<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Cerita kisah cinta penggugah jiwa</title>
	<atom:link href="https://kisahmuslim.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kisahmuslim.com</link>
	<description>Cerita kisah cinta penggugah jiwa: kisah para nabi, rasul, orang shaleh, umat terdahulu, dan masa depan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Sep 2026 05:45:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.1</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2013/12/kisahmuslim-favicon.png?fit=16%2C16&#038;ssl=1</url>
	<title>Cerita kisah cinta penggugah jiwa</title>
	<link>https://kisahmuslim.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">73338957</site>	<item>
		<title>Biografi Nabi Ismail: Sifat-Sifatnya dalam Al-Qur’an (Bagian 4)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8608-biografi-nabi-ismail-sifat-sifatnya-dalam-al-quran-bagian-4.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2026 06:46:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8608</guid>

					<description><![CDATA[Keempat: Sifat-Sifat Ismail ‘Alaihis Salām dalam Al-Qur’an Al-Qur’an sering menyebutkan sifat-sifat para nabi agar kita dapat meneladan mereka. أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An‘am: 90) Allah Ta‘ālā berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keempat: Sifat-Sifat Ismail ‘Alaihis Salām dalam Al-Qur’an</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Qur’an sering menyebutkan sifat-sifat para nabi agar kita dapat meneladan mereka.</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An‘am: 90)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan ceritakanlah (kisah) Ismail di dalam Kitab (Al-Qur&#8217;an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar dalam menepati janji dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)</p>



<p class="wp-block-paragraph">At-Tabari raḥimahullāh (15/561) berkata, “Dan ingatlah wahai Muhammad di dalam Kitab tentang Ismail putra Ibrahim. Ceritakanlah kisahnya! Sesungguhnya ia tidak pernah mengingkari janjinya dan tidak pernah menyelisihinya. Akan tetapi, apabila ia berjanji kepada Tuhannya atau kepada salah seorang hamba-Nya, ia memenuhi janjinya.” Selesai kutipan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kisah penyembelihan, tampak kepada kita betapa besar bakti Ismail kepada ayahnya ‘alaihimas salām dan betapa agung ketundukan keduanya terhadap perintah Allah Ta‘ālā.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kelima: Beliau Memerintahkan Keluarganya untuk Melaksanakan Salat dan Zakat, dan Beliau Adalah Orang yang Diridai di Sisi Tuhannya</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan dia (Ismail) senantiasa menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 55)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syekh Ibnu ‘Utsaimin raḥimahullāh, ketika menjelaskan ayat tersebut, berkata, “Seseorang bertanggung jawab atas keluarganya dan bertanggung jawab atas pendidikan mereka, bahkan meskipun mereka masih kecil, apabila mereka sudah mumayiz. Adapun anak yang belum mumayiz, maka ia diperintahkan sesuai dengan apa yang dapat dipahami oleh akalnya.” Selesai kutipan dari <em>Syarḥ Riyāḍhuṣ Ṣāliḥīn</em> (3/168).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Al-Hasan, ia berkata, “Barang siapa memiliki penasihat dalam dirinya sendiri, maka dia akan memiliki penjaga bagi dirinya dari Allah. Semoga Allah merahmati orang yang menasihati dirinya sendiri dan keluarganya, lalu berkata, ‘Wahai keluargaku, (perhatikan) salat kalian! salat kalian! zakat kalian! zakat kalian! tetangga kalian! tetangga kalian! orang-orang miskin (di sekitar) kalian! orang-orang miskin (di sekitar) kalian! Semoga Allah merahmati kalian pada hari kiamat.’ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memuji seorang hamba yang amalnya seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Dan dia (Ismail) senantiasa menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.’” (QS. Maryam: 55). Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam <em>An-Nafaqah ‘ala Al-‘Iyāl</em> (333), 1/506.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hafiz Ibnu Katsir raḥimahullāh secara ringkas menyebutkan sifat-sifat mulia yang terdapat dalam Al-Qur’an dan pujian Allah kepadanya (Ismail), bahwa Allah Ta‘ālā telah memujinya dan menyifatinya dengan sifat santun, sabar, menepati janji, menjaga salat, serta memerintahkan keluarganya untuk melaksanakannya agar mereka terhindar dari azab. Semua itu disertai dengan dakwah beliau untuk beribadah kepada Tuhan seluruh makhluk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَبَشَّرۡنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيۡمٍ‏ . فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰى​ؕ قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ​ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ‏</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun. Ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Dengan izin Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 101–102)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka ia memenuhi keinginan ayahnya dalam perkara yang diperintahkan kepada beliau, dan berjanji kepada beliau bahwa ia akan bersabar. Ia pun menepati janjinya dan bersabar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا . وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Kitab. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar dalam menepati janji dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia selalu menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 54–55)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā juga berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاذۡكُرۡ عِبٰدَنَاۤ اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ اُولِى الۡاَيۡدِىۡ وَالۡاَبۡصَارِ‏ . اِنَّاۤ اَخۡلَصۡنٰهُمۡ بِخَالِصَةٍ ذِكۡرَى الدَّارِ​ۚ‏ . وَاِنَّهُمۡ عِنۡدَنَا لَمِنَ الۡمُصۡطَفَيۡنَ الۡاَخۡيَارِؕ‏ . وَاذۡكُرۡ اِسۡمٰعِيۡلَ وَ الۡيَسَعَ وَذَا الۡكِفۡلِ​ؕ وَكُلٌّ مِّنَ الۡاَخۡيَارِؕ‏ ﻿﻿</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan ingatlah hamba-hamba Kami; Ibrahim, Ishak, dan Ya‘qub yang memiliki tangan (kekuatan) dan penglihatan (kecerdasan). Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan mengingat negeri akhirat, dan sungguh, mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik. Dan ingatlah Ismail, Ilyasa‘, dan Zulkifli! Semuanya termasuk orang-orang yang terbaik.” (QS. Shad: 45–48)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā juga berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِدۡرِيۡسَ وَذَا الۡكِفۡلِ​ؕ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيۡنَ​ ۖ​ۚ‏ ﻿﻿ . وَاَدۡخَلۡنٰهُمۡ فِىۡ رَحۡمَتِنَا ؕ اِنَّهُمۡ مِّنَ الصّٰلِحِيۡنَ‏</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar, dan Kami memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 85–86)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اِنَّاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلَيۡكَ كَمَاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى نُوۡحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنۡۢ بَعۡدِهٖ​ ۚ وَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَالۡاَسۡبَاطِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya &#8230;” (QS. An-Nisa: 163)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā juga berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">قُوۡلُوۡٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنۡزِلَ اِلَيۡنَا وَمَآ اُنۡزِلَ اِلٰٓى اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya! &#8230;’” (QS. Al-Baqarah: 136)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ayat yang serupa juga terdapat pada surah lainnya. Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اَمۡ تَقُوۡلُوۡنَ اِنَّ اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَالۡاَسۡبَاطَ كَانُوۡا هُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰى​ؕ قُلۡ ءَاَنۡـتُمۡ اَعۡلَمُ اَمِ اللّٰهُ​ ؕ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ataukah kalian mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya adalah orang-orang Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, ‘Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah? &#8230;’” (QS. Al-Baqarah: 140)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah menyebutkan setiap sifat terpuji tentang beliau, menjadikan beliau sebagai nabi dan rasul-Nya, membebaskan beliau dari segala sesuatu yang dituduhkan kepada beliau oleh orang-orang bodoh, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar beriman kepada apa yang diturunkan kepada beliau.” Selesai kutipan dari <em>Al-Bidāyah wan-Nihāyah</em> (1/443–444).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8608</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Biografi Nabi Ismail: Peristiwa Penyembelihan (Bagian 3)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8600-biografi-nabi-ismail-peristiwa-penyembelihan-bagian-3.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2026 11:54:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8600</guid>

					<description><![CDATA[Ketiga: Ismail dan Peristiwa Penyembelihan Allah Ta‘ālā berfirman, فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ * فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ * فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ * وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ * قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga: Ismail dan Peristiwa Penyembelihan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta‘ālā berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ * فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ * فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ * وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ * قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ * إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ * وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat penyantun. Ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Dengan izin Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 101–107)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lihat pula tafsir ayat-ayat tersebut pada jawaban nomor: 5522. Pendapat yang benar adalah bahwa putra yang hendak disembelih ialah Ismail ‘alaihis salām, bukan Ishak ‘alaihis salām. Ibnu Taimiyah raḥimahullāh berkata, “Secara umum, perselisihan mengenai masalah ini memang masyhur. Namun, yang wajib diyakini dengan pasti adalah bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih ialah Ismail. Inilah pendapat yang didukung oleh Al-Qur’an, Sunah, dan berbagai dalil yang masyhur. Inilah pula yang ditunjukkan oleh Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah ini menunjukkan bahwa putra yang akan disembelih adalah Ismail dari beberapa sisi. Di antaranya, bahwa Allah terlebih dahulu memberikan kabar gembira tentang putra yang akan disembelih dan menyebutkan kisahnya terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan penyebutan kisah tersebut, Allah berfirman,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ * وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan Kami memberikan kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Dan Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak.” (QS. Ash-Shaffat: 112–113)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, jelas bahwa itu adalah dua kabar gembira yang berbeda, yaitu kabar gembira tentang putra yang diperintahkan untuk disembelih dan kabar gembira yang kedua tentang kelahiran Ishak. Ini gamblang sekali. Hal lain yang menunjukkan bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih bukanlah Ishak ialah firman Allah Ta‘ālā,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lalu Kami menyampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan setelah Ishak akan lahir Ya‘qub.” (QS. Hud: 71)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana mungkin setelah itu Allah memerintahkan agar Ishak disembelih? Kabar gembira tentang kelahiran Ya‘qub mengharuskan bahwa Ishak akan tetap hidup hingga memiliki seorang putra bernama Ya‘qub. Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa peristiwa penyembelihan terjadi sebelum kelahiran Ya‘qub. Bahkan, Ya‘qub baru lahir setelah wafatnya Ibrahim ‘alaihis salām, sedangkan peristiwa penyembelihan terjadi ketika Ibrahim masih hidup, tanpa perlu diragukan. (<em>Majmū‘ Al-Fatāwā</em>, 4/335)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Ḥāfiẓ Ibnu Katsir raḥimahullāh berkata dalam <em>Al-Bidāyah wan-Nihāyah</em> (1/442), “Nabi Ibrahim Al-Khalīl memiliki beberapa orang putra. Akan tetapi, yang paling terkenal di antara mereka adalah dua orang bersaudara yang sama-sama nabi agung dan rasul, yang mana yang lebih tua di antara keduanya, sekaligus yang lebih mulia—serta menurut pendapat yang benar merupakan putra yang diperintahkan untuk disembelih—ialah Ismail, putra sulung Ibrahim Al-Khalīl dari Hajar Al-Qibṭiyyah Al-Miṣriyyah ‘alaihās salām, atas karunia dari Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun orang yang berpendapat bahwa putra yang akan disembelih adalah Ishak, maka pendapat itu hanyalah bersumber dari riwayat-riwayat Bani Israil yang telah mengubah, memutarbalikkan, dan menyelewengkan Taurat serta Injil, juga menyelisihi Al-Qur’an yang ada di hadapan mereka dalam perkara ini. Padahal Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra sulungnya, dan dalam riwayat lain disebut ‘putra tunggalnya’. Bagaimanapun redaksinya, berdasarkan dalil yang tegas, putra itu adalah Ismail. Dalam naskah kitab mereka sendiri disebutkan bahwa Ismail lahir ketika usia Ibrahim delapan puluh enam tahun, sedangkan Ishak baru lahir ketika usia Ibrahim telah mencapai seratus tahun. Jadi, Ismail adalah putra sulungnya tanpa perlu diragukan. Bahkan, ia juga merupakan putra tunggal, baik secara realitas pada masa itu maupun dari secara makna.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan masing-masing asumsi tersebut, bahwa secara realitas, Ismail memang merupakan putra tunggal karena selama lebih dari tiga belas tahun ia adalah satu-satunya anak Ibrahim. Adapun secara makna, ia adalah putra tunggal yang mana ayahnya berhijrah bersamanya dan bersama ibunya, Hajar, ketika ia masih kecil, bahkan menurut suatu pendapat masih bayi yang menyusu. Ibrahim menempatkan keduanya di lembah-lembah pegunungan Faran, yaitu pegunungan yang berada di sekitar Makkah, sebaik-baik tempat mukim. Beliau meninggalkan keduanya di sana dengan bekal makanan dan air yang sangat sedikit. Hal itu dilakukan atas dasar keyakinan dan tawakal beliau kepada Allah. Maka Allah Ta‘ālā menjaga keduanya dengan pemeliharaan dan kecukupan dari-Nya. Dialah sebaik-baik Yang Mencukupi, Yang Melindungi, Yang Diserahi urusan, dan Yang Menjamin. Inilah yang dimaksud bahwa Ismail adalah putra tunggal, baik secara realitas maupun secara makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, di mana orang yang dapat memahami detail ini dan dapat mencapai pemahaman seperti ini? Makna tersebut tidak dapat dipahami dan dimengerti ilmunya kecuali oleh setiap orang yang teliti dan baik. Selesai. Lihat pula penjelasan Ibnu Qayyim dan dukungannya terhadap pendapat Ibnu Taimiyah raḥimahumallāh dalam <em>Zādul Ma‘ād</em> (1/71). Lihat juga jawaban nomor: 347041 dan 108912.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8600</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Biografi Nabi Ismail: Masa Muda dan Pernikahannya (Bagian 2)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8595-biografi-nabi-ismail-masa-muda-dan-pernikahannya-bagian-2.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2026 23:24:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8595</guid>

