<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025</id><updated>2024-08-31T18:22:38.754+07:00</updated><category term="kabar"/><category term="islamdunia"/><category term="feature"/><category term="indonesia"/><category term="palestina"/><category term="ayahbunda"/><category term="renungan"/><category term="pernikahan"/><category term="dakwah"/><category term="serial cinta"/><category term="anak"/><category term="sorotan"/><category term="kehamilan"/><category term="sastra"/><category term="keuangan keluarga"/><category term="muda"/><title type='text'>Mengeja Islam</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://anissyifa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default?alt=atom'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default?alt=atom&amp;start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>271</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-2515431443045983998</id><published>2011-02-22T10:11:00.001+07:00</published><updated>2011-02-22T10:14:07.002+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ayahbunda"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pernikahan"/><title type='text'>Kisah Seorang Istri Teladan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.rumahzakat.org/images/20110221154525&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://www.rumahzakat.org/images/20110221154525&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;oleh: Nisa&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai Ashar, seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk di sampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.&lt;br /&gt;
&quot;Anti sudah menikah?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Belum, Mbak,&quot; jawabku.&lt;br /&gt;
Kemudian akhwat itu .bertanya lagi, &quot;Kenapa?&quot;.&lt;br /&gt;
Hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mbak menunggu siapa?&quot; aku mencoba bertanya.&lt;br /&gt;
&quot;Nunggu suami,&quot; jawabnya. Aku melihat ke samping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana Mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya, &quot;Mbak kerja dimana?&quot;. Entahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;
&quot;Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi,&quot; jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.&lt;br /&gt;
&quot;Kenapa?&quot; tanyaku lagi.&lt;br /&gt;
Dia hanya tersenyum dan menjawab, &quot;Karena inilah satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami&quot; jawabnya tegas. Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ukhti, boleh saya cerita sedikit? Saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta per bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka kepadanya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali, Ukhti. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing.  Parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, &#39;&lt;i&gt;Abi, Umi pusing nih. Ambil sendirilah&lt;/i&gt;&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat Isya. Pada pukul 23.30 WIB saya terbangun dan cepat-cepat sholat, &lt;i&gt;Alhamdulillah &lt;/i&gt;pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya lihat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang mencucinya kalau bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. &quot;&lt;i&gt;Astagfirullah, kenapa Abi mengerjakan semua ini? Bukankah Abi juga pusing tadi malam?&lt;/i&gt;&quot; hati saya membatin.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap Abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya Abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, panas sekali pipinya, keningnya. &lt;i&gt;Masya Allah&lt;/i&gt;, suami saya demam tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg diusapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Anti tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan, 1/100 dari gaji saya. Malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah kepada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu kepada saya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata, &quot;&lt;i&gt;Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah, diambil ya! Buat keperluan kita. Tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi  ridho,&lt;/i&gt;&quot; begitu katanya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya,&quot; lanjutnya. &quot;&lt;i&gt;Alhamdulillah &lt;/i&gt;saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja. Mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami,&quot; lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orangtua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.&quot; ujarnya. Aku masih terdiam, membisu, mendengar keluh kesahnya. &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;&lt;i&gt;Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini. Ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun dia takmau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu&lt;/i&gt;&quot;. ujarnya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anti tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar. Saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud di malam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga, Ukhti, dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya,&quot; ceritanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Semoga jika Anti mendapatkan suami seperti saya, Anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami Anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya, Ukhti, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram,&quot; ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengambil tas laptopnya, ia bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor tak terlalu bagus mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm. Sambil mengucapkan salam, mereka meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.rumahzakat.org/detail.php?id=7827&amp;amp;kd=A&quot;&gt;rumahzakat.org &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/2515431443045983998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/2515431443045983998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/kisah-seorang-istri-teladan.html' title='Kisah Seorang Istri Teladan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-680556704525099012</id><published>2011-02-22T09:32:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T09:32:08.580+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="anak"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ayahbunda"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Ayah Kadang-Kadang</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.rumahzakat.org/images/20110221171743&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://www.rumahzakat.org/images/20110221171743&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Oleh: Budi Ashari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah tak hanya memenuhi kebutuhan fisik. Kita sudah sepakat dengan hal ini. Tetapi, bagaimana seorang ayah bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, kalau interaksi dengan anak bermasalah. Pagi-pagi sudah berangkat, terkadang anak belum bangun. Padatnya pekerjaan, macetnya jalanan, berikut semua masalah di jalanan, membuat sang ayah pulang larut malam, terkadang anak sudah tidur. Penantian mereka untuk sekadar memenuhi kelopak mata dengan wajah sang ayah, tidak terpenuhi. Setelah pagi tadi, tidak sempat mengecup tangan ayah sebelum keberangkatannya. Anak-anak baru merasa punya ayah pada hari Sabtu dan Minggu saja. Terlihat seonggok fisik kelelahan di kursi rumah, setelah 5 atau 6 hari padat beraktifitas. Ada lagi, seorang ayah yang harus bertugas jauh dari anaknya. Sementara sang ibu kebingungan bagaimana harus membagi waktu antara suami dan anaknya. Kepulangan ayah yang sangat dirindukan baru bisa terlaksana sebulan sekali. &quot;Alhamdulillah, saya punya waktu yang cukup untuk anak saya,&quot; kata sebagian ayah. Tentu menggembirakan mendengarnya. Tetapi, sayangnya kalimat ini masih berbuntut. &quot;Tapi saya tidak tahu harus menjadi ayah seperti apa?&quot; Nampaknya dia adalah seorang ayah yang sedang kebingungan tentang perannya sebagai ayah. Kadang ayah, kadang bukan. Ayah kadang-kadang. Malah ada yang tidak terasa sama sekali keayahannya. Sang anak tidak merasa punya ayah, yatim sebelum waktunya. Kalau lisan mereka boleh berucap, mereka akan berkata kepada bundanya, &quot;bunda, carikan aku ayah&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa banyak ya, jumlah ayah di Indonesia seperti ilustrasi di atas? Banyak atau sedikit? Nah, Anda sendiri tipe ayah yang mana? Para ayah yang baik, mari kita terus belajar. Kalimat-kalimat di atas bukan untuk memojokkan apalagi hanya menyalahkan tapi untuk melakukan evaluasi, berharap solusi untuk permasalahan dan petunjuk untuk peran keayahan. Untuk generasi yang lebih istimewa dari kita. Ayah, sebagai pengingat kembali untuk kita, inilah kalimat Ibnu Qoyyim yang akan kita analisa kata per kata, &quot;betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi keinginannya, sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya.&quot; Kesengsaraan anak di dunia bahkan hingga di akhirat nanti karena hilangnya perhatian seorang ayah terhadap anaknya. Perhatian? Bukankah banyak para ayah yang merasa telah memperhatikan anaknya? Di mana kurangnya? Ya, perhatian itu berbagai macam bentuknya. Ada perhatian secara fisik dengan sentuhan mantap atau ekspresi wajah seorang ayah. Ada perhatian berupa fasilitas hidup dengan sarana yang disediakan oleh ayah. Ada sapaan menyejukkan di pagi hari dan ucapan selamat atas prestasi dengan lisan ayah. Ada doa yang mengalir dari ketulusan hati seorang ayah. Ini bukan pilihan, tetapi harus dilaksanakan semua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang para ayah tahu bukan, mengapa perhatian ayah masih dianggap kurang, karena masih memilih satu atau beberapa saja. Biasanya hanya perhatian fasilitas hidup yang dipilih. Kalau boleh, saya membagi perhatian menjadi tiga macam: Perhatian dalam bentuk kuantitas Perhatian dalam bentuk kualitas Perhatian dalam sunyi Perhatian dalam bentuk kuantitas, artinya kehadiran fisik sang ayah. Demikian juga pemenuhan fasilitas hidup yang merupakan kewajiban ayah. Sang anak bisa menatap wajah ayahnya. Bisa menyentuh tubuh ayah. Bisa meraba rambut ayah. Bisa menggandeng tangan ayah. Sang anak bisa mendapatkan fasilitas untuk belajarnya, sekolahnya, bermainnya, komunikasinya, kebutuhan hidup sehari-harinya. Perhatian kuantitas itu ibarat wadah. Kalau wadah itu belum ada, bagaimana seorang ayah bisa mengisi anaknya dengan misi kebaikan? Untuk poin ini, masalah muncul pada ayah yang sibuk atau bekerja di luar kota jauh dari anak-anaknya dan jarang ada pertemuan fisik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana solusinya? Mohon jauhkan kalimat apologi, &quot;yang penting kualitas pertemuan. Buat apa kuantitas pertemuan sering, tetapi tidak berkualitas&quot;. Bukan itu jawabannya! Perhatian dalam bentuk kualitas, artinya kehadiran fisik dan pemenuhan fasilitas itu harus ada ruhnya, bukan pertemuan kosong. Perhatian itu bukan permainan tanpa visi, jalan-jalan tanpa misi, duduk tanpa dialog, atau pembicaraan tanpa nilai. Perhatian itu ibarat wadah, kalau sudah ada, jangan sampai tidak diisi dengan misi kebaikan. Perhatian dalam sunyi, artinya sang ayah tetap menyediakan ruang yang lapang dalam hati dan lisannya saat ia sendirian. Dalam perencanaan hidupnya, dalam doa dan dzikirnya. Saat nanti kita belajar tentang nabi Ibrahim, para ayah akan tahu betapa nabi Ibrahim seorang ayah yang dahsyat itu selalu membasahi lisannya dengan doa untuk generasinya. Ia selalu memikirkan generasinya dalam sendirinya, dalam kesunyiannya, dari hatinya yang paling dalam. Ia selalu berdoa. Untuk poin ini, para ayah tinggal belajar bermacam doa untuk generasi dan terus berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wadah yang telah terisi itu, semakin terlihat indah dengan hiasan yang mengitarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, ini ada hasil penelitian tentang anak yang ‘tidak punya’ ayah:&lt;br /&gt;
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar di Rumah Sakit Jiwa Anak, (&lt;i&gt;University of Michigan&lt;/i&gt;), dari sampel 144 anak dan remaja awal yang orang tuanya bercerai, sering mengalami tiga hal: 63% masalah psikologis subjektif (didefinisikan sebagai kecemasan, kesedihan, suasana hati yang mudah berubah-ubah, fobia, dan depresi), 56% prestasi rendah atau prestasi di bawah kemampuan yang pernah dicapainya, 43% melakukan agresi kepada orang tua. Shalih bin Awwad al-Maghamisi (&lt;i&gt;al-Ayyam an-Nadzirah wa as-Siroh al-Athiroh&lt;/i&gt;, h. 51, MS) menjelaskan, “Fathimah putri yang paling dicintai Nabi shallallahu alaihi wasallam. Imam adz-Dzahabi ketika menuliskan biografi Fathimah dalam &lt;i&gt;al-a’lam&lt;/i&gt; berkata: &quot;Dia adalah bagian dari kenabian dan pilihan&quot;. Fathimah adalah orang yang paling mirip cara jalannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah mencintainya, memuliakannya, mengagungkannya. Jika dia mendatangi Rasul beliau menciumnya dan memeluknya. Fathimah adalah bagian dari beliau, Rasul berkata, &quot;Fathimah bagian dari diriku, apa saja yang membuatnya gundah juga akan membuatku gundah, apa saja yang menyakitinya juga menyakitiku&quot;. Penggambaran singkat ini, menggambarkan jelas bahwa Rasul hadir secara fisik, memperhatikannya, mampu bersatu dalam rasa dengan putrinya. Mari kita semua menjadi para ayah yang bisa dirasakan kehadirannya. Bukan saja pada fasilitas hidup. Tetapi dalam seluruh lembaran kehidupan anak-anak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.rumahzakat.org/detail.php?id=7828&amp;amp;kd=A&quot;&gt;rumahzakat.org &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/680556704525099012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/680556704525099012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/ayah-kadang-kadang.html' title='Ayah Kadang-Kadang'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-4125742323261173485</id><published>2011-02-21T17:41:00.000+07:00</published><updated>2011-02-21T17:41:23.696+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="islamdunia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Gara-gara Muslim, Salim 7 Kali Ditolak Cathay Pacific</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://static.republika.co.id/images/salim_zakhrouf_kiri_110221135412.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;231&quot; src=&quot;http://static.republika.co.id/images/salim_zakhrouf_kiri_110221135412.JPG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Salim Zakhrouf &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Seorang Muslim pekerja bandara, Salim Zakhrouf, telah menuduh perusahaan penerbangan &lt;i&gt;Cathay Pacific&lt;/i&gt; melakukan rasisme setelah ia ditolak wawancara kerja. Chathay hanya menyediakan satu lowongan pekerjaan, dan anehnya, ketika dua hari kemudian Salim kembali melamar dengan nama palsu yang &quot;keinggris-inggrisan&quot;,  dia langsung diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria kelahiran Aljazair ini membaca lowongan pekerjaan di Cathay Pacific  sebagai petugas pelayanan penumpang di Bandara &lt;i&gt;Heathrow&lt;/i&gt;. Zakhrouf, 38 tahun , yang tinggal di Inggris sejak 1991 dan merupakan warga negara Inggris, diberitahu melalui email dia cocok untuk pekerjaan itu dan wawancara dibatalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi  48 jam kemudian sebagai &#39;Ian Woodhouse&#39; dengan CV identik dan alamat rumah sama, ia diundang untuk wawancara oleh petugas personil yang sama yang pertama kali menolaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zakhrouf, yang memiliki pengalaman layanan pelanggan 17 tahun dan bekerja sebagai agen penanganan penerbangan Heathrow, menolak untuk hadir dalam wawancara itu. Sebaliknya ia melaporkan pada serikat pekerja &lt;i&gt;Unite &lt;/i&gt;tempat dia bernaung yang berencana untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Unite menuduh Cathay Pacific melakukan diskriminasi rasial dan berkas siap dilayangkan ke pengadilan kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Pemasaran  Cathay Pacific Inggris, Roberto Abbondio,  yang dihubungi Daily Mail menyatakan permintaan maafnya. Ia menyebut telah terjadi &#39;kesalahan administratif&#39; oleh stafnya saat  memproses 709 aplikasi dan berkata Cathay sedang meninjau kembali proses perekrutan setelah kasus yang dia digambarkan sebagai &#39;disayangkan dan mengecewakan&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manajer Personalia Cathay Pasifik Inggris,  Alison Loftin,  juga telah mengirimkan email pada Zakhrouf untuk meminta maaf dan untuk mengatur pertemuan kembali dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zakhrouf, yang telah menikah dan memiliki putri berusia 19 bulan menyatakan tak lagi berminat bekerja pada Cathay Pacific. &quot;Cara mereka menangani aplikasi saya rasis dan tidak adil. Saya telah mengirimkan  tujuh kali aplikasi pekerjaan di Cathay dalam tiga tahun terakhir dan saya selalu ditolak. Namun ketika nama palsu digunakan, mereka langsung memanggil. Bagi saya, ini hal sangat serius,&quot; ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/02/21/165212-walahgaragara-muslim-salim-7-kali-ditolak-cathay-pacific&quot;&gt;republika.co.id &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4125742323261173485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4125742323261173485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/gara-gara-muslim-salim-7-kali-ditolak.html' title='Gara-gara Muslim, Salim 7 Kali Ditolak Cathay Pacific'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-4244329291527028778</id><published>2011-02-21T17:34:00.000+07:00</published><updated>2011-02-21T17:34:23.123+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Kondisi Ambiguitas Kader Dakwah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwyW9KeVp_sZuQGTFkcutAsAHlrxDqoXfR01bKZPVDIEp_LA97_ulg87QUUS1dhb3yEiQ01LWl8A3Cf4OctChN3ZDD37xYSSSEbZuKMruA7-5piaGPTm3u-FHTt86F_xYX_k8Pfb-ARoo/s1600/Download+100+Buku+Pengokohan+Tarbiyah+Intisari.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwyW9KeVp_sZuQGTFkcutAsAHlrxDqoXfR01bKZPVDIEp_LA97_ulg87QUUS1dhb3yEiQ01LWl8A3Cf4OctChN3ZDD37xYSSSEbZuKMruA7-5piaGPTm3u-FHTt86F_xYX_k8Pfb-ARoo/s320/Download+100+Buku+Pengokohan+Tarbiyah+Intisari.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seorang aktivis dakwah kampus pernah mengeluhkan tentang kondisi kader dakwah yang – tanpa sengaja – mendikotomikan antara aktivitas dakwah dan ibadah dalam perilakunya. Ada aktivis dakwah yang yang begitu aktif – penutur tersebut mengistilahkan dengan aktivis dakwah yang ‘haroki’, namun lemah dalam hal ruhiyahnya. Dan ada pula aktivis dakwah yang rajin ibadahnya, atau kuat ruhiyahnya, namun aktivitas dakwahnya tidak menonjol. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sudah menjadi gejala di kampusnya, karena ketika&lt;i&gt; fit and proper test&lt;/i&gt; untuk pemilihan Badan Pengurus Harian di lembaga dakwah kampus itu, salah seorang calon ditanyakan tentang tindakannya apabila menemui dua karakter jundi yang berbeda: salah seorangnya haroki namun kurang ma’nawi, dan seorang yang lain berkebalikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah gejala di kampus itu juga menjadi gejala nasional? Bisa saja banyak aktifis dakwah yang seperti ini. Karena saya sudah lama mendengar masalah ini diperbincangkan oleh aktifis dakwah. Tapi saya yakin, ada banyak lagi kader dakwah yang mampu tawazun, yang mampu menyeimbangkan dedikasinya pada umat dalam kegiatan-kegiatannya yang berlapis-lapis, dan ‘ubudiyahnya dalam bentuk ibadah mahdoh. Banyak kader yang mampu menjadi – seperti adagium dalam dakwah – &lt;i&gt;fursanun fi nahar, wa ruhbanun fillail&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aktifis dakwah ada yang mengambing-hitamkan kegiatan dakwahnya. Ketika sibuk dalam kegiatan yang padat, maka seorang aktivis menjadi cemburu dengan kegiatan itu. Ia merasa kegiatan-kegiatan itu mengurangi waktunya untuk berubudiyah kepada Allah. Penyebab kelelahan hingga ia tak mampu memenuhi target amalan yauminya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski salah dalam beralasan, penyesalan atas kesempatan ‘ubudiyah yang hilang masih jauh lebih baik dibanding tidak memiliki penyesalan sama sekali. Berbahaya apabila kelelahan karena aktifitas yang padat itu menjadi justifikasi atas kosongnya tilawah dalam sehari, atau penuhnya malam dengan mimpi. Aktifis dakwah menganggap sebagai suatu hal yang biasa, tertinggalnya beberapa amalan yang memperkuat ruhiyahnya, karena aktifitas yang padat merupakan kompensasi dari amalan-amalan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini tentu tidaklah bijak. Karena kalau kita mengetahui, aktifitas para sahabat begitu luarbiasa sibuknya, namun mereka tidak pernah tinggal untuk menikmati malam dengan munajat kepada-Nya. Perbandingan yang terdekat adalah dengan para mujahidin di negeri-negeri yang berkecambuk. Sebuah film dokumentasi perang jihad Afghanistan dan Chechnya memperlihatkan para mujahidin menyempatkan diri membaca Al-Qur’an. Padahal ketika itu keadaan sedang tidak aman. Terpancar dari raut wajah mereka kegembiraan ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita belumlah memanggul senjata beserta ratusan pelurunya yang berat. Kita tidaklah berjalan begitu jauh, mendaki gunung menerobos belukar, bertahan dalam cuaca yang tidak bersahabat. Sebuah kegiatan yang melelahkan. Jauh perbandingan kelelahan antara kita dengan para mujahidin itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kebaikan aktifis ‘haroki’ dan ‘ma’nawi’&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang aktifis dakwah yang ‘haroki’, biasanya ia juga seorang yang memiliki pemahaman yang bagus. Saya berpendapat keharokian itu linier dengan keilmuan yang luas. Dan begitulah yang saya temui di lapangan. Mungkin karena mereka adalah orang yang terbiasa dengan syuro, di mana pada syuro terjadi banyak pemaparan argumen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu baik apabila seorang aktivis dakwah memiliki wawasan yang luas. Dengannya, roda dakwah dapat berputar pada arah yang benar. Sekaligus juga, keaktifannya itulah yang menjalankan roda dakwah tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi pribadinya, pemahaman yang baik dapat mencegahnya dari gugur di jalan dakwah. Bukankah dalam sebuah riwayat, setan lebih takut dengan seseorang yang memiliki pemahaman yang tinggi yang sedang tidur di dalam masjid, daripada seseorang yang sedang sholat dalam masjid tersebut. Hal ini karena seseorang yang memiliki pemahaman yang baik, sulit bagi setan untuk menipunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seseorang aktivis dakwah yang ibadah mahdhohnya terjaga dengan baik, akan memiliki ma’nawi yang terpancar kuat. Kedekatan kepada Ilahi akan membuat dirinya berwibawa di tengah-tengah orang banyak. Dan apabila ia berdakwah, maka dakwahnya akan lebih mudah menembus hati objek dakwah. Apabila roda dakwah dijalankan oleh orang-orang yang seperti ini, tentu roda dakwah itu akan sangat efektif. Tarbawi dalam sebuah edisi pernah menulis: Ruhiyah kelam dakwah tenggelam, ruhiyah bersinar dakwah pun lancar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Quwatu shillah billah&lt;/i&gt; (kekuatan hubungan dengan Allah) adalah hal yang efektif mencegah dirinya gugur dari jalan dakwah. Ketika permasalah rumit menekannya untuk keluar dari jalan dakwah, ia memiliki tempat bersandar yang begitu empuk: Allah swt. Dzat inilah yang memeliharanya untuk tetap di jalan dakwah, dan senantiasa memberinya taufiq serta furqon agar dapat melihat keadaan lebih jelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lemahnya salah satu kondisi berakibat pribadi yang timpang &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu penting untuk memiliki kedua karakter ini pada diri kita. Lemahnya salah satu karakter akan membuat pribadi kita adalah pribadi da’i yang timpang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang aktif namun tidak memiliki ruhiyah yang baik, maka berpotensi untuk menjadi orang yang jenuh dengan kepadatan aktifitas tersebut. Tidak tahan mental ketika tertimpa masalah. Lemah dalam ikhlas. Pemahamannya tidak mampu menopangnya untuk tetap berada di jalan dakwah. Sekalipun ia paham bahwa sesuatu itu salah, namun karena kurangnya kedekatan dengan Tuhannya, ia akan tetap melaksanakan sesuatu itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang kuat ruhiyahnya namun malas untuk aktif dalam kepadatan kegiatan dakwah, maka jadilah ia seorang yang sholih tetapi tidak muslih. Ia berpotensi menjadi seseorang yang mudah kecewa pada jama’ah, karena kurangnya pemahaman yang ia miliki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruhiyah adalah inspirasi kita bergerak. Roda dakwah yang berjalan dengan terarah dan lincah, apabila yang menjalankannya kehabisan tenaga, maka roda itu tidak akan bisa berjalan lagi. Sesungguhnya sumber tenaga itu adalah kualitas ruhiyah yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadilah orang yang lengkap. Sebagai penutup, saya ilustrasikan seorang aktivis dakwah yang ideal adalah seperti gambaran mujahidin perang Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol: Al-Qur’an di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://muslimmuda.wordpress.com/&quot;&gt;muslimmuda.wordpress.com&lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4244329291527028778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4244329291527028778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/kondisi-ambiguitas-kader-dakwah.html' title='Kondisi Ambiguitas Kader Dakwah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwyW9KeVp_sZuQGTFkcutAsAHlrxDqoXfR01bKZPVDIEp_LA97_ulg87QUUS1dhb3yEiQ01LWl8A3Cf4OctChN3ZDD37xYSSSEbZuKMruA7-5piaGPTm3u-FHTt86F_xYX_k8Pfb-ARoo/s72-c/Download+100+Buku+Pengokohan+Tarbiyah+Intisari.