<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399</id><updated>2025-02-14T20:31:06.901+07:00</updated><title type='text'>&quot;MP&quot;DAARUTTHOLABAH</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-1085642511833579564</id><published>2024-06-19T17:43:00.000+07:00</published><updated>2024-06-19T17:43:24.045+07:00</updated><title type='text'>SYEKH ABDUL MALIK/ MBAH MALIK KEBUMEN</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;320&quot; data-original-width=&quot;255&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOsHVnaMl2Oq521qGRgMRjV2dcDS8KSmPzZgBUrRFcAjO5JzSdg_k0ZtVQjWVbQDMb-7XLzvOPJHovISQOxEwLNl1wnw5l351VKOCKN4hbokeKtyqI4qnqA6eM8YjtQr9akCgSzFZFs1fdXB80b0-8Wn1VOJ7jNxc9yGCf48QA0J_2rOvQTT4_jjjbwS7n/w321-h320/MBAH%20ABD%20MALIK%20KEBUMEN.png&quot; width=&quot;321&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Beliau adalah sosok ulama yang cukup di segani di kebumen
propinsi jawa tengah. Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai
mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah
Asy-Syadziliyah. Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh
secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad
Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki
(Mekkah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat
besar, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalwat
sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur’an.
Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering
disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad.” Dan itu adalah
shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun
shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud,
tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang
melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan
sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar
umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama
dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah,
seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih
(Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan
Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri
sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,”Apakah
kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah
seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah
Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani,
Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya
bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau
menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum’at 3
Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya adalah Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul
Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah
haji bersamanya. Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan
dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya
yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayahnya, Asy-Syaikh kemudian mendalami kembali
Al-Qur’an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas). Pada
tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang
ayah, ia dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari
berbagai disiplin ilmu agama diantaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an,
Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain. Asy-Syaikh belajar di Tanah suci dalam
waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru
kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ (putra penulis kitab
I’anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid
Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi
bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad
Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah
alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas,
Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin
Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin
Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Raidwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani
(kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al
Makki, Sayid Ali Ridha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H,
Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada
keduaorang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut). Kemudian pada
tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai
daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan
kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan
saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi
menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Perlu diketahui,
Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal
Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh. Mereka bekerjasama dengan
Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang
cukup lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu
agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana. Berkat keluasan dan
kedalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni
pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Mekkah dan juga diberi
kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah
berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau
tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh
Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Ma’shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali
menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab
Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada
Asy-Syaikh Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang),
KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh
(Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka
kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepada Syaikh Abdul Malik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat
santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan
silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di
Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja,
dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar,
Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang
dan terkadang pakaian sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara
pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah
An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa
dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik diantaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH
Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang),
KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam
Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH
Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh
Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh
Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau,
baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca
bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun
sendiri, yaitu Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala
babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani.
Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila
dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak
seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari
siksa neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April
1980) dan dimakamkan keesokan harinya lepas shalat Ashar di belakang masjid
Baha’ul Haq wa Dhiya’uddin, Kedung Paruk Purwokerto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sumber :&amp;nbsp;https://barokahwali.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/1085642511833579564/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/syekh-abdul-malik-mbah-malik-kebumen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/1085642511833579564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/1085642511833579564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/syekh-abdul-malik-mbah-malik-kebumen.html' title='SYEKH ABDUL MALIK/ MBAH MALIK KEBUMEN'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOsHVnaMl2Oq521qGRgMRjV2dcDS8KSmPzZgBUrRFcAjO5JzSdg_k0ZtVQjWVbQDMb-7XLzvOPJHovISQOxEwLNl1wnw5l351VKOCKN4hbokeKtyqI4qnqA6eM8YjtQr9akCgSzFZFs1fdXB80b0-8Wn1VOJ7jNxc9yGCf48QA0J_2rOvQTT4_jjjbwS7n/s72-w321-h320-c/MBAH%20ABD%20MALIK%20KEBUMEN.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-2505950706517810816</id><published>2024-06-17T16:15:00.000+07:00</published><updated>2024-06-17T16:15:50.601+07:00</updated><title type='text'>SEKILAS SEJARAH PONPES API TEGALREJO MAGELANG</title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;img alt=&quot;Hasil gambar untuk ponpes api tegalrejo magelang&quot; class=&quot;rg_i&quot; data-src=&quot;https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6sJClWRm_UIp3ma8xRi97eS6ufeJsqKd217tlrWxV-IgN2UXguw&quot; data-sz=&quot;f&quot; height=&quot;289&quot; name=&quot;5APhuHgtK-VXcM:&quot; src=&quot;https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6sJClWRm_UIp3ma8xRi97eS6ufeJsqKd217tlrWxV-IgN2UXguw&quot; style=&quot;font-family: helvetica; margin-left: -3px; margin-right: -1px; margin-top: 0px;&quot; width=&quot;652&quot; /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;post-header&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo didirikan pada tanggal 15 September 1944 oleh&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH. Chudlori&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yaitu seorang ulama yang juga berasal dari desa Tegalrejo. Beliau adalah menantu dari&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH. Dalhar&lt;/b&gt;&amp;nbsp;pengasuh Pondok Pesantren ”DAARUSSALAM” Watucongol Muntilan Magelang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;KH. Chudlori mendirikan Pondok Pesantren di Tegalrejo pada awalnya tanpa memberikan nama sebagaimana layaknya Pondok Pesantren yang lain. Baru setelah berkali-kali beliau mendapatkan saran dan usulan dari rekan seperjuangannya pada tahun 1947 di tetapkanlah nama&amp;nbsp;&lt;b&gt;Asrama Perguruan Islam (API)&lt;/b&gt;. Nama ini ditentukannya Beliau sendiri yang tentunya merupakan hasil dari sholat Istikharoh. Dengan lahirnya nama Asrama Perguruan Islam, beliau berharap agar para santrinya kelak di masyarakat mampu dan mau menjadi guru yang mengajarkan dan mengembangkan syariat-syariat Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Adapun yang melatar belakangi berdirinya Asrama Perguruan Islam adalah adanya semangat jihad ”Li i’Lai kalimatillah” yang mengkristal dalam jiwa sang pendiri itu sendiri. Dimana kondisi masyarakat Tegalrejo pada waktu itu masih banyak yang berlumuran dengan perbuatan-perbuatan syirik dan antipati dengan tata nilai sosial yang Islami. Respon Masyarakat Tegalrejo atas didirikannya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo pada waktu itu sangat memprihatinkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Karena pada saat itu masyarakat masih kental dengan aliran kejawen. Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatan ta’lim wa-taa’llum (kegiatan belajar-mengajar).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sebagai seorang ulama yang telah digembleng jiwanya bertahun-tahun di berbagai pesantren, KH. Chudlori tetap tegar dalam menghadapi dan menangani segala hambatan dan tantangan yang datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivX7b8TjqkL5Ck-X0GoLiutaF-QEuUyaR_j0u5lPF0Pe8y5aDu8n8ARluYp0GW6i9Qb1oyG_4dJV_MXUEcmdJORNuszK-xAhVJQtYbdqIv6O9t-XJB5dApOafz7PwN9tjkcAcxqY3we_i1mLZSAvoqNM8OLBRtnk7AuiTw4mgGNKpQnGM4Yvfl_xwzsy5a/s297/SIMBAH%20KHUDORI.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;170&quot; data-original-width=&quot;297&quot; height=&quot;186&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivX7b8TjqkL5Ck-X0GoLiutaF-QEuUyaR_j0u5lPF0Pe8y5aDu8n8ARluYp0GW6i9Qb1oyG_4dJV_MXUEcmdJORNuszK-xAhVJQtYbdqIv6O9t-XJB5dApOafz7PwN9tjkcAcxqY3we_i1mLZSAvoqNM8OLBRtnk7AuiTw4mgGNKpQnGM4Yvfl_xwzsy5a/w345-h186/SIMBAH%20KHUDORI.jpeg&quot; width=&quot;345&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Berkat ketegaran dan keuletan KH. Chudlori dalam upayanya mewujudkan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam baik secara dhohir maupun batin. Santri yang pada awal berdirinya hanya berjumlah delapan, tiga tahun kemudian sudah mencapai sekitar 100-an. Prestasi ini jika di identikan dengan prestasi para pendiri pondok pesantren dalam era kemajuan ini, barang kali biasa-biasa saja. Akan tetapi kalau melihat situasi serta kondisi serta sistem sosial yang berlaku pada saat itu sungguh prestasi KH. Chudlori merupakan prestasi yang lebih. Aksi negatif masyarakat seputar setelah tiga tahun API berdiri semakin mereda, bahkan diantara mereka yang semula antipati ada yang berbalik total menjadi simpati dan ikhlas menjadi pendukung setia dengan mengorbankan segala dana dan daya yang ada demi suksesnya perjuangan KH. Chudhori.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Akan tetapi di luar dugaan dan perhitungan pada awal tahun 1948 secara mendadak API diserbu Belanda tepat pada “Kles II”. Gedung atau fisik API yang sudah ada pada waktu itu diporak porandakan. Sejumlah 36 kitab termasuk Kitab milik KH. Chudhori dibakar hangus, sementara santri-santri termasuk KH.Chudhori mengungsi ke suatu desa yang bernama Tejo kecamatan Candimulyo. Kegiatan taklim wa-taalum nyaris terhenti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Pada penghujung tahun 1949 dimana situasi nampak aman KH.Chudhori kembali mengadakan kegiatan taklim wa-taalum kepada masyarakat sekitar dan santripun mulai berdatangan terutama yang telah mendengar informasi bahwa situasi di Tegalrejo sudah normal kembali, sehingga KH.Chudhori mulai mendirikan kembali API lagi di tempat semula. Semenjak itulah API berkembang pesat seakan bebas dari hambatan, sehingga mulai tahun 1977 jumlah santri sudah mencapai sekitar 1500-an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Inilah puncak prestasi KH.Chudhori di dalam membawa API ke permukaan umat. Adalah merupakan suratan taqdir, dimana pada saat API sedang berkembang pesat dan melambung ke atas, KH.Chudhori dipanggil kerahmatullah (wafat), sehingga kegiatan taklim wat-Taalum terpaksa diambil alih oleh putra sulungnya (KH. Abdurrohman Ch) dibantu oleh putra Keduanya (Bp. Achmad Muhammad Ch).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhulNoy80vXqy9DDHFtDE5Y7FMUXwBPtIn9kbUyM2izSr-qQQIadC1YESU0cY-sSze7E17jtakAGgXtUp2o3R_GEPdI50uxI3b2tu-L95CarfXEM3Ca3KnsLIl8c27ocNQBRlNnwR7seRHdJwoE-7B6ZTN_PPbqz8lQTX4-CSzMZQNtblIg4TypO782-3Y1/s275/dzuriyah%20tegalrejo.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;183&quot; data-original-width=&quot;275&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhulNoy80vXqy9DDHFtDE5Y7FMUXwBPtIn9kbUyM2izSr-qQQIadC1YESU0cY-sSze7E17jtakAGgXtUp2o3R_GEPdI50uxI3b2tu-L95CarfXEM3Ca3KnsLIl8c27ocNQBRlNnwR7seRHdJwoE-7B6ZTN_PPbqz8lQTX4-CSzMZQNtblIg4TypO782-3Y1/w488-h212/dzuriyah%20tegalrejo.jpeg&quot; width=&quot;488&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Peristiwa yang mengharukan ini terjadi pada penghujung tahun 1977. Sudah menjadi hal yang wajar bahwa apabila di suatu pondok pesantren terjadi pergantian pengasuh, grafik jumlah santri menurun. Demikian juga API pada awal periode KH. Abdurrohman Ch jumlah santri menurun drastis, sehingga pada tahun 1980 tinggal sekitar 760-an. Akan tetapi nampak keuletan dan kegigihan KH.Chudhori telah diwariskan kepada KH. Abdurrohman Ch, sehingga jumlah santri bisa kembali meningkat sampai pada tahun 1982 menurut catatan sekretaris mencapai 2698 santri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Disini perlu dimaklumi oleh pembaca bahwa dari awal berdirinya hingga sekarang, API hanya menerima santri putra. Meskipun usulan dan saran dari berbagai kalangan saling berdatangan, namun belum pernah terpikirkan secara serius untuk mendirikan pondok pesantren putri hingga saat itu. Hal ini dapat dimaklumi karena faktor sarana dan prasarananya kurang mendukung terutama persediaan air bersih dan tanah lokasi. Dan Baru ada Santri Putri pada tahun 2000an.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;168&quot; data-original-width=&quot;300&quot; height=&quot;196&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcJ9IWgaJJYk9v5mnWtKDD0vOHUn9IAWqsStWOzS0WKH07VsgI-gIBI18e768RNUrZYgcwgd6GznUGQJHnqMv8vZzxXl1w9vdjgL8Sx7G9Hp-ft9XenXWtcS1TfUG5ddfeT1cSzGjYTkvUjWPhyVn8Wl9PO5GE5qSJUjVYO16daibXjcILjlS_yEkDEx36/w373-h196/GUS%20DUR%20DAN%20API%20TEGALREJO.jpeg&quot; width=&quot;373&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;ALMARHUM (allohu yarhamhu) KH Abdurrahman Wahid. Mantan ketua Tanfidz PBNU dan Presiden RI, tercatat sebagai salah seorang alumni Ponpes tegalrejo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Adapun program pendidikan (salaf) yang diselenggarakan sejak dahulu menggunakan sistem klasikal. Bentuk pendidikan yang ada berupa madrasah yang terdiri dari 7 kelas. Kurikulum yang dipakai di kelas 1 sampai kelas terakhir secara berjenjang mempelajari khusus ilmu agama, baik itu fikih, aqidah, akhlaq, tasawuf dan ilmu alat (nahwu dan sharaf) yang semuanya dengan kitab berbahasa Arab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kitab-kitab yang diajarkan di bidang fikih antara lain safinatun- Najah, fathul Qarib, Minhajul Qowim, Fathul Wahhab, al- Mahalli, Fathul Mu’in, dan Uqdatul-Farid. Di bidang ushul fiqh antara lain Faraidul – Bahiyah. Di bidang tauhid antara lain ‘Aqidatul ‘Awam. Dan dibidang akhlaq / Tasawwuf antara lin kitab Ihya Ulumuddin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Kelas satu sampai dengan tujuh di PP Tegalrejo, oleh masyarakat lebih dikenal dengan nama kitab yang dipelajari seperti :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat I dikenal Jurumiyah Jawan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat II dengan nama Jurumiyah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat III dengan nama Fathul Qarib/Shorof&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat IV dengan Alfiyah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;tingkat V dengan Fathul Wahab&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;tingkat VI dengan Al Mahalli&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;tingkat VII dengan Fathul Mu’in/Bukhori&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Tingkat VIII dengan Ihya&#39; Ulumuddin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kegiatan Ekstrakulikuler&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Sejak tahun 1993, PP Tegalrejo juga aktif setiap bulan Ramadhan mengirimkan santri seniornya ke daerah-daerah yang membutuhkan dai/mubaligh. Daerah yang sering mengajukan permintaan antara lain Gunung Kidul, Wonogiri, Bojonegoro, Sragen dan Banyumas. Dilingkungan PP ini juga diselenggarakan Bahtsul masail, yakni pembahasan masalah-masalah yang sedang aktual di tengah-tengah masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Kegiatan lainnya adalah Jam’iyatul Quro, yakni membaca Al Qur’an secara bersama-sama. Juga “Khitobah Komplek” yaitu latihan pidato guna bekal santri berdakwah di tengah-tengah masyarakat di kemudian hari saat sudah lulus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Ada juga pengajian rutin setiap hari Senin di Masjid Jami Al Muhajirin Tegalrejo dan ini dikenal dengan nama acara Pengajian Seninan Yang di hadiri oleh ribuan orang, bukan cuma masyarakat sekitar tegalrejo saja,namun juga ada yang dari magelang dan kota-kota sekitarnya seperti ; Temanggung, Parakan, kebumen, Purworejo, jogja dan sekitarnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Adapun Untuk Para Alumni Yang Sudah Muqim ada Pertemuan rutin yang digelar setiap 35 hari sekali, yaitu pada malam Ahad Kliwon. Acara ini juga lebih dikenal sebagai acara Selapanan /Alumninan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Kini setelah wafatnya Almukarrom&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH ABDURROHMAN CH&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dan juga Bapak&amp;nbsp;&lt;b&gt;AHMAD MUHAMMAD CH (GUS MUH)&lt;/b&gt;, Pesantren API Dipegang oleh adik-adik, para menantu juga para putra-putri&amp;nbsp;&lt;b&gt;&quot;BELIAU BERDUA&quot;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Dan Sekarang Dibawah kepemimpinan&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH MUDRIK CH DAN KH CHANIF CH&lt;/b&gt;, jumlah santri di Pesantren API Tegalrejo Magelang justru semakin bertambah, sehingga memaksa para Pengasuh menambah ruang lokal baru juga kamar untuk asrama santri yang kini berjumlah tidak kurang dari 5000 santri putra dan 2000 santri putri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Semoga kedepan&amp;nbsp;&lt;b&gt;API TEGALREJO MAGELANG&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Tetap eksis dalam mencetak kader-kader militan pengayom masyarakat ketika berkecimpung di dalamnya &amp;amp; makin berkembang kualitas, kuantitasnya serta memberi banyak sumbangsih untuk bangsa, negara juga dinul islam yang rahmatan lil aalamin..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;AAMIIN.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/2505950706517810816/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/sekilas-sejarah-ponpes-api-tegalrejo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/2505950706517810816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/2505950706517810816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/sekilas-sejarah-ponpes-api-tegalrejo.html' title='SEKILAS SEJARAH PONPES API TEGALREJO MAGELANG'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivX7b8TjqkL5Ck-X0GoLiutaF-QEuUyaR_j0u5lPF0Pe8y5aDu8n8ARluYp0GW6i9Qb1oyG_4dJV_MXUEcmdJORNuszK-xAhVJQtYbdqIv6O9t-XJB5dApOafz7PwN9tjkcAcxqY3we_i1mLZSAvoqNM8OLBRtnk7AuiTw4mgGNKpQnGM4Yvfl_xwzsy5a/s72-w345-h186-c/SIMBAH%20KHUDORI.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-6217837884053733110</id><published>2024-06-17T15:33:00.000+07:00</published><updated>2024-06-17T15:33:27.460+07:00</updated><title type='text'> GUS MUH TEGALREJO DALAM KENANGAN  6/3/2009</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;177&quot; data-original-width=&quot;284&quot; height=&quot;252&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy2G8ke3hrcS44-4TZ5l_Gf_kG5WviGFGcIyS5M9eWvSWMnq_eM1qUyON6Zuef78uhVx9Xmwf_Ds9zyFmqD1YDOWd6_iOLgVOhEpd6iOYYpfJbBCUzLxaG2vyMclSZnFAQA-Tq_JlXTxqAbIIakCPmkxwigvzKR6xiR-TTW2HR8br7_cXaJcYdsiJHAf8N/w475-h252/KH%20AHMAD%20MUHAMMAD%20TEGALREJO.jpeg&quot; width=&quot;475&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;“TEKUN TIRAKAT MERANGKUL KAUM ABANGAN”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Belum lama ini,&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH Ahmad Muhammad&lt;/b&gt;, akrab disapa&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Muh&lt;/b&gt;, salah seorang kiai pengasuh pondok pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang meninggal dunia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kiai yang dikenal sangat dekat dengan rakyat berbagai elemen ini meninggalkan duka mendalam.&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Muh&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dikenal tekun bertirakat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sedianya, pada Sabtu (7/3) kemarin, ponpes Asrama Perguruan Islam Tegalrejo-Magelang hendak menggelar pentas seni. Melibatkan ratusan seniman petani dari Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan Menoreh) dalam Orkestra Afalaa Tatafakkaruun bertajuk ‘Dongeng Perubahan’. Tetapi malam sebelumnya, Jumat (6/3) sekitar pukul 23.55 wib, salah seorang kiai pengasuh ponpes tersebut mendadak meninggal dunia. Pentas itu dibatalkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJDmqZGh-vcUoIDTns3EH4yZiWm5Yv96t-zR3ICHgv8H_viIKiUG1zuCKyM-GOstuYzjr2-yV0OmwnBPyQf2zaVZGL6-Bre9HDRvfH4lfxgKEuPBCivkn0g89302zrthpqKlMCmTqeJaK_oOOJ1xEG9RxmxTrAesjzN14zkdTm2uw5nmFcE_wnxgz5GDHJ/s480/gus%20muh%20nggarjo.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;480&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJDmqZGh-vcUoIDTns3EH4yZiWm5Yv96t-zR3ICHgv8H_viIKiUG1zuCKyM-GOstuYzjr2-yV0OmwnBPyQf2zaVZGL6-Bre9HDRvfH4lfxgKEuPBCivkn0g89302zrthpqKlMCmTqeJaK_oOOJ1xEG9RxmxTrAesjzN14zkdTm2uw5nmFcE_wnxgz5GDHJ/s320/gus%20muh%20nggarjo.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;Gus Muh&lt;/b&gt;&amp;nbsp;meninggal dunia dalam usia 67 tahun pada hari Jumat (6/3/2009) sekitar pukul 23.55 WIB di &quot;Jogja Hospital International&quot; Yogyakarta setelah menjalani perawatan selama tiga hari karena penyakit diabetes dan komplikasi yang dideritanya.&lt;b&gt;&amp;nbsp;Gus Muh&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang juga adik pimpinan tertinggi Ponpes API Tegalrejo,&amp;nbsp;&lt;b&gt;K.H. Abdurrahman Chudlori&lt;/b&gt;&amp;nbsp;itu meninggalkan seorang istri dan dua anak. Menurut rencana, jenazahnya akan dimakamkan di komplek makam keluarga&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH Chudlori,&lt;/b&gt;&amp;nbsp;tak jauh dari pesantren A.P.I. Nisannya bersebelahan dengan nisan sang muassis,&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH. Chudlori&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Hari sabtu (7/3/2009) pukul 14.00 WIB.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sampai hari ini, para santri ponpes A.P.I secara bergantian, siang dan malam, mendoakan almarhum di makamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kepada posmo exclusive,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Yusuf&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(Adik almarhum&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Muh&lt;/b&gt;)menyampaikan rasa kehilangannya atas kepulangan&lt;b&gt;&amp;nbsp;Gus Muh&lt;/b&gt;&amp;nbsp;ke rahmatulloh. “Bagi saya,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Muh&lt;/b&gt;&amp;nbsp;bukan hanya sekedar kakak. Tetapi, juga guru. Beliau banyak mengajarkan bagaimana menghadapi masyarakat kecil atau kaum abangan. Ini lebih sulit daripada mendidik sekelompok orang yang ‘sudah jadi’. Ibarat ngobori dalan peteng, mendidik orang-orang abangan atau yang belum bisa menerima sepenuhnya Islam itu lebih sulit. Kemampuan&lt;b&gt;&amp;nbsp;Gus Muh&lt;/b&gt;&amp;nbsp;merangkul masyarakat abangan itu luar biasa.Telaten dan tirakatnya memang kuat. Ibarat awan disrawungi, bengi didolani”, ujar&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Yusuf.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sepeninggal&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Muh&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Yusuf&lt;/b&gt;&amp;nbsp;berharap dengan segala keterbatasan yang ada, semua ajaran almarhum bisa diuri-uri. Diakuinya, mungkin tidak bisa semaksimal dahulu. “Tetapi pada dasarnya, saya sendiri sudah dekat dengan komunitas kebudayaan. Tidak ada wasiat khusus dari&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Muh&lt;/b&gt;. Kecuali, wasiat terkait keluarga. Dari sebelas bersaudara, semua saling mengisi dan semua tinggal di seputar lokasi ponpes. Untuk memenuhi undangan ceramah di luar ponpes, kalau tidak saya (&lt;b&gt;Gus Yusuf&lt;/b&gt;-red), ya KH Abdurahman (&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;-red)”, jelas&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Yusuf&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/6217837884053733110/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/gus-muh-tegalrejo-dalam-kenangan-632009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/6217837884053733110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/6217837884053733110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/gus-muh-tegalrejo-dalam-kenangan-632009.html' title=' GUS MUH TEGALREJO DALAM KENANGAN  6/3/2009'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy2G8ke3hrcS44-4TZ5l_Gf_kG5WviGFGcIyS5M9eWvSWMnq_eM1qUyON6Zuef78uhVx9Xmwf_Ds9zyFmqD1YDOWd6_iOLgVOhEpd6iOYYpfJbBCUzLxaG2vyMclSZnFAQA-Tq_JlXTxqAbIIakCPmkxwigvzKR6xiR-TTW2HR8br7_cXaJcYdsiJHAf8N/s72-w475-h252-c/KH%20AHMAD%20MUHAMMAD%20TEGALREJO.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-4504351919905816080</id><published>2024-06-17T10:05:00.000+07:00</published><updated>2024-06-20T18:04:11.897+07:00</updated><title type='text'>(REPOST) MENGENANG KH ABDURROHMAN CHUDHORI PENGASUH PONPES API TEGALREJO MAGELANG (24 Januari 2011)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;img_default&quot; src=&quot;http://img.antaranews.com/new/2011/01/ori/20110126104732pemakamanmbahdur-250111-3.jpg&quot; style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot; title=&quot;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;pbrt&quot;&gt;&lt;div id=&quot;image_news&quot;&gt;&lt;div id=&quot;caption_news&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Ribuan orang memadati areal pemakaman keluarga untuk memberikan penghormatan terakhir kepada KH Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur) di Tegalrejo, Magelang, Jateng, Selasa (25/1/2011). (ANTARA/Anis Efizudin)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div id=&quot;content_news&quot; itemprop=&quot;articleBody&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Semarang (ANTARA News) - Hujan deras sejak sore mereda begitu malam semakin erat dipeluk gelap. Puluhan orang berdiri di atas bangku mereka, lalu menundukkan kepala, takzim dalam doa, melepas kepergian ulama kharismatis&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH Abdurrahman Chudlori&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang&amp;nbsp; lebih akrab dengan panggilan&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;Kepergian pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam, Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin, 24 Januari 2011, pukul 12.45 WIB&lt;/b&gt;&amp;nbsp;di Rumah Sakit Lestari Raharja Magelang, telah mereka dengar dari mulut ke mulut dan sms. termasuk yang sangat terpukul dengan kepergian beliau adalah Sutanto Mendut budayawan Magelang .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Pondok pesantren di tepi Jalan Raya Magelang-Kopeng, Salatiga yang dibangun pada 1944 oleh&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Chudlori&amp;nbsp;&lt;/b&gt;itu hingga kini mempertahankan tradisi melestarikan berbagai kekuatan budaya pedesaan dan gunung.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Almarhum&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;meneruskan kepemimpinan ponpes dari ayahnya itu sejak 1977.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Baik&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Chudlori&amp;nbsp;&lt;/b&gt;maupun penerusnya&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;, kata Sutanto yang selama ini menggerakkan pengembangan kesenian tradisional dan kontemporer desa dan gunung di Magelang, adalah dua ulama berpengaruh bagi kemajuan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan berbasis kekuatan budaya lokal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;content_news&quot; itemprop=&quot;articleBody&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7929ToAeoFxzqMLZMqIzV8i1SOOr5Lda2-36iiNsMSv-x7eQpCurfYdbkr9dzuLtVmNIjentZJAImrjfcT6vFtCQkKSyymVb6Z0eL3IGE2cmkhZkAwBP4MTsrQlo0HnCKtzjoDPfB1Q8JeJbWKEHhGoCMxFgzo4m3Pq_P4AK9N7O9rA0hFiphlEorFhVM/s268/mbah%20dur%20nggarjo.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;188&quot; data-original-width=&quot;268&quot; height=&quot;227&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7929ToAeoFxzqMLZMqIzV8i1SOOr5Lda2-36iiNsMSv-x7eQpCurfYdbkr9dzuLtVmNIjentZJAImrjfcT6vFtCQkKSyymVb6Z0eL3IGE2cmkhZkAwBP4MTsrQlo0HnCKtzjoDPfB1Q8JeJbWKEHhGoCMxFgzo4m3Pq_P4AK9N7O9rA0hFiphlEorFhVM/w325-h227/mbah%20dur%20nggarjo.jpeg&quot; width=&quot;325&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&quot;Setiap khataman, ponpes Tegalrejo menggelar pawai kesenian rakyat, dan seniman petani dari desa-desa terlibat bersama para santri. Eksplorasi seni dan budaya malam ini juga kami persembahkan untuk mengenang semangat&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Dur&lt;/b&gt;,&quot; katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;content_news&quot; itemprop=&quot;articleBody&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;content_news&quot; itemprop=&quot;articleBody&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Di kompleks Ponpes API Tegalrejo, para pelayat terus berdatangan, arus lalu lintas utama Jalan Raya Magelang-Kopeng telah dialihkan ke jalur alternatif, sementara yang lain menata rangkaian bunga tanda duka yang datang dari berbagai kalangan masyarakat dan pemerintahan baik lokal maupun nasional.