<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" xml:lang="en" xml:base="http://ipoet.net/log/wp-atom.php">
	<title type="text">Putra Nasution - The Dreamer and the Poet</title>
	<subtitle type="text">local love...</subtitle>

	<updated>2009-07-14T17:06:42Z</updated>
	<generator uri="http://wordpress.org/" version="2.5">WordPress</generator>

	<link rel="alternate" type="text/html" href="http://ipoet.net/log" />
	<id>http://ipoet.net/log/feed/atom/</id>
	

			<link rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/nasution" type="application/atom+xml" /><feedburner:feedFlare href="http://add.my.yahoo.com/rss?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/my/addtomyyahoo4.gif">Subscribe with My Yahoo!</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsgator.com/ngs/subscriber/subext.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://www.newsgator.com/images/ngsub1.gif">Subscribe with NewsGator</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://feeds.my.aol.com/add.jsp?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://o.aolcdn.com/favorites.my.aol.com/webmaster/ffclient/webroot/locale/en-US/images/myAOLButtonSmall.gif">Subscribe with My AOL</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bloglines.com/sub/http://feeds.feedburner.com/nasution" src="http://www.bloglines.com/images/sub_modern11.gif">Subscribe with Bloglines</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.netvibes.com/subscribe.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://www.netvibes.com/img/add2netvibes.gif">Subscribe with Netvibes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://fusion.google.com/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://buttons.googlesyndication.com/fusion/add.gif">Subscribe with Google</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.pageflakes.com/subscribe.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://www.pageflakes.com/ImageFile.ashx?instanceId=Static_4&amp;fileName=ATP_blu_91x17.gif">Subscribe with Pageflakes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://my.feedlounge.com/external/subscribe?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://static.feedlounge.com/buttons/subscribe_0.gif">Subscribe with FeedLounge</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://mix.excite.eu/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://image.excite.co.uk/mix/addtomix.gif">Subscribe with Excite MIX</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.flurry.com/pushRssFeed.do?r=fb&amp;url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution" src="http://www.flurry.com/images/flurry_rss_logo2.gif">Subscribe with Flurry</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.addtoany.com/?linkname=Putra%20Nasution%20-%20The%20Dreamer%20and%20the%20Poet&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnasution&amp;type=feed" src="http://www.addtoany.com/addfr-b.gif">Add to Any Feed Reader</feedburner:feedFlare><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><entry>
		<author>
			<name>poetra</name>
					</author>
		<title type="html"><![CDATA[Memahami Dua Puluh Enam]]></title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/nasution/~3/diQzw1rLjnI/" />
		<id>http://ipoet.net/log/?p=250</id>
		<updated>2009-07-14T17:06:42Z</updated>
		<published>2009-07-14T17:06:42Z</published>
		<category scheme="http://ipoet.net/log" term="pemimpi subuh" />		<summary type="html"><![CDATA[Meninggalkan jumlah seperempat abad membuat banyak pemikiran timbul di kepala. Pemikiran mengenai &#8211;ehhmm&#8211; pernikahan, kehidupan di masa depan, kebahagiaan, dan seterusnya, dan lain-lain.
Aku mengerti lazim bahwa orang akan dengan sangat senang hati &#8220;memojokkan&#8221; pada bujang lapuk di usia sebegini, dengan tanpa perasaan berdosa dan mengalir selepas tiupan angin yang menusuk tulang di malam hari, &#8220;kapan [...]]]></summary>
		<content type="html" xml:base="http://ipoet.net/log/2009/07/memahami-dua-puluh-enam/"><![CDATA[<p>Meninggalkan jumlah seperempat abad membuat banyak pemikiran timbul di kepala. Pemikiran mengenai &#8211;ehhmm&#8211; pernikahan, kehidupan di masa depan, kebahagiaan, dan seterusnya, dan lain-lain.</p>
<p>Aku mengerti lazim bahwa orang akan dengan sangat senang hati &#8220;memojokkan&#8221; pada bujang lapuk di usia sebegini, dengan tanpa perasaan berdosa dan mengalir selepas tiupan angin yang menusuk tulang di malam hari, &#8220;kapan mau menikah?&#8221;</p>
<p>Kalau saja memaki itu bukan dosa, apalagi kepada orang yang lebih tua, sudah tentu akan kumaki mereka sepuas hati. Karena pertanyaan itu akan menempatkan aku diposisi bersalah, seakan-akan akulah yang memilih untuk tidak menikah secepatnya, dan seakan-akan menikah itu semudah membeli ikan di pasar. Padahal mereka lupa, membeli ikan saja harus dipilih-pilih dengan hati-hati, apalagi calon pasangan hidup.</p>
<p>Toh mereka juga tidak tahu bahwa aku baru saja patah hati lagi, tepat sehari sebelum berulang tahun. Mereka tidak tahu, sepantasnya tidak perlu tahu, dan aku pun tak mau bercengeng-cengeng lagi sambil mengeluarkan curahan hati yang diakhiri dengan pertanyaan &#8211;yang tak pernah terjawab, &#8220;kenapa&#8230;?&#8221;</p>