					<description><![CDATA[وَشَبَّ الغُلاَمُ وَتَعَلَّمَ العَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ، وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ، فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ، وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ، فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ، فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ Setelah dewasa, ia menjadi orang yang paling mereka hargai dan kagumi. Ketika telah mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَشَبَّ الغُلاَمُ وَتَعَلَّمَ العَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ، وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ، فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ، وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ، فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ، فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah dewasa, ia menjadi orang yang paling mereka hargai dan kagumi. Ketika telah mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah ibunda Ismail wafat, Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk melihat keadaan keluarganya. Namun, beliau tidak mendapati Ismail. Beliau lalu bertanya kepada istri Ismail tentang keberadaannya. Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Ia pergi mencari nafkah untuk kami.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ibrahim bertanya tentang keadaan hidup dan kondisi mereka. Istri Ismail menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَحْنُ بِشَرٍّ، نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ، فَشَكَتْ إِلَيْهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Kami hidup dalam keadaan yang buruk. Kami berada dalam kesempitan dan kesulitan,’ lalu ia mengeluhkan keadaannya kepada beliau (Ibrahim).” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan katakan kepadanya agar mengganti ambang pintunya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Ismail pulang, firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu. Lalu ia bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا، فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا، فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ وَشِدَّةٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya, ada seorang lelaki tua datang dengan ciri-ciri seperti ini dan seperti itu. Ia bertanya tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya tentang keadaan hidup kami, maka aku mengatakan kepadanya bahwa kami hidup dalam kesusahan dan kesempitan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya. Ia memerintahkanku agar menyampaikan salam kepadamu, dan berkata, ‘Gantilah ambang pintumu!’”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">ذَاكِ أَبِي، وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ، الحَقِي بِأَهْلِكِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Itu adalah ayahku. Ia telah memerintahkanku agar menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu.” Maka Ismail pun menceraikannya. (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ismail menikah lagi dengan wanita lain dari kalangan mereka. Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama waktu yang Allah kehendaki. Setelah itu beliau datang kembali, namun tidak mendapati Ismail. Beliau masuk menemui istri Ismail dan bertanya tentang keberadaannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ia pergi mencari nafkah untuk kami.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">كَيْفَ أَنْتُمْ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Bagaimana keadaan kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau juga bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami dalam keadaan baik dan berkecukupan,” seraya memuji Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">مَا طَعَامُكُمْ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apa makanan kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اللَّحْمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Daging.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau bertanya lagi,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَمَا شَرَابُكُمْ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apa minuman kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">المَاءُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Air.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Ibrahim berdoa,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالمَاءِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ، وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pada waktu itu mereka belum memiliki biji-bijian. Seandainya mereka telah memilikinya, niscaya Ibrahim juga akan mendoakan keberkahan padanya.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengisahkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kedua makanan itu (yaitu daging dan air) tidak akan cocok bagi siapa pun yang menjadikannya sebagai makanan pokok di selain Makkah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau melanjutkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan perintahkan agar ia mempertahankan ambang pintunya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Ismail datang, ia bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الهَيْئَةِ، وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ، فَسَأَلَنِي عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، فَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya, telah datang seorang lelaki tua yang baik penampilannya, sembari ia memuji Allah. Ia bertanya kepadaku tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya tentang kehidupan kami, maka aku mengatakan bahwa kami dalam keadaan baik.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istrinya menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya. Ia menyampaikan salam untukmu dan memerintahkanmu agar mempertahankan ambang pintumu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">ذَاكِ أَبِي وَأَنْتِ العَتَبَةُ، أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Itu adalah ayahku, dan engkaulah yang dimaksud dengan ambang pintu itu. Ia memerintahkanku agar tetap mempertahankanmu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama waktu yang Allah kehendaki. Setelah itu beliau datang lagi. Saat itu Ismail sedang meraut anak panah miliknya di bawah sebuah pohon di dekat Zamzam. Ketika Ismail melihat ayahnya, ia segera berdiri menyambutnya. Keduanya saling menyambut sebagaimana yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya dan seorang anak kepada ayahnya. Setelah itu Ibrahim berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">يَا إِسْمَاعِيلُ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku melakukan suatu perkara.”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim bertanya,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَتُعِينُنِي؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Maukah engkau membantuku?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ismail menjawab,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَأُعِينُكَ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku akan membantumu.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengatakan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَا هُنَا بَيْتًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di tempat ini,” sambil menunjuk ke sebuah tempat yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya. Pada saat itulah keduanya mulai meninggikan fondasi Baitullah. Ismail membawa batu-batu, sedangkan Ibrahim membangunnya. Ketika bangunan itu semakin tinggi, Ismail terus membawakan batu, lalu meletakkannya untuk beliau dan beliau berdiri sambil terus membangun, sedangkan Ismail menyodorkan batu-batu kepadanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya terus mengucapkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya terus membangun sambil mengelilingi Baitullah dan mengucapkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127). (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8595</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Nabi Ismail ‘Alaihis Salām (Bagian 1)</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8591-mengenal-nabi-ismail-alaihis-salam-bagian-1.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 13:29:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8591</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya ingin mendapatkan informasi tentang Nabi Ismail ‘alaihis salām. Ringkasan Jawaban: Beliau adalah putra pertama Nabi Ibrahim ‘alaihis salām, dan ibunya bernama Hajar. Beliau adalah seorang rasul sekaligus nabi. Dialah putra yang “disembelih”, yang dari keturunannya lahir Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau membantu ayahnya dalam membangun Ka‘bah. Beliau adalah anak yang berbakti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya ingin mendapatkan informasi tentang Nabi Ismail ‘alaihis salām.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ringkasan Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau adalah putra pertama Nabi Ibrahim ‘alaihis salām, dan ibunya bernama Hajar. Beliau adalah seorang rasul sekaligus nabi. Dialah putra yang “disembelih”, yang dari keturunannya lahir Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau membantu ayahnya dalam membangun Ka‘bah. Beliau adalah anak yang berbakti kepada ayahnya, tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah Ta‘ālā, mempelajari dasar-dasar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, kemudian setelah mempelajarinya, Allah mengilhamkan kepadanya bahasa Arab yang fasih dan jelas, sehingga beliau cakap bertutur dengannya.</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;“Dan dia senantiasa menyuruh keluarganya melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 55)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Biografi Nabi Ismail: Nasab dan Masa Kecilnya</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Adapun berikutnya:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertama: Nasab Nabi Ismail ‘Alaihis Salām</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau adalah Ismail putra Ibrahim Al-Khalīl ‘alaihimas salām. Ibunya adalah Hajar raḍiyallāhu ‘anhā. Beliau adalah nenek moyang bangsa Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab yang mempelajari bahasa Arab), dan dari keturunannya lahir penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ رواه مسلم (2276). وانظر: إجابة رقم: (224203)</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim no. 2276). Lihat juga jawaban nomor: 224203.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua: Tinggalnya Ismail di Makkah dan kisah Zamzam</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Telah diriwayatkan secara valid dalam <em>Shahih Al-Bukhari</em> kisah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salām meninggalkan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail ‘alaihis salām, di sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman, usaha Hajar mencari air, serta memancarnya mata air Zamzam. Al-Bukhari meriwayatkan dalam <em>Shahih</em>-nya (no. 3364), dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā:</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ المِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، &#8230; ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ، حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ البَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ، فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى المَسْجِدِ، وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ، وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ، فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ، ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kaum wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah ibunda Ismail. &#8230; Kemudian Ibrahim mengajak Hajar dan putranya, Ismail, yang saat itu masih disusuinya, hingga beliau menempatkan mereka berdua di dekat Baitullah, di bawah sebuah pohon, di atas lokasi Zamzam, di sisi atas Masjidil Haram. Ketika itu belum ada seorang pun di Makkah dan belum ada sumber air di sana. Ibrahim meninggalkan keduanya di sana. Beliau meninggalkan untuk mereka sebuah kantong berisi kurma dan sebuah kantong kulit berisi air. Setelah itu Ibrahim berbalik pergi. Lalu ibunda Ismail mengikutinya seraya berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai Ibrahim, ke manakah engkau pergi, sementara engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada apa pun di dalamnya?” Ia mempertanyakan hal itu berulang kali, sedangkan Ibrahim sama sekali tidak menoleh kepadanya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Hajar berkata kepadanya,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibrahim menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hajar berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau begitu, Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kami.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Hajar kembali, sedangkan Ibrahim terus melanjutkan perjalanannya. Ketika telah sampai di sebuah bukit sehingga mereka tidak lagi dapat melihatnya, beliau menghadap ke arah Baitullah, lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan doa ini,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">رَبِّ (إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ المُحَرَّمِ) [إبراهيم/ 37] &#8211; حَتَّى بَلَغَ – (يَشْكُرُونَ) [إبراهيم/ 37]</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanaman, di dekat rumah-Mu yang suci &#8230;” hingga akhir ayat, “&#8230; agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibunda Ismail terus menyusui Ismail dan meminum air yang tersedia itu. Ketika air di dalam kantong kulit telah habis, ia pun merasa haus, begitu pula putranya. Ia melihat putranya yang menggeliat (atau beliau katakan: menggelinjang) kehausan. Maka ia pergi karena tidak sanggup melihat keadaan putranya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mendapati Bukit Shafa sebagai bukit yang paling dekat dengannya. Ia pun berdiri di atasnya, lalu menghadap ke arah lembah untuk melihat apakah ada seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Ia lalu turun dari Bukit Shafa. Ketika sampai di dasar lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya, kemudian berlari seperti larinya orang yang sangat kelelahan hingga melewati lembah. Setelah itu ia sampai di Bukit Marwah, berdiri di atasnya, lalu melihat apakah ada seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Hal itu dilakukannya sebanyak tujuh kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Demikianlah asal muasal sai yang dilakukan manusia di antara keduanya (Shafa dan Marwah).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Hajar telah sampai di Bukit Marwah, ia mendengar suara. Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">صَهٍ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Diam!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian ia mendengarkan dengan saksama, dan kembali mendengar suara itu. Lalu ia berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">قَدْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غِوَاثٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Engkau telah memperdengarkan suaramu, barangkali engkau bisa menolong!”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata di tempat Zamzam ada seorang malaikat. Malaikat itu menghentakkan tanah dengan tumitnya (atau beliau katakan: dengan sayapnya) hingga air pun memancar. Hajar segera membuat kolam kecil di sekelilingnya sambil membendung air dengan tangannya seperti ini. Ia juga mengambil air dengan wadahnya, sedangkan air itu terus memancar setiap kali diambil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ &#8211; أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ المَاءِ -، لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Semoga Allah merahmati ibunda Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam (atau beliau bersabda: Seandainya ia tidak mengambil air darinya) niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengisahkan,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Lalu Hajar meminum air itu dan menyusui anaknya. Malaikat berkata kepadanya,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">لاَ تَخَافُوا الضَّيْعَةَ، فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ، يَبْنِي هَذَا الغُلاَمُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَهْلَهُ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Janganlah kalian takut telantar, karena di sini ada Rumah Allah, yang kelak akan dibangun oleh anak ini bersama ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan penduduknya.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itu Baitullah tampak lebih tinggi daripada permukaan tanah seperti sebuah bukit kecil. Apabila banjir datang, air mengalir melewati sisi kanan dan kirinya. Keadaan itu terus berlangsung hingga datang kepada mereka sekelompok orang dari kabilah Jurhum, atau sebuah keluarga dari Jurhum, yang datang melalui jalan Kada’. Mereka singgah di sisi bawah Makkah. Lalu mereka melihat seekor burung yang berputar-putar. Mereka berkata,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ، لَعَهْدُنَا بِهَذَا الوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Burung ini pasti sedang berputar di atas air. Padahal yang kami ketahui, lembah ini tidak memiliki air.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka mereka mengutus seorang atau dua orang pencari berita, ternyata memang ada air, maka mereka kembali dan memberitahukannya kepada rombongan. Mereka pun mendatangi tempat itu, sementara ibunda Ismail ada di dekat sumber airnya. Mereka berkata,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ؟</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Apakah engkau mengizinkan kami tinggal di dekatmu?’ Hajar menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ، وَلَكِنْ لاَ حَقَّ لَكُمْ فِي المَاءِ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Ya, tetapi kalian tidak memiliki hak atas air ini.’</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka menjawab,&nbsp;</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">نَعَمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Baik.’” (HR. Al-Bukhari no. 3364)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>



