya.</p>
<p>Amr bin Ash <i>radhiyallahu ‘anhu</i> meriwayatkan pemandangan yang dilihatnya di Mekah. Dia melihat Umayyah bin Khalaf hampir meledak karena menahan amarahnya keteguhan Bilal. Dia berkata:</p>
<p>“Aku melewati Bilal sedang disiksa di terik matahari, seandainya sepotong daging diletakkan, niscaya akan matang. Bilal berkata, ‘Aku kafir (mengingkari) Laata dan Uzza. Sedangkan Umayyah marah kepadanya dengan menambah siksaaan dan Bilal pun menerimanya. Umayyah pergi dengan alat pencukurnya sedangkan Bilal pingsan kemudian sadar.”</p>
<p>Hassan bin Tsabit <i>radhiyallahu ‘anhu</i> meriwayatkan kejadian lain yang menampakkan keteguhan Bilal dan kepahlawanannya, kebodohan Umayyah dan kekerasannya. Dia berkata, “Aku melakukan umrah, lalu aku melihat Bilal diikat dengan tali panjang yang dibentangkan anak-anak, ‘Amr bin Fuhairah bersamanya sementara Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> berkata, ‘Ahad&#8230; Ahad, aku kufur terhadap Laata dan Uzza, Hubal, Isaf, Nailah, serta Buwanah.’ Maka Umayyah menyeretnya ke padang pasir.”</p>
<p>Dari Mujahid <i>rahimahullah</i> dia berkata, “Mereka menjadikan tali di leher Bilal, dan memerintahkan anak-anak mereka agar menjepitnya di antara dua pohon gunungnya, lantas mereka pun melakukannya, hingga tali itu membekas di lehernya sedangkan Bilal berkat, ‘Ahad, Ahad..”</p>
<p>Dalam pembicaraan tentang kalangan orang-orang tertindas dari kaum muslimin, ‘Urwah bin Zubeir <i>radhiyallahu ‘anhu</i> meriwayatkan</p>
<p>“Bilal termasuk orang yang teraniaya dari kalangan kaum mukminin, dia disiksa saat memeluk Islam agar kembali pada keyakinannya. Bilal tidak mengucapkan kalimat yang mereka inginkan. Yang menyiksanya adalah Umayyah bin Khalaf al-Jumahiy.”</p>
<h3><b>Apakah Bilal Memenuhi Kemauan Umayyah?</b></h3>
<p>Demikianlah gambaran penyiksaan Bilal, lantas terlintas dalam benak pertanyaan berikut, “Apakah Bilal memenuhi kemauan Umayyah setealh itu? Dan apakah keyakinannya melemah –meski sedikit- karena menanggung siksaan?”</p>
<p>Berbagai referensi menyebutkan bahwa Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> tidak menyetujui Umayyah –meski dengan kekerasannya-, tidak satu huruf pun yang membuat cacat keislamannya. Jiwanya ringan dalam memeluk agama Allah, demikian pula dimudahkan untuk kaumnya. Saat siksaan makin berat, semboyannya tetap berkumandang yaitu, “Ahad, Ahad.”</p>
<p>Datanglah kepada Bilal, sekelompok orang-orang kafir membujuknya dengan kedustaan, menuntunnya untuk menirukan apa yang dikatakan orang-orang di belakangnya secara serempak, maka dia menjawab mereka dengan ejekan yang mengenai tempat mematikan dari mereka, “Sesungguhnya lidahku tidak bisa mengucapkan apa yang kalian katakan dan tidak sanggup membaguskannya.” Maka beterbanganlah mimpi-mimpi mereka yang hina, berantakanlah cita harapan mereka yang buruk di depan kalimat Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, lalu mereka mencari jalan lain dalam memusuhinya.</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> menceritakan tentang kejelekan orang-orang musyrik dan kerasnya hati mereka, “Mereka membuatku dahaga sehari semalam, kemudian mereka mengeluarkanku dan menyiksaku di padang pasir saat terik panas matahari!”</p>
<p>Bilal tetap tidak menghiraukan apa yang diperbuat oleh pemimpin durjana yang melampaui batas lagi berdosa, Si Umayyah bin Khalaf. Umayyah sang musuh Allah ini, tidak menghiraukan rintihan Bilal, karena sakitnya penyiksaan. Dia tidak bosan-bosannya menyiksa Bilal, bahkan motivasi kejelekan yang ada padanya semakn tambah berkobar setiap kali Bilal bersabar menahan penyiksaan itu.</p>
<p>Al-Qasthalani <i>rahimahullah</i> berkata mengomentari sikap mulia ini, “Maka lihatlah apa yang diperbuat terhadap Bilal saat dipaksa untuk kafir sedang ia berkata, ‘Ahad Ahad.’ Lantas berbuarlah pedihnya siksaan dengan lezatnya keimanan, hal ini sebagaimana terjadi juga saat kematiannya. Istrinya berkata, ‘Oh, alangkah sedihnya!’ Dan Bilal berkata, ‘Oh, alangkah senangnya.’ Dia mencampur antara pedihnya detik-detik kematian (sakaratul maut) dengan manisnya pertemuan.”</p>
