<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" gd:etag="W/&quot;CkMFRnk_eSp7ImA9WhRaFEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020</id><updated>2012-02-17T08:00:17.741+07:00</updated><category term="nostalgia" /><category term="engkau" /><category term="lawas" /><category term="mencintai" /><category term="berlibur" /><category term="sekolah" /><category term="sms" /><category term="Buah Pisang yang Hilang" /><category term="Siapa Takut Jatuh Cinta" /><category term="kucing keluarga serambi baru" /><category term="liburan" /><category term="baru" /><category term="nonton" /><category term="paku di kepala" /><category term="refleksi 2009" /><category term="sosial" /><category term="berkaos" /><category term="pengabdian" /><category term="rossi televisi" /><category term="perjalanan" /><category term="wanita" /><category term="numpang" /><category term="kejujuran" /><category term="jadul" /><category term="prie" /><category term="merenung" /><category term="salah" /><category term="singlet" /><category term="imajinasi" /><category term="murid" /><category term="turangga titihan sekaring bawana" /><category term="gaya" /><category term="spiritual" /><category term="sampai" /><category term="ketika" /><category term="meditasi" /><category term="kucing" /><category term="ronda" /><category term="ciuman" /><category term="ibu" /><category term="keluarga" /><category term="kelurga" /><category term="anak" /><category term="keluarga ibu anak cinta" /><category term="sakit" /><category term="percayai" /><category term="pembantu" /><category term="Dari pintu ke pintu" /><category term="dari hati ke hati" /><category term="mimpi" /><category term="girl power" /><category term="pendidikan" /><category term="keponakan dari desa persaudaraan silaturahmi" /><category term="andai" /><category term="ikhlas" /><category term="haru" /><category term="aku" /><category term="refleksi" /><category term="ngelamun" /><category term="sandal buruk rupa" /><category term="binal" /><category term="panci" /><category term="ditipu" /><category term="mengeluh" /><category term="masyarakat" /><category term="waktu" /><category term="bapak" /><category term="baru selimut" /><category term="asymetric warfare" /><category term="sopir" /><category term="bunga" /><category term="ilmu" /><category term="hidup" /><category term="konser" /><category term="mobil" /><category term="perempuan" /><category term="sherina dan indonesia" /><category term="penyesalan" /><category term="pengetahuan" /><category term="keberangkatan" /><category term="guru" /><category term="hujan" /><category term="cinta" /><category term="kemiskinan" /><category term="lebaran" /><category term="buku" /><category term="kelas pinggiran" /><category term="beyonce" /><category term="kejengkelan di rumahku" /><category term="ibu-ibu" /><category term="mati" /><category term="doa" /><category term="salah jurusan" /><category term="Ada Langit Di Rumahku" /><category term="pagi hari" /><category term="anak-anak" /><category term="kesulitan" /><category term="nasi kucing" /><category term="istri" /><title>Merenung Sampai Mati (Unofficial PRIE GS Blogs)</title><subtitle type="html">Blog ini berisikan kumpulan tulisan dari Prie GS, seorang Penulis sekaligus Kartunis asal Semarang, Jawa Tengah.

Nama saya Sarjono dan Merenung Sampai Mati, adalah buku pertama beliau yang saya baca. Tulisan-tulisannya yang sederhana, menggelitik, dan kritis ternyata dapat sekaligus menampar kesadaran terdalam dari setiap manusia yang mengaku masih punya akal dan perasaan :d</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>191</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/merenungsampaimati" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="merenungsampaimati" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;D08BQ3w8eip7ImA9WhRTFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8724787421325783603</id><published>2011-11-05T22:10:00.001+07:00</published><updated>2011-11-05T22:10:52.272+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-05T22:10:52.272+07:00</app:edited><title>Jangan Remehkan Soal Remeh</title><content type="html">Jangan anggap remeh soal remeh yang tidak kita anggap. Itulah alasan kenapa soal-soal yang amat berbahaya  berasal dari soal-soal yang tak pernah kita duga. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Saya juga tidak pernah di hari itu yang penuh cerita sukses, hampir saja gugur gara-gara soal ini: lupa pipis. Hari itu ada sebuah pertemuan yang membiat hidup saya semangat: ketemu teman kolega untuk  sebuah pekerjaan yang amat saya sukai. Mulai  dari perjalanan, sampai pertemuan lennya lancar, pertemuananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh pencapaian hari itu rasanya sempurna. Datang  dijemput pulang diantar, dan kerja dihargai. Tapi persoalannnya, sejak pagi saat di jemput sampai siang saat di antara pulang, saya hanya sibuk memikirkan pekerjaan, dan lupa bh setelah  semua terlambat. Saat saya mulai kebelet itu, saya sudah berada di  sebuah kemacetan yang amat parah di jalan tol menuju bandara. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tanda-tanda kurang beres mulai terasa sejak mobil merangkak menuju tol. Untuk cuma sekedar menjangkau pintu tol saja sudah demikian pelan, cuma seinci demi gerbang tol,  derita ini sudah  bulat  sempurna. Saya sudah  tak perlu lagi menyembunyikan derita saya di hadapan teman yang  dengan penuh rasa hormat mengemudi di  sebelah saya.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Sejak berangkat sampai pulang, kami berdua bercerita soal yang serba besar-besar. Soal politik, soal asungguh tak enak hati ketika dari sebuah tema yang heroik mendakak saja harus berbelok pada pernyataan: ‘’Maaf ada toliet tidak ya?’’&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Teman itu melirik saya sekilas. Cukup cuma sekali  dan ia segera menangkap seluruh penderitaan. Karena cerita selanjutnya kami berdua menderita jalan. Dan kedua-duanya sama-sama buntu. ‘’Apa kita keluar tol?’’ ia bertanya. Pertanyaan yang tak ada perlunya karena si penanya sendiri tak tahu jawabannya. Masuk atau keluar tak banyak artinya karena bahkan cuma untuk keluar, kami  dihadapkan pada.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tetapi untuk meneruskan perjalanan dan mencari kemungkinan di depan, sama gelapnya. Kemacetan itu benar-benar membunuh harapan untuk menjangkau toilet Kendaraan merayap setindak demi  setindak dan celah kosong untuk berhenti tidak ada. Kalau kami nekat berhenti akan menimbulkan kegemparan karena hanya akan menimbulkan kemarahan pihak yang di belakang.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Saya sudah  melirik-lirik di dalam mobil dikosongkan dan Anda pasti tahu untuk apa. Celakanya itu pun tidak ada.Tetapi ketika segalanya sudah  tak tertahankan dan hampir saja saya jebol begitu di dalam mobil. Ini kebelet pipis terparah selama nebaknya. Tapi intinya, jangan pernah remehkan soal yang tampaknya remeh. Kedua, ini kabar baiknya: selalu ada pertolongan yang terduga: kantong plastik itu misalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8724787421325783603?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/8724787421325783603/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8724787421325783603" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8724787421325783603?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8724787421325783603?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2011/11/jangan-remehkan-soal-remeh.html" title="Jangan Remehkan Soal Remeh" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8ASHc8fCp7ImA9WhZXEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3693702086323913006</id><published>2011-05-01T22:47:00.001+07:00</published><updated>2011-05-01T22:47:29.974+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-01T22:47:29.974+07:00</app:edited><title>Menjemput Anak</title><content type="html">Sudah lama menjemput anak pulang sekolah saya masukkan sebagai bagian penting kegiatan begitu waktunya tersedia.  Makin lama saya makin menikmati pekerjaan ini karena  kelengkapan nilainya. Ada nilai senang-senang belaka, seperti misalnya ketemu temanyang di antaranya memang membuat saya senang memandangnya.  Ada yang karena kecantikannya, ada yang karena kecerdasannya, ada yang karena naluri  keibuannya yang mengesankan saat menuntun putra-putri mereka. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Ada pula nilai yang agak serius, misalnya soal pendidikan. Sebetulnya berat sekali mengantar dan menjemput anak  itu setiap kali karena  kerepotan teknisnya terus meninggi dari hari  ke hari. Lalu lintas makin tambah padat saja dan tempat parkir makin tak ada.  Setelah repot  mengantar, lalu repot membiayai karena biaya sekolah juga makin meninggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi serepot-repotnya mengantar dan membiayai, pasti jauh lebih repot lagi adalah anak-anak itu sendiri sebagai pihak yang harus menjalani.  Tas mereka berat sekali, pelajaran mereka banyak  sekali dan jam sekolah mereka panjang sekali.  Jam yang panjang, di dalam tahun yang lama, jadi betapa lelahnya. Apa jadinya jika sudah begini berlelah-lelah, bermahal-mahal dan berlama-lama, cuma keliru kurikulumnya. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Karenanya sambil mengamati anak-anak dengan tas punggung yang berat itu, saya membayangkan sekolah dengan rasa cemas dan rindu.  Rindu, bahwa hingga kini belum tergantikan. Tetapi apa jadinya, jika lembaga sepenitng ini, misalnya, harus menanggung setidaknya dua soal prinsipil.  Pertama metodologi,  kedua kejujuran.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Soal yang pertama itu saja sampai sekarang belum rampung diperdebatkan. Bagi para awam mudah saja mengujinya, apapun alasannya, sepanjang masih rendah produktivitas sebuah bangsa,i bagi masa depan mereka. Dan ini yang terpenting, adakah anak-anak telah menjadi objek industri dengan pendidikan sebagi kedoknya?&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Karena  jika cuma soal metodologi,  jika cuma soal kurikulum yang keliru, tidak perlu ada yang ditakutkan  sepanjang  semua itu sekadar risiko dari  sebuah pembelajaran. Kekeliruan bagi sebuah  upaya, adalah kewajaran.  Jauh  bedanya, dengan kekeliruan hasil dari sebuah ketidak jujuran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celakanya di Indonesia ini, ketidak jujuran itu bisa merambah ke mana-mana bahkan sampai ke pendidikan dan peribadatan. Karenanya, saya sempatkan  berdoa: semoga sekolah, tempat anak-anak kita menggadaikan waktunya yang panjang itu, dijaga dari aneka perilaku yang tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-3693702086323913006?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/3693702086323913006/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=3693702086323913006" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3693702086323913006?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3693702086323913006?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2011/05/menjemput-anak.html" title="Menjemput Anak" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkEGSHYyeyp7ImA9WhZXEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5650665851725408497</id><published>2011-05-01T22:43:00.000+07:00</published><updated>2011-05-01T22:43:49.893+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-01T22:43:49.893+07:00</app:edited><title>Anak-anak Melukis Tugu Muda</title><content type="html">Sebuah panitia lomba gambar memacak tema ''Semarang Kota Atlas'' bagi peserta. Hasilnya, hampir semua peserta menggambar Tugu Muda. Fakta ini memicu beberapa penafsiran, tapi paling menonjol adalah tingginya naluri keseragaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya sampai saat ini, bakat untuk menjadi seragam masih menjadi ancaman yang mencemaskan. Pendidikan menuju seragam itu bahkan telah kita mulai begitu dini, lewat anak-anak pula. Itulah kenapa kehidupan sosial kita pernah begitu kesepian. Sepi imajinasi, sepi inisiatif dan sepi eksperimen. Berimajinasi menjadi sesuatu yang tak biasa. Berinisiatif menjadi kegiatan yang langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam kehidupan sehari-hari, akibat dari itu semua sungguh terasa. Sebagai penonton film, kita pernah sangat rendah diri jika harus nonton film Indonesia. ''Aktingnya wagu, ceritanya mudah diduga,'' begitu komentar yang biasa. Komentar ini telah dibikin umum, karena kelemahan film kita bukan cuma akting dan cerita. Tapi bagaimana mungkin menuntut yang lain sedang soal cerita saja belum rampung. Tapi bagaimana soal cerita hendak dibereskan sedang pelajaran berimajinasi tak pernah diberikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jika harus bercerita kita hanya bisa menghafal konvensi yang sudah ada tapi gagal bereksplorasi. Jika musim ''Ratapan Anak Iri'' tiba, seluruh cerita di Indonesia akan penuh ratapan dan air mata. Jika cerita hantu tengah digemari, hantu-hantu akan langsung bergentayangan di seluruh negeri. Seniman lalu tak beda dengan petani tadah hujan yang bekerja atas dasar perintah musim. Di luar musim yang ada, ia tak berani lagi bekerja karena tak biasa menyemai musim yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jika harus berakting, akting itu harus serba ngotot dan tegang. Kita belum merasa menangis jika belum berteriak dan memelototkan mata segede bola, belum merasa kejam jika belum berbuat sadistis. Lalu pernahlah kita memiliki tradisi cerita sedih yang fantastis. Sudah menjadi anak tiri, cacat pula. Sudah cacat, sial pula. Ia masih harus dijahili teman sebaya, tertabrak bus, kejatuhan tangga, dituduh maling, diuber-uber.... Pendek kata, kita belum merasa bahwa si anak itu menderita jika belum kita siapkan penderitaan yang spektakuler, jika langit belum runtuh menimpa kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun profesi yang kita pilih selalu muncul rangsangan untuk menjadi peniru. Jika seorang musisi menemukan campur sari, penemuan itu langsung menjadi milik bersama, dinikmati sebagai pesta. Kredo profesi kita karenanya ialah: biarlah orang lain menemukan, tapi kitalah pemakainya. Biarlah orang lain yang bekerja, tapi kita jua penikmatnya. Jadi wajar jika para penemu, pioner dan kaum peneliti menjadi mahkluk paranoid. Belum pula ia hendak menggubah lagu, telah keburu terbayang wajah pembajak kasetnya. Belum pula ia hendak menemukan sesuatu, telah keburu tegang oleh hebatnya pelanggaran hak cipta. Jadilah mereka orang yang tidak cuma menjadi peragu, tapi juga penakut dan akhirnya malah tak siap berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam cuaca yang menakutkan semacam itu, rasa aman adalah kebutuhan utama. Dan rasa aman itu diperolrh justru setelah seseorang menjadi pembajak, penjiplak, pengikut dan tampil seragam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka anak-anak yang diminta melukis Kota Semarang pun harus membayangkan Tugu Muda, membayangkan Monas jika harus melukis Jakarta. Tentu bayangan itu tidak keliru. Tapi bahwa mereka melakukan bayangan yang sama adalah sebuah persoalan. Tentu anak-anak itu juga bukan pihak yang keliru karena bisa apa mereka tanpa para pembisik, pendesain dan penggemar keseragaman yaitu: kita! (03)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-5650665851725408497?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/5650665851725408497/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=5650665851725408497" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5650665851725408497?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5650665851725408497?