<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MIFTAKH.COM</title>
	<atom:link href="https://www.miftakh.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.miftakh.com/</link>
	<description>Mengikat Ilmu Dengan Tulisan dan Mempublikasikan Untuk Semua Kalangan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Sep 2019 16:54:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.miftakh.com/wp-content/uploads/2018/08/m.png</url>
	<title>MIFTAKH.COM</title>
	<link>https://www.miftakh.com/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Contoh Undangan Tahlil</title>
		<link>https://www.miftakh.com/2019/09/contoh-undangan-tahlil.html</link>
					<comments>https://www.miftakh.com/2019/09/contoh-undangan-tahlil.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[meeftha]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Sep 2019 16:48:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Undangan]]></category>
		<category><![CDATA[contoh undangan]]></category>
		<category><![CDATA[undangan tahlil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.miftakh.com/?p=469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Contoh Undangan Tahlil 2 Kolom. Pada contoh Undangan Tahlil ini format tata letak dan tampilan penulisannya dibuat menjadi 2 kolom. Maksudnya satu lembar kertas (ukuran A4 atau F4), kita jadikan dua undangan. Artinya kita bisa menghemat kertas tanpa menghilangkan sedikitpun isi daripada tulisan yang terdapat dalam undangan tersebut. Seperti pada gambar diatas, bahwa undangan tersebut… <span class="read-more"><a href="https://www.miftakh.com/2019/09/contoh-undangan-tahlil.html">Read More &#187;</a></span></p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2019/09/contoh-undangan-tahlil.html">Contoh Undangan Tahlil</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="width: 454px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://2.bp.blogspot.com/-LWRdE6b2wCo/XWvtLcKwf0I/AAAAAAAAA_w/FtDRkEB35zcloA19GamC0kum5PSMUT1PwCLcBGAs/s1600/Undangan%2BTahlil.jpg" alt="Undangan Tahlil" width="444" height="280" /><p class="wp-caption-text">Contoh Undangan Tahlil</p></div>
<h2><a href="https://www.miftakh.com/2019/09/contoh-undangan-tahlil.html">Contoh Undangan Tahlil 2 Kolom.</a></h2>
<p>Pada contoh Undangan Tahlil ini format tata letak dan tampilan penulisannya dibuat menjadi 2 kolom. Maksudnya satu lembar kertas (ukuran A4 atau F4), kita jadikan dua undangan. Artinya kita bisa menghemat kertas tanpa menghilangkan sedikitpun isi daripada tulisan yang terdapat dalam undangan tersebut.</p>
<p>Seperti pada gambar diatas, bahwa undangan tersebut terdapat Hari, Tanggal, Waktu, Tempat, dan Keperluan. Silahkan disesuaikan dengan maksud undangan yang anda buat. Termasuk juga dengan tanggal pembuatan undangan dan nama <em>sohibul hajat</em>.</p>
<p>Sekian format undangan tahlil ini, unduh <a href="https://app.box.com/s/ju6ukrn061a2faecnrlqtemqsf5es7qy">disini</a> yang ingin mengunduh versi microsoft word.</p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2019/09/contoh-undangan-tahlil.html">Contoh Undangan Tahlil</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.miftakh.com/2019/09/contoh-undangan-tahlil.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pandangan Rekonstruksi Tentang Kurikulum</title>
		<link>https://www.miftakh.com/2017/10/pandangan-rekonstruksi-tentang-kurikulum.html</link>
					<comments>https://www.miftakh.com/2017/10/pandangan-rekonstruksi-tentang-kurikulum.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[meeftha]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Oct 2017 04:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[aliran filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[rekonstruksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://miftakh.com/?p=393</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan sederhana tentang: Pandangan Rekonstruksi Tentang Kurikulum KURIKULUM MENURUT ALIRAN REKONSTRUKSI Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan… <span class="read-more"><a href="https://www.miftakh.com/2017/10/pandangan-rekonstruksi-tentang-kurikulum.html">Read More &#187;</a></span></p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/10/pandangan-rekonstruksi-tentang-kurikulum.html">Pandangan Rekonstruksi Tentang Kurikulum</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan sederhana tentang: <a href="http://miftakh.com/pandangan-rekonstruksi-tentang-kurikulum.html">Pandangan Rekonstruksi Tentang Kurikulum</a><br />
KURIKULUM MENURUT ALIRAN REKONSTRUKSI<br />
Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.<br />
Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.<br />
Aliran Pendidikan rekonstruksionisme Merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.<br />
Fokus dalam aliran pendidikan Rekonstruksionisme adalah berikut ini.</p>
<ol style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan penyelesaian problema sosial yang signifikan.</li>
<li>Mengkritik pola <em>life-adjustment</em> (perbaikan tambal-sulam) para Progresivist</li>
<li>Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan.</li>
<li>Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan.</li>
<li>Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya.</li>
<li><em>Learn by doing!</em> (Belajar sambil bertindak).<br />
Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg</li>
</ol>
<p>Mengenai kurikulum, rekonstruksianisme mengorganisir kurikulum yang oleh Brameld disebut “<em>the wheel</em>” (roda) kurikulum, di mana inti (core) tujuan pendidikan versi rekonstruksianisme menjadi inti dari kurikulum “roda” tersebut dan menjadi tema sentral pendidikan. Kurikulum ini bersifat sentripetal sekaligus sentrifugal, sentripetal karena akan membawa masyarakat atau komunitas bersama kepada studi yang bersifat umum.<br />
Sentrifugal karena akan meningkatkan proyeksi pendidikan di sekolah-sekolah formal ke dalam komunitas yang lebih luas. Hal tersebut secara tidak langsung akan menciptakan transformasi kultural di dalam hubungan yang dinamis antara sekolah dan masyarakat .<br />
Implikasi pemikiran filosofis rekonstruksianisme dalam kurikulum diarahkan kepada penumbuhan kesadaran kritis peserta didik dengan model keaksaraan kritis pada materi yang diajarkan. Selain itu kurikulum ditekankan pada upaya membangun kesadaran polyculture dengan mengapresiasi keragaman budaya, adat istiadat suatu suku tertentu untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme kultural.<br />
Demikian pula proyeksi hubungan kemanusiaan dan aspek politik harus ditekankan baik secara eksplisit maupun implisit dalam upaya menumbuhkan kesadaran politik para peserta didik sehingga “nalar kritis” terhadap berbagai macam ketimpangan sosial dan politik yang diakibatkan oleh kesewenang-wenangan status quo, dapat menjadi modal dasar untuk melahirkan agen-agen perubahan sosial dimasa selanjutnya.<br />
Persoalan perubahan ekonomi dan kehidupan nyata juga menjadi titik tekan utama aliran rekonstruksianisme, dalam rangka melacak peranan perubahan ekonomi, kebijakan ekonomi <em>status quo</em> yang menimbulkan akibat-akibat baik positif maupun negatif pada kehidupan bermasyarakat suatu negara.<br />
Pada puncaknya, kurikulum diatur sedemikian rupa untuk merespon perlunya sebuah tatanan sosial yang mendunia, di mana para peserta didik tidak memiliki pemahaman yang fragmentaris, agar persoalan-persoalan primordial seperti keyakinan, ras, warna kulit, suku dan bangsa tidak menjadi alasan terjadinya krisis kemanusiaan, seperti permusuhan, kebencian dan perang.<br />
Rekonstruksianisme mengajukan kurikulum semesta yang menekankan pada kebenaran, persaudaraan dan keadilan. Mereka menolak kurikulum parokial yang sempit dan hanya membawa kepentingan ideal komunitas lokal tertentu . Contohnya, pengajaran sejarah dunia semestinya juga diarahkan pada kerja-kerja kontemporer lembaga-lembaga internasional seperti PBB, ASEAN, OKI dan lain-lain.<br />
Kurikulum juga diorientasikan pada aksi peserta didik, seperti gerakan mengumpulkan dana amal, terlibat dalam petisi, protes atau demo bersama masyarakat untuk merespons kebijakan negara yang menimbulkan problematika sosial. Peserta didik tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar pada fenomena sosial yang ada seperti kemiskinan, perusakan alam, polusi udara, pemanasan global, pornografi dan lain-lain. Oleh karena itu rekonstruksianisme menjadikan aspek-aspek sosial, budaya dan isu-isu kontemporer menjadi muatan inti kurikulum, agar peserta didik memiliki kepekaan dan empati sosial.<br />
Kurikulum tersebut harus mulai diimplementasikan sejak Taman Kanak-Kanak, yaitu pada usia yang paling peka. Dengan demikian, peserta didik dapat menjadi penggerak utama pencerahan problem-problem sosial dan menjadi agitator utama perubahan sosial.</p>
