<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1909515227565397657</atom:id><lastBuildDate>Thu, 21 Nov 2013 07:56:26 +0000</lastBuildDate><category>Manisnya Tebu Cinta</category><title>Kumpulan Cerita Story by S Mahda Zahra</title><description>Menceritakan about all story.,</description><link>http://mudbeautyscene.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (S Mahda Zahra)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1909515227565397657.post-9002570960150316090</guid><pubDate>Sat, 23 May 2009 07:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-24T20:41:37.358-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Manisnya Tebu Cinta</category><title>Manisnya Tebu Cinta</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;                                                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sudah naik sepenggal kepala, menghempaskan sinarnya dengan terangnya, sangat terik, cukup membakar kulit ini biarpun sudah tertutup balutan kain. Keringat mengalir dikeningku. Tisu yang tadinya kering, basah oleh keringat di leher dan dahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;&#39; maaf sudah menunggu lama, seorang wanita datang teropoh-opoh. &#39;&#39;nggak apa-apa jawabku singkat. Kemudian wanita itu memberi tahu tempat yang akan aku tuju. Lalu aku naik bis menuju rumah yang dimaksud. Aku memang sudah terbiasa seperti ini, melakukan perjalanan mengisi acara dimasjid atau di tempat pengajian ibu-ibu. Kuambil kursi sebelah kanan dekat jendela. Kulemparkan pandangan ke luar jendela. Hamparan pasir ditambah debu yang bertebaran menyajikan kesunyian, aku jadi melamun dibuatnya. Bis yang aku tumpangi berhenti di halte terminal lestari. Seorang laki-laki naik, karena tidak ada tempat lain Ia dia duduk dikursiku. Kulihat wajahnya lumayan tampan. Aku yakin, dia pasti mahasiswa dari Universitas Islam. Busana yang ia pakai memperkuat dugaanku apalagi peci yang dia pakai dikepalanya. &quot; hmm pasti ikhwan sholeh nih &quot; gumamku dalam hati. &quot; Astagfirullah, aku ko jadi malah mikir macam-macam sih. &quot; Ah daripada mikirin laki-laki ini lebih baik baca muqarrar. Kukeluarkan diktat fikih kontemporer yang kemaren kubeli. Muqaddimah guru besar tak pernah kulewatkan. Memasuki bab 1, kulirik mahasiswa tadi. Buku Hadits Al Bukhari-Muslim yang tadi terselip ditangannya kini terbentang. Hebat juga. Jarang sekali kulihat mahasiswa yang membaca buku di bis. Kuperhatikan judul besar pada halaman pertama. Merasa tatapanku ke arahnya, mahasiswa tadi menoleh. Kami bertemu pandang. Agar tidak dianggap macam-macam, kupalingkan wajah ke jendela. Memandang mahasiswa berpeci ini aku jadi teringat peristiwa lima tahun yang lalu, ingatan itu sudah lama namun kenangan itu tidak akan pernah hilang sebab dari sanalah kisah hidupku dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot; Hei, lagi ngapain kamu dari tadi larak-lirik, San? Yang dilirik anak rohis lagi. Naksir ya?&quot; Nita mengerdipkan sebelah matanya menggodaku. Aku cuma tersenyum kecut. Aku tidak bisa memungkiri tebakannya, dia memang paling tau diriku. &quot;gawat kamu ini, dia tuh pasti nggak bakalan nerima kamu. Mana mau dia sama ayam sekolah kayak kamu! Udah ah, cari yang lain aja kenapa sih susah amet. Teman segank bubuhan kita juga banyak yang cakep ko.&quot; kutatap Nita dengan kesal sambil memasang telunjuk didepan mulut. Eee bukannya diam, Nita malah tertawa. &quot; ikut aku ke kantin yuck, temen-temen udah pada ngumpul!