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-3779578696635175299</id><published>2011-02-21T17:17:00.001+07:00</published><updated>2011-02-21T17:18:02.555+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ayahbunda"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pernikahan"/><title type='text'>Mas Kawin : Antara Adat dan Syariat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://immcabangbskm.files.wordpress.com/2010/12/mahar-pernikahan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;http://immcabangbskm.files.wordpress.com/2010/12/mahar-pernikahan.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan budaya yang berbeda. Kata-kata bijak dari khasanah budaya jawa mengabadikan kondisi tersebut dengan ungkapan : &lt;i&gt;negoro mowo toto, deso mowo coro&lt;/i&gt;. Bahkan di dalam kajian &lt;i&gt;ushul fiqih&lt;/i&gt;, pertimbangan budaya atau adat juga termasuk menjadi salah satu metodologi pengambilan sebuah hukum. Ketika sebuah adat tidak bertentangan dengan syariat, maka bukanlah sebuah cela saat seorang muslim ikut meramaikan dan mensyiarkannya. Pada sisi ini, barangkali fenomena mudik, lebaran, dan halal bihalal nampaknya menjadi contoh yang gamblang tentang akomodasi syariat terhadap nilai-nilai budaya. Lebih menarik lagi di Minangkabau, antara adat dan syariat ternyata bersintesis dengan baik hingga menampilkan wajah : &quot;&lt;i&gt;Adat basandi syara&#39;, syara&#39; basandi kitabullah&lt;/i&gt;&quot;, yang artinya adat bersendikan syariat (ajaran agama) dan syariat bersendikan kitab Allah SWT (Al Qur&#39;an). &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula saat kita bicara pernikahan, pastilah akan membahas tentang budaya dan adat yang ada seputarnya. Ada adat yang menyalahi syariat, ada pula yang masih dalam koridor syariat. Tentu disini bukan tempat untuk membahas satu persatu adat dan budaya pernikahan yang menyalahi syariat. Saya hanya ingin sekedar berbagi tentang keunikan perbedaan budaya pernikahan antara masyarakat di Indonesia dan di Arab. Keduanya sama-sama mempunyai budaya yang unik seputar pernikahan, berbeda satu sama lainnya, bahkan saling bertentangan, tapi sama-sama dalam batas koridor syariat. Budaya yang unik tersebut diantaranya : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Budaya Mahar di Indonesia&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi masyarakat Indonesia secara umum, mahar tidak identik dengan sesuatu yang besar dan bernilai tinggi. Mereka cukup sederhana dalam menentukan besaran mahar, yang penting ada kenangan dan kesan yang mendalam bahkan setelah bertahun-tahun pernikahan. Pada sisi ini bolehlah kita menyebutnya sebagai sebuah hal yang romantis. Masyarakat kita memang menyukai simbol, karena mahar pun biasanya identik dengan simbol keagamaan atau kasih sayang. Biasanya seperangkat alat sholat, plus beberapa gram perhiasan. Ada juga yang bernilai besar, tapi tidak setara dengan kekayaannya, karena mereka menginginkan sebuah kenangan. Pernikahan artis yang kaya raya misalnya, ternyata besaran maharnya ‘tidak seberapa’ karena disesuaikan dengan tanggal pernikahan mereka yang hanya berderet 6 sampai 8 angka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah pernikahan, nampaknya mahar di Indonesia menjadi aksesoris pelengkap saja yang tidak banyak menyita pikiran orang. Pihak mempelai maupun orangtua biasanya lebih ‘heboh’ dalam membahas pesta pernikahan, prosesi, dan ritualnya daripada menyinggung soal mahar. Mungkin juga ini adalah bentuk aplikasi budaya &lt;i&gt;ewuh pakewuh&lt;/i&gt; dan masih melekat dalam masyarakat kita. Keunikan lain juga, biasanya mahar hanya berupa hal-hal tertentu saja sebagaimana yang disebutkan di atas, tetapi selain itu terkadang mempelai laki-laki malah memberikan ‘hadiah tunangan’ yang jumlahnya jauh lebih besar dan berlipat-lipat dari mahar yang diberikan. Unik memang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Budaya Mahar di Saudi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lain di Indonesia, lain di masyarakat arab sana. Di negara tambang minyak itu sejak dulu kala sangat dikenal dengan mahalnya sebuah mahar menuju pernikahan. Budaya ini pun kemudian melahirkan kegelisahan dan persoalan di tengah masyarakat, karena banyaknya pemuda dan wanita yang tak kunjung menikah meski usia melewati kepala tiga dan empat. Hingga pemuda-pemuda Saudi saat ini berkampanye lewat internet mengajak untuk tidak menikahi perempuan Saudi. Hal itu diakibatkan semakin mahalnya mas kawin dan biaya resepsi pernikahan (&lt;i&gt;Saudi Gazette&lt;/i&gt;, 11 Feb 09). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu berapa besar sih mahar khas Arab itu? Di Saudi misalnya, jika seorang pemuda mau menikahi gadis di sana, biasanya harus menyiapkan : mahar / mas kawin 40.000 Real atau 90 Juta rupiah dan biaya pesta 15.000 Real atau 40 Juta. Itu belum syarat lainnya seperti : calon suami harus memilki rumah dengan &lt;i&gt;furniture&lt;/i&gt; lengkap walaupun sewa, calon suami kalo bisa memliki mobil untuk transportasi walaupun yang jadul sekalipun. Nah, besar sekali bukan? Jika mau dibandingkan dengan negara kita, kalau mahar itu cukup ‘rukuh dan sajadah’, maka di Arab bisa jadi maharnya adalah “ pabrik rukuh dan sajadahnya”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lalu bagaimana besaran mahar secara syariat ? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahar tidak lain adalah sebuah pemberian, karenanya bisa berbeda besarannya dan tidak pernah ditentukan kadarnya karena disebut besar tidaknya sangat bergantung dengan kemampuan finansial yang memberi. Karenanya para ulama bersepakat tidak ada batas maksimal dalam pemberian mahar. Ini dilandaskan pada firman Allah SWT : “&lt;i&gt;sedang kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak (qinthaar),&lt;/i&gt;” (QS Nisa 20). Pernah ada upaya Umar bin Khotob membatasi besaran mahar, tetapi ditentang dan dibatalkan karena bertentangan dengan ayat di atas. Jadi, nampaknya masyarakat Saudi mengoptimalkan mengambil peluang sisi ini, karena secara syariat tidak ada batas maksimal dalam mahar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, meskipun demikian, syariat tetap menganjurkan untuk mempermudah hal-hal yang berhubungan dengan mas kawin seperti yang tertera dalam sabda Rasulullah: “ &quot;&lt;i&gt;Sesungguhnya wanita yang paling banyak berkahnya adalah wanita yang paling sedikit/murah mas kawinnya.&lt;/i&gt;&quot;(HR Thobroni) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun tentang batas minimal, maka memang ada perbedaan ulama seputar masalah ini, sebagai berikut : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa mas kawin minimal senilai 3 dirham ( ada juga riwayat : seperempat dinar). Mereka mengkiaskan (menyamakan) hal ini dengan wajibnya potong tangan bagi pencuri ketika barang curiannya bernilai seperempat dinar atau lebih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa mas kawin paling sedikit 10 dirham atau satu dinar. Ini berlandaskan bahwa Nabi membayar mas kawin para isterinya tidak pernah kurang dari 10 dirham. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan : jika dikonversikan ke rupiah, dimana 1 dinar adalah 4,25 gram emas 22 karat, maka batas minimal mahar versi Malikiyah adalah sekitar Rp 300.000,- dan Hanafiyah adalah 1 juta lebih sekian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu Ulama Syafi&#39;iah (yang madzhabnya tersebar di Indonesia) dan Hanbaliyah berpendapat, tidak ada batas minimal, yang penting bahwa sesuatu itu bernilai atau berharga maka sah (layak) untuk dijadikan mas kawin (termasuk seperangkat alat salat). Mereka mendasarkan pendapatnya pada keumuman ayat Al-Quran : &quot;&lt;i&gt;Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian, yaitu mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk dizinai&lt;/i&gt;&quot; (Q.S. al-Nisa&#39; : 24). Maka harta dalam ayat tersebut bersifat umum bisa besar dan kecil. Begitu pula ditambah dalil lain tentang bagaimana Rasulullah SAW menikahkan sahabat dengan hafalan quran bahkan dengan cincin besi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, barangkali karena Indonesia menganut madzhab syafii yang tidak mempunyai batas minimal mahar, maka sangat wajar jika kemudian kita lihat masyarakat kita pun tak begitu peduli dengan besaran mahar, apa adanya dan sewajarnya saja. Uniknya ini tidak berlaku di Saudi yang bermadzhab Hanbali, semestinya mereka tidak terlampau &lt;i&gt;strict &lt;/i&gt;soal besaran mahar. Wallahu a’lam bisshowab.- &lt;b&gt;indonesiaoptimis.com&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disalin dari : &lt;a href=&quot;http://islamedia.web.id/&quot;&gt;islamedia.web.id&lt;/a&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/3779578696635175299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/3779578696635175299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/mas-kawin-antara-adat-dan-syariat.html' title='Mas Kawin : Antara Adat dan Syariat'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-7542035388737066001</id><published>2011-02-21T17:09:00.000+07:00</published><updated>2011-02-21T17:09:13.456+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ayahbunda"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pernikahan"/><title type='text'>Mewacanakan Nikah pada Orangtua</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://images.mutiaraaisyah.multiply.com/image/CswSRBqcJtioG3eiQ75r0A/photos/1M/300x300/54/calon-pengantin.jpg?et=x2arwBFOG1JaA5enW33NKA&amp;amp;nmid=0&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://images.mutiaraaisyah.multiply.com/image/CswSRBqcJtioG3eiQ75r0A/photos/1M/300x300/54/calon-pengantin.jpg?et=x2arwBFOG1JaA5enW33NKA&amp;amp;nmid=0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menyatukan hati-hati kita. Semoga forum ahad pagi ini bisa lebih mengikat ukhuwah diantara kita. Sebagaimana sering dalam membuka sebuah majelis, saya menyampaikan beberapa harapan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di awal majelis ini mari kita berniat agar iman kita meningkat ilmu yang berguna di dapat ukhuwah kita semakin erat serta amal semakin semangat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga dan sahabat, serta seluruh kaum muslimin yang istiqomah menjalankan risalah islam hingga hari akhir nanti. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak keluhan, curhat atau pertanyaan yang masuk pada saya seputar hal tersebut. Dari mulai pihak orangtua yang ‘&lt;i&gt;shock&lt;/i&gt;’ dengan teror dari anaknya yang meminta menikah dengan bertubi-tubi, hingga larangan para orangtua pada anaknya untuk menikah karena masalah ekonomi dan yang semacamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya banyak alasan para orangtua belum mengijinkan anaknya untuk menikah, bahkan sampai pada tahapan ada yang ‘sakit’ jika anaknya kembali membicarakan tentang pernikahan. Namun di antara sekian alasan itu, barangkali ada beberapa hal yang sering muncul di benak para orang tua tentang pernikahan putra-putrinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Merasa Pernikahan itu tidak perlu cepat-cepat, bisa nanti-nanti saja, apalagi bagi yang anaknya laki-laki. &lt;br /&gt;
2. Merasa sang anak belum mampu dan mandiri secara ekonomi.&lt;br /&gt;
3. Merasa khawatir dengan pasangan anaknya nanti, apakah sholeh atau tidak , dan sebagainya. Bahkan mungkin sebagian sudah ada yang menyiapkan jodoh bagi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, ada beberapa hal yang perlu dijalankan seorang akh/ukhti sebelum berproses menuju pernikahan. Semuanya dijalankan dengan penuh kesungguhan dan lemah-lembut. Jangan memaksakan ‘niat mulia’ ini dengan cara yang tidak mulia. Beberapa hal tersebut antara lain : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama : Menunjukkan Prestasi dan Kemampuan Diri&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hendaknya para akhi/ukhti bisa menunjukkan pada kedua orangtuanya bahwa mereka ini telah ‘layak’ menikah. Bukan lagi anak kecil yang ingin dimanja, bukan lagi ‘sekedar’ mahasiswa biasa yang menanti-nanti gelar sarjana. Yakinkan orangtua dengan parade prestasi, maka insya Allah akan membukakan hati para orang tua untuk menyatakan : &lt;i&gt;oo.. ternyata anak saya mampu&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, berprestasilah terlebih dahulu dan tunjukkan pada orang tua agar mereka bisa tenang saat merestui anaknya berproses menuju pernikahan. &lt;br /&gt;
Ingat ungkapan salah satu putri Syuaib yang diabadikan dalam Al-Quran :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;i&gt;Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: &quot;Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya&quot;&lt;/i&gt;. (Qoshos 26)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Nah, ketika para orangtua sudah cukup merasa tenang bahwa anaknya punya karakter “ Kuat dan Terpercaya” atau mempunya &lt;i&gt;Performance &lt;/i&gt;dan Kredibilitas yang baik, maka insya Allah mereka akan menyetujui setiap usulan dari anaknya, termasuk usulan nikah. Jadi, buktikan dulu pada para orangtua bahwa Anda telah banyak mengukir berprestasi . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua : Memberikan Penjelasan tentang Anjuran Menyegerakan Pernikahan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang orang-orang tua merasa tenang-tenang saja dengan isu pernikahan. Mereka belum sadar bahwa usia semakin menua dan saatnya untuk menimang cucu telah tiba. Karenanya berikan pemahaman bahwa urusan nikah adalah ibadah mulia yang juga mengikuti kaidah : “ Lebih Cepat Lebih Baik “, hal ini tentu senada dengan isyarat dalam sebuah hadits : &lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
روى أحمد والترمذي عن علي رضي الله عنه: أن النبي قال له، &quot; يا علي: ثلاث لا تؤخرها الصلاة: إذا أتت، والجنازة إذا حضرت، والايم إذا وجدت كفئا &quot;. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;i&gt;Dari Ali ra, Rasulullah SAW bersabda : “ Wahai Ali, tiga hal yang jangan engkau tunda-tunda (yaitu) : Sholat ketika telah datang waktunya, jenazah yang sudah siap (dimakamkan), dan bujangan yang sudah menemukan pasangannya (yang sekufu)&lt;/i&gt;&amp;nbsp; (HR Tirmidzi dan Ahmad)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga : Curhat pada Orangtua tentang Kegelisahan Hati dan banyaknya Godaan di luar sana &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali para orangtua belum sadar sepenuhnya bagaimana kondisi dunia luar yang bisa mengotori hati putra-putrinya. Di sana ada pemandangan syahwati yang bertaburan di jalanan dan sekolahan. Di sana ada satu dua pandangan dan sapaan yang melenakan. Di sana ada ucapan-ucapan indah yang mengotori niat dan hati. Belum lagi dengan iringan lagu-lagu romantis yang senantiasa memprovokasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang akhi/ukhti hendaklah dengan jujur menyampaikan kegelisahan ini. Dan dari sanalah kemudian muncul keinginan untuk segera membentengi diri. Mengakhiri segala bentuk romantisme semua yang tiada henti. Sampaikan pada orangtua bahwa anaknya ini ingin menikah untuk menjaga diri dan juga kehormatan keluarga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali hadits di bahwa ini bisa jadi bekal untuk berdiskusi : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وفي حديث الترمذي عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:  (ثلاثة حق على الله عونهم، المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد  الاداء، والناكح الذي يريد العفاف &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;  &lt;i&gt;Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : “ Ada tiga orang yang wajib bagi Allah menolongnya : orang yang berjihad di jalan Allah, budak ‘Mukatib’ yang ingin membayar pembebasannya, dan seorang yang ingin menikah untuk menjaga dirinya&lt;/i&gt; (HR Tirmidzi). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keempat : Meyakinkan tentang rizki dan tekad kuat untuk mandiri &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh kurang layak mengajukan pernikah pada orangtua jika kantong ini belum terisi dari keringat kita sendiri. Memang ada satu dua kasus dimana orangtua ‘sholih’ sangat inisiatif dalam membantu pernikahan anaknya secara finansial. Barangkali ia terinspirasi dengan Nabi Syu’aib yang begitu kooperatif membantu pernikahan putrinya dengan Nabi Musa as. Tapi saya yakin tidak banyak orang tua yang semacam itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, jadilah kita harus ‘berjanji-janji’ bak politisi untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Sampaikan langkah-langkah Anda ke depan dalam memenuhi kebutuhan dasar sebuah pernikahan. Jika ada satu dua keluarga yang tulus membantu, terima dengan tangan terbuka tapi tidak dalam arti melenakan kita untuk mencari dengan keringat kita sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan lupa mengingatkan konsep ekonomi ‘Ketuhanan’ yaitu pernikahan adalah salah satu pintu-pintu rizki di muka bumi ini. Betapa banyak yang menjadi kaya dan bersemangat dalam berusaha saat di rumah telah ada bidadari yang memotivasi. Yakinkan para orang tua dengan ayat monumental tentang pernikahan dan rizki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيم &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.&lt;/i&gt; (QS An-Nuur 32) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelima : Menyampaikan bahwa Akhlak dan Agama adalah Prioritas Utama dalam mencari pasangan nantinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir, meyakinkan bahwa ‘calon mantu’ nanti adalah sosok yang terpilih karena keshalihan dan agamanya. Bukan sekedar tampan dan cantik karena ini bukan audisi model dan artis, bukan pula sekedar kaya raya karena ini bukanlah membuat perusahaan komersial. Tapi yang dicari adalah dua kriteria utama : Akhlak dan Agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu juga diingatkan pada para orangtua ini dua karakter ini sejak awal, jangan sampai mereka mengharapkan kriteria bermacam-macam yang barangkali justru tidak islami dan mempersulit anaknya dalam menemukan jodohnya. Cukuplah bagi para orangtua peringatan Rasulullah SAW dalam haditsnya : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; وروى الترمذي بإسناد حسن عن أبي حاتم المزني، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: &quot; إذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الارض وفساد كبير، &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;Dari Abu Hatim ra, Rasulullah SAW bersabda : “ Jika telah datang (melamar) padamu seorang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anakmu), jika engkau tidak melakukannya maka akan muncul fitnah di muka bumi ini dan kerusakan yang besar “&lt;/i&gt; ( HR Tirmidzi dengan sanad yang baik) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Akhirnya, masih banyak tahapan yang harus akhi/ukhti jalankan sebelum memasuki sebuah proses pernikahan. Akan ada hambatan, bahkan mungkin tangisan, tapi yakinlah itu semua akan semakin mendewasakan dan mengokohkan hati untuk menghadapi lebih banyak lagi tantangan usai pernikahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahu a’lam bisshowab&lt;/i&gt;. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk memahami apa yang kita kaji pagi ini, menjalankannya dengan sepenuh hati. Serta, -tentu saja- mendakwahkannya pada yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://islamedia.web.id/&quot;&gt;islamedia.web.id&lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/7542035388737066001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/7542035388737066001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/mewacanakan-nikah-pada-orangtua.html' title='Mewacanakan Nikah pada Orangtua'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-2717770425556842970</id><published>2011-02-21T16:45:00.000+07:00</published><updated>2011-02-21T16:45:01.261+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Tanggal Berapa Nabi Muhammad lahir?</title><content type='html'>Selama ini umat Islam di Indonesia pada tanggal 12 Rabiul Awal,banyak yang merayakan hari kelahiran beliau, atau menjadikan momentum perubahan kearah lebih baik dan juga sering disampaikan substansi perayaan Maulid Nabi, bahkan sampai-sampai tanggal 12 Rabiul Awal diliburkan oleh pemerintah. Jika kita sedikit bertanya atau menilik sejarah Rasul, sebenarnya tahu dari mana bahwa kapan rasul dilahirkan? Apakah memang ada hadits yang menjelaskannya atau dapat digunakan metode &lt;i&gt;ruyat &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;hisab &lt;/i&gt;dalam menghitung kelahiran Nabi Muhammad SAW, coba kita tilik sejarahnya yang dapat menambah wawasan, karena tanggal kelahiran ini sudah diperbincangkan oleh ulama-ulama masyhur terdahulu dan juga ulama-ulama zaman sekarang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sejarah Maulid Nabi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita ketahui dari dulu bahwa saat Rasul lahir, seorang raja bernama Abrahah ingin menghancurkan kabah pada Tahun Gajah karena tempat ibadahnya di Yaman sana “kalah laku”. Pada saat ini pula rasul lahir yang berarti menurut sejarah Rasul lahir pada Tahun Gajah. &lt;br /&gt;
