<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>MisbaH</title><link>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/misbah2405" /><description>Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (16:125)</description><language>en</language><managingEditor>nandang_misbah@yahoo.com (MisbaH)</managingEditor><lastBuildDate>Fri, 12 Dec 2008 20:39:08 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="misbah2405" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:keywords>MisbaH</media:keywords><itunes:owner><itunes:email>misbah2405@gmail.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:keywords>MisbaH</itunes:keywords><itunes:subtitle>MisbaH</itunes:subtitle><itunes:summary>MisbaH is media for sharring or changing informations with friends</itunes:summary><item><title>Menggapai Kasih Sayang Allah</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/uViGdWUvM0o/menggapai-kasih-sayang-allah.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 06 Dec 2008 07:34:42 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-5041039156542265569</guid><description>Musibah atau Bencana itu Ujian, Peringatan atau Hukuman, maka Berkurbanlah sebelum jadi korban !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kiat mendapat rahmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga orang bilang segala sesuatu harus dengan duit, mau makan pake duit, mau pintar pake duit, mau cantik pake duit, mau kawin pake duit, mau sukses pake duit dan ingin pangkat serta jabatannpun pake duit, semuanya serba duit hingga ke wc pun harus pake duit, akhirnya hampir semua orang menuhankan duit, sehingga tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya apakah haram atau halal yang penting saya dapat duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak mau duit, orang bilang akan senang dengan duit dan siapa lagi yang tidak mau kaya, karena dengan kekayaan tidak sedikit orang jadi senang dan dengan kekayaan banyak orang menganggap mulia, demikian pula dengan pangkat dan jabatan itu semua orang akan bangga bahkan dengan jabatannya dia bisa berkuasa bahkan dengan pangkat dan golongannya dia punya kekuatan dan kekayaan dan ahirnya orang menjadi hormat kepadanya, dan ada pula professional, baik sebagai aktifis, pedagang, pengajar bahkan para ustadpun mengejar popularitas bersaing dengan artis yang konotasinya dengan popularitas banyak orang ngefans dan senang padanya, sehingga sebagai orang populer itu akan mendatangkan uang atau duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang mengejar akan kekayaan yang menyenangkan, jabatan dan kekuasaan,yang membanggakan, anak dan istri yang menggairahkan, bahkan profesional yang popularitas yang didambakan semuanya ingin didapatkan karena (Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (3.14))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.(2.212) Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(6.32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (6.53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.(2.204) Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.(9.55 dan 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(7.176)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.(11.15) Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan? (11.16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (11.48) (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (14.3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,10.7 (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.(10.70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.16.107 Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(18.104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.(17.18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.(18.46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketahuilah bahwasannya setiap orang atau semua mahkluk yang bernafas akan mengalami kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(3.185) Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(4.134)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ajal tiba atau maut menjemput segala yang kita miliki tiada arti bahkan istri yang cantik tidak lagi mau mendekati termasuk anak yang tercinta tidak ada yang minta menjaga dan menemani di kubur, pangkat dan jabatan ditinggalkan, harta kekayaan tidak lagi bermanfaat kecuali amal dan perbuatan yang menjadi safaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah melihat dan mendengar seorang penguasa yang kaya raya di sebuah Negara, yang banyak disana sini barisan penjaga dan keamanannya, bahkan makanan dan kesehatannyapun telah disiagakan akan tetapi datang kematian tak seorangpun yang dapat menghalanginya, semuanya tiada yang bisa menolong, jangankan harta pangkat, jabatan bahkan keluarga dan ajudannyapun tak dapat menghalang�?�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur'an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa`at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.(6.70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.(40.39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(57.20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.(33.29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).(13.26) Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.(3.197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasa suatu hari nanti tidak akan berguna anak hartamu kecuali mereka yanag datang kepada Allah dengan hati yang bersih (26.88-89) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, (9.21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Berkurbanlah sebelum jadi korban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(35.2) Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".(2.201)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kiatnya untuk mendapatkan rahmat atau kasih sayang Allah, dengan hidup yang penuh nikmat di dunia dan akhirat yang kekal, tentunya kita harus banyak mensyukuri apa yang telah Allah beri kan. Kemudian bentuk syukur ini dapat kita aktualisasikan melalui kurban dan pengurbanan sebagian dari rezeki yang dianugerahkanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, .... (7.96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak nikmat yang dianugrahkan Allah kepada kita sehingga tidak terhingga banyaknya �??Waintauddu ni�??matallahi latuhsuha�?? bila hendak menghitung-hitung nikmat Allah tidak terhingga luasnya bagaikan Alkautsar, seperti dilukiskan dalam firman-Nya �??Inna �??A�??thoina kalkaustar....�?? baik nikmat hidup, nikmat iman, nikmat islam bahkan nikmat sihat ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh. Hari ini Begitu banyak orang terbaring dirumah sakit, bukan kenikmatan yang didapatkan, tetapi penderitaan yang memilukan, manakala nikmat sihat telah diangkat, yang lezat-pun tidak enak..karena rahmat berubah laknat, hingga seolah tidak berharga lagi harta yang berlimpah... jabatan tidak lagi membanggakan, bahkan istri yang cantikpun tidak menggairahkan. Semuanya tidak ada artinya dibanding sihat. Mereka merintih kesakitan sambil berharap-harap cemas ingin sihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipagi yang cerah ini kita dapat menikmatinya, sehingga makan akan terasa enak jangankan yang lezat-lezat dengan garampun terasa nikmat bila makan disaat saat lapar, bahkan kita dapat bekumpul dengan keluarga dan dapat menjalankan tugas sehari-hari dengan baik. ..................Alhamdullah itulah keberkahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menurunkan keberkahan melalui hujan kemudian jadi rahmat sehingga dapat menyuburkan tanah pertanian, dan para petani dapat memanen hasil pertanian sehingga menjadi rezeki buat hidup dan prikehidupannya yang akhirnnya tercapai kesejahteraan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasholli lirobbika wanhar...... Maka oleh karena berbagai karunia telah banyak kita nikmati sehingga timbal balik rasa terima kasihnya adalah �??Dirikanlah sholat dan berkurbanlah...�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurban sebagai perwujudan syukur yang telah Allah wajibkan kepada kita sebagaimana dalam surat (Adduha 11) �??Wa-amma bini�??mati robbika fahadits�?? Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya dengan bersyukur). yang dibuktikan dengan sholat dan rela berkurban baik harta maupun nyawa ihlas ingin mengharap rido dari Allah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini patut disyukuri sebagai timbal balik rasa terima kasih kepada yang memberi kasih sayang, dengan mengeluarkan sebagian harta yang telah dianugerahkannya melalui sedekah infak termasuk kurban........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (14:7). Lantas nikmat yang manakah yang kamu bohongkan itu, berkali-kali Allah mengingatkan kepada kita, maka Dengan kata lain .... �??Berkurbanlah sebelum jadi korban!,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil contoh bila lapindo mau berkorban menggantikan masyarakat sekitar dengan nilai 1 trilyun maka dia tidak kehilangan 17 trilyun...karena tidak sedikit mereka yang tidak berkurban justru pada akhirnya jadi korban, korban bencana, korban kerusuhan, korban penganiayaan, korban pelecehan, korban fitnah dan korban neraka jahanan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air hujan yang seharusnya bisa mendatangkan rahmat, seperti diuraikan tadi mendatangkan kesuburan dan kesejahteraan, sebaliknya hujanpun bisa mendatangkan laknat. Banjir melanda banyak tenggelam rumah2 tinggal atapnya tidak terkecuali efek lapindo,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak bangsa-bangsa binasa tertimpa berbagai musibah, seperti bencana banjir melanda dan gempa bumi yang menimpa, tidak terhitung kerugian tidak hanya kehilangan harta bahkan nyawa baik itu di jaman kaum Ad, Samud, Nuh dan Etopia akibat mengingkari nikmat atau melalaikan ajaran Tuhan.dan tidak menutup kemungkinan bisa terjadi kepada bangsa Indonesia, naudzu billahi mindalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya).(6.65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdo`a kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur." (6:63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang turun kepada kita bukan keberkahan, tetapi kehancuran melanda, bencana alam menimpa, banjir membawa korban, gempa dimana-mana, tawuran tanpa kasih sayang seperti tidak berharga sebuah nyawa dan krisis yang berkepanjangan, baik krisis ekonomi, krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan dan lain-lain, tidak terkecuali krisis integrasi bangsa, Innna lillahi wainna lillahi rajiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah musibah ini ujian, peringatan atau hukuman, dan bagaimana dengan kita Indonesia, yang dilanda berbagai krisis termasuk banjir tidak terkecuali jakarta? ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang katanya subur dan makmur gemah rifah loh jinawi, banyak sandang, banyak pangan dan banyak pula yang kelaparan. Padahal �??orang bilang tanah kita tanah syurga, tongkat kayu dan batu-pun jadi tanaman�??. Tetapi mengapa,.. masih banyak kekurangan, masih banyak kelaparan, masih banyak yang tidak mendapat pekerjaan dan tidak sedikit kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan karena kita bangga dengan dosa-dosa, atau sombong dengan kekuatan, bahkan haus akan kekuasaan, sehingga tidak lagi arif dalam berpijak dan tidak adil dalam berpihak, justru yang salah kita bela, yang benar tersia-sia, sampai yang lemah dikunyah, bahkan korupsi dilindungi, perjudian diberi kesempatan, prostitusi dilokalisasi, yang hina dapat pujian, orang mulia dilecehkan dan cercaan, orang miskin terabaikan, orang kaya dapat kepedulian, alquran hanya hiasan sementara koran jadi kebutuhan, Ini adalah kebohongan besar,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti dengan kejadian banjir tersebut tidak sedikit orang yang kaya, rumahnya mewah, mobil megah dan segala perlengkapan yang wah semua ditinggalkan yang penting nyawa selamat, maka ditinggalkannya semua harta benda dia rela ngungsi di tenda-tenda bersama deritanya orang yang terbiasa susah dan sambil menunggu antrian makan dari sumbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, (2:155) malapetaka kesenggsaraan bahkan digoncang-gancingkan hati (2:214)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (7:96) Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras. (Assyura 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(30:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka diliputi kehinaan dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah di mana saja mereka berada, karena mereka mengingkari kepada ayat-ayat Allah, kecuali jika mereka berpegang teguh kepada tali Allah (agama) dan tali perjanjian dengan manusia (konsekwen terhadap komitmen atau kontitusi), dan orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama (ibadah) mereka karena Allah. (3.112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu marilah kita kembali kepada yang Maha Kuasa, yang gagah perkasa, yang maha bijaksana, yang maha mulia, maha hidup dan tidak pernah kantuk dan maha dari segalanya yang memiliki kerajaan langit dan bumi yang menghisab segala amal perbuatan kita. Sadarilah insaflah bahwasannya Allah akan memaafkan hambanya yang bertaubat dan tidak mengulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekatkanlah diri dan jiwa kita kepada Allah melalui Qurban (pengorbanan) baik dengan harta maupun dengan nyawa. Jadikanlah Hidup ini perjuangan, dan tanpa perjuangan hidup tidak akan berhasil sedangkan keberhasilan akan dicapai bila mau berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan asal dari kata Arab: qoroba, yaqrobu, qorbanan, artinya dekat, adalah suatu upaya mendekatkan diri dan mengharap ridho Allah. Kurban suatu proses dengan berbagai risikonya untuk mencapai kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurban adalah memotong hewan, sebagai kewajiban setiap Muslim yang mampu menyisihkan hartanya untuk dibagikan kepada fakir miskin sekaligus sebagai tolak bala (musibah) bagi yang menghendaki keselamatan dan melestarikan hartanya disamping pahala dan penggantian yang berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.�??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata semua ini hanya ujian belaka, apakah manusia dapat mentaati perintah Allah atau malah mengingkarinya (kafir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (2.207)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah melipat gandakan hingga 700 ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (2:261)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Kurban adalah pendekatan yang ihlas baik secara individu maupun kolektif atau patungan secara berkelompok baik hari qurban, atau sampai 3 hari seetelah iedil qurban masih dapat dilakukan.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Bila kita tidak bisa korban dengan satu hewan mungkin dengan patungan paling tidak kita berkurban tenaga sebagai panitia penerima dan menyalurkan kepada mustahik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".(5:27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kita tidak diminta seperti yang terjadi pada nabi ibrahim, ketulusan dan niat ihlas ingin mendapatkan ridho Allah SWT yang diterima korbannya oleh Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kerelaan berkorban dari mulai jiwa, harta bahkan keluarga sebagai nafak tilas nabi Ibrahim As.&lt;br /&gt;1. tiap tahun harta yang banyak habis disedekahkan, demikian pula ternak 1000 kambing, 400 sapi dan 100 unta rela dikorbankan atas permintaan tuhan&lt;br /&gt;2. beliau siap dan rela dibakar api oleh para kafirin dan musyrikin,&lt;br /&gt;3. saat tidak punya sandang, dan papan bahkan gersang tandus tidak ada pepohonan, keluarga dengan bayi kecilnya siap ditinggal oleh suami/ayahnya demi melaksanakan tugas ilahi,&lt;br /&gt;4. seorang istri yang cantik, sangat cinta kasih pada suaminya, rela berkorban untuk dimadu dan rela menikahkan suaminya terhadap pembantunya.&lt;br /&gt;5. Sebagai bapak dari keluarga punya putra semata wayang, hanya satu-satunya dambaan dan harapan dengan penuh cinta dan kasih sayang itupun harus dikorbankan demi permintaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pengorbanan bisa terjadi dalam berbagai kondisi seperti:&lt;br /&gt;a. Cinta rumah dan isinya, kita rela berkorban meluangkan waktu untuk begadang (ronda).&lt;br /&gt;b. Cinta anak dan keluarga, kita rela berkorban pergi dari pagi hingga pulang sampai petang, dalam rangka memenuhi perut kenyang.&lt;br /&gt;c. Cinta seorang pemuda terhadap pacaranya, dia rela berkorban apel tidak kenal waktu biar sampai malam, walau celana harus melayang digadaikan.&lt;br /&gt;d. Cinta pada tugas dan pekerjaan, kita rela berkorban biar gelayutan di kereta tanpa mengenal lelah dan cape walau disenggol tukang dagang, tanpa duduk tanpa ngantuk.&lt;br /&gt;e. Cinta akan harta kita rela berkorban walau harus menguras keringat dan tenaga,&lt;br /&gt;f. Cinta akan jabatan kita rela berkorban walau kehilangan keluarga, teman dan harta.&lt;br /&gt;g. Cinta akan wanita rela berkorban apapun akan diberikan tanpa harus diminta&lt;br /&gt;h. Cinta akan uang apapun akan dikerjakan walaupun hilang kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua adalah pengorbanan, untuk mencapai kebutuhan dunia, kesenangan belaka, tapi bagaimana cinta pada Allah untuk akhirat nanti. Tempat kita kembali .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita ingat sejarah, kurban tidak lepas dari napak tilas nabiullah ibrahim beserta keluarganya, sehingga mendapat gelar kholilullah, karena amat sangat cintanya kepada Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."(3.8)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/uViGdWUvM0o" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-12-06T22:34:42.757+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/12/menggapai-kasih-sayang-allah.html</feedburner:origLink></item><item><title>Yang Mulia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/yPdH44-aTLM/yang-mulia.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Tue, 18 Nov 2008 23:44:44 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-8594963799415331155</guid><description>Yang Mulia
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Siapakah yang Mulia itu, dan bagaimana Kriterianya orang mulia?
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (89.14-15), 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Padahal Kemulian itu bukan diukur oleh limpahan dan kesusahan rezeki akan tetapi sejauhmana manusia bisa mendekatkan diri kepada ilahi, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (26.89) agar supaya manusia sesuai dengan takdir yang kehendaki. Susah senang atau kaya miskin adalah dua duanya ujian yang bila disikapi dengan baik maka dua duanya akan berhasil dengan baik pula. Sesungguhnya orang mulia disisi Tuhannya adalah Takwanya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" (6.53) Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar. (64.15) Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (18.46)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Allah selalu menciptakan pasangan yang berbeda�?�adakalanya menganugrahkan nikmat, maka orang itu bisa mensyukurinya tentu saja dia akan selamat, akan tetapi dia tidak bersyukur malah mengufurinya, maka nikmat bisa menjadi laknat (14.7), demikian pula apabila manusia dianugrahi kesusahan dengan segala penderitaannya dia bisa bersabar dan bertawakal tentu saja dia pun akan selamat dengan ganjaran rahmat dan shalawat serta hidayahnya (2.157), akan tetapi bila dia mengingkari dan tidak bisa bersabar bahkan dia prustasi apalagi bunuh diri maka dia mati dengan laknat dan tidak terhormat,
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Bila seseorang mendapatkan rejeki bukan berarti hasil mutlak dari dirinya sendiri melainkan sudah mendapatkan kemudahanNya, demikian pula seseorang yang tidak berusaha maka dia tidak akan mendapat apa apa, sementara Allah akan memberikan kepada siapa yang sungguh sungguh dalam berusahanya (13.11), namun dalam usaha ini tidak dibarengi dengan tamak dan hianat,
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Banyak orang mengira akan kemuliaan melalui hartanya yang berlimpah, atau jabatan yang membanggakan sampai dia menguasainya hingga papan atas atau dia nomor satu atau  merasa puas dengan kecantikannya, dan merasa hina bila keberadaannya serba kekurangan dalam kemiskinannya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Kemuliaan seseorang bukan karena warna kulitnya, suku dan kebangsawanannya, bukan karena harta yang melimpah, jabatan yang menggiurkan, atau pangkat yang berlipat atau popularitas papan atas  akan tetapi kemulian itu adalah ketakwaannya. Allah menciptakan kamu laki2 dan perempuan, bersuku suku dan berbangsa bangsa adalah untuk saling kenal mengenal, sesungguhnya yang mulia disisi Allah adalah ketakwaannya. (49.13)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Wahai segenap manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu agar supaya kamu bertakwa.(2.21), untuk meraih ketakwaan harus melakukan ibadah baik secara vertical kepada Allah maupun secara horizontal sesame manusia dengan cara dan banyak macam ibadah, termasuk dalam menjalankan puasa.(2.183) Wahai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkannya kepada orang orang sebekum kamu agar supaya kamu bertakwa.
&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam Quran yang karim bahwa Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mau mengabdi kepadaku (untuk beribadah kepada Allah)
&lt;br /&gt; 
&lt;br /&gt;Allah ciptakan perbedaan untuk dikenali satu sama lain sehingga tidak melulu putih, hitam, coklat, atau bule, akan tetapi dengan perbedaan itulah kita bisa mengenalinya siapakah bule itu dan orang mana, demikian pula laki dan perempuan juga bisa kita kenali berbeda, hal ini karena membuktikan bahwa kita mengenal seseorang itu karena ada ciri ciri atau tandanya, demikian pula tanda2 orang beriman..
&lt;br /&gt;Sebagaimana difirmankan Allah dalam surat (8.2) Iman yang sesungguhnya itu adalah
&lt;br /&gt;1.	apabila diingatkan akan Allah atau disebut salah satu namanya, maka akan tergetar hatinya karena  kecintaannya terhadap Allah sehingga segala sesuatu yang dicintainya semata karena Allah, begitu dekatnya dengan Allah sehingga bilamana diingatkannya akan Allah langsung samina wa athona
&lt;br /&gt;2.	dan bila dibacakannya ayat-ayat Allah mereka semakin bertambah keimanan mereka, Quran mereka jadikan pedoman hidup, sebagai hujah dan narasumber dalam berbagai bijakan hokum bahkan menjadi way of life
&lt;br /&gt;3.	dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, tidak menyekutukannya, tidak mendahuluinya dan tidak menjadikan sesuatu tandingan  atas segala permasalahannya dia menggantungkan nasibnya semata hanya kepada Allah
&lt;br /&gt;4.	yaitu mereka yang senantiasa mendirikan shalat, mendirikan konotasinya adalah membangun dan tiap orang membangun pasti akan memeliharanya, dan tiap orang yang merawat bangunannya dia akan nyaman bersamanya sehingga akan terasa nikmat menempatinya, hingga muncul kalimat baiti jannati, rumahku adalah syurgaku, menjadikan sebagai satu satunya milik dan tidak ada pengakuan dari yang lainnya, sholat pulalah yang membedakan yahudi, nashoro atau muslim.
&lt;br /&gt;5.	dan mau menafkahkan seperti yang di paparkan dibawah berikut di point 3
&lt;br /&gt;Lantas bagaimana sikap dan tindakan kita untuk mencapai tingkat ketakwaan, kebahagiaan atau kemuliaan, maka Allah telah memberikan petunjuk dan criteria ketakwaan itu di dalam firmanNya (2.2)
&lt;br /&gt;1.	yaitu orang orang yang beriman kepada yang ghaib, (yang dirahasiakan Allah, termasuk nasib) 
&lt;br /&gt;2.	mendirikan shalat, (telah di bahas di atas poin 4)
&lt;br /&gt;3.	menafakahkan sebagian harta yang telah Allah anugrahkan kepadanya, bukan semuanya Cuma sebagian dan itu adalah hak orang lain contoh klo kita makan pisang harus kita keluarkan sebagiannya (yaitu kulitnya) karena ada hak yang lain misalnya kambing. Bilamana kita makan semuanya itu menunjukkan kerakusan dan pada akhirnya kita akan kena penyakit murus.
&lt;br /&gt;4.	mempercayai kitab yang diturunkan kepada engkau Muhammad (Quran) dan mempercayai akan kitab kitab sebelum engkau Muhammad (Shuhuf, Injil, Taurat dan Zabur) mempercayai bukan sekedar memiliki, akan tetapi menjadikannya sebagai pedoman dan literature hidup dan permasalahannya, serta mengamalkannya.
&lt;br /&gt;5.	dan mereka yakin akan hari pembalasan, penghabisan, (kiamat) (2.2-4). Klo tidak yakin hari kiamat, maka semuanya telah meyakini kehidupan ini akan berahir dan tidak ada yang hidup abadi, pasti mati dan tidak bisa dipungkiri, hanya tinggal tunggu antri.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Wahai orang orang yang beriman, bertakwalah kamu dengan sebenar benar takwa  dan janganlah kamu mati kecuali sudah taslim berserah diri kepadanya (3.102). Berseradh diri adalah ketaatan terhadap islam dan mau menjalankan syariatnya yang terkandung dalam Quran dan Hadits secara keseluruhan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ketika kita mau menjual emas yang kita miliki lalu kita datang kepada toko emas dan ternyata mereka tidak langsung membelinya akan tetapi dia menawarnya bahkan dia menguji kebenarannya, beda dengan imitasi klo mau kita jual kita bingung kemana datangnya dan si pembeli juga tidak menguji terlebih dahulu�?�begitu pula orang yang mengaku beriman�?�maka Allah menguji terlebih dahulu sebagaimana ujian kepada orang sebelumnya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Syarat mutlak untuk mendapatkan title muttaqien (bertakwa) adalah harus orang yang beriman (mukmin), kemudian apakah akan dibiarkan begitu saja cukup mengaku saya sudah beriman sebelum diuji sebagaimana orang orang sebelumnya, lantas kita sudah cukup mengaku menjadi orang yang beriman (29.1)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Allah akan menurunkan kepadamu berbagai ujian yaitu dengan sedikit ketakutan (takut dipecatm takut miskin), kekurangan makanan, kekurangan harta dan terganggunya jiwa dan buah buahan (2.145) dalam menghadapi persoalan semacam ini orang beriman akan selalu sabar dan tawakal dan menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah (8.1) apakah kamu mengira masuk surga itu gampang  sehingga datang kepadamu berbagai ujian sebagaimana kepada orang orang sebelum kamu berupa ujian kesusahan dan penderitaan dan diombang ambingnya (terguncang) hati�?�.(2.214) mereka akan berkata sesungguhnya semua ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah (tawakal).
&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/yPdH44-aTLM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-11-19T14:44:44.240+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/11/yang-mulia.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bersyukur</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/b3lOZzzy-4s/bersyukur.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Tue, 18 Nov 2008 23:36:39 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-2229247577099547137</guid><description>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmaxweb%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmaxweb%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmaxweb%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footer"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="page number"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoTitle, li.MsoTitle, div.MsoTitle 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Title Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:center; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:14.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Body Text Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:14.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Body Text 2 Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.BodyTextChar 	{mso-style-name:"Body Text Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text"; 	mso-ansi-font-size:14.0pt;} span.TitleChar 	{mso-style-name:"Title Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Title; 	mso-ansi-font-size:14.0pt; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal;} span.BodyText2Char 	{mso-style-name:"Body Text 2 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text 2"; 	mso-ansi-font-size:11.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1329093724; 	mso-list-type:simple; 	mso-list-template-ids:67698703;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.25in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.25in; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Bersyukur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Bersyukur adalah ungkapan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;balasan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;rasa balas budi kepada yang memberi sehingga kita dapat mengucapkan terima kasih atau memanfaatkan hasil pemberiannya yang pada akhirnya sipemberi akan senang dan menambahkan pemberiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Tasyakuran, merupakan anjuran agama untuk senantiasa mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan disamping juga sunnah beribadah sedekah, termasuk memberikan makanan atau menaburkan salam kepada sesama, sering disebut Selamatan = (dapat rizki, sehat, pangkat, hadiah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dsb)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Syukur&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah upaya untuk melestarikan suatu nikmat demikian rupa sehingga akan lestari dan akan bertambah kenikmatannya, bila kita &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;berterimaksih&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;. (14.7)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Untuk mencapai keberhasilan syukuran diperlukan perjuangan dan perjuangan memerlukan pengorbanan. (korban waktu, tenaga, atau biaya) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Manifestasi aktualisasi dari pada mensyukuri nikmatnya adalah ibadah, baik dengan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;sholat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;maupun dengan berkorban (mengeluarkan sebagian harta yang dianugerahkan Allah kepadanya=sedekah), sehingga akan diganti oleh Allah dengan berlipat ganda, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;disamping dengan menyebut-nyebut atas limpahan rahmat (hamdalah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;24 Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amru r.a katanya: Seseorang telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w: Apakah sifat yang paling baik dalam Islam? Rasulullah s.a.w bersabda: Memberikan makanan serta memberi salam baik kepada orang yang engkau kenali atau pun tidak dikenali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. 2:172&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.qosos77&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Lukman 14)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.7.10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Lukman 12]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.16:97&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.(Hud 3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, (contoh .........mensukuri nikmat cantik..) dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (ibrahim 7)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak., Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah., Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.(alkausaar 1-3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (Hud 9)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (Innalinsana lirobbihi lakanud) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thoha124)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Arrahman) sebagai ni`mat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (alqomar35), Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(Waamma binikmati robbika fahadits; adduha,)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;(2:152&lt;b style=""&gt;) &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.2.261&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.2.267&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.(3.92)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.(attaghobun 17)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (2.245)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;1638 Diriwayatkan daripada al-Mughirah bin Syukbah r.a: Bahawa Nabi s.a.w telah mengerjakan sembahyang hingga pecah-pecah telapak kaki baginda. Maka baginda ditanya: Mengapa engkau menyusahkan diri dengan ini semua? Sedangkan Allah telah mengampuni segala kesalahanmu samada yang telah lalu ataupun yang akan datang, baginda menjawab: Tidak bolehkah aku ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;570 Diriwayatkan daripada Asma' binti Abu Bakar r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda kepadaku: Berinfaqlah iaitu berbelanjalah atau bersedekahlah dan jangan mengungkit-ungkitnya kerana Allah akan menghitung nikmatNya ke atas kamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.(alhadid:18)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (2:276)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;"Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (2.215)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (almunafikun 10)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;25 Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amru bin al-As r.a katanya: Seseorang telah bertanya Rasulullah s.a.w: Apakah sifat orang Islam yang paling baik? Rasulullah s.a.w bersabda: Seseorang yang menyelamatkan orang-orang Islam dengan lidah dan tangannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;26 Diriwayatkan daripada Abu Musa r.a katanya: Aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah sifat orang Islam yang paling baik? Rasulullah s.a.w bersabda: Seseorang yang menyelamatkan orang-orang Islam dengan lidah dan tangannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;30 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia bercakap hanya perkara yang baik atau diam dan sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan jiran tetangganya. Begitu juga sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;31 Diriwayatkan daripada Abu Syuraih al-Khuza'iy r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia berbuat baik kepada jiran tetangganya. Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia bercakap hanya perkara yang baik atau diam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;50 Diriwayatkan daripada Abu Zar r.a katanya: Aku pernah bertanya Rasulullah s.a.w: Wahai Rasulullah! Apakah amalan yang paling utama? Rasulullah s.a.w bersabda: Beriman kepada Allah dan berjuang pada jalanNya. Aku bertanya: Hamba yang bagaimanakah paling utama? Rasulullah s.a.w bersabda: Hamba yang paling baik menurut pemiliknya dan paling banyak harganya. Aku bertanya lagi: Bagaimana Jika aku tidak bekerja? Rasulullah s.a.w bersabda: Engkau boleh membantu orang yang bekerja atau berkerja untuk orang yang tidak memiliki pekerjaan. Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu jika aku tidak mampu melakukan sebahagian dari amalan? Rasulullah s.a.w bersabda: Engkau hendaklah memberhentikan kejahatanmu terhadap orang lain kerana, hal itu merupakan sedekah darimu kepada dirimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;554 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Pada setiap hari terdapat sedekah di setiap sendi manusia ketika matahari terbit. Seterusnya baginda bersabda: Berlaku adil di antara dua orang manusia adalah sedekah, membantu seseorang naik ke atas binatang tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas belakang binatang tunggangannya juga adalah sedekah. Rasulullah s.a.w bersabda lagi: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju sembahyang adalah sedekah dan membuang sesuatu yang berbahaya di jalan adalah sedekah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;559 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sedekah seseorang itu tidak dikira kecuali dari hasil atau harta yang baik. Allah tidak menerima sedekah kecuali dari hasil yang baik dan sudah pasti Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) akan menerima hasil sedekah itu dari kananNya walaupun sedekah itu hanya berupa sebiji kurma. Lalu sedekah tersebut dijaga di sisi Allah Yang Maha Pengasih sehingga menjadi lebih besar dari gunung sebagaimana seseorang di antara kamu membesarkan anak kuda atau anak untanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;574 Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w sedang berdiri di atas mimbar. Baginda memperkatakan mengenai sedekah dan menjaga diri dari meminta-minta. Baginda bersabda: Tangan yang berada di atas itu lebih baik daripada tangan yang berada di bawah. Tangan yang berada di atas adalah yang memberi manakala yang berada di bawah adalah tangan yang meminta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;575 Diriwayatkan daripada Hakim bin Hizam r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sedekah yang paling utama atau sedekah yang paling baik ialah sedekah dari orang kaya dan tangan yang berada di atas itu lebih baik daripada tangan yang berada di bawah serta mulakanlah dengan orang yang berada di bawah tanggunganmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;1593 Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika tiga orang lelaki sedang berjalan-jalan, tiba-tiba turun hujan. Lalu mereka berteduh di dalam gua sebuah gunung. ....................................................... �??Engkau tahu bahawa apa yang aku lakukan itu adalah semata-mata untuk mencari keredaanMu, tolonglah kami dari kesulitan yang tinggal hanya sedikit lagi. Akhirnya Allah pun menolong mereka dengan menggerakkan batu besar yang menutupi gua tempat di mana mereka berteduh�??