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2011/05/anak-anak-melukis-tugu-muda.html" title="Anak-anak Melukis Tugu Muda" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><title type="text">Links for 2010-10-01 [del.icio.us]</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://del.icio.us/sarjono#2010-10-01" /><updated>2010-10-02T00:00:00-07:00</updated><id>http://del.icio.us/sarjono#2010-10-01</id><content type="html">&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.labnol.org/software/keyboard-typing-shortcuts-for-iphone-ipad/13564/"&gt;Keyboard Shortcuts and Typing Tips for your iPad, iPhone or iPod Touch&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.labnol.org/software/remote-desktop-monitoring-with-dropbox/13696/"&gt;How to use Dropbox as a Free Desktop Monitoring Software&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.labnol.org/internet/print-from-mobile-phones/17827/"&gt;How to Print Files from any Mobile Phone using Dropbox&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</content></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUHQ3s5eyp7ImA9Wx5XEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5592081706503239194</id><published>2010-09-10T01:50:00.001+07:00</published><updated>2010-09-10T01:50:32.523+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-10T01:50:32.523+07:00</app:edited><title>SMS Lebaran</title><content type="html">Salah satu kegiatan Lebaran yang mustahil diabaikan adalah membalas dan mengirim SMS Lebaran. Luar biasa peran SMS ini dalam menyiapkan paket lebaran yang praktis, efisien dan murah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan. Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan kita bisa menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang pergi ke lain benua. ‘’Saya sedang di Roma,’’ balas seorang teman cuma dalam hitungan menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi begitulah galibnya sebuah berkah, ia sekaligus juga menggandeng musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah demikian menyita kegiatan kita. Karena praktis, gampanglah kita melakukannya. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita habis untuk melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tak aneh, jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter menemui kerabat dan saudara, tapi setelah ketemu, kerjaan kita cuma memencet-mencet keypad handphone belaka. Suami mencet, anak-anak mencet, istri mencet, maka lupalah kita pada saudara jauh yang tengah berada di depan mata. Tapi ooo, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone itu, ia mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena begitu murah SMS ini maka begitu gampang kita mengirim dan membalasnya. Karena gampang jadi sering, karena sering jadi selalu. Karena selalu jadi mahal. Karena mahal boroslah hidup kita hanya karena tipuan sang murah itu. Malah begitu murahnya SMS ini, sehingga ia bisa menghasut penonton seantero negara untuk mengirim dukungan pada pemenang lomba. Maka SMS yang murah ini sanggup mendatangkan keuntungan yang besoaaaaar sekali jumlahnya. Hebatnya, kita yang keluar biaya, para pemenang lomba itu pula yang mendapat hadiahnya. Jadi karena jebakan kesan hemat, hidup kita malah menjadi boros. Karena jebakan murah, hidup kita menjadi mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu efektif SMS ini sebagai ganti silaturahmi. Begitu efektifnya sehingga berlaku rumus satu ucapan untuk semua. Satume, satu ucapan rame-rame. Maka ucapan yang sampai ke saya adalah juga ucapan yang sampai ke Anda. Anda dan saya sama saja. Yang saya pun menjadi kita. Dan di dalam kita, unsur saya menjadi tak penting lagi. Maka ketika kita menerima ucapan generik semacam ini, ada perasaan bahwa kita cuma sebagai kita, bukan saya. Kita hanya menjadi elemen dari yang banyak. Tidak ada yang khusus dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka setiap kali kita mendengar dering SMS di handphone kita, kita tidak tegang lagi. Ah paling begitu-begitu juga. Kita tersanjung atas kiriman SMS dari para sahabat, kerabat dan saudara itu. Kita mencintai mereka dan mereka pun pasti mencintai kita. Tapi sebagaimana layaknya orang yang mencintai, ia menolak untuk dimadu. Jika ucapan yang saya terima adalah juga ucapan dikirim ke banyak manusia, apa boleh buat, saya terpaksa merasakan dilema perasaan itu: bahagia karena dicintai sekaligus sedih karena dimadu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ketika di antara berondonggan SMS itu masih terselip ada nama kita di dalamnya, ada SMS yang ditulis khusus untuk kita, ia akan segera menjadi SMS yang berbeda. Ia dekat, khusus, dekat dan penuh cinta. Ia sungguh SMS yang menggoda kita untuk segera membalas dengan kekhususan pula. Maka jika engkau mencintai saudaramu, kenapa engkau tak menggenapi cintamu dengan mengetik namanya dalam teleponmu. Karena hanya dengan menambahkan nama yang tak seberapa itu, engkau akan mendapatkan cinta saudaramu dengan kualitas yang tak pernah engkau duga sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-5592081706503239194?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/5592081706503239194/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=5592081706503239194" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5592081706503239194?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5592081706503239194?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/09/sms-lebaran.html" title="SMS Lebaran" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cAQXo9cSp7ImA9Wx5QF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-6214583055842521046</id><published>2010-09-05T22:37:00.000+07:00</published><updated>2010-09-05T22:37:20.469+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-05T22:37:20.469+07:00</app:edited><title>Candu Diri Sendiri</title><content type="html">Ternyata lebih gampang membangun gedung yang terbakar katimbang menangkap pembakarnya. Itulah yang dialami Pemerintah Kota Semarang yang telah meresmikan Gedung Setda belum lama ini. Rp 11,7 miliar dihabiskan untuk biaya renovasi. Sekitar 100 perajin dari Jepara didatangkan untuk menggarap ukiran kayunya. Sementara si pembakar entah sembunyi di mana. Pemkot telah menyerahkan urusannya pada polisi, polisi menyerahkan pada kejaksaan dan Kepala Kejaksaan mengaku belum banyak tahu karena ia adalah pejabat baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta di atas bisa mengundang berbagai penafsiran. Tapi salah satu yang menarik ialah tentang tafsir yang menunjukkan betapa dalam kemiskinan pun kita lebih bersemangat membangun katimbang mencegah perusak pembangunan. Lebih gampang mengganti lampu-pampu taman yang pecah katimbang menangkap pemecahnya. Lebih baik mengaspal jalan kembali katimbang mencegah penggalian lobang yang bisa terjadi setiap kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran kita dalam memecahkan masalah tampaknya memang lebih suka "berpikir ke depan" katimbang mengusut hal-hal yang ada di belakang. Maka jika publik mempersoalkan pemasangan papan reklame di kawasan terlarang, seorang pejabat bisa berkata: "Sudahlah kenapa harus dibesarkan-besarkan. Mari kita berpikir saja soal masa depan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika penggalian harta karun kemudian memancing keributan, seorang petinggi bisa mengatakan: "Yang bersangkutan sudah dimarahi habis-habisan. Sudah minta maaf. Maka sudahlah." Jika seorang kedapatan korupsi dan publik ramai-ramai meminta keadilan hukum, seorang tokoh penting bisa berkata: "Kenapa pula harus ada hukuman. Toh duitnya sudah dikembalikan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita seperti manusia yang diprogram hanya untuk bergerak maju dan berpikiran maju. Artinya, jika seorang pejabat tengah berkuasa, yang menyita pikirannya bukan program pembangunan secara terpadu, melainkan pembangunan menurut kepentinganku dan mumpung masih dalam periodeku. Soal kerepotan periode di belakangku bukan urusanku. Maka wajar jika hasil pembangunan bisa demikian ruwet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada cukup bukti tentang kebijakan yang terbukti keliru. Ada tempat rekreasi yang dibuat hanya untuk tidak laku. Ada kebun binatang yang dipindah lokasi hanya untuk mati suri. Ada tebing-tebing dikepras yang membuat dataran tak memiliki tekstur tanah lagi. Ada restoran yang didirikan di atas ruang publik. Ada lapangan yang telah membawa kegembiraan dijual untuk lokasi bangunan....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua jenis kebijakan itu adalah indikasi betapa bersemangat kita ini dalam memikirkan masa depan: masa depan kita sendiri. Semangat itu bahkan telah melebar begitu jauh sampai ke sopir-sopir angkutan yang bisa berhenti dan ngetem sembarangan tak peduli bikin macet jalan. Sampai ke pedagang kaki lima yang menggasak trotoar dan merugikan para pejalan kaki. Sampai ke para pengusaha yang berhasil mengeruk kredit raksasa untuk dibikin macet secara sengaja. Sampai ke pemilik bank yang membobol banknya sendiri untuk dilarikan ke luar negeri....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua dari kita ternyata adalah pemikir masa depan yang hebat: masa depan kita sendiri. Maka terjadilah tabrakan kepentingan yang begitu hebat dengan akibat yang jelas: kebangkrutan Indonesia. Sementara dalam situasi bangkrut begini pembelaan atas diri sendiri itu terus saja berlanjut. Solar kembali langka karena punya potensi diselundupkan ke luar negeri dan dijual ilegal ke pihak industri. Makin tampak segar sayur-mayur Indonesia justru makin menakutkan karena dugaan banyaknya olesan pestisida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita benar-benar manusia yang begitu mandiri karena di luar diri sendiri dianggap tak ada kepentingan lain lagi. Itulah kenapa di masa sulit, kita masih sempat membakar bendera tetangga dan merobohkan pagar kedutaaanya segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan ini sangat bisa dimengerti karena prioritas kita memang serba kepada diri sendiri. Maka demi menyalurkan kemarahan ini kita bisa menganggap remeh risiko bahwa orang lain juga bisa ganti membakar bendera, ganti bisa menganiaya dan mengangkat senjata. Perkara akibat dari ini semua akan timbul kerusakan hebat, apalah yang aneh dari kerusakan toh sudah sejak lama kita biasa melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ketersingungan diri sendiri ini harus dipertajam sedemikian rupa. Bahwa hukuman cambuk atas TKI itu memang tidak manusiawi. Maklum, kita adalah bangsa yang punya banyak cadangan kemanusiaan. Terbukti untuk menangkap seorang buron saja bisa butuh waktu demikan lama karena rasa tak tega. Mengadili kasus korupsi memang harus hati-hati karena tak enak hati. Apapun bentuk kesalahan seseorang harus segera mendapat pengampunan jika permintaan maaf sudah dilontarkan. Sebesar apapun sebuah masalah harus segera dikecilkan lewat anjuran "jangan dibesar-besarkan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengagumkan cara kita mengabaikan masa silam. Itulah kenapa dunia hukum kita terkenal sangat lambat karena hukum memang selalu mengurus masa silam. Pengggerak hukum semacam itu logis jika kehilangan interes karena pikirannya memang selalu tersita ke masa depan: masa depannya sendiri. Akibatnya ada pemutus keadilan malah bisa ganti diadili, diusut kekayaannya, terancam dipecat atau minimal dimutasi karena diduga melakukan perbuatan tercela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kalau mau tegas, pengadil yang mengadili petugas keadilan itu juga harus diadili karena memberi fatwa pengadilan yang tidak adil. Pengertian "melakukan perbuatan tercela" itu adalah kesalahan yang sangat tidak jelas bentuknya. Dan ketidakjelasan ini bisa saja disengaja sepanjang yang menjadi alasan memang demi nama baik korps sendiri, demi toleransi kolega sendiri. Jadi, kata "sendiri" itu begitu hebat perannya hingga bisa membuat orang lain tidak ada dan kepentingannya boleh dirusak begitu saja. (03)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-6214583055842521046?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/6214583055842521046/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=6214583055842521046" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6214583055842521046?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/6214583055842521046?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/09/candu-diri-sendiri.html" title="Candu Diri Sendiri" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0INRn87cSp7ImA9Wx5RGUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8682718448101156867</id><published>2010-08-28T16:59:00.000+07:00</published><updated>2010-08-28T16:59:57.109+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-28T16:59:57.109+07:00</app:edited><title>Nama Tuhan di Sebuah Kuis</title><content type="html">SEBUAH kuis televisi memberi pertanyaan sebagai berikut: apakah si anu adalah menteri tertua dalam kabinet anu. Pertanyaan ini segera membingungkan peserta kuis. Mimik kebingungannya jelas sekali. Dalam kebingungan itulah dia menenteramkan diri dengan bacaan basmallah: bismillah, dengan nama Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika diteruskan maksud si penjawab ini tentu akan bermakna sebagai berikut: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar. Jika diteruskan lagi, jawaban itu akan bertambah menjadi: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar, meski saya ngawur. Meski ngawur yang penting nama Allah sudah saya sebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena saya percaya, Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Pemurah. Meski saya benar-benar tidak tahu karena saya tidak cukup ilmu untuk menebak umur pak menteri ini, apalagi mendata umur semua menteri dalam kabinet, maka sebaiknya saya serahkan urusan ini langsung kepada Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat. Untuk itulah nama Allah perlu saya bawa-bawa dalam kuis ini. Kuis berhadiah lagi! Begitu barangkali peta bawah sadar si penjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hasilnya? Jawaban peserta ini, meski sudah pakai basmallah tetap saja salah. Jadi, terbukti sudah tentang sifat Maha Pengasih Allah itu dengan justru tidak mengabulkan pihak yang telah merayu-Nya sepanjang orang ini tak cukup ilmu atas sesuatu. Meski telah dibujuk, Tuhan menolak untuk bertindak tidak adil. Selamanya, kebodohan hanya membuahkan ketidaktahuan. Jika sudah bodoh masih tega membawa-bawa nama Tuhan hanya agar ia pintar mendadak, ini sungguh keterlaluan. Dan jika proses dari tidak tahu menjadi tahu cukup hanya dengan menyebut nama Tuhan, sikap ini benar-benar hendak meremehkan Tuhan yang seolah-olah gampang dibujuk dan dirayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara manusia dalam membawa-bawa nama Tuhan ini sering demikian percaya diri. Seorang petinju yang kebetulan beragam Islam, bisa demikian habis-habisan mengeksploitasi Tuhan. Ia bisa muncul dengan sajadah terbang sambil diiringi adzan. Di tengah ring ia bersyahadat, memuji Allah dan Rasulnnya. Luar biasa kecintaan petinju ini pada agamnya, tapi eee, akhirnya kalah juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi-lagi begitu dingin cara Tuhan ini mendemonstrasikan keadilan-Nya. Tak peduli apakah nama-Nya di sebut dan dipuja-dipuji, tak peduli apakah orang berdoa secara demonstratif atau sembunyi-sembunyi, Ia tetap memberikan kemenangan bagi petinju yang lebih keras jotosannya, lebih bagus staminanya dan lehih baik tekniknya. Orang-orang yang luas ilmunya itu, lepas dari ia angkuh atau rendah hati, iman atau ingkar, tak menghalangi Tuhan untuk menepati janji-Nya dalam mengangkat derajat mereka naik beberapa tingkat. Jadi, betapa Tuhan lebih meminta manusia untuk lebih dulu mematuhi hukum-Nya ketimbang buru-buru memuja nama-Nya. Tuhan tidak ingin para hamba-Nya bersikap gampangan dan menjadi penipu. Karena ada tingkat pemujaan formal, besar sekali risiko penggampangan dan penipuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyebut kata Allah ribuan kali jauh lebih ''gampang'' ketimbang harus bekerja keras menafkai keluarga, menyekolahkan anak-anak, dan mendidik mereka menjadi anak-anak yang baik. Rasanya Tuhan tidak memerintahkan manusia cuma sibuk memuja-Nya tapi lupa menepati aturan-Nya. Karena pemujaan Tuhan tanpa kepatuhan atas peraturan Tuhan adalah sebuah penipuan. (03)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8682718448101156867?