<p class="has-text-align-right has-larger-font-size wp-block-paragraph">فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُحِبُّ الإِنْسَ فَنَزَلُوا وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ فَنَزَلُوا مَعَهُمْ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Hal itu menenangkan ibunda Ismail, karena ia senang tinggal bersama orang-orang. Maka mereka pun menetap di sana, lalu mengirim kabar kepada keluarga mereka, sehingga keluarga mereka ikut datang dan tinggal bersama mereka. Hingga akhirnya sejumlah keluarga dari mereka menetap di tempat itu. Ismail pun tumbuh besar dan belajar bahasa Arab dari mereka.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersambung …</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام">https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1rivXENbgSJHo_vYDtoDRpqyn8wGo4uPi/view?usp=drive_link">PDF Sumber Artikel</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8591</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Harut dan Marut: Malaikat yang Mengajarkan Sihir</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8564-kisah-harut-dan-marut-malaikat-yang-mengajarkan-sihir.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2026 12:16:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8564</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Siapakah Harut dan Marut? Mereka manusia atau malaikat? Jika mereka adalah malaikat, apakah mereka maksum (terbebas dari dosa) meskipun mengajarkan sihir kepada manusia? Jawaban: Segala puji bagi Allah. Nama Harut dan Marut disebutkan dalam Al-Quran hanya di satu tempat.&#160; Dengan menadaburi ayat tersebut, seseorang akan mengetahui hakikat perkara berikut: Berdasarkan hal itu, barang siapa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapakah Harut dan Marut? Mereka manusia atau malaikat? Jika mereka adalah malaikat, apakah mereka maksum (terbebas dari dosa) meskipun mengajarkan sihir kepada manusia?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah. Nama Harut dan Marut disebutkan dalam Al-Quran hanya di satu tempat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menadaburi ayat tersebut, seseorang akan mengetahui hakikat perkara berikut:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mereka adalah malaikat, bukan manusia.</li>



<li>Mereka diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala untuk mengajarkan kepada manusia sesuatu yang bisa melindungi mereka dari keburukan, bukan karena mereka dihukum karena dosa mereka.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan hal itu, barang siapa mengklaim bahwa mereka adalah manusia atau bahwa mereka adalah malaikat yang terjatuh ke dalam kemaksiatan lalu Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā mengutuk mereka menjadi wujud lain, maka dia telah berbicara tentang perkara gaib tanpa dasar ilmu. Dia telah mengklaim sesuatu yang merendahkan para malaikat Allah yang mulia dan meyakini sesuatu yang tertulis dalam kitab-kitab Bani Israil tanpa dilandasi dalil yang benar dari wahyu yang maksum.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā berfirman,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidaklah kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.&#8217; Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (bisa) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka sudah tahu bahwasanya orang yang membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat, dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 102).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syekh Abdur Rahman as-Sa&#8217;di —semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala merahmatinya— berkata, &#8220;Demikian juga orang-orang Yahudi, mereka mengikuti sihir yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia di tanah Irak. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menurunkan sihir melalui mereka sebagai fitnah dan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bagi hamba-hamba-Nya dengan mengajarkan kepada mereka ilmu sihir.&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum menasihatinya.) &nbsp;</p>



<p></p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ</p></div><p></p>



<p class="wp-block-paragraph">(mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.&#8217;)&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">maksudnya, kalian jangan belajar sihir karena itu adalah kekafiran. Mereka sendiri melarang sihir dan mereka memberitahukan tentang status ilmu sihir tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian para setan mengajarkan sihir untuk menipu manusia dan menyesatkan mereka lalu menyebarkannya dan menyandarkannya kepada Sulaiman &#8216;Alaihis Salām, seseorang yang telah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tegaskan terbebas dari sihir. Jadi, pengajaran sihir dari dua malaikat tersebut disertai dengan nasihat untuk menjadi ujian, agar mereka tidak lagi memiliki alasan. Orang-orang Yahudi ini mengikuti sihir yang diajarkan oleh setan dan sihir yang diajarkan kedua malaikat tersebut dan meninggalkan ilmu para nabi dan rasul karena lebih memilih ilmu setan, karena memang setiap orang akan condong dengan apa yang cocok dengan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkan keburukan-keburukan sihir dengan firman-Nya,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>&nbsp;فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8216;Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (bisa) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal kecintaan antara suami istri adalah hubungan yang tiada bandingannya, karena Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā telah Memfirmankan tentang hubungan mereka berdua,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">‘Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.&#8217; (QS. Ar-Rum: 21). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah dalil bahwa sihir itu nyata dan bisa mendatangkan bahaya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, yaitu dengan kehendak-Nya. Izin Allah ada dua jenis (1) Izin Qadarī, yang berkaitan dengan kehendak Allah, seperti dalam ayat ini. (2) Izin Syar&#8217;ī, seperti dalam firman-Nya Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā pada ayat sebelumnya,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>فَإِنَّهُ نزلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8216;Dialah yang telah menurunkan (Al-Qur&#8217;an) ke dalam hatimu dengan izin Allah.&#8217; (QS. Al-Baqarah: 97).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ayat ini dan ayat-ayat semisalnya menjelaskan bahwa sebab apa pun dan seberapa kuat akibatnya, tetap semua itu mengikuti pada takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, sehingga tidak memberi pengaruh dengan sendirinya. Tidak ada sekte-sekte umat Islam yang menyelisihi kaidah ini kecuali Qadariyah dalam masalah perbuatan-perbuatan hamba. Mereka menyangka bahwa perbuatan-perbuatan tersebut terlepas dari kehendak-Nya dan tidak tunduk dengannya sehingga mereka mengeluarkannya dari cakupan takdir Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Mereka telah menyelisihi Kitab Allah, sunah Rasul-Nya, dan kesepakatan para sahabat dan para tabiin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkan bahwa ilmu sihir itu murni berbahaya dan tidak memiliki manfaat sama sekali, baik untuk agama maupun dunia. Padahal ada beberapa manfaat duniawi dalam beberapa bentuk dosa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā tentang minuman keras dan judi (yang artinya),&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>&nbsp;قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8216;Katakanlah, &#8216;Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 219).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun sihir ini seratus persen berbahaya sehingga sama sekali tidak ada alasan untuk mempraktikkannya. Semua larangan-larangan, kemungkinannya adalah murni berbahaya atau keburukannya lebih besar dari kebaikannya, seperti halnya semua perintah,&nbsp; kemungkinannya murni kebaikan atau kebaikannya lebih besar daripada keburukannya.</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَلَقَدْ عَلِمُوا</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Sungguh, mereka sudah tahu.)&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">yakni orang-orang Yahudi&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>لَمَنِ اشْتَرَاهُ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Bahwasanya orang yang membelinya (sihir).)&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">yakni orang yang menginginkan sihir seperti pembeli yang sangat ingin membeli sebuah barang,&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Niscaya tidak akan mendapat apa pun di akhirat,) yakni bagian (kebaikan, pent.), bahkan mendatangkan azab. Jadi, perbuatan mereka itu bukan karena tidak tahu ilmunya, tapi mereka lebih memilih dunia daripada akhirat.&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">(Sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 102). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Maknanya bahwa ilmu akan membuahkan amal, namun mereka tidak mengamalkannya.&#8221; (<em>Tafsīr as-Saʿ</em>di, halaman 61).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala sesuatu yang tidak semakna dengan Al-Quran tentang dua malaikat ini, maka berasal Isrāʾiliyyāt, dan itu terbantahkan dengan riwayat sahih yang menjelaskan kemaksuman para malaikat secara umum tanpa ada dalil yang mengecualikannya dari kaidah umum tersebut.&nbsp;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ * لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ * يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ&nbsp;</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dan mereka berkata, &#8216;Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.&#8221; Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.&#8221; (QS. Al-Anbiya&#8217;: 26-28).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Katsir —semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala merahmatinya— berkata bahwa kisah tentang Harut dan Marut tersebut diriwayatkan dari sebagian tabiin seperti Mujahid, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Abul &#8216;Āliyah, Az-Zuhri, Al-Rabīʿ bin Anas, Muqatil bin Hayyan, dan lain-lain. Hal tersebut juga dikisahkan oleh para ahli tafsir klasik dan kontemporer, namun rincian-rincian kisah tersebut adalah bersumber dari kabar-kabar Bani Israil (Isrāʾīliyyāt), karena dalam kisah tersebut tidak ada riwayat Marfūʿ yang sahih yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi yang jujur, dipercaya, dan maksum Ṣallallāhu &#8216;alaihi wa sallam, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Adapun secara tekstual Al-Quran, maka kisah tersebut konteksnya umum tanpa ada rincian dan detail yang panjang, sehingga kita harus mengimani apa yang tersebut dalam Al-Quran sebagaimana yang Allah Subẖānahu wa Ta&#8217;ālā Kehendaki, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang lebih Mengetahui hakikat sebenarnya. Tafsir Ibnu Katsir (1/360). Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang lebih Mengetahui.<br></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islamqa.info/ar/answers/128543/قصة-هاروت-وماروت">https://islamqa.info/ar/answers/128543/قصة-هاروت-وماروت</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1B-H8hm6BHEXRwN6HCxiNpjVZ7HrFIhEP/view?usp=drive_link" data-type="link" data-id="https://drive.google.com/file/d/1B-H8hm6BHEXRwN6HCxiNpjVZ7HrFIhEP/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8564</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Benarkah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal?</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8558-benarkah-bahwa-ibnu-sayyad-adalah-dajjal.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 13:35:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8558</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Saya pernah membaca beberapa hadis tentang sosok aneh yang muncul di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang bernama Ibnu Ṣayyād atau Ibnu Ṣāʾid, siapakah orang ini dan bagaimana dia sebenarnya? Jawaban: Segala puji bagi Allah. Ibnu Ṣayyād nama aslinya adalah Ṣāfī, atau ada yang bilang Abdullah bin Ṣayyād atau Ṣāʾid. Dia berasal dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya pernah membaca beberapa hadis tentang sosok aneh yang muncul di zaman Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang bernama Ibnu Ṣayyād atau Ibnu Ṣāʾid, siapakah orang ini dan bagaimana dia sebenarnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah. Ibnu Ṣayyād nama aslinya adalah Ṣāfī, atau ada yang bilang Abdullah bin Ṣayyād atau Ṣāʾid. Dia berasal dari kalangan orang-orang Yahudi kota Madinah, atau katanya juga dari kalangan Ansar. Dia masih kecil ketika Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tiba di Madinah. Dikabarkan juga bahwa dia akhirnya masuk Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād adalah seorang dajjal (pendusta). Dia terkadang meramal dan ramalannya terkadang benar dan terkadang keliru sehingga berita tentangnya menyebar di tengah manusia hingga dia terkenal sebagai Dajjal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ingin mengetahui tentangnya dan mencari kejelasan tentang hakikat dirinya. Beliau lantas pergi menemuinya secara diam-diam agar dia tidak mengetahui kedatangannya dan berharap dia mendengar sesuatu darinya. Beliau juga mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya untuk mengungkapkan hakikat dirinya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia masih hidup setelah wafatnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam namun kemudian dia hilang pada peristiwa Al-H̱arrah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut kisah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersama Ibnu Ṣayyād.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(Imam Bukhari berkata:) &#8220;Abdan telah menceritakan kepada kami, Abdullah telah mengabarkan kepada kami dari Yunus, dari Az-Zuhri, dia berkata, &#8216;Salim bin Abdullah telah mengabarkan kepada saya bahwa Ibnu Umar —semoga Allah meridainya— mengabarkan kepadanya bahwa Umar —semoga Allah meridainya— dan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berangkat bersama rombongan untuk menemui Ibnu Ṣayyād hingga mereka mendapatinya sedang bermain bersama anak-anak di dekat bangunan yang tinggi milik Bani Maghālah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itu Ibnu Ṣayyād hampir balig. Ia tidak menyadari kedatangan beliau hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menepuknya dengan tangan beliau. Setelah itu beliau bertanya kepada Ibnu Ṣayyād: &#8216;Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasul utusan Allah.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād memandang beliau lalu menjawab, &#8216;Aku bersaksi bahwa Tuan adalah Rasul dari kalangan kaum yang buta huruf.’ </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Ibnu Ṣayyād bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;Apa Tuan bersaksi bahwa aku Rasul utusan Allah?&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menolaknya lalu bersabda, &#8216;Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya, &#8216;Apa yang kau lihat?&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād menjawab, &#8216;Orang yang jujur dan seorang pendusta mendatangiku.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda padanya, &#8216;Urusanmu terkacaukan!&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu beliau berkata padanya, &#8216;Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād berkata, &#8216;Ad-Dukh.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda padanya, &#8216;Sudah diamlah. Kamu tidak akan bisa melampaui kemampuanmu.’&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Umar bin Khattab berkata, &#8216;Biarkan aku menebas lehernya, wahai Rasulullah.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda padanya, &#8216;Bila ia memang dajjal, kau tidak akan bisa mengalahkannya, namun bila ia bukan dajjal, tidak ada baiknya bagimu membunuhnya.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Salim bin Abdullah berkata, &#8216;Aku mendengar Abdullah bin Umar —semoga Allah meridainya— berkata, &#8216;Di lain waktu setelah itu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Ubay bin Ka&#8217;ab Al-Anshari —semoga Allah meridainya— pergi menuju kebun kurma di mana Ibnu Ṣayyād berada. Beliau menyelinap secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan sesuatu dari Ibnu Ṣayyād sebelum dia melihat beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melihatnya tengah berbaring, yaitu di dalam sepotong kain miliknya, yang keluar darinya suara menggumam. Ibu Ibnu Ṣayyād melihat Rasulullah Ṣallallāhu &#8216;alaihi wa sallam yang sedang bersembunyi di balik pelepah kurma. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu Ibnu Ṣayyād berkata, &#8216;Hai Ṣāfi, —itulah nama Ibnu Ṣayyād— itu ada Muhammad.&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Ṣayyād langsung terbangun, lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8216;Andai dia membiarkannya, maka akan jelas perkaranya.'&#8221; (HR. Bukhari 1355).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkataannya: &#8220;Uṭumin&#8221; dengan damatain, artinya bangunan seperti benteng. Maghālah adalah suku dari kalangan kaum Ansar. Perkataannya, &#8220;Fa rafaḍahu  (Beliau menolaknya)&#8221;  artinya bahwa beliau meninggalkannya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ingin menyelinap darinya agar beliau bisa mendengar kata-katanya tanpa dia sadari. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkataannya, &#8220;Rumzatun atau Zumratun,&#8221; atau dalam riwayat lain &#8220;Zamzamatun,&#8221; artinya adalah suara pelan, atau berkata dengan hanya menggerak-gerakkan bibir, atau suara menggumam. Lihat Fatẖ Al-Bārī dalam penjelasan hadis tersebut dalam kitab <em>Al-Janāʾiz </em>dari Sahih Bukhari.</p>



