<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0">

<channel>
	<title>ST. kawula wisuda banjar adat kulub</title>
	
	<link>http://kawulawisuda.wordpress.com</link>
	<description>ST. Kawula Wisuda (Sekaa Teruna-Teruni) Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar, Bali</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Mar 2012 07:15:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="kawulawisuda.wordpress.com" port="80" path="/?rsscloud=notify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/087c12b1aae307e7bff1fb8d560e9f4e?s=96&amp;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ST. kawula wisuda banjar adat kulub</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kawulawisuda.wordpress.com/osd.xml" title="ST. kawula wisuda banjar adat kulub" />
	
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/kulub" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="kulub" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://kawulawisuda.wordpress.com/?pushpress=hub" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>ST. Kawula Wisuda (Sekaa Teruna-Teruni) Banjar adat Kulub. Tampaksiring, Gianyar, Bali</itunes:subtitle><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">kulub</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Hari Raya Nyepi</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2012/03/20/hari-raya-nyepi/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2012/03/20/hari-raya-nyepi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2012 07:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=504&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a style="clear:right;float:center;margin-bottom:1em;margin-left:1em;" href="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2012/03/caka1934.jpg?w=300"><img class="aligncenter" style="border:0 none;margin:10px;" src="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2012/03/caka1934.jpg?w=640&#038;h=439" alt="" width="640" height="439" border="0" /></a><span style="font-size:medium;"><strong>Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka</strong><br />
Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan knanya oleh Tuhan. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda, Vedangga, Itihasa dan Purana. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin).</span></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Kitab ini disusun kira-kira 12.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta, Paitamaha Siddhanta, Wasista Siddhanta, Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur.</p>
<p style="text-align:justify;">Prof. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Sebelum lahirnya Tahun Saka, suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Suku-suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Arah perjuangannya kemudian dialihkan, dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Karena perjuangannya itu cukup berhasil, maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Tampaknya, dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Semenjak itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itu, sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpu seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta Siwa, Budha dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI &#8211; XCII. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:medium;">Tujuan Hidup</span></p>
<p style="text-align:justify;">Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Tuhan (Prajapati), manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III, 10: manusia harus beryajña kepada Tuhan, kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align:justify;">Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan, Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa, Sang Budha dan Sang Bujangga. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa, pawana, dan sarwaprani. Oleh karena itu, pada saat upacara Tawur Kesanga, upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga, dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam.</p>
<p style="text-align:justify;">Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengah-tengah samudra.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tanggal satu sasih kadasa, dilaksanakanlah brata penye-pian. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;&#8230;.enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: &#8220;&#8230;.besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya, tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya, melakukan yoga tapa dan samadhi. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian, pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa, yoga, samadhi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata &#8220;tawur&#8221; berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka</p>
<p style="text-align:justify;">Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.<br />
Pelaksanaan Upacara</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: &#8220;&#8230;.manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu, dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 &#8211; 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).<br />
Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.<br />
Amati lelungan (tidak bepergian).<br />
Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.</p>
<p style="text-align:justify;">Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.</p>
<div align="right">
<p>sumber : <a href="http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=511&amp;Itemid=61" target="_blank">Parisada Hindu Dharma</a></p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/504/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=504&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2012/03/20/hari-raya-nyepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2012/03/caka1934.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Buda Keliwon Pegatuwakan</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/08/08/buda-keliwon-pegatuwakan/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/08/08/buda-keliwon-pegatuwakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 10:33:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Pegat-uwakan artinya pegat warah atau diam, tidak berbicara. Pada hari yang suci ini para Sang Maha Muni, para pakar dan orang-orang budiman melakukan tapa diam (monabrata) atau brata dhyana, atau semadhi pralina. Tujuannya ialah menyatukan tenaga hidup (prana) di badan kita, yang menyebabkan segar bugar dan sehatnya jiwa raga. Di samping itu dihaturkan widhi-widhana, bebanten [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=487&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">Pegat-uwakan artinya pegat warah atau diam, tidak berbicara. Pada hari yang suci ini para Sang Maha Muni, para pakar dan orang-orang budiman melakukan tapa diam (monabrata) atau brata dhyana, atau semadhi pralina. Tujuannya ialah menyatukan tenaga hidup (prana) di badan kita, yang menyebabkan segar bugar dan sehatnya jiwa raga. Di samping itu dihaturkan widhi-widhana, bebanten sarwa pawitra, canang wangi-wangi, sesayut dirgha yusa, panyeneng, tetebus, dihaturkan kehadapan Dewa Bhatara, terutama Sanghyang Widhi Wasa dengan perantaraan asap dupa harum serta dengan menyan astanggi. Pengastawa dilaksanakan dengan pikiran dan budhi cita yang suci nirmala memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan para Dewa / Bhatara memberikan rakhmat kedirghayusaaning jagat raya dan memujikan atas welas asih serta kemurahan-Nya melimpahkan karunia di mayapada ini demi kesempurnaan dunia sampai dengan seluruh sarwa prani. </span></p>
