<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Lajnah Bahtsul Masail MUDI MESRA</title><description>Weblog pesantren MUDI MESRA yang membahas seputar hukum islam dan Download kitab Ahlus sunnah Wal jamaah.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</managingEditor><pubDate>Thu, 3 Sep 2026 08:00:00 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1519</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">5</openSearch:itemsPerPage><link>https://lbm.mudimesra.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Weblog pesantren MUDI MESRA yang membahas seputar hukum islam dan Download kitab Ahlus sunnah Wal jamaah.</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Ma’rifah dan Naẓar: Apakah Taklid Cukup untuk Menetapkan Keimanan?</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/09/marifah-dan-nazar-apakah-taklid-cukup.html</link><category>Aqidah</category><category>Tauhid</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Thu, 3 Sep 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-6890954943312761243</guid><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxPClrpHIKlR-6HjqEccpXpOftyj54X4bjp0xdJ_ub0oorA3Hm1Jhz1p538sGwkroJ19eZ9shPH4xnp4niQSLl95X0u-_KqL850G0akoq8yz8hXxMa1SawmT6-OFtvhpUood5sM_uNDrSnM1pP7JaYHB3cyZAGD3plnG5IZIuDGV9RgvOJYhZyZuvKudzX/s5000/373895.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="3333" data-original-width="5000" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxPClrpHIKlR-6HjqEccpXpOftyj54X4bjp0xdJ_ub0oorA3Hm1Jhz1p538sGwkroJ19eZ9shPH4xnp4niQSLl95X0u-_KqL850G0akoq8yz8hXxMa1SawmT6-OFtvhpUood5sM_uNDrSnM1pP7JaYHB3cyZAGD3plnG5IZIuDGV9RgvOJYhZyZuvKudzX/w400-h266/373895.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembahasan ilmu tauhid, salah satu persoalan yang menarik perhatian para ulama adalah pertanyaan: bagaimana seseorang dapat mencapai keyakinan yang benar kepada Allah. Apakah seseorang cukup meyakini keberadaan Allah karena mengikuti orang tua, guru, atau lingkungan sekitarnya. Ataukah ia harus menggunakan akal dan melakukan penalaran untuk sampai kepada keyakinan tersebut. Persoalan inilah yang melahirkan pembahasan mengenai ma’rifah, naẓar, dan taqlid dalam akidah Islam. Para ulama sepakat bahwa seorang Muslim wajib memiliki keyakinan terhadap Allah dan pokok-pokok keimanan. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai cara memperoleh keyakinan tersebut dan terutama mengenai status orang yang beriman hanya berdasarkan taklid.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ma’rifah sebagai Tujuan dalam Akidah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Istilah ma’rifah dalam konteks ini bukan sekadar mengetahui secara informasi bahwa Allah itu ada. Ma’rifah berarti memperoleh pengetahuan yang menghasilkan keyakinan yang benar dan sesuai dengan kenyataan. Karena itu, dalam hal tersebut menjelaskan bahwa ketika digunakan kata ya‘rif (يَعْرِفَ), bukan yajzim (يَجْزِمُ), terdapat isyarat bahwa yang menjadi tujuan dalam persoalan akidah adalah ma’rifah. Ma’rifah yang dimaksud bukan sekadar keyakinan tanpa dasar. Yang dikehendaki adalah keyakinan yang sesuai dengan kebenaran dan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah muncul persoalan taqlid.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa yang Dimaksud dengan Taqlid?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Taqlid dalam konteks ini adalah menerima suatu keyakinan dari pihak lain tanpa mengetahui dalil yang menjadi dasar keyakinan tersebut. Misalnya, seseorang meyakini bahwa Allah itu ada karena sejak kecil ia mendengar hal tersebut dari orang tua dan gurunya. Ia menerima dan membenarkannya, tetapi tidak pernah melakukan penalaran atau memahami argumentasi yang menunjukkan keberadaan Allah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keyakinannya mungkin benar. Namun, persoalannya adalah: apakah keyakinan yang benar tersebut sudah cukup untuk disebut sebagai iman yang sempurna dan sah? Para ulama berbeda pendapat dalam menjawab pertanyaan ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendapat Mayoritas Ulama: Ma’rifah Itu Wajib&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mayoritas ulama berpandangan bahwa ma’rifah kepada Allah wajib dan taklid saja tidak mencukupi. Di antara tokoh yang disebut adalah: Abū al-Ḥasan al-Asy‘arī; Qāḍī Abū Bakr al-Bāqillānī; Imām al-Ḥaramayn; Ibn al-Qaṣṣār, yang menukil pendapat serupa dari Imam Mālik. Menurut pandangan ini, seorang mukallaf dituntut untuk memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah, dan pengetahuan tersebut diperoleh melalui naẓar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan Pendapat tentang Mukallid&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meskipun mayoritas ulama sepakat tentang kewajiban ma’rifah, mereka tidak sepakat mengenai status orang yang hanya bertaklid.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Mukallid tetap mukmin, tetapi berdosa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang bertaklid   tetap memiliki iman. Namun, ia berdosa karena meninggalkan kewajiban melakukan naẓar yang benar. Dengan demikian, masalahnya bukan terletak pada benar atau salahnya keyakinan, tetapi pada cara memperoleh keyakinan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2. Mukallid tetap mukmin dan tidak berdosa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendapat kedua menyatakan bahwa orang yang bertaklid   tetap dianggap mukmin dan tidak berdosa, kecuali jika ia sebenarnya memiliki kemampuan untuk memahami dalil dan melakukan penalaran, tetapi sengaja meninggalkannya. Dengan kata lain, kemampuan intelektual menjadi pertimbangan dalam menentukan apakah seseorang berdosa atau tidak.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. Mukallid tidak dianggap mukmin&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendapat ketiga lebih tegas. Menurut pendapat ini, orang yang hanya bertaklid   tidak dianggap sebagai mukmin. Pendapat ini menunjukkan betapa pentingnya proses penalaran dalam sebagian pemikiran teologis klasik. Namun, pendapat tersebut juga mendapat penolakan dari sejumlah ulama.