<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Arsip Moslem :: Arsipnya Umat Islam ::</title>
	
	<link>http://arsipmoslem.wordpress.com</link>
	<description>Hadir Untuk Seluruh Kalangan Umat Islam</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Oct 2009 04:33:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain="arsipmoslem.wordpress.com" port="80" path="/?rsscloud=notify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a21ec81dc8d082d9f0cd2fcab6d224b4?s=96&amp;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Arsip Moslem :: Arsipnya Umat Islam ::</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com</link>
	</image>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/mediamuslimcom" type="application/rss+xml" /><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Siapa yang sedang engkau maksiati?</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2009/10/26/siapa-yang-sedang-engkau-maksiati/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2009/10/26/siapa-yang-sedang-engkau-maksiati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, kita melihat bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan;
Golongan pertama adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kebaikan… gemar melakukan kebajikan… suka dalam menjalani kema’rufan…
Golongan kedua adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kejelekan… gemar melakukan keburukan… suka dalam menjalani kemunkaran, maksiat dan dosa…
Yach… demikianlah lingkungan di sekitar kita…
Ingat…! Allah Ta’ala telah memberikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=485&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, kita melihat bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan;</p>
<p style="text-align:justify;">Golongan pertama adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kebaikan… gemar melakukan kebajikan… suka dalam menjalani kema’rufan…</p>
<p style="text-align:justify;">Golongan kedua adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kejelekan… gemar melakukan keburukan… suka dalam menjalani kemunkaran, maksiat dan dosa…</p>
<p style="text-align:justify;">Yach… demikianlah lingkungan di sekitar kita…</p>
<p style="text-align:justify;">Ingat…! Allah Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita dengan tegas nan jelas… bahwa musibah akan terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, tidak hanya menimpa para pelaku saja tapi akan menyeluruh kepada masyarakat sekitarnya… Allah menyatakan :</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ . (الأنفال : 25)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Artinya :</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (musibah, petaka, bencana, siksa) yang benar-benar tidak hanya menimpa orang-orang dhalim di antara kalian secara khusus. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha dahsyat siksa-Nya.”<span id="more-485"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Subhanallah sungguh peringatan yang Allah berikan bukanlah sebuah omong kosong yang tak bisa terjadi… yang tak mungkin terlaksana… sungguh janji Allah adalah sebenar-benar janji dan pasti terjadi… musibah pasti akan datang silih berganti… petaka pasti akan menimpa kita punya negeri… bencana pasti akan terjadi di sana-sini… siksa Allah pasti akan meluluhlantakkan bumi pertiwi ini… bila kemunkaran dilakukan… bila maksiat dibiarkan… bila dosa diacuhkan… bila pelakunya diagungkan… bila perbuatannya didukung dan dikendalikan… sungguh musibah akan menimpa diri kita semua…</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dengan diri kita, yang mengaku para pecinta kebenaran, para pendukung kema’rufan, para penggemar kebajikan, para pelaku kebaikan… Apakah kehidupan kita sudah terlepas dari kemunkaran…? Apakah amal baik kita sudah terbebas dari dosa…? Apakah kelakuan kita sehari-hari sudah murni tanpa kesalahan dan keburukan…? Sungguh naif bila kita mengaku sebagai pasukan pembasmi kemunkaran bila justru diri kita terjerumus dalam dosa dan maksiat… Sungguh jelek bila kita mengaku cinta kema’rufan bila diri kita masih terlena dengan bujuk rayu wanita dan harta… Sungguh dhalim bila kita mengaku gemar melakukan kebajikan bila diam-diam kita menjalani kejelekan dan keburukan… atau bahkan justru kitalah yang menjadi kunci atas turunnya musibah… karena kita tahu dan berilmu tapi justru kita melanggar dan melakukan maksiat… kita tidak mengamalkan ilmu yang kita peroleh dari guru-guru kita…</p>
<p style="text-align:justify;">Yach… memang manusia sulit untuk terlepas dari lupa dan salah… sulit bagi manusia untuk terbebas dari kejelekan dan keburukan… kecuali bagi mereka yang Allah lindungi… mereka yang diberi Rahmat oleh Allah… mereka yang senantiasa ingat kepada Allah… mereka yang selalu menjaga diri dari keburukan dan kejelekan sekecil apapun…</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh indah nasehat Ulama salaf kita…</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>لاَ تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيْئَةْ &#8230; &#8230; &#8230; وَلكِنْ اُنْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْتَهْ</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu kesalahan……</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat……</p>
<p style="text-align:justify;">Subhanallah sungguh indah nasehat ini…</p>
<p style="text-align:justify;">Kepada kalian yang cinta kema’rufan…</p>
<p style="text-align:justify;">Kepada kalian yang benci kemunkaran…</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kehadiran nasehat ulama salaf di atas dapat menjadi renungan…</p>
<p style="text-align:justify;">Yach…</p>
<p style="text-align:justify;">janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu dosa…</p>
<p style="text-align:justify;">janganlah engkau melihat akan remehnya suatu kesalahan…</p>
<p style="text-align:justify;">janganlah engkau melihat akan sepelenya suatu maksiat…</p>
<p style="text-align:justify;">jangan…!!!</p>
<p style="text-align:justify;">tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat…</p>
<p style="text-align:justify;">Allah… Dia yang sedang engkau maksiati…</p>
<p style="text-align:justify;">Allah… Dia yang sedang engkau durhakai…</p>
<p style="text-align:justify;">Allah… Dzat yang telah menciptakanmu… justru engkau sedang melanggar aturan-aturannya…</p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah… perhatikanlah… siapa yang sedang engkau maksiati… saudara…!</p>
<p style="text-align:justify;">Astagfirullahal adzim min kulli dzanbil adzim…</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah sepantasnya bagi kita semua ya ikhwah untuk menjaga diri kita… keluarga kita… masyarakat kita… negeri kita… dari kemaksiatan, dosa, keburukan, kesalahan, dan kemunkaran…</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/485/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=485&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2009/10/26/siapa-yang-sedang-engkau-maksiati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimanakah Hati Kita Berlabuh?</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2009/10/26/dimanakah-hati-kita-berlabuh/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2009/10/26/dimanakah-hati-kita-berlabuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Suci]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2009/10/26/dimanakah-hati-kita-berlabuh/</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku&#8230;!
Allah telah ciptakan manusia ini dengan banyak kemampuan yang ia miliki.
Ia berikan banyak fasilitas yang ada pada tubuh manusia. Dengan tangannya, manusia mampu membuat sesuatu yang menakjubkan. Dengan otaknya, ia mencetuskan teori-teori pengetahuan yang begitu luar biasa.
Namun, marilah kita amati salah satu dari sekian kemampuan kita, yaitu kemampuan berpikir, melihat dan mendengar!
Saudaraku&#8230;!
