<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Lajnah Bahtsul Masail MUDI MESRA</title><description>Weblog pesantren MUDI MESRA yang membahas seputar hukum islam dan Download kitab Ahlus sunnah Wal jamaah.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</managingEditor><pubDate>Wed, 4 Nov 2026 08:00:00 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1546</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">5</openSearch:itemsPerPage><link>https://lbm.mudimesra.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Weblog pesantren MUDI MESRA yang membahas seputar hukum islam dan Download kitab Ahlus sunnah Wal jamaah.</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Jangan Jadikan Harta sebagai Standar Kebahagiaan</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/11/jangan-jadikan-harta-sebagai-standar.html</link><category>tasawuf</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Wed, 4 Nov 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-2476280834193510583</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQzOxJnZKe6XT-_B9pX-1OF38lizvcNkRNnH6Wv-GvkMMyY6cLz7qR4WCYCWf2D-hMwBnyCRB-1q33bv9y_tyGBl4scMXjsyPTEeKkrjPf20etk9EkLrdwLoO7jEuBcwszksfmLckcFv-yT6xSNvmCw_wxhh7Mmqn0556bqJeuYWRnsa9Ifm5T2euD8p85/s5500/1000176656.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="3772" data-original-width="5500" height="274" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQzOxJnZKe6XT-_B9pX-1OF38lizvcNkRNnH6Wv-GvkMMyY6cLz7qR4WCYCWf2D-hMwBnyCRB-1q33bv9y_tyGBl4scMXjsyPTEeKkrjPf20etk9EkLrdwLoO7jEuBcwszksfmLckcFv-yT6xSNvmCw_wxhh7Mmqn0556bqJeuYWRnsa9Ifm5T2euD8p85/w400-h274/1000176656.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang sempurna, tenang, dan jauh dari berbagai masalah. Kita tentu ingin hidup berkecukupan, punya banyak harta, dan bisa menikmati hidup tanpa harus pusing memikirkan banyak hal. Namun, tanpa disadari, sebagian orang justru menjadikan kekayaan dan kemewahan sebagai ukuran kebahagiaan. Seolah-olah, semakin banyak harta yang dimiliki, semakin bahagia pula hidupnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Padahal, dalam Islam, harta yang melimpah bukan selalu tanda bahwa seseorang sedang mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. Begitu juga dengan hidup yang serba terbatas, bukan berarti Allah sedang merendahkan seseorang. Sebab, baik kelapangan maupun kesempitan rezeki, keduanya bisa menjadi ujian dari Allah SWT untuk hamba-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artinya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinaku.’”&amp;nbsp; (QS. Al-Fajr: 15–16)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak semua orang yang hidup bergelimang harta berarti sedang mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Bisa jadi, kekayaan yang dimilikinya justru merupakan ujian untuk melihat bagaimana ia bersyukur, menggunakan hartanya, dan tetap taat kepada Allah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, orang yang rezekinya terasa sempit bukan berarti sedang dihinakan oleh Allah. Bisa jadi, Allah sedang mengujinya melalui keterbatasan agar ia tetap bersabar, berusaha, dan tidak kehilangan harapan kepada-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi, jangan sampai kita hanya melihat kebahagiaan dari apa yang tampak di mata. Sebab, hidup yang terlihat mewah belum tentu membuat hati tenang, dan hidup sederhana bukan berarti tidak bisa bahagia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal inilah yang membuat para ulama terdahulu begitu menghargai ilmu agama. Bagi mereka, ilmu bukan sesuatu yang bisa ditukar begitu saja dengan harta benda. Mereka memahami bahwa harta, sebanyak apa pun jumlahnya, pada akhirnya akan habis atau ditinggalkan. Sementara itu, ilmu yang bermanfaat akan terus memberikan kebaikan, bahkan ketika pemiliknya telah tiada.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana ungkapan yang sering dikutip dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;فَإِنَّ الْعِلْمَ يَبْقَى وَالْمَالَ يَفْنَى&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya ilmu itu akan tetap bertahan, sedangkan harta akan binasa.