<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>majalahsakinah.com</title>
	
	<link>http://majalahsakinah.com</link>
	<description>majalah sakinah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 03:23:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/majalahsakinah" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="majalahsakinah" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">majalahsakinah</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Nabi Musa Menikah</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/09/01/nabi-musa-menikah/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/09/01/nabi-musa-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 03:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah anak]]></category>
		<category><![CDATA[ya Bunayya]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[ya bunayya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[Abu dan Ummu, pada edisi ini kita akan melanjutkan kisah Nabi Musa &#8216;alaihissalam. Semoga kisah ini bisa membantu Abu dan Ummu memberikan kisah teladan pada anak-anak kita. Pada edisi lalu dikisahkan, Musa telah sampai di negeri Madyan. Di sana Musa bertemu dengan dua orang putri seorang yang sudah tua (syekh), dan dia menolongnya memberi minum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu dan Ummu, pada edisi ini kita akan melanjutkan kisah Nabi Musa &#8216;alaihissalam. Semoga kisah ini bisa membantu Abu dan Ummu memberikan kisah teladan pada anak-anak kita. Pada edisi lalu dikisahkan, Musa telah sampai di negeri Madyan. Di sana Musa bertemu dengan dua orang putri seorang yang sudah tua (syekh), dan dia menolongnya memberi minum ternak mereka. Kemudian sang syekh mengundang Musa ke rumahnya, dan tertarik kepada keshalihan dan kepribadian Musa. Maka sang syekh itu pun berkeinginan untuk menahan Musa agar mau lebih lama tinggal di rumahnya.</p>
<p>Syekh itu berkata, &#8220;Wahai Musa, saya ingin menikahkan dirimu dengan salah satu anak perempuanku ini dengan syarat engkau mau menjadi penolong dan pembantuku yang memperoleh upah  (sebagai mahar) dengan menggembalakan kambing selama delapan tahun. Jika engkau mau menambahkannya 2 tahun lagi (sehingga menjadi 10 tahun), maka itu adalah  suatu karunia yang agung. Saya memohon kepadamu, namun tidak mengharuskanmu (menjalani hal itu). Dan insya Allah saya akan menjadi orang yang menepati janji dan ikhlas bagimu.&#8221;</p>
<p>Di negeri Madyan, status Musa adalah sebagai pengungsi yang kesepian, jauh dari sanak saudara. Maka, setelah dia mendengar tawaran sang syekh, harapan untuk meraih kebahagiaan mengalir kembali dalam dirinya. Dari mulutnya meluncur kalimat kepada sang syekh, &#8220;Saya merasa bahagia dengan persahabatanmu, wahai Syekh yang mulia. Saya akan berusaha sekuat tenaga  menjadi penolongmu, dan merasa terhormat bisa membantumu.&#8221;</p>
<p>Akhirnya Musa pun menikah dengan salah seorang putri syekh&#8230;</p>
<blockquote><p>Baca kelanjutannya di lembar &#8220;Ya Bunayya&#8221; majalah &#8220;Nikah Sakinah&#8221; edisi Agustus 2010</p></blockquote>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Nabi+Musa+Menikah+http://bit.ly/bLOjM6" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/09/01/nabi-musa-menikah/&amp;title=Nabi+Musa+Menikah" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/09/01/nabi-musa-menikah/&amp;t=Nabi+Musa+Menikah" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/09/01/nabi-musa-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Tauhid Dengan Puasa</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/08/25/mengajarkan-tauhid-dengan-puasa/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/08/25/mengajarkan-tauhid-dengan-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 08:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[tauhid anak]]></category>
		<category><![CDATA[ya Bunayya]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[ya bunayya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Abu dan Ummu yang dirahmati Allah, telah kita ketahui – alhamdulillah – bahwa penghambaan diri hanya kepada Allah, yang sering diistilahkan dengan tauhid, adalah tujuan diciptakannya manusia dan jin. Tujuan yang begitu mulia ini, tentu perlu diusahakan dengan berbagai cara dan metode yang dibenarkan oleh syariat. Dan sesungguhnya, semua tuntunan yang Allah syariatkan kepada kita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu dan Ummu yang dirahmati Allah, telah kita ketahui – alhamdulillah – bahwa penghambaan diri hanya kepada Allah, yang sering diistilahkan dengan tauhid, adalah tujuan diciptakannya manusia dan jin. Tujuan yang begitu mulia ini, tentu perlu diusahakan dengan berbagai cara dan metode yang dibenarkan oleh syariat. Dan sesungguhnya, semua tuntunan yang Allah syariatkan kepada kita, tidak lain adalah untuk mewujudkan tujuan mulia ini.<br />
<span id="more-460"></span><br />
Sebagai orang tua yang diberi amanah untuk mendidik dan membimbing anak agar menjadi orang shalih, tentu hal ini menjadi perkara yang harus kita perhatikan. Yakni, mewujudkan penghambaan yang benar kepada Allah semata, pada diri anak.<br />
<strong><br />
Ramadhan dan Tauhid</strong></p>
<p>Abu dan Ummu yang dirahmati Allah. Bulan Ramadhan, merupakan salah satu kesempatan berharga untuk mengajarkan nilai penting yang disebutkan di atas. Karena dalam bulan Ramadhan, terkumpul banyak sekali tuntunan ibadah yang Allah syariatkan. Mulai dari shalat, puasa, sedekah, zakat, membaca Al-Quran, dan masih banyak lagi. Dengan dilaksanakannya berbagai peribadahan tersebut, seorang hamba akan lebih menghamba kepada Allah, sehingga keimanan dan tauhid pun akan meningkat.</p>
<p>Puasa adalah salah satu ibadah terbesar di bulan Ramadhan. Sampai kita pun terbiasa menyebut bulan Ramadhan dengan sebutan bulan puasa. Nah, berbicara mengenai pengajaran atau pengembangan sifat ubudiyah (penghambaan) kepada Allah pada diri anak kita, maka ibadah yang satu ini memiliki peran yang sangat efektif dalam mengembangkan sifat tersebut. Selain dengan dilaksanakannya puasa ini, kita juga bisa melihat sebagian kandungan makna dari ibadah ini yang berkaitan dengan tauhid, untuk kita ajarkan kepada anak.</p>
<p><strong>Keikhlasan dalam puasa</strong></p>
<p>Abu dan Ummu yang dirahmati Allah. Telah kita ketahui bahwa keikhlasan adalah inti dari tauhid kita kepada Allah. Yaitu memurnikan segala macam ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah ta&#8217;ala semata, tidak untuk yang lain, dan bukan karena yang lain. Ibadah puasa yang kita ajarkan kepada anak merupakan latihan yang sangat bagus untuk bisa bersikap ikhlas kepada Allah&#8230;</p>
<blockquote><p>Baca selanjutnya di lembar &#8220;ya Bunayya&#8221; majalah Nikah Sakinah, edisi Agustus 2010</p></blockquote>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Mengajarkan+Tauhid+Dengan+Puasa+http://bit.ly/a34Qyq" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/08/25/mengajarkan-tauhid-dengan-puasa/&amp;title=Mengajarkan+Tauhid+Dengan+Puasa" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/08/25/mengajarkan-tauhid-dengan-puasa/&amp;t=Mengajarkan+Tauhid+Dengan+Puasa" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/08/25/mengajarkan-tauhid-dengan-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagai Cara Mengajari Anak Puasa</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/08/16/berbagai-cara-mengajari-anak-puasa/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/08/16/berbagai-cara-mengajari-anak-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 02:51:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Dalam jajaran 12 bulan setahun,  Ramadhan adalah bulan paling penuh berkah, paling banyak menyimpan keutamaan, paling sarat dengan kandungan ibadah dan paling berlimpah keistimewaannya. Maka, bulan ini layak disebut dengan bulan yang penuh misteri dan keajaiban.