Dalam sebuah ayat-Nya. Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=484&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saudaraku&#8230;!</p>
<p>Allah telah ciptakan manusia ini dengan banyak kemampuan yang ia miliki.</p>
<p>Ia berikan banyak fasilitas yang ada pada tubuh manusia. Dengan tangannya, manusia mampu membuat sesuatu yang menakjubkan. Dengan otaknya, ia mencetuskan teori-teori pengetahuan yang begitu luar biasa.</p>
<p>Namun, marilah kita amati salah satu dari sekian kemampuan kita, yaitu kemampuan berpikir, melihat dan mendengar!</p>
<p>Saudaraku&#8230;!<span id="more-484"></span></p>
<p>Dalam sebuah ayat-Nya. Allah swt berfirman :</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>قُلْ هُوَ الَّذِيْ أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ</strong></p>
<p><em>“Katakanlah! Dia (Allah) yang telah menciptakan kalian, dan Ia jadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati (pikiran). (namun) Amat sedikit yang kalian syukuri.” </em></p>
<p>Qs. Al-Mulk (67) : 23</p>
<p>Allah swt menyebut pendengaran dan penglihatan sebelum pikiran, karena demikianlah proses berpikir manusia. Ya… melihat, mendengar lalu berfikir. Dan melihat, mendengar serta berpikir dalam ayat ini berkaitan dengan status kita di hadapan Allah kelak, saudaraku…</p>
<p>Bagaimana reaksi kita tatkala melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang amat banyak di sekitar kita? atau ketika kita mendengar ayat-ayat-Nya? Dan bagaimana sikap kita saat Allah melimpahruahkan harta kepada kita? Dan bagaimana sikap kita saat Ia “cicipkan” sedikit__ azab-Nya yang berwujud musibah?</p>
<p>Saudaraku…!</p>
<p>Tak salah kalau sebuah pepatah Inggris mengatakan, “Heart is King” (hati adalah raja). Karena hati inilah yang menentukan segala perbuatan kita.</p>
<p>Bila hati seseorang itu “berlabuh” kepada Allah ia selalu beribadah, berzikir dan berdo’a, ia tak pernah melupakan-Nya, niscaya ia menjadi hati yang lembut, baik dan meridhakan Pemeliharanya.</p>
<p>Sebaliknya, hati yang selalu bermaksiat, lalai, meremehkan, bahkan berani menentang Allah atau enggan mendengarkan ayat-ayat suci-Nya, maka tak ubahnya ia adalah hati yang culas, jahat, yang selalu membuat murka Penciptanya. Dan itulah, hati yang ‘’berlabuh’’ kepada rayuan syaithan pujaanya.</p>
<p>Saudaraku…!</p>
<p>Kini, sudah saatnya kita introspeksi diri, mengamati kondisi kita masing-masing!</p>
<p>Mungkinkah terlampau jauh dari-Nya? Dimanakah hati kita “berlabuh’’? Di “pelabuhan’’ Allah-kah…? Atau di “pelabuhan” syaithan terkutuk?</p>
<p>Andaikan hati kita telah lama membengkok, marilah kita benahi dan luruskan kembali! Marilah kita mohon ampunan-Nya, ridha-Nya dan belas kasih-Nya!</p>
<p>Saudaraku…!</p>
<p>Akhir kata, tiada air mata yang lebih mulia kecuali tatkala ia menetes karena menyesali segala dosa… tatkala kita bersimpuh, bertaubat atas “kebengkokan’’ hati kita selama ini.</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>&#8221; وَ اسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ &#8220;</strong></p>
<p align="center"><em>‘’Dan mohonlah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’’</em></p>
<p align="center">QS. Al-muzzammil (73) : 20</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=484&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2009/10/26/dimanakah-hati-kita-berlabuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BreadTalk, Bintang Zero, dan Hoka Hoka Bento, TIDAK HALAL?</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2008/12/13/hoka-hoka-bento-bintang-zero-halalka/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2008/12/13/hoka-hoka-bento-bintang-zero-halalka/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 01:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islaamic]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[IslamicLife]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[MyIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Situs Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>
		<category><![CDATA[bintang]]></category>
		<category><![CDATA[breadtalk]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[hoka-hoka]]></category>
		<category><![CDATA[label halal]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/27/media-bilhikmah-contest/</guid>
		<description><![CDATA[Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan tiga produk makanan dan minuman yang selama ini berada di tengah-tengah masyarakat tidak halal. Ketiga produk itu adalah Breadtalk, Bintang Zero, dan Hoka Hoka Bento.
Hal ini disampaikan Sekjen MUI Din Syamsuddin yang didampingi Ketua LPPOM (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Obat-obatan/kosmetik dan Makanan) MUI Aisyah Girindra dalam jumpa pers di kantor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=480&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan tiga produk makanan dan minuman yang selama ini berada di tengah-tengah masyarakat tidak halal. Ketiga produk itu adalah Breadtalk, Bintang Zero, dan Hoka Hoka Bento.</p>
<p>Hal ini disampaikan Sekjen MUI Din Syamsuddin yang didampingi Ketua LPPOM (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Obat-obatan/kosmetik dan Makanan) MUI Aisyah Girindra dalam jumpa pers di kantor MUI di kompleks Masjid Istiqlal, Jl. Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, Selasa (8/3/2005).<span id="more-480"></span></p>
<p>Menurut Din, Breadtalk dinyatakan tidak halal, karena sampai sekarang belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI. &#8220;&#8221;Mui menyatakan belum ada status halal terhadap produk Breadtalk,&#8221; kata Din.</p>
<p>Hal yang sama juga berlaku dengan Hoka Hoka Bento. &#8220;Produk Hoka Hoka Bento tidaklah halal, karena belum mendapatkan sertifikat halal. Yang demikian itu masuk ke dalam syubhat,&#8221; ujar Din.</p>
<p>Sedangkan untuk produk Bintang Zero yang dalam iklannya menyebutkan mengandung 0% alkohol, Din menegaskan bahwa produk itu haram. &#8220;Bintang Zero 0 % alhokol, menurut LP POM MUI tidaklah halal. Bahkan, setelah diteliti, barang itu tetap mengandung khamar. Jadi, dengan sendirinya tetap dintyatakan haramm,&#8221; kata Din.</p>
<p>Din menyesalkan perusahaan produsen Bintang Zero yang melakukan trik-trik iklan yang dilakukannya dengan mengatakan mengandung 0% alkohol. &#8220;Ini ada trik-trik iklan untuk pembentukan opini masyarakat. Karena itu, MUI merasa bertanggung jawab dan dengan ini menyatakan bahwa produk Zero Bintang itu adalah haram,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Selanjutnya, Din mengimbau kepada umat muslim agar bersikap kritis dan jeli dalam mengkonsumsi produk makanan yang belum jelas kehalalannya. &#8220;Ini kita imbau agar masyarakat tidak terjebak terhadap upaya manipulasi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Din menyadari selama ini sosialisi dari MUI untuk membangkitkan daya kritis masyarakat dalam mengkonsumsi produk-produk makanan memang kurang maksimal. &#8220;Karena itu, dalam waktu dekat, rencananya setiap satu bulan sekali, MUI akan melakukan sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat dalam memilih produk-produk yang belum jelas kehalalannya,&#8221; kata Din.</p>
<p>Sementara Aisyah Girindra meminta kepada semua perusahaan yang memegang sertifikasi halal MUI untuk menuliskan nomor sertifikat halal dalam label kemasan. Hal ini untuk mengantisipasi adanya praktek manipulasi dari perusahaan makanan yang mengklaim secara sepihak bahwa produknya halal.</p>
<p>&#8220;Dengan demikian, nantinya dapat dibedakan antara label halal yang memiliki sertifikat MUI dan label halal tanpa sertifikat MUI,&#8221; demikian Aisyah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/480/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=480&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2008/12/13/hoka-hoka-bento-bintang-zero-halalka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berjabat Tangan Dan Ucapan Di Hari Raya ‘Iedul Fithri</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 05:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Romadhan & Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Islaamic]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[IslamicLife]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[MyIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Taqwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah adzan Magrib berkumandang pada hari terakhir Romadhon atau setelah pernyataan Pemerintah mengenai esok adalah hari raya &#8216;Iedul Fitri. Telphone/ponsel, fax, email dan berbagai media komunikasi lainnyapun sibuk, para penggunanya saling bersilahturahim dengan sanak saudara, karib kerabat ataupun rekannya yang berada jauh di mata. Setelah sholat &#8216;Ied, mulailah suasana silahturahim, saling bersalaman dan saling mengucapkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=479&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span class="fnu2"><span class="fnu2"></span></span>Setelah adzan Magrib berkumandang pada hari terakhir Romadhon atau setelah pernyataan Pemerintah mengenai esok adalah hari raya &#8216;Iedul Fitri. Telphone/ponsel, fax, email dan berbagai media komunikasi lainnyapun sibuk, para penggunanya saling bersilahturahim dengan sanak saudara, karib kerabat ataupun rekannya yang berada jauh di mata. Setelah sholat &#8216;Ied, mulailah suasana silahturahim, saling bersalaman dan saling mengucapkan hari raya &#8216;Iedul Fithri mewarnai di hampir setiap rumah-rumah atau tempat-tempat kaum muslimin berkumpul. Suasana ini berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari selama bulan Syawal.<span id="more-479"></span></p>