<p>Alangkah indahnya apa yang diungkapkan Abu Muhammad asy-Syuqrathisi saat menggambarkan peristiwa ini dalam bentuk syair:</p>
<p>“Bilal menerima siksaan dari Umayyah, dia bersabar dengan keadaan paling mulia. Saat mereka menyiksanya dengan tekanan, sedang ia dalam keadaan terhimpit, tetap teguh. Mereka melemparkannya di padang pasir sedangkan mereka menindihnya dengan batu yang amat berat tersusun tinggi. Dan dia mentauhidkan Allah dengan keikhlasan yang tampak dari pengagungannya seperti bekas hujan gerimis di atas tanah. Jika telah tersayat punggung Wali Allah dari belaakng maka telah terbelah hati musuh Allah dari depan.”</p>
<h4><b>Abu Bakar, Bilal, dan Umayyah</b></h4>
<p>Suatu ketika Abu Bakar <i>radhiyallahu ‘anhu</i> melewati Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> yang sedang disiksa dengan penyiksaan yang pedih. Dahulunya, rumah Abu Bakar <i>radhiyallahu ‘anhu</i> di Bani Jumah, maka beliau berkata kepada Umayyah bin Khalaf, “Wahai Abu Ali –kunyah (panggilan) Umayyah- tidakkah kau takut kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dalam perkara lelaki miskin ini, sampai kapan.. sampai kapan?!”</p>
<p>Berkatalah kepala orang kafir dan orang terlaknat penyembah patung berhala, Umayyah kepada Abu Bakar, “Engkaulah yang merusaknya, maka selamatkanlah dia sebisamu, hingga dia terbebas dari keadaannya sekarang.”</p>
<p>Abu Bakar mengambil peluang terbuka yang datang lantas berkata, “Akan kulakukan, aku memiliki anak kecil hitam, lebih tangguh dan lebih kuat darinya, dia beragama sepertimu kita saling tukar menukar.”</p>
<p>Umayyah berkata, “Kuterima wahai Abu Bakar.”</p>
<p>Lantas Abu Bakar <i>radhiyallahu ‘anhu</i> berkata, “Dia untukmu.” Seraya memberikan anak kecil yang hitam itu dan beliau mengambil Bilal, lantas seketika itu juga beliau membebaskannya, kemudian Bilal bin Rabah <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, menjadi muadzdzin Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, sebuah kebaikan di antara banyak kebaikan Abu Bakar ash-Shiddiq <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, adapun yang terlaknat Umayyah bin Khalaf, telah menjadi salah seorang dari mereka yang berhak menerima siksaan dari Yang Maha Perkasa <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>.</p>
<p>Dalam hal Abu Bakar <i>radhiyallahu ‘anhu</i> dan Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i>. Az-Zauzani <i>rahimahullah</i> berkata dalam bait-bait yang dimuat oleh Yaqut dalam Mu’jam al-Udaba:</p>
<p>“Abu Bakar menghibahkan untuk Allah hartanya. Sejak dahulu lisannya amat fasih berkata-kata. Telah menolong Nabi dengan segala kebaikan dan memberikan simpanannya untuk si Bilal. Sekiranya lautan berkeyakinan dapat menyaingi kebaikannya. Niscaya Allah tidak akan mengaruniayi bilal.”</p>
<h4><b>Dalam Permusuhan</b></h4>
<p>Umayyah bin Khalaf merasa bahwa dirinya gagal dalam usahanya yang keras lagi penuh dosa, untuk menganiaya pemimpin para pahlawan Bilal bin Rabah <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, dia melihat jalan di depannya terbuka untuknya dalam melakukan penyiksaan. Adapun apa tindak kriminal terhadap Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan para sahabatnya <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Umayyah melihat dirinya cenderung bergabung dengan orang-orang yang jahat Quraisy untuk meniti jalan bersama mereka, yang memalingkan manusia dari mengingat Allah dan kebenaran, menentang Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dalam dakwahnya, mengolok-oloknya dan menjatuhkan martabatnya.</p>
<p>Umayyah mulai merekayasa cara baru dalam keikutsertaannya bersama kelompok orang-orang yang berbuat dosa. Dalam suatu forum yang dikumpulkan oleh Al-Walid bin Mughirah dan Abu Jahal bin Hisyam, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berlalu di hadapan mereka, maka mereka mengumpat dan mengejeknya, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> pun merasa sesak dengan perbuatan mereka.</p>
