<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>The Naked Traveler</title>
	
	<link>http://naked-traveler.com</link>
	<description />
	<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:34:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/naked-traveler" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>naked-traveler</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Tibet oh Tibet!</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/PRy-sCDgWwY/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/11/11/tibet-oh-tibet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Dari dulu saya bercita-cita pengen ke Tibet. Rooftop of the world. Atap dunia. Alasan saya sederhana: sebagai seorang yang hidup di ketinggian 0 mdpl (meter di atas permukaan laut), saya sangat tertarik mengunjungi tempat yang ketinggiannya di atas 4.000 mdpl. Bayangkan saja, ada kehidupan di tempat yang letaknya lebih tinggi daripada puncak-puncak gunung tertinggi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari dulu saya bercita-cita pengen ke Tibet. <em>Rooftop of the world</em>. Atap dunia. Alasan saya sederhana: sebagai seorang yang hidup di ketinggian 0 mdpl (meter di atas permukaan laut), saya sangat tertarik mengunjungi tempat yang ketinggiannya di atas 4.000 mdpl. Bayangkan saja, ada kehidupan di tempat yang letaknya lebih tinggi daripada puncak-puncak gunung tertinggi di Indonesia! Sayangnya Tibet masih berkutat dengan isu politik sehingga dari dulu serba tidak jelas. Untuk ke sana pun super mahal karena harus gabung dengan tur. Ya, orang asing memang dilarang <em>keleleran</em> ke mana-mana sendiri. Maka saya pun mempersiapkan perjalanan ini dengan matang sejak jauh-jauh hari. Untunglah sahabat saya, Yasmin, ikutan sehingga bisa menekan budget.</p>
<p>Meski resminya Tibet adalah bagian dari negara Cina, namun untuk masuk ke Tibet harus ada izin khusus berupa Tibet Travel Permit dan Alien&#8217;s Permit (sial, saya berasa jadi &#8220;Prawn&#8221; di film District-9). Izin itu dikeluarkan oleh <em>Foreign Affairs Section of the Local Public Security Bureau</em>, di bawah hukum <em>Control of Entry and Exit of Foreigners</em> atas perintah <em>President of the People&#8217;s Republic of China</em>. Buset dah, ribet bener! Namun turis dapat memperolehnya melalui travel agent yang ditunjuk bersama paket tur dengan lama pengurusan minimal 4 hari kerja. Daripada nanti bengong di Cina sambil menunggu izin, maka atas saran <em>fellow travelers</em> saya mengurusnya dari Indonesia. Perburuan pun dimulai dengan mencari travel agent di Cina. Setelah <em>browsing</em> sana-sini, saya mengimel beberapa travel agent. Dari sekian banyak, kami memilih salah satunya yang paling rajin merespon email dengan bahasa Inggris yang baik. Tawar-menawar harga paket berlangsung alot via email. Dan tanggal pun ditetapkan: 29 September - 8 Oktober 2009. Pas banget, Oktober adalah musim terbaik untuk pergi ke Tibet. Rute telah disepakati: mulai dari Beijing dengan menggunakan kereta api selama 3 hari melalui rel tertinggi di dunia sampai di Lhasa, lalu keliling-keliling jalan darat naik mobil 4WD sampai ke Everest Base Camp, dan akan berakhir di Kathmandu, Nepal. Yiihaaaaa!!!</p>
<p><span id="more-344"></span><em>Down payment</em> sebesar USD 400/orang harus dikirim ke Cina sebulan sebelum Hari-H untuk pengurusan izin dan pembelian tiket kereta api Beijing-Lhasa. Duh, rasanya deg-degan karena duit segitu gede banget untuk diberikan begitu saja kepada seseorang yang belum pernah bertatap muka. Tapi hanya itulah cara satu-satunya. Saya pun mengecek nomor telepon kantor dan handphone si travel agent. Tidak ada yang angkat. Saya pun minta teman yang tinggal di Cina untuk mengecek keberadaan kantor tersebut. Ternyata mereka memang eksis. Dengan penuh doa akhirnya kami mengirim uang deposit beserta <em>scanned</em> paspor dan visa Cina. Beberapa kali travel agent memastikan semua baik-baik saja, maka saya pun membeli tiket Kathmandu-Delhi dan Yasmin membeli tiket Kathmandu-Jakarta.</p>
<p>Sementara menunggu pengurusan, saya pun mempersiapkan diri dengan serius (belum pernah saya seserius ini dalam mempersiapkan perjalanan!). Saya sampe bela-belain gabung di gym demi meningkatkan VO2 Max (konsumsi oksigen maksimal) supaya nggak <em>megeh-megeh</em> trekking di udara tipis. Maklum, &#8216;faktor U&#8217;. Program olah raga pun saya dapatkan dari situs internet, contohnya lari di <em>treadmill</em> dengan kecepatan dan tingkat kemiringan yang variatif. Pokoknya hampir tiap hari saya nge-gym minimal dua jam. Saya juga berkonsultasi dengan teman-teman dedengkot anak gunung. Mereka sampe sirik, karena katanya &#8220;Everest itu bagaikan naik haji bagi anak gunung&#8221;. Ups, padahal niat saya kan cuman sampe <em>base camp</em>-nya doang. Atas rekomendasi mereka, saya beli jaket <em>duckdown</em>, sepatu gunung, kaos kaki trekking, sampai baju dalam <em>thermal</em>. Belum lagi pinjam peralatan lainnya, seperti topi kupluk dan syal berbahan wool. Gilanya lagi, saya bahkan sempat trip di salah satu pulau tak berpenghuni agar membiasakan diri buang air besar di alam terbuka karena katanya di Tibet parah banget toiletnya. Ah, semua saya lakukan dengan semangat demi Tibet!</p>
<p>Dua hari sebelum hari keberangkatan&#8230; bencana itu datang! Saya membaca email dari travel agent bahwa Tibet resmi ditutup bagi turis karena ada isu politik pada perayaan Chinese National Day! APAAA?!? Waduh, lemas langsung rasanya! DP tur sudah bayar, tiket pesawat pp dan cuti tidak bisa dibatalkan. Mana mau tak mau tetap harus ke Kathmandu. Saya <em>browsing</em> untuk memastikan. Sial, beberapa situs berita dunia mengkonfirmasi berita itu. Tak hilang akal, saya beralih ke travel agent lain. Namun semua mengatakan hal yang sama, mereka tidak bisa membantu karena Tibet ditutup. Besoknya koran Kompas menurunkan berita yang sama dan saya pun hanya bisa menangis sedih. Mau komplen sama siapa coba? Para travel agent saja mengirimkan imel curhat mengenai bisnis mereka yang kembali hancur.</p>
<p>Si travel agent menelepon, katanya mereka masih akan berusaha dan disarankan agar kami jangan membatalkan apapun dulu. Tentu saja, semua tiket kami <em>non-refundable</em>! Maka kami pun terbang ke Cina dengan tetap membawa baju winter yang gendut-gendut dan setitik harapan. Empat hari di Beijing masih belum jelas sehingga kami bekerja keras membuat plan A, B, C sampai Z, sembari tetap traveling dan terus menerus <em>follow-up</em>. Perasaan &#8216;digantung&#8217; memang paling nggak enak. Sampai akhirnya beberapa hari kemudian&#8230; travel agent menyerah. DAR! Selesai sudah impian ke Tibet! Urusan selanjutnya adalah bagaimana mengembalikan uang DP. Setelah ngotot-ngototan, uang DP akhirnya dikembalikan dalam bentuk tiket pesawat Chengdu-Kathmandu. Dua minggu kemudian di kedua kota itu lah saya bertemu para traveler yang senasib, luntang-lantung demi menunggu Tibet dibuka kembali yang entah kapan.</p>
<p><em>But the show must go on</em>, saya melanjutkan perjalanan ke India. Masih belum kapok, di kota Delhi saya tinggal di Tibetan Refugee Camp. Hati saya tersentuh melihat mereka&#8230; para pelarian yang sudah tiga generasi beranak pinak namun tidak bisa kembali ke Tibet. Mereka aja nggak bisa pergi ke kampung halamannya, <em>who am I to complain</em>?</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tlzVgGcs1Vn7zQ4lssBd8ABgoX4/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tlzVgGcs1Vn7zQ4lssBd8ABgoX4/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tlzVgGcs1Vn7zQ4lssBd8ABgoX4/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tlzVgGcs1Vn7zQ4lssBd8ABgoX4/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/PRy-sCDgWwY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/11/11/tibet-oh-tibet/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/11/11/tibet-oh-tibet/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Cuti ah…</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/lyQzyZxNCNQ/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/09/24/cuti-ah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 18:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Selamat Hari Raya Idul Fitri yaa! Sekalian mau bikin &#8216;dosa&#8217; lagi nih&#8230; saya minta izin utk traveling (tepatnya di mana, tunggu aja postingan selanjutnya). Unfortunately, saya bakal tidak ada waktu utk menulis di blog selama 2 bulan (lama ya? hehe!). Saya sih akan berusaha utk ngecek email, milis, facebook, dan twitter di warnet. Hanya saja tdk bisa sering2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat Hari Raya Idul Fitri yaa! Sekalian mau bikin &#8216;dosa&#8217; lagi nih&#8230; saya minta izin utk <em>traveling </em>(tepatnya di mana, tunggu aja postingan selanjutnya). <em>Unfortunately</em>, saya bakal tidak ada waktu utk menulis di blog selama 2 bulan (lama ya? hehe!). Saya sih akan berusaha utk ngecek email, milis, facebook, dan twitter di warnet. Hanya saja tdk bisa sering2 deh.<br />