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" 6.53&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". 7.189&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". 6.40&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (27:19)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Ahqof, 46:15)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/b3lOZzzy-4s" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-11-19T14:36:39.912+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/11/bersyukur.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bersegeralah terhadap Ampunan Allah</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/qFJXf705Ues/bersegeralah-terhadap-ampunan-allah.html</link><category>Bersegeralah terhadap Ampunan Allah</category><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Tue, 23 Sep 2008 20:36:09 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-3820239117175756129</guid><description>berdosa... bertobatlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_it1NVbeGSb4/SNmtpjRrRCI/AAAAAAAAAVU/P0Pj4vzg6mg/s1600-h/ampunan1.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249417770032645154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_it1NVbeGSb4/SNmtpjRrRCI/AAAAAAAAAVU/P0Pj4vzg6mg/s400/ampunan1.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia tidak lepas dari salah dan dosa, makanya sebaik-baik manusia bukan berarti dia tidak pernah bersalah, akan tetapi dia menyadari akan kesalahannya dan tidak mengulanginya, apakah dia berdosa kepada sesama ataupun dosa kepada sang penciptanya, kemudian dia minta maaf kepada orang yang dizaliminya atau bertaubat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (3:135) Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (3:136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi dosa kepada manusia tidak demikian, jangankan yang besar yang kecilpun belum tentu mendapatkan maafnya, hal ini bisa saja dipengaruhi oleh status kedudukan seseorang atau dilatarbelakangi oleh sesuatu yang merugikan baik harta, jiwa ataupun hilangnya nyawa. Saya teringat akan syair salah satu lagu: �??satu kali kumaafkan ...dua kali kuingatkan jangan sampai terulang lagi�?� berbuat lagi yang ke tiga kalinya �?�.tidak ada maaf bagimu�??... lain halnya kepada Allah sebesar apapun dosa manusia tentu akan Allah maafkan, apabila manusia mau bertaubat kepadaNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW tiga kali mengaminkan terhadap doanya Malaikat dimana doanya antara lain sebagai berikut: �??ya Allah janganlah engkau terima amal ibadahnya orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya yang telah mengandungnya, melahirkannya, memeliharanya, membesarkannya, memenuhi kebutuhannya dan bahkan mendidiknya hingga dia dewasa, semoga umat nabi Muhammad SAW tidak termasuk orang yang durhaka kepada orang tuanya�?? amiin �??ya Allah janganlah engkau terima amal ibadah suami istri yang selalu bertengkar dan tidak pernah bermaafan serta tidak bersyukur akan karunia yang telah mereka nafkahkan�?? semoga umat nabi Muhammad SAW tidak termasuk golongan yang ini, amiin dan �??ya Allah janganlah engkau terima amal ibadahnya orang yang selalu bertengkar sesama saudaranya yang tidak pernah saling menyayangi satu dengan yang lainnya�??, semoga ummat nabi Muhammad SAW tidak termasuk golongan yang merugi, karena setiap muslim itu adalah saudara sehingga belum dikatakan beriman seseorang yang tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencitai dirinya sendiri..amiin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia umunya mempunyai sifat emosional, marah atau kesal pada manusia yang lainnya atas tindakan yang angkuh atau sesuatu yang tidak menyenangkan, akan tetapi kekesalan dan kemarahan ini tidak boleh lebih dari tiga hari, Sesama manusia wajib saling memaafkan, apalagi sesame muslim yang notabene saudare, karena Allah tidak akan memaafkan seseorang kecuali sudah dimaafkan oleh saudaranya. Dalam surat Ali-imran ayat 134 �?�, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya kita mau memaafkan saudara kita klo sudah bisa membalas perbuatan saudaranya secara setimpal, paling tidak ada konvensasi dari tindakannya itu kemudian diperhitungkan dengan nilai uang, padahal perbuatan tersebut akan lebih baik di sisi Allah apabila kita mau memaafkan kesalahan orang lain (wal�??afina aninnas wallahu yuhibbul muhsinin), tanpa harus diminta terlebih dahulu, apalagi sesorang itu sudah menyatakan bersalah dan mita maaf, tanpa harus menunggu lebaran atau iedil fitri. artinya sudah adanya saling memaafkan secara horizontal dalam rangka hablum minannas, maka dalam rangka hablum minallah atas segala dosa dan perbuatan ingkar dan kemaksiatan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, Allah akan mengampuninya walaupun sebesar apapun, kecuali perbuatan syirik, sombong atau perbuatan yang bersifat men-dua-kanNya. Adapun dosa yang dimaksud bukan perbuatan menyekutukan Allah, atau menjadikan sesuatu serupa atau sama denganNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogisnya bisa kita gambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. manakala seorang karyawan yang digaji pada tiap bulannya oleh bosnya, tetapi dia mengerjakan pekerjaan perusahaan milik orang lain, begitu ketahuan maka tidak ada ampun lagi pasti segera di phk-kan,&lt;br /&gt;2. manakala seorang istri yang dinikahi dan nafakahi oleh suaminya, tahu-tahu selingkuh dengan orang lain, begitu ketahuan maka segera turun talak tiga,&lt;br /&gt;3. manakala seorang hamba, diciptakan dan dipelihara serta dianugerahi berbagai kenikmatan, tetapi justru mengingkarinya bukan mensyukurinya dan Allah maha mengetahuinya orang itu berbuat sirik dan maksiat sehingga dikatakan perbuatan kafur dan zalim , maka Allah tidak akan memaafkan perbuatan tersebut dan mengusirnya untuk enyah dibumi Allah yang kita tempati ini, dan di akhirat nanti, lalu kemana harus bergantung?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan pembahasan tersebut di atas, Allah menyerukan kepada kita untuk bersegera terhadap ampunan, dimana bulan rhomdhon para ulama menyebutnya ada maghfirah (ampunan). Jadi kita mendapatkan ampunan Allah apabila kita bertaubat atau berpuasa di bulan rhamadhan sebagaimana disabdakan oleh Rasul Allah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ampunan Allah akan diberikan kepada orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah yang disebutkan pada suarat Al-Imran ayat 133, sedangkan ketakwaan akan bisa diraih oleh yang beriman dengan sungguh-sungguh puasa rhamadhan, sejalan dengan hal tersebut di atas maka sabdanya �??man shoma rhamadhana imanan wahtisaban ghufirallahu ma taqaddama mindambih, barang siapa yang melaksanakan puasa di bulan rhamadhan karena iman dan sesuai dengan ketentuannya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu�??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersegeralah terhadap ampunan Allah, menunjukkan supaya tidak ditunda-tunda, sebagian dari kalangan mengatakan �??nanti klo sudah tua saya insap�??, padahal kita tidak pernah tahu apakah hidup sampai usia tua, termasuk orang yang berniat mau berbuat amal mengarah kepada usia tua�?�. Mangap kata�?�apa sih yang bisa dikerjakan atau dilakukan amal pada usia tua..padahal yang kita tahu pasti adalah factor natural akan memberikan gejala yang fenomal seperti rambut jadi berkurang yang tadinya subur berangsur-angsur mundur�?�gigi yang tadinya penuhi gusi satu persatu permisi, tenaga yang tadinya gagah perkasa berkurang menjadi tak berdaya bahkan sakitan, bawa ini berat bawa itu gak kuat, kadang sholat maunya singkat, tidak bisa tumaninah sebagaimana kaifiat, bacaanpun maunya singkat cuma kul huwallahu ahat, lama dudukpun reumatik jadi kumat, kalaupun bisa shalat berjamaah cumat waktu jumat �?�lantas apa yang bisa dilakukan�?�?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersegeralah karena kematian itu pasti adanya, walaupun banyak anak dan istri tidak pernah permisi, kita hanya bisa menunggu dengan antri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bertakwa akan mendapatkan keuntungan yang tidak hanya mendapatkan ampunan Allah akan tetapi akan mendapatkan syurganya Allah yang kekal di dalamnya tidak seperti di dunia yang serba fana dan tidak terasa tahu2 sudah lewat masa.&lt;br /&gt;Semoga kita dapat maghfirah Allah sebelum ajal menjemput, wallahu alam&lt;br /&gt;wass....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/qFJXf705Ues" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-09-24T10:36:09.692+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_it1NVbeGSb4/SNmtpjRrRCI/AAAAAAAAAVU/P0Pj4vzg6mg/s72-c/ampunan1.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/09/bersegeralah-terhadap-ampunan-allah.html</feedburner:origLink></item><item><title>Ada apa dengan Tujuh Belas</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/36ng1t2s-Iw/ada-apa-dengan-tujuh-belas.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Mon, 08 Sep 2008 23:07:16 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-7696656062866189395</guid><description>Ada apa dengan Tujuh belas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak asing dengan nomor dan angka, tetapi ada apa dengan tujuh belas ini:&lt;br /&gt;Angka 17 bisa tanggal suatu hari, atau nomor urut suatu bilangan, atau peringkat dalam ranking suatu kompetisi dan atau juga bisa dalam satuan jumlah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 17 klo sepintas bisa seperti keramat bagi para penganut mitos, hal ini banyak orang bicarakan kelebihan dan kekurangannya, akan tetapi banyak data dan fakta actual yang empiris dalam kehidupan kita yang menunjukkan bukan mitos. Karena itu bukan berarti angka tersebut mempunyai manna atau kekuatan namun sejarah dapat mencatat dan bisa kita teliti bukti-bukti-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun catatan mengenai tujuh belas ini banyak kita temui diantaranya dapat kita paparkan dalam kesempatan ini, yaitu :&lt;br /&gt;17 tahun, adalah merupakan sweet seventeenth bagi manusia yang menginjak usia remaja, saat muda belia, itulah yang disebut pemuda, apakah itu pria atau wanita, sehingga di usia inilah mereka rayakan ulang tahun, minimal sekali itu saja dalam hidupnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 tahun klo ditinjau dari kaidah piqih adalah merupakan awal baligh seseorang sehingga dalam hukum positif maupun hukum agama bahwa orang ini sudah dewasa, dapat atau bisa menjadi subyek ataupun obyek hukum, sehingga yang sudah berumur 17 tahun ini harus memiliki KTP atau Kartu Indentitas diri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 tahun menurut para ahli adalah merupakan masa subur pertumbuhan bagi manusia untuk melangsungkan reproduksi sehingga bisa menghasilkan keturunan yang lebih produktif, maka di usia inilah yang paling ideal, melestarikan keturunan dengan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 17 merupakan pertengahan Bulan Purnama dimana dia bisa menampakkan wajahnya secara bulat total dan pancaran cahaya yang terang benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klo kita tengok sejarah ternyata tidak sedikit (atau kurang lebih dari 354 tahun) bangsa Indonesia dijajah oleh komveni Belanda dan Jepang, sehingga dirasakan oleh bangsa indonesia berbagai penderitaan dan kesengsaraan, karena yang terjadi adalah perbudakan, penindasan, pemerkosaan, perampasan hak2 rakyat dan adu domba, memecah belah bangsa indonesia dari negara kesatuan yang terhampar di rangkaian jambrut garis katulistiwa yang sering disebut Nusantara bersambung dan berjajar pulau2 dari sabang sampai meuroke, yang tentunya banyak, meninggalkan pengaruh negatif terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa baik dari segi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, dan pertahanan keamanan nassional (ipoleksosbudmilhankamnas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintis kemerdekaan, pemuda, para pahlawan meskipun dengan perlengkapan yang minimal dan tradisional yaitu bambu yang diruncingi siap melawan senjata mesin dan teknologi perang yang canggih dari senjata api sampai bom pembunuh massal. Namun mereka tetap gigih berjuang merebut kemerdekaan walaupun tarohannya jiwa dan raga bahkan sampai pertumpahan darah/titik darah penghabisan, pantang mundur, walaupun tidak logis atau irasional menurut logika, bambu apa bisa mengalahkan teknologi perang?, tetapi terus maju dengan keyakinan dan keberanian hati serta Berkat Rahmat Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia MERDEKA adalah merupakan hari bersejarah bagi bangsa indonesia khusunya dan dunia pada umumnya bahwa proklamator Ir. Soekarno dan Moh. Hatta memproklamasikan atas nama rakyat dan bangsa indonesia yang menyatakan kemerdekaan Indonesia dengan perjuangan para pahlawan, syuhada merebut kemerdekaan Indonesia, yang diselengarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Di tanggal 17 inilah bangsa Indonesia memperingati dan merayakan Kemerdekaan Indonesia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.........................................Dirgahayu Indonesia.........................&lt;br /&gt;Pengakuan yang tulus dan jujur dari para perintis kemerdekaan yang dibarengi dengan ketakwaannya, maka para perintis kemerdekaan menyebutkan bahwa kemerdekaan itu atas berkah dan rahmat Tuhan yang maha kuasa, maka Indonesia telah mencapai pintu gerbang kemerdekaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam perjalanannya yang ke 63 Indonesia masih terbelakang dan terkekang yang tidak terlepas dari imperialis Barat dan Eropa menyangkut ipoleksosbudmilhankamnas, yang masih terasa sampai saat ini. Terbukti belum semua rakyat indonesia dapat mengecap pendidikan, dan tidak semua rakyat menikmati hasil pembangunan dan hasil kekayaan alamnya, rakyat masih merasakan kejolak ekonomi, harga kebutuhan semakin melonjak seperti bertamu di dalam rumahnya sendiri, bahkan pemerintah masih didikte oleh negara lain dalam menentukan sikap dan kebijakan ipoleksosbudmilhankamnas. Seharusnya klo sudah merdeka tidak ada lagi intimidasi atau provokasi bahkan penekanan2 dari negara manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitlah Indonesia jangan terlena dengan simbol2 kemerdekaan tapi isilah kemerdekaan ini dengan membangun dan mempertahankan jatidiri dan martabat bangsa serta ipoleksosbudmilhankamnas yang tidak lagi menjadi jajahan imperialis. Hidup bangsaku damailah negeriku, bangunlah jiwadan ragaku...Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Rhamadhan adalah merupakan tonggak sejarah turunnya Alquran yang pertama kali di wahyukan kepada Nabi Besar, khotaman nabii, walmursalin, lanabiya ba�??dahu, Muhammad SAW, sehingga orang mengenal Nuzulul Qur�??an yang konon diperingati tiap pertengahan bulan puasa dimana hari itu Jum�??at 17 Agustus 45 Indonesia menyatakan kemerdekaan... Alquran diturunkan Allah sebagai pedoman manusia yang memberikan pedoman, petunjuk, pelajaaran dan peringatan mana yang makruf atau bajik dan munkar atau maksiat serta rahmat (kemerdekaan dan kedamaian) bagi semesta alam bahkan pembeda antara hak dan batal, maka para pahlawan mengamalkannya 17 rakaat sebagai manifestasi selaku muslim untuk bangkit dan memperjuangkan hak2 martabat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Quran Surat yang ke 17 yaitu Surat Al-Isra, yang menerangkan bahwa Allah memperjalankan HambaNya (Isra), Nabi Besar, khotaman nabii, walmursalin, lanabiya ba�??dahu, Muhammad SAW yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dinaikkan (Miraj) ke langit satu (1) sampai langit ke tujuh (7) dan beraudiensi dengan Allah di Sidratul Muntaha. Peristiwa ini disebut dengan ISRA MI�??RAJ, makanya orang yang cinta akan nabinya akan mengenang peristiwanya dan mereka memperingatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kronologis sebelum Allah memperjalankan dan mengangkat Rasulnya, Nabi Muhammad, tertekan, diintimidasi bahkan dikepung oleh Jahiliyah Qurais mau dibunuh, maka harus ditangkap hidup atau mati, kemudian beliau mengungsi atau hijrah ke kampung Thaif lalu mereka mengembargo segala kebutuhan pokok, sehingga para pengikutnya berangsur-angsur wafat termasuk kekasih tercintaannya yaitu istri beliau sendiri, Siti Khadijah dan pamannya. Ternyata ujian berat yang dialami beliau dapat dilaluinya dengan sabar dan tawakal, maka Allah meng-isra miraj-kan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun oleh2 atau hasil audiensi dengan Allah tersebut adalah menerima wahyu untuk melaksanakan sholat yang dikenal dengan SHALAT Fardu lima waktu yakni, Isa, Subuh, Lohor, Ashar dan Maghrib. (ISLAM).&lt;br /&gt;Jadi yang membedakan seorang Muslim atau bukan adalah Shalat, sehingga tidak ada qodo (mengganti/membayar) bagi sholat, artinya kewajiban untuk melaksanakan sholat tetap mesti kudu dikerjakan meskipun dalam kondisi dan situasi apapun, sehingga wajibnya mendirikan shalat sesuai dengan kaifiat dan tumaninah, bila tidak mampu berdiri silakan posisi duduk...dan bila duduk tidak bisa juga... silakan berbaring dan bila berbaring tidak bisa silakan dengan isarat atau semampunya...dan bila tidak bisa apa-apa maka disholatkan saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu patennya wajib sholat sehingga tidak bisa kompromi meninggalkannya, karena hal ini disabdakan-rasul-Nya bahwa bila kita melaksanakan sholat maka sama dengan kita mendirikan agama (Islam) dan bila meninggalkannya maka kita sama dengan keluar atau meruntuhkan/merusak Islam. Nudzubillahi mindalik... Mari kita menetapi Shalat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan shalat insyaAllah kita akan mendapatkan kemerdekaan yang hakiki (qad aflahal muminun alladzinahum fishalatihim khasiun), dari shalat akan melahirkan kepedulian sosial, menumbuhkan persatuan dan kesinambungan yang selaras dan setujuan dalam membangun negeri dan bangsanya, dengan shalat akan memunculkan synergi patriotik yang tidak monoton membias dalam kehidupannya untuk membangun dan memelihranya sehingga dia akan mencegah kepada pengrusakan atau yang meruntuhkan termasuk perbuatan yang keji dan mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Rakaat, adalah jumlah bilangan rakaat dalam melaksanakasn Shalat dari mulai Isa (4 ), Subuh (2), Lohor (4), Ashar (4) dan Maghrib (3) sehingga sehari semalam yang wajib dikerjakan 17 rakaat (42443 saluran langsung bebas pulsa/gratis....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita Bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945 dikenal dan diperingati sebagai hari Kemerdekaan Indonesia yang bertepatan dengan 17 rhamadhan, dimana kaum muslimin juga senantiasa memperingati nuzulul Qur�??an atau diturunkan Alquran. Di dalam Qur�??an surat ke 17 ayat 1 Allah menerangkan Isra Mi�??raj Nabi Besar Muhammad SAW. Oleh2 Isra Miraj ini diwahyukannya perintah Shalat Lima waktu yang bilangannya 17 rakaat, sehingga orang yang dapat melaksanakan sholat sesuai kaifiat dan tumaninah maka dia telah dewasa dan Islam, yang telah mengisi kemerdekaan dengan tidak hanya memperingati Isra Miraj semata akan tetapi sekaligus memperingati Kemerdekaan Indonesia dan juga memelihara dan berjuang mempertahankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda adalah bagian dari manusia yang produktif, saatnya untuk berjuang, belajar dan berkarir serta menentukan sikap untuk mempersiapkan diri untuk masa mendatang. Pemuda mudah berkarya dan bersosialisasi yang dapat mempersatukan bangsa sehingga dengan pemuda di indonesia melahirkan sumpah pemuda. Di saat inilah peluang dan tantangan datang, walaupun banyak rintangan yang menghadang pemuda pantang menyerah, termasuk dalam merebut kemerdekaan indonesia, dia tidak akan mengatakan tidak bisa sebelum mencobanya, tidak mudah goyah dengan berbagai bujuk rayuan, sehingga dia akan mengisi kemerdekaan dan mempertahankannya serta membentuk jati diri dan mengkarakteristik dalam identitasnya. Hal ini akan kita jumpai pada diri orang yang khusu dalam shalatnya. Amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka! ... Dirgahayu Indonesia ke 63&lt;br /&gt;17 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/36ng1t2s-Iw" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-09-09T13:07:16.526+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/08/ada-apa-dengan-tujuh-belas.html</feedburner:origLink></item><item><title>Akibat Berbuat Maksiat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/Jo7ckjIwH2c/akibat-berbuat-maksiat.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 07 Jun 2008 03:45:31 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-8335253565620484200</guid><description>Akibat Berbuat Maksiat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai. (HR. Aththusi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perbuatan dosa mengakibatkan sial terhadap orang yang bukan pelakunya. Kalau dia mencelanya maka bisa terkena ujian (cobaan). Kalau menggunjingnya dia berdosa dan kalau dia menyetujuinya maka seolah-olah dia ikut melakukannya. (HR. Ad-Dailami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Tiada dua orang saling mengasihi lalu bertengkar dan berpisah kecuali karena akibat dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. (HR. Ad-Dailami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Celaka orang yang banyak zikrullah dengan lidahnya tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya. (HR. Ad-Dailami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Barangsiapa mencari pujian manusia dengan bermaksiat terhadap Allah maka orang-orang yang memujinya akan berbalik mencelanya. (Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya. (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tiada seorang hamba ditimpa musibah baik di atasnya maupun di bawahnya melainkan sebagai akibat dosanya. Sebenarnya Allah telah memaafkan banyak dosa-dosanya. Lalu Rasulullah membacakan ayat 30 dari surat Asy Syuura yang berbunyi : "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Mashabih Assunnah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Apabila suatu kesalahan diperbuat di muka bumi maka orang yang melihatnya dan tidak menyukainya seolah-olah tidak hadir di tempat, dan orang yang tidak melihat terjadinya perbuatan tersebut tapi rela maka seolah-olah dia melihatnya. (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah maka ia akan memperoleh keridhoan Allah. (HR. Abu Ya'la)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Jangan menyiksa dengan siksaan Allah (artinya: menyiksa dengan api). (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang maka dipercepat tindakan hukuman atas dosanya (di dunia) dan jika Allah menghendaki bagi hambanya keburukan maka disimpan dosanya sampai dia harus menebusnya pada hari kiamat. (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Apabila kamu menyaksikan pemberian Allah dari materi dunia atas perbuatan dosa menurut kehendakNya, maka sesungguhnya itu adalah uluran waktu dan penangguhan tempo belaka. Kemudian Rasulullah Saw membaca firman Allah Swt dalam surat Al An'am ayat 44 : "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa." (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14. Sayyidina Ali Ra berkata: "Rasulullah menyuruh kami bila berjumpa dengan ahli maksiat agar kami berwajah masam." (HR. Ath-Thahawi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15. Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;16. Tiada seorang berzina selagi dia mukmin, tiada seorang mencuri selagi dia mukmin, dan tiada seorang minum khamar pada saat minum dia mukmin. (Mutafaq'alaih)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penjelasan:&lt;br /&gt;Ketika seorang berzina, mencuri dan minum khamar maka pada saat itu dia bukan seorang mukmin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;17. Aku beritahukan yang terbesar dari dosa-dosa besar. (Rasulullah Saw mengulangnya hingga tiga kali). Pertama, mempersekutukan Allah. Kedua, durhaka terhadap orang tua, dan ketiga, bersaksi palsu atau berucap palsu. (Ketika itu beliau sedang berbaring kemudian duduk dan mengulangi ucapannya tiga kali, sedang kami mengharap beliau berhenti mengucapkannya). (Mutafaq'alaih)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;18. Rasulullah Saw melaknat orang yang mengambil riba, yang menjalani riba dan kedua orang saksi mereka. Beliau bersabda: "Mereka semua sama (berdosanya)". (HR. Ahmad)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;19. Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah. Para sahabat lalu bertanya, "Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Beliau lalu menjawab, "Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;20. Tiap minuman yang memabukkan adalah haram (baik sedikit maupun banyak). (HR. Ahmad)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;21. Allah menyukai keringanan-keringanan perintahNya (rukhsah) dilaksanakan sebagaimana Dia membenci dilanggarnya laranganNya. (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan orang yang merelakan kejahatan berlaku dalam keluarganya (artinya, merelakan isteri atau anak perempuannya berbuat serong atau zina). (HR. An-Nasaa'i dan Ahmad)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/Jo7ckjIwH2c" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-06-07T17:45:31.127+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/06/akibat-berbuat-maksiat.html</feedburner:origLink></item><item><title>(Identitas Muslim atau potret orang Islam)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/hf6BziyJcDU/identitas-muslim-atau-potret-orang.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sun, 25 May 2008 21:51:48 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-1747661971382263978</guid><description>Identitas Muslim &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu ditandai dengan sifat dan ciri-ciri yang dimilikinya, sedemikian rupa sehingga satu dan lainnya tidak akan sama, meskipun satu spesis tetapi dia mempunyai perbedaan yang mencolok, demikian pula dalam pembicaraan agama, seseorang dikatakan baik dan tidak baik tentu ada perbedaan yang mencolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bilang rambut boleh sama hitamnya, akan tetapi hati manusia siapa yang tahu, Tidak sedikit orang mengenal Islam, akan tetapi masih banyak orang tidak tahu identitasnya (ciri-ciri Muslim=orang yang menganut agama Islam),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun Muslim yang dikenal dan dilihat oleh masyarakat adalah nampak sebagaimana pada lazimnya, seperti yang sering kita saksikan di mesjid-mesjid, di majelis-majelis atau di tempat pengajian, mereka menggunakan busana berjubah lengkap dengan serbannya, atau pecinya, dan perempuan berbusana dengan berjilbab paling tidak berkerudung, bahkan ketika seorang anak pergi ke mesjid tidak menggunakan sarung lalu mereka dikomplain bukan orang Islam, padahal semuanya itu asesoris dan model berbusana, hal ini bisa saja terjadi ketika orang masih punya anggapan bahwa beginilah Muslim (orang Islam), termasuk ada sebagian yang mengatasnamakan umat islam berpakaian seperti di atas dengan alasan jihad lalu memerangi dan menteror orang yang bukan golongannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kebetulan atau suatu pembuktian, dimana ustadz yang dikenal sebagai pendakwah atau ceramah tiap kali pengajian notabene selalu berpakaian sarung, kemeja taqwa dan lengkap selendang serban dengan kopiahnya, akan tetapi pada waktu bukan gilirannya, dia datang sebagai mustami dan tidak lagi berpakaian sebagaimana biasanya, sehingga para hadirin dan mustami tidak lagi mengenal  bahwa itu ustadz mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, di lain kampung terjadi di sebuah majelis pengajian...seorang ustadz berkata...bahwa seseorang dikatakan bertakwa klo dia mau memelihara jenggotnya, hal ini telah dicontohkan oleh nabi, maka takwa sesorang bergantung dari jenggotanya, artinya semakin panjang jenggotnya, orang itu dianggap sudah tinggi ketakwaannya.... &lt;br /&gt;Dari penerangan tadi hening tak ada suara yang membantah...begitu patuhnya mustami terhadap seorang ustadz, semua ikut menyimak...lalu terdengarlah si pulan berkata kepada ustadznya....Pak ustadz saya punya kambing yang janggotnya sudah panjang...berarti kambing saya itu sudah lebih takwa dari pada saya...(ustad tersentak dan terdiam tanpa komentar sejenak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang tua di desa yang menganggap musik dangdut itu haram, konon yang membawakannya inul dengan gaya ngebornya, termasuk blues, rock jazz, dan lain sebagainya yang diimpor dari luar negeri, kecuali yang dianggap mereka islami seperti kasidahan, rebana atau gambus, akan tetapi dalam era globalisasi ini, dunia luar yang dikatakan jauh dengan biaya yang mahal kalo kita jelajahi,  sekarang bisa kita saksikan di layar monitor, atau hp dan  ternyata tidak jauh dan mudah diakses sehingga apa yang dikatakan islami, ternyata tidak berbeda dengan apa yang biasa nampak di desa-desa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah dakwahnya ada seorang ustadz  membahas tentang sedekah... �??hadirin tidak dikatakan beramal bilama kita memberi sedekah yang jelek, oleh karena itu memberi harus apa yang kita cintai�??.... konon anaknya yang ikut menyimak ceramah tadi spontas dan tidak pikir panjang lebar, dia ingat akan peliharaan yang dicintai ayahnya, yaitu si �??pelung�??....lantas dipotong dan masakannya disedekahkan ke tetanngganya.....&lt;br /&gt;Keesokan harinya saat makan bersama tersedia tulang belulang pasakan anaknya...sang ayah bertanya...kok hari ini  tidak dengar suara kokok si pelung nak...lalu anaknya menjawab...ya tidak berkokok lagi yah, udah kita makan....ayah heran ...�??lah kenapa dipotong dan yang dimakan cuma tulangnya, itu peliharaan ayah satu-satunya yang dicintai�??....sang anak menjawab dengan kalem...bukan ayah sendiri yang berdakwah begitu....�??bukankah harus memberi apa yang kita cintai�??..sementara kami tahu bahwa ayah cinta si pelung, maka kami potong dan dibagikan ke tetangga... Dengan kekecewaannya itu ayah menjelaskan maksud dari dakwahnya...�??itukan untuk mustami supaya mereka berbuat yang terbaik untuk kita...bukan kita mengasih mereka�??.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah mushola terdapat jamaah sedang melakukan sholat, entah lupa yang dibaca imam atau  ragu...ber-ulang2 membaca ...inna .....inna ....inna ... makmum dibelakang spontan menyahut ... inna lillahi wa inna ilaihi rajiun... yang disampingnya mengingatkan dengan isyarat, maksudnya �??ga boleh dalam shalat ada gerakan lain termasuk bicara�??... kemudian yang lainnya tahu keadaan begitu lantas ngasih tahu dan bicara �??kamu ga boleh bicara, batal itu�??... yang lainpun ikut bicara �??kamu juga ga boleh ngomong, sama aja batal juga�??..terus saling mengingatkan...sampai kepada makmum yang terakhir dan dia bilang �??untung gua gak ngomong�??....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang asing segitu susahnya mo tidur, sampai harus minum obat segala, tetapi sebagian dari umat islam begitu mudahnya, walaupun bukan di kamar tidur, tanpa springbed lagi...ketika khatib berwasiat.... �??hadirin jamaah jumat rahimakumullah... bahwa amal itu terbagi dua, yaitu ada amal yang baik dan ada pula yang buruk... oleh karena itu ambil yang baik2 saja dan tinggalkan yang jelek2nya�?? sebagian dari jamaah ada yang manggut-manggut seakan sudah faham dan tahu permasalahan... dan ada sebagian mendengar sambil ngantuk dan ada juga yang lelap bagai dinina bobokan. Akhir cerita,  setelah shalat imam baca doa �??Allahumma antassalam...�??..rupanya cepat2 keluar bukannya ikut baca doa malah... Allahumma lantaas jalan....dipilihnya salah satu sepatu yang paling baik lalu dipakainya... Tentu saja yang lain teriak...pa..pa..pa ini bukan hak sampeyan kok main ambil saja... lah ini saya ngamalin wasiat khatib tadi, �??ambil yang baik2 aja dan tinggalkan yang jelek�??, �??kebetulan sendal jepit saya dah jelek pa..�??...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pedagang mulai mengeluh karena semakin banyak datang pesaingnya, sehingga omset dia berkurang, akhirnya gundah gulana, tidak bisa menerima dan pengen meningkatkan yang lebih baik, tetapi dia belum tahu caranya, sehingga dia datanglah kepada orang pintar yang menurut kaumnya punya ilmunya, kemudian si pedagang tadi menuturkan permasalahanya dan minta supaya omsetnya bertambah banyak. Kemudian orang pintar memberi bacaan yang harus diamalkan oleh pedagang itu �??yakatimu....yakaliru....yakatipu..�?? dan ternyata daganganya habis ... tertipu dan merugi terus karena keliru perhitungannya dan akhirnya bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang hartawan dengan senang dan bangga telah sering melakukan haji dan umrah hampir tiap tahun ke tanah suci....suatu saat datanglah orang berhajat kepadanya dan mengutarakannya...�??pa haji mohon tolong saya �??apa bisa pak haji pinjami uang sebesar tiga juta, kebetulan istri mo melahirkan, tetapi harus disesar dengan biaya yang tidak sedikit�??.,.. �??klo begitu melahirkan biasa aja kenapa�??...kata pa haji dengan muka yang ketus...lalu si pulan bicara lagi �??justru itu pa solusi terahir harus menjalani sesar�??. �??Kamu klo memang ga punya duit jangan disesar�??, �??lagi pula klo mau, harusnya kamu menabung dari awal sehingga sudah waktunya kamu ada untuk biaya dokter dan rumah sakit�??....Pa saya bagaimana menabung penghasilan saya cuma lima ribu, sementara kebutuhan makanpun lebih dari lima ribu sehari. Lantas bagaimana kamu mo pinjam uang sementara kamu gak bisa bayar�?? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah potret umat Islam, tetapi apakah ini identitas Muslim, hanya teman2 yang tahu jawabannya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------mutiara kata.....................................................................................&lt;br /&gt;"Kalau rizki itu di tangan ALlah, kenapa engkau ikut campur? Kalau Allah sudah menjanjikan ganti yang lebih baik, kenapa engkau bakhil?? Kalau sesungguhnya surga itu benar adanya, kenapa engkau masih beristirahat? Kalau sesungguhnya neraka itu benar adanya, kenapa engkau bermaksiat? Kalau sesungguhnya pertanyaan Munkar Nakir itu benar adanya, kenapa engkau masih disibukkan oleh aib orang lain? Kalau sesungguhnya dunia ini fana, kenapa engkau tenang di dalamnya? Kalau sesungguhnya "hisab" benar adanya, kenapa engkau terus mengumpulkan (dosa-dosa)? Kalau sesungguhnya segala sesuatu terjadi karena qodho dan qodar-Nya, kenapa engkau takut?" (Imam Ahmad bin Hambal)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/hf6BziyJcDU" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-05-26T11:51:48.130+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/05/identitas-muslim-atau-potret-orang.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pergaulan Suami Istri</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/_Gr5Q31dLek/pergaulan-suami-istri.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sun, 25 May 2008 00:02:23 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-309296750810114849</guid><description>Bagaimana Pergaulan Suami Istri menurut Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�?�?�?�?�?�? ء�?ا�?�?ات�?�?�? أ�?�?�? خ�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?�? �?�?�?�? أ�?�?�?�?�?س�?�?�?�?�? أ�?ز�?�?�?اج�?ا �?�?ت�?س�?�?�?�?�?�?ا إ�?�?�?�?�?�?�?ا �?�?ج�?ع�?�?�? ب�?�?�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?�?د�?�?ة�? �?�?ر�?ح�?�?�?ة�? إ�?�?�?�? �?�?�? ذ�?�?�?�?�? �?�?آ�?�?ات�? �?�?�?�?�?�?�?�? �?�?ت�?�?�?�?�?�?ر�?�?�?�? (ا�?ر�?�?2(&lt;br /&gt;�??Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.