<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Madinah-Al-Hikmah.NET</title>
	
	<link>http://edwinharahap.com/madinah</link>
	<description>Muhammad SAWW Kota Hikmah dan Ali Pintunya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 18:45:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/madinah-al-hikmah" /><feedburner:info uri="madinah-al-hikmah" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>madinah-al-hikmah</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Al-Kindi &amp; Kontradiksi2 Al-Qur’an</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/i51mZWaA7vU/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2009/11/23/al-kindi-kontradiksi2-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 13:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Kindi]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Filosof]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmuwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Al-Kindi adalah seorang filosof dan ilmuwan Islam yang sangat terkenal. Berbagai karyanya hinggi kini masih menjadi referensi menarik dalam khazanah pemikiran Islam.
Di masa hidup Al-Kindi, Islam menghadapi banyak kritik dari berbagai kalangan pemikir aliran dan agama lain. Tak sedikit di antara kritik itu yang menyebabkan umat Islam terguncang dan bingung.
Salah tema kontroversial yang kerap ditulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="TEXT-ALIGN: justify"><img class="alignleft size-full wp-image-22" title="Al-kindi" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Al-kindi.jpg" alt="Al-kindi" width="143" height="197" />Al-Kindi adalah seorang filosof dan ilmuwan Islam yang sangat terkenal. Berbagai karyanya hinggi kini masih menjadi referensi menarik dalam khazanah pemikiran Islam.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Di masa hidup Al-Kindi, Islam menghadapi banyak kritik dari berbagai kalangan pemikir aliran dan agama lain. Tak sedikit di antara kritik itu yang menyebabkan umat Islam terguncang dan bingung.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Salah tema kontroversial yang kerap ditulis pada periode itu adalah soal kontradiksi-kontradiksi dalam al-Qur’an. Berbagai pemikir ateis, Yahudi, Kristen dan aliran2 lain kerap menelurkan karya berkenaan dengan kontradiksi2 dalam al-Qur’an. Akibatnya, murid2 Al-Kindi kebingungan. Sedikit demi sedikit Al-Kindi mencoba menjawab berbagai keberatan dan kritik yang dilontarkan berkenaan dengan kontradiksi2 al-Qur’an.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Tapi kemudian, tibalah saatnya Al-Kindi merasa kelelahan. Dia mengutus salah seroang murid dekatnya berkelana mencari alim ulama yang bisa memberikan jawaban singkat padat dan tuntas soal kontradiksi2 al-Qur’an. Setelah berkeliling kesana kemari, orang2 di Samarra, Irak, akhirnya menyuruhnya untuk mendatangi majlis taklim Imam Hasan Al-Askari.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Mendengar pertanyaan murid Al-Kindi itu, Imam Hasan Al-Askari menawarkan ini: “Bagaimana kalau saya beri kau kunci masalah keilmuan.” “Sangat menyenangkan,” jawab murid Al-Kindi.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Lalu Imam Hasan Al-Askari melontarkan pertanyaan sederhana ini: “Bukankah kau tahu selalu ada kemungkinan bahwa maksud Sang Pembicara (Allah) selalu bisa berbeda dengan pengertian yang ditangkap oleh si pembaca?!” (Bahkan, dalam komunikasi antar manusia saja selalu ada <em><span style="text-decoration: underline;">kemungkinan</span> </em>salah paham antara pembicara dan lawannya. Akibatnya, kehati-hatian lawan bicara jauh lebih logis ketimbang tuduhan si lawan bicara bahwa pembicara telah terjebak dalam kontradiksi. Apalagi dalam konteks ini pembicara adalah Tuhan yang Maha Mengetahui.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">“Betul, memang selalu ada kemungkinan seperti itu,” jawab murid Al-Kindi.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">“Padahal, kontradiksi mengasumsikan persamaan antara maksud Sang Pembicara dengan pemahaman si pembaca.” Jelasnya, tak ada kontradiksi antara dua objek yang memang sejak awal berbeda.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Mendengar jawaban singkat ini, murid itu segera meminta diri dan bergegas menemui Al-Kindi. Di hadapan Al-Kindi, dia bilang bahwa dia punya gagasan untuk menjawab tuntas semua isu berkenaan dengan kontradiksi dalam al-Qur’an. Lalu dia mulai bercerita. Mendengar gagasan muridnya ini, Al-Kindi berkomentar, “Beritahu aku dari mana kau dapat gagasan ini?”</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">“Ini gagasanku sendiri,” jawabnya.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Al-Kindi menggelengkan kepala dan menimpali, “Tak mungkin gagasan seperti ini datang dari dirimu, karena di sini terletak argumen yang pasti datang dari ilmu yang tinggi.”</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Setelah didesak, muridnya itu lantas mengakui bahwa dia memperolehnya dari Imam Hasan Al-Askari. Mendengar nama Hasan Al-Askari, Al-Kindi langsung berkomentar, “Memang hanya dia yang punya kapasitas untuk memberi jawaban sekelas ini. Dia mewarisi ilmu Nabi dan memperoleh ilmu langsung dari Tuhan.”</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Sumber : <a href="http://musakazhim.wordpress.com">http://musakazhim.wordpress.com</a> </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/i51mZWaA7vU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2009/11/23/al-kindi-kontradiksi2-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2009/11/23/al-kindi-kontradiksi2-al-qur%e2%80%99an/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengapa al-Mahdi Harus Gaib?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/tDsWTsGFz5A/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2009/11/23/mengapa-al-mahdi-harus-gaib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 12:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Ghaib]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahdi AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Eksistensi memancar pada segala sesuatu dalam dua sisi: yang tak-tampak dan yang tampak. Eksistensi tak-tampak seperti ruh, jiwa, akal, perasaan, dan sebagainya adalah dimensi yang tak-terbatasi; sedangkan perwujudan lahiriah seperti lembaran yang sedang Anda baca ini, tubuh Anda yang sedang menggigil kedinginan atau berkeringat kegerahan…adalah sisi yang terbatas dan terukur. Jadi, semua yang terlihat atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-14" title="Mahdi" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Mahdi.jpg" alt="Mahdi" width="300" height="408" />Eksistensi memancar pada segala sesuatu dalam dua sisi: yang tak-tampak dan yang tampak. Eksistensi tak-tampak seperti ruh, jiwa, akal, perasaan, dan sebagainya adalah dimensi yang tak-terbatasi; sedangkan perwujudan lahiriah seperti lembaran yang sedang Anda baca ini, tubuh Anda yang sedang menggigil kedinginan atau berkeringat kegerahan…adalah sisi yang terbatas dan terukur. Jadi, semua yang terlihat atau terindra adalah sisi terbatas, terukur dan terkecil dari eksistensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sampai pada dua sisi eksistensi ini, sebagian orang tak mampu memahami apa yang di luar alam yang terbatas dan terindra ini. Orang itu lalu sesumbar bahwa materialitas identik dengan keseluruhan eksistensi. Tapi klaim semacam ini di ranah ilmu pengetahuan dianggap tak lebih dari kebodohan dan kesombongan. Satu-satunya “alasan” di balik klaim semacam itu adalah ketiadaan bukti akan adanya sesuatu di luar yang mereka bisa indrai. Padahal, secara logika, ketiadaan-bukti bukanlah suatu bukti, melainkan keadaan negatif yang hanya menyatakan ketidaktahuan atau kebodohan dan tidak bisa menghasilkan kesimpulan apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip ilmu menandaskan “premis negatif tidak bisa memberikan kesimpulan afirmatif”. Yakni, orang yang tidak mengetahui X tidak bisa secara afirmatif menafikan X. Sialnya, dengan kesombongannya, manusia sering beranggapan bahwa apa yang diketahuinya sama dengan apa yang ada dan apa yang tidak diketahuinya sama dengan ketiadaan. Kerancuan berpikir ini sering kita temukan dalam banyak bidang kemanusiaan dan keagamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan sehari-hari, sebetulnya kita selalu mengalami efek dari sisi gaib eksistensi. Gravitasi, gelombang, virus, molekul, sel, atom, sumber-sumber energi, dan lain2 adalah dimensi “gaib” yang senantiasa mempengaruhi kita. Jadi, ada banyak hal gaib yang sungguh-sungguh mempengaruhi kita. Tiap saat, di tiap tempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari itu, dalam struktur realitas, alam fisik material ini justru menempati posisi paling rendah (ad-dunyâ). Energinya paling redup; ruang dan waktunya juga paling terbatas. Dibanding dengan “ruang dan waktu” yang terdapat dalam imajinasi kita saja alam material ini sudah kalah hebat. Sebaliknya, alam non-material adalah energi murni yang tidak “terpenjara” dalam suatu bentuk dan berada dalam samudera lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli fisika kuantum menyebut alam non-material itu dengan chaos, para filosof menyebutnya dengan Wujud Abstrak, kaum empiris menyebutnya dengan ketiadaan, dan agama menyebutnya dengan kegaiban sebagai lawan dari ketampakan atau alam batin sebagai lawan dari alam lahiriah. Sebutlah sesuka Anda, karena sisi gaib itu memang pasti ada dan selalu mempengaruhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Alam Gaib itu adalah kampung asal dan tempat kembali manusia. Kehidupan fisik sesungguhnya berarti pemenjeraan dan pembatasan ruh. Di alam fisik ini, ruh terkurung dalam terali tubuh yang tidak dapat dilanggarnya. Pada saat ruh terlepas dari alam fisik ini, ia akan kembali bebas dan tidak lagi terbebani. Kata rû<span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">h</span></span><span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;"> </span></span>dalam bahasa Arab mempunyai akar kata yang sama dengan râ<span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">h</span></span>ah, yakni keadaan lapang atau bebas dari beban (relief).</p>
<p style="text-align: justify;">Allah mengutus para nabi, rasul dan imam untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan keterjeratan ini. Mereka berjuang keras untuk menyampaikan pesan-pesan Allah agar manusia ingat pada hampung halamannya yang sejati. Mereka mengajak manusia untuk berpikir akan kehidupan selanjutnya, kehidupan setelah kehancuran tubuhnya dan kemusnahan dunia. Tidak hanya itu, mereka secara langsung mencontohkan perilaku dan sikap yang harus diambil oleh seseorang dalam rangka mengarungi perjalanan menuju kehidupan abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu demi satu nabi, rasul dan imam dipilih dan diutus untuk umat manusia. Baginda Nabi al-Musthafa saw telah menyempurnakan tugas semua nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu Allah kepada semua manusia. Ajaran dan pesan Allah telah sempurna bagi semua manusia. Rasulullah saw juga telah menyebutkan imam-imam yang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia mengarungi jalan menuju kampung yang abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun manusia tetap tak sadar diri, bergeming dalam kekafiran dan pengingkaran. Tidak segan-segan mereka memanipulasi agama suci ini demi kepentingan-kepentingan duniawi. Mereka memutarbalikkan ayat-ayat Allah untuk mencapai hasrat-hasrat egoistik-materialistik. Imam-imam yang telah dipilih oleh Allah untuk memimpin manusia diingkari, ditindas dan dibantai satu demi satu. Kegelapan dan kelaliman pun puncaknya benar-benar memenuhi dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala benda yang ada di dunia inikini menjerit kesakitan. Perusakan manusia sudah berlangsung melampaui batas. Jika saja Allah bolehkan, dunia mungkin akan meledakkan dirinya sendiri dalam erangan amarah. Matahari pun sudah tak lagi memancarkan cahaya yang menyehatkan, cuaca tidak lagi beraturan, langit menurunkan hujan2 tangisan yang penuh asam, tanah penuh racun, hutan mengering dan terbakar, laut tercemar polusi, udara pengap dan terkontaminasi, binatang-binatang punah, burung-burung tidak lagi bernyanyi, makhluk-makhluk tidak terlihat berubah menjadi virus-virus mematikan. Orang-orang bijak yg berjalan di garis kebenaran pun perlahan dipinggirkan. Mereka diolok-olok layaknya tikus-tikus di got.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh…dunia ini sudah benar-benar tidak layak untuk ditinggali oleh seorang imam yang suci.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itulah Allah yang Maha Bijak menyembunyikan Imam al-Mahdi, imam terakhir dan pembebas pamungkas umat manusia dalam pelukan-Nya di alam gaib. Beliau didekap-Nya dalam balutan cahaya rahmat, pengetahuan, kekeramatan dan kemampuan gaib. Inilah Imam yang kelak bangkit untuk menindak dan membalas, memenuhi bumi manusia dengan keadilan dan kebenaran setelah dipenuhi dengan kelaliman dan kebejatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam banyak riwayat beliau diberi gelar al-Qâim, yakni seseorang yang bangkit untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Tugas beliau bukan lagi untuk mengajar atau menyampaikan kebenaran, melainkan menghakimi dan menindak tegas semua bentuk pelanggaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menafsir firman Allah: “Orang-orang yang berdosa dikenali melalui tanda-tanda mereka, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki-kaki mereka (untuk ditindak)” (QS 55:41), Imam Ja’far ash-Shadiq as. berkata: “Allah mengenali para durja itu dan memberitahu al-Qaim dan sahabat-sahabatnya tanda-tanda mereka untuk menindak mereka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat itulah terbentang keadilan, kemakmuran, kedamaian, kemerdekaan dalam arti yang hakiki, tanpa penindasan dan perbudakan dalam segala dimensinya. Dan inilah janji Allah seperti termaktub dalam QS surah ke-21 ayat 105; QS ke-24 ayat 55; QS ke-28 ayat ke-5. Mungkin hanya kebetulan saja bahwa ayat-ayat ini semuanya berangka 5, tapi mungkin juga tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://musakazhim.wordpress.com">http://musakazhim.wordpress.com</a></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/tDsWTsGFz5A" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2009/11/23/mengapa-al-mahdi-harus-gaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2009/11/23/mengapa-al-mahdi-harus-gaib/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Manuver Kekuatan Rakyat Libanon; S H Nasrullah Pemrakarsa Timur Tengah Baru</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/vmSDCltkDS4/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2008/03/25/manuver-kekuatan-rakyat-libanon-s-h-nasrullah-pemrakarsatimur-tengah-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 16:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan Nashrullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[“Kekuatan kami tidak ditentukan oleh senjata-senjata kami, tetapi oleh rakyat dan nenek tua yang dengan berani tetap berdiri di samping bekas reruntuhan rumahnya untuk menunjukkan perlawanannya”. ( Sayyid Hasan Nasrullah)www.baztab.com dari ISNA.
Perayaan kemenangan rakyat Libanon yan digelar Jum’at 22 September 2006 merupakan perayaan terbesar dalam sejarah Libanon. Hari itu ribuan orang datang dan berkumpul mendengarkan pesan-pesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="WIDOWS: 2; TEXT-TRANSFORM: none; TEXT-INDENT: 0px; BORDER-COLLAPSE: separate; FONT: medium 'Times New Roman'; WHITE-SPACE: normal; ORPHANS: 2; LETTER-SPACING: normal; COLOR: #000000; WORD-SPACING: 0px; -webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; -webkit-text-decorations-in-effect: none; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px"><span style="TEXT-ALIGN: left; LINE-HEIGHT: 18px; FONT-FAMILY: Tahoma, Verdana, sans-serif; FONT-SIZE: 12px"><img class="alignleft size-full wp-image-186" title="sekh-hasan-nasrullah" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/sekh-hasan-nasrullah.jpg" alt="sekh-hasan-nasrullah" width="250" height="277" />“Kekuatan kami tidak ditentukan oleh senjata-senjata kami, tetapi oleh rakyat dan nenek tua yang dengan berani tetap berdiri di samping bekas reruntuhan rumahnya untuk menunjukkan perlawanannya”. ( Sayyid Hasan Nasrullah)</span><a style="BACKGROUND-COLOR: transparent; COLOR: #000000; FONT-WEIGHT: bold; TEXT-DECORATION: none" href="http://www.baztab.com/" target="_blank">www.baztab.com</a> </span>dari ISNA.</p>
<p>Perayaan kemenangan rakyat Libanon yan digelar Jum’at 22 September 2006 merupakan perayaan terbesar dalam sejarah Libanon. Hari itu ribuan orang datang dan berkumpul mendengarkan pesan-pesan dari pidato Sayyid Hasan Nasrullah. Mungkin dapat kita simpulkan bahwa perayaan kemenangan ini adalah sebagai sebuah embrio bagi terciptanya Timur Tengah baru menurut tafsiran dan gaya Hisbullah.</p>
<p>Dalam pembukaan pidatonya kali ini Hasan Nasrullah setelah mengucapkan syukur dan pujian kepada Tuhan, beliau mengkhususkan objek pembicaraannya pada sebuah masalah yang dia anggap prinsip, yaitu rasa simpati dan bela sungkawanya terhadap rakyat tertindas Palestina dan jalur Gaza.<br />
Beliau mengatakan bahwa saat ini tidak ada alasan lagi bagi masyarakat dan negara-negara Arab untuk berdiam diri, beliau menunjukkan bahwa dengan melihat hasil-hasil dari perang Libanon kali ini, Israel pun ternyata tidak kebal dari kekalahan, dan menyeru masyarakat Arab untuk segera menentukan tugasnya secara menyeluruh dalam menghadapi Israel.</p>
<p>Sayyid Hasan Nasrullah juga menyinggung tentang masalah-masalah pokok seperti perlucutan senjata Hisbullah, menurut beliau jika Libanon sudah mencapai kondisi yang betul-betul aman, pasti dan tanpa kesulitan yang berarti perlucutan itu akan segera terlaksana. Beliau juga mengingatkan tentang masalah pembebasan dua tentara Israel yang di sandera Hisbullah, beliau mengatakan bahwa sama halnya seperti yang telah beliau tunjukkan dalam perang, bahwa kalaupun seluruh dunia memobilisasi kekuatannya untuk menyerang Hisbullah, mereka tidak akan bisa membebaskan kedua tawanan tersebut kecuali dengan jalan negosiasi dan pembebasan serta pengembalian tawanan-tawanan Libanon ke rumah-rumah mereka terlebih dahulu.</p>
<p>Nasrullah dalam pidatonya juga menyoroti kondisi dalam negeri Libanon dan memperingatkan mereka yang memecah belah bangsa serta orang-orang yang mengeluarkan isu tentang perlucutan senjata Hisbullah. Beliau berkata: kalian rakyat dan pejuang-pejuang Libanon, dengan kehadiran kalian di acara perayaan kemenangan ini, sekali lagi telah kalian buktikan keberanian dan kesiapan kalian.</p>
<p>Beliau menambahkan: bahwa kemenangan perlawanan Islam Libanon dapat tercapai adalah berkat bantuan dan pertolongan Tuhan dan juga berkat kebersamaan kalian rakyat Libanon yang berani dan perkasa.</p>
<p>Beliau mengatakan bahwa sebelum acara perayaan kemenangan besar ini terlaksana, sejumlah banyak musuh-musuh dalam dan luar negeri melancarkan perang urat syaraf demi menggagalkan pelaksanaan acara perayaan kemenangan rakyat ini, beliau berkata: mereka sangat bekerja keras supaya pada hari ini tidak juga kalian hadir di sini, tidak juga saya.</p>
<p>Tetapi hari ini rakyat Libanon baik yang berjalan kaki maupun yang mengendarai kendaraan dari tempat-tempat yang jauh maupun dekat, utara maupun selatan dan juga dari kamp-kamp penampungan Palestina, semuanya dapat hadir di tempat ini, sehingga jawaban yang kokoh mampu kalian berikan kepada mereka, dan kalian katakan bahwa kemenangan adalah milik kita dan tidak ada yang lebih layak untuk merayakan kemenangan ini selain daripada rakyat Libanon.</p>
<p>Beliau menambahkan: saya sangat berterimakasih kepada semua yang telah datang baik itu dari utara maupun selatan Libanon, kamp-kamp penampungan Palestina, dari Bahrain, Qatar, Kuwait, Palestina, Suriah, Iran dan juga yang datang dari negara-negara lain, dan salam saya bagi seluruh keluarga-keluarga Syuhada Libanon dan keluarga-keluarga lain dari bangsa yang besar ini, yang selalu bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, dan yang hari ini telah menyampaikan kita sampai pada kemenangan ini.</p>
<p>Beliau berkata: hari ini kita merayakan satu kemenangan, kemenangan yang harus dicatat sebagai kemenangan strategis dan penting. Tapi mengenai bagaimana perlawanan Islam Libanon yang hanya dengan memiliki beberapa ribu jumlah pasukan saja, dapat bertahan dan melakukan perlawanan dalam menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di wilayah Timur Tengah serta yang merupakan pasukan terlengkap di dunia, dan itu pun selama 33 hari bertahan dan melawan, perlu kepada satu pembahasan khusus yang lain lagi.</p>