<div style="text-align: center;"><strong><span class="fullpost">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></div>
<p><span class="fullpost"><br />
Admin, 2006. Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan, Situs informasi Indonesia Serba serbi Dunia Pendidikan, http://edu-articel.com<br />
Pasti, Y. Priyono, 2007, Menuju Pendidikan Demokratis Humanistik, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/23/Didaktika/1916660.htm<br />
Gunarto, H, 2004. Mengusung Pendidikan Humanistik,<br />
http://www.freelists.org/archives/ppi/05-2004/msg00284.html<br />
Tomindflys.blogspot.com<br />
</span></p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/10/pandangan-rekonstruksi-tentang-kurikulum.html">Pandangan Rekonstruksi Tentang Kurikulum</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.miftakh.com/2017/10/pandangan-rekonstruksi-tentang-kurikulum.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filsafat Isyraqiyyah/ Iluminasi (Telaah Epistemologi)</title>
		<link>https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-isyraqiyyah-telaah-epistemologi.html</link>
					<comments>https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-isyraqiyyah-telaah-epistemologi.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[meeftha]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2017 17:02:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[aliran teosofi transendental]]></category>
		<category><![CDATA[definisi iluminasi]]></category>
		<category><![CDATA[epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat iluminasi suhrawardi]]></category>
		<category><![CDATA[iluminasi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[suhrawardi]]></category>
		<category><![CDATA[teori iluminasi dalam filsafat islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://miftakh.com/?p=357</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan tentang telaah epistemologi sebuah aliran Filsafat Isyraqiyyah atau iluminasi Suhrawardi PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Tanpa menafikan jasa dari peradaban terdahulunya, seperti mesir, India, dan syiria, yunani mempunyai karakteristik yang khas dari peradaban yang lain. Filsafat yang bertumpu pada reason (akal) menjadi inti dari kultur peradaban Yunani. Kultur inilah yang pada akhirnya ditransformasikan ke… <span class="read-more"><a href="https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-isyraqiyyah-telaah-epistemologi.html">Read More &#187;</a></span></p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-isyraqiyyah-telaah-epistemologi.html">Filsafat Isyraqiyyah/ Iluminasi (Telaah Epistemologi)</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan tentang telaah epistemologi sebuah aliran <a href="http://miftakh.com/2017/09/filsafat-isyraqiyyah-telaah-epistemologi.html">Filsafat Isyraqiyyah atau iluminasi Suhrawardi</a></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">PENDAHULUAN</span></p>
<p><strong>A. Latar belakang masalah</strong><br />
Tanpa menafikan jasa dari peradaban terdahulunya, seperti mesir, India, dan syiria, yunani mempunyai karakteristik yang khas dari peradaban yang lain. Filsafat yang bertumpu pada <em>reason</em> (akal) menjadi inti dari kultur peradaban Yunani. Kultur inilah yang pada akhirnya ditransformasikan ke dunia islam, meskipun melalui kultur-kultur yang berbeda dan komuitas religius yang berbeda-beda pula, namun cirri yang tetap melekat dan permanent adalah<em> the power of human reason.</em> <span class="fullpost"><br />
</span><br />
<span class="fullpost">Penerjemahan pengetahuan asing telah dimulai sejak periode Umayyah, gagasan dari Khalid anak khalifah Yazid, hinga periode keemasan Bani Abbasiyyah. Pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, penerjemahan teks-teks Yunani (Syiria) kedalam bahasa Arab mencakup berbagai bidang keilmuan, seperti filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, kimia, dan seterusnya. Dari para translator tersebut tersedia bahan-bahan filsafat Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato serta teks-teks filsafat Yunani akhir yang dihasilkan dari perpaduannya dengan Alexandariyah, yang karater utamanya adalah neo-platonis. Dari sinilah, kemudian lahir para filsuf muslim di wilayah timur, seperti Al-Kindi,Al-farabi, Ibn Sina, yang kemudian ditransfer (tentu melalui proyek Negara) ke Spanyol dan memunculkan filsuf-filsuf kawakan, seperti Ibn Rusyd, Ibn Bajjah, Ibn Khaldun, Ibn Thufail dan seterusnya.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Diskursus pemikiran filsafat islam adalah dalam kerangka historis setidaknya terbagi menjadi dua pemikiran (mainstream) besar yaitu : pertama, aliran masysy&#8217;iyyah (peripetatik) dan kedua, aliran isyraqiyyah (iluminasi). Aliran ini mencapai kesempurnaan pada aliran <em>muta&#8217;aliyyah (wujudiyah</em>) . Filsafat peripetatik merupakan sintesis ajaran-ajaran wahyu, aristotelisme dan neoplatoniesme, baik atenian maupun alexsandrian yang pada hakekatnya merupakan dielektika tradisi pemikiran islam dengan tradisi pemikiran yunani. Demikian juga dengan pemikiran isyraqiyyah, tidak berbeda jauh dari aliran peripetetik yang jua merupakan dialektika tradisi pemikiran islam dengan tradisi pemikiran yunani dan Persia.<br />
</span><br />
<strong>Baca juga: <a href="http://miftakh.com/2010/02/filsafat-iluminasionis-isyraqiyah-suhrawardi.html" target="_blank" rel="noopener">Filsafat Iluminasi Suhrawardi</a></strong><br />
<span class="fullpost">Pada perjalanannya, filsafat peripetatik ini tidak hanya mendapat reaksi dari kaum teolog semacam Al-Ghozali, tetapi ai juga mendapat respon secara lebih radikal dari seorang tokoh sufi Syihab ad-Din as-Suhrawardi yang kemudian memunculkan sebuah aliran baru, yakni filsafat isyraqiyyah. Kehadiran dan pengaruh suhrawardi dalam filsafat isyraqiyyahnya, setidaknya banyak analis sejarah islam, memberi angin baru bagi mereka dalam rangka memberikan counter terhadap klaim sejarawan orientalis semacam Ernest Renan yang menganggap bahwa tradisi intelektual islam telah mandek pasca ibnu rusyd. Bahkan, Nasr secara tegas menyatakan &#8220;filsafat islam dengan maknanya yang sejati belum berakhir dengan ibnu rusyd, (terutama) ketika ajaran-ajaran suhrawardi sedang menyabarkan (sayapnya) di negeri-negeri timur dan dunia islam.&#8221;<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Rekaman historis menunjukkan bahwa perkembangan filsafat masysya&#8217;iyyah (peripetatik) mencapai puncaknya melalui seorang pemikir genius, semisal ibnu sina, meskipun banyak konsepnya dipengaruhi oleh Al-Farabi sebagai mu&#8217;alim as-sani. Keberadaannya filsafat ini mengalami benturan yang sangat berarti dalam perkembangannya yang bermula dari reaksi madzab Asy&#8217;ariah, terutama diwakili oleh Al-Gazali (w. 1111M). ketegangan ini pada akhirnya mempunyai daya yang destruktif bagi filsafat, terutama di wilayah islam bagian timur.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Dalam perjalanan sejarah islam, kehadiran filsafat pada dataran intelektual dunia islam menganggap akan mengancam cabang keilmuan islam tradisional. Aspek yang mendapat tantangan paling tajam adalah aspek rasional dari filsafat Aristotelian, terutama dari kelompok teolog dan sufi. Sebagaimana dikatakan oleh Seyyed Hossein Nasr, tantangan ini baru mereda pada saat filsafat terakhir ini menguat pengaruhnya di kalangan kaum Kristen barat, dan ketika di dunia islam digantikan oleh dua aliran pemikiran : doktrin sufisme dari Ibn &#8216;Arabi dan filsafat illuminasi suhrawardi, yang keduanya bertujuan untuk meraih kesadaran akan kebenaran dan menggantikan rasionalisme filsafat peripetatik dan intuisi (zauq). Tipe filsafat ini dianggap oleh sebagian orang sebagai pesintesis dua aliran besar yang sulit akur itu. Akhirnya, rekonstruksi suhrawardi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan filsafat islam berikutnya. Pengaruh ini juga dapat dilihat pada karya kajian filosof yahudi dan ahli logika Sa&#8217;ad Ibn Mansur Kaimunah.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Namun demikian, para peneliti filsafat illuminasi masih berselisih pendapat tentang posisi filsafatnya ditengah wacana kefilsafatan yang berkembang sampai masa hidupnya, dengan kata lain, tingkat orisinalitas filsafat illuminasi masih menjadi pembicaraan yang belum tuntas. Tradisi orientalis kuno menyatakan bahwa filsafat illuminasi suhrawardi sacara esensial tidaklah baru, dan menganggap bahwa komentar pendek Ibnu Sina tentang filsafat oriental (al-hikmah al-masyriqiyyah) telah mendahului filsafatnya. Untuk itulah filsafat illuminasi tidaklah berbeda secara esensial dengan filsafat peripetatik. Lebih detail S. van Den Bergh menunjukkan bahwa didalam pemikiran suhrawardi ditemukan berbagai teori dan argumen kaum skeptics dan stoics yang digunakan oleh ilmu kalam; ia misalnya mengajarkan teori stoics tentang identitas dari hal-hal yang tidak bisa dimengerti (indiscernables), teori skeptics dan stoics tentang subyektifitas atau ketidakmungkinan hubungan-hubungan; dan ia juga mengambil –seperti ilmu kalam- konsep tentang optimisme teodisi stoics.