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/8682718448101156867/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8682718448101156867" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8682718448101156867?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8682718448101156867?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/08/nama-tuhan-di-sebuah-kuis.html" title="Nama Tuhan di Sebuah Kuis" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04MQXs-cCp7ImA9Wx5REks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2534782994935851664</id><published>2010-08-20T06:53:00.000+07:00</published><updated>2010-08-20T06:53:00.558+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-20T06:53:00.558+07:00</app:edited><title>Anak Saya Kalah Lomba</title><content type="html">Soal yang hampir tak bisa Anda hindarkan ketika menjadi orang tua adalah mendapati anak yang ikut berlomba dan kalah. Lomba apa saja, karena anak-anak memang masih ingin menjadi apa saja, tak terkecuali anak-anak saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada kekalahan yang enak. Beberapa di antaranaya malah menyakitkan. Melihat anak sakit oleh sebuah kekalahan adalah pemandangan yang bikin masgul. Berikut ini ada beberapa cara untuk menghadapi kekalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, sakit secara bersama-sama. Si anak kecewa, orang tua apa lagi. Meskipun dari mulut orang tua bisa berkata: ''Tak usah kecewa. Masih ada kesempatan,'' tapi nasihat ini tak banyak gunanya karena kekecewaan terdalam justru terdapat di wajah orang tua ini. Nasihat ini lebih untuk menghibur hati mereka sendiri katimbang hati anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, labrak saja dewan juri dan protes bahwa penilaiannya tidak jujur. Betapa ada peraturan lomba yang tidak dijalankan dan itu merugikan peserta termasuk anak Anda. Protes ini diharapkan agar memberi kesan bahwa kekalahan itu bukan kerena anak kita goblok tapi karena lomba yang penuh kecurangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dunia politik, strategi ini terkenal dengan taktik pengalihan isu. Jika isu ini terlalu keras, ada cara isu yang lebih lunak, misalnya: ''Anak saya sakit. Ketika ikut lomba badannya sedang panas. Saking panasnya sampai ketika ketiaknya saya ukur, termometernya bengkok begini.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, Anda bisa menempuh apa yang dilakukan teman saya ini. Sepanjang anak masih mudah  dikibuli, katakan saja ia selalu menjadi pemenang dalam setiap lomba yang ia ikuti. Caranya mudah, sebelum lomba usai, ajak dia pulang dan belikan piala di pasar grosir dan tulis namanya lengkap dengan gelar juaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke empat adalah cara yang amat sulit, tetapi saya sangat ingin mencobanya, yakni menikmati kekalahan. Melihat wajah anak yang sedang kalah, adalah melihat wajah saya sendiri ketika sedang menjalani penderitaan serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah wajah yang malu, sakit, marah, kecil hati dan kecewa. Merasakan derita serupa sedang menimpa anak saya, adalah perasaan menyakitkan. Tetapi kekalahan demi kekalahan dalam lomba yang banyak saya derita di masa remaja itu ternyata adalah modal yang baik sekali bagi kekuatan saya di hari ini. Terutama kekuatan menertawai diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sekali perubahan dalam hidup saya ketika saya mulai mudah tertawa termasuk pada  soal-soal yang selama ini saya anggap menyakiti hati. Maka jika kekalahan ternyata mendatangkan manfaat  sebaik ini, betapa keliru jika saya tidak mengembangkan prasangka baik terhadap kekalahan sejak dini. Saya termasuk terlambat menyemai perilaku ini, sehingga terlalu banyak rasanya waktu yang saya habiskan untuk sakit di hadapan kekalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin tidak cuma anak saya, tetapi juga siapa saja merasakan sensasi kekalahan ini. Berani sakit, berani malu, berani memberikan kemenangan kepada pihak yang berhak, adalah latihan mental yang baik sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberanian semacam itulah yang ternyata menjadi modal untuk menjadi pemenang di kelak kemudian. Bukan cuma sekadar menjadi pemenang sebuah perlombaan tetapi juga menang dalam kehidupan. ''Jadi, anakku, kamu boleh kalah dalam lomba, tetapi jangan kalah di dalam hidup.'' (Prie GS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-2534782994935851664?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/2534782994935851664/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=2534782994935851664" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2534782994935851664?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2534782994935851664?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/08/anak-saya-kalah-lomba.html" title="Anak Saya Kalah Lomba" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck4CQX4zeyp7ImA9Wx5REUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2990868259894217173</id><published>2010-08-18T21:16:00.000+07:00</published><updated>2010-08-18T21:16:00.083+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-18T21:16:00.083+07:00</app:edited><title>Di Sebuah Lomba Gambar</title><content type="html">Seperti tahun sebelumnya, setiap perayaan Agustusan tiba, lagi-lagi aku kebagian jadi panitia lomba. Yang paling sering adalah lomba lukis, mungkin karena latar belakangku yang kartunis. Sebetulnya, dibanding kesibukanku, pekerjaan ini amat menggangu. Untuk mengurus pekerjaanku sendiri saja aku seperti kekurangan waktu. Apalagi harus mengurus pekerjaan kampung seperti ini. Sudah tak dibayar, tombok waktu dan tenaga, tambah mengganggu pekerjan resmi pula. Jadi kalau boleh menghindar, aku jelas lebih suka menghindari. Tapi untunglah, di dunia ini ada soal-soal yang tak bisa kita hindari walau tak kita sukai. Karena ternyata ada sebentuk kegembiraan, yang tersembunyi di balik soal-soal yang kita benci. Maka kusarankan: berhati-hatilah pada kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esok hari lomba akan dimulai, malam hari pikiranku sudah penat oleh tumpukan beban. Beban terberat datang dari pikiranku: pikiran menolak apa yang  sedang tidak aku ingini. Maka malam itu, menjadi malam yang berat dan aku ingin keburu menjemput pagi. Ingin secepatnya mengerjakan tugas terpaksa ini, bukan untuk rajin, tetapi agar pekerjaan itu rampung secepatnya. Ia seperti meminum obat yang karena kepahitannya, kita buru-buru ingin menelan karena tak punya lain pilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lomba baru akan dimulai pukul delapan waktu undangan. Disebut waktu undangan karena dari apa yang tertulis di undangan, waktu bisa molor satu hingga dua jam. Tapi kurang satu jam dari waktu yang diundangkan itu, peserta sudah banyak berdatangan. Anak-anak yang hampir semuanya telah bersiap, berdandan dan bersisir rapi. "Anak saya sakit, tapi hari ini memaksa diri sembuh hanya agar bisa ikut lomba ini," kata seorang Bapak. "Anak saya malah  semalam tak bisa tidur, keburu ingin pagi," kata Bapak yang lain. Ada bapak, ibu, kakak, mbak, bulik paman, semua menggiring anak-anak itu seperti hendak berangkat ke medan perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi inikah lomba yang aku ingin hindari itu, pikirku. Lomba yang oleh anak-anak ditafsirkan dengan begitu penuh sensasi. Hadiahnya tidak seberapa, jumlah juaranya juga cuma untuk sedikit anak saja tetapi kegembiraan yang dibawa lomba ini, sangup membuat anak tidur sambil keburu melihat pagi, membuat anak yang sakit sembuh karena memaksa diri. Rasa bersalahku langsung bergolak. Lomba ini langsung aku mulai tepat waktu dengan semangat tinggi. Jam delapan tepat, waktu udangan, lomba dimulai. Ku ira inilah lomba gambar tingkar RT paling tepat waktu di dunia! Untuk apa? Untuk menghormati anak-anak yang datang juga amat tepat waktu ini. Mereka harus segera mendapat hak-haknya, karena mereka sudah menunaikan kewajibannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu menerima kertas gambar, semuanya menjadi amat sibuk, amat serius dan kertas putih itu, bagi anak-anak seperti sebuah arena pertempuran hidup dan mati. Tegang, fokus, serius. Bagi kami, orang tua ini, lomba ini hanyalah sekadar kegembiraan Agustusan, tetapi tidak bagi anak-anak ini. Sekali lagi: inilah lomba yang memaksa mereka bisa sembuh dari sakit dan peristiwa yang terbawa mimpi sehinga memaksa anak-anak rela bangun pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu jam saja yang disediakan untuk batas waktu lomba, tetapi ketika waktunya lewat, banyak kertas baru tergambar sebagian saja. Ada kerepotan yang tidak sederhana bagi anak-anak ini untuk menerjemahkan kriteria yang rumit bikinan panitia yang tua-tua ini. Ketika dinyatakan waktu habis, kepanikan merejalela di mana-mana. Tak tega pada keadaan ini, kuputuskan untuk mengubah secara radikal aturan lomba: tak ada batas waktu. Seberapa lama kalian perlu waktu, kami panitia, akan menunggu. Keputusan yang disambut sorak-sorai. Lomba kemudian berlangsung nyaris tanpa aturan. Bapak, ibu, kakak, mbak, seluruh pengantar itu boleh ikt bantu-bantu: ikut mewarnai, menambah ide, mengarahkan, membenarkan... Pokoknya jadilah lomba gambar paling ruwet se Indonesia tapi gantinya ia mendatangkan kegembiraan sedemikian rupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat seorang bapak harus menggelesot menemani anaknya, seorang ibu harus mengipasi putrinya, seorang kakak menjaga adiknya, seorang paman  menyemangati keponakan. Melihat kerukunan semacam itu, aku lupa pada kelelahanku. Pekerjaan yang semulai aku ingin hindari ini akhirnya menjadi pekerjaan yang aku banggai karena akulah ketua panitianya.&lt;br /&gt;
(/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-2990868259894217173?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/2990868259894217173/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=2990868259894217173" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2990868259894217173?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2990868259894217173?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/08/di-sebuah-lomba-gambar.html" title="Di Sebuah Lomba Gambar" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D04NRX44eSp7ImA9Wx5TGE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3428113997661359402</id><published>2010-08-03T18:46:00.000+07:00</published><updated>2010-08-03T18:46:34.031+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-03T18:46:34.031+07:00</app:edited><title>Handphone Baru</title><content type="html">Silih berganti adalah soal yang harus dijalani. Termasuk soal handphone. Jika boleh memilih, sebetulnya saya jenis lelaki penganut monogami, termasuk soal HP. Setiap harus berganti handphone, selalu ada perasaan sedih, setidaknya enggan. Kenapa saya sebut harus? Karena cuma keharusan itu sajalah yang membuat saya tergerak mengganti barang ini. Ada yang karena kecebur kolam, ada yang karena saking tuanya hingga banyak tombolnya tak jalan lagi, dan ada pula yang hilang di tengah jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sebab-sebab dramatik itu, betapapun tua sebuah handphone, rasanya malah makin dekat saja saya kepadanya. Seluruhnya sudah saya akrapi. Dan keakrapan terhadap apa saja, termamsuk kepada barang-barang, adalah keakrapan kita kepada makhluk juga. Ada perasaan sebagai teman, saudara, dan akhirnya berkembang sebagai anggota keluarga. Maka ketika harus berpisah dengan HP yang lama, sering muncul perasan tak tega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya menulis kolom ini,  saya terpaksa  berganti handphone lagi, untuk kesekian kali. Walau saya sebut ‘’kesekian’’ tidak  berarti bahwa begitu  seringnya saya berganti. Melainkan karena memang ada sekian persoalan yang seperti yang  sudah saya sebutkan di depan: ada yang ketuaaan, ada yang tercebur kolam, ada yang hilang, dan oya, ada pula yang pernah cuma bisa menerima SMS tapi tak bisa mengirimnya kembali. Seperti galibnya sebuah pergantian, ia selalu ‘’harus’’ yang lebih baru dan  lebih tinggi, lebih mahal, lebih asing dan buntutnya menjadi  lebih rumit, lebih menjengkelkan… walau pasti juga lebih menggoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi godaan itu bukan  soal besar bagi saya. Ada banyak hal yang membuat saya tergoda, tetapi pasti bukan soal handphone. Jadi betapapun mahalnya, betapapun canggihnya, perasaan saya kepadanya biasa-biasa saja. Mau di dalam HP itu ada radio, ada video, ada televisi, ada kulkas sekalipun, saya tidak menganggapnya sebagai tawaran yang luar biasa. Dari handphone, betapapun canggih, sebetulnya cuma terbagi dalam dua fungsi saja, pokok  dan tidak pokok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sering dipercangih diperbaiki, dipermahal itu tak lebih dari yang tidak pokok. Yang pokok tetap saja seperti sedia kala. Tak banyak berubah. Dan itu cukup bagi saya. Maka ketika hendak berganti barang pun, saya cuma ingin kembali pada yang pokok-pokok saja, walau saya tidak menolak sejumlah perbaikan, misalnya suara yang lebih terang, sinyal yang lebih baik, memori yang lebih besar dan seterusnya. Tetapi selebihnya kembali lagi pada kebutuhan pokok itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi niat saya kembali ke pokok ini semakin tidak mudah, karena ada mode dan anak-anak. Anak-anak dengan modenya adalah ikan dengan airnya. Begitu agresifnya mereka pada  mode itu sehingga kalau mereka belum kuat bermode sendiri akan menempuh jalan apa saja termasuk memperalat  bapaknya. Handphone baru ini sepenuhnya adalah kebutuhan saya tetapi merekalah  penentunya. Maka lengkaplah sudah, barang baru ini seluruhnya adalah sebuah gangguan. Cuma untuk mencari  sebuah fungsi saja harus menguras tenaga dan  pikiran sedemikan rupa. Seluruh prosedurnya seperti rimba belantara. Sekadar mengirim SMS saja, dengan alat baru ini sungguh menimbulkan kepayahan. Saya hampir-hampir menyerah karena marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebelum barang ini saya banting (dan itu pasti tidak mungkin) saya teringat anjuran sederhana. Bahwa ada sebuah fase, yang manusia diminta bersabar atas kepayahannya. Fase itu bernama fase menuntut ilmu. Tidak ada yang enak dari pihak  yang  sedang belajar. Kerjanya tak ada lain kecuali keliru, bodoh dan menderita. Tetapi sejauh saya amati, keberanian saya menderita itulah yang membuat saya menemukan seluruh keasyikan hidup di hari ini, termasuk dipercayai menulis kolom ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terkira hambatan saya dalam menulis saat itu. Tetapi betapa seluruh hambatan itu cuma kesepadanan dengan nilai yang disediakan. Seluruh jenis pekerjaan baru, perpindahan, pergeseran ke  arah yang lebih baru selalu menimbulkan kesakitan. Tuntaskan saja karena ia memang mengajak kita ke tata nilai yang baru, nilai yang selalu  lebih memartabatkan. Kuncinya, lalui saja seluruh tahap kesulitan yang jujur saja, memang menjengkelkan itu. (Prie GS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-3428113997661359402?