Kalau menilik sisi-sisi keutamaannya, sebenarnya klimaks berbagai keajaiban itu berpangkal dari dua sisi terpenting:
- Dari sisi keutamaan bulan Ramadhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam jajaran 12 bulan setahun,  Ramadhan adalah bulan paling penuh berkah, paling banyak menyimpan keutamaan, paling sarat dengan kandungan ibadah dan paling berlimpah keistimewaannya. Maka, bulan ini layak disebut dengan bulan yang penuh misteri dan keajaiban.</p>
<p>Kalau menilik sisi-sisi keutamaannya, sebenarnya klimaks berbagai keajaiban itu berpangkal dari dua sisi terpenting:<br />
- Dari sisi keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri.<br />
- Dari sisi berbagai jenis ibadah yang terkandung di dalamnya.<br />
- Di bulan Ramadhan inilah berkerumun beragam jenis ibadah, mulai dari puasa dan qiyamul lail atau shalat Tarawih, sebagai bagian terpentingnya, hingga ibadah-ibadah  sunnah seperti I&#8217;tikaf, banyak bersedekah, memberi makan sesama orang yang berbuka puasa, dan, masih banyak lagi ibadah-ibadah lain, yang diisyaratkan secara khusus, atau  masuk dalam cakupan ibadah-ibadah yang disunnahkan.<span id="more-453"></span></p>
<p><strong>Butuh Pelatihan</strong></p>
<p>Untuk merengkuh pelbagai keistimewaan bulan Ramadhan, ada semacam “pelatihan” yang harus dilakukan setiap muslim dan muslimah. Menahan lapar dan dahaga secara apik dan nyaman, perlu pelatihan semenjak dini. Demikian juga, menjalankan ibadah-ibadah sunnah di bulan suci, seperti shalat Tarawih berjamaah, tak akan mudah dilalui secara indah dan menyenangkan, kecuali melalui pelatihan kejiwaan. Dan itu akan lebih optimal, bila sudah dibiasakan semenjak usia kanak-kanak.</p>
<p>مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ<br />
<em>&#8220;Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.&#8221;</em> [Shahih Sunan Abu Dawud (466)]</p>
<p>Untuk menjadi ahli shalat, ternyata seorang mukmin harus mendapatkan pendidikan shalat secara amat dini. Di sini, peran serta orang tua amat menentukan jejak keberhasilan tersebut. Maka, demikian juga dengan berpuasa di bulan Ramadhan, atau ibadah-ibadah lain di bulan suci itu.</p>
<p>Orangtua,  hendaklah membiasakan anak-anaknya untuk mengerjakan puasa. Hal itu untuk melatih mereka mengerjakan ibadah dengan baik. Umar rodhiyallohu &#8216;anhu berkata kepada seorang yang mabuk pada bulan Ramadhan,<br />
&#8220;Celaka engkau, anak-anak kami saja berpuasa!&#8221; lalu Umar mencambuknya.&#8221; [Diriwayatkan oleh al-Bukhaari juz II : 692]</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, Qatadah dan az-Zuhri bahwa mereka berpendapat, &#8220;Anak-anak diperintahkan shalat apabila ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Dan disuruh berpuasa apabila sudah mampu.&#8221;</p>
<p>Itu terkait puasa. Demikian pula dengan shalat malam. Bulan Ramadhan disebut sebagai syahru shiyaam (bulan puasa) dan juga syahru qiyaam (bulan shalat malam). Karena, di bulan inilah kaum muslimin, tua maupun muda, berbondong-bondong melaksanakan shalat malam secara berjamaah, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah shalat Tarawih.</p>
<p>Seperti puasa, kebiasaan shalat Tarawih berjamaah harus ditanamkan pada anak-anak, semenjak dini sekali. Bukan saja kebiasaan untuk menyelesaikan sekian belas rakaat shalat Tarawih hingga satu bulan penuh, tapi juga kebiasaan menikmati shalat tersebut.</p>
<p>Allah berfirman,<br />
<em>&#8220;Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu&#8217;,…&#8221; </em>(Al-Baqarah : 45)</p>
<p><strong>Bagaimana Melatih Anak-anak Berpuasa?</strong></p>
<p>Bila semenjak kanak-kanak kaum muslimin sudah dianjurkan berlatih berpuasa, lalu bagaimana orang tua mulai  melatih anak-anaknya?</p>
<p>Ada banyak cara klasik yang diterapkan orang-orang tua kita, dan selama itu tidak berlawanan dengan prinsip-prinsip syariat, tidak ada nash yang melarangnya, maka setiap upaya itu adalah baik,  karena masuk dalam kategori pembiasaan beribadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.</p>
<p>Sebagian orang tua kita dulu kadang mengajak anak-anak mereka berpuasa sebatas kemampuan mereka. Kita tidak sebut ‘puasa’, karena puasa punya definisi tersendiri, tapi bisa kita sebut ‘menahan makan dan minum’. Sebagian kita dilatih orang tua untuk menahan diri dari makan dan minum mungkin hingga tengah hari saja. Lalu di hari-hari kemudian, waktu diperpanjang menjadi mendekati waktu Ashar. Begitu seterusnya sehingga tanpa sadar kita telah mampu berpuasa hingga tenggelam matahari.</p>
<p>Cara seperti itu sah-sah saja. Karena yang diajak membiasakan diri adalah anak-anak yang belum mukallaf, belum aqil baligh, sehingga berpuasa bagi mereka belumlah diwajibkan. Tapi pembiasaan secara perlahan itu sesuai dengan kaidah syariat yang kerap mendidik secara bertahap, seperti tahap pengharaman khamr atau minuman keras di awal Islam dulu.</p>
<p>Akan tetapi, setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ibarat membiasakan orang berhenti merokok. Sebagian bisa melakukannya secara bertahap, tapi ada pula yang justru harus secara spontanitas. Kondisi mental, emosional, dan karakter kejiwaan sangat menentukan cara terbaik mana yang dipilih untuk menanamkan pembiasaan itu secara aman dan terkendali.</p>