&quot; Nita menarik lenganku. Dengan ogah kuikuti langkah Nita. Kuseberangi jalan yang memisah gedung sekolah. Kehadiranku diikuti tatapan heran Joe. &quot; tumben nih si putri cantik datang telat kemana aje?&quot; sambil merangkul mesra pundakku. &quot; iya San, kita-kita udah pada nunggu dari tadi lho?!&quot; Reza yang lagi asyik dengan mie pangsitnya ikut menimpali. Santi yang sedang berbicara dengan Nia hanya melirik sekilas. &quot; tau nggak..&quot; kata Nita berekspresi. &quot; Nggaaak tauu&quot; Nita hanya ternganga mendengar koor Santi, Reza, Joe yang diiringi tawa berderai tanpa mempedulikan tatapan teman-teman lain yang sedang makan. &quot; Aku cuma mau kasih tau gosip terheboh nih, komandan bos kita sekarang lagi kasmaran alias jatuh cinta!&quot; ketiga pasang mata itu melotot menatap Sandra. Wajah Sandra merona merah hanya tersenyum simpul. Nia yang biasanya nggak ambil pusing dengan urusan kami, ikut-ikutan menatapku. &quot; bener nih, San? Sama siapa? &quot; Joe nampak penasaran, wajar memang sih kalau dia bersikap begitu. Semua juga tau kalau Joe sebenarnya naksir aku dari kelas satu dulu. &quot; Alah, candaan Nita didengerin, timpalku singkat. &quot; yaa gitu deh, mau mengelak tuh. Eh tapi dari kemaren udah sering kutangkap larak-lirik lho cerocos Nita bawel &quot;.  &quot; kamu sekarang udah maen rahasia-rahasiaan ma kita ya...?&quot; tatap Reza menyelidik. &quot; apaan sih, ga usah sok tau deh,&quot; kuacak rambut Emonya. Dengan sigap Reza mengelak. &quot; Teeeet... Teeeet...&quot; belum sempat aku mengacak rambut Reza tiba-tiba bel masuk berbunyi. &quot; Udah..., udah aah, masuk kelas,yuk! Aku sekarang sama Bu Masriah nih, tau sendiri khan gimana cerewetnya.&quot; Santi segera beranjak dari tempat duduknya diikuti Reza. &quot; San, aku duluan ya Nia mengikuti langkah Santi dan Reza. &quot; Kamu cuma becanda, kan?&quot; tatap Joe penuh tanda tanya pada Nita. &quot; aku kan udah bilang, omongan Nita nggak usah didengerin,&quot; aku menimpali sambil rada merengut bete. &quot; ok deh, kalau gitu keep spirit for Us!&quot; ucap Joe sok Inggris sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari aku dan Nita sedang duduk-duduk didalam kamarku, hari agak mendung sehingga kami malas buat keluar, tiba-tiba Nita bertanya, &quot; San, aku heran deh kamu kok bisa-bisanya sih tertarik sama yang berpeci?&quot; Nita diam sejenak, &quot; yah, emang sih cinta itu nggak pandang bulu cuma kamu juga harus tau diri dong. Lagian dia itu pasti nggak bakalan mau sama orang kayak kamu, Cari yang lain aja kenapa sih?&quot;. &quot; Ta, ini tuh masalah hati, nggak segampang membalikkan telapak tangan!!&quot; aku menjawab dengan nada kesal. &quot; ok, trus sekarang kamu mau ngapain?&quot; Nita menatapku serius. &quot; aku akan menemui dia dan menyampaikan perasaanku.&quot; jawabku cuek. &quot; heeh..?&quot; Nita menatapku tajam, nggak salah ngomong Non?&quot;. &quot; Emangnya kenapa?&quot; kataku. &quot; lagian aku cantik, menarik, sexy. &quot; San, San, kamu itu ya ngaca dong kamu itu siapa?&quot; kamu harus nyadar siapa yang kamu hadapi! Dia itu ketua keanggotaan Rohis, laah kamu....? Kamu itu ketua gank..!? Nita menatapku dengan kening berkerut. &quot; kamu bisa melakukan ini pada Reza, Joe dan yang lain. Mereka nggak bakalan kaget dengan gaya hantam kromomu.&quot; Nita menarik nafas sesaat. &quot; kamu kepikiran ga sih kalau dia bakalan menolakmu mentah-mentah,Oh my god No&quot;. Nita menggeleng-gelengkan kepalanya. &quot; San, Pikir dong! Kamu jangan bikin malu gank kita! Anak-anak pasti bakalan ribut kalau tau, mau taruh dimana muka kita...!&quot;.  Aaah. Pikiranku kalut. Aneh, bener-bener aneh,&quot; kenapa sih baru sekarang Nita menentangku sedemikian kukuhnya.