<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160</id><updated>2026-03-08T15:24:27.247+07:00</updated><category term="Cerbung"/><category term="Bagian 10"/><category term="Bagian 16"/><category term="Bagian 18"/><category term="Bagian 11"/><category term="Bagian 13"/><category term="Bagian 14"/><category term="Bagian 15"/><category term="Bagian 17"/><category term="Bagian 21"/><category term="Bagian 22"/><category term="Bagian 24"/><category term="Bagian 25"/><category term="Bagian 26"/><category term="Bagian 28"/><category term="Bagian 29"/><category term="Bagian 30"/><category term="Bagian 31"/><category term="Bagian 32"/><category term="Bagian 33"/><category term="Bagian 34"/><category term="Bagian 35"/><category term="Bagian 36"/><category term="Bagian 37"/><category term="Bagian 38"/><category term="Bagian 39"/><category term="Bagian 4"/><category term="Bagian 40"/><category term="Bagian 41"/><category term="Bagian 42"/><category term="Bagian 43"/><category term="Bagian 44"/><category term="Bagian 45"/><category term="Bagian 46"/><category term="Bagian 47"/><category term="Bagian 48"/><category term="Bagian 49"/><category term="Bagian 50"/><category term="Bagian 51"/><category term="Bagian 52"/><category term="Bagian 53"/><category term="Bagian 54"/><category term="Bagian 55"/><category term="Bagian 56"/><category term="Bagian 57"/><category term="Bagian 58"/><category term="Bagian 59"/><category term="Bagian 6"/><category term="Bagian 61"/><category term="Bagian 62"/><category term="Bagian 63"/><category term="Bagian 64"/><category term="Bagian 65"/><category term="Bagian 66"/><category term="Bagian 67"/><category term="Bagian 68"/><category term="Bagian 69"/><category term="Bagian 70"/><category term="Bagian 71"/><category term="Bagian 72"/><category term="Bagian 73"/><category term="Bagian 9"/><category term="Bagian 12"/><category term="Bagian 19"/><category term="Bagian 2"/><category term="Bagian 20"/><category term="Bagian 23"/><category term="Bagian 27"/><category term="Bagian 5"/><category term="Bagian 7"/><category term="Bagian 8"/><category term="Bagian 1"/><category term="Bagian 3"/><category term="Bagian 60"/><category term="Sosok"/><title type="text">Cerbung Naga Jawa di Negeri Atap Langit</title><subtitle type="html">Arsip cerita bersambung (cerbung) silat "Naga Jawa di Negeri Atap Langit" karya Seno Gumira Ajidarma yang ditulis ulang dari Jawa Pos</subtitle><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/posts/default" rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default?redirect=false" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/" rel="alternate" type="text/html"/><link href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" rel="hub"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false" rel="next" type="application/atom+xml"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><generator uri="http://www.blogger.com" version="7.00">Blogger</generator><openSearch:totalResults>366</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-1136975386453279160</id><published>2015-07-03T21:12:00.000+07:00</published><updated>2015-07-04T21:14:12.769+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 73"/><title type="text">#365 Wacananta</title><content type="html">&lt;i&gt;MEGA-MEGA tersibak melingkar tepat di atas Kamulan Bhumisambhara pada tahun 794 Saka, ketika di Celah Kledung, lelaki 101 tahun yang disebut Pandyakira Tan Pangaran itu mengangkat alat tulis yang disebut tanah &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; dari lembaran karas &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;, yang sejak lama dari saat ke saat telah ditulisinya. Dari aksara ke aksara, dari kata ke kata, dari kalimat ke kalimat, mengalir riwayat sejauh yang bisa diingatnya. Adegan demi adegan, peristiwa demi peristiwa, membentuk lorong waktu tempat segala sesuatu yang dirasakannya, suka maupun duka, seperti kembali sepenuhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menatap langit dan menghela napas panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kitab Nagabumi ini masih jauh dari selesai...," desisnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak tahu apakah kitab itu akan pernah selesai seperti yang dibayangkannya, karena waktu yang setiap saat bisa merenggutnya, bukan saja karena usianya yang berada pada tahun-tahun terakhir daya hidup manusia, tetapi juga karena terlalu banyak manusia yang ingin mengakhiri kehidupannya secara paksa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah, meski kematian sudi diterimanya, jika saat yang menentukan itu akhirnya akan tiba juga, pembunuhan tetap ditolaknya. Maka tahun-tahun terakhir hidupnya seakan-akan menjadi perlombaan kecepatan yang tiada kunjung usai, antara kecepatan maut merenggut jiwanya dan kecepatan dirinya mengingat, menggali, membongkar, dan menuliskan riwayat hidupnya sendiri demi suatu jawab atas pertanyaan: mengapa dirinya sebagai orang yang teramat tua harus ditangkap hidup-hidup ataupun mati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada akan terlalu lama Pandyakira Tan Pangaran yang tua itu bisa menghela napas, lantas menghembuskannya, karena memang harus segera kembali kepada tanah dan karasnya, kembali ke dalam ketekunan sepanjang siang dan malam, dari aksara demi aksara, menguak makna peristiwa demi peristiwa, untuk memecahkan selubung rahasia di ujung hidupnya, selalu dalam ancaman bayangan-bayangan berkelebat yang bermaksud membunuhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mega-mega masih menyibak berombak-ombak membentuk lingkaran putih pada piringan langit biru di atas Kamulan Bhumisambhara, seolah-olah puncak stupa itu telah menudingnya dengan suatu pancaran daya, yang tidak cukup hanya menyibak awan menjadi lingkaran, tetapi meluncur terus tegak lurus menembus tabir-tabir angkasa menuju ruang semesta raya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bumi masih juga berputar dan beredar. Para penguasa Wangsa Sailendra naik dan turun silih berganti, sejak Bhanu, Wisnu atau Dharmatungga, Indra atau Samaratungga yang menikah dengan Tara, Pramodawardhani atau Sri Kahulunan yang menikah dengan Pikatan, maupun Balaputra yang kalah perang dengan Pikatan itu. Mereka semua sudah lenyap dan tinggal nama dalam prasasti &lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;. Wangsa Sailendra tiada lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang mengetahui apakah kiranya isi benak Rakai Kayuwangi yang sudah 17 tahun bertahta, dan tampaknya untuk waktu yang lama belum akan memiliki penantang atas kekuasaannya &lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;, tetapi Kerajaan Mataram tidaklah begitu terpencil seperti tampaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapal-kapal Srivijaya yang berlabuh di pantai utara Javadvipa hampir selalu menurunkan para pengembara, apakah itu bhiksu-pengembara dari Negeri Atap Langit, pendeta-pengembara dari Jambudvipa, pedagang-pengembara maupun kaum pelarian yang lebih beragam lagi asalnya, Lanka, An Nam, Campa, dan Persia, yang akan membawa warta dan pengetahuan dari negeri-negeri yang jauh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian dari mereka akan melanjutkan perjalanannya dengan menyusuri sungai sampai ke pedalaman, dan menyaksikan betapa di ujung selatan dunia ini terdapat juga bukan sekadar peradaban, ketika mengetahui terdapatnya pengungkapan budaya Siva-Buddha. Mereka mengenal Siva dan Mahayana sebagai keyakinan yang sungguh berbeda, dan mereka tercengang dengan kemungkinan betapa suatu bentuk kebudayaan dapat menjajarkan ungkapan, tanpa mengeruhkan keyakinannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada gilirannya kapal-kapal Srivijaya itu juga akan membawa warga Mataram yang bersemangat tinggi meninggalkan Javadvipa untuk mengembara. Seperti juga yang telah dialami Pandyakira Tan Pangaran atau Pendekar Tanpa Nama pada masa mudanya, mereka juga akan takjub dengan segala pesona yang dilahirkan keberagaman budaya berbagai bangsa, dan sadar betapa tiada berguna bahkan berbahaya pikiran yang sebaliknya bagi dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah, seperti doa semesta bagi manusia, sementara kapal-kapal Srivijaya membelah gelombang di perairan antara Samudradvipa dan Tanah Kambuja di bawah bulan purnama, dan kafilah-kafilah unta yang mengarungi Jalur Sutera dari Chang'an setelah berminggu-minggu masih melangkah di padang pasir menuju Samarkand, pancaran daya dari puncak stupa Kamulan Bhumisambhara itu berubah menjadi cahaya. Terpancar tegak lurus menembus langit, semburat memenuhi ruang semesta... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya yang berhati bersih bisa melihatnya. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(&lt;b&gt;Episode "Naga Jawa" selesai&lt;/b&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Semacam pensil yang dapat dipertajam dengan kuku dan yang dapat dibuang setelah menjadi patah atau setelah mengecil, tinggal sepuntung saja. Tengok P. J. Zoemulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang [1983 (1974)], h. 158. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Papan dari bambu yang dibelah atau dipukul sehingga menjadi ceper. Ibid., h. 160. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tengok tabel para penguasa Dinasti Sailendra di Jawa antara tahun 754-856 dalam Supratikno Rahardjo, Peradaban Jawa: Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno (2002), h. 525. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rakai Kayuwangi atau Lokapala akan berkuasa selama 30 tahun (855-885), yang terlama di antara para penguasa Mataram semasa klasik (732-928). Tabel dalam ibid., h. 65. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/1136975386453279160/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/07/365-wacananta.html#comment-form" rel="replies" title="7 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/1136975386453279160" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/1136975386453279160" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/07/365-wacananta.html" rel="alternate" title="#365 Wacananta" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-4442578534185299329</id><published>2015-07-02T13:10:00.000+07:00</published><updated>2015-07-02T13:10:30.477+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 73"/><title type="text">#364 Kelebat Bayangan dan Kenangan Rawan</title><content type="html">YAVABHUMIPALA, juga disebut Javadvipa, pada bulan Margasirsa, tahun 872. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedang menuliskan hari terakhirku di Chang'an pada pertengahan tahun 800 itu, berusaha keras mengingat dengan rinci peristiwa yang berlangsung 72 tahun lalu, ketika sesosok bayangan berkelebat dari pohon ke pohon di hadapanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah aku harus mengejarnya? Dari saat ke saat dunia persilatan penuh bayangan berkelebat, dan tentu bukan dunia persilatan namanya jika tiada bayangan berkelebat yang memungkinkan kehidupan menjadi tamat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dengan hidupku yang sudah 101 tahun, dan sejak kecil diasuh oleh Sepasang Naga dari Celah Kledung yang hidup di dalam dunia persilatan, artinya telah terbukti aku selalu beruntung, dan jika tidak dianggap beruntung tentu harus berarti mampu mengatasi ancaman segala bayangan berkelebat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengejar atau tidak mengejar, menyerang atau diserang, dengan kecepatan yang tidak bisa tidak setidaknya mendekati lebih cepat dari cepat, segala bahaya tiadalah hanya bisa ditepis, melainkan diriku pun tiada kurangnya menjadi ancaman itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun jika dirikulah yang menjadi ancaman itu, dengan segala hormat, jika tidak sedang dilanda kejenuhan menamatkan riwayat hidup sesama manusia, maka ancaman itu pun tiada lebih dan tiada kurang menjadi kenyataan. Sudah tentu peranan menghilangkan nyawa ini tidaklah membahagiakan diriku, tetapi kehidupan dunia persilatan tidaklah memberi banyak pilihan selain membunuh atau dibunuh. Kebijakan untuk tidak pernah menyerang tampaknya saja merupakan pilihan terbaik, tetapi jika tidak terbunuh adalah bagian dari pilihan, maka semakin tinggi daya penyerangannya, semakin kecil kemungkinan terhindarnya, semakin besar pula kemungkinan membunuh sebagai satu-satunya cara bertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam gerak serangan secepat pikiran, sulit sekali menarik kembali serangan seusai penghindaran. Terlalu sering terjadi nyawa penyerangku langsung hilang pada saat pertama kali membuka serangan. Tidak kuingkari betapa Jurus Tanpa Bentuk, yang mampu menanggapi serangan tanpa diperintahkan otak, memberikan banyak sumbangan. Apakah kiranya ini merupakan kebersalahan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan itu berkelebat lagi di dalam hutan di depan pondokku, tetapi sungguh mati diriku sedang tidak berselera. Aku baru saja menyelesaikan bagian terakhir dari riwayatku di Chang'an, dan apa yang kualami saat itu bagaikan hidup kembali dengan segala perasaan yang mengharubiru di dalam dadaku. Sebagai penulis yang berusaha membongkar segala sesuatu yang tersembunyi di balik kabut sejarah, pada titik ini diriku mengalami kesulitan untuk mengambil jarak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa tidak jika memang diriku sendiri yang kuceritakan itu? Sudah setahun lebih, bahkan kukira hampir dua tahun, aku menulis tanpa putus dengan semangat pembongkaran. Mencari tahu apakah kiranya yang menjadi perkara, sehingga diriku sebagai orang tua yang sudah mengundurkan diri ke dalam gua selama 25 tahun lamanya harus ditangkap oleh para hamba wet Kerajaan Mataram sebagai suatu rajadanda atau hukum raja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dapat kuabaikan betapa para guptagati atau mata-mata maupun kadatuan gudha pariraksa atau pengawal rahasia istana, dengan tekun dan tanpa mengenal putus asa akan terus melacakku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tidak cukup para hamba wet, pencarian diriku telah diumumkan dan untuk itu ditawarkan hadiah pula jika dapat menangkapku, hidup atau mati. Sepuluh ribu keping emas! Suatu jumlah yang bahkan sebuah kerajaan pun tidak mungkin memilikinya, tetapi yang lebih dari cukup untuk mengecoh bukan hanya para pembunuh bayaran, pemburu hadiah, dan kemudian pencuri kitab untuk dijual kembali, melainkan juga para pendekar yang membutuhkan uang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daun-daun berguguran dalam hembusan angin musim dari laut selatan, begitu kencangnya angin itu sehingga dedaunan kering di bawah pohon-pohon kembali diterbangkan. Aku menghela napas panjang untuk sebagian ternyata hatiku masih tertinggal di Chang'an, dan begitu terlambat kusadari betapa hati seorang tua berumur 101 tahun ternyata tidak berbeda jauh dengan hati seorang muda berumur 29 tahun. Aku sudah tua, air mataku mengering, tetapi segala usaha mengingat dan mencatat Chang'an membuat hatiku kembali basah oleh segala perasaan kehilangan. Elang Merah dan Yan Zi Si Walet, kedua pendekar perkasa itu tewas dengan cara yang begitu mengenaskan, sehingga bahkan sampai hari ini rasanya begitu sulit bagiku untuk memaafkan diriku sendiri. Hidupnya kembali pengalaman batinku di Chang'an itu membuat perasaanku menjadi rawan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku tetap waspada terhadap bayangan berkelebat itu. Aku masih berada di dunia persilatan. (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/4442578534185299329/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/07/364-kelebat-bayangan-dan-kenangan-rawan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/4442578534185299329" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/4442578534185299329" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/07/364-kelebat-bayangan-dan-kenangan-rawan.html" rel="alternate" title="#364 Kelebat Bayangan dan Kenangan Rawan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-6383515713003914572</id><published>2015-07-01T15:22:00.000+07:00</published><updated>2015-07-01T15:22:53.810+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 73"/><title type="text">#363 Selamat Tinggal Chang'an</title><content type="html">PANAH Wangi berwajah muram, sangat muram, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih muram. Ia menatapku dengan mata sendu. Tidak ada orang lain di ruangan atas ini. Hanya Panah Wangi dan aku. Dari sini terlihat hamparan keramaian Kotaraja Chang'an, yang meskipun gemerlapan dalam senja, tidaklah terlalu memberi kegembiraan kepada hati kami yang gundah, karena kami tidak melihat apa pun selain saling menduga dalam tatapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa dikau harus pergi, Pendekar Tanpa Nama? Mengapa tidak tinggal saja di sini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam gedung besar milik Pangeran Song ini, Panah Wangi tidak lagi berbusana ringkas, sebagaimana biasanya busana seorang pendekar pengelana, melainkan seperti putri istana yang selalu dilayani, dan memang tidak akan pergi ke mana pun. Namun Panah Wangi masih berada di sana karena luka-lukanya yang parah akibat pertarungan dengan Harimau Perang, meski sudah mendekati kepulihan seperti semula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih tinggal di gedung Pangeran Song, tetapi tidak lagi di Istana Daming, artinya Panah Wangi mempunyai hubungan dengan putra mahkota itu. Aku tidak merasa perlu mempertanyakan atau mengucapkan apa pun. Panah Wangi memang pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku, seperti juga diriku bukan tidak pernah mengungkapkannya, tetapi kukira kami tidak pernah saling menegaskan betapa hubungan kami bisa lebih dari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya merasa sudah waktunya untuk pergi. Memang tidak pernah terbayangkan diriku akan meninggalkan Chang'an tanpa Panah Wangi, tetapi kukira segala sesuatu di dunia ini cepat atau lambat memang akan berubah. Begitu dengan cuaca, begitu pula dengan cinta. Tidak ada yang perlu disesali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah waktunya aku pergi,” akhirnya terucap juga kalimat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Panah Wangi langsung basah. Ia membalikkan tubuhnya, menjauh, tapi langsung kembali lagi dan memelukku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan pergi! Jangan pergi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air matanya tumpah ruah. Panah Wangi mengerti diriku tidak bisa ditahan lagi. Tubuhnya berguncang. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain memeluknya, dengan hati yang berdarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pepatah Negeri Atap Langit mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