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Duka menyelimuti wajah mereka. Lantunan tahlil mengalun dari para santri dan pelayat malam itu, kian membangunkan duka di kompleks ponpes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Siang harinya, Selasa,25 Januari 2011 suasana cerah muncul, meskipun mendung menggumpal di langit di atas kompleks ponpes yang memiliki sekitar lima ribu santri dari berbagai daerah di Indonesia itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifudin, dan sejumlah kepala daerah terutama di eks-Keresidenan Kedu melayat sang kyai kharismatis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Adik kandung&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH Muhammad Yusuf Chudlori&lt;/b&gt;, akrab disapa&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Yusuf,&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dengan raut muka berduka, berusaha tetap tegar dan berdiri di teras rumah kakaknya itu untuk menyalami para pelayat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Selama ini,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Yusuf&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang selalu membawa panji-panji tradisi budaya dan kearifan ini intensif bergaul dengan seniman petani Komunitas Lima Gunung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Jarum jam sudah menunjuk angka 10.30, sejumlah ulama berpengaruh dari berbagai daerah berjalan beriringan dari rumah duka ke MUSHOLA di ponpes itu, yang jaraknya hanya 100 meter. Di sinilah&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;disemayamkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Mereka antara lain&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Idris Marzuki&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dari Lirboyo Kediri,&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Chalwani&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dari Purworejo,&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Nurul Huda Jazuli&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dan&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH Zainuddin&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dari Ploso Kediri,&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Nur Iskandar&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dari Jakarta,&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH Abdul Rozak&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dari Tegalrandu Magelang, dan&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Hamid Baidlowi&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dari Lasem Rembang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Masih ada Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Muhammad Adnan&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dan sekretaris&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH Masruri Mughni.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;pernah menjabat syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Jenazah&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang terbungkus kain kafan berhiaskan rangkaian bunga berada di atas keranda terbuka berwarna hijau, disemayamkan di sisi barat atau tempat imam memimpin salat di masjid itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Para pengiring bergiliran salat jenazah selama beberapa saat, sedangkan ratusan ribu umat berdiri di sekeliling masjid di tengah kompleks ponpes dan tepi kanan kiri jalan menuju makam keluarga Chudlori yang jauhnya 300 meter dari ponpes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Saat sejumlah ulama besar bergantian membacakan tahlil dengan takzim untuk&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;, tetesan demi tetesan air dari langit tipis turun di tengah terik matahari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Semua pelayat mengangkat kedua tangan tanda, berdoa, begitu para ulama bergantian mendaras tahlil. Semua orang --tua, muda, laki-laki dan perempuan-- meneteskan air mata sebagai tanda duka mereka yang mendalam atas perginya sang ulama besar. Banyak yang berulangkali mengusap air mata yang tak henti membasahi pipi mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tahlil mengiring perjalanan jenazah dari masjid ponpes ke pemakanan.&lt;b&gt;&amp;nbsp;Gus Yusuf&amp;nbsp;&lt;/b&gt;terlihat berjalan tak jauh dari keranda kakaknya yang diusung sejumlah orang, sedangkan anak-anak dan para cucu&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Dur&lt;/b&gt;, serta keluarga besar Chudlori, berjalan agak di depan mendahului&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Yusuf&lt;/b&gt;. Gerimis berubah agak deras ketika beberapa menit kemudian jenasah memasuki kompleks makam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Beberapa kiai sepuh turut berjalan kaki mengantarkan&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;ke peristirahatan terakhirnya, sementara hujan seakan memperkuat ketakziman prosesi pemakaman sang kiai besar tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Gerimis berubah menjadi hujan cukup deras, tepat saat jenazah&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dimasukkan ke liang lahat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;mangkat dengan meninggalkan seorang istri,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Nyai Nur Faizah&lt;/b&gt;, enam anak yakni&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Nasrul Arif&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Gus Akhmad Izzudin&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Kuni Sa`adati&lt;/b&gt;,&lt;b&gt;&amp;nbsp;Nur Kholida&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Linatun Nafisah&lt;/b&gt;, dan&lt;b&gt;&amp;nbsp;Zaimatus Sofia&lt;/b&gt;, serta lima cucu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&quot;Hal utama yang menonjol dari beliau adalah kearifan dan kebijakanannya. Itu muncul karena beliau alim ulama besar. Ulama dengan ilmu dan wawasan luas,&quot; kata Lukman kepada ANTARA.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Ia mengatakan,&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;selalu datang membawa solusi bijak untuk berbagai persoalan pelik menyangkut kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Di depan pelayat,&lt;b&gt;&amp;nbsp;KH Abdul Rozak&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang mewakili keluarga, mengatakan, kurun waktu&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Chudlori&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dan&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&amp;nbsp;&lt;/b&gt;memimpin pengasuhan para santri di ponpes itu hampir sama, yakni 33 tahun.&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Chudlori&amp;nbsp;&lt;/b&gt;1944-1977 dan&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;1977-2011.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&quot;Keluarga meminta bantuan doa untuk kepergian Mbah Dur, mohon maafkan segala kesalahan beliau,&quot; katanya dalam bahasa Jawa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Selama tujuh hari berturut-turut, para santri dan keluarga akan mendaraskan doa dan tahlil demi perjalanan arwah&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&lt;/b&gt;&amp;nbsp;ke alam keabadian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;KH Nurul Huda&lt;/b&gt;&amp;nbsp;melukiskan&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur&amp;nbsp;&lt;/b&gt;sebagai mutu manikam, seorang kiai enerjik, kreatif, mumpuni, dan multidimensi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&quot;Dia lebih muda dari saya, bisa melayani kiai-kiai sepuh di mana pun, tetapi sudah&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;dipundhut&lt;/span&gt;&amp;nbsp;(diambil) Allah SWT. Semua tentu merasakan kehilangan yang luar biasa, tetapi kita sadar bahwa semua milik Allah, harus rela jika&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;dipundhut&lt;/span&gt;,&quot; katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Ia mengharapkan penerus keluarga Chudlori dan para santri melanjutkan cita-cita&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Dur&lt;/b&gt;, yang adalah guru kearifan dan kebijakan mereka. &quot;Ambil ilmu dari&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;tutuk&lt;/span&gt;&amp;nbsp;(mulut) guru,&quot; katanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Bani Chudlori pada masa mendatang, katanya, harus semakin tangguh dengan meneladani sang guru itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;Mbah Dur, menurut KH Nurul Huda&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Disebut memiliki kekuatan tirakat luar biasa dengan disiplin mendidik santrinya melalui tradisi puasa setiap Senin dan Kamis, ziarah kubur para leluhur, dan rajin membaca kitab kuning.&lt;span&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Sugeng tindak&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Dur.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Selamat Jalan&lt;b&gt;&amp;nbsp;Mbah Dur&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;content_news&quot; itemprop=&quot;articleBody&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;&quot;Tegalrejo dan pondok pesantren yang dipimpin Mbah Dur, (adalah) salah satu inspirasi kuat kami selama ini dalam menjalani gerakan kebudayaan dan kemanusiaan&quot;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;(sutanto mendut)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/4504351919905816080/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/repost-mengenang-kh-abdurrohman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4504351919905816080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4504351919905816080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/repost-mengenang-kh-abdurrohman.html' title='(REPOST) MENGENANG KH ABDURROHMAN CHUDHORI PENGASUH PONPES API TEGALREJO MAGELANG (24 Januari 2011)'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7929ToAeoFxzqMLZMqIzV8i1SOOr5Lda2-36iiNsMSv-x7eQpCurfYdbkr9dzuLtVmNIjentZJAImrjfcT6vFtCQkKSyymVb6Z0eL3IGE2cmkhZkAwBP4MTsrQlo0HnCKtzjoDPfB1Q8JeJbWKEHhGoCMxFgzo4m3Pq_P4AK9N7O9rA0hFiphlEorFhVM/s72-w325-h227-c/mbah%20dur%20nggarjo.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-4851086841908685069</id><published>2024-06-16T19:41:00.000+07:00</published><updated>2024-06-16T19:41:21.357+07:00</updated><title type='text'>BIOGRAFI KH. M. MUNAWWIR KRAPYAK YOGYAKARTA</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7PYqDv5GeeWuZvF0b9pqSKWNqcH2BTNiFyKz10wU0ckIOF49dx1hQnfYLBjG8gWdN2XFP3WGdjiRbtTwigB0QrE5cibnVyCrNc1ID0pf215RQLJiOlXtzkRN9z5BaEXB6-iZmSEvSPxzhy2x7cSWmhw4o7jgU8aYZ66QDgp5q6Ru7c9efX7mclJfyWN2i/s614/Biografi-K.H-Munawir-Krapyak-Yogyakarta.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;422&quot; data-original-width=&quot;614&quot; height=&quot;220&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7PYqDv5GeeWuZvF0b9pqSKWNqcH2BTNiFyKz10wU0ckIOF49dx1hQnfYLBjG8gWdN2XFP3WGdjiRbtTwigB0QrE5cibnVyCrNc1ID0pf215RQLJiOlXtzkRN9z5BaEXB6-iZmSEvSPxzhy2x7cSWmhw4o7jgU8aYZ66QDgp5q6Ru7c9efX7mclJfyWN2i/s320/Biografi-K.H-Munawir-Krapyak-Yogyakarta.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;KH. M. Munawwir Krapyak&lt;/b&gt; adalah salah satu ulama Nusantara
ahli qur’an mendunia abad ke 20. Nama lengkap beliau adalah &lt;b&gt;KH. M. Munawwir bin Kiai
Abdullah Rasyad bin Kiai Hasan Bashari&lt;/b&gt;. Beliau lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta,
dari pasangan &lt;b&gt;Kiai Abdullah Rasyad&lt;/b&gt; dengan &lt;b&gt;Nyai Khadijah&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Beliau dikenal sebagai
ulama ahli qira’at al-Qur’an yang ternama. Sebagai pemegang sanad al-Qur’an
yang sampai kepada Rasulallah Saw. keberhasilannya mencetak generasi-generasi
penghafal al-Qur’an yang kemudian tersebar diseluruh penjuru Nusantara membuat
namanya melambung tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;KH. M. Munawwir &lt;/b&gt;adalah cucu Pangeran Senopati, Kiai
Hasan Bashari. Ayahnya bernama Kiai Abdullah Rasyad yang memiliki 11 anak dari
empat orang istri. Salah satu anak tersebut adalah KH. M. Munawwir, beliau
memang telah ditakdirkan akan menjadi seorang kiai yang konsen dibidang
al-Qur’an. Hal tersebut tercermin dari sebuah kisah yang menceritakan bahwa
kakeknya Kiai Hasan Bashari, sebenarnya ingin sekali menghafalkan al-Qur’an.
Tetapi setelah berusaha berkali-kali, keinginannya itu tidak terlaksana juga.
Setelah itu, ia bermujahadah dan berdo’a kepada Allah SWT. Akhirnya ia
mendapatkan ilham bahwa anak keturunannya lah yang akan menjadi seorang
penghafal al-Qur’an yaitu KH. M. Munawwir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pendidikan KH. M. Munawwir&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pada usia kanak-kanak, KH. M. Munawwir sudah dititipkan di
sebuah Pesantren di Bangkalan yang di asuh oleh KH. Maksum. Di pesantren inilah
bakat kefasihan KH. M. Munawwir didalam al-Qur’an mulai tampak. Bukan hanya KH.
Maksum, ulama Nusantara lain seperti KH. Abdullah, KH. Kholil, KH. Sholeh
Darat, KH. Abdu Al-Rahman itu merupakan guru dari KH. M. Munawwir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pada tahun
1888 M, KH. M. Munawwir melanjutkan belajar ke Mekkah al-Mukarromah. Beliau
menetap selama 16 tahun untuk mempelajari al-Qur’an, tafsir, dan qira’ah
sab’ah. Beliau belajar kepada Syekh Abdullah Sanqoro, Syekh Sarbani, Syekh
Mukri, Syekh Ibrahim Huzaimi, Syekh Mansur, Syekh ‘Abd Al-Syakur dan Syekh
Musthafa. Di kota suci ini KH. M. Munawwir berhasil menghafalkan al-Qur’an 30
juz dengan qira’ah sab’ah (bacaan tujuh). Keberhasilan ini menjadikan &lt;i&gt;&lt;b&gt;KH. M.
Munawwir tercatat sebagai ulama pertama Jawa yang berhasil menguasai qira’ah
sab’ah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Untuk menjaga hafalannya, sewaktu di Mekkah KH. M. Munawwir memiliki
metode tersendiri yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;1. Pada
     tiga tahun pertama ia mengkhatamkan sekali al-Qur’an selama tujuh hari
     tujuh malam.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;2.&amp;nbsp;Tiga tahun selanjutnya ia mengkhatamkan al-Qur’an tiga
hari tiga malam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;3.&amp;nbsp;Tiga tahun terakhir ia hanya butuh sehari semalam untuk
mengkhatamkan al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Semenjak itulah hafalan KH. M. Munawwir ibarat kaset yang
siap sewaktu waktu untuk diputar. Karena beliau sudah merasa cukup bisa menjaga
hafalannya. Ia melanjutkan kembali rihlahnya ke kota Madinah dengan mendalami
ilmu tauhid, fiqih, bahasa, selama lima tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Setelah lamanya bermukim di Arab
Saudi kurang lebih 21 tahun (sampai 1909), KH. M. Munawwir kembali ke Indonesia
tanah kelahirannya di Kauman Yogyakarta. Di Kauman ini beliau menyelenggarakan
majelis pengajian al-Qur’an yang bertempat di langgar. Pengajian yang di asuh
KH. M. Munawwir banyak didatangi dan diikuti masyarakat Kauman dan sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Semenjak mendirikan pengajian di kampung halamannya,
ketokohan dan keulamaan KH. M. Munawwir mulai di kenal oleh masyarakat
Yogyakarta. Semenjak itulah banyak santri yang berdatangan ke tempat pengajian
KH. M. Munawwir menyebabkan tempat pengajian menjadi penuh sesak. Karenanya
atas timbangan dan masukan Kiai Said yaitu Kiai pertama yang ditemui KH. M.
Munawwir sekembalinya di Mekkah, Madinah, beliau berkehendak mendirikan
Pesantren.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Demikianlah pada akhir 1909 M KH. M. Munawwir merintis Pondok
Pesantren yang kemudian di kenal dengan pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.
Dengan pembangunan tahap awal berupa rumah kediaman dan langgar yang bersambung
dengan kamar santri, serta sebagian komplek pesantren. Pada masa awal
berdirinya pengembangan dan pendidikan ditangani langsung oleh KH. M. Munawwir
yang di bantu para santri senior salah satunya yaitu KH. Arwani Kudus yang
dipercayai membangun pemondokan dan menangani administrasi pesantren.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pada awal berdirinya sekitar 1909-1920 jumlah santri Krapyak
kurang lebih 60 orang. Angka itu mengalami peningkatan sedikit pada 1921-1923,
dimana jumlah santrinya mencapai 150 orang beberapa diantaranya yang terkenal :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;1. Kiai
     Yusuf (Kuningan Cirebon)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;2. Kiai Abdul Jamil (Cirebon)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;3. Kiai Ma’shum (Gedongan Cirebon)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;4. Kiai Abu Darba (Kutoarjo)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Demikian seterusnya sampai KH. M. Munawwir wafat jumlah
santri kurang lebih 200 orang yang berdatangan dari berbagai wilayah Nusantara,
mulai dari Jawa sampai ke Singapura.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Meski awalnya pesantren Krapyak dirancang
oleh KH. M. Munawwir untuk pengajian al-Qur’an, tetapi kitab lain juga seperti
fiqih, hadist, tafsir dan lain lain dipelajari disana. Pendidikan dan
pengajaran kitab kuning tersebut semakin semarak dan tumbuh besar di pesantren
Krapyak, terutama ketika datangnya &lt;b&gt;KH. Ali Makhsum&lt;/b&gt; (menantu KH. M. Munawwir).
Kiai yang berjasa mengembangkan pendidikan sistem madrasah di pesantren Termas
ini dipercaya oleh keluarga Krapyak untuk mengembangkan pondok pesantren
Krapyak hingga wafatnya beliau (&lt;b&gt;KH. Ali Makhsum)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Wafatnya Kiai H. M. Munawwir Krapyak&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;KH. M. Munawwir &lt;/b&gt;wafat pada Jum’at, 11 jumadil Akhir, 1360
H/6 juli 1942 M. Sebelum wafat, ia memberi beberapa wirid yang diijazahkan
siapa saja berupa “Do’a segala hajat”, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&amp;gt; Membaca
     surah al-Fatihah dan ketika sampai pada ayat kelima, di ulang sebanyak
     3,7,11,21, atau 41 kali sesuai dengan hitungan yang dikehendaki seraya
     dihayati makna dan fokus terhadap apa yang menjadi hayatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&amp;gt; Mengkhatamkan surat Yasin sebanyak 41 kali&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Wallohu a’lamu bis showab..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;alfaqir&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/4851086841908685069/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/biografi-kh-m-munawwir-krapyak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4851086841908685069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4851086841908685069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/biografi-kh-m-munawwir-krapyak.html' title='BIOGRAFI KH. M. MUNAWWIR KRAPYAK YOGYAKARTA'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7PYqDv5GeeWuZvF0b9pqSKWNqcH2BTNiFyKz10wU0ckIOF49dx1hQnfYLBjG8gWdN2XFP3WGdjiRbtTwigB0QrE5cibnVyCrNc1ID0pf215RQLJiOlXtzkRN9z5BaEXB6-iZmSEvSPxzhy2x7cSWmhw4o7jgU8aYZ66QDgp5q6Ru7c9efX7mclJfyWN2i/s72-c/Biografi-K.H-Munawir-Krapyak-Yogyakarta.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-2471108934513644874</id><published>2024-06-11T20:10:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T07:19:52.928+07:00</updated><title type='text'>SEKILAS BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI</title><content type='html'>&lt;header class=&quot;entry-header&quot;&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-6w8p-tNmyAoMMqmsOBfn_NWIsHmxqiQW9RRow3Yv6yH0NrShNqKX8NzX76jt6j4IWLRUhjlzXmuRC-G-adAZYzVgDqWy_V-2eiEK_AbzDNkBUFx5R-4l9AlNOfZuA1T7mMwLQkM17Yz0_L8ZyFyfeeAawVYafgl3S28hKQmQK5ZDW8ZgMSt-D2_zjGkG/s1024/imam-ghazali.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;682&quot; data-original-width=&quot;1024&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-6w8p-tNmyAoMMqmsOBfn_NWIsHmxqiQW9RRow3Yv6yH0NrShNqKX8NzX76jt6j4IWLRUhjlzXmuRC-G-adAZYzVgDqWy_V-2eiEK_AbzDNkBUFx5R-4l9AlNOfZuA1T7mMwLQkM17Yz0_L8ZyFyfeeAawVYafgl3S28hKQmQK5ZDW8ZgMSt-D2_zjGkG/s320/imam-ghazali.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Puluhan karya yang ditulisnya merupakan bukti kecerdasan
dan keluasan ilmu yang dimiliki Al-Ghazali.&amp;nbsp;Abu&amp;nbsp;Hamid Muhammad bin
Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii atau lebih dikenal dengan nama Imam
Al-Ghazali adalah salah seorang tokoh Muslim terkemuka sepanjang
zaman.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ia dikenal sebagai seorang ulama, filsuf, dokter,
psikolog, ahli hukum, dan sufi yang sangat berpengaruh di dunia Islam.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;S&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;elain itu, berbagai pemikiran Algazel–demikian dunia
Barat menjulukinya–juga banyak mempengaruhi para pemikir dan filsuf Barat pada
abad pertengahan.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali sungguh fenomenal. Tak
diragukan lagi bahwa buah pikir Al-Ghazali begitu menarik perhatian para
sarjana di Eropa, tutur Margaret Smith dalam bukunya yang berjudul Al-Ghazali:
The Mystic yang diterbitkan di London, Inggris, tahun 1944.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Salah seorang pemikir Kristen terkemuka yang sangat
terpengaruh dengan buah pemikiran Al-Ghazali, kata Smith, adalah ST Thomas
Aquinas (1225 M-1274 M). Aquinas merupakan filsuf yang kerap dibangga-banggakan
peradaban Barat. Ia telah mengakui kehebatan Al-Ghazali dan merasa telah
berutang budi kepada tokoh Muslim legendaris itu. Pemikiran-pemikiran
Al-Ghazali sangat mempengaruhi cara berpikir Aquinas yang menimba ilmu di
Universitas Naples. Saat itu, kebudayaan dan literatur-literatur Islam begitu
mendominasi dunia pendidikan Barat.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Perbedaan terbesar pemikiran Al-Ghazali dengan
karya-karya Aquinas dalam teologi Kristen, terletak pada metode dan keyakinan.
Secara tegas, Al-Ghazali menolak segala bentuk pemikiran filsuf metafisik
non-Islam, seperti Aristoteles yang tidak dilandasi dengan keyakinan akan
Tuhan. Sedangkan, Aquinas mengakomodasi buah pikir filsuf Yunani, Latin, dan
Islam dalam karya-karya filsafatnya.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Al-Ghazali dikenal sebagai seorang filsuf Muslim yang
secara tegas menolak segala bentuk pemikiran filsafat metafisik yang berbau
Yunani. Dalam bukunya berjudul The Incoherence of Philosophers, Al-Ghazali
mencoba meluruskan filsafat Islam dari pengaruh Yunani menjadi filsafat Islam,
yang didasarkan pada sebab-akibat yang ditentukan Tuhan atau perantaraan
malaikat. Upaya membersihkan filasat Islam dari pengaruh para pemikir Yunani
yang dilakukan Al-Ghazali itu dikenal sebagai teori occasionalism.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Sosok Al-Ghazali sangat sulit untuk dipisahkan dari
filsafat. Baginya, filsafat yang dilontarkan pendahulunya, Al-Farabi dan Ibnu
Sina, bukanlah sebuah objek kritik yang mudah, melainkan komponen penting buat
pembelajaran dirinya.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Filsafat dipelajari Al-Ghazali secara serius saat dia
tinggal di Baghdad. Sederet buku filsafat pun telah ditulisnya. Salah satu buku
filsafat yang disusunnya, antara lain, Maqasid al-Falasifa (The Intentions of
the Philosophers). Lalu, ia juga menulis buku filsafat yang sangat termasyhur,
yakni Tahafut al-Falasifa (The Incoherence of the Philosophers).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Al-Ghazali merupakan tokoh yang memainkan peranan penting
dalam memadukan sufisme dengan syariah. Konsep-konsep sufisme begitu baik
dikawinkan sang pemikir legendaris ini dengan hukum-hukum syariah. Ia juga
tercatat sebagai sufi pertama yang menyajikan deskripsi sufisme formal dalam
karya-karyanya. Al-Ghazali juga dikenal sebagai ulama Suni yang kerap
mengkritik aliran lainnya. Ia tertarik dengan sufisme sejak berusia masih
belia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kehidupan Al-Ghazali&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/4159327431460960409&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;span color=&quot;windowtext&quot;&gt;http://www.ghazali.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dilahirkan di
Kota Thus, Provinsi Khurasan, Persia (Iran), pada tahun 450 Hijriyah atau
bertepatan dengan tahun 1058 Masehi. Al-Ghazali berasal dari keluarga ahli
tenun (pemintal). Ayahnya adalah seorang pengrajin sekaligus penjual kain shuf
(yang terbuat dari kulit domba) di Kota Thus.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Namun, sang ayah menginginkan Al-Ghazali kelak menjadi
orang alim dan saleh. Karena itu, menjelang wafat, ayahnya mewasiatkan
pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia
berpesan, Sungguh, saya menyesal tidak belajar khath (tulis menulis Arab) dan
saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini.
Maka, saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh
dihabiskan untuk keduanya, ungkapnya pada pengasuh Al-Ghazali dan saudaranya.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Imam Al-Ghazali memulai belajar di kala masih kecil
dengan mempelajari Bahasa Arab dan Parsi hingga fasih. Karena minatnya yang
mendalam terhadap ilmu, Al-Ghazali mulai mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu
mantiq, usul fikih, dan filsafat. Selepas itu, ia berguru kepada Syekh Ahmad
bin Muhammad Ar-Radzakani di Kota Thus untuk mempelajari ilmu fikih. Kemudian,
ia berangkat ke Jurjan untuk menuntut ilmu dengan Imam Abu Nashr Al-Isma’ili.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Selepas menuntut ilmu di Jurjan, Al-Ghazali pergi
mengunjungi Kota Naisabur untuk berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Selama
di Naisabur, ia berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafii, ilmu
perdebatan, ushuluddin, mantiq, hikmah, dan filsafat. Selain itu, ia berhasil
menyusun sebuah tulisan yang membuat kagum gurunya, Al-Juwaini.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Setelah sang guru wafat, Imam Al-Ghazali pergi
meninggalkan Naisabur menuju ke majelis Wazir Nidzamul Malik. Majelis tersebut
merupakan tempat berkumpulnya para ahli ilmu. Di sana, Al-Ghazali menantang
debat para ulama dan berhasil mengalahkan mereka.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Lalu, karena ketinggian ilmu yang dimiliki Imam
Al-Ghazali, Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi guru besar di Madrasah
Nizhamiyah (sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh Nidzamul Malik) di
Baghdad pada tahun 484 H. Saat itu, usia Al-Ghazali baru menginjak 30 tahun. Di
sinilah, keilmuan Al-Ghazali makin berkembang dan menjadi terkenal serta
mencapai kedudukan yang sangat tinggi.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Sebagai pimpinan komunitas intelektual Islam, Al-Ghazali
begitu sibuk mengajarkan ilmu hukum Islam di madrasah yang dipimpinnya. Empat
tahun memimpin Madrasah Nizamiyyah, Al-Ghazali merasa ada sesuatu yang kurang
dalam dirinya. Batinnya dilanda kegalauan. Ia merasa telah jatuh dalam krisis
spiritual yang begitu serius. Al-Ghazali pun memutuskan untuk meninggalkan
Baghdad.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kariernya yang begitu cemerlang ditinggalkannya. Setelah
menetap di Suriah dan Palestina selama dua tahun, ia sempat menunaikan ibadah
Haji ke Tanah Suci, Makkah. Setelah itu, Al-Ghazali kembali ke tanah
kelahirannya. Sang ulama pun memutuskan untuk menulis karya-karya serta
mempraktikkan sufi dan mengajarkannya.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Apa yang membuat Al-Ghazali meninggalkan kariernya yang
cemerlang dan memilih jalur sufisme? Dalam autobiografinya, Al-Ghazali
menyadari bahwa tak ada jalan menuju ilmu pengetahuan yang pasti atau pembuka
kebenaran wahyu kecuali melalui sufisme. Itu menandakan bahwa bentuk keyakinan
Islam tradisional mengalami kondisi kritis pada saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Keputusan Al-Ghazali untuk meninggalkan kariernya yang
cemerlang itu, sekaligus merupakan bentuk protesnya terhadap filsafat Islam.
Al-Ghazali wafat di usianya yang ke-70 pada tahun 1128 M di kota kelahirannya,
Thus. Meski begitu, pemikiran Al-Ghazali tetap hidup sepanjang zaman.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Karya-karya Sang Sufi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Selama masa hidupnya (70 tahun), Imam Al-Ghazali banyak
menulis berbagai karya dalam sejumlah bidang yang dikuasainya. Mulai dari
fikih, tasawuf (sufisme), filsafat, akidah, dan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dalam kitab Mauqif Ibn Taimiyyah min al-Asya’irah dan
Thabawat Asy-Syafi’iyyah karya Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud, Imam
Al-Ghazali dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya kini tersebar
ke seluruh penjuru dunia.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Bidang Ushuluddin dan Akidah ;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;1. Arba’in Fi Ushuliddin
merupakan juz kedua dari kitabnya, Jawahir Alquran.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;2. Qawa’id al-‘Aqa`id yang
disatukan dengan Ihya` Ulumuddin pada jilid pertama.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;3. Al Iqtishad Fil
I’tiqad.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;4. Tahafut Al Falasifah berisi bantahan Al-Ghazali terhadap pendapat
dan pemikiran para filsuf, dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;5.
Faishal At-Tafriqah Bayn al-Islam Wa Zanadiqah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Bidang Usul Fikih, Fikih, Filsafat, dan Tasawuf ;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;1.
Al-Mustashfa Min Ilmi al-Ushul&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;2. Mahakun Nadzar&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;3. Mi’yar al’Ilmi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;4. Ma’arif
al-`Aqliyah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;5. Misykat al-Anwar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;6. Al-Maqshad Al-Asna Fi Syarhi Asma Allah
Al-Husna&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;7. Mizan al-Amal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;8. Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;9. Al-Ajwibah
Al-Ghazaliyah Fi al-Masa1il Ukhrawiyah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;10. Ma’arij al-Qudsi fi Madariji
Ma’rifati An-Nafsi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;11. Qanun At-Ta’wil&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;12. Fadhaih Al-Bathiniyah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;13. Al-Qisthas
Al-Mustaqim&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;14. Iljam al-Awam ‘An ‘Ilmi al-Kalam&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;15. Raudhah ath-Thalibin Wa Umdah
al-Salikin&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;16. Ar-Risalah Al-Laduniyah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;17. Ihya` Ulum al-din&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;18. Al-Munqidzu
Min adl-Dlalal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;19.Al-Wasith&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;20. Al-Basith&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;21. Al-Wajiz&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;22. Al-Khulashah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;23.
Minhaj al-‘Abidin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dan Masih banyak lagi karya Imam Al-Ghazali.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Begitu banyak
karya yang dihasilkan, menunjukkan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Al-Ghazali.