&lt;br /&gt;Kutinggalkan Nita yang masih berdiri menatapku. Kuhempaskan tubuh ke sofa ruang tamu. Star Mild yang tergeletak di meja kuhirup dalam-dalam. Bulatan-bulatan asapnya yang kutiupkan memenuhi ruangan. Kekalutanku berkurang sedikit. &#39;&#39; San, Aku punya usul. Bagaimana kalau kamu kirim surat ke dia?&#39;&#39; Whatt!?! Aku terlonjak dari dudukku. San.. jadi kamu lebih memilih dipermalukan? San.. kalau perbuatanmu ini hanya akan berefek ke kamu, Aku nggak akan ikut campur, tapi aku nggak ingin gank kita berantakan karena kamu bodoh memilih...&#39;&#39;.  Plaakkkk.... tanganku mendarat di pipi Nita. Diraba pipinya yang merah. Ia mendengus. &#39;&#39; Aku tidak mau ribut denganmu. Terserah apa yang akan kamu lakukan. Cuma ingat, kalau kamu tetap berkeras, kamu pasti menyesal!!&#39;&#39; Nita melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hari keenam sejak aku bertengkar dengan nita. Untuk Nita orangnya cuek. Ia malah tetap ceria seperti biasa. Malah aku yang bingung sendiri. Masalahku belum mendapatkan pemecahan. Pria itu tetap mengganggu pikiranku. Aku harus berpikir dua kali untuk melaksanakan rencanaku semula. Tapi aku juga tidak siap berpisah dengan kawan-kawan gank yang sejak SMP selalu bersama. Dengan langkah gontai ku berjalan masuk kelas, begitu aku sampai di mejaku ternyata di meja tergeletak amplop putih. Surat...?? Dari siapa? segera kuraih surat itu. Aku tercenung. Tanpa nama pengirim..? hanya ada tulisan: Buat saudariku seiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;&#39; Bismillahirrahmanirrahim...&#39;&#39;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saudariku seiman, yang dirahmati Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Ukhti Sandra selalu dilimpahkan taufik untuk meniti kehidupan yang fana ini. Terus terang ada rasa kaget ketika menerima surat dari Ukhti. Lama saya memikirkan isinya. Sebelumnya terima kasih atas surat yang telah ukhti kirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti, saya hanyalah seorang hamba yang banyak kekurangan. Pantaskah seorang hamba menerima ungkapan cinta yang sangat besar itu? Tidakkah ukhti ingin mencari ynag lebih dan maha sempurna?. Jika kita tertarik pada sesuatu yang dicipta, tidakkah lebih pantas kalau kita tertarik dan mencintai penciptaNya bila ternyata pencipta itu maha indah, maha pengasih, maha sempurna? Ukhti, bila kita mencintai dan dicintai Allah, yakinlah Allah akan berikan yang lebih baik dari yang kita pinta, yang menghadapi ujian menuju cinta dan ridho Allah. Ukhti, Aku tetap akan selalu menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya, saudara di jalan Allah. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua, tapi seluruh orang muslimin di dunia. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah ditelaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf ukhti, tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu&#39;alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luqman Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku bergetar memegang surat itu. Ada kekagetan luar biasa. Ada marah. Ada getar yang belum pernah kurasakan. Semuanya berkecamuk menjadi satu. Aku terduduk di kursi. Kata-kata Luqman menghempaskanku ke dalam jurang realita kehidupanku selama ini. Tidak pernah aku berfikir tentang kebesaran Sang Pencipta apalagi mencintainya. Hari-hariku adalah lingkaran rokok, minuman, kumpul-kumpul, belanja, dugem, karokean, dan canda ria. Tidak ada yang mengikatku. Aku berbuat sesuai kehendak hatiku. Tidak ada yang akan melarang. Papa dan