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pembagian Mukallaf Menurut Imām al-Ḥaramain&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk menjelaskan persoalan tersebut secara lebih terperinci, Imām al-Ḥaramain membagi kondisi manusia berdasarkan kesempatan dan kemampuan melakukan naẓar setelah balig. Pembagian ini menunjukkan bahwa kewajiban intelektual tidak dapat dilepaskan dari kemampuan seseorang. Orang yang memiliki waktu cukup untuk berpikir kemudian benar-benar melakukan penalaran, keimanannya tidak diperselisihkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, orang yang memiliki kesempatan dan kemampuan tetapi sengaja meninggalkan penalaran, keimanannya diperselisihkan, bahkan pendapat yang dianggap lebih kuat menyatakan tidak sah. Sementara orang yang hanya memiliki waktu sangat singkat setelah balig tetapi menggunakan kesempatan tersebut sesuai kemampuannya, keimanannya tetap dianggap sah. Hal ini memperlihatkan adanya perhatian terhadap kemampuan, kesempatan, dan kondisi mukallaf.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apakah Naẓar Merupakan Syarat Sah Iman?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sinilah terdapat perbedaan penting di antara para ulama. Mayoritas ulama berpendapat bahwa naẓar yang benar wajib dilakukan. Akan tetapi, mereka masih berbeda pendapat apakah naẓar merupakan syarat sahnya iman atau hanya kewajiban yang berdiri sendiri. Sebagian ulama yang disebutkan, seperti Ibn Abī Jamrah, Imam al-Qusyairī, Ibn Rusyd, dan Imam al-Ghazālī, berpendapat bahwa naẓar tidak menjadi syarat sah iman. Menurut mereka, naẓar lebih merupakan syarat kesempurnaan iman. Adapun pendapat yang dipilih adalah bahwa naẓar yang benar wajib dilakukan dan merupakan syarat sah iman.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengapa Naẓar Diperlukan?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Naẓar berarti proses berpikir secara sistematis untuk mencapai pengetahuan. Argumen yang dikemukakan Ibn al-‘Arabī sangat menarik. Ia menolak tiga kemungkinan sebagai jalan utama untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah: Pengetahuan spontan (ḍarūrī). Ilham semata. Taklid atau sekadar mengikuti orang lain.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika pengetahuan tentang Allah merupakan pengetahuan spontan, maka seluruh manusia yang memiliki akal seharusnya mengetahuinya secara otomatis. Jika pengetahuan tersebut hanya diperoleh melalui ilham, maka setiap manusia seharusnya mendapatkan pengetahuan tersebut secara langsung di dalam hatinya. Namun, kenyataannya manusia memiliki tingkat pengetahuan dan keyakinan yang berbeda-beda. Karena itu, diperlukan suatu proses yang memungkinkan manusia mencapai pengetahuan tersebut melalui kemampuan berpikirnya. Proses itulah yang disebut naẓar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengapa Taklid Tidak Dianggap Cukup?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ibn al-‘Arabī memberikan argumentasi lain yang cukup kuat. Jika seseorang mengenal Allah hanya melalui taklid, maka akan muncul pertanyaan: Mengapa ia harus mengikuti satu pendapat dan tidak mengikuti pendapat lainnya? Apalagi ketika orang-orang yang menjadi panutan memiliki pendapat yang berbeda dan bahkan bertentangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika seseorang hanya berkata, “Saya mengikuti guru saya,” maka orang lain juga dapat berkata, “Saya mengikuti guru saya.” Keduanya sama-sama bertaklid, tetapi keyakinan mereka bisa saja berbeda. Karena itu, diperlukan standar yang lebih mendasar daripada sekadar siapa yang diikuti. Standar tersebut adalah dalil dan penalaran yang benar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Naẓar sebagai Jalan Menuju Ma’rifah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hubungan antara naẓar dan ma’rifah dapat digambarkan secara sederhana: Naẓar → Dalil → Pengetahuan → Ma’rifah → Keyakinan terhadap Allah Naẓar bukanlah tujuan akhir. Ia merupakan jalan untuk memperoleh ma’rifah. Karena ma’rifah kepada Allah merupakan kewajiban, sementara ma’rifah tidak dapat diperoleh dengan sempurna kecuali melalui naẓar, maka naẓar memperoleh status wajib. Prinsip ini dalam kaidah fikih dan usul fikih dikenal dengan ungkapan:&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Suatu kewajiban yang tidak dapat sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut juga menjadi wajib.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pembahasan mengenai ma’rifah, naẓar, dan taqlid menunjukkan bahwa para ulama sangat memperhatikan kualitas keyakinan seseorang. Ma’rifah bukan sekadar mengetahui bahwa Allah ada, tetapi merupakan pengetahuan yang melahirkan keyakinan yang benar. Mayoritas ulama yang dikutip dalam pembahasan ini menegaskan kewajiban memperoleh ma’rifah dan tidak mencukupkan diri dengan taklid semata.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun, mereka berbeda pendapat mengenai status orang yang bertaklid. Ada yang menganggapnya tetap mukmin tetapi berdosa, ada yang menganggapnya mukmin dan tidak berdosa kecuali bagi orang yang mampu melakukan naẓar, dan ada pula yang tidak menganggapnya mukmin. Adapun mengenai naẓar, terdapat perbedaan apakah ia merupakan syarat sah iman atau hanya syarat kesempurnaannya. Pendapat yang dipilih adalah bahwa naẓar yang benar merupakan kewajiban dan menjadi syarat sahnya iman.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya, pembahasan ini mengajarkan bahwa iman tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini, tetapi juga bagaimana keyakinan tersebut diperoleh. Akal memiliki peran penting dalam mengantarkan manusia kepada ma’rifah, sedangkan dalil menjadi dasar yang mengarahkan akal menuju keyakinan yang benar. Dengan demikian, penggunaan akal dalam akidah bukanlah upaya menggantikan wahyu, melainkan sarana untuk memahami dan menguatkan keyakinan terhadap kebenaran yang dibawa oleh wahyu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ref: Muhammad bin Ahmad bin Arafah ad-Dasuqi, Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala asy-Syarh al-Kabir, syarah Abu al-Barakat Ahmad ad-Dardir, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), h. 226–244.