<address><em><span style="color:#808080;"> dikutip dari: <a href="http://www.babadbali.com/piodalan/pgt-wkn.htm" target="_blank">babad bali</a></span></em></address>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;"> Buda Keliwon Pegatuwakan. Hari ini menghaturkan sesaji kehadapan Shang Hyang Widi, sebagai tanda puji syukur atas kemurahan beliau melimpahkan rahmatNya sehingga hari raya Galungan dan Kuningan berjalan dengan selamat. Buda kliwon pahang juga disebut dengan Buda Kliwon Pegat Uwakan yang menandai berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan yang ditandai dengan mencabut penjor di muka rumah. &#8221;Buda Kliwon Pegat Uwakan&#8221; Berakhirnya Rangkaian Galungan SELURUH rangkaian kegiatan hari raya Galungan berakhir pada Buda Kliwon Wuku Pahang atau yang lebih dikenal Buda Kliwon Pegat Uwakan, Rabu (10/8) . Apa makna Buda Kliwon Pahang? Dosen IHDN Denpasar Drs. Made Surada, M.A., Rabu kemarin mengatakan Buda Kliwon Pegat Uwakan, pegat berarti putus dan uwakan (uwak) berarti kembali &#8212; merupakan hari berakhirnya rangkaian Galungan. Rangkaian Galungan itu dimulai dari Tumpek Wariga sampai Buda Kliwon Pahang (Buda Kliwon Pegat Uwakan). Selama rangkaian Galungan itu, di masyarakat dikenal ada istilah Uncal Balung. Selama Uncal Balung itu masyarakat umumnya pantang melakukan kegiatan Panca Yadnya. Kecuali, pujawali atau piodalan di pura ataupun di sanggah/merajan yang kebetulan saat itu jatuh tegak piodalan-nya. Tetapi, di beberapa daerah tertentu tidak dikenal istilah tersebut. Lanjut Surada yang mantan Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN ini, setelah Buda Kliwon Pegat Uwakan, umat umumnya kembali memilih dewasa ayu untuk melaksanakan upacara Panca Yadnya. Hal yang sama dikatakan Ketua Yayasan Giri Kusuma Sejati A.A. Gde Rai Tjandra, S.E. bahwa setelah Buda Kliwon Pegat Uwakan, umat umumnya baru kembali menyelenggarakan upacara Panca Yadnya. Made Surada menambahkan, sebagai akhir dari rangkaian Galungan, pada Buda Kliwon Pahang, penjor Galungan dicabut. Atribut penjor seperti bakang-bakang, lamak, sampian dan sebagainya dibakar. Abunya dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading kemudian ditanam di belakang pelinggih Rong Telu. Maknanya, umat memohon kepada Ida Sang Hyang Widi agar diberkati kesuburan. Sebelum mencabut penjor, umat terlebih dahulu ngaturan banten atau canang di sanggah/merajan bahwa rangkaian rerahinan suci Galungan sudah selesai. Dilanjutkan kemudian prosesi masegeh, termasuk masegeh di lokasi penjor. Seusai masegeh, penjor Galungan pun dicabut. Ketua Parisada Bali Dr. IGN Sudiana, M.Si. menyampaikan hal senada bahwa rangkaian Galungan berakhir pada Buda Kliwon Pahang atau dikenal dengan istilah Buda Kliwon Pegat Uwakan atau ada yang menyebut Buda Kliwon Pegat Warah. Buda Kliwon Pegat Warah merupakan hari berakhirnya Galungan yang dimulai dari Tumpek Wariga. Selama 42 hari berlangsung warah-warah pengetahuan tentang dharma. Selanjutnya, umat tinggal mengimplementasikan atau menerapkan nilai-nilai dharma itu dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan di dunia. Kata Sudiana yang Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar, selama rangkaian hari raya Galungan yang berlangsung satu bulan tujuh hari, umat diajarkan untuk mengendalikan diri agar bisa hidup bersama dan bisa melakukan pelayanan, pengabdian dan peningkatan kualitas SDM. Hidup berdampingan dengan sesama secara damai, saling membantu dan saling menghargai merupakan tujuan hidup yang ideal sesuai dengan ajaran agama. Menumbuhkan kepekaan sosial atau rasa empati juga diamanatkan oleh ajaran agama. Dalam konteks berakhirnya rangkaian Galungan, umat diingatkan untuk selalu bisa menerapkan nilai-nilai dharma. Kemenangan melawan adharma itu mesti terus dapat dipertahankan. Dalam konteks kekinian, kemenangan yang dimaksud bisa berupa kemenangan dalam menghadapi persaingan global. Agar bisa tampil memenangkan persaingan, kualitas SDM Hindu perlu terus ditingkatkan. Dengan kualitas yang andal, diharapkan SDM kita mampu memenangkan persaingan yang demikian ketat di era kesejagatan ini. (lun) </span></p>
<address><span style="color:#808080;"> dikutip dari: <a href="http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&amp;kid=21&amp;id=46827" target="_blank">Bali Post</a></span></address>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/487/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=487&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/08/08/buda-keliwon-pegatuwakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Empat Kawasan di Bali Diusulkan Jadi WBD</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/11/kawasan-warisan-budaya-dunia/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/11/kawasan-warisan-budaya-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 02:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pungkreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan Warisan Budaya Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 9 Mei 2011 &#124; 8:43 [DENPASAR] Empat kawasan di Bali yang diusulkan menjadi kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD), Juni mendatang dinilai  United Nations Educational Scientific Cultural Organization (UNESCO).  Keempat kawasan tersebut adalah Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur, daerah aliran Sungai Pakerisan, Pura Taman Ayun dan lingkungan sekitarnya serta kawasan Batukaru (Catur Angga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=491&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre style="text-align:justify;"><span style="color:#999999;">Senin, 9 Mei 2011 | 8:43</span></pre>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#999999;">[DENPASAR] Empat kawasan di Bali yang diusulkan menjadi kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD), Juni mendatang dinilai  United Nations Educational Scientific Cultural Organization (UNESCO).  Keempat kawasan tersebut adalah Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur, daerah aliran Sungai Pakerisan, Pura Taman Ayun dan lingkungan sekitarnya serta kawasan Batukaru (Catur Angga Batukaru).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#33cccc;"><strong>“Kawasan yang termasuk daerah aliran Sungai Pakerisan meliputi Subak Pulagan, Subak Kulub, Desa Kulub, Desa Tampak Siring, Desa Manukaya, Pura Pegulingan, Pura Tirta Empul, Pura Mengening dan Situs Gunung Kawi,”</strong> ujar Kepala Dinas Kebudayaan Pemprov Bali I Ketut Suastika SH didampingi Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali,  Wirawati Bagiasih di Denpasar Senin (9/5)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#999999;">Sedangkan kawasan Batukaru (Catur Angga Batukaru) terdiri dari lima belas subak yakni Subak Bedugul, Jatiluwih, Kedampal, Keloncing, Penatahan, Pesagi, Piak, Puakan, Rejasa, Sangketan, Soka, Tegalinggah, Tengkudak dan Subak Wangaya Betan. Selanjutnya, Pura Taman Ayun akan dinilai bersama lingkungan sekitarnya seperti Subak Batan Badung dan kawasan Pura Ulun Danu Batur akan dinilai sepaket dengan Danau Batur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#999999;">Suastika menambahkan, pihaknya saat ini sedang menyiapkan segala keperluan yang diperlukan dalam mengajukan keempat kawasan bersejarah tinggi tersebut sebagai WBD ke UNESCO. Pihaknya juga membentuk tim khusus sehingga segala keperluan yang dipersyaratkan itu secepatnya dapat terpenuhi. Apalagi, proses penilaian sudah makin dekat yakni sekitar Juni mendatang. &#8221;Semoga semua persyaratan yang diwajibkan bisa terpenuhi. Dengan begitu, keempat kawasan yang menyimpan nilai sejarah yang sangat tinggi itu diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia,&#8221; katanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#999999;">Suastika  berharap empat kawasan bersejarah yang diusulkan jadi WBD ke UNESCO itu bisa tercapai. Dikatakan, peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pelestarian dan pengembangan warisan budaya harus terus dilakukan. Tentunya, didukung dengan adanya kebijakan yang terintegrasi terhadap perlindungan warisan budaya melalui koordinasi, sinkronisasi, sosialisasi dan internalisasi secara berkelanjutan. [137]</span></p>
<address><span style="color:#999999;">Sumber :<a title="Suara Pembaharuan" href="http://www.suarapembaruan.com/home/empat-kawasan-di-bali-diusulkan-jadi-wbd/6492" target="_blank"><span style="color:#999999;">Suara Pembaharuan</span></a></span></address>
<address><span style="color:#999999;">Peta: L<a title="Tukad Pekerisan" href="http://maps.google.co.id/maps?ds=i&amp;pq=tukad+pekerisan&amp;hl=id&amp;sugexp=kjrmc&amp;cp=0&amp;gs_id=e&amp;xhr=t&amp;q=pekerisan&amp;um=1&amp;client=firefox-a&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;gs_sm=&amp;gs_upl=&amp;bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&amp;biw=1280&amp;bih=935&amp;ie=UTF-8&amp;sa=N&amp;tab=il" target="_blank"><span style="color:#999999;">ihat Lokasi</span></a></span></address>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/pariwisata/'>Pariwisata</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a> Tagged: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/berita-daerah/'>Berita Daerah</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/kawasan-warisan-budaya-dunia/'>kawasan Warisan Budaya Dunia</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=491&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/11/kawasan-warisan-budaya-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pungkreatif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Piodalan Batara Hyang Guru</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/08/piodalanbatarahyangguru/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/08/piodalanbatarahyangguru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 07:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Piodalan]]></category>