<p>Ar-Rubayyi&#8217; binti Mu&#8217;awwidz rohimahulloh bercerita tentang pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan,<br />
&#8220;Kemudian kami mengerjakan puasa (bulan Ramadhan), dan kami menyertakan anak-anak kami berpuasa. Kami memberikan kepada mereka mainan dari bulu. Apabila salah seorang dari mereka menangis meminta makanan kami memberikan mainan itu kepadanya hingga waktu berbuka tiba.&#8221; [Diriwayatkan oleh al-Bukhaari juz II : 692 dan Muslim juz II : 798 nomor 136 dalam kitab ash-Shiyam.]</p>
<p>Ini salah satu cara lain yang bisa dipilih untuk tujuan tersebut. Juga sangat klasik, di mana seorang anak dibuat “lupa” atau “tak menyadari” kondisi laparnya. Untuk masa sekarang ini, bisa digunakan games yang aman, yang isinya edukatif, agar anak-anak tersebut menghabiskan waktunya tanpa merasakan lapar. Saat datang waktu shalat, ajak mereka ke masjid. Dan bila lelah, biarkan mereka tidur. Bangun tidur, boleh saja membiarkan mereka kembali bermain sehingga datang waktu Maghrib.</p>
<p>Mungkin sebagian akan menukas, “Lho, bukankah dalam berpuasa kita dianjurkan banyak beribadah? Kenapa pula membiarkan anak-anak banyak bermain seperti itu?”</p>
<p>Ada dua versi jawaban sederhana. Pertama, itulah yang diterapkan sebagian ulama as-Salaf dahulu, dengan dasar, bahwa tujuan utama di sini adalah melatih dan  membiasakan anak-anak berpuasa. Itu tujuan besar, melatih melaksanakan kewajiban, bahkan juga salah satu rukun Islam. Maka, bila untuk tujuan tersebut, anak-anak dibiarkan melakukan hal-hal yang mubah –asal tidak berlebihan&#8211;  tentu boleh-boleh saja, bahkan bagus. Membiarkan anak-anak mengerjakan yang mubah agar terbiasa mengerjakan yang wajib. Ini sesuai dengan kaidah syariat Islam yang ada.</p>
<p>Kedua, anak-anak tak dapat dipisahkan dari dunia bermain. Dalam kondisi wajar tidak berpuasa saja, sebaiknya anak-anak dibiarkan bermain. Sedangkan Rasulullah shollallohu &#8216;alaihi wa sallam saja membiarkan Aisyah bermain dengan teman-teman perempuannya padahal ia sudah menjadi istri beliau saat itu. Itu menunjukkan bahwa Islam menoleransi anak-anak dengan dunia bermain mereka, asalkan tak berlebihan.</p>
<p>Maka, bermain-main seperti itu tentu berbeda bila dilakukan anak-anak, dibandingkan dengan bila dilakukan orang dewasa. Bagi kita yang sudah aqil baligh, sudah dewasa, tentu bermain-main di sini bisa menjadi lagha, hal yang sia-sia, yang meskipun tidaklah haram tapi tidak layak dilakukan di bulan suci Ramadhan di mana setiap kita dianjurkan memperbanyak  ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.</p>
<p>Cara lain yang bisa ditempuh –dan ini adalah cara terbaik dalam lintas kaidah-kaidah Islam&#8211;  dengan memberi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak.</p>
<p>Artinya, tunjukkanlah keistimewaan berpuasa melalui sikap dan perilaku keseharian. Bila anak-anak melihat orang tuanya terlihat jauh lebih penyabar saat berpuasa, lebih taat kepada Allah, lebih banyak beribadah, lebih mampu melimpahkan kasih sayangnya pada anak-anak mereka, lebih banyak bersedekah, sering mengajak orang lain berbuka di rumah, dan setumpuk kebajikan-kebajikan lain yang bernilai istimewa di mana anak-anak, maka semua itu bisa menjadi dorongan dan motivasi hebat bagi anak-anak untuk meneladani orang tua mereka. Betapa Islam adalah keteladanan belaka. Itulah yang kita yakini,<br />
<em><br />
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu&#8230;.”</em> (al-Baqarah : 143)</p>
<blockquote><p>Rubrik Fikih Keluarga, Majalah Nikah Sakinah edisi Agustus 2010</p></blockquote>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Berbagai+Cara+Mengajari+Anak+Puasa+http://bit.ly/ctZhDW" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/08/16/berbagai-cara-mengajari-anak-puasa/&amp;title=Berbagai+Cara+Mengajari+Anak+Puasa" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/08/16/berbagai-cara-mengajari-anak-puasa/&amp;t=Berbagai+Cara+Mengajari+Anak+Puasa" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/08/16/berbagai-cara-mengajari-anak-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebab si Kecil Mengumpat</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/08/11/penyebab-si-kecil-mengumpat/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/08/11/penyebab-si-kecil-mengumpat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 02:54:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[kiat asuh]]></category>
		<category><![CDATA[ya Bunayya]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[ya bunayya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Abu dan Ummu, mungkin Anda pernah dibuat terkejut saat si kecil tiba-tiba sering mengeluarkan kata-kata kasar/mengumpat? Apakah Anda dibuat bingung bagaimana cara menghadapinya?
Abu dan Ummu, ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, salah satunya adalah lingkungan. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa perilakunya yang kasar diadaptasi dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.