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Dalam pandangan Nasr, karya-karya suhrawardi dan komentar-komentar terhadap pemikirannya selama tujuh abad terakhir membentuk sebuah korpus utama dari tradisi isyraq serta merupakan khasanah doktrin-doktrin dan symbol-simbol tradisional yang mengkombinasikan didalamnya unsur-unsur kebijaksanaan sufisme dan hermetisme, filsafat phitagoras, platonic, Aristotelian dan Zoroastrian dengan berbagai unsur yang lain. Hal ini terbukti dengan berbagai pengaruh dari para filsuf terdahulunya, seperti Ibnu Sina. Di samping itu, ia juga sangat berhutang budi kepada serangkaian guru-guru sufi sebelumnya, seperti al-Hajjaj dan al-Gazali-terutama buku miskat al-Anwar. Suhrawardi juga dipengaruhi secara langsung oleh tradisi yang luas dari hermetisme yang merupakan sisa-sisa doktrin-doktrin mesir, Chaldean dan Sabaean yang bermetamorfosis dalam matriks Hellenisme, dan didasarkan pada simbolisme primordial alkemi, serta pengaruh dari ajaran zoroastrianisme, terutama dalam ajaran angelology dan simbolisme sinar dan kegelapan.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Berbeda dengan Nasr, Madjid Fakhry tetap berkeyakinan bahwa lepas dari unsue mistik dan ensperiensial dari filsafat suhrawardi, dasar kosmologi dan metafisika yang dibangun oleh suhrawardi tidaklah betul-betul asing. Pada hakekatnya, gagasan tersebut bertumpu pada pemikiran Aviccenian, Neoplatonik, Zoroastrian dan berbagai pemikiran timur lainnya. Apa yang membedakannya dari Neoplatonisme tradisional islam adalah terutama upayanya untuk memanfaatkan sepenuhnya tamsil cahaya yang telah dibayangkan oleh Ibnu Sina dan sepenuhnya dimasukkan oleh zoroastrianisme ke dalam pandangan dunia keagamaan dan metefisiknya. Keyakinan Fakhry ini didukung oleh kenyataan bahwa suhrawardi mengemukakan pembelaan-pembelaan terhadap kaum teosofi dari fitnahan dan kecaman masyarakat saat itu yang menuduh mereka sebagai atheis. Dalam karya I&#8217;tiqad al-Hukuma, suhrawardi mengajukan alasan bahwa kaum teosofi percaya kepada keesaan tuhan, penciptaan dunia dan keputusannya yang tidak bisa ditawar.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Namun, Hossien tetap menolak pendapat-pendapat diatas. Menurutnya, filsafat illuminasi merupakan konstruksi filosofis yang sistematis dan khas yang disusun untuk menghindari inkonsistensi metafisis, epistemologis dan logis yang ditangkap oleh suhrawardi dari filsafat peripetatik pada masanya. Meskipun Suhrawardi sangat menyadari peninggalan filsafat Ibnu Sina, tetapi filsafat illuminasi tidak bisa disamakan dengan filsafat Ibnu Sina. Suhrawardi memang menggunakan teks, istilah dan metode Ibnu Sina, namun ia menggunakan banyak sumber lainnya juga. Untuk itulah, tujuan filosofis yang mendasari disusunnya karya-karya yang bercorak illuminatif adalah khas milik suhrawardi,<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Senada dengan Nasr, Faslur Rahman seorang pemikir Islam kenamaan juga melihat bahwa fenomena isyraqiyyah suhrawardi memberikan &#8220;arah baru&#8221; dalam perkembangan pemikiran islam. Rahman menyebutkan sebagai apa yang dinamakan filsafat keagamaan yang murni atau agama filosofis. Perkembangan ini, walaupun dalam perjalanan sangat dipengaruhi oleh sufisme dan para pemiliknya, namun tetap dapat dibedakan dari sufisme. Fenomena agama filosofis memiliki ciri argumentasi rasional dan proses-proses pemikiran yang logis dan murni intelektual. Sementara itu, sufisme semata-mata mengandalkan pengalaman intutif gnostika dan menggunakan imajinasi puitis daripada proses rasional. Gerakan filsafat ini, dalam mengambil watak religio sentrisnya, diperkuat oleh kenyataan bahwa filsafat murni itu memiliki sifat religius yang kuat. Dengan mendasarkan sifat rasional, ia membangun pandangan dunia yang benar-benar bersifat religius. Tradisi yang baru ini bermula dari konsep baru Suhrawardi dalam kencah pemikiran filosofis.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Dilihat dari segi lain, konsep-konsep Suhrawardi juga tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan al-Gazali dalam memadukan syariah, filsafat dan mistisme. Pengaruh dari keberhasilannya itu melahirkan dua aliran yang berbeda. Pertama, arah intelektual yang menghasilkan tasawuf yang bisa disebut sebagai arah metefisik atau gnostik. Kedua, arah populer yang diwujudkan dalam bentuk kongkrit sebagai lembaga-lembaga persaudaraan keagamaan, yang kemudian dikenal sebagai tarekat.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Salah satu konsep yang menjadi perbincangan menarik dalam tradisi filsafat isyraq adalah konsep cahaya. Konsep cahaya lahir dalam islam karena cahaya merupakan fenomena alam yang keberadaannya sangat disenangi oleh manusia, sehingga sering digunakan sebagai lembaga bagi berbagai macam bentuk kebahagiaan manusia. Beberapa bentuk kepercayaan mempersonifikasikan tuhan dalam cahaya, karena cahaya memiliki kekuatan yang menentukan bagi kehidupan manusia. Jadi, diskursus tentang &#8220;cahaya&#8221; bukanlah milik islam secara exklusif, melainkan juga milik kepercayaan-kepercayaan lain. Cahaya sangat mendominasi, misalnya, dalam kepercayaan iran kuno. Begitu pula dalam filsafat islam. Meskipun demikian, konsep cahaya mempunyai dasar tekstual yang kuat terutama yang tercantum dalam ayat 35, surat XXIV/ an-nur<br />
</span></p>
<p style="text-align: center;"><span class="fullpost">   <br />
&#8220;<em>Allah itu cahaya bagi langit dan bumi</em>&#8221;<br />
</span></p>
<p><span class="fullpost">Berangkat dari ayat ini dan konsep kuno Zoroaster tentang cahaya, suhrawardi menguraikan konsepsi mengenai kesatuan ilahi. Menurut penjelasannya, Tuhan adalah cahaya atas cahaya, dari itu terjadilah penyinaran yang mengakibatkan adanya sumber-sumber cahaya yang lain. Adanya penyiaran ini kemudian mewujudkan sendi-sendi alam materi dan alam rohani. Alam secara keseluruhan muncul karena sinar Allah dan limpahan-Nya. Bagaimana proses terjadinya penyinaran sehingga terjadi perbedaan kualitas baik dalam alam materi maupun alam rohani? Lalu bagaimana orang bisa membedakan antara sinar yang melahirkan meteri dengan sinar yang melahirkan rohani? </span><br />
<span class="fullpost">Adakah tingkatan-tingkatan didalam cahaya itu?<br />
Suhrawardi menjelaskan konsep itu tidak saja dengan kebijaksanaan diskursif (al-bahsiyyah) akan tetapi menggabungkan kebijaksanaan itu dengan kebijaksanaan itu dengan kebijaksanaan eksperinsial (az-zauqiyyah). Filsafat ini juga menyatukan ittihad (sufi) dengan ittisal ( filosof). Disinilah letak keistimewaan konsep tokoh ini.<br />
Salah satu konsep yang ditawarkan oleh Suhrawardi dengan konsep tingkatan wujud tersebut nampaknya mempunyai momentumnya dalam konteks kekinian. Kehidupan masyarakat yang memiliki tingkat pluralitas dan heterogenitas yang luar bisaa telah meniscayakan sebuah logika berpikir yang meniadakan konsep-konsep truth claim, yang satu menafikan yang lain, merasa benar sendiri. Meminjam Istilah al-Jabari, melalui penajaman intutuf, logika-logika &#8220;act with&#8221; akan lebih mengedepan dari pada logika-logika &#8220;<em>act against</em>&#8220;.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Hikmah isyraqiyyah dalam prespektif ini bisa diposisikan sebagai wahana untuk mempertautkan kembali kesadaran-kesadaran yang ada dalam tingkat-tingkat wujud yang selama ini telah didominasi oleh logika-logika ala Aristotelian yang dikotomis plus ahumais. Thruth claim, dengan demikian menjadi sesuatu yang tidak perlu terjadi karena dalam konteks kehidupan manusia, keragaman realitas, adanya tingkatan-tingkatan wujud semuanya menuju pada realitas tunggal –sebagaimana metefor Cahaya Suhrawardi- menuju kepada sumber cahaya yang mewujudkanya, cahaya prior : <em>al-Nur al-Anwar</em>.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Dengan demikian, berdasarkan analisis filosofis, suhrawardi tengah memberikan tawaran sebuah cara berpikir atau mode of thought bagaimana cara menghadapi realitas yang plural, ahomogen. Realitas empiris yang bermacam-macam manifesnya tidaklah berbeda dalam esensi dan ekstensinya. Partikularitas eksistensi adalah manifestasi dari realitas yang sama dengan tingkat perwujudan yang berbeda. Seluruh eksistensi dalam realitas empiris terwadah dalam satu reallitas tunggal. Berasal dari sumber emanasi yang maha pertama. Semua itu berbingakai dalam frame cahaya realitas absolute : tuhan.<br />
<strong>B. Rumusan Masalah</strong><br />