<p>Aku enggan bukan karena mati rasa, errr, sedikit mungkin iya, tapi aku juga tahu dunia sedang berduka. Seorang lelaki luar biasa yang bernama Michael Jackson telah wafat, meninggalkan sejuta &#8211;atau malah ratusan ribu juta&#8211; kenangan di masing-masing kepala dan hati penggemarnya, termasuk aku. Tapi membuat tulisan sebagai sebuah &#8220;tribute&#8221; untuk sang raja pun aku menjadi enggan, biarlah tersimpan di hati saja.</p>
<p>Lantas apalagi ya? Oh iya, pemilihan presiden negara tercinta ini. Walaupun aku terlibat sebagai salah satu panitianya, aku pun tak ingin menulis menyoalnya. Semoga saja hasilnya bisa membawa kebaikan untuk rakyat yang sudah terlalu lama menderita.</p>
<p>Memang, harus kuakui, koordinasi pikiran dan tanganku belakangan ini agak kurang baik. Kalau sedang melamun sambil menatapi lampu-lampu kendaraan saat kami sedang saling melintasi, imajinasiku berlari kencang seperti tak tertahan. Entah otak kanan atau otak kiri pun aku sudah tak bisa membedakan, karena semua terlebur menjadi satu kesatuan, tapi disaat yang sama ingin meloncat dan membelah diri berkali-kali. Tapi setiap kali aku berusaha menterjemahkannya menjadi bentuk yang terdokumentasi, ia &#8211;atau mereka&#8211; menghilang lagi.</p>
<p>Kemudian terlintas di kepalaku, apa mungkin memang ada waktunya aku harus berhenti mengoceh dan diam mendengar saja. Tak perlu terus menerus berusaha menularkan semangat dan energi untuk orang-orang yang kehilangan arah, karena aku sendiri sudah kehabisan energi dan mulai kehilangan arah.</p>
<p>Demikianlah, faktor &#8216;U&#8217; itu hinggap juga dan melumat aku sedikit demi sedikit. Bukannya ingin berhenti, tapi ingin melambat sedikit untuk kemudian mencari jalan pintas yang sepi agar bisa tancap gas. Memudar sedikit untuk menyerap cahaya sekitar.</p>
<p>Dan sudah pasti aku bukannya tak mensyukuri kehidupan yang bagiku sudah menginjak angka dua puluh enam. Walau seberapa pahit, sulit dan menyebalkannya, setiap detik aku nikmati seperti anak kecil yang diajak bermain ke pasar malam. Selalu ada hal baru, selalu ada pemahaman baru, dan selalu ada cara pandang baru.</p>
<p>Jadi, maafkan saja kalau belakangan ini jarang ada cerita yang bisa dikisahkan. Termasuk untuk tulisan ini pun, aku meminta maaf karena tak bisa menutupnya dengan lamat-lamat dan penuh keanggunan. Ah, kalian pasti sudah mengerti maksudku, kan?</p>
<p> <img src='http://ipoet.net/log/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content>
		<link rel="replies" type="text/html" href="http://ipoet.net/log/2009/07/memahami-dua-puluh-enam/#comments" thr:count="3" />
		<link rel="replies" type="appication/atom+xml" href="http://ipoet.net/log/2009/07/memahami-dua-puluh-enam/feed/atom/" thr:count="3" />
		<thr:total>3</thr:total>
	<feedburner:origLink>http://ipoet.net/log/2009/07/memahami-dua-puluh-enam/</feedburner:origLink></entry>
		<entry>
		<author>
			<name>poetra</name>
					</author>
		<title type="html"><![CDATA[Dua Puluh Enam]]></title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/nasution/~3/q0KwUaBbxDc/" />
		<id>http://ipoet.net/log/?p=249</id>
		<updated>2009-06-29T17:26:00Z</updated>
		<published>2009-06-29T08:48:40Z</published>
		<category scheme="http://ipoet.net/log" term="daily scratchs.." /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="26" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="facebook" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="putra" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="teman" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="ultah" />		<summary type="html"><![CDATA[
Terima kasih semuanya, I love you all! =)
]]></summary>
		<content type="html" xml:base="http://ipoet.net/log/2009/06/dua-puluh-enam/"><![CDATA[<p><img src="http://ipoet.net/i/poet_haulfb.jpg" alt="I love you all, you guys rocks!!" /></p>
<p>Terima kasih semuanya, I love you all! =)</p>
]]></content>
		<link rel="replies" type="text/html" href="http://ipoet.net/log/2009/06/dua-puluh-enam/#comments" thr:count="9" />
		<link rel="replies" type="appication/atom+xml" href="http://ipoet.net/log/2009/06/dua-puluh-enam/feed/atom/" thr:count="9" />
		<thr:total>9</thr:total>
	<feedburner:origLink>http://ipoet.net/log/2009/06/dua-puluh-enam/</feedburner:origLink></entry>
		<entry>
		<author>
			<name>poetra</name>
					</author>
		<title type="html"><![CDATA[Anomali Dalam Orientasi Hati]]></title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/nasution/~3/-DEDSxRqoVo/" />
		<id>http://ipoet.net/log/?p=248</id>
		<updated>2009-06-15T08:40:50Z</updated>
		<published>2009-06-15T07:17:30Z</published>
		<category scheme="http://ipoet.net/log" term="a story of..." /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="just a thought..." /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="anomali" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="orientasi seks" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="peradaban" />		<summary type="html"><![CDATA[Sekeluarnya dari ruang gelap yang biasa memutar berjuta frame dengan resolusi tinggi itu aku tercenung. &#8220;The Day the Earth Stood Still&#8221; judulnya, yang dengan sangat terlambatnya sampai ke bioskop kota kecil ini. Mau bilang apa, ya terima saja.