Di antara dalil yang memperkuat kelahiran Nabi saw jatuh di Tahun Gajah ialah hadits yang diriwayatkan Ibnu Ishaq yang berkata, &lt;i&gt;“Muthallib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah bercerita kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya Qais bin Makhramah yang berkata, ‘Aku dan Rasulullah n dilahirkan di Tahun Gajah. Kami berusia sebaya’.”&lt;/i&gt; Dzahabi dalam &lt;i&gt;Tarikhul Islam&lt;/i&gt;, hal. 23, ia mengatakan, “Sanadnya baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil lain pada riwayat Ibnu Saad yang dinyatakan shahih,juga dalam buku sakti Ibnul Qayyim, &lt;i&gt;Zadul Ma’ad, &lt;/i&gt;dinyatakan bahwa tidak ada perselisihan ulama bahwa Rasulullah lahir di Tahun Gajah. Jadi tentunya para ulama sepakat bahwa Nabi dengan jelas lahir pada Tahun Gajah, dan Tahun gajah dapat diketahui pada tahun berapa sebenarnya Tahun Gajah dalam Masehi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bulan dan Hari Rasul Lahir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Ulama juga menyepakati bahwa Rasul lahir pada bulan Rabiul awal, dan hal ini didukung oleh banyak dalil. Dan bagaimana dengan hari Rasul lahir. Ternyata ada hadits yang menyebutkan dengan jelas bahwa beliau lahir pada hari senin. hadits riwayat Abu Qatadah bahwa Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu (pertama) kepadaku.” Dengan data seperti ini,dapat diketahui dan dihitung bahwa rasul lahir pada tahun berapa dan tanggalnya juga dengan berbagai metode membadingkan berbagai macam sumber. Sehingga para ulama pun dari dahulu sudah memberikan pendapat tentang tanggal lahirnya rasul. Coba kita lihat pendapat para ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Katsir menuturkan, “Ada yang mengatakan pada malam kedua bulan Rabi’ul Awwal.&lt;br /&gt;
Ini dinyatakan Ibnu Abdil Bar dalam &lt;i&gt;Al-Isti’ab&lt;/i&gt; dan diriwayatkan Waqidi dari Abu Ma’syar Najih bin Abdurrahman Al-Madani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada hari ke delapan bulan Rabi’ul Awwal. Pendapat ini diceritakan oleh Humaidi dari Ibnu Hazm dan diriwayatkan Malik, ‘Uqaili, Yunus bin Yazid dan lainnya dari Zuhri, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im. Abu Khaththab bin Dihyah dalam kitabnya At-Tanwir fi Maulidil Basyirin Nadzir menguatkan pendapat kedua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lagi yang mengatakan beliau lahir pada sepuluh Rabi’ul Awwal. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Ja’far Al-Baqir dan Mujalid dari Sya’bi.&lt;br /&gt;
Ada juga yang menyatakan bahawa beliau lahir tanggal 12 rabiul awal, ini ditegaskan Ibnu Ishaq dan diriwayatkan Abu Syaibah dalam &lt;i&gt;Mushannaf&lt;/i&gt;-nya dari ‘Affan, dari Sa’id bin Mina, dari Jabir dan Ibnu Abbas. Namun hadits ini &lt;i&gt;dhaif &lt;/i&gt;karena ada sanadnya yang terputus (oleh Ibnu Katsir dan juga dalam &lt;i&gt;Sirah Ibnu Hisyam&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat yang benar dari Ibnu Hazm adalah pendapat yang menyatakan Rasul lahir tanggal delapan Rabi’ul Awwal, sebagaimana diceritakan oleh Humaidi. Dan inilah yang paling kuat. ”Ibnu Katsir menyebutkan bahwa banyak pendapat yang tidak didukung oleh dalil shahih&quot;.(&lt;i&gt;Al Bidayah Wa-Al Nihayah&lt;/i&gt;, Ibnu Katsir, Azzam)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditengah beragam pendapat ini, ada baiknya kita melihat para pakar astronomi menilai pada hari senin di Tahun Gajah itu pada tanggal berapa? Banyak dari pakar yang menetapkan kelahiran beliau pada tanggal 9 atau malam ke-9 Rabi’ul Awwal. Di antaranya Ustadz Mahmud Basya (w. 1302 H) sebagaimana tertulis dalam catatan pinggir kitab &lt;i&gt;Al-Kamil fit Tarikh&lt;/i&gt;, I : 270, karya Ibnu Atsir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad Sulaim dalam bukunya &lt;i&gt;Taqwimul Azman fi Tahqiqi Maulidin Nabi&lt;/i&gt;, menyatakan sebagai berikut, “Diriwayatkan dalam kitab-kitab &lt;i&gt;tarikh &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;sirah &lt;/i&gt;bahwa Nabi saw. dilahirkan pada hari senin tanggal 10 Rabi’ul Awwal. Pendapat lain, tanggal 8 dan 12 Rabi’ul Awwal. Telah terbukti dari periwayatan yang shahih tanpa menyisakan keraguan bahwa beliau lahir pada 20 April 571 M (yang disebut juga sebagai Tahun Gajah). Juga telah terbukti melalui jalan periwayatan yang shahih bahwa hari wafat beliau jatuh pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriah yang bertepatan dengan 8 Juni 632 M.&lt;br /&gt;
Selama tanggal-tanggal ini telah terbukti benar dan diakui, maka hari lahir dan wafat beliau dapat diketahui secara tepat, termasuk usia beliau. Yakni dengan mengubah jumlah tahun Masehi tersebut menjadi hari, hasilnya adalah 22.330 hari. Kemudian jumlah hari ini diubah menjadi tahun Hijriah, di mana perhitungan selisih hari setiap tahunnya dengan hitungan tertentu dan didapat kesimpulan. Dengan demikian, usia beliau saw. adalah 63 tahun 3 hari. Hasil hitungan ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama bahwa permulaan tahun hijriah (1 Muharram 1 H) jatuh pada tanggal 16 Juli menurut &lt;i&gt;ru’yah&lt;/i&gt;, sedang menurut &lt;i&gt;hisab &lt;/i&gt;tanggal 15 Juli. Atas dasar ini, hari lahir Nabi saw. jatuh pada hari senin 9 Rabi’ul Awwal tahun 53 sebelum hijrah dan bertepatan dengan 20 April 571, baik menurut &lt;i&gt;ru’yah&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;hisab&lt;/i&gt;.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga pada Sirah Nabawiyah yang saat ini banyak beredar(Juara 1 Lomba penulisan sirah &lt;i&gt;rabitah Alam Al  Islami&lt;/i&gt; (Dewan Ulama Dunia) dari Syaikh Shayifurrahman Mubarakfury pun menuliskan bahwa 9 Rabiul awal merupakan lahirnya Muhammad SAW didukung dengan dalil-dalil tentang Tahun Gajah, runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi, dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah yang diketahui melalui hadits dan juga catatan sejarah.Dan juga menggabungkan penelitian ilmiah ahli-ahli astronomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang menarik ialah ketika perayaan Maulid sering dipaparkan, bahwa kita harus mempelajari &lt;i&gt;sirah &lt;/i&gt;Nabi. Dengan mempelajari &lt;i&gt;sirah &lt;/i&gt;dengan baik,maka akan menambah wawasan kita dan mengambil pelajaran dari sejarah. Bahwa kita harus sering mencari tahu, bahwa tidak semua yang kita ketahui memang benar, apalagi dalam hal sejarah. Sejarah memang tidak dapat dipastikan kebenarannya, tidak seperti periwayatan hadits shahih dan hasan yang dalam metodenya akan jelas sampai kepada orang yang meriwayatkannya pertama kali. Jika sejarah, riwayat-riwayatnya tidak dapat disusuri, namun dapat diteliti dengan catatan-catatan, juga peninggalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahu a&#39;lam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Rujukan:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Al Bidayah wa al Nihayah, Ibnu Katsir&lt;br /&gt;
Sirah Nabawiyah, Syaifurrahman Mubarakfury&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ma Sya’a wa lam Yatsbutu fi As-sirah An-Nabawiyyah, Muhammad bin Abdulah Al-Usyan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[fb/rl]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.islamedia.web.id/2011/02/tanggal-berapa-nabi-muhammad-lahir.html&quot;&gt;islamedia.web.id &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/2717770425556842970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/2717770425556842970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/tanggal-berapa-nabi-muhammad-lahir.html' title='Tanggal Berapa Nabi Muhammad lahir?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-9057588016570795767</id><published>2011-02-21T10:27:00.000+07:00</published><updated>2011-02-21T10:27:11.358+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Mewaspadai Rintangan Internal</title><content type='html'>&lt;i&gt;Oleh: M. Indra Kurniawan&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://komunikasi-indonesia.org/wp-content/uploads/2009/12/communicatioan-internal.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;http://komunikasi-indonesia.org/wp-content/uploads/2009/12/communicatioan-internal.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yusuf Qaradhawi dalam bukunya &lt;i&gt;al-Hall al-Islami: Faridhatun wa Dharuratun&lt;/i&gt;, menjelaskan tentang penghalang dan rintangan yang menjadi duri untuk mencapai sasaran dan tujuan gerakan perubahan. Ada banyak faktor. Salah satunya adala faktor internal, rintangan dari dalam komunitas pengemban perubahan itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qaradhawi menyebut rintangan yang timbul dari dalam pergerakan ini sebagai ‘&lt;i&gt;rintangan yang sangat berbahaya&lt;/i&gt;’ diantaranya adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, perbedaan pemahaman, sikap, tujuan, dan sebagainya, yang dapat menghancurkan bangunan kesatuan pemikiran dan perasaan, moral dan sikap pergerakan. Ini merupakan awal kegagalan dan keruntuhan, serta memberi jalan bagi musuh untuk menerobos serta menghancurkan dari dalam. Inilah yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar&lt;/i&gt;”(QS. Al-Anfal: 46) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pendiri gerakan Islam modern, Hasan Al-Banna, sering memperingatkan pengikutnya tentang perbedaan dan perpecahan, ia berkata: “Saya tidak mengkhawatirkan dari serangan musuh kalian, tetapi saya mengkhawatirkan sesuatu yang berasal dari diri kalian sendiri. Saya tidak mengkhawatirkan kalian dari serangan bangsa Inggris, tidak pula Amerika, Rusia dan lainnya. Saya hanya khawatir dalam diri kalian ada dua perkara: Pertama, jiwa yang kosong dari mengingat Allah, sehingga Allah menjauhi kalian. Kedua,kalian berpecah belah tentang urusan yang ada pada kalian. Janganlah kalian bersepakat, kecuali setelah hilangnya kesempatan untuk berselisih.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, cinta pada dunia. Cinta pada dunia akan membuka lorong-lorong setan jin dan manusia. Mereka akan menerobos ke dalam hati para juru dakwah, lalu memasukkan mereka ke dalam permainan jabatan dan kesibukan mencari dunia. Ini adalah penyakit &lt;i&gt;wahn &lt;/i&gt;yang dapat melemahkan setiap individu dan umat. Inilah yang diperingatkan Rasulullah saw, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah bersabda: “Akan datang suatu masa kepada kalian dimana bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian layaknya memperebutkan makanan yang dihidangkan.”  Ditanya Rasulullah: “Apakah jumlah kita pada saat itu sedikit Ya rasulullah?”, Rasulullah menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak, akan tetapi banyaknya kalian seperti buih di lautan, dan telah tertanam dalam diri kalian al-wahn (kelemahan).” Ditanya lagi Nabi saw: “Apakah al-wahn itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, cinta pujian atau gila popularitas. Maksudnya adalah senang unjuk diri dan menampakan kekuatan. Qaradhawi mengatakan, anggota gerakan Islam yang seperti ini tidak akan mau bergerak kecuali ditempatkan di bagian inti atau di barisan terdepan. Ia bergerak untuk mencari ketenaran dan sanjungan. Ini adalah malapetaka bagi gerakan perubahan. Seharusnya siapapun menyadari, kadangkala orang yang berambut kusut dan usang serta tidak memperhatikan dirinya sendiri lebih mulia menurut Allah, karena kebaikan-kebaikan yang dilakukannya dengan ikhlas. Kemenangan seringkali dapat diraih berkat bantuan prajurit yang tidak dikenal publik. Rasulullah bersabda, “Bahwasanya Allah SWT mencintai orang yang senantiasa berbuat baik, bertaqwa, dan bersembunyi dalam kebaikannya. Jika hadir, mereka tidak diketahui, jika tidak hadir, orang-orang tidak merasa kehilangan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, memisahkan diri dari masyarakat (bersikap eksklusif). Penyakit ini jelas menjadi rintangan besar bagi proyek perubahan. Antara aktivis dengan masyarakat seolah ada dinding pemisah. Hal ini menyebabkan masyarakat selalu curiga dan menganggap kaum pergerakan sebagai kelompok sesat dan merusak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kelima&lt;/i&gt;, sikap jumud. Maksudnya adalah mematenkan satu metode dalam pergerakan dakwah, padahal metode itu sudah melemah pengaruhnya. Seharusnya sebuah gerakan dakwah mampu bersikap fleksibel dalam menggunakan sarana, &lt;i&gt;uslub&lt;/i&gt;, dan bentuk dakwah, karena sikap fleksibel merupakan bukti semangat, segarnya pemikiran, keluasan wawasan, dan kelapangan jiwa. Inilah yang mampu melawan dan memperdaya musuh-musuh dakwah. Metode dan uslub harus sesuai dengan perkembangan zaman, tentu saja dengan tetap memperhatikan nash dan kaidah-kaidah Islam. Dunia telah berubah, kehidupan telah berkembang, dan sesuatu yang ada pada zaman dahulu tidaklah selalu sesuai dengan apa yang ada sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://intimagazine.wordpress.com/2010/05/09/mewaspadai-rintangan-internal/&quot;&gt;intimagazine.wordpress.com &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/9057588016570795767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/9057588016570795767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/mewaspadai-rintangan-internal.html' title='Mewaspadai Rintangan Internal'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-4045336987556221379</id><published>2011-02-21T09:53:00.000+07:00</published><updated>2011-02-21T09:53:17.420+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sorotan"/><title type='text'>Hukum Beli Darah di PMI</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://images.clipartof.com/small/20026-Clipart-Picture-Of-A-Blood-Drop-Mascot-Cartoon-Character-Holding-A-Dollar-Bill.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;313&quot; src=&quot;http://images.clipartof.com/small/20026-Clipart-Picture-Of-A-Blood-Drop-Mascot-Cartoon-Character-Holding-A-Dollar-Bill.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Gambar dari clipartof.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِى جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ اشْتَرَى غُلاَمًا حَجَّامًا فَقَالَ إِنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ ، وَثَمَنِ الْكَلْبِ ، وَكَسْبِ الْبَغِىِّ ، وَلَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَالْمُصَوِّرَ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dari Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya, Abu Juhaifah, bahwasanya beliau membeli seorang budak laki-laki yang memiliki keterampilan membekam. Abu Juhaifah mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam melarang pendapatan dari darah, pendapatan dari jual beli anjing, dan penghasilan pelacur. Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam juga melaknat pemakan riba, nasabah riba, orang yang menato, orang yang minta ditato, dan orang yang membuat patung atau gambar yang terlarang&lt;/i&gt;. (HR. Bukhari, no. 5617) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadis di atas merupakan salah satu dalil tegas yang menunjukkan haramnya pendapatan yang didapat dari darah. Pendapatan dari darah ini mencakup: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Upah yang didapatkan oleh tukang bekam karena membekam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jual beli darah untuk tujuan konsumsi. Di sebagian warung angkringkan, dijumpai “didih” (darah yang digoreng) yang diperjualbelikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jual beli darah manusia. Sebagian tukang becak yang mangkal di sebagian rumah sakit merupakan contoh orang yang menjadikan kegiatan “menjual darah” sebagai profesi mereka. Setiap beberapa bulan sekali, mereka mendonorkan darahnya dengan upah sejumlah uang tertentu. Ini termasuk jual beli darah yang merupakan perkara haram menurut semua ulama, sebagaimana penuturan Ibnu Abdil Bar Al-Maliki. Demikian pula, termasuk jual beli darah adalah sikap sebagian orang yang tidak mau mendonorkan darahnya kepada orang yang membutuhkannya karena keperluan operasi atau lainnya, kecuali dengan upah tertentu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, donor darah dengan upah sejumlah uang tertentu adalah suatu hal yang haram. Sedangkan, donor darah secara suka rela tanpa imbalan apa pun adalah amal kebajikan yang berpahala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan, “Apakah donor darah itu berpahala? Apakah donor darah itu termasuk dalam firman Allah (yang artinya), &#39;&lt;i&gt;Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia, semuanya.&lt;/i&gt;&#39; (QS. Al-Maidah:32)? Berilah kami pencerahan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Syekh Abdullah Al-Jibrin, “Donor darah itu tidaklah terkenal di masa silam. Oleh karenanya, para dokter masa silam dan orang-orang terdahulu tidak pernah menyebut-nyebut metode pengobatan dengan “memasukkan darah ke saluran darah”. Donor darah hanya dijumpai dalam metode pengobatan modern. Tidaklah diragukan bahwa doroh darah adalah sebuah metode yang memiliki pengaruh dan manfaat serta mempengaruhi kondisi si sakit. Karenanya, donor darah adalah metode pengobatan yang diperbolehkan dan terkenal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah diragukan bahwa orang yang mendonorkan sebagian darahnya yang berlebih, tanpa membahayakan tubuhnya, untuk menyelamatkan orang yang sakit keras dan menjadi sebab hilang atau berkurangnya penyakit, adalah suatu amal yang berpahala jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata. Boleh jadi, donor darah termasuk dalam ayat di atas, dengan syarat terwujudnya kesembuhan atau tidak sangat tergantung dengan donor darah tersebut, jika Allah mengizinkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak ulama terdahulu yang berfatwa melarang pengobatan dengan darah, dengan alasan, darah itu najis sehingga haram dimasukkan ke dalam tubuh, ditambah lagi adanya hadis yang mengatakan bahwa Allah tidaklah meletakkan kesembuhan umat Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam hal yang haram. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, dengan menimbang bahwa manfaat donor darah adalah suatu yang terbukti, terlebih lagi bahwa dokter yang menangani pasien yang membutuhkan tambahan darah tidaklah bersentuhan langsung dengan darah, sehingga para ulama generasi belakangan menganjurkan donor darah. Mereka membolehkan dengan alasan “darurat”, atau dengan alasan bahwa pengobatan dengan donor darah adalah cara pengobatan yang bermanfaat dengan sesuatu yang belum jelas keharamannya.” (&lt;i&gt;Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fi Al-Masail Ath-Thibbiyyah, juz 2, hlm. 23&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walhasil, jika kesembuhan seseorang dari penyakit yang mengancam jiwanya itu sangat tergantung dengan adanya tambahan darah maka donor darah termasuk dalam QS. Al-Maidah: 32. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kondisi tertentu, seorang yang sangat membutuhkan tambahan darah itu tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan membeli kantong darah di PMI (Palang Merah Indonesia), misalnya. Dengan alasan ini, apakah kita boleh membeli kantong darah di PMI? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya, “Jika seseorang berada dalam kondisi tidak bisa mendapatkan darah kecuali dengan membelinya, maka membeli darah itu tidaklah mengapa, dengan alasan kondisi darurat. Yang berdosa hanyalah orang yang menjualnya dan memakan hasilnya.” (&lt;i&gt;Tamam Al-Minnah fi Fiqh Al-Kitab wa Shahih As-Sunnah, jilid 3, hlm. 302&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.pengusahamuslim.com/baca/artikel/1082/beli-darah-di-pmi&quot;&gt;www.pengusahamuslim.com &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4045336987556221379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4045336987556221379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/02/hukum-beli-darah-di-pmi.html' title='Hukum Beli Darah di PMI'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-7596105334540520095</id><published>2011-01-19T08:42:00.000+07:00</published><updated>2011-01-19T08:42:48.147+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan"/><title type='text'>[Ruhaniyat Tarbawi] Hingga Titik Akhir Perjalanan</title><content type='html'>Saudaraku, renungkanlah...&lt;br /&gt;
Saat ini kita berada di awal tahun. Ketika kita baru saja mengiringi kepergian satu tahun berlalu. Bagaimana Allah SWT menghadiahkan ampunan begitu besar terkait perilaku salah yang sudah kita lakukan dalam rentang satu tahun yang lalu. Mengapa begitu luar biasa Allah SWT menghamparkan pahala ampunan itu? Disaat kita baru mengawali tahun yang berbeda. Disaat kita baru saja melepas tahun yang telah lewat. Apa hikmah yang ada di balik limpahan maghfirah yang Allah berikan di awal tahun seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku,&lt;br /&gt;
Barangkali di antara hikmahnya adalah Allah SWT memang hendak mengajak kita mengingat-ingat dan menghitung lebih teliti tentang jarak kekeliruan yang kita lakukan selama 12 bulan lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku, marilah kita bertafakur sekarang...&lt;br /&gt;
Tahukah kita bila dalam satu tahun lalu kita melakukan shalat wajib lebih dari 1700 kali? Lalu beberapa banyak shalat-shalat itu, yang kita lakukan dengan khusyuk? Berapa banyak dari shalat-shalat itu yang kita tunaikan di awal waktu, sesuai anjuran Rasulullah SAW? Berapa banyak dari shalat-shalat itu yang kita lakukan dengan berjama&#39;ah di masjid?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rentang satu tahun kemarin, kita telah melewati lebih dari 50 hari Senin, 50 hari Kamis, 30 kali hari-hari ayyamul bidh atau hari-hari putih selama tiga hari di pertengahan bulan yang kita disunnahkan untuk berpuasa. Berapa jauh jarak yang telah kita buat yang bisa menjauhkan antara wajah kita dari api neraka? Karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, &quot;&lt;i&gt;Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali karena puasanya itu Allah akan menjauhkan antara wajahnya dengan api neraka sepanjang 70 tahun&lt;/i&gt;.&quot; (HR. Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terpikirkankah oleh kita, bila selama rentang waktu satu tahun kemarin, matahari telah terbit mengunjungi kita sebanyak 350 kali? Sementara Rasulullah SAW bersabda, &quot;&lt;i&gt;Setiap persendian manusia harus ditunaikan shadaqah-nya, setiap hari, setiap terbit di dalamnya matahari…&lt;/i&gt;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku, semoga Allah menghimpun kita dalam surganya...&lt;br /&gt;
Apakah kita telah membaca Al-Qur&#39;an dengan tadabbur 12 kali khatam dalam 12 bulan itu? Atau paling minimal 6 kali dalam satu tahun? Jika tidak, mungkin kita patut khawatir termasuk dalam kelompok orang-orang yang dikeluhkan Rasulullah SAW kepada Allah SWT di hari kiamat. Ketika ia berkata, &quot;Y&lt;i&gt;a Rabb, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur&#39;an sebagai sesuatu yang dijauhkan...&lt;/i&gt;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku,&lt;br /&gt;