<p>Saya katakan kepada anda rahasia perlawanan ini, perlawanan yang mampu menggetarkan tubuh-tubuh pasukan terbaik Israel yang kemudian seperti tikus lari dari medan perang, perlawanan yang mampu merubah tank-tank Israel menjadi kuburan-kuburan, perlawanan yang mampu mengusir kapal-kapal perang Israel dari perairan Libanon, rahasiannya tidak lain hanyalah pertolongan Tuhan dan peralwanan rakyat Libanon.</p>
<p>Beliau menambahkan: perlawanan Islam Libanon berkat pertolongan Tuhan, pengalaman para pasukan, manajemen yang terorganisir dengan baik, keyakinan tentang jihad, pelajaran-pelajaran khusus dan persenjataan yang ada, dalam perang ini mampu merebut kemenangannya. Menurut keyakinan saya pengalaman perlawanan Islam Libanon ini harus dapat tersebar ke seantero dunia.</p>
<p>Beliau juga mengatakan bahwa perlawanan Islam Libanon ini bukanlah suatu perlawanan yang tidak teroganisir, justru ia adalah perlawanan yang sangat terorganisir dan dipersenjatai, yang dengan berlandaskan keyakinan, kehendak dan pertolongan rakyat, perlawanan ini mampu mewujudkan semua mukjizat yang telah dicapainya sekarang ini.<br />
Dengan alasan inilah perlawanan Islam Libanon mampu memenangkan peperangan ini, dimana ada rakyat seperti kalian yang selalu berdiri di belakangnya. Rakyat yang hari ini dengan segala ancaman dan perang-perang urat syaraf yang dilancarkan hadir di tempat ini, dan sekali lagi menunjukkan kemenangannya kepada dunia. Keberanian rakyat seperti kalianlah yang di masa-masa perang, mengantarkan perlawanan Islam Libanon sampai kepada kemenangan.</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa pada masa perang banyak dari musuh-musuh dalam dan luar negeri yang mempunyai keyakinan bahwa jika mereka dapat menghancurkan dan memporakporandakan rakyat Libanon maka keyakinan mereka terhadap perlawanan Islam akan hilang dan bantuan yang telah diberikan kepadanya akan mereka tarik kembali, untuk kemudian musuh-musuh ini beranggapan bahwa setelah itu rakyat dapat dijadikan alat untuk menekan perlawanan Islam Libanon, tetapi musuh-musuh ini buta dan salah dalam memprediksikan situasi, karena rakyat Libanon dalam kondisi yang sesulit apapun tetap melanjutkan dukungannya terhadap perlawanan Islam dan tetap menjaga kemuliaan dan harga diri mereka serta mempertahankan dan menuntut atas setiap jengkal tanah negaranya.</p>
<p>Beliau melanjutkan: beberapa waktu yang lalu sebagian dari petinggi-petinggi Amerika di atas podium-podium mereka mengumumkan bahwa telah sampai berita yang menggembirakan kepada mereka dari Libanon yang isinya menyatakan bahwa kekuatan perlawanan Islam Libanon telah melemah dan sedang di ambang perpecahan, tetapi kalian rakyat yang mulia yang terdiri dari bangsa-bangsa, suku-suku dan partai-partai yang berbeda dan yang sedang merayakan kemenangan ini, dapat memberikan jawaban yang jitu kepada musuh besar ini dan kalian katakan bahwa semua berita-berita yang mereka terima tersebut tidak lebih dari kebohongan belaka, dan pertimbangan-pertimbangan Gedung Putih tidak boleh disandarkan pada berita-berita bohong tersebut.<br />
Sayyid Hasan Nasrullah menambahkan bahwa perang ini adalah perangnya Amerika dan yang mengkoordinasikannya pun adalah mereka, dilakukan dengan senjata-senjata mereka. Namun yang menghentikan peperangan ini adalah kekuatan dan kemenangan perlawanan Islam Libanon bukan Amerika atau Israel atau negara-negara mediator lainnya.</p>
<p>Beliau menegaskan: Amerikalah yang semenjak awal mengatur terjadinya perang ini dan sampai minggu ke empat terjadinya peperangan ini tetap menuntut supaya perang terus berlangsung, tetapi setelah melihat kemampuan dan kekuatan perang serta mental pasukan Israel betul-betul sudah berada di titik kehancuran, Amerika dengan maksud untuk menyelamatkan Israel mulai memasuki medan perang dan berusaha keras untuk menghentikan peperangan ini, tapi jika seandainya pernyataan saya ini salah, dan jika Amerika memiliki sedikit saja belas kasihan terhadap rakyat Libanon dan anak-anak kecil serta wanita-wanita negara ini, meraka sebenarnya sangat mampu untuk sejak awal menghentikan peperangan ini, tapi tidak mereka lakukan.</p>
<p>Beliau menambahkan: sangat disesalkan sekarang ini sebagian dari partai-partai yang ada di Libanon dengan kurang ajar mengumumkan bahwa Amerikalah yang telah menghentikan perang ini, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Kekuatan perlawanan Islam sajalah dan anak-anak kalian yang dengan sabar dan dengan kekokohan serta kemampuannya dalam mewujudkan “mukjizat” lah yang mampu menghentikan peperangan ini. Rakyat Libanonlah yang sebenarnya memiliki paling banyak sumbangsih dalam kemenangan ini, adalah rakyat yang merangkul dan melindungi kekuatan-kekuatan perlawanan Islam, baik itu di dalam mesjid-mesjid, sekolah-sekolah maupun di gereja-gereja, dan hari ini yang paling berhak untuk berbicara tentang kemenangan hanyalah rakyat yang murah hati ini.</p>
<p>Beliau menambahkan: selamat bagi orang-orang yang hari ini merasa bahwa rencana- rencana dan tujuan-tujuannya telah terlaksana, dan juga bagi mereka yang merasakan kemenangan dalam perang ini, tapi bagi mereka yang merasa bahwa rencana-rencana dan tujuan-tujuannya tidak tercapai dan telah melakukan pekerjaan yang sia-sia, di perang ini akan merasakan kekalahan. Saya katakan kepada anda, hari ini rakyat Libanon, Palestina dan umat Islam serta seluruh kaum tertindas di muka bumi ini telah meraih kemenangannya, dan sekali lagi akan saya ulangi kata-kata saya yang telah saya sampaikan pada hari kemenangan rakyat Libanon di Bint al Jubail tahun 2000 yang lalu, saya katakan bahwa kemenangan kami dalam perang ini adalah kemenangan yang hakiki dari seluruh rakyat Libanon, masa-masa kekalahan telah berakhir, sekarang telah dimulai langkah baru, langkah-langkah untuk pencapaian kemenangan-kemenangan.</p>
<p>Beliau juga menyindir partai-partai yang ada di Libanon dengan berkata : kemenangan ini adalah satu kemenangan yang nyata, bersejarah dan besar, janganlah kita tempatkan kemenangan dan seluruh hasil-hasil besarnya ini -dengan segala kemelut politik dan perang kata-kata yang ada- pada tempat yang tertutup.</p>
<p>Beliau juga menambahkan: hari ini perlawanan Islam telah melumpuhkan seluruh dalih dan alasan yang muncul dari negara-negara di kawasan Timur Tengah dan dunia, sehingga tidak ada seorang pun yang mempunyai alasan untuk mengatakan “kami tidak mampu menghadapi tentara-tentara “mitos” Israel” atau “persenjataan kami tidak cukup lengkap untuk menghadapi Israel”.</p>
<p>Beliau menambahkan: Condoleeza Rice di awal perang Libanon berbicara tentang terciptanya Timur Tengah baru, tapi hari ini “anak haram” itu telah gagal, karena dia adalah anak haram, yang untuk mempertahankan eksistensinya saja ia tidak mampu.<br />
Sayyid Hasan Nasrullah berkata: pertahanan dan perlawanan kami dalam perang dengan Israel ini telah mempermalukan Amerika, dan telah meningkatkan intensitas permusuhan dunia atas negara ini, juga mampu meningkatkan kewaspadaan dan kebangkitan dunia atas hegemoni negera ini terhadap dunia.</p>
<p>Hasil dari kemenangan perlawanan Islam Libanon hari ini adalah terciptanya sebuah kondisi dimana setiap orang Arab dan orang Islam secara bebas dan leluasa dapat berbicara apa saja tentang Israel dan Amerika dan seorang terhormat seperti Chavez pun dengan leluasa di forum PBB berbicara dan mengutuk kekuatan dan politik Amerika.<br />
Beliau menambahkan: di akhir-akhir pada tahun 2000 telah kami tunjukkan kepada dunia sebuah contoh dan teladan tentang kemenangan, dan kali pun di tahun 2006 di akhir-akhir perang ini kami tunjukkan kepada dunia contoh dan keteladanan tentang perlawanan dan tekad yang keras, sehingga kemudian tidak ada lagi satupun dari pemimpin-pemimpin negara di kawasan ini serta masyarakat-masayarakatnya yang memiliki alasan untuk tidak dapat berhadapan dengan musuh yang tiran ini.</p>
<p>Sayyid Hasan Nasrullah dengan menyindir delegasi Persatuan Negara-negara Arab yang diberangkatkan ke DK PBB dengan tujuan untuk membahas tentang perdamaian dan usaha untuk menemukan jalan keluar bagi krisis yang terjadi di kawasan Timur Tengah selama ini, berkata: bagaimana mungkin mereka dapat menghadapi Israel dan mampu menciptakan perdamaian serta menemukan jalan keluar atas krisis ini, sementara mereka sendiri tidak mau untuk mengeluarkan sepeser pun kekayaannya untuk kemerdekaan Libanon, Palestina, Masjid al Aqsha, Tepi Barat dan Jalur Gaza.</p>
<p>Bagaimana mungkin mereka dapat mencapai perdamaian dan menemukan jalan keluar yang adil atas krisis ini, sementara mereka sendiri tidak mau menggunakan “senjata minyaknya” untuk menghadapi musuh. Gerombolan ini (Persatuan Negara-negara Arab) tidak bersedia untuk melakukan perlawanan, juga tidak bersedia untuk mempergunakan minyaknya sebagai senjata, mereka juga bahkan tidak bersedia untuk menolong masyarakat Palestina. Lantas bagaimana mungkin mereka ingin menuntut penyelesaian damai yang berkelanjutan atas kasus dan krisis ini kepada DK PBB?</p>
<p>Beliau menuding Persatuan Negara-negara Arab serta para pemimpinnya dengan berkata: hari ini musuh, yaitu Israel memandang rakyat Libanon dan Perlawanan Islam dengan pandangan yang penuh hormat, tapi apakah mereka mengakui keabsahan kelompok ini?<br />
Beliau menambahkan: negara-negara ini berdalih dan berkata “kami adalah negara-negara yang lemah, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi Israel”, tapi hari ini negara Libanon tidak menyisakan sedikitpun alasan bagi mereka untuk tidak melawan. Kenyataannya adalah hari ini pasukan-pasukan Arab dan pasukan-pasukan Islam bukan hanya mampu untuk menghadapi Israel, tetapi lebih dari itu mereka mampu untuk membebaskan Palestina mulai dari Masjid al Aqsha sampai Tepi Barat dan Jalur Gaza.</p>
<p>Beliau menegaskan: suatu masa ketika seseorang diantara masyarakat dan diantara hak-haknya membandingkan kekuatannya dengan yang lainnya, adalah wajar ketika menganggap bahwa singgasana kekuatannya lebih hebat dari yg dipunyai masyarakat. Hal ini tepat seperti apa yang telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin negara Arab, tetapi Perlawanan Islam Libanon lebih mengutamakan kemuliaan dan kehormatan rakyatnya daripada keinginan-keinginan dan tujuan-tujuan lainnya, sehingga pada akhirnya pada hari ini dengan keyakinan yang kokoh ini rakyat Libanon mampu memporak-porandakan mitos “Israel yang tidak terkalahkan” itu.</p>
<p>Kekalahan Israel ini semakin jelas ketika hari ini dan beberapa waktu yang lalu, koran Yudiut Aharunut mengumumkan hasil-hasil dari sebuah polling pengumpulan pendapat yang menyatakan hanya sekitar 70% masyarakat Israel yang percaya bahwa Ehud Elmert layak di posisi perdana menteri di negara ini. Hal ini tidak lain adalah sebuah sindiran kepada kemenangan Perlawanan Islam Libanon dalam perang menghadapi Israel.</p>
<p>Beliau berkata: suatu masa dengan terhormat pernyataan ini terlontar “jika setiap orang Libanon menuangkan satu ember air saja ke Israel, niscaya ia akan tenggelam”. Tapi yang sangat disesalkan adalah negara-negara Arab untuk menghadapi musuh despotik semacam ini apa yang telah dilakukannya?</p>
<p>Sayyid Hasan Nasrullah menambahkan: hari ini kesakitan, kesedihan dan seluruh kesusahan kita ada di Palestina, ada di Jenin, di Masjid al Aqsha dan kamp-kamp orang Palestina yang setiap hari selalu menjadi sasaran penyerangan rejim ini, anak-anak kecil dan remaja-remaja Palestina setiap hari menjemput ajalnya. Sampai kapan kita harus bersabar atas skandal pembunuhan ini, dimana pada saat yang sama anak-anak kecil, remaja-remaja, wanita-wanita, orang-orang tua dan orang-orang terpelajar Palestina mampu dengan tangan kosong menciptakan keajaiban dalam menghadapi Israel. Kenapa pasukan-pasukan Arab tidak diperbolehkan membantu rakyat Palestina baik itu bantuan dana, semangat ataupun persenjataan?</p>
<p>Tetapi berbicara tentang Irak, harus saya katakan bahwa kita harus melihat negara ini sebagai sebuah teladan. Orang-orang Amerika sejak dulu mempunyai rencana bahwa setelah selesai memenangkan perang Irak, hal yang sama akan diterapkan juga di Libanon, tetapi dengan bantuan Tuhan ternyata kami yang memenangkan perang ini.<br />
Beliau menegaskan: Libanon untuk memenangkan perang ini menyumbangkan ratusan pejuang yang gugur syahid, dan Palang Merah, tentara, pertahanan kota dan partai-partai politik kerakyatandalam perang ini masing-masing telah menyumbangkan bantuannya, menyumbangkan pejuang yang gugur syahid, tetapi untuk apa? Untuk supaya rakyat Libanon memenangkan perang ini. Sekarang jika kita ingin menengok Irak, kita dapat melihat ratusan orang Irak setiap bulannya mati dalam sebuah peperangan yang sia-sia dan tanpa hasil. Perang yang berjalan tanpa tujuan ini nyata-nyata dipelopori dan dikomandoi Amerika dan Mossad Israel.</p>
<p>Beliau menambahkan: Perlawanan Islam Libanon, bertolak berlakang dengan pendapat para petinggi dalam dan luar negeri negara ini, yang mengatakan bahwa gerakan ini telah menciptakan perang saudara di dalam negeri Libanon sendiri, justeru telah menyelamatkan Libanon dari perang-perang saudara ini.</p>
<p>Pemimpin Hisbullah Libanon ini pun menyampaikan pesan-pesannya kepada rakyat Irak dan berkata: pesan saya kepada rakyat Irak supaya dapat keluar dari krisis yang ada sekarang ini adalah kalian harus selalu waspada dan peka terhadap masalah-masalah politik, jangan sampai masuk jebakan musuh dan jadikanlah perlawanan sebagai pegangan untuk menghadapi konspirasi-konspirasi musuh.</p>
<p>Beliau menambahkan: hari ini saya sampaikan kepada orang-orang yang telah mengumandangkan pembagian wilayah Libanon dan perang saudara, bahwa siapa saja yang berbicara tentang pembagian wilayah Libanon atau berbicara tentang perubahan negara Libanon menjadi negara federal, ia sebenarnya bukan Libanon, tetapi orang Israel, dan hanya mengulang-ulang perkataan musuh saja, dan sebenarnya sedang merencanakan pencapaian tujuan-tujuan yang diinginkan musuh.<br />
Sejak awal, takdir kami orang-orang Libanon telah ditentukan, bahwa kami harus hidup bersama, berdampingan dan sejajar dengan yang lainnya dan kami sebagai sebuah negara yang bersatu menentang segala pernyataan tentang pembagian wilayah Libanon.</p>
<p>Beliau menambahkan: satu-satunya cara dan solusi yang ada untuk menyelesaikan pelbagai krisis dalam negeri, termasuk krisis politik Libanon adalah dengan terbentuknya sebuah pemerintahan yang kuat. Sebuah kekuatan yang mampu membela hak-hak rakyatnya dan dengan kekuatan penuh mampu menghadapi serangan-serangan beruntun tentara-tentara Israel, sebuah pemerintahan yang jauh dari konspirasi-konspirasi politik dan kerusakan-kerusakan moral dan struktural.</p>
<p>Sayyid Hasan Nasrullah dengan menunjuk kepada protes-protes yang dilakukan oleh sebagian partai-partai dalam negeri juga oleh pihak-pihak luar seperti Amerika dan Israel tentang perlucutan senjata Hisbullah berkata: bukankah lebih baik apabila dalam menyelesaikan setiap masalah, kita kembali pada akar masalahnya, dan masalah tersebut kita selesaikan dari akarnya. Jika kita ingin bersikap logis dalam menyelesaikan masalah ini, kita lihat bahwa Hisbullah terbentuk karena penyerangan-penyerangan yang terus-menerus dilakukan Israel atas Libanon dan karena disanderanya banyak warga Libanon oleh Israel.</p>
<p>Beliau menegaskan: kami tidak pernah mengatakan bahwa senjata-senjata Hisbullah itu abadi, dan memang sama sekali tidak logis jika senjata-senjata itu selamanya berada di tangan Hisbullah, suatu ketika masalah ini harus berakhir. Oleh karena itu jika kita ingin menyelesaikan masalah ini, sebab-sebab yang menimbulkan masalah tersebutlah yang harus kita sembuhkan, dan cara penyembuhannya tidak lain adalah dengan cara mewujudkan sebuah pemerintahan yang kuat dan kompeten di Libanon, cara lain selain cara ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebuah pemerintahan yang mampu membela tanah airnya sendiri dalam menghadapi penyerangan-penyerangan yang dilakukan Israel, sebuah pemerintahan yang mampu memberikan kepercayaan kepada masyarakatnya bahwa ia mampu melindungi keamanan rakyat Libanon dari musuh-musuh tiran semacam Israel. Pada kondisi seperti inilah tidak diperlukan lagi senjata-senjata Hisbullah dan tidak diperlukan lagi negosiasi, bahkan menurut saya pada waktu itu bukan perlucutan senjata Hisbullah tapi penyerahan senjata Hisbullah.</p>
<p>Beliau melanjutkan: jika kita dengan kondisi dan situasi hari ini ingin berbicara tentang perlucutan senjata Hisbullah dengan mengumpulkan senjata-senjatanya, pada kenyataannya ini sama saja dengan menyerahkan negara Libanon yang dengan kondisi tangan terikat kepada Israel, untuk kemudian rejim ini dengan leluasa seperti apa yang mereka inginkan dan kapan saja mereka mau, melakukan penyerangan-penyerangan ke tanah Libanon dan mereka akan membunuhi tokoh-tokoh politik dan agamawan negara ini atau menjadikannya sasaran tembak. Demi Tuhan saya bersumpah saya tidak akan pernah menjerumuskan diri kami sendiri pada sesuatu yang hina dina semacam itu.</p>
<p>Beliau menambahkan: kepada semua orang yang telah bertaruh untuk melemahkan Perlawanan Islam Libanon dan untuk menghancurkan perlawanan ini, harus saya katakan kepada mereka pertaruhan yang mereka lakukan sejak saat ini dan detik ini adalah pertaruhan yang kalah. Orang-orang yang ingin mengacaukan kekuatan Hisbullah dengan cara membuat berbagai konspirasi politik dan perang urat syaraf, dan orang-orang yang ingin secara paksa berhubungan dengan Hisbullah dan kemudian melucuti persenjataannya, semestinya mereka mendengarkan apa yang dikatakan oleh Menteri Luar Negeri dan Menteri Perang Israel yang mengumumkan bahwa tidak ada satu pasukan pun di dunia ini yang mampu memecah belah dan melucuti persenjataan Hisbullah. Saya katakan kepada mereka, partai-partai politik dalam negeri Libanon, bahwasanya tidak ada satu pasukan pun yang mampu merebut senjata-senjata kami dari tangan kami. Selama rakyat Libanon masih memberikan kepercayaannya kepada Perlawanan Islam, tidak ada seorang pun yang mampu memaksa kami untuk menyerahkan diri.</p>
<p>Ketua Hisbullah Libanon ini melanjutkan pidatonya: setiap orang yang berbicara tentang perlucutan senjata Hisbullah berarti ia telah berkhianat, dan saya yang sedang dalam kondisi menunggu mati syahid di akhir jalan nanti ini, sampai kapanpun tidak bersedia untuk melakukan pengkhianatan semacam ini terhadap rakyat dan Perlawanan Islam Libanon.</p>
<p>Beliau menambahkan: hari ini Libanon bukan lagi sebagai sebuah negara kecil di kawasan Timur Tengah, tetapi ia adalah sebuah kekuatan besar dan begitu banyak kaum tertindas di muka bumi ini yang membanggakan kekuatan besar ini, seperti masyarakat Islam dan Arab, dan mereka begitu terkesima memandangnya. Sekali lagi kami katakan, kami tidak berencana untuk terus menyimpan persenjataan kami, tetapi senjata-senjata itulah yang kami gunakan untuk melindungi setiap jengkal tanah negara ini dari musuh. Senjata-senjata Hisbullah bukan hanya milik orang-orang Syi’ah, ia juga milik orang-orang Suni, Kristen dan Druzi yang ada di Libanon. Senjata-senjata ini adalah milik seluruh rakyat Libanon, dan senjata-senjata ini menginginkan kemuliaan dan kehormatan bagi rakyat Libanon.</p>
<p>Beliau menegaskan: solusi kami untuk menyelesaikan krisis dan pertikaian ini adalah dengan terbentuknya sebuah pemerintahan yang besar dan kuat di Libanon. Hari ini kita sedang berhadapan dengan sebuah krisis politik dalam negeri kita sendiri, ini jelas-jelas adalah krisis politik dan bukan krisis agama, bertentangan dengan yang telah digembar gemborkan. Hari ini kita mau tidak mau harus berhadapan dengan pertentangan-pertentangan politik semacam ini, dan kita harus segera menyudahinya secara realistis.<br />
Beliau menegaskan: di ahri yang besar ini dimana rakyat Libanon sedang merayakannya, kepada kalian saya katakan jangan izinkan seorang pun untuk sampai memanfaatkan pertentangan-pertentangan dan gap-gap politk ini untuk kemudian merubahnya menjadi pertentangan-pertentangan agama dan suku.</p>
<p>Beliau berkata: solusi mendasar seperti yang telah saya katakan dan seringkali saya ulang-ulang dan sekali lagi saya pun akan mengulangnya, yaitu terbentuknya sebuah pemerintahan rakyat bersatu. Mari kita berdiri untuk bersama-sama membantu Libanon.<br />