<p>Lantas Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menurunkan ayat sebagai penghibur bagi Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan menggertak mereka serta memberi peringatan terhadap kejelekan yang mereka lakukan. Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p>“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.” (QS. Al-An’am: 10)</p>
<p>Umayyah dan kaum <a href="http://kisahmuslim.com/tag/musyrikin/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrikin">musyrikin</a> yang lain mulai berfirkir mengenai cara untuk menjebak Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> agar mengakui apa yang mereka yakini, apakah mereka berhasil mewujudkan hal itu?</p>
<h4><b>Tipu Daya yang Jahat Dalam Bentuk Tawaran</b></h4>
<p>Umayyah dan kaum musyrikin memetakan taktik renanca di benak mereka, yang diperkirakan akan meraih kemenangan dalam dialog mereka bersama Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, lantas mereka berdiri dan pergi menuju Ka’bah. Mereka mendapati Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> sedang thawaf. Kemudian Umayyah dan beberapa orang yang bersamanhya menghalangi Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, mereka berkata padanya, “Wahai Muhammad kemarilah kami akan menyembah apa yang kau sembah dan kau menyembah apa yang kami sembah, dengan demikian kita bekerja sama dalam perkara ini. Jika yang engkau sembah lebih baik dari yang kami sembah berarti kami telah mengambil sebagian faedah darinya. Dan jika yang kami sembah lebih baik dari yang kau sembah berarti engkau telah mengambil sebagian kebalikan darinya.”</p>
<p>Penawaran ini –sebagaimana anda lihat- jelek lagi penuh dengan tipu daya, menunjukkan tipu daya yang luas cakupannya, sekaligus menunjukkan kecerdasan dan ketajaman fikiran yang selama ini mereka nikmati. Akan tetapi keyakinan yang diwarisi dan angan-angan yang semua telah menutupi akal mereka untuk pasrah terhadap kebenaran dan tunduk kepadanya. Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> memutuskan jalan tipuan yang berliku-liku ini, Beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengingkari apa yang mereka katakan. Maka Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menurunkan:</p>
<p>“<i>Katakanlah: Hai orang-orang kafir Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah</i>.” (QS. Al-Kafirun: 1-2)</p>
<p>Da n menandai mereka dengan berbagai ciri di antaranya kufur, tidak mengetahui kebenaran. Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menurunkan pula:</p>
<p>“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’ Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (QS. Az-Zumar: 64-66)</p>
<p>Muhammad bin Sa’ad <i>rahimahullah</i> berkata dalam Ath-Thabaqat, “Tatkala Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersama para sahabat menampakkan Islam dan perkaranya tersebar di Mekah, orang-orang Quraisy marah karena itu. Tampak dari mereka kedengkian dari kejahatan, kaum lelaki dari mereka menampakkan permusuhan sedang yang lainnya menyembunyikan. Orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka, yang mengundang permusuhan dan perdebatan adalah: Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan lainnya.”</p>
<p>Para pembesar itu menyakiti Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> secara fisik langsung, pada suatu hari si Bejat Uqbah bin Mu’ith –semoga dilaknat Allah- melempar kotoran di atas punggung Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> saat Beliau sujud di Masjidil Haram. Maka Nabi mendoakan buruk kepada mereka seraya berkata, “Ya Allah datangkanlah siksa untuk kafir Quraisy.” Dan beliau menyebut, di antara mereka Umayyah bin Khalaf. Mereka semua menemui kebinasaan saat perang Badr.</p>
<h4><b>Menyakiti Keluarga Dekatnya</b></h4>
<p>Umayyah tidak hanya mengganggu Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, bahkan gangguannya juga menimpa kerabatnya dari Bani Jum’ah yang mengumumkan keislamannya pada periode awal. Dia mengganggu anak pamannya Utsman bin Madz’un <i>radhiyallahu ‘anhu</i> karena keislamannya, sehingga hal itu menyebabkan Utsman hijrah ke Habasyah dan mendapat kehidupan yang tenang di sisi tetangga yang baik. Di Habasyah Utsman bin Madz’un <i>radhiyallahu ‘anhu</i> merasa terasing pada awalnya, maka dia berkata mencela Umayyah dan mengingatkan kejelekan yang dilakukannya dalam bait syair:</p>