<p align="justify">Pada hari tersebut, kaum muslim, khususnya muslim Indonesia, banyak yang lupa atau tidak tahu atau mungkin sengaja melakukan jabat tangan dengan orang-orang yang bukan mahromnya. Sungguh menyedihkan, di hari pertama kita meninggalkan Romadhon, kita langsung melakukan sebuah kesalahan. Kita yang merayakan hari raya &#8216;Iedul Fithri ini sebagai wujud kecintaan kita kepada Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam </em>dan atas nikmat adanya hari raya ini, namun kita melakukan pelanggaran terhadap larangannya. Sebagaimana larangan Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum besi, lebih baik daripada dia menyentuh yang tidak halal dia sentuh&#8221;</em> (lihat Silsilah Al-Hadits As Shohihah 226).</p>
<p>Dan Nabi <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam </em>juga bersabda, yang artinya:<em> &#8220;Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan seorang wanitapun&#8221;.</em> Juga perkataan &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, yang artinya: <em>&#8220;Demi Alloh, tiadalah pernah tangan Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyentuh tangan wanita walau sekali. Dan tiadalah beliau memba&#8217;iat kaum wanita, kecuali hanya dengan ucapan&#8221;.</p>
<p></em>Lalu apa yang harus kita lakukan?, tentunya telah jelas batasan-batasan dalam syariat Islam, agar kita tidak melakukan berbagai kemungkaran di hari raya &#8216;Iedul Fithri ataupun di hari-hari lainnya. Kita berupaya menghindari untuk taat kepada Alloh <em>&#8216;Azza wa Jalla </em>dan Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, dengan menjauhi larangan-larangannya.</p>
<p><strong>Ucapkanlah Taqobbalalla Minna Wa Minka.<br />
</strong>Selain berjabat tangan dengan yang bukan mahrom, terdapat suatu perkara aneh lagi yang merupakan sebuah tradisi terutama tradisi khusus umat muslim Indonesia. Kaum muslim di Indonesia, ketika tiba hari raya &#8216;Iedul Fithri banyak yang mengucapkan &#8220;Minal &#8216;Aaidiin wal Faaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin&#8221;. Sehingga tergambar di benak kaum muslimin di Indonesia bahwa arti minal &#8216;aaidiin&#8230;. dst adalah mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti minal &#8216;aaidiin&#8230;. dst yang sesungguhnya adalah (Semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Entah apa yang dimaksud dengan kata &#8216;aaidiin, apakah kembali berbuka (fithri) atau kembali menjadi fithrah (suci). Tapi yang jelas, kita telah mengetahui makna &#8216;Iedul Fithri yang sebenarnya (baca artikel sebelumnya). Dan mudah-mudahan dosa kita diampuni dari Romadhon yang lalu ke Romadhon berikutnya. Sebagaimana hadits Nabi, yang artinya: <em>&#8220;Sholat lima waktu, dari jum&#8217;at ke jum&#8217;at berikutnya, dari Romadhon ke Romadhon berikutnya, bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi dintaranya, jika dosa-dosa besar bisa dihindari&#8221;</em> (HR: Bukhori dan Muslim).</p>
<p>Sehingga perlu diluruskan kembali, seseorang yang mengucapkan, &#8220;Semoga kita kembali menjadi orang yang fitrah (diampuni dosanya) dan termasuk orang yang menang&#8221;. Bukan berarti karena hari raya ini adalah hari raya fithrah/suci akan tetapi karena hadits diatas. <em>Wallohu &#8216;Alam</em>.</p>
<p>Permasalahannya tidak selesai sampai disini, akan tetapi di dalam Islam, kita dituntut untuk mengikuti teladan kita yaitu Nabi Muhammad kemudian para sahabat, kemudian orang-orang yang hidup setelah mereka (Taabi&#8217;iin) kemudian Taabi&#8217;ut taabi&#8217;iin. Sementara dalam mengucapkan selamat hari raya &#8216;Iedul Fithri telah datang atsar yang mulia yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, yang artinya:<em> &#8220;Dari Khalid bin Ma&#8217;dan radhiyallaahu &#8216;anhu berkata, &#8216;aku menemui Watsilah bin al-Aqsa&#8217; pada hari &#8216;Ied lalu aku mengatakan Taqobbalalla Minna Wa Minka.&#8217; Kemudian Watsilah berkata, &#8216;Aku menemui Rasululloh pada hari &#8216;Ied, lalu aku mengucapkan Taqobbalalla Minna Wa Minka kemudian Rasululloh menjawab Ya, Taqobbalalla Minna Wa Minka&#8217;&#8221;</em> (HR: Baihaqi dalam sunan Kubra, No 6088)</p>
<p>Sehingga, dapat kita simpulkan bahwa yang dianjurkan adalah mengucapkan do&#8217;a &#8220;<strong><em>Taqobbalalla Minna Wa Minka</em></strong>&#8221; yang artinya &#8220;<strong>Semoga Alloh menerima (amal ibadah) kita dan kamu</strong>&#8220;. Maka terlepas dari boleh atau tidaknya mengucapkan <em>Minal &#8216;Aaidiin wal Faaizin</em>. Maka alangkah baiknya jika kita beragama mengikuti tuntunan Rasululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam </em>dan contoh dari para ahlinya yaitu generasi para sahabat. Bukankah mereka lebih dekat dengan Rasululloh sehingga mereka lebih mengerti agama daripada kita???</p>
<p>Adapun kalimat &#8220;Mohon Maaf lahir dan batin&#8221; menjadi kalimat ampuh bagi kaum muslimin, yaitu sebagian mereka hanya meminta maaf ketika hari raya tiba. Sehingga ketika sebagian mereka berbuat salah pada seseorang, sebagian mereka berkata: &#8220;Ah, minta maafnya nanti saja pada saat hari raya, toh pasti dimaafkan&#8221; atau semisalnya. Padahal anjuran minta maaf adalah ketika kita berbuat kesalahan dan tidak ada yang menjamin kehidupan seorangpun sampai hari raya tiba kecuali Alloh <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>. <em>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab</em></p>
<p>(Sumber Rujukan: Silsilah Al-Hadits As Shohihah, Sunan Kubra, Makalah Beberapa Catatan Kaki Tentang &#8216;Iedul Fithri, Buletin An-Naba Masjid Kampus UGM, Buletin An-Nahl)</p>
<p align="center"><strong>Allohu Akbar&#8230; Allohu Akbar&#8230; Allohu Akbar&#8230;<br />
</strong>Segenap TIM Pengelola <a href="http://mediamuslim.info">MediaMuslim.Info</a> mengucapkan<br />
<strong>Taqobbalalla Minna Wa Minkum<br />
Semoga Alloh menerima amal ibadah kita semua, amin&#8230;<br />
Selamat Hari Raya &#8216;Iedul Fithri 1428 H</strong></p>
<p align="left">Sumber:<a href="http://www.mediamuslim.info/hari-istimewa/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri.html "> Berjabat Tangan Dan Ucapan Di Hari Raya &#8216;Iedul Fithri </a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arsipmoslem.wordpress.com/479/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arsipmoslem.wordpress.com/479/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/479/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/479/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/479/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=479&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/berjabat-tangan-dan-ucapan-di-hari-raya-iedul-fithri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Kaki Mengenai Makna ‘Iedul Fithri</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 05:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Romadhan & Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Autentic]]></category>
		<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Islaamic]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[IslamicLife]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[MyIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar kaum muslimin mempunyai keyakinan bahwa makna “’Iedul Fithri” adalah hari kembali ke fithrah (suci). Ungkapan-ungkapan ini, semakin tidak asing lagi ketika menjelang Romadhon berakhir, baik dari para khotib/penceramah sampai berbagai tayangan atau tulisan baik di media elektronik, media cetak dan spanduk-spanduk serta lainnya.