Yang jelas, cerita2nya pasti akan diposting kok <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Terima kasih.</p>
<p><em>In the mean time,</em>baca &#8220;The Naked Traveler 2&#8243; dg cara ketik REG TNT dan SMS ke 3450 (hanya utk pengguna XL).</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C3HrKA0LrOKfLXdoqvvplEWtsuY/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C3HrKA0LrOKfLXdoqvvplEWtsuY/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C3HrKA0LrOKfLXdoqvvplEWtsuY/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C3HrKA0LrOKfLXdoqvvplEWtsuY/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/lyQzyZxNCNQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/09/24/cuti-ah/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/09/24/cuti-ah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Dicari: teman jalan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/R4UHJbrBWkY/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/09/12/dicari-teman-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 21:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Jalan-jalan sendiri itu nikmat, punya teman jalan nikmat juga&#8230; asal orangnya asik. Kalo nggak asik, yang ada jalan-jalan malah jadi bete abis. Di bawah ini ada beberapa syarat mencari teman perjalanan yang asik di antara teman-teman Anda sendiri. Pengecualian:  bukan teman yang baru kenal di jalan, bukan jalan ikut paket tur. Memang terlalu sempurna, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-338" title="teman-jalan" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/09/teman-jalan.jpg" alt="teman-jalan" width="150" height="112" />Jalan-jalan sendiri itu nikmat, punya teman jalan nikmat juga&#8230; asal orangnya asik. Kalo nggak asik, yang ada jalan-jalan malah jadi bete abis. Di bawah ini ada beberapa syarat mencari teman perjalanan yang asik di antara teman-teman Anda sendiri. Pengecualian:  bukan teman yang baru kenal di jalan, bukan jalan ikut paket tur. Memang terlalu sempurna, tapi boleh dong memperkirakan apakah teman itu asik diajak jalan bareng atau tidak. Jadi sebelum memutuskan jalan bareng secara independen, nilai lah teman Anda!</p>
<p>Jika menjawab &#8216;ya&#8217; untuk semua poin di bawah, berarti dia adalah teman jalan yang paling dicari. Jika lebih banyak menjawab &#8216;tidak&#8217;, mending jalan sendiri deh!<br />
Catatan: Kalau saya pribadi sih meski semua jawabannya &#8216;tidak&#8217; tapi saya tetep mau jalan bareng, cuma Brad Pitt atau Johnny Depp doang yang bisa lulus tanpa harus memenuhi syarat-syarat ini <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-337"></span><strong>Nyambung dan punya selera humor yang baik </strong>- Nah, ini paling penting. Bayangin aja kalo seminggu lebih jalan sama orang yang nggak nyambung. Aih, bete deh! Akan asik banget kalau selalu ada topik untuk diobrolin dan nyambung, bisa hanya sekedar ngomongin orang lain sampe tentang politik luar negeri. Bisa mentertawakan hal yang sama-sama dianggap lucu, termasuk bisa mentertawakan kesialan atau ketololan diri.</p>
<p><strong>Positif</strong> - Kalo dikit-dikit mengeluh dan komplen, asli kenegatifannya bikin males! Dia harus tahu <em>how to enjoy life</em> dan bersyukur.</p>
<p><strong><em>Adventurous</em></strong><em> - </em>Berani mencoba hal-hal baru, tidak fanatik terhadap sesuatu. Nggak takut ditinggal sendirian. Kalo terpaksa, nggak masalah buang air besar di alam terbuka.</p>
<p><strong>Banyak akal</strong> - Kalau ada hal yang terjadi di luar dugaan, dia cepat berpikir dan bertindak untuk mendapatkan solusi. Tidak gampang panik, apalagi mewek.</p>
<p><strong><em>Street smart</em></strong> - Artinya tau cara membawa dan menjaga diri. Dia harus percaya diri, atau paling tidak tampak seperti percaya diri sehingga nggak gampang ditipu. Nggak kegatelan atau kepolosan. Tahu kapan harus nyuekin dan kapan harus menghadapi orang yang tidak dikenal. Sopan tapi tegas.</p>
<p><strong>Saling membantu dan nggak itung-itungan</strong> - Kalo lagi butuh bantuan, dia bersedia membantu, begitu juga sebaliknya. Harus menjadi <em>teamwork</em> yang baik. Mau berbagi, sesederhana seperti meminjamkan sisir. Soal duit asik-asik aja untuk patungan dan tidak berantem soal perbedaan sen doang.</p>
<p><strong>Jujur </strong>- Dalam artian tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kepada teman. Barang apapun aman, nggak diembat.</p>
<p><strong>Nggak maksa </strong>- Kalo lagi pengen leyeh-leyeh tapi dia pengen manjat tebing, sok atuh jalan sendiri, bukannya maksa harus ikut juga. Intinya, dia tidak memaksakan kehendaknya. Lagipula, kemana-mana tidak harus selalu bersama kan?</p>
<p><strong>Nggak lenjeh</strong> - Dia bukan orang yang dikit-dikit kecapekan, keberatan, kepanasan, kedinginan, dll. Dia nggak takut matahari, nggak takut item, nggak takut kulitnya rusak.</p>
<p><strong>Punya pendapat</strong> - Jangan iya-iya aja, atau malah nggak setuju semua. Dia harus ikut berkontribusi terhadap pembuatan keputusan atau memberikan ide.</p>
<p><strong>Tidak bertindak kriminal </strong>- Misalnya mencuri, narkoba, merusak situs, bahkan membuang sampah sembarangan. Apapun yang bertentangan dengan hukum mending dijauhi deh.</p>
<p><strong>Budget yang sama besar</strong> - Punya duit lebih banyak atau kurang belum tentu asik. Banyak duit kecenderungannya jalan borju, maunya makan dan tidur di hotel yang nyaman (baca: mahal), padahal kita disuruh patungan juga. Kurang duit malah nyusahin karena ntar malah pinjam duit, padahal duit kita juga terbatas. Kalo ada sih nggak apa-apa minjemin dia, tapi kalo karena minjemin tapi kita semua jadi sengsara kan males. Kecuali dia banyak duit tapi dia mau bayarin mah hayo aja!</p>
<p><strong>Doyan berenang</strong> - Kalo ini sih syarat saya pribadi. Soalnya saya doyan banget berenang, terutama di laut. Jadi dibutuhkan temen jalan yang sama-sama doyan nyebur di laut. Kalo cuma bisa berenang doang sih belum tentu asik, karena akhirannya malah nunggu di pantai atau di kapal.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0OhoFwYR0SicweZ3og0WAvNet8g/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0OhoFwYR0SicweZ3og0WAvNet8g/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0OhoFwYR0SicweZ3og0WAvNet8g/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0OhoFwYR0SicweZ3og0WAvNet8g/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/R4UHJbrBWkY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/09/12/dicari-teman-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/09/12/dicari-teman-jalan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Piramida Ajaib</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/RWLHp7xcGXw/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/09/06/piramida-ajaib/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 20:29:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingat pelajaran SD yang mengatakan bahwa Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Gara-gara saya ke Piramida Agung Giza di Mesir, saya baru tahu bahwa pernyataan tentang Borobudur itu tidak benar. Adalah Herodotus, sejarawan Yunani yang hidup pada abad ke-5 Sebelum Masehi, membuat daftar Seven Wonders of the Ancient World, yaitu Piramida Agung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_335" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-335" href="http://naked-traveler.com/2009/09/06/piramida-ajaib/img_7847/"><img class="size-thumbnail wp-image-335" title="img_7847" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/09/img_7847-150x150.jpg"  alt="Piramida Agung Giza" width="150" height="150" / rel="lightbox[roadtrip]"></a><p class="wp-caption-text">Piramida Agung Giza</p></div>
