<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-31177162</atom:id><lastBuildDate>Sun, 08 Mar 2026 08:24:01 +0000</lastBuildDate><title>Http://lintangs.blogspot.com</title><description>Bahasa yang dipergunakan tanpa mempertaruhkan diri ialah bahasa yang merupakan langkah termudah untuk diduga. Sebuah bahasa otomatis bukan saja mencerminkan kebekuan berpikir dan mati, ia juga menyebabkan kebekuan itu. Kita beruntung memiliki sebuah sastra yang sanggup mencairkan kebekuan itu.salam sastra...</description><link>http://lintangs.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Bahasa yang dipergunakan tanpa mempertaruhkan diri ialah bahasa yang merupakan langkah termudah untuk diduga. Sebuah bahasa otomatis bukan saja mencerminkan kebekuan berpikir dan mati, ia juga menyebabkan kebekuan itu. Kita beruntung memiliki sebuah sastr</itunes:subtitle><itunes:category text="Education"/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-7445804095028930505</guid><pubDate>Thu, 01 Apr 2010 07:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-27T23:06:18.826+07:00</atom:updated><title>BENARKAH?</title><description>
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;iframe allowfullscreen='allowfullscreen' webkitallowfullscreen='webkitallowfullscreen' mozallowfullscreen='mozallowfullscreen' width='320' height='266' src='https://www.blogger.com/video.g?token=AD6v5dzvCkQSQuqU_3fP5LrqjldAU56si6nUkS6O2xMcl8Icf21mpFvoKXRHgl7m3-0-OtELOVF9vjJxP3Q' class='b-hbp-video b-uploaded' frameborder='0'&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/04/benarkah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-790974298958252095</guid><pubDate>Thu, 01 Apr 2010 06:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-27T23:06:50.085+07:00</atom:updated><title>MEREKA ADALAH BAGIAN DARI KITA. LALU....?</title><description>&lt;iframe allowfullscreen='allowfullscreen' webkitallowfullscreen='webkitallowfullscreen' mozallowfullscreen='mozallowfullscreen' width='320' height='266' src='https://www.blogger.com/video.g?token=AD6v5dwnmbWHV3bjtVhjUyvv1LVHQ5XEKK1KafY16LZ-wWqdxyecHLVVBZoGCtIcfc0qI3f-c5adsev77RI' class='b-hbp-video b-uploaded' frameborder='0'&gt;&lt;/iframe&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/04/mereka-adalah-bagian-dari-kita-lalu.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-7430852277966070034</guid><pubDate>Wed, 31 Mar 2010 19:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-01T02:02:51.937+07:00</atom:updated><title>Panglima Abio adalah gambar hidup ayahku</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7OcJe9CIXI/AAAAAAAAAFk/bJ3HAmdAiOQ/s1600/bersama+Panglima+Abio.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7OcJe9CIXI/AAAAAAAAAFk/bJ3HAmdAiOQ/s320/bersama+Panglima+Abio.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454875260417614194" /&gt;&lt;/a&gt;PERTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ingin segera mengungkapkan rindu, aku bersama teman-teman segera menempuh perjalan panjang untuk menuju ke rumah Panglima Abio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Abio adalah seorang pejuang di Kalimantan Barat. Ia memiliki keberanian yang sangat luar biasa pada saat perang pada masa konfrontasi dengan Malaysia dan saat Indonesia menghadapi Parako (Partai Komunis China di perbatasan Serawak). Panglima Abio bertugas di sekitar Entikong sampai Suruh Tembawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai veteran, rupanya tak lagi mendapat pensiun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagai ”pahlawan”, sebagai teladan yang sejak muda mengobarkan nasionalisme, keadaan sepahit apapun dalam kenyataan hidup, ia tak pernah mengeluh. Bekas Kepala Desa Punti Tapou—saat ia muda—itu tak mengeluh untuk dirinya sendiri. ”Buat apa meminta. Rasanya Ema (Kakek) malu,” katanya. Ia selalu tertawa menghadapi kesulitan apapun, dengan wajahnya yang selalu memerah dipenuhi kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Punti Tapao, Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat, dimana Panglima Abio tinggal, adalah sebuah kampung yang dipenuhi babi, anjing, dan ayam yang berkeliaran di jalan-jalan, dengan prasarana desa yang jauh di bawah standar. Menuju ke sana, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki turun-naik gunung terjal, melewati jembatan yang hampir runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bertemu dengannya, aku hampir menangis. Wajah dan senyumnya, mengingatkan seorang lelaki yang telah meninggal sepuluh tahun lalu, tanpa sepengetahuanku. Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/04/panglima-abio-adalah-gambar-hidup.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://1.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7OcJe9CIXI/AAAAAAAAAFk/bJ3HAmdAiOQ/s72-c/bersama+Panglima+Abio.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-2169124530287683474</guid><pubDate>Wed, 31 Mar 2010 18:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-01T01:59:18.853+07:00</atom:updated><title>SEPATU LADANGKU BUATAN MALAYSIA</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7Oa8keEOPI/AAAAAAAAAFc/k4IC6-MIJYM/s1600/di+perjalan+menuju+rumah+panglima+Abio.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7Oa8keEOPI/AAAAAAAAAFc/k4IC6-MIJYM/s320/di+perjalan+menuju+rumah+panglima+Abio.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454873939048413426" /&gt;&lt;/a&gt;KEDUA&lt;br /&gt;Sepanjang perjalan menuju ke rumah Panglima Abio, tanganku tak pernah lepas dari genggaman Mbak Cahya. Kami saling bergandengan, dan selalu mencari dataran jalan yang di tumbuhi rerumputan, agar tak tergelincir, karena sepanjang jalan sangat licin, akibat hujan yang mengguyur deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pemandangan yang mempesona di sekitarku seperti memberi semangat agar aku dapat meneruskan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah warung, kami berhenti, dan aku membeli sepatu ladang, seperti yang di sarankan oleh banyak orang. Saat ngobrol di warung itu, diam-diam aku mencatat rak toko itu penuh dengan barang produksi Malaysia. Elpiji dalam tabung warna hijau-coklat ukuran 15 kilogram, air mineral, gula pasir, sepatu bot karet, berjenis minuman kaleng, sampai bir. Bahkan, helm motor dan sepatu ladang yang telah kupakai adalah buatan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7OavnbBB-I/AAAAAAAAAFU/WYgDLbyOVpo/s1600/rumah1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7OavnbBB-I/AAAAAAAAAFU/WYgDLbyOVpo/s320/rumah1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454873716502628322" /&gt;&lt;/a&gt;Di depan warung, hujan mengguyur kian deras. Terlihat beberapa orang desa mulai pulang dari mencari nafkah di sungai atau membakar hutan untuk berladang. Mereka tersenyum ke arah saya, seolah ingin memberitahu bahwa hati mereka selalu ringan berada di pilihan hidup yang pelik, untuk tinggal di area perbatasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/04/kedua-sepanjang-perjalan-menuju-ke.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://4.bp.blogspot.com/_kjIhcM0hFJw/S7Oa8keEOPI/AAAAAAAAAFc/k4IC6-MIJYM/s72-c/di+perjalan+menuju+rumah+panglima+Abio.