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxPClrpHIKlR-6HjqEccpXpOftyj54X4bjp0xdJ_ub0oorA3Hm1Jhz1p538sGwkroJ19eZ9shPH4xnp4niQSLl95X0u-_KqL850G0akoq8yz8hXxMa1SawmT6-OFtvhpUood5sM_uNDrSnM1pP7JaYHB3cyZAGD3plnG5IZIuDGV9RgvOJYhZyZuvKudzX/s72-w400-h266-c/373895.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PERANG BADAR, PERANG TERBESAR DALAM ISLAM</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/08/perang-badar-perang-terbesar-dalam-islam.html</link><category>sejarah</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Mon, 31 Aug 2026 09:55:15 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-1637429228084298849</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIqXmAxFYciGzqa5ez0A3XzF8whkJ62xVo0mF0PWF1rqLccZi7hp8tMBSBYkQqtqJroapDCLxqd9HPxzVPoLgeEpv5ZSs-4Mm9Eu9K6riHrNyhA5XVBH1phnSwXO6AWC645uCisJ97yEoA_dlbOiEO1BeZ7Z_iqT5HuC4Hr0U3BKwLJxvtddWQKiSvUKNm/s5824/368579.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="3264" data-original-width="5824" height="224" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIqXmAxFYciGzqa5ez0A3XzF8whkJ62xVo0mF0PWF1rqLccZi7hp8tMBSBYkQqtqJroapDCLxqd9HPxzVPoLgeEpv5ZSs-4Mm9Eu9K6riHrNyhA5XVBH1phnSwXO6AWC645uCisJ97yEoA_dlbOiEO1BeZ7Z_iqT5HuC4Hr0U3BKwLJxvtddWQKiSvUKNm/w400-h224/368579.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan 2 H (13 Maret 624). Badar merupakan nama suatu tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah yang memiliki sumber mata air. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang berperang menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah berperang habis-habisan, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perang ini bermula Ketika Nai Muhammad ingin mencegat kafilah dagang kaum quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan sedang Kembali dari negeri Syam. Nabi berangkat dengan pasukan kaum Muslimin yang berjumlah 313 orang, 240 lebih kaum anshar dan sisanya kaum muhajirin. Namun, tatkala Abu Sufyan, pemimpin kafilah tersebut, mengetahui bahwa Rasulullah saw. telah keluar untuk menghadangnya, ia segera menyewa seorang pengendara kuda cepat untuk menghubungi orang-orang Quraisy dan menyampaikan kabar tersebut kepada mereka. Sewaktu orang-orang Quraisy mendengar berita tersebut, fanatisme mereka terbakar, dan mereka takut kafilah dagangnya diserang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian berangkatlah kaum musyrikin Quraisy sebanyak 1000 orang yang dipimpin oleh Abu Jahal menuju ke Badar yang didalamnya terdapat 100 pasukan berkuda dan 700 pasukan berunta. Jumlah pasukan kaum musyrikin yang ikut berperang pada saat itu 950 orang. Di antara mereka terdapat 100 pasukan berkuda dan 700 pasukan berunta. Rasulullah saw. sedikit pun tidak mengetahui tentang apa yang telah dikerjakan oleh kaum musyrikin karena dia keluar hanya untuk mencegat kafilah perdagangan milik orang Quraisy. Oleh sebab itu Rasulullah saw. tidak membuat persiapan yang lengkap untuk menghadapi mereka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Perang ini dimulai dengan duel satu lawan satu. Hamzah bin Abdul Muttalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Al-Harith melawan Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Al-Walid bin Utbah. Dari tiga duel tersebut, keetiganya dimenangkan oleh pihak kaum Muslimin. Setelah duel, barulah pertempuran umum dimulai.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meskipun jumlah pasukan Quraish empat kali lipat pasukan muslim, tetapi atas izin Allah Perang Badar dimenangkan oleh pasukan muslim. Peristiwa ini menjadi catatan pertama kemenangan umat Islam melawan kaum kafir dalam peperangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemenangan yang diraih oleh kaum muslim, disebabkan bala bantuan yang Allah datangkan. Allah mengutus seribu malaikat untuk turun membantu kaum muslim dalam medan pertempuran. Peristiwa ini dikisahkan dalam surah al-Anfal ayat 9:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa ini menunjukkan bahwa meski Perang Badar terjadi pada bulan Ramadan, umat Islam tetap kuat berjuang dan meraih kemenangan yang luar biasa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Statistik Perang Badar:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;•	Waktu: Jumat, 17 Ramadan 2 Hijriah (13 Maret 624 M).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;•	Lokasi: Lembah Badar, antara Makkah dan Madinah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;•	Jumlah Pasukan Muslim: 313/314 orang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;•	Jumlah Pasukan Quraisy: 1.000 orang/ 950 orang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;•	Korban Pihak Muslim: 14 orang syahid (6 Muhajirin, 8 Anshar).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;•	Korban Pihak Quraisy: 70 orang tewas (termasuk Abu Jahal) dan 70 orang ditawan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;•	Hasil Akhir: Kemenangan telak kaum Muslimin.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Umr Abdul Jabbar, Khulasah Nurul Yaqin, Juzu’ 2 hal 11&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Muhammad Khudzari, Nurul Yaqin fi Sirah Saidil Mursalin, 1345 H, hal 97&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;غزوة بدر الكبرى هي الفرقان الذي أعز الله به الإسلام ورفع منارة وطمس الشرك وخرب أركانه.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;وسببها أن الرسول خرج ليعترض عيرا لقريش راجعة من الشام وكان معه ثلاثمائة وثلاثة عشر رجلا.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;فلما علمت قريشا بذلك أرسلت تسعمائة وخمسن رجلا لحماية عيرهم وتجارتهم فسار إليهم الرسول نمن معه وقاتلهم قتالا شديدا.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;وأيد الله المسلمين بالملائكة فانهزم المشركون وتبعهم المسلمون ويقتلون ويأسرون.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;فقتل من المشركين سبعون رجلا منهم أبو جهل وأسر منهم سبعون أسيرا وقتل من المسلمين أربعة عشر رجلا.