<p>“Akankah engkau mengeluarkanku dari Mekah karena keislamanku. Dan menempatkanku dalam istana putih (Habasyah) yang kau benci. Engkau memerangi kaum yang mulia lagi perkasa dan mencelakakan kaum yang pernah dipinta bantuan olehmu. Engkau akan mengetahui suatu hari jika mendapat musibah dan rakyat jelata menyelamatkanmu tanpa mempeduikan apa yang pernah kau perbuat.”</p>
<p>Apakah kalimat-kalimat pengaduan mengetuk telinga Umayyah atau menyentuh hatinya?</p>
<p>Dia telah berpaling dari kekerabatan dan teman dekat, juga setiap jalan yang ditempuhnya untuk mengangkat Laata dan Uzza serta Manat. Maka dia tercatat seabgai golongan orang yang sengsara –semoga kita dijauhkan oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala darinya- dia pun termasuk orang yang disebut dalam firman Allah:</p>
<p>“<i>Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki</i>.” (QS. Ibrahim: 27)</p>
<p>Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M</p>
<p><strong>Artikel <a title="konsultasi kesehatan dan tanya jawab pendidikan islam" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>

	<br /><br /><strong>Kata Kunci Terkait:</strong> <strong>orang durhaka</strong>, <strong>orang masuk neraka</strong>, <strong>ummayaj bin khalaf</strong><br />
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/2uhifW28OOY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/orang-orang-yang-dijamin-masuk-neraka-umayyah-bin-khalaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/orang-orang-yang-dijamin-masuk-neraka-umayyah-bin-khalaf/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Terbunuhnya Abu Jahal</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/KrI3_N-OZJM/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/terbunuhnya-abu-jahal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Apr 2013 05:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=3331</guid>
		<description><![CDATA[Orang Yang Dijamin Masuk Neraka: Amr bin Hisyam atau Abu Jahal (bagian 4) Abu Jahal terjebak dalam kebingungan yang sangat buruk dari apa yang dia lihat, dia berusaha membendung badai kekalahan yang menenggelamkan kaumnya. Maka dia ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Orang Yang Dijamin Masuk Neraka: Amr bin Hisyam atau Abu Jahal (bagian 4)</b></p>
<p><a title="abu jahal" href="http://kisahmuslim.com/terbunuhnya-abu-jahal" target="_blank"><em>Abu Jahal</em></a> terjebak dalam kebingungan yang sangat buruk dari apa yang dia lihat, dia berusaha membendung badai kekalahan yang menenggelamkan kaumnya. Maka dia berdiri sambil berteriak dalam keadaan geram dan sombong, “Demi Laata dan Uzza, kami tidak akan kembali hingga kami mengikat Muhammad beserta para sahabatnya dengan tali, dan janganlah seorang dari kalian merasa iba hanya dengan membunuh satu orang dari mereka. Berilah mereka pelajaran yang sebenarnya, hingga mereka tahu akibat perbuatan mereka menyelisihi agama kalin, dan membenci apa yang disembah oleh nenek moyang mereka.”</p>
<p>Lenyaplah teriakan itu ditelan lembah Badr, hanya saja penentangan dan kesengsaraannya menggambarkan kesombongan dan kecongkakan paling keji hingga nafas yang terakhir. Karena itu dia berperang membabi buta membabat apa yang di depannya. Kemudian dia terjun ke dalam kecamuk perang seraya berkata:</p>
<p>“Apa yang dilakukan oleh peperangan yang sengit ini terhadapku&#8230; Aku ibarat anak dua tahun, yang baru keluar giginya&#8230; Seperti inilah ibuku melahirkanku&#8230;”</p>
<p>Kaum <a href="http://kisahmuslim.com/tag/musyrikin/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with musyrikin">musyrikin</a> mengelilingi si jahat Abu Jahal seraya berkata, “Abul Hakam tidak bisa mengatasi keadaan.”</p>