<p>Saya ingat pelajaran SD yang mengatakan bahwa Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Gara-gara saya ke Piramida Agung Giza di Mesir, saya baru tahu bahwa pernyataan tentang Borobudur itu tidak benar. Adalah Herodotus, sejarawan Yunani yang hidup pada abad ke-5 Sebelum Masehi, membuat daftar <em>Seven Wonders of the Ancient World</em>, yaitu Piramida Agung di Giza, Taman Gantung di Balylon, Patung Zeus di Olympia, Temple of Artemis di Efesus, Mausoleum of Maussollos di Halicarnassus, Colossus of Rhodes, dan Lighthouse of Alexandria. Saat ini hanya tinggal Piramida Giza yang masih berdiri kokoh. Nah, dalam rangka memperbaharui daftar keajaiban dunia dan memperkenalkan sejarah budaya, maka pada tahun 2007 New7Wonders Foundation menyelenggarakan kontes <em>New Seven Wonders of the World</em>. Tujuh situs baru sudah diumumkan, yaitu Chichen Itza di Mexico, Christ the Redeemer di Brazil, Colosseum di Italia, Great Wall di Cina, Machu Picchu di Peru, Petra di Yordania dan Taj Mahal di India. Namun ada satu tambahan dalam daftar, yaitu Piramida Agung Giza sebagai satu-satunya keajaiban dunia yang tersisa. Jadi Borobudur sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar resmi kejaiban manapun! Yang benar adalah Borobudur masuk ke dalam UNESCO World Heritage List pada tahun 1982.</p>
<p><span id="more-334"></span>Sampai sekarang saya memang masih terkagum-kagum dengan Borobudur. Candi dengan 2.670 relief cantik itu dibangun pada tahun 824 saat teknologi belum canggih. Bukannya saya tidak bangga dengan Borobudur, tapi Piramida itu berdiri jauh sebelumnya yaitu pada tahun 2560 Sebelum Masehi, atau berbeda 3.384 tahun! Tinggi Piramida itu 138,8 meter (sudah berkurang 7,8 meter dari aslinya akibat erosi) atau lebih tinggi daripada Monas yang dibangun tahun 1959. Tak heran piramida agung ini memegang rekor sebagai bangunan tertinggi di dunia selama 3.800 tahun. Saya tidak menyadari betapa besarnya Piramida sampai saya berada di dekatnya. Wah, satu balok batu saja bisa setinggi bahu saya! Konon jumlah balok batu yang membentuk piramida ini lebih dari 2,3 juta buah. Kalau ditimbang, satu piramida beratnya 5,9 juta ton. Berarti satu balok batu beratnya lebih dari 2 ton! Ternyata film <em>The Bucket List</em>-nya Jack Nicholson itu tipuan belaka karena kita tidak mungkin bisa nongkrong di puncak piramida karena susah banget untuk naik ke puncaknya yang kerucut.</p>
<p>Piramida sebenarnya adalah bangunan tempat pemakaman para Firaun (gelar raja Mesir Kuno) yang berkuasa pada tahun 2630 - 1814 Sebelum Masehi. Mereka percaya bahwa setelah mati, raja akan menjadi dewa dan rohnya terbang ke angkasa. Pramida bertindak sebagai &#8216;tangga&#8217; untuk perjalanan spiritual ini, juga melambangkan sinar matahari yang menghubungkannya dengan Ra (dewa matahari). Piramida kokoh dibangun untuk melindungi jasad raja dan hartanya yang akan diberangkatakan ke kehidupan selanjutnya. Orang Mesir Kuno pun percaya bahwa pengawetan jasad (melalui cara mummifikasi) adalah penting agar rohnya abadi. Banyak yang mengira bahwa piramida di Mesir hanya tiga seperti yang terdapat di Giza, padahal totalnya yang sudah ditemukan ada 138 buah. Sebagian besar piramida terdapat di Saqqara, sebuah kompleks pemakaman di luar kota Memphis pada zaman Mesir Kuno. Namun piramida yang terbesar ada di Giza. Di antara tiga piramida di Giza, yang terbesar adalah The Great Pyramid (Piramida Agung) atau disebut dengan Pyramid of Khufu. Dua lagi di dekatnya adalah Pyramid of Menkaure dan Pyramid of Khafre yang lebih rendah dan lebih kecil.</p>
<p>Ketika saya memutari Piramida Agung, saya tambah terkagum-kagum. Setiap sisi pada dasar piramida ini panjangnya 230,5 meter. Pemandangan dari sisi manapun adalah segi tiga sama kaki yang benar-benar sempurna. Menurut penelitian, tingkat ketidakakuratannya hanya 58 milimeter saja. Udah gitu, di dalamnya ada ruangan tempat pembaringan mayat. Wih, bagaimana caranya mengangkut batu-batu itu ke atas dan membentuk ruangan bolong di dalamnya? Bagaimana supaya bangunannya tidak miring? Bagaimana menempatkan titik puncak piramida yang harus berada di bidang dasar tepat di titik tengah empat sudut? Bagaimana manusia pada 4500 tahun yang lalu kepikiran? Ah, pantaslah Piramida Agung Giza masuk ke dalam daftar keajaiban dunia. Saya jadi &#8216;napsu&#8217; untuk mengunjungi lima lagi dari tujuh keajaiban dunia baru, sebelum punah&#8230;</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OHj15-E9g5LQc7tsjXZC9Aph-Xw/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OHj15-E9g5LQc7tsjXZC9Aph-Xw/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OHj15-E9g5LQc7tsjXZC9Aph-Xw/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OHj15-E9g5LQc7tsjXZC9Aph-Xw/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/RWLHp7xcGXw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/09/06/piramida-ajaib/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/09/06/piramida-ajaib/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tidak ada french fries di McD Perancis</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/vAyD6k5i5uI/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/08/29/ngebir-di-mcd/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 20:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia saya sangat jarang makan fast food, apalagi ke McDonald&#8217;s (McD) - kecuali kalo diundang ke pesta ultah anaknya teman. Sialnya, di negara barat, McD jadi salah satu restoran termurah untuk makan. Jadi mau nggak mau makan di situ, karena KFC lebih sedikit jumlahnya. Kalau saya mau traveling ke suatu tempat, saya cari tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_332" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-332" href="http://naked-traveler.com/2009/08/29/ngebir-di-mcd/img_0620/"><img class="size-thumbnail wp-image-332" title="img_0620" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/08/img_0620-150x150.jpg"  alt="McD Makati yang selalu 'memanggil' saya dari jendela" width="150" height="150" / rel="lightbox[roadtrip]"></a><p class="wp-caption-text">McD Makati yang selalu &#39;memanggil&#39; saya dari jendela</p></div>
<p>Di Indonesia saya sangat jarang makan <em>fast food</em>, apalagi ke McDonald&#8217;s (McD) - kecuali kalo diundang ke pesta ultah anaknya teman. Sialnya, di negara barat, McD jadi salah satu restoran termurah untuk makan. Jadi mau nggak mau makan di situ, karena KFC lebih sedikit jumlahnya. Kalau saya mau traveling ke suatu tempat, saya cari tahu apakah di negara tersebut ada McD dan harganya berapaan. Indikator ngasal ini penting untuk mengetahui tingkat kehidupan masyarakatnya. Meskipun sepertinya McD ada di seluruh dunia, tapi ada lho negara yang tidak punya McD, contohnya Vietnam, Kamboja, Myanmar, Laos, Nepal, dan sebagian besar negara di benua Afrika (nah, bangga kan jadi orang Indonesia!). Teori &#8216;bego-begoan&#8217; saya: jika suatu negara tidak punya McD, bisa dianggap negara tersebut lumayan terjangkau untuk traveling di sana. Pengecualian di Republik Palau yang biaya hidupnya mahal tapi tidak ada McD. Saya sempet kalut, untungnya nemu warung makan murah untuk para imigran.</p>
<p><span id="more-331"></span>Teori saya itu ternyata hampir mirip dengan &#8220;Big Mac Index&#8221;-nya The Economist. Harga sebuah Big Mac adalah indikator tingkat ekonomi suatu negara. Sederhananya, harga ini mengindikasikan daya beli masyarakatnya berdasarkan kurs mata uang terhadap US Dollar. Implementasi &#8216;bodoh-bodohan&#8217; ala saya: kalau di suatu negara harga Big Mac-nya lebih mahal dari US$ 3,54 (harga di Amerika Serikat) maka biaya hidup di negara tersebut dianggap mahal. Sebaliknya kalau harganya lebih murah, maka biaya hidupnya pun lebih murah. Misalnya, di Indonesia harga Big Mac Rp 22.500, jadi di Amerika itu biaya hidupnya 50% lebih tinggi daripada di kita (malah lebih). Sementara di Swiss harga Big Mac-nya sekitar US$ 5,60 atau 148% lebih mahal - jadi siap-siap bangkrut kalo mau traveling di sana. Bagi saya sih, meski harga Big Mac di suatu negara lebih murah daripada kita, misalnya di Malaysia dan Cina, teteup aja biaya hidupnya tidak lebih murah daripada di Indonesia. Bisa jadi karena saya bukan orang lokal.</p>