 
Beberapa Penyebab
1. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu dan Ummu, mungkin Anda pernah dibuat terkejut saat si kecil tiba-tiba sering mengeluarkan kata-kata kasar/mengumpat? Apakah Anda dibuat bingung bagaimana cara menghadapinya?</p>
<p>Abu dan Ummu, ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, salah satunya adalah lingkungan. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa perilakunya yang kasar diadaptasi dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.<br />
 <span id="more-447"></span><br />
<strong>Beberapa Penyebab</strong></p>
<p><strong>1. Orang tua dan pola asuh</strong><br />
Pola asuh sangat berpengaruh pada tingkat emosi seorang anak dan cara bagaimana ia bersikap. Anda sebagai orang tua merupakan panutan baginya. Dari orang tua, si kecil untuk pertama kali mempelajari dan mencontoh perilaku. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap dan bertindak kepada siapapun, baik kepada anggota keluarga ataupun orang lain. Jangan sampai si kecil melihat dan meniru berperilaku Anda yang mungkin tanpa Anda sadari kasar terhadap orang lain.</p>
<p><strong>2. Lingkungan luar</strong><br />
Lingkungan di sekitar rumah ataupun di sekolah juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak.</p>
<p><strong>3. Media</strong><br />
Beberapa jenis media, terutama TV dan komputer ikut memengaruhi perkembangan si kecil. Bentuk kekerasan serta kata cacian dan makian yang muncul dalam berbagai tayangan TV dan media lainnya dapat menambah kosa kata dan perilaku buruk si kecil.</p>
<p><strong>4. Makanan</strong><br />
Mungkin tidak banyak yang tahu, ternyata faktor makanan juga dapat memicu perkembangan emosi anak. Jenis makanan yang mengandung tambahan zat kimia, pengawet, dan zat berbahaya diyakini dapat membuat si kecil temperamental.</p>
<p>Abu dan Ummu, untuk menangani hal ini ada beberapa kiat yang perlu kita ketahui. Simak kiat-kiat tersebut dalam lembar &#8220;Ya Bunayya&#8221; majalah Nikah Sakinah edisi Agustus 2010</p>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Penyebab+si+Kecil+Mengumpat+http://bit.ly/cnxNni" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/08/11/penyebab-si-kecil-mengumpat/&amp;title=Penyebab+si+Kecil+Mengumpat" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/08/11/penyebab-si-kecil-mengumpat/&amp;t=Penyebab+si+Kecil+Mengumpat" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/08/11/penyebab-si-kecil-mengumpat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Hal sering diremehkan ketika Ramadhan</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/08/09/10-hal-sering-diremehkan-ketika-ramadhan/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/08/09/10-hal-sering-diremehkan-ketika-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 02:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[lentera]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.
Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.</p>
<p>Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan ini.</p>
<p>Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya. Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka, membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.</p>
<p>Namun sayang, rutinitas yang telah mereka “hafal” ini tidak sedikit darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu bernilai ibadah, masih saja ada “kotoran-kotoran” yang merusak ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan.<span id="more-444"></span></p>
<p>Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan itu:</p>
<p><strong>1-  Mengilmui ibadah di bulan Ramadhan.</strong></p>
<p>Ilmu adalah pintu kebaikan. Siapa pun yang menghendaki kebaikan, dia harus memulai dengan ilmu. Maka seorang muslim yang ingin meraih kebaikan bulan Ramadhan, pastilah dia harus mengilmui ibadah yang dilakukan di bulan ini. Mengilmui tentang puasa, tentang tata cara shalat Tarawih, tentang membaca Al-Quran, i&#8217;tikaf, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.</p>
<p>Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini. Padahal, jika mereka melakukan ibadah tanpa ilmu, bisa jadi ibadah yang mereka lakukan akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah &#8212; <em>ta&#8217;ala</em> &#8211;. Akhirnya, kita pun banyak melihat bermunculan berbagai perkara ibadah yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; di bulan mulia ini. Sehingga apa yang mereka harapkan menjadi kebaikan, berbalik menjadi kerugian semata. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.</p>
<p><strong>2- Niat ikhlas dalam puasa.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Puasa adalah ibadah yang sangat agung di bulan suci ini. Sampai-sampai Allah pun mengkhususkan ibadah ini hanya untuk-Nya. Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">
قَالَ اللهُ عز وجل كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام ، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ</p>
<p style="text-align: left;"><em>“Allah &#8216;azza wa jalla berfirman, semua amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.” </em>(Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, selain harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8211;. Sehingga jika kita ingin puasa kita diterima, pertama kita harus mengikhlaskan puasa kita hanya karena Allah, bukan karena ikut-ikutan rutinitas manusia atau karena niat yang lain. Selain itu, puasa kita harus sesuai dengan tuntunan atau tata cara puasa Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8211;. Dan ini, tentu menuntut kita untuk memperhatikan poin pertama yang kami sampaikan di atas, yaitu ilmu.</p>
<p>Sekadar mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan niat adalah kehendak dalam hati untuk melakukan sesuatu amalan. Sehingga dalam tuntunan Rasulullah &#8211;<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8211;, niat untuk ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan, termasuk di antaranya niat untuk berpuasa.</p>
<p><strong>3- Yang wajib lebih utama dari yang sunah.</strong></p>
<p>Semangat yang menggebu terkadang menjadikan seseorang lalai dengan skala prioritas yang harusnya diperhatikan. Inilah yang sering kita saksikan pada bulan ini. Kaum muslimin terkadang lebih memerhatikan yang sunah dengan melalaikan yang wajib. Padahal seharusnya yang wajib harus lebih diperhatikan dari yang sunah, sedangkan yang sunah diusahakan tidak ditinggalkan.</p>
<p>Sebagai contoh, kita lihat kaum muslimin berbondong-bondong shalat Tarawih berjamaah ke masjid sampai membuat masjid tak muat, padahal shalat Tarawih tidak termasuk dalam shalat wajib. Namun sayang, mereka lupa atau lalai shalat berjamaah di masjid untuk lima shalat waktu yang notabene adalah shalat wajib.</p>
<p>Akan lebih parah lagi, jika ada seorang muslim yang lebih memerhatikan hal yang mubah-mubah saja dari pada hal yang wajib. Atau bahkan lebih parah dari itu, memerhatikan hal yang makruh atau haram dengan melalaikan yang wajib. Na&#8217;udzu billah min dzalik.</p>
<p><strong>4- Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.</strong></p>
<p>Yang ini, nampaknya banyak dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Di antara mereka ada yang makan sahur jauh sebelum waktu sahar (akhir waktu malam menjelang terbit fajar). Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak makan sahur. Lalu ketika berbuka pun di antara mereka ada yang mengakhirkannya sampai menjelang Isya. Semacam ini tentu saja bertentangan dengan tuntunan Nabi &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8211;.</p>