<p>Mereka mengelilinginya hingga ia persis di tengah-tengah bagaikan pepohonan yang mengelilingi hutan, padahal alangkah cepatnya hutan itu lenyap seperti batang kurma yang lapuk, dan terkaparlah Abu Jahal pingsan nafasnya terengah-engah karena tusukan panah para pahlawan serta pedang-pedang mereka yang menebasnya. Kematian menunggu untuk meminum darahnya, dengan perantara tangan dua orang anak kecil dari Anshar, juga tangan orang-orang lemah yang merasakan seburuk-buruk penyiksaan dari Abu Jahal di Mekah.</p>
<h3><strong>Inilah Firaun-nya Ummat Ini</strong></h3>
<p>Tatkala peperangan telah reda, kaum musyrikin lari dengan kekalahan. Kaum muslimin bergembira dengan apa yang dibukakan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> kepada mereka, berupa kemenangan ini. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda, “Siapa yang mau memperlihatkan pada kami apa yang diperbuat Abu Jahal?”</p>
<p>Maka Ibnu Mas’ud bergegas pergi, lalu dia mendapati Abu Jahal telah dipukuli oleh dua putra Afraa –Mu’awwidz dan Mu’adz- hingga, ia menjadi dingin. Ibnu Mas’ud mengambil jenggotnya seraya berkata, “Engkau Abu Jahal?”</p>
<p>Dia berkata, “Giliran siapa hari ini?’</p>
<p>Ibnu Mas’ud menjawab, “Allah dan Rasul-Nya, bukankah Allah telah menghinakanmu wahai musuh Allah?”</p>
<p>Abu Jahal berkata, “Apakah ada yang lebih hebat dari lelaki yang dibunuh kaumnya?”</p>
<p>Maka Abdullah membunuhnya, kemudian dia mendatangi Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> seraya berkata, “Aku telah membunuhnya.”</p>
<p>Maka Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda, “Demi Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia.” Beliau pun mengulang-ulang kalimat ini tiga kali. Kemudian bersabda, “Allahu Akbar segala puji bagi Allah, Maha benar janji-Nya, menolong hamba-Nya dan memporak-porandakan pasukan, pergi dan perlihatkanlah padaku.”</p>
<p>Maka kami bergegas pergi, lantas kuperlihatkan kepada Beliau, kemudian Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda, “Inilah Fir’aunnya umat ini.”</p>
<h3><b>Hikmah yang Amat Baik</b></h3>
<p>Allah telah menghendaki agar tidak mematikan Abu Jahal seketika, Allah menjadikannya terkapar dalam keadaan sadar dan paham, agar memperlihatkan pada kedua matanya apa yang membuat dia sampai ke derajat yang hina dan rendah, serta dipecundangi oleh orang yang dahulu ditindas dan dipecundangi oleh Abdullah bin Mas’ud <i>radhiyallahu ‘anhu</i>. Dia beridri di atas dada Abu Jahal menginjaknya dengan kedua kakinya serta menjambak jenggotnya, sebagai bentuk penghinaan, menghajarnya dengan pukulan, hingga sekuat tenaganya. Dia bersungguh-sungguh dalam membangkitkan amarah Abu Jahal, seraya mengabarkan bahwa kemenangan telah ditetapkan untuk pihak Islam, dan kekalahan serta aib juga kehinaan telah ditulis untuk orang yang berpihak kepada kaum musyrikin.</p>
<p>Demikianlah posisi orang yang terbuai lagi dungu, diterbangkan oleh kebodohannya, kesombongan, dosa, dan kekufurannya. Maka dia menjadi tumbal pasukan kafir. Mati dalam keadaan ditawan mengenaskan, menyedihkan dan menyayat hati serta tersiksa. Dia dibunuh oleh kedengkian yang hina sebelum dibunuh oleh pedang-pedang perkasa dari para pahlawan madrasah (sekolah) Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Begitu indahnya bait Hassan bin Tsabit <i>radhiyallahu ‘anhu</i> tatkala menggambarkan kelalaian Abu Jahal, akhir hidupnya, kedengkian, kebejatan dan pesimisnya dalam syair:</p>
<p>“Allah telah melaknat kelompok yang menggiring mereka, seorang pembual dari golongan Bani Syij’i untuk memerangi Muhammad. Kesialan orang yang dilaknat, sejak dahulu dia membuat orang marah. Dengan keras dan jelas mencerca orang yang mendapat petunjuk. Dia menjuluki mereka pada kesesatan hingga menjadikannya runtuh. Dan sungguh, perkaranya menyesatkan tidak memberi petunjuk. Maka Rabb-ku menurunkan untuk Nabi pasukan-Nya dan menguatkannya dengan kemenangan di setiap peperangan.”</p>
<h3><b>Musuh yang Dijelaskan dengan Nash Alquran</b></h3>
