<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Cerita kisah cinta penggugah jiwa</title>
	<atom:link href="https://kisahmuslim.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kisahmuslim.com</link>
	<description>Cerita kisah cinta penggugah jiwa: kisah para nabi, rasul, orang shaleh, umat terdahulu, dan masa depan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Oct 2026 08:35:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/12/kisahmuslim-favicon.png?fit=16%2C16&#038;ssl=1</url>
	<title>Cerita kisah cinta penggugah jiwa</title>
	<link>https://kisahmuslim.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">73338957</site>	<item>
		<title>Ucapan Bahwa Agama Islam Tidak Mencakup Politik Sama Saja Menuduh Islam Itu Tidak Sempurna</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8655-ucapan-bahwa-agama-islam-tidak-mencakup-politik-sama-saja-menuduh-islam-itu-tidak-sempurna.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2026 08:35:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8655</guid>

					<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyempurnakan agama Islam bagi umat ini, menyempurnakan kenikmatan baginya, dan meridai Islam sebagai agamanya. Selawat, salam, dan keberkahan semoga terlimpah selalu kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad—yang diutus kepada segenap jin dan manusia sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan—dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau, serta orang-orang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Bismillahirrahmanirrahim.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyempurnakan agama Islam bagi umat ini, menyempurnakan kenikmatan baginya, dan meridai Islam sebagai agamanya. Selawat, salam, dan keberkahan semoga terlimpah selalu kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad—yang diutus kepada segenap jin dan manusia sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan—dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Amma ba’du.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana diketahui bahwa agama Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul mulia, Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memiliki tiga sifat: sempurna, menyeluruh, dan kekal. Ia adalah agama yang sempurna, tidak memiliki kekurangan; menyeluruh bagi semua golongan jin dan manusia; dan kekal hingga hari kiamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada orang-orang yang tertimpa kehinaan dan terhalang dari taufik, mereka menyatakan bahwa agama Islam tidak mencakup urusan politik. Ini adalah pernyataan batil dan ucapan keji yang mengandung tuduhan bahwa agama Islam tidak sempurna. Padahal Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> telah berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu&nbsp;…” (QS. Al-Maidah: 3)</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri …” (QS. An-Nahl: 89)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Urusan politik telah masuk dalam cakupan agama yang telah Allah sempurnakan, juga masuk dalam cakupan segala sesuatu yang disebutkan dalam firman-Nya, “… untuk menjelaskan segala sesuatu …”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala hukum yang telah disebutkan secara tekstual dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, hukumnya telah jelas. Sedangkan yang tidak disebutkan secara tekstual, maka syariat Islam telah mencakup itu dengan kaidah-kaidah dasar, kias-kias, dan keumuman dalil-dalilnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh sebab itu, ketika Abdullah bin Abbas ditanya tentang <em>badzaq</em>—yaitu sejenis minuman yang belum dikenal pada zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>—dia berdalil dalam menjelaskan hukumnya dengan dalil umum yang mencakup masalah tertentu dan mencakup masalah lainnya juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata, “Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah membahas tentang <em>badzaq</em>, segala hal yang memabukkan adalah haram.” Lalu orang yang bertanya itu kembali menegaskan, “Minuman itu halal dan baik?” Sehingga Ibnu Abbas berkata, “Tidak ada hukum lain setelah halal dan baik itu kecuali haram dan buruk.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no. 5598)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadis ini menunjukkan secara umum bahwa segala hal yang memabukkan pada zaman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau baru ada setelah zaman beliau, baik itu berupa benda padat maupun cair, semuanya adalah haram. Sedangkan yang tidak memabukkan, maka itu halal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu al-Qayyim berkata dalam kitabnya <em>I’lam al-Muwaqqi’in</em>, jilid 4 hlm. 375-376 saat menjelaskan kesempurnaan syariat:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini adalah salah satu kaidah yang paling penting dan bermanfaat, yang terbangun di atas satu kalimat, yaitu keumuman risalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap segala yang dibutuhkan oleh para hamba dalam pengetahuan, wawasan, dan amalan mereka. Dan umat beliau tidak membutuhkan orang lain setelah beliau, tapi hanya membutuhkan orang yang dapat menyampaikan risalah dari beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Risalah beliau memiliki dua keumuman yang senantiasa terjaga dan tidak mengalami pengkhususan: (1) keumuman dari sisi umat yang menerima risalah ini, (2) dan keumuman dari sisi segala hal yang dibutuhkan oleh umat itu dalam setiap perkara usul (pokok) dan <em>furu’</em> (cabang) agama.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Risalah beliau sudah mencukupi, memadai, dan mencakup segala hal, tidak dibutuhkan risalah lainnya lagi. Keimanan terhadapnya tidak dapat sempurna kecuali dengan menetapkan keumuman risalah beliau dalam perkara usul dan <em>furu’</em>, sehingga satu jenis dari jenis-jenis kebenaran yang dibutuhkan oleh umat dalam pengetahuan dan amalannya tidak mungkin keluar dari risalah yang beliau bawa. Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, tidaklah ada burung yang mengepakkan sayapnya di langit melainkan beliau telah menyebutkan ilmu tentangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengajarkan kepada umatnya segala hal, bahkan tentang adab buang hajat, berhubungan badan dengan pasangan, tidur, bangun, duduk, makan, minum, mengendarai kendaraan, turun dari kendaraan, bepergian, bermukim, diam, berbicara, menyendiri, berinteraksi, saat dalam keadaan kaya, saat miskin, saat sehat, saat sakit, dan segala hukum tentang hidup dan mati.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Imam Ibnu al-Qayyim menambahkan: “Secara umum, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang kepada mereka (umat beliau) dengan kebaikan dunia dan akhirat sekaligus, dan Allah tidak menjadikan mereka membutuhkan orang lain selain beliau.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana seseorang dapat mengira syariat beliau yang sempurna yang dunia tidak pernah menemui syariat yang lebih sempurna darinya itu sebagai syariat yang memiliki kekurangan, membutuhkan politik yang harus keluar darinya agar dapat menjadi sempurna, atau membutuhkan kias, realitas, dan logika yang harus keluar darinya? Barang siapa yang mengira seperti itu maka ia bagaikan orang yang mengira bahwa manusia membutuhkan rasul lainnya setelah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya telah membaca sambutan dari yang terhormat, Amir Mutaib bin Abdullah bin Abdul Aziz dalam pembukaan konferensi <em>al-Jenadriyah</em> yang dipublikasikan oleh majalah <em>ar-Riyadh</em> pada tanggal 26 Jumadil Awal 1434 H. Dalam sambutan itu, beliau berbicara tentang ayahnya, Raja Abdullah—semoga Allah menjaganya dan memberinya taufik untuk meraih ridanya—“Apa yang dulu diusahakan oleh beliau (Raja Abdullah) <em>hafizhahullah</em> adalah agar agama tidak masuk dalam politik.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ungkapan ini berasal dari sambutan beliau, tidak dapat dipastikan bahwa itu berasal dari ucapan ayahnya. Dan sambutannya ketika itu beliau lakukan secara spontan sebagaimana yang beliau sampaikan pada permulaannya, sehingga ungkapan tersebut bisa jadi karena salah ucap atau pemahaman yang salah beliau tentang perkataan ayahnya. Dan yang diharapkan dari beliau adalah menjelaskan hakikat ungkapan itu sehingga bisa menghilangkan keambiguan dan menghindarkan beliau dari tuduhan, sebab ungkapan tersebut sangat berbahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya memohon kepada Allah agar mengaruniakan taufik kepada Pelayan Dua Tanah Suci menuju segala hal yang mengandung kebaikan dan kebahagiaan, dan semoga Allah menjaga negara ini—baik itu penguasanya maupun rakyatnya—dari segala keburukan, serta memberi mereka taufik menuju segala kebaikan. Semoga selawat, salam, dan keberkahan selalu terlimpah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, dan para sahabat beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://al-abbaad.com/articles/102-1434-06-02">https://al-abbaad.com/articles/102-1434-06-02</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1soDYjo2yWiIbzP_WzzGjWmS09fgZENX9/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8655</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Tentang Terbebasnya al-Hafizh an-Nawawi dan Ibnu Hajar dari Akidah-Akidah Ahli Kalam</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8649-penjelasan-tentang-terbebasnya-al-hafizh-an-nawawi-dan-ibnu-hajar-dari-akidah-akidah-ahli-kalam.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2026 13:35:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[asy'ariyah]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu hajar al asqalani]]></category>
		<category><![CDATA[imam nawawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8649</guid>

					<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim&#160; Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du: Di antara ulama yang terkenal dengan ilmunya, memiliki banyak karya tulis, namanya masyhur, dan para penuntut ilmu setelahnya banyak mengambil manfaat dari karya yang ditinggalkan adalah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Bismillahirrahmanirrahim&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amma ba’du:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara ulama yang terkenal dengan ilmunya, memiliki banyak karya tulis, namanya masyhur, dan para penuntut ilmu setelahnya banyak mengambil manfaat dari karya yang ditinggalkan adalah al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syarafuddin an-Nawawi, yang wafat tahun 676 H, dan Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, yang wafat tahun 852 H.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian karya tulis terkenal dari mereka berdua menyebutkan akidah-akidah Ahli Kalam (filsafat) dan takwil-takwil golongan penakwil dari kalangan Asy’ariyah dan lainnya. Saya dahulu telah berusaha keras untuk mendapatkan bukti-bukti terbebasnya dua ulama ini dari akidah-akidah para Ahli Kalam dan bukti-bukti bahwa mereka berdua mengikuti akidah para salaf umat ini, yaitu dari kalangan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam menetapkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan selayaknya sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka menetapkan makna (nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya) yang sesuai tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya serta menyucikan-Nya dari penyerupaan tanpa mengingkari, sebagaimana firman Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah <em>Ta’ala</em> telah menetapkan sifat mendengar dan melihat melalui firman-Nya, “Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” Dia juga menyucikan diri-Nya dari penyerupaan terhadap makhluk melalui firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhamdulillah, saya telah mendapatkan apa yang aku cari dan tujuan yang aku harapkan (yakni menemukan bukti-bukti bahwa dua ulama ini terbebas dari akidah-akidah Ahli Kalam).</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Al-Hafizh an-Nawawi</strong></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Berkaitan dengan al-Hafizh an-Nawawi, saya menemukan kitab beliau yang berjudul <em>Juz’ Fihi Zikr I’tiqad as-Salaf fi al-Huruf wa al-Ashwat</em> (Seri tentang Akidah Para Salaf dalam Huruf dan Suara) yang dicetak pada tahun 1429 H dengan tahqiq oleh Muhammad bin Abdul Latif Muhammad al-Jamal. Dalam penutup kitab ini, pada hlm. 91, beliau berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Allah, jadikanlah kitab ini sebagai saksi yang membela kami, bukan yang menuntut kami. Berilah taufik kepada kami dan seluruh orang terkasih kami menuju keridaan-Mu, dan kepada umat kami untuk teguh di atas keyakinan ini, keyakinan para sahabat, <em>tabi’in</em>, para guru, dan orang-orang saleh. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kumpulkanlah kami bersama para guru kami serta orang-orang yang kami cintai dan mencintai kami di negeri kemuliaan (surga), wahai Yang Maha Pengasih. Semoga selawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad, beserta keluarga, dan sahabat beliau.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, beliau <em>rahimahullah</em> melanjutkan, “Kami selesai menulisnya pada hari Kamis, 3 Rabiulawal 676 Hijriah.” Adapun Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> wafat—sebagaimana yang disebutkan dalam kitab <em>al-‘Ibar</em> karya Imam adz-Dzahabi—pada tanggal 24 Rajab 676 Hijriah. Selang waktu antara selesainya penulisan kitab tersebut dan wafatnya beliau kurang dari lima bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun pada permulaan kitab <em>Juz’ Fihi Zikr I’tiqad as-Salaf fi al-Huruf wa al-Ashwat</em> ini, pada halaman 27, Imam an-Nawawi berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Amma ba’du. Ketika berbagai keraguan dan syubhat itu muncul, semakin banyaknya tuduhan dan penyesatan, semakin tersebarnya ucapan para penganut hawa nafsu dan fanatisme, serta semakin luasnya musibah yang ditimbulkan di seluruh tempat dan sektor, datanglah permintaan kepadaku dari orang yang memenuhi permintaan itu merupakan kewajiban bagiku dan menolongnya termasuk pahala terbesar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Permintaan itu adalah agar aku menghimpun untuknya rangkuman pendapat para ulama terdahulu, inti dari sandaran akidah mereka tentang huruf dan suara (dari Allah) dan perselisihan pendapat yang diriwayatkan dari mereka dalam hal tersebut, serta penetapan mazhab para ulama syariat dan para perawi hadis yang tepercaya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, pada halaman 28, beliau berkata, “Rangkuman ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pertama: penyebutan riwayat dari Syaikh yang mulia, al-Imam al-Hafizh Fakhruddin Abu al-Abbas Ahmad bin al-Hasan bin Utsman al-Urmawi asy-Syafi’i <em>radhiyallahu ‘anhu</em> tentang apa yang beliau tulis dalam kitabnya yang berjudul <em>Ghayah al-Maram fi Mas’alah al-Kalam</em>, dan bagian kedua: tentang yang saya tulis dalam kitab yang berjudul <em>Kitab at-Tibyan</em>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengatakan pada halaman 38, “Masalah firman Allah tidak lain adalah tentang huruf dan suara yang berfaedah dalam perkara-perkara syariat, yang diturunkan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan susunan Al-Qur’an yang ada di antara kita ini, yang kita baca dengan lisan kita, yang kita ajarkan kepada anak-anak kita, dan kita tulis dalam mushaf-mushaf kita. Dan Allah tidak memiliki firman selain itu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya jelaskan bahwa yang dimaksud dengan ucapan beliau, “Dan Allah tidak memiliki firman selain itu,” adalah untuk membantah para penganut akidah Asy’ariyah yang berpendapat bahwa firman Allah adalah makna yang berdiri sendiri (tanpa huruf dan suara). Inilah keyakinan yang dianut oleh para ulama, seperti Imam asy-Syafi’i, Ahmad, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Yazid bin Harun, Abdurrahman bin Mahdi, Ismail bin Aliyah, Sufyan bin Uyainah, Yusuf bin al-Majisyun, serta para imam dan ulama besar lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam tulisan ringkas ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, pada halaman 39, beliau juga mengatakan, “Sedangkan Abu al-Hasan al-Asy’ari dan para penganutnya, seperti Abu Ishaq al-Isfarayini, Abu Muhammad al-Juwaini, Abu Sahal ash-Sha’luki, dan lainnya berpendapat bahwa huruf-huruf dan suara yang kita baca, yang kita ajarkan kepada anak-anak kita, dan yang kita jadikan rujukan dalam perkara halal dan haram, yang diturunkan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan susunan Al-Qur’an, adalah makhluk, sekadar pengungkapan dan penunjuk kepada firman yang <em>qadim</em> (telah ada bersama Allah); dan tidak diturunkan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> firman yang <em>qadim</em>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya katakan bahwa Abu Muhammad al-Juwaini—ayah Imam al-Haramain—telah kembali kepada akidah Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana yang dicantumkan dalam risalahnya yang terhimpun dalam kumpulan <em>ar-Rasail al-Muniriyah</em>, yaitu risalah kedelapan dalam seri pertama kumpulan risalah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, beliau berkata—dalam rangka menegakkan kebenaran dan membantah kebatilan—, “Bentuk dalil atas pendapat yang kami yakini ini adalah firman Allah <em>Ta’ala</em> diturunkan. Tidaklah firman itu diturunkan melainkan dengan huruf dan suara, sehingga firman Allah itu terdiri atas huruf dan suara. Setelah kami tegaskan bahwa firman Allah adalah huruf dan suara dan telah kami sebutkan dalilnya melalui premis-premis tersebut, maka jelaslah bahwa huruf dan suara juga <em>qadim</em> (telah ada bersama Allah) secara ijmak.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tanggapi: Tidak dikatakan bahwa seluruh firman Allah yang tidak ada batasnya itu adalah <em>qadim.</em> Pernyataan yang benar adalah bahwa firman Allah itu <em>qadim</em> secara jenisnya, tetapi <em>hadits</em> (ada setelah penciptaan) secara rinciannya. Hal ini karena Allah Maha Berbicara tanpa batas permulaan dan tanpa batas akhir. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> tidak memiliki permulaan sehingga firman-Nya juga tidak memiliki permulaan. Dia tidak memiliki akhir sehingga firman-Nya juga tidak memiliki akhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesimpulannya, firman-Nya tidak memiliki batas. Allah <em>Ta’ala</em> telah berbicara dengan Nabi Musa, dan beliau mendengar firman-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> juga berbicara dengan para penghuni surga ketika mereka telah memasukinya, dan mereka dapat mendengar firman-Nya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Al-Qur’an, terdapat dua ayat yang menunjukkan bahwa firman Allah tidak terbatas, yaitu firman Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dalam surah Al-Kahfi:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Katakanlah, ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).’” (QS. Al-Kahfi: 109).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga firman-Nya dalam surah Luqman:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Luqman: 27).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, beliau menyebutkan pada halaman 40 hingga halaman 51, dalil-dalil dari Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijmak yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah firman yang diturunkan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, pada halaman 51, beliau berkata, “Hal yang mengherankan adalah buku-buku Asy’ariyah penuh dengan pernyataan bahwa firman Allah diturunkan kepada Nabi-Nya, tertulis dalam mushaf-mushaf, dan dibaca dengan lisan-lisan secara hakiki. Namun, mereka lalu berkata bahwa yang diturunkan adalah ungkapan, yang tertulis tidak sama dengan tulisan, dan yang dibaca tidak sama dengan bacaan. Lalu mereka mulai mengucapkan dengan jelas hal-hal yang saling bertolak belakang dan alasan-alasan yang dingin dan remeh.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hingga perkataan beliau, “Kami akan menjelaskan dalam penutup kitab ini hakikat firman Allah dalam diskusi ini—<em>insya Allah Ta’ala</em>—yang mengabarkan apa yang telah kami sampaikan tentang ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang mengandung ijmak para sahabat, para ulama, dan orang-orang berakal lainnya, bahwa firman Allah itu <em>qadim</em> dan diturunkan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> secara hakiki, bukan secara kiasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian juga, firman yang diturunkan tidak lain adalah terdiri dari huruf dan suara, baik itu atas dasar ijmak ataupun kemustahilan turunnya firman hanya dengan makna yang berdiri sendiri. Jadi, dapat dipastikan bahwa huruf dan suara itu juga firman Allah, sebagai konsekuensi atas terbentuknya ijmak tentang hakikat dan penurunan firman Allah, serta konsekuensi bahwa huruf dan suara dari firman Allah juga <em>qadim</em> berdasarkan ijmak.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tanggapi: Disebutkan dalam perkataan beliau isyarat bahwa tulisan sama dengan yang tertulis dan bacaan sama dengan yang dibaca. Ini adalah pernyataan yang benar jika yang dimaksud adalah bahwa lafaz Al-Qur’an terkadang maksudnya adalah bacaannya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“&#8230;bacaan (dalam salat) subuh…” (QS. Al-Isra: 78).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah: 18).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Hiasilah al-Quran dengan suara kalian.” (HR. Imam an-Nasa’i no. 1015 dengan sanad yang sahih). Maknanya adalah hiasilah bacaan Al-Qur’an dengan suara kalian.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tidak dapat kita katakan bahwa bacaan pembaca dan apa yang dia baca adalah satu hal yang sama karena yang dibaca adalah firman Allah, sedangkan bacaannya adalah perbuatan dari pembaca. Oleh sebab itu, disebutkan dalam perkataan seorang ulama salaf, “Perkataannya adalah perkataan Sang Pencipta, sedangkan suaranya adalah suara pembaca.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini juga berlaku pada bab yang beliau tulis pada halaman 72, yang mana beliau berkata dalam permulaannya, “Bab tentang bacaan adalah sesuatu yang terbaca dan tulisan adalah sesuatu yang tertulis.” Kemudian beliau menyebutkan banyak bantahan dari orang-orang Asy’ariyah terhadap mazhab Ahlusunah, mulai dari halaman 51 hingga halaman 57. Lalu—hingga halaman 64—beliau menyebutkan 20 poin yang menjelaskan bahwa yang diturunkan adalah huruf-huruf, bukan hanya makna yang berdiri sendiri. Kemudian, beliau menjawab bantahan dari orang-orang Asy’ariyah hingga halaman 67.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, pada halaman 68, beliau menyebutkan bab tentang penetapan huruf bagi Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dengan berlandasan dalil dari Al-Qur’an. Beliau berkata, “Kalimat adalah huruf-huruf yang disusun dan memiliki faedah makna. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.’ (QS. An-Nisa: 164).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Ashma’i, al-Farra’, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, dan ulama bahasa lainnya mengatakan, ‘Penegasan kalimat dengan kata dasar (تَكْلِيمًا) menunjukkan bahwa tidak adanya perantara, sehingga dapat ditetapkan bahwa Allah berbicara dengan Nabi Musa dengan firman yang dia dengar menggunakan indra telinganya. Oleh sebab itu, Allah <em>Ta’ala</em> menyebutkan nikmat kepada Nabi Musa dalam firman-Nya:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">&nbsp;إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu terhadap manusia yang lain (di masamu) dengan membawa risalah-Ku dan dengan berbicara langsung dengan-Ku.”’ (QS. Al-A’raf: 144).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalaulah bukan karena Nabi Musa mendengar firman-Nya secara langsung, niscaya penyebutan nikmat ini secara khusus tidak lagi berfaedah (karena ada manusia lain yang mendengar firman-Nya, tapi tidak secara langsung).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, pada halaman 69, beliau menyebutkan bab tentang penetapan suara bagi Allah <em>Ta’ala</em>. Di awal bab ini, beliau berkata, “Al-Qur’an menyebutkan hal ini (Allah berfirman dengan suara) dalam beberapa ayat. Di antaranya dalam surah Al-Qasas:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, dipanggillah dia …” (QS. Al-Qasas: 30).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga dalam surah An-Naml:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, dia dipanggil …” (QS. An-Naml: 8).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga dalam surah Thaha:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ<em>&nbsp;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka tatkala Musa tiba di (tempat) api itu, dipanggillah dia …” (QS. Thaha: 11).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makna “panggilan” tidak lain adalah dengan suara, menurut seluruh ahli bahasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian juga dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى</p>



