<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Langit Biru Pekalongan</title><link>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/langitbirupekalonganblogspotcom" /><description>Pekalongan menjadi tempat ketiga bagikku untuk belajar tentang makna hidup ini. Cirebon dan Purwokerto adalah dua kota sebelumnya yang turut memberikan warna. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh teman-teman, kota manakah yang paling menyenangkan, jawaban saya semua menyenangkan, karena saya menganut perubahan dari dalam keluar, dan bukan dari luar ke dalam.</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Asep)</managingEditor><lastBuildDate>Sun, 15 Apr 2012 18:13:17 PDT</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="langitbirupekalonganblogspotcom" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>Pekalongan menjadi tempat ketiga bagikku untuk belajar tentang makna hidup ini. Cirebon dan Purwokerto adalah dua kota sebelumnya yang turut memberikan warna. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh teman-teman, kota manakah yang paling menyenangkan, jawa</itunes:subtitle><item><title>Sukses = Ketekunan + Kreatifitas</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/d9Z1eeiRs6g/sukses-ketekunan-kreatifitas.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Fri, 03 Sep 2010 21:20:53 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-4644574509196062811</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/TIHIVqCbdAI/AAAAAAAAAYk/jZyPqB8rlg0/s1600/mendaki+gunung.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/TIHIVqCbdAI/AAAAAAAAAYk/jZyPqB8rlg0/s320/mendaki+gunung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512907693265482754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TETANGGA sebelah kanan saya adalah seorang tukang jahit. Dia bilang ayahnya, kakek dan neneknya dan para leluhurnya juga tukang jahit. Sudah berpuluh-puluh tahun menjadi tukang jahit. Kondisi kehidupannya tidak kaya, juga tidak miskin. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Walaupun kalau ada biaya yang cukup besar terpaksa harus cari utangan. Anehnya, jahitan yang digarapnya adalah order tetap dari seorang juragan. Dengan upah fix cost per satu pakaian Rp 15.000 dari 15 tahun yang lalu tidak juga ada perubahan sampai sekarang. Kayanya merupakan hal yang tabu kalau harus menawar tarif karena dari dulu sudah diberi order tetap. Mereka beranggapan order tetap itu adalah bentuk dari kemurahan dan kebaikan hati sang juragan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tetangga sebelah kiri saya juga tukang jahit. Bedanya, dia sekolah tukang jahit di kota besar selama satu tahun. Selain menjahit, juga belajar pola dan desain. Yang dia kerjakan bukan hanya menerima orderan dari seseorang, tapi dia sendiri kadang-kadang mencari orderan. Tarif yang ditawarkan bermacam-macam, kalau hanya menjahit pakaian dengan pola yang sudah ada bisa murah. Kisaran Rp 50.000 saja. Tapi kalau mau membuat pakaian dengan jenis yang lain ada dua harga, pertama harga menjahit dan kedua harga membuat pola sesuai pesanan. Harga membuat pola bisa 3-5 kali lipat harganya. Pekerjaan tetangga saya yang kedua ini belum lama dilakukan. Dia berprofesi sebagai tukang jahit sejak 3 tahun yang lalu. Sebelumnya dia adalah seorang marketing yang berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi karena perusahaannya bangkrut, dia alih profesi menjadi tukang jahit. Uang pesangonnya digunakan untuk kursus menjahit dan membuat pola. Bisa dibandingkan, tetangga kedua mendapatkan penghasilan jauh lebih besar daripada tetangga yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perbedaan penjahit pertama dan penjahit yang kedua? Saya menilai penjahit pertama adalah tipe orang yang tekun, sabar dan nrimo. Sehingga pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak berpuluh-puluh tahun terus diwariskan ke generasi berikutnya. Tapi memang tukang jahit pertama miskin kreatifitas. Sementara tukang jahit yang kedua adalah tipe orang yang kreatif. Dia tidak mau menerima keadaan yang itu-itu saja, dia belajar berbagai macam hal. Bila mendapatkan order atau membeli barang, kalau bisa ditawar kenapa tidak. Tipe yang kedua ini dikategorikan sebagai penjahit yang kreatif sekaligus tekun. Tekun karena dia juga menjalaninya dengan serius, tidak dikerjakan asal-asalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman yang serba berubah seperti sekarang ini, ketekunan saja tidak cukup. Memang ketekunan adalah modal awal untuk mencapai tujuan. Tapi ketekunan tanpa kreatifitas bisa benar-benar berbahaya. Mengapa berbahaya? Kalau mengambil contoh tukang jahit di atas, bila suatu saat tidak ada order menjahit maka mereka bisa-bisa tidak bisa mendapatkan uang, tidak bisa makan dan akibat-akibat lainnya, karena keterampilan mereka hanya satu. Sementara sikap orang kreatif bila terjadi perubahan situasi ekonomi apakah bentuknya sepi order atau hal lainnya, mereka akan mencari jalan keluar dan belajar hal baru. Sehingga walaupun sepi order di bisnis pertama, dia masih bisa melangsungkan pekerjaannya di bisnis yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELATIH KREATIFITAS&lt;br /&gt;Kreatifitas itu tidak bisa muncul sendiri, perlu dilatih, diasah dan dilakukan secara terus menerus. Kreatifitas itu pekerjaan otak kanan seperti berimajinasi, membayangkan gambaran-gambaran baru, memvisualisasikan ide-ide spektakuler. Bahkan mengabaikan istilah tidak mungkin. Semuanya bersifat mungkin, kalau orang lain bisa melakukan, dirinya juga bisa melakukan juga. Kalau dalam imajinasi masih tergambar, suatu ketika bisa terwujud. Orang-orang Jepang adalah salah satu contoh orang yang &lt;br /&gt;memiliki kualitas mental tekun dan kreatif. Tekun karena mau melakukan satu pekerjaan sampai selesai, kreatif karena selalu mencari inovasi baru dari waktu ke waktu. Tidak heran kalau produk otomotif seperti motor dan mobil lahir dari tangan-tangan putera negeri Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Jepang sampai memiliki mental seperti itu? Banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor alam cukup dominan, di sana tidak ada sawah, ladang, hutan yang hijau. Jangan harap bisa menanam singkong di Jepang. Gempa bumi pun menjadi langganan Jepang karena letak geografis negeri tersebut berada tepat di antara lempengan bumi. Tapi kondisi yang sulit tersebut memaksa mereka untuk berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Dan betul, jalan keluar ditemukan. Pikiran kita bekerja sesuai dengan program si empunya. Bila si empunya pikiran menyuruh untuk mencari solusi atas satu persoalan, jawaban atas persoalan tersebut segera ditemukan. Sebaliknya bila pikiran dibiarkan tidur dan "nganggur" tidak akan ada hasil apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah negara Indonesia yang hijau, subur, menanam singkong langsung jadi. Kondisi alamnya benar-benar memanjakan. Nganggur pun masih bisa makan, apakah dengan tebal muka ikut orang tua terus atau meminta kepada teman. Bahkan tidak sedikit yang sudah menikah masih tinggal bersama orang tua dengan berbagai macam alasan, baik alasan ekonomi atau alasan psikologi kangen orang tua. Terlepas dari alasan apapun dengan berbagai macam pembenarannya, kondisi di Indonesia seperti itu memunculkan sikap miskin kreatifitas, tidak berani dengan resiko, comfort zone dan mencari aman. Paradigma yang muncul adalah lebih baik tetap dengan kebiasaan lama walaupun penuh dengan resiko buruk, tapi resiko itu sudah diketahui sejak lama. Orang malas resikonya tidak punya penghasilan banyak, tapi tetap malas karena resikonya sudah diketahui. Sementara untuk melompat keluar zona nyaman resikonya ada dua, gagal dan berhasil. Kalau berhasil tidak ada masalah baru, tapi kalau gagal ini yang repot. Sementara kegagalan di luar zona nyaman sama sekali belum diketahui resikonya akan seperti apa. Demikian kira-kira mengapa paradigma comfort zone senantiasa dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah, bagaimana supaya bisa keluar dari zona nyaman? Bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan sungguh-sungguh memaksakan diri keluar dari kebiasaan lama sambil belajar. Ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesadaran bahwa hidup ini harus berubah terus kalau ingin tetap survival dan selalu bisa menjawab tantangan yang muncul. Sementara cara kedua dengan tingkat resiko yang lumayan tinggi, bisa berhasil bila disikapi secara positif dan bisa juga gagal bila disikapi negatif. Caranya adalah mengalami persoalan hidup yang berat, apakah di PHK, rumah kebakaran, merantau keluar kota, orang tua yang menjadi tumpuan meninggal atau kena tipu orang sehingga kekayaannya ludes. Yang berpikir positif akan memulai lagi dari nol dan terus berjalan sambil terus menerus belajar. Yang menyikapi secara negatif, kejadian tersebut dianggap sebagai kiamat dunia yang membuatnya frustrasi, gila bahkan bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh kasus orang-orang yang berhasil melampaui persoalannya. Hellen Keller misalnya adalah contoh sukses dari orang yang buta dan tuli. Tapi mengapa dia berhasil menempuh pendidikan sampai tingkat Doktor dan menjadi orang yang memiliki kepedulian tinggi pada orang buta dn tuli. Thomas Alfa Edison yang tuli bisa menjadi tokoh besar dalam sains dan contoh-contoh kongkrit lainnya. Tidak ada kaitan antara cacat fisik dengan kesuksesan. Kalau mereka yang cacat bisa sukses, mengapa kita yang memiliki struktur fisik yang normal sangat cengeng dan mudah menyerah. Di sinilah perbedaan mental baja dan mental kerupuk. Dan itu perlu latihan terus menerus untuk memiliki mental baja patang menyerah, apapun tantangan yang muncul bisa dihadapi dengan senyuman. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah General Manager Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-4644574509196062811?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ITz4Yy2Laz2rPKYe-1ixd_yLNtQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ITz4Yy2Laz2rPKYe-1ixd_yLNtQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ITz4Yy2Laz2rPKYe-1ixd_yLNtQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ITz4Yy2Laz2rPKYe-1ixd_yLNtQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/d9Z1eeiRs6g" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/TIHIVqCbdAI/AAAAAAAAAYk/jZyPqB8rlg0/s72-c/mendaki+gunung.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2010/09/sukses-ketekunan-kreatifitas.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mengubah Kebiasaan dengan NAC</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/oWdSv8owcOE/mengubah-kebiasaan-dengan-nac.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Wed, 03 Mar 2010 20:49:16 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-2335244029414343024</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/S487boys1pI/AAAAAAAAAYU/5p1Yvc5dsnM/s1600-h/visualization.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/S487boys1pI/AAAAAAAAAYU/5p1Yvc5dsnM/s320/visualization.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444635820506797714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TULISAN ini terinspirasi oleh Buku Anthony Robbins yang berjudul Awaken The Giant Within. Di dalamnya diterangkan tentang cara-cara mengubah satu kebiasaan yang tidak mendukung masa depan kita menuju ke biasaan baik yang mendukung dan memberdayakan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anthony Robbins bercerita tentang pengalaman dirinya beberapa tahun yang lalu. Tubuhnya begitu gemuk, saya lupa berapa kilogram. Tapi sangat tidak enak dipandang mata. Konon Tony (panggilan Anthony Robbins) sampai segemuk itu karena dia mempunyai neuro asosiatif conditioning (NAC- mengkondisikan asosiasi pikiran ketika melihat atau melakukan sesuatu) yang keliru. Saat itu setiap kali dia melihat restoran, maka yang tergambar di pikirannya adalah makanan yang lezat-lezat yang membangkitkan selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran tiap kali melihat restoran dia langsung berhenti dan langsung makan. Tapi persoalannya tidak berhenti sampai di sana, walaupun tidak lapar-lapar amat, kalau melihat restoran dia langsung berhenti dan makan. Akumulasi kebiasaan tersebut bisa ditebak sendiri, badan menjadi gemuk, berjalan susah, duduk susah, pakaian sempit dan tidak nyaman dalam berbagai&lt;br /&gt;kesempatan. Melihat kondisi seperti itu yang tidak nyaman, karena Tony memiliki sebuah cara untuk mengubah kebiasaan, dia ubah asosiasi neuro-nya dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sebelumnya asosiasi neuro-nya ketika melihat restoran terbayang makanan yang lezat-lezat, kini dia ubah ketika melihat restoran bayangan di layar mentalnya, dia melihat kaca yang sangat besar dan di situ terlihat wajah gendutnya yang sangat jelek, penampilannya tidak menarik dan banyak orang yang mencibir. Perubahan asosiasi tersebut cukup ampuh, terbukti ketika melihat restoran bukannya berhenti malah badan dia bergidik melihat penampilannya sendiri dan restoran dilewati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang lain, saya pernah mendengar cerita Helmi Yahya ketika dia mengadakan seminar di Purwokerto dengan Siapa Berani Menjadi Entrepreneur. Ketika itu dia bercerita perjalanan kuliah S-2nya di Amerika dengan waktu tercepat, hanya 1 tahun. Padahal teman-temannya bule-bule semua. Dan asosiasi kebanyakan orang bule itu lebih pintar dari orang Indonesia. Dengan tekad yang kuat, Helmy ingin merampungkan kuliah S-2nya dalam waktu 1 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, apa yang dia lakukan untuk terus mendorong semangatnya? Beberapa orang teman bulenya yang memiliki kemampuan rata-rata, tidak kurang dari 5 orang, dia foto dalam keadaan tersenyum. Kemudian dia cetak dan kelimanya ditaro di dinding depan meja belajarnya. Persis ketika belajar kelimanya tersenyum kepada Helmy. Ketika datang rasa malas belajar karena berbagai alasan, Helmy bisa langsung melihat kelima foto tersebut dan Helmy mendengar seolah-olah mereka berkata, "Hai Helmy, kamu kan dari Indonesia, tidak mungkin kamu bisa selesai kuliah S-2 dalam waktu 1 tahun. Pasti kita-kita yang bule-bule ini yang bisa selesai dengan cepat," pikir Helmy melihat foto mereka yang tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung reaksi fisiknya berubah. Helmy dengan tegas dan berapi-api ngomong di kamar sendirian, "Tidak, itu tidak benar. Siapa bilang bule lebih pandai dari aku. Aku harus selesai kuliah S-2 dalam waktu satu tahun. Pasti bisa, pasti bisa." Demikian reaksi Helmy setiap datang rasa malasnya. Hal itu dia lakukan terus menerus dan tepat satu tahun Helmy menyelesaikan kuliah S-2nya dengan nilai terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa, kalau kita mengetahui cara otak ini bekerja dan mendorong diri untuk mengubah satu kebiasaan ke kebiasaan lain yang lebih mendukung masa depan kita, nampaknya setiap orang akan mencapai performa terbaiknya. Kita bisa membuat list kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang sederhana-sederhana terlebih dahulu dan secara bertahap kita ubah dari satu kondisi ke kondisi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, kita ingin disiplin bangun pagi. Bisa saja membuat gambaran,  kalau selalu bangun kesiangan maka macam-macam penyakit akan datang. Atau kalau kesiangan maka kita tidak bisa janji tepat waktu dengan klien yang bisa&lt;br /&gt;menyebabkan order-order dicancel. Bagi pimpinan sebuah perusahaan, sanksi atas ketidakdisiplinan bisa membuat seseorang malu. Contohnya, apabila datang terlambat atau jarang mengikuti rapat-rapat. Dalam pertemuan bulanan diumumkan siapa-siapa saja yang jarang mengikuti rapat dan berapa hari absen dalam rapat. Kalau catatan tersebut diumumkan di forum, maka yang  bersangkutan akan menanggung rasa malu yang luar biasa. Dan dipastikan di bulan berikutnya dia tidak akan mau lagi menanggung rasa malu yang besar tersebut di depan teman-temannya. Sementara yang rajin diberi reward atau penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengubah satu kebiasaan, kita bisa beranjak untuk mengubah kebiasaan berikutnya. Misalnya saja, kreatif dan banyak ide dalam tiap pertemuan, menepati janji, menambah teman baru satu hari satu orang, selalu keluar rumah dengan doa dan membawa jadwal harian, selalu tersenyum setiap bertemu dengan siapapun dll. Apa yang bakal terjadi ketika kita selalu mengubah kebiasaan-kebiasaan baru yang baik? Akumulasi mengubah kebiaasaan tersebut tanpa kita sadari, kita menjadi orang yang hebat dan luar biasa. Istilah asingnya menjadi Great Person. Great Person adalah seseorang yang selalu mengubah kebiasaan menjadi baik dan mempertahankannya tapi tetap merasa harus terus berubah setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya ini di Jepang dikenal dengan kaizen (improvement continuously), memperbaiki diri secara terus menerus, tidak pernah berhenti, tidak pernah merasa puas berubah untuk menjadi baik. Selalu berubah ke arah yang lebih baik menjadi visinya. Bagaimana dengan Anda? Bisa jadi Anda sudah menerapkan lebih dahulu prinsip-prinsip di atas, kalau belum mari kita mengubah diri kita ke arah yang lebih baik. Konon katanya, satu kebiasaan akan menetap di alam bawah sadar kita apabila dilakukan 21 hari secara berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dihindari adalah ketika ingin berubah datang godaan. Sebesar apapun godaan yang datang, milikilah prinsip yang kuat, lebih baik kita menunda suatu kesenangan saat demi menyongsong kenikmatan yang panjang di masa yang akan datang. Ketimbang kita tergoda dengan kenikmatan sesaat, tapi akan menjadi penderitaan seumur hidup. Pilih yang mana? Anda yang lebih pandai untuk membuat keputusan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://langitbirupekalongan.blogspot.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-2335244029414343024?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g1cfn68XkwOaqXhesmD3uXT-gLw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g1cfn68XkwOaqXhesmD3uXT-gLw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g1cfn68XkwOaqXhesmD3uXT-gLw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g1cfn68XkwOaqXhesmD3uXT-gLw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/oWdSv8owcOE" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/S487boys1pI/AAAAAAAAAYU/5p1Yvc5dsnM/s72-c/visualization.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2010/03/mengubah-kebiasaan-dengan-nac.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mulai Lagi Merancang Masa Depan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/wxyQucEhyu8/mulai-lagi-merancang-masa-depan.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Fri, 25 Dec 2009 18:30:58 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-695944189911320482</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SzV1DfrDkPI/AAAAAAAAAYM/Bfe9NWiNKKI/s1600-h/Impian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SzV1DfrDkPI/AAAAAAAAAYM/Bfe9NWiNKKI/s320/Impian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419366429512405234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu saya mencari karet pipih yang lumayan besar dengan panjang dan lebar mirip papan tulis. Tapi agak sulit juga mencarinya. Setelah sekian lama berputar-putar akhirnya ketemu juga walaupun bukan karet yang dimaksud. Saya menemukan styrofoam yang berbentuk white board lumayan lebar 2,5 meter x 1,20 meter. Lumayan besar untuk ditempel di dinding kamar. Saya membeli dua, satu untuk saya dan satu lagi untuk anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa saya membeli semua itu? Ya.... untuk membuat perencanaan, tujuan, impian, dream, keinginan, dll. Di dinding punya anak saya ditulis dengan huruf besar-besar KARYAKU. Sementara di styrofoam punya saya ditulis PAPAN VISI. Saya begitu  bergairah untuk menggarap semua itu. Dalam benak saya terbersit harapan bahwa hidup saya akan menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Sementara untuk anak saya, saya berharap dia bisa mencapai impian-impian jangka panjang maupun jangka pendeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya tulis di Papan Visi itu? Ya... persis impian-impian yang selama ini ditulis di agenda dan diary yang sulit dilihat setiap saat dalam jangka waktu cukup lama. Sehingga tidak bisa menjadi pemacu maupun pemicu untuk bergerak lebih fokus. Godaan pikiran kan sangat banyak, kita tidak bisa menetapkan fokus dalam jangka waktu lama apabila tidak ada yang mengingatkan, apakah gambar, omongan, ancaman atau hal-hal yang cukup menyentak yang mengkondisikan pikiran apabila tidak dilakukan akan mendapatkan kerugian, rasa sakit, kekecewaan atau apapun bentuk rasa tidak enak di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai menulis satu per satu rancangan masa depan mulai dari tujuan tahunan, 3 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 20 tahunan. Apakah terlalu panjang perencanaannya? Bagaimana kalau kita mati di tengah jalan? Mati emang menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Tapi kalau kita merencanakan kematian di sela-sela Papan Visi tersebut, bisa jadi kita tidak akan melanjutkan rancangan tersebut. Kita harus siap mati kapan saja, tapi gak usah dibuat perencanaan secara tertulis. Paling bijak adalah, setiap hari kita mempersiapkan bekal yang lebih banyak untuk menyongsong kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai menulis tujuan-tujuan yang besar-besar. Untuk memudahkannya saya buat dalam beberapa kategori: Pertama tujuan-tujuan spiritual-keagamaan, kedua tujuan-tujuan finansial/keuangan, ketiga tujuan-tujuan bisnis/karier dan kepemimpinan, keempat tujuan-tujuan keluarga, kelima tujuan-tujuan pengembangan diri, keenam, tujuan-tujuan petualangan, ketujuh tujuan-tujuan kesehatan, kedelapan tujuan-tujuan sosial kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan spiritual saya tulis sbb: mulai segala aktifitas dengan berdoa. Doa yang saya kutip dari Buku Adi W Gunawan adalah meminta kepada yang kuasa agar senantiasa mensucikan hati dalam berbagai niat, kedua menjernihkan pikiran dalam berbagai kondisi dan meminta untuk memudahkan jalan hidup apapun kondisi jalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, tujuan-tujuan spiritual yang lebih kongkrit adalah; menjalankan ibadah di sepertiga malam terakhir secara rutin dan khusuk, menjalankan semua kewajiban secara ikhlas, naik haji ke tanah suci, mengkhatamkan al Quran setiap 3 bulan, menghafal ayat-ayat populer, belajar buku-buku keagamaan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan kedua tujuan finansial/keuangan, saya tulis beberapa hal. Pertama, satu tahun dari sekarang atau lebih cepat lagi, saya memiliki deposito Rp 50 juta, kedua, tiga tahun dari sekarang atau lebih cepat lagi saya mempunyai deposito Rp 300 juta atau lebih, tiga tahun dari sekarang saya memiliki tanah seluas 1.000 meter atau lebih, lima tahun dari sekarang saya memiliki investasi saham Rp 500 juta atau lebih, selalu memiliki income yang tak terduga dan halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan bisnis dan karier dan kepemimpinan adalah, tiga tahun ke depan perusahaan yang saya pimpin menjadi market leader, laba yang diperoleh perusahaan saya meningkat 50% tiap tahunnya atau lebih besar lagi, saya memiliki tim yang sangat kompak, semangat yang tinggi dan memiliki fighting spirit handal, mental baja pantang menyerah, saya selalu berada dalam kondisi ideal untuk menarik peluang apapun dan selalu siap menjalankannya secara mudah dengan hasil luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan keluarga; setiap liburan saya meluangkan waktu mengunjungi tempat-tempat yang nyaman, indah, sejuk, damai untuk melepas lelah, mendiskusikan segala hal untuk mencapai tujuan-tujuan lebih baik lagi, menjadwalkan untuk memberikan pendidikan yang positif bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pengembangan diri terdiri dari; meluangkan waktu untuk membaca 2 jam tiap hari, membeli buku-buku yang mendukung pengembangan diri, belajar Bahasa Inggris, menulis artikel rutin mingguan, menulis buku tahunan, mengikuti pelatihan NLP practitioner paling lambat satu tahun menatang dan dilanjutkan ke NLP master practitioner, mengikuti pelatihan hypnosis, hypnotherapy, multiple intelligences.