<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Cerita kisah cinta penggugah jiwa</title>
	
	<link>http://kisahmuslim.com</link>
	<description>Cerita kisah cinta penggugah jiwa: kisah para nabi, rasul, orang shaleh, umat terdahulu, dan masa depan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 03:32:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/kisahmuslim" /><feedburner:info uri="kisahmuslim" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><feedburner:emailServiceId>kisahmuslim</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Beberapa Peristiwa di Darul Hijrah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/l_-MKho2qq0/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/beberapa-peristiwa-di-darul-hijrah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 May 2012 03:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2434</guid>
		<description><![CDATA[Perjanjian Damai dengan Yahudi Dua dari tiga hal penting yang awal kali dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setibanya di Madinah –membangun Masjid Nabawi serta mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar- kali ini kita akan mengulas yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Perjanjian Damai dengan Yahudi<strong><br />
</strong></h2>
<p>Dua dari tiga hal penting yang awal kali dilakukan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> setibanya di <strong>Madinah</strong> –<strong>membangun Masjid Nabawi</strong> serta mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar- kali ini kita akan mengulas yang ketiga yaitu mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi.</p>
<p>Penduduk Madinah terdiri atas beberapa suku, agama, dan peradaban. Sebab itu, siasat yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –sebagai teladan dalam agama dan akhlak, politik dan tata negara, serta sosial dan ekonomi- adalah melakukan perdamaian dengan kabilah-kabilah di sana. Tujuannya agar terjalan hubungan dengan mereka sebagai umat yang berada dalam satu negeri. Inilah dasar <em>siasa</em><em>h syar’iyyah</em> dalam menjalin hubungan dengan negara lain atau agama lain.</p>
<p>Di antara isi perjanjian antara Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan orang-orang Yahudi ialah sebagai berikut:</p>
<p>-   Yahudi ikut bersama kaum muslimin dalam mengeluarkan biaya perang selama terjadi peperangan dan saling membantu dalam penebusan diat.</p>
<p>-  Orang Yahudi tidak boleh keluar dari Madinah kecuali dengan izin dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>-  Kaum Yahudi harus menafkahi diri mereka sendiri sebagaimana kaum muslimin menafkahi dari mereka sendiri. Hanya, mereka semua bersatu untuk melawan siapa saja yang memerangi ahli perjanjian ini dan menolong orang yang dizalimi.</p>
<p>-  Tidak boleh melindungi Quraisy dan harta mereka serta sekutu mereka.</p>
<p>-   Semua perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>-  Kota Madinah haram bagi ahli perjanjian ini.</p>
<p>Para ulama ahli sejarah menyebutkan pula bahwa perjanjian yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bagi sesama kaum muslimin bersamaan perjanjian dengan kaum Yahudi ini. Akan tetapi, menurut ulama ahli tahqiq, perjanjian antara kaum muslimin tersebut dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> setelah Perang Badar sedangkan perjanjian dengan kaum Yahudi ini dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika pertama kali tiba di Madinah sebelum Perang Badar. Dengan perjanjian ini, maka hukum yang berlaku di Madinah dan kekuasaan mutlak adalah di tangan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kaum muslimin.</p>
<h2>Beberapa Peristiwa di Darul Hijrah</h2>
<p>Orang-orang Yahudi menuduh (mengolok-olok) bahwa kaum muslimin terkena sihir sehingga mereka tidak dapat melahirkan anak. Sebab itu, para sahabat sangat berbahagia tatkala Asma binti Abu Bakar yang dalam keadaan hamil tua datang ke Madinah bersama rombongan Muhajirin dari keluarga Abu Bakar, lalu setibanya di Quba’ ia melahirkan putranya bernama Abdullah bin Zubair. Mereka gembira dengan lahirnya Abdullah bin Zubair sebagai anak pertama yang lahir di Madinah bagi Muhajirin sebagaimana Nu’man bin Basyir anak pertama yang lahir bagi kaum Anshar. Demikianlah Allah membungkam tuduhan dusta Yahudi tersebut.</p>
<p>Peristiwa lain yang menjadi ujian bagi para sahabat di Madinah dan fitnah bagi orang-orang kafir adalah penyakit yang disebut “demam Madinah”. Para sahabat Muhajirin ditimpa sakit demam Madinah yang sangat parah sehingga mereka melakukan shalat dalam keadaan duduk. Adapun Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dijaga oleh Allah sehingga demam itu tidak menimpanya. Ketika melihat keadaan sahabatnya yang menderita akibat penyakit demam ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada Madinah sebagaimana kami mencintai Mekah atau lebih (dari itu), jadikanlah Madinah sehat, berkahilah sha’ dan mud-nya (alat untuk menakar barang), dan pindahkanlah penyakit demamnya ke Juhfah (lembah di Mekah).</em>” (HR. Bukhari: 39260</p>
<p>Selain itu, yang lebih dahsyat lagi adalah ancaman Quraisy terhadap Muhajirin dan Anshar serta makar Abdullah bin Ubay; tokoh kaum munafiqun. Tatkala Rasulullah datang ke Madinah bersama para sahabat, penduduk Madinah telah sepakat untuk menobatkan Ibnu Ubay ini sebagai raja penguasa di Madinah. Akan tetapi, hal ini tidak terpenuhi karena Rasulullah-lah yang menjadi pemimpin Madinah dengan kepemimpinan <em>nubuwwah</em>. Oleh karena itu, ia enggan masuk Islam sebab menurutnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah merampas kekuasaannya dan ia memilih untuk menjadi munafik (menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran). Ia memusuhi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan cara nifaq sebab ia tidak berani dan tidak memiliki kekuatan untuk memusuhi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan terang-terangan seperti kafir Quraisy atau Yahudi. Keadaan Abdullah bin Ubay seperti ini merupakan angin segar bagi Quraisy karena ia seagama dengan mereka. Quraisy menulis surat kepadanya untuk membuat makar yang dapat memadharatkan (membahayakan) kaum muslimin sebagaimana yang mereka perbuat terhadap nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat di Mekah. Ibnu Ubay melaksanakan perintah ini. Tentang kejahatan orang ini terhadap Islam dan kaum muslimin akan kita ketahui pada bahasan-bahasan yang akan datang, insya Allah.</p>
<p>Untuk mewaspadai bahaya ini, para sahabat selalu mengadakan penjagaan terhadap Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada malam hari hingga turun ayat:</p>
<p>“<em>&#8230;Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia&#8230;</em>” (QS. Al-Maidah: 67)</p>
<p>Maksudnya, Allah memelihara kamu sehingga engkau tidak terbunuh sebelum menyelesaikan tugas menyampaikan risalah-Nya. Seteah turunnya ayat terebut Rasulullah berkata kepada sahabatnya, “<em>Pulanglah kalian karena Allah telah menjagaku.</em>” (Shahih. HR. at-Tirmidzi: 3250)</p>
<p>Sebagai bukti dari ancaman dan permusuhan ini, Quraisy menghalangi orang Anshar dari Masjidil Haram seperti dalam kisah Sahabat mulia Sa’ad bin Mu’adz dengan Abu Jahal. Ceritanya, Sa’ad bin Mu’adz datang ke Mekah untuk melakukan umrah. Tatkala beliau thawaf di Ka’bah Abu Jahal mengetakan kepadanya, “Mana boleh kamu bisa melakukan thawaf di Ka’bah sementara kalian melindungi Muhammad dan sahabatnya?!” Keduanya saling beradu mulut. Sa’ad berkata kepada Abu Jahal, “Demi Allah, jika kamu menghalangiku untuk thawaf di Ka’bah maka akan kuhalangi perdaganganmu ke Syam.” Sa’ad mengancamnya bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan membunuhnya. Dan memang benar, Abu Jahal terbunuh dalam Perang Badar. (HR. Bukhari, no.3642)</p>
<h3>Ahli Shuffah</h3>
<p>Indahnya kehidupan para sahabat menggambarkan betapa mulianya umat ini sebagai umat pilihan Allah untuk menemani Rasul-Nya. Mereka yang kaya berdiri satu shaf dengan mereka yang miskin dalam menegakkan jihad fi sabillah. Aqidah Islam yang kuat dalam diri mereka menghilangkan perbedaan status sosial dengan segala macamnya.</p>
<p>Hijrahnya sebagian sahabat yang meninggalkan rumah dan harta kekayaan mereka karena Allah tentu menjadi masalah bagi sebagian mereka. Sekalipun kaum Anshar telah mencurahkan apa saja yang mereka miliki untuk saudara mereka Muhajirin, masih ada sebagian Muhajirin yang membutuhkan tempat tinggal apalagi dengan makin bertambahnya kaum Muhajirin yang berdatangan ke Madinah. Sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengkhususkan tempat di bagian belakang masjid untuk tempat tinggal mereka. Mereka yang tinggal di tempat itu disebut ahli shuffah (penghuni shuffah). Shuffah artinya tempat yang diberi atap. Tampaknya shuffah ini luas sehingga dapat memuat banyak orang sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah memakainya untuk walimah yang dihadiri 300 orang sekalipun sebagian mereka duduk pada bagian kamar istri-istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menempel pada masjid. (HR. Muslim Kitab Nikah no. 94)</p>
<p>Pada asalnya shuffah ini untuk fuqara (orang-orang fakir) Muhajirin. Selain itu, ia juga menjadi tempat bagi orang-orang yang datang ke Madinah menemui Rasululalh <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk masuk Islam. Demikian pula, ada sebagian Anshar yang lebih mengutamakan hidup zuhud memilih untuk tinggal bersama fuqara Muhajirin dan para pendatang di shuffah walaupun mereka memiliki rumah, seperti: Ka’ab bin Malik, Hanzhalah bin Abi Amir, dan Haritsah bin Nu’man.</p>
<p>Jumlah mereka terkadang banyak atau sedikit tergantung banyak dan sedikitnya para pendatang. Yang tetap sebagai ahli shuffah berkisar 70 orang sahabat. Di antara mereka yang paling terkenal adalah: Abu Hurairah, Abu Dzar al-Ghifari, Abdullah bin Mas’ud, Salman al-Farisi, Hudzaifah bin Yaman, Khabbab bin Arat, Zaid bin Khaththab, Shuhaib ar-Rumi, Bilal bin Rabah, Irbadh bin Sariyah, Syaqran, Safinah maula Rasulullah, dan Salim maula Abu Hudzaifah.</p>
<h3>Keadaan Ahli Shuffah</h3>
<p>Ahli shuffah, dengan kehidupan mereka yang serba sederhana dan zuhud, benar-benar mencurahkan waktu untuk menuntut ilmu ber-mulazamah dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bermulazamah dengan masjid untuk ibadah, serta mengutamakan zuhud dan kefakiran. Karena itu, tidak heran jika di antara mereka ada yang keluar sebagai ahli ilmu, ahli hadis seperti Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, dan Hudzaifah bin Yaman yang menghafal hadis-hadis tentang fitnah.</p>
<p>Dalam keadaan seperti itu bukan berarti mereka hanya mengurusi ibadah dan ilmu untuk diri mereka sendiri. Lebih dari itu, mereka memiliki andil besar dalam masalah-masalah umat. Mereka pun ikut serta dalam <em>jihad fi sabilillah</em>. Bahkan di antara mereka ada yang mati syahid di berbagai peperangan. Ada yang mati syahid di Perang Badar atau Uhud. Ada yang ikut perang Hudaibiyah. Ada yang mati syahid dalam <strong>Perang Khaibar</strong>, <strong>Perang Tabuk</strong>, dan Perang Yamamah. Yang jelas, mereka ahli ibadah di masjid pada malam hari dan ahli penunggang kuda di medan perang pada siang hari.</p>
<p>Pakaian mereka sangat terbatas sehingga di antara mereka ada yang hanya memiliki selembar kain saja. Pada musim dingin ada yang pakaiannya hanya sampai setengah betis atau bahkan hanya sampai lutut. Adapun makanan mereka umumnya hanya kurma. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sering kali mengundang mereka untuk makan di rumah beliau ala kadarnya. Begitu pula para sahabat yang memiliki kelebihan sendiri mengundang ahli shuffah untuk makan di rumah mereka. Akan tetapi, mereka lebih banyak lapar daripada kenyang hingga Abu Hurairah pernah jatuh pingsan antara mimbar dan rumah Aisyah karena sangat lapar. Sungguh mereka puas dengan keterbatasan, makanan yang serba kurang, dan pakaian yang tidak cukup dan layak. Hati mereka bersih sehingga lebih mengutamakan ibadah kepada Allah dan mempelajari ilmu serta berjihad di jalan Allah. Karena itu, sungguh layak mereka dijadikan teladan dalam kezuhudan.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat sangat memperhatikan keadaan ahli shuffah ini. Beliau menziarahi mereka, menanyakan keadaan mereka, serta menjenguk yang sakit di antara mereka. Sebagaimana beliau sering bermajelis dengan mereka, menasihati dan membantu mereka, membacakan ayat-ayat Alquran kepada mereka, mengajak mereka agar rindu kepada akhirat, dan mendorong mereka agar menganggap hina urusan dunia.</p>
<p>Apabila ada sedekah datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka beliau mengirimkannya kepada mereka, atau jika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendapat hadian maka beliau mengirimkannya kepada mereka atau beliau mengundang mereka untuk ikut menikmati bersama beliau di rumahnya. Bahkan terkadang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajak para sahabat untuk mengundang ahli shuffah ikut makan malam di rumah mereka. Sabda beliau, “<em>Siapa di antara kalian yang memiliki makanan untuk dua orang maka hendaknya mengundang orang yang ke-3 dan siapa yang memiliki makanan untuk 4 orang maka mengajak orang yang ke-5 atau yang ke-6</em>.” (HR. Bukhari, no.602). (<em>Sir</em><em>ah </em>oleh Dr. Akram, 1:257-267 dan <em>Sir</em><em>ah</em> Dr. Mahdi, 1:360-368)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 7 Tahun Ke-8 1430 H/2009</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/beberapa-peristiwa-di-darul-hijrah">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/l_-MKho2qq0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/beberapa-peristiwa-di-darul-hijrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/beberapa-peristiwa-di-darul-hijrah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Imam Az-Zuhri, Ahli Hadits yang Penuh Semangat</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/zZXDo84yZkg/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/imam-az-zuhri-ahli-hadits-yang-penuh-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 May 2012 04:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Tabi'in]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2431</guid>
		<description><![CDATA[Imam Az-Zuhri, Ahli Hadits yang Penuh Semangat Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri, termasuk shighar at-tabi’in (tabi’in junior) lahir pada tahun 50 atau 51 H. Beliau adalah seorang yang kaya lagi dermawan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Imam Az-Zuhri, Ahli Hadits yang Penuh Semangat</strong></h2>