<p class="wp-block-paragraph">“… maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).” (QS. Thaha: 13).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makna “mendengar” juga tidak lain adalah kepada suara yang terdengar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan (ingatlah) hari (ketika) Allah menyeru mereka, seraya berfirman: ‘Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?’” (QS. Al-Qasas: 62).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَمَا كُنتَ بِجَانِبِ الطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan tiadalah kamu (Muhammad) berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru (Musa) …” <em></em>(QS. Al-Qasas: 46).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makna “seruan” berdasarkan ijmak tidak lain adalah dengan suara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, pada halaman 70, beliau menyebutkan hadis Abdullah bin Unais dengan sanad <em>marfu’</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">يُحْشَرُ الْعِبَادُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِن بُعد كما يَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Para hamba dikumpulkan pada hari kiamat, lalu Allah menyeru mereka dengan suara yang dapat didengar dari jauh seperti suara yang terdengar dari dekat: ‘Aku adalah Raja dan Aku adalah <em>ad-Dayyan</em> (Maha Pemberi pembalasan).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tanggapi bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab <em>al-Mustadrak</em> di dua tempat, yaitu di jilid 2, hlm. 438 dan jilid 4, hlm. 576. Hadis tersebut disahihkan dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab <em>Fath al-Bari</em> jilid 1, hlm. 174, dan disebutkan oleh al-Albani dalam kitab <em>Shahih al-Adab al-Mufrad</em> no. 746.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, pada halaman 79, beliau menyebutkan bab bahwa firman Allah adalah hal yang terdengar. Sesuatu yang terdengar tidak lain adalah terdiri atas huruf-huruf dan suara-suara, sehingga itulah hakikat firman Allah. Jika itu adalah hakikat firman Allah, maka secara otomatis yang selain itu (hanya makna saja) bukanlah firman Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena firman Allah yang hakiki hanya satu dari dua kemungkinan itu (huruf dan suara termasuk bagian firman Allah, atau firman Allah hanya makna yang berdiri sendiri), maka kemungkinan kedua itu bukanlah firman Allah yang hakiki. Oleh sebab itu, hendaklah merujuk kepada pemahaman ini dalam bab sifat-sifat Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menutup perkataannya dengan riwayat dari Abu al-Abbas al-Urmawi <em>rahimahullah</em> dengan bab penting pada halaman 80–82. Dalam bab ini, beliau menyebutkan akidah para salaf dalam perkara sifat-sifat Allah, “Bab tentang hadis-hadis yang menegaskan dan mendukung pendapat dalam keyakinan ini, yang menyucikan Allah (dari aib dan kekurangan), yang diyakini juga oleh para ulama Islam. Semoga Allah membangkitkan kita di atas akidah mereka serta mewafatkan kita di atas kecintaan kepada para salaf yang saleh dan para imam yang mendapat petunjuk. Semoga Allah meridai mereka semua.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau melanjutkan dengan berkata, “… dan kami mengimani seluruh hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah tanpa menambah atau menguranginya sedikit pun, seperti hadis tentang kisah Dajjal, yang mana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda dalam hadis itu, ‘Dan sungguh Tuhan kalian bukanlah buta sebelah.’ Juga hadis beliau tentang turunnya Allah ke langit dunia, hadis tentang Allah bersemayam di atas arsy, hadis bahwa hati para hamba berada di antara jari-jari Allah Yang Maha Pengasih, serta hadis tentang Allah meletakkan langit dan bumi di jari-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami juga berkeyakinan mengimani hadis tentang <em>al-Mi’raj</em> dan riwayat-riwayat yang sahih dalam perkara ini, meyakini bahwa Allah Maha Membolak-balikkan hati, serta mempercayai sepenuhnya hadis-hadis yang menyebutkan perkara-perkara yang serupa dengan itu sebagaimana perkara-perkara itu disebutkan di dalamnya, tanpa berusaha menyingkap takwilnya. Kami memahami hadis-hadis tersebut sebagaimana yang diriwayatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami juga meyakini bahwa keimanan juga mencakup ucapan dan perbuatan. Keimanan dapat bertambah dengan amal ketaatan serta berkurang dengan kemaksiatan. Kami juga meyakini bahwa Allah akan datang pada hari kiamat, sebagaimana yang Allah <em>Ta’ala</em> firmankan,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.’ (QS. Al-Fajr: 22).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meyakini bahwa Allah dekat dengan para hamba-Nya dengan cara yang Dia kehendaki, berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘… dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.’ (QS. Qaf: 16).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga firman-Nya,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah Dia dekat (kepada Muhammad dengan jarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).’ (QS. An-Najm: 8–9).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga ayat-ayat serupa dengan itu yang menyebutkan sifat-sifat Allah. Kami tidak menakwilkan ayat-ayat itu atau berusaha menyingkap hakikatnya. Kami tidak melakukan hal itu sebagaimana para salaf juga tidak melakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami beriman bahwa Allah <em>Ta’ala</em> berada di atas <em>arsy</em>-Nya, sebagaimana yang Dia kabarkan di dalam Al-Qur’an al-Karim. Kami tidak berpandangan bahwa Dia berada di setiap tempat. Justru Dia berada di atas langit dan ilmu-Nya meliputi setiap tempat. Tidak ada tempat yang tidak terliputi ilmu-Nya, sebagaimana yang Dia firmankan,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit …’ (QS. Al-Mulk: 16).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga firman-Nya,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">إِلَيْهِ يَصْعَدُ ٱلْكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik …’ (QS. Fatir: 10).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga berdasarkan hadis tentang peristiwa Isra’ ke langit ketujuh, ‘Kemudian Nabi mendekat kepada Tuhannya.’ Juga berdasarkan hadis Sauda’ <em>radhiyallahu ‘anha</em> yang ketika ingin dibebaskan dari perbudakan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepadanya, ‘Di mana Tuhanmu?’ Lalu dia menjawab, ‘Di langit.’ Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lalu bersabda (kepada tuannya), ‘Bebaskanlah dia, karena dia adalah wanita yang beriman.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dalil-dalil lainnya yang masih banyak lagi dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kami mengimani itu semua tanpa mengingkarinya sedikit pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para perawi yang tepercaya meriwayatkan dari Imam Malik bin Anas bahwa ada orang yang bertanya kepada beliau tentang firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa’ (bersemayam) di atas &#8216;Arsy.’ (QS. Thaha: 5).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, Imam Malik menjawab, ‘Makna istiwa’ sudah jelas, sedangkan bagaimananya tidak dapat dijangkau akal, dan beriman kepadanya adalah wajib, serta bertanya tentangnya adalah perbuatan bid’ah.’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tanggapi: Di antara yang disebutkan dalam ucapan Abu al-Abbas al-Urmawi di atas, bahwa mendekatnya Allah kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (QS. An-Najm: 8–9), yang benar bukanlah itu. Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malaikat Jibril.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam <em>Shahih al-Bukhari dan Muslim</em> diriwayatkan dari Masruq, bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, “Apa yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah Dia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).’ (QS. An-Najm: 8–9).” Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> menjawab, “Itu adalah Jibril.” (Diriwayatkan Imam al-Bukhari no. 3235 dan Imam Muslim no. 442).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> juga berkata dalam permulaan tafsir surah Al-Isra, jilid 8, hlm. 378, “al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi menanggapi hadis Syarik—Ibnu Abi Namir—bahwa terdapat tambahan lafaz yang hanya ada dalam riwayatnya, yang sesuai dengan mazhab orang yang meyakini bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berdasarkan firman-Nya, ‘Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah Dia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).’ (QS. An-Najm: 8–9). Sedangkan Aisyah, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah memahami ayat-ayat ini bahwa pendapat yang lebih benar adalah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat malaikat Jibril.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun pendapat yang dianut oleh Imam al-Baihaqi <em>rahimahullah</em> dalam masalah ini adalah benar karena Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu (ketika <em>Isra’</em>)?’ Beliau menjawab, ‘(Yang aku lihat) adalah cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya?’ Dan dalam riwayat lain, beliau menjawab, ‘Aku melihat cahaya.’ (HR. Imam Muslim).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun firman Allah, ‘Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi’ yang dimaksud adalah malaikat Jibril <em>‘alaihissalam</em>, sebagaimana yang disebutkan dalam <em>Shahih al-Bukhari dan Muslim</em> dari Aisyah Ummul Mukminin dan Ibnu Mas’ud. Juga yang disebutkan dalam <em>Shahih Muslim</em> dari Abu Hurairah. Tidak diketahui adanya sahabat yang menyelisihi pendapat mereka ini dalam penafsiran ayat tersebut.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Telah disebutkan sebelumnya bahwa Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> selesai menulis buku ini kurang dari lima bulan sebelum wafat. Ini menjelaskan bahwa akidah beliau pada akhir hayat adalah sebagaimana akidah para salaf dalam penetapan makna sifat-sifat Allah, yaitu tanpa menyerupakan, menakwilkan, ataupun mengingkari. Sedangkan takwil-takwil yang disebutkan dalam kitab-kitab beliau lainnya adalah pendapat yang telah beliau tinggalkan. Semoga Allah merahmati dan mengampuni beliau.</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li><strong>Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani</strong></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani <em>rahimahullah</em>, di antara dalil yang menunjukkan kebenaran akidahnya adalah apa yang disebutkan di akhir-akhir penjelasan beliau dalam kitab <em>Fath al-Bari</em>. Beliau banyak menukil pendapat para ulama salaf tentang sifat-sifat Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> yang mengikrarkan sifat-sifat-Nya tanpa mencoba menyingkap bagaimananya ataupun menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk, dan menyucikan sifat-sifat Allah tanpa menakwilkan ataupun mengingkari maknanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam <em>Fath al-Bari</em> jilid 13, hlm. 507, di akhir penjelasannya tentang bab penjelasan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu …” (QS. Al-Maidah: 67), beliau menukil perkataan penting dari Abu al-Muzhaffar bin as-Sam’ani. Beliau berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Abu al-Muzhaffar bin as-Sam’ani berdalil dengan ayat-ayat dan hadis-hadis dalam bab ini atas kekeliruan metode para Ahli Kalam dalam membagi segala sesuatu menjadi tiga, yaitu <em>jism, jauhar,</em> dan <em>‘aradh.</em> Mereka berkata bahwa <em>Jism</em> (jasad) adalah sesuatu yang terhimpun, <em>jauhar</em> (esensi inti) adalah sesuatu yang membawa <em>‘aradh,</em> dan <em>‘aradh</em> (sifat/gejala) <em></em>adalah sesuatu yang tidak dapat berdiri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka mengelompokkan ruh ke dalam bagian <em>‘aradh</em> dan menolak dalil-dalil yang menyatakan bahwa ruh diciptakan sebelum jasad dan akal diciptakan sebelum penciptaan makluk lainnya. Mereka hanya berlandasan kepada firasat dan hal-hal yang mendukung pemahaman mereka, lalu menimbang dalil-dalil dengan landasan tersebut. Dalil yang sesuai dengan landasan itu akan mereka terima, sedangkan yang menyelisihi akan mereka tolak.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Abu al-Muzhaffar bin as-Sam’ani menyebutkan ayat-ayat dan dalil lainnya yang berkaitan dengan perintah kepada Nabi untuk menyampaikan risalah Allah. Beliau berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Di antara hal yang diperintahkan untuk disampaikan oleh Nabi adalah perkara tauhid. Bahkan, ini adalah inti dari perintah kepada beliau. Oleh sebab itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sama sekali tidaklah meninggalkan satu pun perkara agama, baik itu dasar-dasarnya, kaidah-kaidahnya, maupun syariatnya, kecuali beliau telah menyampaikannya (kepada umat).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak menyeru untuk berdalil dengan <em>jauhar</em> dan <em>‘aradh</em> yang dipegang oleh para Ahli Kalam. Bahkan, tidak ada satu pun kata atau yang lebih panjang dari itu yang diriwayatkan dari beliau atau dari salah satu sahabat beliau tentang perkara tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, dapat diketahui bahwa mereka telah mengambil langkah yang menyelisihi langkah Nabi dan para sahabat. Mereka menempuh jalan yang menyelisihi jalan Nabi dan para sahabat melalui jalan bid’ah yang tidak pernah ditempuh oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsekuensi dari sikap mereka adalah mereka secara otomatis mengarahkan tuduhan dan keraguan terhadap para salaf, menisbatkan kepada mereka kurangnya pengetahuan serta kebingungan terhadap jalan yang mereka tempuh. Oleh sebab itu, hendaklah kita berhati-hati agar tidak sibuk dengan ucapan mereka dan tidak menaruh perhatian terhadap pendapat-pendapat mereka. Sebab, pendapat-pendapat itu cepat sekali usang dan banyak sekali kerancuannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidaklah kamu mendengar ucapan salah satu golongan mereka kecuali kamu juga mendapati ucapan lawan mereka (dari golongan mereka yang lain) yang menyangkalnya atau hampir menyamainya. Jadi, keyakinan mereka secara keseluruhan terbantah dan sebagian golongan mereka juga saling berbantah dengan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cukuplah bagimu betapa buruk konsekuensi dari pemahaman mereka bahwa jika kita menerapkan pendapat yang mereka ucapkan dan mengharuskan orang-orang untuk mengamalkan apa yang mereka sebutkan, niscaya itu mengharuskan kita untuk mengafirkan orang-orang awam seluruhnya karena yang diketahui oleh kaum awam hanyalah ikut (<em>taqlid</em>) saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seandainya dipaparkan pemahaman itu kepada orang awam, niscaya mayoritas mereka tidak akan paham. Terlebih lagi jika mereka harus menjadi orang yang dapat menimbang pendapat yang lebih benar. Paling jauh, ketauhidan mereka hanya sebatas berpegang teguh kepada apa yang mereka dapatkan dari para ulama tentang akidah-akidah agama. Lalu mereka mencengkeramnya dengan gigi geraham, dan mengamalkan ibadah-ibadah dengan tekun, serta melazimi zikir-zikir dengan konsisten, dengan hati yang bersih dan selamat dari syubhat-syubhat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kamu mendapati mereka tidak akan goyah dari akidah yang mereka yakini, meskipun tubuh mereka dipotong-potong bagian demi bagian. Selamat bagi mereka atas keyakinan seperti ini, dan berbahagialah bagi mereka atas keselamatan akidah ini. Namun, apabila mereka dikafirkan, sedangkan mereka adalah mayoritas dalam umat ini, maka tidak lain ini adalah bentuk pengurangan kebesaran Islam dan penghancuran menara agama. <em>Allah al-Musta’an</em>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tanggapi tentang perkataan Abu al-Muzhaffar yang menyebutkan bahwa akal diciptakan sebelum penciptaan makhluk lain, itu perlu ditinjau lagi. Imam Ibnu al-Qayyim berkata dalam kitabnya <em>al-Manar al-Munif</em> halaman 50, “Kami mengingatkan terhadap kaidah-kaidah umum yang dengannya dapat diketahui bahwa hadis itu adalah palsu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hingga perkataan beliau pada halaman 66, “Di antaranya adalah hadis-hadis yang berkaitan dengan penciptaan akal. Semuanya adalah dusta. Abu al-Fath al-Azdi berkata, ‘Tidak ada satu pun hadis yang sahih tentang penciptaan akal.’ Ini juga pendapat dari Abu Ja’far al-Uqaili dan Abu Hatim bin Hayyan. <em>Wallahu A’lam</em>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani juga berkata dalam kitab <em>Fath al-Bari</em> jilid 13, hlm. 504,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ahmad bin Hambal berdalil dengan ayat ini—yaitu firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu …’ <em></em>(QS. Al-Maidah: 57)—bahwa Al-Qur’an bukanlah makhluk karena tidak disebutkan satu pun pernyataan (secara langsung) dalam Al-Qur’an atau hadis bahwa ia adalah makluk atau yang menunjukkan (secara tidak langsung) bahwa ia adalah makhluk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, Ahmad bin Hambal menyebutkan riwayat dari Hasan al-Basri bahwa dia berkata, ‘Andai saja yang dikatakan oleh al-Ja’d itu benar, niscaya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pasti telah menyampaikannya.’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya katakan bahwa yang dimaksud dengan <em>al-Ja’d bin Dirham</em> adalah pendiri mazhab al-Jahmiyah. Nama al-Jahmiyah dinisbatkan kepada al-Jahm bin Shafwan karena dialah yang mengusung dan menyebarkan mazhab batil ini. Saya juga katakan seperti yang dikatakan oleh Hasan al-Basri <em>rahimahullah</em>, “Andai saja yang dikatakan oleh orang-orang Asy’ariyah dan Ahli Kalam lainnya itu benar, niscaya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pasti telah menyampaikannya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani juga menukil dalam kitab <em>Fath al-Bari</em> jilid 13, hlm. 407, dari beberapa ulama salaf tentang penetapan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya, mengubah maknanya, atau mengingkarinya. Kemudian beliau menutup nukilan itu dengan kalimat penting. Di antara kalimatnya—di jilid 13, hlm. 407–408—adalah,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“al-Baihaqi meriwayatkan dari jalur Abu Dawud ath-Thayalisi, ia berkata bahwa Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah, Hammad bin Ziad, Hammad bin Salamah, Syarik, dan Abu Uwanah tidak menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk. Mereka semua berpegang kepada hadis-hadis ini (hadis tentang sifat-sifat Allah), tetapi tidak mengatakan bagaimana hakikat sifat Allah itu. Abu Dawud berkata, ‘Inilah pandangan kami’. Al-Baihaqi berkata, ‘Di atas pemahaman inilah dahulu ulama-ulama besar kami hidup’.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, al-Lalika’i menisbatkan riwayat kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani bahwa ia berkata, ‘Para ulama fikih seluruhnya dari timur hingga barat telah sepakat untuk mengimani Al-Qur’an dan hadis-hadis yang diriwayatkan dari orang-orang tepercaya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang sifat Allah tanpa menyerupakan dan menakwilkannya. Barang siapa yang menakwilkan sesuatu darinya dan berpendapat seperti pendapat al-Jahm, maka dia telah keluar dari akidah yang dulu dipegang oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau, serta telah keluar dari jamaah karena dia telah menyifati Allah dengan sifat ‘bukan apa pun’.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dari jalur al-Walid bin Muslim, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada al-Auza’i, Malik, ats-Tsauri, dan Laits bin Sa’d tentang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat Allah. Mereka menjawab, ‘Pahamilah hadis-hadis itu sebagaimana diriwayatkan, tanpa menanyakan bagaimana (sifat Allah itu).’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam <em>Manaqib asy-Syafi’i</em> dari Yunus bin Abdul A’la, “Aku pernah mendengar asy-Syafi’i berkata, ‘Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat. Tidak ada seorang pun yang boleh menolaknya. Barang siapa yang menyelisihinya setelah ditegakkan hujjah atasnya, maka dia telah kafir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun sebelum hujjah ditegakkan atasnya, maka orang itu diberi uzur atas dasar kejahilannya karena ilmu tentang hal itu tidak dapat diraih hanya dengan akal, pandangan, dan pemikiran. Oleh karena itu, kami menetapkan sifat-sifat ini kepada Allah dan menafikan dari-Nya penyerupaan dengan makhluk, sebagaimana Dia menafikan itu dari diri-Nya dengan berfirman,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia …” (QS. Asy-Syura: 11).’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Baihaqi juga menyampaikan dengan sanad yang sahih dari Ahmad bin Abi al-Hawari dari Sufyan bin Uyainah bahwa dia berkata, “Segala sifat yang Allah sematkan kepada diri-Nya dalam kitab-Nya, penafsirannya adalah dengan membacanya saja dan tidak membicarakan (bagaimana hakikatnya).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga dari jalur Abu Bakar adh-Dhaba’i, ia berkata, “Mazhab Ahlusunah tentang firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa’ (bersemayam) di atas <em>&#8216;Arsy</em>.’ (QS. Thaha: 5), adalah tanpa menanyakan bagaimana (Allah beristiwa’).” Banyak atsar dari para salaf dalam hal ini. Ini juga mazhab yang dianut oleh Imam asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hambal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam At-Tirmidzi menyebutkan dalam kitab <em>al-Jami’</em> setelah hadis riwayat Abu Hurairah tentang turunnya (Allah ke langit dunia), “Allah di atas <em>al-Arsy</em> sebagaimana yang Dia sebutkan tentang diri-Nya di dalam Al-Qur’an. Demikianlah yang dikatakan oleh banyak ulama tentang hadis ini dan tentang sifat-sifat lainnya yang semisal.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, pada bab keutamaan sedekah, Imam at-Tirmidzi berkata, “Riwayat-riwayat ini telah dipastikan kesahihannya dan kami beriman kepadanya. Kami tidak mengumpamakannya (dengan sifat makhluk) dan tidak menanyakan bagaimananya. Demikianlah yang diriwayatkan dari Imam Malik, Ibnu Uyainah, dan Ibnu Mubarak. Mereka memaknainya (sebagaimana adanya) tanpa menanyakan bagaimana (hakikat sifat itu). Ini adalah mazhab para ulama dari Ahlusunah wal jamaah. Adapun mazhab al-Jahmiyah, mereka mengingkari sifat-sifat itu dan mengatakan bahwa memaknainya (sebagaimana adanya) adalah bentuk penyerupaan (dengan makhluk).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ishaq bin Rahawaih <em>rahimahullah</em> berkata, “Penyerupaan itu jika dikatakan tangan Allah seperti tangan makhluk dan pendengaran Allah seperti pendengaran makhluk.” Beliau juga berkata dalam tafsir surah Al-Maidah, “Para Imam berkata, ‘Kami mengimani hadis-hadis ini (tentang sifat Allah) tanpa menafsirkannya.’ Di antara yang berpandangan seperti ini adalah Imam ats-Tsauri, Malik, Ibnu Uyainah, dan Ibnu Mubarak.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Ahlusunah telah berijmak untuk mengakui sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa menanyakan bagaimana hakikat sifat itu sedikit pun. Sedangkan mazhab Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Khawarij, mereka berpendapat bahwa orang yang mengakui sifat-sifat itu (ada pada Allah), maka dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk sehingga orang yang mengakui sifat-sifat itu menyebut mereka dengan sebutan <em>Mu’aththilah</em> (orang-orang yang mengingkari (menafikan) sifat-sifat itu pada Allah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab <em>ar-Risalah an-Nizhamiyah</em>, Imam al-Haramain al-Juwaini berkata, “Mazhab para ulama berbeda-beda dalam menanggapi masalah ini (sifat-sifat Allah). Sebagian mereka menakwilkannya dan menggunakan metode ini terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan sunah-sunah yang sahih. Sedangkan mazhab para ulama salaf adalah tidak menakwilkannya, tetapi memaknainya sebagaimana disebutkan (dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah) dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun pendapat yang kami ridai dan kami jadikan sebagai akidah kami dalam mengimani Allah adalah dengan mengikuti para ulama salaf umat ini. Hal ini berdasarkan dalil yang final bahwa ijmak umat adalah hujjah. Andai saja penakwilan masalah ini adalah pendapat yang benar, niscaya perhatian para salaf terhadapnya akan lebih tinggi daripada perhatian mereka terhadap masalah furuk (cabang) dari syariat. Namun, ketika zaman para sahabat dan tabi’in berakhir tanpa memandang metode penakwilan ini, maka itulah yang seharusnya diikuti.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani <em>rahimahullah</em> kemudian berkata, “Telah disebutkan riwayat (dalam masalah ini) dari generasi ketiga, yaitu para ulama fikih di berbagai penjuru negeri Islam, seperti ats-Tsauri, al-Auza’i, Malik, al-Laits, dan ulama lainnya yang sezaman dengan mereka, serta para imam yang meriwayatkan dari mereka. Bagaimana mungkin apa yang disepakati oleh tiga generasi pertama ini tidak dipercaya, sedangkan mereka adalah generasi terbaik berdasarkan kesaksian dari pengemban syariat (Rasulullah)?!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tanggapi: Apa yang disebutkan dalam perkataan Imam al-Haramain al-Juwaini bahwa para salaf menyerahkan makna sifat-sifat kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> (<em>tafwidh</em>) adalah perkataan yang tidak benar. Sebab, para salaf hanya mengembalikan kepada Allah hakikat ‘bagaimana’-nya, tidak mengembalikan kepada Allah maknanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Malik <em>rahimahullah</em> yang ditanya tentang bagaimana istiwa’ itu? dan beliau menjawab, “Makna istiwa’ sudah jelas, sedangkan ‘bagaimana’-nya tidak diketahui, dan beriman kepadanya adalah wajib, serta menanyakan hal itu adalah bid’ah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani <em>rahimahullah</em>, “Telah disebutkan riwayat (dalam masalah ini) dari generasi ketiga, yaitu para ulama fikih di berbagai penjuru negeri Islam, seperti ats-Tsauri, al-Auza’i, Malik, al-Laits, dan ulama lainnya yang sezaman dengan mereka, serta para Imam yang meriwayatkan dari mereka. Bagaimana mungkin apa yang disepakati oleh tiga generasi pertama ini tidak dipercaya, sedangkan mereka adalah generasi terbaik berdasarkan kesaksian dari pengemban syariat (Rasulullah)?!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya katakan bahwa ini menunjukkan kemungkinan besar keselamatan akidahnya, bahwa beliau mengikuti jalan para salaf dalam masalah ini. Terlebih lagi perkataan beliau ini disebutkan dalam akhir-akhir kitabnya, <em>Fath al-Bari</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya memohon kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> untuk dua ulama ini, al-Hafizh an-Nawawi dan al-Asqalani agar mendapat ampunan dan rahmat, diagungkan bagi mereka berdua pahala atas ilmu agung yang mereka wariskan—yang sangat besar manfaatnya bagi para penuntut ilmu, dan memperbaiki keadaan kaum Muslimin, serta memberi mereka taufik agar dapat memahami agama dan teguh di atas kebenaran. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selawat, salam, dan keberkahan semoga tercurah selalu kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan para sahabat beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>***</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://al-abbaad.com/articles/932078">https://al-abbaad.com/articles/932078</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1eYMizSnEQnmcgpDuIrwsu7Ntavl8GKa3/view?usp=sharing">PDF Sumber Artikel</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8649</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan-Keutamaan Para Sahabat dan Perkataan Para Ulama Tentang Mereka Secara Umum dan Tentang Muawiyah Secara Khusus</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8641-keutamaan-keutamaan-para-sahabat-dan-perkataan-para-ulama-tentang-mereka-secara-umum-dan-tentang-muawiyah-secara-khusus.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2026 10:18:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Muawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8641</guid>

