<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Muslimah</title>
	
	<link>http://muslimah.or.id</link>
	<description>Muslimah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Jun 2013 20:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/muslimah-or-id" /><feedburner:info uri="muslimah-or-id" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>muslimah-or-id</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Bagaimana Mengambil Manfaat dari Al Qur’an</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/dAQyAB_MlGU/bagaimana-mengambil-manfaat-dari-al-quran.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/hadits/bagaimana-mengambil-manfaat-dari-al-quran.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2013 20:48:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Quran dan Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3892</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda ingin mengambil manfaat Al-Qur’an Al-Karim, maka bulatkanlah hatimu tatkala membaca dan mendengarkannya, pasanglah telingamu, hadirkan hatimu, rasakanlah firman siapa yang sedang engkau baca, siapa yang dituju dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, karena sesungguhnya objek yang dituju adalah Anda melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/hanya-kepada-mu-aku-berlindung.html"     class="crp_title">Hanya Kepada-Mu Aku Berlindung</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/khutbah-syaikh-utsaimin-penjelasan-tentang-sebagian-nama-dan-sifat-allah-ta%e2%80%99ala.html"     class="crp_title">Khutbah Syaikh Utsaimin (Penjelasan Tentang Sebagian Nama&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/bagaimana-aku-menjadi-orang-yang-mukhlis-dalam-setiap-amalku.html"     class="crp_title">Bagaimana Aku Menjadi Orang Yang Mukhlis Dalam Setiap Amalku</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/mitos-mbah-petruk-penguasa-merapi.html"     class="crp_title">Mitos Mbah Petruk Penguasa Merapi</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/adab-doa/faedah-dzikir-bagian-2.html"     class="crp_title">Faedah Dzikir (Bagian 2)</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Anda ingin mengambil manfaat Al-Qur’an Al-Karim, maka bulatkanlah hatimu tatkala membaca dan mendengarkannya, pasanglah telingamu, hadirkan hatimu, rasakanlah firman siapa yang sedang engkau baca, siapa yang dituju dalam firman Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>, karena sesungguhnya objek yang dituju adalah Anda melalui lisan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah berfirman:</p>
<p class="arab">إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya</em>.”(QS. Qaaf: 37)</p>
<p>Yang demikian itu karena kesempurnaan pengaruh tergantung kepada sesuatu yang diharapkan pengaruhnya, objek yang hendak menerima pengaruh serta terpenuhinya syarat-syarat untuk timbulnya suatu pengaruh. Juga tiadanya penghalang yang menghambatnya. Ayat di atas mencakup penjelasan semua itu dengan lafadz yang ringkas, jelas, dan menunjukkan makna yang dimaksud. Ibnu Qutaibah berkata,”Dengarkanlah kitabullah yakni dengan kesaksian hati dan pemahaman, bukan dengan kelalaian dan kehampaan.”</p>
<p>Jika yang diharapkan pengaruhnya adalah Al-Qur’an, objek yang hendak menerima pengaruh adalah hati yang hidup, terpenuhi pula syarat, yakni adanya perhatian, ditambah lagi dengan tiadanya penghalang berupa kesibukan hati dan kelalaiannya terhadap makna yang terkandung maupun berpaling pada sesuatu yang lain, niscaya muncullah pengaruhnya, yakni bisa mendapatkan manfaat dan peringatan.</p>
<p>Dengan memperhatikan kalamullah dan <em>khithab</em> (objek yang ditujunya), niscaya akan kita dapatkan bahwa Dialah pemilik seluruh kerajaan, pemilik segala pujian, segala urusan berada di tangan-Nya, berasal dari-Nya, kembali pula kepada-Nya, bersemayam di singgasana-Nya dan tak tersembunyi sedikitpun atas-Nya segala apa yang ada dalam kekuasaan-Nya. Maha mengetahui apa yang terdetik dalam hati para hamba-Nya, Maha Melihat apa-apa yang dirahasiakan mereka dan apa-apa yang ditampakkan.</p>
<p>Maka perhatikanlah, bagaimana Dia memuji diri-Nya dan menasehati hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka apa-apa yang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan memberikan peringatan dan apa-apa yang dapat menyebabkan mereka binasa.</p>
<p>Nampakkanlah dari <em>khithab</em> yang ditujunya, bahwa Allah memberikan teguran-teguran kepada orang-orang yang dicintai-Nya dengan teguran yang halus, padahal mereka seringkali tergelincir namun Allah mengampuni mereka, menerima udzur mereka, memperbaiki keadaan yang rusak di antara mereka, menjadi penolong atas mereka, menjamin kemaslahatan bagi mereka dan mengentaskan mereka dari kegundahan. Maka tatkala hati menyaksikan dari Al-Qur’an tentang Maha Raja Yang Maha Agung, Maha Penyayang, Pemurah, Maha Indah, bagaimana mungkin hati tidak terdorong untuk mencintai-Nya dan berlomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dia akan pertaruhkan jiwanya untuk mencintai-Nya, sehingga Dia menjadi sesuatu yang paling dicintai dari selain-Nya, keridhaan-Nya lebih didahulukan olehnya daripada keridhaan siapapun selain-Nya.</p>
<p>Bagaimana mungkin hati tidak nyaman untuk berdzikir kepada-Nya, melestarikan kecintaannya kepada-Nya, rindu kepada-Nya dan senang dekat dengan-Nya, padahal unsur itulah yang merupakan makanan, kekuatan dan obat baginya. Ketika unsur tersebut itu tiada, menjadi rusak dan binasalah hati. Hidupnya pun tak lagi bermanfaat baginya. (<em>Al-Fawa’id</em>)</p>
<p>***</p>
<p>Muslimah.or.id</p>
<p>Diambil dari buku <em>Menjadi Kekasih Allah</em> (Terjemahan dari <em>Raudhah Al Mahbub min Kalaam Muharrik Al Quluub</em>), karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, penerbit Pustaka At Tibyan</p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/hanya-kepada-mu-aku-berlindung.html"     class="crp_title">Hanya Kepada-Mu Aku Berlindung</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/khutbah-syaikh-utsaimin-penjelasan-tentang-sebagian-nama-dan-sifat-allah-ta%e2%80%99ala.html"     class="crp_title">Khutbah Syaikh Utsaimin (Penjelasan Tentang Sebagian Nama&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/bagaimana-aku-menjadi-orang-yang-mukhlis-dalam-setiap-amalku.html"     class="crp_title">Bagaimana Aku Menjadi Orang Yang Mukhlis Dalam Setiap Amalku</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/mitos-mbah-petruk-penguasa-merapi.html"     class="crp_title">Mitos Mbah Petruk Penguasa Merapi</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/adab-doa/faedah-dzikir-bagian-2.html"     class="crp_title">Faedah Dzikir (Bagian 2)</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/dAQyAB_MlGU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/hadits/bagaimana-mengambil-manfaat-dari-al-quran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/hadits/bagaimana-mengambil-manfaat-dari-al-quran.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kajian Intensif Kitab Tsalatsatul Ushul &amp; Qowa’idul Arba’ (Yogyakarta 29 Juni – 4 Juli 2013)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/J9V3Ty3zxM8/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2013 00:54:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ypia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3889</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Intensif Aqidah Islam Mengenal Tiga Pondasi Islam dan Empat Kaedah Tauhid &#160; Pemateri             : Ustadz Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihya’ As Sunnah Tasikmalaya) Rujukan               : Tsalatsatul Ushul &#38; Qowa’idul Arba’ Waktu                   : Sabtu-Kamis, 29 Juni-4 Juli 2013 Tempat                : Masjid Al Ashri, Pogung Rejo &#160; Waktu Pendaftaran : 10 [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/penerimaan-santri-baru-mahad-al-ilmi-yogyakarta-angkatan-x-tahun-ajaran-2013-2014.html"     class="crp_title">Penerimaan Santri Baru Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html"     class="crp_title">Daurah Ilmiyyah (Bontang 16 Juni 2013): KARAKTERISTIK AQIDAH</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html"     class="crp_title">Kajian Bontang 6-7 Juli 2013 Bersama Ustadz Firanda Andirja,</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ustadz Firanda Andirja, MA (Yogyakarta,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-tafsir-dan-ushul-tafsir-16-2324-dan-30-maret-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Umum Tafsir dan Ushul Tafsir (16, 23,24 dan 30 Maret&hellip;</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><b>Kajian Intensif Aqidah Islam</b></p>
<p align="center"><b>Mengenal Tiga Pondasi Islam dan Empat Kaedah Tauhid</b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemateri             : Ustadz Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihya’ As Sunnah Tasikmalaya)</p>
<p>Rujukan               : <i>Tsalatsatul Ushul &amp; Qowa’idul Arba’</i></p>
<p>Waktu                   : Sabtu-Kamis, 29 Juni-4 Juli 2013</p>
<p>Tempat                : Masjid Al Ashri, Pogung Rejo</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waktu Pendaftaran : 10 -25 Juni 2013</p>
<p>Briefing                : Jumat, 28 Juni 2013<b>//</b>16.00 – selesai<b>//</b>Masjid Al Ashri</p>
<p>Biaya                     : Rp 10.000, 00</p>
<p>Fasilitas               : Matan Kitab</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tersedia Buku Penjelasan Kitab <i>Tsalatsatul Ushuul</i> (Harga Rp 30.000,-, dapat pesan via sms ke No CP)</p>
<p>Pendaftaran via sms : Dauroh Liburan#Nama#Usia#Alamat, kirim ke No CP</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>CP :</p>
<p>Putra : 085799203331</p>
<p>Putri  : 085292995015</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penyelenggara : Ma’had Al ‘Ilmi YPIA Yogyakarta</p>