Beliau menambahkan: dengan segala hormat saya terhadap pemerintahan yang ada sekarang, saya umumkan bahwasanya pemerintahan ini selain tidak mampu melindungi rakyatnya sendiri juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam negerinya sendiri, dan pada akhirnya dia tidak memiliki sedikitpun kompetensi untuk mengurus negara.</p>
<p>Beliau berkata: hari ini saya datang ke tempat ini tidak untuk membaca syair-syair, saya datang untuk mengumumkan program-program kami pasca perang yang sebenarnya, yang pada kenyataannya adalah rencana kedua kami pasca perang, yaitu pertama, memasuki proses pemilihan yang adil, dan kedua, proses terbentuknya sebuah pemerintahan rakyat yang kuat sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di Libanon.<br />
Sayyid Hasan Nasrullah dengan menyinggung masalah perlawanan Islam Libanon dan pernyataan sebagian petinggi-petinggi Amerika, Israel dan sebagian dari partai-partai politik Libanon berkenaan dengan dengan melemahnya perlawanan Islam Libanon berkata: kami baru saja keluar dari perang 34 hari dengan Israel, tapi tidak seorangpun boleh melupakan bahwa Hisbullah Libanon telah mempersiapkan dirinya untuk sebuah perang yang lebih lama dari itu.</p>
<p>Beliau menambahkan: pernyataan saya kepada negara-negara musuh dan kepada sebagian partai-partai politik dalam negeri Libanon adalah perlawanan Islam Libanon hari ini dan saat ini mengumumkan bahwa dirinya lebih kuat, lebih lengkap dan lebih terorganisir dari yang lalu, dan selalu siap siaga untuk membalas setiap serangan yang dilakukan.</p>
<p>Beliau melanjutkan: jika musuh berkhayal bahwa roket-roket Hisbullah telah menipis jumlahnya, ketahuilah sesungguhnya mereka itu tidak melakukan pengumpulan data yang tepat berkenaan dengan jumlah roket-roket Hisbullah. Roket-roket Hisbullahtidak berjumlah 13 atau 14 ribu roket, tetapi lebih dari 20 ribu roket, hal ini saya katakan untuk memberikan informasi kepada musuh mengenai roket-roket Hisbullah.</p>
<p>Beliau menambahkan: perlu kiranya saya singgung pula beberapa permasalahan pokok penting yang lain di sini, permasalahan pertama adalah tentang tawanan-tawanan perang Libanon. Dulu saya berjanji kepada kalian dengan beratwakal kepada Tuhan dan dengan bantuan Nya, dan dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki tentara-tentara perlawanan Islam, tawanan-tawanan Libanon tersebut akan saya bebaskan dari penjara-penjara Israel, dan hari ini pun saya tetap pada janji saya itu.</p>
<p>Beliau menegaskan: pada waktu kedua tentara Israel itu berhasil kita tawan, kami telah katakan bahwa kalaupun seandainya dunia jungkir balik, mereka tidak akan kami lepaskan, kecuali jika dilakukan pertukaran antara kedua tawanan Israel itu dengan tawanan-tawanan Libanon dan kemudian membebaskannya. Hari ini pun saya ulangi perkataan saya sekali lagi, kalaupun seluruh dunia datang dan melakukan konfrontasi dengan kami, sampai kapanpun tidak akan kami lepaskan kedua tawanan tersebut kecuali dengan pembebasan tawanan-tawanan kami. Permasalah pokok penting lainnya adalah tentang wilayah pertanian Sha’ba dan Kafrshuba, hari ini saya katakan kepada kalian juga dengan bantuan Tuhan, wilayah-wilayah ini sedang dalam proses pembebasan dan sedang dalam kondisi terlepas dari tangan musuh.</p>
<p>Beliau berkata: pada masa perang 34 hari yang lalu, Amerika untuk membantu mengeluarkan Israel dari medan perang siap untuk menganggarkan berapapun biaya yang dibutuhkan. Pada waktu itu untuk menghentikan perang Amerika berjanji akan mengembalikan wilayah pertanian Sha’ba kepada orang-orang Libanon, tetapi seperti biasanya janji-janji Amerika selalu tidak dapat dipercaya.</p>
<p>Beliau melanjutkan: belum lama setelah pernyataan ini terlontar, politikus-politikus dan pejabat-pejabat Gedung Putih Pemerintahan Amerika mengumumkan bahwa kami tidak bisa menyerahkan wilayah pertanian Sha’ba ini kepada pemerintah Libanon, karena jika hal itu kami lakukan, sama halnya kami memberikan kemenangan dan prestasi bagi Hisbullah Libanon. Kami katakan kepada Amerika, silahkan kalian serahkan wilayah pertanian Sha’ba itu kepada siapa saja orang Libanon yang kalian tunjuk dan inginkan, dan silahkan kalian catat kemenangan ini atas nama siapa saja yang kalian kehendaki, tapi kembalikan wilayah pertanian Sha’ba kepada kami.</p>
<p>Beliau dengan menyinggung penyerangan-penyerangan yang dilakukan Israel terhadap Libanon berkata: kami sampai hari ini tetap bersabar dan tidak membalas penyerangan-penyerangan Israel yang baru-baru ini dilakukan lagi, dan kami berusaha sekuat tenaga kami untuk tidak sampai melanggar resolusi yang tidak syah 1701 DK PBB itu, karena jika Hisbullah Libanon sampai melanggar isi resolusi itu sedikit saja niscaya dunia ini akan mengalami kerusakan. Tetapi sabar dan toleransi kami pun ada batasnya, dan jika sabar dan toleransi kami sudah mencapai batas akhirnya, pasti akan segera kami balas serangan-serangan itu.</p>
<p>Beliau menyindir pemerintahan Libanon dan berkata: jika tidak mampu melaksanakan tugas untuk melindungi rakyatnya sendiri, rakyat Libanon sendiri siap untuk mengambil alih pelaksanaan tugas ini.</p>
<p>Beliau menambahkan: pasukan Libanon dengan tujuan untuk melindungi rakyat Libanon dan untuk mencegah terjadinya serangan-serangan musuh, datang ke wilayah ini (Libanon Selatan) tapi kita lihat sendiri setiap hari sejumlah warga Libanon diculik atau ditawan. Pada akhirnya posisi negara dalam masalah ini dimana?<br />
Pemerintahan Libanon jika ingin memanfaatkan pasukannya sekedar sebagai pengamat yang mencatat berapa jumlah penyerangan yang dilakuakan Israel, saja katakan kepada kami. Karena tugas sebenarnya pasuka Libanon adalah berhadapan dan menghentikan penyerangan-penyerangan Israel, bukan untuk tugas-tugas yang lain.</p>
<p>Beliau juga mengatakan: permasalah pokok penting lain yang juga harus diperhatikan adalah tentang kekuatan-kekuatan UNFL. Kami sejak lama telah menunggu kedatangan kekuatan-kekuatan semacam ini, tetapi seperti yang telah diketahui semua orang bahwa tugas mereka adalah untuk membantu pasukan Libanon, bukan untuk memata-matai Hisbullah Libanon.</p>
<p>Beliau dengan nada mengancam UNFL berkata: sebagian berita-berita yang muncul mengatakan bahwa sebagian kelompok dan partai politik sedang mempersiapkan diri untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan ini (UNFL), tapi kami katakan kepada mereka bahwa kekuatan-kekuatan ini masuk ke wilayah Libanon untuk membantu pasukan Libanon dan tidak memiliki izin untuk mencampuri urusan dalam negeri Libanon.</p>
<p>Sayyid Hasan Nasrullah dengan menyindir sebagian partai-partai politik dalam negeri Libanon berkata: sangat disesalkan bahwa penghinaan yang dilakukan partai-partai ini sudah sampai pada tingkat dimana kami tidak mungkin untuk tidak membalasnya. Petinggi-petinggi partai-partai ini mengatakan bahwa alasan Hisbullah memasuki medan perang adalah untuk menyingkirkan kasus nuklir Iran dan kasus Suriah dari meja DK PBB. Apakah ada penghinaan yang lebih besar daripada penghinaan ini, yang pada dasarnya ditujukan kepada anak-anak perlawanan Islam Libanon, yang telah memberikan darah dan gubuk-gubuknya untuk melindungi tanah air Libanon?</p>
<p>Sayyid Hasan Nasrullah berkata: sebagian partai-partai politik ini mengatakan bahwa para pendukung Hisbullah adalah pendukung yang tidak punya akal dan selalu membuat kerusuhan. Kita tidak bisa menutup mata lagi atas penghinaan semacam ini, saya pribadi siap untuk menerima penghinaan seperti apapun dari kalian tapi rakyat Libanon, tidak. Saya katakan kepada gerombolan ini menangis bukanlah pekerjaan rakyat ini.</p>
<p>Beliau menambahkan: mereka semua tahu tentang seluruh riwayat hidup saya dan Hisbullah, saya bukanlah seorang bangsawan, bapak dan kakek saya pun bukan. Kami sampai kapanpun tidak akan mengizinkan kehormatan dan kemuliaan kami diinjak-injak, karena kami telah memberikan darah, rumah dan gubuk-gubuk kami untuk membantu rakyat ini.</p>
<p>Beliau di akhir pidatonya menambahkan: saya berharap dengan datangnya bulan suci Ramadhan, akan tercipta kesempatan bagi orang-orang ini untuk melihat hak-hak rakyat tanpa sedikitpun tendensi politik dan mampu melihatnya sampai jauh ke dalam.<br />
Terakhir saya katakan bahwa masa-masa kekalahan telah berakhir dan hari ini adalah hari dimulainya kemenangan rakyat Libanon.[Herry S]</p>
<p>Sumber :</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/vmSDCltkDS4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2008/03/25/manuver-kekuatan-rakyat-libanon-s-h-nasrullah-pemrakarsatimur-tengah-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2008/03/25/manuver-kekuatan-rakyat-libanon-s-h-nasrullah-pemrakarsatimur-tengah-baru/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Khutbah Rasulullah SAW di Ghadir Khum Menurut Catatan Al-Allamah Al-Tabarasi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/vxXiYKGCjJo/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2008/02/10/khutbah-rasulullah-saw-di-ghadir-khum-menurut-catatan-al-allamah-al-tabarasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 16:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghadir Khum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Pengenalan
Khutbah atau Hadis Nabi (s.`a.w.) di Ghadir Khum yang terletak sejauh tiga batu dari Juhfah berhampiran Rabigh selepas beliau kembali mengerjakan haji terakhir pada 18hb. Dhul-Hijjah tahun 10 Hijrah, telah diriwayatkan oleh para ulama Islam di setiap peringkat, kerana ia merupakan khutbah Nabi (s.`a.w.) terakhir yang memusatkan kepada konsep imamah (kepemimpinan) selepas beliau, di hadapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="WIDOWS: 2; TEXT-TRANSFORM: none; TEXT-INDENT: 0px; BORDER-COLLAPSE: separate; FONT: medium 'Times New Roman'; WHITE-SPACE: normal; ORPHANS: 2; LETTER-SPACING: normal; COLOR: #000000; WORD-SPACING: 0px; -webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; -webkit-text-decorations-in-effect: none; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px"><span style="TEXT-ALIGN: left; LINE-HEIGHT: 18px; FONT-FAMILY: Tahoma, Verdana, sans-serif; FONT-SIZE: 12px"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-178" title="mohd8" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2008/02/mohd8.jpg" alt="mohd8" width="178" height="264" />Pengenalan</strong></span></span></p>
<p>Khutbah atau Hadis Nabi (s.`a.w.) di Ghadir Khum yang terletak sejauh tiga batu dari Juhfah berhampiran Rabigh selepas beliau kembali mengerjakan haji terakhir pada 18hb. Dhul-Hijjah tahun 10 Hijrah, telah diriwayatkan oleh para ulama Islam di setiap peringkat, kerana ia merupakan khutbah Nabi (s.`a.w.) terakhir yang memusatkan kepada konsep imamah (kepemimpinan) selepas beliau, di hadapan lebih seratus ribu para sahabat-nya1.</p>
<p>Di hari itu Jibrail `a.s memerintahkan Nabi (s.`a.w.) supaya mengisytiharkan kepada para sahabatnya bahawa `Ali adalah imam/khalifah selepas beliau. Pada mulanya beliau keberatan untuk mengisytiharkannya kerana khuatir kebanyakan para sahabatnya akan menentangnya.</p>
<p>Beliau sendiri menerangkan kedudukan umatnya pada masa itu sebagaimana beliau bersabda: Aku telah memohon maaf kepada Jibrail lantaran aku tidak menyampaikannya kepada kalian, kerana aku mengetahui betapa sedikitnya orang yang bertakwa2, betapa ramainya orang yang munafik3, bersandarkan Islam yang disifatkan oleh Allah A.W di dalam kitab-Nya &#8220;Mereka mengucap dengan lidah mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka&#8221; (Surah al-Fath 48: 11)4. Malah mereka melontar kata-kata kesat terhadap Rasulullah (s.`a.w.) dan menyakiti hati beliau. Peristiwa tersebut masih segar di dalam ingatan Rasulullah (s.`a.w.). Justeru itu beliau bersabda: &#8220;Jika aku mahu, aku akan menyebutkan nama-nama merekaatau menunjukkan mereka kepada kalian&#8221;5.</p>
<p>Ini menunjukkan bahawa orang-orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) masih ada di hadapannya. Tetapi beliau tidak mahu melakukannya kerana ia tidak diizinkan oleh Allah A.W. Di hari itu cuaca panas terik, sekiranya daging dicampak ke tanah nescaya ia akan masak. Nabi (s.`a.w.) memerintahkan mereka supaya menyusun batu seperti mimbar.</p>
<p>Kemudian diteduhi kain di atasnya.Manakala mereka berhimpun, beliau memberi khutbahnya yang paling bersejarah dengan menguatkan suaranya supaya dapat didengari oleh lebih seratus ribu kaum muslimin. Selepas memuji Allah A.W., beliau mengisytiharkan kepada umatnya ketika itu tentang kematiannya seraya bersabda: &#8220;Aku telah dipanggil dan hampir aku menyahutinya dan denyutan jantung hatiku kian memuncak di hadapan kalian&#8221;. Kemudian beliau mengangkat tangan `Ali `a.s sehingga orang ramai melihat keputihan ketiak Rasulullah(s.`a.w.) sambil bersabda: &#8220;Wahai manusia! Tidakkah aku lebih aula daripada diri kalian?</p>
<p>Mereka menjawab: Ya! wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Wahai Tuhanku, siapa yang aku telah menjadi maulanya, maka ini `Ali maulanya. Wahai Tuhanku, cintailah orang yang mewalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya&#8221;6.</p>
<p>Justeru itu, khutbah/hadis Rasulullah (s.`a.w.) di Ghadir Khum dan lain-lain merupakan penjelasan kepada konsep imamah di dalam al-Qur’an itu sendiri. Di dalam al-Qur&#8217;an konsep imamah7 terbahagi kepada dua. Pertama, konsep imamah yang membawa manusia ke syurga di mana imamahnya (kepemimpinannya) adalah sejajar dengan al-Qur&#8217;an. Di antaranya telah diterangkan di dalam surah al-Anbiya&#8217; 21: 73 &#8220;Kami telah menjadikan mereka para imam (pemimpin-pemimpin) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan solat, menunaikan zakat dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah&#8221;.</p>
<p>FirmanNya di dalam Surah al-Baqarah 2: 124 &#8220;Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia. Dan Ibrahim berkata:(Dan saya mohon jawatan imam itu) dari keturunanku. Dia berfirman: Janjiku (ini) tidak termasuk orang yang zalim&#8221;. Justeru itu orang yang zalim tidak sah menjadi imam (pemimpin) menurut al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Dan firmanNya di dalam Surah Yunus 10: 35 &#8220;Maka apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali apabila diberi petunjuk? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Ini bererti para pemimpin selepas Rasulullah (s.`a.w.) mestilah terdiri dari mereka yang tidak melampaui perintah Allah dan Rasul-Nya, kerana mereka merupakan Uli l-Amr yang wajib ditaati oleh umat sebagaimana firmanNya Surah al-Nisa&#8217; 4: 59 &#8220;Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr di kalangan kamu&#8221;. Kedua: Imamah yang menyeru manusia kepada neraka. Di antaranya sebagaimana diterangkan di dalam surah al-Qasas 28: 41 &#8220;Dan Kami jadikan mereka para imam (pemimpin-pemimpin) yang menyeru(manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan dibantu&#8221;.</p>
<p>Dan firmanNya Surah al-Ahzab 33: 67 &#8220;Dan mereka berkata: Ya,Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar&#8221;.Kedua-dua konsep imamah tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah(s.`a.w.) di dalam khutbahnya di Ghadir Khum dan ditempat-tempat lain. Justeru itu beliau tidak mengabaikannya8 kerana kepemimpinan (imamah) adalah asas bagi kesempurnaan agama Islam.</p>
<p><strong>Terjemahan Teks Hujah</strong></p>
<p>Di sini akan diperturunkan teks khutbah/hadis Ghadir Khum sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Mansur Ahmad b. `Ali b. Abi Talib al-Tabarsi9, ulama Mazhab Ja`fari abad keenam hijrah di mana sanadnya bersambung dengan Imam Muhammad al-Baqir b. Imam Zain al-`Abidin b. Imam Husain b. Imam `Ali b. Abi Talib `a.s. Untuk membuktikan kesahihannya, penulis cuba membuat rujukan kepada buku-buku karangan para ulama Ahl al-Sunnah seperti Sahih al-Bukhari, Sunan al-Nasa&#8217;i, Musnad Ibn Hanbal, Tarikh al-Tabari,Yanabi` al-Mawaddah, Kanz al-`Ummal, Tarikh al-Khulafa&#8217;, al-Durral-Manthur, al-Isabah, Tarikh Baghdad, Kifayah al-Talib, Manaqibal-Khawarizmi, Tafsir al-Kabir, Ruh al-Ma`ani, Nur al-Absar, Usdal-Ghabah, al-Isti`ab dan lain-lain.</p>
<p>Justeru itu khutbah/hadis al-Ghadir telah dicatat oleh para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-buku mereka meskipun kadangkala terdapat sedikit perbezaan dari segi lafaz, tetapi ia memberi pengertian yang sama. Kebanyakan mereka mencatatnya secara terputus, panjang, pendek dan dimasukkan di dalam bab-bab yang berasingan sehingga ia dilihat sebagai tiada kaitan dengan khutbah al-Ghadir. Ini berkemungkinan kuasa politik semasa tidak membenarkan mereka berbuat demikian10.</p>
<p>Lantaran itu bahagian-bahagian hadis yang dipisahkan itu, kelihatan seolah-olah tiada kaitan dengan khutbah di Ghadir Khum tentang perlantikan `Ali `a.s sebagai imam atau khalifah selepas Rasulullah (s.`a.w.) Walau bagaimanapun teks penuh khutbah al-Ghadir yang dikemukakan oleh al-`Allamah al-Tabarsi, akan memberi wawasan baru kepada pengkaji-pengkaji tanpa prejudis dan irihati.</p>
<p>Al-Tabarsi menulis: Al-Sayyid Abu Ja`far Mahdi b. Abi Harb al-Husaini al-Mar`asyi r.a telah memberitahu kami dia berkata: al-Syaikh Abu `Ali al-Hasan b. al-Syaikh al-Sa`id Abi Ja`far Muhammad b. al-Hasan al-Tusi r.a, telah memberitahuku dia berkata: al-Syaikh al-Sa`id al-Walid Abu Ja`far q.r telah memberitahuku dia berkata: Jama`ah daripada Abi Muhammad Harun b. Musa al-Tala`kbari telah memberitahu kami, dia berkata: Abu `Ali Muhammad b. Hammam telah memberitahu kami, dan berkata: `Ali al-Suri telah memberitahu kami, dia berkata: Abu Muhammad al-`Alawi daripada anak lelaki al-Aftas di kalangan hamba Allah yang salih telah memberitahu kami dia berkata: Muhammad b. Musa al-Hamdani telah memberitahu kami, dia berkata: Muhammad b. Khalid al-Tayalasi telah memberitahu kami, dia berkata: Saif b. `Umairah dan Salih b. Uqbah telah memberitahu kami daripada Qais b. Sam`an daripada `Alqamah b. Muhammad al-Hadrami daripada Abu Ja`far b. Muhammad b. `Ali Zain al-`Abidin b. Husain b. `Ali b. Abi Talib daripada Rasulullah s.`a.w.</p>
<p>Beliau bersabda: &#8220;Segala puji bagi Allah, Yang Maha Tinggi dalam kesatuan-Nya, berdekatan dalam keesaan-Nya, mulia dalam pemerintahan-Nya, besar dalam kekuasaanNya, keilmuanNya yang menyeluruh sedangkan Dia &#8220;berada&#8221; di `ArasyNya. Menundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan dan hujahNya yang mulia sehingga Dia sentiasa dipuji,Dialah pencipta langit, penjadi sesuatu dengan rapi. Dialah Penguasa bumi dan langit, Maha Tinggi Maha suci Tuhan para malaikat dan ruh, Maha Pemurah kepada semua orang yang tidak mensyukuriNya, Maha Mengetahui di atas segala yang dijadikanNya. Memerhati setiap mata, tetapi mata (mata) tidak dapat melihatNya. Mulia, Pemaaf dan menyenangkan, rahmatNya meliputi setiap sesuatu, mengurniakan nikmatNya ke atas mereka. Tidak cepat membalas dendam dan tidak segera mengenakan azab ke atas mereka. Dia memahami segala rahsia, Dia mengetahui segala bisikan hati, tidak dapat diselindungi oleh perkara-perkara yang tersembunyi.</p>
<p>Tidak dikelirukan oleh perkara yang halus, mengetahui setiap sesuatu, memenangi setiap sesuatu, menguasai di atas segala-galanya. Tidak sesuatu pun menyerupaiNya, Dia mencipta sesuatu ketika ia (sesuatu) tidak ada. Sentiasa melakukan keadilan, tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Mulia lagi bijaksana, sekali-kali penglihatan tidak mencapaiNya, sedangkan Dia mencapai penglihatan. Dia bertimbang rasa dan bijaksana, tiada seorang pun dapat mengaitkan sifatNya secara &#8220;penentuan&#8221; dan tiada seorang pun mendapati bagaimanakah Dia secara rahsia atau terang-terangan melainkan mengikut apa yang telah ditunjuk oleh Dia ke atas diriNya. Aku naik saksi sesungguhnya Allah memenuhi masa dengan segala kekudusanNya, Dialah yang menutupi cahayaNya selama-lama, Dia melaksanakan urusanNya tanpa mesyuarat. Tanpa bersamaNya sekutu di dalam sesuatu nilaian dan tidak ada kecacatan di dalam pentadbiranNya. Dia telah menggambarkan apa yang direkakanNya tanpa contoh, Dia telah mencipta apa yang diciptakanNya dengan mudah tanpa pertolongan orang lain dan bersih dari tipudaya.</p>