		<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<category><![CDATA[upakara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Redite Umanis Ukir. Persembahan kehadapan Bhatara Guru di Sanggah Kemulan. umat hindu mengadakan persembahyangan untuk Batara Hyang Guru atau Piodalan Batara Hyang Guru. &#8220;Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma,ring Kamulan tengen bapa ngaran paratma,ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang Hyang Siwatma,ring Kamulan tengah ngaran raganta, metu Brahmadadi meme bapa meraga Sang Hyang Tuduh.(Dipetik dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=462&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:justify;"><a href="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/05/kemulan.jpg"><span style="color:#999999;"><img class="size-full wp-image-463  alignleft" style="margin:5px;" title="kemulan" src="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/05/kemulan.jpg?w=655" alt=""   /></span></a><span style="color:#c0c0c0;">Redite Umanis Ukir. </span></h3>
<p><span style="color:#999999;">Persembahan kehadapan Bhatara Guru di Sanggah Kemulan. umat hindu mengadakan persembahyangan untuk Batara Hyang Guru atau Piodalan Batara Hyang Guru.</span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="color:#00afe4;">&#8220;Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma,ring Kamulan tengen bapa ngaran paratma,ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang Hyang Siwatma,ring Kamulan tengah ngaran raganta, metu Brahmadadi meme bapa meraga Sang Hyang Tuduh.(Dipetik dari Lontar Usana Dewa)&#8221;</span></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#9dd0df;">Maksudnya:</span><br />
<span style="color:#9dd0df;"> Di Kamulan disebutkan Sang Hyang Atma, di ruang kanan Pelinggih Kamulan adalah bapa disebut Sang Hyang Paratma, di ruang kiri Kamulan adalah ibu disebut Sang Hyang Siwatma, di ruang tengah Kamulan raganta menjadi Brahma sebagai ibu dan bapa menjadi Sang Hyang Tuduh.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Di hulu pekarangan di setiap rumah umat Hindu di Bali umumnya ada tempat pemujaan keluarga yang disebut Sanggah atau Merajan Kamulan. Dalam Lontar Siwagama dinyatakan bahwa Bhagawan Manohari dari Siwapaksa atas penugasan Sri Gondarapati agar membangun pemujaan yang disebut Kamulan di setiap hulu pakarangan rumah tempat tinggal. Sepuluh pekarangan rumah tinggal memiliki tempat pemujaan yang disebut Pelinggih Pretiwi. Dua puluh pekarangan rumah tinggal memiliki tempat pemujaan yang disebut Pelinggih Ibu. Empat puluh pekarangan rumah tinggal memiliki tempat pemujaan yang disebut Panti. Hal inilah menyebabkan setiap pekarangan umat Hindu di Bali ada tempat pemujaan Kamulan yang umumnya dibangun di hulu pekarangan rumah tinggal.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Menurut beberapa sumber pustaka Hindu di Bali, yang dipuja di Pelinggih Kamulan itu adalah Sang Hyang Atma. Di samping dinyatakan dalam Lontar Usana Dewa yang dikutip di atas juga dinyatakan dalam Lontar Gong Wesi sbb: &#8230;ngarania Sang Hyang Atma, ring Kamulan Tengen bapanta ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibunta ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalin raga.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Demikian pula dalam Lontar Siwagama Sargah sepuluh menyatakan sba: &#8230;kramania Sang Pitara mulihing batur Kamulania nguni. Karena itulah sang Pitara Sang Pitpara pulang ke asal Kamulannya dulu. Hal yang menyatakan lebih tegas lagi bahwa Pelinggih Kamulan sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Atma adalah Lontar Purwa Bumi Kamulan. Lontar ini menguraikan tata cara upacara Nuntun Dewa Hyang di Kamulan. Lontar ini menguraikan amat rinci tentang tata cara menstanakan roh suci leluhur yang disebut Dewa Pitara di Kamulan.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Dalam Lontar Gayatri dinyatakan saat orang meninggal rohnya disebut Preta. Setelah melalui prosesi upacara ngaben roh tersebut disebut Pitra. Setelah melalui upacara Atma Wedana dengan Nyekah atau Mamukur roh itu disebut Dewa Pitara. Upacara ngaben dan upacara Atma Wedana digolongkan upacara Pitra Yadnya. Sedangkan upacara Ngalinggihang atau Nuntun Dewa Hyang dengan menstanakan Dewa Pitara di Pelinggih Kamulan sudah tergolong Dewa Yadnya.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Roh yang disebut Dewa Pitara itu adalah roh yang telah mencapai alam Dewa. Karena Sang Hyang Atma yang sudah mencapai tingkatan Dewa Pitara diyakini setara dengan Dewa. Menstanakan Dewa Pitara di Kamulan juga dinyatakan dengan sangat jelas dalam Lontar Pitutur Lebur Gangsa dan Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Dalam Lontar Pitutur Lebur Gangsa dinyatakan sbb: &#8230;muwang ngunggahang dewa pitara ring ibu dengen ring kamulan. Sedangkan dalam Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa dinyatakan sbb: muwah banten penyuda mala karahaken pitra ngarania angunggahaken Dewa Pitara ring ibu dengen muang ring Kamulan ngaran. Kedua lontar tersebut menyatakan bahwa menstanakan roh suci leluhur yang disebut Dewa Pitara di Kamulan dengan istilah muwang ngunggahaken Dewa Pitara ring ibu dengan ring Kamulan.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Dalam tradisi Hindu di Bali Dewa Pitara yang distanakan di Pelinggih Kamulan itu disebut Batara Hyang Guru. Dalam Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru yaitu Agni, yaitu sinar suci Hyang Widhi, Atman yaitu unsur yang tersuci dalam diri manusia yang berasal dari Brahman, Mata yaitu ibu yang melahirkan kita, Pita yaitu ayah menyebabkan kita lahir dan Acarya yaitu guru yang memberikan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang nampaknya di Bali menjadi ajaran Catur Guru yaitu Guru Swadyaya, Guru Rupaka, Guru Pengajian dan Guru Wesesa.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Karena Atman sebagai salah satu Guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa itulah nampaknya menjadi dasar pendirian Kamulan sebagai tempat memuja Dewa Pitara sebagai Batara Hyang Guru. Atman dalam Upanisad adalah Brahman yang ada dalam diri makhluk hidup yang diselubungi oleh Panca Maya Kosa. Untuk menjadikan Atman itu Guru adalah melalui proses upacara ngaben, mamukur dan Nuntun Dewa Pitara. Proses upacara tersebut sebagai simbol untuk melepaskan Atman dari selubung Atman yang disebut Panca Maya Kosa itu. Dengan demikian Atman yang pada hakikatnya Brahman itu langsung tanpa halangan Panca Maya Kosa dapat menjadi Guru dan umat sekeluarga.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Upacara tersebut bagaikan menghilangkan selubung mendung di langit biru yang menutupi sinar matahari sehingga sinar matahari tersebut dapat langsung memberikan penerangan pada bumi ini. Demikianlah proses upacara ngaben untuk melepaskan Atman dari selubung Stula Sarira. Upacara Atma Wedana melepaskan Atman dari selubung Suksma Sarira. Sedangkan upacara Danda Kalepasan adalah upacara untuk mengambil dosa-dosa leluhur oleh keturunannya. Dengan demikian Sang Hyang Atma tanpa selubung lagi sehingga disebut Dewa Pitara.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Upacara Danda Kalepasan di Bali ada yang menyebutnya upacara Maperas yang artinya keturunan orang yang diupacarai itu mengadopsi utang-utang karma leluhur yang diupacarai tersebut. Yang diwarisi oleh keturunan itu bukanlah berupa kekayaan materi saja. Berbagai utang karma dari leluhur itu juga harus diwarisi juga.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Ini artinya pemujaan pada leluhur dalam tradisi Hindu di Bali, baik buruk, lebih kurang dari leluhur itu harus diterima sebagai warisan. Baiknya harus diupayakan untuk terus dipertahankan bahkan dikembangkan eksistensinya supaya lebih berguna bagi kehidupan selanjutnya. Sedangkan buruk dari berbagai kekurangan dari leluhur itu harus direduksi agar tidak berkembang merusak kehidupan selanjutnya.</span><br />
<span style="color:#c0c0c0;"> Pengalaman adalah guru terbaik, demikian orang menyebutkan. Pengalaman yang baik dan buruk dari leluhur itu dijadikan guru dalam hidup ini. Itulah pentingnya pemujaan Batara Hyang Guru di Kamulan.</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#c0c0c0;">sumber @ <a href="http://pasektangkas.blogspot.com/"><span style="color:#c0c0c0;">pasektangkas</span></a></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/piodalan/'>Piodalan</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/ritual/'>ritual</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upacara/'>upacara</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upakara/'>upakara</a> Tagged: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/piodalan/'>Piodalan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=462&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/08/piodalanbatarahyangguru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/05/kemulan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kemulan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sinar lilin</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/06/sinar-lilin/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/06/sinar-lilin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 May 2011 13:49:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<category><![CDATA[Sinar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/06/sinar-lilin/</guid>