<p>Informasi : <a href="http://www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a>, <a href="http://www.muslimah.or.id">www.muslimah.or.id</a>, <a href="http://www.mahadilmi.wordpress.com">www.mahadilmi.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://cdn.muslimah.or.id/wp-content/uploads/2013/06/dauroh-MI.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3890" alt="dauroh MI" src="http://cdn.muslimah.or.id/wp-content/uploads/2013/06/dauroh-MI-212x300.jpg" width="212" height="300" /></a></p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/penerimaan-santri-baru-mahad-al-ilmi-yogyakarta-angkatan-x-tahun-ajaran-2013-2014.html"     class="crp_title">Penerimaan Santri Baru Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html"     class="crp_title">Daurah Ilmiyyah (Bontang 16 Juni 2013): KARAKTERISTIK AQIDAH</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html"     class="crp_title">Kajian Bontang 6-7 Juli 2013 Bersama Ustadz Firanda Andirja,</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ustadz Firanda Andirja, MA (Yogyakarta,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-tafsir-dan-ushul-tafsir-16-2324-dan-30-maret-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Umum Tafsir dan Ushul Tafsir (16, 23,24 dan 30 Maret&hellip;</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/J9V3Ty3zxM8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jika Bukan Untuk-Mu, Untuk Siapa?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/p6BpG1fIFOg/jika-bukan-untuk-mu-untuk-siapa.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/aqidah/jika-bukan-untuk-mu-untuk-siapa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jun 2013 08:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3882</guid>
		<description><![CDATA[Saudariku muslimah.. pernahkan terbesit dalam hati, untuk apakah kita melakukan ini dan itu? Melakukan berbagai amalan shalih dan berusaha keras menjauhkan diri dari maksiat, untuk apa atau untuk siapa semua itu kita lakukan? Jawabannya, seorang manusia diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ālā.  Sesuatu yang dikatakan sebagai misk hati dan air kehidupan, sesuatu [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/hadits/nasihat-untuk-penghafal-al-quran-bagian-1.html"     class="crp_title">Nasihat Untuk Penghafal Al Quran 1 (Yang Harus Dilakukan&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/jangan-sampai-susah-payah-beramal-tetapi-sia-sia.html"     class="crp_title">Jangan Sampai Susah Payah Beramal Tetapi Sia-Sia</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/sabar-itu-akan-selalu-indah.html"     class="crp_title">Sabar Itu Akan Selalu Indah</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/untukmu-wahai-penuntut-ilmu.html"     class="crp_title">Untukmu Wahai Penuntut Ilmu…</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/belajar-ikhlas-dari-para-salaf.html"     class="crp_title">Belajar Ikhlas Dari Para Salaf</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Saudariku muslimah.. pernahkan terbesit dalam hati, untuk apakah kita melakukan ini dan itu? Melakukan berbagai amalan shalih dan berusaha keras menjauhkan diri dari maksiat, untuk apa atau untuk siapa semua itu kita lakukan? Jawabannya, seorang manusia diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah <em>ta’ālā. </em></p>
<p>Sesuatu yang dikatakan sebagai <em>misk</em> hati dan air kehidupan, sesuatu yang membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang munafik. Sesuatu yang menjadi rahasia seorang hamba dengan Rabbnya. Ruh orang-orang yang bertaqwa, perdagangan orang-orang yang beruntung dan harta rampasan orang-orang yang mukhlis dan paling penting adalah sesuatu itu merupakan salah satu syarat diterimanya suatu amalan.</p>
<p>Ada beberapa perkataan para ulama mengenai definisi ikhlas. Ikhlas adalah menjadikan Allah <em>ta’ālā </em>sebagai satu-satunya tujuan ketaatan, ketaatannya hanya untuk (<em>taqarrub</em>) mendekatkan diri kepada Allah saja, tanpa menginginkan yang lainnya seperti berbuat untuk makhluk, mengharapkan sifat yang terpuji di hadapan manusia, menyukai pujian makhluk atau sesuatu yang semisal yang bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dikatakan juga, ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dan menetapkan pandangan kepada Sang Pencipta, Allah <em>ta’āla. </em>Ikhlas adalah menjadikan bergerak dan diamnya seorang hamba, sembunyi-sembunyi atau terang-terangan hanya untuk Allah <em>ta’ālā </em>semata tidak tercampuri oleh hawa nafsu dan keinginan dunia. (<em>al-Ikhlāṣu li Man Arāda al-Khalāṣ</em>)</p>
<p>Tidak diragukan bahwa perkara ini bukanlah perkara yang mudah. Keikhlasan itu membutuhkan usaha yang sangat berat sehingga seorang hamba itu bisa mendapatkan keikhlasan dengan sempurna di dalam hatinya.</p>
<p class="arab">وقد سئل سهل بن عبد الله التستري ، أي شيء أشد على النفس ؟ قال : الإخلاص لأنه ليس لها فيه نصيبٌ .</p>
<p>Sahl ibn ‘Abdillah at-Tustarī ditanya: ‘Sesuatu apakah yang paling berat untuk jiwa?’ Beliau menjawab : ‘Ikhlas. Karena tidak ada bagian untuk jiwa dalam keikhlasan itu’. Berkata Sufyan aṡ-Ṡaurī : ‘Tidak ada yang lebih menyakitkanku daripada niatku. Sungguh niat itu berbolak-balik di dalam hatiku.’</p>
<p>Ikhlas adalah hakikat dari agama ini. Allah <em>subḥahu wa ta’ālā</em> berfirman :</p>
<p class="arab">وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ</p>
<p><em>“Padahal tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama ini dengan lurus . . .</em>” (Qs. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Tidaklah diperintahkan di dalam syariat kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah <em>ta’ālā</em> semata. Artinya menjadikan tujuan seluruh ibadah dzahir dan bathin itu hanyalah mengharap wajah Allah <em>ta’ālā</em> semata dan mendekatkan diri kepadaNya dan menolak seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid ini. Dalam ayat ini dikhususkan pada ibadah shalat dan zakat karena keutamaan keduanya melebihi ibadah-ibadah lainnya. Tauhid dan ikhlas, itulah <em>dīnul qayyimah, </em>artinya agama yang lurus yang mengantarkan ke surga, sedangkan selainnya adalah jalan yang mengantarkan ke neraka. (<em>Taisīru Karīmi ar-Raḥmāni </em>: 1099).</p>
<p class="arab">قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</p>
<p><em>“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam”</em> (Q.S al-An’ām : 162)</p>
<p>Dalam ayat tersebut Allah mengkhususkan dua ibadah (shalat dan berkurban) karena kemuliaan dan keutamaan keduanya dan penunjukkan keduanya terhadap kecintaan kepada Allah. Keikhlasan agamanya hanya untuk Allah semata dan dalam rangka <em>taqarrub</em> (mendekatkan diri) kepada Allah <em>ta’ālā </em>dengan hati, lisan serta amalan dzahir dan berkorban dengan memberikan harta yang disenangi oleh jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu Allah <em>ta’ālā.</em>  Seorang yang paling ikhlas dalam shalat dan korbannya melazimkan keikhlasannya dalam seluruh amalanya. Dan apa saja yang datang dan pergi dari kehidupan ini dan kematian yang telah ditakdirkan, selurunya hanyalah untuk Allah <em>ta’ālā </em>semata. (<em>Taisīru Karīmi ar-Raḥmāni </em>: 306)</p>
<p>Ikhlas merupakan amalan hati yang bersanding dengan amalan hati lainnya, yaitu jujur <em>(sidq)</em>. Keikhlasan tidak akan ada kecuali dengan adanya kejujuran dan sebaliknya keikhlasan tidak akan bersanding dengan kedustaan baik secara bahasa, adat terlebih secara syariat. Sebuah kalimat yang indah yang mengumpulkan dua lafadz tersebut (ikhlas dan jujur) adalah sabda Rasullullah <em>ṣallaallāhu‘alaihi wa sallam, </em></p>
<p class="arab">الدين النصيحة -قالها ثلاثاً &#8211; قالوا : لمن يا رسول الله؟ قال : لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين وعامتهم</p>
<p><em>“Agama ini adalah nasehat (nabi mengulanginya sampai tiga kali). Kami bertanya :”Untuk siapa?” Rasulullah ṣallaallāhu‘alaihi wa sallam berkata : Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslim dan untuk kaum muslim pada umumnya”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Jika kita merenungi makna kata ”<em>naṣiḥah” </em>dalam hadits di atas, maka akan kita temukan terkumpul dalam makna <em>naṣiḥah</em> tersebut dua makna yaitu <em>aṣ-ṣidq</em> (jujur) dan <em>al-ikhlāṣ</em> (ikhlas). Sesuatu yang <em>nāṣiḥ</em> (murni) adalah yang <em>khāliṣ </em>(murni) tidak tercampuri oleh apapun. Kemudian jika seseorang memberikan suatu nasehat yang bermanfaat kepada yang lain, hal ini dilakukan karena menginginkan kebaikan untuk saudaranya. Hal tersebut tidak akan timbul kecuali karena kejujuran seseorang itu ketika mencintai saudaranya, kejujuran nasehat yang disampaikannya serta keikhlasan yang bersumber dari hatinya.</p>
<p>Saudariku muslimah..</p>
<p>Mari kita sejenak menengok ke dalam hati kita, marilah kita bersemangat dalam memperbaiki kualitas amalan-amalan kita sebagaimana para salaf selalu bersemangat memperbaiki kualitas amalan mereka. Jika bukan untuk-Nya, maka untuk apa kita bercapek-capek di dunia yang  fana ini. Bukankah kita ini hanyalah manusia yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya? Karena itu, jadilah sebaik-baik manusia, jadikanlah amalan kita adalah sebaik-baik amalan untuk bekal kembali ke kampung halaman yang merupakan akhir dari perjalanan kita, yaitu dengan mengikhlaskan niat hanya untuk Allah <em>ta’ālā </em>semata. Jangan pernah meremehkan suatu perbuatan yang sederhana, dan merugilah kita ketika sombong dengan amalan yang tampak besar dalam pandangan. Ikhlas itu berat, namun membuat jiwa ini ringan. Ringan ketika memberi, ringan ketika harus berkorban, ringan ketika menerima takdir yang tak pernah kita sangka.</p>
<p class="arab">اللّهُمِّ أَعِنّي على ذِكرِكَ وشُكرِكَ و حُسنِ العِبَادَتِكَ</p>
<p><em>“Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan untuk beribadah kepada-Mu dengan ibadah yang baik”</em></p>
<p>Dalam do’a tersebut kita memohon pertolongan kepada Allah untuk berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik. Berdzikir mencakup seluruh amalan kebaikan semisal membaca al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan ilmu. Dalam doa ini, dzikir disebutkan lebih awal dari pada syukur, karena ketika seorang hamba itu tidak berdzikir maka berarti pula dia tidak bersyukur. Dalam do’a tersebut kita memohon kepada Allah agar diberikan taufiq untuk bisa beribadah dengan ibadah yang baik. Ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas, karena jika suatu ibadah itu tidak ikhlas dan tidak sesuai dengan sunnah maka tidak diterima ibadah dan tidak memberikan manfaat kepada pelakunya.</p>
