<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989</atom:id><lastBuildDate>Wed, 15 Mar 2023 10:15:02 +0000</lastBuildDate><category>understanding</category><category>ideologi teknologi</category><category>indonesia</category><category>off-topic</category><title>Modus Getar</title><description>i have no idea</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Day Milovich)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-4435223666871347946</guid><pubDate>Mon, 03 Mar 2014 00:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-03T07:34:48.073+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>Smartphone, Google, dan Kerusakan Lingkungan Hidup</title><description>&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-uHs3BxB-f8E/UxPL-Z5Fz-I/AAAAAAAADlc/obhv7W-RLKg/s1600/smartphone-google-kerusakan-lingkungan-hidup.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; &gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-uHs3BxB-f8E/UxPL-Z5Fz-I/AAAAAAAADlc/obhv7W-RLKg/s1600/smartphone-google-kerusakan-lingkungan-hidup.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin bergantung pada pemakaian internet, pemakaian kertas semakin hemat, namun, ketergantungan terhadap internet menghasilkan kerusakan lingkungan hidup yang tidak sepadan dibandingkan penghematan kertas itu. &lt;i&gt;Adakah hubungan signifikan antara pencarian di Google dan kerusakan lingkungan hidup?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;dari Kertas ke ebook, dari CD ke .mp3&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut &lt;i&gt;infographic&lt;/i&gt; yang menyajikan hasil survei “How the Internet has Made the World Greener” (Bagaimana Internet sudah Membuat Dunia Lebih Hijau) di situs Graphs.net, pada tahun 2000, dunia memproduksi 730 juta keping cakram-padat (CD), menurun menjadi 223,5 juta pada tahun 2012. Di sisi lain, penjualan trackrekam digital (biasanya berupa .mp3) pada tahun 2003 baru 19,2 juta menaik menjadi 1.172 juta pada tahun 2012. Ini sama saja dengan penghematan plastik (bahan utama pembuatan CD) sebesar 97,5 juta pound.&lt;br /&gt;
Sulit untuk memantau pemakaian kertas kebutuhan perkantoran, namun setidaknya bisa dipantau dari pemakaian kertas foto karena kertas foto bisa diketahui jumlah produksi dan pemakaiannya. Semakin lama, pemakaian kertas foto semakin hemat sejak pemakaian internet meningkat, terutama sejak orang lebih suka menampilkan foto di Facebook dan Instagram.&lt;br /&gt;
Budaya &quot;&lt;i&gt;selfie&lt;/i&gt;&quot;, yaitu memotret diri-sendiri dengan ponsel lalu menampilkannya di jejaring sosial, mendukung penghematan kertas ini. Jika dikalkulasi, orang lebih suka &quot;upload&quot; daripada &quot;print&quot; foto. Di Facebook, per hari ada 300 juta foto di-upload, di Instagram 5 juta foto per hari. Hemat 90 juta pound kertas dibandingkan pemakaian kertas sejak 2000-2010. Angka yang menyenangkan, terjadi di produksi buku kertas, berhadapan dengan ebook (buku berbentuk file) yang bisa menghemat pemakaian kertas sejak tahun 2000 sampai 200 juta pound. Angka tertinggi adalah pemakaian kertas berhadapan dengan pemakaian email, sejak tahun 2000, yang bisa menghemat 2.750 juta pound.&lt;br /&gt;
Sebenarnya, di teknologi &quot;special effect&quot; dalam pembuatan film, juga lebih ramah lingkungan. Orang tidak selalu memakai peledak sungguhan untuk menghasilkan efek tempat yang dihancurkan.&lt;br /&gt;
Statistik di atas, berpihak pada sisi penghematan bahan baku kertas. Perkembangannya memang sepintas menyenangkan, orang beralih ke versi digital dalam mendengarkan musik, mencetak foto, berkomunikasi, dan membaca buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketergantungan Internet, Ketergantungan pada Sampah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sepintas, kebiasaan di atas sangat baik. Apa konsekuensi dari &quot;kebiasaan baik&quot; di atas? Ketergantungan terhadap pemakaian internet, semakin tinggi. Pemakaian piranti yang sulit dimatikan. Orang semakin terhubung, semakin tidak mau melepaskan diri dari piranti bernama komputer dan gadget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Internet digerakkan oleh server-server besar, mesin-mesin yang saling-terhubung, mempertukarkan data, melintasi negara. Komputer terhubung ke internet dengan sistem TCP/IP (transmission control protocol/internel protocol), sedangkan gadget dan piranti mobile terhubung dengan sistem GPRS. Tanpa sistem ini, tidak ada internet. Bisa dibilang, internet tidak pernah mati, atau lebih tepatnya: tidak bisa dimatikan.&lt;br /&gt;
Bayangkan seluruh piranti dengan fitur &quot;bisa internetan&quot; semuanya sedang menyala. Itu sama artinya dengan pemakaian listrik serta emisi karbon dari semua piranti itu. Jumlahnya, mencengangkan.&lt;br /&gt;
Bumi dihuni 6,7 milyar manusia, 61% terdaftar menggunakan ponsel. Transfer data 1 Gb yang dipakai ponsel di jaringan 3G, seluruhnya membutuhkan 939 MJ (megajoules), setara dengan 7,3 galon gas, atau berarti emisi CO2 sebesar 27 Kg. Ponsel yang tidak terpakai, pada tahun 2013, dan terbuang jumlahnya 140 juta, atau berarti setiap detik ada 4 ponsel terbuang. Padahal, setiap 515 ponsel yang didaur-ulang bisa selamatkan energi untuk memberi tenaga listrik pada satu rumah dalam satu tahun. Untuk charging semua ponsel yang ada di dunia, butuh tenaga listrik yang setara dengan 584.000 galon gas dan menghasilkan 35.000.000 pound CO2 (karbon dioksida). Ini terjadi setiap hari. &lt;br /&gt;
Ditinjau dari sisi penghematan kertas, memang internet membuat pemakaian kertas lebih hemat, namun ditinjau dari sisi penggunaan ponsel ternyata koneksi itu selalu menghasilkan polusi tak terhindarkan dalam jumlah besar, tidak sebanding dengan penghematan kertas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Faktor Pendukung : Google, Spam, dan Aplikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ketergantungan terhadap koneksi internet, sebenarnya adalah kebutuhan orang terhadap berita, pendidikan, dan hiburan di internet. Jika disingkat, ini terjadi karena konsumerisme, tidak hanya pada pemakaian internet sebagai media iklan, namun juga pada tingkat pemakaian aplikasi. Para pemakai internet, mungkin tidak semuanya membeli product retail semacam baju, toileter, ponsel, yang diiklankan dengan website, namun, mereka tetaplah pemakai aplikasi, tidak bisa hidup di internet tanpa aplikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menjadi kebiasaan, orang menemukan “sesuatu” di website karena mereka mencari “sesuatu” dengan bantuan Google. Bisa dibilang, Google memiliki sumbangan besar terhadap penggunaan internet. Disadari atau tidak, Google menjadi pengantar dan penentu apa yang mereka lakukan di internet. Berdasarkan kalkulasi angka pemakaian ponsel di atas, disertai ekses negatifnya terhadap lingkungan, didapatkan hasil begini: setiap mengetikkan “sesuatu” di Google, Anda menyumbang 0,2 gram emisi karbon. Berapa kali Anda menggunakan Google sambil berlama-lama di internet? Website berlomba-lomba untuk menjadi nomor satu di &lt;i&gt;page-one&lt;/i&gt;, halaman-satu hasil pencarian Google. Tidak jarang pula menggunakan metode blackhat, dengan melakukan rekayasa sosial, ataupun menyebarkan spam. Hasilnya: sering ditemukan situs &quot;sampah&quot; atau iklan yang tidak perlu di-klik. Content semacam ini, sangat banyak di internet, membuat browser dan system Windows rusak, akhirnya durasi pemakaian internet semakin lama, semakin tidak efisien. Bisa dibilang, selain Google, nominasi berikutnya yang membuat berinternet lama adalah &lt;i&gt;spam&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Peta Baru Konsumerisme: Irasionalitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Amerika dulu didirikan atas dasar puritan dan penyewa, namun pada perkembangannya, sekarang menguasai 28% produk di dunia. Amerika identik dengan kapitalisme dan konsumerisme.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana masyarakat konsumerisme terbentuk?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Amerika memiliki &quot;mimpi&quot;, salah satunya dengan mengkapitalisasi hasrat kesadaran seseorang, dengan menjual barang (goods), dengan janji pengiriman (delivering). Mereka mengirimkan kekuasaan, status, daya tarik seksual, glamor, kesehatan, dll. atas dasar hubungan emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kekuasaan&quot;, telah menjadi watak pengetahuan, Michel Foucault. Pengertian ini berbeda dengan anggapan umum, bahwa siapa yang memiliki pengetahuan akan menguasai. &lt;br /&gt;
Status, melalui konsumerisme, menjadi cara tercepat dalam menentukan &quot;kelas&quot; dan hubungan sosial. Starbuck, dicitrakan sebagai kelas tinggi para penikmat kopi, terlepas dari kualitas kopi senyatanya. Apa &quot;yang seharusnya&quot; (dalam iklan &lt;i&gt;Starbuck&lt;/i&gt;) tidak lagi terhubung dengan apa &quot;yang senyatanya&quot; (rasa kopi dan layanan outletStarbuck).&lt;br /&gt;
Kesehatan atau medis, masih menjadi cara untuk mendisiplinkan tubuh yang paling efisien. Medis memperkenalkan tubuh yang fungsional. Orang akan makan tiga kali sehari jika percaya &quot;mitos&quot; kesehatan. Orang akan mencari makanan bernutrisi di mal.&lt;br /&gt;
Freud berpendapat, bahwa manusia sering bertindak secara irasional saat emosi terlibat, dan mengarah kepada keyakinan bahwa obyek-obyek (yang dia konsumsi) adalah simbol karakter mereka. Obyek konsumsi, menurut teori ini, adalah untuk memanipulasi pikiran manusia.&lt;br /&gt;
Pada tahun 1928, tabu bagi perempuan untuk merokok, menurut psikoanalis : rokok itu simbol penis. Isu ini justru mengantar Lucky Strike untuk menggunakan rokok sebagai &quot;suluh kebebasan&quot;, merokok berarti kesetaraan perempuan (female equality). Lucky Strike laris manis. Edward Bernay, keponakan Sigmund Freud, yang mengantar isu ini, menjadi pemikir yang berjasa mengantarkan irasionalitas Amerika dan produk-produknya.&lt;br /&gt;
Sekarang, &quot;irasionalitas&quot; dan &quot;mimpi&quot; adalah dua sisi mata uang logam dengan harga yang sama. Mungkin itu adalah harga diri.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda mematikan internet hari ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Borobudur &lt;br /&gt;
http://modusgetar.blogspot.com &lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2014/03/smartphone-google-kerusakan-lingkungan-hidup.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-uHs3BxB-f8E/UxPL-Z5Fz-I/AAAAAAAADlc/obhv7W-RLKg/s72-c/smartphone-google-kerusakan-lingkungan-hidup.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-1790694933442096570</guid><pubDate>Mon, 03 Mar 2014 00:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-03T07:22:40.358+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Tuhan Yahudi, &quot;Hati Nurani&quot;, dan Cerita tentang Perempuan</title><description>&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-GZun3xf1BEU/UxPIZLh5PSI/AAAAAAAADlQ/KuS3QY4VNs8/s1600/tuhan-yahudi-hati-nurani-cerita-perempuan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; &gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-GZun3xf1BEU/UxPIZLh5PSI/AAAAAAAADlQ/KuS3QY4VNs8/s1600/tuhan-yahudi-hati-nurani-cerita-perempuan.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Mengapa muncul gagasan tentang &quot;hati nurani&quot; dalam teks agama-agama? Apa hubungan gagasan ini dengan subordinasi terhadap perempuan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;the Outer Limits&lt;/i&gt; : Pertanyaan bukan Milik Agama ataupun Sains&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Suatu kali, saya menonton-kembali satu episode di serial &quot;&lt;i&gt;the Outer Limits&lt;/i&gt;&quot; di YouTube, kemudian berlanjut menonton movie &quot;&lt;i&gt;Hitler: the Rise of Evil&lt;/i&gt;&quot;. Serial &quot;&lt;i&gt;the Outer Limits&lt;/i&gt;&quot;, gagasan besarnya berkisar tentang alien dan manusia. Ide-ide agama, pengetahuan, dan perilaku manusia dituturkan bukan dalam bentuk peperangan frontal alien versus manusia.&lt;br /&gt;
Seni menuturkan cerita (&lt;i&gt;the art of story-telling&lt;/i&gt;) menjadikan serial ini sering memakai sudut-pandang beda dari cerita tentang alien lainnya.&lt;br /&gt;
Serial ini hanya ingin mengajak orang berpikiran terbuka (&lt;i&gt;open mind&lt;/i&gt;) tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup: ke mana manusia setelah mati? Bagaimana evolusi terjadi? Apakah jiwa itu sesungguhnya? Apakah perjalanan waktu itu ada? Setiap awal dan akhir serial, ada suara seorang narator yang memberikan prolog dan epilog, tanpa mendikte sudut pandang pemirsa.&lt;br /&gt;
Apakah deretan pertanyaan itu hak-milik (&lt;i&gt;property&lt;/i&gt;) sains ataukah agama? Pertanyaan yang dimunculkan dalam ilmu pengetahuan dan agama, dalam serial ini, menjadi sama-sama ditunda, lebih tepatnya: mirip dua sisi mata uang logam, sebelum penonton melihat -dengan- sudut pandang tertentu. Misalnya, pertanyaan &quot;mengapa ada lompatan waktu (time leap)?&quot; yang diklaim ilmu pengetahuan secara teoritis bisa terjadi, diceritakan untuk pertanyaan agama: &quot;ke mana manusia setelah mati? apakah jiwa itu?&quot;. Ada pula episode yang menceritakan seorang ibu yang teguh memegang keyakinan, bahwa kelak dia akan hamil, saat melahirkan menjadi remaja, lalu mati demi bayinya itu yang diturunkan dari alien. Maka terjadilah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;tentang Asal dan Pengertian &quot;Hati Nurani&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setelah menonton-ulang salah satu episode di serial &quot;&lt;i&gt;the Outer Limits&lt;/i&gt;&quot; ini, saya beralih ke movie &quot;&lt;i&gt;Hitler : the Rise of Evil&lt;/i&gt;&quot; (HRE)yang menceritakan kegigihan Hitler untuk berjuang atas nama Jerman. Hitler, memang antisemit, sejak muda dia sangat membenci Yahudi. Ketika ada anak buahnya menyarankan dia menggunakan hati nurani, Hitler berujar, &quot;&lt;i&gt;Hati nurani. Itu bikinan Yahudi!&lt;/i&gt;&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Mengapa ada ide tentang &quot;hati nurani&quot; dalam agama-agama?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Ide &quot;hati nurani&quot; (&lt;i&gt;conscience&lt;/i&gt;) digulirkan orang-orang Yahudi di kitab mereka, lalu dibicarakan pula oleh Kristen dan Islam.&lt;br /&gt;
Hati nurani, dikenal orang Yunani dengan istilah &quot;&lt;i&gt;syneidesis&lt;/i&gt;&quot;, dalam bahasa Latin adalah &quot;conscientia&quot;, berarti &quot;pengetahuan pendamping&quot; atau menurut C. J Vaughan berarti kecakapan untuk &quot;pengetahuan bersama dengan dirinya sendiri&quot; (&lt;i&gt;Romans&lt;/i&gt;, 1880, hlm 40). Hati nurani tidak hanya terkait kesadaran (&lt;i&gt;consciousness&lt;/i&gt;) dan penginderaan (&lt;i&gt;sensation&lt;/i&gt;), sebab bisa menjadi &quot;penghakiman&quot; (begitu kata Alkitab di Kristen) atas hal yang dilakukan dengan sadar. &lt;i&gt;Perjanjian Baru&lt;/i&gt;, sebelum Abad LXX, &quot;&lt;i&gt;syneidesis&lt;/i&gt;&quot; tidak dikenal. Para ahli mengaitkan ini dengan gagasan Helenistis, bukan bahasa Ibrani. Pemakaiannya, ramai terjadi pada Abad 6-7 SM dalam teks surat menyurat. Islam mengenal istilah &quot;&lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;&quot; (&quot;hati nurani&quot;, bukan &quot;hati&quot;).  Pengertian &quot;&lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;&quot; yang paling keren, datang dari Imam al-Ghazali.&lt;br /&gt;
Dalam &lt;i&gt;&#39;Ajaibul Qulub&lt;/i&gt;  dijelaskan sebagai: &quot;segumpal daging&quot; dan &quot;&lt;i&gt;lathifah rabbaniyah&lt;/i&gt;&quot; (daya halus Tuhan. Dalam &lt;i&gt;Ihya&#39; Ulumuddin&lt;/i&gt;, karya Imam al-Ghazali, kata &quot;&lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;&quot; (hati nurani), &quot;&lt;i&gt;&#39;aql&lt;/i&gt;&quot; (rasio, akal), &quot;&lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;&quot; (diri), dan &quot;&lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;&quot; (ruh) sering menjadi sinonim untuk menyebut &quot;&lt;i&gt;lathifah rabbaniyah&lt;/i&gt;&quot; atau daya halus Tuhan. &quot;Hati nurani&quot;, bagi Imam al-Ghazali merupakan: daging fisik, metode menemukan kebenaran logis, mewakili diri seseorang, sekaligus ruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tuhan Yahudi, Cerita tentang Perempuan, dan Problematisasi &quot;Hati Nurani&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Seandainya gagasan tentang &quot;hati nurani&quot; tidak ada dalam agama-agama di dunia, tentu keadaan tidak seperti sekarang.&lt;br /&gt;
Gagasan &quot;hati nurani&quot; diterapkan untuk siapa? Manusia; namun obyek paling representatif untuk membicarakan &quot;hati nurani&quot;, tentu saja perempuan. Paling bisa dilihat dalam perempuan, sebab membicarakan hati nurani berarti berbicara tentang: emosi, akal, indera, pengetahuan, keyakinan, &quot;kejadian manusia&quot;, kelahiran bayi, watak manusia, dll., itu membicarakan perempuan.&lt;br /&gt;
Mari berbalik sebentar, sebelum ke perempuan, untuk membincang gagasan tentang &quot;Tuhan&quot; menurut agama Yahudi.&lt;br /&gt;
Gagasan tentang &quot;Tuhan&quot; menurut Yahudi adalah: gagasan Tuhan dalam sosok &quot;pagan&quot; (berhala sembahan).&lt;br /&gt;
Cerita ini diperkuat dengan narasi penyembahan sapi emas di masa Musa. Kebudayaan &quot;pagan&quot; ini kelak bisa ditemukan dalam kebudayaan Kristen. Konsep &quot;menyembah&quot; adalah tindakan berjarak: A menyembah B. Orang Yahudi pula yang paling sering protes terhadap keadaan mereka, meminta nabi-nabi mereka untuk &quot;membuktikan&quot;, &quot;mendatangkan&quot;, dan &quot;menampakkan-diri&quot;. Tuhan yang dikenal dalam periode ini, masih berada di proyek mitologi, nongkrong di langit, dan diperlakukan -secara- manusia, menurut manusia. Tuhan lebih sering tampil kejam, bolak-balik di kondisi &quot;mengampuni&quot; atau &quot;menghukum&quot;.&lt;br /&gt;
Protes semacam ini, kelak akan menghasilkan protes lebih dahsyat, mengkerucut menjadi &quot;&lt;i&gt;science&lt;/i&gt;&quot;, ilmu-pengetahuan. &quot;&lt;i&gt;Conscientia&lt;/i&gt;&quot;, menjadi &quot;&lt;i&gt;scientia&lt;/i&gt;&quot;.&lt;br /&gt;
Konsep Tuhan-personal ini, kelak akan berevolusi setelah gerakan sufisme memakai gagasan epistemik yang lebih &quot;rumit&quot; namun jelas konstruksinya, gagasan yang menjadi pertemuan arus Islam, Buddhisme, Persia, Yunani, dan dialog terhadap teks yang hidup, membawa angin perubahan, di mana Tuhan tidak lagi diposisikan secara diametral, berjarak-dan-berhadapan dengan manusia.&lt;br /&gt;
al-Hallaj, memberi pengertian &quot;&lt;i&gt;tawhid&lt;/i&gt;&quot; (pengesaan, bukan menganggap &quot;satu&quot; sebagai jumlah) sebagai &quot;kesatuan wujud&quot;. Tuhan tidak lagi berjarak. Manusia memiliki aspek &quot;&lt;i&gt;lahut&lt;/i&gt;&quot; (keilahian) dan &quot;&lt;i&gt;nasut&lt;/i&gt;&quot; (ke-manusia-an). Dunia seisinya ini, menurut al-Hallaj, secara aksiologis tidak bernilai. Gagasan apapun yang berusaha mendeskripsikan Tuhan itu tidak layak. Hanya ada 2 (dua) kata yang dipakainya di tahun-tahun kepergiannya, yaitu: &quot;&lt;i&gt;ana&lt;/i&gt;&quot; (aku) dan &quot;&lt;i&gt;al-Haqq&lt;/i&gt;&quot; (Kebenaran). Tentu saja, dia harus dibunuh karena &quot;melawan&quot; gagasan &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt; di zamannya.&lt;br /&gt;
Gagasan emanasi Ibn al-&#39;Arabi di barisan tasawuf falsafi, menghadirkan pengertian Tuhan yang berbeda. Tuhan itu imanen sekaligus transenden. Ide tentang iblis, malaikat, dll. juga mengalami pergeseran. Ayat-ayat al-Qur&#39;an periode Makkah dan Madinah, menghadirkan sosok langit ini dari &quot;personal&quot; ke &quot;potensi abstrak&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sains adalah Pertanyaan Manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Singkatnya, pergeseran konsep &quot;Tuhan&quot; ini, pelan-pelan menjadi jalan-baru bagi pengetahuan serta mendatangkan gagasan tentang keunggulan manusia. Anda bisa menilik teks sejarah Frankenstein dan Drakula, Newton, Galileo, Ikhwan al-Shafa, dll. Ilmu pengetahuan adalah &lt;i&gt;cara bertanya&lt;/i&gt; kepada Tuhan secara lebih baik. Carl Sagan menyebut, &quot;&lt;i&gt;Ilmu pengetahuan adalah peribadatan yang diinformasikan.&lt;/i&gt;&quot;.&lt;br /&gt;
Manusia diunggulkan atas makhluk lain, dengan cara pandang manusia, bukan karena perbedaan fisik. Secara biologis, manusia digolongkan sebagai binatang, namun dia diberi &quot;tanggung jawab&quot;, &quot;potensi&quot;, dll. dengan satu pembeda: hati nurani. Harap diingat, pengertian hati-nurani itu &lt;i&gt;melampaui&lt;/i&gt; akal (berarti juga mengakui keberadaan akal) dan tidak ada binatang manapun yang mencapai ilmu-pengetahuan. Ini menjadi semacam &quot;radio&quot; yang melebur jarak antara manusia dengan Tuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa hubungannya antara &quot;perempuan&quot; dengan gagasan tentang &quot;hati nurani&quot; ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Gagasan &quot;Hati nurani&quot; berfungsi untuk menjawab keterbatasan hubungan agama dengan pengetahuan, sementara itu, ide-ide besar yang dibicarakan oleh agama (yaitu: manusia, keyakinannya,dan masyarat) hanya bisa diperbincangkan -melalui- cerita tentang perempuan.&lt;br /&gt;
Maka di sini agama (terutama agama yang diturunkan dari pengetahuan Yahudi) membutuhkan konsep &quot;hati nurani&quot;.&lt;br /&gt;
Implementasinya, menjadi begini: 1. Agama itu melampaui akal, tidak bisa disamakan dengan pengetahuan. &quot;Hati nurani&quot;, dibutuhkan perannya untuk membenarkan keadaan ini. 2. Manusia akan bersosialisasi, butuh melembagakan seksualitas, dalam bentuk perkawinan dan keluarga. Lahirlah masyarakat. 3. Masyarakat berisi peraturan bermacam-macam, namun intinya &quot;harus&quot; memisahkan perempuan dari lelaki. Lihatlah ide tentang &lt;i&gt;hijab&lt;/i&gt; (penutup), berasal dari agama Yahudi. Agama justru menjadi instrumen untuk melakukan subordinasi (atau pemisahan?) terhadap perempuan.&lt;br /&gt;
Supremasi atas jenis kelamin lain, kelak akan berkembang menjadi supremasi ras (atau agama?) tertentu atas &quot;yang lain&quot;. Manusia (atau lelaki) semakin memiliki otoritas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup setelah menciptakan pola hubungan baru, dengan istilah: &quot;jenis kelamin kedua&quot;, &quot;teman pendamping&quot;, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika sekarang terjadi penyingkapan, atas teks &quot;perempuan&quot;, tentang diskursus eksistensial, peran perempuan dalam peradaban, ataupun perannya di kehidupan modern, tentu kita bisa kembali pada gagasan tentang &quot;hati nurani&quot; yang menjadi sentral perbincangan agama-agama di dunia. Saya pernah menjelaskan bagaimana menstruasi membentuk peradaban manusia dan bagaimana pola makanan manusia yang terus bergeser sepanjang sejarah itu mempengaruhi orgasme perempuan. Tidak mengherankan, dalam kehidupan sekarang banyak temuan pengetahuan yang semakin memprotes subordinasi atas perempuan. Termasuk penjelasan Ivan Illich, dalam buku &lt;i&gt;Gender&lt;/i&gt; bahwa di balik gagasan &quot;gender&quot; (jenis-kelamin sosial) ada ide untuk menaikkan angkatan-kerja perempuan.&lt;br /&gt;
Ide tentang &quot;hati nurani&quot; lebih tentang wacana, sehingga bukan kebetulan jika tidak mengalami dilema penerjemahan, tidak seperti cerita Hawa yang tergoda &quot;&lt;i&gt;nachash&lt;/i&gt;&quot;. Ada yang mengartikan &quot;&lt;i&gt;nashash&lt;/i&gt;&quot; (dari bahasa Ibrani) sebagai: 1. &quot;ular&quot;, &lt;i&gt;to hiss lmendesis&lt;/i&gt;, 2. atau diartikan &quot;yang bercahaya&quot;). &lt;br /&gt;
Tiba-tiba, ide hati-nurani dari Yahudi ini, merubah perilaku manusia dan cara mereka mengatur atau menguasai bumi. &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Menurut Anda, mengapa ada ide &quot;hati nurani&quot; dalam agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, temanmu.&lt;br /&gt;
http://google.com/+DayMilovich&lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2014/03/tuhan-yahudi-hati-nurani-cerita-perempuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-GZun3xf1BEU/UxPIZLh5PSI/AAAAAAAADlQ/KuS3QY4VNs8/s72-c/tuhan-yahudi-hati-nurani-cerita-perempuan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-5079657289793885572</guid><pubDate>Mon, 03 Mar 2014 00:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-03T07:05:48.264+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">indonesia</category><title>Goyang &quot;Oplosan&quot; dan Propaganda Politik</title><description>&lt;b&gt;Radio : Relasi Perang dan Musik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perang Dunia II adalah konflik terbesar pertama yang berperan membentuk zaman distribusi musik masal. Jika tidak ada Perang Dunia II, mungkin  musik tidak didistribusikan secara meluas seperti sekarang. Orang zaman itu mendengarkan radio dan orkestra, belum ada pembajakan massal mengunduh musik di internet seperti sekarang.&lt;br /&gt;
Tahun 1946, berdasarkan penelitian David Craig, sebanyak 96,2% penduduk urban Amerika Timur Laut memiliki radio. Semasa Nazi menguasai Jerman, menurut laporan HistoryontheNet.com jumlah pemilik radio di Jerman, meningkat dari 4 juta menjadi 16 juta kepemilikan radio. Pada masa itu, intro sinema dan musik, menjadi &quot;selingan&quot; yang selalu menghiasai acara radio.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Propaganda dan Konstruksi Ruang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lebih banyak, acaranya adalah propaganda, musik di sensor. Acara yang tidak memunculkan &quot;semangat&quot;, melupakan &quot;negara&quot;, dan tidak mendukung kebijakan, tidak akan diterima dan dianggap melawan kehendak perjuangan.&lt;br /&gt;
Anda bisa melihat daftar lagu yang populer waktu itu, betapa &quot;konstruksi ruang&quot; masih banyak dituturkan dalam lirik lagu. Diksi dalam lirik lagu, lekat dengan harapan (pada kemenangan perang, bukan perdamaian dunia), kenangan (atas manusia dan kota yang menyejarah), ciuman dan doa (atas cinta yang tertunda atau terhadap korban perang). Lagu-lagu memiliki ingatan kolektif tentang sebuah peristiwa dan tempat. Kita bisa merasakan &quot;konstruksi ruang&quot; dari lirik lagu, seperti penggunaan diksi: &quot;kereta api&quot;, penyebutan marka tanah (landmark), nama kota, dll. Lagu bisa mengantar pendengarnya pada &quot;ruang&quot; dan &quot;nostalgia&quot;, tidak sekadar ide abstrak berupa cinta dua sejoli. Anda bisa membuat daftar lagu lama (tahun 1940-1970) dibandingkan dengan lagu-lagu baru (1990-sekarang). Lagu sekarang, lebih didominasi ide-ide abstrak, petuah moral, dan lara hati, yang kurang menghadirkan &quot;ruang&quot;. Dari Noah sampai Payung Teduh, konstruksi ruang tidak banyak dituturkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Televisi : Propaganda Berbentuk Pro-Kontra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Nazi di bawah Hitler pula yang menyebarkan televisi untuk publik untuk propaganda perjuangan Jerman Suci dan antisemitisme. Orang Jerman bisa terbakar semangatnya, melihat para tentara berbaris, mengangkat senjata, dan Hitler berpidato. Kalau menyimak pidato Ir. Soekarno (presiden pertama Republik Indonesia), yang masih bisa didapatkan di YouTube, orang bisa bersemangat, bangga sebagai warga negara Indonesia yang memiliki perlawanan terhadap imperialisme ekonomi-politik waktu itu. Orang Indonesia pernah diberi suguhan musikal dengan selingan setting barak militer dan salam untuk keluarga di rumah dari para tentara di acara &quot;Kamera Ria&quot; di TVRI pada tahun 1980-an. Sekarang, televisi justru menampilkan para tentara berdiri dan berjoget di televisi swasta mengenakan seragam. Sampai saat tulisan ini diturunkan, saya masih belum bisa menemukan stasiun televisi di luar negeri di mana tentara berjoget seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&quot;Oplosan&quot; dan Kebenaran-Populer&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yang penting goyang. Apalagi kalau goyang &quot;oplosan&quot;. Sebelumnya, lagu ciptaan Nur Bayan ini, dipopulerkan di jalur dangdut koplo live-show terutama di pantura, kemudian diusung Soimah di acara Show Imah. Popularitasnya menggoyang joget Caesar, apalagi setelah dibawa ke acara Yuk Keep Smile (YKS) Trans-TV.&lt;br /&gt;
Belum ada terjadi kondisi di mana semua manusia dalam studio televisi (penyaji, crew, dan penonton) semuanya bergoyang &quot;oplosan&quot;. Lagu ini menggunakan bahasa Jawa, ditonton pemirsa Indonesia. Lagu ini diputar setiap penyangan YKS. Seperti bisa ditebak, keceriaan dan kebersamaan  dalam goyang &quot;oplosan&quot;, akan disambut kritik, antara lain menganggap goyang ini kurang sopan, content tidak mendidik, dll.&lt;br /&gt;
Dunia televisi (dan media pada umumnya) menyandingkan kritik-negatif dengan kritik-mendukung. Pro-kontra justru bisa mengangkat popularitas acara, bisa pula melakukan &quot;pengadilan&quot;. Lihat bagaimana orang-orang yang tidak mau dipanggil KPK justru datang di acara Indonesia Lawyer Club SCTV, kebenaran hukum versus kebenaran-menurut-penonton). Sinetron yang diangkat dari cerita sejarah dan berita politik, adalah fenomena yang hampir sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jejaring Sosial dan Reduksi Peran Lembaga Pemerintah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Televisi seperti hanya memberikan tawaran acara, sementara parapenonton menjadi pembeli di antara produk-produk yang tiadahenti diiklankan. Termasuk iklan bernama kebenaran, partai politik, dan hiburan.&lt;br /&gt;
Status televisi vis a vis penonton ini pula yang mereduksi peran lembaga semacam Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Panitia Pengawas Pemilu (panwaslu). Banyak pelanggaran terjadi, banyak protes di luar area (terutama di jejaring sosial) yang tidak tersambung.  Twitter dan Facebook penuh charity dan penandatanganan solidaritas untuk &quot;melawan&quot; pelanggaran, namun sampai manakah itu bisa diterima?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2014 : Tahun Politik, Kota Partai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menyuarakan kebenaran itu pahit, dan kesalahan yang terus-menerus disuarakan, itulah yang disebut: politik. Bukan kebenaran. Kita hanyabisa memaklumi sesuatu yang terus-menerus disiarkan itu sebagai propaganda. Terutama di tahun 2014, tahun politik, di mana kota-kota besar menjadi kota partai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda mendengarkan propaganda politik hari ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, temanmu.&lt;br /&gt;
http://google.com/+DayMilovich &lt;br /&gt;
follow @tamanmerah on Twitter &lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2014/03/goyang-oplosan-propaganda-politik.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-988445383226971961</guid><pubDate>Mon, 03 Mar 2014 00:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-03T07:00:20.278+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Membaca Emosi dalam Puisi</title><description>&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-4CNAKtRHb4E/UxPF6gNUGTI/AAAAAAAADlE/EGyfNHqwUo4/s1600/membaca-emosi-dalam-puisi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; &gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-4CNAKtRHb4E/UxPF6gNUGTI/AAAAAAAADlE/EGyfNHqwUo4/s1600/membaca-emosi-dalam-puisi.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana &quot;emosi&quot; diekspresikan melalui puisi? Bagaimana membaca &quot;emosi&quot; dalam puisi?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengertian Emosi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Artikel ini menggunakan pengertian &quot;emosi&quot; sebagai: &quot;1. Keadaan instingtif yang alami dari pikiran, yang diturunkan atau terjadi atas suatu keadaan, mood, atau hubungan dengan hal-lain; 2. Perasaan khusus apapun yang berupa keadaan pikiran, seperti: senang, marah, cinta, benci, takut, dll.; 3. Pengalaman subyektif, sadar, yang dicirikan dengan ekspresi psikofisiologi, reaksi biologis, dan keadaan mental.&quot;.&lt;br /&gt;
Emosi itu instingtif, naluriah, sekaligus hasil dari keadaan-pikiran (&lt;i&gt;state of mind&lt;/i&gt;). &quot;Ekspresi&quot; dari emosi, tidak selalu spontan, tidak selalu cepat, tergantung bagaimana pikiran seseorang saat itu. Emosi melibatkan tubuh seseorang, entah berupa &quot;penginderaan&quot; (&lt;i&gt;sensation&lt;/i&gt;), rangsangan (&lt;i&gt;stimulus&lt;/i&gt;), ataupun tingkah-laku (&lt;i&gt;behavior&lt;/i&gt;). Emosi tidak sama dengan &quot;marah&quot;, sebab &quot;marah&quot; hanyalah salah satu &quot;keadaan&quot; atau &quot;ekspresi&quot; dari emosi.&lt;br /&gt;
Sedih sampai menitikkan air mata ketika melihat foto korban bencana, atau tertawa sampai urat pipi meregang, seperti itulah contoh &quot;emosi&quot;, termasuk juga jantung berdebar ketika menghadapi ujian.&lt;br /&gt;
Ada yang mendefinisikan cinta dalam kategori &quot;emosi beruntun&quot;, sejenis &quot;reaksi kimia&quot;. Pengertian ini berasal dari kondisi &quot;psikofisiologi&quot; seseorang, misalnya ketika Tomy berdebar jantungnya saat mendengar suara Andrea di telepon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Memvisualkan Emosi, Mengungkapkan Emosi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tidak mudah memvisualkan &quot;emosi&quot; dalam fotografi, film, dan puisi, namun jika berhasil diekspresikan dengan baik, &quot;emosi&quot; memiliki kekuatan dalam meraih perhatian penikmatnya.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana &quot;emosi&quot; diekspresikan melalui puisi?&lt;/i&gt; Pengertian panjang tentang &quot;emosi&quot;, saat menjadi teks puisi, mau tidak mau menghadapi jalan pembacaan rasional, tak soal bentuk puisinya seperti apa. Seseorang yang sedang mengalami emosi, jikalau menghasilkan teks puisi dengan redaksi klise, tidak akan dirasakan emosinya, tidak menyentuh keindahan mendalam bagi pembaca. Singkatnya, keadaan, perasaan, dan pengalaman yang menjadi emosi itu, ketika menjadi sebuah teks puisi, akan menjadi &lt;i&gt;keputusan berpikir&lt;/i&gt; (mengapa sebuah kalimat dipilih), &lt;i&gt;imaginary&lt;/i&gt; (pemakaian diksi), enkripsi (penyandian), dan reduksi. Aktivitas otak, bukan?&lt;br /&gt;