cinta itu jarang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seperti teratai kembar &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pada satu tangkai &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah akhirnya harus kutinggalkan juga Chang'an dengan segala kekayaan peradaban dan hiruk-pikuk manusianya. Kota tempat begitu banyak orang datang dari wilayah-wilayah yang jauh untuk meraih impian-impiannya. Apakah itu impian untuk menjadi kaya dan berkuasa, ataukah sekadar menyelamatkan hidupnya sendiri saja. Chang'an adalah kota yang penuh dengan berbagai upacara dan perayaan yang bermandikan cahaya, setiap kali berlangsung pesta kembang api yang menyalakan angkasa, dan pada masa damai pertunjukan sandiwara rakyat, tari-tarian, dan arak-arakan dengan bunyi-bunyian yang seru mengalir bagaikan tiada habisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sedih harus kutinggalkan pemandangan mengesankan dari kota yang menampung pendatang, pedagang, utusan, maupun pengembara dari berbagai penjuru dunia, yang telah membuat jalanannya semarak oleh warna-warni dan aneka rupa busana yang dikenakan manusia berbagai bangsa. Warna kulit, rambut, corak wajah, bahkan warna bola mata beragam, dengan bahasa yang lebih-lebih lagi beragam-ragam, beredar dan terdengar di mana-mana, baik di pasar, kedai, penginapan dan rumah-rumah persinggahan yang terdapat di berbagai sudut kota dua juta manusia itu, membuat Chang'an menjadi kotaraya dalam segala makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih kutuntun kuda cokelat Uighur pemberian Pangeran Song sepanjang jalan ke arah Gerbang Jinguang, pintu gerbang kota yang harus kulalui ketika meninggalkan Chang'an menuju wilayah barat. Hatiku terkesiap melewati Pasar Barat dengan kedai dan harum masakannya yang menggugah selera. Aku tahu betapa akan kurindukan segala tukang cerita dengan dongeng-dongengnya yang memukau, perbincangan hangat tentang agama dan filsafat dengan para pembicara bersemangat maupun bual sehari-hari dalam canda dan tawa berderai-derai karena pengaruh arak yang wangi. Memandang ke sekeliling untuk terakhir kalinya, bagaikan ingin kuserap segenap dunia dan kehidupan Kotaraja Chang'an ke dalam diriku yang selalu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Layung senja semburat di langit bagaikan menyambutku, setelah aku melewati Gerbang Jinguang pada tembok perbentengan di sisi barat, berpapasan dengan kafilah unta dari Jalur Sutera yang baru saja mendapat izin masuk. Aku menaiki kudaku dan menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Pintu gerbang itu sudah akan ditutup, tetapi aku memang tidak kembali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera kupacu kudaku ke arah matahari terbenam, mengawali perjalanan malam menuju Dunhuang demi suatu tujuan yang belum juga kutuntaskan. Aku masih harus mencari dan menemukan pembunuh Amrita, dan membuatnya bertanggung jawab atas kejahatannya, yakni membunuh dari belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin bertiup semakin kencang ketika aku melaju ke arah padang terbentang. Aku belum tahu saat itu bahwa Panah Wangi ternyata berada di gardu penjagaan di atas Gerbang Jinguang. Menatap kepergianku dengan mata berkaca-kaca, melihatku melaju, semakin lama semakin jauh, sampai menjadi titik dan akhirnya menghilang... (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Theodora Lau, et.al., Best-Loved Chinese Proverbs [2009 (1995)], h. 93. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/6383515713003914572/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/07/363-selamat-tinggal-changan.html#comment-form" rel="replies" title="1 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6383515713003914572" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6383515713003914572" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/07/363-selamat-tinggal-changan.html" rel="alternate" title="#363 Selamat Tinggal Chang'an" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-7487804479677679769</id><published>2015-06-30T15:32:00.000+07:00</published><updated>2015-06-30T15:32:21.915+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 73"/><title type="text">#362 Matinya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang</title><content type="html">PERDANA Menteri Zheng Yuqing kuperlukan supaya dapat berbicara kepada Ketua Dewan Peradilan Kerajaan Hakim Hou agar bersedia meminjamkan atau melepaskan Anggrek Putih yang akan kugunakan untuk memancing Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang. Bahwa diriku cenderung meminta kepada Perdana Menteri Zheng Yuqing, dan bukan kepada Pangeran Song, tentu karena perebutan hak hukum atas Panah Wangi telah membuat hubungan kedua pihak itu sangat buruk. Betapapun jika dulu Anggrek Putih ditahan sebagai sandera atas masih berkeliarannya Harimau Perang, ternyata kedudukan yang sama dapat berlaku bagi Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang hanya Anggrek Putih yang bisa menjadi alasan bagi Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang untuk berhubungan kembali dengan dunia, tiada lain dan tiada bukan karena Anggrek Putih tidak pernah berhenti menjadi wahana penurunan ilmu dari Guru Besar Ilmu Silat Aliran Shannan, yang selama ini merupakan andalan bagi keberdayaan ilmu silatnya, agar tetap bertahan pada tingkat dewa. Suatu wahana yang telah beberapa lama terceraikan dari dirinya, semula karena Harimau Perang yang menculik Anggrek Putih dari Shannan tapi berhasil digagalkannya mencuri ilmu; kemudian oleh diriku dan Panah Wangi, yang ternyata bisa membaca lukisan tak utuh karena ingatan yang diacaknya. Ini tentu jauh lebih mengkhawatirkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kuharap rencanaku bisa berjalan lancar. Untunglah Hakim Hou ternyata bukan hanya setuju untuk meminjamkan atau melepas Anggrek Putih untuk sementara, melainkan membebaskannya! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
panglima perang melihat masa depan; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
petani hanya melihat masa kini, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan para pengeluh hanya melihat masa lalu. &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Angin bertiup kencang di atas Sungai Yangzi. Matahari siang hari tegak lurus di atas ubun-ubun. Ini suatu hari yang biasa pada musim panas di wilayah Shannan. Perahu nelayan, rakit penyeberangan, perahu penumpang, tampak hilir mudik di sepanjang sungai yang luasnya bagiku sungguh mencengangkan. Pada permukaan sungai itu cahaya tergenang menyilaukan, mengertap-ertap seperti berlian, di sela bayang-bayang hitam orang bercaping, melempar jala, atau sekadar memancing. Namun memancing menjadi bukan sekadar ketika pancing menyendal, ikan menggelepar, dan pemancingnya tentu saja sibuk memasang umpan baru pada kail yang masih berdarah... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuharap akan tampak biasa pula bahwa Anggrek Putih ingin pulang ke Shannan, ke tempat tinggalnya di pinggiran Kota Chengdu. Sengaja kuminta dan kubuat agar Anggrek Putih tidak membawa alat-alat gambarnya, karena kutahu Ilmu Silat Aliran Shannan itu akan terus mengalir turun ke dalam kepalanya. Dengan tidak tersalurnya jurus-jurus itu menjadi gambar, maka gambar-gambar itu akan bermain di kepala Anggrek Putih, meskipun jika ia tidak memikirkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari hari ke hari jurus-jurus mengalir terus tanpa putus, sehingga kepala Anggrek Putih tentulah menjadi tempat penyimpanan Ilmu Silat Aliran Shannan terbaik, baik di Shannan maupun di Negeri Atap Langit. Siapa pun yang mampu dengan suatu cara menyerapnya langsung dari kepala Anggek Putih, memindahkannya ke kepalanya sendiri, niscaya juga mendapat yang terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di perahu kusiapkan pancingku. Aku memang menyamar sebagai orang yang memancing, tetapi umpanku bukanlah cacing melainkan isi kepala gadis bisu tuli itu. Kukira tidak ada umpan lain yang lebih baik selain Ilmu Silat Aliran Shannan itu sendiri, yang bisa memancing Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang setidaknya melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Saat itulah, artinya, ia sudah terpancing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun itu belum terjadi. Dari pagi kami masih menunggu, sama-sama memancing dan mengenakan caping, masing-masing di atas perahu sampan dengan jarak berjauhan. Sambil menunggu aku bertanya-tanya dalam hati, seperti apakah kiranya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itulah ia mengambil kesempatannya. Dari balik kilauan cahaya, sesosok bayangan berkelebat di atas permukaan sungai, begitu cepat sehingga tidak terlihat, menuju ke arah Anggrek Putih yang duduk tenang-tenang memunggungi di atas perahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa bergerak lebih cepat, tapi aku diam saja, karena tahu itu hanyalah gerak tipu. Jika kutanggapi akan ada sesuatu yang dilakukannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangan itu memudar begitu menyentuh Anggrek Putih. Begitu berlangsung sampai tujuh kali. Pada kelebat ke delapan, tentu dianggapnya tidak akan ada yang menanggapi. Ia tampak siap menotok dan menculik Anggrek Putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun aku sudah bertukar tubuh dengan Anggrek Putih. Ia terkecoh!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Anggrek Putih yang isinya adalah diriku tanpa berbalik menyabetkan pukulan Telapak Darah. Terdengar suara tubuhnya tercebur di air. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, dan tertegun melihat sosok yang masih mengambang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang ternyata seorang katai! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Sun Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt;, penafsiran dalam Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 25. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/7487804479677679769/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/362-matinya-yang-mulia-paduka-bayang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7487804479677679769" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7487804479677679769" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/362-matinya-yang-mulia-paduka-bayang.html" rel="alternate" title="#362 Matinya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-2714689670400316474</id><published>2015-06-29T13:22:00.000+07:00</published><updated>2015-06-29T13:22:00.585+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 73"/><title type="text">#361 73: Mencari Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang</title><content type="html">“PENYEBAR teluh telah dikau bunuh, tetapi tiada orang lain yang lebih bisa menggunakan tangan orang lain, selain Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kata-kata Peri yang Baik dari Danau Qinghai, bhiksuni yang tidak berkepala gundul tetapi berambut terurai panjang dan serbaputih warnanya, yang tewas oleh Jurus Tanpa Bentuk dalam pertarungan kami, di tempat persinggahan pada salah satu dari lima sungai yang melintang antara Sha dan Chang'an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan orang lain itu adalah tangan penyebar teluh. Korbannya begitu banyak, ribuan jumlahnya, bergelimpangan di jalanan dan mengambang di sungai. Begitu banyak sehingga tersangkut-sangkut di antara perahu-perahu dan semak-semak tiada bisa bergerak, sehingga Peri yang Baik dari Danau Qinghai itu menerbangkannya ke langit tanpa bisa kuketahui ke manakah kiranya dan bagaimana caranya mayat-mayat itu akan berjatuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun saat itu pun, meski kemarahanku sampai ke ubun-ubun, aku masih berpikir bahwa Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang adalah manusia yang paling sulit dicari. Saat itu aku masih menafsirkan Ilmu Pemisahan Suara dan Ilmu Pemecahan Suara secara terbatas, yakni dari sudut pandang pemahaman suara itu saja. Baru setelah mempelajari Ilmu Silat Aliran Shannan, dan Ilmu Pemindahan Tubuh maupun Ilmu Pemecahan Tubuh dari Anggrek Putih, maka aku dapat menafsirkannya dari sudut pandang tubuh yang mengeluarkan suara itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu itu bukanlah tentang suara, melainkan tentang tubuh, dan jika setelah menguasainya Panah Wangi dapat memburu ke mana pun Harimau Perang pergi, demikian pula diriku dapat menyusuri jejak Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang ke mana pun ia menuju dan seberapa banyak pula ia memecah dirinya. Apakah ia menjadi sepuluh, seratus, atau seribu, di tempat mana pun aku dapat menyusul dan membunuhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang tidak mudah adalah menentukan yang manakah di antara kembarannya yang banyak itu adalah Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang yang sesungguhnya. Jika aku dapat menemukan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang yang sejati, asli, dan tiada terkembarkan, yang hanya darah dan hanya daging, dan menusuk jantungnya, maka seluruh bayang-bayang lain akan memudar untuk mengikuti dan melebur ke dalam roh Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang yang sedang melebur pula ke dalam roh dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika hal ini tidak dapat dilakukan, maka aku harus menghabisi dulu seluruh bayang-bayang yang lain itu, apakah jumlahnya seribu, beribu-ribu, ataukah selaksa dan berlaksa-laksa, semuanya harus dibunuh, habis tuntas tanpa sisa. Apakah ratusan ribu Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu berkumpul di satu tempat, apakah itu di suatu lapangan di dalam kota, di suatu lembah atau padang luas di luar kota, ataukah tersebar merayapi dan mendaki dinding-dinding jurang yang terjal di mana pun adanya, apakah itu di Shannan, Jiannan, Lingnan, Jiangnan, Huainan, Henan, Hebei, Guannei, sama saja, satu per satu maupun serentak, tetap harus dibunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika itu dapat dan telah dilakukan, maka barulah dapat diketahui betapa sisa satu manusia yang berwujud Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itulah yang asli sejati, yang berdarah, berdaging, dan barangkali atau seharusnya berhati, dapat dan semestinyalah bisa dibunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ini semua menjadi mustahil, manakala adalah suatu kenyataan pula betapa setiap kali Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang akan bisa tetap memecah diri, memecah diri, dan memecah diri lagi, menjadi berapa orang pun sesuka hatinya, dan semuanya harus diulang dari awal lagi! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang tidak bisa mati? Tentu bisa, selama aku bisa menemukan aslinya, yang bersama atau tidak bersama-sama, harus tetap dibunuh, tetapi bagaimana cara menemukannya? Jika mengetahui kemungkinan betapa seseorang yang berilmu sama, bahkan barangkali melebihinya, sedang mencari, melacak, dan memburu dirinya, kukira tidak mungkin Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang akan membiarkan dirinya ditemukan dengan mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkinkah memancing Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang seperti memancing Harimau Perang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
jalan tercepat mungkin &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bukan yang terpendek. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
medan tersulit untuk diatasi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mungkin bukan yang  paling merugikan. &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemui kembali Perdana Menteri Zheng Yuqing untuk menjalankan siasatku ini. Meskipun baginya serba-serbi dunia persilatan tidak bisa diterima dengan akal, selama Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang yang pasukannya pernah mengepung dan menderitakan Chang'an berbulan-bulan bisa dilumpuhkan, hidup atau mati, ia menyatakan setuju. (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Sun Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt;, penafsiran dalam Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 69. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/2714689670400316474/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/361-73-mencari-yang-mulia-paduka-bayang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/2714689670400316474" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/2714689670400316474" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/361-73-mencari-yang-mulia-paduka-bayang.html" rel="alternate" title="#361 73: Mencari Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-6063832501280175652</id><published>2015-06-28T13:17:00.000+07:00</published><updated>2015-06-28T13:17:37.528+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 72"/><title type="text">#360 Pokok-Pokok Pembentukan Rahasia</title><content type="html">TUJUANKU mencari Ibu Pao sebetulnya hanya satu, yakni ingin memeriksa apakah dirinya mengetahui kelengkapan rahasia negara, yang terbagi di antara tiga orang kebiri malang itu, dan ternyata Ibu Pao mengetahuinya. Ternyata pula Ibu Pao bersedia memberitahukannya kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku mengerti mengapa rahasia itu dianggap harus tetap tinggal sebagai rahasia, dan siapa pun yang berkemungkinan mengungkapnya, meski tiada tahu-menahu mengenai isi rahasia itu sendiri, harus dibunuh. Jadi baik tiga orang kebiri malang itu, dan siapa pun yang telah membocorkan rahasia itu keluar dalam tiga bagian tersebut, kemungkinan besar sudah mati, demi terjaganya suatu rahasia yang kelak akan menjelma nyata, menjadi kenyataan yang bukan lagi merupakan rahasia tanpa harus dibocorkan pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dikau boleh menunjuknya, ketika sudah terungkap dengan sendirinya," ujar Ibu Pao. "Sebelum itu dikau adalah penyimpan rahasia yang terikat untuk tidak menghancurkan dan membunuh rahasia itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bandingkanlah dirimu dengan penyimpan rahasia takdir. Tidak mungkinlah memberitahukan kepada seseorang perihal takdirnya bukan? Takdir itu hanya bisa dan boleh diketahui setelah terjadi. Mengungkapkannya sama dengan meletakkan diri di depan mesin penghancur dunia itu sendiri."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk-angguk. Jadi sejumlah manusia menempatkan diri sebagai penentu sekaligus bagian dari takdir! Siapakah kiranya di dunia ini manusia yang bisa menentukan takdir sekaligus ditentukan oleh takdir itu sendiri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah ini tentang Pangeran Song?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Pao hanya tersenyum, lantas menyampaikan segala sesuatu yang perlu kuketahui, yang bukan merupakan rahasia pada Pangeran Song.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putra mahkota yang mencintai seni dan sangat menghormati guru-gurunya itu, sehingga bahkan sebagai pangeran, ia tidak menghalangi dirinya untuk membungkuk, dalam tugasnya sehari-hari sangat dekat dengan dua nama, yakni Wang Pi, seorang pelukis aksara nan piawai; dan Wang Shuwen, seorang pemain Go.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wang Shuwen memberi saran kepada Pangeran Song atau Li Song agar jangan memancing kecurigaan Maharaja Dezong lebih jauh, sejak dituduhnya Putri Gao, mertua Li Song, melakukan guna-guna terhadap maharaja. Adapun caranya, Li Song dianjurkan tidak menggugat daftar pembelanjaan istana oleh orang-orang kebiri, yang membayar dengan nilai rendah atau tidak membayar sama sekali. Jika dilakukan, disebutnya maharaja akan mencurigai putra mahkota berusaha menarik kecintaan orang banyak, de­ngan mengorbankan maharaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas anjuran Wang Shuwen pula, Li Song mengumpulkan para pejabat muda yang dianggap mampu menjadi pejabat penting atau panglima pada masa depan, seperti Wei Zhiyi, Lu Chun, Lü Wen, Li Jingjian, Han Ye, Han Tai, Chen Jian, Liu Zongyuan, Liu Yuxi, Ling Zhun, dan Cheng Yi, sebagai persiapan untuk naik tahta pada masa depan. Mereka ini bagaikan pemerintah bayangan. Keberadaan mereka dalam pemerintahan Wangsa Tang mengundang pencibiran para pejabat kebiri penting dalam masa kekuasaan Maharaja Dezong seperti Ju Wenzhen, Liu Guangqi, dan Xue Yingzhen. Namun dalam lingkaran Pangeran Song, sebetulnya terdapat pula orang kebiri Li Zhongyan. Tidak kurang menjadi masalah adalah kehadiran Selir Niu dalam lingkaran Pangeran Song. &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kedudukan permainan kekuasaan seperti inikah yang membentuk rahasia itu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Pao mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidakkah segala sesuatu bisa diperkirakan dari kedudukan itu, sehingga tidak perlu ahli nujum, yang sebetulnya hanyalah para penipu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika dikau cukup terpelajar tentu bisa memperkirakannya, mengapa tidak? Namun bahkan yang amat terpelajar sekalipun tidak akan berani dan tidak akan merasa perlu memastikannya, meski mengerahkan segala daya terbaik demi perkiraan-perkiraannya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi mengapakah para penggubah, pemilik, dan pembentuk rahasia, yang setiap pembocornya akan dibunuh itu, justru menciptakan kepastian-kepastian seperti mengadakan takdir?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Pao tersenyum mencibir, dan menjawab sambil mengangkat telunjuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kehendak," katanya, "kehendak untuk memiliki dan menguasai dunia."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mozi berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
orang besar tidak terikat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untuk membuat kata-katanya dipercaya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
