<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.or.id</title>
	<atom:link href="https://muslim.or.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://muslim.or.id/</link>
	<description>Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Nov 2025 01:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>

<image>
	<url>https://cdnm.muslim.or.id/2022/06/cropped-Favicon-muslimorid-32x32.webp</url>
	<title>Muslim.or.id</title>
	<link>https://muslim.or.id/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Potret Sosial, Ekonomi, dan Akhlak Masyarakat Arab Sebelum Islam</title>
		<link>https://muslim.or.id/109892-potret-sosial-ekonomi-dan-akhlak-masyarakat-arab-sebelum-islam.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=potret-sosial-ekonomi-dan-akhlak-masyarakat-arab-sebelum-islam</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109892-potret-sosial-ekonomi-dan-akhlak-masyarakat-arab-sebelum-islam.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Rianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 04:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109892</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ memiliki kondisi sosial yang khas dan kompleks. Memahami situasi masyarakat pra-Islam sangat penting agar kita mengetahui bagaimana Islam hadir dan membawa perubahan besar di tengah kehidupan mereka. Dalam artikel ini, akan dibahas kondisi sosial, ekonomi, dan akhlak bangsa Arab sebelum datangnya risalah Islam, sebagai latar penting dalam memahami konteks [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109892-potret-sosial-ekonomi-dan-akhlak-masyarakat-arab-sebelum-islam.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Potret Sosial, Ekonomi, dan Akhlak Masyarakat Arab Sebelum Islam</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109892-potret-sosial-ekonomi-dan-akhlak-masyarakat-arab-sebelum-islam.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tujuh Faidah Tarbawiyah dari Ushul Tsalatsah</title>
		<link>https://muslim.or.id/109868-tujuh-faidah-tarbawiyah-dari-ushul-tsalatsah.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tujuh-faidah-tarbawiyah-dari-ushul-tsalatsah</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109868-tujuh-faidah-tarbawiyah-dari-ushul-tsalatsah.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ari Wahyudi, S.Si.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2025 04:00:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109868</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bismillah. Bagi para dai penyeru akidah, nama kitab Ushul Tsalatsah tentu sudah tidak asing. Walaupun judul aslinya yang dimaksud adalah Tsalatsatul Ushul; tiga landasan pokok dalam agama. Kitab atau risalah ini ditulis oleh seorang pembaharu besar Islam di abad ke-12 H; Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi rahimahullah. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang gigih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109868-tujuh-faidah-tarbawiyah-dari-ushul-tsalatsah.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Tujuh Faidah Tarbawiyah dari Ushul Tsalatsah</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109868-tujuh-faidah-tarbawiyah-dari-ushul-tsalatsah.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 26): Al-Amtsilah Al-Khomsah</title>
		<link>https://muslim.or.id/109840-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-26.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-26</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109840-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-26.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rafi Nugraha]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2025 04:00:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109840</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pembahasan ini merupakan lanjutan dari bab i‘rab yang menggunakan tanda cabang (bukan tanda utama seperti dhammah, fathah, atau kasrah) yang ke-6. Setelah sebelumnya dibahas isim maa laa yansharif, kini kita beralih pada jenis kata yang berbeda, yaitu al-amtsilah al-khomsah yang berarti “lima contoh”. Istilah al-amtsilah al-khomsah digunakan untuk menyebut fi‘il mudhari&#8217; (kata kerja sekarang/akan datang) yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109840-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-26.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 26): Al-Amtsilah Al-Khomsah</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109840-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-26.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 5): Menjauhi Majelis Kebatilan, Mengagungkan Firman Allah, dan Perhatian dalam Berdoa</title>
		<link>https://muslim.or.id/109166-sifat-ibadurrahman-bag-5.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sifat-ibadurrahman-bag-5</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109166-sifat-ibadurrahman-bag-5.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Chrisna Tri Hartadi, A. Md.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2025 04:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109166</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaran Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا “Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72) Salah satu akhlak &#8216;ibadurrahman dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109166-sifat-ibadurrahman-bag-5.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 5): Menjauhi Majelis Kebatilan, Mengagungkan Firman Allah, dan Perhatian dalam Berdoa</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109166-sifat-ibadurrahman-bag-5.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Utang Piutang (Bag. 11): Hadiah dari Pengutang untuk Pemberi Utang</title>
		<link>https://muslim.or.id/109953-fikih-utang-piutang-bag-11.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-utang-piutang-bag-11</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109953-fikih-utang-piutang-bag-11.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Zia Abdurrofi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2025 04:00:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109953</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas. Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109953-fikih-utang-piutang-bag-11.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Utang Piutang (Bag. 11): Hadiah dari Pengutang untuk Pemberi Utang</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109953-fikih-utang-piutang-bag-11.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Nama Allah &#8220;Al-Qariib&#8221; dan &#8220;Al-Mujiib&#8221;</title>
		<link>https://muslim.or.id/109949-mengenal-nama-allah-al-qariib-dan-al-mujiib.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengenal-nama-allah-al-qariib-dan-al-mujiib</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109949-mengenal-nama-allah-al-qariib-dan-al-mujiib.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Prasetyo Abu Ka'ab]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 04:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109949</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka. Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109949-mengenal-nama-allah-al-qariib-dan-al-mujiib.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Mengenal Nama Allah &#8220;Al-Qariib&#8221; dan &#8220;Al-Mujiib&#8221;</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109949-mengenal-nama-allah-al-qariib-dan-al-mujiib.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hubungan antara Takwa dengan Akhlak Mulia</title>
		<link>https://muslim.or.id/109866-hubungan-antara-takwa-dengan-akhlak-mulia.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=hubungan-antara-takwa-dengan-akhlak-mulia</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109866-hubungan-antara-takwa-dengan-akhlak-mulia.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ari Wahyudi, S.Si.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2025 04:00:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109866</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hubungan antara takwa dengan akhlak yang mulia Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani) Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109866-hubungan-antara-takwa-dengan-akhlak-mulia.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Hubungan antara Takwa dengan Akhlak Mulia</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109866-hubungan-antara-takwa-dengan-akhlak-mulia.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar</title>
		<link>https://muslim.or.id/109844-mengenal-bagaimana-rasululullah-duduk-dan-bersandar.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengenal-bagaimana-rasululullah-duduk-dan-bersandar</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109844-mengenal-bagaimana-rasululullah-duduk-dan-bersandar.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Firdian Ikhwansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2025 04:00:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109844</guid>