<p>Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Syihab <strong>Az-Zuhri</strong>, termasuk <em>shighar at-tabi’in</em> (<strong>tabi’in junior</strong>) lahir pada tahun 50 atau 51 H.</p>
<p>Beliau adalah seorang yang kaya lagi dermawan. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Daulah Bani Umayyah. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengaruniakan kepada beliau kecerdasan yang tinggi dan kekuatan hafal yang mengagumkan, dengan itu semua beliau mendapat kedudukan tinggi terutama dalam bidang ilmu hadis, dan kepada beliau bermuaralah ilmu hadis. Beliaulah orang pertama yang membukukan ilmu hadis atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.<br />
<span id="more-2431"></span><br />
Abu Bakar al-Hudzali mengatakan, “Aku telah duduk bermajelis kepada Hasan al-Bashri dan Ibu Sirin, namun aku tidak melihat seorang pun yang semisal dengan Imam <em>Az-Zuhri</em>.”</p>
<p>Bila dibandingkan beliau, maka Hasan al-Bashri dan Ibnu Sirin jauh di atas beliau karena mereka adalah termasuk para tabi’in senior, tetapi ilmu adaah semata-mata anugerah dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengaruniakan keutamaan dan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.</p>
<p>Beliau banyak mengambil ilmu dari para tabi’in senior seperti kepada Sayyidut Tabi’in Sa’id bin Musayyib, Urwah bin Zubair, Al-Qasim bin Muhammad, dan yang lainnya. Sementara itu, beberapa murid ternama beliau antara lain: Imam Malik bin Anas “Imam Daril Hijrah”, Al-Laits, Sufyanain, dan para imam besar dari kalangan tabi’ut tabi’in senior lainnya.</p>
<h3>Pujian Ulama kepada Beliau</h3>
<p>Amr bin Dinar mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui tentang hadis dibandingkan Ibnu Syihab (Imam Az-Zuhri).”</p>
<p>Ahmad bin Hambal berkata, “Az-Zuhri adalah manusia yang terbaik hadisnya dan terbagus jalan sanadnya.”</p>
<p>Al-Laits menyatakan, “Aku tidak melihat seorang alim pun yang lebih luas ilmunya dibandingkan Imam Az-Zuhri. Tatkala beliau berbicara tentang <em>targhib</em> (nasihat dan anjuran), engkau akan katakan: ‘Tidak ada yang terbaik kecuali beliau’, bila beliau berbicara tentang hari-hari Arab dan penyebutan nasab, engkau akan katakan: ‘Tidak ada penyebutan nasab, engkau akan katakan: ‘Tidak ada yang terbaik kecuali beliau’, dan bila beliau sedang berbicara tentang Alquran dan hadis, engkau pun akan mengatakan yang semisal.”</p>
<p>Imam Makhul pernah ditanya, “Siapa orang yang paling alim yang pernah engkau jumpai?” Ia menjawab, “Ibnu Syihab.” Lalu ditanyakan, “Siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibnu Syihab.” “Dan siapa lagi?” Beliau tetap menjawab, “Ibnu Syihab.”</p>
<h3>Faktor Pendukung Keunggulan Beliau</h3>
<p>Tak ada seorang pun yang terlahir ke alam dunia ini dalam keadaan berilmu, telah hafal Alquran dan hadis, memiliki pemahaman yang benar dari pemahaman yang menyimpang; tentu tidak ada. Seluruhnya sama, namun yang membedakan adalah bekal yang cukup dan ketinggian semangat. Tentunya hal itu tidak terlepas dari rahmat dan <em>fahdilah</em> (keutamaan) dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Syaikhul Islam tidaklah beliau menjadi Syaikhul Islam kecuali setelah melakukan upaya yang tidak dilakukan oleh selainnya, demikian juga Az-Zuhri tidaklah beliau menjadi Imam Az-Zuhri melainkan karena beliau memiliki beberapa faktor pendukung yang tidak dimiliki oleh yang selainnya. Di antara sebab-sebab dan faktor pendukung beliau adalah:</p>
<p><strong>1. Dalam Kekuatan Hafalan</strong><br />
Kekuatan hafalan beliau menjadi ayat yang nyataa kan keutamaan beliau.</p>
<p>Imam adz-Dzahabi berkata, “Di antara yang menunjukkan kekuatan hafalan Imam Az-Zuhri adalah beliau mampu hafal Alquran hanya dalam waktu 8 hari, sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh putra saudara beliau, Muhammad bin Abdillah.”</p>
<p>Imam Az-Zuhri pernah mengatakan, “Aku tidak pernah melakukan persiapan dalam menyampaikan hadis, dan aku tidak pernah ragu tentang hafalanku kecuali satu hadis, lalu aku tanyakan kepada saudaraku, ternyata itu pun sama dengan yang aku hafal.”</p>
<p>Al-Laits berkata, “Ibnu Syihab pernah mengatakan, ‘Tidaklah sedikit pun sesuatu yang telah aku hafal lalu aku lupa setelahnya’.”</p>
<p><strong> 2. Beliau menulis seluruh yang ia dengar</strong><br />
Dari Abdurrahman bin Abi Zinad dari ayahnya ia berkata, “Aku pernah berthawaf bersama Ibnu Syihab, dan ia membawa lembaran-lembaran dan buku tulis sampai kami menertawakannya.” Dalam riwayat lain, “Kami menulis perkara halal dan haram sedangkan Ibnu Syihab menulis semua yang ia dengar, ketika kami merasa butuh dengan beliau, barulah kami tahu bahwa beliau manusia yang paling mengetahui.”</p>
<p><strong>3. Keuletan dalam menuntut ilmu dan <em>mudzakarah</em></strong><br />
Beliau mengatakan, “Aku pernah mengikuti guruku Sa’id bin Musyayyib dalam rangka mencari hadis selama tiga hari.”</p>
<p>Beliau juga mengatakan, “Lututku selalu menempel pada lutut Sa’id bin Musayyib selama delapan tahun.”</p>
<p>Artinya, beliau selalu bermajelis menuntut ilmu kepada Sa’id bin Musayyib, dekat dengan beliau dan tidak melalaikan bahkan terkadang mereka pergi meninggalkan kampungnya karena untuk mencari sebuah hadis.</p>
<p>Selain kepada Sa’id bin Musayyib beliau juga menimba ilmu kepada Urwah bin Zubair. Suatu hari ia menemui budak wanita beliau, sedang ia tengah tertidur, lalu ia membangunkannya seraya mengatakan, “Fulan dari fulan dan dari fulan telah menceritakan hadis kepadaku…” Lalu budak wanita tersebut berkomentar, “Apa peduliku dengan itu semua.” Az-Zuhri menjawab, “Aku tahu engkau tidak akan mengerti dengan ini semua, hanya saja tiba-tiba aku teringat dengan satu hadis dan aku ingin mengulang-ulanginya.”</p>
<p>Beliau juga mengatakan, “Penyebab hilangnya ilmu itu karena lupa dan tidak diulang-ulang (<em>muraja’ah</em>).”</p>
<p><strong>4. Memuliakan ilmu dan ahli ilmu</strong><br />
Imam Az-Zuhri pernah bercerita, “Aku pernah datang ke rumah Urwah bin Zubair, di depan pintu aku berhenti hingga akhirnya aku pergi dan tidak jadi masuk, seandainya aku pergi dan tidak jadi masuk, itu tidak aku lakukan yang demikian karena memuliakan beliau.”</p>
<p>Dari Sufyan ia mengatakan, “Aku mendengar Az-Zuhri mengatakan, ‘Si fulan telah menceritakan hadis kepadaku dan beliau adalah lautan ilmu’, tidak hanya sekadar mengatakan ‘beliau adalah seorang yang alim’.”</p>
<p>Beliau lakukan itu karena memuliakan ilmu dan ahli ilmu. Beliau sangat menghormati gurunya, memuliakannya, karena merekalah orang-orang yang banyak memberi manfaat dan kebaikan, dan demikianlah para salah mengajarkan kepada kita.</p>
<p><strong>5. Mengambil sebab untuk membantu kuatnya hafalan</strong><br />
Imam Az-Zuhri pernah mengatakan, “Barangsiapa yang senang menghafal hadis hendaklah ia memakan kismis/anggur kering.” Al-Hakim mengomentari, “Karena kismis/anggur keringnya negeri Hijaz hangat, manis dan lembut, terlihat kering, dan dapat mencegah lendir.”</p>
<p>Al-Laits mengatakan, Imam Az-Zuhri sering meminum madu seperti minumnya seorang terhadap minumannya, beliau mengatakan, ‘Beri kami minum madu dan ceritakanlah hadis kepadaku.’ Dan beliau sangat sering minum madu, dan tidak makan apel sedikit pun.”</p>
<p>Beliau (Al-Laits) juga mengatakan, “Az-Zuhri pernah mengatakan, ‘Tidaklah sesuatu yang telah melekat di hatiku lalu lupa di kemudian hari.’ Beliau membenci makan apel, namun beliau senang meminum madu. Katanya, ‘Madu itu dapat mempertajam ingatan’.”</p>
<h3>Beberapa Perkataan Mutiara Beliau</h3>
<p>Beliau pernah mengatakan, “Perbanyaklah melakukan sesuatu yang tidak akan disentuh api neraka.” Lalu ada yang bertanya, “Apakah itu?” Beliau menjawab, “Perbuatan baik.”</p>
<p>Beliau mengatakan, “Tidaklah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> itu diibadahi dengan sesuatu yang lebih afdhal dibanding dengan ilmu.”</p>
<p>Beliau mengatakan, “Para ulama sebelum kita berkata, ‘Berpegang teguh dengan sunah adalah keselamatan, sedang ilmu dicabut dengan begitu cepatnya. Dengan kemuliaan ilmu tegaklah agama dan dunia, dan dengan hilangnya ilmu hilang pula agama dan dunia.”</p>
<p>Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> merahmati Imam Az-Zuhri, meridhainya, dan menempatkan beliau di tempat yang agung di sisi-Nya. Amin.</p>
<h3>Mutiara Teladan</h3>
<p>Sangat banyak sekali catatan penting dari perjalanan hidup beliau yang hendaknya menjadi <em>qudwah</em> (panutan) bagi kita, di antaranya:</p>
<p>1. Menulis adalah sebuah keharusan terutama bagi seorang penuntut ilmu syar’i karena mereka tidak akan lepas dari pena dan kertas. Tulisan akan memperkuat ingatan. Dengan tulisan akan terikat seluruh ilmu dan faidah yang telah ia dapatkan. Karena ilmu ibaratnya sebuah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikatnya.</p>
<p>Imam Syafi’I pernah mengatakan,</p>
<blockquote><p>“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah pengikatnya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Merupakan kedunguan bila engkau telah berburu kijang. Lalu kau biarkan ia terlepas di hadapan manusia.”</p></blockquote>
<p>2. Hendaklah setiap hamba berusaha dalam mencari sebab untuk sesuatu yang ia harapkan. Islam tidak pernah mengajari kita untuk berpangku tangan dan pasrah dengan takdir. Namun, berusahalah; dan masing-masing akan dimudahkan kepada jalannya. Bagi mereka yang menginginkan menjadi seorang yang alim, maka belajarlah, ikat semua ilmu yang telah didapatkan, dan sebanyak mungkin lakukan <em>muraja’ah</em> terhadap ilmu tersebut. Setelah itu, banyaklah berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> semoga Dia menjadikannya termasuk ahli imu yang mengamalkan ilmunya.</p>
<p>3. Merupakan adab bagi penuntut ilmu adalah hendaknya dia memuliakan ilmu dan ahli ilmu karena ilmu yang sesungguhnya akan menjadikan kita untuk <em>tawadhu</em> (rendah hati). Adapun orang pertama yang akan dia hormati adalah orang-orang yang telah mengajarkan ilmu kepadanya. Ilmu tidak mengajarkan kepada kita agar menjadi semakin sombong dan merendahkan orang lain, tetapi justru semakin dia bertambah ilmunya, maka akan semakin tinggi <em>tawadhu’-</em>nya, sebagaimana padi –makin berisi makin menunduk–.</p>
<p><em>Wallahu a’lamu bishshawab.</em></p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 8 Tahun Ke-11 1433</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/imam-az-zuhri-ahli-hadits-yang-penuh-semangat" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/zZXDo84yZkg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/imam-az-zuhri-ahli-hadits-yang-penuh-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/imam-az-zuhri-ahli-hadits-yang-penuh-semangat/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Fathu Makkah, Hari yang Ditunggu</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/_jMLSRehDRc/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/fathu-makkah-hari-yang-ditunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 07:14:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2426</guid>
		<description><![CDATA[Fathu Makkah, Hari yang Ditunggu Tatkala bangsa Arab melihat pertempuran antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaumnya (kabilah Quraisy), mereka berkata, “Biarkan Muhammad berperang melawan kaumnya sendiri, jika dia menang, maka benar bahwa dirinya seorang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><em>F</em><em>athu </em><em>M</em><em>akkah</em>, Hari yang Ditunggu</h2>
<p>Tatkala bangsa Arab melihat pertempuran antara Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kaumnya (kabilah Quraisy), mereka berkata, “Biarkan Muhammad berperang melawan kaumnya sendiri, jika dia menang, maka benar bahwa dirinya seorang nabi dan sekaligus kebanggaan bagi kita bangsa Arab dari umat yang lain. Dan jika sebaliknya dia kalah, maka kita telah selamat dari kedustaannya.”</p>
<p>Di sisi lain, ada golongan yang menunggu untuk masuk Islam apabila semua umat manusia telah masuk Islam. Oleh karena itu, mereka menunggu <strong><em>fathu makkah</em></strong> (penaklukan Mekah). Sebab kebanyakan manusia taklid dan mengekor pada manusia yang lain tanpa menilai kebenaran yang hakiki dengan akalnya yang lurus dan dalil.</p>
<p>Sikap semacam ini tentunya baik, akan tetapi yang lebih baik adalah menilai kebenaran Islam dan memeluknya karena dalil yang menunjukkan kebenarannya dan tidak bergantung pada kebanyakan orang. Oleh karena itu, tidak sama derajat mereka yang masuk Islam pada awal dakwah dengan mereka yang masuk Islam pada akhir masa dakwah Rasulullah. Tidak sama antara yang berkorban dengan jiwa dan harta dalam Islam ketimbang lainnya. Tidak sama antara yang masuk Islam dan berjihad <em>fi sabilillah</em> sebelum <em>fathu makkah</em> dengan yang berjihad sesudahnya. Firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">لاَيَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولاَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا</p>
<p>“<em>Tidak sama antara kalian yang berinfaq dan berperang sebelum </em><em>f</em><em>athu </em><em>mak</em><em>kah atau </em><em>h</em><em>udaibiyah, mereka itu lebih tinggi derajatnya daripada mereka yang berinfaq dan berperang sesudahnya</em>.” (QS. Al-Hadid: 10)</p>
<p>Amru bin Salimah berkata, “Kaum Arab menunda keislaman mereka karena menanti <em>f</em><em>athu</em> <em>mak</em><em>kah</em>. Maka tatkala terjadi <em>fathu makkah</em>, setiap kabilah bersegera masuk Islam dan bapakku segera mendahului kaumku masuk Islam.” (Diriwayatkan Bukhari, 4302)</p>
<p>Para musuh yang memerangi kenabian menyangka akan mengalahkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> sedangkan mereka yang dikehendaki hidayah oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menunggu kemenangan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar dia masuk Islam.</p>
<p><em>F</em><em>athu makkah</em> artinya pembebasan Mekah dari negeri kufur menjadi negeri Islam. Pada hari itu Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menolong dan memenangkan tentara-Nya serta memberantas kekafiran (<em>nasrullah wal fathu</em>) sebagaimana dalam surat An-Nashr.</p>
<p>Dahulu sebagian sahabat mengeluhkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beratnya siksaan Quraisy terhadap mereka dan memohon keada beliau agar berdoa kepada Allah supaya menyegerakan kemenangan akan tetapi Rasulullah menjawab, “<em>Sungguh agama ini akan jaya akan tetapi kalian terburu-buru</em>”. Rasulullah mentarbiyah sahabatnya dengan pengorbanan dan kesabaran karena buahnya pasti tercapai sekalipun lama. Lihatlah buah dari perjuangan dan kesabaran mereka tercapai setelah 21 tahun dalam berdakwah dan jihad <em>fi sabilillah</em>.</p>
<h3>Sebab Terjadinya <em>Fathu Makkah</em></h3>