atau membuat tindakannya berlaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ia berpihak kepada kebajikan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tidak ada lain &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Semua pengetahuan itulah yang kusampaikan kepada Pangeran Song, termasuk tentang rahasia, tetapi bukan isi rahasia itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdua menunggang unta berbulu tebal dalam perjalanan tetirah ke wilayah di sebelah utara Chang'an. Kami berjalan perlahan hanya berdua saja, tetapi dalam jarak dua li di belakang kami, 500 prajurit pasukan berkuda mengikuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pangeran Song menatap pemandangan di hadapannya. Padang tundra terbentang dibatasi gunung-gemunung berlapis salju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubaca wajahnya. Ia terlalu terpelajar untuk tidak mengerti. (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Mengacu kepada Wikipedia tentang Kaisar Dezong maupun Kaisar Zhunzong. Diunduh Jumat, 26 Juni 2015. 11:34. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Fung Yu-lan, &lt;i&gt;The Spirit of Chinese Philosophy&lt;/i&gt; (1943), diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh E. R. Hughes (1947), h. 14. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/6063832501280175652/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/360-pokok-pokok-pembentukan-rahasia.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6063832501280175652" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6063832501280175652" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/360-pokok-pokok-pembentukan-rahasia.html" rel="alternate" title="#360 Pokok-Pokok Pembentukan Rahasia" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-5695802510248611054</id><published>2015-06-27T16:34:00.000+07:00</published><updated>2015-06-27T21:19:54.614+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 72"/><title type="text">#359 Atas Kesetaraan Cinta</title><content type="html">KEGEMPARAN di bawah karena sesosok tubuh jatuh dari atas dan menimpa atap tidak dapat kuikuti karena pengejaran dan pertarungan yang berlangsung dari wuwungan ke wuwungan ini meliputi wilayah yang sangat luas, ibarat kata seluruh wilayah udara Kotaraja Chang'an selama masih ada rumah-rumah dan gedung beratap genting. Jika kediaman Ibu Pao tadi terletak di petak-petak permukiman yang terletak di barat daya, bentrokan pertama berlangsung di barat laut, dan bentrokan kedua dan ketiga tepat di tengah-tengah atau di pusat kota, maka kini diriku sudah mendekati mereka lagi yang sedang berkelebat, melesat, dan melenting-lenting di sisi timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera dapat kubaca bahwa mereka kini juga ingin menghilangkan jejak, karena tidak boleh diketahui tentunya dari mana mereka berasal. Namun arah yang mereka tuju ketika pertama kali kupergoki, yakni ke arah barat laut, jelas menuju ke arah Taman Terlarang. Ini tidak menegaskan apa pun, karena meski di satu pihak merupakan tempat yang diperuntukkan hanya bagi keluarga maharaja, tetapi telah kuketahui dan kualami bagaimana orang-orang kebiri bercokol di tempat itu. Jadi aku masih harus memastikannya dari salah satu penculik ini, tentu, selama aku masih ingin tahu, karena saat ini perhatianku hanyalah keselamatan dan pembebasan Ibu Pao!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penculik itu berjumlah enam orang. Ketiadaan wajahnya di dalam kerudung, yang hanya memperlihatkan kekosongan hitam, menunjukkan keberadaan mereka sebagai perkumpulan rahasia yang disewa. Tiga orang sudah kujatuhkan, sedangkan tiga orang lagi sekarang melejit dan melenting-lenting ke arah selatan. Menuju ke manakah mereka? Namun aku sudah tidak terlalu peduli lagi. Aku menjejak udara dan berkelebat cepat. Ketiganya bahkan tidak menyadari aku sudah berada dekat sekali di atas mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua penculik berada di kiri dan kanan dari penculik yang membopong Ibu Pao. Satu di antaranya dengan pisau terbang masih menancap di sela tulang panggul dan masih menetes-neteskan darah. Tentu dialah yang telah menganiaya gadis remaja cucu Ibu Pao. Setidaknya gadis itu memanggil Ibu Pao sebagai nenek. Aku tidak mau peduli apakah luka-lukanya masih menetes-neteskan darah. Tangan kiriku segera meraih leher baju di belakang tengkuknya, dan langsung membuangnya ke belakang sejauh 100 li. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat yang sama, penculik yang di sebelah kanan ternyata sudah berada di samping kananku, dan siap membacokkan kelewang. Namun bagaimanakah caranya melebihi kecepatanku, yang dapat mencapai kecepatan yang lebih cepat dari cepat itu? Kelewangnya belum terayun turun ketika kutendang dadanya dan terpental, juga sampai 100 &lt;i&gt;li.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang tengah langsung kutotok tanpa perlu menyentuhnya, sehingga melayang jatuh seperti selembar baju, tetapi dengan Ibu Pao yang sudah berpindah ke tanganku. Kulihat penculik itu meluncur masuk ke dalam sumur. Sungguh aku tidak ingin tahu bagaimana nasibnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mozi berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
seandainya kita berusaha menetapkan sebab kekacauan, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kita akan menemukannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terletak pada kehendak atas kesetaraan cinta &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Pao masih berada dalam boponganku ketika membuka mata setelah kubebaskan dari totokan. Langit masih merah dan angin bertiup kencang ketika kubawa ia melenting-lenting dari atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain. Chang'an pada akhir hari tidaklah bisa lebih meriah lagi ketika meski langit menggelap, kota di bawah justru bermandi cahaya, meski hanya sampai saat-saat larangan keluar rumah memudarkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama....," katanya setelah membuka mata, "sudah lama sekali dikau tidak menjumpaiku, tetapi kudengar selalu sepak terjangmu. Daku ikut bersedih atas semua hal buruk yang terjadi pada dirimu dan kawan-kawanmu, tetapi daku juga kehilangan sobat-sobat terbaik. Apakah Persik Kecil selamat?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persik Kecil? Cucunya itukah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cucumu? Dia selamat!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Persik Kecil bukan cucuku, tapi serumah denganku, syukurlah kalau dia selamat."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan cucumu? Lantas siapa dia?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sudahlah," kata Ibu Pao, "panjang ceritanya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seberapa panjang? Namun aku pun tidak ingin bertanya lagi. Sekarang aku hanya ingin segera membawanya pulang kepada Persik Kecil yang sangat mengkhawatirkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Chang'an indah dari atas ya," kata Ibu Pao. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka karena sudah berada di wilayah selatan, kubawa ia melenting dan membubung ke atas Pagoda Angsa Liar, melewati lapisan demi lapisan cahaya jingga yang membuatnya merasa sedang menembus nirvana... (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Diterjemahkan dari IZ Quotes (izquotes.com/quote/25472). Diunduh Kamis, 25 Juni 2015. 15:10. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/5695802510248611054/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/359-atas-kesetaraan-cinta.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5695802510248611054" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5695802510248611054" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/359-atas-kesetaraan-cinta.html" rel="alternate" title="#359 Atas Kesetaraan Cinta" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-7347736135073064027</id><published>2015-06-26T15:19:00.000+07:00</published><updated>2015-06-26T15:19:15.647+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 72"/><title type="text">#358 Penculikan Ibu Pao</title><content type="html">DENGAN gerakan lebih cepat dari kilat, aku menghindar ke samping, dan dalam kecepatan seperti itu pisau terbang tersebut tampak melayang cukup lambat, begitu lambat, bahkan terlalu lambat, sehingga aku bisa seperti memungutnya. Kujepit pisau terbang itu dari bawah dengan jari telunjuk dan jari tengah secara hati-hati, karena belum mengetahuinya beracun atau tidak. Tampak pelan bagiku yang bergerak dengan kecepatan melebihi kilat, tetapi bukan alang-kepalang gaibnya bagi pelempar pisau terbang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang gadis remaja berbusana serba ringkas tampak memandangku dengan mata terbelalak. Ungkapan wajahnya serbamurni, seolah-olah tadi tidak bermaksud membunuhku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah! Sihir! Bagaimana caranya Kakak menangkap pisau itu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia hampir membunuhku, tapi dia bertanya caraku menangkap pisau itu! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Adik kecil! Janganlah main-main dengan senjata seperti ini! Kalau pisau ini menancap di dada Kakak dan Kakak mati, apakah Adik tidak menyesal?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini ia menjadi galak. Kedua tangannya masing-masing sudah memegang pisau terbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau mati? Memang itu maksudku! Kakak harus mati!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Harus mati? Apa sebabnya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kakak menculik nenek! Kembalikan nenek sekarang!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kilat menyambar kepalaku! Ibu Pao diculik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kapan diculik? Siapa yang menculik?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Baru saja! Apakah Kakak bukan salah satu dari mereka?!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Letakkan dulu pisau-pisau itu. Kakak bukan musuhmu. Tunjukkan arahnya, akan kurebut kembali nenekmu itu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepintas tadi kulihat bercak darah di lantai, dan wajah gadis remaja itu ternyata lebam. Jadi ia berhasil menancapkan salah satu pisau terbangnya, tetapi salah satu penculik itu mungkin pula sempat memukul jatuh atau membantingnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis remaja yang masih kekanak-kanakan tapi mahir melontarkan pisau terbang itu menunjuk ke suatu arah, dan aku pun berkelebat mengikuti jejak para penculik ini melalui udara. Ya, bahkan udara pun dapat menunjukkan jejak manusia, sejauh manusia dapat membaca jejak-jejak di udara itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langit sore mulai memerah dan angin musim panas terasa kering, ketika aku melesat dan melenting dari atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain di Kotaraja Chang'an, memburu para penculik Ibu Pao. Sejenak kemudian terlihatlah bayang-bayang hitam para penculik di kejauhan, juga melenting dari atap ke atap sambil membopong tubuh Ibu Pao, yang kemungkinan besar sudah ditotok jalan darahnya sehingga dari jauh tampak lemas tidak berdaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah yang mereka kehendaki dari Ibu Pao? Dari pihak manakah mereka dan apakah kepentingannya? Untuk beberapa saat aku ragu, karena tergoda dengan gagasan untuk mengikuti saja mereka sampai ke tempat asalnya, dan baru setelah itu membebaskan Ibu Pao. Namun serentak dengan teringatnya aku kepada gadis remaja yang gagah berani tetapi telah dianiaya itu, berkelebatlah aku langsung ke tengah gerombolan penculik, yang tampak seperti merasa aman dan nyaman dengan perbuatan jahatnya tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun para penculik itu jelas bukanlah sekadar penjahat kambuhan. Aku belum sampai mendekati mereka ketika salah seorang dari mereka berbalik mendadak, langsung melayang dan meluncur ke arahku dengan pedang jian lurus terhunus. Aku pun melenting jungkir balik ke atas, hanya untuk turun kembali dengan Jurus Elang Emas Menyambar Salmon. Dengan segera kami pun lenyap menjadi cahaya berkelebatan, untuk sebentar, karena kutinggalkan manusia yang wajahnya tersembunyi dalam keremangan itu dalam keadaan menggelinding di atas genting tanpa nyawa lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memang membawa sebilah pisau terbang yang kutangkap ketika dilemparkan gadis kecil itu ke arah jantungku, tetapi aku tidak menggunakannya. Dalam beberapa sentuhan telapak kaki dari wuwungan ke wuwungan, lima penculik yang di dalam kerudungnya tiada berwajah itu segera tersusul, dan penculik pertama yang berhasil kupegang leher bajunya segera kutarik dan kubuang sejauh 100 &lt;i&gt;li&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penculik kedua yang menyadari kawannya hilang segera berbalik menyerangku dengan jarum-jarum beracun sambil meluncur ke arahku dengan pedang terhunus. Gegabah! Dengan lambaian tangan kiri, angin pukulanku membuat jarum-jarum beracun itu berbalik dengan sama kencangnya. Ketika pedangnya sibuk menyampok jarum-jarum beracunnya sendiri, aku telah menjejak punggungnya dengan tumitku sambil terus mengejar yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempat kulihat ia jatuh meluncur dan menimpa sebuah kedai! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/7347736135073064027/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/358-penculikan-ibu-pao.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7347736135073064027" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7347736135073064027" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/358-penculikan-ibu-pao.html" rel="alternate" title="#358 Penculikan Ibu Pao" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-7312990972286274968</id><published>2015-06-25T16:59:00.002+07:00</published><updated>2015-06-25T16:59:46.366+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 72"/><title type="text">#357 Rahasia Semua Orang</title><content type="html">RAHASIA-rahasia yang kuketahui tanpa kukehendaki memang terbagi dua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama adalah rahasia yang sudah kuketahui isinya, seperti rahasia yang disampaikan oleh pengantar surat di jalur cepat. Itulah rahasia yang diminta agar disampaikan kepada Panglima Pertahanan Kota, yang setelah mengetahui rahasianya lantas memintaku untuk menyampaikannya kepada Perdana Menteri Zheng Yuqing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku belum melupakan perjalanan berdarah yang ditempuh rahasia itu untuk bisa sampai ke Chang'an, berapa orang pengantar surat tewas akibat berperan sebagai pengelabu yang sebetulnya tidak membawa rahasia, bahkan pembawa rahasia dalam ingatannya itu pun tiada luput dari pembantaian lawan, sehingga menitipkannya secara lisan kepadaku. Pada gilirannya diriku pun terpaksa membantai begitu banyak orang yang berusaha merebut atau menghalangiku, meninggalkan jejak berdarah yang panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu mahalnya suatu rahasia!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk jenis rahasia ini, meski kuketahui isinya, aku tidak dapat mengungkapnya karena memang rahasia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua adalah rahasia yang tidak kuketahui isinya, tetapi kuketahui keberadaannya, sehingga justru ingin mengungkapnya seperti dengan rahasia negara yang dibagi tiga di antara tiga orang kebiri malang yang disebut Si Tupai, Si Cerpelai, dan Si Musang itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru sekaranglah aku berpikir agak lebih baik tentang cara membongkar rahasia negara tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, jika disebut kata &lt;i&gt;negara&lt;/i&gt;, maka aku tidak harus menafsirkannya sebagai sesuatu yang berhubungan dengan peraturan resmi pemerintah misalnya, melainkan suatu atau sejumlah kelompok dalam permainan kekuasaan di luar pemerintahan, yang berkepentingan dengan suatu keadaan tertentu, jika tidak di Negeri Atap Langit, setidaknya di Istana Daming. Mengingat berlangsungnya pengejaran terhadap orang-orang kebiri ini membawa hawa pembunuhan, maka dapat dikatakan bahwa keadaan tertentu itu berusaha dicapai dengan cara yang tidak sah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, disebutkan bahwa tiga orang kebiri malang ini seharusnya bertemu dalam pelarian, untuk menggabungkan sepertiga bagian rahasia masing-masing, tetapi ketiganya tewas sebelum sempat bertemu, juga dengan cara masing-masing. Si Cerpelai terpotong-potong tubuhnya dan dimasukkan ke dalam karung, Si Tupai terbunuh oleh racun orang-orang Kalakuta, dan Si Musang mati bunuh diri di Kampung Jembatan Gantung. Ketiganya jelas belum mengetahui apa isi rahasia tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, dengan demikian, rahasia ini sebetulnya bukan rahasia lagi bagi sebagian besar orang dalam jaringan, tetapi begitu merembes keluar dari jaringan segera dianggap kebocoran yang harus cepat diatasi, yakni dengan cara meniadakan para pemilik pengetahuan keterangan-keterangan terpisah itu, yang berarti juga membunuhnya. Namun bukanlah mereka bertiga, melainkan seseorang atau pihak lain lagi dalam jaringan yang menjadi pembocor, dengan membagi rahasia itu menjadi tiga, tetapi yang tentunya dengan suatu cara telah terpergok. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiranya itulah yang membuat Si Musang dipotong lidahnya, agar tidak membocorkan rahasia, tetapi dibiarkan tetap hidup agar masih bisa menunjukkan siapa yang membocorkannya. Namun ketika bahkan ketiganya sudah mati, ternyata aku masih berpikir tentang apa yang diketahui mereka masing-masing dan berharap bisa menggabungkannya. Padahal, setelah pertama-tama masih berpikir tentang mencari siapa pembocornya, begitu lambat diriku sampai kepada gagasan bahwa jika ada satu pembocor, yang mengetahui rahasia itu tentu cukup banyak!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setiap orang mempunyai tempat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan setiap orang memiliki nilainya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cara melihat ini mengizinkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
penggunaan cerdas petugas-petugas rahasia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sebagian besar keterangan didapat dari petugas rahasia ganda &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langit merah ketika aku tiba di depan pintu rumah Ibu Pao. Bersediakah kiranya ia menemuiku? Kami belum pernah bertemu lagi semenjak pertemuan yang dulu itu, ketika ia kemudian menghubungkan diriku dengan Putri Anggrek Merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berada di depan sebuah &lt;i&gt;wafang&lt;/i&gt; atau rumah beratap genting yang letaknya agak terpencil di dalam sebuah petak permukiman yang rumah-rumahnya tergabung membentuk petak-petak kecil di dalamnya. Rumah itu tampak sesuai dengan keberadaan Ibu Pao yang hidup sendiri, sering pergi sehari penuh sampai jauh malam atau bahkan berhari-hari, tetapi juga untuk menerima tamu-tamu penting yang tidak ingin urusannya diketahui oleh orang lain. Aku berdiri di depan pintu dengan dua buah jendela tanpa daun, memanggil-manggil penghuninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat sore Ibu Pao! Selamat sore! Adakah orang di rumah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintunya tertutup, tetapi terdapat sedikit celah, seperti ada orang di dalam rumah, sehingga kudorong saja. Pintunya pun membuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibu Pao? Selamat s....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku karena dari dalam rumah melesat sebuah pisau terbang langsung ke arah jantungku! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Su Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt; , diterjemahkan oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 108. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/7312990972286274968/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/357-rahasia-semua-orang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7312990972286274968" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7312990972286274968" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/357-rahasia-semua-orang.html" rel="alternate" title="#357 Rahasia Semua Orang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-2029867916456019030</id><published>2015-06-24T16:37:00.001+07:00</published><updated>2015-06-24T16:37:43.682+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 72"/><title type="text">#356 72: Jangan Percaya Apa Pun</title><content type="html">AKU masih tinggal di Chang'an sampai akhir tahun 800, demi kepentingan Panah Wangi yang kukira perlu ditemani dalam penyembuhan luka-lukanya akibat pertarungan dengan Harimau Perang. Luka sabetan pedang saling menyilang itu memang parah, bukan hanya karena kedalamannya, melainkan karena Harimau Perang agaknya telah merendam sepasang pedang melengkung itu ke dalam ramuan racun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kiranya racun itulah yang telah membuat Panah Wangi sulit berbicara, dan hanya setelah para tabib memeriksa sepasang pedang Harimau Perang sajalah, maka dapat diketahui obat penawar racun macam apa yang harus diramu untuknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pedang itu sendiri sebetulnya sudah tenggelam ke dalam kolam yang cukup dalam bersama terceburnya Harimau Perang yang menyala terbakar, sehingga para pengawal terpaksa menyelam sampai ke dasar kolam untuk mengambilnya. Untunglah pedang itu tidak ikut hangus dan racun yang terserap di dalamnya masih bisa diperiksa. Kukira Panah Wangi beruntung dirawat oleh para tabib terbaik di seluruh Chang'an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Buddha berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