<p>McD Indonesia yang buka pertama kali tahun 1991 termasuk telat dibanding negara-negara lain. Begitu McD buka di Jl. Thamrin Jakarta, setiap melewatinya rasanya saya bangga sekali menjadi WNI. Sepertinya sejak saat itu Indonesia terlihat &#8216;maju&#8217; dan &#8216;modern&#8217;. Saya pun suka kagum melihat McD sudah merambah ke kota-kota kecil di Indonesia. Dan lagi-lagi saya menjadikan McD sebagai indikator apakah tempat tersebut terpencil atau tidak. Dibanding negara barat, McD Indonesia termasuk mewah interiornya. Restorannya berukuran besar dan terdapat <em>playing land</em> untuk anak-anak. Di negara barat sih jarang ada model begituan, kalo bisa malah tidak disediakan kursi. Banyak McD di pinggir jalan atau di stasiun yang hanya berupa konter dan meja-meja tinggi tanpa kursi. Orang ke sana cuman untuk beli <em>take away</em> atau sekedar camilan doang. Sementara di kita jadi sarana rekreasi dan tempat kongkow berjam-jam.</p>
<p>Saya senang memperhatikan tulisan McD yang dibuat dengan bahasa setempat, seperti McD dalam huruf Arab, Cina dan Ibrani. Lumayan lucu kalo difoto. Soal bangunan, kurang lebih sama dengan di kita. Di Amerika Serikat, setiap kota mesti ada McD dengan bangunan terpisah dan lapangan parkir yang luas, biasanya sebelahan dengan Burger King atau Wendy&#8217;s. Di Eropa, McD kebanyakan menempati bangunan tua. Lucu aja gitu liatnya, di antara bangunan berumur ratusan tahun, tiba-tiba nyempil McD. Bagusnya McD tidak merubah arsitektur eksteriornya. Tetap ada jendela besar, pilar-pilar, kubah, bahkan plangnya dari besi antik yang digantung.</p>
<p>Waktu tinggal di Filipina, saya terpaksa sering makan di McD di Makati. Catatan, kalau kita menyebut McDonald&#8217;s sebagai McD (baca: mek-di), di Filipina disebut McDo (baca: mek-do). McD ini bukanya 24 jam dan letaknya persis di seberang jalan yang terlihat dari jendela kamar asrama saya. Di sebelah McD ada McCafé yang jualan utamanya aneka macam kopi seperti di Starbucks, tapi justru tutup jam 10 malam. Pada jam-jam &#8216;aneh&#8217; di saat mengerjakan tugas, McD jadi makanan penggembira hati. Menu favorit saya sih <em>breakfast value meals</em>. Mereka menjual paket khas makanan Filipino: <em>garlic rice</em>, <em>corned beef</em> dan ceplok telor. Si kornet bisa diganti <em>longganisa</em> (sosis berbumbu) atau <em>beef patty</em> (dagingnya burger). Harga per paket sekitar Rp 14.000 sudah termasuk pilihan antara susu coklat, <em>orange juice </em>atau kopi. Ya, McD Filipina lebih murah daripada McD kita. Harga Big Mac sekitar Rp 17.400 dan paket 2 ayam + nasi + <em>softdrink</em> Rp 19.800.</p>
<p>Menu McD di tiap negara memang berbeda. Utamanya jualan burger, tapi ada menu lokalnya. Contohnya aja nasi, setau saya sih cuman ada di Indonesia dan Filipina aja - dimakannya sama <em>fried chicken </em>yang hanya dijual di McD Asia. Di negara lain paling mentok <em>chicken nuggets </em>atau <em>chicken wings</em> tanpa nasi<em>.</em> <em>FYI</em>, cuman di McD Indonesia doang yang jualan ayamnya lebih laku daripada burger lho! Menu lokal memang unik karena disesuaikan dengan budaya setempat. Contohnya, di Thailand ada burger daging babi, di Turki ada kebab, di Israel ada McD dengan menu <em><a href="http://naked-traveler.com/2009/08/14/shabbat-elevator/" target="_blank">Kosher</a></em> (tidak ada <em>cheeseburger</em> karena daging dan produk susu tidak boleh dimakan bersamaan). Konon di India yang tidak boleh makan sapi, burgernya ya dari daging domba atau ayam, atau malah ada burger vegetarian. Namun McD yang paling berkesan adalah ketika pertama kali saya ke Paris tahun 1995. Di sana saya sampe ketagihan ke McD&#8230; karena McD Perancis menjual bir! Namanya juga pelancong kere tapi maunya gaya, ngebir di McD lah yang paling murah dibanding bar atau cafe. Lucunya, di sana tidak ada <em>french fries</em>, adanya <em>frites</em>. Ya iyalah&#8230; siapa suruh &#8216;kentang goreng&#8217; disebut &#8216;gorengan perancis&#8217; oleh orang Amerika.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VWsciIQVw5XbdxVlBCLRJy0Rzec/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VWsciIQVw5XbdxVlBCLRJy0Rzec/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VWsciIQVw5XbdxVlBCLRJy0Rzec/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VWsciIQVw5XbdxVlBCLRJy0Rzec/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/vAyD6k5i5uI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/08/29/ngebir-di-mcd/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/08/29/ngebir-di-mcd/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Gendut Traveler</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/7qvKH7RWR5c/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/08/21/gendut-traveler/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 04:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Dalam acara tanya-jawab via telepon di sebuah talkshow di radio, saya pernah ditanya langsung oleh pendengar, &#8220;Mbak, sebagai orang gendut apakah pernah mengalami kesulitan saat traveling?&#8221;. Pertanyaan yang aneh. Saya jawab sih malah membantu karena jadi kuat gendong ransel, plus bikin orang jadi cenderung &#8216;takut&#8217; gangguin saya. Emang nggak ada kesulitan kok, kecuali berani menanggung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam acara tanya-jawab via telepon di sebuah <em>talkshow</em> di radio, saya pernah ditanya langsung oleh pendengar, &#8220;Mbak, sebagai orang gendut apakah pernah mengalami kesulitan saat traveling?&#8221;. Pertanyaan yang aneh. Saya jawab sih malah membantu karena jadi kuat gendong ransel, plus bikin orang jadi cenderung &#8216;takut&#8217; gangguin saya. Emang nggak ada kesulitan kok, kecuali berani menanggung malu. Tapi berhubung urat malu saya udah putus, jadi ya dianggap lucu aja. Parahnya, saya tidak merasa gendut itu mengganggu, palingan sulit nyari baju yang muat doang. Buktinya saya masih pede pake <em>tank top, shorts</em>, bahkan bikini. Dipanggil dugong atau ikan paus mah biasa!</p>
<p>Saya ingat-ingat kejadian &#8216;memalukan&#8217; saat traveling. Terakhir sih pas saya di Petra, Yordania, ketika saya akan menyewa kuda. Sialan, beberapa kali saya ditolak pemilik kuda dengan berkata, &#8220;<em>No! No! You are too fat!</em>&#8220;&#8230; di depan umum! Selebihnya paling kalo lagi saya mau naek pesawat kecil, karena semua penumpang kudu ditimbang berat badannya. Malunya ya karena berat badan saya diteriakin di depan umum. Yang paling sering terjadi adalah&#8230; menghancurkan kursi! Mula-mulanya sih saya &#8216;hanya&#8217; mematahkan kursi di rumah temen, eh lama-lama kok seringnya ngancurin kursi restoran. Suaranya aja begitu menggelegar &#8220;BRAAAKK! Krompyaaang!&#8221; - karena abis kursinya patah, mesti mecahin peralatan makan karena saya berpegangan pada meja. Lalu semua pengunjung restoran pasti menoleh ke saya sambil tertawa eh ngetawain. Saya hanya bisa pasang tampang culun dan turut mentertawakan diri. Yah, mau gimana lagi?</p>
<p><span id="more-329"></span>Musim liburan Juni-Juli 2009, saya lagi &#8216;laku-lakunya&#8217; nih masuk TV sehingga butuh kostum baru. Saya pun minta tolong kepada seorang temen cewek yang beratnya 105 kg. Maka diajaklah saya ke sebuah mal di Jakarta dimana terdapat butik langganannya yang menjual pakaian wanita khusus ukuran besar. Yang disebutnya butik ternyata hanya los toko seluas sekitar 3&#215;3 meter, tapi koleksi bajunya <em>trendy</em> deh. Mulailah saya coba-coba baju. Eh ternyata saya pake ukuran terkecil, yaitu XL. Teman saya yang berukuran baju 5L itu berkomentar, &#8220;Gilee, kurus amat lo!&#8221;. Iseng saya ngobrol-ngobrol sama si mbak-mbaknya, rupanya di sana tersedia ukuran baju mulai dari XL sampe 8L, dan ukuran yang paling laku dibeli adalah 3L. Tak lama datanglah beberapa wanita gendut. Tanpa masuk ke dalam, mereka berteriak, &#8220;Yang 5L ada model baru nggak?&#8221;. Kami pun langsung nyambung dan saling memberikan pendapat mengenai baju yang dipilihnya. Saat menunggu antrian <em>fitting room</em>, saya melihat-lihat koleksi lain. Rupanya butik itu menjual celana dalam juga, dan si mbak memperlihatkannya kepada saya. &#8220;Buset, itu celana dalem apa timbangan pos yandu!&#8221;, komentar saya yang disambut tawa seluruh pengunjung toko. Hihihi&#8230; ternyata sesama orang gendut kami punya selera humor yang sama dan tidak menganggap hinaan. <em>Anyway</em>, karena ke butik itu lah saya merasa jadi wanita paling kurus di Indonesia!</p>