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-17167621200757409</guid><pubDate>Thu, 25 Mar 2010 20:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-05-08T15:43:16.862+07:00</atom:updated><title>Ainadilah</title><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/1600/Picture%20152.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 257px; CURSOR: hand; HEIGHT: 196px" height="240" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/320/Picture%20152.0.jpg" width="305" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ainadilah…&lt;br /&gt;Disini embun dapat bercerita tentang perbincangan atap-atap rumah dan matahari esok pagi.&lt;br /&gt;Panas sekali, ozon telah terkorupsi, begitu selalu bisiknya.&lt;br /&gt;Embun itu dengan benar menceritakan tentang sekerat roti dimeja tuan besar, yang selalu merintih semalaman mengenang nasibnya, sebab basi tak tersentuh. Tetapi sekarung jagung disudut desa yang jauh barangkali lebih berarti didalam perut para petani.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ainadilah…&lt;br /&gt;Disini embun pun dapat bercerita tentang sekelompok bocah di tepi Aceh atau di sudut-sudut Jogja, bahkan di tengah-tengah lumpur panas Sidoarjo&lt;br /&gt;Mereka bertanya, kemana ibu kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu Ainadilah,&lt;br /&gt;embun itu menjawab atas nama bumi yang seketika menjadi yatim piatu, bahwa ibu mereka telah menjelma menjadi kembang-kembang ungu yang menyalip awan-awan kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ainadilah…&lt;br /&gt;Dimanapun kau, tersenyumlah…&lt;br /&gt;Sebab disini aku menyaksikan embun itu tak memiliki usia yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Lintang Sugianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/03/ainadilah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-1516310259812940598</guid><pubDate>Thu, 25 Mar 2010 20:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-26T03:01:30.438+07:00</atom:updated><title>Ia, Sulastri</title><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/1600/Picture%20146.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 231px; CURSOR: hand; HEIGHT: 205px" height="231" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/320/Picture%20146.jpg" width="308" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tak satupun mampu bersembunyi di pagi yang kelabu itu. Seorang ibu harus terjepit selama tiga hari tertindih reruntuhan dinding rumahnya, saat gempa G. Merapi. Ia tinggal di dusun yang jauh di kawasan Imogiri-Jogja, yang tak lagi memiliki siapapun. Seorang anak perempuan yang didalam pelukannya pun meninggal. Ia, sulastri.</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/03/ia-sulastri.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-4294515388678047705</guid><pubDate>Thu, 25 Mar 2010 19:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-26T02:59:56.568+07:00</atom:updated><title>Tuan Malaikat, ini Putri.....</title><description>Hari ini malaikat pencabut nyawa benar-benar sibuk&lt;br /&gt;Seluruh catatan dan daftar telah ia hafal dengan sempurna&lt;br /&gt;Sabitnya menebas-nebas dan ia tampak sempoyongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tiga puluh menit semua tugas harus tuntas, ini perintah!&lt;br /&gt;Ia mendengar amat takzim perintah itu&lt;br /&gt;Maka ia tak berbelas&lt;br /&gt;Maka ia menuntaskan&lt;br /&gt;Maka ia menyabit segala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebuah kota telah menjadi sayu&lt;br /&gt;Lempengan bumi dasar laut menggeliat&lt;br /&gt;Ombak yang terlalu lama tak memuliki bahasa itupun bersatu dengan lumpur, memuncrat, mencoba dengan caranya untuk mengeluarkan segenap isi hatinya&lt;br /&gt;Ia sedang berbicara&lt;br /&gt;Ia sedang meraung&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ujung pulau negeri itu telah tersapu oleh gerlombang lautnya sendiri.&lt;br /&gt;Kemegahan kota itupun menjadi masa lalu yang jauh&lt;br /&gt;Hari ini pula seorang gadis kecil bermata merah dadu dengan tangan kanannya yang nyaris buntung, ia berusaha merangkak mendekati seorang janda setengah baya yang tubuhnya telah rusak.&lt;br /&gt;Keduanya akibat tertindih terumbu karang yang dimuntahkan samudera&lt;br /&gt;"Umi! Umi…, ini Putri! Mengapa kau tak bergerak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum genap ia menyapu air mata, ia menangkap bayangan berkelebat yang menyabit cepat di atas ubun-ubun perempuan itu&lt;br /&gt;"Tuan…tuan, kau siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara tetapi bukan suara, bayangan itupun menjawab,&lt;br /&gt;"Aku malaikat, kau melihat rahasiaku?"&lt;br /&gt;"Ya, Tuan! Tuan Malalaikat, ini Putri! Mengapa Umi tak bergerak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat tak menyahut, rupanya ia benar-benar sendang sibuk menyabit&lt;br /&gt;Ribuan manusia menjerit&lt;br /&gt;Mayat-mayat bergelimpangan&lt;br /&gt;Ombak kian berteriak meninggi sepuluh meter&lt;br /&gt;Segenap paru-paru tersedak lumpur&lt;br /&gt;Segenap bangunan roboh&lt;br /&gt;Segenapnya hanyut dan rata&lt;br /&gt;Kota ini tak lagi tahu siapa si kaya dan siapakah yang tak kaya&lt;br /&gt;Segenapnya menjadi serupa&lt;br /&gt;Dan segenapnya berwajah sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tuan, Tuan Malaikat…, tunggu…!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi malaikat tetap sibuk, ia memang sedang memperhitungkan waktu&lt;br /&gt;Ia tak ingin mendengar&lt;br /&gt;Ia tak ingin lelap&lt;br /&gt;Ia tak ingin lupa&lt;br /&gt;Hingga ternak, hingga serangga, hingga rumput, dan pohon sekalipun, semuanya sesuai daftar, semuanya tak terlewatkan, dan semuanya dengan dingin ia tuntaskan&lt;br /&gt;"Tuan Malaikat, tunggu! Mengapa Umiku tak bergerak?"&lt;br /&gt;"Aku sedang melangsungkan tugas, manusia kecil"&lt;br /&gt;"Berhentilah sejenak, Tuan! Lihatlah Umiku"&lt;br /&gt;Ia menatap, kemudian suaranya yang bukan suara, terdengar berupa butiran-butiran lembut yang jatuh tetapi begitu bening&lt;br /&gt;"Umimu pun bertugas, Putri…! Gempa itu tugas. Ombak itu tugas.&lt;br /&gt;Gunung itu tugas dan lumpurpun bertugas"&lt;br /&gt;"Kota ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat pencabut nyawa itu, tiba-tiba tak bergeming&lt;br /&gt;Layaknya sedang menimbang ia lama terdiam&lt;br /&gt;Kedua matanya yang perak, tajam menatap lengan Putri yang terus mengucurkan darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuan, kota ini apa bertugas?"&lt;br /&gt;"Manusia kecil, banyak tugas yang menjadi rahasia, sebuah rahasia yang kita tak boleh mengetahuinya, namun kita harus melaksanakannya. Sebentar lagi segera datang virus dan bakteri yang bertugas, lalat-lalat yang bertugas, dan belatung pun bertugas"&lt;br /&gt;"Kumohon jawablah tentang kota ini, Tuan Malaikat?"&lt;br /&gt;"Baiklah, manusia kecil, kota inipun bertugas"&lt;br /&gt;"Kota ini Aceh, tuan. Mengapa selalu Aceh yang bertugas?"&lt;br /&gt;"Dengar manusia kecil, tak banyak manusia berani bertugas untuk memilih Allah atau hidup di dunia. Tak banyak pula manusia memiliki tugas mencintai hasratnya sendiri untuk ke rumah Allah di atas cintanya kepada dunia. Dan kotamu ini memang sepetak taman bagimu, tetapi Aceh telah dibantu memilih bertugas"&lt;br /&gt;"Tugas lagi?"&lt;br /&gt;"Ya, tugas untuk membentuk barisan!"