<p>Dia menciptanya kemudian ia terus &#8220;jadi&#8221;, Dialah Tuhan yang tiada Tuhan melainkan Dia yang rapi dan elok pembuatannya. KeadilanNya adalah lebih mulia dan tidak pernah dizalimi di mana segala perkara kembali kepadaNya. Aku naik saksi bahawa segalanya tunduk kepada kekuasaanNya serta mentaatiNya kerana kehebatanNya memiliki segala milik. Dialah yang membuat cakerawala bergerak, Dialah yang menundukkan bulan dan matahari, semuanya berjalan menurut masa yang ditentukan. &#8220;Dialah yang menutupkan malam ke atas siang dan menutupkan siang ke atas malam&#8221; (Surah az-Zumar 39:5) &#8220;yang mengikutinya dengan cepat&#8221;. (Surah al-A`raf 7:54) Penentang setiap penguasa yang degil dan pembinasa setiap syaitan yang menceroboh, tiada bersamaNya lawan dan teman, satu (ahad) menjadi tempat tumpuan. Tidak beranak dan diperanakkan dan tidak ada sesuatu pun menyerupaiNya, Tuhan yang satu dan Tuhan yang mulia, melakukan sesuatu yang dikehendakiNya. Dia mengetahui lantas menghitung sesuatu, mematikan dan menghidupkan, pemberi dan pencegah rezeki, &#8220;ketawa&#8221; dan &#8220;menangis&#8221;, menghalang dan memberi. BagiNya kekuasaan dan baginya kepujian, di tanganNya segala kebaikan, Dia berkuasa di atas setiap sesuatu. Memasukkan waktu malam ke dalam waktu siang dan memasukkan siang ke dalam waktu malam.</p>
<p>Tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Mengetahui lagi pengampun, Dialah penerima doa, pengurnia segala pemberian dan penghitung segala jiwa. Tuhan syurga dan manusia, Dia tidak menghadapi sebarang kesulitan, tidak menolak laungan orang yang memohon pertolongan, tidak dimetrikan oleh keluhan orang yang berhajat. Pelindung bagi orang-orang yang salih, pemberi taufiq kepada orang-orang yangbahagia.</p>
<p>Dialah maula kepada segala alam yang berhak dari setiap makhlukNya bersyukur dan memuji-Nya. Aku memuji-Nya di dalam kesenangan dan kesusahan, kesulitan dan kelapangan. Aku beriman denganNya, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya. Aku mendengar suruhanNya, aku mematuhi dan bersegera menurut keridaan-Nya. Aku menyerahkan diriku kepada qada&#8217;-Nya kerana cintakan ketaatan-Nya dan takutkan balasan-Nya, kerana Dialah Allah yang tidak menjamin keselamatan jika dilakukan apa yang dibenciNya. Dan Dia pula tidak teragak-agak mengenakan balasan-Nya. Aku berikrar dengan diriku sendiri untuk beribadah kepadaNya dan aku naik saksi tentang ketuhanan-Nya. Aku akan melaksanakan apa yang diwahyukan kepadaku dengan penuh waspada.</p>
<p>Jika aku tidak melaksanakannya lantas aku akan binasa sehingga tiada seorangpun dapat mempertahankanku dari azabNya sekalipun besar ujianNya, tiada Tuhan melainkan Dia. Kerana Dia telah memberitahuku sesungguhnya jika aku tidak menyampaikan apa yang diturunkan kepadaku nescaya aku tidak menyampaikan risalahNya. Lantaran itu Dia memberi jaminan melindungiku dengan `ismah, Dia Allah adalah mencukupi (bagiku). Kemudian Dia menurunkan wahyu kepadaku11.</p>
<p>Dengan nama Allah yang amat pemurah lagi amat mengasihani. Wahai Rasul ! sampailah apa yang telah diturunkan kepada kamu mengenai `Ali &#8211; [jawatan Khalifah adalah untuk `Ali bin Abi Talib]. Dan jika kamu tidak menyampaikannya bererti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya, &#8220;Dan Allah menjaga kamu dari manusia&#8221;.(Surah al-Maidah 5:67) Wahai manusia! Aku tidak mengabaikan tanggungjawabku di dalam menyampaikan apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadaku. Akulah orang yang menerangkan kepada kalian. Sebab turunnya ayat &#8220;Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan, bererti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya&#8221; (Surah al-Maidah 5:67).</p>
<p>Sesungguhnya Jibra&#8217;il telah turun kepadaku sebanyak tiga kali memerintahkanku supaya menyampaikan perintah Tuhanku; supaya aku terus melaksanakannya. Aku pun mengisytiharkannya kepada semu peringkat; sama ada yang berkulit putih dan yang berkulit hitam bahawa sesungguhnya `Ali bin Abi Talib a.s adalah saudaraku, wasiku, khalifahku dan imam selepasku di mana kedudukannya di sisiku samalah kedudukan Harun di sisi Musa selain dari kenabian kerana tiada nabi selepasku12. Beliaulah wali kalian di sisi Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah S.W.T. telah menurunkan ke atasku satu ayat mengenai wilayah `Ali &#8220;Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yangberiman yang mendirikan solat, menunaikan zakat dalam keadaan rukuk&#8221; (Surah al-Maidah 5:55). `Ali bin Abi Talib telah mendirikan solat dan menunaikan zakat di dalam keadaan rukuk, kerana melakukan ibadat kepada Allah pada setiap masa13. Aku telah memohon maaf kepada Jibra&#8217;il lantaran aku tidak menyampaikannya kepada kalian. Wahai manusia, kerana aku mengetahui betapa sedikitnya orang yang bertakwa, betapa ramainya orang yang munafik, pengkhianat dan tipudaya orang bersandarkan Islam yang disifatkan oleh Allah di dalam kitabNya &#8220;Mereka mengucap dengan lidah mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka&#8221;(Surah al-Fath 48:11).</p>
<p>Dan betapa banyak mereka telah menyakiti hatiku sehingga mereka menamakanku uzunun (iaitu mendengar/mempercayai apa saja yang diperkatakan kepadanya). Mereka menyangka aku sedemikian rupa kerana selalu &#8220;bergaul&#8221; dengan-Nya dan sehingga Allah menurunkannya di dalam al-Qur&#8217;an &#8220;Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan menyatakan: Nabi mempercayai semua yang didengarnya. Katakanlah: Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin&#8221; (Surah al-Taubah 9:61).</p>
<p>Jika aku mahu, aku akan menyebutkan nama-nama mereka atau menunjukkan mereka kepada kalian. Tetapi aku tidak mahu melakukannya, kerana Allah tidak merestuiku melainkan menyampaikan apa yang diturunkan kepadaku. Kemudian beliau (s.`a.w.) membaca&#8221;Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu &#8211; tentang `Ali &#8211; dan jika kamu tidak melakukan bererti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah menjaga kamu dari manusia&#8221; (Surah al-Maidah 5: 67).</p>
<p>Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah melantik `Ali untuk kalian sebagai wali, dan imam yang wajib ditaati ke atas Muhajirin, Ansar dan Tabi`in; sebagaimana wajib ditaati oleh penghuni padang pasir, bandar, Arab bukan Arab, merdeka, hamba kecil besar, berkulit putih dan hitam. Malah ke atas setiap orang yang mentauhidkan Allah S.W.T. Terkutuk bagi orang yang menentangnya. Dirahmati orang yang mengikutinya, mukmin orang yang membenarkannya. Allah mengampuninya dan orang yang mengambil ilmu daripadanya dan mentaatinya14.</p>
<p>Wahai manusia! Ini merupakan tempat yang terakhir aku berdiri di hadapan kalian. Lantaran itu dengarlah, taatilah dan ikutilah perintah Tuhan kalian. Sesungguhnya Allah `Azza waJalla adalah maula kalian dan Tuhan kalian kemudian selepasNya Muhammad (s.`a.w.) adalah wali kalian yang sedang berpidato di hadapan kalian. Kemudian selepasku `Ali adalah wali kalian dan imam kalian dengan perintah Tuhan kalian. Kemudian imamah adalah pada zuriatku daripada anaknya sehingga di hari kalian berjumpa Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada suatu perkara pun yang halal melainkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah dan tidak ada suatu perkara pun yang haram melainkan apa yang telah diharamkan oleh Allah. Dialah yang menerangkan kepadaku halal dan haram di dalamkitabNya. Kemudian aku menerangkan halal dan haramnya kepada `Ali15. Wahai manusia! Tidak ada suatu ilmu pun melainkan Allah telah menyampaikanya kepadaku. Dan setiap ilmu yang aku mengetahuinya, aku menyimpannya pada imam mubin (`Ali a.s) dan tidak ada suatu ilmu pun melainkan aku mengajarnya kepada `Ali. Dan beliaulah imam mubin.</p>
<p>Wahai manusia! Janganlah kalian menyimpang daripadanya, janganlah kalian lari daripadanya, janganlah kalian angkuh dengan menentang wilayahnya. Kerana beliaulah yang menunjuk kepada kebenaran dan beramal dengannya. Beliaulah yang menghilangkan kebatilan dan melarangnya. Janganlah kalian menghiraukan celaan orang yang mencela. Beliaulah orang pertama beriman kepada Allah dan Rasulnya. Beliaulah yang mengor__an dirinya sendiri untuk Rasulnya. Beliaulah bersama Rasulullah. Dan tidak ada seorang pun menyembah Allah bersama Rasulnya di kalangan lelaki selain daripadanya16.</p>
<p>Wahai manusia! Hormatilah beliau kerana Allah telah mengurniakan kelebihan kepadanya. Terimalah beliau kerana Allah telah melantiknya untuk kalian. Wahai manusia! Sesungguhnya beliau adalah imam daripada Allah. Allah sekali-kali tidak akan menerima taubat seorang yang mengingkari wilayahnya. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengampuninya. Sudah pasti Allah akan melakukan hal demikian ini terhadap orang yang menyalahi perintah-Nya mengenainya. Dan Dia akan menyiksanya dengan siksaan pedih yang berpanjangan. Lantaran itu kalian berhati-hatilah supaya kalian tidak menyalahinya. Justeru itu kalian akan dibakar di neraka di mana bahan bakarnya adalah manusia dan batu disediakan kepada orang-orang yang ingkar17.</p>
<p>Wahai manusia! Dengan akulah demi Allah, para nabi dan rasul yang terdahulu diberi khabar gembira. Aku adalah penamat para nabi dan Rasul. Akulah juga hujah ke atas semua makhluk di bumi dan di langit. Sesiapa yang mengsyakinya dia adalah kafir sebagaimana kafir jahiliyah. Dan sesiapa yang mengsyaki sabdaku ini, bererti dia mengsyaki kesemuanya. Orang yang mengsyakinya adalah neraka sebagai balasannya18.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mengurniakan kelebihan ini ke atasku sebagai ihsanNya. Tiada Tuhan melainkan Dia. Segala puji untukNya daripadaku buat selama-lamanya. Wahai manusia! Hormatilah `Ali kerana beliau sebaik-baikmanusia selepasku di kalangan lelaki dan perempuan. Dengan kamilah Allah telah menurunkan rezeki dan mengekalkan makhluk (buat seketika). Terkutuk, terkutuk. Dimurkai, dimurkai orang yang menolak sabdaku ini dan tidak mempersetujuinya. Sesungguh-nya Jibra&#8217;il telah memberitahuku mengenainya daripada Allah S.W.T. dan berkata: Sesiapa yang memusuhi `Ali dan tidak menjadikannya wali, maka laknat dan kemurkaanKu ke atasnya. Seseorang itu hendaklah memikirkan apa yang telah dikemukakan untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah supaya beliau tidak menyalahi-Nya kerana dikhuatiri kaki akan tergelincir selepas ia tegak. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh kalian19.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya beliaulah janb-Allah yang disebutkan di dalam kitab-Nya &#8220;Supaya jangan ada orang yang mengatakan amat besar penyesalan atas kelalaianku terhadap janb-Allah&#8221;(Surah al-Zumar 39:56). Wahai manusia! Pelajarilah al-Qur&#8217;an dan fahamilah ayat-ayatnya. Perhatikanlah ayat-ayat Muhkamahnya dan janganlah kalian mengikuti ayat-ayat Mutasyabihahnya. Demi Tuhan, tidak akan menerangkan kepada kalian tentang halangan-halangannya dan tidak akan menerangkan kepada kalian penafsiran-penafsirannya melainkan orang yang aku memegang tangannya sekarang.</p>
<p>Dan aku memberitahu kalian sesungguhnya sesiapa yang aku maulanya, maka ini `Ali adalah maulanya, iaitu `Ali bin Abi Talib A.S, saudaraku, wasiku. Dan wilayahnya adalah daripada Allah S.W.T. yang telah menurunkannya ke atasku20.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya `Ali dan orang yang baik daripada anak cucuku merupakan thiqal al-Asghar (harta paling kecil yang bernilai) dan al-Qur&#8217;an adalah thiqal al-Akbar (harta paling besar yang bernilai). Setiap orang menceritakan tentang sahabatnya dan bersatu dengannya. Kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga dikembalikan Haud kepadaku. Mereka itulah pemegang amanah Allah pada makhluk dan para bijak pandai di bumi-Nya. Sesungguhnya aku telah menunaikannya. Sesungguhnya aku telah menyampaikannya dan aku memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah menerangkannya bahawa sesungguhnya Allah S.W.T. telah berfirman dan sabdaku itu adalah daripada Allah.</p>
<p>Sesungguhnya tidak ada Amiru l-Mukminin selain daripada saudaraku ini. Dan tidak seorang pun layak untuk melaksanakannya selepasku selain daripadanya. Kemudian beliau meletakkan tangannya ke bahu `Ali kemudian mengangkatnya21. Wahai manusia! Ini adalah `Ali saudaraku, wasiku, penjaga ilmuku, khalifahku ke atas umatku dan di atas tafsir kitab Allah Azza Wa Jalla. Penyeru kepadanya dan beramal dengan apa yang diredaiNya, memerangi musuh-musuhNya, setia mentaatiNya dan pencegah dari mendurhakaiNya.</p>
<p>Beliaulah khalifah Rasulullah, Amiru l-Mukminin, Imam petunjuk, penentang Nakithin (Ashab Jamal), Qasitin (Ashab al-Siffin) dan Mariqin (Ashab al-Nahrawan)22. Aku berkata: Sabdaku tidak boleh ditukar ganti kerana ia adalah perintah Tuhanku. Aku berkata: Wahai Tuhanku! Hormatilah orang yang mewalikan `Ali. Musuhilah orang yang memusuhinya. Laknatilah orang yang mengingkarinya, murkailah orang yang mengingkari haknya. Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkaulah yang telah menurunkan ke atasku bahawa Imamah selepasku adalah untuk `Ali sebagai wali Engkau sebaik saja peneranganku mengenainya dan perlantikanku terhadapnya23.</p>
<p>Dengan itu Engkau telah menyempurnakan untuk hamba-hambaMu agama mereka. Dan engkau telah menyempurnakan ke atas mereka nikmatMu dan Engkau telah meredai bagi mereka Islam sebagai agama. Maka Engkau berfirman: &#8220;Barangsiapa mencari agama lain selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu daripadanya dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi&#8221; (Surah Ali `Imran 3:85).</p>
<p>Wahai Tuhanku! Aku mempersaksikan Engkau dan cukuplahEngkau sebagai saksi sesungguhnya aku telah menyampaikannya. Wahai manusia! Sesungguhnya Allah A.W. telah menyempurnakan agama kalian dengan imamahnya (`Ali a.s). Siapa yang tidak berimamkannya dan orang yang menggantikan tempatnya yang terdiri daripada anak cucuku dari keturunannya sehingga hari kiamat, maka mereka itulah akan terbatal amalan-amalan mereka dan dalam nerakalah mereka kekal 24di dalamnya. Siksaan mereka tidak akan diringankan dan mereka pula tidakakan dilayani25.</p>
<p>Wahai manusia! Ini ialah `Ali orang yang paling kuat di kalangan kalian yang membantuku, orang yang paling berhak di kalangan kalian denganku. Beliau adalah orang yang paling akrab di kalangan kalian kepadaku dan orang yang paling mulia di sisiku dan Allah A.W. Kami meredhainya. Tidak terdapat ayat mengenai keredhaan melainkan ia turun pada `Ali. Allah tidak berfirman dengan &#8220;Wahai orang-orang yang beriman&#8221; melainkan Dia memulakan dengan `Ali. Tidak terdapat ayat pujian di dalam al-Qur&#8217;an melainkan padanya. Dan Dia tidak memberi penyaksian syurga tentang Hal Ata (Surah al-Insan 76:1) melainkan untuknya. Dia tidak menurunkannya selain daripadanya. Dan Dia tidak memuji dengannya (ayat) selain daripadanya (`Ali a.s)26.</p>
<p>Wahai manusia! Beliau adalah pembantu agama Allah, penyokong Rasulullah. Beliau adalah seorang yang bertakwa, bersih dan petunjuk. Nabi kalian adalah sebaik-baik nabi dan wasi kalian adalah sebaik-baik wasi dan anak-anaknya sebaik-baik para wasi. Wahai manusia! Zuriat setiap nabi adalah dari sulbinya, tetapi zuriatku dari sulbi `Ali27.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya Iblis telah mengeluarkan Adam dari syurga disebabkan hasad dengkinya. Lantaran itu janganlah kalian melakukan hasad dengki terhadapnya (`Ali) nescaya amalan-amalan kalian akan terbatal.</p>
<p>Dan kaki-kaki kalian akan tergelincir. Sesungguhnya Adam diturunkan ke dunia disebabkan &#8220;satu kesalahan&#8221; sahaja sedangkan beliau adalah pilihan Allah A.W. Bagaimana dengan kalian, sedangkan di kalangan kalian adalah musuh-musuh Allah. Sesungguhnya orang yang celaka sahaja yang memarahi `Ali. Dan orang yang bertakwa sahaja yang mewalikan `Ali. Hanya orang mukmin sahaja yang beriman dengan `Ali. Dan pada `Alilah diturunkan Surah wa l-Asr28.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya aku memohon kepada Allah menjadi saksi bahawa aku telah menyampaikan risalahku kepada kalian. Rasul hanya menyampaikan risalahNya yang terang. Wahai manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sepenuhnya. Dan janganlah kalian mati melainkan kalian muslimun. Wahai manusia! Berimanlah kalian dengan Allah, RasulNya dan al-Nur (cahaya) yang diturunkan bersamanya sebelum kebenaran dipadamkan. Justeru itu kita menolaknya ke belakang.</p>
<p>Wahai manusia! al-Nur (cahaya) daripada Allah A.W., adalah padaku kemudian pada `Ali kemudian pada keturunannya sehinggalah datangnya al-Qa&#8217;im al-Mahdi yang akan menuntut hak Allah dan hak kami (Ahl al-Bait A.S) kerana Allah A.W. telah menjadikan kami hujah ke atas orang-orang yang cuai, ingkar, penentang, pengkhianat, pelaku dosa dan orang yang zalim dari sekalian alam29.</p>
<p>Wahai manusia! Aku memberi peringatan kepada kalian, sesungguhnya aku adalah Rasulullah sebagaimana telah berlalu para rasul sebelumku. Sekiranya aku mati atau dibunuh &#8220;kamu kembali ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur&#8221; (Surah Ali `Imran 3:144). Sesungguhnya `Alilah yang disifatkan dengan kesabaran dan kesyukuran kemudian selepasnya cucu cicitku dan zuriatnya. Wahai manusia! Janganlah kalian berangan-angan untuk menentang Allah dengan &#8220;Islam&#8221; kalian, maka Dia akan memarahi kalian dan mengenakan kalian dengan azab di sisi-Nya. Sesungguhnya Dia sedang menunggu kalian.</p>
<p>Wahai manusia! Akan berlaku selepasku para imam yang akan menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan dibantu30.. Wahai manusia! Sesungguhnya Allah dan aku bersih daripada mereka. Wahai manusia! Sesungguhnya pembantu-pembantu mereka, pengikut-pengikut mereka dan penyokong-penyokong mereka akan berada di neraka yang paling terkebawah. Dan ia adalah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabbur. Sesungguhnya &#8220;mereka&#8221; adalah &#8220;pemilik-pemilik&#8221; mushaf. Lantaran itu hendaklah kalian melihat pada mushaf tersebut.</p>
<p>Beliau bersabda: Urusan mushaf hanya diambil berat oleh golongan yang sedikit sahaja. Wahai manusia! Sesungguhnya aku tinggalkannya (Sahifah) sebagai imamah dan wirathah pada keturunanku sehingga hari kiamat. Sesungguhnya aku telah menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Engkau untuk disampaikannya sebagai hujah di atas setiap yang hadir, ghaib dan ke atas setiap orang yang menyaksikannya atau tidak, sama ada telah dilahirkan ataupun tidak. Justeru itu hendaklah orang yang hadir menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir, dan bapa kepada anaknya sehingga hari kiamat kerana mereka (selain daripada Ahl al-Bait A.S) akan menjadikannya (imamah) sebagai hak milik dan barang rampasan. Sesungguhnya Allah melaknati perampas-perampasnya. &#8220;Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu wahai manusia dan jin. Maka kepada kamu dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (daripadanya)&#8221;. (Surah ar-Rahman 55: 31, 35)</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya Allah A.W. tidak akan meninggalkan kalian sebelumnya sehingga keburukan dan kebaikan dapat dibezakan. Dan Allah tidak mahu memberitahu kalian perkara-perkara yang ghaib. Wahai manusia! Sesungguhnya tidak ada satu bandar pun melainkan Allahlah yang membinasakannya disebabkan pembohongan penduduknya. Demikianlah Dia membinasakan bandar-bandar yang zalim. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah S.W.T. di dalam kitabNya. Ini adalah `Ali imam kalian dan wali kalian. Beliau di antara janji-janji Allah dan Allah membenarkan apa yang dijanjikannya31.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya telah sesat sebelum kalian kebanyakan orang-orang yang terdahulu. Demi Allah, Dia telah membinasakan orang-orang yang terdahulu dan Dialah yang akan membinasakan orang-orang yang terkemudian. Allah berfirman: &#8220;Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu? Lalu Kami iringi (azab kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan&#8221; (Surah al-Mursalat 77: 16-19).</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku dan melarangku. Sesungguhnya aku telah memerintahkan `Ali dan melarangnya. Ilmu suruhan dan larangan adalah daripada Allah A.W. Justeru itu dengarlah kalian kepada larangannya, nescaya kalian terselamat. Taatlah kalian kepadanya nescaya kalian mendapat petunjuk. Berhentilah kerana larangannya, nescaya kalian akan mendapat petunjuk. Ikutilah kehendaknya dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan kalian selain dari jalannya32.</p>
<p>Wahai manusia! Akulah Sirat al-Mustaqim di mana Dia memerintahkan kalian mengikutinya. Kemudian `Ali selepasku kemudian anak cucuku dari sulbinya, para imam yang menjadi petunjuk kepada kebenaran dan dengannyalah mereka memperjuangkan kebenaran33.</p>