<p>Namun ada hal yang membuat saya tambah merasa bersyukur. Ceritanya saya iseng ikutan audisi Biggest Loser Asia - acara <em>reality show </em>TV luar tentang lomba kurus-kurusan badan berhadiah semilyar rupiah. Pas audisi ternyata ada sekitar 100an orang gendut Indonesia yang mengantri. Sekali lagi teori saya benar, bahwa orang gendut itu memang lebih terbuka dan lucu (dibanding orang dengan berat badan normal, atau malah yang kurus). Kami semua tiba-tiba aja nyambung, langsung becanda dan cela-celaan satu sama lain. Ketika ditimbang, tanpa malu-malu saling memberi tahu &#8220;Aku 134 kg lho!&#8221; atau &#8220;Wah, aku kurusan nih! Mayan turun 2 kg jadi 109!&#8221;. Begitupun pas ditensi darah, ada yang cuek bilang, &#8220;Tekanan darahku 160 lho!&#8221; - padahal normalnya kan 120. Ketika dikasih secarik kertas yang keluar otomatis dari timbangan, ada info mengenai target turun berat badan sehingga dianggap ideal. Cewek di sebelah saya bilang, &#8220;Aduh, gua harus turun 58 kg nih!&#8221; - buset, lemak berlebihannya seberat seorang cewek dewasa!. Semuanya ngomong tanpa beban, padahal rasanya saya mau guling-guling di tanah menahan ketawa. Tapi sejam berada di situ saya baru sadar bahwa saya merasa sering diliatin oleh peserta lain dengan pandangan aneh. Dan alasannya baru terkuak ketika salah seorang peserta yang duduk agak jauh mendatangi saya dan berkata, &#8220;Gile looo&#8230; ngapain lo di sini? Elo anoreksia ya?&#8221;. Huahaha, ternyata bagi dunia mereka, saya termasuk anoreksia! Weh, kalo gitu saya bagaikan Kate Moss di dunia orang gendut dong! Inilah kali kedua saya merasa bersyukur&#8230;</p>
<p>Persis setelah audisi, saya pergi ke Bandung bersama teman-teman eks kantor lama dan menginap semalam. Seperti biasa, ke Bandung apa lagi acaranya kalo nggak wisata kuliner. Baru juga saya merasa sangat bersyukur bahwa saya &#8216;nggak parah-parah amat&#8217;, eeh&#8230; di Bandung saya sukses menghancurkan 1 kursi plastik dan 1 bangku kayu di 2 restoran berbeda!</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dmor3MLX0zXvuJMDS8enz922hxM/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dmor3MLX0zXvuJMDS8enz922hxM/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dmor3MLX0zXvuJMDS8enz922hxM/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dmor3MLX0zXvuJMDS8enz922hxM/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/7qvKH7RWR5c" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/08/21/gendut-traveler/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/08/21/gendut-traveler/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>(Akal-akalan) Shabbat Elevator</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/DfY3hjUfNOg/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/08/14/shabbat-elevator/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 17:15:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Kita memang kurang mengenal orang Yahudi, termasuk saya. Padahal banyak yang terkenal, seperti Natalie Portman, Scarlett Johansson, Daniel Radcliffe, Sarah Jessica Parker, Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow (artis), Albert Einstein (ilmuwan), Steven Spielberg dan Woody Alen (sutradara), Calvin Klein dan Levi Strauss (designer). Juga para pendiri perusahaan IT dunia, seperti Michael Dell, Larry Ellison, bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_327" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-327" href="http://naked-traveler.com/2009/08/14/shabbat-elevator/img_8407/"><img class="size-thumbnail wp-image-327" title="img_8407" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/08/img_8407-150x150.jpg"  alt="sepinya jalan di hari shabbat" width="150" height="150" / rel="lightbox[roadtrip]"></a><p class="wp-caption-text">sepinya jalan di hari shabbat</p></div>
<p>Kita memang kurang mengenal orang Yahudi, termasuk saya. Padahal banyak yang terkenal, seperti Natalie Portman, Scarlett Johansson, Daniel Radcliffe, Sarah Jessica Parker, Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow (artis), Albert Einstein (ilmuwan), Steven Spielberg dan Woody Alen (sutradara), Calvin Klein dan Levi Strauss (designer). Juga para pendiri perusahaan IT dunia, seperti Michael Dell, Larry Ellison, bahkan CEO-nya Microsoft, Steve Ballmer. Masalahnya, dalam bahasa Indonesia istilah &#8216;Yahudi&#8217; itu sering rancu. Padahal Yahudi bisa berarti &#8217;suku bangsa&#8217; (<em>Jew</em>), atau &#8216;agama&#8217; (<em>Judaism</em>, dalam bahasa Indonesia disebut &#8216;agama Yahudi&#8217;). Secara agama, Yahudi bukanlah Kristen atau Katholik karena tidak percaya Yesus dan kitab sucinya bukan Alkitab. Secara suku bangsa, tidak semua orang Yahudi beragama Yahudi. Di dunia ini ada sekitar 13 juta orang Yahudi, 40%-nya ada di Israel dan 40%-nya lagi ada di Amerika Serikat.</p>
<p><span id="more-326"></span>Di Israel banyak pria Yahudi memakai topi bundar kecil yang menempel rapat di kepala, disebut <em>kippah</em>. Selain sebagai identitas, topi ini dipercaya untuk menjaga kesucian karena surga ada di &#8216;atas&#8217;. Dulunya saya heran bagaimana caranya topi sekecil ini bisa menempel rapat di kepala tanpa jatuh. Saya baru tahu bahwa topi itu ternyata dijepit pake jepitan rambut cewek, malah kadang jepitnya berwarna-warni. Lah, bagaimana dengan pria gundul? Ternyata struktur topi itu memang dibuat sedemikian rupa sehingga tetap menempel di kepala tanpa melorot, makanya <em>kippah</em> disebut <em>skullcap</em> (topi tengkorak kepala). Tapi ada juga pria Yahudi yang memakai baju serba hitam dan bertopi hitam tinggi, ada yang bertopi hitam bundar, ada yang bercambang panjang, ada yang berjenggot panjang, atau malah berpenampilan biasa - semuanya tergantung aliran agamanya, seperti Orthodox, Modern, Reform, dll.</p>
<p>Makanan halalnya Yahudi disebut <em>kosher</em>. Prinsip utamanya antara lain hanya boleh makan hewan memamah biak dan berkuku belah atau ikan yang bersisik dan bersirip. Jadi babi, unta, kepiting, udang, kelinci bukan <em>kosher</em>. Yang aneh, daging dan susu tidak boleh dimakan bersamaan. Bahkan peralatan masak dan makannya tidak boleh sama, kulkasnya pun harus terpisah. Mereka boleh makan/minum produk susu dan turunannya 6 jam setelah makan daging. Restoran dan hotel kelas atas harus bersertifikat <em>kosher</em>, artinya ada seorang Rabbi yang ditugaskan khusus untuk mengecek apakah hukum <em>kosher</em> itu dilakukan. Di hotel tempat saya menginap pun begitu. Aneh juga, sarapan pagi ada telor dan susu tapi tidak ada sosis atau tuna. Kalo ada <em>dessert</em> andalannya adalah <em>sorbet</em>, semacam es krim buah tanpa mengandung susu. Makanya rombongan Indonesia dilarang bawa makanan sendiri kayak pop mie dan sambal, karena dianggap mencemari <em>kosher</em>.</p>
<p>Hari <em>Shabbat</em> adalah hari istirahatnya orang beragama Yahudi. Jatuhnya mulai matahari terbenam hari Jumat sampai hari Sabtu malam. Makanya hari Kamis malam, anak-anak mudanya keluar rumah untuk berpesta sebelum &#8216;dikurung&#8217; di rumah. Saya pun pergi ke Ben Yehuda, daerah gaul di Jerusalem. Weleh, bila selama ini saya bilang cowok Italia adalah yang tercakep, sejak saat itu saya bisa bilang bahwa cowok Israel adalah yang tercakep! <em>Well</em>, mungkin sama cakepnya, cuman bedanya cowok Italia itu kan &#8216;gampangan&#8217;, kalo cowok Israel itu berkesan sombong&#8230; jadi tambah termehek-mehek deh saya! Mereka tinggi, tegap, keren, dan <em>cool</em> abis! <em>Kippah</em>-nya justru bikin tambah seksi, abisan di zaman modern gini mereka masih menjunjung tradisi. Bodi keren gitu mungkin ada pengaruhnya akibat wajib militer selama 3 tahun mulai usia 18 tahun. Malah bagi para pria, wamil itu berlaku seterusnya sampai berusia 45 tahun. Jadi sebulan dalam setahun mereka dibayar untuk wamil meski sudah bekerja kantoran. Soal cewek-ceweknya, wah saya sih nggak ada harapan untuk bersaing. Di sana cewek-ceweknya seksi abis, perut rata, dan maaf, payudaranya besar semua! Canda Hadaya, teman Yahudi saya, &#8220;<em>Yeah, it&#8217;s a land of milk and honey</em>!&#8221;.</p>
