<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Sumber Ilmu Berwirausaha</title><description>Dapatkan tips-tips berwirausaha yang baik dan peluang-peluang usaha sekarang</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 15:18:54 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">69</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://kuncikarir.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Dapatkan Tips Untuk Menjalani Hidup Kearah Yang Lebih Baik Dengan Berwirausaha</itunes:subtitle><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="History"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>TERNAK AYAM BURAS</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/ternak-ayam-buras.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 16:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-8605742888931979733</guid><description>BIBIT&lt;br /&gt;
Ciri-ciri bibit yang baik :&lt;br /&gt;
a. Ayam jantan&lt;br /&gt;
- Badan kuat dan panjang.&lt;br /&gt;
- Tulang supit rapat.&lt;br /&gt;
- Sayap kuat dan bulu-bulunya teratur rapih.&lt;br /&gt;
- Paruh bersih.&lt;br /&gt;
- Mata jernih.&lt;br /&gt;
- Kaki dan kuku bersih, sisik-sisik teratur.&lt;br /&gt;
- Terdapat taji.&lt;br /&gt;
b. Ayam betina (petelur) yang baik&lt;br /&gt;
- Kepala halus.&lt;br /&gt;
- Matanya terang/jernih.&lt;br /&gt;
- Mukanya sedang (tidak terlalu lebar).&lt;br /&gt;
- Paruh pendek dan kuat.&lt;br /&gt;
- Jengger dan pial halus.&lt;br /&gt;
- Badannya cukup besar dan perutnya luas.&lt;br /&gt;
- Jarak antara tulang dada dan tulang belakang ± 4 jari.&lt;br /&gt;
- Jarak antara tulang pubis ± 3 jari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEMELIHARAAN&lt;br /&gt;
Ada 3 (tiga) sistem pemeliharaan :&lt;br /&gt;
a. Ekstensif (pemeliharaan secara tradisional = ayam dilepas dan mencari&lt;br /&gt;
pakan sendiri).&lt;br /&gt;
b. Semi intensif (ayam kadang-kadang diberi pakan tambahan).&lt;br /&gt;
c. Intensif (ayam dikandangkan dan diberi pakan).&lt;br /&gt;
Apabila dibedakan dari umurnya, ada beberapa macam pemeliharaan, yaitu :&lt;br /&gt;
a. Pemeliharaan anak ayam (starter) : 0 - 6 minggu, dimana anak ayam&lt;br /&gt;
sepenuhnya diserahkan kepada induk atau induk buatan.&lt;br /&gt;
b. Pemeliharaan ayam dara (grower) : 6 - 20 minggu.&lt;br /&gt;
c. Pemeliharaan masa bertelur (layer) : 21 minggu sampai afkir (± 2 tahun).&lt;br /&gt;
Untuk memperoleh telur tetas yang baik, diperlukan 1 (satu) ekor pejantan&lt;br /&gt;
melayani 9 (sembilan) ekor betina, sedangkan untuk menghasilkan telur&lt;br /&gt;
konsumsi, pejantan tidak diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERKANDANGAN&lt;br /&gt;
Fungsi kandang yaitu :&lt;br /&gt;
a. Untuk tempat berteduh dari panas dan hujan.&lt;br /&gt;
b. Sebagai tempat bermalam.&lt;br /&gt;
c. Untuk memudahkan tata laksana.&lt;br /&gt;
Syarat kandang yang baik, yaitu :&lt;br /&gt;
a. Cukup mendapat sinar matahari.&lt;br /&gt;
b. Cukup mendapat angin atau udara segar.&lt;br /&gt;
c. Jauh dari kediaman rumah sendiri.&lt;br /&gt;
d. Bersih.&lt;br /&gt;
e. Sesuai kebutuhan (umur dan keadannya).&lt;br /&gt;
f. Kepadatan yang sesuai.&lt;br /&gt;
g. Kandang dibuat dari bahan yang murah, mudah didapat dan tahan lama.&lt;br /&gt;
Kepadatan kandang :&lt;br /&gt;
a. Anak ayam beserta induk : 1 - 2 m2 untuk 20 - 25 ekor anak ayam dan 1 - 2&lt;br /&gt;
induk.&lt;br /&gt;
b. Ayam dara 1 m2 untuk 14 - 16 ekor.&lt;br /&gt;
c. Ayam masa bertelur, 1 - 2 m2 untuk 6 ekor dan pejantan 1 ekor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PAKAN&lt;br /&gt;
Zat-zat makanan yang dibutuhkan terdiri dari : protein, energi, vitamin, mineral&lt;br /&gt;
dan air. Adapun konsumsi pakan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
- Anak ayam dara 15 gram/hari&lt;br /&gt;
- Minggu I-III 30 gram/hari&lt;br /&gt;
- Minggu III-V 60 gram/hari&lt;br /&gt;
- Minggu VI sampai menjelang bertelur 80 gram/hari&lt;br /&gt;
- Induk 100 gram/hari&lt;br /&gt;
Pemberian pakan adalah sehari dua kali, yaitu pagi dan sore, sedangkan air&lt;br /&gt;
minum diberikan setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENYAKIT DAN PENCEGAHAN&lt;br /&gt;
1) ND = Necastle Desease = Tetelo&lt;br /&gt;
Pencegahan: lakukan vaksinasi ND secara teratur pada umur 4 hari, 4&lt;br /&gt;
minggu dan 4 bulan diulangi lagi setiap 4 bulan sekali.&lt;br /&gt;
2) Cacingan&lt;br /&gt;
Pencegahan : hindarkan pemeliharaan tradisional.&lt;br /&gt;
3) CRD (pernafasan)&lt;br /&gt;
Pengobatan : Chlortetacyclin (dosis 100-200 gr/ton ransum) atau tylosin&lt;br /&gt;
(dosis 800 -1000 gr/ton ransum).&lt;br /&gt;
4) Berak Darah&lt;br /&gt;
Pengobatan : Prepara Sulfa atau anyrolium dilarutkan dalam air minum,&lt;br /&gt;
dosis 0,012 -0,024% untuk 3 - 5 hari.&lt;br /&gt;
5) Pilek&lt;br /&gt;
Pengobatan : sulfadimetoxine 0,05% dilarutkan dalam air minum selama 5 -&lt;br /&gt;
7 hari.&lt;br /&gt;
6) Cacar&lt;br /&gt;
Pencegahannya : vaksinasi 1 kali setelah lepas induk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:Brosur Intensifikasi Ternak Ayam Buras, Dinas Peternakan, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta (tahun 1996).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA TERNAK KELINCI</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-ternak-kelinci.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 16:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-5881034684632649935</guid><description>Ternak ini semula hewan liar yang sulit dijinakkan. Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dengan tujuan keindahan, bahan pangan dan sebagai hewan&lt;br /&gt;
percobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci&lt;br /&gt;
mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup di&lt;br /&gt;
hampir seluruh dunia.&lt;br /&gt;
Jenis yang umum diternakkan adalah American Chinchilla, Angora, Belgian,&lt;br /&gt;
Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, Himalayan, New&lt;br /&gt;
Zealand Red, White dan Black, Rex Amerika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Penyiapan Sarana dan Perlengkapan&lt;br /&gt;
Fungsi kandang sebagai tempat berkembangbiak dengan suhu ideal 21 derajat&lt;br /&gt;
C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam dan melindungi&lt;br /&gt;
ternak dari predator. Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi&lt;br /&gt;
kandang induk. Untuk induk/kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya,&lt;br /&gt;
kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan&lt;br /&gt;
Kandang anak lepas sapih.&lt;br /&gt;
Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara&lt;br /&gt;
jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup&lt;br /&gt;
untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran&lt;br /&gt;
50x30x45 cm.&lt;br /&gt;
Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:&lt;br /&gt;
1) Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam&lt;br /&gt;
ruangan dan cocok untuk kelinci muda.&lt;br /&gt;
2) Kandang sistem ranch ; dilengkapi dengan halaman pengumbaran.&lt;br /&gt;
3) Kandang battery; mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu&lt;br /&gt;
ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat),&lt;br /&gt;
Pyramidal Battery (susun piramid).&lt;br /&gt;
Perlengkapan kandang yang diperlukan adalah tempat pakan dan minum yang&lt;br /&gt;
tahan pecah dan mudah dibersihkan.&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut.&lt;br /&gt;
Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex&lt;br /&gt;
merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian,&lt;br /&gt;
Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan&lt;br /&gt;
ternak yang cocok dipelihara.&lt;br /&gt;
1) Pemilihan bibit dan calon induk&lt;br /&gt;
Bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot&lt;br /&gt;
badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan&lt;br /&gt;
bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu&lt;br /&gt;
yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi,&lt;br /&gt;
tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam,&lt;br /&gt;
lincah/aktif bergerak.&lt;br /&gt;
2) Perawatan Bibit dan calon induk&lt;br /&gt;
Perawatan bibit menentukan kualitas induk yang baik pula, oleh karena itu&lt;br /&gt;
perawatan utama yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup,&lt;br /&gt;
pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta mencegah kandang dari&lt;br /&gt;
gangguan luar.&lt;br /&gt;
3) Sistem Pemuliabiakan&lt;br /&gt;
Untuk mendapat keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang&lt;br /&gt;
spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu:&lt;br /&gt;
a. In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat&lt;br /&gt;
spesifik misalnya bulu, proporsi daging.&lt;br /&gt;
b. Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih&lt;br /&gt;
baik/menambah sifat-sifat unggul.&lt;br /&gt;
c. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat&lt;br /&gt;
bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan&lt;br /&gt;
perpaduan 2 keunggulan bibit.&lt;br /&gt;
4) Reproduksi dan Perkawinan&lt;br /&gt;
Kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5&lt;br /&gt;
bulan (betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatan terganggu dan dan&lt;br /&gt;
mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya&lt;br /&gt;
kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore&lt;br /&gt;
hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan,&lt;br /&gt;
setelah itu pejantan dipisahkan.&lt;br /&gt;
5) Proses Kelahiran&lt;br /&gt;
Setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari.&lt;br /&gt;
Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina&lt;br /&gt;
12-14 hari setelah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi&lt;br /&gt;
kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang&lt;br /&gt;
beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara&lt;br /&gt;
merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci yang sering terjadi malam hari&lt;br /&gt;
dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak&lt;br /&gt;
yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;
Tempat pemeliharaan diusahakan selalu kering agar tidak jadi sarang&lt;br /&gt;
penyakit. Tempat yang lembab dan basah menyebabkan kelinci mudah pilek&lt;br /&gt;
dan terserang penyakit kulit.&lt;br /&gt;
2) Pengontrolan Penyakit&lt;br /&gt;
Kelinci yang terserang penyakit umumnya punya gejala lesu, nafsu makan&lt;br /&gt;
turun, suhu badan naik dan mata sayu. Bila kelinci menunjukkan hal ini&lt;br /&gt;
segera dikarantinakan dan benda pencemar juga segera disingkirkan untuk&lt;br /&gt;
mencegah wabah penyakit.&lt;br /&gt;
3) Perawatan Ternak&lt;br /&gt;
Penyapihan anak kelinci dilakukan setelah umur 7-8 minggu. Anak sapihan&lt;br /&gt;
ditempatkan kandang tersendiri dengan isi 2-3 ekor/kandang dan disediakan&lt;br /&gt;
pakan yang cukup dan berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu untuk&lt;br /&gt;
mencegah dewasa yang terlalu dini. Pengebirian dapat dilakukan saat&lt;br /&gt;
menjelang dewasa. Umumnya dilakukan pada kelinci jantan dengan&lt;br /&gt;
membuang testisnya.&lt;br /&gt;
4) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;
Jenis pakan yang diberikan meliputi hijauan meliputi rumput lapangan,&lt;br /&gt;
rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi&lt;br /&gt;
dan daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang&lt;br /&gt;
hijau, padi, kacang tanah, sorghum, dedak dan bungkil-bungkilan. Untuk&lt;br /&gt;
memenuhi pakan ini perlu pakan tambahn berupa konsentrat yang dapat&lt;br /&gt;
dibeli di toko pakan ternak.&lt;br /&gt;
Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi&lt;br /&gt;
pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput&lt;br /&gt;
sedikit/secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang&lt;br /&gt;
lebih banyak. Pemberian air minum perlu disediakan di kandang untuk&lt;br /&gt;
mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.&lt;br /&gt;
5) Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;
Lantai/alas kandang, tempat pakan dan minum, sisa pakan dan kotoran kelinci&lt;br /&gt;
setiap hari harus dibersihkan untuk menghindari timbulnya penyakit. Sinar&lt;br /&gt;
matahari pagi harus masuk ke kandang untuk membunuh bibit penyakit.&lt;br /&gt;
Dinding kandang dicat dengan kapur/ter. Kandang bekas kelinci sakit&lt;br /&gt;
dibersihkan dengan kreolin/lysol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
1) Bisul&lt;br /&gt;
Penyebab: terjadinya pengumpulan darah kotor di bawah kulit.&lt;br /&gt;
Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium.&lt;br /&gt;
2) Kudis&lt;br /&gt;
Penyebab: Darcoptes scabiei.&lt;br /&gt;
Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan antibiotik salep.&lt;br /&gt;
3) Eksim&lt;br /&gt;
Penyebab: kotoran yang menempel di kulit.&lt;br /&gt;
Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl.&lt;br /&gt;
4) Penyakit telinga&lt;br /&gt;
Penyebab: kutu.&lt;br /&gt;
Pengendalian: meneteskan minyak nabati.&lt;br /&gt;
5) Penyakit kulit kepala&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur.&lt;br /&gt;
Gejala: timbul semacam sisik pada kepala.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan bubuk belerang.&lt;br /&gt;
6) Penyakit mata&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri dan debu.&lt;br /&gt;
Gejala: mata basah dan berair terus.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan salep mata.&lt;br /&gt;
7) Mastitis&lt;br /&gt;
Penyebab: susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar.&lt;br /&gt;
Gejala: putting mengeras dan panas bila dipegang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan tidak menyapih anak terlalu mendadak.&lt;br /&gt;
8) Pilek&lt;br /&gt;
Penyebab: virus.&lt;br /&gt;
Gejala: hidung berair terus.&lt;br /&gt;
Pengendalian: penyemprotan antiseptik pada hidung.&lt;br /&gt;
9) Radang paru-paru&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.&lt;br /&gt;
Gejala: napas sesak, mata dan telinga kebiruan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: diberi minum Sul-Q-nox.&lt;br /&gt;
10) Berak darah&lt;br /&gt;
Penyebab: protozoa Eimeira.&lt;br /&gt;
Gejala: nafsu makan hilang, tubuh kurus, perut membesar dan mencret darah.&lt;br /&gt;
Pengendalian: diberi minum sulfaquinxalin dosis 12 ml dalam 1 liter air.&lt;br /&gt;
11) Hama pada kelinci umumnya merupakan predator dari kelinci seperti&lt;br /&gt;
anjing.&lt;br /&gt;
Pada umumnya pencegahan dan pengendalianhama dan penyakit dilakukan&lt;br /&gt;
dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang, pemberian pakan yang&lt;br /&gt;
sesuai dan memenuhi gizi dan penyingkiran sesegera mungkin ternak yang&lt;br /&gt;
sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Hasil Utama&lt;br /&gt;
Hasil utama kelinci adalah daging dan bulu&lt;br /&gt;
Hasil Tambahan&lt;br /&gt;
Hasil tambahan berupa kotoran untuk pupuk&lt;br /&gt;
Penangkapan&lt;br /&gt;
Kemudian yang perlu diperhatikan cara memegang kelinci hendaknya yang&lt;br /&gt;
benar agar kelinci tidak kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Stoving&lt;br /&gt;
Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum potong untuk mengosongkan usus.&lt;br /&gt;
Pemberian minum tetap .&lt;br /&gt;
Pemotongan&lt;br /&gt;
Pemotongan dapat dengan 3 cara:&lt;br /&gt;
1) Pemukulan pendahuluan, kelinci dipukul dengan benda tumpul pada kepala&lt;br /&gt;
dan saat koma disembelih.&lt;br /&gt;
2) Pematahan tulang leher, dipatahkan dengan tarikan pada tulang leher. Cara&lt;br /&gt;
ini kurang baik.&lt;br /&gt;
3) Pemotongan biasa, sama seperti memotong ternak lain.&lt;br /&gt;
Pengulitan&lt;br /&gt;
Dilaksanakan mulai dari kaki belakang ke arah kepala dengan posisi kelinci&lt;br /&gt;
digantung.&lt;br /&gt;
Pengeluaran Jeroan&lt;br /&gt;
Kulit perut disayat dari pusar ke ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung dan&lt;br /&gt;
paru-paru dikeluarkan. Yang perlu diperhatikan kandung kemih jangan sampai&lt;br /&gt;
pecah karena dapat mempengaruhi kualitas karkas.&lt;br /&gt;
Pemotongan Karkas&lt;br /&gt;
Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2 potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2&lt;br /&gt;
potong bagian dada dan 2 potong bagian belakang. Presentase karkas yang&lt;br /&gt;
baik 49-52%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA TERNAK JANGKRIK ( Gryllus mitratus Burm )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-ternak-jangkrik-gryllus.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 16:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-4546494050153787504</guid><description>Dewasa ini pada masa krisis ekonomi di Indonesia, budidaya jangkrik&lt;br /&gt;
(Liogryllus Bimaculatus) sangat gencar, begitu juga dengan seminar-seminar&lt;br /&gt;
yang diadakan dibanyak kota. Kegiatan ini banyak dilakukan mengingat waktu&lt;br /&gt;
yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya&lt;br /&gt;
memerlukan waktu 2-4 minggu. Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk&lt;br /&gt;
pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2-3 bulan. Jangkrik betina mempunyai siklus hidup 3 bulan, sedangkan jantan kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu&lt;br /&gt;
memproduksi lebih dari 500 butir telur.&lt;br /&gt;
Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.&lt;br /&gt;
Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.&lt;br /&gt;
Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk&lt;br /&gt;
pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
1) Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang&lt;br /&gt;
baik.&lt;br /&gt;
2) Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
3) Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
Karena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran.&lt;br /&gt;
Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding&lt;br /&gt;
kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang.&lt;br /&gt;
Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk&lt;br /&gt;
memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan&lt;br /&gt;
kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang&lt;br /&gt;
baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik&lt;br /&gt;
tiap kandang. Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman&lt;br /&gt;
peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan&lt;br /&gt;
ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm.&lt;br /&gt;
Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk&lt;br /&gt;
mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang&lt;br /&gt;
biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal&lt;br /&gt;
empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut,&lt;br /&gt;
tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi&lt;br /&gt;
mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang&lt;br /&gt;
dilumurkan ditiap kaki penyangga.&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak&lt;br /&gt;
cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk&lt;br /&gt;
jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam&lt;br /&gt;
bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun&lt;br /&gt;
induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat&lt;br /&gt;
dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas,&lt;br /&gt;
karena lebih agresif.&lt;br /&gt;
Adapun ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai&lt;br /&gt;
berikut:&lt;br /&gt;
a. Indukan:&lt;br /&gt;
- sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.&lt;br /&gt;
- kedua kaki belakangnya masih lengkap.&lt;br /&gt;
- bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.&lt;br /&gt;
- badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.&lt;br /&gt;
- pilihlah induk yang besar.&lt;br /&gt;
- dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan&lt;br /&gt;
duburnya apabila dipegang.&lt;br /&gt;
b. Induk jantan:&lt;br /&gt;
- selalu mengeluarkan suara mengerik.&lt;br /&gt;
- permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.&lt;br /&gt;
- tidak mempunyai ovipositor di ekor.&lt;br /&gt;
- Induk betina:&lt;br /&gt;
- tidak mengerik.&lt;br /&gt;
- permukaan punggung atau sayap halus.&lt;br /&gt;
- ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.&lt;br /&gt;
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur&lt;br /&gt;
10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena&lt;br /&gt;
pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka&lt;br /&gt;
anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain&lt;br /&gt;
itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu,&lt;br /&gt;
semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari&lt;br /&gt;
jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa&lt;br /&gt;
diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan&lt;br /&gt;
bergantian setiap hari.&lt;br /&gt;
3) Sistem Pemuliabiakan&lt;br /&gt;
Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan&lt;br /&gt;
mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada&lt;br /&gt;
yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara&lt;br /&gt;
caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh&lt;br /&gt;
tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.&lt;br /&gt;
4) Reproduksi dan Perkawinan&lt;br /&gt;
Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi 80-90 % apabila&lt;br /&gt;
diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuanramuan&lt;br /&gt;
yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul&lt;br /&gt;
jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang&lt;br /&gt;
ditambah dengan vitamin.&lt;br /&gt;
Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas,&lt;br /&gt;
dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi&lt;br /&gt;
daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan&lt;br /&gt;
kayu.&lt;br /&gt;
Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam&lt;br /&gt;
kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring&lt;br /&gt;
kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang&lt;br /&gt;
daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari,&lt;br /&gt;
maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian&lt;br /&gt;
kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik&lt;br /&gt;
(cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran&lt;br /&gt;
secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata&lt;br /&gt;
matangnya (daya tetas).&lt;br /&gt;
5) Proses kelahiran&lt;br /&gt;
Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang&lt;br /&gt;
permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang&lt;br /&gt;
lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana&lt;br /&gt;
satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur.&lt;br /&gt;
Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening&lt;br /&gt;
sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot&lt;br /&gt;
telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur.&lt;br /&gt;
Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa dalam pengelolaan peternakan jangkrik&lt;br /&gt;
ini sanitasi merupakan masalah yang sangat penting. Untuk menghindari&lt;br /&gt;
adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka&lt;br /&gt;
sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang&lt;br /&gt;
dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah&lt;br /&gt;
gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing&lt;br /&gt;
dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air.&lt;br /&gt;
2) Pengontrolan Penyakit&lt;br /&gt;
Untuk pembesaran jangkrikn dipilih jangkrik yang sehat dan dipisahkan dari&lt;br /&gt;
yang sakit. Pakan ternak harus dijaga agar jangan sampai ada yang&lt;br /&gt;
berjamur karena dapat menjadi sarang penyakit. Kandang dijaga agar tetap&lt;br /&gt;
lembab tetapi tidak basah, karena kandang yang basah juga dapat&lt;br /&gt;
menyebabkan timbulnya penyakit.&lt;br /&gt;
3) Perawatan Ternak&lt;br /&gt;
Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama&lt;br /&gt;
dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah&lt;br /&gt;
pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal).&lt;br /&gt;
4) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;
Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat&lt;br /&gt;
darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah&lt;br /&gt;
vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung&lt;br /&gt;
muda dan gambas.&lt;br /&gt;
Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain :&lt;br /&gt;
sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun&lt;br /&gt;
karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan&lt;br /&gt;
untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan&lt;br /&gt;
hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan&lt;br /&gt;
dicampur menjadi satu.&lt;br /&gt;
5) Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;
Air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali&lt;br /&gt;
dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya&lt;br /&gt;
jangan sampai masuk kedalam kandang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Penyakit, Hama dan Penyebabnya&lt;br /&gt;
Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik.&lt;br /&gt;
Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan&lt;br /&gt;
hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil,&lt;br /&gt;
tikus, cicak, katak dan ular.&lt;br /&gt;
Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;
Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat&lt;br /&gt;
berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik&lt;br /&gt;
dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak&lt;br /&gt;
tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.&lt;br /&gt;
Pemberian Vaksinasi dan Obat&lt;br /&gt;
Untuk saat ini karena hama dan penyakit dapat diatasi secara prefentif, maka&lt;br /&gt;
penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat dan vaksinasi tidak diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Hasil Utama&lt;br /&gt;
Peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai&lt;br /&gt;
ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik.&lt;br /&gt;
Penangkapan&lt;br /&gt;
Telur yang sudah diletakkan oleh induknya pada media pasir atau tanah,&lt;br /&gt;
disaring dan ditempatkan pada media kain yang basah. Untuk setiap lipatan&lt;br /&gt;
kain basah dapat ditempatkan 1 sendok teh telur yang kemudian untuk diperjual belikan.&lt;br /&gt;
Sedangkan untuk jangkrik dewasa umur 40-55 hari atau 55-70 hari dimana&lt;br /&gt;
tubuhnya baru mulai tumbuh sayap, ditangkap dengan menggunakan tangan&lt;br /&gt;
dan dimasukkan ketempat penampungan untuk dijual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS&lt;br /&gt;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829&lt;br /&gt;
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan&lt;br /&gt;
dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8,&lt;br /&gt;
Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,&lt;br /&gt;
Situs Web: http://www.ristek.go.id&lt;br /&gt;
Jakarta, Maret 2000&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA TERNAK I T I K ( Anas spp. )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-ternak-i-t-i-k-anas-spp.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 16:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-357898574132712907</guid><description>Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
JENIS&lt;br /&gt;
Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga)&lt;br /&gt;
golongan, yaitu:&lt;br /&gt;
1) Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;&lt;br /&gt;
2) Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga; (3). Itik&lt;br /&gt;
ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call),&lt;br /&gt;
Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.&lt;br /&gt;
Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik&lt;br /&gt;
petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi&lt;br /&gt;
jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
1) Persyaratan temperatur kandang 39 derajat C.&lt;br /&gt;
2) Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%&lt;br /&gt;
3) Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang&lt;br /&gt;
agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang&lt;br /&gt;
4) Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:&lt;br /&gt;
a. kandang untuk anak itik (DOD) oada masa stater bisa disebut juga&lt;br /&gt;
kandang box, dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD&lt;br /&gt;
b. kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang&lt;br /&gt;
kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok&lt;br /&gt;
c. kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang&lt;br /&gt;
baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang&lt;br /&gt;
lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik&lt;br /&gt;
dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran&lt;br /&gt;
kandang 3 x 2 meter).&lt;br /&gt;
5) Kondisi kandang dan perlengkapannya&lt;br /&gt;
Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana&lt;br /&gt;
asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan,&lt;br /&gt;
tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud&lt;br /&gt;
positif dalam managemen&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang&lt;br /&gt;
telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.&lt;br /&gt;
1) Pemilihan bibit dan calon induk&lt;br /&gt;
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik&lt;br /&gt;
adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a. membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya&lt;br /&gt;
b. memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk&lt;br /&gt;
mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam&lt;br /&gt;
atau mesin tetas&lt;br /&gt;
c. membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal&lt;br /&gt;
mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas&lt;br /&gt;
peternakan setempat.Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit)&lt;br /&gt;
dengan warna bulu kuning mengkilap.&lt;br /&gt;
2) Perawatan bibit dan calon induk&lt;br /&gt;
a. Perawatan Bibit&lt;br /&gt;
Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani&lt;br /&gt;
secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai&lt;br /&gt;
berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan)&lt;br /&gt;
yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan&lt;br /&gt;
dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik&lt;br /&gt;
tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2&lt;br /&gt;
mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum&lt;br /&gt;
sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan&lt;br /&gt;
minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.&lt;br /&gt;
b. Perawatan calon Induk&lt;br /&gt;
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi&lt;br /&gt;
dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja,&lt;br /&gt;
perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada&lt;br /&gt;
pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.&lt;br /&gt;
3) Reproduksi dan Perkawinan&lt;br /&gt;
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur&lt;br /&gt;
tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem&lt;br /&gt;
perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang&lt;br /&gt;
dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;
Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan&lt;br /&gt;
preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk&lt;br /&gt;
mewaspadai timbulnya penyakit.&lt;br /&gt;
2) Pengontrol Penyakit&lt;br /&gt;
Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan&lt;br /&gt;
tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.&lt;br /&gt;
3) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;
Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–8&lt;br /&gt;
minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27&lt;br /&gt;
minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara&lt;br /&gt;
praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi pakan tersebut&lt;br /&gt;
terbagi dalam empat kelompok yaitu:&lt;br /&gt;
a. umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)&lt;br /&gt;
b. umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai&lt;br /&gt;
c. umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.&lt;br /&gt;
d. umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara&lt;br /&gt;
pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur&lt;br /&gt;
sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara&lt;br /&gt;
ad libitum (terus menerus).&lt;br /&gt;
Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik&lt;br /&gt;
tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung,&lt;br /&gt;
bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen&lt;br /&gt;
Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :&lt;br /&gt;
a. umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan&lt;br /&gt;
mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.&lt;br /&gt;
b. umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan&lt;br /&gt;
secara ad libitum (terus menerus)&lt;br /&gt;
c. umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan&lt;br /&gt;
ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari&lt;br /&gt;
dibersihkan.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar&lt;br /&gt;
produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:&lt;br /&gt;
1) penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan&lt;br /&gt;
protozoa&lt;br /&gt;
2) penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana&lt;br /&gt;
perkandangan yang kurang tepat&lt;br /&gt;
Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:&lt;br /&gt;
1) Penyakit Duck Cholera&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida. Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning&lt;br /&gt;
kehijauan. Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan&lt;br /&gt;
penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.&lt;br /&gt;
2) Penyakit Salmonellosis&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri typhimurium.Gejala: pernafasan sesak, mencret.&lt;br /&gt;
Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui&lt;br /&gt;
pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur&lt;br /&gt;
air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Hasil Utama&lt;br /&gt;
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik&lt;br /&gt;
Hasil Tambahan&lt;br /&gt;
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran&lt;br /&gt;
ternak sebagai pupuk tanam yang berharga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan&lt;br /&gt;
pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak&lt;br /&gt;
dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk. Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:&lt;br /&gt;
a) Pengawetan dengan air hangat&lt;br /&gt;
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling&lt;br /&gt;
sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.&lt;br /&gt;
b) Pengawetan telur dengan daun jambu biji&lt;br /&gt;
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur&lt;br /&gt;
selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna&lt;br /&gt;
menjadi kecoklatan seperti telur pindang.&lt;br /&gt;
c) Pengawetan telur dengan minyak kelapa&lt;br /&gt;
Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna&lt;br /&gt;
kulit telur dan rasanya tidak berubah.&lt;br /&gt;
d) Pengawetan telur dengan natrium silikat&lt;br /&gt;
Bahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna,&lt;br /&gt;
jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur&lt;br /&gt;
sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya&lt;br /&gt;
adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama&lt;br /&gt;
satu bulan.&lt;br /&gt;
e) Pengawetan telur dengan garam dapur&lt;br /&gt;
Garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25-&lt;br /&gt;
40% selama 3 minggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pasang iklan baris gratis</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/iklan-baris-gratis-pasang-iklan-baris.html</link><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-8150824487709971701</guid><description>&lt;a href="http://www.98-iklanGratis.com"&gt;Iklan Baris Gratis&lt;/a&gt; - Pasang iklan baris Gratis tanpa daftar langsung tampil&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA KODOK</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-kodok.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:25:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-7060773311447955680</guid><description>Kodok tergolong dalam ordo Anura, yaitu golongan amfibi tanpa ekor. Pada ordo Anura terdapat lebih dari 250 genus yang terdiri dari 2600 spesies.&lt;br /&gt;
Di Indonesia ada 4 jenis kodok asli Indonesia yaitu:&lt;br /&gt;
1) Rana Macrodon (kodok hijau), yang berwarna hijau dan dihiasi totol-totol coklat kehijauan dan tumbuh mencapai 15 cm.&lt;br /&gt;
2) Rana Cancrivora (kodok sawah ), hidup di sawah-sawah dan badannya dapat mencapai 10 cm, badan berbercak coklat dibadannya.&lt;br /&gt;
3) Rana Limnocharis (kodok rawa), mempunyai daging yang rasanya paling&lt;br /&gt;
enak, ukurannya hanya 8 cm.&lt;br /&gt;
4) Rana Musholini (kodok batu/raksasa). Hanya terdapat di Sumatera, terutama&lt;br /&gt;
Sumatera Barat. mencapai berat 1.5 kg. Dan panjang mencapai 22 cm.&lt;br /&gt;
Daging kodok adalah sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya.&lt;br /&gt;
Limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam. Kulit kodok yang telah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok. Kepala kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Daging kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
1) Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok adalah 1600 dpl.&lt;br /&gt;
2) Tanah tidak terlalu miring namun dan tidak terlalu datar, kemiringan ideal 1- 5%, artinya dalam jarak 100 m jarak kemiringan antara ujung-ujungnya 1-5 m.&lt;br /&gt;
3) Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur tersedia sepanjang masa. Air&lt;br /&gt;
yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.&lt;br /&gt;
4) Kodok bisa hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat C. Suhu saat penetasan&lt;br /&gt;
telur ialah anata 24–27 derajat C, dengan kelembaban 60–65%.&lt;br /&gt;
5) Air mengandung oksigen sekitar 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm.&lt;br /&gt;
Karbondioksida terlarut tidak lebih dari 25 ppm.&lt;br /&gt;
6) Dekat dengan sumber air dan diusahakan air bisa masuk dan keluar dengan&lt;br /&gt;
lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Persiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
1) Kolam&lt;br /&gt;
Dalam proses pembuatan kolam, tidak boleh hanya menggali atau&lt;br /&gt;
menimbun saja melainkan harus menggabungkan keduanya sehingga akan&lt;br /&gt;
mendapatkan bentuk dan konstruksi kolam yang ideal.&lt;br /&gt;
Untuk memasukkan air ke dalam kolam diperlukan saluran yang&lt;br /&gt;
konstruksinya dibuat dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat&lt;br /&gt;
dengan semen dan pasir. Bentuk dari saluran ini biasanya trapesium terbalik&lt;br /&gt;
dan pada beberapa tempat pemasukan air ke kolam dibuat kobakan kecil&lt;br /&gt;
untuk menjebak air agar mudah masuk kedalam kolam-kolam.&lt;br /&gt;
Kolam yang diperlukan antara lain: kolam perawatan kodok, kolam&lt;br /&gt;
penampungan induk sebelum dikawinkan, kolam pemijahan, kolam&lt;br /&gt;
penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam&lt;br /&gt;
pembesaran kodok remaja. Kebutuhan kolam ini masih ditambah dengan&lt;br /&gt;
kolam pemeliharaan calon induk.&lt;br /&gt;
a. Kolam Perawatan Kodok&lt;br /&gt;
Luasnya 15 meter persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding&lt;br /&gt;
tembok 0,40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat&lt;br /&gt;
dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi&lt;br /&gt;
10-15 cm dan 1/3 bagian kering.&lt;br /&gt;
b. Kolam Pemijahan.&lt;br /&gt;
Kolam dibuat dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman&lt;br /&gt;
air di kolam ini sekitar 0,30–0,40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan.&lt;br /&gt;
Padat pemeliharaan 15 ekor setiap meter perseginya, dengan&lt;br /&gt;
perbandingan tiga betina dan satu jantan.&lt;br /&gt;
Supaya lebih nyaman, sebaiknya lantai daratan tengah tidak berlumpur,&lt;br /&gt;
dan kolam ditanami enceng gondok. sediakan makanan berupa ikan&lt;br /&gt;
kecil, ketam dan bekicot Masa kawin ditandai dengan suara merdu. Tak&lt;br /&gt;
lama kemudian, telur mereka mengambang di air kolam dan segera&lt;br /&gt;
dipindahkan ke kolam penetasan.&lt;br /&gt;
c. Kolam Penetasan&lt;br /&gt;
Kolam penetasan dibuat beberapa buah, dari tembok dengan air sedalam&lt;br /&gt;
30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. Luas kolam&lt;br /&gt;
seluruhnya 10 m2 .&lt;br /&gt;
d. Kolam Kecebong&lt;br /&gt;
Terdiri dari beberapa kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5&lt;br /&gt;
m2–6 m2, dengan dasar lantai terbuat dari semen.&lt;br /&gt;
e. Kolam Kodok Muda&lt;br /&gt;
Di kolam ini kodok yang dipelihara berumur kurang dari 2 bulan. Dibuat&lt;br /&gt;
beberapa buah dengan masing-masing luasnya 15 m2, dengan dinding&lt;br /&gt;
tembok dan kawat. Lantai miring dengan daerah air 1/3 bagian dengan&lt;br /&gt;
kedalaman 15–35 Cm.&lt;br /&gt;
f. Kolam Kodok Dewasa.&lt;br /&gt;
Pada kolam ini kodok sudah berusia antara 2–6 bulan. Kolam yang&lt;br /&gt;
diperlukan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m2 ,&lt;br /&gt;
dengan konstruksi dasar dan dinidng tembok dan kawat. Kedalaman air&lt;br /&gt;
yang diperlukan antara 30–40 Cm.&lt;br /&gt;
2) Mempersiapkan Kolam Produksi&lt;br /&gt;
Bila lantai dasar kolam terbuat dari tanah, dasar kolam diolah dan dicangkulcangkul&lt;br /&gt;
dan ditebari pupuk sampai dianggap siap huni. Kolam dibiarkan dulu&lt;br /&gt;
tidak terpakai selama sebulan. Selama itu kolam dimasukkan air, didiamkan&lt;br /&gt;
dan dikeluarkan berulang-ulang. Persiapkan alat-alat untuk membuat hujan&lt;br /&gt;
buatan, baik dari drum bekas maupun dengan menggunakan springkel&lt;br /&gt;
karena untuk proses perkawinan kodok biasanya terjadi pada masa&lt;br /&gt;
penghujan.&lt;br /&gt;
Sebaiknya kolam ditanami teratai, eceng gondok, genjer dan ganggang yang&lt;br /&gt;
berfungsi untuk tempat biang kodok bercumbu rayu dan menempelkan&lt;br /&gt;
telurnya serta meningkatkan kualitas air kolam dan mempertinggi kandungan&lt;br /&gt;
oksigen.&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Untuk pembudidayaan kodok yang banyak dicari adalah dari jenis kodok&lt;br /&gt;
banteng Amerika (Bull frog), diamping rasanya enak juga beratnya bisa sampai&lt;br /&gt;
1,5 kg. Bisa juga jenis kodok batu dari Sumatera Barat yang sampai saat ini&lt;br /&gt;
belum dibudidayakan secara optimal, karena masyarakat masih mengambilnya&lt;br /&gt;
dari alam.&lt;br /&gt;
Adapun syarat ternak yang baik adalah bibit dipilih yang sehat dan matang&lt;br /&gt;
kelamin. Sehat, tidak cacat, kaki tidak bengkok dan normal kedudukannya,&lt;br /&gt;
serta gaya berenang seimbang. Pastikan kaki kodok tidak mengidap penyakit&lt;br /&gt;
kaki merah ( red legs ).&lt;br /&gt;
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Pilihlah kodok yang sehat dan berukuran besar. Disamping itu perhatikan&lt;br /&gt;
juga tanda-tanda kelamin sekundernya. Pisahkan induk berdasarkan jenis&lt;br /&gt;
kelaminnya. Pemisahan dilakukan sekitar 1–2 hari dimaksudkan untuk lebih&lt;br /&gt;
merangsang nafsu diantara mereka apabila saatnya mereka dipertemukan.&lt;br /&gt;
Untuk induk-induk yang hendak dikawinkan sebaiknya diberikan makanan&lt;br /&gt;
cincangan daging bekicot yang masih segar dan makanan buatan lainnya.&lt;br /&gt;
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Induk jantan dan betina berumur 4 bulan disuntik perangsang pertumbuhan&lt;br /&gt;
Gonadotropin intramuskular dengan dosis 200-250 IU/ekor/bulan.&lt;br /&gt;
3) Sistem Pemijahan&lt;br /&gt;
a. Secara Alami&lt;br /&gt;
Induk jantan dan betina yang telah dipisah selama 1-2 hari disatukan di&lt;br /&gt;
kolam pemijahan. Ikan liar dapat mengganggu hasil pemijahan.&lt;br /&gt;
Perhatikan agar telur kodok tidak ikut terbuang air pembuangan. Di sore&lt;br /&gt;
atau pagi hari pada saat suhu mulai menurun, barulah kita perlu&lt;br /&gt;
membantu kelancaran proses pemijahan, yaitu dengan membuat hujan&lt;br /&gt;
buatan.&lt;br /&gt;
b. Sistem Hipofisasi&lt;br /&gt;
Cara mutakhir untuk memijahkan kodok adalah dengan cara sistem kawin&lt;br /&gt;
suntik menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok&lt;br /&gt;
agar kawin sesuai waktu yang kita inginkan. Dengan sistem ini kita bisa&lt;br /&gt;
mengintensifkan pembenihan, mengurangi kematian, merawat telur-telur&lt;br /&gt;
kodok yang telah dibuahi dalam tempat tersendiri, memberi jaminan&lt;br /&gt;
bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma seluruhnya dan tidak&lt;br /&gt;
memerlukan hujan buatan.&lt;br /&gt;
Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut&lt;br /&gt;
dan bagian kepala. cara penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.&lt;br /&gt;
4) Reproduksi dan Perkawinan&lt;br /&gt;
Kodok yang hendak disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air&lt;br /&gt;
dan ditutup dengan kawat kasa untuk memudahkan penangkapan. kodokkodok&lt;br /&gt;
tersebut telah cukup umur dan dalam keadaan matang telur. Saat&lt;br /&gt;
penyuntikan kodok dibalut dengan kain hapa agar tidak meronta.&lt;br /&gt;
Kodok yang telah disuntik kemudian dilepas dalam akuarium lain dan&lt;br /&gt;
dipantau setiap jam. Setelah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali agar&lt;br /&gt;
mereka mampu bertelur seluruhnya. Setelah yang betina 2 kali disuntik dan&lt;br /&gt;
menunjukkan akan bertelur, maka kita mempersiapkan testis dari induk&lt;br /&gt;
jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan cara memotongnya dengan&lt;br /&gt;
jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang sudah diisi&lt;br /&gt;
dengan air kolam yang bersih. Setelah air dalam cawan menjadi keruh dan&lt;br /&gt;
testis sudah kosong, maka cairan testis dibiarkan selama 10 menit dalam&lt;br /&gt;
suhu ruangan. Jika sperma aktif (dapat kita lihat dibawah mikroskop), maka&lt;br /&gt;
kodok betina bertelur diurut perutnya agar telurnya keluar. Telur diusahakan&lt;br /&gt;
jatuh di atas cairan sperma, lalu digoyang-goyangkan dan biarkan selama&lt;br /&gt;
beberapa menit. Telur yang mengalami pembuahan akan mengalami rotasi.&lt;br /&gt;
Telur kemudian ditetaskan dan airnya diganti setiap hari dengan menjaga&lt;br /&gt;
suhu pada kisaran 24-27 derajat C dan pH air juga diamati.&lt;br /&gt;
Pada sistem secara alamiah, digunakan hujan buatan untuk merangsang&lt;br /&gt;
proses perkawinan kodok, sebagaimana dijelaskan diatas.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
Pemeliharaan dilakukan pada setiap tahap pertumbuhan kodok, Pertumbuhan&lt;br /&gt;
dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan tempat&lt;br /&gt;
tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali sehari, air di kolam diganti dan&lt;br /&gt;
dibersihkan seminggu sekali.&lt;br /&gt;
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;
Telur yang sudah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam&lt;br /&gt;
dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum digunakan. Telur harus&lt;br /&gt;
dipisahkan dari induknya sehingga telur tidak terganggu proses&lt;br /&gt;
penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan&lt;br /&gt;
sampai pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas setelah&lt;br /&gt;
48–72 jam pada suhu air 24–27 derajat C. Bila sudah menetas dipelihara&lt;br /&gt;
pada kolam yang sama selama 10 hari.&lt;br /&gt;
2) Perawatan Ternak&lt;br /&gt;
Kodok muda yang telah mengalami metamorphose ditempatkan pada kolam&lt;br /&gt;
permanen. Pemasukan dan pengeluaran air harus diberi penyaring untuk&lt;br /&gt;
menghindari hama dan mencegah kodok lepas ke peraiaran umum. Padat&lt;br /&gt;
penebaran 50-100 ekor/m2. Bila kita memelihara jenis kodok banteng yang&lt;br /&gt;
tidak suka makanan yang tidak bergerak, makanan harus diletakkan dibawah&lt;br /&gt;
aliran air/pancuran. Setelah berumur 3 bulan, kodok diseleksi berdasarkan&lt;br /&gt;
kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. Jumlah yang di seleksi 20% dari&lt;br /&gt;
total dan dipindahkan ke kolam calon induk, sedangkan sisanya tetap&lt;br /&gt;
dipelihara sampai masa panen pada umur 4-5 bulan.&lt;br /&gt;
Kodok dewasa (matang gonada) untuk bibit unggul, baik jantan maupun&lt;br /&gt;
betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sebanyak 1 dosis.&lt;br /&gt;
Penyuntikan dilakukan 1 bulan sekali (bila memakai sistem hiphopisa) dan&lt;br /&gt;
padat tanam sebanyak 20-25 ekor/m2.&lt;br /&gt;
3) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;
Terdapat berbagai macam makanan yang dapat diberikan untuk kodok di&lt;br /&gt;
kolam pembesaran persil maupun di kolam pembesaran kodok remaja.&lt;br /&gt;
Makanan percil sampai kodok dewasa berupa cincangan daging bekicot,&lt;br /&gt;
cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan berbagai&lt;br /&gt;
benih ikan serta ketam-ketaman kecil dan lainnya.&lt;br /&gt;
Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan&lt;br /&gt;
kita bisa menyusun sesuai dengan tingkat umur kodok, yang terkadang sulit&lt;br /&gt;
dilakukan apabila kita memberinya makanan yang langsung didapat dari&lt;br /&gt;
alam. Dengan demikian maka problem yang sering dialami seperti ukuran&lt;br /&gt;
makanan lebih besar dari lebar bukaan mulut kodok tidak perlu terjadi lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Penyakit, Hama dan Penyebabnya&lt;br /&gt;
Penyakit kodok umumnya disebabkan oleh serangan jamur dan bakteri. Paha&lt;br /&gt;
kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh adalah penyakit yang menyerang&lt;br /&gt;
kodok yang berumur 1-2 bulan, menular dan menyerang sistem saraf, sehingga&lt;br /&gt;
akan mati dalam beberapa jam.&lt;br /&gt;
Pencegahan Serangan Penyakit dan Hama&lt;br /&gt;
Bakteri bisa menyerang kecebong, gejalanya ekor luka dan berwarna putih.&lt;br /&gt;
Penanggulangannya dengan memisahkan kecebong yang terserang, kolam&lt;br /&gt;
dibersihkan dengan PK, dosis 0,05 gram/ liter 15 hari sekali, jangan&lt;br /&gt;
memberikan makanan yang kandungan proteinnya melebihi dosis 10–15%&lt;br /&gt;
karena perut kodok akan menjadi kembung. Pengobatan dengan antibiotika&lt;br /&gt;
streptomisin/tetrasiklin, obat luar dengan penggunaan betadine, atau direndam&lt;br /&gt;
dalam NaCl 0,15 gram/liter air selama 30 menit, diulang sampai 4 kali.&lt;br /&gt;
Pemberian Vaksinasi dan Obat&lt;br /&gt;
Pengobatan kaki merah dan bisul pada kodok, dengan memandikan kodok&lt;br /&gt;
dalam larutan Nifurene 50–100 gram/m2 air, atau dengan suntikan teramisin 25&lt;br /&gt;
mg/kg, atau streptomycin 20 mg/kg berat kodok. Penyakit dubur keluar diobati&lt;br /&gt;
dengan cara pisahkan dan istirahatkan 2–3 hari dan tidak diberi makan.&lt;br /&gt;
Penyakit lainnya adalah dubur keluar (ambaien) pada percil (kodok muda).&lt;br /&gt;
Untuk mengatasinya, populasi tidak boleh terlalu padat dan kolam harus bersih&lt;br /&gt;
dan pemberian kadar kalori dalam makanan tidak boleh melebihi dosis 3400&lt;br /&gt;
cl/kg makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil utamanya adalah dagingnya Sedangkan hasil tambahan yang dapat diperoleh adalah dengan mengolah limbah hasil pemotongan untuk dijadikan silase; dengan penambahan propionate dan asam formiat dengan jalan digiling bersama sama maka makanan untuk ternak ini tahan hingga 2 bulan pada suhu sedang. Hasil sampingan lainnya adalah dengan dijadikan tepung, dimana kandungan mineral dan proteinnya&lt;br /&gt;
masih cukup tinggi untuk dijadikan bahan tambahan pakan ternak. Kodok yang&lt;br /&gt;
tidak dijual/afkir dapat diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan berikutnya.&lt;br /&gt;
Penangkapan&lt;br /&gt;
Sebelum disiangi, biasanya kodok-kodok tersebut ditempatkan pada&lt;br /&gt;
penampungan. Tempat penampungan kodok bisa berupa kotak kayu atau bak&lt;br /&gt;
semen yang drainasenya lancar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Proses penanganan pasca panen juga sangatlah mudah. Untuk menjaga agar&lt;br /&gt;
kodok tetap hidup dan segar, maka kita bisa menggunakan karung goni atau&lt;br /&gt;
tas kain yang dibasahi. Pengangkutan paling aman dilakukan pada pagi hari&lt;br /&gt;
atau sore hari. Apabila pengangkutan dilakukan untuk jarak jauh maka perlu&lt;br /&gt;
dibuatkan kotak kayu yang didesain secara khusus, dan kapasitasnya&lt;br /&gt;
disesuaikan dengan besarnya kotak kayu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA BURUNG WALET ( Collacalia fuciphaga )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-burung-walet-collacalia.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-4013954352570904794</guid><description>Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon.&lt;br /&gt;
Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah&lt;br /&gt;
yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.&lt;br /&gt;
Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi dunia kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:&lt;br /&gt;
1) Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.&lt;br /&gt;
2) Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan&lt;br /&gt;
perkembangan masyarakat.&lt;br /&gt;
3) Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.&lt;br /&gt;
4) Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai,&lt;br /&gt;
rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
1) Suhu, Kelembaban dan Penerangan&lt;br /&gt;
Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan&lt;br /&gt;
penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar&lt;br /&gt;
antara 24-26 derajat C dan kelembaban 80-95 %.&lt;br /&gt;
Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:&lt;br /&gt;
a. Melapisi plafon dengan sekam setebal 20 cm&lt;br /&gt;
b. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.&lt;br /&gt;
c. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu&lt;br /&gt;
lubang, berdiameter 4 cm.&lt;br /&gt;
d. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.&lt;br /&gt;
e. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong&lt;br /&gt;
dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan&lt;br /&gt;
lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.&lt;br /&gt;
2) Bentuk dan Konstruksi Gedung&lt;br /&gt;
Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi&lt;br /&gt;
dari 10x15 m2 sampai 10x20 m2. Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan&lt;br /&gt;
semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet&lt;br /&gt;
dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan&lt;br /&gt;
tinggi.&lt;br /&gt;
Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari&lt;br /&gt;
campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran&lt;br /&gt;
pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk&lt;br /&gt;
mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen&lt;br /&gt;
dapat disirami air setiap hari.&lt;br /&gt;
Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat.&lt;br /&gt;
Atapnya terbuat dari genting.&lt;br /&gt;
Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputarputar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang.Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20x20 atau 20x35 cm2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja.&lt;br /&gt;
Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh&lt;br /&gt;
para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi,&lt;br /&gt;
pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung&lt;br /&gt;
Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan&lt;br /&gt;
serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.&lt;br /&gt;
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang&lt;br /&gt;
di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk&lt;br /&gt;
dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari&lt;br /&gt;
wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu&lt;br /&gt;
waktu burung kembali mencari makan.&lt;br /&gt;
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan&lt;br /&gt;
pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet&lt;br /&gt;
yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan&lt;br /&gt;
setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet&lt;br /&gt;
diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam&lt;br /&gt;
panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet&lt;br /&gt;
dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.&lt;br /&gt;
a. Memilih Telur Walet&lt;br /&gt;
Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :&lt;br /&gt;
- Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.&lt;br /&gt;
- Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.&lt;br /&gt;
- Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.&lt;br /&gt;
Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014x1,353 cm dengan&lt;br /&gt;
berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh&lt;br /&gt;
menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai&lt;br /&gt;
kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya.&lt;br /&gt;
Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak&lt;br /&gt;
ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan&lt;br /&gt;
peneropongan.&lt;br /&gt;
b. Membawa Telur Walet&lt;br /&gt;
Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur&lt;br /&gt;
yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh,&lt;br /&gt;
sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas.&lt;br /&gt;
Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon&lt;br /&gt;
dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup.&lt;br /&gt;
Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan&lt;br /&gt;
telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan&lt;br /&gt;
telur tua lebih rendah.&lt;br /&gt;
3) Penetasan Telur Walet&lt;br /&gt;
a. Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.&lt;br /&gt;
Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur&lt;br /&gt;
walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue&lt;br /&gt;
untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat&lt;br /&gt;
menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur&lt;br /&gt;
dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan.&lt;br /&gt;
Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan&lt;br /&gt;
setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta&lt;br /&gt;
mencari makan.&lt;br /&gt;
b. Menetaskan telur walet pada mesin penetas&lt;br /&gt;
Suhu mesin penetas sekitar 400 C dengan kelembaban 70%. Untuk&lt;br /&gt;
memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring&lt;br /&gt;
atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air&lt;br /&gt;
didalam cawan tersebut tidak habis.&lt;br /&gt;
Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan&lt;br /&gt;
jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan&lt;br /&gt;
hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan&lt;br /&gt;
peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati&lt;br /&gt;
dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur&lt;br /&gt;
terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya&lt;br /&gt;
hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan&lt;br /&gt;
sampai hari ke-12.&lt;br /&gt;
Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan&lt;br /&gt;
pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15&lt;br /&gt;
hari telur akan menetas.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
1) Perawatan Ternak&lt;br /&gt;
Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak&lt;br /&gt;
walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut&lt;br /&gt;
(kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih&lt;br /&gt;
memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu&lt;br /&gt;
dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2&lt;br /&gt;
derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin.&lt;br /&gt;
Setelah berumur 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet&lt;br /&gt;
dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat&lt;br /&gt;
pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak.&lt;br /&gt;
Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa&lt;br /&gt;
ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan.&lt;br /&gt;
Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan&lt;br /&gt;
dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet&lt;br /&gt;
dewasa.&lt;br /&gt;
2) Sumber Pakan&lt;br /&gt;
Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri.&lt;br /&gt;
Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah&lt;br /&gt;
pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan&lt;br /&gt;
sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan&lt;br /&gt;
makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk&lt;br /&gt;
mengasilkan serangga adalah:&lt;br /&gt;
a. menanam tanaman dengan tumpang sari.&lt;br /&gt;
b. budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.&lt;br /&gt;
c. membuat kolam dipekarangan rumah walet.&lt;br /&gt;
d. menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.&lt;br /&gt;
3) Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;
Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di&lt;br /&gt;
lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam&lt;br /&gt;
karung dan disimpan di gedung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
1) Tikus&lt;br /&gt;
Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus&lt;br /&gt;
mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat&lt;br /&gt;
menyebabkan suhu yang tidak nyaman. Cara pencegahan tikus dengan&lt;br /&gt;
menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang&lt;br /&gt;
akan digunakan untuk sarang tikus.&lt;br /&gt;
2) Semut&lt;br /&gt;
Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung&lt;br /&gt;
walet yang sedang bertelur. Cara pemberantasan dengan memberi umpan&lt;br /&gt;
agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu&lt;br /&gt;
semut disiram dengan air panas.&lt;br /&gt;
3) Kecoa&lt;br /&gt;
Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan&lt;br /&gt;
tidak sempurna. Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida,&lt;br /&gt;
menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang&lt;br /&gt;
agar tidak menjadi tempat persembunyian.&lt;br /&gt;
4) Cicak dan Tokek&lt;br /&gt;
Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak&lt;br /&gt;
burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang&lt;br /&gt;
ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet. Cara pemberantasan&lt;br /&gt;
dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat&lt;br /&gt;
saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin&lt;br /&gt;
dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah&lt;br /&gt;
memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan&lt;br /&gt;
ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang wallet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung wallet dengan beberapa cara, yaitu:&lt;br /&gt;
1) Panen rampasan&lt;br /&gt;
Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi&lt;br /&gt;
pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan&lt;br /&gt;
yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total&lt;br /&gt;
produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak&lt;br /&gt;
baik dalam pelestaraian burung walet karena tidak ada peremajaan.&lt;br /&gt;
Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang&lt;br /&gt;
sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi&lt;br /&gt;
kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan&lt;br /&gt;
waktu untuk membuat sarang dan bertelur.&lt;br /&gt;
2) Panen Buang Telur&lt;br /&gt;
Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua&lt;br /&gt;
butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini&lt;br /&gt;
mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga&lt;br /&gt;
4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal.&lt;br /&gt;
Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk&lt;br /&gt;
menetaskan telurnya.&lt;br /&gt;
3) Panen Penetasan&lt;br /&gt;
Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan&lt;br /&gt;
sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah&lt;br /&gt;
mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya&lt;br /&gt;
adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman&lt;br /&gt;
sehingga polulasi burung dapat meningkat.&lt;br /&gt;
Adapun waktu panen adalah:&lt;br /&gt;
1) Panen 4 kali setahun&lt;br /&gt;
Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni&lt;br /&gt;
dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama&lt;br /&gt;
dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen&lt;br /&gt;
selanjutnya dengan pola buang telur.&lt;br /&gt;
2) Panen 3 kali setahun&lt;br /&gt;
Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan&lt;br /&gt;
dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu,&lt;br /&gt;
panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan&lt;br /&gt;
dan buang telur.&lt;br /&gt;
3) Panen 2 kali setahun&lt;br /&gt;
Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk&lt;br /&gt;
memperbanyak populasi burung walet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan&lt;br /&gt;
penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotorankotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA BURUNG PUYUH ( Coturnix-coturnix Japonica )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-burung-puyuh-coturnix-coturnix.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-5247791493577867688</guid><description>Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relative kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs.Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;
Manfaat budidaya burung puyuh diantaranya:&lt;br /&gt;
1) Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat&lt;br /&gt;
2) Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya&lt;br /&gt;
3) Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat&lt;br /&gt;
digunakan sebagai pupuk tanaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
1) Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk&lt;br /&gt;
2) Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran&lt;br /&gt;
3) Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit&lt;br /&gt;
4) Bukan merupakan daerah sering banjir&lt;br /&gt;
4) Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
1) Perkandangan&lt;br /&gt;
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur&lt;br /&gt;
kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban&lt;br /&gt;
kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-&lt;br /&gt;
40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca&lt;br /&gt;
mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar&lt;br /&gt;
matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.&lt;br /&gt;
Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu&lt;br /&gt;
sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang&lt;br /&gt;
untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor&lt;br /&gt;
untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2&lt;br /&gt;
sampai masa bertelur.&lt;br /&gt;
Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh&lt;br /&gt;
adalah:&lt;br /&gt;
a. Kandang untuk induk pembibitan&lt;br /&gt;
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan&lt;br /&gt;
mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang&lt;br /&gt;
akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara.&lt;br /&gt;
Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.&lt;br /&gt;
b. Kandang untuk induk petelur&lt;br /&gt;
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini&lt;br /&gt;
mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama.&lt;br /&gt;
Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.&lt;br /&gt;
c. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)&lt;br /&gt;
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter,&lt;br /&gt;
yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu.&lt;br /&gt;
Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih&lt;br /&gt;
memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang&lt;br /&gt;
sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas.&lt;br /&gt;
Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang&lt;br /&gt;
100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor&lt;br /&gt;
anak puyuh).&lt;br /&gt;
d. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6&lt;br /&gt;
minggu) Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.&lt;br /&gt;
2) Peralatan&lt;br /&gt;
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat&lt;br /&gt;
bertelur dan tempat obat-obatan.&lt;br /&gt;
Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah&lt;br /&gt;
memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan,&lt;br /&gt;
pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.&lt;br /&gt;
Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3&lt;br /&gt;
(tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:&lt;br /&gt;
a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang&lt;br /&gt;
sehat atau bebas dari kerier penyakit.&lt;br /&gt;
b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur&lt;br /&gt;
afkiran.&lt;br /&gt;
c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang&lt;br /&gt;
baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi&lt;br /&gt;
puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan&lt;br /&gt;
lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini&lt;br /&gt;
mungkin.&lt;br /&gt;
2) Pengontrolan Penyakit&lt;br /&gt;
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda&lt;br /&gt;
yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan&lt;br /&gt;
sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau&lt;br /&gt;
petunjuk dari Poultry Shoup.&lt;br /&gt;
3) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;
Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa&lt;br /&gt;
bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang&lt;br /&gt;
suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematukmatuk&lt;br /&gt;
pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali&lt;br /&gt;
sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum&lt;br /&gt;
hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak&lt;br /&gt;