Mama? Hmm.. Mereka terlalu sibuk. Papa acapkali dinas keluar negeri untuk urusan bisnis dan Mama sibuk dengan urusan butik dan marketing diluar kota. Yang penting segala keperluan materiku terpenuhi. Prestasi? Yah setidaknya yang penting aku naik kelas walaupun nilai pas-pasan. Tapi sekarang aku terhempas. Aku baru sadar ada sisi yang hampa pada diriku. Dan juga ada rasa sakit. Surat ini telah menghempas segala anganku. Eh surat..? Aku sama sekali nggak pernah mengirim surat. Mungkinkah ini kerjaan Nita. Ya pasti, dia khan pernah mengusulkan buat ngirim surat. &quot; Dapat surat niyeee... &quot; Nita nyelonong masuk membuyarkan lamunanku. Ia merebut surat yang sedang kupegang. Aku diam saja ketika Nita membaca surat itu. Sesaat kemudian, Nita terpana. Ia menatapku lurus. Kemudian tertawa cekikikan. &quot; alaaah San, kayak gini aja ko dipikirin, diseriusin amet., lagian sok puitis banget seh kata-katanya. Lebih baik kamu mikirin anak-anak! Mereka pada nanyain kamu tuh,&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembali dari sadarku, aku berdiri menatapnya lekat-lekat. &quot; kamukan yang ngirim surat ke dia?&quot; kamu pikir ini lucu, hah? Kamu pikir enak diperlakukan kayak gini?&quot; kupegang kerah bajunya Nita. Nita hanya diam. Ia menghelas nafas. &quot; Sorry, San. Aku nggak ada maksud kayak gitu tapi aku juga melakukan ini atas persetujuan kawan-kawan. Ingat San, aku melakukan ini agar kamu tetap eksis di gank,&quot; Nita meletakkan surat itu dimeja. Kulepaskan cengkeramanku. Ia berlalu. Aku hanya melongo mengingat sikap teman-teman yang sangat berbeda dari biasanya. Kepalaku berdenyut. Kupegangi kepala. Kuhempaskan tubuh kekursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari diluar memang selalu menarik, apalagi cuaca cerah seperti ini. Sudah lewat seminggu kuterima surat dari Luqman, seharusnya aku bisa melupakannya tapi ternyata tidak semudah itu. Aku benar-benar kalut, bukan... Bukan karena penolakannya, tapi karena kalimatnya yang mengingatkanku pada posisiku sekarang didunia ini. &quot;siapa sih kamu di tengah dunia ini?&quot; sisi hatiku merutuk habis-habisan. Sungguh... Harga diriku sebagai manusia mulai kupertanyakan sendiri saat ini. Semua masalah yang biasanya selesai dengan shopping, dugem atau sekedar berskate board seperti yang sedang kulakukan sore ini ternyata tidak ngefek untuk yang satu ini. Sambil menghelas nafas aku melirik jam tangan, hmm masih ada waktu 30 menit lagi buat latihan&quot;. Kunaiki papan skate dan kucoba melakukan reli gerakan varial, sekali, dua kali, sampai tiga kali masih gagal juga. &quot; huff sial, kenapa sih?&quot; padahal biasanya gerakan ini bisa kulakukan dengan mulus, dengan kesal kuambil papan skate itu dan kuputuskan untuk pulang saja. Sambil berjalan, pikiranku melayang-layang lagi, kembali pertanyaan itu muncul di otakku, &quot; Kalau kamu sendiri adalah seorang hamba, maka majikannya siapa? Kalau kita punya majikan, bukankah majikan itu harus dipatuhi sang hamba, kalau tidak pasti hamba itu akan mendapat hukuman, betul kan?&quot; Ahh... Aku tambah pusing, kupercepat langkahku menuju rumah, tapi ketika melewati sebuah masjid mendadak langkahku terhenti. Terdengar jelas suara ustadzah dari dalam. &quot; Andaikan seseorang dititipi perasaan kasih sayang kepada makhluk dunia oleh Allah, dia tidak boleh membuangnya begitu saja. Yang harus dia lakukan adalah mencerna titipan itu sehingga tetap ada dalam hati, tapi tidak boleh merusaknya..., kenapa tidak boleh dirusak? Karena nanti yang menitipkannya akan marah kepada kita...