Dari latar belakang yang telah penyusun uraikan, maka penelitian ini akan difokuskan hanya pada dua rumusan masalah, adapun rumusan tersebut adalah sebagai berikut :<br />
1. Bagaimana genealogi filsafat isyraq, serta proses penyinaran dan terbentuknya wujud?<br />
2. Bagaimana konstruksi epistemology filsafat isyraq suhrawardi ?<br />
<strong>C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian</strong><br />
Dengan rumusan masalah seperti itu, maka tujuan utama penulisan ini adalah mengetahui secara mendalam bagaimana genealogi isyraq dan struktur pengetehuannya serta bangunan epistemology filsafat isyraq suhrawardi.<br />
Secara teoritik, tulisan ini digunakan untuk memperkaya wacana pengetahuan irfani, sebuah pengetahuan yang selama ini dianggap &#8216;elit&#8217; dan tidak menyentuh aspek-aspek kemanusiaan. Atas dasar itulah tulisan ini juga ingin sedikit mencari sisi-sisi tertentu atau implikasi yang ditimbulkan dari konsep wujud (filsafat isyraq) serta kiranya dapat dikembangkan ke depan dalam menghadapi persoalan kehidupan keberagaman dalam realitas yang bersifat majemuk dan plural ini.<br />
<strong>D. Tinjauan Pustaka</strong><br />
Sejauh pengamatan peneliti, terdapat beberapa buku, artikel dan riset kesarjanaan yang mengulas tentang pemikiran Suhrawardi. Diantara tulisan-tulisan itu adalah buku Hossein Ziai yang berjudul : suhrawardi dan filsafat illuminasi : pencerahan ilmu pengetahuan, terj. Alif Muhammad dan Munir (Bandung, 1998). Buku ini secara garis besar mengulas filsafat illuminasi suhrawardi, posisi logika dalam filsafat illuminasi serta epistemology hingga kosmologi dalam filsafat illuminasi. Hampir dapat dipastikan bahwa pemikiran sentral, khususnya tentang filsafat illuminasi, dipaparkan didalamnya. Agaknya penjabaran yang komprehensif atas semua pemikiran Suhrawardi dalam buku ini, justru menjadikan buku ini sebagai pengatur komprehensif dalam memahami pemikiran suhrawardi. Kekurangan penelitian Hossein Ziai ini justru terletak pada tidak adanya sistematisasi dan pendalaman pada setiap petahan pemikiran suhrawardi yang diulasnya.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Satu bab dalam buku Seyyed Hossein Nasr, three Muslim Sages: Avicenna Suhrawardi-Ibn &#8216;Arabi(Cambrige, 1964). Sebagai seorang pemikir yang cocern dalam spectrum arus illuminasi, Nasr mengumpulkan tiga filsuf illuminasi dalam sebuah buku, termasuk diantaranya adalah suhrawardi. Buku ini secara sekilas mengulas pemikiran suhrawardi tentang Hikmat al-Isyraq.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Sementara buku Majid Fakhry yang berjudul Sejarah Filsafat Islam, terj. Mulyadhi Kartanegara, (Bandung, 1986), membicarakan tokoh ini dalam satu sub bab. Sebagaimana layaknya buku sejarah, tulisan Majid Fakhry tentang suhrawardi juga hanya secara sekilas menjelaskan beberapa aspek penting dalam Hikmah al-Isyraq.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Sementara sebuah buku yang cukup relevan dengan penelitian ini adalah buku yang ditulis oleh Siti Maryam yang berjudul Rasionalitas Pengalaman Sufi: Filsafat Isyraq Suhrawardi, (Yogyakarta, 2003). Aspek epistemology cukup menjadi pembahasan sentral dalam buku ini, disamping pula pemikiran Suhrawardi tentang konsep wujud dan cahaya, serta filsafat isyraq. Meskipun begitu, penjelasan tentang konsep pengetahuan dalam filsafat isyraq suhrawardi tidak terpilah secara jelas jika ditinjau dari aspek epistemology. Akibatnya penulis tidak bisa memilah dan membedakan mana wilayah origin of knowledge, method of knowledge, structure of knowledge dan validity of knowledge dalam filsafat isyraq.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Riset kesarjanaan juga pernah dilakukan oleh saudara M. Wawan Shafwan, yang berjudul Filsafat Illuminasi (Telaah Metafisika). Penelitian ini secara jelas melihat pemikiran suhrawardi dari aspek metafisika. Konsep-konsep dasar metafisika seperti konsep wujud, realitas dan tentang illuminasi sendiri menjadi konsentrasi penuh dalam penelitian ini.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Berbeda dengan para peneliti terdahulu, penelitian ini secara tegas menfokuskan diri pada aspek epistemologis dalam filsafat isyraq. Bidikan konstruksi epistemology dalam filsafat isyraq, secara sistematis akan mengulas sumber pengetahuan, cara memperolehnya, struktur pengetahuannya serta kevalidan bangunan filsafat isyraq.<br />
Lebih dari itu, implikasi lebih jauh dari penelitian ini berhubungan dengan tantangan modernitas, khususnya yang diawali oleh konsepsi epistemology modern yang mengalami stagnasi. Karena itu, dibutuhkan konsep epistemology alternative yang memadai. Filsafat isyraq memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada pengembangan akal untuk menguasai ilmu pengetahuan dengan bimbingan dan disertai tasafuf yang mewujudkan kedamaian.<br />
<strong>E. Metode Dan Pendekatan</strong><br />
Untuk sebuah karya ilmiah, metode mempunyai peranan yang sangat penting. Metode yang digunakan dalam sebuah penelitian menentukan hasil penelitian tersebut. Sebuah metode penelitian merupakan ketentuan standar yang harus dipenuhi. Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu :<br />
</span><br />
<span class="fullpost">1. Metode Pengumpulan Data<br />
Penelitian ini sepenuhnya bersifat kepustakaan (library research), oleh kerena itu langkah pertama yang penyusun lakukan adalah mengumpulkan data-data primer khususnya data yang berhubungan dengan concern penyusunan skripsi ini. Data-data skunder akan penyusun gunakan untuk mendukung data-data primer. Sebagaimana jenis penelitian ini, penyusun akan lebih mengkonsentrasikan diri pada risalah Suhrawardi &#8220;Hikmat al-Isyraq&#8221;, disamping juga data-data sekunder yang menunjang serta mendukung penelitian ini. Pengumpulan data merupakan langkah awal yang sangat penting dalam metode ilmiah.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">2. Metode Pengolahan Data<br />
Setelah data-data primer maupun sekunder terkumpul, penyusun akan melakukan pengolahan data-data yang sudah terkumpul. Dalam hal ini penyusun mengunakan dua model pengolaha data-data sebagai berikut;<br />
</span><br />
<span class="fullpost">a. Interpretasi<br />
Metode interpretasi digunakan untuk &#8220;membongkar&#8221; makna terhadap bermacam-macam fakta. Fakta-fakta yang berhasil ditemukan, kemudian dimaknai dan didefinisikan kedalam suatu konteks permasalahn. Dalam hal ini penyusun akan berusaha menelaah, menyelami dan memahami pemikiran suhrawardi, kemudian menafsirkannya agar dapat mengungkapkan maksud dan tujuan pengarang atau dalam konteks penelitian ini adalah Filsafat Isyraq dan implikasinya bagi keidupan keberagamaan<br />
</span><br />
<span class="fullpost">b. Deskriptif<br />
Setelah penyusun menginterpretasikan data-data tersebut, maka penyusun akan melakukan upaya penggambaran secara utuh dan komprehensif. Upaya ini penyusun lakukan agar pembaca mampu memahami hasil penelitian ini dengan baik. Dari berbagai yang telah diperoleh dan dikumpulkan, dan dengan menggunakan penelitian ini, penyusun akan menguraikan secara menyeluruh dan teratur segala konsep tokoh, karenanya, data-data tersebut tidak hanya disajikan secara abstrak.<br />
c. Kesinambungan Historis<br />
Metode ini penyusun gunakan untuk menghindari kesalahan sejarah mengenai peta pemikiran suhrawardi, dan pengaruhnya terhadap system pemikiran yang dianutnya. Serta untuk akan mengungkap lingkup kesejarahan dan pengaruh pemikirannya terhadap lingkungannya. Metode ini juga kami gunakan untuk melihat setting intelektual suhrawardi, baik dari sisi politik, social dan budaya.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Disamping beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ini, digunakan juga pendekatan transendental-metafisik, pendekatan ini menekankan bahwa realitas itu tidak hanya terbatas pada hal-dal yang bersifat empiris belaka (sensual), akan tetapi juga mencakup fenomena yang tidak bisa dijangkau oleh inderawi, seperti keyakinan, kemajuan, hasrat, nafsu ataupun juga hal yang bersifat transenden. Relevansi pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada aspek intutitif (<em>zauq</em>) dalam filsafat isyraq. Kiranya persoalan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat meta-empiris hanya bisa didekati dengan pendekatan transsendental-metafisik.<br />
<strong>E. Sistematika Pembahasan</strong><br />
Pembahsan dalam penulisan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : pendahuluan, pembahasan dalam tiga bab dan kesimpulan.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Pendahuluan membicarakan latar belakang dan rumusan masalah, metode dan pendekatan yang digunakan dalam menyelesaikan masalah dan kajian pustaka serta arti penting topik yang diteliti. Sistematika pembahasan merupakan bagian akhir yang digunakan mensistematisasikan rencana penelitian.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Pada bab dua dipaparkan riwayat hidup Suhrawardi yang berisi setting sosio-kultural yang melingkupinya, biografi intelektual, termasuk didalamnya latar belakang pendidikan, kedudukannya dalam dunia pemikiran, dan karya-karyanya. Ini semua merupakan pengantar yang penting untuk memahami pemikiran-pemikirannya.<br />