					<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu terlimpah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi Muhammad, beserta keluarga, seluruh sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat. Amma ba’du: Sebagaimana diketahui, manusia terbaik adalah para nabi dan rasul—semoga selawat, salam, dan keberkahan tercurah kepada mereka. Yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu terlimpah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi Muhammad, beserta keluarga, seluruh sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amma ba’du:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana diketahui, manusia terbaik adalah para nabi dan rasul—semoga selawat, salam, dan keberkahan tercurah kepada mereka. Yang terbaik dan paling utama di antara mereka adalah nabi terakhir, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Adapun umat beliau adalah umat terbaik, sebagaimana difirmankan oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah …” (QS. Ali Imran: 110).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, generasi terbaik umat ini adalah para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Orang-orang terbaik dari mereka adalah para Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, lalu Umar bin Khattab, lalu Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Allah <em>Ta’ala</em> telah memuliakan mereka dengan hidup pada zaman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Ta’ala</em> juga memuliakan mereka dengan kesempatan menemani dan berjihad bersama beliau, serta belajar Al-Qur’an dan as-Sunnah dari beliau secara langsung dan mengajarkannya kepada generasi setelah mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara keutamaan para sahabat disebutkan dalam hadis:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian yang setelahnya lagi.”&nbsp;(HR. Imam al-Bukhari no. 3651 dan Imam Muslim no. 6472 dari riwayat Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari no. 3650 dan Imam Muslim no. 6475 dari riwayat Imran bin Hushain <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim no. 6478 dari riwayat Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> dan no. 6473 dari riwayat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga disebutkan dalam hadis Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، فَيَغْزُو فِئامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ لَهُمْ: فِيكُمْ مَن رَأَى رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فيُفْتَحُ لهمْ، ثُمَّ يَغْزُو فِئامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ لَهُمْ: هلْ فِيكُمْ مَن رَأَى من صحب رَسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فيُفْتَحُ لهمْ، ثُمَّ يَغْزُو فِئامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ لَهُمْ: هلْ فِيكُمْ مَن رَأَى مَن صحَبَ منْ صحبَ رَسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فيُفْتَحُ لَهُمْ.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Akan datang kepada manusia suatu zaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka,&nbsp;‘Apakah di antara kalian ada yang pernah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?’&nbsp;Mereka menjawab,&nbsp;‘Ya,’ maka mereka diberi kemenangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka,&nbsp;‘Apakah di antara kalian ada&nbsp;yang pernah melihat sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?’ Mereka menjawab, ‘Ya,’ maka mereka pun diberi kemenangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka,&nbsp;‘Apakah di antara kalian ada yang pernah melihat orang yang melihat&nbsp;para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?’&nbsp;Mereka menjawab,&nbsp;‘Ya,’ maka mereka pun diberi kemenangan.” (HR. Imam al-Bukhari no. 3649 dan Imam Muslim no. 6467 dari riwayat Abu Said <em>radhiyallahu ‘anhu</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Generasi terbaik umat ini adalah generasi sahabat, <em>tabi’in</em>, dan <em>tabi’ut tabi’in</em>. Para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> adalah orang-orang yang telah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan mata mereka. Para <em>tabi’in</em> <em>rahimahumullah</em> adalah orang-orang yang telah melihat sahabat (orang yang telah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) dengan mata mereka. Adapun <em>tabi’ut tabi’in</em> adalah orang-orang yang telah melihat dengan mata mereka orang yang telah melihat sahabat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dahulu para <em>tabi’in</em> sangat bahagia ketika dapat bertemu dengan salah satu sahabat dan menganggap hal itu sebagai keberuntungan besar. Diriwayatkan dalam kitab <em>Sunan Abi dawud</em> no. 948 dengan sanad yang sahih dari Hilal bin Yasaf, dia menceritakan,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku tiba di ar-Raqqah (salah satu wilayah di negeri di Syam), lalu salah satu temanku bertanya kepadaku,&nbsp;‘Apakah kamu ingin bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?’ Aku menjawab,&nbsp;’(Ya!), ini adalah keberuntungan besar.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu kami pergi menuju ke rumah Wabishah (salah seorang sahabat). Aku berkata kepada temanku tadi,&nbsp;‘Kita mulai dengan melihat penampilannya!’ Ternyata Wabishah memakai peci ketat dengan dua telinga dan mengenakan mantel bertudung yang halus dan berwarna abu-abu. Saat itu dia sedang salat dengan bertumpu pada tongkatnya.” (HR. Imam Abu Dawud no. 948).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wabishah bin Ma’bad <em>radhiyallahu ‘anhu</em> termasuk sahabat yang dikaruniai umur panjang, sebagaimana disebutkan dalam kitab&nbsp;<em>Taqrib at-Tahdzib</em>&nbsp;karya Ibnu Hajar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Al-Qur’an al-Karim terdapat banyak ayat yang menunjukkan keutamaan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, seperti dalam surah Al-Anfal, At-Taubah, Al-Fath, Al-Hadid, dan Al-Hasyr. Bahkan, disebutkan dalam satu ayat di surah Al-Fath bahwa mereka disebutkan dan dipuji dalam Kitab Taurat dan Injil, sebelum mereka diciptakan dan sebelum datang zaman mereka. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”&nbsp;(QS. Al-Fath: 29).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang kafir merasa kesal terhadap para sahabat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab <em>Syarh as-Sunnah</em> karya Imam al-Baghawi jilid 1, hlm. 229, dikisahkan, “Ada seorang lelaki di hadapan Imam Malik <em>rahimahullah</em> yang mencela para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maka Imam Malik pun membacakan ayat ini<em>,</em> ‘Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir&nbsp;…’<em>&nbsp;</em>hingga firman Allah, ‘…&nbsp;karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, Imam Malik berkata,&nbsp;‘Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap salah satu sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka dia termasuk ke dalam golongan yang disebutkan dalam ayat ini.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ayat itu juga disebutkan bahwa semua sahabat telah dijanjikan ampunan dan pahala yang besar karena kata (مِنْ) dalam kalimat (مِنْهُمْ), yang berarti “di antara mereka”, menunjukkan makna <em>al-Jinsu</em> (keseluruhan jenis), bukan untuk menunjukkan makna <em>at-Tab’idh</em> (sebagian jenisnya saja). Artinya, janji Allah dalam ayat ini adalah untuk seluruh sahabat, bukan sebagian mereka saja. Bahkan, Ibnu al-Anbari menyifati orang-orang yang mengatakan bahwa kata tersebut menunjukkan makna <em>at-Tab’idh</em> sebagai orang-orang zindiq.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun Ibnu Hisyam berkata dalam kitab <em>Mughni al-Labib</em> jilid 2, hlm. 15, “Dalam kitab <em>al-Mashahif</em> karya Ibnu al-Anbari disebutkan bahwa sebagian orang zindiq berpegang pada firman Allah <em>Ta’ala</em>, ‘… Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar’&nbsp;untuk mencela sebagian sahabat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun yang benar adalah bahwa huruf&nbsp;(مِنْ)&nbsp;di dalam ayat tersebut bermakna menjelaskan keseluruhan, bukan hanya sebagian, yaitu bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman adalah mereka itu (para sahabat).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, ayat yang menyebutkan kata (مِنْهُمْ) ini mencakup seluruh sahabat. Seperti halnya ayat dalam surah Al-Maidah yang juga disebutkan kalimat (مِنْهُمْ) yang maknanya mencakup seluruh orang kafir. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">لقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ <strong>مِنْهُمْ</strong> عَذَابٌ أَلِيمٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan,&nbsp;‘Sesungguhnya Allah salah satu dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada yang berhak disembah selain (Allah) Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir <strong>di antara mereka</strong> akan ditimpa siksaan yang pedih.” <em></em>(QS. Al-Maidah: 73).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Janji yang disebutkan dalam ayat di surah Al-Fath itu adalah untuk seluruh sahabat, bukan untuk sebagian mereka saja, sebagaimana ancaman dalam ayat di surah Al-Maidah itu adalah untuk semua orang yang mengatakan bahwa ‘Allah adalah salah satu yang tiga’, bukan untuk sebagian mereka saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara keutamaan paling besar dari para sahabat yang mulia <em>radhiyallahu ‘anhum</em> adalah mereka menjadi perantara antara Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan orang-orang yang ada pada zaman setelah mereka. Oleh sebab itu, tidaklah manusia mengetahui Al-Qur’an dan as-Sunnah, dan tidak pula mereka mengetahui kebenaran dan petunjuk, kecuali melalui para sahabat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap sahabat yang meriwayatkan hadis dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan mendapatkan pahala seperti pahala setiap orang yang mengamalkan hadis itu sampai hari kiamat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>



<p class="wp-block-paragraph">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala semisal pahala yang diterima oleh orang yang mengerjakan amal tersebut.” <em></em>(HR. Imam Muslim no. 4899 dari Abu Mas’ud al-Anshari al-Badri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Barang siapa mengajak kepada hidayah (jalan petunjuk dan kebaikan), maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikuti) sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka (yang mengikuti) sedikit pun.” (HR. Imam Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap orang yang peduli kepada dirinya dan mencintai kebaikan bagi dirinya harus memenuhi hatinya dengan kecintaan dan pengagungan yang sepatutnya kepada para sahabat. Lisannya harus senantiasa menyebut mereka dengan pujian yang selayaknya bagi mereka, tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan, dan menghindari menyebut mereka dengan hal yang tidak pantas untuk mereka, disertai kebersihan hati dari segala kedengkian terhadap mereka. Inilah jalan para salaf umat ini dari generasi <em>tabi’in</em> dan generasi setelah mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Berikut adalah beberapa contoh ucapan baik para salaf terhadap para sahabat:</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Ucapan Imam Malik bin Anas <em>rahimahullah</em> (wafat 179 H). Al-Baghawi mengatakan dalam kitab <em>Syarh as-Sunnah</em> jilid 1, hlm. 229,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Imam Malik berkata, ‘Barang siapa yang membenci salah satu sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap mereka, maka dia tidak berhak mendapatkan harta <em>fai’</em> (harta musuh yang dirampas tanpa peperangan).’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu beliau membaca firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>: ‘Apa saja harta rampasan (<em>fai’</em>) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota …’ (QS. Al-Hasyr: 7). <em></em>Hingga firman-Nya, ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami …’ (QS. Al-Hasyr: 10).”</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> (wafat 241 H). Beliau berkata dalam kitab <em>as-Sunnah</em>,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Di antara sunah adalah menyebutkan kebaikan-kebaikan para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> seluruhnya dan menahan diri dari membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Barang siapa yang mencela para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau salah satu dari mereka, maka dia adalah pelaku bid’ah dan penganut Syiah Rafidhah. Mencintai para sahabat adalah sunah, berdoa untuk mereka adalah ibadah, mengikuti mereka adalah wasilah, dan mengamalkan jejak-jejak mereka adalah fadilah (keutamaan).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau juga berkata, “Tidak boleh bagi seorang pun untuk menyebutkan suatu keburukan para sahabat dan mencela salah satu dari mereka. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka pemimpin wajib memberinya hukuman dan pelajaran, tanpa boleh memaafkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemimpin harus menghukumnya lalu memintanya untuk bertobat dari perbuatan itu. Apabila dia bertobat, maka tobatnya diterima. Apabila menolak untuk bertobat, maka dia harus dihukum kembali dan terus ditahan hingga mau bertobat dan kembali kepada kebenaran.”</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Imam Abu Zur’ah ar-Razi <em>rahimahullah</em> (wafat 264 H). Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dalam kitabnya <em>al-Kifayah</em> hlm. 49, dengan sanad yang bersambung kepada Imam Abu Zur’ah ar-Razi yang berkata,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Jika kamu melihat seseorang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka ketahuilah bahwa dia adalah orang zindiq. Hal ini karena kita percaya bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu benar dan Al-Qur’an juga benar. Sedangkan yang menyampaikan kepada kita Al-Qur’an dan sunah-sunah adalah para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya mereka (orang-orang yang mencela para sahabat itu) ingin mencederai kelayakan para saksi kita agar mereka dapat membatalkan kesahihan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal yang layak dibatalkan kelayakannya adalah mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq.”</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Imam Abu Ja’far ath-Thahawi <em>rahimahullah</em> (wafat 322 H). Beliau berkata dalam kitab <em>Aqidah Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah</em>,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami mencintai para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, serta tidak berlepas diri dari seorang pun dari mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan menyebutkan mereka dengan sesuatu yang tidak baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan sesuatu yang baik. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan.”</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani <em>rahimahullah</em> (wafat 386 H). Beliau berkata dalam pendahuluan risalahnya,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan sungguh sebaik-baik generasi adalah generasi yang pernah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan beriman kepada beliau. Kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelah mereka lagi. Dan sahabat yang terbaik adalah para Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang boleh disebutkan kecuali dengan sebutan yang baik. Kita harus menahan diri dari membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka karena mereka adalah orang yang paling berhak untuk dicarikan alasan yang baik dan disangka dengan sangkaan yang terbaik.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya juga telah menjelaskan pendahuluan risalah beliau ini melalui tulisan yang berjudul <em>Qathf al-Janiy ad-Dani: Syarh Muqaddimah Risalah Ibn Abi Zaid</em> (Petikan Buah yang Dekat: Penjelasan Pendahuluan Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani). Tulisan ini dicetak tersendiri dan juga dicetak bersama buku dan risalahku yang lain.&nbsp;</p>