Film itu bagus, dengan sudut penceritaan yang agak outstanding walaupun temanya sudah agak mainstream; setidaknya bagi para pencinta [...]]]></summary>
		<content type="html" xml:base="http://ipoet.net/log/2009/06/anomali-dalam-orientasi-hati/"><![CDATA[<p>Sekeluarnya dari ruang gelap yang biasa memutar berjuta frame dengan resolusi tinggi itu aku tercenung. &#8220;The Day the Earth Stood Still&#8221; judulnya, yang dengan sangat terlambatnya sampai ke bioskop kota kecil ini. Mau bilang apa, ya terima saja.</p>
<p>Film itu bagus, dengan sudut penceritaan yang agak outstanding walaupun temanya sudah agak mainstream; setidaknya bagi para pencinta sinema. Tapi kurasa tak perlu lah dibahas bagaimana jalan ceritanya, tinggal arahkan saja peramban situs favorit kalian ke situs pencari sejuta umat.</p>
<p>Masih di tempat yang sama, aku perhatikan film-film lain yang diputar di studio-studio lainnya. Soal hantu, soal cinta, soal komersialisasi tubuh yang dibungkus komedi; ah tak ada yang menarik. Tinggal tunggu waktu saja sampai cerita soal kisah cinta remaja hantu yang seksi dengan judul &#8220;Susahnya Jadi Hantu 9&#8243;.</p>
<p>Oh, tapi tunggu dulu, bukannya Kiki Fatmala sudah menjadi trend-setter topik sejenis di masanya ya?</p>
<p><span id="more-248"></span></p>
<p>Tapi tak seperti film dalam negeri, cita rasa film-film luar aku rasakan mulai berubah. Sudah banyak sekali disisipkan tema-tema tentang kepedulian terhadap bumi. Terakhir yang aku ingat adalah &#8220;Happening&#8221;. Tapi yang masih sangat membekas (walau tak tergolong komersil dan masuk ke bioskop besar) tentu saja &#8220;The Unconvenient Truth&#8221;-nya Al-Gore.</p>
<p>Ini tentu saja menarik, karena memang sudah saatnya kita mengesampingkan komersialisasi &#8220;cinta&#8221; untuk sesaat, dan mulai berpikir tentang kehidupan bumi, kan? Bumi kita butuh perhatian, dan tentunya ras manusia; sebagai penumpang sekaligus perusak mayoritas.</p>
<p>Di perjalanan pulang kusinggahi sebentar salah satu warung internet. Agak sepi memang, karena jam sudah lewat tengah malam. Otakku butuh menulis dan membaca, dan tidak bisa ditunda. Kupilih saja sembarang tempat, tak ada yang spesial karena semua terlihat sama saja.</p>
<p>Tapi tak lama ketika aku membuka peramban situs yang berlogo rubah api itu, ada seorang lelaki mendekatiku &#8211;lebih tepatnya berdiri di depan komputerku. Aku yang sedang asik tak memperhatikan, tapi lantas jadi risih juga karena dia terlalu lama berdiri disana untuk tak mempunyai maksud apa-apa.</p>
<p>Kudongakkan saja kepalaku, dan lantas dia tersenyum manis lalu menyapa. Sial, kupikir, aku paling benci diganggu kalau sudah malam begini, terutama kalau sedang asik dengan komputer.</p>
<p>Belum cukup mengganggu, dia tersenyum manis. Lebih sial lagi, pikirku. Kalau yang tersenyum itu berwujud wanita, ya tak apa-apa lah. Tapi kalau lelaki? Amit-amit jabang bayi.</p>
<p>Kuacuhkan saja, sambil merengut. Pertanyaannya kuanggap angin lalu, dan kupasang headset tanda aku tak mau diganggu. Beberapa menit (iya, menit, dia masih konsisten berdiri disitu dan memperhatikan aku) kemudian akhirnya dia menyerah dan berlalu. Kuperhatikan dengan ekor mataku dia melangkah keluar.</p>
<p>Aman, pikirku. Dan aku pun terus asyik masyuk dengan peramban situsku.</p>
<p>Kurang lebih satu jam berlalu, aku pikir sudah saatnya pulang. Dengan segera kuberikan uang &#8220;sewa&#8221; sejumlah yang diminta oleh kasir, kemudian kulangkahkan kaki ke pintu keluar. Diluar perkiraanku, si &#8220;lelaki&#8221; tadi ternyata masih ada dan bersandar di pintu mobilnya sambil merokok.</p>
<p>Begitu dilihatnya aku berjalan keluar, langsung dia berdiri tegak dan sepertinya akan menghampiri aku. Kupercepat saja langkah menuju sepeda motorku dan memakai helm, agak berkeringat dingin. Entah bagaimana caranya tau-tau dia sudah berada di dekatku.</p>