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;ثم أمر الرسو بدفن قتلى المسلمين والمشركين وركع إلى المدينة ولما قاربها تلقته الولائد الدفوف ينشدون طلع البد علينا.&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIqXmAxFYciGzqa5ez0A3XzF8whkJ62xVo0mF0PWF1rqLccZi7hp8tMBSBYkQqtqJroapDCLxqd9HPxzVPoLgeEpv5ZSs-4Mm9Eu9K6riHrNyhA5XVBH1phnSwXO6AWC645uCisJ97yEoA_dlbOiEO1BeZ7Z_iqT5HuC4Hr0U3BKwLJxvtddWQKiSvUKNm/s72-w400-h224-c/368579.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Memahami Makna Nabi Muhammad Makhluk Terbaik Secara Universal</title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/08/memahami-makna-nabi-muhammad-makhluk.html</link><category>sejarah</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Sat, 29 Aug 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-3858624911802639568</guid><description>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicSIF0liwhpwBZ1uG_LCVCn63vm5sgr4c-EUJcO5DQAI05C6BFbq5kCtWQZGwy08Fl-2ZbPb7lhA13Su_O0rrV2geDBRzYv2uNm6wGIiJdipygLawwrqFU99wpMDvqEBf7xolyT27djnO1_oqpaWF56WAV2yVWnBB2lXszgGVDBzupkUnH-eNRIvNX9spW/s5472/368569.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="5472" data-original-width="3648" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicSIF0liwhpwBZ1uG_LCVCn63vm5sgr4c-EUJcO5DQAI05C6BFbq5kCtWQZGwy08Fl-2ZbPb7lhA13Su_O0rrV2geDBRzYv2uNm6wGIiJdipygLawwrqFU99wpMDvqEBf7xolyT27djnO1_oqpaWF56WAV2yVWnBB2lXszgGVDBzupkUnH-eNRIvNX9spW/w266-h400/368569.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nabi Muhammad SAW adalah manusia terbaik yang pernah diciptakan Allah SWT baik di dunia ataupun akhirat nanti. Perihal ini bukan umat muslim saja  yang mengakuinya namun juga dari kalangan non muslim.Diantaranya ada Michael H.Hart seorang  penulis buku yang berjudul  The 100  A Ranking Of The most influental persons In history ( 100 peringkat manusia yang sangat berpengaruh sepanjang sejarah) Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan pertama sebagai manusia yang paling sukses sepanjang sejarah karena besarnya  pengaruh dari risalah yang dibawanya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara terang-terangan Hart tidak  memberikan peringkat atas dasar "kebaikan" sebagai kriterianya melainkan sejauhmana seseorang tersebut mampu mengubah peradaban dengan kehadirannya, entah itu ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk. Selain itu banyak sekali ungkapan dan pujian-pujian yang menggambarkan betapa hebat dan mulianya rasul tuhan ini. Salah satunya ungkapan yang mengatakan bahwa Muhammad adalah manusia namun bukan seperti manusia biasa.Tiada makhluk yang setampan dan sebaik budi pekertinya. Beliau sangat menghormati dan menghargai kebaikan  para sahabatnya serta beliau selalu mengingat jasa mereka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal ini tampak jelas seperti suatu peristiwa yang pernah  terjadi di kota Mekah, yaitu ketika kaum musyrikin berbondong-bondong menyatakan keislaman mereka. Dalam keramaian di antara manusia nampaklah seorang lelaki  tua lagi buta yang turut ikut untuk  menyatakan keislamannya. Ia adalah Abu Quhafah, ayahanda Abu Bakar. Ia berjalan dituntun oleh putranya Abu Bakar untuk menemui Rasulullah. Ketika melihatnya, Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar, "Biarkan saja orangtua ini diam di rumahnya dan aku yang akan menemuinya. Abu Bakar merasa bahagia melihat betapa besarnya rasulullah menghargai orangtuanya tersebut. Abu bakar  berkata, "Ayahku yang lebih pantas untuk datang kepadamu ya Rasul daripada engkau yang mendatanginya."&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah kembali berujar "Aku menghargainya karena jasa-jasa anaknya terhadap agama Allah". Abu Bakar sangat bahagia mendengar Rasulullah berkata demikian. Padahal nabi adalah manusia yang paling mulia namun tidak keberatan bahkan dengan senang hati beliau  merendah demi sebuah kebaikan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bukti lainnya yang menunjuki kelebihan nabi Muhammad adalah ketika Allah  mengundang beliau kelangit untuk berjumpa denganNya yang dikenal dengan peristiwa isra' dan mi'rajnya nabi. berbeda halnya dengan nabi musa yang meminta kepada  Allah untuk bertemu dan melihat Allah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kitab Tuhfatul Murid yang merupakan hasyiah  dari nadham jauharatut tauhid karya Ibrahim al-Laqani dijelaskan bahwa nabi Muhammad adalah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Makhluk terbaik diantara semua makhluk secara universal / menyeluruh baik yang ada dilangit atau dibumi meliputi setiap kebaikan dan  segala sifat kesempurnaan  ketika dibandingkan dengan siapapun baik dari kalangan manusia yang tinggi derajatnya seperti para nabi bahkan Ulul Azmi sekalipun, yaitu Nabi Musa, Ibrahim, Isa dan Nuh ataupun yang  rendah derajatnya seperti manusia pada umumnya, termasuk lebihnya nabi jika dibandingkan dengan para malaikat yang ada di dunia ataupun diakhirat apalagi jika dibandingkan dengan kalangan jin Islam, sungguh tidak ada bandingannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Referensi Tuhfatul Murid, hlm:76 cet.Toha Putra.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;*(قوله وأفضل الخلق على الاطلاق * نبينا) أى أفضل المخلوقات على العموم الشامل للعلوية والسفلية من البشر والجن والملك في الدنيا والآخرة في سائر خصال الخير وأوصاف الكمال نبينا محمد الله*&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicSIF0liwhpwBZ1uG_LCVCn63vm5sgr4c-EUJcO5DQAI05C6BFbq5kCtWQZGwy08Fl-2ZbPb7lhA13Su_O0rrV2geDBRzYv2uNm6wGIiJdipygLawwrqFU99wpMDvqEBf7xolyT27djnO1_oqpaWF56WAV2yVWnBB2lXszgGVDBzupkUnH-eNRIvNX9spW/s72-w266-h400-c/368569.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hikmah Wudhu dan Membersihkan Anggota Tubuh Tertentu </title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/08/hikmah-wudhu-dan-membersihkan-anggota.html</link><category>Hikmah</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Sun, 23 Aug 2026 08:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-2856631752149255330</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbDLWUcx8X_QwzjUsQ-rarUm6uN5SDn9EalEgcdFVznulFTDkCF3xxzPPrTkWE91abk3aH5aUWKGO2ZBZYcodZaeSImEOOrWYK-qbg900wncxmxlwMgH21-dA52h6uqeFbUC0EGfNLP_-sEtVV0KhBjq9ByvYFtE4rUgQvojdgVxPASuF8rOKhmpcMXiaT/s6000/1000141079.