<ol start="6" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Imam Abu Utsman ash-Shabuni <em>rahimahullah</em> (wafat 449 H). Beliau berkata dalam kitab <em>Aqidah as-Salaf wa Ash-hab al-Hadits</em>,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan mereka (para salaf) memandang wajibnya menahan diri dari membahas perselisihan yang terjadi antara para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, menyucikan lisan dari mengucapkan hal yang mengandung celaan atau pelecehan terhadap mereka. Juga memandang wajibnya mendoakan rahmat bagi mereka semua dan berwala’ kepada mereka seluruhnya.”</p>



<ol start="7" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani <em>rahimahullah</em> (wafat 489 H). Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitab <em>Fath al-Bari</em> jilid 4, hlm. 365 dari Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani bahwa beliau berkata,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Menyinggung kehormatan para sahabat merupakan tanda kehinaan pelakunya. Bahkan, itu adalah bid’ah dan kesesatan.”</p>



<ol start="8" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> (wafat 728 H). Beliau berkata dalam kitab <em>al-Aqidah al-Wasithiyah</em>,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Di antara asas dasar Ahlusunah wal jamaah adalah kebersihan hati dan lisan terhadap para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sebagaimana yang Allah sebutkan sifat mereka dalam firman-Nya,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا للَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’ (QS. Al-Hasyr: 10)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Serta taat kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya,</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Janganlah kalian mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak setara dengan satu mud dari sedekah mereka, dan bahkan tidak juga (setara) dengan setengahnya.’ (HR. Muslim).”</p>



<ol start="9" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Syaikh Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi <em>rahimahullah</em> (wafat 792 H). Beliau berkata dalam kitab <em>Syarh ath-Thahawiyah</em> hlm. 696,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Adakah orang yang lebih sesat daripada orang yang dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap orang-orang beriman yang terbaik dan pemuka para kekasih Allah <em>Ta’ala</em> setelah para nabi? Bahkan kaum Yahudi dan Nasrani lebih baik daripada mereka (para pencela sahabat Nabi) dari satu sisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat kaum Yahudi ditanya, ‘Siapa orang terbaik dari agama kalian?’ Mereka menjawab, ‘Para sahabat Nabi Musa.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat kaum Nasrani ditanya, ‘Siapa orang terbaik dari agama kalian?’ Mereka menjawab, ‘Para sahabat Isa.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ketika orang-orang Syiah Rafidhah ditanya, ‘Siapa orang terburuk dari agama kalian?’ Mereka menjawab, ‘Para sahabat Muhammad.’<br>Mereka hanya mengecualikan beberapa sahabat saja (yang tidak mereka cela), sedangkan di antara sahabat yang mereka cela itu jauh lebih baik berkali-kali lipat daripada sahabat yang mereka kecualikan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini (celaan terhadap sahabat Nabi) juga disebutkan dalam syair salah satu ulama mereka yang hidup antara abad 12 atau 13 Hijriyah, yaitu Kazhim al-Uzri. Dia berkata:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">أَهُمْ خَيْرُ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ هَيْهَاتَ ذَاكَ بَلْ أَشْقَاهَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah mereka sebaik-baik umat yang diciptakan untuk manusia?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu jauh sekali, justru mereka seburuk-buruk umat!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya menemukan syair ini dalam kitab kritikan Ustaz Mahmud al-Mallah terhadap kasidah <em>al-Uzriyah</em> yang dicetak dengan judul <em>ar-Raziyah fi al-Qashidah al-Uzriyah</em> (Musibah dalam Kasidah al-Uzriyah) halaman 51.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang disebutkan dalam bait tersebut sungguh telah berada di puncak antipati dan kekejian terhadap para sahabat. Demikian juga sikap fanatisme berlebihan terhadap Amirul Mukminin Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dan antipati terhadap para sahabat yang lain yang disebutkan di halaman 45:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph" style="font-size:36px">أَنَبِيٌّ بِلَا وَصِيٍّ؟!!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph" style="font-size:36px">تعَالى اللـَّ    ـهُ عَمَّا يَقُوْلُهُ سُفَهَاهَا!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">“Apakah ada Nabi tanpa <em>washi</em> (penerima wasiat sebagai pengganti – yakni Ali bin Abi Thalib)?!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Maha Tinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang bodoh itu!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara sikap fanatisme berlebihan dari Kazhim al-Uzri terhadap Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> adalah ucapannya yang disebutkan dalam halaman 34:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَهُوَ الْآيَةُ الْمُحِيْطَةُ فِي الْكَو&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; نِ فَفِي عَيْنِ كُلِّ شَيْءٍ تَرَاهَا</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">“Dia (Ali) adalah mukjizat yang meliputi alam semesta</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Pada setiap benda, kamu dapat melihatnya!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Juga dalam perkataannya yang terdapat di halaman 36:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَرَأَتْ قُسُوْراً لَوْ اعْتَرَضَتْهُ الْـ&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; إِنْسُ وَالْجِنُّ فِي وَغَى أَفْنَاهَا!</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">“Dia (Ali) terlihat perkasa, andai dia dilawan&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Oleh jin dan manusia dalam peperangan, niscaya dia akan membinasakan mereka!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua bait syair ini sungguh sesuai dengan ungkapan yang masyhur, “Membuat tertawa semut di liangnya dan lebah di sarangnya!”</p>



<ol start="10" class="wp-block-list">
<li>Ucapan Al-Hafizh bin Hajar al-Asqalani <em>rahimahullah</em> (wafat 852 H). Beliau berkata dalam kitabnya <em>Fath al-Bari</em> jilid 13, hlm. 34,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Ahlusunah telah sepakat atas wajibnya melarang seseorang mencela salah satu sahabat Nabi disebabkan peperangan yang terjadi di antara mereka, meskipun telah diketahui siapa yang lebih benar dari mereka. Sebab, mereka tidaklah berperang dalam perang-perang itu kecuali berdasarkan ijtihad mereka, sedangkan Allah Ta’ala telah mengampuni orang yang salah dalam berijtihad. Bahkan ditetapkan baginya satu pahala. Adapun orang yang benar dalam berijtihad, mendapatkan dua pahala.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seluruh hadis dan atsar yang diriwayatkan berkaitan dengan keutamaan para sahabat secara umum juga mencakup Muawiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>. Bahkan, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf, atsar yang khusus menyebutkan Muawiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Di antaranya adalah:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz <em>rahimahullah</em> (wafat 101 H). Ibrahim bin Maisarah berkata,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya tidak pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul (menghukum cambuk) seseorang sama sekali, kecuali orang yang mencela Muawiyah. Beliau memukulnya beberapa kali cambukan.” (Diriwayatkan dalam kitab <em>al-Bidayah wa an-Nihayah</em> jilid 11, hlm. 450–451, karya Ibnu Katsir).</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Imam Abdullah bin Mubarak <em>rahimahullah</em> (wafat 181 H). Beliau berkata,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Muawiyah bagi kami adalah tolak ukur. Apabila kami melihat seseorang memandangnya dengan pandangan permusuhan, maka kami mencurigai pandangannya juga terhadap para sahabat lainnya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau juga pernah ditanya tentang Muawiyah, dan beliau menjawab, “Apa yang harus saya katakan terhadap lelaki yang ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Allah mendengar orang yang memuji-Nya’ lalu dia menyambut dengan mengatakan, ‘Ya Tuhan kami, hanya bagi Engkau segala pujian’?! (Yakni dia adalah salah satu sahabat Rasulullah – pen)”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Abdullah bin Mubarak ditanya lagi, “Siapa yang lebih mulia, Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?” Beliau menjawab, “Sungguh tanah yang ada di dua lubang hidung Muawiyah yang membersamai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lebih baik dan lebih utama daripada Umar bin Abdul Aziz!” (Diriwayatkan dalam kitab <em>al-Bidayah wa an-Nihayah</em> jilid 11, hlm. 449, karya Ibnu Katsir).</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Al-Muafa bin Imran al-Maushili <em>rahimahullah</em> (wafat 185 H). Beliau pernah ditanya,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Mana yang lebih utama, Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?” Lalu beliau marah seraya berkata kepada orang yang bertanya, “Apakah kamu menjadikan lelaki dari kalangan sahabat sama seperti lelaki dari kalangan <em>tabi’in</em>?! Muawiyah adalah sahabat, menantu, dan juru tulis Rasulullah, serta orang yang beliau percaya atas wahyu Allah.” (Diriwayatkan dalam kitab <em>al-Bidayah wa an-Nihayah</em> jilid 11, hlm. 450).</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em>. Al-Fadhl bin Ziyad berkata,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku pernah mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) ditanya tentang orang yang mencela Muawiyah dan Amr bin al-Ash, apakah orang itu disebut sebagai orang Syiah Rafidhah?” Beliau menjawab, “Tidaklah dia berani mencela mereka berdua kecuali karena dia punya isi batin yang buruk. Tidaklah seseorang mencela salah satu sahabat melainkan dia punya isi batin yang buruk.” (Diriwayatkan dalam kitab <em>al-Bidayah wa an-Nihayah</em> jilid 11, hlm. 450).</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Abu Taubah ar-Rabi bin Nafi al-Halabi <em>rahimahullah</em> (wafat 241 H). Beliau berkata,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Muawiyah adalah tirai bagi para sahabat Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Apabila ada orang yang berani menyingkap tirai itu, ia akan berani terhadap apa yang ada di balik tirai.” (Diriwayatkan dalam kitab <em>al-Bidayah wa an-Nihayah</em> jilid 11, hlm. 450).</p>



<ol start="6" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Imam Amu Zur’ah ar-Razi <em>rahimahullah</em>. Ada seorang lelaki yang berkata kepada beliau, “Sungguh aku benci kepada Muawiyah!” Beliau lalu berkata kepadanya, “Mengapa?” Dia menjawab, “Karena dialah yang telah membunuh Ali!”</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Zur’ah berkata kepadanya, “Celakalah kamu! Sungguh Tuhannya Muawiyah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dan lawan Muawiyah (Ali) adalah lawan yang mulia. Untuk apa kamu masuk (dalam perselisihan) di antara keduanya?! Semoga Allah meridai mereka berdua.” (Diriwayatkan dalam kitab <em>al-Bidayah wa an-Nihayah</em> jilid 11, hlm. 427).</p>



<ol start="7" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Imam Abu Abdurrahman an-Nasa’i <em>rahimahullah</em> (wafat 303 H). Disebutkan dalam biografi beliau di kitab <em>Tahdzib al-Kamal</em> karya al-Mizzi, bahwa Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em> pernah ditanya tentang Muawiyah, lalu beliau menjawab,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya agama Islam bagaikan rumah yang punya pintu, sedangkan pintu agama Islam adalah para sahabat. Barang siapa yang menyerang para sahabat, maka sesungguhnya dia ingin (menyerang) Islam. Seperti orang yang menggedor pintu, sebenarnya dia ingin memasuki rumah. Oleh sebab itu, barang siapa yang ingin (menyerang) Muawiyah, sebenarnya dia ingin (menyerang) para sahabat.”</p>



<ol start="8" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi <em>rahimahullah</em> (wafat 620 H). Beliau berkata dalam kitabnya <em>Lam’ah al-I’tiqad</em>,</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">“Muawiyah adalah <em>Khal Mu’minin</em> (paman kaum Mukminin, karena dia adalah saudara Ummu Habibah binti Abu Sufyan, istri Rasulullah, Ummul Mu’minin), penulis wahyu Allah, dan salah satu khalifah kaum Muslimin, semoga Allah meridai beliau.”</p>



<ol start="9" class="wp-block-list">
<li>Atsar dari Imam al-Hafizh adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> (wafat 748 H). Beliau berkata dalam kitabnya, <em>Siyar A’lam an-Nubala</em> jilid 3, hlm. 120, “Amirul Mukminin (Muawiyah) adalah raja Islam.”<br></li>



<li>Atsar dari Syaikh Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi <em>rahimahullah</em>. Beliau berkata dalam kitabnya, <em>Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah</em> hlm. 722, “Raja pertama kaum Muslimin adalah Muawiyah. Dia adalah raja terbaik kaum Muslimin.”</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Muawiyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> telah meriwayatkan 130 hadis yang disebutkan dalam <em>al-Kutub as-Sittah</em>—sebagaimana yang disebutkan dalam kitab <em>Khulashah Tadzhib Tahdzib al-Kamal</em> karya al-Khazraji. Empat di antaranya disebutkan dalam <em>Shahih al-Bukhari</em> <em>dan</em> <em>Muslim</em>, empat di antaranya disebutkan dalam <em>Shahih al-Bukhari</em>, serta lima di antaranya disebutkan dalam <em>Shahih Muslim</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam <em>Shahih Muslim</em> diriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda tentang Muawiyah, “Semoga Allah tidak membuat perutnya kenyang.” Hadis ini diriwayatkan dengan sanad yang berasal dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> yang berkata,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dulu aku sedang bermain dengan anak-anak lain, lalu datanglah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sehingga aku bersembunyi ke belakang pintu. Kemudian beliau datang dan memukul punggung antara dua pundakku (sebagai tanda beliau telah menemukannya).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu beliau bersabda, ‘Pergilah dan panggilkan Muawiyah.’ (Lalu aku pergi) lalu aku menghadap kepada beliau dan berkata, ‘Dia sedang makan.’ Kemudian beliau bersabda lagi, ‘Pergilah dan panggilkan Muawiyah.’ (Lalu aku pergi) lalu aku menghadap kepada beliau dan berkata, ‘Dia sedang makan.’ Beliau lalu bersabda, ‘Semoga Allah tidak membuat perutnya kenyang.’” (HR. Imam Muslim no. 6628).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Muslim <em>rahimahullah</em> menutup hadis ini dengan hadis-hadis yang menyebutkan bahwa doa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berisi celaan atau doa buruk terhadap seseorang, tetapi orang itu tidak layak dengan doa itu, maka Allah menjadikan doa itu sebagai pembersih dosa dan menjadi pahala baginya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini seperti sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “تَرِبَتْ يَمِيْنُكَ” (merugilah kamu), “ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ” (semoga ibumu merasakan kehilangan dirimu yang meninggal), “عَقْرَى حَلْقَى” (semoga Allah menjadikan luka di tubuhmu dan sakit di tenggorokanmu), dan “لَا كَبِرَتْ سِنُّكَ” (semoga umurmu tidak bertambah).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Muslim menyebutkan banyak hadis dalam kitab <em>ash-Shahih</em>. Di antaranya adalah hadis yang telah disebutkan di atas. Dan sebelumnya, beliau menyebutkan hadis Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">كَانَتْ عِنْدَ أُمِّ سُلَيْمٍ يَتِيمَةٌ -وَهي أُمُّ أَنَسٍ- فَرَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ اليَتِيمَةَ، فَقالَ: آنْتِ هِيهْ؟ لقَدْ كَبِرْتِ، لا كَبِرَ سِنُّكِ. فَرَجَعَتِ اليَتِيمَةُ إلى أُمِّ سُلَيْمٍ تَبْكِي، فَقالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: ما لَكِ يا بُنَيَّةُ؟ قالتِ الجَارِيَةُ: دَعَا عَلَيَّ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ أَنْ لا يَكْبَرَ سِنِّي، فَالآنَ لا يَكْبَرُ سِنِّي أَبَدًا -أَوْ قالَتْ: قَرْنِي- فَخَرَجَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ مُسْتَعْجِلَةً تَلُوثُ خِمَارَهَا، حتَّى لَقِيَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَقالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: ما لَكِ يا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَقالَتْ: يا نَبِيَّ اللهِ، أَدَعَوْتَ علَى يَتِيمَتي؟! قالَ: وَما ذَاكِ يا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ قالَتْ: زَعَمَتْ أنَّكَ دَعَوْتَ أَنْ لا يَكْبَرَ سِنُّهَا، وَلَا يَكْبَرَ قَرْنُهَا، قالَ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، ثُمَّ قالَ: يا أُمَّ سُلَيْمٍ، أَمَا تَعْلَمِينَ أنَّ شَرْطِي علَى رَبِّي، أَنِّي اشْتَرَطْتُ علَى رَبِّي فَقُلتُ: إنَّما أَنَا بَشَرٌ، أَرْضَى كما يَرْضَى البَشَرُ، وَأَغْضَبُ كما يَغْضَبُ البَشَرُ، فأيُّما أَحَدٍ دَعَوْتُ عليه مِن أُمَّتِي بدَعْوَةٍ ليسَ لَهَا بأَهْلٍ؛ أَنْ يَجْعَلَهَا له طَهُورًا وَزَكَاةً، وَقُرْبَةً يُقَرِّبُهُ بهَا منه يَومَ القِيَامَةِ.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dulu Ummu Sulaim memiliki anak perempuan yatim—dan Ummu Sulaim adalah adalah ibu Anas bin Malik. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat anak yatim itu lalu bersabda, ‘Apakah ini kamu? Kamu sudah sebesar sekarang. Semoga umurmu tidak bertambah.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu anak yatim itu segera pergi kepada Ummu Sulaim sambil menangis. Ummu Sulaim lalu bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai putriku?’ Anak itu menjawab, ‘Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendoakan keburukan untukku, semoga umurku tidak bertambah. Jadi sekarang umurku tidak akan bertambah lagi.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ummu Sulaim bergegas keluar rumah dan segera membebatkan kerudungnya, hingga dia bertemu dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lalu bertanya kepadanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Ummu Sulaim?’ Dia menjawab, ‘Wahai Nabi Allah, apakah engkau mendoakan keburukan kepada anak yatimku?’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau bertanya-tanya, ‘Doa apa itu, wahai Ummu Sulaim?’ Dia menjawab, ‘Anak itu berkata bahwa engkau mendoakan keburukan untuknya, semoga umur dan masanya tidak bertambah.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tertawa, lalu bersabda, ‘Wahai Ummu Sulaim, apakah kamu tidak tahu syaratku kepada Tuhanku? Aku mensyaratkan kepada Tuhanku dengan berkata, “Aku adalah manusia biasa, dapat merasa rida sebagaimana manusia lainnya merasa rida, merasa marah sebagaimana manusia lainnya merasa marah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sehingga siapa saja dari umatku yang aku doakan dengan keburukan, sedangkan dia tidak layak dengan doa itu, maka Allah menjadikan doa itu sebagai pembersih dan penyuci (dari dosa), dan ibadah yang mendekatkannya kepada Allah pada hari kiamat.”’” (HR. Imam Muslim no. 2603).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah hadis tersebut, Imam Muslim <em>rahimahullah</em> langsung menyebutkan hadis yang di dalamnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda tentang Muawiyah, “Semoga Allah tidak membuat perutnya kenyang.” Ini adalah bentuk sikap Imam Muslim <em>rahimahullah</em> yang sangat baik dan bagusnya urutan hadis dalam kitab <em>ash-Shahih</em>. Tentu ini berasal dari pemahamannya yang jeli dan penetapannya yang bagus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> jilid 16, hlm. 156, “Imam Muslim <em>rahimahullah</em> telah memahami dari hadis ini bahwa Muawiyah tidak layak mendapatkan doa yang buruk. Oleh sebab itu, beliau meletakkan hadis tersebut dalam bab ini, sedangkan selain beliau meletakkan hadis ini dalam bab <em>manaqib</em> (keutamaan-keutamaan) Muawiyah.” Yakni para ulama selain Imam Muslim meletakkan hadis di bab keutamaan-keutamaan Muawiyah, karena pada hakikatnya sabda Rasulullah itu adalah doa kebaikan baginya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya telah menulis risalah yang berjudul <em>Aqidah Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah fi ash-Shahabah al-Kiram Radhiyallahu ‘Anhum wa Ardhahum</em> (Akidah Ahlusunah waljamaah terhadap para sahabat yang mulia—semoga Allah meridai mereka dan membuat mereka rida). Risalah tersebut telah dicetak secara terpisah dan dicetak dalam kumpulan buku dan risalahku (terletak di jilid 4, hlm. 191–205).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan risalah lainnya yang berjudul <em>Min Aqwal al-Munshifin fi ash-Shahabi al-Khalifah Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu</em> (Di antara pendapat-pendapat para ulama yang adil tentang seorang sahabat, khalifah Muawiyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>) yang telah dicetak secara terpisah dan juga dicetak dalam kumpulan buku dan risalahku (terletak di jilid 4, hlm. 397–424).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara orang yang telah mencemarkan kehormatan para sahabat yang mulia <em>radhiyallahu ‘anhum</em> adalah orang zindiq dari sekte Syiah Rafidhah yang bernama Yasir al-Habib (Arti nama ini: mudah dan dicintai); tapi hakikatnya dia adalah <em>’Asir Baghidh</em> (susah dan dibenci). Juga orang zindiq yang mengaku bagian dari Ahlusunah tapi hanya dusta dan tipuan, yang bernama Hasan Farhan al-Maliki.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya telah menulis risalah bantahan terhadap <em>Asir Baghidh</em> ini dengan judul <em>Aghuluw fi Ba’dh al-Qarabah wa Jafa’ fi al-Anbiya wa ash-Shahabah?!</em> (Apakah Benar Sikap Fanatik Berlebihan kepada Sebagian Keluarga Nabi, Tetapi Antipati Terhadap Para Nabi dan Sahabat?!) telah dicetak secara terpisah dan dicetak juga dalam kumpulan buku dan risalahku (terletak di jilid 7, hlm. 7–31).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah risalah bantahan terhadap ucapan Yasir al-Habib yang sangat keji, kotor, dan buruk. Dia mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> adalah makhluk terburuk di alam semesta ini sejak awal penciptaan, kedua sahabat ini diazab di neraka Jahannam dengan azab yang lebih berat daripada azab Iblis di neraka. Dia juga berpandangan bahwa Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya lebih rendah derajatnya daripada 12 imam yang mereka miliki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya telah menulis dua artikel sebagai bantahan terhadap Hasan Farhan al-Maliki ini, salah satunya dengan judul <em>al-Intishar li-Shahabah al-Akhyar fi Radd Abathil ‘ala Hasan al-Maliki</em> (Pembelaan bagi para sahabat terbaik, bantahan atas kebatilan-kebatilan Hasan al-Maliki). Yang kedua dengan judul <em>al-Intishar li-Ahli as-Sunnah wa al-Hadis fi Radd Abathil ‘ala Hasan al-Maliki</em> (Pembelaan bagi Ahlusunah dan hadis, bantahan atas kebatilan-kebatilan Hasan al-Maliki).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya telah dicetak secara terpisah dan dicetak dalam kumpulan buku dan artikelku. Orang yang membaca dua artikelku ini akan mengetahui kesesatan Hasan al-Maliki, bahkan itu dapat diketahui hanya dengan membaca pendahuluan dan daftar isi dari dua artikel tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara kesesatannya, dia berpandangan bahwa Abbas dan anaknya, Abdullah bin Abbas, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash, dan para sahabat lainnya <em>radhiyallahu ‘anhum</em> yang masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah bukan termasuk sahabat Nabi secara syariat. Namun, sebutan mereka sebagai sahabat hanya definisi secara bahasa saja, seperti halnya sebutan sahabat bagi orang-orang munafik dan kafir (karena menemani Nabi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia juga memasukkan Mughirah bin Syu’bah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ke dalam kelompok para sahabat ini akibat kedengkiannya kepada beliau. Padahal beliau adalah sahabat yang ikut menyaksikan perjanjian Hudaibiyah (yakni telah masuk Islam sebelum itu). Bahkan, Mughirah bin Syu’bah adalah orang yang menyandang pedangnya di dekat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk menjaga beliau. Mughirah termasuk orang-orang yang dimaksud dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (baiat Ridwan di Hudaibiyah) …” (QS. Al-Fath: 18).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembatasan sebutan sahabat hanya bagi orang-orang yang telah beriman sebelum perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu bid’ah abad ke-15 Hijriyah ini. Saya juga telah menulis artikel tentang Hasan Farhan al-Maliki ini dengan judul <em>Af’a Ta’udu ila Raf’i Ra’siha min Jadid li-Naftsi Sumumiha</em> (Ular kobra kembali mengangkat kepalanya untuk menyemburkan bisanya) dan telah dipublikasikan pada tanggal 15 Muharram 1431 H.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara hal yang disayangkan adalah sebagian saluran televisi dan surat kabar ikut mempublikasikan ucapan rendahan dari beberapa orang yang berusaha melecehkan Amirul Mukminin dan raja kaum Muslimin yang pertama dan terbaik ini, yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh sebab itu, saya berinisiatif untuk menulis artikel ini sebagai bentuk pembelaan bagi para sahabat secara umum dan bagi Muawiyah secara khusus, dan sebagai nasihat bagi orang-orang tersebut dan yang berusaha merendahkan salah satu sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, serta agar setiap Muslim dapat memiliki penghormatan kepada kaum yang telah terhimpun bagi mereka kesucian hati dan lisan, yang Allah <em>Ta’ala</em> berfirman tentang mereka:</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhanku kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhanku kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” <em></em>(QS. Al-Hasyr: 10).</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph" style="font-size:36px">رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“(Mereka berdoa): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).’” <em></em>(QS. Ali Imran: 8).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya Tuhanku kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhanku kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://al-abbaad.com/articles/82-1433-09-06">https://al-abbaad.com/articles/82-1433-09-06</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1fUwzD49vOPCVOlrDQQL81q1ytiCpUzOB/view?usp=sharing">PDF Sumber Artikel</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8641</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah-Kisah tentang Bakti kepada Orang Tua</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8636-kisah-kisah-tentang-bakti-kepada-orang-tua.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2026 07:16:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Birrul Walidain]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8636</guid>