�?? Ar Rum:21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman (2:222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang istri haram menolak ajakan suaminya di atas tempat tidur &gt; Apabila seorang istri bermalam meninggalkan atau menjauhi tempat tidur suaminya maka malaikat akan&lt;br /&gt;melaknat sampai suami ridho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Maimunah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Rasulullah saw. biasa menggauli (tanpa senggama) istri-istri beliau yang sedang haid dari luar izaar (kain bawahan menutupi bagian tubuh dari pusar ke bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Ummu Salamah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Ketika aku sedang berbaring bersama Rasulullah saw. dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid, maka aku keluar dengan pelan-pelan lalu mengambil pakaian khusus waktu haid. Rasulullah saw. bertanya kepadaku: Apakah engkau haid? Aku jawab: Ya. Beliau memanggilku dan aku berbaring lagi bersama beliau dalam satu selimut. Zainab binti Ummu Salamah berkata: Dia (Ummu Salamah) dan Rasulullah saw. mandi jinabat bersama dalam satu bejana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Aisyah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Apabila salah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah saw. memerintahkan untuk memakai izaar (kain bawahan menutupi bagian tubuh dari pusar ke bawah atau cd lah), kemudian beliau menggaulinya (tanpa senggama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:&lt;br /&gt;Bahwa Nabi saw. bersabda: Apabila seorang istri bermalam meninggalkan atau menjauhi tempat tidur suaminya maka malaikat akan melaknatinya sampai pagi&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Ibnu Abbas ra., ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda: Apabila salah seorang mereka akan menggauli istrinya, hendaklah ia membaca: "Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami". Sebab jika ditakdirkan hubungan antara mereka berdua tersebut membuahkan anak, maka setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Aisyah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Adalah Rasulullah saw. mencium salah seorang istri beliau dan beliau sedang berpuasa lalu istrinya tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Kami berperang bersama Rasulullah saw. melawan Bani Musthaliq lalu kami berhasil menawan beberapa wanita Arab yang cantik. Kami sudah lama tidak berhubungan dengan istri, maka kami ingin sekali menebus mereka sehingga kami dapat menikahi mereka secara mut`ah dan melakukan `azal (mengeluarkan sperma di luar kemaluan istri untuk menghindari kehamilan). Kami berkata: Kami melakukan demikian sedang Rasulullah berada di tengah-tengah kami tanpa kami tanyakan tentang hal tersebut. Lalu kami tanyakan juga kepada beliau dan beliau bersabda: Tidak apa-apa walaupun tidak kamu lakukan karena tidak ada satu jiwa pun yang telah Allah tentukan untuk tercipta sampai hari kiamat kecuali pasti akan terjadi (ini hadits yang digunakan dalam salah satu cara ber-KB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Aisyah ra. istri Nabi saw.:&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya.. (rasul selalu lembut dalam peranginya termasuk pada istri2nya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Abu Hurairah ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda: Demi Allah, salah seorang di antara kamu yang bersih keras untuk bersumpah dengan sesuatu yang berkenaan dengan istrinya adalah lebih berdosa di sisi Allah daripada ia membayar kafarat sumpahnya yang telah diwajibkan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makruh bagi orang yang pulang dari bepergian untuk langsung menuju istrinya pada malam hari &gt; Bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mendatangi istri beliau dari bepergian pada malam hari tetapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:&lt;br /&gt;Bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mendatangi istri beliau dari bepergian pada malam hari tetapi beliau selalu mendatangi mereka pada pagi atau sore hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis riwayat   Anas ra., ia berkata:&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah saw. dalam suatu perjalanannya ada seorang pelayan berkulit hitam bernama Anjasyah sedang memacu kudanya dengan bersyair (kuda yang membawa istri-istri Nabi saw.) Rasulullah saw. bersabda kepadanya: Wahai Anjasyah, pelan-pelan saja memacu kuda dan berlaku lembutlah kepada kaum wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakah yang penting, Kekayaankah, Kesuksesan atau Kasih Sayang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. &lt;br /&gt;Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. &lt;br /&gt;Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". &lt;br /&gt;Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". &lt;br /&gt;"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu. &lt;br /&gt;Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. &lt;br /&gt;Sang suami awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, &lt;br /&gt;"Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. &lt;br /&gt;"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. &lt;br /&gt;Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, &lt;br /&gt;Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya, Sedangkan aku sendiri bernama Kasih Sayang. &lt;br /&gt;Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu kembali masuk kedalam, &amp; memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. &lt;br /&gt;"Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan." &lt;br /&gt;Istrinya tak setuju dengan pilihan itu, Ia bertanya,"Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? &lt;br /&gt;Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu, Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? &lt;br /&gt;Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang." &lt;br /&gt;Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita." &lt;br /&gt;Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. &lt;br /&gt;Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. &lt;br /&gt;Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. &lt;br /&gt;"Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?" &lt;br /&gt;Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. &lt;br /&gt;"Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. &lt;br /&gt;Namun, karena Anda mengundang si Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. &lt;br /&gt;Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. &lt;br /&gt;Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat, hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. &lt;br /&gt;�??Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan....saat kami menjalani hidup ini."&lt;br /&gt;�?? Sesungguhnya orang orang yang beriman dan beramal saleh, kelak ALLOH Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa Kasih Sayang �?? ( QS. Maryam : 96 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/_Gr5Q31dLek" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-05-25T14:02:23.747+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/05/pergaulan-suami-istri.html</feedburner:origLink></item><item><title>Budi Pekerti yang Mulia (Kepribadian)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/wKroEfwB1Uw/budi-pekerti-yang-mulia-kepribadian.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sun, 18 May 2008 02:50:44 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-7652895232474940799</guid><description>�?�?�?�?ت�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?�?�?�? أ�?�?�?�?ة�? �?�?د�?ع�?�?�?�? إ�?�?�?�? ا�?�?خ�?�?�?ر�? �?�?�?�?أ�?�?�?ر�?�?�?�? ب�?ا�?�?�?�?ع�?ر�?�?�?�? �?�?�?�?�?�?�?�?�?�?�?�? ع�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?ر�? �?�?أ�?�?�?�?ئ�?�?�? �?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?ح�?�?�?�?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian (Akhlaq)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Paling dekat dengan aku kedudukannya pada had kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ummu Salamah, isteri Nabi Saw bertanya, "Ya Rasulullah, seorang wanita dari kami ada yang kawin dua, tiga dan empat kali lalu dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan menjadi suaminya di surga?" Nabi Saw menjawab, "Dia disuruh memilih dan yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata, "Ya Robbku, orang ini ketika dalam negeri dunia paling baik akhlaknya terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat." (HR. Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik. (HR. Abu Ya'la dan Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ya Rasulullah, terangkan tentang Islam dan aku tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada orang lain. Nabi Saw menjawab, "Katakan: 'Aku beriman kepada Allah lalu bersikaplah lurus (jujur)'." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya kamu menjadi orang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada tetanggamu niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada hal-hal yang kamu cintai bagi dirimu sendiri niscaya kamu tergolong muslim, dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa itu mematikan hati. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati. (HR. Ad-Dailami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara' yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Menghemat dalam nafkah separo pendapatan (belanja), dan mengasihi serta menyayangi orang lain adalah separo akal, sedangkan bertanya dengan baik adalah separo ilmu. (HR. Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. (HR. Ahmad dan Al Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Kebijaksanaan adalah tongkat yang hilang bagi seorang mukmin. Dia harus mengambilnya dari siapa saja yang didengarnya, tidak peduli dari sumber mana datangnya. (HR. Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Kalau kamu sudah tidak punya malu lagi, lakukanlah apa yang kamu kehendaki. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Tidak ada sesuatu yang ditelan seorang hamba yang lebih afdhol di sisi Allah daripada menelan (menahan) amarah yang ditelannya karena keridhoan Allah Ta'ala. (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Seorang sahabat berkata kepada Nabi Saw, "Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku." Nabi Saw berpesan, "Jangan suka marah (emosi)." Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Saw tetap berulang kali berpesan, "Jangan suka marah." (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Barangsiapa banyak diam maka dia akan selamat. (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Hati-hatilah terhadap prasangka. Sesungguhnya prasangka adalah omongan paling dusta. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan. (HR. Asysyihaab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Seorang yang baik keislamannya ialah yang meninggalkan apa-apa yang tidak berkepentingan dengannya. (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Dekatkan dirimu kepada-Ku (Allah) dengan mendekatkan dirimu kepada kaum lemah dan berbuatlah ihsan kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di kalangan kamu. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Barangsiapa rendah hati kepada saudaranya semuslim maka Allah akan mengangkat derajatnya, dan barangsiapa mengangkat diri terhadapnya maka Allah akan merendahkannya. (HR. Ath-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Allah mewahyukan kepadaku agar kamu berprilaku rendah hati agar tidak ada orang yang menzalimi orang lain atau menyombongkan dirinya terhadap orang lain. (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di surga, sedangkan perkataan busuk adalah kebengisan tabi'at dan kebengisan tabi'at di neraka. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Sesungguhnya cemburu (yakni cemburu yang wajar dan masuk akal adalah bagian) dari keimanan. (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Babawih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Kebajikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Orang yang membawa (mengangkut) sendiri barang dagangannya maka dia terbebas dari kesombongan. (HR. Al-Baihaqi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/wKroEfwB1Uw" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-05-18T16:50:44.415+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/05/budi-pekerti-yang-mulia-kepribadian.html</feedburner:origLink></item><item><title>Cara Islami Berkepribadian Menyenangkan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/t-6z6CuLECI/cara-islami-berkepribadian-menyenangkan.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Tue, 06 May 2008 05:35:22 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-5845894763694021613</guid><description>Untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan bukanlah sesuatu yang sulit, yang pasti ada banyak cara untuk memperolehnya. Namun yang terpenting adalah adanya kemauan dalam diri kita untuk memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sebab dengan memiliki kepribadian ini bukan hanya dapat mempengaruhi kesehatan jasmani dan ruhani orang yang memilikinya, akan tetapi ia juga akan mendapatkan orang lain merasa nyaman berada di sisinya. Maka dari itu, memiliki kepribadian yang menyenangkan bukan saja harus dimiliki oleh seorang dai yang setiap hari tugasnya adalah menyampaikan risalah dakwah kepada masyarakat, namun juga oleh siapapun, dan pada profesi apapun. Sebab hakekatnya manusia di manapun sama, ia akan tertarik kepada sesuatu yang ia lihat menyenangkan, dan akan lari dari sesuatu yang terlihat menjengkelkan. &lt;br /&gt;Betapa senangnya hati kita, ketika kita mendapatkan banyak orang yang menghargai kita, menghormati kita, memperdulikan kita, namun bukan karena ada apa-apanya, tetapi semata-mata karena memang kita memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sungguh sangat sengsara seseorang yang selalu mendapatkan pujian orang banyak, sanjungan, perhatian, penghargaan, dan lain-lain, hanya karena orang-orang tersebut takut akan ketidakstabilan emosinya yang kemungkinan bakal mengancam masa depan hidupnya. Percayalah bahwa semua hal yang ia dapatkan berupa sanjungan itu hanyalah semu belaka dan tidak akan bertahan lama. Hal ini karena pujian itu tidak keluar dari dalam hati yang paling dalam, karena ia muncul bersamaan dengan adanya kepribadian yang tidak menyenangkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, akan saya sampaikan bagaimana cara islami memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dapat merubah hidup kita menjadi lebih dicintai oleh manusia semata-mata karena mereka merasa nyaman berada di sisi kita. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain.&lt;br /&gt;Salah satu sifat seorang muslim yang berjiwa besar adalah, dalam dirinya selalu tersimpan rasa ingin selalu berkhidmat kepada orang lain dan bukan meminta dikhidmati oleh orang lain. Karena ia merasa yakin bahwa sebanyak itu ia memberikan perhatian kepada orang, sebanyak itu pula ia akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Orang lain tak ubahnya sebagai refleksi dari pada diri kita sendiri. Pepatah melayu mengatakan, "jika buruk wajah jangan lalu cermin yang dipecah" tetapi perbaikilah bentuk dan raut wajah, niscaya cermin itu dengan sendirinya akan mengeluarkan pantulan yang indah. Nah, salah satu yang dapat memantulkan bayangan indah dari cermin orang lain itu adalah prilaku kita yang senantiasa ingin memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Tidak ada yang dapat membahagiakan hati kita, kecuali jika kita telah benar-benar membantu dan meringankan beban orang lain, tentu dengan satu keyakinan bahwa Allah Swt. akan senantiasa meridoi segala apa yang kita perbuat. Ada satu hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, di mana Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa yang diserahi amanat untuk mengurus kebutuhan umat, namun ia lalai atau tidak memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakan mereka, maka Allah swt. akan memperlakukannya sama dengan tidak akan memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakannya di akherat kelak". &lt;br /&gt;2. Lemah lembut dan dapat mengontrol emosi&lt;br /&gt;Dalam hidup ini, terkadang dalam hati kita sudah tertanam untuk tidak melakukan perbuatan buruk yang bakal merugikan orang lain, namun perbuatan buruk itu bisa jadi muncul dari orang lain. Ada saja perbuatan orang lain yang membuat kita merasa jengkel dan panas hati, boleh jadi perbuatan tersebut disengaja atau tanpa disadarinya. Seseorang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan, ia tidak lantas main hantam dan menyalahkan secara kasar. Namun yang ia lakukan adalah memberikan masukan secara bijak dan penuh kearifan. Boleh jadi dengan kearifannya ini akan membekas di hati orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga di hari kemudian orang tadi menjadi orang yang selalu merasa takut berbuat kesalahan sekecil apapun berkat nasehat dan masukan yang arif tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh besar pahala kita jika kita mampu merubah jalan hidup orang lain hanya semata-mata sikap lemah lembut dan kemampuan kita mengontrol emosi itu. Ketimbang, jika yang kita lakukan adalah memaki dan memarahinya seolah-oleh tidak ada kata maaf dan introspeksi dalam kamus diri kita. Rosulullah Saw. adalah tauladan yang paling baik, bagaimana beliau bersikap terhadap orang 'ndeso' yang pernah menjambak selendang beliau di tengah orang banyak secara kasar, sampai-sampai akibat jambakan tersebut leher Rosulullah merah memar. Lalu orang itu dengan keras berkata, �??Wahai Muhammad beriakanlah sebagian harta yang kau miliki...�?? Para Sahabat yang ada di sekitar nabi ingin marah, tapi sikap rasulullah ketika itu malah memberikan senyumannya kepada orang itu, lalu dengan penuh kasih sayang beliau berikan seledang yang beliau punya kepada orang tadi.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Mampu memberikan reward dan empatik kepada orang lain&lt;br /&gt;Salah satu ciri orang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan adalah ia mudah memberikan reward atau penghargaan berupa pujian tulus kepada orang yang telah berbuat baik sekecil apapun. Kata-kata seperti, "oh, memang betul-betul hebat kamu yah, atau, "wah, coba kalau tidak ada kamu tadi, bisa lain urusannya", dan lain-lain yang menggambarkan bahwa kita benar-benar dapat menghargai karyacipta orang lain. Coba kita bandingkan dengan ungkapan berikut, "ah, kalau  itu sih siapa juga bisa", atau "yah, lumayan lah nggak jelek-jelek banget sih" dan yang semisalnya. Betapa kata-kata ini menampakkan kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan orang lain. Coba kita lihat bagaimana Rosulullah ketika ada sesorang yang sedang bicara dengannya, maka dengan penuh khusuk beliau hadapkan badan, telinga, dan matanya untuk memperhatikan lawan bicaranya, dan tidak pernah beliau memotong pembicaraan orang tersebut, sampai ia benar-benara telah selesai dari pembicaraannya. Hal ini betapa beliau mengajarkan kepada kita untuk selalu menghargai orang lain, dan inilah caranya agar kita dapat memiliki kepribadian yang menyenangkan sehingga orang lain merasa nyaman berada di sisi kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Tidak membuang muka kepada orang yang suka maksiat&lt;br /&gt;Dalam lingkungan kita terkadang ada orang yang dianggap sampah masyarakat. Kegemarannya adalah mencari keonaran dan membuat kerusuhan dalam masyarakat. Banyak orang yang dalam menghadapi orang semcam ini, malah mengucilkannya. Sampai-sampai ada kesepakatan untuk tidak melakukan hubungan dengan orang tersebut. Sebagai seorang muslim yang kuat, yang tentunya memiliki keyakinan akan adanya kebaikan dalam diri orang tersebut, kita tidak boleh lekas-lekas memutuskan hubungan dengannya. Akan tetapi kita berusaha untuk selalu mencari celah mengajaknya kembali kepada jalan yang benar. Bahkan harus kita ciptakan strategi yang membuatnya dapat luluh untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang tercela itu. Terkadang untuk mewujudkan hasil ini, perlu sesekali kita mengikuti dunia hitam yang orang itu geluti seperti dunia malam, hiburan, perjudian, dll�?�namun ada satu misi yang kita tuju, yaitu kita akan merubah jalan hidup orang tersebut sekiranya kita telah berhasil meraih hati orang tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada satu contoh yang menarik dari cara dakwah seorang wali songo yang ikut menggunakan wasilah musik dan kesenian daerah untuk dijadikan sarana dakwah, ia gunakan wasilah yang sama namun isi dari pertunjukan itu ia rubah menjadi nada-nada dakwah kepada jalan Allah. Berapa banyak orang yang awalnya tidak tau agama lalu menjadi tertarik dengan ajaran agama dengan cara seperti itu. Kuncinya adalah, agar kita tidak lekas memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang kadung dianggap sebagai sampah masyarakat.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Tidak bersikap angkuh&lt;br /&gt;Banyak orang mengira bahwa dengan bersikap angkuh akan menjadikan diri kita disegani oleh orang lain, yang betul justru sebaliknya orang akan enggan bergaul dengan kita. Dalam realitas hidup bisa jadi ada orang yang merasa minder melihat kesuksesan hidup yang diraih oleh kita misalnya, rasa minder ini lalu akan melahirkan rasa rendah diri dan kurang bersahabat dengan kita. Pada saat inilah kita perlu menunjukkan sikap rendah hati kita untuk memulai mencairkan kondisi dengan bersikap ramah dan tawadu kepada mereka. Hal ini pula yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, ketika ada seseorang yang hendak menghadap kepada beliau untuk suatu keperluan, namun karena besarnya wibawa rasulullah maka orang tersebut menjadi gugup dan tidak percaya diri, dengan santun kanjeng Nabi berkata, "santai saja, Aku bukanlah Malaikat, aku hanyalah seorang anak ibu dari suku Quraisy yang juga sama-sama makan bubur nasi". Sikap tawadu inilah yang membuat suasana menjadi cair dan berjalan normal, sehingga orang lain merasa senang berada disisi kita. Lalu coba kita bedakan dengan sikap syetan yang berkata, "sesungguhnya Aku lebih mulia dari Adam, karena aku diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah," (Q.S. Shad:76).&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Demikianlah di antara cara bagaimana memiliki kepribadian yang menyenangkan, semoga dengan bekal cara ini kita dapat memperoleh target dari sebuah pergaulan hidup yaitu menyebarkan keindahan-keindahan ajaran Allah Swt, baik dengan cara lisan maupun dengan amal perbuatan. Siapa tau, banyak orang yang tertarik kepada Islam bukan hanya disebabkan keindahan ajarannya saja, namun karena ketertarikan mereka kepada perangai yang menyenangkan dari yang kita miliki itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/t-6z6CuLECI" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-05-06T19:35:22.451+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/05/cara-islami-berkepribadian-menyenangkan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Masurat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/s32luN8nZ1Y/masurat.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Mon, 05 May 2008 06:55:54 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-6548035334585530413</guid><description>ب�?س�?�?�? ا�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�? {1/1}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?ح�?�?�?د�? �?�?�?�?�? ر�?ب�?�? ا�?�?ع�?ا�?�?�?�?�?�?�? {1/2} ا�?ر�?�?ح�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�? {1/3} �?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?�? ا�?د�?�?�?�?�? {1/4} إ�?�?�?�?ا�?�? �?�?ع�?ب�?د�? �?إ�?�?�?�?ا�?�? �?�?س�?ت�?ع�?�?�?�? {1/5} ا�?د�?�?�?ا ا�?ص�?�?ر�?اط�? ا�?�?�?ست�?�?�?�?�?�? {1/6} ص�?ر�?اط�? ا�?�?�?ذ�?�?�?�? أ�?�?ع�?�?ت�? ع�?�?�?�?�?�?�?�? غ�?�?ر�? ا�?�?�?غض�?�?ب�? ع�?�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?ا�? ا�?ض�?�?ا�?�?�?�?�?�? {1/7}&lt;br /&gt;1.Dengan nama Allah, Yang Maha pengasih, lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;2.Segala puji  bagi Allah, Tuhan  semesta alam.&lt;br /&gt;3.Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;4.Yang menguasai hari pembalasan&lt;br /&gt;5.Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.&lt;br /&gt;6.Tunjukilah kami jalan yang lurus,&lt;br /&gt;7.(yaitu ) jalan orang-orang yang Engkau telah anugerahkan nikmat  kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang di murkai (yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat(Nasrani).&lt;br /&gt;ب�?س�?�?�? ا�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?&lt;br /&gt;ا�?�? {2/1} ذ�?�?�?�?�? ا�?�?�?�?ت�?اب�? �?ا�? ر�?�?�?ب�? �?�?�?�?�? �?�?د�?�? �?�?�?�?�?�?�?ت�?�?�?�?�?�?�? {2/2} ا�?�?�?ذ�?�?�?�? �?�?ؤ�?�?�?�?�?�?�?�? ب�?ا�?�?غ�?�?�?ب�? �?�?�?�?�?�?�?�?�?�?�?�? ا�?ص�?�?�?اة�? �?�?�?�?�?�?�?ا ر�?ز�?�?�?�?�?ا�?�?�?�? �?�?�?�?�?�?�?�?�?�? {2/3} �?ا�?�?�?ذ�?�?�?�? �?�?ؤ�?�?�?�?�?�?�?�? ب�?�?�?ا أ�?�?ز�?�?�? إ�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?�?ا أ�?�?ز�?�?�? �?�?�? �?�?ب�?�?�?�?�? �?�?ب�?ا�?آخ�?ر�?ة�? �?�?�?�? �?�?�?�?�?�?�?�?�?�? {2/4} أ�?�?�?�?�?ئ�?�?�? ع�?�?�?�? �?�?د�?�? �?�?�?�? ر�?�?ب�?�?�?�?�?�? �?�?أ�?�?�?�?�?ئ�?�?�? �?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?ح�?�?�?�? {2/5}&lt;br /&gt;1.Alif, Laam, Miim.&lt;br /&gt;2.Kitab (Al-Quran ini), tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa; &lt;br /&gt;3.(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat dan meafkahkan sebahagian  rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,&lt;br /&gt;4.Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu,&lt;br /&gt;dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.&lt;br /&gt;5.Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�? �?ا�? إ�?�?�?�?�? إ�?�?ا�?�? �?�?�?�? ا�?�?ح�?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?�?�? �?ا�? ت�?أ�?خ�?ذ�?�?�? س�?�?�?ة�? �?�?�?ا�? �?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�? �?�?ا �?�?�? ا�?س�?�?�?�?ا�?�?ات�? �?�?�?�?ا �?�?�? ا�?أ�?ر�?ض�? �?�?�? ذ�?ا ا�?�?�?ذ�?�? �?�?ش�?�?�?ع�? ع�?�?�?د�?�?�? إ�?�?ا�?�? ب�?إ�?ذ�?�?�?�?�? �?�?ع�?�?�?�?�? �?�?ا ب�?�?�?�?�? أ�?�?�?د�?�?�?�?�?�? �?�?�?�?ا خ�?�?�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?ا�? �?�?ح�?�?ط�?�?�?�? ب�?ش�?�?�?ء�? �?�?�?�?�? ع�?�?�?�?�?�?�? إ�?�?ا�?�? ب�?�?�?ا ش�?اء �?�?س�?ع�? �?�?ر�?س�?�?�?�?�?�? ا�?س�?�?�?�?ا�?�?ات�? �?�?ا�?أ�?ر�?ض�? �?�?�?ا�? �?�?ؤ�?�?د�?�?�? ح�?�?�?ظ�?�?�?�?�?ا �?�?�?�?�?�? ا�?�?ع�?�?�?�?�?�? ا�?�?ع�?ظ�?�?�?�? &lt;br /&gt;{2/255}&lt;br /&gt;Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang  hidup kekal, lagi terus menerus mengurus (sekalian makhlukNya). Yang tidak mengantuk dan tidak tidur.KepunyaanNya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisi Allah tanpa seizinNya.Allah mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka,Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang di kehendakiNya.  Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya). (2/255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; �?ا�? إ�?�?�?ر�?ا�?�? �?�?�? ا�?د�?�?�?�?�? �?�?د ت�?�?ب�?�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ش�?د�? �?�?�?�? ا�?�?غ�?�?�?�? �?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?�?ر�? ب�?ا�?ط�?�?اغ�?�?ت�? �?�?�?�?ؤ�?�?�?�? ب�?ا�?�?�?�?�? �?�?�?�?د�? اس�?ت�?�?�?س�?�?�? ب�?ا�?�?ع�?ر�?�?�?ة�? ا�?�?�?�?ث�?�?�?�?�? �?ا�? ا�?�?�?ص�?ا�?�? �?�?�?�?ا �?�?ا�?�?�?�?�? س�?�?�?�?ع�? ع�?�?�?�?�?�? {2/256}&lt;br /&gt;Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan  yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Taghut, dan  beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.(2/256)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?�?�? ا�?�?�?ذ�?�?�?�? آ�?�?�?�?�?ا�? �?�?خ�?ر�?ج�?�?�?�? �?�?�?�?�? ا�?ظ�?�?�?�?�?�?ات�? إ�?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?ر�? �?�?ا�?�?�?ذ�?�?�?�? �?�?�?�?ر�?�?ا�? أ�?�?�?�?�?�?�?آؤ�?�?�?�?�? ا�?ط�?�?اغ�?�?ت�? �?�?خ�?ر�?ج�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�? ا�?�?�?�?�?ر�? إ�?�?�?�? ا�?ظ�?�?�?�?�?�?ات�? أ�?�?�?�?�?ئ�?�?�? أ�?ص�?ح�?اب�? ا�?�?�?�?ار�? �?�?�?�? �?�?�?�?�?ا خ�?ا�?�?د�?�?�?�? {2/257}&lt;br /&gt;Allah Pelindung orang-orang yang beriman.Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(2/257)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�?�?�?�?�?�?�?�? �?ا �?�?�? ا�?س�?�?�?�?ا�?ات�? �?�?�?�?ا �?�?�? ا�?أ�?ر�?ض�? �?�?إ�?�? ت�?ب�?د�?�?ا�? �?�?ا �?�?�? أ�?�?�?�?س�?�?�?�?�? أ�?�?�? ت�?خ�?�?�?�?�?�? �?�?ح�?اس�?ب�?�?�?�? ب�?�?�? ا�?�?�?�?�? �?�?�?�?غ�?�?�?ر�? �?�?�?�?�? �?�?ش�?اء �?�?�?�?ع�?ذ�?�?ب�? �?�?�? �?�?ش�?اء �?�?ا�?�?�?�?�? ع�?�?�?�? �?�?�?�?�? ش�?�?�?ء�? �?�?د�?�?ر�? {2/284}&lt;br /&gt;Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan apa yang ada di bumi . Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu memyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan  kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang di kehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(2/284)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; آ�?�?�?�? ا�?ر�?�?س�?�?�?�? ب�?�?�?ا أ�?�?ز�?�?�? إ�?�?�?�?�?�?�? �?�?�? ر�?�?ب�?�?�?�? �?�?ا�?�?�?�?ؤ�?�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�? آ�?�?�?�? ب�?ا�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?آئ�?�?�?ت�?�?�? �?�?�?�?ت�?ب�?�?�? �?�?ر�?س�?�?�?�?�? �?ا�? �?�?�?�?ر�?�?�?�? ب�?�?�?�?�? أ�?ح�?د�? �?�?�?�? ر�?�?س�?�?�?�?�? �?�?�?�?ا�?�?�?ا�? س�?�?�?ع�?�?�?ا �?�?أ�?ط�?ع�?�?�?ا غ�?�?�?ر�?ا�?�?�?�? ر�?ب�?�?�?�?ا �?�?إ�?�?�?�?�?�?�? ا�?�?�?�?ص�?�?ر�? {2/285}&lt;br /&gt;Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Mereka berkata): "Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun  (dengan yang lain) dari Rasul-rasulnya" . Dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat (mereka berdo�??a) ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada Engkau lah tempat kembali" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; �?ا�? �?�?�?�?�?�?�?�?�? ا�?�?�?�?�? �?�?�?�?س�?ا إ�?�?ا�?�? �?�?س�?ع�?�?�?ا �?�?�?�?ا �?�?ا �?�?س�?ب�?ت�? �?�?ع�?�?�?�?�?�?�?ا �?�?ا ا�?�?ت�?س�?ب�?ت�? ر�?ب�?�?�?�?ا �?ا�? ت�?ؤ�?اخ�?ذ�?�?�?ا إ�?�? �?�?�?س�?�?�?�?ا أ�?�?�? أ�?خ�?ط�?أ�?�?�?ا ر�?ب�?�?�?�?ا �?�?�?ا�? ت�?ح�?�?�?�?�? ع�?�?�?�?�?�?�?ا إ�?ص�?ر�?ا �?�?�?�?ا ح�?�?�?�?�?ت�?�?�? ع�?�?�?�? ا�?�?�?ذ�?�?�?�? �?�?�? �?�?ب�?�?�?�?�?ا ر�?ب�?�?�?�?ا �?�?�?ا�? ت�?ح�?�?�?�?�?�?�?�?ا �?�?ا �?ا�? ط�?ا�?�?ة�? �?�?�?�?ا ب�?�?�? �?�?اع�?�?�? ع�?�?�?�?ا �?�?اغ�?�?�?ر�? �?�?�?�?ا �?�?ار�?ح�?�?�?�?�?آ أ�?�?ت�? �?�?�?�?�?ا�?�?�?ا �?�?ا�?ص�?ر�?�?�?ا ع�?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�? ا�?�?�?�?ا�?�?ر�?�?�?�?&lt;br /&gt; {2/286}&lt;br /&gt;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya, dan ia  menanggung dosa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa ): "Ya Tuhan kami,  Janganlah Engkau hokum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami,  Janganlah Engkau bebankan kepada  kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب�?س�?�?�? ا�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?&lt;br /&gt;�?�?�?�? �?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�? أ�?ح�?د�? {112/1} ا�?�?�?�?�?�? ا�?ص�?�?�?�?د�? {112/2} �?�?�?�? �?�?�?�?د�? �?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?د�? {112/3} �?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�? �?�?�?�?�? �?�?�?�?�?�?ا أ�?ح�?د�? {112/4}( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;1.Katakanlah: �??Dialah Allah, yang Maha Esa &lt;br /&gt;2.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.&lt;br /&gt;3.Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, &lt;br /&gt;4.dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia�??. (3X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب�?س�?�?�? ا�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?&lt;br /&gt;�?�?�?�? أ�?ع�?�?ذ�? ب�?ر�?ب�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�? {113/1} �?�?�? ش�?ر�?�? �?�?ا خ�?�?�?�?�? {113/2} �?�?�?�?�? ش�?ر�?�? غ�?اس�?�?�? إ�?ذ�?ا �?�?�?�?ب�? {113/3} �?�?�?�?�? ش�?ر�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?اث�?ات�? �?�?�? ا�?�?ع�?�?�?د�? {113/4} �?�?�?�?�? ش�?ر�?�? ح�?اس�?د�? إ�?ذ�?ا ح�?س�?د�? {113/5}( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;1.Katakanlah: �?? Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, &lt;br /&gt;2.dari kejahatan mahluk-Nya, &lt;br /&gt;3.dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,&lt;br /&gt;4.dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, &lt;br /&gt;5.dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki�??. (3x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب�?س�?�?�? ا�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?�? ا�?ر�?�?ح�?�?�?�?&lt;br /&gt;�?�?�?�? أ�?ع�?�?ذ�? ب�?ر�?ب�?�? ا�?�?�?�?اس�? {114/1} �?�?�?�?�?�? ا�?�?�?�?اس�? {114/2} إ�?�?�?�?�? ا�?�?�?�?اس�? {114/3} �?�?�? ش�?ر�?�? ا�?�?�?�?س�?�?�?اس�? ا�?�?خ�?�?�?�?اس�? {114/4} ا�?�?�?ذ�?�? �?�?�?�?س�?�?�?س�? �?�?�? ص�?د�?�?ر�? ا�?�?�?�?اس�? {114/5} �?�?�?�? ا�?�?ج�?�?�?�?ة�? �?�? ا�?�?�?�?اس�? {114/6}( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Katakanlah: �??Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia&lt;br /&gt;2.Raja manusia &lt;br /&gt;3.Sembahan manusia &lt;br /&gt;4.dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, &lt;br /&gt;5.yang membisikkan (kejahatan) kedalam dada manusia.&lt;br /&gt;6.dari (golongan) jin dan manusia�??. (3x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; أ�?ص�?ب�?ح�?�?�?ا �?�?أ�?ص�?ب�?ح�?( أ�?�?�?س�?�?�?�?�?ا �?�?أ�?�?�?س�?�?) ا�?�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?�?�?�? �?�?ا�?�?ح�?�?�?د�? �?�?�?�?�?�?�? �?�?ا ش�?ر�?�?�?�? �?�?�?�? �?�?ا إ�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?ا �?�?�?�? �?إ�?�?�? ا�?�?ش�?ر(ا�?�?ص�?ر). ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Kami hayati pagi (sore)ini ya Allah, dimana pagi ini kerajaan (alam buana ini) di tangan-MU. Puji (tahmid) untuk Allah.Tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. kepada-Nya kami bakal dihimpunkan. (3x).    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أصبح�?ا( أ�?�?�?س�?�?�?�?�?ا) ع�?�? �?طرة ا�?إس�?ا�?, �?�?�?�?ة ا�?إخ�?اص �? ع�?�? د�?�? �?ب�?�?ا �?ح�?د ص�?�? ا�?�?�? ع�?�?�? �? س�?�?, �?ع�?�? �?�?ة أب�?�?ا إبرا�?�?�? ح�?�?�?ا �?�?ا �?ا�? �?�? ا�?�?شر�?�?�?. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Kami hayati pagi ini atas landasan fitrah dan perwatakan Islam.Berpegang pada kalimah Ikhlas (dan prinsip) keikhlasan .Berpegang pada  Dien (agama) Nabi-Mu Muhammad Sallallahu alihi wasallam agama yang juga agama ayah kami Ibrahim dengan setulus hati .Dan tidaklah (nabi) Ibrahim itu termasuk  golongan orang yang musyrik. (3x). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? إ�?�? أصبحت �?�?�? �?�? �?ع�?ة  �?عا�?�?ة �?ستر �?أت�? ع�?�? �?ع�?ت�? �? عا�?�?ت�? �?ستر�? �?�? ا�?د�?�?ا �?ا�?أخرة. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Ya Allah pada pagi ini kami rasakan nikmat pemberian-Mu, kesehatan dan perlindungan dari-Mu maka sempurnakanlah nikmat, afiat dan perlindunganmu terhadap kami di  dunia dan akhirat. (3x). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? �?ا أصبح ب�? �?�? �?ع�?ة أ�? بأحد �?�? خ�?�?�? �?�?�?�? �?حد �? �?ا شر�?�? �?�?, �?�?�? ا�?ح�?د �? �?�? ا�?ش�?ر.( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Ya Allah apa saja nikmat yang kami dapati di waktu siang dari makhlukmu, maka sebenarnya   darimu jua.Tidak ada sekutu bagimu . Pujian dan syukur untuk-Mu. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�?ا رب�? �?�? ا�?ح�?د �?�?ا �?�?بغ�? �?ج�?ا�? �?ج�?�? �?غظ�?�? س�?طا�?�?. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, untuk-Mu pujian yang standing dengan kebesaran dan kemuliaan wajah-Mu, dan keagungan kekuasaan-Mu. (3x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رض�?ت با�?�?�? ربا �? با�?إس�?ا�? د�?�?ا �?ب�?ح�?د ص�?�? ا�?�?�? ع�?�?�? �? س�?�? �?ب�?ا �?رس�?�?ا. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Aku redhai Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad SAW sebagai nabi dan RasulNya. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; س�?ب�?ح�?ا�?�? ا�?�?�?�?�?�? �?بح�?د�?, ع�?د�?د�? خ�?�?�?�?�?�?�? �?ر�?ض�?ا �?�?�?�?س�?�?�?, �?ز�?�?�?ة�? ع�?ر�?ش�?�?�?, �?�?�?د�?اد�? �?�?�?�?�?�?ات�?�?�? . ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Maha suci Allah dengan segala tahmid-Nya sebanyak makhluk ciptaan-Nya, sebanyak keredhaan diri-Nya, sebanyak berat timbangan Arasy-Nya dan sebanyak dakwat untuk kalimahya. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ب�?س�?�?�? ا�?�?�?�?�?�? ا�?�?�?ذ�?�? �?�?ا �?�?ض�?ر�?�? �?�?ع�? اس�?�?�?�?�? ش�?�?�?ء�? �?�?�? ا�?�?أ�?ر�?ض�? �?�?�?�?ا �?�?�? ا�?س�?�?�?�?اء�? �?�?�?�?�?�? ا�?س�?�?�?�?�?ع�? ا�?�?ع�?�?�?�?�?�?. ( ث�?�?�?اث�?ا) &lt;br /&gt;Dengan nama Allah yang segala sesuatu baik dilangit maupun dibumi tidak akan memberi apa-apa mudarat selama bersama dengan Nama-Nya. Dengan nama Allah yang maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?ا �?�?ع�?�?ذ�? ب�?�?�? �?�?�?�? أ�?�?�? �?�?ش�?ر�?�?�? ب�?�?�? ش�?�?�?ئ�?ا �?�?ع�?�?�?�?�?�?�? �?�?�?�?س�?ت�?غ�?�?�?ر�?�?�? �?�?�?�?ا �?�?ا �?�?ع�?�?�?�?�?�?. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Ya Tuhan, sesungguhnya kami berlindung dengan Engkau dari menyekutukan Engkau dengan sesuatu apa juapun yang kami ketahui dan kami memohon dari Engkau terhadap kesalahan yang kami tidak mengetahuinya. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أ�?ع�?�?ذ�? ب�?�?�?�?�?�?�?ات�? ا�?�?�?�?�?�? ا�?ت�?�?ا�?�?�?ات�? �?�?�?�? ش�?ر�?�? �?�?ا خ�?�?�?�?�?. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna dan tepat dari segala kejahatan makhluk yang telah Dia cipta. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? إ�?�? أع�?ذ ب�? �?�? ا�?�?�? �?ا�?حز�?, �? أع�?ذ ب�? �?�? ا�?عجز �?ا�?�?س�?, �?أع�?ذ ب�? �?�? ا�?جب�? �?ا�?بخ�?, �?أع�?ذ ب�? �?�? غ�?بة ا�?د�?�? �?�?�?ر ا�?رجا�?. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Ya Allah, berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kedukacitaan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil. Aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan orang. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? ع�?ا�?�?�?�?�? �?�?�? ب�?د�?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?�?   ع�?ا�?�?�?�?�? �?�?�? س�?�?�?ع�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? ع�?ا�?�?�?�?�? �?�?�? ب�?ص�?ر�?�?. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Ya Allah, sejahterakanlah badanku, Ya Allah sejahterakanlah pendengaranku, Ya Allah sejahterakanlah penglihatanku. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?�? أع�?�?ذ�? ب�?�?�? �?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?