<p>Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; bersabda, <em>“Makan sahurlah, karena ada berkah dalam makan sahur.”</em> (Muttafaq &#8216;alaih)<br />
Dan disebutkan pula dalam hadits Muttafaq &#8216;alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) bahwa antara makan sahur Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; dengan adzan shubuh berselang sekitar bacaan 50 ayat al-Quran.<br />
Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; juga bersabda, <em>“Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab adalah makan sahur.”</em> (Riwayat Muslim)</p>
<p>Adapun tentang menyegerakan berbuka, Rasulullah &#8211;<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>&#8211; bersabda, <em>“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka.”</em> (Muttafaq &#8216;alaih)<br />
Dan yang dimaksud menyegerakan berbuka di sini, segera berbuka setelah terbenam matahari. Karena jika seseorang menyengaja berbuka sebelum terbenam matahari padahal dia tahu, maka puasanya tidak sah alias batal.</p>
<p><strong>5- Mulianya waktu.</strong></p>
<p>Keagungan waktu dan urgensi memerhatikannya, sudah tidak kita ragukan lagi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “waktu bagaikan pedang, jika tidak kau patahkan dia yang akan menebasmu.” Maksudnya, jika waktu ini tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, niscaya dia bisa menjadi bumerang yang mencelakakan kita.</p>
<p>Nah, di bulan mulia ini, kemuliaan waktu menjadi jauh lebih mulia dari biasanya. Namun sekali lagi sayang, banyak kaum muslimin yang lalai akan hal ini. Mereka menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk perkara kesenangan jiwa belaka. Dengan bercanda ria, berjalan-jalan, tidur, ngobrol, begadang, dan seterusnya. Padahal jika mereka mau memanfaatkannya untuk ibadah seperti membaca Al-Quran, berdzikir atau yang lain, maka sesungguhnya di bulan ini amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya.</p>
<p><strong>6- Ramadhan bulan doa.</strong></p>
<p>Di antara rahasia yang sering dilalaikan, bahwa Ramadhan adalah bulan doa. Dalam surat al-Baqarah ayat 186, Allah menyebutkan sebuah keterangan tentang doa. Bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya, dan Dia mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Jika diperhatikan, ayat ini Allah sampaikan di tengah-tengah ayat tentang puasa. Hal ini menunjukkan –sebagaimana dijelaskan para ulama – bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berdoa.</p>
<p>Terlebih lagi Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; telah bersabda, <em>“Tiga doa yang tidak akan ditolak; doa seorang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, doa orang yang bersafar.”</em> (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami&#8217; no. 3032)</p>
<p><strong>7- Antara hemat dan sedekah.</strong></p>
<p>Di antara keistimewaan amalan Nabi &#8211;<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>&#8211; di bulan Ramadhan, beliau &#8211;<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>&#8211; lebih banyak bersedekah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Padahal beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan-bulan yang lain. Nah, tentunya ini menjadi dorongan bagi kita sebagai umat beliau &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>&#8211;, untuk lebih banyak bersedekah di bulan Ramadhan.</p>
<p>Anjuran untuk bersedekah ini tentu menuntut kita untuk lebih berhemat dalam menggunakan harta untuk keperluan duniawi. Inilah hal yang mungkin banyak dilalaikan. Yang sering terjadi malah sebaliknya, pengeluaran untuk urusan duniawi; untuk membeli makanan sahur dan buka, dan juga untuk membeli perlengkapan menyambut lebaran, lebih diperhatikan dari pada pengeluaran untuk sedekah.</p>
<p><strong>8- Keagungan malam-malam terakhir.</strong></p>
<p>Ada fenomena yang perlu dikoreksi. di awal-awal Ramadhan mereka bersemangat melaksanakan ibadah seperti shalat Tarawih, membaca Al-Quran dan sebagainya. Namun semakin mendekati akhir Ramadhan, mereka mulai “lemas” dalam ibadah. Masjid-masjid yang tadinya penuh dengan jamaah, kini tinggal dua atau tiga shaf saja. Padahal Allah lebih mengagungkan malam-malam terakhir Ramadhan dibandingkan sebelumnya. Dan Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; pun bertambah giat dalam beribadah jika telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>9- I&#8217;tikaf.</strong></p>
<p>Di antara sunnah (ajaran) Nabi &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin adalah i&#8217;tikaf. Berdiam di masjid dan tidak keluar darinya, dalam rangka mengkhususkan diri untuk ibadah kepada Allah &#8212; <em>ta&#8217;ala</em> &#8211;. Ibadah ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Nabi &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah yang mulia ini sering tidak bisa dilakukan oleh kaum muslimin, karena mereka sibuk dengan persiapan menyambut hari raya. Seolah-olah, mereka sangat gembira dengan hampir selesainya bulan Ramadhan. Padahal para pendahulu kita yang shalih, merasa sedih ketika harus berpisah dengan bulan mulia ini. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan mereka?</p>
<p><strong>10- Jangan lupakan tujuan puasa.</strong></p>
<p>Kita semua tentu tahu tujuan agung ibadah puasa. Namun, apakah kita sadar ketika Ramadhan telah berlalu, sudahkan kita mencapai tujuan itu? Ketakwaan, sebagai tujuan dari ibadah puasa, tidak hanya dituntut pada bulan Ramadhan saja. Bahkan ketakwaan harus senantiasa diusahakan mengiringi kita di mana pun dan kapan pun. Rasulullah &#8212; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8212; bersabda, <em>“Bertakwalah kamu di mana atau kapan pun kamu berada.”</em> (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<p>Semoga, Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita orang yang bertakwa di mana pun dan kapan pun kita berada, sampai Allah mewafatkan kita. <em>Wallahul muwaffiq.</em></p>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=10+Hal+sering+diremehkan+ketika+Ramadhan+http://bit.ly/bGntI9" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/08/09/10-hal-sering-diremehkan-ketika-ramadhan/&amp;title=10+Hal+sering+diremehkan+ketika+Ramadhan" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/08/09/10-hal-sering-diremehkan-ketika-ramadhan/&amp;t=10+Hal+sering+diremehkan+ketika+Ramadhan" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/08/09/10-hal-sering-diremehkan-ketika-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjaga Pahala Puasa</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/08/04/menjaga-pahala-puasa/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/08/04/menjaga-pahala-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 03:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, kita masih diperkenankan bertemu bulan Ramadhan di tahun ini. Sungguh, ini merupakan kenikmatan yang patut kita syukuri, mengingat begitu banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk menambah bekal kita menuju kehidupan yang kekal. Allah – ta&#8217;ala – berfirman,
 “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah : 197)