jangan percaya apa pun (hanya) karena sudah tertulis &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jangan percaya apa pun (hanya) karena disebut suci &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jangan percaya apa pun (hanya) karena orang lain mempercayainya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tetapi percayailah hanya yang dikau sendiri pertimbangkan sebagai benar &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Selama Panah Wangi belum bisa bergerak dan belum bisa berbicara, aku selalu berada di dekatnya, supaya ia merasa tenang karena ada seseorang yang ia kenal bersamanya. Meskipun petak di sudut paling barat laut dari Pasar Barat itu berada dalam pengawalan ketat siang dan malam, sebagai bekas mata-mata tentara tentu Panah Wangi paham dirinya berada dalam kedudukan rawan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun menyadari bahwa secara resmi Panah Wangi masih seorang buronan. Bukan tidak mungkin Pasukan Hutan Bersayap mengirim seorang penyusup untuk menculik atau membunuhnya, bahkan Dewan Peradilan Kerajaan yang terlucuti haknya mengapa tidak menyewa seorang pembunuh bayaran pula? Menembus penjagaan tenda seperti ini, seorang penyusup bisa menggunakan ilmu landak, yakni menggali lubang di suatu tempat dan menerobos melalui bawah tanah untuk muncul lagi di dalam tenda. Seorang penyusup yang berpengalaman dapat melakukannya dengan kehalusan tingkat tinggi tanpa sedikit pun mengeluarkan suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sekitar lima bulan kemudian, setelah Panah Wangi bisa menggerakkan tubuh, bahkan berjalan perlahan-lahan, dan tenda itu dibongkar, aku tidak merasa masih harus menemaninya lagi. Ini bukan sekadar karena tempat perawatannya berpindah masuk ke Istana Daming, melainkan karena secara tekun seseorang yang lain telah berhasil menjadi teman baginya, yang tiada lain dan tiada bukan adalah Pangeran Song adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka aku pun kembali kepada diriku sendiri, kepada persoalan-persoalan yang belum kuselesaikan dan tertunda, yang harus kusisir kembali untuk mendapatkan kejernihan, persoalan manakah yang memang merupakan persoalanku, dan persoalan manakah yang sebetulnya bukan merupakan persoalanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, ini tentu persoalanku, bahwa aku harus menyusul pembunuh Amrita ke gua-gua Mogao di Dunhuang. Tentu aku penasaran ingin mengetahui siapa pembunuh Amrita, yang menurut Harimau Perang diriku akan langsung mengenalinya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, tentang permintaan Pangeran Song yang, meskipun bukan urusanku tetapi demi apa yang diterima Panah Wangi, membuatku terpaksa memikirkannya, meski ketentuannya tidak berubah, bahwa apa yang merupakan rahasia harus tetap tinggal sebagai rahasia. Ini tidak mudah karena di samping rahasia yang kuketahui, terdapatlah rahasia yang tidak kuketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, apa yang harus kulakukan dengan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang? Dengan segala hormat, aku merasakan kehadirannya sebagai suatu bahaya, tetapi aku seperti tidak punya alasan lain selain alasan dunia persilatan untuk menempurnya, yakni menguji kemampuan ilmu silatku sendiri! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ini tidak terlalu jumawa? Namun yang kupikir sekarang hanyalah bahaya ilmunya bagi setiap orang, ketika telah kusaksikan bagaimana ia bisa mencabut nyawa siapa pun setiap kali ia menghendakinya, bahkan pula nyawa ribuan orang dengan seketika, hanya demi menciptakan ketakutan manusia terhadap kekuasaannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kenyataan bahwa aku masih berada di Chang'an, tampaknya urusan ruwet antarmanusia dalam permainan kekuasaan itulah yang harus kuuraikan sebisanya, sejauh itu bisa membantu Pangeran Song, meski dengan sedih kuakui itu sama sekali tidak mudah. Tiada lain dan tiada bukan karena ini menyangkut urusan orang-orang kebiri! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Raymond van Over, &lt;i&gt;Eastern Mysticism. Volume One: The Near East and India&lt;/i&gt; (1977), h. 199. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/2029867916456019030/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/356-72-jangan-percaya-apa-pun.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/2029867916456019030" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/2029867916456019030" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/356-72-jangan-percaya-apa-pun.html" rel="alternate" title="#356 72: Jangan Percaya Apa Pun" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-1108952608800237259</id><published>2015-06-23T15:14:00.000+07:00</published><updated>2015-06-23T15:14:05.147+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 71"/><title type="text">#355 Rahasia dan Kekuasaan</title><content type="html">HARI menjelang pagi, ketika kulihat satu demi satu para tabib itu keluar dari tenda dan pulang ke tempat masing-masing. Pangeran Song keluar paling akhir, terlihat maupun tidak terlihat, selalu ada pengawal di sekitarnya. Ia sudah menaiki kuda putihnya dan bersiap kembali ke Istana Daming, ketika terlihat olehnya diriku bersila di atas batu di kejauhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia bisa mengutus pengawalnya untuk memintaku datang, tetapi ia membelokkan kudanya ke arahku, sehingga aku pun melenting berdiri. Aku merasa agak kaku karena merasa asing dengan tata cara kerajaan mana pun, tetapi ia memberi tanda bahwa diriku tidak perlu terlalu peduli dengan basa-basi. Setibanya di depanku ia melompat turun, dan mencari batu untuk duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama duduk saja tanpa beban, karena sebagai musafir merdeka dari dunia persilatan, Andika sebetulnya terbebas dari ketatnya peraturan bagi warga kami, bahkan juga dari peraturan dunia ini," katanya, ''Marilah kita bicara dengan setara."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia persilatan, tempat kami bisa berkelebat, menghilang dan muncul kembali seperti yang kami suka, tentu saja adalah dunia yang begitu bebas dan merdeka, kecuali bahwa setiap kesalahan dalam tarikan napas dan setiap gerak yang terkecil sekalipun taruhannya adalah nyawa. Salah menatap dan memandang, nyawa hilang; salah bergerak dan melangkah, nyawa hilang; bahkan tidak melakukan apa pun, tetapi tanpa sengaja melepaskan kewaspadaan, nyawa bisa hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengucapkan sepatah kata, tetapi memperlihatkan sikap mendengarkan, dan Pangeran Song pun menunjukkan sikap bahwa dirinya mengerti betapa aku memang sedang mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Setiap kali teringat tentang diri Andika, wahai Pendekar Tanpa Nama, dan Andika adalah perbincangan tiada hentinya di dunia persilatan, selalu terpikir untuk membicarakan suatu persoalan, yang mungkin tidak terlalu penting bagi Andika, tetapi terlalu penting bagi Negeri Atap Langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Namun pertama kali biarlah Andika terima dahulu berita tentang Pendekar Panah Wangi, bahwasanya nyawa pendekar dari Karluk itu telah tertolong, meski masih perlu waktu baginya agar bisa pulih kembali seperti semula. Mungkin bisa setahun lamanya, dan bekas sayatan silang itu tidak akan pernah hilang kecuali dengan khasiat Batu Naga yang rupa-rupanya sudah tidak terdapat lagi di Chang'an. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tenda besar ini akan terus terpasang di sini sampai para tabib memberi izin untuk menggerakkan tubuh Panah Wangi, dan selama itu seratus pengawal akan secara bergiliran berjaga. Hanya para tabib dan para perawat yang dapat keluar masuk dengan pemeriksaan ketat, tetapi bagi Andika, bahkan hari ini pun dapat menengoknya, karena rupanya hanya Andika yang menjadi orang terdekat Panah Wangi selama ini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pangeran Song berhenti sejenak, seperti mencoba membaca wajahku. Aku menundukkan kepala, seperti mendengarkan dengan khusuk dan menanti sambungan perbincangan, karena aku memang tidak ingin dirinya membaca apa pun dari wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Beginilah soalnya Pendekar Tanpa Nama, meski diri Andika tampak tidak terlibat, tetapi para petugas rahasia kami mengerti betapa sejumlah rahasia, baik masih sebagai rahasia maupun bukan sebagai rahasia lagi, telah menjadi pengetahuan Andika. Tentu kami ketahui pula bahwa Andika terikat tata kehormatan pendekar untuk tidak mengungkap ataupun mengungkapkannya, sehingga meskipun penasaran, kami tidak berminat memaksa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Namun dengan peluang pertemuan kita, baiklah kusampaikan kepada Andika, Pendekar Tanpa Nama, bahwa Istana Daming sedang mengalami ancaman mengerikan, dari sebuah persengkongkolan jahat yang sangat licin dan sulit dibongkar, padahal..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pangeran Song terus berbicara, tetapi aku sudah tahu isinya. Sementara ia berbicara, terbayangkan olehku saling-silang di Istana Daming antara berbagai kelompok yang memanfaatkan berbagai jaringan, tetapi kemudian berbagai jaringan ini sendiri persaling-silangannya sama sekali tidak sama dan sebangun dengan persaling-silangan berbagai kelompok, yang masing-masingnya memiliki kepentingan dalam permainan kekuasaan itu. Garis besarnya adalah antara kepentingan pemerintah yang sehari-hari bekerja; sekelompok orang-orang kebiri yang dengan meminjam tangan maharaja, tetapi dengan alasan belum jelas, bermaksud ikut menentukan jalannya pemerintahan itu; keluarga istana yang terbelah antara pendukung Pangeran Li Song dan Pangeran Li Yi, yang nyaris diangkat menjadi putra mahkota; dan orang-orang dalam, termasuk putri-putri istana, pendukung panglima wilayah mana pun yang memberontak, asal menggantikan kekuasaan Wangsa Tang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langit sedikit demi sedikit mulai berubah ketika Pangeran Song memintaku membantunya dengan cara apa pun, karena mengira diriku mengetahui suatu rahasia penting yang menentukan. Namun yang berada dalam pikiranku hanyalah Panah Wangi... (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/1108952608800237259/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/355-rahasia-dan-kekuasaan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/1108952608800237259" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/1108952608800237259" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/355-rahasia-dan-kekuasaan.html" rel="alternate" title="#355 Rahasia dan Kekuasaan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-7800668556904173464</id><published>2015-06-22T16:48:00.000+07:00</published><updated>2015-06-22T16:48:30.850+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 71"/><title type="text">#354 Anak Panah Dukacita</title><content type="html">PANGERAN Song!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menunggang seekor kuda putih. Ia berbaju ringkas seperti seorang pendekar yang siap bertarung. Hanya kuda Uighur pilihan, dan 50 pengawal istana yang mengiringi dan kini mengepungku, yang menunjukkan betapa dirinya adalah orang penting. Aku belum lupa tindak-tanduk dan gerakannya yang serbahalus dan lemah-lembut, juga dalam cara bertarungnya menghadapi Panah Wangi di atas gelanggang di Istana Xingqing waktu itu. Apakah hanya karena dirinya warga istana, maka segenap perilakunya harus menjadi jauh lebih halus dari orang-orang biasa yang berada di luar istana? Namun Pangeran Song, di atas kuda putih itu, tampak seperti memiliki wibawa seorang putra mahkota. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang sedang dilakukannya di sini? Aku tentu ingat telah melihatnya ketika berkelebat ke tempat ini. Apakah ia memang sedang mencari dan kemudian membuntuti Panah Wangi? Agaknya ketentuan bahwa Harimau Perang dan Panah Wangi hanya boleh diburu oleh Pasukan Hutan Bersayap agar tidak terjadi bentrokan antara para petugas Dewan Peradilan Kerajaan yang dipimpin Hakim Hou dengan pasukannya sendiri, cenderung diabaikannya. Lagipula pasukan Pangeran Song memburu Panah Wangi bukan untuk menangkap, melainkan meminta agar Panah Wangi bersedia menjadi pengawal pribadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pangeran Song...," kataku sambil menundukkan kepala sebagai tanda menghormatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keadaan Panah Wangi yang luka parah seperti ini, aku merasa lebih baik tidak bertentangan dengan siapa pun, karena seperti akan membutuhkan pertolongan siapa saja yang bisa membantu. Sekilas teringat Batu Naga yang telah dibawa ke wilayah timur dan tentu aku tidak bisa mengharapkannya sebagai keajaiban yang muncul sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama," kudengar suara halus dari atas kuda, ''dirimu selalu tak luput disebut dalam berbagai perbincangan tentang dunia persilatan. Sangat senang akhirnya bisa bertemu. Namun kini kumohon kebesaran hatimu untuk menyerahkan Pendekar Panah Wangi yang luka-lukanya tampak sangat parah itu, agar para tabib terbaik istana dapat segera menanganinya. Tenaga Pendekar Panah Wangi pada masa depan sangat kami butuhkan.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap Panah Wangi, ia sudah sangat lemah dan pucat. Kukira aku tidak punya pilihan lain. Mata Panah Wangi bahkan sudah terpejam sekarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak mengatakan sepatah kata. Hanya mengajukan tubuh Panah Wangi ke depan. Mata Pangeran Song berkaca-kaca melihat keadaan Panah Wangi. Luka tersayat akibat sabetan saling menyilang itu tampak tidak tersembuhkan. Napas Panah Wangi tinggal satu-satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pangeran Song melambaikan tangannya, dan berlarianlah empat pengawal istana untuk menerima tubuh Panah Wangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan bergerak," kata Pangeran Song, "kita akan mendirikan tenda di sini, dan tiada cara lain selain mendatangkan para tabib istana itu kemari." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun segera menjauhkan diri dan menyaksikan bagaimana para pengawal itu bekerja. Kulihat ke sekeliling, 50 padri pengawal Kaum Muhu itu telah mengundurkan ke balik malam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat pengawal yang menyangga tubuh Panah Wangi sungguh tidak bergerak sampai sebuah tenda raksasa didatangkan dari barak Pasukan Siasat Langit, dan didirikan melampaui kepala mereka. Dalam waktu singkat, tidak kurang dari 12 tabib istana yang juga sudah terbiasa disertakan dalam peperangan, sehingga berpengalaman menangani luka sayatan senjata tajam, tiba dengan segala peralatan dan bahan-bahan ramuan obat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keunggulan para tabib sama sekali tidak kuragukan, tetapi luka Panah Wangi yang parah kusadari sebetulnya mematikan. Sabetan saling bersilang Harimau Perang tidak pernah membiarkan korbannya tetap hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang Buddha sebelum Gautama berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
tubuh ini adalah malapetaka, siksaan, bahaya, penyakit, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
anak panah dukacita, menakutkan sahaya; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengamati bahaya ini akibat hawa nafsu, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
biarlah seseorang berjalan sendirian seperti badak &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Tenggelam dalam malam yang kini langitnya bersih penuh bintang, sambil menantikan berita tentang Panah Wangi di luar tenda, aku berpikir tentang apalagi yang harus kulakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang sudah mati, tetapi tugasku masih jauh dari selesai, karena pembunuh Amrita ternyata bukanlah Harimau Perang, melainkan duratmaka lain yang masih harus kukejar ke Dunhuang. Namun rupanya aku pun tidak akan dapat segera menuju Dunhuang, meskipun jika kesempatannya terbuka, antara lain, karena kukira aku masih harus berurusan dengan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang... (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Dari &lt;i&gt;Khaggavisana Sutta&lt;/i&gt; yang berarti Wacana Badak (Rhinoceros Discourse) diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh C. F. Horne dalam &lt;i&gt;The Sacred Books and Early Literature of the East&lt;/i&gt;, dimuat kembali dalam Lucien Stryk (peny.), &lt;i&gt;The World of the Buddha&lt;/i&gt; [1969 (1968)], h. 221.</content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/7800668556904173464/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/354-anak-panah-dukacita.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7800668556904173464" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7800668556904173464" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/354-anak-panah-dukacita.html" rel="alternate" title="#354 Anak Panah Dukacita" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-1058971373897582480</id><published>2015-06-21T17:23:00.000+07:00</published><updated>2015-06-21T17:23:33.361+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 71"/><title type="text">#353 Harimau Perang Perlaya!</title><content type="html">MENDENGARKAN suara hujan sebetulnya seperti mendengarkan seseorang bercerita, tetapi yang tidak terlalu jelas bagaimana alurnya, siapa saja tokohnya, dan seperti apa latar belakangnya. Hanya seperti sesuatu sedang terjadi, sesuatu yang bisa menimbulkan perasaan tertentu, atau sesuatu yang seperti bisa dimaklumi, seperti nyanyian yang tidak diperta­nyakan lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah suara hujan terdengar seperti nyanyian yang bernada dan berirama tetap, dan karena itu seperti bisa ditinggalkan, sebab tujuanku bukanlah mendengarkan suara hujan melainkan suara-suara dari gelanggang pertarungan, agar dalam keterpejaman mendapat gambaran melalui sosok-sosok yang terwujudkan oleh garis-garis hijau kekuningan, sebagaimana dimungkinkan oleh Ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suara hujan itu berubah menjadi suara gerimis, kusaksikan lengan kedua petarung itu bergerak sedikit, sangat sedikit, tetapi kukira itulah tanda betapa keduanya siap saling menyerang. Apakah kiranya yang mereka tunggu? Kukira mereka menunggu lawan masing-masing teralihkan perhatiannya. Namun apakah kiranya dalam keadaan seperti ini yang akan membuat kedua petarung itu teralihkan perhatiannya? Jika kedua petarung itu mendengarkan apa yang kudengarkan, tentu yang mereka dengar adalah juga suara hujan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, ketika hujan menjadi gerimis, suaranya berubah. Pada titik manakah masing-masing menganggap perhatian lawan teralihkan? Siapa yang menentukan titik lebih awal tentulah akan lebih dulu menyerang. Dari hujan menjadi gerimis, keduanya belum bergerak. Gerimis pun tidak berhenti sebagai gerimis, melainkan berlanjut mereda dengan cepat, sehingga mendadak sunyi, bumi tanpa suara sama sekali. Pada titik itulah keduanya berkelebat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secepat kilat Harimau Perang mengayunkan kedua pedang panjang melengkungnya saling menyilang ke dada Panah Wangi, yang secepat pikiran menancapkan pedang &lt;i&gt;jian&lt;/i&gt; ke jantung Harimau Perang sampai tembus, lantas memutar tubuh ke belakang dan menendang punggungnya. Nyawa Harimau Perang boleh dianggap masih di tubuhnya ketika terlontar ke atas kolam, dan pada titik tertinggi 50 bola api berekor panjang melesat dari 50 arah menyalakan tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tubuh yang menyala itu jatuh ke kolam, terdengar desis seperti besi membara yang disiram air dengan bunyi yang sangat amat kerasnya. Bahkan tubuh yang masih menyala dan berkobar itu sempat pula menyalakan seluruh permukaan kolam sebelum kembali gelap sebagaimana layaknya malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemarahan mencegah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bahkan pemimpin terbesar &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dari berperan cerdas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemurkaan dan gairah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bukanlah pengganti &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bagi perencanaan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berdarah dingin &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dalam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