<p>Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- semenjak kedatangan Islam merupakan orang yang dilaknat oleh Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>, malaikat-Nya, Rasu-Nya dan kaum muslimin. Dia dikenal sebagai orang yang paling benci dan musuh paling buruk bagi Nabi yang mulia, hal ini menjadi bukti kebenaran firman Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>”</p>
<p>“<i>Dan begitulah, telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari roang-orang yang berdosa</i>.” (QS. Al-Furqan: 31)</p>
<p>Dengan demikian, orang yang berdosa lagi jelek ini berhak mendapat neraka sebagai balasan baginya dan orang yang semisalnya, karena dia orang yang tercela kepribadiannya, buruk gangguannya terhadap Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>.</p>
<p>Referensi menyebutkan –sebagaimana kami jelaskan sebelumnya- bahwa ia orang berdosa pembunuh Sumayyah Ummu Ammar <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, dialah pemilik tangan pengecut yang mematahkan anting-anting dari telinga Asma binti ash-Shiddiq <i>radhiyallahu ‘anhu</i>. Tindakan ini menjadikan tercemar dari segi kejantanannya di tengah kaumnya dan dalam sejarah.</p>
<p>Di antara sifat menjijikan, yang membuat Abu Jahal layak dinobatkan menjadi musuh bebuyutan dari musuh-musuh yang ada, adalah dia orang kafir paling keras kepala, paling menentang, dengki dengan kedengkian yang mencapai batas durhaka, kepribadian yang jelek, hati yang membatu, kasar, dengki, memusuhi Islam dan kaum muslimin. Menodai Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan keluarganya dari Bani Abdi Manaf, semenjak Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> memilih mereka sebagai pohon yang baik untuk tumbuhnya junjugan dan kekasih kita Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, dari asal mereka dan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> memilihnya untuk mengemban risalah-Nya. Dan diriwayatkan bahwa Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- pernah berkata mengenai Nabi, “demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa dia Nabi, akan tetapi sejak kapan kita tunduk mengikuti Abdi Manaf?”</p>
<p>“<i>Kelak kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah</i>.” (QS. Al-Alaq: 18)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, beliau berkata, “Ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal, sebanyak 84 ayat.”</p>
<p>Ayat-ayat ini merupakan peringatan dan ancaman bagi Abu Jahal berupa Neraka, ialah seburuk-buruk tempat kembali. Dan telah kita lalui sebagian ayat di lembaran yang telah lalu.</p>
<p>Berbagai referensi dan tafsir telah sepakat, buku kontemporer dan sejarah nabi, kitab Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), sejarah secara umum dan fiqih dan yang lainnya, semuanya menyebutkan Abu Jahal mendapat vonis masuk Neraka, berdasarkan Alquran al-Karim dan al-Hadis yang mulia.</p>
<p>Dan beragam riwayat yang terpercaya menyebutkan kabar-kabar tersebut, kami hanya penyambung lidah dalam salah satu riwayat yang memberitakan Abu Jahal akan disiksa di kerak Neraka yang paling bawah.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i> berkata, “Suatu saat Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> shalat, lantas datanglah Abu Jahal seraya berkata, ‘Bukankah engkau telah kucegah dari melakukan hal ini?’ Kemudian Nabi menggertak, menghardik dan mengata-ngatai dengan keras serta mengancamnya.</p>
<p>Abu Jahal berkata, ‘Sesungguhnya engkau mengetahui, tidak ada yang lebih banyak pengikutnya dariku.’ –Dalam riwayat lain- ‘Akankah engkau menakut-nakutiku padahak akulah orang yang paling banyak pengikut di lembah ini?’”</p>
<p>Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah [Malaikat yang menyiksa orang-orang berdosa di dalam Neraka], sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb).” (QS. Al-Alaq: 9-19)</p>
<p>Yang dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah Abu Jahal, yang dilarang itu ialah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> sendiri, akan tetapi usaha ini tidak berhasil. Karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. Setelah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> selesai shalat, disampaikan oleh seseorang tentang berita itu kepada Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Kemudian Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengatakan, “Kalau Abu Jahal berbuat demikian pasti dia akan dibinasakan oleh Malaikat.</p>