Sungguh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, kita masih diperkenankan bertemu bulan Ramadhan di tahun ini. Sungguh, ini merupakan kenikmatan yang patut kita syukuri, mengingat begitu banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk menambah bekal kita menuju kehidupan yang kekal. Allah – <em>ta&#8217;ala</em> – berfirman,<br />
<em> “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” </em>(al-Baqarah : 197)</p>
<p>Sungguh, bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan emas untuk menempa dan melatih kita untuk menjadi diri yang lebih bertakwa, sebab memang itulah muara akhir ibadah puasa.</p>
<p>Namun, amat disayangkan. Kebanyakan dari umat muslimin hanya memandang puasa sebagai rutinitas tahunan belaka. Dalam pandangannya, puasa tak lebih dari sekadar menahan haus dan lapar, sehingga fokus mereka hanya pada masalah ini, tanpa perhatian terhadap berbagai macam pintu pahala yang ada di dalamnya dan berbagai hal yang bisa merusak puasa.</p>
<p>Oleh karena itu, betapa banyak orang yang berpuasa namun enggan mengekang lisan, penglihatan, dan hawa nafsunya. Padahal semestinya orang yang berpuasa berusaha membentengi ibadah puasa dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya, seperti ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Rasulullah &#8211; <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> &#8211; bersabda,<br />
<em> “Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan sia-sia, niscaya Allah tidak butuh kepada puasanya.”</em></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang makna hadits tersebut. Ada yang melihat bahwa ghibah dan namimah membatalkan pahala puasa, tidak tersisa sedikitpun! Namun ada juga yang berpendapat bahwa dua hal itu hanya mengurangi pahala puasa meski kadang hanya tersisa sedikit. Artinya, ibadah puasa yang dilakukannya tidak bermanfaat.</p>
<p>Semoga kita tidak termasuk dari orang-orang yang semacam itu. Untuk itu, marilah kita berdoa dan berusaha agar puasa tahun ini benar-benar mendidik kita menjadi pribadi yang lebih takwa! Amiin</p>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Menjaga+Pahala+Puasa+http://bit.ly/bKkvet" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/08/04/menjaga-pahala-puasa/&amp;title=Menjaga+Pahala+Puasa" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/08/04/menjaga-pahala-puasa/&amp;t=Menjaga+Pahala+Puasa" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/08/04/menjaga-pahala-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Memilih Poligami</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/07/27/lebih-memilih-poligami/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/07/27/lebih-memilih-poligami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 03:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[pra nikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[poligami]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum,
Ustadz, ada yang ingin  saya tanyakan. Ada seorang teman (wanita) yang masih lajang dan dikarunia Allah memiliki semangat beragama yang kuat (rajin menghadiri majelis taklim dan sejenisnya). Namun, dalam masalah jodoh, menurut saya dia punya prinsip yang sedikit unik. Tiap kali ditawari untuk taaruf (melakukan perkenalan sesuai syariat) dengan pria, dia selalu menjawab, daripada menikah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalamu&#8217;alaikum,</em></p>
<p>Ustadz, ada yang ingin  saya tanyakan. Ada seorang teman (wanita) yang masih lajang dan dikarunia Allah memiliki semangat beragama yang kuat (rajin menghadiri majelis taklim dan sejenisnya). Namun, dalam masalah jodoh, menurut saya dia punya prinsip yang sedikit unik. Tiap kali ditawari untuk taaruf (melakukan perkenalan sesuai syariat) dengan pria, dia selalu menjawab, daripada menikah dengan pria muslim biasa-biasa saja saya lebih suka dipoligami seorang ustadz. Maksud pria muslim biasa di sini, jika pria tersebut tidak punya kemampuan ilmu agama lebih (hafalan Al-Quran dan Al-Hadits, kemampuan bahasa Arab, dan sejenisnya), atau masih di bawah kemampuan dirinya. Menurut ustadz, apakah prinsip semacam itu sudah tepat?  Apakah poligami membuat pelakunya (dalam hal ini wanita yang dipoligami) punya keutamaan dan pahala melebihi pernikahan biasa? Syukran atas penjelasannya.<br />
<span id="more-436"></span><br />
<em>Wassalamu&#8217;alaikum</em><br />
AD di bumi Allah<br />
<em><strong>Jawaban:</strong></em></p>
<p><em>Wa&#8217;alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh</em><br />
Alhamdulillah, ini pertanyaan yang bagus dan menarik. Jawaban dari pertanyaan ini, insya Allah bisa memberi manfaat banyak orang, karena tak sedikit orang yang mengalami hal serupa, dengan hal yang ditanyakan dalam soal ini.</p>
<p>Pertama, perlu saya tegaskan bahwa sangatlah berbeda antara apa yang disebut PRINSIP dengan IDEALISME.</p>
<p>Prinsip dibangun dari hal-hal yang mendasar secara ideologis, keyakinan dan bangunan persepsi secara utuh, kemudian tercipta menjadi hal prinsipil yang bila dilanggar berarti diyakini meruntuhkan idelogi, keyakinan, dan persepsi tersebut.</p>
<p>Intinya, prinsip itu bermodal keyakinan, dan diyakini bila dilanggar keyakinan akan rusak. Sementara idealisme lebih bersifat obsesi, berpangkal dari cabang-cabang keyakinan yang dipercaya bisa membantu menguatkan dasar-dasar keyakinan dan ideologisnya bagi dirinya sendiri. Karena akar katanya “ideal”, maka idealisme bisa jadi diyakini bagi diri sendiri, tapi belum tentu bagi orang lain yang sama keyakinannya.</p>
<p>Apa yang dinyatakan gadis muslimah tersebut adalah Idealisme, bukan prinsip. Itu bisa dibuktikan dengan beberapa hal, di antaranya ungkapan: lebih baik begini, daripada begitu.. Prinsip tidak bisa disandingkan dengan kata lebih baik dan daripada Prinsip harus bersifat mutlak, bukan hanya dianggap lebih baik.</p>
<p>Kedua, itu tak terkait dengan sah atau tidak sahnya menikah, dengan halal atau haram. Artinya, baginya menikah dengan pria muslim biasa bukanlah hal yang haram, apalagi sampai dianggap membatalkan pernikahan. Ia hanya meyakini itu lebih baik bagi dirinya. Ia siap menanggung susahnya dipoligami, demi mendapatkan kelebihan pada agama seseorang. Itu idealisme, di luar apakah itu layak atau tidak layak, benar atau tidak benar, tapi itu bukan prinsip, sehingga dalam batas-batas tertentu, sah-sah saja seorang wanita muslimah beridealisme demikian.</p>
<p>Nah, yang ingin kita bicarakan di sini, sudah tepatkah itu dijadikan sebagai idealisme? Jawabannya selain sangat relatif, juga bersifat sangat subjektif.</p>
<p>Hal pertama yang perlu dicermati di sini adalah kalimat pria muslim biasa. Ini kalimat yang sangat rancu. Akan  lebih baik digunakan istilah, muslim awam, penuntut ilmu, atau ulama. Yakni mengacu pada kapasitas ilmiah. Misalnya, seseorang beridealisme hanya ingin dinikahi oleh muslim yang levelnya ilmiahnya minimal penuntut ilmu senior atau ulama. Bukan dengan pria muslim awam. Bila demikian yang dimaksud, boleh-boleh saja, dan pantas-pantas saja. Tapi semua berpulang pada kapasitas diri sendiri dan realitas yang ada. Obsesi boleh membumbung ke langit, tapi kaki tetap harus menjejak bumi. Itu saja.</p>
<p>Kenapa saya sebut rancu? Kata biasa itu terlalu melecehkan. Ada muslim awam tapi ia luar biasa. Ilmunya tak seberapa, tapi ibadah dan semangat Islamnya tak tanggung-tanggung. Kebetulan latar belakang pendidikan Islamnya kurang, tapi semangat belajarnya melebihi penuntut ilmu. Ia muslim yang luar biasa, bukan pria muslim biasa.</p>