<p class="has-large-font-size wp-block-paragraph"><strong>Apakah Ibnu Ṣayyād adalah dajjal yang sesungguhnya?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadis yang dikutip di atas —yang menjelaskan beberapa keadaan Ibnu Ṣayyād dan bagaimana Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengujinya— menunjukkan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak menghakimi status Ibnu Ṣayyād ini, karena tidak diwahyukan kepada beliau apakah dia dajjal atau bukan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak sahabat yang mengira bahwa Ibnu Ṣayyād adalah dajjal. Umar bin Khattab —semoga Allah meridainya— bersumpah bahwa dia adalah dajjal di hadapan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabat, namun Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Disebutkan dalam hadis dari Muhammad bin Al-Munkadir, dia berkata, “Aku melihat Jabir bin Abdullah —semoga Allah meridainya— bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Ṣāʾid adalah dajjal.&#8221; Aku berkata, ‘Engkau bersumpah dengan nama Allah?&#8217; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia berkata, ‘Aku mendengar Umar —semoga Allah meridainya— bersumpah terkait hal itu di hadapan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam namun beliau tidak mengingkarinya.’&#8221; (HR. Bukhari, 6808).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Umar sendiri pernah mengalami kisah aneh bersama Ibnu Ṣayyād ini. Kisahnya termaktub dalam Sahih Muslim dari Nafi&#8217; yang mengatakan bahwa Ibnu Umar suatu hari bertemu Ibnu Ṣāʾid di salah satu jalan kota Madinah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu dia (Ibnu Umar) mengatakan kepadanya sesuatu yang membuatnya sangat marah sehingga dia (Ibnu Ṣāʾid) membesar tubuhnya hingga memenuhi jalan. Lalu Ibnu Umar pergi ke rumah Hafsah dan memberitahunya tentang hal ini. Dia berkata, &#8220;Semoga Allah merahmatimu! Mengapa engkau membuat marah Ibnu Ṣāʾid? Apakah engkau tidak tahu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda bahwa dia (dajjal) akan muncul ketika ada sesuatu yang membuatnya sangat marah?” (HR. Muslim, 2932)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun demikian, ketika Ibnu Ṣayyād semakin berumur, dia mencoba untuk membela dirinya dan mengingkari bahwa dia adalah dajjal. Dia menampakkan kekesalannya atas tuduhan ini. Dia menguatkan argumennya dengan mengatakan bahwa sifat-sifat dajjal yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidaklah cocok dengan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri —semoga Allah meridainya— dia berkata, &#8220;Kami pergi menunaikan ibadah haji atau umrah dan di antara kami ada Ibnu Ṣāʾid.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia (Abu Sa&#8217;id) bercerita, &#8220;Kami singgah di suatu tempat lalu orang-orang berpencar-pencar hingga hanya ada aku dan dia. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan orang-orang tentang dia.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia (Abu Sa&#8217;id) berkata, &#8220;Ia mengangkat barang-barang perbekalannya lalu meletakkannya di dekat barang-barangku. Aku berkata, &#8216;Cuacanya sangat panas, mungkin kau bisa meletakkannya di bawah pohon itu.&#8217;” </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia (Abu Sa&#8217;id) berkata, &#8220;Lalu dia melakukannya.&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian dia (Abu Sa&#8217;id) bercerita lagi, &#8220;Lalu diangkatlah (diperah, pent.) seekor kambing untuk kami kemudian ia pergi dan datang dengan membawa ʿUss —gelas yang besar— </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia berkata, &#8216;Minumlah, wahai Abu Sa&#8217;id.&#8217;  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku berkata, &#8216;Cuacanya sangat panas dan susu itu juga panas.&#8217; —Tidak ada masalah denganku, hanya saja aku tidak mau minum dari tangannya,&#8217; atau ia berkata, &#8216;Aku tidak mau mengambilnya dari tangannya.&#8217;— </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Ibnu Ṣāʾid berkata: &#8220;Wahai Abu Sa&#8217;id, rasanya aku ingin mengambil tali lalu aku gantungkan di pohon itu untuk gantung diri karena apa yang orang-orang katakan tentang aku. Wahai Abu Sa&#8217;id, seseorang bisa saja tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tapi kalian orang-orang Ansar tidak mungkin tidak mengetahuinya. Bukankah engkau termasuk orang yang paling tahu tentang hadis Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bukankah beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa ia (dajjal) adalah kafir sementara aku seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda bahwa ia mandul dan tidak memiliki keturunan sementara aku punya anak yang aku tinggalkan di Madinah? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukankah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa ia tidak bisa memasuki kota Madinah dan Mekah sementara aku telah meninggalkan Madinah dan sekarang aku hendak menuju ke Mekah?&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Sa&#8217;id Al-Khudri berkata, &#8220;Hampir-hampir saja aku menerima argumen-argumennya.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu ia berkata, &#8220;Demi Allah, aku sendiri mengetahuinya (dajjal), tempat kelahirannya, dan di mana ia berada sekarang.&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Sa&#8217;id berkata, &#8220;Lalu aku berkata kepadanya, &#8216;Sungguh celaka kau di sepanjang harimu.'&#8221; (HR. Muslim no. 5211).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam riwayat lain, Ibnu Ṣayyād berkata: &#8220;Demi Allah, sungguh aku tahu di mana dia sekarang berada dan mengenal siapa ayah dan ibunya.&#8221;  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu dikatakan kepadanya, &#8220;Apakah kau senang jika engkau menjadi orang tersebut?&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia berkata, &#8220;Seandainya itu ditawarkan kepadaku, aku tidak akan menolak.&#8221; (HR. Muslim no. 521).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para ulama masih bingung terkait riwayat-riwayat tentang Ibnu Ṣayyād, dan perkara ini masih menjadi masalah bagi mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian mereka mengatakan bahwa dia adalah dajjal dan sebagian lain mengatakan bahwa dia bukan dajjal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing kubu memiliki dalilnya masing-masing sehingga pernyataan-pernyataan mereka sering saling kontradiktif.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Hajar berusaha mengkompromikan pendapat-pendapat ini dengan mengatakan, &#8220;Pendapat yang paling mungkin untuk mengompromikan apa yang tersebut dalam hadis Tamīm dengan status Ibnu Ṣayyād sebagai dajjal, bahwa dajjal yang sesungguhnya adalah yang ditemui oleh Tamīm dalam keadaan terbelenggu. Adapun Ibnu Ṣayyād adalah setan yang menjelma sebagai dajjal pada masa itu hingga dia pergi ke Isfahan untuk bersembunyi dengan Qarīn-nya sampai tibanya masa yang telah Allah tetapkan baginya untuk keluar darinya.&#8221; <em>Fatẖ Al-Bārī</em> (13/ 328).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Ṣayyād adalah salah satu dari para dajjal-dajjal pendusta dan bukan dajjal yang sesungguhnya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang lebih mengetahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islamqa.info/ar/answers/8301/من-هو-ابن-صياد-وهل-هو-المسيح-الدجال">https://islamqa.info/ar/answers/8301/من-هو-ابن-صياد-وهل-هو-المسيح-الدجال</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1BHghswFjlLBOYb-PtO5o_yjtAsgREwFx/view?usp=drive_link" data-type="link" data-id="https://drive.google.com/file/d/1BHghswFjlLBOYb-PtO5o_yjtAsgREwFx/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8558</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8521-kesabaran-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 May 2026 07:03:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi Muhammad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8521</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Amir al-Khamisi Bayangkan saja betapa sakitnya, saat beliau berusia enam tahun harus menggali kuburan untuk ibunya di tengah padang pasir. Ibunya wafat saat beliau bersamanya setelah berziarah ke makam sang ayah. Setelah jasad ibunya dibaringkan di liang lahat, anak enam tahun itu harus berpisah dengan ibunya di tengah padang pasir, yang sebelumnya masih memeluk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A2354476760&#038;color=2f4468&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Amir al-Khamisi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan saja betapa sakitnya, saat beliau berusia enam tahun harus menggali kuburan untuk ibunya di tengah padang pasir. Ibunya wafat saat beliau bersamanya setelah berziarah ke makam sang ayah. Setelah jasad ibunya dibaringkan di liang lahat, anak enam tahun itu harus berpisah dengan ibunya di tengah padang pasir, yang sebelumnya masih memeluk beliau ketika berpacu dengan sakaratul maut. Padahal beliau adalah jantung hatinya dan belahan jiwanya, kemudian ia wafat di hadapan beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu beliau diasuh oleh kakek beliau yang mencurahkan kasih sayang kepada beliau begitu besar. Namun, saat hati anak itu mulai terpaut kuat, sang kakek wafat. Pengasuhan beliau lalu berpindah kepada sang paman. Beliau menghadapi segenap dunia seakan-akan sedang memerangi beliau, menyeringaikan taring-taringnya ke wajah beliau, dan tidak ada yang membela beliau kecuali sang paman. Saat paman beliau wafat, musuh semakin gencar mengerahkan perlawanannya dan menggencarkan gangguannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menikahi Khadijah, bersamanya beliau menemukan kedamaian, ketenteraman, dan rasa cinta, juga bantuan kepada beliau dengan segenap harta, usaha, dan hidupnya. Ia mengerahkan segala hal yang bisa dikerahkan untuk beliau, berdiri bersama beliau untuk menguatkan keteguhan beliau. Ia berperan sebagai kekuatan jiwa, sedangkan sang paman sebagai kekuatan raga bagi beliau. Namun, kedua sosok itu wafat pada tahun yang sama. Padahal beliau sangat membutuhkan keduanya, sehingga tahun itu menjadi tahun kesedihan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua putri beliau diceraikan dalam satu hari yang sama akibat perbedaan akidah dan agama dengan suami mereka. Salah satu putri beliau, Zainab ikut menyusul beliau ke kota Madinah karena suaminya enggan beriman. Namun di perjalanan, ia —yang ketika itu sedang hamil— hendak dicegat oleh sekelompok orang. Mengepung untanya, dan akhirnya ia melawan mereka, hingga ia jatuh dan akhirnya janinnya keguguran. Ia memasuki kota Madinah dalam keadaan berlumuran darah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di peristiwa lainnya, beliau meraih kemenangan dalam peperangan terbesar beliau. Namun di momen kemenangan itu, datang berita kematian putri beliau di Madinah. Akhirnya ucapan selamat atas kemenangan berubah menjadi ucapan belasungkawa, momen bahagia berbalik menjadi dukacita. Beliau juga tidak sempat menyaksikan putrinya untuk terakhir kali dan proses pemakamannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adakah perasaan yang lebih menyakitkan dari ini, yang kekokohan gunung saja luluh di hadapannya?!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua buah hati beliau wafat semasa hidup beliau, kecuali Fatimah, dan beliau telah mengetahui bahwa Fatimah akan menyusul segera setelah beliau wafat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika beliau dikaruniai anak laki-laki yang tampan berparas menawan, setelah menginjak usia dua tahun, maut menjemputnya. Beliau lalu memeluknya dengan air mata yang bercucuran. Akhirnya beliau mendapat pelipur lara dengan kehadiran Hasan dan Husain, dua anak dari putri beliau. Namun, beliau juga diberi kabar dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tentang peristiwa-peristiwa menyedihkan di masa depan yang menanti kedua cucunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau telah dicela dengan segala jenis celaan, dihina, dan direndahkan. Banyak sekali tuduhan batil yang ditujukan kepada beliau. Beliau dituduh gila, tukang sihir, pendusta, penyair. Banyak syair-syair disusun untuk menghina beliau. Beliau pernah ditimpa dengan jeroan unta busuk di punggung beliau saat sedang bersujud.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau dilempari batu hingga darah bercucuran dari kedua tumit beliau. Beliau terus dilempari batu sepanjang perjalanan lima kilometer. Orang-orang yang melempari beliau ada di dua sisi jalan. Setiap mereka ingin lemparannya mengenai beliau. Namun beliau terus melanjutkan langkah di antara mereka dengan penuh kesabaran, mengharapkan pahala, dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Beliau baru tersadar saat sudah sampai di Qarn Ats-Tsa’alib, jarak yang begitu jauh beliau tempuh dalam keadaan tidak sadar karena besarnya kegundahan hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menginap di Wadi Nakhlah beberapa lama, karena tidak dapat memasuki kota Makkah, tidak juga mampu mencari suaka ke tempat lain. Sebab orang yang jauh bersikap ketus di hadapan beliau, sementara orang yang dekat dengan beliau justru berbuat buruk dan menghimpit beliau. Beliau lalu mengirim surat kepada para pembesar kota Makkah, meminta jaminan keamanan kepada mereka agar bisa memasuki Makkah, dan tentu mereka segera menolak, hingga akhirnya ada salah satu dari mereka yang bersedia menjadi pelindung beliau, yaitu Muth’im bin Adiy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menghadapi dua puluh kali percobaan pembunuhan. Kaum Quraisy berkumpul di Darun Nadwah untuk menyetujui salah satu usulan, antara membunuhnya, mengusirnya, atau mengurungnya. Akhirnya beliau pergi secara diam-diam menuju gua. Lima puluh orang dari mereka (yang mencari keberadaan beliau) sempat berdiri sambil menghunuskan senjata mereka di depan gua. Mereka juga mengumumkan hadiah seratus ekor unta bagi orang yang menangkapnya hidup atau mati. Beliau juga masih dikejar saat dalam perjalanan hijrah menuju Madinah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau diuji dengan rasa lapar hingga harus mengikat batu di perut. Meskipun beliau mampu berdoa agar gunung-gunung berubah menjadi emas, tapi beliau lebih memilih untuk bersabar. Beliau hidup selama dua bulan tanpa ada api di dapur yang dinyalakan. Suatu ketika beliau keluar rumah ke gang-gang kota Madinah, tidak ada yang membuat beliau keluar kecuali rasa lapar. Ketika beliau makan di salah satu rumah sahabat, beliau juga mengirim makanan kepada putri dan buah hati beliau, karena ia belum makan selama tiga hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sahabat beliau terbunuh di hadapannya pada Perang Uhud, wajah beliau terluka parah, gigi depan beliau patah, dan darah bercucuran dari mulut beliau. Paman beliau (Hamzah) dimutilasi, perutnya dibedah, hatinya diambil, dan hidungnya dipotong. Namun, beliau tetap sabar dan tabah seteguh gunung, beliau berdiri di samping jasadnya sedangkan rasa sakit meremas hati beliau. Beliau pun bertekad untuk memutilasi tujuh puluh orang dari mereka, tapi turun ayat kepada beliau:</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;">وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya beliau memilih untuk terus berjalan di jalan kesabaran, dan tidak ada benteng bagi beliau kecuali kesabaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau sangat mencintai istrinya, Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dan mendapat ketenangan hati dengannya. Namun, hidup beliau terganggu oleh tuduhan keji yang diarahkan kepada sang istri dan mencoreng kehormatannya. Itu membuat Aisyah menangis hingga air matanya kering, kesedihan mengoyak-oyak hatinya, sedangkan tuduhan itu terus digaungkan dari mulut ke mulut selama satu bulan penuh. Hal ini membuat hati beliau terasa sempit, jiwa beliau terasa terhimpit. Adakah hal yang lebih berat daripada kehormatanmu dilecehkan dan kedustaan terhadapmu terus digaungkan oleh lisan-lisan tajam?!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau mengajak orang-orang untuk mengesakan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, tapi di belakang beliau ada pamannya sendiri, Abu Lahab yang memperingatkan mereka dari beliau di majelis-majelis tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau diboikot di lembah selama tiga tahun bersama para sahabatnya, hingga mereka tidak memiliki makanan lagi kecuali dedaunan pohon. Beliau menunjukkan banyak mukjizat, tapi tetap ada yang menentang beliau, seperti Musailamah Al-Kazzab, Al-Aswad Al-Ansi, dan Ibnu Shayyad.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang-orang Yahudi membuat makar kepada beliau dan berusaha membunuh beliau berkali-kali. Mereka membuat tipu daya terhadap beliau di Khaibar, melanggar perjanjian dengan beliau, mendukung pasukan Ahzab (pasukan sekutu dari kaum Musyrikin), orang-orang Arab kafir dan Yahudi mengepung beliau di kota Madinah, hingga tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin keluar sama sekali. Mereka mendustakan dan menghina beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith pernah mencoba membunuh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dengan mencekik beliau. Utaibah bin Abi Lahab pernah menarik gamis beliau dengan keras. Mereka mengepung beliau pada Perang Hunain. Ketika beliau hendak pulang dari Tabuk ke Madinah, sekelompok kaum munafik bertekad untuk membunuh beliau, dan melempar beliau dari puncak tebing di perjalanan. Bani Nadhir berusaha melempar kepada beliau batu besar agar beliau terbunuh. Pemuka kaum munafik, Abdullah bin Ubay juga selalu berbuat buruk terhadap beliau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa pedih mengepung beliau, rasa sakit mendera beliau dalam jangka waktu yang begitu lama. Beliau merasakan sakit sebagaimana rasa sakit yang diderita oleh dua orang. Beliau juga pernah terkena sihir dari Labid bin Al-A’sham. Kaum Yahudi berkonspirasi untuk melawan beliau hingga seorang wanita menyuguhkan racun kepadanya. Beliau mengalami demam hebat selama kurang lebih dua puluh hari. Rasa sakit datang bertubi-tubi menjelang wafat. Urat nadi beliau berdenyut kencang akibat racun dari wanita Yahudi tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sakaratul maut terasa begitu hebat mendera beliau, hingga beliau pingsan sadar berkali-kali. Kemudian nyawa beliau yang mulia dan suci akhirnya diangkat ketika beliau terbaring di atas kain selimut kasar dan sarung tebal, di dalam rumah yang gelap gulita karena pada malam itu istrinya tidak punya minyak untuk menyalakan pelita. Sementara baju besi beliau masih tergadai pada orang Yahudi demi mendapatkan bahan makanan bagi keluarganya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/163345/فصل-في-صبر-الحبيب-صلى-الله-عليه-وسلم">https://www.alukah.net/sharia/0/163345/فصل-في-صبر-الحبيب-صلى-الله-عليه-وسلم</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1lJFtU2AztM5FnSaVyaVIEwT4I_FO61ny/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8521</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Siapakah Nabi Danial?</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8457-siapakah-nabi-danial.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2026 15:16:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8457</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Siapakah Nabi Danial Alaihis salām? Apakah benar bahwa para sahabat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– menemukannya dan menguburkannya kembali? Jawaban: Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala.&#160; Ada beberapa ulama pakar sejarah dan biografi menyatakan bahwa Danial Alaihis salām adalah salah seorang nabi Bani Israel. Dia hidup [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A2353740950&#038;color=2f4468&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapakah Nabi Danial Alaihis salām? Apakah benar bahwa para sahabat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– menemukannya dan menguburkannya kembali?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawaban:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa ulama pakar sejarah dan biografi menyatakan bahwa Danial Alaihis salām adalah salah seorang nabi Bani Israel. Dia hidup pada zaman Bakhtanṣar (Nebukadnezar) yang pernah menghancurkan Baitul Maqdis, membunuh banyak Bani Israel, dan membakar kitab <em>Taurat</em>. Mereka menyebutkan bahwa dia mengabarkan nubuat tentang kedatangan Nabi kita Muhammad Ṣallallāhu Alaihi Wa Sallam.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala merahmatinya– berkata: &#8220;Danial Alaihis salām bersabda dan menyebut nama Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam secara khusus, dia bersabda: &#8216;Panah akan meluncur dari busurnya dan anak panah itu akan berlumuran darah dengan perintahmu, wahai Muhammad.&#8217; Ini adalah pernyataan yang jelas tanpa ada kesamaran dan pembenaran yang tidak mengandung ambiguitas.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan dua nubuat dari Danial Alaihis salām tentang kedatangan Isa Al-Masih Alaihis salām dan Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, lalu beliau menjelaskan, &#8220;Ini adalah nubuat di mana Danial Alaihis Salām telah mengabarkan tentang akan datangnya Nabi Al-Masih Alaihis Salām dan datangnya Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dalam nubuat tersebut juga ada deskripsi rinci tentang Muhammad dan umatnya dengan deskripsi yang panjang. Kaum Muslimin membacanya ketika mereka menaklukkan negeri Irak. Hal ini disebutkan oleh para ulama, termasuk Abul ʿĀliyah.&#8221; Selesai kutipan dari <em>Al-Jawāb Aṣ-Ṣaẖīẖ</em> (5/275-281).