puyuh pada bibitan terus-menerus.&lt;br /&gt;
4) Pemberian Vaksinasi dan Obat&lt;br /&gt;
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk&lt;br /&gt;
ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air&lt;br /&gt;
minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat&lt;br /&gt;
gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat&lt;br /&gt;
ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda&lt;br /&gt;
beternak puyuh.&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
1) Radang usus (Quail enteritis)&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus,&lt;br /&gt;
sehingga timbul pearadangan pada usus.&lt;br /&gt;
Gejala: puyuh tampak lesu, mata&lt;br /&gt;
tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.&lt;br /&gt;
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan&lt;br /&gt;
burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.&lt;br /&gt;
2) Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)&lt;br /&gt;
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu,&lt;br /&gt;
mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang&lt;br /&gt;
spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu&lt;br /&gt;
dan lumpuh.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan&lt;br /&gt;
peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang&lt;br /&gt;
mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu&lt;br /&gt;
masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta&lt;br /&gt;
melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.&lt;br /&gt;
3) Berak putih (Pullorum)&lt;br /&gt;
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.&lt;br /&gt;
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu&lt;br /&gt;
mengerut dan sayap lemah menggantung.&lt;br /&gt;
Pengendalian: sama dengan&lt;br /&gt;
pengendalian penyakit tetelo.&lt;br /&gt;
4) Berak darah (Coccidiosis)&lt;br /&gt;
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi,&lt;br /&gt;
bulu kusam menggigil kedinginan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan&lt;br /&gt;
lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule&lt;br /&gt;
diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air&lt;br /&gt;
minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox&lt;br /&gt;
5) Cacar Unggas (Fowl Pox)&lt;br /&gt;
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis&lt;br /&gt;
kelamin.&lt;br /&gt;
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu,&lt;br /&gt;
seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan&lt;br /&gt;
mengeluarkan darah.&lt;br /&gt;
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi&lt;br /&gt;
kandang atau puyuh yang terinfksi.&lt;br /&gt;
6) Quail Bronchitis&lt;br /&gt;
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.&lt;br /&gt;
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan&lt;br /&gt;
bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta&lt;br /&gt;
kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.&lt;br /&gt;
Pengendalian: pemberian&lt;br /&gt;
pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.&lt;br /&gt;
7) Aspergillosis&lt;br /&gt;
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.&lt;br /&gt;
Gejala: Puyuh mengalami&lt;br /&gt;
gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju,&lt;br /&gt;
mengantuk, nafsu makan berkurang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: memperbaiki sanitasi&lt;br /&gt;
kandang dan lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;
8) Cacingan&lt;br /&gt;
Penyebab: sanitasi yang buruk.&lt;br /&gt;
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan&lt;br /&gt;
lemah.&lt;br /&gt;
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan&lt;br /&gt;
yang terjaga kebersihannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Hasil Utama&lt;br /&gt;
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah&lt;br /&gt;
produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.&lt;br /&gt;
Hasil Tambahan&lt;br /&gt;
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS&lt;br /&gt;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829&lt;br /&gt;
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan&lt;br /&gt;
dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8,&lt;br /&gt;
Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,&lt;br /&gt;
Situs Web: http://www.ristek.go.id&lt;br /&gt;
Jakarta, Maret 2000&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA BEKICOT ( Achanita spp. )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-bekicot-achanita-spp.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:23:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-8209221608157263692</guid><description>Bekicot berasal dari Afrika Timur, tersebar keseluruh dunia dalam waktu relative singkat, karena berkembang biak dengan cepat. Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia. Bekicot&lt;br /&gt;
sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa&lt;br /&gt;
bekicot jenis Achatina fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa&lt;br /&gt;
pendudukan Jepang). Sampai saat ini, bekicot jenis Achanita fulica banyak&lt;br /&gt;
terdapat di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;
.&lt;br /&gt;
JENIS&lt;br /&gt;
Bekicot diternakkan umumnya jenis Achatina fulica yang banyak disenangi&lt;br /&gt;
orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging. Konon di Eropa,&lt;br /&gt;
bekicot jenis ini digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut&lt;br /&gt;
Escargot. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia. Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh maka bekicot jenis Achatina fulica&lt;br /&gt;
menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MANFAAT&lt;br /&gt;
Selain pakan ternak bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu&lt;br /&gt;
tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap.&lt;br /&gt;
Masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku bekicot (sate bekicot, keripik bekicot ) adalah masyarakat Kediri.&lt;br /&gt;
Disamping itu bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti abortus, sakit waktu menstruasi, radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung dan lain-lain. Sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot, dinamakan Maulie., yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur/insomania,leher membengkak dan penyakit kaum wanita termasuk keputihan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
Lokasi perlu dipilih yang dekat dengan jalan, agar mudah penanganannya, baiksaat pembuatan kandang, saat pengontrolan maupun penanganannya&lt;br /&gt;
pascapanen, artinya pada saat membawa hasil panen tersebut tidak kesulitan&lt;br /&gt;
dalam transportasinya. Lokasi yang sesuai untuk budidaya bekicot adalah&lt;br /&gt;
lokasi yang basah serta lembab dan terlindung dari cahaya matahari secara&lt;br /&gt;
langsung. Selain itu juga tanah yang disukai adalah tanah yang banyak&lt;br /&gt;
mengandung kapur sebagai zat untuk pembentukan cangkang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
1) Perkandangan&lt;br /&gt;
Walaupun lahan yang diperlukan tidaklah terlalu luas namun persyaratan&lt;br /&gt;
mengenai kelembaban dan keteduhan perkandangan perlu diperhatikan,&lt;br /&gt;
karena dalam aslinya dan untuk berkembang biak secara baik bekicot&lt;br /&gt;
senang dengan keadaan yang lembab dan teduh. Kandang didirikan di tanah&lt;br /&gt;
kering, teduh, lembab dengan suhu udara berkisar 25–30 derajat C.&lt;br /&gt;
Cara pemeliharaan bekicot tidak terlalu sulit. Bisa dilakukan secara terpisah,&lt;br /&gt;
artinya bekicot yang kecil dipelihara terpisah dari yang besar. Bisa juga&lt;br /&gt;
dilakukan secara campuran, yaitu bekicot kecil dan besar dipelihara dalam&lt;br /&gt;
satu kandang tanpa melihat umur/besarnya. Bila dilakukan secara terpisah&lt;br /&gt;
resikonya harus dibuat beberapa kandang. Fungsi kandang itu antara lain&lt;br /&gt;
untuk penetasan, pembesaran dan sebagai kandang induk.&lt;br /&gt;
Ada tiga cara berternak bekicot di dalam kandang, antara lain:&lt;br /&gt;
a. Kandang kotak kayu&lt;br /&gt;
Kandang terbuat dalam lembaran kayu tripleks yang berkaki. Untuk&lt;br /&gt;
kerangkanya dapat digunakan kayu kaso. Ukuran panjang dan lebar&lt;br /&gt;
kandang adalah 1 x 1 meter, tinggi 1,25 meter. Di atas kotak tersebut&lt;br /&gt;
diberi kawat kasa, agar bekicot tidak keluar dari dalam kandang.&lt;br /&gt;
Sebaiknya di atas kotak perlu dibuatkan tempat berteduh, agar keadaan&lt;br /&gt;
tempat selalu gelap/tidak langsung kena sinar matahari.&lt;br /&gt;
b. Kandang dari bak semen&lt;br /&gt;
Pembuatan kandang ini sama dengan kandang kotak kayu. Dalam bak&lt;br /&gt;
semen yang perlu diperhatikan adalah alasnya. Untuk menciptakan&lt;br /&gt;
suasana lembab, alas semen perlu diberi tanah dan cacing untuk&lt;br /&gt;
menggemburkan tanah dan menyerap kotoran yang dikeluarkan bekicot.&lt;br /&gt;
Tebal lapisan tanah di dalam bak sekitar 30 cm. Zat-zat makanan yang&lt;br /&gt;
diperlukan bekicot hendaklah selalu tersedia di dalam bak.&lt;br /&gt;
c. Kandang galian tanah&lt;br /&gt;
Tanah digali dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi 1 x 1 x 1 m. Perlu&lt;br /&gt;
diperhatikan sebaiknya tanah galian yang akan digunakan untuk kandang&lt;br /&gt;
dipilih yang agak kering. Sebaiknya kandang dibuat di bawah pohon yang&lt;br /&gt;
rimbun, kalau dindingnya terlalu basah perlu diberi lapisan pasir.&lt;br /&gt;
Untuk menjaga keadaan selalu gelap, seperti cara pertama dan kedua, di&lt;br /&gt;
atas kandang perlu dibuatkan bedeng sebagai penutup. Masa panen, bila&lt;br /&gt;
kandangnya terbuat dari tanah galian, cara pengambilannya dilakukan&lt;br /&gt;
dengan menggunakan galah yang bisa menjepit bekicot agar bekicot dan&lt;br /&gt;
telurnya tidak rusak.&lt;br /&gt;
2) Peralatan&lt;br /&gt;
Alat-alat yang diperlukan untuk pembuatan kandang: kayu, semen, bata&lt;br /&gt;
pasir, kain kasa dan cangkul.&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Tidak semua jenis bekicot cocok untuk dibudidayakan. Dua jenis bekicot yang&lt;br /&gt;
biasa diternakkan, yaitu spesies Achatina fulica dan Achatina variegata. Ciri&lt;br /&gt;
bekicot jenis Achanita fulica biasanya warna garis-garis pada&lt;br /&gt;
tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achatina&lt;br /&gt;
variegata warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.&lt;br /&gt;
1) Pemilihan Bibit Calon Induk&lt;br /&gt;
Jika bibit unggul belum tersedia maka sebagai langkah pertama dapat&lt;br /&gt;
digunakan bibit lokal dengan jalan mengumpulkan bekicot yang banyak&lt;br /&gt;
terdapat di kebun pisang, kelapa, serta semak belukar. Bekicot yang baik&lt;br /&gt;
dijadikan bibit adalah yang tidak rusak/cacat yang sementara waktu dan&lt;br /&gt;
yang besar dengan berat lebih kurang 75-100 gram/ekor.&lt;br /&gt;
2) Reproduksi dan Perkawinan Bekicot biasanya mulai kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50-100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm.&lt;br /&gt;
3) Proses Kelahiran&lt;br /&gt;
Telur bekicot akan menetas setelah usianya cukup. Pada waktu telur itu&lt;br /&gt;
menetas dan menjadi anak cangkang, biasanya tidak ditunggui induknya.&lt;br /&gt;
Begitu bekicot selesai bertelur, telurnya ditinggalkan begitu saja. Telur&lt;br /&gt;
bekicot akan pecah sendiri melalui proses alam.&lt;br /&gt;
Penetasan bekicot hingga menjadi anak tergantung pada keadaan tempat&lt;br /&gt;
dan waktu tetas. Bilamana tempat itu memenuhi syarat (sempurna) seperti&lt;br /&gt;
kelembaban tanah, iklim dan cahaya yang mencukupi, maka telur akan cepat&lt;br /&gt;
menetas. Sebaliknya jika keadaan tanah/iklim kering dan tempatnya kurang&lt;br /&gt;
menguntungkan maka telur akan lambat menetas.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
Pemeliharaan bekicot bisa dilakukan dengan cara terpisah dan bisa juga secara&lt;br /&gt;
campuran di dalam suatu tempat. Meskipun cara terpisah membutuhkan tempat&lt;br /&gt;
khusus tetapi ada keuntungannya. Misalnya, anak bekicot bisa diketahui&lt;br /&gt;
perkembangannya secara tepat, baik besarnya maupun usianya. Dengan&lt;br /&gt;
demikian, tidak sulit untuk memberikan perawatan secara khusus. Bagi&lt;br /&gt;
peternak bekicot sangat mudah kiranya apabila perawatan anak bekicot itu&lt;br /&gt;
dilakukan di tempat khusus. Adapun makanan anak bekicot bisa diberi&lt;br /&gt;
makanan dengan sejenis ganggang (lumut), pupus daun dan sedikit zat kapur.&lt;br /&gt;
Harus diingat hendaklah tempatnya selalu teduh dan lembab. Setelah anak&lt;br /&gt;
bekicot berusia dua/tiga bulan, hendaklah dipindahkan kekandang pembesaran.&lt;br /&gt;
Keberhasilan budidaya bekicot tergantung pada cara perawatan dan&lt;br /&gt;
pemeliharaan teknis selama diternakkan. Beberapa perawatan teknis dalam&lt;br /&gt;
budidaya bekicot diantaranya meliputi:&lt;br /&gt;
1) Menjaga kelembaban lingkungan&lt;br /&gt;
Bekicot sangat suka tempat yang lembab sehingga untuk mempertahankan&lt;br /&gt;
kelembaban lingkungan dapat digunakan atap atau perlindungan lain. Pada&lt;br /&gt;
musim panas kelembaban lingkungan dapat dipertahankan dengan&lt;br /&gt;
menyiramkan air lokasi peternakan setiap hari.&lt;br /&gt;
2) Mempertahankan kondisi lingkungan&lt;br /&gt;
Bekicot menyukai tempat yang lembab, namun bukan berarti pada tanah&lt;br /&gt;
yang becek. Sehingga diperlukan usaha untuk mempertahankan kondisi&lt;br /&gt;
lingkungan yang sesuai dengan yang dikehendaki bekicot.&lt;br /&gt;
3) Pemberian pakan yang bermutu secara teratur&lt;br /&gt;
Agar hasil budidaya berhasil dengan baik diperlukan pemberian pakan yang&lt;br /&gt;
bermutu dan teratur. Pemberian pakan berpedoman pada mutu pakan dan&lt;br /&gt;
kebiasaan waktu makan. Mutu makan yang baik akan menentukan kualitas&lt;br /&gt;
daging bekicot. Mutu pakan yang baik dapat dipenuhi dengan memberi&lt;br /&gt;
pakan berupa daun-daunan yang disukai dan buah-buahan. Misalnya; daun&lt;br /&gt;
dan buah pepaya, daun bayam, buah terung mentimun, swai dan lain&lt;br /&gt;
sebagainya.&lt;br /&gt;
4) Menjaga areal agar tidak dimasuki hewan lain&lt;br /&gt;
Agar bekicot dapat tumbuh baiak tanpa gangguan dari hewan yang&lt;br /&gt;
merupakan musuhnya dan hewan yang dapat merebut makanannya maka&lt;br /&gt;
lahan budidaya harus dijaga agar tidak dapat dimasuki hewan-hewan lain.&lt;br /&gt;
5) Menjaga bekicot agar tidak keluar dari areal pemeliharaan&lt;br /&gt;
Untuk menjaga agar bekicot tidak keluar dari areal dapat dilakukan hal&lt;br /&gt;
sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a. membuat tutup kandang (bila budidaya bekicot dalam kandang)&lt;br /&gt;
b. membuat pagar yang bagian atasnya diolesi dengan detergen&lt;br /&gt;
c. menabur abu atau garam disekeliling pagar bagian dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Sampai saat ini belum banyak diketahui tentang adanya hama atau penyakit&lt;br /&gt;
yang dapat menyebabkan kematian bekicot, kecuali semut, bebek dan itik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Dengan pemeliharaan cukup baik, bekicot mulai dapat dipanen setelah 5-8&lt;br /&gt;
bulan. secara fisik dapat dilihat apabila panjang cangkang telah mencapai 8-10 Cm, maka bekicot telah siap untuk diambil dagingnya.&lt;br /&gt;
Hasil utama dari ternak bekicot adalah dagingnya, yang dapat diolah langsung dengan dibuat sate, keripik, dendeng/masakan segar lainnya dan dapat juga diolah dalam bentuk kalengan. Ada juga permintaan dalam keadan hidup.Disamping itu daging dari bekicot ini dapat dijadikan tepung, yang&lt;br /&gt;
pengolahannya melalui proses pengeringan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
Hasil Tambahan&lt;br /&gt;
Disamping diambil dagingnya, kulit/cangkang bekicot juga laku untuk dijual.&lt;br /&gt;
Baik untuk bahan dasar obat-obatan/dibuat tepung untuk tambahan makanan&lt;br /&gt;
untuk hewan ternak yang membutuhkan tepung berbahan dasar yang&lt;br /&gt;
mengandung zat kapur.&lt;br /&gt;
Penangkapan&lt;br /&gt;
Bekicot dikumpulkan di dalam kotak kardus/peti dari kayu dan jangan&lt;br /&gt;
menggunakan karung goni karena dapat mengakibatkan kulit bekicot pecah.&lt;br /&gt;
Setelah dimasukkan dalam peti, pertama sekali perlu dilakukan pencucian agar terhindar dari semua kotoran dan lumpur yang melekat pada cangkangnya.Pencucian ini dengan cara menyemprot bekicot dengan air bersih. Setelah itu,Bekicot di karantina selama 1-2 hari/malam tanpa diberikan makan agar kotoran dan lendirnya keluar sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Setelah dilakukan penangkapan dan pengumpulan bekicot lalu dilakukan&lt;br /&gt;
penyortiran dengan jalan membuang bekicot yang mati atau terlalu kecil untuk&lt;br /&gt;
diolah. Kemudian dilakukan penggaraman, dengan memberikan garam 10-15% dari berat total bekicot, dengan cara diaduk rata. Penggaraman dapat&lt;br /&gt;
mematikan bekicot sekaligus mengeluarkan lendir sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;
Setelah melalui tahapan penggaraman, segera direbus dengan air garam 3%&lt;br /&gt;
selama 10 menit, kemudian diangkat dan disemprot dengan air dingin, baru&lt;br /&gt;
dilakukan pencukilan daging. Perebusan kedua dilakukan setelah bagian perut dibuang dan kotoran lainnya dalam larutan garam 3%. Cara ini bertujuan untuk menghilangkan lendir dan daging menjadi lebih lunak. Kemudian daging tersebut dibungkus dan dikemas dalam karton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS&lt;br /&gt;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829&lt;br /&gt;
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8,&lt;br /&gt;
Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,&lt;br /&gt;
Situs Web: http://www.ristek.go.id&lt;br /&gt;
Jakarta, Maret 2000&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA AYAM RAS PEDAGING</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-ayam-ras-pedaging.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-4387929957054476179</guid><description>Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;
Dengan berbagai macam strain ayam ras pedaging yang telah beredar&lt;br /&gt;
dipasaran, peternak tidak perlu risau dalam menentukan pilihannya. Sebab&lt;br /&gt;
semua jenis strain yang telah beredar memiliki daya produktifitas relatif sama.&lt;br /&gt;
Artinya seandainya terdapat perbedaan, perbedaannya tidak menyolok atau&lt;br /&gt;
sangat kecil sekali. Dalam menentukan pilihan strain apa yang akan dipelihara,peternak dapat meminta daftar produktifitas atau prestasi bibit yang dijual di Poultry Shoup. Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang banyak beredar di pasaran adalah: Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline,Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres,Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-Broiler, Ross,Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&amp;N, Sussex, Bromo, CP 707.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
1) Lokasi yang cukup jauh dari keramaian/perumahan penduduk.&lt;br /&gt;
2) Lokasi mudah terjangkau dari pusat-pusat pemasaran.&lt;br /&gt;
3) Lokasi terpilih bersifat menetap, artinya tidak mudah terganggu oleh&lt;br /&gt;
keperluan-keperluan lain selain untuk usaha peternakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
)Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
1) Perkandangan&lt;br /&gt;
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi:&lt;br /&gt;
persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban&lt;br /&gt;
berkisar antara 60-70%, penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan&lt;br /&gt;
aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan&lt;br /&gt;
tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang disesuaikan&lt;br /&gt;
dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan&lt;br /&gt;
memakai kandang box, untuk ayam remaja 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan&lt;br /&gt;
memakai kandang box yang dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa&lt;br /&gt;
dengan kandang postal atapun kandang bateray.&lt;br /&gt;
Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang&lt;br /&gt;
penting kuat, bersih dan tahan lama.&lt;br /&gt;
2) Peralatan&lt;br /&gt;
a. Litter (alas lantai)&lt;br /&gt;
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang&lt;br /&gt;
bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal&lt;br /&gt;
litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam&lt;br /&gt;
dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu&lt;br /&gt;
dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.&lt;br /&gt;
b. Indukan atau brooder&lt;br /&gt;
Alat ini berbentuk bundar atau persegi empat dengan areal jangkauan 1-3&lt;br /&gt;
m dengan alat pemanas di tengah. Fungsinya seperti induk ayam yang&lt;br /&gt;
menghangatkan anak ayamnya ketika baru menetas.&lt;br /&gt;
c. Tempat bertengger (bila perlu)&lt;br /&gt;
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan&lt;br /&gt;
diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar.&lt;br /&gt;
Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari&lt;br /&gt;
tempat bertelur.&lt;br /&gt;
d. Tempat makan, minum dan tempat grit&lt;br /&gt;
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu,&lt;br /&gt;
almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat.&lt;br /&gt;
Untuk tempat grit dengan kotak khusus&lt;br /&gt;
e. Alat-alat rutin&lt;br /&gt;
Alat-alat rutin termasuk alat kesehatan ayam seperti: suntikan, gunting&lt;br /&gt;
operasi, pisau potong operasi kecil, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Ternak yang dipelihara haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) ternak sehat dan tidak cacat pada fisiknya&lt;br /&gt;
b) pertumbuhan dan perkembangannya normal&lt;br /&gt;
c) ternak berasal dari pembibitan yang dikenal keunggulannya.&lt;br /&gt;
d) tidak ada lekatan tinja di duburnya.&lt;br /&gt;
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old&lt;br /&gt;
Chicken)/ayam umur sehari:&lt;br /&gt;
a. Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.&lt;br /&gt;
b. Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .&lt;br /&gt;
c. Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.&lt;br /&gt;
d. Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.&lt;br /&gt;
e. Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.&lt;br /&gt;
f. Tidak ada letakan tinja diduburnya.&lt;br /&gt;
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Dilakukan setiap saat, bila ada gejala kelainan pada ternak supaya segera&lt;br /&gt;
diberi perhatian secara khusus dan diberikan pengobatan sesuai petunjuk&lt;br /&gt;
Dinas Peternakan setempat atau dokter hewan yang bertugas di daerah&lt;br /&gt;
yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
1) Pemberian Pakan dan Minuman&lt;br /&gt;
Untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter&lt;br /&gt;
(umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).&lt;br /&gt;
a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
- kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%,&lt;br /&gt;
lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%,&lt;br /&gt;
ME 2800-3500 Kcal.&lt;br /&gt;
- kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu&lt;br /&gt;
minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu kedua&lt;br /&gt;
(umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66&lt;br /&gt;
gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.&lt;br /&gt;
Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4&lt;br /&gt;
minggu sebesar 1.520 gram.&lt;br /&gt;
b. Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
- kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%;&lt;br /&gt;
lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%&lt;br /&gt;
dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.&lt;br /&gt;
- kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu:&lt;br /&gt;
minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut&lt;br /&gt;
37-43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146&lt;br /&gt;
gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor.&lt;br /&gt;
Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829&lt;br /&gt;
gram. Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:&lt;br /&gt;
a. Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada&lt;br /&gt;
masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100&lt;br /&gt;
ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21&lt;br /&gt;
hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.&lt;br /&gt;
Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah&lt;br /&gt;
sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama&lt;br /&gt;
hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air&lt;br /&gt;
minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.&lt;br /&gt;
b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing&lt;br /&gt;
minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor, minggu ke-6&lt;br /&gt;
(37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7&lt;br /&gt;
liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi&lt;br /&gt;
total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.&lt;br /&gt;
2) Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan&lt;br /&gt;
usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga&lt;br /&gt;
yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada&lt;br /&gt;
ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry&lt;br /&gt;
shoup. Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka&lt;br /&gt;
bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu&lt;br /&gt;
dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera&lt;br /&gt;
disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa&lt;br /&gt;
maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang&lt;br /&gt;
dipelihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Berak darah (Coccidiosis)&lt;br /&gt;
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi,&lt;br /&gt;
bulu kusam menggigil kedinginan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan&lt;br /&gt;
lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule&lt;br /&gt;
diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air&lt;br /&gt;
minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.&lt;br /&gt;
2) Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)&lt;br /&gt;
Gejala: ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu,&lt;br /&gt;
mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang&lt;br /&gt;
spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu&lt;br /&gt;
dan lumpuh.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan&lt;br /&gt;
peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang&lt;br /&gt;
mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu&lt;br /&gt;
masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta&lt;br /&gt;
melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Tungau (kutuan)&lt;br /&gt;
Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibas-ngibaskan bulu&lt;br /&gt;
karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1)sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik; pisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat; (2) dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau pengasepan menggunakan insektisida yang mudah menguap seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Hasil Utama&lt;br /&gt;
Hasil utama ternak ayam pedaging adalah berupa daging ayam&lt;br /&gt;
Hasil Tambahan&lt;br /&gt;
Hasil tambahan ternak ayam broiler (pedaging) adalah berupa tinja atau kotoran kandang dan bulu ayam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Stoving&lt;br /&gt;
Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya ditempatkan di kandang penampungan (Houlding Ground)&lt;br /&gt;
Pemotongan&lt;br /&gt;
Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah keluar&lt;br /&gt;
keseluruhan atau sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2 menit. Hal ini&lt;br /&gt;
agar kualitas daging bagus, tidak mudah tercemar dan mudah busuk.&lt;br /&gt;
Pengulitan atau Pencabutan Bulu&lt;br /&gt;
Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas (51,7-&lt;br /&gt;
54,4 derajat C). Lama pencelupan ayam broiler adalah 30 detik. Bulu-bulu yang halus dicabut dengan membubuhkan lilin cair atau dibakar dengan nyala api biru.&lt;br /&gt;
Pengeluaran Jeroan&lt;br /&gt;
Bagian bawah dubut dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus dan ampela) dikeluarkan. Isi perut ini dapat dijual atau diikut sertakan pada daging siap dimasak dalam kemasan terpisah.&lt;br /&gt;
Pemotongan Karkas&lt;br /&gt;
Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak disukai. Setelah semua jeroan sudah dikeluarkan dan karkas telah dicuci bersih, kaki&lt;br /&gt;
ayam/paha ditekukan dibawah dubur. Kemudian ayam didinginkan dan&lt;br /&gt;
dikemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUDIDAYA AYAM PETELUR (Gallus sp.)</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/budidaya-ayam-petelur-gallus-sp.html</link><category>Peternakan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-6106196316071250866</guid><description>Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. &lt;br /&gt;
Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe:&lt;br /&gt;
1) Tipe Ayam Petelur Ringan.&lt;br /&gt;
Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini&lt;br /&gt;
mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar.&lt;br /&gt;
Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari&lt;br /&gt;
galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan&lt;br /&gt;
komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Setiap pembibit&lt;br /&gt;
ayam petelur di Indonesia pasti memiliki dan menjual ayam petelur ringan&lt;br /&gt;
(petelur putih) komersial ini. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per&lt;br /&gt;
tahun produksi hen house. Sebagai petelur, ayam tipe ini memang khusus&lt;br /&gt;
untuk bertelur saja sehingga semua kemampuan dirinya diarahkan pada&lt;br /&gt;
kemampuan bertelur, karena dagingnya hanya sedikit. Ayam petelur ringan&lt;br /&gt;
ini sensitif terhadapa cuaca panas dan keributan, dan ayam ini mudah kaget&lt;br /&gt;
dan bila kaget ayam ini produksinya akan cepat turun, begitu juga bila&lt;br /&gt;
kepanasan.&lt;br /&gt;
2) Tipe Ayam Petelur Medium.&lt;br /&gt;
Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada di&lt;br /&gt;
antara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh karena itu ayam ini&lt;br /&gt;
disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga&lt;br /&gt;
tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan&lt;br /&gt;
daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna.&lt;br /&gt;
Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur&lt;br /&gt;
cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga. Dipasaran&lt;br /&gt;
orang mengatakan telur cokelat lebih disukai daripada telur putih, kalau&lt;br /&gt;
dilihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang&lt;br /&gt;
putih, tapi dari segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda adalah&lt;br /&gt;
harganya dipasaran, harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal&lt;br /&gt;
ini dikarenakan telur cokelat lebih berat daripada telur putih dan produksinya&lt;br /&gt;
telur cokelat lebih sedikit daripada telur putih. Selain itu daging dari ayam&lt;br /&gt;
petelur medium akan lebih laku dijual sebagai ayam pedaging dengan rasa&lt;br /&gt;
yang enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERSYARATAN LOKASI&lt;br /&gt;
1) Lokasi yang jauh dari keramaian/perumahan penduduk.&lt;br /&gt;
2) Lokasi mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran.&lt;br /&gt;
3) Lokasi terpilih bersifat menetap, tidak berpindah-pindah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;
1) Kandang&lt;br /&gt;
Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan&lt;br /&gt;
temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C, kelembaban berkisar antara&lt;br /&gt;
60–70%, penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan&lt;br /&gt;
yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak&lt;br /&gt;
melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik, jangan&lt;br /&gt;
membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena&lt;br /&gt;
menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila&lt;br /&gt;
turun hujan, sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar&lt;br /&gt;
hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang.&lt;br /&gt;
Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang&lt;br /&gt;
penting kuat, bersih dan tahan lama. Selanjutnya perlengkapan kandang&lt;br /&gt;
hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat&lt;br /&gt;
minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat&lt;br /&gt;
penerangan.&lt;br /&gt;
Bentuk-bentuk kandang berdasarkan sistemnya dibagi menjadi dua: a)&lt;br /&gt;
Sistem kandang koloni, satu kandang untuk banyak ayam yang terdiri dari&lt;br /&gt;
ribuan ekor ayam petelur; b) Sistem kandang individual, kandang ini lebih&lt;br /&gt;
dikenal dengan sebutan cage. Ciri dari kandang ini adalah pengaruh individu&lt;br /&gt;
di dalam kandang tersebut menjadi dominan karena satu kotak kandang&lt;br /&gt;
untuk satu ekor ayam. Kandang sistem ini banyak digunakan dalam&lt;br /&gt;
peternakan ayam petelur komersial.&lt;br /&gt;
Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1)&lt;br /&gt;
kandang dengan lantai liter, kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi&lt;br /&gt;
kulit padi, pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada&lt;br /&gt;
kandang sistem koloni; 2) kandang dengan lantai kolong berlubang, lantai&lt;br /&gt;
untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang&lt;br /&gt;
diantaranya, yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan langsung ke&lt;br /&gt;
tempat penampungan; 3) kandang dengan lantai campuran liter dengan&lt;br /&gt;
kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas&lt;br /&gt;
liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan&lt;br /&gt;
dan 30% di kiri).&lt;br /&gt;
2) Peralatan&lt;br /&gt;
a. Litter (alas lantai)&lt;br /&gt;
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang&lt;br /&gt;
bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal&lt;br /&gt;
litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam&lt;br /&gt;
dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu&lt;br /&gt;
dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.&lt;br /&gt;
b. Tempat bertelur&lt;br /&gt;
Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur&lt;br /&gt;
tidak kotor, dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup&lt;br /&gt;
untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih&lt;br /&gt;
tinggi dari tempat bertengger, penempatannya agar mudah pengambilan&lt;br /&gt;
telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan.&lt;br /&gt;
Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke&lt;br /&gt;
luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih besar dari besar&lt;br /&gt;
telur pada dasar sarang.&lt;br /&gt;
c. Tempat bertengger&lt;br /&gt;
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan&lt;br /&gt;
diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar.&lt;br /&gt;
Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari&lt;br /&gt;
tempat bertelur.&lt;br /&gt;
d. Tempat makan, minum dan tempat grit&lt;br /&gt;
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu,&lt;br /&gt;
almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat.&lt;br /&gt;
Untuk tempat grit dengan kotak khusus&lt;br /&gt;
Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai&lt;br /&gt;
berikut, antara lain:&lt;br /&gt;
a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.&lt;br /&gt;
b) Pertumbuhan dan perkembangan normal.&lt;br /&gt;
c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.&lt;br /&gt;
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken)&lt;br /&gt;
/ayam umur sehari:&lt;br /&gt;
a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.&lt;br /&gt;
b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .&lt;br /&gt;
c) Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.&lt;br /&gt;
d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.&lt;br /&gt;
e) Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.&lt;br /&gt;
f) Tidak ada letakan tinja diduburnya.&lt;br /&gt;
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;
Penyiapan bibit ayam petelur yang berkreteria baik dalam hal ini tergantung&lt;br /&gt;
sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a. Konversi Ransum.&lt;br /&gt;
Konversi ransum merupakan perabandingan antara ransum yang&lt;br /&gt;
dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering&lt;br /&gt;
disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan&lt;br /&gt;
sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar&lt;br /&gt;
daripada sejumlah ransum yang dimakannya. Bila ayam itu makan terlalu&lt;br /&gt;
banyak dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi&lt;br /&gt;
ayam itu. Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu&lt;br /&gt;
dapat dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada berbagai bibit&lt;br /&gt;
ayam dan juga dapat diketahui dari lembaran daging yang sering&lt;br /&gt;
dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi penjualan bibit&lt;br /&gt;
ayamnya.&lt;br /&gt;
b. Produksi Telur.&lt;br /&gt;
Produksi telur sudah tentu menjadi perhatian. Dipilih bibit yang dapat&lt;br /&gt;
memproduksi telur banyak. Tetapi konversi ransum tetap utama sebab&lt;br /&gt;
ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak&lt;br /&gt;
menguntungkan.&lt;br /&gt;
c. Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan.&lt;br /&gt;
Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk&lt;br /&gt;
bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu. Contoh prestasi&lt;br /&gt;
beberapa jenis bibit ayam petelur dapat dilihat pada data di bawah ini.&lt;br /&gt;
- Babcock B-300 v: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)&lt;br /&gt;
270, ransum 1,82 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Dekalb Xl-Link: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)&lt;br /&gt;
255-280, ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Hisex white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 288,&lt;br /&gt;
ransum 1,89 gram/dosin telur.&lt;br /&gt;
- H &amp; W nick: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 272,&lt;br /&gt;
ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Hubbarb leghorn: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen&lt;br /&gt;
house)260, ransum 1,8-1,86 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Ross white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 275,&lt;br /&gt;
ransum 1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Shaver S 288: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)280,&lt;br /&gt;
ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Babcock B 380: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen&lt;br /&gt;
house) 260-275, ransum 1,9 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Hisex brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen&lt;br /&gt;
house)272, ransum 1,98 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Hubbarb golden cornet: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi&lt;br /&gt;
telur(hen house) 260, ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Ross Brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house)&lt;br /&gt;
270, ransum 2,0 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Shaver star cross 579: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi&lt;br /&gt;
telur(hen house) 265, ransum 2,0-2,08 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
- Warren sex sal link: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen&lt;br /&gt;
house) 280, ransum 2,04 kg/dosin telur.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan&lt;br /&gt;
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan&lt;br /&gt;
usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga&lt;br /&gt;
yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada&lt;br /&gt;
ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry&lt;br /&gt;
shoup.&lt;br /&gt;
2) Pemberian Pakan&lt;br /&gt;
Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter&lt;br /&gt;
(umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).&lt;br /&gt;
a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%,&lt;br /&gt;
lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%,&lt;br /&gt;
ME 2800-3500 Kcal.&lt;br /&gt;
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu&lt;br /&gt;
minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; minggu kedua&lt;br /&gt;
(umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66&lt;br /&gt;
gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.&lt;br /&gt;
Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4&lt;br /&gt;
minggu sebesar 1.520 gram.&lt;br /&gt;
b. Kwalitas dan kwantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%;&lt;br /&gt;
lemak 2,5%; serat kasar 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P) 0,7-0,9%&lt;br /&gt;
dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.&lt;br /&gt;
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur&lt;br /&gt;
yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor; minggu ke-6&lt;br /&gt;
(umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor; minggu ke-7 (umur 44-50 hari)&lt;br /&gt;
146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161&lt;br /&gt;
gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari&lt;br /&gt;
adalah 3.829 gram.&lt;br /&gt;
Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini&lt;br /&gt;
dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:&lt;br /&gt;
a. Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada&lt;br /&gt;
masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100&lt;br /&gt;
ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21&lt;br /&gt;
hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.&lt;br /&gt;
Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah&lt;br /&gt;
sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama&lt;br /&gt;
hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air&lt;br /&gt;
minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.&lt;br /&gt;
b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing&lt;br /&gt;
minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-6&lt;br /&gt;
(37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7&lt;br /&gt;
liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi&lt;br /&gt;
total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.&lt;br /&gt;
3) Pemberian Vaksinasi dan Obat&lt;br /&gt;
Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang&lt;br /&gt;
menulardengan cara menciptakan kekebalan tubuh. Pemberiannya secara&lt;br /&gt;
teratur sangat penting untuk mencegah penyakit. Vaksin dibagi menjadi 2&lt;br /&gt;
macam yaitu:&lt;br /&gt;
Vaksin aktif adalah vaksin mengandung virus hidup. Kekebalan yang&lt;br /&gt;
ditimbulkan lebih lama daripada dengan vaksin inaktif/pasif.&lt;br /&gt;
Vaksin inaktif, adalah vaksin yang mengandung virus yang telah&lt;br /&gt;
dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic, hingga mampu&lt;br /&gt;
membentuk zat kebal. Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek,&lt;br /&gt;
keuntungannya disuntikan pada ayam yang diduga sakit.&lt;br /&gt;
Macam-macam vaksin:&lt;br /&gt;
a) Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna&lt;br /&gt;
b) Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif)&lt;br /&gt;
c) Vaksin NCD HB-1/Pestos.&lt;br /&gt;
d) Vaksin Cacar/pox, virus Diftose.&lt;br /&gt;
e) Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek.&lt;br /&gt;
Persyaratan dalam vaksinasi adalah:&lt;br /&gt;
a) Ayam yang divaksinasi harus sehat.&lt;br /&gt;
b) Dosis dan kemasan vaksin harus tepat.&lt;br /&gt;
c) Sterilisasi alat-alat.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;
Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan&lt;br /&gt;
kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan&lt;br /&gt;
dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera&lt;br /&gt;
disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa&lt;br /&gt;
maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang&lt;br /&gt;
dipelihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Penyakit karena Bakteri&lt;br /&gt;
1) Berak putih (pullorum)&lt;br /&gt;
Menyerang ayam kampung dengan angka kematian yang tinggi.&lt;br /&gt;
Penyebab:Salmonella pullorum.&lt;br /&gt;
Pengendalian: diobati dengan antibiotika&lt;br /&gt;
2) Foel typhoid&lt;br /&gt;
Sasaran yang disering adalah ayam muda/remaja dan dewasa.&lt;br /&gt;
Penyebab:Salmonella gallinarum.&lt;br /&gt;
Gejala: ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan antibiotika/preparat sulfa.&lt;br /&gt;
3) Parathyphoid&lt;br /&gt;
Menyerang ayam dibawah umur satu bulan.&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri dari genus Salmonella.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan preparat sulfa/obat sejenisnya.&lt;br /&gt;
4) Kolera&lt;br /&gt;
Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain&lt;br /&gt;
menyerang ayam menyerang kalkun dan burung merpati.&lt;br /&gt;
Penyebab:pasteurella multocida.&lt;br /&gt;
Gejala: pada serangan yang serius pial ayam (gelambir dibawah paruh) akan membesar. Pengendalian: dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin).&lt;br /&gt;
5) Pilek ayam (Coryza)&lt;br /&gt;
Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam.&lt;br /&gt;
Penyebab: makhluk intermediet antara bakteri dan virus.&lt;br /&gt;
Gejala: ayam yang terserang menunjukkan tanda-tanda seperti orang pilek. Pengendalian:dapat disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.&lt;br /&gt;
6) CRD&lt;br /&gt;
CRD adalah penyakit pada ayam yang populer di Indonesia. Menyerang&lt;br /&gt;
anak ayam dan ayam remaja.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).&lt;br /&gt;
7) Infeksi synovitis&lt;br /&gt;
Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan&lt;br /&gt;
kalkun.&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri dari genus Mycoplasma.&lt;br /&gt;
Pengendalian: denganantibiotika.&lt;br /&gt;
Penyakit karena Virus&lt;br /&gt;
1) Newcastle disease (ND)&lt;br /&gt;
ND adalah penyakit oleh virus yang populer di peternak ayam Indonesia.&lt;br /&gt;
Pada awalnya penyakit ditemukan tahun 1926 di daerah Priangan.&lt;br /&gt;
Penemuan tersebut tidak tersebar luas ke seluruh dunia. Kemudian di Eropa,&lt;br /&gt;
penyakit ini ditemukan lagi dan diberitakan ke seluruh dunia. Akhirnya&lt;br /&gt;
penyakit ini disebut Newcastle disease.&lt;br /&gt;
2) Infeksi bronchitis&lt;br /&gt;
Infeksi bronchitis menyerang semua umur ayam. Pada dewasa penyakit ini&lt;br /&gt;
menurunkan produksi telur. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan&lt;br /&gt;
yang serius untuk anak ayam dan ayam remaja. Tingkat kematian ayam&lt;br /&gt;
dewasa adalah rendah, tapi pada anak ayam mencapai 40%. Bila&lt;br /&gt;
menyerang ayam petelur menyebabkan telur lembek, kulit telur tidak normal,&lt;br /&gt;
putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat (kuning telur yang&lt;br /&gt;
normal selalu ada ditengah). Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tetapi&lt;br /&gt;
dapat dicegah dengan vaksinasi.&lt;br /&gt;
3) Infeksi laryngotracheitis&lt;br /&gt;
Infeksi laryngotracheitis merupakan penyakit pernapasan yang serius terjadi&lt;br /&gt;
pada unggas.&lt;br /&gt;
Penyebab: virus yang diindetifikasikan dengan Tarpeia avium.&lt;br /&gt;
Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan, misalnya karbol.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) belum ada obat untuk mengatasi penyakit ini; (2)&lt;br /&gt;
pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat.&lt;br /&gt;
4) Cacar ayam (Fowl pox)&lt;br /&gt;
Gejala: tubuh ayam bagian jengger yang terserang akan bercak-bercak&lt;br /&gt;
cacar.&lt;br /&gt;
Penyebab: virus Borreliota avium.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan vaksinasi.&lt;br /&gt;
5) Marek&lt;br /&gt;
Penyakit ini menjadi populer sejak tahun 1980-an hingga kini menyerang&lt;br /&gt;
bangsa unggas, akibat serangannya menyebabkan kematian ayam hingga&lt;br /&gt;
50%.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan vaksinasi.&lt;br /&gt;
6) Gumboro&lt;br /&gt;
Penyakit ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva&lt;br /&gt;
Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya&lt;br /&gt;
menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.&lt;br /&gt;
Penyakit karena Jamur dan Toksin&lt;br /&gt;
Penyakit ini karena ada jamur atau sejenisnya yang merusak makanan. Hasil&lt;br /&gt;
perusakan ini mengeluarkan zak racun yang kemudian di makan ayam. Ada&lt;br /&gt;
pula pengolahan bahan yang menyebabkan asam amino berubah menjadi zat&lt;br /&gt;
beracun. Beberapa penyakit ini adalah :&lt;br /&gt;
1) Muntah darah hitam (Gizzerosin)&lt;br /&gt;
Ciri kerusakan total pada gizzard ayam.&lt;br /&gt;
Penyebab: adalah racun dalam&lt;br /&gt;
tepung ikan tetapi tidak semua tepung ikan menimbulkan penyakit ini. Timbul&lt;br /&gt;
penyakit ini akibat pemanasan bahan makanan yang menguraikan asam&lt;br /&gt;
amino hingg menjadi racun.&lt;br /&gt;
Pengendalian: belum ada.&lt;br /&gt;
2) Racun dari bungkil kacang&lt;br /&gt;
Minyak yang tinggi dalam bungkil kelapa dan bungkil kacang merangsang&lt;br /&gt;
pertumbuhan jamur dari grup Aspergillus. Untuk menghindari keracunan&lt;br /&gt;
bungkil kacang maka dalam rancung tidak digunakan antioksidan atau&lt;br /&gt;
bungkil kacang dan bungkil kelapa yang mengandung kadar lemak tinggi.&lt;br /&gt;
Penyakit karena Parasit&lt;br /&gt;
1) Cacing&lt;br /&gt;
Karena penyakit cacing jarang ditemukan di peternakan yang bersih dan&lt;br /&gt;
terpelihara baik. Tetapi peternakan yang kotor banyak siput air dan minuman&lt;br /&gt;
kotor maka mungkin ayam terserang cacingan. Ciri serangan cacingan&lt;br /&gt;
adalah tubuhnya kurus, bulunya kusam, produksi telur merosot dan kurang&lt;br /&gt;
aktif.&lt;br /&gt;
2) Kutu&lt;br /&gt;
Banyak menyerang ayam di peternakan Indonesia. Dari luar kutu tidak&lt;br /&gt;
terlihat tapi bila bulu ayam disibak akan terlihat kutunya. Tanda fisik ayam&lt;br /&gt;
terserang ayam akan gelisah. Kutu umum terdapat di kandang yang tidak&lt;br /&gt;
terkena sinar matahari langsung maka sisi samping kandang diarahkan&lt;br /&gt;
melintang dari Timur ke Barat. Penggunaan semprotan kutu sama dengan&lt;br /&gt;
cara penyemprotan nyamuk. Penyemprotan ini tidak boleh mengenai tangan&lt;br /&gt;
dan mata secara langsung dan penyemprotan dilakukan malam hari&lt;br /&gt;
sehingga pelaksanaannya lebih mudah karena ayam tidak aktif.&lt;br /&gt;
Penyakit karena Protozoa&lt;br /&gt;
Penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead), penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Hasil Utama&lt;br /&gt;
Hasil utama dari budidaya ayam petelur adalah berupa telur yang diahsilkan&lt;br /&gt;
oelh ayam. Sebaiknya telur dipanen 3 kali dalam sehari. Hal ini bertujuan agar&lt;br /&gt;
kerusakan isi tlur yang disebabkan oleh virus dapat terhindar/terkurangi.&lt;br /&gt;
Pengambilan pertama pada pagi hari antara pukul 10.00-11.00; pengambilan&lt;br /&gt;
kedua pukul 13.00-14.00; pengambilan ketiga (terakhir)sambil mengecek&lt;br /&gt;
seluruh kandang dilakukan pada pukul 15.00-16.00.&lt;br /&gt;
Hasil Tambahan&lt;br /&gt;
Hasil tambahan yang dapat dinukmati dari hasil budidaya ayam petelur adalah daging dari ayam yang telah tua (afkir) dan kotoran yang dapat dijual untuk dijadikan pupuk kandang.&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Telur yang telah dihasilkan diambil dan diletakkan di atas egg tray (nampan&lt;br /&gt;
telur). Dalam pengambilan dan pengumpulan telur, petugas pengambil harus&lt;br /&gt;
langsung memisahkan antara telur yang normal dengan yang abnormal. Telur&lt;br /&gt;
normal adalah telur yang oval, bersih dan kulitnya mulus serta beratnya 57,6&lt;br /&gt;
gram dengan volume sebesar 63 cc. Telur yang abnormal misalnya telurnya&lt;br /&gt;
kecil atau terlalu besar, kulitnya retak atau keriting, bentuknya lonjong.&lt;br /&gt;
Pembersihan&lt;br /&gt;
Setelah telur dikumpulkan, selanjutnya telur yang kotor karena terkena litter&lt;br /&gt;
atau tinja ayam dibershkan. Telur yang terkena litter dapat dibersihkan dengan amplas besi yang halus, dicuci secara khusus atau dengan cairan pembersih. Biasanya pembersihan dilakukan untuk telur tetas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS&lt;br /&gt;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829&lt;br /&gt;
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan&lt;br /&gt;
dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8,&lt;br /&gt;
Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,&lt;br /&gt;
Situs Web: http://www.ristek.go.id&lt;br /&gt;
Jakarta, Maret 2000&lt;br /&gt;
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>UBI JALAR / KETELA RAMBAT ( Ipomoea batatas )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/ubi-jalar-ketela-rambat-ipomoea-batatas.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-5461209180164825867</guid><description>MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;
Di beberapa daerah tertentu, ubi jalar merupakan salah satu komoditi bahan&lt;br /&gt;
makanan pokok. Ubi jalar merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan&lt;br /&gt;
diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi.&lt;br /&gt;
Tanaman ini mampu beradaptasi di daerah yang kurang subur dan kering. Dengan&lt;br /&gt;
demikian tanaman ini dapat diusahakan orang sepanjang tahun&lt;br /&gt;
Ubi jalar dapat diolah menjadi berbagai bentuk atau macam produk olahan.&lt;br /&gt;
Beberapa peluang penganeka-ragaman jenis penggunaan ubi jalar dapat dilihat&lt;br /&gt;
berikut ini:&lt;br /&gt;
a) Daun: sayuran, pakan ternak&lt;br /&gt;
b) Batang: bahan tanam,pPakan ternak&lt;br /&gt;
c) Kulit ubi: pakan ternak&lt;br /&gt;
d) Ubi segar: bahan makanan&lt;br /&gt;
e) Tepung: makanan&lt;br /&gt;
f) Pati: fermentasi, pakan ternak, asam sitrat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
a) Tanaman ubi jalar membutuhkan hawa panas dan udara yang lembab. Daerah&lt;br /&gt;
yang paling ideal untuk budidaya ubi jalar adalah daerah yang bersuhu 21-27&lt;br /&gt;
derajat C.&lt;br /&gt;
b) Daerah yang mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari merupakan daerah yang&lt;br /&gt;
disukai. Pertumbuhan dan produksi yang optimal untuk usaha tani ubi jalar&lt;br /&gt;
tercapai pada musim kering (kemarau). Di tanah yang kering (tegalan) waktu&lt;br /&gt;
tanam yang baik untuk tanaman ubi jalar yaitu pada waktu musim hujan, sedang&lt;br /&gt;
pada tanah sawah waktu tanam yang baik yaitu sesudah tanaman padi dipanen.&lt;br /&gt;
c) Tanaman ubi jalar dapat ditanam di daerah dengan curah hujan 500-5000&lt;br /&gt;
mm/tahun, optimalnya antara 750-1500 mm/tahun.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
a) Hampir setiap jenis tanah pertanian cocok untuk membudidayakan ubi jalar. Jenis&lt;br /&gt;
tanah yang paling baik adalah pasir berlempung, gembur, banyak mengandung&lt;br /&gt;
bahan organik, aerasi serta drainasenya baik. Penanaman ubi jalar pada tanah&lt;br /&gt;
kering dan pecah-pecah sering menyebabkan ubi jalar mudah terserang hama&lt;br /&gt;
penggerek (Cylas sp.). Sebaliknya, bila ditanam pada tanah yang mudah becek&lt;br /&gt;
atau berdrainase yang jelek, dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman ubi jalar&lt;br /&gt;
kerdil, ubi mudah busuk, kadar serat tinggi, dan bentuk ubi benjol.&lt;br /&gt;
b) Derajat keasaman tanah adalah pH=5,5-7,5. Sewaktu muda memerlukan&lt;br /&gt;
kelembaban tanah yang cukup.&lt;br /&gt;
c) Ubi jalar cocok ditanam di lahan tegalan atau sawah bekas tanaman padi,&lt;br /&gt;
terutama pada musim kemarau. Pada waktu muda tanaman membutuhkan tanah&lt;br /&gt;
yang cukup lembab. Oleh karena itu, untuk penanaman di musim kemarau harus&lt;br /&gt;
tersedia air yang memadai.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Tanaman ubi jalar membutuhkan hawa panas dan udara yang lembab. Tanaman ubi&lt;br /&gt;
jalar juga dapat beradaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh karena daerah&lt;br /&gt;
penyebaran terletak pada 300 LU dan 300 LS. Di Indonesia yang beriklim tropik,&lt;br /&gt;
tanaman ubi jalar cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Di&lt;br /&gt;
dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 m dpl, ubi jalar masih dapat tumbuh dengan&lt;br /&gt;
baik, tetapi umur panen menjadi panjang dan hasilnya rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Tanaman ubi jalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan secara&lt;br /&gt;
vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman secara&lt;br /&gt;
generatif hanya dilakukan pada skala penelitian untuk menghasilkan varietas baru.&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;
Teknik perbanyakan tanaman ubi jalar yang sering dipraktekan adalah dengan&lt;br /&gt;
stek batang atau stek pucuk. Bahan tanaman (bibit) berupa stek pucuk atau stek&lt;br /&gt;
batang harus memenuhi syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Bibit berasal dari varietas atau klon unggul.&lt;br /&gt;
b) Bahan tanaman berumur 2 bulan atau lebih.&lt;br /&gt;
c) Pertumbuhan tanaman yang akan diambil steknya dalam keadaan sehat,&lt;br /&gt;
normal, tidak terlalu subur.&lt;br /&gt;
d) Ukuran panjang stek batang atau stek pucuk antara 20-25 cm, ruas-ruasnya&lt;br /&gt;
rapat dan buku-bukunya tidak berakar.&lt;br /&gt;
e) Mengalami masa penyimpanan di tempat yang teduh selama 1-7 hari.&lt;br /&gt;
Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman produksi dan dari tunas-tunas&lt;br /&gt;
ubi yang secara khusus disemai atau melalui proses penunasan. Perbanyakan&lt;br /&gt;
tanaman dengan stek batang atau stek pucuk secara terus-menerus mempunyai&lt;br /&gt;
kecenderungan penurunan hasil pada generasi-generasi berikutnya. Oleh karena&lt;br /&gt;
itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus diperbaharui dengan cara menanam&lt;br /&gt;
atau menunaskan umbi untuk bahan perbanyakan.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Tata cara penyiapan bahan tanaman (bibit) ubi jalar dari tanaman produksi adalah&lt;br /&gt;
sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Pilih tanaman ubi jalar yang sudah berumur 2 bulan atau lebih, keadaan&lt;br /&gt;
pertumbuhannya sehat dan normal.&lt;br /&gt;
b) Potong batang tanaman untuk dijadikan stek batang atau stek pucuk sepanjang&lt;br /&gt;
20-25 cm dengan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi&lt;br /&gt;
hari.&lt;br /&gt;
c) Kumpulkan stek pada suatu tempat, kemudian buang sebagian daun-daunnya&lt;br /&gt;
untuk mengurangi penguapan yang berlebihan.&lt;br /&gt;
d) Ikat bahan tanaman (bibit) rata-rata 100 stek/ikatan, lalu simpan di tempat yang&lt;br /&gt;
teduh selama 1-7 hari dengan tidak bertumpuk.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Persiapan&lt;br /&gt;
Penyiapan lahan bagi ubi jalar sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak terlalu&lt;br /&gt;
basah atau tidak terlalu kering agar strukturnya tidak rusak, lengket, atau keras.&lt;br /&gt;
Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Tanah diolah terlebih dahulu hingga gembur, kemudian dibiarkan selama ±1&lt;br /&gt;
minggu. Tahap berikutnya, tanah dibentuk guludan-guludan.&lt;br /&gt;
b) Tanah langsung diolah bersamaaan dengan pembuatan guludan-guludan.&lt;br /&gt;
2) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;
Jika tanah yang akan ditanami ubi jalar adalah tanah sawah maka pertama-tama&lt;br /&gt;
jerami dibabat, lalu dibuat tumpukan selebar 60-100 cm. Kalau tanah yang&lt;br /&gt;
dipergunakan adalah tanah tegalan maka bedengan dibuat dengan jarak 1 meter.&lt;br /&gt;
Apabila penanaman dilakukan pada tanah-tanah yang miring, maka pada musim&lt;br /&gt;
hujan bedengan sebaiknya dibuat membujur sesuai dengan miringnya tanah.&lt;br /&gt;
Ukuran guludan disesuaikan dengan keadaan tanah. Pada tanah yang ringan&lt;br /&gt;
(pasir mengandung liat) ukuran guludan adalah lebar bawah ± 60 cm, tinggi 30-40&lt;br /&gt;
cm, dan jarak antar guludan 70-100 cm. Pada tanah pasir ukuran guludan adalah&lt;br /&gt;
lebar bawah ±40 cm, tinggi 25-30 cm, dan jarak antar guludan 70-100 cm. Arah&lt;br /&gt;
guludan sebaiknya memanjang utara-selatan, dan ukuran panjang guludan&lt;br /&gt;
disesuaikan dengan keadaan lahan.&lt;br /&gt;
Lahan ubi jalar dapat berupa tanah tegalan atau tanah sawah bekas tanaman&lt;br /&gt;
padi. Tata laksana penyiapan lahan untuk penanaman ubi jalar adalah sebagai&lt;br /&gt;
berikut :&lt;br /&gt;
a) Penyiapan Lahan Tegalan&lt;br /&gt;
1. Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma)&lt;br /&gt;
2. Olahan tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur sambil&lt;br /&gt;
membenamkan rumput-rumput liar&lt;br /&gt;
3. Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu&lt;br /&gt;
4. Buat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 60 cm, tinggi 30-40 cm,&lt;br /&gt;
jarak antar guludan 70-100 cm, dan panjang guludan disesuaikan dengan&lt;br /&gt;
keadaan lahan&lt;br /&gt;
5. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air diantara guludan.&lt;br /&gt;
b) Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi&lt;br /&gt;
1. Babat jerami sebatas permukaan tanah&lt;br /&gt;
2. Tumpuk jerami secara teratur menjadi tumpukan kecil memanjang berjarak 1&lt;br /&gt;
meter antar tumpukan&lt;br /&gt;
3. Olah tanah di luar bidang tumpukan jerami dengan cangkul atau bajak,&lt;br /&gt;
kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami sambil membentuk&lt;br /&gt;
guludan-guludan berukuran lebar bawah ± 60 cm, tinggi 35 cm, dan jarak&lt;br /&gt;
antar guludan 70-100 cm. Panjang disesuaikan dengan keadaan lahan&lt;br /&gt;
4. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan. Pembuatan&lt;br /&gt;
guludan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa tanaman dapat menambah&lt;br /&gt;
bahan organik tanah yang berpengaruh baik terhadap struktur dan&lt;br /&gt;
kesuburan tanah sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan&lt;br /&gt;
permukaan kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah&lt;br /&gt;
pertumbuhan tanaman ubi jalar pada bulan pertama sedikit menguning,&lt;br /&gt;
namun segera sembuh dan tumbuh normal pada bulan berikutnya. Bila&lt;br /&gt;
jerami tidak digunakan sebagai tumpukan guludan, tata laksana penyiapan&lt;br /&gt;
lahan dilakukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
- Babat jerami sebatas permukaan tanah&lt;br /&gt;
- Singkirkan jerami ke tempat lain untuk dijadikan bahan kompos&lt;br /&gt;
- Olah tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur&lt;br /&gt;
- Biarkan tanah kering selama minimal satu minggu&lt;br /&gt;
- Buat guludan-gululdan berukuran lebar bawah ±60 cm, tinggi 35 cm dan&lt;br /&gt;
jarak antar guludan 80-100 cm.&lt;br /&gt;
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan.&lt;br /&gt;
Hal yang penting diperhatikan dalam pembuatan guludan adalah ukuran tinggi&lt;br /&gt;
tidak melebihi 40 cm. Guludan yang terlalu tinggi cenderung menyebabkan&lt;br /&gt;
terbentuknya ubi berukuran panjang dan dalam sehinggga menyulitkan pada saat&lt;br /&gt;
panen. Sebaliknya, guludan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan&lt;br /&gt;
terganggunya pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan serangan&lt;br /&gt;
hama boleng atau lanas oleh Cylas sp.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;
Sistem tanam ubi jalar dapat dilakukan secara tunggal (monokultur) dan tumpang&lt;br /&gt;
sari dengan kacang tanah.&lt;br /&gt;
a) Sistem Monokultur&lt;br /&gt;
1. Buat larikan-larikan dangkal arah memanjang di sepanjang puncak guludan&lt;br /&gt;
dengan cangkul sedalam 10 cm, atau buat lubang dengan tugal, jarak antar&lt;br /&gt;
lubang 25-30 cm.&lt;br /&gt;
2. Buat larikan atau lubang tugal sejauh 7-10 cm di kiri dan kanan lubang tanam&lt;br /&gt;
untuk tempat pupuk.&lt;br /&gt;
3. Tanamkan bibit ubi jalar ke dalam lubang atau larikan hingga angkal batang&lt;br /&gt;
(setek) terbenam tanah 1/2-2/3 bagian, kemudian padatkan tanah dekat&lt;br /&gt;
pangkal setek (bibit).&lt;br /&gt;
4. Masukkan pupuk dasar berupa urea 1/3 bagian ditambah TSP seluruh&lt;br /&gt;
bagian ditambah KCl 1/3 bagian dari dosis anjuran ke dalam lubang atau&lt;br /&gt;
larikan, kemudian ditutup dengan tanah tipis-tipis. Dosis pupuk yang&lt;br /&gt;
dianjurkan adalah 45-90 kg N/ha (100-200 kg Urea/ha) ditambah 25 kg&lt;br /&gt;
P2O5/ha (50 kg TSP/ha) ditambah 50 kg K2O/ha (100 kg KCl/ha). Pada saat&lt;br /&gt;
tanam diberikan pupuk urea 34-67 kg ditambah TSP 50 kg ditambah KCl 34&lt;br /&gt;
kg per hektar. Tanaman ubi jalar amat tanggap terhadap pemberian pupuk N&lt;br /&gt;
(urea) dan K (KCl).&lt;br /&gt;
b) Sistem Tumpang Sari&lt;br /&gt;
Tujuan sistem tumpang sari antara lain untuk meningkatkan produksi dan&lt;br /&gt;
pendapatan per satuan luas lahan. Jenis tanaman yang serasi&lt;br /&gt;
ditumpangsarikan dengan ubi jalar adalah kacang tanah. Tata cara penanaman&lt;br /&gt;
sistem tumpang sari prinsipnya sama dengan sistem monokultur, hanya di&lt;br /&gt;
antara barisan tanaman ubi jalar atau di sisi guludan ditanami kacang tanah.&lt;br /&gt;
Jarak tanam ubi jalar 100 cm x 25-30 cm, dan jarak tanam kacang tanah 30 x&lt;br /&gt;
10 cm.&lt;br /&gt;
2) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Bibit yang telah disediakan dibawa ke kebun dan ditaruh di atas bedengan. Bibit&lt;br /&gt;
dibenamkan kira-kira 2/3 bagian kemudian ditimbun dengan tanah kemudian&lt;br /&gt;
disirami air.&lt;br /&gt;
Bibit sebaiknya ditanam mendatar, dan semua pucuk diarahkan ke satu jurusan.&lt;br /&gt;
Dalam satu alur ditanam satu batang, bagian batang yang ada daunnya tersembul&lt;br /&gt;
di atas bedengan.&lt;br /&gt;
Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak kira-kira 30 cm. Untuk areal&lt;br /&gt;
seluas 1 ha dibutuhkan bibit stek kurang lebih 36.000 batang. Penanaman ubi&lt;br /&gt;
jalar di lahan kering biasanya dilakukan pada awal musim hujan (Oktober), atau&lt;br /&gt;
awal musim kemarau (Maret) bila keadaan cuaca normal. Dilahan sawah, waktu&lt;br /&gt;
tanam yang paling tepat adalah segera setelah padi rendengan atau padi gadu,&lt;br /&gt;
yakni pada awal musim kemarau.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;
Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus harus diamati&lt;br /&gt;
kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati&lt;br /&gt;
harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati,&lt;br /&gt;
kemudian diganti dengan bibit yang baru, dengan menanam sepertiga bagian&lt;br /&gt;
pangkal setek ditimbun tanah.&lt;br /&gt;
Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar&lt;br /&gt;
matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas. Bibit (setek) untuk&lt;br /&gt;
penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan penanaman ubi jalar biasanya&lt;br /&gt;
mudah ditumbuhi rumput liar (gulma). Gulma merupakan pesaing tanaman ubi&lt;br /&gt;
jalar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara, dan sinar&lt;br /&gt;
matahaari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersama-sama kegiatan&lt;br /&gt;
penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan,&lt;br /&gt;
kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.&lt;br /&gt;
3) Pembubunan&lt;br /&gt;
Penyiangan dan pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1 bulan&lt;br /&gt;
setelah tanam, kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan. Tata cara&lt;br /&gt;
penyiangan dan pembumbunan meliputi tahap-tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar&lt;br /&gt;
tidak merusak akar tanaman ubi jalar.&lt;br /&gt;
b) Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng guludan,&lt;br /&gt;
kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan.&lt;br /&gt;
c) Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan pengairan&lt;br /&gt;
hingga tanah cukup basah.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
Zat hara yang terbawa atau terangkut pada saat panen ubi jalar cukup tinggi, yaitu&lt;br /&gt;
terdiri dari 70 kg N (± 156 kg urea), 20 kg P2O5 (±42 kg TSP), dan 110 kg K2O (±&lt;br /&gt;
220 kg KCl) per hektar pada tingkat hasil 15 ton ubi basah. Pemupukan bertujuan&lt;br /&gt;
menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah kesuburan&lt;br /&gt;
tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman.&lt;br /&gt;
Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau tanaman di&lt;br /&gt;
daerah setempat. Dosis pupuk yang dianjurkan secara umum adalah 45-90kg&lt;br /&gt;
N/ha (100-200 kg urea/ha) ditambah 25 kg P2O5/ha (±50 kg TSP/ha) ditambah&lt;br /&gt;
50 kg K2O/ha (±100 kg KCl/ha).&lt;br /&gt;
Pemupukan dapat dilakukan dengan sistem larikan (alur) dan sistem tugal.&lt;br /&gt;
Pemupukan dengan sistem larikan mula-mula buat larikan (alur) kecil di sepanjang&lt;br /&gt;
guludan sejauh 7-10 cm dari batang tanaman, sedalam 5-7 cm, kemudian&lt;br /&gt;
sebarkan pupuk secara merata ke dalam larikan sambil ditimbun dengan tanah.&lt;br /&gt;
5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap kekeringan, fase awal pertumbuhan&lt;br /&gt;
memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai. Seusai tanam, tanah atau&lt;br /&gt;
guludan tempat pertanaman ubi jalar harus diairi, selama 15-30 menit hingga&lt;br /&gt;
tanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan keseluruh pembuangan. Pengairan&lt;br /&gt;
berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman ubi jalar berumur 1-2&lt;br /&gt;
bulan. Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu&lt;br /&gt;
sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan.&lt;br /&gt;
Waktu pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari. Di daerah&lt;br /&gt;
yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu&lt;br /&gt;
sekali. Hal Yang penting diperhatikan dalam kegiatan pengairan adalah&lt;br /&gt;
menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
a) Penggerek Batang Ubi Jalar&lt;br /&gt;
Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat). Cirinya adalah&lt;br /&gt;
membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke bagian ubi. Di&lt;br /&gt;
dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat).&lt;br /&gt;
Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada stadium umur muda terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama &gt;5 %, perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang dianjurkan.&lt;br /&gt;
b) Hama Boleng atau Lanas&lt;br /&gt;
Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa kumbang kecil yang&lt;br /&gt;
bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya berwarna merah.&lt;br /&gt;
Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun sambil meletakkan telur di&lt;br /&gt;
tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas menjadi larva (ulat),&lt;br /&gt;
selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang atau ubi yang&lt;br /&gt;
terdapat di permukaan tanah terbuka.&lt;br /&gt;
Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata. Pengendalian: (1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi jalar secara periodik: bila ditemukan tingkat serangan &gt; 5 %, segera dilakukan tindakan pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Decis 2,5 EC atau Monitor 200 LC dengan konsentrasi yang dianjurkan; (6) penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak;&lt;br /&gt;
(7) pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih&lt;br /&gt;
berat.&lt;br /&gt;
c) Tikus (Rattus rattus sp)&lt;br /&gt;
Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua atau&lt;br /&gt;
sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi dengan cara&lt;br /&gt;
mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak secara tidak beraturan.&lt;br /&gt;
Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan kadang-kadang diikuti&lt;br /&gt;
dengan gejala pembusukan ubi.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk&lt;br /&gt;
menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik&lt;br /&gt;
mungkin agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan&lt;br /&gt;
beracun, seperti Ramortal atau Klerat.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
a) Kudis atau Scab&lt;br /&gt;
Penyebab: cendawan Elsinoe batatas.&lt;br /&gt;
Gejala: adanya benjolan pada tangkai&lt;br /&gt;
sereta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat serangan yang&lt;br /&gt;
berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga&lt;br /&gt;
hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) pergiliran/rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat.&lt;br /&gt;
b) Layu fusarium&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum f. batatas.&lt;br /&gt;
Gejala: tanaman tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan fusarium dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit dapat terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium.&lt;br /&gt;
c) Virus&lt;br /&gt;
Beberapa jenis virus yang ditemukan menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal&lt;br /&gt;
Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf.&lt;br /&gt;
Gejala: pertumbuhan batang dan daun tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3)&lt;br /&gt;
pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan.&lt;br /&gt;
d) Penyakit Lain-lain&lt;br /&gt;
Penyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur&lt;br /&gt;
Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan ubi oleh jamur Rhizopus&lt;br /&gt;
nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh jamur Albugo ipomeae pandurata&lt;br /&gt;
Schweinitz.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dilakukan secara terpadu, meliputi perbaikan kultur&lt;br /&gt;
teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang,&lt;br /&gt;
dan penggunaan pestisida selektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang fisiologis). Ciri&lt;br /&gt;
fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum,&lt;br /&gt;
ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya enak&lt;br /&gt;
serta tidak berair.&lt;br /&gt;
Penentuan waktu panen ubi jalar didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas&lt;br /&gt;
ubi jalar berumur pendek (genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan&lt;br /&gt;
varietas berumur panjang (dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan.&lt;br /&gt;
Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada umur 3 bulan, dengan penundaan paling&lt;br /&gt;
lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada umur lebih dari 4 bulan, selain resiko&lt;br /&gt;
serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.&lt;br /&gt;
b) Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit,&lt;br /&gt;
kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.&lt;br /&gt;
c) Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.&lt;br /&gt;
d) Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil.&lt;br /&gt;
e) Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.&lt;br /&gt;
f) Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara&lt;br /&gt;
terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka&lt;br /&gt;
ataupun terserang oleh hama atau penyakit.&lt;br /&gt;
g) Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan&lt;br /&gt;
(pengumpulan) hasil.&lt;br /&gt;
Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;
Tanaman ubi jalar yang tumbuhnya baik dan tidak mendapat serangan hama&lt;br /&gt;
penyakit yang berarti (berat) dapat menghasilkan lebih dari 25 ton ubi basah per&lt;br /&gt;
hektar. Varietas unggul seperti borobudur dapat menghasilkan 25 ton, prambanan 28&lt;br /&gt;
ton, dan kalasan antara 31,2-47,5 ton per hektar.&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau&lt;br /&gt;
oleh angkutan.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Pemilihan atau penyortiran ubi jalar sebenarnya dapat dilakukan pada saat&lt;br /&gt;
pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran ubi jalar dapat dilakukan setelah&lt;br /&gt;
semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan&lt;br /&gt;
untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta&lt;br /&gt;
yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garisgaris&lt;br /&gt;
pada daging umbi.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Penanganan pascapanen ubi jalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan daya&lt;br /&gt;
simpan. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu. Tata&lt;br /&gt;
cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3&lt;br /&gt;
hari.&lt;br /&gt;
b) Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering,&lt;br /&gt;
sejuk, dan peredaran udaranya baik.&lt;br /&gt;
c) Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu&lt;br /&gt;
setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup.&lt;br /&gt;
Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi&lt;br /&gt;
jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan&lt;br /&gt;
menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang&lt;br /&gt;
baru dipanen.&lt;br /&gt;
Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan&lt;br /&gt;
pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang)&lt;br /&gt;
penyimpanan bersuhu rendah antara 27-30 derajat C (suhu kamar) dengan&lt;br /&gt;
kelembapan udara antara 85-90 %.&lt;br /&gt;
11. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung dengan&lt;br /&gt;
maksimum maksimum 30 karung. Pengambilan contoh dilakukan beberapa kali,&lt;br /&gt;
sampai mencapai berat 500 gram. Contoh kemudian disegel dan diberi label.&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh harus orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih&lt;br /&gt;
dahulu.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Dibagian luar kemasan ditulis dengan bahan yang tidak mudah luntur, jelas terbaca,&lt;br /&gt;
antara lain:&lt;br /&gt;
a) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;
b) Nama barang atau jenis barang.&lt;br /&gt;
c) Nama perusahaan atau ekspiortir.&lt;br /&gt;
d) Berat bersih.&lt;br /&gt;
e) Berat kotor.&lt;br /&gt;
f) Negara/tempat tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, Proyek&lt;br /&gt;
PEMD, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TEMULAWAK ( Curcuma xanthorrhiza ROXB. )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/temulawak-curcuma-xanthorrhiza-roxb.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-693310472254855134</guid><description>SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Secara alami temulawak tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh&lt;br /&gt;
dan terlindung dari teriknya sinar matahari. Di habitat alami rumpun&lt;br /&gt;
tanaman ini tumbuh subur di bawah naungan pohon bambu atau jati.&lt;br /&gt;
Namun demikian temulawak juga dapat dengan mudah ditemukan di&lt;br /&gt;
tempat yang terik seperti tanah tegalan. Secara umum tanaman ini&lt;br /&gt;
memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah&lt;br /&gt;
beriklim tropis.&lt;br /&gt;
2) Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman ini antara 19-30 oC&lt;br /&gt;
3) Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan antara 1.000-4.000&lt;br /&gt;
mm/tahun.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
Perakaran temulawak dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis&lt;br /&gt;
tanah baik tanah berkapur, berpasir, agak berpasir maupun tanah-tanah berat&lt;br /&gt;
yang berliat. Namun demikian untuk memproduksi rimpang yang optimal&lt;br /&gt;
diperlukan tanah yang subur, gembur dan berdrainase baik. Dengan demikian&lt;br /&gt;
pemupukan anorganik dan organik diperlukan untuk memberi unsur hara&lt;br /&gt;
yang cukup dan menjaga struktur tanah agar tetap gembur. Tanah yang&lt;br /&gt;
mengandung bahan organik diperlukan untuk menjaga agar tanah tidak&lt;br /&gt;
mudah tergenang air.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Temulawak dapat tumbuh pada ketinggian tempat 5-1.000 m/dpl dengan&lt;br /&gt;
ketinggian tempat optimum adalah 750 m/dpl. Kandungan pati tertinggi di&lt;br /&gt;
dalam rimpang diperoleh pada tanaman yang ditanam pada ketinggian 240&lt;br /&gt;
m/dpl. Temulawak yang ditanam di dataran tinggi menghasilkan rimpang&lt;br /&gt;
yang hanya mengandung sedikit minyak atsiri. Tanaman ini lebih cocok&lt;br /&gt;
dikembangkan di dataran sedang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpangrimpangnya&lt;br /&gt;
baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang&lt;br /&gt;
anakan (rimpang cabang). Keperluan rimpang induk adalah 1.500-2.000&lt;br /&gt;
kg/ha dan rimpang cabang sebanyak 500-700 kg/ha.&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;
Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua yang sehat berumur 10 -12&lt;br /&gt;
bulan.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Tanaman induk dibongkar dan bersihkan akar dan tanah yang menempel&lt;br /&gt;
pada rimpang. Pisahkan rimpang induk dari rimpang anak.&lt;br /&gt;
a. Bibit rimpang induk&lt;br /&gt;
Rimpang induk dibelah menjadi empat bagian yang mengandung 2-3&lt;br /&gt;
mata tunas dan dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari berturut-turut.&lt;br /&gt;
Setelah itu rimpang dapat langsung ditanam.&lt;br /&gt;
b. Bibit rimpang anak&lt;br /&gt;
Simpan rimpang anak yang baru diambil di tempat lembab dan gelap&lt;br /&gt;
selama 1-2 bulan sampai keluar tunas baru. Penyiapan bibit dapat pula&lt;br /&gt;
dilakukan dengan menimbun rimpang di dalam tanah pada tempat&lt;br /&gt;
teduh, meyiraminya dengan air bersih setiap pagi/sore hari sampai&lt;br /&gt;
keluar tunas. Rimpang yang telah bertunas segera dipotong-potong&lt;br /&gt;
menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap ditanam.&lt;br /&gt;
Bibit yang berasal dari rimpang induk lebih baik daripada rimpang anakan.&lt;br /&gt;
Sebaiknya bibit disiapkan sesaat sebelum tanam agar mutu bibit tidak&lt;br /&gt;
berkurang akibat penyimpanan.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Persiapan Lahan&lt;br /&gt;
Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau&lt;br /&gt;
pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun temulawak sebaiknya dilakukan&lt;br /&gt;
30 hari sebelum tanam.&lt;br /&gt;
2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;
Lahan dibersihkan dari tanaman-tanaman lain dan gulma yang dapat&lt;br /&gt;
mengganggu pertumbuhan kunyit. Lahan dicangkul sedalam 30 cm&lt;br /&gt;
sampai tanah menjadi gembur.&lt;br /&gt;
3) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;
Lahan dibuat bedengan selebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar&lt;br /&gt;
bedengan 30-40 cm. Selain dalam bentuk bedengan, lahan dapat juga&lt;br /&gt;
dibentuk menjadi petakan-petakan agak luas yang dikelilingi parit&lt;br /&gt;
pemasukkan dan pembuangan air, khususnya jika temulawak akan&lt;br /&gt;
ditanam di musim hujan.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan Organik (sebelum tanam)&lt;br /&gt;
Pupuk kandang matang dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 1-2&lt;br /&gt;
kg. Keperluan pupuk kandang untuk satu hektar kebun adalah 20-25 ton&lt;br /&gt;
karena pada satu hektar lahan terdapat 20.000-25.000 tanaman.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;
Penanaman dilakukan secara monokultur dan lebih baik dilakukan pada&lt;br /&gt;
awal musim hujan kecuali pada daerah yang memiliki pengairan sepanjang&lt;br /&gt;
waktu. Fase awal pertumbuhan adalah saat dimana tanaman memerlukan&lt;br /&gt;
banyak air.&lt;br /&gt;
2) Pembutan Lubang Tanam&lt;br /&gt;
Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30&lt;br /&gt;
x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60&lt;br /&gt;
cm.&lt;br /&gt;
3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas&lt;br /&gt;
menghadap ke atas. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah sedalam 10&lt;br /&gt;
cm.&lt;br /&gt;
4) Perioda Tanam&lt;br /&gt;
Masa tanam temulawak yaitu pada awal musim hujan untuk masa panen&lt;br /&gt;
musim kemarau mendatang. Penanaman pada di awal musim hujan ini&lt;br /&gt;
memungkinkan untuk suplai air yang cukup bagi tanaman muda yang&lt;br /&gt;
memang sangat membutuhkan air di awal pertumbuhannya.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penyulaman&lt;br /&gt;
Tanaman yang rusak/mati diganti oleh bibit yang sehat yang merupakan&lt;br /&gt;
bibit cadangan.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Penyiangan rumput liar dilakukan pagi/sore hari yang tumbuh di atas&lt;br /&gt;
bedengan atau petak bertujuan untuk menghindari persaingan makanan&lt;br /&gt;
dan air. Peyiangan pertama dan kedua dilakukan pada dua dan empat&lt;br /&gt;
bulan setelah tanam (bersamaan dengan pemupukan). Selanjutnya&lt;br /&gt;
penyiangan dapat dilakukan segera setelah rumput liar tumbuh. Untuk&lt;br /&gt;
mencegah kerusakan akar, rumput liar disiangi dengan bantuan&lt;br /&gt;
kored/cangkul dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
3) Pembubunan&lt;br /&gt;
Kegiatan pembubunan perlu dilakukan pada pertanaman rimpangrimpangan&lt;br /&gt;
untuk memberikan media tumbuh rimpang yang cukup baik.&lt;br /&gt;
Pembubunan dilakukan dengan menimbun kembali area perakaran dengan&lt;br /&gt;
tanah yang jatuh terbawa air. Pembubunan dilakukan secara rutin setelah&lt;br /&gt;
dilakukan penyiangan.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
a. Pemupukan Organik&lt;br /&gt;
Pada pertanian organic yang tidak menggunakan bahan kimia&lt;br /&gt;
termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara&lt;br /&gt;
organic yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organic atau pupuk&lt;br /&gt;
kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan&lt;br /&gt;
pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organic ini dilakukan&lt;br /&gt;
pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk&lt;br /&gt;
dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur&lt;br /&gt;
tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga&lt;br /&gt;
dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal&lt;br /&gt;
pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan&lt;br /&gt;
selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10&lt;br /&gt;
bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman.&lt;br /&gt;
Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan&lt;br /&gt;
penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.&lt;br /&gt;
b. Pemupukan Konvensional&lt;br /&gt;
§ Pemupukan Awal&lt;br /&gt;
Pupuk dasar yang diberikan saat tanam adalah SP-36 sebanyak 100&lt;br /&gt;
kg/ha yang disebar di dalam larikan sedalam 5 cm di antara barisan&lt;br /&gt;
tanaman atau dimasukkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada&lt;br /&gt;
jarak 10 cm dari bibit yang baru ditanam. Larikan atau lubang&lt;br /&gt;
pupuk kemudian ditutup dengan tanah. Sesaat setelah pemupukan&lt;br /&gt;
tanaman langsung disiram untuk mencegah kekeringan tunas.&lt;br /&gt;
§ Pemupukan Susulan&lt;br /&gt;
Pada waktu berumur dua bulan, tanaman dipupuk dengan pupuk&lt;br /&gt;
kandang sebanyak 0,5 kg/tanaman (10-12,5 ton/ha), 95 kg/ha urea&lt;br /&gt;
dan 85 kg/ha KCl. Pupuk diberikan kembali pada waktu umur&lt;br /&gt;
tanaman mencapai empat bulan berupa urea dan KCl dengan dosis&lt;br /&gt;
masing-masing 40 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara disebarkan&lt;br /&gt;
merata di dalam larikan pada jarak 20 cm dari pangkal batang&lt;br /&gt;
tanaman lalu ditutup dengan tanah.&lt;br /&gt;
5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Pengairan dilakukan secara rutin pada pagi/sore hari ketika tanaman&lt;br /&gt;
masih berada pada masa pertumbuhan awal. Pengairan selanjutnya&lt;br /&gt;
ditentukan oleh kondisi tanah dan iklim. Biasanya penyiraman akan lebih&lt;br /&gt;
banyak dilakukan pada musim kemarau. Untuk menjaga pertumbuhan&lt;br /&gt;
tetap baik, tanah tidak boleh berada dalam keadaan kering.&lt;br /&gt;
6) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;
Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama&lt;br /&gt;
penyakit.&lt;br /&gt;
7) Pemulsaan&lt;br /&gt;
Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk&lt;br /&gt;
menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak&lt;br /&gt;
gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan.&lt;br /&gt;
Jerami dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang&lt;br /&gt;
tanaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
Hama temulawak adalah:&lt;br /&gt;
1) Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp.),&lt;br /&gt;
2) Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.) dan&lt;br /&gt;
3) Lalat rimpang (Mimegrala coerulenfrons Macquart).&lt;br /&gt;
Pengendalian:&lt;br /&gt;
penyemprotan insektisida Kiltop 500 EC atau Dimilin 25 WP dengan&lt;br /&gt;
konsentrasi 0.1-0.2 %.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Jamur Fusarium&lt;br /&gt;
Penyebab:&lt;br /&gt;
F. oxysporum Schlecht dan Phytium sp. serta bakteri Pseudomonas sp.&lt;br /&gt;
Berpotensi untuk menyerang perakaran dan rimpang temulawak baik di&lt;br /&gt;
kebun atau setelah panen.&lt;br /&gt;
Gejala:&lt;br /&gt;
Fusarium menyebabakan busuk akar rimpang dengan gejala daum&lt;br /&gt;
menguning, layu, pucuk mengering dan tanaman mati. Akar rimpang&lt;br /&gt;
menjadi keriput dan berwarna kehitam-hitaman dan bagian tengahnya&lt;br /&gt;
membusuk. Jamur Phytium menyebabkan daun menguning, pangkal&lt;br /&gt;
batang dan rimpang busuk, berubah warna menjadi coklat dan akhirnya&lt;br /&gt;
keseluruhan tanaman menjadi busuk.&lt;br /&gt;
Pengendalian:&lt;br /&gt;
melakukan pergiliran tanaman yaitu setelah panen tidak menanam&lt;br /&gt;
tanaman yang berasal dari keluarga Zingiberaceae. Fungisida yang dapat&lt;br /&gt;
dipakai adalah Dimazeb 80 WP atau Dithane M-45 80 WP dengan&lt;br /&gt;
konsentrasi 0.1 - 0.2 %.&lt;br /&gt;
2) Penyakit layu&lt;br /&gt;
Penyebab:&lt;br /&gt;
Pseudomonas sp.&lt;br /&gt;
Gejala:&lt;br /&gt;
kelayuan daun bagian bawah yang diawali menguningnya daun, pangkal&lt;br /&gt;
batang basah dan rimpang yang dipotong mengeluarkan lendir seperti&lt;br /&gt;
getah.&lt;br /&gt;
Pengendalian:&lt;br /&gt;
dengan pergiliran tanaman dan penyemprotan Agrimycin 15/1.5 WP atau&lt;br /&gt;
grept 20 WP dengan konsentrasi 0.1 -0.2%.&lt;br /&gt;
Gulma&lt;br /&gt;
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara&lt;br /&gt;
lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, dan gulma berdaun lebar&lt;br /&gt;
lainnya.&lt;br /&gt;
Pengendalian hama/penyakit secara organik&lt;br /&gt;
Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia&lt;br /&gt;
berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya&lt;br /&gt;
dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan&lt;br /&gt;
hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama&lt;br /&gt;
Terpadu) yang komponennya adalah sbb:&lt;br /&gt;
1) Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit&lt;br /&gt;
unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap&lt;br /&gt;
serangan hama dari sejak awal pertanaman&lt;br /&gt;
2) Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami&lt;br /&gt;
3) Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan&lt;br /&gt;
hama dan penyakit.&lt;br /&gt;
4) Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.&lt;br /&gt;
5) Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya&lt;br /&gt;
tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta&lt;br /&gt;
rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus&lt;br /&gt;
penyebaran hama dan penyakit potensial.&lt;br /&gt;
6) Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan&lt;br /&gt;
dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang&lt;br /&gt;
dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini&lt;br /&gt;
hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang&lt;br /&gt;
diperoleh dari hasil pengamatan.&lt;br /&gt;
Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan&lt;br /&gt;
digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:&lt;br /&gt;
1) Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk&lt;br /&gt;
insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk&lt;br /&gt;
serangga kecil misalnya Aphids.&lt;br /&gt;
2) Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin&lt;br /&gt;
yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat&lt;br /&gt;
syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga&lt;br /&gt;
seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.&lt;br /&gt;
3) Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone&lt;br /&gt;
untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan&lt;br /&gt;
semprotan.&lt;br /&gt;
4) Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung&lt;br /&gt;
azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama&lt;br /&gt;
pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti&lt;br /&gt;
hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif&lt;br /&gt;
untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.&lt;br /&gt;
5) Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu&lt;br /&gt;
pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.&lt;br /&gt;
6) Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen&lt;br /&gt;
utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan&lt;br /&gt;
pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Rimpang dipanen dari tanaman yang telah berumur 9-10 bulan. Tanaman&lt;br /&gt;
yang siap panen memiliki daun-daun dan bagian tanaman yang telah&lt;br /&gt;
menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan berwarna kuning&lt;br /&gt;
kecoklatan.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Tanah disekitar rumpun digali dan rumpun diangkat bersama akar dan&lt;br /&gt;
rimpangnya.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Panen dilakukan pada akhir masa pertumbuhan tanaman yaitu pada musim&lt;br /&gt;
kemarau. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas&lt;br /&gt;
tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau&lt;br /&gt;
tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun&lt;br /&gt;
berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang&lt;br /&gt;
dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif&lt;br /&gt;
karena lebih banyak kadar airnya.&lt;br /&gt;
Perkiraan Hasil Panen&lt;br /&gt;
Tanaman yang sehat dan terpelihara menghasilkan rimpang segar sebanyak&lt;br /&gt;
10-20 ton/hektar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Penyortiran Basah dan Pencucian&lt;br /&gt;
Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran&lt;br /&gt;
berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah&lt;br /&gt;
bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian.&lt;br /&gt;
Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air&lt;br /&gt;
bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan&lt;br /&gt;
pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar&lt;br /&gt;
kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air.&lt;br /&gt;
Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar&lt;br /&gt;
kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai,&lt;br /&gt;
tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang&lt;br /&gt;
tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah&lt;br /&gt;
plastik/ember.&lt;br /&gt;
Perajangan&lt;br /&gt;
Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi&lt;br /&gt;
bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan&lt;br /&gt;
melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan,&lt;br /&gt;
timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat&lt;br /&gt;
dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.&lt;br /&gt;
Pengeringan&lt;br /&gt;
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari&lt;br /&gt;
atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari,&lt;br /&gt;
atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari&lt;br /&gt;
dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling&lt;br /&gt;
menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam&lt;br /&gt;
sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara&lt;br /&gt;
yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi.&lt;br /&gt;
Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50oC - 60oC. Rimpang yang&lt;br /&gt;
akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak&lt;br /&gt;
saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang&lt;br /&gt;
dihasilkan&lt;br /&gt;
Penyortiran Kering.&lt;br /&gt;
Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan&lt;br /&gt;
cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah&lt;br /&gt;
atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini&lt;br /&gt;
(untuk menghitung rendemennya).&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong&lt;br /&gt;
plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai&lt;br /&gt;
sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang&lt;br /&gt;
menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode&lt;br /&gt;
produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30oC&lt;br /&gt;
dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar&lt;br /&gt;
dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang&lt;br /&gt;
bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari&lt;br /&gt;
langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Standard mutu temulawak untuk pasaran luar negeri dicantumkan berikut ini:&lt;br /&gt;
1) Warna : kuning-jingga sampai coklat kuning-jingga&lt;br /&gt;
2) Aroma : khas wangi aromatis&lt;br /&gt;
3) Rasa : mirip rempah dan agak pahit&lt;br /&gt;
4) Kadar air maksimum : 12 %&lt;br /&gt;
5) Kadar abu : 3-7 %&lt;br /&gt;
6) Kadar pasir (kotoran) : 1 %&lt;br /&gt;
7) Kadar minyak atsiri (minimal) : 5 %&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Dari jumlah kemasan dalam satu partai temulawak siap ekspor diambil&lt;br /&gt;
sejumlah kemasan secara acak seperti dibawah ini, dengan maksimum berat&lt;br /&gt;
tiap partai 20 ton.&lt;br /&gt;
1) Untuk jumlah kemasan dalam partai 1–100, contoh yang diambil 5.&lt;br /&gt;
2) Untuk jumlah kemasan dalam partai 101–300, contoh yang diambil 7&lt;br /&gt;
3) Untuk jumlah kemasan dalam partai 301–500, contoh yang diambil 9&lt;br /&gt;
4) Untuk jumlah kemasan dalam partai 501-1000, contoh yang diambil 10&lt;br /&gt;
5) Untuk jumlah kemasan dalam partai di atas 1000, contoh yang diambil&lt;br /&gt;
minimum 15&lt;br /&gt;
Kemasan yang telah diambil, dituangkan isinya, kemudian diambil secara acak&lt;br /&gt;
sebanyak 10 rimpang dari tiap kemasan sebagai contoh. Khusus untuk&lt;br /&gt;
kemasan temulawak berat 20 kg atau kurang, maka contoh yang diambil&lt;br /&gt;
sebanyak 5 rimpang. Contoh yang telah diambil kemudian diuji untuk&lt;br /&gt;
ditentukan mutunya. Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu&lt;br /&gt;
orang yang telah berpengalaman atau dilatih terlebih dahulu dan mempunyai&lt;br /&gt;
ikatan dengan suatu badan hukum.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Irisan temulawak kering dikemas dalam kardus karton yang dilapisi plastik&lt;br /&gt;
dengan kapasitas 20 kg. Dibagian luar dari tiap kemasan ditulis, dengan&lt;br /&gt;
bahan yang tidak luntur, jelas terbaca antara lain:&lt;br /&gt;
 Produk asal Indonesia&lt;br /&gt;
 Nama/kode perusahaan/eksportir&lt;br /&gt;
 Nama barang&lt;br /&gt;
 Negara tujuan&lt;br /&gt;
 Berat kotor&lt;br /&gt;
 Berat bersih&lt;br /&gt;
 Nama pembeli&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: Sistim Informasi Manajemen&lt;br /&gt;
Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS Editor : Kemal Prihatman&lt;br /&gt;
KEMBALI KE MENU&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TALAS ( Colocasia esculenta (L.) Schott )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/talas-colocasia-esculenta-l-schott.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-85119530607866737</guid><description>SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
a) Talas tumbuh tersebar di daerah tropis, sub tropis dan di daerah beriklim sedang.&lt;br /&gt;
Pembudidayaan talas dapat dilakukan pada daerah beriklim lembab (curah hujan&lt;br /&gt;
tinggi) dan daerah beriklim kering (curah hujan rendah), tetapi ada kecenderungan&lt;br /&gt;
bahwa produk talas akan lebih baik pada daerah yang beriklim rendah atau iklim&lt;br /&gt;
panas.&lt;br /&gt;
b) Curah hujan optimum untuk pertumbuhan tanaman talas adalah 175 cm pertahun.&lt;br /&gt;
Talas juga dapat tumbuh di dataran tinggi, pada tanah tadah hujan dan tumbuh&lt;br /&gt;
sangat baik pada lahan yang bercurah hujan 2000 mm/tahun atau lebih.&lt;br /&gt;
c) Selama pertumbuhan tanaman talas menyukai tempat terbuka dengan penyinaran&lt;br /&gt;
penuh serta tanaman ini mudah tumbuh pada lingkungan dengan suhu 25-30&lt;br /&gt;
derajat C dan kelembaban tinggi.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
a) Tanaman talas menyukai tanah yang gembur, yang kaya akan bahan organik atau&lt;br /&gt;
humus.&lt;br /&gt;
b) Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah dengan berbagai jenis tanah, misal tanah&lt;br /&gt;
lempung yang subur berwarna coklat pada lapisan tanah yang bebas air tanah,&lt;br /&gt;
tanah vulkanik,andosol, tanah latosol.&lt;br /&gt;
b) Tanaman talas untuk mendapatkan hasil yang tinggi, harus tumbuh di tanah&lt;br /&gt;
drainase baik dan PH 5,5–6,5. Tanah yang bergambut sangat baik untuk talas&lt;br /&gt;
tetapi harus diberi kapur 1 ton/ha bila PH nya di bawah 5,0.&lt;br /&gt;
c) Tanaman talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Apabila tidak&lt;br /&gt;
tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman&lt;br /&gt;
talas akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok untuk tanaman ini ialah&lt;br /&gt;
menjelang musim hujan, sedang musim panen tergantung kepada kultivar yang di&lt;br /&gt;
tanam.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Talas dapat tumbuh pada ketinggian 0–1300 m dpl. Di Indonesia sendiri talas dapat&lt;br /&gt;
tumbuh di daerah pantai sampai pergunungan dengan ketinggian 2000 m dpl,&lt;br /&gt;
meskipun sangat lama dalam memanennya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Pembibitan tanaman talas dapat dilakukan dengan tunas atau umbi.&lt;br /&gt;
1) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Pada umumnya pertanaman talas masih dijalankan secara tradisional, dimana&lt;br /&gt;
bibit yang berupa anakan, diperoleh dari pertanaman sebelumnya. Bibit yang baik&lt;br /&gt;
merupakan anakan kedua atau ketiga dari pertanaman talas. Anakan tersebut&lt;br /&gt;
setelah dipisahkan dari tanaman induk, disimpan di tempat yang lembab, untuk&lt;br /&gt;
digunakan pada musim tanam berikutnya.&lt;br /&gt;
2) Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;
Penanaman talas sangat mudah dilakukan hanya memerlukan ketekunan dan&lt;br /&gt;
keterampilan sederhana. Pertama persiapkan bibit yang berasal dari tunas atau&lt;br /&gt;
umbi. Bila bibit diambil dari tunas, maka tunas itu diperoleh dari talas yang telah&lt;br /&gt;
berumur 5–7 bulan, yaitu tunas kedua dan dan ketiga. Bila bibit berasal dari umbi,&lt;br /&gt;
sebaiknya dipilih bagian umbi yang dekat titik tumbuh, kemudian iris dan&lt;br /&gt;
tinggalkan satu mata bakal tunas. Umbi yang diiris dianginkan dulu dan waktu&lt;br /&gt;
disemaikan lapisan bagian dalam irisan dilapisi abu. Baru setelah berdaun 2-3&lt;br /&gt;
lembar, umbi siap ditanam pada tanah yang telah diolah sampai gembur, dengan&lt;br /&gt;
jarak tanam 75 x 75 cm dan dalam 30 cm. Pengaturan jarak tanam tergantung dari&lt;br /&gt;
varietas dan ukuran tanaman. Talas biasanya ditanam dalam dua baris di&lt;br /&gt;
bedengan selebar 1,2 m, dengan jarak 45 cm di dalam baris.&lt;br /&gt;
3) Pemindahan bibit&lt;br /&gt;
Pemindahan bibit dapat dilakukan setelah tunas diperoleh dari talas yang telah&lt;br /&gt;
berumur 5–7 bulan, yaitu tunas kedua dan dan ketiga. Kalau bibit dari umbi, yaitu&lt;br /&gt;
setelah umbi berdaun 2-3 lembar, umbi siap ditanam pada tanah yang telah diolah&lt;br /&gt;
sampai gembur, dengan jarak tanam 75 x 75 cm dan dalam 30 cm.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Penyiapan Lahan&lt;br /&gt;
Di dalam pengolahan maupun penyiapan lahan, tanahnya harus gembur dan&lt;br /&gt;
lepas. Cara pengolahan tanah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu&lt;br /&gt;
pengolahan tanah setelah tanaman padi dan setelah tanaman sayuran.&lt;br /&gt;
Pengolahan tanah setelah tanam padi mulai dengan pembabatan jerami. Jerami&lt;br /&gt;
tersebut kemudian ditumpuk kemudian di bakar. Tanah dibiarkan beberapa hari,&lt;br /&gt;
baru kemudian dicangkul, dihaluskan dan dibuat bedeng-bedengan dan&lt;br /&gt;
pemupukan dasar. Pengolahan tanah jika talas di tanam setelah tanaman&lt;br /&gt;
sayuran, dilakukan dengan menyiangi gulma, mencangkul, membuat bedengbedengan&lt;br /&gt;
dan pemupukan dasar.&lt;br /&gt;
2) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;
Talas biasanya ditanam dalam dua baris di bedengan selebar 1,2 m, sedangkan&lt;br /&gt;
panjang bedengan disesuaikan dengan lebar petakan lahan dengan jarak 45 cm&lt;br /&gt;
atau berkisar 70 x 70 atau 50 x 70 cm atau kombinasi yang lain.&lt;br /&gt;
3) Pengapuran&lt;br /&gt;
Talas dapat tahan terhadap tanah basah tetapi tidak mendapatkan hasil tinggi,&lt;br /&gt;
tanah harus gembur dan lepas. Tanah yang bergambut sangat baik, tetapi harus&lt;br /&gt;
harus diberi 1 ton/ha kapur bila pH nya di bawah 5,0.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pemupukan talas dapat dilakukan dengan pupuk kandang atau pupuk buatan&lt;br /&gt;
seperti urea, TSP dan KCl atau campuran ketiganya. Jumlah pupuk yang&lt;br /&gt;
diberikan tidak banyak, cukup 2 sendok saja (untuk pupuk buatan) dan dua&lt;br /&gt;
genggaman untuk pupuk kandang untuk satu tanaman. Setelah di pupuk, di&lt;br /&gt;
atasnya kemudian ditambahkan tanah yang dicampur dengan jerami.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;
Jarak tanam talas adalah 75 x 75 cm dan dalam 30 cm atau 70 x 70 cm atau 50 x&lt;br /&gt;
70 cm. Keragaman jarak tanam ini biasanya disesuaikan dengan kondisi tanah&lt;br /&gt;
dan keadaan musim. Penanaman di lahan sawah cenderung menggunakan jarak&lt;br /&gt;
tanam yang lebih rapat dari musim hujan. Hal ini dikarenakan pada musim panas&lt;br /&gt;
penyinaran cahaya matahari dapat berlangsung sepanjang hari sehingga dengan&lt;br /&gt;
jarak tanam yang rapat pun kelembaban udara di sekitar tanaman tetap optimum.&lt;br /&gt;
Jika pada musim hujan digunakan jarak tanam yang rapat maka tanaman akan&lt;br /&gt;
kurang menyerap sinar matahari dan kelembaban di sekitar tanaman menjadi&lt;br /&gt;
tinggi. Hal ini akan meningkatkan resiko serangan penyakit.&lt;br /&gt;
2) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Penanaman talas sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan atau bila curah&lt;br /&gt;
hujan merata sepanjang tahun. Cara penanaman bibit talas, yaitu meletakkan bibit&lt;br /&gt;
talas tegak lurus di tengah-tengah lubang, kemudian ditimbun sedikit dengan&lt;br /&gt;
tanah agar dapat berdiri tegak. Penimbunan ini kira-kira 7 cm, sehingga lubang&lt;br /&gt;
tanam tidak seluruhnya tertutup oleh tanah.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penyiangan dan Pembubunan&lt;br /&gt;
Penyiangan biasanya dilakuakn pada umur 1 bulan setelah tanam. Penyiangan&lt;br /&gt;
perlu dilakukan agar tanaman bebas dari gangguan gulma yang dapat menjadi&lt;br /&gt;
pesaing dalam penyerapan unsur-unsur hara. Untuk memperoleh umbi yang&lt;br /&gt;
besar dan bermutu maka perlu penyiangan terhadap rumput-rumput liar di sekitar&lt;br /&gt;
tanaman. Pembubunan perlu dilakukan untuk menutup pangkal batang dan akarakar&lt;br /&gt;
bagian atas agar tanaman lebih kokoh dan tahan oleh terpaan angin.&lt;br /&gt;
Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.&lt;br /&gt;
2) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pemupukan dasar dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah yaitu&lt;br /&gt;
mencampur sebanyak 1 ton pupuk kandang/hektar. Sedangkan pemupukan&lt;br /&gt;
pertama dilakukan 1 bulan setelah bibit di tanam, yaitu dengan menggunakan&lt;br /&gt;
sebanyak 100 kg urea dan 50 kg TSP per hektar. Aplikasi pemupukan yaitu&lt;br /&gt;
dengan cara membuat lubang pupuk disamping lubang tanam 3 cm. Pemupukan&lt;br /&gt;
kedua dan ketiga dilakukan pada umur tanaman 3 bulan dan umur 5 bulan&lt;br /&gt;
masing-masing menggunakan urea sebanyak 100 kg per hektar. Aplikasi dapat&lt;br /&gt;
dilakukan dengan membuat larikan disamping baris tanaman sejauh 7 cm pada&lt;br /&gt;
pemupukan umur 3 bulan dan 10 cm pada pemupukan umur 5 bulan.&lt;br /&gt;
3) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Sehingga bila tidak&lt;br /&gt;
tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman&lt;br /&gt;
talas akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok untuk tanaman talas ini ialah&lt;br /&gt;
menjelang musim hujan, sedangkan musim panen bergantung kepada kultivar&lt;br /&gt;
yang di tanam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
a) Serangga aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae)&lt;br /&gt;
Baik nimfa maupun dewasa yang bersayap dan tidak bersayap mengisap cairan&lt;br /&gt;
daun.&lt;br /&gt;
Gejala: daun menjadi agak keriting. Aphis mengeluarkan cairan madu, yang&lt;br /&gt;
dapat menarik semut. Serangga ini tersebar di seluruh dunia kecuali di daerah&lt;br /&gt;
dingin seperti di Siberia dan Kanada. Selain talas hama ini juga menyerang melon,&lt;br /&gt;
timun, labu-labuan serta kapas.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan insektisida pada tanaman&lt;br /&gt;
talas dinilai kurang ekonomis, kecuali apabila tingkat serangan sangat tinggi pada&lt;br /&gt;
tanaman muda. Insektisida yang digunakan adalah carbaryl, diazinon dimetoat&lt;br /&gt;
dan malation cukup efektif untuk mengendalikan hama tersebut.&lt;br /&gt;
b) Ulat heppotion calerino (Lepidoptera: Sphingidae)&lt;br /&gt;
Gejala: ulat berukuran besar dan sangat rakus yang dapat memakan seluruh helai&lt;br /&gt;
daun, bahkan populasi tinggi dapat makan pelepah daun juga, sehingga tanaman&lt;br /&gt;
menjadi gundul. Selain talas ulat juga merusak tanaman kacang hijau, ubi jalar&lt;br /&gt;
dan gulam. Serangga ini tersebar di negara-negara tropika dan sub tropika,&lt;br /&gt;
Australia dan Pasifik.&lt;br /&gt;
Pengendalian: mengambil dan memusnahkan ulat tersebut.&lt;br /&gt;
Selain itu, karena kepompong berada di dalam tanah, maka pembajakan lahan&lt;br /&gt;
setelah panen dapat memusnahkan hama tersebut. Usaha pengendalian dengan&lt;br /&gt;
insektisida telah dilakukan di Papua Nugini yaitu dengan Carbaryl jika kerusakan&lt;br /&gt;
mencapai 50 %.&lt;br /&gt;
c) Serangga agrius convolvuli (kupu-kupu: Sphingidae)&lt;br /&gt;
Serangga ini tersebar di Afrika, Australia, Bangladesh, Burma, Cina Selatan,&lt;br /&gt;
Eropa Selatan, India, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, kepulauan-kepulauan di&lt;br /&gt;
pasifik dan Papua Nugini (Anonymous, 1986). Ulat yang berukuran a populasi&lt;br /&gt;
yang tinggi, ulat juga makan tangkai daun sehingga tanaman menjadi gundul.&lt;br /&gt;
Selain tanaman talas ini juga merusak kacang hijau, ubi jalar dan gulma&lt;br /&gt;
(Kalshoven, 1931). besar sangat rakus memakan daun. Defoliasi dimulai dari tepi&lt;br /&gt;
daun.&lt;br /&gt;
Pengendalian: kepompong terbentuk di dalam tanah, maka pembajakan&lt;br /&gt;
tanah setelah panen dapat memusnahakan hama tersebut. Selain itu pengambilan&lt;br /&gt;
ulat dan memusnahkannya merupakan cara pengendalian yang efektif untuk areal&lt;br /&gt;
kecil. Usaha pengendalian dengan insektisida yang efektif hendaknya dilakukan&lt;br /&gt;
pada saat ulat masih kecil dengan carbaryl 0,2 % (Anonymous, 1986).&lt;br /&gt;
d) Serangga tarophagus proserpina (Hemiptera: Delphacidae)&lt;br /&gt;
Gejala: serangga dewasa dan nimfa mengusap cairan pelepah daun, sehingga&lt;br /&gt;
warnanya berubah menjadi coklat. Serangga ini tersebar di kepulauan Pasifik,&lt;br /&gt;
Hawai, Indonesia, Philipina, Kepulauan Ryuku dan Quensland.&lt;br /&gt;
Pengendalian: diintroduksikan sejenis pemangsa yaitu Cyrtorthinus pulus atau dengan serangga yang dinilai efektif untuk mengendalikan hama tersebut yaitu carbaryl, malation, dan tri-chlorform.&lt;br /&gt;
e) Serangga bemisia tabaci (Hemiptera: Aleurodidae)&lt;br /&gt;
Serangga ini tersebar di daerah tropika dan sub tropika. Nimfa dan dewasanya di&lt;br /&gt;
permukaan bawah daun, dan mengisap cairan daun.&lt;br /&gt;
Gejala: pada serangan yang berat daun menjadi kering, pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Selain talas, B. tabaci juga menyerang tanaman kedelai, ubi kayu, terungterungan dan kacang-kacangan lain.&lt;br /&gt;
Pengendalian: menggunakan cabaryl, malation, dan tri-chlorform.&lt;br /&gt;
f) Ulat spodoptera litura (kupu-kupu: Noctuidae&lt;br /&gt;
Gejala: daun yang terserang oleh kelompok ulat yang masih kecil akan kehilangan&lt;br /&gt;
lapisan epidermisnya sehingga menjadi transparan, dan akhirnya kering. Ulat&lt;br /&gt;
yang lebih besar akan tersebar dan masing-masing makan daun. Defoliasi yang di&lt;br /&gt;
sebabkan ulat yang besar mirip dengan kerusakan yang disebabkan oleh Agrius&lt;br /&gt;
convolvuli. Selain talas ulat juga menyerang tanaman jarak, tembakau, tomat,&lt;br /&gt;
jagung, ubi jalar, kubis, cabe dan kacang-kacangan. Diantara inang tersebut, daun&lt;br /&gt;
talas yang paling disukai, oleh karena itu dapat dimanfaatkan sebagai media&lt;br /&gt;
pembiakan massal ulat tersebut untuk tujuan penelitan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan&lt;br /&gt;
insektisida dilakukan apabila kerusakan telah mencapai 50 % dengan insektisida&lt;br /&gt;
carbaryl dan dichorvos. Selain itu monokrotofos, kuinalfos dan endosulfan juga&lt;br /&gt;
efektif untuk mengendalikan S. litura. Pengendalian lebih efektif jika dilakukan&lt;br /&gt;
pada saat ulat masih kecil.&lt;br /&gt;
g) Serangga tetranychus cinnabarinus (Acarina: Tetranichidae)&lt;br /&gt;
Gejala: helai daun yang terserang nampak bintik-bintik putih atau kuning, karena&lt;br /&gt;
serangga tersebut mengisap cairan daun. Apabila populasi sangat tinggi daun&lt;br /&gt;
kelihatan memutih, kemudian layu dan mati. Apabila diamati nampak banyak&lt;br /&gt;
sekali tunggau yang berwarna merah terletak di permukaan bawah daun. Tunggau&lt;br /&gt;
disebarkan oleh manusia dan angin.&lt;br /&gt;
Pengendalian: pestisida azodrin, caerol,galecron, plictron, omite dan trition. Galecron dan plictron mempunyai residu yang panjang dan juga sebagai ovisida. Fungisida dapat juga untuk mengendalikan tungau yaitu Du Ter dan benlate.&lt;br /&gt;
h) Hepialiscus sordida (kupu-kupu: Hepialidae)&lt;br /&gt;
Gejala: daun yang terserang menjadi berlubang dengan garis tengah 5-10 cm,&lt;br /&gt;
dan di isi oleh kotorannya. Pada serangan berat seluruh umbi terserang sehingga&lt;br /&gt;
tinggal pangkal batangnya saja, sehingga tanaman mudah di cabut. Tanaman&lt;br /&gt;
yang terserang pertumbuhannya agak kurang tegar dibanding dengan tanaman&lt;br /&gt;
sehat. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini cukup besar pada lahan kering.&lt;br /&gt;
Serangan meningkat apabila petani menggunakan pupuk kandang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: belum ada.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
a) Penyakit hawar daun(Phytophtora colocasiae)&lt;br /&gt;
Gejala: terdapat bercak kecil berwarna kehitaman, kemudian membesar menjadi&lt;br /&gt;
hawar. Bagian daun yang terserang mengering, pada serangan berat seluruh&lt;br /&gt;
daun mengering.&lt;br /&gt;
Pengendalian: menanam varietas tahan. Penyaringan klon-klon&lt;br /&gt;
merupakan salah satu tahapan dalam pembentukan varietas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Pemanen talas dilakukan setelah tanaman berumur 6-9 bulan, tetapi ada yang&lt;br /&gt;
memanennya setelah berumur 1 tahun, dan ada pula kultivar yang 4-5 bulan sudah&lt;br /&gt;
dapat dipanen; sebagai contoh: talas genjah masak cepat, talas kawara 5 bulan, dan&lt;br /&gt;
talas lenvi dan talas dalam. Misalkan di kota Bogor ada talas bentul, dipanen setelah&lt;br /&gt;
berumur 8-10 bulan dengan umbi yang relatif lebih besar dan berwarna lebih muda&lt;br /&gt;
dan kekuning-kunigan dan masih ada lagi talas-talas lain, seperti: talas sutera yang&lt;br /&gt;
dipanen pada umur 5-6 bulan, yang umbinya berwarna kecoklat-coklatan yang dapat&lt;br /&gt;
berukuran sedang sampai besar dan masih banyak lagi talas yang ada di bogor&lt;br /&gt;
(talas mentega atau talas gambir, talas ketan, dan talas balitung).&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Pemanenan dilakukan dengan cara menggali umbi talas, lalu pohon talas dicabut&lt;br /&gt;
dan pelepahnya di potong sepanjang 20-30 cm dari pangkal umbi serta akarnya&lt;br /&gt;
dibuang dan umbinya di bersihkan dari tanah yang melekat.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Masa panen talas perlu mendapat perhatian yang cermat sebab waktu panen yang&lt;br /&gt;
tidak tepat akan menurunkan kualitas hasil. Panen yang terlalu cepat akan&lt;br /&gt;
menghasilkan talas yang tidak kenyal dan pulen, sebaliknya jika panen terlambat&lt;br /&gt;
akan menghasilkan umbi talas yang terlalu keras dan liat. Talas pada lahan sawah&lt;br /&gt;
dirotasikan dengan tanaman padi dan jenis sayuran lainnya. Tanaman padi ditanam&lt;br /&gt;
satu atau dua kali pada saat musim hujan yaitu sekitar bulan September sampai&lt;br /&gt;
Januari. Pada musim kemarau (bulan Februari sampai Mei) lahan sawah ditanami&lt;br /&gt;
sayuran kemudian talas sampai bulan Desember atau Januari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau&lt;br /&gt;
oleh angkutan.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Pemilihan atau penyortiran umbi talas sebenarnya dapat dilakukan pada saat&lt;br /&gt;
pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran umbi talas dapat dilakukan setelah&lt;br /&gt;
semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan&lt;br /&gt;
untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta&lt;br /&gt;
yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garisgaris&lt;br /&gt;
pada daging umbi.&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;
Pengemasan umbi talas bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama&lt;br /&gt;
dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/dalam negeri dikemas dan&lt;br /&gt;
dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap&lt;br /&gt;
segar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Pengambilan contoh&lt;br /&gt;
Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung dengan&lt;br /&gt;
maksimum maksimum 30 karung. Pengambilan contoh dilakukan beberapa kali,&lt;br /&gt;
sampai mencapai berat 500 gram. Contoh kemudian disegel dan diberi label.&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh harus orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih&lt;br /&gt;
dahulu.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Dibagian luar kemasan ditulis dengan bahan yang tidak mudah luntur, jelas terbaca,&lt;br /&gt;
antara lain:&lt;br /&gt;
a) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;
b) Nama barang atau jenis barang.&lt;br /&gt;
c) Nama perusahaan atau eksportir.&lt;br /&gt;
d) Berat bersih.&lt;br /&gt;
e) Berat kotor.&lt;br /&gt;
f) Negara/tempat tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, Proyek&lt;br /&gt;
PEMD, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>STROBERI ( Fragaria chiloensis L. / F. vesca L. )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/stroberi-fragaria-chiloensis-l-f-vesca.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-2508819632971325625</guid><description>Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang ditemukan pertama kali di&lt;br /&gt;
Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu Fragaria chiloensis L&lt;br /&gt;
menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia. Selanjutnya spesies lain,&lt;br /&gt;
yaitu F. vesca L. lebih menyebar luas dibandingkan spesies lainnya. Jenis stroberi ini&lt;br /&gt;
pula yang pertama kali masuk ke Indonesia.&lt;br /&gt;
Stroberi yang kita temukan di pasar swalayan adalah hibrida yang dihasilkan dari&lt;br /&gt;
persilangan F. virgiana L. var Duchesne asal Amerika Utara dengan F. chiloensis L.&lt;br /&gt;
var Duchesne asal Chili. Persilangan itu menghasilkan hibrid yang merupakan&lt;br /&gt;
stroberi modern (komersil) Fragaria x annanassa var Duchesne.&lt;br /&gt;
Varitas stroberi introduksi yang dapat ditanam di Indonesia adalah Osogrande,&lt;br /&gt;
Pajero, Selva, Ostara, Tenira, Robunda, Bogota, Elvira, Grella dan Red Gantlet&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 600-&lt;br /&gt;
700 mm/tahun.&lt;br /&gt;
2) Lamanya penyinaran cahaya matahari yang dibutuhkan dalam pertumbuhan&lt;br /&gt;
adalah 8–10 jam setiap harinya.&lt;br /&gt;
3) Stroberi adalah tanaman subtropis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran&lt;br /&gt;
tinggi tropis yang memiliki temperatur 17–20 derajat C.&lt;br /&gt;
4) Kelembaban udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman stroberi antara 80-&lt;br /&gt;
90%.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Jika ditanam di kebun, tanah yang dibutuhkan adalah tanah liat berpasir, subur,&lt;br /&gt;
gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik.&lt;br /&gt;
2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk budidaya stroberi di kebun&lt;br /&gt;
adalah 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.5–7,0.&lt;br /&gt;
3) Jika ditanam dikebun maka kedalaman air tanah yang disyaratkan adalah 50-100&lt;br /&gt;
cm dari permukaan tanah. Jika ditanam di dalam pot, media harus memiliki sifat&lt;br /&gt;
poros, mudah merembeskan airdan unsur hara selalu tersedia.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-1.500 meter&lt;br /&gt;
dpl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Stroberi diperbanyak dengan biji dan bibit vegetatif (anakan dan stolon atau akar&lt;br /&gt;
sulur). Adapun kebutuhan bibit per hektar antara 40.000-83.350.&lt;br /&gt;
1) Perbanyakan dengan biji&lt;br /&gt;
1. Benih dibeli dari toko pertanian, rendam benih di dalam air selama 15 menit lalu&lt;br /&gt;
keringanginkan.&lt;br /&gt;
2. Kotak persemaian berupa kotak kayu atau plastik, diisi dengan media berupa&lt;br /&gt;
campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (kompos) halus yang bersih (1:1:1).&lt;br /&gt;
Benih disemaikan merata di atas media dan tutup dengan tanah tipis. Kotak&lt;br /&gt;
semai ditutup dengan plastik atau kaca bening dan disimpan pada temperatur&lt;br /&gt;
18-20 derajat C.&lt;br /&gt;
3. Persemaian disiram setiap hari, setelah bibit berdaun dua helai siap&lt;br /&gt;
dipindahtanam ke bedeng sapih dengan jarak antar bibit 2-3 cm. Media tanam&lt;br /&gt;
bedeng sapih sama dengan media persemaian. Bedengan dinaungi dengan&lt;br /&gt;
plastik bening. Selama di dalam bedengan, bibit diberi pupuk daun. Setelah&lt;br /&gt;
berukuran 10 cm dan tanaman telah merumpun, bibit dipindahkan ke kebun.&lt;br /&gt;
2) Bibit vegetatif untuk budidaya stroberi di kebun&lt;br /&gt;
Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat dan produktif.&lt;br /&gt;
Penyiapan bibit anakan dan stolon adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Bibit anakan&lt;br /&gt;
Rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa&lt;br /&gt;
bagian yang sedikitnya mengandung 1 anakan. Setiap anakan ditanam dalam&lt;br /&gt;
polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang halis&lt;br /&gt;
(1:1:1), simpan di bedeng persemaian beratap plastik.&lt;br /&gt;
2. Bibit stolon&lt;br /&gt;
Rumpun yang dipilih telah memiliki akar sulur pertama dan kedua. Kedua akar&lt;br /&gt;
sulur ini dipotong. Bibit ditanam di dalam atau polibag 18 x 15 cm berisi&lt;br /&gt;
campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Setelah tingginya 10 cm dan&lt;br /&gt;
berdaun rimbun, bibit siap dipindahkan ke kebun.&lt;br /&gt;
3) Bibit untuk budidaya stroberi di polibag&lt;br /&gt;
Pembibitan dari benih atau anakan/stolon dilakukan dengan cara yang sama,&lt;br /&gt;
tetapi media tanam berupa campuran gabah padi dan pupuk kandang (2:1).&lt;br /&gt;
Setelah bibit di persemaian berdaun dua atau bibit dari anakan/stolon di polibag&lt;br /&gt;
kecil (18 x15) siap pindah, bibit dipindahkan ke polibag besar ukuran 30 x 20 cm&lt;br /&gt;
berisi media yang sama. Di polibag ini bibit dipelihara sampai menghasilkan.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Budidaya di Kebun Tanpa Mulsa Plastik&lt;br /&gt;
a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik sedalam 30-40 cm.&lt;br /&gt;
b) Keringanginkan selama 15-30 hari.&lt;br /&gt;
c) Buat bedengan: lebar 80 x 100 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan&lt;br /&gt;
dengan lahan, jarak antar bedengan 40 x 60 cm atau guludan: lebar 40 x 60&lt;br /&gt;
cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar guludan 40&lt;br /&gt;
x 60 cm.&lt;br /&gt;
d) Taburkan 20-30 ton/ha pupuk kandang/kompos secara merata di permukaan&lt;br /&gt;
bedengan/ guludan.&lt;br /&gt;
e) Biarkan bedengan/guludan selama 15 hari.&lt;br /&gt;
f) Buat lubang tanam dengan jarak 40 x 30 cm, 50 x 50 cm atau 50 x 40 cm.&lt;br /&gt;
2) Budidaya di Kebun Dengan Mulsa Plastik.&lt;br /&gt;
a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik dan keringanginkan 15-30 hari.&lt;br /&gt;
b) Buatlah bedengan: lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan&lt;br /&gt;
dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm atau guludan: lebar bawah 60 cm,&lt;br /&gt;
lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak&lt;br /&gt;
antar bedengan 60 cm.&lt;br /&gt;
c) Keringanginkan 15 hari.&lt;br /&gt;
d) Taburkan dan campurkan dengan tanah bedengan/guludan 200 kg urea, 250&lt;br /&gt;
kg SP-36 dan 100 kg/ha KCl.&lt;br /&gt;
e) Siram hingga lembab.&lt;br /&gt;
f) Pasang mulsa plastik hitam atau hitam perak menutupi bedengan/guludan dan&lt;br /&gt;
kuatkan ujung-ujungnya dengan bantuan bambu berbentuk U.&lt;br /&gt;
g) Buat lubang di atas plastik seukuran alas kaleng bekas susu kental manis.&lt;br /&gt;
Jarak antar lubang dalam barisan 30, 40 atau 50 cm, sehingga jarak tanam&lt;br /&gt;
menjadi 40 x 30, 50 x 50 atau 50 x 40 cm.&lt;br /&gt;
h) Buat lubang tanam di atas lubang mulsa tadi.&lt;br /&gt;
3) Pengapuran&lt;br /&gt;
Bila tanah masam, 2-4 ton/ha kapur kalsit/dolomit ditebarkan di atas&lt;br /&gt;
bedengan/guludan lalu dicampur merata. Pengapuran dilakukan segera setelah&lt;br /&gt;
bedengan/guludan selesai dibuat.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Siram polybag berisi bibit dan keluarkan bibit bersama media tanamnya dengan&lt;br /&gt;
hati-hati.&lt;br /&gt;
2) Tanam satu bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar pangkal batang.&lt;br /&gt;
3) Untuk tanaman tanpa mulsa, beri pupuk dasar sebanyak 1/3 dari dosis pupuk&lt;br /&gt;
anjuran (dosis anjuran 200 kg/ha Urea, 250 kg SP-36 dan 150 kg/ha KCl). Pupuk&lt;br /&gt;
diberikan di dalam lubang sejauh 15 cm di kiri-kanan tanaman.&lt;br /&gt;
4) Sirami tanah di sekitar pangkal batang sampai lembab.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penyulaman&lt;br /&gt;
Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 15 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;
Tanaman yang disulam adalah yang mati atau tumbuh abnormal.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Penyiangan dilakukan pada pertanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa&lt;br /&gt;
plastik. Mulsa yang berada di antara barisan/bedengan dicabut dan dibenamkan&lt;br /&gt;
ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma, biasanya&lt;br /&gt;
dilakukan bersama pemupukan susulan.&lt;br /&gt;
3) Perempelan/Pemangkasan&lt;br /&gt;
Tanaman yang terlalu rimbun, terlalu banyak daun harus dipangkas.&lt;br /&gt;
Pemangkasan dilakukan teratur terutama membuang daun-daun tua/rusak.&lt;br /&gt;
Tanaman stroberi diremajakan setiap 2 tahun.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
a) Pertanaman tanpa mulsa: Pupuk susulan diberikan 1,5-2 bulan setelah tanam&lt;br /&gt;
sebanyak 2/3 dosis anjuran. Pemberian dengan cara ditabur dalam larikan&lt;br /&gt;
dangkal di antara barisan, kemudian ditutup tanah.&lt;br /&gt;
b) Pertanaman dengan mulsa: Pupuk susulan ditambahkan jika pertumbuhan&lt;br /&gt;
kurang baik. Campuran urea, SP-36 dan KCl (1:2:1,5) sebanyak 5 kg dilarutkan&lt;br /&gt;
dalam 200 liter air. Setiap tanaman disiram dengan 350-500 cc larutan pupuk.&lt;br /&gt;
5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Sampai tanaman berumur 2 minggu, penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Setelah&lt;br /&gt;
itu penyiraman dikurangi berangsur-angsur dengan syarat tanah tidak mengering.&lt;br /&gt;
Pengairan bisa dengan disiram atau menjanuhi parit antar bedengan dengan air.&lt;br /&gt;
6) Pemasangan Mulsa Kering&lt;br /&gt;
Mulsa kering dipasang seawal mungkin setelah tanam pada bedengan/ guludan&lt;br /&gt;
yang tidak memakai mulsa plastik. Jerami atau rumput kering setebal 3–5 cm&lt;br /&gt;
dihamparkan di permukaan bedengan/guludan dan antara barisan tanaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii)&lt;br /&gt;
Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di&lt;br /&gt;
permukaan bawah daun.&lt;br /&gt;
Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan&lt;br /&gt;
bunga/buah terhambat.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan insektisida Fastac 15 EC dan Confidor 200 LC.&lt;br /&gt;
2) Tungau (Tetranychus sp. dan Tarsonemus sp.)&lt;br /&gt;
Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi&lt;br /&gt;
tiga dan telur kemerah-merahan.&lt;br /&gt;
Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering dan gugur. Pengendalian: dengan insektisida Omite 570 EC,Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC.&lt;br /&gt;
3) Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar&lt;br /&gt;
(Otiorhynchus rugosostriatus) dan kumbang penggerek batang (O. sulcatus).&lt;br /&gt;
Gejala: di bagian tanaman yang digerek terdapat tepung.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC atau Curacron 500 EC pada waktu menjelang fase berbunga.&lt;br /&gt;
4) Kutu putih (Pseudococcus sp.)&lt;br /&gt;
Gejala: bagian tanaman yang tertutupi kutu putih akan menjadi abnormal.&lt;br /&gt;
Pengendalian: kimia dengan insektisida Perfekthion 400 EC atau Decis 2,5 EC.&lt;br /&gt;
5) Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi)&lt;br /&gt;
Hidup di pangkal batang bahkan sampai pucuk tanaman.&lt;br /&gt;
Gejala: tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus dan kurang berbulu. Pengendalian: dengan nematisida&lt;br /&gt;
Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Kapang kelabu (Botrytis cinerea)&lt;br /&gt;
Gejala: bagian buah membusuk dan berwarna coklat lalu mengering.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.&lt;br /&gt;
2) Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks)&lt;br /&gt;
Gejala: bah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda dan buah&lt;br /&gt;
dipenuhi massa spora berwarna merah jambu.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan fungisida&lt;br /&gt;
berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21.&lt;br /&gt;
3) Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer).&lt;br /&gt;
Gejala: (1) buah busuk, berair, berwarna coklat muda dan bila ditekan akan&lt;br /&gt;
mengeluarkan cairan keruh; (2) di tempat penyimpanan, buah yang terinfeksi akan&lt;br /&gt;
tertutup miselium jamur berwarna putih dan spora hitam.&lt;br /&gt;
Pengendalian:membuang buah yang sakit, pasca panen yang baik dan budidaya dengan mulsa plastik.&lt;br /&gt;
4) Empulur merah (Phytophthora fragariae Hickman)&lt;br /&gt;
Gejala: jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tidak segar,&lt;br /&gt;
kadang-kadang layu terutama siang hari.&lt;br /&gt;
5) Embun tepung (Sphaetotheca mascularis atau Uncinula necator).&lt;br /&gt;
Gejala: bagian yang terserang, terutama daun, tertutup lapisan putih tipis seperti&lt;br /&gt;
tepung, bunga akan mengering dan gugur.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan fungisida&lt;br /&gt;
Benlate atau Rubigan 120 EC.&lt;br /&gt;
6) Daun gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae)&lt;br /&gt;
Gejala: Daun berbercak bulat telur sampai bersudut tidak teratur, berwarna ungu&lt;br /&gt;
tua.&lt;br /&gt;
Pengendalian kimia dengan fungisida Dithane M-45 atau Antracol 70 WP.&lt;br /&gt;
7) Bercak daun&lt;br /&gt;
Penyebab: (1) Ramularia tulasnii atau Mycosphaerella fragariae,&lt;br /&gt;
Gejala: bercak kecil ungu tua pada daun. Pusat bercak berwarna coklat yang akan berubah menjadi putih; (2) Pestalotiopsis disseminata,&lt;br /&gt;
Gejala: bercak bulat pada daun. Pusat bercak berwarna coklat fua dikelilingi bagian tepi berwarna coklat kemerahan atau kekuningan, daun mudah gugur; (3) Rhizoctonia solani,&lt;br /&gt;
Gejala: bercak coklat-hitam besar pada daun.&lt;br /&gt;
Pengendalian kimia dengan fungisida&lt;br /&gt;
bahan aktif tembaga seperti Funguran 82 WP, Kocide 77 WP atau Cupravit OB&lt;br /&gt;
21.&lt;br /&gt;
8) Busuk daun (Phomopsis obscurans).&lt;br /&gt;
Gejala: noda bula berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian&lt;br /&gt;
noda membentuk luka mirip huruf V.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan Dithane M-45,&lt;br /&gt;
Antracol 70 WP atau Daconil 75 WP.&lt;br /&gt;
9) Layu vertisillium (Verticillium dahliae)&lt;br /&gt;
Gejala: daun terinfeksi berwarna kekuning-kuningan hingga coklat, layu dan&lt;br /&gt;
tanaman mati.&lt;br /&gt;
Pengendalian: melalui fumigasi gas dengan Basamid-G.&lt;br /&gt;
10) Virus&lt;br /&gt;
Ditularkan melalui serangga aphids atau tungau.&lt;br /&gt;
Gejala: terjadi perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning (khlorosis) sepanjang tulang daun atau totol-totol (motle), daun jadi keriput, kaku, tanaman kerdil. Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, menghancurkan tanaman terserang, menyemprot pestisida untuk mengendalikan serangga pembawa virus.&lt;br /&gt;
Pencegahan hama dan penyakit umumnya dapat dilakukan dengan menjaga&lt;br /&gt;
kebersihan kebun/tanaman, menanam secara serempak (untuk memutus siklus&lt;br /&gt;
hidup), menanam bibit yang sehat, memberikan pupuk sesuai anjuran sehingga&lt;br /&gt;
tanaman tumbuh sehat, melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan&lt;br /&gt;
keluarga Rosaceae dan memangkas bagian tanaman/mencabut tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;
Membudidayakan stroberi dengan mulsa plastik juga akan menekan pertumbuhan&lt;br /&gt;
hama/penyakit. Khusus untuk penyakit, perbaikan drainase biasanya dapat&lt;br /&gt;
menurunkan serangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbung ketika berumur 2 bulan setelah&lt;br /&gt;
tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4 bulan,&lt;br /&gt;
bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan dan pembuahan dapat&lt;br /&gt;
berlangsung selama 2 tahun tanpa henti.&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
1) Buah sudah agak kenyal dan agak empuk.&lt;br /&gt;
2) Kulit buah didominasi warna merah: hijau kemerahan hingga kuning kemerahan.&lt;br /&gt;
3) Buah berumur 2 minggu sejak pembungaan atau 10 hari setelah awal&lt;br /&gt;
pembentukan buah.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Panen dilakukan dengan menggunting bagian tangkai bunga dengan kelopaknya.&lt;br /&gt;
Panen dilakukan dua kali seminggu.&lt;br /&gt;
Perkiraan Produksi&lt;br /&gt;
Produktivitas tanaman stroberi tergantung dari varietas dan teknik budidaya:&lt;br /&gt;
a) Varitas Osogrande: 1,2 kg/tanaman/tahun.&lt;br /&gt;
b) Varitas Pajero: 0,8 kg/tanaman/tahun.&lt;br /&gt;
c) Varitas Selva: 0,6-0,7 kg/tanaman/tahun.&lt;br /&gt;
Teknik budidaya stroberi dengan naungan UV memberikan hasil 1-1,25&lt;br /&gt;
kg/tanaman/tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar, simpan di&lt;br /&gt;
tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil. Hamparkan buah&lt;br /&gt;
di atas lantai beralas terpal/plastik. Cuci buah dengan air mengalir dan tiriskan di&lt;br /&gt;
atas rak-rak penyimpanan.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Pisahkan buah yang rusak dari buah yang baik. Penyortiran buah berdasarkan pada&lt;br /&gt;
varietas, warna, ukuran dan bentuk buah. Terdapat 3 kelas kualitas buah yaitu:&lt;br /&gt;
a) Kelas Ekstra: (1) buah berukuran 20-30 mm atau tergantung spesies; (2) warna&lt;br /&gt;
dan kematangan buah seragam.&lt;br /&gt;
b) Kelas I: (1) buah berukuran 15-25 mm atau tergantung spesies; (2) bentuk dan&lt;br /&gt;
warna buah bervariasi.&lt;br /&gt;
c) Kelas II: (1) tidak ada batasan ukuran buah; (2) sisa seleksi kelas ekstra dan&lt;br /&gt;
kelas I yang masih dalam keadaan baik.&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Penyimpanan&lt;br /&gt;
Buah dikemas di dalam wadah plastik transparan atau putih kapasitas 0,25-0,5 kg&lt;br /&gt;
dan ditutup dengan plastik lembar polietilen. Penyimpanan dilakukan di rak dalam&lt;br /&gt;
lemari pendingin 0-1 derajat C.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Berdasarkan ukurannya, stroberi diklasifikasikan menjadi 4 kelas yaitu:&lt;br /&gt;
Kelas AA: &gt; 20 gram/buah&lt;br /&gt;
Kelas A : 11-20 gram/buah&lt;br /&gt;
Kelas B : 7-12 gram/buah&lt;br /&gt;
Kelas C1 : 7-8 gram/buah&lt;br /&gt;
Kualitas stroberi ditentukan oleh rasa (manis-agak asam-asam), kemulusan kulit dan&lt;br /&gt;
luka mekanis akibat benturan atau hama-penyakit.&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Satu partai/lot buah stroberi terdiri dari maksimum 1.000 kemasan. Contoh diambil&lt;br /&gt;
secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot.&lt;br /&gt;
a) Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5, contoh pengambilan semua&lt;br /&gt;
b) Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100, contoh pengambilan sekurangkurangnya 5&lt;br /&gt;
c) Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300, contoh pengambilan sekurangkurangnya 7&lt;br /&gt;
d) Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500, contoh pengambilan sekurangkurangnya 9&lt;br /&gt;
e) Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000, contoh pengambilan sekurangkurangnya 10&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh harus orang yang memenuhi persyaratan yaitu orang&lt;br /&gt;
yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan&lt;br /&gt;
suatu badan hukum.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Buah stroberi segar disajikan dalam bentuk lepasan, dibungkus bahan kertas, jaring&lt;br /&gt;
plastik atau bahan laian yang sesuai, lalu dikemas dengan keranjang bambu atau&lt;br /&gt;
kotak karton/kayu/bahan lain yang sesuai dengan atau tanpa penyangga, dengan&lt;br /&gt;
berat bersih maksimum 10 kg.&lt;br /&gt;
Pada bagian luar kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain :&lt;br /&gt;
a) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;
b) Nama barang/kultivar.&lt;br /&gt;
c) Golongan ukuran.&lt;br /&gt;
d) Jenis mutu.&lt;br /&gt;
e) Nama Pprusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;
f) Berat bersih/kotor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SEMANGKA (Citrullus vulgaris)</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/semangka-citrullus-vulgaris.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-554675998099754878</guid><description>SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Secara teoritis curah hujan yang ideal untuk areal penanaman semangka adalah&lt;br /&gt;
40-50 mm/bulan.&lt;br /&gt;
2) Seluruh areal pertanaman semangka perlu sinar matahari sejak terbit sampai&lt;br /&gt;
tenggelam. Kekurangan sinar matahari menyebabkan terjadinya kemunduran&lt;br /&gt;
waktu panen.&lt;br /&gt;
3) Tanaman semangka akan dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan&lt;br /&gt;
optimal pada suhu &#129;} 25 derajat C (siang hari).&lt;br /&gt;
4) Suhu udara yang ideal bagipertumbuhan tanaman semangka adalah suhu harian&lt;br /&gt;
rata-rata yang berkisar 20–30 mm.&lt;br /&gt;
5) Kelembaban udara cenderung rendah bila sinar matahari menyinari areal&lt;br /&gt;
penanaman, berarti udara kering yang miskin uap air. Kondisi demikian cocok&lt;br /&gt;
untuk pertumbuhan tanaman semangka, sebab di daerah asalnya tanaman&lt;br /&gt;
semangka hidup di lingkungan padang pasir yang berhawa kering. Sebaliknya,&lt;br /&gt;
kelembaban yang terlalu tinggi akan mendorong tumbuhnya jamur perusak&lt;br /&gt;
tanaman.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Kondisi tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah yang cukup&lt;br /&gt;
gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan&lt;br /&gt;
yang telah dikeringkan.&lt;br /&gt;
2) Keasaman tanah (pH) yang diperlukan antara 6-6,7. Jika pH &lt; 5,5 (tanah asam)
maka diadakan pengapuran dengan dosis disesuaikan dengan tingkat keasaman
tanah tersebut.
3) Tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah porous (sarang)
sehingga mudah membuang kelebihan air, tetapi tanah yang terlalu mudah
membuang air kurang baik untuk ditanami semangka.
Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang ideal untuk areal penanaman semangka adalah: 100-300 m
dpl. Kenyataannya semangka dapat ditanam di daerah dekat pantai yang
mempunyai ketinggian di bawah 100 m dpl dan di atas perbukitan dengan ketinggian
lebih dari 300 m dpl.

PEDOMAN BUDIDAYA
Pembibitan
1) Persyaratan Benih
Pemilihan jenis benih semangka yang disemaikan adalah: Hibrida import,
terutama benih jenis Triploid (non biji) yang mempunyai kulit biji yang sangat keras
dan jenis Haploid (berbiji).
2) Penyiapan Benih
Jenis benih Hibrida impor, terutama jenis bibit triploid setelah dipilih disiapkan alat
bantu untuk menyayat/merenggangkan sedikit karena tanpa direnggangkan biji
tersebut sulit untuk berkecambah, alat bantu tersebut berbentuk gunting kuku
yang mempunyai bentuk segitiga panjang berukuran kecil dan disediakan tempat
kecil yang mempunyai permukaan lebar. Jenis Haploid dengan mudah disemai
karena bijinya tidak keras sehingga mudah membelah pada waktu berkecambah.
3) Teknik Penyemaian Benih
Teknik penyemaian benih semangka dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu :
a) Perenggangan bibit biji semangka terlebih dahulu supaya untuk mempermudah
dalam proses pertumbuhannya;
b) Perendaman biji dalam suatu satuan obat yang diramu dari bahan-bahan: 1 liter
air hangat suhu 20-25 derajat C; 1 sendok teh hormon (Atornik, Menedael,
Abitonik); 1 sendok peres fungisida (obat anti jamur) seperti: Difoldhan 4T,
Dacosnil 75 WP, Benlate; 0,5 sendok teh peres bakterisida (Agrept 25 WP).
Setelah direndam 10-30 menit, diangkat dan ditiriskan sampai air tidak mengalir
lagi dan bibit siap dikecambahkan.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Kantong-kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari
penuh sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik transparan
serupa rumah kaca mini dan untuk salah satu ujungnya terbuka dengan pinggiran
yang terbuka. Pemupukan dilakukan lewat daun untuk memacu perkembangan
bibit dicampur dengan obat, dilakukan rutin setiap 3 hari sekali. Pada usia 14 hari,
benih-benih dipindahkan ke lapangan yang telah matang dan siap ditanami benih
tersebut.
5) Pemindahan Bibit
Setelah pengecambahan dilakukan penyemaian bibit menggunakan kantongkantong
plastik berukuran : 12 cm x (0,2 - 0,3 )mm. Satu kantong ditanam satu
benih (sudut kantong dipotong secukupnya untuk pengurangan sisa air) dan diisi
campuran tanah dengan pupuk organik komposisi: 1 bagian tanah kebun, 1
bagian kompos/humus, 1 bagian pupuk kandang yang sudah matang. Setelah
bibit berumur 12-14 hari dan telah berdaun 2-3 helai, dipindahkan ke areal
penanaman yang telah diolah.
Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Bila areal bekas kebun, perlu dibersihkan dari tanaman terdahulu yang masih
tumbuh. Bila bekas persawahan, dikeringkan dulu beberapa hari sampai tanah itu
mudah dicangkul, kemudian diteliti pH tanahnya.
2) Pembukaan Lahan
Lahan yang ditanami dilakukan pembalikan tanah untuk menghancurkan tanah
hingga menjadi bongkahan-bongkahan yang merata. Tunggul bekas
batang/jaringan perakaran tanaman terdahulu dibuang keluar dari areal, dan juga
segala jenis batuan yang ada dibuang, sehingga tidak mempengaruhi
perkembangan tanaman semangka yang akan ditanam di areal tersebut.
3) Pembentukan Bedengan
Tanaman semangka membutuhkan bedengan supaya air yang terkandung di
dalam tanah mudah mengalir keluar melalui saluran drainase yang dibuat. Jumlah
bedengan tergantung jumlah baris tanam yang dikehendaki oleh si penanam
(bentuk bedengan baris tanaman ganda, bedengan melintang pada areal
penanaman). Lebar bedengan 7-8 meter, tergantung tebal tipis dan tinggi
bedengan (tinggi bedengan minimum 20 cm).
4) Pengapuran
Dilakukan dengan pemberian jenis kapur pertanian yang me-ngandung unsur
Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) yang bersifat menetralkan keasaman tanah
dan menetralkan racun dari ion logam yang terdapat didalam tanah. Dengan kapur
Karbonat/kapur dolomit. Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5
diperlukan 150-200 kg dolomit , untuk antara pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit
dan pH &gt;6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.&lt;br /&gt;
5) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pupuk yang dipakai adalah pupuk organik dan pupuk buatan. Pupuk kandang&lt;br /&gt;
yang digunakan adalah pupuk kandang yang berasal dari hewan sapi/kerbau dan&lt;br /&gt;
dipilih pupuk kandang yang sudah matang. Pupuk kandang berguna untuk&lt;br /&gt;
membantu memulihkan kondisi tanah yang kurang subur, dengan dosis 2 kg/&lt;br /&gt;
bedengan. Caranya, ditaburkan disekeliling baris bedengan secara merata.&lt;br /&gt;
Pupuk tersebut terdiri atas: (a) Pupuk Makro yang terdiri dari unsur Nitrogen,&lt;br /&gt;
Phospor, Kalsium (dibuat dari pupuk ZA, TSP dan KCl); (b) Pupuk Mikro yang&lt;br /&gt;
terdiri dari Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangaan (Mn), Besi (Fe), Belerang (S),&lt;br /&gt;
Tembaga (Cu), Seng (Zn) Boron (Bo) dan Molibden (Mo). Pupuk tersebut, dijual&lt;br /&gt;
dengan beberapa merek seperti Mikroflex, Microsil dll. Penggunaannya, dicampur&lt;br /&gt;
1% obat anti hama penggerek batang.&lt;br /&gt;
6) Lain-lain&lt;br /&gt;
Tahap penghalusan dan perataan bongkahan tanah pada sisi bedengan pada&lt;br /&gt;
tempat penanaman semangka dilakukan dengan cangkul. Di bagian tengah,&lt;br /&gt;
sebagai landasan buah pada bedengan, diratakan dan diatas lapisan ini diberi&lt;br /&gt;
jerami kering untuk perambatan semangka dan peletakan buah. Bedengan perlu&lt;br /&gt;
disiangi, disiram dan dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm dan plastik mulsa&lt;br /&gt;
dengan lebar plastik 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuh&lt;br /&gt;
tanaman liar. Pemakaian plastik lebih menguntungkan karena lebih tahan lama,&lt;br /&gt;
sampai 8-12 bulan pada areal terbuka (2 - 3 kali periode penanaman). Plastik sisa&lt;br /&gt;
yang berwarna perak yang memantulkan sinar matahari dan secara tidak&lt;br /&gt;
langsung membantu tanaman banyak mendapat sinar matahari untuk&lt;br /&gt;
pertumbuhannya.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;
Tanaman semangka merupakan tanaman semusim dengan pola tanam&lt;br /&gt;
monokultur.&lt;br /&gt;
2) Pembuatan Lubang Tanaman&lt;br /&gt;
Penanaman bibit semangka pada lahan lapangan, setelah persemaian berumur&lt;br /&gt;
14 hari dan telah tumbuh daun &#129;} 2-3 lembar. Sambil menunggu bibit cukup besar&lt;br /&gt;
dilakukan pelubangan pada lahan dengan kedalaman 8-10 cm.&lt;br /&gt;
Persiapan pelubangan lahan tanaman dilakukan 1 minggu sebelum bibit dipindah&lt;br /&gt;
ke darat. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar&lt;br /&gt;
80-100 cm/tergantung tebal tipisnya bedengan. Lahan tertutup dengan plastik&lt;br /&gt;
mulsa, maka diperlukan alat bantu dari kaleng bekas cat ukuran 1 kg yang diberi&lt;br /&gt;
lubang-lubang disesuaikan dengan kondisi tanah bedengan yang diberi lobang.&lt;br /&gt;
3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Setelah dilakukan pelubangan, areal penanaman disiram secara massal supaya&lt;br /&gt;
tanah siap menerima penanaman bibit sampai menggenangi areal sekitar ¾ tinggi&lt;br /&gt;
bedengan, dan dibiarkan sampai air meresap. Sebelum batang bibit ditanam&lt;br /&gt;
dilakukan perendaman, agar mudah pelepasan bibit menggunakan kantong plastik&lt;br /&gt;
yang ada. Langkah imunisasi dilakukan dengan perendaman selama 5-10 menit&lt;br /&gt;
disertai campuran larutan obat obatan. Susunan obat terdiri dari: 1 sendok teh&lt;br /&gt;
hormon Atonik, Abitonik, dekamon, menedael, 1 sendok teh peres bakterisida&lt;br /&gt;
tepung, 1 sendok teh peres fungisida serbuk/tepung (Berlate, dithane M-45,&lt;br /&gt;
Daconiel).&lt;br /&gt;
Urutan penanaman adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Kantong plastik diambil hati-hati supaya akar tidak rusak.&lt;br /&gt;
b) Tanam dengan tanah posisi kantong dan masukkan ke lubang yang sudah&lt;br /&gt;
disiapkan&lt;br /&gt;
c) Celah-celah lubang ditutup dengan tanah yang telah disiapkan&lt;br /&gt;
d) Lubang tanaman yang tersisa ditutup dengan tanah dan disiram sedikit air agar&lt;br /&gt;
media bibit menyatu dengan tanah disekeliling dapat bersatu tanpa tersisa.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;
Tanaman semangka yang berumur 3-5 hari perlu diperhatikan, apabila tumbuh&lt;br /&gt;
terlalu lebat/tanaman mati dilakukan penyulaman/diganti dengan bibit baru yang&lt;br /&gt;
telah disiapkan dari bibit cadangan. Dilakukan penjarangan bila tanaman terlalu&lt;br /&gt;
lebat dengan memangkas daun dan batang yang tidak diperlukan, karena&lt;br /&gt;
menghalangi sinar matahari yang membantu perkembangan tanaman.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan&lt;br /&gt;
cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong&lt;br /&gt;
ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung&lt;br /&gt;
cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang&lt;br /&gt;
tumbuh pada ruas yang ada buah ditebang karena mengganggu pertumbuhan&lt;br /&gt;
buah. Pengaturan cabang utama dan cabang primer agar semua daun pada tiap&lt;br /&gt;
cabang tidak saling menutupi, sehingga pembagian sinar merata, yang&lt;br /&gt;
mempengaruhi pertumbuhan baik pohon/buahnya.&lt;br /&gt;
3) Pembubunan&lt;br /&gt;
Lahan penanaman semangka dilakukan pembubunan tanah agar akar menyerap&lt;br /&gt;
makanan secara maksimal dan dilakukan setelah beberapa hari penanaman.&lt;br /&gt;
4) Perempalan&lt;br /&gt;
Dilakukan melalui penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidak&lt;br /&gt;
berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang&lt;br /&gt;
berkembang. Perempelan dilakukan untuk mengurangi tanaman yang terlalu lebat&lt;br /&gt;
akibat banyak tunas-tunas muda yang kurang bermanfaat.&lt;br /&gt;
5) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pemberian pupuk organik pada saat sebelum tanam tidak akan semuanya&lt;br /&gt;
terserap, maka dilakukan pemupukan susulan yang disesuaikan dengan fase&lt;br /&gt;
pertumbuhan. Pada pertumbuhan vegetative diperlukan pupuk daun (Topsil D),&lt;br /&gt;
pada fase pembentukan buah dan pemasakan diperlukan pemupukan Topsis B&lt;br /&gt;
untuk memperbaiki kualitas buah yang dihasilkan. Pemberian pupuk daun&lt;br /&gt;
dicampur dengan insekstisida dan fungisida yang disemprotkan bersamaan&lt;br /&gt;
secara rutin. Adapun penyemprotan dilakukan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Pupuk daun diberikan pada saat 7, 14, 21, 28 dan 35 hari setelah tanam;&lt;br /&gt;
b) Pupuk buah diberikan pada saat 45 dan 55 hari setelah tanam;&lt;br /&gt;
c) ZA dan NPK (perbandingan 1:1) dilakukan 21 hari setelah tanam sebanyak 300&lt;br /&gt;
ml, 25 hari setelah tanam sebanyak 400 ml dan 55 hari setelah tanam&lt;br /&gt;
sebanyak 400 ml.&lt;br /&gt;
6) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Sistim irigasi yang digunakan sistem Farrow Irrigation: air dialirkan melalui saluran&lt;br /&gt;
diantara bedengan, frekuensi pemberian air pada musim kemarau 4-6 hari dengan&lt;br /&gt;
volume pengairan tidak berlebihan. Bila dengan pompa air sumur (diesel air)&lt;br /&gt;
penyiraman dilakukan dengan bantuan slang plastik yang cukup besar sehingga&lt;br /&gt;
lebih cepat. Tanaman semangka memerlukan air secara terus menerus dan tidak&lt;br /&gt;
kekurangan air.&lt;br /&gt;
7) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;
Selain pupuk daun, insktisida dan fungisida, ada obat lain yaitu ZPZ (zat&lt;br /&gt;
perangsang tumbuhan); bahan perata dan perekat pupuk makro (Pm) berbentuk&lt;br /&gt;
cairan. Dosis ZPT: 7,5 cc, Agristik: 7,5 cc dan Metalik (Pm): 10 cc untuk setiap 14-&lt;br /&gt;
17 liter pelarut. Penyemprotan campuran obat dilakukan setelah tanaman berusia&lt;br /&gt;
&gt;20 hari di lahan. Selanjutnya dilakukan tiap 5 hari sekali hingga umur 70 hari.&lt;br /&gt;
Penyemprotan dilakukan dengan sprayer untuk areal yang tidak terlalu luas dan&lt;br /&gt;
menggunakan mesin bertenaga diesel bila luas lahan ribuan hektar.&lt;br /&gt;
Penyemprotan dilakukan pagi dan sore hari tergantung kebutuhan dan kondisi&lt;br /&gt;
cuaca.&lt;br /&gt;
8) Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;
Seleksi calon buah merupakan pekerjaan yang penting untuk memperoleh kualitas&lt;br /&gt;
yang baik (berat buah cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran&lt;br /&gt;
tanaman), calon buah yang dekat dengan perakaran berukuran kecil karena umur&lt;br /&gt;
tanaman relatif muda (ukuran sebesar telur ayam dalam bentuk yang baik dan&lt;br /&gt;
tidak cacat). Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas.&lt;br /&gt;
Setiap calon buah &#129;} 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik&lt;br /&gt;
akibat ketidak-merataan terkena sinar matahari, sehingga warna kurang menarik&lt;br /&gt;
dan menurunkan harga jual buah itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
Hama tanaman semangka dapat digolongkan dalam 2 kelompok: hama yang tahan&lt;br /&gt;
dan tidak tahan terhadap peptisida.&lt;br /&gt;
Hama yang tidak tahan terhadap pestisida (Kutu daun, bentuk seperti kutu),&lt;br /&gt;
umumnya berwarna hijau pupus, hidup bergelombol, tidak bersayap, dan mudah&lt;br /&gt;
berkembang biak. Gejala yang terjadi daun berberecak kuning, pertumbuhannya&lt;br /&gt;
terhambat. Pengendalian dilakukan secara non kimiawi dan kimiawi dengan obatobatan.&lt;br /&gt;
Hama kedua adalah hama yang tahan terhadap pestisida seperti: tikus,&lt;br /&gt;
binatang piaraan (kucing, anjing dan ayam). Pengendallian: menjaga pematang&lt;br /&gt;
selalu bersih, mendirikan pagar yang mengelilingi tanaman, pemasangan suatu alat&lt;br /&gt;
yang menghasilkan bunyi-bunyian bila tertiup angin dan diadakan pergiliran jaga.&lt;br /&gt;
1) Thrips&lt;br /&gt;
Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut&lt;br /&gt;
badan beruas-ruas. Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap&lt;br /&gt;
dan berkembang biak.&lt;br /&gt;
Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida sampai&lt;br /&gt;
tanaman basah dan merata.&lt;br /&gt;
2) Ulat perusak daun&lt;br /&gt;
Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, tanda&lt;br /&gt;
serangan daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh&lt;br /&gt;
seperti berlubang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dilakukan secara non kimiawi dan secara&lt;br /&gt;
kimiawi.&lt;br /&gt;
3) Tungau&lt;br /&gt;
Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil&lt;br /&gt;
mengisap cairan tanaman, membela diri dengan menggigit dan menyengat.&lt;br /&gt;
Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun,&lt;br /&gt;
warna dedaunan akan pucat.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dilakukan secara non-kimiawi dan&lt;br /&gt;
dengan pestisida.&lt;br /&gt;
4) Ulat tanah&lt;br /&gt;
Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif&lt;br /&gt;
merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas&lt;br /&gt;
muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) penanaman&lt;br /&gt;
secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup&lt;br /&gt;
hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) pengendalian secara&lt;br /&gt;
kimiawi, dengan obat-obatan sesuai dengan aturan penanaman buah semangka.&lt;br /&gt;
5) Kutu putih dan Lalat buah&lt;br /&gt;
Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercakbercak&lt;br /&gt;
dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada&lt;br /&gt;
kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan&lt;br /&gt;
terlihat memar. Pengendalian : dilakukan secara non kimiawi (membersihkan&lt;br /&gt;
lingkungan terutama pada kulit buah, tanah bekas hama dibalikan dengan&lt;br /&gt;
dibajak/dicangkul). Secara kimiawi : dengan obat-obatan.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Layu Fusarium&lt;br /&gt;
Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang&lt;br /&gt;
terlalu lembab).&lt;br /&gt;
Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan&lt;br /&gt;
subur, lambat laun akan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) secara non kimiawi dengan pergiliran&lt;br /&gt;
masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang&lt;br /&gt;
belum ditanami, atau menanam benih yang sudah direndam obat; (2) secara&lt;br /&gt;
kimiawi dilakukan penyemprotan bahan fungisida secara periodik.&lt;br /&gt;
2) Bercak daun&lt;br /&gt;
Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang.&lt;br /&gt;
Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi&lt;br /&gt;
coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna&lt;br /&gt;
abu-abu/ungu.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) secara non kimiawi seperti pada penyakit layu&lt;br /&gt;
fusarium; (2) tanaman disemprot dengan fungisida yang terdiri dari Dithane M 45&lt;br /&gt;
dosis 1,8-2,4 gram/liter; Delsene MX 200 dengan dosis 2-4 gram/liter, Trimoltix 65&lt;br /&gt;
Wp dosis 2-3 gram/liter dan Daconil 75 Wp dosis 1-1,5 gram/liter.&lt;br /&gt;
3) Antraknosa&lt;br /&gt;
Penyebab: seperti penyakit layu fusarium.&lt;br /&gt;
Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) dilakukan secara non kimia sepeti pengendalian penyakit layu fusarium; (2) menggunakan fungisida Velimex 80 WP dosis 2-2,5 gram/liter air.&lt;br /&gt;
4) Busuk semai&lt;br /&gt;
Menyerang pada benih yang sedang disemaikan.&lt;br /&gt;
Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati. Pengendalian: benih direndam di dalam obat Benlate 20 WP dosis 1-2 gram/liter air dan Difolathan 44 FF dosis 1-2 cc/liter air.&lt;br /&gt;
5) Busuk buah&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan&lt;br /&gt;
aktif setelah buah mulai dipetik.&lt;br /&gt;
Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya&lt;br /&gt;
kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan,&lt;br /&gt;
pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.&lt;br /&gt;
6) Karat daun&lt;br /&gt;
Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun&lt;br /&gt;
tanaman.&lt;br /&gt;
Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk,&lt;br /&gt;
tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium. Belum ditemukan obat yang tepat, sehingga tanaman yang terlanjur terkena harus, supaya tidak menular pada tanaman sehat.&lt;br /&gt;
Gulma&lt;br /&gt;
Selain gangguan oleh hama dan penyakit, gangguan juga disebabkan&lt;br /&gt;
kekurangan/kelebihan unsur hara yang mempengaruhi pertumbuhan dan&lt;br /&gt;
perkembangan tanaman. Pohon semangka yang kekurangan dan kelebihan unsur&lt;br /&gt;
hara tersebut, menderita akibat adanya gulma (tanaman pengganggu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-cirinya: setelah terjadi&lt;br /&gt;
perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa&lt;br /&gt;
dipetik (dipanen). Masa panen dipengaruhi cuaca, dan jenis bibit (tipe hibrida/jenis&lt;br /&gt;
triploid, maupun jenis buah berbiji).&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Dalam pemetikan buah yang akan dipanen sebaiknya dilakukan pada saat cuaca&lt;br /&gt;
cerah dan tidak berawan sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya,&lt;br /&gt;
dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer.&lt;br /&gt;
Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Panen dilakukan dalam beberapa periode. Apabila buah secara serempak dapat&lt;br /&gt;
dipanen secara sekaligus, tetapi apabila tidak bisa bersamaan dapat dilakukan 2 kali.&lt;br /&gt;
Pertama dipetik buah yang sudah tua, ke-dua semuanya sisanya dipetik semuanya&lt;br /&gt;
sekaligus. Ke-tiga setelah daun-daun sudah mulai kering karena buah sudah tidak&lt;br /&gt;
dapat berkembang lagi maka buah tersebut harus segera dipetik.&lt;br /&gt;
Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;
Hasil produksi dari masing-masing pohon semangka perlu diadakan pembatasan&lt;br /&gt;
hasil buahnya, sehingga dapat diperkirakan jumlah produksinya. Secara wajar,&lt;br /&gt;
jumlah buah berkisar antara 2-3 buah setiap pohon (1 buah pada cabang pohon dan&lt;br /&gt;
2 buah pada batang utama dari pohon), dengan berat buahnya &#129;} 6-8 kg per pohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Pengumpulan hasil panen sampai siap dipasarkan, harus diusahakan sebaik&lt;br /&gt;
mungkin agar tidak terjadi kerusakan buah, sehingga akan mempengaruhi mutu&lt;br /&gt;
buah dan harga jualnya. Mutu buah dipengaruhi adanya derajat kemasakan yang&lt;br /&gt;
tepat, karena akan mempengaruhi mutu rasa, aroma dan penampakan daging buah,&lt;br /&gt;
dengan kadar air yang sempurna.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Penggolongan ini biasanya tergantung pada pemantauan dan permintaan pasaran.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan penggolongan buah semangka dilakukan dalam beberapa klas&lt;br /&gt;
antara lain:&lt;br /&gt;
1) Kelas A: berat ≥ 4 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak.&lt;br /&gt;
2) Kelas B: berat &#129;} 2-4 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak.&lt;br /&gt;
3) Kelas C: berat &lt; 2 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Penyimpanan buah semangka di tingkat pedagang besar (sambil menunggu harga&lt;br /&gt;
lebih baik) dilakukan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1) Penyimpanan pada suhu rendah sekitar 4,4 derajat C, dan kelembaban udara&lt;br /&gt;
antara 80-85%;&lt;br /&gt;
2) Penyimpanan pada atmosfir terkontrol (merupakan cara pengaturan kadar O2 dan&lt;br /&gt;
kadar CO2 dengan asumsi oksigen atau menaikan kadar karbon dioksida (CO2),&lt;br /&gt;
dapat mengurangi proses respirasi;&lt;br /&gt;
3) Penyimpanan dalam ruang tanpa pengatur suhu: merupakan penyimpanan jangka&lt;br /&gt;
pendek dengan cara memberi alas dari jerami kering setebal 10-15 cm dengan&lt;br /&gt;
disusun sebanyak 4-5 lapis dan setiap lapisnya diberi jerami kering.&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;
Di dalam mempertahankan mutu buah agar kondisi selalu baik sampai pada tujuan&lt;br /&gt;
akhir dilakukan pengemasan dengan proses pengepakan yang secara benar dan&lt;br /&gt;
hati-hati.&lt;br /&gt;
1).Menggunakan tempat buah yang standar untuk mempermudah pengangkutan.&lt;br /&gt;
2).Melindungi buah saat pengangkutan dari kerusakan mekanik dapat dihindari.&lt;br /&gt;
3).Dibubuhi label pada peti kemas terutama tentang mutu dan berat buah.&lt;br /&gt;
Penanganan Lain&lt;br /&gt;
Pemasaran merupakan salah satu faktor penting, maka perlu diperhatikan nilai harga&lt;br /&gt;
dan jalur-jalur pemasaran mulai dari produsen (petani) sampai konsumen. Semakin&lt;br /&gt;
cepat dikonsumsi semakin tinggi harga jualnya. Pemasaran biasa dilakukan melalui&lt;br /&gt;
sistem borongan dengan harga yang lebih rendah, atau melalui beberapa tahapan&lt;br /&gt;
(seperti produsen, pengumpul, pengecer).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya, khususnya petani&lt;br /&gt;
semangka, Pemerintah menetapkan kebijaksanaan dalam memilih urutan jenis&lt;br /&gt;
tanaman pertanian/hortikultura. Dalam ruang lingkup berikut telah disusun beberapa&lt;br /&gt;
pedoman sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Mengutamakan jenis tanaman semangka yang bernilai ekonomi tinggi, untuk&lt;br /&gt;
meningkatkan pendapatan petani semangka, baik untuk konsumsi dalam maupun&lt;br /&gt;
luar negeri.&lt;br /&gt;
b) Mengutamakan jenis tanaman yang dapat memberi kesempatan tenaga kerja&lt;br /&gt;
lebih banyak.&lt;br /&gt;
c) Mengutamakan jenis tanaman semangka yang mempunyai prospek pasar dan&lt;br /&gt;
pemasaran yang baik.&lt;br /&gt;
d) Mengutamakan jenis tanaman semangka yang dapat mempertinggi nilai gizi&lt;br /&gt;
masyarkat.&lt;br /&gt;
Berdasarkan uraian diatas, tanaman semangka merupakan salah satu tanaman&lt;br /&gt;
prioritas utama yang perlu mendapatkan perhatian diantara tanaman-tanaman&lt;br /&gt;
hortikultura. Buah semangka mempunyai harga yang relatif lebih tinggi dibanding&lt;br /&gt;
tanaman hortikultura pada umumnya. Hal ini memberi banyak keuntungan kepada&lt;br /&gt;
petani atau pengusaha pertanian tanaman semangka. Dan ini memungkinkan&lt;br /&gt;
adanya perbaikan tata perekonomian Indonesia, khususnya dari bidang pertanian.&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Untuk klasifikasi standar mutu dan syarat produk yang berlaku dipasaran maka kita&lt;br /&gt;
harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Semangka yang diproduksi harus diberi merek, yaitu dengan menempelkan stiker&lt;br /&gt;
pada buah;&lt;br /&gt;
b) Kepercayaan yang telah diberikan oleh pelanggan harus dijaga;&lt;br /&gt;
c) Pangsa pasar harus diperkuat, dan kontinuitas (keberlanjutan) produksi semangka&lt;br /&gt;
harus dijaga;&lt;br /&gt;
d) Buah semangka yang berkualitas (kelas M1) harus dikemas sedemikian rupa&lt;br /&gt;
untuk memberikan kepuasan pelanggan.&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Dalam pengambilan contoh untuk penanganan produksi selanjutnya, umur&lt;br /&gt;
semangka kurang lebih 56–65 HST, buah semangka yang berukuran besar&lt;br /&gt;
mempunyai berat rata-rata 2,5 kg, ukuran sedang 1,0–2,5 kg, dan ukuran kecil berat&lt;br /&gt;
buah sekitar 400 gram.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Untuk pengemasan yang standar dapat menggunakan kotak kayu atau dapat juga&lt;br /&gt;
menggunakan rajutan benang yang mirip dengan jala. Dengan kemasan rajutan&lt;br /&gt;
benang akan lebih terjamin dibanding dengan menggunakan kotak kayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>S A W O ( Acrhras zapota. L )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/s-w-o-acrhras-zapota-l.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-4123099408885532542</guid><description>SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Tanaman ini optimal dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai&lt;br /&gt;
kering.&lt;br /&gt;
2) Curah hujan yang dikehendaki yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan&lt;br /&gt;
2 bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah&lt;br /&gt;
dengan 5 bulan kering dan 5 bulan basah dengan 7 bulan kering atau&lt;br /&gt;
membutuhkan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun.&lt;br /&gt;
3) Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari&lt;br /&gt;
namun toleran terhadap keadaan teduh (naungan).&lt;br /&gt;
4) Tanaman sawo tetap dapat berkembang baik pada suhu antara 22-32 derajat C.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman sawo adalah tanah lempung berpasir&lt;br /&gt;
(latosol) yang subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik.&lt;br /&gt;
Tetapi hampir semua jenis tanah yang diginakan untuk pertanian cocok untuk&lt;br /&gt;
ditanami sawo, seperti jenis tanah andosol (daerah vulkan), alluvial loams (daerah&lt;br /&gt;
aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung).&lt;br /&gt;
2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk perkembangan tanaman&lt;br /&gt;
sawo adalah antara 6–7.&lt;br /&gt;
3) Kedalaman air tanah yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo, yaitu&lt;br /&gt;
antara 50 cm sampai 200 cm.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Tanaman sawo dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai&lt;br /&gt;
dengan ketinggian 1.200 m dpl. Tetapi ada daerah-daerah yang cocok sehingga&lt;br /&gt;
tanaman sawo dapat berkembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dari dataran&lt;br /&gt;
rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;
Saat ini tanaman sawo sudah dapat dikembangkan dalam dua tempat, yaitu di&lt;br /&gt;
kebun dan di dalam pot. Bibit yang dipilih sebaiknya bibit yang berasal dari&lt;br /&gt;
cangkok atau sambung, sebab bibit yang berasal dari biji lambat dalam&lt;br /&gt;
menghasilkan buah. Bibit dipilih yang sehat dengan daun yang kelihatan hijau&lt;br /&gt;
segar dan mengembang sempurna serta bebas hama dan penyakit. Bibit dari&lt;br /&gt;
cangkok dipilih yang memiliki cabang atau ranting yang bagus dan sehat.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Untuk memperoleh bibit tanaman sawo ada beberapa cara, misalnya dari biji,&lt;br /&gt;
sambung, dan cangkok.&lt;br /&gt;
a) Pembenihan biji&lt;br /&gt;
Perbanyakan tanaman sawo secara generatif dengan biji memiliki keunggulan&lt;br /&gt;
dan kelemahan. Bibit yang berasal dari biji memiliki perakaran yang kuat dan&lt;br /&gt;
dalam. Akan tetapi perbanyakan secara generatif hampir selalu memberikan&lt;br /&gt;
keturunan yang berbeda dengan induknya karena ada pencampuran sifat&lt;br /&gt;
kedua tetua atau terjadi proses segregasi genetis. Tanaman sawo yang berasal&lt;br /&gt;
dari biji mulai berbuah pada umur ± 7 tahun. Teknik pembibitan tanaman sawo&lt;br /&gt;
dari biji melalui tahap tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Pemilihan buah&lt;br /&gt;
Pilih buah tua yang matang di pohon, sehat, bentuknya normal dan berasal&lt;br /&gt;
dari pohon induk varietas unggul yang telah berbuah.&lt;br /&gt;
2. Pengambilan biji&lt;br /&gt;
- Belah buah menjadi beberapa bagian.&lt;br /&gt;
- Ambil dan kumpulkan biji-biji sawo yang baik saja, kemudian tampung&lt;br /&gt;
dalam wadah.&lt;br /&gt;
- Cuci dalam air yang mengalir atau air yang disemprotkan sampai biji&lt;br /&gt;
benar-benar bersih.&lt;br /&gt;
- Keringkan biji selama 3 hari sampai 7 hari agar kadar air biji berkisar&lt;br /&gt;
antara 12-14%.&lt;br /&gt;
- Masukkan biji ke dalam wadah tertutup rapat untuk disimpan beberapa&lt;br /&gt;
waktu.&lt;br /&gt;
3. Pengecambahan benih&lt;br /&gt;
- Siapkan bak pengecambahan yang telah diisi media pasir bersih setebal&lt;br /&gt;
10–15 cm.&lt;br /&gt;
- Sebarkan biji sawo pada permukaan media, kemudian tutup dengan pasir&lt;br /&gt;
setebal 1–2 cm.&lt;br /&gt;
- Siram media dalam bak pengecambahan dengan air bersih hingga cukup&lt;br /&gt;
basah.&lt;br /&gt;
- Tutup permukaan bak pengecambahan dengan lembaran plastik bening&lt;br /&gt;
(tembus cahaya) untuk menjaga kestabilan kelembaban media.&lt;br /&gt;
- Biarkan biji berkecambah ditempat yang teduh selama 7 hari sampai 15&lt;br /&gt;
hari. Biji sawo yang telah berkecambah atau keluar akar sepanjang 2-5&lt;br /&gt;
mm dapat segera dipindahsemikan.&lt;br /&gt;
b) Bibit Asal Enten (Grafting)&lt;br /&gt;
Penyambungan tanaman sawo sebagai batang atas dilakukan dengan tanaman&lt;br /&gt;
ketiau atau melali (Bassia sp.) sebagai batang bawahnya. Metoda&lt;br /&gt;
penyambungan yang dilakukan adalah metoda sambung pucuk (top grafting).&lt;br /&gt;
Tata laksana memproduksi bibit sawo dengan cara sambung pucuk (top&lt;br /&gt;
grafting) adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Persiapan&lt;br /&gt;
Siapkan alat dan bahan berupa pisau tajam, tali rafia atau lembar plastik,&lt;br /&gt;
gunting, kantong plastik bening, batang bawah melali atau bassia umur 3-6&lt;br /&gt;
bulan atau berdiameter batang 0,3–0,7 cm, dan cabang atau tunas entres.&lt;br /&gt;
2. Pelaksanaan sambung pucuk&lt;br /&gt;
- Potong ujung batang tanaman bassia pada ketinggian 15–20 cm dari&lt;br /&gt;
permukaan tanah.&lt;br /&gt;
- Sayat batang bawah membentuk celah atau huruf V sepanjang 3–5 cm.&lt;br /&gt;
- Sayat cabang entres sepanjang 4 cm membentuk baji seukuran sayatan&lt;br /&gt;
batang bawah dan buang sebagian daunnya.&lt;br /&gt;
- Masukkan pangkal cabang entres ke celah batang bawah hingga pas&lt;br /&gt;
benar.&lt;br /&gt;
- Ikat erat-erat hasil sambungan tadi dengan tali rafia atau lembaran plastik.&lt;br /&gt;
- Kerudungi hasil sambungan dengan kantong plastik bening selama 10-15&lt;br /&gt;
hari.&lt;br /&gt;
3. Pengakhiran&lt;br /&gt;
Hasil sambungan dapat diperiksa setelah 10 hari sampai 15 hari kemudian.&lt;br /&gt;
Caranya adalah dengan membuka kerudung kantong plastik, kemudian mata&lt;br /&gt;
entres atau bidang sambungan diperiksa. Jika mata entres berwarna hijau&lt;br /&gt;
dan segar berarti penyambungan berhasil. Sebaliknya, bila mata entres&lt;br /&gt;
berwarna coklat dan kering berarti penyambungan gagal.&lt;br /&gt;
c) Bibit Cangkok&lt;br /&gt;
Perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cangkok paling umum&lt;br /&gt;
dipraktekkan oleh pembibit tanaman tahunan, khususnya buah-buahan.&lt;br /&gt;
Kelemahan bibit cangkok adalah sistem perakaran kurang kuat karena tidak&lt;br /&gt;
memiliki akar tunggang. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cangkok,&lt;br /&gt;
antara lain adalah sebagai berikut: (1) cangkok mempercepat kemampuan&lt;br /&gt;
berbuah karena pada umur kurang dari satu tahun tanaman sudah mulai&lt;br /&gt;
berbunga atau berbuah; (2) cangkok memperoleh kepastian kelamin serta sifat&lt;br /&gt;
genetiknya sama dengan pohon induk; (3) Habitus tanaman pada umumnya&lt;br /&gt;
pendek (dwarfing) sehingga memudahkan pemeliharaan dan panen. Tata&lt;br /&gt;
laksana pembibitan tanaman sawo dengan cangkok adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Persiapan&lt;br /&gt;
Siapkan alat dan bahan yang terdiri dari pisau, sabut kelapa atau lembaran&lt;br /&gt;
plastik, tali pembalut, kotak alat, tali, media atau campuran tanah subur&lt;br /&gt;
dengan pupuk kandang (1:1), dan cabang yang cukup umur.&lt;br /&gt;
2. Pelaksanaan mencangkok&lt;br /&gt;
- Pilih cabang yang memenuhi persyaratan, yaitu berukuran cukup besar,&lt;br /&gt;
tidak terlalu muda ataupun tua, pertumbuhannya baik, sehat dan tidak&lt;br /&gt;
cacat, serta lurus.&lt;br /&gt;
- Tentukan tempat untuk keratan pada bagian cabang yang licin.&lt;br /&gt;
- Buat dua keratan (irisan) melingkar cabang dengan jarak antara 3–5 cm.&lt;br /&gt;
- Lepaskan kulit cabang bidang keratan tadi.&lt;br /&gt;
- Kerik kambium hingga tampak kering.&lt;br /&gt;
- Biarkan bekas keratan mengering antara 3 hari sampai 5 hari.&lt;br /&gt;
- Olesi bidang sayatan dengan zat pengatur tumbuh akar, seperti Rootone&lt;br /&gt;
F.&lt;br /&gt;
- Ikat pembalut cangkok pada bagian bawah keratan.&lt;br /&gt;
- Letakkan media pada bidang karatan sambil dipadatkan membentuk&lt;br /&gt;
bulatan setebal ± 6 cm.&lt;br /&gt;
- Bungkus media dengan pembalut sabut kelapa atau lembaran plastik.&lt;br /&gt;
- Ikat ujung pembalut (pembungkus) di bagian ujung keratan.&lt;br /&gt;
- Ikat bagian tengah pembungkus cangkok, dan buat lubang-lubang kecil&lt;br /&gt;
dengan cara ditusuk-tusuk lidi.&lt;br /&gt;
3. Pemotongan bibit cangkok&lt;br /&gt;
Setelah bibit cangkok menunjukkan perakarannya (1,5–3,5 bulan dari&lt;br /&gt;
pencangkokan), potong bibit cangkok dari pohon tepat dibawah bidang&lt;br /&gt;
keratan.&lt;br /&gt;
4. Pendederan bibit cangkok&lt;br /&gt;
- Siapkan polybag berdiameter antara 15-25 cm atau sesuai dengan ukuran&lt;br /&gt;
bibit cangkok.&lt;br /&gt;
- Isi polybag dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang&lt;br /&gt;
matang (1:1) hingga mencapai setengah bagian polybag.&lt;br /&gt;
- Lepaskan (buka) pembalut bibit cangkok.&lt;br /&gt;
- pangkas sebagian dahan, ranting, dan daun yang berlebihan untuk&lt;br /&gt;
mengurangi penguapan.&lt;br /&gt;
- Tanamkan bibit cangkok tepat di tengah-tengah polybag sambil mengatur&lt;br /&gt;
perakarannya secara hati-hati.&lt;br /&gt;
- Penuhi polybag dengan media hingga cukup penuh sambil memadatkan&lt;br /&gt;
pelan-pelan pada bagian pangkal batang bibit cangkok.&lt;br /&gt;
- Siram media dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah.&lt;br /&gt;
- Simpan bibit cangkok di tempat yang teduh dan lembab.&lt;br /&gt;
- Biarkan dan pelihara bibit cangkok selama 1-1,5 bulan agar beradaptasi&lt;br /&gt;
dengan lingkungan setempat dan tumbuh tunas-tunas dan akar baru.&lt;br /&gt;
- Pindah tanamkan bibit cangkok yang sudah tumbuh cukup kuat ke kebun&lt;br /&gt;
atau dalam pot.&lt;br /&gt;
5. Pengakhiran&lt;br /&gt;
Berhasil tidaknya cangkok dapat diketahui setelah 1,5-3,5 bulan kemudian.&lt;br /&gt;
Berdasarkan pengalaman para pembibit tanaman buah-buahan,&lt;br /&gt;
pembungkus (pembalut) cangkok yang berupa lembaran plastik lebih cepat&lt;br /&gt;
menumbuhkan akar dibandingkan sabut kelapa.&lt;br /&gt;
3) Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;
a) Pembuatan media persemaian&lt;br /&gt;
Persemaian dapat dilakukan pada bedengan persemaian atau menggunakan&lt;br /&gt;
polybag. Tata laksana penyiapan lahan persemaian berupa bedengan adalah&lt;br /&gt;
sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Buat bedengan persemaian berukuran 100-150 cm, tinggi 30-40 cm, panjang&lt;br /&gt;
tergantung keadaan lahan, dan jarak tanam antar bedengan 50-60 cm.&lt;br /&gt;
2. Sebarkan pupuk kandang sebanyak 2 kg/m2 sampai 3 kg/m2 luas bedengan,&lt;br /&gt;
lalu campurkan merata dengan lapisan tanah atas.&lt;br /&gt;
3. Buat tiang-tiang persemaian setinggi 100-150 cm di sebelah dan 75-100 cm&lt;br /&gt;
di sebelah barat, kemudian pasang palang-palang dan atap persemaian&lt;br /&gt;
yang terbuat dari plastik atau daun kering.&lt;br /&gt;
4. Ratakan dan rapikan bedengan persemaian, lalu siram dengan air bersih&lt;br /&gt;
hingga cukup basah.&lt;br /&gt;
Tata cara penyiapan tempat semai dalam polybag adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Siapkan polybag berdiameter 10-15 cm, media campuran tanah subur,&lt;br /&gt;
pupuk kandang halus (diayak), dan pasir (1:1:1), atau campuran tanah&lt;br /&gt;
dengan pupuk kandang (1:1).&lt;br /&gt;
2. Lubangi bagian dasar polybag untuk pembuangan air.&lt;br /&gt;
3. Isikan media ke dalam polybag hingga cukup penuh.&lt;br /&gt;
4. Simpan polybag yang telah diisi media di tempat yang rata mirip bedengan&lt;br /&gt;
dan diberi naungan.&lt;br /&gt;
b) Penyemaian&lt;br /&gt;
1. Semaikan biji sawo yang sudah berkecambah (7-15 hari setelah tahap&lt;br /&gt;
pengecambahan biji) pada bedengan penyemaian atau dalam polybag&lt;br /&gt;
sedalam 1-2 cm. Jarak semai antar biji yang disemai pada bedengan&lt;br /&gt;
penyemaian diatur 10 cm x 10 cm atau 15 cm x 15 cm. Penyemaian dalam&lt;br /&gt;
polybag cukup diisi satu butir biji sawo tiap polybag.&lt;br /&gt;
2. Siram media dengan air bersih hingga cukup basah.&lt;br /&gt;
3. Biarkan biji tumbuh menjadi bibit muda.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;
Tata laksana pemeliharaan bibit dalam tempat penyemaian adalah sebagai&lt;br /&gt;
berikut:&lt;br /&gt;
a) Lakukan penyiraman secara kontinu tiap hari 1 kali sampai 2 kali, atau&lt;br /&gt;
tergantung pada cuaca dan keadaan media.&lt;br /&gt;
b) Pupuklah tanaman muda tiap 1 bulan sampai 3 bulan sekali dengan pupuk NPK&lt;br /&gt;
(15-15-15 atau 16-16-16) sebanyak 10 gram sampai 25 gram, yang dilarutkan&lt;br /&gt;
dalam 10 liter air untuk disiramkan pada media.&lt;br /&gt;
c) Lakukan penyemprotan pestisida bila ditemukan serangan hama dan penyakit&lt;br /&gt;
dengan menggunakan dosis rendah (30-50% dari dosis anjuran).&lt;br /&gt;
d) Pindah tanamkan bibit dari bedengan persemaian secara cabutan ke dalam&lt;br /&gt;
polybag, atau dari polybag lama ke polybag baru yang ukurannya lebih besar.&lt;br /&gt;
e) Pelihara bibit sawo sampai cukup besar atau setinggi 50-100 cm untuk siap&lt;br /&gt;
ditanam.&lt;br /&gt;
5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;
Bibit sawo yang telah siap dipindahkan adalah bibit yang telah mencapai&lt;br /&gt;
ketinggian 50-100 cm.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Persiapan&lt;br /&gt;
Penetapan areal untuk perkebunan sawo harus memperhatikan faktor kemudahan&lt;br /&gt;
transportasi dan sumber air.&lt;br /&gt;
2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;
a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta&lt;br /&gt;
menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.&lt;br /&gt;
b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;
Untuk tujuan mendapatkan buah yang banyak, menanam sawo di kebun memang&lt;br /&gt;
lebih tepat. Penanaman tidak hanya dilakukan dengan satu atau dua buah pohon,&lt;br /&gt;
tetapi dalam jumlah yang banyak.&lt;br /&gt;
Tanaman sawo di kebun dapat tumbuh besar dengan tajuk yang lebar. Mengingat&lt;br /&gt;
hal ini maka penanaman sawo harus dilakukan dengan jarak yang tidak terlalu&lt;br /&gt;
rapat antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain. Jarak tanam untuk&lt;br /&gt;
sawo yang dianggap cukup adalah 12 m x 12 m. Dengan jarak tanam seperti ini,&lt;br /&gt;
antara tanaman sawo yang satu dengan yang lain tidak bersentuhan yang dapat&lt;br /&gt;
mengakibatkan terganggunya pertumbuhan. Penanaman sebaiknya dilakukan&lt;br /&gt;
pada waktu musim penghujan.&lt;br /&gt;
2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;
Pembuatan lubang tanam dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih&lt;br /&gt;
baik bagi bibit yang akan ditanam. Untuk itu tanah tempat penanaman dalam&lt;br /&gt;
lubang tanam haru gembur karena sistem perakaran bibit yang masih lemah.&lt;br /&gt;
Lubang tanam untuk sawo dapat dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.&lt;br /&gt;
Tanah galian bagian atas ± 30 cm dipisah dengan tanah bagian bawah. Keduanya&lt;br /&gt;
kemudian dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 20 kg sampai rata. Pupuk&lt;br /&gt;
kandang ini berfungsi sebagai pupuk dasar. Selama dua minggu lubang tanam ini&lt;br /&gt;
dibiarkan terjemur sinar matahari.&lt;br /&gt;
Bila bibit telah siap, bisa langsung ditanam di lubang tanam. Tetapi bila bibit belum&lt;br /&gt;
siap tanam, maka tanah galian bagian bawah dikembalikan ke bawah dan tanah&lt;br /&gt;
galian atas dikembalikan ke bagian atas. Sebagai tanda bahwa di tempat itu ada&lt;br /&gt;
lubang tanam, dapat ditandai dengan kayu yang ditancapkan pada lubang&lt;br /&gt;
tersebut. Setelah bibit siap tanam maka lubang tanam digali lagi.&lt;br /&gt;
3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Sebelum ditanam, pembungkus (polybag) harus dilepas dengan hati-hati agar&lt;br /&gt;
tanahnya tidak berantakan dan perakaran tidak rusak. Penanaman dilakukan&lt;br /&gt;
sedalam leher akar tegak di tengah lubang tanam.Masukkan tanah bagian atas&lt;br /&gt;
bekas galian lebih dahulu, baru disusul tanah bagian bawah bekas galian. Tanah&lt;br /&gt;
di sekeliling akar tanaman dipadatkan agar tidak terjadi rongga-rongga udara yang&lt;br /&gt;
dapat menyulitkan akar mencari makan.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penyiangan&lt;br /&gt;
Setelah satu bulan sampai dua bulan tanam, perlu dilakukan penyiangan tanaman&lt;br /&gt;
sawo untuk membersihkan rumput dan gulma yang menggangu. Jika tanaman&lt;br /&gt;
sudah tumbuh besar gangguan tersebut tidak berarti, tetapi jika tanaman masih&lt;br /&gt;
kecil akan sangat berarti karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman sawo.&lt;br /&gt;
Gangguan tumbuhan parasit seperti benalu juga harus diperhatikan. Jika kelihatan&lt;br /&gt;
pada ranting pohon sawo terdapat benalu atau parasit agar segera dibersihkan&lt;br /&gt;
dengan cara memotong ranting tempat benalu menempel. Pemotongan sebaiknya&lt;br /&gt;
dilakukan sebelum benalu berbunga. Perlu pula dilakukan pemberantasan benalu&lt;br /&gt;
pada pohon lain di dekat tanaman sawo untuk mencegah penularan.&lt;br /&gt;
2) Pembubunan&lt;br /&gt;
Pada saat melakukan penyiangan tanaman sawo, dapat juga dilakukan&lt;br /&gt;
pembubunan tanah di sekitar tanaman. Pembubunan dilakukan untuk&lt;br /&gt;
menggemburkan tanah di sekitar tanaman sawo dan untuk memperkokoh batang&lt;br /&gt;
tumbuhnya.&lt;br /&gt;
3) Pemupukan&lt;br /&gt;
Sebagai pedoman pemupukan dapat diberikan 250-500 gram urea/pohon/tahun&lt;br /&gt;
sebelum tanaman sawo berbuah. Pemupukan ini dimaksudkan untuk merangsang&lt;br /&gt;
pertumbuhan batang dan daun, karena urea adalah sumber N yang berfungsi&lt;br /&gt;
untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun.&lt;br /&gt;
Bila tanaman sudah waktunya berbuah, kurang lebih berumur 4 tahun, dilakukan&lt;br /&gt;
pemupukan dengan menggunakan pupuk majemuk NPK (10-20-15) yang&lt;br /&gt;
kandungan fosfor (P) dan kaliumnya (K) tinggi sebanyak 500 gram per pohon tiap&lt;br /&gt;
tahun. Bila tidak ada NPK bisa diganti dengan pupuk urea, DS, dan KCl sebanyak&lt;br /&gt;
108 gram, 277 gram, dan 144 gram. Unsur P bagi tanaman berfungsi untuk&lt;br /&gt;
mempercepat pembungaan, sedangkan unsur K berfungsi untuk menjaga bunga&lt;br /&gt;
dan buah supaya tidak mudah gugur.&lt;br /&gt;
Jumlah pupuk tersebut secara bertahap ditingkatkan sampai 2 kg/pohon tiap&lt;br /&gt;
tahun untuk tanaman sawo yang telah berumur 15 tahun. Selain urea dan NPK&lt;br /&gt;
yang diberikan, perlu juga diberikan pupuk kandang sebanyak 10 kg/pohon untuk&lt;br /&gt;
memperbaiki struktur tanah. Pemberian pupuk lanjutan tersebut dilakukan dua kali&lt;br /&gt;
dalam setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan&lt;br /&gt;
setengah dari yang disebutkan di atas.&lt;br /&gt;
Cara pemberian pupuk dengan menaburkan pupuk ke dalam parit yang digali di&lt;br /&gt;
bawah pohon mengelilingi lingkaran tajuk dengan lebar dan kedalaman ± 10 cm.&lt;br /&gt;
Dapat juga ditanam pada empat lubang di bawah tajuk pohon dengan ukuran 20&lt;br /&gt;
cm x 20 cm x 20 cm untuk tiap lubang.&lt;br /&gt;
4) Penyiraman&lt;br /&gt;
Pada awal tanaman sawo memulai kehidupannya, perlu dilakukan penyiraman&lt;br /&gt;
