<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Taman Multazam</title>
	
	<link>http://multazam.co.uk</link>
	<description />
	<lastBuildDate>Thu, 10 Jun 2010 03:13:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/multazam" /><feedburner:info uri="multazam" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle></itunes:subtitle><item>
		<title>Ca Bau Kan; Potret Kecil Perempuan Indonesia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/multazam/~3/zJUgBM7iqsc/ca-bau-kan-potret-kecil-perempuan-indonesia.dl</link>
		<comments>http://multazam.co.uk/2010/05/ca-bau-kan-potret-kecil-perempuan-indonesia.dl#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 08:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dawam Multazam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[batavia]]></category>
		<category><![CDATA[bela]]></category>
		<category><![CDATA[belajar bersama lkis]]></category>
		<category><![CDATA[ca bau kan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pecinan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://multazam.co.uk/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Batavia, tahun 1933 masih merupakan daerah pelabuhan yang ramai oleh transaksi perdagangan, bukan hanya dilakukan oleh saudagar mancanegara, namun juga rakyat pribumi lain daerah dari berbagai pulau di Nusantara. Impact sosial dari adanya penjajahan dari Belanda yang telah berlangsung selama lebih dari 300 tahun sangat dirasakan oleh rakyat Batavia. Sebagai kawasan salah satu sentral perdagangan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://multazam.co.uk/wp-content/uploads/2010/05/ca-bau-kan.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-397" title="ca-bau-kan" src="http://multazam.co.uk/wp-content/uploads/2010/05/ca-bau-kan.jpeg" alt="Ca Bau Kan" width="200" height="275" /></a>Batavia, tahun 1933 masih merupakan daerah pelabuhan yang ramai oleh transaksi perdagangan, bukan hanya dilakukan oleh saudagar mancanegara, namun juga rakyat pribumi lain daerah dari berbagai pulau di Nusantara. Impact sosial dari adanya penjajahan dari Belanda yang telah berlangsung selama lebih dari 300 tahun sangat dirasakan oleh rakyat Batavia. Sebagai kawasan salah satu sentral perdagangan di nusantara, Batavia tumbuh menjadi daerah yang maju dalam pembangunan infrastruktur pembangunannya, namun ironisnya, perkembangan tersebut hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang pribumi saja yang menjadi <em>teman </em>bangsa kolonial, penjajahan atas bangsa sendiri menjadi problematika kontradiktif bagi bangsa Indonesia. Di tengah-tengah kondisi yang demikian, seorang wanita desa yang sebenarnya polos, lugu yaitu Siti Nurhayati atau lebih akrab dipanggil Tinung menghadapi situasi yang sangat sulit. Dia, dengan dipaksa oleh keadaan yang ada mau tidak mau harus merelakan tubuhnya dieksploitasi oleh keserakahan kaum lelaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini berawal ketika seorang Tinung ditinggal mati suaminya dalam keadaan hamil, keadaan yang demikian oleh keluarga suaminya dianggap karena Tinung membawa mala petaka. Sakit hati, merasa menderita fisik dan bathin, kemudian Tinung hanya bisa bersikap pasrah menerima keadaan yang ada. Kondisi keluarga yang teramat papa, juga berada pada lingkungan yang sudah rusak moral dan etika masyarakatnya, Tinung seakan mengikuti arah mata angin ke mana berhembus.