Terlepas dari berbagai hal yang disebut dengan tradisi, maka perlu kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=478&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span class="fnu2"><span class="fnu2"></span></span>Sebagian besar kaum muslimin mempunyai keyakinan bahwa makna “’Iedul Fithri” adalah hari kembali ke fithrah (suci). Ungkapan-ungkapan ini, semakin tidak asing lagi ketika menjelang Romadhon berakhir, baik dari para khotib/penceramah sampai berbagai tayangan atau tulisan baik di media elektronik, media cetak dan spanduk-spanduk serta lainnya.<span id="more-478"></span></p>
<p align="justify">Terlepas dari berbagai hal yang disebut dengan tradisi, maka perlu kita teliti kembali makna ‘Iedul Fithri secara bahasa dan secara syara’/agama. Dengan harapan, kita memiliki sebuah acuan yang lebih baik dan sesuai dengan suri tauladan Nabi Muhammad <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Secara bahasa, <strong>‘Ied</strong> berasal dari kata <em>‘aada</em>,<em> ya’uudu</em>, <em>‘audatan</em> yang artinya kembali. Sedangkan <strong>al-fithru</strong> artinya adalah <em>al-ifthaar</em> yang berarti berbuka atau <em>kasru as-shaum</em> yaitu pembatalan puasa. (Lihat Al Mu’jamu al-wasiithu dan kamus Arab-Indonesia Al ‘Ashri dan Al-Munawwir). Jadi ‘Iedul Fithri adalah hari raya kembali berbuka setelah berpuasa selama sebulan penuh.</p>
<p>Sehingga sangat jelas, secara bahasa bahwa al-fithru artinya <em>al-ifthaar</em> yang berarti berbuka. Bukan yang dikatakan sebagian orang yang menyatakan bahwa al-fithru (Fitri/Fithri) berarti suci, sifat pembawaan yang ada sejak lahir. Karena sangat jelas perbedaan kata antara keduanya. Al-Fithru (untuk Fitri/Fithri), huruf penyusunnya adalah fa-tha-ra, sedangkan Al-Fithrah (untuk Fitrah/Suci), huruf penyusunnya adalah fa-tha-ra-ta murbuuthah.</p>
<p>Sayangnya, dalam 2 kamus besar Arab-Indonesia (yang sangat banyak sekali manfaatnya sehingga banyak dijadikan referensi oleh umat Islam Indonesia, semoga Alloh  <em>Subhaanahu wa Ta’ala </em>memberikan ganjaran kepada penyusunnya dengan sebaik-baik ganjaran… amin) makna ‘Iedul Fithri diartikan hanya sebagai istilah saja, tidak diartikan secara bahasa. Makna atau arti ‘Iedul Fithri di kamus tersebut tertulis hari ‘Idul Fithri atau hari raya lebaran.</p>
<p>Sedangkan menurut syara’, telah dating hadits dari Abu Hurairah, dia berkata, yang artinya: <em>“Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda: (‘Iedul) Fithri adalah hari kalian berbuka dan (‘Iedul) Adha adalah hari kalian menyembelih hewan (kurban)”</em> (HR: Ibnu Majah no. 1660).</p>
<p>Lalu bagaimana dengan kaum muslimin yang berpendapat bahwa ‘Iedul Fithri adalah hari raya kembali menjadi suci (fithrah) karena telah diampuni dosa-dosa kita sebagaimana hadits-hadits yang berbicara tentang pengampunan dosa dan dikabulkannya do’a serta pembebasan dari api neraka karena bulan Romadhon.</p>
<p>Maka, lihatlah diri kita apakah selama bulan Romadhon ini kita telah beribadah dan beramal dengan Ikhlas, penuh keimanan, ihtisab serta sesuai dengan tuntunan Nabi<em> Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em>?</p>
<p>Bukankah suri tauladan kita telah menjelaskan bahwa ‘Iedul Fithri adalah hari raya berbuka? Dan bukan berarti dengan kita memaknai ‘Iedul Fithri dengan hari raya kembali menjadi suci/fitrah (sifat pembawaan yang ada sejak lahir sehingga tidak mempunyai dosa). Wallohu ‘alam. <span>Kita hanya bisa berdo’a agar dosa-dosa kita benar-benar diampuni.. </span>Amiin. <em>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab</p>
<p></em>(Sumber Rujukan: Al Mu’jamu al-wasiithu, kamus Arab-Indonesia Al ‘Ashri dan Al-Munawwir, Makalah Beberapa Catatan Kaki Tentang &#8216;Iedul Fithri, Buletin An-Naba Masjid Kampus UGM, Buletin An-Nahl, <a href="http://www.mediamuslim.info/hari-istimewa/catatan-kaki-mengenai-makna-iedul-fithri.html">MediaMuslim.Info</a>)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arsipmoslem.wordpress.com/478/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arsipmoslem.wordpress.com/478/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=478&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/18/catatan-kaki-mengenai-makna-%e2%80%98iedul-fithri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah Al Quran Diturunkan Secara Bertahap</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/03/hikmah-al-quran-diturunkan-secara-bertahap/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/03/hikmah-al-quran-diturunkan-secara-bertahap/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 04:26:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[alqur'an]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah alqur'an]]></category>
		<category><![CDATA[nuzul alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/03/hikmah-al-quran-diturunkan-secara-bertahap/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Salah satu hikmah diturunkannya al Qur’an secara bertahap adalah untuk mengokohkan hati Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.  Karena wahyu yang diturunkan pada setiap kejadian itu akan lebih memperteguh kepercayaan di dalam hati  dan memperkuat inayah (pertolongan) Alloh Subhaanahu wa Ta’ala kepada Nabi yang menerimanya.