		<description><![CDATA[Tampak dari depan cahaya lilin-lilin yang menerangi alam menambah suasana yang romantis. Filed under: Umum, upacara Tagged: Sinar<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=456&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/05/20110506-094652.jpg"><img class="size-full alignleft" style="margin:5px;" src="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/05/20110506-094652.jpg?w=655" alt="20110506-094652.jpg"   /></a>Tampak dari depan cahaya lilin-lilin yang menerangi alam menambah suasana yang romantis.</p>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upacara/'>upacara</a> Tagged: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/sinar/'>Sinar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=456&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/06/sinar-lilin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/05/20110506-094652.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">20110506-094652.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tumpek Landep dan Pengertiannya</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/06/tumpeklandep/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/06/tumpeklandep/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 16:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[ritual]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<category><![CDATA[upakara]]></category>
		<category><![CDATA[tumpek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[Jero mangku sudiada Tumpek = Asal dari kata Tumampek, mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta dg jalan mensyukuri segala ciptaannya baik secara langsung maupun tidak langsung kita nikmati sehingga sudah sewajarnyalah kita mensyukurinya kepada sang pemberi nikmat. Syclus kedatangannya Tiada lain adalah sebagai apa yang digariskan oleh arti Tumpek itu sendiri yaitu: TU = metu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=365&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;"><a href="Jeromangku_sudiada@yahoo.com"><span style="color:#808080;">Jero mangku sudiada</span></a></span></p>
<p>Tumpek = Asal dari kata Tumampek, mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta dg jalan mensyukuri segala ciptaannya baik secara langsung maupun tidak langsung kita nikmati sehingga sudah sewajarnyalah kita mensyukurinya kepada sang pemberi nikmat.</p>
<p><a href="http://pungkreatif.blogspot.com/2011/05/tumpek-landep-dan-pengertiannya.html"><img class=" alignleft" style="margin:5px;" title="ritual tumpek landep" src="http://1.bp.blogspot.com/-I4iDy-wesf0/Tb__1_2wk6I/AAAAAAAAAZM/Ub6j7WEOcDk/s1600/ritualtumpeklandep.jpg" alt="ritual tumpek landep" width="486" height="183" /></a>Syclus kedatangannya</p>
<p>Tiada lain adalah sebagai apa yang digariskan oleh arti Tumpek itu sendiri yaitu:</p>
<p>TU = metu dan Pek = berakhir Jadi Tumpek berarti merupakan Awal dan juga akhir. Tumpek sangat erat kaitannya dengan Kalender Hindu di Bali yang merupakn gabungan dari Caka surya pramana dan Chandra Pramana serta Wuku yang kita kenal sebanyak tiga puluh wuku, selain wuku ada juga syclus lain yaitu Saptawara dan Pancawara.</p>
<p>Sehingga antara Sapta wara terakhir Saniscara ketemu dengan Pancawara terakhir ( kliwon ) maka syclus inilah kemudian disebut tumpek, yg datangnya setiap 35 hari 1 X.</p>
<p>Tumpek akan bertemu setiap akhir wuku Saniscara (Sapta wara ) dan akhir Pancawara Kliwon, inilah yang kemudian disebut denga awal dan akhir dalam istilah Hindu disebut Utpeti, Stiti dan Prelina, yang kemudian diambilah Utpeti dan Prelina ( Tum-Pek )</p>
<p><strong>Bermacam-macam Tumpek</strong></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;"><strong>Tumpek Landep </strong>Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Pasupati atas ciptaanya, sehingga atas analisys dari manusia menggunakan ketajaman Jnananya sehingga berhasilah mengolah logam logam yang dipergunakan untuk melancarkan usahanya dalam menunjang kehidupan sehari-hari, sehingga lazimnya pada tumpek ini sepertinya di katagorykan sebagai sarwa sanjata-senjatanyapun yang dari Logam, pada hal yang utama bagaimana ketajaman dari Jnanam kita yang di anugrahi oleh sang maha pencipta.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong>Tumpek Wariga. </strong>Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Sangkara atas ciptaanya, atas analisys manusia serta usahanya untuk mengolah tumbuh tumbuhan sedemikian rupa, sehingga memberikan makna dan berhasil guna untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong>Tumpek Kuningan. </strong>Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Iste dewata atas ciptaanya, sehingga kita sebagai manusia bisa melakukan penghormatan kepada Raje-Dewata dan Dewati atas jasa yang telah diberikan kepada kita, sehingga kita bisa meneruskan cita cita para leluhur semasa hidupnya.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong>Tumpek Klurut. </strong>Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Aji Gurnita atas ciptaanya, sehingga atas analisys &amp; usaha manusia bisa menikmati kesenangannya dalam Keindahan dan seni.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong>Tumpek Uye. </strong>Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Rare angon atas ciptaanya, sehingga atas analisys dan usaha manusia bisa memanfaatkan jasa-jasa dari hewan / binatang baik yang dinikmati langsung maupun yang dikerjakan.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong>Tumpek Wayang. </strong>Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Iswara atas ciptaanya, sehingga atas analisys dan usahanya manusia mampu untuk berkreasi dalam mewujudkan Aikyam, Ciwam, Sundaram.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Masing masing tumpek diatas, semuanya mempunyai Mitos yang sangat menarik, Kisah rare angon (Tumpek Uye ), Kisah dari Bhatara Kala ( Tumpek Wayang ) kisah Hyang Kumararatih dsbnya. Tunggu tanggal mainnya akan diceritrakan satu persatu pasti deh kebagian semuanya mari kita sembahyang dulu hari ini dalam rangka bersyukur kepada Hyang PASUPATI. (tumpek landep ) besok besok dilanjutkan Mogi semuanya panjang yusa ayuverdi.</p>
<p>Source : <span style="color:#808080;"><a href="http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=956&amp;Itemid=120"><span style="color:#808080;">parisada</span></a></span></p>
<p><span style="color:#808080;"><a href="http://idapedandagunung.com/content/view/35/1/"><span style="color:#808080;">idapedandagunung</span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep. Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang Berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam. Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai &#8211; nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.</p>
<p style="text-align:justify;">Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Jadi setelah mempertingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi. Namun seiring perkembangan jaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya.</p>
<p>Sekarang ini masyarakat justru memaknai tumpek landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi. Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.</p>
<p>Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan. Tumpek landep adalah tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran &#8211; ajaran agama. Pada rerainan tumek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur. Bagi para seniman, tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan &#8211; pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.</p>
<p>Jadi sekali lagi ditegaskan, Tumpek Landep bukan rerainan untuk mengupacarai motor, mobil ataupun perabotan besi, tetapi lebih menekankan kepada kesadaran untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta untuk kesejahteraan umat manuasi. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep mengupacarai motor, mobil dan sebagainya sebagai bentuk syukur namun itu adalah nilai tambahan saja. Jangan sampai perayaan rerainan menitik beratkan pada nilai tambahan namun melupakan inti pokok dari rerainan tersebut</p>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/ritual/'>ritual</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upacara/'>upacara</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upakara/'>upakara</a> Tagged: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/tumpek/'>tumpek</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/upakara/'>upakara</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/365/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=365&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/05/06/tumpeklandep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/-I4iDy-wesf0/Tb__1_2wk6I/AAAAAAAAAZM/Ub6j7WEOcDk/s1600/ritualtumpeklandep.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ritual tumpek landep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Raya Saraswati</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/04/24/hari-raya-saraswati/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/04/24/hari-raya-saraswati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 06:02:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<category><![CDATA[saraswati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali disebutkan &#8220;Hyang Hyangning Pangewruh.&#8221; Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=350&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali disebutkan &#8220;Hyang Hyangning Pangewruh.&#8221;<br />