&quot;  Aku tersentak. &quot; ini yang aku cari ! Perasaan ini yang ada sekarang...&quot; tanpa sadar aku melangkah mendekati masjid itu dan berdiri dekat pintu gerbang. Kemudian kudengarkan lagi suara dari dalam. &quot; Apa yang menyebabkan Dia marah? Tentu saja kalau ternyata perasaan cinta kepada makhluk itu sudah mengalahkan perasaan cinta kepadaNya..&quot; ingat firmanNya &quot; dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Padahal, orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah.. ( Al Baqarah 165 )  Keningku berkerut, hatiku berontak. &quot; ini nggak adil, kalau begitu kenapa rasa cinta itu harus dititipkan ke hati kita kalau misalnya tidak boleh dikeluarkan? Sekalian aja jangan ada perasaan itu? Kalau begitu Tuhan nggak adil.&quot; Tiba-tiba kudengar suara dari belakangku,&quot; Assalamualaikum...&quot;  Kutolehkan kepala ke belakang, Eh.. ya..?&quot; Kulihat seorang gadis seumurku berdiri sambil tersenyum dengan balutan jilbab lebarnya, dia berkata, &quot; Nama saya Hamidah, kita masuk saja yuk? Lebih enak kalau mendengarkan dari dalam ajaknya. Aku menggeleng cepat dan melangkah meninggalkan gadis itu sendirian, aku benar-benar lagi bingung, batinku berteriak, &quot; Tuhan sungguh tidak adil! Dia tidak mau tau kondisiku... Seenaknya saja Dia mengisi hati ini dengan berbagai perasaan aneh, dulu perasaan cinta, sekarang perasaan bingung, nanti mungkin perasaan kecewa, aku benci! Aku benci Tuhan!&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini angin begitu dingin, kuhembuskan asap rokokku kuat-kuat, kutarik jaketku menutup badan. Untuk kesekian kalinya aku tidak ikut lagi dengan Nita dan gankku, mungkin mereka sedang asyik dugem atau mungkin di Night Club. Ada sisi batinku berkata, &quot; Seharusnya kamu ada disana sekedar untuk refeshing melupakan segala masalahmu.&quot; tapi ada sisi hati yang lain berkata, &quot; jangan, percuma..masalahmu tidak akan selesai hanya dengan itu.&quot; hmm.. Perlahan bibirku membentuk untaian senandung..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There&#39;s nothing I can say to You..&lt;br /&gt;Nothing I could ever do to make You see..&lt;br /&gt;What You mean to me..?&lt;br /&gt;Hmm...&lt;br /&gt;If You understand why the sky is blue..&lt;br /&gt;Then it so easy to be a human too..&lt;br /&gt;But there is someone that we never know..&lt;br /&gt;That I keep on trying love will make it grow..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alunan nada dan denting yang tercipta membentuk lembah dan bukit gelombang dalam satu hentakan sekaligus. Diam-diam kusedekapkan tangan untuk menahan bukan lagi hawa dingin malam tapi untuk menahan perih di dada.. &quot; ada apa ini? Kenapa aku jadi serapuh begini? Tidak biasanya aku seperti ini.&quot; Tergegas kuberanjak menuju jendela, mencengkram keramaian kota yang terlihat dengan mata, membuat syaraf-syaraf yang sakit ini bekerja lebih cepat. Batinku kembali berbisik &quot; Rasa inikah yang menampar-nampar jiwa Qais akan Laila, Romeo bagi Julietnya, atau batin Yusuf untuk Imratul Aziz Zulaikha?&quot; Aku tersenyum simpul. Bukan... Atau paling tidak mungkin bukan...&quot; kepada manusiakah aku jatuh cinta?&quot; Aku jadi tidak yakin sekarang, dan aku teringat pemuda itu, Makhluk sempurna yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Singkat aku melirik jam dikamarku, jam tiga dinihari.. Pasti pemuda itu sedang sibuk dengan ritual ibadahnya...