Disamping itu dengan diturunkannya al Qur’an secara bertahap maka akan memudahkan kaum muslimin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=477&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Salah satu hikmah diturunkannya al Qur’an secara bertahap adalah untuk mengokohkan hati Rasululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em>.  Karena wahyu yang diturunkan pada setiap kejadian itu akan lebih memperteguh kepercayaan di dalam hati  dan memperkuat inayah (pertolongan) Alloh <em>Subhaanahu wa Ta’ala </em>kepada Nabi yang menerimanya.<span id="more-477"></span></p>
<p align="justify">Disamping itu dengan diturunkannya al Qur’an secara bertahap maka akan memudahkan kaum muslimin untuk lebih mudah dalam menghafalnya dan memahaminya serta mengamalkannya. Sehubungan dengan ini Umar bin Khaththab<em> radhiyallahu ‘anhu</em> pernah berkata, yang artinya: <em>&#8220;Pelajarilah al Qur’an lima ayat-lima ayat&#8221;</em> (HR: al Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman)</p>
<p>Dari Utsman, Ibnu Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, menjelaskan bahwa Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam senantiasa membacakan sepuluh ayat kepada mereka.  Mereka tidak pindah kepada sepuluh ayat yang lain sebelum mempelajari pengamalannya, “Sehingga kami mempelajari al Qur’an dan pengamalannya sekaligus” (Tafsir al Qurthubi I/39 dan Tafsir ath Thabari I/60)</p>
<p><strong>Contoh yang paling jelas tentang hikmah diturunkannya al Qur’an secara bertahap adalah tahapan pembentukan tasyri tentang diharamkannya khamr.</strong></p>
<p>Pertama turun firman Alloh <em>Subhaanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: &#8221;Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik&#8221; (QS: An Nahl: 67)</p>
<p>Kemudian turun firman Alloh <em>Subhaanahu wa Ta’ala</em> yang berikutnya, yang artinya: <em>&#8220;Mereka bertanya kepadamu soal khamr dan judi.  Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, namun dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya&#8221;</em> (QS: Al Baqarah: 219)</p>
<p>Ayat ini membandingkan manfaat khamr yang temporer dengan mudharatnya. Disamping pelakunya mendapat dosa, khamr juga mengakibatkan rusaknya badan dan akal pikiran, menghabiskan harta benda serta mengakibatkan timbulnya perbuatan maksiat.</p>
<p>Setelah ayat tersebut menjelaskan bahwa mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya, kemudian turun firman Alloh <em>Subhaanahu wa Ta’ala </em>berikutnya, yang artinya: <em>&#8220;Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mendekati (melaksanakan) shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan&#8221;</em> (QS: An Nahl: 43)</p>
<p>Dengan turunnya ayat ini, mereka mengerti bahwa khamr diharamkan pada waktu shalat.  Setelah ayat di atas, baru diturunkan ayat yang secara tegas melarang khamr, yang artinya: <em>&#8220;Hai orang-orang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan.  Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan&#8221;</em> (QS: Al Maidah: 90)</p>
<p>Berkaitan dengan hal tersebut Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em> pernah berkata, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya surat yang mula-mula turun adalah surat pendek yang di dalamnya disebutkan adanya surga dan neraka, sehingga jika manusia telah memeluk Islam, maka diturunkan ayat tentang halal dan haram.  Seandainya ayat pertama kali turun adalah, ‘Janganlah kalian meneguk khamr’, pastilah mereka akan mengatakan, ‘Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya&#8221;</em> (HR: al Bukhari). <em><strong>(mt)</p>
<p></strong></em>(Sumber Rujukan: Kitab Syu’abul Iman; Tafsir al Qurthubi;  Tafsir ath Thabari)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arsipmoslem.wordpress.com/477/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arsipmoslem.wordpress.com/477/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/477/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=477&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/10/03/hikmah-al-quran-diturunkan-secara-bertahap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpecahan dan Kehancuran Umat</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/perpecahan-dan-kehancuran-umat/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/perpecahan-dan-kehancuran-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 05:56:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islaamic]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[IslamicLife]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Metode]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Beragama]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[MyIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/perpecahan-dan-kehancuran-umat/</guid>
		<description><![CDATA[Perpecahan dan kehancuran sering ditimbulkan karena seseorang atau sekelompok orang tidak mampu untuk memahami kaidah-kaidah Islam dalam berselisih pendapat. Yang dimaksud di sini adalah mengenal hukum-hukum berbeda pendapat antara dua orang muslim atau lebih dan efek yang timbul di balik itu. Mana saja yang boleh diperselisihkan dan mana yang tidak. Jika ada seseorang menyelisihi, bilakah penyelisihannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=476&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span><span><span><span><span class="datasimp"></span></span></span></span></span>Perpecahan dan kehancuran sering ditimbulkan karena seseorang atau sekelompok orang tidak mampu untuk memahami kaidah-kaidah Islam dalam berselisih pendapat. <span>Yang dimaksud di sini adalah mengenal hukum-hukum berbeda pendapat antara dua orang muslim atau lebih dan efek yang timbul di balik itu. Mana saja yang boleh diperselisihkan dan mana yang tidak. Jika ada seseorang menyelisihi, bilakah penyelisihannya itu dapat ditolerir? Bilakah kita boleh memvonisnya kafir atau fasik? Apakah vonis seperti itu boleh dijatuhkan oleh siapa saja dan kapan saja?</span><span id="more-476"></span></p>
<p align="justify"><span>Banyak sekali orang yang tidak mengetahui perincian masalah tersebut. Bahkan ditambah lagi akibat <strong>tidak adanya pemahaman dan pengamalan yang benar tentang adab Islam yang shohih</strong>, <strong>tidak sedikit diantara kita yang merasa yakin kita benar namun dalam upaya dakwah atau penjelasan kepada orang lain sering menggunakan istilah-istilah atau intonasi yang kotor dan &#8220;kurang pada tempatnya&#8221;</strong>. Sangat sering dari sinilah muncul perpecahan yang seharusnya tidak terjadi, bahkan menjatuhkan kemulian sebuah kebenaran dan menyebabkan kehinaan karena kelemahan orang-orang yang merasa kuat dan benar tersebut. bagaimanakah dengan kita?????<br />
</span></p>
<p align="justify"><strong>Di kutip dari <em><a href="http://www.mediamuslim.info/manhaj-islam/akibat-kurang-memahami-kaidah-berselisih-pendapat.html">Akibat Kurang Memahami Kaidah Berselisih Pendapat </a></em></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arsipmoslem.wordpress.com/476/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arsipmoslem.wordpress.com/476/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=476&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/perpecahan-dan-kehancuran-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Modern Dalam Gelombang Jahiliyah Modern</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/modern-dalam-gelombang-jahiliyah-modern/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/modern-dalam-gelombang-jahiliyah-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 05:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Al Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Suci]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Bening]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islaamic]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[IslamicLife]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa Suci]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[MyIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Penyucian Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Penyucian Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Percintaan]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyah Tun Nafsi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/modern-dalam-gelombang-jahiliyah-modern/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Inilah wajah kampung halaman kita. Telah menjadi kebanggaan syetan-syetan di depan Iblis. Mungkinkah kita lupa! Syetan dan Iblis itu adalah musuh bebuyutan bani adam yaitu seluruh yang berbangsa manusia, lalu kenapa malah  sebagian manusia menyembah-nyembah dengan aneka cara dan dengan mengikuti petunjuknya yang menuju ke neraka.