Tahukah kita apa yang bisa dilakukan dalam satu menit hidup ini? Kita bisa membaca surat Al-Fatihah minimal 4 kali. Dan artinya kita memperoleh lebih dari 5000 kebaikan. Kita bisa membaca surat Al-Ikhlash 9 kali. Satu surat Al-ikhlash sama dengan sepertiga Al-Qur&#39;an. Kita bisa membaca satu halaman Al-Qur&#39;an atau menghafal satu surat pendek dari Al-Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa mengatakan&lt;i&gt; laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syariikala lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa&#39;aala kulli syai&#39;in qadiir&lt;/i&gt; 10 kali. Pahala melakukannya sama seperti memerdekakan 4 orang budak. Kita bisa mengucapkan &lt;i&gt;subhanallaah wabihamdihi&lt;/i&gt; 50 kali. Dan dengan menyempurnakannya menjadi 100 kali, maka dosa-dosa kita akan diampuni Allah SWT meski sebanyak buih di laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa mengucapkan &lt;i&gt;subhanallaah wa bihamdihi, subhanallaahil azhiim&lt;/i&gt; 20 kali. Itulah dua kalimat yang ringan diucapkan lisan tapi berat timbangannya disisi Allah SWT. Kita bisa mengatakan &lt;i&gt;subhanallaah, alhamdulillaah, laa ilaaha illallaah, allaahu akbar&lt;/i&gt;, minimal 15 kali. Itulah kalimat paling dicintai Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa mengatakan &lt;i&gt;laa ilaaha illallaah&lt;/i&gt; 45 kali. Kalimat paling mulia dan barang siapa yang perkataan terakhirnya&lt;i&gt; laa ilaaha illallaah&lt;/i&gt;, ia pasti masuk surga. Kita bisa berdzikir dengan mengucapkan astaghfirullaah sebanyak 70 kali. Perkataan itu yang akan menyebabkan turunnya ampunan, masuknya seseorang ke dalam surga, menolak bencana, menambah rezeki, mempermudah semua urusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW sebanyak 20 kali, lalu malaikat bershalawat kepada kita 200 kali. Kita bisa bertafakur terhadap penciptaan langit dan bumi lalu kita menjadi kelompok ulil albaab yang dipuji oleh Allah dalam Al-Qur&#39;an. Kita bisa membaca buku yang bermanfaat sehingga ilmu kita bertambah dan menjadi penerang jalan menuju surga. Kita bisa mengajak orang lain pada kebaikan, bisa mencegahnya dari kemungkaran, bisa tersenyum yang bernilai shadaqah, bisa meringankan beban orang lain, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku,&lt;br /&gt;
Kita terus menerus berada di antara perguliran waktu yang tidak pernah berhenti. Tapi mungkin kita jarang yang menyadari pergulirannya, kecuali di saat-saat tertentu seperti saat ini. Rasakanlah bagaimana perguliran detik demi detik. Pertambahan menit demi menit. Jam demi jam. Perjalanan hari demi hari. Bulan demi bulan. Hingga tahun berganti tahun. Dan kita sampai di detik, menit, jam, hari, bulan, tahun ini. Apa yang harus kita lakukan pada detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku,&lt;br /&gt;
Jangan biarkan waktu demi waktu bertambah, tapi tidak membawa kita pada titik surga. Sebab, itulah sesungguhnya akhir perguliran waktu hidup kita. Itulah titik akhir perjalanan waktu. Karena setelahnya, detik, menit, jam, hari, bulan, tahun tidak pernah ada dan tak pernah berarti lagi.</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/7596105334540520095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/7596105334540520095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/ruhaniyat-tarbawi-hingga-titik-akhir.html' title='[Ruhaniyat Tarbawi] Hingga Titik Akhir Perjalanan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-7392040869965457198</id><published>2011-01-19T07:55:00.000+07:00</published><updated>2011-01-19T07:55:46.989+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="palestina"/><title type='text'>Masya Allah, Israel akan Bangun Tembok Ratapan di Kawasan Muslim</title><content type='html'>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://static.republika.co.id/images/yahudi_ortodok_melintas_di_kawasan_permukiman_muslim_di_al_110118154321.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;231&quot; src=&quot;http://static.republika.co.id/images/yahudi_ortodok_melintas_di_kawasan_permukiman_muslim_di_al_110118154321.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Yahudi Ortodok melintas di kawasan permukiman Muslim di Al Quds (Jerusalem)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://static.republika.co.id/images/tembok_ratapan_barat_110118154619.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;231&quot; src=&quot;http://static.republika.co.id/images/tembok_ratapan_barat_110118154619.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Tembok Ratapan Barat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Ulah terbaru Israel memicu lagi kemarahan rakyat Palestina. Negara itu berencana membuka tempat Ibadah baru bagi Yahudi di jantung kota Jerusalem, tepatnya di bagian pemukiman Muslim di Kota Tua Al Quds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pejabat Kota baru-baru ini memerintahkan pemindahan struktur penopang yang digunakan sebagai pendukung lorong-lorong di bawah rumah-rumah penduduk Palestina. Pembersihan itu memungkinkan penganut Yahudi untuk beribadah di lokasi yang tepatnya berada kurang dari seratus meter di utara Tembok Ratapan Barat, salah satu situs Yudaisme paling sakral sekaligus ramai dikunjungi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waqf, yang memantau dan mengelola administrasi tempat-tempat suci Islam di Jerusalem Timur, menyatakan mengancam mengeluarkan respon keras jika Israel nekad memfungsikan tempat ibadah baru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Palestina menganggap Jerusalem Timur atau Al Quds sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Mereka memandang ulah tersebut adalah upaya dan klaim Israel yang sejak lama ingin mencaplok tempat-tempat suci itu dari Muslim Palestina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat ibadah baru itu memang sengaja diletakkan di area Muslim yang dikelilingi rumah-rumah Palestina. Jalan itu dulu kerap digunakan oleh Yahudi Ultra-Orthodoks, hingga menyebabkan ketegangan di Kota Tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan rencana pembangunan tempat ibadah baru bagi Yahudi, penduduk Palestina pun kerap melaporkan adanya ancaman dan bahkan diminta meninggalkan rumah dan toko-toko mereka ketika para Yahudi datang untuk beribadah di lingkungan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal ada 17 keluarga yang tinggal dalam lingkup area tersebut. Salah satu warga Palestina, Khadir, mengatakan tempat ibadah Yahudi di lingkungan penduduk Palestina tidak bisa diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 1971, Israel pernah membangun terowongan bawah tanah pertama di bawah masjid Al Aqs hingga menyebabkan banyak bangunan milik warga Palestina hampir rubuh. Israel kemudian membangun struktur penopang untuk mencegah bangunan-bangunan itu ambruk, namun kini mereka memutuskan untuk menghilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Israel memang belum menyatakan tembok di ruang terbuka kecil di sisi barat itu sebagai tempat suci. Namun, terlepas dari keberatan penduduk Palestina, organisasi Yahudi ultrakanan, Ateret Cohanim, telah menuntut agar area itu dibersihkan dan penopang dihilangkan demi menyediakan ruang untuk beribadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah itu tentu sangat sulit. Mengingat Israel terus menggerogoti tanah Palestina, rakyat Palestina pun menyatakan akan terus memperjuangkan kawasan yang tersisa sekaligus situs Islam paling suci ketiga, Masjid Al Aqsa. Bersamaan dengan itu militer Israel melaporkan lewat radio bahwa konstruksi sekitar 1.400 hunian di dekat kawasan Gilo, pinggiran bagian selatan Yerusalem Timur hendak disahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seumber : &lt;a href=&quot;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/01/18/159242-masya-allah-israel-akan-bangun-tembok-ratapan-di-permukiman-palestina&quot;&gt;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/01/18/159242-masya-allah-israel-akan-bangun-tembok-ratapan-di-permukiman-palestina&lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/7392040869965457198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/7392040869965457198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/masya-allah-israel-akan-bangun-tembok.html' title='Masya Allah, Israel akan Bangun Tembok Ratapan di Kawasan Muslim'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-5994301195072928443</id><published>2011-01-19T07:51:00.001+07:00</published><updated>2011-01-19T07:53:11.435+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Pinisi ke Gaza Kurang Dana</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;Sebuah kisah menyebutkan bahwa kapal Pinisi sudah digunakan pelaut Sulawesi untuk mengarungi lautan hingga ke daratan Afrika sejak berabad lampau. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo yang disusun abad ke-14, Pinisi pertama dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu, untuk berlayar menuju negeri Tiongkok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuannya adalah meminang putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Pinisi dikenal sebagai kapal layar tradisional yang mampu membelah samudra ganas. Meskipun terbuat dari kayu, namun fondasi dan rangka induk dari kapal tersebut dirancang dengan sangat kuat untuk pelayaran jarak jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekuatannya tidak kalah dengan kapal-kapal Eropa milik Christopher Colombus yang menyeberangi Atlantik hingga menemukan Benua Amerika. Ketangguhan Pinisi inilah yang akan dipinjam oleh para relawan Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee) untuk kembali menjalankan misi menembus blokade Gaza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kita punya rencana untuk berlayar dari Indonesia ke Gaza. Kita coba cari Pinisi,&quot; kata Relawan Mer-C Joserizal Jurnalis di Jakarta, pekan lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) yang berisi kapal-kapal pengangkut bantuan untuk menembus blokade Israel atas perairan wilayah Gaza di Palestina, akan kembali digerakkan para relawan dunia pada akhir Mei 2011 nanti, tepat setahun setelah upaya enam kapal Freedom Flotilla I menembus perairan Gaza Mei 2010 lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serangan pasukan elite Israel atas kapal-kapal Freedom Flotilla I mengakibatkan tewasnya sembilan aktivis perdamaian di atas kapal feri Mavi Marmara yang disewa LSM IHH dari Turki. Kecaman keras dunia terhadap Israel membuat blokade atas Gaza sedikit melonggar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, untuk kedua kalinya, pelayaran untuk pembebasan Gaza akan kembali dilakukan. Kali ini dalam armada lebih besar, bisa mencapai puluhan kapal. Jika sebelumnya relawan Indonesia menumpang kapal relawan negara lain, kali ini ketangguhan Pinisi akan coba dijajal untuk mengarungi lautan menuju Gaza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kendala klasik masih menghadang. &quot;Kita sudah jajaki perahu Pinisinya. Kalau duitnya ada kita langsung bergerak. Kita masih terkendala dana. Saat ini baru terkumpul Rp 2 miliar,&quot; kata Joserizal. Untuk bisa berlayar dengan menggunakan Pinisi untuk mengangkut bantuan ke Gaza, Mer-C membutuhkan dana sekitar Rp 5 miliar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duit sebesar itu hanya cukup digunakan untuk pelayaran sekali jalan saja. &quot;One way ticket,&quot; ujar Joserizal. Para peserta yang nantinya bergabung dalam Pinisi tersebut harus siap dengan segala risiko. Termasuk nasib mereka untuk bisa pulang kembali ke Tanah Air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penumpang armada Freedom Flotilla I diekstradisi Pemerintah Israel baik langsung maupun tak langsung. Relawan dari Indonesia saat itu ada yang diekstradisi melalui Turki dan Yordania.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perhitungan Joserizal, pelayaran dari Indonesia menuju Gaza membutuhkan waktu sekitar 45 hari. Jalur yang akan dipakai dimulai dari Jakarta, kapal kemudian berlayar menyusuri Samudra Hindia di selatan India hingga menuju ke perairan Somalia. Nah, di sinilah mereka harus waspada mengingat kawasan ini paling rawan bajak laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila lancar, kapal kemudian menyusuri tanduk Afrika ke utara masuk Laut Merah sampai Terusan Suez. Setelah melalui Terusan Suez, Pinisi akan berkumpul dengan puluhan kapal dari berbagai negara untuk membentuk armada kemanusiaan di dekat perairan Gaza, di bagian timur dari Laut Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guna menjaring para relawan, Mer-C merangkul organisasi pecinta alam Wanadri yang akan membantu menyiapkan fisik dan mental relawan dalam menghadapi segala situasi di atas kapal. Pada misi pelayaran ini, relawan Indonesia akan membawa bantuan untuk warga Gaza dan bahan bantuan untuk proyek pembangunan rumah sakit di Gaza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah sakit merupakan salah satu proyek nyata relawan Indonesia dan pihak Kementerian Kesehatan Palestina. Rumah sakit yang rencananya dibangun dua lantai itu akan sangat membantu warga Gaza bila kembali terjadi agresi militer Israel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada misi Freedom Flotilla tahun 2010, beberapa bahan bangunan sebenarnya sempat dibawa oleh para relawan. Namun, karena insiden kapal Mavi Marmara, bahan bangunan yang sedianya untuk peletakan batu pertama itu tertahan. Proses pengiriman kemudian diubah melalui jalur darat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini semua persiapan terkait pembangunan rumah sakit itu sudah rampung. Sebanyak lima orang relawan sudah berada di Gaza untuk mengawasi proyek tersebut. Mereka akan disusul oleh tim teknis pada Februari nanti. Bulan ini Kementerian Kesehatan Palestina tinggal melakukan tender untuk menentukan kontraktor yang akan membangun rumah sakit itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan kapal akan sangat memudahkan untuk membawa bahan bangunan. Akan tetapi, jika dana tidak mencukupi, para relawan ini memilih untuk kembali mengambil jalur darat dengan konsekuensi bahan bangunan yang dibawa jauh lebih sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak 2007, Israel menerapkan blokade dengan ru mus matematika tertentu yang membatasi arus barang kebutuhan pokok bagi 1,3 juta warga Gaza tetap bisa masuk dengan kuantitas yang tepat sesuai yang diinginkan Israel, tak lebih dan tak kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aturan untuk impor barang disusun sesuai keputusan kabinet yang membatasi kuantitas dan tipe barang tertentu masuk ke Gaza,” kata dokumen rahasia Israel yang dirilis awal bulan ini seperti dikutip Harian Haaretz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumus itu memberikan batas atas bagi produk yang kemungkinan jumlahnya surplus dan batas bawah bagi produk yang kemungkinan jumlahnya minus. Seorang pejabat senior COGAT mengatakan bahwa batas atas praktis tak pernah terpakai. Ini berarti Gaza memang benar-benar tak pernah menikmati kelebihan bahan pokok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://koran.republika.co.id/koran/14/127357/Pinisi_ke_Gaza_Kurang_Dana&quot;&gt;http://koran.republika.co.id/koran/14/127357/Pinisi_ke_Gaza_Kurang_Dana &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/5994301195072928443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/5994301195072928443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/pinisi-ke-gaza-kurang-dana.html' title='Pinisi ke Gaza Kurang Dana'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-823958181931239572</id><published>2011-01-19T07:45:00.002+07:00</published><updated>2011-01-19T07:45:36.249+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Perumusan UU KUB Harus Gunakan Pendekatan Agama</title><content type='html'>Rencana penyusunan undang-undang kerukunan umat beragama (KUB) harus menggunakan pendekatan agama dan meminimalisir pendekatan politik. Sebab, pendekatan agama dan politik mempunyai landasan filosofi yang berbeda. Demikian disampaikan oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama (Kemenag), Abdul Fatah.”Pendekatan agama mengedepankan moral sedangkan politik lebih memggunakan logika kepentingan karena itu harus diminimalisir dan ,”kata dia kepada Republika di Jakarta, Selasa (18/1) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian diakui, papar Abdul, peran politik tidak bisa dinafikan guna melegalkan sebuah regulasi apalagi rencana perumusan UU KUB adalah inisiatitf DPR sebagai langkah penguatan KUB di Indonesia. Keberadaan UU KUB dianggap sangat mendesak terlebih bagi para aparat penegak hukum agar mempunyai pedoman dan acuan yang lebih kuat. Diharapkan, UU KUB itu nantinya menjadikan Peraturan Bersama Menteri PBM sebagai rujukan utama karena sejumlah aturan-aturan yang tertuang di dalamnya merupakan kesepakatan para pemuka agama yang tergabung dalam majelis agama masing-masing.”Posisi pemerintah saat itu hanya sebagai fasilitator,”kata dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paling penting, dikatakan Abdul, perumusan UU KUB harus didasari dengan semangat kebersamaan dan saling mempercayai antarpemeluk, pemuka, dan majelis agama. Kepercayaan dan kebersamaan merupakan modal penting untuk membina KUB. Tanpa kedua hal tersebut, sulit untuk menjaga keharmonisan dan komunikasi antarumat beragama di Tanah Air. Pasalnya, kepercayaan dan kebersamaan rentan terkikis oleh berbagai problematika tidak hanya terkait agama tetapi menyangkut pula ekonomi, sosial, budaya, dan politik.“Kalau semangat saling percaya merasa bersama-sama saya kira baru rukun namanya,”papar dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggota Komisi VIII DPR-RI dari F PDIP, Zainun Ahmadi, mengungkapkan pembahasan RUU KUB menjadi salah satu program legislasi nasional (prolegnas) DPR-RI di komisi VIII. Bahkan, RUU KUB menduduki prioritas bahasan utama di DPR-RI yang harus selesai di tahun 2011. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zainun menjelaskan, percepatan pembahasan ini dilatarbelakangi oleh maraknya berbagai peristiwa yang mencoreng keharmonisan dan kerukunan di sepanjang tahun 2010 silam. Apalagi, ditengari persoalan tersebut muncul akibat ketidakpatuhan sebagian umat pada PBM tersebut. Terutama permasalahan menyangkut pendirian rumah ibadat. “Padahal jika dibandingkan dengan pendirian rumah ibadah agama lain, rumah ibadah umat Islam jauh lebih rendah pertumbuhannya,”kata dia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zainun menilai regulasi yang ada sekarang sudah cukup bagus. Tinggal masalahnya ditingkatkan lagi menjadi aturan yang kuat dan mengikat semua pihak. Karenanya, perumusan UU KUB akan mengadopsi materi-materi PMB selain diperkuat dengan fakta dan kebutuhan yang berkembagan di masyarakat. Kehadiran UU KUB kelak bukan berarti membatasi kebebasan menjalankan ibadah tetapi justru memberikan hak menjalankan ibadah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
UU KUB ditambahkan Zainun, akan memperkuat pula etika dan tatakrama melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Tanpa mencederai perasaan dan merusak keharmonisan umat beragama. Sehingga diharapkan, ke depan UU KUB akan mampu mengurangi gesekan-gesekan antarumat beragama dan menjaga kerukunan agar tetap utuh baik antarumat seagama ataupun dengan pemeluk agama lain. “Gesekan-gesekan karena persoalan rumah ibadah dan etika beribadah akan bisa terkurangi dengan regulasi yang kuat dan mengikat,”ungkap dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/01/18/159280-perumusan-uu-kub-harus-gunakan-pendekatan-agama&quot;&gt;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/11/01/18/159280-perumusan-uu-kub-harus-gunakan-pendekatan-agama &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/823958181931239572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/823958181931239572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/perumusan-uu-kub-harus-gunakan.html' title='Perumusan UU KUB Harus Gunakan Pendekatan Agama'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-205434464744995166</id><published>2011-01-19T07:42:00.000+07:00</published><updated>2011-01-19T07:42:26.298+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="palestina"/><title type='text'>Tank-tank Israel serbu Jalur Gaza</title><content type='html'>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://wscdn.bbc.co.uk/worldservice/assets/images/2011/01/18/110118160501_palestinian_militant_466x262_reuters.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;179&quot; src=&quot;http://wscdn.bbc.co.uk/worldservice/assets/images/2011/01/18/110118160501_palestinian_militant_466x262_reuters.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Militan Palestina menghadiri pemakaman seorang warga yang tewas ditembak tank Israel&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;Tank-tank Israel kembali memasuki Jalur Gaza, memicu pertempuran yang menewaskan seorang Palestina dan melukai dua lainnya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kantor berita AFP melaporkan, tujuh tank menyerbu sampai sedalam 200 meter di wilayah Palestina hari Selasa yang kemudian memicu penembakan dari kelompok militan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laporan lain menyebutkan kendaraan lapis baja dan buldozer juga terlibat dalam penyerbuan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juru bicara Hamas Adham Abu Salmiya mengatakan Amjad al-Zaanein (23 tahun) tewas oleh tembakan tentara Israel di sebelah timur Beith Hanoun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warga Palestina mengatakan korban sedang mengumpulkan batu untuk dijadikan bata saat mereka ditembaki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Militer Israel tidak memberikan komentar atas penembakan tank itu namun menyatakan militan Gaza menembak empat kali ke arah Israel Selasa pagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekerasan lintas perbatasan meningkat dalam beberapa pekan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hamas, kelompok Islam yang menguasai Gaza, mengimbau agar tenang serta mendesak faksi militan menghentikan serangan terhadap Israel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua tahun lalu perang di Gaza menewaskan 1.300 orang Palestina dan 13 orang Israel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/01/110118_israelgaza.shtml&quot;&gt;http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/01/110118_israelgaza.shtml &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/205434464744995166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/205434464744995166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/tank-tank-israel-serbu-jalur-gaza.html' title='Tank-tank Israel serbu Jalur Gaza'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-2519643973489726449</id><published>2011-01-18T11:59:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T11:59:05.826+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan"/><title type='text'>Menggapai Keseimbangan Hidup</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;i&gt;&quot;Betapa sulitnya melanggengkan qiyamullail sambil pula mewujudkan sifat wara’ dan tetap menggeluti dunia ilmu dengan mengarang, menulis dan berkreasi. Betapa menyesalnya ketika aku tidak mampu menyempatkan diri berkhalwat menyendiri bermunajat kepada Allah karena disibukkan oleh urusan mengajar dan berbaur dengan sesama manusia. Betapa lemahnya sifat wara’ ketika dicampuri dengan mencari nafkah untuk keluarga. Padahal aku telah merelakan tersiksa karenanya ...” &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia menjalani hidup dengan berbagai kecenderungan dan hasrat. Keduanya merupakan &lt;i&gt;software &lt;/i&gt;penting bagi manusia yang telah dianugerahkan oleh Allah swt. Pertanggung jawaban amal manusia di hari akhir, sangat berhubungan erat dengan benar atau tidaknya ia mengarahkan kecenderungan dan hasrat itu. Ketika kecenderungan dan hasrat – atau apapun dengan bahasa yang serupa dengan keduanya – itu hilang dalam diri manusia, maka saat itu pula ia berubah menjadi robot. Setiap orang tentu memiliki cita-cita dan tujuan hidup masing-masing dan ia akan berusaha memenuhi dan mewujudkan cita-cita dan tujuan hidup itu. Apapun motifnya baik yang mengharapkan ridho Allah maupun yang mencintai dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupun kalimat diatas. Kalimat tersebut secara implisit menunjukkan betapa pentingnya menyeimbangkan antara berbagai kecenderungan dalam diri. Seorang ulama salaf shaleh terkemuka, Imam Ibnu Jauzi dalam buku “&lt;i&gt;Shaidul Khatir&lt;/i&gt;” mengungkapkan hal tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi seorang muslim, kecenderungan-kecenderungan ke arah kebaikan tumbuh menjamur seiring berkembangnya pemahaman terhadap Islam. “Cita-citaku adalah keinginan hidup yang tidak terbatas.”, begitu Imam Hasan Al Banna menggambarkan tingginya cita-cita seorang Muslim, baik terhadap diri, ummat dan dien Islam tercinta. Namun tentu cita-cita, kecenderungan dan hasrat tadi harus mampu direalisasi secara adil, proporsional dan seimbang. Sebab kemenangan da’wah tidak hanya disebabkan oleh Qiyamulail dan munajat tanpa menuntut ilmu, bekerja dan berinteraksi dengan manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Belajar dari Kegagalan Menjaga Keseimbangan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