<p>Telah kita ketahui bahwa dalam perjanjian damai di Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriah terjadi kesepakatan antara Quraisy dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di antaranya: Gencatan senjata selama 10 tahun dan boleh bagi siapa saja yang hendak bersekutu dengan Nabi Muhammad atau Quraisy. Maka Bani Bakr bergabung dengan Quraisy sedangkan bani Khuza’ah bergabung dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Kedua belah pihak berada di masa itu dalam keadaan aman dan damai tanpa perang. Akan tetapi, kaum kafir yang menghalalkan segala sesuatu tidak mungkin <em>iltizam</em><em> </em>(komitmen) dan memelihara perdamaian. Setelah berlalu setahun lebih Bani Bakr bersekutu dengan Quraisy memerangi Bani Khuza’ah sekutu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atas dasar permusuhan masa lampau antara kedua kabilah tersebut. Mereka dibantu oleh Quraisy dengan harta, senjata, dan tentara karena dendam kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dengan demikian, maka mereka telah melanggar perjanjian Hudaibiyah dan mengobarkan api peperangan terhadap Rasulullah <em>s</em><em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Bani Khuza’ah segera berangkat ke Madinah meminta pertolongan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>,</em> maka beliau mengabulkan permohonan mereka.</p>
<p><strong>Quraisy Menyesal</strong></p>
<p>Tindakan Quraisy membantu sekutu mereka dalam memerangi sekutu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menujukkan bahwa mereka telah melanggar perdamaian Hudaibiyah dan mereka menyadari akan hal ini. Mereka menyesal dan takut kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan akibat yang akan timbul dari ulah mereka tersebut. Oleh karena itu, mereka segera mengirim Abu Sufyan <em>radhiallahu ‘anhu</em> (yang waktu itu masih kafir, <em>red.</em>) ke Madinah dengan tujuan untuk memperbarahui akad perdamaian damai.</p>
<p>Abu Sufyan <em>radhiallahu ‘anhu</em> berangkat menuju ke Madinah untuk memohan maaf kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan memperbaiki perdamaian, tetapi sesampainya di Madinah, ia tidak bertemu langsung dengan Rasululah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> karena malu dan keberatan. Abu Sufyan <em>radhiallahu ‘anhu</em> menemui Abu Bakar <em>radhiallahu ‘anhu</em> agar beliau menjadi duta atau perantara dirinya dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu kepada Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>, lalu kepada Ali dan Fatimah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, tetapi mereka semua menolak. Sikap para sahabat mulia ini menunjukkan bahwa tidak ada <em>wala’</em> (loyalitas) dan syafaat buat orang-orang kafir.</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan <em>radhiallahu ‘anhu</em> tatkala sampai di Madinah, masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibah <em>radhiallahu ‘anhu</em> Ummul Mukminin –istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>- dan tatkala hendak duduk di tikar, maka Ummu Habibah melipatnya. Tindakan tersebut yang membuat bapaknya heran seraya mengatakan, “Apakah kamu melipat tikar ini karena jelek tidak layak aku duduki ataukah kamu tidak mengizinkan aku karena kehormatan tikar ini?” Maka Ummu Habibah <em>radhiallahu ‘anhu</em> menjawab, “Ini tikar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ayah tidak pantas mendudukinya sedang ayah seorang musyrik.” Abu Sufyan mengatakan, “Wahai putriku, sekarang kamu menjadi anak yang durhaka setelah pisah dengan orang tuamu.” Kemudian dia keluar menemui Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan mengajaknya bicara, tetapi beliau diam tidak menjawabnya sedikit pun. Maka Abu Sufyan kembali ke Mekah dalam keadaan sia-sia dan ini pertanda bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak memaafkan karena mereka dalam pelanggaran ini.</p>
<h3>Rasulullah Menyiapkan Pasukan</h3>
<p>Tibalah saatnya untuk memerangi Quraisy dengan hak, dimana selama ini mereka memerangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan sahabatnya tanpa alasan yang dapat dibenarkan.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintah para sahabatnya untuk bersiap perang, beliau merahasiakan tujuannya agar Quraisy tidak bersiap perang, hingga umat Islam kepung negeri mereka.”</p>
<p>Mereka bersiap hinggap terkumpul 10.000 tentara. Tidak ada yang tertinggal seorang pun dari Muhajirin dan Anshar serta kabilah-kabilah yang tinggal di dekat Madinah. Bilangan yang sangat banyak ini menunjukkan betapa besarnya kemenangan Islam selama masa perjanjian Hudaibiyah (yang disebut oleh Allah dalam Surat Al-Fath sebagai hari kemengan) yang baru berlangsung kurang dari dua tahun, betapa banyak yang masuk Islam dalam selang waktu gencatan senjata antara Quraisy dan kaum muslimin. Pada waktu Perang Ahzab tahun ke-5 pasukan sahabat hanya sebanyak 3.000 tentara dan yang ikut di Hudaibiyah pada tahun ke-6 hanya 1400 sahabat. Ini menunjukkan pengaruh positif dakwah Islam tatkala dibiarkan leluasa tanpa dihalangi atau diperangi.</p>
<p>Di tengah perjalanan, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitahukan tujuannya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> agar menutup semua berita kepada kaum Quraisy sebab beliau menghendaki penduduk Mekah meneyrah dengan damai dan tidak menghendaki adanya peperangan terhadap kaumnya di Mekah.</p>
<h3>Kisah Hathib bin Abi Balta’ah</h3>
<p>Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sangat merahasiakan peperangan ini dan berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> agar menutup semua berita kepada kaum Quraisy, sebab beliau menghendaki penduduk Mekah menyerah dengan damai dan tidak menghendaki adanya peperangan terhadap kaumnya di Mekah. Akan tetapi, Hathib bin Abi Balta’ah <em>radhiallahu ‘anhu</em> demi kemaslahatan diri dan keluarganya mengirim surat ke Mekah lewat seorang wanita memberitahukan kepada keluarganya dan penduduk Mekah tentang tujuan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Wahyu datang kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang perbuatan Hathib ini, maka beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepada Ali, Zubair, dan Miqdad <em>radhiallahu ‘anhum</em> untuk mengejar wanita tersebut sebelum tiba di Mekah. Seraya berkata, “<em>Berangkatlah kalian hingga sampai di Raudhah Khah, di sana ada seorang wanita membawa surat</em>.”</p>
<p>Tatkala mereka mendapati wanita itu di tempat tersebut, mereka meminta kepadanya untuk menyerahkan surat tetapi dia mengingkari bahwa dirinya tidak membawa surat, maka mereka mengatakan, “Keluarkan surat itu atau kami buka pakaianmu.” Lalu dia (wanita itu) mengeluarkannya dari jalinan rambutnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepada Hathib <em>radhiallahu ‘anhu</em>, “<em>Kenapa engkau melakukan ini, wahai Hathib</em>?” Dia menjawab, “Saya tidak melakukannya karena murtad atau cinta kekafiran, tetapi saya hendak memiliki penolong dari Quraisy yang dapat menjaga kerabat saya.” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Dia jujur</em>.” Adapun Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> berkata, “Izinkan saya bunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah.” Maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, “<em>Sesungguhnya dia ikut Perang Badar. Tahukah kamu, sesungguhnya Allah berkata, ‘Beramallah kalian hai ahli badar, sungguh Aku telah mengampuni dosa kalian’</em>.” Lalu Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan ayat,</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali yang kalian cintai padahal mereka kafir</em>.” (QS. Al-Mumtahanan: 1)</p>
<p>Maka Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> menangis menyesali perkataannya tersebut.</p>
<p>Mereka berangkat pada bulan Ramadhan tahun ke-8 dalam keadaan berpuasa hingga tiba di Kudaid lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbuka dan menyuruh para sahabat untuk berbuka puasa.</p>
<p>Sebagaimana biasa, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala meninggalkan Madinah, maka beliau memilih khalifah di Madinah Abu Ruhmin Kulsum bin Hushain.</p>
<h3>Pembesar Quraisy Masuk Islam</h3>
<p>Sebelum Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan pasukannya tiba di Mekah beberapa tokoh Quraisy bertemu beliau untuk masuk Islam yang semula mereka akan menuju ke Madinah di antaranya Abu Sufyan bin Haris sepupu beliau dan Abdullah bin Abi Umayyah <em>radhiallahu ‘anhu</em> –dahulu bersama Abu Jahal- menghalangi Abu Thalib mengatakan syahadat.</p>
<p>Juga paman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bersama keluarganya bertemu dengan beliau untuk hijrah ke Madinah. Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> telah masuk Islam sebelum itu, tetapi beliau tetap tinggal di Mekah karena maslahat dakwah.</p>
<p>Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> telah masuk Islam sebelum Perang Khaibar pada tahun ke-6, tetapi beliau menyembunyikan Islamnya karena maslahat dakwah dan menjadi mata-mata bagi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap Quraisy di Mekah.”</p>
<p>Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> tidak memasukkan Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> dalam anggota majlis syura karena beliau tidak hijrah sebelum <em>fathu makkah</em> padahal Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengetahui keutamaannya dan pernah bertawassul dengannya dalam istiqa.</p>
<p><strong>Pelajaran dari Kisah</strong></p>
<p>Sesungguhnya dalam kisah para sahabat terdapat <em>ibrah</em> (pelajaran) bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Di antara <em>ibrah</em> yang kita ambil dari kisah dia atas antara lain:</p>
<ol>
<li>Abu Sufyan tidak memaksakan kehendaknya pada putrinya dengan melarangnya menikah dengan Rasulullah dan tidak menghukum anaknya ketika melipat tikar padahal dia pembesar Quraisy dan tokoh kufur.</li>
<li><em>Wala’</em> hanya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan Rasul-Nya sekalipun kerabat atau manusia murka.</li>
<li>Semua yang terjadi pada sahabat, meski tampaknya tidak baik, atas kehendak Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> untuk menjelaskan hukum syariat berkaitan dengan peristiwa tesebut, seperti kisah Hathib <em>radhiallahu ‘anhu</em>.</li>
<li><em>Fathu makkah</em> menyingkap tabir syubhat yang menghalangi manusia dari Islam, maka tidak ada kebaikan bagi yang tidak masuk Islam setelah <em>fathu makkah</em> hingga akhir zaman.</li>
<li>Seorang yang mulia terkadang melakukan pelanggaran namun tidak kafir karenanya, sebab kejelakannya tenggelam dalam lautan kebaikannya.</li>
</ol>
<p>Lihat <em>Sirah Nabawiyyah</em> oleh Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad: 535-541.</p>
<p>Sumber: <a title="fathu mekah" href="http://kisahmuslim.com/fathu-makkah-hari-yang-ditunggu" target="_blank">Majalah Al-Furqon</a> Edisi 8 Tahun Ke-11 1433</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/_jMLSRehDRc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/fathu-makkah-hari-yang-ditunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/fathu-makkah-hari-yang-ditunggu/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Siapakah Sebenarnya Abu Nuwas (Abu Nawas)?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/vF4eh6BA5dQ/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/siapakah-sebenarnya-abu-nawas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 07:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Tak Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2417</guid>
		<description><![CDATA[Harun Al Rasyid dan Abu Nuwas (Abu Nawas) Konon pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid –salah satu khalifah Daulah Bani Abbasiyyah- hiduplah seorang pujangga yang bernama Abu Nuwas (Abu Nawas). Khalifah mempunya hubungan dekat dengan Abu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Harun Al Rasyid dan Abu Nuwas (Abu Nawas)<strong><br />
</strong></h2>
<p>Konon pada zaman <strong>Khalifah Harun Al Rasyid</strong> –salah satu khalifah <strong>Daulah Bani Abbasiyyah</strong>- hiduplah seorang pujangga yang bernama Abu Nuwas (<strong>Abu Nawas</strong>). Khalifah mempunya hubungan dekat dengan Abu Nuwas ini, sedangkan Abu Nuwas adalah seorang yang suka meminum minuman keras, bermain dengan wanita, mendengarkan musik, berjoget, dan berdansa, serta perbuatan lain semisalnya, sehingga khalifah pun banyak melakukan itu semua karena kedekatannya dengan Abu Nuwas.</p>
<p><strong>K</strong><strong>emasyhuran</strong><strong> K</strong><strong>isah </strong><strong>I</strong><strong>ni</strong></p>
<p>Kisah ini sangat masyhur di negeri nusantara dan mungkin juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya. Banyak komik yang ditulis, lalu dikonsumsi oleh semua kalangan yang menggambarkan bagaimana bejatnya perbuatan khalifah ini beserta teman karibnya Abu Nuwas. Sehingga kalau disebut di kalangan orang banyak tentang Harun Al Rasyid, maka yang terbetik dalam bayangan mereka adalah gambaran raja tanpa wibawa yang suka main musik dan wanita diiringi dengan minum <em>khamr</em> (minuman keras). Jarang sekali di antara kaum muslimin mengetahui siapa sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid kecuali dari cerita yang beredar ini.</p>
<p><strong>A</strong><strong>kar</strong><strong> C</strong><strong>erita</strong><strong></strong></p>
<p>Asal-usul utama cerita ini bersumber dari sebuah buku dongengg <em>Alfu Lailatin wa Lailah</em> (cerita seribu satu malam). Buku ini dari lembar pertama sampai terakhir hanyalah berisi dongengg. Dan yang namanya “dongengg” berarti ia tidak punya asal-usul sanad yang terpercaya. Isinya pun hanyalah khayalan belaka; misalnya, cerita tentang Ali Baba dengan perampok, ksiah Aladin dengan lampu ajaibnya, begitu pula cerita tentang Abu Nuwas dengan Harus Al Rasyid.</p>
<p>Buku ini asal-usulnya adalah dongeng yang berasal dari bangsa India dan Persia. Lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ketiga Hijriah. Kemudian ada yang menambahi beberapa ceritanya sehingga sampai masa Daulah Mamalik.</p>
<p>Buku ini sama sekali bukan buku sejarah, dan sama sekali tidak bisa menjadi landasan untuk mengetahui keadaan umat tertentu.</p>