penghancuran musuh &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada saksi mata bagi pertarungan ini, maka ia tidak akan menyaksikan apa pun, karena kejadiannya memang berlangsung terlalu cepat, bahkan lebih cepat dari cepat! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada lagi hujan. Tiada lagi gerimis. Hanya malam. Harimau Perang terapung-apung di kolam seperti bongkahan arang raksasa, dengan sebilah pedang &lt;i&gt;jian&lt;/i&gt; tertancap menembusnya. Panah Wangi yang terluka parah berada di pangkuanku. Luka sabetan silang Harimau Perang, siapakah yang bisa menyembuhkannya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tenaga prana atau ki mungkin bisa kusembuhkan luka dalam, tetapi tidak akan bisa menangkupkan kembali luka menganga oleh sabetan pedang. Ini membutuhkan obat-obat ramuan seorang tabib yang dapat menghentikan pendarahan dan menutup kembali luka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama...," ujar Panah Wangi lemah, ''apakah daku yang membunuhnya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pedangmu menembus jantungnya, tidak mungkin ia lolos, tapi para padri pengawal Kaum Muhu tidak ingin ketinggalan," jawabku, "Mereka ingin memastikan bahwa mereka juga telah menghukum Harimau Perang.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Maafkan daku...."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak ada yang harus kumaafkan, Panah Wangi. Bahkan dirikulah yang berutang bukan saja nyawa, melainkan juga wajah..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, Pendekar....'' Panah Wangi meraba wajahku dengan tangan yang sangat lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kupegang tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dikau tidak akan mati," kataku sambil mengangkat dan membopongnya, ''Di seluruh Chang'an, tak mungkin tidak ada tabib yang tidak bisa mengobatimu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun berbalik, meski tanpa kepastian ke mana akan menuju, kecuali bertanya kepada jaringan mata-mata tentara yang selama ini telah membantu kami. Bukankah di tempat mereka diriku telah dirawat oleh Tabib Pengganti Wajah? Kukira semestinya mereka dapat menunjukkan pula ke mana luka parah Panah Wangi dapat diatasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, setelah berbalik kusaksikan betapa diriku telah terkepung! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Sun Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt;, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 101. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/1058971373897582480/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/353-harimau-perang-perlaya.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/1058971373897582480" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/1058971373897582480" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/353-harimau-perang-perlaya.html" rel="alternate" title="#353 Harimau Perang Perlaya!" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-3329776691333867578</id><published>2015-06-20T16:34:00.000+07:00</published><updated>2015-06-20T16:34:13.527+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 71"/><title type="text">#352 Siapa Menggerakkan Bayangan?</title><content type="html">HUJAN deras menghapus sisa lembayung senja di kejauhan. Senja belum berakhir tetapi sisa keremangan yang diguyur hujan meningkatkan perasaan yang semula hanya rawan menjadi gawat. Mereka yang siap mengadu jiwa telah beradu pandang, dan kini tatapan dipertajam karena kederasan hujan yang mengaburkan pandangan sangat mungkin segera dimanfaatkan lawan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang dan Panah Wangi tegak berhadapan terhalang hujan. Dalam kuda-kuda masing-masing, mata mereka menyipit berjuang menembus hujan, yang dalam kederasannya sekarang nyaris tidak memperlihatkan apa pun. Para padri pengawal meningkatkan kewaspadaan karena inilah peluang besar Harimau Perang untuk menghilang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dalam kemungkinan menghilang, aku tidak terlalu khawatir, karena ke mana pun Harimau Perang menghilang sekarang, Panah Wangi akan bisa menyusulnya. Aku lebih khawatir kepada ilmu-ilmu silat Harimau Perang yang lain, seperti ilmu pedang untuk dua pedang panjang melengkung itu, yang cukup jarang terlihat, meskipun aku pun merasa betapa kekhawatiranku mungkin berlebihan. Bukankah Panah Wangi telah mengenal Harimau Perang sebelum bernama Harimau Perang di dalam pasukan orang-orang Karluk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hujan deras yang semakin deras kini ditambah dengan kilat berkeredap dan petir menggelegar. Kedua pihak yang bertarung, untuk sesaat dapat melihat wajah masing-masing, sehingga ketika cuaca kembali menggelap dapat mereka pastikan ke mana harus melihat. Pertarungan memang seperti belum dimulai, tetapi dalam pertarungan silat, beradu pandang sudah merupakan bagian dari pertarungan. Aku agak khawatir apakah Panah Wangi akan terus mencari mata Harimau Perang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapapun beradu pandang dalam pertarungan silat tidak selalu harus berarti pandangan mata beradu pandangan mata. Masih kuingat Sepasang Naga dari Celah Kledung mengajarkan, ''Jangan tancapkan matamu pada suatu bagian dari lawan. Dikau perlu melihat gerakan lawan tanpa melihatnya. Ini untuk mencegah lawan membaca pikiranmu, dan tetap menangkap setiap gerakan lawan. Dikau tidak dapat melihat pohon besar jika pikiranmu hanya terpusatkan pada selembar daun. Sekali dikau merebut peluang, dengan harga berapa pun dikau harus menjaganya." &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kilat kembali berkeredap disusul guntur menggelegar. Terlihat olehku Panah Wangi melihat ke arah lain. Ini melegakan hatiku karena apa yang akan dilakukannya tidak akan terbaca oleh Harimau Perang. Namun ketika sekilas kutatap Harimau Perang, ternyata ia melakukan siasat yang sama! Mereka setara!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
mengetahui masalah seperti ini adalah satu hal: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
memahami kapan dan di mana &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untuk bertindak atasnya adalah hal lain &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang bergerak menggeser kedudukannya. Panah Wangi pun bergerak menggeser kedudukannya. Keduanya sudah basah kuyup. Para padri pengawal, semuanya juga basah kuyup, tetapi tetap terpaku di tempatnya. Siap dengan segala senjata dan sihir mereka. Apakah Harimau Perang masih memiliki peluang berbuat licik, licin, dan curang? Kuharap ia tidak akan pernah melakukannya lagi, pada saat-saat terakhir dari peluangnya untuk meninggalkan dunia ini sebagai pendekar. Namun jika ia bertarung dengan jujur, dan betapapun sangat kuhormati pertarungan secara ksatria, diriku sangat tidak menghendaki Harimau Perang memenangkan pertarungan ini dan menewaskan Panah Wangi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kilat berkeredap lagi, kulihat kini keduanya memejamkan mata! Mereka mungkin melakukannya karena derasnya hujan memang tidak memperlihatkan apa pun, sehingga lebih mempercayai dan lebih mengandalkan pendengarannya, tetapi kukira ini adalah cara melawan siasat: "Jika dikau memperlihatkan kemampuan untuk membaca pikiran lawan, dia akan begitu terganggu sehingga dirinya gentar, membuat kesalahan, dan memberimu kesempatan mengalahkannya." &lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun siasat ini sebetulnya hanyalah pilihan yang tidak mengubah langkah dari siasat lainnya: ''Jika dikau tidak dapat melihat ke dalam kepala lawan, dikau harus bersikap seolah-olah dapat melakukannya, dan membuat gerakan yang menandakan dirimu akan secepatnya menyerang. Ini akan membuat lawan memperlihatkan tanggapannya, memungkinkan dikau mengubah seketika itu juga cara dikau menyerang, menjebak, dan memergokinya dalam keadaan tidak siap. Inilah yang disebut menggerakkan bayangan." &lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pergeseran mereka sudah berhenti karena masing-masing tampak seperti telah maklum betapa tidak mungkin lagi saling mengelabui. Tiada lagi siasat, tinggal mengadu kecepatan dan ketepatan pada saat yang menentukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun ikut memejamkan mata agar bisa mengikuti pertarungan ini melalui Ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun suara hujan yang deras mendadak berubah, seperti mereda dan akan berhenti... (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Kazumi Tabata, &lt;i&gt;Mind Power: Strategies of Martial Arts&lt;/i&gt; (2010), h. 100. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Sun Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt;, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 68. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dipinjam dari siasat Musashi dalam Boye Lafayette De Mente, &lt;i&gt;Samurai Srategies: 42 Martial Secrets from Musashi's Book of Five Rings&lt;/i&gt; (2008), h. 122. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ibid., h. 122, dengan rujukan kepada Miyamoto Musashi, &lt;i&gt;The Book of Five Rings&lt;/i&gt; (1645), diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Victor Harris [1982 (1974)], h. 76. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/3329776691333867578/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/352-siapa-menggerakkan-bayangan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/3329776691333867578" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/3329776691333867578" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/352-siapa-menggerakkan-bayangan.html" rel="alternate" title="#352 Siapa Menggerakkan Bayangan?" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-5008312751770820246</id><published>2015-06-19T13:19:00.000+07:00</published><updated>2015-06-19T13:19:00.105+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 71"/><title type="text">#351 71: Pertarungan Senja</title><content type="html">APAKAH Harimau Perang terikat kepada suatu perjanjian rahasia dengan pembunuh Amrita? Demi pertarungan yang kami berikan kepadanya, dengan segala keterlibatannya dalam seluk-beluk tipu daya permainan kekuasaan, jika masih ingin mati dengan kehormatan dunia persilatan, maka ia harus menyerahkan semuanya, termasuk nama pembunuh Amrita. Namun sangat mungkin Harimau Perang juga terikat, jika bukan perjanjian, mungkin tata kehormatan tertentu, baik dari dalam hati maupun sekadar siasat agar yang bersangkutan bersedia membunuh Amrita untuk tidak mengungkapkan siapa pelakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam persilangan dengan tata kehormatan yang lain, yakni tawar-menawar yang kemudian menjadi kesepakatan dengan kami, justru pengungkapan atas pelaku itu tidak bisa dikecualikan. Kukira dalam tarik-menarik inilah muncul pertanyaan Harimau Perang, yakni apakah dirinya harus menyebut suatu nama yang mungkin ditafsirkannya melanggar tata kehormatan dunia persilatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dengan cara apa pun, wahai Harimau Perang, asal jika daku menangkap dan membuatnya bertanggung jawab atas perbuatannya, maka memang dialah orang yang membunuh Panglima Amrita."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira dengan jawaban seperti itu Harimau Perang berpeluang memberitahukan siapa pembunuhAmrita, tanpa melanggar tata kehormatan, meskipun yang dipikirkannya hanyalah cara mengakali tata kehormatan tersebut. Namun jawabannya sungguh tidak terduga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku memang tidak dapat memberitahukan namanya, tetapi daku dapat memberitahukan bahwa orangnya sedang dalam perjalanan menuju Dunhuang."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunhuang! Terdengar seperti ujung dunia!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Janganlah ragu kepadaku, wahai Pendekar Tanpa Nama. Daku tidak sedang mengelabuimu," kata Harimau Perang, "Ini adalah ucapan seseorang yang sudah siap dan bersedia untuk meninggalkan dunia, dan diriku tidak ingin meninggalkan dunia ini dengan nama yang diucapkan di berbagai kedai dengan mulut mencibir. Jika dikau tiba di Gua-gua Mogao tahun ini juga di Dunhuang, dikau akan segera menemui dan mengenalinya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah nama, sebuah wajah berkelebat, dan menimbulkan rasa sesak di dadaku, tetapi aku tidak ingin memikirkannya sekarang. Jika diriku percaya dan harus percaya, jika pun tidak terpaksa percaya, masih tetap saja urusan Harimau Perang ini harus diselesaikan segera, sebelum keremangan senja digantikan kegelapan malam yang kemudian menguasai Chang'an dan membantunya untuk kembali menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
pengelabuan mesti dipekerjakan sebagai muslihat/bukan muslihat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
artinya tiada mempengaruhi sikap atas pengelabuan keadaan penipuan/bukan penipuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berarti dirimu maju tanpa terpengaruh oleh gagasan menang atau kalah &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Petak tempat Harimau Perang berhadapan dengan Panah Wangi di dalam Pasar Barat tersebut luasnya sepersembilan dari petak biasa, karena luas petak Pasar Barat dan Pasar Timur yang sama saja dengan semua petak di dalam Kotaraja Chang'an, tetapi yang dibagi rata menjadi masing-masing sembilan petak, dengan sebuah kolam pada petak paling timur laut di Pasar Timur dan paling barat laut di Pasar Barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang masih tetap berada di sudut paling barat laut, di depan sebuah kolam, sama seperti ketika empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta berhasil mengurung dan tadi siap membunuhnya. Harimau Perang masih terulur hidupnya karena para padri pengawal Kaum Muhu telah lebih dahulu membunuhnya. Ia masih tetap hidup sampai saat ini karena berhasil mengajukan penawaran, yakni sebuah pertarungan satu lawan satu atas kesediaannya mengungkap seluk-beluk pembunuhan maupun siapakah kiranya pembunuh Panglima Amrita Vighnesvara. Tawaran ini diterima karena apakah dirinya menang atau kalah tidak mengubah ketentuan hukuman mati dari 50 padri pengawal Kaum Muhu, yang harus diterimanya juga sebagai tanggung jawab atas segala tindak pembunuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini Harimau Perang memiliki dua pilihan, antara bertarung dan terbunuh, atau bertarung dan menang tetapi tetap menerima hukuman mati. Keduanya memang sama-sama berakhir dengan kematian, tetapi betapapun aku menggeleng-gelengkan kepala dalam hatiku, bukan hanya menyadari langkah-langkah yang berhasil ditempuhnya dalam penguluran waktu, melainkan juga mengubah kedudukannya, dari seorang pesakitan terhukum menjadi seorang petarung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang masih berada di tempatnya semula. Ia telah mencabut kedua pedangnya yang panjang melengkung, dalam kuda-kuda yang siap untuk sebuah pertarungan antara hidup dan mati. Hanya sekitar sepuluh langkah di hadapannya, Panah Wangi juga telah mencabut pedang jian dari punggungnya dan memasang kuda-kuda. Mata Panah Wangi menatap Harimau Perang dengan tajam, begitu tajam, bagaikan tiada lagi yang lebih tajam... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itulah gerimis berubah menjadi hujan. (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Sun Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt;, diterjemahkan ke Bahasa I nggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 57. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/5008312751770820246/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/351-71-pertarungan-senja.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5008312751770820246" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5008312751770820246" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/351-71-pertarungan-senja.html" rel="alternate" title="#351 71: Pertarungan Senja" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-6641602452613776473</id><published>2015-06-18T14:31:00.000+07:00</published><updated>2015-06-18T14:31:40.776+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 70"/><title type="text">#350 Siapa Pembunuh Panglima Amrita?</title><content type="html">AKU teringat kembali bagaimana gabungan pasukan pemberontak yang tinggal selangkah lagi menguasai Thang-long, pusat pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam yang berada di bawah pengaruh Wangsa Tang, menjadi kacau-balau setelah api berkobar di garis belakang, karena seorang perempuan penyusup menyalakan bahan-bahan peledak dalam gerobak. Pasukan pemberontak yang mundur dengan penuh kekacauan diserang pasukan berkuda pemerintah andalan yang menyerbu dari balik kegelapan secara mengejutkan, mendesak kaum pemberontak sampai ke tengah Sungai Merah yang begitu dingin di musim dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu itu pun diriku tidak bisa mengerti betapa pasukan pemberontak gabungan yang terdiri atas orang-orang tangguh, dan oleh Amrita dilatih seperti tentara, dengan pengalaman tempur dalam berbagai medan berat, mengapa bisa didesak dan dihancurkan dengan begitu cepat ketika selalu unggul di berbagai medan berbulan-bulan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang segala keunggulan berkat jasa kerja mata-mata yang dipimpin oleh Harimau Perang, tetapi ternyata adalah Harimau Perang pula yang telah menghancurkannya. Aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana seseorang bisa menghancurkan segala sesuatu yang dengan susah payah telah dibangunnya sendiri. Betapapun kini aku menemukan kata kunci dan itulah yang disebut keberpihakan. Harimau Perang tidak pernah berpihak kepada pihak mana pun selain dirinya sendiri. Apa yang bagi seseorang merupakan pilihan antara setia atau berkhianat, bagi Harimau Perang hanyalah berganti pihak, tanpa tujuan apa pun selain demi suatu petualangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baginya lebih penting membuktikan kepada Amrita betapa dirinya benar, bahwa para pemimpin pemberontak bisa disuap, meskipun kemerdekaan suatu bangsa terjajah bukan hanya tertunda, melainkan jatuh pula beribu-ribu korban. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang menjadikan Harimau Perang sebagai penjahat besar adalah tindakannya yang sungguh berdaya untuk meng­ubah para pemimpin pemberontak menjadi pengkhianat, dan baginya ini bukanlah keberpihakan kepada pihak mana pun selain sebuah petualangan. Untuk itulah kukira dia layak dihukum mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana dengan Amrita?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia berhenti bicara, menghela napas panjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Panglima Amrita itu, mengapa begitu sulit untuk percaya..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menunggu. Cukup lama Harimau Perang berhenti di sini. Apakah kiranya yang begitu mengganjal sehingga begitu sulit baginya untuk bercerita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