<a href="http://lupakura.blogspot.com/2010/05/hari-raya-saraswati.html" target="_blank"><img class="alignleft size-full wp-image-351" style="border:2px solid black;margin:5px;" title="saraswati" src="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/04/saraswati.jpg?w=655" alt="Dewi Saraswati"   /></a><br />
Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), kropak (pustaka), ganitri (japa mala) dan bunga teratai. Dewi Saraswati dilukiskan berada di atas angsa dan di sebe-lahnya ada burung merak. Dewi Saraswati oleh umat di India dipuja dalam wujud Murti Puja. Umat Hindu di Indonesia memuja Dewi Saraswati dalam wujud hari raya atau rerahinan.</p>
<p>Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati.</p>
<p>Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari.</p>
<p>Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.</p>
<p>Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta dilangsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan.</p>
<p>Filosofi dan Mitologi<br />
Upacara dan upakara dalam agama Hindu pada hakikatnya mengandung makna filosofis sebagai penjabaran dari ajaran agama Hindu. Secara etimologi, kata Saraswati berasal dari Bahasa Sansekerta yakni dari kata Saras yang berarti &#8220;sesuatu yang mengalir&#8221; atau &#8220;ucapan&#8221;. Kata Wati artinya memiliki. Jadi kata Saraswati secara etimologis berarti sesuatu yang mengalir atau makna dari ucapan. Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus-menerus tiada henti-hentinya ibarat sumur yang airnya tiada pernah habis mes-kipun tiap hari ditimba untuk memberikan hidup pada umat manusia.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan, Saraswati juga berarti makna ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan memberikan makna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah yang akan menjadi dasar orang untuk menjadi manusia yang bijaksana. Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan atau ananda. Kehidupan yang bahagia itulah yang akan mengantarkan atma kembali luluh dengan Brahman.</p>
<p>Dalam upacara atau hari raya Saraswati, bagi umat Hindu di Indonesia, upacara dihaturkan dalam tumpukan lontar-lontar atau buku-buku keagamaan dan sastra termasuk pula buku-buku ilmu pengetahuan lainnya. Bagi umat Hindu di Indonesia aksara yang merupakan lambang itulah sebagai stana Dewi Saraswati. Aksara dalam buku atau lontar adalah rangkaian huruf yang membangun ilmu pengetahuan aparawidya maupun parawidya. Aparawidya adalah ilmu pengetahuan tentang ciptaan Tuhan seperti Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Parawidya adalah ilmu pengetahuan tentang sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu di Indonesia &#8211; juga di Bali &#8211; tidak ada pelinggih khusus untuk memuja Saraswati yang di Bali diberi nama lengkap Ida Sang Hyang Aji Saraswati.</p>
<p>Gambar atau patung Dewi Saraswati yang dikenal di Indonesia berasal dari India. Dewi Saraswati ada digambarkan duduk dan ada pula versi yang berdiri di atas angsa dan bunga padma. Ada juga yang berdiri di atas bunga padma, sedangkan angsa dan burung meraknya ada di sebelah menyebelah dengan Dewi Saraswati. Tentang perbedaan versi tadi bukanlah masalah dan memang tidak perlu dipersoalkan. Yang terpenting dari penggambaran Dewi Saraswati itu adalah makna filosofi yang ada di dalam simbol gambar tadi. Dewi yang cantik dan berwibawa menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang amat menarik dan mengagumkan. Kecantikan Dewi Saraswati bukanlah kemolekan yang dapat merangsang munculnya nafsu birahi.</p>
<p>Kecantikan Dewi Saraswati adalah kecantikan yang penuh wibawa. Memang orang yang berilmu itu akan menimbulkan daya tarik yang luar biasa. Karena itu dalam Kakawin Niti Sastra ada disebutkan bahwa orang yang tanpa ilmu pengetahun, amat tidak menarik biarpun yang bersangkutan muda usia, sifatnya bagus dan keturunan bangsawan. Orang yang demikian ibarat bunga merah menyala tetapi tanpa bau harum sama sekali. Sedangkan cakepan atau daun lontar yang dibawa Dewi Saraswati merupakan lambang ilmu pengetahuan. Sedangkan genitri adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tiada habis-habisnya. Genitri juga lambang atau alat untuk melakukan japa. Ber-japa yaitu aktivitas spiritual untuk menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Ini pula berarti, menuntut ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ini berarti pula, ilmu pengetahuan yang mengajarkan menjauhi Tuhan adalah ilmu yang sesat.</p>
<p>Wina yaitu sejenis alat musik, yang di Bali disebut rebab. Suaranya amat merdu dan melankolis. Ini melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung keindahan atau estetika yang amat tinggi. Bunga padma adalah lambang Bhuana Agung stana Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti ilmu pengetahuan yang suci itu memiliki Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Teratai juga merupakan lambang kesucian sebagai hakikat ilmu pengetahuan.</p>
<p>Angsa adalah jenis binatang unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu tidak suka berkelahi dan suka hidup harmonis. Angsa juga memiliki kemampuan memilih makanan. Meskipun makanan itu bercampur dengan air kotor tetapi yang masuk ke perutnya adalah hanya makanan yang baik saja, sedangkan air yang kotor keluar dengan sendirinya. Demikianlah, orang yang telah dapat menguasai ilmu pengetahuan, kebijaksanaan mereka memiliki kemampuan wiweka. Wiweka artinya suatu kemampuan untuk membeda-bedakan yang baik dengan yang jelek dan yang benar dengan yang salah.</p>
<p>Bunga Padma atau bunga teratai adalah bunga yang melambangkan alam semesta dengan delapan penjuru mata anginnya (asta dala) sebagai stana Tuhan. Burung merak adalah lambang kewibawaan. Orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang akan mendapatkan kewibawaan. Sehubungan dengan ini, Swami Sakuntala Jagatnatha dalam buku Introduction of Hinduisme menjelaskan bahwa ilmu yang dapat dimiliki oleh seseorang akan menyebabkan orang-orang itu menjadi egois atau sombong. Karena itu ilmu itu harus diserahkan pada Dewi Saraswati sehingga pemiliknya menjadi penuh wibawa karena egoisme atau kesombongan itu telah disingkirkan oleh kesucian dari Dewi Saraswati. Ilmu pengetahuan adalah untuk memberi pelayanan kepada manusia dan alam serta untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Di dalam upakara yang disebut Banten Saraswati salah satu unsurnya ada disebut jajan Saraswati. Jajan ini dibuat dari tepung beras berwarna putih dan berisi lukisan dua ekor binatang cecak. Mata cecak itu dibuat dari injin (beras hitam) dan di sebelahnya ada telur cecak. Dalam banten Saraswati itu mempunyai arti yang cukup dalam. Menurut para ahli Antropologi, bangsa-bangsa Austronesia memiliki kepercayaan bahwa binatang melata seperti cecak diyakini memiliki kekuatan dan kepekaan pada getaran-getaran spiritual. Jajan Saraswati yang berisi gambar cecak memberi pelajaran bahwa ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi mengembangkan kekuatan ratio atau pikiran saja, tetapi harus mampu mendorong manusia untuk memiliki kepekaan intuisi sehingga dapat menangkap getaran-getaran rohani.</p>
<p>Dalam lontar Saraswati juga memakai daun beringin. Daun beringin adalah lambang kelanggengan atau keabadian serta pengayoman. Ini berarti ilmu pengetahuan itu bermaksud mengantarkan kepada kehidupan yang kekal abadi. Ilmu pengetahuan juga berarti pengayoman.</p>
<p>Tentang Dewi Saraswati ada cerita menarik yang terdapat dalam Utara Kanda bagian dari epos Ramayana. Dalam cerita tersebut dikisahkan Dewi Saraswati bersemayam secara gaib di lidah Kumbakarna sehingga dunia terhindar dari kekacauan. Alkisah Resi Waisrawa beristri Dewi Kaikaisi. Pasangan Resi ini berputra empat orang, tiga orang laki dan seorang perempuan. Putra sang resi yang pertama bernama Dasa Muka (Rahwana), kedua Kumbakarna, ketiga bernama Dewi Surpanaka dan yang terkecil bernama Gunawan Wibhisana. Sang Resi menugaskan putra laki-lakinya supaya bertapa di gunung Gokarna. Ketiga putra Resi Waisrawa itu kemudian membangun tempat pertapaan yang terpisah-pisah di gunung Gokarna. Bertahun-tahun mereka bertapa dengan teguh dan tekunnya. Karena ketekunannya itu, lalu Dewa Brahma berkenan memberikan anugrah.</p>