<p>Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita dalam beribadah, berdzikir dan bersyukur kepadaNya dalam setiap perkara dan keadaan yang kita hadapi.</p>
<p>***</p>
<p>Muslimah.Or.Id<br />
Penulis: Ummu Ahmad Rinautami Ardi Putri<br />
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<ul>
<li>Sulṭān ibn Surāi asy-Syamrī,<em> al-Ikhlāṣu li Man Arāda al-Khalāṣ </em>(Maktabah Syāmilah)</li>
<li>Safar ibn ‘Abdirraḥmān al-Ḥawālī, <em>al-Ikhlāṣu wa al-Īmānu bi al-Qadari wa al-Gaibi lilḥawālī </em>(Maktabah Syāmilah)</li>
<li>Syaikh Abdur-rahmān ibn Nāṣir as-Sa‘dīy,<em>Taisīru Karīmi ar-Raḥmāni, </em>Dār Ibn Jauzi</li>
<li><em>Syarḥ Ḥiṣnul Muslim</em></li>
</ul>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/hadits/nasihat-untuk-penghafal-al-quran-bagian-1.html"     class="crp_title">Nasihat Untuk Penghafal Al Quran 1 (Yang Harus Dilakukan&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/jangan-sampai-susah-payah-beramal-tetapi-sia-sia.html"     class="crp_title">Jangan Sampai Susah Payah Beramal Tetapi Sia-Sia</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/sabar-itu-akan-selalu-indah.html"     class="crp_title">Sabar Itu Akan Selalu Indah</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/untukmu-wahai-penuntut-ilmu.html"     class="crp_title">Untukmu Wahai Penuntut Ilmu…</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/belajar-ikhlas-dari-para-salaf.html"     class="crp_title">Belajar Ikhlas Dari Para Salaf</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/p6BpG1fIFOg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/aqidah/jika-bukan-untuk-mu-untuk-siapa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/aqidah/jika-bukan-untuk-mu-untuk-siapa.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kajian Bontang 6-7 Juli 2013 Bersama Ustadz Firanda Andirja, MA</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/B87b-NfCdYA/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 05:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ypia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3878</guid>
		<description><![CDATA[HADIRILAH DAUROH ISLAM ILMIYYAH III BONTANG Bersama: Ustadz Firanda Andirja, MA yang Insyaa Allaah akan diselenggarakan: 1. BAHAYA SYI&#8217;AH Sabtu 6 Juli  2013. Jam 08.30-12.00 WITA di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Yayasan Ihyaus Sunnah (Samping Gedung Diknas) Jl. HM Ardan-Pisangan Bontang 2. BERSEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU SYAR&#8217;I, BERINFAQ dan BERIBADAH Ahad  7 Juli  2013. [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html"     class="crp_title">Daurah Ilmiyyah (Bontang 16 Juni 2013): KARAKTERISTIK AQIDAH</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-ilmiyah-bersama-ustadz-firanda-andirja-m-a-20-januari-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Ilmiyah Bersama Ustadz Firanda Andirja, M.A. (20&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bontang-bersama-syaikh-muhammad-said-3-19-april-2012.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bontang Bersama Syaikh Muhammad Sa’id (3-19&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ustadz Firanda Andirja, MA (Yogyakarta,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html"     class="crp_title">Kajian Intensif Kitab Tsalatsatul Ushul &#038; Qowa’idul&hellip;</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id=":8w">
<div dir="ltr">
<div>HADIRILAH</p>
<p>DAUROH ISLAM ILMIYYAH III BONTANG</p>
<p>Bersama: Ustadz Firanda Andirja, MA</p>
<p>yang Insyaa Allaah akan diselenggarakan:</p>
<p>1. BAHAYA SYI&#8217;AH<br />
Sabtu 6 Juli  2013.<br />
Jam 08.30-12.00 WITA<br />
di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq<br />
Yayasan Ihyaus Sunnah (Samping Gedung Diknas)<br />
Jl. HM Ardan-Pisangan Bontang</p>
<p>2. BERSEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU SYAR&#8217;I, BERINFAQ dan BERIBADAH<br />
Ahad  7 Juli  2013.<br />
Jam 08.30-12.00 WITA<br />
di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq<br />
Yayasan Ihyaus Sunnah (Samping Gedung Diknas)<br />
Jl. HM Ardan-Pisangan Bontang</p>
<p>Contact Person:</p>
<p>Bapak Rosiin: 082155593038<br />
Bapak Wahyudi: 085249721532</p>
<p>Acara Ini Terselenggara atas kerjasama Yayasan Ihyaussunnah dengan Annasihah</p></div>
<div></div>
<div>Muslim.or.id</div>
<div></div>
<div><a href="http://cdn.muslimah.or.id/wp-content/uploads/2013/06/pamflet-dauroh-III-1-ust-firanda.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3879" alt="pamflet dauroh III (1) ust firanda" src="http://cdn.muslimah.or.id/wp-content/uploads/2013/06/pamflet-dauroh-III-1-ust-firanda-212x300.jpg" width="212" height="300" /></a></div>
</div>
</div>
<div id=":8k"></div>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html"     class="crp_title">Daurah Ilmiyyah (Bontang 16 Juni 2013): KARAKTERISTIK AQIDAH</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-ilmiyah-bersama-ustadz-firanda-andirja-m-a-20-januari-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Ilmiyah Bersama Ustadz Firanda Andirja, M.A. (20&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bontang-bersama-syaikh-muhammad-said-3-19-april-2012.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bontang Bersama Syaikh Muhammad Sa’id (3-19&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ustadz Firanda Andirja, MA (Yogyakarta,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html"     class="crp_title">Kajian Intensif Kitab Tsalatsatul Ushul &#038; Qowa’idul&hellip;</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/B87b-NfCdYA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Daurah Ilmiyyah (Bontang 16 Juni 2013): KARAKTERISTIK AQIDAH ISLAMIYYAH</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/Q_6rXvoUA4o/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 04:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ypia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3875</guid>
		<description><![CDATA[HADIRILAH DAUROH ISLAM ILMIYYAH II BONTANG Bersama: Syaikh DR. Syadi Muhammad Salim An Nu&#8217;man (Yaman) yang Insyaa Allaah akan diselenggarakan: Ahad, 16 Juni 2013. Jam 08.30-12.00 WITA di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Yayasan Ihyaus Sunnah (Samping Gedung Diknas) Jl. HM Ardan-Pisangan Bontang &#8220;KARAKTERISTIK AQIDAH ISLAMIYYAH&#8221; Contact Person: Bapak Rosiin: 082155593038 Bapak Wahyudi: 085249721532 Acara [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html"     class="crp_title">Kajian Bontang 6-7 Juli 2013 Bersama Ustadz Firanda Andirja,</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/daurah-akbar-bontang-25-26-juni-2011.html"     class="crp_title">Daurah Akbar Bontang (25-26 Juni 2011)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bontang-bersama-syaikh-muhammad-said-3-19-april-2012.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bontang Bersama Syaikh Muhammad Sa’id (3-19&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html"     class="crp_title">Kajian Intensif Kitab Tsalatsatul Ushul &#038; Qowa’idul&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-balikpapan-26-27-februari-2011.html"     class="crp_title">Kajian Umum Balikpapan (26-27 Februari 2011)</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>HADIRILAH</p>
<p>DAUROH ISLAM ILMIYYAH II BONTANG</p>
<p>Bersama: Syaikh DR. Syadi Muhammad Salim An Nu&#8217;man (Yaman)<br />
yang Insyaa Allaah akan diselenggarakan:</p>
<p>Ahad, 16 Juni 2013.<br />
Jam 08.30-12.00 WITA<br />
di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq<br />
Yayasan Ihyaus Sunnah (Samping Gedung Diknas)</p>
<p>Jl. HM Ardan-Pisangan Bontang</p>
<p>&#8220;KARAKTERISTIK AQIDAH ISLAMIYYAH&#8221;</p>
<p>Contact Person:</p>
<p>Bapak Rosiin: 082155593038<br />
Bapak Wahyudi: 085249721532</p>
<p>Acara Ini Terselenggara atas kerjasama Yayasan Ihyaussunnah dengan Annasihah</p>
<p>Muslim.or.id</p>
<p><a href="http://cdn.muslimah.or.id/wp-content/uploads/2013/06/pamflet-dauroh-II-edit-syaikh-syadi-.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3876" alt="pamflet dauroh II edit syaikh syadi" src="http://cdn.muslimah.or.id/wp-content/uploads/2013/06/pamflet-dauroh-II-edit-syaikh-syadi--212x300.jpg" width="212" height="300" /></a></p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html"     class="crp_title">Kajian Bontang 6-7 Juli 2013 Bersama Ustadz Firanda Andirja,</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/daurah-akbar-bontang-25-26-juni-2011.html"     class="crp_title">Daurah Akbar Bontang (25-26 Juni 2011)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bontang-bersama-syaikh-muhammad-said-3-19-april-2012.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bontang Bersama Syaikh Muhammad Sa’id (3-19&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-intensif-kitab-tsalatsatul-ushul-qowaidul-arba-yogyakarta-29-juni-4-juli-2013.html"     class="crp_title">Kajian Intensif Kitab Tsalatsatul Ushul &#038; Qowa’idul&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-balikpapan-26-27-februari-2011.html"     class="crp_title">Kajian Umum Balikpapan (26-27 Februari 2011)</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/Q_6rXvoUA4o" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/dari-redaksi/daurah-ilmiyyah-bontang-16-juni-2013-karakteristik-aqidah-islamiyyah.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Hukum Menjual serta Memakai Sendal atau Sepatu yang Padanya Terdapat Tulisan Menyerupai Lafadz “Allah”</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/cHk2lesFzJA/hukum-menjual-serta-memakai-sendal-atau-sepatu-yang-padanya-terdapat-tulisan-menyerupai-lafadz-allah.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/adab-doa/hukum-menjual-serta-memakai-sendal-atau-sepatu-yang-padanya-terdapat-tulisan-menyerupai-lafadz-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jun 2013 00:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3868</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibn Utsaimin -رحمه الله &#8211; ditanya: Ditemukan sebagian sepatu yang padanya terdapat tulisan yang menyerupai lafadz الله , penanya berkata: Dan aku menghadirkan sepatu sepatu ini yang tersamarkan bagi kebanyakan manusia, maka kami mengharapkan penjelasan apakah ini lafdzul jalaalah atau bukan? Dan apa hukum menjual serta memakainya jika itu adalah lafdzul jalaalah? Maka beliau [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/hadits/lahn-kesalahan-dalam-membaca-alquran.html"     class="crp_title">Lahn (Kesalahan) dalam Membaca Alquran</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/kaligrafi-lafadz-jalalah-allah.html"     class="crp_title">Kaligrafi Lafadz Jalalah Allah</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-solo-5-agustus-2010-asy-syaikh-sulaiman-ar-ruhaili.html"     class="crp_title">Kajian Umum Solo (5 Agustus 2010): Asy-Syaikh Sulaiman&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/yang-boleh-diusap-ketika-wudhu-bagian-1-khuf.html"     class="crp_title">Yang Boleh Diusap Ketika Wudhu Bagian 1 (Khuf)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/hadits/taisir-musthalah-hadits-8-jarh-dan-tadil.html"     class="crp_title">Taisir Musthalah Hadits 8 (Jarh dan Ta&#8217;dil)</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Ibn Utsaimin -<span class="arab">رحمه الل</span>ه &#8211; ditanya:</p>