John Naisbitt dalam buku “&lt;i&gt;High Tech High Touch&lt;/i&gt;” menceritakan kisah Amerika yang tealh mengalami transformasi – terhadap pemanfaatan teknologi – dari tempat yang nyaman secara teknologi menjadi zona mabuk teknologi.  Banyak manusia begitu terbuai oleh kesenangan dan janji teknologi yang begitu menggiurkan, sampai-sampai lupa mengindahkan berbagai konsekuensi teknologi dan bertanya-tanya mengapa masa depan nampaknya sulit diramalkan. Mereka juga memberi status khusus pada teknologi seolah-olah teknologi adalah suatu hukum alam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang memberikan hak yang tak dapat dicabut yang membuat kehidupan mereka sehari-hari, pengalaman formatif mereka, bahkan dunia alami mereka, “diatur” oleh piranti lunak yang kian lama kian canggih. Gejala mabuk teknologi tinggi ini ditandai dengan hubungan yang rumit dan sering kali bertentangan antara teknologi dan pencarian mereka akan makna. Gejala-gejala tersebut antara lain : mereka lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi, mereka takut sekaligus memuja teknologi; mereka mengaburkan perbedaan antara yang nyata dengan yang semu; mereka menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar, mereka mencintai teknologi dalam wujud mainan, mereka menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amerika telah menjadi masyarakat peminum obat tanpa resep denga mentalitas mengagungkan suplemen dalam segala aspek kehidupan – apa saja, dari agama hingga gizi. Dalam upaya tanpa sadar untuk melepaskan diri dari zona mabuk teknologi, orang Amerika menelan suplemen sekitar 10 miliar pil setiap tahun. Tak kalah lucunya, orang Amerika membelanjakan lebih dari $ 700 juta per tahun untuk vitamin cepat manjur, namun rata-rata hanya makan buah kurang dari satu per hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan, sekaligus pemujaan mereka terhadap teknologi sangat tampak saat menyambut datangnya milenium baru. Ketakutan tersebut tersalurkan menjadi Armageddon  baru atau Y2K. Layaknya murka Tuhan yang amat dahsyat, sebagian mereka takut kesalahan pada teknologi komputer akan menebarkan kerusakan yang luar biasa kepada umat manusia – pesawat terbang jatuh dari langit, peluru kendali lepas tak terkendali, ekonomi ambruk dan sebagainya. Mereka menganggap seolah-olah teknologi itu sendiri merupakan kekuatan yang tak terkendali yang mampu menciptakan &lt;i&gt;pandemonium &lt;/i&gt;(baca : kekacauan) dan kerusakan massal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya kartun ... &lt;i&gt;electronic games &lt;/i&gt;... film ... atau berita. Dengan menyangkal bahwa tayangan di layar itu sebagai sesuatu yang nyata, mereka membiarkan diri mereka sendiri serta anak-anak untuk lalai dengan terus mengkonsumsi kekerasan yang mengguncang itu, dan kemudian terkejut serta terperangah ketika ternyata seorang anak sanggup melepaskan tembakan ke arah kawan-kawannya sekelas di sekolah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi, metafor tentang televisi sebagai “penyatu keluarga” modern terbilang optimistik karena pada kenyataannya – di rumah – anggota keluarga terpencar dalam ruangan yang berlainan untuk menonton acara atau mendengarkan musik kegemaran masing-masing. Teknologi memang dapat menciptakan jarak fisik dan jarak emosional serta merenggutkan mereka dari kehidupan mereka sendiri. Dewasa ini banyak orang Amerika yang tinggal bersama-sama, tetapi sebenarnya hidup sendiri-sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dimana letak kesalahannya, Naisbit mengakui bahwa zona mabuk ini adalah kehampaan spiritual yang mengecewakan dan membahayakan. Ia mengusulkan agar adanya kompas moral yang mampu memandu. Agama, lanjut Naisbitt, bisa memberi kita (baca : orang Amerika) kesadaran bahwa secara spiritual kita adalah bagian dari keseluruhan, bahwa hidup pribadi kita terletak di dalam konteks alam semesta yang kekal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah mereka yang relung jiwanya kosong dari sentuhan-sentuhan Allah. Mereka tidak memiliki kompas moral dan spiritual yang jelas dan utuh memandu perjalanan mereka. Kalaupun ada, mereka hanya mengkonsumsi itu sebagai “suplemen batin” yang berbentuk, buku, majalah, astrologi, acara keagamaan pada jam tayang utama, terapi-terapi dan meditasi. Suplemen-suplemen tersebut – yang juga dikonsumsi membabi buta – menjanjikan mereka mendapatkan inspirasi, kebahagiaan, keharmonisan, visi, vitalitas, kejernihan, penemuan diri, pencerahan, energi yang ringan dan keseimbangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, lagi-lagi kesombongan yang mereka dapatkan dan dengan ragu menyebutnya makna (hidup). Kasihan ... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Muslim di Tengah Arus Kecenderungannya Sendiri &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan seorang Muslim tentu tidak seburuk gambaran kehidupan di atas. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki hasrat, kecenderungan, cita-cita, impian, keinginan atau sejenisnya. Sebagai manusia biasa, seorang Muslim memiliki &lt;i&gt;At Tanaaz&lt;/i&gt;u’ yaitu ketertarikan, hasrat, merindukan atau condong kepada sesuatu. Oleh karena itu antara diri dan nafsunya, timbullah keinginan untuk merealisasikan kecenderungan-kecenderungan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa dalam diri seorang Muslim kecenderungan-kecenderungan ke arah kebaikan tumbuh menjamur seiring dengan semakin dalam pemahamannya terhadap Islam. Oleh karenanya disinilah perbedaan antara seorang muslim dengan non muslim, dimana kecenderungan yang hadir selalu dalam bingkai kebaikan dan mengharapkan kedekatan serta keridhoaan Allah swt. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ustadz Muhammad bin Hasan bin ‘Aqil Musa dalam buku “&lt;i&gt;At Tanaazu’ wa tawaazun fii Hayatil Muslim&lt;/i&gt;” menyebutkan ada beberapa kecenderungan pada diri seorang Muslim yang tetap harus dijaga sisi-sisi tawaazun dari kecenderungan-kecenderungan itu. Hal tersebut antara lain : kecenderungan menuntut ilmu, kecenderungan memperbanyak kuantitas dan persentase ibadah, kecenderungan berda’wah dan berjihad di jalan Allah, kecenderungan mencari dan meraih harta yang banyak. Tak pelak lagi semua kecenderungan inilah yang akhirnya bisa mewujudkan kemenangan da’wah bila dipadukan dan diaplikasikan secara baik, adil, bijaksana dan seimbang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kecenderungan menuntut ilmu, seorang muslim harus menjaga keseimbangan antara semangat menuntut ilmu dengan menyucikan hati. Keduanya jelas memiliki manfaat yang besar bagi seorang muslim. Namun, bila tidak dijaga keseimbangannya bisa menimbulkan efek yang ekstrim. Melulu menuntut ilmu tanpa menata dan mengelola hati akan membuat hati menjadi keras, menumbuhkan kesombongan dan lambat laun akan meremehkan ibadah. Sedangkan terlalu tekun melunakkan hati akan mewarisi sifat penakut dan malas yang kadang kala membuat orang cepat merasa puas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu dalam menuntut ilmu harus pula dijaga keseimbangan antara menuntut ilmu syar’i (hukum-hukum Islam) dengan ilmu lain yang bermanfaat. Karena hakikat ilmu adalah harta kaum muslimin yang hilang maka ambillah dimana pun ia berada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beribadah kepada Allah swt, seorang muslim harus memprioritaskan pelaksanaan ibadah fardhu, karena ibadah fardhu ini tidak boleh ditinggalkan kecuali ada udzur syar’i. Selain itu seorang muslim juga tidak bisa meninggalkan ibadah-ibdah sunnahnya (sesuai dengan kemampuannya) karena ibadah sunnah merupakan harta karun peninggalan Rasulullah saw yang selalu dicari oleh pemburu kemuliaan dari Allah swt. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain menumbuhkan kemauan yang kuat untuk melaksanakan ibadah adalah syarat awal bagi kelanggengan pelaksanaan ibadah-ibdah tersebut pada hari-hari yang kita lalui. Namun jangan pula terlalu bersemangat beribadah yang akan mengesampingkan hak-hak orang lain disekitar kita, misalnya keluarga kita. Kisah sahabat Rasulullah saw, Abu Darda yang diigatkan – karena terlalu semangat beribadah – bahwa Allah, diri dan keluarga mempunyai hak atas dirinya yang harus dipenuhi secara adil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupun dalam da’wah dan berjihad di jalan Allah. Keseimbangan antara banyaknya aktivitas da’wah, mengajak manusia kepada jalan Allah harus juga diimbangi oleh banyaknya waktu yang kita sediakan untuk beribadah kepada Allah. Sebab keberhasilan da’wah seringkali berawal dari sentuhan hati. Dan itu diasah dengan cara beribadah kepada Allah swt. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak kalah pentingnya adalah seorang da’i muslim harus menjaga keseimbangan antara rasa tidak senangnya terhadap popularitas dengan keharusan tampil memimpin dan memandu ummat. Oleh karenanya unsur keikhlasan dalam hal ini jelas sangat diperlukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengembangkan Kedua Sayap Kita &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merealisasikan keseimbangan dalam diri adalah sebuah pekerjaan yang sulit. terkadang kita tidak bisa mengetahui apakah kita sudah berada pada titik tengah atau belum. Bahkan kita sendiri tidak mampu menjaga kecenderungan-kecenderungan yang luapannya terlalu besar agar bisa diarahkan pada porsi-porsi yang adil. Malah yang perlu dikhawatirkan bahwa kita terlalu putus asa untuk mewujudkan keseimbangan itu dalam diri kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para sahabat Rasulullah saw telah banyak yang mampu memadukan secara baik dan adil berbagai kecenderungan beramal dalam diri mereka. Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab, seorang Khalifah yang memimpin ummat, namun kehidupannya begitu zuhud. Perilakunya tegas saat memutuskan sesuatu, tapi di sudut lain ia menangis khawatir keputusannya keliru. Atau seorang tabi’in Imam Baqiy bin Mukhalid yang mengkhatamkan Al Quran setiap malam dalam tiga belas rakaat. Siangnya sholat sebanyak seratus rakaat, melanggengkan puasa dan dikenal sebagai ahli hadits. Di sisi lain beliau pernah mengikuti peperangan sebanyak 72 kali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sulitnya keseimbangan itu terwujud, namun hendaknya proses berusaha pada diri kita untuk mewujudkan dan melanggengkan keseimbangan itu tidak pernah pudar. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan kaidah dalam usaha menjaga keseimbangan kita. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, optimalisasi penggunaan waktu dan cita-cita yang tinggi. Permasalahan awal dari ketidakmampuan kita menjaga keseimbangan adalah buruknya manajemen waktu pribadi dan rendahnya kemauan dan cita-cita kita. Jiwa &lt;i&gt;thumuh &lt;/i&gt;(dorongan berprestasi) belum merasuk dalam diri kita. Rasa puas dan cukup dengan kondisi keimanan dan kualitas diri sekarang adalah suatu yang harus kita buang jauh-jauh. “Akulah jiwa perindu. setiap kali ia sampai pada satu tingkat, setiap itu pula ia merindukan tingkat yang lebih tinggi...” demikian Umar ibn Abduk Aziz menuturkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; Kedua&lt;/i&gt;, mengetahui skala prioritas. Mengetahui urutan amal dan prioritas serta mengklasifikasi berbagaimasalah adalah faktor penting dalam membentuk pribadi tawazun. Dengan adanya skala prioritas akan menghindarkannya dari ketidakteraturan kegiatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; Ketiga&lt;/i&gt;, tidak &lt;i&gt;isti’jal&lt;/i&gt; (terburu-buru) mengharap terwujud mengharap sesuatu. Menelusuri jalan dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil adalah landasan penting dalam mewujudkan keseimbangan yang dikehendaki. Jarak yang akan  ditempuh ratusan mil oleh seseorang harus dimulai dengan langkah pertama. Memang harus dibedakan antara ketergesa-gesaan dan semangat, militansi dan etos kerja. Oleh karenanya agar semangat yang sudah menggebu dalam diri kita tidak berubah menjadi isti’jal maka harus diimbangi dengan pemahaman dan kesabaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; Keempat&lt;/i&gt;, melihat secara utuh setiap persoalan. Setiap orang yang menginginkan keseimbangan dalam hidupnya, ia harus menyelamatkan akalnya dari cara pandang yang parsial, sebab akan melemahkan fungsi akal sendiri. Cara berfikir yang parsial akan mematikan daya kreatifitas manusia dan menyeretnya kepada jalan taqlid serta menghalanginya untuk memperoleh manfaat dari orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Epilog &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang mukmin, bila diibaratkan seekor elang maka kepakan sayapnya adalah cermin kekhusyu’an, paduan antara keseriusan, kerja keras, kesungguhan dan konsentrasi yang mendalam. Tak adalagi ruang kosong antara idealisme dan realitas, karena ujung tali keduanya telah tersimpul dalam ikatan &lt;i&gt;thumuh&lt;/i&gt;. Thumuh mereka telah menjelma menjadi padang luas yang kelelahan mengitarinya. “Bila jiwa itu besar. raga akan lelah mengikuti kehendaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahu ‘alam bish showab.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;----&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Diambil dari Majalah Al Izzah no. 20 Th.2/Agustus 2001&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Disalin dari &lt;a href=&quot;http://www.oocities.com/fosilramcom/ARTIKEL/tawazun.htm&quot;&gt;http://www.oocities.com/fosilramcom/ARTIKEL/tawazun.htm &lt;/a&gt;&lt;/i&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/2519643973489726449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/2519643973489726449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/menggapai-keseimbangan-hidup.html' title='Menggapai Keseimbangan Hidup'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-5256743628835008037</id><published>2011-01-18T07:48:00.002+07:00</published><updated>2011-01-18T07:48:53.580+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Salimah Gelar Pengajian Korban Merapi</title><content type='html'>Sejak awal erupsi Merapi, jajaran Pengurus Wilayah Persaudaraan Muslimah (Salimah) DI Yogyakarta aktif memberikan bantuan kepada para ibu dan anak korban bencana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hingga saat ini, kami secara rutin mendampingi korban bencana di 14 titik lokasi yang tersebar di beberapa dusun, antara lain, Candi, Petung, Turi, Singlar, Gading, dan Sokowetan, Kecamatan Tempel,&quot; kata Rennta Chisdiana, koordinator program &#39;Salimah untuk Merapi&#39;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Ahad (16/01), Salimah kembali menggelar kegiatan untuk para korban Merapi di Dusun Candi, Kelurahan Purwobinangun, Pakem, dengan kegiatan bertajuk &#39;Ngaji Ceria Bersama Keluarga&#39;. Menurut dia, kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan mitra LAZIS Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dalam pengajian ini, hadir Ustaz Ahmad Burhani sebagai pembicara. Selain tausiyah, kegiatan ini diisi pula dengan penyerahan bantuan berupa 140 paket alat sekolah untuk pelajar setempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Rennta, sejak awal erupsi Merapi, Salimah telah aktif melakukan pendampingan di sejumlah barak pengungsian. Kegiatan ini diteruskan saat para warga telah kembali ke rumah mereka masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Salimah  bergerak memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, baik bantuan logistik, pendampingan psikososial, pelatihan keterampilan, juga pelatihan kewirausahaan,&quot; kata Rennta dalam keterangan tertulisnya, Ahad. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, lanjutnya, Salimah juga aktif menggalang dana untuk korban Merapi bermitra dengan banyak lembaga, baik lembaga pemerintah, swasta, ormas, majelis taklim, maupun relasi Salimah di dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hingga saat ini, Salimah sudah menyalurkan bantuan lebih dari Rp 300 juta untuk korban Merapi dari berbagai elemen,&quot; ungkap Rennta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://koran.republika.co.id/koran/14/127277/Salimah_Gelar_Pengajian_Korban_Merapi&quot;&gt;http://koran.republika.co.id/koran/14/127277/Salimah_Gelar_Pengajian_Korban_Merapi &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/5256743628835008037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/5256743628835008037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/salimah-gelar-pengajian-korban-merapi.html' title='Salimah Gelar Pengajian Korban Merapi'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-6133609273752613088</id><published>2011-01-18T07:46:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T07:46:13.843+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="islamdunia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Tokoh Anti-Islam Latih Militer AS</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://static.republika.co.id/images/militer_as_100730090201.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;231&quot; src=&quot;http://static.republika.co.id/images/militer_as_100730090201.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dewan Hubungan Islam Amerika (CAIR) meminta Kementrian Pertahanan AS untuk tak menggunakan jasa kelompok anti-Muslim guna melatih personel militer. Seperti dilaporkan &lt;i&gt;prnewswire&lt;/i&gt;, Ahad waktu setempat, permintaan CAIR ini dilontarkan setelah Robert Spencer, salah satu tokoh Islamofobia AS, mempublikasikan dalam blognya yang mengklaim melatih anggota intelijen militer, Jumat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lencana dalam foto yang dipublikasikan Spencer dalam blognya mirip dengan yang dimiliki Brigade ke-149 dari Divisi Infantri ke-35 yang bermarkas di Louisville, Kentucky. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Spencer adalah salah satu pendiri kelompok anti-Islam bernama&lt;i&gt; Stop the Islamization of America&lt;/i&gt; (SIOA). Kelompok ini merupakan musuh utama Yayasan Park51 -penggagas masjid Ground Zero- yang bermarkas di New York. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SIOA merupakan saudara dari kelompok sejenis di Eropa yang ingin menghentikan pembangunan masjid di seantero Eropa, &lt;i&gt;Stop the Islamization of Europe&lt;/i&gt; (SIOE). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok pemerhati media independen, &lt;i&gt;Fairness &amp;amp; Accuracy in Reporting&lt;/i&gt; (FAIR), mengidientifikasikan Spencer sebagai salah satu &quot;&lt;i&gt;Islamophobia&#39;s Dirty Dozen&lt;/i&gt;&quot; yang secara sistematik menyebarkan ketakutan, fanatisme, dan misinformasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber :&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/01/17/159154-duhtokoh-antiislam-latih-militer-as&quot;&gt;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/01/17/159154-duhtokoh-antiislam-latih-militer-as&lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6133609273752613088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6133609273752613088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/tokoh-anti-islam-latih-militer-as.html' title='Tokoh Anti-Islam Latih Militer AS'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-6008188979450463440</id><published>2011-01-18T07:41:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T07:41:28.601+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="islamdunia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Sheikh Rashid al-Ghannushi, Kembalinya Gerakan Islam Tunisia</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://static.republika.co.id/images/sheik_rashid_al_ghannusi_110118072956.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;231&quot; src=&quot;http://static.republika.co.id/images/sheik_rashid_al_ghannusi_110118072956.