<p>Pertama-tama Dewa Brahma mendatangi Rahwana. Dewa Brahma menanyakan tentang apa yang diharapkan dalam tapanya ini. Rahwama mengajukan permohonan dapat kiranya Dewa Brahma menganugrahkan kekuasaan di seluruh dunia. Semua dewa, gandarwa, manusia dan seluruh makhluk di dunia ini tunduk padanya. Permohonan Rahwana ini dikabulkan.</p>
<p>Selanjutnya Dewa Brahma menuju pertapaan Gunawan Wibhisana dan menyatakan pula akan memberikan anugrah atas tapanya. Gunawan Wibhisana menyampaikan permohonannya dapat kiranya Dewa Brahma memberikan anugrah berupa kesehatan dan ketenangan rohani, memiliki sifat-sifat utama dan taat melakukan pemujaan kepada Tuhan. Dewa Brahma mengabulkan permohonan Wibhisana. Begitu Dewa Brahma akan beranjak menuju pertapaan Kumbakarna para dewa berdatang sembah kepada Dewa Brahma. Para dewa memohon agar Dewa Brahma tidak menganugrahkan permohonan Kumbakarna. Pasalnya, Kumbakarna berbadan raksasa yang maha hebat. Kalau ia punya kesaktian, sungguh sangat membahayakan keselamatan manusia di dunia. Meskipun ada permohonan para dewa itu, Dewa Brahma bertekad memberikan anugrah. Sebab, jika tidak, Brahma merasa berlaku tidak adil kepada ketiga putra Resi Waisrawa. Apalagi Kumbakarna juga melakukan tapa yang tekun sehingga layak mendapat anugrah. Namun untuk memenuhi permohonan para dewa itu, Dewa Brahma punya akal. Istri atau saktinya yaitu Dewi Saraswati diutus supaya berstana di lidah Kumbakarna dan bertugas untuk membuat lidahnya salah ucap.</p>
<p>Setelah itu Dewa Brahma datang memberikan anugrah pada Kumbakarna. Kumbakarna memohon anugrah yakni agar selama hidupnya selalu senang. Karena itu ia semestinya mengucapkan &#8220;suka sada&#8221;. Namun akibat Saraswati membelokkan lidah Kumbakarna, ucapan yang terlontar dari mulut raksasa tinggi besar itu adalah &#8220;supta sada&#8221; yang artinya selalu tidur. Suka artinya senang dan supta artinya tidur. Andaikata Kumbakarna mendapatkan anugrah hidup bersenang-senang, maka besar kemungkinannya ia selalu meng-humbar hawa nafsu. Raksasa yang menghumbar hawa nafsu tentu akan dapat mengacaukan kehidupan di dunia. Demikianlah peranan Dewi Saraswati, dengan kata-kata yang tersaring dalam lidah dapat menyelamatkan dunia dari kekacauan.</p>
<p>Di dalam kesusastraan Weda, Saraswati adalah nama sungai yang disebut Dewa Nadi artinya sungainya para dewa. Sungai Saraswati terletak di selatan daerah Brahmawarta atau Kuruksetra. Di sebelah utara Kuruksetra ada sungai bernama sungai Dasdwati. Kedua sungai itu diyakini berasal dari Indraloka. Karena itulah disebut Dewa Nadi. Keterangan ini juga diuraikan dalam Manawa Dharmasastra II,17. Karena itulah sungai Saraswati amat dihormati dalam puja mantra agama Hindu seperti dalam mantra Sapta Tirtha atau Sapta Gangga uang menyebutkan tujuh sungai utama di India. Tujuh sungai itu yaitu sungai Gangga, Saraswati, Shindu, Wipasa, Kausiki, Yamuna dan Serayu. Dalam mantram Surya Sewana, Saraswati dipuja pula dalam Catur Resi yaitu Sarwa Dewa, Sapta Resi, Sapta Pitara dan Saraswati.</p>
<p>Dewi Saraswati diyakini pula sebagai pemelihara kitab suci Weda. Hal ini diceritakan dalam Salya Parwa sebagai berikut. Di lembah sungai Saraswati, terdapat tujuh resi ahli Weda yaitu Resi Gautama, Bharadwaja, Wiswamitra, Yamadageni, Resi Wasistha, Kasiyapa dan Atri. Ketika musim kemarau datang, keadaan di lembah sungai Saraswati itu kering. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahan makanan pun menjadi sulit didapat. Karena keadaan alam yang gersang seperti itu, Sapta Resi itupun pindah ke tempat lain. Sedangkan putra Dewi Saraswati yang bernama Saraswata masih setia bertempat tinggal di lembah sungai Saraswati. Karena kesetiaannya tinggal di tempat itu, Saraswata mendapat perlindungan dari ibunya. Saraswata tetap mendapat bahan makanan dari lembah sungai itu. Para Resi yang meninggalkan lembah sungai Saraswati, lambat laun tidak tahan pada keadaan yang dialaminya. Karena di tempatnya yang baru, mereka sulit juga mengubah nasib. Lagi pula para resi tadi telah lupa pada isi Weda. Padahal, memahami Weda merupakan suatu kewajiban yang mutlak sebagai identitas seorang resi. Gelar resinya akan tanpa makna kalau sampai lupa pada isi Weda.</p>
<p>Keadaan itu menyebabkan sang Sapta Resi kembali ke lembah sungai Saraswati. Di lembah sungai Saraswati itulah para resi mohon kesediaan Dewi Saraswati membangkitkan kesadarannya untuk kembali dapat memahami isi Weda yang merupakan tugas pokoknya. Dewi Saraswati memberi anugrah apabila para resi bersedia menjadi siswanya. Para resi bertanya, apakah patut orang yang lebih tua berguru pada yang muda karena Dewi Saraswati masih sangat muda. Terhadap pertanyaan ini, Dewi Saraswati menjelaskan, seorang guru kerohanian tidaklah tergantung pada umurnya, kekayaannya, kebangsawanannya. Seorang guru kerohanian patut dilihat dari kemampuannya menguasai dan menyampaikan isi Weda. Kedewasaan spiritual Wedalah yang menjadi patokan utama. Penjelasan itu yang menyebabkan semua resi tetap berguru pada Dewi Saraswati.</p>
<p>Setelah kejadian itu, datang lagi enam puluh ribu orang menghadap Dewi Saraswati agar diterima sebagai murid karena ingin mendalami lautan rohani Weda. Lewat para resi dan siswa tadi, Dewi Saraswati mengidupkan dan menyebarkan isi Veda ke seluruh pelosok dunia.</p>
<p>Mitologi Dewi Saraswati dijelaskan pula dalam kitab Aiterya Brahmana. Dikisahkan seorang pendeta bernama Resi Kawasa keturunan Sudra Wangsa. Pada suatu hari, sang resi memimpin suatu upacara yajña. Karena resi itu keturunan Sudra Wangsa, maka sang resi dilarang memimpin upacara oleh pendeta dari Wangsa Brahmana. Sang resi Kawasa diusir dan dibuang ke padang pasir dengan tujuan agar ia mati di tengah-tengah padang pasir yang gersang itu. Setelah ia berada di tengah-tengah padang pasir, Resi Kawasa tetap melakukan pemujaan kepada Tuhan. Karena khusuknya pemujaan, turunlah Dewi Saraswati dengan penuh kasih sayang. Resi Kawasa pun diajarkan Weda mantra lengkap dengan Stuti dan Stotranya. Karena ketekunannya, semua pelajaran dari Dewi Saraswati dapat dikuasainya dengan baik. Kesucian dan kemampuan Resi Kawasa akhirnya jauh meningkat dari sebelumnya.</p>
<p>Dewi Saraswati menganggap, kemampuan Resi Kawasa sudah luar biasa. Sang resi pun diizinkan kembali ke tempatnya oleh Dewi Saraswati. Setelah ia sampai di tempatnya semula, pendeta dari Wangsa Brahmana itu amat kagum atas keberhasilan Resi Kawasa. Resi Kawasa memang mampu menujukkan kemahirannya tentang Weda baik teori maupun praktek kehidupan sehari-hari berupa tingkah laku yang bersusila tinggi. Akibat keutamaannya itu, Resi Kawasa diakui semua umat dan semua resi sebagai brahmana pendeta sejati.</p>
<p>Demikianlah kekuasaan Dewi Saraswati akan dapat memberikan peningkatan kesucian dan kehormatan kepada mereka yang memujanya dengan sungguh-sunguh.</p>
<p>Pada Hari Raya Saraswati Tentang bunga padma yang di Bali disebut bunga tunjung dipegang oleh salah satu tangan patung atau gambar Dewi Saraswati adalah memiliki lambang-lambang tersendiri. Di dalam Kakawin Saraswati disebutkan, bunga padma putih yang sedang kembang merupakan lambang jantung di Bhuana Alit. Padma merah ada dalam hati, padma biru ada dalam empedu. Budi suci sebagai aliran sungai Sindhu selalu meyakini kesuburan bunga-bunga padma yang berwarna-warni itu. Kecakapan bagaikan aliran sungai Narmada. Kemurnian hatiku sebagai sungai Gangga. Dewi Saraswati berstana di lidah dan Dewi Irawati berstana di mata. Demikianlah tujuan pemujaan Dewi Saraswati. Kalau tujuan pemujaan Dewi Saraswati dapat tercapai maka terhindarlah kita dari godaan penyakit, kelakuan jahat dan buruk.</p>
<p>Semua perumpamaan itu adalah suatu metoda seni sastra agama untuk mendatang kehalusan budi. Agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup, sedangkan seni menghaluskan hidup. Karena itulah, memuja Tuhan Yang Maha Esa menurut pandangan Hindu juga menggunakan aspek seni. Pemujaan kepada Dewi Saraswati tiada lain adalah memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspeknya sebagai sumber ilmu pengetahuan suci Weda. Menggapai kesucian Weda hendaknya juga melalui seni budaya yang indah. Khususnya yang didasarkan oleh keindahan seni itulah yang akan dapat dijadikan dasar untuk mencapai kesucian Sang Hyang Weda.</p>
<p>Hari Saraswati merupakan manifestasi Hyang Widhi sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan, Kekuatan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya ini dilambangkan dengan seorang Dewi, Dewi membawa alat musik, Genitri,, Pustaka suci, Teratai, serta duduk di atas angsa.</p>
<p>1. Dewi simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu indah, cantik, menarik, dan lemah lembut dan mulia<br />
2. Alat musik simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu seni budaya yang agung<br />
3. Genetri simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu tak terbatas dan kekal abadi<br />
4. Pustaka suci simbol, bahwa itu sumber ilmu pengetahuan yang suci<br />
5. Teretai simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan kesucian Hyang Widhi<br />
6. Anga adalah simbol kebijaksanaan, Angsa bisa membedakan antara yang baik dan buruk.</p>