&lt;br /&gt;"Barisan? Barisan apa, Tuan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Malaikat segera membaca daftar dan dengan amat gesit ia menyabit kembali. Yang terjadi ialah jalan-jalan trotoar itu, masjid-masjid itu, lapangan itu, kota itu telah penuh anak-anak, penuh orang tua, penuh lelaki, penuh perempuan, semua penuh mayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cukup! Cukup Tuan! Kumohon hentikan, hentikan, tuan!"&lt;br /&gt;"Hey, waktuku hampir habis, sedangkan barusan belum terbentuk"&lt;br /&gt;"Katakan padaku, barisan apa?"&lt;br /&gt;"Barisan menuju rumah Allah, manusia kecil"&lt;br /&gt;"Rumah Allah?"&lt;br /&gt;"Yaa…"&lt;br /&gt;"Apakah Umiku juga dalam barisan itu?"&lt;br /&gt;"Tentu, manusia kecil"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri menelan ludah, ia tak lagi meringis kesakitan, ia justru menatap kembali seorang perempuan setengah baya yang terbujur kaku dan diam itu. Tetapi kedua matanya telah berubah serupa purnama yang merajai bulan.&lt;br /&gt;"Umi, Umi ini Putri! Kata Tuan Malaikat, Umi akan berada dalam barisan itu! Kau terpilih Umi. Kau terpilih!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian gadis kecil itu berteriak lantang.&lt;br /&gt;"Tuan Malaikat! Tuan Malaikat, ini Putri! Aku keturunan&lt;br /&gt;Cut Nyak! Akulah Aceh itu! Lihatlah dalam daftarmu, sabit aku...sabit aku…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, tepat tiga puluh menit untuk pertama kalinya malaikat itu tersenyum melihat sebuah nama pada daftar terakhir.&lt;br /&gt;Ia menatap langit-langit, seorang anak kecil sedang berderap-derap memimpin barisan yang amat panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Lintang Sugianto&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/03/tuan-malaikat-ini-putri.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-5478483921134190596</guid><pubDate>Thu, 25 Mar 2010 19:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-26T02:56:46.377+07:00</atom:updated><title>lelaki di tepi buku tua</title><description>Di tepi buku tua&lt;br /&gt;Lelaki memandang dan mengajariku mendirikan  sebuah rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku memerah&lt;br /&gt;Tubuhku kaku&lt;br /&gt;Aku tak tidur semalaman&lt;br /&gt;Tak berani pula aku memandang matanya yang perak&lt;br /&gt;Dengan berani kukumpulkan kembang dari seluruh musim&lt;br /&gt;Dan kupersembahkan kepadanya&lt;br /&gt;Seperti awalnya&lt;br /&gt;Aku gemetar dan berbisik&lt;br /&gt;Hanya ini yang kupunya&lt;br /&gt;Lelaki tersenyum dan menyuruhku agar segera membuat tiang, pintu dan jendela&lt;br /&gt;Kemudian aku bertanya, dimana ruangannya&lt;br /&gt;Dihatimu, jawabnya&lt;br /&gt;Lantas lelaki menutup seluruh rambutku&lt;br /&gt;Tersenyumlah agar angin tak datang mengusik, pintanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki di tepi buku tua&lt;br /&gt;Meletakkan aku sebagai perempuan di pangkuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Lintang Sugianto&lt;br /&gt;4 : 38 - Bekasi, 25 Juni 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/03/lelaki-di-tepi-buku-tua.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-1652896426102587614</guid><pubDate>Thu, 25 Mar 2010 19:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-26T02:54:37.396+07:00</atom:updated><title>Dengarkan Mak....</title><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/1600/Picture%20014.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 227px; height: 183px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/320/Picture%20014.jpg" border="0" height="240" width="294" /&gt;&lt;/a&gt;Mak, seharusnya aku segera melupakan saja tentang mainan masa kecilku yang kau buang diparit gelap itu. Agar mudah aku menata mimpiku, agar angin yang menakutkan itu tak selalu singgah dikisi jendela menjelang tidurku. Tapi itu tak mungkin, ruangan ini tetap menjadi milikmu, sejak kau pasang pajangan dinding berwarna merah yang begitu menusuk mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana kuncinya, mak? Aku ingin keluar mencium embun didaun-daun. Disini gelap sekali, tak pula kau sediakan damar untuk sekedar melihat wajahku yang tentu telah menua sejak kau lahirkan. Aku meraba dinding ini, mak! Dan mana jendelanya? Kutempelkan saja telingaku dan aku tertawa girang ternyata aku bisa mendengar bahwa dunia penuh suara dan nyanyian-nyanyian, mengapa tak seperti yang engkau ceritakan?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mak, disini ada seekor laba-laba yang mengajariku memintal waktu&lt;br /&gt;Hingga aku lebih cerdas memastikan letak matahari yang tak pernah kulihat sinarnya. Kemudian kunang-kunang itu amat bersahaja mengumpulkan cahaya dan begitu sabar memanduku belajar menentukan arah.&lt;br /&gt;Tetapi aku harus hidup, Mak&lt;br /&gt;Aku butuh mataku&lt;br /&gt;Aku butuh jiwa&lt;br /&gt;Aku butuh, Mak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintang Sugianto&lt;br /&gt;5 : 25 Bekasi, 25 Juni 2006&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/03/dengarkan-mak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-8755499676442698425</guid><pubDate>Wed, 24 Mar 2010 21:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-25T05:31:33.042+07:00</atom:updated><title>dan inilah.... KRONOLOGIS Matahari Di Atas Gilli</title><description>&lt;strong&gt;~ Lelaki berambut panjang ~&lt;/strong&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Sembilan tahun yang lalu, di bulan April yang  cerah, seseorang lelaki berambut panjang mengajakku menyeberangi sebuah  pulau – yang terletak di sebelah timur Kota Probolinggo. Dan siang itu –  di hari ulang tahunku – aku mengalami sebuah pengalaman yang paling  indah diantara seluruh memoar hidupku. Saat menyaksikan keleluasaan  langit yang membentang di atas kepalaku, fantasiku bergerak sesuai kata  hatiku, bahwa pulau itu pastilah bagian wilayah utopis yang abadi dengan  keindahan dan kenyaman.
&lt;br /&gt;Diatas perahu, aku melihat wajah lelaki  berambut panjang yang duduk membeku di sampingku, seperti sebuah muara  yang dingin, tak bergeming memandang lautan luas, dan tanpa senyum.  Namun demikian penyeberangan hari itu, membuatku bahagia.
&lt;br /&gt;Selama  empat puluh lima menit terayun di atas gelombang ombak, perahu kayu  mulai menepi dan bersandar di dermaga. Di hadapanku, membujur dataran  pipih berwarna putih, dan hampir tak terdapati tumbuhan menghijau di  sana. Gersang!
&lt;br /&gt;“Pulau apa ini?” tanyaku pada lelaki berambut panjang  itu, sambil melompat dari perahu ke atas dermaga.&lt;span class="fullpost"&gt;“Gilli!” jawabnya  singkat, tanpa memandang kearahku.
&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;Keningku berkerut. Aku tak  mengerti. Mengapa ia sangat berbeda hari ini? Pikirku, sambil setengah  berlari berusaha mengejar lelaki itu yang berjalan cepat di depanku. Dan  ketika aku berhasil menyamai langkahnya, aku menatap lelaki itu. Tetapi  ia tetap beku. Ia justru melangkah lebih cepat dari yang kuduga, dan  aku tak dapat lagi untuk menerjemahkan bahasa roman wajahnya yang asing  pada siang yang terik ini. Dengan penuh pertanyaan, tak ada pilihan  untukku, selain mengikuti langkahnya. Kenapa ia begitu dingin justru  pada hari istimewa ini? Semestinya ia harus berlaku baik padaku! Aku  mengangkat bahu, dan tak mengerti.