Ia merupakan pakar dan ahli dalam bidang fikih, namun menguasai juga tasawuf,
filsafat, dan ilmu kalam. Sejumlah pihak memberikan gelar padanya sebagai
seorang Hujjah al-Islam.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ihya ‘Ulum al-Din; Magnum Opus Al-Ghazali&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ihya ‘Ulum al-Din Salah satu karya Imam Al-Ghazali yang
sangat terkenal di dunia adalah &lt;b&gt;kitab Ihya` Ulum al-din&lt;/b&gt;. Kitab ini merupakan
magnum opus atau masterpiece Al-Ghazali. Bahkan, kitab ini telah menjadi
rujukan umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia dalam mempelajari ilmu
tasawuf. Di dalamnya, dijelaskan tentang jalan seorang hamba untuk menuju ke
hadirat Allah.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Saking luas dan dalamnya pembahasan ilmu tasawuf (jalan
sufi) dalam karyanya ini, sejumlah ulama pun banyak memberikan syarah
(komentar), baik pujian maupun komentar negatif atas kitab ini.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Beberapa ulama yang memberi komentar positif antara lain:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;1. Syekh Abdullah al-Idrus : &quot;Pasal demi pasal, huruf demi
huruf, aku terus membaca dan merenunginya. Setiap hari kutemukan ilmu dan
rahasia, serta pemahaman yang agung dan berbeda dengan yang kutemukan
sebelumnya. Kitab ini adalah lokus pandangan Allah dan fokus ridho-Nya. Orang
yang mengkaji dan mengamalkannya, pasti mendapatkan mahabbah (kecintaan) Allah,
rasul-Nya, malaikat-Nya, dan wali-wali-Nya&quot; .&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;2. Imam an-Nawawi : “Jika semua kitab Islam hilang, dan yang
tersisa hanya kitab al-Ihya`, ia dapat mencukupi semua kitab yang hilang
tersebut.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;3. Imam ar-Razi : “Seolah-olah Allah SWT menghimpun semua ilmu
dalam suatu rapalan, lalu Dia membisikkannya kepada Al-Ghazali, dan beliau
menuliskannya dalam kitab ini.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Namun dari begitu banyak ulama yang memuji kitab Ihya, Abu Bakar Al-Thurthusi adalah salah satu ulama yang berkomentar negatif. Abu Bakar Al-Thurthusi berkata&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;: “Abu Hamid telah memenuhi kitab
Ihya` dengan kedustaan terhadap Rasulullah SAW. Saya tidak tahu ada kitab di
muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur
dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasa`il Ikhwan ash-Shafa.
Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat
diusahakan.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Dinukil dari Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19/33&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/header&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/2471108934513644874/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/sekilas-biografi-imam-al-ghazali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/2471108934513644874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/2471108934513644874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/sekilas-biografi-imam-al-ghazali.html' title='SEKILAS BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-6w8p-tNmyAoMMqmsOBfn_NWIsHmxqiQW9RRow3Yv6yH0NrShNqKX8NzX76jt6j4IWLRUhjlzXmuRC-G-adAZYzVgDqWy_V-2eiEK_AbzDNkBUFx5R-4l9AlNOfZuA1T7mMwLQkM17Yz0_L8ZyFyfeeAawVYafgl3S28hKQmQK5ZDW8ZgMSt-D2_zjGkG/s72-c/imam-ghazali.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-278637025419987326</id><published>2024-06-04T23:15:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T07:21:41.133+07:00</updated><title type='text'>BERTEMU WALISONGO DI CANDI BOROBODUR DAN PRAMBANAN</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6GtlfWMzK2fPmllkjfWWhoZz6v8p-mhlwxinBjbBYTcB78Avsbd7W2WpsaR3jJ2r_wGej0Y7lQH4A0emS5bqfQ-BzGKGL5TS4A9Y5zmpPbA-UV_AfoElnHVwVSlAorG5NqZJcwJ7FaGocAdejwB_c-oHwmfEo9AwZ3U4VDgvKfisvzlJcEUe-S1uz11L0/s275/2%20CANDI%20POPULER%20INDONESIA.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;183&quot; data-original-width=&quot;275&quot; height=&quot;244&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6GtlfWMzK2fPmllkjfWWhoZz6v8p-mhlwxinBjbBYTcB78Avsbd7W2WpsaR3jJ2r_wGej0Y7lQH4A0emS5bqfQ-BzGKGL5TS4A9Y5zmpPbA-UV_AfoElnHVwVSlAorG5NqZJcwJ7FaGocAdejwB_c-oHwmfEo9AwZ3U4VDgvKfisvzlJcEUe-S1uz11L0/w366-h244/2%20CANDI%20POPULER%20INDONESIA.jpeg&quot; width=&quot;366&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/5917098019559614545&quot;&gt;fiqhmenjawab.net
~&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;Jika memakai ilmu perbandingan, bisa dibilang Candi Prambanan
dan Candi Borobudur sebanding dengan Masjidil Haram. Hal itulah yang membuat
saya makin kagum pada Walisongo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Maksudnya begini, kalau ada
“Masjidil Haram”, berarti logikanya ada puluhan “masjid agung” kan? Kalau ada
tempat ibadah Hindu-Buddha selevel “Masjidil Haram”, berarti bukan tidak
mungkin Indonesia zaman dahulu sudah dipenuhi ribuan “mushola” umat Hindu-Buddha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Orang tidak mungkin bisa membuat
sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat sesuatu yang berskala kecil-kecil
dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Tentu kita jadi bisa membayangkan
kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu adalah golongan mayoritas.
Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana
bisa Walisongo membalik kondisi tersebut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;

&lt;hr align=&quot;center&quot; size=&quot;2&quot; width=&quot;100%&quot; /&gt;

&lt;/div&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kalau Anda belajar sejarah, Anda
pasti makin heran dengan Walisongo. Silakan Anda baca dengan teliti isi buku
Atlas Walisongo karya sejarawan Agus Sunyoto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Menurut catatan Dinasti Tang
China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara
(Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam
hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau
memeluk agama Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Bukti sejarah kedua, catatan
Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya,
komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti
Tang; penduduk lokal nusantara tetap tidak ada yang memeluk agama Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Bukti sejarah ketiga, dalam
catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap tercatat hanya orang asing
yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut,
sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima penduduk pribumi. Agama
Islam hanya dipeluk oleh orang asing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Selang beberapa tahun setelah
kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa
(Vietnam).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Beberapa dekade sejak hari
kedatangan Sunan Ampel, terutamanya setelah dua anaknya tumbuh dewasa (Sunan
Bonang dan Sunan Drajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa
(misalnya Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan yang bernama Walisongo. Misi
utamanya adalah mengenalkan agama Islam ke penduduk pribumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Anehnya, sekali lagi anehnya,
pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515
M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang
mayoritas memeluk agama Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Para sejarawan dunia hingga kini
masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, Walisongo berhasil
mengislamkan banyak sekali manusia nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Harap diingat zaman dahulu belum
ada pesawat terbang dan telepon genggam. Jalanan kala itu pun tidak ada yang
diaspal, apalagi ada motor atau mobil. Dari segi ruang maupun dari segi waktu,
derajat kesukarannya luar biasa berat. Tantangan dakwah Walisongo luar biasa
berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Para sejarawan dunia angkat
tangan saat disuruh menerangkan bagaimana bisa Walisongo melakukan mission
impossible: Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah
terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Para sejarawan dunia akhirnya
bersepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat
Walisongo sukses besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Menurut saya pribadi, jawaban
para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Menurut saya
pribadi, yang tentu masih bisa salah, pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma
“bungkusnya”, yang benar-benar bikin beda adalah “isi” dakwah Walisongo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;***&lt;br /&gt;
Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis “bungkus” dan “isi” yang dahulu
dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng
nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu ibaratnya
“satu-satunya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah
satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Istrinya sendiri, sahabat
Abu Bakar r.a., sahabat Umar r.a., sahabat Utsman r.a., calon mantunya Ali
r.a., dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng nabi
benar-benar the only one yang tidak sesat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Tetapi, berkat ruh dakwah yang
penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mau mengikuti agama baru yang dibawa
kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW amat
sangat sabar menerangi orang-orang yang tersesat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Meski kepala beliau dilumuri
kotoran, meski wajah beliau diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh,
kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan. Walisongo pun mencontoh akhlak kanjeng
nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pernah suatu hari ada penduduk
desa bertanya hukumnya menaruh sesajen di suatu sudut rumah. Tanpa terkesan
menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata,&lt;i&gt;&amp;nbsp;“Boleh,
malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga
terdekat ya.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pernah juga ada murid salah satu
anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid bertanya,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Tuhan kok
jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat tidak diurus?”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sunan yang ditanyai hal tersebut
hanya tersenyum sejuk mendengarnya. Justru beliau minta ditemani murid tersebut
menonton pagelaran wayang kulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Singkat cerita, sunan tersebut
berkata pada muridnya,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Bagus ya cerita wayangnya…”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Si murid
pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu.&lt;i&gt;&amp;nbsp;“Oh
iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tanya
sunan tersebut. Si murid langsung menjawab,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Justru lakon wayangnya
bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain,
bisa-bisa tabrakan.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sang guru hanya tersenyum dan
mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid
beristighfar dan mengaku sudah paham konsep tauhid. Begitulah “isi” dakwah
Walisongo; menjaga perasaan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pernah suatu hari ada salah satu
anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masyarakat. Sunan tersebut dengan
sangat bijaksana menghimbau para muridnya untuk tidak menyembelih hewan sapi
saat Idul Adha. Walaupun syariat Islam jelas menghalalkan, menjaga perasaan
orang lain lebih diutamakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Di atas ilmu fikih, masih ada
ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya,
menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram.
Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dengan bercanda, beliau
berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja, makan daging kerbau saja
juga enak. Tidak perlu cari gara-gara dan cari benarnya sendiri, jika ada
barang halal lain tapi lebih kecil mudharatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kemudian, ketika berbicara di
depan khalayak umum, beliau menyampaikan bahwa agama Islam juga memuliakan
hewan sapi. Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat
Islam ada yang namanya Surat Al-Baqarah (Sapi Betina).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dengan nuansa kekeluargaan, sunan
tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut, untuk dijadikan
pegangan hidup siapapun yang mendengarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Perlu diketahui, prilaku
Walisongo seperti Nabi Muhammad SAW zaman dahulu, Walisongo tidak hanya menjadi
guru orang-orang yang beragama Islam. Walisongo berakhlak baik pada siapa saja
dan apapun agamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Justru karena kelembutan dakwah
sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, justru
gotong-royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kalau Anda sekalian amati, betapa
gaya berdakwah para anggota Walisongo sangat mirip gaya dakwah kanjeng nabi.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena
ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ud’u ilaa sabiili Rabbika
bilhikmati walmau’izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna
Rabbaka Huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihi wa Huwa a’alamu bilmuhtadiin.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Terjemahannya
kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui
mereka yang mendapat petunjuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Menurut ulama Ahlussunnah wal
Jama’ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat
awal, ud’u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah “Ajaklah ke jalan
Tuhanmu”, tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman
menggunakan pola kalimat sastra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Siapa yang diajak? Tentunya
orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti
yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dakwah artinya adalah “mengajak”,
bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat
yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah
yang lebih baik. Sifat “lebih baik” di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih
lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, harap
diperhatikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Para pendakwah justru seharusnya
menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada
ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Berdakwah tidak boleh
berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan
berangkat niat yang tulus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Apalagi ayat dakwah ditutup
dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati.
Hanya Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah
mendapat petunjuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Firman dari Allah SWT tersebut
sudah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa sudah suci,
apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah
objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama berusaha menuju jalanNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ayat dakwah itulah yang dipegang
Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, kita
jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, karena kesuksesan dakwah Walisongo
sebenarnya bukanlah hal yang aneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kanjeng nabi saja bisa mengubah
Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisongo yang “hanya”
ditugaskan Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dakwah bisa sukses pada dasarnya
dikarenakan dua faktor saja. Pertama, karena niat yang tulus. Walisongo
menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan
penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak,
tetap sangat disayangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sekalipun orang tersebut enggan
masuk agama Islam, tapi bila ada yang sedang sakit, ia tetap dijenguk dan
dicarikan obat. Kalau orang tersebut sedang membangun rumah, maka Walisongo
mengerahkan para santrinya untuk menyumbang tenaga. Bahkan, kepada pihak-pihak
yang tidak hanya menolak agama Islam, tapi juga mencela sekalipun, Walisongo
tetap bersikap ramah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kedua, karena “satu kata satu
perbuatan”. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan
alim ulama tersebut harus menjadi pihak pertama yang mempraktekkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Agama Islam adalah agama anugerah
untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha praktek menjadi
anugerah bagi umat manusia di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Semuanya dimanusiakan, karena
Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil ‘alamin. Islam
tidak mengenal konsep rahmatan lil muslimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Begitulah… Jadi, saya sangat
senang kalau bisa berwisata ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur, karena di
kedua tempat tersebut saya jadi bisa bertemu Walisongo. Pertemuan secara batin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Note:&lt;br /&gt;
– Tulisan ini bukan untuk menjawab orang-orang yang sering meremehkan
Walisongo.&lt;br /&gt;
– Tulisan ini hanyalah tulisan rindu seseorang yang penuh dosa.&lt;br /&gt;
– Di tengah ketidakberdayaan menatap gaya dakwah yang terlalu mudah memvonis
orang lain masuk neraka, saya seringkali jadi merindukan Walisongo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Tulisan asli milik&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/5917098019559614545&quot;&gt;Doni
Febriando&lt;/a&gt;&amp;nbsp;via&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/5917098019559614545&quot;&gt;atlaswalisongo.com&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dari buku “Kembali Menjadi
Manusia” yang bisa didapatkan di jaringan toko buku GRAMEDIA atau TOGAMAS.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/278637025419987326/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/bertemu-walisongo-di-candi-borobodur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/278637025419987326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/278637025419987326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/bertemu-walisongo-di-candi-borobodur.html' title='BERTEMU WALISONGO DI CANDI BOROBODUR DAN PRAMBANAN'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6GtlfWMzK2fPmllkjfWWhoZz6v8p-mhlwxinBjbBYTcB78Avsbd7W2WpsaR3jJ2r_wGej0Y7lQH4A0emS5bqfQ-BzGKGL5TS4A9Y5zmpPbA-UV_AfoElnHVwVSlAorG5NqZJcwJ7FaGocAdejwB_c-oHwmfEo9AwZ3U4VDgvKfisvzlJcEUe-S1uz11L0/s72-w366-h244-c/2%20CANDI%20POPULER%20INDONESIA.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-7084603724447225482</id><published>2024-06-04T22:57:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T07:22:39.003+07:00</updated><title type='text'>SEJARAH HABAIB [BANI ALAWIYIN] DI BUMI NUSANTARA</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdlZtQSAYpA5PewfvK5czKP6MUN2v2H_iCz8qZtIRFffh2Kgx-zElEYSu1LJmo8Yo1z_D-uEnsVvAAK5T9CGLVKDYdftPnJ8mw2kYvHJ9aLU_x3s4kO4QPVxUa5c4dSIR1ryl2cyEgYKvCQ6le3zybqBEeYSxH3nyszEwqANlGriyEromsqoHpHDxCv4i5/s604/habib-di-yaman.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;453&quot; data-original-width=&quot;604&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdlZtQSAYpA5PewfvK5czKP6MUN2v2H_iCz8qZtIRFffh2Kgx-zElEYSu1LJmo8Yo1z_D-uEnsVvAAK5T9CGLVKDYdftPnJ8mw2kYvHJ9aLU_x3s4kO4QPVxUa5c4dSIR1ryl2cyEgYKvCQ6le3zybqBEeYSxH3nyszEwqANlGriyEromsqoHpHDxCv4i5/s320/habib-di-yaman.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Menurut Muhammad bin Ahmad al-Syatri dalam kitabnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Adwar
al-Tarikh al-Hadrami&lt;/i&gt;, bangsa Arab terbagi menjadi tiga golongan :&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Ba’idah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yaitu
bangsa Arab terdahulu dan kabar berita tentang mereka telah terputus karena
sudah terlalu lama,&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-’Aribah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yaitu orang-orang Arab Yaman
keturunan Qahthan,&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Musta’ribah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yaitu keturunan Nabi Ismail
as (Adnaniyah).[1]&amp;nbsp;Karena golongan yang pertama sudah tidak ada lagi maka
para ahli sejarah hanya mengkaji golongan yang kedua dan ketiga, yaitu bani
Qahthan dan bani Ismail. Bani Ismail as adalah keturunan dari Nabi Ismail as
anak Nabi Ibrahim as yang mula-mula berdiam di kota Ur yang merupakan kota di
Babylonia. Nabi Ibrahim as meninggalkan kota Ur dan berpindah ke Palestina.
Setelah Nabi Ibrahim as mempunyai anak dari Siti Hajar yang bernama Ismail as,
mereka pindah ke Hijaz tepatnya di Wadi Mekkah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;

&lt;hr size=&quot;2&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; width=&quot;100%&quot; /&gt;

&lt;/div&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Nabi Ismail as mempunyai putera sebanyak dua belas orang,
masing-masing mempunyai keturunan. Tetapi kemudian keturunan mereka terputus,
hanya keturunan Adnan-lah yang berkembang biak, sebab itu bani Ismail ini
dinamai juga bani Adnan. Sedangkan Bani Qahthan menurunkan suku Tajib dan
Sodaf. Bani Qahthan berasal dari Mesopotamia dan kemudian pindah ke negeri
Yaman. Penduduk asli Yaman adalah kaum ‘Ad yang kepada mereka diutus Nabi Hud
as. Mereka dibinasakan oleh Allah swt dengan menurunkan angin yang amat keras.
Kaum ‘Ad yang dibinasakan ini disebut kaum ‘Ad pertama, sedangkan kaum ‘Ad yang
masih mengikuti Nabi Hud as disebut kaum ‘Ad kedua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sesudah Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah di Mekkah, jadilah
kota Mekkah itu kota yang paling masyhur di tanah Hijaz, dan berdatanganlah
orang dari segenap penjuru jazirah Arab ke Mekkah untuk naik haji dan ziarah ke
Baitullah. Karena itu lama kelamaan kota Mekkah menjadi pusat perniagaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pertama kali kota Mekkah dipegang oleh bani Adnan, karena
itu bani Adnanlah yang memelihara dan menjaga Ka’bah. Sesudah runtuhnya
kerajaan Sabaiah, maka berpindahlah satu suku yang bernama Khuza’ah dari Yaman
ke Mekkah dan mereka merampas kota Mekkah dari tangan bani Adnan. Dengan
demikian berpindahlah penjagaan Baitullah dari bani Adnan kepada bani Khuza’ah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Di kemudian hari, dari suku Quraisy terdapat seorang
pemimpin yang kuat dan cerdas, namanya Qushai. Qushai ini beruntung dapat
merebut kunci Ka’bah dari bani Khuza’ah dan kemudian mengusir bani Khuza’ah itu
dari Mekkah. Maka jatuhlah kembali kekuasaan di Mekkah ke tangan bani Adnan.
Kemudian Qushai diangkat menjadi raja yang di tangannya terhimpun kekuasaan
keagamaan dan keduniaan. Sesudah Qushai meninggal kekuasaan tersebut dipegang
oleh keturunannya yang bernama Abdi Manaf.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Abdu Manaf mempunyai empat anak: Abdu Syams, Naufal,
al-Muththalib dan Hasyim.[2]&amp;nbsp;Hasyim adalah keluarga yang dipilih oleh
Allah yang diantaranya muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin
Hasyim. Rasulullah saw pernah bersabda :&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah telah memilih Isma’il dari anak
keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma’il, memilih Quraisy
dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy
dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim. “.&lt;/i&gt;(H.R. Muslim dan at-Turmudzy).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dari al-’Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, Rasulullah
saw bersabda :&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia
menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan,
kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik
kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara
sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka
dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(HR. at-Turmudzy).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dari keturunan inilah Allah swt telah menerbitkan cahaya
cemerlang, menerangi semesta alam, dikarenakan agama Islam yang dibawa
keturunan Adnan kepada masyarakat Hadramaut yang berasal dari keturunan
Qahthan. Diantara keturunan Adnan yang berada di Hadramaut adalah kaum
Alawiyin, sebelumnya mereka menetap di Basrah, Iraq.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Tokoh pertama golongan Alawi di Hadramaut adalah Ahmad bin
Isa yang dijuluki&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Muhajir&lt;/i&gt;.[3]&amp;nbsp;Kepindahannya ke Hadramaut
disebabkan kekuasaan diktator kekhalifahan Bani Abbas yang secara turun menurun
memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat.
Rakyat mengharapkan salah satu keturunan Rasulullah dapat memimpin mereka.
Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah,
menjauhkan diri dari pusat pemerintahan di Baghdad dan menetap di Hadramaut.
Imam Ahmad bin Isa keadaannya sama dengan para sesepuhnya. Beliau seorang&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘alim&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘amil&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(mengamalkan
ilmunya), hidup bersih dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;wara’&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(pantang bergelimang dalam
soal keduniaan). Di Iraq beliau hidup terhormat dan disegani, mempunyai
kedudukan terpandang dan mempunyai kekayaan cukup banyak. Mereka hijrah ke
Hadramaut bukan karena dimusuhi atau dikejar-kejar tetapi mereka lebih mementingkan
keselamatan aqidah keluarga dan pengikutnya. Mereka hijrah dari Basrah ke
Hadramaut mengikuti kakeknya Rasulullah saw hijrah dari Makkah ke Madinah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Mengenai hijrahnya Imam Ahmad Al-Muhajir ke Hadramaut, Habib
Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Risalah al-Muawanah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mengatakan
: Al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq,
ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan
pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negaranya (Iraq) dari
tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau
bermukim di sana hingga wafat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ketika beliau berangkat hijrah dari Iraq ke Hijaz pada tahun
317 H beliau ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin
al-Hasan bin ‘Ali al-‘Uraidhy, bersama putera bungsunya bernama Abdullah, yang
kemudian dikenal dengan nama Ubaidillah. Turut serta dalam hijrah itu cucu
beliau yang bernama Ismail bin Abdullah yang dijuluki dengan Bashriy. Turut
pula dua anak lelaki dari paman beliau dan orang-orang yang bukan dari kerabat
dekatnya. Mereka merupakan rombongan yang terdiri dari 70 orang. Imam al-Muhajir
membawa sebagian dari harta kekayaannya dan beberapa ekor unta ternaknya.
Sedangkan putera-puteranya yang lain ditinggalkan menetap di Iraq.[4]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Tibalah Imam al-Muhajir di Madinah al-Munawwarah dan tinggal
di sana selama satu tahun. Pada tahun itulah kaum Qaramithah memasuki kota
Makkah dan menguasainya. Mereka meletakkan pedang di al-Hajij dan memindahkan
Hajarul-Aswad dari tempatnya ke tempat lain yang dirahasiakan. Pada tahun
berikutnya al-Muhajir berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dari
Makkah beliau menuju Asir lalu ke Yaman. Di Yaman beliau meninggalkan anak
pamannya yang bernama Sayyid Muhammad bin Sulaiman, datuk kaum Sayyid al-Ahdal.
Kemudian Imam al-Muhajir berangkat menuju Hadramaut dan menetap di Husaisah.
Imam al-Muhajir menetap di Hadramaut atas dasar pengarahan dari Allah SWT,
sebab kenyataan menunjukkan, setelah beliau hijrah ke negeri itu di sana
memancar cahaya terang sesudah beberapa lama gelap gulita. Penduduk Yaman
khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari keturunan Qahthan, yang
awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas
syariat Islam yang sebenarnya. Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil
menundukkan masyarakat Hadramaut yang mempunyai faham Khawarij dengan dalil dan
argumentasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Maka masuklah Imam al-Muhajir ke Hadramaut. Ia bersikap
lemah lembut dalam da’wahnya dan menempuh cara yang halus dan mengeluarkan
hartanya. Maka banyak orang-orang Khawarij yang datang kepadanya dan taubat di
tangannya setelah mereka berusaha menentang dan mencacinya. Ia juga menolong
qabilah al-Masyaikh al-Afif. Dan bergabung juga dengannya qabilah Kindah dan
Madij. Mereka meninggalkan madzhab Ibadhiy dan bercampur dengan orang-orang
yang datang dari Iraq.[5]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kaum Khawarij tidak mengakui atau mengingkari Imam
al-Muhajir berasal dari keturunan Nabi Muhammad saw. Untuk memantapkan
kepastian nasabnya sebagai keturunan Rasulullah saw, sayyid Ali bin Muhammad
bin Alwi berangkat ke Iraq. Di sanalah ia beroleh kesaksian lebih dari seratus
orang terpercaya dari mereka yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji.
Kesaksian mereka yang mantap ini lebih dimantapkan lagi di Makkah dan beroleh
kesaksian dari rombongan haji Hadramaut sendiri. Dalam upacara kesaksian itu hadir
beberapa orang kaum Khawarij, lalu mereka ini menyampaikan berita tentang
kesaksian itu ke Hadramaut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dan diantara ulama ahli nasab dan sejarah yang telah
memberikan perhatiannya terhadap kebenaran nasab keturunan al-Imam al-Muhajir
dan silsilah mereka yang mulia, ialah:&amp;nbsp;&lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, al-Allamah Abu Nash
Sahal bin Abdullah al-Bukhori dalam kitabnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Sirru al-Silsilah
al-Alawiyah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tahun 341hijriyah.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, al-Nasabah Abu Hasan
Najmuddin Ali bin Abi al-Ghonaim Muhammad bin Ali al-Amiri al-Bashri, wafat
tahun 443. Di antara kitabnya adalah&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Majdi wa al-Mabsuth wa
al-Musajjar&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, al-Allamah Muhammad bin Ja’far al-Ubaidili
dalam kitabnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Tahdzib al-Ansab,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;wafat tahun 435
hijriyah.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, al-Allamah al-Yamani Abu al-Abbas al-Syarajji
dalam kitabnya Thabaqat al-Khawash Ahl al-Shidqi wa al-Ikhlas. Di dalamnya
disebutkan mengenai hijrahnya Saadah keluarga al-Ahdal dan Bani Qudaimi,
disebutkan awal pertama mereka tinggal di daerah Wadi Saham, Wadi Surdud, dan
Hadramaut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dan terdapat pula dari beberapa ulama nasab yang mempunyai
catatan-catatan ringkas mengenai nasab keturunan Rasulullah yang mulia ialah
al-Imam al-Nasabah al-Murtadho al-Zubaidi dan al-Nasabah Ibnu Anbah pengarang
kitab&amp;nbsp;&lt;i&gt;Umdah al-Thalib&lt;/i&gt;. Selain mereka banyak pula yang mengadakan
penelitian tentang nasab keturunan Rasulullah saw yang mulia, hasilnya mereka
mendapatkan kebenaran yang tidak diragukan lagi, sebagaimana hukum syar’i yang
telah menjelaskan masalah interaksi sosial dan keterangan-keterangan yang
berkaitan dengan keberadaan mereka dalam bentuk dalil-dalil yang kuat yang
menjelaskan kemuliaan nasab mereka, serta kepemimpinan mereka di wilayah Arab,
Hindi, Turki, Afrika Timur, Asia, semuanya merupakan dalil yang kuat tentang keberadaan
mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Di antara peneliti tersebut ialah al-Khazraji, al-Yafi’,
al-Awaji, Ibnu Abi al-Hub, al-Sakhowi, Abu Fadhol, Abu Ubbad, Ibnu Isa
al-Tarimi, al-Junaid, Ibnu Abi al-Hissan, Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu Samuroh,
Ibnu Kabban, Bamahramah, Ibnu Fahd, Ibnu Aqilah, al-Marwani al-Tarimi, dan
lainnya sebagaimana dijelaskan oleh Sayid Dhiya’ Shahab dalam bukunya ‘al-Imam
al-Muhajir’. Terakhir, nasab keturunan Rasulullah saw dibahas oleh Sayid
Abdullah bin Hasan Bilfaqih dalam kitab&amp;nbsp;&lt;i&gt;Tafnid al-Maza’im&lt;/i&gt;, Sayid
Alwi bin Thahir al-Haddad dalam kitab&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Qaul al-Fashlu&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Syamil
fi Tarikh Hadramut&lt;/i&gt;, Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah al-Saqqaf dalam
kitab&amp;nbsp;&lt;i&gt;Badhoi’ al-Tabut&lt;/i&gt;.[6]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dengan demikian mantaplah sudah pengakuan masyarakat luas
mengenai keutamaan para kaum ahlul-bait sebagai keturunan Rasulullah saw
melalui puteri beliau Siti Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib.
Rasulullah saw bersabda :&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Setiap putra ibu akan bergabung nasabnya kepada
ashabahnya (pihak ayah), kecuali anak-anak Fathimah, Akulah wali mereka dan
akulah ashabah mereka”&lt;/i&gt;.[7]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Al-allamah Yusuf bin Ismail al-Nabhany dalam bukunya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Riyadhul
Jannah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mengatakan:&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Kaum Sayyid Baalawi oleh umat Muhammad saw
sepanjang zaman dan di semua negeri telah diakui bulat sebagai ahlul-bait
nubuwah yang sah, baik ditilik dari sudut keturunan maupun kekerabatan, dan
mereka itu adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu pengetahuan agamanya,
paling banyak keutamaannya dan paling tinggi budi pekertinya”.&lt;/i&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ahmad bin Isa wafat di Husaisah pada tahun 345 Hijriah.
Beliau mempunyai dua orang putera yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah
hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut dan mendapat tiga orang putera yaitu Alwi,
Jadid dan Ismail (Bashriy). Dalam tahun-tahun terakhir abad ke 6 H keturunan
Ismail (salah satu keturunannya ialah Syekh Salim Bin Bashriy) dan Jadid (salah
satu keturunannya ialah al-Imam Abi Jadid Ali bin Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad bin Ali bin Jadid) punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap
lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian
dikenal dengan kaum Sayyid Alawiyin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kita dapat menyaksikan bahwa sekarang anak cucu dan
keturunan Imam Ahmad bin Isa menyebar di berbagai pelosok Hadramaut, dan di
daerah pesisir lautan Hindia, seperti Asia Tenggara, India dan Afrika Timur.
Para da’i dan ulama-ulama mereka mempunyai peranan yang besar di tanah air
mereka yang baru. Karena itu para penguasa, sultan, dan penduduk-penduduknya
memuliakan mereka karena karya mereka yang baik dan agung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Para sayyid Alawiyin menyebarkan da’wah Islamiyah di Asia
Tenggara melalui dua tahap, pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua
dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara
melalui pesisir India. Di antara yang hijrah ke India adalah seorang alim
syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota ‘Kanur’ dan menikahi anak menteri
Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Lalu syarif Muhammad bin
Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia hijrah atas
permintaan kakeknya syarif Syech bin Abdullah Alaydrus. Begitu pula keluarga
Abdul Malik yang diberi gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal
keturunan penyebar Islam di Jawa yang disebut dengan Wali Songo[9]. Kemudian
dari India, mereka melanjutkan perjalanannya ke Indonesia, yaitu daerah pesisir
utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Menurut Prof. Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah
banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini.
Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Filipina. Harus
diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini.
Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif
Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai
penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar
Muda Mahkota Alam pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi raja di
Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa sayid al-Qadri. Siak oleh
keluarga bangsa sayid Bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa sayid
Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis.
Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari
keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun
menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan
mereka jadi ulama. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Isa al-Muhajir
dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang
kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assaqaf, Alkaf, Bafaqih, Alaydrus, Bin
Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Al-Haddad, Bin Smith, Bin Syahab, Al-Qadri,
Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil,
Al-Hadi, Basyaiban, Ba’abud, Al-Zahir, Bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut
keterangan almarhum sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab[10]&amp;nbsp;telah
berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari Ubaidillah bin Ahmad
bin Isa al-Muhajir. Ahmad bin Isa al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah
dari Basrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa al-Muhajir
bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shaddiq bin Muhammad
al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib.
As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rasulullah
saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Orang-orang Arab Hadramaut mulai datang secara massal ke
Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad 18, sedangkan kedatangan mereka di
pantai Malabar jauh lebih awal. Perhentian mereka yang pertama adalah Aceh.
Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang Arab
mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820, dan koloni-koloni mereka baru
tiba di bagian Timur Nusantara pada tahun 1870. Pendudukan Singapura oleh
Inggris pada tahun 1819 dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat
kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat
imigrasi bangsa Arab. Sejak pembangunan pelayaran dengan kapal uap di antara
Singapura dan Arab, Aceh bahkan menjadi tidak penting sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Di pulau Jawa terdapat enam koloni besar Arab, yaitu
Batavia, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Surabaya. Di Madura hanya ada
satu yaitu di Sumenep. Koloni Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat koloni
di pulau Jawa bagian Timur. Koloni Arab lain yang cukup besar berada di
Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Lumajang, Besuki dan Banyuwangi. Koloni Arab di
Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Koloni-koloni Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada
lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama famili mereka, sedangkan Alawiyin
yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab kemudian berganti nama
dengan nama Jawa, mereka itu banyak yang berasal dari keluarga Bayaiban,
Ba’bud, Bin Yahya dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[1]&amp;nbsp;Jilid 1, hal. 25&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[2]&amp;nbsp;Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm al-Andalusi.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Jamharoh
Ansab al-Arab&lt;/i&gt;, hal. 14.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/5974767548774685636&quot;&gt;[3]&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Para
ahli sejarah sepakat memberi gelar&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Muhajir&amp;nbsp;&lt;/i&gt;hanya&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;kepada
al-Imam Ahmad bin Isa sejak hijrahnya dari negeri Iraq ke daerah Hadramaut,
hanya al-Imam al-Muhajir yang khusus menerima gelar tersebut meskipun banyak
pula orang-orang dari kalangan ahlul bait dan dari keluarga pamannya yang
berhijrah menjauhi berbagai macam fitnah dan berbagai macam gerakan yang
timbul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[4]&amp;nbsp;Idrus Alwi Al-Masyhur,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Menelusuri Silsilah
Suci Bani Alawi&lt;/i&gt;, hal. 15.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[5]&amp;nbsp;Muhammad Hasan Alaydrus,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Penyebaran Islam
di AsiaTenggara&lt;/i&gt;, hal 22.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[6]&amp;nbsp;Abubakar Al-Adeni Bin Ali Al-Masyhur,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Al-Abniyah
al-Fikriyah&lt;/i&gt;, hal. 25.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[7]&amp;nbsp;Jalaluddin Al-Suyuthi,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ihya al-Mait Fi
Fadhail Ahlu al-Bait&lt;/i&gt;, hal. 42.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[8]&amp;nbsp;Idrus Alwi Al-Masyhur,&amp;nbsp;&lt;i&gt;op cit&lt;/i&gt;, Hal. 15.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[9]&amp;nbsp;Muhammad Hasan Alaydrus, op cit, hal. 35.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;[10]&amp;nbsp;Beliau adalah salah satu pendiri Rabithah Alawiyah
dan menjadi ketua yang pertama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Oleh:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/5974767548774685636&quot;&gt;&lt;b&gt;benmashoor&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/7084603724447225482/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/menurut-muhammad-bin-ahmad-al-syatri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7084603724447225482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7084603724447225482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2024/06/menurut-muhammad-bin-ahmad-al-syatri.html' title='SEJARAH HABAIB [BANI ALAWIYIN] DI BUMI NUSANTARA'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdlZtQSAYpA5PewfvK5czKP6MUN2v2H_iCz8qZtIRFffh2Kgx-zElEYSu1LJmo8Yo1z_D-uEnsVvAAK5T9CGLVKDYdftPnJ8mw2kYvHJ9aLU_x3s4kO4QPVxUa5c4dSIR1ryl2cyEgYKvCQ6le3zybqBEeYSxH3nyszEwqANlGriyEromsqoHpHDxCv4i5/s72-c/habib-di-yaman.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-9139950973531250766</id><published>2016-08-04T12:34:00.002+07:00</published><updated>2024-06-15T07:23:31.800+07:00</updated><title type='text'>PROFIL HABIB SYECH BIN ABD QODIR ASSEGAF (PENGASUH MAJELIS AHBAABUL MUSTHOFA)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 17.25pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; font-family: Cambria; font-size: 12pt; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4OhCuvcUVi6C4JgICCjKXg0LR0jmOIdUlaPU9Xu48hJ3xbw_VHPxJKC8Z2NA0vuHqlyWoynYFPNwgHT1KYfiunaCSIAwPAb4ua7ykOGepm74CyOq5sWxbsIFRhH4cWAf0XYOPpAYZ2mQXQ4iJ1qtleZR53-22TvlLbLe-1A0vJG69bP6sgSYF4h52A787/s233/habib%20syekh.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;217&quot; data-original-width=&quot;233&quot; height=&quot;248&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4OhCuvcUVi6C4JgICCjKXg0LR0jmOIdUlaPU9Xu48hJ3xbw_VHPxJKC8Z2NA0vuHqlyWoynYFPNwgHT1KYfiunaCSIAwPAb4ua7ykOGepm74CyOq5sWxbsIFRhH4cWAf0XYOPpAYZ2mQXQ4iJ1qtleZR53-22TvlLbLe-1A0vJG69bP6sgSYF4h52A787/w323-h248/habib%20syekh.jpeg&quot; width=&quot;323&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Di tengah riuh ramainya bumi Indonesia dengan persoalan-persoalan di segala lini kehidupan, muncullah sosok Habib Syekh “the Contender” yang datang menandingi (melawan) dengan “Gerakan Shalawat”nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 17.25pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;“Rasul adalah orang yang paling bahagia jika umatnya bisa bahagia. Salawat kepada Nabi bisa disuarakan dalam kondisi apapun, bahkan saat harus berjuang menegakkan kebenaran”, kata Mahfud MD dalam Pengajian Akbar IPHI bersama Habib Syekh yang dihadiri ribuan umat muslim di Lap. Kota Barat, Solo (7/4/2012)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 17.25pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Orang boleh jadi belum mengenal Habib Syekh, tapi cepat atau lambat, Sang Habib akan segera datang menyapa dengan lantunan suara salawat yang begitu merdu, tentu beserta dengan ribuan lebih jamaah setia yang sudah lebih dulu “akrab” dengannya. Suaranya yang berat, berwibawa lagi khas tidak hanya “menyihir” (menghipnotis) ribuan jamaah, tapi juga “menghentak” para kawula muda yang biasanya dengan berpakaian putih-putih mendatangi pengajian. Mereka berarak-arakan mengibarkan bendera layaknya sebuah konvoi. Tidak sembarang bendera, tapi bertuliskan “Syekher Mania ”, dan juga ada bendera-bendera lain yang berkibar mendampingi seperti bendera “Slankers” dan supporter bola tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Siapa Sang Habib Itu?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Habib Syech bin Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf . Beliau adalah tokoh Alim dan Imam Masjid Assegaf yang berada di Pasar Kliwon kota Solo. Berawal dari Pendidikan dari guru besarnya sekaligus Ayahanda, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mendalami Ilmu agama berlanjut ke paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari Hadramaut. Habib Syech juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan perhatian dari Alm.&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://pecintahabibana.wordpress.com/2012/12/21/al-habib-anis-bin-alwi-bin-ali-bin-husein-al-habsyi-sang-pemilik-senyuman-yang-menyejukkan-hati/&quot; style=&quot;border: 0px; color: #2196f3; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none; transition: all 0.4s ease-in-out 0s; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Al-Imam Al-Arifbillah, Al-Habib Anis bin Alwiy Al-Habsyi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;“Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom Al-Habsyi”. Berawal dari dukungan beliau, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mensyiarkan sekaligus mengumandangkan Sholawat Nabi yang berawal di kota Solo. Dengan penuh keyakinan dan niat lillahi ta’ala, perkembangan syi’ar sholawat beliau sampai saat ini semakin pesat. Namun hal ini juga tak terlepas dari peran serta Majelis Ahbabul Musthofa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Majelis Ahbabul Musthofa sendiri berdiri sekitar tahun 1998 di kota Solo, tepatnya di kampung Mertodranan. Berawal dari majelis Rotibul Haddad dan Burdah serta maulid Simthut Duror, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf memulai langkahnya untuk mengajak ummat dan dirinya dalam membesarkan rasa cinta kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW melalui lantunan sholawat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Perjalanan hidup Habib kelahiran Solo, 20 September 1961, ini cukup berliku. Beliau pernah jaya sebagai pedagang tapi kemudian bangkrut. Di saat sulit itu, justru Sang Habib tampil melakukan dakwah menggunakan “kereta angin” ke pelosok-pelosok untuk melaksanakan tugas dari sang guru, almarhum Habib Anis bin Alwi Alhabsyi, imam masjid Riyadh, Gurawan, Solo. Pada saat itu Habib Syekh bin Abdul Qadir Asseggaf juga sering diejek sebagai orang yang tidak punya pekerjaan dan habib jadi-jadian. Namun Habib Syekh tidak pernah marah atau mendendam kepada orang yang mengejeknya. Justru sebaliknya, beliau tetap tersenyum dan terkadang berderma (memberi sesuatu) kepada orang tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgga7hOsrVWAWXoUTyQ-uYU093k1-LkIpZh6HAiC80olk1MqYaRkkOXbXFwvMMn8lxMlJopYjYxtsiI6vQnsmCnspR9-mCiel6n7PZRwC8cXFkVxuw5YgZeC_IhHSgzDG8fjCP06Qoh4J18etk01Mj_EH6iF_xrQybH7BgAIeECDwJRX_Cxs4a1dtNFPJDC/s275/habib%20syekh%202.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;183&quot; data-original-width=&quot;275&quot; height=&quot;183&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgga7hOsrVWAWXoUTyQ-uYU093k1-LkIpZh6HAiC80olk1MqYaRkkOXbXFwvMMn8lxMlJopYjYxtsiI6vQnsmCnspR9-mCiel6n7PZRwC8cXFkVxuw5YgZeC_IhHSgzDG8fjCP06Qoh4J18etk01Mj_EH6iF_xrQybH7BgAIeECDwJRX_Cxs4a1dtNFPJDC/s1600/habib%20syekh%202.jpeg&quot; width=&quot;275&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Meski berdakwah dalam kondisi yang serba “pas-pasan”, tidak jarang Sang Habib pun tetap mengusahakan membawa nasi bungkus, untuk dibagi-bagikan kepada jamaahnya di pelosok-pelosok kampung. Taklimnya saat awal-awal adalah dari kampung ke kampung di seputaran Solo dan Jawa Tengah, serta terkadang juga diselenggarakan di daerah Kebagusan. Kini dakwah Sang Habib tidak hanya bisa dinikmati oleh segelintir penduduk kampung saja, tapi sudah meluas ke berbagai daerah di tanah air dan bahkan di luar negeri. Tembang-tembang sholawatnya pun telah beredar luas di dunia maya dan siap untuk diunduh, termasuk NSP (Nada Sambung Pribadi)-nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Syi’ir Jawa, Sholawat Khas Sang Habib Yang “Menyihir”, Selain mencipta sendiri, Habib Syekh juga membawakan (mempopulerkan) kembali qashidah lama yang dikemas sedemikian rupa iramanya sehingga barang “lama”(tradisional) itupun seakan menjadi “baru” dan lebih menggoda telinga (indah) untuk terus mendengarnya, seperti yang berikut ini. (Satu lagi, Sholawat Syiir Jawa “Padang Bulan”, di bagian akhir tulisan ini&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sholli wa sallim daa’iman ‘alahmada &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sholli wa sallim daa’iman ‘alahmada &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Wal ali wal ashaa biman qod wahhada &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Wal ali wal ashaa biman qod wahhada &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Eman lo wong Islam, ninggal Sholat wengi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sak ben dalu turu, ora gelem tangi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sholat wengi ngono, disenengi Gusti &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sopo gelem nyuwun, pasti di paringi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sholat limang waktu, ayo podo njogo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jama’ah nang masjid, bareng sak kluwargo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ganjarane slawe, celengan suwargo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Malah biso dadi, pitu likur ugo &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Yen Sholat kesusu, ora biso pernah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Rukuk lan sujude, ditoto sing genah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sing khusyu’ lan khudhur, ugo tumakninah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ngerteni sing wajib, lan ngerti sing sunah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Yen rumongso sugih, itungen donyone &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Bagiane Zakat, ojo dilalekne &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Dulur karo tonggo, sing podo miskine kabeh podo nunggu, zakat bagiane &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Yen karo tonggone, Sing apik atine &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Yen kahanan longgar, mikiro butuhe &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sajak perlu utang, enggal di peringne &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Nanging ojo nganti, njaluk anak ane &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ayo do ngurangi, nonton televisi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Timbang nonton TV, luweh becik ngaji “Ahbaabul Musthofa” wadah kanggo ngaji &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kumpul poro Habaib lan poro Kyai &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Eman lo wong ngaji, campur lanang wadon &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Campur lanang wadon, lamun dudu mahrom &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Biso biso malah, nglakoni sing harom&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ilmu gak manfa’at, rusak malah klakon&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Lanang karo wadon, manggon sepi sepi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Nyanding senggal senggol koyok kebo sapi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ngunu kuwi duso, nurut poro nabi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ojo di terusno, yen durung di rabi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;SYI’IR PADANG BULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Allohumma Sholli wa Sallim ‘alaa sayyidinaa wa maulanaa Muhammadin) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(‘Adada maa fii ‘ilmillahi Sholatan daaimatan bidawaami mulkillaahi) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Padang bulan, padange koyo rino. Rembulane sing ngawe-awe) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ngelengake, ojo turu sore. (E… Kene tak critani, kanggo sebo mengko sore) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Lamun wong tuwo, Lamun wong tuwo keliru mimpine &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ngalamat bakal, Ngalamat bakal getun mburine) 2X&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Wong tuwo loro, kundur ing ngarso pengeran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt; (Anak putune, rame rame rebutan warisan) 2X&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt; (Wong tuwa loro, ing njero kubur anyandang susah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Sebab mirsani, putera puterine ora ngibadah (dho pecah belah)) 2X&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt; Kang den arep-arep, yoiku turune rahmat &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Jebul kang teka – Jebul kang teka, nambahi fitnah) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Iki dino, ojo lali lungo ngaji Takon marang, Kyai Guru kang pinuji) 2X&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt; Enggal siro, ora gampang kebujuk syetan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt; (Insya Alloh, kito menang lan kabegjan) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Jaman kepungkur, ono jaman jaman buntutan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Esuk-esuk, rame rame luru ramalan) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Gambar kucing, dikira gambar macan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Bengi diputer – bengi diputer, metu wong edan) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Kurang puas kurang puas, luru ramalan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Wong ora waras wong ora waras, dadi takonan) 2X &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Kang ditakoni, ngguyu cekaka’an &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Jebul kang takon – jebul kang takon, wis ketularan) 2x&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Jadwal Pengajian Rutin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pengajian Rutin Malam Kamisan Bertempat di Ndalem Guru Mulia Al Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf, Jl. Bengawan Solo 6, No.12,  Semanggi kidul Solo. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Pengajian Rutin Lapanan  Malam Sabtu Kliwon di Masjid  Agung Baitul Makmur Purwodadi- Grobogan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Malam Rabu Pahing di Halaman Masjid Agung Kudus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Malam Sabtu Legi di Halaman  Masjid Agung Baitul Makmur  Jepara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Malam Ahad Pahing di Masjid  Assakinah, Puro Asri, Sragen. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Malam Jum’at Pahing di Halaman  PP. Minhajuttamyiz Timoho,  belakang UIN Sunan Kalijaga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Malam Ahad Legi di Halaman Masjid Agung Surakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #3b3b3b; margin: 0cm 0cm 13pt; padding: 0px; text-align: justify; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;i style=&quot;border: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border: 0px; color: black; font-family: helvetica; font-size: large; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Sumber: Majalah Alkisah dan berbagai Sumber)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/9139950973531250766/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/08/profil-habib-syech-bin-abd-qodir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/9139950973531250766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/9139950973531250766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/08/profil-habib-syech-bin-abd-qodir.html' title='PROFIL HABIB SYECH BIN ABD QODIR ASSEGAF (PENGASUH MAJELIS AHBAABUL MUSTHOFA)'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4OhCuvcUVi6C4JgICCjKXg0LR0jmOIdUlaPU9Xu48hJ3xbw_VHPxJKC8Z2NA0vuHqlyWoynYFPNwgHT1KYfiunaCSIAwPAb4ua7ykOGepm74CyOq5sWxbsIFRhH4cWAf0XYOPpAYZ2mQXQ4iJ1qtleZR53-22TvlLbLe-1A0vJG69bP6sgSYF4h52A787/s72-w323-h248-c/habib%20syekh.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-5111212932907642448</id><published>2016-07-29T11:15:00.003+07:00</published><updated>2024-06-15T07:24:19.384+07:00</updated><title type='text'>KH. ABDURRAHMAN CHUDLORI [ALM] ALLOHU YARHAM DAN AMPLOP BISYAROH</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikdwcqSrr4t1oJvVZA70HbzWJrb9ivW2HNWsQ5ygnMRuQAk7E-iM0OfG7N16Qpk793A6S4RgiErWsRurK_THoGNTO6LZwOI6hwM0cAk2urclWuNdsn0ZsUyCs8DSqddWEl3b1YAIqM_3aSeInMeOGG9uczHcg5dnjxnBsOexYxawUfl4Cy7vB4mUayzXDo/s906/MBAH%20DUR.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;906&quot; data-original-width=&quot;703&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikdwcqSrr4t1oJvVZA70HbzWJrb9ivW2HNWsQ5ygnMRuQAk7E-iM0OfG7N16Qpk793A6S4RgiErWsRurK_THoGNTO6LZwOI6hwM0cAk2urclWuNdsn0ZsUyCs8DSqddWEl3b1YAIqM_3aSeInMeOGG9uczHcg5dnjxnBsOexYxawUfl4Cy7vB4mUayzXDo/s320/MBAH%20DUR.jpg&quot; width=&quot;248&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/5111212932907642448&quot;&gt;&lt;b&gt;fiqhmenjawab.net&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;~&amp;nbsp;&lt;b&gt;KH.
Abdurrahman Chudlori&lt;/b&gt;&amp;nbsp;[Alm] yang lebih akrab disapa&amp;nbsp;&lt;b&gt;Mbah Dur &lt;/b&gt;sudah lama meninggalkan kita,&amp;nbsp;namun banyak kisah tak tertulis yg mengisahkan akhlak luhur beliau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Untuk yang belum kenal beliau, beliau [alm] adalah seorang pemimpin pesantren yang istiqomah dengan mobilitas yang luar
biasa. Selain mengajar beliau setiap hari selalu mengisi paraf di buku
kehadiran santrinya satu-persatu. Dari mulai pukul 6 pagi hingga 11 malam,
beliau memantau perkembangan mereka bahkan secara pribadi. Aktifitas rutin ini
beliau geluti semenjak kepulangan Mbah Chudlori ke Rahmatullah tahun 1977.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Selain full time mengasuh pesantren, Mbah Dur juga figur
kyai yang aktif mengayomi dan menjadi panutan masyarakat wilayah
Tegalrejo,Bahkan hingga luar daerah juga tak luput dari keikhlasan dakwah
beliau dengan jadwal yang padat untuk memberikan pengajian yang otomatis
membutuhkan tenaga ekstra guna perjalanan jauh yang harus ditempuh bolak-balik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;

&lt;hr align=&quot;center&quot; size=&quot;2&quot; width=&quot;100%&quot; /&gt;

&lt;/div&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Amplop, adalah suatu tradisi yang selalu mewarnai dunia
pesantren. Kehadiran seorang Kyai dalam sebuah majelis pengajian hampir pasti
selalu disertai dengan disiapkannya amplop bisyaroh (hadiah). Bahkan kedatangan
santri alumni atau tamu ke pesantren biasanya membawa amplop bisyaroh untuk
diserahkan kepada Kyai.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Bagi kebanyakan orang, yang menganggap Kyai adalah sebuah
profesi, maka amplop bisyaroh secara mudah di “justifikasi” sebagai (maaf)
pendapatan dari profesi itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Baca juga:&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3888281622673365399/5111212932907642448&quot;&gt;KISAH
DIBALIK NAMA MBAH DUR DAN GUS DUR&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Pada masa Mbah Dur masih sehat, tiap hari rata-rata 2 sampai 3 tempat
mengundang beliau untuk mengaji. Namun sampai wafatnya beliau tak pernah tahu
dari siapa dan berjumlah berapa biysaroh yang beliau dapatkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Setiap mendapatkan amplop bisyaroh, menurut santri yang
dekat dengan beliau, Mbah Dur menaruh amplop-amplop itu di dashboard, saku jok
bahkan di bawah karpet mobil. Dan dalam waktu yang lama amplop-amplop itu
berada di mobil Mbah Dur. Ini bukan karena tidak menghormati pemberian namun
menurut beliau untuk mejaga keikhlasan dalam berdakwah. Bahkan ketika amplop
bisaroh itu hanya berisi Rp. 600,00 pun beliau tak pernah tahu. Amplop-amplop
itu kemudian dikumpulkan oleh santri dekat Mbah Dur ketika akan mencuci mobil,
dan memasukkan amplop-amplop itu untuk kepentingan Pesantren. Tak serupiahpun
Mbah Dur dan keluarganya menikmati amplop bisyaroh itu, karena Mbah Chudlori
sang ayahanda mengharamkan kecuali untuk kepentingan umat atau pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Begitulah akhlak dan kehati-hatian (wira’i) seorang figur
ulama sejati yang mungkin di zaman sekarang jarang dijumpai. Semoga para da’i
atau penceramah bisa memetik hikmah sebagai bekal keikhlasan dalam setiap
dakwahnya. Aamiin&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Oleh:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Nasyit Manaf&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;, pernah nyantri di API
Tegalrejo – sumber kisah dari Mas Adhang Legowo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/5111212932907642448/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/kh-abdurrahman-chudlori-dan-amplop_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/5111212932907642448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/5111212932907642448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/kh-abdurrahman-chudlori-dan-amplop_15.html' title='KH. ABDURRAHMAN CHUDLORI [ALM] ALLOHU YARHAM DAN AMPLOP BISYAROH'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikdwcqSrr4t1oJvVZA70HbzWJrb9ivW2HNWsQ5ygnMRuQAk7E-iM0OfG7N16Qpk793A6S4RgiErWsRurK_THoGNTO6LZwOI6hwM0cAk2urclWuNdsn0ZsUyCs8DSqddWEl3b1YAIqM_3aSeInMeOGG9uczHcg5dnjxnBsOexYxawUfl4Cy7vB4mUayzXDo/s72-c/MBAH%20DUR.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-2798806733193986038</id><published>2016-07-26T12:02:00.002+07:00</published><updated>2024-06-15T07:26:16.369+07:00</updated><title type='text'>SEJARAH PAGAR NUSA</title><content type='html'>&lt;h3 class=&quot;post-title entry-title&quot; itemprop=&quot;name&quot; style=&quot;font-stretch: normal; margin: 0px; position: relative;&quot;&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJWF1xNiHkzGrj-DKrrOK7l_zECuZXzfppAtuIgZoncR2cPI7q1oi2G-23amkY4aNY73xsbdxTrc4xdWHKwbyorPANG_203HnWyirLFgRUcXUnYvPMOSVzDRuoVzpXj6EV3B95589MhRUK3oKBgWbsXMPmd2ZF4SVUKNNyOWj8MMT9x4Wsb1RI37fWwijL/s720/gus%20maksum.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;720&quot; data-original-width=&quot;720&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJWF1xNiHkzGrj-DKrrOK7l_zECuZXzfppAtuIgZoncR2cPI7q1oi2G-23amkY4aNY73xsbdxTrc4xdWHKwbyorPANG_203HnWyirLFgRUcXUnYvPMOSVzDRuoVzpXj6EV3B95589MhRUK3oKBgWbsXMPmd2ZF4SVUKNNyOWj8MMT9x4Wsb1RI37fWwijL/w409-h320/gus%20maksum.jpg&quot; width=&quot;409&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pagar Nusa adalah nama lembaga silat di kalangan NU yang di
dirikan oleh para Kyai pendekar untuk melestarikan ilmu persilatan yang ada
sejak masa zaman dahulu di nusantara. Nama tsb di nisbatkan agar warga
Nahdiyyin bisa menjadi benteng kesatuan NKRI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pendiri Pagar Nusa diantaranya adalah Simbah Kyai Makhrus
&#39;Ali dr cirebon yang bermukim di Lirboyo Kediri atas ijin dan restu dr
Assyaikhul Akbar Hasyim Asy&#39;ari (Sunan Tebu Ireng) untuk memberikan pengetahuan
tentang sejarah persilatan dan melestarikan ilmu silat yang secara turun
temurun dr Walisongo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ilmu silat yang ada pada para Kyai kebanyakan secara turun
temurun dr zaman Walisongo sampai pd zaman Mataram dan akhirnya sebagai sarana
perjuangan melawan penjajah.Salah satu diantara nya yang dikenal dengan Asma
Songo... sebuah aurod yang yg di ijazah kan oleh para Wali pada para santri dan
prajurit demak zaman itu... dan secara turun temurun sampai masa perjuangan
melawan penjajah. Dan setelah kemerdekaan ilmu silat tsb disatukan dlm sebuah
lembaga organisasi untuk mengisi kemerdekaan serta sebagai tonggak bagi sejarah
perjuangan para Kyai dlm melawan penjajah. Dr hal tsb jelaslah bahwa para Kyai
dlm masa penjajahan senantiasa bersatupadu untuk melawan penjajah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dan dimasa kemerdekaan ilmu persilatan hanya untuk menjaga
diri serta berorientasi pada lembaga negara dlm bidang seni olahraga.Karena
itulah almarhum KH Ma&#39;syum Jauhari tidak pernah memberikan ilmu silat dan
tenaga dalam tingkat tinggi pada Pagar Nusa. Karena di khawatir kan disalah
gunakan oleh orang yang tdk bertanggung jawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ilmu silat sebenarnya adalah ilmu hikmah yang didalamnya
terdapat gerakan-gerakan yang mempunyai tenaga penghancur krn di dasari tenaga
dalam.... sumber dr kekuatan itu adalah ALLOH lewat wirid dan pelatihan
pernafasan yang sempurna. Di masa lalu ilmu silat tingkat tinggi biasa jadi
rebutan dan adu tanding dunia persilatan... dr hal tsb setiap pendekar selalu
meningkatkan mutu dr ilmu silat dan tenaga dalam... sehingga banyak tercipta
ilmu dan jurus silat yang beraneka ragam. serta di kuatkan lagi dgn ajian yang
sangatlah dahsyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Di antara ilmu2 tsb pada zaman Walisongo, tersebut lah : Jurus
Taqwa, &amp;nbsp;sangkal putung, kalajenget, condrobirowo,
singoludoyo, sosrobirowo, tapak jati, tapak geni, lebur saketi, guntur geni, brojomusti
dan sebagainya. Ilmu dan ajian tsb masih ada sampai sekarang... dan hanya
orang2 tertentu yang menguasai ilmu silat yang dahsyat tsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ilmu tsb untuk sekarang ini tdk mungkin di ajarkan secara
umum.. karena sifatnya yang kuat dan bisa menjadi penghancur.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Gus Ma&#39;sum maupun yang lain tdk sembarangan memberikan ilmu2