<p>Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk men-<em>tahdzir</em> (memperingatkan) atas buku ini dan melarang umat untuk membaca dan menjadikannya sebagai landasan sejarah. Di antara mereka adalah Al-Ustadz Anwar Al Jundi yang berkata, “Buku <em>Alfu Lailatin wa Lailah</em> adalah sebuah buku yang campur baur tanpa penulis. Buku ini disusun dalam rentang waktu yang bermacam-macam. Kebanyakan isinya menggambarkan tentang keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam di negeri persia, India, dan berbagai negeri paganis lainnya.” Ibnu Nadim dalam <em>A</em><em>l-Fahrosat</em> berkata tentang buku ini, “Itu adalah buku yang penuh dengan kedunguan dan kejelekan.”</p>
<p>Dan masih banyak lainnya. Silakan melihat apa yang dipaparkan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam <em>Kutubun Hadzdzar</em><em>a</em><em> minha Ul</em><em>a</em><em>ma</em>, 2:57.</p>
<p>Syaikh Shalih Al Fauzan pernah ditanya, “Sebagian buku sejarah terutama buku <em>Alfu Lailatin wa Lailah</em> menyebutkan bahwa Khalifah Harun Al Rasyid adalah seorang yang hanya dikenal sebagai orang yang suka bermain-main, minum <em>khamr</em> dan lainnya. Apakah ini benar?”</p>
<p>Beliau menjawab: “Ini adalah kedustaan dan tuduhan yang dihembuskan ke dalam sejarah Islam. Buku <em>Alfu Lailatin wa Lailah</em> adalah sebuah buku yang tidak boleh dijadikan sandaran. Tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan waktunya untuk menelaah buku tersebut. Harun Al Rasyid dikenal sebagai orang yang Shalih dan istiqomah dalam agamanya, serta sungguh-sungguh dan bagus dalam mengatur masyarakatnya. Beliau satu tahun menunaikan haji dan tahun berikutnya berjihad. Ini adalah sebuah kedustaan yang terdapat ke dalam buku ini. Tidak layak bagi seorang muslim untuk membaca buku kecuali yang ada faidahnya, seperti buku sejarah yang terpercaya, buku tafsir, hadis, fiqih, dan aqidah yang dengannya seorang muslim akan bisa mengetahui urusan agamanya. Adapun buku yang tidak berharga, tidak selayaknya seorang muslim terutama penuntut ilmu menyia-nyiakan waktunya dengan membaca buku seperti itu.” (<em>Nur Ala Darb</em>, Fatawa Syaikh Shalih Fauzan Hal. 29)</p>
<p><strong>H</strong><strong>akikat</strong><strong> C</strong><strong>erita</strong><strong> I</strong><strong>ni</strong><strong></strong></p>
<p>Dari keterangan di atas, tiada lagi keraguan bahwa kisah tentang Khalifah Harun Al Rasyid seperti yang digambarkan tadi adalah sebuah kedustaan. Banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa itu adalah sebuah kedustaan, di antara mereka ialah:</p>
<p>-          Syaikh Shalih Fauzan, sebagaimana nukilan dari beliau di atas.</p>
<p>-          Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, beliau berkata: “Ini merupakan kedustaan yang jelas dan kezaliman yang nyata&#8230;” (<em>Fatawa Islamiyyah</em><em>,</em> 4:187)</p>
<p>-          Syaikah Salim bin Id Al-Hilali berkata, “Kita harus membersihkan sejarah Islam dari hal-hal yang digoreskan oleh para pemalsu dan pendusta beserta cucu-cucu mereka bahwa sejarah Islam merupakan panggung anak kecil, musik, dan nyanyian. (Mereka gambarkan) para khalifah kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh para perusak tersebut dalam menodai sejarah Khalifah Harun Al Rasyid dan yang lain.” (<em>Al-Jama’at Islamiyyah</em>, Hal. 430)</p>
<p>Atas dasar ini, maka alangkah baiknya kalau kita sedikit mengetahui perjalanan hidup kedua orang ini, agar kita bisa mengetahui siapa sebenarnya Abu Nuwas juga siapa dan bagaimana sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.</p>
<h3>Siapakah Abu Nuwas (Abu Nawas)?</h3>
<p>Dia adalah Abu Ali Hasan bin Hani’ al-Hakami, seorang penyair yang sangat masyhur pada zaman Bani Abbasiyyah.</p>
<p>Kepiawaiannya dalam menggubah qoshidah syair membuat dia sangat terkenal di berbagai kalangan, sehingga dia dianggap sebagai pemimpin para penyair di zamannya.</p>
<p>Namun amat disayangkan, perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan kemaksiatan, dan itu banyak juga mewarnai syair-syairnya. Sehingga saking banyaknya dia berbicara tentang masalah <em>khamr</em>, sampai-sampai kumpulan syairnya ada yang disebut <em>khamriyyat</em>.</p>
<p>Abu Amr Asy-Syaibani berkata, “Seandainya Abu Nuwas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran ini, niscaya syairnya akan kami jadikan hujjah dalam buku-buku kami.”</p>
<p>Bahkan sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai orang yang zindiq meskipun pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama. Di antara yang tidak menyetujui sebutan zindiq ini untuk Abu Nuwas adalah Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam <em>Al-Bidayah wa An-Nihayah</em> (14:73), ketika menyimpulkan tentang kehidupan Abu Nuwas beliau berkata, “Kesimpulannya, para ulama banyak sekali menceritakan peristiwa kehidupannya, juga tentang syair-syairnya yang mungkar, penyelewengannya, kisahnya yang berhubungan dengan masalah <em>khamr</em>, kekejian, suka dengan anak-anak kecil yang ganteng serta kaum wanita sangat banyak dan keji, bahkan sebagian orang menuduhnya sebagai pezina. Di antara mereka juga ada yang menuduhnya sebagai seorang yang zindiq. Di antara mereka ada yang berkata: ‘Dia merusak dirinya sendiri.’ Hanya saja, yang tepat bahwa dia hanyalah melakukan berbagai tuduhan yang pertama saja, adapun tuduhan sebgian orang yang zindiq, maka itu sangat jauh dari kenyataan hidupnya, meskipun dia memang banyak melakukan kemaksiatan dan kekejian.”</p>
<p>Akan tetapi, walau bagaimanapun juga disebutkan dalam buku-buku sejarah bahwa dia bertaubat di akhir hayatnya; semoga memang demikian dan menunjukkan taubatnya adalah sebuah syair yang ditulisnya menjelang wafat:</p>
<blockquote><p>Ya Allah, jika dosaku teramat sangat banyak<br />
namun saya tahu bahwa pintu maaf-Mu lebih besar</p>
<p>Saya berdoa kepada-Mu dengan penuh <em>tadharru’</em> sebagaimama Engkau perintahkan<br />
Lalu jika Engkau menolak tangan permohonanku, lalu siapa yang akan merahmati-ku</p>
<p>Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja<br />
Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon</p>
<p>Saya tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali hanya sebuah pengharapan<br />
Juga bagusnya pintu maaf-Mu kemudian saya pun seorang yang muslim</p></blockquote>
<p>Semoga Allah menerima taubatnya dan memaafkan kesalahannya, karena bagaimanapun juga dia mengakhiri hidupnya dengan taubat kepada Allah. Dan semoga kisah yang diceritakan oleh Ibnu Khalikan dalam <em>Wafyatul-A’yan</em> 2:102 benar adanya dan menjadi kenyataan. Beliau menceritakan dari Muhammad bin Nafi berkata, “Abu Nuwas adalah temanku, namun terjadi sesuatu yang menyebabkan antara aku dengan dia tidak saling berhubungan sampai aku mendengar berita kematiannya. Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengannya, kukatakan, ‘Wahai Abu Nuwas, apa balasan Allah terhadapmu?’ Dia menjawab, ‘Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kututlis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.’ Maka saya pun mendatangi keluarganya dan menanyakan bantal tidurnya dan akhirnya kutemukan secarik kertas yang bertuliskan: &#8230; (lalu beliau menyebutkan bait syair di atas).”</p>
<p>Setelah mengetahui sekelumit tentang Abu Nuwas, marilah kita beranjak utuk membahas siapakah sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.</p>
<p>Beliau adalah Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid bin Mahdi al-Qurasyi al-Hasyimi. Beliau adalah salah satu Khalifah Bani Abbasiyyah, bahkan pada masa beliaulah Bani Abbasiyyah mencapai zaman keemasannya.</p>
<p>Beliau dikenal sebagai raja yang dekat dengan ulama, menghormati ilmu, dan banyak beribadah serta berjihad. Disebutkan dalam berbagai buku sejarah yang terpercaya bahwa beliau selalu berhaji pada suatu tahun dan tahun berikutnya berjihad, begitulah seterusnya.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Perjalanan hidup beliau sangat bagus. (Beliau) seorang raja yang paling banyak berjihad dan menunaikan ibadah haji. Setiap hari beliau bershodaqoh dengan hartanya sendiri sebanyak seribu dirham. Kalau pergi haji beliau juga menghajikan seratus ulama dan anak-anak mereka, dan apabila beliau tidak pergi haji, maka beliau menghajikan tiga ratus orang. Beliau suka sekali bershodaqoh. Beliau mencintai para ulama dan pujangga. Cincin beliau bertuliskan kalimat <em>La ilaha ilallah</em>, beliau mengerjakan shalat setiap harinya seratus rakaat sampai meninggal dunia. Hal ini tidak pernah beliau tinggalkan kecuali kalau sedang sekit.” (<em>Al-Bidayah wa Al-Nihayah</em>, 14:28)</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ammar bin Laits al-Wasithi berkata, ‘Saya mendengar Fudhail bin Iyadh berkata, ‘Tidak ada kematian seorang pun yang lebih memukul diriku melebihi kematian Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid. Sungguh saya ingin seandainya Allah menambah umurnya dengan sisa umurku.’ Ammar berkata, ‘Perkataan beliau ini terasa berat bagi kami, namun tatkala Harun telah meninggal dunia, muncullah fitnah, khalifah setelahnya yaitu Al-Makmun memaksa orang-orang untuk meyakini bahwa Alquran makhluk. Saat itu kami mengatakan, ‘Syaikh (Fudhail) lebih mengetahui tentang apa yang beliau katakan’.”</p>
<p>Beliau sangat keras terhadap orang yang menyimpang dari sunah dan berusaha menentangnya. Pada suatu ketika Abu Mu’awiyah menceritakan kepada beliau sebuah hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi Adam dan Musa berdebat, maka paman Khalifah Harun Al Rasyid berkata, “Wahai Abu Mu’awiyyah, kapan keduanya bertemu?” Maka Khalifah sangat marah seraya berkata, “Apakah engkau menentang hadis Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>? Ambilkan sebilah pedang dan tempat pemotongan kepala.” Maka segeralah yang beliau minta itu didatangkan. Orang-orang yang hadir saat itu pun memintakan maaf untuk paman beliau tersebut. Berkatalah Harun Al Rasyid, “Ini adalah perbuatan zindiq.” Akhirnya beliau memerintahkan untuk memenjarakannya. Sebagian orang juga pernah bercerita, “Saya masuk menemui Harun Al Rasyid dan saat itu ada seseorang yang barusan dipenggal kepalanya dan algojo sedang membersihkan pedangnya. Maka Haru Al Rasyid berkata, ‘Saya membunuhnya karena dia berkata bahwa Alquran itu makhluk’.”</p>
<p>Beliau sangat mencintai nasihat yang mengingatkan diri pada hari akhirat. Al-Ashma’i berkata, “Pada satu hari Harun Al Rasyid memanggilku. Saat itu dia menghiasi istana, membuat hidangan yang banyak dan lezat, lalu dia memanggil Abu Al-Atahiyyah, lalu Harun berkata kepadanya, “Sifatilah kenikmatan dan kesenangan hidup kami.” Maka Abu Al Athiyah menyenandungkan sebuah syair:</p>
<blockquote><p>Hiduplah semaumu</p>
<p>Di bawah naungan istana nan megahmu</p>
<p>Engkau berusaha mendapatkan apa yang engkau senangi</p>
<p>Baik pada waktu sore maupun pagi</p>
<p>Namun, apabila jiwa tersengal-sengal</p>
<p>Karena sempitnya pernapasan dalam dada</p>
<p>Saat itu berulah engkau tau</p>
<p>Bahwa selama ini engkau sedang tertipu</p></blockquote>
<p>Harun Al Rasyid pun langsung menangis sejadi-jadinya, sehingga Fadhi bin Yahya berkata, “Amirul-Mukminin memanggilmu agar engkau bisa membuatnya senang, tetapi engkau malah membuatnya susah.” Maka Harun Al Rasyid berkata, “Biarkan dia, dia melihat kita sedang kebutaan dan dia tidak ingin kita semakin buta.”</p>
<p>Suatu saat lainnya, Harun Al Rasyid memanggil Abu Al Atahiyyah lalu berkata, “Nasihatilah saya dengan sebuah bait syair.” Maka Abu Al Athiyah berkata,</p>
<blockquote><p>Jangan engkau merasa aman dari kematian sekejap mata pun</p>
<p>Meski engkau mempunyai para penjaga dan para pasukan</p>
<p>Ketahuilah bahwa panah kematian pasti tepat sasaran</p>
<p>Meski bagi yang membentengi diri darinya</p>
<p>Engkau ingin selamat namun tidak mau mengikuti jalannya</p>
<p>Bukankan sebuah bahtera tidak akan mungkin berlayar di jalan raya</p>
<p>Begitu mendengarnya, Harun Al Rasyid pun langsung jatuh pingsan.</p></blockquote>
<p>Inilah sekilas tentang kehidupan Khalifah Harun Al Rasyid meskipun kita mengakui bahwa sebagai manusia biasa beliau pun banyak memiliki cacat dan kemaksiatan. Namun keutamaan dan kebaikan beliau jauh melebihi cacat yang beliau kerjakan. Sampai-sampai Syaikh Abu Syauqi Khalil menulis buku berjudul <em>Harun Al Rasyid Amirul-Khulafa wa Ajallu Mulukid-Dunya</em> (Harun Al Rasyid Pemimpin Para Khalifah dan Raja Dunia Teragung) yang mana buku ini banyak dipuji oleh Syaikh Masyhur Salman dalam beberapa tempat di dalam buku <em>Kutubun Hadzdzara minha Ulama</em>.</p>
<p>(Lihat tentang kehidupan Harun Al Rasyid dengan agak terperinci pada <em>Al-Bidayah wa Al-Nihayah</em>, 14:27-48, <em>Siyar A’lamin Nubala</em><em>,</em> 8:163-188)</p>
<p><em>Wallahu </em><em>a</em><em>’lam.</em></p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 5 Tahun Ke-8 1429H/2008 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/siapakah-sebenarnya-abu-nawas" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/vF4eh6BA5dQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/siapakah-sebenarnya-abu-nawas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/siapakah-sebenarnya-abu-nawas/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Ja’d bin Dirham Disembelih Khalid al-Qasri</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/kWSDYz3XHxE/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/jad-bin-dirham-disembelih-khalid-al-qasri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 07:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kaum Durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2412</guid>
		<description><![CDATA[Ja’d bin Dirham Disembelih Khalid al-Qasri Siapakah Ja’d bin Dirham? Dia adalah gembong ahli bid’ah. Dialah yang pertama kali menyatakan bahwa Alquran bukan Kalamullah melainkan makhluk. Dia pencetus bid’ah ta’thil (penafsiran sifat-sifat Allah). Dia menyatakan bahwa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Ja’d bin Dirham Disembelih Khalid al-Qasri</strong></h2>
<p>Siapakah Ja’d bin Dirham? Dia adalah gembong ahli bid’ah. Dialah yang pertama kali menyatakan bahwa <strong>Alquran bukan Kalamullah melainkan makhluk</strong>. Dia pencetus bid’ah <em>ta’thil</em> (penafsiran sifat-sifat Allah). Dia menyatakan bahwa Allah tidak punya tangan, tidak berbicara kepada Nabi Musa, tidak menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil (kekasih)-Nya, dan penafian sifat Allah lainnya. Dia adalah guru Jahm bin Shofwan yang padanya dinisbahkan sebuah kelompok sesat menyesatkan, Jahmiyyah.</p>
<p>Tentang riwayat hidup dia selengkapnya bisa dilihat pada <em>Bidayah wan Nihayah</em>, 10:19, <em>Mizanul I’tidal</em><em>,</em> 1:399, <em>Lisanul Mizan</em><em>,</em> 2:105, dan lainnya.</p>