ر�? �?�?ا�?�?�?�?�?�?ر�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?�? أ�?ع�?�?ذ�? ب�?�?�? �?�?�?�? ع�?ذ�?اب�? ا�?�?�?�?ب�?ر�? �?�?ا إ�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?ا أ�?�?�?ت. ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari kufur dan kefakiran. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. (Ikrar kami) tidak ada Tuhan (sebenarnya) kecuali Engkau. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? أ�?�?�?ت�? ر�?ب�?�?�? �?�?ا إ�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?ا أ�?�?�?ت�? خ�?�?�?�?�?ت�?�?�?�? �?�?أ�?�?�?ا ع�?ب�?د�?�?�? �?�?أ�?�?�?ا ع�?�?�?�? ع�?�?�?د�?�?�? �?�?�?�?ع�?د�?�?�? �?�?ا اس�?ت�?ط�?ع�?ت�? أ�?ع�?�?ذ�? ب�?�?�? �?�?�?�? ش�?ر�?�? �?�?ا ص�?�?�?ع�?ت�? أ�?ب�?�?ء�? �?�?�?�? ب�?�?�?ع�?�?�?ت�?�?�? ع�?�?�?�?�?�? �?�?أ�?ب�?�?ء ب�?ذ�?�?�?ب�?�? �? �?�?اغ�?�?�?ر�? �?�?�? �?�?إ�?�?�?�?�?�? �?�?ا �?�?غ�?�?�?ر�? ا�?ذ�?�?�?�?�?ب�? إ�?�?�?�?ا أ�?�?�?ت�? . ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;sahaja. Engkau yang jadikan diriku. Aku (hanya) hamba-Mu. Aku berusaha seberapa daya untuk memegang janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu, Ya Allah akibat dari kejahatan yang terlanjur telah aku lakukan. (Ya Allah aku mengaku), sekalian banyak nikmatmu kepadaku dan aku mengakui juga akan sekalian banyak dosaku maka ampunilah dosaku. Tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أ�?س�?ت�?غ�?�?�?ر�? ا�?�?�?�?�?�? ا�?�?�?ذ�?�? �?�?ا إ�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?ا �?�?�?�? ا�?�?ح�?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?�?�? �?�?أ�?ت�?�?ب�? إ�?�?�?�?�?�?�? . ( ث�?�?�?اث�?ا)&lt;br /&gt;Aku memohon ampun pada Allah yang tiada tuhan melainkan Dia, yang berdiri dengan sendiri aku bertaubat kepada-Nya (akan segala dosaku). (3x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�? ص�? ع�?�? �?ح�?د �?ع�?�? آ�? س�?د�?ا �?ح�?د �?�?ا ص�?�?ت ع�?�? س�?د�?ا إبرا�?�?�? �?ع�?�? آ�? إبرا�?�?�? �?بار�? ع�?�? �?ح�?د �?ع�?�? آ�? س�?د�?ا �?ح�?د �?�?ا بار�?ت ع�?�? س�?د�?ا إبرا�?�?�? �?ع�?�? آ�? س�?د�?ا إبرا�?�?�? �?�? ا�?عا�?�?�?�? إ�?�? ح�?�?د �?ج�?د &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, restuhilah junjungan kami Muhammad SAW dan keluarga beliau sebagaimana Engkau merestui junjungan kami Ibrahim dan keluarganya. Berkatkanlah junjungan kami Muhammad SAW dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati junjungan kami Ibrahim dan keluarganya dalam alam ini. Sesungguhnya Engkau amat berhak dipuji dan diagungkan. (10x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;س�?ب�?ح�?ا�?�?�?�? ا�?�?�?�?�?�?�?�?�? �?�?ب�?ح�?�?�?د�?�?�? أ�?ش�?�?�?د�? أ�?�?�? �?�?ا إ�?�?�?�?�? إ�?�?�?�?ا أ�?�?�?ت�? أ�?س�?ت�?غ�?�?�?ر�?�?�? �?�?أ�?ت�?�?ب�? إ�?�?�?�?�?�?�?. ( ث�?�?�?اث�?ا) &lt;br /&gt;Maha suci Engkau Ya Allah, dengan segala kebesaran dan tahmid aku bersaksi dan bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau aku mohon ampun dari-Mu akan segala dosa kesalahan. (3x). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا�?�?�?�? ص�? ع�?�? س�?د�?ا �?ح�?د عبد�? �?�?ب�?�? �?رس�?�?�? ا�?�?ب�? ا�?أ�?�? �?ع�?�? آ�?�? �?صبح�? �?س�?�? تس�?�?�?ا عدد �?ا أحاط ب�? ع�?�?�? �?خط ب�? �?�?�?�? �?أحصا�? �?تاب�? �?ارض ا�?�?�?�? ع�? سادات�?ا أب�? ب�?ر �?ع�?ر �?عث�?ا�? �?ع�?�? �?ع�? ا�?صحابة أج�?ع�?�? �?ع�? ا�?تابع�?�? بإحسا�? إ�?�? �?�?�? ا�?د�?�?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, restui dan berkatilah junjugan kami Muhammad SAW sebagai hamba, nabi dan rasul-Mu yang ummi. Berkatkanlah keluarga dan sahabat baginda. Sejahterakanlah baginda selama-lamanya. Kami mohonkan sebanyak bilangan apa saja yang diketahui oleh Allah atau sebanyak perkara yang di tulis oleh pena-Nya dan sebanyak yang dirangkum oleh kitab-Nya. Terimalah dan relakanlah orang-orang terutama kami: Sayyidina Abu Bakar, Umar, Usman, Ali. Dan para sahabat Baginda semuanya para Tabi'in dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka sampai hari pembalasan. Terimalah ( kepulangan) mereka dengan sebaik-baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; س�?ب�?ح�?ا�?�? ر�?ب�?�?�?�? ر�?ب�?�? ا�?�?ع�?ز�?�?ة�? ع�?�?�?�?ا �?�?ص�?�?�?�?�?�? {37/180} �?�?س�?�?�?ا�?�? ع�?�?�?�? ا�?�?�?�?ر�?س�?�?�?�?�?�? {37/181} �?�?ا�?�?ح�?�?�?د�? �?�?�?�?�?�?�? ر�?ب�?�? ا�?�?ع�?ا�?�?�?�?�?�?�? {37/182}&lt;br /&gt;Maha suci Tuhan yang memiliki kebesaran dan kemuliaan dari segala sifat yang tercela yang diberikan oleh mereka kepada-Nya(37:180). Salam sejahtera untuk para Rasul (37:181) dan segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam. (37:182)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/s32luN8nZ1Y" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-05-05T20:55:54.024+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/05/masurat.html</feedburner:origLink></item><item><title>Berlindung Kepada Allah Dari Kejahatan Penjahat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/a3NWJfIOK-Q/berlindung-kepada-allah-dari-kejahatan.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Tue, 29 Apr 2008 16:49:37 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-3269445354159884002</guid><description>Berlindung Kepada Allah Dari Kejahatan Penjahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kondisi keamanan yang rawan dan anacaman kejahatan yang mencekam, seorang Mu'min tidak boleh berputus asa dari harapan mendapatkan perlindungan terhadap keselamatan dirinya dan keluarganya. Karena seorang Mu'min tidak akan lepas dari keyakinan bahwa pelindung yang maha perkasa dan maha penyayang itu adalah Allah Ta'ala. Maka dengan modal keyakinan ini, seorang Muslim disaat kegentingan yang dihadapinya dalam hidupnya tetap mempunyai tempat pelarian dan tidak berkecil hati apalagi berputus asa untuk keluar dari kondisi kegentingan itu. Berikut ini kami hantarkan para pembaca yang budiman untuk mengenali dan menghafal do'a yang dituntunkan untuk kita panjatkan kepada Allah Ta'ala di saat-saat genting hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam An Nawawi rahihahullah dalam kitab beliau Al Adzkar, membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan juga diriwayatkan oleh An Nasa'ie dalam As Sunanul Kubra. Al Imam An Nawawi menshahihkan riwayat ini. Dalam riwayat tersebut diceritakan, bahwa Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu anhu meriwayatkan : Bahwa Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, bila takut dari kejahatan suatu kaum maka beliau berdo'a dengan lafadl berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tulis lafadl haditsnya dalam Al Adzkar hal. 218 riwayat ke 319)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma Inna Naj'aluka Fi Nuhurihim, Wa Na'udzubika min Syururihim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Ya Allah, kami menjadikan Engkau sebagai pihak yang memegang leher-leher mereka (yakni dalam posisi siap mencekik mereka setiap saat �??pent), dan kami berlindung kepaMu dari berbagai kejahatan mereka�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan pula oleh Imam An Nawawi dalam Al Adzkar beliau riwayat Abu Dawud dan lain-lainnya dari Amer bin Syu'aib bin Muhammad bin Abdullah bin Amer bi Al Ash, dari bapaknya (yakni dari Syu'aib), dari kakeknya (yakni dari Abdullah bin Amer bin Al Ash), katanya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam mengajari para Shahabat beliau bila dalam ketakutan mengucapkan do'a demikian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tulis lafadl do'anya di Al Adzkar riwayat ke 259 halaman 181)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A'udzu Bi Kalimaatillahit Taammaati Min Ghadlabihi Wa Syarri �??Ibadihi Wa Min Hamadztis Syayathiin Wa An Yahdhurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Aku berlindung dengan Kalimat Allah (yakni berlindung dengan Omongan Allah Ta'ala) yang Maha Sempurna, dari KemurkaanNya, dan berlindung dari kejahatan hamba-hambaNya, dan juga berlindung kepadaNya dari berbagai bisikan syaithan dan aku berlindung kepadaNya dari bahaya hadirnya syaithan di tengah kami�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a yang terakhir ini juga diucapkan ketika akan tidur. Demikian Imam An Nawawi menerangkan dalam Al Adzkarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian do'a yang diajarkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala dalam berbagai kegentingan. Hafalkan dan fahami lafadl-lafadl do'a yang penting ini dan amalkan. Semoga anda termasuk hamba Allah yang cerdas, sehingga dapat melihat bukti perlindungan Allah terhadap hambaNya bila sang hamba memohon perlindungan kepadaNya. Amin Ya Mujibas sa'ilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sunan Abi Dawud, hadits ke 1537.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sunan Abi Dawud, hadits ke 3893, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya di hadits ke 3519, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya jilid 2 hal. 181, juga Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 1 hal. 548.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/a3NWJfIOK-Q" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-30T06:49:37.424+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/berlindung-kepada-allah-dari-kejahatan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Jihad Melawan Hawa Nafsu</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/vCIL8zqxnTE/jihad-melawan-hawa-nafsu.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Tue, 29 Apr 2008 16:46:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-4731842418206410464</guid><description>Jihad Melawan Hawa Nafsu&lt;br /&gt;Admin  28 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin minta bantuan untuk menginformasikan tentang hadits atau riwayat bahwa Nabi Shallallahu �??alaihi wa �??ala aalihi wasallam pernah bersabda tentang jihad al-nafs yang merupakan jihad akbar. Sedangkan jihad berperang adalah jihad ashghar. Ada orang yang menolak riwayat itu karena (katanya) sama sekali bukan hadits Nabi dan bisa menyebabkan umat Islam meremehkan jihad perang. Benarkah pendapat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Thariq Husain di bumi Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits anda riwayat yang anda tanyakan bunyinya demikian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Kita baru pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu.�??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disangka sabda Nabi Shallallahu �??alaihi wa �??ala aalihi wasallam ini beredar luas di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan para penganut aliran-aliran tasawuf. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Adapun hadits yang diriwayatkan oleh sebagian orang-orang tasawwuf itu yang menyebutkan bahwa Nabi bersabda dengan hadits tersebut ketika dalam perang Tabuk (kemudian beliau menukilkan bunyi hadits tersebut di atas), yang demikian ini adalah hadits yang tidak ada asalnya sama sekali dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari Ahli hadits. Bahkan sesungguhnya jihad memerangi orang-orang kafir adalah sebesar-besar amalan dan merupakan amalan yang paling utama yang dilakukan oleh seorang Muslim.�?? (Majmu�?? Fatawa jilid 11 hal. 197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hadits yang demikian, beredar luas di kalangan para penganut thariqah shufiyah (yakni aliran tasawwuf)? Hal ini karena memang mereka merendahkan amalan jihad dalam memerangi orang-orang kafir. Ibnu Taimiyah menerangkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Mereka ini berpandangan miring terhadap amalan jihad karena padanya ada resiko membunuh musuh, menawan tawanan dan merampas harta musuh. Mereka berpandangan bahwa Allah tidak memberikan kekuasaan kepada Nabi Daud `alaihis salam terhadap Masjidil Aqsha karena Nabi Daud tangannya telah menumpahkan darah manusia dalam peperangan demi peperangan.�?? (Majmu�?? Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 10 hal. 510).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian keterangan atau pendapat yang disampaikan kepada anda itu adalah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ustadz Ja'far Umar Thalib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/vCIL8zqxnTE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-30T06:46:00.194+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/jihad-melawan-hawa-nafsu.html</feedburner:origLink></item><item><title>Refleksi Hati</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/IH-F7BNc4H0/refleksi-hati.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Mon, 28 Apr 2008 19:54:47 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-5796395778454971759</guid><description>Refleksi Hati&lt;br /&gt;admin  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna ikhlas itu? dan bagaimana hukumnya jika seseorang mempunyai orientasi lain dalam beribadah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikhlaskan niat untuk Allah Ta�??ala maknanya ialah seseorang beribadah kepada Allah dengan tujuan mendekatkan diri (taqorrub) kepada-Nya dan untuk mengantarkannya ke surga-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun apabila dikatakan bahwa seseorang mempunyai orientasi lain dalam ibadahnya, maka disini terdapat perincian hukum atasnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, seseorang beribadah dalam rangka mendekatkan diri kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta�??ala dan juga berupaya mendapatkan sanjungan dan pujian dari manusia atas amalan yang telah dilakukannya. Maka amalan dalam kategori yang pertama ini sia-sia. Dan perbuatan yang demikian ini termasuk syirik kepada Allah. Dalam riwayat yang shahih dinyatakan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu �??anhu; bahwasanya Rasulullah Shallallahu �??Alaihi Wa �??Ala Aalihi Wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Allah Ta�??ala berfirman: �??Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu-sekutu dari segala bentuk persekutuan. Maka barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan dalam rangka menyekutukan Aku, sungguh Aku meninggalkan dirinya dan para sekutunya.�?? (HR. Muslim no. 2985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, seseorang beribadah dalam rangka menyalurkan ambisinya terhadap kesenangan duniawi; seperti kepemimpinan, kemegahan dan harta. Dan dia beramal dengan amalan ibadah tanpa disertai niat dan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta�??ala. Maka amalan dalam kategori yang kedua ini pun termasuk sia-sia. Allah Ta�??ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami akan berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka didunia dengan sempurna dan mereka didunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa di akhirat; kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah di usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan�??. (Huud: 15-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara amalan yang pertama dan kedua ialah bahwa yang pertama tujuannya untuk mendapatkan sanjungan dan pujian manusia pada amalan ibadahnya. Adapun yang kedua tidak mempunyai tujuan untuk itu, bahkan dia menganggap tidak begitu penting sanjungan dan pujian manusia ketika menjalankan segenap amalan-amalan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, seseorang beribadah kepada Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya dan juga disertai keinginan memperoleh tujuan duniawi sebagai hasilnya. Seperti orang yang melakukan thaharah (bersuci) dengan niat beribadah kepada Allah Ta�??ala dan juga disertai niatan lain yakni untuk menyegarkan badan dan menghilangkan keringat, atau seperti orang pergi haji disertai niat untuk menyaksikan tempat-tempat manasik haji dan melihat bukti-bukti bersejarah yang ada disana; maka perbuatan semisal ini dapat mengurangi pahala keikhlasan. Akan tetapi jika niat beribadah kepada Allah tersebut lebih dominan; maka sungguh telah luput darinya pahala yang sempurna. Dan perbuatannya itu tidaklah dianggap dosa bagi dirinya, sebagaimana firman Allah Ta�??ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhan-mu�??. (Al-Baqarah: 198)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika ternyata niatnya lebih cenderung ditujukan untuk selain beribadah kepada Allah, maka tidak ada pahala baginya diakhirat kelak, dan dia hanya mendapatkan ganjaran didunia. Aku merasa khawatir bahwa orang yang mempunyai niat seperti ini akan berdosa, karena dia menjadikan ibadah sebagai perantara untuk mendapatkan kesenangan duniawi yang tidak berharga, sebagaimana firman Allah Ta�??ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Dan diantara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah; jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah�??. (At-Taubah: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abu Dawud dinyatakan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu �??anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Bahwa seorang pria berkata kepada Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wa sallam, �??Ada seseorang yang ingin berjihad dijalan Allah akan tetapi dia juga menginginkan harta benda dari harta-harta dunia�??, maka berkata Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wa sallam: �??Tidak ada pahala baginya�?? (Rasulullah Shallallahu �??Alaihi Wa �??Ala Aalihi Wa Sallam mengulangi pernyataannya tersebut sebanyak tiga kali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi Shallallahu �??Alaihi Wa �??Ala Aalihi Wa Sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dicapainya atau kepada wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia upayakan dengannya�??. (HR. Abu Dawud no. 2516 dan Ahmad jilid 2/366)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kualitas niatnya sebanding yakni 50% dari kadar niatnya ditujukan untuk beribadah kepada Allah dan 50% lagi ditujukan untuk selain beribadah kepada Allah, maka disini perlu penelitian. Namun yang paling dekat ialah tidak ada pahala baginya sama seperti orang yang niat beramal untuk Allah dan juga untuk selain-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara contoh diatas dengan contoh sebelumnya (yang ketiga) ialah bahwa tujuan beribadah kepada selain Allah dalam contoh yang ketiga (ketika bersuci) akan memperoleh sesuatu yang tidak mungkin dihindari (yakni menyegarkan badan). Maka keinginannya ialah keinginan yang menghasilkan sesuatu secara tidak langsung. Dan seolah-olah terkesan bahwa dia menginginkan dari amalan yang dilakukannya itu untuk kepentingan dunia (menyegarkan badan). Jika dikatakan: �??Apa yang menjadi timbangan dalam contoh tersebut diatas bahwa niatnya lebih dominan ditujukan untuk beribadah kepada Allah atau sebaliknya?�?? Syaikh rahimahullah menjawab: yang dijadikan timbangan ialah apabila dia menganggap tidak perlu segala bentuk niatan selain ibadah; menghasilkan atau tidak, maka ini sebagai bukti yang menunjukkan bahwa niatnya dalam beribadah kepada Allah lebih dominan, begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil niat itu ialah apa yang terbetik didalam hati. Dan perkara niat ini memiliki pengaruh yang besar dan krusial. Niat terkadang dapat memuliakan seorang hamba hingga mencapai derajat Ash-Shiddiqiin (orang-orang yang jujur), dan juga terkadang dapat merendahkan derajat seorang hamba sehingga menjadi makhluk yang teramat hina, berkata sebagian Salaf:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Apa yang diupayakan diri dalam menempuh sesuatu, upayakanlah diatas keikhlasan�??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah agar menganugrahkan pada diri kita keikhlasan niat dan amalan yang shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majmu' Fatawa Wa Rasa'il, 1/98-100&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-'Utsaimin Rahimahullah&lt;br /&gt;Penterjemah : Fikri Abul Hassan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/IH-F7BNc4H0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-29T09:54:47.034+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/refleksi-hati.html</feedburner:origLink></item><item><title>Keutamaan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/UPSFCzco7BY/keutamaan.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Mon, 28 Apr 2008 19:51:07 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-8472518360031193534</guid><description>Keutamaan Istighfar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu �??anhu, bahwa Rasulullaah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari�??. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu �??anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullaah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Demi Allah, sesungguhnya aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari�??. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu �??anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta�??ala. Dan Allah mengampuni mereka�??. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar Radhiyallahu �??anhuma, ia berkata: �??Kami menghitung Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam membaca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Robbighfirlii watub �??alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim�?? (Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis�??. (HR. Abu Dawud &amp; At Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu �??Abbas Radhiyallahu �??anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka�??. (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas�??ud Radhiyallahu �??anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Barangsiapa yang berdoa: �??Astaghfirullaahalladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaihi�?? (Saya mohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Hidup, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertaubat kepada-Nya), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun lari dari perang�??. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi &amp; Al Hakim, Berkata Al Imam An Nawawi: hadits ini shahih berdasarkan syarat Al Bukhari &amp; Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Shalih Al �??Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu �??anhu: (�??Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati�??) yakni sesuatu yang membuat kalut pikiran dan perasaan Nabi Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam (�??dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari�??) kemudian Nabi Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam mengucapkan istighfar (astaghfirullah) dalam sehari sebanyak seratus kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan perangai Nabi Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam diatas, padahal Allah Subhanahu Wa Ta�??ala telah mengampuni dosa-dosa beliau Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam yang telah lalu dan yang akan datang, namun Nabi Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam tetap beristighfar memohon ampun kepada Allah. Maka bagaimana dengan kita? dimana kita memiliki hati yang keras, bahkan mati dan tidak terlintas rasa kurang baik dalam hati serta pikiran ketika melakukan dosa-dosa dan pelanggaran. Dan sungguh engkau akan dapati manusia sangat sedikit untuk menaruh perhatian dalam masalah ini. Oleh karena itu sudah semestinya bagi manusia meneladani perangai Nabi Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam yang mulia, yakni dengan banyak beristighfar sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Umar Radhiyallahu �??anhuma, �??Kami menghitung Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam membaca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Robbighfirlii watub �??alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim�?? (Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis�??. (HR. Abu Dawud &amp; At Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang diamalkan Nabi Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam, dan itu merupakan suatu kenikmatan dari Allah Subhanahu Wa Ta�??ala atas hamba-Nya ketika si hamba terpedaya untuk berbuat dosa dan kemudian beristighfar memohon ampun kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta�??ala. Dan Allah mengampuni mereka�??. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat diatas memberikan motivasi bagi manusia, agar mau bersungguh-sungguh dalam beristighfar dan memperbanyaknya. Karena dengan sebab itu manusia dapat mencapai derajat orang-orang yang suka beristighfar kepada Allah �??Azza Wa Jalla. Sebagaimana yang dinyatakan Abu Dawud dalam Sunan-nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�??Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Barangsiapa membiasakan beristighfar) yakni dalam keadaan terus-menerus beristighfar dan memperbanyaknya, maka akan menjadi sebab untuk melapangkan kesempitan dalam hidupnya dan memudahkan segala kesulitannya serta memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan Istighfar dan pujian serta motivasi bagi pelakunya sangatlah banyak. Maka wajib atasmu wahai saudaraku untuk memperbanyak istighfar. Yang paling banyak diucapkan: �??Allahummaghghfirli (Ya Allah ampunilah aku), Allahummarhamni (Ya Allah rahmatilah aku), Astaghfirullaaha wa atuubu �??ilaih (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya) dan lafadz-lafadz yang semisalnya. Semoga pada hari kiamat kelak engkau berjumpa dengan Allah dalam keadaan dijawab permohonanmu, dan Allah mengampunimu. Wallahul muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Bin Shalih Al 'Utsaimin Rahimahullaah&lt;br /&gt;Syarh Riyadhus Shalihin, Hal. 559 - 560&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/UPSFCzco7BY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-29T09:51:07.956+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/keutamaan.html</feedburner:origLink></item><item><title>ABAH: ISTRI SHOLIHAH PENYEJUK HATI</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/qiVaQJHTzYE/abah-istri-sholihah-penyejuk-hati.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 21:01:53 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-8368317343240638045</guid><description>&lt;a href="http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/istri-sholihah-penyejuk-hati.html"&gt;ABAH: ISTRI SHOLIHAH PENYEJUK HATI&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/qiVaQJHTzYE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-28T11:01:53.326+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/abah-istri-sholihah-penyejuk-hati.html</feedburner:origLink></item><item><title>ABAH</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/qb0FTLvJpfc/abah.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 20:23:30 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-8646961442058085038</guid><description>&lt;a href="http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/03/bismillah-renungan-untuk-suami-suami.html"&gt;ABAH&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/qb0FTLvJpfc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-28T10:23:30.695+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/abah.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kelembaban Wanita</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/0HUISkV_44A/kelembaban-wanita.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 22:34:59 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-1659355953950326950</guid><description>Ar-Ruthubah (Kelembapan Pada Kemaluan Wanita)&lt;br /&gt;Admin  15 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pertanyaan yang ditujukan ke meja redaksi melalui telpon ataupun surat, yang menanyakan tentang hukum kelembapan pada kemaluan wanita, apakah kelembapan itu sampai membasahi celana dalamnya itu dianggap najis atau suci menurut Syari'ah Islamiyah ?. Maka dari itulah, dalam pembahasan kali ini kami memilih topik yang berkenaan dengan masalah tersebut agar menjadi jelas masalahnya bagi segenap pembaca yang budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar Ruthuubah itu secara bahasa maknanya ialah kelembapan, dan yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah kondisi berair pada lubang vagina dan permukaan (yakni bagian luar) vagina tersebut. Kondisi berair itu kadang-kadang karena sedang memuncaknya gairah seksual pada wanita itu, atau karena penyakit keputihan yang banyak menjangkiti vagina (kemaluan) wanita. Cairan kelembapan tersebut kadang-kadang hanya berada di dalam vagina karena sangat sedikitnya. Tetapi kadang pula mengalir keluar sampai membasahi celana dalamnya. Al Imam An Nawawi dalam Al Majmu' Syarah Al Muhadzdzab jilid 2 halaman 526 menerangkan : �??Kelembapan pada kemaluan wanita itu dalam bentuk cairan berwarna putih yang bentuk cairannya seperti madzi atau sebagai keringat yang ada pada lubang vagina itu. Oleh karena itu telah terjadi perbedaan pendapat diantara para Ulama' dalam masalah ini�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkara ini yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama' adalah, apakah cairan kelembapan tersebut najis ataukah tidak ? dan apakah keluarnya cairan tersebut menyebabkan batalnya wudlu' ataukah tidak ? Berikut, kami bawakan perdebatan para Ulama' berkenaan silang pendapat di kalangan mereka serta keterangan tarjih (yakni penetapan mana yang lebih kuat dari berbagai pendapat itu). Agar kiranya dapat menjadi kejelasan ilmu bagi segenap pembaca yang budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Pendapat Para Ulama' :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan masalah ini masih berkaitan dengan silang pendapat berkenaan dengan najis atau tidaknya mani. Sehingga terdapat dua golongan pendapat yang masing-masingnya membangun pendapatnya di atas dalil-dalil yang diyakini masing-masingnya. Dua golongan pendapat tersebut adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Para Ulama' yang berpandangan najisnya cairan kelembapan itu, karena meyakini najisnya mani. Karena itu mereka mengatakan bahwa mani wanita itu tercampur pada cairan tersebut sehingga dikatagorikanlah cairan itu adalah benda najis. Diantara para yang termasuk berpendapat demikian ini adalah : Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit, Malik bin Anas dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Para Ulama' yang berpandangan tidak najisnya mani, berpandangan bahwa cairan kelembapan itu tidak najis juga. Karena buktinya mani Rasulullah shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam yang mestinya tercampur dengan cairan tersebut ketika bersetubuh dengan istrinya tidak dianggap najis oleh para istri beliau sehingga baju beliau yang terkena mani itu tidak dicuci oleh istri-istri beliau. Yang termasuk dalam kalangan Ulama' yang berpendapat demikian adalah : Muhammad bin Idris As Syafi'ie, Ahmad bin Hanbal dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perkara ini adalah merupakan perkara khilafiyah, maka tentunya harus ada upaya tarjih diantara berbagai pendapat itu dengan mempertimbangkan kekuatan dalil masing-masing pendapat itu. Karena kita hanya mengikuti dalil dalam berIslam dan yang dinamakan dalil itu adalah Al Qur'an dan Al Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini ada beberapa hadits yang menjadi dalil Syar'ie bagi kedua golongan Ulama' yang berbeda pendapatnya. Beberapa hadits tersebut adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Riwayat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu yang menerangkan bahwa seorang suami yang menyetubuhi istrinya tetapi tidak keluar mani, maka wajib bagi suami tersebut mencuci kemaluannya dan kemudian berwudlu'. Utsman menyatakan : �??Aku mendengar yang demikian itu dari Rasulullah shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam�??. Riwayat tersebut dibawakan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke : 292 dan Muslim juga dalam Shahihnya hadits ke 347/86. Dari riwayat ini dipahami oleh sebagian Ulama', bahwa perintah mencuci kemaluan pria itu menunjukkan najisnya cairan kelembapan pada vagina walaupun dia dalam bersetubuh itu tidak sampai keluar mani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Riwayat Ubay bin Ka'ab radhiyallahu anhu menyatakan bahwa beliau pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam : Wahai Rasulallah, bagaimanakah bila seorang pria bersetubuh dengan seorang wanita tetapi tidak sampai keluar mani ? Maka Rasulullah menjawab : Dia mencuci darinya apa yang menyentuh wanita itu kemudian berwudlu' dan shalat�??. HR. Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 293, Muslim dalam Shahihnya hadits ke 346/84.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits ini dipahami oleh sebagian Ulama' bahwa perintah Rasulullah shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam kepada Ubay untuk mencuci kemaluannya yang telah masuk pada vagina istrinya itu menunjukkan najisnya air kelembapan yang ada padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam bersabda : �??Apabila seorang pria telah menempati empat sisi tubuh wanita (yakni dalam posisi bersenggama dengannya -pent) kemudian memasukkan kemaluannya kepada kemaluan wanita itu, maka sungguh telah wajib mandi (yakni mandi junub -pent) atasnya�??. HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke 348/87. Dalam riwayat ini Imam Muslim menyatakan: �??Dalam hadits riwayat Mathrin disebutkan adanya pernyataan Nabi shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam : �?��?�Walaupun tidak keluar mani�??. Maksudnya ialah, wajib mandi junub atas keduanya walaupun tidak sampai keluar mani dalam persenggamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dibawakan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya hadits ke 350/89 dari riwayat A'isyah Ummul Mu'minin radhiyallahu anha, beliau memberitakan : �??Seorang pria bertanya kepada Nabi shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam tentang seorang suami yang bersenggama dengan istrinya, kemudian dia menghentikannya dalam keadaan belum keluar mani. Apakah diwajibkan atas suami istri itu untuk mandi junub ? A'isyah waktu itu duduk disamping beliau, maka beliaupun menjawab pertanyaan pria tersebut dengan mengatakan : Sesungguhnya aku telah melakukannya (yakni bersenggama) dengan istriku ini dalam keadaan tidak keluar mani, kemudian kami mandi junub setelah itu�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat-riwayat ini menunjukkan hukum wajibnya mandi junub atas pria dan wanita bila telah bersenggama dengan masuknya kepala kemaluan pria itu pada lubang kemaluan wanita, walaupun tidak keluar mani. Hukum tersebut tentunya berbeda dengan hukum yang diterangkan dalam riwayat-riwayat pertama dan kedua, yang tidak mewajibkan mandi junub bagi mereka yang bersenggama tetapi belum sampai keluar maninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Imam Muslim An Nisaburi rahimahullah membawakan riwayat, dari pernyataan Abul Ala ' bin As Syikhkhir, yang menjelaskan : �??Bahwa Rasulullah shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam menghapus hukum sebagian hadits beliau dengan hadits yang lainnya sebagaimana Al Qur'an yang menghapuskan sebagian hukum ayatnya dengan ayat yang lainnya�??. Shahih Muslim hadits ke 344/82.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam An Nawawi rahimahullah menerangkan, mengapa Imam Muslim membawakan riwayat ini di tengah berbagai riwayat yang bertentangan satu dengan yang lainnya itu. Beliau menjelaskan : �??Dan yang dimaukan oleh Imam Muslim dengan membawakan riwayat ini di sini, adalah untuk menegaskan keyakinannya bahwa hadits yang mengharuskan mandi wajib hanya bagi yang keluar mani dalam persenggamaannya itu adalah hadis yang telah terhapus hukumnya�??. Syarh Shahih Muslim oleh Al Imam An Nawawi jilid 1 halaman 31.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Al Imam At Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dalam Sunannya jilid 1 halaman 183 �?? 184 riwayat ke 110 &amp; 111 dari Az Zuhri dari Sahel bin Sa'ad yang mendengar Ubay bin Ka'ab mengatakan : �??Hanyalah ketentuan harus mandi junub bila keluar mani dalam persetubuhan, adalah sebagai ketentuan yang merupakan keringanan di awal masa diajarkannya pertama kali agama Islam. Kemudian setelah itu keringanan ini dihapus�??. Yakni semula kewajiban mandi junub hanya dikenakan atas pria dan wanita yang keluar mani dalam persetubuhannya, dan bila tidak keluar mani dalam persetubuhan itu, maka tidak wajib mandi junub. Melainkan hanya berwudlu dan mencuci batang kemaluannya yang telah masuk ke dalam lubang kemaluan wanita itu. Tetapi setelah itu, diwajibkan mandi junub atas pria dan wanita yang melakukan persetubuhan walaupun tidak keluar mani dalam persetubuhan itu. Demikian diterangkan oleh Al Imam At Tirmidzi setelah membawakan riwayat pernyataan Ubay bin Ka'ab tersebut, dan beliau mengatakan pula bahwa keterangan Ubay tersebut tentang penghapusan hukum keringanan itu tidak hanya diberitakan oleh Ubay, akan tetapi juga dibawakan pula oleh Shahabat Nabi yang lainnya. Yaitu Rafi' bin Khudaij dan lain-lainnya. Al Imam Ahmad Syakir rahimahullah menerangkan dalam memberikan catatan kaki terhadap riwayat At tirmidzi tersebut : �??Adapun riwayat yang menyatakan telah dihapusnya hukum keringanan tersebut, adalah riwayat yang telah pasti keshahihannya dengan beberapa hadits shahih yang telah disebutkan�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, hadits-hadits yang pertama dan ke dua adalah hadits-hadits yang telah mansukh (yakni terhapus hukumnya) dengan keterangan hadits ke tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari A'isyah radhiyallahu anha, bahwa beliau mengerik mani kering yang menempel pada baju Rasulillah shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam dengan kuku beliau kemudian Rasulullah menunaikan shalat dengan baju tersebut. Demikian diriwayatkan dalam Shahih Muslim juz 3 hal. 530 hadits ke 290/109.