					<description><![CDATA[Bakti kepada kedua orang tua adalah wasiat para nabi ‘alaihimussalam. Lihatlah sang kekasih Allah, Nabi Ibrahim, bapak para nabi, pemimpin orang-orang hanif, memanggil ayahnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang—meskipun ayahnya kafir dan enggan beriman—dengan panggilan, “Wahai ayahku!” saat beliau mengajaknya untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pemberi balasan, dan untuk meninggalkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bakti kepada kedua orang tua adalah wasiat para nabi <em>‘alaihimussalam</em>. Lihatlah sang kekasih Allah, Nabi Ibrahim, bapak para nabi, pemimpin orang-orang hanif, memanggil ayahnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang—meskipun ayahnya kafir dan enggan beriman—dengan panggilan, “Wahai ayahku!” saat beliau mengajaknya untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pemberi balasan, dan untuk meninggalkan kesyirikan dan kesesatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika ayahnya menolak dan berpaling, ia mengancam Nabi Ibrahim akan memukul dan mengusirnya. Namun, balasan indah dari beliau adalah:&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.’” (QS. Maryam: 47)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah juga memberi pujian bagi Nabi Yahya bin Zakaria <em>‘alaihimassalam</em> dalam firman-Nya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah orang-orang yang begitu mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sehingga mereka melaksanakan wasiat beliau untuk berbakti kepada orang tua.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Abu Hurairah</strong> <strong><em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulu apabila hendak keluar rumah, Abu Hurairah berdiri di depan pintu kamar ibunya dan berkata, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, wahai ibuku!” Lalu ibunya menjawab, “Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, wahai anakku.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah merahmati engkau yang telah mengasuhku di masa kecil!” Ibunya pun menanggapi, “Semoga Allah juga merahmatimu, sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku di masa dewasa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Abdullah bin Mas’ud</strong> <strong><em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu hari, ibunya meminta air minum, sehingga ia pergi untuk mengambil air minum. Tapi ketika ia kembali, ibunya sudah tertidur, sehingga ia tetap berdiri membawa air di samping ibunya hingga pagi. Ia tidak membangunkan ibunya karena khawatir akan mengganggunya, tidak pula pergi karena khawatir ibunya terbangun lalu meminta air minum tapi tidak ada air.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ibnu al-Hasan at-Tamimi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu ketika ia hendak membunuh kalajengking, tapi tidak dapat menangkapnya hingga kalajengking itu memasuki lubang di rumahnya. Ia lalu memasukkan tangannya dan menutup lubang itu dengan jari-jarinya, sehingga ia disengat oleh kalajengking tersebut. Ia pun ditanya, “Mengapa engkau melakukan itu?” Ia menjawab, “Aku khawatir kalajengking itu keluar lalu mendatangi ibuku dan menyengatnya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ibnu Aun al-Muzani</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu hari ibunya pernah memanggilnya, tapi ia menjawab panggilan itu dengan suara yang lebih keras daripada suara ibunya agar sang ibu dapat mendengar. Namun itu membuatnya menyesal, hingga ia memerdekakan dua budak (demi menebus kesalahannya).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kisah nyata</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulu seorang dai sedang dalam kunjungan ke salah satu negara Eropa. Ketika ia duduk di stasiun kereta, ia melihat wanita tua berusia sekitar 70-an sedang memegang buah apel di tangannya dan berusaha memakannya dengan sisa gigi yang ia punya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dai itu lalu duduk di samping wanita itu dan mengambil apel tersebut, kemudian memotongnya dan memberikannya lagi kepada wanita itu agar dapat memakannya dengan mudah. Tiba-tiba wanita itu meledak tangisannya, sehingga dai itu bertanya, “Mengapa Anda menangis?” Ia menjawab, “Sudah 10 tahun tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara, dan anak-anakku tidak pernah menjengukku. Lalu mengapa Anda melakukan itu untukku?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dai itu menjawab, “Agama yang aku anut memerintahkanku untuk melakukan itu, juga memerintahkanku untuk menaati dan berbakti kepada orang tuaku.” Ia melanjutkan, “Di negaraku, ibuku tinggal bersamaku di rumahku, beliau seumuran dengan Anda. Beliau hidup bagaikan seorang ratu. Kami tidak keluar rumah kecuali dengan izinnya, tidak makan sebelum beliau makan, dan kami—anak-anaknya—selalu berkhidmat kepadanya. Inilah yang diajarkan oleh agama kami.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wanita itu kemudian bertanya, “Apa agamamu?” Ia menjawab, “Islam.” Akhirnya peristiwa itu menjadi sebab wanita tua tersebut memeluk Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kisah Amirul Mu’minin Umar</strong> <strong><em>radhiyallahu ‘anhu</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Diriwayatkan dari Umar bahwa dulu ada lelaki dari pemuka kaumnya yang punya anak bernama Kilab. Ia berhijrah ke kota Madinah pada masa kekhalifahan Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Ia tinggal di sana beberapa lama. Suatu hari ia bertemu dengan beberapa sahabat Nabi, lalu ia bertanya kepada mereka, “Amalan apa yang terbaik dalam Islam?” Mereka menjawab, “Berjihad.” Kilab lalu pergi menemui Umar karena ingin ikut berjihad. Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> kemudian mengirimnya bersama pasukan ke negeri Persia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika ayahnya mengetahui hal tersebut, ayahnya merangkulnya seraya berkata kepadanya, “Janganlah engkau meninggalkan ayah dan ibumu yang sudah tua dan lemah ini. Keduanya telah merawatmu sejak kecil, hingga ketika mereka berdua membutuhkanmu, apakah engkau lalu tega meninggalkan mereka?” Kilab menjawab, “Aku meninggalkan kalian berdua demi sesuatu yang lebih baik bagiku.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya Kilab tetap ikut pergi berperang setelah berusaha membuat ayahnya merelakannya. Namun, Kilab terlambat kembali dari perang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu hari, ayah dan ibunya sedang duduk di naungan pohon kurma milik mereka, ternyata di sana ada burung merpati yang sedang memanggil-manggil anaknya yang masih kecil, bermain dengannya, dan terbang ke sana kemari. Ayahnya melihat merpati itu sehingga ia menangis, lalu ibunya melihat suaminya menangis sehingga ia ikut menangis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian sang ayah mengalami penurunan penglihatan. Ketika anaknya sudah terlambat pulang cukup lama, ia pergi menemui Umar bin Khattab di masjid. Ia berkata kepada Umar, “Demi Allah, wahai Ibnu Khattab, kalau engkau tidak juga mengembalikan anakku kepadaku, niscaya aku akan berdoa untuk keburukanmu di padang Arafah!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> lalu menulis risalah agar anaknya segera dipulangkan. Ketika Kilab pulang dan menemui Umar, Umar bertanya kepadanya, “Bagaimana kebaktianmu kepada ayahmu?”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kilab menjawab, “Dulu saya sangat memuliakannya dan mengurus keperluannya. Dulu jika saya ingin memerah susu untuknya, saya mendatangi unta betina yang paling banyak susunya di antara unta-untanya, lalu saya mengistirahatkan unta itu dan membiarkannya hingga tenang. Kemudian saya membasuh puting-puting susunya hingga dingin, lalu memerahnya untuk dia dan memberi minum kepadanya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar lalu mengutus utusan untuk memanggil ayah Kilab. Akhirnya ayah Kilab datang dan menemui Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dalam keadaan terseok-seok, mata yang sudah rabun, dan punggung yang telah merunduk. Lalu Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bertanya kepadanya, “Bagaimana kabarmu, wahai ayah Kilab?” Ia menjawab, “Sebagaimana yang engkau lihat, wahai Amirul Mu’minin!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar bertanya lagi, “Apa hal yang paling engkau harapkan saat ini?” Ia menjawab, “Aku tidak mengharapkan apa pun saat ini. Aku tidak merasa bahagia dengan kebaikan dan tidak sedih dengan keburukan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar lalu bertanya lagi, “Tidakkah ada hal lain?” Ia menjawab, “Ada, aku berharap Kilab—anakku—bersamaku sekarang, agar aku bisa mencium aromanya dan memeluknya sebelum aku mati.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> lalu menangis dan berkata, “Engkau akan mencapai apa yang engkau harapkan, insyaallah!” Kemudian Umar memerintahkan Kilab untuk keluar dan memerah susu unta untuk ayahnya sebagaimana dulu ia lakukan, lalu mengirim susu itu kepada sang ayah. Kilab lalu pergi dan melakukan hal tersebut, lalu datang sambil membawa sewadah susu kepada Umar. Kemudian Umar mengambilnya dan berkata kepada sang ayah, “Minumlah wahai ayah Kilab!”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika sang ayah mengambil wadah itu untuk meminumnya dan mendekatkannya ke mulutnya, ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin! Demi Allah, aku mencium aroma kedua tangan Kilab.” Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> lalu menangis dan berkata, “Ini Kilab sudah ada di sisimu, kami telah menghadirkannya untukmu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang ayah lalu segera memeluk dan mencium anaknya sambil menangis. Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan orang-orang yang hadir di sana juga ikut menangis. Kemudian Umar berkata, “Wahai Kilab, tetaplah bersama kedua orang tuamu dan berjihadlah dengan berbakti kepada mereka selagi mereka masih hidup. Lalu perhatikanlah urusanmu setelah itu!”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Seruan tegas</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Wahai para pemuda, menjaga hubungan dengan orang tua, mencium tangan ayah dan ibu merupakan ciri orang-orang yang sukses dan berhasil. Terlebih lagi mendengar ucapan mereka, mengalah dengan pendapat mereka, dan berkhidmah kepada mereka hingga akhir napas. Lalu sampai kapan engkau akan memutus hubungan dengan mereka, mengingkari jasa mereka, dan membuat mereka lelah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidakkah engkau melihat tetes air mata ibu yang bercucuran karena kesedihan atas kedurhakaanmu kepadanya, seberapa besar hal itu di hadapan Allah? Saya tidak mampu lagi berkomentar.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.alukah.net/culture/0/103636/نماذج-وقصص-عن-بر-الوالدين">https://www.alukah.net/culture/0/103636/نماذج-وقصص-عن-بر-الوالدين</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/11POy350KWNmJHIHnDWGJcgVgx6JE7KQK/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8636</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Biografi Nabi Ismail: Menjadi Rasul dan Bapak Penutur Nonasli Bahasa Arab (Bagian 5)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8622-biografi-nabi-ismail-menjadi-rasul-dan-bapak-penutur-nonasli-bahasa-arab-bagian-5.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 09:48:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8622</guid>

					<description><![CDATA[Keenam: Apakah Ismail ‘Alaihis Salām Adalah Penutur Bahasa Arab Pertama? Bangsa Arab terbagi menjadi dua kelompok: kelompok Arab ‘Āribah (penutur asli bahasa Arab), yaitu kabilah Jurhum, ‘Amaliqah, dan penduduk Yaman; dan kelompok Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab), yaitu Nabi Ismail ‘alaihis salām serta anak keturunannya. Ismail ‘alaihis salām mempelajari dasar bahasa Arab dari suku [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keenam: Apakah Ismail ‘Alaihis Salām Adalah Penutur Bahasa Arab Pertama?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bangsa Arab terbagi menjadi dua kelompok: kelompok Arab ‘Āribah (penutur asli bahasa Arab), yaitu kabilah Jurhum, ‘Amaliqah, dan penduduk Yaman; dan kelompok Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab), yaitu Nabi Ismail ‘alaihis salām serta anak keturunannya. Ismail ‘alaihis salām mempelajari dasar bahasa Arab dari suku Jurhum. Setelah mempelajarinya, Allah mengilhaminya bahasa Arab yang fasih dan jelas, lalu ia bisa bertutur menggunakan bahasa Arab tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Hajar raḥimahullāh berkata dalam <em>Fatḥul Bārī</em> (6/537), “Dikatakan bahwa Qaḥṭan adalah penutur pertama bahasa Arab, dan ia adalah bapak penutur asli bahasa Arab, sementara Ismail, ia adalah bapak penutur nonasli bahasa Arab.” Selesai kutipan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam <em>Lisānul ‘Arab</em> karya Ibnu Manẓur (1/587), disebutkan, “Para ulama berbeda pendapat mengenai bangsa Arab: Mengapa mereka disebut Arab? Sebagian ulama berpendapat bahwa orang pertama yang Allah beri kemampuan berbahasa Arab adalah Ya‘rub bin Qaḥṭan. Ia adalah leluhur seluruh penduduk Yaman, dan mereka adalah penutur asli bahasa Arab (Arab ‘Aribah). Ismail bin Ibrahim ‘alaihimas salām tumbuh bersama mereka dan berbicara dengan bahasa mereka. Oleh karena itu, ia dan keturunannya disebut Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab). Ada pula yang berpendapat bahwa keturunan Ismail tumbuh di ‘Arabah, sebuah wilayah di Tihamah, sehingga mereka dinisbatkan kepada negeri tersebut.” Selesai.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Katsir raḥimahullāh berkata dalam <em>Al-Bidāyah wan-Nihāyah</em> (1/283), “Orang-orang Arab yang hidup sebelum Ismail ‘alaihis salām disebut Arab ‘Āribah. Mereka terdiri dari banyak kabilah, di antaranya ‘Ad, Tsamud, Jurhum, Ṭasm, Jadis, Umaym, Madyan, ‘Imlaq, ‘Abil, Jasim, Qaḥṭan, Bani Yaqṭan, dan selain mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun Arab Musta‘ribah adalah keturunan Ismail bin Ibrahim Al-Khalīl. Ismail bin Ibrahim ‘alaihimas salām merupakan orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab dengan fasih dan sangat jelas. Ia sebelumnya mempelajari bahasa Arab dari kabilah Jurhum yang tinggal di sekitar ibundanya, Hajar, di Tanah Haram (Makkah). Namun, Allah menjadikannya mampu berbicara dengan bahasa tersebut dengan kefasihan dan kejelasan yang sangat tinggi. Demikian pula Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan bahasa tersebut.” Selesai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hakim meriwayatkan dalam <em>Al-Mustadrak</em> (4029), dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata, “(Ibrahim) orang pertama yang berbicara bahasa Arab dan meletakkannya dalam tulisan yang dibuat mengikuti ucapan serta cara lafaznya, kemudian dijadikan satu kesatuan tulisan seperti ‘bismillāhir-raḥmānir-raḥīm’ yang tersambung, hingga kemudian putranya, Ismail bin Ibrahim ṣalawātullāhi ‘alaihima, memisahkan bagian-bagian tulisan tersebut.” Al-Hakim berkata, “Hadis ini sanadnya sahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabi mengkritiknya dalam <em>At-Talkhīṣ</em> dengan mengatakan, “Abdul ‘Aziz bin ‘Imran adalah perawi yang lemah.” Selesai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diriwayatkan dari ‘Ali, dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">أَوَّلُ مَنْ فَتَقَ لِسَانَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ الْمُبِينَةِ إِسْمَاعِيلُ، وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Orang pertama yang membuka lisannya (untuk berbicara) dengan bahasa Arab yang fasih adalah Ismail, ketika ia berusia empat belas tahun.” As-Suyuthi berkata dalam <em>Al-Jāmi‘ Ash-Shaghīr</em> (hlm. 4346), “Asy-Syirazi dalam <em>Al-Alqāb</em>, dari ‘Ali &#8230;” Al-Albani menilainya sahih dalam <em>Shahīh Al-Jāmi‘</em> (2581).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Hajar raḥimahullāh berkata dalam <em>Fatḥul Bārī</em> (6/403), “Ismail tumbuh di antara anak-anak mereka. Perkataan ‘dan ia mempelajari bahasa Arab dari mereka’ mengisyaratkan bahwa bahasa ibu dan ayahnya bukanlah bahasa Arab. Hal ini melemahkan pendapat orang yang meriwayatkan bahwa ia adalah orang pertama yang berbicara bahasa Arab. Riwayat tersebut terdapat dalam hadis Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan Al-Hakim dalam <em>Al-Mustadrak</em>, dengan lafaz: ‘Orang pertama yang berbicara bahasa Arab adalah Ismail.’ Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkannya dalam <em>An-Nasab</em>, dari hadis ‘Ali dengan sanad yang hasan, yang mengatakan: ‘Orang pertama yang Allah bukakan lisannya dengan bahasa Arab yang fasih adalah Ismail.’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan batasan ini, kedua riwayat tersebut dapat dikompromikan, sehingga ungkapan ‘orang pertama’ dalam hal ini adalah berdasarkan tambahan dalam kefasihan bahasa, bukan sebagai penutur pertama secara mutlak. Setelah mempelajari dasar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, Allah mengilhamkan kepadanya bahasa Arab yang fasih dan jelas, lalu ia berbicara dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini diperkuat oleh kutipan Ibnu Hisyam dari Asy-Syarqi bin Qathami: “Bahasa Arab Ismail lebih fasih daripada bahasa Arab Ya‘rub bin Qahthan serta sisa-sisa bangsa Himyar dan Jurhum. Ada kemungkinan bahwa status sebagai orang pertama dalam hadis tersebut adalah Ismail, dari sisi jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain dari keturunan Ibrahim. Jadi, Ismail adalah orang pertama dari keturunan Ibrahim yang berbicara dengan bahasa Arab. Ibnu Duraid berkata dalam kitab <em>Al-Wisyah</em>, ‘Orang pertama yang berbahasa Arab adalah Ya‘rub bin Qahthan, kemudian Ismail.’ Aku katakan, ‘Ini tidak sesuai dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa seluruh bangsa Arab berasal dari keturunan Ismail.’” Selesai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Munawi raḥimahullāh berkata dalam <em>Faydhul Qadir</em> (2/203), “Maksud orang pertama hanya terbatas pada tambahan kejelasan dan kesempurnaan kefasihan bahasa tersebut, bukan penutur pertama secara mutlak, karena kalau itu adalah Ya‘rub bin Qahthan.” Selesai kutipan. Lihat jawaban pertanyaan nomor (458860).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketujuh: Ismail Adalah Rasul bagi Siapa?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Katsir raḥimahullāh berkata dalam <em>Qashash Al-Anbiyāʾ</em> (1/295) bahwa Ismail ‘alaihis salām adalah seorang rasul kepada penduduk daerah tersebut dan wilayah sekitarnya, dari kalangan suku Jurhum, ‘Amaliqah, dan penduduk Yaman, semoga selawat dan salam Allah tercurah kepada beliau. Ketika kematiannya telah dekat, ia berwasiat kepada saudaranya, Ishak, dan menikahkan putrinya, Nasmah, dengan keponakannya, Al-‘Aish bin Ishak. Dari pernikahan tersebut lahirlah bangsa Romawi, dan mereka disebut Bani Al-Ashfar karena warna kekuningan yang terdapat pada Al-‘Aish.” Selesai.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Catatan</strong>: Orang-orang yang menyebut Al-Hijr (area berbentuk setengah lingkaran di samping Ka‘bah, pen.) sebagai “Hijr Ismail” tidaklah memiliki dasar, dan Ismail ‘alaihis salām tidak mengetahui tentang tempat ini, karena Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salām telah membangun Ka‘bah secara utuh, yang mencakup arena Al-Hijr ini. Tidak terdapat hadis marfuk yang sahih bahwa Ismail ‘alaihis salām dimakamkan di tempat ini atau Hajar dimakamkan di dalamnya. Namun, terdapat atsar maukuf dengan sanad-sanad yang lemah dan sangat lemah yang menunjukkan bahwa makam Ismail ‘alaihis salām berada di Al-Hijr. Lihat mengenai hal tersebut dalam <em>Taḥdzīr As-Sājid min Ittikhādz Al-Qubūr Masājid</em> karya Syekh Al-Albani raḥimahullāh, hlm. 75–76. Lihat pula jawaban nomor (22004). Wallāhu a‘lam.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8622</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Biografi Nabi Ismail: Sifat-Sifatnya dalam Al-Qur’an (Bagian 4)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8608-biografi-nabi-ismail-sifat-sifatnya-dalam-al-quran-bagian-4.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2026 06:46:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8608</guid>