Pada bab tiga dipaparkan gambaran umum tentang filsafat isyraq. Pembahasan ini mencakup asal-usulnya, pengertian dan ajaran-ajaran pokoknya, proses pernyinaran dan kaitannya dengan wujud, serta posisi logika dan zauq. Pembahasan terakhir ini dimaksudkan untuk mengetengahkan pentingnya kedua hal itu dalam konstruksi filsafat isyraq.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Bab keempat dar tulisan ini membahas bangunan filsafat isyraq dan implikasinya dalam kehidupan. Pembahasan ini mengutarakan konsep-konsep wujud suhrawardi dan implikasinya dalam kehidupan keberagamaan manusia. Tercakup di dalamnya pembahasan mengenai pengertian pengetahuan, sumber dan struktur pengetahuan isyraq, cara memperoleh pengetahuan dan pentingnya pembersihan jiwa. Pembahasan yang terakhir penulis kaitkan dengan relevansi konsep filsafat isyraq untuk menjawab tantangan epistemology modern yang tidak mengakui tipe pengetahuan intuitif.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Tulisan ini diakhiri dengan kesimpulan yang didalamnya akan diberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang telah disampaikan dalam rumusan masalah serta saran-saran dan penilaian penulis terhadap konsep-konsep filsafat isyraq suhrawardi.<br />
</span><br />
&nbsp;</p>
<div style="text-align: center;"><span class="fullpost" style="font-weight: bold;">Daftar pustaka</span>
</div>
<p><span class="fullpost">Bagus, Lorens Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta, 2000<br />
Bakker, Anton dan Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat Yogyakarta : Kanisius, 1990<br />
Corbin, Henry the Man of Light in Iranian Sufism, terj. Nancy Pearson Boulder London :Shahmbala, 1978<br />
Fakhriy, Majid. Sejarah Filsafat Islam, terj. Mulyadi Kartanegara, Jakarta: : Pustaka Jaya, 1987<br />
Leaman, Oliver. Pengantar Filsafat Islam, ter. Amin Abdullah Jakarta: Rajawali, 1986<br />
Madkour, Ibrahim. Pengantar Filsafat Islam, terj. Yudian W. Asmin Jakarta: : Bumi Aksara, 1995<br />
Nasir, Moh. <span style="font-style: italic;">Metode Penelitian</span> Jakarta: PT Ghalia Indonesia, 1998<br />
Nasr, sayyed hossein. <span style="font-style: italic;">Tiga Pemikir Islam</span> : <span style="font-style: italic;">Ibnu Sina, Suhrawardi, Ibn Arabi</span>, terj. Ahmad Mujahid Bandung : Risalah 1986<br />
________________. &#8220;<span style="font-style: italic;">Filsafat Hikmah Suhrawardi</span>&#8220;, Jurnal Ulumul Qur&#8217;an No 3/VII/1997<br />
________________. <span style="font-style: italic;">Tiga Pemikir Islam</span>, bandung: risalah, 1986<br />
________________. <span style="font-style: italic;">Intelektual Islam</span>, Teologi, Filsafat dan Gnosis. Terj. Suharsono Yogyakarta : pustaka pelajar, 1996<br />
________________. dan Oliver Leaman, <span style="font-style: italic;">History of Islamic Piloshofy</span>, I, London : Routledge, 1996<br />
Rahman, Fazilur. <span style="font-style: italic;">Islam</span>, terj. Ahsin Muhammad Bandung : Pustaka, 1986<br />
Roswantoro, Alim. &#8220;<span style="font-style: italic;">Pertemuan Kebudayaan Islam Dan Yunani</span> : Mencari Benang Merah Transendental Filsafat Islam&#8221;, Potensia Islam, Jurnal Bem-J Filsafat Islam, Fak, Ushulhuddin UIN Sunan Kalijaga, Vol 1, Mei 2002<br />
Van Den Bergh, S. &#8220;<span style="font-style: italic;">al-Suhrawardi</span>,&#8221; EJ Brill&#8217;s First Ancyclopaedia of islam 1913-1936, VII, Leiden : E.J. Brill, 1993<br />
Ziai, Hossein.<span style="font-style: italic;"> Suhrawardi dan Filsafat</span>. Terj. Arif Muhammad dan Munir, Bandung: zaman Wacana Muliam 1998<br />
</span></p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-isyraqiyyah-telaah-epistemologi.html">Filsafat Isyraqiyyah/ Iluminasi (Telaah Epistemologi)</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-isyraqiyyah-telaah-epistemologi.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tantangan Bangsa Indonesia di Tengah-Tengah Dunia yang Multipolar</title>
		<link>https://www.miftakh.com/2017/09/tantangan-bangsa-indonesia-di-tengah-tengah-dunia-yang-multipolar.html</link>
					<comments>https://www.miftakh.com/2017/09/tantangan-bangsa-indonesia-di-tengah-tengah-dunia-yang-multipolar.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[meeftha]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Sep 2017 17:35:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budi gunawan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia intoleransi]]></category>
		<category><![CDATA[kepala bin]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://miftakh.com/?p=351</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan dan makalah tentang: Tantangan Indonesia sebagai bangsa dan negara ditengah-tengah dunia yang semakin terpecah membentuk blok-blok.* MASALAH/TANTANGAN Indonesia ke depan akan diperhadapkan pada tantangan yang semakin berat dan kompleks. Perkembangan strategis baik itu dalam skala global, regional dan nasional bergerak semakin dinamis. Sudah barang tentu kondisi ini punya potensi memicu ancaman yang beragam, dan… <span class="read-more"><a href="https://www.miftakh.com/2017/09/tantangan-bangsa-indonesia-di-tengah-tengah-dunia-yang-multipolar.html">Read More &#187;</a></span></p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/09/tantangan-bangsa-indonesia-di-tengah-tengah-dunia-yang-multipolar.html">Tantangan Bangsa Indonesia di Tengah-Tengah Dunia yang Multipolar</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan dan makalah tentang: <a href="http://miftakh.com/2017/09/tantangan-bangsa-indonesia-di-tengah-tengah-dunia-yang-multipolar.html">Tantangan Indonesia sebagai bangsa dan negara ditengah-tengah dunia yang semakin terpecah membentuk blok-blok</a>.*<br />
<strong>MASALAH/TANTANGAN</strong><br />
Indonesia ke depan akan diperhadapkan pada tantangan yang semakin berat dan kompleks. Perkembangan strategis baik itu dalam skala global, regional dan nasional bergerak semakin dinamis. Sudah barang tentu kondisi ini punya potensi memicu ancaman yang beragam, dan dimensinya kian luas menyentuh seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.<br />
Kontestasi ideologi dan kebijakan politik <em>major power</em> diduga akan saling beririsan, akibatnya mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat dunia, terutama pasca-terpilihnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.<br />
Dinamika geostrategis global bisa dipastikan dipengaruhi oleh keputusan Inggris setelah keluar dari Uni Eropa (Brexit), kemudian manuver Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Rusia untuk menjadi pemain penentu (<em>key player</em>) dalam tatanan hubungan global, perseteruan Arab Saudi – Iran, termasuk masih berlanjutnya krisis di sejumlah kawasan, seperti krisis Suriah, Yaman, konflik Israel – Palestina yang belum berkesudahan, Afghanistan, Ukraina, krisis di Semenanjung Korea dan Selat Taiwan.<br />
Masalah lain yang rentan menimbulkan instabilitas keamanan global adalah berlanjutnya aksi teror <em>Non State Actor</em>, seperti Al Qaeda, Taliban, Al Shaabab, Boko Haram, ISIS, dan kelompok/individu yang terinspirasi atau telah berbai’at kepada ISIS, serta kekerasan bersenjata sektarian, ancaman <em>cyber war</em> di berbagai negara.<br />
Pertumbuhan ekonomi global diprediksi masih melambat dan diliputi ketidakpastian, ini juga berefek pada sejumlah negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Arus modal dan tekanan Dollar AS masih terhambat. Produksi pangan dunia masih dihantui cuaca ekstrim, El Nino dan La Nina yang berakibat turunnya produksi, ditambah harga minyak mentah dunia yang fluktuatif.<br />
Di bidang sosial budaya, gelombang pengungsian dari negara-negara konflik, terutama ke wilayah Eropa Barat, kekerasan sektarian, dan <em>Islamphobia</em>, diperkirakan menjadi masalah sosial yang rumit untuk di selesaikan. Pada tataran regional, kita juga menghadapi dinamika situasi di Asia Tenggara. Misalnya, konflik Laut China Selatan, sengketa perbatasan, permasalahan Rohingya, pengungsi/migran, serta beberapa aksi teror dan penculikan, perompakan di beberapa negara seperti di Fhilipina, Thailand, dan Indonesia.<br />
Di bidang ekonomi, persediaan beras Thailand, India, Vietnam mengalami penurunan, sehingga mendorong kenaikan harga beras, terbatasnya cadangan energi di kawasan ASEAN. Selain menghambat pertumbuhan dan melemahkan ketahanan energi kawasan, bisa merapuhkan soliditas negara-negara ASEAN akibat terjadinya persaingan untuk mendapatkan sumber energi.<br />