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Sheikh Rashid al-Ghannushi &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tidak kurang dari enam hari pasca aksi pembakaran diri seorang pemuda Tunisia tidak ada seorangpun yang membayangkan pemerintahan 23 tahun Presiden Zine El Abidine Ben Ali akhirnya tumbang akibat demonstrasi rakyat Tunisia. Mantan Presiden Ben Ali akhirnya terpaksa melarikan diri ke Arab Saudi sebagai ibu dari negara-negara diktator di Timur Tengah. Ben Ali memilih Arab Saudi setelah negara-negara Barat yang sebelum ini menjadi pelindungnya menolak memberikan suaka politik kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi di Tunisia tidak pernah dibayangkan oleh rakyat Tunisia. Namun kegembiraan mereka dapat ditemukan dari wajah-wajah mereka yang lalu lalang dan melakukan demonstrasi di jalan-jalan. Akan tetapi satu hal yang paling penting adalah substansi gerakan revolusioner rakyat Tunisia dan nasibnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunisia sebagai persimpangan besar Eropa dan Afrika sebelumnya adalah jajahan Perancis dan dianggap sebagai milik nenek moyang Prancis. Bukan tanpa alasan ketika seorang mahasiswa Universitas Sorbonne yang juga sempat mengenyam pendidikan militer 24 tahun lalu melakukan kudeta di Tunisia dan akhirnya menjabat sebagai Presiden Tunisia selama 23 tahun. Benar, pemuda itu adalah Zine El Abidine Ben Ali. Ia memerintah dengan cara kekuasaan negara-negara pro-Barat seperti Mesir, Yordania, Libya dan Irak di masa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di tengah keluarga besar Ben Ali dan isterinya Leila Trabelsi menjadi penyebab utama tumbangnya pemerintahan rapuh Ben Ali. Apa yang dilakukan rakyat Tunisia merupakan sebuah gerakan rakyat dan spontan. Namun tampaknya tuntutan rakyat Tunisia tidak disukai oleh Barat. Sikap yang ditunjukkan rezim Zionis Israel menunjukkan demikian. Israel mengkhawatirkan meluasnya kesadaran Islam yang terjadi di Tunisia ke seluruh negara di Timur Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekhawatiran yang muncul dari langkah pertama pasca kaburnya Ben Ali dari Tunisia adalah aksi rakyat revolusioner Tunisia menayangkan suara azan di televisi-televisi Tunisia. Langkah yang selama ini dilarang di Tunisia dan berdasarkan alasan orang-orang dekat Ben Ali ucapan azan mengakibatkan polusi suara di Tunisia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun apa yang membuat kemungkinan munculnya sebuah pemerintahan Islami di Tunisia adalah pernyataan kesiapan seorang ulama dan pejuang lama Sheikh Rashid al-Ghannushi untuk kembali ke Tunisia. Tampaknya kehadiran Sheikh Rashid al-Ghannushi bakal menjadi tonggak terbentuknya pemerintahan Islami di Tunisia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Siapa Sheikh Rashid al-Ghannushi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sheikh Rashid al-Ghannushi adalah seorang ulama pejuang dan revolusioner Tunisia. Pengaruh pemikiran Sayyid Qutb dan Hasan al-Banna, membuatnya bersama Omar al-Bashir, Presiden Sudan menjadi dua tokoh Ikhwanul Muslimin di utara Afrika dan Tunisia. Sheikh Rashid al-Ghannushi merupakan segelintir penulis dan pemikir Arab yang yang menulis tentang pribadi Imam Khomeini ra pasca kemenangan Revolusi Islam Iran. Sheikh al-Ghannushi memiliki hubungan erat dengan tokoh-tokoh revolusioner Iran di awal-awal revolusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sheikh al-Ghannushi kemudian membentuk sebuah gerakan di Tunisia bernama ‘al-Nahdhah&#39; yang pada akhirnya dikenal dengan ‘al-Ittijah al-Islamiyah&#39;. Gerakan yang dibentuknya ini fokus di Universitas al-Zaytoonah guna menghadapi Presiden Tunisia waktu itu, Habib Bourguiba dan kebijakan sekularismenya. Akibat aktivitasnya ini, Presiden Bourguiba memerintahkan Sheikh al-Ghannushi untuk ditahan. Patut diketahui bahwa gerakan ‘al-Nahdhah&#39; punya peran penting menggoncang kekuasaan dan melengserkan kekuasaan Habib Bourguiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah Bourguiba pada tahun 1986 menjadikan Sheikh Rashid al-Ghannushi sebagai tahanan rumah. Sementara sejumlah tokoh asli gerakan al-Nahdhah ditangkap dan diserahkan kepada pengadilan. Konflik di antara pasukan pemerintah dan pendukung gerakan al-Nahdhah tidak dapat dihindarkan dan semakin meningkat. Akhirnya pada Maret 1987 pasukan keamanan pemerintah menangkap Sheikh Rashid al-Ghannushi, para pemimpin dan anggota gerakan al-Nahdhah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Krisis di Tunisia mencapai puncaknya. Pada bulan April dan Mei 1987, terjadi aksi pemogokan dan juga kekerasan antara mahasiswa dan pihak keamanan baik di lingkungan universitas maupun di jalan-jalan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah senantiasa menyebut apa yang terjadi adalah aksi perusakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstrim setelah mendapat perintah dari pihak asing, khususnya para pemimpin al-Ittijah al-Islamiyah yang melakukan kerjasama dengan pemerintah Iran dan berkonspirasi untuk mengekspor Revolusi Islam ke Tunisia guna menumbangkan pemerintah Tunisia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudeta Jenderal Zine El Abidine Ben Ali pada 7 November 1987 menghasilkan perubahan di Tunisia. Dibentuk pemerintahan baru dan pembersihan anasir-anasir Bourguiba pihak militer melakukan langkah-langkah baru dengan membebaskan para tahanan politik. Mayoritas para tahanan politik ini berasal dari para pejuang Islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembebasan Sheikh Rashid al-Ghannushi pada Mei 1988 menciptakan situasi yang positif di Tunisia. Karena gerakan al-Ittijah al-Islamiyah menyatakan dukungannya terhadap pemerintah. Dampaknya adalah ketenangan telah kembali ke negara ini dan rakyat tidak lagi melakukan aksi protes terhadap pemerintah seperti sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi perbedaan politik antara gerakan keislaman dan pihak militer yang baru berkuasa bernasib sama dengan yang terjadi di Mesir. Gerakan al-Ittijah al-Islamiyah pada akhirnya dilarang oleh pemerintah untuk melakukan aktivitasnya di Tunisia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip-prinsip gerakan al-Ittijah al-Islamiyah secara transparan dipublikasikan pada 6 Juni 1981 dan yang terpenting adalah menolak sekularisme, hubungan dengan seluruh umat Islam sedunia, tidak mengakui etnis Arab, pembebasan Palestina lewat pembebasan negara-negara Arab dari cengkeraman imperialisme dan menciptakan organisasi yang memuat kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sheikh Al-Ghannushi Mengakhiri Krisis Pemimpin Revolusi Tunisia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hingga saat ini mayoritas pengamat politik menilai masa depan revolusi rakyat Tunisia masih kabur dikarenakan tidak memiliki seorang pemimpin. Namun tampaknya berita kesiapan Sheikh Rashid al-Ghannushi untuk kembali ke Tunisia dapat memberikan pengaruh penting bagi masa depan negara ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini karena Sheikh Rashid al-Ghannushi hingga saat ini masih memiliki basis rakyat yang kuat. Kepada AFP Sheikh al-Ghannushi mengatakan kemungkinan dibentuknya pemerintahan persatuan nasional di Tunisia setelah melewati proses yang panjang. IRIB/SL&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/01/18/159170-sheikh-rashid-alghannushi-kembalinya-gerakan-islam-tunisia&quot;&gt;http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/01/18/159170-sheikh-rashid-alghannushi-kembalinya-gerakan-islam-tunisia&lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6008188979450463440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6008188979450463440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/sheikh-rashid-al-ghannushi-kembalinya.html' title='Sheikh Rashid al-Ghannushi, Kembalinya Gerakan Islam Tunisia'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-8435442377062947824</id><published>2011-01-18T07:34:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T07:34:05.102+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Akhwat ke-GR-an</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3p_foRb-5GyDlAbOhKcbFYv5szvdkHIbOwUXLXa3cv5KCIogFRnj5NCIkNisSZK2_8UPgNOPBRbto4DDxKbe2i53A4-1mDuWlGcXD1xKsIKd7dZrz2HevLgjR5B05trqchyPxRqa5LLA/s1600-r/muslimahpink.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;280&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3p_foRb-5GyDlAbOhKcbFYv5szvdkHIbOwUXLXa3cv5KCIogFRnj5NCIkNisSZK2_8UPgNOPBRbto4DDxKbe2i53A4-1mDuWlGcXD1xKsIKd7dZrz2HevLgjR5B05trqchyPxRqa5LLA/s1600-r/muslimahpink.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Sesuatu yang Tidak Perlu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebutlah Herlina (25 tahun) sedang berada di sebuah pesta pernikahan yang meriah meski sederhana. Sambil menikmati makanan, ia mengumbar cerita kepada dua orang akhwat yang ada disebelahnya. &quot;Eh, tau enggak, ukh! Ikhwan, mempelai pria itu kan pernah proses ama ana, kali ya&quot; Dua orang akhwat yang ada di sebelahnya hanya mengangguk-angkuk saja. Mereka tidak ingin meneruskan pembicaraan tersebut. Mungkin mereka menggangap perkataan Herlina itu tidak perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebut pula wanda (20 tahun) belakangan ini selalu tersenyum dan gembira jika masuk kuliah. Awalnya, teman-teman wanda tidak begitu peduli dengan penyebabnya. Belakangan diketahui bahwa ia sering menerima sms tausiyah, bukan dari Aa Gym tapi dari seorang ikhwan. Seorang teman mengecek beberapa bunyi sms tersebut, seperti, &quot;malam semakin dingin, tubuh dan tulang membeku. Jika ukhti bangun menghadap Allah, maka kehangatan akan datang.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanda gembira karena merasa diperhatikan. Apalagi atas nama keimanan dan ketaqwaan. Dalam sebuah majelis, Wanda menyebut ikhwan tersebut dengan &quot;Ikhwan in, subhanallah banget ya!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;GR yang Merusak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua contoh diatas mungkin adalah bagian kecil dari potret rusaknya hati akibat &#39;gede rasa&#39;. Herlina misalnya, merasa standarnya tinggi. Sehingga dia merasa wajar jika menolak para ikhwan yang tidak selevel dengannya. Bisa jadi dari segi umur tarbiyah, harta atau pendidikan. Baiklah, kalau hal tersebut memang hak pribadi Herlina. Tapi permasalahannya, mengapa hal tersebut harus menjadi bahan pembicaraan pubik? Apalagi di saat hari bahagia sang ikhwan. Padahal sebelumnya, Herlina justru telah menghancurkan kesempatan setengah &lt;i&gt;dien&lt;/i&gt;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula Wanda merasa ketaqwaan diperhatikan sampai timbul kekaguman berlebihan. Sekilas mungkin hal tersebut tidak bermasalah. SMS tersebut adalah tausiyah belaka. Bagus dan baik secara tekstualnya. Tapi buruk secara muatan dan motivasi. Jika memang ikhwan itu berniat memberi nasihat, mengapa hanya kepada Wanda? Bukankah akhwat lain juga berhak diberi nasehat? Mengapa pula tidak para ikhwan temannya saja yang diberi tausiyah? Apakah para ikhwan memang benar-benar mendirikan &lt;i&gt;qiyamulail &lt;/i&gt;secara konsisten?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa referensi, kita bisa menemukan kaitan yang lebih besar antara GR dengan sifat-sifat lain yang merusak. Sebutlah buku &quot;&lt;i&gt;Terapi Mental Aktivis Harokah&lt;/i&gt;&#39; yang ditulis oleh Ustadz DR Sayyid Muhammad Nuh. Dalam buku ini dicantumkan beberapa penyakit yang bisa merusak mental para aktivis harakah. Penulis mengambil inspirasi dari buku tersebut. Terutama dalam kaitannya dalam &#39;GR&#39; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Pertama &lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;
Membuka pintu &lt;i&gt;ujub&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;ghurur &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;riya&lt;/i&gt;. Jika ditelusuri lebih jauh, GR akan sampai pada tingkatan separah ini. Ke-GR-an pada tingkatan yang sederhana mampu membuka jalan bagi &lt;i&gt;ujub &lt;/i&gt;agar bersemayam di hati. Secara maknawi &lt;i&gt;ujub &lt;/i&gt;adalah kagum atau membanggakan diri dari segala sesuatu yang timbul darinya. Baik berupa perkataan namun tidak sampai meremehkan orang lain. Jika sudah meremehkan orang lain, masuk ke dalam katagori &lt;i&gt;ghurur&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu GR juga bisa membawa kita menjadi &lt;i&gt;riya&lt;/i&gt;&#39; penyakit itu mungkin tingkatannya lebih para dari &lt;i&gt;ujub&lt;/i&gt;. Riya membuat seorang aktivis dakwah selalu memamerkan amal shalihnya kepada orang lain dengan mengharap pamrih tertentu. Bayangkan jika penyakit itu harus muncul di dalam hati kita hanya karena sentuhan kecil berupa perhatian, sapaan atau perbuatan seorang ikhwan yang belum tentu menjadi suami kita? Kalo sudah begini apa gunanya semua amal kebaikan kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kedua &lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;
Memberi jalan menuju &lt;i&gt;futur&lt;/i&gt; (melemah) dan &lt;i&gt;ittib&#39;aul hawa&lt;/i&gt; (menuruti hawa nafsu). Ini dampak yang kronis dari ke-GR-an yang memuncak. Apalagi jika kedua belah pihak sudah terjerumus dalam hal-hal yang melanggar syar&#39;i. Maka pilihan untuk &lt;i&gt;futur &lt;/i&gt;bukan tidak mungkin terlintas ke dalam pikiran mereka. Bahkan keluar dari sistem dakwah yang tengah dijalani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika sudah begini, hari-hari yang dilaluinya adalah sekedar pemuas hawa nafsu belaka. Berlama-lama bicara berdua padahal tidak ada yang penting untuk dibicarakan, misalnya. Bukan tidak mungkin pula mereka tidak jatuh ke dalam kubangan zina yang sesungguhnya. &lt;i&gt;Naudzubillah min dzalik!&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah penyakit-penyakit yang bisa muncul jika memelihara ke-GR-an itu didalam hati kita. Mereka akan menjadi karat dan sulit untuk dihilangkan. Lambat laun akan menutupi kejernihan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai penutup, ada sebuah cerita tentang pohon besar yang telah hidup ratusan tahun. Pohon itu sudah menghadapi berbagai cobaan besar. Pohon itu tangguh kala ditimpa badai, diterpa angin kencang, kuat di tengah hujan deras maupun bahaya kekeringan. Namun sayang setelah mengalami tantangan besar itu, pohon itu kemudian harus rusak dan tumbang karena beberapa benalu yang menempel pada dirinya. Semoga kita tidak jatuh dan sesat karena cobaan besar yang menimpa kita. Apalagi terkecoh dan menjadi bodoh hanya kerena sentuhan kecil yang menggoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wallahu&#39;alam bish shawwab&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Heni Setiawati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
-------------------------&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;diambil dari majalah Al-Izzah Edisi 11/th.4/Jan 2005 M hal.45&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;disalin dari : &lt;a href=&quot;http://nadwah.unsri.ac.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=156:akhwat-ke-gr-an&amp;amp;catid=26:an-nisa&amp;amp;Itemid=37&quot;&gt;http://nadwah.unsri.ac.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=156:akhwat-ke-gr-an&amp;amp;catid=26:an-nisa&amp;amp;Itemid=37 &lt;/a&gt;&lt;/i&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/8435442377062947824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/8435442377062947824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/akhwat-ke-gr.html' title='Akhwat ke-GR-an'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3p_foRb-5GyDlAbOhKcbFYv5szvdkHIbOwUXLXa3cv5KCIogFRnj5NCIkNisSZK2_8UPgNOPBRbto4DDxKbe2i53A4-1mDuWlGcXD1xKsIKd7dZrz2HevLgjR5B05trqchyPxRqa5LLA/s72-c-r/muslimahpink.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-6104571689608304236</id><published>2011-01-18T07:31:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T07:31:48.483+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pernikahan"/><title type='text'>Ikhwan-Akhwat dan Misi Keluarga Dakwah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://files.myopera.com/dhona19/albums/463310/thumbs/melangkah%20berdua.jpg_thumb.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://files.myopera.com/dhona19/albums/463310/thumbs/melangkah%20berdua.jpg_thumb.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Komunikasi Dakwah kepada Keluarga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar generasi muda dakwah bersinggungan dengan Islam di tengah jalan. Bukan karena kondisi keluarga yang memang kurang kondusif sejak awal, melainkan kelemahan dan kelambanan kita dalam&lt;br /&gt;
membawa nilai baru tersebut ke lingkungan keluarga kita. Kenyataan yang terjadi adalah terbentuk jarak antara kita, dakwah, dan keluarga.Kita berubah, tapi perubahan tersebut tidak meresap masuk dalam&lt;br /&gt;
dinamika keluarga kita. Ini menjadi pintu pertama permasalahan ikhwan dan akhwat ketika kelak memutuskan untuk menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengenalan Karakter Dasar Profil Ikhwah, termasuk Kesiapan dan Model Pernikahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kenyataan bahwa ketika seorang anak dalam sebuah keluarga mengalami pencerahan dan ikut dalam tarbiyah, orang tuanya justru menjadi asing dengan si anak tersebut. Ketika komunikasi keluarga tersebut tidak harmonis, maka dampaknya akan terbentuk jarak antara anak dan orang tua. Orang tua merasa bahwa Islam yang diyakini anaknya membuat anak tersebut berbeda dan merebut kenangan serta harapan yang&lt;br /&gt;
dimiliki orang tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konteks inilah yang harus disikapi. Ketika dakwah masuk ke dalam pola dan gaya hidup kita, maka orang tua seharusnya adalah pihak pertama yang bersyukur. Dakwah tidak harus merubah nilai dasar yang menjadi&lt;br /&gt;
ciri kepribadian kita, sebagaimana karakter Umar bin Khattab juga tetap antara sebelum maupun sesudah berislam. Bukan dengan alasan budaya keluarga yang tidak Islami, membuat kita berpikir untuk taat&lt;br /&gt;
sendirian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawalah Islam yang kita miliki kepada keluarga secara perlahan-lahan. Ibu, ayah, kakak, adik, dan anggota keluarga lainnya juga berhak atas apa yang Allah berikan kepada kita sebagai hidayah. Dengan begitu,&lt;br /&gt;
komitmen dakwah lebih jauh bisa mendapatkan dukungan. Terkait dengan persiapan dan pengkondisian pernikahan, ajaklah orang tua dan keluarga kita ke walimahan yang diselenggarakan oleh ikhwah kita. Selanjutnya membuka ruang diskusi dengan membandingkan ragam model pernikahan ditinjau dari kepentingan dakwah dan pendidikan generasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Membawa Aktivitas Dakwah ke Rumah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesekali ajaklah teman-teman aktivis kita ke rumah. Tidak hanya ikhwan saja, libatkan juga akhwat (atau sebaliknya). Biarkan keluarga kita mengenali dan berasumsi tentang mereka. Bagi yang punya binaan, bisa&lt;br /&gt;
juga menyelenggarakan pembinaan di rumah. Atau sesekali agenda dakwah kita di lembaga dirancang untuk mengundang orang tua kita sehingga mereka menjadi paham kenapa anaknya jarang di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara substansi, jangan asingkan keluarga kita dengan perubahan yang kita miliki. Jangan jauhkan mereka dari dinamika dakwah yang kita jalani. Kalau perlu, libatkan mereka secara langsung dalam daurah dan&lt;br /&gt;
rihlah yang kita lakukan ke luar kota, atau model apa saja yang bisa kita rancang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi besar yang diemban adalah menjadikan parameter penilaian mereka dalam substansi Islam. Inilah kerja keras kita, sebab kita bersaing dengan ragam sinetron yang menjual mimpi tentang kemapanan usia muda&lt;br /&gt;
dan norma permisif yang ditawarkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengkondisian 2 Tahun Pra Nikah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita berhadapan dengan paradigma kemapanan yang sangat materialistis. Kita berhadapan dengan nilai lingkungan yang secara informal didoktrinkan lewat beragam media sehingga sulit bagi kita untuk&lt;br /&gt;
berkata, &quot;Yang penting adalah keshalihan dan pemahaman yang baik tentang agama, sebab dengan itu dia pasti bertanggung jawab.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak masalah ketika ikhwan yang datang ke orang tua adalah mereka yang standar secara materi atau minimal di dukung oleh keluarga yang mapan. Akan tetapi jika yang kita kenal orangnya taat dan amanah, tapi&lt;br /&gt;
terbatas dalam materi, sementara kita yakin dia bertanggung jawab, bagaimana kita mengkomunikasikannya kepada orang tua? Sebulan dua bulan akan menjadi terlalu singkat. Itu pun perlu didukung oleh pola&lt;br /&gt;
keluarga yang dialogis untuk berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka diskusi tentang substansi pernikahan, apa yang menjadi tujuannya, dan bagaimana proses pelaksanaannya adalah hal dasar yang harus jelas bagi keluarga kita. Itulah mengapa dikontekskan pengkondisian 2 tahun adalah mengacu pada persiapan yang cukup karena mengemban misi yang&lt;br /&gt;
tidak sederhana. Jangan sampai gambaran indah tentang keluarga dakwah kandas karena kelemahan kita dalam persiapan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Seimbangkan Gambaran Ideal dan Kondisi Riil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konteks ini lebih kepada ikhwan dan akhwatnya bahwa sekufu adalah&amp;nbsp; keseimbangan dalam dakwah dan keyakinan. Hendaknya penerimaan kita kepada calon pendamping adalah berpijak pada kenyataan yang ada.&lt;br /&gt;
Jangan sampai terlalu tinggi bintang yang dikejar sehingga terlupakan bumi yang dipijak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana jika kita layak mendapatkan yang ideal, tapi secara sadar kita menurunkan kriteria? Ini mungkin bisa menjadi tauladan umat. Sebagaimana seseorang dikatakan zuhud bukanlah mereka yang tidak&lt;br /&gt;
memiliki harta dan kemampuan, melainkan mereka yang memiliki kemampuan dan secara sadar menjalani pola hidup zuhud. Maka, mungkin sekarang saat yang tepat untuk zuhud dalam pernikahan. Cukupkanlah diri, insyaAllah akan datang pendamping yang seimbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, masalah sekufu ini kita cukupkan sampai saat ini. Selanjutnya kita kondisikan keluarga, orang tua, dan diri kita untuk lebih melihat pernikahan secara substansial. Semoga Allah menyempurnakan ketaatan&lt;br /&gt;
kita dan menjadikan diri kita sebagai asbab lahirnya generasi dakwah yang lebih kuat sehingga orang hanya akan mengenal satu sisi pernikahan, yaitu keindahan dan kemuliaan. &lt;i&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----&lt;br /&gt;