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal serupa juga tergambar dalam syair yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;رَضِينَا قِسْمَةَ الْجَبَّارِ فِينَا #&amp;nbsp; لَنَا عِلْمٌ وَلِلْأَعْدَاءِ مَالُ&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;فَإِنَّ الْمَالَ يَفْنَى عَنْ قَرِيبٍ #&amp;nbsp; وَإِنَّ الْعِلْمَ يَبْقَى لَا يَزَالُ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artinya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kami rela dengan pembagian Allah Yang Maha Perkasa,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ilmu menjadi bagian kami, sedangkan harta bagian orang lain.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Harta akan segera musnah seiring berjalannya waktu,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan ilmu akan tetap abadi dan tidak pernah sirna.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(Ta'lim al-Muta'allim, hlm. 25)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya, bukan berarti kita tidak boleh kaya atau berusaha memiliki kehidupan yang layak. Islam tidak melarang umatnya mencari harta. Namun, jangan sampai keinginan untuk menjadi kaya membuat kita lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar materi, yaitu ilmu yang bermanfaat, hati yang tenang, dan kedekatan dengan Allah SWT.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebab, kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan dan seberapa kuat kita menjaga iman di tengah berbagai keadaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;ref: Ta'lim al-Muta'allim, hlm. 25&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQzOxJnZKe6XT-_B9pX-1OF38lizvcNkRNnH6Wv-GvkMMyY6cLz7qR4WCYCWf2D-hMwBnyCRB-1q33bv9y_tyGBl4scMXjsyPTEeKkrjPf20etk9EkLrdwLoO7jEuBcwszksfmLckcFv-yT6xSNvmCw_wxhh7Mmqn0556bqJeuYWRnsa9Ifm5T2euD8p85/s72-w400-h274-c/1000176656.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dua Kepala dan Dua Wajah, Apakah Hukum dan Tata Cara berwudhu'nya Sama?</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/11/dua-kepala-dan-dua-wajah-apakah-hukum.html</link><category>fikih</category><category>hukum</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Mon, 2 Nov 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-3195768578522809570</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWOgRReRuDloIKAvboM6UEsl7Y-0wR56f24ayVi7UpCmSLCpeLrY-m9K16UBseM-i7NWjE3K7wnRLlpVxfVX2qjaubUr_l0BfWjdl4cH5U0jTXBDtT6H6pN6ctGOky757AT-n-mZ8BhZG8MQZhtdloLCpZGmgMd1sLJViMiO16cYkxnTmoTf8D-h-BBYGj/s3936/1000176655.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="2624" data-original-width="3936" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWOgRReRuDloIKAvboM6UEsl7Y-0wR56f24ayVi7UpCmSLCpeLrY-m9K16UBseM-i7NWjE3K7wnRLlpVxfVX2qjaubUr_l0BfWjdl4cH5U0jTXBDtT6H6pN6ctGOky757AT-n-mZ8BhZG8MQZhtdloLCpZGmgMd1sLJViMiO16cYkxnTmoTf8D-h-BBYGj/w400-h266/1000176655.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Dalam Islam, bersuci merupakan salah satu pembahasan penting yang berkaitan erat dengan keabsahan ibadah, terutama shalat. Karena itu, para ulama memberikan perhatian besar terhadap ketentuan bersuci, baik yang berkaitan dengan menghilangkan najis maupun mengangkat hadas melalui wudhu’ dan mandi wajib.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembahasan wudhu’, setiap anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap memiliki ketentuan tersendiri. Wajah misalnya, termasuk anggota tubuh yang wajib dibasuh, sedangkan kepala termasuk anggota tubuh yang wajib diusap. Perbedaan ini bukan sekadar persoalan istilah, melainkan juga berpengaruh terhadap cara pelaksanaan bersuci dan batas minimal yang harus dipenuhi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Persoalan tersebut menjadi semakin menarik ketika seseorang memiliki kondisi tubuh yang tidak lazim, misalnya mempunyai dua wajah atau dua kepala.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Dalam keadaan seperti ini, muncul pertanyaan fiqih: apakah ketentuan bersuci tetap berlaku sebagaimana keadaan normal, ataukah terdapat perincian hukum berdasarkan kondisi fisik yang dimiliki seseorang?. Pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa pembahasan fiqih tidak hanya berkaitan dengan keadaan manusia pada umumnya, tetapi juga mencakup kondisi-kondisi khusus yang membutuhkan penjelasan hukum secara lebih terperinci.