Tidak gampang mengungkapkan &quot;emosi&quot; ke dalam puisi. Jika Anda menulis &quot;&lt;i&gt;... nadiku gemetar, dadaku terbakar, mendengar kau berkabar ....&lt;/i&gt;&quot; belum tentu bisa dikatakan sebagai ungkapan emosi. Di sini, &quot;emosi&quot; berhadapan dengan &quot;identifikasi&quot; pembaca, sebab mereka akan bertanya: ini &lt;i&gt;tentang apa&lt;/i&gt;? Mengapa &lt;i&gt;dituliskan dengan cara&lt;/i&gt; seperti ini?&lt;br /&gt;
Seperti halnya, saat Anda menonton drama Bertolt Brecht, mungkin Anda bisa merasakan &quot;emosi&quot; mengalir di adegannya, namun sulit melakukan identifikasi adegan. Pada pengamatan visual (teater atau film), orang mudah merasakan suasana, walaupun tidak tahu suasana lengkap dari adegan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;dari Emosi menjadi Keadaan-Pikiran (State of Mind)&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Puisi tidak demikian, dia lebih rumit dan menantang. Tantangan umum yang terjadi dalam &quot;penulisan&quot; puisi adalah menerjemahkan &quot;emosi&quot; dan &quot;kata-kerja pikiran&quot; dalam bentuk kata-kata.&lt;br /&gt;
Tunjukkan, jangan katakan., begitu katanya. &quot;Berduka&quot;, &quot;merindukan&quot;, &quot;membenci&quot;, itu kata-kerja pikiran. Kalau hanya ditulis &quot;aku merindukanmu&quot;, orang sulit mengidentifikasi kata &quot;merindukanmu&quot;. Begitulah kata-kerja pikiran.&lt;br /&gt;
Lain halnya jika &quot;merindukanmu&quot; diuraikan menjadi sebuah kalimat: &quot;&lt;i&gt;bayang wajahmu, menyerbu pejamku. bersenyawa dengan diam dan laguku, menjadi laguku.&lt;/i&gt;&quot;.&lt;br /&gt;
Setidaknya, di situ ada proses tentang &quot;gerak&quot; (menyerbu), &quot;tindakan tubuh&quot; (pejam), kadang &quot;menubuh&quot; (bersenyawa dalam diam dan laguku), ada &quot;proses&quot; (menyerbu, bersenyawa), ada detail kecil yang menggantikan kata &quot;merindukanmu&quot; menjadi ungkapan lain, beberapa parafrase.&lt;br /&gt;
Sebuah puisi, pada dasarnya merupakan teks berorientasi pembaca (&lt;i&gt;readerly text&lt;/i&gt;). Jenis teks ini berusaha &quot;merekonstruksi&quot; pengamatan si penulis, mendeskripsikan &quot;makna&quot;, tentu saja dia melakukan &quot;destruksi&quot; (perusakan), &quot;dekonstruksi&quot; (pembongkaran), dan menyampaikan kenyataan yang &quot;hilang&quot;. Itu sebabnya, dia disebut sebagai &quot;sudut pandang&quot; (&lt;i&gt;angle&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;
Mendengar suatu kalimat inspirasi (misalnya: &quot;&lt;i&gt;nikmati lukamu, itu akan mendewasakanmu.&lt;/i&gt;&quot;), membenturkan biografi dengan sebuah konsepsi, sebagai misal, akan membawa kenyataan tereduksi, disembunyikan, dan dirahasiakan, ke dalam puisi. Luka macam apa itu, disembunyikan. Mendewasakan dengan cara apa, pasti direduksi. Tentang tentang yang lain, dirahasiakan, disandikan. Puisi kadang menjadi &quot;medium&quot; untuk melakukan kontekstualisasi, evaluasi, dan interpretasi. Ini bukan tugas puisi, kalau puisi dibalikkan prosesnya, sering dinilai dengan cara seperti ini. Banyak penulis yang dijempol pendukungnya, karena memiliki &quot;cara pandang lain&quot;, atau memakai diksi keren, pada kenyataannya berkubang pada 3 hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dekontekstualisasi, Devaluasi, dan Anti-Interpretasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kadang menulis puisi juga menjadi proses pembalikan: melakukan dekontekstualisasi, devaluasi, dan anti-interpretasi.&lt;br /&gt;
Saya mencoba sebuah misal, tak soal klise atau bukan, seperti teks ini: &quot;&lt;i&gt;Rindu adalah jalan menuju pertemuan indah&lt;/i&gt;&quot;. Kata &quot;rindu&quot; menjadi kontekstual, cocok dengan keadaan, jika dihubungkan dengan &quot;pertemuan&quot;. Ini pengertian klasik, tentu saja.&lt;br /&gt;
Namun boleh saja dalam puisi, bahasanya menjadi &quot;anti-konteks&quot;, semacam bait dari Mawlana Rumi berikut ini: &quot;&lt;i&gt;dua kekasih saling cinta, tak pernah benar-benar berpisah, mereka selalu berkisah, bersama dalam Waktu.&lt;/i&gt;&quot;. Ups, dari mana asalnya, &quot;waktu&quot; menjadi &quot;Waktu&quot;? Rindu menjadi &quot;antikonteks&quot; bagi pertemuan, dalam puisi ini, karena dua kekasih selalu bersatu dalam Waktu (Tuhan). Sejak tradisi sufisme Persia Kuno, kata &quot;Waktu&quot; boleh diidentifikasikan untuk &quot;Tuhan&quot;.&lt;br /&gt;
Mari kita ambil sebuah teks lagi untuk mencontohkan: &quot;&lt;i&gt;waktuku tanpa dua ujung dan lautku tanpa pantai.&lt;/i&gt;&quot; dan &quot;&lt;i&gt;menantimu, menanti kepergianku. tubuhku berubah tiga, semuanya merindukanmu.&lt;/i&gt;&quot;&lt;br /&gt;
Puisi dalam teks di atas melakukan &quot;devaluasi&quot; terhadap &quot;nilai&quot; bernama &quot;&lt;i&gt;waktu&lt;/i&gt;&quot; (dengan &quot;w&quot; kecil, bagi saya). Waktu tidak lagi berupa hitungan musim, tetapi sudah ditiadakan dalam diri seseorang yang sedang jatuh cinta. Devaluasi sering terjadi pada puisi yang mempermasalahkan banyak hal: keampuhan agama, keadilan, sistem nilai, kebenaran, dan kesaktian cinta, dll.&lt;br /&gt;
Ada juga paradoks lain, dalam penulisan puisi, yaitu &quot;anti-interpretasi&quot;. Puisi sering menjadi &quot;anti-interpretasi&quot; manakala teks puisi menjadi pembahasaan-ulang suatu realitas klise dan penuh bunga-bunga. Seperti banyak dimaklumi publik, banyak orang merindu dan jatuh cinta, namun ungkapannya hampir sama. Mereka membahasakan suasana dengan &quot;rinai gerimis&quot;, &quot;bias pelangi&quot;, &quot;temaram senja&quot;, dan jenis-jenis frase yang ditunggalkan maknanya, hanya untuk menyatakan perasaan dengan pembahasaan yang hampir sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Emosi, pada saat dipuisikan, sering menjadi keadaan-mental dan pikiran yang telah diturunkan (disunting, diperbaiki parafrase-nya), menjadi kalimat yang dianalisis sebatas pikiran. Apa yang sering disebut ungkapan emosi dalam puisi, kadang sebenarnya hanyalah keadaan pikiran. &lt;br /&gt;
Lupakan catatan di atas, sekarang pilihlah sebuah puisi yang (menurut Anda) bisa mengekspresikan emosi, dan silakan melacak-balik, bagaimana dari &quot;emosi&quot; diungkapkan menjadi teks puisi.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda menuliskan emosi dalam puisi hari ini?&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, temanmu.&lt;br /&gt;
http://google.com/+DayMilovich&lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2014/03/membaca-emosi-dalam-puisi.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-4CNAKtRHb4E/UxPF6gNUGTI/AAAAAAAADlE/EGyfNHqwUo4/s72-c/membaca-emosi-dalam-puisi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-4424886578022797008</guid><pubDate>Sun, 02 Mar 2014 23:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-03T06:33:18.890+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>Penyakit &quot;Takut Ketinggalan&quot; dan Sejarah Berdasarkan Kebohongan</title><description>Suatu kali saya berjalan kaki, melewati rumah seorang kawan. Saya melihat sepintas : orang-orang menyanyikan lagu &quot;&lt;i&gt;Happy Birthday&lt;/i&gt;&quot; di teras, sementara belasan orang lain di sekitar kue tart itu, sibuk memegangi ponsel, memotret peniupan lilin. &lt;i&gt;Siapa yang menikmati momen itu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Memiliki gadget berupa smartphone ataupun iPhone, bisa menimbulkan kebiasaan baru (atau penyimpangan perilaku?) bernama &lt;b&gt;FOMO&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;Fear of Missing-out&lt;/i&gt;, atau &quot;takut ketinggalan &lt;i&gt;moment&lt;/i&gt;, ataupun ketakutan mendokumentasikan aktivitas.&quot;. Mau tidur, lihat status Facebook. Siang ketemu kawan, foto bareng dulu (minimal foto makanan) untuk di-&lt;i&gt;share&lt;/i&gt;. Sore melihat jalanan macet, jangan lupa menuliskan kejadian itu, secara singkat, untuk semua orang.&lt;br /&gt;
Mendokumentasi, menjadi hak semua orang, mereka memiliki catatan harian besar bernama Facebook, Instagram, Google+, dan Twitter. Gadget dengan camera dan bisa buat berjejaring sosial, merupakan fitur paling dicari (most wanted).&lt;br /&gt;
FOMO telah menjadi penyakit menular yang cepat menyebar-luas. Jika Anda jarang mau lepas dari ponsel, ingin selalu melihat kabar terbaru teman-teman, nge-share hampir sebagian besar aktivitas Anda sendiri, seperti itulah FOMO. Kalau Anda menyukai sesuatu dan selalu mengikuti perkembangannya secara detail, setiap saat, Anda mengidap FOMO. &lt;br /&gt;
Cobalah melihat sekeliling sejenak, saat sebuah &lt;i&gt;event&lt;/i&gt; musik digelar, atau saat teman Anda ulang tahun. Orang sibuk mendokumentasikan acara. Kebiasaan orang menikmati sebuah moment, menjadi bergeser: dari menikmati &lt;i&gt;moment&lt;/i&gt; dengan konsentrasi penuh, menjadi menikmati dokumentasi. Sebuah kue tart dikerumuni banyak orang, mereka memegang ponsel masing-masing, sambil tetap menyanyikan lagu &quot;&lt;i&gt;Happy Birthday&lt;/i&gt;&quot; dan senyum lebar, matanya terus mengamati ponsel. Tersita. Menikmati sesungguhnya, justru nanti setelah acara selesai.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Menikmati harus abadi, moment harus didokumentasikan agar abadi.&lt;/i&gt; Saat orang yang berulang tahun menangis haru, dalam acara itu, keharuan akan berganti tawa saat menikmati dokumentasinya, &quot;Aw, wajahku kelihatan terlalu pucat saat menangis. Bisakah ini diedit sebelum di-&lt;i&gt;share&lt;/i&gt; ke Facebook?&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Tidak ada dokumentasi tanpa manipulasi.&lt;/i&gt; Saat memotret (atau memilih satu dari koleksi foto), sebelum dipasang ke Instagram, seseorang harus merelakan fotonya berbentuk bujur sangkar. Mau tidak mau harus demikian, sebab Instagram yang meminta. Foto juga lebih keren kalau di-filter dengan efek-efek siap-pakai (&lt;i&gt;instant&lt;/i&gt;) agar tidak &quot;memalukan&quot;, dan tampak selayaknya hasil bidik seorang profesional.&lt;br /&gt;
Sebuah momen, selalu melibatkan pengalaman. Selain untuk membagikan pengalaman itu kepada orang lain, juga untuk mengatasi keterbatasan memori seseorang. Saya tidak perlu mengingat warna dan tulisan pada label makanan, saya hanya perlu memotretnya. &lt;i&gt;Saya tidak perlu mengatakan rasa bakso ini, saya hanya perlu memotretnya.&lt;/i&gt; Gambar, mewakili seribu kata. Tidak hanya foto. Sebaris dua baris catatan di memo ponsel, atau rekaman suara seseorang, bisa menjadi dokumentasi penting dalam hidup.&lt;br /&gt;
Pemilik ponsel yang suka mendokumentasikan aktivitasnya, berbeda dengan seorang fotografer. Seorang fotografer bertemu dengan moment yang perlu ditunggunya, mencetak fotonya, atau memainkan estetika yang menguras energinya, sebab menghargai foto dan aspek seni di situ. Pemilik ponsel, tidak perlu mencetaknya. Dia bisa menyimpan ratusan foto dalam ponsel, lalu menyimpan, dan melupakannya. Dia lebih melakukannya dalam sesaat, sebab moment selalu dikaitkan dengan kesesaatan. Tidak mengherankan, sejak ada jejaring sosial, semakin berkembang istilah &quot;cepat, mumpung moment-nya belum hilang”. Moment, semakin dilepaskan dari pengalaman, semakin mengenal masa kadaluwarsa, tidak lagi untuk diri-sendiri, melainkan untuk &quot;orang lain&quot;.&lt;br /&gt;
Apakah orang lain begitu mengenang moment Anda? Mungkin tidak terlalu. Cobalah mengukurnya dari koleksi foto yang Anda share di jejaring sosial. Misalnya, di Facebook Anda punya 200-an foto, berapa teman Anda yang rutin menjelajah koleksi Anda, di antara ratusan teman Anda yang lain? 10% dari 677 orang, mungkin tidak sampai.&lt;br /&gt;
Mungkin hanya &lt;i&gt;server&lt;/i&gt; (mesin) Facebook yang sangat menghargai koleksi foto Anda dan selalu meyakinkan bahwa teman Anda akan senang jika rajin menandai teman-teman di foto. Berita baiknya, foto ini semakin boleh memuat tanda untuk teman Anda. Berita buruknya, jejaring sosial dengan system pencarian terbaik, barulah Google Plus. Dan kenyataan yang harus diterima semua orang adalah: pemakai jejaring sosial mengklasifikasi foto (berdasarkan tag dan peristiwanya) dengan cara mereka sendiri. Singkatnya, saya belum pernah menemukan sistem pencarian se-efisien Google+. Apalagi, fasilitas &lt;i&gt;Open Graph Search&lt;/i&gt; (pencarian grafis) dari Facebook belum merata dinikmati pemakaianya. Apalagi, Twitter dan Instagram.&lt;br /&gt;
Sebagian orang optimis dengan fenomena FOMO. Mendokumentasikan itu bagus, asalkan dokumentasinya terkait hal-hal penting, bisa memotivasi, dan membagikan kebahagiaan. Ada &quot;&lt;b&gt;F&lt;/b&gt;&quot; (fear, ketakutan) dalam FOMO. Rasa takut bisa dibalik-arah menjadi progresivitas, kecenderungan terus bergerak secara optimis, namun, ini tidak terjadi secara membahagiakan.&lt;br /&gt;
Orang mengerjakan &quot;ketakutan&quot; ini, bergerak dari tekanan pascatrauma (misalnya: stress di kantor, lantas sejenak mendokumentasikan menu makan siang yang enak) menuju paranoia, lantas menuju FOMO.&lt;br /&gt;
Kualitas hidup dan merasakan pengalaman mendalam, di antara pengalaman berulang-ulang, itulah yang penting sebenarnya. Setiap hari, orang pulang dari kerja, atau makan siang. Pada perulangan seperti ini, orang membutuhkan pengalaman yang lebih dalam: Apakah makan siang saya lebih menyenangkan daripada kemarin? Apakah berita yang saya baca hari ini lebih membuat hidup saya semakin berkualitas? Setelahnya, bacalah &quot;dokumentasi&quot; orang-orang di jejaring sosial.&lt;br /&gt;
Sebagian orang pesimistis, sebab dokumentasi di jejaring sosial, lebih banyak didasari perulangan menjemukan, tidak menawarkan pengalaman baru, dan sering berasal dari kebohongan.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana melepaskan-diri dari ketakutan ini?&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
FOMO sering berdasarkan kebohongan dan tindakan berlebihan (alias &quot;lebay&quot;). Mendengarkan suara pengamen, ditulisnya, &quot;Suaranya keren. *) otw ke Semarang&quot;. Atau posting video Metallica yang lagi manggung, padahal hanya dapat dari &lt;i&gt;channel&lt;/i&gt; sebelah. Lebih parah lagi, sedang marah dengan teman satu kantor, seseorang menulis di status, &quot;Bersabar, demi hasil yang lebih baik.&quot;. Perasaan dan keadaan, sering dimanipulasi, untuk mendapatkan dokumentasi yang baik. Orang menuliskan sejarahnya sendiri, dengan cara yang &quot;sempurna&quot;, agar mendapat pengakuan (minimal dari dirinya sendiri).&lt;br /&gt;
Selain menelisik kebohongan, harap diingat, bahwa bahasa memang bentukan pikiran, namun, pikiran juga bisa dibentuk bahasa. Ini sebuah paradoks. Sebuah kata, atau ekspresi kalimat, kadang menjadi memiliki arti lain, yang lebih baru, dan berbeda dari asalnya.&lt;br /&gt;
Dulu kata &quot;kebahagiaan&quot; jarang sekali digunakan, sekarang, kata ini memiliki konotasi prismatis, sejak sering dimunculkan di jejaring sosial. Kebahagiaan terkait secara langsung dengan kalimat-kalimat berpetuah bijak, quote motivasi, status hubungan sosial, dll. Kebahagiaan, sebagai sebuah diksi di jejaring sosial, telah menjadi sebuah fungsi, suatu struktur, sebuah pola pencapaian. Kebahagiaan menjadi kesan-terlihat (visual impression) yang bisa diukur dengan senyum di foto, makanan lezat, atau status-status yang tampaknya tenang. Padahal, seperti kita tahu, bukan demikian sebenarnya.&lt;br /&gt;
Menyadari dan menelisik kepalsuan selama mendokumentasikan aktivitas, serta merasakan bagaimana bahasa bisa membentuk pikiran manusia, adalah cara efisien untuk menyaring ketakutan ini. Ketakutan ketinggalan mendokumentasi, ketakutan ketinggalan moment, kini mengidap orang-orang yang terlalu senang berbagi dan tidak ingin memasuki dalamnya pengalaman.&lt;br /&gt;
Jejaring sosial menawarkan fungsi (salah satunya) sebagai buku catatan harian setiap orang. Anda yang menentukan, itu sejarah pengalaman yang jujur ataukah sejarah berdasarkan kebohongan.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda takut mendokumentasikan moment hari ini?&lt;/i&gt; :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
http://modusgetar.blogspot.com&lt;br /&gt;
follow @tamanmerah di Twitter&lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2014/03/penyakit-takut-ketinggalan-sejarah-berdasarkan-kebohongan.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-7992048475904932204</guid><pubDate>Sat, 11 Jan 2014 08:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-01-11T15:34:43.111+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Memahami Metafora dalam Puisi</title><description>&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-ZWgCZ1n-21Y/UtD_hlydGNI/AAAAAAAADhQ/1eHitPDCTcA/s1600/tentang-metafora-dalam-puisi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; &gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-ZWgCZ1n-21Y/UtD_hlydGNI/AAAAAAAADhQ/1eHitPDCTcA/s1600/tentang-metafora-dalam-puisi.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apakah metafora itu?&lt;/i&gt; Metafora adalah mengatakan sesuatu saat memaksudkan hal lain. Mau bilang A dengan menyampaikan B, memakai kata C untuk D. Kadang dilakukan dengan &quot;melanggar&quot; kaidah-formal berbahasa. &lt;br /&gt;
Metafora mengatur pengalaman, mengekspresikan pengalaman itu secara unik, dan membuat &quot;kenyataan&quot; baru. &lt;br /&gt;
Bahasa dibentuk dari metafora mati. Dulu kita tidak mengenal kata &quot;&lt;i&gt;implication&lt;/i&gt;&quot; (bahasa Inggris), sebab dia berasal dari kata &quot;&lt;i&gt;implicare&lt;/i&gt;&quot; (Latin). Saat kita mengatakan &quot;&lt;i&gt;implication&lt;/i&gt;&quot; (kata baru, hasil serapan), kita sedang membunuh asal-kata itu, yaitu &quot;&lt;i&gt;implicare&lt;/i&gt;&quot;. Pembunuhan ini (dari &quot;&lt;i&gt;implicare&lt;/i&gt;&quot; menjadi &quot;&lt;i&gt;implication&lt;/i&gt;&quot;) menghasilkan realitas baru, yaitu kata &quot;&lt;i&gt;implication&lt;/i&gt;&quot;. Singkatnya, saat ingin mengatakan &quot;&lt;i&gt;implication&lt;/i&gt;&quot; (kata yang baru muncul ini), sebenarnya, pada awalnya, kita ingin mengatakan &quot;&lt;i&gt;implicare&lt;/i&gt;&quot; (aslinya). &lt;br /&gt;
Bukan hanya kata, bisa jadi kalimat, penuturan, dialek, dll. Ada juga kata yang tiba-tiba dihadirkan &quot;tanpa&quot; muasal. Mungkin dia dibentuk karena bunyi, sekadar menamai sesuatu, atau apapun itu. Seperti halnya dari &quot;implicare&quot; menjadi &quot;implication&quot;, maka kata &quot;metafora&quot; itu sendiri merupakan metafora. :) Saat Sule mempopulerkan &quot;&lt;i&gt;woles&lt;/i&gt;&quot;, bahasa slank dari &quot;&lt;i&gt;slow&lt;/i&gt;&quot;, menjadi &quot;&lt;i&gt;selow&lt;/i&gt;&quot;, kita sebenarnya ingin mengatakan &quot;&lt;i&gt;slow&lt;/i&gt;&quot;, namun &quot;&lt;i&gt;woles&lt;/i&gt;&quot; menjadi realitas baru: dia menjadi merk &lt;i&gt;clothing&lt;/i&gt; (pakaian), menjadi seloroh, menjadi bahasa gaul. &quot;&lt;i&gt;Woles&lt;/i&gt;&quot; menjadi durhaka, ahistoris, dan dilupakan. Seperti inilah, pada awalnya lapisan makna dalam puisi terbentuk, pada kasus pengerjaan metafora.  &lt;br /&gt;
Metafora, dengan demikian, merupakan pemahaman aktif (active understanding). Metafora selalu berlangsung di wilayah &quot;pengalaman&quot; (experience). Kalimat yang dianggap mencontohkan metafora itu seperti: &quot;hidup adalah perjalanan&quot;, &quot;kesadaranku bangkit&quot;, dll. Kata &quot;perjalanan&quot; dan &quot;bangkit&quot; sudah bukan diapan lagi, berubah menjadi prismatis. &lt;br /&gt;
Harap diingat, metafora itu pada kalimatnya, bukan kata-nya, karena kalimat lebih menyampaikan maksud, daripada kata. Hanya mengatakan &quot;apel&quot; atau bertanya &quot;apa arti kata -apel- di puisi ini?&quot;, akan menghasilkan jawaban yang membingungkan. Lain halnya kalau mempersoalkan kalimat. &lt;br /&gt;
Metafora melakukan &quot;tipuan&quot; (&lt;i&gt;stratagem&lt;/i&gt;) dan &quot;pengelakan&quot; (&lt;i&gt;evasion&lt;/i&gt;). Metafora, dengan demikian merupakan metode untuk menyatakan maksud, sekaligus merupakan &quot;bentuk&quot; (&lt;i&gt;form&lt;/i&gt;), dan &quot;ungkapan&quot; (&lt;i&gt;expression&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;
Metafora tidak pernah berdiri sendiri, dia menggunakan &quot;peralatan&quot; untuk mengungkapkan pengalaman, dengan gaya bahasa: ironi, analogi, metonimi, sinekdoki, dan hiperbola. Ups,, hampir semua gaya bahasa, bisa untuk mengerjakan metafora. &lt;br /&gt;
Mari mengambil contoh kalimat dalam puisi ini: &lt;br /&gt;
&quot;aku hanyalah debu di perjalanan-mu yang menuju kaki langit&quot;. &lt;br /&gt;
Kata &quot;debu&quot; di sini lebih tepat disebut sebagai -analogi- dari &quot;aku&quot;, atau &quot;aku&quot;nya diserupakan &quot;debu&quot;. Arti &quot;debu&quot; bisa bermacam-macam di kalimat ini. Mungkin residu (sisa) perjalanan, teman yang tak diperhatikan, bagian dari jalan, dll. Memang, dalam teori sastra dikenal metafora logis (yaitu: adanya &quot;&lt;i&gt;vehicle&lt;/i&gt;&quot; (kendaraan) dan &quot;&lt;i&gt;tenor&lt;/i&gt;&quot; di mana polanya adalah: A itu B sebagaimana C itu D) namun saya lebih suka menyebutnya &quot;analogi&quot; saja. &lt;br /&gt;
Masalah baru terjadi jika sebuah kata (anggap saja asal atau domain), hanya diasosiasikan (semacam diberi tanda panah) kepada hanya satu maksud. &lt;br /&gt;
Misalnya dalam kalimat ini: &lt;br /&gt;
&quot;Bungaku layu setelah semalam disesap influensa&quot;. &lt;br /&gt;
Menjadi masalah jika kata &quot;bunga&quot; dikerjakan penulisnya untuk mewakili atau menyamarkan nama seorang perempuan. &lt;br /&gt;
Ini bukan lagi &quot;tipuan&quot; (&lt;i&gt;stratagem&lt;/i&gt;) dan &quot;pengelakan&quot; (&lt;i&gt;evasion&lt;/i&gt;). Tidak terjadi bahasa di situ, karena kata &quot;bunga&quot; hanya untuk menggantikan nama seorang perempuan. &lt;br /&gt;
Banyak puisi di jejaring sosial dan koran, menggunakan kesempitan penalaran seperti ini, di mana penulisnya mereduksi metafora pada tataran pemakaian simbol. &lt;br /&gt;
Akhirnya puisi menjadi penyandian (menyamarkan sesuatu yang jelas), penyembunyian identitas (bukan pertukaran identitas), dan pemaknaannya berhenti di tangan pengarang. &lt;br /&gt;
Puisi yang sudah dibayangkan penulisnya (ketika menulis) harus diberi makna A, B, dan C, bukan lagi puisi, tetapi teka-teki &quot;mencari jejak&quot; di acara pramuka. &lt;br /&gt;
Bukan hanya di puisi. Pemetaan satu-warna, yang membakukan penggunaan simbol, sering terjadi juga di pementasan teater, misalnya: memakai &quot;kursi&quot; untuk simbol kekuasaan, atau memakai siluet untuk menjelaskan adegan dalam mimpi. Kata menjadi tidak bebas lagi. Atau, maksud yang mestinya bisa lebih &quot;berwarna&quot; ketika dituliskan sebagai kalimat, larik, dan bait puisi,, dihentikan menjadi kata. Kegiatan pembacaan puisi, akhirnya menjadi acara tebak-tebak berhadiah untuk mengejar penulis puisinya. Metafora tidak memiliki makna literal tunggal. &lt;br /&gt;
Kalau diturunkan menjadi struktur kalimat, sesungguhnya metafora sering memakai pola berikut: kata-kerja dikaitkan dengan sekelompok kata-benda, atau kata-benda dijelaskan dengan kata-sifat dan kata-keterangan. Tepatnya, ini bukan rumus, namun pola pembacaan dasar, berdasarkan struktur kalimatnya. &lt;br /&gt;
Mari melihat puisi &quot;Ayat-ayat Api&quot; /1/ (dari 15) dari Sapardi Joko Damono&quot;. Di awal puisi ini, banyak memakai &quot;yang&quot;. &lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan. di mana gerangan kemarau, yang malamnya dingin, yang langitnya bersih; yang siangnya menawarkan bunga randu alas dan kembang celung, yang dijemput angin di bukit-bukit, yang tidak mudah tersinggung,, yang lebih suka menunggu sampai penghujan dengan ikhlas meninggalkan kampung-kampung (diusir kerumunan bunga dan kawanan burung). di mana gerangan kemarau, yang senantiasa dahaga, yang suka menggemaskan, yang dirindukan penghujan.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
Saya sengaja tidak menggunakan pemenggalan baris, agar puisi ini tanpa jeda, biar seperti membaca narasi dan buku petunjuk wisata. &lt;br /&gt;
&quot;Yang&quot; memberikan baju, dia seperti &quot;dan&quot; namun lebih melekat. &quot;Kemarau&quot; dijelaskan Sapardi dengan banyak keterangan: &quot;malamnya dingin&quot;, &quot;langitnya bersih&quot;, &quot;siangnya menawarkan bunga randu alas&quot;, dst. Dia menjelaskan &quot;bukit&quot; sebagai &quot;yang tidak mudah tersinggung&quot;. Seperti tanpa kiasan, bukan? &lt;br /&gt;
Kemarau adalah &lt;i&gt;pengalaman&lt;/i&gt; tentang kemarau. Pertanyaan tentang metafora yang signifikan di sini adalah: untuk apa Sapardi seperti hanya menjelaskan kemarau? Jika memang tertangkap dalam pembacaan bahwa Sapardi (pasti) memiliki maksud tertentu, puisi ini menyingkap dirinya, maka ini permainan metafora. Mengapa Sapardi menjelaskan kerinduannya pada penghujan, dengan kemarau? Mengapa puisi yang ditulis di tahun 1998-1999 ini bicara tentang api? Di sinilah metafora bekerja. Singkatnya, metafora belum tentu bertumpu pada kiasan. &lt;br /&gt;
Penghujan belum juga datang, tetapi api di mana-mana. Bagaimana &quot;cara&quot; Sapardi menggambarkan api dan orang-orang yang terbakar di dalamnya? &lt;br /&gt;
Semacam itulah pembacaan metafora, mencari &quot;maksud lain&quot; (jika ada). :) &lt;br /&gt;
Beberapa pemikir mempercayai adanya &quot;dunia obyektif&quot;, terbebas dari diri kita, di mana kata-kata memiliki makna tetap, tunggal. Pendapat macam ini, bukan menghidupkan metafora, alih-alih mematikan cara mengekspresikan pengalaman melalui metafora. Kalau &quot;api&quot; selalu diartikan &quot;membakar&quot;, puisi akan menjadi matematika, kalkulasi substitusi dan eliminasi. Puisi yang sudah memakai rumus seperti ini, dengan pemetaan kata dan maknanya yang tak bisa digeser, bukan puisi lagi. &lt;br /&gt;
Kepercayaan akan adanya dunia obyektif dengan makna tetap, menurunkan metafora sebagai bahasa turunan. Metafora menjadi tidak asyik lagi. &lt;br /&gt;
Metafora adalah suatu pemetaan dari &quot;sumber&quot; (&lt;i&gt;source&lt;/i&gt;), berupa hal-hal familiar dalam bahasa keseharian, kepada wilayah tujuan (domain target), yang bersifat abstak, konseptual, internal, dll. Ini sepertinya mudah, namun akan membawa kepada konsekuensi rumit, karena, metafora selalu berhadapan dengan mitos. &lt;br /&gt;
Saya ambil satu contoh &quot;mitos&quot; yang bekerja di pikiran banyak orang, tentang Adam. &lt;br /&gt;
Begitu &quot;Adam&quot; dipakai (bukan disebut, karena Adam yang mana belum juga jelas), telah bekerja kerak-kerak penafsiran awal yang tertanam dalam pikiran. Semacam inilah mitos. &lt;br /&gt;
Adam (seperti &quot;kemarau&quot; di puisi Sapardi di atas) terhubung dengan banyak &quot;yang&quot;. Adam yang manusia pertama (kata sebuah buku), Adam yang dijatuhkan ke bumi (kata sebuah ayat), Adam suami Hawa (kata yang belum bersuami), Adam historis (ada angka tahun kelahiran Adam), Adam simbolik-konseptual, dst. &quot;Adam&quot; adalah &quot;konsepsi tentang Adam&quot; atau &quot;pengalaman si Penutur tentang Adam&quot; atau penanda yang mengarah kepada lebih dari satu petanda, atau mungkin bisa jadi kata &quot;Adam&quot; sekadar penanda yang tidak punya petanda. Pernyataan menariknya adalah: begitu kata &quot;Adam&quot; diucapkan, pembaca manapun tidak akan sampai pada hal spesifik mengenai Adam. Kita sedang bicara Adam yang mana? Bagaimana kalau kemudian saya menyebut &quot;apel&quot; (buah) dalam puisi namun dibaca orang sebagai representasi dari konsepsi Adam? Bisa jadi. &lt;br /&gt;
Begitu pula &quot;ular&quot; jika dikaitkan (sekali lagi, hanya dikaitkan, bukan dirujukkan maknanya) dengan Adam, akan menjadi banyak masalah. Terlepas dari benar-tidaknya kisah ular dalam mitologi Adam, maka &quot;ular&quot; ini bisa dijelaskan sebagai banyak hal: personifikasi batin, iblis personal, profanitas, superego yang menjadi garis vertikal pengiring id dan ego Adam, fantasi seksual Hawa, simbol jagat raya yang berperan di antara Tuhan dan Adam, &lt;i&gt;alter-ego&lt;/i&gt;, dll. Ular tidak kalah rumit dibandingkan Adam. Kata apapun memiliki level yang sama ketika bekerja dalam pikiran (pembaca dan penulis puisi). &lt;br /&gt;
Maka sebenarnya setiap &quot;kata&quot; bisa menjadi metafora, dengan catatan, apabila kata di wilayah &quot;target&quot; itu terkonstruksi secara sosial. Jika &quot;Adam&quot; (kata) merupakan bentukan sosial maka &quot;apel&quot; saya (karena terkait dengan pengalaman dan kebudayaan bernama &quot;Adam&quot;) akan menjadi metafora. :) &lt;br /&gt;
Kaum rasionalis percaya, bahwa ada landasan universal atas kemampuan semantik primitif, untuk mengkomunikasikan bahasa. Itu sebabnya, manusia bisa menerima maksud dari kalimat tidak hanya melalui kata, melainkan juga dengan gerakan, simbol, ikon, suara, dll. Maka dalam puisi kita mengenal piranti ini pula, bukan hanya kata. &lt;br /&gt;
Bahasa dalam puisi menumbuhkan &lt;u&gt;struktur perseptual&lt;/u&gt;. Semakin orang berpuisi, semakin orang pintar menyelami realitas, melihat dengan sudut pandang berbeda, mengatasi &quot;common sense&quot; (akal sehat) kebanyakan orang. &lt;br /&gt;
Makna (&lt;i&gt;meaning&lt;/i&gt;) juga merupakan bagian dari ketidakbermaknaan pengalaman (&lt;i&gt;meaningless experience&lt;/i&gt;). Kata adalah komponen dari pengalaman (jika tidak mengenal arti kata &quot;takut&quot; saya akan mengalami ketakutan dengan cara lain), mengkristalisasi pengalaman, menampilkan &lt;i&gt;inner-action&lt;/i&gt; penuturnya (kata &quot;hujan&quot; seperti properti puisinya Sapardi, indah sekali). &lt;br /&gt;
Lalu di manakah basis metafora sesungguhnya? Metafora tidak berpijak pada &quot;logika&quot; (sebab metafora bukanlah analogi dan bukan pula penerapan simbol yang disepakati), bukan pula pada teori literer (setiap kata bebas menentukan nasibnya). Tidak ada bahasa yang murni literer, di mana metafora dievaluasi dan secara obyektif dinyatakan. &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana metafora menurut Anda?&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang &lt;br /&gt;
follow &lt;a href=&quot;http://twitter.com/tamanmerah&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@tamanmerah&lt;/a&gt; on twitter :)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2014/01/memahami-metafora-dalam-puisi.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-ZWgCZ1n-21Y/UtD_hlydGNI/AAAAAAAADhQ/1eHitPDCTcA/s72-c/tentang-metafora-dalam-puisi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-2581065528503739266</guid><pubDate>Thu, 04 Jul 2013 10:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-04T17:09:21.905+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Ahistorisitas Teks Sejarah dan Agama Berwajah Mitologi</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-xyDm3U-Aeyk/UdVCt_abSkI/AAAAAAAADI0/xN4ecvVXn0w/s640/Ahistorisitas-Teks-Sejarah-dan-Agama-Berwajah-Mitologi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-xyDm3U-Aeyk/UdVCt_abSkI/AAAAAAAADI0/xN4ecvVXn0w/s640/Ahistorisitas-Teks-Sejarah-dan-Agama-Berwajah-Mitologi.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Apa yang membuat tokoh fiksi di-nyata-kan dalam kehidupan? &lt;br /&gt;Image by Abdul Chamim Gentong Miring Art Gallery&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;i&gt;Kesamaan pola dan penyikapan terhadap status teks (sastra ataukah sejarah), membuat orang ingin me-nyata-kan fiksi dalam dunia nyata, dari komik sampai kitab orang beragama.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manusia Nyata dan Karakter Fiktif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak karakter cerita fiksi, berasal (atau dibentuk) dari tokoh di dunia nyata. Saya sebut 10 di antara tokoh fiktif, yang populer di komik, buku, dan film, namun sebenarnya berasal dari manusia sungguhan.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Tintin&lt;/b&gt;, karya Herge dari Belgia, sebenarnya dari seorang penggalang asal Denmark, Palle Huld, setahun sebelum komik&amp;nbsp;&lt;i&gt;Tintin&lt;/i&gt;&amp;nbsp;diluncurkan sejak tahun 1929 sampai lebih dari 200 judul.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Ebenezer Scrooge&lt;/b&gt;, dari karya klasik Charles Dickens, berasal dari politikus abad ke-18, dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;Scrooge&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menjadi cerita tutur di Eropa, menenggelamkan muasalnya.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Severus Snape&lt;/b&gt;, dalam novel&amp;nbsp;&lt;i&gt;Harry Potter&lt;/i&gt;, semula diambil dari guru pelajaran kimia JK Rowling (pengarang&amp;nbsp;&lt;i&gt;Harry Potter&lt;/i&gt;), bernama John Nettleship.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Dirty Harry&lt;/b&gt;, tokoh film misteri pembunuhan berpola zodiak, dibentuk dari orang bernama Dave Toschi.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Dorian Gray&lt;/b&gt;, di tulisan Oscar Wilde tentang lukisan misterius, sebenarnya terinspirasi dari John Gray, teman Oscar Wilde yang sama-sama sastrawan.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Norman Bates&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dalam film klasik&amp;nbsp;&lt;i&gt;Psycho&lt;/i&gt;&amp;nbsp;karya Alfred Hitchcock adalah Ed Gein, pembunuh brutal tahun 1950-an di Wisconsin.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Indiana Jones&lt;/b&gt;, petualang bengal yang selalu beruntung di film berjudul sama, sebenarnya Hiram Bingham III, seorang dosen sejarah Latin America di Yale University, yang bekerja pada 1907-1915.&amp;nbsp;&lt;b&gt;James Bond&lt;/b&gt;, mata-mata rekaan Ian Fleming, sebenarnya Forest Yeo-Thomas, mata-mata ulung di Perang Dunia II.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Zorro&lt;/b&gt;, pahlawan bertopeng yang direka sejak 1919, menjadi idola di televisi dan film, terinspirasi dari lelaki bernama Joaquin Murrieta, dia adalah &quot;Robin Hood&quot; Mexico kelahiran 1829 yang matinya di pertambangan.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Sherlock Holmes&lt;/b&gt;, karakter paling pintar dalam sejarah fiksi detektif, sebenarnya Dr. Joseph Bell, dosen University of Edinburgh di Skotlandia abad ke-19, teman Sir Arthur Conan Doyle, sang penulis&amp;nbsp;&lt;i&gt;Sherlock Holmes&lt;/i&gt;. Tidak hanya 10 karakter tersebut, mungkin ada 100 atau 1000 karakter fiktif yang berbasis dari dunia nyata.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Me-nyata-kan yang Fiktif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak juga tokoh fiksi yang dianggap nyata, misalnya:&amp;nbsp;&lt;b&gt;Santa Clause&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(yang membawakan hadiah natal untuk anak-anak), boneka&amp;nbsp;&lt;b&gt;Barbie&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Robin Hood&lt;/b&gt;, juga&amp;nbsp;&lt;b&gt;Big Brothers&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang konon menguasai semua lobi Amerika dan perputaran dunia. Jawa juga mengenal fiksi hidup, bernama&amp;nbsp;&lt;b&gt;Nyai Roro Kidul&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;&lt;b&gt;Semar&lt;/b&gt;. Ada yang mendukung keberadaan dua tokoh ini, ada pula yang tidak.&lt;br /&gt;