Diambil dari majalah Al-Izzah edisi Juni 2004 (dengan beberapa pengurangan dan sedikit perubahan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disalin dari : &lt;a href=&quot;http://groups.yahoo.com/group/muslim-klaten/message/1017&quot;&gt;http://groups.yahoo.com/group/muslim-klaten/message/1017 &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6104571689608304236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6104571689608304236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/ikhwan-akhwat-dan-misi-keluarga-dakwah.html' title='Ikhwan-Akhwat dan Misi Keluarga Dakwah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-4699739843555503713</id><published>2011-01-18T04:31:00.002+07:00</published><updated>2011-01-18T04:31:50.085+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="palestina"/><title type='text'>Abaikan AS, Palestina Melangkah ke DK-PBB</title><content type='html'>Palestina mengabaikan permintaan Amerika Serikat untuk tidak maju ke Dewan Keamanan PBB guna meminta resolusi yang mengutuk pembangunan pemukiman oleh Israel di wilayah-wilayah yang didudukinya. Kabar itu disampaikan oleh kepala perunding PLO hari Ahad (16/1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saeb Erekat kepada Maan mengatakan, &quot;AS tidak ingin ada apapun yang diajukan ke DK-PBB, tapi kami bersikukuh bahwa Dewan Keamanan adalah jalan kami untuk mendapatkan legitimasi internasional.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan olehnya, utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansur, telah dijadwalkan menemui kelompok-kelompok di PBB guna menetapkan kapan rancangan resolusi--yang telah ditulis terlebih dahulu--akan diajukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika AS memveto resolusi itu, setidaknya kami tahu bahwa kami telah berusaha dan menggunakan semua alat yang ada. Kami tidak akan diam saja melakukan apa yang kami bisa lakukan, hanya karena kami mengira ada pihak lain yang akan menentangnya,&quot; tambah Erekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Israel adalah pihak yang bertanggung jawab atas gagalnya proses perdamaian, bukan saja pada tingkat Israel-Palestina, tapi mereka juga bertanggungjawab karena memperparah kegagalan itu di seluruh kawasan, dengan kebijakannya yang memicu kekacauan, ekstrimisme dan pertumpahan darah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan tersebut disampaikan Erekat tidak lama setelah radio militer Israel mengabarkan tentang sebuah proyek raksasa pembangunan pemukiman Israel berupa sedikitnya 1.400 unit rumah di kawasan timur Al-Quds (Yerusalem).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;a href=&quot;http://www.hidayatullah.com/berita/viva-palestina/15093-abaikan-as-palestina-melangkah-ke-dk-pbb&quot;&gt;http://www.hidayatullah.com/berita/viva-palestina/15093-abaikan-as-palestina-melangkah-ke-dk-pbb &lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4699739843555503713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/4699739843555503713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/abaikan-as-palestina-melangkah-ke-dk.html' title='Abaikan AS, Palestina Melangkah ke DK-PBB'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-9095736685209337564</id><published>2011-01-17T18:56:00.000+07:00</published><updated>2011-01-17T18:56:19.609+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sastra"/><title type='text'>Tak Bisa Ke Lain Hati</title><content type='html'>&lt;b&gt;Cerita Oleh : Himmah ‘Aliyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Diambil dari Majalah Al-Izzah No. 24/Th. 3, 31 Januari 2002&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
---- &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu saat, jika ada yang berniat menikahiku, aku ingin itu karena dia melihat sesuatu yang istimewa dalam diriku. Bukan seorang yang hanya berniat menikah, dan menyerahkan kepada guru ngajinya dijodohkan dengan siapapun. Apakah aku salah?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;April 2001, saat bulan bersinar lebih dari separuh. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Apakah ikhlas selalu bermakna menafikan pertimbangan-pertimbangan manusiawi?&quot; Pertanyaan itu tak bisa lekang dari benakku. Sejak peritiwa ta’aruf dua hari yang lalu. Saat itu, mbak Lia, guru ngajiku berpesan, &quot;Dhin, kalau sudah se-aqidah dan se-fikrah, yang lainnya tinggal mengikuti. Apalagi, sekarang akhwat lebih banyak daripada ikhwan. Jangan sampai kamu menolak rizqi. Dia ikhwan lho!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat itu semua, aku kembali menghela nafas. &quot;Apakah ikhlas selalu bermakna menafikan pertimbangan manusiawi?&quot; Pertanyaan itu kembali bersemayam di kepalaku. Berputar, melibas, mengurangi, tanpa menemukan jawaban. Hingga akhirnya, pertanyaan itulah yang ingin aku mintakan jawaban pada Yanti, teman sekamarku. Keheningan malam dan kebekuannya yang memenjarakan dinding kamar sempit kami menjadi saksi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Secara umum, aku kira jawabanya adalah YA,” jawab Yanti. “Karena ikhlas bisa bermakna menerima apa yang diberikan Allah dengan lapang dada.”&lt;br /&gt;
“Tapi itu tak berarti guru ngaji berhak menodong khan….?”&lt;br /&gt;
“Tentu saja tidak. Anti berhak menyampaikan harapan-harapan, keinginan dan sebagainya”.&lt;br /&gt;
“Apakah jika dia berpredikat ‘ikhwan’ dan ngaji, semuanya sudah cukup! Di mana diletakkan kecocokan visi, pemikiran, orientasi, dan karakter? Sekarang ini jumlah ikhwan akhwat melimpah. Lantas atas dasar apa, seorang ikhwan dijodohkan dengan seorang akhwat?”, desakku.&lt;br /&gt;
“Bukankah anti bisa bertanya, minta informasi yang lebih lengkap?” Yanti menyarankan dengan sabar.&lt;br /&gt;
“Sudah…!” Lantas aku serasa mendapat tempat utuk mengurangi beban yang beberapa hari ini kusandang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepekan yang lalu mendadak Mbak Lia memberikan biodata seorang ikhwan. usiaku memang sudah sangat cukup untuk menikah. Dua puluh lima tahun. Aku terkejut ketika itu, tapi aku hanya sanggup untuk mengiyakan. Tiga hari kemudian aku dihadapkan dengan &quot;laki-laki tak di kenal&quot; dalam biodata itu di rumah mbak Lia, aku sangat berharap laki-laki itu seperti yang kuimpikan. Seperti…., Ah! Sudahlah, ternyata aku harus kecewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Suatu saat, jika ada yang berniat menikahiku, aku ingin itu karena dia melihat sesuatu yang istimewa dalam diriku. Bukan seorang yang hanya berniat menikah, dan menyerahkan kepada guru ngajinya dijodohkan dengan siapapun. Apakah aku salah?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak. Hak kamu untuk punya keinginan seperti itu. Betapapun, kamu yang akan menjalani. Maka keputusan itu harus keputusanmu, bukan keputusan guru ngaji.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku ingin dia bisa menerimaku dengan segala kondisiku, bahkan mendukung cita-citaku. Bahwa aku bukan tipe orang yang bisa diam di rumah. Bahwa aku ingin kuliah lagi, aku ingin mengajar, aku ingin aktif bergabung dengan lembaga-lembaga sosial.&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menerawang keluar jendela kamar yang terbuka. Beberapa kerlip bintang tertangkah oleh mataku. “Tapi dia ingin aku di rumah saja. Dia ingin aku tidak bekerja di luar jika sudah punya anak”.&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, kamu tolak saja.”&lt;br /&gt;
“Aku tak berani!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yanti menatapku lama. &quot;Tampaknya, ada permasalah lain yang jadi ganjalanmu, Dhin! Bukan bagaimana dia. Istikharahlah ukhti, agar Allah saja yang menunjukkan jalan itu untukmu,&quot; Yanti menepuk pundakku dan meninggalkanku yang masih menatapi langit. Bulan di langit mulai tertutup awan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
’Permasalahan lain!’. Ya, Permasalahan lain. Barangkali memang benar inilah masalahku yang sebenarnya. Kata-kata Yanti itu kurasakan dalam membekas. Kata-kata itu pula yang menghadirkan nama pada galau hati yang selama ini tak kumengerti apa. Galau yang telah delapan bulan ini mengisi jiwa dan menenggelamkanku pada rasa gelisah, cemas, harapan serta penantian. Juga pada mimpi. Mimpiku tentang seorang lelaki shalih, yang pernah melamarku delapan bulan yang lalu. Mas Rijal. Lelaki shalih kakak kelasku di SMA dulu, di Solo, kota kelahiranku. Laki-laki yang aku tahu pasti akan mendukung cita-cintaku. Laki-laki idaman. Cerdas, alim dan bersahaja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sayang, proses kami tidak berjalan lancar, karena aku masih kuliah Ekstensi di Jakarta. Masih dua tahun lagi, dan aku tak bisa menginggalkannya karena orangtuaku keras tidak mengijinkanku. Sementara, Mas Rijal juga tak bisa pindah ke Jakarta, karena beliau memegang posisi kunci di usaha media yang baru dirintisnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu itu dan sangat sadar. Aku rela serela-relanya kalau mas Rijal mundur atas alasan ini. Bahkan dulu, delapan bulan yang lalu itu, aku yang mengajurkan beliau untuk mencari muslimah lain saja. Namun, jawaban Mas Rijal sangat di luar dugaanku ‘&lt;i&gt;Let it be my problem! Not Yours&lt;/i&gt;’. Jawaban yang menggantung. Akhirnya aku memilih untuk menunggu saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Mbak Lia, yang sudah kuanggap pengganti orangtuaku di Jakarta, menganggap semuanya sudah berakhir, karena Mas Rijal tak pernah berkabar lagi tentang lamarannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tidak demikian bagiku. Masih sangat nyata dalam benakku, masih kusimpan dengan rapi surat berisi kalimat terakhir Mas Rijal, ‘&lt;i&gt;Let it be my problem. Not Yours&lt;/i&gt;’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun beliau sangat jarang dan hampir tidak pernah menghubungiku, tapi kenyataan bahwa beliau sampai saat ini belum menikah makin memperkuat harapanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Masih April, bulan tak lagi bulat penuh. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua hari lagi aku harus memberikan jawaban. Dan aku masih juga diliputi keraguan. Bayang-bayang Mas Rijal bukannya makin tipis, tapi malah makin lekat di benakku. Hari ini, sudah berulangkali aku meraih gagang telpon dan memencet nomor HP mas Rijal. Aku ingin bertanya tentang komitmennya. Tapi selalu saja pada angka terakhir gagang telpon itu aku letakkan kembali. Aku tak sanggup. Aku malu. Jiwa perempuanku, jiwa putri Solo-ku menahan hasratku itu. ‘Perempuan tak layak untuk memulai, dia semestinya menunggu’, begitu pelajaran dari nenekku. tapi aku harus bagaimana? Aku masih berharap-harap cemas. Aku bingung statusku dalam lamaran atau tidak. Istikharahku tak menghasilkan apa-apa. Bahkan resah di jiwa itu kian mendera. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Awal Mei 2001 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini adalah hari terakhir harus memberi keputusan. Dan aku masih juga tenggelam dalam galauku. Duhai Rabbi, kenapa aku jadi lembek begini? “Saya tak bisa menerimanya Mbak, saya belum siap” Jawaban itulah yang akhirnya kuberikan. Nampak benar wajah Mbak Lia menyemburatkan kekecewaan. Tapi ada dayaku? Aku tak sanggup mendua jiwa. Bagiamana mungkin aku bisa mengiyakan, sementara hatiku masih terpaut pada seseorang lain yang masih saja ‘nakal’ bermain-main dalam ruang hatiku. Aku bisa membayangkan, tentu ini akan sangat menyakiti hati ikhwan pilihan Mbak Lia itu. Mana ada laki-laki yang rela istrinya mendua hati? Aku tak tega melukainya. Aku… aku lebih memilih menunggu mas Rijal. Ya! Menunggu mungkin lebih baik. Harapanku, suatu saat nanti, ketika takdir telah menyatakan bahwa mas Rijal memang bukan jodohku. Atau ketika aku telah sanggup melupakan Mas Rijal. Ini yang berat !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;15 Juli 2001 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat dari orangtuaku kugenggam erat. Mereka memintaku pulang liburan ini. Mereka rindu sekali. Ah, gumpalan angan itu melayang lagi. Solo tercinta dan Mas… Kusandarkan kepala ke tembok dekat jendela, ‘Duhai Rabb,…. apa arti semua ini?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Solo. Gambaran Mas Rijal yang masih belum menikah dan aku yang masih setia menunggu. Kesetiaan memang kadang terasa teramat menyakitkan. Kesetiaan yang aku sendiri tak tahu apakah layak kubangun dan kupelihara pada seorang yang aku tak pernah tahu apakah memang benar akan menjadi jodohku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tak bisa membohongi diri, harapan itu masih lekat. Meskipun itu berarti malam-malamku menjadi teramat gelisah. Sujud malamku mengalir hambar. Tangis malamku tanpa cinta. Dalam kepalaku hanya dipenuhi lelaki shalih itu. Kini aku sering merutuki diri yang kurasa bukan lagi aku yang dulu. Dhina yang penuh percaya diri dan sangat yakin jodoh itu Allah jua yang menentukan. Bahkan aku… aku sering takut Mas Rijal menemukan muslimah lain yang lebih baik dan cocok untuknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;24 September 2001&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dhin, seorang ikhwan kembali melamarmu. Kemarin Mbak sodorkan beberapa biodata, tapi ternyata dia memilihmu. Apakah kamu sudah siap sekarang?” Ucapan Mbak Lia tadi siang menyeruak kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku? Dilamar? lagi? Ya, Rabb apalagi ini? Di saat sedemikian banyak akhwat antri menunggu datangnya pinangan , justru aku yang tak berharap malah mendapatkannya. ‘Ya Allah, aku masih ingin menunggu Mas Rijal’, bisikku dalam hati dengan mata terpejam penuh penghayatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah kedua kalinya Kau kirimkan sosok laki-laki shalih kepadaku. Apakah itu artinya Mas Rijal bukan jodohku? Apakah itu artinya sudah tiba masaku untuk memutuskan menikah? Walau bukan dengan Mas Rijal? bahkan berbeda 180 derajat dibanding mas Rijal? Sanggupkah aku?.. kututupi wajahku, tak sanggup menahan gundah ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beri saya waktu satu pekan, Mbak. Saya ingin istikharah dulu,” kata-kata itu yang kulontarkan pada Mbak Lia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1 Oktober 2001 saat langit biru cerah dan matahari bersinar hangat&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mengucap &lt;i&gt;Bismillah&lt;/i&gt;, aku berangkat ke rumah Mbak Lia. hari ini adalah hari yang disepakati untuk memberikan keputusan. ‘Ya Allah, Engkau yang membolak-balikkan hati hamba-Mu, berikanlah keputusan yang berbaik bagiku’. Do’a itu kulantunkan berkali-kali dalam tiap keheningan malamku sepekan terakhir. Di malam terakhir aku sudah mantap dengan keputusanku. Matap? Benarkah? Mungkin tidak. Tapi mungkin juga iya. “Ya Allah, Engkau Maha Tahu, apa yang bermain-main di hatiku. Tapi, Ya Rabb, aku hanya ingin memenuhi setengah dien-ku. Bantu aku!,” Seperti bacaan dizikir, kata – kata itu kuulang-ulang sepanjang perjalanan ke rumah Mbak Lia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana, Dhin?” tanya Mbak Lia tanpa basa-basi setelah aku duduk di ruang tamunya. &lt;br /&gt;
Aku terdiam sejenak. Kurasakan jantungku berdegup keras. “Insya Allah saya menerimanya, Mbak,” suaraku terdengar agak parau di telingaku sendiri. Mbak Lia menatapku lekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengarahkan mataku untuk balas menatap, “Beliau bagaimana, Mbak?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbak Lia tak segera menjawab. Diraihnya tanganku dan digenggamnya erat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sabar, ya Dhin!” Mbak Lia memandangku penuh kasih. Aku tahu maksudnya. Ada selintas nyeri kurasa menikam hatiku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau boleh tahu, alasannya mundur karena apa, Mbak?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak ada, Hanya, katanya perasaannya mengatakan anti belum siap!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Belum siap?!”…. Belum siap, apa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat itu terus mengikutiku sepanjang perjalann pulang. Sakit sekali hati ini dibilang belum siap. Padahal aku sudah coba mengikhlaskan diri, kubuang segala pertimbangan manusiawiku, tapi malah dia yang mundur, kenapa aku lagi yang harus dipersalahkan? Ah.. Kalau memang tidak sreg, kenapa tidak terus terang saja? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ataukah ini hukuman-Mu padaku ya Allah? Karena aku pernah menolak seorang lelaki shalih yang datang padaku dengan hati yang ikhlas? Kucoba pendam perasaan terhina ini. Bagaimanapun , ini adalah konsekuensi dari pilihanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya, hatiku sebenarnya masih belum sepenuhnya menerima ikhwan itu. Karena dia tak seperti Mas Rijal. Ah, dia lagi, kenapa juga sosok itu terus menggangguku? Tak mau lekang dari ingatan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan, selintas tadi ada semacam kelegaan yang mengalir saat mendengar beliau mundur. Itu berarti, aku masih punya harapan pada Mas Rijal. Ya, masih ada Mas Rijal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baru pulang, Mbak?” teguran Ibu Nardi, tetangga depan rumah membuyarkan lamunanku. Rupanya aku sudah sampai di rumah kontrakanku yang terkunci. Semua teman serumahku sedang pergi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini ada surat buat Mbak, tadi Pak Pos datang,” Bu Nardi mengulurkan sebuah amplop coklat. Dahiku berkerut saat menerima amplop itu. Ada cap pos kilat khusus Solo di pojok atas. Nama dan alamatku diketik rapi pakai komputer. “Terima Kasih, Bu”, ucapku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku gesit membuka amplop itu. Sepucuk undangan berwarna biru muda! Warna favoritku juga Mas Rijal. Tiba-tiba badanku terasa dingin. Sejenak aku terpaku menatapinya. Solo.. Mas Rijal? pikirku coba menghubungkan. Dengan tangan agak gemetar, pelan-pelan kubuka undangan itu. Aku berharap itu bukan dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tinta warna emas tertulis nama itu. Nama yang teramat kukenal. Nama yang setahun terakhir mengisi mimpi-mimpiku. Nama yang setahun terakhir menjadi kekuatanku untuk bertahan di kota rantauan ini. Seseorang yang mendorongku untuk terus berkembang. ‘Rijal Herguno’. Tak terasa setitik air jatuh membasahi undangan biru itu. Inikah akhir dari penantianku, ya Allah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagu dangdut bersenandung dari warung kopi dekat rumah. Suaranya lengking, mengiringi suasana hatiku, membuatku malu lalu menghapus air mata. Seorang wanita muda yang menangisi harapan semu… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;15 Oktober 20001, 10.00 WIB &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini, 675 km dari Jakarta di kota kelahiran kami, Mas Rijal pasti tengah melangsungkan pernikahannya. dengan seorang akhwat shalihah, pilihannya sendiri. Akhwat berwajah sederhana, namun tersenyum manis yang lebih tua empat tahun darinya. “Dhin, Wajah cantik itu belum tentu bidadari. Tapi seorang wanita shalihah pasti bidadari… “ aku teringat ucapannya dulu. Sudah lama, tapi masih akrab di telinga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penantian panjangku telah berakhir. Kegelisahan itu telah menemukan muaranya.  Sekarang, akan lebih mudah bagiku untuk menerima orang lain. Seorang yang tulus, seorang yang tak kalah dari Mas Rijal”, tegasku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku teirngat sebuah ceramah tentang poligami beberapa waktu lalu. salah satu alasan kenapa laki-laki boleh menikahi lebih dari satu wanita tetapi wanita tidak adalah karena secara psikologis, wanita hanya sanggup mencintai satu orang laki-laki sedangkan pria bisa mencintai lebih dari satu orang sekaligus dengan kadar yang relatif sama. Dulu aku tak sependapat dengan argumen itu. Tapi kini? Aku merasakan sendiri ternyata memang benar, wanita tak akan pernah bisa mendua hati. Hatiku hanya cukup diisi satu nama. Dan selama ini tanpa sadar, aku telah mengisi dengan sebuah nama yang ternyata bukan hakku. Sesuatu yang akhirnya membuatku menutup pintu bagi lelaki shalih lain. Hampir saja aku membakar ladang hatiku hanya karena mengharap seekor belalang. “Rabb, berikanlah aku cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu..” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satu, jari-jariku mantap memencet tombol-tombol Handphone, “&lt;i&gt;Happy wedding day&lt;/i&gt;, Barakallahu lakum —Dhin’ Pendek saja. Berikutnya kumasukkan sebuah nomor yang sangat aku hafal setahun terakhir, dan segera memencet “&lt;i&gt;send&lt;/i&gt;”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini yang terakhir”, bisikku. “Selamat jalan, semoga bahagia”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;selesai&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Disalin dari : &lt;a href=&quot;http://agusw.penamedia.com/2005/07/18/tak-bisa-ke-lain-hati-bagian-2-tamat/&quot;&gt;http://agusw.penamedia.com/2005/07/18/tak-bisa-ke-lain-hati-bagian-2-tamat/&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;http://agusw.penamedia.com/2005/07/01/tak-bisa-ke-lain-hati/&quot;&gt;http://agusw.penamedia.com/2005/07/01/tak-bisa-ke-lain-hati/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/9095736685209337564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/9095736685209337564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/tak-bisa-ke-lain-hati.html' title='Tak Bisa Ke Lain Hati'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-450491582040573850</id><published>2011-01-17T17:58:00.000+07:00</published><updated>2011-01-17T17:58:36.206+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Jejak Tauladan Mereguk Kemuliaan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://dupahang.files.wordpress.com/2009/08/qutb1.jpg?w=354&amp;amp;h=269&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://dupahang.files.wordpress.com/2009/08/qutb1.jpg?w=354&amp;amp;h=269&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Fa taba’tsarat tsaqofatil Islamiyah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu diucapkan oleh seorang mulia yang menggambarkan kehidupan masa lalunya. “Pengetahuan keislaman saya telah pecah berantakan.” Demikian kurang lebih arti ungkapan di atas. Nampaknya kata-kata itu memang beralasan, melihat masa muda penulis kitab masyhur &lt;i&gt;Fi Zhilalil Qur’an&lt;/i&gt; ini yang penuh dengan pergulatan pemikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kecil, Sayyid Quthb memang hidup dalam lingkungan Al-Qur’an, bahkan sebelum beranjak remaja, beliau sudah menghafal Al-Qur’an dan merupakan pembaca yang sangat tekun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun demikian, beliau menceritakan bahwa semenjak beliau pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Kairo, relatif hubungannya dengan Al-Qur’an agak terputus. Berbekal intelektualitasnya, Sayyid Quthb mengambil keilmuan sastra Arab di masa kuliahnya. Ia bertemu dengan banyak ragam aliran pemikiran di Mesir. Begitulah, sepanjang berhubungan dengan para intelektual itu, tulisan beliau cenderung ‘ke kiri-kiri-an’. Bahkan Hasan Al-Banna dan Ikhwan sempat mencium nuansa liberal Sayyid Quthb dalam tulisannya yang menyerang pelaksanaan hijab di sebuah surat kabar Mesir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai pada suatu masa dalam proses pencariannya, beliau dipertemukan dengan Ikhwanul Muslimin, suatu pergerakan yang mengajak orang-orang untuk kembali kepada Islam. Dan yang melecut motivasi bergabungnya beliau adalah ketika pemimpin gerakan Islam tersebut, Hasan Al-Banna – walaupun sebenarnya mereka satu kampus, relatif satu usia namun tidak saling berkomunikasi – ditembak mati. Waktu itu beliau sedang berada di Amerika dan beliau menyaksikan orang-orang di sana merayakan kematiannya dan pesta itu membuat beliau bertanya ada apa dengan orang ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pertanyaan itulah beliau mulai menemukan benang merah antara semangat perlawanannya menghadapi imperialisme – karena awalnya beliau dari kiri – dengan semangat menemukan metode perjuangan yang sebenarnya. Dari situlah beliau kembali kepada Isalm dan beliau mengatakan “Sejak itulah saya kembali menggali pengetahuan saya yang lama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kita akan menemukan satu kalimat indah pembuka kitab&lt;i&gt; Fi Zhilalil Qur’an&lt;/i&gt;, “Sesungguhnya yang menulis &lt;i&gt;Fi Zhilalil Qur’an&lt;/i&gt; ini adalah seorang yang telah hidup selama 40 tahun lamanya. Melanglang buana dalam dunia pengetahuan dan kebudayaan, dalam dunia intelektual dan membaca semua yang mungkin dibaca oleh seseorang selama 40 tahun itu; membaca semua informasi dan pengetahuan yang sampai kepadanya untuk mencari solusi terbaik bagi kehidupan ini tapi kemudian ia menemukan apa yang dicarinya itu ternyata ada dalam kitab suci yang selama ini ada di sisinya tapi tidak disadarinya.” Itulah awal beliau kembali merestrukturisasi pengetahuan dan pemahamannya dan menulis ulang tentang Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dalam