Dalam skala nasional tak kalah serius. Dimana adanya ancaman kian menguatnya pengaruh ideologi kanan, agitasi, propaganda kelompok kiri, pengaruh ideologi liberal dengan memanfaatkan era globalisasi. Inilah yang mungkin disebut dengan<em> the end of history</em>, sebuah skenario dengan target membumihanguskan kebudayaan-kebudayaan lokal, termasuk memakai pola-pola ekonomi pasar bebas. <em>The clash of civilitations</em> yang mengubah ideologi mengatasnamakan kebebasan demokrasi. Yang paling ekstrim adalah<em> the coming anarcy</em> dengan menciptakan banyak instrumen kegaduhan dengan cara konflik bernuansa SARA (Suku, Ras dan Agama).<br />
Revitalisasi pengamalan dan penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara belum optimal. Perhelatan Pilkada serentak 2018 berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Untuk masalah ekonomi di Indonesia masih terancam dengan penurunan investasi dan perdagangan yang diakibatkan oleh perubahan kebijakan di Amerika Serikat. Kondisi fiskal masih masalah, lantaran ruang fiskal yang sempit sehingga program pembangunan kurang berjalan maksimal.<br />
Produksi pada sektor pangan masih terhambat oleh beberapa penyebab, seperti alih fungsi lahan, infrastruktur dan kondisi cuaca. Fluktuasi harga minyak mentah dunia ikut mempengaruhi perekonomian nasional, terbatasnya sarana infrastruktur energi, terhambatnya program listrik 35.000 megawatt. Di bidang sosial budaya, masalah yang mencuat adalah intoleransi, masih minimnya sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan, banyaknya kasus sengketa lahan, masalah perburuhan, pencemaran lingkungan, penyalahgunaan narkoba dan penegakkan hukum. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian yang sangat serius.<br />
Di bidang pertahanan dan keamanan, konsolidasi jaringan terorisme terus berlanjut merekrut dan menjalankan kaderisasi, terutama oleh kelompok-kelompok pendukung ISIS. Modus dan sasarannya sekarang telah berkembang tertuju kepada arapat keamanan yang dinilai sebagai penghalang perjuangan dengan aksi individu (<em>Lone Wolf</em>). Hal krusial lainnya adalah manuver kelompok separatis dengan menggunakan jalur politik dan kekerasan bersenjata. Konflik komunal dengan ragam latar belakang, serta masalah perbatasan dengan negara tetangga, kejahatan lintas negara. Kesemuanya itu menjadi sumber gangguan keamanan nasional.<br />
Dinamika ancaman-ancaman saat ini telah mengalami perubahan paradigma. Dimana sebelumnya bersifat tradisional, simetris dan militer, menjadi bersifat multi-dimensi asimetris, dengan menggunakan teknologi modern dan kekuatan non militer. Hal ini mengakibatkan <em>proxy war, cyber war</em>, dan <em>media war</em> sehingga ancaman kepentingan dan keamanan nasional semakin meningkat.<br />
<strong>INDONESIA DARURAT INTOLERANSI</strong><br />
Indonesia saat ini tengah menghadapi darurat intoleransi. Dinamika ancaman seperti radikalisme, terorisme, kejahatan <em>cyber, hoax</em> dan <em>hatespeech</em>, intoleransi, <em>proxy war</em> dan <em>cyber war</em>, secara langsung maupun tidak langsung sangat berpengaruh terhadap situasi dan kondisi nasional.<br />
Belum optimalnya implementasi pengamalan nilai-nilai Pancasila telah menjadi celah masuknya ideologi lain yang ingin menggantikan posisi Pancasila dan UUD 1945. Fenomenda radikalisme menjadi isu yang sangat memprihatinkan. Ideologi selain Pancasila dan radikalisme menjadi magnet khususnya di kalangan generasi muda. Pancasila yang merupakan ideologi dan dasar negara harus tetap menjadi pandangan hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.<br />
Radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan sosial politik dengan cara drastis dan kekerasan. Dalam perjalanannya, radikalisme kemudian diartikan sebagai paham yang menginginkan perubahan besar. Sesuai dengan asal katanya, “radikal” yang berarti amat keras menuntut perubahan. Radikalisme merupakan respon atas kondisi yang sedang berlangsung. Bisa dalam bentuk evaluasi, penolakan bahkan perlawanan. Masalah yang ditolak dapat berupa ide, pendapat, asumsi atau nilai-nilai yang bertanggungjawab terhadap keberlangsungan sebuah keadaan.<br />
Saat ini, ada sekelompok orang yang memaksakan kehendaknya dengan mengatasnamakan agama untuk mengganti Pancasila sebagai ideologi. Kelompok tersebut ingin menggantinya dengan ideologi lain, seperti sistem khilafah dan penerapan syariat Islam. Dalam merealisasikan tujuannya, kelompok ini cenderung menggunakan kekerasan dengan dalih jihad membela agama. Kasus bom bunuh diri di Kampung Melayu, merupakan salah satu wujud dari radikalisme dan pemahaman ajaran agama yang begitu sempit yang diimplementasikan dengan aksi teror.<br />
Radikalisme agama, biasanya menggunakan isu pemurnian akidah. Pihak-pihak yang tidak sejalan dinilai sesat yang sering dikembangkan dalam upaya menolak cara pandang yang berbeda dengan cara pandang radikalis. Radikalisme agama kerap membangun dikotomi antara sistem thaghut dengan sistem Islam.<br />
Radikalisme tidak akan berhenti sampai pada upaya penolakan semata, dia akan terus berusaha mengganti tatanan. Di dalam radikalisme, terkandung suatu program atau pandangan tersendiri atas sebuah tatanan. Dalam konteks radikalisme agama, kelompok-kelompok tersebut memaksakan pemahamannya dan memiliki agenda yang jelas untuk mengganti aturan-aturan yang menurutnya tidak sesuai dengan pemahaman mereka, dengan cara apapun, bahkan kekerasan sekalipun.<br />
Aksi-aksi teror yang terjadi di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh jaringan teror global. Dengan kemajuan teknologi informasi, kelompok ini melakukan propaganda melalui media sosial. Meskipun majunya teknologi informasi memiliki manfaat positif, tetapi juga mempunyai dampak negatif. Inilah yang rawan dan sangat berbahaya bagi kondisi sosial masyarakat. Tindakan agitasi, provokasi, <em>hoax, hatespeech</em> bisa menyebabkan intoleransi. Fitnah dan saling menghujat merupakan fenomena yang sering terlihat terutama di media-media sosial. Hal itu, mengancam integrasi dan Ke-Bhinekaan.<br />
<strong>PERAN ULAMA DAN ISLAM DALAM MENJAGA INTEGRASI NASIONAL</strong><br />
Peran para ulama dan Islam sebagai bagian mewujudkan integrasi nasional tidak bisa dibantah lagi. Para ulama dan Islam sejak dulu konsisten mengajarkan nasionalisme kepada jamaahnya. Nasionalisme yang dikumandangkan para ulama, melahirkan aspirasi perjuangan kemerdekaan. Sikap yang dikembangkan oleh ajaran Islam ini membuat Islam diterima oleh bangsa Indonesia. Islam menjadi simbol anti pejajahan sekaligus sebagai identitas pribumi. Para ulama Islam memiliki kemampuan melahirkan sikap politik dengan bahasa yang bisa diterima oleh seluruh golongan.<br />
Ulama dan kelompok Islam, dalam kancah politik nasional bisa dilihat dengan lahirnya partai-partai politik berasaskan Islam atau partai yang memiliki basis pendukung massa Islam itu sendiri. Mereka sejak awal terlibat dalam pemilihan umum. Peran-peran mereka punya andil besar ketika mendorong gerakan reformasi 1998. Tidak sampai disitu saja, para ulama konsisten dalam gerakan-gerakan sosial dan pendidikan. Hal tersebut ditandai dengan berdirinya pondok pesantren, perguruan tinggi, sekolah, panti asuhan, rumah sakit, bank-bank syariah dan berbagai organisasi kemasyarakatan.<br />
Dari fakta-fakta yang terekam dalam perjalanan sejarah Indonesia, ulama dan Islam merupakan elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan bangsa Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan, bangsa ini telah berhutang kepada para ulama, terutama kaitannya mempertahankan eksistensi NKRI dengan tetap menghargai Ke-Bhinekaan serta melarang permusuhan.<br />
Pemerintah sendiri telah membangun sinergi dengan kelompok Islam. Dengan bentuk implementasi program pemerintah dengan melibatkan peran dan jaringan kelompok-kelompok Islam untuk penyaluran BPJS, KIS, KIP melalui pondok-pondok pesantren. Kemudian pembinaan karakter bangsa dan nilai-nilai Pancasila melalui ceramah/dakwah ulama, pemberdayaan ekonomi rakyat mengikutsertakan ormas-ormas Islam, dan pengembangan ekonomi syariah.<br />
Sedangkan penanganan masalah dan konflik sosial di masyarakat, pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipasi dan upaya cegah dini melalui pendekatan secara keagaamaan dan pelibatan tokoh-tokoh agama untuk pembinaan generasi muda guna membentuk akhlak dan penanaman nilai-nilai Pancasila.<br />
Para alim ulama diharapkan menjadi pemantik bagi generasi selanjutnya untuk memantapkan tekad bahwa Pancasila dan NKRI harus dijaga. Pancasila harus diamalkan, dijiwai setiap sila-silanya yang merupakan perekat keutuhan bangsa dan negara. Dengan demikian, Islam dan ulama adalah kekuatan sekaligus kebanggaan umat dan negara untuk terus dapat menjaga keutuhan bangsa, sekaligus menjadi contoh bagi kehidupan dan peradaban dunia yang damai.<br />