<p>(Sumber: Buku &#8220;Yadnya dan Bhakti&#8221; Oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)</p>
<p><a href="http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html" target="_blank">http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upacara/'>upacara</a> Tagged: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/saraswati/'>saraswati</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/upacara/'>upacara</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=350&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2011/04/24/hari-raya-saraswati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2011/04/saraswati.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">saraswati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siwaratri</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/09/25/siwaratri/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/09/25/siwaratri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Sep 2010 04:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Tatacara Pelaksanaan Upacara Siwaratri Pengertian. Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=329&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://kawulawisuda.blogspot.com/2010/01/tatacara-pelaksanaan-upacara-siwaratri.html">Tatacara Pelaksanaan Upacara Siwaratri</a></h3>
<div>
<div><a href="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/09/siwaratri.jpg"><img class="alignleft" style="border:3px solid black;margin:10px;" src="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/09/siwaratri.jpg?w=238&#038;h=320" border="0" alt="" width="238" height="320" /></a></div>
<ol>
<li>
<div><strong>Pengertian</strong>.<br />
Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang  Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang  Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena  pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat  Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri,  pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan <em>kesadaran diri</em> (atutur  ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata  berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci <em>pajagran</em>.</div>
</li>
<li><strong>Waktu Pelaksanaan</strong>.<br />
Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu).</li>
<li><strong>Brata Siwarâtri</strong>.<br />
Brata Siwarâtri terdiri dari:</p>
<ol>
<li>Utama, melaksanakan:
<ol>
<li>Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).</li>
<li>Upawasa (tidak makan dan tidak minum).</li>
<li>Jagra (berjaga, tidak tidur).</li>
</ol>
</li>
<li>Madhya, melaksanakan:
<ol>
<li>Upawasa.</li>
<li>Jagra.</li>
</ol>
</li>
<li>Nista, hanya melaksanakan:<br />
Jagra.</li>
</ol>
</li>
<li><strong>Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri</strong>.
<ol>
<li>Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.</li>
<li>
<div>Untuk Walaka, didahului dengan  melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14  sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan  sebagai berikut:</div>
<ol>
<li>Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.</li>
<li>Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.</li>
<li>Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.</li>
<li>
<div>Ngaturang banten pajati ke hadapan  Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih  Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau  semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman  terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan  kepada:</div>
<div>- Sang Hyang Siwa.</div>
<div>- Dewa Samodaya.</div>
<div>Setelah  sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah  masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya. Rangkaian upacara Siwarâtri,  ditutup dengan melaksanakan dana punia.</div>
</li>
<li>
<div>Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.</div>
<div>Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).</div>
<div>Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.</div>
<div>Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).</div>
</li>
<li>Persembahyangan seperti tersebut dalam  nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam  panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang  pagi.</li>
</ol>
<pre style="text-align:right;">sumber: <a href="http://www.babadbali.com/canangsari/hkt-hari-siwaratri-pelaks.htm">Babad Bali</a> © <a href="http://www.babadbali.com/index.html" target="_parent">Yayasan Bali Galang.</a></pre>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</div>
<pre> Posted by pung</pre>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upacara/'>upacara</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/329/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=329&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/09/25/siwaratri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/09/siwaratri.jpg?w=223" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Makna Galungan dan Kuningan</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/05/21/makna-galungan-dan-kuningan/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/05/21/makna-galungan-dan-kuningan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 04:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawulawisuda.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Galungan adalah hari raya suci Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Umat Hindu dengan penuh rasa bhakti melaksanakan rangkaian hari raya suci Galungan dan Kuningan dengan ritual keagamaan. [ Oleh : I Nyoman Dayuh, (UNHI - Dps)] Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan : &#8220;Punang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=314&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;">Galungan adalah hari raya suci Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Umat Hindu dengan penuh rasa bhakti melaksanakan rangkaian hari raya suci Galungan dan Kuningan dengan ritual keagamaan. [ Oleh : I Nyoman Dayuh, (UNHI - Dps)]<br />
Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :</p>
<p>&#8220;Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya&#8221;.</p>
<p>Artinya:</p>
<p>&#8220;Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka&#8221;.</p>
<p>Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.</p>
<p><strong>Macam &#8211; Macam Galungan</strong></p>
<p><strong>A. Galungan</strong></p>
<p>Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut 	hari raya Galungan.</p>
<p><strong>B. Galungan Nadi</strong></p>
<p>Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu 	melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali 	Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 	804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari 	raya itu.</p>
<p><strong>C. Galungan Naramangsa.</strong></p>
<p>Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa 	disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 	9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi 	tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, 	bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.</p>
<p><strong>Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan</strong></p>
<p>Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban. <a href="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/05/galkun.jpg"><img class="size-full wp-image-315 alignleft" style="border:3px solid black;margin:3px 0;" title="galungan dan kuningan" src="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/05/galkun.jpg?w=655" alt="salah satu simbol yang membedakan hari raya galungan dan kuningan."   /></a></p>
<p>Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.</p>
<p>Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.</p>
<p><strong>Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan</strong></p>
<p>Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, &#8220;matutur ikang atma ri jatinya&#8221; (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).</p>
<p>Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.</p>
<p>Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :</p>
<p>&#8220;Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika&#8221;.</p>
<p>Artinya:</p>
<p>Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.</p>
<p>Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :</p>
<p>&#8220;Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan&#8221;.</p>
<p>Artinya:</p>
<p>Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.</p>
<p>Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).</p>
<p>Sumber : <a title="Parisada Hindhu Dharma Indonesia" href="http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=372&amp;Itemid=2&amp;limit=1&amp;limitstart=1" target="_blank">Parisada Hindhu Dharma Indonesia</a>.</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upacara/'>upacara</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=314&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/05/21/makna-galungan-dan-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/05/galkun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">galungan dan kuningan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penjor galungan</title>