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan-tujuan petualangan adalah: jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis di seluruh Indonesia, tiga tahun yang akan datang atau lebih cepat jalan-jalan ke luar negeri seperti ke Jepang, Eropa, Amerika, Australia dll. Tujuan-tujuan kesehatan; terapi nafas setiap hari selama 30 menit, olahraga rutin seminggu sekali. Dan tujuan terakhir sosial kemasyarakatan adalah, menyumbang panti asuhan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menulis di Papan Visi tersebut ada passion yang sangat hebat untuk selalu &lt;br /&gt;mewujudkan impian-impian tersebut. Dan dengan sendirinya manajemen waktu pun terkelola dengan rapi. Pikiran kita apabila diarahkan fokus tujuan yang lebih jelas akan mengikuti dengan sendirinya. Semoga impian-impian yang kita tulis bisa menjadi kenyataan yang bisa membawa kepada kebahagiaan hidup sekarang maupun yang akan datang. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-695944189911320482?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jK7iQKStY2BEfNEbCj0TK32Abe0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jK7iQKStY2BEfNEbCj0TK32Abe0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jK7iQKStY2BEfNEbCj0TK32Abe0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/jK7iQKStY2BEfNEbCj0TK32Abe0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/wxyQucEhyu8" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SzV1DfrDkPI/AAAAAAAAAYM/Bfe9NWiNKKI/s72-c/Impian.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/12/mulai-lagi-merancang-masa-depan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Menebar Kebaikan, Menuai Kesuksesan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/qzvojJ2iKJM/menebar-kebaikan-menuai-kesuksesan.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Sun, 04 Oct 2009 08:21:42 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-6247930551189839980</guid><description>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Ssi8P8U2vsI/AAAAAAAAAYA/nhRr8lO42TM/s1600-h/Menebar+Kebaikan..bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Ssi8P8U2vsI/AAAAAAAAAYA/nhRr8lO42TM/s320/Menebar+Kebaikan..bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388763936226459330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENARKAH setiap kebaikan akan menuai kesuksesan? Ada yang percaya dan ada juga yang tidak. Tapi sejatinya setiap kebaikan akan berdampak kebaikan. Sebaliknya, keburukan pun akan berdampak pada keburukan pula. Apa yang kita semai itulah yang akan kita tuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita seorang teman yang sangat menarik. Dia berpendidikan tidak terlalu tinggi, tapi tingkat ketulusan serta investasi kebaikannya jangan ditanya. Apapun yang bisa dia lakukan untuk kebaikan, dia lakukan. Padahal secara harta dia hanya seorang buruh pabrik dengan gaji setara upah minimum kota (UMK). Bisa dihitung sendiri berapa jumlahnya. Padahal dia harus mencicil rumah BTN dan mencicil kredit motornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah terlihat wajah duka di dirinya. Yang terlihat hanya senyuman tulus yang selalu berkembang ketika suka maupun duka. Tingkat keyakinannya sangat tinggi bahwa ketika melakukan kebaikan dia akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Walapun dia sendiri sadar bahwa balasan atas kebaikan tersebut bisa langsung dirasakan saat itu, bisa juga balasannya kelak. Atau balasannya bahkan diberikan di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak disengaja saya berbincang-bincang dengan dia tentang perjalanan hidupnya. Ketika muda dulu dia hidup di pesantren. Selain mengaji, dia mengepel rumah kiai, mencuci pakaiannya. Itu dia lakukan dengan tulus. Balasannya memang dia diberi fasilitas makan selama tinggal di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama dia lakukan itu semua, mungkin tidak kurang dari 3 tahun. Tiba-tiba Kiainya memanggil dia. &lt;br /&gt;"Nak, maukah kau naik haji dengan Pak Kiai?"&lt;br /&gt;Mendengar kata itu dia termenung, bingung, tidak percaya. &lt;br /&gt;"Apakah ini benar Pak Kiai?" tanya dia seolah menyangsikan pembicaraan kiainya.&lt;br /&gt;"Benar, kalau kau mau tahun ini kita berangkat bersama-sama. Ini balasan kamu atas ketulusanmu selama ini. Semoga kamu bisa lebih mensyukuri nikmat yang ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkatlah teman saya itu naik haji walapun dia masih bingung dengan keajaiban tersebut. Usianya masih cukup muda, belum punya isteri. Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Tidak berhenti sampai di sana. Beberapa tahun kemudian ketika dia pindah ke sebuah rumah BTN, dia mengajari membaca al Quran untuk anak-anak sekitarnya. Anehnya, dia tidak mau sedikit pun menerima bayaran dari mengajari ngaji tersebut. Bahkan yang memberi dia tolak secara halus. "Sudah menjadi kewajiban saya untuk mengajari anak-anak," katanya sederhana. Hal itu dia lakukan selama beberapa tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu ketika dia bersama istrinya berniat untuk menunaikan ibadah haji. Sampai batas waktu yang ditentukan masih kurang sebanyak Rp 3 juta. Malam harinya dia berdoa kepada Allah Swt supaya diberikan jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya ada orang tua santri yang belajar ngaji di situ. Kemudian orang tua tadi berkata, bahwa dirinya mau memberikan sesuatu kepada teman saya tadi. Kalau pemberiannya ditolak, anaknya yang mengaji di situ tidak akan melanjutkan ngaji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi yang serba salah itu, teman saya tidak bisa berkata apa-apa. Setelah tamunya pergi dia buka amplop tersebut, ternyata isinya uang Rp 3 juta. Sama persis dengan kekurangan Ongkos Naik Haji (ONH). Dia berlinang air mata, ternyata Yang Maha Kaya mendengar doanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat cerita di atas saya termenung dan mengangguk-anggukkan kepala. Bahkan tidak jarang menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub. Kalau kita mau berbuat baik sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita. Dan kebaikan tersebut bisa disaving (ditabung) untuk kita sendiri. Kebaikan yang kita saving makin lama makin bertambah banyak. Bisa kembali dalam bentuk kebaikan, harta, kedudukan atau ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan keburukan, kalau kita melakukannya maka akan menjadi tabungan buruk kita. Dan kalau kita tidak cepat-cepat bertaubat atau meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, tabungan itu semakin hari akan semakin bunga berbunga. Kalau tabungan positig kembali kepada kita itu berkah bagi kita. Sebalikny akalau tabungan negatif yang datang bagaimana akibatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca mungkin masih ingat dengan cerita seorang penulis buku Jamil Azzaini yang mempunya tabungan negatif kepada ibunya dalam waktu yang lama, sehingga istrinya masuk rumah sakit dan penyakitnya tidak juga diketahui. Sampai-sampai isterinya harus disuntik 3 kali sehari, dengan biaya sekali suntik Rp 12 juta. Baru setelah dia berdoa dia teringat bahwa dia pernah mencuri uang Rp 125 waktu kecil untuk membayar SPP dan jajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya yang tidak mengetahui siapa pencurinya marah besar dan bersumpah tidak akan memaafkan pencuri itu sebelum pencuri minta maaf. Jamil menelepon ibunya dan berkata bahwa dialah yang mencuri uang itu. Jamil meminta maaf, karena akibat dia mencuri tadi isterinya sakit tak kunjung sembuh. Ibunya terkaget-kaget dan dia memaafkan Jamil saat itu juga. Herannya, setelah dia meminta maaf kepada ibunya, dokter berkata bahwa penyakit isteri Jamil sudah diketahui dan obatnya sangat murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat cerita di atas kita bisa mengambil kesimpulan betapa kebaikan akan melipatgandakan kebaikan, dan keburukan pun akan mendatangkan keburukan yang lebih banyak lagi. Yang bisa mengambil pelajaran dari cerita di atas akan sangat hati-hati ketika berbuat sesuatu. Pertanyaan yang harus sering diulang-ulang kepada diri kita sendiri adalah apakah yang akan dilakukannya adalah kebaikan atau keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa masih banyak orang yang berbuat buruk, negatif, jelek, menyakiti hati orang lain, korupsi, berbuat maksiat dll. Bahkan setelah ditimpa musibah pun masih saja berbuat negatif. Inilah bedanya orang-orang yang berpikir dan orang-orang yang tidak berpikir. Orang yang punya kepekaan nurani dan orang-orang yang nuraninya tertutup. Akhirnya yang berbicara adalah hukum universal, yang menabur kebaikan akan menuai kebajikan, yang menuai kejelekan akan menuai keburukan. Semuanya harus dipertanggungjawabkan baik di masa kini maupun di masa mendatang. Dan tidak ada satu pun catatan yang tertinggal. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;em&gt;Ade Asep Syarifuddin, Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-6247930551189839980?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/be9-rVbYVHj0VTzi4QURjQu4BKw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/be9-rVbYVHj0VTzi4QURjQu4BKw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/be9-rVbYVHj0VTzi4QURjQu4BKw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/be9-rVbYVHj0VTzi4QURjQu4BKw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/qzvojJ2iKJM" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Ssi8P8U2vsI/AAAAAAAAAYA/nhRr8lO42TM/s72-c/Menebar+Kebaikan..bmp" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/10/menebar-kebaikan-menuai-kesuksesan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Keyakinan Itu Berjenjang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/dVemOnWW1ug/keyakinan-itu-berjenjang.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Thu, 11 Jun 2009 05:49:20 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-324912504534914756</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SjD8cvqn1WI/AAAAAAAAAXg/f8uBVsHBJPU/s1600-h/Keyakinan-Believe.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SjD8cvqn1WI/AAAAAAAAAXg/f8uBVsHBJPU/s320/Keyakinan-Believe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346050328450553186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi swasta mengikuti sebuah training. Entah apa yang diberikan di dalam training tersebut sampai-sampai ketika selesai dia memiliki keyakinan yang sangat tinggi. Dia bilang, sekarang dirinya bisa melakukan apapun yang dia mau. Terlihat tatapan matanya antusias, penuh semangat dan sangat enerjik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian saya bertemu lagi dengan sarjana tadi. Penampilannya jauh berbeda dengan satu bulan yang lalu. Dulu dia sangat semangat, percaya diri dan memiliki keyakinan yang kuat. Tetapi sekarang malah terlihat mengenaskan. Saya coba tanya dia dengan bahasa sederhana, "Apa yang telah terjadi?" Dengan pelan dia mengatakan, semua keyakinannya tidak terwujud karena dia memasang targat terlalu tinggi daripada kemampuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya betul sekali.... keyakinan itu tidak bisa datang dalam waktu sekejap. Butuh waktu dan proses yang cukup lama. Jika keyakinan itu datang dengan cepat, maka hilangnya juga dalam waktu yang cepat pula. Kita tidak bisa memaksakan diri kita meyakini sesuatu secara instant. Pikiran bekerja sangat lembut, tidak bisa dipaksa. Demikian halnya dengan keyakinan yang kita miliki, sangat berjenjang, tidak bisa datang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa berjenjang? Keyakinan itu ibarat sebuah bangunan. Ada fondasi, ada dinding, ada besi bertulang, baru atapnya bisa berdiri kokoh. Tidak mungkin sebuah gedung langsung bisa dipasang atap tanpa fondasi-fondasi tadi. Demikian halnya dengan keyakinan. Keyakinan tidak bisa datang begitu saja hanya dengan bisikan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keyakinan bisa dibangun? Banyak hal yang bisa menumbuhkan keyakinan. Mulai dari sugesti dari teman-teman, melihat kesuksesan orang lain yang menurut kacamata umum dia tidak bisa tapi ternyata bisa. Contoh dari kalimat terakhir adalah Hellen Keller. Hellen adalah penderita tuna rungu dan tuna netra, tapi dia sanggup menggondol gelarPhD (Philosophy of Doctor), gelar akademik tertinggi yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang, termasuk orang yang normal secara panca indera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga dari dengan cara menulis kisah-kisah sukses kecil yang pernah kita raih. Anda pernah menjadi ketua kelas? Ya tulislah dalam daftar kisah sukses kepemimpinan Anda; pernah menjadi ketua kelas, ketua OSIS, ketu remaja masjid, ketua BEM di perguruan tinggi dll. Jangan lupa, catat pula torehan prestasi ketika memimpin lembaga-lembaga tadi dari level sederhana sampai level yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prestasi lain apakah Anda pernah meraih juara? Waktu kecil di TK dulu pernah juara mewarnai, di SD juara atletik, lomba menyanyi, lomba baca puisi, di SMP juara lomba pidato, di SMA juara lomba karya tulis, di perguruan tinggi juara debat, dan juara juara yang lainnya. Apakah ini penting? Ya sangat penting, sangat penting untuk menunjukkan bahwa kita memang berprestasi dalam berbagai bidang. Itulah fondasi-fondasi kesuksesan yang bisa mendukung kesuksesan di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu berlaku sebaliknya? Pengalaman buruk masa lalu bisa mengganggu prestasi di masa depan? Ya.... betul. Seseorang yang mengalami pengalaman buruk di masa kecil sangat berpengaruh kelak ketika dewasa. Ada di antara Anda yang benci Matematika? Benci melukis? Dalam sebuah cerita ada seseorang yang sudah cukup dewasa sangat membenci melukis. Setelah ditelusuri ternyata waktu SD dia dimarahi gurunya yang menyuruh melukis seekor gajah, tapi setelah dilukis malah lukisan tersebut sama sekali tidak seperti gajah. Gurunya dengan lantang mengatakan, "Kamu bodoh, tidak bisa melukis, masa gambar gajah seperti ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ, teman-temannya juga meledek. "Masa gambar gajah seperti itu, itu kan kambing bengkak." Di rumahnya juga sama, dia ngadu ke ibunya. Ibunya tidak memperhatikan psikologis anak berkata, "Iya lah nak. Ini bukan gambar gajah. Kamu kok kalau melukis goblok amat sih." Kakak dan ayahnya yang diharapkan bisa mendukung mengatakan hal yang sama sinisnya. Hancurlah sudah keyakinan dirinya dalam kemampuan melukis dan setelah dewasa ia sangat membenci melukis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milikilah buku harian kecil yang mencatat prestasi-prestasi kecil tadi. Setiap goresan prestasi merupakan susunan keyakinan. Suatu saat sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri. Orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi biasanya berpengaruh pada citra diri yang positif dan harga dirinya pun tinggi. Sebaliknya yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, citra dirinya pun negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus yang lain, kita bisa menguji keyakinan kita dalam berbagai macam hal mulai dari persoalan sederhana sampai pada persoalan yang rumit. Contohnya dalam keuangan, seseorang yang memiliki pendapatan Rp 1 juta per bulan ingin meningkatkan pendapatan. Berapakah keyakinan logis yang bisa diterima oleh akal sehat dan perasaannya? Menurut pengamatan sederhana, kenaikan pendapatan seseorang yang masih dalam kisaran keyakinannya adalah sekitar 20%. Jadi, orang yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpenghasilan Rp 1 juta, kalau ingin menambahkan pendapatan, cobalah di level Rp 200.000 penambahannya. Setelah tercapai angka tadi, cobalah naikkan kembali di level 20% dari pendapatan terakhir. Demikian halnya secara berturut-turut. Cara ini jauh lebih aman ketimbang dilakukan dengan cara yang ekstrem. Misalnya saja, dari pendapatan Rp 1 juta, dia ingin menambah Rp 2 juta atau Rp 3 juta. Sah-sah saja keinginan seperti itu, tapi apakah logika pikiran bisa mengijinkan. Apakah perasaan kita nyaman dengan angka tersebut? Andalah sebenarnya yang bisa menjawab secara pasti tentang bisa dan tidak bisanya sesuatu bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain keyakinan seseorang yang sudah mengalami proses jelas berbeda dengan seseorang yang baru memulai belajar tentang keyakinan akan dirinya. Contoh, seseorang yang sudah memiliki pendapatan Rp 10 juta per bulan akan sangat mudah menaikkan angka Rp 2 juta di bulan berikutnya. Tapi kalau seseorang yang memiliki pendapatan Rp 1 juta, sangat kecil keyakinan bisa memiliki pendapatan Rp 2 juta di bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, lebih baik kita memiliki keyakinan yang bertahap tapi pasti setiap waktu meningkat. Ketimbang kita memiliki keyakinan yang tinggi atau istilah lainnya over confidence tapi ternyata tidak bertahan lama. Manusia itu makhluk yang taat pada hukum proses. Jangan dilampaui hukum proses tadi, kalau kita coba-coba mengambil jalan pintas, akibatnya bakal ditanggung sendiri. Sukses selalu buat Anda. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar@gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-324912504534914756?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JH9J8G_IA7VosVpiattl3NVmjpc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JH9J8G_IA7VosVpiattl3NVmjpc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JH9J8G_IA7VosVpiattl3NVmjpc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JH9J8G_IA7VosVpiattl3NVmjpc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/dVemOnWW1ug" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SjD8cvqn1WI/AAAAAAAAAXg/f8uBVsHBJPU/s72-c/Keyakinan-Believe.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/06/keyakinan-itu-berjenjang.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mencari Kambing Hitam</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/Im9Qns2xPtA/mencari-kambing-hitam.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Tue, 02 Jun 2009 22:45:52 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-2470196809138569344</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SiYNkAIw5jI/AAAAAAAAAXY/_0xMClY-kkM/s1600-h/kambing-hitam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SiYNkAIw5jI/AAAAAAAAAXY/_0xMClY-kkM/s320/kambing-hitam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342972920084882994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI-pagi sekali seorang manager menengah di sebuah perusahaan marah-marah. Pengiriman barang lewat jasa kurir belum sampai juga ke alamat tujuan. Di menelepon jasa kurir tersebut dan marah-marah lagi, bagian administrasi yang mengirim pun tidak lepas dari semprotannya. Intinya, ia mencari siapa yang melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diteliti, ternyata alamat yang diberikan kepada bagian adminsitrasi yang mencatat keliru. Otomatis bagian kurir pun tidak bisa mengirim barang tepat waktu karena alamatnya salah. Bahkan barang tadi harus dikirim balik ke si pengirim. Jadi siapa yang salah dalam kasus ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing hitam. Demikian orang banyak menyebutkan ketika ada seseorang yang pekerjaannya selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Kayanya sebelum menemukan "kambing hitam" tadi dirinya belum puas. Padahal ketika sudah ditemukan pun dia hanya bisa memaki dan memarahi. Dan persoalan sebenarnya dari kasus tersebut sama sekali tidak selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orang mencari kambing hitam? Ini pertanyaan yang harus dilontarkan kepada orang yang masih hobby mencari kesalahan orang lain. Dia pikir dengan mencari kambing hitam dari sebuah kasus maka persoalannya akan selesai. Persis seperti seseorang kehilangan makanan karena dimakan tikus, lantas ketika terlihat tikus mengendap-endap langsung dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari kambing hitam dari satu persoalan bukanlah solusi. Apalagi yang mencari kambing hitam itu pemimpin. Bahasa militernya, tidak ada anak buah yang salah, ketika ada kesalahan tetap kesalahan pemimpin. Yang paling sederhana atas kesalahan anak buah adalah, pemimpin tidak memberikan pendidikan kepada bawahannya, sehingga anak buah tidak mengerti job description yang benar. Kalau sudah memberikan penjelasan tapi masih salah, itu urusan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamanya mencari kambing hitam itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Lebih baik masing-masing introspeksi diri sebenarnya kesalahan diri kita sendiri itu di mana letaknya. Sambil berusaha di masa mendatang tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Kalau pemimpin dan anak buah mengubah cara berpikir ketika melakukan kesalahan maka yang muncul adalah solusi dan bukan sebaliknya, pencarian kambing hitam. Sebab pencarian kambing hitam itu selamanya tidak akan menciptakan kondisi yang harmoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian kambing hitam itu identik dengan marah-marah mencari siapa yang salah. Apakah dengan marah-marah tersebut suasana kerja jauh menjadi lebih baik? Tidak... tidak... malahan sebaliknya. yang muncul adalah ketegangan yang bisa menciptakan ketidaknyamanan. Kalau bekerja sudah tidak nyaman, siapapun akan merasakan aura negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi kesalahan, setiap orang harus mengambil tanggung jawab 100% atas kesalahan tersebut dan berusaha mencari jalan keluar. Pernahkah Anda melihat di sebuah forum, ketika terjadi kesalahan maka ada satu orang yang mengacungkan tangan bahwa kesalahan tadi adalah tanggung jawabnya? Kayanya jarang sekali bahkan nyaris tidak ada. Masing-masing bersembunyi ketakutan. Khawatir kalau-kalau dirinya yang dianggap salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi cobalah suatu saat, ketika forum rapat mengevaluasi kesalahan, acungkanlah tangan Anda bahwa Andalah yang bertanggung jawab atas kesalahan tadi. Bagaimana reaksi forum? Kalau Anda pernah melakukan hal itu sudah pasti akan mengetahui jawabannya, tapi kalau belum pernah bisa-bisa Anda sendiri ketakutan. Takut kalau diserang bertubi-tubi, takut kalau dijatuhkan sanksi dan lebih parah lagi takut kalau dipecat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau kita benar-benar mengacungkan tangan dan mengatakan bahwa kita yang bertanggung jawab atas kesalahan tersebut, forum dan pimpinan rapat pun akan heran. Bisa jadi temanya berubah bukan lagi mencari siapa yang salah, tapi bagaimana mengantisipasi kesalahan di masa mendatang. Tidak percaya? Coba saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sedikit dalam kehidupan ini orang yang memegang tanggung jawab 100% untuk orang lain. Bahkan untuk dirinya sendiri. Mau bukti? Pernahkah kita merasa gagal dalam sebuah acara atau sebuah even? Dan masih mencari siapa yang bertanggung jawab. Atau ketika ada serang siswa kelas 3 SMA yang tidak lulus, masihkah dia mencari-cari kesalahan kepada gurunya, orang tuanya? Penyebab siswa yang lulus adalah dirinya bukan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai hari ini kalau melihat ada kambing hitam, langsung saja "sembelih". Jangan sampai dilihat oleh para pemburu kambing hitam. Sehingga ketika ada satu kesalahan tak seorang pun berusaha untuk mencari kambing hitam karena kambing hitamnya sudah musnah. Ambillah tanggung jawab 100% atas segala hal yang terjadi baik terasa enak maupun tidak enak. Belajarlah dari kesalahan dan terus memperbaikinya. Dari situ kita bisa belajar banyak tentang berbagai macam hal. Sukses Selalu. Salam damai dan bahagia. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bia dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-2470196809138569344?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UPh1Rbq3ybdFy0hbl4ZYUKYzl8w/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UPh1Rbq3ybdFy0hbl4ZYUKYzl8w/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UPh1Rbq3ybdFy0hbl4ZYUKYzl8w/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UPh1Rbq3ybdFy0hbl4ZYUKYzl8w/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/Im9Qns2xPtA" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SiYNkAIw5jI/AAAAAAAAAXY/_0xMClY-kkM/s72-c/kambing-hitam.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/06/mencari-kambing-hitam.html</feedburner:origLink></item><item><title>Menulislah Maka Engkau Menjadi Bahagia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/jTWwYHZx52A/menulislah-maka-engkau-menjadi-bahagia.