Oleh karena itu, sangat penting rasanya untuk mengembalikan peran ulama.<br />
Komunikasi yang harmonis antara ulama, umat dan pemerintah harus terus dibangun sehingga tidak ada jarak. Demikian halnya mendorong peran aktif para ulama dan tokoh Islam Indonesia dalam kancah internasional, untuk menunjukkan wajah Islam yang toleran, menjaga perdamaian dunia dan tak kalah pentingnya adalah menjaga marwah dan nama baik bangsa Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.<br />
Untuk menjaga ke-Bhinekaan dan keragaman dalam bingkai keutuhan NKRI, maka diperlukan langkah-langkah membangun dan memperkokoh persatuan kesatuan bangsa, memperkuat nilai-nilai Pancasila dan karakter bangsa dan negara untuk menangkal potensi gangguan asing yang bisa memecah belah NKRI, merawat kohesifitas sosial masyarakat dan menjadi garda terdepan untuk antisipasi dan cegah potensi konflik sosial.<br />
* Judul asli: TANTANGAN INDONESIA YANG BERDAULAT DAN MAJU DI TENGAH-TENGAH DUNIA YANG MULTIPOLAR<br />
Disusun oleh: Jenderal Polisi Budi Gunawan, Ph. D, Kepala BIN RI.</p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/09/tantangan-bangsa-indonesia-di-tengah-tengah-dunia-yang-multipolar.html">Tantangan Bangsa Indonesia di Tengah-Tengah Dunia yang Multipolar</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.miftakh.com/2017/09/tantangan-bangsa-indonesia-di-tengah-tengah-dunia-yang-multipolar.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filsafat Hermeneutika Wilhelm Dilthey</title>
		<link>https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-hermeneutika-wilhelm-dilthey.html</link>
					<comments>https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-hermeneutika-wilhelm-dilthey.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[meeftha]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Sep 2017 03:06:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Dilthey]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Geisteswissenschaften]]></category>
		<category><![CDATA[hermeneutika]]></category>
		<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[makna dan arti]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat hidup wilhelm dilthey]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://miftakh.com/?p=309</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah makalah tentang filsafat Hermeneutika Wilhelm Dilthey (1833 – 19110) Terjadinya pro dan kontra mengenai keberadaan hermeneutika selama ini sebenarnya menurut hemat penulis adalah dalam wilayah produk atas pemaknaan dan penafsiran terhadap hermeneutika itu sendiri. Padahal kalau kita cermat dari hermeneutika, ia hanyalah sebuah “alat”. Yang namanya alat sudah tentu sebuah keniscayaan yang memiliki keberagaman… <span class="read-more"><a href="https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-hermeneutika-wilhelm-dilthey.html">Read More &#187;</a></span></p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-hermeneutika-wilhelm-dilthey.html">Filsafat Hermeneutika Wilhelm Dilthey</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://miftakh.com/2017/09/filsafat-hermeneutika-wilhelm-dilthey.html"><strong>Sebuah makalah tentang filsafat Hermeneutika Wilhelm Dilthey (1833 – 19110)</strong></a><br />
Terjadinya pro dan kontra mengenai keberadaan hermeneutika selama ini sebenarnya menurut hemat penulis adalah dalam wilayah produk atas pemaknaan dan penafsiran terhadap hermeneutika itu sendiri. Padahal kalau kita cermat dari hermeneutika, ia hanyalah sebuah “alat”. Yang namanya alat sudah tentu sebuah keniscayaan yang memiliki keberagaman fungsi dan makna.<br />
Suatu contoh umpamanya: uang atau duit. Dengan uang orang bisa membangun masjid, membantu sesama manusia, bersekolah/kuliah, bahkan dengan uang orang bisa membunuh, dengan uang Yusron bisa naik haji atau sms si Binti, Alwi bisa sms mama, Ajiz bisa menelfon si Zulfa, Mamat bisa beli kampoter, dan tak kalah pentingnya dengan uang, bahasa “bantingan” bisa muncul di komunitas mahasiswa jurusan Filsafat.<br />
<span class="fullpost">Jadi alangkah kejamnya kalau hermeneutika uang atau alat yang lainnya dijadikan sebagai objek kesalahan, tanpa pernah melihat kepada siapa yang menggunakannya.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Untuk itu tulisan ini berupaya untuk menyorot tentang bagaimna seorang Wilhelm Dilthey mewarnai hermeneutika dalam kapasitas keilmuan yang dimilkinya.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;">Pembahasan</span></p>
<p><strong>1. Riwayat Hidup</strong><br />
Dilthey lahir pada tanggal 19 November 1883. ayahnya adalah seorang pendeta protestan di Biebrich dan ibunya adalah seorang putri dirigen dan karenanya ia menjadi penggemar musik juga . Setelah menyelesaikan pendidikan lokal, Dilthey meneruskan pendidikan lanjutannya di Weisbaden dan pada tahun 1852 pergi ke Heidelberg untuk belajar teologi. Hal ini adalah keinginan orangtuanya supaya nanti bisa mengganti posisi sang ayah sebagai pendeta atau petugas gereja. Namun hal ini gagal karena ia lebih tertarik pada sejarah dan filsafat.<br />
Dilthey dan beberapa temanya membaca dan mempelajari karya-karya Shakespear, Plato, Aristoteles, dan Agustinus. Selama menjadi mahasiswa ia sangat tertarik pada karya Schleiermacher dan mengagumi seluruh karya intelektualnya, karena Schleiermacher mampu menggabungkan teologi dan kesusteraan dengan karya-karya kefilsafatan, serta kagum pada karya terjemahan dan interpretasinya atas dialog Plato. Bahkan tidak lama kemudian Dilthey mendapat dua piagam penghargaan atas pengetahuannya tentang hermeneutik. Inilah awal mula karier Dilthey sebagai seorang filosof.<br />
<span class="fullpost">Tujuan kedepan dilthey dalam hermeneutika adalah untuk mengembangkan metode memperoleh interpretasi “<em>objektivitas yang valid</em> “dari “<em>ekspresi kehidupan batin</em>” .ia bereaksi keras terhadap kecenderungan studi manusia yang secara picik mengadopsi norma-norma dan cara berpikir dari ilmu alam dan menggunakanya untuk studi manusia. oleh karena itu ia disebut sebagai penghubung para hermeneut abad ke 19, yaitu dengan tokoh utama schleiermacher dan sebagai pembawa tradisi baru hermeneutika abad 20.<br />
</span><br />
<span class="fullpost">Pada tahun 1896 ia terserang penyakit yang disebutnya sendiri dengan istilah “<em>nervous origin</em>” serta terkena gejala ‘insomnia’. Suatu hari Dilthey berlibur dan menginap di sebuah hotel di Seis di mana ia terserang infeksi dan meninggal dunia pada tanggal 30 September 1911.</span><br />
<strong>2. Setting Histories Pemikiran Tentang Hermeneutika</strong><br />
Dilthey sebagai filosof tidak begitu dikenal, namaun dalam lingkup negaranya ia sangat cukup masyhur. Dalam bidang hermeneutika filosofis ia punya andil besar, relative memang tidak dikenal orang. Lebih banyak dikenal karena riset historisnya. Ia memang bukan sembarangan sejarawan. Ia adalah filosof yang menaruh perhatian pada sejarah. Perhatiannya pada sejarah tersebut lebih banyak memadukannya pada filsafat untuk maksud mengembangkan suatu pandangan filosofis yang integral–komprehensif dan tidak terjaring oleh dogma metafisika serta tidak ditenggelamkan oleh prasangka.<br />
Hermeneutika Dilthey hidup pada masa ketika filsafat idealisme Hegel sedang jatuh dan ditumbangkan oleh positivisme. Pemikiran ilmu alam yang ditandai metode erklaren (eksplanasi) menjadi pemikiran yang mendominasi seluruh bangunan ilmiah. Dilthey lalu mengembangkan pemikiran tentang verstehen (understanding) sebagai bentuk gugatan pada ilmu yang terlampau positivistik. Verstehen dilahirkan dalam bingkai kritik sejarah dan ikhtiar memunculkan human science.<br />
Dilthey mengatakan, hermeneutika diterapkan pada objek <em>geisteswissenschaften</em> (ilmu-ilmu budaya), yang menganjurkan metode khusus yaitu pemahaman (verstehen). Perlu dikemukakan bahwa konsep &#8220;memahami&#8221; bukanlah menjelaskan secara kausal, tetapi lebih pada membawa diri sendiri ke dalam suatu pengalaman hidup yang jauh, sebagaimana pengalamaan pengobjektifan diri dalam dokumen, teks (kenangan tertulis), dan tapak-tapak kehidupan batin yang lain, serta pandangan-pandangan dunia. Dalam dunia kehidupan sosial-budaya, para pelaku tidak bertindak menurut pola hubungan subjek-objek, tetapi berbicara dalam <em>language game</em>s (permainan bahasa) yang melibatkan unsur kognitif, emotif, dan visional manusia. Keseluruhan unsur tersebut bertindak dalam kerangka tindakan komunikatif, yaitu tindakan untuk mencapai pemahaman yang timbal balik.<br />