<p>Ternyata hukum <em>Shabbat </em>itu ribet bener. Tidak boleh bekerja, mengangkat barang, menyalakan dan mematikan api, memasak, mengoperasikan mesin - termasuk memencet tombol dan naik mobil, bahkan tidak boleh menulis! <em>Shabbat</em> di Jerusalem asli sepi, semua toko tutup dan tidak ada mobil yang berkeliaran selain bus turis. Pantesan hotel penuh menjelang <em>Shabbat</em> karena orang Yahudi mencari kepraktisan dengan menginap di hotel yang semua sudah tersedia. Saya yang tinggal di hotel pun &#8216;kena&#8217;, pagi itu makanan semuanya dingin! Telur sudah direbus sehari sebelumnya, jadi sarapannya adalah telur rebus dingin, roti dingin, dan salad dingin. Lagi nunggu bus di lobi, saya pun memperhatikan mereka. Eh, ada anak kecil main komputer hotel. Ibunya pun bilang, &#8220;<em>Sayang, ini hari shabbat, kamu nggak boleh pencet keyboard ya</em>?&#8221;. Hihihi! Di ikat pinggang mereka saya lihat ada kunci-kunci yang digantung dengan tali. Rupanya karena mereka tidak boleh mengangkat barang, kunci itu diikat di baju supaya dianggap perhiasan. Yang paling ajaib, mereka dilarang agama untuk naik lift sehingga kalo mau ke kamar hotel harus naik tangga darurat. Kasian banget kalo kamarnya ada di lantai 10! Eh tapi hari gini teknologi kan udah maju. Saya baru tau bahwa di hotel itu ada 1 lift khusus yang disebut &#8220;<em>Shabbat Elevator</em>&#8220;, artinya lift itu otomatis membuka dan menutup sendiri di tiap lantai sehingga orang Yahudi pada hari <em>Shabbat</em> bisa naik lift tanpa memencet tombol!</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_AFeSd3yrgWvLvbC6LES7oE0v10/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_AFeSd3yrgWvLvbC6LES7oE0v10/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_AFeSd3yrgWvLvbC6LES7oE0v10/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_AFeSd3yrgWvLvbC6LES7oE0v10/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/DfY3hjUfNOg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/08/14/shabbat-elevator/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/08/14/shabbat-elevator/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Naik gunung di onta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/V3OPCDHg2ck/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/08/08/naik-onta-di-gunung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 19:12:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Weh, waktu masih muda sih doyan naek gunung. Berhubung &#8216;faktor U&#8217; dan berat badan, rasanya sekarang maleus banget. Tapi akhirnya saya naek juga ke Gunung Sinai (disebut juga Jabal Musa oleh orang Bedouin.) Kurang heroik sih, secara tingginya cuma 2285 meter. Kenapa saya tulis tentang gunung itu karena saya baru pertama kali naek gunung di luar negeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_321" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-321" href="http://naked-traveler.com/2009/08/08/naik-onta-di-gunung/img_8064/"><img class="size-thumbnail wp-image-321" title="img_8064" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/08/img_8064-150x150.jpg"  alt="pemandangan dari puncak Gunung Sinai" width="150" height="150" / rel="lightbox[roadtrip]"></a><p class="wp-caption-text">pemandangan dari puncak Gunung Sinai</p></div>
<p>Weh, waktu masih muda sih doyan naek gunung. Berhubung &#8216;faktor U&#8217; dan berat badan, rasanya sekarang maleus banget. Tapi akhirnya saya naek juga ke Gunung Sinai (disebut juga Jabal Musa oleh orang Bedouin.) Kurang heroik sih, secara tingginya cuma 2285 meter. Kenapa saya tulis tentang gunung itu karena saya baru pertama kali naek gunung di luar negeri sampe ke puncaknya. Lagipula gunung ini beda banget dengan gunung yang ada di Indonesia. Semuanya batu dan batu dan batu, tidak ada tanaman sama sekali. Menurut sejarah, gunung ini adalah tempat di mana Nabi Musa menerima loh batu berisi 10 perintah Allah pada saat dia berumur 80 tahun! Sementara saya baru berumur *sensor* sudah hampir keok!</p>
<p><span id="more-320"></span>Kami memulainya dari sebuah kota kecil bernama Saint Katherine di Semenanjung Mesir. Kota ini terletak di kaki pegunungan Sinai sehingga terlihat eksotik dengan latar belakang bebatuan berwarna pink oranye. Tujuan utama orang ke sini untuk mengunjungi St. Catherine Monastery, gereja Kristen tertua di dunia yang dibangun pada tahun 527 oleh Justinian I, seorang kaisar Romawi. Namun banyak juga yang sekalian naik ke gunung Sinai. Untuk menghemat tenaga, diputuskan untuk naik onta sampai 2/3 jalan. Onta-onta dapat disewa dari orang-orang suku Bedouin yang tinggal di sekitarnya.</p>
<div id="attachment_323" class="wp-caption alignright" style="width: 114px"><img class="size-full wp-image-323    " title="naik-onta" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/08/naik-onta.jpg" alt="naik-onta" width="104" height="154" /><p class="wp-caption-text">naik onta (foto by Eli)</p></div>
<p>Pendakian dimulai jam 1.30 pagi dimana suasana masih gelap gulita. Suhu lumayan &#8216;hangat&#8217; sekitar 15ºC, karena biasanya sekitar 2ºC di bulan Juli, sehingga saya hanya memakai celana pendek dan jaket <em>windshield</em>. Kami berbaris menuju tempat parkiran onta. Duh, baunya menyengat banget! Tiba-tiba saya ditarik oleh seorang anak kecil suku Bedouin. Tanpa penerangan apa-apa, tau-tau sudah sampai di ontanya yang sedang duduk. Rupanya kalau onta duduk, kakinya terlipat mulai dari dengkul dan diikat. Saya disuruh duduk di pelana yang berada di antara dua punuknya. Talinya dilepas. Hup! Saya doyong ke belakang. Hup! Saya doyong lagi ke depan. Begitulah cara onta berdiri. Onta pun berjalan melunjak-lunjak. Ternyata jauh lebih enak naik kuda. Saya tidak tahu posisi saya di mana dan siapa di depan dan di belakang saya. Taunya menuju jalan yang menanjak di kegelapan malam. Anak kecil yang memandu onta itu bernama Ali, usianya 10 tahun. Ia santai aja berjalan kaki dengan tanjakan yang curam sementara saya lama-lama kesakitan naik onta. Saya teruncal-uncal sambil doyong ke belakang karena tanjakan, belum lagi selangkangan yang jadi pegel luar biasa. Tapi daripada saya disuruh jalan kaki, naik onta merupakan keputusan yang tepat.</p>
<p>Setelah 2,5 jam naik onta, kami beristirahat sebentar di warung sambil minum kopi. Selanjutnya inilah dia&#8230; kami harus berjalan kaki sampai ke puncak. Jalannya mendaki, mendaki, dan mendaki terusss di antara undak-undakan batu besar. Napas sudah megeh-megeh, sebentar-sebentar saya berhenti. Rupanya dari rombongan kami yang berjumlah 18 orang, yang tersisa paling belakang adalah &#8216;kelompok gendut&#8217; sebanyak 6 orang - termasuk saya tentunya. Kami pun dibalap seorang oma-oma asal Papua berumur 77 tahun, meskipun dia berjalan pakai tongkat, tapi ya ampun kuatnya. Kami pun dicela, &#8220;Hai, anak muda. Jangan malu sama oma! Payah kali kalian!&#8221;. Kami hanya tersenyum miris. Parahnya, perut saya mulai bergejolak minta isinya dibuang sehingga tak ayal saya pun terkentut-kentut yang membuat bubar grup kami setiap beristirahat sejenak. Hehe! Saya pun ditarik oleh Hasheem, pemuda Bedouin berusia 25 tahun yang wajahnya mirip Lenny Kravitz. Ah, saya jadi lumayan semangat! Tapi lama-lama derajat kemiringan makin parah, sampai 60 derajat. Penderitaan itu belum berakhir sampai sekitar 2 jam kemudian.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-324" href="http://naked-traveler.com/2009/08/08/naik-onta-di-gunung/img_8077/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-324" title="img_8077" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/08/img_8077-150x150.jpg"  alt="img_8077" width="150" height="150" / rel="lightbox[roadtrip]"></a>Akhirnyaaa&#8230; sampailah kami di puncak. Fuih! Kami tertawa girang sambil saya dicela, &#8220;Anjrit, baunya kentut lo! Tapi untung deh kita dikentutin, kalo ngga ga bakal sampe kita di sini!&#8221;. Hihihi&#8230; maaf! Suasana masih gelap juga. Saya diajak Hasheem menuju ke pinggir balkon besar. Ia menyiapkan selimut sebagai alas duduk kami. Aih, romantisnya! Rupanya di puncak gunung ini terdapat sebuah gereja Yunani Orthodox yang dibangun pada abad 16 dan sebuah mesjid. Manusia dari berbagai bangsa pun memanjatkan doa di sini. Kami semua duduk-duduk sambil menunggu matahari terbit. Lalu perlahan-lahan matahari menampakkan diri&#8230; dan saya melihat pemandangan yang sangat spektakuler! Pegunungan batu berlapis-lapis yang berwarna pink campur oranye terkena refleksi sinar matahari dan sebagian ditutupi kabut. Waah&#8230; sungguh ajaib ciptaanNya!</p>