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Mon, 01 Jun 2009 22:02:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-5104089759138031783</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SiSyEbqvRzI/AAAAAAAAAXQ/hinkfw02OgY/s1600-h/Menulislah+Engkau+Bahagia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SiSyEbqvRzI/AAAAAAAAAXQ/hinkfw02OgY/s320/Menulislah+Engkau+Bahagia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342590847184488242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG teman datang berseri-seri. Dia memperlihatkan hasil tulisannya. Sebenarnya dia penulis pemula, tapi dia memiliki passion yang sangat tinggi. Saya pernah bilang ke dia kalau emang mau menulis kita harus menjadi penulis terjelek sedunia. Di hanya tersenyum tidak mempedulikan kata-kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengatakan hal itu bukan semata-mata mau menjatuhkan semangatnya. Tapi ada maksud-maksud tertentu yang terselubung. Ketika sudah siap menjadi penulis terjelek sedunia maka dia tidak akan lagi berpikir tulisannya bagus atau tidak. Yang penting terus menerus berkarya tanpa mempedulikan hasil. Apa ini berarti kualitas diabaikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak... tidak sama sekali. Untuk para pemula yang penting itu memulai dan terus berkarya. Kalau baru belajar menulis lantas sudah dievaluasi baik atau jelek, jangan-jangan tidak siap dengan kritikan dan ketika dibilang jelek lantas berhenti menulis. Yang penting mau memulai dan terus menerus berkarya. Pada waktu tertentu ketika dia mulai pede, evaluasi itu menjadi sesuatu yang diperlukan. Bila orang lain tidak mengevaluasi, dirinya pasti akan meminta untuk dievaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa hubungannya menulis dengan kebahagiaan? Apakah ada kaitan langsung atau tidak? Saya mengibaratkan ide itu ibarat darah dan gagasan yang ditulis itu ibarat aliran darah. Seseorang yang sehat pasti aliran darahnya lancar, bebas sumbatan baik sumbatan kolesterol maupun sumbatan akibat pengaruh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang tidak bisa menulis lantas tidak bisa bahagia? Tidak... tidak.. jelas tidak demikian. Ini hanya salah satu cara untuk membuat kita bahagia. Sebenarnya inti tulisan ini terletak pada, barangsiapa yang bisa mengatur sirkulasi gagasan, ide, persoalan di dalam dirinya dikeluarkan dengan cara yang tepat, maka dia akan bahagia. Jadi tidak dengan menulis pun kita bisa juga bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, lewat curhat kepada seseorang sampai hati kita merasa plong, lewat teriakan di tebing antar gunung hati kita juga bisa jadi plong. Termasuk lewat menulis, kita bisa menjadi bahagia karena gagasan yang ada di kepala sudah dipindahkan ke dalam tulisan. Dengan kata lain, energi di dalam kepala atau unek-unek di dalam hati sudah dipindahkan ke dalam tulisan. Tapi lagi-lagi yang perlu dicatat ini bukan satu-satunya cara mendapatkan kebahagiaan. Masih banyak cara untuk memperoleh kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada sirkulasi darah di dalam tubuh. Bagiamana kalau sehari saja darah berhenti mengalir di dalam tubuh? Wah...wah... wah... bisa bahaya bagi tubuh. Pertanyaan berikutnya, bagaimana kalau ide dan gagasan macet di dalam pikiran kita sendiri. Tidak ada yang mendengarkan, tidak ada yang mengakomodir juga tidak ada yang memperhatikan. Coba saja sendiri, kita tidak ada yang memperhatikan ide dan gagasan kita? Bisa-bisa semaput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merekomendasikan menulis (walaupun hanya menulis di diary) karena dengan menulis kita tidak lagi membutuhkan orang lain pada saat itu juga kalau hanya untuk membuat sirkulasi ide supaya mengalir. Menulis kan bisa kapan saja dan di mana saja. Tidak usah menunggu orang berkumpul atau menunggu orang datang beramai-ramai.Coba saja lihat orang-orang yang biasa menulis, lantas berhenti menulis. Apa yang bakal terjadi pada orang tersebut? Bisa-bisa malah pusing yang muncul. Teman saya yang seorang penulis pernah menuturkan bahwa ketika selesai menulis dia merasa bahagia dan terasa seperti telah melepaskan beban berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri punya pengalaman yang mirip-mirip. Ketika selesai menulis jelas ada perasaan bahagia bisa mencurahkan gagasan dan ide. Tapi tidak hanya itu, ketika tulisan kita ada yang membaca lebih bahagia lagi, ketika tulisan kita ada yang mengomentari akan lebih bahagia lagi. Lebih-lebih kalau tulisan kita dijadikan bahan diskusi, ada kepuasan lain yang muncul dalam hati kita, dst..dst..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi awal kebahagiaan muncul karena ada sirkulasi ide. Dalam level berikutnya ketika ide dan gagasan kita bermanfaat maka kebahagiaan muncul karena tulisan kita bisa membuat orang lain menjadi terinspirasi. Level kebahagiaan yang disebutkan terakhir sudah jelas memiliki kualitas yang jauh lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipaparkan lebih detil lagi, secara fitrah manusia ini sebenarnya adalah makhluk spiritual, makhluk yang suka membantu orang lain. Baik membantu dalam bentuk ide, materi atau tenaga. Coba saja kalau Anda berada dalam keadaan murung, sedih, pusing, bantulah orang lain sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, maka kebingungan tadi akan berubah dengan kebahagiaan. Tidak percaya? Coba saja dulu, trust me it works (maaf pake jargon iklan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau coba ketika Anda sedih, bingung, murung, kesal dll, tulislah semua kondisi negatif tadi apa adanya. Misalnya saja, "Hari ini saya sangat kesal kepada teman saya. Betapa tidak, dia berkali-kali membohongi saya dengan cara yang berbeda. Yang pertama dia berbohong bahwa saya mendapatkan penghargaan dari kantor, ternyata tidak, dan yang kedua dia mengatakan bahwa saya diberikan teguran. Lagi-lagi ternyata tidak. Saya benar-benar kesal, jengkel, marah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba rasakan setelah mengungkapkan tulisan tadi apakah Anda masih merasa marah, jengkel? Lambat laun energi negatif tadi menghilang dan pindah ke kertas atau layar monitor komputer. Supaya energi tadi benar-benar hilang dari benak kita, secepatnya kertas yang berisi energi negatif tadi dibakar. Sambil membayangkan bahwa semua hal-hal negatif yang ada dalam diri kita yang sudah dipindahan ke kertas tadi juga dibakar sampai hilang. Atau kalau ditulis di layar monitor komputer, tulisan tadi diblok pake control A kemudian di delete dengan terlebih dahulu berniat untuk membersihkan energi negatif. Lumayan mudah kan membuang energi negatif dan menjadi bahagia dengan cara menulis? Selamat mencoba, sukses selalu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Ade Asep Syarifuddin, Pemimpin Redaksi Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-5104089759138031783?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mqg7VLphqrVzhne0UuFfzerwUO8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mqg7VLphqrVzhne0UuFfzerwUO8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mqg7VLphqrVzhne0UuFfzerwUO8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/mqg7VLphqrVzhne0UuFfzerwUO8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/jTWwYHZx52A" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SiSyEbqvRzI/AAAAAAAAAXQ/hinkfw02OgY/s72-c/Menulislah+Engkau+Bahagia.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/06/menulislah-maka-engkau-menjadi-bahagia.html</feedburner:origLink></item><item><title>No Mind, Hidup dengan Inspirasi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/VtBNMXeYaSo/no-mind-hidup-dengan-inspirasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Mon, 25 May 2009 07:58:15 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-1599640302175740857</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Shqx1qlXn4I/AAAAAAAAAXI/jw1S4oKij_w/s1600-h/Langit+biru.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Shqx1qlXn4I/AAAAAAAAAXI/jw1S4oKij_w/s320/Langit+biru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339775843723353986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU hari si rendah hati duduk di taman belakang rumahnya. Di kejauhan terlihat sebuah gunung tinggi menjulang. Sambil menikmati sejuknya hawa sore ia merenung tentang perjalanan hidupnya dari kecil sampai dewasa. Dia merasa bahwa hidupnya belum betul, masih banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Hatinya belum merasa plong, belum lega. Terasa masih ada ganjalan ketika memegang dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memiliki cara-cara sendiri untuk mengukur apakah yang dilakukannya itu sudah benar atau belum. Ia coba tarik nafas dalam-dalam berulangkali, apakah setiap tarikan nafas itu terasa lembut dan lega, atau setiap tarikan nafas terasa seperti ada kerikil yang menyumbat. Kalau nafas yang keluar masuk terasa lega, ia bisa menyimpulkan bahwa sampai hari itu dia telah berbuat yang benar. Sementara ketika tarikan nafas terasa seperti ada endapan, sesak atau sesuatu yang tidak enak lainnya, ia bisa memastikan bahwa sampai hari itu perbuatan dan pikirannya sedang kacau. Paling tidak berpikir yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencoba untuk meneliti segala perbuatannya yang selama ini dia lakukan. Pertanyaan yang pertama yang dia lontarkan pada dirinya adalah, apakah segala perbuatan yang telah dilakukannya sudah benar &lt;br /&gt;atau belum? Ah ini pertanyaan sulit. Kalau benar menurut siapa? Dan kalau salah menurut siapa? Selama ini yang bisa mengatakan benar dan salah hanyalah Pak Hakim, Pak Polisi, KPK atau bahkan Pak Hansip. Tapi itu terjadi pada perbuatan yang jelas-jelas melanggar undang-undang atau KUHAP. Terus yang mengadili pikiran negatif siapa ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah itu belum ada hukumnya dan belum ada yang dirugikan. Siapa bilang belum ada yang dirugikan. Ketika kita berniat jelek pada seseorang sekecil apapun jelas-jelas akan merugikan tubuh kita. Misalnya saja iri kepada kekayaan orang, dengki kepada prestasi tetangga. Ini jelas merugikan kita sendiri. Dalam waktu yang cukup lama iri dengan dengki serta benci itu bisa jadi penyakit kalau tidak dilepaskan. Mestinya ada hukum yang memvonis niat. Kalau kita berniat buruk maka harus ada vonisnya. Siapa hakimnya? Ya kita sendiri. Hukumannya apa? Bermacam-macam, yang jelas dengan hukuman tadi membuat kita kapok dan tidak mengulangi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si rendah hati mencoba-coba mengidentifikasi apa saja sih yang membuat seseorang itu berbuat kesalahan. Kesalahan bukan dalam pengertian hukum positif, tapi kesalahan yang bisa membuat seseorang terhambat atau tersabotase. Ia berpikir keras sebenarnya siapa yang paling bertanggung &lt;br /&gt;jawab terhadap perbuatan kita. Kaki kita? Bukan. Tangan kita? Bukan. Mata kita? Bukan. Terus siapa? Pikiran? Ya... ya.... betul pikiran kita. Sumber segala sumber persoalan adalah pikiran kita. Pikiran &lt;br /&gt;persis seperti srigala liar, atau tepatnya apa ya.... Yang jelas sangat liar, dalam satu waktu bisa berpikir bermacam-macam hal. Dan sama sekali tidak bisa dikendalikan. Ketika pikiran memikirkan sesuatu siapa &lt;br /&gt;yang bisa mencegah dan menghentikan yang dipikirkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus kesalahan pikiran di mana? tanya si rendah hati pada dirinya lagi. Coba saja evaluasi dosa-dosa besar pikiran. Pernah melihat orang yang pakaiannya compang-camping? Apa pendapat pikiran kepada orang yang berpakaian compang-camping tadi. Wah... hati-hati ada orang gila, awas diserang. Ternyata dulu pernah punya pengalaman diserang orang gila dengan pakaian yang persis sama. Ini berarti, pengalaman yang pernah terjadi menjadi rujukan kebenaran. Padahal tidak semua pengalaman yang pernah terjadi dan terjadi lagi di kemudian hari menjadi sama akibatnya. Jadi belenggu pertama pikiran yang perlu dikoreksi adalah belenggu pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus kesalahan pikiran yang lainnya apa? Dosa pikiran yang kedua adalah, keterikatan pada materi. Coba lihat seorang kaya raya yang bergelimang harta. Bagaimana sikap mental orang-orang yang memiliki harta banyak? Apakah dia semakin rendah hari atau malah sebaliknya. Kalau dilakukan penelitian, hampir 70% orang yang memiliki harta lantas dia berubah sikap. Apalagi kekayaan yang dia miliki tidak dibarengi dengan kekayaan mental. Cenderung sombong, merendahkan orang lain, &lt;br /&gt;apabila ada orang yang terlihat miskin datang ke rumahnya dia akan berpikir bahwa orang tersebut akan meminta hartanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si rendah hati terus mencari lagi kesalahan-kesalahan pikiran. Dan dia berhasil menemukan yang ketiga, dosa besar pikiran adalah belenggu persepsi atau tafsiran yang keliru. Pernah melihat sebuah gambar gadis cantik usia 17 tahun dan nenek tua 70 tahun di buku Seven Habit karya Steven R Covey? Dari satu persepsi atau sudut pandang gambar itu adalah gadis cantik usia 17 tahun, sementara dari sudut pandang yang lain gambar itu adalah nenek-nenek tua. Mana yang benar? Dua-duanya benar, jelas kita tidak bisa mengatakan satu pendapat saja. Ini baru terjadi pada sebuah gambar, bagaimana kalau terjadi pada tafsiran agama? Bisa-bisa semua orang yang berbeda tafsir dengan dirinya dianggap kafir semua, atau salah semua. Wah bisa bahaya ini. Bencana dan perang bisa terjadi di mana-mana, bahkan anak bisa memusuhi orang tuanya gara-gara memiliki tafsir yang berbeda atas ajaran agamanya. Ini sudah terjadi di sekeliling kita. Pikiran dalam kasus ini benar-benar menjadi bumerang bagi lingkungnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus masih adakah kesalahan-kesalahan pikiran yang lain? Nah ini yang berikutnya, terlalu percaya kepada pikiran Anda juga merupakan kesalahan dari pikiran. Dengan kata lain, kita menuhankan pikiran kita sendiri. Kok begitu? Kalau bukan percaya kepada pikiran lantas kepada siapa? Bukan itu masalahnya, kita boleh percaya kepada pikiran tapi jangan 100% percaya. Setelah diteliti pikiran itu memiliki banyak kelemahan-kelemahan, pikiran itu memiliki kekurangan-kekurangan. Bahkan untuk kelompok-kelompok tertentu seringkali pikiran digunakan untuk memprovokasi kelompok-kelompok tertentu untuk mendukung dan menghujat kelompok lain. Wah... ini sudah permusuhan. Tidak ada lagi perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir, ketika kita sudah tidak lagi percaya kepada pikiran yang seringkali memanipulasi fakta dan data, lantas kita percaya kepada siapa? Ini pertanyaan sulit yang tidak bisa langsung dijawab. Si rendah hati merenung, dia tidak berpikir, dia mencari kedamaian, dia pasrah, dia ikhlas, dia meminta petunjuk, dia tertidur. Dalam tidurnya itu ia bertemu dengan seorang sepuh yang arif bijak. &lt;br /&gt;Dalam gambarannya orang tadi berpakaian serba putih dan selalu memancarkan sinar bahagia dan senyuman.Si rendah hati bertanya, "Bapak yang bijak.... saya sedang bingung. Saya meminta pencerahan. Setelah dievaluasi secara seksama, ternyata pikiran adalah sumber persoalan negatif di dunia ini. Padahal saya tidak bisa lepas dari pikiran barang sedetik pun. Lantas apa yang harus &lt;br /&gt;saya lakukan. Saya seperti terbelenggu pikiran dan tidak bisa lari darinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bapak bijak tersebut tersenyum dan menatap dalam-dalam si rendah hati. Dia tidak lantas menjawab, dia menghela nafas dalam-dalam. Dia menatap langit yang mendung. Terlihat mendung tersebut diterpa angin dan menghilang. "Anakku.... Engkau melihat langit dan awan di atas sana? Langit dan mendung itu seperti menyatu, tapi sadarilah bahwa langit tersebut sama sekali tidak merasa memiliki awan tadi. Suatu hari awan tadi seperti menyatu dengan langit, tapi ketika yang lain awan tersebut pergi entah ke mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa hubungannya dengan pertanyaanku bapak bijak....?" tanya si Arif bijak makin bingung. "Engkau memiliki pikiran, memiliki pendapat, memiliki pengalaman, memiliki tafsir dan persepsi, memiliki literatur &lt;br /&gt;dan referensi yang cukup banyak. Tapi jangan sekali-kali semua itu menjadikan engkau lupa bahwa semua itu hanya sebuah tangga cerita, hanya sebuah file yang pernah terjadi. Karenanya semuanya itu jangan dijadikan satu-satunya sumber dan rujukan kebenaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu siapa yang dijadikan rujukan kebenaran kalau pikiran ini sumber persoalan?" tanya si rendah hati lagi. Ini spirit hidup yang harus menjadi pegangan kita. Jadikan inspirasi sebagai petunjuk hidup, dan janganlah memori baik dalam bentuk pengalaman, persepsi, tafsir dan belenggu-belenggu lainnya dijadikan pegangan hidup. Inspirasi itu ada dalam hati yang bersih, rasa yang bersih, maka bersihkanlah dirimu setiap saat supaya inspirasi itu juga datang setiap saat. Inspirasi itu adalah kabar yang benar sampai-sampai pikiran terkadang tidak bisa menangkap apakah yang muncul itu inspirasi atau memori," katanya."Tapi, lanjut bapak bijak tadi, memori itu berasal dari kejadian masa lalu, pengalaman masa lalu, pengaruh masa lalu yang ikut serta mempengaruhi keputusan kita pada masa sekarang. Sementara inspirasi adalah berupa suara atau bisikan atau ada yang mengatakan ilham, indra &lt;br /&gt;keenam dll. Tapi memang inspirasi itu bisa datang dengan beberapa catatan. Catatan yang pertama kalau kita sudah berusaha terus menerus membersihkan diri kita dengan berbagai macam cara. Kalau Joe Vitale dalam bukunya Zero Limits dengan cara mengatakan secara berulang-ulang kata-kata pembersihan berupa kata-kata 'Saya mengasihi Anda, Saya menyesal, Maafkan saya dan Terimakasih.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam ajaran yang lain Islam misalnya, juga mengajarkan istilah istighfar (maafkan saya), syukur (terimakasih), mencintai sesama, menyesal terhadap segala dosa. Juga ajaran agama yang lain &lt;br /&gt;hampir-hampir sama. Itulah proses pembersihan diri secara terus menerus untuk menge-nol-kan pikiran (No Mind). Bukan tidak punya pikiran, tapi pikiran sudah sangat bersih, sehingga yang keluar hanyalah inspirasi, kata-kata bijak penuh makna yang dalam untuk kebaikan dan kedamaian dunia ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si rendah hati terbangun. Ia bermimpi tapi seperti tidak bermimpi karena yang dia lihat sangat jelas. Tapi dari sana dia menemukan jawaban atas segala gundah gulana pikirannya. "Saya memiliki pikiran yang sangat hebat, tapi saya harus menjaga pikiran agar sesuai dengan tujuan penciptaan awal, menyebarkan perdamaian, cinta dan kasih sayang, dan rasa syukur. Saya harus meng-nol-kan pikiran terus menerus sehingga yang keluar adalah inspirasi dan bukan hawa nafsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam kedamaian, saya mencintai Anda, saya mengasihi Anda, saya menyesal, maafkan saya. Sukses selalu buat Anda. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-1599640302175740857?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FQ3VoC6ymrgI6lgeTmRn11SXces/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FQ3VoC6ymrgI6lgeTmRn11SXces/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FQ3VoC6ymrgI6lgeTmRn11SXces/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FQ3VoC6ymrgI6lgeTmRn11SXces/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/VtBNMXeYaSo" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Shqx1qlXn4I/AAAAAAAAAXI/jw1S4oKij_w/s72-c/Langit+biru.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/05/no-mind-hidup-dengan-inspirasi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mengapa LoA Tidak Bekerja?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/A6xg6caj-ck/mengapa-loa-tidak-bekerja.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Thu, 21 May 2009 20:27:50 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-6831402591470293134</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/ShYbQ35VvKI/AAAAAAAAAXA/d1I9cZ2Vi74/s1600-h/law-of-attraction.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 293px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/ShYbQ35VvKI/AAAAAAAAAXA/d1I9cZ2Vi74/s320/law-of-attraction.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338484384990608546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMAN saya yang pernah menonton film The Secret dan sekaligus membaca bukunya protes kepada saya bahwa Law of Attraction (LoA) atau hukum tarik menarik sama sekali tidak bekerja. Dirinya melakukan semua saran dan tahapan-tahapan yang disarankan di dalam film itu. Mulai dari meminta, menerima dan merasakan seolah-olah sudah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya tanyakan apakah dirinya apakah masih memiliki ganjalan hati sehingga tidak merasa bahagia, tidak merasa damai? Dari situ dia merenung sejenak, kemudian terlihat matanya menerawang masa lalunya. Dengan kalimat yang terbata-bata dia mengatakan bahwa dia memang memiliki dendam kepada seseorang. Sampai sekarang dendam itu belum juga hilang dari ingatannya. Bahkan dia pernah bersumpah sebelum membalas dendam itu dia tidak akan melupakan kejadian yang menyakitkan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya apakah LoA itu memang tidak bekerja atau memang kita sendiri yang menghambat kerja LoA. Dalam kasus ini teman saya memiliki energi negatif yang terus menerus disimpan di dalam tubuhnya sehingga dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan. Bisa jadi yang menghambat terwujudnya hukum tarik menarik adalah dendam yang tersimpan tadi. Hukum tarik menarik ini tidak pernah berhenti bekerja, persis seperti hukum gravitasi atau hukum sebab akibat. Bila terlihat tidak bekerja dipastikan ada persoalan di dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bandingkan kalau kita memiliki sebuah magnet, tapi sayangnya magnet tersebut sangat kotor dan penuh dengan tanah dengan ketebalan tidak kurang dari 1 sentimeter. Pertanyaannya apakah magnet tersebut masih bisa bekerja secara efektif, menarik benda-benda seperti besi atau tidak. Bisa dipastikan cara kerja magnet tersebut sudah berkurang kekuatannya atau bahkan tidak bisa lagi menarik besi. Sebab terhalang oleh kotoran tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba magnet tersebut dibersihkan bisa dengan cara dicuci, dilap sampai kotoran-kotoran dan tanah yang menempel tadi terlepas. Sekarang coba lagi apakah magnet tersebut bisa menarik besi atau tidak. Ternyata magnet tadi sudah bisa bekerja sesuai dengan "fitrahnya". Bahkan kekuatannya terasa lebih besar. Sama halnya dengan hukum tarik menarik, kalau di dalam diri kita banyak kotoran-kotoran negatif apakah trauma, dendam, kebencian atau energi negatif lainnya bisa dipastikan kita tidak bisa menarik sesuatu yang kita inginkan. Kemudian bagaimana caranya agar kita bisa kembali menarik segala sesuatu yang kita inginkan sesuai dengan hukum tarik menarik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan. Benar sekali pembersihan. Persis seperti magnet yang dibersihkan tadi. Di dalam diri manusia juga banyak sekali kotoran-kotoran negatif baik yang terasa maupun yang tidak terasa. Apa saja? Bisa luka lama seperti trauma masa lalu, benci kepada seseorang, iri, berburuk sangka, dll. Berapa kali harus membersihkan dan siapa yang tahu kalau kita sudah bersih? Ini bukan membersihkan lantai atau kamar mandi. Kita bisa melihat kotoran dan noda-moda dengan mata kita. Ini membersihkan rasa, kita tidak bisa melihat secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada cara untuk mengetahui apakah yang kita bersihkan sudah benar-benar bersih atau tidak yaitu lewat perasaan kita. Kalau perasaan kita masih galau, bingung, tidak nyaman, khawatir, itu pertanda bahwa hati kita belum bersih. Tapi kalau perasaan kita sudah gembira, damai, bahagia itu adalah suatu pertanda bahwa hati kita berangsur-angsur mulai bersih. Indikator perasaan ini yang harus selalu dikontrol oleh kita untuk mengetahui sejauhmana tingkat kebersihan pikiran dan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lainnya bagaimana cara membersihkannya? Ini juga hal penting sehingga kita tidak ragu-ragu untuk membersihkannya. Secara sederhana pembersihan luka di hati bisa dikatakan mudah bisa juga sulit. Mengapa demikian, kalau seseorang sudah berniat untuk membersihkan dendam kepada seseorang maka prosesnya menjadi lebih cepat. Secara teknis, carilah tempat yang nyaman, duduk dalam posisi yang enak, tarik nafas dalam dalam beberapa kali dan dikeluarkan secara pelan-pelan. Lakukan beberapa kali sampai tubuh benar-benar terasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk dalam kondisi yang nyaman mulailah kita meniatkan diri untuk membersihkan segala energi negatif. Sampai di sini kita harus mengidentifikasi ada berapa energi negatif yang menjadi beban pikiran. Kalau kita merasa hanya ada satu energi negatif, benci kepada seseorang misalnya maka mulailah berniat untuk melepaskan kebencian tadi. "Saya berniat untuk melepaskan kebencian kepada seseorang." Ulangi beberapa kali sampai merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh kita baik lewat telapak kaki maupun lewat kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasakan apakah beban sudah berkurang? Kemudian dilanjutkan lagi dengan kata-kata, "Saya menyayangi orang tersebut seperti saya menyayangi diri sendiri dan keluarga. Karena saya tahu bahwa dia adalah orang yang baik." Rasakan kembali apakah beban yang ada berangsur-angsur mulai berkurang? Lanjutkan dengan kata-kata, "Maafkan saya kalau selama ini saya membenci Anda. Saya sudah melakukan perbuatan dosa." Diakhiri dengan kata-kata, "Terimakasih ya Tuhan, Engkau sudah memberikan berkah dan nikmat yang tiada terhingga kepada saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasakan apa perubahan yang terjadi dalam diri kita ketika melalui proses pembersihan tadi. Ulangi beberapa kali dalam sehari, kalau sudah merasakan bahagia, damai, lakukan hal tadi untuk kepentingan pembersihan diri atas energi negatif yang nyangkut di dalam pikiran dan hati yang terjadi setiap hari. Ketika hari-hari kita diisi dengan hati dan perasaan yang damai, bahagia, senang disitulah hukum tarik menarik mulai akrab dengan kita. Dan niatkan untuk meminta sesuatu, kemudian serahkan kepada Yang Maha Kuasa dan lupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Rasakan saja sendiri, Anda pasti akan menemukan sesuatu yang selama ini Anda idam-idamkan. Salam damai, bahagia. Saya menyayangi Anda, terimakasih, dan mohon maaf. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-6831402591470293134?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZgaAU0kLIhdyg1aQmuRF0yw4yZM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZgaAU0kLIhdyg1aQmuRF0yw4yZM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZgaAU0kLIhdyg1aQmuRF0yw4yZM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZgaAU0kLIhdyg1aQmuRF0yw4yZM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/A6xg6caj-ck" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/ShYbQ35VvKI/AAAAAAAAAXA/d1I9cZ2Vi74/s72-c/law-of-attraction.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/05/mengapa-loa-tidak-bekerja.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kekuatan Kata-kata Positif</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/-90rAm7CiBo/kekuatan-kata-kata-positif.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Thu, 14 May 2009 20:05:07 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-56235177869839729</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SgzbkUfrbbI/AAAAAAAAAW4/pZePFfjMMe0/s1600-h/kata-kata+positif.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 241px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SgzbkUfrbbI/AAAAAAAAAW4/pZePFfjMMe0/s320/kata-kata+positif.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335881075550547378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBACA karya Joe Vitale dalam 'Zero Limits, Metoda Rahasia Hawaii untuk Memperoleh Kekayaan, Kesehatan, Kedamaian dan Banyak lagi' sangat luar biasa inspiratif. Posisi Joe Vitale dalam buku tersebut adalah pihak yang menjelaskan pertemuan dengan sosok Ihaleakala Hew Len yang memiliki cara penyembuhan yang agak aneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang aneh tersebut adalah Hewlen menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara profesional. Ternyata Hew Len menggunakan metoda penyembuhan dengan sebuah cara "pembersihan diri" secara terus menerus kepada diri sendiri. Lebih jelasnya pembersihan diri tersebut adalah dengan ungkapan "Saya mengasihi Anda", "Maafkanlah Saya", "Terimakasih", dan terakhir adalah "Salam kedamaian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Hew Len, untuk memperbaiki dunia, lingkungan atau siapapun maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri terus menerus. Sehingga diri kita selalu dalam keadaan bahagia, damai dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk baik yang bernyawa maupun yang kelihatan tidak bernyawa. Dan semua "kegagalan" di dunia ini menjadi 100% tanggung jawab kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tanggung jawab sudah 100% kita ambil, maka tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam dan alasan-alasan lainnya yang dicari-cari. Bila semua orang memiliki sikap seperti ini maka dunia ini akan sangat damai, dan dipenuhi dengan energi positif yang bertebaran di atmosfer ini. Universe akan tersenyum melihat mental-mental manusia yang sehat, sikap-sikap manusia sebagai pemimpin dunia yang fair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara jujur kita sadari, dunia kita sudah terlalu sesak dipenuhi energi negatif yang bertebaran di sana-sini. Entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi negatif dan positif yang bertebaran. Tapi konon ada pandangan yang mengatakan bahwa 9 energi negatif akan netral dengan 1 energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut. Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang arif bijak yang mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mengambil tanggung jawab 100% untuk membuat kebaikan di lingkungan sekitar kita, maka 1: 10 atau bahkan lebih banyak lagi bisa membuat energi positif bertebaran di alam ini. Apa sih susahnya untuk mengatakan "Saya Mengasihi Anda", "Terimakasih", "Maafkanlah Saya", "Salam kedamaian", atau bisa ditambah lagi dengan kata-kata lain seperti "Sukses Selalu buat Anda", "Bahagia selalu untuk Anda", "Keberkahan untuk Anda" dll. Isinya adalah doa-doa baik untuk orang sekitar kita dan ungkapan rasa syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau mencoba? Ya, harus kita coba dulu efektifitas ungkapan kata-kata tersebut. Dan ungkapan tadi tidak hanya kepada manusia, kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan. Tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water yang meneliti tentang air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan membentuk kristal yang sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan kristal yang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak cukup hanya dengan mengeluarkan kata-kata tersebut di atas lantas akan memperbaiki segalanya. Lakukan berulang-ulang kata-kata tersebut di atas sampai menyatu dengan diri kita. Apabila kata sudah menyatu dengan pikiran dan hati, siapa yang tahu akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tapi kata-kata tersebut di atas bagi yang mengucapkan dengan sepenuh hati akan memunculkan perasaan bahagia dan damai setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kita akan terpelihara dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan memiliki makna berbeda setelah masuk ke dalam pikiran kita. Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kata mengasihi maka pikiran menggambarkan seseorang yang mengusap-usap seseorang (anak kecil), atau memberikan perhatian kepada orang yang kesusahan atau memberikan menjaga orang yang membutuhkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengungkapkan kata "Maafkan saya", ketika itu pula ada rasa melepaskan energi negatif dan beban yang ada di pikiran dengan sebuah pengakuan. Dan orang yang mendengar kata-kata tersebut juga akan muncul rasa yang lembut yang juga mengucapkan kata yang sama, "Maafkan saya juga". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa indah dunia ini kalau diisi dengan kata-kata yang berenergi positif. Sudah saatnya kita menyadari akan kekuatan ikhlas, kekuatan kebahagiaan, kekuatan kedamaian, kekuatan cinta dan kasih sayang,  kekuatan syukur. Ucapkan kata-kata tersebut terus menerus setiap saat maka kita akan senantiasa berada dalam pencerahan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam kedamaian, salam kebahagiaan, saya mengasihi Anda, terimakasih, maafkan atas segala kesalahan saya. Sukses selalu buat Anda. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-56235177869839729?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bvScLNjOZK5MXgzUF6ATkgdhoxc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bvScLNjOZK5MXgzUF6ATkgdhoxc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bvScLNjOZK5MXgzUF6ATkgdhoxc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bvScLNjOZK5MXgzUF6ATkgdhoxc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/-90rAm7CiBo" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SgzbkUfrbbI/AAAAAAAAAW4/pZePFfjMMe0/s72-c/kata-kata+positif.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/05/kekuatan-kata-kata-positif.html</feedburner:origLink></item><item><title>Membayar Harga Kesuksesan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/vi8Hy7NJTrw/membayar-harga-kesuksesan.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Mon, 11 May 2009 21:23:34 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-1203194674750015322</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Sgj5uHhkWPI/AAAAAAAAAWw/lJpiEniRJyY/s1600-h/Mendaki+Gunung.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Sgj5uHhkWPI/AAAAAAAAAWw/lJpiEniRJyY/s320/Mendaki+Gunung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334788329309493490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA yang tidak ingin mencapai kesuksesan? Tentu semua orang ingin meraihnya, menikmatinya tanpa kecuali. Tapi kalau ditanya lebih lanjut, apakah semua orang mau membayar harga kesuksesan tersebut, tidak semua orang secara tegas menjawab ya. Ini artinya, banyak sekali orang di dunia ini yang menginginkan sesuatu tapi tidak siap dengan berbagai konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini kita hidup dengan hukum-hukum yang berlaku secara universal. Hukum-hukum tersebut berlaku untuk siapa saja tanpa kecuali. Apakah seseorang itu pandai, berpendidikan tinggi, berpendidikan rendah, berwajah manis, dll. Hukum-hukum tadi tidak dapat dimanipulasi, dengan alasan apapun. Apakah karena seseorang masih ada darah kerajaan, darah politisi dan darah bangsawan menjadikan hukum tadi tidak berlaku? Tidak... tidak... tidak sama sekali. Hukum alam berlaku untuk semua kalangan tanpa kecuali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh sederhana, hukum gravitasi bumi mengatakan bahwa apabila seseorang atau benda berada pada ketinggian tertentu kemudian terjun bebas maka dia atau benda tersebut akan jatuh. Semakin tinggi ketinggian semakin besar kemungkinan jatuh dalam kondisi yang mengenaskan. Apakah lantas hukum tersebut menjadi tidak berlaku kalau &lt;br /&gt;ada seseorang yang berdarah biru terjun dari ketinggian tertentu? Tentu tidak, kecuali orang tersebut menggunakan parasut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya hukum sebab akibat. Sebab melakukan perbuatan tertentu akan berakibat hasil tertentu pula. Kita boleh memilih satu perbuatan, tapi kita tidak bisa memilih akibatnya. Contoh sederhana, seseorang yang ulet, rajin, sabar dan pantang menyerah akan mencapai tujuan-tujuannya. Sementara yang malas, tidak sabaran, dan merasa gagal jangan harap bisa mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kesuksesan? Kesuksesan mempunyai hukum-hukum tersendiri. Apakah semua orang bisa sukses? Sudah tentu, siapapun yang berani membayar harganya akan mencapai kesuksesan tadi. Maksud membayar harga kesuksesan adalah, untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan harus melewati proses perjuangan baik pikiran maupun perbuatan. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang bisa diperoleh dengan cara gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat sekeliling kita saja alam sudah menginspirasi kepada kita bahwa semua tujuan itu harus diperjuangkan. Ulat berjuang menjadi kupu-kupu harus berdiam diri dalam keheningan di dalam kepompong selama 7 hari. Coba saja kepompong tersebut dibuka padahal baru 4 hari, maka ulat tadi tidak akan jadi kupu-kupu. Demikian halnya telur ayam menetas dalam waktu 21 hari, kalau dalam waktu 15 hari sudah tidak dierami, maka tidak akan menetas menjadi ayam. Pun manusia bisa melahirkan setalah usia 9 bulan 10 hari. Kalaupun ada yang melahirkan 7 bulan ada akibat-akibat tertentu yang bisa menimpa bayi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat contoh-contoh di atas kita bisa menyimpulkan bahwa untuk mencapai satu tujuan sukses tidak ada jalan instant. Apa saja harga kesuksesan tersebut? Paling tidak dalam catatan saya ada beberapa harga yang mesti dibayar. Pertama harga menetapkan dan memelihara impian sukses ingin menjadi apa, kedua harga kesabaran dan pantang menyerah, ketiga harga belajar terus menerus untuk mencari cara mencapai impian tadi, keempat, mengganti impian baru apabila impian lama sudah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, harga menetapkan dan memelihara sebuah impian. Mustahil seseorang bisa mencapai suatu keinginan kalau di kepalanya tidak ada keinginan tersebut. Ini artinya, seseorang yang memiliki impian tertentu pasti sebelumnya dia memutuskan untuk mencapai keinginan tadi. Kemudian impian tadi dipelihara terus menerus, tetap fokus. Tidak pedulai berapa godaan yang bisa mematahkan impian tadi, berapa cobaan yang bisa menghentikan impian tadi, kita tetap memelihara sampai tercapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bandingkan dengan sebuah perjalanan, impian adalah tujuan akhir dari perjalanan kita. Seseorang yang ingin mencapai Jakarta dari Surabaya menggunakan kereta api, sama sekali tidak tergoda untuk turun dari kereta api ketika sampai di Stasiun Semarang atau Stasiun Cirebon. Baru ketika sampai di Stasiun Gambir dia turun melanjutkan tujuannya. Coba kalau penumpang tadi tergoda turun di Stasiun Semarang atau Stasiun Cirebon, maka dia tidak akan sampai ke tujuan sesuai keinginan &lt;br /&gt;awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, harga kesabaran dan pantang menyerah. Mendaki gunung sering dijadikan alat eksperimentasi seseorang untuk menguji kesabaran mencapai tujuan. Seorang pecinta alam sangat tertentang untuk melakukan pendakian dari gunung dengan ketinggian sedang, menuju ke pendakian gunung yang lebih tinggi sampai ke gunung yang tertinggi. Di sana ada bekal-bekal tertentu misalnya pemahaman medan, kekuatan fisik, komando yang konsisten, perbekalan yang cukup, dan yang paling penting memiliki peta tujuan. Setelah semuanya siap barulah mulai melakukan pendakian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang belum memahami medan bisa jadi bertemu dengan binatang buas, atau tergelincir masuk jurang atau bahkan kelelahan karena memang tidak biasa. Bila hambatan-hambatan tersebut muncul, apakah akan pulang begitu saja atau melanjutkan perjalanan? Sangat bergantung kepada kualitas mental seseorang. Bila hambatan tadi sudah diperhitungkan sejak awal maka hambatan tersebut tidak akan mengurungkan perjalanan. Tapi bila memang mentalnya mudah menyerah, ada monyet lewat di depan saja sudah ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang ketiga adalah harga belajar terus menerus untuk mencari cara mencapai impian tadi. Belajar menjadi sesuatu yang penting dan perlu menyisihkan waktu. Bila kita bekerja terus menerus tanpa diiringi dengan belajar, kita tidak bisa introspeksi dan mengevaluasi atas hasil kerja kita. Tapi dengan meluangkan waktu untuk belajar maka kita bisa menilai apa saja kekurangan yang harus diperbaiki dan apa saja pengetahuan yang harus ditambah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cerita menarik dari seorang tukang tebang pohon. Hari pertama dia menebang 100 pohon, sementara pada hari kedua dia hanya bisa menebang 75 pohon dengan waktu yang sama. Sampai pada hari ketujuh dia hanya bisa menebang 10 pohon dengan waktu yang sama seperti hari pertama. Setelah diteliti ternyata dia lupa untuk mengasah gergajinya setiap hari. Karena setelah dipakai, gergajinya tidak tajam lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengasah gergaji ini adalah perumpamaan kita belajar. Semakin rajin belajar, maka semakin tajam daya analisis kita terhadap sesuatu yang kita kerjakan. Semakin malas belajar, semakin tumpul pikiran kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keempat, mengganti impian lama dengan impian baru apabila impian lama sudah tercapai. Inilah siklus yang harus ditempuh. Bila satu impian sudah tercapai maka secepatnya merencanakan impian baru. Kita boleh merasa bangga dengan hasil-hasil prestasi yang sudah kita capai. Tapi jangan terlalu lama, jangan sampai terlena. Pencapaian impian tadi hanyalah sasaran antara untuk mencapai impian berikutnya yang lebih besar. Demikian seterusnya, di dalam hidup ini tidak ada tujuan akhir yang membuat kita tidak berusaha lagi, kita harus berusaha terus menerus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita mau dan gigih membayar harga-harga di atas, maka siapapun akan mencapai impian-impiannya. Tidak ada alasan keturunan, alasan shio, alasan pendidikan alasan apapun untuk mencapai kesuksesan. Siapapun bisa mencapai asalkan memiliki komitmen yang tinggi untuk mencapainya. Sukses selalu. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-1203194674750015322?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvB633pySeeMh8u-lctPgXFJB4g/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvB633pySeeMh8u-lctPgXFJB4g/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvB633pySeeMh8u-lctPgXFJB4g/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JvB633pySeeMh8u-lctPgXFJB4g/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/vi8Hy7NJTrw" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/Sgj5uHhkWPI/AAAAAAAAAWw/lJpiEniRJyY/s72-c/Mendaki+Gunung.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/05/membayar-harga-kesuksesan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Memulai Lagi Memasuki Keheningan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/p3jtDWY7lgo/memulai-lagi-memasuki-keheningan.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Mon, 27 Apr 2009 08:27:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-7389017825668075310</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SfXO4rAga9I/AAAAAAAAAWo/B1VsYyWnFqs/s1600-h/sujud.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 197px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SfXO4rAga9I/AAAAAAAAAWo/B1VsYyWnFqs/s320/sujud.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329393207075695570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENTAH sudah berapa lama saya tidak bersentuhan lagi dengan heningnya malam, damainya jiwa, bahagianya hati berdekatan dengan Sang Ilahi Robbi. Mungkin tidak kurang dari 10 bulan malam-malam yang damai itu ditinggalkan begitu saja. Tidak enak emang, hati rasanya kering, selalu resah dan gelisah dengan sebab-sebab yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari perasaan yang tidak nyaman itu semakin mengganggu. Berkali-kali mencoba untuk tenang, tapi tidak juga diperoleh. Wah... ada apa ini sebenarnya. Sekeliling saya terlihat negatif semua. Mungkin ini yang dijadikan salah satu prinsip dalam NLP (Neuro Linguistic Progamming) sebagai reframing (persepsi dalam satu kejadian). Bukan kejadiannya itu sendiri yang menjadi masalah, tapi diri kitalah masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, kalau diri kita baik-baik saja, positif thinking dan positif feeling maka apapun yang kita hadapi, enak atau tidak enak dipastikan akan terasa enak. Sampai di sini saya teringat kepada bacaan-bacaan yang pernah saya kaji, bahwa inti dari kehidupan ini adalah mengelola hati dan pikiran. Pikiran harus senantiasa dikontrol oleh kesadaran yang posisinya berada di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu saat saya benar-benar ingin "menghabisi" perasaan resah dan gelisah tadi. Saya coba akses ke masa lalu dalam kondisi badan dan pikiran yang rileks. Perasaan bahagia dan damai itu pernah saya alami. Dan ternyata hal itu terjadi ketika terjaga dari tidur di sepertiga malam mau berakhir. Aha .... Mungkin ini jawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menunggu beberapa hari lagi malam itu tatkala mau tidur saya ambil air wudlu shalat sunah 2 rakaat dan diniatkan untuk terjaga di kegelapan malam, di tengah samudera keberkahan, di jagat kenikmatan spiritual, menyelami relung-relung jiwa. Tepat pukul 3 pagi mata ini bak diprogram untuk terjaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tersenyum, air tersenyum karena senang dijadikan air wudlu, ruangan remang-remang tersenyum menyambut hamba yang mau bersujud, sajadah pun tersenyum setelah melakukan penantian yang cukup lama untuk memenuhi tetesan air mata taubat dan sentuhan takzim jidat ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya senang, semuanya gembira, semuanya bahagia. Jengkrik dan binatang malam lainnya bertasbih, bershalawat, menggema di alam jagat raya disaksikan galaksi bima sakti. Bintang kerlap-kerlip di langit pun menjadi saksi atas doa-doa yang dipanjatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin masuk ke dalam, semakin tak tertahankan untuk berjumpa dengan Sang kekasih, semakin rindu, semakin erat memeluk Sang Maha Suci. Semuanya dicurahkan sampai habis kata. Tidak ada yang tersisa. Menyadari diri menjadi hamba yang durhaka, selalu berbuat dosa, selalu berpikir dan berburuk sangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya sadar sesadar-sadarnya bahwa semua yang terjadi dan semua yang dialami adalah sesuatu yang terbaik untuk saya. Walaupun bisa jadi sesuatu itu terasa tidak enak, terasa menyesakkan, terasa pahit dan terasa menyakitkan. Yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik untuk kita. Demikian pepatah mengatakan. Tetapi yang terjadi pada kita adalah sesuatu yang terbaik untuk kita selagi kita memberikan makna positif terhadap segala apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tahajud cinta, tahajud ikhlas, tahajud ketulusan. Datang dengan membawa kepasrahan. Semakin lama bersujud semakin damai hati dan rasa ini. Mungkinkah Sang Maha Pencipta selalu memberikan perasaan ini kapan pun dan di mana pun? Itulah harapan yang selalu dipanjatkan. Jawabannya Tuhan akan sangat dekat kalau kita mendekat, dan Tuhan pun akan menjauh seiring dengan menjauhnya diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitalah yang menentukan apakah Tuhan bakal dekat atau tidak. Sejatinya Tuhan tetap dekat walapun kita menjauh, apalagi kalau kita mendekat, Tuhan sangat dekat dengan kita. Perasaan dan dugaan kitalah yang bakal menjadi kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...&lt;br /&gt;berikanlah kekuatan untuk selalu dekat dengan Mu &lt;br /&gt;Berikanlah petunjuk agar aku selalu memiliki niat yang lurus&lt;br /&gt;Niat untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Kau turunkan&lt;br /&gt;Tunjukkanlah kami jalan yang lurus&lt;br /&gt;Jalan yang bisa membahagiakan diri kami, keluarga kami dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saudara-saudara kami&lt;br /&gt;Jadikanlah kami hamba yang pandai bersyukur&lt;br /&gt;Jadikanlah kami hamba yang selalu bertaubat&lt;br /&gt;Jadikanlah kami hamba yang senantiasa mencari ridha dan kasih sayangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin ya robbal alamin. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-7389017825668075310?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8TGL58p6P2pvX-DA102ZbwFrGNM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8TGL58p6P2pvX-DA102ZbwFrGNM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8TGL58p6P2pvX-DA102ZbwFrGNM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8TGL58p6P2pvX-DA102ZbwFrGNM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/p3jtDWY7lgo" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SfXO4rAga9I/AAAAAAAAAWo/B1VsYyWnFqs/s72-c/sujud.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/04/memulai-lagi-memasuki-keheningan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Menulis Seperti Berenang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/L2lglVn9OYY/menulis-seperti-berenang.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Tue, 24 Feb 2009 20:13:42 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-5139824035911194124</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SaTFX2XHuwI/AAAAAAAAAUk/_Eo0_Vl281s/s1600-h/swimming.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 293px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SaTFX2XHuwI/AAAAAAAAAUk/_Eo0_Vl281s/s320/swimming.