&lt;br /&gt;Di sisi kiri dermaga, diantara  ombak yang berdeburan, aku melihat sebuah pemandangan yang menggetarkan.  Aku terkesima. Sekelompok anak laki-laki menyembul keluar dari dalam  lautan. Dan mereka berteriak kearahku.
&lt;br /&gt;“Hoooeee!!!”
&lt;br /&gt;Seketika  langkahku berhenti. Aku terdiam. Aku terpana menyaksikan sejenis ikan  besar yang masih menggelepar-gelepar di kedua tangan mereka  masing-masing. Bagaimana cara mereka menangkapnya? Pikirku. Aku berniat  berjalan mendekat ke arah mereka, tetapi dengan gerakan cepat, lelaki  berambut panjang menarik tanganku, dan memintaku mengikuti langkahnya  kembali. Tentu, itu merupakan sebuah sikap yan berlawanan dengan  keinginanku. Aku pun mulai merasa terganggu dengan sikap lelaki berambut  panjang itu yang tak seperti biasanya. Dan perubahan sikapnya yang  asing itu justru muncul pada hari istimewaku. Uuh!
&lt;br /&gt;Sebelum menjauh,  aku melambai dan memberi salam kepada sekelompok anak pantai itu. Aku  bahagia, saat menangkap suara bening tawa mereka yang ramah. Aku sempat  melihat gelombang heroik yang terdapat pada wajah mereka, saat mereka  berlompatan kembali di udara, kemudian menghilang di pelukan ombak. Luar  biasa! Pikirku.
&lt;br /&gt;Saat menapakkan kakiku yang pertama kalinya di  daratan pulau kecil ini, aku bertanya kembali kepada lelaki berambut  panjang itu.
&lt;br /&gt;“Apakah kau sudah pernah kemari, sebelum kehadiran kita  sekarang?”
&lt;br /&gt;Dan tanpa mempedulikan pertanyaanku, lelaki itu justru  berkata “Kau akan merasa senang tinggal di sini”
&lt;br /&gt;“Tinggal disini?”  Tanyaku menatap tajam ke arah dirinya.
&lt;br /&gt;Lelaki itu mengangguk  memastikan, sambil menatap dalam ke arahku. Dan makna tatapan itu,  seakan-akan ia harapkan menjadi sebuah tonik yang secara otomatis dapat  melegakan, dan menentramkan keraguan yang terpancar di mataku. Tetapi,  rupanya, ia keliru! Aku menyimpulkan dengan agak enggan, aku justru  mulai merasakan adanya penolakkan dari bagian tubuhku, ketika tercium  hawa yodium yang bercampur dengan berbagai aroma: ikan, ganggan laut,  pasir basah, dan keringat orang-orang yuang mulai berdatangan  mengerumuni kami. Ini ide gila! Pikirku. Tanpa mempedulikan dirinya yang  sedang berbicara dengan orang-orang Gilli, aku bertanya dengan suara  keras.
&lt;br /&gt;“Aku tak tinggal di sini! Dan aku ingin kita pulang sebelum  hari gelap” Aku sadar, pertanyaanku merupakan sebuah hal yang tak masuk  akal. Karena kedatanganku di pulau ini, belum lebih dari dua jam yang  lalu.
&lt;br /&gt;“Kita menginap!” jawabnya tegas. Aku mendengar intonasi  suaranya yang kasar, pada wajahnya yang memerah. Aku hampir menangis,  menerima keputusan yang sepihak itu. Dan aku semakin tahu, ia  benar-benar tak peduli denganku. Ia meneruskan kembali pembicaraannya  dengan orang-orang Gilli. Aku melihat mereka, terlibat dalam pembicaraan  yang kian lama kian akrab. Meskipun ku tahu, mereka menggunakan bahasa  tubuh yang menggelikan.
&lt;br /&gt;Untuk menghilang kekecewaanku, aku menjauh  dari mereka, dan menyusuri pantai yang bersih. Pada saat itu, aku  melihat sekelompok burung besar mengembangkan sayangnya. Leher mereka  panjang, dan biru. Mereka membentuk formasi simetri, dan terbang rendah  dari permukaan laut. Memandang jauh ke langit, aku memerlukan waktu  sejenak demi sejenak untuk menerjemahkan keindahan pemandangan logis  warna-warna yang tercoret di atas sana. Sore itu, warna-warna merah  dadu, kuning, dan violet yang membias di langit, seperti sekumpulan zat  warna yang sengaja di tuangkan di atas kanvas oleh pelukisnya.
&lt;br /&gt;Saat  warna langit semakin menua oleh kegelapan, seorang lelaki – penduduk  Gilli – mengajak kami meninggalkan tepian. Aku dan lelaki berambut  panjang berjalan di belakang tubuh lelaki Gilli itu, tetapi di  sekeliling kami sekelompok anak-anak, orang-orang dewasa mengikuti kami,  dengan suara tawa dan pembincangan yang tak ku mengerti bahasanya. Tak  seberapa lama setelah kami berjalan beriringan, tanpa aku sadari, aku  telah berada di jalan sempit yang berliku-liku, diantara dinding  rumah-rumah penduduk yang penuh dengan jala, yang membentang.
&lt;br /&gt;Sesampai  di Ujung Pulau, kami berjalan beriringan menuju ke sebuah pondok yang  atapnya berbentuk kerucut, yang penuh dengan rumbai-rumbai jerami  kering. Di pondok itulah, orang-orang Gilli itu meninggalkan kami.  Sesaat aku merasa lega,  memandang ke sekeliling. Aku seperti berada di  ruang terbuka dengan udara yang leluasa, setelah mengalami adaptasi yang  mencemaskan dengan lingkungan baru: sebuah pengalaman asing di  sepanjang hidupku. Salah satu yang paling sulit, pada kehadiranku di  Pulau ini, ialah aku tak dapat bebas berbicara dengan bahasaku: yang  seharusnya merupakan bahasa mereka pula. Mereka tak mengerti Bahasa  Jndonesia, dan aku pun tak dapat mengerti bahasa mereka – Bahasa Madura.  Tentu, itu sebuah hal yang menyedihkan di sepanjang pengetahuanku  sebagai anak bangsa ini.
&lt;br /&gt;Pada saat malam datang, dan bulan membundar  di balik pepohonan, pondok yang tempati serta suasana hatiku, tiba-tiba  senyawa. Gelap, dan sunyi! Tak ada lampu penerangan yang bisa di  nyalakan, selain damar kecil di sudut dinding. Tak ada pula perbincangan  anatara diriku, dan lelaki berambut panjang itu.  Sekian jam sejak  kehadiranku di pulau ini, perasaanku telah membeku untuknya. Dan  beberapa saat yang lalu, lelaki itu telah meninggalkan aku sendiri, di  pondok ini. Aku kecewa!
&lt;br /&gt;Duduk sendirian memandangi bulan, perasaanku  semakin nyeri. Dan aku, aku menjadi tak siap melewati dan mengakhiri  hari ini: sebuah hari ulang yang menyeramkan, untukku. Terasing dari  keramaian. Jauh dari orang-orang yang dekat dalam hidupku.