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam literatur fiqih, persoalan ini tidak berhenti pada cara bersuci dalam keadaan normal. Para ulama juga membahas keadaan ketika bentuk atau jumlah anggota tubuh seseorang berbeda dari kebiasaan umum. Disinilah qaidah dan perincian fiqih diperlukan untuk menentukan bagaimana suatu kewajiban dilaksanakan dalam kondisi yang tidak biasa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada dasarnya, pembahasan fiqih mengenai anggota tubuh berangkat dari keadaan manusia yang lazim. Akan tetapi, dalam kenyataan, tidak semua orang memiliki kondisi fisik yang sama. Ada kemungkinan seseorang mempunyai anggota tubuh tambahan atau bentuk anggota tubuh yang berbeda dari keadaan pada umumnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Misalnya, apabila seseorang memiliki dua wajah, apakah kedua wajah tersebut wajib dibasuh ketika berwudhu’? Demikian pula apabila seseorang mempunyai dua kepala, apakah kedua kepala itu wajib diusap, ataukah mengusap salah satunya sudah mencukupi?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara umum,  apabila seseorang memiliki dua wajah, ia wajib membasuh keduanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan seseorang yang memiliki dua kepala, karena menurut pendapat yang dinilai sahih, mengusap salah satunya sudah mencukupi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari sini terlihat bahwa pembahasan yang sekilas tampak sederhana sebenarnya menyimpan persoalan fiqih yang cukup menarik. Mengapa dua wajah diperlakukan berbeda dari dua kepala? Apa hubungan antara ketentuan membasuh wajah dan mengusap kepala ?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pernyataan ini menunjukkan bahwa apabila seseorang memiliki dua wajah, kewajiban membasuh wajah dalam berwudhu’ tidak cukup dilaksanakan dengan membasuh salah satunya saja. Kedua wajah tersebut harus dibasuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara fiqih, ketentuan ini berkaitan dengan kewajiban membasuh wajah sebagai salah satu rukun wudhu’&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Membasuh wajah tidak cukup dilakukan pada sebagian anggota wajah, melainkan harus mencakup seluruh bagian wajah. Oleh karena itu, apabila seseorang memiliki dua wajah, pembasuhannya harus mencakup keduanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, yang menjadi perhatian dalam kasus ini bukan sekadar jumlah wajah yang dimiliki seseorang, melainkan terpenuhinya kewajiban membasuh seluruh bagian wajah yang termasuk dalam cakupan hukum wudhu’.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berbeda halnya apabila seseorang diciptakan dengan dua kepala, maka menurut pendapat yang sahih, cukup baginya mengusap bagian salah satu dari kepala tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari sini fiqh memperlihatkan adanya perbedaan ketentuan antara dua wajah dan dua kepala. Dalam kasus dua kepala, bahwa mengusap salah satunya sudah mencukupi menurut pendapat yang dinilai sahih.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan ini perlu dipahami dalam konteks ketentuan mengusap kepala ketika berwudhu’.  Mengusap kepala memiliki ketentuan yang berbeda dari membasuh wajah. Dalam pembahasan fiqih mazhab Syafi’i, terdapat ketentuan bahwa mengusap sebagian kepala sudah mencukupi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Atas dasar itu, kasus dua kepala tidak serta-merta disamakan dengan kasus dua wajah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seseorang yang memiliki dua wajah wajib membasuh keduanya ketika berwudhu’, sedangkan seseorang yang memiliki dua kepala cukup mengusap salah satunya menurut pendapat yang dinilai sahih. Perbedaan ini dikaitkan dengan karakteristik hukum membasuh wajah dan mengusap kepala.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Referensi : Mathali' ad-Daqaiq, Hal: 35, Jld: 2 , Cet : دار الشروق&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;٢٥ - لو خلق له وجهان وجب عليه غسلهما . بخلاف ما لو خلق له رأسان، فإنه يكفى مسح إحداهما على الصحيح ، كما قاله في الروضة (۸) .