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306583274469440258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG teman bertanya, bagaimana sih untuk memulai menulis? Rasanya kok sulit ya. Dulu ketika masih jaman mesin ketik, separo rim kertas habis disobek-sobek. Sekarang jaman komputer, tidak menyobek kertas tapi tidak satu file pun yang jadi di-saving. Rasanya tulisan yang kita buat masih sangat terlalu jelek untuk dibaca orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang dialami teman saya pasti terjadi pula pada Anda atau siapapun yang menjadi penulis pemula. Persoalan paling mendasar disebabkan karena ketidakpercayaan kepada diri sendiri bahwa tulisan yang kita buat sudah cukup bagus. Lantaran tidak bagus maka malu kalau orang lain membaca. Daripada malu lebih baik dibatalkan, disobek, tidak disimpan dalam bentuk file. Langkah tersebut secara bawah sadar terasa menyelamatkan harga diri dan wibawa kita sendiri. Tapi proses keterampilan menulis tidak tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kan aneh, mau belajar menulis tapi takut kalau tulisan kita jelek. Dan lucunya ketika tulisan jelek malu dibaca orang. Apakah kita lupa dulu ketika belajar berjalan sering terjatuh kemudian menangis? Apakah kita malu saat itu. Tidak kan? Buktinya kita bangun lagi dan bangun lagi walaupun dengkul kita berlumuran darah dan tambal-tambalan kapas dan obat merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kita belajar sepeda terus terjatuh, apakah kita juga malu? Ternyata tidak, malahan diulang kembali dan diulangi kembali. Sampai pada suatu ketika setimbangan mulai stabil, jalanlah sepeda roda dua tersebut. Lupa deh kepada dengkul yang luka-luka. Semuanya lunas terbayar ketika kita bisa menaiki sepeda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau masih ingatkah waktu kecil kita belajar berenang? Saya sendiri belajar berenang di sungai. Awalnya hanya nyemplung dan berdiam diri di pinggir sambil melihat teman-teman yang sudah mahir. Lucunya ada juga teman yang umurnya jauh lebih rendah dari saya tapi sudah lancar berenang dan masuk ke dalam air, kemudian menyembul lagi dan masuk lagi. Persis seperti lumba-lumba. Saya sangat kagum pada dia, tapi saya belum bisa menirunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pergi ke sungai setiap hari. Hari pertama hanya diam sambil memperhatikan teman-teman, hari kedua bergeser satu meter dari tempat awal, hari ketiga geser 2-3 meter tapi masih di tepi. Hari keempat geser satu meter tanpa berpegangan ke tepi. Hari kelima berpegangan ke tepi sambil menghentak-hentakkan kaki, hari keenam berjalan agak ke tengah dikit kemudian meluncur ke pinggir tapi belum bisa menggerakkan kaki. Sampai suatu saat saya diseret ke tengah oleh teman-teman, kaki dan tangan saya bergerak-gerak dan tenggelam meminum air cukup banyak. Untungnya teman-teman saya menolong walaupun mereka mentertawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan setelah kejadian yang sangat mengerikan tersebut akhirnya saya tidak ada lagi persoalan dengan berenang. Semuanya lancar-lancar saja dan dari itulah sebenarnya saya baru sadar bahwa kalau ingin berenang jangan terlalu banyak teori dan diskusi tentang berenang, tapi harus langsung menceburkan diri ke dalam air. Demikian halnya dengan menulis, kalau ingin menulis maka angsung saja menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai Menulis&lt;br /&gt;Ketika kita mau mulai menulis, jangan terlalu banyak berpikir apakah tulisan kita baik atau jelek. Bahkan kita harus siap untuk menjadi penulis terjelek sedunia. Mengapa? Ya apapun hasilnya harus diterima dan ingat jangan pernah disobek atau dibuang hasil karya pertama kita, sejelek apapun. Dalam latihan berikutnya, pasti tulisan kita sudah jauh lebih baik dan pada tulisan yang kesekian kalinya bisa dipastikan tulisan kita sudah sangat enak untuk dibaca, minimal untuk diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jenis tulisan apa yang bisa kita buat, apakah tulisan fiksi atau non-fiksi. Ini pun tidak bisa kita paksakan dan salah satunya tidak lebih baik dari yang lain. Artinya non fiksi tidak lebih baik dari fiksi, sebaliknya fiksi tidak lebih baik dari non fiksi. Semuanya memiliki kelebihan. Tapi yang paling penting, kita menulis dari hati. Artinya, apa yang kita tulis itulah yang benar-benar kita pahami. Jangan sampai juga tulisan-tulisan kita terlalu banyak mengutip tulisan orang lain supaya terkesan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis tulisan memang berbeda-beda. Tapi sebelum melangkah ke arah sana akan lebih baik kalau kita mulai saja menulis, persis seperti kita menulis di diary. Tanpa beban kita coretkan kata demi kata pada diary kita. Kemudian untuk meningkatkan kualitas diri, kita mencoba untuk membaca hasil karya orang lain. Suatu ketika dipastikan kita menemukan pola menulis dengan gaya kita sendiri. Dan perlu diingat bahwa setiap jenis tulisan dan gayanya memiliki pangsa pembaca sendiri-sendiri. Tidak usah khawatir walaupun sudah banyak penulis, jumlah pembaca jauh lebih banyak. Bahkan negara kita masih membutuhkan banyak penulis-penulis agar negara kita ada akselerasi dalam cara berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri memiliki perjalanan menulis yang sangat variatif. Dulu di awal-awal menulis saya merasa bangga ketika banyak mengutip catatan dari buku. Bahkan menyisipi kata-kata asing yang belum dikenal, padahal saya sendiri tidak paham-paham banget maknanya. Setelah dibaca ulang hasil karya saya tersebut ternyata substansi menulisnya sendiri tidak ada, terlalu banyak istilah asing yang malah mempersulit pemahaman. Padahal salah satu misi tulisan adalah gampang dibaca dan pesan yang disampaikan dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya malahan lebih suka menulis dengan gaya tutur. Ada cerita pengalaman sendiri, ditambah pengalaman orang dan sedikit teori. Tulisan yang menginspirasi dan menggerakkan pembacanya agar menjadi lebih baik jauh lebih penting darpada sekadar menulis dengan istilah yang keren-keren. Tulisan lebih hidup dan pembaca sendiri tidak perlu mengernyitkan dahi ketika membacanya. Ingat, kalau Anda penulis pemula dan mau mulai menulis, langsung saja menulis apapun hasilnya, persis seperti kita ingin berenang, langsung saja menceburkan diri ke air. Sukses selalu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau di http://langitbirupekalongan.blogspot.com.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-5139824035911194124?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qzSIRh3pifjsO5xZXdbtOzaIPc0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qzSIRh3pifjsO5xZXdbtOzaIPc0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qzSIRh3pifjsO5xZXdbtOzaIPc0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qzSIRh3pifjsO5xZXdbtOzaIPc0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/L2lglVn9OYY" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SaTFX2XHuwI/AAAAAAAAAUk/_Eo0_Vl281s/s72-c/swimming.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/02/menulis-seperti-berenang.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kodok Manjat Menara</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/D0uGFVN98l4/kodok-manjat-menara.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Tue, 27 Jan 2009 08:36:02 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-8831275351599165894</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX82__NBOtI/AAAAAAAAAUU/tosKPoix9qw/s1600-h/Kodok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX82__NBOtI/AAAAAAAAAUU/tosKPoix9qw/s320/Kodok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296012159736691410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPAKAH yang konsisten bisa mencapai tujuan-tujuannya? Tidak banyak yang bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Ketika seseorang menetapkan tujuan tertulis, sama sekali tidak ada persoalan. Ingin menjadi menteri, menjadi dokter, menjadi penulis hebat, menjadi presiden sekalipun. Goresan tinta menari di atas kertas. Jadilah Personal Goal Setting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yakin bisa tercapai tujuan-tujuan tadi? Bisa ya, bisa juga tidak. Mengapa? Tantangan akan muncul ketika memulai menjalankan tujuan tadi. Bisa jadi teman kita tidak percaya, keluarga tidak mendukung, istri tidak support, waktu terasa sempit, dll. Tidak sedikit yang awalnya menggebu-gebu mencapai suatu tujuan akhirnya kandas di tengah jalan gara-gara teman kita mengatakan tidak mungkin tujuan itu bisa tercapai. Bisakah tujuan-tujuan kita tercapai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan sebuah cerita yang sangat inspiratif. Di suatu negeri kodok ada kontest memanjat menara. Tidak kurang dari 50 kodok mengikutinya. Ribuan penonton yang juga kodok berteriak ada yang mensupport dan tidak sedikit yang meledek dengan cacian, makian. Di mana-mana suporter memang lebih pandai dari pemain. Coba saja pergi ke pertandingan sepak bola, kata-kata bodoh, (maaf) goblok, dll dengan mudah keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dalam kontes kodok manjat menara tadi. Seorang suporter berteriak dengan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kodok mana mungkin bisa naik menara. Berhenti saja tidak usah diteruskan. Jangan sok jago lah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provokator tadi terus menerus meneriakkan kata-katanya. Satu per satu kodok yang mendengar ejekan tadi mulai sadar diri dan introspeksi. Dengan kata lain mereka menjadi terpengaruh dan berhenti dari pertandingan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin iya ya... teriakan penonton itu benar. Saya tidak mungkin naik ke menara yang tinggi ini. Kayanya saya harus mengakhiri pertandingan yang tidak mungkin ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua kodok terpengaruh. Satu per satu turun dengan badan yang lunglai dan muka mereka terlihat seperti pecundang. Tinggal satu kodok yang melanjutkan kompetisi. Sampai akhirnya dia sampai ke puncak menara. Semua takjub dan mulai bertanya-tanya. Punya apa dia si kodok yang besarnya tidak jauh beda dengan kodok-kodok yang lain. Apakah dia memiliki kesaktian dan ilmu yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manager kodok yang kebetulan ada di antara penonton hanya bilang, "Kodok itu tidak memiliki ilmu apa-apa Bahkan dia itu tuli, tidak bisa mendengar apa-apa, termasuk suara riuh ejekan yang dilontarkan penonton."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas saja kalau dia sampai puncak, dia tetap semangat mencapai tujuan dan tidak terpengaruh oleh ejekan orang sekitar. Demikian halnya di dunia ini, tidak semua kata-kata teman, sahabat bahkan keluarga kita dengarkan dan telan mentah-mentah. Bisa jadi tujuan kita tidak tercapai dengan maksimal karena kita tidak memiliki keberanian untuk berbeda, untuk terus mencapai cita-cita sampai tercapai. Kadang kita harus pura-pura tuli dengan ejekan dan ledekan teman kita yang bisa mematahkan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita melakukan evaluasi, apakah yang terjadi selama ini kita memprogram diri kita untuk mencapai apa yang kita inginkan, atau malahan kita diprogram oleh lingkungan untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Ketika saya kecil banyak sekali program orang tua saya yang "dipaksakan" masuk tanpa proses tawar menawar. Pokoknya kamu harus melanjutkan sekolah dengan jurusan tertentu, di kampus tertentu bla bla bla....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga masih muda, belum memiliki keberanian untuk berbeda secara frontal. Belum lagi kalau dihadapkan pada persoalan independensi ekonomi, orang tua bisa bersikap seperti sang raja karena mereka punya uang. Saya baru sadar bahwa minat saya selama ini adalah membantu sesama. Saya merasa senang apabila ada teman atau siapapun yang datang dengan muka sedih, murung, banyak persoalan kemudian ngobrol dengan saya selama 1-2 jam setelah itu dia kembali semangat meniti lembaran hidup ini. Ada rasa bahagia ketika orang lain bahagia dan terlepas dari belenggu kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda juga memiliki tujuan yang selama ini belum tercapai. Dan ketika usia sudah dewasa baru diketahui bahwa selama ini kita telah jauh dari sasaran-sasaran yang menjadi passion kita. Apakah keliru untuk mengubah jalan hidup ketika sudah dewasa? Tidak masalah, bahkan kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki bila bisa mencapai tujuan yang benar-benar kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan kita, manusia yang memiliki akal budi, kodok saja bisa mencapai keinginannya. Gali terus kekuatan diri kita untuk mencapai performa puncak.  Sukses selalu. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-8831275351599165894?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xDl8_bSJhgy2_jlQAuFSDkO_0sc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xDl8_bSJhgy2_jlQAuFSDkO_0sc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xDl8_bSJhgy2_jlQAuFSDkO_0sc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xDl8_bSJhgy2_jlQAuFSDkO_0sc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/D0uGFVN98l4" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX82__NBOtI/AAAAAAAAAUU/tosKPoix9qw/s72-c/Kodok.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/01/kodok-manjat-menara.html</feedburner:origLink></item><item><title>Berterimakasih kepada yang Menyinggung</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/nXqwHyAAq_Y/berterimakasih-kepada-yang-menyinggung.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Mon, 26 Jan 2009 07:59:14 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-1318925015461126426</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX3cQBCl-II/AAAAAAAAAT0/FOwj_Hfcm2c/s1600-h/Usir.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX3cQBCl-II/AAAAAAAAAT0/FOwj_Hfcm2c/s320/Usir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295630904572901506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA yang bisa gembira ketika datang kesedihan? Belum semua orang bisa melakukan hal itu. Atau jangan-jangan kita dibilang gak waras lagi kalau melakukan sikap yang paradoks tersebut, tidak sesuai dengan arus besar logika masyarakat. Tapi bila kita bisa melampauinya, sebenarnya ada percikan cahaya di balik asap tebal, ada mutiara di balik dalamnya lautan, ada emas di balik&lt;br /&gt;kokohnya karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan tahun 2008 yang lalu ada kisah menarik yang menimpa keluarga saya. Saya tinggal di Kota kecil di Jawa Tengah, karena pindah kerja akhirnya pindah juga tempat tinggal. Kalau dihitung-hitung tempat itu adalah tempat ke 6 saya mengontrak rumah. Sebenarnya tidak masalah mengontrak rumah, tapi yang menjadi masalah adalah pemilik rumah mau menjual rumah tersebut sebelum waktu kontrakan selesai. Kira-kira 6 bulan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemilik rumah tersebut meminta ijin kepada saya, sedikit protes saya ungkapkan. Tapi dengan dalih yang bermacam-macam dia tetap memaksa akan membawa orang dan melihat rumah tersebut. Dalam pikiran saya hanya terbersit kata-kata, kok gak etis ya. Wong rumah masih dikontrakkan kok ditawarkan ke orang lain dan mau dijual. Mestinya nunggu selesai dulu, baru ditawarkan kepada orang lain. Apa sudah lupa dulu ketika menandatangani MoU dan menerima uang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir hanya sekali dia membawa orang untuk melihat rumah. Ternyata dia lakukan kembali. Bahkan sampai empat kali. Saya sudah mengajukan keberatan, bahkan protes yang agak keras. Tapi dia merasa bahwa yang memiliki rumah adalah dia. Akhirnya saya introspeksi dan tahu diri bahwa saya memang tidak di pihak yang menang. Dan dia si pemilik rumah bisa melakukan apa saja kepada barang miliknya walaupun dengan cara yang sewenang-wenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ istri saya usul untuk mencari harga-harga rumah cicilan. Kebetulan saya ada kenalan. Dengan niat untuk menutupi rasa malu dan mengangkat harga diri saya beranikan mengambil rumah cicilan KPR tersebut. Saya memang sudah punya niat, tapi itu akan diputuskan tahun depan (2009). Karena persoalan tadi, langkah mengambil KPR dipercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermodalkan tabungan seadanya, DP bisa dibayar untuk mencicil rumah sederhana tersebut. Memang terasa seperti mendaki gunung untuk melangkah dan memutuskannya. Tapi ada sedikit rasa lega karena peristiwa "usir mengusir" tidak akan terjadi lagi. Tapi sekarang kepercayaan dirinya sudah tumbuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan setelah itu, kondisi ekonomi bangsa ini kian memburuk. Harga-harga barang terutama harga bangunan naik drastis. Sampai muncul resesi finansial global. Semua sekor terkena imbasnya. Berapa harga rumah di tempat pengembang yang sama sekarang? Untuk DP atau uang muka naik 3 kali lipat. Sementara untuk harga jual naik sekitar 60%. Wuihhhh, kalau dulu tidak diusir pemilik kontrakan, kalau dulu tidak memberanikan diri ambil KPR, tidak tahu sekarang. bisa mengambil rumah atau tidak. Kemungkinannya sangat kecil. Jadi, sebenarnya saya harus mengucapkan terimakasih kepada pemilik kontrakan yang sudah bersikap menyinggung perasaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya mencoba untuk senantiasa bersyukur terhadap berbagai peristiwa yang terjadi, terasa enak atau tidak enak dalam perasaan ini. Tuhan memberikan sesuatu yang kita butuhkan dan bukan memberikan sesuatu yang kita inginkan. Coba bayangkan, kalau Tuhan selalu memberikan yang kita inginkan, bagaimana kalau keinginan kita itu bisa merusak diri kita sendiri? Sudah tentu kita akan menderita kerugian yang sangat besar untuk masa depan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua peristiwa ada hikmahnya. Semua peristiwa ada maksudnya. Semua peristiwa yang tidak enak pasti bermaksud untuk memudahkan kita menyelesaikan kesulitan yang bakal terjadi di masa mendatang. Sayangnya, kita tidak selalu positif thinking kepada peristiwa-peristiwa di sekeliling kita. Kalau kacamatanya kita ubah, sudah tentu sesuatu yang terasa tidak enak ada maksud tersendiri untuk kebaikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita lebih bersyukur setiap hari, setiap saat, setiap jam, setiap detik. Yakinlah yang datang kepada kita adalah yang terbaik untuk kita. Temukan hikmah dan nilai positif dari segala sesuatu yang datang kepada kita. Hanya orang-orang yang belajar memahami kehidupan ini secara pandangan mata lahir dan batin lah yang bisa menangkap mutiara dalam kegelapan. Kita harus gembira tatkala menghadapi duka atau peristiwa tidak enak. Rasakan segala peristiwa dengan mata batin. Sukses Selalu. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-1318925015461126426?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KvMH6sCC9fBg-NHGWVb1lsAWzbg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KvMH6sCC9fBg-NHGWVb1lsAWzbg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KvMH6sCC9fBg-NHGWVb1lsAWzbg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KvMH6sCC9fBg-NHGWVb1lsAWzbg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/nXqwHyAAq_Y" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX3cQBCl-II/AAAAAAAAAT0/FOwj_Hfcm2c/s72-c/Usir.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/01/berterimakasih-kepada-yang-menyinggung.html</feedburner:origLink></item><item><title>Semakin Banyak Memberi Semakin Banyak Menerima</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/hfP9KmorEp0/semakin-banyak-memberi-semakin-banyak.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Mon, 26 Jan 2009 06:14:13 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-527510777853122620</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX3EhvVKu-I/AAAAAAAAATs/X8WDKJenRJQ/s1600-h/Give_Grow_Rich.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 318px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX3EhvVKu-I/AAAAAAAAATs/X8WDKJenRJQ/s320/Give_Grow_Rich.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295604820777548770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--&lt;span id="awc"&gt;&lt;/span&gt;--&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALIMAT di atas bisa jadi merupakan pepatah klasik yang sudah banyak diketahui. Tapi apakah implementasinya sudah dirasakan semua orang? Belum tentu dan tidak semua bisa merasakan. Berbahagialah orang-orang yang sudah membuktikan dan mengalami sendiri pepatah di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya sedikit cerita di tempat saya bekerja. Prinsip saya dalam mengelola perusahaan adalah jangan pernah menahan hak karyawan, kalau sudah saatnya diberikan ya harus diberikan. Bahkan bila perlu kita memberi lebih banyak daripada aturan yang sudah ada. Ya contoh sederhananya adalah kenaikan gaji, pemberian bonus, pemberian reward dll. Kalau dilihat dari nilainya menurut saya tidak banyak-banyak amat, tidak mengganggu cash flow. Hanya keinginan untuk memberikan hak karyawan tepat waktu bukanlah kerjaan mudah. Tidak semuanya siap muntuk melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anehnya, semakin sering memberi (misalnya saja reward kepada karyawan terbaik tiap bulan), saya merasakan semakin meningkat omzet dan kas perusahaan. Entah bagaimana merumuskannya. Yang jelas perusahaan menjadi jauh lebih sehat dan omzet dan laba terus meningkat. Logika akuntansi manusia dipatahkan dalam kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya punya pengalaman lain. Sebuah perusahaan selalu mengundur-undur waktu kenaikan gaji walaupun sudah di awal tahun. Bonus karyawan pun bukan prioritas. Banyak yang bertanya kapan ada pembagian bonus, dijawab dengan marah-marah. Bukannya dijelaskan secara baik-baik. Tapi anehnya semakin ditahan kenaikan gaji dan bonus karyawan, semakin tipis kas  perusahaan dan semakin kelimpungan membayar kewajiban-kewajiban, harus utang sana dan utang sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya mencoba untuk merenungkan cara alam ini bekerja. Ketika kita melakukan langkah yang pertama; memberi bonus tepat waktu, menaikkan gaji karyawan tepat waktu maka muncul sikap percaya pada perusahaan. Selain itu muncul juga rasa gembira, harapan ke depan bahwa nasib mereka akan semakin baik. Kondisi itu tidak hanya dimiliki oleh karyawan. Mereka juga menceritakan kembali kepada keluarganya, istrinya, anaknya dengan suka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari situ muncullah doa dari mulut satu karyawan dan keluarganya. Kalau perusahaan tersebut memiliki 30 orang karyawan, maka diperkirakan doa yang keluar karena kegembiraannya minimal dua kali lipat atau sekitar 60 orang. Belum lagi kalau mereka bercerita kepada orang tua masing-masing satu orang saja berarti bertambah 60 orang lagi. Ada sekitar 120 orang yang mendoakan agar perusahaan jauh lebih baik, lebih maju, lebih untung. Mengapa didoakan? Perusahaan tadi cukup transparan dan karyawan percaya dan berani menggantungkan nasibnya kepada perusahaan. Tidak heran kalau perusahaan yang fair bisa jauh lebih maju ketimbang perusahaan yang pelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bila yang dilakukan sebaliknya, menahan kenaikan gaji dan bonus yang akan terjadi adalah perusahaan tersebut kian hari kian terpuruk. Kalau mengambil logika di atas, misalnya perusahaan tersebut memiliki 30 orang karyawan, 30 orang tadi mendoakan jelek, istrinya berdoa jelek, orang tua masing-masing berdoa jelek. Maka sudah ada 120 orang yang berdoa jelek kepada perusahaan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah didoakan jelek oleh banyak orang maka atmosfer udara di kantor perusahaan tadi menjadi negatif, auranya menjadi tidak enak. Orang yang akan datang yang membawa rezeki pun menjadi enggan masuk. Bila kondisi ini dipertahankan terus menerus maka semakin hari akan semakin buruk. Yang ada hanya saling mencaci dan membicarakan kejelekan kerja manajemen di belakang meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin menghayati cara kerja hati dan kaitannya dengan sehat dan tidaknya perusahaan, saya semakin sadar bahwa karyawan adalah asset terbesar yang harus terus menerus dipelihara dan dididik agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Di sisi lain mungkin seseorang bertanya, apakah semua karyawan yang diperlakukan fair seperti di atas. Kan ada saja karyawan yang tidak baik, indisipliner dan kerja seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada karyawan seperti itu dan tetap dibiarkan itu bukan kesalahan karyawan. Tetap kesalahan manajemen. Bila ada karyawan tipe tersebut langkah pertama adalah ditegur dan dididik supaya berubah. Kalau dalam kurun waktu tertentu tidak berubah juga ya harus diamputasi. Tapi proses memperbaiki harus ditempuh dulu, jangan langsung pecat begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, ini memang hanya pengalaman individu yang belum tentu juga dialami oleh orang lain. Tapi sedikitnya kita bisa menyimpulkan bahwa kita tidak akan menjadi kaya dengan cara menyimpang uang rapat-rapat di bawah kasur. Dan kita juga tidak akan bertambah makmur dengan cara memotong hak-hak orang lain. Sukses Selalu.  (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-527510777853122620?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7k_yu5apQCdGk8TXwMrFJu74jUo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7k_yu5apQCdGk8TXwMrFJu74jUo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7k_yu5apQCdGk8TXwMrFJu74jUo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7k_yu5apQCdGk8TXwMrFJu74jUo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/hfP9KmorEp0" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SX3EhvVKu-I/AAAAAAAAATs/X8WDKJenRJQ/s72-c/Give_Grow_Rich.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2009/01/semakin-banyak-memberi-semakin-banyak.html</feedburner:origLink></item><item><title>Stop Smoking by Hypnosis</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/AHnbE-9H9yk/stop-smoking-by-hypnosis.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Tue, 18 Nov 2008 08:23:07 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-8695049560658266405</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLrs7jq5_I/AAAAAAAAAR0/xOt2QWevrFM/s1600-h/stop+smoking+logo.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 319px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLrs7jq5_I/AAAAAAAAAR0/xOt2QWevrFM/s320/stop+smoking+logo.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270033671110977522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by David Wells&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Everyone could use a little healthier life style. With all the junk food, fast food and eating on the run, health is deteriorating. To top it off many people smoke and partake of other non-healthy habits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Years ago doctors told individuals that cigarettes could be used to calm nerves, help lose weight and just generally help with anxiety. They had no idea how harmful cigarettes actually were. These people exposed not only themselves to the harms of smoke, but also their children. It has only been recently that the surgeon general has begun cracking down on cigarette manufacturers and doctors have started suggesting the cessation of smoking immediately.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relatively few businesses allow smoking on their premise any longer, many night clubs have restricted smoking to only outdoors. With the world for smokers closing in and opinions changing it has put great pressure on those that smoke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some smokers can lay down cigarettes and never pick up another. Other people taper off and struggle for years with cravings and desires. While everyone is different so is the manner by which they need to quit smoking. Between pills, patches, staples and a host of other manners some have been able to quit, but generally turn to another habit. These habits range in seriousness, but none of them are good in excess.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is one method that is not necessarily aimed at nicotine cessation, but does work. Hypnosis is a technique that is used by a trained professional to induce a suggestible state by the patient. During this suggestible state individuals can change cravings, feelings and behaviors. There are several different types of hypnosis, one of the most effective is stop smoking hypnosis. The hypnosis session is aimed at changing the internal scripting that allows the unconscious to give the feeling of need for cigarettes. This is achieved by changing the scripting inside the brain, replacing it with a productive script.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quit smoking hypnosis is the same but may focus more on the behaviors that precede or follow having a cigarette. For example, if the smoker has developed a habit that they smoke each time they are in the car, eventually this becomes a habit. Quit smoking hypnotism can help the smoker find another way to cope with not having a cigarette in the car.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instead it may be suggested that the person chew gum, drink water or have another more productive habit. This is a great way to keep busy and allow the mind to wander else where.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smoking hypnosis has been proven effective by thousands of smokers. As the word gets out the popularity will grow. There are no pills, staples or any other side effects that you need to worry about interfering with medications or other areas of your life. Hypnosis is completely safe and certainly a good way to quit the most addicting habit of your life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicotine is very harmful and cessation will not only do wonders for your health, pocket book, but also the individuals around you. Second hand smoke has been proven time and time again to cause painful ear aches, worsened asthma, upper respiratory infections along with other issues for children. Children should never be subject to cigarette smoke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another great thing about stop smoking hypnosis is the fact that you can change other behaviors and things in your life at the same time. Just because you are working on smoking cessation does not mean that you can not work toward a feeling of good health and well being.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many people use hypnosis to explore their past and rid of feelings or wishes that they have carried through out their lives. For example, if a parent or relative has passed and you have always wished to have said something a good way to put closure to this is to visit that time again in your life. The hypnotist can guide you through that process and help you put closure to that part of your life. So hypnosis can work for more than one area of your life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quit smoking hypnosis is safe and a great way to improve your life. Every time you experience hypnosis you awake to feeling relaxed and refreshed. Hypnosis can really enhance your life! (http://www.articlesbase.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-8695049560658266405?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Gn_blTIW3VmR9jX-L1EnVr6GXME/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Gn_blTIW3VmR9jX-L1EnVr6GXME/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Gn_blTIW3VmR9jX-L1EnVr6GXME/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Gn_blTIW3VmR9jX-L1EnVr6GXME/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/AHnbE-9H9yk" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLrs7jq5_I/AAAAAAAAAR0/xOt2QWevrFM/s72-c/stop+smoking+logo.bmp" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/stop-smoking-by-hypnosis.html</feedburner:origLink></item><item><title>Is Law of Attraction Real? Find Out in 3 Steps</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/EfnNaS7tq34/is-law-of-attraction-real-find-out-in-3.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Tue, 18 Nov 2008 08:06:40 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-5920469736326293792</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLn_RY5oII/AAAAAAAAARs/08mFWvJ19cs/s1600-h/LawOfAttraction.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 197px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLn_RY5oII/AAAAAAAAARs/08mFWvJ19cs/s320/LawOfAttraction.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270029588162519170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;by Timothy Aaron Whiston&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instead of reading books and watching videos to figure out if the law of attraction is real, why not just put it to the test and find out for sure? This article will give you a blueprint for testing the law of attraction in your own life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's not waste a lot of time talking philosophy here. The following paragraphs will outline a plan of action for answering your question: is the law of attraction real?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Open your mind to what follows. If you have a poor attitude and are unwilling to really apply yourself, you definitely will not get good results with this experiment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Step One - Be Happy With Right Now -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bottom line is, if you can't be happy right here and right now, you never will be. So sit back for a moment and be glad - really glad - about the good things in your life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You're reading this article, which means you probably have the gift of vision. And even if you are reading this page using software for the blind, you have access to the World Wide Web, which means you either have your own computer or you're healthy enough to get out and access a public one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Focus on your blessings and truly appreciate them. Spend several minutes each day filling your mind with thankful happy thoughts about your life right now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Step Two - Experience What You Want -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Think about something that you would like to have or experience, and start with something small. Maybe you would like to see a particular old friend who has been absent for some time. Or perhaps you would appreciate an unexpected $50 in some form or another. Form a very vivid image of yourself holding your target desire or immersed in the experience you want.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imagine this desire as if it were happening right now. See, hear, feel, even taste every details as clearly as possible. And begin to feel thankful for what it is you want to have or experience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Step Three - Trust -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After being filled with happiness and thanksgiving for your life, and calling forth the vivid image of something you desire, your next step is to allow the feeling or relaxed trust to wash over you. It is now a reality, and only a matter of time before you are holding or experiencing the thing you want.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Think of a time when you were in the car, on your way to pick up something you really wanted. You had the money in your pocket, and the store was holding the item until you arrived.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is exactly the kind of sensation you need to call up for this step. Feel a sense of trust enter your awareness, as if you are only ten minutes away from holding your desire in your hand or watching it become a reality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don't get hung up on the actual when, just relate to the feeling of imminence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perform these three simple steps on a daily basis. Don't spend any energy on looking over your shoulder and wondering where your desire is; just be grateful for it and trust that it is on the way to you now. (http://www.articlesbase.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-5920469736326293792?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x6KWhtxg14UY2NYpnA2N6CacVTE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x6KWhtxg14UY2NYpnA2N6CacVTE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x6KWhtxg14UY2NYpnA2N6CacVTE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x6KWhtxg14UY2NYpnA2N6CacVTE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/EfnNaS7tq34" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLn_RY5oII/AAAAAAAAARs/08mFWvJ19cs/s72-c/LawOfAttraction.bmp" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/is-law-of-attraction-real-find-out-in-3.html</feedburner:origLink></item><item><title>Time Management Methods You Can Use for Daily Activities</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/ArSQ9I3PwGg/time-management-methods-you-can-use-for.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Tue, 18 Nov 2008 07:59:07 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-4963633070418206009</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLmFXXLK9I/AAAAAAAAARk/uPwr8afgz-s/s1600-h/Time+Management.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 318px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLmFXXLK9I/AAAAAAAAARk/uPwr8afgz-s/s320/Time+Management.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270027493821852626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Larry Rivera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are several concepts and approaches that aim to improve your time management skills. However, most of them seem to rest on unrealistic concepts that actually achieve nothing. Effective time management entails the maximum use of whatever time that is available each day to enable you to accomplish designated tasks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Understanding the Concept of Time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It might be a cliché but time is indeed gold. Once it is lost, you can never regain it. Therefore, as much as possible, you want to make the most of your time by aiming towards increased productivity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How many times have you experienced having to scramble with your tasks just to complete them in time? When you evaluate your activities, you'd realize that you spend one afternoon watching TV or playing video games. Then, the next day you are bombarded with tasks that you must finish. However, the limited time you have left just seems not enough.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Until that happens, you never really realize the full value of time. Hence, it is important that you look for ways to maximize your time to make room for all your work and recreational activities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organization For Better Time Management&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One way to maximize your time is by learning how to organize your activities according to how much time you need to work on them. Listed below are some methods that you can apply into your schedule:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Make a To-do list: This is the basis of all time management systems. Whether it be an electronic device or the traditional post-it notes, this is where you refer on what activities you need to get done on a certain period of time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Prioritizing your list: Aside from making a list, you also need to list them according to the most important or urgent tasks. Hence, you finish those that needs to get done first on time before moving on to the next task.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Have goals, specific ones: Whatever your goal is, it helps provide direction to whatever it is you need to do for a certain period of time. Hence, specify your goals according to activities you need to do for the day, week, or within the month.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Use organizational tools: By being disorganized, you could lose precious time attending to unimportant tasks instead of utilizing them for more important activities. Hence, keep your things organized and orderly for easy access when needed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Do not procrastinate: Whatever you can do for today, do it now. Never put off something because you'll never know when you'd have the time to work on them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluate Daily Activities&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To setup an effective time management system, you need to look into every detail of your daily activities. Hence, you can identify which activities are important and which ones are not, as well as how much time is consumed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Create a daily schedule that you need to follow strictly. Then, you can check that at each start of the day. When you have a schedule, you can divide up your activities evenly to avoid being overwhelmed with activities at a certain time of day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aside from organizing your activities within the day, you can use your daily schedule of activities for evaluation on your level of productivity. As you examine the activities, take note of each one and the time spent. Do these activities contribute to the accomplishment of your goals? Are you focusing your efforts and time on necessary things? If not, then you are not maximizing your time well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These are just basic time management procedures you can follow so you can achieve more in less time. (http://www.articlesbase.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-4963633070418206009?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XmTuXYdK0q-AZNiWoaIO7554KVM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XmTuXYdK0q-AZNiWoaIO7554KVM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XmTuXYdK0q-AZNiWoaIO7554KVM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/XmTuXYdK0q-AZNiWoaIO7554KVM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/ArSQ9I3PwGg" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSLmFXXLK9I/AAAAAAAAARk/uPwr8afgz-s/s72-c/Time+Management.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/time-management-methods-you-can-use-for.html</feedburner:origLink></item><item><title>10 Characteristics of Good Goal Setting</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/z5ns1TJ73nY/10-characteristics-of-good-goal-setting.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Mon, 17 Nov 2008 20:13:27 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-3006442390561765069</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSJAQFcZdjI/AAAAAAAAARc/Zq3qCfDc8U0/s1600-h/Goal_Setting.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSJAQFcZdjI/AAAAAAAAARc/Zq3qCfDc8U0/s320/Goal_Setting.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269845159060272690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;by Trevor Watkinson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I once heard it said that you can't get anything done in a world without rules.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While this is true in a broader sense, I like to say that an individual can't get anything done without setting their own rules.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since rules need to be followed and discipline must be developed in order to follow the rules we set for ourselves, I equate this rule setting activity to the process of goal setting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A rule in its most basic form is actually a goal that we strive to achieve.  We do not always follow the rules, even though that is the goal and this is evident by the number of penal institutions we have in North America and the number of otherwise good people who are incarcerated for petty crimes each year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many cases of poor goal setting and non-conformance to the rules go unnoticed every day and those people who are responsible for the errant actions end up living with the guilt of not having lived up to their own internal expectations.  Most people could avoid this kind of disappointment in life if they only had better information in their hands on the characteristics of good goal setting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Should you decide that your goal setting skills are not up to par and you would like to improve your methods and corresponding results, the following list may be helpful.  Good goals must be:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Specific Goals&lt;br /&gt;Before deciding on any goal make sure to take some time to think about what you really want.  The more specific you can be when defining your goal, the better.  For example, if your goal is to have a new car, make sure to define for yourself exactly what make and model of car you want.  What color will it be?  What options will it have?  Being as specific as possible about every little detail will make the goal more real to you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Attainable Goals&lt;br /&gt;Although it is good to aim high, some goals are so big that they need to be broken down into smaller, more manageable goals.  If you have a goal in your mind that you think you will never be able to achieve, divide it into smaller steps that don't seem quite so intimidating and can be undertaken one at a time.  Track your progress in achieving the smaller goals that will lead you to your original goal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Written Goals&lt;br /&gt;If you have a goal that is not written down then it is not really a goal.  Take the time to write down any goal you have serious aspirations of achieving.  We tend to forget about things we do not write down because of our busy schedules, so by writing your goals down, you will have a better chance of following through.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visible Goals&lt;br /&gt;Once you have made a written list of all the goals you would like to accomplish, make sure to put the list in a highly visible place where you will see it each day.  I recommend making multiple copies of your goal list and putting a copy in each room of your house.  Put the list on mirrors, on your fridge, by your computer and in any other high traffic area of your home where you are sure to see it each day.  One of the most inventive places to place your goal list is on the toilet seat, or directly across from the toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time Sensitive Goals&lt;br /&gt;A goal is not a goal unless you set a specific time period within which the goal must be accomplished.  Being as detailed as possible in describing your goals is not enough on its own.  If you do not set a deadline for achieving a goal, you will procrastinate and most likely never complete your task.  So instead of saying you will lose 20 lbs, say you will lose 20 lbs in 5 weeks, or whatever time period you choose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Planned Goals&lt;br /&gt;You can have every intention of accomplishing multiple tasks and have set time periods within which to achieve them, but it is highly unlikely that you will succeed without a plan.  For each goal you intend to accomplish, make up a list of activities that if implemented, will bring your goal closer to fruition.  Then, make sure to complete the smaller activities at set intervals in order to see the eventual completion of your goal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Researched Goals&lt;br /&gt;If you have set goals that require expertise that falls outside your areas of knowledge, then you have two choices.  Either seek out the information you need to become better informed about the topic at hand, or find someone else who knows what you need to know and pick their brain for ideas.  You can even hire someone with a specific area of knowledge if necessary.  Henry Ford was once brought to trial by his peers and accused of incompetence.  