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/3428113997661359402/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=3428113997661359402" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3428113997661359402?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3428113997661359402?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/08/handphone-baru.html" title="Handphone Baru" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEUAQXk6fSp7ImA9Wx5TE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4422032334085070140</id><published>2010-07-28T20:04:00.000+07:00</published><updated>2010-07-28T20:04:00.715+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-28T20:04:00.715+07:00</app:edited><title>Anggrek Melengkung</title><content type="html">Di sisi kiri pagar rumah saya ada anggrek hutan yang dipot begitu saja. Saya sebut begitu saja, karena sebetulnya ia anggrek yang tak terawat. Kalau pun selalu kami sirami, tak lebih untuk sebuah kewajaran saja. Tetapi dari sisi tata letak, perawatan dan perhatian, ia adalah tanaman sebatang kara. Terburuk adalah letaknya yang sedemikian rupa itu sehingga cahaya sama sekali tidak pernah menjangkaunya. Ia nyelip diujung pagar dengan matahari yang selalu terhalang untuk menyentuhnya. Tegasnya, ia anggrek tanpa sinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi selama ia berada di pagar itu, tak henti-hentinya ia memberi kami bunga jika musimnya telah tiba. Ungu, segar dan tahan berlama-lama. Jika bunga itu merekah, bukan cuma kami yang menyapa, tetapi juga orang-orang lewat dan para tetangga. ''Duh cantiknya,'' begitu biasanya kata mereka. Setiap  komentar, membuat kami bahagia. Begitulah memang watak pujian. Jika pun ia dialamatkan kepada barang-barang kita, bahagiannya akan singgah ke kita juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekian lama anggrek ini memberi kami bunga padahal dengan perawatan ala kadarnya, sampailah saya pada  keheranan yang tak kami pikir sebelumnya. Yakni, betapa seluruh tubuh angrek ini ternyata bergerak ke satu jurusan saja, yakni menjulur ke luar, tepat ke bibir pagar arahnya. Gerakan ini tidak kami bentuk, tetapi anggrek itu sendirilah yang membentuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh waktu bertahan-tahun bagi  tanaman ini untuk membengkokkan diri seperti itu, tetapi agaknya itulah satu-satunya cara agar ia hidup, bertumbuh dan bisa mendermakan elok lewat bunga-bunganya. Butuh waktu bertahun-tahun! Dan taksiran saya, lebih dari sepuluh tahun sudah  sejak anggrek itu ada di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu siapa yang meminta anggrek ini melengkungkan tubuh untuk menuju arah yang sama? Ternyata adalah kebutuhannya atas cahaya. Pojok yang dihuni anggrek ini adalah sisi gelap dan cuma di luar pagar itulah cahaya berada. Setitik demi  setitik anggrek  ini menjulurkan tubuhnya. Sel demi sel ia mengulur diri untuk menuju cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya itu memang cuma beberapa inchi saja dari tubuhnya, ia cukup di luar pagar, wilayah yang tak terhalang tembok tetangga. Tetapi bagi anggrek ini, itulah jarak yang amat jauh, yang harus ditempuh dengan hitungan tahun, lebih dari sepuluh tahun karena pot itu telah ada di sana sejak  putri kecil saya yang balita dan kini ia  telah beranjak dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya jadi malu pada anggrek yang senantiasa berjuang mencari cahaya tanpa mengeluh ini. Sebuah perjalanan yang intens, yang secara konsisten ia lakukan tak peduli apakah kami sedang memperhatikannya atau tidak. ''Yang saya tau, cahaya itu ada di sana, dan langkah ini, harus terus menuju ke sana,''begitulah pasti tekat anggrek ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu saya menebak-nebak karena ia telah menyodori kami bukti atas seluruh jerih payahnya. Maka setiap melihat anggrek itu, saya melihat kekuatan keyakinan, atas segala sesuatu, betapapun lemahnya, siapapun akan menjadi amat kuat jika ia sedang rindu berjalan menuju cahaya. (Prie GS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-4422032334085070140?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/4422032334085070140/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=4422032334085070140" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4422032334085070140?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4422032334085070140?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/07/anggrek-melengkung.html" title="Anggrek Melengkung" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUcMQXo7cCp7ImA9WxFbE0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3967832614312486596</id><published>2010-07-05T22:18:00.001+07:00</published><updated>2010-07-05T22:18:00.408+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-05T22:18:00.408+07:00</app:edited><title>Keyboard Kurang Nada</title><content type="html">Keyboard kuno itu ada di rumah karena terpaksa. Tetapi karena betapapun dia adalah keyboard kami menyambut baik kedatangannya walau tak sampai benar-benar jatuh cinta. Ia dari jenis yang tua yang seorang saudara kami pun telah bosan karena itulah kepada kami ia mewariskan barangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di rumah, karena ia bukan barang kesayangan, siapa saja boleh membunyikan. Intinya, ia menjadi barang umum saja. Sesekali saya memerlukan juga mengakrapi barang ini. Tetapi lama-lama bosan juga dan ia menjadi barang yang terlupakan. Karena fungsinya mulai dinilai tidak sepadan dengan kebutuhan barang ini pun diungsikan ke kamar lain yang sebetulnya lebih cocok disebut gudang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari waktu ke waktu ia cuma terlihat jika kami memasuki ruang yang berarti gudang itu. Pada awalnya, sebagian tubuhnya masih kami selimuti. Jika selimut itu terlepas, masih suka kami benahi. Tetapi makin lama, bahkan membenahi selimutnya pun tak pernah lagi. Bukan tak sempat, karena perhatian ke arahnya tak ada lagi. Debu di wajahnya menebal dari hari ke hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai suatu hari, saya melihat barang ini dan ingin memainkannya lagi. Tapi debu dan pembiaran itu agaknya sudah terlalu lama hingga keadaan keyboard itu telah sedemikian rupa. Ia seperti seseorang yang tak pernah tersentuh kasih sayang lalu patah hati dan memilih menghancurkan dirinya sendiri. Didorong rasa iba, saya mengelap dan memainkannya sekadar untuk bersilaturahmi. Agak kaget juga ketika sampai di beberapa bagian ada tuts yang mati. Dengan nada yang tak lengkap, barang ini sudah tak bisa dimainkan lagi, apalagi kami bukan ahli. Maka apa saja lagu yang saya coba, jatuhnya tak pernah bisa rampung juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saya main di kunci yang paling mudah, kunci itu tiba-tiba menjadi susah karena nada yang hilang itu tepat di nada pertama, do. Mana mungkin saya menyanyi tanpa do, karena ia serupa membangun rumah tampa pondasi. Saya coba mengingat lagu termudah sekalipun, ternyata tak ada yang bisa terbentuk tanpa bunyi do. Tetapi saya mencoba menantang diri sendiri, apa jadinya jika saya dihukum gantung jika tidak sanggup menyanyi tanpa do? Ayo menyanyilah meskipun tak lengkap nadamu, bujuk saya pada diri sendiri. Lagipula ada tujuh nada, dan kamu cuma kehilangan satu, tambah saya di dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mulailah saya mencoba memainkan harmoni tanpa do. Pada mulanya tidak cuma aneh, tetapi juga menderita. Bermusik tanpa nada dasar sama saja pelari tanpa garis start dan tak ada finish. Bukan jarak yang menjadi persoalan tapi lebih pada berjalan tanpa jelas ke tujuan itulah yang melelahkan. Tetapi karena tak ada lain pilihan, terus bernyanyi itulah yang bisa saya lakukan. Saya putuskan saja, setiap garis yang saya temui, adalah sebuah start. Setiap nada adalah nada dasar dan saya boleh berhenti kapan saja bukan dengan nada sebagai penandanya, tetapi cukup kelelahan saya sendiri saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jadilah saya main menggila di hadapan keyboard tua ini. Yang saya sebut menggila itu bukan karena teknik saya yang tinggi, melainkan apapun keterbatasan tekniknya, saya boleh memijit nada sesuka saya. Jika ada penonton bertepuk, yang bertepuk itu akhirnya juga cuma saya. Jika ada penonton yang ngomel, pengomel itu juga cuma saya. Karena pemain, penonton dan juri saya rangkap sendiri akhirnya tak ada permainan baik-buruk, benar salah. Hantam saja senantiasa. Hasilnya, inilah permaianan musik saya paling hebat sepanjang saya berhenti bermain musik sejak SMA. Ngawur dan sama sekali tak ada enaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi apapun sebutannya, saya bisa bermain nikmat sekali, lama sekali untuk ukuran orang iseng dan bahagia sekali. Cuma berkurang sebuah nada, ternyata memang tak perlu menghalangi seseorang untuk bernyanyi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(/Nv@)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-3967832614312486596?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/3967832614312486596/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=3967832614312486596" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3967832614312486596?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3967832614312486596?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/07/keyboard-kurang-nada.html" title="Keyboard Kurang Nada" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0cEQXk_fip7ImA9WxFbEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2417468019340480167</id><published>2010-07-03T19:10:00.000+07:00</published><updated>2010-07-03T19:10:00.746+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-03T19:10:00.746+07:00</app:edited><title>Lulus Seratus Persen</title><content type="html">Saat itu sekolahku lulus seratus persen, dengan aku menjadi bagian dari kelulusan. Kami semua berteriak dalam kegembiraan, tetapi anehnya kenapa masih ada kesedihan diam-diam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyangka kesedihan itu bersumber dari perpisahan kami dari&amp;nbsp; kenangan: dari sekolah, guru-guru, teman-teman, dan penjaga. Soal-soal yang semula biasa-biasa saja, baru ketika hendak&amp;nbsp; berpisah, semuanya menjadi muncul dan berharga.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Saat itu, imajinasi kesedihanku baru sebatas menjangkau wilayah itu, tetapi tidak kini. Ada lagi agaknya sumber kesedihanku yang pelan-pelan terbaca di saat ini. Dulu sumber kesedihan ini tersimpan dalam, tanpa aku tahu, tetapi terus terasakan. Terasa tapi tidak tahu, itulah yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Kini, tanpa ragu aku menebak sumber kesedihan misterius itu, ia tak lain adalah nilai matematika di ijazahku. Nilai itu cuma enam, terjelek di antara seluruh nilaiku. Aku menyangka nilai ini muncul lantaran kebencian guru matematikaku kepadaku. Diam-diam aku marah&amp;nbsp; sekali pada guru itu. Nilai enam ini adalah noda di ijazahku yang akan terpatri di situ nyaris selamanya. Sekian lama aku sakit oleh nilai itu karena dan hampir saja aku menolak untuk melihat ijasah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku malu sekali pada prasangkaku. Guru itu ternyata adalah guru yang amat baik kepadaku. Seorang guru lain diam-diam meyakinkanku, jika ukurannya adalah hasil ujian asli, nilai matematika bukan enam, tapi empat. Angka enam itu ternyata sudah&amp;nbsp; terlalu tinggi untuk kemampuanku dan guru itulah yang membelaku. Jika cuma mengandalkan hasil ujian, aku adalah murid yang tidak lulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa, meskipun aku ikut-ikutan bergembira, tetap saja ada kesedihan tersembunyi di hatiku. Karena ternyata kelulusan itu sejatinya bukan milikku. Itulah kenapa kebohongan itu tak bisa lenyap dari hati walau tak ada orang yang tahu. Menikmati sesuatu yang bukan milikku ternyata hanya kegembiraan semu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan nilai ijazah palsu itu ternyata memang hanya kuat membelaku seperti nilai aslinya, cuma empat itu sajalah,&amp;nbsp; sesuai dengan kemampuanku. Buktinya seluruh sekolah lanjutan yang kuanggap favorit, yang kusangka sesuai dengan derajatku, semuanya menolakku. Semua sekolah itu pasti membutuhkan nilai delapan asli untuk lulus seleksi, bukan nilai enam itu pun palsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, satu-satunya sekolah yang mau menerimaku adalah sebuah sekolah&amp;nbsp; baru yang sedang butuh murid, yang masuk sore pulang petang dengan gedung menginduk, itupun bobrok pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terkira rasa rendah diriku jika harus berpapasan dengan anak-anak yang masuk pagi. Ketika mereka pulang kami berangkat dan dari pandangan mereka aku tahu, mereka mencibirku. Keterbalikan jadwal ini sungguh setara rasanya dengan keterbalikkan nasibku. Tetapi beginilah memang mestinya murid dengan nilai empat ini. Bahkan masih ada sekolah yang mau menerimaku pun mestinya sudah sebuah anugerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di&amp;nbsp; sekolah bobrok inilah ternyata aku menemukan teman-teman terbaik, guru-guru terbaik, lingkungan terbaik dan banyak sekali kebaikan lain yang tak pernah aku bayangkan. Begitu menyadari nilaiku cuma empat, dan cuma sekolah inilah yang mau menerimaku, rasa cintaku pada sekolah ini tumbuh pelan dan pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya seluruh&amp;nbsp; usaha&amp;nbsp; kupompakana agar yang empat ini menjadi enam, tujuh dan&amp;nbsp; seterusnya, sekuatku, sebisaku, yang penting aku tidak lagi menipu. Ternyata, menyangkut soal nilai ijazah itu, yang paling berharga bukanlah besarannya, melainkan kejujurannya. Empat yang kuterima sebagai keaslikanku ternyata jauh lebih berguna katimbang enam tapi palsu.&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-2417468019340480167?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/2417468019340480167/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=2417468019340480167" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2417468019340480167?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2417468019340480167?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/07/lulus-seratus-persen.html" title="Lulus Seratus Persen" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0cMQnY5eip7ImA9WxFbEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3909044635403984084</id><published>2010-06-30T01:23:00.002+07:00</published><updated>2010-07-05T00:38:03.822+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-05T00:38:03.822+07:00</app:edited><title>Syarat Seorang Penipu</title><content type="html">Seorang teman mengeluh tentang teman baiknya yang tega menipu. "Bukan cuma apa yang ditipu, tetapi siapa yang menipu, itulah yang menyakitkan hatiku," kata si teman ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak hendak meyangkal pernyataannya. Pertama, tak baik pihak sedang menderita bukan mendapat bantuan, tetapi malah mendapat penyangkalan. Kedua, semakin dekat seseorang dengan kita, akan menjadi penuh harapan kita kepadanya. Itulah kenapa ditipu teman dekat, dua kali lipat kesakitannya. Karena menjadi selalu baik dan selalu dipercaya, itulah harapan kita kepada teman dekat. Menjadi semakin dekat, semakin banyak syarat yang kita tetapkan kepadanya. Maka ketika ia semakin dekat tapi semakin tidak bisa dipercaya, adalah kesakitan ekstra. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tergoda dengan kata "tapi" yang jamak menjadi kebiasaan hampir seluruhnya dari kita ketika tengah berhadapan dengan persoalan tertentu. Misalnya jika kita adalah pihak bermasalah dan butuh nasihat. Contohnya begini: kamu ngerti perbuatanmu itu sesat. Maka bertobatlah. Percayalah, sembilan dari sepuluh peminta nasihat cenderung akan menutupnya dengan kata: tapi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang: tapi kan tidak mudah untuk bertobat begitu saja. Ada yang: tapi butuh waktu dong. Ada yang: sudah kucoba, tapi gagal melulu. Begitu juga dengan teman yang sedang tertipu ini. Kata "tapi" tampak menjadi persoalan tebesarnya. Kata itu jauh lebih membuatnya menderita, katimbang perasaan kehilangan sesuatu hasil dari tertipu. "Tapi kan dia teman dekatku. Sudah seperti keluargaku," begitulah fokusnya terus menuju. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi betapa kata "tapi" itu adalah biang persoalan besar dalam hidup. Baiklah aku jelaskan urut-urutannya: tertipu dan kehilangan itu jelas sudah pendertaan. Tapi tenyata kita merasa tidak cukup menderita dan butuh menambahnya dengan menu ekstra, yakni karena teman baik itulah penipunya. Semua ini gara-gara ada banyak syarat yang kita tetapkan atas segala sesuatu, termasuk kepada para teman baik, teman dekat dan kepada para penipu itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada teman dekat itu misalnya, kita tetapkan syarat bahwa yang dekat itu selalu harus baik, terpercaya, dan tidak boleh menipu. Padahal kedekatan dan kepercayaan itu sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagaimana mungkin dua soal yang berbeda harus dipaksa untuk menjadi sama dan satu. Pemaksaan itulah yang mendatangkan bermacam-macam persoalan dalam hidup. Maka jika rumusnya diubah: bahwa orang dekat juga boleh menipu, bahwa teman baik juga boleh menjadi buruk, bahwa kebaikan juga boleh dibalas keburukan, berbeda pula perasaan kita kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata boleh ini kalau tidak hati-hati, juga akan mendatangkan kata "tapi" lagi. Misalnya: tapi kan kejam sekali sudah diberi kebaikan malah membalas keburukan. Iya sih, tapi kan boleh, karenanya ternyata itu semua bisa terjadi. Lalu siapa yang memperbolehkan, ya hukum kemungkinan itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada sesuatu yang mungkin, manusia hanya bisa diberi ruang untuk kompromi. Tersedia berbagai bentuk pilihan kompromi, mulai dari yang rendah dan murah, hingga yang mahal dan tinggi. Tergantung selera dan kemampuan Anda. Boleh menderita sambil ngomel dn mengutuk kanan-kiri, boleh pula menderita sambil tetap menyalami tamu-tamu seperti biasa sambil ngobrol seolah tak pernah terjadi apa-apa. Sesuatu yang mungkin terjadi akan tetap terjadi jika memang harus terjadi, lepas apakah kita menolak atau menyetujui! &lt;br /&gt;
(Prie GS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-3909044635403984084?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/3909044635403984084/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=3909044635403984084" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3909044635403984084?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3909044635403984084?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/06/syarat-seorang-penipu.html" title="Syarat Seorang Penipu" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcEQX8ycSp7ImA9WxFUFkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7917624621720068139</id><published>2010-06-28T08:20:00.000+07:00</published><updated>2010-06-28T08:20:00.199+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-28T08:20:00.199+07:00</app:edited><title>Istri sakit</title><content type="html">Wajah istriku pucat. Tapi memang begitulah biasanya jadi tak&amp;nbsp; apa-apa. Pokoknya baik kegembiraan maupun keluhan harus disuarakan. Jika dia diam saja, berarti keadaan baik-baik&amp;nbsp; saja. Pucat itu pasti cuma pembawaan, bukan soal yang harus dikhawatirkan.&lt;br /&gt;
Dugaanku keliru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ada jenis suara yang harusnya terdengar tanpa harus bersuara. Itulah tanda namanya. Seorang pakar komunikasi malah mencatat, secara rata-rata, manusia paling banyak omong pun hanya mengekspresikan perasaaannya dalam 7 persen dengan kata-kata, dan 18 persen dalam&amp;nbsp; suara (lenguhan, desis, desah, dan seterusnya). Lalu apa sisanya? Perasaan itu banyak dikatakan lewat bahasa tubuh, 55 persen angkanya. Di dalam pemilu, angka ini sering disebut sebagai kemenangan mutalk, saking besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kasus ini aku keliru membaca tanda itu. Jika aku yang cerewet saja, oleh&amp;nbsp; sebuah penelitian dianggap sedikit saja menggunakan kata-kata, apalagi istriku yang pendiam. Ia pasti memakai lebih banyak tanda. Ia mestinya sudah&amp;nbsp; berkata-kata dengan pucatnya itu. Ketika si pucat ini dibiarkan, baru ia meningkatkan dosisnya menjadi mual. Mual ini meningkat lagi menjadi pusing dan gigil demam. Tanda itu kemudian telah begitu lengkapnya sehingga ia tak perlu lagi kubaca. Aku sudah butuh panik untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu inilah urut-urutan kepanikan itu: istriku pasti kena demam berdarah yang di kampungku memang menjadi wabah. Mual itulah tanda yang paling kupercaya karena aku juga pernah diserang penyakit yang sama. Lalu kubayangkan prosedur penanganannya. Malam ini juga, jika muntahnya tidak&amp;nbsp; reda, aku harus membawanya ke rumah sakit. Masuk dulu ke poliklinik, mendaftar, menunggu, diperiksa dan mendengar apa vonisnya. Di tahap ini saja sudah tidak sederhana ongkosnya, baik ongkos perasaan, pikiran dan tenaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara tenaga, saya harus menyetir sendiri karena tengah malam tak enak rasanya minta bantuan bahkan kepada sopir&amp;nbsp; sendiri. Secara pikiran, aku harus mengalkulasi seluruh kerepotan rumah jika istri harus menginap di rumah sakit berhari-hari. Bagaimana pula nanti kalau semua kamar penuh karena jumlah orang sakit sering tidak sebanding dengan kamar rumah sakit. Jika pun semua ini sudah&amp;nbsp; teratasi, masih ada lagi beban perasaan, yakni, memandangi istri yang harus menahan kesakitan, pasti butuh ketabahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, aku sungguh dicekam oleh sebuah kecemasan hebat. Kubabayangkan,&amp;nbsp; setelah malam ini soal rumah&amp;nbsp; sakit kubersekan, besok aku harus memandikan anak-anak, menyuapi, mengantarnya ke sekolah menemaninya tidur dan mengambil seluruh&amp;nbsp; urusan yang&amp;nbsp; selama ini dikerjakan itsri. Bukan saya mengeluh, tetapi itulah urusan yang pasti saya kebingungan mengerjakan karena harus mulai dari mana dan dengan cara apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum nanti jika aneka tagihan rumah tangga itu datang, beli air, bayar belanja, listrik, telepon dan&amp;nbsp; semacamnya. Belum lagi kalau urusannya merumit, misalnya harus mencari kartu asuransi, surat ini, formulir itu, kuitansi ini, yang selama ini seluruhnya&amp;nbsp; adalah daerah kekuasaan istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, rumahku terasa gelap, karena gelapnya pikiranku. Padahal istri belaum benar-benar ke rumah sakit. Ia masih di rumah, dan&amp;nbsp; penyakitnya itu makin malam makin mereda, dan benar-benar reda di pagi harinya. Seluruh&amp;nbsp; kegentaranku itu, syukurlah berhenti sebagai&amp;nbsp; bayangan belaka. Tetapi bayangan itulah yang memaksaku melihat istri dengan cara berbeda. Selama ini kesehatannya, kebaikannya, pekerjaannya, sering kuanggap biasa-biasa saja karena pikirku, begitulah memang seharusnya. Itu sudah&amp;nbsp; tugasnya. Kini, tampak, bahwa semua itu bukan barang biasa. Ia adalah soal-soal&amp;nbsp; yang luar biasa yang aku terlambat melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-7917624621720068139?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/7917624621720068139/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=7917624621720068139" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7917624621720068139?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/7917624621720068139?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/06/istri-sakit.html" title="Istri sakit" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IGQX09cCp7ImA9WxFUFUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8474983653170703083</id><published>2010-06-26T21:12:00.000+07:00</published><updated>2010-06-26T21:12:00.368+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-26T21:12:00.368+07:00</app:edited><title>Menguras Bak Mandi</title><content type="html">Menguras bak mandi bukan soal asing bagi saya bahkan hingga di hari ini. Alasan utamanya bukan karena saya menyukai pekerjaan ini, melainkan karena tidak ada pembantu di rumah kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ketika saya mulai asyik dengan pekerjaan sendiri, banyak sekali pekerjaan rumah tangga diambil alih istri. Begitu banyak rupanya item pekerjaan itu yang celakanya tak semuanya mudah diidentifikasi. Jenisnya tak pernah jelas tetapi kelelahannya demikian tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa istri&amp;nbsp; bisa amat terpukul jika pekerjaannya tidak diapresiasi. Tidak dianggap mengerjakan apa-apa cuma karena hasilnya tidak kelihatan dan suasana rumah tampak miskin perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak banyak berubah. Padahal baru saya sadari, apa yang dikerjakan istri itu memang soal-soal yang begitu banyak daftarnya tetapi hampir seluruhnya adalah jenis pekerjaan sunyi. Itulah jenis pekerjaan yang memang tidak berujung&amp;nbsp; karena selalu&amp;nbsp; sambung menyambung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri tak sekali mengerjakan tugas seperti ini. Hasilnya saya bisa kerenggosan kelelahan dan berhenti di tengah jalan karena jumlah pekerjaan baru itu bisa bermunculan sebanyak pohon di hutan. Rampung ini muncul itu. Semula saya hanya ingin merapikan tumpukan buku. Tetapi belum rampung buku itu rapi, ternyata di sana juga ada&amp;nbsp; mainan anak, ada&amp;nbsp; kertas makalah, ada ini, ada itu, ada anu, yang semuanya butuh dikembalikan, dirapikan dan ditata ulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah satu sudut rapi, sudut yang lain jadi terlihat brengsek. Tiba-tiba saya melihat terlalu banyak pakaian kotor, pakaian&amp;nbsp; setengah kotor yang keduanya harus disendirikan tetapi tak cukup ruang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persoalan yang satu menimbulkan persoalan berikutnya karena baru terasa betapa banyak tindakan indispliner di sana-sini. Ada yang gemar menaruh ganti sembarangan, ada kaos kaki yang kemarin begitu sulit dicari ternyata cuma menggeletak di sini. Ada handuk yang digantung begitu saja padahal bukan di situ tempat semestinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rampung menata yang satu mata ini sudah melotot lagi pada aneka VCD yang banyak beserak dan sudah sekian lama tak dikelompokkan menurut aturan. Begitu banyak pelanggaran&amp;nbsp; terjadi yang membuat saya marah tidak cuma kepada anak-anak, tetapi juga kepada diri sendiri. Karena di antara pelanggar itu ternyata juga saya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pokoknya, ke manapun mata memandang, saya cuma melihat begitu banyak kekacauaan di sekujur ruang. Inilah derita yang muncul di setiap saya mengerjakan pekerjaan rumah dan itulah derita yang selama ini pasti diderita istri, termasuk ketika harus menguras bak mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian lama saya hanya mandi tanpa pernah lagi menguras bak mandi, berarti demikian lama sudah istri menderita kesengsaraan ini. Karenanya, tak sekali saya melihat ia begitu lelah, walau lewat pengakuannya sendiri, ia lelah untuk sebuah pekerjaan bernama entah. Pekerjaan yang ia sebut sebagai melelahkan tetapi tidak kelihatan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Maka ketika suatu kali ia tampak pucat kelelahan padahal saya tahu ia masih harus menguras bak mandi, entah ilham kebaikan apa yang masuk di kepala, saya memutuskan mendahului. Saya bersihkan kamar mandi itu habis-habisan, saya kucurkan airnya yang bersih hingga&amp;nbsp; berlimpahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bayangkan, ini bukan sekedar kegiatan menguras bak, ini adalah persiapan membuat persembahan perkawinan. Akan saya buktikan bahwa hadiah perkawinan adalah sesuatu yang amat murah dan jika mau setiap hari bisa saya berikan.&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8474983653170703083?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/8474983653170703083/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8474983653170703083" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8474983653170703083?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8474983653170703083?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/06/menguras-bak-mandi.html" title="Menguras Bak Mandi" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkAGQXw_fCp7ImA9WxFUE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-1206635773443478320</id><published>2010-06-24T21:12:00.000+07:00</published><updated>2010-06-24T21:12:00.244+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-24T21:12:00.244+07:00</app:edited><title>Senyum Orang Gila</title><content type="html">Saya suka melewati jalan itu. Salah satu daya tariknya adalah karena di situ mangkal orang gila yang selalu tersenyum. Kesan pertama saya ialah, betapa senyum itu selalu memberi kesejukan bagi penontonnya, tak peduli apakah ia datang dari orang gila. Kedua, betapa senyum&amp;nbsp; selalu mencerahkan wajah pelakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun orang itu jelas-jelas telah divonis sebagai gila, tetapi karena selalu tersenyum, ada gambaran damai di wajahnya. Ketiga, inilah yang menurut saya utama: saya yang merasa waras saja, jarang tersenyum&amp;nbsp; sebanyak itu dan semurni itu. Baik secara kuantitas maupun&amp;nbsp; secara kualitas, senyum saya jelas bukan tandingannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada memang banya senyum kuantitatif di wajah saya. Tetapi itu pun jumlahnya tak seberapa. Yang tak seberapapun, itu berisi senyum-senyum yang terpaksa. Terpaksa sok sabar, sok&amp;nbsp; baik dan sok ramah. Keadaan sok ini membuat diam-diam batin&amp;nbsp; saya malah terancam lelah. Bibir saya tersenyum tetapi hati&amp;nbsp; saya melayang entah ke mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyum itu, sejatinya nyaris lahir dari ruang hampa. Jadi, senyum kuantitatif&amp;nbsp; ini cepat&amp;nbsp; sekali menghilang dari&amp;nbsp; wajah saya. Secepat itu datangnya,&amp;nbsp; secepat itu pula perginya tanpa meninggalkan jejak apa-apa. Sungguh berbeda dari senyum orang gila yang seperti menetap selalu di bibirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selebihnya,&amp;nbsp; wajah ini kembali tertarik untuk melayani soal-soal yang membuat bibir cemberut&amp;nbsp; dan wajah berkerut. Pagi hari, cukup hanya dengan membaca koran pagi, kening ini sudah&amp;nbsp; mulai mengernyit. Ada artis yang berdandan sebagai wanita solehah cuma gara-gara hendak mencalonkan diri sebagai petinggi dan ketika kalah cuma kembali pada dandanannya yang asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau setiap hari ada saja dikabarkan orang mati karena menenggak oplosan, sebuah&amp;nbsp; kematian yang pasti tidak membanggakan bagi keluarga yang ditinggalkan.