&quot; Aku masih berusaha meyakinkan diri bahwa memang pemuda itulah yang aku cintai sekarang, mungkin bagi sedemikian banyak orang dia adalah pemuda biasa. Tidak seganteng Tom Cruise atau seterkenal Daniel Pedrosa. Tapi dia sungguh istimewa, pecinya, baju gamisnya, mata jernih ketika mengambil air wudhu dan wajah polosnya. Aku kembali tersenyum resah, memandang kegelapan malam dan kurasakan keganjilan pada Batinku.. &quot; bukan.. Ini cinta yang berbeda.. Ini bukan cinta pada manusia.. Apakah ini cinta pada Tuhan?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, dengan segalanya terasa nyata, aku terpekur duduk di depan Hamidah, ya... Sudah kucari dia ke masjid itu lagi, kutanyakan semua yang mengganjal di hati ini. Kutumpahkan semuanya pada Hamidah, ah kenapa aku percaya sekali padanya... Entah kenapa, yang kutahu hanya dialah orang yang tepat untuk mendengar ini. Pada satu titik dia bertanya, &quot; kamu membenciNya?&quot; bahuku naik, wajahku membentuk guratan acuh, &quot; Tidak.. Aku hanya cuma nggak peduli.&quot; dengan tenang dia melanjutkan, &quot; Kenapa? &quot; Kata-kata itulah yang selalu menyekapku dalam tanya selama 18 tahun ini. Jauh terpantul dalam jiwa, muncul dari hati yang terluka menganga, sehingga aku pun jadi tidak percaya pada keberadaaNya. Tawaku jadi terlalu miris dan butiran air matalah yang keluar menetes. Kutatap mata Hamidah, ia masih menunggu. &quot; &quot; karena aku tidak yakin kalau Dia benar-benar ada. Ataupun paling tidak kalau Dia ada, apakah Dia peduli padaku...?&quot; Hamidah bertanya lagi, &quot; Mengapa?&quot; Gigiku beradu gemas. &quot; Mengapa? Please, mengertilah Mi, kalau pertanyaanya mengapa, mengapa dan mengapa jawaban yang ada juga mengapa. Selalu itu dan hasilnya pun selalu begitu.&quot; Riak-riak luka lama kembali membayang dipelupukku. Mengapa Mama dan Papa tidak pernah punya waktu buatku? Mengapa mereka cuma mengerti bahasa uang sebagai bahasa kepada anak? Mengapa masalahku jadi sebesar debu dimata mereka? Mengapa aku tidak pernah dikenalkan pada Tuhan? Mengapa aku sudah dicap rusak oleh masyarakat sejak tahun kesepuluh perjumpaanku dengan dunia? Mengapa...?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali perputaran waktu menyedotku berada dikamar ini, kilatan-kilatan memori otak berlesatan di alam pikiranku, semuanya menerangi batinku walau sekilas. Dialog batin ini mengenang lagi pertemuan dengan Hamidah tadi sore. &quot; lalu kenapa selama ini kamu masih bisa hidup, masih bisa bernafas Ndra? Bukankah itu tandanya kamu dicintai Allah, kenapa kau pikir kau tak pantas dicintai?&quot; Kujawab dengan dingin, &quot; Kelihatannya Tuhan berpikir begitu. &quot; Apa yang kau pikir tentang Tuhan? Tanyanya. &quot; Tidak ada, aku sudah memaafkan apa yang Dia lakukan terhadapku, tapi aku cuma nggak sanggup melupakan semua itu. &quot; San, percayakah kau dengan yang namanya hidayah?. Aku hanya tersenyum kecut. &quot; Ada satu kisah tentang Rabiah Al-Adawiyah, dia sering menangis dan bahagia dengan jalannya. Perasaan-perasaan asing sering mengelutinya sehingga akhirnya Ia temui suatu muara labuhan yang hakiki yang diyakininya yakni, Allah...&quot; aku hanya tertawa. Pulanglah ke pangkuan Allah maka Dia akan memelukmu. Dia tidak akan melepaskanmu pergi jauh. Dia amat sangat dekat. &quot; Sungguh itu pilihan yang sulit, Mi. &quot; Shalatlah Ndra... &quot; Nggak Mi, setelah semua yang Dia lakukan pada perasaanku. &quot; Manusia tidak bisa mengklaim dirinya baik atau tidak sebelum diuji. Kamu percaya itu khan? &quot; biarkan aku berfikir... Biarkan aku berfikir dulu... &quot; apa lagi yang kau beratkan? &quot; Aku ingin memilihNya dengan nuraniku sendiri, tapi kebencian ini menafikkanNya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot; Malam ini aku jatuh cinta...&lt;br /&gt;Entah pada siapa?...