tsb pada setiap org dan santri. Para sepuh selalu memikirkan anfak dan
madhorotnya. Pagar Nusa adalah perkumpulan silat NU yang punya slogan Ngalah
Ngalih Ngamuk.. dan punya makna yang cukup tinggi untuk ksatria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ngalah (tawadhuk.ngalah dateng pepesthen ALLOH lan setia
terhadap aturan persilatan. Serta menjaga kesatuan bangsa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ngalih (berusaha memperbaiki diri dan berusaha pindah dr
kemadhorotan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ngamuk (jk ada yang berani mengoyak NKRI dan martabat bangsa
dan negara... orang pagar Nusa harus siap di medan laga)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Para Kyai sepuh mengajarkan agar warga Nahdziyyin pny jiwa
pemberani berjiwa ksatria... selalu patuh pada pimpinan dan guru... serta ikut
menjaga keutuhan bangsa dan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Teguh memegang prinsip dan menolak segala hal yang bisa
mengoyak meruntuhkan kesatuan NKRI.&lt;br /&gt;
Urip kudu duwe roso lan rumongso. Ajaran kalimah tsb mempunyai arti. Dalam
menjalankan kehidupan hendak nya mempunyai perasaan memiliki dan mengakui
perjuangan masa lalu dan menjaga amanah serta keutuhan bangsa dan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa bodoh hendak nya kira belajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa pintar hendak nya memberikan pengetahuan pd
org lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa kaya hendak nya menggunakan kekayaan itu
untuk menolong yang lemah dan miskin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya sesepuh hendak nya selalu mendoakan
dan mencontoh perjuangan nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya negri ini hendaknya selalu menjaga
martabat dan keutuhan NKRI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya agama hendak nya selalu berpegang
pada ajaran agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya iman hendak nya berfikir dan melihat
dgn keimanan tsb&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa umat Nabi Muhammad hendak nya selalu
mencintai dan menjalankan ajaran Nabi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;Jika kita merasa punya &lt;/span&gt;ALLOH&lt;span style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt; hendak nya kita menyembah dan
berserah diri, karena semua yang ada hanya atas kehendakNya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya orang tua hendaknya selalu berbakti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya guru hendaknya selalu patuh dan
berbakti menurut kemungkinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya saudara hendaknya selalu
berbelaskasih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya sahabat hendaknya selalu berinteraksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya keluarga hendaknya selalu bertanggung
jawab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya teman hendaknya selalu berbagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa punya harga diri hendaknya hormati org lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jika kita merasa kurang hendaknya selalu berdoa dan berusaha&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Itulah ajaran para Kyai sepuh yang ditanamkan dalam slogan
pagar nusa &lt;/span&gt;&lt;b style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;“Ngalah Ngalih Ngamuk urip kudu duwe roso rumongso Kanggo ngadepi
urip ing dunyo dalah akhirate”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Surodiro Djayaningrat lebur ing pangastuti. Yen wedi ojo
wani-wani.. Yen wani ojo wedi-wedi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times, Times New Roman, serif; font-size: 24px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/h3&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/2798806733193986038/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/sejarah-pagar-nusa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/2798806733193986038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/2798806733193986038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/sejarah-pagar-nusa.html' title='SEJARAH PAGAR NUSA'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJWF1xNiHkzGrj-DKrrOK7l_zECuZXzfppAtuIgZoncR2cPI7q1oi2G-23amkY4aNY73xsbdxTrc4xdWHKwbyorPANG_203HnWyirLFgRUcXUnYvPMOSVzDRuoVzpXj6EV3B95589MhRUK3oKBgWbsXMPmd2ZF4SVUKNNyOWj8MMT9x4Wsb1RI37fWwijL/s72-w409-h320-c/gus%20maksum.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-4988933825404333573</id><published>2016-07-23T23:27:00.002+07:00</published><updated>2024-06-15T07:26:57.579+07:00</updated><title type='text'>KENDUREN,MEDIA KERUKUNAN MASYARAKAT JAWA</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;post_header&quot; style=&quot;background: rgb(255, 255, 255); border: 0px; color: #747474; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 17px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;entry-content resize&quot; style=&quot;background: rgb(255, 255, 255); border: 0px; line-height: 22px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;wp-caption alignnone&quot; id=&quot;attachment_589449&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; font-family: tahoma; font-size: 14px; margin: 5px 20px 20px 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 410px;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2sYAVUWQfIYki2mbOR9UBdFrMXZ_ChHwyQHeM-vA3pwEccJI_3cuTvnS74BqK_5Ge-cteDwRfdUBt1G1neHVUPeKgNV3TDMkMdK6pX7s2F7EaTtcAz95_Lf9g_cYW4Myzm6cgw45HdLrZJw1F0xGrlLNG4R3O3HF7pgRBpf1izhE0psOxRLJwmLZsn_s2/s291/KENDUREN.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;173&quot; data-original-width=&quot;291&quot; height=&quot;217&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2sYAVUWQfIYki2mbOR9UBdFrMXZ_ChHwyQHeM-vA3pwEccJI_3cuTvnS74BqK_5Ge-cteDwRfdUBt1G1neHVUPeKgNV3TDMkMdK6pX7s2F7EaTtcAz95_Lf9g_cYW4Myzm6cgw45HdLrZJw1F0xGrlLNG4R3O3HF7pgRBpf1izhE0psOxRLJwmLZsn_s2/w393-h217/KENDUREN.jpeg&quot; width=&quot;393&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; font-size: 11px; line-height: 17px; outline: 0px; padding: 0px 4px 5px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin-bottom: 15px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;background: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;SATU&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;ciri kehidupan dalam masyarakat di Jawa lekat dengan ciri gemeinschaft atau paguyuban. Kehidupan antarwarga berlangsung harmonis, rekat antarsatu sama lain, dan penuh kehangatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin-bottom: 15px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Untuk melanggengkan sifat-sifat bermasyarakat itulah, tradisi&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;background: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;kenduren&lt;/em&gt;&amp;nbsp;atau kenduri masih dilestarikan hingga hari ini. Meski kenduren merupakan hasil akulturasi Islam dan Jawa, namun kebersamaan yang terjalin di dalamnya tetap tidak berubah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin-bottom: 15px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Tradisi kenduren ini diperkirakan berakar dari pengungsi Campa yang beragama Islam. Peristiwa yang terjadi pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi itu rupanya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural religius di Majapahit khususnya, dan di pulau Jawa pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin-bottom: 15px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Kenduren biasanya dilakukan setelah ba’da isya, dan disajikan sebuah nasi tumpeng dan besek (tempat yang terbuat dari anyaman bambu bertutup, bentuknya segi empat yang dibawa pulang oleh seseorang dari acara selametan atau kenduri) untuk tamu undangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin-bottom: 15px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Kenduren memiliki nama-nama khusus, sesuai dengan niat penyelenggara. Contohnya kenduren&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;background: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Wetonan&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(&lt;em style=&quot;background: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;wedalan&lt;/em&gt;) yang bermakna kenduren yang digelar pada hari lahir seseorang (&lt;em style=&quot;background: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;weton&lt;/em&gt;), kenduren&lt;em style=&quot;background: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&amp;nbsp;Likuran&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang digelar pada tanggal 21 bulan Ramadhan dan dilakukan untuk memperingati turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Quran, dan kenduren&lt;em style=&quot;background: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&amp;nbsp;Ba’dan&lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang digelar pada 1 Syawal atau saat hari Raya Idul Fitri yang bertujuan untuk menurunkan arwah leluhur ke tempat peristirahatannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin-bottom: 15px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Meski terkesan sederhana, namun nyatanya tradisi kenduren masih dipertahankan hingga saat ini. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tradisi ini juga memiliki dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin-bottom: 15px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; background: transparent; border-image-outset: initial; border-image-repeat: initial; border-image-slice: initial; border-image-source: initial; border-image-width: initial; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/4988933825404333573/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/kendurenmedia-kerukunan-masyarakat-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4988933825404333573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4988933825404333573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/kendurenmedia-kerukunan-masyarakat-jawa.html' title='KENDUREN,MEDIA KERUKUNAN MASYARAKAT JAWA'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2sYAVUWQfIYki2mbOR9UBdFrMXZ_ChHwyQHeM-vA3pwEccJI_3cuTvnS74BqK_5Ge-cteDwRfdUBt1G1neHVUPeKgNV3TDMkMdK6pX7s2F7EaTtcAz95_Lf9g_cYW4Myzm6cgw45HdLrZJw1F0xGrlLNG4R3O3HF7pgRBpf1izhE0psOxRLJwmLZsn_s2/s72-w393-h217-c/KENDUREN.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-8428286445529255499</id><published>2016-07-03T22:59:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T07:33:01.930+07:00</updated><title type='text'>BERANDA</title><content type='html'>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Assalamu&#39;alaikum Wr. Wb&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTfthGX-UxNfmQwZKX5NHLl6KfqtuHiJmYfqsTEYzebJb-v33Q113XQq_Gqi75rrgXXAxDEdp4HAzbiXnS-56CTEvgBp-v7RKKsCwFUVFdFlKKeZwCIBX6LU8P6LmAzd89rG4Bn56otGKBw5YFaoJR2-pX7shlkOPFbTArz1XXH8VGGrqFbLK-q2eEfqdO/s259/mpdt%202.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;259&quot; data-original-width=&quot;194&quot; height=&quot;311&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTfthGX-UxNfmQwZKX5NHLl6KfqtuHiJmYfqsTEYzebJb-v33Q113XQq_Gqi75rrgXXAxDEdp4HAzbiXnS-56CTEvgBp-v7RKKsCwFUVFdFlKKeZwCIBX6LU8P6LmAzd89rG4Bn56otGKBw5YFaoJR2-pX7shlkOPFbTArz1XXH8VGGrqFbLK-q2eEfqdO/w268-h311/mpdt%202.jpeg&quot; width=&quot;268&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Puji syukur alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Alloh
SWT atas segala nikmat yang tercurah kepada kita semua. Shalawat salam semoga
tercurah kepada Baginda Rasulillah Muhammad SAW, Sahabat-sahabat setia beliau
hingga kepada kita semua ila akhirizzaman, mudah-mudahan kita semua yang hidup
di era sekarang akan mendapatkan syafaat dari uswah kita Baginda Rasulullah
saw. Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Salam hangat dan bahagia buat para pembaca yang budiman dari
kami pengasuh dan pengelola Blog &quot;mpdaaruttholabah79&quot; Yang merupakan
wadah kreatifitas kami dalam mensyiarkan ISLAM yang Rahmatan lil- aalamiin,
berfahamkan AHLUSSUNNAH WAL JAMA&#39;AH ALA NAHDHATUL ULAMA&#39;, dan nguri-nguri
peninggalan para ulama&#39;, auliya&#39; sholihin para tabi&#39;in juga para tabi&#39;it tabiin
ila yaumil qiyamah kelak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Adapun Majlis Ta&#39;lim yang kami Ampu kami beri Nama &quot;
MAJELIS PENGAJIAN DAARUT THOLABAH&quot; dan beralamat di Dukuh Petodanan Baru
Kel. Proyonanggan Tengah Kec/Kab. Batang Jawa Tengah Kode Pos 51211. Majelis
Pengajian Daarut Tholabah yang kemudian di singkat [ MPDT ] ini kami dirikan
tepatnya pada tanggal&amp;nbsp;&lt;b&gt;29&lt;/b&gt;&amp;nbsp;bulan&amp;nbsp;&lt;b&gt;Agustus&lt;/b&gt;&amp;nbsp;tahun&amp;nbsp;&lt;b&gt;2002&amp;nbsp;&lt;/b&gt;atau
tepat satu tahun setelah kami lulus nyantri di Pesantren API TEGALREJO
MAGELANG.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;MPDT ini sengaja dibangun untuk menampung dan menjadi wadah
belajar buat santri dari berbagai kalangan. Dan alhamdulillah dulu untuk tahap
awal (th 2002), kami memulainya dengan 20 orang santri dari kampung sendiri dan
sekitar kampung&amp;nbsp;dengan harapan akan membantu mereka yang dititipkan oleh
orang tuanya untuk mendalami dan mengkaji al Qur’an dengan baik dan benar dan
mampu menguasai ilmu alatnya berupa kitab kuning dan juga menguasai ilmu untuk
hidup di dunia berupa kemandirian dan jiwa kepemimpinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;MPDT punya cita-cita yang semoga alloh SWT meridhoi, yaitu
merupakan wadah yang bisa diharapkan mencetak para penerus ulama atau para
asatidz yang pada ujungnya adalah meneruskan cita-cita luhur para anbiya’ dan
para waliyullah yang telah mensyiarkan Islam dengan mengedepankan kasih sayang
bagi seluruh penghuni bumi Allah ini, Yaitu ajaran Islam yang menebarkan
keindahan akhlak dan perdamaian di antara sesama makhluk Allah di alam raya
ini. Karena inilah inti ajaran Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul serta
wali – wali Allah yang pernah hadir sebelum kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Doa dan harapan kami sangat besar, semoga apa yang Tersaji
dan di baca para pengunjung Blog ini bisa membawa manfaat yang banyak buat umat
Islam dan khususnya buat para santri kami ke depan. Dan kami juga mohon
dukungan dan doanya kepada segenap pembaca, kiranya niat baik ini diridhai oleh
Allah Ta’ala. Amin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Wassalamu’alaikum wr.wb.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pengasuh Dan Pengelola&amp;nbsp; MAJELIS PENGAJIAN DAARUT
THOLABAH dan&amp;nbsp;&lt;b&gt;BLOG &quot;MPDAARUTTHOLABAH79&quot;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;u&gt;ttd&lt;/u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;WAHAB CHASBULLOH.&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/8428286445529255499/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/beranda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/8428286445529255499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/8428286445529255499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/07/beranda.html' title='BERANDA'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTfthGX-UxNfmQwZKX5NHLl6KfqtuHiJmYfqsTEYzebJb-v33Q113XQq_Gqi75rrgXXAxDEdp4HAzbiXnS-56CTEvgBp-v7RKKsCwFUVFdFlKKeZwCIBX6LU8P6LmAzd89rG4Bn56otGKBw5YFaoJR2-pX7shlkOPFbTArz1XXH8VGGrqFbLK-q2eEfqdO/s72-w268-h311-c/mpdt%202.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-3557371709575699049</id><published>2016-05-29T21:33:00.001+07:00</published><updated>2024-06-15T07:38:15.349+07:00</updated><title type='text'>MUSTAHIQ ZAKAT</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP6gE39IV0pO2HBZct2ym5lUpSs6CdafjP7VOgtmTiYbOtULC3CbzEfWocfpCufdVzzJR0z8DZz_MNLzgWRVNZ2Eq9d047cOjuipjQaqunUl0AfLY6P6CjqxxZV9lzU-I6RDxq3eVfdRPd-idK11LpiN0oIwysTP6ib00wX2Uqk-geqSMKjhhmv7Uuf49s/s1350/asnaf%20zakat.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1350&quot; data-original-width=&quot;1080&quot; height=&quot;345&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP6gE39IV0pO2HBZct2ym5lUpSs6CdafjP7VOgtmTiYbOtULC3CbzEfWocfpCufdVzzJR0z8DZz_MNLzgWRVNZ2Eq9d047cOjuipjQaqunUl0AfLY6P6CjqxxZV9lzU-I6RDxq3eVfdRPd-idK11LpiN0oIwysTP6ib00wX2Uqk-geqSMKjhhmv7Uuf49s/w401-h345/asnaf%20zakat.jpg&quot; width=&quot;401&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Pengertian Mustahiq Zakat secara umum telah ditegaskan oleh Allah dalam firmannya surat at-Taubah : 60). dan secara tertulis, dalam buku Fiqh Islam karangan Sulaiman Rasjid halaman 210 dijelaskan bahwa : Mustahiq adalah Mereka (orang-orang) yang berhak mendapatkan zakat yang sesuai ketetapan Allah. Adapun ketetapan tersebut dibagi menjadi 8 Golongan Mustahiq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;(8 Asnaf Mustahiq Zakat Menurut Alqur&#39;an At-Taubat : 60)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Faqir&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Yang dimaksud faqir di sini adalah, mereka yang dalam hidupnya tidak mempunyai kekayaan harta maupun pekerjaan. Kalaupun mereka memiliki harta ataupun pekerjaan (kerja serabutan/tidak tetap), namun harta atau hasil dari upah kerjanya sangat jauh dari kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan mereka dan orang-orang yang ditanggungnya dalam satu hari. Jika dikalkulasikan dalam bentuk deskriptif begini contohnya : Si A dalam kesehariannya untuk memenuhi kebutuhan harus mengeluarkan budget senilai 50.000, namun dari hasil pekerjaan si A, dia hanya bisa mendapatkan dari hasil upahnya tidak lebih dari setengah yang dia butuhkan, jadi penghasilan si A dalam kerja satu hari kurang dari 25.000.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Miskin&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Asnaf kedua ini memiliki derajat satu tingkat di atas Faqir. Jika Faqir dikatakan adalah orang yang tak punya harta dan hanya mendapat penghasilan di bawah kebutuhannya dalam satu hari, maka satu tingkat di atasnya adalah Miskin dengan deskripsi: Orang yang tergolong dalam kategori miskin adalah orang yang sebenarnya punya harta dan punya pekerjaan tapi hanya mampu menghasilkan setengah dari kebutuhannya dalam satu hari, dan masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya juga orang-orang dalam tanggung jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Contohnya begini, Jika si A memiliki pekerjaan dengan upah dari hasil kerjanya sebesar 30.000 sampai dengan 35.000, sementara kebutuhan yang harus dikeluarkan oleh si A untuk memenuhi kebutuhannya dalam satu hari adalah 50.000. Pada kasus ini Si A tersebut dikatakan miskin. Dia memiliki penghasilan di atas faqir, namun penghasilannya masih belum memadai untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Amil&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Pada dasarnya Amil memiliki pengertian, Orang-orang yang memiliki tugas dalam mengurusi masuk dan keluarnya zakat. Dalam kaitannya dengan hal ini, Amil dibedakan menjadi empat bagian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;1.Amil Hasir, Adalah seorang amil yang memiliki tugas dalam pengumpulan orang-orang yang hendak mengeluarkan zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;2.Amil Qosim, Adalah orang-orang yang bertugas untuk membagi zakat kepada orang yang berhaq menerima zakat (Mustahiq)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;3.Amil Kisa&#39;i, Adalah orang yang memiliki tugas dalam pemungutan zakat dari para muzakki (orang yang mengeluarkan zakat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;4.Amil Katib, adalah seorang amil yang memiliki peran dalam mencatan masuk dan keluarnya zakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Muallaf&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Seperti halnya amil, dalam muallaf juga terbagi menjadi beberapa bagi, sekurang-kurangnya ada empat pembagian dalam Asnaf ini, di antaranya adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;1.Seseorang yang baru saja masuk agama Islam dan masih memiliki keyakinan atau keimanan yang belum teguh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;2. Seseorang yang sudah masuk Islam dan telah memiliki tingkat keimanan yang kuat, namun dia juga memiliki derajat sosial yang tinggi dalam pandangan ummat no-muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;3.Seseorang yang memiliki kedekatan dengan non-Muslim, dan dari kedekatannya tersebut dikhawatirkan akan terpengaruh dengan kejahatan orang kafir tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;4.Seseorang yang memiliki kedekatan dengan golongan yang berfaham anti zakat, sebab hal ini dikhawatirkan orang tersebut akan terpengaruh dan mengikuti faham mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Riqab&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Rqab disebut juga seorang hamba sahaya, Riqab ini mengandung pengertian seorang budak yang dibebaskan oleh tuannya dengan syarat, sibudak dapat menebus dirinya. Dalam hal ini seorang budak muslim yang hendak membebaskan diri wajib hukumnya untuk diberi zakat guna pembebasannya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Ghorim&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Pengertian ghorim adalah, singkatnya orang yang berhutang di jalan Allah. Dalam kaitannya dengan mustahiq yang satu ini, terdapat beberapa pembagian, di antaranya adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;1.Orang yang memiliki hutang disebabkan dia telah menjamin sesuatu barang yang dimilikinya atau bisa juga disebut menggadaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;2.Orang yang memiliki hutang untuk kebaikan, seperti &amp;nbsp;ketika ada seseorang yang berhutang demi menyelesaikan perkara dari orang yang sedang bersengketa agar persengketaan diantara keduanya terselesaikan sehingga tidak muncul fitnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;3.Orang yang berhutang dan hutangnya tidak digunakan untuk suatu hal yang bersifat kejahatan atau sesuatu yang diharamkan dalam agama, dan pada kasus ini orang tersebut tidak bisa membayar hutangnya dengan cara apapun yang dia bisa lakukan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Sabilillah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Asnaf yang satu ini adalah orang yang sedang melakukan peperangan di jalan Allah, seperti contohnya sedang membela Sebuah Negara dari penjajah yang hendak merebut wilayah dari suatu negara. Dan tentunya kategori Asnaf ini adalah mereka yang sudah tidak lagi memiliki bekal apapun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;~ Ibnu Sabil&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Adalah orang-orang yang sedang dalam perjalanan, dan dalam perjalanannya tersebut mereka telah kehabisan bahan pasok untuk kebutuhannya. Namun dengan catatan orang yang sedang dalam perjalanan itu tidak atas dasar dengan tujuan kemaksiatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Demikian keterangan ringkas 8 Asnaf atau 8 Mustahiq yang &amp;nbsp;berhak menerima zakat, semoga bermanfaat aamiin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/3557371709575699049/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mustahiq-zakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/3557371709575699049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/3557371709575699049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mustahiq-zakat.html' title='MUSTAHIQ ZAKAT'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP6gE39IV0pO2HBZct2ym5lUpSs6CdafjP7VOgtmTiYbOtULC3CbzEfWocfpCufdVzzJR0z8DZz_MNLzgWRVNZ2Eq9d047cOjuipjQaqunUl0AfLY6P6CjqxxZV9lzU-I6RDxq3eVfdRPd-idK11LpiN0oIwysTP6ib00wX2Uqk-geqSMKjhhmv7Uuf49s/s72-w401-h345-c/asnaf%20zakat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-7226609957583103456</id><published>2016-05-29T20:25:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T07:40:54.768+07:00</updated><title type='text'>MENGENAL IMAM MADZHAB (MADZAHIBUL ARBA&#39;AH)</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUux2caBEWVOtkIoG61c4ioYm1sOihqXo8pb7H3T5nWpwZz4iU4E01P1gFDnDpTHpCE8rIQfh7lyVvAZVsSPZmjWdF_JS_xb7TU93MeIUY2pE2i2pFvtg61fmPD8dfHIgRcksHX1riN-Yai032o2cnniIj87x3S2FZ6snNWIX3rg1r01lvBwJL8Kx5X1e2/s1280/imam%20madzhab.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;720&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUux2caBEWVOtkIoG61c4ioYm1sOihqXo8pb7H3T5nWpwZz4iU4E01P1gFDnDpTHpCE8rIQfh7lyVvAZVsSPZmjWdF_JS_xb7TU93MeIUY2pE2i2pFvtg61fmPD8dfHIgRcksHX1riN-Yai032o2cnniIj87x3S2FZ6snNWIX3rg1r01lvBwJL8Kx5X1e2/s320/imam%20madzhab.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pada abad ke-II H, telah bermunculan Ulama-ulama atau pemikir-pemikir Islam yang benar-benar tangguh. Baik dilihat dari segi pemikiran maupun tekad yang berdampak kepada konsistensi diri mereka, sehingga meskipun raga mereka telah hancur dan melebur bersama tanah serta seisinya, akan tetapi nama-nama mereka tetaplah luhur, harum, dan besar. Di antara nama-nama ulama pada zaman itu, sebagian dari mereka dialah Empat Imam Mazhab yang secara resmi diakui oleh penduduk di Indonesia sebagai Mujtahid Mutlak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah yang dinamakan Mujtahid Mutlak, Mujtahid Mutlak adalah seorang mujtahid yang dalam menggali hukum Islam (berijtihadnya) menggunakan metode sendiri. Dengan kata lain, metode yang ia pakai bukanlah berasal dari metodenya ulama-ulama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun Di Indonesia ini telah dimayoritasi penduduknya dengan ajaran Islam yang berfaham Ahli SUnnah Wal Jama&#39;ah. Dan orang-orang Ahli Sunnah atau yang biasa kita sebut dengan Faham ASWAJA ini mengakui keempat mujtahid mutlak sebagai pedoman dalam mengenali hukum-hukum Islam yang belum benar-benar dijelaskan di dalam nash al-Qur&#39;an dan al-Hadits.&lt;br /&gt;
Adapun para ulama&#39; msdzhab itu ialah:&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
1.Mazhab Hanafi&lt;br /&gt;
Penyusun mazhab ini adalah Imam Abu Hanifah. &amp;nbsp;Beliau lahir tahun 80 H dan wafat di Baghdad pada tahun 150 H. Pada saat remaja, beliau telah belajar di Kufah, dan di sinilah Abu Hanifah mulai menyusun mazhabnya.&lt;br /&gt;
Berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipercaya, Beliau adalah seorang yang wadi&#39; Ilmu Fiqh ( orang yang termasuk golongan pertama yang menyusun ilmu fikih seperti kita saksikan sekarang ini ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.Mazhab Maliki&lt;br /&gt;
Malik bin Anas Al-Asbahi adalah Imam yang menusun Mazhab Maliki. Lahir tahun 93 H dan wafat pada tahun 170 H. Penyusun mazhab maliki yaitu Malik bin Anas Al-Asbahi mempelajari ilmunya di Madinah, dan di sanalah beliau menuliskan kitab Al-Muwatta, yaitu kitab panduan hadits yang masih terus digunakan hingga saat ini juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Ijtihadnya, beliau ini menggunakan beberapa sumber hujjahnya. Yakni Al-Qur&#39;an, Al-Hadts, Ijma&#39;, Qiyas. Akan tetapi Qiyas sebagai sumber terakhir yang penulis sebutkan ini sangat kecil kemungkinannya digunakan oleh Imam Malik. Hal ini dikarenakan beliau adalah ahli hadits.&lt;br /&gt;
Imam Malik juga terkenal dengan sebutan fuqoha, saorang Ahli dalam Ilmu Fiqih, salah satu gelar yang disandangnya adalah &quot; Sayyid Fuqoha Al-Hijaz &quot; Pemimpin ahli fikih di seluruh daerah Hijaz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.Mazhab Syafi&#39;i&lt;br /&gt;
Adalah Muhammad bin Idris bin Syafi&#39;i adalah pendiri mazhab syafi&#39;i. Beliau ini masih keturunan bangsa Quraisy, yang dilahirkan kedunia pada tahun 150 H dan meninggal pada tahun 204 H di daerah Khuzzah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umurnya yang masih terhitung belia, yakni tujuh tahun beliau telah dapat menghafalkan Al-Qur&#39;an. Sedangkan pada saat umur beliau menginjak sepuluh tahun beliau telah dapat menghafalkan kitab karangan Imam Malik yang menjadi gurunya dikemudian hari, kitab yang dihafalkannya ketika itu adalah kitab Al-Muwatta. Sementara itu, di saat Imam Syafii menginjak usia dua puluh tahun beliau sudah diberikan izin oleh gurunya yakni Muslim bin Khalid untuk berfatwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah perjalanannya membangun mazhab dimulai ketika beliau hijrah ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar ahli hadits dan ahli ilmu Fiqih, di sana dia belajar kepada Imam Malik, kemudian setelah itu beliau pergi ke Irak, di sana beliau bergaul dengan sahabat-sahabat Imam Abu Hanifah. Beliau terus melanjutkan perjalanannya menuju ke daerah Persi hingga Negeri-Negeri yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu daerah kemudian daerah yang lain dia lewati, dari sanalah terus bertambah ilmu yang dimiliki oleh Imam syafii. Beliau ini adalah orang yang supel, pandai bergaul baik dengan rakyat maupun dengan pemerintah. Beliau sering bertukar pikiran dengan para ulama-ulama terutama sahabat-sahabat Imam Abu Hanifah. Dan dari pergaulannya sekaligus hasil dari diskusi-diskusinya itu akhirnya beliau dapat menyusun pendapat beliau yang pertama yang disebut qadim. Kemudian beliau kembali ke Makkah pada tahun198 H. Nah, Pada tahun tersebut juga Imam Syafi pergi ke Mesir, di sana belau menyusun pendapat beliau yang baru yang terkenal dengan sebutannya &quot;qoulul Jadid&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.Mazhab Hanbali&lt;br /&gt;
Disusun oleh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal. Lahir di Baghdad dan meninggal dunia pada tahun 241 H. Imam Hambali merupakan salah satu muridnya dari Imam Syafii.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Hanbali ini memiliki banyak murid yang terkemuka, beberapa di antaranya adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beliau sangat berpegang teguh kepada fatwa sahabat apa bila tidak ditemukanny nas di dalam al-Qur&#39;an dan Al-Hadits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau adalah salah satu tokoh Mujtahid Mutlak yang memiliki tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Begitu telitinya beliau menfatwakan sesuatu hal, akhirnya mengakibatkan mazhab ini kurang berkembang dengan pesat. Hal ini juga diakibatkan orang-orang yang menganut mazhab Hanbal ini juga merupakan orang-orang yang begtu sangat teliti.&lt;br /&gt;
