<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslimah.or.id</title>
	<atom:link href="https://muslimah.or.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://muslimah.or.id/</link>
	<description>Menggapai Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Aug 2026 03:40:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2024/10/Favicon-Muslimahorid-75x75.webp</url>
	<title>Muslimah.or.id</title>
	<link>https://muslimah.or.id/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menjadi Istri yang Berkah (Bag. 2): ​​Kiat menjadi wanita yang berkah</title>
		<link>https://muslimah.or.id/34531-menjadi-istri-yang-berkah-bag-2.html</link>
					<comments>https://muslimah.or.id/34531-menjadi-istri-yang-berkah-bag-2.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nurur Rohmah Azzahra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2026 04:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslimah.or.id/?p=34531</guid>

					<description><![CDATA[<p>​​Kiat menjadi wanita yang berkah Bermanfaat terutama bagi keluarga (suami dan anak) ​Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji wanita Quraisy karena dua sifat utama yang menjadi sumber keberkahan mereka, خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى طِفْلٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي يَدِهِ “Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita-wanita Quraisy yang salehah: [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslimah.or.id/34531-menjadi-istri-yang-berkah-bag-2.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Menjadi Istri yang Berkah (Bag. 2): ​​Kiat menjadi wanita yang berkah</a> appeared first on <a href="https://muslimah.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslimah.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslimah.or.id/34531-menjadi-istri-yang-berkah-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Istri yang Berkah (Bag. 1)</title>
		<link>https://muslimah.or.id/34528-menjadi-istri-yang-berkah-bag-1.html</link>
					<comments>https://muslimah.or.id/34528-menjadi-istri-yang-berkah-bag-1.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nurur Rohmah Azzahra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2026 04:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslimah.or.id/?p=34528</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pendahuluan: Barometer keterbaikan diri ​Banyak wanita di zaman sekarang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, namun standar terbaik yang mereka kejar acap kali berpatokan pada pandangan manusia, seperti penilaian netizen, komunitas, grup perpesanan, hingga lingkungan alumni. Mereka berlomba-lomba melakukan penataan citra (personal branding) dengan mengenakan atribut dan barang-barang mewah demi mendapatkan pengakuan sosial. ​Secara tabiat, manusia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslimah.or.id/34528-menjadi-istri-yang-berkah-bag-1.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Menjadi Istri yang Berkah (Bag. 1)</a> appeared first on <a href="https://muslimah.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslimah.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslimah.or.id/34528-menjadi-istri-yang-berkah-bag-1.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Nusyūz dalam Islam (Bag. 2): Mengapa Nusyūz Bisa Terjadi?</title>
		<link>https://muslimah.or.id/34517-memahami-nusyuz-2.html</link>
					<comments>https://muslimah.or.id/34517-memahami-nusyuz-2.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Junaidi, S.H., M.H.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2026 04:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslimah.or.id/?p=34517</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengapa nusyūz bisa terjadi? Nusyūz tidak muncul tiba-tiba tanpa sebab. Ia adalah hasil dari akumulasi berbagai faktor yang jika dibiarkan tanpa penanganan, akan menggerogoti fondasi rumah tangga secara perlahan. Para ulama dan pakar keluarga Islam mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menjadi akar munculnya nusyūz. Pertama: Lemahnya fondasi agama dan ketakwaan Ini adalah faktor yang paling mendasar. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslimah.or.id/34517-memahami-nusyuz-2.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Memahami Nusyūz dalam Islam (Bag. 2): Mengapa Nusyūz Bisa Terjadi?</a> appeared first on <a href="https://muslimah.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslimah.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslimah.or.id/34517-memahami-nusyuz-2.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Nusyūz dalam Islam (Bag. 1): Pengertian dan Dalil Nusyūz</title>
		<link>https://muslimah.or.id/34503-memahami-nusyuz-1.html</link>