Orang sering menganggap perulangan dan kesamaan sebagai pembentuk kenyataan. Begitu ada kesamaan nama dan pola, suatu fenomena dianggap nyata, atau diarahkan menjadi nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesamaan Pola dan Status Teks&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya ambil contoh tentang fenomena &quot;Atlantis&quot;. Ribuan tahun lalu, Plato, filosof Yunani yang mengawali gagasan negara ideal (setelah merenungkan sejarah Yunani yang ditempa pertarungan 300 dinasti) dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;Republik&lt;/i&gt;, menggulirkan &quot;Atlantis yang hilang&quot; dengan penyajian data tak-memadai. Orang sibuk menghubungkannya dengan alternatif di dunia sekarang. Bukan lagi bagaimana Plato membentuk gagasannya, tetapi, orang sibuk mencari Atlantis. Game, buku, komik, dan film, sudah pasti mendapat banyak keuntungan dari rasa penasaran semua orang.&lt;br /&gt;
Namun status teks sejarah yang dituliskan, itu sering bermasalah.&lt;br /&gt;
Buku, karya sastra, kitab orang beragama, semestinya dikembalikan kepada statusnya: apakah semula itu didominasi fiksi ataukah sejarah? Apakah fakta numerik dan detail di dalamnya memang nyata ataukah tidak?&lt;br /&gt;
Karya sastra memiliki kebebasan bercerita kalau dia berstatus karya sastra, berbeda dengan kitab orang beragama yang sering kabur batas status teksnya. Mengherankan, jika status teks sastra diperlakukan sebagai teks sejarah, atau sebaliknya.&lt;br /&gt;
Dulu saya percaya, perang Troya di zaman Yunani itu ada, karena buku, televisi, dan namun setelah melacak literatur dan mengikuti perjalanan British Museum, ternyata perang Troya tidak pernah terbukti ada secara historis. Dulu saya percaya tentang ide dunia yang hilang, namun ternyata dunia yang hilang tidak hanya Atlantis, masih banyak contoh: Shambala, Dwaraka, Lyonesse, Cantre’r Gwaelod, El Dorado, Agharti, Hy-Brasil, Avalon, Lemuria (Mu), Cibola, dll.&lt;br /&gt;
Ramainya rumor Atlantis yang hilang (sebagai contoh kaburnya status teks, apakah sastra ataukah sejarah), dibesarkan dunia web yang bebas-&lt;i&gt;translate&lt;/i&gt;(dan penuh kesalahan), bebas membikin propaganda (dengan gambar), dan lebih banyak menghasilkan kesamaan pola-cerita. Kuantitas mengutip (untuk melepaskan sebagian teks dari tubuh besarnya), percepatan (secepat apa orang&amp;nbsp;&lt;i&gt;share&lt;/i&gt;&amp;nbsp;informasi), dan kemudahan&amp;nbsp;&lt;i&gt;repost&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(posting ulang), membuat sebuah cerita sama diulang-ulang. Begitulah pola terbentuk. Basisnya sama: adanya kesukaan terhadap kesamaan pola, tidak peduli pada status teks itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Konsekuensi atas Status&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Teks&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ketidakjelasan menyikapi teks, akan berakibat pada kekaburan sikap. Teks kitab orang beragama, misalnya, bisa dihadapkan secara diametral dengan sumber pengetahuan (&lt;i&gt;epistemology&lt;/i&gt;) jika dia mendudukkan diri sebagai teks sains ataupun sejarah.&lt;br /&gt;
Ketika sebuah kitab orang beragama menjelaskan &lt;i&gt;supreme being&lt;/i&gt; (semacam &quot;Tuhan&quot;) yang immateri, namun kemudian kitab itu diposisikan sebagai kitab sejarah, berarti Tuhan menyejarah. Kalau menyejarah, agama menjadi mitologi. Kalau menjadi mitologi, orang hanya mengambil &quot;pelajaran&quot; dari agama, lalu menjawab &quot;misteri&quot; yang ditawarkan agama dengan ilmu pengetahuan, namun seringkali dimenangkan ilmu pengetahuan. Lihatlah bagaimana sejarahwan membuktikan adanya kesamaan pola-cerita dalam teks agama, tentang &quot;banjir besar&quot; (selalu diulang setiap beberapa abad dan dari pelbagai kebudayaan), kisah&amp;nbsp;&lt;i&gt;apocalyptic&lt;/i&gt;, masa&amp;nbsp;&lt;i&gt;distopia&lt;/i&gt;, ide &quot;surga yang hilang&quot;, kepercayaan adanya penyelamat dunia, sebuah bangsa yang lenyap, dll. Pemahaman terhadap teks ini pula, menyebabkan cara manusia bertindak. Munculnya ide&amp;nbsp;&lt;i&gt;xenophobia&lt;/i&gt;(kebencian terhadap &quot;yang lain&quot;) selalu berasal dari Tuhan yang menyejarah dan tidak sanggup mengatasi gerak zaman dengan ilmu pengetahuan. Moral, sains, dan spiritualitas, menjadi &quot;cabang&quot; yang mulai melepaskan-diri dari agama.&lt;br /&gt;
Orang Jawa sangat gemar melakukan pengandaian sejarah, teks Jawa sangat kejam dalam membalik kenyataan, melalui teks sastra. Lihatlah bagaimana orang sibuk &quot;membuktikan&quot; sebuah ramalan dari kitab kuno (lumpur Lapindo dikaitkan dengan ramalan Sabdopalon), mencari pembenaran sejarah dengan asal-kata (seperti cerita bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Sulaiman), itu semua terjadi karena manusia &quot;mengandaikan&quot; sejarah, &quot;mengilmiahkan&quot; sejarah, dan mencari alasan atas terjadinya hal-hal buruk (keadaan sosial politik) yang tidak sanggup dijelaskan agama dan ilmu pengetahuan. Sastra, sebagai pengetahuan, memiliki watak-kuasa bawaan (meminjam gagasan Foucault), yang menguasai dan mendominasi, dengan permainan status dan identitas teksnya. Mataram-Jawa membutuhkan 200 tahun lebih untuk mengubah 6 desa perdikan menjadi sebuah kerajaan yang dibesarkan di atas teks sastra.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada saat manusia tidak sanggup menyejarah, &quot;surga&quot; dan &quot;negara ideal&quot; hanya menjadi fiksi. Kadang fiksi ini digulirkan agama, atau ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan, mereka me-nyata-kan fiksi yang muncul di mitologi dan teks kuno yang tak-memadai, untuk mengubah keadaan, yang tak sanggup digenggamnya sendirian.&lt;br /&gt;
Agama diam-diam bisa berubah menjadi mitologi atau tidak diminati manusia modern karena pembacaan yang memaksakan teksnya sebagai teks sejarah. Diam-diam pula, semakin banyak manusia nyata, dimitoskan, menjadi fiksi di keseharian, memasuki imajinasi anak-anak, melalui televisi, komik, film, dan buku, mengikuti jejak Tintin dan Zorro.&lt;br /&gt;
Teks sejarah menjadi lekat dengan ahistorisitas, tak menyejarah pula, jika pembaca tak dewasa menyikapinya.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda menikmati fiksi hari ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;---&lt;br /&gt;
Day Milovich,, Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
*) image by Abdul Chamim, Gentong Miring Art Gallery (2013)  </description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/07/sejarah-agama-berwajah-mitologi.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-xyDm3U-Aeyk/UdVCt_abSkI/AAAAAAAADI0/xN4ecvVXn0w/s72-c/Ahistorisitas-Teks-Sejarah-dan-Agama-Berwajah-Mitologi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-1956951544648479616</guid><pubDate>Thu, 27 Jun 2013 14:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-27T21:27:10.871+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Perubahan Pola Konsumsi Makanan Global dan Evolusi Orgasme Perempuan</title><description>&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-cxJMVMvAzsU/UcxKDnoRgCI/AAAAAAAADGE/PEzi1Zme6Kg/s720/Perubahan+Pola+Konsumsi+Makanan+Global+dan+Evolusi+Orgasme+Perempuan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-cxJMVMvAzsU/UcxKDnoRgCI/AAAAAAAADGE/PEzi1Zme6Kg/s720/Perubahan+Pola+Konsumsi+Makanan+Global+dan+Evolusi+Orgasme+Perempuan.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Agama orgasme: kaum utilitarian memproyeksi kehidupan seks; efisiensi orgasme versus melambatkan orgasme; bagaimana bercinta se-lama mungkin untuk mencapai ledakan ekstase, adalah tujuan sesungguhnya bercinta dan jagat raya.&quot; [Milan Kundera, dalam Slowness]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membincang orgasme, adalah membincang berjalannya kehidupan, dan itu berarti orgasme perempuan. Di channel YouTube, Deepak Chopra menjelaskan, dengan simulasi video, bagaimana proses sperma membuahi sel telur perempuan itu, hanya dalam beberapa detik, memiliki jumlah yang hampir sama dengan bintang-bintang di galaksi. Orgasme, seperti otak manusia, adalah &lt;i&gt;masterpiece&lt;/i&gt; tanpa tanding.&lt;br /&gt;
Dr. Kristen Mark berteori, bahwa orgasme perempuan berhubungan dengan cara lelaki melakukan adaptasi, sebagaimana kita tahu, perempuan memiliki satu-satunya organ di tubuhnya yang fungsinya hanya satu: menerima rangsangan nikmat, organ tubuh itu adalah klitoris. Teori Mark berikutnya: orgasme perempuan berkembang untuk menarik lawan-main. Kalau demikian, maka perempuan sebenarnya tidak membutuhkan lelaki dalam mencapai orgasme (bukan kepuasan), dia bisa menggunakan emosi dan mendominasi lelaki, sebagaimana kata Jalaluddin Rumi, “&lt;i&gt;yang dicintai menguasai yang  dicintai&lt;/i&gt;”. Obyek sebenarnya mendominasi subyek. Kalau perempuan memakai Facebook di saat bangun tidur, bisa membuat lelakinya marah dan cemburu. Perempuan, dengan demikian, memang makhluk &lt;i&gt;hermaprodhyte&lt;/i&gt; spiritual, namun membutuhkan peran lelaki untuk menjalankan &lt;i&gt;ethos&lt;/i&gt; jagat raya. Pengetahuan perempuan atas tubuhnya sendiri, memungkinkan terjadinya kebudayaan dan kepemimpinan spiritual pada agama kuno. Manusia berlatih menghadapi kematian, dengan mengalami kematian-kecil (&lt;i&gt;little death&lt;/i&gt;) yang terjadi saat orgasme, ketika itu, jantung berhenti beberapa detik, kesadaran mengalami ambang: ada dan tiada, sendiri dan berdua, dalam beberapa detik.&lt;br /&gt;
Namun jagat raya menyejarah dengan caranya sendiri, begitu pula tubuh manusia. Bukti ilmiah, yang ditemukan John Hawks, antropolog dari University of Wisconsin, mengatakan, “10 tahun yang lalu, tak seorangpun bermata biru,” karena gen OCA2 belum terbentuk. Kita berbeda dari keadaan 400 generasi manusia sebelumnya. Cerita tentang Dewa Indera bermata biru, belum ada sebelumnya.&lt;br /&gt;
Tidak semua kebudayaan memiliki kecepatan sama. Afrika mengalami mutasi lebih lambat daripada Amerika. Afrika menggunakan metode beradaptasi dan bertahan hidup terkait cuaca dan makanan, jauh lebih stabil, daripada orang-orang di belahan Asia, Eropa, dan Amerika, yang lebih sering &lt;i&gt;mal-adapted&lt;/i&gt; dalam &lt;i&gt;survive&lt;/i&gt; menghadapi lingkungannya.&lt;br /&gt;
Selain lingkungan yang dipengaruhi perubahan cuaca dan kondisi geografis, perubahan pada tubuh manusia juga dipengaruhi makanan.&lt;br /&gt;
Orgasme, bukan sesuatu sekali-jadi. Orgasme melibatkan bentukan (emosi, pikiran), tubuh (bawaan), dan tubuh ini dibentuk dari makanan, berubah sedikit demi sedikit karena pola konsumsi. Jika Anda download video xxx, atau menelisik literatur klasik, lukisan, dan relief, cobalah melihat terjadinya “penyimpangan” atau perubahan. Video xxx sekarang berhasil memperkenalkan &lt;i&gt;squirter&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;gang bang&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;multiorgasm&lt;/i&gt;, publisitas permainan vulgar, termasuk pemaksaan lelaki yang mengakibatkan penyimpangan orgasme perempuan. Meskipun kita tahu, di relief candi dan di &lt;i&gt;Serat Centhini&lt;/i&gt; (ensiklopedi Jawa berbentuk novel) misalnya, sudah memperkenalkan adegan &lt;i&gt;threesome&lt;/i&gt; (main bertiga), namun beberapa temuan video menunjukkan adanya hal-hal baru yang belum disentuh wacana seksualitas manusia modern.&lt;br /&gt;
Para ahli nutrisi menceritakan, bagaimana keadaan makanan dapat mempengaruhi vitalitas dan kualitas orgasme perempuan. Orgasme dibentuk dari pemompaan darah dan pemicu detak jantung, sekaligus ketahanan emosi dan pikiran. Makanan berperan besar. Konsumsi sayuran, kacang-kacangan, minyak &lt;i&gt;olive&lt;/i&gt;, dll. disertai stamina sehat, memungkinan meningkatnya kualitas orgasme. Sayangnya, makanan yang dikonsumsi publik, kebanyakan sudah tidak se-sehat makanan di tahun 1950-an. Semakin ke sekarang, konsumsi makanan semakin instant, banyak zat &lt;i&gt;addictive&lt;/i&gt;, dan label-label yang tidak diketahui seperti apa sesungguhnya pembuatannya. Itu mempengaruhi kualitas orgasme perempuan, mempengaruhi pula masalah-masalah yang ada di sekitar orgasme perempuan.&lt;br /&gt;
Diam-diam, tubuh manusia berubah karena perubahan pola konsumsi dan jenis makanan itu. Pelan-pelan pula, kebudayaan berubah dengan cepat. Apakah susu dan sereal bagus untuk tubuh? Apakah tanaman yang dibesarkan dengan pupuk konsentrat tinggi masih bagus bagi tubuh? Apakah fast food lezat itu menyehatkan? Apakah seorang cucu dan kakeknya mengkonsumsi makanan sama? Apakah tubuh perempuan generasi sekarang berubah sejalan dengan orgasme perempuan yang berubah pula? Apakah cara kita mencapai orgasme sudah berbeda dari cara orang kuno mencapai orgasme?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah orgasme menjadi bagian dari makanan dan kehidupan sosial Anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
http://modusgetar.blogspot.com</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/konsumsi-makanan-evolusi-orgasme-perempuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-cxJMVMvAzsU/UcxKDnoRgCI/AAAAAAAADGE/PEzi1Zme6Kg/s72-c/Perubahan+Pola+Konsumsi+Makanan+Global+dan+Evolusi+Orgasme+Perempuan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-2546071566183418012</guid><pubDate>Tue, 25 Jun 2013 18:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-26T01:45:47.662+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Miskonsepsi Sejarah, Mitos, dan Jejaring Sosial</title><description>&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-sYQUowT69yI/Ucnj1oq7ezI/AAAAAAAADF0/2P0G_Psfvgc/s1600/miskonsepsi-sejarah-mitos-jejaring-sosial.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;553&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-sYQUowT69yI/Ucnj1oq7ezI/AAAAAAAADF0/2P0G_Psfvgc/s640/miskonsepsi-sejarah-mitos-jejaring-sosial.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dari manakah miskonsepsi sejarah berasal? Bagaimana mitos sekarang bekerja dan dialami manusia modern?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat masih kecil, saya sukamendengarkan dongeng sebelum tidur. Saya menjadi penyuka komik, novel, menonton televisi hitam-putih yang membentuk kesan berwarna di pikiran, begitu pula film &lt;i&gt;extra show&lt;/i&gt;, yang kebanyakan berisi film mandarin dan Hollywood. Saat sudah mengenal genealogy saya tidak mendapatkan kepastian, mulai mempertanyakan apa yang selama ini saya percaya.&lt;br /&gt;
Cerita rakyat tuturan (&lt;i&gt;folktale&lt;/i&gt;) sering dianggap sebagai &quot;fakta&quot; jika tidak terlalu terkait pada elemen supernatural, atau jika orang menemukan banyak kesamaan nama yang dikaitkan dengan cerita itu. Orang percaya, 27 abad lalu terjadi perang Troya, berkembang pemakaian istilah &quot;&lt;i&gt;trojan horse&lt;/i&gt;&quot; (kuda troya), namun setelah diteliti para sejarahwan, perang Troya tidak pernah terjadi dan tidak ada bukti sejarahnya. British Museum dan BBC rajin menyingkap inakurasi data tentang sejarah yang terlanjur dipercaya kebanyakan orang. Termasuk ketika mengatakan bahwa cerita banjir besar di masa Nuh itu fiktif belaka.&lt;br /&gt;
Tidak hanya di wilayah sejarah dan agama yang menyejarah, miskonsepsi terjadi pula di ranah ilmu pengetahuan. Teori evolusi, misalnya. Teori evolusi sebenarnya bukan mempelajari &quot;asal&quot; (&lt;i&gt;origin&lt;/i&gt;) spesies bernama manusia, melainkan mempelajari cara dan proses bertahan hidup manusia. Evolusi, selama ini dianggap teori dalam krisis, tidak lengkap, dan cacat (karena memperkenalkan mata rantai hilang, &lt;i&gt;missing link&lt;/i&gt;). Semua sains pasti &quot;tidak selesai&quot;, berlanjut, dan sedang dikembangkan, sebab sains bukan dogma.&lt;br /&gt;
Kenyataannya, banyak mitos yang dianggap fakta sejarah. Manusia punya kecenderungan mempercayai sesuatu yang &quot;masuk akal&quot;. Cerita yang tak masuk akal selalu dicari sisi masuk-akalnya. Tidak jarang, mitos diadili dengan cara seperti itu, apalagi pada masa di mana dunia belum memiliki kecepatan penyebaran informasi seperti sekarang.&lt;br /&gt;
Ledakan literatur dunia, terjadi saat China memperkenalkan pemakaian uang kertas (&lt;i&gt;fiat&lt;/i&gt;), sebagaimana laporan perjalanan Marco Polo, dengan pemaksaan. Titik berikutnya setelah mesin cetak Guttenberg memungkinkan bacaan kertas disebarkan ke seluruh dunia. Injil dicetak dari mesin temuan orang Yahudi ini. Perlu dicatat, pergeseran media penceritaan mitos mulai beralih dari &quot;dongeng sebelum tidur&quot; menjadi &quot;kertas&quot;. Sastra dan pengetahuan berkembang mengangkut buku dan menggandakannya. Mitos, menjadi berwajah lain. Lokalitas dongeng,menyebar cepat. Demikian pula, isu human right di Perancis (ini isu lokal) serta dibukanya terusan Suez, kemudian mempertemukan Barat dan Timur tanpa perantara kebudayaan. Imperialisme, kolonialisme, membawa ceritanya sendiri. Tidak mengherankan, mitos menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara lokalitas dengan universitas.&lt;br /&gt;
Mitos tetap terjadi. Terjadinya miskonsepsi dalam sejarah sebenarnya tidak terlepas dari bagaimana orang &quot;mengalami&quot; dan &quot;terlibat&quot; dengan mitos.&lt;br /&gt;
Suatu kali, saya bertemu seorang petani, yang menolak membuat mie instan. Dia bercerita tentang mimpinya bertemu Nawang Wulan, bidadari yang menjaga penghematan padi di bumi. Nawang Wulan yang cantik, pintar memasak, mengajarinya untuk tidak menyiakan sebutir padi, sebab padi bisa menangis kalau disia-siakan. Menanam padi, bisa mengundang burung-burung menyanyi di masa panen, matahari bersinar indah, dan bau air tawar serta asap dari tungku menanak nasi, bisa menciptakan mendung. Petani ini tidak membuatkan mie instan, padahal saya suka mie instan. Dia memaksa saya dengan segala cara untuk menyukai padi.&lt;br /&gt;
Saya tidak peduli kebenaran cerita Nawang Wulan, sebab bagaimana sebuah mitos bekerja dan dialami Si Petani ini lebih menarik.&lt;br /&gt;
Mitos memiliki fungsi untuk menjelaskan terjadinya sesuatu (tempat, tokoh, dan istilah). Mitos adalah cerita tentang proses. Mitos menjelaskan sifat manusia, fenomena alam (terutama yang tak terpecahkan oleh sains), menjelaskan arti di balik ritual agama. Mitos, singkatnya, menjelaskan dan mencatat sejarah dengan nilai. Jadilah mitos yang menyediakan pandangan dunia&quot;(&lt;i&gt;world view&lt;/i&gt;), nilai (&lt;i&gt;value&lt;/i&gt;), dan gaya hidup (&lt;i&gt;lifestyle&lt;/i&gt;), kata Clifford Geertz.&lt;br /&gt;
Mitos, dalam beberapa hal, sering dianggap memiliki cara kerja yang berkebalikan dari sains. Sebelum fisika menjadi disiplin pengetahuan sekarang, ilmu pengetahuan berwujud sihir (&lt;i&gt;magic&lt;/i&gt;), ternyata, sihir adalah cikal bakal pengetahuan medis modern. Sihir, adalah praktek astrologi, ramuan herbal, pembedahan tubuh dan psikologi manusia. Mitos menjelaskan, kalau kamu menggores kulit pohon karet terlalu dalam, hantu di dalam pohon itu akan kesakitan, tak bisa menghasilkan getah karet. Dalam beberapa sisi, cerita tentang &quot;hantu pohon karet&quot; memiliki &quot;fungsi&quot;sama dengan pengetahuan.&lt;br /&gt;
Tanpa mitos, dunia menjadi tidak unik.J. Hillman, dalam &lt;i&gt;Revisioning Psychology&lt;/i&gt;,menjelaskan, &quot;mitologi adalah psikologi keunikan, sedangkan psikologi adalah mitologi modernitas.&quot; Carl Gustav Jung, mengatakan bahwa &lt;i&gt;psyche &lt;/i&gt;secara spontan memproyeksikan mitos (atau memproduksi mimpi, fantasi, dan pengalaman sejalan mitos-mitos kuno), sedangkan Sigmund Freud menganggap ini sebagai &quot;psikomitologi&quot;. Mitos, adalah pertemuan antara manusia dengan mimpinya sendiri.&lt;br /&gt;
Sekarang, kita&quot;mengalami&quot; mitos dengan cara lain. Kita sering bilang,&quot;Menurut buku ...&quot;. Mungkin bukan buku, tetapi pengarang terpercaya, atau sumber terpercaya. Cara bertutur di era internet merubah cara orang bercerita, mengenai dirinya. &quot;Kita berenang di lautan data, dapat diakses dari mana saja,&quot; kata Cascio di buku &lt;i&gt;Get Smarter&lt;/i&gt;. Kita sering menggunakan Google, sebagai perwakilan informasi resmi para pemakai internet, menjadi semacam&quot;sarang-lebah pikiran&quot;. Sebenarnya bukan Google yangmenyediakan informasi, dia hanya pengantar untuk memasuki situs lain.&lt;br /&gt;
Tantangan menjadi berkurang, petualangan yang melibatkan pengalaman, semakin hilang.Kesempatan untuk mengeksplorasi jangkauan pikiran, mengenali batas ketidakmampuan, berkurang sedikit demi sedikit. Padahal, bercerita membutuhkan landasan &quot;fiksi&quot; yang bebas dan terbebas.&lt;br /&gt;
Dan jika kita terus-menerus memanipulasi interaksi sosial kita, kita bisa kehilangan momen tak terbatas dari cerita yang layak.&lt;br /&gt;
Teknologi digital, kita tahu apa yang orang lain pikirkan segera dan dengan demikian mengubah cara kita untuk menyesuaikan mereka. Dunia penuh respon kreatif, penuh reaksi tak-produktif. Namun cara kita mengalami mitos, menjadi semakin kabur. Mitos hanya sebatas cerita, tidak menjadi energi kreatif untuk melakukan perubahan. Saat jejaring sosial dan website menceritakan adanya fakta-fakta yang merevisi cara kita memandang (sebuah) cerita sejarah, hanya menjadi fakta. Menumpuk, di sarang-lebah data bernama internet, atau kotak televisi.&lt;br /&gt;
Sepertinya, orang semakin tidak mengalami, mereka hanya menikmati. Tidak mempelajari, hanya membuka-diri dan menerima apa saja. Batas fakta dan mitos, semakin kabur saja.&lt;br /&gt;
Nietzsche berkata,&quot;Tidak ada fakta, yang ada adalah penafsiran.&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Mitos apa yang Anda alami hari ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster,artworker, tinggal di Semarang</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/miskonsepsi-sejarah-mitos-jejaring-sosial.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-sYQUowT69yI/Ucnj1oq7ezI/AAAAAAAADF0/2P0G_Psfvgc/s72-c/miskonsepsi-sejarah-mitos-jejaring-sosial.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-5539362525596123109</guid><pubDate>Mon, 24 Jun 2013 17:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-25T00:25:37.294+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">indonesia</category><title>8 Faktor Kegagalan Sistem Demokrasi (di Indonesia)</title><description>&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-sg5WEL_Du64/Uch_U_ZCI0I/AAAAAAAADFk/o8Cnn8BmLUM/s1600/8-Faktor-Kegagalan-Sistem-Demokrasi-(di-Indonesia).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;419&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-sg5WEL_Du64/Uch_U_ZCI0I/AAAAAAAADFk/o8Cnn8BmLUM/s640/8-Faktor-Kegagalan-Sistem-Demokrasi-(di-Indonesia).jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Mengapa Demokrasi tidak Berhasil Diterapkan di Dunia Ketiga?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&quot;Mitos&quot; Kesetaraan Suara&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Semua orang dianggap sama, rata, berhak menyuarakan aspirasi. Itu berarti menyamakan siapapun, tidak ada beda antara orang kaya dan miskin, bodoh atau intelektual. Manusia mungkin saja &quot;memilih&quot; suara sama, namun mereka berasal dari latar belakang lingkungan berbeda, karakter mereka berbeda. Mengasumsikan adanya kesamaan secara &lt;i&gt;a priori&lt;/i&gt;, berarti menganggap semua orang menjangkau keputusan, melek informasi, dan paham mekanisme yang terjadi dalam pemerintahan. Kenyataannya, tidak demikian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengutamakan Popularitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Demokrasi selalu mengarah pada salah satu mekanisme &quot;pemilihan&quot;, membawa orang kepada pesta demokrasi, kontes popularitas dan jargon. Secara tiba-tiba, pada musimnya, orang menjadi populis, berusaha merakyat (atau kelihatan dekat kepada rakyat?) dengan membawa misi perwakilan, menjadi penyelamat masa depan orang banyak, dengan menawarkan janji-janji singkat, bukan perbaikan jangka panjang. Jika Anda bermain &lt;i&gt;Game of Throne&lt;/i&gt;, pasti tahu betapa pentingnya sebuah tembok. Apapun partai dan dinasti yang sedang berjalan, tembok itu harus tetap berdiri, seperti tembok China. Sayangnya, kontes popularitas kurang memperhatikan perbaikan jangka panjang dan kurang menghargai sendi-sendi kebangsaan yang telah lama dibangun para &lt;i&gt;founding fathers&lt;/i&gt;, seperti: integritas kebangsaan, kemajuan ekonomi rakyat, ataupun dominasi pemodal lokal. &lt;br /&gt;
Politikus popular, lebih sering fokus pada emosi, bukan pada bangunan nalar politik atau akal sehat daripada mendahulukan signifikansi kebijakan. &lt;br /&gt;
Bukankah orang sering menjagokan politikus berdasarkan pilihan yang tak masuk akal? Mengapa orang masih menaruh harapan kepada mantan presiden yang pernah berpidato mengutip pahlawan daerah, lalu mengirim tentara ke daerah itu untuk melakukan pembantaian? Mengapa orang masih menaruh harapan kepada mantan presiden yang pernah memamerkan kebersihan partainya namun ternyata partai itu korup? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mental Kesukuan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Demokrasi tidak bisa terlepas dari mental kesukuan (&lt;i&gt;tribal mentality&lt;/i&gt;), &quot;orangku&quot; &lt;i&gt;melawan&lt;/i&gt; &quot;orangmu&quot;. Meskipun kata &quot;melawan&quot; bisa diganti dengan &quot;atau&quot; ataupun &quot;bersama&quot;, namun mental kesukuan selalu melihat orang lain sebagai bukan &quot;orangku&quot;. Sikap berhadapan ini, dinamai &quot;perjuangan kelas&quot; (&lt;i&gt;class struggle&lt;/i&gt;), &lt;i&gt;xenophobia&lt;/i&gt; (kebencian terhadap &quot;orang asing&quot;), nasionalisme, hak asasi, dll. Sayangnya, ini sifat alami ketika semangat tribal dibentuk berdasarkan kepentingan bernama politik. Memilih (voting) menjadi berdasarkan &quot;sentimen&quot;, bukan karena isu yang digulirkan. Tidak jarang, orang mempraktekkan toleransi dalam bentuk sikap toleransi terhadap kesalahan pemimpinnya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Korupsi&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Demokrasi punya bawaan bernama korupsi. Ini bukan kekeliruan (&lt;i&gt;flaw&lt;/i&gt;) dari sistem demokrasi, hanya saja, setiap ada sistem demokrasi selalu ada korupsi. Logikanya sederhana: mesin politik kekuasaan membutuhkan &quot;uang ekstra&quot;, mungkin untuk membayar kampanye, menjalankan hegemoni, ataupun menikmati hasil setelah tidak berkuasa. Korupsi bersifat sistemik, memaksa, dan di segala bidang. Tidak ada alokasi dana tanpa korupsi, tidak ada birokrasi tanpa korupsi. Korupsi bisa berupa penempatan orang, waktu, kesempatan, wilayah, ataupun fasilitas. Semua bisa dikorupsi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sistem Penuntutan Hak&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Demokrasi menghasilkan sistem penuntutan hak. Arahnya pada sentimen ataupun ketidakpercayaan jangka panjang. Misalnya, ketika seorang presiden menghapus sebuah departemen, dengan alasan efisiensi anggaran, orang mudah membalasnya dengan kebencian. Atau ketika seorang presiden melakukan &quot;penyesuaian&quot; harga bahan bakar minyak (istilah lain untuk &quot;menaikkan&quot;), orang bisa berbalik tidak akan memilihnya. Bahkan sebuah stiker &quot;&lt;i&gt;Piye kabare? Enak Jamanku, To&lt;/i&gt;?&quot; bisa membuat generasi sekarang melupakan sejarah kekejaman militerisme dan korupsi masa Orde Baru. Sistem penuntutan hak berasal dari rasa percaya diri pemimpin sekarang (dan para wakil rakyat) sebagai pelaksana (&lt;i&gt;executive&lt;/i&gt;) dan perwakilan kedaulatan rakyat (&lt;i&gt;representative&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mayoritas versus Minoritas&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Demokrasi bergerak untuk dominasi mayoritas. Minoritas adalah &quot;tetangga sendiri&quot; yang terabaikan. Apa yang disepakati mayoritas, dianggap sebagai suara semua orang (mewakili). Sayangnya, &quot;mayoritas&quot; di sini tidak sekadar jumlah. Sudah lama demokrasi sering merepresentasikan orang sebagai &quot;angka&quot; dan &quot;kalkulasi&quot;. Mayoritas juga bisa berarti &lt;i&gt;siapa&lt;/i&gt; yang menguasai mayoritas. Apa yang terjadi di ekonomi Aceh, pembantaian Freeport di Papua, intoleransi Islam versus Syi&#39;ah di Sampang, sering dianggap masalah yang bisa ditunda penyelesaiannya, karena ada prioritas masalah berdasarkan kepentingan mayoritas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kekuasaan yang tidak Kembali&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Pemilih, yang konon punya suara, sering tidak lagi memiliki &quot;&lt;i&gt;power&lt;/i&gt;&quot; (kekuasaan) dan tiba-tiba berubah menjadi pion. Mereka melihat pejabat korup, tidak segera tersingkap kepada publik, atau justru dimanipulasi media, kita melihat publik sebagai &quot;orang biasa&quot; atau &quot;penonton&quot;. Atau sebaliknya, &quot;kekuasaan&quot; justru dialihkan sementara dalam bentuk &quot;opini&quot;. Seorang pejabat yang sudah jelas tersangka, masih melenggang sebagai pahlawan tanpa tanda dosa. Media massa menjadi tandingan representasi publik, opini menjadi tandingan bagi keputusan hukum, dan rakyat menjadi &quot;suara&quot; yang abstrak, tidak dialami para pemimpin negara. Kekuasaan dari rakyat, kembalikah kepada rakyat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tugas Negara untuk Menindas Anak-Cucu&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Demokrasi bisa mengatasnamakan kepentingan untuk melakukan &quot;tugas negara&quot; atau menyelamatkan masa depan. Amerika adalah contoh yang baik bagi demokrasi yang buruk, ketika sekarang (melalui jasa agen pembelot NSA bernama &lt;b&gt;Edward Snowden&lt;/b&gt;) ketahuan melakukan pengintaian (&lt;i&gt;surveillance&lt;/i&gt;) dan menguping (&lt;i&gt;wiretap&lt;/i&gt;) pembicaraan telepon warganya. Praktek pemakaian intelejen, polisi rahasia, misi militer tersembunyi, adalah urusan negara yang sengaja tidak dipublikasi, namun kelak publik harus menerima akibatnya. Tidak hanya urusan dunia intelejen, negara melakukan kesepakatan (&lt;i&gt;deal&lt;/i&gt;) dan perjanjian (&lt;i&gt;agreement&lt;/i&gt;) yang melibatkan masa depan anak cucu, sering tanpa melibatkan informasi yang memadai, misalnya: menyetujui permodalan asing untuk penguasaan telepon seluler, bumi, air, dan kekayaan negara. Jika tiba-tiba kelak negara penganut sistem demokrasi terlibat utang yang harus dibayarkan 48 triliun lebih per tahun, itu karena para penguasa menjalankan tugas. Mereka menyebutnya &quot;kebijakan negara&quot;, dengan catatan: anak cucu yang akan menanggungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika sebuah masyarakat mengalami tingkat &quot;tidak memilih&quot; cukup tinggi, tidak percaya pada pilihan-pilihan yang disediakan, atau menjalani kesehariannya sebagai orang biasa namun sering tidak puas dengan sistem yang ada, tentu ada yang bermasalah dengan sistem demokrasi tersebut. &lt;br /&gt;
Demokrasi adalah lokalitas yang terjadi dari tempat lain, mendapatkan legitimasi sebagai sistem yang konon paling cocok dengan kenegaraan modern, namun, menjadikannya sebagai sistem universal adalah pilihan orang masing-masing. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda menentukan sistem politik untuk diri-sendiri?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang &lt;br /&gt;