<p>Kemudian Rasulullah s.`a.w. membaca : al-Hamdu li Llahi Rabbi l-`Alamin sehingga ke akhirnya. Dan beliau bersabda: Kepada akulah turunnya Surah al-Fatihah dan juga kepada mereka secara umum dan khusus. Mereka itulah para wali Allah, mereka tidak takut dan mereka pula tidak berdukcita. Sesungguhnya parti Allah sahajalah yang mendapat kemenangan. Sesungguhnya musuh-musuh`Ali adalah terdiri daripada orang-orang yang melakukan perpecahan, nifaq, penentang-penentang, saudara-saudara syaitan yang berkongsi penentangan dan tipu daya.Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telahdisebutkan oleh Allah di dalam kitabNya, firmanNya: &#8220;Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya&#8221; (Surah al-Mujadalah 58: 22).</p>
<p>Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telah disifatkan oleh Allah A.W. di dalam kitabNya. FirmanNya: &#8220;Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan ezaliman, itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk&#8221; (Surah al-An`am 6:82). Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telah disifatkan oleh Allah di dalam kitabNya. FirmanNya: &#8220;Orang-orang yang akan memasuki syurga dengan aman&#8221; disambut oleh para malaikat dengan aman. Berbahagialah kamu, maka masuklah syurga selama-lamanya34. Sesungguhnya para wali mereka ialah orang-orang yang telah difirmankan oleh Allah A.W., firmanNya &#8220;Mereka memasuki syurga tanpa hisab&#8221;35.</p>
<p>Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang akan dibakar di neraka sa`ir36. Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang mendengar tepikan neraka jahannam dan nyalanya37.</p>
<p>Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang telah difirmankan oleh Allah A.W. FirmanNya &#8220;Setiap umat masuk (neraka) dia mengutuk kawannya&#8221;. (Surah al-A`raf 7: 38). Sesungguhnya musuh-musuh mereka ialah orang-orang yang telahdisebutkan oleh Allah di dalam kitabNya. FirmanNya &#8220;Setiap kali dilemparkan ke dalamnya satu kumpulan, penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka: Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan? Mereka menjawab: Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya dan kami mengatakan Allah tidak menyuruh sesuatupun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar&#8221; (Surah al-Mulk 67: 8-9). Sesungguhnya para wali mereka ialah &#8220;Orang-orang yang takut akan Tuhan mereka dengan perkara yang ghaib bagi mereka keampunan dan pahala yang besar&#8221; (Surah al-Mulk 67: 12). Wahai manusia! Dua perkara di antara neraka dan syurga. Musuh kita ialah orang yang telah dicela dan dilaknat oleh Allah. Wali kita ialah orang yang telah dipuji dan dikasihi oleh Allah. Wahai manusia! Sesungguhnya aku memberi peringatan dan `Ali memberi petunjuk (Hadi)38.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah nabi dan `Ali adalah wasiku. Sesungguhnya penamat para imam ialah al-Mahdi, dan beliau dari kalangan kami39.</p>
<p>Sesungguhnya beliaulah orang yang mempertahankan agama. Sesungguhnya beliaulah penuntut bela daripada orang-orang yang zalim. Sesungguhnya beliaulah pembuka benteng-benteng dan perosak-nya40.</p>
<p>Sesungguhnya beliaulah orang yang memerangi setiap kabilah yang syirik. Sesungguhnya beliaulah orang yang dapat mengesan setiap penentang para wali Allah. Sesungguhnya beliaulah pembantu agama Allah. Sesungguhnya beliaulah pencedok di lautan yang dalam. Sesungguhnya beliau mengetahui setiap orang yang mempunyai kelebihan dan setiap orang yang jahil. Sesungguhnya beliau adalah sebaik-baik pilihan Tuhan. Sesungguhnya beliaulah pewaris setiap ilmu secara menyeluruh. Sesungguhnya beliaulah diberitahu tentang Tuhannya dan diberi peringatan tentang imannya41.</p>
<p>Sesungguhnya beliau adalah seorang yang bijak dan tegas.Sesungguhnya setiap sesuatu diserahkan kepadanya. Sesungguhnya beliau telah diberi khabar gembira kepada orang-orang yang terdahulu. Sesungguhnya beliaulah hujah dan tidak ada hujah selepasnya. Tidak ada kebenaran melainkan bersamanya. Tidak ada nur (cahaya) melainkan di sisinya. Tidak ada orang yang dapat mengalahkannya dan tidak akan dibantu orang yang menentangnya. Sesungguhnya beliaulah wali Allah di bumiNya, hukumNya pada makhlukNya dan orang kepercayaanNya di dalam semua keadaan. Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah menerangkannya kepada kalian dan memahamkan kalian. Ini `Ali akan memahamkan kalian selepasku42.</p>
<p>Sesungguhnya manakala selesai ucapanku, aku menyeru kalian supaya melakukan bai`ah kepadaku sebagai tanda membai`ah `Ali dan memberi pengakuan kepadanya, kemudian memberi bai`ah kepadan selepasku. Sesungguhnya aku telah membai`ah kepada Allah, dan `Ali telah memberi bai`ah kepadaku. Aku memerintahkan kalian supaya melakukan bai`ah kepadanya daripada Allah A.W. FirmanNya &#8220;Barang siapa yang melanggar janjinya, nescaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa diri sendiri&#8221; (Surah al-Fath 48: 10).Wahai manusia! Sesungguhnya Haji, Safa, Marwah dan `Umrah adalah di antara syi`ar-syi`ar Allah. &#8220;Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya&#8221; (Surah al-Baqarah 2: 158). Wahai manusia! Tunaikan haji di Baitullah ketika mampu dan janganlah kalian meninggalkannya melainkan tanpa kemampuan.</p>
<p>Wahai manusia! Setiap mukmin yang berdiri di Mauqif dosanya yang lalu akan diampuni Tuhan. Dan apabila selesai hajinya, amalan (baru)nya dimulakan. Wahai manusia! Orang-orang yang menunaikan haji bersifat tolong menolong. Dan perbelanjaan mereka akan digantikan kerana Allah tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang melakukan kebaikan. Wahai manusia! tunailah haji dengan sempurna dan memahami (hikmah)nya. Dan janganlah kalian pulang melainkan dengan taubat dan meninggalkan segala dosa. Wahai manusia! Dirikanlah solat dan tunaikanlah zakat sebagaimana Allah menyuruh kalian melakukannya.</p>
<p>Jika masa berpanjangan, kalian mengabaikannya atau melupai-nya maka `Ali adalah wali kalian dan orang yang dapat menjelaskannya kepada kalian kerana Allah telah melantiknya selepask Dan sesiapa yang Allah A.W. memilihnya untuk menggantikan tempaku, akan memberitahu kalian persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh kalian dan beliau akan menerangkan kepada kalian apa yang kalian tidak mengetahuinya43.</p>
<p>Sesungguhnya halal dan haram adalah tidak terkira banyaknya. Akulah yang menyuruh melakukan perkara-perkara yang halal dan akulah yang melarang melakukan perkara-perkara yang haram. Di satu peringkat aku diperintahkan supaya mengambil bai`ah daripadakalian. Dan bai`ah kalian adalah dengan menerima apa yang aku bawa dari sisi Allah A.W. mengenai kepemimpinan `Ali Amiru l-Mukminin dan para imam selepasnya, di mana mereka adalah daripadaku dan daripadanya. Dan di kalangan mereka itulah Imam Mahdi yang akan memenuhi dunia ini dengan kebenaran sehinggalah hari kiamat44.</p>
<p>Wahai manusia! Setiap yang halal aku telah menerangkannya kepada kalian. Begitu juga setiap yang haram aku telah melarang kalian dari melakukannya. Aku tidak akan bertolak ansur menge nainya dan aku tidak akan menukarkannya. Lantaran itu kalian hendaklah sentiasa mengingatinya, menjaganya, memberi nasihat dengannya. Jangan sekali-kali menukarkannya atau mengubahnya pula. Sesungguhnya aku ingin perbaharui kata-kataku: Dirilah solat, tunailah zakat, suruhlah mengerja kebaikan dan tegahlah kemungkaran. Sesungguhnya punca &#8220;menyuruh&#8221; kepada kebaikan dan melarang kemungkaran ialah berakhir kepada kata-kataku dan kalian sampaikanlah kata-kataku ini kepada orang yang tidak hadir dan suruhlah dia menerimanya dan menegahnya dari menyalahinya. Kerana ia adalah perintah daripada Allah A.W dan daripadaku.</p>
<p>Tidak ada amr ma`ruf dan nahyi munkar melainkan bersama imam yang maksum. Wahai manusia! Al-Qur&#8217;an45 telah memperkenalkan kalian bahawa para imam selepas `Ali ialah anak-anaknya. Dan aku telah memperkenalkan kalian bahawa dia (`Ali) adalah daripadaku dan aku adalah daripadanya sehingga Allah berfirman di dalam kitabnya46. &#8220;Dan dia menjadikan kalimat Tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya&#8221; (Surah az-Zukhruf 43: 28) Dan aku berkata: Kalian tidak akan sesat selama-lamanya sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya47.</p>
<p>Wahai manusia! Bertakwalah, bertakwalah! Berwaspadalah tentang kiamat, sebagaimana firman Allah A.W. &#8220;Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang amat besar&#8221; (Surah al-Hajj 22: 1). Ingatlah mati, hisab, mizan, dan perhitungan di hadapan Allah Tuhan sekalian alam, pahala dan siksa. Sesiapa yang melakukan kebaikan akan diberi pahala dan sesiapa yang melakukan kejahatan, tidak ada bahagian syurga baginya.</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya kalian yang ramai ini hendaklah memberi bai`ah kepadaku dengan tapak tangan yang satu. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku supaya mengambil pengakuan daripada kalian tentang perlantikan `Ali sebagai imam/pemimpin mukminin. Dan para imam yang datang selepasnya adalah daripadaku dan daripadanya sebagaimana aku telah memberitahu kalian. Sesungguhnya zuriatku adalah dari sulbinya. Justeru itu katakanlah: Kami mendengar, mentaati, meridai, mematuhi apa yang telah disampaikan oleh anda daripada Tuhan kami dan Tuhan anda tentang Ali dan para imam selepasnya adalah dari sulbinya. Kami memberi bai`ah kepada anda mengenai imamah `Ali dengan hati kami, diri kami, lidah kami dan tangan kami.</p>
<p>Di atas pengakuan inilah kami hidup, kami mati kami dibangkitkan kembali. Kami tidak akan mengubah dan menukarnya. Kami tidak melakukan syak wasangka, kami tidak akan memungkiri janji, kami mentaati Allah, mentaati anda dan `Ali Amiru l-Mukminin dan para imam yang terdiri dari anak cucunya yang anda telah menyebutkannya daripada zuriat anda dari sulbinya. Selepasnya Hassan dan Husain di mana kedua-duanya aku telah memberitahu kalian tentang kedudukan kedua-duanya di sisiku dan kedudukan kedua-duanya di sisi Allah A.W48.</p>
<p>Sesungguhnya aku telah melaksanakannya kepada kalian. Sesungguhnya kedua-duanya adalah imam selepas bapa mereka berdua `Ali. Dan aku adalah bapa kedua-dua mereka sebelumnya. Katakanlah: Kami mentaati Allah tentang perkara tersebut (imamah), kami mentaati anda, `Ali, Hasan, Husain dan para imam yang disebutkan oleh anda dengan perjanjian yang kukuh dan ikhlas untuk Amiru l-Mukminin dari hati kami, jiwa kami, dan lidah kami, dengan &#8220;berjabat tangan&#8221; kami dengan orang yang melakukan kepada kedua-duanya (Nabi dan `Ali A.S) dengan tangannya dan mengakui kedua-duanya dengan lidahnya. Kami tidak akan mengubah pendirian kami selama-lamanya, Allah menjadi saksi terhadap kami. Dan cukuplah Allah menjadi saksi dan anda (Nabi s.`a.w.) juga menjadi saksi kepada kami. Malah setiap orang yang taat secara zahir danbatin, yang terdiri dari para Malaikat, bala tenteraNya, hamba-hambaNya. Dan Allah yang Maha Besar menjadi saksi49.</p>
<p>Wahai manusia! Apa pendapat kalian sesungguhnya Allah mengetahui setiap suara yang tersembunyi. Maka sesiapa yangmemilih petunjuk adalah untuk dirinya. Dan siapa yang sesat,sesungguh-nya dia memilih kesesatan itu. Dan siapa yang memberibai`ah kepada Allah, &#8220;tangan&#8221; Allah (kekuasaan Allah) di atas tangan-tangan mereka. Wahai manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah dan berilah bai`ah kepada `Ali Amir al-Mukminin, Hasan, Husain dan para imam yang lain.</p>
<p>Mereka merupakan kalimat yang baik selama-lamanya. Allah akan membinasakan orang yang mungkir janji dan akan memberi rahmat kepada orang yang menepati janji. &#8220;Barang siapa yang melanggar janjinya, nescaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa diri sendiri&#8221; (Surah al-Fath 48: 10). Wahai manusia! Katakanlah sebagaimana aku telah katakan kepada kalian dan ucaplah salam bahagia kepada `Ali bagi memimpin kaum mukminin. Katalah &#8220;Kami mendengar, kami taat, keampunan kamu wahai Tuhan dipinta dan kepada kamulah tempat kembali&#8221; (Surah al-Baqarah 2: 285). Dan katakanlah &#8220;Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kamipetunjuk&#8221; (Surah al-A`raf 7: 43).</p>
<p>Wahai manusia! Sesungguhnya kelebihan `Ali b. Abi Talib A.S adalah di sisi Allah A.W. Sesungguhnya Dia telah menurunkan kelebihannya di dalam al-Qur&#8217;an tidak terhitung banyaknya di satu peringkat. Lantaran itu siapa di kalangan kalian yang mengetahuinya, hendaklah mereka membenarkannya. Wahai manusia! Siapa yang mentaati Allah, RasulNya, `Ali dan para imam yang aku telah menyebutkan nama-nama mereka kesemuanya, maka ia akan mendapat kejayaan yang besar50. Wahai manusia! Orang yang terdahulu memberi bai`ah kepada-nya, mematuhinya, menerimanya sebagai pemimpin mukminin, maka merekalah orang yang mendapat kejayaan di syurga. Wahai manusia! Katakanlah bahawa Allah tidak akan meridai kata-kata penentangan kalian. Sekiranya kalian mengingkari malah jika seluruh penghuni bumi ini mengingkarinya, tidak akan sekali-kali memberi sebarang kemudaratan kepada Allah S.W.T.</p>
<p>Seterusnya al-Tabarsi menulis: Lalu orang ramai menyeru Rasulullah (s.`a.w.) sambil berkata: Kami mendengar dan kami mentaati perintah Allah dan RasulNya dengan hati kami, lidah kami dan tangan kami. Mereka datang berpusu-pusu kepada Rasulullah (s.`a.w.) dan `Ali a.s. Lalu mereka berjabat tangan denganRasulullah (s.`a.w.) dan `Ali a.s. Orang pertama berjabat tangan dengan Rasulullah (s.`a.w.) ialah Abu Bakr, kedua `Umar, ketiga `Uthman, keempat Talhah, kelima Zubair, orang-orang Muhajirin, Ansar dan orang ramai menurut martabat mereka sehingga solat Maghrib dan Isyak dilakukan secara jamak dan berjamaah. Mereka meneruskan bai`ah dan berjabat tangan sebanyak tiga kali. Rasulullah (s.`a.w.) bersabda, setiap kali mereka melakukan bai`ah kepadanya; Segala puji bagi Allah yang telah mengurniakan kelebihan kepada kami di atas sekalian alam51.</p>
<p>Ulasan</p>
<p>Konsep Imamah (kepemimpinan) yang ditekankan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di dalam khutbah Ghadir Khum adalah melalui nas Allah S.W.T. Dan bukan melalui perlantikan atau pemilihan52.</p>
<p>Ia memusatkan kepada dua belas imam yang didahului oleh Amir al-Mukminin `Ali bin Abi Talib dan sebelas anak cucunya di mana mereka adalah dari keturunan Rasulullah (s.`a.w.) sendiri melalui Fatimah a.s. Lantaran itu beliau (s.`a.w.) bersabda &#8220;Zuriat setiap nabi adalah dari sulbinya, tetapi zuriatku dari sulbi `Ali&#8221;53. Lantaran itu beliau bersabda &#8220;Sesungguhnya Allah telah melantik `Ali untuk kalian sebagai wali, imam yang wajib ditaati&#8221;54. Kemudian beliau bersabda &#8220;Akulah Sirat al-Mustaqim di mana Dia memerintahkan kalian mengikutinya. Kemudian `Ali selepasku. Kemudian anak cucuku dari sulbinya, para imam yang menjadi petunjuk kepada kebenaran55.</p>
<p>Sebenarnya konsep dua belas imam selepas kewafatan Rasulullah (s.`a.w.) telah diriwayatkan tidak terkira banyaknya oleh para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-buku mereka di samping para ulama Syi`ah. Umpamanya al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Sahihnya56 dengan perkataan &#8220;dua belas amir&#8221;.</p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkannya daripada Jabir b. Samurah bahawa Nabi (s.`a.w.) bersabda &#8220;selepasku dua belas amir&#8221;. Muslim di dalam Sahih57 misalnya meriwayatkannya daripada Jabir b. Samurah sehingga dia berkata: Aku bersama bapaku berjumpa Nabi (s.`a.w.). Aku dengar Nabi (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Urusan ini tidak akan selesai hingga berlaku kepada mereka dua belas khalifah&#8221;58 . Al-Turmudhi di dalam Sunannya meriwayatkannya dengan lafaz amir bukan khalifah. Ahmad b. Hanbal di dalam Musnadnya59 meriwayatkannya daripada Sya`bi daripada Masruq berkata: Kami berada di sisi `Abd Allah b. Mas`ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur&#8217;an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu `Abd Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah (s.`a.w.) berapakah umat ini memiliki khalifah? `Abd Allah b. Mas`ud menjawab: Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda. Kemudian dia berkata: Ya!</p>
<p>Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah (s.`a.w.) mengenai-nya. Maka beliau (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Dua belas (Khalifah) seperti bilangan naqib Bani Isra&#8217;il&#8221;. Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-`Ummal60 meriwayatkan bahawa Nabi (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Selepasku akan diikuti oleh dua belas khalifah&#8221;. Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah61 meriwayatkan bahawa Jabir b. `Abdullah berkata: Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya `Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian `Ali b. Husain. Kemudian Muhammad b. `Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampailah salamku kepadanya. Kemudian Ja`far b. Muhammad, kemudian Musa b. Ja`far, kemudian `Ali b. Musa, kemudian Muhammad b. `Ali, kemudian `Ali b. Muhammad, kemudian Hasan b. `Ali. Kemudian al-Qa&#8217;im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya adalah kunyahku, anak Hasan b. `Ali. Dengan beliaulah Allah akan &#8220;membuka&#8221; seluruh pelusuk bumi di Timur dan di Barat,dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang diuji hatinya oleh Allah SWT&#8221;.</p>
<p>Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Adakah orang ramai boleh mengambil faedah darinya ketika ghaibnya? Beliau menjawab: &#8220;Ya! Demi yang mengutuskan aku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya daripada wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang ramai mengambil faedah dari matahari sekalipun ianya ditutupi awan&#8221;. Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Justeru itu rahsiakanlah mengenainya melainkan kepada orang yang ahli.</p>
<p>Demikianlah dikemukakan secara ringkas konsep imam dua belas menurut riwayat para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-bukumereka di mana ia adalah sejajar dengan khutbah Ghadir Khum. Memang tidak dapat dinafikan bahawa `Ali a.s sendiri telah mengemukakan khutbah/hadis Ghadir Khum sebagai hujah kekhilafahan beliau selepas Rasulullah (s.`a.w.). Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya62 meriwayatkan bahawa Amir al-Mukminin `Ali telah menuntut jawatan khalifah dengan mengemukakan beberapa soalan munasyadah kepada Ahli Syura pada tahun 23 H.</p>
<p>Beliau bertanya: Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah di kalangan kalian di mana Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepada-nya: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya Wahai Tuhan, hormatilah orang yang mewalikannya, tentangilah orang yang bermusuhan dengannya. Tolonglah orang yang menolong-nya. Orang yang hadir hendaklah menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir selain daripadaku? Mereka menjawab: Tidak ada orang lain selain daripada anda. Sulaim b. Qais al-Hilali seorang tabi` meriwayatkan bahawa beliau melihat Amir al-Mukminin `Ali a.s di Masjid Madinah di zaman pemerintahan Khalifah `Uthman b. `Affan dan dua ratus lebih para sahabat sedang bercakap-cakap dan bermuzakarah tentang ilmu dan kezuhudan. Mereka menyebut kelebihan Quraisy tentang orang yang pertama memeluk Islam dan berhijrah dengan sabda-sabda Rasulullah (s.`a.w.) tentang mereka. `Ali hanya berdiam diri kemudian beliau bertanya kepada mereka: Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian mengetahui tentang sebab turunnya &#8220;Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kamu kepada Allah, taat kamu kepada Rasulullah dan Uli al-Amr daripada kamu&#8221; (Surah al-Nisa&#8217; 4:59).</p>
<p>Orang ramai menjawab: Wahai Rasulullah adakah ia diturunkan secara khusus untuk sebahagian mukminin? Atau ia umum kepada semua mukminin? Justeru itu Allah A.W memerintahkan nabiNya supaya memberitahu mereka tentang Uli al-Amr mereka, dan menafsirkan kepada mereka tentang al-Wilayah sebagaimana beliau menafsirkan kepada mereka solat mereka, zakat mereka dan haji mereka. Dan beliaulah yang melantik aku untuk menjadi imam/khalifah kepada mereka selepas Ghadir Khum. Kemudian beliau memberi khutbahnya dan bersabda: &#8220;Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mengutuskan aku dengan satu misi yang mencemaskan kerana aku menyangka orang ramai akan membohongiku.</p>
<p>Justeru itu aku berjanji pada diriku sendiri supaya aku tidak menyampaikannya atau Dia menyiksaku63. Kemudian beliau memerintahku supaya solat dilakukan secara jamak dan berjamaah.Kemudian beliau berkhutbah: Wahai manusia adakah kalian mengetahui sesungguhnya Allah adalah maulaku, aku maula mukminin dan aku adalah lebih aula daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya! wahai Rasulullah. Dia bersabda: Berdirilah wahai `Ali, maka aku (`Ali)pun berdiri. Kemudian beliau bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku! Hormatilah orang yang mewalikannya. Tentang orang yang bermusuhan dengannya. Maka Salman berdiri dan bertanya: Wahai Rasulullah taat kepada Uli al-Amr seperti siapa? Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Ketaatan kepada Uli al-Amr sepertilah mentaatiku. Kemudian turun ayat &#8220;Hari ini aku menyempurnaka agama kamu&#8221;.</p>