Naungan Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedekatannya dengan Al-Qur’an memang telah dibina sejak beliau masih kecil. Tentang hal ini beliau menceritakan kedekatannya dengan Al-Qur’an dalam banyak momen. Dari sini kita bisa merunut bagaimana cara beliau pertama kali menemukan metode penulisan yang kemudian beliau gunakan dalam menulis “&lt;i&gt;Fi zhilalil Qur’an&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan dengan Al-Qur’an ini diawali pada saat beliau masih kecil. Beliau lahir bukan dari kalangan ulama namun cukup terpandang di daerahnya. Pada waktu-waktu tertentu khususnya di bulan Ramadhan, ibunya selalu mengadakan acara tasmi’ Al-Qur’an di rumahnya dan seluruh anggota keluarga diperintahkan untuk mendengarkan tilawah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayyid Quthb sejak kecil terbiasa dengan suasana seperti itu dan setiap kali beliau ribut pada saat tilawah itu berlangsung, ibunya selalu menegur dan berkata, “Diam! Sesungguhnya kita sedang mendengarkan kalam suci.” Ternyata kebiasaan mendengar ini tumbuh perlahan-lahan di dalam dirinya sebagai suatu kegemaran, dan beliau menikmati pelan-pelan isi Al-Qur’an yang beliau dengarkan itu. Ini cikal bakal pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kedua, pertumbuhan beliau sebagai seorang sastrawan – di kemudian hari – membuatnya mampu merasakan dan menghayati dengan kuat – dan semakin kuat – nilai dan pola sastra yang ada dalam Al-Qur’an, Sayyid Quthb menciptakan teorinya sendiri tentang sastra yang berhubungan dengan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara teori sastra yang beliau rumuskan itu adalah “&lt;i&gt;Nadzriyatu al-tashwiri al-fanni&lt;/i&gt;” (metode deskriptif dalam Al-Qur’an); bagaimana cara Al-Qur’an melukiskan sesuatu. Itu awal mula pendekatannya, dan beliau sangat tertarik dengan kata “&lt;i&gt;zhilal&lt;/i&gt;” (bayang-bayang, naungan, kanopi) karena dari sinilah beliau merumuskan teori &lt;i&gt;Nadzriyatu at tashwiri al fanni&lt;/i&gt; tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau mengatakan bahwa ternyata Al-Qur’an itu menggambarkan sesuatu dengan pendekatan deskriptif, tetapi pendekatan deskriptif yang digunakan Al-Qur’an itu selalu berusaha menyentuh seluruh sisi sesuatu yang dilukiskannya, sehingga sesuatu itu seakan-akan mempunyai ruh dan hidup. Lukisan sesuatu itu – menurut pengamatannya – terlihat secara baik dalam penggunaan pilihan kata terutama unsur bunyi yang menyangkut dalam satu kata. Dan juga penggabungan satu kata menjadi kalimat sehingga menjadi satu bunyi dan menjadi satu lirik tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membuktikan teori ini, beliau menulis buku pertama yang berjudul “&lt;i&gt;At-Tashwir Al-Fanni Fil Qur’an&lt;/i&gt;” (cerita keindahan dalam Al-Qur’an) dan juga “&lt;i&gt;Musyaahidat Al-Qiyamah Fil Qur’an&lt;/i&gt;” (gambaran hari kiamat dalam Al-Qur’an). Dalam buku yang kedua ini misalnya, beliau mengumpulkan semua ayat-ayat yang berbicara tentang hari kiamat lalu membuat satu deskripsi tentang beginilah cara Al-Qur’an melukiskan hari kiamat itu sehingga pemandangan hari kiamat itu menjadi sesuatu yang hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori ini dapat disejajarkan dengan seperti halnya kita memandang satu lukisan. Ada seseorang yang sedemikian rupa bisa membuat sesuatu yang dilukis iut menjadi sesuatu yang bergerak. Teori tentang makna yang bergerak inilah yang ingin dilukiskan oleh Sayyid Quthub dalam ‘&lt;i&gt;zhilal&lt;/i&gt;’. Makna-makna itu bergerak sehingga pemahaman tentang kiamat itu dilukiskan dengan kalimat-kalimat yang apabila kita resapi dengan baik kita akan merasakan bahwa memang seakan-akan sesuatu itu bergerak. Itulah makna ‘&lt;i&gt;zhilal&lt;/i&gt;’... naungan yang bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menulis renungannya ini awalnya pada bentuk serial pada sebuah majalah bulanan di Mesir. Kemudian seiring dalam keterlibatannya secara lebih jauh dalam gerakan Islam, beliau dimasukkan ke dalam penjara. Di penjara itulah beliau menghabiskan sepuluh tahun terakhir masa hidupnya dengan menyempurnakan buku ‘&lt;i&gt;Fi Zhilalil Qur’an&lt;/i&gt;’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Proses Perenungan Mendalam dan Penulisan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu-waktu yang luang di penjara digunakan dengan sangat baik oleh Sayyid Quthb untuk menyempurnakan tafsir fenomenalnya itu. Ketenangan dan keseriusan membuat Sayyid Quthb mampu menyelam jauh ke kedalaman Al-Quran. Disanlaah ia mendapatkan apa yang disebutnya sebagai ILHAM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses penulisan tafsir tersebut melalui beberapa cara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, beliau membaca setiap surat dari awal sampai akhir berkali-kali, membaca saja tanpa kembali tanpa referensi apapun juga. Sayyid Quthb mengosongkan semua fikirannya dengan pengetahuan-pengetahuannya tentang Al-Qur’an dan menjauhkan diri dari berfirikir dengan cara menggunakan wawasan pemikiran masa lalu (&lt;i&gt;bi muqararat fikriyah sabiqah&lt;/i&gt;). Dengan menganggap kita tidak memiliki perspektif tertentu, hati dapat membaca dan merenungi Al-Qur’an dengan totalitas penghayatan, perenungan murni, tanpa kembali ke referensi apa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga pembacaan surat yang beliau lakukan mungkin dibaca sekali, dua kali, sepuluh kali atau bahkan tidak terbatas sampai ia menemukan ‘ilham’. Beliau mengatakan di saat-saat beliau menemukan ‘ilham’ itu beliau seperti berada antara sadar dan tak sadar. Di saat itulah beliau menulis semua yang beliau temukan dan rasakan pada saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menuliskan itu semuanya barulah beliau kembali membandingkannya dengan referensi tafsir-tafsir lainnya – salah satu yang utama adalah tafsir Ibnu Katsir – lalu beliau mengatakan “Hampir-hampir saya tidak menemukan ada perbedaan:, karena “ilham-ilham” yang beliau temukan dari ayat-ayat yang kemudian beliau tulis itu ternyata akan juga ada akar-akarnya pada tafsir-tafsir lainnya. Sehingga wajar kalau kita tidak terlalu banyak menemukan referensi tafsir yang digunakan oleh Sayyid Quthub dalam buku&lt;i&gt; Fi Zhilalil Qur’an&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun semua referensinya adalah referensi utama, tetapi batang tubuh dari fikiran-fikirannya itu ditemukan pada saat perenungan, proses penghayatan panjang seperti itu; sehingga tulisan yang beliau bukukan itu, “Andaikan saya berusaha untuk menulisnya kembali belum tentu saya mampu menulisnya kembali.” Inilah mengapa banyak pihak yang mengemukakan buku ini monumental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam penghayatannya seperti itu, beliau mengikuti satu metode lain, yaitu “&lt;i&gt;al-wahdatu ‘udduwiyatu fi surah&lt;/i&gt;’ (kesatuan organik dalam satu surat). Maksudnya adalah setiap satu surat dalam Al-Qur’an itu sesungguhnya datang dari satu kepribadian yang unik dan berbeda dengan surat-surat lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud kepribadian yang unik dalam satu surat itu adalah bahwa satu surat ini mempunyai satu titik fokus masalah dimana seluruh masalah-masalah yang terbahas dalam satu surat ini biasanya mengikut pada tema fokus itu. Hal yang beliau renungi sepanjang membaca ayat-ayat dalam satu surah itu adalah menemukan titik fokus – yang beliau istilahkan &lt;i&gt;Mihwar as surah&lt;/i&gt; – sedangkan yang lainnya merupakan sub-sub tema. Beliau mengatakan, “Setiap surat merupakan satu kesatuan tematik. Tetapi ia diikat oleh sebuah tema sentral. Tema sentral inilah yang menentukan untuk ditemukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggambaran yang paling baik tentang teori ini adalah pada saat beliau menulis tentang surat Al-Baqarah. Kita tahu bahwa tema-tema dalam surat Al-Baqarah itu sangat beragam, tetapi sebagian besar ayat-ayatnya berkisar tentang orang-orang Yahudi. Oleh karena itu beliau menyatakan bahwa tema sentral surat Al-Baqarah adalah mengajarkan kepada kaum Muslimin bagaimana mereka menghadapi orang lain dan orang lain yang perlu mereka perhatikan terutama adalah orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara lebih detail kupasan surat Al-Baqarah dimulai dengan pembagian pengelompokan manusia. Lima ayat pertama menjelaskan tentang orang-orang beriman, ayat ke-6 dan 7 menjelaskan tentang orang kafir, dan ayat ke 8 sampai dengan 20 menjelaskan tentang orang-orang munafik. Setelah itu Al-Qur’an kembali lagi memulai mengurut tentang penciptaan manusia. Sejak penciptaan Adam sampai tentang penggambaran orang-orang Yahudi dan bagaimana sikap mereka sepanjang sejarah mulai dari zaman Nabi Musa a.s. sampai orang-orang Yahudi yang ada di Madinah yang dihadapi oleh Rasulullah saw.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu seterusnya, sehingga satu surat itu adalah satu penuturan yang sempurna, surat itu bertutur, bercerita tentang sesuatu. Tetapi kalau kita tidak pandai mengurut urutan-urutan itu kita tidak akan menemukan bagaimana surat itu bertutur. Apabila kita menemukan tema kepribadian dalam satu surat itu, bagaimana tiap surat itu merupakan satu penuturan yang lengkap, kita akan merasakan ini merupakan satu cerita yang lengkap dengan penghayatan integral.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Merasakan Naungan Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membaca &lt;i&gt;Tafsir Zhilal&lt;/i&gt;, bagaikan membaca sebuah karya sastra. Di dalamnya penuh dengan ungkapan-ungkapan indah yang disarikan dari sumbernya yang sangat indah. Maka salah satu alasan kesulitan menterjemahkan karya ini adalah khawatir kehilangan nuansa ruh dan sastranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai karya gemilang – bagi sebagian orang dianggap berat, karena Sayyid Quthb dikenal sebagai ulama dengan karya tulisan yang sulit dipahami – kita tentu tak ingin melewati untuk juga merasakan kelezatan apa yang dirasakan Sayyid Quthb dalam penyelamannya dalam lautan Al-Qur’an. Namun kita mesti membuat agar nuansa ruhiyahnya juga dapat kita tangkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, buku ini sebaiknya dibaca disamping membaca buku-buku tafsir lain yang &lt;i&gt;ma’tsur&lt;/i&gt; (populer) seperti tafsir Ibnu Katsir; maksudnya jangan dibaca sendirian. Buku ini memang memberikan kita &lt;i&gt;frame&lt;/i&gt;, memberikan kita wawasan, memberikan kita nuansa, juga memberikan kita pengetahuan, tetapi mungkin kita perlu kembali pada sumber yang digunakan oleh Sayyid Quthb, terutama adalah tafsir Ibnu Katsir. Misalnya ketika kita ingin membaca surat Al-Baqarah di buku “&lt;i&gt;Zhilal&lt;/i&gt;” ini, ada baiknya kita membaca surat Al-Baqarah dalam tafsir Ibnu Katsir kemudian baru membaca tafsir Fi Zhilalil Qur’an ini. Sebab apabila langsung melompat ke tafsir ‘Zhilal’ ini kita tidak akan merasakan nikmatnya, karena terjadi lompatan pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, disamping membaca terlebih dahulu referensi tafsir lain, buku ini sebaiknya tidak dibaca satu kali, tetapi dibaca berulang-ulang; karena mungkin daya serap kita tidak sekuat penulis buku ini. Sayyid Quthb mempunyai kebiasaan untuk tidak menulis kecuali saripati pikiran saja. Beliau tidak suka untuk mengulang apa yang ditulis oleh orang lain. Beliau selalu mengatakan bahwa apa yang ditulisnya itu adalah ‘&lt;i&gt;isyaratu al-fikr &lt;/i&gt;(jusnya pikiran, bukan buah). Supaya kita merasakan hal yang sama mungkin kita perlu mengulang-ulangi apa yang ia tulis, karena memang tujuan kita bukan untuk sekedar menamatkan saja tetapi memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, membiasakan diri untuk melakukan perenungan-perenungan yang sama dengan membaca Al-Qur’an – misalnya surat-surat yang tidak terlalu panjang – menggunakan metode yang sama yaitu membaca berulang-ulang sambil melakukan renungan-renungan dan biasanya kita akan menemukan ilham-ilham yang sama dan jika kita kembali membaca buku ‘&lt;i&gt;Zhilal&lt;/i&gt;’ ini mungkin juga kita akan mendapatkan perenungan yang tidak terlalu jauh dengan &lt;i&gt;Zhilal&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, sebaiknya ketika kita membaca dan menemukan ilham-ilham kita, di luar dari apa yang telah ditulis di buku &lt;i&gt;Zhilal &lt;/i&gt;ini, sebaiknya kita tulis; karena biasanya buku yang baik mampu memberikan kita inspirasi, pemikiran dan komentar. Jika kita membacanya sekali lagi bagian yang sama dari buku ini kita akan tahu apakah kita masih menemukan Ilham seperti itu pada bacaan kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi catatan tentang apa yang kita temukan berupa lintasan-lintasan pikiran itu sangat berguna membantu kita memperdalam penghayatan tetang apa yang kita baca dalam buku &lt;i&gt;Fi Zhilalil Qur’an&lt;/i&gt; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Khatimah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian sejarah manusia mulia yang berinteraksi dengan kemuliaan, dan dengannya mendapatkan kemuliaan. Selalu bagaikan cahaya yang senantiasa memberikan penerangan bagi kehidupan umat manusia. Jika kemuliaan tersebut termasuk bagian dari cita-cita kita, maka jelas bagi kita jejak langkah yang harus ditapaki. &lt;i&gt;Wallahua’lam bishshowab&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
------&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Diambil dari majalah Al-Izzah, No 9/Th.1/September 2000 M&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Disalin dari : &lt;a href=&quot;http://myquran.com/forum/archive/index.php/t-11898.html&quot;&gt;http://myquran.com/forum/archive/index.php/t-11898.html &lt;/a&gt;&lt;/i&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/450491582040573850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/450491582040573850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/jejak-tauladan-mereguk-kemuliaan.html' title='Jejak Tauladan Mereguk Kemuliaan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-5334689413318899425</id><published>2011-01-17T13:08:00.000+07:00</published><updated>2011-01-17T13:08:05.833+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dakwah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pernikahan"/><title type='text'>Ketika Ikhwan dan Akhwat Jatuh Cinta</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs140.snc4/37319_130095250360761_103134439723509_140805_5332195_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs140.snc4/37319_130095250360761_103134439723509_140805_5332195_n.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;gambar dari mwindriyanto.web.id&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Suatu ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada mas’ul dakwahnya, “Akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akh fulan”. Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya. Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risih. Afwan, terus terang juga tersinggung. Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu mengatakan, “Ia jatuh cinta pada ana”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mas’ul tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. “Sabar Ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang Anti bayangkan”, Sang mas’ul mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Afwan, ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini”, sang akhwat kini mulai tersedak terbata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya sudah ana berharap Anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini”. Mas’ul itu membuat keputusan, “Ana akan ajak bicara langsung akh fulan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya mas’ul tersebut mendatangi fulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, “Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang mas’ul berusaha menanggapinya searif mungkin. “Ana tidak menyalahkan perasaan Antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah Antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu? Apakah Antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari Antum? Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah Antum menyampaikan kepada pembina Antum untuk diseriuskan? Apakah Antum sudah siap berkeluarga? Apakah Antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan Antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????“, Mas’ul tersebut membuat penekanan substansial. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan”, tambahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Cinta Aktivis Dakwah &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenanya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu perasaan produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini, &quot;Akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada di samping laki-laki yg cakap, lebih banyak kata saya daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta???&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Deklarasi Cinta &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta di atas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja&lt;br /&gt;
keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan ke surga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak potret keluarga yang baru dalam masyarakat yg kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik “asing” dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan misteri. Pertanyaan sederhana, “Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang kamu cinta sama dia?”, dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan ‘Nikah dulu baru pacaran’ masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, “Bagaimana caranya, emang bisa?”. Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada Sang Penguasa. Cinta yang diberkahi karena taat pada sang penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri diatas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Epilog&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yg berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rosullulah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita.Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawadah, warahmah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, sudah berani jatuh cinta??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Diambil dari Majalah Al Izzah edisi 11/th4/Jan 2005 M&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disalin dari : &lt;a href=&quot;http://www.rohis.org/artikel/dari-anak-rohis/175-ketika-ikhwan-dan-akhwat-jatuh-cinta.html&quot;&gt;http://www.rohis.org/artikel/dari-anak-rohis/175-ketika-ikhwan-dan-akhwat-jatuh-cinta.html&lt;/a&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/5334689413318899425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/5334689413318899425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/ketika-ikhwan-dan-akhwat-jatuh-cinta.html' title='Ketika Ikhwan dan Akhwat Jatuh Cinta'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3628155428874835025.post-6585054419561064309</id><published>2011-01-17T12:24:00.000+07:00</published><updated>2011-01-17T12:24:41.900+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar"/><title type='text'>Aliran Sesat Muncul di Maros</title><content type='html'>Kelompok aliran sesat kembali meresahkan warga di Desa Layya, Kecamatan Cenrana.  Dengan iming-iming mendapat ilmu kekebalan tubuh, sejumlah masyarakat yang tergiur mulai bergabung. Setiap anggota yang baru bergabung diwajibkan membayar sekira Rp1 juta untuk registrasi. Kini, jumlah anggota aliran sesat ini sudah mencapai  50 orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terciumnya kelompok aliran sesat ini berawal dari diskusi kajian rutin HPPMI (Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia) Maros di sekretariat HPPMI Jalan Cempaka yang mengangkat study kasus Aliran Sesat di Cenrana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari hasil penulusurannya, aliran ini dianggap menyesatkan, karena praktiknya melenceng dari ajaran Islam. &quot;Dari beberapa sumber kami yang juga warga Desa Cenrana itu menjelaskan tata cara yang diajarkan sangat berbeda dengan ajaran Islam, di antaranya syahadat yang berbeda, puasa itu haram, dan salat tidak wajib menghadap kiblat,&quot; ungkap Ketua Umum PP HPPMI Maros, Anas RA, Minggu, 16 Januari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas mengatakan, bungkamnya sebagian besar warga setempat karena mereka ketakutan terhadap ancaman dari anggota kelompok aliran sesat ini. Apalagi, mereka selalu membawa senjata tradisional seperti poke dan parang,&quot; jelas Anas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas  menyayangkan persoalan ini karena Kepala Desa Layya masih tutup mulut. Karena itu, pihak HPPMI akan berkordinasi dengan MUI, Polres, dan Depag. &quot;Rencananya di kantor kecamatan Cenrana ini akan digelar rapat koordinasi terkait aliran sesat ini. Dan kami berharap pihak MUI, Polres dan Depag bisa ikut serta,&quot; harap Anas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanggapi hal ini, anggota Komisi III DPRD Maros, M Said Patombongi mengungkapkan Depag harusnya segera turun tangan. &quot;Ini perlu untuk melihat  langsung apakah itu bertentangan dengan aqidah Islam atau tidak. Apalagi jika memang aliran itu mengatasnamakan Islam,&quot; ungkap Said.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau bertentangan, kata dia, mereka harus dicegah. &quot;Makanya, ada yang disebut pengawas kepercayaan aliran masyarakat (Pakem) yang didalamnya tergabung mulai dari Kepolisian, Pengadilan Negeri, Kejaksaan, Kementerian Agama dan Majelis Agama  yang harus memeriksa aliran itu. Karena aturan tentang keagamaan atau kepercayaan itu masing-masing dipegang Pakem. Ya, kalau tidak benar mereka harus bekukan itu,&quot; jelas Said.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MUI juga, kata Said, seharusnya lebih sigap ketika sudah mencium gelagat yang dianggap tidak benar. &quot;Tak usah menunggu laporan semua masyarakat yang merasa diresahkan,&quot; kata Said.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Kantor Kementerian Agama Maros, Syamsul Khalik, membenarkan adanya laporan terkait aliran sesat di Kecamatan Cenrana.&quot;Memang sudah ada surat yang masuk ke Polresta ditujukan ke bupati dengan tembusan Pengadilan Negeri, Kementerian Agama, dan Majelis Ulama Indonesia,&quot; kata Syamsul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun belum turun secara langsung, kata Syamsul, tapi pihaknya sudah menugaskan pengurus KUA Kecamatan Cenrana, serta petugas penyuluh kecamatan dan hasilnya memang ada ditemukan adanya laporan terkait aliran sesat itu. Pimpinan penganut aliran ini sampai kemarin belum bisa dikonfirmasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber :&amp;nbsp; &lt;a href=&quot;http://fajar.co.id/read-20110116200625-aliran-sesat-muncul-di-maros-&quot;&gt;http://fajar.co.id/read-20110116200625-aliran-sesat-muncul-di-maros-&lt;/a&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6585054419561064309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3628155428874835025/posts/default/6585054419561064309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anissyifa.blogspot.com/2011/01/aliran-sesat-muncul-di-maros.html' title='Aliran Sesat Muncul di Maros'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>