Dari uraian singkat di atas, kita bisa berasumsi bahwasanya hemeneutika Dilthey adalah suatu upaya untuk menjawab persoalan tentang bagaimana kita memperoleh pengetahuan sejarah. Dia mengawalinya dengan pandangan bahwa kita memahami sebuah peristiwa kesejarahan melalui pengaitannya dengan pengelaman individual hidup kita sendiri. Bagi Dilthey, pemahaman memiliki akar dan bermula dalam proses kehidupan itu sendiri, yang dia sebut sebagai sebuah “kategori kehidupan” (lebenskategorie). Kategori kehidupan, dengan begitu, merupakan jangkar tempat berlabuh dalam proses pemahaman, dalam kerja hermeneutika.<br />
Usaha yang dilakukan oleh Dilthey terfokus pada pemisahan antara ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu-ilmul sosial (geisteswissenschaften). Dilthey menolak pemikiran para pengikut filsafat positivisme, semisal Comte dan Mill, yang menyatukan antara kedua jenis ilmu tersebut dari segi metodologi. Para penganut positvisme berkeyakinan bahwa satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan ilmu-ilmu humaniora dari keterbelakangannya, jika dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, adalah dengan cara menggunakan metode-metode ilmu-ilmu eksakta tersebut. Dengan cara pandang seperti ini, realita sosial dianggap sama dengan realita alam fisika. Inilah yang ditolak oleh Dilthey. Dari sini, Dilthey berusaha merumuskan metode ilmu-ilmu sosial yang berbeda dengan metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu eksakta.<br />
<strong>3. Hermeneutika Dilthey dan Ilmu Sejarah</strong><br />
Dilyhey menulis filsafat sejarah sebagai “kritik atas akal histories”, suatu filsafat tentang mengerti, cara melihat atau menemukan rangkaian pemikiran yang sedang berlangsung dalam sejarah artinya ia hanya melihat pola-pola sejarah tersebut dan kemudian mencoba memahami dan mengungkapkan makna yang terkandung dalam pola tersebut.<br />
Yang menjadi sasaran Dilthey adalah memahami person yang menyejarah. Pemahaman atas sistem yang dihasilkan oleh person individu adalah mutlak bagi sasaran tersebut sebab person tidak lain adalah produk dari sistem sosial atau eksternal. Oleh karena itu, menurut Dilthey sistem eksternal adalah basis pemahaman histories. Yang ingin dicarikan oleh Dilthey adalah pemahaman dan intrpretasi atas kegiatan-kegiatan atas individu yang dengan sendirinya terstuasikan dalam sistem-sistem eksternal dari organisasi-organisasi sosial, politik dan ekonomi dengan nilai-nilai sendirinya yang sudah dianggap mapan dan mantap. Namun kegiatan-kegiatan individu juga merupakan indikasi atau petunjuk kearah faktor-faktor psikologisnya. Lingkungan eksternal maupun kejiwaan internal seorang person harus dilihat secara seksama dengan maksud untuk memahami prilakunya.<br />
Hermeneutika sebagai dasar metodologis ilmu sejarah dapat dilihat seperti peristiwa sejarah yang dapat dipahami dengan tiga proses. Pertama, memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. Kedua, memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah, dan Ketiga, menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan-gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Maka sejarah yang dapat ditemukan dalam sistem hubungan dinamis yang saling tumpang tindih dalam proses sejarah, dan oleh karenanya semua peristiwa sejarah harus diinterpretasi ulang dalam setiap generasi.<br />
<strong>4. Arti “Memahami”</strong><br />
Bila seorang sejarawan merekonstruksi suatu peristiwa, beraarti ia mencoba mnghidupkan kembali. Inilah alasan Dilthey menyatakan bahwa pemahaman adalah penemuan atas diri saya atas diri anda. Ini berarti pula bahwa seorang sejarawan membaca dirinya sendiri dalam objek penelitiannya atau dalam memahami, kita mengikuti proses mulai dari sistem keselururhan yang kita terima di dalam pengalaman hidup sehingga dapat kita mengerti, sampai ke pamahaman terhadap diri kita sendiri.<br />
Pemahaman disini bukanlah pemahaman konsepsi rasional seperti memahami matematika akan teteapi pemahaman yang dipersiapkan untuk menunjuk aktivitas operasional dimana pemikiran memperoleh pemikiran dari orang lain. pemahaman ini terdiri dari dua proses yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan.<br />
Pertama,untuk memahami orang lain dan ungkapan–ungkapan hidupnya, maka kita harus memahami diri sendiri,yaitu memahami pengalaman hidup kita yang tidak bisa dijangkau dengan metode ilmiah.pengalaman inilah yamg dijadikan dilthey sebagai basis pemahaman terhadap hermenetiukanya yang diambilkan dari bahasa jerman dari asal kata Erleben menjadi Erlebnis yaitu suatu bentuk empati yang mensugestikan peristiwa hidup langsung yang didapati dalam keseharian<br />
pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan mundur ke pengelaman, ini berarti kita melakukan proses hubungan akibat-sebab. Kemudian dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa, orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tesebut sehingga ia bisa ambil andil bagian di dalamnya, maka ia melakukan proses hubungan sebab-akibat.<br />
Kedua,meskipun orang dapat menyadari keadaan dirinya sendiri melalui ekspresi orang lain , namun orang masih dirasa perlu untuk membuat interpretasi atas ekspresi atau ungkapan-ungkapan tersebut.ekspresi atau ungkapan ini disebut oleh dilthey dengan istilah <em>Ausdruck</em>.<br />
Dilthey menggunakan ekspresi dengan kata ausdruck ini secara prinsip tidak mengacu kepada limpahan emosi ataupun perasaan namun lebih kepada ekspresi hidup, sebuah ekspresi mengacu pada ide, hukum, bentuk sosial –segala sesuayu yang merefleksikan produk kehidupan dalam manusia.ia bukanlah sebuah simbol perasaan.<br />
Dengan demikian ausdruck dapat diterjemahkan tidak sebagai “ekspresi” namun sebagi sebuah “obyektivikasi” pemikiran –pengetauhan, perasaan, dan keinginan manusia.<br />
<strong>5. Hermeneutika Sebagai Fondasi Geisteswissenschaften</strong><br />
Dilthey mengembangkan metode baru yang disebutnya sebagai Geisteswissenschaften (ilmu-ilmu tentang manusia dan kebudayaan). Ia melihat pada zamannya, ada kesalahan fatal karena menempatkan Geisteswissenschaften di bawah kendali paradigmatic dan panduan metodologis Naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam). Menurutnya bukan metode erklaren (penjelasan) yang di butuhkan untuk bisa mengerti manusia, tetapi sebaliknya yaitu metode verstehen (pemahaman).<br />
Meski mengakui bahwa mnanusia adalah entitas tak-terduga, tapi bukan berarti metode verstehen berstatus lebih rendah dari metode erklaren. Sebab kita memperoleh pemahaman yang pasti terhadap fenomena kemanusiaan, setidaknya karena dua alasan; Pertama, fenomena yang hendak kita pahami adalah fenomena kemanuisaan-sebuah fenomena kita sendiri ada di dalamnya. Kedua, terkait dengan keyakinan Dilthey, bahwa ekspresi kehidupan cerminan dari muatan mental sang pelaku. Melalui pembacaan atas ekspresi kehidupan kita akan bisa sampai pada pemahaman yang hakiki mengenai fenomena kemanusiaan.<br />
Jadi cukup jelas penolakan Dilthey terhadap gagasan Schleiermacher terutama ditujukan pada gagasan mengenai apa yang disebut “tafsir psikologis”. Ketimbang bersusah payah memahami konteks psikologis sang pengarang yang cenderung spekulatif, akan jauh lebih berarti kalau tatapan kita lebih diarahkan pada konteks kesejarahan pada saat mana sebuah teks terlahir. Dilthey sangat terobsesi untuk menggagas sebuah rancangan-bangunan metodologi yang baku, menyeluruh dan benar-benar tuntas, biar ilmi-ilmi sosial dan humaniora tidak kelihatan loyo, bisa tampil sehebat ilmi-ilmu alam.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Dilthey dalam kajian hermeneutikanya memberi tekanan pada historisitas, tidak hanya pada manusia saja tetapi juga pada bahasa dan makna. Hermeneutiknya meliputi baik objek maupun subjek sejarah, peristiwa dan sejarawannya, interpreter dan yang diinterpretasikan.<br />
&nbsp;</p>
<div style="text-align: center;"><span class="fullpost"><br />
<strong>Sumber Rujukan</strong></span></div>
<p><span class="fullpost"><br />
Al Maula, Maulidin, <span style="font-style: italic;">Sketsa Hermeneutika Dalam Gerbang Jurnal Agama Dan Demokrasi</span>, Surabaya, elsad, 2003</span><br />
http://www.angelfire.com/journal/fsulimelight/hermen.html<br />
Palmer Richard E, <span style="font-style: italic;">Hermeneutics Interpretation Theory In Schlemacher, Dilthey Heidegger And Gadamer</span>, .Terj.Musnur Hery Dan Damanhuri Muhamed, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,2003, Cet Iii<br />
Sumaryono E,<span style="font-style: italic;"> Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat</span>, Yogyakarta, Kanisius,1999, Cet 10<br />
&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-hermeneutika-wilhelm-dilthey.html">Filsafat Hermeneutika Wilhelm Dilthey</a> appeared first on <a href="https://www.miftakh.com">MIFTAKH.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.miftakh.com/2017/09/filsafat-hermeneutika-wilhelm-dilthey.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