<p>Maka Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Allah akbar, dengan ini sempurnalah kenabianku dan lengkaplah agama Allah dengan wilayah `Ali selepasku. Lantas Abu Bakr dan `Umar bertanya: Adakah ayat tersebut khusus untuk `Ali `a.s? Beliau menjawab: Ya ianya untuk `Ali dan para wasiku sehinggalah hari kiamat. Abu Bakr dan `Umar meminta penjelasan lagi. Wahai Rasulullah, terangkanlah kepada kami. `Ali adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, wasiku, khalifahku pada umatku dan wali setiap mukmin selepasku. Kemudian anak lelakiku Hasan, kemudian Husain kemudian sembilan daripada anak lelakiku Husain satu selepas satu. Al-Qur&#8217;an bersama mereka dan mereka bersama al-Qur&#8217;an. Mereka tidak akan berpisah daripadanya dan ia (al-Qur&#8217;an) tidak akan memisahkan mereka sehingga mereka dikembalikan kepadaku di Haud. Lalu para sahabat menjawab: Wahai Tuhanku sesungguhnya kami telah mendengar demikian itu dan kami naik saksi di atas apa yang diucapkan oleh anda (`Ali)64.</p>
<p>`Ali a.s juga telah mengulangi khutbah/hadis nabi di Ghadir Khum semasa beliau mula menjadi khalifah di Rahbah di Kufah pada tahun35 H. Ahmad b. Hanbal meriwayatkan bahawa `Ali a.s berkata: Aku menyeru kerana Allah bagi setiap orang yang mendengar Rasulullah (s.`a.w.) bersabda di hari al-Ghadir supaya berdiri dan memper saksikan apa yang telah didengarinya. Dan tidak boleh berdiri melainkan orang yang melihatnya (Nabi s.`a.w.) dengan matanya dan mendengar dengan kedua-dua telinganya. Lantas tiga puluh sahabat berdiri termasuk dua belas orang yang telah mengambil bahagian di dalam peperangan Badar. Mereka telah menyaksikan bahawa beliau (s.`a.w.) telah memegang `Ali dengan tangannya dan bersabda kepada orang ramai, di antaranya: Tidakkah anda mengetahui bahawa sesungguhnya aku lebih aula dengan mukminin daripada mereka sendiri?</p>
<p>Mereka menjawab: Ya. Kemudian beliau (s.`a.w.) bersabda lagi: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya65.</p>
<p>Adalah diriwayatkan bahawa terdapat para sahabat seperti Anas b. Malik dan lain-lain yang enggan memberi penyaksian tersebut di mana `Ali a.s berkata kepadanya: Kenapa anda tidak berdiri bersama sahabat-sahabat Rasulullah (s.`a.w.) yang lain untuk memberi penyaksian kepada apa yang telah anda dengari daripadanya di hari itu?</p>
<p>Dia menjawab: Wahai Amir al-Mukminin, aku telah tua dan pelupa pula. Lantas `Ali a.s berkata: Jika anda berbohong, nescaya Allah akan mengenakan anda dengan penyakit keputihan kulit yang tidak dapat ditutupi serban. Dia tetap dengan pendiriannya sehingga mukanya dihinggapi keputihan kanser. Selepas itu dia berkata: Aku ditimpa penyakit ini disebabkan berkat doa hamba yang salih66 .</p>
<p>Di sini diperturunkan sebahagian dari para sahabat yang melihat sendiri Rasulullah (s.`a.w.) dan mendengar khutbah beliau (s.`a.w.) di Ghadir Khum. Kemudian memberi penyaksian mereka di hadapan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib di Rahbah seperti berikut:</p>
<p>1. Abu Zainab b. `Auf al-Ansari.</p>
<p>2. Abu `Umrah b. `Amru b. Muhsin al-Ansari.</p>
<p>3. Abu Fadalah al-Ansari. Beliau mati syahid di dalam peperanganSiffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s dan terlibat di dalam Peperangan Badr.</p>
<p>4. Abu Qudamah al-Ansari. Beliau mati syahid di dalam peperangan al-Siffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s.</p>
<p>5. Abu Laila al-Ansari. Beliau mati syahid di dalam peperangan al-Siffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s.</p>
<p>6. Abu Hurairah al-Dusi.</p>
<p>7.Abu al-Haitham Ibn al-Taihan. Beliau mati syahid di dalapeperangan al-Siffin di pihak Amir al-Mukminin `Ali a.s. dan terlibat dalam Peperangan Badr.</p>
<p>8. Thabit b. al-Wadi`ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani.</p>
<p>9. Hubsyi b. Janadah al-Saluli.</p>
<p>10.Abu Ayyub Khalid al-Ansari. Beliau terlibat dalam peperangan Badr.</p>
<p>11.Khuzaimah b. Thabit al-Ansari, Dhu al-Syahadataini. Beliau mati syahid di dalam peperangan al-Siffin dan terlibat di dalam peperangan Badr.</p>
<p>12. Abu Syurah Khuwailid `Amru al-Khuza`i. Wafat ketika berusia 68 tahun.</p>
<p>13. Zaid/Yazid b. Syarahil al-Ansari.</p>
<p>14. Sahal b. Hanif al-Ansari al-Ausi. Wafat ketika berusia 38 tahun dan terlibat di dalam peperangan Badr.</p>
<p>15. Abu Sa`id Sa`d b. Malik al-Khudri al-Ansari.</p>
<p>16. Abu `Abbas Sahl b. Sa`d al-Ansari. Wafat ketika berusia 91 tahun.</p>
<p>17. Amir b. Laila al-Ghaffari.</p>
<p>18. `Abd al-Rahman b. Rabb al-Ansari.</p>
<p>19. `Abdullah b. Thabit al-Ansari. Khadam Rasulullah (s.`a.w.).</p>
<p>20. `Ubaid b. `Azib al-Ansari.</p>
<p>21. Abu Tarif `Adi b. Hatim.</p>
<p>22. `Uqbah b. `Amir al-Jahani. Beliau wafat ketika berusia 68 tahun. Dan di kalangan orang yang mati di pihak Mu`awiah.</p>
<p>23. Nahiyah b. `Amr al-Khuza`i.</p>
<p>24. Nu`man b. `Ajalan al-Ansari67.</p>
<p>`Ali juga mengulangi khutbah/hadis Ghadir Khum pada hari Peperangan Jamal tahun 36 H. Beliau bertanya Talhah: Aku menyer anda, adakah anda mendengar Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali maulanya. Wahai Tuhanku! Hormatilah orang yang mewalikannya dan tentangilah orang yang memusuhinya? Talhah menjawab: Ya. `Ali berkata: Kenapa anda memerangiku? Talhah menjawab: Aku tidak ingat. Beliau berkata: Talhah telah pergi darinya68</p>
<p>Amir al-Mukminin mengulang kembali khutbah/hadis Ghadir Khum di Kufah pada tahun 36-37 H. di mana sekumpulan lelaki mengulangi kembali hadis Ghadir al-Khum di hadapan Amir al-Mukminin `Ali69,. Begitu juga Fatimah al-Zahra, Hasan, Husain dan sembilan para imam Ahl al-Bait Rasulullah (s.`a.w.) berhujah dengan hadis al-Ghadir dan lain-lain, seperti hadis al-Thaqalain, al-Safinah, al-Manzilah, al-Tair, al-Dar, Madinah al-`Ilm dan lain-lain. Semuanya menjelaskan kekdudukan kelebihan para imam dua belas. Adalah suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan bahawa Amir al-Mukminin `Ali mempunyai keilmuan yang tinggi dan diakui oleh Rasulullah (s.`a.w.). Rasulullah (s.`a.w.) bersabda: &#8220;Aku adalah bandar ilmu, `Ali adalah pintunya&#8221;70.</p>
<p>Ketinggian ilmu dan bahasa yang diucapkan oleh Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib terserlah di dalam ucapan-ucapan beliau71 di mana pada suatu hari beliau diminta oleh sebahagian para sahabatnya supaya memberitahu mereka tentang keilmuannya. Amir al-Mukminin menjawab: Sesungguhnya ucapanku sukar dan menyukarkan (Sa`bun wa Mustas`abun) di mana ia tidak akan difahami melainkan oleh orang yang alim (al-`Alimun). Tetapi mereka mendesak beliau supaya memberi suatu ucapan kata-kata hikmah kepada mereka. Lalu beliau menjemput mereka ke rumahnya, kemudian beliau berucap: Akulah yang telah tinggi (`Alautu), maka akulah yang memaksa, (Qahartu); akulah yang menghidupkan (Uhyi) dan mematikan (Umitu), akulah yang pertama (al-Awwal) dan terakhir (al-Akhir), Zahir (al-Zahir) dan batin (al-Batin). Lantas mereka memarahi beliau dan berkata: Beliau telahkafir (kafara) lalu mereka berdiri untuk keluar dari rumahnya. `Ali a.s berkata kepada pintu: Wahai pintu, peganglah mereka. Maka pintu itu tertutup dengan sendiri. Beliau berkata: Tidakkah aku telah berkata kepada kalian bahawa ucapanku sukar dan menyukarkan, di mana ia tidak dapat difahami melainkan oleh orang yang alim? Datang kemari, aku akan menjelaskannya kepada kalian.</p>
<p>Adapun ucapanku: Akulah yang telah tinggi (`Alautu), maka akulah yang telah memaksa (Qahartu), maka akulah yang telah meninggikan (Alautu) kalian dengan pedangku ini. Maka aku memaksa (Qahartu) kalian sehingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun ucapanku: Akulah yang menghidupkan (Uhyi) dan mematikan (Umitu), maka akulah yang menghidupkan (Uhyi) Sunnah dan mematikan (Umitu) bid`ah. Adapun ucapanku: Akulah yang pertama (al-Awwal), maka akulah orang yang pertama (al-Awwal) beriman kepada Allah dan memeluk Islam.</p>
<p>Adapun ucapanku: Akulah orang yang terakhir (al-Akhir), maka akulah orang yang terakhir (al-Akhir) mengenakan pakaian ke atas Nabi (s.`a.w.) dan mengkafankannya. Adapun ucapanku: Akulah zahir (al-Zahir) dan batin (al-Batin), maka di sisi akulah ilmu zahir dan batin. Kemudian para sahabatnya mengeluh seraya berkata: Anda telah menyelamatkan kami semoga Allah menyelamatkan anda72.</p>
<p>Jikalaulah sebahagian para sahabat Amir al-Mukminin `Ali a.s sukar untuk memahami ucapan-ucapan beliau, orang-orang di zaman kita ini lebih sukar untuk memahaminya. Justeru itu mereka melontarkan kata-kata kafir kepada Syi`ah Amir al-Mukminin `Ali a.s pula dengan alasan Amir al-Mukminin `Ali tidak berkata demikian. Hanya Syi`ah `Ali sahaja yang mengaitkan ucapan tersebut Perbezaannya yang pertama (sebahagian para sahabat `Ali a.s) mengkafirkan `Ali sendiri kerana ucapannya. Sementara orang-orang Islam tertentu di zaman ini, menafikan kata-kata itu dikaitkan kepada `Ali a.s. Sebaliknya menyatakan bahawa ucapan tersebut hanya direka-reka oleh Syi`ah (`Ali). Lantas mereka mengkafirkan Syi`ah. Jikalaulah mereka benar-benar mengetahui bahawa ucapan tersebut datangnya daripada `Ali a.s sendiri, kemungkinan mereka akan melakukan perkara yang sama sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebahagian para sahabat `Ali terhadap beliau sendiri kerana mereka bukanlah terdiri daripada orang yang mempunyai ilmu yang tinggi, malah mereka hanya dapat memahami sesuatu secara mendatar. Meskipun begitu mereka adalah sahabat Amir al-Mukminin `Ali dan kemungkinan di kalangan mereka adalah sahabat Rasulullah (s.`a.w.) sendiri.</p>
<p>Di sini diperturunkan nama-nama perawi khutbah/hadis Ghadir Khum di kalangan para sahabat Rasulullah (s.`a.w.) tentang perlantikan `Ali sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah (s.`a.w.) sebagaimana sabdanya: &#8220;Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka `Ali adalah maulanya&#8221;. Dan nama-nama perawi tersebut telah diriwayatkan oleh para ulama Ahl al-Sunnah di dalam buku-buku mereka seperti berikut:</p>
<p>1. Abu Hurairah al-Dausi (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 130. Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 327.</p>
<p>2. Abu Laila Al-Ansari (w. 37 H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi, di dalam Manaqibnya, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa&#8217;, hlm. 14.</p>
<p>3. Abu Zainab bin `Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 408.</p>
<p>4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi (s.`a.w.) di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada `Ali a.s dengan hadis al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.</p>
<p>5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan `Ali a.s di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 276.</p>
<p>6. Abu `Umrah bin `Umru bin Muhsin al-Ansri. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Di antara yang menjadi saksi kepada `Ali a.s di hari Rahbah dengan hadis al-Ghadir.</p>
<p>7. Abu l-Haitham bin al-Taihan meninggal dunia di dalam pepe rangan al-Siffin tahun 37 H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi d dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 62.</p>
<p>8. Abu Rafi` al-Qibti, hamba Rasulullah (s.`a.w.). Diriwayakan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja`abi di dalam Nakhbnya.</p>
<p>9. Abu Dhuwaib Khuwailid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah `Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah, al-Khawrizmi di dalam Maqtal.</p>
<p>10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w. 13 H). Diriwayatka oleh Ibn Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wlayah, Abu Bakr al-Ja`abi di dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi di dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 di antara perawi-perawi hadis al-Ghadir.</p>
<p>11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w. 54 H). Diriwayatkan di dalam Hadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.</p>
<p>12. `Ubayy bin Ka`ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja`bi dengan sanad-sanadnya di dalam Nakhb al-Manaqib.</p>
<p>13. As`ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4.</p>
<p>14. Asma` binti `Umais al-Khath`amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn`Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah</p>
<p>15. Umm Salmah isteri Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 40.</p>
<p>16. Umm Hani` binti Abi Talib. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dengan sanad-sanadnya.</p>
<p>17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah (s.`a.w.) (w. 93 H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya, VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah di dalam al-Ma`arif, hlm. 291; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa&#8217;, hlm.114.</p>
<p>18. Al-Barra&#8217; bin `Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281,Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.</p>
<p>19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63 H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al&#8211;Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa&#8217;, hlm. 114.</p>
<p>20. Abu Sa`id Thabit bin Wadi`ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.</p>
<p>21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa`i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 398.</p>
<p>22. Jabir bin `Abdullah al-Ansari (w. 73/74/78 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Abd al-Birr di dalam al-Isti`ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, V, hlm. 337.</p>
<p>23. Jabalah bin `Amru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.</p>
<p>24. Jubair bin Mut`am bin `Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 31, 336.</p>
<p>25. Jarir bin `Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa&#8217;id , IX,hlm. 106.</p>
<p>26. Abu Dhar Jundab Janadah al-Ghaffari (w. 31 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.</p>
<p>27. Abu Junaidah Janda` bin `Amru bin Mazin al-Ansari. Diri-wayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm.308.</p>
<p>28. Hubbah bin Juwain Abu Qudamah al-`Arani (w. 76-79 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa&#8217;id, IX,hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.</p>
<p>29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307; V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 211.</p>
<p>30. Habib bin Badil bin Waraqa` al-Khaza`i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.</p>
<p>31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari (w. 40/42 H).diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi, di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38.</p>
<p>32. Huzaifah bin al-Yamani (w. 36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 40.</p>
<p>33. Hasan bin Thabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama hijrah.</p>
<p>34. Imam Mujtaba Hasan bin `Ali a.s. Diriwayatkan oleh Ibn`Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja`abi di dalam al-Nakhb.</p>
<p>35. Imam Husain bin `Ali a.s. Diriwayatkan oleh Abu Nu`aim di dalam Hilyah al-Auliya&#8217;, IX, hlm. 9.</p>
<p>36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w. 50/51/52 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari di dalam al-Riyadha</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/vxXiYKGCjJo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2008/02/10/khutbah-rasulullah-saw-di-ghadir-khum-menurut-catatan-al-allamah-al-tabarasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2008/02/10/khutbah-rasulullah-saw-di-ghadir-khum-menurut-catatan-al-allamah-al-tabarasi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Konsep Amar Makruf dan Nahi Munkar</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/o6hvVxU-6Bg/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2008/01/02/konsep-amar-makruf-dan-nahi-munkar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 15:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Amar Ma'ruf]]></category>
		<category><![CDATA[Nahi Munkar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Yang lebih penting lagi adalah bahwa jika pelaksanaan secara individu dalam amar makruf tidak membuahkan hasil atau nilai maka, kewajiban yang harus dilakukan bagi pelaku amar makruf adalah dengan cara berkelompok. Artinya jika seseorang melihat bahwa perbuatan sipendosa itu hanya bisa diatasi dengan sepuluh orang maka, wajib bagi pelaku amar makruf untuk mencari orang dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-165" title="sufi" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/sufi.jpg" alt="sufi" width="360" height="452" />Yang lebih penting lagi adalah bahwa jika pelaksanaan secara individu dalam amar makruf tidak membuahkan hasil atau nilai maka, kewajiban yang harus dilakukan bagi pelaku amar makruf adalah dengan cara berkelompok. Artinya jika seseorang melihat bahwa perbuatan sipendosa itu hanya bisa diatasi dengan sepuluh orang maka, wajib bagi pelaku amar makruf untuk mencari orang dengan jumlah tersebut, jika memerlukan dua puluh orang maka dia wajib mencari dua puluh orang begitu seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Peranan penting yang dimiliki oleh setiap muslim dalam menjaga dan menentukan nasib masyarakatnya, menerima tanggung jawab sosial dan menjadikan diri-diri setiap muslim sebagai penjaga sekaligus pengawas semua urusan yang terjadi dalam masyarakat, sudah dibahas dalam dalam fikih Islam yang kita kenal dengan amar makruf dan nahi munkar. Amar makruf dan nahi munkar ini dianggap sebagai sumber politik terpenting dalam Islam. Sebagaimana amar makruf dan nahi munkar merupakan salah satu pilar penting dan merupakan sebuah kewajiban dan sebuah keharusan dalam agama[1], maka wajib juga bagi setiap muslim untuk mengetahui Amar makruf dan nahi munkar.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Quran  ketika mensifati tentang sifat orang mukmin, menyebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Laki-laki dan perempuan yang beriman wali (saling menolong) sesamanya, melakukan amar bil makruf dan nahi munkar, mendirikan shalat dan membayar zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya.” <strong>[2]</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut ayat ini, seorang mukmin yang memperhatikan nasib orang lain adalah ibarat susunan sel-sel dalam tubuh manusia yang tertata rapi. Hubungan dan perhatian mukmin kepada orang lain ini menyebabkan perbuatan seseorang akan mempengaruhi seluruh masyarakat. Sebagaimana jika seseorang mendapatkan dalam salah satu sel tubuhnya sebuah penyakit yang menular dan tidak disembuhkan maka, penyakitnya akan menular kepada masyarakat dan akhirnya membahayakan keselamatan masyarakat lainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saww bersabda<em>: “Seorang manusia pendosa di dalam masyarakat seperti orang bodoh yang menaiki perahu. Ketika perahu tiba di tengah lautan, ia mengambil kapaknya dan melubangi tempat duduknya. Kepada setiap orang yang protes kepadanya, ia berkata: “Aku kan hanya melubangi tempat dudukku” . Sungguh ini adalah ucapan yang sangat bodoh. Jika orang lain tidak mencegahnya dari perbuatan itu, maka hanya dalam waktu singkat semua penumpang akan tenggelam.”<strong>[3]</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Definisi</strong><br />
Kata <strong><em>Makruf</em></strong> dan <strong><em>Munkar </em></strong>adalah dua mafhum yang saling bertentangan. Secara etimologis, Makruf berarti <em>yang sudah jelas</em> dan munkar adalah <em>yang belum jelas</em>[4] dan secara istilah Makruf  adalah perbuatan baik dan Munkar adalah perbuatan buruk menurut nalar akal dan hukum syariat.[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, makruf dan munkar memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya terbatas pada urusan ibadah saja, akan tetapi mencakup urusan akidah, akhlak, ibadah, hak-hak manusia, ekonomi, militer, dan urusan budaya. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa makruf dan munkar dapat digambarkan sebagai perbuatan mulia dan tercela.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Syarat Wajib</strong><br />