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menerangkan hadits ini Al Imam An Nawawi rahimahullah menegaskan : �??Sekelompok Ulama' telah berdalil dengan hadits ini, bahwa cairan kelembapan pada lubang vagina wanita itu adalah suci. Dan dalam perkara ini telah terjadi perbedaan pendapat yang telah dikenal di kalangan para Ulama', tetapi yang nyata adalah sucinya cairan kelembapan itu. Karena Nabi sallallahu alaihi waalihi wasallam tidak mungkin bermimpi yang mengakibatkan keluar mani, sebab mimpi yang demikian itu adalah permainan syaithan terhadap orang yang tidur. Oleh karena itu tidak mungkin mani kering yang menempel pada baju beliau itu kecuali adalah mani yang terpancar karena persetubuhan beliau dengan istrinya. Sehingga bisa dipastikan di sini, bahwa mani yang mengena baju beliau itu adalah mani yang telah melalui lubang vagina istri beliau yang tentunya tercampur dengan cairan kelembapannya kemudian keluar dari vagina itu dan mengenai baju beliau. Maka kalau seandainya cairan kelembapan pada vagina itu adalah najis, tentu mani yang mengena baju beliau itu adalah najis. Tetapi kenyataannya Rasulullah shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam membiarkan mani tersebut menempel pada bajunya dan tidak mencucinya, bahkan beliau mencukupkannya dengan mengeriknya, maka ini menunjukkan sucinya mani dan cairan kelembapan itu�??. Syarah Shahih Muslim jilid 3 halaman 531.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Abil Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al Mawardi rahimahullah menyatakan dalam Al Hawi Al Kabir jilid 1 halaman 259 : �??Dan sungguh telah diriwayatkan keterangan dari Al Imam Asy Syafi'ie di sebagian kitab-kitab beliau, bahwa beliau berpandangan tentang sucinya cairan kelembapan vagina wanita itu dan tidak wajib untuk dicuci seperti hukumnya mani (yang terkena baju)�??.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, setelah kita mendapat kepastian, dalil-dalil bagi Ulama' yang berpandangan tentang najisnya mani dan cairan kelembapan vagina wanita itu adalah dalil-dalil yang telah mansukh (yakni terhapus hukumnya). Sedangkan dalil-dalil bagi Ulama' yang berpandangan sucinya mani dan cairan kelembapan tersebut, tidak ada satu keteranganpun yang menggugurkannya, maka dengan penuh keyakinan, kita cenderung kepada pendapat Ulama' yang menyatakan sucinya mani dan cairan kelembapan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pula, para wanita tidak wajib mencuci celana dalamnya yang terkena cairan itu dan boleh menggunakannya untuk shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P e n u t u p :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah kita terangkan sebelumnya, bahwa segala sesuatu itu hukum asalnya adalah suci, kecuali bila ada keterangan dari Al Qur'an dan Al Hadits yang menegaskan najisnya, barulah sesuatu itu dianggap najis. Demikian juga tentunya tentang permasalahan Ar Ruthubah ini, dalil-dalil yang dijadikan landasan oleh para Ulama' yang berpandangan dengan kenajisannya, adalah hadits-hadits yang telah mansukh walaupun dari segi sanad ia adalah hadits-hadits yang sangat meyakinkan keshahihannya. Oleh karena itu, seandainya tidak ada keterangan dari perbuatan para istri Nabi shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam, maka Ar Ruthubah itu adalah suci. terlebih lagi adanya keterangan dari A'isyah Ummul Mu'minin yang mengisyaratkan bahwa Ar Ruthubah itu adalah perkara suci dan bukan najis. Wallahu a'lamu bis shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/0HUISkV_44A" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-27T12:34:59.898+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/kelembaban-wanita.html</feedburner:origLink></item><item><title>Garis Antara Wali Allah &amp; Wali Syaithan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/jPZcPGz6D1k/garis-antara-wali-allah-wali-syaithan.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 22:09:25 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-1223100102112618437</guid><description>&lt;span class="text_1"&gt;&lt;b&gt;Garis Antara Wali Allah &amp;amp; Wali Syaithan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tanya :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mendapat cerita di kampung bahwa orang itu bisa melakukan kontak batin dengan orang lain walaupun tempatnya berjauhan. Seperti dia pernah menyatakan bahwa dia biasa ketemu orang di Mekah, padahal orang tersebut ada di kampungnya sendiri di Indonesia. Bagaimana pandangan Islam tentang hal ini, apakah yang demikian itu memang bisa terjadi pada seseorang ?&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nur Wahidah di bumi Allah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Segala keanehan pada seseorang itu sebabnya bisa jadi karena ketha�??atan orang itu kepada Allah dan RasulNya, atau bisa jadi pula karena ketha�??atannya kepada syaithan. Bila keanehan pada seseorang itu muncul karena ketha�??atannya menjalankan Kitabullah (Al Qur�??an) dan Sunnah RasulNya (Al Hadits), maka keanehan itu dinamakan &lt;em&gt;Karomah&lt;/em&gt; sebagai anugerah dari Allah Ta�??ala. Tetapi bila berbagai keanehan pada seseorang itu muncul dalam keadaan orang tersebut tenggelam dalam berbagai amalan bid�??ah, syirik, dan berbagai bentuk amalan kema�??siatan kepada Allah, maka semua keanehan itu dinamakan &lt;em&gt;sihir&lt;/em&gt; karena dibantu oleh syaithan. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah Ta�??ala dan RasulNya dalam Al Qur�??an dan Al Hadits sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu adalah mereka yang tidak dijangkiti oleh rasa takut dan tidak pula diganggu oleh rasa sedih. Yaitu mereka yang beriman dan bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akherat. Tidak akan ada perubahan pada ketentuan Allah. Yang demikian itu adalah keberhasilan yang besar�??. (S. Yunus 62 �?? 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Abu Ja�??far Ibnu Jarir At Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam tafsir beliau sebuah hadits Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang menyatakan :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Sesungguhnya dari hamba-hamba Allah, ada orang-orang yang para Nabi dan para Syuhada�?? (yakni orang-orang yang terbunuh dalam membela agama Allah �?? pent)�??. Para Shahabat beliau bertanya : �??Siapakah mereka wahai Rasulullah, barang kali kami bila mengenal mereka, kami akan mencintai mereka ?�??. Maka Rasulullahpun menjawab : �??Mereka itu adalah kaum yang saling menyinta di jalan Allah bukan karena harta dan bukan pula karena nasab turunan. Wajah mereka dari cahaya dan mereka ditempatkan di atas panggung yang diciptakan dari cahaya. Mereka itu tidak merasa takut ketika keumuman orang takut dan mereka tidak bersedih ketika keumuman orang bersedih�?? , kemudian beliau membacakan (ayat 62 �?? 64 S. Yunus).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bila pada orang-orang yang demikian ini terjadi kejadian-kejadian aneh, apakah dalam bentuk mampu berkomunikasi dari jarak yang sangat jauh ataukah berbagai keanehan lainnya, maka yang demikian itu dinamakan &lt;em&gt;Karamah&lt;/em&gt; sebagai anugerah, pertolongan dan perlindungan dari Allah kepadanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu �??Alaihi Wa �??Ala Aalihi Wasallam sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Takutlah kamu dari firasatnya orang Mu�??min, karena dia melihat dengan cahaya Allah�??. (HR. Abu Nu�??aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 6 halaman 118, juga diriwayatkan oleh At Thabrani dalam Al Mu�??jamul Kabir jilid 8 halaman 102 hadits ke 7497 dari Abi Umamah radhiyallahu anhu. Al Imam Ibnu Hajar Al Haitsami dalam kitabnya Majma�??uz Zawa�??id jilid 10 halaman 268 menilai, bahwa hadits ini sanadnya hasan).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Juga telah diberitakan oleh  Rasulullah Shallallahu �??Alaihi Wa �??Ala Aalihi Wasallam sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Tidak henti-hentinya hambaKu mendekat kepadaKu dengan mengamalkan ibadah-ibadah sunnah, sehingga Aku mencintainya. Maka bila Aku telah mencintainya, maka Aku yang menjadi pendengarannya ketika dia mendengar. Dan Aku yang menjadi penglihatannya ketika dia melihat, dan Aku yang menjadi tangannya ketika dia menggunakan tangannya, dan Aku yang menjadi kakinya ketika dia berjalan, maka dengan Aku dia mendengar dan dengan Aku dia melihat, dengan Aku dia menggerakkan tangannya, dan dengan Aku dia berjalan. Dan bila dia meminta kepadaKu, maka Aku akan memberinya. Bila dia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Akupun akan melindunginya. Dan Aku tidak pernah ragu dalam suatu perkara yang Aku lakukan, seperti keraguanKu ketika Aku mencabut nyawa hambaKu yang Mu�??min ini. Dia tidak suka mati, dan Aku tidak suka menyakitinya, padahal mati itu adalah suatu perkara yang harus terjadi padanya�??. (HR Bukhari dan lainnya).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun berbagai keanehan pada orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya, maka yang demikian itu adalah bantuan setan sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Allah Ta�??ala dalam firmanNya sebagai berikut : &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt; &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Dan setan itu hanyalah menakut-nakuti para pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah kamu takut kepada para setan itu. Akan tetapi kalian hendaknya takut kepadaKu saja bila kamu memang orang-orang yang beriman�??. S. Al Imran 175.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Juga Allah menegaskan betapa setan itu disamping menakut-nakut para pengikutnya, dia selalu membimbing para pengikutnya dengan berbagai ilmu yang diilhamkan kepadanya :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Dan sesungguhnya setan itu mengilhamkan kepada para pengikutnya untuk mendebat kalian. Dan bila kalian menta�??ati para pengikut setan itu, niscaya jadilah kalian sebagai orang-orang yang musyrik (yakni berbuat syirik)�??. S. Al An�??am 121.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi menilai seseorang dalam hal munculnya berbagai keanehan pada dirinya itu, ialah dengan menilai sejauh mana penampilan dhahir dia dalam menjalankan Al Qur�??an dan As Sunnah. Maka dengan demikian, barulah diketahui bahwa dia sebagai wali Allah (yakni kekasih Allah) atau dia itu wali setan (yakni kekasih setan).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/jPZcPGz6D1k" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-27T12:09:25.240+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/garis-antara-wali-allah-wali-syaithan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Syirik Sumber Malapateka &amp; Kedzaliman</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/M3WUQKHrqGA/syirik-sumber-malapateka-kedzaliman.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 22:01:31 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-8539602549193351120</guid><description>&lt;span class="text_1"&gt;&lt;b&gt;Syirik Sumber Malapateka &amp;amp; Kedzaliman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syirik adalah menjadikan sekutu atau tandingan selain Allah Ta'ala dalam perkara rububiyahNya (meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya pihak yang mencipta, memberi rizki dan mengatur segala urusan, -red) dan uluhiyahNya (meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya pihak yang berhak disembah). Keumuman yang terjadi ditengah masyarakat kita ialah syirik dalam perkara uluhiyahNya; seperti berdoa kepada Allah dan bersamaan dengan itu juga berdoa kepada selainNya, atau memalingkan niat kepada sesuatu dalam melakukan peribadatan seperti penyembelihan, nazar, takut, berharap dan cinta. Perbuatan syirik ini merupakan dosa yang paling besar diantara dosa-dosa yang ada, dengan alasan dan sebab sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang pertama, karena sesungguhnya dengan perbuatan syirik itu seorang hamba telah menyerupakan atau mensejajarkan Allah dengan makhluk dalam kekhususan uluhiyahNya. Maka barangsiapa yang berbuat kesyirikan berarti secara langsung maupun tidak, dia mempunyai anggapan bahwa Allah sejajar dengan makhlukNya. Dan yang demikian ini merupakan satu tindakan yang sangat dzalim dari berbagai kedzaliman yang ada. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya perbuatan syirik itu merupakan kedzaliman yang besar". &lt;strong&gt;(Luqman: 13) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedzaliman itu maknanya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Maka barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah berarti dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya yakni memalingkan peribadatan kepada pihak yang tidak berhak atasnya untuk disembah, sungguh hal ini merupakan puncak kedzaliman.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua, Allah Ta'ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik bagi orang yang belum sempat bertaubat atas perbuatannya. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik itu dan Dia mengampuni perbuatan selain syirik bagi siapa yang dikehendakiNya". &lt;strong&gt;(An Nisa: 48) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia mengharamkan surga atas orang yang berbuat kesyirikan (musyrik) dan baginya kekekalan di neraka jahannam. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga atasnya, dan tempatnya adalah di neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun". &lt;strong&gt;(Al Ma'idah: 72) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ke-empat, perbuatan syirik ini menjadi sebab gugurnya segenap amalan sholeh yang pernah dilakukan. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Seandainya mereka memepersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan". &lt;strong&gt;(Al An'am: 88) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah Ta'ala juga berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, jika kamu mempersekutukan (Allah) niscaya akan gugurlah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". &lt;strong&gt;(Az Zumar: 65) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelima, bahwa orang-orang yang berbuat syirik (musyrikin) halal darahnya untuk ditumpahkan dan halal hartanya untuk dirampas. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Maka bunuhlah kaum musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah mereka ditempat pengintaian". &lt;strong&gt;(At Tawbah: 5) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah 'Alaihish Sholaatu Wassalam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka menyatakan Laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah), maka apabila mereka telah menyatakannya; sungguh telah terjaga darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali dengan haknya (yakni hak syahadat tersebut, -red)". &lt;strong&gt;(HR. Bukhori &amp;amp; Muslim) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ke-enam, bahwa syirik merupakan dosa besar yang paling besar, Rasulullah 'Alaihish Sholaatu Wassalam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Maukah aku beritakan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?�?? (jawab para shahabat): �??Tentu yaa Rasulallah�??, kemudian Rasulullah 'Alaihish Sholaatu Wassalam menerangkan: �??Yaitu berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua". &lt;strong&gt;(HR. Bukhori &amp;amp; Muslim) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al 'Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam &lt;em&gt;Al Jawaabul Kaafi hal.109 &lt;/em&gt; beliau menyatakan: bahwa Allah Ta'ala telah mengabarkan kepada kita tentang tujuan penciptaan dan perintah; yaitu untuk mengenal nama-namaNya yang Maha Agung dan sifat-sifatNya yang Maha Mulia dan perintah hanya beribadah kepadaNya semata serta berlepas diri dari kesyirikan. Dengan demikian manusia dapat menegakkan keadilan yakni keadilan yang tegak dilangit dan dibumi. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan), supaya manusia dapat menegakkan keadilan". &lt;strong&gt;(Al Hadiid: 25) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabarkan bahwa Dia mengutus para RasulNya dan menurunkan kitabNya; agar manusia mau menegakkan keadilan yaitu &lt;em&gt;At Tauhid &lt;/em&gt; menjadikan Allah sebagai satu-satunya pihak yang berhak disembah dalam segala peribadatan dan yang demikian ini merupakan puncak keadilan. Adapun kesyirikan sebagai puncak kedzaliman. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya perbuatan syirik itu merupakan kedzaliman yang besar".&lt;strong&gt; (Luqman: 13) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa syirik merupakan puncak kedzaliman dan tauhid merupakan puncak keadilan. Dan perbuatan syirik merupakan dosa besar yang paling besar; karenanya Allah mengharamkan surga atas kaum musyrikin, kemudian menghalalkan darah dan harta mereka untuk ditumpahkan dan dirampas, serta menjadikan keluarga mereka sebagai hamba sahaya (budak) bagi orang-orang yang bertauhid. Dengan sebab itulah Allah Subhanahu Wa Ta'ala enggan menerima amalan orang-orang yang hidupnya penuh dengan kesyirikan, Allah enggan memberikan kepada mereka syafa'at, enggan mengabulkan doa-doa mereka diakhirat kelak dan enggan untuk menerima harapan mereka. Karena sesungguhnya mereka ini adalah sebodoh-bodoh manusia yang paling bodoh tentang Allah; yaitu ketika mereka mencoba untuk menjadikan makhluk-makhlukNya sebagai sekutu dan tandingan-tandingan selainNya. Walhasil ini merupakan tindakan yang sangat dungu dan dzalim, yakni kedunguan dan kedzaliman atas diri-diri mereka sendiri kaum musyrikin.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan yang terakhir, bahwa kesyirikan sebagai bentuk kekurangan dan keaiban, dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mensucikan diriNya dari kedua hal tersebut. Dengan demikian barangsiapa berbuat kesyirikan, sungguh dia telah menganggap bahwa Allah tidaklah mensucikan diriNya dari segala kekurangan dan keaiban. Anggapan yang demikian ini merupakan penyimpangan yang dahsyat dan bentuk pembangkangan terhadap apa yang telah Allah tetapkan. (Bersambung, Insya Allah klasifikasi syirik).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="text_1"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Klasifikasi Syirik : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syirik terbagi menjadi dua jenis :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jenis yang pertama ialah &lt;em&gt;Syirik Akbar &lt;/em&gt; (syirik besar). Konsekuensi dari perbuatan syirik besar ini dapat mengeluarkan seseorang dari agamanya, dan jika pelakunya mati dan belum sempat bertaubat daripadanya, maka kekekalan baginya di neraka.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syirik besar ialah memalingkan niat dan tujuan dalam segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Seperti berdoa, bertaqorrub (mendekatkan diri), penyembelihan serta nazar yang diniatkan dan ditujukan untuk selain Allah; dalam wujud kuburan-kuburan, para jin dan para syaithon. Demikian juga dalam hal ini ialah takut dari jin dan para syaithon, dengan anggapan bahwa mereka ini secara mutlak dapat mematikan atau mendatangkan kemudhorotan dan menjadikan diri seseorang sakit karenanya. Juga termasuk berharap kepada pihak atau oknum selain Allah dalam perkara yang tidak mempunyai kemampuan dan kekuasaan atasnya kecuali Allah; seperti minta dipenuhi kebutuhannya atau minta dihindari dari segala kesusahan dan kesulitan hidup. Sebagaimana yang kerap terjadi dulu dan sekarang yaitu banyak orang mendatangi kuburan-kuburan para wali atau orang-orang sholih dalam rangka berharap agar kiranya dapat terpenuhi segala kebutuhan hidupnya dan menghindarkannya dari segala bentuk kesusahan dan kesulitan. Allah Ta'ala berfirman :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Dan mereka menyembah kepada selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudhorotan bagi mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: �??Mereka itu adalah pemberi syafa'at kami disisi Allah &lt;strong&gt;�??. (Yunus: 18) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Jenis yang kedua ialah &lt;em&gt;Syirik Ashghor &lt;/em&gt; (syirik kecil). Syirik model yang ke-dua ini tidaklah mengeluarkan pelakunya dari agamanya, akan tetapi berdampak pada ketauhidannya yang akan semakin terkikis dan menipis. Syirik kecil ini mempunyai peranan sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan seseorang kepada syirik besar.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Syirik kecil terbagi menjadi dua jenis: &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang pertama, &lt;em&gt;Syirik Dzohir &lt;/em&gt; (syirik yang tampak). Dikatakan dzohir (tampak) karena dapat terdeteksi oleh panca indera kita; seperti dalam bentuk lafadz pernyataan atau perbuatan-perbuatan. Realisasi dari bentuk lafadz pernyataan ialah seseorang bersumpah dengan nama selain Allah. Rasulullah �??Alaihish sholaatu wassalam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka sungguh dia telah kufur atau berbuat syirik�??. &lt;strong&gt;(HR. Tirmidzi dengan sanad yang hasan dan di shohihkan oleh Al Hakim) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan juga pernyataan seseorang yang menyatakan: �?? &lt;em&gt;Atas kehendak Allah dan kehendakmu &lt;/em&gt;�?? &lt;em&gt; (masya Allah wa syi'ta) &lt;/em&gt;, Rasulullaah �??Alaihish sholaatu wassalam ketika mendengar pernyataan itu berkata: �?? &lt;em&gt;Apakah engkau mau menjadikan aku sebagai tandingan-tandingan selain Allah! &lt;/em&gt; Katakan: �?? &lt;em&gt;Atas kehendak Allah saja &lt;/em&gt;�?? &lt;em&gt;(masya Allah wahdah) &lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Juga pernyataan �??&lt;em&gt;Seandainya jika bukan karena Allah dan kamu &lt;/em&gt;�??; maka pernyataan yang benar ialah: &lt;em&gt;�??Atas kehendak Allah kemudian kehendak kamu�??, &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;�??Seandainya jika bukan karena Allah kemudian karena kamu�?? &lt;/em&gt;. Karena kata &lt;em&gt;kemudian &lt;/em&gt;menunjukkan urutan. Yakni menjadikan kehendak seorang hamba itu mengikuti kehendak Allah, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Dan tidaklah kamu dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam�??. &lt;strong&gt;(At Takwir: 29) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun kata &lt;em&gt;�??dan�?? &lt;/em&gt;dalam pernyataan diatas ( &lt;em&gt;Atas kehendak Allah &lt;strong&gt;dan&lt;/strong&gt; kehendakmu &lt;/em&gt;) menunjukkan kesetaraan yakni bukan urutan; seperti pernyataan �?? &lt;em&gt;Kecuali Allah dan kamu &lt;/em&gt;�?? atau �?? &lt;em&gt;Keberkahan dari Allah &lt;strong&gt; dan&lt;/strong&gt; kamu &lt;/em&gt;�??.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian realisasi dari bentuk perbuatan ialah seperti seseorang memakai gelang atau benang dengan anggapan bahwa jika mengenakan kedua benda tersebut dapat terhindar dari segala malapetaka (bala') dan kerusakan, atau bahkan diyakini dapat menolaknya. Juga seperti menggantungkan jimat-jimat (tamimah) karena takut terkena �??pandangan�?? (�??ain) yang dapat merusak dan semisalnya. Maka dalam hal ini, apabila seseorang mempunyai keyakinan bahwa benda-benda tersebut diatas sebagai sebab-sebab yang dapat menolak bala'; maka ini termasuk syirik kecil. Adapun jika diyakini bahwa benda-benda tersebut dapat menolak bala' dengan sendirinya (yakni bukan sebagai sebab) maka yang demikian ini termasuk syirik besar, karena sesungguhnya dia telah menggantungkan dirinya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jenis yang kedua dari syirik kecil ini ialah &lt;em&gt;Syirik Khofiy &lt;/em&gt; (syirik yang tersembunyi). Seperti syirik dalam hal niat dan tujuan; contohnya perbuatan&lt;em&gt; riya'&lt;/em&gt; (seseorang niat beribadah untuk Allah dan juga diperuntukkan untuk selain Allah yakni mempunyai niatan ingin &lt;em&gt;show&lt;/em&gt; -unjuk diri atau pamer- sehingga menjadi perhatian orang banyak ketika menjalankan amalan-amalan ibadah), &lt;em&gt;sum'ah&lt;/em&gt; (seseorang niat beribadah untuk Allah dan juga diperuntukkan untuk selain Allah yakni mempunyai niatan ingin didengar orang ketika menjalankan amalan-amalan ibadah). Sama halnya seperti orang yang berniat melakukan suatu amalan untuk Allah dan juga disertai niat untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia; seperti mendramatisir sholatnya, dzikirnya dan bacaan qur'annya (tilawah), sehingga terkesan lebih bagus dan menarik perhatian banyak orang atau bersedekah dengan niatan mendapatkan pujian dan sanjungan handai taulan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perbuatan riya' semacam ini merupakan bentuk bercabangnya niat dalam melakukan suatu amalan, sehingga dengan sebab ini amalan yang telah dilakukannya menjadi gugur dan sia-sia belaka. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-Nya, maka hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholih dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya�??. &lt;strong&gt;(Al Kahfi: 110) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasulullaah �??Alaihish sholaatu wassalam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�?? &lt;em&gt;Yang paling aku takutkan atas kalian ialah syirik kecil &lt;/em&gt;�??. (para shahabat bertanya): �?? &lt;em&gt;Wahai Rasulullah apa yang dimaksud syirik kecil itu &lt;/em&gt;�??? (Rasulullaah �??Alaihish sholaatu wassalam menjawab: �?? &lt;em&gt;Ar Riya' &lt;/em&gt; �??. &lt;strong&gt; (HR. Ahmad, Ath Thobroniy dan Al Baghowi dalam Syarhus Sunnah) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan juga dalam hal ini termasuk seseorang beramal karena serakah (tamak) dengan dunia.. seperti dia beramal (mengajarkan ilmu syar'i atau berjihad) untuk Allah juga disertai niatan untuk memperoleh dunia, harta dan kekayaan. Rasulullaah �??Alaihish sholaatu wassalam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Sungguh celaka hamba dinar, celaka hamba dirham dan celaka hamba khomilah (pakaian kemegahan), jika diberi ia senang dan jika tidak diberi ia marah�??. &lt;strong&gt; (HR. Al Bukhori) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: �??Syirik dalam hal niat dan tujuan bagai samudera tak bertepi dan sangat sedikit sekali orang yang selamat daripadanya�??. Maka barangsiapa yang beramal dengan niat dan tujuan untuk selain wajah Allah dan juga menuntut pamrih dari seseorang, sungguh dia telah berbuat kesyirikan. Sedangkan &lt;em&gt; Al Ikhlas &lt;/em&gt;maknanya ialah memurnikan niat beribadah kepada Allah dalam segenap perkataan, perbuatan, niat serta tujuan. Dan inilah yang dinamakan sikap&lt;em&gt;Hanif &lt;/em&gt; yakni monoloyalitas (kecenderungan total) kepada Allah dan apa-apa yang dicintai oleh Allah. Sikap hanif ini yang di usung nabiyullah Ibrahim �??Alahissalaam, dan Allah memerintahkan segenap hambaNya untuk mempunyai mental hanif dengan mengikuti napak tilas nabiyullah Ibrahim �??Alaihissalaam. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan hambaNya jika tidak didasari mental hanif tersebut, &lt;strong&gt;inilah hakikat syari'at Islam yang sesungguhnya&lt;/strong&gt;. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;�??Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi�??. &lt;strong&gt;(Al �??Imron: 85) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Demikian gambaran agama Nabi Ibrahim �??Alaihissalaam, maka barangsiapa yang membencinya; ketahuilah bahwa dia sebodoh-bodoh manusia. &lt;strong&gt;(Al Jawaabul Kaafi hal 115) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berikut ringkasan pembahasan diatas, perbedaan antara syirik besar dan syirik kecil:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syirik besar dapat mengeluarkan seseorang dari agamanya, sedangkan syirik kecil tidaklah mengeluarkan seseorang dari agamanya.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Syirik besar mengekalkan pelakunya dineraka jika dia mati dan belum sempat bertaubat daripadanya, namun syirik kecil tidaklah mengekalkan pelakunya dineraka. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syirik besar dapat menggugurkan segenap amalan-amalan sholih yang pernah dilakukannya, adapun syirik kecil hanya menggugurkan amalan-amalan riya', sum'ah dan semisalnya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelaku syirik besar boleh untuk ditumpahkan darahnya dan dirampas hartanya, sedangkan pelaku syirik kecil tidaklah demikian. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="style45"&gt;&lt;strong&gt;Kitabut Tauhid&lt;/strong&gt; Hal. 9-10&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="style45"&gt; &lt;strong&gt;Syaikh                                      &lt;strong&gt;Sholih Bin Fawzan Al Fawzan &lt;/strong&gt; &lt;/strong&gt; Hafidzohullah&lt;br /&gt;Penterjemah : Fikri Abul Hassan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="style45"&gt; &lt;strong&gt;Kitabut Tauhid&lt;/strong&gt; Hal. 9-10&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="style45"&gt; &lt;strong&gt;Syaikh                                      &lt;strong&gt;Sholih Bin Fawzan Al Fawzan &lt;/strong&gt; &lt;/strong&gt; Hafidzohullah&lt;br /&gt;Penterjemah : Fikri Abul Hassan &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/M3WUQKHrqGA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-27T12:01:31.322+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/syirik-sumber-malapateka-kedzaliman.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mutiara Akhlaq</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/K3KnfzH-g7Q/mutiara-akhlaq.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 21:54:42 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-1793454323112733588</guid><description>&lt;span class="text_1"&gt;&lt;b&gt;Mutiara Akhlaq&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="tanggal" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhlaq itu maknanya ialah perangai atau sikap zahir ataupun batin pada diri manusia. Sedangkan perangai atau sikap itu baik dhahir maupun batin berkaitan dengan apa yang diistilahkan dengan &lt;em&gt;hablum minallah &lt;/em&gt;(hubungan dengan Allah Ta'ala) dan &lt;em&gt;hablum minan nas &lt;/em&gt; (hubungan dengan sesama manusia). Allah Ta'ala telah menegaskan prinsip akhlaq dalam kerangka &lt;em&gt;hablum minallah &lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hablum minan nas &lt;/em&gt; ini dalam firman-Nya sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Mereka telah ditimpa kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali bila mereka menyambung hubungan dengan Allah ( &lt;em&gt;hablum minallah &lt;/em&gt;) dan dengan sesama manusia ( &lt;em&gt;hablum minannas &lt;/em&gt;). Dan mereka juga ditimpa dengan kemurkaan dari Allah dan ditimpa pula oleh kemiskinan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi-nabi dengan tidak benar. Yang demikian itu karena akibat dari kedurhakaan yang mereka lakukan dan mereka adalah orang yang melampaui batas.�?? ( &lt;strong&gt;Ali Imran &lt;/strong&gt;: 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini memberitakan berbagai malapetaka yang telah menimpa Bani Israil sebagai akibat dari berbagai kedurhakaan mereka kepada Allah dan kepada para Nabi-Nabi-Nya, sehingga mereka harus mengalami malapeteka kehinaan, kemiskinan, dan kemurkaan dari Allah. Maka telah diberitakan oleh-Nya bahwa jalan keluar dari segala malapetaka yang mengepung mereka itu adalah dengan membangun kembali &lt;em&gt;hablum minallah &lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hablum minan-nas. &lt;/em&gt; Sehingga jadilah keduanya sebagai kerangka akhlaq dalam membangun kehidupan yang seutuhnya bagi masyarakat manusia di dunia ini. Oleh karena itu kita harus mengerti apa sesungguhnya &lt;em&gt;hablum minallah &lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hablum minan nas &lt;/em&gt; itu, untuk mengerti kerangka &lt;em&gt;akhlaqul karimah &lt;/em&gt; (akhlaq yang mulia) dan kemudian kriterianya pula yang kita pahami dari Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shalih.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PENGERTIAN &lt;em&gt;HABLUM MINALLAH &lt;/em&gt; DAN &lt;em&gt;HABLUM MINAN-NAS &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kalau dimaknakan secara bahasa, &lt;em&gt;hablum minallah &lt;/em&gt; itu adalah hubungan dengan Allah dan &lt;em&gt;hablum minan-nas &lt;/em&gt; adalah hubungan dengan manusia. Akan tetapi dalam pengertian istilah &lt;em&gt;syari'ah &lt;/em&gt; maknanya adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1). &lt;em&gt;Hablum minallah &lt;/em&gt;, maknanya ialah perjanjian dari Allah. Yaitu masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan akherat. Atau tunduk kepada pemerintahan Muslimin dengan jaminan dari pemerintah itu sebagaimana yang diatur oleh Syari'ah dalam perkara hak dan kewajiban orang &lt;em&gt;kafir dzimmi &lt;/em&gt; (yaitu orang kafir yang menjadi warga negara Islam) untuk mendapatkan jaminan perlindungan hak-haknya sebagai manusia di dalam kehidupan dunia saja, dan mendapat ancaman adzab di akhirat. (Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir At-Thabari &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tafsir Al-Baghawi &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;&lt;/em&gt;dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir Ibnu Katsir &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; tentang pengertian surat Ali Imran 112).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;2). &lt;em&gt;Hablum minan-nas &lt;/em&gt;, maknanya ialah perjanjian dari kaum Mukminin dalam bentuk jaminan keamanan bagi orang kafir dzimmi dengan membayar upeti bagi kaum Mukminin melalui pemerintahnya untuk hidup sebagai warga negara Islam dari kalangan minoritas non Muslim. Atau dengan bahasa lain ialah dalam berinteraksi dengan sesama manusia, maka jaminan yang bisa dipercaya hanyalah dari kaum Muslimin yang dibimbing oleh Syari'at Allah Ta'ala. &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dengan demikian, &lt;em&gt;akhlaqul karimah &lt;/em&gt; dibangun di atas kerangka hubungan dengan Allah melalui perjanjian yang diatur dalam Syari'at-Nya berkenaan dengan kewajiban menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan juga kerangka hubungan dengan sesama manusia melalui kewajiban menunaikan hak-hak sesama manusia baik yang muslim maupun yang kafir. Dari kerangka inilah kemudian diuraikan kriteria &lt;em&gt;akhlaqul karimah &lt;/em&gt;. Hak-hak Allah itu ialah mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain-Nya. Yaitu menunaikan &lt;em&gt;tauhidullah &lt;/em&gt; dan menjauhi &lt;em&gt;syirik &lt;/em&gt;, mentaati Rasul-Nya dan menjauhi &lt;em&gt;bid'ah &lt;/em&gt; (yakni penyimpangan dari ajarannya). Dan inilah sesungguhnya prinsip utama bagi &lt;em&gt;akhlaqul karimah &lt;/em&gt;, yang kemudian dari prinsip ini akhlaq Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;dipuji dan disanjung oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Dan sesungguhnya engkau (hai Muhammad) di atas akhlaq yang agung.�?? ( &lt;strong&gt;Al-Qalam &lt;/strong&gt;: 4)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt; menerangkan tentang ayat ini:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Dan adapun akhlaq yang agung yang Allah terangkan bahwa ia itu ada pada Muhammad &lt;em&gt; shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;, pengertiannya adalah pengamalan segenap ajaran agama ini, yaitu segenap apa yang Allah perintahkan dengan mutlak.�?? ( &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Majmu' Fatawa &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Ibnu Taimiyah jilid ke 10 halaman 658).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dalam pengertian yang demikian inilah akhlaq Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;sebagai penafsiran yang sah bagi ajaran Allah yang ada di dalam Al-Qur'an, sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Aisyah Ummul Mu'minin &lt;em&gt;radliyallahu `anha &lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Akhlaq Rasulullah itu adalah Al-Qur'an.�?? (HR. &lt;strong&gt;Muslim &lt;/strong&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt; dalam kitabnya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Aadaab Asy-Syar'iyyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; menerangkan tentang pengertian daripada pernyataan A'isyah ini sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Maksudnya ialah, bahwa beliau berpegang dengan adab-adab yang diajarkan oleh Al-Qur'an, dan segenap perintah yang ada padanya dan juga segenap larangannya, juga berpegang dengan apa yang dikandunginya dari kemuliaan akhlaq dan kebaikan perangai serta kelembutan.�?? ( &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Aadaab Asy-Syar'iyyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, jilid ke dua hal. 194).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Bahkan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;menyatakan:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Sesungguhnya seorang Mu'min itu akan bisa mencapai derajat amalan puasa dan shalat malam dengan memiliki akhlaq yang baik.