&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;والفرق : ( أنا ننزل ) (۹) الوجهين والرأسين منزلة الوجه الواحد والرأس الواحدة. وغسل بعض الوجه لا يكفى ، بخلاف مسح بعض الرأس .&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWOgRReRuDloIKAvboM6UEsl7Y-0wR56f24ayVi7UpCmSLCpeLrY-m9K16UBseM-i7NWjE3K7wnRLlpVxfVX2qjaubUr_l0BfWjdl4cH5U0jTXBDtT6H6pN6ctGOky757AT-n-mZ8BhZG8MQZhtdloLCpZGmgMd1sLJViMiO16cYkxnTmoTf8D-h-BBYGj/s72-w400-h266-c/1000176655.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Perbedaan Ibarat "al-Massu" (المس) dan "al-Lumsu" (اللمس) </title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/10/perbedaan-ibarat-al-massu-dan-al-lumsu.html</link><category>Fiqh</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Sat, 31 Oct 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-957275212725804588</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIcljWvyLQG8GET8fWQlCHe_MST4GYyzrvtPKn6-WRAC5rneJfQdrzqHvTu5bzCT1xkB5rD_v-tGpaTt54uGkbyB0fuo8rBajmrOoJxTn3_pBU49lBJdlP6BDeBZLPdIElEw8bai7hZieEvC9Gq-5t05_cSZY2wws3K_loNwhhsGpJfGYS_fPCI19vyXAs/s6000/1000176578.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="4000" data-original-width="6000" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIcljWvyLQG8GET8fWQlCHe_MST4GYyzrvtPKn6-WRAC5rneJfQdrzqHvTu5bzCT1xkB5rD_v-tGpaTt54uGkbyB0fuo8rBajmrOoJxTn3_pBU49lBJdlP6BDeBZLPdIElEw8bai7hZieEvC9Gq-5t05_cSZY2wws3K_loNwhhsGpJfGYS_fPCI19vyXAs/w400-h266/1000176578.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Dalam bahasa Arab memiliki makna yang hampir sama.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam Tāj al-'Arūs disebutkan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Aku menyentuhnya (مسته) artinya aku menyentuhnya dengan tanganku."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Imam ar-Rāghib al-Aṣfahānī dalam al-Mufradāt menjelaskan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Al-massu: hampir sama dengan al-lams. Namun, al-mass dapat digunakan untuk sekadar usaha menyentuh sesuatu, meskipun belum benar-benar mengenainya. Adapun al-lams digunakan apabila benar-benar terjadi sentuhan yang disertai dengan adanya rasa sentuh melalui indra peraba."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Perbedaan menurut para ulama fikih&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para fuqaha menjelaskan bahwa istilah "mass" dan "lams" memiliki perbedaan hukum, khususnya dalam pembahasan hal-hal yang membatalkan wudhu. Mereka menyebutkan delapan perbedaan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; 1.Mass(المس): hanya digunakan untuk menyentuh فرج, sedangkan lams(اللمس) : berlaku untuk menyentuh bagian tubuh mana pun.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;2.Mass (المس):hanya dianggap terjadi bila menggunakan bagian dalam telapak tangan, sedangkan lams(اللمس): dapat terjadi dengan bagian kulit mana saja.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;3.Mass (المس):dapat terjadi pada diri sendiri, misalnya seseorang menyentuh kemaluannya sendiri. Adapun lams (اللمس):hanya terjadi antara dua orang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;4.Mass(المس): tidak disyaratkan adanya syahwat. Sedangkan lams(اللمس): dalam pembahasan fikih tertentu dikaitkan dengan adanya syahwat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;5.Mass(المس):Menyentuh kemaluan yang telah terpisah dari tubuh tetap membatalkan wudhu. Sedangkan lams(اللمس) menyentuh anggota tubuh lain yang telah terpisah dari badan, yang tidak membatalkan wudhu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; 6.Mass (المس):berlaku  terhadap mahram maupun bukan mahram. Sedangkan lams (اللمس)hanya dibahas pada sentuhan dengan orang yang bukan mahram.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; 7.Mass (المس):tidak mensyaratkan perbedaan jenis kelamin. Jadi bisa terjadi antara sesama laki-laki maupun sesama perempuan. Adapun lams (اللمس):mensyaratkan adanya perbedaan jenis kelamin, yaitu antara laki-laki dan perempuan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;8.Dalam mass(المس):, yang batal wudhunya hanya orang yang menyentuh. Sedangkan dalam lams(اللمس): wudhu orang yang menyentuh dan yang disentuh sama-sama batal (menurut rincian mazhab yang sedang dibahas).