					<description><![CDATA[Keempat: Sifat-Sifat Ismail ‘Alaihis Salām dalam Al-Qur’an Al-Qur’an sering menyebutkan sifat-sifat para nabi agar kita dapat meneladan mereka. أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An‘am: 90) Allah Ta‘ālā berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keempat: Sifat-Sifat Ismail ‘Alaihis Salām dalam Al-Qur’an</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Qur’an sering menyebutkan sifat-sifat para nabi agar kita dapat meneladan mereka.</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An‘am: 90)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan ceritakanlah (kisah) Ismail di dalam Kitab (Al-Qur&#8217;an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar dalam menepati janji dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)</p>



<p class="wp-block-paragraph">At-Tabari raḥimahullāh (15/561) berkata, “Dan ingatlah wahai Muhammad di dalam Kitab tentang Ismail putra Ibrahim. Ceritakanlah kisahnya! Sesungguhnya ia tidak pernah mengingkari janjinya dan tidak pernah menyelisihinya. Akan tetapi, apabila ia berjanji kepada Tuhannya atau kepada salah seorang hamba-Nya, ia memenuhi janjinya.” Selesai kutipan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kisah penyembelihan, tampak kepada kita betapa besar bakti Ismail kepada ayahnya ‘alaihimas salām dan betapa agung ketundukan keduanya terhadap perintah Allah Ta‘ālā.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kelima: Beliau Memerintahkan Keluarganya untuk Melaksanakan Salat dan Zakat, dan Beliau Adalah Orang yang Diridai di Sisi Tuhannya</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan dia (Ismail) senantiasa menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 55)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syekh Ibnu ‘Utsaimin raḥimahullāh, ketika menjelaskan ayat tersebut, berkata, “Seseorang bertanggung jawab atas keluarganya dan bertanggung jawab atas pendidikan mereka, bahkan meskipun mereka masih kecil, apabila mereka sudah mumayiz. Adapun anak yang belum mumayiz, maka ia diperintahkan sesuai dengan apa yang dapat dipahami oleh akalnya.” Selesai kutipan dari <em>Syarḥ Riyāḍhuṣ Ṣāliḥīn</em> (3/168).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Al-Hasan, ia berkata, “Barang siapa memiliki penasihat dalam dirinya sendiri, maka dia akan memiliki penjaga bagi dirinya dari Allah. Semoga Allah merahmati orang yang menasihati dirinya sendiri dan keluarganya, lalu berkata, ‘Wahai keluargaku, (perhatikan) salat kalian! salat kalian! zakat kalian! zakat kalian! tetangga kalian! tetangga kalian! orang-orang miskin (di sekitar) kalian! orang-orang miskin (di sekitar) kalian! Semoga Allah merahmati kalian pada hari kiamat.’ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memuji seorang hamba yang amalnya seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Dan dia (Ismail) senantiasa menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.’” (QS. Maryam: 55). Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam <em>An-Nafaqah ‘ala Al-‘Iyāl</em> (333), 1/506.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hafiz Ibnu Katsir raḥimahullāh secara ringkas menyebutkan sifat-sifat mulia yang terdapat dalam Al-Qur’an dan pujian Allah kepadanya (Ismail), bahwa Allah Ta‘ālā telah memujinya dan menyifatinya dengan sifat santun, sabar, menepati janji, menjaga salat, serta memerintahkan keluarganya untuk melaksanakannya agar mereka terhindar dari azab. Semua itu disertai dengan dakwah beliau untuk beribadah kepada Tuhan seluruh makhluk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَبَشَّرۡنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيۡمٍ‏ . فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰى​ؕ قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ​ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ‏</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun. Ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Dengan izin Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 101–102)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka ia memenuhi keinginan ayahnya dalam perkara yang diperintahkan kepada beliau, dan berjanji kepada beliau bahwa ia akan bersabar. Ia pun menepati janjinya dan bersabar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا . وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Kitab. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar dalam menepati janji dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia selalu menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 54–55)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā juga berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاذۡكُرۡ عِبٰدَنَاۤ اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ اُولِى الۡاَيۡدِىۡ وَالۡاَبۡصَارِ‏ . اِنَّاۤ اَخۡلَصۡنٰهُمۡ بِخَالِصَةٍ ذِكۡرَى الدَّارِ​ۚ‏ . وَاِنَّهُمۡ عِنۡدَنَا لَمِنَ الۡمُصۡطَفَيۡنَ الۡاَخۡيَارِؕ‏ . وَاذۡكُرۡ اِسۡمٰعِيۡلَ وَ الۡيَسَعَ وَذَا الۡكِفۡلِ​ؕ وَكُلٌّ مِّنَ الۡاَخۡيَارِؕ‏ ﻿﻿</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan ingatlah hamba-hamba Kami; Ibrahim, Ishak, dan Ya‘qub yang memiliki tangan (kekuatan) dan penglihatan (kecerdasan). Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan mengingat negeri akhirat, dan sungguh, mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik. Dan ingatlah Ismail, Ilyasa‘, dan Zulkifli! Semuanya termasuk orang-orang yang terbaik.” (QS. Shad: 45–48)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā juga berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِدۡرِيۡسَ وَذَا الۡكِفۡلِ​ؕ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيۡنَ​ ۖ​ۚ‏ ﻿﻿ . وَاَدۡخَلۡنٰهُمۡ فِىۡ رَحۡمَتِنَا ؕ اِنَّهُمۡ مِّنَ الصّٰلِحِيۡنَ‏</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar, dan Kami memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 85–86)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اِنَّاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلَيۡكَ كَمَاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى نُوۡحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنۡۢ بَعۡدِهٖ​ ۚ وَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَالۡاَسۡبَاطِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya &#8230;” (QS. An-Nisa: 163)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā juga berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">قُوۡلُوۡٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنۡزِلَ اِلَيۡنَا وَمَآ اُنۡزِلَ اِلٰٓى اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya! &#8230;’” (QS. Al-Baqarah: 136)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ayat yang serupa juga terdapat pada surah lainnya. Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اَمۡ تَقُوۡلُوۡنَ اِنَّ اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَالۡاَسۡبَاطَ كَانُوۡا هُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰى​ؕ قُلۡ ءَاَنۡـتُمۡ اَعۡلَمُ اَمِ اللّٰهُ​ ؕ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ataukah kalian mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya adalah orang-orang Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, ‘Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah? &#8230;’” (QS. Al-Baqarah: 140)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah menyebutkan setiap sifat terpuji tentang beliau, menjadikan beliau sebagai nabi dan rasul-Nya, membebaskan beliau dari segala sesuatu yang dituduhkan kepada beliau oleh orang-orang bodoh, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar beriman kepada apa yang diturunkan kepada beliau.” Selesai kutipan dari <em>Al-Bidāyah wan-Nihāyah</em> (1/443–444).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8608</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Biografi Nabi Ismail: Peristiwa Penyembelihan (Bagian 3)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8600-biografi-nabi-ismail-peristiwa-penyembelihan-bagian-3.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2026 11:54:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8600</guid>

					<description><![CDATA[Ketiga: Ismail dan Peristiwa Penyembelihan Allah Ta‘ālā berfirman, فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ * فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ * فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ * وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ * قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga: Ismail dan Peristiwa Penyembelihan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ * فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ * فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ * وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ * قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ * إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ * وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat penyantun. Ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Dengan izin Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 101–107)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lihat pula tafsir ayat-ayat tersebut pada jawaban nomor: 5522. Pendapat yang benar adalah bahwa putra yang hendak disembelih ialah Ismail ‘alaihis salām, bukan Ishak ‘alaihis salām. Ibnu Taimiyah raḥimahullāh berkata, “Secara umum, perselisihan mengenai masalah ini memang masyhur. Namun, yang wajib diyakini dengan pasti adalah bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih ialah Ismail. Inilah pendapat yang didukung oleh Al-Qur’an, Sunah, dan berbagai dalil yang masyhur. Inilah pula yang ditunjukkan oleh Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah ini menunjukkan bahwa putra yang akan disembelih adalah Ismail dari beberapa sisi. Di antaranya, bahwa Allah terlebih dahulu memberikan kabar gembira tentang putra yang akan disembelih dan menyebutkan kisahnya terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan penyebutan kisah tersebut, Allah berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ * وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan Kami memberikan kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Dan Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak.” (QS. Ash-Shaffat: 112–113)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, jelas bahwa itu adalah dua kabar gembira yang berbeda, yaitu kabar gembira tentang putra yang diperintahkan untuk disembelih dan kabar gembira yang kedua tentang kelahiran Ishak. Ini gamblang sekali. Hal lain yang menunjukkan bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih bukanlah Ishak ialah firman Allah Ta‘ālā,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lalu Kami menyampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan setelah Ishak akan lahir Ya‘qub.” (QS. Hud: 71)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana mungkin setelah itu Allah memerintahkan agar Ishak disembelih? Kabar gembira tentang kelahiran Ya‘qub mengharuskan bahwa Ishak akan tetap hidup hingga memiliki seorang putra bernama Ya‘qub. Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa peristiwa penyembelihan terjadi sebelum kelahiran Ya‘qub. Bahkan, Ya‘qub baru lahir setelah wafatnya Ibrahim ‘alaihis salām, sedangkan peristiwa penyembelihan terjadi ketika Ibrahim masih hidup, tanpa perlu diragukan. (<em>Majmū‘ Al-Fatāwā</em>, 4/335)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Ḥāfiẓ Ibnu Katsir raḥimahullāh berkata dalam <em>Al-Bidāyah wan-Nihāyah</em> (1/442), “Nabi Ibrahim Al-Khalīl memiliki beberapa orang putra. Akan tetapi, yang paling terkenal di antara mereka adalah dua orang bersaudara yang sama-sama nabi agung dan rasul, yang mana yang lebih tua di antara keduanya, sekaligus yang lebih mulia—serta menurut pendapat yang benar merupakan putra yang diperintahkan untuk disembelih—ialah Ismail, putra sulung Ibrahim Al-Khalīl dari Hajar Al-Qibṭiyyah Al-Miṣriyyah ‘alaihās salām, atas karunia dari Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun orang yang berpendapat bahwa putra yang akan disembelih adalah Ishak, maka pendapat itu hanyalah bersumber dari riwayat-riwayat Bani Israil yang telah mengubah, memutarbalikkan, dan menyelewengkan Taurat serta Injil, juga menyelisihi Al-Qur’an yang ada di hadapan mereka dalam perkara ini. Padahal Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra sulungnya, dan dalam riwayat lain disebut ‘putra tunggalnya’. Bagaimanapun redaksinya, berdasarkan dalil yang tegas, putra itu adalah Ismail. Dalam naskah kitab mereka sendiri disebutkan bahwa Ismail lahir ketika usia Ibrahim delapan puluh enam tahun, sedangkan Ishak baru lahir ketika usia Ibrahim telah mencapai seratus tahun. Jadi, Ismail adalah putra sulungnya tanpa perlu diragukan. Bahkan, ia juga merupakan putra tunggal, baik secara realitas pada masa itu maupun dari secara makna.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan masing-masing asumsi tersebut, bahwa secara realitas, Ismail memang merupakan putra tunggal karena selama lebih dari tiga belas tahun ia adalah satu-satunya anak Ibrahim. Adapun secara makna, ia adalah putra tunggal yang mana ayahnya berhijrah bersamanya dan bersama ibunya, Hajar, ketika ia masih kecil, bahkan menurut suatu pendapat masih bayi yang menyusu. Ibrahim menempatkan keduanya di lembah-lembah pegunungan Faran, yaitu pegunungan yang berada di sekitar Makkah, sebaik-baik tempat mukim. Beliau meninggalkan keduanya di sana dengan bekal makanan dan air yang sangat sedikit. Hal itu dilakukan atas dasar keyakinan dan tawakal beliau kepada Allah. Maka Allah Ta‘ālā menjaga keduanya dengan pemeliharaan dan kecukupan dari-Nya. Dialah sebaik-baik Yang Mencukupi, Yang Melindungi, Yang Diserahi urusan, dan Yang Menjamin. Inilah yang dimaksud bahwa Ismail adalah putra tunggal, baik secara realitas maupun secara makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, di mana orang yang dapat memahami detail ini dan dapat mencapai pemahaman seperti ini? Makna tersebut tidak dapat dipahami dan dimengerti ilmunya kecuali oleh setiap orang yang teliti dan baik. Selesai. Lihat pula penjelasan Ibnu Qayyim dan dukungannya terhadap pendapat Ibnu Taimiyah raḥimahumallāh dalam <em>Zādul Ma‘ād</em> (1/71). Lihat juga jawaban nomor: 347041 dan 108912.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8600</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Biografi Nabi Ismail: Masa Muda dan Pernikahannya (Bagian 2)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8595-biografi-nabi-ismail-masa-muda-dan-pernikahannya-bagian-2.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2026 23:24:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8595</guid>