<p>Ditemukan sebagian sepatu yang padanya terdapat tulisan yang menyerupai lafadz<span class="arab"> الله </span>, penanya berkata: Dan aku menghadirkan sepatu sepatu ini yang tersamarkan bagi kebanyakan manusia, maka kami mengharapkan penjelasan apakah ini <em>lafdzul jalaalah </em>atau bukan? Dan apa hukum menjual serta memakainya jika itu adalah <em>lafdzul jalaalah</em>?</p>
<p>Maka beliau menjawab:</p>
<p>Aku katakanm semoga Allah <em>subhanaahu wa ta&#8217;aala </em>memberkahimu, hal ini banyak terjadi sejak lebih dari empat atau lima tahun dimana manusia merasa ragu dalam masalah ini. Akan tetapi kesamaran ini tidak ada hakikatnya, karena seorang manusia jika terbayang sesuatu maka akan terbetik dibenaknya sesuatu yang sedang ia bayangkan. Akan tetapi jika datang orang lain yang tidak terbetik dalam pikirannya akan hal ini maka dia akan diketahui bahwasanya itu bukanlah apa yang dibayangkan oleh orang yang pertama.</p>
<p>Maka banyak terjadi orang yang melihat sepotong kain yang terdapat padanya lukisan-lukisan dia membayangkannya seperti burung. Dan jika orang selainnya melihatnya, dia akan mengatakan: “Sama sekali ini bukan burung,”</p>
<p>Demikian juga hal ini yang didapati di sebagian sandal. Sebagian orang membayangkan bahwasanya itu adalah <em>lafdzul jalaalah </em>padahal tidak demikian. Kalau seandainya datang orang lain yang tidak terbetik di benaknya hal tersebut, maka diketahui bahwasanya apa yang dia bayangkan itu tidak ada. Pada asalnya tidak ada larangan dan pembolehan sampai seseorang yakin bahwasanya hal itu dilarang.</p>
<p>Dan sekarang aku melihat apa yang engkau datangkan padaku ini (yakni sandal yang diduga terdapat tulisan <em>lafdzul jalaalah</em>) dan aku tidak dapatkan padanya sesuatu yang mirip dengan <em>lafdzul jalaalah. </em></p>
<p>(<em>Silsilah Liqa&#8217;il Baabil Maftuuh Kaset 107/Side B</em>)</p>
<p>Disalin dari buku: <em>Pesona Wanita Shalihah</em> oleh Ummu Salamah As-Salafiyyah Al-Abbasiyyah. Penerbit: Toobagus</p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/hadits/lahn-kesalahan-dalam-membaca-alquran.html"     class="crp_title">Lahn (Kesalahan) dalam Membaca Alquran</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/kaligrafi-lafadz-jalalah-allah.html"     class="crp_title">Kaligrafi Lafadz Jalalah Allah</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-solo-5-agustus-2010-asy-syaikh-sulaiman-ar-ruhaili.html"     class="crp_title">Kajian Umum Solo (5 Agustus 2010): Asy-Syaikh Sulaiman&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/yang-boleh-diusap-ketika-wudhu-bagian-1-khuf.html"     class="crp_title">Yang Boleh Diusap Ketika Wudhu Bagian 1 (Khuf)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/hadits/taisir-musthalah-hadits-8-jarh-dan-tadil.html"     class="crp_title">Taisir Musthalah Hadits 8 (Jarh dan Ta&#8217;dil)</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/cHk2lesFzJA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/adab-doa/hukum-menjual-serta-memakai-sendal-atau-sepatu-yang-padanya-terdapat-tulisan-menyerupai-lafadz-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/adab-doa/hukum-menjual-serta-memakai-sendal-atau-sepatu-yang-padanya-terdapat-tulisan-menyerupai-lafadz-allah.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Muhammad bin Abdul Wahhab Sang Mujaddid</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/DsHZwo5YKR0/muhammad-bin-abdul-wahhab-sang-mujaddid.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/kisah/muhammad-bin-abdul-wahhab-sang-mujaddid.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Jun 2013 00:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3864</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Syekh Al-Imam Sang Pembaru Syaikhul Islam Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab bin Sulaiman bin &#8216;Ali bin Musyarraf At-Tamimi An-Najdi. Beliau lahir pada tahun 1115 H di negeri &#8216;Uyainah, wilayah sebelah utara Riyadh. Di sanalah keluarganya menetap. Beliau tumbuh di kediaman penuh ilmu. Ayah beliau adalah seorang qadhi (hakim) di negerinya, kakek beliau (Syekh Sulaiman) [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/tanda-kiamat-yang-telah-terjadi.html"     class="crp_title">Tanda Kiamat Yang Telah Terjadi</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/boleh-jadi-kamu-membenci-sesuatu-padahal-ia-amat-baik-bagimu.html"     class="crp_title">Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/tentang-allah.html"     class="crp_title">Tentang Allah</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/manhaj/kaidah-dalam-amar-maruf-dan-nahi-mungkar.html"     class="crp_title">Kaidah Dalam Amar Ma&#8217;ruf Dan Nahi Mungkar</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/apakah-penduduk-negeri-itu-merasa-aman.html"     class="crp_title">Apakah Penduduk Negeri Itu Merasa Aman?</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Beliau adalah Syekh Al-Imam Sang Pembaru Syaikhul Islam Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab bin Sulaiman bin &#8216;Ali bin Musyarraf At-Tamimi An-Najdi. Beliau lahir pada tahun 1115 H di negeri &#8216;Uyainah, wilayah sebelah utara Riyadh. Di sanalah keluarganya menetap.</p>
<p>Beliau tumbuh di kediaman penuh ilmu. Ayah beliau adalah seorang qadhi (hakim) di negerinya, kakek beliau (Syekh Sulaiman) adalah seorang mufti (pemberi fatwa) dan sumber rujukan para ulama, sedangkan seluruh paman beliau adalah ulama.</p>
<p><strong>Tumbuh kembang beliau</strong></p>
<p>Dengan bermandikan cahaya ilmu, beliau tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Di tangan sang ayah (&#8216;Abdul Wahhab) dan para pamannya, beliau belajar semenjak kecil.  Al Quran telah dihafalnya sebelum usia 10 tahun. Beliau pun membaca kitab-kitab tafsir dan hadis hingga mahir, padahal kala itu beliau masih kecil. Baik ayahnya maupun para ulama di sekitarnya kagum atas kecerdasan dan keunggulan beliau. Keterlibatannya dalam diskusi ilmiah memberikan faidah bagi mereka sehingga mereka mendapati keutamaan pada dirinya. Meski demikian, beliau belum merasa puas. Baginya, tak ada rasa kenyang akan ilmu.</p>
<p>Kemudian beliau berangkat untuk menunaikan ibadah haji. Setelah berhaji, kakinya dilangkahkan menuju Madinah. Keluarga dan negerinya ditinggalkan demi rihlah menuntut ilmu.</p>
<p><strong>Masa rihlah</strong></p>
<p>Di Madinah beliau belajar kepada para ulama Madinah di Mesjid Nabawi, terutama Syekh &#8216;Abdullah bin Ibrahim bin Sayf. Syekh &#8216;Abdullah bin Ibrahim bin Sayf merupakan imam dalam bidang fiqih dan ushul fiqih. Syekh &#8216;Abdullah ini berasal dari tanah Nejed, tepatnya di sebuah kawasan di sekitar Sungai Sadir. Demikian pula, beliau belajar dengan Ibrahim bin &#8216;Abdullah (anak Syekh &#8216;Abdullah) yang merupakan pengarang kitab Al-&#8217;Adzbu Al-Faidh Syarh Alfiyyah Al-Faraidh. Selain itu, beliau juga menuntut ilmu dari ulama hadis di sana, yaitu Syekh Muhammad Hayah As-Sindi. Dari Syekh As-Sindi, beliau mendapat ijazah periwayatan hadis.</p>
<p>Selepas masa belajar di Madinah, beliau beranjak menuju Ahsa&#8217;. Letaknya di sebelah timur negeri Nejed.</p>
<p>Di Ahsa&#8217; terdapat banyak ulama mazhab Hanabilah, Syafi&#8217;iyyah, Malikiyyah, dan Hanafiyyah. Kepada para ulama tersebut beliau belajar, khususnya kepada para ulama Hanabilah. Di antaranya adalah Muhammad bin Fairuz dan &#8216;Abdul Wahhab bin Fairuz. Dari kedua ulama ini beliau belajar fiqih. Beliau juga berguru kepada &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdul Lathif Al-Ahsai.</p>
<p>Tak cukup sampai di situ. Sekali lagi beliau bersafar untuk menuntut ilmu. Kali ini menuju Irak, khususnya Bashrah.</p>
<p>Banyak ulama hadis maupun fikih di sana. Di negeri tersebut, beliau mengambil ilmu dari para ulama, terutama Syekh Muhammad Al-Majmu&#8217;i. Sewaktu menyalin pelajaran, bila beliau menjumpai kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah atau kitab Ibnul Qayyim, beliau akan menyalin naskah kitab tersebut dengan penanya. Banyak naskah kitab-kitab di Ahsa&#8217; dan Bashrah yang telah beliau salin. Dengan demikian telah begitu banyak kitab yang beliau kumpulkan.</p>
<p>Setelah Irak, arah beliau selanjutnya adalah negeri Syam.</p>
<p>Tujuannya tentu saja karena ingin berguru kepada para ulama Syam. Banyak ulama di sana, khususnya dari kalangan ulama Hanabilah dan para ahli hadis. Namun tak seperti rihlah-rihlah sebelumnya, perjalanan kala itu terasa sangat berat.  Di tengah perjalanan &#8211;sebelum sampai di Syam&#8211; rasa dahaga dan lapar sungguh menyulitkan beliau. Kondisi perjalanan pada masa itu sangat jauh berbeda dengan masa kita sekarang. Hampir saja beliau meninggal karena sebab itu.</p>
<p>Akhirnya, beliau kembali ke Bashrah kemudian beralih menuju Syam.</p>
<p><strong>Sekembalinya ke tanah kelahiran</strong></p>
<p>Setelah ilmu telah digapai dan kitab-kitab telah dikumpulkan, tiba saatnya beliau kembali ke negeri asalnya, Nejed.</p>