paling sedikit dua minggu sekali jika tidak ada hujan. Pemberian air pada tanaman&lt;br /&gt;
sawo perlu dilakukan sampai tanaman berumur 3-4 tahun. Semakin tua tanaman,&lt;br /&gt;
semakin tahan terhadap kekeringan.&lt;br /&gt;
Kekurangan air pada waktu tanaman sawo sedang berbunga atau berbuah dapat&lt;br /&gt;
menyebabkan bunga atau buah mudah gugut. Pemberian air yang baik dan&lt;br /&gt;
teratur akan menghasilkan buah dengan jumlah dan kualitas yang baik.&lt;br /&gt;
5) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;
Penyemprotan dengan pestisida atau insektisida dapat dilakukan jika pada&lt;br /&gt;
tanaman sawo terdapat hama dan penyakit yang menyerangnya, yaitu:&lt;br /&gt;
a) Penyemprotan dengan insektisida jenis Agrothion 50 EC dengan dosis 3-4&lt;br /&gt;
cc/liter air untuk membunuh lalat buah (Ceratitis capitata atau Dacus sp.).&lt;br /&gt;
b) Penyemprotan dengan insektisida jenis Diasinon 60 EC dengan dosis 1-2&lt;br /&gt;
cc/liter air atau Basudin 50 EC dengan dosis 2 cc/liter air untuk membunuh kutu&lt;br /&gt;
hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan kutu coklat (Saissetia nigra)&lt;br /&gt;
yang menyerang ranting muda dan daun-daun tanaman sawo yang&lt;br /&gt;
menyebabkan ranting dan daun mengkerut, layu, kering, dan terhambat&lt;br /&gt;
pertumbuhannya.&lt;br /&gt;
c) Penyemprotan dengan fungisida Cuspravit OB 21 dengan dosis 4 gram/liter air&lt;br /&gt;
setiap tiga minggu sekali untuk mengatasi dan mencegah serangan jamur upas&lt;br /&gt;
yang disebabkan oleh jamur Corticium salmonicolor.&lt;br /&gt;
d) Penyemprotan dengan fungisida Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air&lt;br /&gt;
atau Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air untuk mengatasi&lt;br /&gt;
penyakit jamur jelaga yang disebabkan oleh jamur Capnodium sp.&lt;br /&gt;
Penyemprotan dengan fungisida Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4&lt;br /&gt;
gram/liter air untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh jamur&lt;br /&gt;
Phytopthora valmivora Butl. Yang menyebabkan busuk buah sawo.&lt;br /&gt;
6) Pemangkasan&lt;br /&gt;
Jika dibiarkan tumbuh secara alami, tanaman sawo dapat mencapai ketinggian 20&lt;br /&gt;
m. Pohon dengan ketinggian seperti itu akan menyulitkan dalam pemetikan buah.&lt;br /&gt;
Agar tanaman sawo tidak terlalu tinggi, maka dilakukan pemangkasan.&lt;br /&gt;
Pemangkasan juga bertujuan membentuk sistem percabangan yang baik dan&lt;br /&gt;
kuat.&lt;br /&gt;
Ada dua tahap pemangkasan pada tanaman sawo, yaitu pemangkasan bentuk&lt;br /&gt;
dan pemangkasan pemeliharaan.&lt;br /&gt;
a) Pemangkasan Bentuk&lt;br /&gt;
Pemangkasan bentuk ditujukan untuk mengatur tinggi rendah dan bentuk tajuk&lt;br /&gt;
untuk memudahkan dalam pemetikan buah serta pengontrolan terhadap hama&lt;br /&gt;
dan penyakit.&lt;br /&gt;
Pemangkasan pertama dilakukan ketika tanaman telah mencapai tinggi 100-&lt;br /&gt;
160 cm. Pemangkasan dilakukan pada musim penghujan dengan memotong&lt;br /&gt;
ujung batang hingga ketinggiannya tinggal 75-150 cm. Tempat pemangkasan&lt;br /&gt;
harus sedikit di atas ruas batang. Untuk mencegah penyakit, luka bekas&lt;br /&gt;
pangkasan dapat ditutup dengan cat meni atau parafin. Beberapa hari setelah&lt;br /&gt;
pemangkasan akan tumbuh tunas-tunas baru. Tiga dari tunas yang tumbuh&lt;br /&gt;
sehat dan tidak saling berdekatan dipilih sebagai cabang primer dan tunas&lt;br /&gt;
lainnya dibuang.&lt;br /&gt;
Pemangkasan ke dua dilakukan pada awal musim penghujan berikutnya, tunas&lt;br /&gt;
yang telah berumur satu tahun dipangkas lagi hingga panjangnya tinggal 25-40&lt;br /&gt;
cm. Pemangkasan ini dilakukan tepat di atas mata tunas. Akibat pemangkasan&lt;br /&gt;
ini akan muncul tunas-tunas baru. Tiga sampai empat tunas yang sehat&lt;br /&gt;
dibiarkan tumbuh menjadi cabang sekunder dan tunas yang lain dipotong.&lt;br /&gt;
Pemangkasan ke tiga yang merupakan pemangkasan terakhir dilakukan pada&lt;br /&gt;
awal musim penghujan berikutnya, cabang-cabang sekunder dipotong untuk&lt;br /&gt;
membentuk cabang-cabang tersier. Pemotongan dilakukan sampai jumlah&lt;br /&gt;
cabang-cabang sekunder tinggal dua pertiganya. Setelah pemangkasan ini&lt;br /&gt;
akan muncul tunas-tunas baru. Dua atau tiga tunas dari masing-masing cabang&lt;br /&gt;
sekunder dibiarkan tumbuh, yang lainnya dibuang setelah tumbuh sepanjang&lt;br /&gt;
10 cm.&lt;br /&gt;
b) Pemangkasan Pemeliharaan&lt;br /&gt;
Pemangkasan pemeliharaan ditujukan untuk mencegah serangan penyakit,&lt;br /&gt;
menumbuhkan tunas baru untuk mengganti cabang tua yang tidak berproduktif&lt;br /&gt;
lagi, serta mengurangi kerimbunan sehingga sinar matahari dapat dimasukkan&lt;br /&gt;
ke mahkota tajuk.&lt;br /&gt;
Dalam pemangkasan ini yang perlu dipangkas adalah cabang-cabang air yaitu&lt;br /&gt;
cabang-cabang yang tumbuh lurus ke atas dengan kecepatan pertumbuhan&lt;br /&gt;
lebih besar dibandingkan cabang-cabang lain. Warna cabang air ini lebih muda&lt;br /&gt;
dengan jarak antar ruas cabang yang lebih panjang. Selain cabang air yang&lt;br /&gt;
perlu dihilangkan adalah cabang yang tumbuh liar, cabang yang sakit atau&lt;br /&gt;
rusak, dan cabang yang terlalu rendah. Pemangkasan pemeliharaan ini dapat&lt;br /&gt;
dilakukan setiap saat jika diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Lalat buah(Dacus sp.)&lt;br /&gt;
Gejala: terdapat bintik-bintik kecil berwarna hitam atau cokelat pada permukaan&lt;br /&gt;
kulit, tetapi dagin buah sudah membusuk.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) membersihkan (sanitasi) sisa-sisa tanaman di sekitar tanaman dan kebun; (2) membungkus buah sejak stadium muda; (3) memasang perangkap lalat buah yang mengandung bahan metyl eugenol, misalnya M-Atraktan, dalam botol plastik bekas; (4) menyemprotkan perangkap lalat buah, seperti Promar yang dicampur dengan insektisida kontak atau sistemik; (5) menginfus akar tanaman dengan larutan insektisida sistemik, seperti Tamaron, dengan konsentrasi 3-5% pada fase sebelum berbunga; (6) menyemprot tanaman dengan insektisida kontak, seperti&lt;br /&gt;
Agrothion 50 EC dengan dosis 3-4 cc/liter air.&lt;br /&gt;
2) Kutu hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan Kutu cokelat(Saissetia nigra)&lt;br /&gt;
Menyerang ranting muda dan daun tanaman sawo dengan cara menghisap cairan&lt;br /&gt;
yang terdapat di dalamnya. Selain menghisap cairan, kutu-kutu ini juga&lt;br /&gt;
menghasilkan embun madu yang dapat mengundang kehadiran cendawan jelaga.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida, seperti Diasinon 60 EC dengan&lt;br /&gt;
dosis 1-2 cc/liter air atau Basudin 50 EC dengan dosis 2 cc/liter air yang&lt;br /&gt;
disemprotkan langsung ke kutu-kutu tersebut.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Jamur upas&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Corticium salmonocolor. Spora dari jamur ini menular kemanamana&lt;br /&gt;
oleh hembusan angin.&lt;br /&gt;
Gejala: (1) Stadium rumah laba-laba, yaitu ditandai&lt;br /&gt;
dengan munculnya meselium tipis berwarna mengkilat seperti sutera atau perak.&lt;br /&gt;
pada stadium ini jamur belum masuk ke dalam kulit tanaman sawo; (2) Stadium&lt;br /&gt;
bongkol, yaitu stadium dimana jamur membentuk gumpalan-gumpalan hifa di&lt;br /&gt;
depan lentisel; (3) Stadium corticium, yaitu stadium dimana jamur membentuk&lt;br /&gt;
kerak berwarna merah muda yang berangsur-angsur berubah menjadi lebih muda&lt;br /&gt;
lalu menjadi putih. Kerak yang terbentuk terdiri dari lapisan basidium yang pada&lt;br /&gt;
setiap basidiumnya terdapat basidiospora. Kulit tanaman sawo yang terdapat di&lt;br /&gt;
bawah kerak tersebut akhirnya busuk; (4) Stadium necator, yaitu stadium dimana&lt;br /&gt;
jamur membentuk banyak piknidium yang berwarna merah. Piknidium ini terdapat&lt;br /&gt;
pada sisi cabang atau ranting yang lebih kering.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) Pada stadium laba-laba, penyakit ini dapat diatasi dengan cara menggosok tempat yang terserang jamur sampai hilang. Bekas luka gosokan diolesi dengan cat meni, ter, atau carbolineum; (2) Penyemprotan dengan fungisida yang mengandung tembaga berkadar tinggi seperti Cupravit OB 21 dengan dosis 4 gram/liter air setiap tiga minggu sekali untuk menghindari munculnya serangan lagi; (3) Pemotongan pada bagian tanaman yang terserang apabila jamur sudah mencapai&lt;br /&gt;
stadium bongkol, corticium, atau necator. Pemotongan dilakukan pada bagian&lt;br /&gt;
yang sehat jauh dari batas bagian yang sakit. Bagian yang dipotong kemudian&lt;br /&gt;
diolesi dengan fungisida dan dibakar.&lt;br /&gt;
2) Jamur jelaga&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Capnodium sp&lt;br /&gt;
 Gejala: serangan jamur ini berupa warna hitam&lt;br /&gt;
seperti beludru yang menutupi permukaan daun sawo. Serangan lebih lanjut dapat&lt;br /&gt;
menutupi seluruh daun dan ranting tanaman sawo.Jika serangan jamur ini&lt;br /&gt;
berjumlah banyak, proses fotosintesa tanaman sawo akan terganggu sehingga&lt;br /&gt;
pertumbuhan terhambat. Serangan yang terjadi pada saat tanaman berbunga&lt;br /&gt;
dapat mengakibatkan buah yang terbentuk hanya sedikit. Jika yang terserang&lt;br /&gt;
adalah buah, dapat menyebabkan kerontokan atau berkurangnya kualitas buah.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) melenyapkan serangga yang menghasilkan embun madu&lt;br /&gt;
terlebih dahulu dengan insektisida; (2) dilakukan penyemprotan dengan fungisida&lt;br /&gt;
seperti Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air atau Dithane M-45 80 WP&lt;br /&gt;
dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air.&lt;br /&gt;
3) Busuk buah&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Phytopthora palmivora Butl.&lt;br /&gt;
Gejala: mula-mula kulit buah berbercak-bercak kecil berwarna hitam atau cokelat, kemudian melebar dan menyatu secara tidak beraturan, daging buah membusuk dan berair, serta kadang-kadang buah berjatuhan (gugur).&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) dengan cara pemotongan buah yang sakit berat, pengumpulan dan pemusnahan buah yang terserang; (2) penyemprotan fungisida, seperti Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8 gr – 2,4 gram/liter air.&lt;br /&gt;
4) Hawar benang putih&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur (cendawan) Marasmius scandens Mass, yang tumbuh pada&lt;br /&gt;
permukaan batang dan cabang tanaman sawo.&lt;br /&gt;
Gejala: daun-daun mengering dan berguguran. Pada ranting yang mengering terdapat benang-benang jamur berwarna putih.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) dengan cara mengurangi kelembaban kebun,&lt;br /&gt;
memotong bagian tanaman yang sakit berat; (2) mengoleskan atau&lt;br /&gt;
menyemprotkan fungisida, seperti Benlate dengan dosis 2 gr/1 air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Tanaman sawo yang dikembangbiakkan dengan pencangkokan dapat&lt;br /&gt;
menghasilakan buah hanya sampai 3-5 tahun, sedangkan yang melalui&lt;br /&gt;
penyambungan antara 5-6 tahun.&lt;br /&gt;
Buah sawo kadang-kadang matang tidak serempak sehingga pemanenan dilakukan&lt;br /&gt;
dengan bertahap dengan cara memilih buah yang sudah menunjukkan ciri fisiologis&lt;br /&gt;
untuk dipanen (tua). Ciri-ciri buah sawo yang sudah tua adalah ukuran buah&lt;br /&gt;
maksimal, kulit berwarna cokelat muda, daging buah agak lembek, bila dipetik&lt;br /&gt;
mudah terlepas dari tangkainya, serta bergetah relatif sedikit. Pemetikan buah yang&lt;br /&gt;
masih muda sebaiknya dihindari karena memerlukan waktu yang lama untuk&lt;br /&gt;
pemeramannya dan rasa buah tidak manis (sepat).&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Umumnya pohon sawo cukup tinggi, buahnya terdapat di ujung batang muda yang&lt;br /&gt;
jumlahnya hanya sedikit, sehingga untuk mengetahui buah yang cukup tua sangat&lt;br /&gt;
sulit. Oleh karena itu, pemanenan dilakukan dengan cara memanjat pohon. Apabila&lt;br /&gt;
belum mencapai buahnya, dapat disambung dengan galah. Namun penggunaan&lt;br /&gt;
galah ini sering menyebabkan buah jatuh dan pecah.&lt;br /&gt;
Pada buah yang jatuh tetapi tidak pecah, akan terjadi penggumpalan getah di sekitar&lt;br /&gt;
bijinya. Ada anggapan bahwa penggumpalan getah ini disebabkan karena buah&lt;br /&gt;
terserang penyakit. Walapun terdapat gumpalan getah di sekitar biji, tetapi tidak&lt;br /&gt;
mengurangi rasa manis buah sawo tersebut.&lt;br /&gt;
Untuk menjaga agar buah tidak pecah sewaktu dipetik, sebaiknya sebelum&lt;br /&gt;
pemetikan, pada bagian bawah pohon diberi jaring agar buah tidak langsung jatuh ke&lt;br /&gt;
tanah dan sebaiknya pemetikan dilakukan sebelum buah terlalu tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Setelah semua buah yang sudah tua dipanen, kemudian dilakukan pengumpulan&lt;br /&gt;
buah-buah tersebut. Kumpulkan buah-buah tersebut dalam suatu wadah atau&lt;br /&gt;
tempat, setelah semua terkumpul, kemudian dilakukan pencucian untuk&lt;br /&gt;
menghilangkan kulit yang kasar atau kulit gabusnya.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Penyortiran dan penggolongan buah sawo hasil panen dilakukan untuk memisahkan&lt;br /&gt;
buah yang baik dari yang jelek dan memisahkan buah yang berukuran sama. Untuk&lt;br /&gt;
buah yang sudah sangat rusak, sebaiknya dibuang, tetapi buah yang rusak sedikit&lt;br /&gt;
dapat dipisahkan untuk dijual ketempat yang dekat dengan harga murah.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Buah sawo yang sudah diberi perlakuan (pencucian dan pengasapan) mempunyai&lt;br /&gt;
kulit yang sangat tipis sehingga mudah rusak dan tidak tahan lama dalam&lt;br /&gt;
penyimpanannya. Ada beberapa cara penyimpanan agar buah lebih tahan lama,&lt;br /&gt;
salah satunya dengan mengatur temperatur ruang penyimpanan.&lt;br /&gt;
Buah sawo yang masak bila disimpan dalam temperatur ruang hanya tahan 2 hari&lt;br /&gt;
sampai 3 hari, tetapi bila dalam ruangan yang mempunyai temperatur 0 derajat C,&lt;br /&gt;
buah sawo tetap dalam keadaan baik selama 12 hari sampai 14 hari. Kelembaban&lt;br /&gt;
(nisbi) yang dibutuhkan dalam ruang penyimpanan adalah 85-90%. Buah sawo yang&lt;br /&gt;
yang belum masak akan tahan disimpan selama 17 hari dalam ruangan yang&lt;br /&gt;
bertemperatur 15 derajat C.&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;
1) Pengemasan&lt;br /&gt;
Pengemasan buah-buahan di Indonesia, masih menggunakan keranjang bambu.&lt;br /&gt;
Bentuk dan kapasitasnya bervariasi, biasanya kapasitas kemasan antara 40 kg&lt;br /&gt;
sampai 100 kg. Dalam pengemasan buah digunakan bahan-bahan pembantu,&lt;br /&gt;
misalnya daun kering, daun pisang, merang, dan kertas koran.&lt;br /&gt;
2) Pengangkutan&lt;br /&gt;
Umumnya, petani penghasil buah di Indonesia mengangkut hasil panennya&lt;br /&gt;
dengan kreativitas sendiri. Pengangkutan hasil ini dalam volume kecil, yaitu dari&lt;br /&gt;
ladang ke tempat penampungan, pembeli, atau ke pusat-pusat pengumpul&lt;br /&gt;
sehingga pemasaran tahap pertama dapat berlangsung.&lt;br /&gt;
Pengasapan dan Pemeraman&lt;br /&gt;
Pengasapan dan pemeraman dilakukan agar buah cepat masak dan empuk. Tata&lt;br /&gt;
laksana pengasapan dan pemeraman adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1) Buat lubang pada tanah berbentuk segi empat. Ukuran lubang disesuaikan&lt;br /&gt;
dengan jumlah buah sawo.&lt;br /&gt;
2) Hamparkan dan gamal (Glyricidae) atau daun pisang di bagian dasar dan semua&lt;br /&gt;
sisi lubang.&lt;br /&gt;
3) Masukkan buah sawo secara teratur ke dalam lubang, kemudian tutup dengan&lt;br /&gt;
daun gamal atau daun pisang.&lt;br /&gt;
4) Masukkan potongan bambu gelondongan untuk menghembuskan asap ke dalam&lt;br /&gt;
lubang.&lt;br /&gt;
5) Timbun lubang tanah hingga cukup tebal.&lt;br /&gt;
6) Bakar dedaunan kering, lalu asapnya diarahkan ke dalam lubang melalui&lt;br /&gt;
potongan bambu.&lt;br /&gt;
7) Tutup atau ambil gelondongan bambu.&lt;br /&gt;
8) Biarkan buah sawo diperam selama sehari semalam.&lt;br /&gt;
Penanganan Lain&lt;br /&gt;
Buah sawo dapat diawetkan dalam air gula atau dibuat selai untuk pengoles roti, dan&lt;br /&gt;
dapat juga dibuat serbat atau dicampur ke dalam es krim. Sari buah sawo dapat&lt;br /&gt;
digodok menjadi sirup dan difermentasikan menjadi anggur dan cuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Satu Partai/lot mangga terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh diambil secara&lt;br /&gt;
acak dari jumlah kemasan dalam 1 partai/lot seperti terlihat dibawah ini:&lt;br /&gt;
a) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot sampai dengan 100 : contoh yang diambil 5.&lt;br /&gt;
b) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 101–300: contoh yang diambil 7.&lt;br /&gt;
c) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 301–500: contoh yang diambil 9.&lt;br /&gt;
d) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 501–1000: contoh yang diambil 10.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Pengemasan buah sawo dalam peti kayu, berat bersih setiap peti kayu maksimum&lt;br /&gt;
25 kg, susunan buah dalam peti kayu kompak dengan setiap buah yang diberi&lt;br /&gt;
pembungkus/ penyekat, atau kotak kotoran diberi penyekat dan lobang udara,&lt;br /&gt;
susunan buah dalam kotak karton satu lapis dengan berat bersih kotak karton&lt;br /&gt;
maksimum 10 kg.&lt;br /&gt;
Untuk pemberian merek di bagian luar kotak kayu di beri label yang dituliskan antara&lt;br /&gt;
lain:&lt;br /&gt;
a) Nama barang.&lt;br /&gt;
b) Jenis mutu.&lt;br /&gt;
c) Nama/kode perusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;
d) Berat bersih.&lt;br /&gt;
e) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;
f) Tempat/negara tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>S A L A K ( Salacca edulis )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/s-l-k-salacca-edulis.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:14:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-903832364896650471</guid><description>Tanaman salak merupakan salah satu tanaman buah yang disukai dan mempunyai&lt;br /&gt;
prospek baik untuk diusahakan. Daerah asal nya tidak jelas, tetapi diduga dari&lt;br /&gt;
Thailand, Malaysia dan Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa tanaman salak&lt;br /&gt;
(Salacca edulis) berasal dari Pulau Jawa. Pada masa penjajahan biji-biji salak&lt;br /&gt;
dibawa oleh para saudagar hingga menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan sampai&lt;br /&gt;
ke Filipina, Malaysia, Brunei dan Muangthai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Tanaman ssalak sesuai bila ditanam di daerah berzona iklim Aa bcd, Babc dan&lt;br /&gt;
Cbc. A berarti jumlah bulan basah tinggi (11-12 bulan/tahun), B: 8-10 bulan/tahun&lt;br /&gt;
dan C : 5-7 bulan/tahun.&lt;br /&gt;
2) Salak akan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan rata-rata per tahun&lt;br /&gt;
200-400 mm/bulan. Curah hujan rata-rata bulanan lebih dari 100 mm sudah&lt;br /&gt;
tergolong dalam bulan basah. Berarti salak membutuhkan tingkat kebasahan atau&lt;br /&gt;
kelembaban yang tinggi.&lt;br /&gt;
3) Tanaman salak tidak tahan terhadap sinar matahari penuh (100%), tetapi cukup&lt;br /&gt;
50-70%, karena itu diperlukan adanya tanaman peneduh.&lt;br /&gt;
4) Suhu yang paling baik antara 20-30°C. Salak membutuhkan kelembaban tinggi,&lt;br /&gt;
tetapi tidak tahan genangan air.&lt;br /&gt;
Tanah&lt;br /&gt;
1) Tanaman salak menyukai tanah yang subur, gembur dan lembab.&lt;br /&gt;
2) Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk budidaya salak adalah 4,5 - 7,5.&lt;br /&gt;
Kebun salak tidak tahan dengan genangan air. Untuk pertumbuhannya&lt;br /&gt;
membutuhkan kelembaban tinggi.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Tanaman salak tumbuh pada ketinggian tempat 100-500 m dpl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan tanaman salak&lt;br /&gt;
adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman salak merupakan tanaman&lt;br /&gt;
tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan berakibat buruk dalam&lt;br /&gt;
pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur teknis yang baik tidak akan&lt;br /&gt;
memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal yang dikeluarkan tidak akan&lt;br /&gt;
kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani. Untuk menghindari masalah&lt;br /&gt;
tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan salak yang baik. Pembibitan salak dapat&lt;br /&gt;
berasal dari biji (generatif) atau dari anakan (vegetatif).&lt;br /&gt;
Pembibitan secara generatif adalah pembibitan dengan menggunakan biji yang baik&lt;br /&gt;
diperoleh dari pohon induk yang mempunyai sifat-sifat baik, yaitu: cepat berbuah,&lt;br /&gt;
berbuah sepanjang tahun, hasil buah banyak dan seragam, pertumbuhan tanaman&lt;br /&gt;
baik, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta pengaruh lingkungan yang&lt;br /&gt;
kurang menguntungkan.&lt;br /&gt;
Keuntungan perbanyakan bibit secara generatif:&lt;br /&gt;
a) dapat dikerjakan dengan mudah dan murah&lt;br /&gt;
b) diperoleh bibit yang banyak&lt;br /&gt;
c) tanaman yang dihasilkan tumbuh lebih sehat dan hidup lebih lama&lt;br /&gt;
d) untuk transportasi biji dan penyimpanan benih lebih mudah&lt;br /&gt;
e) tanaman yang dihasilkan mempunyai perakaran kuat sehingga tahan rebah dan&lt;br /&gt;
kekeringan&lt;br /&gt;
f) memungkinkan diadakan perbaikan sifat dalam bentuk persilangan.&lt;br /&gt;
Kekurangan perbanyakan secara generatif:&lt;br /&gt;
a) kualitas buah yang dihasilkan tidak persis sama dengan pohon induk karena&lt;br /&gt;
mungkin terjadi penyerbukan silang&lt;br /&gt;
b) agak sulit diketahui apakah bibit yang dihasilkan jantan atau betina.&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;
Untuk mendapatkan bibit yang baik harus dilakukan seleksi terhadap biji yang&lt;br /&gt;
akan dijadikan benih. Syarat-syarat biji yang akan dijadikan benih :&lt;br /&gt;
a) Biji berasal dari pohon induk yang memenuhi syarat.&lt;br /&gt;
b) Buah yang akan diambil bijinya harus di petik pada waktu cukup umur.&lt;br /&gt;
c) Mempunyai daya tumbuh minimal 85 %.&lt;br /&gt;
d) Besar ukuran biji seragam dan tidak cacat.&lt;br /&gt;
e) Biji sehat tidak terserang hama dan penyakit.&lt;br /&gt;
f) Benih murni dan tidak tercampur dengan kotoran lain.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
a) Bibit dari Biji:&lt;br /&gt;
1. Biji salak dibersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat.&lt;br /&gt;
2. Rendam dalam air bersih selama 24 jam, kemudian dicuci.&lt;br /&gt;
b) Bibit dari Anakan:&lt;br /&gt;
1. Pilih anakan yang baik dan berasal dari induk yang baik&lt;br /&gt;
2. Siapkan potongan bambu, kemudian diisi dengan media tanah&lt;br /&gt;
3) Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;
a) Bibit dari Biji:&lt;br /&gt;
1. Biji salak yang telah direndam dan dicuci, masukkan kedalam kantong plastik&lt;br /&gt;
yang sudah dilubangi (karung goni basah), lalu diletakkan di tempat teduh&lt;br /&gt;
dan lembab sampai kecambah berumur 20-30 hari&lt;br /&gt;
2. Satu bulan kemudian diberi pupuk Urea, TSP dan KCl, masing-masing 5&lt;br /&gt;
gram, tiap 2-3 minggu sekali&lt;br /&gt;
3. Agar kelembabannya terjaga, lakukan penyiraman setiap hari&lt;br /&gt;
b) Bibit dari Anakan dengan pesemaian bak kayu:&lt;br /&gt;
1. Buat bak kayu dengan ukuran tinggi 25 cm, lebar dan panjang disesuaikan&lt;br /&gt;
dengan kebutuhan&lt;br /&gt;
2. Diisi dengan tanah subur dan gembur setebal 15-20 cm&lt;br /&gt;
3. Diatas tanah diiisi pasir setebal 5-10 cm&lt;br /&gt;
4. Arah pesemaian Utara Selatan dan diberi naungan menghadap ke Timur&lt;br /&gt;
5. Benih direndam dalam larutan hormon seperti Atonik selama 1 jam,&lt;br /&gt;
konsentrasi larutan 0,01-0,02 cc/liter air&lt;br /&gt;
6. Tanam biji pada bak pesemaian dengan jarak 10 x 10 cm&lt;br /&gt;
7. Arah biji dibenamkan dengan posisi tegak, miring/rebah dengan mata tunas&lt;br /&gt;
berada dibawah.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;
Untuk pembibitan dari biji, media pembibitan adalah polybag dengan ukuran 20 x&lt;br /&gt;
25 cm yang diisi dengan tanah campur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.&lt;br /&gt;
Setelah bibit atau kecambah berumur 20-30 hari baru bibit dipindahkan ke polibag.&lt;br /&gt;
Pembibitan dengan sistem anakan, bambu diletakkan tepat di bawah anakan&lt;br /&gt;
salak, kemudian disiram setiap hari. Setelah 1 bulan akar telah tumbuh dan&lt;br /&gt;
anakan dipisahkan dari induknya, kemudian ditanam dalam polybag. Pupuk Urea,&lt;br /&gt;
TSP, KCl diberikan 1 bulan sekali sebanyak 1 sendok teh.&lt;br /&gt;
5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;
Untuk bibit dari biji, setelah bibit salak berumur 4 bulan baru dipindahkan ke lahan&lt;br /&gt;
pertanian. Untuk persemaian dari anakan, setelah 6 bulan bibit baru bisa&lt;br /&gt;
dipindahkan ke lapangan.&lt;br /&gt;
Pengolahan Lahan&lt;br /&gt;
1) Persiapan&lt;br /&gt;
Penetapan areal untuk perkebunan salak harus memperhatikan faktor kemudahan&lt;br /&gt;
transportasi dan sumber air.&lt;br /&gt;
2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;
a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta&lt;br /&gt;
menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.&lt;br /&gt;
b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 1 x 4&lt;br /&gt;
m; 2 x 2 m atau 1,5 x 2,5 m. Ukuran lubang dapat juga dibuat 50 x 50 x 40 cm,&lt;br /&gt;
dengan jarak antar 2 x 4 m atau 3 x 4 m. Setiap lubang diberi pupuk kandang&lt;br /&gt;
yang telah jadi sebanyak 10 kg.&lt;br /&gt;
2) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Biji ditanam langsung dalam lubang sebanyak 3- 4 biji per lubang. Sebulan&lt;br /&gt;
kemudian biji mulai tumbuh&lt;br /&gt;
3) Lain-lain&lt;br /&gt;
Untuk menghindari sinar matahari penuh, tanaman salak ditanam di bawah&lt;br /&gt;
tanaman peneduh seperti tanaman kelapa, durian, lamptoro dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Apabila lahan masih belum ada tanaman peneduh, dapat ditanam tanaman&lt;br /&gt;
peneduh sementara seperti tanaman pisang. Jarak tanam pohon peneduh&lt;br /&gt;
disesuaikan menurut ukuran luas tajuk misalnya kelapa ditanam dengan jarak 10 x&lt;br /&gt;
10 m, durian 12 x 12 m dan lamtoro 12 x 12 m.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
Setelah selesai ditanam, tanaman salak perlu dipelihara dengan benar dan teratur&lt;br /&gt;
sehingga diperoleh produksi kebin yang baik dan produktif. Pemeliharaan ini&lt;br /&gt;
dilakukan sampai berakhirnya masa produksi tanaman salak.&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;
Untuk memperoleh buah yang berukuran besar, maka bila tandan sudah mulai&lt;br /&gt;
rapat perlu dilakukan penjarangan. Biasanya penjarangan dilakukan pada bulan&lt;br /&gt;
ke 4 atau ke 5.&lt;br /&gt;
Penyulaman dilakukan pada tanaman muda atau yang baru ditanam, tetapi mati&lt;br /&gt;
atau pertumbuhannya kurang bagus atau kerdil, atau misalnya terlalu banyak&lt;br /&gt;
tanaman betinanya. Untuk keperluan penyulaman kita perlu tanaman cadangan&lt;br /&gt;
(biasanya perlu disediakan 10%) dari jumlah keseluruhan, yang seumur dengan&lt;br /&gt;
tanaman lainnya. Awal musim hujan sangat tepat untuk melakukan penyulaman.&lt;br /&gt;
Tanaman cadangan dipindahkan dengan cara putaran, yaitu mengikutsertakan&lt;br /&gt;
sebagian tanah yang menutupi daerah perakarannya. Sewaktu membongkar&lt;br /&gt;
tanaman, bagian pangkal serta tanahnya kita bungkus dengan plastik agar akarakar&lt;br /&gt;
di bagian dalam terlindung dari kerusakan, dilakukan dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Penyiangan adalah membuang dan memebersihan rumput-rumput atau tanaman&lt;br /&gt;
pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak. Tanaman pengganggu yang&lt;br /&gt;
lazim di sebut gulma ini bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanaman&lt;br /&gt;
salak dalam memperebutkan unsur hara dan air.&lt;br /&gt;
Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit&lt;br /&gt;
ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman&lt;br /&gt;
berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali&lt;br /&gt;
atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.&lt;br /&gt;
3) Pembubunan&lt;br /&gt;
Sambil melakukan penyiangan, dilakukan pula penggemburan dan pembumbunan&lt;br /&gt;
tanah ke pokok tanaman salak. Hal ini dilakukan untuk menghemat ongkos kerja&lt;br /&gt;
juga untuk efisiensi perawatan. Tanah yang digemburkan dicangkul membentuk&lt;br /&gt;
gundukan atau bumbunan yang berfungsi untuk menguatkan akar dan batang&lt;br /&gt;
tanaman salak pada tempatnya. Bumbunan jangan sampai merusak parit yang&lt;br /&gt;
ada.&lt;br /&gt;
4) Perempalan dan Pemangkasan&lt;br /&gt;
Daun-daun yang sudah tua dan tidak bermanfaat harus dipangkas. Juga daun&lt;br /&gt;
yang terlalu rimbun atau rusak diserang hama. Tunas-tunas yang terlalu banyak&lt;br /&gt;
harus dijarangkan, terutama mendekati saat-saat tanaman berbuah (perempalan).&lt;br /&gt;
Dengan pemangkasan, rumpun tanaman salak tidak terlalu rimbun sehingga&lt;br /&gt;
kebun yang lembab serta pengap akibat sirkulasi udara yang kurang lancar&lt;br /&gt;
diperbaiki. Pemangkasan juga membantu penyebaran makanan agar tidak hanya&lt;br /&gt;
ke daun atau bagian vegetatif saja, melainkan juga ke bunga, buah atau bagian&lt;br /&gt;
generatif secara seimbang.&lt;br /&gt;
Pemangkasan dilakukan setiap 2 bulan sekali, tetapi pada saat mendekati masa&lt;br /&gt;
berbunga atau berbuah pemangkasan kita lakukan lebih sering, yaitu 1 bulan 1&lt;br /&gt;
kali.&lt;br /&gt;
Apabila dalam rumpun salak terdapat beberapa anakan, lakukanlah pengurangan&lt;br /&gt;
anakan menjelang tanaman berbuah. Satu rumpun salak cukup kita sisakan 1&lt;br /&gt;
atau 2 anakan. Jumlah anakan maksimal 3-4 buah pada 1 rumpun. Bila lebih dari&lt;br /&gt;
itu anakan akan mengganggu produktivitas tanaman.&lt;br /&gt;
Pemangkasan daun salak sebaiknya sampai pada pangkal pelepahnya. Jangan&lt;br /&gt;
hanya memotong setengah atau sebagian daun, sebab bagian yang disisakan&lt;br /&gt;
sebenarnya sudah tidak ada gunanya bagi tanaman.&lt;br /&gt;
Pemangkasan pada saat lewat panen harus tetap dilakuakan. Alat pangkas&lt;br /&gt;
sebaiknya menggunakan golok atau gergaji yang tajam. Pemangkasan yang&lt;br /&gt;
dilaksanakan pada waktu dan cara yang tepat akan membantu tanaman tumbuh&lt;br /&gt;
baik dan optimal.&lt;br /&gt;
5) Pemupukan&lt;br /&gt;
Semua bahan yang diberikan pada tanaman dengan tujuan memberi tambahan&lt;br /&gt;
unsur hara untuk memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman disebut&lt;br /&gt;
pupuk. Ada pupuk yang diberikan melalui daerah perakaran tanaman (pupuk&lt;br /&gt;
akar). Pupuk yang diberikan dengan cara penyemprotan lewat daun tanaman&lt;br /&gt;
(pupuk daun). Jenis pupuk ada 2 macam: pupuk organik dan anorganik. Pupuk&lt;br /&gt;
organik adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, abu tanaman, tepung darah&lt;br /&gt;
dan sebagainya. Pupuk anorganik adalah: Ure, TSP, Kcl, ZA, NPK Hidrasil,&lt;br /&gt;
Gandasil, Super Fosfat, Bay folan, Green Zit, dan sebagainya. Pupuk organik&lt;br /&gt;
yang sering diberikan ke tanaman salak adalah pupuk kandang.&lt;br /&gt;
Umur tanaman :&lt;br /&gt;
a) 0-12 bulan (1 x sebulan): Pupuk kandang 1000, Urea 5 gram, TSP 5 gram, KCl&lt;br /&gt;
5 gram.&lt;br /&gt;
b) 12-24 bulan (1 x 2 bulan): Urea 10 gram, TSP 10 gram, KCl 10 gram.&lt;br /&gt;
c) 24-36 bulan (1 x 3 bulan): Urea 15 gram, TSP 15 gram, KCl 15 gram.&lt;br /&gt;
d) 36–dst (1 x 6 bulan): Urea 20 gram, TSP 20 gram, KCl 20 gram.&lt;br /&gt;
6) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Air hujan adalah siraman alami bagi tanaman, tetapi sulit untuk mengatur air hujan&lt;br /&gt;
agar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Air hujan sebagian besar akan&lt;br /&gt;
hilang lewat penguapan, perkolasi dan aliran permukaan. Sebagian kecil saja&lt;br /&gt;
yang tertahan di daerah perakaran, air yang tersisa ini sering tidak memenuhi&lt;br /&gt;
kebutuhan tanaman. Dalam budidaya salak, selama pertumbuhan, kebutuhan&lt;br /&gt;
akan air harus tercukupi, untuk itu kita perlu memberi air dengan waktu, cara dan&lt;br /&gt;
jumlah yang sesuai.&lt;br /&gt;
7) Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;
Setelah ditanam di kebun kita buatkan penopang dari bambu atau kayu untuk&lt;br /&gt;
menjaga agar tanaman tidak roboh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Kutu wol /putih (Cerataphis sp.)&lt;br /&gt;
Hama ini bersembunyi di sela-sela buah.&lt;br /&gt;
2) Kumbang penggerek tunas (Omotemnus sp..)&lt;br /&gt;
3) Kumbang penggerek batang&lt;br /&gt;
Menyerang ujung daun yang masih muda (paling muda), kemudian akan masuk&lt;br /&gt;
ke dalam batang. Hal ini tidak menyebabkan kematian tanaman, tetapi akan&lt;br /&gt;
tumbuh anakan yang banyak di dalam batang tersebut.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dimatikan atau dengan cara meneteskan larutan insektisida (Diazenon) dengan dosis 2 cc per liter pada ujung daun yang terserang atau dengan cara menyemprot. Dalam hal ini diusahakan insektisida dapat masuk ke dalam bekas lubang yang digerek. Memasukkan kawat yang ujungnya lancip ke dalam lubang yang dibuat kumbang hingga mengenai hama.&lt;br /&gt;
4) Babi hutan, tupai, tikus dan luwak&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) untuk memberantas babi hutan, dilaksanakan dengan&lt;br /&gt;
penembakan khusus, atau memagari kebun salak dengan salak-salak jantan&lt;br /&gt;
yang rapat. Akan lebih baik lagi kalau memagari kebun salak dengan kawat&lt;br /&gt;
berduri; (2) untuk memberantas Tikus, digunakan Zink phosphit, klerat dan lainlain;&lt;br /&gt;
(3) untuk memberantas Luwak dan Tupai, dapat digunakan umpan buah&lt;br /&gt;
pisang yang dimasuki Furadan 3 G. Caranya: buah pisang dibelah, kurang lebih&lt;br /&gt;
0,5 gram Furadan dimasukkan ke dalamnya, kemudian buah pisang tersebut&lt;br /&gt;
dijahit dan dijadikan umpan.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Penyakit yang sering menyerang salak adalah sebangsa cendawan putih,&lt;br /&gt;
Gejala: busuknya buah. Buah yang terserang penyakit ini kualitasnya jadi&lt;br /&gt;
menurun, karena warna kulit salak jadi tidak menarik.&lt;br /&gt;
Pengendalian: mengurangi&lt;br /&gt;
kelembaban tanah, yaitu mengurangi pohon-pohon pelindung.&lt;br /&gt;
2) Noda hitam&lt;br /&gt;
Penyebab: cendawan Pestalotia sp.&lt;br /&gt;
Gejala: adanya bercak-bercakhitam pada daun salak.&lt;br /&gt;
3) Busuk merah (pink)&lt;br /&gt;
Penyebab: cendawan Corticium salmonicolor.&lt;br /&gt;
Gejala: adanya pembusukan pada buah dan batang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: tanaman yang sakit dan daun yang terserang harus dipotong dan dibakar di tempat tertentu.&lt;br /&gt;
Gulma&lt;br /&gt;
Di beberapa tempat di Pulau Jawa, lahan salak dibangun di bekas persawahan.&lt;br /&gt;
Sehingga otomatis gulma yang merajai kebun adalah gulma-gulma yang biasa&lt;br /&gt;
terdapat di sawah. Karena lahan sawah yang biasa tergenang air dikeringkan dan&lt;br /&gt;
dibumbun tanahnya maka gulma yang mampu bertahan adalah gulma berdaun&lt;br /&gt;
sempit dan tumbuh menjalar yang sedikit sekali terdapat di sawah. Gulma yang&lt;br /&gt;
berbatang kurus tegak, berdaun panjang yang umumnya di persawahan kurang&lt;br /&gt;
mampu bertahan. Itulah sebabnya mengapa gulma di lahan bekas persawahan&lt;br /&gt;
relatif lebih sedikit. Pengendalian secara manual dengan dikored atau dicangkul pun&lt;br /&gt;
sudah memadai.&lt;br /&gt;
Pemberantasan gulma secara kimia di kebun-kebun salak belum lazim dilaksanakan.&lt;br /&gt;
Untuk lahan yang tidak seberapa luas, para petani masih menggunakan cara manual&lt;br /&gt;
(mencabuti rumput-rumputan dengan tangan, dikored atau dicangkul). Bila lahan&lt;br /&gt;
salak cukup luas, serta baru dibuka, gulma yang terdapat tentu banyak sekali dan&lt;br /&gt;
sulit diberantas hanya dengan cara manual. Untuk situasi seperti ini perlu&lt;br /&gt;
menggunakan herbisida, sebab biaya tenaga kerja relatif murah dan hasilnya lebih&lt;br /&gt;
cepat. Reaksi bahan kimia dalam membunuh tanaman liar juga sangat cepat.&lt;br /&gt;
Herbisida memiliki pengruh negatif, sebab racun yang dikandungnya dapat&lt;br /&gt;
membahayakan mahluk hidup lain termasuk ternak dan manusia. Herbisida yang&lt;br /&gt;
akan digunakan perlu sesuai dengan jenis gulma yang akan diberantas. Pilihan yang&lt;br /&gt;
kurang tepat akan memboroskan biaya. Gulma dari golongan rumput-rumputan&lt;br /&gt;
dapat dibasmi dengan herbisida Gramoxone, Gesapas, Basta atau Diuron. Dari&lt;br /&gt;
golongan teki-tekian dapat diberantas dengan Goal. Alang-alang dapat dibasmi&lt;br /&gt;
dengan Round-up atau Sun-up. Sedangkan tanaman yang berdaun lebar dapat&lt;br /&gt;
diatasi dengan Fernimine. Ada juga herbisida yang dapat memberantas beberapa&lt;br /&gt;
jenis gulma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Mutu buah salak yang baik diperoleh bila pemanenan dilakukan pada tingkat&lt;br /&gt;
kemasakan yang baik. Buah salak yang belum masak, bila dipungut akan terasa&lt;br /&gt;
sepet dan tidak manis. Maka pemanenan dilakukan dengancara petik pilih, disinilah&lt;br /&gt;
letak kesukarannya. Jadi kita harus benar-benar tahu buah salak yang sudah tua&lt;br /&gt;
tetapi belum masak.&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Buah salak dapat dipanen setelah matang benar di pohon, biasanya berumur 6 bulan&lt;br /&gt;
setelah bunga mekar (anthesis). Hal ditandai oleh sisik yang telah jarang, warna kulit&lt;br /&gt;
buah merah kehitaman atau kuning tua, dan bulu-bulunya telah hilang. Ujung kulit&lt;br /&gt;
buah (bagian buah yang meruncing) terasa lunak bila ditekan. Tanda buah yang&lt;br /&gt;
sudah tua, menurut sumber lain adalah: warnanya mengkilat (klimis), bila dipetik&lt;br /&gt;
mudah terlepas dari tangkai buah dan beraroma salak.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Cara memanen: karena buah salak masaknya tidak serempak, maka dilakukan petik&lt;br /&gt;
pilih. Yang perlu diperhatikan dalam pemetikan apakah buah salak tersebut akan&lt;br /&gt;
disimpan lama atau segera dimakan. Bila akan disimpan lama pemetikan dilakukan&lt;br /&gt;
pada saat buah salak tua (Jawa: gemadung), jadi jangan terlalu tua dipohon. Buah&lt;br /&gt;
salak yang masir tidak tahan lama disimpan. Pemanenan buah dilakukan dengan&lt;br /&gt;
cara memotong tangkai tandannya.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Tanaman salak dalam masa panennya terdapat 4 musim:&lt;br /&gt;
1) Panen raya pada bulan Nopember, Desember dan Januari&lt;br /&gt;
2) Panen sedang pada bulan Mei, Juni dan Juli&lt;br /&gt;
3) Panen kecil pada bulan-bulan Pebruari, Maret dan April.&lt;br /&gt;
4) Masa kosong/istirahat pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober. Bila&lt;br /&gt;
pada bulan-bulan ini ada buah salak maka dinamakan buah slandren. Menurut&lt;br /&gt;
sumber lain panen besar buah salak adalah antara bulan Oktober - Januari.&lt;br /&gt;
Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;
Dalam budidaya tanaman salak, hasil yang dapat dicapai dalam satu musim tanam&lt;br /&gt;
adalah 15 ton per hektar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Seperti buah-buahan lainnya, buah salak mudah rusak dan tidak tahan lama.&lt;br /&gt;
Kerusakan ditandai dengan bau busuk dan daging buah menjadi lembek serta&lt;br /&gt;
berwarna kecoklat-coklatan. Setelah dipetik buah salak masih meneruskan proses&lt;br /&gt;
hidupnya berupa proses fisiologi (perubahan warna, pernafasan, proses biokimia dan&lt;br /&gt;
perombakan fungsional dengan adanya pembusukan oleh jasad renik). Sehingga&lt;br /&gt;
buah salak tidak dapat disimpan lama dalam keadaan segar, maka diperlukan&lt;br /&gt;
penanganan pascapanen.&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Gudang pengumpulan berfungsi sebagai tempat penerima buah salak yang berasal&lt;br /&gt;
dari petani atau kebun. Dalam gudang pengumpulan ini dilakukan: sortasi, grading&lt;br /&gt;
dan pengemasan.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Sortasi/pemilihan bertujuan untuk memilih buah yang baik, tidak cacat, dan layak&lt;br /&gt;
ekspor. uga bertujuan untuk membersihkan buah-buah dari berbagai bahan yang&lt;br /&gt;
tidak berguna seperti tangkai, ranting dan kotoran. Bahan-bahan tersebut dipotong&lt;br /&gt;
dengan pisau, sabit, gunting pangkas tajam tidak berkarat sehinga tidak&lt;br /&gt;
menimbulkan kerusakan pada buah.&lt;br /&gt;
Grading/penggolongan bertujuan untuk:&lt;br /&gt;
a).mendapat hasil buah yang seragam (ukuran dan kualitas)&lt;br /&gt;
b).mempermudah penyusunan dalam wadah/peti/alat kemas&lt;br /&gt;
c).mendapatkan harga yang lebih tinggi&lt;br /&gt;
d).merangsang minat untuk membeli&lt;br /&gt;
e).agar perhitungannya lebih mudah&lt;br /&gt;
f). untuk menaksir pendapatan sementara.&lt;br /&gt;
Penggolongan ini dapat berdasarkan pada : berat, besar, bentuk, rupa, warna, corak,&lt;br /&gt;
bebas dari penyakit dan ada tidaknya cacat/luka. Semua itu dimasukkan kedalam&lt;br /&gt;
kelas dan golongan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;
a. Salak mutu AA (betul-betul super, kekuningan, 1kg= 12 buah)&lt;br /&gt;
b. Salak mutu AB (tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, dan sehat)&lt;br /&gt;
c. Salak mutu C (untuk manisan, 1kg = 25 - 30 buah)&lt;br /&gt;
d. Salak mutu BS (busuk atau 1/2 pecah), tidak dijual.&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;
Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi buah salak dari kerusakan,&lt;br /&gt;
mempermudah dalam penyusunan, baik dalam pengangkutan maupun dalam&lt;br /&gt;
gudang penyimpanan dan untuk mempermudah perhitungan. Ada pengemasan&lt;br /&gt;
untuk buah segar dan untuk manisan salak.&lt;br /&gt;
Pengemasan untuk buah segar:&lt;br /&gt;
a).alat pengemas harus berlubang&lt;br /&gt;
b).harus kuat, agar buah salak terlindung tekanan dari luar&lt;br /&gt;
c).dapat diangkut dengan mudah&lt;br /&gt;
d).ukuran pengemas harus disesuaikan dengan jumlah buah.&lt;br /&gt;
Pengemasan untuk manisan salak: dikemas dalam kaleng yang ditutup rapat yang&lt;br /&gt;
telah dipastursasi sehingga semua mikroba seperti jamur, ragi, bakteri dan enzim&lt;br /&gt;
dapat mati dan tidak akan menimbulkan proses pembusukan. Untuk manisan yang&lt;br /&gt;
dikeringkan, umumnya dikemas dalam plastik.&lt;br /&gt;
Pengangkutan merupakan mata rantai penting dalam penanganan, penyimpanan&lt;br /&gt;
dan distribusi buah-buahan. Syarat-syarat pengangkutan untuk buah-buahan:&lt;br /&gt;
a) Pengangkutan harus dilakukan dengan cepat dan tepat.&lt;br /&gt;
b) Pengemasan dan kondisi pengangkutan yang tepat untuk menjamin terjaganya&lt;br /&gt;
mutu yang tinggi.&lt;br /&gt;
d) Harapan adanya keuntungan yang cukup dengan menggunakan fasilitas&lt;br /&gt;
pengangkutan yang memadai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan&lt;br /&gt;
cara pengemasan salak.&lt;br /&gt;
Salak adalah buah dari tanamn salak (Salacca adulia Reinw) dalam keadaan cukup&lt;br /&gt;
tua, utuh, segar dan bersih. Standar mutu salak di Indonesia tercantum dalam&lt;br /&gt;
Standar Nasional Indonesia SNI 01-3167-1992.&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Jenis mutu salak dalam tiga ukuran, yaitu ukuran besar, sedang dan kecil.&lt;br /&gt;
Berdasarkan berat, masing-masing digolongkan menjadi dua jenis mutu yaitu Mutu I&lt;br /&gt;
dan Mutu II, ukuran besar, berat 61 gram atau lebih per buah, ukuran sedang, berat&lt;br /&gt;
33 – 60 gram per buah dan ukuran kecil, berat 32 gram atau kurang per buah.&lt;br /&gt;
a) Tingkat Ketuaan: mutu I seragam tua, mutu II tidak terlalu matang, cara uji&lt;br /&gt;
organoleptik&lt;br /&gt;
b) Kekerasan: mutu I keras, mutu II keras, cara uji organoleptik&lt;br /&gt;
c) Kerusakan Kulit Buah: mutu I kulit buah utuh, mutu II utuh , cara uji Organoleptik&lt;br /&gt;
d) Ukuran: mutu I seragam, mutu II seragam, cara uji SP-SMP-310-1981&lt;br /&gt;
e) Busuk (bobot/bobot) : mutu I 1%, mutu II 1 %, cara uji SP-SMP-311-1981&lt;br /&gt;
f) Kotoran: mutu I bebas, mutu II bebas, cara uji organoleptik&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
1) Salak Dalam Kemasan&lt;br /&gt;
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat d bawah ini. Dari&lt;br /&gt;
setiap kemasan diambil contoh sebanyak 2 kg dari bagian atas,tengah dan&lt;br /&gt;
bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai&lt;br /&gt;
diperoleh minimum 2 kg untuk dianalisa.&lt;br /&gt;
1. Jumlah kemasan dalam partai (lot): s/d100, contoh yang diambil 5.&lt;br /&gt;
2. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 101-300 contoh yang diambil 7.&lt;br /&gt;
3. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 301-500 contoh yang diambil 9.&lt;br /&gt;
4. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 501-1000 contoh yang diambil 10.&lt;br /&gt;
5. Jumlah kemasan dalam partai (lot) &gt;1000 contoh yang diambil min 15.&lt;br /&gt;
2) Salak dalam Curah (in bulk)&lt;br /&gt;
Contoh diambil secara acak sesuai dengqan jumlah berat total seperti terlihat di&lt;br /&gt;
bawah ini. Contoh-contoh tersebut yang diambil bagian atas, tengah, bawah serta&lt;br /&gt;
berbagai sudut dicampur, kemudian diacak bertingkat (stratified random sampling)&lt;br /&gt;
sampai diperoleh minimum 2 kg untuk dianalisa.&lt;br /&gt;