&lt;br /&gt;Malangnya,  hingga malam semakin larut, aku melewati hari ulang tahun tanpa satupun  orang yang memberi ucapan “selamat”. Aku berpikir, pastilah segera  hilang saat-saat bahagia yang aku impikan terjadi, di hari ini.
&lt;br /&gt;Aku  melihat semua pucuk-pucuk pohon akasia bergoyang, meliuk-liuk seperti  hatiku. Disini, di pulau kecil ini, aku tidak seperti orang lain yang  tahu secara instingtif bagaimana cara membuat diri sendiri bahagia. Aku  benar tidak dapat melakukan apa-apa, sehingga aku merasa seperti di  kutuk oleh kuasa kesepian – untuk diam, dan tak bergerak. Betapa  ironisnya hari ini, untukku! Pikirku. Dan selama berjam-jam aku  memandang langit yang hitam, tanpa bintang. Terkadang suara binatang  malam pun seperti menusuk perasaanku. Saat itu, aku merasa, seolah-olah  aku sedang berada di planet lain, tanpa penghuni, dan tanpa manusia. Aku  sendirian. Sambil memeluk tas punggungku, aku bertanya pada diriku  sendiri: untuk apa aku harus hadir di pulau ini justru pada hari ulang  tahunku ini? Dan mengapa aku harus menerima ajakan lelaki berambut  panjang itu?
&lt;br /&gt;Saat angin berhembus kencang, dan terdengar ombak  berdeburan di lautan, suasana di sekelilingku kian asing, dan  menakutkan. Tak ada pilihan yang dapat menahan rasa emosionalku selain  semakin membenamkan wajahku pada tas ransel, kemudian membebaskan  perasaanku untuk menangis.
&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku dalam posisi  demikian, dan aku mengakhirinya dengan mengangkat wajahku, saat  terdengar orang berkata-kata di kejauhan. Meskipun, aku ragu untuk  memastikan pikiranku yang di penuhi pertanyaan, mengapa orang yang  sedang berbicara itu, seolah berbicara sendiri dan berteriak-teriak di  malam gelap. Di hadapanku, aku tak melihat apapun selain bayang-bayang  malam yang kian rapat oleh kegelapan. Tetapi, mendadak mulutku terasa  kering, dan jantungku berdebar kencang, ketika terlihat sebuah cahaya  bergerak perlahan ke arah pondok, ke tempatku. Aku mulai ketakutan.
&lt;br /&gt;Semua  terjadi dalam sekejab, dan aku merasa kengerian yang kurasakan mulai  menyurut, tatkala aku semakin dapat memastikan bahwa suara pembicaraan  orang itu semakin jelas. Dan dalam jarak yang tak jauh, aku mendengar  intonasi setiap kata yang di ucapkan kian teratur, dan kian kukenali.  Perlahan-lahan aku berdiri, ketika baying-bayang wajah seseorang di  balik cahaya api itu semakin jelas. Dia, lelaki berambut panjang itu,  memegang obor – api yang di sulut di bamboo – sambil berjalan dan  membaca sebuah puisi.
&lt;br /&gt;Setelah ku tempuh perjalanan yang tak kukenal  rimbanya
&lt;br /&gt;Air mata berbulu api, memang benar sedang menjadi hujan
&lt;br /&gt;Ada  yang ingin kutahu
&lt;br /&gt;Bagaimanakah pohon istighfarku?
&lt;br /&gt;Sudah lama tak  pernah kujaga
&lt;br /&gt;Rumbai-rumbai kesombongan sempoyongan di muka angin
&lt;br /&gt;Yang  berkacak pinggang
&lt;br /&gt;Membuaku menunggu daun-daun yang jatuh
&lt;br /&gt;Bayarangkali  di sana ada takdir
&lt;br /&gt;Yang ingin berucap salam
&lt;br /&gt;Apa kabar kekasih…
&lt;br /&gt;“Itu  puisiku!” pekikku.
&lt;br /&gt;“Selamat hari ulang tahun, Lintang!” teriak  lelaki berambut panjang itu, sangat dramatis. Tepat di depanku, ia  merentangkan kedua tangannya. Seolah menungguku datang mendekatinya.
&lt;br /&gt;Aku  tak dapat melukis secara pasti, apa yang ada didalam benakku. Tetapi  menyaksikan senyumnya yang mengembang, di wajahnya yang memerah, aku  merasakan, tubuhku seperti molusha – makhluk laut yang sangat rentan dan  membutuhkan kerang tebal agar dapat berlindung dan tetap bertahan  hidup. Dan di depanku, dialah kerang tebal itu. Aku pun berlari ke  arahnya, dan menangis di dalam dadanya.
&lt;br /&gt;“Kenapa menangis?” tanyanya  lembut.
&lt;br /&gt;Aku menggeleng, karena tak dapat menerjemahkan keharuan atas  kejutan yang di lakukannya untukku pada hari ini.
&lt;br /&gt;“Kau tahu, aku  telah lama mencari Pulau Gilli ini, sebagai hadiah ulang tahunmu”  ucapnya, sambil mendongakkan wajahku.
&lt;br /&gt;“Hadiah?” tanyaku tak mengerti.
&lt;br /&gt;Lelaki  berambut panjang itu mengangguk.
&lt;br /&gt;“Maksudmu?”
&lt;br /&gt;“Suatu saat nanti,  kau akan tahu, Lintang”
&lt;br /&gt;Dan angin berhembus lembut di sekitar kami.  Meskipun malam benar-benar berlalu, aku belum juga mengerti, mengapa ia  menghadiahkan pulau ini untukku.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Bekasi, Lintang Sugianto
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2010/03/dan-inilah-kronologis-matahari-di-atas.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-8216159196915869324</guid><pubDate>Sat, 10 Nov 2007 04:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-25T05:33:16.201+07:00</atom:updated><title>Matahari Di Atas Gilli</title><description>&lt;a href="http://buzznet-86.vo.llnwd.net/assets/users16/hafeziftiqar/default/gallery-msg-118441850936.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 110px; height: 177px;" alt="" src="http://buzznet-86.vo.llnwd.net/assets/users16/hafeziftiqar/default/gallery-msg-118441850936.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Rehal "Matahari Di Atas Gilli" di koran Republika&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Novel karya Lintang Sugianto ini tak sekadar mengisahkan perjalanan hidup dua insan anak manusia, tapi juga mengisahkan sejarah Pulau Gilli yang teletak di sebelah barat Probolinggo. Perjalanan hidup perempuan kelahiran Jakarta ini berada di pulau itu, berbaur dengan masyarakat nelayan setempat selama enam bulan membuat novel yang ditulisnya lebih hidup. Rendra berkomentar, ‘’Saya mengenal Lintang Sugianto pertama kali sebagai penyair. Syair-syair liriknya menunjukkan mutu puisi yang sangat bagus. Sekarang saya menghadapi novel yang ditulisnya. Saya kembali tertegun dan terkagum.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Rendra, Lintang tidak memakai bahasa uraian, atau gambaran yang klinis, tetapi dengan metafora-metafora puitis yang jauh lebih bisa mendalam gambarannya. ‘’Inilah keistimewaan Lintang dalam kemampuannya melukiskan peristiwa jiwa. Barangkali dalam hal ini bisa ditandingi oleh Leila Chudori, yang secara kebetulan juga seorang perempuan,’’ tulisnya. Prof Dr Ir Wan Abu Bakar Wan Abas punya komentar lain. Dia menyebut novel ini sebuah kisah perkasian yang mendebarkan, diceritakan dengan menarik sekali. ‘’Cara Lintang memperincikan diskripsi dan bermain dengan diksi tentu mampu memikat pembaca untuk menikmati keseluruhan novel ini. Nilai lokal etnik Melayu yang melatari novel ini pasti memikat khalayak Nusantara, termasuk khalayak dari Malaysia,’’ komentar Wan Abu Bakar dalam dialek Malaysia.&lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2007/11/matahari-di-atas-gilli.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-115325603656500920</guid><pubDate>Tue, 18 Jul 2006 20:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-25T05:35:23.918+07:00</atom:updated><title>anak kecil itu dengan pesawatnya</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgimOW2kZBu709rX_gAPkcMxIdqLmHhaVR7uG0PWsQGMA7rdsXbCqUdvaA_vW93SllAAl7_7TsjSKWxCePVTGqDb0fMHfkwYgHxvNBl9sPYXHp_XiTHIPTc_hzK5HSwyu1wnJ_44A/s1600-h/028_28.