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="4004" data-original-width="6000" height="268" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbDLWUcx8X_QwzjUsQ-rarUm6uN5SDn9EalEgcdFVznulFTDkCF3xxzPPrTkWE91abk3aH5aUWKGO2ZBZYcodZaeSImEOOrWYK-qbg900wncxmxlwMgH21-dA52h6uqeFbUC0EGfNLP_-sEtVV0KhBjq9ByvYFtE4rUgQvojdgVxPASuF8rOKhmpcMXiaT/w400-h268/1000141079.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Sebelum kita membahas tentang hikmah wudhu, kita perlu memahami bahwa wudhu bukan hanya sekadar membasuh anggota tubuh sebelum melaksanakan salat. Wudhu merupakan salah satu bentuk bersuci yang mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan, kesucian, dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anggota tubuh yang dibasuh ketika wudhu memiliki hikmah dan manfaat tersendiri. Oleh karena itu, melalui pembahasan ini kita akan memahami mengapa anggota tubuh tertentu dibersihkan saat wudhu dan apa hikmah yang dapat kita ambil dari pelaksanaannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Wudhu memiliki urutan tertentu&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;wudhu bukan sekadar membasuh tubuh secara umum. Ada urutan dalam membersihkan anggota tubuh, dan setiap bagian mempunyai alasan atau hikmahnya. Disebutkan bahwa secara umum mandi membersihkan seluruh tubuh, sedangkan wudhu memberikan perhatian khusus kepada anggota-anggota tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Mengapa tangan dibersihkan terlebih dahulu?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia menggunakan tangan untuk berbagai aktivitas, seperti:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;menyentuh benda, mengambil makanan, memegang berbagai macam barang. Karena tangan paling sering bersentuhan dengan benda-benda, maka tangan dibersihkan terlebih dahulu agar kotoran yang mungkin menempel tidak berpindah ke anggota tubuh lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Kemudian berkumur&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah tangan, dilakukan berkumur.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hikmahnya adalah karena mulut dapat menyimpan: sisa-sisa makanan, bau,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;kotoran yang berasal dari dalam mulut.Berkumur membantu membersihkan bagian dalam mulut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Membersihkan hidung&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berikutnya adalah membersihkan hidung dengan air.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hidung menjadi tempat masuknya udara, sehingga dapat terdapat debu atau kotoran yang terbawa oleh udara. Karena itu, hidung juga harus dibersihkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5. Membasuh wajah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu wajah dibasuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wajah merupakan bagian tubuh yang sangat terlihat dan sering terkena debu, keringat, serta berbagai kotoran dari lingkungan.Karena itu, wajah dibersihkan sebelum melanjutkan ke anggota tubuh berikutnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;6. Mengapa kepala dibersihkan?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian kepala dibersihkan dengan mengusap kepala.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada penjelasan bahwa kepala bisa terkena keringat dan kotoran, tetapi tidak diperintahkan untuk mencucinya seperti mencuci wajah atau tangan. Dalam wudhu cukup dilakukan mengusap kepala.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi, bagian ini juga menunjukkan bahwa setiap anggota wudhu memiliki cara pembersihan yang berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;7. Kemudian telinga&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah kepala, telinga juga dibersihkan dengan mengusapnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tujuannya adalah membersihkan kotoran yang mungkin ada pada bagian telinga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;8. Terakhir membasuh kaki&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian kaki dibasuh dengan air.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kaki sering bersentuhan langsung dengan tanah, lantai, sandal atau sepatu sehingga dapat terkena kotoran. Karena itu, kaki juga menjadi bagian yang dibersihkan dalam wudhu. Begitu juga dalam membasuh kaki ada hal yang harus di lakukan yaitu menyela sela jari kaki. Di antara jari-jari kaki terdapat bagian yang sempit dan sering lembap. Keringat dan kotoran dapat berkumpul di sana, terutama jika kaki sering menggunakan sepatu atau tertutup dalam waktu lama.Karena itu, ketika berwudhu, air sebaiknya mengenai seluruh bagian kaki, termasuk sela-sela jari kaki.Tujuannya agar tidak hanya bagian luar kaki yang terkena air, tetapi bagian-bagian yang tersembunyi juga ikut bersih.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan sederhananya&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wudhu memiliki hikmah untuk menjaga kebersihan tubuh sekaligus mempersiapkan seseorang untuk beribadah. Membasuh kaki sampai mata kaki sangat penting karena kaki merupakan bagian tubuh yang mudah terkena debu dan kotoran. Sela-sela jari kaki juga perlu dibersihkan karena dapat menjadi tempat berkumpulnya keringat dan kotoran. Dengan wudhu, seseorang tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga merasa lebih segar dan siap melaksanakan ibadah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ref: hikmatutasyri’ wal falasafah hal:32 , cet: DKI&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbDLWUcx8X_QwzjUsQ-rarUm6uN5SDn9EalEgcdFVznulFTDkCF3xxzPPrTkWE91abk3aH5aUWKGO2ZBZYcodZaeSImEOOrWYK-qbg900wncxmxlwMgH21-dA52h6uqeFbUC0EGfNLP_-sEtVV0KhBjq9ByvYFtE4rUgQvojdgVxPASuF8rOKhmpcMXiaT/s72-w400-h268-c/1000141079.