<p>Khalid bin Abdullah al-Qasir –seorang gubernur Irak pada masa pemerintahan Bani Umayyah- pada saat hari raya Idul Adha, selesai shalat beliau berkhotbah di hadapan kaum muslimin seraya berkata: “Wahai sekalian manusia, pulanglah kalian lalu sembelihlah binatang kurban, semoga Allah menerima ibadah kurban kami dan kalian. Saya akan menyembelih Ja’d bin Dirham karena dia mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil dan tidak berbicara kepada Nabi Musa (mendustakan Alquran <em>pen.</em>). Maha Tinggi Allah atas apa yang dikatakan oleh Ja’d bin Dirham ini.” Lalu beliau turun dan menyembelih Ja’d bin Dirham.</p>
<h3>Takhrij Kisah</h3>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam <em>Tarikh Kabir</em>, no. 142, 542, dan <em>Kholq Af’alil Ibad</em>, No. 3, Ibnu Abi Hatim dalam <em>As-Sunnah</em> sebagaimana yang terdapat dalam <em>Bidayah wan Nihayah,</em> 10:21, Ad-Darimi dalam <em>Ar-Rad Alal Jahniyyah</em>, no. 13, 388, dan <em>Ar Rod Alal Bisyr al-Marisi al-Anid,</em> 118, Al-Ajurri dalam <em>Asy-Syari’ah,</em> 97, 328, Al-lalika’i dalam <em>Syarh Ushulil I’tiqod,</em> no. 512, Al-Baihaqi dalam <em>Sunan al-Kubra</em>, 10:205, Ibnu Asakir dalam <em>Tarikh Dimasyq</em>, Al-mizzi dalam <em>Tahdzibul Kamal,</em> 8:118, Adz-Dzahabi dalam <em>Al-Uluu,</em> 99-100.</p>
<p>Semuanya dari jalur Qosim bin Muhammad dari Abdurrahman bin Muhammad bin Habib dari bapaknya dari kakeknya Habib bin Abi Habib, beliau berkata, “Khalid bin Abdullah al-Qasri berkhotbah di hadapan kami di daerah Wasith pada hari raya Idul Adha dan dia berkata, &#8230; (lalu beliau menyebutkan kisah di atas).”</p>
<h3>Kemahsyuran Kisah Ini</h3>
<p>Kisah ini berulang-ulang disebutkan dalam berbagai kitab tauhid. Kisah ini selalu muncul dalam kebanyakan kitab yang menyebutkan aqidah ulama salaf tentang Kalamullah. Dan yang mengisyaratkan kemasyhurannya adalah Imam Ibnu Katsir dalam <em>Bidayah wan Nihayah</em><em>,</em> 10:21. Beliau berkata, “Kisah ini diriwayatkan oleh.. dan banyak lagi dari kalangan ulama yang menulis kitab aqidah.”</p>
<p>Adz-Dzahabi (<em>Mizan I’tidal</em>, 1:399) dan Ibnu hajar (<em>Lisan Mizan,</em> 2:10) saat menyebutkan biografi Ja’d bin Dirham ini berkata, “Dia termasuk (generasi) tabi’in, seorang ahli bid’ah sesat, dia mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalil, juga tidak berbicara kepada Musa. Dia dibunuh di Irak pada hari raya Idul Adha. Dan kisahnya sangat masyhur.”</p>
<h3>Sisi Kelemahan Kisah Ini</h3>
<p>Syaikh Masyhur berkata, “Sanad kisah ini lemah, bukan hanya satu rawi yang dipermasalahkan. Kisah ini berkisar pada jalur Qosim bin Muhammad, sedangkan dia perawi yang dipermasalahkan, sedangkan Abdurrahman dan bapaknya tidak dikenal.</p>
<p>Imam adz-Dzahabi (<em>Mizan</em>, 3:387) berkata, “Qosim bin Muhammad bin Humaid al-Ma’mari, rawi kisah disembelihnya Ja’d bin Dirham, dinilai <em>tsiqoh</em> (terpercaya) oleh Qutaibah. Namun, Yahya bin Ma’in berkata tentang dia, “Pendusta yang keji.” Ad Darimi berkata, “Dia bukan seperti yang dikatakan oleh Yahya (bin Ma’in). Saya pernah bertemu dengannya di Baghdad.”</p>
<p>Adz-Dzahabi berkata, “Saya mengira bahwa dia hanya meriwayatkan kisah tentang Ja’d ini saja. Dia diriwayatkan oleh Bakar al-A’yun, Hasan bin Shabbah, dan Qutaibah. Wafat tahun 228 H.”</p>
<p>Imam Al-Lalika’i membela Qosim ini seakan-akan beliau merasa bahwa dia bukanlah seorang yang dikenal riwayatnya. Beliau berkata, “Qosim bin Abu Sufyan ini adalah Qosim bin Muhammad bin Humaid al-Ma’mari. Qutaibah bin Sa’id meriwayatkan kisah ini dan men-tsiqoh-kan dia. Abbas bin Abi Thalib dan Hasan bin Shabbah, juga meriwayatkan kisah ini darinya. Dalam ceritanya Hasan dan Abbas, Khalid al-Qasri berkhotbah di daerah Wasith.”</p>
<p>Syaikh Masyhur berkata, “Anggaplah kisah ini selamat dari Qosim tadi, maka ia tidak selamat dari rawi setelahnya karena dalam riwayat ini juga ada Abdurrahman bin Muhammad dan bapaknya, keduanya tidak dikenal.”</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Abdurrahman ini (<em>Mizan</em><em>,</em> 3:299): “Dia tidak dikenal.”<br />
Ibnu Hajar mengatakan bahwa dia <em>maqbul</em> (bisa diterima). Maksudnya, apabila ada yang menguatkannya, namun jika tidak maka dia itu lemah. Sedangkan bapaknya yaitu Muhammad bin Habib adalah seorang yang <em>majhu</em><em>l</em> (tidak dikenal). Begitulah yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi dalam <em>Mizan,</em> 4:428 dan Ibnu Hajar dalam <em>Taqrib</em> <em>Tahdzib</em>, Hal. 473. Imam Ibnu Abi Hatim berkata (<em>Jarh wat Ta’dil</em><em>,</em> no. 1246) berkata, “Saya menanyakan tentang dia pada bapakku, maka beliau menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya’.” Imam Ibnu Hibban dalam <em>Ats</em>-<em>Tsiq</em><em>at</em>, 9:55 dan Al-Mizzi dalam <em>Tahdzibul</em> <em>Kamal</em> mengisyaratkan bahwa hanya dia yang meriwayatkan kisah ini.</p>
<h3>Jalan Lain Kisah Ini</h3>
<p>Imam Adz-Dzahabi (<em>Al</em>-<em>Uluw</em> no.100) berkata, “Saya membaca dalam kitab <em>Ar-R</em><em>ad Alal-Jahmiyyah</em> oleh Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Razi (kata beliau): Telah menceritakan kepada kami Isa bin Abi Imron ar-Ramli: Telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Suwaid dari Sirri bin Yahya berkata: Khalid al-Qasri berkhotbah di hadapan kami seraya berkata: ‘Pulanglah kalian untuk menyembelih binatang kurban kalian, semoga Allah menerima kurban kalian karena saya akan menyembeli Ja’d bin Dirham’.” Lalu beliau menyebutkan kisah di atas.</p>
<p>Syaikh Masyhur berkata, Kisah ini sangat lemah. Ia memiliki dua cacat:</p>
<ol>
<li>Isa bin Abi Imran Adz-Dzahabi. Ibnu Abi Hatim berkata (<em>Al-Jarh wat-Ta’dil</em>), “Saya pernah menulis darinya di Ramlah, kemudian bapakku melihat hadisnya lalu beliau berkata, ‘Hadisnya menunjukkan bahwa dia bukan orang yang jujur.’ Maka saya pun meninggalkan periwayatan darinya.”</li>
<li>Ayyub bin Suwaid. Dia seorang yang jujur namun banyak salah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Taqrib Tahdzib. Bahkan sebagian ulama menuduhnya berdusta. Abdullah bin Mubarak berkata, “Tuduhlah dia berdusta.” Imam al-Bukhari berkata, “Para ulama mempermasalahkannya.” Ibnu Ma’in berkata, “Dia tidak ada apa-apanya.”</li>
</ol>
<p>Syaikh Masyhur melanjutkan penjelasannya, “Dan di antara yang makin menunjukkan kelemahan kisah ini adalah:</p>
<ol>
<li>Sanad kisah ini berkisar pada para rawi yang lemah dan tidak dikenal. Berarti kisah ini tidaklah shahih menurut standar para ulama jarh dan ta’dil.</li>
<li>Biografi Khalid bin Abdullah al-Qasri penuh dengan kegelapan. Ada prediksi kuat bahwa dia seorang yang zalim. Oleh karena itu, Adz-Dzahabi (<em>Siyar,</em> 5:432) setelah menyebutkan ksiah ini berkata, “Ini adalah di antara kebaikannya.”</li>
<li>Bukan merupakan kepentingan orang-orang semacam Khalid al-Qasri saat itu untuk melakukan hal ini, yang mana ini tidaklah dilakukan kecuali oleh orang yang meyakini aqidah yang benar. Sedangkan para khalifah dan gubernur pada zaman Bani Umayyah saat itu jauh sekali (dari kemungkinan) untuk sampai membunuh dengan sebab semacam ini. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa pembunuhan Ja’d ini hanyalah karena sebab politik bukan sebab kesesatan aqidahnya.</li>
<li>Yang penting bagi kita di sini adalah menetapkan bahwa kisah ini dengan sebab tersebut tidak sampai kepada kita dengan sanad yang bersih.”</li>
</ol>
<p><em>Wallahu </em><em>a’lam.</em></p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon</em> Edisi 7 Tahun Ke-8 1430 H/2009 M</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/jad-bin-dirham-disembelih-khalid-al-qasri">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/kWSDYz3XHxE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/jad-bin-dirham-disembelih-khalid-al-qasri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/jad-bin-dirham-disembelih-khalid-al-qasri/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menggoncang Kesombongan Kafir Quraisy</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/J8CQCf34_XU/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/menggoncang-kesombongan-kafir-quraisy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 02:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2408</guid>
		<description><![CDATA[Menggoncang Kesombongan Quraisy Kesombongan akan berakhir dengan kehinaan, kesewenang-wenangan akan berakhir dengan kekalahan dan menyerah. Yang menyiksa, mengusir, dan memerangi berbalik menjadi yang tersiksa, terusir, dan diperangi. Yang menang berubah menjadi kalah dan sebaliknya. Itulah hari-hari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Menggoncang Kesombongan Quraisy</strong></h2>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Kesombongan akan berakhir dengan kehinaan</span></strong>, kesewenang-wenangan akan berakhir dengan kekalahan dan menyerah. Yang menyiksa, mengusir, dan memerangi berbalik menjadi yang tersiksa, terusir, dan diperangi. Yang menang berubah menjadi kalah dan sebaliknya. Itulah hari-hari berlalu digilir oleh Allah, sebagaimana ditegaskan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam Alquran.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memusatkan perhatian kepada Quraisy untuk menghancurkan mereka sebagai balasan atas kejahatan mereka. Perlu diketahui, pangkal kekuatan Quraisy terdapat pada perdagangan mereka dari kedua jalur. Adakalanya beliau berangkat sendiri memimpin pasukan dan adakalanya mengutus para sahabatnya untuk memerangi (sebagaimana mereka telah memerangi dan mengambil harta Muhajirin <em>ed.</em>) dan memanfaatkan harta mereka baik dalam perjalanan kafilah keluar dari Mekah atau sekembalinya dari perdagangan. Tujuannya agar <a href="http://kisahmuslim.com/menggoncang-kesombongan-kafir-quraisy" target="_blank"><strong>Quraisy</strong></a> dan seluruh umat Islam sepanjang zaman mengetahui bahwa agama Islam dan ahlinya (pemeluknya) bukanlah orang-orang yang hina di hadapan musuh-musuhnya. Juga, supaya umat manusia menyadari bahwa kekuatan dan kemuliaan adalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.</p>
<h2>Rasulullah <em>S</em><em>hallallahu ‘Alaihi wa Sallam</em> Mengutus Sa’ad bin Aabi Waqqash</h2>
<p>Diriwayatkan oleh Al-Waqidi bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintah Sa’ad, “Berangkatlah engkau, wahai Sa’ad hingga sampai ke Hirar (sebelah timur Madinah) karena rombongan dagang Quraisy akan lewat di sana.” Maka berangkatlah Sa’ad bin Abi Waqqash memimpin 20 orang sahabat. Ternyata setiba di Hirar rombongan dagang Quraisy telah berlalu sehari sebelumnya. Sa’ad berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengikat janji denganku untuk tidak melampaui Hirar. Seandainya bukan karena itu maka akan kususul mereka.”</p>
<h2>Perang Abwa atau Waddan</h2>
<p>Sebelum ini Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanya mengirim utusan perang yang disebut dengan sariyah sedang beliau di Madinah. Adapun pada kesempatan ini, beliau sendiri yang berangkat memimpin pasukan perang.</p>
<p>Pada bulan Shafar tahun ke-2 Hijriah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> keluar untuk menghadang rombongan dagang Quraisy dan juga bermaksud memerangi Bani Dhamrah hingga beliau tiba di Abwa namun tidak terjadi pertempuran. Ini merupakan kesempatan bagi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk berdamai dengan Bani Dhamrah dari Suku Kinanah agar tidak memerangi beliau dan tidak membantu musuh dalam memerangi beliau. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menulis perjanjian ini dan diserahkan kepada pemimpin mereka, Mahsyi bin Amr adh-Dhamri. Inilah perang pertama kali yang diikuti oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar (<em>Al-Fath</em>, 15:142)</p>
<h2><strong>P</strong><strong>asukan U</strong><strong>baidah </strong><strong>bin H</strong><strong>arits</strong></h2>
<p>Peperangan ini adalah kelanjutan dari Perang Abwa. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyerahkan bendera perang kepada Ubaidah bin Harits untuk memimpin 60 orang dari kaum Muhajirin. Ubaidah berangkat hingga menemui rombongan besar Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan atau Ikrimah bin Abi Jahal pada sebuah sumur di Hijaz (antara Madinah dengan Mekah). Mereka saling memanah. Di pihak kaum muslimin, Saad bin Abi Waqqash yang pada saat itu melontarkan panah. Dengan demikian, beliaulah yang pertama kali melontarkan panah di jalan Allah dalam Islam. Kemudian mereka bubar.</p>
<h2>Perang Buwath</h2>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berangkat memimpin 200 orang sahabatnya untuk menghadang rombongan dagang Quraisy yang dipimpin oleh Umayyah bin Kholaf yang berkekuatan 100 orang Quraisy dan 2500 ekor unta hingga beliau sampai di Buwath, salah satu gumang Juhainah di arah Rodhwa. Lalu beliau kembali tatkala tidak menemukan kafilah Quraisy dan tidak terjadi pertempuran. Peperangan ini terjadi pada bulan Robi’ul Awal tahun ke-2 Hijriah.</p>
<h2>Perang Badar Pertama</h2>
<p>Tatkala Kurzu bin Jabir al-Fihri menyerang dan merampas hewan ternak di pinggiran kota Madinah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> keluar mengejarnya hingga beliau tiba di lembah Safwan di wilayah Badar tetapi beliau tidak mendapatinya. Maka beliau kembali ke Madinah. Ada juga yang menyebut bahwa perang ini terjadi sebelum Perang Dzul Usyairah.</p>
<h3>Perang Dzul Usyairah</h3>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berangkat memimpin 150 atau 200 orang sahabat untuk menghadang kafilah dagang Quraisy dalam perjalanan menuju ke Syam hingga beliau tiba di Usyairah di wilayah Yanbu (sebelah timur Madinah). Ternyata kafilah telah berlalu. Dan kafilah dagang Quraisy ini juga dihadang oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala kembali dari Syam tetapi luput juga. Inilah yang menjadi sebab Perang Badar Kubra (besar).</p>
<p>Pada perang ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutu mereka dari Bani Dhamrah lalu beliau kembali ke Madinah tanpa terjadi pertempuran. Perang ini terjadi pada bulan Jumadil Awal tahun ke-2 Hijriah.</p>