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sudah menjadi kisah yang terkenal bahwa ketika kaum Muslimin menaklukkan negeri Tastar (Shūshtar), mereka menemukan jasadnya. Lalu Amirul Mukminin Umar bin Khattab –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– memerintahkan para sahabat untuk menguburnya kembali dan menyembunyikan informasi lokasi kuburannya dari orang-orang agar mereka tidak terfitnah dengannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Abid Dunya –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala merahmatinya– meriwayatkan dengan sanad yang hasan –sebagaimana dikatakan dalam <em>Al-Bidāyah wa an-Nihāyah</em> – dari Abuz Zinād, dia berkata: &#8220;Aku melihat sebuah cincin di tangan Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy&#8217;ari, pada mata cincin itu ada ukiran dua singa yang mengapit seorang pria, di mana keduanya menjilat orang yang diapitnya tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Burdah berkata, &#8216;Ini adalah cincin jasad tersebut yang diklaim oleh penduduk kota ini sebagai jenazah Danial. Abu Musa mengambilnya pada hari mereka mengebumikannya kembali.&#8217; Abu Burdah bercerita, &#8216;Abu Musa bertanya kepada para ulama di kota itu tentang ukiran pada mata cincin itu, lalu mereka mengisahkan bahwa para ahli nujum dan orang-orang pintar mendatangi raja yang mana Danial hidup di bawah kekuasaannya. Mereka mengatakan kepadanya bahwa pada malam ini dan itu, akan lahir seorang anak laki-laki yang akan menguasai dan meruntuhkan kerajaannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas raja tersebut berkata, &#8216;Demi Allah, tidak akan tersisa anak laki-laki pada malam itu kecuali aku akan membunuhnya!&#8217; Akan tetapi, mereka mengambil Danial dan melemparkannya ke sarang singa. Ketika singa jantan dan betina pulang di malam itu, keduanya menjilatinya tetapi tidak melukainya. Kemudian ibunya datang dan menemukan dua singa itu sedang menjilatinya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikianlah Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menyelamatkan dia sampai ia dewasa dan mencapai usia yang ditetapkan.&#8217;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Burdah berkata bahwa Abu Musa berkata, &#8216;Para ulama di kota itu berkata bahwa kemudian Danial mengukir potret dirinya dan dua singa yang menjilatinya pada mata cincinnya agar dia tidak melupakan nikmat yang telah Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala anugerahkan kepadanya dalam peristiwa itu.'&#8221;</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وروى ابن أبي شيبة (7/ 4) بسند صحيح، عَنْ أَنَسٍ: أَنَّهُمْ لَمَّا فَتَحُوا تُسْتَرَ قَالَ: &#8221; فَوَجَدَ رَجُلًا أَنْفُهُ ذِرَاعٌ فِي التَّابُوتِ , كَانُوا يَسْتَظْهِرُونَ وَيَسْتَمْطِرُونَ بِهِ , فَكَتَبَ أَبُو مُوسَى إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِذَلِكَ , فَكَتَبَ عُمَرُ: إِنَّ هَذَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالنَّارُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , وَالْأَرْضُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , فَكَتَبَ أَنِ انْظُرْ أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ يَعْنِي أَصْحَابَ أَبِي مُوسَى فَادْفِنُوهُ فِي مَكَانٍ لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ غَيْرُكُمَا قَالَ: فَذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو مُوسَى فَدَفَنَّاهُ &#8221; .</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Abi Syaibah –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala merahmatinya– (7/4) meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Anas –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– bahwa ketika mereka menaklukkan negeri Shūshtar, mereka menemukan seorang pria yang hidungnya sepanjang satu hasta di dalam peti mati. Penduduk di sana biasanya meminta kemenangan dan memohon hujan dengannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abu Musa –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– lantas menulis surat kepada Umar bin Khattab –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– tentang hal itu lalu Umar membalasnya dan mengatakan, &#8220;Orang ini adalah orang dari kalangan Nabi karena api tidak bisa menghanguskan jasad para nabi dan bumi tidak bisa menguraikan jenazah mereka.&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia juga menulis pesan, &#8220;Diskusikan antara kamu dengan teman-temanmu –maksudnya para sahabat Abu Musa– lalu kuburkan dia tempat yang tidak diketahui siapa pun kecuali kalian berdua.&#8221; Dia berkata, &#8220;Kemudian aku dan Abu Musa pergi untuk menguburkannya kembali.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Abi Syaibah –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala merahmatinya– (7/4) meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Muṯarrif bin Malik bahwasanya dia berkata, &#8220;Aku ikut dalam penaklukan negeri Shūshtar bersama Al-Asy&#8217;ari. Kami menemukan jasad Danial di wilayah Sūs. Penduduk wilayah Sūs jika mengalami kekeringan akan mengeluarkannya dan memohon hujan dengannya. Kami menemukan bersamanya ada enam puluh guci yang tersegel.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Baihaqi –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala merahmatinya– berkata dalam <em>Dalāʾil an-Nubuwwah</em> (1/381) dari Khalid bin Dinar bahwa Abu Āliyah berkata, “Ketika kami menaklukkan negeri Shūshtar, kami menemukan sebuah ranjang yang di atasnya ada mayat di gudang perbendaharaan Hormuzan. Di kepala mayat tersebut ada kitab suci. Kami mengambil kitab suci itu dan membawanya kepada Umar bin Khattab –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya. Lalu dia memanggil Ka&#8217;ab –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– dan menyuruhnya untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Saya adalah orang Arab pertama yang membacanya. Saya membacanya seperti saya membaca Al-Qur&#8217;an ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bertanya kepada Abul Āliyah, &#8220;Apa isinya?&#8221; Dia berkata, &#8220;Isinya tentang perjalanan hidup kalian, urusan-urusan kalian, agama kalian, logat bahasa kalian, dan kejadian di masa depan.&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku berkata, &#8220;Apa yang kalian lakukan dengan jenazah itu?&#8221; Dia berkata, &#8220;Kami menggali tiga belas kuburan yang terpisah-pisah tempatnya pada siang hari, kemudian pada malam hari kami menguburnya dan kami meratakan semua kuburan untuk menyembunyikan lokasinya dari orang-orang, sehingga mereka tidak akan menggalinya lagi.&#8221;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya berkata, &#8220;Mengapa orang-orang ingin melakukan hal itu?&#8221; Dia berkata, &#8220;Karena jika langit sudah tidak menurunkan hujan kepada mereka, mereka akan mengeluarkannya dengan ranjangnya lalu hujan akan turun.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya bertanya, &#8220;Menurut kalian, siapa pria itu?&#8221; Dia berkata, &#8220;Seorang pria bernama Danial.&#8221; Saya berkata, &#8220;Saat kalian menemukannya, berapa lama dia sudah meninggal?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Sejak tiga ratus tahun yang lalu.&#8221; Saya bertanya, &#8220;Apakah ada perubahan pada dirinya?&#8221; Dia berkata, &#8220;Tidak ada, kecuali beberapa helai rambut di tengkuknya, karena bumi tidak akan mengurai jasad Nabi dan binatang buas tidak akan memakannya.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Katsir –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala merahmatinya– berkata, &#8220;Kisah ini sanadnya sahih sampai Abul Āliyah, tetapi jika benar tahun kematian orang ini tercatat sejak tiga ratus tahun sebelumnya, maka dia bukanlah seorang Nabi, melainkan hanya seseorang yang saleh. Hal itu karena antara Nabi Isa putra Maryam &#8216;Alaihis Salām dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menurut teks hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, selisih waktu antara mereka berdua adalah empat ratus tahun, atau ada yang mengatakan enam ratus tahun atau enam ratus dua puluh tahun. Mungkin juga tahun wafatnya adalah delapan ratus tahun sebelumnya, yang mendekati masa hidup Danial. Hal yang sama juga berlaku terkait kemungkinan bahwa dia adalah Danial, sehingga ada kemungkinan bahwa dia adalah orang lain dari kalangan para nabi atau orang-orang saleh. Meskipun demikian, ada dugaan kuat bahwa dia adalah Danial Alaihis Salām, karena dia pernah ditawan oleh raja Persia sehingga dia hidup di sana sebagai tahanan, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Ada riwayat dengan sanad yang sahih sampai pada Abul Āliyah bahwa hidungnya sepanjang satu jengkal dan ada riwayat lain yang sanadnya juga baik dari Anas bin Malik bahwa panjang hidungnya satu hasta. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa ini adalah salah satu Nabi yang lebih terdahulu sebelum masa-masa tersebut. Allah yang lebih Mengetahui.&#8221; Selesai kutipan dari <em>Al-Bidāyah wa an-Nihāyah</em> (2/40).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala merahmatinya– berkata, &#8220;Ketika makam Danial Alaihis Salām ditemukan di Shūshtar, Abu Musa menulis surat kepada Umar bin Khattab –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– tentang masalah ini. Lalu Umar –semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meridainya– membalas suratnya dan mengatakan, &#8216;Jika hari sudah siang, galilah tiga belas kuburan lalu kuburkan dia di malam hari di salah satu kuburan itu dan sembunyikan lokasinya agar orang-orang tidak terfitnah dengannya.” Selesai kutipan dari <em>Majmūʿ al-Fatāwā</em> (15/154).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca juga, <em>Sīrah Ibnu Ishāq</em> (halaman 66), <em>Tārīkh Bagdād</em> (1/361), <em>Tārīkh Dimasyqa</em> (8/32), <em>Al-Masālik wa al-Mamālik</em> (halaman 92), <em>A&#8217;lām an-Nubuwwah</em> (halaman 66), <em>Ahsan at-Taqāṣīm</em> (halaman 417), <em>Al-Jawāb aṣ-Ṣaẖīẖ</em> (5/276), <em>Hidayatu al-H̱ayārā</em> (2/375), <em>Al-Bidāyah wa an-Nihāyah</em> (2/374), <em>Siyar A&#8217;lām an Nubalāʾ</em> (2/312). Baca juga pertanyaan nomor 227688 untuk tambahan faedah. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala yang lebih Mengetahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islamqa.info/ar/answers/233815/من-هو-النبي-دانيال-عليه-السلام">https://islamqa.info/ar/answers/233815/من-هو-النبي-دانيال-عليه-السلام</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1VwKcQKadLZI4IlPXz9APXth1kRYe6asy/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8457</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lima Langkah untuk Melewati Musibah</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8407-lima-langkah-untuk-melewati-musibah.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2026 15:52:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Nabi dan Rasul]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8407</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Abdussalam bin Muhammad Ar-Ruwaihi Manusia yang paling kuat keterikatannya dengan Tuhan adalah para nabi. Manusia yang paling kuat keyakinan dan kepercayaannya dengan janji Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala adalah para nabi. Manusia yang paling bagus optimismenya dan paling baik sangkaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala adalah para nabi juga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A2295071222&#038;color=2f4468&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Abdussalam bin Muhammad Ar-Ruwaihi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Manusia yang paling kuat keterikatannya dengan Tuhan adalah para nabi. Manusia yang paling kuat keyakinan dan kepercayaannya dengan janji Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala adalah para nabi. Manusia yang paling bagus optimismenya dan paling baik sangkaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala adalah para nabi juga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kisah Nabi Yusuf Alaihissalam, disebutkan luka yang mengingatkan luka, rasa sakit yang disusul rasa sakit lain, dan derita perpisahan yang menghadirkan kepahitannya. Derita ini ditanggung oleh ayahnya, Nabi Ya’qub Alaihissalam, tapi kesudahannya begitu indah dan akhir ceritanya manis terasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhir kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang disebutkan dalam surat yang diberi nama dengan nama beliau, surat Yusuf, Nabi Ya’qub mengirim anaknya, Benyamin bersama anak-anaknya yang lain ke Mesir, setelah meminta dari mereka janji untuk membawanya kembali pulang dalam keadaan selamat, kecuali jika mereka dikepung musuh.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak bersaudara itu akhirnya berangkat ke Mesir dan menemui penguasanya, Yusuf yang mengenal mereka tapi mereka tidak mengenalnya. Nabi Yusuf lalu membuat rencana untuk mengambil saudaranya, Benyamin setelah menyiapkan barang-barang untuk saudara-saudaranya. Rencana itu berhasil dan saudaranya berhasil beliau ambil. Saudara-saudaranya yang lain berusaha merayu dan memohon dengan segala cara kepada Nabi Yusuf agar membiarkan Benyamin pergi, dan salah satu dari mereka siap menggantikan posisinya. Namun, Nabi Yusuf enggan kecuali Benyamin yang diambil, karena berdasarkan bukti yang ada, Benyamin yang telah mencuri gelas sang raja.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika saudara-saudara itu sudah menyerah dan hendak kembali pulang ke negeri ayah mereka, saudara tertua mereka menolak ikut pulang bersama karena mereka telah membuat janji kepada ayahnya untuk membawa Benyamin pulang. Akhirnya mereka pulang tanpa disertai Benyamin dan saudara tertua, sehingga Ya’qub kehilangan dua anaknya lagi setelah kehilangan Yusuf sebelumnya. Ketika mereka menceritakan kisah yang terjadi kepada ayah mereka, teranglah bagi beliau kadar ujian dan besarnya musibah yang menimpanya, sehingga beliau hanya bisa mengatakan:</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">“(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 83).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sinilah mulai terlihat datangnya jalan keluar dan akhir dari rasa sakit berkat kesabaran yang baik, harapan yang besar, dan asa yang tiada ujung. “(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku.” (QS. Yusuf: 83). Kesabaran yang tidak diselingi keluh kesah, harapan yang tidak ada habisnya, dan asa yang tidak ada putusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi Ya’qub lalu pergi dari mereka dan tersingkap lagi luka lama yang belum sempat mengering. Beliau berkata: “Alangkah kasihan Yusuf” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan). (QS. Yusuf: 84).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua matanya memutih karena kesedihan! Hal ini karena putih mata yang menimpanya tidak datang begitu saja, tapi karena kesedihan dan rasa sakit yang datang silih berganti ke dalam hati beliau, sehingga menyebabkan gangguan saraf penglihatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Matanya buta karena kesedihan mendalam. Kebutaan ini tidak datang begitu saja, tapi penglihatan beliau melemah sedikit demi sedikit hingga beliau buta akibat kesedihan mendalam yang memenuhi hati, kesedihan atas hilangnya Yusuf dan saudara-saudaranya. Luka yang disusul luka lain, kesedihan yang diiringi luka lain. Musibah-musibah dan luka-luka ini silih berganti bermula dari kepergian Yusuf, maka beliau menyebutkan nama Yusuf dalam kalimat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. (QS. Yusuf: 84).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesedihan yang sudah menjadi tabiat jiwa manusia. Kesedihan yang tidak menafikan kesabaran, tidak diiringi dengan penolakan dan kemurkaan atas takdir Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Dan bagaimana mungkin seorang Nabi Ya’qub, orang yang terluka dan tabah akan melupakan Yusuf? Bagaimana mungkin akan melupakan Yusuf, sedangkan ia telah memenuhi pandangan dan pendengarannya dengan kecintaan kepadanya? Bagaimana mungkin seorang ayah akan melupakan buah hati dan penyejuk matanya? Bagaimana mungkin itu terjadi terhadap Ya’qub, yang selalu khawatir terhadap Yusuf meski dengan hembusan hawa dingin yang menerpanya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang-orang di sekitar beliau mengingkari kesedihan beliau terhadap Yusuf dan menyatakan bahwa kesedihan itu dapat menjerumuskan beliau ke dalam kebinasaan. Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa (wafat).” (QS. Yusuf: 85). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun beliau hanya menjawab mereka dengan berujar: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Qatadah menjelaskan: “Dulu Nabi Ya’qub hanya menyimpan kesedihannya dalam dadanya, dan tidak mengucapkan ucapan kecuali yang baik.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertahun-tahun Nabi Ya’qub Alaihissalam menjalani hidup dengan kesedihan mendalam. Seorang ulama tafsir mengatakan: “Itu selama 40 tahun, kendati demikian, tidak pernah terdengar dari beliau satu kalimat keluh kesah atau kemurkaan. Beliau hanya mencurahkan kesedihan dan aduannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Demikianlah selayaknya sikap orang beriman bersama kesabaran, dan sikap yang lebih sempurna lagi adalah dengan ridha kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dan memahamkan diri bahwa pilihan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala itu lebih baik daripada pilihan dirinya sendiri. ‘Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’ (QS. Yusuf: 86).”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Putus asa tidak pernah masuk ke dalam hati Nabi Ya’qub yang penyabar itu. Justru semuanya diisi dengan sangkaan baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, serta sebaik-baik tawakal dan penyerahan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Beliau lalu berkata kepada anak-anaknya melalui lisan seorang yang tabah, tawakal, dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala:</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْئسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika musibah semakin berat menerpa, beliau tidak berputus asa, tapi justru meminta mereka pergi untuk mencari Yusuf dan saudaranya, dan bukan hanya mencari sekedarnya saja, tapi pencarian yang penuh ketelitian dan keingintahuan agar dapat menemukan mereka berdua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mencari Benyamin, mungkin itu masih memungkinkan, tapi bagaimana mereka dapat mencari Yusuf, sedangkan telah berlalu sekitar 40 tahun sejak kehilangannya? Oleh sebab itu, Nabi Ya’qub menutup pesan beliau kepada anak-anaknya itu: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama apa pun waktu yang telah berlalu sejak ia hilang, janganlah kalian berputus asa dari jalan keluar dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, karena putus asa dari rahmat-Nya merupakan sifat orang-orang kafir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nabi Ya’qub Alaihissalam menjalankan langkah-langkah untuk keluar dari kesulitan dan melewatinya, dan ini tertuang dalam lima perkara:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertama</strong>: Bersabar. Allah Ta’ala berfirman: “(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik.” (QS. Yusuf: 83).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kedua</strong>: Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman: “Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 83).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketiga</strong>: Menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, serta bertawakal dan bersandar hanya kepada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keempat</strong>: mengerahkan usaha dan berikhtiar untuk keluar dari kesulitan, serta mencari anak-anaknya yang hilang dengan menanyakan dan mencari kabar berita tentang mereka. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman: “Ya’qub berkata: ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Yusuf: 86).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kelima</strong>: Tidak berputus asa dari datangnya solusi atas kesulitan, meskipun waktu telah lama berlalu dan diperkirakan sudah tidak ada jalan keluar, tapi tetap tidak berhenti berharap dan terus mencari dan menanyakan kabar beritanya. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lima langkah ini diamalkan Nabi Ya’qub Alaihissalam dalam ujian panjang dan musibah yang datang silih berganti. Lalu bagaimana hasilnya? Hasilnya sangatlah indah, akhir ceritanya lebih manis daripada madu. Ceritanya berakhir dengan kembalinya penglihatan, tercapainya harapan, perjumpaan kembali dengan orang terkasih yang telah lama hilang, lenyapnya segala kesusahan, hilangnya kesedihan, terangkatnya bala, kebahagiaan bagi orang yang sedih, kemenangan bagi orang yang terzalimi, pertaubatan pihak yang zalim, pemberian maaf bagi orang yang bersalah, persatuan yang terwujud kembali, mimpi yang menjadi kenyataan, dan tergapainya pahala bagi orang yang telah bersabar, ridha dengan ketetapan, dan bertaubat dari kesalahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah Ta’ala berfirman:</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Siapa yang bertakwa dan bersabar, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini merupakan ringkasan kisah dan pelajaran terpentingnya. Ringkasan dari ujian-ujian besar yang dilalui satu per satu oleh Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub Alaihimassalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lima langkah tersebut –dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala– merupakan jalan keluar dari segala musibah, sebesar dan seagung apa pun itu, dan meskipun sudah dikira tidak ada lagi jalan keluar dan solusi darinya. Perhatikanlah penutup surat ini yang menjadi penegas terhadap hakikat tersebut:</p>