<span id="more-396"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah ini diangkat dari cerita nyata dan berawal dari kisah seorang gadis yang polos, lugu dan sederhana, namanya Siti Nurhayati atau lebih tenar sering disebut dengan panggilan Tinung. Pada masa itu terjadi percampurbauran antara etnis Pribumi dengan etnis Thionghoa, sementara dalam masalah perekonomian rakyat, Thionghoa yang lebih lama mengenal sistem perdagangan dapat menguasai sektor perekonomian rakyat dengan cepat. Dapat dibayangkan bahwa meski rakyat pribumi hidup di negeri sendiri, namun kenyataannya rakyat masih belum bisa merasakan kebebasannya, rakyat malah menjadi kuli-kuli di negerinya sendiri, mereka demi untuk menyambung hidup rela bekerja pada Thionghoa. Segala macam bentuk etika, nilai-nilai kesopanan, semakin lama bergeser menjadi etika rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Secara umum, sebelum Indonesia mencapai kemerdekaannya pada 1945, rasa kesukuan dan kedaerahan di sebagian besar wilayah di Indonesia masih sangat dominan. Hal inilah yang menjadikan mengapa bangsa Indonesia sangat sulit untuk membentuk kesatuan dan mempunyai kesadaran dalam berkebangsaan untuk menuju integrasi (wawasan nusantara), karena inilah yang menjadi kunci dari terbentuknya sebuah negara besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena ketertindasan bangsa Indonesia oleh kaum kolonial juga besar dirasakan di daerah Batavia, apalagi Batavia juga merupakan salah satu basis perdagangan dan pertahanan yang ramai di masa pra kemerdekaan. Peristiwa nyata yang dikisahkan di Film Ca Bau Kan bukan hanya dilhat dari aspek bias gender semata namun lebih dari itu skala besar distorisitas nilai, moral, etika masyarakat dalam memandang posisi, hak, serta peranan kepada kaum wanita (perempuan) seharusnya diberi porsi sesuai dengan kaum laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Tinung, sebagai wanita desa di Batavia yang polos, lugu tidak berdaya ketika tubuhnya dinikmati oleh nafsu keserakahan kaum laki-laki, bukan hanya oleh kaum penjajah, namun juga yang mungkin membuat kita geram adalah rakyat pribumi yang berada pada cengkeraman bangsa penjajah dan menjadi antek-anteknya dengan seenaknya juga menikmati ketidakberdayaan Tinung untuk menyalurkan hasrat badaniahnya. Mereka mungkin sudah tidak teringat dengan bangsa sesamanya yang juga sebenarnya dijajah oleh bangsa kolonial, hanya karena rasa pengecutnya yang lebih mendominasi sehingga mereka lebih mau merasakan <em>kebebasan semu</em> di atas penderitaan sesama bangsanya sendiri. Tinung, seakan seperti kapas yang terbang kesana kemari mengikuti arah angin yang membawanya, dia dengan pasrah mengikuti siapa orang yang membawanya. Pertama, Tinung di<em>eksploitasi</em> oleh Tan Peng Liang si Penjual pisang di Kalijodo, singkatnya Tinung terintimidasi secara penuh oleh Tan Peng Liang, baik itu bathin juga fisiknya. Penderitaan ini sedikit <em>terobati</em> ketika kemudian hadir dalam hidupnya seorang pengusaha dari Semarang yang kebetulan namanya juga sama yaitu Tan Peng Liang. Singkatnya di Film tersebut diceritakan Tan Peng Liang menikahi Tinung dengan dasar memang benar-benar mencintai Tinung, dia menerima apa adanya diri Tinung tanpa mengungkit-ngungkit masa lalu Tinung, ini yang menjadi nilai baik pada karakter seorang Tan Liang Peng dari Semarang tersebut. Namun, di sisi lain, Tan Peng Liang sebagai seorang pengusaha memilki kekurangan dan keburukan yaitu kelicikannya membuat uang palsu demi melancarkan usaha bisnis perekonomiannya, dan hal ini yang membuat dia harus diadili di meja hijau. Di kemudian hari Tan Peng Liang ini dibunuh dengan cara diracun oleh kolega dagangnya sendiri Thio Boen Hiap yang memang sudah sekian lama menaruh dendam padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tan Peng Liang, meskipun mempunyai sisi buruk, namun sikap loyalitasnya pada Indonesia memang patut juga dicontoh. Ketika Indonesia sedang mempersiapkan pemberontakan dari cengkeraman penjajahan Jepang, dia dengan jaringan dan kolega di negeri Thionghoa, Jeng Tut, terus mengirim persediaan persenjataan untuk dapat dikirim masuk ke Indonesia. Dengan bantuannya ini, tentara atau pasukan Indonesia khususnya yang berada di Batavia tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan pasokan senjata.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan :</strong> Seperti halnya tulisan refleksi tentang <a title="The Animal Farm " href="http://multazam.co.uk/2010/05/the-%e2%80%9ctrue%e2%80%9d-animal-farm.dl" target="_blank">film Animal Farm</a>, tulisan ini juga merupakan &#8220;tugas menulis harian&#8221; dalam kegiatan Belajar Bersama LKiS.</p>