<h3>Perang Nakhlah</h3>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengutus Abdullah bin Jahsy pada bulan Rajab untuk memimpin delapan orang sahabat dari kaum Muhajirin. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menuliskan surat untuknya dan beliau memerintahkannya agar tidak membuka surat tersebut hingga ia telah berjalan selama dua hari dengan tujuan untuk memperkuat rahasia dan agar seorang pun tidak ada yang mengetahui kemana mereka akan pergi. Tatkala Abdullah bin Jahsy membuka surat itu ternyata isinya adalah perintah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar terus berjalan hingga sampai di Nakhlah, antara Mekah dengan Tha’if dan hanya beberapa kilometer dari Mekah. Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak hanya menghadang kafilah dagang Quraisy di jalur Utara (menuju Syam) saja, tetapi mereka pun menghadang jalur perjalanan kafilah Quraisy ke arah Selatan (menuju Yaman). Ketika mereka di Nakhlah lewatlah kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Ibnul Hadhrami. Maka para sahabat bermusyawarah apakah menyerang kafilah tersebut ataukah tidak, karena waktu itu adalah hari terakhir dari bulan Rajab (di antara bulan yang haram untuk melakukan peperangan). Mereka khawatir akan timbul fitnah jika mereka menyerang. Di sisi lain, para sahabat memandang bahwa apabila tidak menyerang pada malam itu, maka kafilah akan masuk di wilayah haram untuk berlindung dari serangan. Dengan alasan ini para sahabat sepakat untuk menyerang mereka dan merampas harta mereka. Waqid bin Abdullah at-Tamimi memanah Amr bin Hadhrami (ketua rombongan Quraisy) hingga terbunuh. Kaum muslimin berhasil menawan dua pemimpin mereka lalu dibawa kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di Madinah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengingkari perbuatan mereka, beliau tidak memerintahkan mereka untuk berperang pada bulan haram dan beliau tidak mau menerima dua tawanan dan rampasan mereka sehingga para anggota pasukan muslim itu mengira bahwa diri mereka telah binasa karena kesalahan itu. Dan dengan kejadian ini maka Quraisy menyebarkan isu bahwa Muhammad dan sahabatnya menghalalkan perang pada bulan haram dengan membnuh, merampas harta, dan menawan. Maka Allah menurunkan ayat,</p>
<p>“<em>Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan-bulan haram maka katakanlah bahwa berperang pada bulan-bulan tersebut adalah dosa besar. Akan tetapi, menghalangi manusia di jalan Allah, kekafiran, dan menghalangi manusia dari Masjidil Haram serta mengusir penghuninya adalah lebih besar dosanya di sisi Allah, dan fitnah (kufur dan syirik) itu lebih besar dosanya daripada membunuh pada bulan haram…</em>” (QS. Al-Baqarah: 217-218)</p>
<p>Dengan ayat ini Allah memberi jalan keluar bagi kaum muslimin dari kesempitan. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun menerima tawaran itu.</p>
<p>Ketika Quraisy bermaksud untuk menebus dua tawanan ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi syarat kepada mereka agar penebusan dilakukan sepulangnya Sa’ad bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazawan. Beliau mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua, jangan-jangan telah dibunuh oleh Quraisy. Kedua sahabat ini meninggalkan rombongan pada saat itu karena mencari unta mereka yang hilang.</p>
<h3>Pelajaran dari Kisah</h3>
<ol>
<li>Dua ayat di atas menerangkan bahwa kejahatan kaum Quraisy yaitu: kufur, menghalangi manusia dari jalan Allah dan dari Masjidil Haram, mengusir Rasulullah dan para sahabatnya dari Mekah, menindas, menyiksa, dan memfitnah mereka agar murtad dan Islam kepada kekafiran jauh lebih besar dosanya di sisi Allah ketimbang apa yang dilakukan oleh para sahabat yaitu berperang di bulan Haram. Jika demikian besar kejahatan Quraisy terhadap kaum muslimin maka tiadk ada celaan bagi sahabat yang memerangi mereka di bulan haram.</li>
<li>Pelajaran yang lain bahwa orang-orang kafir dan orang-orang sesat menggunakan dan menjunjung tinggi sebuah dalil atau sebuah undang-undang apabila dalil itu menguntungkan dan memberi maslahat bagi mereka. Adapun jika dalil merugikan mereka, maka mereka tolak dengan mengingkarinya atau menakwilnya (memalingkan maknanya) dan yang sebenarnya.</li>
<li>Ayat ini juga menjelaskan bahwa tiadk ada kompromi dengan orang-orang musyrik para pelaku kejahatan.</li>
<li>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggunakan siasat surat rahasia –bukan yang dikenal dengan surat kaleng- menunjukkan bahwa harus melakukan taktik dan sebab-sebab yang mendatangkan kemenangan dan menunjukkan bahwa Islam telah jauh lebih dahulu dari perang orang-orang yang baru mengenal uslub surat rahasia ini pada perang dunia ke-2.</li>
<li>Pasukan Nakhlah bisa disebut sebagai pasukan berani mati karena mereka menghadang kafilah dagang Quraisy di tempat yang sangat dekat dengan daerah pemukiman mereka yaitu Mekah. (<em>Siroh Dr. Mahdi</em>: 1:403-404)</li>
</ol>
<h3>Syubhat dan Bantahannya</h3>
<p>Ada syubhat (kekeliruan paham) yang muncul berkaitan dengan tindakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat menghadang, memerangi, dan merampas kafilah dagang Quraisy. Ada yang menyangka bahwa perbuatan ini adalah mirip dengan perbuatan jahat para perampok dan para pembajak yang merusak, menakut-nakuti, mengganggu keamanan, merampok, dan membunuh.</p>
<p><strong>Jawabannya</strong>: Tuduhan itu bisa dibenarkan jika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya melakukan tindakan ini kepada semua orang. Adapun karena dilakukan kepada Quraisy, tidak dianggap sebagai kejahatan karena Quraisy sedang dalam keadaan perang melawan kaum muslimin. Di antara siasat perang yang berlaku hingga zaman sekarang untuk melumpuhkan kekuatan musuh adalah dengan memerangi kekuatan perekonomiannya dan para tokohnya. Sedangkan rombongan dagang Quraisy ke Syam dan Yaman adalah yang terbesar dan terbanyak dan dipimpin oleh tokoh-tokoh pembesar pilihan Quraisy yang ahli perang dan ahli menunggang kuda. Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengutus sahabat-sahabatnya yang terbaik dalam perang-perang tersebut. Terlebih lagi kalau mengingat kejahatan Quraisy terhadap kaum muslimin di Mekah dan merampas harta mereka ketika hijrah ke Madinah, tentu tindakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut makin bisa dimaklumi.</p>
<h3>Kewajiban Puasa</h3>
<p>Imam ath-Thabari berkata, “Pada tahun kedua Hijriah puasa Ramadhan diwajibkan. Ada yang mengatakan bahwa ia diwajibkan pada bulan Sya’ban pada tahun itu.”</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: Sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika tiba di Madinah mendapati orang-orang Yahudi berpuasa asyura. Maka beliau berpuasa asyura dan memerintahkan kepada orang-orang untuk berpuasa. Tatkala turun perintah puasa Ramadhan, beliau memberi pilihan kepada orang-orang untuk berpuasa atau tidak. (HR. Bukhari: 4503 dan Muslim: 1125)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-8 1430 H/2009</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/J8CQCf34_XU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/menggoncang-kesombongan-kafir-quraisy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/menggoncang-kesombongan-kafir-quraisy/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Puasanya Dua Wanita Penggunjing</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/CTrPpPO-ptU/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/puasanya-dua-wanita-penggunjing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 02:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Tak Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2405</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua orang wanita yang berpuasa, lalu ada yang menceritakan perihal keduanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, di sini ada dua orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikisahkan bahwa pada zaman Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> ada dua orang wanita yang berpuasa, lalu ada yang menceritakan perihal keduanya kepada Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, di sini ada dua orang wanita yang berpuasa, keduanya hampir mati karena kehausan.” Ternyata Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> malah berpaling dan tidak menggubrisnya. Orang itu pun datang lagi kepada beliau dan kembali menceritakan kejadian tersebut. Dia berkata, “Wahai Rasulullah keduanya hampir mati.” Maka Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Panggil</em> <em>keduanya</em>.” Akhirnya kedua wanita itu pun datang. Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> meminta untuk diambilkan sebuah ember, lalu beliau bersabda, “<em>Muntahlah</em><em>!</em>” Maka salah satu dari keduanya pun muntahh, ternyata dia memuntahhkan air nanah bercambur darah sehingga memenuhi setengah ember. Lalu Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepada wanita yang satunya untuk muntah, dan dia pun memuntahkan nanah bercampur darah sehingga ember itu penuh, lalu beliau bersabda, “<em>Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah namun malah berbuka dengan yang diharamkan oleh-Nya, keduanya duduk-duduk untuk makan daging manusia</em>.”</p>
<h2>Kemasyhuran Kisah</h2>
<p><strong>Kisah</strong> ini cukup masyhur dan banyak disampaikan oleh sebagian penceramah terutama saat bulan Ramadhan untuk memperingatkan kaum muslimin yang sedang berpuasa agar tidak melakukan perbuatan haram semacam menggunjing.<strong></strong></p>
<h3>Derajat Kisah</h3>
<p><a href="http://kisahmuslim.com/puasanya-dua-wanita-penggunjing" target="_blank"><em>Kisah</em> ini <strong>LEMAH</strong></a>. Syaikh al-Albani (<em>Silsilah Abdits Dho</em><em>’</em><em>ifah</em>, no.519) menyebutkan hadis:</p>
<p>“<em>Sesungguhnya kedua orang wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah namun berbuka dengna apa yang diharamkan oleh Allah dan keduanya. Salah seorang dari keduanya duduk pada yang lainnya lalu keduanya memakan daging manusia.</em>”</p>
<p>Kemudian beliau (al-Albani) berkata, “Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5:431) dari seseorang dari Ubaid maula Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> berkata: -lalu rowi hadis ini menceritakan kejadian di atas-. Sanad hadis ini lemah karena ada seorang rowi yang tidak disebut namanya.</p>
<p>Al-Hafizh al-Iraqi (1:211) berkata, ‘Dia seorang yang tidak dikenal.’ Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thoyalisi (1:188), beliau berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Robi dari Yazid dari Anas.’ Sanad ini sangat lemah. Robi’ (yang dimaksud) ini adalah Robi’ bin Shobih, dia seorang yang lemah. Sedangkan Yazid (yang dimaksud di sini) adalah Yazid bin Aban ar-Ruqosyi, dia seorang yang matruk (hadisnya ditinggalkan).”</p>
<h3>Pelajaran dari Kisah<strong></strong></h3>
<p><strong>Pelajaran</strong><strong> pertama</strong></p>
<p>Kendati diketahui bahwa hadis ini lemah, janganlah seorang pun beranggapan bahwa <em>ghibah</em> (menggunjing orang lain) saat puasa diperbolehkan. Pembahasan tentang lemahnya hadis ini sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Akan tetapi, perlunya dibahas tentang kelemahan kisah ini hanya untuk menunjukkan bahwa kisah ini tidak boleh dinisbahkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Mengenai masalah <em>ghibah</em>, tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa <em>ghiba</em><em>h</em> adalah haram, baik pada saat puasa maupun tidak. Ketika menafsirkan Surat Al-Hujurot ayat 12 di atas, Imam Ibnu Katsir berkata, “<em>Ghibah</em> haram menurut kesepakatan para ulama dan tidak ada perkecualian sedikit pun selain yang lebih kuat masalahnya seperti untuk <em>jarh</em> dan <em>ta</em><em>’</em><em>dil</em> atau untuk sebuah nasihat.”</p>
<p>Imam al-Qurthubi berkata, “Para ulama sepakat bahwa <em>ghibah</em> merupakan dosa besar.”</p>
<p>Terlalu banyak dalil yang menunjukkan atas hal itu, di antaranya adalah ayat di atas dan sabda Rasullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>Dari Anas beliau berkata, “Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Pada saat di-mi</em><em>’</em><em>r</em><em>a</em><em>j-kan saya melewati s</em><em>u</em><em>atu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Maka </em><em>aku</em><em> bertanya</em><em>,</em><em> </em><em>‘</em><em>Wahai Jibril, siapakah mereka itu?</em>’ Jibril menjawab, ‘<em>Mereka adalah orang-orang yang makan daging manusia (berbuat ghibah, </em><em>p</em><em>en</em><em>.</em><em>) dan mencela kehormatan orang lain</em><em>’</em><em>.</em>” (HR. Abu Dawud: 4878, lihat Shohih Targhib: 2839)</p>
<p>Di samping itu, orang yang melakukan <em>ghibah</em> saat berpuasa tidak akan berpahala. Dari Abu Hurairah beliau berkata, “Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan haram dan malah mengerjakannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya</em><em>’</em><em>.</em>” (HR. al-Bukhori)</p>
<p>Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Puasa adalah perisai, maka jangan berkata kotor, dan jangan berbuat kebodohan. Jka ada seseorang yang memerangimu atau mencelamu maka katakanlah: </em><em>‘</em><em>saya sedang puasa</em>.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>Pelajaran Kedua</strong></p>
<p>Apakah <em>ghibah</em> membatalkan puasa ataukah tidak? Jawabannya, <em>ghibah</em> dan perbuatan haram lainnya tidaklah membatalkan hakikat puasa. Hanya perbuatan haram tersebut bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasa, sebagaimana keterangan di atas. Sementara itu, Imam Ibnu Hazm menganggap bahwa semua perbuatan haram tersebut bisa membatalkan puasa seseorang. Beliau berkata (<em>Al-Muhalla,</em> no. 734), “Puasa juga bisa batal dengan menyengaja berbuat maksit, apa pun perbuatan maksiat tersebut tanpa ada satu pun yang terkecuali, jika dia melakukannya sengaja dan ingat kalau sedang puasa. Seperti menyentuh atau mencium selain istrinya, berdusta, <em>ghibah</em>, <em>namimah</em> (mengadu domba), sengaja meninggalkan sholat, berbuat zhalim (aniaya), atau perbuatan haram lainnya.”</p>
<p>Namun, yang benar –insya Allah- adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa <em>ghibah</em> tidaklah membatalkan puasa. <em>Wallahu </em><em>a</em><em>’</em><em>lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon Edisit 10 Tahun Ke-8 1430/2009</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/CTrPpPO-ptU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/puasanya-dua-wanita-penggunjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/puasanya-dua-wanita-penggunjing/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kehidupan di Madinah Pasca Hijrah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/FLYyVgO0CJg/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/kehidupan-di-madinah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 07:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2393</guid>
		<description><![CDATA[Hijrah bukan semata-mata menyelamatkan diri dari gangguan orang-orang kafir atau pindah dari negeri kufur, akan tetapi makna hijrah yang lebih jauh adalah berkumpul dan tolong-menolong untuk menegakkan jihad fi sabilillah meninggikan kalimat Allah dengan menyebarkan ilmu, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hijrah bukan semata-mata menyelamatkan diri dari gangguan orang-orang kafir atau pindah dari negeri kufur, akan tetapi makna hijrah yang lebih jauh adalah berkumpul dan tolong-menolong untuk menegakkan <em>jihad fi sabilillah</em> meninggikan kalimat Allah dengan menyebarkan ilmu, amal, dan dakwah serta memerangi setiap orang yang menghalangi jalan dakwah.</p>