<p>&#8220;Mau langsung pulang? Gak jalan-jalan dulu kita?&#8221; katanya dengan gaya yang khas (kalau tak mau dibilang gemulai).</p>
<p>Kuacuhkan saja pertanyaannya sambil memasukkan kunci dan menghidupkan sepeda motor.</p>
<p>&#8220;Ih kok diam aja? Dimana rumah? Yuk nongkrong dulu lah sebentar..&#8221; ujarnya lagi dengan gaya manja yang dibuat-buat.</p>
<p>&#8220;Nggak makasih. Buru-buru.&#8221; kujawab saja sekenanya, berharap dia sadar bahwa aku berbeda orientasi hidup dengan dia.</p>
<p>Ternyata jawaban tadi bukannya membuat niatnya surut tapi malah membuat dia makin berani. SIAL! Langsung kutancap gas keluar dari parkiran. Dengan ekor mataku kutangkap dia memasuki mobil dan menghidupkannya.</p>
<p>Oh, mimpi apa kemarin? Kuarahkan saja si kuda besi masuk ke gang-gang kecil bermaksud untuk menghilangkan jejak. Setelah melihat mobil itu menghilang dari pandangan baru kemudian aku bisa bernafas sedikit lega.</p>
<p>Sepanjang jalan aku masih tak habis pikir, apa dunia ini sudah menjadi gila. Tanpa bermaksud mengalienasi maupun tak menghargai &#8220;hak azasi&#8221;, tapi hal-hal seperti ini menakutkan.</p>
<p>Aku merasa, betapa pengaruh televisi memberikan suatu perubahan drastis. Dulu orang menabukan hal ini, tapi perkembangan toleransi atas dasar hak azasi telah membuat tanggapan kebanyakan orang bergeser. Dulu tersembunyi, kini ada dimana-mana.</p>
<p>Tanpa bermaksud masuk ke ranah psikologis &#8211;karena memang aku tak berkompeten untuk membahasnya dalam kerangka itu&#8211; tapi mungkin benar adanya keterusterangan dan komersialisasi gaya hidup sejenis di televisi oleh para pelakon seni memberikan sebuah inspirasi. Anomali itu telah mendapat tempat &#8211;walau tidak terlalu luas.</p>
<p>Bukannya aku ini homophobia, apalagi mendiskriminasikan mereka. Toh aku sempat punya beberapa teman yang bergaya hidup serupa. Sekedar teman sih oke saja, tapi kalau lebih? Aduh maaf, aku masih 101% pengagum makhluk kompleks yang bernama wanita.</p>
<p>Otak gilaku berpikir, bukannya tidak mungkin ini adalah salah satu cara kehidupan menghambat laju pertumbuhannya yang tak terbendung itu; entah dari &#8220;pihak&#8221; mana ya tak perlu dibahas. Ditambah lagi kalau statistik yang beredar di masyarakat bahwa perbandingan pria dan wanita di dunia ini sudah 1:4 itu benar.</p>
<p>Hey hey, ada yang senyum-senyum di pojok sana. Aku tidak sedang membahas poligami ya! Tidak ada intensi maupun tendensi ke arah sana. Haha.</p>
<p>Ah, sudahlah. Aku jadi melantur kemana-mana. <img src='http://ipoet.net/log/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content>
		<link rel="replies" type="text/html" href="http://ipoet.net/log/2009/06/anomali-dalam-orientasi-hati/#comments" thr:count="7" />
		<link rel="replies" type="appication/atom+xml" href="http://ipoet.net/log/2009/06/anomali-dalam-orientasi-hati/feed/atom/" thr:count="7" />
		<thr:total>7</thr:total>
	<feedburner:origLink>http://ipoet.net/log/2009/06/anomali-dalam-orientasi-hati/</feedburner:origLink></entry>
		<entry>
		<author>
			<name>poetra</name>
					</author>
		<title type="html"><![CDATA[Menghakimi Huruf dan Spasi]]></title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/nasution/~3/Qf5lMAYeD_o/" />
		<id>http://ipoet.net/log/?p=247</id>
		<updated>2009-06-15T08:45:48Z</updated>
		<published>2009-06-04T04:26:01Z</published>
		<category scheme="http://ipoet.net/log" term="a story of..." />		<summary type="html"><![CDATA[
Aku memang tak berarti, tapi bukan berarti aku mati. Walaupun aku hanya remah-remah kecil dunia diantara keangkuhan dan megahnya istana kalian, tapi aku masih sanggup berdiri tegak dengan penuh percaya diri.
Oh, sudah gilakah dunia ini? Tertutupkah mata hati sehingga tak lagi bisa mengerti?