					<description><![CDATA[<p>Duduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar? Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109844-mengenal-bagaimana-rasululullah-duduk-dan-bersandar.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109844-mengenal-bagaimana-rasululullah-duduk-dan-bersandar.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Akibat Lalai Terhadap Waktu</title>
		<link>https://muslim.or.id/109842-akibat-lalai-terhadap-waktu.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=akibat-lalai-terhadap-waktu</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109842-akibat-lalai-terhadap-waktu.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzan Hidayat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2025 04:00:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109842</guid>

					<description><![CDATA[<p>Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya. Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109842-akibat-lalai-terhadap-waktu.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Akibat Lalai Terhadap Waktu</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109842-akibat-lalai-terhadap-waktu.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kaidah Fikih: Jenis Kaidah Fikih dan Tingkatannya</title>
		<link>https://muslim.or.id/109836-kaidah-fikih-jenis-kaidah-fikih-dan-tingkatannya.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kaidah-fikih-jenis-kaidah-fikih-dan-tingkatannya</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109836-kaidah-fikih-jenis-kaidah-fikih-dan-tingkatannya.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Zia Abdurrofi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2025 04:00:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109836</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam kaidah fikih, terdapat banyak sekali kaidah-kaidah yang diberikan oleh para ulama. Sebagaimana yang telah diketahui, tujuan dari hal tersebut adalah untuk memudahkan penuntut ilmu dalam memahami permasalahan-permasalahan ilmu fikih. Berangkat dari hal tersebut, ilmu kaidah fikih itu sendiri terdapat jenis-jenis dan tingkatan-tingkatannya, tidak hanya pada satu jenis atau satu tingkatan saja. Secara garis besar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109836-kaidah-fikih-jenis-kaidah-fikih-dan-tingkatannya.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Kaidah Fikih: Jenis Kaidah Fikih dan Tingkatannya</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109836-kaidah-fikih-jenis-kaidah-fikih-dan-tingkatannya.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beginilah Gambaran Surga dan Neraka</title>
		<link>https://muslim.or.id/109710-beginilah-gambaran-surga-dan-neraka.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=beginilah-gambaran-surga-dan-neraka</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109710-beginilah-gambaran-surga-dan-neraka.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2025 04:00:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109710</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap insan yang beriman tentu meyakini bahwa kehidupan dunia ini bukanlah tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, tempat manusia diuji dengan ketaatan dan kesabaran sebelum menuju tempat kembali yang abadi: surga atau neraka. Dua tempat ini bukan sekadar kisah simbolik, melainkan realita yang pasti terjadi, sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah shallallahu alaihi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109710-beginilah-gambaran-surga-dan-neraka.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Beginilah Gambaran Surga dan Neraka</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109710-beginilah-gambaran-surga-dan-neraka.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Argumentasi Atas Tuduhan bahwa Syariat Islam Itu Kejam</title>
		<link>https://muslim.or.id/109701-argumentasi-atas-tuduhan-bahwa-syariat-islam-itu-kejam.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=argumentasi-atas-tuduhan-bahwa-syariat-islam-itu-kejam</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109701-argumentasi-atas-tuduhan-bahwa-syariat-islam-itu-kejam.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Glenshah Fauzi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2025 04:00:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109701</guid>