<div id="attachment_322" class="wp-caption alignright" style="width: 203px"><img class="size-full wp-image-322  " title="jalan-turun-sinai" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/08/jalan-turun-sinai.jpg" alt="jalan-turun-sinai" width="193" height="130" /><p class="wp-caption-text">jalan setapak (foto by Eli)</p></div>
<p>Pulangnya baru sadar, ternyata jalannya memang sangat curam. St. Katherine entah ada di mana karena tidak terlihat. Saya pun berjalan kaki turun sambil kadang terpleset karena batu-batu bercampur pasir itu memang licin. Sampai di warung, Ali telah menunggu. Saya naik ontanya lagi dan Ali naik onta lain di depan saya. Ya ampun, naik onta di jalan yang menurun luar biasa pegelnya! Badan saya terus menerus doyong ke depan sambil teruncal-uncal karena ontanya ngebut tanpa rem. Dan di bawah terangnya matahari jelas terlihat bahwa persis di samping jalan setapak yang saya lewati&#8230; pinggirnya adalah jurang yang menganga ratusan meter!</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OikpgIclDwnwltD1ARVyVbJAc4Q/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OikpgIclDwnwltD1ARVyVbJAc4Q/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OikpgIclDwnwltD1ARVyVbJAc4Q/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OikpgIclDwnwltD1ARVyVbJAc4Q/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/V3OPCDHg2ck" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/08/08/naik-onta-di-gunung/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/08/08/naik-onta-di-gunung/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Diperiksa Natalie Portman di perbatasan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/b4oewvLCnEo/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/07/28/diperiksa-natalie-portman-di-perbatasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 16:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Setelah berjam-jam naik bus melalui Gurun Sinai di Mesir, akhirnya sampailah di kota Taba yang merupakan perbatasan dengan kota Eilat di wilayah Israel. Di sini adalah satu-satunya perbatasan yang dibuka bagi turis. Meskipun demikian, saya jadi deg-degan sendiri mendengar kata Israel karena sering dicekokin tayangan perang di TV. Padahal Jalur Gaza yang juga merupakan perbatasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_318" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-318" href="http://naked-traveler.com/2009/07/28/diperiksa-natalie-portman-di-perbatasan/img_8732/"><img class="size-thumbnail wp-image-318" title="img_8732" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/07/img_8732-150x150.jpg"  alt="cap yang entah ke mana sekarang" width="150" height="150" / rel="lightbox[roadtrip]"></a><p class="wp-caption-text">cap yang entah ke mana sekarang</p></div>
<p>Setelah berjam-jam naik bus melalui Gurun Sinai di Mesir, akhirnya sampailah di kota Taba yang merupakan perbatasan dengan kota Eilat di wilayah Israel. Di sini adalah satu-satunya perbatasan yang dibuka bagi turis. Meskipun demikian, saya jadi deg-degan sendiri mendengar kata Israel karena sering dicekokin tayangan perang di TV. Padahal Jalur Gaza yang juga merupakan perbatasan Mesir-Israel itu jauuh dari sini. Gaza ada di ujung utara yang terpisahkan sekitar 200an km dari Taba/Eilat yang ada di ujung selatannya. Jadi, ya, saya tidak mendengar suara jedar-jeder atau dentuman lah.</p>
<p>Di perbatasan Mesir ini, kami semua turun dari bus dan berjalan kaki sambil menggeret koper masing-masing ke gedung berwarna hitam. Setelah cek X-Ray, kami berbaris di depan konter imigrasi. Weleh, petugasnya lagi asik ngopi dan ngobrol. 15 menit kemudian, baru deh paspor kami dicap. Lalu kami geret-geret koper lagi di bawah terik matahari sampai ke wilayah Israel dan disuruh antri lagi. Untunglah saya di barisan depan jadi masih ketutupan atap gedung, sementara 20 orang lain terjemur di barisan belakang.</p>
<p><span id="more-317"></span>Terlihat beberapa cowok ganteng, berambut hitam model <em>crew cut</em>, pake kemeja, celana kargo, kaca mata hitam, sambil bawa senjata laras panjang. Aih, mirip Tom Cruise! Trus ada cewek-cewek cantik dan semok, berambut hitam panjang yang dikucir, berseragam kemeja putih ketat dan celana panjang hitam, dengan raut muka <em>cool</em> bak Natalie Portman. Mereka berusia sekitar 18-20 tahun, para wajib militer Israel yang ditugaskan di perbatasan. Pantes jadi pada cuek-cuek gitu. Umur segitu, mending leyeh-leyeh di pantai daripada wamil kan? Setelah dicuekin 20 menit, seorang petugas cowok yang kelihatannya berpangkat lebih tinggi tapi badannya seperti burger, mendatangi kami. &#8220;<em>Shalom</em>&#8220;, sapanya - mengingatkan saya pada pak pendeta yang sering menyapa dengan kata ini.</p>
<p>Interogasi pun dimulai dari balik pagar. Berhubung kami adalah rombongan tur, yang ditanya adalah <em>tour leader</em>. Pertanyaannya panjang dan berbelit-belit. Mulai dari berapa jumlah rombongan, berapa lama dan ngapain aja, nginep di mana, bla bla bla&#8230; sampai si burger bertanya, &#8220;<em>Do you know everybody in this group</em>?&#8221;. Dar. &#8220;<em>What&#8217;s her name</em>?&#8221; sambil menunjuk saya. Untung nama saya sehingga jawabannya benar. Tapi belum selesai. &#8220;<em>Give me your passport please</em>,&#8221; katanya sambil meminta paspor saya dan mengecek apakah sesuai. Waduh, mampuslah saya kalau abis itu saya yang dites nama-nama anggota rombongan lain. Meneketehe? Tapi untungnya si burger bertanya lain kepada saya, &#8220;<em>How do you know each other</em>?&#8221;. Weh, dengan ilmu mengarang tingkat tinggi, jawaban saya cukup meyakinkan. Kami semua pun dipersilakan masuk.</p>
<p>Ada meja panjang dengan dua orang &#8216;Natalie Portman&#8217;. Satu per satu kami maju dan diwawancara. Sambil melihat paspor saya, si cewek tanya,&#8221;<em>Why do you want to go to Israel</em>?&#8221;. Saya jawab dengan mata bling-bling, &#8220;<em>I want to see Holy Land</em>!&#8221;. Rupanya jawaban itu ampuh, si cewek tersenyum dan berkata, &#8220;<em>Welcome to Israel!</em>&#8220;. Lalu koper masuk ke X-Ray dan saya melewati pintu <em>metal detector</em>. Di ujung ban berjalan sudah ada meja panjang terbuat dari <em>stainless steel</em> dan beberapa &#8216;Natalie Portman&#8217; lagi. Kami semua disuruh menyerahkan handphone dan kamera. Ih, baru kali ini begitu. Entah menggunakan alat apa, layar dan tombolnya dipeperin semacam bolpen berujung busa. Untung cuma gitu doang, karena sebagian dari kami ada yang disuruh buka koper sampai buka baju.</p>
<p>Saya yang kelar duluan, maju lagi ke loket imigrasi. Ada pilihan, paspor mau dicap atau tidak. Konon katanya sih kalo dicap bakal ditolak kalo ke mau ke negara Muslim. Saya yang memilih tidak dicap diberikan selembar kertas formulir untuk diisi. Lalu petugas mencap di kertas tersebut dan saya keluar menunggu kehebohan rombongan yang &#8216;ah uh ah uh&#8217; akibat tidak mengerti bahasa Inggris. Sampai di bus, ada <em>check point</em> lagi dimana kami harus menyerahkan selembar kertas. Penderitaan belum berakhir, 4 orang dari rombongan kami disuruh turun karena kertas <em>exit clearance</em> mereka tidak ada tanda tangan petugas sehingga harus kembali ke dalam. Buseet, untuk melewati perbatasan aja total menghabiskan waktu dua jam!</p>
<p>Israel dan Palestina yang selama ini kita lihat di TV dan baca di koran kelihatannya parah bener, ternyata sih biasa-biasa saja. <em>Guide</em> kami orang Israel dan supir bus kami orang Palestina, mereka berdua kompak dan baik-baik. Esoknya <em>on the way </em>dari Jerusalem ke Betlehem, terlihat tembok tinggi di sepanjang jalan dan <em>guide</em> kami turun dari bus. Lho kok? Ternyata kami sudah berada di sebuah perbatasan yang tertancap plang kuning bertuliskan &#8216;<em>warga negara Israel dilarang masuk</em>&#8216;. Oh, kota kelahiran Yesus itu ternyata ada di West Bank, daerah Palestinian Authority. Lalu ada pemeriksaan paspor oleh petugas Palestina di dalam bus. Karena kami turis dan supir kami orang Palestina, kami boleh masuk sembari naik bus. Sampai di dalam, ada <em>guide</em> lain yang orang Palestina. Pulangnya, <em>guide</em> Palestina turun, gantian dengan <em>guide</em> Israel. Semua hepi-hepi aja. Secara saya orangnya &#8216;want to know aja&#8217;, saya tanya kenapa begitu. Seperti yang sudah diduga, masing-masing ngomongnya ya beda. Kata <em>guide</em> Israel, &#8220;<em>Sebenernya sih aku bisa aja masuk tapi aku nggak mau. Padahal Israel membolehkan orang Palestina masuk Israel dengan bebas, mereka kan cari makannya di Israel</em>&#8220;. Sementara kata <em>guide</em> Palestina, &#8220;<em>Silakan aja orang Israel masuk, nggak akan kita apa-apain kok</em>.&#8221; Ah, tau ah gelap.</p>