Sebait kata aku teriakkan samar, ungkapan kegelisahan dan dorongan saraf yang membengkak di [...]]]></summary>
		<content type="html" xml:base="http://ipoet.net/log/2009/06/menghakimi-huruf-dan-spasi/"><![CDATA[<p><a title="Bebaskan Ibu Prita!" href="http://ibuprita.suatuhari.com"><img src="http://ipoet.net/i/banner_prita.jpg" alt="Bebaskan Ibu Prita!!!" /></a></p>
<p>Aku memang tak berarti, tapi bukan berarti aku mati. Walaupun aku hanya remah-remah kecil dunia diantara keangkuhan dan megahnya istana kalian, tapi aku masih sanggup berdiri tegak dengan penuh percaya diri.</p>
<p>Oh, sudah gilakah dunia ini? Tertutupkah mata hati sehingga tak lagi bisa mengerti?</p>
<p>Sebait kata aku teriakkan samar, ungkapan kegelisahan dan dorongan saraf yang membengkak di badan. Sebait kejujuran dalam huruf dan spasi yang kemudian aku mereka adili.</p>
<p>Oh, salahkah hati kecil ini kalau merasa tersakiti? Tak ada kah lagi ruang untuk berbicara jujur tanpa harus dibui?</p>
<p>Terasing aku diantara ramainya hiruk-pikuk ketidakadilan, merangkak dengan letih dan terseok demi menghentikan tangis anakku yang ingin disusui.</p>
<p>(Sebuah dedikasi untuk <a title="Bebaskan Ibu Prita!" href="http://ibuprita.suatuhari.com">Ibu Prita Mulyasari</a>. Jangan takut, kami tidak tuli, bu&#8230;)</p>
]]></content>
		<link rel="replies" type="text/html" href="http://ipoet.net/log/2009/06/menghakimi-huruf-dan-spasi/#comments" thr:count="3" />
		<link rel="replies" type="appication/atom+xml" href="http://ipoet.net/log/2009/06/menghakimi-huruf-dan-spasi/feed/atom/" thr:count="3" />
		<thr:total>3</thr:total>
	<feedburner:origLink>http://ipoet.net/log/2009/06/menghakimi-huruf-dan-spasi/</feedburner:origLink></entry>
		<entry>
		<author>
			<name>poetra</name>
					</author>
		<title type="html"><![CDATA[Blog Itu Bukan Mesin Penghasil Uang]]></title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/nasution/~3/IGElwqEu78c/" />
		<id>http://ipoet.net/log/?p=246</id>
		<updated>2009-05-03T03:31:25Z</updated>
		<published>2009-05-02T19:58:04Z</published>
		<category scheme="http://ipoet.net/log" term="just a thought..." /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="awakmedan" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="blogging" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="mesin uang" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="monetisasi" /><category scheme="http://ipoet.net/log" term="society" />		<summary type="html"><![CDATA[Saya harus jujur, bahwa beberapa minggu ini hidup saya berjalan dengan plot maju-mundur, sambil mengalami percepatan dan perlambatan. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan, dan semua menuntut untuk menjadi prioritas; antara komunitas, kuliah, teman, rejeki dan &#8211;yang paling penting&#8211; keluarga.
Pelan-pelan saya juga mulai menyadari, bahwa fungsi blog ini tidak lagi sama ketika pertama kali saya [...]]]></summary>
		<content type="html" xml:base="http://ipoet.net/log/2009/05/blog-itu-bukan-mesin-penghasil-uang/"><![CDATA[<p>Saya harus jujur, bahwa beberapa minggu ini hidup saya berjalan dengan plot maju-mundur, sambil mengalami percepatan dan perlambatan. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan, dan semua menuntut untuk menjadi prioritas; antara komunitas, kuliah, teman, rejeki dan &#8211;yang paling penting&#8211; keluarga.</p>
<p>Pelan-pelan saya juga mulai menyadari, bahwa fungsi blog ini tidak lagi sama ketika pertama kali saya membuat blog di akhir tahun 2001/awal tahun 2002 (saya lupa kapan tepatnya, karena memang banyak sekali archive yang tidak terselamatkan dari masa lalu). Gaya bahasa sudah berubah, pemikiran yang dulu meloncat-loncat dan berapi-api sekarang harus sedikit di-rem, pembahasan yang dulu <em>nggak</em> jauh-jauh dari cinta sekarang sudah mulai berkurang, dst. Klise mungkin, tapi kesibukan, sangat terbatasnya akses internet disini, ditambah lagi gempuran situs <em>social networks</em> agaknya telah mengurangi kemampuan menulis dan berpikir saya yang penuh keterbatasan ini.</p>
<p>Ketika menjelajah <a title="Blogosphere" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Blogosphere"><em>blogosphere</em></a>, saya menemukan sebuah artikel bagus yang ditulis oleh <a title="Dan Benjamin" href="http://hivelogic.com">Dan Benjamin </a>mengenai <a title="Regarding The Personal Web" href="http://hivelogic.com/articles/view/regarding-the-personal-web">Personal Web</a>. Iya, istilah ini mungkin sangat sering dipergunakan para era 2001 ketika pertama kali saya berkenalan dengan HTML. Ben juga menulis tentang pengaruh <em>social networks</em> terhadap blog.</p>
<p>Membaca tulisan Ben saya jadi punya bahan posting, namun mungkin agak berbeda sudut pandangnya. Berhubung saya juga sedang &#8220;membangun&#8221; sebuah komunitas blog di kampung halaman ini, saya ingin bercerita mengenai uneg-uneg yang sudah lama mengendap di kepala, yaitu soal <em>blogging</em>.</p>