mereka yang mahir dalam seni perang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengizinkan Jiwa Langit mengalir di dalam dan di luar diri mereka &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
"Sulit percaya bahwa kesetiaan macam apa pun bisa berubah menjadi pengkhianatan, sehingga perlu teman sendiri untuk membunuhnya agar ia bisa percaya," sambung Harimau Perang, ''tetapi baru hari ini daku mendengar bahwa ternyata ia mengakuinya, meski tetap menyalahkan diriku seorang sebagai sumber segenap kegagalan pasukan pemberontak itu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman sendiri? Siapakah yang dimaksudnya itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Harimau Perang, jadi bukanlah dirimu yang menusuk Amrita Vighnesvara dari belakang?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama, tidakkah jelas masalahnya bagimu bahwa jika daku yang membunuhnya tentu Panglima Amrita lebih sulit diyakinkan betapa teman seperjuangan bisa berbalik mengkhianatinya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertegun. Kata-katanya tidak keliru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku sedang berada di hadapannya ketika itu," kata Harimau Perang lagi, "jadi dia pun tahu bukanlah diriku melainkan teman di belakangnya, yang seharusnya melindunginya, yang membunuhnya. Daku segera berkelebat ketika dirimu tiba, begitu juga dirinya. Janganlah bertanya siapa pembunuhnya, wahai Pendekar Tanpa Nama, karena betapapun adalah diriku yang membuatnya membunuh Panglima Amrita kekasihmu itu. Jadi dikau tetap bisa beranggapan dakulah pembunuhnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangatlah kuhargai cara Harimau Perang mengambil alih tanggung jawab pembunuhan Amrita, tetapi ini tidak mengurangi kemarahan dan tuntutanku kepada pembunuh Amrita yang menusuknya dari belakang itu. Sama seperti sikap Kaum Muhu terhadap Harimau Perang yang telah membunuh dua padri mereka dengan tiada semena-mena, untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, begitu pula sikapku terhadap pembunuh Amrita siapa pun orangnya. Ibarat kata ke mana pun dia pergi, ke mana pun kakinya melangkah, ke ujung dunia sekalipun, akan tetap kukejar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itulah ceritaku," kata Harimau Perang, "apakah daku bisa mendapatkan pertarunganku sekarang?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panah Wangi sudah hampir beranjak, tetapi aku menahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh, tidak semudah itu Harimau Perang. Dikau harus tetap memberi tahu kami siapa yang telah membunuh Amrita."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerimis masih tetap saja, tidak mereda, tidak juga menderas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang menadah gerimis itu dengan kedua tangan, lantas membasuh wajahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah daku harus menyebutkan namanya?" (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Sun Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt;, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 37.</content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/6641602452613776473/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/350-siapa-pembunuh-panglima-amrita.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6641602452613776473" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6641602452613776473" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/350-siapa-pembunuh-panglima-amrita.html" rel="alternate" title="#350 Siapa Pembunuh Panglima Amrita?" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-7525829659592026491</id><published>2015-06-17T14:28:00.000+07:00</published><updated>2015-06-17T14:28:04.626+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 70"/><title type="text">#349 Biarlah Mereka Membaca Kitab-Kitab</title><content type="html">HARIMAU Perang tentu sedang memberdayakan akalnya, dan itu tentu akal yang bagus, meskipun kami tidak boleh terkecoh. Matahari sudah berada di balik tembok perbentengan Kotaraja Chang'an. Seharusnya Harimau Perang sudah mati sejak tadi, tetapi ia sungguh-sungguh liat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia meminta sebuah pertarungan satu lawan satu sebagai ganti cerita yang akan disampaikannya kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika permintaan ini tidak dituruti, kami akan menjadi bahan perbincangan di setiap kedai dengan nada mencibir. Maka pertarungan itu harus terjadi. Sekarang aku tahu bagaimana ia menjadi licin!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dikau tidak berpikir akan bebas bukan? Bagi kami dikau harus mati hari ini, dan tiada lain selain mati. Apa katamu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama, daku pun orang dunia persilatan, daku juga ingin mati sebagai pendekar, dan pertarungan ini adalah ganti untuk cerita itu. Tiada hubungan dengan hidup dan matiku. Menang atau kalah diriku dalam pertarungan itu, daku siap untuk kalian hukum."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengernyit, tampaknya adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dakulah yang akan menghadapimu nanti, Harimau Perang," kataku, ''sekarang ceritakanlah apa yang mau dikau ceritakan itu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tunggu!" Itu suara Panah Wangi, yang bersama itu juga melesat mendekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dakulah yang akan menghadapinya nanti, Pendekar Tanpa Nama," ujarnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru akan menyanggahnya, ketika Panah Wangi melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengapa kami semua tidak dikau ajak bicara lebih dahulu? Tapi di antara kita semua, kukira dakulah yang paling dalam merasakan penderitaan akibat kejahatannya. Kaum Muhu terderitakan oleh terbunuhnya dua padri mereka dengan tiada semena-mena, dikau terderitakan oleh terbunuhnya Panglima Amrita, tetapi daku tidak hanya terderitakan oleh terbunuhnya kekasihku Panah Sakti, melainkan diriku pun hampir berhasil diperkosa olehnya, yang jika bukan karena pertolongan Panah Sakti, tidak dapat kubayangkan bagaimana daku menjalani hidup selanjutnya. Biarlah daku yang bertarung melawannya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-katanya benar belaka, di antara kami semua adalah Panah Wangi yang memiliki alasan terkuat untuk bertarung dan membinasakan Harimau Perang dengan tangannya sendiri. Namun Harimau Perang bukan cacing dan bukan pula semut yang terlalu mudah dibunuh, sebaliknya dalam keadaannya sekarang pun masih akan mampu bertarung dan melenyapkan jiwa lawannya. Apakah ini juga telah diperhitungkan oleh Harimau Perang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi kekhawatiranku atas keselamatan Panah Wangi, aku rela membatalkan perjanjian dan kehilangan kesempatan menguak kabut kematian Amrita, tetapi dalam dunia persilatan apa yang sudah disepakati tidak dapat ditarik kembali. Maka Harimau Perang akan mengungkapkan apa yang terjadi di Thang-long waktu itu dan bertarung melawan Panah Wangi. Setelah itu, menang atau kalah, Harimau Perang dihukum mati oleh para padri pengawal Muhu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kong Fuzi berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
orang-orang muda mestinya jadi anak baik-baik di rumah, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sopan dan bermartabat di antara khalayak; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mereka harus hati-hati dalam tingkah laku, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan setia, mencintai sesama, serta menghubungkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diri mereka sendiri dengan orang-orang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jika setelah mempelajari semua ini, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
masih tersisa tenaga, biarlah mereka membaca kitab-kitab &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah Harimau Perang sebagai kepala gabungan mata-mata pasukan pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam, telah bertemu Amrita sebagai panglima pasukan pemberontak, untuk membicarakan perkembangan pertempuran. Dalam perbincangan itu Harimau Perang menyampaikan, betapa rawan ketahanan pasukan pemberontak itu, bukan dalam pertempuran, melainkan dalam menghadapi penyuapan, karena para pemimpin pasukan disebutnya silau terhadap kilau uang &lt;i&gt;tail emas&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amrita meyakinkan Harimau Perang bahwa para pemimpin pasukan pemberontak kebal akan suap macam apa pun, seperti telah terbukti dalam perjuangan bersama selama berbulan-bulan yang berat di dalam hutan. Mereka pun berdebat dan keyakinan Amrita menjengkelkan Harimau Perang, bahkan pada gilirannya menimbulkan rasa dengki. Alih-alih sekadar mencari bukti, Harimau Perang memperjuangkan pembuktian yang sebaliknya, yakni menyuap, merayu, mempengaruhi, dan barangkali menipu juga, terhadap para pemimpin pasukan pemberontak, hanya untuk mengalahkan keyakinan Amrita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Harimau Perang yang dengan kemampuannya dalam tugas rahasia seharusnya mencegah, menangkap, dan memusnahkan daya-daya pelemahan pasukan, sebaliknya justru menggunakan dirinya sendiri untuk memberdayakan pelemahan-pelemahan itu. Harimau Perang kemudian juga ternyata menjual kedudukan seperti ini kepada pihak lawan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang terjadi kemudian, para pemimpin pasukan pemberontak ini bukan saja tidak mendapat apa pun, tidak &lt;i&gt;tail emas&lt;/i&gt;, tidak pula apa pun yang dijanjikan, karena mereka semua tergiring dan terjebak menuju ladang pembantaian! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Lin Yutang, &lt;i&gt;The Wisdom of Confucius&lt;/i&gt; (1938), h. 204. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/7525829659592026491/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/349-biarlah-mereka-membaca-kitab-kitab.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7525829659592026491" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7525829659592026491" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/349-biarlah-mereka-membaca-kitab-kitab.html" rel="alternate" title="#349 Biarlah Mereka Membaca Kitab-Kitab" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-8066895982459687223</id><published>2015-06-16T13:43:00.000+07:00</published><updated>2015-06-16T13:43:00.364+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 70"/><title type="text">#348 Tantangan Seorang Petualang</title><content type="html">AKU sudah begitu dekat dengan Harimau Perang, tetapi wajahnya tetap tidak terlihat, meskipun dari kesamar-samaran yang sempat membayang di bagian wajahnya itu, terlihat sekilas cahaya senyuman. Hmm. Senyuman orang yang sebentar lagi akan mati, apakah maknanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas terdengar suara Harimau Perang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama, sungguh begitu pentingkah cerita itu untukmu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika bukan karena cerita itu, diriku tidak akan berada di sini, Harimau Perang."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlihat lagi kilas senyuman itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pendekar Tanpa Nama, jika memang demikian, cerita itu ada harganya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permainan apakah ini? Apakah aku harus mengatakannya kurang penting, Tentu cerita itu sangat penting bagiku. Amrita tewas oleh jebakan dan pengkhianatan yang belum jelas latar belakangnya dan kini segalanya mungkin akan segera terbuka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti kilas senyuman itu menunjukkan kelicinannya! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun jika aku mengatakannya kurang penting, apalagi tidak penting, terutama dengan tujuan agar justru dia menceritakannya, bagi orang seperti Harimau Perang siasat seperti ini tentu mudah dibaca. Jadi dia tidak akan menceritakannya pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa maksudmu Harimau Perang?Jika dikau bermaksud menukarnya dengan jiwamu, apalagi kebebasanmu, dikau pun tahu itu mustahil."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentu tidak, wahai Pendekar, tetapi jika dikau menganggapnya begitu penting dan begitu menginginkannya, maka cerita itu sungguh pantas dikau bayar."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertegun. Gerimis dan keremangan mengundang malam, tetapi hari masih cukup terang untuk memperlihatkan rambutnya yang lurus panjang. Ia telah memasukkan kembali pedang panjang melengkung itu ke dalam sarungnya, tersoren saling menyilang di punggungnya, seperti mengerti betapa dihunus pun tiada gunanya. Punggungnya tegak dan dadanya bidang, dengan bahu lebar pada tubuh tinggi besar, sesuai dengan keberasalannya, tempat Kaum Ta ch'in, yang sama dengan Kaum Muhu, juga berasal dari Persia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja Harimau Perang bukanlah golongan pelarian atau pengungsi, bukan pula keturunan pelarian atau keturunan pengungsi, melainkan seorang pengembara. Bahkan lebih dari pengembara, kukira Harimau Perang adalah seorang petualang. Jika seorang pengembara melakukan perjalanan demi perjalanan itu sendiri, maka bagi seorang petualang suatu perjalanan tidak ada artinya tanpa menguji dan melayani setiap kemungkinan yang dilihat sebagai tantangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang membedakan diriku dengan Harimau Perang. Sebagai pengembara, yang pada dasarnya adalah orang asing di setiap tempat yang kulewati, aku berusaha keras membatasi diriku sekadar sebagai orang yang lewat, sebagai penonton yang tidak melibatkan diri dengan masalah setempat, kecuali jika sangat terpaksa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celakanya, seperti selalu terjadi dalam dunia persilatan, terlalu sulit untuk menghindarkan diri dari tantangan persilatan yang apabila dilakukan oleh seorang pendekar yang terlibat dalam permainan kekuasaan akan membuat siapa pun yang ditantangnya, jika tak dapat dikalahkannya, menjadi terlibat ke dalam permainan kekuasaan pula. Seperti yang terjadi dengan tantangan bertarung Amrita kepadaku di pelabuhan Funan waktu itu, ketika belum lagi sehari menginjak Tanah Kambuja, yang jika tidak pernah terjadi tentu tidak akan menyeretku sampai sejauh ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan pada Harimau Perang, dengan sengaja sebagai orang asing mengajukan diri untuk bergabung ke dalam tentara bayaran Karluk. Setelah membunuh Panah Sakti, ia menyembunyikan dirinya jauh ke An Nam, melibatkan diri dalam kegiatan mata-mata kaum pemberontak sampai berhasil mengepalai kesatuan mata-mata pemberontak gabungan. Namun ia pun lantas berganti pemihakan, dengan mengorbankan ribuan orang, barangkali membunuh Amrita pula, yang membuatnya mendapat jabatan kepala mata-mata Negeri Atap Langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah perbedaan antara pengembara dan petualang. Seorang pengembara mungkin mempunyai tujuan, mungkin pula tidak mempunyai tujuan, tetapi hanya menerima apa pun yang lewat dalam hidupnya selama mengembara. Seorang petualang tidak akan pernah merasa cukup dengan hanya menerima, karena ia memang mencari, menguji, mencoba, tetapi hanya sejauh masih menyenangkan dan sesuai dengan tujuannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Harimau Perang telah sampai kepada akhir petualangannya? Apakah yang masih mungkin dilakukannya untuk menyelamatkan diri dalam keadaan seperti ini? Ternyata ia memiliki rahasia, yang bagiku mungkin saja sangat berharga, karena berhubungan dengan apa yang diucapkan Amrita. Namun ia meminta bayaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dengan apa Harimau Perang? Apakah kiranya yang masih cukup berharga bagi orang mati?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dengan memberiku kesempatan bertarung," katanya, "satu lawan satu." (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/8066895982459687223/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/348-tantangan-seorang-petualang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/8066895982459687223" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/8066895982459687223" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/348-tantangan-seorang-petualang.html" rel="alternate" title="#348 Tantangan Seorang Petualang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-7875401197023266378</id><published>2015-06-15T17:53:00.000+07:00</published><updated>2015-06-15T19:59:51.528+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 70"/><title type="text">#347 Rahasia di Ujung Mulut</title><content type="html">HARIMAU Perang yang semakin tenggelam dalam senja semakin tak terlihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu dia tidak akan menjawab pertanyaan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panah Wangi tampak kesal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Harimau Perang, dikau berhak tidak menjawab," katanya, "tetapi jika dewa-dewa membiarkanmu mati hari ini, ketahuilah bahwa dikau tidak akan mati hari ini, jika tidak pernah secara licik menikam Panah Sakti di tengah kemelut pertempuran dari belakang, pada masa mudamu yang memalukan." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut itu terdengar suara orang meludah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panah Wangi mengepalkan kedua tangannya, penanda dirinya menahan amarah. Seketika tergenggam pada masing-masing kepalan itu sebatang anak panah yang seperti siap menancap pada dahi siapa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kuharap dikau tahu bagaimana daku menghukum pemerkosa dan calon pemerkosa," kata Panah Wangi lagi, "karena hukuman yang sama pasti terjadi padamu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti ancaman tetapi bukan ancaman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerimis menderas, betapapun belum menjadi hujan. Salah seorang padri pengawal berkata, ''Jawablah Harimau Perang, mengapa dikau membunuh dua padri Kaum Muhu yang tidak mempunyai kesalahan apa pun kepadamu, dengan sangat kejam? Dikau memenggal kepala dan menyayat-nyayat dada para petinggi agama kami dengan tiada semena-mena. Apakah kiranya dikau tiada memikirkan betapa tindakan seperti itu bisa dilakukan tanpa mendapat hukuman atau pembalasan setimpal?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada terdengar jawaban apa pun selain suara dengusan, apalagi jika bukan penghinaan. Angin kencang menyibak gerimis sehingga titik-titik gerimis beterbangan membasuh wajah-wajah para padri pengawal, yang tampak begitu waspada terhadap setiap perkembangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kiranya yang dipikirkan oleh Harimau Perang? Apakah ia berpikir betapa konyol semua pertanyaan ini, karena hidup pada dasarnya memang bantai-membantai? Untuk sejenak aku menyadari keadaan ini sebagai pertarungan antara kebiadaban dan peradaban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angin semakin kencang ketika giliranku tiba. Dalam perbincangan menghadapi keadaan ini telah diminta pengertianku bahwa pertanyaan diajukan bukan dalam semangat penyidikan, melainkan pengesahan untuk memberikan hukuman, yakni hukuman mati, yang sama juga sebagai pengesahan untuk membunuhnya, yang nadanya bukan tidak dikenali oleh Harimau Perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantaslah ia sejak tadi hanya meludah dan mendengus tanpa kebahagiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laozi berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