http://modusgetar.blogspot.com</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/faktor-kegagalan-sistem-demokrasi-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-sg5WEL_Du64/Uch_U_ZCI0I/AAAAAAAADFk/o8Cnn8BmLUM/s72-c/8-Faktor-Kegagalan-Sistem-Demokrasi-(di-Indonesia).jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-6220774919887338248</guid><pubDate>Tue, 18 Jun 2013 12:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-01T01:32:35.314+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">off-topic</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Modernitas dalam Kesamaan Ekspresi Berpuisi di Jejaring Sosial</title><description>&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-q77fNWCgbnw/UcBLIl0VoEI/AAAAAAAADE0/1Fs6DFdBj14/s1600/modernitas-ekspresi-puisi-jejaring-sosial.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;433&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-q77fNWCgbnw/UcBLIl0VoEI/AAAAAAAADE0/1Fs6DFdBj14/s640/modernitas-ekspresi-puisi-jejaring-sosial.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Mengapa banyak ekspresi puisi sama di jejaring sosial? Artikel ini mencoba menguraikan jawabannya. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
Saya punya seorang teman yang gemar menulis puisi. Dia awali karir kepenulisannya dari iseng update status, mendapat pengakuan jempol dan testimoni di kotak komentar, sampai &lt;i&gt;tour&lt;/i&gt; baca puisi. Saya sempat datang di acara-acara &lt;i&gt;gathering&lt;/i&gt; semacam itu. Tangannya mengepal dan ekspresinya teatrikal banget, walaupun setelah 10 menit kemudian mereka melakukan pengakuan dosa di depan kopi, tentang minimnya literatur dan pengalaman dia.&lt;br /&gt;
Berhentikah teman saya ini setelah keliling baca puisi? Tentu tidak.&lt;br /&gt;
Dia bergabung di antologi puisi kedaerahan. Apa yang saya tuliskan di artikel ini, berasal dari kehebatan kawan saya ini, yang mewakili zamannya. Sekarang zaman linimasa (&lt;i&gt;timeline&lt;/i&gt;) Facebook dan Twitter 140 karakter.&lt;br /&gt;
Sebut saja, dia Joni. Dia menulis puisi sebagai pembaca yang &quot;bersih&quot;. Menulis selayaknya orang belajar menulis, tidak beradu berdarah-darah dulu dengan pengalaman. Tepatnya, dia mengarang puisi.&lt;br /&gt;
Joni menekankan aspek penggunaan otak daripada emosi. Tulisan sebelum masa dia sekarang, dianggapnya &lt;i&gt;stereotype&lt;/i&gt;, kurang banal, dan bacaan tentang jalan kepenyairan justru mengganggu petualangan pikirannya. &lt;br /&gt;
&quot;Saya membutuhkan eksperimen tak-kenal menyerah, dan menolak bentuk-bentuk lama,&quot; kata Joni. Dia harus unik, punya gaya sendiri. Caranya, kata Joni, puisi harus mewakili puisi itu sendiri, atau alam batin penulisnya, tidak harus lagi bercermin pada realitas sekitar.&lt;br /&gt;
Suatu kali dia menulis tentang gerimis romantis, &lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Gerimis-Mu mengajak semua orang menari bahagia, aku dan kekasihku mewakili semua orang menari di hadapan-Mu.&lt;/blockquote&gt;
Sehari sebelumnya, sebuah koran lokal memberitakan, puluhan hektar tambak garam di Kaliori (tempat dekat rumah Joni) gagal panen karena gerimis. Gerimis romantis yang membahagiakan Joni dan pacar barunya.&lt;br /&gt;
Puisi menjadi &quot;properti&quot; aristokrasi garda-depan (avant-garde) bagi Joni, secara tak-sadar dia melakukan observasi dingin, pelepasan-diri dari &quot;sesuatu&quot; atau &quot;sistem&quot;, dan penghindaran formulasi sederhana.&lt;br /&gt;
Joni menyukai metafora, ungkapan-ungkapan rumit, dia ingin melakukan pelepasan sudut-pandang dan karakter, dan puisi baginya adalah karya yang selalu terbuka untuk kritik. &lt;br /&gt;
Setiap ada pertanyaan di forum bedah buku, Joni bilang, &quot;Anda pembaca, bebas mengartikan puisi itu apa saja.&quot;. &lt;br /&gt;
Bagi Joni, Realitas tak &quot;diperantarai&quot; oleh apa yang kita baca dan kita tuliskan, melainkan justru &quot;dibentuk&quot; tindakan membaca dan menulis. Singkatnya, membaca dan menulis tidak mengubah &quot;jalan&quot;nya melihat realitas. Dia tidak mengajak pembacanya melihat dunia &quot;melalui&quot; puisi. &lt;br /&gt;
Selesai menulis puisi, saya sering bertanya kepadanya, &quot;Mengapa kota asing ini, kamu tuliskan dengan gaya ensiklopedi? Apakah puisimu memadai dalam menghadirkan kembali kota ini?&quot;. Tentu saja tidak. Joni lebih suka fokus pada piranti dan strategi teks itu sendiri. &lt;br /&gt;
Realitas keseharian, bagi Joni, seperti cangkang penyu, bisa dilepaskan dari puisi. Bahasa bagi Joni punya daya bungkam, bisa mendiamkan, menindas pandangan alternatif, kalau perlu dia kompromi dengan beberapa orang untuk &quot;road show&quot;, aktivitas &quot;politik&quot; dalam sastra yang bisa meningkatkan popularitasnya di dunia nyata. &lt;br /&gt;
Banyak puisi dari jejaring sosial yang berpijak pada antirealisme. Sakralisasi seni beralih menjadi &quot;deskripsi&quot; atas dunia. Puisi Joni selalu menjelaskan &quot;suasana&quot; dunia menurut kacamata dia, namun menggarisbawahi keadaan mental (mental state) dan pikiran (bukan ekspresi emosi) Joni. &lt;br /&gt;
&quot;Titik hilang&quot; antara realitas dan dirinya. Dia dan realitas mengalami pemisahan, sama-sama berada di atas rel, namun yang terlihat tampak &quot;kecil&quot; walaupun sebenarnya besar. Joni mengepalkan tangan &quot;ganyang korupsi!&quot; tetapi dia tidak mengikuti berita korupsi. &lt;br /&gt;
Individualisme dalam berpuisi, dipagari jargon universalitas seni, bahwa sastra bisa memasuki apapun, namun puisi mesti steril dari diksi disiplin ilmu lain. Puisi, bagi Joni, bukan sains, tidak bisa dipelajari. Puisi itu agung. &quot;Menulislah, dan temukan!&quot; begitu dia sering bilang kepada pemula seperti saya, namun Joni tidak memberitahukan bagaimana caranya, apa beda metafora dengan analogi, alegori, dll. &lt;br /&gt;
Kesadaran-diri yang ekstrem mencari citraan primer, yang masih asli, yang belum ditemukan orang lain. &lt;br /&gt;
Menulis puisi, saat Joni menyadari cara &quot;gaul&quot; dengan &quot;sastrawan lain&quot; yang sudah terkenal, harus berada di garis intelektualisme. &lt;br /&gt;
Joni bertutur dengan Google, membaca blog sastra, menambah pertemanan dengan orang-orang yang muncul dari buku bacaannya. Karya bagi Joni selalu menjadi sesuatu yang tentatif, analitis, dan terfragmentasi, dia lebih suka menemukan &quot;masalah&quot; baru daripada menjawabnya. Dia punya daftar panjang kegelisahan, semuanya menjadi kegelisahan kreatif.&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa, orang menulis (menulis puisi) tanpa memahami kebudayaan, masyarakat, atau (minimal satu) disiplin ilmu tertentu? Kemunculan (jika bukan pemahaman atas) psikiatri, mitologi, dan bahasa menyatakan bahwa kreasi seni tidak merepresentasikan realitas namun memasukkan realitas ke dalam karya seni. Banyak teknik digunakan untuk membuat jarak antara bahasa dan penggunaannya, menyatakan asalnya, status validasi-diri. Tidak mengherankan, di masyarakat tanpa &quot;pijakan&quot; (attitude) dan dekadensi &quot;motif-sosial&quot; kita menemukan puisi yang tidak bisa dijelaskan penulisnya. &lt;br /&gt;
Saya ambil sedikit contoh kutipan, dari beberapa puisi anonymous di Facebook (penulisnya, teman Joni, menolak dikutip dengan-nama). &lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Tuhan, kini kau telah mati seperti teriakan Nietzsche.&lt;/blockquote&gt;
Teman Joni tidak membaca Nietzsche. Intelektualisme (duh, menyiksa rasanya ada -isme di belakang intelektual) yang genit, produktif, namun tak punya pijakan kuat secara literer dan pengalaman, memiliki harga mahal dan senyum mahal pula, seiring menaiknya popularitas mereka&lt;br /&gt;
Menulis puisi, konon sangat bebas. Puisi bisa dibangun atas &quot;bunuh-diri&quot; Camus, orang mati dari &lt;i&gt;Pintu Tertutup&lt;/i&gt; Sartre, kecerdasan verbal, kekacauan individual, mitologi yang hanya sebatas cerita dan tak dialami. &lt;br /&gt;
Ada seribu Joni di jejaring sosial. Suatu saat, mungkin dia di belakang Anda. Saya berterima kasih bertemu dan banyak belajar dari Joni. Saya beruntung, di-confirm akun Facebooknya, Joni Sastra II Full. &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apakah Anda berteman dengan Joni?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
http://modusgetar.blogspot.com</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/modernitas-ekspresi-puisi-jejaring-sosial.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-q77fNWCgbnw/UcBLIl0VoEI/AAAAAAAADE0/1Fs6DFdBj14/s72-c/modernitas-ekspresi-puisi-jejaring-sosial.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-354250979908536909</guid><pubDate>Sat, 08 Jun 2013 09:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-08T16:33:06.274+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>Jejaring Sosial sebagai Mesin Propaganda</title><description>&lt;i&gt;Mengapa jejaring sosial menjadi mesin propaganda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Prediksi Politik, Spekulasi Teknologi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Politik dan teknologi selalu kental dengan prediksi. Apa yang diprediksikan orang terkait situasi politik dan tren teknologi, lebih sering salah. Kesalahan prediksi politik, bisa mengubah status &quot;program politik&quot; menjadi sekadar &quot;janji politik&quot;, sedangkan semua yang dianggap &quot;masa depan teknologi&quot;, selalu merupakan &quot;spekulasi&quot;.&lt;br /&gt;
Semula, orang berharap banyak pada penggunaan teknologi untuk kemanusiaan, namun, perjalanan sejarah mencatat terjadinya Perang Dunia I dan II, di mana teknologi digunakan untuk menumbuhkan perlombaan metode penyiksaan, mengumbar kebencian rasial (ingat kasus holocaust Nazi), dan propaganda. Setelah dua perang besar itu, Amerika dan Rusia pernah terlibat dalam Perang Dingin, yang berakhir ketika Amerika berhasil mengedarkan video casette rumahan, untuk memperkenalkan seks, kebebasan berpikir, dan demokrasi, dalam bentuk entertainment (musik, film). Siapa yang pernah memprediksi bahwa perang dingin itu akan selesai di ruang tamu semua orang?&lt;br /&gt;
Sayangnya, orang sering memaklumi adanya kebiasaan salah-prediksi, sebab begitulah watak politik dan teknologi. Prediksi apapun bisa salah.&lt;br /&gt;
Zaman sudah berubah. Sekarang, negara tidak lagi bermusuhan dengan negara lain, negara tidak lagi menjalankan &quot;actor-centered-history&quot; (sejarah yang berpusat pada tokoh), negara tidak lagi menjadi perwakilan tunggal sebuah kebudayaan. Negara-negara di Asia dan Africa bisa dikendalikan kepentingan Uni-Eropa dan Amerika dalam bentuk permainan kebijakan perusahaan lintas-negara (MNC, multinational corporation).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Propaganda : Sejarah dan Cara Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perang masih terjadi di mana-mana. Ada yang tetap berlangsung dari &quot;perang&quot; yang tak pernah selesai ini, yaitu: propaganda. Kata &quot;propaganda&quot; sebelumnya netral, baru setelah Perang Dunia II, kata ini berkonotasi negatif karena ulah Jerman yang berperang dengan cara kotor. Propaganda merupakan teknik membujuk dan mengarahkan khayalan. Entitas di balik semua pesan, berasal dari gagasan sama: &quot;yakinkan pemirsa agar menyetujui dan mengadopsi gagasanmu&quot;.&lt;br /&gt;
Istilah &quot;propaganda&quot; berasal dari Pope Gregory XV yang membuat Congregation of Propaganda tahun 1622, untuk memenangkan kembali Katolik yang telah direbut kaum Protestan selama Reformasi. Menyebarkan Sabda, bergeser fungsinya ke wilayah perang. Kata ini lantas lantas mendapatkan konotasi negatif saat propaganda digunakan Hitler di Perang Dunia II. Propaganda disebarkan melalui poster, televisi (harap diingat, Nazi menemukan televisi), siaran radio, dan brosur.&lt;br /&gt;
Propaganda selalu melakukan penyederhanaan, dengan beberapa teknik.&lt;br /&gt;
Propaganda menyederhanakan gagasan menjadi sebuah nama, misalnya: &quot;Pilih Gubernur Joni, Masa Depan Cerah!&quot;. Masa depan cerah (atau apapun janji politiknya), sudah diidentikkan dengan Joni (sebuah nama), entah benar atau belum tentu benar identitas itu.&lt;br /&gt;
Kadang propaganda juga mengajak orang bergabung dengan alasan sudah pernah ada kesuksesan sebelumnya, misalnya: &quot;Ingin sukses di bisnis properti? Gabung dengan kami.&quot;&lt;br /&gt;
Propaganda juga memainkan teknik glittering, memainkan kesan-baik, dengan menggabungkan &quot;peristilahan positif&quot; dan &quot;penugasan suci&quot;, misalnya: &quot;Tolong broadcast pesan ini jika Anda peduli korupsi!&quot;.&lt;br /&gt;
Propaganda bermain data sesuai kebutuhan, misalnya: &quot;9 dari 10 perempuan menginginkan kulitnya putih&quot;. Statistik siapa itu, di mana respondennya, dan kapan penelitian itu terjadi, menjadi tidak penting lagi.&lt;br /&gt;
Propaganda melakukan pembauran identitas jika diperlukan. Seorang politikus asal Jawa pemilik perusahaan mebel yang main-kayu sampai Irian Jaya, misalnya, perlu dicitrakan suka &quot;blusukan&quot;, agar ide &quot;berbaur dengan rakyat kecil&quot; bisa disebarkan media. Kalau kemudian media massa mengabarkan kebohongan sang Gubernur tadi, orang mungkin sudah terlanjur percaya.&lt;br /&gt;
Propaganda juga bisa disampaikan dengan memanfaatkan rasa takut. Kalau rakyat takut miskin, alihkan isu ke &quot;jangan biarkan Indonesia krisis pangan&quot;, maka gagasan Anda akan mudah diikuti orang. Propaganda juga bisa dijalankan dengan mengedarkan pesan yang menggugah bawah-sadar, mengingatkan orang akan kebutuhan dasarnya, misalnya: &quot;ada kuman mematikan di balik apa yang anda minum&quot;.&lt;br /&gt;
Propaganda menggunakan banyak medium (media, perantara pesan), misalnya: poster, televisi, film, majalah, koran, dll. Semua media itu bisa disaring lagi berdasarkan jenis content-nya, yaitu: teks, gambar, dan video. Tidak lebih dari itu. Tidak ada yang memuat fungsi propaganda secepat jejaring sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jejaring Sosial, Mesin Propaganda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mari melihat bagaimana sebuah content menyebar secepat virus di jejaring sosial. Sebuah gambar, dengan satu sentral, disertai dua kalimat, sudah bisa membuat orang marah. Atau foto bayi terluka karena bom dengan bertuliskan, &quot;Korban Kebiadaban Israel&quot; bisa membuat orang Islam segera berdemonstrasi di mana-mana. Video fake (tipuan) tentang kubah terbang, bisa membuat orang menangis. Sebuah acara pemilihan bintang atau pertandingan bola, bisa &quot;memerintahkan&quot; jutaan pemirsa mengubah jadwal jam tidurnya. Foto dengan pesan dua baris, bisa mengembalikan &quot;retro memorabilia&quot;, ingatan tentang masa lalu yang lebih indah daripada sekarang. Google+, Facebook, Youtube, dan Twitter, adalah empat raksasa jejaring sosial yang bisa menyebarkan gagasan propaganda secepat virus.&lt;br /&gt;
Gagasan bertarung di mana-mana. Tidak jelas lagi dan tidak soal lagi, siapa yang menyulut tersebarnya sebuah kalimat propaganda. Perang psikologi di internet adalah permainan yang tak pernah selesai. Mungkin antarfaksi politik, kelompok beragama, produk dagang, atau apa saja. Di jejaring sosial pula, propaganda dicobakan, selera orang dikalkulasi begitu cermat.&lt;br /&gt;
Jejaring sosial adalah tempat bermain (play ground) semua orang, tidak mengherankan jika jejaring sosial dipakai untuk mengukur selera orang, mulai dari selera makan, baju, sampai calon Presiden yang paling disukai. Intelijen dan militer ikut memantau pemakaian jejaring sosial.&lt;br /&gt;
Pentagon, pada tahun 2011, menginginkan piranti yang bisa menjadi propaganda jejaring sosial, agar militer bisa memantau secara real-time, apa yang sedang mempengaruhi pikiran semua orang: formasi, pengembangan, penyebaran gagasan, ide, dan konsep. Tidak sebatas melihat trending topic Twitter atau content yang paling banyak dibagikan di Facebook. Tujuannya, melakukan prediksi secara tepat, agar bisa mendeteksi dan mencegah bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Paradoks Propaganda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Propaganda sekilas tampak terang-terangan, main kasar, dan naif, tetapi sekaligus juga bawah-sadar, curang, dan berbahaya. Propaganda selalu berupa paradoks. Baru saja kita mendapat seruan &quot;bahaya merokok&quot; dengan poster dan data meyakinkan, tak lama kemudian, kita mendapatkan artikel ekonomi yang menyerukan, &quot;merokok berarti membantu perekonomian Indonesia&quot;.&lt;br /&gt;
Dua arus semacam ini menggerus pribadi kepada pilihan-pilihan, atau seolah-olah kita bebas menentukan pilihan. Jika kebebasan ditentukan hanya berdasarkan pilihan yang ada (atau pilihan yang disediakan?) maka sebenarnya kita tidak berhadapan dengan kebebasan memilih, melainkan berhadapan dengan komoditi. Entah berupa gagasan, jasa, ataupun barang. Sebab komoditi terjadi dalam pertukaran dan perdagangan, tempat terjadinya nilai-tukar.&lt;br /&gt;
Singkatnya, di balik keingintahuan semantik dari kalimat-kalimat propaganda, tersembunyi ketidakmampuan manusia dalam mengatasi pertanyaan: siapa yang sedang mempengaruhi saya?&lt;br /&gt;
Sifat paradoks dari propaganda akhirnya membuat orang sangat permisif menerima apapun sebagai iklan dan sebagai komoditi. Kebenaran dan keindahan apapun, selalu dinilai dari &quot;siapa mempengaruhi siapa&quot;, &quot;siapa menjual apa&quot;, dan berapa &quot;harga&quot;nya jika saya memilih. Iklan menjadi ada di mana-mana.&lt;br /&gt;
Semiotika, ilmu yang memperlajari fungsi dan pertukaran &quot;tanda&quot; (sign), mengenal &quot;teks&quot; tidak sekadar sebagai tulisan, teks bisa berupa citraan visual. Propaganda bisa berupa kaos Che Guevara tanpa tulisan nama, atau siluet Iwan Fals bertuliskan &quot;Bongkar!&quot;, atau tulisan di bak truk, &quot;Penak Jamanku To?&quot; atau sebuah pertunjukan televisi. Kita memilih, mengerjakan ketakutan dan kecemasan, atau tersenyum bahagia, menikmat pesan tersembunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda menyebarkan propaganda di jejaring sosial hari ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/jejaring-sosial-mesin-propaganda.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-9036428984359498391</guid><pubDate>Sat, 08 Jun 2013 08:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-20T02:22:01.924+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">indonesia</category><title>Kesibukan Penceritaan Linier dan Dominasi Realisme di Teater Indonesia </title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-hgTIeyJL-1Q/UbLyLfY9TLI/AAAAAAAADCc/7gqRNd7Gl8A/s1600/masalah-teater-indonesia.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;412&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-hgTIeyJL-1Q/UbLyLfY9TLI/AAAAAAAADCc/7gqRNd7Gl8A/s1600/masalah-teater-indonesia.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Ada 5 (lima) problem teater di Indonesia: 1. kesibukan penceritaan linier dan dominasi realisme; 2. seni rupa memasuki panggung; 3. beban berat pesan-titipan dari makhluk bernama &quot;negara&quot; dan &quot;agama&quot;; 4. aktor tidak melek-sastra (illiterated); dan 5. memposisikan teater sebagai tontonan broadway.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penceritaan Linier, Sejarah Orang Lain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kita lihat Sartre malam itu, lewat &lt;i&gt;Pintu Tertutup&lt;/i&gt;: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain.&quot; [awal puisi &quot;Migrasi dari Kamar Mandi&quot;, karya Afrizal Malna]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan teater di Indonesia sibuk melakukan penceritaan linier, dengan alur cerita yang menghadirkan &quot;sejarah orang lain&quot; di atas panggung (stage), naskah berbentuk cerita (story) dengan konflik Aristotelian, dan dramaturgi berbasis realisme. Teater kadang tidak bisa dibedakan dari drama panggung. &amp;nbsp;Penceritaan linier ini berasal dari &quot;status seni&quot; dan &quot;pandangan atas sejarah&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Status Seni: Tiruan atas Tiruan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Plato mengatakan, bahwa dunia ini &quot;mimesis&quot; (tiruan) dari alam idea, sedangkan Aristoteles mengatakan bahwa &quot;seni&quot; (art) merupakan tiruan atas dunia; dengan demikian, seni adalah &quot;mimesis dari mimesis&quot; (tiruan atas tiruan).&lt;br /&gt;
Seni, dianggap sebagai &quot;bayangan&quot; dari dunia yang ingin menghadirkan-kembali kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, lengkap dengan &quot;pesan sponsor&quot; bernama negara, agama, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sejarah dalam Bingkai Realisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Realisme, layaknya kebanyakan drama panggung, ingin menghadirkan-kembali realitas, dengan dramaturgi ketat. Realisme, di sisi lain, paling memadai dalam memberi perkenalan awal kepada dunia teater.&lt;br /&gt;
Sejarah, digambarkan sebagai seutas benang merah, ada awal dan akhir. Pada penceritaan seperti ini, di mana seni teater sebenarnya hanya mempersepsikan realitas, memainkan &quot;fiksi&quot; literer, layaknya cerita pendek atau novel, namun &quot;dimainkan&quot; (atau diperagakan?) dengan tubuh manusia.&lt;br /&gt;
Drama realis mempertipis kemungkinan menghadirkan &quot;sesuatu baru&quot;, dia hanya mengulang narasi dari teks (dialog) menjadi pementasan. Penjelajahan menjadi dangkal, tidak memberikan penjelajahan lebih-baru bagi pikiran penonton. Kalaupun bagus, dengan ukuran penyutradaraan, keaktoran, dll., itu berhenti sebagai tontonan. Tidak terjadi &quot;theater of mind&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dominasi Anti-Realitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya pernah bertanya kepada salah seorang sutradara, &quot;Mengapa bentuk penceritaan ini kamu pilih?&quot;. Dia ingin &quot;menggambarkan dunia nyata&quot;. Waktu itu, dia bercerita tentang kediktatoran seorang Raja dengan memodifikasi cerita pewayangan.&lt;br /&gt;
Benarkah &quot;dunia nyata&quot; seperti itu? Mungkin benar, mungkin pula orang tidak suka lagi mendapat &quot;pesan baik&quot; dari sebuah pementasan.&lt;br /&gt;
Dominasi realisme, mereduksi unsur &quot;visual&quot; dalam teater menjadi gestur tubuh manusia, menjadi cerita yang diarahkan (oleh seorang sutradara?). Visual yang mestinya bisa menjadi &quot;teror&quot;, menjadi pernik properti panggung yang dipetakan ke &quot;dunia nyata&quot;.&lt;br /&gt;
Orang sekarang, pada zaman jejaring sosial, &amp;nbsp;tampaknya tidak butuh konflik hitam putih (antagonis-protagonis).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ruang, bukan Tempat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Konsep memandang sejarah sebagai rangkaian peristiwa, mempengaruhi pula pandangan atas &quot;ruang&quot;, sebab sering terlihat, &quot;ruang&quot; dalam teater telah direduksi menjadi &quot;tempat&quot;.&lt;br /&gt;
Mari bayangkan (dalam dunia nyata), sebuah &quot;ruang tamu&quot;. Itu adalah penamaan yang terberikan (given) untuk sebuah tempat menerima tamu.&lt;br /&gt;
Aktivitas apa yang terjadi di ruang tamu? Tidak hanya menerima tamu. Anda bisa bermain Facebook dengan laptop bersama dua teman, layaknya di kafe internet. Anda bisa melakukan percumbuan di sofa, seperti di ranjang hotel. Anda bisa melakukan interogasi ataupun pengakuan dosa, layaknya berada di bukan-ruang-tamu.&lt;br /&gt;
&quot;Tempat&quot; itu statis dan fisik, sedangkan &quot;ruang&quot; itu bergantung aktivitas orang-orang dan benda-benda mati yang berbicara di situ, ruang itu dinamis dan psikologis.&lt;br /&gt;
Pada kenyataannya pula, ruang adalah tempat terjadinya peristiwa &quot;serentak&quot;, peralihan identitas &quot;manusia&quot; dan &quot;ruang&quot; itu sendiri. Anda bisa melihat, bagaimana sebuah kantor atau peristiwa, terjadi serentak, bersamaan. Kantor adalah tempat, yang bisa menjadi ruang bertengkar, menipu, menghadirkan suasana keluarga dari telepon, dst. Demikian pula jalan, terminal, dan negara.&lt;br /&gt;
Justru jika berbicara &quot;realisme&quot;, yang terjadi adalah &quot;identitas ruang&quot; yang selalu berubah serta peristiwa yang serentak, tanpa sekat-sekat dan fokus yang selalu sentral. Pikiran manusia, justru bisa menerima multitasking, melompat dari satu hal ke hal lain, mengalami diorama secara cepat, kilasan, impresi, yang tidak masuk-akal. Selesai menonton, mestinya orang seperti bangun tidur, seperti selesai memasuki &quot;mimpi&quot;.&lt;br /&gt;
Realisme, tidak memadai untuk menghadirkan &quot;ruang&quot; dan &quot;peristiwa&quot; siklikal, namun surealisme bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Surealisme: Mimpi dan Mitos&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Surealisme muncul dari Paris 1924, saat Andre Breton menulis manifesto surealisme, lalu menyebar ke Eropa. Sebelum surealisme, ada &quot;dadaisme&quot; yang mengejek kebudayaan, pemikiran, teknologi, bahkan seni. Dadaisme percaya bahwa keyakinan apapun akan kemampuan kemanusiaan untuk mengembangkan diri melalui seni dan kebudayaan, naif dan tidak realistis. Kemanusiaan mengalami dehumanisasi setelah perang antarnegara. Dadaisme menciptakan karya dengan &quot;ketidaksengajaan&quot; dan mengejek &quot;irasionalitas&quot; manusia (kritik terhadap perang). Surealisme, memilih jalan yang tidak terlalu politis, lebih sui generis. Surealisme semula dipakai untuk menafsirkan mimpi, menulis-ulang mimpi. Seorang gadis bisa menjelma menjadi bunga.&lt;br /&gt;
Menurut Sigmund Freud, dalam diri manusia terjadi pertarungan id (hasrat) dan ego (etika). Superego adalah garis vertikal bagi keduanya. Kierkegaard, memperkenalkan estetika impulsif versus estetika santun.&lt;br /&gt;
Dalam usaha untuk mengakses kinerja pikiran yang sebenarnya, banyak surealis yang menggali untuk meraba kualitas mimpi yang tak masuk akal.&lt;br /&gt;
Singkatnya, surealisme ingin membuka kunci bawah sadar, dengan &quot;mimpi&quot;. &amp;nbsp;Surealisme mencoba mengetahui dunia lain, dan mempertanyakan realitas keseharian (yang semu). Surealisme memberikan &quot;pencerahan&quot;, dengan fokus pada irasionalitas (tak mengandalkan logika dan &quot;common-sense&quot;), dan keajaiban, kemungkinan-kemungkinan.&lt;br /&gt;
Irasionalitas dalam surealisme adalah &quot;penulisan-ulang bawah-sadar&quot;, lebih murni daripada dadaisme. Surealisme &quot;mengerjakan&quot; mitos Freudian.&lt;br /&gt;
Menurut Freud, mitos-mitos mengungkap belenggu kejiwaan yang tersembunyi dalam setiap manusia.&lt;br /&gt;
Carl Gustav Jung berpendapat, mitos lebih terbebas dari ruang dan waktu (adanya persamaan, berupa &quot;ketaksadaran kolektif&quot;). Mitos ini semakin menarik ketika Barat berkenalan dengan mitos-mitos dunia Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Metode Surealisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagaimana surealisme dikerjakan? Bagaimana metodenya? Surealisme membentuk gambaran dari alam bawah sadar disebut &quot;exquisite corpse&quot; (secara harfiah berarti &quot;mengumpulkan lipatan kertas, bagian-bagian tubuh dikerjakan berlainan, lalu disatukan&quot;), karena mereka percaya adanya &quot;kesamaan&quot; dan &quot;keberhubungan&quot; patahan-patahan itu. Surealisme membentuk makhluk &quot;hybrid&quot; dengan penampakan baru, walaupun berasal dari banyak persamaan.&lt;br /&gt;
Contohnya begini: saya rakyat biasa, ingin korupsi ditiadakan dari Indonesia, namun jarang dihadirkan &quot;adegan&quot; (dalam kehidupan nyata di Indonesia) seorang Kiai turun di jalan menuntut pengusutan kasus korupsi. Kalau ada adegan seperti itu di teater, maka saya (rakyat biasa) dan Kiai (elit-religius), bertemu (menjadi &quot;unitas&quot; baru), karena satu persamaan: mau menuntut koruptor.&lt;br /&gt;
Metode lain adalah &quot;automatisme&quot;, yaitu membebaskan pikiran bawah-sadar dari pikiran-sadar: bawah sadar, diungkapkan, kesadaran digilas dan diledakkan lalu dikembalikan lagi pada kesadaran. Terjadi penceritaan siklikal, tidak linier. Ada ledakan imaji spontan dan tidak logis.&lt;br /&gt;
Surealisme bukanlah antitesis realisme, bukan pula solusi atas kebekuan penceritaan linier, namun dia memberikan pandangan lain atas realitas yang bisa menghadirkan &quot;teater&quot; dalam pikiran penonton.&lt;br /&gt;
Surealisme bukanlah &quot;siluet&quot; dengan gerakan orang menari, bukan pula sosok malaikat putih terbang dengan ayat-ayat untuk mengabarkan bencana, mempertegas hukuman Tuhan. Itu akal sehat, sudah umum, tidak perlu dihadirkan kepada penonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penceritaan linier dan dominasi realisme, telah mengakar dalam teater Indonesia. Kebiasaan ini bisa mencitrakan teater sebagai drama dan menghambat jalan teater sebagai media penjelajahan pikiran manusia. Setidaknya, masih ada 4 (empat) masalah lain dalam Teater Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Day Milovich,,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/masalah-teater-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-hgTIeyJL-1Q/UbLyLfY9TLI/AAAAAAAADCc/7gqRNd7Gl8A/s72-c/masalah-teater-indonesia.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-2969268408951234607</guid><pubDate>Sat, 08 Jun 2013 08:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-08T15:21:22.215+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>5 Kelemahan Mendasar Facebook sebagai Jejaring Sosial</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-ovUrNlEPXks/UbLpLrexOAI/AAAAAAAADCM/7gBMFk1-bNs/s1600/kelemahan-facebook.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-ovUrNlEPXks/UbLpLrexOAI/AAAAAAAADCM/7gBMFk1-bNs/s1600/kelemahan-facebook.jpg&quot; height=&quot;400&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;Apa kelemahan mendasar Facebook sebagai jejaring sosial?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Facebook bisa dipakai untuk banyak keperluan: sebagai catatan harian, dokumentasi karya dan riwayat hidup, menggalang gagasan, berinteraksi secara kelompok, upload gambar dan video, atau memasarkan brand. Tidak ada jejaring sosial sebesar Facebook, selengkap Facebook.Banyak survey konsumen (produk) dan konstituen (politik) yang mencari trend dan selera para pemakai Facebook di Indonesia, namun, hasilnya sering tak sesuai harapan. Pemakai Facebook banyak namun jarang brand product atau politikus menggunakan Facebook sebagai lahan mensosialisasikan produk dan gagasannya? Atau mengapa Facebook tidak prospektif untuk perkuliahan online? Atau dalam lingkup lebih kecil, mengapa 30 orang dengan interest sama, tidak bisa menjadikan sebuah group Facebook sebagai tempat komunikasi intensif?&lt;br /&gt;
Ini dia 5 (lima) kelemahan mendasar jejaring sosial terbesar ini. Facebook memakai analogi interaksi sosial seperti penjara, tidak memperhatikan reputasi individu, fasilitas open graph belum berfungsi, banyak kesalahan penandaan lokasi, dan daftar pertemanan yang membosankan bisa membuat orang malas memakai Facebook.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;1. Facebook memakai analogi interaksi-sosial maya, layaknya penjara.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam sebuah penjara, saat narapidana makan bersama, itulah &quot;Beranda&quot; (Home). Sesekali dicolek (poke) saat sedang berjalan, mengirim pesan langsung ke jeruji (inbox), bergabung di &quot;kelompok&quot; (group, genk), dan &quot;bermain&quot; (game) di lapangan. Kalau lagi sedih, orang menuliskan sesuatu di &quot;Dinding&quot; (wall) atau menempelkan foto.&lt;br /&gt;
Beberapa orang tidak lagi menggunakan cara klasik seperti di atas, mereka ini semacam penjahat kelas tinggi yang tahu cara &quot;gaul&quot; di penjara. Tanpa masuk Facebook, dia jalankan autoupdate status (pakai script), menulis catatan dari email, atau menambahkan anggota group sebanyak mungkin tanpa konfirmasi. Hanya beberapa orang yang tidak memakai Facebook dengan cara klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Facebook tidak perhatikan reputasi personal.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika seseorang melakukan pelanggaran &quot;Term of Agreement&quot;, Facebook melakukan peringatan secara personal, bukan untuk publik. Reputasi seseorang, tidak diperhatikan Facebook.&lt;br /&gt;
Saat Anda &quot;add&quot; orang lain, Anda tidak tahu apa kata Facebook tentang &quot;orang asing&quot; ini. Akhirnya, orang memilih berdasarkan &quot;spekulasi&quot; atau &quot;tebakan&quot; dia tentang &quot;orang asing&quot; ini. Mungkin dari foto, teman bersama, atau info. Masing-masing orang punya cara menyaring siapa yang mau di-add atau di-confirm sebagai teman. Sayangnya, semua itu bisa dimanipulasi dengan mudah.&lt;br /&gt;
Sebenarnya, orang bisa merasa aman karena mengetahui track record seseorang, berdasarkan pemberitahuan-untuk-publik yang dicatat system. Misalnya, Facebook cukup mencantumkan catatan: orang ini pernah unfriend orang berapa kali, berapa orang dia blokir (tanpa menyebut nama, hanya jumlah), dst.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Open Graph Search belum berfungsi secara global.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tidak semua pemakai Facebook mendapatkan fasilitas Open Graph Search Button.&lt;br /&gt;
Harap maklum, fasilitas &quot;Search&quot; di Facebook tidak berdaya menghadapi &quot;Privacy Settings&quot; (pengaturan privacy) dari user. Sayangnya,, hasil pencarian ini tergantung &quot;input&quot; yang dimasukkan pemakai. Kalau saya mengisi identitas Facebook saya dengan input data &quot;keliru&quot; atau setting privacy pada content terpilih saya atur untuk tidak bisa dicari, maka Open Graph Search Facebook tidak berdaya. Bahkan untuk mencari sebuah baris di status saya terdahulu, belum tentu bisa ketemu.&lt;br /&gt;
Rumor yang beredar menyebutkan, Facebook sedang mencobakan fungsi #hashtag seperti di Twitter, namun, apa yang terjadi dengan ratusan status yang sudah lewat?&lt;br /&gt;
Jika kelak ada fasilitas penandaan kata kunci menjadi hashtag di seluruh status kita, saya sangat ragu: bisakah itu terjadi? Itu berarti Facebook harus menulis-ulang status semua pemakai. Jika saja itu berhasil, tak ayal lagi, keyword yang terpilih dan di-tulis-ulang oleh Facebook adalah keyword umum.&lt;br /&gt;