<p><span id="more-246"></span></p>
<p>Ketika saya akan bercerita mengenai blog, maka saya bisa berbicara semalam suntuk. Beberapa kali juga saya sudah pernah menulis nostalgia <em>blogosphere</em> di era itu. Kalimat ampuh yang biasa saya gunakan untuk menggambarkan keadaannya adalah, &#8220;waktu itu punya blog yang ada <em>commenting system</em>-nya saja sudah keren sekali!&#8221;</p>
<p>Mungkin kalimat itu terdengar berlebihan kalau dilihat dari sudut pandang jaman sekarang, tapi saya tidak bercanda. Kehadiran <a title="Doneeh.com - The Legend" href="http://web.archive.org/web/20030618180040/http://www.doneeh.com/">doneeh.com</a> ( hai, mas Don! <img src='http://ipoet.net/log/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) yang dapat menjembatani antara satu blog dengan blog lainnya itu seperti segelas air di tengah gurun pasir. Ide dari social networking ketika itu hanya sebatas berkomunikasi antar sesama blogger. Hatta, kopdar menjadi solusi untuk menjawab keterasingan dan anonimitas para blogger (selain mIRC, ICQ dan  <em>messenging services</em> sejenis tentunya).</p>
<p>Dengan demikian, mungkin era itu dirasa terlalu &#8220;kuno&#8221;. Tentunya, tidak adil memang membandingkannya dengan kondisi jaman sekarang, tapi bukan berarti tidak relevan. Bagaimanapun tidak akan ada masa depan tanpa masa lalu kan? <img src='http://ipoet.net/log/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Menyoal blog, bagi saya sudah bukan sekedar mainan saja. Blog boleh dikatakan sebagai salah satu hal yang menyebabkan perubahan paling prinsipil dalam hidup saya, sehingga dengan demikian terkadang ketika saya membahas soal <em>blogging</em>, seringnya terkesan sentimentil.</p>
<p>Mungkin saya sudah pernah bercerita soal orang-orang luar biasa yang saya temui karena blog. Selain luar biasa secara individual, juga luar biasa secara proses. Orang-orang yang awalnya hanya teman di dunia maya yang sekedar haha-hihi, kemudian bisa menjadi sahabat bahkan sudah seperti saudara sendiri. Kopdar bukan lagi menjadi pengisi waktu luang, tapi sudah menjadi kebutuhan bersilaturahmi.</p>
<p>Ambil saja contoh orang-orang awal <a title="Angkringan" href="http://angkringan.or.id">angkringan</a>; <a title="Mbak Lala" href="http://cinila.com">mbak Lala</a>, <a title="Mas Thomas" href="http://orangescale.net">mas Thomas</a>, Mita &#8216;rapaelh&#8217;, mas Criss, <a title="Kang Astho" href="http://rayofshadow.com/blog">kang Astho</a>, <a title="Mas Doneeh" href="http://papapnya.daivanara.com">mas Doneeh</a>, Jalack, <a title="Viktor" href="http://plurk.com/ndaru">Viktor</a>, dan masih banyak nama lainnya punya momen-momen penting dalam hidup saya. Tanpa bermaksud menjadi berlebihan, tapi tanpa mereka mungkin saya tidak bisa <em>survive</em> di Jogja. Saya pernah bilang ke Viktor beberapa tahun lalu, bahwa selalu menyenangkan bisa &#8220;pulang&#8221; ke Jogja. Adalah mereka &#8211;yang awalnya tak lebih dari sekedar nama di dunia maya&#8211; yang membuat saya merasa Jogja adalah kampung halaman kedua saya.</p>
<p>Atau orang-orang yang ada di <a title="Bandung Blog Village" href="http://bbv.or.id">BBV</a> (yang adalah komunitas blog regional pertama di Indonesia); <a title="Mikkel Demon" href="http://i.provoknation.com">Ikez</a>, <a title="mamatz" href="http://mamatz.org">Mamatz</a>, <a href="http://chickenstrip.org">Diki</a>, <a title="Aprian" href="http://aprian.net">Apri</a>, <a title="Bang Aan" href="http://anzarra.multiply.com">abangda Aan</a>, <a title="Jowie" href="http://adezigh.co.cc">Jowie</a>, <a title="Itha" href="http://semox.net">Itha</a>, <a title="Irza" href="http://plurk.com/user/pandaceria">Irza</a>, <a title="Achmad Bisri" href="http://www.achmadbisri.net/">ayah Bisri</a>, <a title="Kuda" href="http://plurk.com/user/kudakudakuda">Kuda</a>, <a title="Kak Widha" href="http://sireum.blogspot.com">kak Wida</a>, dan tentunya juga masih banyak nama lainnya juga punya momen-momen spesial dalam timeline hidup saya. Tanpa mereka pun, saya rasa saya tidak akan survive di Bandung.</p>
<p>Selain mereka masih banyak nama-nama lain yang berjasa dalam hidup saya, termasuk <a title="In memoriam - Blogbugs" href="http://web.archive.org/web/20040826205456/http://www.blogbugs.com/">anggota</a> <a title="Enda's post about Blogbugs" href="http://enda.goblogmedia.com/blogger-indonesia-riwayatmu-nanti-blogbugs.html">Blogbugs </a>dari angkatan gathnas pertama, tapi mungkin lain kali saja diceritakan secara detail <img src='http://ipoet.net/log/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, pernah suatu ketika saya ditanya, mengapa saya tidak bisa <em>blend</em> dengan komunitas-komunitas blog dan anak-anak blog &#8220;baru&#8221; yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Saya rasa kebanyakan teman-teman dari angkatan dan era saya pun mungkin begitu. Apakah memang ada eksklusifitas, ataukah senioritas, atau malah rivalitas?</p>