<p>Oleh karena itu, setelah Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> menetap di negeri hijrah –<strong><a href="http://kisahmuslim.com/kehidupan-di-madinah" target="_blank">Madinah</a></strong>-, beliau dan para sahabat tidak sepi dari aktivitas membangun masyarakat yang islami. <em>Madinah</em> adalah negeri yang aman untuk menyebarkan dakwah, yang jauh berbeda dengan Mekah. Yang demikian itu karena Madinah adalah kota oran-orang Anshar, penolong-penolong agama Allah, sedangkan Mekah adalah tempat orang-orang kafir musuh Allah, Rasulullah, Islam, dan kaum muslimin.</p>
<p>Walaupun secara umum Madinah memiliki penolong-penolong dakwah, percampuran antara Muhajirin dan Anshar yang latar belakang dan adat istiadanya berbeda menimbulkan masalah yang baru dan membutuhkan jalan keluar yang baru pula. Terlebih lagi, penduduk Madinah secara khusus pada saat itu terdiri atas tiga kaum dan sekaligus tiga agama, yaitu: kaum muslimin yakni Anshar, orang-orang musyrik dari bangsa Arab, dan Yahudi. Kaum Yahudi sendiri terdiri atas tiga kabilah yaitu: Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Orang-orang Yahudi ini berasal dari Syam (sekarang Syiria, Yordania, lebanon, dan Palestina). Mereka datang dan bermukim di Madinah karena ditindas dan diusir oleh bangsa Romawi yang beragama Nasrani sebab kejahatan Yahudi yang menganggap hina semua umat selain mereka dan juga mereka mengetahui berita akan datangnya seorang nabi serta mengetahui tempat hijrahnya lewat wahyu Allah dalam kitab-kitab mereka. Mereka datang sesuai dengan niat dan janji bahwa akan mengikuti nabi tersebut jika telah keluar. Akan tetapi, setelah muncul nabi ini (yakni Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>) mereka kafir (mengingkari) karena iri dan dengki akibat fanatisme jahiliah kesukuan; yaitu lantaran beliau <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> –nabi yang mereka nanti-nantikan- tidak berasal dari golongan mereka, Bani Israil.</p>
<p>Meski masyarakat Madinah memang terdiri dari tiga penganut agama, pucuk pimpinan dan kalimat yang berlaku adalah di tangan Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> sekalipun orang-orang Yahudi dan musyrik memiliki para pemimpin dan ulama masing-masing. Orang-orang musyrik tidak memiliki kekuasaan atas kaum muslimin. Mereka berada di antara ragu dan yakin terhadap ajaran Islam, namun mereka tidak sanggup menampakkan permusuhan kepada Islam hingga akhirnya mereka masuk Islam. Di antara mereka hanya ada sebagian yang menyembunyikan kedengkian dan permusuhan terhadap Islam tetapi tidak memiliki kekuatan untuk memusuhi Islam secara terang-terangan, seperti Abdullah bin Ubay dan teman-temannya. Orang-orang seperti ini terpaksa menampakkan rasa simpati dan cenderung kepada Islam karena lemah dan rasa takut kepada kaum muslimin. Setelah perang Badar dengan kemenangan kaum muslimin atas kafir Quraisy, makin tampaklah kemunafikan mereka yakni beramal Islam secara lahir seperti shalat, zakat, jihad, dan lain-lain dengan tujuan untuk melindungi darah dan harta mereka dari Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Adapun kaum Yahudi, sekalipun mereka telah bermukim dan berbaur dengan bangsa Arab –sesuai dengan watak buruk mereka- sangat menghinakan bangsa Arab dan bangsa-bangsa lainnya. Mereka sangat bangga dan fanatik dengan Israiliah. Mereka menganggap halal harta orang Arab dan mereka bisa dengan sesuka hati memakannya. Mereka sama sekali tidak mempunyai kepedulian terhadap penyebaran agama mereka, bahkan agama mereka diperjualbelikan lewat sihir, perdukunan, mengundi nasib, ramalan keberuntungan, dan semisalnya dan mereka menganggap diri mereka sebagai ahli ilmu, mulia, dan ahli rohani. Mereka sangat pandai dalam berbagai mata pencaharian berupa perdagangan dan perindustrian. Mereka paling licik dalam makar, tipu muslihat, persekongkolan dalam kejahatan, kesombongan, dan kezaliman. Mereka sangat lihai dalam menyusupkan api permusuhan di antara kabilah-kabilah Arab. Perang yang berlangsung puluhan tahun tanpa henti antara Aus dan Khazraj adalah bukti nyata kejahatan mereka. Dengan adanya perang ini mereka mendapat dua faedah, yaitu dapat melindungi diri mereka (Yahudi) terhadap bangsa Arab, serta mereka mendapat harta yang banyak dengan memberikan pinjaman berupa barang-barang dan alat-alat perang dengan riba yang berlipat ganda kepada mereka yang saling berperang.</p>
<h2>Membangun Masyarakat Madinah</h2>
<p>Secara umum, kaum muslimin di Madinah berkuasa penuh sejak awal kedatangan mereka di sana tanpa ada seorang pun yang menguasai mereka. Oleh karena itu, mereka harus menghadapi tantangan hidup yang baru, mulai dari masalah ekonomi, sosial, politik, hukum, hingga masalah perdamaian dan peperangan. Begitu pula penerapan secara umum ajaran Islam berupa halal dan haram, serta seluruh perintah dan larangan agama dalam segala aspek kehidupan.</p>
<p>Masalah yang dihadapi oleh para sahabat Muhajirin secara khusus adalah kondisi Madinah yang berbeda dengan Mekah. Ketika di Mekah, walaupun bersatu di bawah satu kalimat tauhid dan memiliki tujuan sama, mereka terpencar dari rumah-rumah mereka, tertindas dan terusir, serta tidak memiliki kekuasaan sedikit pun. Bahkan kekuasaan mutlak ada pada musuh mereka, kaum kuffar Quraisy. Oleh karena itulah, ayat-ayat yang turun di Mekah berkisar pada penjelasan dasar-dasar Islam dan hukum-hukum syariat yang dapat dilakukan secara perorangan berupa perintah untuk kebaikan dan takwa, akhlak mulia dan menjauhi perbuatan keji. Oleh karena itu, mereka belum memiliki persiapan untuk membangun negeri Islam yang baru di Madinah.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> mulai membangun kota Madinah dengan melakukan tiga hal pokok yaitu: membangun masjid, mempersaudarakan antara sahabat Muhajirin dan Anshar, dan mengadakan perjanjian damai. (Lihat <em>Ar-Rahiqukul-Makhtum</em>, Hal.208-209)</p>
<h3>Membangun Masjid</h3>
<p>Sebagaimana yang telah lewat pembahasannya, Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> berhenti di tempat berhentinya kendaraan beliau sesuai perintah Allah. Tempat tersebut adalah tanah milik dua anak yatim dari Bani Najjar yang diasuh oleh paman mereka, Asad bin Zurarah. Maka Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> menawar unuk membelinya. Namun mereka mengatakan, “Akan kami hibahkan kepadamu, wahai Rasulullah.” Akan tetapi, Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> tidak menerima kecuali dengan harga. (HR. Bukhari, no.3906)</p>
<p>Diriwayatkan bahwa di tempat tersebut terdapat kuburan orang-orang musyrik, bangunan rusak, dan kebun kurma. Maka Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar kuburan dibongkar, bangunan diratakan, sedang pohon-pohon kurma ditebang dan disusun di arah kiblat masjid (ke arah Baitul-Maqdis di Palestina, sebagai kiblat pertama bagi kaum muslimin sebelum Ka’bah).</p>
<p>Para sahabat bekerja mengangkut batu dengan giat dan penuh semangat, apalagi Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> ikut bekerja bersama mereka sambil melantunkan syair. Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> bersenandung:</p>
<p>“<em>Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat maka rahmatilah kaum Anshar dan Muhajirin</em>.” (HR. Bukhari, no.3906)</p>
<p>Di antara para sahabat, yang paling giat adalah Ammar bin Yasir. Tiap-tiap sahabat mengangkat batu bata satu per satu, sedangkan beliau mengangkat dua batu sekaligus, satu batu untuk beliau sendiri dan satu batu untuk Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> mengusap pundaknya seraya mengatakan, “<em>Wahai putra Sumayyah, orang-orang mendapat satu pahala, adapun engkau mendapat dua pahala. Perbekalanmu yang terakhir adalah minum susu dan kamu akan dibunuh oleh kelompok yang zalim</em>.” (HR. Muslim, 2236 dan 2916)</p>
<p>Perkataan Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> ini adalah salah satu tanda dari kenabian, karena Ammar bin Yasir terbunuh ketika perang disebabkan oleh orang-orang Khowarij (yaitu Perang Shiffin) anatara Ali dan Mu’awiyah, sedang Ammar bersama pasukan Ali bin Abi Thalib dan yang membunuhnya dari pasukan Mu’awiyah. Dan beliau wafat dengan sifat yang disebutkan oleh Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> dalam hadis di atas, yaitu sebelum terbunuh beliau meminum susu. (Sirah Dr. Mahdi, 1:347)</p>
<p>Bangunan masjid ini tetap dalam keadaan aslinya hingga pada masa Abu Bakar, beliau tidak mengubahnya. Pada masa Umar memerintah, beliau mengubah tiang-tiangnya menjadi kayu dan melindungi atapnya dari hujan. Lalu ketika Utsman menjadi khalifah, beliau melakukan banyak perubahan. Beliau membangun temboknya dengan batu-batu yang berukir dan kayu-kayu yang berasal dari India. (HR. Bukhari, no.448)</p>
<p>Umar bin Khaththab melarang menghiasi masjid agar tidak memfitnah manusia. Sedangkan Anas membenci memakmurkan masjid dengan cara menghiasi dan mencela manusia karena tidak memakmurkan masjid dengan shalat. (<em>Al-Fath</em>, 3:107)</p>
<p>Ketika awal dibangunnya, Masjid Nabawi ini tidak memiliki mimbar untuk khotbah, Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> saat itu berkhotbah pada batang kurma. Tatkala mimbar untuk Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> dibuat kemudian beliau menaiki mimbar tersebut untuk berkhotbah, maka kurma tersebut jatuh tersungkur dan merintih mengeluarkan suara kerinduan seperti suara unta yang rindu dan memanggil anaknya. Ini karena batang kurma itu terharu ketika mendengar khotbah Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> pergi merangkulnya sampai ia tenang seperti tenangnya bayi ketika dibuai. (HR. Bukhari, no.3584-3585)</p>
<p>Alangkah indah apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri setelah meriwayatkan hadis ini beliau berkata, “Batang kurma ini menangis wahai kaum muslimin, ia sebagai kayu merintih dengan suara tangis karena rindu sebab ditinggal oleh Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>. Bukankah manusia lebih berhak untuk rindu kepada beliau?” (<em>Dala</em><em>’</em><em>il Nubuwwah</em><em>,</em> oleh Al-Baihaqi, 2:559)</p>
<p>Setelah menyelesaikan bangunan masjid, para sahabat berselisih tentang bagaimana memanggil kaum muslimin untuk shalat berjamaah. Maka pada saat itu, yaitu pada tahun pertama hijrah, diwajibkan adzan untuk shalat lima waktu. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Zaid melihat dalam mimpi tentang adzan. Lalu beliau mengabarkan kepada Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>. Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk mengajarkannya kepada Bilal, lalu Bilal melakukan adzan. Ketika mendengarnya, Umar bin Khaththab datang kepada Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> dan berkata, “Aku melihat dalam mimpi seperti yang dilihat oleh Abdullah bin Zaid.” (Shahih. HR. at-Tirmidzi, 1:61-62)</p>
<p>Sejak saat itu, fungsi Masjid Nabawi yang paling pokok adalah untuk menunaikan ibadah kepada Allah dan sebagai tempat untuk perkara-perkara yang penting bagi kaum muslimin seperti:</p>
<p>- Sebagai tempat bagi para muhajirin yang miskin, khususnya para pemuda yang belum memiliki rumah; mereka dikenal sebagai ahli shuffah.</p>
<p>- Tempat ta’lim, di mana Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada kaum muslimin ajaran agama mereka.</p>
<p>- Tempat untuk menerima para utusan kabilah yang datang kepada Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>- Tempat untuk mengadakan bendera perang.</p>
<p>- Tempat pertemuan dan pergaulan para sahabat dengan sesama mereka dan bersama pemimpin mereka Rasulullah <em>shallallahu </em><em>‘</em><em>alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sumber: <em>Majalah Al-Furqon Edisi 5</em> Tahun Kedelapan Dzulhijjah 1429/Desember 2008</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/FLYyVgO0CJg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/kehidupan-di-madinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/kehidupan-di-madinah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kisah Palsu: Unta Jantan yang Menampakkan Diri kepada Abu Jahal</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/9ubBk5YsrRg/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/unta-jantan-yang-menampakkan-diri-kepada-abu-jahal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 03:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Tak Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2386</guid>
		<description><![CDATA[Yunus bin Bukair menuturkan dari Ibnu Ishaq, “Seorang guru dari penduduk Mekah sejak tahun 40-an bercerita kepadaku, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dan seterusnya.” Yunus menceritakan kisah panjang tentang perundingan antara kelompok kafir Mekah dan Rasulullahs ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yunus bin Bukair menuturkan dari Ibnu Ishaq, “Seorang guru dari penduduk Mekah sejak tahun 40-an bercerita kepadaku, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dan seterusnya.” Yunus menceritakan kisah panjang tentang perundingan antara kelompok kafir Mekah dan Rasulullahs <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Ketika Rasululalh <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beranjak meninggalkan mereka, Abu Jahal berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, Muhammad tidak mau selain apa yang kalian lihat sendiri; menjelek-jelekkan agama kita, mencaci nenek moyang kita, membodohkan tetua kita, dan mencemooh Tuhan-Tuhan kita. Aku berjanji pada Allah, esok hari aku akan duduk menunggunya dengan membawa batu yang aku hampir tidak kuat membawanya. Jika ia sujud dalam shalatnya, aku akan menimpakan batu itu di kepalanya. Terserah, setelah itu kalian menyerahkan aku (pada keluarga besar Muhamamd <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) atau melindungiku. Biarlah Bani Abdi Manaf melakukan apa yang mereka mau.’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, kami tidak akan menyerahkanmu, apa pun alasannya. Kerjakan apa yang engkau inginkan.’</p>