<p><div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sehingga, apabila para rasul tidak memiliki harapan lagi dan meyakini bahwa mereka benar-benar telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang yang Kami kehendaki. Siksa Kami tidak dapat ditolak dari kaum pendosa.” (QS. Yusuf:110).</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/119799/خمس-خطوات-لتجاوز-الأزمات">https://www.alukah.net/sharia/0/119799/خمس-خطوات-لتجاوز-الأزمات</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1isSmCJooI38uE-_Be6H_npMPtO0CE1tb/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8407</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Siapakah Ibnul Fanari Syamsuddin bin Hamzah Ar-Rumi yang Merupakan Guru Muhammad  Al-Fatih?</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8370-siapakah-ibnul-fanari-syamsuddin-bin-hamzah-ar-rumi-yang-merupakan-guru-muhammad-al-fatih.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2025 17:12:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8370</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Mungkin bisa dijelaskan biografi syekh Aq Syamsuddin bin Hamzah, sang guru Muhammad Al-Fatih, yang dianggap sebagai salah satu ulama terbaik pada masanya? Jawabannya: Alhamdulillah. Nama lengkapnya adalah syekh Muhammad bin Hamzah bin Muhammad bin Muhammad Ar-Rūmi, Syamsuddin Al-Hanafi, yang dikenal sebagai nama Ibnul Fanari. Dia punya kontribusi penting terhadap ilmu-ilmu Islam. Dia memiliki pengetahuan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<iframe loading="lazy" width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A2353738448&#038;color=2f4468&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe>