Sekarang ini televisi sudah berani sekali merusak moral bangsa dengan  aneka tayangan. Adegan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=475&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Inilah wajah kampung halaman kita. Telah menjadi kebanggaan syetan-syetan di depan Iblis. Mungkinkah kita lupa! Syetan dan Iblis itu adalah musuh bebuyutan bani adam yaitu seluruh yang berbangsa manusia, lalu kenapa malah  sebagian manusia menyembah-nyembah dengan aneka cara dan dengan mengikuti petunjuknya yang menuju ke neraka.<span id="more-475"></span></p>
<p align="justify">Sekarang ini televisi sudah berani sekali merusak moral bangsa dengan  aneka tayangan. Adegan yang berlabel Islam, namun penuh dengan pengrusakan aqidah Islam bahkan berupa kepalsuan dan penghinaan terhadap syariat Islam. Adegan ciuman dan bahkan lebih  dari itu sudah merupakan menu setiap saat. Belum lagi  VCD  porno (yang menurut mereka karya seni) yang beredar  di mana-mana. Masih ditambah lagi dengan aneka  majalah, tabloid  dan bacaan yang porno lagi menjijikkan plus menyesatkan aqidah.</p>
<p>Semua  itu dijajakan secara terang-terangan dan besar-besaran, bahkan kadang dipampang di dekat Masjid,  rumah  Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala</em>. Kalau dulu zaman jahiliyah orang-orang musyrikin memajang  berhala-berhala  di  sekitar  Ka&#8217;bah (berhala-berhala ini umumnya patung-patung orang sholeh),  maka  sekarang  manusia-manusia jahiliyah modern memajang gambar-gambar porno dan tak  sopan  di dekat-dekat  masjid, di pinggir-pinggir jalan, di   tempat-tempat strategis,  dan  di kamar-kamar, bahkan ruang  tamu. Sebagian remaja Islam merasa malu apabila di dalam kamarnya tidak dipajang poster-poster artis, pemain bola dan sebagainya. Para aktifis Islam pun, tidak sedikit yang memajang poster-poster penyanyi-penyanyi &#8221;Islam&#8221;, ustadz/ustadzah idola  (sungguh hal yang memilukan hati). Bahkan poster yang tidak sedikit memperlihatkan aurat tersebut, secara sengaja atau tidak sengaja pada hakikatnya secara tidak langsung ataupun langsung telah dijadikan sebuah berhala era modern. Mereka sangat mengelu-elukannya dan memimpikannya.</p>
<p>Sungguh fenomena luar biasa. Benar-benar jahiliyah  modern.  Televisi dan VCD  yang  berisi gambar-gambar porno pun dipajang di kamar-kamar, bahkan kamar tidur. Ini seperti orang-orang musyrikin menyimpan benda-benda yang  dikeramatkan yang dianggap sebagai memberikan keamanan kepada mereka.</p>
<p>Keadaan ini pantas dibanggakan di depan Sang Iblis yang setiap saat menyeleksi syetan-syetan yang melapor padanya atas  dahsyatnya tipu daya yang dilakukan syetan terhadap manusia.</p>
<p>Yang lebih luar biasa lagi adalah sebagian penjahat, artis dan masyarakat bahkan para pejabat berbondong-bondong tunduk di kaki para dukun atau istilah modern-nya paranormal. Sedang para dukun/paranormal makin cengengesan (tertawa  tanpa aturan) dengan aneka paket tipuan. Ada yang membuat istilah pengobatan alternatif, kontak jarak jauh, supranatural, susuk asmara, paranormal ampuh dan aneka macam tetek bengek istilah yang mereka tipukan pada masyarakat. Padahal hakekatnya adalah sama saja, mereka itu adalah biang para perusak bangsa ini.</p>
<p>Sulit diatasi kecuali mengembalikan umat ke jalan Islam yang shohih secara kaffah. Bagaimana tidak sulit, pihak keamanan yang harusnya menjadi pengayom penegakkan kebenaran dan keadilan (Adil dan Benar itukan menurut Alloh bukah menurut manusia atau thoghut) justru ikut-ikutan antri ke dukun, sedang para punggawa sampai pejabat tinggi sudah banyak yang tunduk pada dukun, maka pada dasarnya negeri ini adalah mainan syetan. Karena dukun adalah wali (kekasih, teman komplot) syetan.</p>
<p>Kenapa  syetan-syetan  yang sebenarnya  adalah  musuh manusia itu malah di mintai tolong  untuk menyantet, untuk menghidup suburkan kemaksiatan, untuk menegakkan hukum thoghut,  dan untuk membantu dalam menolak ditegakkannya syari&#8217;at Islam?</p>
<p>Bukankah kita masih mengaku sebagai Muslim? Bahkan marah kalau ada yang menyindir seperti; &#8220;Saya memakai jilbab karena saya Muslim, saya menutup aurat karena saya Muslim&#8221; Lalu lawan bicaranya sedikit sebal dengan berkata &#8220;Saya Juga Muslim Bu!!!&#8221;</p>
<p>Sadarkah kita!, Selama ini mungkin mulutmu sering jadi corong  syetan. Tangan sering menjadi senjata syetan dalam menggencet muslimin. Otak sering jadi penebar ideologi syetan dalam  menghalangi syari&#8217;at Islam. Sedang darah dan daging mungkin memang  dijadikan dari makanan yang dihasilkan bersama-sama syetan atau dengan cara yang dicanangkan syetan. Ini bukan tuduhan, tetapi sekadar mengingatkan, kepada diri saya sendiri dan kepada jama&#8217;ah sekalian. Kita ini perlu muhasabah, mengoreksi diri. Kenapa kita  sudah terlalu jauh rusaknya seperti ini.</p>
<p>Kita meminta kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>agar memberi hidayah kepada kita semua dan <span>memberi taufik kepada kaum muslimin seluruhnya, para pemerintah dan </span><span>rakyatnya untuk kembali ke jalan yang Haq, memerangi syetan dan berhati-hati dari padanya, serta </span>merasa cukup dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dan <span>Rasul-Nya pada segala perkara di muka bumi ini yang sesuai dengan syariat </span><span>karena Dia-lah yang berkuasa atasnya. <em>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab</em></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arsipmoslem.wordpress.com/475/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arsipmoslem.wordpress.com/475/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/475/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=475&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/09/04/modern-dalam-gelombang-jahiliyah-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taubat Nasuha</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/30/taubat-nasuha/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/30/taubat-nasuha/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2007 12:45:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islaamic]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[IslamicLife]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[MyIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/30/taubat-nasuha/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Taubat Nasuha
Sejarah &#124; Berita &#124; Siroh &#38; Kisah &#124; KisahIslam.COM &#8211; Thursday, 30 August 2007 05:33
© Sejarah &#124; Berita &#124; Siroh &#38; Kisah &#124; KisahIslam.COM
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=472&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <!-- .quote {width:350px; padding: 6px; border: solid 1px #694911; font: 10px helvetica, verdana, sans-serif; color: #694911; background-color: #F0D9A2} .quote a {font: 13px arial, serif; color: #694911; text-decoration: underline} .quote a:hover {color: #FF9900; } --></p>
<p class="quote"><a href="http://kisahislam.com/index.php/kisah-teladan/taubat-nasuha.html" target="_blank">Taubat Nasuha</a><br />
Sejarah | Berita | Siroh &amp; Kisah | KisahIslam.COM &#8211; Thursday, 30 August 2007 05:33</p>
<p align="right">© <a href="http://kisahislam.com" target="_blank">Sejarah | Berita | Siroh &amp; Kisah | KisahIslam.COM</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arsipmoslem.wordpress.com/472/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arsipmoslem.wordpress.com/472/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/472/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=472&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/30/taubat-nasuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Kekeliruan di Bulan Romadhon</title>
		<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/27/beberapa-kekeliruan-di-bulan-romadhon/</link>