&lt;br /&gt;Entah kenapa?...&lt;br /&gt;Rabbi.., bila aku jatuh cinta...&lt;br /&gt;Ku ingin terbang cepat...&lt;br /&gt;Agar syaitan tak sanggup hinggap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba air mataku berloncatan membentuk aliran yang segera menjadi maha lebar di pipi. Kujelajahi dengan langkah terseret dalam kelelahan lahir batin. Tanganku bersarang di saku jaket, berusaha membendung hawa malam. Aku terdiam, terpejam memeluk keheningan, kemudian semuanya terjadi begitu cepat, mendadak jiwa dan perasaanku ambruk, dan senyumku mengembang. Paling tidak aku sudah membuat keputusan malam ini. &quot; Ya Allah... Aku mencintaiMu... Maafkan aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah segala puji bagimu yang telah memberikan jalan hidayah bagiku. Engkau telah mengaturnya dengan indah sehingga aku bisa kenal denganMu. Segala puji bagi Allah, yang menyelamatkan aku dari syaitan terkutuk. Segala puji Allah yang mengaruniakanku tekad untuk segera bertaubat. Perjumpaanku dengan Hamidah telah merubah sikapku. Bahkan ialah yang mengusulkan agar aku pergi ke Universitas di Kairo. &quot; buat bekal ilmu di medan dakwah!&quot; katanya menyarankan. Aku hanya tersenyum menerima saran itu, dan aku lebih tersenyum lagi ketika hidayah yang sempat kurasakan ternyata diberikan Allah pada kedua orang tuaku juga, yang memang pada awalnya tidak menyetujui keputusanku pergi ke Kairo. Aku jadi teringat waktu itu, &quot; Banyak uang nggak menjamin kita bahwa kita bakalan bahagia, Ma! Jawabku ketika Mama melarangku. Alhamdulillah Papa tidak ikut-ikutan Mama. Akhirnya aku jadi juga berangkat ke Kairo walau tanpa persetujuan Mama. Ah, masih terlalu panjang dakwahku agar Mama dan Papa bisa merasakan keindahan Islam. &quot; Lihatlah Ma, Pa, betapa banyak orang kaya yang nggak bahagia karena mereka melupakan Allah ujarku waktu itu. Aku tersenyum, jangan tanya bagaimana karena itu hanya rahasia Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari Kairo, aku memutuskan tinggal di Yogyakarta untuk menimba ilmu dan menjadi pengemban dakwah. &quot; Dan hari ini hidayah datang lagi...&lt;br /&gt;Mahasiswa di sampingku berdiri. Bis berhenti di halte Mega. Di kaca pembatas ruang kemudi, seseorang wanita berjilbab tersenyum padaku. Aaah... Nita..! &quot; dimana naiknya? Kenapa dia ada disini? Ya Allah.. Terima kasih. Air mataku hampir menetes lagi. Sahabatku Nita yang ketika kutinggalkan masih menjadi ayam sekolah dulu ternyata.. &quot; keenakan yaa, berdua dengan yang berpeci...? Nita mengulurkan tangannya sambil senyam-senyum. Kusambut jabat tangannya sambil mengusap mata tidak percaya. Candaannya tidak kuhiraukan. &quot; kamu naik dimana, aku kok nggak liat sih? Terus lagi apa kamu disini?&quot; kataku. &quot; gimana mau liat aku wong pikiran kamu lagi nggak ada di bis. Eh jangan-jangan pikiran kamu lagi menyelam ke masa jahiliyah ya?&quot; Nita tersenyum menggoda. Dan seperti tahu pertanyaanku dia menjelaskan semuanya. Akhirnya siang itu berlanjut sampai sore, dari satu pertanyaan &quot; lagi apa? Bercabang menjadi ratusan &quot; apa?!. Dan akhirnya sampailah ditempat yang aku tuju. Aku berpisah dengan Nita dan aku memberitahu alamat rumahku padanya. Sesampainya kujalankan tugasku sebagai pengemban dakwah. Mengajarkan ilmu agamaku kepada mereka dan mereka mendengarkan tausiyahku dengan khusyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari, kulewati hari-hariku dengan rutinitasku yang cukup padat. Meskipun begitu aku masih sempat bertemu dengan Nita dan berkomunikasi dengan orang tuaku di Balikpapan. Pagi ini terlihat