<h3><strong>Pertanyaan:</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin bisa dijelaskan biografi syekh Aq Syamsuddin bin Hamzah, sang guru Muhammad Al-Fatih, yang dianggap sebagai salah satu ulama terbaik pada masanya?</p>



<h3><strong>Jawabannya:</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Alhamdulillah. Nama lengkapnya adalah syekh Muhammad bin Hamzah bin Muhammad bin Muhammad Ar-Rūmi, Syamsuddin Al-Hanafi, yang dikenal sebagai nama Ibnul Fanari. Dia punya kontribusi penting terhadap ilmu-ilmu Islam. Dia memiliki pengetahuan yang baik tentang bahasa Arab dan ilmu qiraah Al-Quran. Dia memiliki beberapa karya tulis dalam bidang tafsir, Ushul Fikih, disamping wawasannya di bidang kedokteran. Hanya saja, dia adalah seorang sufi dan mengidolakan&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu ʿArabī Aṯ-Ṯāʾī —penulis kitab <em>Al-Fuṣuṣ </em>dan <em>Futuha</em>t, yang penuh dengan kalimat-kalimat kekufuran dan akidah H̱ulūl wa Ittiẖād (bahwa Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala membaur bersama makhluk dan menyatu dengan makhluk)— yang biografinya telah dibahas sebelumnya pada jawaban soal no. 7691. Dahulu dia (Ibnul Fanarī) membacakan kitab <em>Al-Fusus</em> dan menjelaskannya kepada manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-Hafiẓ Ibnu Hajar —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Merahmatinya— berkata bahwa ia lahir di bulan Safar 751 H. Dia mulai belajar di negerinya di bawah bimbingan Al-ʿAllāmah ʿAlāʾuddīn yang dikenal dengan nama Al-Aswad, pensyarah kitab <em>Al-Mughni</em>. Dia juga belajar dari Al-Kamāl Muhammad bin Muhammad Al-Maʿarrī dan Al-Jamāl Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Aqṣaraʾī, dan selain mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan mengembara ke daerah-daerah di Mesir pada 778 H saat dia berusia dua puluh tahun. Di sana dia belajar kepada syekh Akmaluddīn dan lain-lain. Kemudian dia kembali wilayah Rūm (daerah Anatolia, pent.) dan menjadi hakim di Burṣā untuk beberapa lama. Kemudian dia dipindahkan ke kota Konya dan menetap di sana. Ketika terjadi peperangan antara Ibnu Qarmān dan Ibnu Utsman di mana Ibnu Qarmān mengalami kekalahan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Ibnu Utsman menjadikan syekh Syamsuddīn ini orang kepercayaannya dan mengangkatnya sebagai penanggung jawab peradilan kerajaannya dan mengangkat kedudukannya di sisinya. Di sisinya, dia mencapai puncak karirnya dan menjadi setingkat wazir hingga namanya tersohor dan keutamaannya tersebar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia adalah orang yang sangat berwibawa dan sering berbagi dan berderma. Hanya saja, dia dikritik karena menyukai Ibnul ʿArabī dan mengajarkan kitab <em>Al-Fuṣūṣ</em> dan menyetujuinya. Ketika dia datang ke Kairo, dia tidak menunjukkan semua itu. Dia melakukan haji pada tahun 822 H.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepulang haji, Al-Mu&#8217;ayyid memanggilnya, maka dia kembali Kairo dan bertemu dengan orang-orang terkemuka di sana. Tidak nampak sama sekali darinya tentang tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya, karena beberapa orang yang peduli terhadapnya menasihatinya untuk tidak membicarakan hal-hal tersebut, sehingga dia bisa bergabung bersama tokoh-tokoh terkemuka pada zaman tersebut.&nbsp; Mereka berdiskusi dan berdialog dengannya hingga mereka mengakui keutamaannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu dia kembali ke Al-Quds untuk menziarahinya lalu dia pulang ke kampung halamannya. Dia sangat menguasai ilmu qiraah Al-Quran, bahasa Arab, dan makna-makna bahasa Arab, serta memiliki kontribusi dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Kemudian dia pergi haji pada tahun 833 H melalui jalur Antiokhia. Sepulang perjalanan, dia meninggal di tanah kelahirannya di bulan Rajab. Dia pernah mengalami pembengkakan di matanya hingga membuatnya buta, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia buta kemudian Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Mengembalikan penglihatannya. Maka dari itu, dia melakukan haji terakhirnya ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Selesai kutipan dari Inbā&#8217;ul Ghumar fī Abna&#8217;il ʿAmri (3/ 464).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diriwayatkan bahwa Sultan Turki Ustmani, Muhammad Khan, sang penakluk Konstantinopel, dahulu sangat menghormati dan memuliakannya. Penulis kitab <em>Asy-Syaqāʾiq An-Nuʿmāniyyah fī ʿUlamāʾ Ad-Daulah Al-ʿUtsmāniyyah</em> (hal. 140) mengatakan bahwa sultan Muhamad Khan suatu ketika datang ke tenda Syekh ketika dia sedang berbaring. Dia sama sekali tidak berdiri untuk menyambutnya. Sultan Muhammad Khan lantas mencium tangan Syekh dan berkata, &#8220;Aku datang kepadamu karena aku membutuhkan sesuatu darimu.&#8221; Dia berkata, &#8220;Ada perlu apa?&#8221; Dia berkata, &#8220;Saya ingin khalwat di tempatmu selama beberapa hari.&#8221; Syekh berkata, &#8220;Tidak!&#8221; Dia mengulangi permintaannya beberapa kali, tapi dia terus berkata, &#8220;Tidak!&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Syekh berkata, &#8220;Jika Anda mulai berkhalwat, Anda akan merasakan kelezatan yang membuat kerajaan ini tidak bernilai di mata Anda sehingga rusak segala urusannya, yang dengan demikian Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan Murka kepada kita. Tujuan khalwat adalah menegakkan keadilan, maka lakukan ini dan itu saja —lalu dia menyampaikan beberapa nasihat yang menurutnya sesuai. Sultan Muhammad Khan berdiri dan berpamitan sementara Syekh masih berbaring seperti sedia kala. Ketika Sultan Muhammad Khan keluar, dia berkata kepada Ibnu Waliyyuddīn, &#8220;Syekh sama sekali tidak berdiri untukku,”—dia menunjukkan kekesalannya karena perlakuan itu. Ibnu Waliyyuddīn berkata, &#8220;Syekh melihat ada kesombongan dalam diri Anda karena penaklukan ini yang tidak dapat dicapai oleh penguasa-penguasa besar sekalipun. Syekh adalah seorang pendidik, maka dia ingin menghilangkan kesombongan tersebut dari dalam diri Anda.&#8221; Selesai kutipan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bughyatu Ar-Ruʿāh (1/97) dan Syadzarāt Adz-Dzahab (9/304). Dia meninggal pada tahun 834 H sebagaimana tersebut dalam kitab <em>Al-A&#8217;lām</em> karya Az-Zarkali (6/110). Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Yang lebih Mengetahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islamqa.info/ar/answers/240396/ترجمة-الشيخ-محمد-بن-حمزة-الرومي-،-المعروف-بابن-الفَنَري">https://islamqa.info/ar/answers/240396/ترجمة-الشيخ-محمد-بن-حمزة-الرومي-،-المعروف-بابن-الفَنَري</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/16r2KzUOATCvQMZHMdUgx51F64Vly-0zc/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8370</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Apakah para sahabat berpuasa saat perang Badar?</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8367-apakah-para-sahabat-berpuasa-saat-perang-badar.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2025 14:05:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8367</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah para sahabat berpuasa saat Perang Badar dan kapan mulai diwajibkan puasa Ramadan? Jawabannya: Pertama, puasa Ramadan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah. Jadi, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sempat berpuasa selama sembilan kali Ramadan. (Lihat fatwa no. 37649). وروى مسلم (1120) عن أبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : &#8221; سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<iframe loading="lazy" width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/soundcloud%253Atracks%253A2353739990&#038;color=2f4468&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertanyaan:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah para sahabat berpuasa saat Perang Badar dan kapan mulai diwajibkan puasa Ramadan?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawabannya:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, puasa Ramadan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah. Jadi, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sempat berpuasa selama sembilan kali Ramadan. (Lihat fatwa no. 37649).</p>