<p>Saya pikir <em>sih</em> tidak. Bukan sekedar <em>&#8220;sih&#8221;</em> malah, tapi &#8220;tentu tidak&#8221;. Hanya saja mungkin <em>spirit</em> dan tujuannya sudah berbeda. Kalau sekedar kopdar dan <em>haha-hihi</em> mungkin saya bisa dapat dimana-mana, sehingga kadang kalau tak bermanfaat dan tak ada yang kenal, entah kenapa rasanya terasing.</p>
<p>Lalu ketika saya berkesempatan untuk berbicara ataupun hadir di beberapa seminar yang membahas mengenai blog, pembahasannya tidak jauh-jauh dari <em>adsense</em> dan <em>internet marketing</em> kebanyakan, entah itu <em>paid review</em>, <em>affiliation</em>, dan sejenisnya. Sampai di titik ini saya merasa jengah, entah karena merasa itu sudah menyimpang jauh dari makna <em>nge</em>-blog untuk saya, atau karena saya merasa hal-hal tersebut bagaikan virus yang akan memperburuk citra blog di mata orang awam.</p>
<p>Maafkan penilaian subjektif saya, tapi menurut saya statistik pengguna itu tidak ada gunanya. Saya termasuk orang konservatif yang masih beranggapan bahwa kualitas jauh lebih penting dari kuantitas. Tidak ada gunanya pengguna situs-situs penyedia layanan blog bertambah jutaan orang setiap hari, kalau hanya tertarik ingin mencari uang dengan cara-cara di atas.</p>
<p>Bayangkan apa yang terjadi pada orang yang baru mengenal internet, ketika mencari suatu hal di search engine mengenai suatu topik, lalu &#8220;tertipu&#8221; oleh konten-konten yang memang sengaja dibuat untuk mencari uang. Apa yang akan dia sampaikan kepada teman-temannya? Setahu saya, viral marketing bukan hanya berjalan di dunia maya.</p>
<p>Pemikiran bahwa tidak sebaiknya pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar blog diiming-imingi sebagai &#8220;mesin penghasil uang&#8221; juga diamini oleh teman-teman lainnya yang mempunyai kepedulian mengenai masalah <em>blogosphere</em>. Hal inilah yang mendasari saya untuk membentuk sebuah komunitas di Medan yang memang mempunyai kepedulian terhadap konten dan <em>information sharing</em> untuk bangsa. Mengutip kata-kata <a title="Ndoro Kakung" href="http://ndorokakung.com">Ndoro Kakung</a>, blogger itu ada baiknya ikut memikirkan lingkungan sekitarnya, dan bermanfaat untuk orang lain.</p>
<p>Usai berbicara di beberapa seminar dan forum pun, timbul banyak pertanyaan mengapa saya terkesan begitu antipati terhadap eksploitasi blog sebagai mesin pencari uang. Yah, boleh juga dikatakan seperti itu. Hal ini juga pernah saya sampaikan kepada <a title="Enda Nasution" href="http://enda.goblogmedia.com">bang Enda</a>, yang ditanggapi dengan kalimat, &#8220;Yah nanti kan lama-lama juga mati sendiri blog-blog semacam itu&#8221;. Haha.</p>
<p>Mungkin ada benarnya juga ucapan bang Enda, tapi entah kenapa saya merasa bahwa persepsi &#8216;dapat uang dari blog&#8217; itu sebaiknya di-<em>counter</em>. Saya sendiri bukannya tidak mendapat manfaat finansial dari blog, malah kebanyakan karena <em>nge</em>-blog, tapi ya itu, frasanya adalah &#8216;dapat uang karena blog&#8217;. &#8216;Dari&#8217; dan &#8216;karena&#8217; itu kan dua hal yang berbeda <img src='http://ipoet.net/log/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya sendiri bukannya mengharamkan <em>monetizing </em>kepada diri sendiri, tapi hukumnya lebih kepada makruh. Sebetulnya yang saya alergi itu adalah <em>monetizing </em>yang terlalu dipaksakan. Kalau memang toh bisa membuat sebuah blog niche yang memang punya bobot dan orang tertarik, tidak salah sama sekali, malah bagus. Tapi kalau sampai &#8220;membohongi&#8221; orang lain? Menempatkan dan memanipulasi sedemikian rupa supaya orang tidak sengaja meng-klik? Atau menyediakan konten ilegal seperti mp3 bajakan dan file 3gp? Bahkan ada yang sangat ekstrem mencomot tulisan orang lain lalu diterjemahkan berulangkali dengan berbagai bahasa hanya atas nama uang? <em>Oh come on..</em></p>
<p>Hal ini juga saya sampaikan ketika saya menjadi keynote speaker di <a title="Technopreneurship 101" href="http://is.gd/waYk">Technopreneurship 101</a>. Saya pikir blog itu lebih bermanfaat jika digunakan sebagai salah satu media untuk <em>personal branding</em>, dan media untuk mencari teman simbiosis mutualisme yang tidak terjangkau di dunia nyata. Kalau memang terdengar naif sekali, setidaknya bagilah porsinya 50-50. Seimbangkanlah antara &#8220;mengambil&#8221; dan &#8220;memberi&#8221;. Bersosialisasilah dan buat sesuatu yang berguna untuk masyarakat di sekeliling kita.</p>