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Keabsahan Tiktok Affiliate Dalam Perspektif Fiqih Muamalah </title><link>https://lbm.mudimesra.com/2026/08/keabsahan-tiktok-affiliate-dalam.html</link><category>Fiqh</category><category>hukum</category><author>noreply@blogger.com (http://lbm.mudimesra.com/)</author><pubDate>Sat, 22 Aug 2026 16:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1946228574744432461.post-4991012642725862370</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoPH9ANbKnf7Viz-PQY1Lnq3xxETn6emth1CSc_1HQ7no_hT4b1xYtRsCV6LWiNjhRCGCQiQHMuniJlnSJh4E-IP1rKTtL81m-GUXtfMsfl_RmNjLY8Rx7YeU3ehfcWifjxvacHPhhSHTXWcdtsAoG1aCPO3fp8soid8aDI00nVCe2ObkaWnoJwySgk2sx/s626/1000141784.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="626" data-original-width="626" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoPH9ANbKnf7Viz-PQY1Lnq3xxETn6emth1CSc_1HQ7no_hT4b1xYtRsCV6LWiNjhRCGCQiQHMuniJlnSJh4E-IP1rKTtL81m-GUXtfMsfl_RmNjLY8Rx7YeU3ehfcWifjxvacHPhhSHTXWcdtsAoG1aCPO3fp8soid8aDI00nVCe2ObkaWnoJwySgk2sx/w400-h400/1000141784.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;A.	Deskripsi Masalah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Affiliate Program adalah salah satu sistem bisnis dengan jenis pemasaran produk pada transaksi jual beli online yang muncul baru-baru ini. Affiliate Program ini mempermudah individu yang terlibat dalam bisnis tanpa memerlukan modal awal, dimana para affiliator tidak perlu menyimpan stok barang, mereka hanya memiliki tugas untuk memasarkan produk dengan menyajikan konten berupa foto, video yang orisinal atau tautan pembelian kepada konsumen. Melalui kreativitas affiliator, mereka membuat konten foto atau video promosi produk, apabila konsumen tertarik untuk melakukan transaksi pembelian maka mereka dapat mengklik opsi keranjang kuning atau tautan pembelian, dan transaksi akan dilanjutkan. Kemudian setelah melakukan pembelian barang pesanan pembeli akan langsung dikirim oleh penjual. Meski sistem kerja seorang affiliator hanya mempromosikan barang dengan cara tersebut affiliator tetap mendapatkan komisi dari pihak ketiga yakni penjual sebab konsumen membeli melalui link atau keranjang yang disediakan oleh affiliator tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lebih jelasnya, pihak pertama atau penjual barang menyediakan barang di marketplace, yang sudah memiliki tautan link atau sudah terdaftar di keranjang pembelian. Kemudian, afiliator mempublikasikan konten berupa video atau foto yang di tautkan link barang dari toko-toko terntentu. Jika afiliator berhasil menarik konsumen untuk membeli, afiliator akan mendapatkan komisi dari harga jual, yang mana harga jual ini tidak menentu dan tergantung pada akun yang membelinya. Sebagai contoh Sebagian akun bisa mendapatkan vocher yang di sediakan oleh pihak tiktok sehingga harga yang di dapatnya lebih murah dari yang ditetapkan oleh penjual, otomatis persen yang di dapat oleh aviliator sudah berbeda dari yang ditetapkan oleh penjual. Karena demikian persen yang di dapat oleh aviliator tidak maklum.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Istilah-istilah dalam tiktok affiliate:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1.	Affiliator, merupakan affiliate marketer atau kamu sebagai TikTok user yang telah bergabung di program TikTok Affiliate untuk mempromosikan produk yang ada di TikTok Shop atau merchant.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2.	Merchant, merupakan mereka yang menjual produknya di TikTok Shop.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3.	Affiliate Network, merupakan perantara yang ada di antara affiliator dan pihak merchant.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4.	Customer, merupakan TikTok user yang membuka tautan produk dan membelinya dari affiliator.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Praktek transaksi affiliate justru menimbulkan tanda tanya baru bagi kita mengenai dengan mekanismenya apakah sudah relavan dengan ketentuan fiqih muamalah?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;B. Rumusan Masalah&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Bagaimana status akad dalam TikTok Affiliate?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Bagaimana hukum memperoleh komisi dari TikTok Affiliate?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;C. Jawaban&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Status Akad TikTok Affiliate&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akad yang terjadi dalam TikTok Affiliate termasuk dalam kategori akad ju’alah Fasid, Berikut penjelasannya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;a.  Ja’il (Pemberi Imbalan)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syarat seorang ja’il adalah memiliki hak penuh terhadap harta yang dimilikinya (memiliki tasharruf muthlaq artinya ia sudah baligh berakal dan bukan mahjur 'alaih) dan tidak berada dalam kondisi terpaksa. Dalam konteks TikTok Affiliate, pemilik produk bertindak sebagai ja’il. Umumnya, pemilik produk telah memenuhi syarat sebagai ja’il, yaitu orang yang sudah baligh, berakal (mukallaf), dan secara sadar serta bebas membuat tawaran imbalan kepada siapa saja yang bersedia memasarkan produknya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;b. ‘Amil (Pekerja/Pelaksana)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syarat seorang ‘amil adalah mengetahui dan memahami adanya komitmen dari pihak ja’il terhadap suatu pekerjaan tertentu. Dalam TikTok Affiliate, para afiliator (‘amil) telah memahami bahwa jika mereka berhasil menjual produk melalui tautan afiliasi mereka, maka mereka akan memperoleh komisi tertentu. Ini menunjukkan adanya kesadaran terhadap komitmen tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;c. Shighat (Lafal Penawaran Akad)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam ju’alah, cukup adanya ijab (penawaran) dari ja’il, dan tidak disyaratkan adanya qabul (penerimaan) secara eksplisit dari ‘amil. Dalam kasus TikTok Affiliate, bentuk ijab adalah pernyataan dari pemilik produk, misalnya: “Siapa saja yang berhasil menjual produk ini akan mendapatkan