					<description><![CDATA[<p>Syariat Islam memiliki ragam bentuk pengaplikasian dalam merespon kondisi umat. Mulai dari himbauan penuh kelembutan hingga hukuman yang bersifat tegas. Semua bentuk syariat ini memiliki hikmah untuk perbaikan umat manusia. Imam Al &#8216;Izz bin Abdissalam rahimahullah berkata, إن الشريعة كلها مصالح؛ إمَّا درء مفاسد، أو جلب مصالح “Sesungguhnya seluruh syariat adalah untuk tujuan maslahat, baik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109701-argumentasi-atas-tuduhan-bahwa-syariat-islam-itu-kejam.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Argumentasi Atas Tuduhan bahwa Syariat Islam Itu Kejam</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109701-argumentasi-atas-tuduhan-bahwa-syariat-islam-itu-kejam.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 25): Isim Maa Laa Yansharif</title>
		<link>https://muslim.or.id/109695-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-25.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-25</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109695-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-25.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rafi Nugraha]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2025 04:00:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109695</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kelanjutan dari pembahasan isim yang di-i‘rab dengan tanda cabang pada artikel ini berfokus pada isim kelima, yaitu isim maa la yansharif. Isim ini memiliki keistimewaan karena tidak menerima tanwin dan pada posisi majrur ditandai dengan fathah, bukan kasrah, kecuali dalam keadaan tertentu. Kekhususan tersebut menunjukkan betapa sistem i‘rab dalam bahasa Arab tidak hanya bersandar pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109695-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-25.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 25): Isim Maa Laa Yansharif</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109695-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-25.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 8): Menjauh Sejenak dari Titik Perselisihan</title>
		<link>https://muslim.or.id/109155-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-8.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-8</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109155-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-8.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Glenshah Fauzi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2025 04:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Majelis ilmu dan seruan dakwah melekat dalam kehidupan kaum muslimin di era modern ini. Di masa lalu, masyarakat diikat dengan pertalian surau, masjid, ataupun juga majelis wirid. Koneksi masyarakat tersebut sempat bergeser di masa-masa setelahnya. Namun, di masa kini, kita mendapati bahwa majelis ilmu telah menjadi pertalian baru di komunitas muslim, baik pedesaan maupun perkotaan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109155-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-8.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 8): Menjauh Sejenak dari Titik Perselisihan</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109155-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-8.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 24): Jama’ Muannats Salim (Lanjutan)</title>
		<link>https://muslim.or.id/109158-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-24.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-24</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109158-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-24.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rafi Nugraha]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2025 04:00:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109158</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jama’ muannats salim (lanjutan) Materi ini merupakan lanjutan pembahasan tentang Jama’ muannats salim. Setelah sebelumnya mempelajari pengertian, ciri, dan i’rab Jama’ muannats salim, pada bagian ini kita akan membahas bentuk-bentuk kata yang mirip, namun tidak termasuk ke dalam kategori tersebut. Pembahasan akan mencakup perbedaan antara alif atau taa’ asli dengan alif atau taa’ tambahan, serta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109158-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-24.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 24): Jama’ Muannats Salim (Lanjutan)</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109158-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-24.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan</title>
		<link>https://muslim.or.id/109699-nasihat-untukmu-yang-selalu-merasa-gagal-dalam-kehidupan.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=nasihat-untukmu-yang-selalu-merasa-gagal-dalam-kehidupan</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109699-nasihat-untukmu-yang-selalu-merasa-gagal-dalam-kehidupan.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Oct 2025 04:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109699</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti pernah merasakan yang namanya gagal: gagal mencapai cita-cita, gagal dalam berusaha, atau gagal mewujudkan harapan yang telah lama diperjuangkan. Kegagalan sering kali membuat hati goyah, semangat menurun, bahkan tidak jarang menimbulkan perasaan putus asa. Padahal, di balik setiap kegagalan tersimpan pelajaran berharga dan rahmat Allah yang tersembunyi. Islam tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109699-nasihat-untukmu-yang-selalu-merasa-gagal-dalam-kehidupan.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109699-nasihat-untukmu-yang-selalu-merasa-gagal-dalam-kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lima Penyakit Hati yang Paling Membinasakan</title>
		<link>https://muslim.or.id/109697-lima-penyakit-hati-yang-paling-membinasakan.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=lima-penyakit-hati-yang-paling-membinasakan</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109697-lima-penyakit-hati-yang-paling-membinasakan.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Chrisna Tri Hartadi, A. Md.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2025 04:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109697</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hati memiliki kedudukan yang sangat agung dan mulia, karena ia merupakan pusat kehidupan seseorang sekaligus sumber penggerak bagi seluruh amal seorang manusia. Hati bukan sekadar segumpal daging di dalam dada, tetapi ia adalah tempat bersemayamnya iman, niat, keikhlasan, serta dorongan yang menentukan baik buruknya setiap perbuatan. Para ulama menyebut hati sebagai malikul a‘dha (rajanya anggota [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109697-lima-penyakit-hati-yang-paling-membinasakan.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Lima Penyakit Hati yang Paling Membinasakan</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109697-lima-penyakit-hati-yang-paling-membinasakan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dinamika Kehidupan Muslim di Daejeon, Korea Selatan</title>
		<link>https://muslim.or.id/109656-dinamika-kehidupan-muslim-di-daejeon-korea-selatan-bag-1.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dinamika-kehidupan-muslim-di-daejeon-korea-selatan-bag-1</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109656-dinamika-kehidupan-muslim-di-daejeon-korea-selatan-bag-1.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Muslim.or.id]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2025 04:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109656</guid>