<p>Keesokan harinya, Abu Jahal mengambil batu seperti yang ia janjikan kemudian duduk menunggu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dan seperti hari-hari biasa, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> muncul pada pagi hari itu. Waktu itu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masih berada di Mekah dan kiblat shalat beliau ke arah Syam (Baitul Maqdis). Bila shalat, beliau menunaikannya di antara rukun Hajar Aswad dan rukun Yamani, serta memposisikan Ka’bah di antara tempat beliau berdiri dan Syam. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memulai shalat, sementara orang-orang Quraisy telah berdatangan dan duduk berkumpul di balai pertemuan, mereka menunggu apa yang akan dilakukan Abu Jahal. Kala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sujud, Abu Jahal segera mengangkat batu lalu berjalan ke arah beliau. Ketika ia telah dekat, tiba-tiba ia mundur ketakutan dan wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar. Ia tidak lagi kuat menahan beban batu hingga batu itu terjatuh. Beberapa orang Quraisy berdiri mendatanginya. Mereka bertanya keheranan, ‘Kenapa engkau, wahai Abul Hakam?”</p>
<p>Masih dengan wajah pucat, ia menjawab, ‘Aku mendatanginya untuk melakukan apa yang telah aku utarakan pada kalian tadi malam. Tetapi, ketika aku telah dekat dengannya, muncul seekor unta jantan menghadangku. Demi Allah aku belum pernah melihat unat dengan kepala, leher, dan taring sebesar yang dimiliki unta itu. Ia ingin memangsaku hidup-hidup’.”</p>
<p>Ibnu Ishaq berkata, “Diceritakan kepadaku bahwa berkenaan dengan fenomena itu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Itu Jibril, andai ia nekat mendekat pasti Jibril mencabiknya’.”</p>
<p>Guru Ibnu Ishaq dalam riwayat ini majhul (tidak diketahui. Baihaqi berkata, “Bila Ibnu Ishaq tidak menyebutkan guru yang bercerita kepadanya, maka hadisnya tidak perlu ditanggapi.”</p>
<p>Berita tentang unta jantan itu juga sudah disebutkan dalam kisah orang dari Irasy, dan sanadnya dha’if sebagaimana telah dijelaskan. Keganjilan yang terdapat dalam riwayat ini adalah ucapan Abu Jahal “Aku berjanji pada Allah.” Padahal dalam riwayat Muslim yang akan disebutkan setelah ini, ia bersumpah atas nama Lata dan Uzza.</p>
<p>Hakim telah meriwayatkan kisah yang mirip dengan ini dari jalur Abudullah bin Shalih yang berkata, “Laits bin Sa’ad bercerita kepadaku, dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dari Aban bin Shalih, dari Ali bin Abdillah bin Abbas, dari ayahnya Abbas bin Abdul Muthallib. Kemudian usai menyebutkan kisah ini, Hakim berkata, “Shahih.” Namun Dzahabi mengkritisinya dengan mengatakan,” Aku berkata, ‘Dalam sanadnya ada Abdullah bin Shalih. Ia bukan perawi yang bisa dijadikan pegangan, dan Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah <em>matruk</em>.”</p>
<p>Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah yang menuturkan, “Abu Jahal bertanya, ‘Apakah Muhammad berani mengotori wajahnya dengan debu di hadapan kalian?’ Dijawab, ‘Ya.’ Ia berkata, ‘Demi Lata dan Uzza, jika aku melihatnya melakukan hal itu, aku akan menginjak tengkuknya atau aku akan melumuri wajahnya dengan debu.”</p>
<p>Ia lalu mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang sedang shalat, ia berniat menginjak tengkuk beliau. Sejurus kemudian tidak ada mengejutkan mereka selain langkah mundul Abu Jahal seraya berusaha melindungi diri dengan kedua tangannya. Ditanyakan kepadanya, ‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab, ‘Sungguh ada parit penuh api, kengerian, dan sayap-sayap yang menghalangi antara aku dan dia.’ Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘Andai ia nekat mendekatiku niscaya para malaikat mencabik-cabiknya menjadi potongan-potongan’.”</p>
<p>Bukhari meriwayatkannya dengan ringkas dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas yang menuturkan, ‘Abu Jahal berkata, ‘sungguh jika aku melihat Muhammad shalat di samping Ka’bah, aku akan menginjak lehernya.’ Maka perkataan ini sampai pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau bersabda, ‘jika ia benar melakukannya para malaikat akan mencabik-cabiknya’.”</p>
<p>Sebagai catatan, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Alasan mengapa hal ini terjadi pada Abu Jahal dan tidak pernah pada Uqbah bin Abi Mu’aith yang telah menumpahkan kotoran perut unta di punggung Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saat beliau shalat, adalah meskipun keduanya sama-sama melancarkan gangguan saat beliau shalat, Abu Jahal lebih kurang ajar dengan menyampaikan ancaman, menuduh hamba yang taat kepada-Nya, dan ingin menginjak leher beliau. Hal ini jelas keterlaluan hingga mengakibatkan penyegeraan hukuman bila ia benar-benar melaksanakan. Juga, karena isi perut unta belum tentu najis. Di samping itu, Uqbah telah diberi alasan setimpal berkat doa buruk beliau kepadanya dan orang-orang yang berperan dalam tindakannya itu. Mereka semua terbunuh di perang Badar.” Kita tahu bahwa Abu Jahal adalah orang yang mencetuskan ide menumpahkan isi perut unta pada beliau seperti diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya.</p>
<p>Pembaca yang mulia, semoga Allah menjaga Anda, lihatlah bagaimana Abu Jahal tetap dalam kekufuran dan permusuhannya padahal ia telah nyata-nyata menyaksikan pertolongan dan perlindungan Allah untuk Rasul-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.</p>
<p>Sumber: <em>Masyhur Tapi Tak Shahih Dalam Sirah Nabawiyah</em>, Muhammad bin Abdullah Al-Usyan, Zam-Zam, Cetakan: 1 April 2010</p>
<p><strong> Artikel <a href="http://http://kisahmuslim.com/unta-jantan-yang-menampakkan-diri-kepada-abu-jahal">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/9ubBk5YsrRg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/unta-jantan-yang-menampakkan-diri-kepada-abu-jahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/unta-jantan-yang-menampakkan-diri-kepada-abu-jahal/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kisah Kebenaran Syair Thala’al Badru ‘Alaina</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/kisahmuslim/~3/0LBZoTt7rQg/</link>
		<comments>http://kisahmuslim.com/kisah-kebenaran-syair-thalaal-badru-alaina/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 04:01:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Tak Nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahmuslim.com/?p=2383</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Kebenaran Syair Thala&#8217;al Badru &#8216;Alaina Syarir lagu ini termasuk berita yang erat kaitannya dengan hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baihaqi dalam Ad-Dalail meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubaidullah bin Aisyah yang berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Kisah Kebenaran Syair Thala&#8217;al Badru &#8216;Alaina</h2>
<p>Syarir lagu ini termasuk berita yang erat kaitannya dengan hijrah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Baihaqi dalam Ad-Dalail meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubaidullah bin Aisyah yang berkata, “Ketika Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tiba di Madinah, para wanita dan anak-anak mengucapkan:<br />
<span id="more-2383"></span></p>
<blockquote><p><em>Thala’al badru ‘alaina</em></p>
<p>Bulan purnama muncul pada kita</p>
<p><em>Min saniyyatil Wada’’</em></p>
<p>Dari bukit Tsaniyatil Wada’</p>
<p><em>Wajaba syukru ‘alaina</em></p>
<p>Syukur wajib kita haturkan</p>
<p><em>Mada’a lil ahida</em></p>
<p>Atas apa yang diserukan penyeru pada Allah</p></blockquote>
<p>Baihaqi meriwayatkannya di tempat terpisah dalam Ad-Dalail pada bab orang-orang menyambut Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saat pulang dari perang Tabuk. Kemudian ia mengatakan, “Ini disebutkan ulama-ulama kami saat beliau hijrah ke Madinah dari Mekah, dan kami telah menyebutkan di tempatnya. Bukan ketika beliau tiba di Madinah melalui bukit Tsaniyah Wada’ saat beliau datang dari Tabuk, wallahu a’lam. Namun kami juga menyebutkan kisah ini di sini.”</p>
<p>Al-Hafizh Al-Iraqi mengomentari riwayat ini sebagai hadis mu’dhal, sebab perawi kisah Ubaidullah bin Aisyah (salah satu guru Bukhari) meninggal tahun 228 H. Jadi antara ia dan peristiwa kisah ini ada jarak yang panjang. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath, mengatakan, “Abu Sa’id mengeluarkan dalam Syaraful Mushthafa dan kami meriwayatkannya dalam Fawaidul Khal’i dari jalr Ubaidullah bin Aisyah secara munqathi (terputus sanadnya), “Saat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masuk Madinah, budak-budak wanita serentak mengucapkan:</p>
<blockquote><p>Bulan purnama muncul pada kita</p>
<p>Dari bukit Tsaniyatil Wada’</p>
<p>Syukur wajib kita haturkan</p>
<p>Atas apa yang diserukan penyeru pada Allah</p></blockquote>
<p>Ini adalah sanad yang <em>mu’dhal.</em> Boleh jadi peristiwa ini terjadi saat kedatangan beliau dari perang Tabuk.” Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya. Ia berkata, “Abdullah bin Muhammad bercerita kepada kami, Sufyan bercerita kepada kami, dari Zuhri, dari Saib bin Yazid yang menuturkan, ‘Aku ingat saat aku keluar bersama-sama anak kecil ke bukit Tsaniyatil Wada’ untuk menyambut kedatangan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari perang Tabuk’.”</p>
<p>Ibnu Hajar berkata, “Dawudi mengingkari riwayat ini. Ibnul Qayyim mengikutinya dan berkata, ‘Tsaniyah Wada’ itu letaknya searah dengan Mekah, bukan Tabuk. Bahkan arah Tabuk berlawanan dengan arah Tsaniyah Wada’ seperti Timur dan Barat.’</p>
<p>Ibnul Qayyim melanjutkan, ‘Kecuali bila ada bukit lain ke Tabuk. Tsaniyah adalah tanah yang tinggi. Dikatakan juga, jalan di gunung.’ Aku (Ibnu Hajar) berkata, ‘Letak Tsaniyah Wada’ di arah Hijaz tidak menutup kemungkinan orang yang bepergian ke Syam melewati arah tersebut. Ini sesuatu yang jelas. Sebagaimana bisa masuk Mekah lewat satu bukit dan keluar meninggalkannya melalui bukit lain, di mana kedua arah ini nantinya bertemu di satu jalan.</p>
<p>Dalam Al-Halabiyat kami telah meriwayatkan dengan sanad munqathi tentang ucapan kaum wanita ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tiba di Madinah, ‘Bulan purnama muncul pada kita dari bukit Tsaniyatil Wada’.’ Dikatakan, peristiwa ini terjadi saat kedatangan beliau ke Madinah dalam hijrah, dan dikatakan pula saat beliau tiba dari perang Tabuk.” Demikian Ibnu Hajar menyandarkan pada Ibnul Qayim babwa ia berkata “Tsaniyah Wada’ letaknya searah dengan Mekah, bukan Tabuk.: sementara ucapan Ibnul Qayyim benar-benar berbeda. Ia megnatakan, “Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah dekat dengan Madinah, orang-orang keluar untuk menyambut beliau. Para wanita, anak-anak dan budak-budak ikut keluar, mereka mengucapkan:</p>
<blockquote><p>Bulan purnama muncul pada kita</p>
<p>Dari bukit Tsaniyatil Wada’</p>
<p>Syukur wajib kita haturkan</p>
<p>Atas apa yang diserukan penyeru pada Allah</p></blockquote>
<p>Sebagai perawi keliru dalam masalah ini dengan mengatakan babwa ini terjadi kala kedatangan beliau di Madinah dari Mekah. Ini satu kesalahan nyata, sebab bukit Tsaniyah Wada berada di arah Syam. Orang yang datang dari Mekah ke Madinah tidak bisa melihatnya dan tidak melewatinya kecuali bila ia menuu ke arah Syam terlebih dahulu.”</p>
<p>Sebab penamaan Tsaniyah Wada’ dan babwa bukti ini terletak di arah Tabuk telah disebutkan dalam peristiwa lain, yakni dalam pengharaman nikah mut’ah. Al-Hafizh Ibnu hajar berkata, “Hazimi mengeluarkan hadis Jabir yang menuturkan, “Kami berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ke perang Tabuk. Saat kami sampai di sebuah bukit dekat Syam, datanglah para wanita yang sebelumnya kami pernah nikah mut’ah dengan mereka. Mereka berseliweran di tempat kendaraan kami. Tidak lama kemudian, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang dan kami menceritakan hal itu pada beliau. Ternyata beliau marah dan langsung berkhotbah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya kemudian melarang nikah mut’ah. Maka di hari itu kami saling meninggalkan (nikah mut’ah). Karena itulah, maka tempat itu disebut Tsaniyatul Wada (bukit perpisahan).” Hadis ini tidak shahih, karena bersumber dari jalur Abbad bin Katsir, seorang perawi yang ditinggalkan.” Syaikh Al-Albani berkata, “Kisah ini secara keseluruhan tidak terbukti shahih.”</p>
<p>Di antara indikasi kelemahan kisah ini, babwa riwayat-riwayat yang shahih tentang masuknya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ke Madinah saat hijrah tidak menyebutkan –meskipun hanya secara implisit– apa yang bisa menjadi bukti kebenaran kisah ini. Bahkan riwayat-riwayat shahih ini menceritakan kata sambutan penduduk Madinah kala beliau tiba. Bukhari, dalam Shahih-nya bab hijrah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat ke Madinah, meriwayatkan hadis Anas bin Malik. Di dalamnya disebutkan, ‘Maka di Madinah ada yang mengatakan, ‘Nabi Allah datang, Nabi Allah datang.’ Lantas mereka menuju tempat tinggi untuk melihat, mereka mengucapkan, “Nabi Allah datang&#8230;”</p>
<p>Dan dalam hadis Bara’ bin Azib disebutkan,” &#8230;kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang. Aku tidak pernah melihat penduduk Madinah bersuka cita seperti suka cita mereka lantaran kedatangan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Bahkan, para budak wanita meneriakkan, ‘Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang’.” Dalam riwayat lain, “Lantas para lelaki dan wanita naik ke atap rumah, sedang anak-anak dan para pelayan berhamburan di jalan-jalan. Mereka meneriakkan, ‘Wahai Muhammad, wahai Rasulullah. Wahai Muhamamd, wahai Rasulullah’.”</p>
<p>Sebagai catatan, Ash-Shalihi mengutip dari Muqairizi babwa syair ini diucapkan ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kembali dari perang Badar. Berarti ini pendapat ke tiga. Tetapi telah dijelaskan bahwa riwayat syair ini tidak shahih. Ibnu Ishaq yang terkenal sangat memperhatikan sirah dan mengikuti peristiwa-peristiwanya tidak menyebutkan lagu ini dalam kitab sirahnya.</p>
<p>Sumber: <a href="http://http://kisahmuslim.com/kisah-kebenaran-syair-thalaal-badru-alaina"><em>Masyhur Tapi Tak Shahih Dalam Sirah Nabawiyah</em></a>, Muhammad bin Abdullah Al-Usyan, Zam-Zam, Cetakan: 1 April 2010</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://http://kisahmuslim.com/">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/kisahmuslim/~4/0LBZoTt7rQg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahmuslim.com/kisah-kebenaran-syair-thalaal-badru-alaina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://kisahmuslim.com/kisah-kebenaran-syair-thalaal-badru-alaina/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss><!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: basic
Database Caching 26/33 queries in 0.006 seconds using disk: basic
Object Caching 1484/1491 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.kisahmuslim.com

Served from: kisahmuslim.com @ 2012-05-25 10:33:18 -->