&amp;nbsp; Dan intensitas ketegangan di wajah ini bisa&amp;nbsp; ditingkatkan jika kita mau menonton televisi. Semua acara lengkap di dalamnya, mulai dari yang mengundang&amp;nbsp; kejengkelan hingga kemarahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika senyum kuantitatif saja tak seberapa jumlahnya,&amp;nbsp; lebih langka lagi pasti jumlah senyum kualitatif di wajah saya. Ia hanya datang kadang-kadang saja. Tergantung apakah hari sedang cerah. Tetapi jika rezeki sedang seret, tanggal tua, kebutuhan menumpuk, kok datang seseorang hanya untuk minta sumbangan, bisa mengepul uap di kepala saya. Tetapi itupun sudah sebab yang serius. Padahal untuk kesal, saya ini tak butuh penyulut yang&amp;nbsp; serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya karena waktu sudah mendesak, dan itupun karena kesalahan saya sendiri, istri yang bergerak terlalu lambat, anak-anak yang masih sibuk dengan ini-itunya, sudah menyulut kemarahan saya. Padahal&amp;nbsp; jika pun saya benar-benar telambat, dunia ini masih baik-baik saja. Saya tidak akan dipecat dari pekerjaan apalagiketerlambatan ini tidak ada hubungannya dengan pecat-memecat. Keadaan ini hanya karena dorongan instink saya agar segera bisa&amp;nbsp; sampai ke tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi sikap buru-buru itu, lebih banyak tidak disebabkan oleh waktu, tetapi oleh perasaan saya sendiri. Rasa buru-buru itu memang seperti menetap di dalam sini. Ada banyak sekali persolaan hidup, termasuk di dalamnya adalah soal yang remeh-temeh cukuplah untuk mengusir senyum dari&amp;nbsp; wajah saya. Maka setiap melewati jalan, di tempat orang gila itu mangkal, saya seperti menemukan kembali senyum saya yang hilang.&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-1206635773443478320?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/1206635773443478320/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=1206635773443478320" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/1206635773443478320?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/1206635773443478320?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/06/senyum-orang-gila.html" title="Senyum Orang Gila" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UEQH88fCp7ImA9WxFUEUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2152041802388897815</id><published>2010-06-22T06:00:00.000+07:00</published><updated>2010-06-22T06:00:01.174+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-22T06:00:01.174+07:00</app:edited><title>Mampirlah Beli Beras!</title><content type="html">Tak terhitung saya menerima telepon istri, tak terhitung saya berceramah. Artinya, ceramah dan terima telepon istri itu soal biasa dalam hidup saya. Tak terhitung pula saya bertelpon istri sehabis atau sebelum ceramah. Artinya itu juga soal biasa. Tapi telepon istri tepat ketika saya ceramah yang ini lain sekali akibatnya. Akibat itulah yang hingga kini tak pernah saya lupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu, saya sedang berceramah untuk sebuah holding company, dihadiri lapis manajer, CEO dan pemilik-pemilik perusahaan. Sebuah selebrasi puncak dengan sayalah pengisi acara utamanya. Sudah tentu saya diperlakukan dengan  segenap rasa hormat, apalagi ketika tugas itu dengan baik saya tuntaskan, forum itu lalu menganggap saya sebagi bintang. Pokoknya, saat itu, saya memiliki seluruh modal untuk menjadi besar kepala. Pada saat itulah istri saya bertelepon dan katanya, "tolong, nanti kalau sempat, pulangnya sekalian beli beras ya, Say!".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permintaan itu khas itsri saya, penuh rasa hormat dan mesra. Tetapi semesra apapun nadanya, saya pasti boleh merasa terhina. Apa jadinya jika audiens mengerti bahwa bintang di hadapannya ini harus pulang sambil menenteng beras eceran? Saya pernah pula ceramah di hadapan anak-anak muda dan mahasiwa. Di antaranya ada seorang yang tampak sangat memuja. Tapi anak muda inilah yang sejenak kemudian harus kaget setengah mati, ketika sepulang dari seminar ia menyalip saya dengan mobilnya, sambil mendapati saya yang sedang bermotor sambil belepotan melawan hujan. Saya mengerti sorot matanya yang tidak cuma kaget tapi juga kecewa. "Oo penceramah yang saya kagumi ini ternyata orang miskin," begitu mungkin kata hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka permintaan istri itu rasanya sungguh tidak tepat waktu. Untung saja, sebelum terhina, perasaan berikut inilah yang lebih dulu datang di benak saya: pertama, saya mencintainya. Seluruh permintaan paling aneh sekalipun kalau ia datang dari orang tercinta, ia akan kita sambut gembira. Kedua, pada dasarnya saya memang orang yang mudah tertawa. Melihat permintaan salah konteks semacam ini, membuat saya tergelak tanpa sengaja. "Baru ini selebriti beli beras," kata saya di ujung telepon sambil tergelak. Bayangan istri dan anak-anak malah menerbitkan keinginan saya untuk segera pulang dan di rumahlah tersedia panggung seminar yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, ini yang terpenting, panggung publik adalah dunia yang sangat menyenangkan sekaligus sangat berbahaya. Pembintangan kepada seseorang itu, sungguh malah menimbulkan bermacam-macam persoalan bagi orang itu, yang sejatinya tak lebih dari orang-orang biasa, tak terkecuali saya. Tapi panggung adalah dunia yang kejam, yang memaksa orang biasa menjadi seolah-olah luar biasa. Ia diajak potret bersama, dimintai tanda angan, ditepuki, dikerubut wartawan. Cuma kedapatan ganti model rambut saja sudah bikin geger dan menjadi headline di sekujur koran. Akibatnya, si orang biasa ini benar-benar merasa dirinya sebagai luar biasa. Ke mana-mana jubah keluarbiasaan itu menggelayutinya, memberatkan hidupnya dan panjang sekali daftar orang biasa yang rusak hidupnya karena keluarbiasaan yang dicangkok paksa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka permintaan istri itu sungguh mengembalikan saya pada habitat yang sesungguhnya. "Jika sempat, mampirlah untuk membeli beras!" katanya, yang terus mendengung di telinga. Perintah itu kemudian saya jalani dengan semangat penuh. Ia mengembalikan lagi ke masa kanak-kanak saya, ketika cuma se-beruk (setempurung kelapa), rasanya hampir setara dengan serantai emas harganya. Kami adalah keluarga pemakan nasi gaplek, dan cuma ketemu nasi beras di kesempatan-kesempatan ajaib saja. Dari sebuah mini market, saya mengambil sebungkus plastik beras itu, menimangnya, memandanginya berlama-lama dan beras itu seperti mengulang kata-kata yang tak sempat diucapkan istri tapi saya menangkap jelas apa maksudnya: "Bahwa kamu sejatinya adalah manusia biasa saja!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-2152041802388897815?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/2152041802388897815/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=2152041802388897815" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2152041802388897815?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2152041802388897815?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/06/mampirlah-beli-beras.html" title="Mampirlah Beli Beras!" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUHSHs6eSp7ImA9WxFVGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5479207167567787239</id><published>2010-06-19T18:50:00.000+07:00</published><updated>2010-06-19T18:50:39.511+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-19T18:50:39.511+07:00</app:edited><title>Dokumentasi Aib</title><content type="html">Takdir aib itu pertama, untuk dihindari dan kedua untuk disembunyikan. Di sembunyikan pun, jika aib itu sudah  keterlaluan ia akan memunculkan diri. Apalagi jika aib itu sudah keterlaluan, masih pula didokumentasikan. Karenanya aib jenis ketiga ini bukan hanya akan muncul di kelak kemudian, tetapi juga akan menjadi  azab dan kegemparan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita tengok takdir aib yang pertama itu, bahwa ia jenis perilaku yang harus dihindari. Jelas tujuannya, karena hidup manusia harus berujung pada martabat, sedang aib adalah pembengkok martabat paling nyata. Maka hidup yang berujung pada aib adalah hidup yang tidak diperintahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ini adalah tahapan paling ideal dan itu berat bagi  sebagian orang. Maka disediakanlah tahapan kedua yakni tahap rasional, tahapan ketika aib cukup disembunyikan. Boleh menyandang aib sepanjang ia disembunyikan. Manusia adalah spesies paling rawan aib sekaligus paling pemalu di jagat ini, karenanya kepadanya  bahkan alam sendiri menyediakan banyak dinding penghalang. Dinding paling tangguh dari itu semua bernama rahasia. Dinding rahasia itu berlapis-lapis. Semakin tinggi derajat rahasia,  semakin tebal dan berlapis dinding-dindingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah dinding yang melindungi orang-orang berderajat mulia. Ia adalah pelindung dengan presisi tinggi. Dari  pribadi jenis ini yang sibuk dibicarakan hanyalah keluhuran dan prestasi-prestasi hidupnya. Kepada aibnya, orang tidak tega. Kenapa? Karena aib itu, jikapun ada, pasti jumlahnya tak seberapa. Dan yang tak seberapa itupun terdiri atas aib yang remeh-temeh  saja. Apalagi makin luhur perilaku seseorang makin peka dalam menyusun daftar aibnya. Jangankan sampai ngemplang hutang atau jajan tidak bayar, bahkan makan terlalu kenyang saja, bicara terlalu keras, tertawa terlalu lebar, sudah merupakan aib bagi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jelas kenapa ada aib yang ‘’boleh’’ sepanjang mereka disembunyikan. Karena apa yang  disebut ‘’boleh’’ itu hanyalah menyangkut soal-soal sederhana, yang kebanyakan orang jamak melakukan dan ia adalah soal yang mudah dimaaafkan. Karenanya, jika yang disembunyikan itu bukan lagi aib yang jamak, tetapi sudah melebihi batas kejamakan, maka dinding-dinding pelindung  itu akan melepas tanggungjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aib itu lalu akan mengembara serupa makhluk Frankenstein yang menanyakan siapa bapaknya. Ia akan mencari  sampai ketemu walau harus ke ujung dunia. Celakanya pertemuan itu selalu berakhir di ruang dan waktu yang keliru dan biasanya ditandai oleh  dua keadaan: pertama, aib itu menemukan sang induk tepat ketika prestasinya sedang menjulang, ketika kepadanya seluruh keberuntungan  seperti sedang ditumpahkan. Kedua: tepat ketika keadaan sedang sebaliknya, yakni ketika sang induk sedang di akhir masa kejayaan. Tegasnya, sudah tinggal pensiun, malah masuk penjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ada jenis aib yang kehilangan proteksi karena kadarnya yang sudah  kehilangan toleransi. Seberapapun besar ia dilindungi, cuma akan diberontaki. Maka bisa dibayangkan, jika ada aib yang sudah  keterlaluan itu masih pula didokumentasikan. Ia akan segera menjadi tontonan umum dan tak ada perangkat apapun yang bisa  mencegah publik untuk segera menggelar acara nonton bareng di mana-mana yang kegaduhannya akan melebihi Piala Dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi inilah yang terjadi: pembuatan album aib itu, tampak makin meninggi dari hari ke hari. Makin banyak saja orang yang gatal merekam walau itu aib sendiri. Ada saja orang tampil mewah dengan percaya diri walau jelas-jelas hidupnya dibiayai oleh korupsi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-5479207167567787239?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/5479207167567787239/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=5479207167567787239" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5479207167567787239?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/5479207167567787239?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/06/dokumentasi-aib.html" title="Dokumentasi Aib" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkIEQX4yeyp7ImA9WxFQF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8865432897051578015</id><published>2010-05-13T18:35:00.000+07:00</published><updated>2010-05-13T18:35:00.093+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-13T18:35:00.093+07:00</app:edited><title>Jika Hidup Kenyang Hinaan</title><content type="html">Setidaknya dalam lima tahun terakhir terjadi dua penembakan brutal di Amerika dengan pelaku yang nyaris sama; sama-sama pemuda imigran yang hidupnya kenyang dihina. Mari kita bayangkan keadaan terhina itu. Ya begitulah rasanya. Meriangnya sampai ke jiwa. Jika melihat sang penghina rasanya ia hendak kita lumat hingga selumat-lumatnya. Cara paling sehat untuk membuang perasaan terhina ini adalah dengan cara menyalurkan dengan segera. Sayang cara ini tidak mudah karena berbagai keterbatasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama adalah keterbatasan hukum. Melumat begitu saja para penghina, jatuhnya cuma akan melanggar hukum. Padahal tak setiap dari kita kuat dan berani melanggar hukum. Kedua adalah keterbatasan kita sendiri. Contoh kedua ini dililustrasikan dengan baik oleh maestro lawak Jawa kegemaran saya: Junaedi, di salah satu kasetnya. Saat itu ia bercerita tentang istrinya yang digoda lelaki iseng di jalanan. Sebagai suami terhormat ia marah luar biasa dan bersiap melabrak sang penggoda. Untung kemarahan itu tidak mengganggu akal sehatnya. Sebelum main labrak ia bertanya lebih dulu keadaan sang penggoda itu. "Tinggi besar," jawab sang istri. Junaedi surut setindak dan gantinya cukup memberi nasihat bijak, "Ya sudah, besok jangan lewat jalan itu lagi".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Psikologi seperti Junaedi itulah yang kadang-kadang kita derita. Tak mudah menyalurkan perasaan terhina karena banyak sekali batasannya. Jika cuma batasan hukum, kita mudah menerimanya karena ia menghuni keadaan banyak orang. Tetapi jika keterbatasan itu berpusat pada diri sendiri ia akan menjelma jadi depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua pelaku penambakan brutral di Amerika itu adakah anak-anak muda pemberani? Tidak. Mereka butuh menabung keberaniannya bertahun-tahun. Itulah tabungan yang setorannya adalah akumulasi hinaan yang berlangsung setiap hari. Jika anak-anak ini bicara, cuma disambut gelak tawa sekitarnya karena bahasa Inggris mereka yang dianggap aneh. Ketika bicara cuma menjadi tertawaan, diam adalah sebuah pilihan. Diam sepanjang hayat sambil memendam kemarahan itulah yang memupuk nyali untuk membunuh. Dan nyali itu tak bisa begitu saja disetarakan dengan keberanian karena setelah penembakan itu, mereka mengerti kalkulasinya. Mereka memilih bunuh diri katimbang menghadapi kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu berat hidup ini jika setiap kali harus menanggung hinaan. Padahal sulit sama sekali menghindari perasaan terhina itu karena jumlahnya banyak sekali, baik yang datang dari orang lain maupun yang datang dari diri sendiri. Hinaan dari pihak lain jelas sumbernya: para pendengki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak sulit mencari siapa pendengki karena naluri itu juga bersemayam di dalam diri kita sendiri. Juga tak sulit menemukan sumber hinaan dari diri sendiri. Karena semakin lemah kedudukan kita, kekuatan orang lain akan terasa sebagai derita. Semakin gagal diri sendiri, semakin terhina kita setiap melihat sukses tetangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, pada dasarnya, sulit sekali menghindari dari perasaan terhina itu karena ia bisa datang kapan saja dan menyerang siapa saja, baik yang tidak maupun yang disengaja. Maka hidup ini boleh terhina, asal kadang-kadang belaka. Sekali terhina saja sakitnya luar biasa. Ada yang cuma sekali tapi kesumatnya terbawa mati. Apalagi jika hinaan itu datang berkali-kali. Apalagi jika bukan cuma berkali-kali tetapi terhina itulah selalu kedudukannya. Bisa dibayangkan, betapa kalau bisa, ia tidak cuma akan menembaki siapa saja tapi kalau perlu akan menumpas seluruh isi dunia. Benci dan kemarahan itu, jika sudah menyala, tak jelas di mana tepinya.&lt;br /&gt;