�?? (HR. &lt;strong&gt;Abu Dawud &lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya, &lt;em&gt;Kitabul Adab &lt;/em&gt; bab &lt;em&gt;Fi Husnil Khuluq &lt;/em&gt; hadits ke 4798 dari A'isyah &lt;em&gt;radliyallahu `anha &lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Al-`Allamah Abit Thayyib Muhammad Syamsul Haq Al-Adhim Abadi &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt; dalam kitabnya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abi Dawud &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; menerangkan makna hadits tersebut di atas:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Orang Mu'min yang mempunyai akhlaq yang baik diberi keutamaan yang besar seperti ini, karena memang orang yang puasa dan orang yang shalat malam adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsunya. Demikian pula orang yang akhlaqnya baik terhadap manusia, walaupun kenyataannya manusia itu beraneka ragam tabiatnya juga tingkah laku mereka yang berbeda-beda satu dengan lainnya, maka dengan tetap dia berakhlaq yang baik kepada semua mereka itu, berarti dia harus berjihad melawan berbagai hawa nafsu dari banyak orang itu. Sehingga dengan demikian, Mu'min yang berakhlaq seperti ini mencapai keutamaan seperti yang dicapai oleh orang yang banyak puasa sunnah dan selalu menunaikan shalat malam. Kedudukannya sederajat dengan mereka, bahkan kadang-kadang derajatnya lebih tinggi.�?? ( &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abi Dawud &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; juz 13 halaman 154).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Juga Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;menegaskan tentang keutamaan orang Mu'min yang mempunyai akhlaq yang mulia dalam sabda beliau sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Sesungguhnya orang yang terbaik dari kalangan kalian adalah yang paling baik akhlaqnya.�?? (HR. &lt;strong&gt;Bukhari &lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shahih &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya &lt;em&gt;Kitabul Adab &lt;/em&gt; bab &lt;em&gt;Husnul Khuluq was Sakha' wa Maa Yukrahu Minal Bukhli &lt;/em&gt; hadits ke 6035 dari Abdullah bin Amr, lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fathul Bari &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;juz 10 hal. 456).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BEBERAPA AKHLAQ YANG TERCELA MENURUT PANDANGAN ISLAM &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Setelah kita mengerti kerangka dan kriteria &lt;em&gt;akhlaqul karimah &lt;/em&gt;, kita perlu mengerti pula kerangka dan kriteria &lt;em&gt;akhlaqudz dzamimah &lt;/em&gt; (yakni akhlaq yang tercela). Agar kita dapat lebih dalam lagi memahami &lt;em&gt;akhlaqul karimah &lt;/em&gt;, sehingga dapat lebih mudah lagi mengamalkannya. Akhlaq yang tercela telah dipaparkan dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits, adalah dalam rangka menimbulkan perasaan anti pati dalam diri kita terhadapnya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Adapun &lt;em&gt;akhlaqudz dzamimah &lt;/em&gt;, tumbuh dalam kerangka perbuatan kemusyrikan dan kebid'ahan dan dalam rangka mengekor kepada hawa nafsu. Karena itu kita dapati, bahwa Islam amat mencela perbuatan syirik, bid'ah dan mengekor kepada hawa nafsu. Segala kerusakan akhlaq, adalah bersumber dari ketiganya. Hal ini dinyatakan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1). Syirik sebagai kedhaliman yang paling besar dan menumbuhkan mental penakut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Sesungguhnya syirik itu adalah kedhaliman yang besar.�?? ( &lt;strong&gt;Luqman &lt;/strong&gt;: 13).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Allah Ta'ala menegaskan pula tentang mental penakut pada orang yang berbuat syirik:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Kami akan memasukkan rasa takut yang dahsyat dalam hati orang-orang kafir akibat perbuatan mereka menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya yang tidak diperintahkan oleh-Nya. Dan tempat kembali mereka itu adalah neraka, sebagai tempat kembali yang sejelek-jeleknya bagi orang-orang yang berbuat dhalim.�?? ( &lt;strong&gt;Ali Imran &lt;/strong&gt;: 151).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;2). Bid'ah sebagai sumber kesesatan dan penyimpangan agama, sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Dan hati-hatilah kalian dari perkara yang dibikin-bikin dalam agama, karena semua yang dibikin-bikin itu adalah bid'ah dan semua yang bid'ah itu adalah sesat.�?? (HR. &lt;strong&gt;Abu Dawud &lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;At-Tirmidzi &lt;/strong&gt; dalam Sunan keduanya).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;3). Hawa nafsu, sebagai sebab terbesar terjadinya kemusyrikan dan kebid'ahan serta segala penyimpangan lainnya. Allah Ta'ala menegaskan tentang betapa jahatnya orang yang selalu menuruti hawa nafsunya:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Tidakkah engkau melihat orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Apakah engkau akan menjadi pembela terhadap mereka ini? Apakah engkau menyangka bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memikirkan apa yang engkau sampaikan, mereka itu tidak lain keadaannya seperti binatang ternak atau bahkan lebih rendah.�?? ( &lt;strong&gt;Al-Furqan &lt;/strong&gt;: &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;43 �?? 44). &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan itu maknanya ialah menuruti selera hawa nafsu itu apapun yang dimaukannya. (Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir At-Thabari &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; tentang ayat-ayat tersebut).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dari tiga akhlaq yang tercela ini, muncullah berbagai pelanggaran akhlaq, karena dengan ketiganya disingkirkanlah otoritas agama sebagai pengatur dan pembimbing kehidupan di dunia ini. Sehingga muncullah segala malapetaka pada segenap aspek kehidupan ummat manusia seperti sekarang ini.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;MUTIARA-MUTIARA AKHLAQ YANG TELAH HILANG &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dalam rangka &lt;em&gt;otokritik &lt;/em&gt; (kritik kepada kalangan sendiri), tulisan ini disajikan kepada segenap pembaca yang budiman. Sebagai upaya kita berjihad memperbaiki nasib Ummat Islam yang semakin terpuruk &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;dari masa ke masa dalam pergaulan universal. Imam Malik bin Anas &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt; menyatakan kemestian &lt;em&gt;problem solving &lt;/em&gt; bagi ummat ini:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Tidak akan menjadi baik urusan ummat ini kecuali dengan yang telah memperbaiki pendahulunya.�??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahulu ummat ini adalah para Shahabat Nabi &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;. Sedangkan yang telah memperbaiki nasib penduhulu ummat ini adalah ketika mereka beriman dan beramal dengan bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Itulah yang terus kita perjuangkan dan berikut ini kita berusaha mengenali kekurangan diri kita sendiri agar kita berpeluang memperbaikinya. Yaitu mutiara-mutiara akhlaq yang hilang dari pergaulan kita. Semoga dengan kita menyadari kehilangan barang berharga tersebut, kita akan berusaha menemukannya kembali, dan mutiara itu bersinar lagi dalam pergaulan kita. Inilah data barang hilang itu:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1). &lt;strong&gt;Al-Ikhlas &lt;/strong&gt;, yaitu kemurnian tauhid dari segala noda syirik dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. Noda syirik itu dengan segenap jenisnya akan merusakkan keikhlasan kita dalam beribadah kepada-Nya. Sedangkan jenis-jenis syirik itu adalah:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;a). &lt;em&gt;Syirik akbar &lt;/em&gt; atau syirik besar, yaitu mempersembahkan amalan ibadah kepada selain Allah disamping mempersembahkannya kepada Allah. &lt;em&gt;Syirik akbar &lt;/em&gt; ini membatalkan keislaman pelakunya dan tentu membatalkan keikhlasannya pula. &lt;em&gt;Syirik akbar &lt;/em&gt; ini contohnya ialah sujud dan ruku' kepada selain Allah, berdoa kepada selain-Nya, thawaf mengelilingi tempat yang dikeramatkan selain Ka'bah seperti thawaf di kuburan wali dan lain-lainnya. Dan masih banyak lagi contoh perbuatan &lt;em&gt;syirik akbar &lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;b). &lt;em&gt;Syirik asghar &lt;/em&gt; atau syirik kecil, yaitu mempunyai niat amalan shalih selain untuk Allah juga untuk yang selain-Nya. Atau menyandarkan diri dalam upaya mencapai keberuntungan dan juga usaha untuk menghindarkan diri dari mara bahaya kepada selain Allah di samping kepada Allah. Contohnya seperti &lt;em&gt;riya' &lt;/em&gt; (yakni diniatkan amalannya untuk dilihat atau dipuji orang), juga meyakini keselamatan rumahnya dari pencuri karena ada anjing penjaga padanya atau ada angsa yang selalu bersuara keras bila ada orang yang tidak dikenalnya. Dan termasuk dalam katagori &lt;em&gt;syirik asghar &lt;/em&gt;, ialah bila seseorang beramal dengan amalan akhirat, tetapi dia niatkan dengannya untuk mendapatkan kepentingan dunia. Semua itu adalah &lt;em&gt;syirik asghar &lt;/em&gt; yang merusakkan keikhlasan pelakunya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh amalan &lt;em&gt;syirik asghar &lt;/em&gt; selain apa yang tersebut di atas.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;c). &lt;em&gt;Syirik khafi &lt;/em&gt;atau syirik yang tersembunyi, yaitu amalan syirik yang tersamar pada kebanyakan orang karena tampaknya seolah-olah perbuatan itu ikhlas untuk Allah semata padahal ada niat sampingan yang tersembunyi untuk selain Allah. Hal ini disadari oleh sedikit orang yang dirahmati Allah dan segera dia bertaubat kepada-Nya untuk memurnikan kembali keihkhlasannya yang telah dirusak oleh &lt;em&gt;syirik khafi &lt;/em&gt; tersebut. Tetapi kebanyakan orang amat sulit merasakannya dan baru dia mengerti setelah adanya penyimpangan yang jauh dari niat ikhlasnya untuk Allah dan sulit untuk memurnikan kembali niatnya karena telah terkait dengan kepentingan dunia amalan ibadahnya dan hancurlah keikhlasannya untuk Allah karenanya. Kebanyakan &lt;em&gt;syirik khafi &lt;/em&gt; ini dimulai dari &lt;em&gt;syirik asghar &lt;/em&gt; dan kemudian berkembang sampai pada tingkat &lt;em&gt;syirik akbar &lt;/em&gt;. Contohnya ialah seorang yang berdakwah menyeru manusia kepada agama Allah. Tetapi diam-diam dia mempunyai agenda tertentu untuk meraih keuntungan dunia melalui jalan dakwah. Atau orang yang berjihad di jalan Allah, disamping niatnya untuk meraih keridlaan Allah juga mempunyai niat lain dari kepentingan dunia. Sehingga akhirnya sampai pada tingkat tujuannya mencapai kepentingan dunia mengalahkan niatnya untuk meraih ridla Allah.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Demikian bahayanya syirik itu dalam merusakkan atau bahkan menghancurkan samasekali keikhlasan seorang mukmin dalam beribadah atau beramal shalih. Semakin tersembunyinya syirik itu bagi kebanyakan orang, maka semakin besar pula bahayanya. Tetapi sayang, di hari ini semua jenis syirik yang tiga itu telah mewabah pada kebanyakan kaum Muslimin. Bahkan telah mendominasi kehidupan mereka. Sehingga kaum Muslimin tidak ada lagi wibawanya di hadapan musuh-musuhnya. Karena yang muncul di tengah-tengah kaum Muslimin adalah orang-orang &lt;em&gt;oportunis &lt;/em&gt; yang membonceng kepada kepentingan agama demi mencapai kepentingan dunia. Sedikit sekali orang yang benar-benar ikhlas karena Allah dalam beragama ini. Karena memang perbuatan ikhlas itu telah menjadi amalan yang amat berat dalam kehidupan ummat ini di masa kini. Lebih jelasnya, makna ihklas itu telah amat sulit diterapkan pada ummat ini. Karena telah sedikit sekali orang yang mengerti makna ikhlas dengan lengkap dikarenakan semakin malasnya ummat ini untuk belajar agama. Al-Imam Abu Utsman Said bin Ismail &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt; telah menerangkan dengan lengkap tentang makna ikhlas yang sesungguhnya sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Makna sesungguhnya keikhlasan itu ialah bila seorang Muslim dalam beramal shalih, selalu mengabaikan penglihatan makhluk terhadap amalan itu karena terus-menerus menumpahkan perhatian kepada penglihatan Al-Khaliq (sang Pencipta). Dan ikhlas itu ialah bila engkau beramal shalih, hatimu menginginkan ridla Allah semata dari amalan, ilmu serta dari perbuatan itu. Karena engkau takut kemurkaan Allah dengan sebab ilmu yang ada padamu dan Allah terus-menerus melihat engkau. Sehingga dengan itu akan hilanglah dari hatimu riya'. Kemudian engkau selalu ingat berbagai kenikmatan Allah atasmu, karena Dia telah memberimu taufiq (bimbingan) untuk kamu memilih amalan itu sehingga hilanglah rasa �??ujub (yakni rasa bangga diri) dari hatimu. Dan kemudian engkau menggunakan kelembutan dalam beramal itu sehingga hilanglah dari hatimu ketergesa-gesaan. Karena Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Tidaklah Allah jadikan kelembutan pada sesuatu kecuali akan memperindah sesuatu itu dan tidaklah Ia mencabut kelembutan itu dari sesuatu, kecuali akan memburukkannya.�??&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Selanjutnya Abu Utsman menerangkan: �??Dan ketergesa-gesaan itu adalah sikap orang yang mengikuti hawa nafsu, sedangkan kelembutan itu adalah sikap orang yang mengikuti sunnah (yakni ajaran Nabi Muhammad &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;). Bila engkau telah selesai menjalankan amalanmu dengan cara demikian, hatimu terasa penuh ketakutan dari kemungkinan Allah menolak amalanmu dan tidak menerimanya. Hal ini sebagaimana diberitakan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Dan orang-orang yang bila mengerjakan suatu amalan, hati mereka akan penuh ketakutan karena mereka yakin akan kembali ke Tuhan mereka.�?? ( &lt;strong&gt;Al-Mu'minun &lt;/strong&gt;: 60).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemudian Abu Utsman menegaskan: �??Barang siapa yang mengumpulkan empat perkara ini dalam amalannya, maka sungguh dia adalah orang yang berbuat ikhlas dalam amalannya insya Allah.�?? (HR. &lt;strong&gt;Al-Baihaqi &lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Syu'abul Iman &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 5 halaman 348 riwayat ke 6885 �?? 6886)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Empat perkara yang merupakan ciri keikhlasan seseorang yang bisa dirasakan oleh orang yang sedang beramal itu sendiri sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Utsman Sa'ied bin Ismail tersebut di atas, bila diringkaskan adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;a). &lt;em&gt;Ar-Ru'yah &lt;/em&gt;, yakni merasa yakin bahwa amalannya sedang dilihat dan diawasi oleh Allah Ta'ala.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;b). &lt;em&gt;Ar-Raja' &lt;/em&gt; , yakni mengharapkan ridla Allah semata untuk menerima amalan itu dan memberinya pahala.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;c). &lt;em&gt;Ar-Rifeq, &lt;/em&gt; yakni kelembutan dan kehati-hatian dalam menjalankan amalan itu dan tidak tergesa-gesa.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;d). &lt;em&gt;Al-Khauf, &lt;/em&gt; yakni takut kalau amalannya itu tidak diterima oleh Allah Ta'ala.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Betapa jarangnya kaum Muslimin yang memenuhi hatinya dengan empat perkara tersebut ketika beramal shalih. Bahkan sebaliknya, yang diharapkan ialah pengakuan manusia, yang ditakutinya ialah kemarahan atau pengucilan handai taulan karib kerabat terhadapnya, cenderung kasar dan tergesa-gesa membikin keputusan, serta penuh rasa ujub (bangga diri) dalam beramal dan mengharapkan acungan jempol banyak orang.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Jadi, mutiara ikhlas telah hilang dari kita dan gantinya adalah kemunafikan dalam bentuk sikap beragama dua muka yang berbeda antara satu muka dengan muka yang lainnya. Tampaknya sedang beramal dengan amalan shaleh untuk Allah, tetapi hatinya penuh agenda tersendiri untuk meraih kedudukan di sisi manusia. Hal ini telah dikeluhkan oleh para Shahabat Nabi di jaman Ta'biin (yaitu zaman sepeninggal Nabi Muhammad &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;tetapi para shahabat beliau masih hidup). Hudzaifah bin Al-Yaman &lt;em&gt;radhiyallahu anhu &lt;/em&gt; menjelaskan tentang sikap dua muka orang munafiq itu, dalam riwayat berikut ini:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dari Abi Yahya mengatakan: Pernah Hudzaifah ditanyai: �??Apakah yang dinamakan munafiq itu?�?? Beliau menjawab: �??Munafiq itu adalah orang yang berbicara tentang Islam tetapi dia tidak beramal dengannya.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ibanah Al-Kubra &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 2 halaman 296 riwayat ke 928).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ini menunjukkan bahwa si munafiq itu ketika berbicara tentang Islam, sama sekali tidak ada keikhlasan untuk merasa terikat dengannya sehingga Islam hanya dibibirnya saja tetapi tidak ada realisasinya dalam amalannya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemudian Hudzaifah memperingatkan: �??Akan datang suatu masa pada kaum Muslimin, dimana pada waktu itu bila engkau melempar anak panah di hari Jum'at (yaitu ketika banyak orang berkumpul di masjid untuk menunaikan kewajiban shalat Jum'at), maka anak panah itu tidak mengena kecuali orang kafir atau orang munafiq.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ibanah Al-Kubra &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 1 halaman 179 riwayat ke 9).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Yakni mayoritas orang yang ada di masjid-masjid pada hari Jum'at itu adalah orang-orang Islam yang telah batal keislamannya karena berbagai kemusyrikan yang dilakukannya sehingga jadilah dia kafir karenanya. Atau kalau tidak demikian maka yang paling ringan adalah orang Islam yang tidak lagi mempunyai keyakinan dan keikhlasan dalam beragama sehingga jadilah dia sebagai orang munafiq karenanya. Masyarakat Muslimin yang telah kehilangan mutiara-mutiara akhlaq dan juga amat rendah pengetahuannya serta pengamalannya tentang agama. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;memberitahukan bahwa orang munafiq itu tidak akan mempunyai perangai yang mulia dan tidak akan pula mengerti ilmu agama. Hal ini telah diberitakan olehnya dalam sabdanya:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Dua perkara yang tidak mungkin ada pada orang munafiq, yaitu perangai yang baik dan paham agama.�?? (HR. &lt;strong&gt;At-Tirmidzi &lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya hadits ke 2684 dari Abi Hurairah).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ini menunjukkan bahwa akhlaq yang mulia akan hilang dengan hilangnya keikhlasan dan munculnya kemunafikan. Demikian pula akan terjadi sikap ummat Islam yang mengabaikan ilmu agama ketika tumbuh subur di kalangan mereka mental munafiq.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Abdullah bin Umar bin Al-Khattab &lt;em&gt;radhiyallahu anhuma &lt;/em&gt; menyatakan: �??Sesungguhnya seorang Muslim masuk ke rumah penguasa dalam keadaan masih ada Iman dan Islam pada dirinya, tetapi ketika dia keluar dari padanya dalam keadaan tidak lagi tersisa padanya agamanya sedikit pun.�?? Ditanyakan kepada beliau: �??Mengapa demikian wahai Abu Abdur Rahman?�?? Beliau menjawab: �??Karena dia di hadapan penguasa itu berusaha menyenangkannya dengan perkara yang dibenci oleh Allah.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ibanah Al-Kubra &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 2 halaman 694 riwayat ke 924).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Demikianlah kenyataannya, dunia politik praktis sering mendidik kaum Muslimin melakukan basa-basi politik atau tegasnya sikap menjilat kepada penguasa sehingga kosong dari keikhlasan. Bahkan sikap menjilat itu dilakukan dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau dengan tenang menginjak-nginjak hukum Allah demi mendapatkan restu penguasa itu. Yang demikian itu adalah kemunafikan yang menghancurkan keikhlasannya dalam beragama.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pernah pula ditanyakan kepada Abdullah bin Umar tentang orang yang menemui penguasa dan di hadapan penguasa itu dia memuji-mujinya. Tetapi ketika dia keluar dari tempat kediaman penguasa itu, dia mencaci-maki penguasa tersebut. Bagaimana perbuatan orang yang demikian ini? Beliau menjawabnya: �??Kami para shahabat Nabi menganggap perbuatan yang demikian ini di zaman Nabi &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;sebagai kemunafikan.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ibanah Al-Kubra &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 2 hal. 693 �?? 694 riwayat ke 921).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Semuanya telah terjadi di hadapan kita dan di masyarakat kita dan mutiara ikhlas itu memang telah hilang dari kita.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Syaikh Abdurrahman bin Al-Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab &lt;em&gt;rahimahumullah &lt;/em&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fathul Majid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; halaman 185 jilid ke 2 menukil omongan kakeknya (yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt;): �??Diperingatkan agar orang yang berdakwah menyeru manusia kepada agama Allah harus menjaga keikhlasannya. Karena banyak orang yang tampaknya menyeru kepada kebenaran, kemudian ternyata dia menyeru orang untuk memuliakan si juru da'wah itu sendiri.�??&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Orang-orang yang beramal shalih tetapi mempunyai niat bercabang antara niat untuk Allah dan juga untuk yang lain-Nya, akan berhadapan dengan pengadilan Allah di hari Mahsyar di hari kiamat dan di sana Allah menyatakan menolak sama sekali semua amalan yang niatnya bercabang seperti itu. Hal ini telah diberitakan oleh Nabi Muhammad &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;dalam sabda beliau sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Sesungguhnya manusia pertama yang akan diadili perkaranya oleh Allah di hari kiamat adalah seorang pria yang syahid (terbunuh dalam pertempuran membela agama Allah), kemudia orang itu didatangkan di hadapan Allah dan kemudian diperkenalkan kepadanya segenap nikmat-Nya yang dilimpahkan kepadanya dan dia mengakui semua nikmat itu. Kemudian ditanyakan kepadanya: �??Apa yang telah engkau amalkan dengan nikmat itu?�?? Dia menjawab: �??Aku berperang di jalan-Mu dan aku terbunuh sebagai syahid.�?? Allah menyatakan kepadanya: �??Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau telah berperang agar engkau dikatakan sebagai pemberani. Dan sungguh telah dikatakan demikian.�?? Kemudian diperintahkan agar diseret orang tersebut pada wajahnya sehingga dilemparkan ke neraka. Kemudian didatangkan pula seorang yang belajar ilmu agama dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an untuk dihadapkan kepada Allah. Diperkenalkanlah kepadanya berbagai kenikmatan-Nya kepadanya dan dia mengakui segala limpahan kenikmatan itu dari-Nya. Allah menanyakan kepadanya: �??Apa yang engkau telah lakukan dengannya?�?? Orang ini pun menjawab: �??Aku telah belajar ilmu agama dan aku mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur'an semata-mata untuk-Mu.�?? Maka Allah menjawabnya: �??Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau belajar agama agar engkau dikatakan sebagai orang yang berilmu, dan memang telah dikatakan demikian. Dan engkau membaca Al-Qur'an agar dikatakan sebagai ahli baca Al-Qur'an, dan memang telah dikatakan demikian.�?? Maka Allah perintahkan agar orang ini diseret pada wajahnya dan kemudian dia dilemparkan ke neraka. Didatangkan pula pada waktu itu seorang yang dilapangkan rizkinya oleh Allah dan diberi limpahan harta dengan segala jenisnya. Orang tersebut dihadapkan kepada Allah dan dikenalkan kepadanya berbagai kenikmatan-Nya yang telah dilimpahkan kepadanya, dan dia mengakuinya. Maka Allah tanyakan kepadanya: �??Apa yang telah engkau lakukan dengan berbagai kenikmatan itu?�?? Diapun menjawab: �??Aku tidak membiarkan satu jalan pun yang Engkau senangi, kecuali aku selalu belanjakan hartaku padanya untuk-Mu.�?? Allah menyatakan kepadanya: �??Engkau telah berdusta. Engkau lakukan semua itu adalah untuk engkau dikatakan dermawan dan memang telah dikatakan demikian.�?? Kemudian diperintahkan untuk orang ini diseret pada wajahnya sehingga dilemparkan ke neraka.�?? (HR. &lt;strong&gt;Muslim &lt;/strong&gt;dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shahih &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya hadits nomor 1905 dari Abi Hurairah &lt;em&gt;radliyallahu `anhu &lt;/em&gt;juz 13 hlm. 44 bab &lt;em&gt;Man Qotala li ar-Riya'i wash Shum'ati istahaqqon-nari &lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Demikianlah, betapa celakanya orang yang beramal shalih dengan amalan-amalan yang besar tetapi niatnya tidak ikhlas karena Allah Ta'ala bahkan niatnya bercabang dengan berbagai niat yang lainnya. Maka �??ikhlas�?? itu sebagai mutiara akhlaq yang dapat ditumbuhsuburkan melalui pembekalan ilmu Tauhid dengan mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-Nya dan mempersembahkan segenap amalan shalih hanya untuk Allah semata serta membersihkan Tauhid dari segenap noda syirik.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;2). &lt;strong&gt;As-Shidqu &lt;/strong&gt;, yakni kejujuran. Yaitu kejujuran dalam menyatakan iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta kejujuran dalam segala perkara yang diwajibkan oleh agama kita. Kejujuran yang dimaksud di sini ialah samanya pernyataan lisan dengan apa yang diyakini oleh hati dan sama antara keadaan tersembunyi dengan keadaan di hadapan orang ramai. Kalau lawan daripada &lt;em&gt;Al-Ikhlash &lt;/em&gt; adalah &lt;em&gt;An-Nifaq &lt;/em&gt; (yakni kemunafikan), maka lawan dari &lt;em&gt;As-Shidqu &lt;/em&gt; adalah &lt;em&gt;Al-Kadzib &lt;/em&gt; (yakni kedustaan). &lt;em&gt;As-Shidqu &lt;/em&gt; itu adalah sumber segala amalan baik, sedangkan &lt;em&gt;Al-Kadzib &lt;/em&gt; itu adalah sumber segala amalan jahat. Hal ini telah dinyatakan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;dalam sabda beliau sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Sesungguhnya &lt;em&gt;As-Shidqu &lt;/em&gt;itu membimbing orang kepada amalan shalih dan amalan shalih membimbing pelakunya kepada surga. Dan sesungguhnya seorang itu terus-menerus berbuat &lt;em&gt;shidiq &lt;/em&gt; (yakni jujur) sehingga ditulis di sisi Allah sebagai &lt;em&gt;shiddiq &lt;/em&gt;(yakni orang yang selalu berbuat jujur). Dan sesungguhnya dusta itu membimbing orang kepada amalan jahat, dan sesunguhnya amalan jahat itu membimbing pelakunya ke neraka. Dan seseorang itu terus-menerus berdusta, sehingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.�?? (HR. &lt;strong&gt;Bukhari &lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Muslim &lt;/strong&gt; dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shahih &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; keduanya dari Abdullah bin Mas'ud).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Diberitakan pula oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi sallam &lt;/em&gt;tentang ciri-ciri &lt;em&gt;as-shidqu &lt;/em&gt;itu adalah ketentraman pada pelakunya dan sebaliknya ciri-ciri kedustaan itu ialah kebimbangan pada pelakunya:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan berpeganglah dengan apa yang tidak meragukan kamu, karena &lt;em&gt;As-Shidqu &lt;/em&gt; (kejujuran) itu menyebabkan ketentraman pada pelakunya dan dusta itu menyebabkan kebimbangan pada pelakunya.�?? (HR. &lt;strong&gt;At-Tirmidzi &lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya dari Al-Hasan bin Ali).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Al-`Allamah Al-Mubarakfuri &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt; menjelaskan makna hadits ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;�??Maknanya ialah: Tinggalkanlah apa yang engkau ragu padanya baik dari perkataan maupun dari perbuatan, ragu apakah ia terlarang ataukah ia tidak terlarang, apakah ia sunnah ataukah ia bid'ah. Tinggalkanlah yang demikian keadaannya dan condonglah kamu kepada apa yang engkau tidak ragu padanya. Yang dimaksud dengan perintah ini ialah bahwa setiap mukallaf hendaknya membangun keyakinan agamanya di atas keyakinan ilmiah setelah melakukan upaya penelitian dalil untuk mencapai kepastian. Dan hendaknya setiap orang itu di atas ilmu dalam beragama.�?? ( &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tuhfatul Afwadzi bi Syarah Jami'it Tirmidzi &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;jilid 7 hal. 221).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Demikianlah mestinya sikap &lt;em&gt;shidiq &lt;/em&gt; dalam beragama, sehingga akan menimbulkan ketenangan di hati dalam meyakini agamanya dan akan mantap dan penuh semangat dalam mengamalkannya. Adapun orang-orang yang tidak mempunyai akhlaq &lt;em&gt;shidiq &lt;/em&gt; dalam beragama, dan banyak bermain-main dengan kedustaan dalam beragama, maka sungguh dia akan hanya menimbulkan fitnah belaka dalam mengamalkan agama. Karena pengamalannya tidak konsisten pada satu sikap, akan tetapi mudah sekali berubah-rubah dari satu sikap kepada sikap yang lainnya tanpa alasan yang jelas. Baru saja orang-orang diperingatkan untuk jangan dekat-dekat dengan si fulan. Alasannya bahwa si fulan itu membawa pemahaman yang sesat. Kemudian dalam tempo sebulan atau dua bulan, sudah berubah lagi dengan seruan untuk mengupayakan &lt;em&gt;ishlah &lt;/em&gt;(kerukunan) kembali dengan si fulan yang dituduh sesat itu. Bila ditanyakan, apa alasannya kok terjadi perubahan sikap yang secepat itu? Jawabnya: �??Masih menunggu keterangan Ulama'.�?? Sementara para pendusta yang sedang mempermainkan ummat dengan kedustaannya, terus-menerus berpindah-pindah dari satu Ulama' kepada Ulama' yang lainnya untuk memperoleh pembenaran terhadap kedustaannya dengan melakukan penipuan kepada para Ulama' tersebut. Bila mendapat jawaban dari seorang Ulama' yang tidak sesuai dengan manuver kedustaannya, maka tentunya jawaban itu segera disembunyikan atau tidak berselera untuk menyebarkannya. Akan tetapi bila dia berhasil mendapatkan jawaban yang sesuai dengan hawa nafsu kedustaannya, segeralah jawaban itu disebarluaskan ke semua pihak disertai dengan anjuran untuk mengikuti Ulama'. Betapa celakanya ummat ini ketika dakwah kepada sunnah (ajaran) Nabi &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;dijadikan bulan-bulanan permainan kotor para pendusta. Inilah kenyataan pahit yang sedang berlangsung di generasi kita. Dan mutiara &lt;em&gt;As-Shidqu &lt;/em&gt; adalah mutiara akhlaq yang telah hilang dari kehidupan kita. Sehingga yang sedang mewabah adalah &lt;em&gt;Al-Kadzib &lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Quo vadis &lt;/em&gt; Ummat Islam, barangkali inilah yang sangat dikuatirkan oleh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt; (beliau adalah Imam dari kalangan tabi'it tabi'in) sebagai mana yang telah diceritakan oleh murid beliau yang bernama Al Faryabi rahimahullah sebagai berikut ini:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Sufyan Ats-Tsauri bila melihat orang-orang &lt;em&gt;An-Nabath &lt;/em&gt; (yakni orang-orang asli Irak tidak punya nasab dan tidak terdidik dalam keluarga yang mulia) mencatat ilmu di majlis ilmu, wajah beliau berubah karena tidak senang. Maka aku pun menanyakannya: �??Wahai Aba Abdillah, aku melihat engkau amat keberatan bila melihat orang-orang itu menulis ilmu (yakni ilmu agama), mengapa?�?? Beliau pun menjawab: �??Ilmu agama ini dulunya ada di tangan orang-orang Arab dari kalangan orang-orang mulia. Maka bila ilmu ini telah keluar dari tangan mereka dan berpindah tangan kepada orang-orang &lt;em&gt;nabathi &lt;/em&gt; itu dan di tangan orang-orang yang rendah budi pekertinya, maka akan rusaklah agama ini.�?? (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jami' Bayanul Ilmi wa Fadl-lihi &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 1 hal 620 �?? 621, riwayat ke 1072)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Maka untuk membangun kembali akhlaq &lt;em&gt;shidiq &lt;/em&gt; pada ummat ini, haruslah dibangkitkan keimanan mereka kepada ancaman adzab Allah di dunia dan akhirat terhadap para pendusta. Agar orang yang beriman itu terus-menerus mendidik dirinya untuk selalu bersikap &lt;em&gt;shidiq &lt;/em&gt;. Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;yang menganjurkan sikap shidiq dan mengancam orang yang selalu berdusta, tidak akan bermanfaat bagi orang yang tidak beriman kepada kengerian adzab Allah bagi orang yang berdusta dan tidak beriman pula kepada janji kemuliaan dari-Nya bagi orang yang berbuat &lt;em&gt;shidiq &lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;3. &lt;strong&gt;Al-Amanah &lt;/strong&gt;, yaitu menunaikan kepercayaan pihak lain kepadanya. Seseorang bila telah dipercaya oleh satu pihak dengan satu perkara, maka orang yang dipercaya tersebut telah mendapat beban amanah yang harus ditunaikan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pihak pemberi amanah yang paling tinggi dan paling besar adalah Allah Ta'ala. Hal ini telah diberitakan oleh-Nya dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab 72:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanah ini kepada langit yang tujuh dan kepada bumi serta gunung-gunung, tetapi semuanya tidak mau menerima tawaran untuk menunaikan amanah itu karena merasa berat untuk memikulnya. Tetapi manusia justru menerimanya. Sesungguhnya manusia itu memang sangat dhalim dan sangat bodoh.�?? ( &lt;strong&gt;Al-Ahzab &lt;/strong&gt;: 72)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Amanah yang Allah tawarkan itu ialah satu ketentuan yang menyatakan: �??Barang siapa menunaikan kewajiban mentaati-Nya maka dia akan mendapatkan pahala dari-Nya dan barang siapa yang tidak menunaikan kewajiban itu maka akan disiksa oleh-Nya.�?? (Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir At-Thabari &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; tentang ayat ini).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Adapun pihak yang diberi amanah yang paling mulia adalah para Nabi dan para Rasul, sebagaimana hal ini telah diberitakan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya di Al-Qur'an surat An-Nahl 36:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Dan sungguh Kami telah utus pada setiap ummat seorang Rasul yang mengajarkan perintah-Nya agar kalian beribadah hanya kepada Allah dan menjauhkan diri dari para &lt;em&gt;thaghut &lt;/em&gt; (yakni segala sesembahan selain Allah). Maka sebagian manusia ada yang mendapatkan petunjuk Allah untuk menunaikan ajaran para Rasul itu dan ada pula dari mereka telah ditentukan atasnya kesesatan. Oleh karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan lihatlah bagaimana akibatnya orang yang mendustakan ajaran para Rasul itu.�?? ( &lt;strong&gt;An-Nahl &lt;/strong&gt;: 36)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kemudian setelah kedudukan para Nabi dan para Rasul itu sebagai penerima amanah yang termulia, ialah para Ulama' dan para da'i yang menyeru manusia kepada agama Allah. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya di dalam Al-Qur'an surat Fushshilat 33:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Dan siapakah yang lebih baik omongannya dari orang yang menyeru manusia kepada agama Allah dan beramal shalih dan menyatakan: Sesungguhnya aku termasuk dari golongan orang-orang yang tunduk kepada agama Allah.�?? ( &lt;strong&gt;Fushshilat &lt;/strong&gt;: 33)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Setelah kedudukan para ulama' dan da'i itu, pihak termulia yang mendapat amanah Allah adalah segenap kaum Mukminin. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya di dalam Al-Qur'an surat Ali Imran 110:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Kalian adalah sebaik-baik ummat yang diciptakan untuk kebaikan bagi manusia untuk menunaikan misi tugas kalian yaitu menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah.�?? ( &lt;strong&gt;Ali Imran &lt;/strong&gt;: 110)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sedangkan perkara paling mulia yang diamanahkan kepada kita adalah Islam dan Iman. Tentang keduanyalah kita akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat kelak, yaitu sejauh mana kita menunaikan kewajiban menuntut ilmu agama Allah dan sejauh mana kita beramal dengan ilmu tersebut. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya di dalam Al-Qur'an surat Fathir 32:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;�??Kemudian Kami amanahkan Kitab ini (yakni ilmu yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada orang-orang yang Kami pilih. Dari mereka yang diberi amanah itu ada yang dhalim terhadap diri mereka sendiri dan dari mereka ada yang sedang (yakni tidak dhalim dan tidak pula lebih baik), ada pula dari mereka yang melampaui yang lainnya dalam kebaikan dengan ijin Allah. Yang demikian itu adalah keutamaan yang besar dari Allah.