Demikian uraian singkat tentang imam madzhab,semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutip dari Fiqh Islam karya H.Sulaiman Rasjid&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/7226609957583103456/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mengenal-imam-madzhab-madzahibul-arbaah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7226609957583103456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7226609957583103456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mengenal-imam-madzhab-madzahibul-arbaah.html' title='MENGENAL IMAM MADZHAB (MADZAHIBUL ARBA&#39;AH)'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUux2caBEWVOtkIoG61c4ioYm1sOihqXo8pb7H3T5nWpwZz4iU4E01P1gFDnDpTHpCE8rIQfh7lyVvAZVsSPZmjWdF_JS_xb7TU93MeIUY2pE2i2pFvtg61fmPD8dfHIgRcksHX1riN-Yai032o2cnniIj87x3S2FZ6snNWIX3rg1r01lvBwJL8Kx5X1e2/s72-c/imam%20madzhab.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-7270865859926685937</id><published>2016-05-29T20:15:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T07:42:26.683+07:00</updated><title type='text'>BEDA DEFINISI ANTARA ILMU FIQH, FIQH DAN USHUL FIQH</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFTHiyi530xNPezL98vJJL8BugSVw-d0iqfl2NySD5hv-SJuQwGMEKxY1aEQdD_jT1MnW0c3s9wilWMUDMX003Q5hOq7MebQZNYPgET5XX3n2Hgrjei-3jf7q2C5UfDmhd-9gvfTAd_XjZ27DoJ3zhE0fbRBwWg90-CAfObZ69Sq0wuX8XOHvd30leCr_H/s800/Kitab-Fathul-Muin.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;488&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFTHiyi530xNPezL98vJJL8BugSVw-d0iqfl2NySD5hv-SJuQwGMEKxY1aEQdD_jT1MnW0c3s9wilWMUDMX003Q5hOq7MebQZNYPgET5XX3n2Hgrjei-3jf7q2C5UfDmhd-9gvfTAd_XjZ27DoJ3zhE0fbRBwWg90-CAfObZ69Sq0wuX8XOHvd30leCr_H/w382-h240/Kitab-Fathul-Muin.jpg&quot; width=&quot;382&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pengertian Fiqih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut bahasa “&lt;b&gt;fiqih&lt;/b&gt;” berasal dari kata &lt;b&gt;&lt;i&gt;faqiha-yafqahu-fiqihan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang berarti mengerti atau paham berarti juga paham yang mendalam. Dari sini ditariklah perkataan fiqih, yang memberi pengertian kepahaman dalam hukum syariat yang sangat dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi, Fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;
Definisi fiqih secara umum, ialah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam syariat atau hukum islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia, baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;
Pengertian Ushul Fiqih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”. Jika fiqih adalah paham mengenai sesuatu sebagai hasil dari kesimpulan pikiran manusia. Maka ushul fiqih adalah dasar yang dipakai oleh pikiran manusia untuk membentuk hukum yang mengatur kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;
Menurut Prof. Dr. TM. Hasbi Ash Shiddieqy, definisi ushul fiqih adalah kaidah-kaidah yang dipergunakan untuk mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya, dan dalil-dalil hukum (kaidah-kaidah yang menetapkan dalil-dalil hukum).&lt;br /&gt;
Sedangkan &lt;b&gt;definisi ushul fiqih&lt;/b&gt; menurut Abdul Wahab Khalaf, &lt;i&gt;adalah ilmu tentang kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan (Atau kumpulan-kumpulan kaidah dan pembahasan ) yang merupakan cara untuk menemukan hukum-hukum syara’ yang amaliyah dari dalil-dalilnya secara rinci.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4RDA-sUIXmSgY2K6LR5tnAoj3ATIkVQ8B8TtuewsVXX5HAYXnHQvZCYQLGiI2TzBMA1H18r6blxTftOAWEIR75AnqdxH_uHeV2QEyPnb5ZOcrPJodMeVdYaZvpXv6vQ82qJaEtbDDRb0WcWKnzc8b5dX9Keq4zQ-S9W_JbZ8qjBrbfgX_h1VaeqX8AuiD/s800/ushul%20fiqh.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;450&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;203&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4RDA-sUIXmSgY2K6LR5tnAoj3ATIkVQ8B8TtuewsVXX5HAYXnHQvZCYQLGiI2TzBMA1H18r6blxTftOAWEIR75AnqdxH_uHeV2QEyPnb5ZOcrPJodMeVdYaZvpXv6vQ82qJaEtbDDRb0WcWKnzc8b5dX9Keq4zQ-S9W_JbZ8qjBrbfgX_h1VaeqX8AuiD/w426-h203/ushul%20fiqh.jpg&quot; width=&quot;426&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Perbedaan Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Jelaslah perbedaan antara fiqih dan ushul fiqih, bahwa ushul fiqih merupakan metode (cara) yang harus ditempuh oleh ahli fiqih (faqih) di dalam menetapkan hukum-hukum syara’ bedasarkan dalil syar’i, serta mengklasifikasikan dalil-dali tersebut berdasarkan kualitasnya. Dalil dari Al Qur’an harus didahulukan &amp;nbsp;dari pada qiyas serta dalil-dalil lain yang tidak berdasarkan nash Al- Qur’an dan Hadits. Sedangkan fiqih adalah hasil hukum-hukum syar’i bedasarkan methode-methode tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pengetahuan Fiqh itu lahir melalui proses pembahasan yang digariskan dalam ilmu ushul Fiqh. Menurut aslinya kata &quot;Ushul Fiqih&quot; adalah kata yang berasal dari bahasa Arab &quot;Ushulul Fiqih&quot; yang berarti asal-usul Fiqih. Maksudnya, pengetahuan Fiqih itu lahir melalui proses pembahasan yang digariskan dalam ilmu ushul Fiqih. Pengetahuan Fiqih adalah formulasi dari nash syari&#39;at yang berbentuk Al-Qur&#39;an, Sunnah Nabi dengan cara-cara yang disusun dalam pengetahuan Ushul Fiqih. Meskipun cara-cara itu disusun lama sesudah berlalunya masa diturunkan Al-Qur&#39;an dan diucapkannya sunnah oleh Nabi, namun materi, cara dan dasar-dasarnya sudah mereka (para Ulama Mujtahid) gunakan sebelumnya dalam mengistinbathkan dan menentukan hukum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dasar-dasar dan cara-cara menentukan hukum itulah yang disusun dan diolah kemudian menjadi pengetahuan Ushul Fiqih. Menurut Istilah yang digunakan oleh para ahli Ushul Fiqh ini, Ushul Fiqh itu ialah, suatu ilmu yang membicarakan berbagai ketentuan dan kaidah yang dapat digunakan dalam menggali dan merumuskan hukum syari&#39;at Islam dari sumbernya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dalam pemakaiannya, kadang-kadang ilmu ini digunakan untuk menetapkan dalil bagi sesuatu hukum; kadang-kadang untuk menetapkan hukum dengan mempergunakan dalil Ayat-ayat Al-Our&#39;an dan Sunnah Rasul yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, dirumuskan berbentuk &quot;hukum Fiqh&quot; (ilmu Fiqh) supaya dapat diamalkan dengan mudah. Demikian pula peristiwa yang terjadi atau sesuatu yang ditemukan dalam kehidupan dapat ditentukan hukum atau statusnya dengan mempergunakan dalil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;semoga bermanfaat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/7270865859926685937/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/beda-definisi-antara-ilmu-fiqhfiqhdan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7270865859926685937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7270865859926685937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/beda-definisi-antara-ilmu-fiqhfiqhdan.html' title='BEDA DEFINISI ANTARA ILMU FIQH, FIQH DAN USHUL FIQH'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFTHiyi530xNPezL98vJJL8BugSVw-d0iqfl2NySD5hv-SJuQwGMEKxY1aEQdD_jT1MnW0c3s9wilWMUDMX003Q5hOq7MebQZNYPgET5XX3n2Hgrjei-3jf7q2C5UfDmhd-9gvfTAd_XjZ27DoJ3zhE0fbRBwWg90-CAfObZ69Sq0wuX8XOHvd30leCr_H/s72-w382-h240-c/Kitab-Fathul-Muin.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-7739697896344456948</id><published>2016-05-29T20:11:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T07:43:15.387+07:00</updated><title type='text'>PENGERTIAN &amp;  HUKUM MEMPELAJARI ILMU FIQH</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip2U0eU5UH7VWlHWjWu5MScPxonRsSf_UrmQ7RBVNcFSOAIkTOcl3w_Yqy_yPPBdimXyj2hUTZ2iSCL_dOyPfvna6uCkq1YntTL0gT2Osq4v89MVipd2ffR40NA-FNZAFR765V3yQsOZOnwWyCF1CJPFLOTRnxZcg1QShK1dMxvXTWTpgDLd0GnAJRZN-x/s448/ilmu-fiqih.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;272&quot; data-original-width=&quot;448&quot; height=&quot;231&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip2U0eU5UH7VWlHWjWu5MScPxonRsSf_UrmQ7RBVNcFSOAIkTOcl3w_Yqy_yPPBdimXyj2hUTZ2iSCL_dOyPfvna6uCkq1YntTL0gT2Osq4v89MVipd2ffR40NA-FNZAFR765V3yQsOZOnwWyCF1CJPFLOTRnxZcg1QShK1dMxvXTWTpgDLd0GnAJRZN-x/w433-h231/ilmu-fiqih.jpeg&quot; width=&quot;433&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;
1. Pengertian Ilmu Fiqih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Hadits Nabi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
“Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikan kepadanya “ke-faqih-an” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” (HR. Bukhari-Muslim).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. Sedangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari sumbernya dipelajari dalam ilmu “Ushul Fiqih”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;
2. Hukum Mempelajari Ilmu Fiqih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Hukum mempelajari/mencari ilmu fiqih adalah wajib atau fardhu ‘ain bagi setiap individu baik laki-laki maupun perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Sebagaimana sabda Nabi ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
” Mencari ilmu itu hukumnya fardhu bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan “.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Hukum mempelajari ilmu fiqih tergantung dari amal yang akan dilakukan atau dijalankan atau diamalkan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
~ Kalau &amp;nbsp;amal yang akan dijalankan itu wajib ( fardhu ), maka hukum mencari/mempelajari ilmunya juga wajib. Seperti shalat lima waktu, hukum mempelajari ilmu yang membahas tata cara atau peraturan (syarat, rukun dll ) shalat lima waktu menjadi wajib.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
~ Kalau amalnya sunnah, mencari ilmunya pun sunnah, contoh shalat rawatib . akan tetapi, walaupun amal sunnah kalau itu akan dijalankan, maka hukum mempelajari ilmunya menjadi wajib.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
Kesimpulannya, amal sunnah kalau tidak akan dilakukan, mencari ilmunya hukumnya sunnah, amal sunnah yang akan dilakukan hukum mencari ilmunya menjadi wajib.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/7739697896344456948/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/pengertian-hukum-mempelajari-ilmu-fiqih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7739697896344456948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7739697896344456948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/pengertian-hukum-mempelajari-ilmu-fiqih.html' title='PENGERTIAN &amp;  HUKUM MEMPELAJARI ILMU FIQH'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip2U0eU5UH7VWlHWjWu5MScPxonRsSf_UrmQ7RBVNcFSOAIkTOcl3w_Yqy_yPPBdimXyj2hUTZ2iSCL_dOyPfvna6uCkq1YntTL0gT2Osq4v89MVipd2ffR40NA-FNZAFR765V3yQsOZOnwWyCF1CJPFLOTRnxZcg1QShK1dMxvXTWTpgDLd0GnAJRZN-x/s72-w433-h231-c/ilmu-fiqih.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-8485801149288467085</id><published>2016-05-29T19:51:00.001+07:00</published><updated>2024-06-17T15:28:21.195+07:00</updated><title type='text'>PERTUMBUHAN ILMU PENGETAHUAN PADA MASA DAULAH ABBASIYAH</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSsev06Fq4cBU5Z5mWvGdhCii9Dv9PzME5qu5_Nj9tG0KiL7jQmsYRpw_bE8v-TRku7yKNzto01zFJ1GIdhBuDI1aaoBXhXIykpp2GXc_Nqhzx38_fJh0NVopCq9IEAgxZ-wTL3cgRdwjSb_cyTsMqt822_A3424M-9fWJw78OlgNLk8jXdnLAacL0dqDz/s303/daulah%20abbasiyah.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;166&quot; data-original-width=&quot;303&quot; height=&quot;233&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSsev06Fq4cBU5Z5mWvGdhCii9Dv9PzME5qu5_Nj9tG0KiL7jQmsYRpw_bE8v-TRku7yKNzto01zFJ1GIdhBuDI1aaoBXhXIykpp2GXc_Nqhzx38_fJh0NVopCq9IEAgxZ-wTL3cgRdwjSb_cyTsMqt822_A3424M-9fWJw78OlgNLk8jXdnLAacL0dqDz/w482-h233/daulah%20abbasiyah.jpeg&quot; width=&quot;482&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Wahai pemuda-pemudi muslim yang cerdas, kisah dan sejarah yang akan disajikan pada artikel ini merupakan kisah terhebat dalam sejarah peradaban Islam. Kisah yang dimaksud itu adalah mengenai tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah yang berpusat di kota Bagdad, Irak.&lt;br /&gt;
Puncak dari masa keemasan tersebut ditandai dengan tumbuh suburnya ilmu pengetahuan pada abad ke-8. Saat itu para ilmuwan muslim sangat produktif dan juga menjadi pelopor perkembangan ilmu pengetahuan di dunia. Subhanallah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman Khalifah Harun ar-Rasyid dan putera beliau bernama Al-Ma’mun. Kekayaan negara dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh Raja Harun ar-Rasyid untuk keperluan sosial, mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masa itu sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun di Bagdad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Daulah Abbasiyah dibidang kesejahteraan, pendidikan, ilmu pengetahuan, sosial, kesehatan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menjadi negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, penerus Harun ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat mencintai ilmu filsafat. Pada masa pemerintahan Al-Ma’mun, penerjemahan buku-buku asing sangat digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia membayar mahal penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah-sekolah. Salah satu karya besar ada masa pemerintahannya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita renungkan, betapa harumnya citra dunia Islam waktu itu. Kaum muslimin sangat disegani dalam pergaulan di seluruh dunia. Waktu itu umat Islam sangat identik dengan ilmu pengetahuan. Kemajuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan selalu dipelopori dari kalangan ilmuwan muslimin. Hal ini dilakukan karena al-Qur’an dan Hadis menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Akankah masa kejayaan dan kemajuan tersebut pada saatnya bisa terulang kembali? Jawabannya tentu ada pada benak kalian pemuda dan pemudi muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masa Daulah Abbasiyah merupakan jaman keemasan (The Golden Age) bagi umat Islam. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik itu dalam bidang ekonomi, peradaban, dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang dengan pesat berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya hasil penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendekiawan-cendekiawan muslim besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Adapun cendekiawan-cendekiawan Islam dalam bidang ilmunya masing-masing pada masa Daulah Abasiyah adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
a. Bidang ilmu Filsafat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Muslim di bidang ilmu filsafat diantaranya adalah Abu Nasyar Muhammad bin Muhammad bin Tarhan yang dikenal dengan al-Farabi, Abu Yusuf bin Ishak yang dikenal dengan al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, al-Ghazali, Ibnu Bajah dan Ibnu Tufail.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
b. Bidang ilmu Kedokteran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam yang terkenal di bidang kedokteran adalah Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai bapak ilmu kimia, Hunaian bin Ishak yang terkenal sebagai ahli penerjemah buku-buku asing, &amp;nbsp;Ar-Razi yang dikenal sebagai ahli penyakit campak dan cacar, Ibnu Sahal dan Thabit Ibnu Qurra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
c. Bidang ilmu Matematika&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu matematika yang terkenal adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (penemu huruf nol) dengan bukunya Algebra, Geometri Ilmu Matematika. Cendikiawan matematika yang lainnya adalah Umar bin Farukhan (bukunya Quadripartitum), Banu Musa (ilmu mengukur permukaan, datar, dan bulat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
d. Bidang ilmu Falak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam dibidang ilmu Falak ini adalah Abu Masyar al- Falaky (bukunya Isbatul Ulum dan Haiatul Falak), Raihan Bairuny (bukunya al-Afarul Bagiyah’ainil Khaliyah, Istikhrajul Autad dan lain-lain). Jabir Batany (membuat teropong bintang)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
e. Bidang ilmu Astronomi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam di bidang Astronomi adalah al-Farazi (pencipta Astro Lobe), al-Gattani/Albetagnius, dan al-Farghoni atau Alfragenius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
f. Bidang ilmu Tafsir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam yang terkenal di bidang ilmu Tafsir ini adalah Ibnu Jarir at-abary, as-Suda, Mupatil bin Sulaiman, Ibnu Atiyah al-Andalusy, Muhammad bin Ishak dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
g. Bidang ilmu Hadist&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu Hadis ini adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, At-Tarmidzi, dan lain-lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
h. Bidang ilmu Kalam (tauhid)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu Kalam ini adalah Wasil bin Atha’, Abu Huzail al-Allaf, ad-Dhaam, Abu Hasan al-Asy’ary, Hujjatul Islam Imam al-Gazali. Pada masa itu, pembahasan ilmu tauhid semakin luas dibandingkan dengan zaman sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
i. Bidang ilmu Tasawuf (ilmu mendekatkan diri pada Allah Swt.)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu Tasawuf ini adalah al-Qusyairy dengan karyanya ar-Risalatul Qusyairiyah, Imam al-Gazali dengan karyanya al-Bashut, al-Wajiz, Syahabuddin dengan karyanya Awariful Ma’arif, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
j. Para imam Fuqaha (ahli fiqh)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tokoh cendekiawan Islam yang merupakan para iman Fuqaha ini adalah Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambali.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Semoga bermanfaat ya..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/8485801149288467085/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/pertumbuhan-ilmu-pengetahuan-pada-masa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/8485801149288467085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/8485801149288467085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/pertumbuhan-ilmu-pengetahuan-pada-masa.html' title='PERTUMBUHAN ILMU PENGETAHUAN PADA MASA DAULAH ABBASIYAH'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSsev06Fq4cBU5Z5mWvGdhCii9Dv9PzME5qu5_Nj9tG0KiL7jQmsYRpw_bE8v-TRku7yKNzto01zFJ1GIdhBuDI1aaoBXhXIykpp2GXc_Nqhzx38_fJh0NVopCq9IEAgxZ-wTL3cgRdwjSb_cyTsMqt822_A3424M-9fWJw78OlgNLk8jXdnLAacL0dqDz/s72-w482-h233-c/daulah%20abbasiyah.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-6748161276803192204</id><published>2016-05-06T11:48:00.000+07:00</published><updated>2024-06-17T15:28:42.271+07:00</updated><title type='text'>WALI PITU DI BALI</title><content type='html'>&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 130%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjk9a9VijcJFewtovR91pSkCqfncjuWvxT5w4SInAPjTDfaa3Y-wBI7f8ZjErEmgdEfHP8J_uGFG830AUfpDIRKYJMWX63kqKm2EKpSBXnNOTpEwWA8k7As5SnoJK1HjffM9-SNCWWYIzsQBKcmOeuyNvib1fP1LMKUi0JeN3nfOH1IvZ6xlwr-UUM_JUjq/s1280/wali%20pitu%20di%20bali.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;720&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjk9a9VijcJFewtovR91pSkCqfncjuWvxT5w4SInAPjTDfaa3Y-wBI7f8ZjErEmgdEfHP8J_uGFG830AUfpDIRKYJMWX63kqKm2EKpSBXnNOTpEwWA8k7As5SnoJK1HjffM9-SNCWWYIzsQBKcmOeuyNvib1fP1LMKUi0JeN3nfOH1IvZ6xlwr-UUM_JUjq/w412-h240/wali%20pitu%20di%20bali.jpg&quot; width=&quot;412&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot; style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ada
 beberapa informasi yang menyatakan bahwa Islam sudah masuk di Bali pada
 abad 15 M. Ini dibuktikan, pada saat Dalem Ketut Ngelesir menjabat 
sebagai raja Gelgel ke I (1380-1460 M) pernah mengadakan kunjungan ke 
kraton Majapahit, saat itu Raja Hayam Wuruk mengadakan konfrensi 
kerajaan seluruh Nusantara. Setelah acara tersebut selesai, Dalem Ketut 
Ngelesir pulang kenegerinya (Bali) dengan diantar oleh empat puluh orang
 dari Majapahit sebagai pengiring, yang konon diantara mereka terdapat 
Raden Modin dan Kyai Abdul Jalil. Peristiwa ini dijadikan sebagai 
patokan masuknya Islam di Bali yang berpusat di kerajaan Gelgel.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sejak 
itu Agama Islam mulai berkembang di Bali, dan terus demikian hingga saat
 ini, banyak terdapat makam-makam Islam di sana. Demikian juga terdapat 
makam para Da’i, ulama dan pemuka Islam yang pada masa hidupnya 
dikaruniai Allah Swt Karomah, sehingga makam-makam mereka juga 
dihormati, oleh ummat Islam khususnya maupun juga orang-orang Bali yang 
mayoritas beragama Hindu. Dari sekian banyak makam auliya’ di Bali, ada 
tujuh makam yang sangat menonjol yang terkenal dengan Sab’atul Auliya’ 
(wali pitu). Diantara wali pitu tersebut adalah :&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot; style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I - KERAMAT PANTAI SESEH (Pangeran Mas Sepuh)&lt;/b&gt;
 Pangeran Mas Sepuh merupakan gelar, nama sebenarnya adalah ,Raden 
Amangkuningrat yang lebih terkenal dengan Keramat Pantai Seseh. Ia 
merupakan Putra Raja Mengwi I yang beragama Hindu dan Ibunya berasal 
dari Blambangan (Jatim) yang beragama Islam. Sewaktu kecil beliau sudah 
berpisah dengan ayahandanya dan diasuh oleh ibundanya di Blambangan. 
Setelah dewasa Pangeran Mas Sepuh menanyakan kepada ibunya mengenai 
siapa ayahandanya itu. Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati 
dirinya, maka ia memohon izin pada ibunya untuk mencari ayah kandungnya,
 dengan niat akan mengabdikan diri. Semula sang ibu keberatan, namun 
akhirnya diizinkan juga Pangeran Mas Sepuh untuk berangkat ke Bali 
dengan diiringi oleh beberapa Punggawa Kerajaan sebagai pengawal dan 
dibekali sebilah keris pusaka yang berasal dari Kerajaan Mengwi. Namun, 
setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah kesalahpahaman, karena baru 
sekali ini mereka berdua bertemu. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh beranjak 
pulang ke Blambangan untuk memberitahu ibunya tentang peristiwa yang 
telah terjadi. Namun dalam perjalanan pulang, sesampainya di Pantai 
Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang sekelompok orang bersenjata yang tak 
dikenal, sehingga pertempuran tak dapat dihindari lagi. Melihat korban 
berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik
 Pangeran Mas Sepuh dicabut dan diacungkan ke atas, seketika itu ujung 
keris mengeluarkan sinar dan terjadilah keajaiban, kelompok bersenjata 
yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh diam seribu bahasa. 
Pangeran Mas Sepuh setelah mengetahui hal tersebut berkata : &quot;Hai Ki 
sanak mengapa kalian menyerang kami dan apa kesalahan kami ? Mereka diam
 tak menjawab, akhirnya diketahui kalau penyerang itu masih ada hubungan
 kekeluargaan, hal ini dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan 
bathiniyah Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya keris pusaka dimasukkan kembali 
dalam karangkanya, dan kelompok penyerang tersebut dapat bergerak dan 
kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh. Tidak lama setelah 
kejadian tersebut, Pangeran Mas Sepuh meninggal dunia dan di makamkan di
 tempat itu juga. Dan sampai sekarang makamnya terpelihara dengan baik 
dan selalu diziarahi umat Islam dari berbagai wilayah di nusantara. 
Perlu diketahui bahwa proses ditemukannya Makam Keramat Pantai Seseh 
dimulai sejak pertama jamaah manaqib yang ada di Bali mendapat petunjuk,
 yaitu pada Bulan Muharam 1413 H atau 1992 M yang kemudian ditemukan 
juga makam keramat yang lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;II - Makam Keramat Pamecutan &lt;/b&gt;bernama Dewi Khodijah atau Ratu Ayu Anak Agung Rai berada di Jalan Batu Karu Pamecutan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot; style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;III- Makam Pangeran Sosrodiningrat &lt;/b&gt;Senopati dari Mataram berada di Ubung dekat terminal bus Denpasar. Adapun
 sejarah Makam keramat Pamecutan Dewi Khodijah dapat diuraikan sebagai 
berikut; Dewi Khodijah adalah nama setelah berikrar masuk Islam. Nama 
aslinya adalah Ratu Ayu Anak Agung Rai, beliau adalah adik perempuan 
Raja Pamecutan Cokorda III yang bergelar Batara Sakti yang memerintah 
sekitar Tahun 1653 Masehi. Diceritakan pada waktu Raja Pamecutan 
berperang, salah seorang prajurit dapat menahan seorang berkelana di 
Daerah Tuban Kecamatan Kuta Kabupaten Badung Bali. Orang yang ditahan 
tersebut diduga menjadi telik sandi atau mata-mata musuh. Ia lalu 
dihadapkan pada Raja untuk diusut, akhirnya diketahui bahwa dia adalah 
Senopati dari Mataram yang sedang berlayar menuju Ampenan Lombok. Namun 
perahu yang ditumpanginya diserang badai dahsyat yang membuat Senopati 
Mataram terdampar di Pantai Selatan Desa Tuban. Beliau bernama Pangeran 
Mas Raden Ngabei Sosrodiningrat, sedangkan para pengiring atau 
punggawanya sebanyak 11 orang tiada kabar beritanya. Setelah diketahui 
bahwa tawanan tersebut adalah seorang Senopati dari Mataram, maka Raja 
Pamecutan meminta kesediaannya untuk memimpin prajurit yang sedang 
berperang. Raja Pamecutan menjanjikan, apabila perang telah usai dan 
kemenangan diraihnya, maka Pangeran Sosrodiningrat akan diambil menantu 
oleh raja. Akhirnya Pangeran Sosrodiningrat bersedia membantu untuk 
memperkuat pasukan yang ada di medan perang tanpa memikirkan janji Raja,
 bahkan yang dipikirkan apakah mungkin dapat menikah dengan Putri Raja 
yang beragama Hindu sedangkan dirinya beragama Islam. Setelah perang 
tersebut dimenangkan Pasukan Kerajaan Pamecutan, maka Pangeran 
Sosrodiningrat menikah dengan Dewi Khodijah. Dewi Khodijah setelah 
dipersunting oleh Senopati Mataram mulai memeluk Islam dan 
bersungguh-sungguh menekuni dan melaksanakan Ajarannya. Namun, setelah 
beberapa tahun musibah datang menimpanya. Pada suatu malam yang gelap, 
sewaktu Dewi Khodijah mengerjakan Sholat Malam dikamar yang pintunya 
terbuka, secara tidak sengaja terlihat oleh punggawa raja yang sedang 
berjaga dan terdengar suara Allahu Akbar. Namun yang di dengar Punggawa 
adalah Makeber, bahasa Bali berarti ; terbang. Setelah sang Punggawa 
memperhatikan mengenai semua gerakan sholat yang dilakukan oleh Dewi 
Khodijah yang dinilai oleh punggawa sebagai pekerjaan Leak (orang 
jadi-jadian yang berbuat jahat), maka dia langsung menghadap Raja untuk 
melaporkan keberadaan Leak di Kamar Keputren. Raja akhirnya 
memerintahkan beberapa Punggawa untuk mendatanginya. Saat melihat Dewi 
Khodijah sedang Sujud, tanpa memikirkan resiko para punggawa menyerbu 
dengan senjata terhunus dan dihujamkan ke punggung Dewi Khodijah. Darah 
segar tersembur keatas dari punggung Dewi Khodijah yang terkena ujung 
tombak. Bersamaan dengan itu, terjadi keanehan yang luar biasa, darah 
segar Dewi Khodijiah yang keluar dari punggungnya mengeluarkan cahaya 
terang kebiru-biruan dan dapat menembus dinding atap atas hingga keluar 
memenuhi udara memancarkan sinar yang menerangi Istana Pamecutan. Bahkan
 seluruh kota Denpasar menjadi terang-benderang seperti siang hari, 
semua penduduk terutama keluarga istana, sangat terkejut, termasuk Raja 
Pamecutan. Setelah diteliti sumber cahaya dan bersamaan dengan itu para 
Punggawa melaporkan bahwa yang dibunuh bukan Leak tapi orang biasa dan 
mengeluarkan darah. Saat itu terdengar jeritan dengan ucapan ; makebar 
makebar, makebar hingga tiga kali, asli ucapan adalah ALLAHU AKBAR 
hingga tiga kali. Jenazah Dewi Khodijah yang tertelungkup dengan tombak 
terhujam dipunggungnya sulit diangkat dan dibujurkan, tubuhnya 
bermandikan darah yang sudah membeku. Keluarga Kerajaan yang ingin 
menolong mengangkatnya tidak dapat berbuat apa-apa. Jenazahnya tetap 
sujud tidak berubah, baginda mencari bantuan kepada umat Islam yang ada 
disana agar mau merawat jenazah putrinya menurut cara Islam. Kemudian 
umat Islam tersebut segera membantu merawat jenazah, mulai dari 
memandikan, mengkafani, mensholati sampai memakamkannya dan semuanya 
berjalan lancar. Namun satu hal yang tak dapat diatasi yaitu batang 
tombak yang menghujam dipunggungnya tidak dapat dicabut, akhirnya atas 
keputusan semua pihak jenazah dimakamkan bersama tombak yang masih 
berada dipunggungnya. Dan anehnya batang tombak yang terbuat dari kayu 
itu bersemi dan hidup sampai sekarang. Hal tersebut dapat dibuktikan 
apabila berkunjung dimakam Dewi Khodijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;IV - Keramat di Bukit Bedugul (Habib Umar bin Yusuf al Maghribi)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Makam
 ini letaknya di kabupaten Tabanan Bali. Makam ini hanya berwujud empat 
batu nisan untuk dua makam yaitu makamnya Habib Umar dan pengikutnya 
yang luasnya 4x4 M.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot; style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;V - Keramat Kusumba, Kelungkung (Habib Ali bin Abu Bakar Al Hamid)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot; style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Makam
 ini terletak di tepi pantai Desa Kusamba Kec. Dawah Kab Kelungkung 
Bali. Makam ini sangat dikeramatkan oleh penduduk setempat, baik Umat 
Islam maupun Hindu. Habib Ali Bin Abu Bakar Al Hamid, sewaktu hidupnya 
bekerja sebagai guru besar Raja Kelungkung pada masa Pemerintahan Dhalem
 I Dewa Agung Jambe. Waktu itu beliau diberi seekor kuda untuk kendaraan
 pulang pergi antara Kusamba dan Kelungkung. Pada suatu hari sewaktu 
Habib Ali pulang dari Kelungkung sesampainya di pantai Desa Kusamba, 
beliau diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal dengan senjata 
tajam secara bertubi-tubi. Habib Ali yang masih berada di atas kudanya 
tewas tersungkur di tanah bermandikan darah. Akhirnya jenazah Habib Ali 
dimakamkan ditempat itu juga. Pada malam hari setelah pembunuhan 
tersebut, terjadi peristiwa yang sangat menggemparkan. Di atas makam 
Habib Ali Al Hamid, mengeluarkan api yang berkobar-kobar membumbung ke 
angkasa, semburan api tersebut bergulung-gulung bagaikan bola api 
terbang untuk mengejar sang pembunuh. Dimana mereka bersembunyi kobaran 
api terus mengejarnya, sampai dapat membakar mereka satu persatu, tak 
satu orangpun dari pembunuhnya yang tersisa. Adapun silsilah dari Habib 
Ali adalah : Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar bin Salim 
bin Hamid bin Aqil bin Muthohar bin Umar bin Abdullah bin Abdurrahman 
bin Abdullah bin Abdurrahman As saqof bin Ali bin Alwi bin Kholaq Qosam 
bin Muhammad Shohibil Mirbath bin Ali bin Muhammad Faqih Al Muqodam bin 
Abdullah bin Ahmad bin Isa al Bashori bin Muhammad al Muhajir bin 
Muhammad Naqib bin Ali Al Aridlhi bin Ja’far Shodiq bin M. Bakir bin Ali
 Zaenal Abidin bin Husain bin Ali Kwj suami Fatimah Az-Zahro’ binti 
Rasulullah Saw.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot; style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;VI - Keramat Kembar Karang Asem (Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi dan Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus)&lt;/b&gt;Makam
 Keramat Kembar Karang Asem terletak di desa Bungaya, Kec. Bebandem kab.