Karena pelaksanaan amar makruf dan nahi munkar adalah sebuah kewajiban dan mencukup semua dimensi agama maka, para pelakunya harus mengetahui beberapa hal dibawah ini :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pelaku pelaksana amar makruf dan nahi munkar harus mengetahui bahwa melaksanakan perbuatan itu adalah sebuah kewajiban syar’I. Barang siapa yang tidak memiliki ilmu tentang hal itu, maka amar makruf dan nahi munkar tidak wajib baginya.</li>
<li>Hendaknya amar atau nahi yang dilakukan memiliki nilai dan pengaruh bagi orang lain [sipendosa]. Oleh karena itu jika sang pelaku amar makruf dan nahi munkar tidak yakin usahanya akan mempunyai nilai dan berpengaruh, maka melaksanakan amar makruf dan nahi munkar tidak wajib baginya.</li>
<li>Jika pelaku amar makruf dan nahi munkar mengetahui bahwa orang yang di makrufi [pelaku dosa] tersebut akan terus melakukan perbuatan dosa, atau jika ia tahu dengan pasti bahwa orang tersebut tidak akan meninggalkan perbuatan dosanya, maka amar makruf dan nahi munkar tidak wajib baginya.</li>
<li>Hendaknya pelaksaan Amar makruf dan nahi munkar tidak berbahaya bagi dirinya, atau keluarganya atau bagi saudara seagamanya. Kecuali jika pendosa itu berusaha untuk melenyapkan akidah, hukum islam dan ideologi islam, maka yang seperti ini meskipun melaksakan amar ma’ruf adalah kewajiban <em>kifai</em>maka, melaksanakan amar makruf dan nahi munkar dalam hal ini adalah wajib. Meskipun itu berbahaya bagi dirinya dan keluarganya. Contoh jelasnya adalah demi terjaganya Islam dan syiar Islam, tenjaganya keselamatan jiwa dan keluarga muslimin. Oleh karena itu, jika syiar-syiar Islami atau jiwa sekelompok muslim berada dalam bahaya dan terancam, maka disini harus diperhatikan mana letak urusan yang penting dan yang lebih penting (aham dan muhim). Kewajiban amar makruf dan nahi munkar tidak akan gugur bagi yang lainya hanya dengan melihat adanya bahaya bagi sang pelaku amar makruf dan nahi munkar.[6]</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tahapan-tahapan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Cara paling awal dan paling berpengaruh dalam mengajak orang lain dalam amal kebajikan dan menghindari kemunkaran adalah si pelaku hendaknya menghiasi setiap perbuatannya dengan ketakwaan dan akhlak mulia. Dalam hal ini, Shahib Jawahir, salah satu fuqaha Syiah menuliskan:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Benar, pelaku amar makruf dan nahi yang paling utama dan yag paling berpengaruh adalah para pembesar agama yang memakai pakaian kebajikan, lebih dahulu melaksanakan amalan wajib dan mustahab, menjauhkan perbuatan buruk dari dirinya, menghiasi dirinya dengan akhlak mulia dan menjauhkan dirinya dari akhlak buruk. Inilah yang akan menjadi penyebab utama sehingga masyarakat mengarah pada perbuatan makruf dan menghindari perbuatan munkar”.</em>[7]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam fikih Islam, terdapat 3 tahapan untuk melaksanakan kewajiban penting ini. Setiap tahap juga memiliki derajat dan tingkatan. Jika pada satu tahap, amar makruf sudah memberikan pengaruh dan nilai maka, sang pelaku amar makruf tidak boleh masuk ke dalam tahap selanjutnya begitu seterusnya. Ketiga tahapan tersebut adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong><em>1. Menunjukkan sikap tidak suka.</em></strong><br />
Dalam tahapan awal dan dini yang harus dilakukan oleh pelaku amar makruf adalah dengan menunjukkan kekesalan hati dan menunjukan sikap tidak suka akan perbuatan si pendosa. Sikap ini dilakukan agar pelaku dosa memahami bahwa perbuatan yang dia lakukan tidak disukai dan tidak di ridhoi dan kembali kepada perbuatan makruf. Untuk tahapan ini terdapat beberapa cara seperti mengernyitkan kedua mata, bermuka masam, membuang muka, membelakangi, meninggalkan sosialisasi dengannya atau yang semisal dengan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Harus diperhatikan bahwa kebencian hati atau tidak tidak suka akan perbuatan munkar dalam tahap awal ini adalah sebuah keharusan (kelaziman) iman  dan bagi muslim merupakan kewajiban aini (fardhu ‘ain). Jika seseorang tidak mampu melaksanakan perbuatan amar makruf dan nahi munkar ketahap yang kedua maka perbuatan amar makruf dan nahi munkar yang semestinya adalah menunjukkan sikap tidak suka dan akan perbuatan sipendosa tersebut.[8]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>            2. Dalam perkataan.</em></strong><br />
            Dalam tahapan kedua ini, Imam Khomeini ra berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Jika pelaku amar makruf mengetahui bahwa tahap awal amar makruf tidak memberikan hasil, maka ia wajib masuk ke dalam tahap kedua. Jika tahapan kedua kemungkinannya memberikan hasil atau jika dengan nasehat yang baik dan bahasa yang lembut amar makruf mungkin berhasil, pelaku amar makruf tidak boleh masuk ke tahap selanjutnya. Jika ia mengetahui bahwa tahap sebelumnya tidak memberikan hasil dan ia harus mengganti nada suaranya seperti dalam bentuk perintah maka ia harus melakukannya. Namun bagaimanapun juga, derajat kekasaran dalam ucapan harus diperhatikan” </em>.[9]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>3. Kekuatan dan paksaan.</em></strong><br />
Jika kedua tahap sebelumnya tidak memberikan hasil, maka harus digunakan kekuatan dan paksaan. Maksudnya adalah melakukan tekanan agar perbuatan munkar tersebut dapat dicegah dan pelaku munkar menjauhi perbuatan dosa tersebut. Dalam tahap ini juga harus dimulai dengan tekanan yang paling ringan. Namun, jika perbuatan dosa itu bisa berhenti dengan cara dipukul maka tahap ini harus dilakukan [syarat dalam amar makruf dan nahi munkar tidak boleh sampai mengeluarkan darah].[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih penting lagi adalah bahwa jika pelaksanaan secara individu dalam amar makruf tidak membuahkan hasil atau nilai maka, kewajiban yang harus dilakukan bagi pelaku amar makruf adalah dengan cara berkelompok. Artinya jika seseorang melihat bahwa perbuatan sipendosa itu hanya bisa diatasi dengan sepuluh orang maka, wajib bagi pelaku amar makruf untuk mencari orang dengan jumlah tersebut, jika memerlukan dua puluh orang maka dia wajib mencari dua puluh orang begitu seterusnya. Pelaksanaanya juga harus diperhatikan dengan baik, maksudnya harus dilihat perbuatan dan dorongan apakah yang dapat membuat masyarakat terdorong untuk melakukan perbuatan baik atau menjauhi perbuatan buruk. Dan ini berarti mengikutsertakan akal dan logika dalam pelaksanaan amar makruf dan nahi munkar. Sebab Islam telah meletakkan tanggung jawab penting ini pada akal dan pelaksanaan secara insani sehingga akar perbuatan munkar bisa dicabut melalui jalan yang mungkin dan penting. Hal ini berbeda dengan kewajiban syar’i lainnya seperti shalat yang pelaksanaannya harus sesuai dengan aturan agama.[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya adalah bahwa amar makruf dan nahi munkar ibarat darah dalam tubuh agama dan jaminan bagi kehidupan Islam. Bangkitnya orang-orang shaleh dalam masyarakat Islam merupakan gaung dari amal ini. Jika orang-orang shaleh seperti Imam Husain as tidak ada, maka nilai-nilai insani dan ilahi akan hilang dan Islam sendiri sudah punah ratusan tahun yang di tangan para pendosa. Diakui atau tidak wujud revolusi Islam Iran juga merupakan salah satu hasil dari amal penting ini dari sisi politik dan pemerintahan, Imam Khomeini ra dengan perbuatannya yang dihiasi dengan nilai-nilai islam dengan bantuan Allah swt memperoleh kesuksesan suci ini. Karena revolusi suci  ini terus berjalan, maka amar makruf dan nahi munkar harus tetap berjalan dimanapun dan kapanpun.[] <em>Allahu A’lam.</em></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:</p>
<hr style="text-align: justify;" />
<p style="text-align: justify;">[1] Wasail Syiah, jilid 11, hal. 395.</p>
<p style="text-align: justify;">[2] Surah at-Taubah: 71.</p>
<p style="text-align: justify;">[3] Tafsir Abul Futuh Razi, jili 3-4, hal. 142.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Mufradat Raghib, kata ÚÑÝ</p>
<p style="text-align: justify;">[5] Tahrir Wasilah, jilid 1, hal. 397.</p>
<p style="text-align: justify;">[6] Idem, jilid 1, hal. 400-406.</p>
<p style="text-align: justify;">[7] Jawahirul Makarim, Muhammad Hasan Najafi, jilid 21, hal. 382.</p>
<p style="text-align: justify;">[8] Tahrir Wasilah, jilid 1, hal. 409-411, masalah 7-8.</p>
<p style="text-align: justify;">[9] Idem, jilid 1, hal. 411.</p>
<p style="text-align: justify;">[10] Idem, hal. 412-413, masalah 1 dan 11.</p>
<p style="text-align: justify;">[11] Untuk mengetahui syarat-syarat amar makruf dan nahyi munkar dan hukum yang lain yang berkaitan dengannya, silahkan rujuk Tahrir Wasilah, jilid 1, bab amar makruf dan nahyi munkar.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.islamalternatif.net/"></a><a href="http://www.islamalternatif.net/" target="_blank">http://www.islamalternatif.net/</a></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/o6hvVxU-6Bg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2008/01/02/konsep-amar-makruf-dan-nahi-munkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2008/01/02/konsep-amar-makruf-dan-nahi-munkar/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sebungkus Kurma Abu Aqil</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/9ZgrBpj5wto/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2007/12/05/sebungkus-kurma-abu-aqil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 15:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Aqil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Abu Aqil sedemikian resah seperti hari itu. Dia tenggelam dalam fikirannya tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia seolah-olah tidak mendengar bunyi apapun dan tidak melihat sesuatupun. Dia melangkah ke arah rumahnya dengan cepat. Matanya memandang tanah dan mulutnya kelihatan komat-kamit mengatakan sesuatu. Dia melewati lorong sempit sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="WIDOWS: 2; TEXT-TRANSFORM: none; TEXT-INDENT: 0px; BORDER-COLLAPSE: separate; FONT: medium 'Times New Roman'; WHITE-SPACE: normal; ORPHANS: 2; LETTER-SPACING: normal; COLOR: #000000; WORD-SPACING: 0px; -webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; -webkit-text-decorations-in-effect: none; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px"><span style="TEXT-ALIGN: left; LINE-HEIGHT: 18px; FONT-FAMILY: Tahoma, Verdana, sans-serif; FONT-SIZE: 12px"><img class="alignleft size-full wp-image-161" title="av-1336" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/av-1336.jpg" alt="av-1336" width="320" height="320" />Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Abu Aqil sedemikian resah seperti hari itu. Dia tenggelam dalam fikirannya tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia seolah-olah tidak mendengar bunyi apapun dan tidak melihat sesuatupun. Dia melangkah ke arah rumahnya dengan cepat. Matanya memandang tanah dan mulutnya kelihatan komat-kamit mengatakan sesuatu. Dia melewati lorong sempit sebelum akhirnya tiba ke rumahnya. Dengan menarik nafas yang dalam, Abu Aqil lalu bersandar di sebatang pohon tua di tengah halaman rumah.</p>
<p>Isterinya menyadari kekhawatiran yang melanda suaminya itu dan bertanya, “Suamiku, apa yang terjadi?” Abu Aqil kemudian berjalan masuk ke rumahnya. Karena kelelahan, dia bersandar ke dinding rumahnya, lalu berkata, “Musuh Tuhan berniat untuk memerangi kita. Tentara muslim sudah disiagakan untuk melawan musuh. Tetapi, tentara kita tidak punya bekal dan makanan. Kami sedang berada di masjid ketika Nabi membacakan sebuah ayat suci Al-Quran dan meminta kaum muslimin untuk memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing kepada tentara Islam.”</p>
<p>Isteri Abu Aqil bertanya, “Apakah bunyi ayat itu?” Abu Aqil menutup matanya dan setelah berpikir sejenak, dia membaca ayat ke-11 dari surat Al-Hadiid yang artinya, “Siapa saja yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan diberi Allah balasan pinjaman yang berlipatganda dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”</p>
<p>Isterinya dengan pandangan kecewa menatap lantai ruangan kamar dan berkata, “Engkau adalah pemimpin rumah ini dan engkau lebih mengetahui bahwa kita tidak punya harta dan simpanan apapun untuk kita berikan di jalan Tuhan. Abu Aqil menjawab, “Tetapi, kita harus turut melibatkan diri dalam tugas ini. Tidakkah engkau ketahui bahwa perbuatan ini disenangi oleh Tuhan dan Rasul-Nya?”</p>
<p>Abu Aqil melanjutkan perkataannya, “Ayat ini sangat menyentuh perasaanku sehingga aku segera pulang ke rumah. Hari ini semua orang Islam membawa apa yang mereka miliki kepada Nabi Muhammad saaw agar permintaan Tuhan terpenuhi.” Isterinya tersenyum dan dia mengambil salah satu bejana dan mengeluarkan segenggam kurma sambil berkata kepada Abu Aqil, “Kita mempunyai sedikit kurma. Ambillah dan berikan kurma ini kepada Nabi.”</p>
<p>Abu Aqil tertegun dan mengguman sendirian, “Apa yang bisa diperbuat dengan kurma ini? Tetapi ini lebih baik daripada tidak memberi sesuatupun.” Isterinya lantas menaruh kurma itu dalam sebuah kain bersih dan memberikannya kepada Abu Aqil. Dengan gembira, Abu Aqil berkata, “Meskipun kurma ini tidak tampak berguna tetapi ia dapat dimanfaatkan di medan perang.”</p>
<p>Halaman kecil masjid ramai dipenuhi umat muslimin. Abu Aqil berada di antara mereka. Dengan langkah yang lemah, dia memperhatikan bahwa ada beberapa ekor biri-biri, kambing, dan unta terikat di luar masjid. Abu Aqil menyadari bahwa hewan-hewan itu merupakan hadiah dari orang ramai. Dia juga melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid dengan hadiah besar dan kecil di tangan mereka. Abu Aqil merapatkan bungkusan yang berisi kurma ke dadanya dan dia berjalan masuk ke dalam masjid.</p>
<p>Melihat banyaknya kaum muslimin yang berdatangan menyerahkan hadiahnya kepada Nabi SAWW, kaum munafikin merasa tidak senang, dan muncul kebencian di dalam hati mereka, yang mendorong mereka untuk mengejek setiap orang yang menyerahkan sedekah dan bantuan kepada Nabi. Orang yang memberikan bantuan dalam jumlah besar, mereka ejek sebagai pamer, tidak ikhlas dan mengharap pujian. Sedangkan orang yang memberikan bantuan dalam jumlah sedikit, mereka ejek dengan mengatakan, &#8220;Allah dan Rasul-Nya tidak memerlukan bantuan kamu.&#8221;</p>
<p>Melihat sikap orang-orang munafik itu, Abu Aqil sempat beberapa kali ingin mengambil keputusan untuk pulang ke rumahnya dan menjauhkan diri dari pandangan para pengganggu itu. Tetapi ada kekuatan dalam dirinya yang menghalanginya untuk pulang. Akhirnya dia duduk diam-diam di sudut masjid. Dilihatnya Nabi Muhammad SAWW duduk di tepi mihrab dan menerima hadiah-hadiah dari umatnya. Dia berharap dalam hati, alangkah baiknya jika dia mempunyai simpanan yang lebih pantas untuk diberikan kepada Nabi.</p>
<p>Tiba-tiba, masjid yang semula dipenuhi dengan suara ramai dilanda kesepian dan kesunyian. Abu Aqil memandang kepada Rasulullah. Rupanya, Rasul sedang menerima wahyu. Rasulullah SAWW menutup mata dan wajahnya seolah-olah sedang tenggelam dalam cahaya yang bersinar. Semua sahabat memahami keadaan Nabi ini dan menanti sampai Rasul selesai menerima wahyu.</p>
<p>Rasulullah kemudian membuka matanya dan dengan langkah yang perlahan beliau bergerak ke arah Abu Aqil. Jantung Abu Aqil berdebar-debar dan dia berusaha untuk menyembunyikan bungkusan kurmanya. Lalu, terdengar suara Rasulullah yang memecah kesunyian masjid, “Wahai manusia, baru saja Jibril menyampaikan wahyu dari Allah kepadaku. Ketahuilah bahwa para malaikat yang berada di langit, memandang bumi untuk menyaksikan pinjaman siapakah yang terbaik di sisi Tuhan.”</p>
<p>Rasulullah kemudian meletakkan tangannya ke atas pundak Abu Aqil dan berkata, “Ketahuilah, hadiahmu lebih berharga dari emas di sisi Tuhan. Orang munafik yang mencelamu dan menyebabkan hatimu sakit, kelak akan diberi azab. Wahai Abu Aqil, para malaikat sedang menanti, berikan hadiah itu kepadaku dan ketahuilah bahwa Allah ingin agar aku menggembirakanmu. Engkau hari ini disenangi oleh Allah.”</p>
<p>Abu Aqil masih tidak percaya, dia merasa seolah-olah sedang bermimpi, sebuah mimpi yang amat manis. Rasulullah dengan penuh kasih sayang mengambil bungkusan kurma tersebut dari tangannya dan membelai kepala Abu Aqil. Ketika itu pula Rasul membacakan ayat ke-79 surah Taubah yang artinya, “Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memiliki apapun untuk disedekahkan selain dari yang disanggupinya. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan bagi mereka azab yang pedih.”</p>
<p>Sumber : </span><a style="BACKGROUND-COLOR: transparent; COLOR: #000000; FONT-WEIGHT: bold; TEXT-DECORATION: none" href="http://www.irib.ir/" target="_blank">http://www.irib.ir</a></span></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/9ZgrBpj5wto" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2007/12/05/sebungkus-kurma-abu-aqil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2007/12/05/sebungkus-kurma-abu-aqil/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Nasib Lelaki Buta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/-fXMIfb3R4U/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2007/11/23/nasib-lelaki-buta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2007 21:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Buta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu malam, ada seorang lelaki buta yang tidak dapat melelapkan matanya. Hatinya seperti langit yang diselubungi mega. Dia mengeluh dan merintih sayu: Ya Tuhan ku, betapa kerasnya hati manusia di sekelilingku. Tidak ada seorangpun yang mau memikirkan insan malang dan miskin. Ya Tuhan, pada siapakah dapat aku hulurkan tangan meminta bantuan? Dia teringat tahun-tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-131" title="Fright" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Fright.jpg" alt="Fright" width="505" height="430" />Pada suatu malam, ada seorang lelaki buta yang tidak dapat melelapkan matanya. Hatinya seperti langit yang diselubungi mega. Dia mengeluh dan merintih sayu: Ya Tuhan ku, betapa kerasnya hati manusia di sekelilingku. Tidak ada seorangpun yang mau memikirkan insan malang dan miskin. Ya Tuhan, pada siapakah dapat aku hulurkan tangan meminta bantuan? Dia teringat tahun-tahun yang lampau, ketika isterinya yang baik masih hidup. Tiba-tiba air mata bergenang di kelopak mata dan membasahi wajahnya.</p>
<p>Keesokan paginya, lelaki buta itu bangun dari tempat pembaringannya, mencari sesuatu untuk mengisi perut. Perlahan-lahan tangannya meraba-raba ke seluruh penjuru kamar tersebut, tetapi, tidak ada yang dapat ditemui selain dari sekeping roti yang sudah kering. Kemudian, sebagaimana biasanya, dia memakai pakaiannya yang sudah robek, lalu berjalan melewati lorong-lorong kota dengan tongkatnya. Lalu, seperti biasa, dia duduk di satu sudut kota, di bawah sebuah pohon dan mendengarkan langkah kaki orang-orang yang melewati tempat duduknya. Dia menanti seseorang yang akan melontarkan kepingan uang atau makanan dalam tangannya, tetapi seolah-olah, tidak ada seorangpun yang menghiraukannya.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara tapak kaki mendekatinya. Lelaki tua yang buta itu menumpukan sepenuh perhatiannya kepada langkah tersebut, tetapi beberapa saat kemudian, suara langkah tersebut tidak lagi terdengar. Meskipun lelaki tua itu buta dan tidak melihat sesuatu, tetapi dia dapat merasakan bahwa seseorang sedang memperhatikannya. Dia berkata sendirian, siapakah gerangannya orang tersebut? Ketika dia tenggelam dalam fikirannya, terdengar suara orang memberi salam. Lelaki tua itu menjawab salamnya dengan berkata, “Salam, selamat pagi.”</p>
<p>Lelaki tua itu sekali lagi merasakan bahwa orang tersebut sedang memperhatikannya. Orang itu dengan perlahan-lahan berjalan melewati dirinya, tetapi tidak berapa jauh, dia berhenti dan memandang lelaki buta itu. Hatinya yang baik tersentuh melihat lelaki tua itu. Orang itu berkata sendirian: apakah lelaki buta ini tidak mempunyai siapapun untuk membantunya? Bersamaan dengan itu, orang-orang dan pedagang yang melewati tempat tersebut dan melihat kehadiran Amirul Mukminin Ali a.s. di sisi lelaki buta itu. Mereka menghampirinya dan memberi salam kepada beliau sebagai tanda penghormatan.</p>
<p>Kini pahamlah lelaki tua yang buta itu bahwa lelaki yang memandanginya itu ternyata adalah pemimpin umat Islam, Imam Ali a.s. Imam Ali as menjawab salam orang-orang itu dan bertanya, “Kenalkah kalian dengan lelaki tua ini?”</p>