�?? ( &lt;strong&gt;Fathir &lt;/strong&gt;: 32)&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Demikianlah amanah yang termulia itu, ia datang dari pemberi amanah yang termulia, yaitu Allah Ta'ala. Diberikan amanah itu kepada makhluq Allah termulia, yaitu para Nabi dan para Rasul. Disampaikanlah amanah itu dari mereka kepada orang-orang yang termulia setelah para Nabi dan para Rasul, yaitu para ulama' dan para da'i. Dipercayakan untuk pengamalannya kepada ummat terbaik, yaitu segenap kaum Mukminin yang menjalankan kewajiban &lt;em&gt;amar ma'ruf &lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;nahi munkar &lt;/em&gt; serta beriman kepada Allah Ta'ala dengan cara yang benar menurut-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Maka bila amanah yang termulia ini ditunaikan dengan baik, penduduk bumi akan hidup dalam kesejahteraan dhahir maupun batin. Akan tetapi bila amanah ini dikhianati, maka akan terjadi malapetaka di muka bumi baik dhahir maupun batin. Dan segala amanah yang lainnya akan dikhianati dengan ditelantarkan segala kemestiannya, sehingga yang merajalela di muka bumi adalah mental khianat dan pada saat itu hilanglah akhlaq menunaikan amanah. Semua malapetaka ini telah diperingatkan oleh Nabi kita Muhammad &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;dalam hadits berikut ini:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Seorang Arab dari gunung datang ke majlis Nabi &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;dan bertanya: �??Kapan terjadinya hari kiamat?�?? Maka Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa sallam &lt;/em&gt;menjawab: �??Ialah bila diterlantarkannya amanah, maka tunggulah terjadinya kiamat.�?? Orang itu masih bertanya lagi: �??Bagaimana amanah itu dikatakan telah diterlantarkan?�?? Beliau menjawab: �??Bila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah terjadinya hari kiamat.�?? (HR. &lt;strong&gt;Bukhari &lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shahih &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya bab &lt;em&gt;Kitabul Ilmi &lt;/em&gt; hadits ke 59 hari Abi Hurairah).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Begitulah bahayanya kerusakan amanah, yaitu dengan diserahkannya perkara agama ini sebagai amanah yang termulia kepada orang-orang yang bukan ahlinya. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam &lt;/em&gt;memberitakan tentang keadaan yang paling genting menjelang datangnya hari kiamat ketika amanah menjaga agama Allah telah diabaikan:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, dia menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah: �??Wahai Rasulallah, kapan kita meninggalkan &lt;em&gt;amar ma'ruf &lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;nahi munkar &lt;/em&gt;, padahal keduanya adalah amalan yang pokok bagi orang-orang baik?�?? Beliau pun menjawab: �??Apabila tampak pada kalian apa yang pernah nampak pada Bani Israil ummat sebelum kalian.�?? Akupun bertanya lagi: �??Apakah yang pernah tampak pada mereka?�?? Beliau menjawab: �??Apabila orang-orang baik dari kalian berbasa-basi dengan orang-orang jahat dari kalian dalam kemaksiatan, dan fiqih (yakni ilmu agama) di tangan orang-orang yang paling jahat dari kalian (yaitu orang yang berilmu agama tetapi suka melakukan kemaksiatan), dan negara dipimpin oleh orang-orang kerdil pikirannya (yakni orang-orang yang lemah akal), maka ketika itulah fitnah akan terus-menerus meliputi kalian, dan kalian akan menyerang dan diserang.�?? (HR. &lt;strong&gt;At-Thabrani &lt;/strong&gt;dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Mu'jamul Ausath &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 1 hal. 51 �?? 52 riwayat ke 144).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Terhadap hadits ini Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Majma'uz Zawa'id &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 7 hal. 286 melemahkan sanadnya. Tetapi hadits ini diriwayatkan melalui banyak sanad sehingga menjadi &lt;em&gt;hasan &lt;/em&gt;karenanya. Adapun berbagai sanad tersebut adalah sebagai berikut ini:&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dari Anas bin Malik dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jami' Bayanul Ilmi Wa Fadl-lih &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 1 dengan membawakan beberapa sanad di halaman 610 �?? 612, riwyat ke 1048 hingga 1050. Juga Ibnu Majah dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya dari Anas bin Malik hadits ke 4015. Al-Hafidh Abu Nu'aim Al-Asfahani meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik pula dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Hilyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; jilid 5 hal 185. Ibnu Abid Dunya meriwayatkan hadits ini dari A'isyah Ummul Mukminin dalam &lt;em&gt;Kitabul Amri bil Ma'ruf wan Nahyi �??anil Munkar &lt;/em&gt; riwayat ke 27. Abu Ja'far At-Thahawi meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Musykilul Atsar &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; juz 4 hal 216 riwayat ke 3658. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya dari Anas bin Malik dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Musnad &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;beliau jilid 3 halaman 187. Al-Hindi membawakan riwayat ini dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kanzul Ummal &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya jilid 3 halaman 685 riwayat ke 8458 dan beliau menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Ibnu An-Najjar dari Anas bin Malik.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Maka telah jelaslah bagi kita, bahwa bila amanah telah hilang dari akhlaq ummat Islam, kondisi ummat Islam akan sangat terpuruk. Masyarakat cenderung berfikir untuk kepentingan dirinya sendiri dan amar makruf nahi munkar telah mandek. &lt;em&gt;Tawashaw bil haq watawashaw bis shabr &lt;/em&gt; (yakni saling menasehati kepada kebenaran dan saling menasehati kepada kesabaran) telah ditinggalkan. Karena ummat Islam telah hilang kepercayaan antara satu dengan yang lainnya, bahkan saling mencurigai di antara sesamanya. Ummat Islam terkotak-kotak dalam bebagai golongan, lengkap dengan pemahamannya masing-masing terhadap agamanya. Inilah perpecahan yang amat dicela oleh Allah dan Rasul-Nya dan dengan sebab ini Allah mengutuk ummat Islam sebagaimana Ia mengutuk ummat-ummat Yahudi dan Nashara. Sehingga musuh-musuh ummat Islam menjadi berani melecehkan dan menghinakan mereka, bahkan mereka dijadikan sebagai bulan-bulanan kejahatan orang-orang Yahudi, Nashara dan musyrikin.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Untuk membangun kembali harga diri dan kewibawaan ummat Islam, haruslah diupayakan dan dipelopori pendidikan agama bagi ummat ini dengan menekankan pada upaya menumbuhkan kepribadian &lt;em&gt;al-amanah &lt;/em&gt; bersamaan dengan kepribadian &lt;em&gt;al-ihkhlas &lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;as-shidiq &lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PENUTUP &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Demikianlah keresahanku sebagai da'i, aku kemukakan kepada pembaca sekalian sebagai upaya pencerahan terapi penyakit ummat Islam untuk mendapat perhatian semua pihak guna menanggulanginya lebih serius. Agar energi perjuangan ummat Islam lebih efisien lagi karena lebih fokus pada sasarannya yang lebih tepat. Tidak ada alasan bagi para pejuang Islam untuk pesimis ataupun putus asa dalam menatap masa depan perjuangan ini. Estafet perjuangan harus terus-menerus diwariskan kepada anak cucu dengan bara api semangat perjuangan yang tak kunjung padam. Kemenangan dari Allah pasti akan datang di suatu saat yang dikehendaki-Nya. Dia sedang memilih, siapakah dari ummat ini yang paling pantas dilimpahi amanah kemenangan yang agung dari Dzat Yang Maha Agung itu. Berlombalah kita untuk memperbaiki diri agar dipilih oleh Allah Ta'ala menjadi orang yang pantas dilimpahi amanah kemenangan dari-Nya. Kita perbaiki keikhlasan, hiasi diri dengan kepribadian &lt;em&gt;As-Shidqu &lt;/em&gt;, dan kita tumbuhkan akhlaq &lt;em&gt;Al-Amanah &lt;/em&gt;pada diri kita. Berjuanglah terus, jangan berhenti dan jangan ragu dengan janji Allah. Fajar kemenangan akan terbit sebentar lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/K3KnfzH-g7Q" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-27T11:54:42.285+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/mutiara-akhlaq.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sunnah Berucap Baik &amp; Menampakkan Wajah Berseri-seri Ketika Berjumpa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/ZdVAA33fsL4/sunnah-berucap-baik-menampakkan-wajah.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 21:51:57 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-7370794715731380693</guid><description>&lt;span class="text_1"&gt;&lt;b&gt;Sunnah Berucap Baik &amp;amp; Menampakkan Wajah Berseri-seri Ketika Berjumpa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="tanggal" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Berkata Al Imam An Nawawi  Rahimahullah dalam kitab beliau Riyadhus Sholihin:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Ta�??ala Berfirman :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Dan berendah hatilah kamu  terhadap orang-orang yang beriman�??. (Al Hijr: 88)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Sekiranya kamu bersikap keras  lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu�??. (Al  Imran: 159)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari �??Adi Bin Hatim Radhiyallahu  �??anhu, Berkata Rasulullah Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Takutlah kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan bershodaqoh sebiji kurma. Barangsiapa yang tidak punya sebiji kurma, maka hendaklah bershodaqoh dengan perkataan yang baik�??. (HR. Bukhori no.1417 dan Muslim no.1016)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu  �??anhu, bahwasanya Nabi Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam bersabda :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Dan perkataan yang baik  termasuk shodaqoh�??. (HR. Bukhori no. 2707 dan Muslim no. 1009)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Abu Dzar Radhiyallahu  �??anhu, Berkata Rasulullah Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan sekecil apapun, walaupun salah seorang dari kalian bertemu saudaranya hanya dengan wajah yang berseri-seri�??. (HR. Muslim no. 2626)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Sholih Al �??Utsaimin Rahimahullah  berkenaan dengan ayat dan hadits diatas (Syarh).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila seseorang berjumpa dengan saudaranya sesama muslim, maka hendaknya dia menampakkan kegembiraan dengan wajah yang berseri-seri dan berkata dengan tutur kata yang baik. Karena sesungguhnya perbuatan yang demikian ini merupakan akhlaq Nabi Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam. Dan sikap seperti ini tidaklah menurunkan kewibawaan seseorang, melainkan akan mengangkat derajatnya dan mendapatkan balasan dan pahala dari sisi Allah �??azza wa jalla.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang muslim hendaknya menampakkan wajah yang berseri-seri ketika berjumpa dengan saudaranya dan berkata dengan tutur kata yang baik, demi memperoleh pahala, loyalitas (kecintaan) dan kasih sayang sesama saudaranya. Karena jika kaum muslimin membiasakan diri dengan akhlaq seperti ini, maka akan dapat mencegah mereka dari sifat sombong dan mendidik kepribadiannya untuk tidak berbangga-bangga diri atas saudaranya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Subhanahu Wa Ta�??ala berfirman  :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Dan berendah hatilah kamu  terhadap orang-orang yang beriman�??. (Al Hijr: 88)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berendah hati dalam ayat diatas yaitu bersikap lembut dan tawadhu�?? terhadap kaum mu�??minin (bukan berendah diri: minder, -red), karena sesungguhnya setiap mu�??min pantas diperlakukan demikian. Adapun sikap terhadap orang-orang kafir, maka Allah Subhanahu Wa Ta�??ala membimbing kita dengan firman-Nya :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafiq serta bersikap keraslah terhadap mereka. Dan tempat mereka adalah neraka jahannam,  dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (At-Tawbah: 73)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada asalnya hanya kaum mu�??minin saja yang berhak diberikan rasa simpatik dengan menampakkan kegembiraan dan wajah yang berseri-seri. Namun jika ada dari orang kafir yang diharapkan keislamannya, maka hendaknya kita bergaul dengan mereka juga menampakkan kegembiraan dan wajah yang berseri-seri. Karena dengan sikap seperti itu, kita dapat mengambil manfaat ketika berjumpa dengan mereka, yaitu dalam rangka meluluhkan hati mereka, sehingga dengan mudah mereka mau merujuk kepada Islam. Akan tetapi jika kita bersikap tawadhu�?? dan menunjukkan rasa simpatik kepada orang kafir itu, dan ternyata justru membuat dia besar diri dan semakin bertambah kesombongannya terhadap kaum mu�??minin, maka dalam konteks ini kita dilarang untuk menunjukkan sikap ramah kepadanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketahuilah, dengan wajah yang berseri-seri sahabatmu akan merasa gembira gegap gempita dan penuh semangat ketika berjumpa. Dia akan membedakan orang-orang yang pernah berjumpa dengannya yakni antara orang-orang yang bermuka masam, dengan orang-orang yang wajahnya berseri-seri. Nabi Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam menasehati Abu Dzar Al Ghifari Rodhiyallahu �??anhu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan sekecil apapun, walaupun salah seorang dari kalian bertemu saudaranya hanya dengan wajah yang berseri-seri�??. (HR. Muslim no. 2626)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menampakkan wajah yang berseri-seri memiliki nilai kebaikan, karena dengan demikian dapat membuat saudaramu senang dan menjadikan hatinya lapang. Kemudian jika sikap ini digandengkan dengan tutur kata yang baik, maka akan menjadi dua kebaikan yang saling melengkapi. Nabi Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam bersabda :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Takutlah kalian dari api  neraka, walaupun dengan bershodaqoh sebiji kurma..�??&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hendaknya kalian jadikan pelindung; antara kalian dengan api neraka yakni dengan bershodaqoh sebiji kurma. Karena amalan shodaqoh akan melindungi kalian dari api neraka, tentunya jika Allah menerima shodaqoh kalian. Namun apabila kalian tidak memiliki sebiji kurma, maka Rasulullah Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam memberikan alternatif lain yang juga dapat melindungi kalian dari api neraka yakni berupa perkataan yang baik. Seperti kalian bertanya tentang keadaan sahabat kalian �??kayfa anta?�??, �??kayfa haluka?�?? (bagaimana kabarmu?), �??kayfa ikhwanuka?�?? (bagaimana kabar saudara-saudaramu?), �??kayfa ahluka?�?? (bagaimana kabar keluargamu?) dan semisalnya. Dimana sikap seperti ini dapat menjadi sebab gembiranya sahabat kalian dan melapangkan hatinya. Ketahuilah, bahwa semua perkataan yang baik termasuk shodaqoh, dan Allah akan memberikan ganjaran serta pahala bagi siapa yang mengamalkannya. Sebagaimana sabda Nabi Shollallahu �??alayhi wa aalihi wa sallam :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Kebaikan itu adalah akhlaq  yang baik�??&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Nabi �??Alaihish sholatu wassalam  juga bersabda :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;�??Kaum mu�??minin yang paling  sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya�??&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Syarh Riyadhus Sholihin hal. 581-582&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-�??Utsaymin Rahimahullah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penterjemah: Fikri Abul  Hassan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="style45"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/ZdVAA33fsL4" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-27T11:51:57.092+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/sunnah-berucap-baik-menampakkan-wajah.html</feedburner:origLink></item><item><title>ISTRI SHOLIHAH PENYEJUK HATI</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/d1tsgOvbFvQ/istri-sholihah-penyejuk-hati.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 21:39:22 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-557334806630244414</guid><description>&lt;p&gt;&lt;span class="text1"&gt;&lt;b&gt;Istri Shalihah Penyejuk Hati&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;Admin  16 April 2008&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan wajah lesu dan tatapan penuh kekecewaan, seorang suami mengadukan permasalahan yang sedang dia hadapi bersama istrinya kepada salah seorang sahabatnya yang mengerti agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Saya hampir tidak pernah menikmati kecantikan istri saya yang sebenarnya dia miliki, �??kata si suami mengawali pengaduannya. Istrinya hanya mau berdandan bila akan ke pesta atau sekedar jalan-jalan. Tetapi si istri tidak punya kebiasaan seperti itu bila tidak keluar, bahkan dianggapnya lucu karena bukan pada tempatnya untuk berdandan di rumah. Begitulah kira-kira isi keluhan si suami. Sahabatnya menasehati. �??Tunaikanlah hak istrimu yaitu didiklah ia dengan ajaran agama, agar mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya, bersabar dan banyaklah berdoa pada Allah. �??Suami itu tersentak sadar bahwa meskipun perjalan rumah tangganya dengan sang istri telah membuahkan lima anak dia sama sekali belum menunaikan hak istri yang satu ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Istri Shalihah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ingin selalu tampil cantik dihadapan lawan jenisnya sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi umumnya wanita. Namun kenyataan yang ada sekarang sering istri berpikir terbalik. Didalam rumah dan dihadapan suaminya, istri merasa tidak begitu perlu untuk tampil dengan dandanan yang cantik dan memikat. Namun jika keluar rumah segalanya dipakai; baju yang bagus, aksesoris indah, make-up yang mencolok dan parfum yang semerbak turut melengkapi agar dapat tampil &lt;em&gt;wah&lt;/em&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lalu bagaimana cara menyelamatkan keadaan yang terbalik ini?&lt;br /&gt;dengan penuh kemantapan dan tanpa ragu sedikitpun, jawabannya adalah kembali kepada ketentuan syari�??ah islam dan tidak ada alternatif lain. Islam telah memberikan bimbingan, bagaimana menjadi istri yang shalihah, sebagaimana ciri-cirinya telah disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam. Bahwa beliau bersabda:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Apabila diperintah ia taat, apabila dipandang menyenangkan hati suaminya, dan apabila suaminya tidak ada dirumah, ia menjaga diri dan harta suaminya.�?? (HR.Ahmad dan An-Nasa�??i, di Hasan-kan oleh Albani dalam Irwa�?? no.1786)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalau kita lihat tuntunan islam diatas, ternyata bukanlah suatu yang sulit untuk dilaksanakan. Siapa pun bisa melakukannya. Disamping itu istri yang mempunyai tiga ciri diatas memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan Allah, dan diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang terbaik; sebagaimana yang dinyatakan Nabi Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.�?? (HR.Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Diniatkan untuk Ibadah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang istri yang baik akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun terkadang timbul perasaan malas atau berat untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, tetapi hendaknya diingat bahwa keridhaan suami lebih diutamakan diatas perasaannya. Lihatlah apa yang dikatakan  Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam ketika Aisyah Radhiyallahu �??anha bertanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Siapa diantara manusia yang paling besar haknya atas (seorang) istri?�?? Beliau Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam menjawab,  �??Suaminya.. �?? (HR. Hakim dan Al-Bazzar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan taat kepada suami dan tentunya dengan menjalankan kewajiban agama lainnya, dapat mengantarkan istri kepada surga-Nya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh Al-Albani:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Bila seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan dan memelihara kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka kelak dikatakan kepadanya: �??masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.�??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemudian hendaklah istri mengingat akan besarnya hak suami atas dirinya, sampai-sampai seandainya dibolehkan sujud kepada selain Allah maka istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu �??alaihi wa aalihi wasallam:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Andaikan saja dibolehkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.�?? (HR. Tirmidzi: Hasan Shahih)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terlalu banyak peluang bagi seorang istri untuk beribadah kepada Allah dalam rumah tangganya dan terlalu mudah dalam memperoleh pahala dalam kehidupan suami istri. Namun sebaliknya terlalu mudah pula seorang istri terjerumus kepada dosa besar kalau melanggar ketentuan yang telah Allah gariskan. Yang perlu diingat oleh istri ialah agar berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dalam melaksanakan kewajibannya sepanjang waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menyenangkan Hati Suami&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apabila diperintah oleh suaminya, istri diwajibkan untuk mentaati. Dan apabila suaminya tidak ada dirumah, istri harus pandai menjaga dirinya dan kehormatannya serta menjaga amanah harta suaminya. Istri yang demikian ini akan dijaga oleh Allah sebagaimana Firman-Nya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�?? ..maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara (mereka).�?? (An-Nisa�??: 34)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adapun kriteria pertama dan ciri-ciri shalihah; Imam As-Sindi mengatakan dalam bukunya Khasyiah Sunan Nasai juz 6 hal 377: �??Menyenangkan bila dipandang itu artinya indahnya penampilan secara dzahir serta akhlaq yang mulia. Juga terus menerus menyibukkan diri dalam taat dan bertaqwa kepada Allah.�??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Banyak hal yang dapat menyenangkan hati suami, diantaranya: penampilan diri agar enak dipandang, dan berbicara dengan menggunakan tutur yang menyenangkan serta dalam hal pengaturan rumah mampu menciptakan suasana bersih dan nyaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;a. Penampilan Diri&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Umumnya suami lebih sering keluar rumah untuk menunaikan tugasnya apakah itu bekerja mencari nafkah ataukah berdakwah, sementara kita tahu keadaan di luar, sangat mudah sekali pandangan mata menjumpai wanita yang berpakaian minim dan menyebarkan aroma wewangian. Sekalipun seorang istri percaya suaminya akan berusaha memalingkan wajah dan menundukkan pandangannya karena takut dosa, namun laki-laki yang normal mungkin dapat tergoda melihat aurat yang haram tersebut. Diakui atau tidak, hal ini sangat mungkin terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagaimana seandainya istri merasa tidak perlu untuk tampil cantik dihadapan suami dengan alasan tidak adanya waktu  karena telah tersibukkan dengan anak dan urusan rumah, apalagi bila tidak ada pembantu. Sehingga dengan penampilan seenaknya dan terkadang (maaf) menyebarkan aroma yang kurang sedap ketika menyambut suaminya yang baru datang dari luar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berpakaian model apapun yang diingini dan disenangi suami dibolehkan dalam syariat islam dan tidak ada batasan aurat antara istri dan suaminya. Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat memuaskan atau menyenangkan suami sehingga suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan (tertarik melihat pemandangan haram di luar rumah) maka berarti si istri turut berperan membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;b. Berbicara yang Enak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada saat suami istri duduk-duduk sambil berbincang tentang barbagai hal, hendaknya istri memlilih ucapan yang baik dengan tutur kata yang indah dan lembut serta sedapat mungkin menghindari pembicaraan yang tidak disukai oleh suami. Demikian pula ketika suami berbicara istri sebaiknya mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan suami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;c. Pengaturan Rumah&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Penting juga diperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari aroma yang kurang sedap. Walhasil, ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami betah berada di dalamnya. Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih dan rapih tidak harus dengan harga yang mahal. Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mudah selama ada keinginan dan diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah. Bukankah segala sesuatu yang baik itu akan bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/d1tsgOvbFvQ" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-27T11:39:22.663+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/istri-sholihah-penyejuk-hati.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bidah?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/fxvyywEKa0w/bidah_26.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 06:00:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-7425923740929038493</guid><description>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Definisi Al Bid'ah Dan Al Furqoh &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah kita memahami As-Sunnah dan Al-Jama'ah, kita perlu memahami lawan dari keduanya; yaitu al-bid'ah dan al-furqah. Dengan mengerti dan memahami apa itu bid'ah dan apa itu furqah, maka diharapkan kita dapat lebih berhati-hati dari kemungkinan terjatuh dalam perbuatan yang merupakan penyimpangan dari As-Sunnah dan Al-Jama'ah tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ISLAM TELAH SEMPURNA DALAM SEGALA BIDANG &lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu diingat dalam memahami agama Allah ini adalah kepastian dari Allah Ta`ala dan Rasul-Nya bahwa Islam adalah agama Allah yang telah sempurna segala bidangnya dan tidak membutuhkan tambahan dari selain Allah dan Rasul-Nya di semua tempat di dunia ini dan di segala jaman. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Allah Ta`ala telah menegaskan kesempurnaan agama-Nya yang berarti juga kesempurnaan nikmat-Nya kepada kita: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah sempurnakan pula nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah restui Islam menjadi agama bagi kalian.�?? (Al-Ma'idah: 3). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Al-Imam Al-Hafidh Abul Fida' Isma'il bin Katsir Al-Qurasyi ketika menerangkan ayat ini menyatakan: �??Ini adalah nikmat Allah yang paling besar terhadap ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak lagi memerlukan agama lainnya, dan tidak pula memerlukan Nabi lainnya selain Nabi Muhammad shalawatullah wa salamuhu `alaihi. Oleh karena itu Allah jadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan Allah utus beliau kepada segenap manusia dan jin. Maka tidaklah dikatakan sesuatu itu sebagai perkara yang halal, kecuali apa yang telah dihalalkan olehnya. Demikian pula sesuatu itu tidaklah dikatakan sebagai perkara yang haram, kecuali apa yang telah diharamkan olehnya. Juga tidaklah dinamakan agama, kecuali apa yang telah disyari'atkannya. Dan segala perkara yang diberitakan olehnya, maka telah pasti dia itu adalah benar dan jujur, serta tidak ada unsur dusta dan tidak pula ada unsur membikin-membikin berita tentang apa yang tidak pernah terjadi. Hal ini juga telah diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;(ayat)&lt;br /&gt;�??Dan telah sempurna agama Tuhanmu dengan jujur benar dan adil.�?? (Al-An'am: 115) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yakni jujur dan benar dalam beritanya dan adil dalam segala perintah dan larangannya. Maka ketika Allah sempurnakan agama mereka, jadilah sempurna kenikmatan-Nya atas mereka.�?? (Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 36).&lt;br /&gt;Dengan demikian, bila agama telah memberikan ketentuan apapun dalam suatu perkara, kita tidak membutuhkan tambahan dari ajaran lain dalam memahaminya dan dalam mengamalkannya. Juga, dalam memperjuangkan agama ini tidak alasan untuk kita mencari ajaran atau bimbingan dan cara perjuangan dari selain Allah dan Rasul-Nya. Adapun dalam perkara yang tidak dibahas oleh Allah dan Rasul-Nya, bila itu adalah dalam perkara dunia maka dipersilakan kita untuk mengambil inisiatif sendiri selama tidak melanggar batas-batas keharaman. Tetapi bila hal yang didiamkan itu dalam perkara ghaib atau selain perkara dunia, maka kita dilarang membahasnya atau membikin kesimpulan-kesimpulan tertentu yang tentunya hanya berdasarkan sangkaan belaka. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian (agama ini, pent) seperti barang yang putih: Malamnya sama dengan siangnya (dalam kejelasan, pent), maka tidaklah akan menyimpang darinya kecuali dia binasa.�?? (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Sunnahnya jilid 1 halaman 67 riwayat ke 49 dari Al-�??Irbadl bin Sariyah).&lt;br /&gt;Juga beliau bersabda: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Tinggalkanlah aku (yakni jangan lagi menanyai aku, pent) dalam apa yang telah aku tinggalkan penjelasannya bagi kalian. Karena yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah karena banyaknya mereka bertanya kepada para Nabi mereka dan banyaknya mereka menyelisihi para Nabi itu. Maka bila aku larang kalian tentang sesuatu, jauhilah apa yang telah dilarang itu. Dan bila aku perintah kalian tentang sesuatu, maka tunaikanlah perintah itu dengan sebesar kemampuan kalian.�?? (HR. Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul I'tisham bil Kitab was Sunnah Bab Al-Iqtida' bi Sunani Rasulillah shallallahu `alaihi wa sallam hadits 7288 - Fathul Bari jilid 13 halaman 251). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan demikian, maka tidak ada alasan yang bisa diterima oleh logika Syari'ah Islamiyah bila orang menganggap bahwa untuk memahami kebenaran Islam harus mencari tambahan keterangan atau contoh pengamalan dari selain apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGERTIAN AL-BID'AH &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Prinsip keyakinan bahwa Islam telah sempurna dan tidak memerlukan tambahan kapan pun dan dimana pun, menolak adanya penambahan dan pengurangan dari selain apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penambahan dan pengurangan yang demikian itu dalam agama dinamakan al-bid'ah. Dalam hal ini kita perlu menelaah lebih rinci lagi pengertian al-bid'ah itu agar kita memandang dan menyikapinya dengan benar. Untuk itu, kita bahas definisi al-bid'ah dari sabda Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan dari keterangan para Ulama' Salafus Shalih ridlwanullahi `alaihim ajma'in. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Dan hati-hatilah kalian dari perkara baru dalam agama. Karena segala perkara yang baru dalam agama itu adalah bid'ah dan segala yang bid'ah itu adalah sesat.�?? (HR. An-Nasa'i dan At-Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan: hadits hasan shahih) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mu'adz bin Jabal radliyallahu `anhu menasehatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Waspadalah kalian dari perbuatan bid'ah yang telah dibikin, karena bid'ah yang manapun itu pasti sesat.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam Al-Ibanah Al-Kubra jilid 1 riwayat ke 204 halaman 339). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Juga Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radliyallahu `anhuma telah menasehatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Semua bid'ah itu sesat, walaupun banyak orang menilainya baik.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam kitab yang sama jilid 1 halaman 339 no hadits 205 dari jalan Nafi' dari Ibnu Umar radliyallahu `anhum). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikian pula Abdullah bin Abbas radliyallahu `anhuma menasehatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Wajib kamu beristiqamah (di atas ajaran Nabi shallallahu `alaihi wa sallam) dan mengikuti tuntunan atsar (yakni keterangan para Shahabat Nabi, pent), dan hati-hati kalian dari perbuatan bid'ah.�?? (HR. Ibnu Bathah dalam Al-Ibanah jilid 1 halaman 340 no hadits 206 dari jalan Utsman bin Hadlari Al-Azadi dari Ibnu Abbas radliyallahu `anhu) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menerangkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengajarkan tuntunan berIslam dan juga para penguasa sepeninggal beliau (yakni para Khulafa' Ar-Rasyidin, pent) telah pula mengajarkannya. Berpegang dengan segenap ajaran itu adalah berarti membenarkan Kitabullah (yakni Al-Qur'an) dan berarti pula menyempurnakan ketaatan kepada Allah serta menjadi kekuatan dalam berpegang dengan agama Allah. Barangsiapa yang mencari petunjuk dengan tuntunan itu, maka sungguh dia akan mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang mencari kemenangan dengan tetap berpegang dengan tuntunan tersebut, maka sungguh dia akan dimenangkan oleh Allah. Tetapi barangsiapa yang menyelisihi berbagai tuntunan itu, dan mengikuti jalan beragama selain jalan kaum Mukminin (yakni kaum Mukminin dari kalangan para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, pent) maka Allah akan sesatkan dia kepada jalan kesesatan yang ditempuhnya dan akhirnya nanti akan dikembalikan dia ke neraka jahannam sebagai tempat kembali yang paling jelek.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam kitab yang sama halaman jilid 1 halaman 352 riwayat ke 231 dari Umar bin Abdul Aziz) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikianlah pengertian bid'ah itu, yang bila kita ambil kesimpulan dari berbagai keterangan tersebut, maka kriteria bid'ah itu adalah:&lt;br /&gt;1). Ajaran agama yang baru sepeninggal Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dan sepeninggal para Shahabat beliau. Yakni ajaran agama yang tidak pernah dikenal oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan tidak pernah dikenal pula oleh para Shahabat beliau. Atau dengan kata lain, ajaran agama yang tidak merujuk kepada ajaran beliau dan tidak pula merujuk kepada keterangan para Shahabat beliau.&lt;br /&gt;2). Ajaran agama yang bertentangan dengan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan bertentangan pula dengan apa yang pernah diterangkan oleh para Shahabat beliau.&lt;br /&gt;3). Semua kebid'ahan itu sesat. Dan anggapan baik kebanyakan orang, tidaklah merubah kedudukan bid'ah itu sebagai amalan yang sesat.&lt;br /&gt;4). Orang yang berbuat bid'ah, bila tidak bertaubat daripadanya sehingga mati di atas kebid'ahan itu, niscaya tempat kembalinya di neraka. Dan amalan agamanya yang disertai perbuatan bid'ah itu, sia-sia dan tertolak di sisi Allah Ta`ala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PENGERTIAN AL-FURQAH &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengertian al-furqah itu, secara bahasa artinya ialah perpecahan. Sedangkan pengertiannya dalam istilah Syari'ah Islamiyah ialah �??berpisah dari Al-Jama'ah�??. Berpisah dari Al-Jama'ah itu bisa dalam bentuk pemahaman dan pengamalan agama yang tidak merujuk kepada Al-Jama'ah, dan bisa juga dalam bentuk menumpahkan darah kaum Muslimin dalam rangka memberontak kepada pemerintah Muslimin atau melakukan pemberontakan kepada penguasa di negeri Muslimin sehingga tentunya akan menumpahkan darah kaum Muslimin. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi sallam telah mengingatkan ummatnya dari bahaya al-furqah ini dalam sabda-sabda beliau berikut ini: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Orang-orang Yahudi telah terpecah atas tujupuluh satu atau tujupuluh dua pecahan dan orang-orang Nashara telah terpecah atas tujupuluh satu atau tujupuluh dua pecahan, dan ummatku akan terpecah dalam tujupuluh tiga pecahan.�?? (HR. Al-Aajurri dalam Asy-Syari'ah jilid 1 hal. 306 riwayat ke 22 dari Abi Hurairah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Al-Imam Al-Aajurri rahimahullah membawakan keterangan Al-Imam Yusuf bin Asbath rahimahullah tentang furqah ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;�??Cikal bakal bid'ah itu ada empat (yaitu ): Ar-Rawafidl, Al-Khawarij, Al-Qadariyah, dan Al-Murji'ah. Kemudian bercabang-cabang dari setiap firqah (pecahan) tersebut delapan belas kelompok (ahli bid'ah). Sehingga seluruhnya berjumlah tujupuluh dua pecahan. Sedangkan pecahan yang ketujupuluh tiga, adalah kelompok yang dinamakan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dengan Al-Jama'ah, yang dikatakan oleh beliau bahwa kelompok itulah yang disebut An-Najiah (yakni selamat, pent).