 Karangasem Bali. Adapun tentang Karomahnya Syeh Maulana Yusuf , yaitu 
pada tahun 1963 M, sewaktu Gunung Agung meletus mengeluarkan lahar panas
 menyemburkan batu besar dan kecil serta abu yang menyembur ke atas 
menjulang tinggi diangkasa menyebar diseluruh Pulau Bali, bahkan sampai 
di Jawa Timur. Cuaca menjadi gelap gulita, siang hari berubah menjadi 
malam pekat, lampu sorot mobil yang terang biasa digunakan memandang 
jarak jauh tidak dapat menembus turunnya hujan abu. Padahal Gunung Agung
 letaknya di Daerah Karangasem ujung paling timur Pulau Bali. Ini 
menunjukkan betapa hebat dan dahsyatnya letusan dan semburan yang 
dimuntahkan oleh Gunung Agung. Sebagian desa porak poranda, banyak rumah
 roboh, pohon-pohon besar banyak yang tumbang, hujan pasir dan batu 
kerikil telah menggenangi pulau Bali. Namun, ada yang unik, Makam Syeh 
Maluana Yusuf Al Baghdi yang di atasnya tertumpuk susunan batu merah 
yang ditata begitu saja tidak diperkuat dengan semen pasir dan kapur 
tidak berubah sedikitpun, bahkan tidak sebutir pasirpun yang mampu 
menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;VII - Keramat Karang Rupit (syeikh Abdul Qodir Muhammad)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Makam
 Keramat Karang Rupit letaknya di desa Temukus (Labuan Aji) kec.Banjar 
Kab. Bulelang, Singa Raja Bali. Nama yang dimakamkan adalah syeikh Abdul
 Qodir Muhammad. Ini sebenarnya hanya gelar, adapun nama aslinya adalah 
The Kwan Lie, singkatan dari The Kwan Pao Lie, kemudian masyhur dengan 
gelar syeikh Abdul Qodir Muhammad karena kesalehan dan kebaikan perilaku
 beliau ra. Demikianlah sejarah Sab’atul Auliya’ di Bali yang diharapkan
 membawa manfa’at buat kita semua. Keterangan ini disarikan dari buku 
sejarah wujudnya Makam Saba’tul Auliya’ karangan Toyib Zein Arifin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot;&gt;&lt;span class=&quot;font-8i&quot; style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Sumber :Telaga ulama.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/6748161276803192204/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/wali-pitu-di-bali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/6748161276803192204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/6748161276803192204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/wali-pitu-di-bali.html' title='WALI PITU DI BALI'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjk9a9VijcJFewtovR91pSkCqfncjuWvxT5w4SInAPjTDfaa3Y-wBI7f8ZjErEmgdEfHP8J_uGFG830AUfpDIRKYJMWX63kqKm2EKpSBXnNOTpEwWA8k7As5SnoJK1HjffM9-SNCWWYIzsQBKcmOeuyNvib1fP1LMKUi0JeN3nfOH1IvZ6xlwr-UUM_JUjq/s72-w412-h240-c/wali%20pitu%20di%20bali.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-4112032251051223417</id><published>2016-05-06T11:45:00.001+07:00</published><updated>2024-06-15T07:52:00.134+07:00</updated><title type='text'>SYEKH YUSUF AL MAKASARI</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 130%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFECauB0bX8NmoeN2AOukzThvS660ZZY-ENIa_oBhiXbiGUoaO8-GBCcsk48DKDbE6f3tsQKu4oEDgdETcxw9BAcwKyGGuHPRdBNSJlcAY3gxtPH1euj3JJ5aKIt1HSnLWJSMl1dZ3x8tZ2UwJqvclV7lfvedIW0-DS_D3Pa0DST7u1RP63aV93Osnt8yG/s850/kisah-syekh-yusuf-almakassari.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;566&quot; data-original-width=&quot;850&quot; height=&quot;242&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFECauB0bX8NmoeN2AOukzThvS660ZZY-ENIa_oBhiXbiGUoaO8-GBCcsk48DKDbE6f3tsQKu4oEDgdETcxw9BAcwKyGGuHPRdBNSJlcAY3gxtPH1euj3JJ5aKIt1HSnLWJSMl1dZ3x8tZ2UwJqvclV7lfvedIW0-DS_D3Pa0DST7u1RP63aV93Osnt8yG/w385-h242/kisah-syekh-yusuf-almakassari.jpg&quot; width=&quot;385&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;Syekh Yusuf 
berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar 
dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone.
 Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan 
ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba&#39;alawiyah, dan
 Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah 
menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran
 wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Syekh
 Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam. Ia diajar mengaji 
Alquran oleh guru bernama Daeng ri Tasammang sampai tamat. Di usianya 
ke-15, Syekh Yusuf mencari ilmu di tempat lain, mengunjungi ulama 
terkenal di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit, yang 
mendirikan pengajian pada tahun 1640.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Syekh
 Yusuf meninggalkan negerinya, Gowa, menuju pusat Islam di Mekah pada 
tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Ia sempat singgah di 
Banten dan sempat belajar pada seorang guru di Banten. Saat ia mengenal 
ulama masyhur di Aceh, Syekh Nuruddin ar Raniri, melalui 
karangan-karangannya, pergilah ia ke Aceh dan menemuinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Setelah
 menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf 
berusaha ke Timur Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Di
 Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru 
pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir 
Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugerahi ijazah tarekat 
Naqsyabandi dari gurunya ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Perjalanan
 Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh
 Maulana Sayed Ali. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah 
tarekat Al-Baalawiyah. Setelah tiba musim haji, beliau ke Mekah 
menunaikan ibadah haji. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Dilanjutkan
 ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim 
Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya 
ijazah tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, 
Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al Barakat
 Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat 
Khalwatiyah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang 
dialami oleh Syekh Yusuf.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Melihat
 jenis-jenis alirannya, diperoleh kesan bahwa Syekh Yusuf memiliki 
pengetahuan yang tinggi, meluas, dan mendalam. Mungkin bobot ilmu 
seperti itu, disebut dalam lontaran versi Gowa berupa ungkapan (dalam 
bahasa Makassar): &lt;i&gt;tamparang tenaya sandakanna&lt;/i&gt; (langit yang tak dapat diduga), &lt;i&gt;langik tenaya birinna&lt;/i&gt; (langit yang tak berpinggir), dan &lt;i&gt;kappalak tenaya gulinna&lt;/i&gt; (kapal yang tak berkemudi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Cara-cara
 hidup utama yang ditekankan oleh Syekh Yusuf dalam pengajarannya kepada
 murid-muridnya ialah kesucian batin dari segala perbuatan maksiat 
dengan segala bentuknya. Dorongan berbuat maksiat dipengaruhi oleh 
kecenderungan mengikuti keinginan hawa nafsu semata-mata, yaitu 
keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu itulah 
yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama 
yang harus ditempuh oleh seorang murid (salik) adalah mengosongkan diri 
dari sikap dan perilaku yang menunjukkan kemewahan duniawi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Ajaran
 Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara 
moderat. Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu 
harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna
 menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib 
hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan 
yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Hidup,
 dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan
 antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi 
cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dengan
 demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan 
kebebasan dalam menempatkan Allah Yang Maha esa sebagai pusat orientasi 
dan inti dari cita, karena hal ini akan memberi tujuan hidup itu 
sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Sumber : telaga ulama.blogspot.com &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/4112032251051223417/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/syekh-yusuf-al-makasari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4112032251051223417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/4112032251051223417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/syekh-yusuf-al-makasari.html' title='SYEKH YUSUF AL MAKASARI'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFECauB0bX8NmoeN2AOukzThvS660ZZY-ENIa_oBhiXbiGUoaO8-GBCcsk48DKDbE6f3tsQKu4oEDgdETcxw9BAcwKyGGuHPRdBNSJlcAY3gxtPH1euj3JJ5aKIt1HSnLWJSMl1dZ3x8tZ2UwJqvclV7lfvedIW0-DS_D3Pa0DST7u1RP63aV93Osnt8yG/s72-w385-h242-c/kisah-syekh-yusuf-almakassari.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-8494519245627707747</id><published>2016-05-06T11:43:00.000+07:00</published><updated>2024-06-15T08:08:06.933+07:00</updated><title type='text'>SYEKH MAHFUDZ AT-TIRMASI</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;arial&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9bc8yo6wLTLofTBZz_P_gFDfH7Yj50OwmKi_vzgtItuC3WQ7I527F2sMtPxRVSMM1Qzt8ThEtvLGaP-LHnoOKzA6y3MsPcmhPGnbIm3Mj-7CgFWG2sX1u-uGGIiJYfw1GbhcywNi22quo0CioKBmJrsd8ra99Yr36cBt0QwP_amQPvaXBin7KqK9b5kLc/s300/syekh%20mahfudz%20attirmasy.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;168&quot; data-original-width=&quot;300&quot; height=&quot;210&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9bc8yo6wLTLofTBZz_P_gFDfH7Yj50OwmKi_vzgtItuC3WQ7I527F2sMtPxRVSMM1Qzt8ThEtvLGaP-LHnoOKzA6y3MsPcmhPGnbIm3Mj-7CgFWG2sX1u-uGGIiJYfw1GbhcywNi22quo0CioKBmJrsd8ra99Yr36cBt0QwP_amQPvaXBin7KqK9b5kLc/w400-h210/syekh%20mahfudz%20attirmasy.jpeg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Syekh Mahfudz 
At-Tirmasi, kelahiran Tremas, Jawa Timur, menjalani karier 
intelektualnya di Tanah Suci. Di Makkah pula, pengarang produktif ini 
tutup usia. Meskipun tidak pernah mengajar di pesantren yang didirikan 
kakeknya, Pesantren Tremas justru dikenal luas berkat reputasi keilmuan 
Syekh Mahfudz. Apa kehebatannya dalam mengarang kitab?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Nama 
lengkap beliau adalah &lt;b&gt;Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. &lt;/b&gt;Populer disebut 
&lt;i&gt;Syekh Mahfudz Tremas&lt;/i&gt;. Dialah ulama Jawa paling berpengaruh pada 
zamannya. Lahir tahun 1258/1868 di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Mahfudz 
menghabiskan sebagian besar hidupnya di Makkah, tempat para kiai Jawa 
yang paling berpengaruh pada awal abad ke-20 menjadi murid-muridnya. 
Mahfudz amat berjasa dalam memperluas cakupan ilmu-ilmu yang di pelajari
 di pesantren-pesantren di Jawa, termasuk hadis dan ushul fiqh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Meskipun
 tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Mahfudz ikut mengangkat nama
 harum pondok yang didirikan kakeknya dari pihak ayah itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Abdul Mannan 
Dipomenggolo,&lt;/b&gt; sang kakek, mendirikan Pesantren Tremas pada 1830. Sampai 
sekarang pesantren tua yang sering dihubung-hungkan dengan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono ini ini masih eksis, dan bisa diakses lewat 
dunia maya. Sebelum mendirikan pesantrennya, Abdul Mannan belajar di 
Pesantren Tegalsari asuhan Kiai Kasan Besari (Hasan Basri), yang salah 
satu muridnya adalah pujangga Ronggowarsito. Setelah itu dia berangkat 
ke Timur Tengah dan belajar pada Sayyid Muhammad al-Shatta’ di Makkah 
dan pada Ibrahim Al-Bajuri, syeikh Al-Azhar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Setelah Abdul Mannan wafat 
pada 1862, putranya Abdullah menggantikan kepemimpinannya di Pesantren 
Tremas.&lt;br /&gt;Muhammad Mahfudz adalah putra tertua Abdullah. Dia memperoleh
 pelajaran dasar agamanya dari sang ayah. Beranjak remaja, dia dikirim 
belajar ke Makkah. Dia belajar pada seorang ulama penganut mazhab 
Syafi’i yaitu Sayyid Bakri atau Abu Bakr bin Muhammad al-Shatta’ 
ad-Dimyati, putra guru kakeknya di Makkah. Sepanjang hayatnya, Mahfudz 
memang dekat dengan keluarga Shatta’. Keluarga terpelajar ini dari 
Dimyat, Mesir. Mahfudz bahkan diangkat menjadi anak, dan dikubur di 
tengah-tengah keluarga Shatta’.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Mahfudz Remaja juga belajar pada kolega dan 
sekaligus rival Sayyid Bakri, yaitu Muhammad Sa`id Ba-Basil, yang 
menggantikan Ahmad bin Zayni Dahlan sebagai mufti Makkah dari mazhab 
Syafi’i. Dia juga belajar pada sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di
 Makkah, seperti Syekh Nawawi Banten (Nawawi bin `Umar al-Jawi 
al-Bantani), `Abd al-Ghani al-Bimawi dan Muhammad Zainuddin al-Sumbawi, 
semuanya mengajar di Masjidil Haram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Mahfudz tidak kembali ke 
Nusantara, memilih berkarier di Makkah, tempat dia menjadi guru yang 
ulung. Sewaktu Abdullah wafat pada tahun 1894 dan adiknya, kiai Dimyati yang 
menjadi kiai di Tremas. Anak-anak Abdullah lainnya adalah Kiai Haji 
Dahlan yang juga pernah belajar di Makkah. Sekembali dari Tanah Suci dia
 diambil menantu oleh Kiai Shaleh Darat Semarang; Kiai Haji Muhammad 
Bakri yang ahli qira’ah, dan Kiai Haji Abdur Razaq, ahli thariqah dan 
mursyid yang punya murid di mana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kiai Dimyati memang punya 
andil besar dalam memajukan pesantren Tremas. Tapi, berkat reputasi 
Mahfudz-lah Tremas menjadi dikenal lebih luas, meskipun, itu tadi, 
beliau tidak pernah mengajar di sana. Di antara murid-muridnya yang 
berasal dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri
 Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan 
Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan 
murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan 
politik mereka di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dia juga mengajar sejumlah murid, dan 
beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya 
`Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad 
Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, Kiai Haji 
Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah, `Abdul
 Muhit dari Panji Sidarjo, pesantren penting lainnya dekat near 
Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Memang entah kebetulan atau tidak, nyatanya banyak di antara murid Syekh Mahfudz yang mendirikan 
pesantren. Kiai Hasyim sendiri adalah pendiri Pesantren Tebu Ireng, dan 
kiai pertama yang mengajarkan kumpulan hadis Bukhari. Sedangkan Kiai 
Bihsri, menantunya, pendiri pesantren Tambakberas, yang juga pernah 
menjadi rais ‘aam PB NU. Kedua kiai besar ini, kita ketahui, adalah 
engkongnya Abdurrahman Wahid, mantan presiden kita itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penulis Produktif&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Syekh Mahfudz At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah 
kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam 
bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan 
beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang. Salah satu bukunya yang 
dicetak ulang dan digunakan di pesantren sampai sekarang adalah “Manhaj 
dhawi al-Nazar”, salah satu karya tingkat lanjut mengenai tata bahsa 
Arab. Tapi yang paling terkenal adalah “Mauhibah Dzi al fadl” . Kitab 
fiqh empat jilid ini merupakan syarah atau komentar atas karya Abdullah 
Ba Fadhl ”Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah”. Kitab ini boleh dibilang 
jarang diajarkan di pesantren, lebih banyak digunakan oleh kiai senior 
sebagai rujukan dan sering dikutip sebagai salah satu sumber yang 
otoritatif dalam penyusunan fatwa oleh para ulama di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dua 
kitabnya di bidang ushul adalah ”Nailul Ma’mul”, syarah atas karya 
Zakariyya Anshari ”Lubb Al-Ushul” dan syarahnya ”Ghayat al-wushul”, dan 
”Is’af al Muthali”, syarah atas berbagai versi karya Subki ”Jam’ 
al-Jawami’. Sebuah kitab lainnya mengenai fiqh yaitu ”Takmilat al-Minhaj
 al-Qawim”, berupa catatan tambahan atas karya Ibn Hajar al-Haitami 
“Al-Minhaj al-Qawim”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;At-Tarmasi juga menaruh minat pada seni baca 
Al-Qur’an (qira’ah). Untuk itu pula, dia menulis kitab “Al Fawaid at 
Tarmisiyah fi Asanid al- Qiraat al Asy’ariyah”, Al- Budur al Munir fi 
qiraah al-Imam Ibnu Katsir”, ”Tanwir ash Shadr fi Qiraah al Imam Abi 
’Amr”, ”Al-Fuad fi Qiraat al Imam Hamzah”, ”Tamim al Manafi fi Qiraat 
al-Imam Nafi’, dan ”Aniyah ath Thalabah bi Syarah Nadzam ath Tayyibah fi
 Qiraat al Asy’ariyah.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada dua karya lainnya tentang 
bibliografi dan riwayat pengarangnya. Yakni “Kifayat al-mustafid li-ma 
`alla min al-asanid, mengenai jalur transmisi (sanad) dari para 
pengarang kitab-kitab klasik sampai guru-gurunya, dan “As-Saqayah 
al-Mardhiyyah fi Asma’i Kutub Ashhabina al- Syafiiyah”, kajian atas 
karya-karya fiqih mazhab Syafi’i dan riwayat para pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Diceritakan
 dalam kitab “Kifayatul Mustafid “ bahwa Syekh Mahfudz selain masyhur 
sebagai seorang alim yang khusyu’ dalam ibadah, tawadlu’ dalam tingkah 
laku, ridha dan sabar didalam sikap, juga sebagai seorang ahli dalam 
Hadist Bukhari. Beliau diakui sebagai seorang isnad (mata rantai) yang 
sah dalam pengajaran Shahih Bukhari. Ijasah ini berasal langsung dari 
Imam Bukhari itu sendiri yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lalu dan 
diserahkan secara berantai melalui 23 generasi ulama yang telah 
menguasai karya Shahih Bukhari, dan Syeikh Mahfudz a merupakan mata 
rantai yang terakhir pada waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam menulis, konon Syekh 
Mahfudz ibarat sungai yang airnya terus mengalir tanpa henti. Gua Hira 
menjadi tempatnya mencari inspirasi. Dia biasa menghabiskan waktunya di 
gua tempat Nabi menerima wahyu-Nya yang pertama itu. Kecepatan Mahfudz 
dalam menulis kitab, juga boleh dibilang istimewa. Khabarnya, kitab 
”Manhaj Dhawi al-Nazhar” beliau selesaikan dalam 4 bulan 14 hari. 
Mahfudz mengatakan bahwa kitab ini ditulis ketika berada di Mina dan 
Arafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Mengingat karyanya yang berbagai-bagai itu, tidak berlebihan 
kiranya jika Syeikh Yasin Al-Padani, ulama Makkah asal Padang, Sumatra 
Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjuluki Mahfudz 
At-Tarmasi: al-alamah, al-muhadits, a- musnid, al- faqih, al- ushuli dan
 al- muqri. Yang menarik, kitab-kitab karangan Syeikh Mahfudz tidak 
hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren di Indonesia, tapi
 konon banyak pula yang dipakai sebagai literatur wajib pada beberapa 
perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Marokko, Arab Saudi, Iraq 
dan negara-negara lainnya. Bahkan sampai sekarang di antara 
kitab-kitabnya masih ada yang dipakai dalam pengajian di Masjidil Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Muhammad Mahfudz At-Tarmasi wafat pada hari Rabu bulan Rajab tahun 1338 Hijrah bertepatan dengan tahun 1920 M.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Blow-up:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1.
 Muhammad At-Tarmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang 
sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis 
dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, 
dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang.&lt;br /&gt;2. Di antara 
murid-murid Syekh Mahfud Tremas yang berasal dari Indonesia adalah Kiai 
Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab 
Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita 
ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling 
terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air. Dia 
juga mengjar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama 
yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal 
Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga 
bermukim di Makkah, dan Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri 
pesantren Lasem, Jawa Tengah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sumber: telaga ulama.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/8494519245627707747/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/syekh-mahfudz-at-tirmasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/8494519245627707747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/8494519245627707747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/syekh-mahfudz-at-tirmasi.html' title='SYEKH MAHFUDZ AT-TIRMASI'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9bc8yo6wLTLofTBZz_P_gFDfH7Yj50OwmKi_vzgtItuC3WQ7I527F2sMtPxRVSMM1Qzt8ThEtvLGaP-LHnoOKzA6y3MsPcmhPGnbIm3Mj-7CgFWG2sX1u-uGGIiJYfw1GbhcywNi22quo0CioKBmJrsd8ra99Yr36cBt0QwP_amQPvaXBin7KqK9b5kLc/s72-w400-h210-c/syekh%20mahfudz%20attirmasy.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-41498695468181768</id><published>2016-05-06T11:39:00.001+07:00</published><updated>2024-06-15T08:41:18.511+07:00</updated><title type='text'>MENGENANG KH.RADEN ASNAWI KUDUS</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 130%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5134453228442186114&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiREu7tK_Q-Xx4VnRbPfHJLU0APZlEFOLtg0qRPYvGuBlNc_2MyAdtSHqIDIRhCYJll_S3d4QOBh2gdwCFhXTrFRgd2KrYZZq_ykE5NP8ehJ1tOdFSswLRDKtNA5Crew_1uB6Hxn1OZnnOO/s320/KH+ASNAWI.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Kyai Haji Raden 
Asnawi itulah nama yang digunakan setelah menunaikan ibadah haji yang 
ketiga hingga wafat. Adapun nama sebelumnya ialah Raden Ahmad Syamsi, 
kemudian sesudah beliau menunaikan ibadah haji yang pertama berganti 
nama Raden Haji Ilyas dan nama inilah yang terkenal di Mekah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;KH.R. 
Asnawi adalah putra yang pertama dari H. Abdullah Husnin seorang 
pedagang konfeksi yang tergolong besar di Kudus pada waktu itu, sedang 
ibunya bernama R.Sarbinah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;KH.R. Asnawi lahir di kampung Damaran, Kudus 
pada tahun 1281 H (+1861 M), beliau termasuk keturunan ke-14 dari Sunan 
Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 dari Kyai Haji Mutamakin 
seorang wali yang kramat di desa Kajen Margoyoso Pati, yang hidup pada 
zaman Sultan Agung Mataram.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Masa Mudanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejak
 kecil beliau diajar oleh orang tuanya sendiri, terutama dalam mengaji 
Al-Qur’an. Setelah berumur 15 tahun beliau diajak oleh orang tuanya ke 
Tulung Agung Jawa Timur untuk mengaji sambil belajar berdagang. Sesudah 
mendapat asuhan dan didikan dari orang tuanya, beliau kemudian mengaji 
di pondok pesantren Tulungagung, lalu berguru dengan Kyai H. Irsyad Naib
 Mayong Jepara sebelum pergi haji. Dan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Selama di Mekah beliau berguru antara
 lain dengan Kyai H. Saleh Darat Semarang, Kyai H. Mahfudz Termas dan 
Sayid Umar Shatha.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Menunaikan Ibadah Haji&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu
 umur 25 tahun beliau menunaikan ibadah haji yang pertama dan 
sepulangnya dari ibadah haji ini, beliau mulai mangajar dan melakukan 
tabligh agama. Diantaranya pada setiap hari Jum’ah Pahing sesudah shalat
 Jum’ah beliau mengajar ilmu tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria)
 yang berjarak 18 Km dari kota Kudus, dan ini dilakukan dengan jalan 
kaki. Beliau berkeliling di masjid-masjid sekitar kota bila melakukan 
shalat subuh. Kira-kira umur 30 tahun beliau diajak oleh ayahnya untuk 
pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di 
saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun
 demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu 
beliau juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya 
yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di 
Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu beliau telah kembali 
ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Mukim Di Tanah Suci&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semula
 beliau tinggal di rumah Syekh Hamid Manan Kudus, kemudian setelah kawin 
dengan ibu Nyai Hajjah Hamdanah (janda Almaghfurlah Kyai Nawawi Banten),
 beliau pindah tempat di kampung Syamiah Mekah dengan dikaruniai 9 orang
 anak, tetapi yang hidup sampai tua hanya 3 orang yaitu: H. Zuhri, H. 
Azizah istri KH. Shaleh Tayu dan Alawiyah istri R. Maskub Kudus. Selama 
bermukim di tanah suci, disamping menunaikan kewajiban sebagai kepala 
rumah tangga, beliau masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu 
agama dengan para Ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, 
baik di Masjidil Haram maupun di rumah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Beliau juga pernah mengajar di 
Masjidil Haram dan di rumahnya, diantara yang ikut belajar antara lain: 
KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang, KH. Bisyri Samsuri Jombang, KH. 
Dahlan Pekalongan, KH. Shaleh tayu, KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus 
dan KH. A. Mukhit Sidoarjo. Disamping belajar dan mengajar agama Islam, 
beliau turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI 
(Syarikat Islam) di Mekah bersama dengan kawannya yang lain. Pada waktu 
beliau bermukim ini, pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah 
seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syekh Ahmad Khatib Minangkabau 
tentang beberapa masalah keagamaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Pembahasan ini dilakukan secara 
tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh 
kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu beliau bermaksud ingin 
memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik 
dari tulisan beliau dan Syekh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat 
Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu 
tidak sanggup memberi ifta’-nya. (sayang, catatan-catatan itu 
ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga 
KH.R.Asnawi lupa masalah apa yang dibahas beliau, meskipun sudah 
diberitahu).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Melihat tulisan dan jawaban beliau terhadap tulisan Syekh 
Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan 
dengan beliau. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan 
Syekh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KH.Asnawi Kudus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Akhirnya 
disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh 
Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada beliau dan diatur agar 
beliau nanti yang melayani mengeluarkan jamuan. Sesudah shalat Jum’ah 
datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syekh Hamid Manan dan beliau 
sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, 
bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza 
Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk beliau yang sedang duduk di 
pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Setelah 
ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat beliau, seraya membuka 
kopiah dan diciumlah kepala beliau sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid 
Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: Sungguh saya telah salah sangka, 
setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, 
melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapuh.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pada tahun 1916 beliau 
meninjau tanah airnya yang ada di Kudus, serta mengadakan hubungan 
dengan kawan-kawannya antara lain Bapak Sema’un, H. Agus Salim, Hos 
Cokroaminoto dan lain-lain dari tokoh SI. Berangkatlah beliau sendiri, 
sedang anak istri ditinggal di Mekah. Sesampainya di Kudus beliau 
bersama dengan kawan-kawannya mendirikan sebuah Madrasah yang di beri 
nama Madrasah Qudsiyyah pada tahun 1916 M. Dan tidak lama kemudian 
diadakan pembangunan (Rehab) Masjid Menara Kudus yang dilakukan secara gotong 
royong. Kalau malam para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir 
dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Di tengah-tengah 
melaksanakan pembangunan itu, terjadi suatu peristiwa huru-hara Kudus 
pada tahun 1918, dimana beliau dengan kawan-kawannya yang lain terpaksa 
harus menghadapi tantangan kaki tangan kaum penjajah yang menghina 
Islam. Itulah sebabnya niat kembali ke tanah suci menjadi gagal, sedang 
istri dan anak masih di Mekah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Huru-Hara Kudus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Di
 tengah-tengah umat Islam mengadakan gotong royong untuk membangun 
Masjid Menara yang dikerjakan siang dan malam, oleh orang-orang Cina 
diadakan pawai yang akan melewati depan Masjid Menara. Oleh Ulama dan 
pemimpin-pemimpin Islam telah mengirim surat kepada pemimpin Cina, agar 
tidak menjalankan pawainya di muka Masjid Menara, mengingat banyak umat 
Islam yang melakukan pengambilan batu dan pasir pada malam hari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Permintaan itu ternyata tidak digubris, bahkan dalam rentetan pawai itu 
ada adegan dua orang Cina yang memakai pakaian haji dengan merangkul 
seorang wanita yang berpakaian seperti wanita nakal. Orang awam 
menamakan Cengge. Pawai Cina yang datang dari muka Masjid Manara menuju 
ke selatan kemudian berpapasan dengan santri-santri yang sedang bekerja 
bakti mengambil pasir dan batu dengan kendaraan grobak dorong (songkro).