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131457377264298674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgimOW2kZBu709rX_gAPkcMxIdqLmHhaVR7uG0PWsQGMA7rdsXbCqUdvaA_vW93SllAAl7_7TsjSKWxCePVTGqDb0fMHfkwYgHxvNBl9sPYXHp_XiTHIPTc_hzK5HSwyu1wnJ_44A/s320/028_28.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selamat malam tuan…&lt;br /&gt;Diluar, seorang anak kecil yang lupa asal-usulnya ingin berjumpa&lt;br /&gt;Bolehkah ia masuk kedalam ruangan hatimu&lt;br /&gt;Ia tak lagi bertanah air, tuan&lt;br /&gt;Sebab kebun-kebun moral telah menjadi siasat atas nama bencana-bencana yang bersusul-susulan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia terus menatap langit, tuan&lt;br /&gt;Dan jangan katakan kau sudah membalut lukanya&lt;br /&gt;Sebab pesawat pertama yang terbuat dari gelang-gelang emas leluhurnya itu, selalu membuat perutnya semakin membusung mengandung murka&lt;br /&gt;Ia terus merintih dan siap melahirkan ,tuan&lt;br /&gt;Ia hanya ingin mawar putih kesukaan ibunya di serahkan&lt;br /&gt;Karena kebun-kebun norma telah hangus sejak tuan duduk disini.&lt;br /&gt;Sejak berlakunya jam malam bagi kota itu&lt;br /&gt;Sejak senjata-senjata menggertak kota itu&lt;br /&gt;Sejak ia tahu, ia lahir dari hasil pemerkosaan itu&lt;br /&gt;Selamat malam tuan&lt;br /&gt;Diluar, seorang anak kecil yang lupa asal-usulnya ingin berjumpa&lt;br /&gt;Bangunlah…&lt;br /&gt;Nyalakan lampu ruangan hatimu&lt;br /&gt;Sebab rencong telah ditangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintang Sugianto&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2006/07/anak-kecil-itu-dengan-pesawatnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgimOW2kZBu709rX_gAPkcMxIdqLmHhaVR7uG0PWsQGMA7rdsXbCqUdvaA_vW93SllAAl7_7TsjSKWxCePVTGqDb0fMHfkwYgHxvNBl9sPYXHp_XiTHIPTc_hzK5HSwyu1wnJ_44A/s72-c/028_28.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-115318425158401614</guid><pubDate>Tue, 18 Jul 2006 00:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-07-18T07:57:31.586+07:00</atom:updated><title/><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/1600/lintang%20meulaboh-embos.jpg"&gt;&lt;img style="CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/320/lintang%20meulaboh-embos.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2006/07/blog-post_17.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-115317535161414450</guid><pubDate>Mon, 17 Jul 2006 22:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-25T05:38:44.583+07:00</atom:updated><title>Lintang Sugianto - Memperkaya Bahasa Jiwa - wawancara dengan Prespektif Baru Edisi 538 03 Jul 2006 Cetak Artikel Ini</title><description>Halo pembaca, saya Jaleswari Pramodhawardani kembali menemani Anda bersama tamu kita kali ini Lintang Sugianto. Dia seorang novelis dan penyair yang telah melahirkan beberapa karya yang akan kita bedah bersama. Menurut Lintang, puisi adalah bahasa jiwa. Jadi bukan hanya seorang sastrawan atau budayawan saja yang bisa menulis puisi. Semua bisa menulis puisi. Ketika manusia memakai bahasa jiwanya, maka jauh dari manipulasi, kepalsuan, ketidakjujuran. Saat ini kita miskin bahasa jiwa. Kita lebih cenderung memakai bahasa pikiran kita, bukan memakai bahasa hati kita. Kita sering menipu diri kita sendiri hanya karena keinginan dan sebagainya. Tapi ketika kita menulis puisi, Lintang percaya betul orang tidak akan bisa menipu diri. Lintang menginginkan sekali bahasa jiwa ini menjadi bahasa dunia atau bahasa nasional. Pasti kita tidak akan pernah terjadi peperangan dan segala macam. Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Lintang Sugianto.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya telah membaca beberapa karya Anda paling tidak dua karya Anda yaitu novel Matahari di Atas Gilli, dan kumpulan puisi dengan judul Ku Sampaikan. Anda mungkin bisa bercerita tentang kedua karya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama, saya mungkin mau cerita sedikit tentang Matahari di Atas Gilli. Sebenarnya saya justru berangkat dari dunia penyairan artinya penulisan puisi. Ketika saya menyadari puisi susah sekali diterima oleh penerbit dan memang di negara kita sedang tidak bagus sekali. Artinya, posisi puisi sangat di bawah. Jadi saya memaklumi ketika penerbit-penerbit susah sekali menerima itu sehingga saya juga tidak enak hati kalau mengatakan bahwa apakah Matahari di Atas Gilli sebagai batu lompatan atau semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda lebih dulu lahir sebagai penyair atau novelis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tadinya saya seorang penyair dan sebut saja saya sebagai penulis puisi. Tapi mau tidak mau saya harus mengikuti aturan yang sudah ada untuk menulis novel.&lt;br /&gt;Pembaca, buku atau novel Matahari di Atas Gilli dan kumpulan puisi Kusampaikan ada kata pengantar dari WS. Rendra. Ada salah satu kalimat dari WS. Rendra yang menarik bahwa kemampuan Lintang adalah bagaimana pemaparannya kaya dengan metafor-metafor dan itu jarang sekali dimiliki oleh para novelis kita yang lebih ke pemaparan ide dan gagasan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anda melihat kelahiran novel tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelahiran novel tersebut sebenarnya melalui pengkristalan atau pengendapan yang cukup panjang. Saya tertarik dengan cerita tersebut. Lalu mengapa harus Madura? Saya jatuh cinta dengan Madura, saya jatuh cinta sekali. Mungkin saya akan jatuh cinta lagi dengan etnik, suku, daerah-daerah orang yang seperti itu. Hanya mungkin sekarang ini saya sedang jatuh cinta saja dengan Madura. Menurut saya, Madura unik baik pribadinya, kekerasannya, watak, karakter, maupun lokasi, budaya, dan latar belakang. Mereka mempunyai ciri khas yang berbeda walaupun terkadang kekolotan mereka atau cara pandang mereka yang sempit itu indah dan unik sekali buat saya bila dibandingkan suku Jawa. Mungkin suku Jawa lebih lentur untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang lain tapi Madura tidak. Bahkan mereka tidak mau pindah pada area tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seperti Anda katakan tadi, Madura ternyata punya eksotik tersendiri bukan hanya Bali, Lombok dan sebagainya. Apakah Anda memang sengaja memilih lokasi di Madura sebagai salah satu novel Anda yang pertama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Awalnya sebuah faktor yang tidak disengaja tapi akhirnya menjadi sengaja. Ketika saya observasi di sana dengan sekian bulan berada di pulau kecil itu, saya pelan-pelan melihat ada satu hal yang harus saya angkat. Jadi awalnya memang sebuah hal yang tidak disengaja tapi menjadi sebuah kesengajaan. Kemudian saya juga ingin mengatakan bahwa budaya Indonesia itu luar biasa walaupun saya tidak tahu apakah saya dijajaran pertama atau bukan, atau ini bukan sebuah barisan. Saya ingin seluruh penulis yang ada menulis tentang Indonesia. Saya menganggap bahwa banyak hal yang bisa kita bedah di kepulauan kita yang beraneka ragam ini. Jadi saya merasa bahwa di sini imajinasi kita tidak cukup habis.