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Delapan perbedaan ini disebutkan oleh al-Kurdī dalam al-Ḥawāsyī al-Madaniyyah, asy-Syarqāwī dalam Ḥāsyiyah Tuḥfat ath-Ṭullāb, dan al-Bājūrī dalam Ḥāsyiyah Syarḥ al-Ghazzī.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, as-Saqqāf dalam kitab at-Tarsyīḥ menambahkan perbedaan kesembilan, mengutip al-Ḥāsyiyah aṣ-Ṣughrā karya al-Kurdī, yaitu:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; 9.lams(اللمس):Menyentuh jin perempuan (jinniyah) menurut pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami tidak membatalkan wudhu. Dalam kitab al-Ī'āb beliau berkata:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Sekalipun kita mengikuti pendapat lemah yang membolehkan menikahi jin perempuan. hal itu berbeda dengan masalah menyentuhnya(المس) Mengenai sentuhan(المس) tersebut, tidak jauh kemungkinan hukumnya membatalkan wudhu."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;REF: Dirasah Mausu'iyah li Istilahi as-Syafi'iyah , Hal 246&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;*الفرق بين «المس»، و«اللمس»:* هما قريبان في اللغة؛ قال في تاج العروس: مسته بالكسر أمسه مسا أي لمسته بيدي. قال الراغب في المفردات: المس كاللمس ولكن المس يقال لطلب الشيء وإن لم يوجد، واللمس يقال فيما يكون معه إدراك بحاسة اللمس. اهـ. وبينهما فرق عند الفقهاء في ثمانية أمور ذكروها في باب الحدث: الأول: أن المس يختص بالفرج، واللمس لا يختص به. والثاني: أن المس يختص ببطن الكف، واللمس يكون بأي جزء من البشرة. والثالث: أن المس قد يكون في الشخص الواحد، واللمس لا يكون إلا بين اثنين. والرابع: أن المس لا يتقيد ببلوغ حد الشهوة، واللمس يتقيد بذلك. والخامس: أن مس الفرج المبان ناقض، بخلاف لمس العضو المبان غير الفرج. والسادس: أن الممس يكون في المحرم وغيره، واللمس يختص بغير المحرم. والسابع: أن المس لا يشترط فيه اختلاف النوع رجلا وامرأة فيكون بين الرجلين والمرأتين، واللمس يشترط فيه ذلك. والثامن: أن المس ينتقض فيه وضوء الماس فقط، واللمس ينتقض فيه وضوء اللامس والملموس، ذكرها الكردي في الحواشي المدنية والشرقاوي في حاشية تحفة الطلاب بشرح تحرير تنقيح اللباب والباجوري في حاشية شرح الغزي، وزاد السقاف في الترشيح تاسعا نقلا عن الحاشية الصغرى للكردي، وهو: أن لمس الجنية لا ينقض عند حج، قال في الإيعاب: وإن قلنا بالضعيف أنه يحل نكاحها بخلاف مسها، قال في الإيعاب: لا يبعد نقضه اهـ.(دراسة موسوعية لإصطلاح الشافعية)ص٢٤٦ هما قريبان في اللغة؛ قال في تاج العروس: مسته بالكسر أمسه مسا أي لمسته بيدي. قال الراغب في المفردات: المس كاللمس ولكن المس يقال لطلب الشيء وإن لم يوجد، واللمس يقال فيما يكون معه إدراك بحاسة اللمس. اهـ. وبينهما فرق عند الفقهاء في ثمانية أمور ذكروها في باب الحدث: الأول: أن المس يختص بالفرج، واللمس لا يختص به. والثاني: أن المس يختص ببطن الكف، واللمس يكون بأي جزء من البشرة. والثالث: أن المس قد يكون في الشخص الواحد، واللمس لا يكون إلا بين اثنين. والرابع: أن المس لا يتقيد ببلوغ حد الشهوة، واللمس يتقيد بذلك. والخامس: أن مس الفرج المبان ناقض، بخلاف لمس العضو المبان غير الفرج. والسادس: أن الممس يكون في المحرم وغيره، واللمس يختص بغير المحرم. والسابع: أن المس لا يشترط فيه اختلاف النوع رجلا وامرأة فيكون بين الرجلين والمرأتين، واللمس يشترط فيه ذلك. والثامن: أن المس ينتقض فيه وضوء الماس فقط، واللمس ينتقض فيه وضوء اللامس والملموس، ذكرها الكردي في الحواشي المدنية والشرقاوي في حاشية تحفة الطلاب بشرح تحرير تنقيح اللباب والباجوري في حاشية شرح الغزي، وزاد السقاف في الترشيح تاسعا نقلا عن الحاشية الصغرى للكردي، وهو: أن لمس الجنية لا ينقض عند حج، قال في الإيعاب: وإن قلنا بالضعيف أنه يحل نكاحها بخلاف مسها، قال في الإيعاب: لا يبعد نقضه اهـ.(دراسة موسوعية لإصطلاح الشافعية)ص٢٤٦&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIcljWvyLQG8GET8fWQlCHe_MST4GYyzrvtPKn6-WRAC5rneJfQdrzqHvTu5bzCT1xkB5rD_v-tGpaTt54uGkbyB0fuo8rBajmrOoJxTn3_pBU49lBJdlP6BDeBZLPdIElEw8bai7hZieEvC9Gq-5t05_cSZY2wws3K_loNwhhsGpJfGYS_fPCI19vyXAs/s72-w400-h266-c/1000176578.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ketika Cinta kepada Nabi Mengangkat Seorang Pendosa</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/10/ketika-cinta-kepada-nabi-mengangkat.html</link><category>Hikmah</category><category>kisah nabi</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Tue, 27 Oct 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-2154022892758013438</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2iA4v0jb-2tUK0lx9MvYmnRTGcoVwfIfvXu-ORrmAMhY_bp1QOg3kJFm8FU6jFPijrxF1JengBiLT6iX6DcHe6CRqTNQKB9H6kx6cdIFpWZ_Ubj9pCl7ehT7lldnjHpRNGXkvT1Ql6ow-YsaoKwjuMqsjYMJ-GC3-DhyJ14v1PqYehsb2JteSONDEWZ2e/s4500/461516.