Begitu berbahaya keadaan terhina itu sehingga penting sekali mengurangi jumlah penyebabnya. Padahal penyebab itu kadang remeh dan tidak pula kita sengaja, misalnya: jika Anda memasak dan tetangga kebagian cuma uapnya.&lt;br /&gt;
(Prie GS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8865432897051578015?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/8865432897051578015/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8865432897051578015" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8865432897051578015?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8865432897051578015?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2009/04/jika-hidup-kenyang-hinaan.html" title="Jika Hidup Kenyang Hinaan" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkcDRnc7fyp7ImA9WxFRFE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4605843965488929219</id><published>2010-04-28T03:25:00.000+07:00</published><updated>2010-04-28T03:27:57.907+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-28T03:27:57.907+07:00</app:edited><title>Memotong Rumput</title><content type="html">Rumput di depan rumah itu sebenarnya bukan lagi rumput halamanku walau rumah yang terdekat adalah rumahku. Tetapi sejatinya ia adalah rumput di jalan umum. Tetapi walau ia rumput milik umum akulah yang secara moral bertangungjawab memotongnya karena ia tepat terletak di depan mataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi karena aku seorang pemalas,seorang tetangga yang baik hati sering mengambil tugas itu. Tetapi karena pada dasarnya ia rumput di jalan umum, maka ia hanya mendapat perawatan umum. Dan siapa bernama umum tidak jelas kriterianya, ia boleh siapa saja, walau yang paling sering mewakili umum adalah tetanggaku yang sudah kusebut di depan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi karena ia tetaplah rumput milik umum, maka liar itulah  wajahnya hampir selalu. Jika sekali waktu tetanggaku itu berbaik hati, baru ia menjadi rumput yang rapi. Melihat keliaran berhari-hari yang kemudian berganti kerapian dalam sehari, sungguh sebuah sensasi. Kontras itu terasa sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan setiap kontras itu terjadi,satu saja ingatanku, lagi-lagi, itu pasti hasil kebaikan tetanggaku.Indah sekali rumput itu. Dan di mana-mana, keindahan, selalu mendatangkan  perasaan senang. Walau rasa senang ini dalam sekejap sudah harus berganti malu. Kenapa? Karena selalu saja, setiap rumput itu merapi, selalu yang muncul adalah jasa tetanggaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keindahan yang aku ikut menikmati tetapi sama sekali tak ikut berkonstribusi, sama saja dengan makan gaji buta setiap kali. Rasanya tak enak di sana-sini. Maka setiap melihat rumput yang indah itu, yang muncul selalu malah wajah tetangga yang seperti mencibirku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka pada suatu hari kuputuskan untuk membeli gunting taman dan ketika rumput itu kembali meliar kupotongi dia sampai berkeringat dan lecet tanganku. Sebetunya tidak kuat aku merampungan seluruh bidangnya, tetapi setiap hendak berhenti, bidang itu kembali aku pandangi. Demi melihat setengah rumput telah rapi,  setengahnya masih liar, rasanya malah gatal sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumput itu harus seluruhnya rapi agar pandanganku tidak terganggu. Setiap aku lelah dan ingin berhenti kupandangi  bagian yang masih liar itu sambil meneriakkan sajak Chariril Anwar di dalam hati: ini kerja belum selesai, belum apa-apa. Maka setelah sejenak berhenti, aku tergerak memulai lagi. Akhirnya, bidang yang sebetulnya tidak luas itu rampung juga. Terengah nafasku dan lapar sekali perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makan di saat lapar adalah kebahagiaan besar. Lapar karena bekerja adalah kegembiraan berikutnya. Lapar karena kerja lalu menikmati hasil kerja adalah kebahagiaan berikutnya lagi. Sambil makan, kupandangi rumput rapi itu dengan sepenuh hati. Kini, wajah tetanggaku tak lagi mengganggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang muncul adalah wajahku sendiri yang berkeringat dan tersenyum penuh kemenangan karena telah berhak menikmati keindahan hasil dari kerja sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak keindahan, rezeki, prestasi, dan keberuntungan hidup, tetapi jika aku tak ada di dalamnya, tak telibat dalam prosesnya, ia akan lewat begitu saja. Ia bukan milik kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seberapapun besar sebuah pencapaian hidup, jika bukan kita sendiri yang mencapainya, ia tak akan singgah di ulu hati. Ia akan lewat sebagai peristiwa kebanyakan. Rumput itu mengajariku untuk terlbiat di setiap kebaikan agar ada aku di dalamnya. Karena cuma ketika ada aku, kebaikan yang di sana itu, juga akan terasa sebagai kebaikanku. (Prie GS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-4605843965488929219?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/4605843965488929219/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=4605843965488929219" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4605843965488929219?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/4605843965488929219?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/04/memotong-rumput.html" title="Memotong Rumput" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D08HQH8_cCp7ImA9WxFSFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-233948969493482415</id><published>2010-04-18T20:03:00.000+07:00</published><updated>2010-04-18T20:03:51.148+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-18T20:03:51.148+07:00</app:edited><title>Mencari Makan Sendiri</title><content type="html">Mencari makan sendiri ini bukan judul kiasan. Ia keadaan sebenarnya ketika saya di rumah sendiri karena anak-anak dan istri hendak pergi untuk sebuah alasan dan saya memilih di rumah sendiri juga karena sebuah alasan. Cuma di mata istri, jam bepergian itu dianggap kurang strategis. Terlalu pagi untuk makan siang dan terlalu siang untuk makan pagi. Jadi istri merasa bersalah meninggalkan suaminya sendirian tanpa bisa meladeni karena cuma sejenak dari jam makan siang, ia telah keburu pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat rasa bersalah istri itu saya juga ikut bersalah. Di matanya saya jadi tampak sebagai suami yang lemah, yang cuma untuk makan saja, harus dirawat sedemikian rupa. Tanpa pelayanan itu ia merasa seolah-olah sedang menzalimi suami.  Perasaan ini pasti berasal dari kesalahan saya sendiri. Karena memang begitulah kebiasaan saya makan dan kini kebiasaan itu telah memakan korban. Maka demi menebus kesalahan, saya mencoba bergembira dengan keadaan ini. Toh seluruhnya juga telah tersedia walau apa yang disebut seluruhnya itu hanya nasi, sayur, sambal dan krupuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ditinggal sendirian, ternyata tak mudah makan sendirian terutama jika harus menyiapkannya sendiri. Ini pasti bukan pekerjaan sulit. Kenapa ia menjadi sulit, pasti karena ada yang menjadikannya sulit. Siapa itu: ia bernama refleks yang telah mati. Di dalam diri ini ada banyak refleks yang pasif, malas dan bahkan mati karena kepadanya tak lagi diberi atensi. Di depan masjid depan rumah ada sepetak lapangan bulutangkis, olah raga kegemaran saya di masa  sekolah. Sekali waktu saya kembali mencoba bermain dengan tetangga setelah hampir sepuluh tahun berhenti. Hasilnya mengejutkan. Ayunan raket pertana saya di permainan itu, langsung menjadi ayunan terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa sebabnya? Otak saya mengayun dengan fantasi seorang yang masih SMP sementara tubuh saya sudah jauh menua. Antara otak dan otot akhirnya tidak nyambung. Pukulan pertama yang bersemangat itu luput. Ketika saya hendak memungut shuttlecock yang jatuh itulah saya hanya bisa membungkuk tapi tak bisa tegak lagi. Langsunng jadi patung tanpa bisa bergerak karena pinggang seperti mati. Seluruh tukang pijit sudah saya kerahkan tapi hasilnya, pinggang saya masih meninggalkan masalah hingga saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah korban refleksi yang telah mati. Begitu juga denga refleks otak dan hati, semua tergantung apakah ia mendapat  perawatan atau pembiaran. Jika terawat ia aktif dan hidup. Jika dibiarkan ia pasif dan mati. Begitu juga dengan pikiran. Jika ia selalu mendapat atensi dan pelatihan, akan aktif sekali. Rasa dengki misalnya, adalah jenis perasaan yang amat rajin mendapat pelatihan. Hasilnya bisa ditebak. Setiap melihat kabar keberhasilan orang lain kedengkian adalah perasaan yang akan  muncul sebagai awalan. Karena terus menjadi kebiasaan, ia lalu menjadi refleks. Jika dengki ternyata bukan berasal dari niat jahat, tetapi sekadar hasil dari refleks, berarti seseorang bisa menyiapkan refleks tandingan. Dan semua juga bisa dibangun lewat kebiasaan. Caranya mudah: lakukan saja kebiasaan pembalikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya: gembiralah saat melihat orang bergembira. Sulit itu pasti. Tapi cobalah. Memaksa diri pada awalnya. Paksa agar kegembiraan itu muncul kalau perlu dengan segala cara. Kalau perlu sambil menari, menyanyi-nyanyi, menghibur diri atau malah berteriak-teriak, sampai kegembiraan itu benar-benar muncul. Percayalah, jika latihan ini terus-menerus diusahakan, kegemibaran itu akan benar-benar muncul. Gembira melihat orang lain bergembira, benar-benar akan menjadi kebiasaan.&lt;br /&gt;
(/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-233948969493482415?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/233948969493482415/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=233948969493482415" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/233948969493482415?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/233948969493482415?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/04/mencari-makan-sendiri.html" title="Mencari Makan Sendiri" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0AASXw9cCp7ImA9WxFSE0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-1822526485625907264</id><published>2010-04-15T22:26:00.000+07:00</published><updated>2010-04-15T22:35:48.268+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-15T22:35:48.268+07:00</app:edited><title>Menengok Kebun</title><content type="html">Saya gemar menengok kebun. Dan apa yang  saya sebut kebun itu hanyalah sepetak tanah kecil tempat kami berencana membangun  sebuah rumah. Karena berlokasi di sebuah lahan terbuka penuh semak, jadilah seluruhnya saya bayangkan sebagai kebun saya. Sore hari, adalah waktu paling saya sukai untuk berada di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengamati apa sesungguhnya yang menjadi faktor penarik saya kemari. Tidak sulit menjawab karena meskipun sepetak, tanah ini  milik saya, untuk kali pertama pula. Walau sebenarnya semua tanah pasti milik negara dan setiap sertifikat  sesungguhnya hanyalah  bukti pinjaman kita kepada negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi alasan ini sungguh tak menghalangi rasa memiliki saya atas tanah ini. Jadi, kuncinya adalah rasa memiliki itu. Tak benar-benar  memiliki sebenarnya tak mengapa asal sudah memiliki perasaan memiliki. Rasa itulah yang selalu menarik-narik saya ke tanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi faktor penarik itu ternyata berubah-ubah bentuknya. Benar, meskipun tanah itu menarik, tetapi menjadi kurang berdaya tarik lagi ketika cuma berupa tanah  berlama-lama. Saya butuh memberinya batas. Cuma karena sudah berbatas saja bahagialah saya dan kepada batas itulah saya ingin selalu menengok dan menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika tanah itu cuma ada pembatas, melemah lagi daya tariknya. Ia harus berpondasi. Maka saat pondasi itu dibuat, daya tariknya menguat lagi. Begitu terus hingga pondasi itu dibangun setahap demi setahap. Setiap tahapan menyimpan daya tarik tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika saya menghendaki daya tarik baru, bukan berarti yang lama menghilang. Seluruh daya tarik lama itu mengendap menjadi tabungan cuma butuh tambahan sampai batas yang tidak bisa ditentukan. Karenanya, ketika sebuah rumah telah menjadi, ia adalah kumpulan dari seluruh daya tarik yang satu sama lain tak bisa lagi dipisahkan. Untuk itulah kenapa rumah selalu menarik kita untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah sepetak itu belum benar-benar berdiri sebuah rumah. Tapi daya tariknya membesar dari waktu ke waktu. Ada yang saya tambahkan dengan sengaja, dan ada yang bertambah dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini saya mendapat tambahan daya tarik baru. Semua gara-gara saya datang kesorean dan hari telah bersiap menjadi petang. Tepat di antara  sore dan petang itulah serangga-serangga malam mulai berdengungan, dan kebun yang semula terasa asri itu berubah menjadi  seram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara yang sepi dan yang asri ternyata ada di kebun ini.  Serangga itu seperti menasihati  bahwa siang dan malam berbeda konteksnya, bahwa di balik rasa aman selalu tersimpan bahaya. Tegasnya, serangga ini seperti hendak mengingatkan tentang adanya wajah ganda di setiap apa saja. &lt;br /&gt;Apa yang saya anggap kemalangan dulu ternyata adalah kebaikan kini sementara ada yang saya anggap keberuntungan dulu adalah kemalangan kini dan apa saja yang saya alami di hari ini, selalu ada kebalikannya di masa depan. ''Menjalani hidup di hari ini sambil membayangkan hari depan, itulah kehati-hatian,'' kata serangga itu tentu setelah saya terjemahkan. (Prie GS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-1822526485625907264?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/1822526485625907264/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=1822526485625907264" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/1822526485625907264?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/1822526485625907264?