<p>Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i> berkata, “Sekiranya dia menyeru golongannya, niscaya Malaikat akan menyiksanya saat itu juga.”</p>
<p>Dan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> telah mengabarkan, bahwa Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- termasuk penghuni Neraka. Dari Asy-Sya’bi rahimahullah bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, “Sesungguhnya aku melewati Badr, lantas aku melihat seseorang keluar, muncul dari bumi, kemudian dia dipukul oleh orang lain dengan cambuk/tongkat besi, yang dipukulkan ke kepalanya hingga dia menghilang ditelan bumi. Kemudian dia keluar lagi dan dipukul seperti semula dan hal ini berulang-ulang.”</p>
<p>Maka Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda, “Itulah Abu Jahal bin Hisyam diadzab hingga hari kiamat.”</p>
<p>Demikianlah Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- berhak mendapat gelar paling buruk dalam Islam, yang diungkapkan Kaum muslimin, disebabkan banyak gangguan yang mereka terima, serta kejelekan hal yang dirasakan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, buruknya perkataan, juga buruknya gangguan. Dan inilah hasil buah tangannya, ia menjadi penghuni Neraka.</p>
<p>Itulah Abu Jahal dan itulah kehendak Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dan apa yang dikehendakin-Nya pasti terjadi, tanpa penghalang. Alangkah tepatnya perkataan:</p>
<p>“Wahai orang yang berpaling dari kami, karena sikapmu yang berpaling. Jika kami menghendaki niscaya kami jadikan setiap yang ada padamu kembali kepada kami.”</p>
<p>Setelah itu, apakah sejarah kemanusiaan mengenal orang yang lebih buruk dari Abu Jahal?!</p>
<p>Tergolong orang-orang yang berbuat dosa di Mekah adalah Umayyah bin Khalaf bin Wahab al-Jumahi al-Qurasyi, menonjol sebagai orang yang melampaui batas dalam sejarah, yaitu orang-orang yang perbuatannya merupakan kesengsaraan bagi mereka di dunia dan akhirat.</p>
<p>Umayyah bergabung dengan Quraisy, agar ikut andil dalam menghadang jalan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dan Rasul-Nya <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> yang mulia. Dia tidak mendapati suatu jalan kekerasan melainkan ditempuhnya.</p>
<p>Tatkala Islam mulai menyebar di Mekah, orang-orang yang memiliki akal cerdas menerima kebenaran yang diturunkan Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>, sementara Umayyah bin Khalaf tidak <a href="http://kisahmuslim.com/tag/masuk-islam/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with masuk islam">masuk Islam</a>. Hatinya tidak terbuka, oleh cahaya yang menerangi Mekah, dia terjangkiti penyakit sebagaimana jiwa yang lalai. Bahkan dia berusaha ikut andil dalam menyiksa para sahabat Nabi yang mulia <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, yaitu orang-orang yang berat cobannya lagi besar ujiannya.</p>
<p>Umayyah dan orang-orang Quraisy mengadzab dan memfitnah agama yang baru (Islam), memenjarakan orang-orangnya, memukul mereka, membuat mereka kelaparan dan kehausan, serta menimpakan penyiksaan yang dilihatnya dapat memalingkan dari agama mereka (tauhid), memurtadkan dari keyakinan tersebut kepada pengkultusan patung dan berbuat kufur sebagaimana para penyambah patung.</p>
<p>Di antara gambaran penyiksaan tersebut, adalah yang diriwayatkan Ibnu Ishaq rahimahullah dari Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i> dari jalan Sa’id bin Jubair <i>radhiyallahu ‘anhu</i> dia berkata: Saya berkata kepada Abdullah bin Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, “Apakah orang-orang musyrikin mengadzab para sahabat Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> sampai pada derajat yang diberi tolerir jika mereka meninggalkan agamanya?”</p>