		<link>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/05/11/penjor-galungan/</link>
		<comments>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/05/11/penjor-galungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 04:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<category><![CDATA[galungan lan kuningan 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://kawulawisuda.wordpress.com/2010/05/11/penjor-galungan/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Oleh : I Gede Manik, S.Ag (Badung) &#160; &#160; Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=313&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#c0c0c0;">Oleh : I Gede Manik, S.Ag (Badung)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Umat Hindu dari jaman dahulu sampai sekarang bahkan sampai nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa memakai symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa yaitu sebagai pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memakai simbol, bangsa pun memakai simbol-simbol. Bentuk dan jénis simbol yang berbeda namun mempunyai fungsi yang sama.</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Dalam upakara terdiri dari banyak macam material yang digunakan sebagai simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, dimana makna tersebut menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;"><br />
</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Masyarakat di Bali sudah tidak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) jenis penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan. Merupakan bagian dari upacara keagamaan, misalnya upacara galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;"><br />
</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang dapat diberikan arti sebagai, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda sehingga menjadi kata, “Penyor” yang mengandung maksud dan pengertian, ”Sebagai Sarana Untuk Melaksanakan Pengastawa”.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;"><a href="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/05/penjor.jpg"><img class="size-full wp-image-321 alignright" style="border:8px solid black;margin:10px;" title="penjor" src="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/05/penjor.jpg?w=655" alt=""   /></a></span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;"><br />
</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Tujuan pemasangan penjor adalah sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil-wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat relegius, yaitu mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya.</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;"><br />
</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu juga, penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan adalah merupakan bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung, serta dilengkapi dengan jajan, tebu dan uang.</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa. </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">- Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;"><br />
</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut :</span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;"> “Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting (IB. PT. Sudarsana, 61; 03) </span></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">WHD No. 478 Nopember 2006.</span></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-weight:normal;">sumber : <a href="http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=96" target="_blank">Parisada Hindhu Dharma Indonesia</a></span></div>
</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Penjor</strong><br />
Pada zaman dahulu penjor dipasang kalau ada upacara keagamaan. Seperti yang sudah diketahui, ada bermacam-macam jenis penjor, antara lain penjor caru, penjor biukukung, penjor Galungan, dan sebagainya. Yang paling banyak digunakan karena mempunyai dekorasi yang indah dan beragam adalah penjor Galungan.<br />
Akhir-akhir ini setiap upacara apa saja yang dibuat, mulai dari pembukaan penataran, penyambutan tamu, hari ulang tahun kemerdekaan, peresmian suatu kantor, dan sebagainya, tidak pernah ketinggalan memakai penjor sebagai hiasan.<br />
Dalam lontar Jayakasunu disebutkan bahwa penjor itu melambangkan Gunung Agung. Di dalam lontar Basuki Stawa disebutkan bahwa gunung (giri) adalah naga raja, yang tidak lain adalah Naga Basuki. Dalam mitologi, dasar Gunung Agung dikenal sebagai linggih Sang Hyang Naga Basuki. Dari kata Basuki inilah timbul nama Besakih. Dikatakan bahwa ekor naga itu ada di puncaknya gunung dan kepalanya terletak di laut. Dari ekornya inilah Sang Hyang Naga Basuki memberikan penghidupan kepada manusia.<br />
Sementara dalam lontar Samudra Stawa disebutkan bahwa lautan adalah naga raja. Demikian pula dalam Ananta Bhoga Stawa, dimana beliau dikatakan memikul alam kita ini. Sang Hyang Ananta Bhoga yang tidak lain adalah lapisan kulit bumi, merupakan tempat terdapatnya bhoga (sandang, pangan, papan) yang tidak habis-habisnya. Dalam mitologi yang ada di masyarakat, dikenal pula bahwa Bedawang Nala dililit oleh naga, dan apabila Bedawang Nala ini sampai bergerak dan naga yang melilitnya terlena, maka terjadilah gempa.<br />
Dalam lontar Siwagama, Sang Hyang Trimurti, dalam usaha beliau membantu manusia, agar tanah, air, dan udara ini memberi kesejahteraan, maka Bhatara Brahma masuk ke bumi menjadi Ananta Bhoga, Bhatara Wisnu terjun ke air menjadi Naga Basuki, dan Bhatara Siwa terbang ke udara menjadi Naga Taksaka. Sebab itulah Naga Taksaka selalu dilukiskan memakai sayap. Naga Basuki, dalam Basuki Stawa dilukiskan bahwa ekornya berada di puncaak gunung dan kepalanya di laut, yang merupakan simbol bahwa gunung adalah waduk penyimpanan air yang kemudian menjadi sungai dan akhirnya bermuara di laut.<br />
Itulah mitologi dari penjor Galungan yang dihias sedemikian rupa, merupakan simbol naga. Sanggah yang ditempatkan pada bambu penjor memakai pelepah kelapa adalah simbol leher dan kepala Naga Taksaka. Gembrong yang dibuat dari janur atau ambu menggambarkan rambut naga. Sampian penjor dengan porosannya, yang berbentuk melengkung, adalah ekor Naga Basuki (simbol gunung). Sementara hiasan penjor yang terdiri dari gantung-gantungan padi, ketela, jagung, kain, dan sebagainya, adalah simbol bulu Naga Ananta Bhoga sebagai tempat tumbuhnya sandang dan pangan.<br />
Fungsi penjor ini adalah sebagai ucapan terima kasih ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mengutus Sang Hyang Tri Murrti untuk menolong umat manusia dari kelaparan dan bencana. Penjor upacara dengan tanda-tanda lengkap seperti di atas tidak boleh digunakan kecuali untuk upacara. Sedangkan pepenjoran (penjor hiasan) hendaknya jangan memakai gantung-gantungan hasil bumi, sanggah, dan sampian penjor yang berisi porosan.</div>
<div style="text-align:right;">
<span style="color:#888888;">sumber : http://baliblide.blogspot.com/2008/08/penjor.html</span></p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>, <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/category/upacara/'>upacara</a> Tagged: <a href='http://kawulawisuda.wordpress.com/tag/galungan-lan-kuningan-2010/'>galungan lan kuningan 2010</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawulawisuda.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawulawisuda.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawulawisuda.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawulawisuda.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kawulawisuda.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kawulawisuda.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kawulawisuda.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kawulawisuda.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawulawisuda.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawulawisuda.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawulawisuda.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawulawisuda.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawulawisuda.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawulawisuda.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawulawisuda.wordpress.com&amp;blog=5138860&amp;post=313&amp;subd=kawulawisuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawulawisuda.wordpress.com/2010/05/11/penjor-galungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">pung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawulawisuda.files.wordpress.com/2010/05/penjor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">penjor</media:title>
		</media:content>
	</item>
	<media:rating>nonadult</media:rating></channel>
</rss>