					<comments>https://muslimah.or.id/34503-memahami-nusyuz-1.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Junaidi, S.H., M.H.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2026 04:00:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslimah.or.id/?p=34503</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pendahuluan Kata nusyūz sudah tidak asing di telinga kaum Muslim, terutama mereka yang pernah mengikuti kajian fikih keluarga atau membaca buku-buku tentang pernikahan. Namun ironisnya, semakin sering kata ini diucapkan, semakin besar pula peluang ia disalahpahami. Sebagian besar masyarakat Muslim, bahkan tidak sedikit di kalangan terpelajar, memahami nusyūz semata sebagai &#8220;kedurhakaan istri kepada suami.&#8221; Akibatnya, kata ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslimah.or.id/34503-memahami-nusyuz-1.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Memahami Nusyūz dalam Islam (Bag. 1): Pengertian dan Dalil Nusyūz</a> appeared first on <a href="https://muslimah.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslimah.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslimah.or.id/34503-memahami-nusyuz-1.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Istri Meminta “Ganti Gaji” untuk Menjadi Ibu Rumah Tangga, Bagaimana Islam Memandangnya? (Bag. 2)</title>
		<link>https://muslimah.or.id/34480-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-2.html</link>
					<comments>https://muslimah.or.id/34480-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-2.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Lisa Almira]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2026 04:00:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslimah.or.id/?p=34480</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa nafkah merupakan kewajiban suami yang harus ditunaikan secara makruf sesuai dengan kemampuan dan keadaan keluarganya. Suami yang mampu tidak boleh menelantarkan nafkah, sementara istri juga hendaknya tidak membebani suami di luar kesanggupannya. Lantas, bagaimana jika persoalannya bukan sekadar nafkah? Bagaimana jika seorang istri yang sebelumnya bekerja diminta untuk berhenti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslimah.or.id/34480-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-2.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Ketika Istri Meminta “Ganti Gaji” untuk Menjadi Ibu Rumah Tangga, Bagaimana Islam Memandangnya? (Bag. 2)</a> appeared first on <a href="https://muslimah.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslimah.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslimah.or.id/34480-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Istri Meminta “Ganti Gaji” untuk Menjadi Ibu Rumah Tangga, Bagaimana Islam Memandangnya? (Bag. 1)</title>
		<link>https://muslimah.or.id/34487-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-1.html</link>
					<comments>https://muslimah.or.id/34487-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-1.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Lisa Almira]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2026 04:00:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga dan Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslimah.or.id/?p=34487</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di masa kini, tidak sedikit wanita yang memiliki pekerjaan dan penghasilan sebelum ataupun setelah menikah. Ada yang bekerja sebagai pedagang, guru, tenaga kesehatan, maupun profesi lainnya. Ketika kemudian suami menghendaki istrinya untuk berada di rumah saja, terkadang muncul pertanyaan: jika istri berhenti bekerja dan kehilangan penghasilannya, apakah ia berhak meminta suami memberikan “ganti gaji”? Persoalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslimah.or.id/34487-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-1.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Ketika Istri Meminta “Ganti Gaji” untuk Menjadi Ibu Rumah Tangga, Bagaimana Islam Memandangnya? (Bag. 1)</a> appeared first on <a href="https://muslimah.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslimah.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslimah.or.id/34487-ketika-istri-meminta-ganti-gaji-untuk-menjadi-ibu-rumah-tangga-bagaimana-islam-memandangnya-bag-1.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Hal yang Perlu Diperhatikan sebelum Memberikan Hukuman Pukulan kepada Anak</title>
		<link>https://muslimah.or.id/34379-sepuluh-hal-yang-perlu-diperhatikan-sebelum-memberikan-hukuman-pukulan-kepada-anak.html</link>
					<comments>https://muslimah.or.id/34379-sepuluh-hal-yang-perlu-diperhatikan-sebelum-memberikan-hukuman-pukulan-kepada-anak.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Firdian Ikhwansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2026 04:00:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan Anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslimah.or.id/?p=34379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mendidik anak tidak selamanya hanya mengedepankan kasih sayang. Kasih sayang memanglah hal yang perlu dikedepankan dalam mendidik anak, tapi harus diimbangi dengan ketegasan. Salah satu sikap tegas yang diperlukan bagi seorang anak adalah hukuman ketika seorang anak melakukan tindakan buruk. Hukuman bagi anak bisa berbentuk banyak hal, bisa berupa menahan hak, seperti mengurangi uang jajan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslimah.or.id/34379-sepuluh-hal-yang-perlu-diperhatikan-sebelum-memberikan-hukuman-pukulan-kepada-anak.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Sepuluh Hal yang Perlu Diperhatikan sebelum Memberikan Hukuman Pukulan kepada Anak</a> appeared first on <a href="https://muslimah.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslimah.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslimah.or.id/34379-sepuluh-hal-yang-perlu-diperhatikan-sebelum-memberikan-hukuman-pukulan-kepada-anak.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