<p>Tak ada rasa ridha dalam dada beliau kala melihat kehidupan di Nejed. Semangatnya bangkit untuk membela agama Allah. Rasa sayangnya terhadap kaum muslimin menjadikan beliau tak tinggal diam melihat penduduk Nejed dijerat keburukan dan kesyirikan.</p>
<p>Pada masa itu, ulama Nejed disibukkan oleh perkara fiqih, sedangkan mereka memeluk aqidah mutakallimin (filsafat, pen.) semisal &#8216;Asyairah. Mereka tidak menaruh perhatian terhadap aqidah salaf. Bersamaan dengan itu, mereka melakukan kesalahan-kesalahan dalam tauhid uluhiah.</p>
<p>Hanya segelintir orang yang peduli terhadap aqidah salaf. Malahan banyak orang yang durhaka karena melestarikan khurafat bid&#8217;ah dan kesyirikan dalam ibadah semisal ibadah kubur. Demikianlah realita masyarakat yang ada.</p>
<p>Adapun di bidang politik, mereka hidup tercerai-berai, tanpa satu daulah yang menaungi. Setiap wilayah akan memiliki pemimpin (&#8216;amir) sendiri. &#8216;Uyainah memiliki hakimnya sendiri, Dar&#8217;iyyah juga memiliki hakim sendiri. Demikian pula Riyadh dan wilayah-wilayah lain, masing-masing memiliki hakim. Terjadi perang, perampokan, perampasan harta antar wilayah. Hingga timbul rasa risau, perpecahan, dan permusuhan.</p>
<p>Di negeri Nejed sendiri, masyarakatnya sudah terbiasa melakukan ibadah kubur dan istighatsah (memohon pertolongan) kepada orang mati. Salah satu contohnya adalah sikap mereka terhadap kubur para sahabat; seperti kuburan Zaid bin Al-Khaththab. Zaid bin Al-Khaththab merupakan salah seorang sahabat yang memerangi Musailamah Al-Kadzdzab. Masyarakat Nejed mengadu dan memohon pertolongan di kubur Zaid. Bahkan mereka membangun kubah di atas kubur tersebut. Kubah yang sangat masyhur bagi mereka ini khusus didatangkan ke Nejed dari tempat yang jauh.</p>
<p>Mereka juga memiliki pepohonan dan pohon kurma yang diyakini memiliki keistimewaan dan bisa dijadikan tempat ngalap berkah. Realita yang menyedihkan ini tak dipedulikan para ulama di sekitar mereka. Para ulama hanya berdiam diri. Kondisi semakin diperparah oleh ulah sebagian ulama yang menyemangati dan membantu khurafat tersebut.</p>
<p><strong>Bergerak mengambil tindakan</strong></p>
<p>Kala melihat seluruh kenyataan itu, Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab bergerak menyeru masyarakatnya menuju jalan Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla.</em> Beliau mengajarkan tauhidullah (pengesaan terhadap Allah), mengingkari beragam kesyirikan dan khurafat, dan mengokohkan manhaj as-salaf ash-shalih. Di antara manusia ada yang belajar kepada beliau, baik yang berasal dari Dar&#8217;iyyah maupun &#8216;Uyainah. Mereka inilah yang diberikan kebaikan oleh Allah, berupa hidayah taufik.</p>
<p>Dakwah tauhidullah juga beliau sampaikan kepada pemimpin (&#8216;amir) &#8216;Uyainah. Sang &#8216;Amir menerima dakwah beliau dan berjanji akan menolongnya. Pertama kali, beliau meminta tolong kepada sang &#8216;Amir agar merubuhkan kubah di atas kuburan Zaid bin Al-Khaththab. Hanya pihak penguasa yang berhak melakukan hal tersebut. Sungguh, sang &#8216;Amir benar-benar membantunya merubuhkan kubah tersebut.</p>
<p>Perkara kedua, seorang wanita pezina datang memohon kepada Syekh Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab agar beliau menjatuhkan hukuman atas diri si wanita, namun Syekh menolak permintaannya. Kemudian, sang &#8216;Amir &#8216;Uyainah yang menghukum hudud wanita tersebut.</p>
<p>Ketika berita tentang kubah Zaid dan si wanita pezina sampai di telinga &#8216;Amir Ahsa&#8217;, dia mengirimkan surat kepada &#8216;Amir &#8216;Uyainah. Isinya: “(Hendaknya) engkau singkirkan si penurut ini (<em>al-muthawwi’</em>)! Kalau tidak, akan kuhentikan bantuanku untukmu.” Mereka menyebut Syekh Muhammad sebagai <em>al-muthawwi’</em> untuk menyepelekan beliau.</p>
<p>Kemudian &#8216;Amir &#8216;Uyainah datang menjumpai Syekh Muhammad untuk menceritakan isi surat &#8216;Amir Ahsa&#8217;. Sang &#8216;Amir &#8216;Uyainah berkata, “Saya tidak sanggup menegakkan dakwah ini.”</p>
<p>Mendapati kegoyahan sang &#8216;Amir, Syekh Muhammad menenangkannya. Beliau menjanjikan kebaikan yang akan datang dengan dakwah ini serta agar sang &#8216;Amir bertawakal kepada Allah dan bahwa rezeki ada di tangan Allah. Juga bahwa orang yang menegakkan aqidah tauhid akan dibantu dan ditolong oleh Allah. Kendati demikian, sang &#8216;Amir &#8216;Uyainah berketetapan hati untuk meminta Syekh Muhammad keluar dari wilayahnya.</p>
<p>Akhirnya, pada waktu tengah hari Syekh Muhammad keluar dari &#8216;Uyainah. Beliau berangkat menuju Dar&#8217;iyyah, tempat asal murid terpilihnya yang bernama Ibnu Suwailim. Dalam perjalanan menuju Dar&#8217;iyyah, tak ada sesuatu pun yang bersamanya melainkan kipas di tangan yang beliau angin-anginkan di wajahnya sembari beliau ayunkan langkah dan berkata,</p>
<p class="arab"><strong>وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Serta memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya</em>.”</p>
<p>(Q.s. Ath-Thalaq:2—3)</p>
<p>Beliau terus mengulang ayat ini sambil meneruskan perjalanan.</p>
<p><strong>Kepindahan menuju Dar&#8217;iyyah</strong></p>
<p>Setibanya di Dar&#8217;iyyah, beliau menuju tempat tinggal muridnya. Ketika Syekh Muhammad mengunjunginya, si murid merasa takut dan risau. Dia khawatir atas keselamatan dirinya dan Syekh. Penduduk negeri itu telah memperingatkan seisi negeri agar berhati-hati dari Syekh Muhammad. Karena si murid gelisah, Syekh Muhammad menenangkannya dengan sepenggal nasihat,</p>
<p class="arab"><strong>لا يخطر في بالك شيء أبدا. توكل على الله جل وعلا فهو ينصر من نصره</strong></p>
<p>“Jangan khawatir atas keadaanmu, selamanya! Bertawakallah kepada Allah <em>Jalla wa &#8216;Ala</em>! Dia menolong siapa pun yang menolong (agama)-Nya.”</p>
<p>Di sisi lain, kabar keberadaan Syekh Muhammad diketahui oleh istri <em>&#8216;Amir</em> Dar&#8217;iyyah. Dia adalah seorang wanita shalihah. Dia menyarankan suaminya, <em>Al-&#8217;Amir</em> Muhammad bin Su&#8217;ud,  untuk menolong Syekh Muhammad. Dia juga menasihatkan bahwa kedatangan Syekh ke Dar&#8217;iyyah merupakan nikmat dari Allah bagi Al-&#8217;Amir maka hendaklah sang &#8216;Amir menjamu sang Syekh.</p>
<p>Mendengar nasihat sang istri, Al-&#8217;Amir Muhammad bin Su&#8217;ud merasakan ketenteraman dan kecintaan atas dakwah yang diemban Syekh Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab. Sang &#8216;Amir juga mencintai Syekh yang <em>&#8216;alim</em> ini.</p>
<p>Kemudian sang &#8216;Amir berkata, “Datangkan dia ke hadapanku!”</p>
<p>Alih-alih segera mendatangkan Syekh, istri sang &#8216;Amir malah menyampaikan saran, “Bahkan, engkau yang hendaknya menemui beliau! Jika engkau kirimkan surat kepadanya lalu engkau katakan, &#8216;Datangkan dia ke hadapanku!&#8217; maka orang-orang akan berkata bahwa beliau diminta datang supaya bisa ditangkap. Namun bila engkau mendatanginya, ini akan menjadi kehormatan baginya dan bagimu.”</p>
<p>Al-&#8217;Amir setuju dengan saran istrinya. Akhirnya beliau yang mendatangi Syekh Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab di kediaman murid Syekh. Al-&#8217;Amir mengucapkan salam kepada beliau dan bertanya perihal keberanian Syekh. Oleh karena itu, Syekh menjelaskan dan menerangkan kepada Al-&#8217;Amir bahwa tak ada yang beliau seru selain dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dakwah itu adalah seruan menuju kalimat tauhid, <em>la ilaha illallah</em> (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Syekh Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab juga menjelaskan maknanya kepada Al-&#8217;Amir. Beliau juga menjabarkan perihal akidah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Al-&#8217;Amir berkata, “Bergembiralah dengan pertolongan dan sokongan kekuatan!”</p>
<p>Maka Syekh Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab berkata kepadanya, “Bergembiralah dengan kemuliaaan dan keteguhan karena barangsiapa yang berpegang teguh dengan kalimat ini &#8211;<em>la ilaha illallah</em>&#8211; niscaya Allah akan mengokohkannya.”</p>
<p>Al-&#8217;Amir berkata, “Meski begitu, kuajukan sebuah syarat.”</p>
<p>Syekh berkata, “Syarat apa?”</p>
<p>Al-&#8217;Amir berkata, “Hendaklah engkau biarkan aku dan hal-hal yang kuambil dari manusia (hendaklah engkau biarkan aku mengambil upeti dari masyarakat, <em>pen.</em>)</p>
<p>Syekh menjawab, “Semoga Allah mencukupi Anda dengan ini semua dan semoga Allah membukakan pintu rezeki bagi Anda dari sisi-Nya.”</p>
<p>Dengan demikian, mereka berdua menjalankan urusan masing-masing: Syekh Muhammad dengan dakwahnya dan Al-&#8217;Amir dengan pengurusan kekuasaan negerinya. Kemudian para penuntut ilmu memperoleh manfaat dengan tersebarnya dakwah Syekh di Dar&#8217;iyyah. Beliau mendapat tempat di sana. Beliaulah yang menjadi imam shalat, mufti, bahkan qadhi.</p>
<p><strong>Kepemimpinan negeri tauhid</strong></p>
<p>Akhirnya, berdirilah kepemimpinan di atas tauhid di negeri Dar&#8217;iyyah. Kemudian Syekh mengirimkan surat kepada para penduduk negeri-negeri dan wilayah-wilayah lain. Isi surat tersebut adalah seruan dakwah kepada Allah dan agar mereka menerima akidah tauhid serta meninggalkan bid&#8217;ah dan khurafat. Di antara mereka ada yang menerima ajakan tersebut, tanpa melalui jalan jihad dan peperangan. Namun ada pula yang menolak dan melawan. Tentara-tentara tauhid memerangi mereka, di bawah kepemimpinan Al-&#8217;Amir Muhammad bin Su&#8217;ud dan petunjuk Syekh Muhammad bin &#8216;Abdul Wahhab.</p>
<p>Sebagai buahnya, dakwah tauhid tersebar ke penjuru Nejed beserta wilayah di sekitarnya. &#8216;Amir &#8216;Uyainah yang dulu pernah menegakkan dakwah bersama Syekh akhirnya masuk ke dalam wilayah kekuasaan Muhammad bin Su&#8217;ud. Demikian pula dengan Riyadh, meski harus melalui peperangan yang sengit. Kekuasaan Muhammad bin Su&#8217;ud dan dakwah tauhid meluas hingga ke Kharaj, ke arah utara dan selatan sampai-sampai meliputi batas Syam di sebelah utara menuju batas Yaman di sebelah selatan. Wilayah kekuasaan tersebut juga meliputi Laut Merah hingga Teluk Arab di sebelah timur. Demikianlah, seluruhnya berada di bawah kekuasaan Dar&#8217;iyyah, padang saharanya maupun kotanya.</p>