<p>Dia berkata, “Ya, mereka menyiksa salah seorang dari sahabat, membuatnya lapar dan dahaga, sehingga dia tidak mampu duduk sempurna disebabkan keadaan buruk yang menimpanya. Dia memberikan kepada mereka apa yang diminta, berupa fitnah sebagai tebusan pembebas siksa.”</p>
<p>Umayyah bin Khalaf –semoga Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menyengsarakannya- termasuk salah seorang di antara orang-orang kafir yang berdosa, yang memiliki berbagai macam bentuk penyiksaan terhadap Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dan para sahabatnya <i>radhiyallahu ‘anhu</i>. Di antara orang yang sabar yang mencapai puncak keyakinan dalam tangga teratas Islam, tuan kita Bilal bin Rabah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> petugas adzan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>.</p>
<p>Bilal <i>radhiyallahu ‘anhu</i> menampakkan pembelaan –terhadap agama dan keimanannya kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>- yang menjadikan Umayyah dan orang-orang yang bersamanya berdiri tercengang, seraya saling melaknat di antara sesama mereka. Umayyah ditimpa keputusasaan. Dia tidak mampu mengeluarkan dari mulut Bilal satu huruf pun yang sebanding dengan tindakan dan kekafirannya, atau Bilal melemah sedikit, meskipun hanya dengan isyarat, maka apa yang diperbuatnya? Apakah dia berhenti sebatas ini? Dan kedengkian serta kejahatannya. Mereka sangat bersemangat mencari sebab yang dapat membenarkan (menjustifikasi) mereka, untuk bertindak melampaui batas dan permusuhannya. Sebab-sebab kekerasan itu di antaranya, loyalitas mereka terhadap agama nenek moyang dengan cara kesetiaan yang buta, ketakutan mereka akan martabat mereka dan martabat suku Quraisy, yang percaya terhadap patung. Sebab ketiga –barangkali yang terpenting- yaitu kedengkian yang mengakar terhadap Bani Hasyim, khususnya terhadap Muhammad <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, yang mana Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> mengkhususkannya dengan kenabian tanpa menyertakan pemimpin siapa pun dari Quraisy yang terkenal di Ummul Qura dan sekitarnya.</p>
<p>Dengan hati yang bersih, jiwa yang bersinar dan tekad yang benar, Bilal bin Rabah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> masuk Islam, untuk Sang Pencipta, dia beriman dengan seruan agama yang baru itu, dan pergi menghadap Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, dia masuk Islam serta menyerahkan segala perkaranya kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>.</p>
<p>Tak lama kemudian, tuannya Umayyah bin Khalaf mengetahui budaknya yang bernama Bilal, telah beriman keapda Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> dan Rasul-Nya <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, para setan berkerumun di sekitar Umayyah, mengelus di atas dadanya, membisikkan kecongkakan dan angan. Umayyah bertanya-tanya, “Akankah masuk Islam seorang budak di antara budak-budak yang ada, tanpa sepengetahuan tuannya, sedangkan tuannya Bilal dan Umayyah?”</p>
<p>Umayyah melihat dengan kebodohan dan sikap terpedayanya, bahwa keislaman Bilal bin Rabah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> sebagai budaknya mencoreng kemuliaannya dengan aib dan kehinaan di depan kelompok kaum Quraisy. Karena itu, jiwanya yang jelek membisikkan bahwa ia akan memaksa budaknya kembali dan meninggalkan Islam, apalagi ia mendengar Bilal telah meludahi patung-patung tersebut dan mencelanya dengan berkata, “Telah sengsara dan merugi orang-orang yang menyembah kalian.”</p>
<p>Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M</p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah penggugah jiwa" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/KrI3_N-OZJM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/terbunuhnya-abu-jahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/terbunuhnya-abu-jahal/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss><!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using memcached
Database Caching using memcached
Object Caching 3300/3475 objects using memcached

 Served from: kisahmuslim.com @ 2013-05-18 17:31:59 by W3 Total Cache -->