					<description><![CDATA[<p>Daejeon (대전) adalah salah satu kota metropolitan terbesar kelima di Korea Selatan. Setelah tahun 1980-an, dipilih pemerintah sebagai lokasi Daedeok Innopolis (대덕연구단지) atau dengan kata lain kompleks riset nasional. Mungkin karena alasan itulah, Daejeon memiliki julukan kota sains karena menjadi pusat riset, teknologi, dan pendidikan tinggi. Sebagai salah satu pusat riset terbesar di Korea, kota [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109656-dinamika-kehidupan-muslim-di-daejeon-korea-selatan-bag-1.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Dinamika Kehidupan Muslim di Daejeon, Korea Selatan</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109656-dinamika-kehidupan-muslim-di-daejeon-korea-selatan-bag-1.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Hibah (Bag. 7): Catatan Seputar Hibah Kepada Ahli Waris</title>
		<link>https://muslim.or.id/109615-fikih-hibah-bag-7.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-hibah-bag-7</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109615-fikih-hibah-bag-7.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2025 04:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109615</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam praktik muamalah umat Islam, hibah menjadi salah satu instrumen penting dalam membagikan harta secara sukarela ketika seseorang masih hidup. Ketika hibah diarahkan kepada ahli waris, maka persoalan menjadi lebih kompleks. Sebab, di satu sisi, Islam membolehkan seseorang meng-hibahkan hartanya semasa hidup; tetapi di sisi lain, syariat juga mengatur pembagian warisan (faraidh) secara ketat setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109615-fikih-hibah-bag-7.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Hibah (Bag. 7): Catatan Seputar Hibah Kepada Ahli Waris</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109615-fikih-hibah-bag-7.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Zikir dan Ketenangan Hati</title>
		<link>https://muslim.or.id/109601-zikir-dan-ketenangan-hati.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=zikir-dan-ketenangan-hati</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109601-zikir-dan-ketenangan-hati.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzan Hidayat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2025 04:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Doa dan Zikir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109601</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap manusia mendambakan ketenangan hati. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, popularitas, bahkan hiburan. Namun semakin dicari pada selain Allah, hati justru semakin gelisah. Betapa banyak orang yang bergelimang harta tetapi gelisah, sebaliknya ada orang yang sederhana namun wajahnya berseri karena hatinya tenang bersama Allah. Ketenangan hakiki bukanlah hasil materi, melainkan buah dari iman dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109601-zikir-dan-ketenangan-hati.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Zikir dan Ketenangan Hati</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109601-zikir-dan-ketenangan-hati.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tidak Menunda-Nunda Kebaikan: Hikmah dari Dua Ayat Terakhir Surah Al-Insyirah</title>
		<link>https://muslim.or.id/109599-tidak-menunda-nunda-kebaikan-hikmah-dari-dua-ayat-terakhir-surah-al-insyirah.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tidak-menunda-nunda-kebaikan-hikmah-dari-dua-ayat-terakhir-surah-al-insyirah</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109599-tidak-menunda-nunda-kebaikan-hikmah-dari-dua-ayat-terakhir-surah-al-insyirah.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2025 04:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hidup ini hanyalah rangkaian detik yang terus berjalan tanpa pernah kembali. Betapa sering kita menunda untuk berbuat baik dengan alasan, “Nanti saja kalau ada waktu, nanti kalau sudah siap, nanti kalau sudah sempat.” Namun, siapa yang bisa menjamin “nanti” itu akan datang? Bisa jadi kesempatan itu hilang, umur kita berakhir, atau hati kita berubah. Setiap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109599-tidak-menunda-nunda-kebaikan-hikmah-dari-dua-ayat-terakhir-surah-al-insyirah.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Tidak Menunda-Nunda Kebaikan: Hikmah dari Dua Ayat Terakhir Surah Al-Insyirah</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109599-tidak-menunda-nunda-kebaikan-hikmah-dari-dua-ayat-terakhir-surah-al-insyirah.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Hibah (Bag. 6): Hal-Hal yang Menghalangi Pengambilan Kembali Hibah (Perspektif Mazhab Hanafi)</title>
		<link>https://muslim.or.id/109540-fikih-hibah-bag-6.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-hibah-bag-6</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109540-fikih-hibah-bag-6.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2025 04:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109540</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada pembahasan sebelumnya, telah kita pelajari perbedaan pendapat ulama mengenai hukum penarikan kembali hibah. Mazhab Hanafi berpendapat hibah tidak bersifat mengikat. Pemberi boleh menarik kembali hibahnya selama penerima belum memberikan balasan (‘iwadh). Mereka berdalil dengan hadis (mauquf pada Umar bin Khattab) yang menyatakan, “Pemberi hibah lebih berhak terhadap hibahnya selama belum diberi balasan.” (Diriwayatkan oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109540-fikih-hibah-bag-6.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Hibah (Bag. 6): Hal-Hal yang Menghalangi Pengambilan Kembali Hibah (Perspektif Mazhab Hanafi)</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109540-fikih-hibah-bag-6.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 8): Masuknya Yahudi, Kristen, Majusi, dan Shabi’ah ke Jazirah Arab</title>
		<link>https://muslim.or.id/109494-jazirah-arab-dalam-sejarah-bag-8.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jazirah-arab-dalam-sejarah-bag-8</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109494-jazirah-arab-dalam-sejarah-bag-8.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Rianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2025 04:00:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109494</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada pertemuan sebelumnya, kita telah menyinggung tentang agama mayoritas penduduk Jazirah Arab. Dalam artikel ini, kita akan mengulas berbagai agama yang masuk dan berkembang di Jazirah Arab sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalām pernah menjadi kepercayaan utama, seiring berjalannya waktu, banyak penyimpangan yang dibuat. Dalam kondisi itu, berbagai agama lain [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109494-jazirah-arab-dalam-sejarah-bag-8.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 8): Masuknya Yahudi, Kristen, Majusi, dan Shabi’ah ke Jazirah Arab</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109494-jazirah-arab-dalam-sejarah-bag-8.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahaya Mengikuti Tren Media Sosial</title>
		<link>https://muslim.or.id/109170-bahaya-mengikuti-tren-media-sosial.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bahaya-mengikuti-tren-media-sosial</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109170-bahaya-mengikuti-tren-media-sosial.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gazzeta Raka Putra Setyawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2025 04:00:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia. Setiap hari, jutaan orang membagikan kehidupannya, mengikuti tren, dan berlomba-lomba mengejar popularitas dunia maya. Platform seperti Facebook, TikTok, Instagram, dan YouTube bukan hanya menjadi tempat berbagi, namun telah menjadi arena untuk berlomba-lomba menjadi populer. Sayangnya, banyak dari tren [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109170-bahaya-mengikuti-tren-media-sosial.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Bahaya Mengikuti Tren Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109170-bahaya-mengikuti-tren-media-sosial.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biografi Imam Ad-Darimi</title>
		<link>https://muslim.or.id/109492-biografi-imam-ad-darimi.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=biografi-imam-ad-darimi</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109492-biografi-imam-ad-darimi.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gazzeta Raka Putra Setyawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2025 04:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109492</guid>

					<description><![CDATA[<p>Nama, kunyah, dan nisbah-nya Beliau adalah Imam, Syekhul Islam, salah satu dari imam besar, al-Hafizh al-Hujjah, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin al-Fadhl bin Bahram bin ‘Abdush-Shamad ad-Darimi at-Tamimi as-Samarqandi. [1] Kunyah-nya, Abu Muhammad. Kunyah ini disebutkan oleh Ibnu Hibban [2] dan begitu pula oleh adz-Dzahabi. [3] Nisbah-nya, Ad-Darimi, dengan huruf dāl berharakat fathah, huruf alif sukun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109492-biografi-imam-ad-darimi.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Biografi Imam Ad-Darimi</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109492-biografi-imam-ad-darimi.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbakti Kepada Kedua Orang Tua adalah Kewajiban Anak Seumur Hidupnya</title>
		<link>https://muslim.or.id/109490-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-adalah-kewajiban-anak-seumur-hidupnya.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=berbakti-kepada-kedua-orang-tua-adalah-kewajiban-anak-seumur-hidupnya</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109490-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-adalah-kewajiban-anak-seumur-hidupnya.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 04:00:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109490</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban setiap insan, serta salah satu ibadah yang paling mulia di sisi Allah. Allah Ta’ala telah menyandingkan perintah berbakti kepada orang tua dengan perintah tauhid dan ibadah kepada-Nya. Allah juga menyandingkan hak mereka dengan hak-Nya. Allah berfirman, وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109490-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-adalah-kewajiban-anak-seumur-hidupnya.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Berbakti Kepada Kedua Orang Tua adalah Kewajiban Anak Seumur Hidupnya</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109490-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-adalah-kewajiban-anak-seumur-hidupnya.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Asas agar Selamat dari Kesesatan</title>
		<link>https://muslim.or.id/109457-tiga-asas-agar-selamat-dari-kesesatan.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tiga-asas-agar-selamat-dari-kesesatan</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109457-tiga-asas-agar-selamat-dari-kesesatan.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Glenshah Fauzi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2025 04:00:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109457</guid>