Sangat berbeda dengan Twitter, di mana kita bisa temukan tweet manapun dalam hitungan detik, asalkan hashtag yang dipakai cocok dan unik. Facebook tidak bisa melakukan secepat Google+ dan Twitter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Database Facebook terkait &quot;Location&quot;, saat Anda check-in, itu penuh dengan kesalahan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ini terjadi karena orang sembarangan menulis tempat, misalnya: &quot;Lubuk HatiQu&quot;, &quot;Kampus Tercinta&quot;, dll.&lt;br /&gt;
Sebab lainnya adalah inakurasi (ketidaktepatan) penandaan GPS (Global Positioning System) dari gadget yang dipakai. Itu sebabnya Facebook selalu meminta koreksi dari pemakai lain.&lt;br /&gt;
Saya sangat suka menandai lokasi dengan ponsel, lalu memindahkan koordinatnya ke Google Map (versi baru Google Map sangat akurat dan keren, daripada Ovi, Blackberry, dan Bing) untuk keperluan tertentu. Sayangnya, trend pencarian orang Indonesia belum sepenuhnya berbasis peta, masih suka mencari &quot;teks&quot; dan &quot;informasi berguna&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Teman-teman yang Membosankan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak orang ingin berhenti-sebentar bermain Facebook. Ada yang deaktivasi akun, ada yang pindah ke jejaring sosial lain, atau tetap di Facebook sambil mengatasi rasa bosannya.&lt;br /&gt;
Apa alasannya? Alasan paling utama sebenarnya adalah teman-teman Anda yang membosankan.&lt;br /&gt;
Kalau Anda berteman dengan orang-orang menyenangkan (sesuai selera) maka Beranda akan menyenangkan. Tidak pernah bosan.&lt;br /&gt;
Jejaring sosial ini mengajari orang pintar berinternet: mengisi formulir (saat mendaftar), kenal email (saat konfirmasi pendaftaran), upload foto, download, sunting profile, pengaturan privacy, mematikan chat, membagikan content, menandai orang lain, dll.&lt;br /&gt;
Sayangnya, lagi-lagi, jejaring sosial ini menjadikan diri seseorang membentuk semacam kerajaan kepribadian. Lihatlah cara orang mengkonstruksi akun Facebook mereka.&lt;br /&gt;
Pemandangan sama: seseorang adalah seseorang di antara teman-temannya.&lt;br /&gt;
+ Siapa orang ini? Dia add aku, dan aku lihat, dia berteman denganmu.&lt;br /&gt;
+ Kebanyakan temanmu suka menulis puisi.&lt;br /&gt;
+ Aku sudah tidak berteman dengan dia.&lt;br /&gt;
+ Kamu nggak pernah ketemu? Kelihatannya dia akrab sama kamu, sering comment di status-statusmu.&lt;br /&gt;
+ Kenapa kamu hanya menandai dia di fotomu?&lt;br /&gt;
+ Aku tidak ikut comment, soalnya ada dia.&lt;br /&gt;
+ dan seterusnya.&lt;br /&gt;
Anda bisa teruskan sampai 100 atau 300 pernyataan. Semuanya tentang seseorang dan teman-temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apakah group dan halaman berfungsi?&lt;/i&gt; Tentu saja. Hampir semua pemakai Facebook masuk group, minimal sempat masuk karena di-add (kalau tanpa pemberitahuan, istilahnya: diculik). Atau menyukai sebuah halaman (ini berarti, dia menjadi &quot;penggemar&quot; halaman itu, dan ada script tertentu yang memungkinkan penculikan halaman terjadi).&lt;br /&gt;
Group diikuti, halaman dijempol,, namun, semua diraup dalam satu wadah penting: daftar teman.&lt;br /&gt;
Saya memilih cara klasik:&lt;br /&gt;
+ Kalau seseorang hanya perlu berinteraksi di group, tidak harus diajak main ke rumah.&lt;br /&gt;
+ Kalau seseorang jarang berinteraksi dengan saya di dinding (cuma jempol), dia tidak harus berteman dengan saya, cukup sesekali saya share status atau catatan untuk semua orang agar dia bisa membaca. &amp;nbsp;+ Harus ada daftar pengelompokan teman: teman sekolah, pekerjaan, gali galau, dll.&lt;br /&gt;
Teman membosankan, berarti Beranda membosankan, berarti komentator membosankan, berarti chat dan inbox membosankan,, sebab Facebook dibuat memang untuk pertemanan.&lt;br /&gt;
Untuk &quot;kelemahan&quot; terakhir ini, sepertinya bukan kelemahan. Facebook tidak perlu memperbaikinya. Andalah yang perlu memperbaiki sendiri daftar pertemanan itu.&lt;br /&gt;
5 (lima) hal itulah yang membuat Facebook menjadi tak-efisien untuk memasarkan brand (product) dan meraih konstituen (politik). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda menulis komentar hari ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/kelemahan-facebook-sebagai-jejaring-sosial.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ovUrNlEPXks/UbLpLrexOAI/AAAAAAAADCM/7gBMFk1-bNs/s72-c/kelemahan-facebook.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-1260375339603125960</guid><pubDate>Sat, 08 Jun 2013 08:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-08T15:15:10.510+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>Marx, Sisi Hitam Jejaring Sosial, dan Revolusi Politik Mesir 2011</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-OJtfS629rBc/UbLnnX5QJRI/AAAAAAAADB8/4eQ453tqMtM/s1600/marx-jejaring-sosial-revolusi-mesir.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-OJtfS629rBc/UbLnnX5QJRI/AAAAAAAADB8/4eQ453tqMtM/s1600/marx-jejaring-sosial-revolusi-mesir.jpg&quot; height=&quot;442&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&quot;if your government shuts down your internet, shut down your government!&quot; #egyptrevolution&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana rakyat Mesir berhasil menumbangkan mantan Presiden Mubarak dari gerakan di jejaring sosial?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pada Awalnya adalah Facebook dan Twitter&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Khaled Said (28), membangun emosi publik melalui halaman Facebook, menayangkan kediktatoran pemerintahan Mubarak, Mesir. 470,000 &quot;penggemar&quot; mendukungnya, lalu dia dibunuh secara brutal, dan tayangan video pembunuhannya (mendapat 500,000+ page view) justru dan membakar amuk masa. Wael Ghonim melanjutkan Khaled Said, menjadi administrator &quot;anonim&quot;, mengendalikan halaman Facebook dari Dubai dan bekerja untuk Google. Ghanim menulis, &quot;Aku rasa, segera kita akan balik halaman, menuliskan dengan pena sendiri, sejarah kita sendiri, dengan tangan sendiri.&quot; Ada 6.317 jempol, 2.077 komentar dan dilihat 1,244,267 kali. Dia kelak menuliskan aksinya dalam sebuah novel, termasuk saat menjalani hukuman penjara selama seminggu. Sudah biasa, di Asia perubahan dipicu kaum elit, sebagaimana Reformasi 1998.&lt;br /&gt;
Mubarak akhirnya tumbang, digantikan Mohamed Morsi. Pemakaian Facebook dan Twitter tercatat berhasil menumbangkan Presiden Tunisia, Zainal Abidin bin Ali, 14 Januari 2011.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tiga Pola Gerakan Berbasis Jejaring Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ada tiga pola yang mengikuti keberhasilan jejaring sosial sebagai &quot;faktor&quot; yang mewujudkan revolusi politik mesir: Pertama, Komunikasi dari halaman Facebook, kepada semua orang, layaknya tower menyeru sekeliling Mesir, termasuk mata luar-negeri. Kedua, membangun emosi publik dengan fakta terpercaya. Orang menyukai fakta tersembunyi, namun sering takut membagikan fakta kekerasan jika berasal dari sumber tak-terpercaya. Orang lebih menyukai apa yang dituliskan &quot;sumber pertama&quot; (pelaku) kepada media, daripada logika meyakinkan dari whistle blower (pengicau) bergaya intelijen atau &quot;orang dalam&quot;. Informasi ini harus membanjir sebagai twit, postingan Facebook, dan video YouTube. Fungsi konvensional jejaring sosial sebagai penghubung &quot;aku&quot; (individual) menjadi penghubung nilai-bersama (kita) dalam bentuk kepentingan politik: gulingkan Mubarak. Membanjirnya fakta ini, agar terjadi gerakan di jalan. Ketiga, aksi di jalan, di Tahrir Square Kairo. Tidak ada revolusi tanpa aksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Blunder Mubarak dan Keunikan Revolusi Mesir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mubarak tentu tidak diam, dia sempat memblokir akses ke Facebook dan Twitter, tanggal 24 Januari 2011. Mubarak melupakan satu hal penting: jika akses internet diblokir, orang akan turun ke jalan. Mubarak semestinya belajar kepada China yang menerapkan wajib sensor pada jejaring sosial &quot;dalam negeri&quot;, dan memblokir semua akses aplikasi berplatform Web 2.0; namun jika ini dijalankan, Mesir harus berani &quot;melawan&quot; jejaring sosial dunia.&lt;br /&gt;
Semakin orang dilarang memakai jejaring sosial, orang akan merapatkan barisan, turun ke jalan. Orang akan mencari tahu dan melepaskan-diri dari penjara sensor, beradaptasi dengan keterbatasan. Lihatlah &quot;keberhasilan&quot; Indonesia yang memberikan bandwith rendah kepada penduduknya dan membebaskan pemakai jejaring sosial memprotes pemerintah. Mesir memakai situs HootSuite untuk mengatasi pemblokiran Facebook dan Twitter.&lt;br /&gt;
Saat emosi memuncak, mereka turun ke jalan. Orang-orang Mesir berkumpul di Tahrir Square, mereka ini kelompok elit barisan pertama yang terpelajar: mahasiswa, doktor, pengacara, hakim, perempuan, sampai wartawan televisi milik pemerintah.&lt;br /&gt;
Sebagaimana terekam di video aksi, Tahrir Square Kairo dipenuhi relawan, selama 48 jam, mereka memprotes Mubarak, lalu membersihkan tempat itu, termasuk mencuci mobil rental yang mereka pakai untuk demonstrasi.&lt;br /&gt;
Belum pernah ada aksi politik mengguling pemerintah yang dimotori penggunaan jejering sosial sedamai Mesir. Mereka mengambil-alih identitas Mesir dari kegelapan rezim Mubarak, bukan mengambil-alih gedung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Paradoks Jejaring Sosial Post-Revolution&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi setelah Mubarak tumbang? Sampai 2013, negara-negara Arab hanya punya 21 juta pemakai Facebook users across the Arab world. Jejaring sosial memainkan paradoks dan peran &quot;merusak&quot; secara sempurna. Setelah Mubarak tumbang, beredar banyak provokasi, rumor tak-substansial, dan mengartikulasi isu politik. Mesir mengalami pergeseran tren seperti itu. Aktivitas orang di jejaring sosial justru destabilisasi politik mesir pascarevolusi. Agen asing, menurut sinyalemen para petinggi militer mesir, berperan memanaskan situasi, terjadi pula pengguliran isu yang abai fakta, pertarungan antarfaksi dan kebencian antaragama, serta anonimitas untuk menjatuhkan nama partai (misalnya pada kasus adanya halaman palsu &quot;Salafist Nour Party&quot; di Facebook). Bukankah aneh, jika sebuah negeri dengan &quot;musuh bersama&quot; (common enemy) bernama Mubarak, dalam waktu singkat pula menghasilkan keadaan tak-stabil, justru setelah jejaring sosial berperan dalam komunikasi? Harap dimaklumi, jejaring sosial menyebarkan fakta tanpa pengawasan, rentan hasut dan subversi. Pemerintah Mesir lalu menyebar poling, hendak mencari ratifikasi perundangan yang mengatur jejaring sosial, mengingat sekarang jejaring sosial digunakan &quot;tanpa&quot; tanggung-jawab dan kendali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&quot;Faktor&quot; Bukanlah &quot;Sebab&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
25 Januari 2011, dunia mencatat terjadinya revolusi Mesir. Di antara manusia, keberhasilan ditentukan jejaring sosial, revolusi &quot;damai&quot; akhirnya tercapai. Jay Rosen berargumen, &quot;Factors are not causes,&quot; faktor bukanlah sebab. Jejaring Sosial tidak sepenuhnya bertanggung-jawab sekaligus bukan tak-relevan dalam revolusi politik di Mesir.&lt;br /&gt;
Jejaring sosial berperan menolong penyebaran ketidaksesuaian kognitif dengan menghubungkan gagasan antara pemimpin-dan-aktivis kepada penduduk biasa, namun bagaimana penggunaannya, terserah manusianya. Jika &quot;kesatuan&quot; (unity) adalah &quot;akibat&quot; (effect), maka &quot;kepadatan informasi&quot; (density of information) yang dialirkan jejaring sosial adalah &quot;sebab&quot; (cause), demikian menurut Rosen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kondisi dan Proses, bukan Sebab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Orang sering bertanya, &quot;Bagaimana menjelaskan revolusi politik Mesir 2011?&quot;. Apakah jejaring sosial menjadi &quot;sebab&quot; terjadinya revolusi politik Mesir 2011?&lt;br /&gt;
Terbayang adanya kontingensi (rangkaian peristiwa berjejaring saling berhubungan dan linier). Pertanyaan itu mencari &quot;mengapa&quot;, penyebab terjadinya peristiwa. Namun, apakah pertanyaan &quot;mengapa&quot; memadai untuk menyingkap peristiwa sejarah? Sejarah sering dibayangkan sebagai rangkaian peristiwa, peran aktor, aksi, dan pengetahuan, namun sering tak-sampai ketika membahas &quot;mengapa&quot;, terutama pada peristiwa &quot;perubahan sosial&quot;. Orang sering tidak berhasil mengurai, hanya sampai pada spekulasi &quot;tentang peristiwa&quot;, mendokumentasi, mencari &quot;pelajaran&quot; dari sejarah itu.&lt;br /&gt;
Rupanya, kita perlu menimbang jalan-lain: pikirkan tentang &quot;kondisi dan proses&quot; sosial, bukan &quot;sebab unik&quot;. Pikirkan tentang sejarah selayaknya aliran sungai dengan topografi tanah, saling berjalin dalam satu daratan luas, satu laut terhubung. Topografi tanah, dalam analogi tersebut, adalah kondisi dan proses hubungan sosial, lembaga politik, struktur keluarga, dll. Marx berkata, &quot;manusia membuat sejarahnya; namun bukan dalam keadaan yang mereka ciptakan sendiri.&quot; Gagasan dibentuk keadaan, demikian menurut Mark. Keadaan itu bernama: pengetahuan, perangkat hubungan sosial kekuasaan, dan peringkat produksi material. &amp;nbsp;Ada kondisi dan peristiwa yang bisa dijelaskan.&lt;br /&gt;
Sejarah itu berlanjut layaknya putaran jam analog, sedangkan struktur kausal itu discontinue dan digital. Bukan narasi kausatif yang dibutuhkan orang, kecuali saat membujuk, melainkan analisis interpretif psikologi masa yang disertai penjelasan kondisi historis spesifik. Jika sejarah dijelaskan sebagai aliran sungai, maka sejarah akan berpusat pada aktor (seperti melakukan personifikasi Orde Baru sebagai &quot;Soeharto&quot;). Sejarah bukanlah tentang sebab-akibat, walaupun kadang bisa dijelaskan dalam hubungan kausatif. Terlalu sering detail peristiwa kecil terlupakan karena hanya bicara tentang perubahan-perubahan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Revolusi politik Mesir memberikan pelajaran, bagaimana jejaring sosial menjadi faktor perubahan, bukan penyebab perubahan. Setelah drama penumbangan Mubarak, jejaring sosial tetap mungkin mengalami paradoks seperti sifat aslinya: menjadi mesin propaganda untuk menghambat terhapusnya kediktatoran. Sebagai peristiwa sejarah, lebih menarik menganalisisnya dari sisi-sisi kecil seputar faktor dan keadaan di sekitar peristiwa itu, tanpa membingkai peristiwa sejarah dalam hubungan kausatif yang sangat membatasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa yang terjadi di Indonesia dengan pemakaian jejaring sosial di Indonesia saat menghadapi para koruptor?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Day Milovich,,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/marx-jejaring-sosial-revolusi-mesir.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-OJtfS629rBc/UbLnnX5QJRI/AAAAAAAADB8/4eQ453tqMtM/s72-c/marx-jejaring-sosial-revolusi-mesir.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-8699700581680066585</guid><pubDate>Sat, 08 Jun 2013 08:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-08T15:15:23.592+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Street Art dan Ruang Berpikir Publik</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-L9xK7AzSw-Q/UbLkXlr2qSI/AAAAAAAADBs/kCJNLaw_yqE/s1600/street-art-ruang-berpikir-publik.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-L9xK7AzSw-Q/UbLkXlr2qSI/AAAAAAAADBs/kCJNLaw_yqE/s1600/street-art-ruang-berpikir-publik.jpg&quot; height=&quot;425&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;Bisakah street art menjadi ruang berpikir publik?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dari Genting ke Tembok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Orang Indonesia pada tahun 1945 sudah mencoret tembok: &quot;Merdeka atau Mati!&quot; Kadang dengan tulisan Belanda juga. Anda bisa lihat di video dokumentasi Perpustakaan Nasional RI. Rakyat Indonesia, seperti terlihat di album kuno, juga menuliskan di genteng rumah, dengan air gamping dan kuas jerami: &quot;Manipol-Usdek&quot; (di masa Soekarno, singkatan dari &quot;Manifesto Politik Uni-Sosial Demokrasi&quot;) dan &quot;UDKP&quot; (di masa Soeharto, singkatan dari &quot;Unit Desa Kerja Pembangunan&quot;). Itu semua pesan pemerintah.&lt;br /&gt;
Ada kebanggaan waktu itu, jika suara orang dilembagakan dalam satu pesan. Orang butuh slogan, mobilisasi butuh satu kalimat untuk menyamakan tekad.&lt;br /&gt;
Patriotisme, milik semua orang, dituliskan di atap rumah mereka. Negara dan rakyat masih bersepakat dan ruang publik masih belum menjadi tempat menggugat atau mengumpat.&lt;br /&gt;
Kata memiliki daya resistensi (perlawanan) dan menurut hermeneutika, kata bebas menentukan nasibnya sendiri. Sebuah penggalan, kutipan tokoh, atau puisi, bisa mengalami antikonteks, deformasi, modifikasi, ataupun berhasil mengubah hidup banyak orang.&lt;br /&gt;
Kita mengenal seruan karena berbaur dengan publik. Bahasa, dalam hal ini, menjadi &quot;ruang&quot; pertemuan dengan orang lain, menjadi pembatas gagasan sekaligus &quot;rumah manusia&quot;, menurut Heidegger.&lt;br /&gt;
Banyak kata sakti yang pernah diteriakkan orang di demonstrasi jalanan: &quot;Rakyat Kuasa&quot; (FPPI), &quot;Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan&quot; (dipopulerkan PRD), atau penggalan puisi Wiji Thukul, &quot;Hanya satu kata: Lawan!&quot;. Semuanya ditulis dengan huruf kapital dengan tanda-seru di mana-mana saat orang-orang berdemonstrasi.&lt;br /&gt;
Sekarang tak lagi di atap rumah, kata itu sudah turun ke tembok, menjadi seni mural dan street art. &lt;br /&gt;
Warga Indonesia pada tahun 1980-an &amp;nbsp;&quot;pernah&quot; menikmati manisnya ritual 17 Agustus. Orang ramai mendandani kampung dengan gapura tak-permanen dari bambu dan papan, iuran uang dan tenaga, daun kelapa, tampah, dan merah-putih menjadi mewah. Anak-anak kecil diajari membuat karya kolektif, bukan berhemat untuk membayar biaya pembuatan.&lt;br /&gt;
Tidak jarang pula, setiap mendirikan rumah, di kuda-kuda atap dipasangi bendera merah putih tergulung. Foto presiden dan Garuda Pancasila, menjadi rajawali perkasa di ruang tamu. Imajinasi kolektif, waktu itu, masih menjadi pelecut semangat menjadi anak bangsa.&lt;br /&gt;
Barang-barang keseharian, disusun sebagai instalasi berbentuk gapura, gampang rusak dalam dua musim, namun dikerjakan bersama.&lt;br /&gt;
Kota mengenal cara menyampaikan slogan di sekat-sekat pembatas mereka. Tembok penuh coretan, dari supporter bola, larangan membuang sampah, sampai gugatan politik.&lt;br /&gt;
Ada pula seni mural dan street art, untuk memecah kebekuan tembok dengan gambar warna-warni, sejajar di antara iklan-iklan provider telepon seluler di ruang-ruang strategis. Beberapa kota menggunakan tembok sebagai kanvas, menyampaikan pesan politik, kesehatan, kebersamaan, sejarah, dll.&lt;br /&gt;
Kadang gambar-gambar ini terlewatkan di pikiran saat kendaraan melintas, tetapi terpikirkan lagi ketika pesan itu diulang. Di balik sebuah seruan, terjadilah perbincangan di luar, seputar tulisan dan coretan-coretan itu. Perbincangan inilah yang melacak-balik proses terjadinya sebuah seruan, slogan, propaganda, atau karya seni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Melacak-balik Proses Kreatif di Ruang Publik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sama halnya, orang sekarang menuliskan status Facebook lantas membincang status orang-orang, di saat minum kopi bersama. Pembahasan seperti inilah yang lebih menarik, bagaimana gagasan yang sudah dipublikasikan itu dikembalikan menjadi gagasan baru. &lt;br /&gt;
Saya pernah menonton pertunjukan teater off-broadway di sebuah stasiun lama, hanya ada 21 penonton. Sepi sekali, waktu itu. Selesai pertunjukan, para pekerja teater menceritakan proses kreatifnya saat kami makan bersama, tentang bagaimana gagasan yang lama itu diproses menjadi pertunjukan 20 menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jalan dan Kegelisahan Seniman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Seniman sering tidak kembali kepada &quot;jalan&quot;, karya mereka tidak menemukan &quot;jalan pulang&quot; kembali kepada publik. Maksud saya, seniman sering tidak inherent, tidak menyatu-sebagai-bawaan karya.&lt;br /&gt;
Melihat sebuah lukisan, puisi, atau pertunjukan teater, sebagai misal, lebih sering berhenti sebagai karya autonomous yang mengalami obyektivikasi dan mutilasi, bahkan &quot;dibantai&quot; dalam perbincangan. Menjadi wacana saja sudah bagus, asalkan wacana itu baru. Bukan jalan buntu.&lt;br /&gt;
Bukan tugas seniman untuk &quot;memaksa&quot; publik &quot;bergerak&quot;, bukan pula tugas seniman untuk menunjukkan kenyataan yang meresahkan secara positivistik layaknya ilmuwan ataupun politikus.&lt;br /&gt;
Karya bisa kembali menjadi milik publik, atau &quot;meresahkan&quot; publik, jika publik diajak memasuki proses kreatif seniman.&lt;br /&gt;
Lukisan Picasso dulu lukisan &quot;asing&quot; bagi kebanyakan orang, namun Picasso menjalani proses kreatifnya seumur hidup, &quot;Aku melukis apa yang aku pikirkan, bukan apa yang aku lihat.&quot; Itulah jalan Picasso, menjadi &quot;style&quot; Picasso.&lt;br /&gt;
Picasso yang melukis adalah Picasso yang tidak melukis.&lt;br /&gt;
Orang akhirnya melihat &quot;konsep&quot; dan &quot;jalan&quot; Picasso di-dalam karyanya, bukan dalam konteks &quot;authorship&quot; dan bukan sebagai karya yang terpisah dari zaman.&lt;br /&gt;
Saya mengenal seorang Imam Bucah, perupa asal Pati Jawa Tengah, sejak sebelum dia menemukan jalannya sekarang. Dia sering berbenturan dengan banyak orang, betapa beratnya itu.&lt;br /&gt;
Estetika Imam Bucah sekarang adalah lingkungan hidup, dengan &quot;totem&quot; dragon fly (kinjeng) yang dipilihnya, sebab hewan itu selalu mencari mata air. Dia tidak mau kompromi dengan plastik, selalu bicara tentang optimisme mempertahankan lingkungan hidup (environment). Dia tidak mau dikenal hanya dari karya-karyanya yang dinikmati orang, sebab, melihat lukisan itu sama dengan &quot;mengalami&quot; Imam Bucah. Dia melukis, performance art, berorasi, keliling naik vespa, tanpa melepaskan-diri dari &quot;jalan&quot; yang ditempuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Tulisan dan Citra&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Street Art, memiliki konsep sama: bisakah keresahan di atas tembok dituangkan kembali dalam perbincangan lebih luas? Atau dalam bahasa Saini KM., bisakah penonton mengalami &quot;peristiwa teater&quot; sebelum dan sesudah menonton sebuah pertunjukan teater?&lt;br /&gt;
Street art di Indonesia terlalu penat dengan &quot;pesan&quot;, belum sampai ke taraf citra (image), sebab, menurut sejarahnya, rakyat Indonesia dengan senang hati menguas dan menuliskan kalimat seragam, atas saran pemerintah (sejak Orde Lama). Kita lebih suka mengedarkan pesan verbal di stiker, buku, kaos, sampai tembok. Tidak jarang, tubuh menjadi pengedar pesan di kaos.&lt;br /&gt;
Street art di perkotaan Indonesia masih sering dalam bentuk dua dimensi, seperti pesan atau lukisan yang dipindahkan di tembok.&lt;br /&gt;
Perkotaan seperti Brooklyn, New York, dll. sudah menghadirkan ilusi tiga dimensi yang bisa membuat seseorang terkejut, memancing tawa. Gang-gang kecil, diberi detail, tembok-tembok rumah susun diberi tangga khayal, gambar gajah besar, atau citraan makhluk hybrid untuk mengkritik tingkat polusi.&lt;br /&gt;
Tidak ada tulisan &quot;dilarang corat-coret di tembok ini,&quot; perintah yang justru melanggar pesannya sendiri.&lt;br /&gt;
Tanpa tulisan, justru membuat ruang publik lebih ramah, pelintas berkendara justru lebih &quot;resah&quot; memproses gambar itu di kepala, agar muncul gagasan-gagasan baru. Gambar itu bisu, menyimpan &quot;kata&quot; dalam bentuk yang masih asli, yaitu kata yang tidak tertuliskan. Pesan tersembunyi.&lt;br /&gt;
Gambar, ilusi tiga dimensi, ataupun seni instalasi justru lebih ramah karena mengajak pikiran mengembara, memasuki proses kreatif si seniman. Metafora bisa &quot;bekerja&quot; di tengah orang-orang yang bekerja.&lt;br /&gt;
Tidak jarang pula, tulisan memicu kemarahan penguasa. Cat di atas lebih berkuasa daripada cat yang ada di bawahnya. Sifat tulisan memang berbeda dengan icon, grafis, dan citra (image). Tulisan memiliki daya rusak sosial yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;
Mari mengingat sebuah quote tentang &quot;tulisan&quot; dan pikiran manusia,&lt;br /&gt;
&quot;&lt;i&gt;Ingatan adalah anugrah besar yang harus terus dijaga, dengan melatihnya terus menerus. Dengan penemuanmu ini, orang-orang tidak lagi perlu bersusah-payah melatih ingatan mereka. Mereka akan mengingat sesuatu, bukan dengan usaha dari dalam diri, tetapi dengan bantuan alat di luar diri.&lt;/i&gt;&quot; [Pharaoh Thamus kepada Hermes, yang dianggap sebagai penemu tulisan, dalam buku Plato, &quot;Phaedrus&quot;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Memang sulit untuk mengembalikan sebuah karya seni menjadi milik publik, mengajak publik memasuki proses kreatif seniman. Ruang publik yang dihiasi street art, masih memungkinkan menjadi ruang berpikir publik, memberikan &quot;keresahan kreatif&quot; untuk gagasan baru. Walaupun itu belum tentu berbentuk kepatuhan, mobilisasi, atau imajinasi kolektif yang sama.&lt;br /&gt;
Jika tembok di mana-mana penuh tulisan &quot;usut tuntas&quot; dan &quot;ganyang koruptor&quot;, terjadilah amuk. Ada yang tidak beres dengan ruang publik negeri ini, jika seni selalu mengatakan hal sama, protes tentang hal sama, dan di sekeliling kita, di antara tembok-tembok dan dinding Facebook, kita selalu menjadi bagian dari sebuah teater bernama: Indonesia!&lt;br /&gt;
Ruang publik yang tidak beku adalah dambaan semua orang. Ruang yang memberikan inspirasi, membangkitkan intuisi, memecahkan masalah dan kepenatan. Street art, mungkin menjadi medium dan ruang berpikir publik, dan seniman bisa mengajak publik melacak-balik proses kreatifnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sudahkah Anda mencoret-coret tembok hari ini? Ataukah lebih suka sendirian mencoret di dinding Facebook?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/street-art-ruang-berpikir-publik.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-L9xK7AzSw-Q/UbLkXlr2qSI/AAAAAAAADBs/kCJNLaw_yqE/s72-c/street-art-ruang-berpikir-publik.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-5842280583202379040</guid><pubDate>Tue, 04 Jun 2013 09:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-06T16:32:40.401+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Ziarah: Agama Perempuan, Pengalaman Ruang, dan Turisme</title><description>&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-qWIDmrUaaLQ/UbBVYUytYdI/AAAAAAAADBU/FnP2y58xL7Q/s1600/ziarah+dan+perempuan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-qWIDmrUaaLQ/UbBVYUytYdI/AAAAAAAADBU/FnP2y58xL7Q/s640/ziarah+dan+perempuan.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Pada suatu malam, purnama penuh, bulan keduabelas, orang-orang Tireman Jawa-asli yang memeluk “agama” Hwuning, melakukan upacara sembahyang memuja tripamujan1 dipimpin seorang nini ampu, menggunakan baju kurung dan jarit tenun hitam, telinganya mengenakan sumping dari dedaunan, menghadap Timur, meluhurkan Sang Purwaning Dumadhi.&lt;/i&gt;2 &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dupa pewangi, sesajen, bau bunga menebar ke empat penjuru angin. Makanan tanpa lauk daging, jajanan pasar yang melambangkan lingga dan yoni, berupa dumbeg dan jadah-gendhuk. Di belakang nini ampu, para gadis suci juga bersikap silasanti-manganjali, mengenakan atasan warna pareanom, tapih tenun wanabadra. Rambutnya diikat menaik, leher jenjang diterpa angin dan suara mantera, tusuk rambut tertutup rangkaian kembang, mawar dan melati. Para pendeta lelaki berjubah putih, di belakang mereka ada para pemuda, serta pendeta perempuan berada di kiri Nini Ampu yang menjadi pusat pemimpin upacara. Malam itu, Dewi Sri turun dari surga mertiloka, menurunkan kesuburan, memberkati para pasangan pengantin yang akan memasuki lumbung, dan musim cocok-tanam bersama.&lt;/i&gt;3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perempuan dan Peribadatan di bawah Purnama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Narasi itu cukup menjelaskan, bagaimana perempuan (yang bergelar Nini Ampu) menjadi pimpinan tertinggi dalam upacara adat keagamaan pada zaman Jawa Juno. Perempuan menjadi penegas relasi manusia dengan jagat raya.&lt;br /&gt;
Struktur matrilineal dalam peribadatan agama sebenarnya telah dikenal dalam agama-agama kuno di dunia, misalnya di agama venus (yang telah punah), Yunani dan Romawi Kuno yang didominasi dewi perempuan, sampai Perempuan Maria sebagaimana yang disebut di novel sejarah Da Vinci Code, serta para perempuan di nusantara: Rangdha Ing Jirah (Bhikkuni yang melakukan pemberontakan terhadap Airlangga sehingga membelah Kediri menjadi dua bagian), Prabu Kenya (raja perempuan) Sie Ba Ha, Ratu Shima, Bre Lasem Dewi Indu, Pradjna Paramitha, dan Tribbhuanattungga Dhewi dari Majapahit. Keberadaan perempuan melingkupi acara adat dan kepemimpinan politik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-BKUzxpOsWxg/UbBVuRchyvI/AAAAAAAADBc/rOH1NGtrtz4/s1600/badra_24_edit2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-BKUzxpOsWxg/UbBVuRchyvI/AAAAAAAADBc/rOH1NGtrtz4/s640/badra_24_edit2.jpg&quot; width=&quot;510&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Taya, Kanung, dan Sedulur Sikep&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada waktu itu, Jawa masih memegang kepercayaan tertinggi kepada Taya, sebelum agama-agama besar memasuki Jawa (Hindu, Buddha, Islam). Taya bisa dimengerti sebagai “Tuhan yang belum disebut”, Tuhan yang masih dalam Wujud-Nya sendiri. Islam menyebut konsepsi ini sebagai “wajib al-wujud”, yaitu Tuhan yang tidak bisa disifati, tidak bisa diserupakan dengan apapun, bukan Tuhan yang mengalami penginsanan (personification) ataupun Tuhan dalam diri manusia.4&lt;br /&gt;
Kalau sudah disebut dalam doa atau dalam pembicaraan, itu adalah Tuhan yang sudah dibatasi. Taya memanifestasikan-diri menjadi “Tu”. Jika “Taya” sudah dikenal dengan bahasa, pengetahuan, kebudayaan, atau diberi nama dan sifat, maka jadilah “Taya” sebagai “Tu-han yang dikenal”. Tidak mengherankan jika melacak kosakata Jawa Kuno banyak sekali ditemukan kata yang menggunakan suku-kata “-tu-”, misalnya: tu-nggak (bekas tebangan pohon), tu-ku (membeli), tu-rah (sisa), tu-tup (penutup), tu-mbal (martir), tu-rang-ga (kuda), dst.5&lt;br /&gt;
Dapat dikatakan bahwa semua kosa kata kuno yang sekarang masih dipakai itu diturunkan dari kepercayaan orang Jawa, jauh sebelum agama-agama lain memasuki Jawa.&lt;br /&gt;
Agama Hwuning dalam perkembangannya memiliki persamaan ajaran dengan agama Wong Kanung (kanung: sangkan-gunung, berasal dari gunung) atau sedulur sikep atau samin.&lt;br /&gt;
Skema kepercayaan terhadap “Taya” akhirnya memasuki “tubuh”. Tubuh yang melakukan sinergi dengan jagat raya (berupa perilaku yang mengagungkan harmoni alam melalui pertanian), hubungan sosial (dengan manusia lain), dan melakukan “hubungan” dengan nenek moyang yang telah mati. Tiga pemujaan inilah yang menjadi ciri hampir semua agama kuno di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Candi: Relasi Keyakinan, Tubuh, dan Kosmos&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Candi di Jawa, pada awalnya, menurut Sejarah Dieng, dibuat oleh orang-orang India yang ingin menyebarkan Hindu. Semua tanah yang mendapatkan pencerahan Hindu adalah Hindustan. Penguasa India mengirimkan satuan militer, arsitek, agamawan, tokoh pertanian, dan sastrawan, untuk mendirikan candi, sebelum rombongan yang lebih besar berdatangan. Lantas dikenal candi Puntadewa, Bima, Arjuna, dll. Aktivitas yang terjadi di sekitarnya, mengalami perubahan drastis. Agama baru dikenalkan, termasuk tata pemerintahan, sastra, dan mengubah perilaku hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;
Belakangan, nama-nama para pembesar dari India ini akan lebih dikenal bukan sebagai legenda (cerita muasal nama sebuah tempat) melainkan dikenal dalam fiksi Mahabharata yang sudah diadaptasi menjadi wayang purwa. Akhirnya, sejarah pendirian candi-candi di Dieng cukup menjelaskan, mengapa di Jawa terjadi reversi (pembalikan): “dari realitas ke mitos” (misalnya, tentang para Pandhawa) dan “dari mitos ke realitas” (contohnya: keberadaan Semar).&lt;br /&gt;
Satu hal yang patut dicatat, setiap candi ditangani secara rumit, sebagai bangunan politik sekaligus religius, namun sangat menimbang aspek harmoni kosmologi, manusia dengan alam. Pada setiap temuan candi, selalu ada beberapa pertanyaan arkeologis yang penting: Kepercayaan atau agama apa yang melatari candi itu? Pada masa siapakah candi itu dibuat? Apakah ada hubungan sinergis dengan candi lain? Apa motif pendirian candi di tempat itu? Hubungan struktur kebudayaan ini berlangsung sangat lama, di mana tempat-tempat [yang dianggap] sakral, seperti candi, klenteng, dan ritual yang ada di dalamnya, selalu diduga memiliki hubungan.&lt;br /&gt;
Semua pertanyaan ini akan mengantarkan orang-orang kepada satu pernyataan: tempat-tempat suci itu dibangun untuk suatu kebutuhan sosial (candi, masjid, kerajaan) dan aktivitas yang terbentuk adalah bentukan sosial (socially constructed), bukan mengada dengan sendirinya. Termasuk anggapan sebuah tempat memiliki nilai sakral.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Islam: dari Candi Menjadi Pekuburan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setelah Islam masuk dan terjadi pergeseran pandangan legal-formal tentang peran perempuan, segalanya menjadi berubah. Yang menarik kemudian, bukan hanya pandangan tentang peran perempuan yang mengubah struktur keberagamaan, melainkan juga konsep wisata dan kebudayaan yang ikut berubah.&lt;br /&gt;