mengetahui dan tidak diketahui adalah terbaik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menjadi bebal tetapi mengira paham adalah bencana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengetahui kesalahan seseorang adalah cara menuju ketidakbersalahan &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Masalahku memang berbeda dengan Panah Wangi dan para padri Muhu itu, yang kehendak dan tujuannya sudah jelas, yakni balas dendam, meski telah diadabkan sebagai penegakan keadilan. Namun aku memburu Harimau Perang sama sekali bukan dengan pikiran untuk membunuhnya, bahkan tidak pernah terpikir olehku sebelum Panah Wangi menyebutnya bahwa kemungkinan terbesar adalah Harimau Perang yang menjadi pembunuh Amrita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mudah bagiku menyingkirkan gagasan terdapatnya persekongkolan, dan tujuanku untuk mencari Harimau Perang adalah mempertanyakannya, dengan cara yang juga belum kuketahui. Sekarang aku tidak punya waktu lagi. Harimau Perang sudah berada pada saat-saat terakhirnya. Panah Wangi dan 50 padri pengawal Muhu yang mengepungnya tidak mungkin membiarkan Harimau Perang hidup lebih lama dari hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jawablah Harimau Perang," kataku, "apakah maknanya ketika Panglima Amrita Vighnesvara berkata 'Harimau Perang merusak segalanya.'?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dua pertanyaan sama sekali tidak dijawab, aku merasa sudah tahu bahwa pertanyaan ketiga ini juga tidak akan dijawab. Namun tubuh Harimau Perang yang semula terpuruk bagaikan mendapat ruh baru. Ia langsung menjawab pertanyaan ini dengan pertanyaan pula!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Merusak segalanya, itu yang dikatakan Panglima Amrita?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, apa maksudya?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang tertawa kecil, seperti menertawakan sesuatu di dalam pikirannya sendiri, tetapi kemudian tawanya itu menjadi semakin keras. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hahahahahaha! Akhirnya dia mengakui apa yang semula diingkarinya! Hahahahaha!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah yang diingkarinya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang masih tertawa, seperti lupa betapa hidupnya sungguh akan berakhir. Aku melayang dari atas wuwungan menuju tempat dirinya tersudut itu, lantas turun dengan bobot bulu burung angsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ceritakanlah semua," kataku, ''hidupmu tinggal beberapa saat lagi."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berharap Harimau Perang berpikir seperti aku berpikir, bahwa sebelum mati yang terasa begitu dekat di depan hidung ini, sepantasnyalah manusia itu berbuat baik sebaik-baiknya, dengan begitu baik, sangat amat baik, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ternyata aku keliru! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Melalui John Blofeld, &lt;i&gt;The Secret and the Sublime: Taoist Mysteries and Magic&lt;/i&gt; (1973), h. 158</content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/7875401197023266378/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/347-rahasia-di-ujung-mulut.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7875401197023266378" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/7875401197023266378" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/347-rahasia-di-ujung-mulut.html" rel="alternate" title="#347 Rahasia di Ujung Mulut" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-5893692215593396155</id><published>2015-06-14T17:44:00.000+07:00</published><updated>2015-06-15T19:50:10.734+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 70"/><title type="text">#346 70: Pengadilan Harimau Perang</title><content type="html">KULIHAT Harimau Perang memejamkan mata. Tahukah ia betapa dirinya sedang diloloskan melalui lubang jarum? Saat ia membuka matanya, empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta dari Daerah Perlindungan An Nam itu sudah terkapar tanpa nyawa lagi. Matanya terbuka lebih lebar. Dari jauh dapat kulihat cercah harapan dan kegembiraan, untuk sebentar, karena tentu disadarinya kemudian betapa orang-orang Kalakuta itu dibunuh bukanlah untuk menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mata seorang mata-mata akan segera terpindai dan tertemukan olehnya betapa dirinya sudah terkepung. Tidak kurang dari 50 padri pengawal Kaum Muhu telah mengunci kedudukannya di sudut barat laut dari dinding tembok petak yang terletak di sudut paling barat laut di Kotaraja Chang'an. Ia tidak akan bisa lolos dengan cara apa pun, dengan ilmu penyusupan maupun ilmu sihir, karena bagi Kaum Muhu apa yang disebut sihir bahkan menjadi permainan kanak-kanak belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah selama berbulan-bulan para anggota perkumpulan rahasia Kalakuta mencari, melacak, dan memburu Harimau Perang, dan selama itu pula para padri pengawal Kaum Muhu membuntuti orang-orang Kalakuta tersebut. Limapuluh padri pengawal dibagi menjadi empat regu untuk membuntuti empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta, dengan dua regu terdiri atas 12 orang dan dua regu lain terdiri atas 13 orang. Dengan cara ini, setiap orang Kalakuta dapat diikuti secara ketat dari 12 sampai 13 sudut pandang, sehingga tiada lagi celah yang memungkinkan para padri pengawal Muhu itu kehilangan jejak maupun pandangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuan Harimau Perang untuk menyamar, menyusup, dan menghilang, sesungguhnya tiada memiliki kelemahan, kecuali bahwa para bekas pengawal pribadinya, meski hanya sewaan, telanjur menggenggam segenap perbendaharaan siasat Harimau Perang. Tanpa kesempatan menyerap pengetahuan ketika menjadi pengawal pribadi seperti itu, tidak seorang pun akan bisa mengikuti ke mana Harimau Perang berkelebat keluar dan masuk lagi dari tabir kerahasiaan yang satu ke tabir kerahasiaan yang lain. Maka mencari, menemukan, dan menangkap Harimau Perang dengan cara mengikuti segenap gerak dan langkah orang-orang Kalakuta yang sedang memburunya adalah siasat terbaik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun karena tujuan orang-orang Kalakuta adalah membunuh Harimau Perang, setelah menemukan Harimau Perang mereka harus segera dibunuh, dan kini sudah terbunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laozi berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
meninggalkan kehidupan, memasuki kematian: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sepertiga teman kehidupan, sepertiga teman kematian, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan mereka yang menghargai kehidupan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dengan hasil memasuki alam kematian, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ini juga sepertiga, mengapa bisa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
karena jalan hidupnya terlalu kasar &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang mendongak, kukira kini ia juga melihatku dan Panah Wangi di atas wuwungan ini. Apakah hanya kepada kami yang berada di sini Harimau Perang harus bertanggung jawab? Sebetulnya aku pun belum menuduhkan apa-apa kepadanya, apalagi tuduhan menusuk Amrita dari belakang seperti dikatakan Panah Wangi, tetapi kawan-kawan yang lain di sini memang lebih pasti. Harimau Perang telah membunuh kekasih Panah Wangi yang bernama Panah Sakti dari belakang, membunuh dua padri Kaum Muhu dengan tiada semena-mena yang tak mungkin tidak mendapat hukuman, dan betapapun Amrita telah membisikkan kepadaku sebelum perlaya, ''Harimau Perang segalanya..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerimis turun membasahi genting-genting rumah dan rerumputan. Senja mulai meremang. Panah Wangi memandangku. Aku menghela napas panjang. Kami dapat merebut Harimau Perang dari orang-orang Kalakuta, tetapi aku tidak dapat merebutnya dari kawan-kawanku sendiri. Telah diputuskan betapapun Harimau Perang hari ini harus mati. Bukan sekadar karena dirinya akan bisa melebur dalam kegelapan ketika senja lenyap berganti malam. Jika hanya itu, semenjak Ilmu Silat Aliran Shannan kami bagi rata maka kami semua akan mampu memburunya ke balik malam. Kami telah bersepakat, Harimau Perang tidak perlu lagi diberi kesempatan memamerkan kelicinan dan siasatnya yang telah dan selalu memakan korban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senja itu petak yang terletak di sudut barat laut tersebut menjadi ruang pengadilan, dengan terdakwa, tertuduh, dan tersangka yang terpaku di sudut barat laut dinding petak itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atas genting Panah Wangi meng­ajukan pertanyaan, "Jawablah Harimau Perang, seperti terbukti, mengapa dikau membunuh Panah Sakti kekasihku, calon menantu Panah Besar ayahku, kepala gabungan suku-suku Karluk, secara pengecut dari belakang?" (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Mengacu terjemahan &lt;i&gt;Daodejing&lt;/i&gt; ayat ke-50 dalam bahasa Inggris oleh R. B. Blakney [1960 (1955)], h. 103; D. C. Lau [1972 (1963)], h. 111, dan dalam bahasa Indo­nesia oleh Tjan K. (2007), h. 50.</content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/5893692215593396155/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/346-70-pengadilan-harimau-perang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5893692215593396155" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5893692215593396155" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/346-70-pengadilan-harimau-perang.html" rel="alternate" title="#346 70: Pengadilan Harimau Perang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-2849330716937646656</id><published>2015-06-13T19:38:00.000+07:00</published><updated>2015-06-15T19:48:56.595+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 69"/><title type="text">#345 Tanggung Jawab Pembunuhan</title><content type="html">BEGITULAH Harimau Perang bagaikan tidak lagi bisa berkutik. Ketika kami datang, kami saksikan ia tersandar lemas di pojok tembok, seperti menanti pukulan terakhir. Padahal, seperti dibisikkan seorang padri pengawal Kaum Muhu, belum ada bentrokan terjadi, dan tidak boleh terjadi karena Harimau Perang masih harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setelah itu barulah ia boleh dihukum, yang dalam hal ini tampaknya tiada lain selain hukuman mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tampak lemas meskipun belum terjadi bentrokan, sebagai akibat pengejaran dan perburuan berbulan-bulan yang melelahkan dan menyiksa, karena ketepatan pelacakan empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta, yang lebih dari mampu terhindar dari penyesatan dan penjebakan, sehingga Harimau Perang selalu berada dalam kedudukan nyaris terkepung dalam jarak yang amat tipis, dan hanya karena Harimau Perang sangat licin saja masih terus-menerus bisa terhindar dari maut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya Harimau Perang dari saat ke saat nyaris tidak bisa bernapas, bahkan ibarat kata juga nyaris tidak bisa berkedip, apalagi makan dan minum. Apabila ternyata ini memang berlangsung berbulan-bulan tanpa pernah agak sedikit berjarak sama sekali, memang tidak perlu bentrokan apa pun untuk membuat siapa pun tampak sangat kurang berdaya dalam keterpojokan seperti itu. Sementara penderitaan yang sama tidak terjadi pada pengejarnya, bukan saja karena jumlah empat orang berarti tenaga perburuan juga terbagi empat, tetapi kehidupan dalam dunia kerahasiaan juga berarti keberadaannya dalam pekerjaan rahasia, tiada lebih dan tiada kurang adalah seperti ikan di dalam air. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Harimau Perang bukan seorang petugas rahasia? Tidak dapat diingkari betapa Harimau Perang memang seorang mata-mata, tetapi dunia kerahasiaan mata-mata yang membermaknai kerahasiaan dalam pengertian luas, sangatlah berbeda dengan dunia kerahasiaan perkumpulan rahasia yang menjalankan tugas-tugas penyusupan. Bukan berarti perbedaan makna kerahasiaannya tidak dapat dirangkap oleh satu orang, tetapi perbedaan itulah yang telah membuat Harimau Perang terdesak karena gelanggang pertarungannya adalah gelanggang pertarungan para penyusup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang tidaklah asing dengan dunia penyusupan, ilmu silatnya pun tidak diragukan, tetapi orang-orang Kalakuta sedang membalaskan dendam atas kematian mengenaskan teman-temannya, yang tewas bukan oleh suatu pertarungan yang adil, melainkan serangan mendadak dan tidak terduga, justru oleh orang yang sedang mereka kawal dan lindungi. Dalam dunia perkumpulan rahasia, ini setara dengan pengkhianatan, ditambah kemungkinan betapa mereka nyaris teradudombakan denganku, bahkan salah satu kawan mereka tewas ketika mencoba membunuhku yang mereka kira telah membunuh kawan-kawan mereka, seperti yang telah disampaikan Harimau Perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengadu domba kami dengan Pendekar Tanpa Nama, yang seperti tidak bisa dibunuh kecuali dewa sendiri yang mencabut nyawanya, serta menguasai Jurus Tanpa Bentuk pula, sama dengan menjerumuskan kami ke dalam jurang kematian. Mengapa dikau melakukannya wahai Harimau Perang? Membunuh demi pembunuhan itu sendiri ataukah membunuh demi suatu tugas tiada terhindarkan seperti yang selalu kami lakukan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Persoalannya bukanlah dikau membunuh atau dibunuh, melainkan mengapa dikau membunuh atau dibunuh! Dikau membunuh tanpa suatu kehormatan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kecuali dikau dapat menjawab apa yang menjadi tanggunganmu sekarang, maka kami akan mengirim dirimu ke neraka sekarang, sepotong demi sepotong! Jangan mimpi dikau bisa mengelabui kami seperti mengelabui Pendekar Panah Wangi, muncul dan menghilang adalah pekerjaan kami sehari-hari!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaanku sekarang mendapat jawaban. Setiap kali terdesak, terpepet, dan terkepung dalam perburuan berbulan-bulan yang sangat melelahkan dan sangat menyiksa itu, Harimau Perang sudah menghilang dalam letupan dan meninggalkan asap yang segera lenyap tertiup angin, tetapi selalu berhasil diikuti oleh para anggota perkumpulan rahasia Kalakuta itu, yang pada akhirnya bukan hanya mengikuti, melainkan bisa mencegatnya ke mana pun ia menghilang dan menuju, bahkan setelah menghilang terkadang masih dipegang dan ditarik kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun akhirnya tetap lolos berkat kelicinannya yang luar biasa, dapat kubayangkan kelelahan dan ketersiksaan ketika dikejar dan diburu nyaris tanpa jarak dan tanpa kesempatan mengambil napas sama sekali seperti itu. Setelah berbulan-bulan nyaris tanpa makan, kecuali jika sempat menyambar kue kukus dari keranjang penjaja ketika sedang berkelebat dalam pelarian yang langsung dimasukkan ke dalam mulut maupun kurang tidur, kecuali terlelap sebentar dalam persembunyian sebelum terpergok kembali, sekarang semua itu sudah berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang Kalakuta itu mengangkat senjatanya yang sangat beracun. Mata Harimau Perang terpejam, bukan karena takut, tetapi karena sudah tidak berdaya membukanya lagi. (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;)</content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/2849330716937646656/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/345-tanggung-jawab-pembunuhan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/2849330716937646656" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/2849330716937646656" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/345-tanggung-jawab-pembunuhan.html" rel="alternate" title="#345 Tanggung Jawab Pembunuhan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-8962022475872012876</id><published>2015-06-12T14:38:00.000+07:00</published><updated>2015-06-12T14:38:09.538+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 69"/><title type="text">#344 Harimau Perang Terkepung!</title><content type="html">KEMUDIAN datanglah pemberitahuan bahwa Harimau Perang sudah terkepung. Empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta, yang mampu melacak jejak seseorang hanya dengan mengendusnya, setelah pelacakan berbulan-bulan yang melelahkan, akhirnya berhasil menyudutkannya, betul-betul pada sebuah sudut tembok dalam petak tempat terdapatnya kolam di Pasar Timur di Kotaraja Chang'an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agaknya Harimau Perang telah memilih untuk menyembunyikan dirinya di tengah keramaian daripada di tempat yang terpencil dan sepi, karena melacak jejak di antara orang banyak sesungguhnya jauh lebih terkelabuhi dan terganggu daripada di tempat yang jauh dari keramaian. Namun para anggota perkumpulan rahasia Kalakuta sudah terlalu lama hidup di dalam rahasia itu sendiri. Di mana pun jejak dihapus, wajah disamarkan, dan tubuh menguap bersama udara, justru di dalamnyalah mereka berada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ke mana pun Harimau Perang pergi bersembunyi, di sanalah orang-orang Kalakuta menanti. Harimau Perang dapat menyelinap ke balik kelam dan kegelapan, melebur ke dalam cahaya dan terang cuaca, mengebutkan tirai pengelabuan dan memecah diri ke dalam setiap titik debu yang beterbangan, tetapi setiap kali, lagi-lagi, orang-orang perkumpulan rahasia yang betapapun memang hidup bersama, bahkan di dalam rahasia itu sendiri, selalu sudah berada di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini orang-orang perkumpulan rahasia Kalakuta, yang pernah disewanya untuk menjadi pengawal pribadi ketika menyeberangi lautan kelabu gunung batu, dalam perjalanan dari Daerah Perlindungan An Nam ke Negeri Atap Langit, telah mengepungnya, menyudutkannya, menekannya, memepetnya, membuat dirinya tiada berkutik dan siap menerima pembunuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat orang Kalakuta itu telah melakukan sisiran sihir, masing-masing dari setiap sudut kota, yang bisa menemukan titik ketubuhan Harimau Perang. Dari empat sudut kota keempat anggota perkumpulan rahasia mengarahkan dirinya menuju titik yang adalah Harimau Perang, yang ke mana pun menghindar atau pergi bersembunyi, tetap saja akan terlacak dan terkepung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang yang wajahnya tidak pernah terlihat, dikepung anggota perkumpulan rahasia yang di dalam kerudungnya tampak seperti tidak berwajah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Harimau Perang! Tiada tempat lagi bagimu untuk lari dan bersembunyi sekarang! Bersiaplah untuk mati!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang mendengis bengis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hmmh! Mati? Siapa yang mau mati?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menarik sepasang pedang panjang melengkung yang saling bersilang di punggungnya. Empat orang Kalakuta itu pun menarik pula pedangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sebelum mati katakanlah dulu, wahai Harimau Perang, mengapa dikau bantai kawan-kawan kami yang mengawal dirimu sepenuh hati dengan kejam sekali?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang meludah ke tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hmmh! Mereka memang patut mati!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu bukan jawaban, wahai Harimau Perang, tetapi kukira dijawab atau tidak dijawab, sudah jelas dan tegas bahwa kami akan membunuhmu atas kematian mereka!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari sudah senja. Jika malam tiba kegelapan akan membuat pertarungan mereka semakin sulit dilihat. Kedua belah pihak berasal dari dunia kerahasiaan yang tentunya menjadi kawan kegelapan dalam gelap segala rahasia pertarungan terang benderang bagi yang bertarung. Namun itu tidak akan dan tidak perlu terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harimau Perang memang dikepung empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta yang telah mencari, melacak, dan membuntutinya berbulan-bulan, sehingga akhirnya sekarang bekas kepala mata-mata Negeri Atap Langit itu terkepung di sudut barat laut, pada petak di sudut barat laut di Pasar Barat tempat terdapatnya sebuah kolam. Keempat orang Kalakuta memunggungi kolam tersebut dan melangkah semakin dekat kepada Harimau Perang yang sudah tidak bisa mundur ke mana-mana lagi. Sungguh Harimau Perang berada dalam kedudukan yang sangat memungkinkan perajaman dan pembantaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Harimau Perang akan menghilang, seperti ketika Panah Wangi telah memojokkannya di Taman Terlarang saat itu, ketika ia lenyap diiringi bunyi letupan dan hanya menyisakan asap yang segera disapu angin?