					<description><![CDATA[وَشَبَّ الغُلاَمُ وَتَعَلَّمَ العَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ، وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ، فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ، وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ، فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ، فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ Setelah dewasa, ia menjadi orang yang paling mereka hargai dan kagumi. Ketika telah mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَشَبَّ الغُلاَمُ وَتَعَلَّمَ العَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ، وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ، فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ، وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ، فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ، فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah dewasa, ia menjadi orang yang paling mereka hargai dan kagumi. Ketika telah mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah ibunda Ismail wafat, Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk melihat keadaan keluarganya. Namun, beliau tidak mendapati Ismail. Beliau lalu bertanya kepada istri Ismail tentang keberadaannya. Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Ia pergi mencari nafkah untuk kami.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ibrahim bertanya tentang keadaan hidup dan kondisi mereka. Istri Ismail menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَحْنُ بِشَرٍّ، نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ، فَشَكَتْ إِلَيْهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Kami hidup dalam keadaan yang buruk. Kami berada dalam kesempitan dan kesulitan,’ lalu ia mengeluhkan keadaannya kepada beliau (Ibrahim).” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan katakan kepadanya agar mengganti ambang pintunya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Ismail pulang, firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu. Lalu ia bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا، فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا، فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ وَشِدَّةٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya, ada seorang lelaki tua datang dengan ciri-ciri seperti ini dan seperti itu. Ia bertanya tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya tentang keadaan hidup kami, maka aku mengatakan kepadanya bahwa kami hidup dalam kesusahan dan kesempitan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya. Ia memerintahkanku agar menyampaikan salam kepadamu, dan berkata, ‘Gantilah ambang pintumu!’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">ذَاكِ أَبِي، وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ، الحَقِي بِأَهْلِكِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Itu adalah ayahku. Ia telah memerintahkanku agar menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu.” Maka Ismail pun menceraikannya. (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ismail menikah lagi dengan wanita lain dari kalangan mereka. Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama waktu yang Allah kehendaki. Setelah itu beliau datang kembali, namun tidak mendapati Ismail. Beliau masuk menemui istri Ismail dan bertanya tentang keberadaannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ia pergi mencari nafkah untuk kami.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">كَيْفَ أَنْتُمْ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Bagaimana keadaan kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau juga bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami dalam keadaan baik dan berkecukupan,” seraya memuji Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">مَا طَعَامُكُمْ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apa makanan kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اللَّحْمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Daging.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau bertanya lagi,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَمَا شَرَابُكُمْ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apa minuman kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">المَاءُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Air.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Ibrahim berdoa,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالمَاءِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ، وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pada waktu itu mereka belum memiliki biji-bijian. Seandainya mereka telah memilikinya, niscaya Ibrahim juga akan mendoakan keberkahan padanya.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengisahkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kedua makanan itu (yaitu daging dan air) tidak akan cocok bagi siapa pun yang menjadikannya sebagai makanan pokok di selain Makkah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau melanjutkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan perintahkan agar ia mempertahankan ambang pintunya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Ismail datang, ia bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الهَيْئَةِ، وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ، فَسَأَلَنِي عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، فَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya, telah datang seorang lelaki tua yang baik penampilannya, sembari ia memuji Allah. Ia bertanya kepadaku tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya tentang kehidupan kami, maka aku mengatakan bahwa kami dalam keadaan baik.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya. Ia menyampaikan salam untukmu dan memerintahkanmu agar mempertahankan ambang pintumu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">ذَاكِ أَبِي وَأَنْتِ العَتَبَةُ، أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Itu adalah ayahku, dan engkaulah yang dimaksud dengan ambang pintu itu. Ia memerintahkanku agar tetap mempertahankanmu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama waktu yang Allah kehendaki. Setelah itu beliau datang lagi. Saat itu Ismail sedang meraut anak panah miliknya di bawah sebuah pohon di dekat Zamzam. Ketika Ismail melihat ayahnya, ia segera berdiri menyambutnya. Keduanya saling menyambut sebagaimana yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya dan seorang anak kepada ayahnya. Setelah itu Ibrahim berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">يَا إِسْمَاعِيلُ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku melakukan suatu perkara.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَتُعِينُنِي؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maukah engkau membantuku?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَأُعِينُكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku akan membantumu.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengatakan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَا هُنَا بَيْتًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di tempat ini,” sambil menunjuk ke sebuah tempat yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya. Pada saat itulah keduanya mulai meninggikan fondasi Baitullah. Ismail membawa batu-batu, sedangkan Ibrahim membangunnya. Ketika bangunan itu semakin tinggi, Ismail terus membawakan batu, lalu meletakkannya untuk beliau dan beliau berdiri sambil terus membangun, sedangkan Ismail menyodorkan batu-batu kepadanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya terus mengucapkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya terus membangun sambil mengelilingi Baitullah dan mengucapkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127). (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8595</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Nabi Ismail ‘Alaihis Salām (Bagian 1)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8591-mengenal-nabi-ismail-alaihis-salam-bagian-1.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 13:29:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya ingin mendapatkan informasi tentang Nabi Ismail ‘alaihis salām. Ringkasan Jawaban: Beliau adalah putra pertama Nabi Ibrahim ‘alaihis salām, dan ibunya bernama Hajar. Beliau adalah seorang rasul sekaligus nabi. Dialah putra yang “disembelih”, yang dari keturunannya lahir Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau membantu ayahnya dalam membangun Ka‘bah. Beliau adalah anak yang berbakti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya ingin mendapatkan informasi tentang Nabi Ismail ‘alaihis salām.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ringkasan Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau adalah putra pertama Nabi Ibrahim ‘alaihis salām, dan ibunya bernama Hajar. Beliau adalah seorang rasul sekaligus nabi. Dialah putra yang “disembelih”, yang dari keturunannya lahir Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau membantu ayahnya dalam membangun Ka‘bah. Beliau adalah anak yang berbakti kepada ayahnya, tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah Ta‘ālā, mempelajari dasar-dasar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, kemudian setelah mempelajarinya, Allah mengilhamkan kepadanya bahasa Arab yang fasih dan jelas, sehingga beliau cakap bertutur dengannya.</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;“Dan dia senantiasa menyuruh keluarganya melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 55)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Biografi Nabi Ismail: Nasab dan Masa Kecilnya</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Adapun berikutnya:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertama: Nasab Nabi Ismail ‘Alaihis Salām</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau adalah Ismail putra Ibrahim Al-Khalīl ‘alaihimas salām. Ibunya adalah Hajar raḍiyallāhu ‘anhā. Beliau adalah nenek moyang bangsa Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab yang mempelajari bahasa Arab), dan dari keturunannya lahir penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ رواه مسلم (2276). وانظر: إجابة رقم: (224203)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim no. 2276). Lihat juga jawaban nomor: 224203.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua: Tinggalnya Ismail di Makkah dan kisah Zamzam</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Telah diriwayatkan secara valid dalam <em>Shahih Al-Bukhari</em> kisah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salām meninggalkan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail ‘alaihis salām, di sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman, usaha Hajar mencari air, serta memancarnya mata air Zamzam. Al-Bukhari meriwayatkan dalam <em>Shahih</em>-nya (no. 3364), dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā:</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ المِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، &#8230; ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ، حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ البَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ، فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى المَسْجِدِ، وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ، وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ، فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ، ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kaum wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah ibunda Ismail. &#8230; Kemudian Ibrahim mengajak Hajar dan putranya, Ismail, yang saat itu masih disusuinya, hingga beliau menempatkan mereka berdua di dekat Baitullah, di bawah sebuah pohon, di atas lokasi Zamzam, di sisi atas Masjidil Haram. Ketika itu belum ada seorang pun di Makkah dan belum ada sumber air di sana. Ibrahim meninggalkan keduanya di sana. Beliau meninggalkan untuk mereka sebuah kantong berisi kurma dan sebuah kantong kulit berisi air. Setelah itu Ibrahim berbalik pergi. Lalu ibunda Ismail mengikutinya seraya berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai Ibrahim, ke manakah engkau pergi, sementara engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada apa pun di dalamnya?” Ia mempertanyakan hal itu berulang kali, sedangkan Ibrahim sama sekali tidak menoleh kepadanya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Hajar berkata kepadanya,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hajar berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau begitu, Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kami.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Hajar kembali, sedangkan Ibrahim terus melanjutkan perjalanannya. Ketika telah sampai di sebuah bukit sehingga mereka tidak lagi dapat melihatnya, beliau menghadap ke arah Baitullah, lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan doa ini,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">رَبِّ (إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ المُحَرَّمِ) [إبراهيم/ 37] &#8211; حَتَّى بَلَغَ – (يَشْكُرُونَ) [إبراهيم/ 37]</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanaman, di dekat rumah-Mu yang suci &#8230;” hingga akhir ayat, “&#8230; agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibunda Ismail terus menyusui Ismail dan meminum air yang tersedia itu. Ketika air di dalam kantong kulit telah habis, ia pun merasa haus, begitu pula putranya. Ia melihat putranya yang menggeliat (atau beliau katakan: menggelinjang) kehausan. Maka ia pergi karena tidak sanggup melihat keadaan putranya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mendapati Bukit Shafa sebagai bukit yang paling dekat dengannya. Ia pun berdiri di atasnya, lalu menghadap ke arah lembah untuk melihat apakah ada seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Ia lalu turun dari Bukit Shafa. Ketika sampai di dasar lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya, kemudian berlari seperti larinya orang yang sangat kelelahan hingga melewati lembah. Setelah itu ia sampai di Bukit Marwah, berdiri di atasnya, lalu melihat apakah ada seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Hal itu dilakukannya sebanyak tujuh kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Demikianlah asal muasal sai yang dilakukan manusia di antara keduanya (Shafa dan Marwah).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Hajar telah sampai di Bukit Marwah, ia mendengar suara. Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">صَهٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Diam!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian ia mendengarkan dengan saksama, dan kembali mendengar suara itu. Lalu ia berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">قَدْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غِوَاثٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Engkau telah memperdengarkan suaramu, barangkali engkau bisa menolong!”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata di tempat Zamzam ada seorang malaikat. Malaikat itu menghentakkan tanah dengan tumitnya (atau beliau katakan: dengan sayapnya) hingga air pun memancar. Hajar segera membuat kolam kecil di sekelilingnya sambil membendung air dengan tangannya seperti ini. Ia juga mengambil air dengan wadahnya, sedangkan air itu terus memancar setiap kali diambil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ &#8211; أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ المَاءِ -، لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Semoga Allah merahmati ibunda Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam (atau beliau bersabda: Seandainya ia tidak mengambil air darinya) niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengisahkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lalu Hajar meminum air itu dan menyusui anaknya. Malaikat berkata kepadanya,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">لاَ تَخَافُوا الضَّيْعَةَ، فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ، يَبْنِي هَذَا الغُلاَمُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَهْلَهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Janganlah kalian takut telantar, karena di sini ada Rumah Allah, yang kelak akan dibangun oleh anak ini bersama ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan penduduknya.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itu Baitullah tampak lebih tinggi daripada permukaan tanah seperti sebuah bukit kecil. Apabila banjir datang, air mengalir melewati sisi kanan dan kirinya. Keadaan itu terus berlangsung hingga datang kepada mereka sekelompok orang dari kabilah Jurhum, atau sebuah keluarga dari Jurhum, yang datang melalui jalan Kada’. Mereka singgah di sisi bawah Makkah. Lalu mereka melihat seekor burung yang berputar-putar. Mereka berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ، لَعَهْدُنَا بِهَذَا الوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Burung ini pasti sedang berputar di atas air. Padahal yang kami ketahui, lembah ini tidak memiliki air.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka mereka mengutus seorang atau dua orang pencari berita, ternyata memang ada air, maka mereka kembali dan memberitahukannya kepada rombongan. Mereka pun mendatangi tempat itu, sementara ibunda Ismail ada di dekat sumber airnya. Mereka berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Apakah engkau mengizinkan kami tinggal di dekatmu?’ Hajar menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، وَلَكِنْ لاَ حَقَّ لَكُمْ فِي المَاءِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Ya, tetapi kalian tidak memiliki hak atas air ini.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Baik.’” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُحِبُّ الإِنْسَ فَنَزَلُوا وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ فَنَزَلُوا مَعَهُمْ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Hal itu menenangkan ibunda Ismail, karena ia senang tinggal bersama orang-orang. Maka mereka pun menetap di sana, lalu mengirim kabar kepada keluarga mereka, sehingga keluarga mereka ikut datang dan tinggal bersama mereka. Hingga akhirnya sejumlah keluarga dari mereka menetap di tempat itu. Ismail pun tumbuh besar dan belajar bahasa Arab dari mereka.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8591</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Harut dan Marut: Malaikat yang Mengajarkan Sihir</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8564-kisah-harut-dan-marut-malaikat-yang-mengajarkan-sihir.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2026 12:16:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8564</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Siapakah Harut dan Marut? Mereka manusia atau malaikat? Jika mereka adalah malaikat, apakah mereka maksum (terbebas dari dosa) meskipun mengajarkan sihir kepada manusia? Jawaban: Segala puji bagi Allah. Nama Harut dan Marut disebutkan dalam Al-Quran hanya di satu tempat.&#160; Dengan menadaburi ayat tersebut, seseorang akan mengetahui hakikat perkara berikut: Berdasarkan hal itu, barang siapa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapakah Harut dan Marut? Mereka manusia atau malaikat? Jika mereka adalah malaikat, apakah mereka maksum (terbebas dari dosa) meskipun mengajarkan sihir kepada manusia?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah. Nama Harut dan Marut disebutkan dalam Al-Quran hanya di satu tempat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menadaburi ayat tersebut, seseorang akan mengetahui hakikat perkara berikut:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mereka adalah malaikat, bukan manusia.</li>



<li>Mereka diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala untuk mengajarkan kepada manusia sesuatu yang bisa melindungi mereka dari keburukan, bukan karena mereka dihukum karena dosa mereka.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan hal itu, barang siapa mengklaim bahwa mereka adalah manusia atau bahwa mereka adalah malaikat yang terjatuh ke dalam kemaksiatan lalu Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā mengutuk mereka menjadi wujud lain, maka dia telah berbicara tentang perkara gaib tanpa dasar ilmu. Dia telah mengklaim sesuatu yang merendahkan para malaikat Allah yang mulia dan meyakini sesuatu yang tertulis dalam kitab-kitab Bani Israil tanpa dilandasi dalil yang benar dari wahyu yang maksum.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā berfirman,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidaklah kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.&#8217; Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (bisa) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka sudah tahu bahwasanya orang yang membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat, dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 102).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syekh Abdur Rahman as-Sa&#8217;di —semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala merahmatinya— berkata, &#8220;Demikian juga orang-orang Yahudi, mereka mengikuti sihir yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia di tanah Irak. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menurunkan sihir melalui mereka sebagai fitnah dan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bagi hamba-hamba-Nya dengan mengajarkan kepada mereka ilmu sihir.&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum menasihatinya.) &nbsp;</p>



<p></p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ</p></div><p></p>



<p class="wp-block-paragraph">(mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.&#8217;)&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">maksudnya, kalian jangan belajar sihir karena itu adalah kekafiran. Mereka sendiri melarang sihir dan mereka memberitahukan tentang status ilmu sihir tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian para setan mengajarkan sihir untuk menipu manusia dan menyesatkan mereka lalu menyebarkannya dan menyandarkannya kepada Sulaiman &#8216;Alaihis Salām, seseorang yang telah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tegaskan terbebas dari sihir. Jadi, pengajaran sihir dari dua malaikat tersebut disertai dengan nasihat untuk menjadi ujian, agar mereka tidak lagi memiliki alasan. Orang-orang Yahudi ini mengikuti sihir yang diajarkan oleh setan dan sihir yang diajarkan kedua malaikat tersebut dan meninggalkan ilmu para nabi dan rasul karena lebih memilih ilmu setan, karena memang setiap orang akan condong dengan apa yang cocok dengan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkan keburukan-keburukan sihir dengan firman-Nya,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>&nbsp;فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8216;Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (bisa) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal kecintaan antara suami istri adalah hubungan yang tiada bandingannya, karena Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā telah Memfirmankan tentang hubungan mereka berdua,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.&#8217; (QS. Ar-Rum: 21). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah dalil bahwa sihir itu nyata dan bisa mendatangkan bahaya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, yaitu dengan kehendak-Nya. Izin Allah ada dua jenis (1) Izin Qadarī, yang berkaitan dengan kehendak Allah, seperti dalam ayat ini. (2) Izin Syar&#8217;ī, seperti dalam firman-Nya Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā pada ayat sebelumnya,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>فَإِنَّهُ نزلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8216;Dialah yang telah menurunkan (Al-Qur&#8217;an) ke dalam hatimu dengan izin Allah.&#8217; (QS. Al-Baqarah: 97).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ayat ini dan ayat-ayat semisalnya menjelaskan bahwa sebab apa pun dan seberapa kuat akibatnya, tetap semua itu mengikuti pada takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, sehingga tidak memberi pengaruh dengan sendirinya. Tidak ada sekte-sekte umat Islam yang menyelisihi kaidah ini kecuali Qadariyah dalam masalah perbuatan-perbuatan hamba. Mereka menyangka bahwa perbuatan-perbuatan tersebut terlepas dari kehendak-Nya dan tidak tunduk dengannya sehingga mereka mengeluarkannya dari cakupan takdir Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Mereka telah menyelisihi Kitab Allah, sunah Rasul-Nya, dan kesepakatan para sahabat dan para tabiin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkan bahwa ilmu sihir itu murni berbahaya dan tidak memiliki manfaat sama sekali, baik untuk agama maupun dunia. Padahal ada beberapa manfaat duniawi dalam beberapa bentuk dosa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā tentang minuman keras dan judi (yang artinya),&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>&nbsp;قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8216;Katakanlah, &#8216;Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 219).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun sihir ini seratus persen berbahaya sehingga sama sekali tidak ada alasan untuk mempraktikkannya. Semua larangan-larangan, kemungkinannya adalah murni berbahaya atau keburukannya lebih besar dari kebaikannya, seperti halnya semua perintah,&nbsp; kemungkinannya murni kebaikan atau kebaikannya lebih besar daripada keburukannya.</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَلَقَدْ عَلِمُوا</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Sungguh, mereka sudah tahu.)&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">yakni orang-orang Yahudi&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>لَمَنِ اشْتَرَاهُ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Bahwasanya orang yang membelinya (sihir).)&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">yakni orang yang menginginkan sihir seperti pembeli yang sangat ingin membeli sebuah barang,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Niscaya tidak akan mendapat apa pun di akhirat,) yakni bagian (kebaikan, pent.), bahkan mendatangkan azab. Jadi, perbuatan mereka itu bukan karena tidak tahu ilmunya, tapi mereka lebih memilih dunia daripada akhirat.&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 102). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Maknanya bahwa ilmu akan membuahkan amal, namun mereka tidak mengamalkannya.&#8221; (<em>Tafsīr as-Saʿ</em>di, halaman 61).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala sesuatu yang tidak semakna dengan Al-Quran tentang dua malaikat ini, maka berasal Isrāʾiliyyāt, dan itu terbantahkan dengan riwayat sahih yang menjelaskan kemaksuman para malaikat secara umum tanpa ada dalil yang mengecualikannya dari kaidah umum tersebut.&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ * لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ * يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ&nbsp;</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dan mereka berkata, &#8216;Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.&#8221; Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.&#8221; (QS. Al-Anbiya&#8217;: 26-28).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Katsir —semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala merahmatinya— berkata bahwa kisah tentang Harut dan Marut tersebut diriwayatkan dari sebagian tabiin seperti Mujahid, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Abul &#8216;Āliyah, Az-Zuhri, Al-Rabīʿ bin Anas, Muqatil bin Hayyan, dan lain-lain. Hal tersebut juga dikisahkan oleh para ahli tafsir klasik dan kontemporer, namun rincian-rincian kisah tersebut adalah bersumber dari kabar-kabar Bani Israil (Isrāʾīliyyāt), karena dalam kisah tersebut tidak ada riwayat Marfūʿ yang sahih yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi yang jujur, dipercaya, dan maksum Ṣallallāhu &#8216;alaihi wa sallam, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Adapun secara tekstual Al-Quran, maka kisah tersebut konteksnya umum tanpa ada rincian dan detail yang panjang, sehingga kita harus mengimani apa yang tersebut dalam Al-Quran sebagaimana yang Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā Kehendaki, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang lebih Mengetahui hakikat sebenarnya. Tafsir Ibnu Katsir (1/360). Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang lebih Mengetahui.<br></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islamqa.info/ar/answers/128543/قصة-هاروت-وماروت">https://islamqa.info/ar/answers/128543/قصة-هاروت-وماروت</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1B-H8hm6BHEXRwN6HCxiNpjVZ7HrFIhEP/view?usp=drive_link" data-type="link" data-id="https://drive.google.com/file/d/1B-H8hm6BHEXRwN6HCxiNpjVZ7HrFIhEP/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8564</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Benarkah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal?</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8558-benarkah-bahwa-ibnu-sayyad-adalah-dajjal.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 13:35:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8558</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya pernah membaca beberapa hadis tentang sosok aneh yang muncul di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang bernama Ibnu Ṣayyād atau Ibnu Ṣāʾid, siapakah orang ini dan bagaimana dia sebenarnya? Jawaban: Segala puji bagi Allah. Ibnu Ṣayyād nama aslinya adalah Ṣāfī, atau ada yang bilang Abdullah bin Ṣayyād atau Ṣāʾid. Dia berasal dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya pernah membaca beberapa hadis tentang sosok aneh yang muncul di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang bernama Ibnu Ṣayyād atau Ibnu Ṣāʾid, siapakah orang ini dan bagaimana dia sebenarnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah. Ibnu Ṣayyād nama aslinya adalah Ṣāfī, atau ada yang bilang Abdullah bin Ṣayyād atau Ṣāʾid. Dia berasal dari kalangan orang-orang Yahudi kota Madinah, atau katanya juga dari kalangan Ansar. Dia masih kecil ketika Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tiba di Madinah. Dikabarkan juga bahwa dia akhirnya masuk Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād adalah seorang dajjal (pendusta). Dia terkadang meramal dan ramalannya terkadang benar dan terkadang keliru sehingga berita tentangnya menyebar di tengah manusia hingga dia terkenal sebagai Dajjal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ingin mengetahui tentangnya dan mencari kejelasan tentang hakikat dirinya. Beliau lantas pergi menemuinya secara diam-diam agar dia tidak mengetahui kedatangannya dan berharap dia mendengar sesuatu darinya. Beliau juga mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya untuk mengungkapkan hakikat dirinya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia masih hidup setelah wafatnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam namun kemudian dia hilang pada peristiwa Al-H̱arrah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut kisah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersama Ibnu Ṣayyād.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Imam Bukhari berkata:) &#8220;Abdan telah menceritakan kepada kami, Abdullah telah mengabarkan kepada kami dari Yunus, dari Az-Zuhri, dia berkata, &#8216;Salim bin Abdullah telah mengabarkan kepada saya bahwa Ibnu Umar —semoga Allah meridainya— mengabarkan kepadanya bahwa Umar —semoga Allah meridainya— dan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berangkat bersama rombongan untuk menemui Ibnu Ṣayyād hingga mereka mendapatinya sedang bermain bersama anak-anak di dekat bangunan yang tinggi milik Bani Maghālah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itu Ibnu Ṣayyād hampir balig. Ia tidak menyadari kedatangan beliau hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menepuknya dengan tangan beliau. Setelah itu beliau bertanya kepada Ibnu Ṣayyād: &#8216;Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasul utusan Allah.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād memandang beliau lalu menjawab, &#8216;Aku bersaksi bahwa Tuan adalah Rasul dari kalangan kaum yang buta huruf.’ </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Ibnu Ṣayyād bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;Apa Tuan bersaksi bahwa aku Rasul utusan Allah?&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menolaknya lalu bersabda, &#8216;Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya, &#8216;Apa yang kau lihat?&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād menjawab, &#8216;Orang yang jujur dan seorang pendusta mendatangiku.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda padanya, &#8216;Urusanmu terkacaukan!&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu beliau berkata padanya, &#8216;Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād berkata, &#8216;Ad-Dukh.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda padanya, &#8216;Sudah diamlah. Kamu tidak akan bisa melampaui kemampuanmu.’&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar bin Khattab berkata, &#8216;Biarkan aku menebas lehernya, wahai Rasulullah.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda padanya, &#8216;Bila ia memang dajjal, kau tidak akan bisa mengalahkannya, namun bila ia bukan dajjal, tidak ada baiknya bagimu membunuhnya.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Salim bin Abdullah berkata, &#8216;Aku mendengar Abdullah bin Umar —semoga Allah meridainya— berkata, &#8216;Di lain waktu setelah itu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Ubay bin Ka&#8217;ab Al-Anshari —semoga Allah meridainya— pergi menuju kebun kurma di mana Ibnu Ṣayyād berada. Beliau menyelinap secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan sesuatu dari Ibnu Ṣayyād sebelum dia melihat beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melihatnya tengah berbaring, yaitu di dalam sepotong kain miliknya, yang keluar darinya suara menggumam. Ibu Ibnu Ṣayyād melihat Rasulullah Ṣallallāhu &#8216;alaihi wa sallam yang sedang bersembunyi di balik pelepah kurma. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu Ibnu Ṣayyād berkata, &#8216;Hai Ṣāfi, —itulah nama Ibnu Ṣayyād— itu ada Muhammad.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād langsung terbangun, lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8216;Andai dia membiarkannya, maka akan jelas perkaranya.'&#8221; (HR. Bukhari 1355).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkataannya: &#8220;Uṭumin&#8221; dengan damatain, artinya bangunan seperti benteng. Maghālah adalah suku dari kalangan kaum Ansar. Perkataannya, &#8220;Fa rafaḍahu  (Beliau menolaknya)&#8221;  artinya bahwa beliau meninggalkannya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ingin menyelinap darinya agar beliau bisa mendengar kata-katanya tanpa dia sadari. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkataannya, &#8220;Rumzatun atau Zumratun,&#8221; atau dalam riwayat lain &#8220;Zamzamatun,&#8221; artinya adalah suara pelan, atau berkata dengan hanya menggerak-gerakkan bibir, atau suara menggumam. Lihat Fatẖ Al-Bārī dalam penjelasan hadis tersebut dalam kitab <em>Al-Janāʾiz </em>dari Sahih Bukhari.</p>