Struktur bangunan tidak lagi terkait dengan harmoni alam, seperti terbebas dari motif pemilihan tempat, semakin jarang yang menerapkan falsafah arsitektur yang terkait dengan kesucian. Masjid menjadi kekurangan atmosfer, dibedakan oleh wilayah geografis, arsitektur modern masjid semakin menyederhanakan aspek-aspek artistik-sakral.&lt;br /&gt;
Rupanya, dominasi Islam (setelah mengalahkan Majapahit) tampak di semua aspek kehidupan, termasuk paradigma mengenai ziarah. Orang-orang Islam menggunakan paradigma bahwa Rasulullah memiliki kebiasaan menunjukkan kuburan orang-orang terdahulu. Semula beliau “melarang” ziarah namun kemudian memerintahkan orang untuk berziarah, bahkan kuburan para nabi dan ulama merupakan salah satu tempat mudahnya terkabulnya doa. Ada banyak literatur yang mendebatkan “hukum” melakukan ziarah, termasuk adab, doa, dan secara khusus peraturan yang diterapkan kepada tubuh perempuan berhubungan dengan ziarah. Pada dasarnya, Islam sebagai mayoritas agama di Indonesia, tidak melarang ziarah, dan orang Jawa tidak akan bisa melepaskan diri dari aktivitas ziarah.&lt;br /&gt;
Masjid (tempat bersujud) lebih dikenal dalam Islam pada zaman Nabi sebagai ruang publik untuk menjalankan aktivitas semua penduduk (bukan hanya mereka yang beragama Islam), seperti: pernikahan, sengketa warisan, berlindung dari perang, maupun musyawarah. Masjid tidak terlalu dihubungkan dengan kuburan (maqam) kecuali setelah Nabi saw. wafat.&lt;br /&gt;
Kemudian terjadi pergeseran dari konsep harmoni kosmologi (manusia dan jagat raya) yang dikenalkan oleh candi, menjadi konsepsi bangunan (masjid) dan kuburan (maqam). Tentu bisa dirasakan, bagaimana aktivitas di sekitar candi pada masa dahulu dibandingkan aktivitas di sekitar masjid dan pekuburan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ziarah: Touring Culture&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pertanian yang mengembangkan ritual dengan kepemimpinan perempuan pada masa Jawa Kuno, serta hubungan kosmologi antara bangunan dengan alam, membawa makna awal ziarah, yaitu “perjalanan menuju tempat suci”. Ziarah adalah pencapaian, perjalanan yang sering disertai penderitaan yang memerlukan waktu dan biaya, namun karena motivasi religius maka ziarah menjadi memiliki “makna”. Ziarah menjadi “traveling”.&lt;br /&gt;
Perjalanan (travel), yang menghubungkan hubungan antara “makna” (senses) dan “tempat” (places) dialami. Perjalanan (travel) menjadi moment yang tidak bisa digantikan karena suasana dan tempat baru itulah yang dipilih, mengatasi suasana dan tempat yang sudah biasa mereka alami. Perjalanan menjadi fungsi memutuskan, sebagai transformasi ruang, perubahan lokasi. Perjalanan menjadi pengalaman murni atas ruang.6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ziarah dan Perubahan Struktur Agama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada masa berikutnya, pelancongan tubuh ini membawa juga kebudayaan dalam pengertian yang sangat luas. Terjadi penyebaran (tubuh dan ajaran agama), pengalaman keberagamaan, pembauran, dan asimilasi yang tak-terhindarkan, atau dalam istilah “touring culture” ini disebut “realist investigation”. Bagaimana kebudayaan diimport, dibawa masuk (seperti kasus sejarah Candi Dieng yang terjadi karena hindustanisasi), transmisi peradaban (seperti kasus Klenteng Trimurti di Lasem Rembang yang mendatangkan pengukir dari China yang akhirnya menyebar ke Kudus dan Jepara), penyebaran agama (seperti kasus orang-orang yang membawa ajaran Islam dari Arab), dan pembentukan “agama baru”. Nusantara sangat dikenal dengan bentukan “agama baru”. Menurut sejarah Jawa, agama tidaklah sederhana seperti yang sekarang dialami orang Indonesia.&lt;br /&gt;
Ken Arok adalah raja Jawa yang terkenal melakukan “penggabungan agama”, atau “menjawakan agama”.7 Tradisi ini diteruskan sampai zaman Majapahit, Mataram Islam, dan kepercayaan kebatinan.8 Motif untuk beragama secara mendalam (mendatangi tempat sakral) dan menikmati pengalaman “tubuh dan kebudayaan yang berpindah” inilah yang akhirnya “harus” mengubah ziarah menjadi traveling dan turisme. Berziarah berarti menziarahi kebudayaan.&lt;br /&gt;
Terjadinya investigasi realis atas aliran atau pemandangan lintas teritorial (dan negara) yang melibatkan uang, modal, gagasan, pencitraan, informasi, orang, obyek, dan teknologi.9 Berdasarkan analisis kebudayaan, metafora perjalanan (travel) naratif dari rumah dan meninggalkan rumah, melintasi batas wilayah masing-masing, menjadi masif, melakukan metafora subyek nomadic, bahkan dikatakan bahwa kebudayaan “sedang dalam perjalanan”.10 Bukan hanya tubuh yang mengalami perjalanan tetapi kebudayaan juga mengalami perjalanan.&lt;br /&gt;
Tanpa terjadinya ziarah, maka tidak terjadi kebudayaan. Ziarah yang tidak diwisatakan, justru mengajak orang bersikap ahistoris bahkan semakin “jauh” dari agamanya. Manusia menjadi kehilangan pemujaan, tersesat dalam simulacra sejarah, dan terus berada dalam pengandaian atau justru fanatisme. Singkatnya, perimbangan peta informasi dan studi sejarah yang memadai, dapat menjadi upaya penyadaran terhadap publik atas kesejarahan mereka.&lt;br /&gt;
Terjadi penghormatan (bukan pemujaan) yang bersifat memusat (sentripetal) dan menebar (sentrifugal). Pemujaan sentripetal terjadi ketika seorang tokoh (yang telah meninggal) bergerak di wilayah tuturan lisan. Kalau dia mendapatkan “kesan” dari orang-orang yang masih hidup sebagai orang baik, terhormat, dan suci, maka masyarakat cenderung tidak memerlukan literatur ataupun pembuktian tentang kenyataan yang terkait dengan kedirian sang tokoh semasa hidupnya. Walisongo dan para penyebar agama adalah contoh yang paling representatif dalam jenis penghormatan ini. Biasanya mengarah kepada pemujaan, kultus, dan ketidakrelaan publik pada saat menerima fakta historis tentang keburukan sang tokoh. Bekas Presiden Soekarno, misalnya, jarang disebut dalam referensi atau sejarah, sebagai orang yang bermasalah dengan korupsi. Soekarnois dan para pendukungnya akan marah walaupun diberitahu bahwa Soekarno adalah presiden pertama yang memberlakukan privatisasi badan usaha milik negara. Penghormatan yang menebar, berada di wilayah yang lebih simbolis, lebih menjadi pendorong untuk melakukan “perubahan”, kenangan atas “insiden”, serta semangat yang harus diteruskan. Misalnya, penghormatan terhadap para pahlawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ziarah dan Tourism&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada perkembangan berikutnya, ziarah sudah bukan lagi soal makna. Ziarah menjadi soal faedah dan keindahan. Ziarah menjadi pemenuhan hasrat pencapaian nilai, misalnya, ingin mendapatkan kekayaan atau ingin mengalami ritus seksual purba di Gunung Kawi. Perilaku politik nonverbal untuk mendapatkan legitimasi dan dukungan religiusitas seorang pemimpin ataupun calon pemimpin. Contohnya, adalah ziarah dan tahlilan bersama yang dilakukan bekas presiden dan wakilnya, Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri di makam bekas presiden Soekarno di Blitar Jawa Timur.&lt;br /&gt;
Ziarah pada masa sekarang juga menjadi salah satu pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus salah satu lahan korupsi resmi. Kondisi daerah-daerah yang tidak dijaga dengan mitos, mengabaikan heritage, serta tidak berhasil membuat pencitraan terkait dengan ziarah, tentu bisa dilihat bagaimana kesejahteraannya. Lima wali (dari Walisongo, sembilan wali) maqam-nya berada di Jawa Timur. Masih sedikit orang yang tahu bagaimana peran orang-orang dalam sejarah selain Walisongo yang maqam-nya jarang dikunjungi dan dirawat. Itu sebabnya, kajian sejarah adalah benteng terakhir untuk mengembalikan historisitas sebuah bangsa, demi agama dan kesejahteraan ekonominya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Festival sebagai Perluasan Ruang Ibadah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Fenomena yang menarik dari keberadaan tempat-tempat sakral adalah adanya festival dan ritual. Upacara adat keagamaan yang diselenggarakan di kompleks tempat sakral, yang menjadi tujuan ziarah, sebenarnya menunjukkan bahwa manusia adalah peziarah hidup (homo viator) dan pelaku festival (homo festivus), sebab festival atau upacara adat adalah “menziarahi hidup”.&lt;br /&gt;
Bagaimana tubuh menghadirkan ideologi, festival menjadi panopticon bagi mereka yang masih hidup. Entah itu peringatan sejarah kelahiran seorang tokoh (hanya Nabi Muhammad yang diperingati paling meriah di tempat-tempat suci, walaupun maqam-nya tidak di Indonesia), inisiasi (pembaiatan), pesta rakyat, dst. Event yang diadakan dalam ziarah adalah wisata sejarah, pemaknaan-ulang atas nilai-nilai agama dan sejarah yang masih bisa diaktualkan, dimainkan, dan dikomoditikan. Upacara adat keagamaan adalah bentuk “perluasan ruang ibadah”, menyatunya yang sakral dan yang profan, ekspresi, pelembagaan, dan penyampaian “makna” (sense) yang mengatasi semua diskursus ajaran agama. Melalui event upacara adat untuk publik maka “makna” (sense) yang menjadi motif melakukan ziarah dan telah bergeser menjadi tourism, dapat dikembalikan pada kesejarahannya, didialogkan dengan situasi kekinian. Hanya tinggal bagaimana mengkaji dan mengkonstruksi sejarah, melakukan pencitraan sebagai manusia yang menghargai sejarah, melalui bangunan, festival, dan kebudayaan. Apa yang sedang Anda pikirkan? [d]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semarang, September 18, 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
1. Agama Hwuning meluhurkan dan mengagungkan Tripamujan, yaitu: 1) Hyang Widhi-Esa, Sang Hyang Tunggal, 2) Dewi Sri (Dewi Welas-Asih), dan 3) Nyai Dhanyang dan Kaki Dhanyang. Dhanyang sebenarnya berasal dari &lt;i&gt;Dang Hyang&lt;/i&gt;, dengan catatan, di literatur &lt;i&gt;Sejarah Rembang&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Badra Santi&lt;/i&gt; selalu menyebut “Nyai Dhanyang” terlebih dahulu, sebelum menyebut “Kaki Dhanyang”. Berkembangnya agama Hwuning dicatat terjadi pada pemerintahan Prabu Puteri Bre Lasem Maharani Dewi Indu tahun Saka 1273, sebagaimana disebut dalam Kitab Negarakertagama. Pada zaman ini, Lasem dipimpin seorang perempuan dan upacara adat selalu di bawah seorang &lt;i&gt;Nini Ampu&lt;/i&gt; (gelar untuk pimpinan adat perempuan). Agama Hwuning dibawa bangsa Chaow (pengembara) dari Tiongkok, 3000 SM., singgah di Nepal India 1000 tahun, lalu ke Sampit (Dayak), dan mendarat di Pandangan Rembang, menjadi Wong Jawa. Agama ini sampai 385 berevolusi menjadi ilmu kanung (&lt;i&gt;sangkan-gunung&lt;/i&gt;, dari gunung) dan diajarkan Hang Sambadra di kedhatuan Pucangsula. Sampai tahun 1977 penerus ilmu kanung yang masih eksis, yang disebut Mbah Guru, mengkodifikasi ajaran gurunya, Mpu Guru Pr. Santibadra, dalam kitab &lt;i&gt;Seloka Badra Santi (Pedoman Begja-Rahayu)&lt;/i&gt;. Wong Kanung dikenal juga disebut &lt;i&gt;Kanor&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Samin&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;Sikep&lt;/i&gt;. Keyakinan otentik dari Jawa ini, jejaknya masih terlihat, bagaimana mereka menghormati leluhur dan harmoni manusia dengan jagat raya.&lt;br /&gt;
2. Bersembahyang menghadap Timur, ke arah matahari terbit, merupakan “arah simbolis” dari permulaan. Kata “&lt;i&gt;wetan&lt;/i&gt;” (Jw.) berarti “timur”, arah matahari terbit, tempat cahaya penumbuh seluruh tanaman berasal. Sampai di sini, asal agama masih dikorelasikan dengan subkultur “pertanian”. Secara terminologi, “&lt;i&gt;culture&lt;/i&gt;” (kebudayaan) berasal dari “&lt;i&gt;to cultivate&lt;/i&gt;”, bercocok-tanam, aktivitas para perempuan di ladang, karena perempuan lebih giat bekerja dan lebih terkait dengan kesuburan. Belakangan, struktur agama seperti ini akan berubah setelah terjadinya budaya &lt;i&gt;nomaden&lt;/i&gt; (berpindah-pindah), penandaan tempat suci, yang memperkenalkan “migrasi” ke tanah lain, serta ziarah dan wisata yang menggeser paradigma beragama.&lt;br /&gt;
3. Diterjemahkan secara bebas dari Mbah Guru, &lt;i&gt;Sejarah Rembang&lt;/i&gt;, 1989. Bdk., Badra Santi, &lt;i&gt;Sabda Badra Santi&lt;/i&gt;, cet. 2, 1985&lt;br /&gt;
4. Asin Palacious, &lt;i&gt;Filsafat Mistis Ibn al-’Arabi&lt;/i&gt;. Pandangan Tuhan yang bukan-personal dan Wujud-Nya tidak-bisa-disebut ini masih jarang dikenal, karena, Islam yang legal-formal lebih sering menganggap Tuhan dalam bentuk person.&lt;br /&gt;
5. Penjelasan tentang “&lt;i&gt;Taya&lt;/i&gt;” dan pemakaian suku-kata “-tu-” yang berawal dari agama orang Jawa, dijelaskan dalam Agus Sunyoto, &lt;i&gt;Suluk Abdul Jalil&lt;/i&gt;, LKiS, Yogyakarta, 2004. Novel itu menjelaskan pertemuan Abdul Jalil (alias Syekh Siti Jenar) saat menerima estafet kepemimpinan mitologis dari Semar. Proyek Abdul Jalil adalah menghapus perbudakan manusia di Jawa yang dilakukan Majapahit, tanpa kekerasan. Sepanjang novel sejarah ini, Syekh Siti Jenar ditampilkan secara bersahaja, berlainan dari sastra lisan versi Demak yang menganggap beliau dimusuhi para wali. Sepanjang novel, tidak ditemukan “karamah” yang dimiliki Syekh Siti Jenar dan tidak diceritakan di mana beliau dimakamkan untuk menghindari kemungkinan “syirik”.&lt;br /&gt;
6. S. Kracauer, &lt;i&gt;The Mass Ornament&lt;/i&gt;, Harvard University Press, Cambridge, 1995, hlm. 66&lt;br /&gt;
7 Ken Arok memiliki figur yang mirip &lt;i&gt;the Godfather&lt;/i&gt;. Sejak muda sudah memilih hidup di jalanan untuk membegal orang yang melewati daerah kekuasaannya. Usaha pemberontakan yang dia lakukan terhadap Tunggul Ametung, dilindungi pendeta Buddha Wishnu sehingga dia terbebas dari hukuman, bahkan karier militernya meningkat sampai akhirnya memiliki pasukan bawahan sendiri. Atas nama pembelaan terhadap agama, perempuan, dia menginisiasi terjadinya pertumpahan darah berkepanjangan. Tunggul Ametung dikalahkan, kekuasaan Airlangga dari Kediri menjadi tidak lagi tersisa, dan dia yang pertama kali menggunakan benda sakti (keris) sebagai simbolisasi kekuasaan. Ken Arok menetapkan “bentuk” agama baru secara resmi untuk rakyatnya, yang belum pernah dikenal (Buddha Wishnu) dan mengenalkan konsepsi kekuasaan di Jawa yang mirip energi. Kekuasaan itu ditetapkan kapasitasnya, tidak berubah ukurannya, dan tidak diturunkan dari langit. Maka siapapun yang ingin berkuasa di Jawa, harus melakukan perebutan kekuasaan. Sampai sekarang, jalan hidup Ken Arok (tentang militerisme, menjawakan agama, dan pentingnya simbol dalam peralihan kekuasaan), masih diterapkan orang-orang Jawa. Ken Arok akhirnya menjadi kakek moyang para raja di Jawa.&lt;br /&gt;
8. Majapahit memiliki agama Bhirawa Tantra dan buddha syiwa, sedangkan Mataram Islam memiliki agama Islam yang dianggap “sinkretis” (dalam penelitian Clifford Geertz) atau “varian” dari Islam (dalam penelitian Mark R. Woodward). Setelah kolonialisme meninggalkan Indonesia, ternyata terdapat ratusan aliran kepercayaan yang dipeluk orang-orang Jawa.&lt;br /&gt;
9. Appadurai, A. (1993) “Disjuncture and difference in the global community”, dalam B.Robbins (ed.), &lt;i&gt;The Phantom Public Sphere&lt;/i&gt;, Minneapolis and London: University of Minnesota Press dan Lash, S. and Urry, J. (1994) Economies of Signs and Spaces, London: Sage.&lt;br /&gt;
10. Chris Rojek and John Urry (ed.), &lt;i&gt;Touring Cultures: Transformations of Travel and Theory&lt;/i&gt;, Routledge, London and New York, 1997&lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Srinthil, Edisi 24. &lt;br /&gt;
Link: http://srinthil.org/81/ziarah-agama-perempuan-pengalaman-ruang-dan-turisme/</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/ziarah-agama-perempuan-pengalaman-ruang.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-qWIDmrUaaLQ/UbBVYUytYdI/AAAAAAAADBU/FnP2y58xL7Q/s72-c/ziarah+dan+perempuan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-4077898183343358185</guid><pubDate>Tue, 04 Jun 2013 03:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-04T10:01:58.285+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>Hantu dalam Mesin Berita Media</title><description>&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-PCcJFCfQTus/Ua1YAFLsH4I/AAAAAAAADBE/AzJcnEP9npo/s600/hantu-mesin-berita-media.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-PCcJFCfQTus/Ua1YAFLsH4I/AAAAAAAADBE/AzJcnEP9npo/s640/hantu-mesin-berita-media.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa yang bisa dilakukan robot pemrograman dalam membuat berita? Apa yang menarik dari invasi algoritma dan bot dalam menyajikan berita untuk manusia modern?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kontaminasi Jurnalisme: antara Entertainment dan Propaganda&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&quot;Journalisme tainted by conviction is not journalism,&quot; kata Jonathan Green dari ABC News. Jurnalisme yang terkontaminasi pernyataan formal, bukanlah jurnalisme. &lt;br /&gt;
Media, memiliki tugas menginformasikan tanpa bias dan merasa paling benar. Menyederhanakan, itulah tuntutan media sekarang. Jika jurnalisme berwujud polemik, sinis dalam mempromosikan proposisi, maka jurnalisme akan kehilangan fungsi sosial. Jurnalisme seperti itu hanya akan menjadi entertainmen atau propaganda. Lihatlah bagaimana televisi menyajikan debat atau talk show kampanye halus, pada akhirnya tidak lebih dari sekadar hiburan atau propaganda. Jurnalisme yang menyampaikan pernyataan formal personal, akan menjadi tak-relevan atau kalimat kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Berita Singkat dan Propaganda Jejaring Sosial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Orang tidak peduli siapa di balik sebuah media, sebaliknya, orang menginginkan content relevan, sesuai dengan apa yang dia cari, tentu saja dengan pertimbangan kecepatan dan ketepatan. Sekarang, empat paragraf sudah dianggap straight news (berita singkat), bisa tanpa foto, atau hanya konfirmasi telepon, tanpa turun lapangan. Batas antara liputan peristiwa dan investigasi, sudah kabur. &lt;br /&gt;
Orang mudah memberitakan diri dengan jejaring sosial yang memang berfungsi sebagai alat propaganda diri sendiri. Sebuah foto, dengan sedikit caption, bisa di-share dengan cepat. Pemberitaan, kini mengalami perubahan besar sejak smartphone menjadi mesin jurnalisme. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5 Fungsi Bot Berita&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Ada pula yang tidak berwujud mesin, hanya baris-baris program yang dikerjakan dari internet, namanya &lt;i&gt;bot&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;algorithma&lt;/i&gt;. Kita sering menggunakannya, saat mengakses Google. &lt;br /&gt;
Bot berita adalah &lt;i&gt;script&lt;/i&gt; pemrograman untuk menyajikan data cepat dengan fungsi-fungsi khusus. Bot news (bot berita) dirancang untuk sajian berita terkini, mudah dibaca, serta valid. Misalnya: cuaca terkini, laporan keuangan sebuah perusahaan, atau data artis yang bermasalah tahun ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa yang bisa dilakukan robot pemrograman dalam membuat berita? &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
1. &lt;i&gt;Pengujian fakta real-time&lt;/i&gt;. Pengujian fakta itu memakan waktu, misalnya: siapa nama lengkap narasumber? berapa jumlah penduduk Semarang tahun 1998? Pengujian fakta ini menggunakan data dari robot, namun tetap dikerjakan jurnalis. Manusia menjadi lapisan-kedua (second layer), melakukan verifikasi fakta di lapangan. &lt;br /&gt;
2. &lt;i&gt;Mengidentifikasi salah-ketik, salah-eja, dan kesalahan lain&lt;/i&gt;. Anda tentu sering menggunakan keampuhan Microsoft Office dan &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt; untuk mendeteksi kata agar tidak salah-ketik atau salah-eja. &lt;br /&gt;
3. &lt;i&gt;Membuat kronologi (&lt;i&gt;timeline&lt;/i&gt;) dan sajian data visual (&lt;i&gt;infographic&lt;/i&gt;) atas suatu peristiwa&lt;/i&gt;. Anda tentu pernah melihat &lt;i&gt;highlight&lt;/i&gt; Liga Champion atau data skor bola terkini. Bot bisa membuatkan lini-masa seperti itu dengan cepat. Tidak perlu membalik kertas atau mencari file berita sebelumnya. &lt;br /&gt;
4. &lt;i&gt;Mendeteksi plagiarisme dan fabrikasi content&lt;/i&gt;. Semua dialirkan ke big data di internet, sehingga ketahuan: siapa yang mempublikasikan data ini pertama kali? sumber mana yang harus saya kutip? &lt;br /&gt;
5. &lt;i&gt;Sinergi dengan peralatan lain&lt;/i&gt;. Bot juga kelak akan disinergikan dengan &lt;i&gt;drone&lt;/i&gt; (pesawat tanpa awak) untuk memperluas akses data, misalnya: pada saat bencana, drone diterbangkan dengan kamera built-in resolusi tinggi bisa menghasilkan potret untuk disajikan kepada pembaca. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sejarah dan Kemajuan Bot Berita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada tahun 2004, Microsoft sudah meluncurkan &lt;i&gt;newsbot&lt;/i&gt; (robot berita), layanan agregator berita, dicobakan di Amerika, Inggris Raya, Malaysia, dan India. Raksasa media, lantas menggunakan bot news untuk kecanggihan penulisan berita. Forbes media sudah menggunakan algoritma untuk menyajikan data olah raga dan finansial, dalam bentuk narasi. Tidak ada komplain terhadap akurasi data Forbes. Misalnya, redaksi ingin menyajikan data &quot;keuntungan koran New York Times&quot;, dengan cepat algoritma ini menyajikan &quot;cerita&quot; disertai &quot;data&quot; serta berita terkait lainnya. &lt;br /&gt;
Akun twitter @nytimes_ebooks dikerjakan dengan Haiku Bot, yang bisa menuliskan haiku, puisi pendek tiga baris yang masing-masing baris terdiri dari 3-5 kata. Jika Anda melihat akun twitter berisi kutipan, melakukan retweet secara otomatis setiap di-mention akun lain, seperti itulah cara bot bekerja. &lt;br /&gt;
RoboNews pernah diberitakan situs &lt;a href=&quot;http://wired.com/&quot;&gt;Wired&lt;/a&gt;, digunakan untuk pewarta kejadian terkini pada saat badai tsunami melanda Jepang. Apa yang luput dari jangkauan reporter, sajian data terbaru, sampai prediksi cuaca, bisa disajikan secara otomatis. &lt;br /&gt;
Algoritma semacam ini dirintis DoubleClick dan dibeli Google tahun 2008, menyempurnakan kesaktiannya sebagai mesin pencari, dan kelak juga dikembangkan Narrative Science sebagai mesin berita yang dibayar jutaan pemakai. 15 tahun mendatang, mesin berita akan lebih banyak dikerjakan bot seperti ini, dengan taksiran presentasi mencapai 90%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Abad Statistik, Terra Incognita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa yang menarik dari invasi algoritma dan bot dalam menyajikan berita untuk manusia modern?&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
Pada abad ke-20, manusia sibuk menemukan mesin. Mereka menjelajahi pengetahuan: bagaimana caranya terbang, mendengarkan suara orang dari kejauhan dan menontonnya, serta menyimpan kenangan itu. Manusia modern lantas mendalami teknologi penerbangan, gelombang radio dan televisi, dan komputer. &lt;br /&gt;
Setelahnya mesin-mesin ditemukan, manusia menghadapi ilmu pengetahuan yang semakin sulit, karena, semuanya sudah ditemukan. Ilmuwan perlu menyempurnakannya terus menerus. Studi tentang &quot;manusia&quot;, sudah selesai. &lt;br /&gt;
Menurut Cam Davidson-Pilon, problem manusia sekarang adalah problem statistik. Statistik selalu berkaitan dengan &quot;data&quot; dan &quot;kawasan yang belum dikenal&quot; (&lt;i&gt;terra incognita&lt;/i&gt;). Setiap membuat penelitian baru, selalu ada pertanyaan: siapakah yang pernah meneliti kawasan penilitian (field research) ini sebelumnya? &lt;br /&gt;
Membaca sekian ratus data tentang alasan orang memilih baju, orang membutuhkan sajian data terkini: alasan apa yang paling masuk akal? Tentu saja, pemilahan tercepat adalah data statistik. Tentu saja, penyaji data tercepat adalah robot. Bukan lagi manusia. Jika Anda menjalin hubungan, lalu mengalami kendala ejakulasi dini, tentu Anda butuh pendapat ahli, tepatnya, sebuah tulisan yang baik, atau data valid. Apa yang tidak sedang Anda ketahui (saat mengambil keputusan) adalah kawasan tak-dikenal.&lt;br /&gt;
Data tersebut ditentukan &lt;i&gt;rating&lt;/i&gt;. Data ini dikerjakan sebagai big data, tersimpan di cloud (server besar di internet), dan diedarkan kepada siapapun yang bisa mengaksesnya. &lt;br /&gt;
Ini berarti: sebuah tulisan kecil Anda di Indonesia, jika bisa mendapatkan kepercayaan (melalui sharing content dan comment), bisa mempengaruhi keputusan seksual ratusan pasangan di Amerika. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bot tidak menggantikan peran penulis-manusia. Bot membutuhkan kecerdasan buatan dan data terpercaya. Jika tulisan Anda tidak menggunakan data terpercaya, tidak bisa mempengaruhi keputusan orang lain. Atau bukan tidak mungkin, tiba-tiba ada keputusan yang mempengaruhi hidup Anda, karena penentu keputusan menggunakan statistik salah. &lt;br /&gt;
Bot berita adalah hantu dalam mesin berita media yang akan membayangi pengambilan keputusan manusia, sendirian ataupun sebuah negara. &lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/hantu-mesin-berita-media.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-PCcJFCfQTus/Ua1YAFLsH4I/AAAAAAAADBE/AzJcnEP9npo/s72-c/hantu-mesin-berita-media.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-1412357814251336818</guid><pubDate>Tue, 04 Jun 2013 02:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-04T09:46:59.725+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>Menghadapi Revolusi Industri Masa Sekarang</title><description>&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-qTfJwCbBcPA/Ua1T6B_yJ2I/AAAAAAAADA4/EGjrhh7un04/s600/bentuk-revolusi-industri-sekarang.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;306&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-qTfJwCbBcPA/Ua1T6B_yJ2I/AAAAAAAADA4/EGjrhh7un04/s640/bentuk-revolusi-industri-sekarang.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Seperti apakah bentuk revolusi industri di dunia sekarang?&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
Kemarin saya jalan kaki ke sebuah swalayan sambil browsing, membagikan (share) berita tentang keberhasilan ilmuwan membuat cloning embrio manusia, ada pula berita lain tentang penggunaan manusia dalam simulasi ujicoba senjata pembuat-cuaca milik Amerika. &lt;br /&gt;
Semua itu nyata, sebab yang nyata sekarang ini kadang seperti prediksi di film fiksi-ilmiah. &lt;br /&gt;
Ada beberapa anak muda sedang foto-foto di depan toko dengan ponsel. Mereka seperti kebanyakan anak muda, sangat suka foto dengan instagram dan berjejaring sosial. Rupanya mereka sedang &lt;i&gt;gathering&lt;/i&gt; (ngumpul bareng), dan tak lama kemudian, asyik dengan gadget masing-masing. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Informasi itu Tidak &lt;i&gt;Free&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mereka selalu suka dengan satu hal: mendapatkan akses murah untuk koneksi. Facebook dan Twitter memang free, tetapi koneksinya tidak &lt;i&gt;free&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
Sering terdengar ucapan informasi itu &quot;free&quot;. Informasi memang bisa &quot;gratis&quot; atau &quot;bebas&quot;. Sayangnya, &quot;free&quot; ini ilusi semata. &lt;br /&gt;
Informasi bisa free jika seluruh tindakan ekonomi itu bukan terkait informasi, mengingat sekarang ini masih banyak bidang yang belum mengalami otomatisasi atau belum sepenuhnya bergantung pada internet. Perlahan, semua akan diperantarai software. Membayar listrik, registrasi kependudukan, sudah memakai software. Sekarang mobil digerakkan dengan komputer, printer 3d (tiga dimensi) sudah bisa mencetak bulldozer, kacamata keluaran Google bisa memotret dengan kedipan mata, dll. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bentuk Revolusi Industri Akhir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Seperti itulah bentuk revolusi industri sekarang. Software.&lt;br /&gt;
Software sudah menjadi revolusi-industri akhir.  Sampai zaman kapanpun, bisakah orang beranjak dari penemuan mesin dan software? Mungkin tidak. &lt;br /&gt;
Kebergantungan orang, semakin menguat pula. Bisakah Anda tidak menggunakan ponsel? Bisakah Anda menggunakan ponsel tanpa kamera? Bisakah Anda menggunakan ponsel tanpa jejaring sosial? &lt;br /&gt;
Orang hanya bisa beralih dari satu gadget ke gadget lain, beralih ke bentuk komunikasi lain, namun tetap menggunakan internet dan peran software. &lt;br /&gt;
Menggunakan Facebook dan piranti teknologi, tidak membuat status atau keberadaan seseorang menjadi &quot;meningkat&quot;, sebaliknya, pemakaian software dan gadget akan menyamaratakan seseorang di lautan informasi, sebuah mesin yang tak terlihat, makhluk yang tak bisa dimatikan, bernama: internet. Kalau sudah terhubung internet, secara tidak langsung Anda menghadapi ketaksadaran global. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Instagram, Kasus Ketidaksadaran Global&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi saat seseorang memotret-diri dengan Instagram? &lt;br /&gt;
Sebuah karya seni, mungkin; namun karya ini adalah filter untuk memproses foto menjadi beberapa efek pilihan. Dahsyatnya, keberhasilan aplikasi Instagram bisa mengguncang perusahaan besar. &lt;br /&gt;
Kodak, perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 140.000 orang, meraup keuntungan 28 milyar dolar. Kodak kemudian bangkrut (cerita menyedihkan). Orang beralih pada aplikasi Instagram di kamera digital gadget. Pada tahun 2012, Facebook membeli Instagram 1 milyar dolar. Instagram, pada waktu itu, hanya dijalankan 13 orang. &lt;br /&gt;
Orang lebih suka memakai ponsel resolusi tinggi, dengan aplikasi bernama Instagram. Gadget yang mudah dibawa, multifungsi, serta software yang mudah dipasang-copot dengan mudah, adalah dambaan orang. Nilai sebuah gambar, dalam kasus Kodak, tidak lagi pada sisi artistik dan originalitas, melainkan pada fungsi foto untuk merekam moment dengan puluhan filter. Semakin mudah diaplikasikan, di-share, dan dimodifikasi siapapun, justru semakin disukai. Sayangnya, itu hanya sebuah contoh. Masih ada ratusan contoh tentang teknologi canggih yang tidak hanya mengurangi peran pekerja konvensional, namun juga menggeser perilaku pemakai internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kekacauan dan Otonomi Mesin&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Jaron Lanier, penulis buku &lt;i&gt;You are not a Gadget&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Who Owns the Future?&lt;/i&gt; menandai pergeseran besar dalam hidup manusia modern. Teknologi internet ternyata tidak membuat orang semakin mendapatkan lapangan pekerjaan. Kita seperti menghadapi kedatangan mesin-mesin besar yang mengganti peran buruh di masa Karl Marx, namun, mesin ini tidak tampak. Mesin ini berwujud code, aplikasi, software, dan terus dikembangkan. &lt;br /&gt;
Kekacauan itu bisa digambarkan begini: sebuah perusahaan besar yang merilis aplikasi untuk pembuatan website (misalnya plugin atau addon), bisa menemukan kejutan zero day dari seorang bocah yang membeberkan kelemahan software itu kepada publik. &lt;br /&gt;
Selain itu, software pula yang membuat internet menjadi mesin autonomous, swakerja. Seperti dimaklumi bersama, tergantung di tangan siapa software ini dikerjakan. &lt;br /&gt;
Semua yang diperdagangkan selalu memiliki watak politis. &quot;Knowledge is power&quot;, kata Michel Foucault. Pengetahuan adalah kekuasaan, bukan tentang siapa yang menang jika menguasai pengetahuan, tetapi, tentang watak kuasa dalam diri pengetahuan. Jika di tangan pemerintah atau perusahaan besar, software bisa menjadi senjata luar biasa, di balik ilusi gratis. &lt;br /&gt;
Perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Facebook, bukan rahasia lagi, melakukan pengawasan dan pendataan aktivitas pemakai. Internet sekarang sudah bermunculan cloud, mesin-mesin server berkapasitas dan berkecepatan besar, untuk menampung semua data pemakai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Piramida Penindasan dari Baris-baris Code&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pemakai melakukan share, membagikan content, lalu tingkah laku ini menandai lalu-lintas data, dan menjadi bahan pengumuman dari perusahaan-perusahaan besar. Orang tidak melakukan verifikasi, melainkan sebatas menggunakan data besar. Orang malas memikirkan muasal tindakan, motivasi, bahkan behind the scene sebuah fakta. Mereka, dalam bahasa Leonardo da Vinci, tidak berpikir, tetapi menggunakan hasil berpikir orang lain. Tindakan manusia diperantarai (&lt;i&gt;mediated&lt;/i&gt;) pikiran internet. Kapitalisme, akan berjalan lancar jika konsumerisme berlangsung. Instagram dan Facebook akan jaya jika Anda sering share, tidak peduli itu mengancam nasib karyawan Kodak. &lt;br /&gt;
Piramida penindasan terjadi. Semakin mahal software beroperasi di gadget (atau komputer), semakin berkuasalah Anda, secara sadar ataupun tidak. &quot;Mesin yang lebih baik, akan menciptakan kepatuhan,&quot; kata Karl Marx. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Komoditi &quot;tanpa&quot; Nilai Tukar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Komoditi terjadi jika barang atau jasa memasuki perdagangan. Jika Anda menanam padi untuk dimakan sendiri, itu bukan komoditi. Jika beras organik melintasi laut dan memasuki swalayan, itulah komoditi. Jika komoditi bertemu di jejaring, terjadilah nilai tukar dari nilai guna pada masing-masing komoditi. Nilai ini ditentukan durasi curahan kerja, dalam istilah Karl Marx. Sayangnya, nilai ini bergeser. &lt;br /&gt;