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia masih di sana, menyiapkan jurus pertahanan terakhir. Keempat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta itu masing-masing mengangkat senjata mereka, sepasang pisau panjang melengkung, yang berkeredap samar kuning kehijauan karena endapan racun dalam rendaman bertahun-tahun lamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hiruplah napas sedalam-dalamnya, wahai Harimau Perang, hiruplah saat-saat terakhir kehidupanmu di bumi, karena arwah kawan-kawan kami yang dikau bunuh dengan tiada semena-mena menuntut bela. Mereka menantimu di langit sekarang, agar bisa bergantian membantaimu dengan sesuka hati! Harimau Perang, bersiaplah untuk mati!" (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/8962022475872012876/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/344-harimau-perang-terkepung.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/8962022475872012876" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/8962022475872012876" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/344-harimau-perang-terkepung.html" rel="alternate" title="#344 Harimau Perang Terkepung!" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-5761529443446525478</id><published>2015-06-11T14:23:00.000+07:00</published><updated>2015-06-11T14:23:09.659+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 69"/><title type="text">#343 Pengujian Ilmu-Ilmu Dewa</title><content type="html">AKU dan Panah Wangi beberapa kali menguji Ilmu Pemindahan Tubuh maupun Ilmu Pemecahan Tubuh sebagai bagian dari Ilmu Silat Aliran Shannan yang dikuasai oleh Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang, dan sebagian tampaknya sempat dipelajari pula secara terbatas oleh Harimau Perang, sehingga ketika telah terpojok dalam bentrokannya dengan Panah Wangi bisa menghilang dalam letupan dan meninggalkan asap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan Ilmu Pemindahan Tubuh, apabila kami dengar lagi suara Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang tanpa terlihat orangnya, yang membuatnya hadir seperti dewa, maka kali ini kami akan bisa menjejaki dan melacak di manakah kiranya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang berada. Dengan Ilmu Pemecahan Tubuh, jika benar apa yang dikisahkan banyak orang dari kedai yang satu ke kedai yang lain, bahwa Harimau Perang bisa berada di mana-mana pada saat yang sama, maka kami pun bisa melakukannya pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menggunakan Kotaraja Chang'an sebagai gelanggang pengujian, dengan saling bertukar tubuh dan muncul di mana-mana pada saat yang sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pengujian Ilmu Pemindahan Tubuh kami bertukar saling bersilang dengan Panah Wangi berdiri di Gerbang Chunming di sisi timur bagian utara dan aku berdiri di Gerbang Yanping di sisi barat bagian selatan. Setelah pertukaran berhasil, artinya diriku tiba-tiba muncul di Gerbang Chunming, segeralah aku berkelebat dan melenting-lenting ke Gerbang Yanxing di sebelah selatan Gerbang Chunming itu, untuk segera bertukar tempat dengan Panah Wangi yang setelah muncul di Gerbang Yanping segera melesat ke utara menuju Gerbang Jinguang. Dalam pengujian Ilmu Pemindahan Tubuh ini kami ujikan dahulu pertukaran suara yang sama dengan pengalaman kami ketika bercakap-cakap untuk pertama kali, bahkan hanya sekali itu, dengan yang disebut Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pengujian Ilmu Pemecahan Tubuh kami menggunakan Pasar Timur dan Pasar Barat sebagai ajang pengujiannya. Di Pasar Timur, Panah Wangi muncul sebagai 50 sosok Panah Wangi yang memperkenalkan dirinya kepada 50 orang pengunjung pasar di tempat yang berbeda-beda dengan seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya adalah Panah Wangi, apakah Andika mengenali saya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lima puluh orang di Pasar Timur menanggapi dengan lima puluh cara pula, tetapi sebagian besar dari mereka bertemu di kedai, ketika masing-masing merasa hanya diri merekalah yang bertemu dengan perempuan terindah dalam selebaran tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku juga bertemu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku juga bertemu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku juga bertemu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dialah yang memperkenalkan dirinya sebagai Panah Wangi terlebih dulu, dan bertanya apakah daku mengenalinya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cantik sekali ya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cantik sekali!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cantik sekali!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun bukti pengujiannya barulah ternyatakan kemudian, ketika disadari bahwa terdapat 50 sosok Panah Wangi muncul pada 50 titik di dalam pasar secara bersamaan, karena memang tidak mungkin Panah Wangi berpindah-pindah tempat sebanyak itu dalam waktu yang terlalu singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Pasar Barat, aku menotok 50 pengunjung yang sedang berdiri tegak di tempat yang berbeda-beda tepat ketika tambur ditabuh sebagai tanda pembukaan pasar, yang sengaja kulakukan sebagai penanda kesamaan waktu. Lima puluh pengunjung ini akan berdiri tegak sampai saat makan siang tiba. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan bahwa mereka berdiri tegak akan membuat mereka hanya tampak sebagai orang yang sedang berdiri tegak, yang tidak akan sampai menghentikan arus lalu lintas pasar yang sibuk dan tidak akan terlalu waspada, apakah sosok yang kutotok itu berdiri tegak karena memang sedang berdiri tegak, ataukah terus-menerus berdiri tegak karena tertotok. Kenyataan bahwa mereka adalah pengunjung dan bukan penjual atau pedagang yang tenaganya setiap saat dibutuhkan, akan menghindarkan pasar dari kegemparan yang tidak perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat makan siang tiba, empat kedai pada empat sudut pasar akan lebih ramai dari biasa. Pada setiap kedai itu akan terdapat 12 atau 13 orang yang bercerita dengan berapi-api tentang kejadian yang mereka alami, sehingga pada empat kedai berlangsung kegemparan kecil seperti berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku mendadak tak bisa bergerak sejak tambur pertama kali berbunyi pagi tadi," kata seseorang, "sekarang mendadak bisa bergerak sehingga daku langsung kemari karena lapar sekali."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku juga mengalami hal yang sama saat tambur pertama kali berbunyi!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku mengalaminya juga!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku juga!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku juga."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Daku juga." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat menyaksikan sendiri hasil pengujianku atas penguasaan Ilmu Pemecahan Tubuh itu pada empat kedai, karena aku berada di sana dan makan siang pada keempat-empatnya! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/5761529443446525478/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/343-pengujian-ilmu-ilmu-dewa.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5761529443446525478" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/5761529443446525478" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/343-pengujian-ilmu-ilmu-dewa.html" rel="alternate" title="#343 Pengujian Ilmu-Ilmu Dewa" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-881108027856935386</id><published>2015-06-10T18:24:00.000+07:00</published><updated>2015-06-10T18:24:32.048+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 69"/><title type="text">#342 Mengalahkan dan Menguasai</title><content type="html">PANAH Wangi turun perlahan-lahan dengan bobot bulu burung. Di bawahnya 25 petugas Dewan Peradilan Kerajaan yang sejak tadi telah dipermalukannya, menanti dengan kehendak sepenuhnya untuk membunuh, merajam, dan melumatnya. Mereka lupakan sudah kecantikan tiada tara yang menjadi perbincangan di mana-mana itu, dari kedai ke kedai, dari pasar ke pasar, dari pojok jalan yang satu ke pojok jalan yang lain, di bawah setiap selebaran di segenap sudut Kotaraja Chang'an, yang kemudian dibawa kafilah para pedagang asing sepanjang Jalur Sutra menuju negeri-negeri yang jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka lupakan semua dongeng terindah tentang keindahan Pendekar Panah Wangi yang selalu menghukum mati alias membunuh para pemerkosa maupun calon pemerkosa. Disebut calon hanya karena digagalkan oleh Panah Wangi, jika tidak pasti sudah menelan korban, jadi harus tetap dihukum juga. Khalayak tiada lebih dan tiada kurang mengerti sepenuhnya apa makna tertancapnya anak panah pada bagian tubuh yang akan dan sudah digunakan untuk memperkosa, dan khalayak menyepakatinya. Namun tidak begitu dengan para petugas Dewan Peradilan Kerajaan, karena dalam dongeng itu diri mereka selalu disertakan sebagai pelengkap penderita, yakni sebagai pihak resmi yang dengan segala kelengkapan sejak lama tidak berhasil menangkapnya. Hari ini mereka ingin membuktikan yang sebaliknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi keberhasilan penangkapan, telah mereka persiapkan jurus-jurus berpadanan untuk menjebak Panah Wangi. Segalanya tepat sesuai perhitungan, bahwa setelah setiap kali dicecar dengan serangan lima pedang, Panah Wangi akan selalu siap menghadapi jenis serangan yang sama, seperti dibuktikannya dengan setiap kali lolos dari cecaran lima pedang dan melenting kembali. Namun ia tidak diharapkan akan siap untuk serangan yang amat sangat berbeda, seperti sergapan 25 pedang dengan jurus berpadanan, yang tidak memberi celah bagi siapa pun untuk lolos dari sergapan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika sebelumnya Panah Wangi selalu mendapatkan celah dalam serangan lima pedang dari lima arah dalam waktu bersamaan, sekarang setiap celah itu ditutup oleh 20 pedang dalam waktu yang tidak bersamaan, melainkan berturut-turut. Akibatnya, setiap kali lolos setidaknya empat kali pada satu dari lima celah Panah Wangi selalu terancam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panah Wangi pun melayang turun dan begitu menginjak bumi tiada lagi celah untuk lolos selain mati. Bagaikan sayap-sayap dewa maut berturut-turut 25 pedang dalam lingkaran sabit terayun untuk merajam Panah Wangi. Dua puluh lima pedang membabat dalam antrean kilat menuju ke satu arah dengan satu tujuan, yang tiada lain dan tiada bukan adalah membelah tubuh Panah Wangi menjadi 25 bagian... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak sampai sekejap mata, kedua puluh lima pedang itu berturut-turut tiba pada tujuannya. Semua orang yang berkerumun menyaksikan pertarungan di dalam petak itu menahan napas, akankah perempuan pendekar yang cantik jelita dan gagah perkasa ini berubah menjadi potongan-potongan daging yang bersimbah darah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itulah terdengar letupan. Panah Wangi lenyap. Meninggalkan asap letupan yang segera hilang disapu angin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang berdesis dan berdecak. Para petugas Dewan Peradilan Kerajaan tampak kebingungan dan kehilangan akal, saling memandang dengan wajah bertanya-tanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sun Tzu berkata: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
hadapi satu pasukan seolah satu orang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
berlakukan mereka kepada tugasnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tanpa kata-kata yang menjelaskan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hadapkan mereka dengan kemajuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tetapi jangan jelaskan bahayanya &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Hujan turun jauh lebih deras dari biasanya. Pada pagi yang begitu dingin dan berangin sangat kencang, begitu kencang, bagaikan tiada lagi yang lebih kencang, titik hujan menjadi serpihan es yang terlalu tajam dan harus dihindarkan, sehingga dengan segera pula membubarkan kerumunan, mengosongkan petak, tetapi menyisakan para petugas Dewan Peradilan Kerajaan yang harus membawa tubuh kawan-kawan mereka yang tewas maupun tak berdaya karena tertotok. Sekilas, hanya sekilas, di antara orang-orang terakhir yang menyingkir, kulihat Pangeran Song dalam busana penyamaran sebagai rakyat biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah yang dilakukannya di sini? Apakah karena berita kehadiran Panah Wangi yang dikepung di petak ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masuk ke dalam kuil dan seperti telah kuduga Panah Wangi berada di sana, bahkan tidak seperti biasanya yang mampu menahan diri, ia berlari memelukku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita berhasil! Kita berhasil!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia telah menguasai ilmu silat yang sama dengan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang! (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
1. Sun-Tzu, &lt;i&gt;The Art of War&lt;/i&gt;, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh John Minford [2009 (2002)], h. 82. </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/881108027856935386/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/342-mengalahkan-dan-menguasai.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/881108027856935386" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/881108027856935386" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/342-mengalahkan-dan-menguasai.html" rel="alternate" title="#342 Mengalahkan dan Menguasai" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6754128526155744160.post-6684903792156261434</id><published>2015-06-09T13:15:00.000+07:00</published><updated>2015-06-09T13:15:58.677+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bagian 69"/><title type="text">#341 69: Jurus Baru Panah Wangi</title><content type="html">"PENDEKAR Panah Wangi, dikau terlibat dengan penculikan Anggrek Putih, karena itulah dikau kami tangkap, menyerahlah!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh orang petugas Dewan Peradilan Kerajaan telah pergi membawa Anggrek Putih. Sepuluh orang masih bergelimpangan dalam pengaruh totokan, dan lima orang sejak dini hari sudah kaku beku tanpa nyawa lagi. Tinggal 25 orang kini mengepung Panah Wangi. Namun sebetulnya mereka juga terkepung oleh 50 padri pengawal Kaum Muhu, para petarung terbaik yang tampak sangat gatal bertindak, tetapi sungguh patuh, sabar, dan setia untuk bergerak hanya jika ada perintah dari padri kepala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar, sejauh Kaum Muhu yang berasal dari Persia, dan setelah melalui Jambhudvipa kini menikmati perlindungan Wangsa Tang, sehingga sudah berpuluh tahun menjadi bagian Kotaraja Chang'an, tetap berkedudukan pengungsi, mereka tidak memiliki hak terlibat persoalan negeri. Maka mereka hanya diam tetapi tidak pergi, meskipun kepentingan mereka sendiri sudah semakin berkurang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar perintah agar dirinya menyerah, Panah Wangi menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum mencibir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Menyerah? Kalian minta agar diriku menyerah? Apakah daku tidak salah mendengar? Coba tangkaplah daku sekarang!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senyum Panah Wangi itu membuat aku curiga. Apakah yang akan dilakukannya? Semua orang yang menonton pun pagi itu menjadi berharap-harap cemas dan penasaran. Mereka telah mengenali Panah Wangi dari selebaran kertas pengumuman, baik yang ditempelkan pada papan pengumuman seantero Negeri Atap Langit maupun dari selebaran yang dibagi-bagikan di pasar, di jalanan, maupun pintu gerbang kota pada empat sisi mata angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya yang cantik jelita tiada tara, dalam dua kali pengumuman resmi, menjadi sumber dongeng di mana-mana. Berita dengan cepat tersebar bahwa Panah Wangi ada di bagian kota ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mau melihat dengan mata kepala sendiri wajah Panah Wangi? Marilah ikut kami sekarang juga! Katanya dia sedang dikepung pasukan Dewan Peradilan Kerajaan di Kuil Muhu di sebelah utara kota!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kuil Muhu? Apakah dia seorang penyembah api?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dapat dicegah bagaimana seseorang berpikir dan berbicara tentang seseorang yang lain. Kudengar bisik-bisik di antara orang-orang yang berkerumun itu. Kukira aku lebih khawatir kepada perkembangan yang mungkin menyudutkan kawan-kawan Muhu, sebagai kelompok asing pelarian yang ditampung atas kebijakan pemerintah Wangsa Tang daripada yang mungkin menimpa Panah Wangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami saling bertatapan sejenak, dengan cepat melalui pandangan mata kutancapkan penanda, bahwa apa pun yang akan dilakukannya haruslah segera diselesaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tersenyum, manis sekali, tetapi dengan pandangan tertentu! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua ini berlangsung cepat sekali, dalam ketegangan yang kurang memungkinkan pertimbangan seksama, ditambah dengan semakin banyaknya khalayak yang memasuki petak ini, ketika mendung di langit menunjukkan betapa setiap saat hujan akan turun, dengan janji kederasan yang lebih dari biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panah Wangi masih melirikku dengan tajam, ia tampak penasaran bahwa aku terlihat belum memahami sesuatu. Maka aku mengangguk saja, supaya apa pun yang dipikirkannya segera dijalankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lima petugas Dewan Peradilan Kerajaan merangseknya dari lima arah dengan pedang terhunus. Panah Wangi pun melenting ke udara dengan ringan, begitu ringan, bagaikan tiada lagi yang lebih ringan, tetapi ketika turun itulah aku mulai bisa menduga apa yang akan dilakukan Panah Wangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia turun sambil memperagakan gerak &lt;i&gt;tai chi&lt;/i&gt;, tetapi harus segera melenting kembali ke atas ketika lima petugas dengan pedang terhunus menyam­barnya lagi dari lima arah yang berbeda. Ketika turun kembali dengan ringan, Panah Wangi memperagakan gerak &lt;i&gt;tai chi&lt;/i&gt; sambungannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semacam cahaya gagasan meletup di kepalaku. Panah Wangi ingin aku mengerti betapa dirinya sudah lang­sung menguasai jurus yang diturunkan kepada kami berdua itu, dan ingin langsung mengujikannya sekarang juga. Namun karena diriku meskipun mengangguk tidak tampak mengerti, Panah Wangi memperlihatkan gerak &lt;i&gt;tai chi&lt;/i&gt; itu lebih dulu, sehingga ketika sampai pada sambungannya aku diandaikan akan mengerti, bahwa jurus yang bukanlah &lt;i&gt;tai chi&lt;/i&gt; tadi akan dimunculkannya setelah rangkaian &lt;i&gt;tai chi&lt;/i&gt; berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu sekarang aku mengerti, bahkan menanti. Sekian kali dibabat lima pedang, sekian kali pula Panah Wangi melenting ke atas, untuk turun dengan bobot seringan bulu sambil memperagakan &lt;i&gt;tai chi&lt;/i&gt;. Setelah rangkaian gerak itu habis, tibalah saat jurus baru itu dikeluarkannya. Itulah saat ketika Panah Wangi turun perlahan-lahan seusai melenting ke atas karena sabetan lima pedang. Namun kini tidak kurang dari 25 petugas Dewan Peradilan Kerajaan menantinya dengan pedang terhunus. (&lt;i&gt;&lt;b&gt;bersambung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) </content><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/feeds/6684903792156261434/comments/default" rel="replies" title="Post Comments" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/341-69-jurus-baru-panah-wangi.html#comment-form" rel="replies" title="0 Comments" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6684903792156261434" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/6754128526155744160/posts/default/6684903792156261434" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://naga-jawa.blogspot.com/2015/06/341-69-jurus-baru-panah-wangi.html" rel="alternate" title="#341 69: Jurus Baru Panah Wangi" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>