<p>Mereka yang mengenali lelaki tua itu berkata, ”Wahai Ali, lelaki tua ini adalah seorang penganut kristen, isterinya telah meninggal dunia. Dia adalah seorang lelaki yang amat baik dan bekerja keras. Tetapi sejak dia menjadi buta, dan dikarenakan dia tidak mempunyai siapapun, dia terpaksa mencari uang dengan meminta sedekah.”</p>
<p>Lelaki tua yang mendengar dengan penuh perhatian kata-kata mengenai dirinya itu, lalu berdiri dengan berpegang kepada tongkatnya. Dia menanti jawaban dari Imam Ali a.s. Ketika Imam Ali a.s mengetahui nasib si lelaki tua itu, beliau menundukkan kepalanya karena merasa sangat terharu. Tak lama kemudian, beliau berkata, “Sungguh menakjubkan! Ketika lelaki ini mempunyai kemampuan, dia telah bekerja keras dan kini bila dia berada dalam keadaan lemah, dia ditinggalkan? Ketika dia bisa melihat dan mempunyai kemampuan, dia bekerja keras untuk masyarakat. Kini, ketika dia sudah tua dan tidak lagi mampu untuk bekerja, maka menjadi tanggungjawab pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan keperluannya.”</p>
<p>Ketika mendengar kata-kata Imam Ali itu, cahaya harapan bersinar ke dalam jiwa lelaki tua tersebut. Dia berkata dengan penuh kasih sayang kepada Ali a.s., “Ya Tuhan, Engkau limpahkanlah kebaikan untuk Ali.”</p>
<p>Ketika waktu magrib tiba, lelaki tua itu mengambil keputusan untuk pulang ke rumahnya. Tiba-tiba, dia didatangi oleh utusan Imam Ali a.s. yang meletakkan satu pundi uang ke tangan lelaki tua itu dan berkata, ”Ambillah uang ini! Imam Ali memberi perintah sejak kini Anda akan mendapat bagian dari baitul mal. Oleh karena itu engkau tidak perlu lagi meminta sedekah.”</p>
<p>Lelaki tua itu bangun dari tempat duduknya, dan membuka pundi tersebut dengan rasa tidak percaya. Dia meremas-remas uang dalam tangannya. Beberapa kali bibirnya menyebut nama Ali dan berkata: Ya Tuhan ku, betapa baiknya Ali, walaupun aku adalah seorang kristen dan bukan seagama dengannya, tetapi dia tetap berbuat baik kepadaku. Betapa aku telah membuat kesalahan. Ternyata, masih ada manusia yang sedemikian baik. Ya Tuhanku, aku mengucapkan syukur kepadamu atas segala karunia ini.</p>
<p>Sejarah menyaksikan bahwa Imam Ali as senantiasa berperilaku baik dalam perbuatan dan kata-katanya terhadap umatnya, khususnya mereka yang miskin. Imam Ali a.s. dalam sebagian dari suratnya kepada Malik Asytar, gubernur Mesir menulis sbb:</p>
<p>Penuhilah hati dengan kasih sayang kepada rakyat dan berbuat baiklah kepada mereka semua. Rakyat terbagi kepada dua golongan, satu golongan ialah mereka yang seagama denganmu dan satu golongan lagi ialah yang sama-sama diciptakan Allah sepertimu. Di antara rakyat yang kesusahan, yang memerlukan bantuan, dan berada dalam kesulitan, serta yang sakit, yang tidak punya siapapun selain dari Tuhan, ada dua golongan. Ada kelompok yang sabar dan menahan diri dari meminta-minta dan ada kelompok yang menadahkan tangan meminta sedekah. Maka jadilah engkau orang yang membela mereka ini.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.irib.ir/" target="_blank">http://www.irib.ir</a></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/-fXMIfb3R4U" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2007/11/23/nasib-lelaki-buta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2007/11/23/nasib-lelaki-buta/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Malik Asytar</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/95jtHM2mbnY/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2007/11/22/malik-asytar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2007 21:48:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Malik Asytar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Matahari sudah semakin tinggi pertanda siang hari telah tiba. Keadaan pasar seperti biasa, dipenuhi oleh orang ramai yang datang silih berganti untuk menyediakan keperluan hidup mereka. Di antara mereka tampak seorang lelaki berpostur tinggi dengan tubuh perkasa yang menarik perhatian banyak orang. Wajahnya terbakar oleh sengatan sinar matahari. Dengan langkah yang pasti, dia memasuki pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-134" title="Malik Asytar" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/Malik-Asytar.jpg" alt="Malik Asytar" width="356" height="525" />Matahari sudah semakin tinggi pertanda siang hari telah tiba. Keadaan pasar seperti biasa, dipenuhi oleh orang ramai yang datang silih berganti untuk menyediakan keperluan hidup mereka. Di antara mereka tampak seorang lelaki berpostur tinggi dengan tubuh perkasa yang menarik perhatian banyak orang. Wajahnya terbakar oleh sengatan sinar matahari. Dengan langkah yang pasti, dia memasuki pasar Kufah. Saat itu, salah seorang pedagang pasar yang asyik duduk di depan tokonya, menyadari kedatangan lelaki tsb. Tiba-tiba muncul niat kotornya untuk membuat rekan-rekannya tertawa dengan melontarkan batu dan tanah ke arah lelaki itu.</p>
<p>Lelaki tersebut memalingkan wajahnya dan memandang ke arah orang yang melontarkan batu kepadanya. Tetapi tanpa merasa tersinggung, dia membiarkan peristiwa itu berlalu dan terus melanjutkan perjalanannya. Rekan si penjual itu bukan saja tidak tertawa menyaksikan perbuatan kawan, bahkan dengan rasa gusar dan gelisah berkata kepadanya, “Tahukah engkau siapa yang engkau permainkan tadi?”</p>
<p>Si penjual tersebut menjawab, “Tidak, aku tidak mengenalnya. Menurutku, dia tidak berbeda dengan ratusan orang lain yang lalu lalang di sini setiap hari di hadapan mata kita. Bukankah begitu?”</p>
<p>Salah seorang dari rekan si penjual itu dengan amat gusar sehingga wajahnya berkerut, berkata, “Hei! Bodoh! Tidakkah engkau mengenalinya? Lelaki yang baru lewat itu adalah Malik Asytar, komandan tentera Islam yang terkenal. Kita banyak terhutang budi kepadanya karena pengorbanan dan keberaniannya di medan perang. Celaka engkau! Tidakkah engkau tahu siapa yang telah engkau permainkan tadi?”</p>
<p>Mendengar nama Malik, si pegadang menggigil ketakutan. Dia sungguh menyesali perbuatannya. Dia bahkan sanggup melakukan apa saja demi menebus kesalahannya. Matanya menjadi gelap. Dia tidak tahu kepada siapa harus mengadu. Dalam hati dia berkata, “Aku telah melakukan perbuatan yang bodoh. Aku telah mempermainkan komandan pasukan Islam. Tentu aku akan dihukumnya”</p>
<p>Si pedagang mengambil keputusan untuk pergi menemui Malik Asytar. Bagaimanapun juga dia akan meminta maaf kepadanya. Dia berlari-lari mencari Malik. Tidak lama kemudian, dia berhasil menemukan Malik yang tengah berjalan di kejauhan. Malik membelokkan langkahnya menuju masjid. Si pedagang itupun dengan hati yang bergoncang hebat menuruti langkah Malik dan masuk ke dalam masjid. Dia tidak berani menghampiri Malik. Panglima perang Islam itu berdiri menunaikan solat. Si penjual memandang ke arah Malik. Malik Asytar, dengan kekhusyukan penuh melaksanakan ibadahnya. Sayup-sayup terdengar suara merdu Malik yang tengah melaksanakan shalat. Suara itu menenangkan hati si pedagang pasar.</p>
<p>Selepas solat, Malik berdoa. Tak lama setelah beliau selesai memanjatkan doa, perlahan-lahan si pedagang mendatangi Malik. Dia lantas menjatuhkan diri dan bersimpuh di kaki Malik. Dengan suara bergetar dia berkata, “Wahai Malik Asytar, aku telah melakukan perbuatan yang bodoh. Aku tidak mengenalimu. Aku memohon kepadamu untuk memaafkanku. Demi Allah, aku tidak mengenalimu. Engkau adalah seorang lelaki yang mulia dan terhormat.</p>
<p>Malik Asytar, dengan perlahan-lahan mengangkat lelaki tersebut dan meletakkan tangannya ke atas bahu orang itu. Si lelaki itu dengan susah-payah menatap mata Malik. Malik Asytar dengan lembut berkata, “Aku bersumpah demi Tuhan, bahwa kedatanganku ke masjid ini adalah karena engkau. Sebab aku tahu bahwa karena kejahilanmu, engkau mengganggu orang tanpa sebab. Aku sedih melihatmu. Aku datang ke masjid ini untuk berdoa buatmu dan aku meminta dari Tuhan supaya memberimu petunjuk ke jalan yang benar dan menjauhkan dirimu dari dosa.”</p>
<p>Mendengar kata-kata Malik dan menyaksikan sendiri sifat pemaaf ksatria Islam ini, dia semakin merasa malu. Dia mengucapkan terima kasih kepada Malik Asytar dan kembali ke tempat kerjanya.</p>
<p>Rekan-rekan si pedagang pasar tidak sabar menantikan kedatangannya. Ketika melihatnya dan mendengar kisah yang dia paparkan, mereka memuji Malik Asytar. Salah seorang dari mereka bahkan membawakan sebuah hadis Rasulullah saaw sebagai berikut, “Ampunilah kesalahan orang lain kerana sikap pengampun menambah kemuliaan orang. Seringlah memaafkan supaya Tuhan memuliakanmu.”</p>
<p>Saudara pendengar, sampai disini dahulu pertemuan kita malam ini. Semoga kisah tadi sedikit banyak memberikan petunjuk dan hidayah kepada kita semua. Sehingga bersua lagi pekan depan dengan kisah yang lain, Wassalam wr wb.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.irib.ir/" target="_blank">http://www.irib.ir</a></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/95jtHM2mbnY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2007/11/22/malik-asytar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2007/11/22/malik-asytar/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Teks Lengkap Pidato Ahmadinejad Di Columbia University</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/VGNQdjjhWL4/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2007/10/11/teks-lengkap-pidato-ahmadinejad-di-columbia-university/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 15:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadinejad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menggunakan kunjungannya yang kontroversial di Amerika untuk mengatakan kepada orang Amerika bahwa cara pemerintah mereka hendak mengatur dunia salah dan menyebabkan pertumpahan darah. Hal itu dikatakannya di New York hari Senin di mana akan mengucapkan beberapa pidato termasuk dalam Sidang Majelis Umum PBB hari Selasa.
Kunjungannya mencetuskan kontroversi serta protes dari orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="widows: 2; text-transform: none; text-indent: 0px; border-collapse: separate; font: medium 'Times New Roman'; white-space: normal; orphans: 2; letter-spacing: normal; color: #000000; word-spacing: 0px; -webkit-border-horizontal-spacing: 0px; -webkit-border-vertical-spacing: 0px; -webkit-text-decorations-in-effect: none; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px;"><span style="text-align: left; font-family: Tahoma, Verdana, sans-serif; font-size: 12px;"></p>
<p align="justify"><img class="alignleft size-full wp-image-168" title="ahmadinejad_columbia" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2009/11/ahmadinejad_columbia.jpg" alt="ahmadinejad_columbia" width="300" height="408" />Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menggunakan kunjungannya yang kontroversial di Amerika untuk mengatakan kepada orang Amerika bahwa cara pemerintah mereka hendak mengatur dunia salah dan menyebabkan pertumpahan darah. Hal itu dikatakannya di New York hari Senin di mana akan mengucapkan beberapa pidato termasuk dalam Sidang Majelis Umum PBB hari Selasa.</p>
<p align="justify">Kunjungannya mencetuskan kontroversi serta protes dari orang-orang Iran di pengasingan, politisi New York, media, kelompok hak asasi manusia dan kelompok Yahudi. Berbicara kepada wartawan hari Senin, Ahmadinejad menuduh pemerintah Amerika hendak mengeruk keuntungan bagi diri sendiri tetapi memungkirinya dari orang lain. Ia juga mengulangi posisinya tidak dapat mengakui Israel.</p>
<p align="justify">Ia menepiskan pertanyaan seputar laporan tentang penindasan terhadap perempuan dan penghukuman mati wartawan di Iran dengan menuduh media memutar-balikkan informasi. Ia mengatakan kepada wartawan Amerika, adalah tugas mereka untuk antara lain menyebarkan perilaku moral dan kesucian.</p>
<p align="justify">Sementara itu, Presiden Universitas Columbia di New York, Lee Bollinger dalam pidatonya menerima kedatangan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di kampus universitas itu hari Senin mengatakan bahwa Ahmadinejad memperlihatkan tanda-tanda seorang diktator yang picik dan kejam.</p>
<p align="justify">Kedatangan Ahmadinejad di kampus itu termasuk di antara yang paling dipertentangkan dalam kunjungannya di New York minggu ini yang mengundang protes dari kelompok hak asasi manusia, media dan politisi. Lee Bollinger berpidato sebelum Presiden Ahmadinejad berpidato. Ia menantang Ahmadinejad untuk menjawab pertanyaan tentang program nuklir Iran, dukungan Iran kepada terorisme, dan penumpasan yang dilakukan Iran terhadap golongan intelektual, agama dan lainnya di dalam negeri.</p>
<p align="justify">Bollinger menambahkan, sikap Ahmadinejad menyangkal adanya holocaust membuatnya aneh dan kelihatan terang-terangan provokatif atau secara berbahaya tidak terdidik. Ahmadinejad mengatakan ia berterima kasih kepada Tuhan mendapat kesempatan berbicara di universitas itu sambil menambahkan bahwa Bollinger telah menghina dirinya serta hadirin.</p>
<p align="justify">————————————————</p>
<p align="justify">Berhubung teks pidato ini panjang, silahkan mendowloadnya di bawah ini:</p>
<p align="justify"><a style="background-color: transparent; color: #000000; font-weight: bold; text-decoration: none;" title="Teks pidato Ahmadinejad di Columbia University" href="http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2007/09/teks-pidato-ahmadinejad-di-columbia-university.doc"><span style="color: #105cb6;">Teks pidato Ahmadinejad di Columbia University</span></a></p>
<p align="justify">Sumber: </p>
<p></span><a style="background-color: transparent; color: #000000; font-weight: bold; text-decoration: none;" href="http://musadiqmarhaban.wordpress.com" target="_blank">http://musadiqmarhaban.wordpress.com</a></span></p>
<p align="justify"> </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/VGNQdjjhWL4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2007/10/11/teks-lengkap-pidato-ahmadinejad-di-columbia-university/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2007/10/11/teks-lengkap-pidato-ahmadinejad-di-columbia-university/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Air Mata Kerinduan Uwais AlQarani Kepada Rasul saww</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/madinah-al-hikmah/~3/yGOB-YJmzbo/</link>
		<comments>http://edwinharahap.com/madinah/2007/10/02/air-mata-kerinduan-uwais-alqarani-kepada-rasul-saww/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 14:37:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah-Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah SAWW]]></category>
		<category><![CDATA[Uwais Al-Qorni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edwinharahap.com/madinah/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Di negeri Yaman, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarani yang berasal dari kabilah Qaran. Uwais Al-Qarani mempunyai jiwa yang bersih dan mulia. Dia seorang yang pintar dan selalu melakukan pencarian makna hidup. Meskipun saat itu dia masih belum mengenal ajaran Islam yang mulia, dia sangat menghormati nilai-nilai mulia kemanusiaan. Di antara sikap dan perilaku Uwais [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-158" title="1990" src="http://edwinharahap.com/madinah/wp-content/uploads/2007/10/1990.jpg" alt="1990" width="119" height="125" />Di negeri Yaman, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarani yang berasal dari kabilah Qaran. Uwais Al-Qarani mempunyai jiwa yang bersih dan mulia. Dia seorang yang pintar dan selalu melakukan pencarian makna hidup. Meskipun saat itu dia masih belum mengenal ajaran Islam yang mulia, dia sangat menghormati nilai-nilai mulia kemanusiaan. Di antara sikap dan perilaku Uwais yang paling menonjol sekali ialah penghormatan yang besar terhadap ibunya. Dia bersikap amat lemah-lembut kepada ibunya yang sudah tua dan dia amat mengerti tanggung jawabnya sebagai anak. Dia dapat merasakan kesulitan seorang ibu dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Oleh karena itu, dia melayani ibunya seperti seorang pelayan yang taat dan patuh. Uwais sama sekali tidak melupakan jerih payah ibunya.</p>
<p>Suatu saat, Uwais Al-Qarani mendengar kabar bahwa ada seorang nabi yang berhijrah dari kota Mekah ke Madinah dan sebagian dari masyarakat mengikuti ajaran nabi tersebut. Uwais dengan perenungannya, sampai kepada kesimpulan bahwa Muhammad adalah seorang nabi yang benar-benar diutus oleh Tuhan karena perintah dan ajaran yang disampaikan beliau berlandaskan kepada akal dan sesuai dengan nilai-nilai tinggi insani. Uwais mempercayai kenabian Muhammad saaw dan dia ingin sekali bertemu dengan beliau. Dia ingin melakukan perjalanan ke Madinah dan melihat sendiri keindahan hati Muhammad dari dekat. Tetapi, kondisi ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan membuatnya mengurungkan niatnya itu. Berbulan-bulan lamanya Uwais memendam harapan dan impiannya tersebut. Sampai suatu hari, dia mengambil keputusan untuk menceritakan keinginannya itu kepada ibunya.</p>
<p>Uwais dengan sopan duduk di hadapan ibunya dan berkata, “Wahai ibu, aku tidak dapat menahan hati untuk bertemu dengan seorang lelaki yang telah diutus sebagai nabi. Engkau pun tahu bahwa anakmu ini tidak pernah berfikir tentang hal-hal selain dari kebaikan dan kebenaran. Jika ibu mengizinkan, aku ingin sekali pergi menemui Rasul Tuhan itu dari dekat.”</p>
<p>Ibu Uwais yang amat terkesan melihat kesungguhan dan gelora keinginan anaknya untuk bertemu dengan Nabi, berkata, “Wahai anakku, aku izinkan engkau untuk pergi ke Madinah, tetapi aku minta supaya setelah engkau bertemu dengan Nabi segeralah engkau pulang ke Yaman dan janganlah engkau berlama-lama di sana.”</p>
<p>Dengan penuh gembira, Uwais menerima permintaan ibunya itu dan dia pun melakukan perjalanan untuk pergi ke Madinah. Meskipun perjalanan begitu jauh dan menyulitkan, namun semangat dan keinginannya yang besar untuk bertemu Nabi menyebabkan dia merasa begitu gembira hingga tidak merasa lelah dalam perjalanan. Siang dan malam dia tempuh perjalanan tanpa menghiraukan kesulitan dan kelelahan yang menderanya.</p>
<p>Akhirnya, sampailah Uwais Al-Qarani ke kota Madinah. Dengan tidak sabar lagi, dia bertanya ke sana kemari untuk mencari Nabi Muhammad. Tetapi, berita yang didapatkannya amat mengecewakan. Orang-orang Madinah memberi tahu Uwais bahwa Nabi sedang keluar dari kota untuk beberapa hari. Begitu Uwais mendengar berita ini, dia mengeluh panjang dan terduduk di atas tanah. Segala kelelahan terasa menimpa seluruh tubuhnya. Sedemikian besar rasa kecewa yang menyelubunginya sehingga dia menangis sejadi-jadinya. Orang-orang membujuknya dengan mengatakan bahwa dia bisa tetap tinggal di Madinah dan menjadi tamu mereka sampai Rasulullah kembali dari perjalanannya. Tetapi Uwais berkata bahwa dia mempunyai seorang ibu tua yang sedang menanti kepulangannya.</p>
<p>Uwais mengambil keputusan untuk segera pulang ke Yaman meskipun dia belum berhasil menemui Nabi, demi melaksanakan janjinya kepada sang ibu. Dia berkata kepada para sahabat dan keluarga Nabi, “Aku terpaksa pulang ke Yaman. Aku minta pada kalian, jika Rasulullah pulang, sampaikanlah salamku kepadanya.”</p>
<p>Beberapa hari kemudian Rasulullah saaw pulang ke Madinah. Ketika beliau mendengar kisah Uwais, beliau memujinya dan berkata, “Uwais telah pergi, namun cahayanya tetap tinggal di rumah kami. Angin sepoi dan aroma wewangian syurga bertiup ke arah Yaman. Wahai Uwais! Aku juga ingin sekali menemuimu. Sahabat ku, siapapun di antara kalian yang bertemu dengan Uwais, sampaikanlah salamku kepadanya.” Dalam sejarah dikatakan bahwa memang Uwais tidak pernah dapat bertemu dengan Rasulullah. Tetapi, karena pengorbanan yang telah dilakukannya buat ibunya, namanya tercatat abadi dalam sejarah.</p>
<p>Kami akhir artikel ini dengan mengutip dua hadis Rasulullah saaw:</p>
<p>“Tuhan memanjangkan usia orang-orang yang melakukan kebaikan kepada orang tua mereka.”</p>
<p>“Siapa saja yang menggembirakan hati ibu dan bapaknya, Tuhan juga akan menggembirakan mereka dan siapa saja yang membuat ibu bapa mereka marah, Tuhan juga akan murka terhadap mereka.”</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.irib.ir/" target="_blank">http://www.irib.ir</a></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/madinah-al-hikmah/~4/yGOB-YJmzbo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edwinharahap.com/madinah/2007/10/02/air-mata-kerinduan-uwais-alqarani-kepada-rasul-saww/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://edwinharahap.com/madinah/2007/10/02/air-mata-kerinduan-uwais-alqarani-kepada-rasul-saww/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