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kapan Anda mulai menulis atau katakanlah buku Anda dipublikasikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jadi kurang lebih dua, tiga tahun sebelumnya hadir juga Rieke Dyah Pitaloka kemudian Dewi Lestari dan penulis muda perempuan lainnya. Saya melihat gegap gempitan kemunculan novelis-novelis penulis perempuan-perempuan muda ini. Tapi mengapa kemunculan Anda baru akhir-akhir ini terlihat terutama oleh saya padahal dari beberapa penulis ini pun membawakan puisi-puisi Anda di satu momen-momen tertentu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya kagum dengan falsafah Bali yang saya pelajari ketika di Bali. Untuk mengatakan tidak suka dengan budaya atau karya-karya yang dinilai tidak bagus, mereka tidak menggunakan kata-kata. Mereka membalas dengan sebuah karya yang lebih bagus. Jadi mereka mengcounter. Karya dibalas karya. Jadi tidak dengan kata-kata tetapi dengan lakuan. Itu yang saya kagumi dan saya pegang benar.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda tidak setuju dengan karya-karya yang lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya bukan tidak setuju. Saya tidak pernah tidak setuju, tetapi saya merasa bahwa ada hal yang seharusnya kita tidak wajib untuk mengatakan hitam, putih, kiri, kanan, seperti apakah perempuan harus bicara tentang bahasa tubuh perempuannya, apakah itu harus dilucuti. Sepertinya tidak. Kita harus melihat dari segala sisi. Jadi kita tidak bisa seperti jika hitam, kita harus bilang hitam sesuai dengan kacamata kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;dengan kata lain bahwa sebetulnya bicara tentang perempuan itu bukan persoalan ketubuhan itu saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak, anugerah yang diberikan oleh kita sungguh sangat luar biasa. Bahkan kita diam pun, tubuh kita pun sudah berbahasa sendiri. Sekalipun kita sudah tutup mata sebenarnya kita sudah berbicara, jadi sangat luar biasa sekali kalau misalnya kita memakainya tidak memanfaatkan itu. Jadi ini bukan sebuah pemanfaatan dalam bentuk berbahasa atau segala macam, ada yang lebih hal lain yang kita bisa ungkapkan. Bukankah seorang perempuan juga bisa bicara tentang dunia laki-laki atau yang biasanya diungkapkan oleh seorang laki-laki. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Buku Matahari di Atas Gilli ini bicara tentang perempuan. Perempuan seperti apa yang Anda tampilkan di Novel tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya, di situ ada Suhada, tetapi dia bukan sebagai pelakon utama. Jadi di situ tidak ada start-nya. Semuanya tokoh, tidak ada black and white, atau kanan kiri bahkan mungkin sedang dalam revisi. Menurut saya, semua karakter di sana yang di dalam revisi ini adalah semua berpengaruh di Atas Gilli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ini sebenarnya sangat menarik. Kebetulan saya hanya berhenti pada penikmat. Tapi apakah suatu kelaziman sebuah novel melakukan revisi? Konon kabarnya, sebuah novel adalah sebuah karya yang sebetulnya mewakili gegap gempitanya perasaan, emosi penulisnya saat itu juga. Anda mungkin bisa menjelaskan mengapa sebuah novel direvisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selagi itu untuk kebaikan, saya rasa masih sah-sah saja. Dalam arti, setelah ia membuat suatu keputusan dari peristiwa demi peristiwa. Yang saya maksud peristiwa demi peristiwa adalah ketika pembaca karya kita memintanya dan kemudian kita juga membuat penilaian sendiri atau berkesimpulan sendiri bahwa banyak hal memang yang belum saya ungkapkan di sana. Jadi karena setting daripada Matahari di Atas Gilli ini memang nyata dan sampai sekarang ada, maka saya mempunyai kewajiban untuk mengantarkan yang lebih jelas.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini lebih soal kedalaman. Apakah untuk plot atau segala macamnya tidak berubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berubah, hanya alur ceritanya tidak diubah. Suhada tetap mati, Suamar tetap mati. Saya tidak berusaha untuk mengubah isi cerita, hanya saya lebih menekankan bagaimanakah kelahiran pulau itu, apa yang membuat laut di sana berbeda dengan laut yang ada di sini. Kemudian tidak semudah itu, menurut saya, Suhada tiba-tiba berada di Gilli dan sudah mendapatkan bagaimana seorang merayu anak-anak yang susah diajar dari awal. Settingnya tidak sederhana itu. Jadi Suhada harus mencari ranting untuk menuliskan A, B, C, D, E, F, G, dan segala macamnya untuk merayu anak-anak agar mengerti.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini ditingkatkan lebih detail, pendalaman, mungkin ada emosi atau peristiwa yang tertinggal atau semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Iya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan puisi-puisi Anda, saya tidak akan membacakan sebuah puisi Lintang, tapi saya hanya memberikan gambaran bahwa betapa novelnya Lintang kaya dengan metafor-metafor yang sangat puitis. Saya akan bacakan secara cepat saja "Suhada memang selalu takut pada mendung yang selalu gusar di masa kecilnya meski sekarang ia melihat mendung inyit itu sudah tidak pandai lagi menjadi hujan". Saya pikir ini kalimat yang sangat indah dan apakah ini menjadikan ciri khas novel-novel Anda di masa mendatang juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kita tidak pernah bisa menghindar dari ciri khas, ingin sekali. Tapi ciri khas itu mengalir begitu saja dan saya rasa, saya tidak sendiri dalam hal itu, semua tidak mungkin mudah menghindar dari ciri khas itu. Metafor itu tidak ada teorinya, tidak bisa dipelajari. Menurut saya, metafor itu lahir ketika kepekaan jiwa kita bekerja, seperti halnya kita menulis puisi dan puisi bagi saya adalah bahasa jiwa. Jadi bukan hanya seorang sastrawan atau budayawan saja yang bisa menulis puisi. Ketika manusia memakai bahasa jiwanya maka jauh dari manipulasi, kepalsuan, ketidakjujuran. Nah, saat seseorang atau manusia itu akan mengguratkan puisi dalam meluncurkan kata-katanya, saya percaya karena saya mengalaminya, "Ia telah meluncur ke dalam sebuah area diantara dirinya, pena, dan kertas itu" jadi area diantaranya itu jelas kosong, dia harus memilih sebuah objek, objek sebagian dari idiom itu, ada dialog tawar-menawar di dalamnya, misalnya apakah objek tentang Jogja itu patut atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Apakah sebagian besar puisi Anda bercerita tentang alam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik sekali dengan kalimat bahasa jiwa. Apa maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalau diglobalkan saya ingin sekali bahasa jiwa ini menjadi bahasa dunia atau bahasa nasional. Pasti kita tidak akan pernah terjadi peperangan dan segala macam.