Apa saja telah menjadi komoditi. Pada saat software menjadi mediasi sempurna untuk melakukan komunikasi dan transaksi, maka komoditi menjadi sangat rumit. &lt;br /&gt;
Sekarang bermunculan mesin-mesin yang memiliki kecerdasan buatan (&lt;i&gt;artificial intelligence&lt;/i&gt;) yang bisa menyajikan berita secara instant. Algorithma ditulis-ulang, baris-baris code bisa menulis dan menyajikan berita, menggantikan fungsi reporter, memberitakan cuaca dan perang. Sebuah halaman bisa menampilkan apa yang terbaru. Manusia berhadapan dengan multiplisitas (&lt;i&gt;copy-paste&lt;/i&gt;), &lt;i&gt;duplicated content&lt;/i&gt;, dan hukuman penalti dari Google. Pekerjaan media, sebagai satu contoh, telah ditentukan oleh penilaian Google, Bing, Yahoo, dan Facebook. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Software telah menjadi puncak revolusi industri di masa internet. Apa yang lantas terjadi pada estetika karya seni, lapangan pekerjaan, cara manusia berkomunikasi, dan ekonomi masa mendatang? &lt;br /&gt;
Saat Anda sedang menggunakan gadget dan jejaring sosial, masihkah menganggapnya sebatas alat?&lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/bentuk-revolusi-industri-sekarang.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-qTfJwCbBcPA/Ua1T6B_yJ2I/AAAAAAAADA4/EGjrhh7un04/s72-c/bentuk-revolusi-industri-sekarang.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-4252109954642382865</guid><pubDate>Tue, 04 Jun 2013 02:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-04T09:36:26.595+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ideologi teknologi</category><title>Mencetak Pistol dari Rumah dan Negara Paranoia</title><description>&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-1X-AQxMgQiw/Ua1SXl9PEGI/AAAAAAAADAs/cH5xp7fHPbQ/s640/mencetak-pistol-dari-rumah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;424&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-1X-AQxMgQiw/Ua1SXl9PEGI/AAAAAAAADAs/cH5xp7fHPbQ/s640/mencetak-pistol-dari-rumah.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sekarang printer sudah bisa mencetak senjata, membuat rumah, dan dashboard mobil. Apa yang akan terjadi jika printer tiga dimensi ini diakses publik?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bebas Dijual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sekarang itu sudah terjadi. Printer 3d dijual di mana-mana, demonya mengundang jutaan klik di &lt;a href=&quot;http://youtube.com/&quot;&gt;YouTube&lt;/a&gt;. Situs Staples (&lt;a href=&quot;http://staples.com/&quot;&gt;staples.com&lt;/a&gt;), misalnya, menjual printer 3d dengan bandrol 1299 US dolar, dilengkapi detektor hotspot bawaan, 20 rancangan desain 3d siap-cetak. Masih banyak website yang berjualan printer tiga dimensi.&lt;br /&gt;
Orang dengan mudah bisa me-reproduksi senjata maupun karya seni teknologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengganti Tinta dengan Serbuk Logam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pengganti tintanya bisa berupa bubuk metal, gypsum (gip), keramik, dan 102 jenis metal. Seperti banyak dimaklumi, hasil printer 3d dipandang kurang bagus oleh para seniman, mekanik, dan pakar manufaktur. Kualitasnya kurang bagus, seperti mencetak foto resolusi rendah untuk majalah cetak.&lt;br /&gt;
Meskipun demikian, ada banyak inovasi yang bisa dihasilkan dari printer 3d ini. Printer 3d memungkinkan dibuatnya lanskap miniatur, pengujian tata-kota, serta simulasi yang bisa memampatkan realitas menjadi lebih mudah dipelajari dan dikalkulasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;dari Karya Seni ke Souvenir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Barang-barang yang biasa dipakai dalam hidup, dengan mudah dicetak menggunakan printer ini: cangkir kopi, dashboard mobil, keyboard, stangmotor, dll. &lt;br /&gt;
Purwarupa (prototype) sebuah product, bisa diskala. Jika Anda memiliki file siap-cetak yang cocok dengan printer, yang sekarang banyak beredar dan bisa di-download, Anda memperbesar atau memperkecil berdasarkan ukuran sesungguhnya dari barang yang akan ditiru. Membuat mobil sebesar jempol jari namun persis aslinya, bisa jadi. Rumah juga bisa dicetak, sekitar 20 jam.Mencetak miniatur menara Eiffel berbahan logam ataupun plastik, bisa saja diwujudkan dengan mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Portable, Masalah Baru&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Printer 3D rata-rata portable, bisa diangkut ke mana-mana. Sudah ada sekitar 30-an type printer 3d, dengan harga mulai US$ 1.299  Type AW3D XL, bisa dibawa pulang dengan harga US$ 2.295, punya volume 17.75 x 18 x 21 inch. Masih kalah lebar dengan TV flat. Presisi mencapai 0.04 milimeter.&lt;br /&gt;
Penjualan publik diikuti pula kemudahan mengakses file-file publik yang siap-pakai untuk mencetak barang-barang keperluan, menggunakan printer 3d. Apapun yang sudah di-share di internet berarti mungkin diakses siapapun. File-file untuk cetak 3d, sudah banyak yang terang-terangan &quot;open source&quot;, orang lain boleh memodifikasi file yang dibagikan. Ini akan menjadi masalah baru pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mencetak Pistol dari Rumah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Konsekuensi yang kelak terjadi, menurut spekulasi, yang paling mengkhawatirkan adalah berubahnya peraturan kepemilikan dan pengawasan pemakaian senjata. Sebuah pistol rakitan dari plastik yang memakai peluru sungguhan, seperti di film &quot;In the Line of Fire&quot;, bisa dicetak. Orang bisa mempersenjatai diri dengan mudah. Kalau misalnya seorang pakar senjata dan desainer meluncurkan senjata &quot;baru&quot;, bisa jadi senjata itu tak-dikenal di database senjata kepolisian dan militer.&lt;br /&gt;
Apa jadinya jika masyarakat dipenuhi senjata dan peluru yang belum dikenal? Tentu proses penyidikan dan forensik lebih lama. Bisa jadi, negara-negara akan meniru paranoia Amerika di film Iron Man saat tahu ada orang sipil yang bisa mempersenjatai-diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengapa Beredar Bebas?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai catatan, sekarang ini tutorial membuat senjata memang beredar bebas di internet, dari yang biasa sampai yang mematikan. Jika Anda mencari user &quot;855h0le&quot; di YouTube, akan menghasilkan tutorial cara membuat berbagai macam senjata genggam (hand gun) tiruan, secara manual. Video ini bisa diakses orang Indonesia, luput dari sensor negara yang tampaknya lebih suka ribut men-sensor pornografi dan rasisme.&lt;br /&gt;
Selama ini, sistem hukum Indonesia masih cenderung menerapkan &quot;hukuman&quot; dan sistem &quot;pembuktian terbalik&quot;, belum begitu concern terhadap pencegahan cybercrime.&lt;br /&gt;
Pemakaian printer 3d, dalam sebuah demo video, sudah bisa mencetak pistol plastik yang tak-terdeteksi pendeteksi logam. Tentang pengaturan hukum dan kebijakan pemakaian printer 3d, tentu akan menjadi urusan negara, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;
Kecanggihan teknologi justru akan menuntun negara kepada&quot;surveillance&quot; (pemantauan), censorship (sensor), bahkan pemantauan privacy. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Paradoks Kebebasan Informasi dan Sistem Hukum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Paradoks terjadi: kebebasan informasi dan perdagangan bebasm enemukan titik-balik, menjadi pembatasan informasi dan pengawasan peredaran barang, serta privacy.&lt;br /&gt;
Sebuah sistem pencegahan, bisa jadi sistem itu belum sempurna atau bahkan dimanipulasi. Sistem hukum berubah menjadi&quot;mitos&quot; atau &quot;kebenaran matematis&quot; yang hanya diketahui cara-kerjanya oleh negara dan aparat hukum.&lt;br /&gt;
Mungkin Anda ingat film &quot;Minority Report&quot; yang menyajikan kondisi dystopia, di mana sebuah kota bisa menekan tingkat kejahatansampai 600%. Kota itu menerapkan system Pre-Cogs (pre-cognition) yang bisa mencegah kejahatan yang akan terjadi. Jika Pre-Cogs mengkalkulasi akan terjadi kejahatan, segera tim pencegah mendatangi lokasi, dan membacakan perintah,&quot;Anda ditangkap atas kejahatan yang akan terjadi di masa depan&quot;. Suatu ketika, terjadi intrik. Lamar, sang pengurus Pre-Cogs, memanipulasi&quot;refleksi&quot; komputernya, sehingga Pre-Cogs menutupi kebusukan Lamar,sampai menghasilkan keputusan salah, menangkap John. Di akhir cerita, John menyingkap konspirasi kesalahan ini, dan berbicara saat Lamar menodongnya, &quot;Kau lihat dilemma-nya, kan? Jika kamu tidak membunuhku, mesin Pre-Cogs akan salah dan divisi Pra-Kejahatan selesai. Jika kamu membunuhku, kamu bersalah, namun itu membuktikan sistemnya bekerja. Pre-Cogs terbukti benar. Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?&quot;&lt;br /&gt;
Kecanggihan printer 3d, membawa banyak konsekuensi. Karya seni bisa diskala dan &quot;diturunkan&quot; menjadi souvenir piknik. Orang bisa membikin duplikat patung Raphael seperti menduplikat kunci. Jika buruk, bisa dibuang, seperti melemparkan hasil-cetak makalah ke tong sampah, bedanya: hasil cetak printer 3d bukanlah kertas. Pikirkan, betapa nanti&quot;sampah&quot; akan menjadi polemik baru. Suku cadang mobil dan industri manufaktur, akan berperang melawan kebebasan ini. Sipil bisa lebih mudahmempersenjatai-diri.&lt;br /&gt;
Amerika membiarkan printer 3d beredar, membiarkan YouTubetidak mensensor cara membuat pistol, untuk memperkenalkan konsep baru&quot;musuh negara&quot;.&lt;br /&gt;
Sekarang, musuh negara bukan lagi negara lain, mereka tidak ada di peta, memperkenalkan dunia yang tidak lagi transparan, tidak gampanglagi &quot;membedakan&quot;. Dunia dalam bayang-bayang teknologi canggih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Teknologi tidak pernah berada dalam baik atau buruk, namun pemakaian dan pengawasannya yang bisa memasuki baik dan buruk. &lt;br /&gt;
Negara sudah semestinya memikirkan konsekuensi yang terjadi dalam penggunaan teknologi, tanpa monopoli dan manipulasi, memberikan rasa aman menjalani hidup sehari-hari. Negara yang dibutuhkan bukanlah negara yang mengidap paranoia, yang membuat rakyatnya ketakutan menghadapi ekses negatifpenggunaan teknologi canggih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Jika kelak pistol dan apapun mudah dicetak publik, seberapa tingkat rasa aman yang bisa diberikan negara kepada rakyat?&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Artworker, webmaster, tinggal di Semarang</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/cetak-pistol-dari-rumah.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-1X-AQxMgQiw/Ua1SXl9PEGI/AAAAAAAADAs/cH5xp7fHPbQ/s72-c/mencetak-pistol-dari-rumah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-8766854761414973448</guid><pubDate>Tue, 04 Jun 2013 02:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-04T09:09:41.354+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Membaca Teks Filsafat (sebuah Daftar Periksa)</title><description>&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-vsQPPV-P6yw/Ua1K2ZMBkZI/AAAAAAAADAg/rMXLvw2U4VU/s600/membaca-teks-filsafat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-vsQPPV-P6yw/Ua1K2ZMBkZI/AAAAAAAADAg/rMXLvw2U4VU/s1600/membaca-teks-filsafat.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Catatan ini menjawab pertanyaan, &quot;Bagaimana caranya membaca teks filsafat?&quot;.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengantar &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak pembelajar yang tidak suka membaca teks filsafat padahal membutuhkannya, atau tidak total memasuki teks filsafat, atau terlalu menikmati teks filsafat tetapi tidak mengalami perkembangan pemahaman yang menyenangkan. Di luar semua itu, teks ini mendiskusikan bagaimana &quot;cara saya&quot; membaca teks filsafat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Gagasan Filsafat, &quot;Ensiklopedi Kecil&quot;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Hampir semua gagasan teks-filsafat adalah sebuah ensiklopedi kecil. Ketika sebuah buku membahas filsafat &quot;negara&quot;, misalnya, dengan pendekatan Karl Marx dan Max Weber, buku tersebut biasanya akan mengkoleksi banyak kutipan (quotation), melakukan pembandingan (komparasi), ataupun elaborasi. Biasanya, di sinilah kesulitan-membaca sering bermula. &lt;br /&gt;
Pembaca berhadapan dengan sebuah istilah (dalam contoh ini: &quot;negara&quot;), namun pengertian istilah ini sudah disaring (&lt;i&gt;filtered&lt;/i&gt;) menurut pendapat Marx dan Weber. Ada sebuah istilah, dengan pengertian yang berbeda, sementara dalam pikiran si pembaca sudah terbentuk pengertian &quot;negara&quot;. Kerak pemahaman yang sudah terbentuk dalam pemikiran pembaca, harus dibebaskan lebih dulu, sebab dia sedang membaca &quot;negara&quot; menurut Marx dan Weber. Jadi, bebaskan pikiran tentang &quot;negara&quot;, biarkan Marx dan Weber berbicara. Di sini terjadi pergulatan istilah, pertarungan pengertian, sebuah ensiklopedi kecil yang menjelaskan &quot;negara&quot;. Anda membutuhkan penyelaman istilah, bukan lagi melalui sebuah kamus, tetapi sudah pengertian menurut pemikir tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kalimat Utama dan Keyword&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Membaca perlu menemukan kalimat utama sepanjang paragraf yang dia baca. Di manakah kalimat utama dalam sebuah paragraf? Dalam setiap paragraf, terdapat kalimat utama, biasanya terletak di awal, akhir, atau awal-dan-akhir paragraf. Tidak akan berada di tempat lain. Pasti ada istilah kunci (keyword) yang menyertai gagasan seorang pemikir. Harap diingat, bahwa setiap gagasan besar dulunya adalah gagasan sederhana yang terus dibangun, dikembangkan, dan disempurnakan. Kadang itu sebuah kata, kadang pula sebuah pertanyaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Genealogy&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Selama membaca, sebenarnya Anda tidak sedang memberi makanan kepada pikiran. Membaca itu seperti merasakan makanan, sampai kenyang, tanpa sisa, lalu melacak-ulang bahan dan bumbu yang disajikan, agar Anda bisa menyajikan-ulang makanan tersebut. Setiap pembaca adalah koki yang sedang menguji makanan, bukan orang kelaparan yang mencari makanan untuk tubuhnya. Singkatnya, setiap gagasan harus dilacak &quot;proses pembentukan&quot; gagasan itu. &lt;br /&gt;
Siapkan pertanyaan lanjutan, &quot;Dari mana gagasan ini berasal?&quot;, atau &quot;Siapa lagi yang punya gagasan seperti ini sebelumnya?&quot;. &lt;br /&gt;
Begitu pula sebuah istilah yang dipakai penulis buku. Misalnya pemakaian kata &quot;fuck&quot;, perlu dilacak, &quot;Bagaimana perkembangan pemakaian kata &quot;&lt;i&gt;fuck&lt;/i&gt;&quot;? Dari mana kata ini berasal sebelum mendunia seperti sekarang?&quot; Itu hanya contoh. Sekarang semua itu dapat dengan gampang dicari dengan bantuan internet, misalnya dengan situs Etymology Online, yang bisa menyajikan etymology, kaitan-kata, dan pemakaiannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Imajinasi&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Membaca adalah menyelami imajinasi dari teks. Di sini kita bermain dengan &quot;imajinasi&quot;. Apakah imajinasi itu? Imajinasi, berasal dari &quot;imagination&quot;, yang berasal dari bentukan &quot;image+ination&quot;, atau dari kata kerja &quot;to image, to imaginate. Imajinasi adalah sebuah proses, yaitu proses pembentukan &quot;&lt;i&gt;image&lt;/i&gt;&quot; (citra). Imajinasi bukanlah &quot;khayalan&quot;, bukan pula angan-angan yang datang tiba-tiba. &quot;Bagaimana imajinasi penulis? Bagaimana imajinasi dari teks yang sedang saya baca?&quot;. Setiap gagasan adalah imajinasi. Setiap orang &quot;seharusnya&quot; memiliki imajinasi berbeda. &lt;br /&gt;
Menjadi pembaca adalah memasuki imajinasi orang lain (penulis), &quot;mengalami&quot; apa yang terjadi dalam proses penulisannya. Ini berguna untuk mengetahui latar sebuah tulisan. Pertanyaan yang dibutuhkan, antara lain, &quot;Apa yang terjadi saat dia menulis?&quot; atau &quot;Bagaimana prosesnya sampai tulisan ini terjadi?&quot;. &lt;br /&gt;
Singkatnya, setiap &quot;teks&quot; adalah titik yang terbentuk dari banyak garis yang bersilangan: riwayat teks, faktor eksternal, pengertian yang &quot;mungkin&quot;, pertanyaan penyerta, emosi, dll. Sebuah teks bacaan adalah miniatur dari sebuah kejadian unik yang bisa ditarik menjadi pemandangan besar, skema yang lebih besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menjawab Pertanyaan Awal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saat belajar filsafat, saya selalu membaca sambil menuliskan-kembali apa yang saya baca. Membuat semacam skema, membuat daftar pertanyaan, membuat checklist (daftar-periksa), dan menambahkan banyak sekali coretan di kertas lain. Saya suka menggunakan kertas HVS A4 80 gram bekas, biasanya saya dapat dari hasil fotokopi yang sudah tak terpakai, kemudian menggunakan spidol. Kamar saya penuh kertas dan tulisan, tidak akan saya singkirkan sebelum saya bisa memahaminya. Setelah selesai satu chapter, saya kembali lagi, membaca sekilas, lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bacaan itu, bergumam sendirian. Baru kemudian membuangnya atau membakarnya. &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa yang harus dicatat?&lt;/i&gt; Sampai sekarang, saya selalu menyiapkan Notepad di laptop atau ponsel, memasukkan quote yang menarik. &lt;i&gt;Quote&lt;/i&gt;, adalah kalimat yang dikutip dari sebuah teks. Setiap membaca quote, saya mengembalikan ingatan pada apa yang pernah saya baca. Selain &lt;i&gt;quote&lt;/i&gt;, saya garis-bawahi &quot;cara berpikir&quot; yang bisa menghasilkan teks yang sedang saya baca. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Coretan, Infographic, Copywriting&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Pembaca pemula, sering dipaksa memahami buku secara mentah: membuka buku, membaca, mengingatnya, dan tidak menciptakan sebuah gambar di pikirannya. Mencoret dan mencatat adalah untuk menguatkan &lt;i&gt;photographic memory&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
Setiap melihat-kembali coretan-coretan itu, saya mengenang bacaan saya. Orang lain tidak bisa membaca coretan ini. Lain kali ada tambahan bacaan tentang pemikir atau tema yang sama, saya akan tambahkan coretan lain. Pada zaman sekarang, coretan yang tersaji dengan &quot;cara saya&quot; ini sudah banyak dikenal sebagai presentasi PowerPoint atau berbentuk infographics (sajian data visual). &lt;br /&gt;
Singkatnya, seorang pembaca harus bisa menyajikan-kembali sebuah gagasan &quot;secara visual&quot; dalam pikirannya. Bukan &quot;kata&quot;. Sekali sebuah gambar terbentuk, sulit menghapusnya dari pikiran. &lt;br /&gt;
Proses ini disebut copywriting, yaitu menyajikan-kembali sebuah proses agar orang lain mengalami kehadiran kejadian itu. &lt;br /&gt;
Tujuan &quot;&lt;i&gt;understanding&lt;/i&gt;&quot; (memahami) bukanlah merekam-ulang. Anda bukan iTunes yang menawarkan stok &lt;i&gt;audio-book&lt;/i&gt; (buku-suara), bukan sedang menikmati iPod .mp3 (mendengarkan mentah-mentah). Copywriting tetap menyertakan catatan Anda sendiri, apresiasi dan kritik Anda. &lt;br /&gt;
Jika Anda membaca buku Gayatri Spivak saat menjelaskan-kembali pemandangan postmodernisme, atau ST. Sunardi saat menjelaskan Roland Barthes, kelihatan penguasaannya sangat detail, ringkas, dan keren. Begitu pula saat membaca buku-buku pengantar &quot;For Beginners&quot; yang berbentuk komik, sangat menyenangkan. Membaca-ulang buku-buku seperti ini, seperti berwisata di alam bacaan. Begitu pula saat membuka situs infographic, serasa menikmati &quot;data&quot; rumit menjadi sebuah lukisan. Statistik dan fakta yang rumit, disajikan secara visual dan indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Metode Teks dan Jalan Pikiran Penulis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pertanyaan penting lainnya adalah &quot;Mengapa teks yang sedang saya baca -harus- disampaikan dengan cara seperti ini?&quot;. Itulah pertanyaan metodologis, memikirkan cara apa saja yang akhirnya menghasilkan teks yang sedang saya baca. Sebuah &quot;gambar&quot; (catatan hasil membaca) dengan banyak pertanyaan, itu lebih baik daripada jawaban-jawaban sementara.  &lt;br /&gt;
&quot;Pertanyaan baru&quot; yang ditemukan selama membaca dan jawabannya belum ada di buku itu, adalah &quot;inspirasi&quot; menuju gagasan Anda sendiri. Beginilah salah satu cara sebuah imajinasi (imagination) terbentuk, sebuah gagasan dilahirkan. Jika berhasil memasuki &quot;jalan dan cara berpikir&quot; yang membentuk sebuah teks, maka Anda sudah mulai berdialog dengan teks itu, tanpa jarak yang terlalu jauh.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mempermasalahkan-kembali, Bukan Menyimpulkan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Gagasan yang baik (dari sebuah buku) harus bisa melahirkan pertanyaan lain, sebab buku bukanlah dogma. Cara Anda &quot;menyimpulkan&quot; bisa berakibat fatal, sebab membaca bukan untuk mencari kesimpulan. Membaca adalah proses yang tidak pernah selesai, tidak pernah sekali jadi. Bukan sekadar mencari jawaban. &lt;br /&gt;
Mengapa gagasan Marx begitu mempengaruhi para pemikir setelahnya di pelbagai disiplin ilmu? Karena Marx memberikan inspirasi, karena Marx &quot;tidak sempurna&quot;, atau &quot;terbuka&quot;. Siapapun bisa nimbrung dalam gagasannya. Demikian pula yang terjadi di gagasan Heidegger dan Nietzsche. Saat membaca, Anda sejajar dengan Marxian lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengukur Perkembangan, Melanjutkan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Perkembangan membaca selalu bisa diukur dengan beberapa pertanyaan berikut: Bagaimana skema gagasannya? Bagaimana terbentuknya gagasan penulis? Bagaimana cara penulis menyaring pendapat orang lain atau sesuatu yang dia bicarakan? Apakah penulis ini punya pengertian baru atas istilah yang dia sampaikan? Pertanyaan apa yang ingin dijawab teks ini? Saya harus bisa menjawabnya menurut dia. Saya juga punya jawaban sendiri untuk pertanyaan itu. Dalam bahasa Inggris, kata &quot;question&quot; berarti &quot;pertanyaan&quot; (seperti dalam &quot;&lt;i&gt;any question?&lt;/i&gt;&quot;) atau &quot;mempertanyakan&quot; (seperti dalam perintah &quot;&lt;i&gt;be paranoid, question reality&lt;/i&gt;&quot;). Terakhir, &quot;Pertanyaan apa yang belum ada dalam teks itu?&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Itu catatan pengantar saya dalam membaca teks filsafat. Persoalan berikutnya, tentu lebih rumit lagi. Sangat senang jika Anda mau berbagi pengalaman membaca teks filsafat di comment. Saya akan share nanti peralatan apa yang dibutuhkan untuk membaca teks filsafat, atau bagaimana belajar filsafat dengan internet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, temanmu. &lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/cara-baca-teks-filsafat.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-vsQPPV-P6yw/Ua1K2ZMBkZI/AAAAAAAADAg/rMXLvw2U4VU/s72-c/membaca-teks-filsafat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-1082113437396969335</guid><pubDate>Tue, 04 Jun 2013 02:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-04T09:00:19.353+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">indonesia</category><title>Melihat Keberadaban Kota dari Lampu Merah</title><description>&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-pmtnN1-8y9I/Ua1JN0iwbJI/AAAAAAAADAU/rwMk30EzRAA/s300/melihat-keberadaban-kota-dari-lampu-merah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-pmtnN1-8y9I/Ua1JN0iwbJI/AAAAAAAADAU/rwMk30EzRAA/s320/melihat-keberadaban-kota-dari-lampu-merah.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Bagaimana melihat keberadaban sebuah kota dari aktivitas yang terjadi di lampu merah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lampu Merah, Miniatur Keberadaban&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Tingkat keberadaban sebuah bangsa dapat dilihat dari perilaku para narapidananya,&quot; kata Thomas Jefferson, mantan presiden Amerika. Perilaku para narapidana merupakan miniatur perilaku saudara mereka sebangsa. Orang mengalami &quot;normalisasi&quot; dan &quot;disiplin&quot; di penjara, namun di sisi lain, media menceritakan terjadinya ketidakadilan di penjara: transaksi narkoba, pengurangan jatah makan, dan pembedaan fasilitas. Itu sebabnya kita perlu melihat peradaban pada sisi yang lebih kecil, dari simulator yang lebih melebar: lampu merah di perkotaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pelanggaran, Rute Alternatif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saya mengenal salah satu arti warna dasar merah kuning hijau dari lampu merah pada saat masih kanak-kanak, seperti umumnya anak kecil. Merah berarti berhenti, hijau berarti jalan, sedangkan kuning artinya: persiapan atau hati-hati. Di Indonesia, sekarang &quot;kuning&quot; bukan hati-hati, melainkan: tancap gas.&lt;br /&gt;
Pelanggaran lalu lintas sering terjadi di lampu merah, seperti: menunggu melebihi garis batas, pejalan menyeberangi zebra cross tanpa menunggu lampu merah, atau pedagang bekerja saat lampu merah. Malam hari adalah waktu pelanggaran yang paling sering terjadi, mengingat Indonesia belum banyak menerapkan sistem intai di lampu merah dengan teknologi CCTV.&lt;br /&gt;
Kesadaran berlalu-lintas berhadapan dengan desakan waktu. Kemacetan juga terjadi ketika fungsi beberapa lampu merah, misalnya di perempatan, terganggu. Bisa juga lampu merah lancar, namun arus kendaraan terlalu padat. Tetap saja jalan akan macet. Kondisi lampu merah seperti ini, membuat para pengendara &quot;berkenalan&quot; dengan rute alternatif. Tidak jarang, terdapat peringatan seperti: &quot;Hindari Bundaran Kali Banteng&quot;.&lt;br /&gt;
Pemakaian rute alternatif yang tak terkontrol, sampai memasuki gang-gang kecil, akhirnya membuat pengendara berkenalan dengan aturan untuk &quot;orang asing&quot;, dengan bunyi garang: &quot;Anda Sopan Kami Segan&quot;, atau yang bercanda: &quot;hati-hati, banyak anak artis&quot;.&lt;br /&gt;
Tulisan &quot;Anda sopan kami segan&quot; memperlihatkan adanya penguasaan, sekat wilayah (walaupun pada dasarnya sebuah jalan adalah jalan umum), dan bisa ditutup sewaktu-waktu jika warga sedang ada hajat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Medan Iklan, Penyebaran Gagasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lalu lintas adalah tempat efisien untuk penjaja dagagan sampai jasa &quot;polisi cepek&quot;. Apa saja sekarang dijajakan di lampu merah. Ada orang menjual koran, sehingga tanpa banyak membaca beritapun kita sudah pasti dapatmembaca judul-judul headline berita hari ini. Ada orang mengamen dengan banyak cara.&lt;br /&gt;
Mengapa kethek ogleng dan reog dengan instrumen sederhana berubah menjadi penghuni lampu merah untuk recehan? Mengapa penikmatan sambil-lalu ini ditempuh untuk sebuah sajian? Karena lampu merah, tempat ribuan orang berhenti sesaat, memandang dan mengulurkan recehan, atau membawa kabar paling cepat. Penyebaran gagasan ini pula, yang membuat acara happening art (saat memperingati momentum nasional atau peristiwa tertentu) maupun demonstrasi protes politik sering terjadi di sekitar lampu merah. Tidak ada etalase yang paling efisien dalam memajang sebuah performance selain di lampu merah. &lt;br /&gt;
Peraturan berlalu-lintas juga menjadi content waralaba yang sering disuarakan di lampu merah jalan-jalan protokol, biasanya disponsori dealer atau sekolah. Pada saat sedang menunggu lampu hijau, orang mendapatkan &quot;ceramah gratis&quot; yang mengingatkan pentingnya memakai helm, melengkapi surat-surat berkendara, mirip speaker di kawasan konsentrasi zaman Nazi Jerman untuk melemahkan mental para serdadu Amerika.&lt;br /&gt;
Content yang diiklankan di lampu merah, tidak sederhana, mulai dari jasa sulap ulang tahun, les privat, bisa tertempel di sana. Atau kertas-kertas selebaran yang tercecer, serta sisa asap knalpot yang pekat, mungkin bisa terlihat dari jauh sebagai gumpalan hitam. Namun kadang orang tidak banyak menyadarinya. Saat pulang atau sampai di kantor, mereka baru mengingatnya, kembali menjadi diri-sendiri. Pada saat berkendara, mereka menjadi orang yang berburu dengan waktu, melaju dengan kecepatan tinggi. Sebab jalanan memintanya segera berjalan. Tidak melaju kencang berarti memacetkan jalan. Ngebut berarti melancarkan urusan orang lain, tidak hanya diri-sendiri.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kali, saya mengajak seorang teman mengendarai motor pada jam makan siang, antara jam 12:00 sampai 13:00 siang, hanya untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang di sekitar lampu merah. Ada perempuan pegawai  kantor yang boncengan bertiga dengan pembantunya, ada kesibukan menelepon sambil berkendara, ada yang melanggar marka, ada yang memilih tancap gas saat lampu kuning, ada pula yang asyik sesaat menikmati &quot;pertunjukan&quot; di tepi jalan. Semuanya terjadi di balik helm dan kaca mobil, semuanya mengeluarkan deru, dan berburu dengan waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apa yang sedang terjadi di lampu merah kotamu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
---&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang&lt;br /&gt;
:)</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/peradaban-lampu-merah.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-pmtnN1-8y9I/Ua1JN0iwbJI/AAAAAAAADAU/rwMk30EzRAA/s72-c/melihat-keberadaban-kota-dari-lampu-merah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-435951319136891501</guid><pubDate>Tue, 04 Jun 2013 01:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-06-04T08:46:36.860+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">indonesia</category><title>Terbentuknya Bahasa [Anak Muda] Sulang: Interkom, Perpustakaan Keliling, dan Kopi</title><description>&lt;b&gt;Abstract&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Artikel ini membahas genealogi (proses pembentukan) bahasa slang di kalangan anak muda Sulang, Kabupaten Rembang sejak tahun 1980-an yang masih berkembang sampai sekarang. Proses pembentukan ini dipengaruhi komunikasi interkom, perpustakaan keliling, dan warung kopi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak muda Sulang mempunyai bahasa slang yang dikembangkan sejak akhir 1980-an. Sekedar mengutip sebuah percakapan yang terjadi di warung kopi, pada suatu malam, dalam dialog berikut: &quot;Woke oar go home?&quot; kata seseorang kepada temannya. Temannya menjawab, &quot;&lt;i&gt;Lumeh sek, aku ungur lebi korok&lt;/i&gt;&quot;. Kalau percakapan itu sudah melalui dekripsi (&lt;i&gt;decrypt&lt;/i&gt;, penguraian sandi) kaidah-bahasa slang anak muda Sulang, percakapan itu dapat diterjemahkan sebagai berikut: &quot;&lt;i&gt;Kowe ora go home?&lt;/i&gt;&quot; dan dijawab &quot;&lt;i&gt;Muleh sik, aku urung beli rokok&lt;/i&gt;&quot;. Kamu tidak pulang? Kamu pulang saja duluan, saya belum beli rokok. Kalau Anda terbiasa dengan penyandian (&lt;i&gt;encryption&lt;/i&gt;), percakapan itu gampang diurai jika disajikan dalam bentuk &quot;tulisan&quot; (&lt;i&gt;script&lt;/i&gt;), tetapi bagi seorang pendengar-asing yang belum mengerti cara bicara anak muda Sulang, pengucapannya lumayan ribet. Ada sejumlah kaidah yang harus dimengerti, terutama sekali, riwayat yang terlacak dari munculnya bahasa slang Desa Sulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sistem Wicara dan Identitas Komunitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setiap sistem wicara selalu berusaha menjaga &quot;kerahasiaan&quot; dan &quot;identitas komunitas&quot;, misalnya: preman, akademisi, wartawan, maupun pengikut tarekat. Semuanya pasti memiliki sistem wicara yang semula cenderung tertutup, dalam perkembangannya kemudian sistem ini menjadi inklusif setelah dipopulerkan melalui media: buku, sinetron, atau pertemuan rutin. Cara ngomong anak teater dengan seorang santri pesantren, pastilah berbeda, tergantung komunitas mana yang sedang dia masuki. Hanya pelafal paling fasih yang dianggap boleh memasuki lingkaran komunitas itu. Bahkan di kalangan adat atau suku tertentu, kita akan diterima jika bisa menggunakan bahasa mereka secara baik, minimal dari sisi &quot;pelafalan&quot; (pronunciation) maupun &quot;konteks&quot; pemakaiannya. Bahasa slang lantas meluas, selain untuk alasan keamanan juga kebutuhan mengatasi &quot;keterbatasan&quot; bahasa, sekaligus &quot;memperluas makna&quot; yang dimiliki oleh sebuah kata (&lt;i&gt;diction&lt;/i&gt;). Ada juga motif &quot;menghargai momen&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pergeseran Makna dalam Berbahasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setiap bahasa, pastilah berkembang sejalan dengan kemajuan, mengalami pergeseran makna (menyempit ataupun meluas) serta terus menjadi &quot;makhluk hibrida&quot; yang sulit dihancurkan. Orang menggunakan istilah &quot;celeng&quot; sebagai makian global sebelum orang Semarang memperkenalkannya kepada publik. Atau &quot;dancuk&quot; dari Jawa Timur. Seperti halnya orang Perancis yang memiliki banyak kosa kata umpatan, orang pesisir pantai Utara (pantura) pun memiliki puluhan istilah untuk memaki. Entah memaki keadaan, memaki rencana yang salah, ataupun memaki seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sistem Penyandian dalam Bahasa Slang Anak Muda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Ha Na Ca Ra Ka&lt;br /&gt;
2 Da Ta Sa Wa La&lt;br /&gt;
3 Pa Dha Ja Ya Nya&lt;br /&gt;