					<description><![CDATA[<p>Keadaan akhir zaman membuat manusia selalu diterpa syubhat yang tersebar di berbagai media. Kemudahan akses teknologi menyebabkan para penyeru kesesatan memiliki ruang untuk membagikan pemikiran sesat mereka. Malah keadaan media saat ini dikuasai oleh para penyeru kesesatan. Karena mereka tidak memiliki batasan dalam menggunakan media, sehingga mereka gencar sekali membuat konten atau diundang untuk menyampaikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109457-tiga-asas-agar-selamat-dari-kesesatan.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Tiga Asas agar Selamat dari Kesesatan</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109457-tiga-asas-agar-selamat-dari-kesesatan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Utang Piutang (Bag. 10): Utang yang Mendatangkan Manfaat atau Keuntungan</title>
		<link>https://muslim.or.id/109455-fikih-utang-piutang-bag-10.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-utang-piutang-bag-10</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109455-fikih-utang-piutang-bag-10.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Zia Abdurrofi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2025 04:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109455</guid>

					<description><![CDATA[<p>Terdapat pembahasan yang tidak kalah penting terkait dengan fikih utang piutang. Pembahasan yang seringkali jadi pertanyaan besar di sebagian benak seseorang. Boleh tidak sih sebenarnya menerima pembayaran lebih dari pengutang? Bukannya itu riba&#8230;? Bolehkah mengambil keuntungan dari utang piutang? Terlebih ada kaidah yang menyebutkan bahwasanya, كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ الرِّبَا “Setiap utang piutang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109455-fikih-utang-piutang-bag-10.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Utang Piutang (Bag. 10): Utang yang Mendatangkan Manfaat atau Keuntungan</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109455-fikih-utang-piutang-bag-10.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kaidah Fikih: Faidah Mengenal dan Mempelajari Kaidah Fikih</title>
		<link>https://muslim.or.id/109435-kaidah-fikih-faidah-mengenal-dan-mempelajari-kaidah-fikih.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kaidah-fikih-faidah-mengenal-dan-mempelajari-kaidah-fikih</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109435-kaidah-fikih-faidah-mengenal-dan-mempelajari-kaidah-fikih.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Zia Abdurrofi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2025 04:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109435</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tentu, di setiap cabang ilmu terdapat faidah yang dapat diperoleh dari mempelajarinya, tidak terkecuali kaidah fikih. Pada ilmu ini pun terdapat faidah-faidah yang dapat diperoleh ketika seseorang mempelajari ilmu ini. Selain mempelajari ilmu fikih, tentunya sangat pas jika ilmu kaidah fikih ini digandengkan dengan mempelajari ilmu fikih itu sendiri. Faidah mempelajari ilmu kaidah fikih Faidah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109435-kaidah-fikih-faidah-mengenal-dan-mempelajari-kaidah-fikih.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Kaidah Fikih: Faidah Mengenal dan Mempelajari Kaidah Fikih</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109435-kaidah-fikih-faidah-mengenal-dan-mempelajari-kaidah-fikih.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sifat &#8216;Ibadurrahman (Bag. 4): Sikap Pertengahan dalam Membelanjakan Harta dan Menjauhi Dosa Besar</title>
		<link>https://muslim.or.id/109164-sifat-ibadurrahman-bag-4.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sifat-ibadurrahman-bag-4</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109164-sifat-ibadurrahman-bag-4.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Chrisna Tri Hartadi, A. Md.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2025 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109164</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bersikap pertengahan dalam membelanjakan harta, tidak berlebih-lebihan, namun juga tidak pelit Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al-Furqan: 67) Termasuk sifat hamba-hamba [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109164-sifat-ibadurrahman-bag-4.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Sifat &#8216;Ibadurrahman (Bag. 4): Sikap Pertengahan dalam Membelanjakan Harta dan Menjauhi Dosa Besar</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109164-sifat-ibadurrahman-bag-4.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Catatan untuk Kita, Pelajar Seumur Hidup yang Tidak Suka Digurui</title>
		<link>https://muslim.or.id/109160-catatan-untuk-kita-pelajar-seumur-hidup-yang-tidak-suka-digurui.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=catatan-untuk-kita-pelajar-seumur-hidup-yang-tidak-suka-digurui</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109160-catatan-untuk-kita-pelajar-seumur-hidup-yang-tidak-suka-digurui.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Reza Mahendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2025 04:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109160</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebutan lifelong learner kian ramai menghiasi biografi akun media sosial, sebuah kabar baik yang menandakan semakin banyak orang menerima pentingnya menjadi pelajar seumur hidup. Di saat yang sama, tidak sedikit pula yang mendambakan sosok guru ataupun ustaz yang “tidak menggurui” sebagai sosok favorit dalam mencari ilmu. Hal ini bukan hanya berlaku di dunia pendidikan, tetapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109160-catatan-untuk-kita-pelajar-seumur-hidup-yang-tidak-suka-digurui.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Catatan untuk Kita, Pelajar Seumur Hidup yang Tidak Suka Digurui</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109160-catatan-untuk-kita-pelajar-seumur-hidup-yang-tidak-suka-digurui.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 7): Tawaduk, Moderat, dan Tak Melampaui Batas</title>
		<link>https://muslim.or.id/109153-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-7.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-7</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109153-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-7.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Glenshah Fauzi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2025 04:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109153</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seringkali dalam momen perselisihan itu didasari oleh perasaan ingin meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Sehingga semua pendapat ingin diselisihi dalam rangka mengesankan diri berpengetahuan atau yang lainnya. Maka, kunci dari hal ini adalah menekankan ketawadukan. Ketawadukan adalah sikap menempatkan diri sesuai dengan posisinya atau sedikit lebih rendah. Sebagaimana yang dihimpun oleh Al-Jahizh rahimahullah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109153-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-7.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 7): Tawaduk, Moderat, dan Tak Melampaui Batas</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109153-asas-dakwah-dan-menghadapi-perselisihan-bag-7.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setiap Orang Memiliki Potensi Berbeda untuk Meraih Surga</title>
		<link>https://muslim.or.id/109151-setiap-orang-memiliki-potensi-berbeda-untuk-meraih-surga.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=setiap-orang-memiliki-potensi-berbeda-untuk-meraih-surga</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109151-setiap-orang-memiliki-potensi-berbeda-untuk-meraih-surga.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Oct 2025 04:00:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109151</guid>