<p class="has-large-font-size wp-block-paragraph"><strong>Apakah Ibnu Ṣayyād adalah dajjal yang sesungguhnya?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadis yang dikutip di atas —yang menjelaskan beberapa keadaan Ibnu Ṣayyād dan bagaimana Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengujinya— menunjukkan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menghakimi status Ibnu Ṣayyād ini, karena tidak diwahyukan kepada beliau apakah dia dajjal atau bukan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak sahabat yang mengira bahwa Ibnu Ṣayyād adalah dajjal. Umar bin Khattab —semoga Allah meridainya— bersumpah bahwa dia adalah dajjal di hadapan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabat, namun Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Disebutkan dalam hadis dari Muhammad bin Al-Munkadir, dia berkata, “Aku melihat Jabir bin Abdullah —semoga Allah meridainya— bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Ṣāʾid adalah dajjal.&#8221; Aku berkata, ‘Engkau bersumpah dengan nama Allah?&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia berkata, ‘Aku mendengar Umar —semoga Allah meridainya— bersumpah terkait hal itu di hadapan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam namun beliau tidak mengingkarinya.’&#8221; (HR. Bukhari, 6808).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Umar sendiri pernah mengalami kisah aneh bersama Ibnu Ṣayyād ini. Kisahnya termaktub dalam Sahih Muslim dari Nafi&#8217; yang mengatakan bahwa Ibnu Umar suatu hari bertemu Ibnu Ṣāʾid di salah satu jalan kota Madinah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu dia (Ibnu Umar) mengatakan kepadanya sesuatu yang membuatnya sangat marah sehingga dia (Ibnu Ṣāʾid) membesar tubuhnya hingga memenuhi jalan. Lalu Ibnu Umar pergi ke rumah Hafsah dan memberitahunya tentang hal ini. Dia berkata, &#8220;Semoga Allah merahmatimu! Mengapa engkau membuat marah Ibnu Ṣāʾid? Apakah engkau tidak tahu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda bahwa dia (dajjal) akan muncul ketika ada sesuatu yang membuatnya sangat marah?” (HR. Muslim, 2932)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun demikian, ketika Ibnu Ṣayyād semakin berumur, dia mencoba untuk membela dirinya dan mengingkari bahwa dia adalah dajjal. Dia menampakkan kekesalannya atas tuduhan ini. Dia menguatkan argumennya dengan mengatakan bahwa sifat-sifat dajjal yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidaklah cocok dengan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri —semoga Allah meridainya— dia berkata, &#8220;Kami pergi menunaikan ibadah haji atau umrah dan di antara kami ada Ibnu Ṣāʾid.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia (Abu Sa&#8217;id) bercerita, &#8220;Kami singgah di suatu tempat lalu orang-orang berpencar-pencar hingga hanya ada aku dan dia. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan orang-orang tentang dia.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia (Abu Sa&#8217;id) berkata, &#8220;Ia mengangkat barang-barang perbekalannya lalu meletakkannya di dekat barang-barangku. Aku berkata, &#8216;Cuacanya sangat panas, mungkin kau bisa meletakkannya di bawah pohon itu.&#8217;” </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia (Abu Sa&#8217;id) berkata, &#8220;Lalu dia melakukannya.&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian dia (Abu Sa&#8217;id) bercerita lagi, &#8220;Lalu diangkatlah (diperah, pent.) seekor kambing untuk kami kemudian ia pergi dan datang dengan membawa ʿUss —gelas yang besar— </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia berkata, &#8216;Minumlah, wahai Abu Sa&#8217;id.&#8217;  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku berkata, &#8216;Cuacanya sangat panas dan susu itu juga panas.&#8217; —Tidak ada masalah denganku, hanya saja aku tidak mau minum dari tangannya,&#8217; atau ia berkata, &#8216;Aku tidak mau mengambilnya dari tangannya.&#8217;— </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ibnu Ṣāʾid berkata: &#8220;Wahai Abu Sa&#8217;id, rasanya aku ingin mengambil tali lalu aku gantungkan di pohon itu untuk gantung diri karena apa yang orang-orang katakan tentang aku. Wahai Abu Sa&#8217;id, seseorang bisa saja tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tapi kalian orang-orang Ansar tidak mungkin tidak mengetahuinya. Bukankah engkau termasuk orang yang paling tahu tentang hadis Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bukankah beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa ia (dajjal) adalah kafir sementara aku seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda bahwa ia mandul dan tidak memiliki keturunan sementara aku punya anak yang aku tinggalkan di Madinah? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukankah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa ia tidak bisa memasuki kota Madinah dan Mekah sementara aku telah meninggalkan Madinah dan sekarang aku hendak menuju ke Mekah?&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Sa&#8217;id Al-Khudri berkata, &#8220;Hampir-hampir saja aku menerima argumen-argumennya.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu ia berkata, &#8220;Demi Allah, aku sendiri mengetahuinya (dajjal), tempat kelahirannya, dan di mana ia berada sekarang.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Sa&#8217;id berkata, &#8220;Lalu aku berkata kepadanya, &#8216;Sungguh celaka kau di sepanjang harimu.'&#8221; (HR. Muslim no. 5211).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam riwayat lain, Ibnu Ṣayyād berkata: &#8220;Demi Allah, sungguh aku tahu di mana dia sekarang berada dan mengenal siapa ayah dan ibunya.&#8221;  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu dikatakan kepadanya, &#8220;Apakah kau senang jika engkau menjadi orang tersebut?&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia berkata, &#8220;Seandainya itu ditawarkan kepadaku, aku tidak akan menolak.&#8221; (HR. Muslim no. 521).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para ulama masih bingung terkait riwayat-riwayat tentang Ibnu Ṣayyād, dan perkara ini masih menjadi masalah bagi mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian mereka mengatakan bahwa dia adalah dajjal dan sebagian lain mengatakan bahwa dia bukan dajjal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing kubu memiliki dalilnya masing-masing sehingga pernyataan-pernyataan mereka sering saling kontradiktif.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Hajar berusaha mengkompromikan pendapat-pendapat ini dengan mengatakan, &#8220;Pendapat yang paling mungkin untuk mengompromikan apa yang tersebut dalam hadis Tamīm dengan status Ibnu Ṣayyād sebagai dajjal, bahwa dajjal yang sesungguhnya adalah yang ditemui oleh Tamīm dalam keadaan terbelenggu. Adapun Ibnu Ṣayyād adalah setan yang menjelma sebagai dajjal pada masa itu hingga dia pergi ke Isfahan untuk bersembunyi dengan Qarīn-nya sampai tibanya masa yang telah Allah tetapkan baginya untuk keluar darinya.&#8221; <em>Fatẖ Al-Bārī</em> (13/ 328).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Ṣayyād adalah salah satu dari para dajjal-dajjal pendusta dan bukan dajjal yang sesungguhnya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang lebih mengetahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islamqa.info/ar/answers/8301/من-هو-ابن-صياد-وهل-هو-المسيح-الدجال">https://islamqa.info/ar/answers/8301/من-هو-ابن-صياد-وهل-هو-المسيح-الدجال</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1BHghswFjlLBOYb-PtO5o_yjtAsgREwFx/view?usp=drive_link" data-type="link" data-id="https://drive.google.com/file/d/1BHghswFjlLBOYb-PtO5o_yjtAsgREwFx/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8558</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8521-kesabaran-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 May 2026 07:03:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi Muhammad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8521</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Amir al-Khamisi Bayangkan saja betapa sakitnya, saat beliau berusia enam tahun harus menggali kuburan untuk ibunya di tengah padang pasir. Ibunya wafat saat beliau bersamanya setelah berziarah ke makam sang ayah. Setelah jasad ibunya dibaringkan di liang lahat, anak enam tahun itu harus berpisah dengan ibunya di tengah padang pasir, yang sebelumnya masih memeluk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A2354476760&#038;color=2f4468&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Amir al-Khamisi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan saja betapa sakitnya, saat beliau berusia enam tahun harus menggali kuburan untuk ibunya di tengah padang pasir. Ibunya wafat saat beliau bersamanya setelah berziarah ke makam sang ayah. Setelah jasad ibunya dibaringkan di liang lahat, anak enam tahun itu harus berpisah dengan ibunya di tengah padang pasir, yang sebelumnya masih memeluk beliau ketika berpacu dengan sakaratul maut. Padahal beliau adalah jantung hatinya dan belahan jiwanya, kemudian ia wafat di hadapan beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu beliau diasuh oleh kakek beliau yang mencurahkan kasih sayang kepada beliau begitu besar. Namun, saat hati anak itu mulai terpaut kuat, sang kakek wafat. Pengasuhan beliau lalu berpindah kepada sang paman. Beliau menghadapi segenap dunia seakan-akan sedang memerangi beliau, menyeringaikan taring-taringnya ke wajah beliau, dan tidak ada yang membela beliau kecuali sang paman. Saat paman beliau wafat, musuh semakin gencar mengerahkan perlawanannya dan menggencarkan gangguannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menikahi Khadijah, bersamanya beliau menemukan kedamaian, ketenteraman, dan rasa cinta, juga bantuan kepada beliau dengan segenap harta, usaha, dan hidupnya. Ia mengerahkan segala hal yang bisa dikerahkan untuk beliau, berdiri bersama beliau untuk menguatkan keteguhan beliau. Ia berperan sebagai kekuatan jiwa, sedangkan sang paman sebagai kekuatan raga bagi beliau. Namun, kedua sosok itu wafat pada tahun yang sama. Padahal beliau sangat membutuhkan keduanya, sehingga tahun itu menjadi tahun kesedihan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua putri beliau diceraikan dalam satu hari yang sama akibat perbedaan akidah dan agama dengan suami mereka. Salah satu putri beliau, Zainab ikut menyusul beliau ke kota Madinah karena suaminya enggan beriman. Namun di perjalanan, ia —yang ketika itu sedang hamil— hendak dicegat oleh sekelompok orang. Mengepung untanya, dan akhirnya ia melawan mereka, hingga ia jatuh dan akhirnya janinnya keguguran. Ia memasuki kota Madinah dalam keadaan berlumuran darah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di peristiwa lainnya, beliau meraih kemenangan dalam peperangan terbesar beliau. Namun di momen kemenangan itu, datang berita kematian putri beliau di Madinah. Akhirnya ucapan selamat atas kemenangan berubah menjadi ucapan belasungkawa, momen bahagia berbalik menjadi dukacita. Beliau juga tidak sempat menyaksikan putrinya untuk terakhir kali dan proses pemakamannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adakah perasaan yang lebih menyakitkan dari ini, yang kekokohan gunung saja luluh di hadapannya?!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua buah hati beliau wafat semasa hidup beliau, kecuali Fatimah, dan beliau telah mengetahui bahwa Fatimah akan menyusul segera setelah beliau wafat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika beliau dikaruniai anak laki-laki yang tampan berparas menawan, setelah menginjak usia dua tahun, maut menjemputnya. Beliau lalu memeluknya dengan air mata yang bercucuran. Akhirnya beliau mendapat pelipur lara dengan kehadiran Hasan dan Husain, dua anak dari putri beliau. Namun, beliau juga diberi kabar dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tentang peristiwa-peristiwa menyedihkan di masa depan yang menanti kedua cucunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau telah dicela dengan segala jenis celaan, dihina, dan direndahkan. Banyak sekali tuduhan batil yang ditujukan kepada beliau. Beliau dituduh gila, tukang sihir, pendusta, penyair. Banyak syair-syair disusun untuk menghina beliau. Beliau pernah ditimpa dengan jeroan unta busuk di punggung beliau saat sedang bersujud.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau dilempari batu hingga darah bercucuran dari kedua tumit beliau. Beliau terus dilempari batu sepanjang perjalanan lima kilometer. Orang-orang yang melempari beliau ada di dua sisi jalan. Setiap mereka ingin lemparannya mengenai beliau. Namun beliau terus melanjutkan langkah di antara mereka dengan penuh kesabaran, mengharapkan pahala, dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Beliau baru tersadar saat sudah sampai di Qarn Ats-Tsa’alib, jarak yang begitu jauh beliau tempuh dalam keadaan tidak sadar karena besarnya kegundahan hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menginap di Wadi Nakhlah beberapa lama, karena tidak dapat memasuki kota Makkah, tidak juga mampu mencari suaka ke tempat lain. Sebab orang yang jauh bersikap ketus di hadapan beliau, sementara orang yang dekat dengan beliau justru berbuat buruk dan menghimpit beliau. Beliau lalu mengirim surat kepada para pembesar kota Makkah, meminta jaminan keamanan kepada mereka agar bisa memasuki Makkah, dan tentu mereka segera menolak, hingga akhirnya ada salah satu dari mereka yang bersedia menjadi pelindung beliau, yaitu Muth’im bin Adiy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menghadapi dua puluh kali percobaan pembunuhan. Kaum Quraisy berkumpul di Darun Nadwah untuk menyetujui salah satu usulan, antara membunuhnya, mengusirnya, atau mengurungnya. Akhirnya beliau pergi secara diam-diam menuju gua. Lima puluh orang dari mereka (yang mencari keberadaan beliau) sempat berdiri sambil menghunuskan senjata mereka di depan gua. Mereka juga mengumumkan hadiah seratus ekor unta bagi orang yang menangkapnya hidup atau mati. Beliau juga masih dikejar saat dalam perjalanan hijrah menuju Madinah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau diuji dengan rasa lapar hingga harus mengikat batu di perut. Meskipun beliau mampu berdoa agar gunung-gunung berubah menjadi emas, tapi beliau lebih memilih untuk bersabar. Beliau hidup selama dua bulan tanpa ada api di dapur yang dinyalakan. Suatu ketika beliau keluar rumah ke gang-gang kota Madinah, tidak ada yang membuat beliau keluar kecuali rasa lapar. Ketika beliau makan di salah satu rumah sahabat, beliau juga mengirim makanan kepada putri dan buah hati beliau, karena ia belum makan selama tiga hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sahabat beliau terbunuh di hadapannya pada Perang Uhud, wajah beliau terluka parah, gigi depan beliau patah, dan darah bercucuran dari mulut beliau. Paman beliau (Hamzah) dimutilasi, perutnya dibedah, hatinya diambil, dan hidungnya dipotong. Namun, beliau tetap sabar dan tabah seteguh gunung, beliau berdiri di samping jasadnya sedangkan rasa sakit meremas hati beliau. Beliau pun bertekad untuk memutilasi tujuh puluh orang dari mereka, tapi turun ayat kepada beliau:</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;">وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya beliau memilih untuk terus berjalan di jalan kesabaran, dan tidak ada benteng bagi beliau kecuali kesabaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau sangat mencintai istrinya, Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dan mendapat ketenangan hati dengannya. Namun, hidup beliau terganggu oleh tuduhan keji yang diarahkan kepada sang istri dan mencoreng kehormatannya. Itu membuat Aisyah menangis hingga air matanya kering, kesedihan mengoyak-oyak hatinya, sedangkan tuduhan itu terus digaungkan dari mulut ke mulut selama satu bulan penuh. Hal ini membuat hati beliau terasa sempit, jiwa beliau terasa terhimpit. Adakah hal yang lebih berat daripada kehormatanmu dilecehkan dan kedustaan terhadapmu terus digaungkan oleh lisan-lisan tajam?!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengajak orang-orang untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, tapi di belakang beliau ada pamannya sendiri, Abu Lahab yang memperingatkan mereka dari beliau di majelis-majelis tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau diboikot di lembah selama tiga tahun bersama para sahabatnya, hingga mereka tidak memiliki makanan lagi kecuali dedaunan pohon. Beliau menunjukkan banyak mukjizat, tapi tetap ada yang menentang beliau, seperti Musailamah Al-Kazzab, Al-Aswad Al-Ansi, dan Ibnu Shayyad.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang-orang Yahudi membuat makar kepada beliau dan berusaha membunuh beliau berkali-kali. Mereka membuat tipu daya terhadap beliau di Khaibar, melanggar perjanjian dengan beliau, mendukung pasukan Ahzab (pasukan sekutu dari kaum Musyrikin), orang-orang Arab kafir dan Yahudi mengepung beliau di kota Madinah, hingga tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin keluar sama sekali. Mereka mendustakan dan menghina beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith pernah mencoba membunuh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dengan mencekik beliau. Utaibah bin Abi Lahab pernah menarik gamis beliau dengan keras. Mereka mengepung beliau pada Perang Hunain. Ketika beliau hendak pulang dari Tabuk ke Madinah, sekelompok kaum munafik bertekad untuk membunuh beliau, dan melempar beliau dari puncak tebing di perjalanan. Bani Nadhir berusaha melempar kepada beliau batu besar agar beliau terbunuh. Pemuka kaum munafik, Abdullah bin Ubay juga selalu berbuat buruk terhadap beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa pedih mengepung beliau, rasa sakit mendera beliau dalam jangka waktu yang begitu lama. Beliau merasakan sakit sebagaimana rasa sakit yang diderita oleh dua orang. Beliau juga pernah terkena sihir dari Labid bin Al-A’sham. Kaum Yahudi berkonspirasi untuk melawan beliau hingga seorang wanita menyuguhkan racun kepadanya. Beliau mengalami demam hebat selama kurang lebih dua puluh hari. Rasa sakit datang bertubi-tubi menjelang wafat. Urat nadi beliau berdenyut kencang akibat racun dari wanita Yahudi tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sakaratul maut terasa begitu hebat mendera beliau, hingga beliau pingsan sadar berkali-kali. Kemudian nyawa beliau yang mulia dan suci akhirnya diangkat ketika beliau terbaring di atas kain selimut kasar dan sarung tebal, di dalam rumah yang gelap gulita karena pada malam itu istrinya tidak punya minyak untuk menyalakan pelita. Sementara baju besi beliau masih tergadai pada orang Yahudi demi mendapatkan bahan makanan bagi keluarganya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/163345/فصل-في-صبر-الحبيب-صلى-الله-عليه-وسلم">https://www.alukah.net/sharia/0/163345/فصل-في-صبر-الحبيب-صلى-الله-عليه-وسلم</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1lJFtU2AztM5FnSaVyaVIEwT4I_FO61ny/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8521</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