<p style="text-align: justify;">Data pendukung bisa diperoleh di :</p>
<ul>
<li>http://en.wikipedia.org/wiki/Ca-bau-kan_%28film%29</li>
<li>http://id.wikipedia.org/wiki/Ca-bau-kan</li>
</ul>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/multazam/~4/zJUgBM7iqsc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazam.co.uk/2010/05/ca-bau-kan-potret-kecil-perempuan-indonesia.dl/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://multazam.co.uk/2010/05/ca-bau-kan-potret-kecil-perempuan-indonesia.dl</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>The “True” Animal Farm</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/multazam/~3/GpGYMmL3sYE/the-%e2%80%9ctrue%e2%80%9d-animal-farm.dl</link>
		<comments>http://multazam.co.uk/2010/05/the-%e2%80%9ctrue%e2%80%9d-animal-farm.dl#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 11:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dawam Multazam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[belajar bersama lkis]]></category>
		<category><![CDATA[george orwell]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi film]]></category>
		<category><![CDATA[the animal farm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://multazam.co.uk/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Film The Animal Farm seolah mengingatkan pada kenyataan bahwa bangsa Indonesia juga pernah (bahkan juga sedang?) mengalami pemerintahan rezim tirani. Bermula dari pengelolaan peternakan oleh Mr. Jones dengan tidak memperhatikan kesejahteraan (termasuk kenyamanan dan kesehatan) hewan ternaknya, bahkan cenderung kejam. Kenyataan tersebut rasanya setara dengan keadaan bangsa Indonesia di saat dijajah oleh pemerintahan kolonial. Pemberian ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://multazam.co.uk/wp-content/uploads/2010/05/animal-farm.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-385" title="animal-farm" src="http://multazam.co.uk/wp-content/uploads/2010/05/animal-farm-212x300.jpg" alt="The Animal Farm" width="212" height="300" /></a>Film <em>The Animal Farm</em> seolah mengingatkan pada kenyataan bahwa bangsa Indonesia juga pernah (bahkan juga sedang?) mengalami pemerintahan rezim tirani. Bermula dari pengelolaan peternakan oleh Mr. Jones dengan tidak memperhatikan kesejahteraan (termasuk kenyamanan dan kesehatan) hewan ternaknya, bahkan cenderung kejam. Kenyataan tersebut rasanya setara dengan keadaan bangsa Indonesia di saat dijajah oleh pemerintahan kolonial. Pemberian jatah pakan yang sama sekali jauh dari cukup, dibarengi sikap kasar pada mereka; namun di sisi lain, memanfaatkan mereka semaksimal mungkin. Mempekerjakan Boxer kudanya di luar kewajaran, begitu juga ketika mengambil telur ayam, susu kambing dan sapi, serta daging babi. Semuanya dengan motivasi keuntungan pribadi!</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga pada akhirnya ketika penderitaan itu semakin menjerat, Old Major –yang memang dituakan di komunitas hewan di peternakan itu, memaparkan gagasan revolusinya pada seluruh anggota peternakan. Namun, sebelum revolusi sempat mencapai klimaks, dia terlanjur mati karena usianya yang memang sudah sangat tua. Selanjutnya, revolusi pun jadi dijalankan dengan pimpinan Snowball, dan akhirnya Mr. Jones pun terusir dari peternakan itu. Sampai di sini, semua hewan merasa senang dengan hasil revolusi dan terpilihnya Snowball sebagai pemimpin baru -dengan perubahan tentunya, kecuali Napoleon si babi pemalas yang culas. Bukankah hal ini juga lazim terjadi dalam segala pemerintahan; adanya kelompok yang culas dan bermuka dua?