begitu cerah, mentari pagi tersenyum sembari menghempaskan sinar hangatnya ke bumi. Daun pohon nangka melambai-lambai dengan riangnya. Burung-burung bernyanyi menambah semarak pagi ini. Dan akupun seperti biasa memulai aktivitas sehari-hariku. Tepat pukul 10.00 pagi, handphoneku berdering, &quot; iya, ada apa Bu?, baik saya segera kesana. Seperti biasa aku mendapat panggilan mengisi ceramah. Kubereskan barang-barangku, lalu kumasukkan dalam tas. Beberapa jam setelah aku mengisi ceramah, Ibu pemilik rumah mendekati aku. Dari raut wajahnya tampak Ibu itu ingin berbicara serius. &quot; terima kasih telah datang katanya. &quot; Iya Ibu, sama-sama ini memang sudah menjadi kewajiban saya. Jawabku dengan sopan. Ibu itu berbicara lagi &quot; Nak, apa sekarang kau masih sendiri?. Memang ada apa Bu? kataku lagi. &quot; Tidakkah kau ingin pendamping dalam hidupmu, yang meringankan dakwah serta tugasmu sebagai pengemban dakwah?. &quot; Demi Allah, sesungguhnya sekarang aku tidak berminat untuk menikah. &quot; Aku ingin berkonsentrasi dalam beribadah Bu, sesungguhnya konsentrasiku dalam beribadah sekarang lebih tinggi daripada aku menikah. Tetapi Ibu itu berkata &quot; Aku pun tahu engkau seorang wanita shalih, tujuanku menikahkanmu pada anakku tak lain, agar medan dakwah lebih luas dan untuk kepentingan Islam. Dan justru dengan begitu, kau akan peroleh keridhoan Allah. Aku terdiam, kurenungkan perkataan Ibu tadi. Tak sanggup aku memikirkannya akhirnya aku bertanya pada guruku. Setelah berkonsultasi dengan Ustadz Fauzil Adhim, dia memutuskan &quot; Nikahlah dengan dia. &quot; jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah bertaqwa kepada Allah pada sebagian yang lain ujar ustadz membacakan hadits riwayat Al Hakim dan Ath Thabrani. Akhirnya melalui perantara Ustadzku proses mengkhithbahan atau lamaran atas diriku pun berlangsung. Dan betapa terkejutnya diriku mengetahui siapa orang yang bakalan menjadi calon suamiku nanti. Dialah Luqman Hakim, ketua Rohis di Sma yang menyadarkan diriku akan kebesaran sang pencipta, yang melepaskanku dalam realita kehidupan kelamku. &quot; Saya terima nikahnya Sandra Eliza binti.... Erat tangan Papa menggenggam Luqman saat qabul diucapkan. Luqman telah mengambil sebuah perjanjian berat. Al-Qur&#39;an menyebutnya mitsaaqan ghaliizhaa, frasa yang hanya tiga kali muncul dalam redaksi 30 juznya. Menghadirkan perwujudan menakjubkan. Bahwa dua mitsaaqan ghaliizhaa yang lain adalah perjanjian besar Allah dengan Bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka dan juga perjanjian Agung antara Allah dan Rasul-RasulNya. Lalu seolah-olah Thursina dipanggulkan ke pundak Luqman. Ku usap keringat dingin didahinya. Ia tersenyum padaku. Benarlah firman Allah, &quot; ...Dan wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik... ( An Nur 26 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Ya Allah, Engkau Maha Besar, Yang menjadikan jalan keluar yang baik dan Mengaruniakan kasih sayang dari jalan yang tak disangka-sangka bagi hambaNya yang bertaqwa. Nita mengusap air matanya penuh haru. Mama terlihat sangat bahagia. Dan akhirnya tidak ada lagi yang bisa kukatakan dalam hati ini kecuali &quot; Ya Allah... sungguh aku makin cinta kepada diriMu..&quot; Dan setelah itu.. Hari menjadi semakin terasa indah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                            *..Selesai..*&lt;/div&gt;</description><link>http://mudbeautyscene.blogspot.com/2009/05/manisnya-tebu-cinta-part-1.html</link><author>noreply@blogger.com (S Mahda Zahra)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>