					<description><![CDATA[<p>Allah Ta&#8217;ala ketika menciptakan manusia itu berbeda-beda dari berbagai sisi, baik sifat, fisik, termasuk perbedaan dalam hal potensi. Ada yang potensinya pada kekayaan, kekuatan, kecerdasan, atau keahlian tertentu. Dan masing-masing dari kita berusaha memahami potensi tersebut dan memaksimalkannya untuk kebaikan serta meraih surga Allah Ta&#8217;ala. Allah Ta&#8217;ala berfirman, قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ &#8220;Sungguh setiap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109151-setiap-orang-memiliki-potensi-berbeda-untuk-meraih-surga.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Setiap Orang Memiliki Potensi Berbeda untuk Meraih Surga</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109151-setiap-orang-memiliki-potensi-berbeda-untuk-meraih-surga.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat</title>
		<link>https://muslim.or.id/109345-bacaan-tasbih-tahmid-dan-takbir-pada-zikir-setelah-salat.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bacaan-tasbih-tahmid-dan-takbir-pada-zikir-setelah-salat</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109345-bacaan-tasbih-tahmid-dan-takbir-pada-zikir-setelah-salat.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Firdian Ikhwansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2025 04:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Doa dan Zikir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109345</guid>

					<description><![CDATA[<p>Zikir merupakan salah satu ibadah harian yang sering kita lakukan. Salah satu jenis zikir yang pasti kita rutinkan setiap harinya adalah zikir setelah salat. Di antara bacaan zikir yang dibaca pada zikir setelah salat adalah tasbih, tahmid, dan takbir. Akan tetapi, sudah tahukah kita apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109345-bacaan-tasbih-tahmid-dan-takbir-pada-zikir-setelah-salat.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109345-bacaan-tasbih-tahmid-dan-takbir-pada-zikir-setelah-salat.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Utang Piutang (Bag. 9): Faidah-Faidah dari Ayat Utang Piutang</title>
		<link>https://muslim.or.id/109340-fikih-utang-piutang-bag-9.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-utang-piutang-bag-9</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109340-fikih-utang-piutang-bag-9.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Zia Abdurrofi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2025 04:00:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagaimana yang telah diketahui, Al-Qur&#8217;an adalah salah satu di antara mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya terdapat banyak sekali pelajaran, sebagai kitab yang menunjukkan hamba-hamba yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman, الۤمّۤ ۚ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ “Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109340-fikih-utang-piutang-bag-9.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Utang Piutang (Bag. 9): Faidah-Faidah dari Ayat Utang Piutang</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109340-fikih-utang-piutang-bag-9.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Hibah (Bag. 5): Bolehkah Menarik Kembali Pemberian Hibah? (Konsekuensi Hukum Akad Hibah)</title>
		<link>https://muslim.or.id/109323-fikih-hibah-bag-5.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-hibah-bag-5</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109323-fikih-hibah-bag-5.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2025 04:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hibah merupakan salah satu cara Islam mengajarkan kita untuk saling berbagi dan mempererat hubungan. Namun, dalam praktiknya tidak jarang muncul persoalan ketika pemberi hibah ingin menarik kembali pemberiannya dengan berbagai alasan, seperti kebutuhan mendesak karena rasa tidak adil dalam pemberian kepada anak-anak, atau karena adanya perubahan hubungan sosial. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah Islam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109323-fikih-hibah-bag-5.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Hibah (Bag. 5): Bolehkah Menarik Kembali Pemberian Hibah? (Konsekuensi Hukum Akad Hibah)</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109323-fikih-hibah-bag-5.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah</title>
		<link>https://muslim.or.id/109293-mengenal-sifat-tawaduk-rasulullah.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengenal-sifat-tawaduk-rasulullah</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109293-mengenal-sifat-tawaduk-rasulullah.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Firdian Ikhwansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2025 04:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109293</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tawaduk adalah lemah lembut dalam bersikap, merendahkan hati, berperilaku baik ketika berinteraksi dengan orang lain, serta menjauhi sikap sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Tawaduk merupakan salah satu sifat yang tampak pada jelas pada akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimanakah sifat tawaduk Rasulullah dalam kesehariannya? Tawaduk merupakan suatu sifat yang mulia. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109293-mengenal-sifat-tawaduk-rasulullah.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109293-mengenal-sifat-tawaduk-rasulullah.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Utang Piutang (Bag. 8): Mengembalikan Utang atau Pinjaman</title>
		<link>https://muslim.or.id/109162-fikih-utang-piutang-bag-8.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-utang-piutang-bag-8</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109162-fikih-utang-piutang-bag-8.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Zia Abdurrofi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2025 04:00:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam masalah utang piutang, tentunya setelah pihak pengutang meminjam, maka wajib bagi pengutang untuk mengembalikan utangnya. Pada pembahasan kali ini, akan diketahui tentang pengembalian utang dan tata cara pengembalian utang. Mengembalikan utang atau pinjaman [1] Tidak diwajibkan sejatinya bagi orang yang meminjam (muqtaridh) untuk mengembalikan barang pinjaman itu sendiri (secara fisik), karena barang yang dipinjam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109162-fikih-utang-piutang-bag-8.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Utang Piutang (Bag. 8): Mengembalikan Utang atau Pinjaman</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109162-fikih-utang-piutang-bag-8.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Hibah (Bag. 4): Syarat-Syarat Hibah</title>
		<link>https://muslim.or.id/109143-fikih-hibah-bag-4.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-hibah-bag-4</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109143-fikih-hibah-bag-4.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2025 04:00:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hibah memiliki kedudukan penting, baik dalam ranah ibadah maupun muamalah, karena ia mempererat persaudaraan, menumbuhkan rasa saling cinta, serta menjaga keharmonisan keluarga dan masyarakat. Namun, agar hibah benar-benar sah dan bernilai ibadah, syariat Islam menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh pemberi, penerima, barang yang dihibahkan, serta sighah akad yang mengikat keduanya. Syarat-syarat ini tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109143-fikih-hibah-bag-4.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Hibah (Bag. 4): Syarat-Syarat Hibah</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109143-fikih-hibah-bag-4.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Derajat Hadis: “Sebaik-Baik Perkara adalah yang Pertengahan”</title>
		<link>https://muslim.or.id/108732-derajat-hadis-sebaik-baik-perkara-adalah-yang-pertengahan.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=derajat-hadis-sebaik-baik-perkara-adalah-yang-pertengahan</link>
					<comments>https://muslim.or.id/108732-derajat-hadis-sebaik-baik-perkara-adalah-yang-pertengahan.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzan Hidayat]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2025 04:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=108732</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan: Bagaimana kesahihan hadis ini: خير الأمور أوسطها ”Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan”? Jawaban: Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan sahabatnya. Hadis yang diriwayatkan, خير الأمور أوسطها ”Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan”; adalah tidak sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini hanyalah perkataan para ahli hikmah, sebagaimana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/108732-derajat-hadis-sebaik-baik-perkara-adalah-yang-pertengahan.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Derajat Hadis: “Sebaik-Baik Perkara adalah yang Pertengahan”</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/108732-derajat-hadis-sebaik-baik-perkara-adalah-yang-pertengahan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teks Khotbah Jumat: Jangan Lalai Selagi Masih Ada Kesempatan</title>
		<link>https://muslim.or.id/109069-teks-khotbah-jumat-jangan-lalai-selagi-masih-ada-kesempatan.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=teks-khotbah-jumat-jangan-lalai-selagi-masih-ada-kesempatan</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109069-teks-khotbah-jumat-jangan-lalai-selagi-masih-ada-kesempatan.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2025 04:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khotbah Jum'at]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109069</guid>