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="4500" data-original-width="4500" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2iA4v0jb-2tUK0lx9MvYmnRTGcoVwfIfvXu-ORrmAMhY_bp1QOg3kJFm8FU6jFPijrxF1JengBiLT6iX6DcHe6CRqTNQKB9H6kx6cdIFpWZ_Ubj9pCl7ehT7lldnjHpRNGXkvT1Ql6ow-YsaoKwjuMqsjYMJ-GC3-DhyJ14v1PqYehsb2JteSONDEWZ2e/w400-h400/461516.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mencintai Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian dari kemuliaan iman. Beliau bukan hanya sosok yang wajib kita kenal, tetapi juga manusia agung yang layak dicintai, dimuliakan, dan dijadikan teladan dalam setiap sisi kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah ﷺ yang dilakukan oleh sebagian umat Islam adalah memperingati kelahiran beliau pada bulan Rabiul Awwal. Bagi mereka, momentum Maulid Nabi bukan sekadar sebuah perayaan, tetapi kesempatan untuk kembali mengingat sosok yang paling berjasa dalam membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menariknya, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ terkadang tumbuh di hati seseorang yang secara lahir justru dipandang buruk oleh manusia. Kisah ini diceritakan oleh Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab fenomenal beliau, I‘anatut Thalibin.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dikisahkan bahwa pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, hiduplah seorang pemuda di Bashrah yang dikenal sebagai seorang pendosa. Masyarakat memandangnya sebagai pribadi yang buruk sehingga ia tidak mendapatkan penghormatan sebagaimana orang-orang saleh pada umumnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun, manusia hanya mampu melihat apa yang tampak. Tidak seorang pun mengetahui secara pasti apa yang tersimpan di dalam hati seseorang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di balik kehidupannya yang penuh dosa, ternyata pemuda tersebut menyimpan kecintaan yang begitu besar kepada Nabi Muhammad ﷺ. Setiap kali bulan Rabiul Awwal tiba, ia selalu memiliki kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai wewangian, berhias, menyiapkan jamuan, kemudian berkumpul untuk membaca kisah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Kebiasaan tersebut terus ia lakukan setiap tahun hingga akhirnya ajal menjemputnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika pemuda itu meninggal dunia, masyarakat Bashrah tidak terlalu mempedulikannya. Karena selama hidupnya ia dikenal sebagai seorang pendosa, tidak banyak orang yang merasa perlu memberikan penghormatan terakhir kepadanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia pun wafat dalam keadaan sepi, tanpa iring-iringan manusia yang mengantarkan jenazahnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun, sesuatu yang tidak biasa kemudian terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hampir seluruh penduduk Bashrah mendengar suara yang sama:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Wahai penduduk Bashrah, hadirilah jenazah seorang kekasih Allah.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mendengar seruan tersebut, masyarakat pun tergerak untuk menghadiri jenazahnya. Mereka datang berbondong-bondong, mendoakannya, dan memberikan penghormatan terakhir kepada pemuda yang selama hidupnya mereka pandang sebelah mata.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kisah itu ternyata belum berakhir.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada malam harinya, banyak penduduk Bashrah bermimpi melihat pemuda tersebut dalam keadaan yang sangat mulia. Ia mengenakan pakaian sutra yang indah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam mimpi itu, ia kemudian ditanya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Dengan apa engkau memperoleh kemuliaan ini?”