<p>Selain wilayah kekuasaan, Allah pun mencukupkan penduduk Dar&#8217;iyyah dengan kebaikan, rezeki, kekayaan, dan harta. Dengan itu, berjalanlah perdagangan dan bersinarlah ilmu serta kekuatan sebagai bentuk berkah dakwah ini. Yaitu dakwah salafiyyah yang merupakan dakwah para rasul <em>&#8216;alaihimussalam</em>.</p>
<p><em>*) Biografi ini disarikan dari muqaddimah kitab Syarah Kasyfu Syubuhat karya Syekh Shalih bin &#8216;Abdillah Al-Fauzan (terbitan Muassasah Ar-Risalah, Beirut, tahun 1422 H/2001 M).</em></p>
<p>***</p>
<p>Muslimah.Or.Id<br />
Penulis: Athirah Ummu Asiyah<br />
Muraja&#8217;ah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/tanda-kiamat-yang-telah-terjadi.html"     class="crp_title">Tanda Kiamat Yang Telah Terjadi</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/boleh-jadi-kamu-membenci-sesuatu-padahal-ia-amat-baik-bagimu.html"     class="crp_title">Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/tentang-allah.html"     class="crp_title">Tentang Allah</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/manhaj/kaidah-dalam-amar-maruf-dan-nahi-mungkar.html"     class="crp_title">Kaidah Dalam Amar Ma&#8217;ruf Dan Nahi Mungkar</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/aqidah/apakah-penduduk-negeri-itu-merasa-aman.html"     class="crp_title">Apakah Penduduk Negeri Itu Merasa Aman?</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/DsHZwo5YKR0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/kisah/muhammad-bin-abdul-wahhab-sang-mujaddid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/kisah/muhammad-bin-abdul-wahhab-sang-mujaddid.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Beberapa Batasan Dzihar</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/etWQwOZQ-qo/beberapa-batasan-dzihar.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/fikih/beberapa-batasan-dzihar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jun 2013 00:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Dzihar]]></category>
		<category><![CDATA[Talak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3856</guid>
		<description><![CDATA[Berikut beberapa batasan tentang Bab Dzihar Pertama, makna dzihar secara bahasa merupakan turunan dari kata ad-Dzahru [arab: الظهر ] yang artinya punggung. Karena hubungan badan ibarat menunggang. Sementara menunggang umumnya di atas punggung. Kedua, makna dzihar menurut istilah syariat adalah seorang suami menyamakan istrinya dengan mahramnya, terkait hal yang berhubungan dengan hubungan badan. Ketiga, dzihar [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/takal-bagian-7-sebab-talak-zhihar.html"     class="crp_title">Talak Bagian 7 (Sebab Talak: Zhihar)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/zakat-fitri-untuk-istri-yang-ditalak-raji.html"     class="crp_title">Zakat  Fitri untuk Istri yang Ditalak Raj&#8217;i</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/bolehkah-gugat-cerai-kerana-suami-mandul.html"     class="crp_title">Bolehkah Gugat Cerai Kerana Suami Mandul?</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/talak-bagian-2-pembagian-talak.html"     class="crp_title">Talak Bagian 2 (Pembagian Talak)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/boleh-berhias-tapi-etika-berhias-wanita-muslimah.html"     class="crp_title">Boleh Berhias, Tapi &#8230; (Etika Berhias Wanita&hellip;</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut beberapa batasan tentang Bab Dzihar</p>
<p>Pertama, makna dzihar secara bahasa merupakan turunan dari kata <em>ad-Dzahru</em> [arab: <span class="arab">الظهر </span> ] yang artinya punggung. Karena hubungan badan ibarat menunggang. Sementara menunggang umumnya di atas punggung.</p>
<p>Kedua, makna dzihar menurut istilah syariat adalah seorang suami menyamakan istrinya dengan mahramnya, terkait hal yang berhubungan dengan hubungan badan.</p>
<p>Ketiga, dzihar merupakan bentuk talak yang paling berat di zaman jahiliyah. Kemudian Allah mengeluarkannya dari bab talak (bukan termasuk talak), menjadi bab kaffarah (kesalahan yang wajib dibayar kaffarahnya).</p>
<p>Keempat, hukum dzihar secara taklifi adalah haram, tidak boleh dilakukan. Sedangkan hukum secara wadh’i dinilai sah dan ada konsekuesnsinya, jika syarat sahnya terpenuhi.</p>
<p>Kelima, dzihar dinilai sah jika dilakukan suami kepada istrinya. Karena itu, tidak berlaku dzihar dari seorang tuan kepada budak perempuannya.</p>
<p>Keenam, dzihar bernilai sah meskipun dari suami yang tidak mampu hubungan badan, berdasarkan keumuman ayat.</p>
<p>Ketujuh, tidak sah dzihar yang dilakukan orang gila, orang ngelindur, orang yang tidak sadar, atau orang ideot, berdasarkan sepakat ulama.</p>
<p>Kedelapan, orang melakukan zihar pada keadaan sangat marah, sehingga dia kehilangan kendali dirinya dan tidak mampu lagi menahan ucapan mulutnya, sekalipun akalnya masih sehat, statusnya tidak sah, sebagaimana dzihar yang dilontarkan orang mabuk.</p>
<p>Kesembilan, syarat sah zihar adalah baligh. Karena secara hukum asal, tidak ada beban syariat bagi anak yang belum baligh, dan tidak ada dalil yang menunjukkan kewajiban bayar kaffarah zihar untuk anak belum baligh.</p>
<p>Kesepuluh, Tidak sah dzihar dari orang yang terpaksa, atau tidak sengaja. Berdasarkan dalil-dalil yang kuat dan umumnya terbebas dari sanggahan yang bisa diterima. Sementara alasan ulama yang mengatakan keabsahan dzihar orang yang dipaksa adalah alasan yang lemah.</p>
<p>Kesebelas, dzihar orang yang guyon tidak sah, karena zihar semacam ini meskipun secara lahiriyah dia ridha, namun secara batin dia tidak ridha. Sementara hukum asal, tidak ada masalah dengan nikahnya dan <em>bara’ah dzimmah</em> (tidak ada beban).</p>
<p>Keduabelas, sah zihar meskipun dijatuhkan untuk istri yang sudah tidak mungkin lagi diajak berhubungan badan, berdasarkan keumuman ayat.</p>
<p>Ketigabelas, suami yang mengatakan kepada istrinya: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku”, maka dia dianggap telah melakukan zihar, meskipun dia niatkan ucapan itu untuk talak.</p>
<p>Keempatbelas, suami yang mengatakan kepada istrinya: “Kamu seperti punggung ibuku” – dengan membuang <em>huruf shilah</em> (tanpa kata: <em>‘alayya</em>: bagiku) -  tidak dihitung sebagai dzihar, kecuali dengan niat.</p>
<p>Kelimabelas, menyerupakan istri dengan punggung mahramnya karena hubungan kerabat bernilai dzihar, demikian pula menyerupakan istri dengan mahram selain kerabat, seperti ibu susu atau yang lainnya. Karena syariat tidak membedakan hal-hal yang sama</p>
<p>Keenambelas, suami yang menyerupakan istrinya dengan wanita mahram muaqqat atau wanita yang bukan mahramnya atau suami menyerupakan istri dengan punggung laki-laki, ada 2 keadaan:</p>
<p>Jika dia niatkan untuk dzihar atau tanpa niat apapun maka wajib membayar kaffarah sumpah</p>
<p>Jika dia niatkan untuk cerai maka jatuh cerai.</p>
<p>Ketujuhbelas, Apabila suami menyerupakan salah satu anggota badan istrinya dengan punggung ibunya atau dengan salah satu anggota badan ibunya (misal: tanganmu seperti punggung ibuku atau tanganmu seperti tangan ibuku) maka tidak dihukumi dzihar. Namun jika suami menyerupakan salah satu anggota badan istri yang statusnya sama dengan menyerupakan hubungan intim dengan istri sama dengan hubungan intim dengan ibunya, seperti kemaluan maka dihukumi dzihar.</p>
<p>Keterangan: dari beberapa kaidah di atas, bentuk menyerupakan yang berstatus zihar ada dua, yaitu:</p>
<p>Menyerupakan punggung istri dengan punggung mahram suami</p>
<p>Menyerupakan anggota badan istri yang menjadi inti hubungan intim, misalnya kemaluan.</p>
<p>Menyerupakan istri dengan salah satu anggota badan ibu selain punggung, termasuk menyerupakan istrinya dengan anggota badan dalam tubuh ibunya (misal jantung ibunya), atau menyerupakan istri dengan punggung binatang, maka tidak termasuk dzihar. Dan jika dia niatkan dzihar atau mengharamkan istrinya maka wajib membayar kafarah sumpah.</p>
<p>Jika suami menyerupakan istrinya dengan ibunya, tanpa ada lafal dzihar, seperti, suami mengatakan kepada istrinya: ‘Kamu seperti ibuku’ atau ‘kamu ibuku’, maka tidak termasuk dzihar, jika dia niatkan istrinya seperti ibunya atau maksud suami, istrinya mulia seperti ibunya. Demikian pula ketika tidak disertai niat apapun. Namun jika maksud suami adalah mengharamkan istrinya maka suami wajib membayar kafarah sumpah selama tidak ada maksud untuk talak.</p>
<p>Jika suami mengatakan kepada istrinya, ‘Kamu seperti ibuku’ sementara dia niatkan untuk dzihar maka statusnya dzihar. Jika tidak disertai niat apapun, tidak diniatkan untuk talak atau dzihar maka tidak dihukumi dzihar.</p>
<p>***</p>
<p>Oleh Dr. Khalid Al-Musyaiqih<br />
Diterjemahkan oleh Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/takal-bagian-7-sebab-talak-zhihar.html"     class="crp_title">Talak Bagian 7 (Sebab Talak: Zhihar)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/zakat-fitri-untuk-istri-yang-ditalak-raji.html"     class="crp_title">Zakat  Fitri untuk Istri yang Ditalak Raj&#8217;i</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/bolehkah-gugat-cerai-kerana-suami-mandul.html"     class="crp_title">Bolehkah Gugat Cerai Kerana Suami Mandul?</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/talak-bagian-2-pembagian-talak.html"     class="crp_title">Talak Bagian 2 (Pembagian Talak)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/boleh-berhias-tapi-etika-berhias-wanita-muslimah.html"     class="crp_title">Boleh Berhias, Tapi &#8230; (Etika Berhias Wanita&hellip;</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/etWQwOZQ-qo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/fikih/beberapa-batasan-dzihar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/fikih/beberapa-batasan-dzihar.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Muslimah, Kemana Kan Kau Bawa Cantikmu?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/lJwbST2VQ40/muslimah-kemana-kan-kau-bawa-cantikmu.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/keluarga/muslimah-kemana-kan-kau-bawa-cantikmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jun 2013 01:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3849</guid>