<p>Ada yang ilmunya sedikit, dan amalannya juga tak banyak, tapi keikhlasan hatinya luar biasa. Seperti pemuda ahli surga di zaman Nabi sholallohu &#8216;alaihi wa sallam, yang masuk surga karena kelebihan hatinya yang bersih, tak pernah berburuk sangka atau mendengki sesama muslim.</p>
<p>Sabda Nabi sholallohu &#8216;alaihi wa sallam,<br />
<em>“Ketakwaan itu letaknya di sini, ketakwaan itu letaknya di sini (yakni di dalam dada).”</em> [1]</p>
<p>Di sini, kita bukan mengabaikan pentingnya ilmu. Untuk bertakwa, orang harus berilmu. Tapi berilmu, belum tentu bertakwa. Banyak orang berilmu, tapi justru dengan ilmunya ia semakin jelek di sisi Allah. Orang itu serupa Yahudi yang punya ilmu tapi tak mau mengamalkan ilmunya. Ada juga orang yang kurang berilmu tapi utama, karena dengan sedikit ilmu yang ia punya, ia bisa memaksimalkan potensi diri untuk senantiasa bertakwa kepada Allah.</p>
<p>Intinya, anggapan soal “muslim biasa”, terlalu rancu. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Tak baik menganggap rendah orang lain, hanya karena dianggap ilmunya tak seberapa.</p>
<p>Apakah menikahi dengan dipoligami (istri kedua/ketiga) punya keutamaan tersendiri? Baik pria yang berpoligami, maupun istri yang dipoligami, sama sekali tak memiliki keutamaan apa-apa dibandingkan muslim atau muslimah lain, bila hanya dilihat dari soal poligaminya. Tapi bisa beroleh  keutamaan, pada sisi-sisi yang terkait dengan poligami itu sendiri.</p>
<p>Maksudnya begini. Orang yang berpoligami tak lantas lebih baik, begitu juga wanita yang dipoligami. Karena poligami sendiri hukumnya beragam, tergantung kondisi pelakunya. Bagi seorang muslim, poligami asalnya boleh dengan syarat mampu berlaku adil. Sekadar orang melakukan perbuatan mubah yang hanya mubah bila dipenuhi syaratnya, tentu tak bisa seseorang dipandang lebih istimewa dari yang lain. Tapi poligami bisa saja dianjurkan atau bahkan diwajibkan bagi seorang muslim, bila tingkat kebutuhannya mengindikasikan demikian, sementara situasi dan kondisi sangat mendukung. Bila demikian, baginya saat berpoligami tentu lebih baik ketimbang tidak.</p>
<p>Di sisi lain, bagaimana seseorang memberlakukan poligami itu sendiri juga sangat menentukan baik tidak kualitas dirinya. Orang yang berpoligami secara baik, berlaku adil, dan dapat memimpin rumah tangga dengan dua dapur atau lebih secara baik, tentu lebih baik dari orang yang bisa melakukan hal serupa dengan satu dapur. Ia beroleh tambahan pahala, karena makin banyak rakyat yang dia asuh, diasih dan asah menjadi manusia-manusia bertakwa. Tapi kalau ia tak berlaku adil, cenderung culas, gagal menjalankan kewajiban sebagai pemimpin, maka dengan berpoligami ia justru menjadi lebih buruk daripada tidak. Karena, makin banyak pula rakyat yang dizhalimi, terlantar, atau terdidik menjadi orang-orang yang fasik.</p>
<p>Nah, wanita yang dipoligami juga demikian. Semakin tinggi hukum poligami bagi suaminya, semakin ia beroleh kebaikan, karena membantu suaminya untuk taat kepada Allah. Bila poligami bagi suaminya hanya mubah saja, maka pahala yang ia peroleh juga lebih sedikit. Ia tetap beroleh pahala dengan bersikap sabar, tetap menjadi istri yang taat, meski suaminya beristri lebih dari satu. Pahalanya bertambah, kalau ia justru membantu suami, memberi nasihat, agar suaminya menjalankan kewajiban sebagai suami yang baik dan taat kepada Allah.</p>
<p>Jadi, baik atau tidaknya wanita yang dipoligami, tergantung apa dan bagaimana ia bersikap. Bila dengan dipoligami ia semakin bermaksiat kepada Allah, malah membantu suami berlaku lalai, atau merusak hubungan rumah tangga suami dengan istri lain, maka ia semakin buruk di hadapan Allah. Itulah yang saya maksud sangat relatif dan subjektif.</p>
<p>Maka, kalau seorang muslimah yakin dengan dipoligami ia bisa memberi lebih bagi keislaman dirinya, bagi kebaikan dirinya dan suaminya, juga istri suami yang lain, maka sah-sah saja. Itu niat  baik yang perlu diberi dukungan. Tapi berhitunglah secara sehat, jangan melandaskan hal itu hanya karena faktor emosional belaka. Poligami bukan segala-galanya dalam berkeluarga. Tanpa dipola secara sehat, poligami justru bisa memberi tambahan musibah dalam kehidupan. Sebaliknya, bila dilakukan sesuai syariat, ia adalah anugerah tak terhingga.</p>
<p>Nah, soal obsesi untuk dinikahi oleh orang berilmu, yang memiliki hafalan, ilmu Islam dan segalanya lebih dari diri sendiri, tak jadi soal. Itu niat yang sangat bagus. Berdoalah kepada Allah agar niat itu terkabul, dan bantu orang lain yang memiliki niat seperti itu.</p>
<p>Namun, seperti sudah saya tegaskan sebelumnya, marilah menjejak bumi. Pandanglah realitas dengan lapang dada. Berharap boleh, bahkan sangatlah dianjurkan. Tapi catatlah, menikah itu tuntutan. Jangan sampai akhirnya seseorang terhalangi menikah hingga usia lanjut, hanya karena mencari jodoh yang sepadan sesuai dengan keinginan. Jangan sampai terlambat menikah sehingga seseorang –wal &#8216;iyaadzu billah&#8211;  menyentuh hal-hal yang haram, hanya karena tak kunjung dapat jodoh yang betul-betul memuaskan selera.</p>
<p>Ingat, memperoleh istri shalihah atau suami shalih, tak bisa tercipta tiba-tiba. Bila seseorang menikah wanita muslimah biasa, lalu ia mendidiknya hingga menjadi wanita shalihah, itu juga kelebihan tersendiri. Bila seorang muslimah menikahi pria muslim yang shalih, baik dan bersemangat Islam kuat namun miskin ilmu, lalu setelah menikah si suami semakin rajin belajar dan akhirnya menjadi ulama, sungguh itu jauh lebih hebat daripada menikahi suami berilmu dan setelah menikah malah si ulama itu berubah wujud menjadi pria bodoh sebodoh-bodohnya.</p>
<p>Bila kita baik, Allah akan menyandingkan kita dengan yang baik, asalkan kita banyak berdoa kepada-Nya.<br />
<em>“Roh-roh itu bagaikan tentara-tentara yang berbaris. Siapa saja  di antara mereka yang saling mengenal, akan saling mengakrabi. Dan siapa saja di antara mereka yang tidak saling mengenal, akan saling menjauhi.”</em> [2]</p>
<p><em><strong>Catatan Kaki:</strong></em><br />
[1] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 14 : 69, oleh Al-Haitsami dalam Mazma&#8217;uz Zawaa-id X : 262.<br />
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dalam kitab Al-Anbiyaa bab: Roh-roh yang berbaris, hadits No. 2638.</p>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Lebih+Memilih+Poligami+http://bit.ly/aJk7wi" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/07/27/lebih-memilih-poligami/&amp;title=Lebih+Memilih+Poligami" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/07/27/lebih-memilih-poligami/&amp;t=Lebih+Memilih+Poligami" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/07/27/lebih-memilih-poligami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suamiku Membuat Hidupku Sengsara</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2010/07/26/suamiku-membuat-hidupku-sengsara/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2010/07/26/suamiku-membuat-hidupku-sengsara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 02:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[pasutri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Assalaamu ‘alaikum
Ustadz, afwan saya ada pertanyaan, bila berkenan mohon jawaban dimuat di majalah Sakinah agar yang bersangkutan juga membaca jawaban dari ustadz.