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia menjawab:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Dengan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kisah ini menyimpan pelajaran yang sangat dalam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertama, jangan pernah menganggap dosa sebagai alasan untuk berhenti mencintai Rasulullah ﷺ. Seseorang mungkin memiliki banyak kekurangan dan dosa, tetapi bukan berarti di dalam hatinya tidak terdapat kecintaan kepada Nabi ﷺ. Bahkan, bisa jadi kecintaan itulah yang suatu saat menjadi sebab datangnya hidayah dan perubahan dalam kehidupannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, jangan mengatakan, “Aku masih banyak dosa, jadi tidak pantas mencintai Nabi.” Justru rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ hendaknya menjadi salah satu jalan untuk mendekat kepada Allah dan memperbaiki diri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua, jangan mudah merendahkan seseorang hanya karena melihat buruknya kehidupan lahiriah mereka. Kita hanya mengetahui apa yang tampak, sementara isi hati seseorang adalah perkara yang tidak kita ketahui.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Boleh jadi seseorang yang kita pandang hina memiliki satu amal tersembunyi yang sangat bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, orang yang tampak baik di hadapan manusia belum tentu memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka, tugas kita bukan menghakimi hati manusia, tetapi memperbaiki hati kita sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ seharusnya melahirkan kerinduan untuk mengenal dan meneladani beliau. Membaca kisah kelahiran Nabi, mengenang perjuangan beliau, mempelajari akhlaknya, memperbanyak shalawat, dan menghidupkan sunnahnya merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk kembali menghadirkan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan kita—bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam akhlak dan perilaku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kisah pemuda Bashrah tersebut pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: jangan remehkan kekuatan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Bisa jadi, sebuah amal yang dipandang sederhana oleh manusia justru menjadi sebab datangnya rahmat Allah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan jangan pula merendahkan seseorang hanya karena kita melihat banyak kekurangan pada dirinya. Sebab, bisa jadi ada sesuatu yang tersembunyi di dalam hatinya yang jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada apa yang tampak pada diri kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan yang tulus kepada Nabi Muhammad ﷺ, memperbanyak shalawat kita kepada beliau, serta menjadikan kecintaan tersebut sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah dan mengikuti akhlak&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah ﷺ.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;I'anah at-Thalibin, Jld. 3, Hal. 415.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;(وحكي) أنه كان في زمان أمير المؤمنين هارون الرشيد شاب في البصرة مسرف على نفسه وكان أهل البلد ينظرون إليه بعين التحقير لأجل أفعاله الخبيثة، غير أنه كان إذا قدم شهر ربيع الأول غسل ثيابه وتعطر وتجمل وعمل وليمة واستقرأ فيها مولد النبي ﷺ ودام على هذا الحال زمانا طويلا، ثم لما مات سمع أهل البلد هاتفا يقول: احضروا يا أهل البصرة واشهدوا جنازة ولي من أولياء الله فإنه عزيز عندي، فحضر أهل البلد جنازته ودفنوه، فرأوه في المنام وهو يرفل في حلل سندس واستبرق، فقيل له بم نلت هذه الفضيلة؟ قال بتعظيم مولد النبي ﷺ.&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2iA4v0jb-2tUK0lx9MvYmnRTGcoVwfIfvXu-ORrmAMhY_bp1QOg3kJFm8FU6jFPijrxF1JengBiLT6iX6DcHe6CRqTNQKB9H6kx6cdIFpWZ_Ubj9pCl7ehT7lldnjHpRNGXkvT1Ql6ow-YsaoKwjuMqsjYMJ-GC3-DhyJ14v1PqYehsb2JteSONDEWZ2e/s72-w400-h400-c/461516.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Batasan Syariat dalam Memperlakukan Hewan yang Dikurung</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/10/batasan-syariat-dalam-memperlakukan.html</link><category>Fiqh</category><category>hukum</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Mon, 26 Oct 2026 09:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-7628883134196286481</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9JOcRrFAqhhz5OSgMQCqgMlLrONE09B72HerkZgrZ3ST1mAP3tmKrnvJONPOLGqLBW94WB7k91S5hGTwFKs4RzJMCSqVuvO06FVuoeR-VV4hVk-CUr5mnv5INPxaJDkBXBH7Yonnuv3GN4preBvqGotUdjgCA6FAE65UGcWYqwLBJyTbH1pi5GH1Xm0dm/s3590/460775.