1. Jumlah berat lot (kg): &lt; 200, contoh yang diambil &lt;10.
2. Jumlah berat lot (kg): 201–500, contoh yang diambil 20.
3. Jumlah berat lot (kg): 501–1000, contoh yang diambil 30.
4. Jumlah berat lot (kg): 1.001–5.000, contoh yang diambil 60.
5. Jumlah berat lot (kg): &gt; 5.000, contoh yang diambil min. 100.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Salak dikemas dalam besek, keranjang bambu, peti kayu ataupun kemasan lain&lt;br /&gt;
yang sesuai dengan berat bersih maksimum 40 kg. Daun kering, kertas atau bahan&lt;br /&gt;
lain dapat dipakai sebagai penyekat. Isi dari kemasan tidak melebihi tutupnya&lt;br /&gt;
Dibagian luar keranjang/kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain :&lt;br /&gt;
a) Nama barang&lt;br /&gt;
b) Jenis mutu&lt;br /&gt;
c) Nama/kode perusahaan/eksportir&lt;br /&gt;
d) Golongan ukuran&lt;br /&gt;
e) Berat bersih&lt;br /&gt;
f) Produksi Indonesia&lt;br /&gt;
g) Negara/tempat tujuan&lt;br /&gt;
h) Daerah asal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>RAMBUTAN ( Nephelium sp. )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/rambutan-nephelium-sp.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-5689917835710173348</guid><description>Rambutan (Nephelium sp.) merupakan tanaman buah hortikultural berupa pohon&lt;br /&gt;
dengan famili Sapindacaeae. Tanaman buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya&lt;br /&gt;
disebut Hairy Fruit berasal dari Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luar di&lt;br /&gt;
daerah yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin dan&lt;br /&gt;
ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub-tropis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jenis rambutan yang digemari orang dan dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomis relatif tinggi diantaranya:&lt;br /&gt;
1) Rambutan Rapiah buah tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi, kulit&lt;br /&gt;
berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan beramut agak jarang, daging&lt;br /&gt;
buah manis dan agak kering, kenyal, ngelotok dan daging buahnya tebal, dengan&lt;br /&gt;
daya tahan dapat mencapai 6 hari setelah dipetik.&lt;br /&gt;
2) Rambutan Aceh Lebak bulus pohonnya tinggi dan lebat buahnya dengan hasil&lt;br /&gt;
rata-rata 160-170 ikat per pohon, kulit buah berwarna merah kuning, halus,&lt;br /&gt;
rasanya segar manis-asam banyak air dan ngelotok daya simpan 4 hari setelah&lt;br /&gt;
dipetik, buah ini tahan dalam pengangkutan.&lt;br /&gt;
3) Rambutan Cimacan, kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170 ikat per&lt;br /&gt;
pohon, kulit berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar dan&lt;br /&gt;
agak jarang, rasa manis, sedikit berair tetapi kurang tahan dalam pengangkutan.&lt;br /&gt;
4) Rambutan Binjai yang merupakan salah satu rambutan yang terbaik di Indonesia&lt;br /&gt;
dengan buah cukup besar, dengan kulit berwarna merah darah sampai merah tua&lt;br /&gt;
rambut buah agak kasar dan jarang, rasanya manis dengan asam sedikit,&lt;br /&gt;
hasilbuah tidak selebat aceh lebak bulus tetapi daging buahnya ngelotok.&lt;br /&gt;
5) Rambutan Sinyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai&lt;br /&gt;
terutama orang Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna&lt;br /&gt;
kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat,rasa&lt;br /&gt;
buah manisa sam, banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Dalam budidaya rambutan angin berperan dalam penyerbukan bunga.&lt;br /&gt;
2) Intensitas curah hujan yang dikehendaki oleh pohon rambutan berkisar antara&lt;br /&gt;
1.500-2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun&lt;br /&gt;
3) Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak dia terbit&lt;br /&gt;
sampai tenggelam, intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan&lt;br /&gt;
suhu lingkungan.&lt;br /&gt;
4) Tanaman rambutan akan dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan&lt;br /&gt;
optimal pada suhu sekitar 25 derajat C yang diukur pada siang hari. Kekurangan&lt;br /&gt;
sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna&lt;br /&gt;
(kempes).&lt;br /&gt;
5) Kelembaban udara yang dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan&lt;br /&gt;
tumbuh di dataran rendah dan sedang. Apabila udara mempunyai kelembaban&lt;br /&gt;
yang rendah, berarti udara kering karena miskin uap air. Kondisi demikian cocok&lt;br /&gt;
untuk pertumbuhan tanaman rambutan.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Rambutan dapat tumbuh baik pada lahan yang subur dan gembur serta sedikit&lt;br /&gt;
mengandung pasir, juga dapat tumbuh baik pada tanah yang banyak mengandung&lt;br /&gt;
bahan organik ataui pada tanah yang keadaan liat dan sedikit pasir.&lt;br /&gt;
2) Pada dasarnya tingkat/derajat keasaman tanah (pH) tidak terlalu jauh berbeda&lt;br /&gt;
dengan tanaman perkebunan lainnya di Indonesia yaitu antara 6-6,7 dan kalau&lt;br /&gt;
kurang dari 5,5 perlu dilakukan pengapuran terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
3) Kandungan air dalam tanah idealnya yang diperlukan untuk penanaman pohon&lt;br /&gt;
rambutan antara 100-150 cm dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;
4) Pada dasarnya tanaman rambutan tidak tergantung pada letak dan kondisi tanah,&lt;br /&gt;
karena keadaan tanah dapat dibentuk sesuai dengan tata cara penanaman yang&lt;br /&gt;
benar (dibuatkan bedengan) sesuai dengan petunjuk yang ada.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Rambutan dapat tumbuh subur pada dataran rendah dengan ketinggian antara 30-&lt;br /&gt;
500 m dpl. Pada ketinggian dibawah 30 m dpl rambutan dapat tumbuh namun tidak&lt;br /&gt;
begitu baik hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Benih&lt;br /&gt;
Benih yang diambil biasanya dipilih dari benih-benih yang disukai oleh masyarakat&lt;br /&gt;
konsumen antara lain: Rambutan Rapiah, Rambutan Aceh, Lebak bulus,&lt;br /&gt;
Rambutan Cimacan, Rambutan, Rambutan Sinyonya.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Benih&lt;br /&gt;
Persiapan benih biji yang dipergunakan sebagai pohon pangkal setelah buah&lt;br /&gt;
dikupas dan diambil bijinya dengan jalan fermentasi biasa (ditahan selama 1-2&lt;br /&gt;
hari) sesudah itu di angin-anginkan selama 24 jam (sehari semalam) dan biji siap&lt;br /&gt;
disemaikan. Disamping itu dapat pula direndamdengan larutan asam dengan&lt;br /&gt;
perbandingan 1:2 dari air dan larutan asam yang terdiri dari asam chlorida (HCl)&lt;br /&gt;
25% atau Asam Sulfat (H2S04) BJ = 1.84, caranya direndam selama 15 menit&lt;br /&gt;
kemudian dicuci dengan air tawar yang bersih sebanyak 3 kali berulang dengan&lt;br /&gt;
air yang mengalir selama 10 menit dan dianginkan selama 24 jam. Untuk&lt;br /&gt;
menghidari jamur biji dapat dibalur dengan larutan Dithane 45, Attracol 70 WP&lt;br /&gt;
atau fungisida lainnya.&lt;br /&gt;
3) Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;
Teknik penyemaian benih dipilih lahan yang gembur dan mudah mendapat&lt;br /&gt;
pengairan serta mudah dikeringkan disamping itu mudah diawasi seperti:&lt;br /&gt;
mencangkul tanah sedalam 20-30 cm sambil dibersihkan dari rumput-rumput,&lt;br /&gt;
batu-batu dan sisa pepohonan dan benda keras lainnya. Kemudian tanah&lt;br /&gt;
dihaluskan sehingga menjadi gembur dan buatkan bedang-bedeng yang&lt;br /&gt;
berukuran 1-1,5 m lebar dan tinggi sekitar 30 cm, panjang disesuaikan dengan&lt;br /&gt;
luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m,&lt;br /&gt;
dengan keadaan arah membujur dari Utara ke Selatan, supaya mendapatkan&lt;br /&gt;
banyak sinar matahari walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan jarak&lt;br /&gt;
antara bedeng 30 cm dan untuk menambah kesuburan dapat diberi pupuk hijau,&lt;br /&gt;
kompos/pupuk kandang yang sudah matang dan benih siap disemaikan. Selain&lt;br /&gt;
dengan melalui proses pengecambahan juga biji dapat langsung ditunggalkan&lt;br /&gt;
pada bedeng-bedeng yang sudah disiapkan, untuk menyiapkan pohon pangkal&lt;br /&gt;
lebih baik melalui proses pengecambahan, biji-biji tersebut ditanam pada bedengbedeng yang berjarak 10 X 10 cm setelah berkecambah dan berumur 1-1,5 bulan dan sudah tumbuh daun sekitar 2-3 helai maka bibit dapat dipindahkan dari&lt;br /&gt;
bedeng persemaian ke bedeng penanaman.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;
Setelah bibit berkecambang dan telah berumur 1-1,5 bulan disiram pagi sore,&lt;br /&gt;
setelah kecambah dipindah ke bedeng pembibitan penyiraman cukup 1 kali tiap&lt;br /&gt;
pagi hari sampai menjelang mata hari terbit, dengan menggunakan "gembor"&lt;br /&gt;
supaya merata dan tidak merusak bedengan dan diusahakan air dapat menembus&lt;br /&gt;
sedalam 3-4 cm dari permukaan. Kemudian dilakukan pendangiran bedengan&lt;br /&gt;
supaya tetap gembur dan dilakukan setiap 2-3 minggu sekali, rumput yang&lt;br /&gt;
tumbuh disekitarnya supaya disiangi, hindarkan dari serangan hama dan penyakit,&lt;br /&gt;
sampai umur kurang lebih 1 tahun persemaian yang dilakukan terhadap pohon&lt;br /&gt;
baru setelah itu dapat dilakukan pengokulasian yang ditentukan dengan sistem&lt;br /&gt;
Fokkert yang sudah disempurnakan yang sebelumnya daun-daun dirontokkan&lt;br /&gt;
pada pohon induk yang telah dipilih mata kulitnya dan kemudian setelah disiapkan&lt;br /&gt;
tempat untuk penempelan mata kulit tersebut sampai mata kulit itu tumbuh tunas,&lt;br /&gt;
setelah itu tunas asli pada pohon induk yang telah ditempel dipangkas, kemudian&lt;br /&gt;
rawat dengan penyiraman 2 kali sehari dan mendangir serta membersihkan&lt;br /&gt;
rumput-rumput yang ada disiangi, kemudian dapat juga diberi pupuk urea 10 gram&lt;br /&gt;
untuk tiap 1 m² untuk 25 tanaman rambutan.&lt;br /&gt;
5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;
Cara pemindahan bibit yang telah berkecambah atau di cangkok maupun&lt;br /&gt;
diokulasi dapat dengan mencungkil/membuka plastik yang melekat pada media&lt;br /&gt;
penanaman dengan cara hati-hati jangan sampai akar menjadi rusak dan&lt;br /&gt;
dilakukan penyungkilan sekitar 5 cm dan agar tumbuh akar lebih banyak maka&lt;br /&gt;
dalam penanaman kembali akar tunggangnya dapat dipotong sedikit untuk&lt;br /&gt;
menjaga penguapan kemudian lebar daun dipotong separuh serta keping yang&lt;br /&gt;
menempel dibiarkan sebab berfungsi sebagai cadangan makanan sebelum dapat&lt;br /&gt;
menerima makanan dari tanah yang baru. Dan ditanam pada bedeng pembibitan&lt;br /&gt;
dengan jarak 30-40 cm dan ditutupi dengan atap yang dipasang miring lebih tinggi&lt;br /&gt;
di Timur dengan harapan dapat lebih banyak kena sinar mata hari pagi.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Persiapan&lt;br /&gt;
Pilihlah tanah yang subur, hindari daerah yang berkondisi tanahnya terlampau liat&lt;br /&gt;
dan tidak memiliki sirkulasi yang baik, meskipun pada daerah perbukitan tetapi&lt;br /&gt;
tanahnya subur dengan cara membuat sengkedan (teras) pada bagian yang&lt;br /&gt;
curam, kemudian untuk menggemburkan tanah perlu dibajak atau cukup dicangkul&lt;br /&gt;
dengan kedalaman sekitar 30 cm secara merata.&lt;br /&gt;
2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;
Tanah yang akan dipergunakan untuk kebun rambutan dikerjakan semua secara&lt;br /&gt;
bersama, tanaman pengganggu seperti semak-semak dan rerumputan dibuang&lt;br /&gt;
dan benda-benda keras disingkirkan kemudian tanah dibajak/dicangkul. Bila bibit&lt;br /&gt;
berasal dari cangkokan pengolahan tanah tidak perlu terlalu dalam tetapi kalau&lt;br /&gt;
dari hasil okulasi perlu pengolahan yang cukup dalam. Kemudian dibuatkan&lt;br /&gt;
saluran air selebar 1 meter dan kedalam disesuaikan dengan kedalaman air&lt;br /&gt;
tanah, guna mengatasi sistem pembuangan air yang kurang lancar. Tanah yang&lt;br /&gt;
kurus dan kurang humus atau tanah cukup liat diberikan pupuk hijau yang dibuat&lt;br /&gt;
dengan cara mengubur ranting-ranting dan dedaunan dan kondisi ini dibiarkan&lt;br /&gt;
selama kurang lebih 1 tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;
3) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;
Setelah tanah keadaan gembur dan buatkan bedeng-bedengan yang berukuran 8&lt;br /&gt;
m lebar dan tinggi sekitar 30 cm dengan perataan dasar atasnya guna menopang&lt;br /&gt;
bibit yang akan ditanam, panjang disesuaikan dengan luas&lt;br /&gt;
pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m, dengan&lt;br /&gt;
keadaan arah membujur dari utara ke selatan, supaya mendapatkan banyak sinar&lt;br /&gt;
matahari pagi walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan jarak antara&lt;br /&gt;
bedeng 1 m yang diharapkan untuk lalu-lintas para pekerja dan dapat&lt;br /&gt;
dipergunakan sebagai saluran air pembuangan, dan untuk menambah kesuburan&lt;br /&gt;
dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yang sudah matang&lt;br /&gt;
4) Pengapuran&lt;br /&gt;
Pengapuran pada dataran yang berasal dari tambak dan juga dataran yang baru&lt;br /&gt;
terbentuk tidak bisa ditanami, selain tanah masih bersifat asam juga belum terlalu&lt;br /&gt;
subur, setelah lobang-lobang itu digali dengan ukuran penanaman di pekarangan&lt;br /&gt;
dan dasarnya ditaburkan kapur sebanyak 0,5 liter untuk setiap lobang guna&lt;br /&gt;
menetralkan pH tanah hingga mencapai 6-6,7 sebagai syarat tumbuhnya tanaman&lt;br /&gt;
rambutan, setelah 1 minggu dari penaburan kapur diberi pupuk kandang supaya&lt;br /&gt;
tanah menjadi subur.&lt;br /&gt;
5) Pemupukan&lt;br /&gt;
Setelah jangka waktu 1 minggu dari pemberian kapur pada lubang-lubang yang&lt;br /&gt;
ditentukan kemudian diberikan pupuk kandang sebanyak 25 kg (kurang lebih 1&lt;br /&gt;
blek) dan setelah 1 minggu lahan baru siap untuk ditanami bibit rambutan yang&lt;br /&gt;
telah jadi.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;
Penyiapan pohon pangkal sebaiknya melalui proses perkecambahan kemudian&lt;br /&gt;
ditanam dengan jarak 10 x 10 cm setelah berkecambah dan berumur 1-1,5 bulan&lt;br /&gt;
atau telah tumbuh daun sebanyak 3 helai maka bibit/zaeling dapat dipindahkan&lt;br /&gt;
pada bedeng ke dua dengan jarak 1-14 meter. Untuk menghindari sengatan sinar&lt;br /&gt;
matahari secara langsung dibuat atap yang berbentuk miring lebih tinggi ke Timur&lt;br /&gt;
dengan maksud supaya mendapatkan sinar matahari pagi hari secara penuh.&lt;br /&gt;
2) Pembuatan Lubang Tanaman&lt;br /&gt;
Pembuatan lubang pada bedeng-bedeng yang telah siap untuk tempat&lt;br /&gt;
penanaman bibit rambutan yang sudah jadi dilakukan setelah tanah diolah secara&lt;br /&gt;
matang kemudian dibuat lobang-lobang dengan ukuran 1 x 1 x 0,5 m yang&lt;br /&gt;
sebaiknya telah dipersiapkan 3-4 pekan sebelumnya dan pada waktu penggalian&lt;br /&gt;
tanah yang diatas dan yang dibawah dipisahkan yang nantinya dipergunakan&lt;br /&gt;
untuk penutup kembali lubang yang telah diberi tanaman, sedangkan jarak antar&lt;br /&gt;
lubang sekitar 12-14 m.&lt;br /&gt;
3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Setelah berlangsung selama 2 pekan lubang ditutup dengan susunan tanah&lt;br /&gt;
seperti sedia kala dan tanah yang bagian atas dikembalikan setelah dicampur&lt;br /&gt;
dengan 3 blek (1 blek kurang lebih 20 liter) pupuk kandang yang sudah matang,&lt;br /&gt;
dan kira-kira 4 pekan dan tanah yang berada di lubang bekas galian tersebut&lt;br /&gt;
sudah mulai menurun baru rambutan ditanam dan tidak perlu terlalu dalam&lt;br /&gt;
secukupnya, maksudnya batas antara akar dan batang rambutan diusahakan&lt;br /&gt;
setinggi permukaan tanah yang ada disekelilingnya.&lt;br /&gt;
4) Lain-lain&lt;br /&gt;
Pada awal penanaman di kebun perlu diberi perlindungan yang rangkanya dibuat&lt;br /&gt;
dari bambu/bahan lain dengan dipasang posisi agak tinggi disebelah Timur, agar&lt;br /&gt;
tanaman mendapatkan lebih banyak sinar matahari pagi dari pada sore hari, dan&lt;br /&gt;
untuk atapnya dapat dibuat dari daun nipah, kelapa/tebu. Sebaiknya penanaman&lt;br /&gt;
dilakukan pada awal musim penghujan, agar kebutuhan air dapat dipenuhi secara&lt;br /&gt;
alamiah.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;
Karena kondisi tanah telah gembur dan mudah tanaman lain akan tumbuh kembali&lt;br /&gt;
terutama Gulma (tanaman pengganggu), seperti rumput-rumputan dan harus&lt;br /&gt;
disiangi sampai radius 1-2 m sekeliling tanaman rambutan. Apabila bibit tidak&lt;br /&gt;
tumbuh dengan baik segera dilakukan penggantian dengan bibit cadangan.&lt;br /&gt;
2) Perempalan&lt;br /&gt;
Agar supaya tanaman rambutan mendapatkan tajuk yang rimbun, setelah&lt;br /&gt;
tanaman berumur 2 tahun segera dilakukan peempelan/ pemangkasan pada&lt;br /&gt;
ujung cabang-cabangnya. Disamping untuk memperoleh tajuk yang seimbang&lt;br /&gt;
juga berguna memberi bentuk tanaman, memperbanyak dan mengatur produksi&lt;br /&gt;
agar tanaman tetap terpelihara. Pemangkasan juga perlu dilakukan setelah masa&lt;br /&gt;
panen buah berakhir dengan harapan muncul tajuk-tajuk baru sebagai tempat&lt;br /&gt;
munculnya bunga baru pada musim berikutnya dan hasil berikutnya dapat&lt;br /&gt;
meningkat.&lt;br /&gt;
3) Pemupukan&lt;br /&gt;
Untuk menjaga agar kesuburan lahan tanaman rambutan tetap stabil perlu&lt;br /&gt;
diberikan pupuk secara berkala dengan aturan:&lt;br /&gt;
a) Pada tahun ke 2 setelah penanaman bibit diberikan pada setiap pohon dengan&lt;br /&gt;
campuran 30 kg pupuk kandang, 50 kg TSP, 100 gram Urea dan 20 germ ZK&lt;br /&gt;
dengan cara ditaburkan disekeliling pohon/dengan jalan menggali disekeliling&lt;br /&gt;
pohon sedalam 30 cm selebar antara 40-50 cm, kemudian masukkan campuran&lt;br /&gt;
tersebut dan tutup kembali dengan tanah galian sebelumnya.&lt;br /&gt;
b) Tahun berikutnya perlu dosis pemupukan perlu ditambah dengan komposisi 50&lt;br /&gt;
kg pupuk kandang, 60 kg TSP, 150 gr Urea dan 250 gr ZK dengan cara&lt;br /&gt;
pemupukan yang sama, apabila menggunakan pupuk NPK maka&lt;br /&gt;
perbandingannya 15:15:15 dengan ukuran diantara 75-125 kg untuk setiap ha,&lt;br /&gt;
dan bila ditabur dalam musim hujan dan dengan komposisi 250-350 kg apabila&lt;br /&gt;
dilakukan saat awal musim penghujan.&lt;br /&gt;
4) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Selama dua minggu pertama setelah bibit yang berasal dari cangkokan/okulasi&lt;br /&gt;
ditanam, penyiraman dilakukan sebanyak dua kali sehari, pagi dan sore. Dan&lt;br /&gt;
minggu-minggu berikutnya penyiraman dapat dikurangi menjadi satu kali sehari.&lt;br /&gt;
Apabila tanaman rambutan telah tumbuh benar-benar kuat frekuensi penyiraman&lt;br /&gt;
bisa dikurangi lagi yang dapat dilakukan saat-saat diperlukan saja. Dan bila&lt;br /&gt;
turunterlalu lebat diusahakan agar sekeliling tanaman tidak tegenang air dengan&lt;br /&gt;
cara membuat lubang saluran untuk mengalirkan air.&lt;br /&gt;
5) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;
Guna mencegah kemungkinan tumbuhnya penyakit/hama karena kondisi&lt;br /&gt;
cuaca/hewan-hewan perusak maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida&lt;br /&gt;
umumnyadilakukan antara 15-20 hari sebelum panen dan juga apabila&lt;br /&gt;
kelembaban udara terlalu tinggi akan tumbuh cendawan, apabila musim&lt;br /&gt;
penghujan mulai tiba perlu disemprot fungisida beberapa kali selama musim hujan&lt;br /&gt;
pestisida dan insektisida&lt;br /&gt;
6) Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;
Untuk memacu munculnya bunga rambutan diperlukan larutan KNOƒ (Kalsium&lt;br /&gt;
Nitrat) yang akan mempercepat 10 hari lebih awal dari pada tidak diberi KNOƒ dan&lt;br /&gt;
juga mempunyai keunggulan memperbanyak "dompolan" bunga (tandan)&lt;br /&gt;
rambutan pada setiap stadium (tahap perkembangan) serta mempercepat&lt;br /&gt;
pertumbuhan buah rambutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama pada Daun&lt;br /&gt;
Hama tanaman rambutan berupa serangga seperti semut, kutu, kepik, kalong dan&lt;br /&gt;
bajing serta hama lainya seperti, keberadaan serangga ini dipengaruhi faktor&lt;br /&gt;
lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. misal: ulat penggerek buah&lt;br /&gt;
(Dichocricic punetiferalis) warna kecoklat-coklatan dengan ciri-ciri buah menjadi&lt;br /&gt;
kering dan berwarna hitam, Ulat penggerek batang (Indrabela sp) membuat kulit&lt;br /&gt;
kayu dan mampu membuat lobang sepanjang 30 cm, Ulat pemakan daun (Ploneta&lt;br /&gt;
diducta/ulat keket) memakan daun-daun terutama pada musim kemarau. Ulat&lt;br /&gt;
Jengkal (Berta chrysolineate) pemakan daun muda sehingga penggiran daun&lt;br /&gt;
menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
Penyakit tanaman rambutan disebabkan organisme semacam ganggang&lt;br /&gt;
(Cjhephaleusos sp) yang diserang umumnya daun tua dan muncul pada musim&lt;br /&gt;
hujan dengan ciri-ciri adanya bercak-bercak kecil dibagian atas daun disertai seratserat halus berwarna jingga yang merupakan kumpulan sporanya. Ganggang&lt;br /&gt;
Chaphaleuros kesimbiose dengan lumut kerek (lichen) dan dapat dijumpai pada&lt;br /&gt;
daun dan batang rambutan, yang nampak seperti panu sehingga ranting yang&lt;br /&gt;
diserang dapat mati; Penyakit akar putih disebabkan oleh cendawan (jamur)&lt;br /&gt;
Rigidoporus Lignosus dengan tanda rizom berwarna putih yang menempel pada akar&lt;br /&gt;
dan apabila akar yang kena dikupas akan nampak warna kecoklatan.&lt;br /&gt;
Gulma&lt;br /&gt;
Segala macam tumbuhan pengganggu tanaman rambutan yang berbentuk&lt;br /&gt;
rerumputan yang berada disekitar tanaman rambutan yang akan mengganggu&lt;br /&gt;
pertumbuhan perkembangan bibit rambutan oleh sebab itu perlu dilakukan&lt;br /&gt;
penyiangan secara rutin.&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Buah rambutan yang telah matang dengan ciri-ciri melihat warna yang disesuikan&lt;br /&gt;
dengan jenis rambutan yang ada juga dengan mencium baunya serta yang terakhir&lt;br /&gt;
dengan merasakan rambutan yang sudah masak dibandingkan dengan rambutan&lt;br /&gt;
yang belum masak, dapat dipastikan bahwa pemanenan dilakukan sekitar bulan&lt;br /&gt;
Nopember sampai Februari, juga dapat dipengaruhi musim kemarau atau musim&lt;br /&gt;
penghujan.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Cara pemanenan yang terbaik adalah dipetik beserta tungkalnya yang sudah matang&lt;br /&gt;
(hanya yang sudah masak) sekaligus melakukan pemangkasan pohon agar tidak&lt;br /&gt;
menjadi rusak. Pemangkasan dilakukan sekaligus panen agar dapat bertunas&lt;br /&gt;
kembali cepat berbuah apabila pemetikan tidak terjangkau dapat dilakukan dengan&lt;br /&gt;
menggunakan galah untuk mengkait tangkai buah rambutan secara benar.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Periode pemanenan buah rambutan dilakukan pada sekitar bulan Nopember sampai&lt;br /&gt;
dengan Februari (masa musim penghujan). Dengan dicari buah yang masak dan&lt;br /&gt;
yang belum masak supaya ditinggal dulu dan kemudian dipanen kembali&lt;br /&gt;
Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;
Apabila penanganan dan pemeliharaan semenjak pembibitan hingga panen&lt;br /&gt;
dilakukan secara baik dan benar serta memenuhi aturan yang ada maka dapat&lt;br /&gt;
diperkirakan mendapatkan hasil yang maksimal. Setiap pohonnya dapat mencapai&lt;br /&gt;
hasil minimal 0,10 kuintal, dan maksimal dapan mencapai 1,75 kuintal setiap&lt;br /&gt;
pohonnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Setelah dilakukan pemanenan yang benar buah rambutan harus diikat secara baik,&lt;br /&gt;
biasanya dikumpulkan tidak jauh dari lokasi pohon sehingga selesai pemanenan&lt;br /&gt;
secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Tujuan penyortiran buah rambutan yang bagus agar harga jualnya tinggi, biasanya&lt;br /&gt;
dipilih berdasarkan ukuran dan mutunya, buah yang kecil tetapi baik mutunya dapat&lt;br /&gt;
dicampur dengan buah yang besar dengan sama mutunya, yang biasanya dijual&lt;br /&gt;
dalam bentuk ikatan dan perlu diingat bahwa dalam 1 ikatan diusahakan sama besar&lt;br /&gt;
dan sama baik mutunya. Dan dilakukan sesuai dengan jenis rambutan, jangan&lt;br /&gt;
dicampur adukkan dengan jenis yang lain.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Penyimpanan yang terbaik untuk mengawetkan buah rambutan biasanya dilakukan&lt;br /&gt;
dengan jalan dibuat asinan/manisan dan dimasukkan dalam kaleng/botol atau dapat&lt;br /&gt;
juga dengan menggunakan kantong plastik. Hal ini dapat menjaga kesterlilan dan&lt;br /&gt;
ketahanan serta lama penyimpanannya.&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;
Hasil jual dapat tinggi tidak tergantung dari rasanya saja,tetapi pada kenampakandan&lt;br /&gt;
cara pengikatannya,apabilaakan dijual tidak jauh dari lokasi maka cukup diikat dan&lt;br /&gt;
kemudian di angkut dengan kendaraan/dimasukkan dalam karung. Untuk pengiriman&lt;br /&gt;
dengan jarak yang agak jauh (antar pulau) yang membutuhkan waktu hingga 2-3 hari&lt;br /&gt;
lamanya perjalanan rambutan. Caranya di pak dengan menggunakan peti sebelum&lt;br /&gt;
dipilih dan di pak sebaiknya dicuci terlebih dahulu dengan air sabun dan dibilas&lt;br /&gt;
kemudian dikeringkan, setelah dipisah dari tangkainya, apabila ada yang terkena&lt;br /&gt;
jamur sebaiknya direndam dulu dengan larutan soda 1,5% selama 3-5 menit&lt;br /&gt;
kemudian disikat dengan sikat yang lunak. Setelah itu disusun berderet berbentuk&lt;br /&gt;
sudut terhadap sisi peti, yang sebelumnya dialasi dengan lumut/ sabut kelapa,&lt;br /&gt;
setelah itu dilapisi dengan kertas minyak. Setelah penuh lapisan atas dilapisi lagi&lt;br /&gt;
dengan kertas minyak dan dengan sabut kelapa yang terakhir ditutup dengan papan,&lt;br /&gt;
sebaiknya kedua sisi panjang dibentuk agak gembung, biasanya penempatan peti&lt;br /&gt;
bagian yang pendek ditempatkan dibawah didalam perjalanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Standard produksi ini meliputi: klasifikasi/penggolongan dan syarat mutu, cara&lt;br /&gt;
pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan cara pengemasan.&lt;br /&gt;
Buah rambutan segar adalah buah dari tanaman rambutan (Nephelium lappaceum&lt;br /&gt;
Linn) dalam tingkat ketuaan optimal, utuh, segar dan bersih. Standar buah rambutan&lt;br /&gt;
di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3210-1992.&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Buah rambutan segar untuk masing-masing kultvar, digolongkan dalam 2 buah jenis,&lt;br /&gt;
yaitu: Mutu I dan Mutu II.&lt;br /&gt;
Klasifikasi berdasarkan ukuran berat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Binjai: besar maksimum 20 kg; kecil : &gt; 20 kg&lt;br /&gt;
b) Lebak Bulus: besar maksimum 35 kg; kecil &gt; 35 kg&lt;br /&gt;
c) Rapiah: besar maksimum 30 kg; kecil &gt; 30 kg&lt;br /&gt;
d) Simacan: besar maksimum 40 kg; kecil &gt; 40 kg&lt;br /&gt;
Persyaratan mutu untuk buah rambutan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Keseragaman Kultivar: mutu I seragam; mutu II seragam&lt;br /&gt;
b) Keseragaman Ukuran: mutu I seragam; mutu II kurang seragam&lt;br /&gt;
b) Tingkat Kesatuan Buah: mutu I tepat; mutu II kurang Tepat&lt;br /&gt;
c) Tingkat Kesegaran Buah: mutu I segar; mutu II kurang segar&lt;br /&gt;
d) Buah cacat/busuk: mutu I 0%; mutu II 0%&lt;br /&gt;
e) Bentuk ikatan: mutu I maksimum 10 cm; mutu II maksimum 10 cm&lt;br /&gt;
f) Bentuk buah lepas: mutu I maksimum. 0,5 cm; mutu II maksimum 0,5 cm&lt;br /&gt;
g) Kadar Kotoran: mutu I 0%; mutu II 0%&lt;br /&gt;
h) Serangga hidup/mati: mutu I tidak ada; mutu II tidak ada&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Satu partai/lot buah rambutan segar terdiri dari maksimum 1.000 kemasan. Contoh&lt;br /&gt;
diambil secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot.&lt;br /&gt;
a) Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5, contoh pengambilan semua&lt;br /&gt;
b) Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100, contoh pengambilan sekurangkurangnya 5&lt;br /&gt;
c) Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300, contoh pengambilan sekurangkurangnya 7&lt;br /&gt;
d) Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500, contoh pengambilan sekurangkurangnya 9&lt;br /&gt;
e) Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000, contoh pengambilan sekurangkurangnya 10&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh harus orang yang memenuhi persyaratan yaitu orang&lt;br /&gt;
yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan&lt;br /&gt;
suatu badan hukum.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Buah rambutan segar disajikan dalam bentuk ikatan atau lepas, dibungkus bahan&lt;br /&gt;
kertas, jaring plastik atau bahan laian yang sesuai, lalu dikemas dengan keranjang&lt;br /&gt;
bambu atau kotak karton/kayu/bahan lain yang sesuai dengan atau tanpa&lt;br /&gt;
penyangga, dengan berat bersih maksimum 10 kg.&lt;br /&gt;
Pada bagian luar kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain :&lt;br /&gt;
a) Dihasilkan di Indonesia.&lt;br /&gt;
b) Nama barang/kultivar.&lt;br /&gt;
c) Golongan ukuran.&lt;br /&gt;
d) Jenis mutu.&lt;br /&gt;
e) Nama perusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;
f) Berat bersih/kotor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PISANG ( Musa spp )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/pisang-musa-spp.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-4819114212117153832</guid><description>JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;
Jenis pisang dibagi menjadi tiga:&lt;br /&gt;
1) Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var&lt;br /&gt;
Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis. Misalnya&lt;br /&gt;
pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas.&lt;br /&gt;
2) Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma&lt;br /&gt;
typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis. Misalnya pisang nangka, tanduk&lt;br /&gt;
dan kepok.&lt;br /&gt;
3) Pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya.&lt;br /&gt;
Misalnya pisang batu dan klutuk.&lt;br /&gt;
4) Pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;
Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral&lt;br /&gt;
dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan&lt;br /&gt;
tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses&lt;br /&gt;
fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus&lt;br /&gt;
berbagai macam makanan trandisional Indonesia.&lt;br /&gt;
Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang&lt;br /&gt;
yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak&lt;br /&gt;
ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput&lt;br /&gt;
tidak/kurang tersedia.&lt;br /&gt;
Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri&lt;br /&gt;
dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat&lt;br /&gt;
sakit kencing dan penawar racun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun&lt;br /&gt;
demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air,&lt;br /&gt;
pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi&lt;br /&gt;
produksinya tidak dapat diharapkan.&lt;br /&gt;
2) Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan&lt;br /&gt;
mempengaruhi pertumbuhan tanaman.&lt;br /&gt;
3) Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi&lt;br /&gt;
curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak&lt;br /&gt;
tergenang.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah&lt;br /&gt;
berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah&lt;br /&gt;
berhumus dengan pemupukan.&lt;br /&gt;
2) Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman&lt;br /&gt;
pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50&lt;br /&gt;
- 200 cm, di daerah setengah basah 100 - 200 cm dan di daerah kering 50 - 150&lt;br /&gt;
cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang&lt;br /&gt;
yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah&lt;br /&gt;
yang mengandung garam 0,07%.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat&lt;br /&gt;
tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon,&lt;br /&gt;
nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;
Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi&lt;br /&gt;
15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit&lt;br /&gt;
akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit&lt;br /&gt;
anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik&lt;br /&gt;
digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di&lt;br /&gt;
dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun&lt;br /&gt;
masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada&lt;br /&gt;
bibit dengan daun yang lebar.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri.&lt;br /&gt;
Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu&lt;br /&gt;
pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu&lt;br /&gt;
banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.&lt;br /&gt;
3) Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam&lt;br /&gt;
Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi&lt;br /&gt;
perlakuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.&lt;br /&gt;
b) Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi&lt;br /&gt;
mengering. Buang daun-daun yang lebar.&lt;br /&gt;
c) Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0,5–1% selama&lt;br /&gt;
10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.&lt;br /&gt;
d) Jika tidak ada insektisida, rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam.&lt;br /&gt;
e) Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air&lt;br /&gt;
panas beberapa menit.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;
Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan&lt;br /&gt;
letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan&lt;br /&gt;
sosial.&lt;br /&gt;
Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput&lt;br /&gt;
atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan&lt;br /&gt;
sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.&lt;br /&gt;
2) Pembentukan Sengkedan&lt;br /&gt;
Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan&lt;br /&gt;
tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan&lt;br /&gt;
rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman&lt;br /&gt;
legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi,&lt;br /&gt;
pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.&lt;br /&gt;
3) Pembuatan Saluran Pembuangan Air&lt;br /&gt;
Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah&lt;br /&gt;
datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi&lt;br /&gt;
dari landasan saluran itu sendiri.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;
Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar sehingga pada tiga bulan pertama&lt;br /&gt;
memungkinkan dipakai pola tanam tumpang sari/tanaman lorong di antara&lt;br /&gt;
tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dapat berupa sayur-sayuran atau&lt;br /&gt;
tanaman pangan semusim.&lt;br /&gt;
Di kebanyakan perkebunan pisang di wilayah Asia yang curah hujannya tinggi,&lt;br /&gt;
pisang ditanam bersama-sama dengan tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa&lt;br /&gt;
dan arecanuts. Di India Barat, pisang untuk ekspor ditanam secara permanen&lt;br /&gt;
dengan kelapa.&lt;br /&gt;
2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;
Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau&lt;br /&gt;
40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah&lt;br /&gt;
sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.&lt;br /&gt;
3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum&lt;br /&gt;
tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15–&lt;br /&gt;
20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan&lt;br /&gt;
Untuk mendapatkan hasil yang baik, satu rumpun harus terdiri atas 3-4 batang.&lt;br /&gt;
Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun&lt;br /&gt;
terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan). Setelah&lt;br /&gt;
5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Rumput/gulma di sekitar pohon induk harus disiangi agar pertumbuhan anak dan&lt;br /&gt;
juga induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan&lt;br /&gt;
penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran dan tunas bertambah banyak.&lt;br /&gt;
Perlu diperhatikan bahwa perakaran pisang hanya rata-rata 15 cm di bawah&lt;br /&gt;
permukaan tanah, sehingga penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.&lt;br /&gt;
3) Perempalan&lt;br /&gt;
Daun-daun yang mulai mengering dipangkas agar kebersihan tanaman dan&lt;br /&gt;
sanitasi lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini dilakukan setiap waktu.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. Untuk satu hektar, pisang&lt;br /&gt;
memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl dan 200 kg batu kapur&lt;br /&gt;
sebagai sumber kalsium.&lt;br /&gt;
Pupuk N diberikan dua kali dalam satu tahun yang diletakkan di dalam larikan&lt;br /&gt;
yang mengitari rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali dengan tanah.&lt;br /&gt;
Pemupukan fosfat dan kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua kali dalam&lt;br /&gt;
setahun).&lt;br /&gt;
5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Pisang akan tumbuh subur dan berproduksi dengan baik selama pengairannya&lt;br /&gt;
terjaga. Tanaman diairi dengan cara disiram atau mengisi parit-parit/saluran air&lt;br /&gt;
yang berada di antara barisan tanaman pisang.&lt;br /&gt;
6) Pemberian Mulsa&lt;br /&gt;
Tanah di sekitar rumpun pisang diberi mulsa berupa daun kering ataupun basah.&lt;br /&gt;
Mulsa berguna untuk mengurangi penguapan air tanah dan menekan gulma,&lt;br /&gt;
tetapi pemulsaan yang terus menerus menyebabkan perakaran menjadi dangkal&lt;br /&gt;
sehingga pada waktu kemarau tanaman merana. Karena itu mulsa tidak boleh&lt;br /&gt;
dipasang terus menerus.&lt;br /&gt;
7) Pemeliharaan Buah&lt;br /&gt;
Jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir harus dipotong&lt;br /&gt;
agar pertumbuhan buah tidak terhambat. Setelah sisir pisang mengembang&lt;br /&gt;
sempurna, tandan pisang dibungkus dengan kantung plastik bening. Kantung&lt;br /&gt;
plastik polietilen dengan ketebalan 0,5 mm diberi lubang dengan diameter 1,25&lt;br /&gt;
cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa&lt;br /&gt;
sehingga menutupi 15-45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah&lt;br /&gt;
ujung buah dari sisir terbawah. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah akibat&lt;br /&gt;
beratnya tandan, batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan&lt;br /&gt;
sedalam 30 cm ke dalam tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Ulat daun (Erienota thrax.)&lt;br /&gt;
Bagian yang diserang adalah daun.&lt;br /&gt;
Gejala: daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan menggunakan insektisida yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.&lt;br /&gt;
2) Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)&lt;br /&gt;
Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang.&lt;br /&gt;
Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong.&lt;br /&gt;
Pengendalian:sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit yang telah disucihamakan.&lt;br /&gt;
3) Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis).&lt;br /&gt;
Bagian yang diserang adalah akar.&lt;br /&gt;
Gejala: tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak.&lt;br /&gt;
Pengendalian: gunakan bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.&lt;br /&gt;
4) Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)&lt;br /&gt;
Bagian yang diserang adalah bunga dan buah.&lt;br /&gt;
Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Penyakit darah&lt;br /&gt;
Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah&lt;br /&gt;
jaringan tanaman bagian dalam.&lt;br /&gt;
Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;
2) Panama&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun.&lt;br /&gt;
Gejala: daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam,&lt;br /&gt;
pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam.&lt;br /&gt;
Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;
3) Bintik daun&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan&lt;br /&gt;
gejala bintik sawo matang yang makin meluas.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux (BB).&lt;br /&gt;
4) Layu&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri Bacillus . Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman&lt;br /&gt;
layu dan mati.&lt;br /&gt;
Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;
5) Daun pucuk&lt;br /&gt;
Penyebab: virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Bagian&lt;br /&gt;
yang diserang adalah daun pucuk.&lt;br /&gt;
Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok.&lt;br /&gt;
Pengendalian: cara membongkar dan membakar tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;
Gulma&lt;br /&gt;
Tidak lama setelah tanam dan setelah kanopi dewasa terbentuk, gulma akan&lt;br /&gt;
menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan:&lt;br /&gt;
1) Penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon.&lt;br /&gt;
2) Menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan,&lt;br /&gt;
tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. Misalnya&lt;br /&gt;
Geophila repens.&lt;br /&gt;
3) Menutup tanah dengan plastik polietilen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh&lt;br /&gt;
umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera.&lt;br /&gt;
Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah&lt;br /&gt;
yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan&lt;br /&gt;
pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan&lt;br /&gt;
sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya&lt;br /&gt;
buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang&lt;br /&gt;
diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan&lt;br /&gt;
bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik&lt;br /&gt;
supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.&lt;br /&gt;
Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh&lt;br /&gt;
pergesekan buah dengan tanah.&lt;br /&gt;
Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali.&lt;br /&gt;
Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari&lt;br /&gt;
permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan&lt;br /&gt;
tunas.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali&lt;br /&gt;
tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.&lt;br /&gt;
Perkiraan Produksi&lt;br /&gt;
Belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28&lt;br /&gt;
ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk&lt;br /&gt;
perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (&gt; 30 ha), produksi yang&lt;br /&gt;
ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk&lt;br /&gt;
mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan&lt;br /&gt;
kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan&lt;br /&gt;
dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan&lt;br /&gt;
dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke&lt;br /&gt;
dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di&lt;br /&gt;
ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Standar ini meliputi: klasifikasi dan, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji,&lt;br /&gt;
syarat penandaan dan cara pengemasan.&lt;br /&gt;
Standar buah pisang ini mengacu kepada SNI 01-4229-1996.&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
a) Tingkat Ketuaan Buah (%): Mutu I=70-80; Mutu II &lt;70 &amp; &gt;80&lt;br /&gt;
b) Keseragaman Kultivar: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam&lt;br /&gt;
c) Keseragaman Ukuran: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam&lt;br /&gt;
d) Kadar kotoran (% dalam bobot kotoran/bobot): Mutu I=0; Mutu II= 0&lt;br /&gt;
e) Tingkat kerusakan fisik/mekanis (% Bobot/bobot): Mutu I=0; Mutu II=0&lt;br /&gt;
f) Kemulusan Kulit (Maksimum): Mutu I=Mulus; Mutu II=Mulus&lt;br /&gt;
g) Serangga: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas&lt;br /&gt;
h) Penyakit: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas&lt;br /&gt;
Adapun persyaratan berdasarkan klasifikasi pisang adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Panjang Jari (cm): Kelas A 18,1-20,0; Kelas B 16,1-18,0; Kelas C 14,1-16,0&lt;br /&gt;
b) Berat Isi (kg): Kelas A &gt; 3,0; Kelas B 2,5-3,0; Kelas C &lt; 2,5
c) Dimeter Pisang (cm): Kelas A 2,5; Kelas B &gt; 2,5; Kelas C &lt; 2,5&lt;br /&gt;
Untuk mencapai dan mengetahui syarat mutu harus dilakukan pengujian yang&lt;br /&gt;
meliputi :&lt;br /&gt;
a) Penentuan Keseragaman Kultivar.&lt;br /&gt;
Cara kerja dari pengujian adalah ; Hitung jumlah dari seluruh contoh buah pisang&lt;br /&gt;
segar, amati satu persatu secara visual dan pisahkan buah yang tidak sesuai&lt;br /&gt;
dengan untuk kultivar ang besangkutan. Hitung jumlah jari buah pisang yang tidak&lt;br /&gt;
sesuai dengan kultivar tersebut. Hitung persentase jumlah jari buah pisang yang&lt;br /&gt;
dinilai mempunyai bentuk dan warna yang tidak khas untuk kultivar yang&lt;br /&gt;
bersangkutan terhadap jumlah jari keseluruhannya.&lt;br /&gt;
b) Penentuan Keseragaman Ukuran Buah.&lt;br /&gt;
Ukur panjang dari setiap buah contoh dan dihitung mulai dari ujung buah sampai&lt;br /&gt;
pangkal tangkai dari seluruh contoh uji dengan menggunakan alat pengukur yang&lt;br /&gt;
sesuai. Ukur pula garis tengah buah dengan menggunakan mistar geser.&lt;br /&gt;
Pisahkan sesuai dengan penggolongan yang dinyatakan pada label di kemasan.&lt;br /&gt;
c) Penentuan Tingkat Ketuaan.&lt;br /&gt;
Perhatikan sudut-sudut pada kulit buah pisang segar. Buah yang tidsak bersudut&lt;br /&gt;
lagi (hampir bulat) berati sudah tua 100%, sedangkan yang masih sangat nyata&lt;br /&gt;
sudutnya berarti tingkat ketuaan masih 70% atau kurang.&lt;br /&gt;
d) Penentuan Tingkat Kerusakan Fisik/Mekanis&lt;br /&gt;
Hitung jumlah jari dari seluruh contoh buah pisang. Amati satu persatu jari buah&lt;br /&gt;
secara visual dan pisahkan buah yang dinilai mengalami kerusakan mekanis/fisik&lt;br /&gt;
berupa luka atau memar. Hitung jumlah yang rusak lalu bagi dengan jumalh&lt;br /&gt;
keseluruhannya dan dikalikan dengan 100%.&lt;br /&gt;
e) Penentuan Kadar Kotoran&lt;br /&gt;
Timbang seluruh contoh buah yang diuji, amati secara visual kotorang yang ada,&lt;br /&gt;
pisahkan kotoran yang ada pada buah dan kemasannya seperti tanah, getah,&lt;br /&gt;
batang, potongan daun atau benda lain yang termasuk dalam istilah kotoran yang&lt;br /&gt;
menempel pada buah dan kemasan, lalu timbang seluruh kotorannya. Berat&lt;br /&gt;
kotoran per berat seluruh contoh buah yang diuji kali dengan 100%.&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Satu partai/lot buah pisang segar terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh&lt;br /&gt;
diambil secara acak sebanyak jumlah kemasan.&lt;br /&gt;
a) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 1–5 : contoh semua&lt;br /&gt;
b) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 6–100 : contoh : sekurangkurangnya&lt;br /&gt;
5&lt;br /&gt;
c) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 101–300 : contoh sekurangkurangnya 7&lt;br /&gt;
d) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 301–500 : contoh sekurangkurangnya 9&lt;br /&gt;
e) Jumlah minimal kemasan dalam partai adalah 501–1000 : contoh sekurangkurangnya 10&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Untuk pisang tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg.&lt;br /&gt;
Kardus dapat dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang.&lt;br /&gt;
Sebelum pisang dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardus&lt;br /&gt;
dengan lembaran plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang&lt;br /&gt;
dengan plastik tersebut. Dapat saja kelompok (cluster) pisang dibungkus dengan&lt;br /&gt;
plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke dalam kardus karton.&lt;br /&gt;
Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain:&lt;br /&gt;
a) Produksi Indonesia&lt;br /&gt;
b) Nama kultivar pisang&lt;br /&gt;
c) Nama perusahaan/ekspotir&lt;br /&gt;
d) Berat bersih&lt;br /&gt;
e) Berat kotor&lt;br /&gt;
f) Identitas pembeli&lt;br /&gt;
g) Tanggal panen&lt;br /&gt;
h) Saran suhu penyimpanan/pengangkutan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PEPAYA (Cacarica papaya, L)</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/pepaya-cacarica-papaya-l.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-4010695297973029955</guid><description>JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;
1) Pepaya Jantan&lt;br /&gt;
Pohon pepaya ini memiliki bunga majemuk yang bertangkai panjang dan&lt;br /&gt;
bercabang-cabang. Bunga pertama terdapat pada pangkal tangkai. Ciri-ciri bunga&lt;br /&gt;
jantan ialah putih/bakal buah yang rundimeter yang tidak berkepala, benang sari&lt;br /&gt;
tersusun dengan sempurna.&lt;br /&gt;
2) Pepaya Betina&lt;br /&gt;
Pepaya ini memiliki bunga majemuk artinya pada satu tangkai bunga terdapat&lt;br /&gt;
beberapa bunga. Tangkai bunganya sangat pendek dan terdapat bunga betina&lt;br /&gt;
kecil dan besar. Bunga yang besar akan menjadi buah. Memiliki bakal buah yang&lt;br /&gt;
sempurna, tetapi tidak mempunyai benang sari, biasanya terus berbunga&lt;br /&gt;
sepanjang tahun.&lt;br /&gt;
3) Pepaya Sempurna&lt;br /&gt;
Memiliki bunga yang sempurna susunannya, bakal buah dan benang sari dapat&lt;br /&gt;
melakukan penyerbukan sendiri maka dapat ditanam sendirian. Terdapat 3 jenis&lt;br /&gt;
pepaya sempurna, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Berbenang sari 5 dan bakal buah bulat.&lt;br /&gt;
2. Berbenang sari 10 dan bakal buah lonjong.&lt;br /&gt;
3. Berbenang sari 2 - 10 dan bakal buah mengkerut.&lt;br /&gt;
Pepaya sempurna mempunyai 2 golongan:&lt;br /&gt;
1. Yang dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun.&lt;br /&gt;
2. Yang berbuah musiman.&lt;br /&gt;
Jenis pepaya yang banyak dikenal orang di Indonesia, yaitu:&lt;br /&gt;
1 Pepaya semangka, memiliki daging buah berwarna merah semangka, rasanya&lt;br /&gt;
manis.&lt;br /&gt;
2) Pepaya burung, warna daging buah kuning, harum baunya dan rasanya manisasam.&lt;br /&gt;
MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;
1) Buah masak yang populer sebagai “buah meja”, selain untuk pencuci mulut juga&lt;br /&gt;
sebagai pensuplai nutrisi/gizi terutama vitamin A dan C. Buah pepaya masak yang&lt;br /&gt;
mudah rusak perlu diolah dijadikan makanan seperti sari pepaya, dodol pepaya.&lt;br /&gt;
Dalam industri makanan buah pepaya sering dijadikan bahan baku pembuatan&lt;br /&gt;
(pencampur) saus tomat yakni untuk penambah cita rasa, warna dan kadar&lt;br /&gt;
vitamin.&lt;br /&gt;
2) Dalam industri makanan, akarnya dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit&lt;br /&gt;
ginjal dan kandung kencing.&lt;br /&gt;
3) Daunnya sebagai obat penyembuh penyakit malaria, kejang perut dan sakit&lt;br /&gt;
panas. Bahkan daun mudanya enak dilalap dan untuk menambah nafsu makan,&lt;br /&gt;
serta dapat menyembuhkan penyakit beri-beri dan untuk menyusun ransum ayam.&lt;br /&gt;
4) Batang buah muda dan daunnya mengandung getah putih yang berisikan enzim&lt;br /&gt;
pemecah protein yang disebut “papaine” sehingga dapat melunakan daging untuk&lt;br /&gt;
bahan kosmetik dan digunakan pada industri minuman (penjernih), industri&lt;br /&gt;
farmasi dan textil.&lt;br /&gt;
5) Bunga pepaya yang berwarna putih dapat dirangkai dan digunakan sebagai&lt;br /&gt;
“bunga kalung” pengganti bunga melati atau sering dibuat urap. Batangnya dapat&lt;br /&gt;
dijadikan pencampur makanan ternak melalui proses pengirisan dan&lt;br /&gt;
pengeringanu.&lt;br /&gt;
SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Angin diperlukan untukpenyerbukan bunga. Angin yang tidakterlalu kencang&lt;br /&gt;
sangat cocok bagi pertumbuhan tanaman.&lt;br /&gt;
2) Tanaman pepaya tumbuh subur pada daerah yang memilki curah hujan 1000-&lt;br /&gt;
2000 mm/tahun.&lt;br /&gt;
3) Suhu udara optimum 22-26 derajat C.&lt;br /&gt;
4) Kelembaban udara sekitar 40%.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Tanah yang baik untuk tanaman pepaya adalah tanah ynag subur dan banyak&lt;br /&gt;
mengandung humus. Tanah itu harus banyak menahan air dan gembur.&lt;br /&gt;
2) Derajat keasaman tanah ( pH tanah) yang ideal adalah netral dengan pH 6-7.&lt;br /&gt;
3) Kandungan air dalam tanah merupakan syarat penting dalam kehidupan tanaman&lt;br /&gt;
ini. Air menggenang dapat mengundang penyakit jamur perusak akar hingga&lt;br /&gt;
tanaman layu (mati). Apabila kekeringan air, nama tamanan akan kurus, daun,&lt;br /&gt;
bunga dan buah rontok. Tinggi air yang ideal tidak lebih dalam daripada 50–150&lt;br /&gt;
cm dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Pepaya dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 700 m–1000 m dpl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Bibit/Benih&lt;br /&gt;
Sebagai bibit dipergunakan biji, meskipun pohon pepaya dapat di okulasi. Untuk&lt;br /&gt;
memperoleh biji bakal bibit yang baik dan murni dilakukan melalui pembijian&lt;br /&gt;
sendiri dengan jalan perkawinan buatan. Cara perkawinan buatan ada 2 yaitu:&lt;br /&gt;
a) Bunga-bunga dari tanaman betina ambil yang besar, dibungkus dengan kertas&lt;br /&gt;
plastik selama 2 hari, sebelumnya bunga-bunga betina membuka. Pada waktu&lt;br /&gt;
bunga-bunga itu membuka lakukan penyerbukan dengan bungan-bunga jantan&lt;br /&gt;
yang di kepyok-kepyokan di atas bunga betina. Perkawinan di lakukan hingga 3&lt;br /&gt;
kali.&lt;br /&gt;
b) Cari pepaya yang berbunga dan berbuah terus menerus pilihlah bunga&lt;br /&gt;
elongata yang terbesar yang hampir mekar dan terletak pada ujung tangkai.&lt;br /&gt;
Kemudian bunga tersebut dibungkus dengan kantung agar tidak diserbuki&lt;br /&gt;
secara alami oleh bunga lain selama 10 hari.&lt;br /&gt;
Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak&lt;br /&gt;
benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk&lt;br /&gt;
diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang&lt;br /&gt;
menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh.&lt;br /&gt;
Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah&lt;br /&gt;
terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Benih&lt;br /&gt;
Kebutuhan benih perhektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dalam&lt;br /&gt;
larutan fungisida benomyl dan thiram ( Benlate T) 0,5 gram/liter kemudian disemai&lt;br /&gt;
dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2&lt;br /&gt;
ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang sudah matang&lt;br /&gt;
dan diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 29 gram curater/petrofar.&lt;br /&gt;
Biji-biji yang sudah dikeringkan, jika hendak ditanam harus diuji terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
Caranya biji-biji, yang ditangguhkan dipergunakan sebagai bibit.&lt;br /&gt;
3) Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;
Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram&lt;br /&gt;
setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat&lt;br /&gt;
ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam.&lt;br /&gt;
Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian&lt;br /&gt;
dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan kekebun.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;
Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan ) dengan jarak 5-10&lt;br /&gt;
cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm.&lt;br /&gt;
Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam.&lt;br /&gt;
5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;
Bibit-bibit yang sudah dewasa, siktar umur 2-3 bulan dapat dipindahkan pada&lt;br /&gt;
permulaan musim hujan.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Persiapan&lt;br /&gt;
Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian&lt;br /&gt;
dicangkul/dibajak dan digemburkan.&lt;br /&gt;
2) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;
Bentuk bedengan berukuran lebar 200-250 cm, tinggi 20-30 cm, panjang&lt;br /&gt;
secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm. Buat lobang ukuran 50 x 50 x 40 cm di&lt;br /&gt;
atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.&lt;br /&gt;
3) Pengapuran&lt;br /&gt;
Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5),&lt;br /&gt;
setelah diberi pupuk yang matang, perlu ditambah ± 1 kg dolomit dan biarkan 1-2&lt;br /&gt;
minggu.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu&lt;br /&gt;
minggu, setelah itu tutup dengan tanah campuran 3 blek pupuk kandang yang&lt;br /&gt;
telah matang.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;
Untuk biji yang disemai, sebelum bibit ditanamkan bibit, terlebih dahulu harus&lt;br /&gt;
dibuatkan lubang tanaman. Lubang-lubang berukuran 60 x 60 x 40 cm, yang digali&lt;br /&gt;
secara berbaris. Selama lubang-lubang dibiarkan kosong agar memperoleh cukup&lt;br /&gt;
sinar matahari. Setelah itu lubang-lubang diisi dengan tanah yang telah dicampuri&lt;br /&gt;
dengan pupuk kandang 2-3 blek. Lubang-lubang yang ditutupi gundukan tanah&lt;br /&gt;
yang cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru&lt;br /&gt;
lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan&lt;br /&gt;
penanaman.&lt;br /&gt;
Apabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang-lubang pertanaman harus&lt;br /&gt;
digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5&lt;br /&gt;
bulan sebelum musim hujan.&lt;br /&gt;
2) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat&lt;br /&gt;
dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;
Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping&lt;br /&gt;
beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai&lt;br /&gt;
berbunga.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan&lt;br /&gt;
penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kalli kebun tersebut harus&lt;br /&gt;
disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.&lt;br /&gt;
3) Pembubunan&lt;br /&gt;
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan&lt;br /&gt;
pendangiran tanah. Kapan dan berapa kalli kebun tersebut harus didangiri tak&lt;br /&gt;
dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pohon pepaya memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik,&lt;br /&gt;
memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban&lt;br /&gt;
tanah. Cara pemberian pupuk:&lt;br /&gt;
a) Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50&lt;br /&gt;
gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar.&lt;br /&gt;
b) Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram&lt;br /&gt;
ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl.&lt;br /&gt;
c) Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram&lt;br /&gt;
ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl.&lt;br /&gt;
d) Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA,&lt;br /&gt;
60 gram Urea, 75 gramTSP, dan 75 gram KCl.&lt;br /&gt;
5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang.&lt;br /&gt;
Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama. Apalagi di&lt;br /&gt;
daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan paritparit.&lt;br /&gt;
Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Kutu tanaman (Aphid).&lt;br /&gt;
Ciri: badan halus panjang 2-3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki&lt;br /&gt;
sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki&lt;br /&gt;
panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan&lt;br /&gt;
cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian&lt;br /&gt;
mulut.&lt;br /&gt;
Pemberantasan: tungau tungau daun diberantas dengan penyemprotan&lt;br /&gt;
tepung derris atau tepung belerang.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan&lt;br /&gt;
oleh jamur, virus mosaik, roboh semai, busuk buah,leher akar, pangkal batangdan&lt;br /&gt;
nematoda.&lt;br /&gt;
Penyaklit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytphthora parasitica, P. palmivora&lt;br /&gt;
dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya. Cara&lt;br /&gt;
pencegahan: perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase&lt;br /&gt;
sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita.&lt;br /&gt;
Nematoda. Apabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tidak menanam&lt;br /&gt;
pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman yang&lt;br /&gt;
terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Tanaman pepaya dapat dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik&lt;br /&gt;
harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah&lt;br /&gt;
mulai menguning. Tetapi masih banyak petani yang memetiknya pada waktu buah&lt;br /&gt;
belum terlalu matang.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Panen dilakukan dengan berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan&lt;br /&gt;
dilakukan denggan menggunakan “songgo” (berupa bambu yang pada ujungnya&lt;br /&gt;
berbentuk setengah kerucut yang berguna untuk menjaga agar buah tersebut tidak&lt;br /&gt;
jatuh pada saat dipetik).&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Panen dilakukan setiap 10 hari sekali.&lt;br /&gt;
Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;
Tiap pohon kira-kira dapat menghasilkan 30 buah, bahkan sampai 150 buah. Setelah&lt;br /&gt;
panen pertama, pohon pepaya akan terus menerus berbuah. Tetapi sebaiknya&lt;br /&gt;
sesudah 4 tahun kebun itu harus dibongkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Setelah dipanen buah diletakan disuatu tempat yang cukup, dekat dari lokasi dan&lt;br /&gt;
diberi alas plastik/ koran atau apa saja hingga buah terhindar dari kerusakan.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Pilihlah buah secara selektif, perhatikan bentuk, warna dan ukuran. Tempatkan buah&lt;br /&gt;
pada kelompoknya masing-masing, misalnya: kelompok A adalah buah yang belum&lt;br /&gt;
masak, kelompok B buah yang sudah siap dimasak, kelompok C buah yang cacat&lt;br /&gt;
dan seterusnya. Sehingga akan mempermudah mengklasifikasikan.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Supaya buah itu matang petani perlu melakukan pengemposan (buah disimpan&lt;br /&gt;
ditempat yang mempunyai suhu yang tinggi).&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;
Biasanya buah dikemas dengan keranjang dalam jumlah banyak yang dilapisi&lt;br /&gt;
kertas/kantong bekas semen untuk menghindari luka pada buah /pada peti yang juga&lt;br /&gt;
dilapisi dengan kantong semen dan sejenisnya, setelah itu dimasukan kedalam truk&lt;br /&gt;