					<description><![CDATA[<p>Khotbah pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109069-teks-khotbah-jumat-jangan-lalai-selagi-masih-ada-kesempatan.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Teks Khotbah Jumat: Jangan Lalai Selagi Masih Ada Kesempatan</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109069-teks-khotbah-jumat-jangan-lalai-selagi-masih-ada-kesempatan.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menganalisis Strategi Empat Arah Misi Penyesatan Iblis</title>
		<link>https://muslim.or.id/109041-menganalisis-strategi-empat-arah-misi-penyesatan-iblis.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=menganalisis-strategi-empat-arah-misi-penyesatan-iblis</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109041-menganalisis-strategi-empat-arah-misi-penyesatan-iblis.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abdurrahman Waridi Sarpad]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2025 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109041</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jalan hidup manusia adalah jalan yang tidak pernah mulus, dalam banyak artian dan penafsiran. Terutama dalam jalan menuju Tuhannya, ada Iblis dan bala tentaranya yang selalu mengincar dari segala penjuru dan bersiap menyerang, menjauhkannya dari jalan lurus yang benar. Semuanya bermula dari kejadian pasca penolakan Iblis bersujud kepada Adam ‘alaihissalam yang menjadi titik tolak permusuhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109041-menganalisis-strategi-empat-arah-misi-penyesatan-iblis.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Menganalisis Strategi Empat Arah Misi Penyesatan Iblis</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109041-menganalisis-strategi-empat-arah-misi-penyesatan-iblis.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Konsep Keadilan dalam Syariat Poligami Menurut Al-Qur’an</title>
		<link>https://muslim.or.id/109039-konsep-keadilan-dalam-syariat-poligami-menurut-al-quran.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=konsep-keadilan-dalam-syariat-poligami-menurut-al-quran</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109039-konsep-keadilan-dalam-syariat-poligami-menurut-al-quran.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[dr. Adika Mianoki, Sp.S.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2025 04:00:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109039</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pendahuluan Poligami adalah bagian dari syariat Islam. Islam membolehkan seorang suami untuk menikah dengan empat wanita dalam satu waktu. Hal ini Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ “Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.“ (QS. An-Nisa’: 3) Salah satu syarat yang harus dipenuhi ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109039-konsep-keadilan-dalam-syariat-poligami-menurut-al-quran.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Konsep Keadilan dalam Syariat Poligami Menurut Al-Qur’an</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109039-konsep-keadilan-dalam-syariat-poligami-menurut-al-quran.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 23): Jama’ Muannats Salim</title>
		<link>https://muslim.or.id/108596-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-23-jama-muannats-salim.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-23-jama-muannats-salim</link>
					<comments>https://muslim.or.id/108596-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-23-jama-muannats-salim.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rafi Nugraha]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2025 04:00:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=108596</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pembahasan selanjutnya adalah Maa Jumi‘a bi Alifin wa Taa’in, yakni kata-kata yang di-jama’ dengan penambahan huruf alif dan taa’ di akhir. Bentuk ini sering disamakan dengan istilah Jama’ Muannats Salim. Namun, para ulama, termasuk Ibnu Hisyam rahimahullah, menjelaskan bahwa istilah Maa Jumi‘a bi Alifin wa Taa’in lebih tepat digunakan. Hal ini karena tidak semua kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/108596-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-23-jama-muannats-salim.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Penjelasan Kitab Ta&#8217;jilun Nada (Bag. 23): Jama’ Muannats Salim</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/108596-penjelasan-kitab-tajilun-nada-bag-23-jama-muannats-salim.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kaidah Fikih: Asal-Usul dan Perkembangan Ilmu Kaidah Fikih</title>
		<link>https://muslim.or.id/109037-asal-usul-dan-perkembangan-ilmu-kaidah-fikih.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=asal-usul-dan-perkembangan-ilmu-kaidah-fikih</link>
					<comments>https://muslim.or.id/109037-asal-usul-dan-perkembangan-ilmu-kaidah-fikih.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Zia Abdurrofi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2025 04:00:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=109037</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengetahui tentang asal-usul sekaligus perkembangan suatu ilmu, menjadi poin penting dalam mempelajari salah satu cabang ilmu. Berangkat dari hal tersebut, tentunya dapat membantu seseorang untuk memahami tujuan-tujuan dalam mempelajari ilmu itu. Asal-usul ilmu kaidah fikih Munculnya ilmu kaidah fikih dapat dibagi dalam dua marhalah (fase), Fase pertama:  Muncul dan meluasnya ilmu kaidah fikih Bisa dikatakan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/109037-asal-usul-dan-perkembangan-ilmu-kaidah-fikih.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Kaidah Fikih: Asal-Usul dan Perkembangan Ilmu Kaidah Fikih</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/109037-asal-usul-dan-perkembangan-ilmu-kaidah-fikih.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Hibah (Bag. 3): Rukun Hibah</title>
		<link>https://muslim.or.id/108984-fikih-hibah-bag-3.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-hibah-bag-3</link>
					<comments>https://muslim.or.id/108984-fikih-hibah-bag-3.html#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2025 04:00:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=108984</guid>