4 Ma Ga Ba Tha Nga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Yogyakarta juga mengenal pembalikan ha na ca ra ka sehingga menyandikan &quot;mas&quot; menjadi &quot;dab&quot;. Dari tabel di atas, &quot;MaS&quot; menjadi &quot;DaB&quot; karena huruf (konsonan) pada baris 2 diganti dengan huruf di baris 4, demikian juga baris 1 diganti menjadi baris 3, jadi rumusnya, diseling satu baris. Dengan prinsip yang sama, &quot;dagadu&quot; menjadi &quot;matamu&quot;, serta &quot;gathe mece&quot; dan &quot;pabu sacilat&quot;. Kalau dua wilayah ini lebih berpatokan pada &lt;i&gt;script&lt;/i&gt;, maka slang di desa Sulang lebih berpatokan pada bahasa lisan. Yang jelas, slang berpatokan pada tulisan (&lt;i&gt;script&lt;/i&gt;) ataupun wicara (&lt;i&gt;speech&lt;/i&gt;) yang menggunakan prinsip &quot;pembalikan&quot;, tidak akan membalik semua kata yang ada di kamus. Hanya kata-kata yang dianggap perlu &quot;dirahasiakan&quot; dari &quot;orang lain&quot; saja. Selain itu, kata-kata baru selalu dimunculkan karena peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengatasi Keterbatasan Bahasa &quot;Normal&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
 Keterbatasan bahasa &quot;normal&quot; akhirnya terjadi karena manusia Sulang (terdorong oleh faktor keadaan) ingin menyampaikan sesuatu secara efisien, campuran (memakai kosa kata Jawa, Indonesia populer, dan sedikit bahasa Inggris), dan konsekuensinya ini akan menggeser makna.&lt;br /&gt;
Seperti umumnya anak muda di desa lain, pemuda Sulang sering bertemu untuk nongkrong, membincang pekerjaan, hobi, maupun sekadar &lt;i&gt;rendezvous&lt;/i&gt;. Materi pembicaraan tidak semuanya &quot;wajar&quot;, sehingga harus disensor jika ada materi sensitif, mereka pun harus merahasiakannya kalau agar jika &quot;didengar&quot; kalangan orang [yang dianggap] tua tidak akan menemukan banyak hambatan. Maka sejak awal (seperti umumnya bahasa &quot;asing&quot; yang muncul kemudian) diciptakan perlahan-lahan dari faktor ketidaksengajaan (tidak tersistematisasi) dan hasil kawin-paksa pelbagai subkultur. Tidak sengaja bertemu, tidak sengaja menggunakan, tidak sengaja menandai suatu momen, tidak sengaja menciptakan tren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tragedi&quot; Keterbatasan, &quot;Komedi&quot; Kebiasaan&lt;br /&gt;
Semula bahasa itu hanya melakukan &quot;tragedi&quot; kecil, misalnya mengubah kata ganti orang ketiga &quot;&lt;i&gt;kowe&lt;/i&gt;&quot; menjadi &quot;&lt;i&gt;woke&lt;/i&gt;&quot;. Lihatlah, bagaimana orang Jawa Tengah (orang Jakarte menyebutnya orang &quot;Jawa&quot;) menjadi sensitif ketika mendengar teman sekampungnya yang mudik menggunakan kata &quot;lu&quot; (kamu) dan &quot;gue&quot;. Hanya sebuah sapaan, tetapi bisa &lt;i&gt;gue banget&lt;/i&gt;. Nah, dari sini beranjak menjadi pemakaian kata-sambung (&lt;i&gt;conjunction&lt;/i&gt;), kata-sifat (&lt;i&gt;adjective&lt;/i&gt;), sampai ke perabotan sehari-hari yang sudah khas Sulang. Memang bukan begitu kronologi historisnya, namun kira-kira demikianlah. Walhasil, muncul &lt;i&gt;slang&lt;/i&gt; khas Sulang sejak tahun 1980-an akhir. &lt;br /&gt;
Pada dekade itu, dunia masih indah. Indonesia sedang dalam masa emas Pembangunan Nasional, politik dunia masih bisa dipetakan blok mana yang bertikai (belum banyak melibatkan MNC, &lt;i&gt;multinational corporation&lt;/i&gt;), perang yang terjadi masihlah perang antarnegara, hutan masih lebat (belum banyak &lt;i&gt;illegal logging&lt;/i&gt;), air masih lancar (sungai-sungai belum kering seperti sekarang), lagu-lagu masih asyik didengar (setidaknya, artis belum diciptakan melalui festival buatan televisi), masih ada interkom (belum ada ponsel), masih banyak &lt;i&gt;tanggapan&lt;/i&gt; dangdut (tapi belum jenis dangdut koplo), pokoknya masih sangat wajar. &lt;br /&gt;
Waktu pembentukan bahasa slang, kalau Anda tidak asli Desa Sulang, pasti sudah mengenal bahasa &lt;i&gt;prokem&lt;/i&gt; (secara literal berarti &quot;preman&quot;, dikembangkan di Jakarta) yang menyebut &quot;bapak&quot; dengan &quot;bokap&quot;, atau anak Jawa Timur menyebut &quot;bapak&quot; dengan &quot;sebeh&quot; atau &quot;ebes&quot;. Sudah ada juga bahasa walikan (dari &quot;kowe&quot; menjadi &quot;ewok&quot;) namun rasanya itu masih sangat terbatas. Bahkan peristilahan slang Jakarta sempat dibuat kamus saat itu, sebagaimana kemudian bahasa &quot;salon&quot; kaum selebritis kemudian dilembagakan oleh sinetron.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kaidah Dasar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lantas muncullah kaidah (ini sekadar perkenalan singkat) yang memunculkan bahasa Sulang yang bisa dirumuskan kira-kira begini. &lt;br /&gt;
Kosa kata bebas sumbernya, boleh dari idiolek (ucapan khas) seseorang, &quot;kelucuan&quot; yang dibawa dari desa atau kota lain, boleh bahasa Jawa umum entah dari kawasan pantura, boleh bawaan perantau, boleh juga bahasa Indonesia, bahasa Inggris, pokoknya istilah yang masih bisa dijangkau orang awam. Selain itu, patokan slang Sulang terletak pada pengucapan (speech), bukan pada tulisan (&lt;i&gt;script&lt;/i&gt;). Itu sebabnya, kalau bahasa slang Sulang dituliskan, akan ketahuan dengan mudah. Entri kamus tidak diutamakan, yang digunakan adalah wicara lisan.&lt;br /&gt;
Rumus awalnya sederhana: kata yang diawali konsonan pada setiap suku-kata, yang dibalik adalah konsonan yang membawahi suku-kata, bukan membalik vokalnya. Misalnya: &quot;kowe&quot; menjadi &quot;woke&quot;, &quot;bila&quot; menjadi &quot;liba&quot;, &quot;terang&quot; menjadi &quot;retang&quot;, &quot;perang&quot; menjadi &quot;repang&quot;, &quot;jalan&quot; menjadi &quot;lajan&quot;. Masih pada kaidah ini, pada kata yang diakhiri dengan suku kata &quot;-ih&quot; dalam standar bahasa Jawa, oleh orang Sulang diucapkan &quot;-eh&quot; (dengan pengucapan &quot;e&quot; seperti ketika Anda mengucapkan &quot;beres&quot;), sehingga kata &quot;mulih&quot; menjadi &quot;lumeh&quot; dan &quot;mbalik&quot; menjadi &quot;lambek&quot;. Kemudian, pada kata jadian yang sudah diberi akhiran &quot;-an&quot;, maka akhiran tidak dibalik.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana dengan awal kata dengan suku-kata yang berupa vokal?&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
Pada kata yang terdiri dari umumnya dua suku kata, di mana suku kata awalnya diawali dengan vokal, maka pengucapan suku kata pertama tetap, namun suku kata berikutnya diucapkan dengan konsonan terbalik (seperti kaidah sebelumnya), misalnya: &quot;ora&quot; menjadi &quot; o-ar&quot; (secara cepat dalam berbicara diucapkan &quot;war&quot;, dengan &quot;w&quot; tipis seperti &quot;w&quot; dalam pengucapan kata &quot;jawa&quot;), demikian juga &quot;isa&quot; menjadi &quot;ios&quot;, &quot;alus&quot; menjadi &quot;asul&quot;, &quot;enak&quot; menjadi &quot;ekan&quot;.&lt;br /&gt;
Pada kata yang sudah sangat populer (terutama yang terdiri dari dua suku kata), biasanya suku kata belakang yang dibalik, misalnya: &quot;mudheng&quot; menjadi &quot;munget&quot; (terakhirnya bukan &quot;d&quot; tetapi &quot;t&quot; karena kata ini diucapkan, bukan dituliskan), &quot;mercon&quot; menjadi &quot;mernot&quot; (terakhirnya bukan &quot;c&quot; melainkan &quot;t&quot;), &quot;maju&quot; dengan &quot;maut&quot; (akhiran &quot;j&quot; menjadi &quot;t&quot;) dan &quot;jajan&quot; menjadi &quot; janat&quot;.&lt;br /&gt;
Kadang terdengar aneh ketika ada homophone (ucapan sama, artinya beda), seperti &quot;mbak&quot; dan &quot;pak&quot; sama-sama memiliki slang &quot;kab/kap&quot;. Atau ada kosakata yang jika dislangkan sudah ada kata asli yang artinya sama-sekali beda, misalnya &quot;lambe&quot; dan &quot;mbale&quot;, atau &quot;kor&quot; dan &quot;rok&quot;.&lt;br /&gt;
Kadang kalau sudah menjadi bahasa slang, sebuah ungkapan menjadikan makna bergeser (umumnya meluas dari arti awal atau arti sebenarnya). Namanya juga slang. Misalnya &quot;Ora isa&quot; menjadi &quot;war-yos&quot;, artinya menjadi &quot;tidak bisa, tidak mungkin, tidak akan, dan tidak memadai&quot;. &quot;Ora-enak&quot; menjadi &quot; war-ekan&quot; artinya bisa bukan sekadar &quot;tidak enak&quot;, melainkan juga &quot;tidak cantik (secara fisik), tidak nyaman, dst.&quot;&lt;br /&gt;
Anda akan ditertawakan kalau membalik kata-kata yang sudah baku, seperti membalik nama kota atau pulau yang jauh, nama ruang publik, dan nama stasiun televisi, atau yang tidak mungkin dibalik dengan kaidah-kaidah awal, misalnya: Samarinda, Tulung Agung, Serang, Jakarta, Semarang, atau Irian Jaya, terminal, stasiun, Indosiar, TransTV meskipun sebenarnya bisa dibalik berdasarkan kaidah di atas.&lt;br /&gt;
Rumitnya (atau asyiknya?) anak Sulang memiliki tradisi yang sudah turun sekitar 20 tahun (kalau diperkirakan ini muncul tahun 1980-an akhir) bahwa mereka suka memberikan &quot;nama panggilan&quot; berdasarkan kebiasaan, peristiwa bersejarah dalam hidup, plesetan nama-asli, ataupun kemiripan dengan seseorang yang sudah dikenal sebelumnya. &lt;br /&gt;
Kebiasaan memberi nama panggilan juga dikenal masyarakat Arab dan Indian, sebab itu membuat seseorang lebih bisa dikenal dan akrab daripada memakai nama asli. Ibu Imam Ali menyebut anaknya &quot;Haidzar&quot; (Singa), Kolonel Dunbar disebut orang Indian &quot;Dances with Wolves&quot; (Dansa dengan Serigala).&lt;br /&gt;
Nyaris semua anak muda yang sering bergaul dengan teman mereka, memiliki &quot;nama panggilan&quot;, yang diberikan oleh teman-nongkrong ataupun familinya sendiri. Tidak jarang mereka kesulitan melacak nama asli (kecuali ada informan dari teman seangkatan atau saudara dekat yang mengerti persis). &lt;br /&gt;
Nama baru itu kalau didengar di telinga terkadang benar- benar aneh bagi mereka yang belum mengerti historisitas pemberian masing-masing nama tadi. Misalnya: &quot;Rofiq&quot; dipanggil &quot;Kipor&quot;, ada juga seseorang yang bernama asli &quot;Slamet&quot;, oleh teman-temannya dipanggil &quot;Kamik&quot; (entah apa sebabnya), nama itu dibalik menggunakan kaidah yang telah diuraikan diatas, sehingga menjadi lebih populer dengan panggilan &quot;Makik&quot;. Pembalikan serupa terjadi pada nama &quot;Oong&quot; menjadi &quot;Ngok&quot;. Ada juga yang dinamai karena plesetan, misalnya &quot;Umar&quot; dipanggil &quot;Umplung&quot;. Ada juga yang dinamai karena suatu kejadian historis atau hal yang khas pada diri orang itu, misalnya: &quot;Wawan&quot; menjadi &quot;Emping&quot;, &quot;Edi&quot; menjadi &quot;Jegidik&quot;, &quot;Aris&quot; menjadi &quot;Lembet&quot; (dari Mbendel, dibalik menjadi &quot;Lembedh&quot; lalu resmi menjadi &quot;Lembet&quot;). Ada juga yang memiliki lebih dari satu sapaan, misalnya ada seseorang yang bernama &quot;A‘an&quot; dipanggil &quot;Lotong&quot; (ada yang tahu sebabnya?) dan berhubung dia kurus diberi panggilan &quot;Tulang&quot;. Bagusnya lagi, jarang ada nick yang diubah, adanya selalu ditambah. Orang yang diberi julukan tidak boleh marah. Orang yang memberi julukan diakui eksistensinya, dikutip setiap kali menceritakan historisitas panggilan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nick Name: Boom Interkom, Membaca Buku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebenarnya, pemberian julukan (&lt;i&gt;laqab&lt;/i&gt;) selalu berasal dari famili dan teman, namun juga dapat diberikan oleh dirinya sendiri karena suatu keharusan. &lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Siapa yang mengharuskan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Boom pemberian nama baru secara de facto dipicu oleh demam interkom (intercommunication) yang turut melanda Desa Sulang pada tahun 1980-an. Komunikasi interkom dengan catu-daya batu baterai sampai &quot;listrik masuk desa&quot; digunakan secara masif kala itu, pesawat-pesawat interkom dihubungkan dengan kabel email (jenis kabel, bukan pengertian &quot;email&quot; sekarang) membuat setiap pesawat diberi kode (kalau sekarang semacam nomor ponsel), dan para pemakai pesawat harus memiliki nick (kalau di email atau chatting) agar komunikasi menjadi lebih asyik. &lt;br /&gt;
Tiap daerah ditandai, misalnya, pesawat yang digunakan kakak saya waktu itu ditandai dengan BA-6 sehingga populer dengan sebutan &quot;Bravo Alpha Enam&quot;. Sekedar bernostalgia (tolong diralat kalau keliru), kalau butuh &quot;mojok&quot; juga bisa dilakukan dengan menyambung kabel email sendiri. Memakainya juga harus giliran dengan saudara kalau mau ikut nimbrung. &lt;br /&gt;
Mungkin sekarang kayak chatting menggunakan &lt;i&gt;GoogleTalk&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Yahoo!Voice&lt;/i&gt;. Kalau ada dua interkom (berdekatan, dalam satu rumah) yang menyala bersamaan, biasanya akan berdenging (&lt;i&gt;feedback&lt;/i&gt;). Saking maraknya demam interkom waktu itu, bagi yang tidak punya interkom bisa memanfaatkan &lt;i&gt;speaker&lt;/i&gt; bekas di radio yang sudah tidak terpakai, hanya untuk memonitor jalur udara (bisa nguping, tidak bisa ikutan bicara) tetapi memakainya harus dengan suara keras agar bisa didengar lawan bicara. Kalau jalur sedang &quot;&lt;i&gt;krodit&lt;/i&gt;&quot; (dari &quot;crowded&quot;, diartikan &quot;kacau&quot;) atau Pak Net (moderator udara) sedikit egois, &quot;suara misteri&quot; ini jarang didengarkan. Apalagi kalau memakai pesawat interkom jenis LA, melawan jenis AN yang modulasinya lebih kuat. Untungnya lagi, nick tidak dimanipulasi seperti sistem komunikasi sekarang, di mana orang bebas mengelabui lawan dengan menyamarkan IP Address (di internet) atau berganti nomor perdana ponsel. &lt;br /&gt;
Nama-udara samaran menjadi sangat populer ketika terjadi gathering maupun &quot;kopi darat&quot; (berjumpa di kehidupan nyata) dan bukan kebetulan kalau pengguna interkom lebih sering bertemu daripada para pemakai ORARI. Sekadar mengingat beberapa nama yang waktu itu sempat nongkrong di udara, antara lain: Ogah (Gatut), Bromocorah (Mantan Lurah, Supriyanto), Lopez, Ray-Bush, Gepeng (Mustiyo), Harjo Kempul, Goglek (Man Brang Lor), Gobet (Sudaryanto), Rano Karno (Blethik Juri) dll. &lt;br /&gt;
Sampai sekarang, mereka ini masih banyak yang dipanggil dengan nama udara, dan sekarang mereka berbaur dengan adik-adik dan anak mereka dengan realitas kehidupan sekarang, dengan ponsel dan warung kopi. Tradisi pemberian nick lantas muncul sebagai hal yang dianggap biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perpustakaan Keliling dan Ledakan Literasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Faktor lain yang membuat mereka suka menggunakan nama-lain, karena demam bacaan yang (lagi-lagi) muncul pada akhir tahun 1980-an. Waktu itu Sulang &quot;kedatangan&quot; proyek Perpustakaan Keliling dan taman bacaan. Kami menyebutnya &quot;Perling&quot; (akronim dari &quot;perpustakaan keliling&quot;). Setiap Jum&#39;at sore, anak-anak SD dan SMP tidak mengikuti sekolah madrasah karena madrasah masuk libur pada hari Jum&#39;at (bukan Ahad). Biasanya, anak-anak SD dan SMP mengalami rutinitas yang ketat dalam belajar: pagi sekolah, siang jam 14.00 masuk madrasah diniyah (namanya Madrasah Diniyyah Annuroniyyah, lokasinya di daerah Pesantren Sulang), lalu sepulang madrasah malamnya harus mengaji sampai jam delapan atau belajar kelompok mengerjakan PR. Mereka membutuhkan hiburan. Salah satunya adalah membaca komik dan buku cerita anak. &lt;br /&gt;
Perpustakaan Keliling menyediakan komik &lt;i&gt;Lucky Luke&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Asterix&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Storm&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Tintin&lt;/i&gt;, juga novel &lt;i&gt;Lima Sekawan&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Sapta Siaga&lt;/i&gt;, dan ratusan bacaan ilmiah yang sering dikonsumsi anak dan remaja. Tidak ada serial Superhero (Superman, Batman, Spiderman, cs.). Tidak ada pornografi. &lt;br /&gt;
Anak-anak kecil (kelas IV-VI SD) sampai SMA sudah antri, duduk di teras Kawedanan Sulang sambil mempraktekkan serunya cerita, lalu berjubelan antri mengembalikan, memilih bacaan, dan meminjam komik atau buku. Saya teringat bagaimana rasanya meminta tanda tangan guru untuk mendapatkan kartu anggota Perpustakaan Keliling. Buku sudah di tangan, mereka harus membaca di sela waktu belajar, sesekali menggambar dengan pulas (pensil warna) dan watercolor tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;
Zaman dahulu di desa Sulang, kalau mau puas dengan mainan, harus membuat mainan sendiri, bukan membeli atau menonton seperti sekarang. Lantas kalau bertemu teman sekelompok di sekolah, mereka akan bercerita, membandingkan kehebatan tokoh-tokohnya, dan akhirnya kebiasaan berkelompok-sebaya muncul dengan sendirinya. Bagi yang lebih dewasa, mereka lebih suka memanfaatkan taman bacaan. Rembang sudah ada taman bacaan &quot;Pemuda&quot; dan sempat invasi bisnis ke Desa Sulang (lokasinya di rumah Pak Kardi, dekat Gang Amuga (Anak Muda Gaplokan), berseberangan dengan rumahnya Lopez dan Retno. Koleksi Taman Bacaan Pemuda yang di Desa Sulang juga lumayan komplet: ada komik-komik karya Djair, Ganesh TH., Arie, novel Agatha Christie, Lupuz, cerita silat Kho Ping Hoo, bahkan majalah-majalah bekas untuk anak muda seperti HAI (waktu itu masih mengajarkan caranya menulis dan menjadi &quot;majalah remaja pria&quot;, bukan melulu musik dan motor seperti sekarang) dan Aneka Ria (bukan Aneka Yess) juga disewakan. &lt;br /&gt;
Kebiasaan &quot;membaca buku&quot; akhirnya justru menjadi pemicu lahirnya banyak tongkrongan dan membuka peluang menerima &quot;tokoh-tokoh baru&quot; dalam kehidupan setiap orang. Harus diakui, tidak semua orang suka membaca buku, tetapi dari lingkaran kecil inilah mereka muncul meneruskan tradisi nongkrong, menginjeksikan peristilahan asing dalam percakapan sehari-hari, dari komik sampai &lt;i&gt;Kho Ping Hoo&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Postscript&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Begitulah slang yang masih berlaku di Sulang, mereka gunakan untuk nongkrong dan menikmati segelas kopi hitam sambil meleletkan ampas kopi halus ke rokok mereka. Tidak lama kemudian, bahasa slang Sulang bercampur dengan kosakata keseharian yang didapat secara perlahan-lahan, masuk secara tidak sadar di semua percakapan.&lt;br /&gt;
Bukan hal yang mengherankan kalau di saat nongkrong, Anda akan selalu menemukan istilah dan &quot;umpatan&quot; (tidak selamanya kata-kata kotor) yang selalu baru. Mungkin ada yang ingin lebih lanjut meneliti kekayaan bahasa ini, silakan mendatangi Sulang. Penulis bisa memastikan, akar historis bahasa slang anak muda Sulang masih bisa dilacak, masih bisa menemukan para pengembangnya dalam setidaknya dua lapis generasi. Dan masih dikembangkan sampai sekarang. Semoga tidak punah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bagaimana dengan bahasa di desamu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Sulang, 10:39 AM 10/10/2011&lt;br /&gt;
:))</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/06/bahasa-anak-muda-sulang.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-5769996854298306535</guid><pubDate>Sun, 05 May 2013 06:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-18T12:16:08.294+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">understanding</category><title>Kecerdasan Budaya : Kecerdasan Bekerja</title><description>&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-uIjwgxdDEFE/UX5ZliPCH1I/AAAAAAAAC48/qrbkVtYwnYk/s1600/cultural-intelligence-4138_750_323_s_c1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;276&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-uIjwgxdDEFE/UX5ZliPCH1I/AAAAAAAAC48/qrbkVtYwnYk/s640/cultural-intelligence-4138_750_323_s_c1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;


&lt;i&gt;Setelah kecerdasan [pernah] diukur dengan angka, orang kemudian ramai memakai -emosi- dan -spiritualitas-. Sekarang &quot;kecerdasan budaya&quot; (cultural intelligent) sedang marak dikembangkan dan akan menjadi kebutuhan siapapun di masa mendatang. Bagaimana cara mengukur &quot;kecerdasan budaya&quot;?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Budaya: Peradaban dan Metode&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pengertian &quot;budaya&quot; (&lt;i&gt;culture&lt;/i&gt;) pada awalnya adalah &quot;peradaban&quot; (&lt;i&gt;civilization&lt;/i&gt;), termasuk di dalamnya adalah: pendidikan (education), budi pekerti (manners), seni (art), dll. &quot;Budaya&quot; juga berarti cara manusia berpikir, me-rasa, dan bertindak. Setiap orang, sebuah kelompok, atau bahkan negara, memiliki &quot;kecerdasan budaya&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5 Dimensi Kecerdasan Budaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tentu saja ada dimensi kecerdasan budaya yang digunakan untuk melihatnya, seperti yang diajukan Hostfede. 
Dimensi &quot;kecerdasan budaya&quot; ada 5 (lima), yaitu:&lt;br /&gt;
1. &lt;b&gt;Power Distance&lt;/b&gt; (Jarak Kekuasaan), mengukur ketidaksamaan.&lt;br /&gt;
2. &lt;b&gt;Individualism&lt;/b&gt; (Individualisme), derajat di mana seseorang diintegrasikan dalam kelompok.&lt;br /&gt;
3. &lt;b&gt;Uncertainty Avoidance&lt;/b&gt; (pengabaian ketidakmenentuan), apa yang membuat seseorang merasa nyaman atau tak-nyaman dalam situasi tak-terstruktur.&lt;br /&gt;
4. &lt;b&gt;Masculinity&lt;/b&gt; (maskulinitas), yaitu peran distribusi emosi antargender.&lt;br /&gt;
5. &lt;b&gt;Long-Term Orientation&lt;/b&gt; (Orientasi Jangka-Panjang), Masyarakat dengan orientasi jangka panjang, membantu perkembangan kebaikan pragmatis yang berorientasi pada reward di masa mendatang, penabungan khusus, ketekunan, dan beradaptasi pada keadaan yang terus berubah. Masyarakat yang berorientasi jangka pendek, sebaliknya lebih suka kebaikan yang terhubung pada masa lalu dan kini, seperti kebanggaan nasional, menghormati tradisi, pemeliharaan &quot;muka&quot; (penampakan-luar), dan memenuhi kewajiban sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hostfede, lembaga yang rajin mengadakan &lt;i&gt;webinar&lt;/i&gt; (seminar via website) telah membuat aplikasi pengukur dan pembanding &quot;kecerdasan budaya&quot;, silakan sesuaikan dengan negara yang Anda pilih.&amp;nbsp;
&lt;br /&gt;
Contoh hasil untuk Indonesia, bisa dilihat di sini:&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://geert-hofstede.com/indonesia.html&quot;&gt;http://geert-hofstede.com/indonesia.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
*) Dimensi &lt;b&gt;LTO&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;Long-Term Orientation&lt;/i&gt;) sepertinya belum bisa memunculkan hasil. Apakah karena dimensi ini sensitif? 
Ada baiknya Anda menilai kelima dimensi di atas, atau mungkin Anda mengajukan dimensi tersendiri.&lt;br /&gt;
Sepertinya, sekarang memang sedang terjadi &lt;b&gt;pergeseran budaya&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;cultural shift&lt;/i&gt;), sehingga &quot;ukuran&quot; kecerdasan budaya perlu mendapatkan perhatian para pendidik.
Kecerdasan Budaya tidak bersifat &quot;&lt;i&gt;innate&lt;/i&gt;&quot; (bawaan-lahir), kecerdasan ini [bisa] dibentuk.&lt;br /&gt;
Saat Anda bertemu rekan diskusi yang menjengkelkan, atau harus mengerjakan job secara team-work, atau berkenalan dengan orang, kecerdasan budaya sangat diperlukan.&lt;br /&gt;
Terbentuknya &quot;dorongan&quot; (&lt;i&gt;drive&lt;/i&gt;) untuk &lt;b&gt;belajar bahasa asing&lt;/b&gt; dan bersikap terbuka (&lt;i&gt;open-mind&lt;/i&gt;) adalah langkah awal yang baik. Anda juga harus belajar kebudayaan orang lain, kelompok lain, ataupun negara lain. Atau mungkin subkultur lain. Seseorang yang hobby menggunakan Facebook memiliki personalitas berbeda dari pemakai Google Plus.&lt;br /&gt;
Perlu menyengaja belajar budaya &quot;orang lain&quot;, dengan pintasan (seperti melalui film, artikel, atau fotografi) maupun secara langsung. Kecerdasan budaya, pada tahapan ini merupakan &quot;pengetahuan&quot; (&lt;i&gt;knowledge&lt;/i&gt;) yang harus dipelajari.&lt;br /&gt;
Tahapan berikutnya adalah melatih &quot;insting&quot; untuk mengembangkan strategi &quot;memasuki&quot; kebudayaan orang lain. Selalu munculkan pertanyaan, &quot;Ada apa dengan perilaku orang ini? Mengapa dia melakukan hal ini?&quot;. Tanpa melibatkan-diri secara &quot;emosional&quot; dan ber-empati. 
Tindakan lintas-budaya, pada akhirnya bukan hal mudah.&lt;br /&gt;
Memahami satu orang (misalnya boss Anda) kadang butuh banyak strategi untuk memasuki kebudayaan si Boss. 
Sekarang ini, istilah &quot;cultural intelligence&quot; sudah membentuk portal tersendiri di mesin pencari. Pendidik dengan &quot;kecerdasan budaya&quot; tinggi, mendapatkan posisi baik di sekolah-sekolah dengan latar belakang siswa lintas-budaya.&lt;br /&gt;
Urbanisasi, migrasi, pekerjaan antarnegara, jejaring sosial, dan kompleksitas masalah manusia modern, menyebabkan terjadinya kepentingan lintas-budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menjadi cerdas, tidak hanya diukur dari sisi &quot;emotional&quot;, &quot;spiritual&quot;, atau sebuah angka tetapan (&lt;i&gt;quotient&lt;/i&gt;). Kecerdasan budaya akan menjadi sangat signifikan di masa mendatang. Mungkin Anda merasa tidak perlu merasa cerdas, namun, saat bekerja dan berinteraksi dengan orang lain, kecerdasan budaya itu harus, demikian pula saat seorang anak kecil harus bertemu dengan kawannya di sekolah dengan latar belakang bahasa-ibu dan perilaku budaya berbeda, anak kecil itu akan dibekali dengan kecerdasan budaya yang tidak bisa diseragamkan dengan satu etika universal ataupun norma agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Day Milovich,,&lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, temanmu. </description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/05/kecerdasan-budaya-kecerdasan-bekerja.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-uIjwgxdDEFE/UX5ZliPCH1I/AAAAAAAAC48/qrbkVtYwnYk/s72-c/cultural-intelligence-4138_750_323_s_c1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3184119877769749989.post-5520288018846929205</guid><pubDate>Fri, 19 Apr 2013 03:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-18T12:09:51.278+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">indonesia</category><title>Budaya Makan, Kolonialisme Baru, dan Janji Politik</title><description>Budaya makan menjadi faktor penyebab berubahnya peta dunia, menjadi penjajahan antarbangsa. Ritual baru masyarakat modern berubah karena budaya makan. Jika tidak dikontrol, budaya makan bisa membahayakan tubuh, bahkan daya dukung lingkungan hidup di bumi. &lt;br /&gt;
Suatu kali, saya mencari jus buah kawis, banyak dijual di pinggir jalan kota Rembang namun sulit didapatkan di kota lain. Kawis termasuk tanaman yang tidak mudah dibawa ke kota lain. Saya minum jus itu bersama seorang kawan, pelan-pelan cerita merembet pada buku bacaan di sekolah, musim ujian, dan &quot;menjolok jambu&quot; di rumah nenek. Bacaan tahun 1980-an di sekolah dasar, yang menjelaskan &quot;nyiur melambai&quot;, kopra, kina, tembakau, gula, kopi, padi, jamu, dan ikan melimpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Makanan, Motif Penjajahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bacaan yang menjelaskan bagaimana sebuah mitos tentang Dewi Sri, dewi kesuburan, masih menjadi satu dengan materi ajar para guru di sekolah. Kami, sampai sekarang, masih &quot;doyan nasi&quot;, merokok, menikmati kawis, dan mencari ikan di sungai. &lt;br /&gt;
Saya membayangkan, setelah membaca buku-buku sejarah, bagaimana Belanda membawa rempah-rempah ke Eropa, memaksa petani menanam petani, menghadapi wabah, dan menyebarkan ganja. Budaya makan orang Belanda dan cara mereka menikmati hidup, adalah pendorong terjadinya perdagangan, tanam paksa, dan kolonialisme di Nusantara. Kalau orang Belanda tidak suka rempah-rempah dan kopi, mungkin lain cerita. Begitu pula yang terjadi pada Inggris terhadap India dan Amerika terhadap Timur Tengah. Secara langsung ataupun tidak langsung, kolonialisme yang terjadi karena makanan, terus terjadi, merubah peta politik dan ekonomi dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Krisis Pangan, Peraturan Barat&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Bukan rahasia pula, sekarang dunia sangat kekurangan pasokan bahan mentah makanan. Sistem makanan dunia dalam sepuluh tahun terakhir, menurut World Bank dan Organisasi Pangan Dunia, berada di ambang mengkhawatirkan. Bahkan lingkungan hidup semakin terancam akibat budaya makan manusia yang tidak terkontrol. Manusia tidak takut lagi pada kemarahan Dewa Bumi yang kesakitan karena manusia merusak lingkungan hidup. &lt;br /&gt;
Sekarang kekuatan &quot;cerita&quot; dari buku bacaan di sekolah dasar zaman saya, sudah dikalahkan standarisasi produk dan lisensi kesehatan tentang cara menanam dan tanaman apa yang boleh diperdagangkan. Jika tidak, Anda dianggap menanam sesuatu yang membahayakan &quot;kesehatan&quot; orang lain. Menjadi sehat lebih banyak terkait apa yang kita makan, begitulah yang diajarkan televisi dan artikel kesehatan. Lisensi, dunia iklan, dan perusahaan-perusahaan besar menyebarkan bagaimana seharusnya budaya makan dibentuk, sesuai cara &quot;mereka&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Makanan dan Mitos Makanan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Banyak mitos tentang makanan baik dan makanan buruk untuk tubuh manusia. Mitos ini disebarkan dalam pertarungan bisnis, melalui artikel-artikel ilmiah, &quot;sesuai pesanan&quot;. Dulu orang Indonesia tidak begitu menyukai es krim, namun setelah melihat kandungan gizinya, orang ramai membeli es krim dan merayakan kemenangan kecil dengan es krim. Es krim merupakan makanan dengan glycemix index rendah, gula yang dilepaskan lebih sedikit, itu sebabnya rasa es krim di lidah lebih tahan lama, sama halnya dengan bertahannya rasa kopi dan teh kental. Satu es krim rata-rata berisi 114 kalori, seimbang dengan sepertiga kebutuhan rata-rata manusia, belum lagi vitamin dan kandungan bahan lain: coklat, strawberry, dll. &lt;br /&gt;
Fakta kesehatan, yang disebarkan artikel ilmiah tentang makanan, akhirnya merubah persepsi dan daya terima masyarakat. Orang menjadi &quot;berjarak&quot; terhadap makanan-makanan tertentu, bahkan dianggap sebagai &quot;musuh&quot; bagi tubuh. 10 jenis makanan populer yang dianggap musuh, adalah: minyak sayur, pasta, roti tawar, soup mix, saus, minuman diet berkarbonasi, keju terproses, saus kecap, dan jus jeruk. Saus kecap, misalnya, memiliki antioksidan tinggi tetapi tidak diimbangi isoflavone. &lt;br /&gt;
Sedangkan contoh konsumsi yang dianggap buruk namun sebenarnya &quot;baik&quot;, antara lain: kafein (dipakai di dunia medis untuk relaksan otot bagi penderita bronchitis). Anggur merah sejak 6000 SM dikonsumsi orang Iran dan Israel, mengandung polyfenol, mengurangi resiko kanker. Cokelat, dari Africa, dikonsumsi sejak 1400 SM mengandung panacea, mengandung antitoxine banyak, dan bisa merubah mood menjadi lebih baik.  Bir, disebut sebagai &quot;roti cair&quot;, bagus bagi tubuh, karena mengandung magnesium, selenium, potassium, phosphorus, biotin, dan vitamin B. Bir bisa menurunkan resiko sakit kepala, stroke, dan penurunan mental. Tembakau bisa mengurangi resiko Alzheimer, dikembangkan sebagai terapi untuk mengobati autisme dan &lt;i&gt;schizophrenia&lt;/i&gt;. Indonesia memiliki Dr. Greta Zahar yang melakukan penelitian puluhan tahun tentang terapi kesehatan menggunakan tembakau. &lt;br /&gt;
Mungkin Anda memprotesnya atau mendukung fakta kesehatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tubuh sebagai Medan Kontroversi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kontroversi seperti ini, mencitrakan tubuh sebagai sistem organ yang tak lagi terpisah dari &quot;orang lain&quot; (setiap tubuh adalah tubuh yang berjual-beli), tubuh bentukan sosial (tempat berlangsungnya pertarungan resep makanan dari pelbagai kebudayaan), tubuh medis yang rentan terhadap segala macam penyakit. Budaya makan telah mendefinisikan-ulang pengertian &quot;tubuh&quot; yang tak lagi biologis, bukan lagi entitas hidup yang membutuhkan makan, melainkan tubuh yang beradaptasi dan berjuang mengusahakan makanan, sekaligus memilih makanan yang paling sehat. &lt;br /&gt;
Fakta yang terjadi adalah: ritual kehidupan manusia modern banyak yang berubah setelah terjadinya penyebaran makanan dari kota ke kota, dari negara ke negara, bahkan antarbenua. Harap diingat, bahwa makanan itu disebarkan (dengan budidaya tanaman dan pembiakan hewan), diperebutkan (nama dan resepnya), dirampas (dengan penjajahan, kolonialisme), dan diperdagangkan dengan sistem ekonomi baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Makanan, Janji Politik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Suatu kali, saya pernah menemukan poster di kampanye pilkada di sebuah kota, bergambar seorang tokoh dan sebuah seruan: &quot;merdeka atau lapar!&quot;. Merdeka menjadi &quot;option&quot; yang berlawanan dengan &quot;lapar&quot;, sebab lapar membuat orang mudah tergoda melakukan &quot;korupsi&quot;, kata yang diturunkan dari &quot;corrupt&quot;, berarti &quot;berbuat kerusakan&quot;. Lapar membuat orang mudah terjajah, membuka kolonialisme mental, diperbudak keinginan. &lt;br /&gt;
Tidak perlu berharap banyak pada janji. Jika Anda bisa &quot;survive&quot; menghadapi krisis makanan, kebergantungan pada janji politik sudah tidak penting lagi. Makanan, bisa merubah segalanya. Merubah tubuh ataupun negara. &lt;br /&gt;
Apa yang Anda makan hari ini?&lt;br /&gt;
--- &lt;br /&gt;
Day Milovich,, &lt;br /&gt;
Webmaster, artworker, tinggal di Semarang</description><link>http://modusgetar.blogspot.com/2013/04/budaya-makan-kolonialisme-baru-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Day Milovich)</author><thr:total>1</thr:total></item></channel></rss>