<p>Keluar dari Israel menuju Yordania, melewati perbatasan yang letaknya antara kota Beit She&#8217;an di Israel dan Irbid di Yordania. Kami semua turun dari bus, masuk ke dalam gedung, mengantri di loket untuk cap paspor, eh cap di secarik kertas. Lalu kami baris di lapangan parkir dan dijemur selama 15 menit. Seorang &#8216;Natalie Portman&#8217; mendatangi kami dan memeriksa paspor satu per satu sebelum naik bus - yang cuma 2 menit &#8216;menyebrangi&#8217; perbatasan. Selanjutnya seperti biasa, masuk gedung imigrasi, isi formulir untuk <em>apply</em> visa, dapat cap di paspor, geret-geret koper untuk pemeriksaan X-Ray. Kali ini kami naik bus baru dan <em>guide</em> baru yang orang Yordania.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYIk--DxeGKZ54v9lnL-HP_ONME/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYIk--DxeGKZ54v9lnL-HP_ONME/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYIk--DxeGKZ54v9lnL-HP_ONME/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yYIk--DxeGKZ54v9lnL-HP_ONME/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/b4oewvLCnEo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/07/28/diperiksa-natalie-portman-di-perbatasan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/07/28/diperiksa-natalie-portman-di-perbatasan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Laut Mati: obat nggak bisa berenang dan obat borok</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/naked-traveler/~3/pO1MVrIY0lM/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2009/07/23/laut-mati-obat-nggak-bisa-berenang-dan-obat-borok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 17:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Dinamakan Laut Mati (Dead Sea) karena tidak ada kehidupan di dalamnya saking tingginya kadar garam sehingga membuat makhluk hidup tidak ada yang bisa hidup. Bayangin aja, kadar garamnya 8,6 kali lebih tinggi daripada air laut biasa! Meski air penyuplai laut ini berasal dari Sungai Yordan, tapi begitu ikan mendekati Laut Mati langsung keok. Sebenarnya sih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_315" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-315" href="http://naked-traveler.com/2009/07/23/laut-mati-obat-nggak-bisa-berenang-dan-obat-borok/img_8376/"><img class="size-thumbnail wp-image-315" title="img_8376" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2009/07/img_8376-150x150.jpg"  alt="Dead Sea, Israel" width="150" height="150" / rel="lightbox[roadtrip]"></a><p class="wp-caption-text">Dead Sea, Israel</p></div>
<p>Dinamakan Laut Mati (<em>Dead Sea</em>) karena tidak ada kehidupan di dalamnya saking tingginya kadar garam sehingga membuat makhluk hidup tidak ada yang bisa hidup. Bayangin aja, kadar garamnya 8,6 kali lebih tinggi daripada air laut biasa! Meski air penyuplai laut ini berasal dari Sungai Yordan, tapi begitu ikan mendekati Laut Mati langsung keok. Sebenarnya sih Laut Mati bukanlah laut, tapi sebuah danau seluas 67 km x 18 km. Letaknya diapit oleh Israel di baratnya, dan Yordania di timurnya.</p>
<p>Laut Mati memegang rekor sebagai titik terendah di permukaan bumi, ia berada 422 meter di bawah permukaan laut. Di Israel, untuk menuju ke sana dari Jerusalem ke arah Jericho melalui <em>highway </em>yang membelah gurun dan pegunungan berbatu berwarna oranye di musim panas. Ada papan petunjuk yang menandakan batas <em>Sea Level 0 meter</em>, yang artinya setelah itu kuping akan terasa budeg akibat perbedaan ketinggian. Lucu rasanya, biasanya kuping budeg kan kalau ke daerah pegunungan seperti yang sering terjadi kalau memasuki daerah Puncak. Tapi ini karena ke bawah, bukan ke atas.</p>
<p><span id="more-314"></span>Saya ke Laut Mati di bagian utara, namanya Kalia Beach, sekitar 40 menit naik bus dari Jerusalem. Pantai ini sudah dibuat bangunan permanen lengkap dengan kamar mandi, toko suvenir dan beberapa restoran. Pengunjung tinggal berjalan kaki ke pinggir pantai sambil mengaduh-aduh karena pasir pantainya puanass. Pemandangan sekelilingnya sih gersang. Dari jauh air Laut Mati berwarna biru, tapi dari dekat - terutama di bagian pinggirnya - air kelihatan kayak got karena berwarna abu-abu kehitaman. Untuk masuk di air yang dalam disediakan dermaga bertangga terbuat dari kayu, tapi bisa juga berjalan kaki dari pinggir pantai.</p>
<p>Daripada kaget, saya memilih untuk masuk dengan berjalan kaki ke tengah. Hiii, air di Laut Mati ternyata seperti minyak! Meski permukaan airnya tidak terlihat seperti berminyak, tapi airnya licin seperti minyak. Saya berjalan terus sampai air setinggi paha, lalu berjongkok. Hup! Badan saya tiba-tiba &#8216;terlontar&#8217; dan mengapung di permukaan! Wah, ada kabar baik bagi orang yang tidak bisa berenang. Tanpa usaha, semua orang otomatis akan mengapung karena laut ini memiliki berat jenis lebih tinggi daripada berat jenis manusia. Saking ajaibnya, bahkan kita bisa baca koran sambil mengapung di air tanpa basah korannya. Badan miring dikit, langsung terlentang. Mau menjejakkan kaki lagi ke dasar, badan terlontar lagi jadi mengapung. Weh&#8230; aneh benerr! Saya pun melakukan gerakan renang indah dengan mengangkat kaki tinggi-tinggi&#8230; weh, tiba-tiba jago!</p>
<p>Lalu saya merasakan clekat-clekit pada kulit yang rasanya periiih banget - terutama kulit paha saya yang lecet akibat naek onta dan borok di kaki akibat gigitan nyamuk. Lagi santai-santainya mengapung, tiba-tiba orang di sebelah saya panik karena terjungkal. Ia menyipratkan air sehingga masuk ke mata saya. Uh gila, pedess amaatt! Serasa dicocolin cabe rawit ijo di mata! Untung saya pintar, telah mencopot lensa kontak duluan. Sialnya air itu menetes di bibir saya. Wek, rasa airnya pahit banget!</p>
<p>Berhubung katanya lumpur Laut Mati dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit dan membuat kulit halus bak pantat bayi, saya pun mengambil lumpur dari dasar laut dengan tangan menggapai-gapai takut muka terendam. Lumpurnya berwarna hitam pekat tapi halus sekali dan tidak berbau. Saya dan semua orang di sana melumuri wajah dan seluruh tubuh dengan lumpur sehingga terlihat bak boneka dakocan yang hitam namun tidak lucu.</p>
<p>Mau tau hasilnya? Entah karena airnya atau lumpurnya, sehabis mandi, kulit saya langsung halusss sampe nyamuk nempel pun kepleset (sori, berlebihan). Ya, pokoknya halus banget. Hebatnya lagi, lecet di kulit saya karena onta keparat itu langsung sembuh! Asli kering dan tak berbekas! Gila kan? Malah seorang cewek ABG di bus yang mukanya penuh dengan kawah jerawat pun langsung kering jerawatnya. <em>Believe it or not</em>!</p>
<p>Laut Mati mengandung konsentrasi mineral tertinggi di dunia, seperti <em>magnesium, calcium, potassium, strontium, boron </em>and<em> iron</em>, yang berguna bagi kesehatan kulit. Konon Cleopatra aja dulu kalau mau spa pergi ke sana. Tak heran Israel dan Yordania sama-sama mengandalkan industri produk kosmetik dan perawatan tubuh yang berasal dari mineral Laut Mati. Merk yang paling terkenal di dunia adalah <em>Ahava</em> buatan Israel. Harganya tidak murah, sebotol <em>body lotion</em> ukuran 250 ml dijual USD 35. Di sekitar Laut Mati, terdapat hotel-hotel mewah lengkap dengan spa yang selalu <em>fully booked</em>. Bahkan terdapat rumah sakit khusus penyakit kulit - konon merupakan pusat terapi penyakit <em>vitiligo</em> (pigmentasi kulit) tersukses di dunia. Sayangnya, akibat industri mineral besar-besaran, makin lama luas Laut Mati makin menciut dan airnya pun makin surut.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dLgLojFC_Fu9xeo_mgux4DY_0w8/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dLgLojFC_Fu9xeo_mgux4DY_0w8/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dLgLojFC_Fu9xeo_mgux4DY_0w8/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dLgLojFC_Fu9xeo_mgux4DY_0w8/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/naked-traveler/~4/pO1MVrIY0lM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2009/07/23/laut-mati-obat-nggak-bisa-berenang-dan-obat-borok/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://naked-traveler.com/2009/07/23/laut-mati-obat-nggak-bisa-berenang-dan-obat-borok/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