					<description><![CDATA[<p>Empat rukun hibah Agar sebuah proses hibah dianggap sah dalam syariat kita, maka menurut jumhur ulama haruslah terdiri dari empat hal (rukun), yaitu: Pertama: Orang yang memberi (Al-Waahib); Kedua: Orang yang diberi (Al-Mauhuub Lahu); Ketiga: Benda yang diberikan (Al-Mauhuub); Keempat: Dan sighah (tanda serah terima). Adapun pemberi (Waahib), maka dia adalah pemilik barang ketika dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/108984-fikih-hibah-bag-3.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Hibah (Bag. 3): Rukun Hibah</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/108984-fikih-hibah-bag-3.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Derajat Hadis: &#8216;Barangsiapa Mengunjungi Makam Kedua Orang Tuanya atau Salah Satunya pada Hari Jumat..’</title>
		<link>https://muslim.or.id/108892-mengunjungi-makam-orang-tua-pada-hari-jumat.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengunjungi-makam-orang-tua-pada-hari-jumat</link>
					<comments>https://muslim.or.id/108892-mengunjungi-makam-orang-tua-pada-hari-jumat.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzan Hidayat]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 04:00:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=108892</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan: Bagaimana status hadis, من مشى في زيارة أبويه، كان له بكل خطوة مائة حسنة &#8220;Barangsiapa berjalan untuk mengunjungi (kuburan) kedua orang tuanya, maka setiap langkahnya diganjar seratus kebaikan&#8221;? Jawaban: Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya. Kami tidak menemukan hadis dengan redaksi seperti yang Anda sebutkan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/108892-mengunjungi-makam-orang-tua-pada-hari-jumat.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Derajat Hadis: &#8216;Barangsiapa Mengunjungi Makam Kedua Orang Tuanya atau Salah Satunya pada Hari Jumat..’</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/108892-mengunjungi-makam-orang-tua-pada-hari-jumat.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sifat &#8216;Ibadurrahman (Bag. 3): Merasa Takut dan Khawatir terhadap Azab Neraka</title>
		<link>https://muslim.or.id/108908-sifat-ibadurrahman-bag-3.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sifat-ibadurrahman-bag-3</link>
					<comments>https://muslim.or.id/108908-sifat-ibadurrahman-bag-3.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Chrisna Tri Hartadi, A. Md.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 04:00:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=108908</guid>

					<description><![CDATA[<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَآءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.’” (QS. Al-Furqan: 65-66) Hamba-hamba Ar-Rahman (Allah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/108908-sifat-ibadurrahman-bag-3.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Sifat &#8216;Ibadurrahman (Bag. 3): Merasa Takut dan Khawatir terhadap Azab Neraka</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/108908-sifat-ibadurrahman-bag-3.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Hadis Arba&#8217;in An-Nawawiyah (Bag. 2): Hadis 1, Setiap Amal Tergantung Niat (Lanjutan)</title>
		<link>https://muslim.or.id/108602-penjelasan-hadis-arbain-an-nawawiyah-bag-2.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=penjelasan-hadis-arbain-an-nawawiyah-bag-2</link>
					<comments>https://muslim.or.id/108602-penjelasan-hadis-arbain-an-nawawiyah-bag-2.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gazzeta Raka Putra Setyawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2025 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=108602</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hadis ini adalah salah satu hadis yang menjadi poros utama Islam. Imam Ahmad dan Imam Asy-Syafi‘i berkata, يدخل في حديث الأعمال بالنيات ثلث العلم &#8220;Hadis tentang amal tergantung pada niat mencakup sepertiga ilmu.&#8221; Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, يدخل هذا الحديث في سبعين بابا من الفقه &#8220;Hadis ini masuk dalam tujuh puluh bab fikih.&#8221; Al-Baihaqi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/108602-penjelasan-hadis-arbain-an-nawawiyah-bag-2.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Penjelasan Hadis Arba&#8217;in An-Nawawiyah (Bag. 2): Hadis 1, Setiap Amal Tergantung Niat (Lanjutan)</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/108602-penjelasan-hadis-arbain-an-nawawiyah-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fikih Hibah (Bag. 2): Konsep Hibah dalam Kehidupan Sosial Islam dan Urgensi Pembahasannya dalam Fikih Muamalah</title>
		<link>https://muslim.or.id/108925-fikih-hibah-bag-2.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fikih-hibah-bag-2</link>
					<comments>https://muslim.or.id/108925-fikih-hibah-bag-2.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Idris, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2025 04:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://muslim.or.id/?p=108925</guid>

					<description><![CDATA[<p>Konsep hibah dalam kehidupan sosial Islam Setelah mengetahui secara singkat pengertian hibah; baik dari segi bahasa ataupun syariat pada artikel sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwa hibah (الهبة) berarti “memberikan sesuatu secara cuma-cuma dan sukarela, tanpa ada imbalan dan paksaan selama pihak pemberi masih hidup.” Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://muslim.or.id/108925-fikih-hibah-bag-2.html" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Fikih Hibah (Bag. 2): Konsep Hibah dalam Kehidupan Sosial Islam dan Urgensi Pembahasannya dalam Fikih Muamalah</a> appeared first on <a href="https://muslim.or.id" data-wpel-link="internal" target="_self" rel="follow">Muslim.or.id</a>.</p>
]]></description>
		
					<wfw:commentRss>https://muslim.or.id/108925-fikih-hibah-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