komisi sebesar Rp10.000. maka supaya aqad tersebut jelas sah sipenjual produk harus mengucapkannya terlebih dahulu sebelum barangnya dipasarkan oleh affiliator. Ini sudah cukup sebagai shighat ju’alah yang sah, dan tidak perlu ada ucapan atau tanda persetujuan dari afiliator sebab dalam akad ju'alah tidak disyaratkan Qabul dari pihak amil. Jika ada afiliator yang kemudian memasarkan produk tersebut, berarti secara otomatis ia telah menyetujui akad itu melalui perbuatannya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;d. Imbalan&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syarat imbalan dalam ju’alah sama seperti syarat harga dalam jual beli, yaitu harus jelas (diketahui) dan memiliki nilai. Dalam TikTok Affiliate, besar imbalan atau komisi tidak jelas diketahui (tidak Maklum) karena berdasarkan klausul dari Affiliate persentase atau komisi diberikan kepada Affiliator dari harga chek out (harga jual) bukan harga yang di tetapkan penjual. Harga chek out berbeda-beda tergantung akun yang memebeli, salah satunya karena berbeda voucher yang di dapatkan oleh pembeli.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan penjelasan di atas, ada satu rukun yang tidak terpenuhi dalam kriteria ju’alah yaitu komisinya tidak maklum, karena demikian praktik Affiliate Tiktok di kategorikan kedalam ju’alah fasid.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Hukum Memperoleh Komisi dari TikTok Affiliate&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hukum memperoleh komisi dari TikTok Affiliate adalah boleh (Halal) karena komisi tersebut diperoleh berdasarkan pekerjaan yang layak diberikan imbalan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;B.	Nas terkait rumusan masalah diatas:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1.     Hasyiah Qulyubi, Ahmad Salamah al-Qulyubi, Juz. 3. hal. 131 cet. Dar al-Fikri Beirut&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;كِتَابُ الْجَعَالَةِ هِيَ كَالْجُعْلِ وَالْجُعْلِيَّةُ لُغَةً اسْمٌ لِمَا يُجْعَلُ لِلْإِنْسَانِ عَلَى فِعْلِ شَيْءٍ، وَشَرْعًا الْتِزَامُ عِوَضٍ مَعْلُومٍ عَلَى عَمَلٍ فِيهِ كُلْفَةٌ، وَلَوْ غَيْرَ مُعَيَّنٍ، وَأَصْلُهَا مَا رُوِيَ أَنَّ «أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَقَى مَلْدُوغًا بِعَقْرَبٍ بِالْفَاتِحَةِ عَلَى قَطِيعٍ ثَلَاثِينَ رَأْسًا مِنْ الْغَنَمِ وَأَقَرَّهُ ﷺ عَلَى ذَلِكَ» وَهِيَ كَالْإِجَارَةِ إلَّا فِي أَرْبَعَةِ أُمُورٍ جَوَازُهَا وَصِحَّتُهَا مَعَ غَيْرِ مُعَيَّنٍ، وَعَلَى عَمَلٍ مَجْهُولٍ وَتَوَقُّفُ اسْتِحْقَاقِ الْعِوَضِ فِيهَا عَلَى فَرَاغِ الْعَمَلِ وَبَقِيَ أَمْرٌ خَامِسٌ وَهُوَ عَدَمُ قَبُولِ الْعَامِلِ، وَسَادِسٌ وَهُوَ جَهْلُ الْعِوَضِ، وَسَابِعٌ وَهُوَ سُقُوطُ كُلِّ الْعِوَضِ بِفَسْخِ الْعَامِلِ، وَلِذَلِكَ ذَكَرَهَا بَعْضُهُمْ عَقِبَ الْإِجَارَةِ، وَاخْتَارَ الْمُصَنِّفُ ذِكْرَهَا هُنَا، لِأَنَّ فِيهَا طَلَبَ ضَائِعٍ كَاللَّقِيطِ وَاللُّقَطَةِ. قَوْلُهُ: (بِكَسْرِ الْجِيمِ) عَلَى الْأَفْصَحِ وَيَجُوزُ الْفَتْحُ وَالضَّمُّ وَجَمْعُهَا جَعَائِلُ. قَوْلُهُ: (هِيَ كَقَوْلِهِ) أَيْ الْمَالِكِ وَلَوْ شَرِيكًا بِنَفْسِهِ أَوْ وَكِيلِهِ أَوْ وَلِيِّهِ، وَكَذَا الْأَجْنَبِيُّ، كَمَا يَأْتِي وَمِنْ ذَلِكَ تَعْلَمُ أَنَّ أَرْكَانَهَا أَرْبَعَةٌ أَوْ خَمْسَةٌ وَهِيَ الْعَاقِدُ وَالْعَمَلُ وَالْعِوَضُ وَالصِّيغَةُ.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;2.     Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Muhammad Najib al-Muthi’I, Juz.14, hal. 178 Cet. Dar al-Fikri Beirut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;وقد ذكرنا أن الوكالة تجوز بجعل وبغير جعل، ولا يصح الجعل إلا أن يكون معلوما، فلو قال: قد وكلتك في بيع هذا الثوب على أن جعلك عشر ثمنه أو من كل مائة درهم من ثمنه درهم لم يصح للجهل بمبلغ الثمن وله أجرة مثله، فلو وكله في بيع كتاب بأجر معلوم فباعه بيعا فاسدا فلا جعل له، لان مطلق الاذن بالبيع يقتضى ما صح منه، فصار الفاسد غير مأذون فيه فلم يستحق جعلا عليه، فلو باعه بيعا صحيحا وقبض ثمنه، وتلف الثمن في يده فله الاجرة لوجود العمل، وهذا بخلاف الصانع إذا استؤجر عليه حياكة ثوب أو تجليد .كتاب فتلف الثوب أو الكتاب في يده بعد عمله، فلا أجرة له إن كان مشتركا&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;3.     Hasyiah Jamal, Sulaiman bin Umar bon Mashur al-‘Ajili, Juz. 3, hal. 408 Cet. Dar al-Fikri Beirut&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;(فَصْلٌ) فِيمَا يَجِبُ عَلَى الْوَكِيلِ فِي الْوَكَالَةِ الْمُطْلَقَةِ وَالْمُقَيَّدَةِ بِالْبَيْعِ بِأَجَلٍ، وَمَا يُذْكَرُ مَعَهُمَا (الْوَكِيلُ بِالْبَيْعِ مُطْلَقًا) أَيْ تَوْكِيلًا غَيْرَ مُقَيَّدٍ بِشَيْءٍ (كَالشَّرِيكِ) فِيمَا مَرَّ (فَلَا يَبِيعُ بِثَمَنِ مِثْلٍ وَثَمَّ رَاغِبٌ بِأَزْيَدَ)، وَلَا بِبَيْعِ نَسِيئَةٍ، وَلَا بِغَيْرِ نَقْدِ بَلَدِ الْبَيْعِ نَعَمْ إنْ سَافَرَ بِمَا وُكِّلَ فِي بَيْعِهِ إلَى بَلَدٍ بِلَا إذْنٍ وَبَاعَهُ فِيهَا اُعْتُبِرَ نَقْدُ بَلَدٍ حَقُّهُ أَنْ يَبِيعَ فِيهَا بِهِ (وَ) لَا (بِغَبْنٍ فَاحِشٍ) بِأَنْ لَا يُحْتَمَلَ غَالِبًا بِخِلَافِ الْيَسِيرِ، وَهُوَ مَا يُحْتَمَلُ غَالِبًا فَيُغْتَفَرُ فَبَيْعُ مَا يُسَاوِي عَشَرَةً بِتِسْعَةٍ مُحْتَمَلٌ وَبِثَمَانِيَةٍ غَيْرُ مُحْتَمَلٍ، وَقَوْلِي كَالشَّرِيكِ إلَى آخِرِهِ أَوْلَى مِمَّا عَبَّرَ بِهِ (قَوْلُهُ: أَيْ تَوْكِيلًا إلَخْ) أَشَارَ بِهِ إلَى أَنَّ مُطْلَقًا صِفَةٌ لِمَصْدَرٍ مَحْذُوفٍ، وَيَصِحُّ كَوْنُهُ حَالًا مِنْ الْبَيْعِ وَالْمُرَادُ التَّنْبِيهُ عَلَى أَنَّ مُطْلَقًا بَيَانٌ لِلْوَاقِعِ، وَلَيْسَ مِنْ لَفْظِ الْمُوَكِّلِ، وَلَوْ تَلَفَّظَ بِهِ مُوَكِّلُهُ فَالظَّاهِرُ أَنَّ لِلْوَكِيلِ التَّصَرُّفَ عَلَى مَا يُرِيدُ، وَإِنْ خَالَفَ غَرَضَ الْمُوَكِّلِ فَرَاجِعْهُ اهـ. ق ل عَلَى الْجَلَالِ. (قَوْلُهُ: غَيْرَ مُقَيَّدٍ بِشَيْءٍ) أَيْ مِنْ أَجَلٍ أَوْ مُشْتَرٍ أَوْ ثَمَنٍ أَوْ زَمَنٍ أَوْ مَكَان أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ كَمَا يَأْتِي فِي الْفَصْلِ الْآتِي.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4.     