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lintang, apakah kita memang miskin tentang bahasa jiwa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sepertinya ya. Kita banyak memanipulasinya. Kita lebih cenderung memakai bahasa pikiran kita, bukan memakai bahasa hati kita. Kita sering menipu diri kita sendiri hanya karena keinginan dan sebagainya. Tapi ketika kita menulis puisi, saya percaya betul dia tidak bisa. Tetapi jika ada seorang penulis puisi yang segera cepat menulisnya, melahirkan puisi dalam sehari, wah itu dia hebat. Yang terjadi adalah mungkin timbunan opini dan yang saya khawatirkan adalah absurd arahnya. Saya ingin bicara tentang proses penulisan itu. Ketika orang sudah menunjukkan sebuah objek untuk menjadikan sebuah idiom yang akan diungkapkan di dalam puisi, maka dia mau tidak mau harus tidak lagi menjadi dirinya. Itu yang paling penting. Jadi yang ada di area diantara itu yang saya katakan bahasa jiwanya sudah menuntut dirinya untuk "aku menjadi engkau". Engkau di sini adalah tanda petik bisa saja tsunami, bisa saja rasa cinta yang mengasah pada kepekaan, peristiwa Jogja saat ini, pemerintahan kita sekarang, kekrisisan jiwa, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kalau Anda membuat semacam kategorisasi puisi-puisi atau mendefinisikan puisi-puisi yang lahir dari tangan Anda sendiri, apa sebagian besar temanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bertemakan sosial. Yang jelas penulis, seniman, atau siapa pun kita manusia merupakan observator kehidupan dan pengamat kehidupan. Saya selalu percaya bahwa kita hadir di bumi ini observator sudah, peneliti sudah, pengamat sudah, siapa pun dia.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair, seorang novelis pastinya punya semacam tokoh yang dikagumi atau tokoh idola. Siapa tokoh yang dikagumi Lintang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya kagum dengan Mas Bambang.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Mas Bambang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suamiku.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Anda bergelut dalam bidang yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dia itu guruku, teman, kekasih, sekaligus bersahabat. Suamiku adalah aktor, orang panggung sekali, terkadang dia juga lupa kalau saya seorang perempuan. Dia tidak suka saya cengeng menghadapi peristiwa demi peristiwa, jadi dia menganggap kadang-kadang dia adalah teman sejawat yang bisa memberi semangat "kamu bisa kok tidak ada kata tidak bisa, asal kamu mau".&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menurut dunia dalam berita sepertinya yang namanya Matahari di Atas Gilli ini adalah hadiah ulang tahun perkawinan. Bisa Anda sedikit menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya, saat itu saya berulang tahun. Mas Bambang mengatakan kepada saya, "Saya akan memberikan kamu hadiah." Padahal waktu itu kalau boleh saya bilang kondisi ekonomi kita sangat minim sekali, lalu saya diajak pergi. Ketika dalam perjalanan, dia mengatakan akan memberikan saya hadiah sebuah pulau, dan saya tersentak bertanya dalam hati, "Hadiah sebuah pulau seperti konglomerat saja." Ternyata ketika kita sampai di pulau itu saya baru tahu inilah hadiah buat saya dan sampai sekarang hadiah itu masih sangat saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Lintang, pembaca juga ingin tahu sebenarnya background Anda yang unik sekali. Banyak keunikkan pada diri Anda tapi ini juga termasuk salah satu dari keunikkan itu. Saya melihat Anda awalnya menekuni arsitektur landscape Trisakti dan ASMI. Mengapa pendidikan Anda melompat-lompat dan apa yang membuat Anda berubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketika kecil saya ditanya sama orang tua saya, "Lintang, kamu mau jadi apa?" Saya tidak tahu dan ketika sudah besar pun saya tidak tahu mau jadi apa. Akhirnya saya coba ingin membahagiakan papa dan mama, karena keinginan papa saya masuk arsitektur dan kemudian saya coba. Setelah saya coba, saya tidak cocok di situ. Akhirnya saya mencoba untuk kerja. Ketika saya memutuskan ingin bekerja berarti saya harus masuk ASMI dulu. Saya juga pernah kerja di salah satu bank dan saya juga tidak cocok di situ. Jadi saya sangat memanjakan kata hati saya sendiri. Ketika saya tidak bisa, saya juga tidak akan memaksakan untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Tapi diantara masa-masa itu, apakah Anda sudah produktif untuk menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya menulis sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan karya-karya Anda yang dipublikasikan itu merekam semua kejadian Anda di SMP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya, jelas mbak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda selalu mengarsipkan semua dokumen-dokumen penting Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak. Saya meyakini bahwa semua yang terjadi di SMP itu adalah pembelajaran dan mungkin Insya Allah ini adalah sebuah pematangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Apa yang belum Anda capai dan apa yang menjadi cita-cita Anda di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya ingin sekali berjajar dengan La Rose, saya kagum sekali dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dia penulis yang sangat luar biasa dan dia tetap berada di dunianya. Dia tidak pergi kemana-mana, Dia juga tidak pernah melucuti dirinya terutama keperempuanannya, tetapi dia tetap menulis. Dunia tulisan adalah dunia pilihannya di dalam sastra. Dia merasa dewasa dan saya ingin seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2006/07/lintang-sugianto-memperkaya-bahasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-115316556456424152</guid><pubDate>Mon, 17 Jul 2006 19:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-25T05:41:23.634+07:00</atom:updated><title>2 orang yang kukagumi</title><description>WS Rendra &amp;amp; Bambang Sugianto&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/1600/2orangyangkukagumi.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0px 0px 10px 10px; width: 203px; height: 151px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/320/2orangyangkukagumi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Seorang penyair, ia menajamkan matanya agar dapat membaca para pendahulunya dengan cara-cara tertentu. Saat ia merenung, ia menemukan sebuah puitika. Barangkali, tanpa metode demikian tak akan sanggup para penyair itu dapat melampaui yang ia kagumi&lt;/span&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2006/07/2-orang-yang-kukagumi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-31177162.post-115299283291326771</guid><pubDate>Sat, 15 Jul 2006 19:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-25T05:42:33.326+07:00</atom:updated><title>Kebun</title><description>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/1600/prespektif_lintang_bahasaJiwa.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 285px; height: 232px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/299/3361/320/prespektif_lintang_bahasaJiwa.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seharusnya tak ada kata lawan diantara kita. Kita tumbuh dari sebuah &lt;em&gt;kebun&lt;/em&gt; yang sama dan menerima hujan, hangat sinar matahari dan menatap rembulan yang sama. Bila tembok-tembok menjulang bermunculan diantara kita, lantas ideologi-ideologi, masing-masing diantara kita berusaha dengan nada bergemuruh membenarkan diri. Mengapa? Mengapa kita merusak sendiri harmoni sosio-psikologis &lt;em&gt;satu kebun &lt;/em&gt;kita? Pada sebuah malam yang tenang, kita perlu merenung bahwa kita memerlukan sebuah jembatan yang kekar meskipun tak besar namun sanggup mengantarkan kita keseberang dan berjabat tangan kembali dengan asal usul kita, sebuah &lt;em&gt;kebun&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://lintangs.blogspot.com/2006/07/kebun.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>