Pertanyaannya sebagai berikut:
Apa saran ustadz buat seorang istri yang dia merasa sulit atau tidak nyaman hidup berumah tangga dengan suaminya, dikarenakan suaminya itu sulit untuk diajak hidup bermasyarakat (bergaul dengan tetangga), kurang perhatian terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu ‘alaikum</em></p>
<p>Ustadz, afwan saya ada pertanyaan, bila berkenan mohon jawaban dimuat di majalah Sakinah agar yang bersangkutan juga membaca jawaban dari ustadz.</p>
<p>Pertanyaannya sebagai berikut:<br />
Apa saran ustadz buat seorang istri yang dia merasa sulit atau tidak nyaman hidup berumah tangga dengan suaminya, dikarenakan suaminya itu sulit untuk diajak hidup bermasyarakat (bergaul dengan tetangga), kurang perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya, kepribadiannya yang keras (gampang marah-marah), teriak-teriak terhadap anak istrinya/kurang sabar?<br />
<span id="more-433"></span><br />
Setahu saya, dalam kehidupan berumah tangga itu &#8216;kan harus seimbang antara memberi dan menerima. (Namun) ini tidak terjadi dalam rumah tangga ini, selalu istri yang mengalah, yang minta maaf, yang berusaha mengerti perasaan suami. Semua karena istri hanya mencari ridhanya dan tidak mau mendapat masalah darinya. Suami tidak mau mengerti atau tidak peduli perasaan si istri, bahkan seakan dia nggak butuh istrinya.</p>
<p>Ketika ada masalah, suami tidak mau diajak bicara baik-baik, hanya diam dan diam, kalaupun bicara marah-marah dan tidak berusaha selesaikan masalah, ujung-ujungnya ngajakin cerai.</p>
<p>Rasanya sulit buat si istri untuk menjalani rumah tangga seperti itu, tapi (istri) tidak mungkin bercerai karena melihat anak-anak. Mohon saran dan nasihatnya ustadz, agar si istri merasa lebih nyaman menjalani rumah tangganya. Jazakumullah khairan sebelumnya. Semoga ustadz berkenan menjawab.</p>
<p><em>Hamba Allah<br />
Banyumas</em><br />
<strong>Jawaban</strong></p>
<p><em>Wa ‘alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh</em></p>
<p><em>Alhamdulillah</em>. Dalam hidup berumah tangga, saling mendukung, keserasian, saling pengertian, dan kesiapan untuk saling memperbaiki diri adalah hal-hal yang mutlak harus dimiliki bila ingin rumah tangga berjalan sakinah. Modal utamanya adalah mawaddah dan rahmah,  sementara sakinah adalah hasilnya.</p>
<p>Istri dengan suami dapat bersinergi secara baik, hanya apabila keduanya berusaha menekan kekurangan-kekurangan pada masing-masing pribadi ke level yang serendah mungkin. Maka, kesadaran pribadi adalah syarat mutlak. Artinya, itu hanya bisa dilakukan  kalau masing-masing menyadari kekurangan-kekurangan dirinya, lalu seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit semua kekurangan itu ditekan ke level yang serendah mungkin. Sekali lagi, harus kedua-duanya, tak boleh hanya sepihak saja.</p>
<p>Contohnya, di satu sisi istri diminta untuk selalu menyenangkan suami,<br />
<em>“Yang selalu membuat suaminya bergembira bila dipandang&#8230;&#8230;.&#8221; [1]</em></p>
<p>Tapi di sisi lain, seorang suami juga diperintah untuk memperlakukan istri tak ubahnya ratu dalam sebuah istana,<br />
<em>“Aku bagimu layaknya Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in.”</em> [2]</p>
<p>Coba cermati apa yang dituturkan Anas bin Malik tentang sikap Nabi &#8211; shollallohu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; sebagai suami<br />
<em>&#8220;Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi &#8211; shollallohu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.&#8221; </em></p>
<p>Maka, upaya baik itu harus tumbuh pada masing-masing pihak. Bila tidak, maka rumah tangga akan berjalan timpang, ibarat dominasi unsur dingin dalam tubuh tanpa unsur panas atau sebaliknya, tubuh pasti tak akan sehat. Sehingga, upaya dasar bila terjadi hal-hal semacam itu, di mana salah satu pihak berada di posisi selalu menuntut hak tanpa memedulikan kewajibannya, tidak bisa tidak, harus dilakukan upaya “penyadaran” pada pihak tersebut; suami ataupun istri.</p>
<p>Dalam kasus ini, harus ada orang yang dimintai bantuan untuk bisa memberi nasihat, membimbing dan menyadarkan suami. Karena semata-mata upaya istri secara sepihak, tak akan menyelesaikan inti persoalan, dan hanya akan membangun kegersangan dalam rumah tangga.</p>
<blockquote><p>Silahkan baca kelanjutannya di Majalah Nikah Sakinah, edisi Juli 2010</p></blockquote>
<p align="left"><a target="_blank" class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Suamiku+Membuat+Hidupku+Sengsara+http://bit.ly/a3xZFk" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter-big1.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://delicious.com/post?url=http://majalahsakinah.com/2010/07/26/suamiku-membuat-hidupku-sengsara/&amp;title=Suamiku+Membuat+Hidupku+Sengsara" title="Post to Delicious"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-delicious-big1.png" alt="Post to Delicious" /></a> <a target="_blank" class="tt" href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://majalahsakinah.com/2010/07/26/suamiku-membuat-hidupku-sengsara/&amp;t=Suamiku+Membuat+Hidupku+Sengsara" title="Post to Facebook"><img class="nothumb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-facebook-big1.png" alt="Post to Facebook" /></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2010/07/26/suamiku-membuat-hidupku-sengsara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