Abu Zakaria bin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Juz. 5, hal. 178, Cet. Dar al-Kutub al-Islami Beirut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;الثَّالِثَةُ: اسْتِئْجَارُ الْبَيَّاعِ عَلَى كَلِمَةِ الْبَيْعِ، أَوْ كَلِمَةٍ يُرَوِّجُ بِهَا السِّلْعَةَ وَلَا تَعَبَ فِيهَا، بَاطِلٌ، إِذْ لَا قِيمَةَ لَهَا. قَالَ الْإِمَامُ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى: هَذَا فِي مَبِيعٍ مُسْتَقِرِّ الْقِيمَةِ فِي الْبَلَدِ، كَالْخُبْزِ وَاللَّحْمِ. أَمَّا الثِّيَابُ وَالْعَبِيدُ، وَمَا يَخْتَلِفُ قَدْرُ الثَّمَنِ فِيهِ بِاخْتِلَافِ الْمُتَعَاقِدَيْنِ، فَيَخْتَصُّ بَيْعُهَا مِنَ الْبَيَّاعِ، لِمَزِيدِ مَنْفَعَةٍ وَفَائِدَةٍ، فَيَجُوزُ الِاسْتِئْجَارُ عَلَيْهِ. ثُمَّ إِذَا لَمْ يَجُزِ الِاسْتِئْجَارُ، وَلَمْ يَتْعَبِ الْبَيَّاعُ، فَلَا شَيْءَ لَهُ. وَإِنْ تَعِبَ بِكَثْرَةِ التَّرَدُّدِ، أَوْ كَثْرَةِ الْكَلَامِ فِي أَمْرِ الْمُعَامَلَةِ، فَلَهُ أُجْرَةُ الْمِثْلِ، لَا مَا تَوَاطَأَ عَلَيْهِ الْبَيَّاعُونَ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;5.     Imam Abul Qosim Abdul Karim bin Muhammad bin Abdil Karim Ar-Rofii Al-Qozwini, Al-Azīz Syarh Al-Wajīz, jld. 6, dki, h.195-199&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;وَأَرْكَانُهَا أَرْبَعَةٌ : الأَوَّلُ : الصِّيغَةُ الدَّالَّة عَلَى الْإِذْنِ فِي الرَّدُ بِشَرْطِ عِوَضِ، فَلَوْ رَدَّ إِنْسَانُ ابْتِدَاءً فَهُوَ مُتَبَرِّعُ فَلَا شَيْءَ لَهُ (حم) ، وَكَذَا إِذَا رَدَّ مَنْ لَمْ يَسْمَعْ نِدَاءَهُ فَإِنَّهُ قَصَدَ التَّبَرُّعَ، وَإِذَا كَذَّبَ الفُضُولِيَّ وَقَالَ : قال فُلاَنٌ مَنْ رَدَّ فَلَهُ دِرْهَمْ فَلَا يَسْتَحِقُّ الرَّادُّ عَلَى المَالِكِ وَلَا عَلَى الفُضُولِي لِأَنَّهُ لَمْ يَضْمَنْ ، وَإِنْ قَالَ الفُضُولِي : مَنْ رَدَّ عَبْدَ فُلَانٍ فَلَهُ دِرْهَمْ لَزِمَهُ لِأَنَّهُ ضَامِنُ . الثَّانِي : العَاقِدُ. وَشَرْطُهُ أَهْلِيَّةُ الْإِجَارَةِ، وَلَا يُشْتَرَطُ تَعِيينُ العَامِلِ لِمَصْلَحَةِ العَقْدِ وَكَذَلِكَ لَا يُشْتَرَطُ القَبُولُ (و) قطعاً الثَّالِثُ : العَمَلُ وَهُوَ كُلُّ مَا يُسْتَأْجَرُ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ مَجْهُولًا فَإِنَّ مَسَافَةَ رَدَّ العَبْدِ قَدْ لَا تُعْرَفُ الرَّابِعُ : الجُعْلُ وَشَرْطُ أَنْ يَكُونَ مَعْلُوماً مُقَدَّراً كَالْأُجْرَةِ&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;6.     Imam al-Bakri al-Dimyathi, I’anatutthalibin J.3 Hal.146 Cet. Darul fikri&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;إذ الجعالة لا تخالف الإجارة إلا في خمسة أحكام، أحدها صحتها على عمل مجهول عسر علمه، كرد الضالة والآبق، فإن لم يعسر علمه، اعتبر ضبطه، كما سيأتي، إذ لا حاجة إلى احتمال الجهل حينئذ. ثانيها: صحتها مع غير معين، كأن يقول من رد ضالتي فله علي كذا. ثالثها: كونها جائزة من الطرفين، طرف الجاعل، وطرف العامل. رابعها: العامل لا يستحق الجعالة إلا بعد تمام العمل. خامسها: عدم اشتراط القبول، ومنهم من ذكرها عقب اللقطة، وهم الجمهور، وتبعهم النووي في منهاجه، نظرا إلى ما فيها من التقاط الضالة&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;7.     Hasyiah al-qalyubiy J.3 Hal.104 Cet. DKI&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;قوله: (ويشترط كون الأجرة معلومة) جنسا وقدرا وصفة ويكفي رؤيتها في المعينة والعبرة فيها بنقد البلد وقت العقد وفي أجرة المثل بوقت تلف المنفعة، نعم يصح الاستئجار للحج بالرزق توسعة فيه وفي الروض أنه ليس إجارة، وإنما هو نوع من التراضي وجوز مالك وأحمد الإجارة بالنفقة أو الكسوة، ويحمل على الوسط فيهما&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;8.     Hasyiah al-Bajuriy J. 3 Hal. 115-116 Cet. Dar al-Minhaj&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;الأول : العاقد : وهو ملتزم للعوض ولو غير المالك ، وشرط فيه : اختيار ، وإطلاق تصرف ؛ فلا يصح التزام مكره ، وصبي ، ومجنون ، ومحجور سفه . و عامل : وشرط فيه - ولو غير معين - : علمه بالالتزام ، فلو قال : إن رد أبقي زيد ... فله كذا ، فرده غير عالم بذلك .. لم يستحق شيئاً ، أو من رد آبقي .. فله كذا ، فرده من لم يعلم بذلك .. لم يستحق شيئاً ، والمثال الأول : للمعين ، والثاني : لغير المعين . وشرط فيه إذا كان معيناً : أهلية العمل ؛ فيصح ممن هو أهل له ولو عبداً وصبياً ومجنوناً ومحجور سفه ، بخلاف صغير لا يقدر على العمل ؛ لأن منفعته معدومة ، فالجعالة معه كاستئجار أعمى للحفظ .والثاني : الصيغة : وهي من طرف الجاعل لا العامل ، فلا يشترط له صيغة ؛ ولذلك تقدم أنه لا يشترط فيها قبول (۱) ، وشرطها : عدم التأقيت ؛ لأن التأقيت قد يفوت الغرض . ولا فرق في الجاعل بين أن يكون جاعلاً على نفسه ، وأن يكون مخبراً عن غيره ، إن كان صادقاً وكان ثقة ، فإن كان كاذباً .. فلا شيء له ؛ لعدم الالتزام ، وكذا إن كان غير ثقة ؛ كما لو رد عبد زيد غير عالم بإذنه والتزامه ، إلا أن يعتقد الراد صدقه ؛ كما استظهره ابن قاسم (۲) والثالث : الجعل : وشرط فيه ما شرط في الثمن ؛ فما لا يصح ثمناً ؛ لكونه مجهولاً أو نجساً .. لا يصح جعله جعلاً ، ويستحق العامل أجرة المثل في المجهول والنجس المقصود ؛ كخمر وجلد ميتة ، فإن لم يكن مقصوداً ؛ كدم .. فلا شيء للعامل . والرابع : العمل : وشرط فيه : كلفة ، وعدم تعينه ؛ فلا جعل فيما لا كلفة فيه ؛ كأن قال : من دلني على مالي .. فله كذا ، فدله عليه وهو بيد غيره ولا كلفة ، ولا فيما تعين ؛ كأن قال : من رد مالي .. فله كذا ، فرده من تعين عليه لنحو غصب ؛ لأن ما لا كلفة فيه وما تعين عليه شرعاً .. لا يقابلان بعوض ، ولو حبس ظلماً فبذل مالاً لمن يخلصه بجاهه أو غيره ؛ كعلمه وولايته .. جاز ؛ لأن عدم التعين صادق بكون العمل فرض كفاية&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;9.     Asna al-Mathalib J. 2 Hal. 440 Cet. Dar al-Kitab al-Islami&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;(وَإِنْ جَعَلَ لِمَنْ دَلَّهُ عَلَيْهِ) جُعْلًا (فَدَلَّهُ عَلَيْهِ اسْتَحَقَّ) الْجُعْلَ لِأَنَّ الْغَالِبَ أَنَّهُ تَلْحَقُهُ مَشَقَّةٌ بِالْبَحْثِ عَنْهُ (لَا إنْ كَانَ فِي يَدِهِ) أَيْ يَدِ مَنْ دَلَّ عَلَيْهِ فَلَا يَسْتَحِقُّ. (قَوْلُهُ: لِأَنَّ الْغَالِبَ أَنْ تَلْحَقَهُ مَشَقَّةٌ بِالْبَحْثِ عَنْهُ) قَالَ الْأَذْرَعِيُّ كَالسُّبْكِيِّ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ هَذَا فِيمَا إذَا بَحَثَ عَنْهُ  بَعْدَ جَعْلِ الْمَالِكِ أَمَّا الْبَحْثُ السَّابِقُ وَالْمَشَقَّةُ السَّابِقَةُ قَبْلَ الْجُعْلِ فَلَا عِبْرَةَ بِهِمَا. اهـ. وَفِي الْكَافِي لِلْخُوَارِزْمِيِّ لَوْ قَالَ مَنْ دَلَّنِي عَلَى ضَالَّتِي فَلَهُ دِينَارٌ فَدَلَّهُ رَجُلٌ دَلَالَةً يَحْتَاجُ فِي ذَلِكَ إلَى مُؤْنَةٍ وَتَعَبٍ يَسْتَحِقُّ الْمُسَمَّى وَإِنْ كَانَ لَا يَحْتَاجُ لَا يَسْتَحِقُّ شَيْئًا وَلَوْ قَالَ أَحَدُ شَرِيكَيْنِ فِي رَقِيقٍ مَنْ رَدَّ رَقِيقِي فَلَهُ كَذَا فَرَدَّهُ شَرِيكُهُ فِيهِ اسْتَحَقَّ الْجُعْلَ&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoPH9ANbKnf7Viz-PQY1Lnq3xxETn6emth1CSc_1HQ7no_hT4b1xYtRsCV6LWiNjhRCGCQiQHMuniJlnSJh4E-IP1rKTtL81m-GUXtfMsfl_RmNjLY8Rx7YeU3ehfcWifjxvacHPhhSHTXWcdtsAoG1aCPO3fp8soid8aDI00nVCe2ObkaWnoJwySgk2sx/s72-w400-h400-c/1000141784.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item></channel></rss>