untuk diangkut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Standar ini meliputi diskripsi, klasifikasi dan syarat mutu, cara pengambilan contoh,&lt;br /&gt;
cara uji, cara pengemasan.&lt;br /&gt;
Standar buah pepaya sesuai dengan Standar Nasional Indonesia SNI 01–4230–&lt;br /&gt;
1996.&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Pepaya malang segar digolongkan dalam 4 ukuran yaitu kelas A, B, C dan D&lt;br /&gt;
berdasarkan berat tiap buah, yang masing masing digolongkan dalam 3 jenis mutu.&lt;br /&gt;
Kelas A : Berat per buah 2,5 kg – 3,0 kg&lt;br /&gt;
Kelas B : Berat per buah 1,8 kg – 2,4 kg&lt;br /&gt;
Kelas C : Berat per buah 1,5 kg – 1,7 kg&lt;br /&gt;
Kelas D : Berat per buah &lt; 1,5 kg atau &gt; 3 kg&lt;br /&gt;
Kriteria dalam menentukan jenis mutu buah pepaya Malang segar dinilai dari tingkat&lt;br /&gt;
ketuaan dimana jumlah strip berwarna jingga pada permukaan kulit buah yang&lt;br /&gt;
berwarna hijau botol saat dipanen, kebenaran kultivar. Keseragaman ukuran berat,&lt;br /&gt;
tingkat kerusakan, kebusukan dan kadar kotoran serta tingkat kesegaran.&lt;br /&gt;
a) Tingkat ketuaan warna kulit (jumlah strip warna jingga): Mutu I 3 strip, Mutu II 2-3 strip, Mutu III 1 strip.&lt;br /&gt;
b) Kebenaran kulrivar : mutu I benar 97%, mutu II benar 95% , Mutu III benar 90%&lt;br /&gt;
c) Keseragaman ukuran berat: mutu I seragam 97%, mutu II seragam 95%, mutu III&lt;br /&gt;
seragam 90%.&lt;br /&gt;
d) Keseragaman ukuran bentuk: mutu I seragam 97%, mutu II seragam 95%, mutu III&lt;br /&gt;
seragam 90%.&lt;br /&gt;
e) Buah cacat dan busuk : mutu I 0%, mutu II 0%, mutu III 0%&lt;br /&gt;
f) Kadar kotor: mutu I 0%, mutu II 0%, mutu III 0%&lt;br /&gt;
g) Serangga hidup/mati: mutu I 0%, mutu II 0%, mutu III 0%.&lt;br /&gt;
h) Tingkat kesegaran: mutu I segar 100%, mutu II segar &lt; 25%, mutu III segar &gt; 25%&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Satu partai buah Pepaya Malang Segar terdiri dari maksimum 1000 kemasan, contoh&lt;br /&gt;
diambil secara acak.&lt;br /&gt;
a) Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5: contoh yang diambil semua&lt;br /&gt;
b) Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100: contoh yang diambil sekurangkurangnya 5&lt;br /&gt;
c) Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300: contoh yang diambil sekurangkurangnya 7&lt;br /&gt;
d) Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500: contoh yang diambil sekurangkurangnya 9&lt;br /&gt;
e) Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000: contoh yang diambil sekurangkurangnya 10&lt;br /&gt;
Dari kemasan yang dipilih secara acak diambil sekurang-kurangnya 3 buah pepaya&lt;br /&gt;
kemudian dicampur. Dari jumlah buah yang terkumpul kemudian diambil secara acak&lt;br /&gt;
contoh sekurang-kurangnya 5 buah untuk diuji.&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh adalah orang yang telah berpengalaman atau dilatih&lt;br /&gt;
terlebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Untuk pasaran ekspor masing-masing buah Pepaya Malang Segar dibungkus&lt;br /&gt;
dengan kantong terbuat dari bahan yang empuk untuk mengcegah cacat karena&lt;br /&gt;
benturan selama transportasi.&lt;br /&gt;
Buah kemudian dikemas ke dalam kotak karton dengan ujung tangkai menghadap&lt;br /&gt;
kebawah. Berat bersih masing-masing kemasan 10 kg berisikan ± 4 s/d 6 buah&lt;br /&gt;
Pepaya Malang segar.&lt;br /&gt;
Untuk pasaran lokal masing-masing buah pepaya malang segar dibungkus dengan&lt;br /&gt;
kertas koran mulai dari ujung tangkai dikemas dalam keranjang bambu atau plastik&lt;br /&gt;
dengan berat masing-masing 30 kg berisikan 12 s/d 20 buah Papaya Malang Segar.&lt;br /&gt;
Dapat juga digunakan peti kayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PADI ( Oryza Sativa )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/padi-oryza-sativa.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-2718007562407509150</guid><description>Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian&lt;br /&gt;
kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti&lt;br /&gt;
sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai&lt;br /&gt;
pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar&lt;br /&gt;
Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal&lt;br /&gt;
padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
a) Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS&lt;br /&gt;
dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.&lt;br /&gt;
b) Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun.&lt;br /&gt;
Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi&lt;br /&gt;
meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air&lt;br /&gt;
melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.&lt;br /&gt;
c) Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperatur&lt;br /&gt;
22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperatur&lt;br /&gt;
19-23 derajat C.&lt;br /&gt;
d) Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.&lt;br /&gt;
e) Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang&lt;br /&gt;
akan merobohkan tanaman.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
a) Padi gogo&lt;br /&gt;
1. Padi gogo harus ditanam di lahan yang berhumus, struktur remah dan cukup&lt;br /&gt;
mengandung air dan udara.&lt;br /&gt;
2. Memerlukan ketebalan tanah 25 cm, tanah yang cocok bervariasi mulai dari&lt;br /&gt;
yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang&lt;br /&gt;
tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada&lt;br /&gt;
harus &lt; 50%.&lt;br /&gt;
3. Keasaman tanah bervariasi dari 4,0 sampai 8,0.&lt;br /&gt;
b) Padi sawah&lt;br /&gt;
1. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki&lt;br /&gt;
lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.&lt;br /&gt;
2. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm.&lt;br /&gt;
3. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan&lt;br /&gt;
mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur&lt;br /&gt;
dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami&lt;br /&gt;
penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung&lt;br /&gt;
oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral. Untuk mendapatkan&lt;br /&gt;
tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Tanaman dapat tumbuh pada derah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Benih&lt;br /&gt;
Syarat benih yang baik:&lt;br /&gt;
a) Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama&lt;br /&gt;
gudang.&lt;br /&gt;
b) Warna gabah sesuai aslinya dan cerah.&lt;br /&gt;
c) Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya.&lt;br /&gt;
d) Daya perkecambahan 80%.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Benih&lt;br /&gt;
Benih dimasukkan ke dalam karung goni dan direndam 1 malam di dalam air&lt;br /&gt;
mengalir supaya perkecambahan benih bersamaan.&lt;br /&gt;
3) Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;
a) Padi sawah&lt;br /&gt;
Untuk satu hektar padi sawah diperlukan 25-40 kg benih tergantung pada jenis&lt;br /&gt;
padinya. Lahan persemaian dipersiapkan 50 hari sebelum semai. Luas&lt;br /&gt;
persemaian kira-kira 1/20 dari aeral sawah yang akan ditanami. Lahan&lt;br /&gt;
persemaian dibajak dan digaru kemudian dibuat bedengan sepanjang 500-600&lt;br /&gt;
cm, lebar 120 cm dan tinggi 20 cm. Sebelum penyemaian, taburi pupuk urea&lt;br /&gt;
dan SP-36 masing-masing 10 gram/meter persegi. Benih disemai dengan&lt;br /&gt;
kerapatan 75 gram/meter persegi.&lt;br /&gt;
b) Padi Gogo&lt;br /&gt;
Benih langsung ditanam di ladang.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;
Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 5 cm. Semprotkan pestisida&lt;br /&gt;
pada hari ke 7 dan taburi pupuk urea 10 gram/meter persegi pada hari ke 10.&lt;br /&gt;
5) Pemindahan benih&lt;br /&gt;
Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 25-40 hari, berdaun 5-7&lt;br /&gt;
helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang&lt;br /&gt;
hama dan penyakit.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Pengolahan Lahan Padi Sawah&lt;br /&gt;
a) Bersihkan saluran air dan sawah dari jerami dan rumput liar.&lt;br /&gt;
b) Perbaiki pematang serta cangkul sudut petak sawah yang sukar dikerjakan&lt;br /&gt;
dengan bajak.&lt;br /&gt;
c) Bajak sawah untuk membalik tanah dan memasukkan bahan organik yang ada&lt;br /&gt;
di permukaan. Pembajakan pertama dilakukan pada awal musim tanam dan&lt;br /&gt;
dibiarkan 2-3 hari setelah itu dilakukan pembajakan ke dua yang disusul oleh&lt;br /&gt;
pembajakan ketiga 3-5 hari menjelang tanam.&lt;br /&gt;
d) Ratakan permukaan tanah sawah, dan hancurkan gumpalan tanah dengan cara&lt;br /&gt;
menggaru. Permukaan tanah yang rata dapat dibuktikan dengan melihat&lt;br /&gt;
permukaan air di dalam petak sawah yang merata.&lt;br /&gt;
e) Lereng yang curam dibuat teras memanjang dengan petak-petak yang dibatasi&lt;br /&gt;
oleh pematang agar permukaan tanah merata.&lt;br /&gt;
3) Pengolahan Lahan Padi Gogo&lt;br /&gt;
Waktu yang tepat adalah di akhir musim kemarau atau menjelang musim hujan.&lt;br /&gt;
Cara pengolahan tanah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Lahan dibersihkan dari tanaman penggangu dan rumput sambil memperbaiki&lt;br /&gt;
pematang dan saluran drainase.&lt;br /&gt;
b) Tanah dibajak dua kali pada kedalaman 25-30 cm, tanah dibalik.&lt;br /&gt;
c) Pemupukan organik diberikan pada waktu pembajakan yang kedua sebanyak&lt;br /&gt;
20 ton/ha.&lt;br /&gt;
d) Untuk menghaluskan tanah, tanah digaru lalu diratakan.&lt;br /&gt;
e) Tanah dibiarkan sampai hujan turun.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Pola Tanam&lt;br /&gt;
Pada areal beririgasi, lahan dapat ditanami padi 3 x setahun, tetapi pada sawah&lt;br /&gt;
tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija. Pergiliran&lt;br /&gt;
tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi, biasanya setelah satu tahun&lt;br /&gt;
menanam padi.&lt;br /&gt;
Untuk meningkatkan produktivitas lahan, seringkali dilakukan tumpang sari&lt;br /&gt;
dengan tanaman semusim lainnya, misalnya padi gogo dengan jagung atau padi&lt;br /&gt;
gogo di antara ubi kayu dan kacang tanah. Pada pertanaman padi sawah,&lt;br /&gt;
tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacangkacangan.&lt;br /&gt;
2) Penanaman Padi Sawah&lt;br /&gt;
Bibit ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 20 x 20 cm, 25 x 25 cm, 22 x 22&lt;br /&gt;
cm atau 30 x 20 cm tergantung pada varitas padi, kesuburan tanah dan musim.&lt;br /&gt;
Padi dengan jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih&lt;br /&gt;
lebar. Pada tanah subur jarak tanam lebih lebar. Jarak tanam di daerah&lt;br /&gt;
pegunungan lebih rapat karena bibit tumbuh lebih lambat. 2-3 batang bibit ditanam&lt;br /&gt;
pada kedalaman 3-4 cm.&lt;br /&gt;
3) Penanaman Padi Gogo&lt;br /&gt;
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan setelah dua atau tiga kali turun&lt;br /&gt;
hujan di bulan Oktober-November. Penanaman dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;
a) Di dalam lubang tanam&lt;br /&gt;
Kedalaman lubang 3-5 cm dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Satu lubang diisi&lt;br /&gt;
dengan 5-7 butir benih dan ditutup dengan pupuk kandang dan abu, debu atau&lt;br /&gt;
tanah halus.&lt;br /&gt;
b) Di dalam larikan&lt;br /&gt;
Terlebih dahulu dibuat alur tanam dengan bantuan kayu berujung runcing&lt;br /&gt;
dengan jarak antar aluran 60 cm dan kedalaman 3 cm. Benih ditaburkan ke&lt;br /&gt;
dalam aluran.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman Padi Sawah&lt;br /&gt;
Penyulaman tanaman yang mati dilakukan paling lama 14 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;
Bibit sulaman harus dari jenis yang sama yang merupakan bibit cadangan pada&lt;br /&gt;
persemaian bibit.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan Padi Sawah&lt;br /&gt;
Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang dikerjakan&lt;br /&gt;
sekaligus dengan menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu&lt;br /&gt;
pada saat berumur 3 dan 6 minggu dengan menggunakan landak (alat penyiang&lt;br /&gt;
mekanis yang berfungsi dengan cara didorong) atau cangkul kecil.&lt;br /&gt;
3) Pengairan Padi Sawah&lt;br /&gt;
Syarat penggunaan air di sawah:&lt;br /&gt;
a) Air berasal dari sumber air yang telah ditentukan Dinas Pengairan/ Dinas&lt;br /&gt;
Pertanian dengan aliran air tidak deras.&lt;br /&gt;
b) Air harus bisa menggenangi sawah dengan merata.&lt;br /&gt;
c) Lubang pemasukkan dan pembuangan air letaknya bersebrangan agar air&lt;br /&gt;
merata di seluruh lahan.&lt;br /&gt;
d) Air mengalir membawa lumpur dan kotoran yang diendapkan pada petak&lt;br /&gt;
sawah. Kotoran berfungsi sebagai pupuk.&lt;br /&gt;
e) Genangan air harus pada ketinggian yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;
Setelah tanam, sawah dikeringkan 2-3 hari kemudian diairi kembali sedikit demi&lt;br /&gt;
sedikit. Sejak padi berumur 8 hari genangan air mencapai 5 cm. Pada waktu padi&lt;br /&gt;
berumur 8-45 hari kedalaman air ditingkatkan menjadi 10 sampai dengan 20 cm.&lt;br /&gt;
Pada waktu padi mulai berbulir, penggenangan sudah mencapai 20-25 cm, pada&lt;br /&gt;
waktu padi menguning ketinggian air dikurangi sedikit-demi sedikit.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan Padi Sawah&lt;br /&gt;
Pupuk kandang 5 ton/ha diberikan ke dalam tanah dua minggu sebelum tanam&lt;br /&gt;
pada waktu pembajakan tanah sawah. Pupuk anorganik yang dianjurkan&lt;br /&gt;
Urea=300 kg/ha, TSP=75-175 kg/ha dan KCl=50 kg/ha.&lt;br /&gt;
Pupuk Urea diberikan 2 kali, yaitu pada 3-4 minggu, 6-8 minggu setelah tanam.&lt;br /&gt;
Urea disebarkan dan diinjak agar terbenam. Pupuk TSP diberikan satu hari&lt;br /&gt;
sebelum tanam dengan cara disebarkan dan dibenamkan. Pupuk KCl diberikan 2&lt;br /&gt;
kali yaitu pada saat tanam dan saat menjelang keluar malai.&lt;br /&gt;
5) Penyiangan dan Pembumbunan Padi Gogo&lt;br /&gt;
Dilakukan secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu&lt;br /&gt;
tanaman berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan&lt;br /&gt;
bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai.&lt;br /&gt;
6) Penyulaman Padi Gogo&lt;br /&gt;
Dilakukan pada umur 1-3 minggu setelah tanam.&lt;br /&gt;
7) Pemupukan Padi Gogo&lt;br /&gt;
a) Pupuk organik&lt;br /&gt;
Berasal dari tanaman pupuk hijau seperti Crotalaria juncea yang berumur 4-6&lt;br /&gt;
bulan atau dari pupuk kandang yang telah matang. Pupuk organik dibenamkan&lt;br /&gt;
ke tanah dengan dosisi 10-30 ton/ha.&lt;br /&gt;
b) Pupuk anorganik&lt;br /&gt;
Pupuk yang diberikan berupa 150-200 kg/ha Urea, 75 kg/ha TSP dan 50 kg/ha&lt;br /&gt;
KCl. Pupuk TSP dan KCl diberikan saat tanam dan urea pada 3-4 minggu dan 8&lt;br /&gt;
minggu setelah tanam.&lt;br /&gt;
8) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;
Penyemprotan pestisida dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dari intensitas&lt;br /&gt;
serangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama di Persemaian Basah (untuk padi sawah)&lt;br /&gt;
a) Hama di Persemaian Basah (untuk padi sawah)&lt;br /&gt;
1. Hama putih (Nymphula depunctalis)&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang&lt;br /&gt;
sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) pengaturan&lt;br /&gt;
air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami,&lt;br /&gt;
menggugurkan tabung daun; (2) penyemprotan insektisida Kiltop 50 EC atau&lt;br /&gt;
Tomafur 3G.&lt;br /&gt;
2. Padi trip (Trips oryzae)&lt;br /&gt;
Gejala: daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan,&lt;br /&gt;
pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi.&lt;br /&gt;
Pengendalian: insektisida Mipein 50 WP atau Dharmacin 50 WP.&lt;br /&gt;
3. Ulat tentara (Pseudaletia unipuncta, berwarna abu-abu; Spodoptera litura,&lt;br /&gt;
berwarna coklat hitam; S. exempta, bergaris kuning)&lt;br /&gt;
Gejala: ulat memakan helai daun, tanaman hanya tinggal tulang-tulang daun.&lt;br /&gt;
Pengendalian: cara mekanis dan insektisida Sevin, Diazenon, Sumithion dan&lt;br /&gt;
Agrocide.&lt;br /&gt;
Hama di Sawah&lt;br /&gt;
a) Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng&lt;br /&gt;
padi berpunggung putih (Sogatella furcifera).&lt;br /&gt;
Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling&lt;br /&gt;
ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus.&lt;br /&gt;
Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti&lt;br /&gt;
terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1)bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemportan insektisida&lt;br /&gt;
Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.&lt;br /&gt;
b) Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N.&lt;br /&gt;
impicticep).&lt;br /&gt;
Merusak dengan cara mengisap cairan daun.&lt;br /&gt;
Gejala: di tempat bekas hisapan akan tumbuh cendawan jelaga, daun tanaman kering dan mati. Tanaman ada yang menjadi kerdil, bagian pucuk berwarna kuning hingga kuning kecoklatan.Malai yang dihasilkan kecil.&lt;br /&gt;
c) Walang sangit (Leptocoriza acuta)&lt;br /&gt;
Menyerang buah padi yang masak susu.&lt;br /&gt;
Gejala: dan menyebabkan buah hampa&lt;br /&gt;
atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada&lt;br /&gt;
daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan&lt;br /&gt;
dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik; (2)&lt;br /&gt;
menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP,&lt;br /&gt;
Kiltop 50 EC.&lt;br /&gt;
d) Kepik hijau (Nezara viridula)&lt;br /&gt;
Menyerang batang dan buah padi.&lt;br /&gt;
Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas&lt;br /&gt;
tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan&lt;br /&gt;
tanaman terganggu.&lt;br /&gt;
Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telurtelurnya,&lt;br /&gt;
penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75&lt;br /&gt;
WP.&lt;br /&gt;
e) Penggerek batang padi terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza&lt;br /&gt;
innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu&lt;br /&gt;
(Sesamia inferens).&lt;br /&gt;
Dapat menimbulkan kerugian besar. Menyerang batang dan pelepah daun.&lt;br /&gt;
Gejala: pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut,&lt;br /&gt;
daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda&lt;br /&gt;
disebut hama “sundep” dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut “beluk”.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan&lt;br /&gt;
lingkungan, menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong&lt;br /&gt;
mati, membakar jerami; (2) menggunakan insektisida Curaterr 3G, Dharmafur 3G,&lt;br /&gt;
Furadan 3G, Karphos 25 EC, Opetrofur 3G, Tomafur 3G.&lt;br /&gt;
f) Hama tikus (Rattus argentiventer)&lt;br /&gt;
Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama&lt;br /&gt;
tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang&lt;br /&gt;
batang muda (1-2 bulan) dan buah.&lt;br /&gt;
Gejala: adanya tanaman padi yang roboh&lt;br /&gt;
pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.&lt;br /&gt;
Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami&lt;br /&gt;
seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan&lt;br /&gt;
teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan&lt;br /&gt;
jagung atau beras.&lt;br /&gt;
g) Burung (manyar Palceus manyar, gelatik Padda aryzyvora, pipit Lonchura&lt;br /&gt;
lencogastroides, peking L. puntulata, bondol hitam L. ferraginosa dan bondol putih&lt;br /&gt;
L. ferramaya).&lt;br /&gt;
Menyerang padi menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
a) Bercak daun coklat&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae).&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang pelepah, malai,&lt;br /&gt;
buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak&lt;br /&gt;
coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan&lt;br /&gt;
kecambah mati.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) merendam benih di dalam air panas,&lt;br /&gt;
pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air&lt;br /&gt;
raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan insektisida Rabcide 50 WP.&lt;br /&gt;
b) Blast&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Pyricularia oryzae.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang daun, buku pada malai&lt;br /&gt;
dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai&lt;br /&gt;
malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan&lt;br /&gt;
makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir; (2) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC,Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.&lt;br /&gt;
c) Penyakit garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Cercospora oryzae.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang daun dan pelepah.&lt;br /&gt;
Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna coklat&lt;br /&gt;
sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum,&lt;br /&gt;
mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida&lt;br /&gt;
Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.&lt;br /&gt;
d) Busuk pelepah daun&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang daun dan pelepah daun,&lt;br /&gt;
gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan&lt;br /&gt;
jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara&lt;br /&gt;
ekonomi.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini; (2)&lt;br /&gt;
menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25&lt;br /&gt;
WP dan Validacin 3 AS.&lt;br /&gt;
e) Penyakit fusarium&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Fusarium moniliforme.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang malai dan biji muda,&lt;br /&gt;
malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar&lt;br /&gt;
membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah.&lt;br /&gt;
Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan&lt;br /&gt;
merkuri.&lt;br /&gt;
f) Penyakit noda/api palsu&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Ustilaginoidea virens.&lt;br /&gt;
Gejala: malai dan buah padi dipenuhi&lt;br /&gt;
spora, dalam satu malai hanya beberap butir saja yang terserang. Penyakit tidak&lt;br /&gt;
menimbulkan kerugian besar.&lt;br /&gt;
Pengendalian: memusnahkan malai yang sakit, menyemprotkan fungisida pada malai sakit.&lt;br /&gt;
g) Penyakit kresek/hawar daun&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae)&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang daun&lt;br /&gt;
dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan&lt;br /&gt;
berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati. Serangan menyebabkan&lt;br /&gt;
gagal panen.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR&lt;br /&gt;
46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan; (2)&lt;br /&gt;
pengendalian kimia dengan bakterisida Stablex WP.&lt;br /&gt;
h) Penyakit bakteri daun bergaris/Leaf streak&lt;br /&gt;
Penyebab: bakteri X. translucens.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh.&lt;br /&gt;
Terdapat garis basah berwarna merah kekuningan pada helai daun sehingga&lt;br /&gt;
daun seperti terbakar.&lt;br /&gt;
Pengendalian: menanam varitas unggul, menghindari luka&lt;br /&gt;
mekanis, pergiliran varitas dan bakterisida Stablex 10 WP.&lt;br /&gt;
i) Penyakit kerdil&lt;br /&gt;
Penyebab: virus ditularkan oleh serangga Nilaparvata lugens.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuningkuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil. Penyakit ini sangat merugikan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada memberantas vektor.&lt;br /&gt;
j) Penyakit tungro&lt;br /&gt;
Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng Nephotettix impicticeps.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna,&lt;br /&gt;
daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda,&lt;br /&gt;
malai kecil dan tidak berisi.&lt;br /&gt;
Pengendalian: menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42.&lt;br /&gt;
Gulma&lt;br /&gt;
Gulma yang tumbuh di antara tanaman padi adalah rumput-rumputan seperti rumput&lt;br /&gt;
teki (Cytorus rotundus) dan gulma berdaun lebar. Pengendalian dengan cara&lt;br /&gt;
mekanis (mencabut, menyiangi), jarak tanam yang tepat dan penyemprotan&lt;br /&gt;
herbisida Basagran 50 ML, Difenex 7G, DMA 6 dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Padi siap panen: 95 % butir sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian&lt;br /&gt;
bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau, kadar air gabah 21-26 %, butir hijau&lt;br /&gt;
rendah.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Keringkan sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit tajam untuk memotong&lt;br /&gt;
pangkal batang, simpan hasil panen di suatu wadah atau tempat yang dialasi.&lt;br /&gt;
Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper&lt;br /&gt;
binder, panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar sedangkan dengan&lt;br /&gt;
Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar.&lt;br /&gt;
Perkiraan Produksi&lt;br /&gt;
Dengan penanaman dan pemeliharaan yang intensif, diharapkan produksi mencapai&lt;br /&gt;
7 ton/ha. Saat ini hasil yang didapat hanya 4-5 ton/ha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
a) Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (±60&lt;br /&gt;
jam orang untuk 1 hektar), dihempas/dibanting (± 16 jam orang untuk 1 hektar)&lt;br /&gt;
dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok,&lt;br /&gt;
waktu dapat dihemat. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya&lt;br /&gt;
memerlukan 7,8 jam orang untuk 1 hektar hasil panen.&lt;br /&gt;
b) Pembersihan. Bersihkan gabah dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower&lt;br /&gt;
manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %.&lt;br /&gt;
c) Jemur gabah selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14 %.&lt;br /&gt;
Secara tradisional padi dijemur di halaman. Jika menggunakan mesin pengering,&lt;br /&gt;
kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman.&lt;br /&gt;
d) Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras&lt;br /&gt;
karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan&lt;br /&gt;
beras (huller).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Standar produksi meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji,&lt;br /&gt;
syarat penandaan dan pengemasan.&lt;br /&gt;
Standar mutu gabah di Indonesia tercantum dalam SNI 0224-1987-0.&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar mutu&lt;br /&gt;
a) Persyaratan kualitatif&lt;br /&gt;
1. Bebas hama dan penyakit.&lt;br /&gt;
2. Bebas bau busuk, asam atau bau-bau lainnya.&lt;br /&gt;
3. Bebas dari bahan-bahan kimia seperti sisa-sisa pupuk, insektisida, fungisida&lt;br /&gt;
dan bahan kimia lainnya.&lt;br /&gt;
4. Gabah tidak boleh panas.&lt;br /&gt;
b) Persyaratan kuantitatif&lt;br /&gt;
1. Kadar air maksimum (%): mutu I=14,0; mutu II=14,0; mutu III=14,0.&lt;br /&gt;
2. Gabah hampa maksimum (%): mutu I=1,0; mutu II=2,0; mutu III=3,0.&lt;br /&gt;
3. Butir rusak dan butir kuning maksimum (%): mutu I=2,0; mutu II=5,0; mutu&lt;br /&gt;
III=7,0.&lt;br /&gt;
4. Butir rusak dan gabah muda maksimum (%): mutu I=1,0; mutu II=5,0; mutu&lt;br /&gt;
III=10,0.&lt;br /&gt;
5. Butir merah maksimum (%): mutu I=1,0; mutu II=2,0; mutu III=4,0.&lt;br /&gt;
6. Benda asing maksimum (%): mutu I tidak ada; mutu II=0,5; mutu III=1,0.&lt;br /&gt;
7. Gabah varientas lain maksimum (%): mutu I=2,0; mutu II=5,0; mutu III=10,0.&lt;br /&gt;
Tingkat mutu gabah rendah (sample grade) adalah tingkat mutu gabah tidak&lt;br /&gt;
memenuhi persyaratan tingkat mutu I,II dan III tidak memenuhi persyaratan kualitatif.&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Sedangkan untuk cara pengujian mutu dan pengambilan contoh terdapat dalam&lt;br /&gt;
“Petunjuk pengujian mutu dan pengambilan contoh “ yang disajikan tersendiri dalam&lt;br /&gt;
pelaksanaan standar (implementasi).&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Pengemasan dengan karung harus mempunyai persyaratan bersih dan dijahit&lt;br /&gt;
mulutnya, berat netto maksimum 75 kg dan tahan mengalami “handling” baik waktu&lt;br /&gt;
pemuatan maupun pembongkaran.&lt;br /&gt;
Di bagian luar karung (kecuali dalam bentuk curah) ditulis dengan bahan yang aman&lt;br /&gt;
yang tidak luntur dan jelas terbaca antara lain:&lt;br /&gt;
a) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;
b) Daerah asal produksi.&lt;br /&gt;
c) Nama dan mutu barang.&lt;br /&gt;
d) Nama perusahaan/pengekspor.&lt;br /&gt;
e) Berat bruto.&lt;br /&gt;
f) Berat netto.&lt;br /&gt;
g) Nomor karung.&lt;br /&gt;
h) Tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, Proyek&lt;br /&gt;
PEMD, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>P A L A ( Myristica Fragan Haitt )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/p-l-myristica-fragan-haitt.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-9089121851793063480</guid><description>Pala (Myristica Fragan Haitt) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli&lt;br /&gt;
Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala&lt;br /&gt;
menyebar ke Pulau Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke Tiongkok yang&lt;br /&gt;
melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295 pembudidayaan tanaman pala&lt;br /&gt;
terus meluas sampai Sumatera.&lt;br /&gt;
Tanaman pala memiliki beberapa jenis, antara lain:&lt;br /&gt;
1) Myristica fragrans Houtt, &lt;br /&gt;
2) Myristica argentea Ware, &lt;br /&gt;
3) Myristica fattua Houtt, &lt;br /&gt;
4) Myristica specioga Ware, &lt;br /&gt;
5) Myristica Sucedona BL, &lt;br /&gt;
6) Myristica malabarica Lam.&lt;br /&gt;
Jenis pala yang banyak diusahakan adalah terutama Myristica fragrans, sebab&lt;br /&gt;
jenis pala ini mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi daripada jenis lainnya. Disusul&lt;br /&gt;
jenis Myristica argentea dan Myristica fattua. Jenis Myristica specioga, Myristica&lt;br /&gt;
sucedona, dan Myristica malabarica produksinya rendah sehingga nilai ekonomisnya&lt;br /&gt;
pun rendah pula.&lt;br /&gt;
MANFAAT PALA DIANTARANYA&lt;br /&gt;
Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil&lt;br /&gt;
minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan&lt;br /&gt;
kosmetik.&lt;br /&gt;
1) Kulit batang dan daun&lt;br /&gt;
Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” hanya dimanfaatkan sebagai&lt;br /&gt;
kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri&lt;br /&gt;
2) Fuli&lt;br /&gt;
Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti&lt;br /&gt;
anyaman pala, disebut “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak&lt;br /&gt;
dijual didalam negeri.&lt;br /&gt;
3) Biji pala&lt;br /&gt;
Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempahrempah.&lt;br /&gt;
Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa&lt;br /&gt;
nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan&lt;br /&gt;
usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntah-muntah&lt;br /&gt;
dan lain-lainya.&lt;br /&gt;
4) Daging buah pala&lt;br /&gt;
Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah&lt;br /&gt;
diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala,&lt;br /&gt;
marmelade, selai pala, kKristal daging buah pala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Tanaman pala juga membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang&lt;br /&gt;
tinggi dan agak merata/tidak banyak berubah sepanjang tahun.&lt;br /&gt;
2) Suhu udara lingkungan 20-30 derajat C sedangkan, curah hujan terbagi secara&lt;br /&gt;
teratur sepanjang tahun. Tanaman pala tergolong jenis tanaman yang tahan&lt;br /&gt;
terhadap musim kering selama beberapa bulan.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur, subur dan sangat cocok pada&lt;br /&gt;
tanah vulkasnis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala&lt;br /&gt;
tumbuh baik di tanah yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan&lt;br /&gt;
bahan organis yang tinggi.&lt;br /&gt;
2) Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 – 6,5. Tanaman&lt;br /&gt;
ini peka terhadap gangguan air, maka untuk tanaman ini harus memiliki saluran&lt;br /&gt;
drainase yang baik.&lt;br /&gt;
3) Pada tanah-tanah yang miring seperti pada lereng pegunungan, agar tanah tidak&lt;br /&gt;
mengalami erosi sehingga tingkat kesuburannya berkurang, maka perlu dibuat&lt;br /&gt;
teras-teras melintang lereng.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m&lt;br /&gt;
dpl. Sedangkan pada ketinggian di atas 700 m, produksitivitas tanaman akan rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
1) Perbanyakan Cara Generatif (Biji)&lt;br /&gt;
a) Pemilihan Biji&lt;br /&gt;
Perbanyakan dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam&lt;br /&gt;
hal ini biji yang digunakan berasal dari:&lt;br /&gt;
1. Biji sapuan: biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas&lt;br /&gt;
dan pasti mengenai pohon induknya.&lt;br /&gt;
2. Biji terpilih: biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas.&lt;br /&gt;
Dalam hal ini ada 3 macam biji terpilih, yaitu: (1) biji legitiem, yaitu biji yang&lt;br /&gt;
diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui); (2) biji&lt;br /&gt;
illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal&lt;br /&gt;
putiknya jelas diketahui; (3) biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil&lt;br /&gt;
persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih.&lt;br /&gt;
Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang&lt;br /&gt;
benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih&lt;br /&gt;
hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat: (1) pohon&lt;br /&gt;
dewasa yang tumbuhnya sehat; (2) mampu berproduksi tinggi dan kwalitasnya&lt;br /&gt;
baik.&lt;br /&gt;
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor: KB.&lt;br /&gt;
010/42/SK/ DJ. BUN/9/1984, telah ditetapkan dan dipilih pohon induk yang&lt;br /&gt;
dapat dipergunakan sebagai sumber benih yang tersebar di 4 propinsi, yaitu:&lt;br /&gt;
Sumatera Barat, Jawa Barat, Sulawesi Utara dan Maluku. Biji-biji dari pohon&lt;br /&gt;
induk terpilih yang akan digunakan sebagai benih harus diseleksi, yaitu dipilih&lt;br /&gt;
biji-biji yang ukurannya besar dengan bobot minimum 50 gram/biji, berbentuk&lt;br /&gt;
agak bulat dan simetris, kulit biji berwarna coklat kehitam-hitaman dan&lt;br /&gt;
mengkilat, tidak terserang oleh hama dan penyakit.&lt;br /&gt;
Buah pala yang dipetik dari pohon dan akan dijadikan benih harus segera&lt;br /&gt;
diambil bijinya, paling lambat dalam waktu 24 jam biji-biji tersebut harus sudah&lt;br /&gt;
disemaikan. Hal ini disebabkan oleh sifat biji pala yang daya berkecambahnya&lt;br /&gt;
dapat cepat menurun.&lt;br /&gt;
b) Penyemaian&lt;br /&gt;
Tanah tempat penyemaian harus dekat sumber air untuk lebih memudahkan&lt;br /&gt;
melakukan penyiraman pesemaian. Tanah yang akan dipakai untuk&lt;br /&gt;
penyemaian harus dipilih tanah yang subur dan gembur. Tanah diolah dengan&lt;br /&gt;
cangkul dengan kedalaman olakan sekitar 20 cm dan dibuat bedengan dengan&lt;br /&gt;
ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang&lt;br /&gt;
akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah&lt;br /&gt;
yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi&lt;br /&gt;
(sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah&lt;br /&gt;
bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil&lt;br /&gt;
yang berfungsi sebagai saluran drainase.&lt;br /&gt;
Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran&lt;br /&gt;
tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh&lt;br /&gt;
ini adalah agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai&lt;br /&gt;
menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu&lt;br /&gt;
terlindungi oleh peneduh.&lt;br /&gt;
Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya&lt;br /&gt;
merata dan tidak sampai terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji&lt;br /&gt;
pala disemaikan dengan membenamkan biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm&lt;br /&gt;
di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-biji adalah&lt;br /&gt;
15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih&lt;br /&gt;
pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah&lt;br /&gt;
menjaga tanah bedengan tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan&lt;br /&gt;
menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari gulma).&lt;br /&gt;
Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit&lt;br /&gt;
pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi&lt;br /&gt;
media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk&lt;br /&gt;
kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus&lt;br /&gt;
dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak.&lt;br /&gt;
Polybag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang&lt;br /&gt;
terlindung dari sinar matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi&lt;br /&gt;
atap pelindung berupa anyaman daun kelapa/jerami.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan dalam polybag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya&lt;br /&gt;
tetap bersih dari gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap&lt;br /&gt;
basah namun tidak tergantung air. Agar tidak tergenang air, bagian bawahnya&lt;br /&gt;
dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/air hujan.&lt;br /&gt;
Bibit-bibit tersebut dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk&lt;br /&gt;
TSP dan urea masing-masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di&lt;br /&gt;
atas permukaan media tumbuh kemudian langsung disiram. Pemupukan&lt;br /&gt;
dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan pada akhir&lt;br /&gt;
musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3–5 batang cabang, maka bibit&lt;br /&gt;
ini dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.&lt;br /&gt;
2) Perbanyakan Cara Cangkok (Marcoteren)&lt;br /&gt;
Perbanyakan tanaman pala dengan cara mencangkok bertujuan untuk&lt;br /&gt;
mendapatkan tanaman yang mempunyai sifat-sifat asli induknya (pohon yang&lt;br /&gt;
dicangkok).&lt;br /&gt;
Hal yang diperhatikan dalam memilih batang/cabangyang akan dicangkok adalah&lt;br /&gt;
dari pohon yang tumbuhnya sehat dan mampu memproduksi buah cukup banyak,&lt;br /&gt;
pohon yang sudah berumur 12–15 tahun. Batang/cabang yang sudah berkayu,&lt;br /&gt;
tetapi tidak terlalu tua/terlalu muda.&lt;br /&gt;
Cara mencangkok (marcotern):&lt;br /&gt;
a) Batang/cabang dikelupas kulitnya dengan pisau tajam secara melingkar&lt;br /&gt;
sepanjang 3–4 cm. Posisi cangkokan sekitar 25 cm dari pangkal&lt;br /&gt;
batang/cabang. Lendir/kambium yang melapisi kayu dihilangkan dengan cara&lt;br /&gt;
disisrik kambiumnya, batang yang akan dicangkok tersebut dibiarkan selama&lt;br /&gt;
beberapa jam sampai kayunya yang tampak itu kering benar.&lt;br /&gt;
b) Ambillah tanah yang gembur dan sudah dicampuri dengan pupuk kandang&lt;br /&gt;
dalam keadaan basah dan menggumpal. Kemudian tanah tersebut&lt;br /&gt;
ditempelkan/dibalutkan pada bagian batang yang telah dikuliti berbentuk&lt;br /&gt;
gundukan tanah. Gundukan tanah tersebut kemudian dibalut dengan sabut&lt;br /&gt;
kelapa/plastik. Agar tanah dapat melekat erat pada batang yang sudah dikuliti,&lt;br /&gt;
maka sabut kelapa/plastik pembalut itu diikat dengan tali secara kuat pada&lt;br /&gt;
bagian bawa, bagian tengah dan bagian atas. Bila menggunakan pembalut dari&lt;br /&gt;
palstik, maka bagian atas dan bagian bawah harus diberi lubang kecil untuk&lt;br /&gt;
memasukkan air siraman (lubang bagian atas) dan sebagai saluran drainase&lt;br /&gt;
(lubang bagian bawah).&lt;br /&gt;
Bila pencangkokkan ini berhasil dengan baik, maka setelah 2 bulan akan tumbuh&lt;br /&gt;
perakarannya. Jika perakaran cangkokkan itu sudah siap untuk dipotong dan&lt;br /&gt;
dipindahkan keranjang atau ditanam langsung di lapangan.&lt;br /&gt;
3) Perbanyakan Cara Peyambungan (Enten Dan Okulasi)&lt;br /&gt;
Sistem penyambungan ini adalah menempatkan bagian tanaman yang dipilih&lt;br /&gt;
pada bagian tanaman lain sebagai induknya sehingga membentuk satu tanaman&lt;br /&gt;
bersama. Sistem penyambungan ini ada dua cara, yakni:&lt;br /&gt;
a) Penyambungan Pucuk (entern, grafting)&lt;br /&gt;
Penyambungan pucuk ini ada tiga macam yaitu :&lt;br /&gt;
1. Enten celah (batang atas dan batang bawah sama besar)&lt;br /&gt;
2. Enten pangkas atau kopulasi&lt;br /&gt;
3. Enten sisi (segi tiga)&lt;br /&gt;
b) Penyambungan mata (okulasi)&lt;br /&gt;
Penyambungan mata ada tiga macam yaitu :&lt;br /&gt;
1. Okulasi biasa (segi empat)&lt;br /&gt;
2. Okulasi “T”&lt;br /&gt;
3. Forkert&lt;br /&gt;
Setelah 3-4 bulan sejak penyambungan dengan sistem enten atau okulasi itu&lt;br /&gt;
dilakukan dan jika telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada&lt;br /&gt;
penyambungan enten) dan mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman&lt;br /&gt;
sudah dapat ditanam di lapangan.&lt;br /&gt;
4) Perbanyakan Cara Penyusuan (Inarching Atau Approach Grafting)&lt;br /&gt;
Dalam sistem penyusuan ini, ukuran batang bawah dan batang atas harus sama&lt;br /&gt;
besar (kurang lebih besar jari tangan orang dewasa). Cara melakukannya adalah&lt;br /&gt;
sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Pilihlah calon bawah dan batang atas yang mempunyai ukuran sama.&lt;br /&gt;
b) Lakukanlah penyayatan pada batang atas dan batang bawah dengan bentuk&lt;br /&gt;
dan ukuran sampai terkena bagian dari kayu.&lt;br /&gt;
c) Tempelkan batang bawah tersebut pada batang atas tepat pada bekas sayatan&lt;br /&gt;
tadi dan ikatlah pada batang atas tepat pada bekas sayatan dan ikat dengan&lt;br /&gt;
kuat tali rafia.&lt;br /&gt;
Setelah beberapa waktu, kedua batang tersebut akan tumbuh bersama-sama&lt;br /&gt;
seolah-olah batang bawah menyusu pada batang atas sebagai induknya. Dalam&lt;br /&gt;
waktu 4–6 minggu, penyusuan ini sudah dapat dilihat hasilnya. Jika batang atas&lt;br /&gt;
daun-daunnya tidak layu, maka penyusuan itu dapat dipastikan berhasil. Setelah 4&lt;br /&gt;
bulan, batang bagian bawah dan bagian atas sudah tidak diperlukan lagi dan&lt;br /&gt;
boleh dipotong serta dibiarkan tumbuh secara sempurna. Jika telah tumbuh&lt;br /&gt;
sempurna, maka bibit dari hasil penyusuan tersebut sudah dapat ditanam di&lt;br /&gt;
lapangan.&lt;br /&gt;
5) Perbanyakan Cara Stek&lt;br /&gt;
Tanaman pala dapat diperbanyak dengan stek tua dan muda yang dengan 0,5%&lt;br /&gt;
larutan hormaon IBA. Penyetekan menggunakan hormon IBA 0,5%, biasanya&lt;br /&gt;
pada umur 4 bulan setelah dilakukan penyetekan sudah keluar akar-akarnya.&lt;br /&gt;
Kemudian tiga bulan berikutnya sudah tumbuh perakaran yang cukup banyak.&lt;br /&gt;
Percobaan lain adalah dengan menggunakan IBA 0,6% dalam bentuk kapur.&lt;br /&gt;
Penyetekan dengan menggunakan IBA 0,6%, biasanya setelah 8 minggu sudah&lt;br /&gt;
terbentuk kalus di bagian bawah stek. Kemudian jika diperlukan untuk kedua&lt;br /&gt;
kalinya dengan larutan IBA 0,5%, maka setelah 9 bulan kemudian sudah tampak&lt;br /&gt;
perakaran.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
Kebun untuk tanaman pala perlu disiapkan sebaik-baiknya, di atas lahan masih&lt;br /&gt;
terdapat semak belukar harus dihilangkan. Kemudian tanah diolah agar menjadi&lt;br /&gt;
gembur sehingga aerasi (peredaran udara dalam tanah) berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;
Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada musim kemarau supaya proses&lt;br /&gt;
penggemburan tanah itu dapat lebih efektif.&lt;br /&gt;
Pengolahan tanah pada kondisi lahan yang miring harus dilakukan menurut arah&lt;br /&gt;
melintang lereng. Pengolahan tanah dengan cara ini akan membentuk alur yang&lt;br /&gt;
dapat mencegah aliran permukaan tanah/menghindari erosi.&lt;br /&gt;
Pada tanah yang kemiringan 20% perlu dibuat teras-teras dengan ukuran lebar&lt;br /&gt;
sekitar 2 m, dapat pula dibuat teras tersusun dengan penanaman sistem kountur,&lt;br /&gt;
yaitu dapat membentuk teras guludan, teras kredit/teras bangku.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
Penanaman bibit dilakukan pada awal musim hujan. Hal ini untuk mencegah agar&lt;br /&gt;
bibit tanaman tidak mati karena kekeringan, bibit tanaman yang berasal dari biji dan&lt;br /&gt;
sudah mempunyai 3–5 batang cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan&lt;br /&gt;
kondisi lingkungan sehingga pertumbuhannya dapat baik.&lt;br /&gt;
Penanaman yang berasal dari biji dilakukan dengan cara sebagai berikut: polybag&lt;br /&gt;
(kantong pelastik) di lepaskan terlebih dahulu, bibit dimasukkan kedalam lubang&lt;br /&gt;
tanam dan permukaan tanah pada lubang tanam tersebut dibuat sedikit dibawah&lt;br /&gt;
permukaan lahan kebun. Setelah bibit-bibit tersebut ditanam, kemudian lubang&lt;br /&gt;
tanam tersebut disiram dengan air supaya media tumbuh dalam lubang menjadi&lt;br /&gt;
basah.&lt;br /&gt;
Bila bibit pala yang berasal dari cangkok, maka sebelum ditanam daun-daunnya&lt;br /&gt;
harus dikurangi terlebih dahulu untuk mencegah penguapan yang cepat. Lubang&lt;br /&gt;
tanam untuk bibit pala yang berasal dari cangkang perlu dibuat lebih dalam. Hal ini&lt;br /&gt;
dimaksudkan agar setelah dewasa tanaman tersebut tidak roboh karena sistem&lt;br /&gt;
akaran dari bibit cangkokan tidak memiliki akar tunggang. Setelah bibit di tanam,&lt;br /&gt;
lubang tanam harus segera disiram supaya media tumbuhan menjadi basah.&lt;br /&gt;
Penanaman bibit pala yang berasal dari enten dan okulasi dapat dilakukan seperti&lt;br /&gt;
menanam bibit-bibit pala yang berasal dari biji. Lubang tanaman perlu dipersiapkan&lt;br /&gt;
satu bulan sebelum bibit ditanam. Hal ini bertujuan agar tanah dalam lubangan&lt;br /&gt;
menjadi dayung (tidak asam), terutama jika pembuatannya pada musim hujan,&lt;br /&gt;
lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm untuk jenis tanah ringan dan&lt;br /&gt;
ukuran 80x80x80 cm untuk jenis tanah liat.&lt;br /&gt;
Dalam menggali lubang tanam, lapisan tanah bagian atas harus dipisahkan dengan&lt;br /&gt;
lapisan tanah bagian bawah, sebab kedua lapisan tanah ini mengandung unsur yang&lt;br /&gt;
berbeda. Setelah beberapa waktu, tanah galian bagian bawah di masukkan lebih&lt;br /&gt;
dahulu, kemudian menyusul tanah galian bagian atas yang telah dicampur dengan&lt;br /&gt;
pupuk kandang secukupnya.&lt;br /&gt;
Jarak tanam yang baik untuk tanaman pala adalah: pada lahan datar adalah 9x10&lt;br /&gt;
m. Sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9x9 m.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
Untuk mencegah kerusakan atau bahkan kematian tanaman, maka perlu di&lt;br /&gt;
usahakan tanaman pelindung yang pertumbuhannya cepat, misalnya tanaman jenis&lt;br /&gt;
Clerisidae atau jauh sebelumnya bibit pala di tanam, lahan terlebih dahulu di tanami&lt;br /&gt;
jenis tanaman buah-buahan/tanaman kelapa.&lt;br /&gt;
1) Penyulaman harus dilakukan dilakukan jika bibit tanaman pala itu&lt;br /&gt;
mati/pertumbuhannya kurang baik.&lt;br /&gt;
2) Pada akhir musim hujan, setelah pemupukan sebaiknya segera dilakukan&lt;br /&gt;
penyiraman agar pupuk dapat segera larut dan diserap akar. Pada waktu tanaman&lt;br /&gt;
masih muda, pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik (pupuk kandang)&lt;br /&gt;
dan pupuk anorganik ( pupuk kimia sama dengan pupuk buatan) yaitu berupa&lt;br /&gt;
TSP, Urea dan KCl. Namun jika tanaman sudah dewasa/sudah tua, pemupukan&lt;br /&gt;
yang dan lebih efektif adalah pupuk anorganik. Pemupukan dilakukan dua kali&lt;br /&gt;
dalam setahun, yaitu pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan.&lt;br /&gt;
3) Sebelum pemupukan dilakukan, hendaknya dibuat parit sedalam 10 cm dan lebar&lt;br /&gt;
20 cm secara melingkar di sekitar batang pokok tanaman selebar kanopi (tajuk&lt;br /&gt;
pohon), kemudian pupuk TSP, Urea dan KCl ditabur dalam parit tersebut secara&lt;br /&gt;
merata dan segera ditimbun tanah dengan rapat. Jika pemupukan di lakukan pada&lt;br /&gt;
awal musim hujan, setelah dilakuakan pada akhir musim hujan, maka untuk&lt;br /&gt;
membantu pelarutan pupuk dapat dilakukan penyiraman, tetapi jika kondisinya&lt;br /&gt;
masih banyak turun hujan tidak perlu dilakukan penyiraman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Penggerek batang (Batocera sp)&lt;br /&gt;
Tanaman pala yang terserang oleh hama ini dalam waktu tertentu dapat&lt;br /&gt;
mengalami kematian.&lt;br /&gt;
Gejala: terdapat lubang gerekan pada batang diameter 0,5–1 cm, di mana didapat serbuk kayu.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) menutup lubang gerekan&lt;br /&gt;
dengan kayu/membuat lekukan pada lubang gerekan dan membunuh hamanya.&lt;br /&gt;
(2) memasukkan/menginjeksikan (menginfuskan) racun serangga seperti Dimicron&lt;br /&gt;
199 EC dan Tamaran 50 EC sistemik ke dalam batang pohon pala menggunakan&lt;br /&gt;
alat bor, dosis yang dimasukkan sebanyak 15–20 cc dan lubang tersebut segera&lt;br /&gt;
ditutup kembali.&lt;br /&gt;
2) Anai-Anai / Rayap&lt;br /&gt;
Hama anai-anai mulai menyerang dari akar tanaman, masuk ke pangkal batang&lt;br /&gt;
dan akhirnya sampai ke dalam batang.&lt;br /&gt;
Gejala: terjadinya bercak hitam pada permukaan batang, jika bercak hitam itu dikupas, maka sarang dan saluran yang dibuat oleh anai-anai (rayap) akan kelihatan. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida pada tanah di sekitar batang tanaman yang diserang, insektisida disemprotkan pada bercak hitam supaya dapat merembes kedalam sarang dan saluran-saluran yang dibuat oleh anai-anai tersebut.&lt;br /&gt;
3) Kumbang Aeroceum fariculatus&lt;br /&gt;
Hama kumbang berukuran kecil dan sering menyerang biji pala. Imagonnya&lt;br /&gt;
menggerek biji dan meletakkan telur di dalamnya. Di dalam biji tersebut, telur akan&lt;br /&gt;
menetas dan menjadi larva yang dapat menggerek biji pala secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: mengeringkan secepatnya biji pala setelah diambil dari buahnya.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Kanker batang&lt;br /&gt;
Gejala: terjadinya pembengkakan batang, cabang atau ranting tanaman yang&lt;br /&gt;
diserang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: membersihkan kebun dari semak belukar, memangkas&lt;br /&gt;
bagian yang terserang dan dibakar.&lt;br /&gt;
2) Belah putih&lt;br /&gt;
Penyebab: cendawan coreneum sp. yang dapat menyebabkan buah terbelah dan&lt;br /&gt;
gugur sebelum tua.&lt;br /&gt;
Gejala: terdapat bercak-bercak kecil berwarna ungu kecoklatcoklatan&lt;br /&gt;
pada bagian kuliat buah. Bercak-bercak tersebut membesar dan&lt;br /&gt;
berwarna hitam.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) membuat saluran pembuangan air (drainase)&lt;br /&gt;
yang baik; (2) pengasapan dengan belerang di bawah pohon dengan dosis 100&lt;br /&gt;
gram/tanaman.&lt;br /&gt;
3) Rumah Laba-Laba&lt;br /&gt;
Menyerang cabang, ranting dan daun.&lt;br /&gt;
Gejala: daun mengering dan kemudian&lt;br /&gt;
diikuti mengeringnya ranting dan cabang.&lt;br /&gt;
Pengendalian: memangkas cabang,&lt;br /&gt;
ranting dan daun yang terserang, kemudian dibakar.&lt;br /&gt;
4) Busuk buah kering&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Stignina myristicae.&lt;br /&gt;
Gejala: berupa bercak berwarna coklat,&lt;br /&gt;
bentuk bulat dan cekung dengan ukuran bercak bervariasi, yakni dari yang&lt;br /&gt;
berukuran sangat kecil sampai sekitar 3 cm; pada kulit buah tampak gugusangugusan&lt;br /&gt;
jamur berwarna hijau kehitam-hitaman dan akhirnya bercak-bercak&lt;br /&gt;
tersebut terjadi kering dan keras.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) kondisi kelembaban di sekitar&lt;br /&gt;
pohon pala perlu dikurangi, misalnya dengan mengurang kerimbunan pohonpohon&lt;br /&gt;
lain di sekitar pala dengan memangkas sebagian cabang-cabangnya yang&lt;br /&gt;
berdaun rimbun, kemudian tanah di sekitar pohon dibersihkan, tidak terdapat&lt;br /&gt;
gulma atau tanaman-tanaman perdu lainnya; (2) buah pala dan daun yang&lt;br /&gt;
terserang penyakit ini segera dipetik dan dipendam dalam tanah; (3) dapat&lt;br /&gt;
dilakukan dengan penyemprotan fungisida secara yang rutin, yakni 2–4 minggu&lt;br /&gt;
sekali, baik pada saat ada serangan maupun tidak ada serangan dari penyakit ini,&lt;br /&gt;
fungsida yang dapat digunakan adalah yang mengandung bahan aktif mancozeb,&lt;br /&gt;
karbendazim dan benomi.&lt;br /&gt;
5) Busuk buah basah&lt;br /&gt;
Penyebab: jamur Collectotrichum gloeosporiodes, yang menyerang atau&lt;br /&gt;
menginfeksi buah yang luka.&lt;br /&gt;
Gejala: buah pala tampak busuk warna coklat yang&lt;br /&gt;
sifatnya lunak dan basah; gejala ini timbul pada sekitar tangkai buah yang melekat&lt;br /&gt;
pada buah sehingga buah mudah gugur.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan busuk buah&lt;br /&gt;
kering.&lt;br /&gt;
6) Gugur buah muda&lt;br /&gt;
Gejala: adanya buah muda yang gugur.&lt;br /&gt;
Penyebab: penyakit ini belum diketahui dengan jelas.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dengan mengkombinasikan (memadukan) antara&lt;br /&gt;
pemupukan dan pemberian fungisida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun&lt;br /&gt;
telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan&lt;br /&gt;
pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi&lt;br /&gt;
sampai umur 60–70 tahun. Buah pala dapat dipetik (dipanen) setelah cukup masak&lt;br /&gt;
(tua), yakni yaitu sekitar 6–7 bulan sejak mulai bunga dengan tanda-tanda buah pala&lt;br /&gt;
yang sudah masak adalah jika sebagian dari buah tersebut tersebut murai merekah&lt;br /&gt;
(membelah) melalui alur belahnya dan terlihat bijinya yang diselaputi fuli warna&lt;br /&gt;
merah. Jika buah yang sudah mulai merekah dibiarkan tetap dipohon selama 2-3&lt;br /&gt;
hari, maka pembelahan buah menjadi sempurna (buah berbelah dua) dan bijinya&lt;br /&gt;
akan jatuh di tanah.&lt;br /&gt;
Di Daerah Banda, dikenal 3 macam waktu panen tiap tahun, yaitu: (1) panen&lt;br /&gt;
raya/besar (pertengahan musim hujan); panen lebih sedikit (awal musim hujan) dan&lt;br /&gt;
panen kecil (akhir musim hujan). Panen buah pala pada permulaan musim hujan&lt;br /&gt;
memberikan hasil paling baik (berkualitas tinggi) dan bunga pala (fuli) yang paling&lt;br /&gt;
tebal.&lt;br /&gt;
Cara Pemetikan&lt;br /&gt;
Pemetikan buah pala dapat dilakukan dengan galah bambu yang ujungnya&lt;br /&gt;
diberi/dibentuk keranjang (jawa: sosok). Selain itu dapat pula dilakukan dengan&lt;br /&gt;
memanjat dan memilih serta memetik buah-buah pala yang sudah masak benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pemisahan Bagian Buah&lt;br /&gt;
Setelah buah-buah pala masak dikumpulkan, buah yang sudah masak dibelah dan&lt;br /&gt;
antara daging buah, fuli dan bijinya dipisahkan. Setiap bagian buah pala tersebut&lt;br /&gt;
ditaruh pada wadah yang kondisinya bersih dan kering. Biji-biji yang terkumpul perlu&lt;br /&gt;
disortir dan dipilah-pilahkan menjadi 3 macam yaitu: (1) yang gemuk dan utuh; (2)&lt;br /&gt;
yang kurus atau keriput; dan (3) yang cacat.&lt;br /&gt;
Pengeringan Biji&lt;br /&gt;
Biji pala yang diperoleh dari proses ke-I tersebut segera dijemur untuk menghindari&lt;br /&gt;
serangan hama dan penyakit. Biji dijemur dengan panas matahari pada lantai&lt;br /&gt;
jemur/tempat lainnya. Pengeringan yang terlalu cepat dengan panas yang lebih&lt;br /&gt;
tinggi akan mengakibatkan biji pala pecah. Biji pala yang telah kering ditandai&lt;br /&gt;
dengan terlepas bagian kulit biji (cangkang), jika digolongkan akan kocak dan kadar&lt;br /&gt;
airnya sebesar 8–10 %.&lt;br /&gt;
Biji-biji pala yang sudah kering, kemudian dipukul dengan kayu supaya kulit buijinya&lt;br /&gt;
pecah dan terpisah dengan isi biji. Isi biji yang telah keluar dari cangkangnya&lt;br /&gt;
tersebut disortir berdasarkan ukuran besar kecilnya isi biji:&lt;br /&gt;
a) Besar: dalam 1 kg terdapat 120 butir isi biji.&lt;br /&gt;
b) Sedang: dalam 1 kg terdapat sekitar 150 butir isi biji.&lt;br /&gt;
c) Kecil: dalam 1 kg terdapat sekitar 200 butir isi biji.&lt;br /&gt;
Isi biji yang sudah kering, kemudian dilakukan pengapuran. Pengapuran biji pala&lt;br /&gt;
yang banyak dilakukan adalah pengapuran secara basah, yaitu:&lt;br /&gt;
a) Kapur yang sudah disaring sampai lembut dibuat larutan kapur dalam bak&lt;br /&gt;
besar/bejana (seperti yang digunakan untuk mengapur atau melabur&lt;br /&gt;
dinding/tembok).&lt;br /&gt;
b) Isi biji pala ditaruh dalam keranjang kecil dan dicelupkan dalam larutan kapur&lt;br /&gt;
sampai 2–3 kali dengan digoyang-goyangkan demikian rupa sehingga air kapur&lt;br /&gt;
menyentuh semua isi biji.&lt;br /&gt;
c) Selanjutnya isi biji itu diletakkan menjadi tumpukan dalam gudang untuk dianginanginkan&lt;br /&gt;
sampai kering.&lt;br /&gt;
Setelah proses pengapuran perlu diadakan pemeriksaaan terakhir untuk mencegah&lt;br /&gt;
kemungkinan biji-biji pala tersebut cacat, misalnya pecah yang sebelumnya tidak&lt;br /&gt;
diketahui.&lt;br /&gt;
Pengawetan biji pala juga dapat dilakukan dengan teknologi baru, yakni dengan&lt;br /&gt;
fumigasi dengan menggunakan zat metil bromida (CH3 B1) atau karbon bisulfida&lt;br /&gt;
(CS2)&lt;br /&gt;
Pengeringan Bunga Pala (Fuli)&lt;br /&gt;
Fuli dijemur pada panas matahari secara perlahan-lahan selama beberapa jam,&lt;br /&gt;
kemudian diangin-anginkan. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai fuli itu kering.&lt;br /&gt;
Warna fuli yang semula merah cerah, setelah dikeringkan menjadi merah tua dan&lt;br /&gt;
akhirnya menjadi jingga. Dengan pengeringan seperti ini dapat menghasilkan fuli&lt;br /&gt;
yang kenyal (tidak rapuh) dan berkualitas tinggi sehingga nilai ekonomisnya pun&lt;br /&gt;
tinggi pula.&lt;br /&gt;
Pemecahan Tempurung Biji&lt;br /&gt;
Pemecahan tempurung biji pala dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:&lt;br /&gt;
a) Dengan tenaga manusia&lt;br /&gt;
Cara memecah tempurung dari biji pala dilakukan dengan cara memukulnya&lt;br /&gt;
dengan kayu sampai tempurung tersebut pecah. Cara memecah tempurung biji&lt;br /&gt;
pala memerlukan keterampilan khusus, sebab kalau tidak isi biji akan banyak yang&lt;br /&gt;
rusak (pecah) sehingga kulitasnya turun.&lt;br /&gt;
b) Dengan mesin&lt;br /&gt;
Cara ini banyak digunakan petani pala. Secara sederhana dapat diterangkan&lt;br /&gt;
bahwa mekanisme kerja dan alat ini sama dengan yang dilakukan oleh manusia,&lt;br /&gt;
yakni bagian tertentu dari mesin menghancurkan kulit buah pala sehingga yang&lt;br /&gt;
tinggal adalah isi bijinya. Keuntungan dari penggunaan mesin adalah tenaga,&lt;br /&gt;
waktu dan biaya operasionalnya dapat ditekan. Disamping itu kerusakan mekanis&lt;br /&gt;
dari isi biji juga lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Untuk menentukan kualitas dari inti biji pala yang dihasilkan, kriteria yang harus&lt;br /&gt;
diperhatikan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1) Pala kupas ABCD:&lt;br /&gt;
1. bji relatif berat&lt;br /&gt;
2. bentuknya sempurna dan tidak keriput&lt;br /&gt;
3. tidak diserang hama/penyakit&lt;br /&gt;
4. tidak pecah/rusak mekanis.&lt;br /&gt;
2) Pala kupas RIMPEL:&lt;br /&gt;
1. biji relatif berat&lt;br /&gt;
2. berkeriput&lt;br /&gt;
3. tidak pecah&lt;br /&gt;
4. tidak diserang hama/penyekit&lt;br /&gt;
3) Pala kupas B.W.P.&lt;br /&gt;
1. berkeriput&lt;br /&gt;
2. ada kerusakan mekanis&lt;br /&gt;
3. diserang hama dan penyakit&lt;br /&gt;
4. ringan&lt;br /&gt;
Dari hasil penyortiran kualitas biji tersebut, kita akan mendapatkan berat rata-rata&lt;br /&gt;
yang berbeda, yakni:&lt;br /&gt;
a) Pala kupas ABCD dalam satu sak berat (90 kg).&lt;br /&gt;
b) Pala kupas RIMPEL dalam satu sak berat (80 kg).&lt;br /&gt;
c) Pala kupas B.W.P. dalam satu sak berat (75 kg).&lt;br /&gt;
Kriteria untuk menentukan standar kualitas fuli didasarkan pada warna, bentuk serta&lt;br /&gt;
kematangan dari fuli. Kriteria kualitas fuli adalah:&lt;br /&gt;
a) Fuli I (moce one): dari buah yang sudah tua; keadaan fuli utuh; warnanya bagus&lt;br /&gt;
(merah).&lt;br /&gt;
b) Fuli II (moce two): dari buah yang sudah tua; keadaan fuli tidak utuh lagi;&lt;br /&gt;
c) Gruis I dan II: fuli hancur; lapuk dan mudah pecah; warnanya hitam.&lt;br /&gt;
Khusus untuk Gruise II digunakan mesin penghancur untuk lebih menghaluskan&lt;br /&gt;
fuli.&lt;br /&gt;
Kualitas biji pala ditentukan oleh:&lt;br /&gt;
a) Jarak tanam: jarak tanam bukan saja mempengaruhi kuantitas, tetapi menentukan&lt;br /&gt;
kualitas pala yang dihasilkan. Dengan jarak tanam yang rapat biasanya kita akan&lt;br /&gt;
dapatkan buah-buah yang kecil.&lt;br /&gt;
b) Pemeliharaan: pemeliharaan juga mempengaruhi kualitas pala yang dihasilkan.&lt;br /&gt;
Akibat dari pemeliharaan yang tidak baik buah pala mudah diserang oleh hama&lt;br /&gt;
atau penyakit (terbelah putih) sehingga kualitas buah kurang baik.&lt;br /&gt;
c) Cara pemetikan dan prosesing: buah yang dipetik pada waktu masih muda, biji&lt;br /&gt;
dan fuli yang kita dapatkan kualitasnya akan rendah. Demikian pula dengan&lt;br /&gt;
prosesing yang kurang baik, misalnya penjemuran yang dilakukan secara tergesagesa,&lt;br /&gt;
biji pala yang dihasilkan tentu akan banyak yang pecah.&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Setiap kemasan diambil contohnya sebanyak 3 kg dari bagian atas, tengah dan&lt;br /&gt;
bawah. Contoh tersebut dicampur merata tanpa menimbulkan kerusakan, kemudian&lt;br /&gt;
dibagi 4 dan dua bagian diambil secara diagonal. Cara ini dilakukan beberapa kali&lt;br /&gt;
sampai contoh mencapai 3 kg untuk dianalisa.&lt;br /&gt;
a) Jumlah kemasan dalam partai: 1 sampai 100, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;
diambil 5.&lt;br /&gt;
b) Jumlah kemasan dalam partai: 101 sampai 300, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;
diambil 7.&lt;br /&gt;
c) Jumlah kemasan dalam partai: 301 sampai 500, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;
diambil 9.&lt;br /&gt;
d) Jumlah kemasan dalam partai: 501 sampai 1000, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;
diambil 10.&lt;br /&gt;
e) Jumlah kemasan dalam partai: lebih dari 1000, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;
diambil 15.&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang&lt;br /&gt;
berpengalaman/dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan&lt;br /&gt;
hukum.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Tujuan pengemasan adalah mencegah kerusakan produk hingga ke tangan&lt;br /&gt;
konsumen. Pengemasan yang umum adalah dengan karung plastik karena dapat&lt;br /&gt;
mencegah kerusakan dalam waktu yang relatif lama.&lt;br /&gt;