<span id="more-384"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak saat itu, Snowball memimpin masyarakat hewan di peternakan itu dengan visioner. Dia merumuskan <em>value</em> dasar egalitarianisme di sana, bahwa<em> All Animals Equal</em>. Di sisi lain, Napoleon juga memimpin anak-anak anjing dan menanamkan kebengisan pada mereka. Sampai akhirnya ketika Snowball ingin memaparkan rencana membangun kincir angin untuk kelancaran proses pengolahan hasil bumi, Napoleon mengkudeta dan membunuhnya; dia memaksakan seluruh masyarakat hewan untuk percaya bahwa Snowball adalah pengkhianat yang bersekongkol dengan Mr. Jones. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa ide membuat kincir angin adalah idenya!</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, kembalilah kehidupan di sana ke pemerintahan tirani Napoleon, yang mengubah egalitarianisme menjadi koncoisme; <em>All Animals Equal, but Some Animals More Equal;</em> maksudnya <em>sih</em> etnis babi. Keadaan ini nyaris sama dengan keadaan Indonesia pada masa Soeharto dan pemerintahan nepotis-nya. Selain itu, dia juga menjalin <em>kongkalikong</em> dengan Mr. Whimpey; menukar telur ayam dan bebek dengan anggur yang nyatanya hanya dinikmati oleh kelompoknya.  Untungnya ada dua hewan yang dengan tulus ikhlas tetap bertahan dalam keadaan tirani lanjutan itu; Boxer dan Benjamin. Meski seluruh binatang kecuali babi dipekerjakan dengan kejam untuk membangun kincir angin, keduanya tetap <em>manut </em>dan <em>nrima.</em> Hingga akhirnya Boxer mati karena tertimpa batu pada saat bekerja. Parahnya, Napoleon justru menjualnya ke Mr. Whimpey!</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah parahnya keadaan masyarakat hewan semakin memuncak dan Napoleon semakin sejahtera, Benjamin yang kemudian menjadi sesepuh memimpin pemberontakan. Matilah Napoleon.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">Dari ilustrasi film kartun tersebut, setidaknya bisa diambil nilai-nilai sebagai berikut;</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Tirani yang diterapkan oleh Mr. Jones dan Napoleon. Meski sangat menyiksa, nyatanya bisa diruntuhkan.</li>
<li>Suksesi pemerintahan dari Mr. Jones pada Snowball memiliki <em>bug</em> (cela) yang dimanfaatkan oleh Napoleon. Hal ini pun nyatanya ada di nyaris semua pemerintahan.</li>
<li>Kepasrahan dan kesabaran Boxer dan Benjamin. Meski sebenarnya positif, tetap saja ada kekurangannya; andai saja mereka melawan dari awal mula tirani Napoleon, keadaan tentu tidak semakin parah.</li>
</ul>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Catatan :</strong> Tulisan ini ditulis dalam rangka &#8220;tugas&#8221; menulis harian dalam kegiatan <a title="Grup Facebook Alumni Belajar Bersama LKiS" href="http://www.facebook.com/group.php?v=photos&amp;gid=307941018927#!/group.php?gid=307941018927&amp;v=wall" target="_blank">Belajar Bersama</a> yang diselenggarakan oleh <a title="Kegiatan Belajar Bersama LKiS" href="http://lkis.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=157:belajar-bersama-yayasan-lkis-melihat-keberagaman-sebagai-kekuatan&amp;catid=61:media-a-budaya-update&amp;Itemid=123" target="_blank">Yayasan LKiS Yogyakarta</a> pada 11-17 Pebruari 2010 di Kaliurang, Yogyakarta.</p>
<p>Untuk menambah (mendapat) gambaran yang lebih jelas tentang The Animal Farm, silakan baca di Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Animal_Farm) atau <em>search</em> di Google. <img src='http://multazam.co.uk/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Gambar ilustrasi dari http://thequintessential.files.wordpress.com/2009/02/animal-farm-graphic-big-pig-close-mouth-713368.jpg.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/multazam/~4/GpGYMmL3sYE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazam.co.uk/2010/05/the-%e2%80%9ctrue%e2%80%9d-animal-farm.dl/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://multazam.co.uk/2010/05/the-%e2%80%9ctrue%e2%80%9d-animal-farm.dl</feedburner:origLink></item>
	<media:rating>nonadult</media:rating></channel>
</rss>