		<comments>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/27/beberapa-kekeliruan-di-bulan-romadhon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2007 04:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
				<category><![CDATA[1000 Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Autentic]]></category>
		<category><![CDATA[Blogs]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Kemenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Suci]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah - Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islaamic]]></category>
		<category><![CDATA[Islaamic - Shaum]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam - Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Islam - Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[IslamicLife]]></category>
		<category><![CDATA[Istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[MyIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Shaum]]></category>
		<category><![CDATA[SuaraIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/27/beberapa-kekeliruan-di-bulan-romadhon/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Islam senantiasa mengumandangkan pentingnya ilmu sebagai landasan berucap dan beramal. Maka bisa dibayangkan, amal tanpa ilmu hanya akan berbuah penyimpangan. Kajian berikut berupaya menguraikan beberapa kesalahan berkait amalan di bulan Romadhon. Kesalahan yang dipaparkan di sini memang cukup ‘fatal’. Jika didiamkan terlebih ditumbuh suburkan, sangat mungkin akan mencabik-cabik kemurnian Islam, lebih-lebih jika kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=471&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><span><span class="fnu2"><span class="fnu2"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span></span>Islam senantiasa mengumandangkan pentingnya ilmu sebagai landasan berucap dan beramal. Maka bisa dibayangkan, amal tanpa ilmu hanya akan berbuah penyimpangan. Kajian berikut berupaya menguraikan beberapa kesalahan berkait amalan di bulan Romadhon. Kesalahan yang dipaparkan di sini memang cukup ‘fatal’. Jika didiamkan terlebih ditumbuh suburkan, sangat mungkin akan mencabik-cabik kemurnian Islam, lebih-lebih jika kemudian disirami semangat fanatisme golongan.<span id="more-471"></span></p>
<p align="justify"><strong>Penggunaan Hisab Dalam Menentukan Awal Hijriyyah<br />
</strong>Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah memberikan bimbingan dalam menentukan awal bulan Hijriyyah dalam hadits-haditsnya, di antaranya, yang berarti: <em>“Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasululloh Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjelaskan Romadhon, maka beliau mengatakan: ‘Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka (berhenti puasa dengan masuknya syawwal, -pent.) sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah’.” </em>(HR: Al-Bukhari dan Muslim, Hadits Shohih)<!--more--></p>
<p>Dan hadits yang semacam ini cukup banyak, baik dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim maupun yang lain. Kata-kata فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ (Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah) menurut mayoritas ulama bermadzhab Hanbali, ini dimaksudkan untuk membedakan antara kondisi cerah dengan berawan. Sehingga didasarkannya hukum pada penglihatan hilal adalah ketika cuaca cerah, adapun mendung maka memiliki hukum yang lain. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, artinya: “Lihatlah awal bulan dan genapkanlah menjadi 30 (hari).&#8221;</p>
<p>Adapun yang menguatkan penafsiran semacam ini adalah riwayat lain yang menegaskan apa yang sesungguhnya dimaksud. Yaitu sabda Nabi yang telah lalu (maka sempurnakan jumlah menjadi 30) dan riwayat yang semakna. Yang paling utama untuk menafsirkan hadits adalah dengan hadits juga. Bahkan Ad-Daruquthni meriwayatkan (hadits) serta menshahihkannya, juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari hadits Aisyah, yang artinya: <em>“Dahulu Rasululloh sangat menjaga Sya’ban, tidak sebagaimana pada bulan lainnya. Kemudian beliau puasa karena ru`yah bulan Romadhon. Jika tertutup awan, beliau menghitung (menggenapkan) 30 hari untuk selanjutnya berpuasa.”</em> (Dinukil dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar)</p>
<p><strong>Oleh karenanya, penggunaan hisab bertentangan dengan Sunnah Nabi dan bertolak belakang dengan kemudahan yang diberikan oleh Islam.<br />
</strong><br />
Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah atau Dewan Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia: Apakah boleh bagi seorang muslim untuk mendasarkan penentuan awal dan akhir puasa pada hisab ilmu falak, ataukah harus dengan ru`yah (melihat) hilal?</p>
<p>Jawabannya: …Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> tidak membebani kita dalam menentukan awal bulan Qomariyah dengan sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang, yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak.</p>
<p>Padahal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah yang ada telah menjelaskan, yaitu menjadikan ru`yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasa kaum muslimin di bulan Romadhon dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian juga dalam menetapkan Iedul Adha dan hari Arafah. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>“…Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.”</em> (QS: Al-Baqarah: 185)<br />
Dan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>“Mereka bertanya tentang hilal-hilal. Katakanlah, itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk haji.”</em> (QS: Al-Baqarah: 189)</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Jika kalian melihatnya, maka puasalah kalian. Jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian. Namun jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah menjadi 30.”</em></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadikan tetapnya (awal) puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka (mengakihiri Romadhon) dengan melihat hilal Syawwal. Sama sekali Nabi tidak mengaitkannya dengan hisab bintang-bintang dan orbitnya (termasuk rembulan, -pent.). Yang demikian ini diamalkan sejak zaman Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para Khulafa` Ar-Rasyidin, empat imam, dan tiga kurun yang Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> persaksikan keutamaan dan kebaikannya.</p>
<p>Oleh karena itu, menetapkan bulan-bulan Qomariyyah dengan merujuk ilmu bintang dalam memulai awal dan akhir ibadah tanpa ru`yah adalah bid’ah, yang tidak mengandung kebaikan serta tidak ada landasannya dalam syariat….” (Fatwa ini ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan. Lihat Fatawa Ramadhan, 1/61)<br />
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Tentang hisab, tidak boleh beramal dengannya dan bersandar padanya.” (Fatawa Ramadhan, 1/62)</p>
<p>Tanya: Sebagian kaum muslimin di sejumlah negara, sengaja berpuasa tanpa menyandarkan pada ru`yah hilal dan merasa cukup dengan kalender. Apa hukumnya?<br />
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab: “Sesungguhnya Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan kaum muslimin untuk (mereka berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal maka jika mereka tertutup olah awan hendaknya menyempurnakan jumlahnya menjadi 30) -Muttafaqun alaihi-</p>
<p>Dan Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu adalah demikian, demikian, dan demikian.” –beliau menggenggam ibu jarinya pada ketiga kalinya dan mengatakan–: “Bulan itu begini, begini, dan begini –serta mengisyaratkan dengan seluruh jemarinya–.”</em></p>
<p>Beliau maksudkan dengan itu bahwa bulan itu bisa 29 atau 30 (hari). Dan telah disebutkan pula dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi<em> Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Puasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian tertutupi awan hendaknya menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 (hari).”</em><br />
Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda, yang artinya: <em>“Jangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah. Dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.”</em></p>
<p>Masih banyak hadits-hadits dalam bab ini. Semuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru`yah, atau menggenapkannya jika tidak memungkinkan ru`yah. Ini sekaligus menjelaskan tidak bolehnya bertumpu pada hisab dalam masalah tersebut.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah telah menyebutkan ijma’ para ulama tentang larangan bersandar pada hisab dalam menentukan hilal-hilal. Dan inilah yang benar, tidak diragukan lagi. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>-lah yang memberi taufiq. (Fatawa Shiyam, hal. 5-6)</p>
<p><strong>Imsak sebelum Waktunya<br />
</strong>Imsak artinya menahan. Yang dimaksud di sini adalah berhenti dari makan dan minum dan segala pembatal saat sahur. Kapankah sebetulnya disyariatkan berhenti, ketika adzan tanda masuknya subuh atau sebelumnya, yakni adzan pertama sebelum masuknya subuh? Karena dalam banyak hadits menunjukkan bahwa subuh memiliki dua adzan, beberapa saat sebelum masuk dan setelahnya.</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullahu </em>mengatakan: “Masalah ini, di mana banyak orang (meyakini) bahwa makan di malam hari pada saat puasa diharamkan sejak adzan pertama (yakni sebelum masuknya waktu subuh&#8211;Bila di masyarakat kita tandanya adalah dengan selain adzan, seperti sirine, petasan, atau yang lain yang tidak ada dasar syar’inya sama sekali), yang adzan ini mereka sebut dengan adzan imsak, tidak ada dasarnya dalam Al-Qur`an, As-Sunnah dan dalam satu madzhabpun dari madzhab para imam yang empat. Mereka semua justru sepakat bahwa adzan untuk imsak (menahan dari pembatal puasa) adalah adzan yang kedua yakni adzan yang dengannya masuk waktu subuh.</p>
<p>Dengan adzan inilah diharamkan makan dan minum serta melakukan segala hal yang membatalkan puasa. Adapun adzan pertama yang kemudian disebut adzan imsak, pengistilahan semacam ini bertentangan dengan dalil Al-Qur`an dan Hadits. Adapun Al-Qur`an, maka Robb kita berfirman –dan kalian telah dengar ayat tersebut berulang-ulang, , yang artinya: <em>“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”</em> (QS: Al-Baqarah: 187)</p>
<p>Ini merupakan nash yang tegas di mana Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> membolehkan bagi orang-orang yang berpuasa yang bangun di malam hari untuk melakukan sahur. Artinya, Robb kita membolehkan untuk makan dan mengakhirkannya hingga ada adzan yang secara syar’i dijadikan pijakan untuk bersiap-siap karena masuk waktu fajar shadiq (yakni masuknya waktu subuh, -pent.). Demikian Robb kita menerangkan.</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menegaskan makna ayat yang jelas ini dengan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi mengatakan, yang artinya: <em>“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan di waktu malam.”</em></p>
<p>Dalam hadits yang lain selain riwayat Al-Bukhari dan Muslim: <em>“Janganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan untuk membangunkan yang tidur dan untuk menunaikan sahur bagi yang sahur. Maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melantunkan adzan….” </em>(Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 344-345)</p>
<p>Ibnu Hajar (salah satu ulama besar madzhab Syafi’i) dalam Fathul Bari syarah Shahih Al-Bukhari (4/199) juga mengingkari perbuatan semacam ini. Bahkan beliau menganggapnya termasuk bid’ah yang mungkar. Oleh karenanya, wahai kaum muslimin, mari kita bersihkan amalan kita, selaraskan dengan ajaran Nabi kita, kapan lagi kita memulainya (jika tidak sekarang)? (Lihat pula Mu’jamul Bida’ hal. 57)</p>
<p>Di sisi lain, adapula yang melakukan sahur di tengah malam (praktek yang terjadi, kebanyakan muslimin sahur sekitar pukul 02.00-03.00 dini hari, red). Ini juga tidak sesuai dengan Sunnah Nabi, sekaligus bertentangan dengan maksud dari sahur itu sendiri yaitu untuk membantu orang yang berpuasa dalam menunaikannya. Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Segeralah berbuka dan akhirkan sahur.”</em> (Shahih, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1773)</p>
<p>Dari Abu ‘Athiyyah ia mengatakan: Aku katakan kepada ‘Aisyah: <em>Ada dua orang di antara kami, salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, sedangkan yang lain menunda berbuka dan mempercepat sahur. ‘Aisyah mengatakan: “Siapa yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?” Aku menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” ‘Aisyah lalu mengatakan: “Demikianlah dahulu Rasululloh Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melakukannya.”</em> (HR: At-Tirmidzi, Kitabush Shiyam Bab Ma Ja`a fi Ta’jilil Ifthar, 3/82, no. 702. Beliau menyatakan: “Hadits hasan shahih.”)</p>
<p>At-Tirmidzi mengatakan: Hadits Zaid bin Tsabit (tentang mengakhirkan sahur, -pent.) derajatnya hasan shahih. Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq berpendapat dengannya. Mereka menyunnahkan untuk mengakhirkan sahur.” (Bab Ma Ja`a fi Ta`khiri Sahur)</p>
<p><strong>Kesalahan Lainnya di Bulan Romadhon<br />
</strong>yaitu &#8220;Mengakhirkan adzan Maghrib dengan alasan kehati-hatian/ihtiyath &#8221; (Mu’jamul Bida’, hal. 268)<br />
&#8220;Membunyikan meriam untuk memberitahukan masuknya waktu shalat, sahur, atau berbuka. Al-Imam Asy-Syathibi menganggapnya tidak ada dalam syariat Islam (bid&#8217;ah). &#8220;(Al-I’tisham, 2/103; Mu’jamul Bida’, hal. 268)<br />
&#8220;Bersedekah atas nama roh dari orang yang telah meninggal pada bulan Rajab, Sya’ban, dan Romadhon.&#8221; (Ahkamul Jana`iz, hal. 257, Mu’jamul Bida’, hal. 269)</p>
<p>Dan masih banyak lagi kesalahan lain, yang InsyaAlloh akan dibahas pada kesempatan yang lain. Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<p>Dikirim Oleh: Abdulloh</p>
<p><span class="article_seperator"> </span></p>
<table style="margin-top:25px;" align="center">
<tr>
<th class="pagenav_prev"><a href="http://mediamuslim.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=487&amp;Itemid=33"> 							&lt; Prev ( Wanita Bangsawan Dengan Kemulian Sejati)</a></th>
<td width="50">&nbsp;</td>
<th class="pagenav_next"><a href="http://localhost/muslim/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=301&amp;Itemid=37"> 							</a><a href="http://mediamuslim.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=565&amp;Itemid=24">(Penulisan dan Penghimpunan Al Qur’an) Next &gt;</a></th>
</tr>
</table>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arsipmoslem.wordpress.com/471/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arsipmoslem.wordpress.com/471/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsipmoslem.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsipmoslem.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsipmoslem.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsipmoslem.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsipmoslem.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsipmoslem.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsipmoslem.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsipmoslem.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsipmoslem.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsipmoslem.wordpress.com/471/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsipmoslem.wordpress.com&blog=680135&post=471&subd=arsipmoslem&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/27/beberapa-kekeliruan-di-bulan-romadhon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a99001807a16189761aa08591482e39c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arsipmoslem</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