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="2343" data-original-width="3590" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9JOcRrFAqhhz5OSgMQCqgMlLrONE09B72HerkZgrZ3ST1mAP3tmKrnvJONPOLGqLBW94WB7k91S5hGTwFKs4RzJMCSqVuvO06FVuoeR-VV4hVk-CUr5mnv5INPxaJDkBXBH7Yonnuv3GN4preBvqGotUdjgCA6FAE65UGcWYqwLBJyTbH1pi5GH1Xm0dm/w400-h261/460775.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memelihara hewan merupakan salah satu kebiasaan yang telah dikenal sejak dahulu dan masih banyak dilakukan oleh masyarakat hingga saat ini. Di antara hewan yang sering dipelihara adalah burung, baik untuk menikmati keindahan warna bulunya, mendengarkan alunan indah dari kicauannya, maupun sebagai bagian dari hobi sehari-hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut kebanyakan orang menempatkan burung tersebut di dalam sangkar yang tujuannya agar burung tersebut menjadi jinak mudah di rawat dan tidak terbang menjau.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meskipun demikian praktik memelihara hewan di dalam sangkar ini masih menimbulkan kontroversi dalam pandangan kebanyakan masyarakat karena ada juga anghapan y menganggap hal ini juga menjadi satu hal yang dapat merenggut hak kebebasan dari hewan tersebut, sehingga menimbulkan banyaknya pertanyaan mengenai batasan batasan yang perlu di perhatikan menurut konsekuensi syariat islam, terutama mengenai hak dari hewan tersebut dan tanggung jawab dari pemiliknya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam Islam, hewan merupakan makhluk Allah Swt. yang harus diperlakukan dengan baik.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia diperbolehkan memanfaatkan hewan untuk berbagai kepentingan yang dibenarkan oleh syariat, tetapi kebolehan tersebut tidak memberikan hak tanpa batas untuk memperlakukan hewan sesuai keinginan manusia, setiap manusia yang memelihara hewan tersebut memiliki tanggung jawab penuh untuk selalu memastikan apapun yang dibutuhkan oleh hwan tersebut agar keberlangsungan hidupnya tetap terjaga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu manusia harus benar benar memperhatikan apa y dibutuhkan oleh hewan tersebut mulai dari: tidak menempatkannya di dalam sangkar yang terlalu sempit yang dapat membatasi gerak geriknya hingga kecocokan pakan y akan dikonsumsinya. Selain itu  pemilik perlu mempertimbangkan kemampuan dirinya sebelum memelihara hewan. Jangan sampai keinginan memiliki burung hanya didasarkan pada kesenangan sesaat, sedangkan kebutuhan perawatannya tidak diperhatikan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, batasan syariat dalam memperlakukan hewan yang dikurung bertumpu pada prinsip kasih sayang, pemenuhan kebutuhan hidup, dan larangan melakukan kezaliman.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memelihara burung hendaknya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan untuk memperoleh kesenangan, tetapi juga sebagai amanah yang menuntut kepedulian dan tanggung jawab. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip tersebut, hobi memelihara burung dapat dijalankan tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran Islam tentang perlakuan yang baik terhadap makhluk hidup.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nash terkait:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Imam al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi, Jld. 4, Hal. 95, Cet. Dar al-Fikr.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;فرع له حبس حيوان ولو لسماع صوته ، أو التفرج عليه، أو نحو كلب للحاجة إليه مع إطعامه&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Muhammad ibn musa al-Damiri, al-Najmu al-wahaj, Jld. 9, Hal. 281, Cet. Dar al-Minhaj.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;سئل القفال عن حبس الطيور في الأقفاص لسماع أصواتها وغير ذلك؛ فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكها بما تحتاج إليه؛ لأنها كالبهيمة تربط.&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9JOcRrFAqhhz5OSgMQCqgMlLrONE09B72HerkZgrZ3ST1mAP3tmKrnvJONPOLGqLBW94WB7k91S5hGTwFKs4RzJMCSqVuvO06FVuoeR-VV4hVk-CUr5mnv5INPxaJDkBXBH7Yonnuv3GN4preBvqGotUdjgCA6FAE65UGcWYqwLBJyTbH1pi5GH1Xm0dm/s72-w400-h261-c/460775.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>