�?? (riwayat Al-Ajurri dalam kitab yang sama riwayat ke 20 halaman 303 �?? 304).&lt;br /&gt;Ar-Rawafidl atau bentuk tunggalnya adalah Ar-Rafidlah, ialah kelompok ahli bid'ah yang menolak untuk mendoakan keridlaan Allah bagi Abu Bakar Ash-Siddiq dan Umar bin Al-Khattab. Sebaliknya mereka menyatakan kutukan bagi keduanya dan mengkafirkannya. Mereka ini sesungguhnya adalah aliran Saba'iyah (yakni pengikut tokoh Yahudi yang pura-pura masuk Islam bernama Abdullah bin Saba' yang pura-pura memuliakan Ali bin Abi Thalib dan Ahli Baitnya dalam rangka mencerca Khalifah-Khalifah yang sebelumnya) yang kemudian mereka ini terkenal di Indonesia dengan nama Syi'ah.&lt;br /&gt;Al-Khawarij, ialah sebuah aliran bid'ah yang menganggap kafir seorang Muslim yang berbuat dosa apapun. Kemudian aliran ini berkembang menjadi aliran yang mengkafirkan segenap Muslimin yang di luar golongannya. Akhirnya golongan ini juga mempunyai atribut bid'ah lainnya, yaitu memberontak kepada pemerintah Muslimin karena dianggap telah kafir dengan berbagai pelanggaran yang ada pada pemerintah itu.&lt;br /&gt;Al-Qadariah, ialah sebuah aliran bid'ah yang menolak beriman kepada adanya taqdir Allah Ta`ala dalam segala kejadian di alam ini.&lt;br /&gt;Al-Murji'ah, ialah sebuah aliran bid'ah yang menyatakan bahwa amalan itu tidak ada kaitannya dengan iman. Sehingga iman itu tidaklah bertambah dengan amalan shalih dan tidak berkurang dengan amalan kemaksiatan. Sehingga dengan keyakinan yang demikian ini, maka aliran tersebut menyatakan bahwa imannya orang-orang shalih sama dengan imannya orang-orang ahli maksiat. Bahkan sampai-sampai mereka menyatakan bahwa imannya para Nabi dan Rasul shalawatullah wa salamuhu `alaihim ajma'ien sama dengan imannya orang-orang fasiq.&lt;br /&gt;Juga Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam telah memperingatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Akan terjadi pada ummatku perselisihan dan perpecahan. Kemudian akan muncul satu kaum yang omongannya baik tetapi perbuatannya jelek. Mereka ini membaca Al-Qur'an, tetapi bacaan Al-Qur'an itu tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka itu terlepas dari agama, sebagaimana terlepasnya anak panah dari sasarannya (karena terlalu kerasnya anak panah itu menghunjam pada sasarannya sehingga hanya lewat saja pada tubuh sasarannya, pent). Kemudian mereka itu tidak akan kembali kepada agamanya (setelah keluar daripadanya, pent), sehingga kembalinya anak panah itu melewati tubuh yang telah ditembusnya (yakni permisalan tidak mungkinnya orang-orang tersebut kembali kepada agama, seperti tidak mungkinnya anak panah kembali melewati lagi tubuh yang telah ditembusnya, pent). Mereka ini adalah sejelek-jelek ciptaan Allah dan makhluk-Nya. Maka beruntunglah bagi siapa (dari kaum Mukminin yang) berhasil membunuhnya atau dibunuh oleh mereka. Mereka itu menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka itu samasekali bukan daripadanya. Maka barangsiapa yang berhasil membunuh mereka, maka dia adalah orang yang paling utama mendapatkan kemuliaan dari Allah.�?? Para Shahabat Nabi bertanya: �??Wahai Rasulullah, apakah ciri khas mereka itu?�?? Beliau menjawab: �??Mereka suka menggundul rambutnya.�?? (HR. Al-Aajurri dalam Asy-Syari'ah jilid 1 hal. 336 �?? 337 riwayat ke 40, dari Anas bin Malik dan Abu Sa'ied Al-Khudri). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Al-Imam Al-Aajurri rahimahullah menerangkan:&lt;br /&gt;�??Maka tidaklah sepantasnya bagi orang yang melihat kesungguh-sungguhannya seorang Khawarij, yang telah memberontak kepada penguasa Muslimin. Baik terhadap penguasa yang adil ataupun terhadap penguasa yang dhalim, kemudian dia memobilisir kelompoknya untuk memberontak, dan menghunuskan pedangnya, serta menghalalkan tindakan membunuh Muslimin. Tidak sepantasnya seorang Muslim yang melihat mereka itu terkecoh dengan bacaan Al-Qur'an mereka yang bagus, dan dengan panjangnya shalat mereka, juga dengan semangat mereka yang selalu berpuasa sunnah, dan juga tidak sepantasnya terkecoh dengan kehebatan mereka dalam menerangkan ilmu agama. Maka janganlah terkecoh dengan itu semua, bila madzhab agamanya adalah madzhab Khawarij.�?? (Asy-Syari'ah, Al-Aajurri, jilid 1 halaman 345).&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengertian al-furqah itu ialah ketika orang tidak lagi merujukkan pemahamannya kepada para Shahabat Nabi dan para Tabi'in dalam memahami agamanya. Juga termasuk pengertian al-furqah adalah memberontak kepada penguasa Muslimin sehingga menumpahkan darah kaum Muslimin karenanya. Sebab dengan memberontak kepada penguasa Muslimin itu, maka sebagian kaum Muslimin akan membela pemerintahnya dan sebagian lagi memerangi pemerintahnya. Sehingga yang terjadi adalah peperangan di antara sesama kaum Muslimin sebagai akibat dari pemberontakan tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;WASIAT PARA ULAMA' DARI BAHAYA AL-BID'AH DAN AL-FURQAH DAN BAHAYA AHLIL BID'AH WAL FURQAH &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Para Ulama' Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kalangan Salafus Shalih telah banyak meninggalkan wasiat yang memperingatkan kaum Muslimin semua dari bahaya al-bid'ah dan al-furqah dan juga memperingatkan dari bahaya ahlil bid'ah wal furqah. Karena bahaya pemahaman sesat dan orang-orang yang berpemahaman sesat, amat besar terhadap agama kita dan juga terhadap ummat kita secara keseluruhan. Al-Imam Al-Aajurri dalam Asy-Syari'ah jilid ke 5 hal. 2540 Bab Dzikru Hijrati Ahlil Bida'i wal Ahwa'ie membawakan padanya beberapa riwayat dengan sanadnya dari wasiat-wasiat para Imam �?? Imam Ahlis Sunnah wal Jama'ah tentang bagaimana menyikapi ahli bid'ah wal furqah dan bagaimana menjaga diri dari bahaya al-bid'ah dan al-furqah. Beberapa riwayat itu antara lain adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Abu Qilabah rahimahullah menyatakan: �??Sesungguhnya ahlul ahwa' (yakni pengekor kemauan hawa nafsu. Ini adalah nama lain dari pada ahlul bid'ah. Karena dalam beragama mereka tidaklah terikat dengan dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits dengan pemahaman para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, akan tetapi lebih terikat dengan selera hawa nafsu mereka, pent) adalah ahlu dhalalah (yakni orang-orang yang sesat, pent). Dan aku tidak melihat jalan yang mereka tempuh kecuali ke neraka.�??&lt;br /&gt;Beliau menyatakan pula: �??Tidaklah seseorang itu membikin suatu bid'ah kecuali pasti (pada akhirnya, pent) menghalalkan pedang (yakni menggunakan pedang untuk menumpahkan darah Muslimin, pent).�??&lt;br /&gt;Amr bin Malik rahimahullah menceritakan bahwa Abul Jauza' rahimahullah ketika menyebutkan ahlul ahwa' , beliau pun menyatakan: �??Demi yang diri Abul Jauza' ada di tangan-Nya. Seandainya rumahku dipenuhi oleh monyet dan babi, sungguh yang demikian itu lebih aku sukai daripada aku bertetangga dengan seorang dari mereka. Dan sungguh mereka itu telah masuk dalam katagori orang-orang yang diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya: (artinya) Demikianlah kalian mencintai mereka dan mereka tidak menyenangi kalian dan kalian beriman kepada kitab (yakni Al-Qur'an) secara keseluruhan. Mereka itu bila berjumpa dengan kalian, mereka akan mengatakan: Kami beriman. Tetapi bila mereka bersendirian, mereka akan menggigit jari-jemari mereka karena jengkel kepada kalian. Katakanlah: Mampuslah kalian dengan kejengkelan kalian itu. Sesungguhnya Allah itu Maha Tahu apa yang terbetik di hati orang-orang.�?? (Ali Imran 119).&lt;br /&gt;Sallam bin Abi Muthi' menyatakan: Ayyub As-Sakhtiani telah menamakan semua Ahlul Bid'ah itu dengan nama Khawarij. Dan beliau menyatakan: �??Orang-orang Khawarij itu berbeda-beda namanya, akan tetapi mereka akan bersepakat dalam perkara pedang (yakni mereka akan bersepakat dalam menghalalkan penggunaan pedang dalam rangka menumpahkan darah Muslimin, pent).�??&lt;br /&gt;Khawarij dalam istilah Ayyub As-Sakhtiani ini dalam makna keluarnya mereka dari shirathal mustaqim (yakni jalan kebenaran) dan dalam hal kesamaan mereka dengan salah satu prinsip bid'ah Khawarij yang menghalalkan darah Muslimin.&lt;br /&gt;Harb bin Maimun menceritakan bahwa Khuwail mengisahkan: Aku pernah duduk di majlisnya Yunus bin Ubaid. Tiba-tiba datang seorang pria kepada beliau dan menyatakan: �??Wahai Imam, engkau melarang kami untuk duduk dengan Amer bin Ubaid (dia adalah seorang tokoh Mu'tazilah yang amat membenci Ahlus Sunnah wal Jama'ah, pent), tetapi kenyataannya anakmu sekarang ini sedang berada di rumahnya Amer bin Ubaid.�?? &lt;/span&gt;Khuwail selanjutnya menceritakan: Tidak lama setelah orang itu melaporkan kepada Yunus tentang anaknya itu, anak tersebut datang ke majlis ayahnya. Maka Yunus pun menyatakan kepada anaknya itu: �??Wahai anakku, engkau telah mengerti pandanganku terhadap Amer bin Ubaid dan engkau mendatangi rumahnya?�?? Maka anaknya pun menjawab: �??Aku sesungguhnya pergi ke rumahnya karena diajak si fulan.�?? Yunus pun menasehati anaknya: �??Wahai anakku, aku telah melarang engkau dari zina, mencuri dan minum khamr. Dan sungguh, seandainya engkau meninggal dunia bertemu Allah dengan amalan-amalan itu, lebih aku senangi daripada engkau menjumpai-Nya dengan pandangan agamanya Amer dan teman-temannya.�??&lt;br /&gt;Yakni Yunus bin Ubaid menasehatkan kepada putranya bahwa mati dalam keadaan membawa dosa maksiat perbuatan zina, mencuri, dan minum khamer, sungguh lebih ringan daripada mati dalam keadaan di atas bid'ah kesesatan yang diajarkan oleh Amer bin Ubaid dan kawan-kawannya. Karena bid'ah itu sekecil apapun, tetap lebih besar dosanya daripada kemaksiatan apapun selain syirik kepada Allah Ta`ala.&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Utsman Isma'il bin Abdurrahman As-Shabuni rahimahullah menerangkan: �??Janganlah saudara-saudaraku �??semoga Allah memelihara mereka- terkecoh dengan banyaknya ahlul bid'ah dari sisi jumlah mereka. Karena banyaknya Ahlul Bathil (yakni pengekor kebatilan) itu dan sedikitnya Ahlul Haq (yakni yang mengikuti kebenaran, pent) adalah termasuk dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Hal ini sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;�??Sesungguhnya termasuk dari tanda-tanda akan terjadinya hari kiamat dan dekatnya ialah ketika sedikitnya penyebaran Ilmu dan banyaknya kejahilan.�?? (HR. As-Shabuni dalam kitab Aqidatis Salaf wa Ash-habul Hadits hal 124 nomor hadits 177 dari Anas bin Malik) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan Ilmu yang dimaksud dalam hadits ini adalah As-Sunnah (yakni ajaran-ajaran Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, pent). Sedangkan yang dimaksud kejahilan itu adalah kebid'ahan.�?? (Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, Al-Imam Abi Utsman Isma'il bin Abdurrahman As-Shabuni, hal. 124 riwayat ke 177 �?? 178).&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Abi Zamanin rahimahullah dalam kitabnya Ushulus Sunnah, meriwayatkan dari Mus'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqas, beliau menceritakan: �??Ayahku (yakni Sa'ad bin Abi Waqqas radliyallahu `anhu, pent) berwasiat kepadaku: �??Wahai anakku, janganlah engkau duduk bercengkerama dengan orang yang terkena fitnah (yakni fitnah kebid'ahan atau kesesatan, pent). Karena duduk bercengkerama dengan orang yang demikian ini tidak akan meleset dari kamu salah satu dari dua kemungkinan; yaitu: Kemungkinan dia akan menggelincirkan engkau dari jalan kebenaran, atau kemungkinannya akan menjadikan hatimu dijangkiti penyakit (yaitu penyakit ragu kepada kebenaran, pent).�?? (Ushulus Sunnah, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Andalusi Ibnu Abi Zamanin, hal. 302 riwayat ke 235). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;PENUTUP &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bahaya al-bid'ah dan al-furqah yang mencakup pula bahaya ahlul bid'ah wal furqah terhadap keimanan dan keyakinan Ummat Islam. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka menyelinap di kalangan Ummat Islam sebagai orang-orang munafiq yang mempunyai agenda tertentu dalam makar jahat mereka terhadap Islam dan Ummat Islam. Mereka akan bersekongkol dengan musuh-musuh Islam dalam kejahatan mereka. Oleh karena itu Ummat Islam harus terus-menerus waspada dari bahaya al-bid'ah dan al-furqah serta bahaya ahlul bid'ah wal furqah. Agar jangan sampai terkecoh oleh berbagai penipuan dan penghianatan mereka, sehingga mengeluarkan Ummat Islam dari agamanya. &lt;/span&gt;Wallahu A'lamu bish-Shawab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/fxvyywEKa0w" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-26T20:00:45.058+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/bidah_26.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bidah?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/misbah2405/~3/n-79KITJaMo/bidah.html</link><author>misbah2405@gmail.com</author><pubDate>Sat, 26 Apr 2008 06:00:38 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6556461801001851376.post-4366707362001582066</guid><description>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Definisi Al Bid'ah Dan Al Furqoh &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah kita memahami As-Sunnah dan Al-Jama'ah, kita perlu memahami lawan dari keduanya; yaitu al-bid'ah dan al-furqah. Dengan mengerti dan memahami apa itu bid'ah dan apa itu furqah, maka diharapkan kita dapat lebih berhati-hati dari kemungkinan terjatuh dalam perbuatan yang merupakan penyimpangan dari As-Sunnah dan Al-Jama'ah tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ISLAM TELAH SEMPURNA DALAM SEGALA BIDANG &lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu diingat dalam memahami agama Allah ini adalah kepastian dari Allah Ta`ala dan Rasul-Nya bahwa Islam adalah agama Allah yang telah sempurna segala bidangnya dan tidak membutuhkan tambahan dari selain Allah dan Rasul-Nya di semua tempat di dunia ini dan di segala jaman. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Allah Ta`ala telah menegaskan kesempurnaan agama-Nya yang berarti juga kesempurnaan nikmat-Nya kepada kita: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah sempurnakan pula nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah restui Islam menjadi agama bagi kalian.�?? (Al-Ma'idah: 3). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Al-Imam Al-Hafidh Abul Fida' Isma'il bin Katsir Al-Qurasyi ketika menerangkan ayat ini menyatakan: �??Ini adalah nikmat Allah yang paling besar terhadap ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak lagi memerlukan agama lainnya, dan tidak pula memerlukan Nabi lainnya selain Nabi Muhammad shalawatullah wa salamuhu `alaihi. Oleh karena itu Allah jadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan Allah utus beliau kepada segenap manusia dan jin. Maka tidaklah dikatakan sesuatu itu sebagai perkara yang halal, kecuali apa yang telah dihalalkan olehnya. Demikian pula sesuatu itu tidaklah dikatakan sebagai perkara yang haram, kecuali apa yang telah diharamkan olehnya. Juga tidaklah dinamakan agama, kecuali apa yang telah disyari'atkannya. Dan segala perkara yang diberitakan olehnya, maka telah pasti dia itu adalah benar dan jujur, serta tidak ada unsur dusta dan tidak pula ada unsur membikin-membikin berita tentang apa yang tidak pernah terjadi. Hal ini juga telah diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;(ayat)&lt;br /&gt;�??Dan telah sempurna agama Tuhanmu dengan jujur benar dan adil.�?? (Al-An'am: 115) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yakni jujur dan benar dalam beritanya dan adil dalam segala perintah dan larangannya. Maka ketika Allah sempurnakan agama mereka, jadilah sempurna kenikmatan-Nya atas mereka.�?? (Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 36).&lt;br /&gt;Dengan demikian, bila agama telah memberikan ketentuan apapun dalam suatu perkara, kita tidak membutuhkan tambahan dari ajaran lain dalam memahaminya dan dalam mengamalkannya. Juga, dalam memperjuangkan agama ini tidak alasan untuk kita mencari ajaran atau bimbingan dan cara perjuangan dari selain Allah dan Rasul-Nya. Adapun dalam perkara yang tidak dibahas oleh Allah dan Rasul-Nya, bila itu adalah dalam perkara dunia maka dipersilakan kita untuk mengambil inisiatif sendiri selama tidak melanggar batas-batas keharaman. Tetapi bila hal yang didiamkan itu dalam perkara ghaib atau selain perkara dunia, maka kita dilarang membahasnya atau membikin kesimpulan-kesimpulan tertentu yang tentunya hanya berdasarkan sangkaan belaka. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian (agama ini, pent) seperti barang yang putih: Malamnya sama dengan siangnya (dalam kejelasan, pent), maka tidaklah akan menyimpang darinya kecuali dia binasa.�?? (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Sunnahnya jilid 1 halaman 67 riwayat ke 49 dari Al-�??Irbadl bin Sariyah).&lt;br /&gt;Juga beliau bersabda: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Tinggalkanlah aku (yakni jangan lagi menanyai aku, pent) dalam apa yang telah aku tinggalkan penjelasannya bagi kalian. Karena yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah karena banyaknya mereka bertanya kepada para Nabi mereka dan banyaknya mereka menyelisihi para Nabi itu. Maka bila aku larang kalian tentang sesuatu, jauhilah apa yang telah dilarang itu. Dan bila aku perintah kalian tentang sesuatu, maka tunaikanlah perintah itu dengan sebesar kemampuan kalian.�?? (HR. Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul I'tisham bil Kitab was Sunnah Bab Al-Iqtida' bi Sunani Rasulillah shallallahu `alaihi wa sallam hadits 7288 - Fathul Bari jilid 13 halaman 251). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan demikian, maka tidak ada alasan yang bisa diterima oleh logika Syari'ah Islamiyah bila orang menganggap bahwa untuk memahami kebenaran Islam harus mencari tambahan keterangan atau contoh pengamalan dari selain apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGERTIAN AL-BID'AH &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Prinsip keyakinan bahwa Islam telah sempurna dan tidak memerlukan tambahan kapan pun dan dimana pun, menolak adanya penambahan dan pengurangan dari selain apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penambahan dan pengurangan yang demikian itu dalam agama dinamakan al-bid'ah. Dalam hal ini kita perlu menelaah lebih rinci lagi pengertian al-bid'ah itu agar kita memandang dan menyikapinya dengan benar. Untuk itu, kita bahas definisi al-bid'ah dari sabda Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan dari keterangan para Ulama' Salafus Shalih ridlwanullahi `alaihim ajma'in. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Dan hati-hatilah kalian dari perkara baru dalam agama. Karena segala perkara yang baru dalam agama itu adalah bid'ah dan segala yang bid'ah itu adalah sesat.�?? (HR. An-Nasa'i dan At-Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan: hadits hasan shahih) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mu'adz bin Jabal radliyallahu `anhu menasehatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Waspadalah kalian dari perbuatan bid'ah yang telah dibikin, karena bid'ah yang manapun itu pasti sesat.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam Al-Ibanah Al-Kubra jilid 1 riwayat ke 204 halaman 339). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Juga Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radliyallahu `anhuma telah menasehatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Semua bid'ah itu sesat, walaupun banyak orang menilainya baik.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam kitab yang sama jilid 1 halaman 339 no hadits 205 dari jalan Nafi' dari Ibnu Umar radliyallahu `anhum). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikian pula Abdullah bin Abbas radliyallahu `anhuma menasehatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Wajib kamu beristiqamah (di atas ajaran Nabi shallallahu `alaihi wa sallam) dan mengikuti tuntunan atsar (yakni keterangan para Shahabat Nabi, pent), dan hati-hati kalian dari perbuatan bid'ah.�?? (HR. Ibnu Bathah dalam Al-Ibanah jilid 1 halaman 340 no hadits 206 dari jalan Utsman bin Hadlari Al-Azadi dari Ibnu Abbas radliyallahu `anhu) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menerangkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengajarkan tuntunan berIslam dan juga para penguasa sepeninggal beliau (yakni para Khulafa' Ar-Rasyidin, pent) telah pula mengajarkannya. Berpegang dengan segenap ajaran itu adalah berarti membenarkan Kitabullah (yakni Al-Qur'an) dan berarti pula menyempurnakan ketaatan kepada Allah serta menjadi kekuatan dalam berpegang dengan agama Allah. Barangsiapa yang mencari petunjuk dengan tuntunan itu, maka sungguh dia akan mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang mencari kemenangan dengan tetap berpegang dengan tuntunan tersebut, maka sungguh dia akan dimenangkan oleh Allah. Tetapi barangsiapa yang menyelisihi berbagai tuntunan itu, dan mengikuti jalan beragama selain jalan kaum Mukminin (yakni kaum Mukminin dari kalangan para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, pent) maka Allah akan sesatkan dia kepada jalan kesesatan yang ditempuhnya dan akhirnya nanti akan dikembalikan dia ke neraka jahannam sebagai tempat kembali yang paling jelek.�?? (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam kitab yang sama halaman jilid 1 halaman 352 riwayat ke 231 dari Umar bin Abdul Aziz) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikianlah pengertian bid'ah itu, yang bila kita ambil kesimpulan dari berbagai keterangan tersebut, maka kriteria bid'ah itu adalah:&lt;br /&gt;1). Ajaran agama yang baru sepeninggal Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dan sepeninggal para Shahabat beliau. Yakni ajaran agama yang tidak pernah dikenal oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan tidak pernah dikenal pula oleh para Shahabat beliau. Atau dengan kata lain, ajaran agama yang tidak merujuk kepada ajaran beliau dan tidak pula merujuk kepada keterangan para Shahabat beliau.&lt;br /&gt;2). Ajaran agama yang bertentangan dengan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan bertentangan pula dengan apa yang pernah diterangkan oleh para Shahabat beliau.&lt;br /&gt;3). Semua kebid'ahan itu sesat. Dan anggapan baik kebanyakan orang, tidaklah merubah kedudukan bid'ah itu sebagai amalan yang sesat.&lt;br /&gt;4). Orang yang berbuat bid'ah, bila tidak bertaubat daripadanya sehingga mati di atas kebid'ahan itu, niscaya tempat kembalinya di neraka. Dan amalan agamanya yang disertai perbuatan bid'ah itu, sia-sia dan tertolak di sisi Allah Ta`ala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PENGERTIAN AL-FURQAH &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengertian al-furqah itu, secara bahasa artinya ialah perpecahan. Sedangkan pengertiannya dalam istilah Syari'ah Islamiyah ialah �??berpisah dari Al-Jama'ah�??. Berpisah dari Al-Jama'ah itu bisa dalam bentuk pemahaman dan pengamalan agama yang tidak merujuk kepada Al-Jama'ah, dan bisa juga dalam bentuk menumpahkan darah kaum Muslimin dalam rangka memberontak kepada pemerintah Muslimin atau melakukan pemberontakan kepada penguasa di negeri Muslimin sehingga tentunya akan menumpahkan darah kaum Muslimin. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi sallam telah mengingatkan ummatnya dari bahaya al-furqah ini dalam sabda-sabda beliau berikut ini: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Orang-orang Yahudi telah terpecah atas tujupuluh satu atau tujupuluh dua pecahan dan orang-orang Nashara telah terpecah atas tujupuluh satu atau tujupuluh dua pecahan, dan ummatku akan terpecah dalam tujupuluh tiga pecahan.�?? (HR. Al-Aajurri dalam Asy-Syari'ah jilid 1 hal. 306 riwayat ke 22 dari Abi Hurairah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Al-Imam Al-Aajurri rahimahullah membawakan keterangan Al-Imam Yusuf bin Asbath rahimahullah tentang furqah ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;�??Cikal bakal bid'ah itu ada empat (yaitu ): Ar-Rawafidl, Al-Khawarij, Al-Qadariyah, dan Al-Murji'ah. Kemudian bercabang-cabang dari setiap firqah (pecahan) tersebut delapan belas kelompok (ahli bid'ah). Sehingga seluruhnya berjumlah tujupuluh dua pecahan. Sedangkan pecahan yang ketujupuluh tiga, adalah kelompok yang dinamakan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dengan Al-Jama'ah, yang dikatakan oleh beliau bahwa kelompok itulah yang disebut An-Najiah (yakni selamat, pent).�?? (riwayat Al-Ajurri dalam kitab yang sama riwayat ke 20 halaman 303 �?? 304).&lt;br /&gt;Ar-Rawafidl atau bentuk tunggalnya adalah Ar-Rafidlah, ialah kelompok ahli bid'ah yang menolak untuk mendoakan keridlaan Allah bagi Abu Bakar Ash-Siddiq dan Umar bin Al-Khattab. Sebaliknya mereka menyatakan kutukan bagi keduanya dan mengkafirkannya. Mereka ini sesungguhnya adalah aliran Saba'iyah (yakni pengikut tokoh Yahudi yang pura-pura masuk Islam bernama Abdullah bin Saba' yang pura-pura memuliakan Ali bin Abi Thalib dan Ahli Baitnya dalam rangka mencerca Khalifah-Khalifah yang sebelumnya) yang kemudian mereka ini terkenal di Indonesia dengan nama Syi'ah.&lt;br /&gt;Al-Khawarij, ialah sebuah aliran bid'ah yang menganggap kafir seorang Muslim yang berbuat dosa apapun. Kemudian aliran ini berkembang menjadi aliran yang mengkafirkan segenap Muslimin yang di luar golongannya. Akhirnya golongan ini juga mempunyai atribut bid'ah lainnya, yaitu memberontak kepada pemerintah Muslimin karena dianggap telah kafir dengan berbagai pelanggaran yang ada pada pemerintah itu.&lt;br /&gt;Al-Qadariah, ialah sebuah aliran bid'ah yang menolak beriman kepada adanya taqdir Allah Ta`ala dalam segala kejadian di alam ini.&lt;br /&gt;Al-Murji'ah, ialah sebuah aliran bid'ah yang menyatakan bahwa amalan itu tidak ada kaitannya dengan iman. Sehingga iman itu tidaklah bertambah dengan amalan shalih dan tidak berkurang dengan amalan kemaksiatan. Sehingga dengan keyakinan yang demikian ini, maka aliran tersebut menyatakan bahwa imannya orang-orang shalih sama dengan imannya orang-orang ahli maksiat. Bahkan sampai-sampai mereka menyatakan bahwa imannya para Nabi dan Rasul shalawatullah wa salamuhu `alaihim ajma'ien sama dengan imannya orang-orang fasiq.&lt;br /&gt;Juga Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam telah memperingatkan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;�??Akan terjadi pada ummatku perselisihan dan perpecahan. Kemudian akan muncul satu kaum yang omongannya baik tetapi perbuatannya jelek. Mereka ini membaca Al-Qur'an, tetapi bacaan Al-Qur'an itu tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka itu terlepas dari agama, sebagaimana terlepasnya anak panah dari sasarannya (karena terlalu kerasnya anak panah itu menghunjam pada sasarannya sehingga hanya lewat saja pada tubuh sasarannya, pent). Kemudian mereka itu tidak akan kembali kepada agamanya (setelah keluar daripadanya, pent), sehingga kembalinya anak panah itu melewati tubuh yang telah ditembusnya (yakni permisalan tidak mungkinnya orang-orang tersebut kembali kepada agama, seperti tidak mungkinnya anak panah kembali melewati lagi tubuh yang telah ditembusnya, pent). Mereka ini adalah sejelek-jelek ciptaan Allah dan makhluk-Nya. Maka beruntunglah bagi siapa (dari kaum Mukminin yang) berhasil membunuhnya atau dibunuh oleh mereka. Mereka itu menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka itu samasekali bukan daripadanya. Maka barangsiapa yang berhasil membunuh mereka, maka dia adalah orang yang paling utama mendapatkan kemuliaan dari Allah.�?? Para Shahabat Nabi bertanya: �??Wahai Rasulullah, apakah ciri khas mereka itu?�?? Beliau menjawab: �??Mereka suka menggundul rambutnya.�?? (HR. Al-Aajurri dalam Asy-Syari'ah jilid 1 hal. 336 �?? 337 riwayat ke 40, dari Anas bin Malik dan Abu Sa'ied Al-Khudri). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Al-Imam Al-Aajurri rahimahullah menerangkan:&lt;br /&gt;�??Maka tidaklah sepantasnya bagi orang yang melihat kesungguh-sungguhannya seorang Khawarij, yang telah memberontak kepada penguasa Muslimin. Baik terhadap penguasa yang adil ataupun terhadap penguasa yang dhalim, kemudian dia memobilisir kelompoknya untuk memberontak, dan menghunuskan pedangnya, serta menghalalkan tindakan membunuh Muslimin. Tidak sepantasnya seorang Muslim yang melihat mereka itu terkecoh dengan bacaan Al-Qur'an mereka yang bagus, dan dengan panjangnya shalat mereka, juga dengan semangat mereka yang selalu berpuasa sunnah, dan juga tidak sepantasnya terkecoh dengan kehebatan mereka dalam menerangkan ilmu agama. Maka janganlah terkecoh dengan itu semua, bila madzhab agamanya adalah madzhab Khawarij.�?? (Asy-Syari'ah, Al-Aajurri, jilid 1 halaman 345).&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengertian al-furqah itu ialah ketika orang tidak lagi merujukkan pemahamannya kepada para Shahabat Nabi dan para Tabi'in dalam memahami agamanya. Juga termasuk pengertian al-furqah adalah memberontak kepada penguasa Muslimin sehingga menumpahkan darah kaum Muslimin karenanya. Sebab dengan memberontak kepada penguasa Muslimin itu, maka sebagian kaum Muslimin akan membela pemerintahnya dan sebagian lagi memerangi pemerintahnya. Sehingga yang terjadi adalah peperangan di antara sesama kaum Muslimin sebagai akibat dari pemberontakan tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;WASIAT PARA ULAMA' DARI BAHAYA AL-BID'AH DAN AL-FURQAH DAN BAHAYA AHLIL BID'AH WAL FURQAH &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Para Ulama' Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kalangan Salafus Shalih telah banyak meninggalkan wasiat yang memperingatkan kaum Muslimin semua dari bahaya al-bid'ah dan al-furqah dan juga memperingatkan dari bahaya ahlil bid'ah wal furqah. Karena bahaya pemahaman sesat dan orang-orang yang berpemahaman sesat, amat besar terhadap agama kita dan juga terhadap ummat kita secara keseluruhan. Al-Imam Al-Aajurri dalam Asy-Syari'ah jilid ke 5 hal. 2540 Bab Dzikru Hijrati Ahlil Bida'i wal Ahwa'ie membawakan padanya beberapa riwayat dengan sanadnya dari wasiat-wasiat para Imam �?? Imam Ahlis Sunnah wal Jama'ah tentang bagaimana menyikapi ahli bid'ah wal furqah dan bagaimana menjaga diri dari bahaya al-bid'ah dan al-furqah. Beberapa riwayat itu antara lain adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Abu Qilabah rahimahullah menyatakan: �??Sesungguhnya ahlul ahwa' (yakni pengekor kemauan hawa nafsu. Ini adalah nama lain dari pada ahlul bid'ah. Karena dalam beragama mereka tidaklah terikat dengan dalil dari Al-Qur'an dan Al-Hadits dengan pemahaman para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, akan tetapi lebih terikat dengan selera hawa nafsu mereka, pent) adalah ahlu dhalalah (yakni orang-orang yang sesat, pent). Dan aku tidak melihat jalan yang mereka tempuh kecuali ke neraka.�??&lt;br /&gt;Beliau menyatakan pula: �??Tidaklah seseorang itu membikin suatu bid'ah kecuali pasti (pada akhirnya, pent) menghalalkan pedang (yakni menggunakan pedang untuk menumpahkan darah Muslimin, pent).�??&lt;br /&gt;Amr bin Malik rahimahullah menceritakan bahwa Abul Jauza' rahimahullah ketika menyebutkan ahlul ahwa' , beliau pun menyatakan: �??Demi yang diri Abul Jauza' ada di tangan-Nya. Seandainya rumahku dipenuhi oleh monyet dan babi, sungguh yang demikian itu lebih aku sukai daripada aku bertetangga dengan seorang dari mereka. Dan sungguh mereka itu telah masuk dalam katagori orang-orang yang diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya: (artinya) Demikianlah kalian mencintai mereka dan mereka tidak menyenangi kalian dan kalian beriman kepada kitab (yakni Al-Qur'an) secara keseluruhan. Mereka itu bila berjumpa dengan kalian, mereka akan mengatakan: Kami beriman. Tetapi bila mereka bersendirian, mereka akan menggigit jari-jemari mereka karena jengkel kepada kalian. Katakanlah: Mampuslah kalian dengan kejengkelan kalian itu. Sesungguhnya Allah itu Maha Tahu apa yang terbetik di hati orang-orang.�?? (Ali Imran 119).&lt;br /&gt;Sallam bin Abi Muthi' menyatakan: Ayyub As-Sakhtiani telah menamakan semua Ahlul Bid'ah itu dengan nama Khawarij. Dan beliau menyatakan: �??Orang-orang Khawarij itu berbeda-beda namanya, akan tetapi mereka akan bersepakat dalam perkara pedang (yakni mereka akan bersepakat dalam menghalalkan penggunaan pedang dalam rangka menumpahkan darah Muslimin, pent).�??&lt;br /&gt;Khawarij dalam istilah Ayyub As-Sakhtiani ini dalam makna keluarnya mereka dari shirathal mustaqim (yakni jalan kebenaran) dan dalam hal kesamaan mereka dengan salah satu prinsip bid'ah Khawarij yang menghalalkan darah Muslimin.&lt;br /&gt;Harb bin Maimun menceritakan bahwa Khuwail mengisahkan: Aku pernah duduk di majlisnya Yunus bin Ubaid. Tiba-tiba datang seorang pria kepada beliau dan menyatakan: �??Wahai Imam, engkau melarang kami untuk duduk dengan Amer bin Ubaid (dia adalah seorang tokoh Mu'tazilah yang amat membenci Ahlus Sunnah wal Jama'ah, pent), tetapi kenyataannya anakmu sekarang ini sedang berada di rumahnya Amer bin Ubaid.�?? &lt;/span&gt;Khuwail selanjutnya menceritakan: Tidak lama setelah orang itu melaporkan kepada Yunus tentang anaknya itu, anak tersebut datang ke majlis ayahnya. Maka Yunus pun menyatakan kepada anaknya itu: �??Wahai anakku, engkau telah mengerti pandanganku terhadap Amer bin Ubaid dan engkau mendatangi rumahnya?�?? Maka anaknya pun menjawab: �??Aku sesungguhnya pergi ke rumahnya karena diajak si fulan.�?? Yunus pun menasehati anaknya: �??Wahai anakku, aku telah melarang engkau dari zina, mencuri dan minum khamr. Dan sungguh, seandainya engkau meninggal dunia bertemu Allah dengan amalan-amalan itu, lebih aku senangi daripada engkau menjumpai-Nya dengan pandangan agamanya Amer dan teman-temannya.�??&lt;br /&gt;Yakni Yunus bin Ubaid menasehatkan kepada putranya bahwa mati dalam keadaan membawa dosa maksiat perbuatan zina, mencuri, dan minum khamer, sungguh lebih ringan daripada mati dalam keadaan di atas bid'ah kesesatan yang diajarkan oleh Amer bin Ubaid dan kawan-kawannya. Karena bid'ah itu sekecil apapun, tetap lebih besar dosanya daripada kemaksiatan apapun selain syirik kepada Allah Ta`ala.&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Utsman Isma'il bin Abdurrahman As-Shabuni rahimahullah menerangkan: �??Janganlah saudara-saudaraku �??semoga Allah memelihara mereka- terkecoh dengan banyaknya ahlul bid'ah dari sisi jumlah mereka. Karena banyaknya Ahlul Bathil (yakni pengekor kebatilan) itu dan sedikitnya Ahlul Haq (yakni yang mengikuti kebenaran, pent) adalah termasuk dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Hal ini sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabda beliau: &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;�??Sesungguhnya termasuk dari tanda-tanda akan terjadinya hari kiamat dan dekatnya ialah ketika sedikitnya penyebaran Ilmu dan banyaknya kejahilan.�?? (HR. As-Shabuni dalam kitab Aqidatis Salaf wa Ash-habul Hadits hal 124 nomor hadits 177 dari Anas bin Malik) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan Ilmu yang dimaksud dalam hadits ini adalah As-Sunnah (yakni ajaran-ajaran Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, pent). Sedangkan yang dimaksud kejahilan itu adalah kebid'ahan.�?? (Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, Al-Imam Abi Utsman Isma'il bin Abdurrahman As-Shabuni, hal. 124 riwayat ke 177 �?? 178).&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Abi Zamanin rahimahullah dalam kitabnya Ushulus Sunnah, meriwayatkan dari Mus'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqas, beliau menceritakan: �??Ayahku (yakni Sa'ad bin Abi Waqqas radliyallahu `anhu, pent) berwasiat kepadaku: �??Wahai anakku, janganlah engkau duduk bercengkerama dengan orang yang terkena fitnah (yakni fitnah kebid'ahan atau kesesatan, pent). Karena duduk bercengkerama dengan orang yang demikian ini tidak akan meleset dari kamu salah satu dari dua kemungkinan; yaitu: Kemungkinan dia akan menggelincirkan engkau dari jalan kebenaran, atau kemungkinannya akan menjadikan hatimu dijangkiti penyakit (yaitu penyakit ragu kepada kebenaran, pent).�?? (Ushulus Sunnah, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah Al-Andalusi Ibnu Abi Zamanin, hal. 302 riwayat ke 235). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;PENUTUP &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bahaya al-bid'ah dan al-furqah yang mencakup pula bahaya ahlul bid'ah wal furqah terhadap keimanan dan keyakinan Ummat Islam. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka menyelinap di kalangan Ummat Islam sebagai orang-orang munafiq yang mempunyai agenda tertentu dalam makar jahat mereka terhadap Islam dan Ummat Islam. Mereka akan bersekongkol dengan musuh-musuh Islam dalam kejahatan mereka. Oleh karena itu Ummat Islam harus terus-menerus waspada dari bahaya al-bid'ah dan al-furqah serta bahaya ahlul bid'ah wal furqah. Agar jangan sampai terkecoh oleh berbagai penipuan dan penghianatan mereka, sehingga mengeluarkan Ummat Islam dari agamanya. &lt;/span&gt;Wallahu A'lamu bish-Shawab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;TRIMITRA BANGUN JAGAD&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/misbah2405/~4/n-79KITJaMo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://purl.org/atom/app#">2008-04-26T20:00:38.143+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wwwabah-blogspotcom.blogspot.com/2008/04/bidah.html</feedburner:origLink></item><media:rating>adult</media:rating><media:description type="plain">MisbaH</media:description></channel></rss>