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/04/menengok-kebun.html" title="Menengok Kebun" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcFSH8zcCp7ImA9WxFTGUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3173087147631407801</id><published>2010-04-10T22:52:00.002+07:00</published><updated>2010-04-10T23:13:39.188+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-10T23:13:39.188+07:00</app:edited><title>Menyiram Tanaman</title><content type="html">Di hari ketika saya menulis kolom ini, adalah hari yang membuat saya sedih terutama ketika harus pergi di sore dan pagi hari. Karena di dua kesempatan itulah saya merasa punya kewajiban menyiram tanaman, yang kenikmatannya baru muncul jika saya melakukannya sendiri. Ada jambu air, sawo, kelengkeng, mangga dan sarikaya. Karena saya berksonultasi dengan yang ahli, maka sebelum tanaman ini ditanam, sejumlah prosedur harus ditepati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubangi dulu, pupuk, diamkan. Itu aturan pertama. Dari sejak membuat lubang saja, saya sudah menungguinya dengan tegang. Sambil menunggu lubang ini siap ditanami, waktu tunggu itu seperti perasaan pengantin menunggu pinangan. Waktu rasanya bergerak lambat sekali. Dan ketika lubang itu saya tengok ia masih menganga, kosong hati ini. Belum boleh ada tanaman dilesakkan. Meskipun tahu bahwa esok hari lubang itu masih lubang yang sama, saya toh tetap tak tahan untuk tidak menengoknya. Dan ketika suatu pagi, saat menanam itu tiba juga, di malam hari saya seperti suami yang puber lagi. Bersiul-siul. Langsung berpelukan begitu dengan anak saat berpapasan, lebih mesra dengan istri dan lebih suka menyanyi. Ketika malam sudah menjelang pagi, saya bangun pagi-pagi sekali. "Ayo-ayo bangun. Udara pagi segar sekali," kata saya sambil membangunkan keluarga, sebuah gaya yang sebetulnya tak biasa. Karena meskipun saya tahu sehatnya udara pagi, tanpa kegiatan menanam ini, bangun siang tetap menjadi kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tibalah saat mengarak aneka bibit itu ke dalam lobang, benar-benar seperti arak-arakan kebesaran, walau yang ada tak lebih dua orang saya dan seorang tukang. Kepadanya saya perintahkan hati-hati. Dahan yang masih muda dan lemah itu agar tetap terlindungi. Ketika sudah rampung ditanam saya lama memandangi, membayangkan kecemasan berikutnya, bahwa tanaman lemah ini harus diamankan. Di sekitarnya harus diberi pagar dan pembuatan pagar itu, malangnya butuh waktu lebih dari sehari. Karena melihat tanaman lemah itu tanpa perlindungan, sama seperti melihat bayi yang tergolek di ranjang seorang diri. Cemas sekali. Maka menunggu pagar disiapkan, kembali menjadi penantian yang mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama, pekerjaan itu baru sampai membuat bilahnya belum bisa memasang pagarnya. Berarti harus menunggu semalam lagi. Dari malam menunggu pagi, rasanya seperti pengantin baru yang dibiarkan sendiri. Ketika pagar benar-benar telah dipasang, penuh untuk semua tanaman, saya memandanginya dengan kelegaan seorang bapak, yang baru melihat bayinya rampung imunisasi. Setelah semua proses itu selesai, kini tibalah giliran menyirami di esok dan sore hari. Untuk itu, saya merasa susah jika tidak bisa melakukannya sendiri. Maka ketika saya sedang menyiram, rasanya seperti sedang menyuap bayi. Bahwa tanaman ini tidak layu sejak ditanam saja, dan malah menyegar dari hari ke hari, membuat seharian saya ingin menunggui. Kebahagiaan itu pasti akan bertambah dan terus bertambah. Jangankan kelak kalau nanti sudah  rimbun dan berbuah. Karena cuma dengan mendapati tanaman ini mulai bertunas untuk pertama kali, saya sudah  gembira setengah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih gembira lagi ketika seorang teman kedapatan menunggui ketika saya sedang menyirami. Kepadanya saya gambarkan prospek ke depan: "Tiga tahun, saya sudah panen raya!" kaya saya bangga. Tapi tak saya duga teman yang saya kira akan kagum ini malah menyahut sekenanya: "Tiga tahun lagi berarti tahun 2012. Itu saat ketika kiamat diramalkan tiba!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mungkin bermaksud bercanda. Tetapi sebetulnya ia sedang mengabarkan soal-soal yang amat serius. Setidaknya karena memang suhu bumi yang terus memanas dan air laut yang terus meninggi. Saya juga menonton dengan sedih film An Inconvenience Truth karya Al Gore yang menapat hadiah Nobel itu. "Jika pemanasan global berlangsung sekonsisten ini, umur bumi memang tak akan lama lagi," kata Gore sambil menunjukkan grafik yang mencemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi katimbang ikut cemas, saya lebih memilih meneruskan kegiatan menyirami tanaman ini. Siapa tahu, tiga tahun ke depan ia akan menurunkan pemanasan suhu bumi!&lt;br /&gt;(/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-3173087147631407801?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/3173087147631407801/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=3173087147631407801" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3173087147631407801?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/3173087147631407801?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/04/menyiram-tanaman.html" title="Menyiram Tanaman" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkcBQn4ycCp7ImA9WxFaFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2707211265296524430</id><published>2010-04-10T22:17:00.001+07:00</published><updated>2010-07-19T08:47:33.098+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-19T08:47:33.098+07:00</app:edited><title>Jam Terbang</title><content type="html">Saya  mengerti kenapa sebutan jam terbang dikenakan untuk menggambarkan pengalaman. Ini semula pasti karena pengalaman memang disetarakan dengan terbang. Begitu berat mencari pengalaman itu sehingga beratnya sama dengan terbang. Orang yang jagoan di darat, bisa menjadi pihak penakut di angkasa sana. Muhammad Ali contohnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak muda Ali sudah bertubuh bongsor dan ditakuti teman-teman sekolahnya. Jika nilai sekolahnya jelek, ia cukup mengancam teman sekelasnya untuk membocorkan jawaban. Rumus ini selalu sukses karena pihak yang terancam itu enggan terlibat keributan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ali yang menakutkan ini adalah Ali yang ganti ketakutan ketika harus  terbang. Tetapi jika ia benar-benar  menolak terbang, sejarah tidak akan mengenal Muhammad Ali seperti yang sekarang. Karena untuk meraih Emas Olimpiade, ia harus pergi ribuan mil dari kampungnya dan menempuh ketinggian puluhan ribu kaki. Orang ini mengingat dengan rasa malu ketika untuk terbang di kali pertama ia harus membelitkan parasut di tubuhnya. Bagi sebagian besar orang, terbang adalah keputusan yang menakutkan tak terkecuali saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi cuma dengan terbang itulah jarak-jarak yang jauh ditaklukkan, perjalanan panjang dipendekkan dan hari dipadatkan cuma menjadi jam. Semenatra ini, cuma terbang yang memiliki kemampuan sebesar itu walau dengan risiko yang juga sebesar itu.  Hukum yang sudah amat tua ini terjadi lagi: untung yang tinggi, selalu ada di dalam risiko tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi biar kata risiko itu tidak mendapat tekanan ucapkanlah secara terbalik, bahwa cuma memang di sebuah risiko tinggi terletak keberuntungan tinggi. Maka setiap hendak mengumpulkan pengalaman demi pengalaman yang berat itu, mari membayangkan buah pengalaman yang nilainya selalu akan sepadan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk bisa menulis bahkan  sekadar kolom ini saja, saya butuh belajar menulis lebih dari 20 tahun. Jangka waktu sepanjang itupun tidak membuat saya menjadi benar-benar ahli. Ada kalanya, kolom ini selesai dalam hitungan jam, tetapi tak sedikit yang harus selesai dalam hitungan hari. Ternyata saya tidak benar-benar selalu menjadi pakar untuk bidang yang sudah saya tekuni bertahun-tahun ini. Kadang-kadang kerepotan juga menemukan ide.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ide sudah ketemu, kadang-kadang tidak lancar dalam penuangan. Bahkan orang yang sudah menekuni pekerjaannya pun, masih harus akrap dengan kesulitan. Tetapi percayalah, betapapun sulitnya, di tangan sebuah jam terbang, kolom ini rampung juga seperti biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya juga teringat tentang sebuah undangan sebagai pembicara pertama yang gagal saya datangi lebih karena saya gagal berkompromi dengan ketegangan. Saya malu sekali ketika seroang teman menebak dengan tepat apa alasan ketidakdatangan saya itu: tegang. Saya sangat ingin bicara, tetapi saya takut sekali bicara, karena jam terbang belum saya punya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingin tetapi ketakutan ini sungguh penderitaan. Jadi menempuh jam terbang memang penuh penderitaan. Tetapi  sebenar-benarnya penderitaan ialah ketika seseorang sama sekali belum memiliki jam terbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, di setiap kesempatan, ketika saya sedang bekerja dalam rangka menempuh ''jam terbang'' hingga terbang dalam pengertian  sebenarnya,  saya mencoba menikmati keduanya. Sama sekali membebaskan diri dari derita menempuh jam  terbang pasti tidak mungkin. Kesakitan tetaplah kesakitan, derita tetaplah derita dan ia tak bisa dilenyapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menjadi berharga justru ketika terasakan. Tetapi merasakan kesakitan itu sambil membayangkan seluruh manfaat jam terbang ini, adalah sebenar-benarnya kegembiraan. Begitu mendarat, selalu terpancar kelegaan di wajah para penumpang. Dan kelegaan semacam itu tak akan pernah mereka dapatkan jika mereka tak pernah terbang. Maka terbanglah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-2707211265296524430?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/2707211265296524430/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=2707211265296524430" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2707211265296524430?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/2707211265296524430?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2010/04/jam-terbang.html" title="Jam Terbang" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><title type="text">Links for 2010-01-31 [del.icio.us]</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://del.icio.us/sarjono#2010-01-31" /><updated>2010-02-01T00:00:00-08:00</updated><id>http://del.icio.us/sarjono#2010-01-31</id><content type="html">&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://ifindmyiphone.com/"&gt;track your iphone&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</content></entry><entry><title type="text">Links for 2010-01-15 [del.icio.us]</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://del.icio.us/sarjono#2010-01-15" /><updated>2010-01-16T00:00:00-08:00</updated><id>http://del.icio.us/sarjono#2010-01-15</id><content type="html">&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://gunawanprasetyo.wordpress.com/2009/07/18/dopod-838pro-upgrade-wm-5-ke-wm-6-1/"&gt;dopod&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</content></entry><entry><title type="text">Links for 2009-12-29 [del.icio.us]</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://del.icio.us/sarjono#2009-12-29" /><updated>2009-12-30T00:00:00-08:00</updated><id>http://del.icio.us/sarjono#2009-12-29</id><content type="html">&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.warez-bb.org/viewtopic.php?t=1814063"&gt;Tv Shows, Small Size - x264 HQ mkv&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</content></entry><entry><title type="text">Links for 2009-12-28 [del.icio.us]</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://del.icio.us/sarjono#2009-12-28" /><updated>2009-12-29T00:00:00-08:00</updated><id>http://del.icio.us/sarjono#2009-12-28</id><content type="html">&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.warez-bb.org/viewtopic.php?t=4134788"&gt;music&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</content></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkYGQXo9eyp7ImA9WxBSFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8596391319542685351</id><published>2009-12-22T12:02:00.000+07:00</published><updated>2009-12-22T12:02:00.463+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-12-22T12:02:00.463+07:00</app:edited><title>Anak-anak dan Idolanya</title><content type="html">Anak-anak harus terpengaruh, harus punya idola. Kata ''harus'' itu bukan anjuran, tapi keniscayaan. Tanpa dilarang dan dianjurkan pun, pengidolaan adalah sebuah takdir. Tapi mati berdesakan cuma untuk menonoton idola adalah takdir yang pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau kata ''cuma'' di atas mestinya memang hanya cocok untuk orang tua. Untuk orang yang telah kebal pengaruh. Orang yang -- dalam bahasa penyair Sutardi Coulzum Bachri-- makan bayam bukan untuk menjadi Popeye, minum susu sapi bukan untuk menjadi sapi. Tapi bagi sebagian anak-anak, bahkan sebagian manusia, kata ''cuma'' itu sungguh tidak berlaku. Menonton idola adalah sebuah kedahsyatan. Sebuah mimpi (kali ye) seperti di SCTV, sebuah fanatisme (Fanatic) seperti di MTV, tempat para fans dipertemukan dengan para idol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengidolaan adalah masa-masa yang berat, gelap dan melelahkan. Ia adalah lubang yang menelan kita semua. Sebagian dari kita berhasil bangkit, lolos dan kabur. Sebagian kita yang lain harus lenyap terkubur. Pengidolaan terjadi karena ada jenis kepribadian yang kuat, menakjubkan, mencengangkan di pihak idola. Ia makin menajam ketika ada kerapuhan di pihak pemuja. Akan lebih fantastis ketika telah mengalami pembesaran media. Tiga hal itu jika bergabung, wajar, jika menghasilkan akibat yang dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang biasa bisa menjadi luar biasa di tangan media media. Apalagi jika sesuatu itu memang luar biasa. Ia akan segera menjadi mega-luar biasa, menjadi hiper-realita. Dalam suasana surealistik itulah pengidolaan hidup subur. Suasana tempat manusia diangkat derajatnya menyerupai derajat dewa-dewa. Kamera dari delapan penjuru angin cuma membidik satu sudut saja: tentang manusia yang tampak begitu sempurna. Manusia tempat Tuhan seperti tengah mengumpulkan hampir semua nasib baik cuma pada satu orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Anda bayangkan bahwa media itu cuma bernama koran dan televisi. Di zaman lampau media itu bisa bernama dongeng, mitos dan legenda. Televisi boleh belum ditemukan tapi pemujaaan harus tetap dihidupkan. Bahwa kecantikan Cleopatra lebih sempurna dari peri, bahwa betis Ken Dedes menyemburkan cahaya, Jaka Tingkir sanggup memukul kepala kerbau hingga remuk, bahwa ada jenis perampok seperti Robin Hood yang kejahatannya bahkan terlihat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak peduli apakah cerita itu nyata atau apakah tokoh-tokoh itu benar-benar ada. Yang kita butuhkan adalah bahwa betapa kita butuh keluar dari kenyataan dan hidup di luar kenyataan yang sering tampak indah, gemerlap dan serba sempurna itu. Kecenderungan yang sungguh bisa dimengerti karena di dalam kenyataan, sedikit saja orang yang merasa beruntung dan bernasib baik. Selebihnya, kenyataan dipenuhi oleh orang-orang yang merasa gagal dan putus asa. (03)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1153652566320118020-8596391319542685351?l=priegs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://priegs.blogspot.com/feeds/8596391319542685351/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1153652566320118020&amp;postID=8596391319542685351" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8596391319542685351?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1153652566320118020/posts/default/8596391319542685351?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://priegs.blogspot.com/2009/12/anak-anak-dan-idolanya.html" title="Anak-anak dan Idolanya" /><author><name>Sarjono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01965343643270443176</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><title type="text">Links for 2009-12-10 [del.icio.us]</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://del.icio.us/sarjono#2009-12-10" /><updated>2009-12-11T00:00:00-08:00</updated><id>http://del.icio.us/sarjono#2009-12-10</id><content type="html">&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://dailymobile.se/2009/12/01/iphone-app-dragon-makes-texing-a-lot-easier-speech-to-text-app/"&gt;iPhone app: Dragon &amp;ndash; Makes texing a lot easier (Speech to text app)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</content></entry><entry><title type="text">Links for 2009-12-09 [del.icio.us]</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://del.icio.us/sarjono#2009-12-09" /><updated>2009-12-10T00:00:00-08:00</updated><id>http://del.icio.us/sarjono#2009-12-09</id><content type="html">&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.macclubindonesia.com/forums/showthread.php?t=26486"&gt;WTS : Rebel Case for iPhone 3G - Mac Club Indonesia : Macintosh - Ipod ...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;</content></entry></feed>