		<description><![CDATA[Wanita mana yang tidak ingin terlihat cantik? Semua wanita pasti ingin terlihat cantik di mata setiap orang. Apakah kita harus mengumbar kecantikan yang kita miliki kepada orang lain? Wahai saudariku muslimah, kalian begitu cantik, oleh karena itu hiasilah kecantikanmu dengan balutan yang bisa menutupi aurat kita. Terutama di zaman saat ini, yaitu zaman penuh fitnah. [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/lindungi-diri-dengan-jilbab-syari.html"     class="crp_title">Lindungi Diri Dengan Jilbab Syar‘i</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/saudariku-hijab-syari-itulah-pelindungmu-bagian-2.html"     class="crp_title">Saudariku, Hijab Syar’i Itulah Pelindungmu (Bagian 2)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/saudariku-hijab-syari-itulah-pelindungmu-bagian-1.html"     class="crp_title">Saudariku, Hijab Syar’i Itulah Pelindungmu (Bagian 1)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/boleh-berhias-tapi-etika-berhias-wanita-muslimah.html"     class="crp_title">Boleh Berhias, Tapi &#8230; (Etika Berhias Wanita&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/aurat-wanita-di-depan-mahramnya-bagian-2.html"     class="crp_title">Aurat Wanita di Depan Mahramnya (Bagian 2)</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita mana yang tidak ingin terlihat cantik? Semua wanita pasti ingin terlihat cantik di mata setiap orang. Apakah kita harus mengumbar kecantikan yang kita miliki kepada orang lain? Wahai saudariku muslimah, kalian begitu cantik, oleh karena itu hiasilah kecantikanmu dengan balutan yang bisa menutupi aurat kita. Terutama di zaman saat ini, yaitu zaman penuh fitnah. Banyaknya kaum wanita yang berlomba-lomba untuk menonjolkan kecantikannya dan mempertontonkan auratnya di depan khalayak ramai. Oleh karena itu Allah telah memerintahkan kita untuk menjaga aurat kita dengan mengenakan hijab sesuai dengan syar’i, agar terhindar dari gangguan-gangguan laki-laki asing yang bukan mahram dan lebih menjaga kehormatan seorang wanita.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p class="arab">وَمَا كانَ لِمُؤمن وَلَا مُؤمِنةٍ إِذا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أمرًا أن يَكونَ لهم الخِيَرَة مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ الله وَرَسُولهُ فقد ضَلَّ ضلالاً مبينا</p>
<p><em>“Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi wanita yang mu’minah apabila Allah dan rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan ,tidak akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka .dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”</em> (Qs Al Ahzaab: 36)</p>
<p class="arab">و قل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن و يحفظن فروجهن , ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها ,وليضربن بخمرهن على جيوبهن</p>
<p><em>“Katakanlah pada wanita wanita yang beriman; ‘’hendaknya mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan nya kecuali apa yang biasa tampak dari padanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedada mereka”</em> (Qs An Nuur: 31)</p>
<p class="arab">يا أيّها النبيّ قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهنّ من جلابيبهنّ ذلك أدنى أن يُعرَفنَ فلا يُؤذين وكان الله غفوراً رحيماً</p>
<p><em>“Wahai para nabi katakanlah kepada istri istrimu, ,anak-anak perempuanmu dan istri istri orang-orang mukmin; ‘Hendaklah mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”</em>  (Qs Al Ahzaab: 59)</p>
<p>Didalam ayat ini Allah <em>ta’ala</em> menyebutkan tentang kata “jilbab”. Makna jilbab yaitu pakaian longgar yang menjulur, menutupi kepala sampai dibawah mata kaki, ada yang mengatakan; yaitu selimut yang menutupi atau kain longgar yang menutupi wanita berupa kain longgar yang melilit tubuhnya. Kebanyakan ulama tafsir berpendapat bahwa jilbab adalah yang menutupi kepala, sebagaimana yang dikutip dari Imam At-Thabarii dalam tafsir nya dari Ibnu Abbas, Qatadah, Hasan Al Bashri, Said Ibnu Jubair, Ibrahim An-Nakha’i, dan Atha’ bin Abi Rabbah .</p>
<p>Dalil dari as-sunnah tentang wajibnya jilbab diantaranya yaitu :</p>
<p class="arab">قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في صحيح مسلم ( صنفان من أهل النار &#8230;. نساء كاسيات عاريات، مميلات مائلات، رؤسهن كأسمنة البخت المائلة [تصفف الشعر فيصبح كسنام الجمل ] ، لا يدخلن الجنة، ولا يجدن ريحها . وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا ). الحديث صحيح</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<em> “Dua golongan yang termasuk penghuni neraka Mail (nama neraka) yaitu, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang yang membuat hati jadi terfitnah, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga dapat tercium dari jarak yang sekian dan sekian.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p class="arab">عن أم عطية رضي الله عنها قالت : (أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نخرجهن في الفطر والأضحى، العواتق (اللائي لم يتزوجن ) ، والـحُيَّض (عليها حيض ) ، وذوات الخدور (المتزوجات ) ، أمَّـا الحيض فيعتزلن الصلاة ويشهدن الخير ودعوة المسلمين، قلت : يا رسول الله ! إحدانا لا يكون لها جلباب؟ قال : لتلبسها أختها من جلبابها ) .راه البخاري ومسلم .</p>
<p>Dari Ummu Atiyyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata : Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> memerintahkan kami untuk mengeluarkan anak-anak wanita perawan dan wanita-wanita menikah pada hari raya ‘idhul fitri dan ‘adha , adapun wanita-wanita yang haidh mereka menjauh dari tempat shalat dan menyaksikan kebaikan dan da’wah kaum muslimin. Maka saya berkata, ‘Wahai Rasulullah salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab?’ Maka beliau berkata, ‘Hendaknya salah seorang saudaranya meminjamkan jilbabnya.’ (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dan begitu pula para ulama dan mujtahid sejak jaman Rasulullah dan para sahabatnya serta tabi’in hingga para ulama jaman kita sekarang semuanya bersepakat tentang wajibnya hijab (jilbab) yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (menurut sebagian pendapat) bagi wanita.dan menyelisihi atau melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya merupakan penentangan. Padahal Allah <em>ta’ala</em> bersabda :</p>
<p class="arab">وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً</p>
<p>“<em>Barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya setelah datang kebenaran padanya dan mengikuti jalan selain jalannya kaum mu’minin .Kami biarkan dia pada kesesatannya dan Kami masukkan ia kedalam jahannam dan jahannam itru seburuk buruk tempat kembali.” </em>(Qs An Nisa: 115)</p>
<p><strong>Syarat-Syarat Jilbab Syar’i</strong></p>
<ol>
<li>Hendaknya menutupi seluruh tubuh kecuali bagian yang dikecualikan. (terdapat perselisihan diantara para ulama dalam memahami dalil sehingga sebagian ada yang berpendapat bahwa selurah tubuh wanita adalah aurat tanpa terkecuali dan sebagian lagi berpendapat bahwa seluruhnya aurat kecuali wajah dan telapak tangan). Disyaratkan longgar agar lekuk-lekuk tubuh tidak tampak karena ketatnya pakaian.</li>
<li>Bukan pakaian perhiasan (yang dihiasi dengan manik-manik dan yang semacamnya).</li>
<li>Tebal dan tidak transparan sehingga tubuh tidak tampak dari luar.</li>
<li>Tidak ketat sehingga tidak menampakkan bagian-bagian tubuh.</li>
<li>Tidak boleh diberi wewangian atau parfum.</li>
<li>Tidak menyerupai pakaian laki-laki.</li>
<li>Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.</li>
<li>Bukan termasuk pakaian <em>syuhrah</em> (pakaian sensasi yang membuatnya tampil beda dari yang lain )</li>
</ol>
<p><strong>Tabarruj </strong></p>
<p>Termasuk adab-adab yang dijelaskan dalam Al-Qur’an al Karim bagi wanita muslimah yaitu ketika keluar dari rumahnya tidak boleh bertabarruj. Tabarruj yaitu perbuatan wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikan, serta segala sesuatu yang wajib ditutupi yang dapat mengundang syahwat kaum lelaki karena tujuan utama perintah memakai jilbab adalah untuk menutupi perhiasan kaum wanita .</p>
<p>Imam Adz Dzahabi berkata; diantara perbuatan yang menyebabkan seorang wanita terkena laknat adalah dengan sengaja menampakkan perhisan berupa emas, mutiara dan perak yang ada di tubuh mereka dan memakai wewangian tatkala keluar dari rumah, memakai pakain luar yang pendek dan memanjangkan lengan bagian dalamnya. Semua perbuatan ini termasuk dalam kategori tabarruj yang dimurkai Allah <em>ta’ala</em>, pelakunya akan terkena murka-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: Rasulullah bersabda <em>“Aku melihat kedalam neraka ,ternyata aku mendapati penghuninya kebanyakan dari para wanita</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dan sebagian dari wanita-wanita muslimah bahkan ada yang memakai celana panjang, baju panjang yang ketat, warna-warna mencolok atau bahkan menampakkan sebagian anggota tubuhnya seperti rambutnya atau pundaknya padahal bagian tubuh tersebut bagian dari aurat yang harus ditutupinya ketika keluar dari rumahnya. Hal ini mereka lakukan karena mereka tersalah dalam memahami makna dari jilbab syar’i yang sebenarnya atau karena kebodohan dan ketidak fahamannya tentang jilbab itu sendiri. Mungkin dia memakainya hanya sekedar ikut-ikutan tren mode atau dia memakainya kerena merasa terlihat lebih cantik dengan kerudung yang sekedar menghiasi wajahnya.</p>
<p>Oleh karena itu wahai saudariku muslimah hendaknya kita menjaga penampilan kita ketika berada diluar dan di dalam rumah, menjaga kehormatan kita sebagai wanita. Diantara hikmah diperintahkannya kita berhijab dengan hijab yang syar’i adalah agar kehormatan kita sebagai wanita terjaga, terhindar dari fitnah, agar masyarakat islam terwujud dan juga membantu para saudara kita dari kalangan laki-laki untuk menundukkan pandangan mereka .</p>
<p>Dan hendaknya para wanita tidak memakai wewangian ketika keluar dari rumah yang mana wewangian tersebut akan tercium oleh para lelaki sehingga menimbulkan fitnah bagi mereka. Rasulullah <em>‘alaihi shalatu wassalam</em> bersabda ”<em>Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu dia keluar melewati kaum lelaki dan mereka mencium bau wanginya maka dia termasuk wanita pezina’’ </em>Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu.</p>