He responded by saying that it was not necessary for him to know how to do things that he could hire others to do for him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emotional Goals&lt;br /&gt;When deciding to chase any goal, it is best to have an emotional reason for doing so. Particularly in cases where we need to motivate ourselves to complete tasks that we find undesirable, emotion helps us to maintain our focus and follow through on our commitments.  Instead of focusing on the tasks that need to be completed for your goal to be realized, keep your mind on why you want to accomplish your goal and its fulfillment will seem to happen effortlessly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supported Goals&lt;br /&gt;If you are trying hard to accomplish any goal, it never hurts to have a great support system around you.  If necessary, get rid of negative people and influences in your life that do not support you or further your advancement towards your goals.  We become like the people we hang around with and I for one would prefer to only hang around with positive people with a can-do attitude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Broadcast Goals&lt;br /&gt;One of the best ways to see any goal through to completion or attainment is by shooting your mouth off about what you intend to do.  We tend to become lazy when we are only accountable to ourselves, but develop a keener sense of urgency when accountable to others.  Tell as many people as possible what your intentions are.  Brag about what you intend to do.  Speak out loud to yourself in the mirror too.  I have found that it is easier to live with a goal attained than to live with the shame of having bragged about what I intended to do while actually accomplishing nothing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To summarize, 10 characteristics of good goal setting can be found in goals that are specific, attainable, written, visible, time sensitive, planned, researched, emotional, supported and broadcast.  If you have anything in your life that you have meant to accomplish but have not made any headway on in some time, apply the principles mentioned above and get the feeling of guilt off your back for good.  Apply these 10 characteristics of good goal setting to any area of life that seems to be mired in the mud of procrastination and quick results are sure to follow. (http://www.articlesbase.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-3006442390561765069?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VMmX_sJafoRLS2d7pp7KVYJfHjc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VMmX_sJafoRLS2d7pp7KVYJfHjc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VMmX_sJafoRLS2d7pp7KVYJfHjc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VMmX_sJafoRLS2d7pp7KVYJfHjc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/z5ns1TJ73nY" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSJAQFcZdjI/AAAAAAAAARc/Zq3qCfDc8U0/s72-c/Goal_Setting.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/10-characteristics-of-good-goal-setting.html</feedburner:origLink></item><item><title>Positif atau Negatif ada di Kepala Kita</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/tWfg-IQXDV0/positif-atau-negatif-ada-di-kepala-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:41:10 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-6012514500227376522</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBNEfmtVLI/AAAAAAAAARU/BeSMb9N-c84/s1600-h/Kepala.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 246px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBNEfmtVLI/AAAAAAAAARU/BeSMb9N-c84/s320/Kepala.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269296303622149298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA dasarnya segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan dan alam ini adalah netral, tidak ada makna sama sekali. Setiap manusia memberi makna kepada kejadian-kejadian tersebut sesuai dengan latar belakang informasi yang dimiliki masing-masing. Satu kejadian bisa dimaknai berbeda oleh dua kepala yang berbeda, yang satu bisa menilai baik, yang lain tidak mustahil menilai sebaliknya. Dua orang yang memandang sebuah gunung, yang satu dari arah selatan dan yang lainnya dari arah utara. Ketika mereka kembali ke tempat yang sama dan dimintai laporannya tentang gunung tersebut maka dipastikan laporannya akan berbeda. Mengapa? Inilah sudut pandang. Kadang-kadang orang memberikan arti kepada sesuatu sesuai dengan kepentingannya, padahal dia mengetahui ada arti lain yang berbeda, tapi dia memilih yang paling sesuai dengan yang dia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, seorang suami berbicara kepada istrinya bahwa mulai bulan depan ia harus bekerja lebih keras lagi untuk meningkatkan kinerja perusahannya. Konsekuensinya, hari-hari libur yang sudah dijadwalkan bisa jadi tidak bisa libur karena banyaknya pekerjaan tadi. Mendengar informasi it, sang istri spontan merengut dan protes mengapa hari libur malah kerja, yang biasanya rekreasi atau jalan-jalan akhirnya hanya tinggal di rumah. Sang suami kemudian melanjutkan, bahwa dari kerja lembur tersebut, ia mendapatkan uang lembur tambahan sebesar 5% dari gaji setiap harinya. Spontan wajah istri yang tadi cemberut menjadi berbinar-binar dan ia mengatakan daftar barang-barang yang akan dibeli apabila ada uang tambahan. Secepat itukah sang istri berubah pikiran? Ya itulah manusia, satu tema pembicaraan bisa memunculkan suatu respons tertentu, dan seketika juga bisa berubah respons apabila tema pembicaraan dialihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, satu persoalan bisa dimaknai dengan bermacam-macam arti baik yang positif maupun yang negatif. Usaha kita sekarang ini adalah, bagaimana caranya agar segala sesuatu yang terjadi pada kita selalu dimaknai dengan sesuatu yang positif apapun kejadiannya. Suatu hari hujan deras turun dan ternyata genting di atas rumah pecah dan bocor. Airnya ke mana-mana masuk ke dalam rumah. Bagi si pemikiran sempit mungkin akan marah-marah, mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Tapi bagi si pemikir positif setelah reda akan naik ke atas genting dan berpikiran, untung hanya satu genting yang pecah, kalau lebih dari satu, rumahnya sudah menjadi tempat air terjun karena air hujan yang cukup deras masuk ke dalam rumahnya. Kata-kata untung ....., kalau terjadi.... maka resiko yang akan terjadi jauh lebih besar, ini biasanya berlaku dalam filosofi Jawa. Awal-awal mendengar orang yang selalu mengatakan untung dalam berbagai peristiwa yang tidak mengenakkan, kita berpikir orang itu selalu pasrah terhadap nasib. Namun itulah sebenarnya yang mesti diungkapkan oleh kita kalau hidup ini ingin bahagia. Sudut pandang yang negatif apapun alasannya sama sekali tidak menguntungkan baik bagi yang memikirkannya maupun bagi yang mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat lain bagi orang yang selalu memiliki sudut pandang positif, bagi yang memiliki jiwa entreprenerur maka segala hal yang terjadi di depan mata akan menjadi peluang bisnis yang mengesankan. Contoh, dengan macetnya kota Jakarta di berbagai tempat, muncul bisnis delivery order terutama untuk makan siang bagi para karyawan yang bekerja di gedung-gedung yang tinggi. Pukul 10 pagi pesanan sudah disampaikan lewat Hot line, dan pada pukul 12.30 makanan sudah ada di tempat. Untuk turun ke luar mencari warung makan, dipastikan akan terjebak macet dan kembali cukup terlambat. Namun walaupun banyak kesempatan muncul di depan mata, masih banyak orang yang berpendapat sulit untuk melihat segala peluang yang ada di depan mata. Untuk memaknai segala sesuatu yang terjadi menjadi positif, adalah bertanya apa yang bisa menjadi manfaat dari kejadian yang datang kepada kita. Bila setiap hal menemukan aspek manfaatnya, maka kita akan senantiasa memiliki sudut pandang positif. Lupakan segala dampak negatif dari peristiwa yang terjadi tadi. Cukup sederhana kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita sudah memiliki kemampuan untuk memilih dan memberi makna positif kepada sesuatu yang terjadi, maka untuk mencapai tujuan yang diinginkan sangat mudah. Dengan kata lain, orang yang memiliki watak positif thinking tingkat kesuksesannya jauh lebih tinggi ketimbang yang negatif thinking Mengapa demikian? Wajar saja karena yang dipikirkannya selalu yang baik-baik saja, rencana baik, pikiran baik, berbicara baik, respon baik dll. Emosinya sangat stabil menghadapi berbagai peristiwa yang beragam. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis GM Harian Radar Pekalongan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-6012514500227376522?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IEBe_KkuQMcWK_Npdaa4iFSDqYI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IEBe_KkuQMcWK_Npdaa4iFSDqYI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IEBe_KkuQMcWK_Npdaa4iFSDqYI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IEBe_KkuQMcWK_Npdaa4iFSDqYI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/tWfg-IQXDV0" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBNEfmtVLI/AAAAAAAAARU/BeSMb9N-c84/s72-c/Kepala.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/positif-atau-negatif-ada-di-kepala-kita.html</feedburner:origLink></item><item><title>Penyakit Menunda-nunda Pekerjaan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/xn5Q-C_Ny98/penyakit-menunda-nunda-pekerjaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:36:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-8961924061052506253</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBL2qgcQDI/AAAAAAAAARM/MJcc6EHqPyw/s1600-h/wastingtime1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBL2qgcQDI/AAAAAAAAARM/MJcc6EHqPyw/s320/wastingtime1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269294966518857778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIANG itu pekerjaan Andi belum selesai. Padahal kalau melihat kalender sudah menunjukkan tanggal 30 Desember. Waktunya untuk melakukan laporan akhir tahun kepada pimpinannya. Tapi entah mengapa pekerjaan Andi masih numpuk di sana-sini. Bahkan tugas bulan kemarin saja ada yang belum selesai. Padahal dia udah lembur satu minggu, bekerja siang dan malam untuk menuntaskan pekerjaannya. Mengapa sampai terjadi demikian? Ternyata Andi memang dikenal di kantor tersebut sebagai orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Yang mestinya dapat dikerjakan hari ini, dia tinggalkan sampai esok hari. Ternyata besoknya cukup banyak juga pekerjaan yang mesti dituntaskan. Mestinya pekerjaan hari itu selesai hari itu juga, Andi malah menunda-nunda. Padahal esok hari memiliki jenis pekerjaan yang berbeda dan harus diselesaikan hari itu juga. Akhirnya makin hari utang pekerjaan makin banyak dan menumpuk sampai pada saatnya dilaporkan malah kebingungan, stress berkepanjangan atau bahkan bisa saja jatuh sakit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita juga termasuk pengikut kebiasaan di atas? Menunda pekerjaan, bentar, besok, nanti, masih ada waktu kok dll alasan yang berupaya melakukan pembenaran terhadap segala tindakan kita penundaan pekerjaan tadi, padahal resikonya cukup berat. Pengalaman membuktikan bahwa tidak ada kenyamanan bagi orang-orang yang selalu menunda-nunda pekerjaan. Yang ada hanyalah rasa gelisah dan perasaan takut-takut dikejar target. Hasil pekerjaannya sudah bisa ditebak, tidak ada yang baik. Bagaimana mau baik dan berkualitas kalau dikerjakan dengan cara yang tergesa-gesa? Yang paling tepat adalah pekerjaan hari itu selesai untuk hari itu juga. Akan lebih baik kalau pekerjaan besok sudah mulai digarap pada hari ini. Bila kita membiasakan diri melakukan sesuatu secara disiplin apakah sulit? Tentu tidak, malah jauh lebih memudahkan kita sendiri. Memang awal melakukan disiplin butuh kerja keras untuk mengubah kebiasaan, tapi selanjutnya malah lebih terasa ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendisiplinkan diri diperlukan beberapa syarat;&lt;br /&gt;Pertama, Manajemen waktu. Waktu tidak pernah kembali barang sedetik pun, setiap hari waktu kita menjadi berkurang. Contoh, kalau kita diberikan umur hidup 70 tahun, sekarang berusia 30 tahun, maka sejak detik ini kita sedang menghitung mundur 40 tahun detik demi detik menuju 70 tahun tadi. Bila satu jam saja dalam setiap hari kita melakukan wasting time, bisa dihitung dalam satu bulan --- dengan asumsi sebulan 30 hari--- sudah 30 jam. Dalam satu tahun sudah 30 x 12 bulan = 360 jam. Itu kalau satu hari satu jam, bagaimana kalau lebih dari satu jam, 5 jam mungkin, 6 jam atau bahkan wasting time berjam-jam untuk melakukan sesuatu yang tidak jelas kegunaannya. Betapa banyak waktu kita yang dibuang sia-sia tanpa ada manfaat yang berarti. Banyak orang yang mengatakan pekerjaannya terlalu menyita waktu sehingga kesulitan dalam menyelesaikannya tepat waktu. Alih-alih selalu muncul dalih dan alasan sebagai wujud pembenaran terhadap sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Lakukan yang penting, tinggalkan yang tidak penting. Ada baiknya kalau kita memiliki program mingguan yang mem-break down kegiatan sehari-hari mulai Senin sampai Minggu. Tulis target minggu tersebut apa saja yang ingin dicapai kemudian tuangkan ke dalam aktifitas harian dalam minggu tersebut. Kontrol terhadap aktifitas sangat mudah kalau sudah ada catatan dalam agenda kita. Ada sebuah buku yang cuku bagus berjudul Agenda Refleksi dan Tindakan, untuk Hidup yang lebih Baik karya Andrias Harefa. Awalnya saya pikir seperti buku-buku lainnya ternyata di dalamnya adalah agenda satu tahun yang dipilah-pilah menjadi program pribadi bulanan, mingguan dan harian. Di sana ditulis daftar keinginan yang hendak kita capai dalam hidup ini, ada sekitar 40 item, kemudian daftar kedua adalah hal-hal yang dapat diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan dan dinikmati sebelum ulang tahun terdekat. Dan selanjutnyua adalah daftar tujuan satu minggu dalam hal keuangan dan karier, kesehatan tubuh, keluarga dan kerohanian, sosial dan emosional dan pengembangan diri. Buku ini hanya salah satu contoh saja, bisa menggunakan bahan lain untuk mencapi tujuan-tujuan kita. Yang penting, kita mampu memetakan daftar tujuan yang sudah ditetapkan dan ulet untuk menyelesaikan hari demi hari sampai tiba saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Delegasikan pekerjaan yang bisa dikerjakan orang lain. Orang yang hebat bukanlah orang yang mengerjakan seluruh pekerjaan yang ada. Tapi, orang yang mampu mendelegasikan pekerjaan sesuai dengan porsinya masing-masing. Ini berlaku dalam perusahaan dan organisasi. Pekerjaan menulis serhakan kepada sekretaris, pekerjaan yang berkenaan dengan uang serahkan kepada bendahara dll. Memang dalam beberapa hal ada beberapa pekerjaan yang kita sendiri yang harus mengerjakan karena pertimbangn waktu, tidak ada orang yang mengerajkan dan pertimbangn lain. Tapi hal ini kan tidak dikerjakan setiap hari. Intinya, kalu ada pihak yang lebih bertanggungjawab untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, mengapa harus kita yang mengerjakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Anggap setiap hari merupakan hari baru, perencanaan baru, semangat baru. Kerjakan sesuatu secara menyenangkan, sehingga banyaknya pekerjaan bukan menjadi penghalang untuk bersemangat. Coba ingat-ingat masa muda dulu ketika berpacaran dengan ibunya anak-anak. Hampir setiap minggu datang untuk "wakuncar", tidak mengenal hujan, panas atau penghalang lainnya, langkah demi langkah terasa menyenangkan, itu dilakukan karena ada rasa cinta dalam hati kita untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Artinya, pekerjaan apapun tidak akan terasa berat apabila dilandasi rasa cinta. Masalah menunda-nunda pekerjaan dengan dalih apapun sama sekali tidak akan terjadi. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan perasaan yang riang. Tapi, bagaimana agar kita mencintai seluruh pekerjaan yang kita lakukan? Sudah tentu tidak semua orang dapat melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sudah dalih lagi. Tapi harus dikstakan secara jujur bahwa pekerjaan yang kita lakukan sekarang tidak semuanya pekerjaan yang kita cintai. Kita sangat mendambakan menjadi seorang sekrataris, namun mengapa kita malah menjadi selles promotion girl (SPG). Satu sisi peluang sekretaris tidak kunjung muncul, tapi di dengan kita ada peluang lain. Dengan pertimbangan daripada nganggur lebih baik bekerja walaupun tidak sesusai hati nurani. Mestinya, ketika sudah memasuki suatu pekerjaan niatan kita harus diubah. Tidak hanya asal bekerja, tapi memang ini pekerjaan yang harus digeluti dan dicintai apapun kondisinya. Bukankah bekerja itu adalah belajar yang dibayar? Kalau niatnya sudah demikian, suatu ketika ada peluang baru yang lebih sesuai dan kita bisa mengambil jenis pekerjaan tersebut bisa saja pindah ke tempat baru. Ingat teori tangga, untuk naik ke tangga yang lebih tinggi maka tangga yang lebih rendah tetap dijadikan pijakan, demikian selanjutnya sam pai meraih tangga yang terakhir. Bukankah hidup ini adalah meniti detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi buln, tahun demi tahun, kesulitn demi kesulitan. Semuanya adalah proses untuk menghantarkan kepada tujuan kita, kebahagiaan di dunia ini dan di akhirat kelak. Dengan demikian, disiplin merupakan salah satu watak orang-orang sukses. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis GM harian Radar Pekalongan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-8961924061052506253?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Wq3dm-nQihHX-unnsi5JEjaDvEA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Wq3dm-nQihHX-unnsi5JEjaDvEA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Wq3dm-nQihHX-unnsi5JEjaDvEA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Wq3dm-nQihHX-unnsi5JEjaDvEA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/xn5Q-C_Ny98" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBL2qgcQDI/AAAAAAAAARM/MJcc6EHqPyw/s72-c/wastingtime1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/penyakit-menunda-nunda-pekerjaan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Meloloskan Diri dari Belenggu Pemikiran</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/UQZlA4qN40k/meloloskan-diri-dari-belenggu-pemikiran.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:33:11 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-2146517388776399372</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBLNyelQ6I/AAAAAAAAARE/ZxB5hDrSKso/s1600-h/Belenggu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBLNyelQ6I/AAAAAAAAARE/ZxB5hDrSKso/s320/Belenggu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269294264283906978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU saya kecil saya sangat kagum kepada kakak sepupu saya. Dia orangnya pintar, nilainya selalu di atas 8 setiap akhir ujian sekolah. Orangnya pendiam, tidak banyak bicara, tapi cukup rajin belajar. Kelas 4 SD, dia di-“ambil” oleh seorang dermawan kaya dan menyekolahkannya sampai selesai. Prestasinya tetap konsisten sampai di masuk ke ITB lewat PMDK. Saya pernah bertanya pada dia, mengapa dia selalu mendapatkan nilai yang tinggi, selalu rangking lima besar dan bisa masuk perguruan tinggi prestisius. Dia hanya menjawab sederhana, “Saya yakin saya bisa melakukannya. Tapi harus dibarengi dengan sikap ulet dalam belajar, jangan cepat bosan dengan buku-buku yang menumpuk dan saya selalu penasaran kalau belum menemukan jawaban terhadap soal-soal, saya tidak akan berhenti sebelum memperoleh jawabannya,” tuturnya. Sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan rekanan yang memiliki omzet ratusan juta rupiah per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tetangga saya yang lain, dia hanya lulus SMA, sekolahnya juga swasta yang kurang bermutu. Nilainya selalu di bawah rata-rata, paling besar hanya 6, pernah tinggal kelas sekali waktu di SD. Setiap hari kerjaannya hanya ngerumpi temannya yang berprestasi tinggi dengan mengatakan, “Terang saja dia pintar kan karena bapaknya kepala sekolah. Dia nilainya tinggi kan karena dikatrol, dia dapat beasiswa kan karena katebelece dari orang tuanya.” Demikian kira-kira kerjaan setiap harinya sampai-sampai dia lupa kewajibannya untuk belajar. Kalau mengerjakan PR biasanya setengah jam sebelum masuk sekolah meminta kepada temannya untuk mencontek. Semalaman dia menonton televis sampai jam 12 malam, pagi-pagi kadang kesiangan bangunnya. Sekarang dia adalah pengangguran, keluar dari pekerjaannya karena banyak menggunakan uang perusahaan dengan cara tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua contoh kasus di atas bisa dijadikan representasi cara berpikir masyarakat kita. Orang pertama memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, sementara orang yang kedua memiliki keyakinan juga tapi keyakinan yang tidak memberdayakan dirinya alias yakin akan kekurangan dirinya. Keduanya menghasilkan sesuatu sesuai dengan jalan pikirannya, yang pertama menjadi orang sukses, sementara yang kedua menjadi pecundang dan menjadi beban masyarakat. Persoalannya sangat sepele kalau dilihat dari sisi manajemen pikiran, mau atau tidak pikiran memutuskan sesuatu sesuai dengan keinginan tuannya. Siapakah tuannya? Tuannya adalah kita sendiri. Kalau kita menyuruh pikiran untuk memprogram kesuksesan, maka pikiran dengan sangat cepat membuahkan hasil-hasilnya, sementara kalau kita memprogram pikiran untuk gagal, pikiran pun akan menjawab dengan segera dan menyodorkan kegagalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang demikian, berarti pikiran bisa diarahkan dong? Benar sekali, kita dapat mengarahkan pikiran ke arah yang kita inginkan. Tapi bagaimana kalau yang teringat hanyalah kegagalan, kefrustrasian, ketidakpercayaan kepada diri sendiri, pesimis, negatif thinking, cemburu tidak beralasan, iri, dengki. Ini sudah bisa ditebak, hasilnya juga akan sama. Kalau kita tidak dapat melepaskan diri dari hal-hal tadi, ini artinya pikiran kita telah dikunci, telah dikungkung dan telah dibelenggu oleh sesuatu keyakinan yang tidak memberdayakan. Terlalu banyak alasan yang dikemukakan oleh masyarakat kita untuk memberikan pembenaran bahwa dirinya tidak mau untuk berusaha dan tidak mau bekerja keras. Ada yang berdalih, saya kan anak orang miskin, mana bisa jadi kaya, saya kan anak kampung, tidak mungkin bisa sukses seperti orang-orang yang tinggal di Jakarta, saya kan balung kere. Saya kan pendidikannya cuma SD, sementara pekerjaan mensyaratkan ijazah S-1, tidak mungkin dapat berkompetisi dengan anak kuliahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja perhatikan di sekeliling Anda, apa yang dikatakan oleh kawan-kawan Anda, tetangga Anda, teman sejawat Anda. Lebih banyak memikirkan sesuatu yang positif atau yang negatif? Sudah bisa ditebak, 60% dari mereka selalu membicarakan sesuatu yang negatif, baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri. Hal lain yang perlu ditanyakan adalah, mengapa hal itu bisa terjadi, sejak kapan muncul pikiran negatif tadi. Sewaktu kita kecil, pikiran kita sangat bebas, tidak ada yang melarang. Kita bebas mengucapkan sesuatu walaupun salah, kita boleh mencoret-coret tembok karena masih kecil, kita boleh memecahkan gelas, kita boleh merobek-robek koran. Nyaris semua yang dilakukan baik benar ataupun salah diperbolehkan. Orang tua akan berkata, “Kan dia masih anak kecil, tidak apa-apa mencorat-coret tembok. Nanti juga kalau sudah besar mengerti dan menghentikan kebiasaannya.” Bahkan orang tuanya selalu bilang pinter terhadap apapun yang dilakukan sang anak tersebut walapun salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak besar, biasanya di usia 4 atau 5 tahun perlakuan orang tua mulai berbeda. Kalau ada tindakan yang keliru langsung dibilang salah, bahkan tidak segan-segan kelopak mata orang tuanya diperlebar alias melotot. Sang anak menjadi ketakutan dengan respons orang tuanya yang agak berbeda tidak seperti biasanya. Tapi lagi-lagi anak mencoba sesuatu sampai-sampai memecahkan gelas, piring atau mainan dari listrik. Kontan aja tidak ada maaf bagi si anak. Tidak jarang anak dimaki-maki, dimarahin dan dihukum. Ditambah lagi ketika anak masuk sekolah dasar (SD) sewaktu pelajaran tertentu kebetulan anak tersebut mendapatkan nilai kecil, temannya bilang dia bodoh, gurunya pun bilang dia bodoh, sampai ke rumah orang tua dan kakak-kakaknya juga bilang bodoh. Tidak ada satupun yang mau mengerti mengapa dia mendapatkan nilai yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan selanjutnya tidak heran anak-anak yang dididik dengan model ini menjadi introvert, rendah diri, tidak percaya kepada orang lain, cemburu dengan prestasi temannya. Celakanya sikap-sikap tersebut terus dibina hingga dewasa dan menjadi file permanen. Trauma-trauma masa kecil yang cukup menggunung tidak bisa lepas dari file-file pikirannya. Semua pengalaman masa lalu tersebut telah membelenggu pikirannya, telah membuat keyakinan-keyakinan yang sama sekali tidak memberdayakan. Bila tidak diterapi, maka kondisi seperti ini akan sangat merugikan masa depannya. Hidupnya kering, tidak bermakna. Dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) kondisi seperti ini bisa diterapi dengan tool Reframing (membuat bingkai baru). Persepsi pikiran lama yang tidak memberdayakan digantikan dengan persepsi baru yang lebih memberdayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reframing ini adalah salah satu cara untuk lolos dari belenggu pikiran-pikiran yang tidak memberdayakan tadi. Ini bukan pekerjaan mudah, diperlukan usaha yang kuat dan sungguh-sungguh untuk keluar dari keyakinan negatif tadi. Misalnya, mengapa mesti cemburu kepada orang lain, kalau orang lain memiliki prestasi yang hebat kita mestinya senang karena kita dapat belajar dari mereka, tidak perlu jauh-jauh mencari orang yang bisa membantu. Kalau di dalam diri kita ada kekurangan tidak mesti rendah diri. Setiap orang memiliki kekurangan, belajarlah untuk menutupi kekurangan tersebut sampai kita memiliki kemampuan lain. Yang tidak wajar adalah tidak mengakui kekurangan dan tidak mau belajar untuk keluar dari kekurangan tadi. Sikapilah segala sesuatu di sekeliling kita secara proporsional, jangan terlalu berlebihan, jangan mudah menyimpulkan negatif padahal kita tidak memiliki bukti-bukti kongkrit dan jangan menilai seseorang hanya dari permukaan luarnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milikilah prinsip-prinsip seperti, Pertama, sesuatu yang terjadi pada diri kita pada hari ini adalah sesuatu yang terbaik dalam pandangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita tetap bersyukur kalau yang datang kepada kita terasa enak. Sebaiknya kita juga harus bersyukur kalau yang datang kepada kita terasa tidak enak secara fisik. Pernah ada satu cerita, seseorang yang mau terbang ke London terlambat datang di sebuah Bandara. Ia marah-marah kepada petugas bandara. Sekitar 15 menit kemudian terdengar kabar bahwa pesawat tersebut meledak. Dari sikap marah-marah ia langsung bersyukur dan segera menginsyafi sesuatu yang baru saja terjadi. Ini artinya, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik menurut pandangan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kedua, tanyakan, apa hikmah positif dari segala kejadian yang menimpa kepada kita walaupun lagi-lagi terasa tidak enak dan merugikan dalam pandangan biasa. Bisnis kita rugi misalnya, tanyakan kepada diri sendiri, apa manfaat dari kerugian bisnis ini. Pikiran kita akan menjawab secara jujur, kalau bisnis rugi berarti kita harus belajar lagi kepada orang yang sudah sukses, hati-hari dalam manajemen keuangan, dan lain-lain. Segala kejadian pasti ada manfaat positif yang bakal datang kepada kita. Ketiga, sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik untuk kita. Manusia hanya memiliki pandangan mata, telinga, dan asumsi akal. Belum tentu yang sudah dipikir matang-matang akan berdampak baik juga. Artinya, kalau sudah memutuskan sesuatu, lakukanlah, tapi tetap tawakal dan pasrah kalau-kalau hasil yang datang tidak sesuai dengan rencana kita. Oleh karenanya, loloskanlah kita dari belenggu pikiran kita supaya kita tidak menjadi tahanan di dalamnya. Inilah langkah awal Success Revolution. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis adalah General Manager Harian Radar Pekalongan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-2146517388776399372?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1pm0vTUr3qe2SVPHsnqJnzftNR8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1pm0vTUr3qe2SVPHsnqJnzftNR8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1pm0vTUr3qe2SVPHsnqJnzftNR8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1pm0vTUr3qe2SVPHsnqJnzftNR8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/UQZlA4qN40k" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBLNyelQ6I/AAAAAAAAARE/ZxB5hDrSKso/s72-c/Belenggu.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/meloloskan-diri-dari-belenggu-pemikiran.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mengatasi Perasaan Takut Gagal</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/8yLnZPMsbE0/mengatasi-perasaan-takut-gagal.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:26:32 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-5225872642845531152</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBJVrmUuvI/AAAAAAAAAQ8/5Q5uxWluCg0/s1600-h/gagal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBJVrmUuvI/AAAAAAAAAQ8/5Q5uxWluCg0/s320/gagal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269292200853027570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAWAN saya sudah lima tahun berpacaran, tapi belum juga melangsungkan pernikahan. Dia bilang takut bercerai setelah menikah. Sementara tetangga saya ingin sekali mengembangkan bisnis jual beli pakaian seperti pamannya, tapi setelah ditimbang-timbang nggak mulai-mulai. Di bilang takut rugi, apalagi kondisi perekonomian sedang lesu. Kalau untung tidak masalah, kalau rugi kan risikonya cukup besar. Dan banyak lagi cerita-cerita yang sering kita dengar sehari-hari yang intinya takut melangkah karena takut dengan risiko kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan-pandangan tersebut jelas merupakan cara berpikir yang tidak tepat. Hidup ini pilihan-pilihan, kita sendiri yang menentukan jadi apa, apakah jadi pengusaha, pegawai negeri, pedagang, tentara, polisi, wartawan, penyiar radio, konsultan atau apa pun profesi yang ada dan setiap pilihan ada risiko-risiko yang mesti ditanggung. Seorang polisi lalulitas misalnya, memiliki risiko berpanas-panasan apabila jalanan macet. Itu benar-benar terjadi di kota-kota besar, sementara seorang wartawan pun tidak lepas dari risiko komplain dari pembacanya apabila beritanya cukup kritis kepada kelompok tertentu. Jadi, profesi apa yang tidak memiliki risiko? Apakah pegawai negeri lantas tidak mempunyai risiko? Tidak juga, pegawai negeri sipil risikonya memiliki pendapatan bulanan yang pas-pasan karena usahanya juga pas-pasan dan sangat minimal. Karena semua profesi rentan dengan risiko, berarti kita harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan jaman dan kompetisi dengan pihak lain dan tidak lantas bermalas-malasan karena merasa pekerjaannya ada di wilayah yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hubungan antara risiko dengan takut gagal? Sebelum membahas risiko dan kegagalan ada baiknya kita membahas dulu cara kerja pikiran kita. Bila ada sesuatu kejadian di luar diri kita, sesuatu kejadian itu sifatnya netral, yang memberikan makna kepda kejadian itu adalah pikiran kita sendiri. Ketika mendengar satu kata, pikiran lantas membuat makna berupa simbol terhadap kata tadi sekaligus membuat makna yang berisi nilai—positif maupu negatif—dari kata tadi. Kalau referensi awal tentang satu kata tersebut negatif, maka setiap mendengar kata tersebut akan negatif terus. Sebaliknya, apabila referensi awalnya positif, akan positif selamanya. Tapi tidak usah khawatir, ada satu cara untuk me-reporgramming pikiran kita, sehingga mindset awal yang negatif bisa diubah menjadi positif dengan suatu metode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pikiran bisa diprogram, berarti kesuksesan pun apakah bisa diprogram? Betul sekali, kesuksesan bisa diprogram asalkan memiliki komitmen dan kemauan untuk senantiasa memelihara pikiran ke arah yang kita inginkan. Kita mengendalikan pikiran, bukan kita yang dikendalikan oleh pikiran. Sukses misalnya, itu bisa diprogram lewat pikiran dengan cara kita selalu berpikir tentang kesuksesan yang kita inginkan. Contoh, kita ingin menjadi pengusaha yang memiliki keuntungan sebulan Rp50 juta. Namun pada bulan pertama keinginan tersebut belum tercapai. Tapi terus menerus dicoba lagi dan dicoba lagi sampai akhirnya tercapai. Selagi pikiran kita berpikir sukses, maka kemungkinan sukses itu akan datang. Persoalannya hanya waktu yang mungkin tidak sesuai dengan yang kira harapkan. Bila kita cukup sabar dan yakin suatu ketika akan sukses, ini merupakan modal awal yang cukup berharga. Sebab, waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Kita ingin secepatnya mencapai suatu tujuan. Kesannya tergesa-gesa, terburu-buru, sementara Tuhan sendiri memiliki waktu sendiri. Artinya, selagi orang itu memelihara keinginan disertai dengan usaha dan berdoa, maka suatu ketika akan sampai juga. Problemnya, kita tidak mengetahui jarak tempuh untuk mencapai tujuan kita itu berapa lama. Ini merupakan rahasia Tuhan yang harus dilengkapi dengan senjata optimisme terus menerus. Jadi, sukses = usaha terus menerus + optimisme yang membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita melakukan sesuatu dan belum tercapai, itulah sebenarnya yang menurut kamus orang yang tidak sukses disebut g-a-g-a-l. Padahal menurut kamus orang sukses, hal itu hanyalah keinginan yang belum tercapai. Keinginan yang belum tercapai tersebut bisa jadi rugi, untung kecil, atau kondisi pasar tidak kondusif. Kondisi-kondisi tersebut dinamakan risiko. Artinya, ketika kita merencanakan sesuatu dalam kehidupan ini, hal apa saja, kemudian kita sudah siap risiko yang paling tidak enak sekalipun, maka pada saat itu juga tidak ada kata g-a-g-a-l. Maju terus pantang mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika sudah mematangkan suatu rencana berikut untung rugi dan risikonya, langkah kedua adalah berbuat. Setelah berbuat, kita akan tahu, mengapa belum tercapai rencana-rencana yang kita tetakan dan dari sana kita bisa mengetahui penyebabnya. Tapi kalau belum apa-apa sudah takut melangkah karena takut g-a-g-a-l, dan mengeset pikirannya untuk g-a-g-a-l, maka yang dipikirkannya akan terjadi. Wong sewaktu kita menetapkan tujuan, salah satu risikonya adalah tidak tercapai, mengapa kita merasa takut tujuan itu tidak tercapai. Kalau belum tercapai ya coba lagi dan coba lagi sampai tercapai, titik. Beres kan. Mengapa terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya tidak melakukan perbuatan apa-apa. Lebih baik gagal lima kali, tapi mencoba 15 kali, ketimbang tidak gagal tapi tidak pernah berbuat apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe-tipe orang yang tidak mau menghadapi risiko adalah tipe orang yang mencari aman, berada di wilayah comfort zone. Menurut Robert K. Tiyosaki orang yang berada di comfort zone salah satunya adalah karyawan. Setiap bulan dia mendapatkan kepastian finansial.,Kerja keras atau tidak keras pendapatannya tetap segitu-gitu saja sebelum gajinya dinaikkan. Tapi memang secara risiko mereka aman, tidak akan dipusingkan oleh harga-harga di luar yang naik turun, fluktuasi dollar terhadap rupiah. Tapi lagi-lagi “tipe karyawan” --saya sebutkan di sini tipe karyawan, tidak semua karayawan seperti ini karena banyak karyawan yang memiliki usaha sendiri—sangat sulit untuk berkembang, karena dirinya telah membuat tembok-tembok yang kuat untuk membentengi dirinya supaya aman dan nyaman dan tidak ada badai risiko yang bisa tembus ke benteng tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tipe pengusaha, entrepreneur, adalah orang yang memiliki watak dare to fail berani gagal (judul buku Billi PS Liem). Ini adalah dunia yang sebenar-benarnya. Manusia hidup dalam sebuah reality show yang menarik. Dibutuhkan seni untuk menghadapinya, sehingga kasus demi kasus yang terjadi dapat disikapi dengan tepat dan membawa kita ke arah pola hidup dan cara pikir yang lebih baik lagi. Bagaimana kalau pengusaha tidak berani, khawatir tujuannya tidak tercapai, terlalu banyak pertimbangan, lebih banyak memikirkan risiko ketimbang fokus ke tujuan. Saya jamin dia akan batal jadi pengusaha. Karena tipe pengusaha itu coba dulu baru evaluasi, bahkan prinsip mereka agak dekat ke nekat-nekat gitu, risiko belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara-acara reality show di televisi yang menguji ketangguhan dan keberanian seseorang apakah Fear Factor, atau yang lainnya, cukup positif untuk dijadikan bahan perbandingan kita dalam menginspirasi untuk mencapai tujuan. Hanya yang berani, ulet, tekun, gigih, pantang menyerah dan mental baja sajalah yang dapat menjadi juara alias mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara yang pesimis, negatif thingking, buruk sangka, mengambil kesimpulan jelek sebelum sesuatu terjadi, dia hanya akan menjadi pecundang dan merugikan dirinya sendiri. Jadi tinggal pilih juga sebenarnya, mau sukses atau mau g-a-g-a-l. Kalau ingin sukses, sekali lagi, pikirkah tentang kesuksesan setip saat, kapan pun dan di mana pun, sebeliknya kalau mau jadi pecundang, pikirlah yang tidak enak-tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, pikiran memiliki hukum-hukum sendiri. Pikiran itu bukan kita dan kita buka pikiran. Pikiran itu sangat liar dan tidak bisa diatur kecuali oleh pawangnya. Hukum pikiran yang pertama, pikirkan segala sesuatu yang ingin kita pikirkan, kedua, hentikan berpikir apabila kita tidak ingin memikirkan sesuatu pikiran, yang ketiga, kontrol pikiran dengan kesadaran. Kesadaran itulah yang menjadi pawang pikiran, asalkan segala pikiran yang muncul dikonfirmasi ulang kepada kesadaran, maka kita akan senantisa berpikir yang kita inginkan. Contoh sederhana, kita berpikir tentang sesuatu, ingin ke luar negeri misalnya karena mendapatkan bonus akhir tahun, kalau kita bertanya ulang kepada diri sendiri, mengapa saya harus ke luar negeri, apa manfaatnya, apakah bukan pemborosan? Setelah ditimbang-timbang ternyata disimpulkan, memang harus ke luar negeri untuk mengadopsi pengalaman dan kultur negeri lain yang sudah maju. Proses berpikir ulang dan menimbang-nimbang itu adalah posisi kesadaran mengontrol pikiran. Demikian halnya apabila kita berpikir tentang keburukan seseorang, tanyakan kembali, mengapa kita harus berburuk sangka pada orang itu, apa manfaatnya, apakah lebih baik berbaik sangka saja karena belum ada bukti yang kuat bahwa orang itu berbuat salah. Proses memikirkan kembali itu adalah posisi kesadaran juga. Di sini kesadaran sudah berbuat sesuai dengan yang kita inginkan, bukan sebaliknya, berbuat sesuatu yang pikiran inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada gagasan awal, tidak ada alasan untuk takut gagal karena mencoba sesuatu. Kalu mau mencoba ya, lakukan saja kalau sudah melalui tahap pertimbangan yang cukup matang dan tidak lantas terjebak dalam kebingungan, bimbang, ragu dan sikap-sikap sejenisnya. Dan yang perlu dicatat, orang yang berani mengambil risiko hanyalah orang-orang yang sukses. Terserah, tinggal pilih yang mana. Kegagalan atau keberhasilan dimulai dari pikiran kita sendiri. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Penulis GM Harian Radar Pekalongan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-5225872642845531152?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Tb565J7VLPizvro7W2uivwC8ICQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Tb565J7VLPizvro7W2uivwC8ICQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Tb565J7VLPizvro7W2uivwC8ICQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Tb565J7VLPizvro7W2uivwC8ICQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/8yLnZPMsbE0" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBJVrmUuvI/AAAAAAAAAQ8/5Q5uxWluCg0/s72-c/gagal.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/mengatasi-perasaan-takut-gagal.html</feedburner:origLink></item><item><title>Menceburkan Diri ke Dalam Lautan Masalah</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~3/5Jxur2fMV4s/menceburkan-diri-ke-dalam-lautan.html</link><author>noreply@blogger.com (Asep)</author><pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:19:12 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3640551000846444216.post-2763264843060143223</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBH61A_TlI/AAAAAAAAAQ0/Rnwi98N3pts/s1600-h/problem.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 234px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBH61A_TlI/AAAAAAAAAQ0/Rnwi98N3pts/s320/problem.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269290640012693074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Ade Asep Syarifuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA masalah atau persoalan bagi sekelompok orang merupakan kata yang "menakutkan". Terbayang dalam pikirannya situasi yang tidak menentu yang bisa mengganggu kenyamanan dirinya. Tapi bagi sekelompok yang lainnya, kata masalah disimbolkan sebagai sesuatu peluang di dalam pikirannya, karena dengan datangnya masalah berarti dirinya tengah diuji dengan salah satu bentuk soal yang harus dijawab. Tingkat kesulitan soal tersebut menentukan grade kita dalam salah satu mata kuliah kehidupan ini. Semakin sulit, maka akan semakin advanced level mentalitas kita dalam hidup ini, sementara bila masalahnya biasa-biasa saja, sama saja dengan siswa SMA mengerjakan soal-soal ujian anak kelas 6 SD, mudah dijawab, tapi tidak memberikan peningkatan kualitas dirinya. Jadi, apa inti masalah dalam sudut pandang orang-orang sukses?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, sebilah pedang atau golok untuk menjadi pedang yang indah dan tajam, awalnya dari sebatang besi yang harus melalui proses pemanasan dalam suhu yang sangat tinggi sampai membara, kemudian dipukul berkali-kali sampai membentuk pedang. Tanpa dipanaskan, tidak mungkin besi batangan akan menjadi pedang yang indah dan tajam. Demikian halnya peralatan rumah tangga yang dibuat dari kayu jati yang indah, apakah kursi, buffet, mebeul, meja, awalnya adalah kayu gelondongan yang tidak memiliki bentuk. Oleh pengrajin digergaji, dibuang bagian-bagian yang tidak bermanfaat, digosok-gosok dengan ampelas sampai halus, diukir, dirakit menjadi barang rumah tangga yang indah dan mahal harganya. Bahan baku yang bagus, pengolahan yang baik akan menghasilkan kualitas yang bagus dan harganya yang tinggi. Sementara bahan baku yang kurang baik, pengolahannya asal-asalan, harganya juga bisa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas bisa juga diterapkan untuk manusia. Bila kita ingin menjadi manusia yang berkualiktas dengan harga tinggi, maka harus berani membayar dengan harga tinggi pula dalam melalui proses "pencetakan" SDM berkualitas. Anggap saja kita ibarat sepotong besi yang belum memiliki bentuk, api yang membara ratusan derajat celcius ibarat beratnya beban persoalan hidup yang menghimpit dan terjadi sehari-hari dan pedang yang bagus adalah mentalitas matang, pantang menyerah dan keterampilan yang tinggi dalam mengelola hidup ini. Dengan demikian, bila ingin menjadi manusia berkualitas maka secara sengaja kita harus menceburkan diri ke dalam lautan persoalan yang lebih banyak –bukan hanya persolan-persoalan kecil yang datang kepada kita—tapi sengaja kita mencari persoalan tadi. Dengan catatan, di tengah banyaknya persoalan tadi kita mengurai benang persoalan satu per satu sampai semuanya tuntas, dan tidak mundur sebelum selesai. Setelah menyelesaikan persoalan yang satu, cari lagi persoalan yang lain yang lebih berat, demikian terus menerus dilakukan tiada henti. Bila mengacu kepada analogi di atas, ketika terus menerus berltih menyelesaikan persoalan maka kita sudah memiliki pedang-pedang yang tajam dalam jumlah banyak, golok, kelewang, celurit atau bahkan senjata lainnya untuk memudahkan jalannya hidup. Bagaimana kalau kita tidak memiliki alat atau senjata sementara kita hidup di tengah hutan belantara? Bisa dibayangkan, kondisinya jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan memiliki senjata yang lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjata dalam hidup memang tidak terlihat seperti pedang. Tapi bisa dibedakan siapa yang memiliki senjata yang lengkap dan siapa yang tidak dalam mengarungi hidup ini ketika benar-benar menghadapi situasi krusial. Senjata-senjata manusia yang harus dimiliki adalah, mentalitas pantang menyerah, ulet, disiplin, kesabaran melalui proses, kejujuran dalam berkata dan bersikap, optimis menghadapi semua kondisi yang terlihat menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bila senjata-senjata itu terus dipelihara, dipertajam, dan digunkan setiap saat, maka manfaatnya akan langsung kita rasakan. Sebaliknya, bila senjata-senjata yang dimiliki tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, bisa jadi akan menjadi karatan, tumpul dan akhirnya menjadi besi biasa yang hanya laku di mata tukang lowak yang berkeliling dari rumah ke rumah yang harganya sangat-sangat murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, untuk apa mengeluh kalau menghadapi persoalan. Lebih baik persoalan tersebut diajak dialog, mengapa persoalan itu datang, apakah manfaat yang menyertai persoalan tersebut dan yang lebih penting lagi bagimana solusi atau cara menyelesiakannya dan sisi positif apa yang menyertai persoalan tadi. Alhasil, bila persoalan dilihat dari sudut pandang yang berbeda, maka akan memunculkan kreatifitas yang cukup tinggi bagi si penemunya. Mungkin Edison tidak akan menemukan lampu pijar listrik kalau ia tidak penasaran melakukan eksperimen, kendaraan tidak akan ditemukan kalau kita merasa puas dengan jalan kaki atau naik kuda, dan lain-lain. Masalah, bagi orang kreatif dan positif thinking adalah peluang. Karena dari sana dituntut untuk menemukan jawaban untuk mengatasinya. Berbeda dengan watak orang pesimis, masalah yang datang bisa menciutkan nyalinya untuk mencoba sesuatu yang lain yang lebih menantang, atau masalah diibaratkan sebagai penghalang untuk mencapi tujunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah kalau dalam kehidupan sehari-hari masih menjumpai masalah. Carilah hikmah di balik sesuatu yang tidak mengenakkan. Garam akan terasa asin kalau langsung mengunyahnya, tapi akan melezatkan masakan kalau komposisinya tepat oleh juru masak yang lihai. Gula pun bila langsung dimakan akan muncul sakit perut, tapi kalau dituang ke dalam air panas ditambah sedikit teh atau kopi, aromanya akan sangat menggoda. Hidup ini lebih banyak dibutuhkan banyak seni dalam menghadapinya. Tidak cukup hanya mengetahui ilmu hidup. Seni artinya seperti juru masak, satu jenis masakan dibutuhkan garam yang banyak, tapi masakan yang lain hanya butuh sedikit garam. Bagaimana kita tahu apakah satu masakan butuh lebih banyak garam daripada masakan lainnya? Banyak-banyaklah belajar memasak, nanti Anda tahu sendiri bagaimana menghasilkan masakan yang lezat. Banyak-banyaklah mencoba resep-resep yang ada kalau kita ingin menjadi juru masak handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah "juru masak" untuk kehidupan kita sendiri. Kalau ingin mahir, maka harus sering latihan mencoba resep-resep kehidupan ini yang pernah dicoba orang lain. Karena belum tentu resep orang lain yang bagus, akan langsung bagus ketika dicoba hanya sekali oleh kita. Dibutuhkan latihan yang sering, terus menerus sampai resep-resep tersebut terasa enak. Bahkan tanpa disadari, suatu ketika, kita akan menciptakan resep-resep baru, original buatan kita sendiri yang akan diikuti dan dicoba oleh ribuan orang. Bila resep kita terbukti dirasakan enak oleh orang lain, jangan kaget kalau banyak orang mencari kita untuk berguru dan bertanya bagaimana sampai resep tersebut terasa enak. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Penulis GM Harian Radar Pekalongan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3640551000846444216-2763264843060143223?l=langitbirupekalongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EOAs9Wf_C9tWCsu-T-E7V6EkVnE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EOAs9Wf_C9tWCsu-T-E7V6EkVnE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EOAs9Wf_C9tWCsu-T-E7V6EkVnE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EOAs9Wf_C9tWCsu-T-E7V6EkVnE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/langitbirupekalonganblogspotcom/~4/5Jxur2fMV4s" height="1" width="1"/&gt;</description><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DwBiQisFK-U/SSBH61A_TlI/AAAAAAAAAQ0/Rnwi98N3pts/s72-c/problem.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://langitbirupekalongan.blogspot.com/2008/11/menceburkan-diri-ke-dalam-lautan.html</feedburner:origLink></item><media:rating>adult</media:rating></channel></rss>