<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>وروى مسلم (1120) عن أبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : &#8221; سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ وَنَحْنُ صِيَامٌ ، فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنَّكُمْ قَدْ دَنَوْتُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ، وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ ) فَكَانَتْ رُخْصَةً، فَمِنَّا مَنْ صَامَ ، وَمِنَّا مَنْ أَفْطَرَ، ثُمَّ نَزَلْنَا مَنْزِلًا آخَرَ، فَقَالَ: ( إِنَّكُمْ مُصَبِّحُو عَدُوِّكُمْ، وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ، فَأَفْطِرُوا) وَكَانَتْ عَزْمَةً ، فَأَفْطَرْنَا &#8220;.</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dahulu memerintahkan para sahabat beliau —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Meridai mereka— untuk tidak berpuasa ketika mereka sudah dekat dengan musuh mereka agar kuat dalam perang, karena makan ketika hendak bertemu musuh adalah salah satu sebab kekuatan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Muslim (1120) meriwayatkan bahwa Abu Sa&#8217;id Al-Khudri —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Meridainya— berkata, &#8220;Kami bersafar dengan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ke Makkah dalam keadaan berpuasa. Lalu kami singgah di suatu tempat kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, &#8216;Kalian sudah mendekati musuh kalian, dan tidak berpuasa itu lebih kuat bagi kalian.&#8217; Itu adalah keringanan, sehingga sebagian kami ada yang berpuasa dan ada sebagian lagi yang tidak. Kemudian kami singgah di tempat lain dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, &#8216;Pagi ini kalian akan menghadapi musuh kalian, dan tidak berpuasa itu lebih kuat bagi kalian, maka batalkan puasa kalian.&#8217; Itu adalah perintah, maka kami batalkan puasa kami.&#8221;</p>



<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><p>روى الترمذي (714) ، وأحمد (140) من طريق ابْن لَهِيعَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ مَعْمَرِ بْنِ أَبِي حَبِيبَةَ عَنْ ابْنِ المُسَيِّبِ ، أَنَّهُ سَأَلَهُ عَنِ الصَّوْمِ فِي السَّفَرِ، فَحَدَّثَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ قَالَ: &#8221; غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَتَيْنِ فِي رَمَضَانَ: يَوْمَ بَدْرٍ، وَالفَتْحِ، فَأَفْطَرْنَا فِيهِمَا &#8221; . وضعفه الألباني في &#8220;ضعيف الترمذي&#8221; . ولكن جوّد إسناده الحافظ ابن كثير رحمه الله في &#8220;مسند الفاروق&#8221; (1/279)</p></div></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, At-Tirmidzi (714) dan Ahmad (140) meriwayatkan dari jalur Ibnu Lahīʿah dari Yazid bin Abu Habib, dari Ma&#8217;mar bin Abu Habibah, dari Ibnul Musayyib, bahwa dia pernah bertanya tentang puasa saat safar kemudian dia meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata, &#8220;Kami dua kali berperang bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam saat bulan Ramadan, yakni Perang Badar dan saat penaklukan kota Makkah, sedangkan kami tidak berpuasa dalam dua perang tersebut.&#8221; Hadis ini digolongkan lemah&nbsp; oleh Al-Albani dalam Ḏaʿīf At-Tirmidzī. Namun sanadnya dianggap bagus oleh Al-H̱āfiẓ Ibnu Katsir —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Merahmatinya— dalam <em>Musnad Al-Fārūq</em> (1/279).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para Muẖaqqiq kitab <em>Al-Musnad</em> berkata bahwa hadis ini kuat. Abdullah bin Lahīʿah buruk hafalannya, tetapi Qutaibah bin Sa&#8217;id juga meriwayatkan hadis ini darinya. Riwayat Qutaibah darinya baik dan diakui dan Sa&#8217;id bin Al-Musayyib mendengar dari Umar. Menurut pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa dia tidak mendengar darinya, maka riwayat ini adalah riwayat Mursal yang sahih. Abu Thalib berkata, &#8220;Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal, &#8216;Apakah riwayat Sa&#8217;id dari Umar bisa dijadikan hujah?&#8217; Dia berkata, &#8216;Bagi kami, bisa dijadikan hujah. Dia bertemu Umar dan mendengar darinya. Jika Said tidak mendapatkan riwayat dari Umar, lalu siapa lagi yang menerimanya?'&#8221; Selesai kutipan.&nbsp; Hadis ini juga dihasankan oleh Mulā Ali Al-Qārī dalam <em>Syarah Musnad Abu Hanifah </em>(1/399).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Al-H̱āfiẓ Ibnu Rajab al-Hanbali —Semoga Allah Merahmatinya— menegaskan hal tersebut dengan mengatakan, &#8220;Puasa Ramadan diwajibkan bagi beliau di tahun kedua Hijriah, yang menjadi Ramadan pertama bagi beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kaum Muslimin. Kemudian Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pergi untuk menghadang kafilah Quraisy yang datang dari Negeri Syam menuju Madinah, di hari Sabtu pada malam tanggal 12 Ramadan. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak berpuasa saat dalam perjalanan ke sana. Ibnul Musayyib berkata bahwa Umar berkata, &#8216;Kami dua kali berperang bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam saat bulan Ramadan, yakni di Perang Badar dan saat penaklukan kota Makkah, sedangkan kami tidak berpuasa dalam dua perang tersebut.&#8221; Selesai kutipan dari Laṯā&#8217;if Al-Ma&#8217;ārif (Halaman 177).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, pendapat yang lebih kuat bahwa para sahabat —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Meridainya— tidak puasa ketika mereka berangkat untuk menghadapi musuh di Perang Badar, karena itu akan lebih membantu mereka dalam jihad melawan musuh. Lihat juga pertanyaan no. 12641. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Yang lebih Mengetahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://islamqa.info/ar/answers/233339/هل-صام-الصحابة-رضي-الله-عنهم-يوم-بدر">https://islamqa.info/ar/answers/233339/هل-صام-الصحابة-رضي-الله-عنهم-يوم-بدر</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://drive.google.com/file/d/1u5MAelm3T1gmMIymjZR6Ee6scEFwEZwl/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8367</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Yufid Kids Ada untuk Anak-Anak Kita, Ayo Dukung Tim Yufid Kids!</title>
		<link>https://kisahmuslim.com/8361-yufid-kids-ada-untuk-anak-anak-kita-ayo-dukung-tim-yufid-kids.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KisahMuslim.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2025 10:18:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kisahmuslim.com/?p=8361</guid>

					<description><![CDATA[Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik &#38; bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual &#38; kalimat dirancang supaya mudah dicerna, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Insya Allah, kami hati-hati memilih topik &amp; bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap frame visual &amp; kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">BSI: 7086882242<br>(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)<br>Catatan transfer: Yufid Kids</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="616" height="770" src="https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=616%2C770&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-8362" srcset="https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=819%2C1024&amp;ssl=1 819w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=240%2C300&amp;ssl=1 240w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=768%2C960&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=816%2C1020&amp;ssl=1 816w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w" sizes="auto, (max-width: 616px) 100vw, 616px" data-recalc-dims="1" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="616" height="770" src="https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=616%2C770&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-8363" srcset="https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=819%2C1024&amp;ssl=1 819w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=240%2C300&amp;ssl=1 240w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=768%2C960&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=816%2C1020&amp;ssl=1 816w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w" sizes="auto, (max-width: 616px) 100vw, 616px" data-recalc-dims="1" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="616" height="616" src="https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=616%2C616&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-8364" srcset="https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=1024%2C1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=300%2C300&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=150%2C150&amp;ssl=1 150w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=768%2C768&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=88%2C88&amp;ssl=1 88w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=816%2C816&amp;ssl=1 816w, https://i0.wp.com/kisahmuslim.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?w=1080&amp;ssl=1 1080w" sizes="auto, (max-width: 616px) 100vw, 616px" data-recalc-dims="1" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8361</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