<p>Dan juga wahai saudariku semoga Allah menjaga kita semua, hendaknya para wanita menjauhi perbuatan menyerupai para wanita wanita kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir akan senang dan gembira melihat para wanita muslimah melakukan hal yang seperti mereka lakukan. Wanita muslimah ini tidaklah sadar bahwa ternyata dia telah menjadi korban misi besar orang-orang kafir yaitu menjauhkkan kaum muslimin dari agamanya sehingga dengan mudah mereka akan menguasainya dan menjajahnya (padahal itulah sebenar benarnya penjajahan). Akan tetapi jika kita berpegang teguh menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya niscaya mereka tidak akan mampu sedikitpun untuk menguasai kita.</p>
<p>Untuk itu sangatlah penting bagi kita semua untuk belajar dan menuntut ilmu syar’i (agama) agar kita tahu dan mengerti tentang hakikat ajaran agama kita yang sebenarnya. Bukan hanya mengambil dan menuntut ilmu agar mendapatkan kedudukan dan kesenangan dunia akan tetapi akhirat itulah yang lebih utama. Bukan pula kita mengambil ilmu agama berdasarkan berita-berita semata sehingga kita tidak mengerti kebenarannya, lalu kita amalkan padahal amalan itu sama sekali bukan bagian dari ajaran agama kita, lalu kita sampaikan pula pada orang lain, lalu dia melaksanakan apa yang kita sampaikan lalu menjadi orang yang sesat dan menyesatkan orang lain. Semoga Allah <em>ta’ala</em> melindungi kita dari segala bentuk kesesatan.</p>
<p>Saudariku muslimah semoga Allah merahmati anda semua. Ketahuilah bahwa pakaian longgar yang dikenakan oleh sebagian dari saudari-saudari kita yang berpegang teguh pada agamanya bukanlah merupakan budaya dari negeri arab, bukan pula sekedar budaya islam, akan tetapi hal itu merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Pakaian itulah hakikat jilbab yang sebenarnya bukan seperti persangkaan sebagian orang dari kalangan kaum muslimin itu sendiri yang menganggap bahwa jilbab yang longgar, yang tertutup seperti yang dikehendaki syariat merupakan sekedar budaya dari arab yang tidak pantas diterapkan di negeri kita ini .</p>
<p>Akan tetapi saudariku fillah, jangan kalian mengira bahwa dengan melaksanakan syariat kita terbebas dari ujian? Tidak saudariku fillah, bahkan kita tidak dikatakan beriman kalau kita belum diuji oleh Allah <em>ta’ala</em>, orang yang berpegang teguh pada ajaran agamanya akan banyak mendapati gangguan ujian dan cobaan ketika dia berusaha menjadi seorang muslimah yang taat pada ajaran agamanya. Dia seperti seorang yang asing ditengah orang orang yang dia kenali, di tengah keluarga yang dia cintai, di tengah masyarakat yang dia kenali dengan baik. Janganlah takut saudariku fillah, janganlah takut akan keterasingan, karena islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah bagi orang-rang yang terasing.</p>
<p>Di samping itu wahai saudariku muslimah hendaknya kalian para wanita muslimah menghiasi diri kalian dengan akhlak karimah agar bersesuian antara akhlak dan hijabnya. Dari hijablah tercermin kepribadian seseorang, dan sungguh tidaklah pantas jika ada wanita muslimah yang berhijab tapi perilakunya tidak mencerminkan kepribadian seorang muslimah yang <em>afifah</em> (menjaga dirinya dan kehormatannya dari perbuatan tercela). Hendaknya wanita muslimah menjaga harga dirinya agar wanita muslimah menjadi seperti sekuntum bunga yang sangat indah, yang menebarkan aroma yang wangi semerbak, dengan parasnya yang cantik secantik akhlak dan perilakunya yang didasari oleh ketaatannya pada <em>Rabb</em>nya.</p>
<p>Semoga Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> senantiasa menjaga dan menberikan kita keistiqomahan dalam menjalankan perintahnya dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya dan menyelamatkan kita dari siksanya didunia terlebih lagi diakhirat kelak.</p>
<p>Salam dan shalawat tercurah pada junjungan kita sebaik baik manusia Muhammad <em>sallallahu ‘alaihi wasallam</em>, dan juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.</p>
<p>***</p>
<p>Muslimah.Or.Id</p>
<p>Penulis: Ustadzah Maryam Ummu Saffanah</p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/lindungi-diri-dengan-jilbab-syari.html"     class="crp_title">Lindungi Diri Dengan Jilbab Syar‘i</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/saudariku-hijab-syari-itulah-pelindungmu-bagian-2.html"     class="crp_title">Saudariku, Hijab Syar’i Itulah Pelindungmu (Bagian 2)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/saudariku-hijab-syari-itulah-pelindungmu-bagian-1.html"     class="crp_title">Saudariku, Hijab Syar’i Itulah Pelindungmu (Bagian 1)</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/boleh-berhias-tapi-etika-berhias-wanita-muslimah.html"     class="crp_title">Boleh Berhias, Tapi &#8230; (Etika Berhias Wanita&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/fikih/aurat-wanita-di-depan-mahramnya-bagian-2.html"     class="crp_title">Aurat Wanita di Depan Mahramnya (Bagian 2)</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/lJwbST2VQ40" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/keluarga/muslimah-kemana-kan-kau-bawa-cantikmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/keluarga/muslimah-kemana-kan-kau-bawa-cantikmu.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kajian Umum Bersama Ustadz Firanda Andirja, MA (Yogyakarta, 6-7 Juni 2013)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/muslimah-or-id/~3/4h7qNQ58bNA/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 May 2013 02:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ypia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=3844</guid>
		<description><![CDATA[Ikutilah Kajian Umum di Yogyakarta Bersama Mahasiswa S3 Universitas Islam Madinah, sekaligus pengisi kajian Islam di Masjid Nabawi Madinah Al-Ustadz Firanda Andirja, MA Waktu Kamis, 6 Juni 2013 Ba&#8217;da Maghrib-Selesai Tempat Masjid Kampus UGM Tema Siapkan Kesabaran Ekstra Dalam Berdakwah Waktu Jumat, 7 Juni 2013 Ba&#8217;da Subuh-Selesai Tempat Masjid Ponpes Jamilurrahman Bantul Tema Menata Hati Merajut Ukhuwwah [...]<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-ilmiyah-bersama-ustadz-firanda-andirja-m-a-20-januari-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Ilmiyah Bersama Ustadz Firanda Andirja, M.A. (20&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html"     class="crp_title">Kajian Bontang 6-7 Juli 2013 Bersama Ustadz Firanda Andirja,</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-badrussalam-lc-31-maret-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ustadz Badrussalam, Lc (31 Maret 2013,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ust-dr-muhammad-nur-ihsan-ma-20-21-april-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ust Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA (20-21&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/mutiara-nasehat-ulama-umat-bersama-syaikh-prof-dr-abdurrazzaq-21-22-april-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Mutiara Nasehat Ulama Umat Bersama Syaikh Prof. Dr.&hellip;</a></li></ul></div>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ikutilah Kajian Umum di Yogyakarta</p>
<p>Bersama <strong>Mahasiswa S3 Universitas Islam Madinah</strong>, sekaligus <strong>pengisi kajian Islam di Masjid Nabawi Madinah</strong><br />
<strong>Al-Ustadz Firanda Andirja, MA</strong></p>
<p><strong>Waktu</strong><br />
Kamis, 6 Juni 2013<br />
Ba&#8217;da Maghrib-Selesai<br />
<strong>Tempat</strong><br />
Masjid Kampus UGM<br />
<strong>Tema</strong><br />
Siapkan Kesabaran Ekstra Dalam Berdakwah</p>
<p><strong>Waktu</strong><br />
Jumat, 7 Juni 2013<br />
Ba&#8217;da Subuh-Selesai<br />
<strong>Tempat</strong><br />
Masjid Ponpes Jamilurrahman Bantul<br />
<strong>Tema</strong><br />
Menata Hati Merajut Ukhuwwah</p>
<p><strong>Waktu</strong><br />
Jumat, 7 Juni 2013 12.45<br />
Ba&#8217;da Shalat Jumat-Selesai<br />
<strong>Tempat</strong><br />
Masjid KH Ahmad Dahlan, Kampus UMY<br />
<strong>Tema</strong><br />
Sahabat Dihujat, Sahabat Dibela&#8221;</p>
<p><strong>Gratis</strong>, Terbuka untuk <strong>Umum</strong><br />
<strong>Putra dan Putri</strong></p>
<p><strong>Kontak</strong><br />
085799205557</p>
<p>Live via <a href="http://radiomuslim.com">www.RadioMuslim.Com</a></p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2013/05/firanda-3.jpg"><img alt="firanda 3" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2013/05/firanda-3.jpg" width="612" height="864" /></a></p>
<div class="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-ilmiyah-bersama-ustadz-firanda-andirja-m-a-20-januari-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Ilmiyah Bersama Ustadz Firanda Andirja, M.A. (20&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/dari-redaksi/kajian-bontang-6-7-juli-2013-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma.html"     class="crp_title">Kajian Bontang 6-7 Juli 2013 Bersama Ustadz Firanda Andirja,</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-badrussalam-lc-31-maret-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ustadz Badrussalam, Lc (31 Maret 2013,&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ust-dr-muhammad-nur-ihsan-ma-20-21-april-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Kajian Umum Bersama Ust Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA (20-21&hellip;</a></li><li><a href="http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/mutiara-nasehat-ulama-umat-bersama-syaikh-prof-dr-abdurrazzaq-21-22-april-2013-yogyakarta.html"     class="crp_title">Mutiara Nasehat Ulama Umat Bersama Syaikh Prof. Dr.&hellip;</a></li></ul></div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/muslimah-or-id/~4/4h7qNQ58bNA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-umum-bersama-ustadz-firanda-andirja-ma-yogyakarta-6-7-juni-2013.html</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss><!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using memcached
Database Caching using memcached
Object Caching 2239/2531 objects using memcached
Content Delivery Network via cdn.muslimah.or.id

 Served from: muslimah.or.id @ 2013-06-18 04:14:42 by W3 Total Cache -->