Pengepakan biji dan fuli pala dilakukan secara sederhana. Pala yang telah disortir&lt;br /&gt;
dipak dengan menggunakan karung goni berlapis dua. Rata-rata dari setiap kualitas&lt;br /&gt;
pala adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Pala kupas ABCD dalam satu sak berat 90 kg.&lt;br /&gt;
b) Pala kupas RIMPEL dalam satu sak berat 80 kg.&lt;br /&gt;
c) Pala kupas B.W.P. dalam satu sak berat 75 kg.&lt;br /&gt;
Khusus untuk pengepakan fuli biasanya dilakukan dalam peti kayu (triplek) dengan&lt;br /&gt;
berat rata-rata 70-75 kg/peti. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan&lt;br /&gt;
pengepakan adalah: fuli yang akan dipak harus difumigasi terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
Pemberian fumigant pada biji pala dan fuli harus dilakukan di suatu ruang yang&lt;br /&gt;
tertutup rapat selama 2 x 24 jam. Fumigant yang biasa digunakan adalah Methyl&lt;br /&gt;
Bromida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>NANGKA ( Artocarpus heterophyllus Lamk )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/nangka-artocarpus-heterophyllus-lamk.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-5242056559702448548</guid><description>Di Indonesia lebih dari 30 kultivar, di Jawa terdapat lebih dari 20 kultivar. Berdasarkan sosok pohon dan ukuran buah nangka terbagi dua golongan yaitu pohon nangka buah besar dan pohon nangka buah mini.&lt;br /&gt;
1) Nangka buah besar: tinggi mencapai 20-30 m; diameter batang mencapai 80 cm&lt;br /&gt;
dan umur mulai berbuah sekitar 5-10 tahun.&lt;br /&gt;
2) Nangka buah kecil: tinggi mencapai 6-9 m; diameter batang mencapai 15-25 cm&lt;br /&gt;
dan umur mulai berbuah sekitar 18-24 bulan.&lt;br /&gt;
Berdasarkan kondisi daging buah nangka dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:&lt;br /&gt;
1) Nangka bubur: daging buah tipis, lunak agak berserat, beraroma keras mudah&lt;br /&gt;
lepas dari buah.&lt;br /&gt;
2) Nangka salak: daging buah tebal, agak kering aromanya kurang keras. (nangka&lt;br /&gt;
celeng dan nangka belulang).&lt;br /&gt;
3) Nangka cempedak: daging buah tipis, liat dan beraroma harum spesifik.&lt;br /&gt;
Varietas-varietas unggul nangka yang ditanam di Indonesia yaitu: nangka&lt;br /&gt;
bilulang/nangka celeng, nangka cempedak, nangka dulang, nangka kandel, nangka&lt;br /&gt;
kunir, nangka merah, nangka salak, nangka mini, dan nangka misin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manfaat nangka diantaranya:&lt;br /&gt;
1) Daging buah nangka muda (tewel) dimanfaatkan sebagai makanan sayuran.&lt;br /&gt;
2) Tepung biji nangka digunakan sebagai bahan baku industri makanan (bahan&lt;br /&gt;
makan campuran).&lt;br /&gt;
3) Daun muda dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.&lt;br /&gt;
4) Kayu nangka dianggap lebih unggul daripada jati untuk pembuatan meubel,&lt;br /&gt;
konstruksi bangunan pembubutan, tiang kapal, untuk tiang kuda dan kandang sapi&lt;br /&gt;
( di Priangan), dayung, perkakas, dan alat musik.&lt;br /&gt;
5) Pohon nangka dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Angin berperan dalam membantu penyerbukan bunga pada tanaman nangka.&lt;br /&gt;
2) Pohon nangka cocok tumbuh di daerah yang memilki curah hujan tahunan ratarata&lt;br /&gt;
1.500-2.500 mm dan musim keringnya tidak terlalu keras. Nangka dapat&lt;br /&gt;
tumbuh di daerah kering yaitu di daerah-daerah yang mempunyai bulan-bulan&lt;br /&gt;
kering lebih dari 4 bulan&lt;br /&gt;
3) Sinar matahari sangat diperlukan nangka untuk memacu fotosintesa dan&lt;br /&gt;
pertumbuhan, karena pohon ini termasuk intoleran. Kekurangan sinar matahari&lt;br /&gt;
dapat menyebabkan terganggunya pembentukan bunga dan buah serta&lt;br /&gt;
pertumbuhannya.&lt;br /&gt;
4) Rata-rata suhu udara minimum 16-21 derajat C dan suhu udara maksimum 31-&lt;br /&gt;
31,5 derajat C.&lt;br /&gt;
5) Kelembaban udara yang tinggi diperlukan untuk mengurangi penguapan.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Pohon nangka dipelihara di berbagai tipe tanah, tetapi lebih menyenangi aluvial,&lt;br /&gt;
tanah liat berpasir/liat berlempung yang dalam dan beririgasi baik.&lt;br /&gt;
2) Umumnya tanah yang disukai yaitu tanah yang gembur dan agak berpasir. Pohon&lt;br /&gt;
ini hidup pada tanah tandus sampai subur dengan kondisi reaksi tanah asam&lt;br /&gt;
sampai alkalis. Bahkan pada tanah gambutpun pohon ini dapat tumbuh dan&lt;br /&gt;
menghasilkan buah.&lt;br /&gt;
3) Pohon nangka tahan terhadap pH rendah (tanah masam) dengan pH 6,0-7,5,&lt;br /&gt;
tetapi yang optimum pH 6–7.&lt;br /&gt;
4) Kedalaman air tanah yang cocok bagi pertumbuhan nangka adalah 1-2 m atau&lt;br /&gt;
antara 1-2.5 m. Karena perakarannya sangat dalam, maka sebaiknya ditanam&lt;br /&gt;
pada tanah yang cukup teball lapisan atasnya (kira-kira 1 m).&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Pohon nangka dapat tumbuh dari mulai dataran rendah sampai ketinggian tempat&lt;br /&gt;
1.300 m dpl. Namun ketinggian tempat yang terbaik untuk pertumbuhan nangka&lt;br /&gt;
adalah antara 0-800 m dpl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;
Umumnya perbanyakan tanaman nangka dilakukan dengan menggunakan bijinya,&lt;br /&gt;
karena perbanyakkan dengan cangkok atau okulasi hanya sedikit persentase&lt;br /&gt;
jadinya. Hal ini mungkin disebabkan kandungan lateksnya yang dapat&lt;br /&gt;
menghambat proses persatuan.&lt;br /&gt;
Seleksi dilakukan sejak masa pembibitan apabila ingin mendapatkan nangka yang&lt;br /&gt;
bersifat unggul (cepat berbuah, mampu berproduksi banyak dengan buah yang&lt;br /&gt;
berkualitas dan tahan terhadap hama dan penyakit). Beberapa hal yang perlu&lt;br /&gt;
diperhatikan dalam memilih bibit yang baik adalah:&lt;br /&gt;
a. Bibit harus berasal dari jenis atau varietas yang unggul (produksi tinggi, buah&lt;br /&gt;
berkualitas baik, berumur panjang dan tahan terhadap hama dan penyakit).&lt;br /&gt;
b. Bibit harus sehat yang dapat dilihat dari sosoknya yang kokoh, batangnya kuat,&lt;br /&gt;
lurus dan tumbuh tegak, percabangan banyak serta daun bagian atas berwarna&lt;br /&gt;
hijau segar dan mengkilap.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;
Penanganan benih mencakup pencucian secara hati-hati untuk membuang kulit&lt;br /&gt;
biji yang berlendir dan membuang bagian perikarp yang berupa tanduk; perlakuan&lt;br /&gt;
ini akan memperbaiki perkecambahan. Benih disemai sewaktu masih segar; jika&lt;br /&gt;
diperlukan penyimpanan jangka pendek, benih tidak boleh dibiarkan mengering.&lt;br /&gt;
Benih yang memilki 40% dari kandungan air aslinya dan disimpan dalam wadah&lt;br /&gt;
plastik yang kedap, dengan suhu udara 20 derajat C masih mampu berkecambah&lt;br /&gt;
selama 3 bulan. Dalam kondisi yang memadai perkecambahan dapat diawali&lt;br /&gt;
setelah 10 hari dan mencapai persentase perkecambahan 80-100% dalam jangka&lt;br /&gt;
waktu 35-40 hari setelah disemai. Benih hendaknya diletakkan mendatar atau&lt;br /&gt;
dengan hilumnya menghadap ke bawah untuk perkecambahan.&lt;br /&gt;
Cara pembiakan pohon nangka dengan okulasi memerlukan keterampilan khusus&lt;br /&gt;
dan pengalaman dan persentase jadinya rendah. Keuntungannya antara lain&lt;br /&gt;
cepat berbuah dan sifatnya induknya dapat diturunkan.Tanaman yang digunakan&lt;br /&gt;
sebagai pangkal bawah adalah anakan nangka/cempedak yang asalnya dari biji.&lt;br /&gt;
Cara okulasinya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Sayat sebuah mata kayu (mata entras) dari batang nangka, dengan kulitnya&lt;br /&gt;
kira-kira 2 cm dari atas sampai 2 cm di bawah mata. Kayu yang terbawa&lt;br /&gt;
dibuang dengan hati-hati agar titik tumbuh mata tidak rusak.&lt;br /&gt;
b) Sayat kulit pohon pangkal bawah , kira-kira 10-20 cm di atas leher akar dengan&lt;br /&gt;
lebar 2-3 cm dan panjangnya 3-4 cm. Ungkitlah dari kayunya dan lidah kukit&lt;br /&gt;
dipotong separuhnya. Masukkanlah mata tersebut ke dalam lidah kulit pohon&lt;br /&gt;
pangkal bawah tersebut, sedemikian rupa, mata masih kelihatan di atas lidah&lt;br /&gt;
kulit pohon yang dipotong. Kemudian ikatlah dengan tali rafia dan mata tetap&lt;br /&gt;
tersembul keluar (jangan sampai terhimpit).&lt;br /&gt;
c) Pada okulasi yang berhasil, sesudah 8-14 hari ikatan tali rafia harus dibuang.&lt;br /&gt;
Apabila tunas sudah tumbuh sepanjang 1-10 cm, ikatlah tunas pada bagian&lt;br /&gt;
atas pohon, agar tunas tumbuhnya lurus dan tidak dirusak karena digoyanggoyang&lt;br /&gt;
angin.&lt;br /&gt;
Bahan untuk cangkok diambil dari dahan muda/ranting baru berada di cabang&lt;br /&gt;
pohon/tunas ranting baru yang berada di cabang pohon maupun tunas ranting&lt;br /&gt;
yang belum produktif. Pencangkokkan dilakukan menjelang musim penghujan&lt;br /&gt;
agar perakaran dapat tumbuh dengan baik. Namun demikian pencangkokkan&lt;br /&gt;
dilakukan pada musim kemarau, tetapi harus disiram secara teratur.&lt;br /&gt;
Cara mencangkok dilakukan dengan cara mengupas kulit sekeliling dalam 3-5 cm&lt;br /&gt;
lebarnya. Luka yang telah dibuat dibiarkan kering kena angin 1-2 hari. Kemudian&lt;br /&gt;
luka bagian atas diolesi hormon rootone F, setelah itu ditutup dengan tanah&lt;br /&gt;
berkompos atau humus yang telah dibasahi dan dibalut dengan sabut kelapa atau&lt;br /&gt;
plastik yang telah diberi lobang-lobang kecil.&lt;br /&gt;
3) Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;
Biji disemai/ditanam ke dalam kantong-kantong plastik yang sudah tersedia di&lt;br /&gt;
bedengan sedalam setebal biji, setelah itu ditutup lapisan tanah tipis. Biji akan&lt;br /&gt;
berkecambah dengan rata-rata daya kecambah dan persen jadi tanaman ± 90 %.&lt;br /&gt;
Semai muda dipotkan selambat-lambatnya setelah berdaun empat helai, karena&lt;br /&gt;
bibit yang lebih tua sulit untuk dipindahtanamkan (transplanting). Kesulitan ini&lt;br /&gt;
dapat diatasi dengan cara menyemaikan 1-2 benih langsung ke dalam satu&lt;br /&gt;
wadah. Semai paling cocok disimpan di bawah naungan (50-70 % intensitas&lt;br /&gt;
cahaya matahari penuh).&lt;br /&gt;
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;
Untuk bibit dari biji, penyiraman dilakukan secara teratur setiap pagi hari.&lt;br /&gt;
Sebaiknya persemaian diberi naungan yang tidak terlalu rapat dan menghadap ke&lt;br /&gt;
arah timur guna mencegah penguapan air yang terlalu cepat.&lt;br /&gt;
Untuk bibit dari cangkokkan, penyiraman dapat dilakukan secara teratur tiap hari&lt;br /&gt;
untuk mencegah kekeringan. Penyiraman ini dilakukan kalau belum ada hujan.&lt;br /&gt;
Semai dari cangkokan sebaiknya diberi naungan saat baru dipindahkan supaya&lt;br /&gt;
tidak layu.&lt;br /&gt;
5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;
Bibit yang akan diangkut ke lapangan penanaman sebaiknya disiram terlebih&lt;br /&gt;
dahulu. Pengangkutan bibit ke lapangan penanaman dilakukan pagi atau sore hari&lt;br /&gt;
dan dikerjakan dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
Pembongkaran bibit di lapangan dikerjakan hati-hati seperti halnya pada waktu&lt;br /&gt;
pengangkutan. Apabila jarak angkutan bibit cukup jauh, maka bibit yang telah&lt;br /&gt;
dibongkar dirawat lebih dahulu beberap hari sebelum ditanam.&lt;br /&gt;
Bibit-bibit ini (dari biji) dapat ditanam di lapangan sewaktu masih muda sekali,&lt;br /&gt;
yaitu sebelum perakarannya tumbuh keluar pot, sebab gangguan terhadap&lt;br /&gt;
perakaran dapat mematikan bibit itu.&lt;br /&gt;
Bibit juga harus mempunyai ukuran tinggi 50-75 cm dan berumur 1-1 1/2 bulan.&lt;br /&gt;
Bibit dari okulasi dapat ditanam di lapangan pada umur 6-8 bulan. Jika panjang&lt;br /&gt;
tunas telah mencapai 2-30 cm, potonglah bagian atas pohon pangkal dan lukanya&lt;br /&gt;
ditutup parafin. Untuk okulasi sebaiknya dilakukan pada saat udara cerah dan&lt;br /&gt;
tidak hujan. Bibit dari cangkokan, umumnya setelah 1-2,5 bulan, cangkokan sudah&lt;br /&gt;
berakar banyak dan cangkok dapat diambil. Setelah disapih beberapa hari,&lt;br /&gt;
cangkok dapat ditanam di lapangan-lapangan dan berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan ditentukan batas-batas&lt;br /&gt;
areal.&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman nangka seperti gulma,&lt;br /&gt;
genangan air, struktur serta pola tekstur tanah harus dibenahi/dikendalikan. Untuk&lt;br /&gt;
itu tindakan pembersihan lapangan secara total, pengaturan drainase dan&lt;br /&gt;
pengolahan tanah terutama di tempat yang akan dibuat lobang tanam.&lt;br /&gt;
2) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;
Beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bedengan&lt;br /&gt;
pembibitan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Ukuran bedengan beragam tetapi biasanya digunakan antara 5 x1 m atau 10 x&lt;br /&gt;
1 m.&lt;br /&gt;
b) Bedengan membusur arah Utara ke Selatan dan pinggirnya diperkuat dengan&lt;br /&gt;
bambu, batu merah, atau kayu serta permukaannya ditinggikan 10-15 cm dari&lt;br /&gt;
atas permukaan tanah.&lt;br /&gt;
c) Antar bedengan berjarak 0,45 m dan setiap 5-10 m bedengan dibuat jalan&lt;br /&gt;
pemeriksaan sekitar 60-100 m.&lt;br /&gt;
d) Saluran air dibuat sepanjang kiri kanan pemeriksaan.&lt;br /&gt;
e) Bedengan diberi naungan dengan atap nipah atau sarlom. Bagian yang&lt;br /&gt;
menghadap ke timur dibuat lebih tinggi daripada yang menghadap ke Barat.&lt;br /&gt;
f) Dalam bedengan disusun kantong-kantong plastik yang sudah diisi media&lt;br /&gt;
tumbuh dan sudah diberi lobang-lobang kecil di bagian bawahnya. Media&lt;br /&gt;
tumbuh yang digunakan campuran tanah lapisan olah, pupuk organik, dan pasir&lt;br /&gt;
halus dengan perbandingan 2:1:1. Ukuran kantong plastik yang digunakan 20 x&lt;br /&gt;
30 cm dengan tebal 0,08 mm dan berwarna hitam.&lt;br /&gt;
3) Pengapuran&lt;br /&gt;
Apabila pH tanah bersifat terlalu asam atau basa maka perlu dilakukan beberapa&lt;br /&gt;
upaya agar nangka bisa tumbuh dan memberikan hasil yang optimal. Apabila&lt;br /&gt;
terlalu asam (pH&lt;5) dapat ditambahkan kapur, jika terlalu basa (pH&gt;7) bisa&lt;br /&gt;
ditambahkan belerang. Dosis yang dipakai tergantung pada kondisi tanahnya&lt;br /&gt;
namun sebagai pedoman 1 kg kapur atau belerang untuk 1 m3 lobang tanam.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pada lobang tanam, tanah hasil galian dicampur dengan pupuk kandang 20&lt;br /&gt;
kg/lubang dan dolomit 0,5 kg/lubang (untuk menaikkan pH). Tanah campuran ini&lt;br /&gt;
dimasukkan ke lubang 2-3 minggu sebelum penanaman. Seminggu sebelum&lt;br /&gt;
tanam berilah pupuk NPK (15-15-15) 100 gram ke dalam lubang penanaman.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;
Pola usaha pekarangan adalah bertanam di lahan sekitar rumah. Hasil ini tidak&lt;br /&gt;
semata-mata untuk dijual tetapi sebagian untuk dikonsumsi sendiri. Sedangakan&lt;br /&gt;
pola usaha kebun yaitu bertanam di lahan yang jauh lebih luas dari pekarangan&lt;br /&gt;
dengan pertimbangan hasilnya untuk memnuhi kebutuhan pasar, modal dan&lt;br /&gt;
tenaga kerja cukup tersedia serta lahannya sesuai dengan persyaratan tempat&lt;br /&gt;
tumbuh nangka.&lt;br /&gt;
Pola usaha kebun dapat berbentuk kebun tanaman murni dan kebun tanaman&lt;br /&gt;
campuran. Pada kebun tanaman murni hanya ditanam satu jenis tanaman yaitu&lt;br /&gt;
seluruhnya ditanami nangka. Sedangkan di kebun campuran, pohon nangka&lt;br /&gt;
dicampur nenas, pepaya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Pohon nangka yang dipelihara di kebun buah jarak tanamnya 8 - 12 m, dalam pola&lt;br /&gt;
segi empat atau segi enam: kepadatan yang umum adalah 100-120 batang/ha.&lt;br /&gt;
Jarak tanamnya antara lobang tanam 12 x 12 m atau 4 x 6 m.&lt;br /&gt;
2) Pembuatan Lobang Tanam&lt;br /&gt;
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 0,5 x 0,5 x 0,5 m atau 1 x 1 x 0,5 m. Pada&lt;br /&gt;
saat penggalian lubang tanam, tanah bagian atas dipisahkan dari tanah bagian&lt;br /&gt;
bawah. Tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang yang sudah matang&lt;br /&gt;
sebanyak 20 kg per lubang. Lubang tanah yang telah digali dibiarkan terbuka&lt;br /&gt;
selama 1-2 minggu, agar mendapat sinar matahari sehingga teroksidasi dengan&lt;br /&gt;
baik. Untuk menghindari kendala tanah asam, tanah galian dicampur dengan&lt;br /&gt;
dolomit/kapur pertanian sebanyak 0,5-1 kg per lubang tanam dan tanah campuran&lt;br /&gt;
ini dimasukkan ke dalam lubang 2-3 minggu sebelum penanaman. Untuk tanah&lt;br /&gt;
yang terlalu berat, selain pengolahan tanah dapat pula ditambahkan pasir&lt;br /&gt;
sebanyak 0,5 kaleng per lubang. Seminggu sebelum tanam berilah NPK (15–15–&lt;br /&gt;
15) 100 gram ke dalam lubang penanamn apabila perlu. Bibit hasil semaian atau&lt;br /&gt;
okulasi ditanam tegak dan kokoh ke dalam tengah lubang penanaman. Jarak&lt;br /&gt;
antara lubang tanam 12 x 12 m atau 4 x 6 m.&lt;br /&gt;
3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Penanaman dilakukan sore hari atau pagi hari pada permulaan musim penghujan&lt;br /&gt;
yaitu saat curah hujan sudah cukup merata.&lt;br /&gt;
Bibit ditanam pada lubang yang sudah tersedia, tegak lurus. Sebelum bibit&lt;br /&gt;
ditanam, kantong plastik harus dibuang.&lt;br /&gt;
Kalau penanaman dilakukan di luar musim penghujan atau karena adanya&lt;br /&gt;
kelainan iklim, yaitu musim hujan tiba-tiba berubah menjadi kemarau lagi, maka&lt;br /&gt;
bibit yang telah ditanam perlu disiram secara teratur.&lt;br /&gt;
4) Pembuatan Lubang pada Mulsa&lt;br /&gt;
Pemberian mulsa di sekitar pohon nangka sangat perlu; terutama pada saat&lt;br /&gt;
musim kemarau untuk meningkatkan kelembapan tanah. Namun pada musim&lt;br /&gt;
hujan mulsa tidak diperlukan karena dapat mendatangkan serangan jamur. Mulsa&lt;br /&gt;
juga dapat dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk organi, pemberian dua kali&lt;br /&gt;
per tahun sangat membantu pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk pabrik&lt;br /&gt;
majemuk dilakukan di Malaysia dengan dosis 2-3 kg per pohon.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;
Penyulaman tanaman yang mati dilakukan pada saat hujan masih turun di tahun&lt;br /&gt;
pertama dan tahun kedua.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Penyiangan atau membebaskan tanaman dari serangan gulma atau tumbuhan&lt;br /&gt;
pengganggu dilakukan dengan cara membersihkan gulma secara manual/kimia&lt;br /&gt;
dari tanaman nangka dengan radius 1-2 m. Pengendalian gulma secara kimiawi&lt;br /&gt;
menggunakan herbisida misalnya Paracol 1,5 liter dalam 600 liter air per ha atau&lt;br /&gt;
Roundup 2-3 liter dalam 800 liter air/ha.&lt;br /&gt;
Penyiangan pertama dilakukan 1-2 bulan setelah penanaman, selanjutnya setiap&lt;br /&gt;
2-4 bulan dilakukan selama 2-3 tahun. Penyiangan dilakukan dengan cara manual&lt;br /&gt;
atau kimiawi.&lt;br /&gt;
3) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang atau pupuk kompos 1-2 kali&lt;br /&gt;
setahun sebanyak 20 kg per tanaman. Pemberian pupuk anorganik dilakukan satu&lt;br /&gt;
minggu setelah penanaman dengan dosis 100 gram NPK per tanaman.&lt;br /&gt;
Pemupukan kedua pada umur 6 bulan dengan dosis 150 gram NPK per tanaman.&lt;br /&gt;
Pemupukan ketiga dilakukan pada tanaman umur 12 bulan dengan dosis 200&lt;br /&gt;
gram per tanaman. Pemupukan keempat pada umur 18 bulan dengan dosis 250&lt;br /&gt;
gram per tanaman dan pemupukan kelima dilakukan pada tanaman umur 24&lt;br /&gt;
bulan dengan dosis 300 gram per tanaman. Selanjutnya bagi tanaman yang&lt;br /&gt;
sudah berbunga pada lahan tidak subur dapat ditambahkan pupuk organik 650&lt;br /&gt;
gram/pohon.&lt;br /&gt;
Untuk meningkatkan tanaman diperlukan tambahan pupuk daun guna&lt;br /&gt;
merangsang pembentukan daun. Pemberian pupuk daun dilakukan selang 2&lt;br /&gt;
minggu sampai tanaman umur 17 bulan. Jenis pupuk daun yang digunakan&lt;br /&gt;
Gandasil D/Bayfolan.&lt;br /&gt;
4) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Tanaman nangka membutuhkan drainase yang baik. Pengairan ini diperlukan&lt;br /&gt;
untuk meningkatkan produktivitasnya.&lt;br /&gt;
Tanaman nangka memiliki perakaran dalam, tidak membutuhkan penggenangan&lt;br /&gt;
pada saat musim kemarau karena tanaman nangka kurang toleran terhadap&lt;br /&gt;
genangan. Akarnya masih mampu meyerap air pada tanah yang dalam.&lt;br /&gt;
Pemberian air tambahan diperlukan selama dua tahun pertama pertumbuhannya.&lt;br /&gt;
5) Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;
Pemangkasan dilakukan pada bagian tanaman yang tidak subur dan tidak&lt;br /&gt;
produktif. Pemangkasan cabang dilakukan terhadap pohon nangka yang bertajuk&lt;br /&gt;
rimbun agar sinar matahari tidak terhalangi sehingga merangsang perbungaan.&lt;br /&gt;
Pemangkasan dibatasi pada penjarangan pucuk ketika pohon mulai ditanam dan&lt;br /&gt;
sedikit pemotongan dahan-dahan yang mengandung buah agar memudahkan&lt;br /&gt;
mencapai buah untuk dibungkus dan kemudian dipanen.&lt;br /&gt;
Pemangkasan cabang dimaksudkan untuk mengatur pembuahan, karena bunga&lt;br /&gt;
betina muncul pada batang utama atau cabang primer.&lt;br /&gt;
Perangsangan pembungaan dilakukan dengan cara melukai, mengebor/mengikat&lt;br /&gt;
batang. Tujuan perlakuan untuk menghambat hasil asimilasi daun agar tidak&lt;br /&gt;
meyebar ke seluruh bagian tanaman, melainkan untuk merangsang pembungaan.&lt;br /&gt;
Agar buah nangka hasilnya baik dan besar, lakukan penjarangan buah. Buah&lt;br /&gt;
yang mulai membesar bungkuslah dengan kantong/kertas semen yang sudah&lt;br /&gt;
dicelupakan ke dalam larutan insektisida. Bisa juga dibungkus dengan anyaman&lt;br /&gt;
dedaunan, misalnya menggunakan daun-daun palem atau anyaman kelapa.&lt;br /&gt;
Tindakan ini dapat menghalangi serangan tikus atau kelelawar, dan memikat&lt;br /&gt;
semut yang dapat mengusir serangga lain sehingga diperoleh buah yang kulitnya&lt;br /&gt;
mulus dan cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
Ulat diaphania caesalis yaitu penggerek pucuk, membuat terowongan sampai ke&lt;br /&gt;
kuncup, pucuk muda, dan buah. Pemotongan bagian yang terserang memutuskan&lt;br /&gt;
daun hidupnya karena ulat-ulat ini akan menjadi pupa di dalam terowongan itu; buah&lt;br /&gt;
dilindungi dengan dibungkus atau disemprot insektisida Thiodan 35 EC. Penggerak&lt;br /&gt;
kulit batang; berupa ulat-ulat Indarbela tetraonis dan Batocera rufomaculata&lt;br /&gt;
diberantas dengan mengasap lubang-lubang mereka/disemprot dengan insektisida&lt;br /&gt;
sistemik yang mengandung bahan aktif karboril (Sevin 85 S). Kumbang-kumbang&lt;br /&gt;
belalai (weevil) coklat yang menyerang kuncup, Ochyromera artocarpi, merupakan&lt;br /&gt;
hama nangka yang khas. Tempayaknya (grubs) masuk ke dalam kuncup dan buah&lt;br /&gt;
yang masih lunak, yang dewasa memakan daun. Bagian tanaman yang terserang&lt;br /&gt;
dihancurkan, dan diperlukan insektisida. Menyeruaknya kumbang bersayap selaput&lt;br /&gt;
(spittle bug), Cosmoscarata relata, memakan daun muda. Nimfa hidup bersamasama&lt;br /&gt;
dalam suatu massa busa yang disekresi oleh mereka ; nimfa dipungut dan&lt;br /&gt;
dihancurkan. Larva lalat buah , Dacus dorsalis dan D. umbrosus sering menyerang&lt;br /&gt;
buah. Untuk menghindari serangannya, buah nangka hendaknya dibungkus; buah&lt;br /&gt;
yang matang atau kelewat matang jangan dibiarkan bergeletakkan di tanah, tetapi&lt;br /&gt;
hendaknya dikubur-kubur dalam, dan penyemnprotan pada umpan dapat dilakukan.&lt;br /&gt;
Hama-hama lainnya adalah bermacam-macam serangga pengisap, seperti kutu&lt;br /&gt;
tepung, afid, lalat putih, dan ‘thrips’, juga ulat perekat daun (leaf webber).&lt;br /&gt;
Hama nangka yang lain adalah kepik Helopeltis (Miridae,Hemiptera). Nimfa dan&lt;br /&gt;
kepik dewasa menghisap cairan bagian tanaman yang masih muda (daun dan buah).&lt;br /&gt;
Ukuran telurnya 1,5 m, diletakkan dengan cara ditusukkan pada jaringan tanaman.&lt;br /&gt;
Masa inkubasi 5-7 hari. Nimfa dan kepik dewasa warnanya bervariasi, hijau atau&lt;br /&gt;
kuning-kehitaman dan kuning oranye. Mengalami 5 kali masa instar. Kepik dewasa&lt;br /&gt;
panjangnya berkisar 6,5-7,5 mm dengan kemampuan bertelur sampai 18 butir.&lt;br /&gt;
Beberapa musuh alami diantaranya yang berupa parasit adalah Euphorus helopeltis,&lt;br /&gt;
Erythmelus helopeltis dan sebagai predator adalah Sycanus leucomesus, Isyndrus&lt;br /&gt;
sp. dan Cosmolestes picticeps. Untuk pengendaliannya populasi biasanya terkendali&lt;br /&gt;
oleh musuh alam apabila populasi tinggi dapat dilakukan dengan insektisida misal&lt;br /&gt;
Lannate 25 WP, Atabron 50EC.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
Bakteri mati bujang (Erwinia carotovora) sering menyerang pohon nangka, juga&lt;br /&gt;
cempedak. Jamur tersebut pertama kali menyerang bagian pucuk dan turun pada&lt;br /&gt;
tajuk berikutnya. serangan yang hebat dapat mematikan pohonnya. Di India&lt;br /&gt;
dilaporakan serangan busuk akar dan busuk batang dilakukan oleh jamur Rhizopus&lt;br /&gt;
artocarpi yang menyebabkan keruguian tanaman hingga 15-30 %. Jamur ini umunya&lt;br /&gt;
meyerang tunas bunga. Beberapa penyakit yang cukup penting antara lkain&lt;br /&gt;
Colletotrichum lagenarium, Phomopsis artocarpina, Septoria artocarpi, dan Corticium salmonicolor. Jamur tersebut kebanyakan menyerang pada musim penghujan.&lt;br /&gt;
Pemotongan bagian tanaman yang terserang akan banyak membantun mengatasi&lt;br /&gt;
serangan, di samping itu sanitasi kebun dan pemupukan dapat meningkatkan&lt;br /&gt;
kesehatan tanaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Kematangan buah ditentukan melalui kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1) Apabila buah tersebut dipukul-pukul dengan benda (misalnya punggung pisau)&lt;br /&gt;
akan berbuyi nyaring.&lt;br /&gt;
2) Perubahan warna kulit buahnya dari hijau pucat ke kuning kehijau-hijauan atau&lt;br /&gt;
kecoklat-coklatan.&lt;br /&gt;
3) Mengeluarkan bau yang khas atau aromanya harum.&lt;br /&gt;
4) Durinya mulai lunak dan jarak satu duri dengan duri lainnya semakin lebar&lt;br /&gt;
5) Kulit buah terlihat seperti akan pecah.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Cara pemetikan buah nangka matang ialah gagangnya dipotong dengan pisau tajam&lt;br /&gt;
dan buah nangka itu diturunkan dengan hati-hati.&lt;br /&gt;
Pohon nangka yang berbuah besar berbuah pada umur 5-10 tahun sedangkan&lt;br /&gt;
nangka mini pada umur 1,5-2 tahun. Pada umumnya buah masak setelah 8 bulan&lt;br /&gt;
sejak bunganya muncul.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Umur maksimum produksi buah 20-30 tahun, sesudah itu harus diremajakan. Hasil&lt;br /&gt;
buah per tahun per pohon beragam umumnya berkisar 8-12 buah/pohon/tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Buah nangka dikumpulkan oleh pemborong atau dibawa langsung ke pasar dan&lt;br /&gt;
dijual ke pedagang eceran atau dibelah dan dilepas satu-satu untuk dijual langsung&lt;br /&gt;
ke konsumen.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Daging buah nagka yang tebal itu seringkali diekstrak, dibersihkan, dan dijual dalam&lt;br /&gt;
keadaan ekstrak segar. Jika persediaan melimpah, buah nangka diawetkan, caranya&lt;br /&gt;
ialah: daging buah dipisahkan dari bijinya, kemudian dicuci, dipipihkan, dan dijemur&lt;br /&gt;
ditambah gula atau sirop, atau tanpa diberi apa-apa. Hasil olahan ini dijual sebagai&lt;br /&gt;
kue kering. Di semenanjung Malaysia dilakukan pengalengan.&lt;br /&gt;
Penanganan Lain&lt;br /&gt;
Daging buah nangka digunakan untuk mengharumkan es krim dan&lt;br /&gt;
minuman/dijadikan madu nangka, konsentrat, atau tepung dan dimanfaatkan dalam&lt;br /&gt;
pembuatan minuman. Biji nangka bisa dibuat tepung biji nangka yang dicampurkan&lt;br /&gt;
ke dlam tepung gandum untuk pembuatan roti. Penggunaan tepung biji nangka&lt;br /&gt;
sebagai bahan substitusi sebagian tepung terigu dalam pembuatan cookies dan&lt;br /&gt;
BMC (Bahan Makanan Campuran).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Satu partai/lot buah nangka segar yang terdiri maksimum 1.000 kemasan atau 1000&lt;br /&gt;
buah, contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan atau jumlah buah dengan&lt;br /&gt;
ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a) Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 1–5, pengambilan contoh semua.&lt;br /&gt;
b) Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 6–100, pengambilan contoh&lt;br /&gt;
minimum 5.&lt;br /&gt;
c) Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 101–300, pengambilan contoh&lt;br /&gt;
minimum 7.&lt;br /&gt;
d) Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 301–500, pengambilan contoh&lt;br /&gt;
minimum 9.&lt;br /&gt;
e) Jumlah buah/jumlah kemasan dalam partai/lot: 501-1001, pengambilan contoh&lt;br /&gt;
minimum 10.&lt;br /&gt;
Dari setiap kemasan yang dipilih secara acak diambil sekurang-kurangnya tiga buah&lt;br /&gt;
kemudian dicampur. Untuk kemasan dengan isi kurang dari tiga buah diambil satu&lt;br /&gt;
buah.&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat, yaitu orang yang telah dilatih&lt;br /&gt;
terlebih dahulu dan diberi wewenang untuk melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Buah nangka seyogyanya dikemas sesuai dengan pasar yang dituju. Umumnya&lt;br /&gt;
dikemas dengan kotak karton berkapasitas 10-12 kg atau dikemas dalam keranjang&lt;br /&gt;
bambu/kayu atau peti kayu berkapasitas 35-50 kg.&lt;br /&gt;
Label atau gantungan yang menyertai setiap kemasan harus mudah dilihat dan berisi&lt;br /&gt;
informasi :&lt;br /&gt;
a) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;
b) Nama perusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;
c) Nama kultivar nangka.&lt;br /&gt;
d) Kelas mutu.&lt;br /&gt;
e) Jumlah buah dalam kemasan.&lt;br /&gt;
f) Berat kotor.&lt;br /&gt;
g) Berat bersih.&lt;br /&gt;
h) Identitas pembeli di tempat tujuan.&lt;br /&gt;
i) Tanggal panen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>NANAS ( Ananas comosus )</title><link>http://kuncikarir.blogspot.com/2010/11/nanas-ananas-comosus.html</link><category>Perkebunan</category><author>noreply@blogger.com (Nauvt Vie)</author><pubDate>Mon, 15 Nov 2010 15:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3498326325723459363.post-8327847512845455327</guid><description>Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Dalam&lt;br /&gt;
bahasa Inggris disebut pineapple dan orang-orang Spanyol menyebutnya pina.&lt;br /&gt;
Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana&lt;br /&gt;
sebelum masa Colombus. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke&lt;br /&gt;
Filipina dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15, (1599).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;
Iklim&lt;br /&gt;
1) Tanaman nanas dapat tumbuh pada keadaan iklim basah maupun kering, baik&lt;br /&gt;
tipe iklim A, B, C maupun D, E, F. Tipe iklim A terdapat di daerah yang amat&lt;br /&gt;
basah, B (daerah basah), C (daerah agak basah), D (daerah sedang), E (daerah&lt;br /&gt;
agak kering) dan F (daerah kering).&lt;br /&gt;
2) Pada umumnya tanaman nanas ini toleran terhadap kekeringan serta memiliki&lt;br /&gt;
kisaran curah hujan yang luas sekitar 1000-1500 mm/tahun. Akan tetapi tanaman&lt;br /&gt;
nanas tidak toleran terhadap hujan salju karena rendahnya suhu.&lt;br /&gt;
3) Tanaman nanas dapat tumbuh dengan baik dengan cahaya matahari rata-rata 33-&lt;br /&gt;
71% dari kelangsungan maksimumnya, dengan angka tahunan rata-rata 2000&lt;br /&gt;
jam.&lt;br /&gt;
4) Suhu yang sesuai untuk budidaya tanaman nanas adalah 23-32 derajat C, tetapi&lt;br /&gt;
juga dapat hidup di lahan bersuhu rendah sampai 10 derajat C.&lt;br /&gt;
Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Pada umumnya hampir semua jenis tanah yang digunakan untuk pertanian cocok&lt;br /&gt;
untuk tanaman nanas. Meskipun demikian, lebih cocok pada jenis tanah yang&lt;br /&gt;
mengandung pasir, subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik serta&lt;br /&gt;
kandungan kapur rendah.&lt;br /&gt;
2) Derajat keasaman yang cocok adalah dengan pH 4,5-6,5. Tanah yang banyak&lt;br /&gt;
mengandung kapur (pH lebih dari 6,5) menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan&lt;br /&gt;
klorosis. Sedangkan tanah yang asam (pH 4,5 atau lebih rendah) mengakibatkan&lt;br /&gt;
penurunan unsur Fosfor, Kalium, Belerang, Kalsium, Magnesium, dan Molibdinum&lt;br /&gt;
dengan cepat.&lt;br /&gt;
3) Air sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman nanas untuk penyerapan&lt;br /&gt;
unsur-unsur hara yang dapat larut di dalamnya. Akan tetapi kandungan air dalam&lt;br /&gt;
tanah jangan terlalu banyak, tidak becek (menggenang). Hal yang harus&lt;br /&gt;
diperhatian adalah aerasi dan drainasenya harus baik, sebab tanaman yang&lt;br /&gt;
terendam akan sangat mudah terserang busuk akat.&lt;br /&gt;
4) Kelerengan tanah tidak banyak berpengaruh dalam penanaman nanas, namun&lt;br /&gt;
nanas sangat suka jika ditanam di tempat yang agak miring, sehingga begitu ada&lt;br /&gt;
air yang melimpah, begitu cepat pula tanah tersebut menjadi kering.&lt;br /&gt;
Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;
Nanas cocok ditanam di ketinggian 800-1200 m dpl. Pertumbuhan optimum tanaman&lt;br /&gt;
nanas antara 100-700 m dpl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;
Pembibitan&lt;br /&gt;
Keberhasilan penanaman nanas sangat ditentukan oleh kualitas bibit. Nanas dapat&lt;br /&gt;
dikembangbiakan dengan cara vegetatif dan generatif. Cara vegetatif digunakan&lt;br /&gt;
adalah tunas akar, tunas batang, tunas buah, mahkota buah dan stek batang. Cara&lt;br /&gt;
generatif dengan biji yang ditumbuhkan dengan persemaian, (jarang digunakan).&lt;br /&gt;
Kualitas bibit yang baik harus berasal dari tanaman yang pertumbuhannya normal,&lt;br /&gt;
sehat serta bebas dari hama dan penyakit.&lt;br /&gt;
1) Persyaratan Benih&lt;br /&gt;
Bibit yang baik harus mempunyai daun-daun yang nampak tebal-tebal penuh&lt;br /&gt;
berisi, bebas hama dan penyakit, mudah diperoleh dalam jumlah banyak,&lt;br /&gt;
pertumbuhan relatif seragam serta mudah dalam pengangkutan terutama untuk&lt;br /&gt;
bibit stek batang. Tunas batang dan stek batang.&lt;br /&gt;
2) Penyiapan Benih&lt;br /&gt;
Benih nanas dari biji (generatif) jarang digunakan karena membutuhkan teknik&lt;br /&gt;
khusus dan beberapa jenis nanas tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri dan&lt;br /&gt;
tidak menghasilkan biji. Cara perbanyakan secara vegetatif (tunas akar)&lt;br /&gt;
mempunyai ciri khusus: tunas yang tumbuh dari bagian batang yang terletak di&lt;br /&gt;
dalam tanah, jumlah tunas akar per rumpun relatif sedikit, bentuk daun lebih&lt;br /&gt;
langsing, masa remaja tunas akar relatif pendek. Cara vegetatif lain (tunas&lt;br /&gt;
batang) mempunyai ciri-ciri tunas yang tumbuh dari batang dan jumlah tunas per&lt;br /&gt;
rumpun relatif sedikit. Tunas batang mempunyai ciri-ciri tunas yang tumbuh pada&lt;br /&gt;
tangkai buah di bawah tangkai buah dan di atas tunas batang, jumlah tunas buah&lt;br /&gt;
per tanaman relatif banyak hingga mencapai 10 tunas dan ukuran tunas yang&lt;br /&gt;
bervariasi tergantung dari pertumbuhan tanaman. Untuk cara vegetatif dengan&lt;br /&gt;
mahkota buah ciri-cirinya adalah tunas yang ditumbuhkan dari mata tunas yang&lt;br /&gt;
non-aktif pada batang, kemudian disemaikan dalam media steril dengan perlakuan&lt;br /&gt;
khusus serta jumlah bibit yang dihasilkan banyak, seragam, dan mudah dalam&lt;br /&gt;
pengangkutan.&lt;br /&gt;
Penyiapan benih (bibit) untuk tanaman nanas dibedakan menjadi bibit tunas&lt;br /&gt;
batang dan bibit nanas dari stek. Penyiapan bibit tunas batang: memilih tunas&lt;br /&gt;
batang pada pohon induk yang sedang berbuah/setelah panen. Tunas batang&lt;br /&gt;
yang baik adalah panjang 30-35 cm. Daun-daun dekat pangkal pohon dipotong&lt;br /&gt;
untuk mengurangi penguapan dan mempermudah pengangkutan, setelah itu&lt;br /&gt;
biarkan selama beberapa hari di tempat teduh dan bibit siap angkut ke tempat&lt;br /&gt;
penanaman langsung segera ditanam.&lt;br /&gt;
Untuk penyiapan bibit nanas dari stek, langkah pertama yang dilakuakan adalah&lt;br /&gt;
memotong batang nanas yang sudah dipanen buahnya sepanjang 2,5 cm,&lt;br /&gt;
kemudian potongan dibelah menjadi 4 bagian yang mengandung mata tunas.&lt;br /&gt;
Media semai berupa pasir bersih dalam bak tanam. Bibit yang dihasilkan dengan&lt;br /&gt;
tinggi 25-35 cm atau berumur 3-5 bulan dicabut, ditanam di kebun. Bila bibit akan&lt;br /&gt;
diangkut dalam jarak jauh, akar-akarnya dibungkus dengan humus lembab.&lt;br /&gt;
Benih yang disiapkan harus disesuaikan dengan luas areal penanaman.&lt;br /&gt;
Kepadatan tanaman yang ideal berkisar antara 44.000-77.000 bibit tanaman per&lt;br /&gt;
Ha, tergantung jarak tanam, jenis nanas, kesuburan tanah, sistem tanam dan jenis&lt;br /&gt;
bibit. Penanaman dengan sistem persegi (jarak tanam 150 x 150 cm)&lt;br /&gt;
membutuhkan sekitar 3556 bibit bila lahan yang mangkus ditanami 80%. Atau&lt;br /&gt;
12.698 - 15.875 bibit pada sistem tanam kereta api dengan jarak tanam 60 x 60&lt;br /&gt;
cm dan jarak antar barisan sebelah kanan/kiri dari kereta api adalah 150 cm.&lt;br /&gt;
3) Teknik Penyemaian&lt;br /&gt;
Persemaian untuk nanas memerlukan perlakuan khusus. Langkah dalam&lt;br /&gt;
menyiapkan media semai dalam bak persemaian berupa tepung (misalnya&lt;br /&gt;
Rootone) pada permukaan belahan batang untuk mempercepat pertumbuhan&lt;br /&gt;
akar. Belahan batang pada bak persemaian disemaikan sedalam 1,5 - 2,5 cm dan&lt;br /&gt;
jarak tanam 5-10 cm. Kondisi media persemaian dijaga agar tetap lembab dan&lt;br /&gt;
sirkulasi udara baik, dengan menutup bak persemaian dengan lembar plastik&lt;br /&gt;
tembus cahaya (bening).&lt;br /&gt;
Stek batang nanas dibiarkan bertunas dan berakar. Tempat persemaian baru&lt;br /&gt;
yang medianya disuburkan dengan pupuk kandang disiapkan. Campuran media&lt;br /&gt;
berupa tanah halus, pasir dan pupuk kandang halus (1:1:1) atau pasir dengan&lt;br /&gt;
pupuk kandang halus (1:1). Langkah terakhir adalah memindahtanamkan bibit&lt;br /&gt;
nanas dari persemaian perkecambahan ke persemaian pembesaran bibit.&lt;br /&gt;
4) Pemeliharan Pembibitan&lt;br /&gt;
Pemeliharaan pembibitan/persemaian penyiraman dilakukan secara berkala&lt;br /&gt;
dijaga agar kondisi media tanam selalu lembab dan tidak kering supaya bibit tidak&lt;br /&gt;
mati. Pemupukan dilakukan dengan pemberian pupuk kandang dengan&lt;br /&gt;
perbandingan kadar yang sudah ditentukan. Penjarangan dan pemberian&lt;br /&gt;
pestisida dapat dilakukan jika diperlukan.&lt;br /&gt;
5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;
Pemindahan bibit dapat dilakukan jika ukuran tinggi bibit mencapai 25-30 cm atau&lt;br /&gt;
berumur 3-5 bulan.&lt;br /&gt;
Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;
1) Persiapan&lt;br /&gt;
Penanaman nanas dapat dilakukan pada lahan tegalan atau ladang. Waktu&lt;br /&gt;
persiapan dan pembukaan lahan yang paling baik adalah disaat waktu musim&lt;br /&gt;
kemarau, dengan membuang pepohonan yang tidak diperlukan. Pengolahan&lt;br /&gt;
tanah dapat dilakukan pada awal musim hujan. Derajat keasaman tanah perlu&lt;br /&gt;
diperhatikan karena tanaman nanas dapat tumbuh dengan baik pada pH sekitar&lt;br /&gt;
5,5. Jumlah bibit yang diperlukan untuk suatu lahan tergantung dari jenis nanas,&lt;br /&gt;
tingkat kesuburan tanah dan ekologi pertumbuhannya.&lt;br /&gt;
2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;
Untuk membuka suatu lahan, perlu dilakukan: membuang dan membersihkan&lt;br /&gt;
pohon-pohon atau batu-batuan dari sekitar lahan kebun ke tempat penampungan&lt;br /&gt;
limbah pertanian. Mengolah tanah dengan dicangkul/dibajak dengan traktor&lt;br /&gt;
sedalam 30-40 cm hingga gembur, karena, bisa berakibat fatal pada produksi&lt;br /&gt;
tanaman. Biarkan tanah menjadi kering minimal selama 15 hari agar tanah benarbenar&lt;br /&gt;
matang dan siap ditanami.&lt;br /&gt;
3) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;
Pembentukan bedengan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah&lt;br /&gt;
untuk kedua kalinya yang sesuai dengan sistem tanam yang dipakai. Sistem&lt;br /&gt;
petakan cukup dengan cara meratakan tanah, kemudian di sekililingnya dibuat&lt;br /&gt;
saluran pemasukan dan pembuangan air. Sistem bedengan dilakukan dengan&lt;br /&gt;
cara membuat bedengan-bedengan selebar 80-120 cm, jarak antar bedengan 90-&lt;br /&gt;
150 cm atau variasi lain sesuai dengan sistem tanam. Tinggi petakan atau&lt;br /&gt;
bedengan adalah antara 30-40 cm.&lt;br /&gt;
4) Pengapuran&lt;br /&gt;
Derajat kemasaman tanah yang sesuai untuk tanaman nanas adalah 4,5-6,5.&lt;br /&gt;
Pengapuran tanah dilakukan dengan Calcit atau Dolomit atau Zeagro atau bahan&lt;br /&gt;
kapur lainnya dengan cara ditaburkan merata dan dicampurkan dengan lapisan&lt;br /&gt;
tanah atas terutama tanah-tanah yang bereaksi asam (pH dibawah 4,5). Dosis&lt;br /&gt;
kapur disesuaikan dengan pH tanah, namun umumnya berkisar antara 2-4 ton/ha.&lt;br /&gt;
Bila tidak turun hujan, setelah pengapuran segera dilakukan pengairan tanah agar&lt;br /&gt;
kapur cepat melarut.&lt;br /&gt;
5) Pemupukan&lt;br /&gt;
Dalam penanaman nanas dilakukan pemberian pupuk kandang dengan dosis 20&lt;br /&gt;
ton per hektar. Cara pemberian: dicampurkan merata dengan lapisan tanah atas&lt;br /&gt;
atau dimasukkan per lubang tanam. Juga digunakan pupuk anorganik NPK dan&lt;br /&gt;
urea. Nitrogen (N) sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, fosfor&lt;br /&gt;
diperlukan selama beberapa bulan pada awal pertumbuhan sedangkan Kalium&lt;br /&gt;
diperlukan untuk perkembangan buah, khususnya nanas. Pupuk urea&lt;br /&gt;
penggunaannya dikombinasikan dengan perangsang pembungaan.&lt;br /&gt;
Teknik Penanaman&lt;br /&gt;
1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;
Pola tanam merupakan pengaturan tata letak tanaman dan urutan jenis tanaman&lt;br /&gt;
dengan waktu tertentu, dalam kurun waktu setahun. Dalam teknik penanaman&lt;br /&gt;
nanas ada beberapa sistem tanam, yaitu: sistem baris tunggal atau persegi&lt;br /&gt;
dengan jarak tanam 150 x 150 cm baik dalam maupun antar barisan; 90 x 30 cm&lt;br /&gt;
jarak dalam barisan 30 cm, dan jarak antar barisan adalah 90 cm. Sistem baris&lt;br /&gt;
rangkap dua dengan jarak tanam 60 x 60 cm, dan jarak antar barisan sebelah kiri&lt;br /&gt;
dan kanan dari 2 barisan adalah 150 cm dan jarak tanam 45 x 30 cm, dan jarak&lt;br /&gt;
antar barisan tanaman sebelah kiri dan kanan dari 2 barisan tanaman adalah 90&lt;br /&gt;
cm. Sistem baris rangkap tiga dengan jarak tanam 30 x 30 cm membentuk&lt;br /&gt;
segitiga sama sisi dengan jarak antar barisan sebelah kiri/ kanan dari 3 barisan&lt;br /&gt;
tanaman: 90 cm dan jarak tanam 40 x 30 cm dengan jarak antar barisan sebelah&lt;br /&gt;
kiri/kanan dari 3 barisan adalah 90 cm serta sisitem baris rangkap empat dengan&lt;br /&gt;
jarak 30 x 30 cm dan jarak antar barisan sebelah kiri/kanan dari 4 barisan&lt;br /&gt;
tanaman 90 cm.&lt;br /&gt;
2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;
Pembuatan lubang tanam pada jarak tanam yang dipilih sesuai dengan sistem&lt;br /&gt;
tanam. Ukuran lubang tanam: 30 x 30 x 30 cm. Untuk membuat lubang tanam&lt;br /&gt;
digunakan pacul, tugal atau alat lain.&lt;br /&gt;
3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;
Penanaman yang baik dilakukan pada awal musim hujan. Langkah-langkah yang&lt;br /&gt;
dilakukan: (1) membuat lubang tanam sesuai dengan jarak dan sistem tanam&lt;br /&gt;
yang dipilih; (2) mengambil bibit nanas sehat dan baik dan menanam bibit pada&lt;br /&gt;
lubang tanam yang tersedia masing-masing satu bibit per lubang tanam; (3) tanah&lt;br /&gt;
ditekan/dipadatkan di sekitar pangkal batang bibit nanas agar tidak mudah roboh&lt;br /&gt;
dan akar tanaman dapat kontak langsung dengan air tanah; (4) dilakukan&lt;br /&gt;
penyiraman hingga tanah lembab dan basah; (5) penanaman bibit nanas jangan&lt;br /&gt;
terlalu dalam, 3-5 cm bagian pangkal batang tertimbun tanah agar bibit mudah&lt;br /&gt;
busuk.&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;
1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;
Penjarangan nanas tidak dilakukan karena tanaman nanas spesifik dan tidak&lt;br /&gt;
berbentuk pohon. Kegiatan penyulaman nanas diperlukan, sebab ceding-ceding&lt;br /&gt;
bibit nanas tidak tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau faktor bibit.&lt;br /&gt;
2) Penyiangan&lt;br /&gt;
Penyiangan diperlukan untuk membersihkan kebun nanas dari rumput liar dan&lt;br /&gt;
gulma pesaing tanaman nanas dalam hal kebutuhan air, unsur hara dan sinar&lt;br /&gt;
matahari. Rumput liar sering menjadi sarang dari dan penyakit. Waktu&lt;br /&gt;
penyiangan tergantung dari pertumbuhan rumput liar di kebun, namun untuk&lt;br /&gt;
menghemat biaya penyiangan dilakukan bersamaan dengan kegiatan&lt;br /&gt;
pemupukan.&lt;br /&gt;
Cara penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput dengan&lt;br /&gt;
tangan/kored/cangkul. Tanah di sekitar bedengan digemburkan dan ditimbunkan&lt;br /&gt;
pada pangkal batang nanas sehingga membentuk guludan.&lt;br /&gt;
3) Pembubunan&lt;br /&gt;
Pembubunan diperlukan dalam penanaman nanas, dilakukan pada tepi bedengan&lt;br /&gt;
yang seringkali longsor ketika diairi. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah&lt;br /&gt;
dari selokan atau parit di sekeliling bedengan, agar bedengan menjadi lebih tinggi&lt;br /&gt;
dan parit menjadi lebih dalam, sehingga drainase menjadi normal kembali.&lt;br /&gt;
Pembubunan berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah dan akar yang keluar di&lt;br /&gt;
permukaan tanah tertutup kembali sehingga tanaman nanas berdiri kuat.&lt;br /&gt;
4) Pemupukan&lt;br /&gt;
Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 bulan dengan pupuk buatan.&lt;br /&gt;
Pemupukan susulan berikutnya diulang tiap 3-4 bulan sekali sampai tanaman&lt;br /&gt;
berbunga dan berbuah. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah:&lt;br /&gt;
a) Pupuk NPK tablet (Pamafert)&lt;br /&gt;
1. Komposisi kandungan N-P2O5-K2O-MgO-CaO adalah 17-8-12-0-2+mikro&lt;br /&gt;
2. Bentuk pupuk berupa tablet, berat 4 gram setiap tablet&lt;br /&gt;
3. Dosisi anjuran satu tablet tiap tanaman&lt;br /&gt;
b) Pupuk tunggal berupa campuran ZA, TSP, atau SP-36 dan KCl&lt;br /&gt;
1. Dosis anjuran 1: ZA 100 kg + TSP atau SP-36 60 kg + KCl 50 kg per hektar.&lt;br /&gt;
Pupuk susulan diulang setiap 4 bulan sekali dengan dosis yang sama.&lt;br /&gt;
2. Dosis anjuran 2: mulai umur 3 bulan setelah tanam dipupuk dengan ZA 125&lt;br /&gt;
kg atau urea 62,5 kg + TSP atau SP-36 75 kg/ha. Pada umur 6 bulan&lt;br /&gt;
dipupuk kandang 10 ton/ha.&lt;br /&gt;
Cara pemberian pupuk dibenamkan/dimasukkan ke dalam parit sedalam 10-15 cm&lt;br /&gt;
diantara barisan tanaman nanas, kemudian tutup dengan tanah. Cara lain:&lt;br /&gt;
disemprotkan pada daun terutama pupuk Nitrogen dengan dosis 40 gram Urea&lt;br /&gt;
per liter atau ± 900 liter larutan urea per hektar.&lt;br /&gt;
5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;
Sekalipun tanaman nanas tahan terhadap iklim kering, namun untuk pertumbuhan&lt;br /&gt;
tanaman yang optimal diperlukan air yan cukup. Pengairan /penyiraman dilakukan&lt;br /&gt;
1-2 kali dalam seminggu atau tergantung keadaan cuaca. Tanaman nanas&lt;br /&gt;
dewasa masih perlu pengairan untuk merangsang pembungaan dan pembuahan&lt;br /&gt;
secara optimal. Pengairan dilakukan 2 minggu sekali. Tanah yang terlalu kering&lt;br /&gt;
dapat menyebabkan pertumbuhan nanas kerdil dan buahnya kecil-kecil. Waktu&lt;br /&gt;
pengairan yang paling baik adalah sore dan pagi hari dengan menggunakan&lt;br /&gt;
mesin penyemprot atau embrat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
1) Penggerak buah (Thecla basilides Geyer)&lt;br /&gt;
Ciri: kupu-kupu berwarna coklat dan kupu-kupu betina meletakkan telurnya pada&lt;br /&gt;
permukaan buah, kemudian menetas menjadi larva; bentuk larva pada bagian&lt;br /&gt;
tubuh atas cembung, bagian bawah datar dan tubuh tertutup bulu-bulu halus&lt;br /&gt;
pendek.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang buah dengan cara menggerek/melubangi daging&lt;br /&gt;
buah; buah nanas yang diserang hama ini berlubang dan mengeluarkan getah,&lt;br /&gt;
kemudian membusuk karena diikuti serangan cendawan atau bakteri.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) non kimiawi dengan menjaga kebersihan kebun serta&lt;br /&gt;
membuang bagian tanaman yang terserang hama; (2) kimiawi dengan&lt;br /&gt;
menyemprot insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Basudin 60 EC atau&lt;br /&gt;
Thiodan 35 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.&lt;br /&gt;
2) Kumbang (Carpophilus hemipterus L.)&lt;br /&gt;
Ciri: berupa kumbang kecil, berwarma coklat/hitam; larva berwarna putih&lt;br /&gt;
kekuningan, berambut tipis, bentuk langsing berkaki 6.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang tanaman nanas yang gluka sehingga bergetah dan busuk oleh mikroorganisme lain (cendawan dan bakteri).&lt;br /&gt;
Pengendalian: dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dan pemberian insektisida.&lt;br /&gt;
3) Lalat buah (Atherigona sp.)&lt;br /&gt;
Ciri: Lalat berukuran kecil, meletakkan telur pada bekas luka bagian buah,&lt;br /&gt;
kemudian menjadi larva berwarna putih.&lt;br /&gt;
Gejala: merusak/ memakan daging buah hingga menyebabkan busuk lunak. Pengendalian: (1) non kimiawi dengan&lt;br /&gt;
menjaga kebersihan kebun, membuang buah yang terserang lalat buah; (2)&lt;br /&gt;
kimiawi dengan cara disemprot insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti&lt;br /&gt;
Thiodan 35 EC atau Basudin EC pada konsentrasi yang dianjurkan.&lt;br /&gt;
4) Thrips (Holopothrips ananasi Da Costa Lima)&lt;br /&gt;
Ciri: Tubuh thrips berukuran sangat kecil panjang sekitar 1,5 mm, berwarna&lt;br /&gt;
coklat, dan bermata besar.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang tanaman dengan cara menghisap&lt;br /&gt;
cairan sel daun sehingga menimbulkan bintik-bintik berwarna perak; pada tingkat&lt;br /&gt;
serangan yang berat menyebabkan pertumbuhan tanaman muda terhambat.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) secara non kimiawi dapat dilakukan dengan menjaga&lt;br /&gt;
kebersihan kebun dan mengurangi ragam tanaman inang; (2) secara kimiawi&lt;br /&gt;
dilakukan dengan penyemprotan insektisida: Mitac 200 EC atau Dicarol 25 SP&lt;br /&gt;
pada konsentrasi yang dianjurkan.&lt;br /&gt;
5) Sisik (Diaspis bromeliae Kerne)&lt;br /&gt;
Ciri: Serangga berukuran kecil diameter ± 2,5 mm, bulat dan datar, berwarna&lt;br /&gt;
putih kekuningan/keabu-abuan, bergerombol menutupi buah dan daun, sehingga&lt;br /&gt;
menyebabkan ukuran buah kecil dan pertumbuhan tanaman terhambat.&lt;br /&gt;
Pengendalian: dapat disemprot dengan insektisida Decis 2,5 EC atau Curacron&lt;br /&gt;
500 EC pada konsentrasi yang dianjurkan.&lt;br /&gt;
6) Ulat buah (Tmolus echinon L)&lt;br /&gt;
Ciri: Serangga muda/dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat serta larva/ulat&lt;br /&gt;
tertutup rambut halus dan kepalanya kecil.&lt;br /&gt;
Gejala: menyerang buah nanas&lt;br /&gt;
dengan cara menggerek dan membuat lubang yang menyebabkan buah&lt;br /&gt;
berlubang, bergetah dan sebagian buah memotong bagian tanaman yang&lt;br /&gt;
terserang berat.&lt;br /&gt;
Pengendalian dilakukan dengan mengumpulkan/membunuh ulat&lt;br /&gt;
secara mekanis, serta disemprot insektisida: Buldok 25 EC atau Thiodan 35 EC&lt;br /&gt;
pada konsentrasi yang dianjurkan&lt;br /&gt;
7) Hama lain: rayap, tikus, nematoda, bintil akar dan kutu tepung jeruk juga kadangkadang menyerang tanaman nanas.&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
1) Busuk hati dan busuk akar&lt;br /&gt;
Penyebab: cendawan Phytophthora parasitica Waterh dan P. cinnamomi Rands.&lt;br /&gt;
Penyakit busuk hati disebut hearth rot, sedangkan busuk akar dinamakan root rot.&lt;br /&gt;
Penyebaran penyakit dibantu bermacam-macam tanaman inang, air yang&lt;br /&gt;
mengalir, alat-alat pertanian, curah hujan tinggi, tanah yang mengandung bahan&lt;br /&gt;
organik dan kelembaban tanah tinggi antara 25-35 derajat C.&lt;br /&gt;
Gejala: pada daun terjadi perubahan warna menjadi hijau belang-belang kuning dan ujungnya nekrotis; daun-daun muda mudah dicabut bagian pangkalnya membusuk dengan bau busuk berwarna coklat, dan akhirnya tanaman mati; pembusukan pada system perakaran.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) non kimiawi dilakukan dengan cara perbaikan&lt;br /&gt;
drainase tanah, mengurangi kelembapan sekitar kebun, dan memotong/mencabut&lt;br /&gt;
tanaman yang sakit; (2) kimiawi dengan pencelupan bibit dalam larutan fungisida&lt;br /&gt;
sebelum tanam, seperti Dithane M-45 atau Benlate.&lt;br /&gt;
2) Busuk pangkal&lt;br /&gt;
Penyebab: cendawan Thielaviopsis paradoxa (de Seyn) Hohn atau Ceratocystis&lt;br /&gt;
paradoxa (Dade) C. Moreu. Penyakit ini sering disebut base rot. Penyebaran&lt;br /&gt;
penyakit dibantu tanaman inangnya, adanya luka-luka mekanis pada tanaman,&lt;br /&gt;
angin, hujan dan tanah.&lt;br /&gt;
Gejala: pada bagian pangkal batang, daun, buah dan bibit&lt;br /&gt;
menampakkan gejala busuk lunak berwarna coklat atau hitam, berbau khas, atau&lt;br /&gt;
bercak-bercak putih kekuning-kuningan.&lt;br /&gt;
Pengendalian: (1) non kimiawi dengan&lt;br /&gt;
melakukan penyimpanan bibit sementara sebelum tanamn agar luka cepat&lt;br /&gt;
sembuh, menanam bibit pada cuaca kering, dan menghindari luka-luka mekanis;&lt;br /&gt;
(2) kimiawi dengan perendaman bibit dalam larutan fungisida Benlate.&lt;br /&gt;
3) Penyakit Lain&lt;br /&gt;
Penyakit adalah busuk bercak gabus pada buah disebabkan oleh cendawan&lt;br /&gt;
Pinicillium funiculosum Thom, busuk bibit oleh cendawan Pythium sp., layu dan&lt;br /&gt;
bercak kuning oleh virus yang belum diketahui secara pasti jenisnya.&lt;br /&gt;
Pengendalian: harus dilakukan secara terpadu, meliputi penggunaan bibit yang&lt;br /&gt;
sehat, perbaikan kultur teknik budidaya secara intensif, pemotongan/pencabutan&lt;br /&gt;
dan pemusnahan tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;
Gulma&lt;br /&gt;
Penurunan produksi nanas dapat disebabkan oleh banyak dan dominannya gulma&lt;br /&gt;
karena pemberian mulsa yang kurang baik sehingga pertumbuhan rumput subur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANEN&lt;br /&gt;
Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;
Panen buah nanas dilakukan setelah nanas berumur 12-24 bulan, tergantung dari&lt;br /&gt;
jenis bibit yang digunakan. Bibit yang berasal dari mahkota bunga berbuah pada&lt;br /&gt;
umur 24 bulan, hingga panen buah setelah berumur 24 bulan. Tanaman yang&lt;br /&gt;
berasal dari tunas batang dipanen setelah umur 18 bulan, sedangkan tunas akar&lt;br /&gt;
setelah berumur 12 bulan. Ciri-ciri buah nanas yang siap dipanen:&lt;br /&gt;
a) Mahkota buah terbuka.&lt;br /&gt;
b) Tangkai ubah mengkerut.&lt;br /&gt;
c) Mata buah lebih mendatar, besar dan bentuknya bulat.&lt;br /&gt;
d) Warna bagian dasar buah kuning.&lt;br /&gt;
e) Timbul aroma nanas yang harum dan khas.&lt;br /&gt;
Cara Panen&lt;br /&gt;
Tata cara panen buah nanas: memilih buah nanas yang menunjukkan tanda-tanda&lt;br /&gt;
siap panen. Pangkal tangkai buah dipotong secara mendatar/miring dengan pisau&lt;br /&gt;
tajam dan steril. Pemanenan dilakukan secara hati-hati agar tidak rusak dan memar.&lt;br /&gt;
Periode Panen&lt;br /&gt;
Tanaman nanas dipanen setelah berumur 12-24 bulan. Pemanenan buah nanas&lt;br /&gt;
dilakukan bertahap sampai tiga kali. Panen pertama sekitar 25%, kedua 50%, dan&lt;br /&gt;
ketiga 25% dari jumlah yang ada. Tanaman yang sudah berumur 4-5 tahun perlu&lt;br /&gt;
diremajakan karena pertumbuhannya lambat dan buahnya kecil. Cara peremajaan&lt;br /&gt;
adalah membongkar seluruh tanaman nanas untuk diganti dengan bibit yang baru.&lt;br /&gt;
Penyiapan lahan sampai penanaman dilakukan seperti cara bercocok tanam pada&lt;br /&gt;
lahan yang baru.&lt;br /&gt;
Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;
Potensi produksi per hektar pada tanaman nanas yang dibudidayakan intensif dapat&lt;br /&gt;
mencapai 38-75 ton/hektar. Pada umumnya rata-rata 20 ton/hektar, tergantung jenis&lt;br /&gt;
nanas dan sistem tanam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PASCAPANEN&lt;br /&gt;
Buah nanas termasuk komoditi buah yang mudah rusak, susut dan cepat busuk.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, setelah panen memerlukan penanganan pascapanen yang&lt;br /&gt;
memadai.&lt;br /&gt;
Pengumpulan&lt;br /&gt;
Setelah panen dilakukan pengumpulan buah ditempat penampungan hasil atau&lt;br /&gt;
gudang sortasi.&lt;br /&gt;
Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;
Kegiatan sortasi dimulai dengan memisahkan buah yang rusak, memar, busuk, atau&lt;br /&gt;
mentah secara tersendiri dari buah yang bagus dan normal. Klasifikasi buah&lt;br /&gt;
berdasarkan bentuk dan ukuran yang seragam, jenis maupun tingkat&lt;br /&gt;
kematangannya.&lt;br /&gt;
Penyimpanan&lt;br /&gt;
Penyimpanan dilakukan jika harga turun, sehingga untuk menunggu harga naik&lt;br /&gt;
maka dilakukan penyimpanan. Buah nanas biasanya disimpan dalam peti kemas&lt;br /&gt;
dalam ruangan dingin yang suhunya sekitar 5 derajat C.&lt;br /&gt;
Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;
Kegiatan pengemasan dimulai dengan mengeluarkan buah nanas dari lemari&lt;br /&gt;
pemeraman, lalu dipilih (sortasi) berdasarkan tingkat kerusakannya agar seragam.&lt;br /&gt;
Kemudian buah nanas dibungkus dengan kertas pembungkus lalu dikemas dalam&lt;br /&gt;
keranjang bambu atau peti kayu atau dos karton bergelombang. Ukuran wadah&lt;br /&gt;
pengemasan 60 x 30 x 30 cm yang diberi lubang ventilasi. Proses pengangkutan&lt;br /&gt;
dimulai dengan memasukkan peti kemas secara teratur pada alat pengangkutan,&lt;br /&gt;
buah nanas diangkut dan dipasarkan ke tempat pemasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;
Standar ini meliputi syarat mutu, cara uji, cara pengambilan contoh dan cara&lt;br /&gt;
pengemasan nanas.&lt;br /&gt;
Standar mutu buah nanas sesuai dengan Standar Nasional Indonesia SNI 01-3166-&lt;br /&gt;
1992.&lt;br /&gt;
Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;
Nanas digolongkan dalam dua jenis mutu, yaitu mutu I dan II.&lt;br /&gt;
a) Kesamaan sifat varientas: mutu I=seragam; mutu II=seragam; cara uji&lt;br /&gt;
organoleptik.&lt;br /&gt;
b) Tingkat ketuaan: mutu I=tua, tidak terlalu matang dan tidak lunak; mutu II=tua,&lt;br /&gt;
tidak terlalu matang dan tidak lunak; cara uji organoleptik.&lt;br /&gt;
c) Kekerasan: mutu I=keras, mutu II=keras; cara uji organoleptik.&lt;br /&gt;
d) Ukuran: mutu I=seragam, diameter min. 9,5 cm; mutu II=kurang seragam; cara uji&lt;br /&gt;
SP-SMP-309-1981.&lt;br /&gt;
e) Gagang: mutu I=teropong rapi; mutu II=teropong rapi; cara uji organoleptik.&lt;br /&gt;
f) Mahkota: mutu I=satu, utuh rapi, ukuran normal; mutu II=tidak dipersyaratkan;&lt;br /&gt;
cara uji organoleptik.&lt;br /&gt;
g) Kerusakan (%): mutu I=maksimum 5; mutu II=maksimum 10; cara uji SP-SMP-&lt;br /&gt;
310-1981.&lt;br /&gt;
h) Busuk (%): mutu I=maksimum 1; mutu II=maksimum 2; cara uji SP-SMP-311-&lt;br /&gt;
1981.&lt;br /&gt;
i) Kadar total padatan terlarut (%): mutu I=minimum 12; mutu II=minimum 12; cara&lt;br /&gt;
uji SP-SMP-321-1981&lt;br /&gt;
j) Kotoran: mutu I=bebas kotoran; mutu II=bebas kotoran; cara uji organoleptik.&lt;br /&gt;
Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
1) Produk dalam ikatan/kemasan&lt;br /&gt;
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat di bawah ini. Dari&lt;br /&gt;
setiap kemasan/ikatan diambil contohnya sebanyak 5 buah nanas, dari bagian&lt;br /&gt;
atas, tengah dan bawah. Contoh-contoh tersebut diacak bertingkat (stratified&lt;br /&gt;
random sampling) sampai diperoleh minimum 5 buah untuk dianalisis.&lt;br /&gt;
1. Jumlah ikatan/kemasan dalam partai adalah sampai dengan 100 : jumlah&lt;br /&gt;
contoh 5&lt;br /&gt;
2. Jumlah ikatan/kemasan dalam partai adalah 101 sampai 300 : jumlah contoh 7&lt;br /&gt;
3. Jumlah ikatan/kemasan dalam partai adalah 301 sampai 500 : jumlah contoh 9&lt;br /&gt;
4. Jumlah ikatan/kemasan dalam partai adalah 501 sampai 20 : jumlah contoh 10&lt;br /&gt;
5. Jumlah ikatan/kemasan dalam partai adalah Lebih dari 1000 : jumlah contoh 15&lt;br /&gt;
(min)&lt;br /&gt;
Catatan: Khusus untuk pengujian kerusakan dan busuk, jumlah contoh akhir&lt;br /&gt;
sebanyak 100 buah. Pengujian dapat dilakukan di lapangan.&lt;br /&gt;
2) Produk dalam curah (in bulk)&lt;br /&gt;
Sekurang-kurangnya 5 contoh diambil secara acak sesuai dengan jumlah berat&lt;br /&gt;
total seperti terlihat di bawah ini. Contoh-contoh tersebut yang diambil dari bagian&lt;br /&gt;
atas, tengah dan bawahserta berbagai sudut dicampur, kemudian diacak&lt;br /&gt;
bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 10 kg untuk&lt;br /&gt;
dianalisa. Dalam hal berat nanas yang diambil contohnya lebih dari 2 kg/buah,&lt;br /&gt;
setiap pengambilan contoh sekurang-kurangnya terdiri dari 5 buah nanas.&lt;br /&gt;
1. Jumlah berat lot s/d 200 kg berat : contoh minimal yang diambil 10 kg&lt;br /&gt;
2. 201 s/d 500 kg berat : contoh minimal yang diambil 20 kg&lt;br /&gt;
3. 501 s/d 1000 kg berat : contoh minimal yang diambil 30 kg&lt;br /&gt;
4. 1001 s/d 5000 kg berat : contoh minimal yang diambil 60 kg&lt;br /&gt;
5. Lebih dari 5000 kg berat : contoh minimal yang diambil 100 kg&lt;br /&gt;
Catatan: Khusus untuk pengujian kerusakan dan busuk, jumlah contoh akhir&lt;br /&gt;
sebanyak 100 buah. Pengujian dapat dilakukan dilapangan.&lt;br /&gt;
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang telah&lt;br /&gt;
berpengalaman atau dilatih terlebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu&lt;br /&gt;
badan hukum.&lt;br /&gt;
Pengemasan&lt;br /&gt;
Nanas dikemas dalam keranjang bambu, peti kayu ataupun karton dengan atau&lt;br /&gt;
tanpa bahan penyakit dengan berat bersih maksimum 40 kg. Atau diikat dengan tali,&lt;br /&gt;
masing-masing ikatan terdiri dari maksimum 10 buah nanas.&lt;br /&gt;
Pemberian merek untuk nanas yang dikemas dalam kemasan pada bagian luar&lt;br /&gt;
kemasan diberi label yang bertuliskan:&lt;br /&gt;
a) Nama barang.&lt;br /&gt;
b) Jenis mutu.&lt;br /&gt;
c) Nama/kode perusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;
d) Berat bersih.&lt;br /&gt;
e) Jumlah nanas/kemasan.&lt;br /&gt;
f) Daerah asal.&lt;br /&gt;
g) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;
h) Tempat/negara tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Selamat mencoba,semoga sukses.

Dilarang mengkopi tanpa mencantumkan sumbernya di &lt;a href=''www.kuncikarir.blogspot.com''&gt;Kunci Karir&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>