 Kedua-duanya tidak ada yang mau mundur. Akhirnya seorang santri yang 
menarik songkro itu dipukul oleh orang Cina. Dengan adanya pemukulan 
terhadap orang Islam yang dilakukan oleh orang Cina, ditambah adanya 
Cengge yang menusuk perasaan umat Islam, maka terjadilah pertikaian 
antara para peserta pawai orang Cina dengan orang Islam yang sedang 
bekerja bakti mengambil pasir dan batu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Sekalipun pertikaian ini dapat 
dihentikan dan selanjutnya diadakan perdamaian, namun orang-orang Cina 
belum mau menunjukkan sikap damai, bahkan masih sering melontarkan 
ejekan terhadap orang Islam yang tengah mengambil pasir dan batu 
sepanjang jalan yang dilalui dari Kaligelis sampai menuju ke Masjid 
Manara Kudus. Karena itulah orang-orang Islam terpaksa mengadakan 
perlawanan terhadap penghinaan orang-orang Cina. Para ulama memandang 
beralasan untuk menyetujui adanya penyerangan pembelaan, tetapi tidak 
diadakan pembunuhan terhadap orang-orang Cina, pembakaran rumah maupun 
perampasan barang-barang milik orang Cina. Tetapi ada pihak ketiga yang 
mengambil kesempatan untuk mengambil barang-barang orang Cina dan 
tersentuhnya lampu gas pom sehingga menimbulkan kebakaran beberapa 
rumah, baik milik orang Cina maupun orang Jawa. Dengan dalih telah 
mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah, maka 
para Ulama ditangkap dan dimasukkan dalam penjara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Akhirnya KH.R.Asnawi 
yang dituduh sebagai salah satu penggerak, dijatuhi hukuman selama 3 
tahun. Semula di penjara Kudus, kemudian pindah di penjara Semarang 
bersama-sama dengan KH.Ahmad Kamal Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid 
Sunggingan dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Selama Dalam Penjara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada
 saat di penjara, istrinya (Nyai Hj. Hamdanah) beserta 3 orang 
putra-putrinya datang ke Kudus dari Mekah. Menurut cerita beliau, selama
 berada di penjara Kudus pada setiap malam Jum’ah, beliau mengadakan 
berjanjenan (membawa kitab Al-Barjanji) bersama dengan penghuni penjara 
dan selalu mengadakan shalat jamaah lima waktu. Di samping itu, beliau 
sempat menterjemahkan kitab Ajrumiyah (ilmu Nahwu) ke dalam bahasa Jawa,
 sayang karangan ini tidak dicetak dan disiarkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Sesudah Keluar Dari Penjara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai
 seorang yang memiliki jiwa pejuang, setelah keluar dari penjara beliau 
langsung terjun di tengah masyarakat untuk menunaikan kewajiban sebagai 
seorang pemimpin masyarakat, diantaranya dengan berda’wah mengajar agama
 dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Diantara ilmu yang diutamakan
 oleh beliau adalah Tauhid dan Fiqih. Pada tahun 1927 berdiri pondok 
pesantren yang diasuh oleh beliau di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah 
Faqih dan mendapat dukungan dari para dermawan dan umat Islam di Kudus. 
Kegiatan beliau dalam melakukan tabligh tidak terbatas daerah Kabupaten 
Kudus saja, akan tetapi meluas ke daerah lain untuk menyebarkan aqidah 
Ahlusunnah Wal Jamaah antara lain sampai ke Tegal, Pekalongan, Semarang,
 Gresik, Cepu, dan Blora. Demikian halnya dalam mengadakan pengajian 
meliputi daerah Demak, Jepara, dan Kudus. Di pondok pesantrennya sendiri
 setiap tanggal 14 bulan hijriyah diadakan majelis ta’lim yang disebut 
Patbelasan, ribuan Muslimin dan Muslimat mendatangi majelis ini. Sayang 
majelis ini terhenti karena dihapus oleh pemerintah Jepang. Juga setiap 
tanggal 29 Rabiul Awal beliau menyelenggarakan peringatan maulud Nabi 
Muhammad Saw. Bersamaan mengadakan majelis khataman Al-Quran baik 
binnadzar maupun bil-ghaib yang diasuh oleh putranya (HM. Zuhri).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Disamping melayani kebutuhan para santri yang ada di pondok pesantren 
tentang pengajian kitab, secara khusus beliau juga mengadakan wiridan, 
antara lain:Khataman Tafsir Jalalain dalam bulan Ramadlan di pondok 
pesantren Bendan Kudus, Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan Hikam dalam 
bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus, Membaca kitab Hadist Bukhari 
yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh 
selama bulan Ramadlan bertempat di Masjid Al-Aqsha Kauman Menara Kudus. Sampai beliau wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh 
Al-Hafidh KH. M. Arwani Amin sampai khatam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sesudah selesai mendirikan 
pondok pesantren pada tahun 1927 M, pernah datang ke rumah beliau 
seorang tokoh Belanda yang faham tentang agama Islam bernama Van Der 
Plas. Kedatangannya di rumah untuk minta agar dilayani dengan bahasa 
Arab, demikian ujar petugas Kabupaten yang memberitahukan akan datangnya
 Van Der Plas dan menyampaikan kehendaknya. Adapun maksud Van Der Plas 
menemui beliau adalah bermaksud minta kesediaan beliau untuk memangku 
jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas penawaran itu ditolaknya, sebab 
kalau diangkat sebagai penghulu tidak bebas lagi dalam melakukan amar 
ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat, lain kalau saya menjadi orang
 partikelir, dapat melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap siapapun 
tanpa ada rasa segan (ewuh pekewuh).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kegemarannya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Pada
 masa hidupnya beliau sangat gemar melakukan: Silaturrahim, baik di 
tempat yang dekat maupun yang jauh, baik terhadap orang tua maupun 
terhadap yang lebih muda. Amar ma’ruf nahi mungkar, terhadap siapapun 
terutama terhadap keluarganya asal terdapat hal-hal yang kurang baik 
apalagi terhadap hal yang nyata-nyata melanggar syara’. Beliau tidak 
segan-segan memberikan peringatan atau teguran. Ringan tangan bila 
diundang, asal undangan yang tidak melanggar syara’. Setiap tahunnya 
asal undangan tiada udzur, beliau pasti hadir dalam upacara Maulud Nabi 
yang diselengarakan oleh Sayid Ali Al-Habsyi Kwitang Jakarta. Pernah 
beliau berpesan: “Apabila ada orang yang minta pertolongan dan ada 
kemampuan untuk memenuhi, laksanakanlah permintaan itu, sebab Allah akan
 menolongmu”. Selalu memberi nasehat, baik kepada siapa saja terutama 
kepada anak dan cucunya. Kalau nasehat (pidato) suaranya lantang, 
sekalipun pahit, keras dan tegas sesuai dengan ajaran syariat di telinga
 tetapi manis dirasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Perjuangannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada
 tahun 1924 M beliau ditemui oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang 
untuk bermusyawarah untuk membuat benteng pertahanan Aqidah Ahlussunah 
Wal Jamaah. Akhirnya beliau menyetujui gagasan KH.A. Wahab Hasbullah dan
 selanjutnya bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada 
tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M mendirikan jam’iyah Nahdlatul 
Ulama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Pada zaman penjajahan Belanda beliau sering dikenakan hukuman 
denda karena pidatonya yang mempertahankan kesucian Islam serta 
menanamkan nasionalisme terhadap umat Islam, baik di Kudus maupun di 
Jepara. Pada zaman penjajahan Jepang pernah dituduh menyimpan senjata 
api, sehingga rumah dan pondok beliau dikepung oleh tentara Dai Nippon, 
akhirnya beliau dibawa ke markas, Kempetai di Pati. Pada zaman awal 
revolusi kemerdekaan terutama pada masa menjelang agresi ke-1, beliau 
mengadakan gerakan ruhani dengan membaca sholawat Nariyah dan doa surat 
Al-Fil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Tidak sedikit para pemuda-pemuda kita yang tergabung dalam 
laskar-laskar bersenjata berdatangan untuk minta bekal ruhaniyah kepada 
beliau sebelum berangkat ke medan pertahanan di Genuk, Alastuo dan 
lain-lain. Oleh Bupati Kudus, Raden Surbakah pernah beliau dimintai 
untuk menempati pendopo Kabupaten sebagai tempat pengajian dan itu 
dipenuhi sehingga Bapak Bupati pindah. Majelis pengajian umum yang masih
 berjalan sampai sekarang ini ialah Sanganan di Masjid Agung Kauman 
Wetan Kudus dan majelis Pitulasan di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. 
Pondok Pesantrennya masih berjalan untuk melanjutkan cita-cita dan 
perjuangan beliau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Keluarga Almarhum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesudah
 pergi haji yang pertama beliau menikah dengan putri KH. Abdullah Faqih 
Langgar dalem Kudus bernama Mudasih dan dianugrahi dua orang putra:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;1. 
HM. Zaini mempunyai 5 orang anak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;2. Masy’ari mempunyai 2 orang anak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pada waktu bermukim di Mekah beliau menikah dengan Nyai Hj. Hamdanah 
(janda almarhum Syeh Nawawi Banten) dan dianugrahi tiga orang anak:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;1. 
HM. Zuhri mempunyai 5 orang anak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;2. H. Azizah ( istri KH. Saleh Tayu ) 
mempunyai 5 orang anak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;3. Alawiyah, mempunyai 6 orang anak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sewaktu 
kembali ke Kudus pada tahun 1916, beliau dinikahkan dengan anak 
keponakan Khatib Khair di Kudus bernama Subandiyah tetapi tidak tidak 
dianugrahi anak hingga wafat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sesudah itu kemudian nikah dengan ibu 
Muthi’ah mempunyai 2 anak:&amp;nbsp;Siti Budur dan K. Mufadh. Beliau juga pernah 
menikah dengan Ibu Munijah Damaran dan tidak dikaruniai anak. Sewaktu 
beliau wafat meninggalkan 3 orang istri, 5 orang anak, 23 cucu dan 18 
cicit (buyut).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;KH. R. Asnawi Pulang Ke Rahmatullah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Hari
 Sabtu Kliwon tanggal 25 Jumadil Akhir 1378 H, bertepatan tanggal 26 
Desember 1959 M, tepatnya jam 03.00 fajar beliau telah dipanggil pulang 
ke rahmatullah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;KH.R.Asnawi, seorang ulama besar dan salah seorang 
pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama wafat dalam usia 98 tahun. Innalillahi
 wa inna ilaihi rojiun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Sumber : telaga ulama.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/41498695468181768/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mengenang-khraden-asnawi-kudus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/41498695468181768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/41498695468181768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mengenang-khraden-asnawi-kudus.html' title='MENGENANG KH.RADEN ASNAWI KUDUS'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiREu7tK_Q-Xx4VnRbPfHJLU0APZlEFOLtg0qRPYvGuBlNc_2MyAdtSHqIDIRhCYJll_S3d4QOBh2gdwCFhXTrFRgd2KrYZZq_ykE5NP8ehJ1tOdFSswLRDKtNA5Crew_1uB6Hxn1OZnnOO/s72-c/KH+ASNAWI.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-5952124642331256582</id><published>2016-05-06T11:30:00.002+07:00</published><updated>2024-06-16T18:54:15.988+07:00</updated><title type='text'> SEKILAS BIOGRAFI KIAI SALEH DARAT, GURUNYA PARA ULAMA&#39; TANAH JAWA</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;arial&amp;quot;; font-size: 130%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDgH6DvRg_KLQpCJvxsrTsiDhbutOw5kLGneWbDrnpFCqaCR1ApF_N_ewaMKOnGrBrmaD-3yNyjSctDaQDFX5vYrKAyraLbMWw2Nco6N-SdGf351YOuCJmA_0dahb6um0iW_2lVOkBmqD-A1i73zj5XKgk0-WdrPUwggm_w5Qf47k6H7iV5Ei59BwLlEdq/s300/kh%20soleh%20darat.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;300&quot; data-original-width=&quot;185&quot; height=&quot;329&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDgH6DvRg_KLQpCJvxsrTsiDhbutOw5kLGneWbDrnpFCqaCR1ApF_N_ewaMKOnGrBrmaD-3yNyjSctDaQDFX5vYrKAyraLbMWw2Nco6N-SdGf351YOuCJmA_0dahb6um0iW_2lVOkBmqD-A1i73zj5XKgk0-WdrPUwggm_w5Qf47k6H7iV5Ei59BwLlEdq/w323-h329/kh%20soleh%20darat.jpg&quot; width=&quot;323&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;DALAM kitab ALHIKAM&lt;/b&gt;, 
Kiai Saleh Darat menulis, salah satu tanda kewalian seseorang secara 
lahiriah adalah banyaknya umat yang berziarah jika ia telah meninggal 
dunia. Adapun secara batiniah, seseorang itu mampu menjadi wasilah 
(perantara) doa umat kepada Allah SWT. Kini, bertahun-tahun setelah wafatnya, dua tengara itu justru melekat pada diri beliau. Setiap 10 
Syawal, ribuan orang mengunjungi makam Kiai Saleh Darat di kompleks 
Pemakaman Umum Bergota, Semarang. Sebagian di antara mereka juga 
meyakini bahwa ia seorang wasilah. Terlepas dari benar-tidaknya 
keyakinan itu, jumlah umat yang hadir tak termungkiri menjadi penanda 
kebesaran namanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Setiap tahun bertepatan dengan Haul beliau, umat berdatangan tak hanya dari 
Semarang, tetapi juga kota-kota lain di Jawa Tengah seperti Kendal, 
Ungaran, Demak, Pati, Purwodadi, Ambarawa, Tegal, Solo, dan Pekalongan dan sekitarnya. 
Mereka sudah hadir semenjak pagi, bahkan di antaranya ada yang sengaja 
menginap sehari sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Biografi singkat Beliau&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kiai Sholeh Darat lahir di Desa Kedung 
Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, sekitar tahun 1820. Dalam 
kitab-kitab yang ditulisnya, dia menggunakan nama Syeikh Haji Muhammad 
Shalih bin Umar Alsamarani. Adapun kata &#39;&#39;Darat&#39;&#39; di belakang namanya 
adalah sebutan masyarakat untuk menunjukkan tempat di mana dia tinggal, 
yakni di Kampung Darat, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Ayahnya,
 KH Umar, adalah ulama terkemuka yang dipercaya Pangeran Diponegoro 
dalam perang Jawa melawan Belanda di wilayah pesisir utara Jawa. Setelah
 mendapat bekal ilmu agama dari ayahnya, Saleh kecil mulai mengembara, 
belajar dari satu ulama ke ulama lain.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Tercatat KH Syahid Waturaja 
(belajar kitab fiqih, seperti Fath al-Qarib, Fath Al Mu&#39;in, Minhaj 
al-Qawim, dan Syarb al-Khatib). Dia juga belajar kepada KH Muhammad 
Saleh Asnawi Kudus (tafsir Aljalalain Alsuyuti, KH Ishaq Damaran (nahwu 
dan sharaf), KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni (ilmu falaq), KH 
Ahmad Bafaqih Balawi (kajian jauharah Attauhid karya Syaikh Ibrahim 
Allaqani dan Minhaj Alabidin karya Alghazali) serta KH Abdul Gani Bima 
(kitab Almasa&#39;il Assittin karya Abu Al abbas Ahmad Alghani). Belum 
merasa cukup, dia diajak ayahnya memperdalam agama di Singapura, sebelum
 akhirnya menuju Makkah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;span&gt;Di tanah haram, dia berguru kepada ulama-ulama 
besar, antara lain Syaikh Muhammad Almarqi, Syaikh Muhammad Sulaiman 
Hasballah, Syaikh Sayid Muhammad Zein Dahlan, Syaikh Zahid, Syaikh Umar 
Assyani, Syaikh Yusuf Almisri, dan Syaikh Jamal Mufti Hanafi. Beberapa 
santri seangkatannya antara lain KH Muhamad Nawawi Banten (Syaikh Nawawi
 Aljawi) dan KH Cholil Bangkalan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Seusai menuntaskan 
pendidikannya, beliau mendapat kesempatan mengajar, terutama kepada para 
santri yang datang dari Jawa. Satu di antaranya adalah KH Hasyim Asy&#39;ari
 yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Sepulang dari Makkah, 
Muhammad Saleh mengajar di Pondok Pesantren Darat milik mertuanya, KH 
Murtadlo. Semenjak kedatangannya, pesantren itu berkembang pesat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Para
 santri berdatangan dari luar daerah, sebagian di antaranya menjadi 
ulama terkemuka, antara lain KH Mahfuzd (pendiri Pondok Pessantren 
Termas, Pacitan), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Idris 
(pendiri Pondok Pesantren Jamsaren, Solo), KH Sya&#39;ban (ulama ahli falaq 
dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar 
(pendiri Ponpes Watucongol, Muntilan), dan Kiai Moenawir (Krapyak, 
Yogyakarta)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;
&lt;span&gt;Sumber : Telaga ulama.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/5952124642331256582/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/kiai-saleh-daratgurunya-para-ulama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/5952124642331256582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/5952124642331256582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/kiai-saleh-daratgurunya-para-ulama.html' title=' SEKILAS BIOGRAFI KIAI SALEH DARAT, GURUNYA PARA ULAMA&#39; TANAH JAWA'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDgH6DvRg_KLQpCJvxsrTsiDhbutOw5kLGneWbDrnpFCqaCR1ApF_N_ewaMKOnGrBrmaD-3yNyjSctDaQDFX5vYrKAyraLbMWw2Nco6N-SdGf351YOuCJmA_0dahb6um0iW_2lVOkBmqD-A1i73zj5XKgk0-WdrPUwggm_w5Qf47k6H7iV5Ei59BwLlEdq/s72-w323-h329-c/kh%20soleh%20darat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-1167311894570633550</id><published>2016-05-06T11:25:00.001+07:00</published><updated>2024-06-16T19:02:48.622+07:00</updated><title type='text'>MBAH ARWANI KUDUS, SOSOK ULAMA YANG ALIM, SANTUN DAN LEMBUT</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5227343252738057378&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUAAXdKTOHh_06HqR5ltGGC4hCos821x-4tIjjxaHv6iNb_Jae9jaGpYT-n5NrU_PNYtlbFgY9f_Y2ZQHY_DZrZ1EX6ywja-kjKxQKwajpiVvACbem8yjooeF4on55G50Kd6L-PdXhmV0W/s320/Mbah-KH-M-Arawani.jpg&quot; style=&quot;float: right; margin: 0px 0px 10px 10px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;Yanbu’ul
 Qur’an Adalah pondok huffadz terbesar yang ada di Kudus. Santrinya tak 
hanya dari kota Kudus, tetapi juga dari berbagai kota di Nusantara. Bahkan, 
pernah ada beberapa santri yang datang dari luar negeri seperti Malaysia
 dan Brunei Darussalam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Pondok tersebut adalah pondok peninggalan KH. M. 
Arwani Amin. Salah satu Kyai Kudus yang sangat dihormati karena 
kealimannya, sifatnya yang santun dan lemah lembut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;KH. M. Arwani Amin 
dilahirkan dari pasangan H. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah pada Selasa 
Kliwon, 5 Rajab 1323 H., bertepatan dengan 5 September 1905 M di Desa 
Madureksan Kerjasan, sebelah selatan masjid Menara Kudus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Nama asli 
beliau sebenarnya Arwan. Tambahan “I” di belakang namanya menjadi 
“Arwani” itu baru dipergunakan sejak kepulangannya dari Haji yang 
pertama pada 1927. Sementara Amin bukanlah nama gelar yang berarti 
“orang yang bisa dipercaya”. Tetapi nama depan Ayahnya; Amin Sa’id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;KH.
 Arwani Amin adalah putera kedua dari 12 bersaudara. Saudara-saudara 
beliau secara berurutan adalah Muzainah, Arwani Amin, Farkhan, 
Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah,
 Ni’mah, Muflikhah dan Ulya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Dari sekian saudara Mbah Arwani (demikian 
panggilan akrab KH. M. Arwani Amin), yang dikenal sama-sama menekuni 
al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in. Ahmad Da’in, adiknya Mbah 
Arwani ini bahkan terkenal jenius. Karena beliau sudah hafal al-Qur’an 
terlebih dahulu daripada Mbah Arwani, yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan
 hafal Hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. 
Kecerdasan dan kejeniusan Da’in inilah yang menggugah Mbah Arwani dan 
adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar. Konon, menurut KH. Sya’roni
 Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat 
orangtuanya yang senang membaca al-Qur’an. Di mana orangtuanya selalu 
menghatamkan membaca al-Qur’an meski tidak hafal. Selain barokah 
orangtuanya yang cinta kepada al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah 
sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan 
panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada 
ulama-ulama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Tak kurang, 39 tahun beliau habiskan untuk berkelana 
mencari ilmu. Diantara pondok pesantren yang pernah disinggahinya 
menuntut ilmu adalah pondok Jamsaren (Solo) yang diasuh oleh Kyai Idris,
 Pondok Tebu Ireng yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Pondok 
Munawir (Krapak) yang diasuh oleh Kyai Munawir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Selama menjadi santri, 
Mbah Arwani selalu disenangi para Kyai dan teman-temannya karena 
kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya 
itu, KH. Hasyim Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu. 
Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah 
dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa
 menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari, karena kakek Mbah Arwani (KH. 
Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di 
sekitar Kudus saja. Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul
 Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri dari KH. Abdullah Sajad, yang 
sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri. Dari 
pernikahannya dengan Bu Naqi ini, Mbah Arwani diberi empat keturunan. 
Namun yang masih sampai sekarang tinggal dua, yaitu KH. M. Ulinnuha dan 
KH. M. Ulil Albab, yang meneruskan perjuangan Mbah Arwani mengasuh 
pondok Yanbu’ sampai sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Yah, demikian besar jasa Mbah Arwani 
terhadap Ummat Islam di Indonesia terutama masyarakat Kudus, dengan 
kiprahnya mendirikan pondok yang namanya dikenal luas hingga 
sekarang. Banyak Kyai telah lahir dari pondok yang dirintisnya tersebut. 
KH. Sya’roni Ahmadi, KH. Hisyam, KH. Abdullah Salam (Kajen), KH. 
Muhammad Manshur, KH. Muharror Ali (Blora), KH. Najib Abdul Qodir 
(Jogja), KH. Nawawi (Bantul), KH. Marwan (Mranggen), KH. Ah. Hafidz 
(Mojokerto), KH. Abdullah Umar (Semarang), KH. Hasan Mangli (Magelang), 
adalah sedikit nama dari ribuan Kyai yang pernah belajar di pondok 
beliau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;Kini Mbah Arwani Amin telah tiada. Beliau meninggal dunia pada 1
 Oktober 1994 M. bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1415 H. Beliau 
meninggal dalam usia 92 tahun. Namun, meski beliau telah meninggal 
dunia, namanya tetap harum di hati sanubari masyarakat. Pondok Yanbu’ul 
Qur’an, Madrasah TBS, Kitab Faidlul Barakat dan berbagai kitab lain yang
 sempat ditashihnya, menjadi saksi perjuangan beliau dalam mengabdikan 
dirinya terhadap masyarakat, ilmu dan Islam&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Sumber : Telaga ulama.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/1167311894570633550/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mbah-arwani-kudus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/1167311894570633550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/1167311894570633550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/mbah-arwani-kudus.html' title='MBAH ARWANI KUDUS, SOSOK ULAMA YANG ALIM, SANTUN DAN LEMBUT'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUAAXdKTOHh_06HqR5ltGGC4hCos821x-4tIjjxaHv6iNb_Jae9jaGpYT-n5NrU_PNYtlbFgY9f_Y2ZQHY_DZrZ1EX6ywja-kjKxQKwajpiVvACbem8yjooeF4on55G50Kd6L-PdXhmV0W/s72-c/Mbah-KH-M-Arawani.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3888281622673365399.post-7031761251151738524</id><published>2016-05-06T11:19:00.005+07:00</published><updated>2024-06-16T19:13:13.945+07:00</updated><title type='text'>KH. ALI MAKSUM, KRAPYAK YOGYAKARTA</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; font-family: arial; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPpqyz7XPgGG7jM_dCsJJm5s3Te8oxV9jvapYlHmODd8ivfThspdaXrevv71VH6gPgw2AMVzKTeP0AVzWHSQk91oj7VQ5gyu9mdnKbPP8xRvenQIY3Lz-clNdoNrWmdbdIiPe5R4EuVYDaSQgIM-EwiVJWkL08vp36w4C4nEFksFzbGhsqTy1Fz7oinLJG/s309/kh%20ali%20maksum%20jogja.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;163&quot; data-original-width=&quot;309&quot; height=&quot;204&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPpqyz7XPgGG7jM_dCsJJm5s3Te8oxV9jvapYlHmODd8ivfThspdaXrevv71VH6gPgw2AMVzKTeP0AVzWHSQk91oj7VQ5gyu9mdnKbPP8xRvenQIY3Lz-clNdoNrWmdbdIiPe5R4EuVYDaSQgIM-EwiVJWkL08vp36w4C4nEFksFzbGhsqTy1Fz7oinLJG/w386-h204/kh%20ali%20maksum%20jogja.jpeg&quot; width=&quot;386&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica;&quot;&gt;&lt;b&gt;KH. Ali bin Maksum
 bin Ahmad &lt;/b&gt;dilahirkan di Lasem, kota tua di Jawa Tengah dari keluarga 
ulama keturunan Sayyid Abdurrahman alias Pangeran Kusumo bin Pangeran 
Ngalogo alias Pangeran Muhammad Syihabudin Sambu Digdadiningrat alias 
Mbah Sambu. Garis keturunan ini banyak melahirkan keluarga pesantren 
yang tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Masa muda beliau 
habiskan dengan berguru dari pesantren ke pesantren. Dimulai dari 
ayahnya sendiri yang juga seorang kyai ulama besar, beliau kemudian 
nyantri kepada Kyai Amir Pekalongan untuk kemudian melanjutkan kepada 
Kyai Dimyati Tremas Pacitan Jawa Timur. Sejak di Termas inilah beliau 
terlihat menonjol dan akhirnya ikut membantu gurunya mengajar dan 
mengurus madrasah pesantren dan membuat karangan tulisan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Tak
 lama setelah diambil menantu oleh KHM Munawwir al Hafidh al Muqri 
Krapyak Yogyakarta, beliau dibantu oleh seorang saudagar Kauman 
Yogyakarta untuk dapat berhaji ke Mekah. Kesempatan ini beliau 
pergunakan pula untuk melanjutkan mengaji tabarrukan kepada para ulama 
Mekah: Sayyid Alwi al Maliki Al Hasni, Syaikh Masyayikh Hamid Mannan, 
Syaikh Umar Hamdan dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Setelah
 dua tahun mengaji di Mekah Kyai Ali kembali ke tanah Jawa. Sedianya 
beliau hendak tinggal di Lasem membantu ayahnya mengembangkan pesantren.
 Namun, sepeninggal Kyai Munawwir Krapyak, Pondok Krapyak memerlukan 
beliau untuk melanjutkan perjuangan di bidang pendidikan bersama-sama 
dengan KHR. Abdullah Affandi Munawwir dan KHR. Abdul Qadir Munawwir.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Akhirnya
 beliau menghabiskan umur dan segenap daya upaya beliau untuk merawat 
dan mengembangkan Pondok Krapyak, yang pada saat diasuh mendiang Kyai 
Munawwir merupakan cikal bakal pesantren al Qur’an di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Di
 bidang pendidikan pesantren, beliau merintis pola semi moderen dengan 
sistem klasikal hingga berkembanglah madrasah-madrasah hingga saat ini. 
Beliau juga diminta untuk menjadi dosen luar biasa pada Institut Agama 
Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Di
 bidang kemasyarakatan dan politik, beliau pernah menjadi anggota majlis
 Konstituante, sebuah lembaga pembuat Undang-Undang Dasar pada masa 
rejim Orde Lama. Dalam organisasi para kyai, Nahdlatul Ulama, beliau 
pernah memangku jabatan Rais ‘Aam Syuriyyah yang mengantarkan Jam’iyyah 
Nahdlatul Ulama keluar dari jalur politik pada masa rejim Orde Baru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Di
 sela-sela mengasuh seribuan santrinya, beliau menyempatkan diri untuk 
memberikan pengajian di masyarakat, mengawasi sendiri pembangunan 
gedung-gedung pondok dan menulis kitab-kitab. Hujjah Ahlis Sunnah wal 
Jama’ah, Tasrif ul Kalimah fis Shorf, Ilmu Mantiq, adalah beberapa dari 
kitab berbahasa Arab susunan beliau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Sebelum wafat pada akhir 1989, dari sentuhan tangan beliau telah dilahirkan
 ratusan kyai dari ribuan santri yang mengaji pada beliau pada kurun 
1946 hingga 1989. Dari keteguhan beliau, Pondok Krapyak beberapa hari 
sebelum beliau meninggal menjadi tempat penyelenggaraan Muktamar 
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, pertemuan paling bergengsi organisasi para 
ulama Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: helvetica; font-size: large;&quot;&gt;&lt;span&gt;Dari
 kesabaran beliau yang selama hidup dibantu oleh istrinya Nyai Hasyimah 
Munawwir, telah berdiri dan berkembang Taman Kanak-Kanak, Madrasah 
Diniyyah, Madrasah Tsanawiyyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Tahfidzil 
Qur’an dan Madrasah Takhassusiyah untuk para santri mahasiswa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Pondok
 Pesantren Krapyak, setelah kemangkatan beliau tahun 1989, 
pengelolaannya ditangani oleh lembaga berbadan hukum dengan nama Yayasan
 Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Yayasan ini sekarang 
dipimpin oleh KH Attabik Ali yang merupakan putra pertama dari KH Ali 
Maksum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span&gt;SUMBER : KRAPYAK.ORG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/feeds/7031761251151738524/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/kh-ali-maksum-krapyak-yogyakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7031761251151738524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3888281622673365399/posts/default/7031761251151738524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mpdaaruttholabah79.blogspot.com/2016/05/kh-ali-maksum-krapyak-yogyakarta.html' title='KH. ALI MAKSUM, KRAPYAK YOGYAKARTA'/><author><name>wahabbose79</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15704387378045800907</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiRnXTlRO8Ed6Ufs4ja2hJwNlxm7fkfURpQD9MjhtldhO5d0qN23gncJPM3qxZYtGLZtQn1emoFDec9iAb3UxyC48UvBHOIJMlWCLygVgYFcssQlaQIi_anTEq2dV-mb4nxq142EamgOHDTRG9SpUZ_htbIQg_DNZ-rIj3t-77SCfi6yk/s220/IMG_20161006_104716.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPpqyz7XPgGG7jM_dCsJJm5s3Te8oxV9jvapYlHmODd8ivfThspdaXrevv71VH6gPgw2AMVzKTeP0AVzWHSQk91oj7VQ5gyu9mdnKbPP8xRvenQIY3Lz-clNdoNrWmdbdIiPe5R4EuVYDaSQgIM-EwiVJWkL08vp36w4C4nEFksFzbGhsqTy1Fz7oinLJG/s72-w386-h204-c/kh%20ali%20maksum%20jogja.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>