<p>Entahlah kalau banyak orang yang merasa idealisme saya ini sulit dipertahankan, tapi saya masih percaya bahwa masih banyak orang yang perduli dengan masa depan blog yang lebih cerah. Walaupun sangat sulit untuk membuat etika blogger dan menuangkan blogging dalam visi dan misi yang terorganisir (<acronym title="For Your Information">FYI</acronym>, hal ini sudah pernah dibahas dan dirumuskan di Gathering Nasional Blogger ke 2 tahun 2004 di Jogjakarta namun akhirnya dimentahkan lagi), tapi saya manfaat blogging itu jauh lebih besar dari sekedar mencari uang receh, baik secara harfiah, metafor maupun kontekstual.</p>
<p>Blogging itu soal melatih diri untuk berpikir dan berpendapat, dan komunitas blog itu idealnya bisa menjadi inkubator bisnis sekaligus juga kawah candradimuka pemikir-pemikir ulung negeri ini. Jika dirasa terlalu berat, maka setidaknya bisa berguna secara sosial dan bermanfaat secara intelektual.</p>
<p>Sekali lagi, ini hanya sebuah uneg-uneg yang bisa jadi sangat subjektif, tapi tidak berarti salah juga kan? <em>Just my two cents</em> <img src='http://ipoet.net/log/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content>
		<link rel="replies" type="text/html" href="http://ipoet.net/log/2009/05/blog-itu-bukan-mesin-penghasil-uang/#comments" thr:count="34" />
		<link rel="replies" type="appication/atom+xml" href="http://ipoet.net/log/2009/05/blog-itu-bukan-mesin-penghasil-uang/feed/atom/" thr:count="34" />
		<thr:total>34</thr:total>
	<feedburner:origLink>http://ipoet.net/log/2009/05/blog-itu-bukan-mesin-penghasil-uang/</feedburner:origLink></entry>
		<entry>
		<author>
			<name>poetra</name>
					</author>
		<title type="html"><![CDATA[Undangan Pernikahan&#8230;]]></title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/nasution/~3/ye8fEVKrB6M/" />
		<id>http://ipoet.net/log/?p=245</id>
		<updated>2009-04-16T18:02:15Z</updated>
		<published>2009-04-16T17:55:37Z</published>
		<category scheme="http://ipoet.net/log" term="just a thought..." />		<summary type="html"><![CDATA[
Menikah adalah sebuah anugerah dan tahapan penting dalam kehidupan manusia. Dengan menikah, apalagi jika dijalani dengan niat untuk beribadah dan dengan penuh kasih sayang serta pengertian, seolah-olah pintu langit akan dibuka untuk mengucurkan rezeki kepada umat manusia.

Tapi belum, saya belum akan menikah. Tepatnya mungkin, setelah menghadapi gempuran usia rentan pertanyaan sejenis &#8211;saat hampir semua teman [...]]]></summary>
		<content type="html" xml:base="http://ipoet.net/log/2009/04/undangan-pernikahan/"><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://ipoet.net/i/undangan.gif" alt="Surat undangan itu..." /></p>
<p>Menikah adalah sebuah anugerah dan tahapan penting dalam kehidupan manusia. Dengan menikah, apalagi jika dijalani dengan niat untuk beribadah dan dengan penuh kasih sayang serta pengertian, seolah-olah pintu langit akan dibuka untuk mengucurkan rezeki kepada umat manusia.</p>
<p><span id="more-245"></span></p>
<p>Tapi belum, saya belum akan menikah. Tepatnya mungkin, setelah menghadapi gempuran usia rentan pertanyaan sejenis &#8211;saat hampir semua teman sudah menikah, atau akan menikah&#8211; saya hanya bisa menjawab, &#8220;ya doakan saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Kenapa didoakan saja? Ya harus bagaimana lagi? Itu saya sudah siapkan undangannya, waktunya pun sudah ada, tinggal mengisi nama mempelai wanitanya saja, hehe.</p>
<p>Di antara banyaknya undangan yang saya perhatikan, timbul satu pertanyaan, dan tidak ada maksud iri atau sejenisnya. Tapi apa iya memang harus dicantumkan gitu gelarnya di undangan? Kok kesannya kurang tepat ya pemakaian gelar itu &#8211;yang seharusnya dipakai hanya pada tempat dan waktu yang relevan.</p>
<p>Belum lagi embel-embel <em><strong>&#8220;diharapkan tidak memberikan hadiah berupa kado atau karangan bunga&#8221;</strong></em> ?</p>
<p>Saya mengerti tentang bagaimana bahagia dan bangganya para mempelai tersebut. Jadi ini sekedar bertanya-tanya, ini niatnya mau beribadah, atau mau pamer-pameran (atau lebih buruk lagi ajang investasi)?</p>
<p>Just my two cents =)</p>
]]></content>
		<link rel="replies" type="text/html" href="http://ipoet.net/log/2009/04/undangan-pernikahan/#comments" thr:count="29" />
		<link rel="replies" type="appication/atom+xml" href="http://ipoet.net/log/2009/04/undangan-pernikahan/feed/atom/" thr:count="29" />
		<thr:total>29</thr:total>
	<feedburner:origLink>http://ipoet.net/log/2009/04/undangan-pernikahan/</feedburner:origLink></entry>
		<entry>
		<author>
			<name>poetra</name>
					</author>
		<title type="html"><![CDATA[Pemilu dan &#8220;Setidaknya&#8221;]]></title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/nasution/~3/6YHfUfL43RU/" />
		<id>http://ipoet.net/log/?p=244</id>
		<updated>2009-04-02T18:55:35Z</updated>
		<published>2009-04-02T08:48:24Z</published>
		<category scheme="http://ipoet.net/log" term="Uncategorized" />		<summary type="html"><![CDATA[Pemilu 2009 sudah diambang mata. Terhitung 7 hari dari sekarang, rakyat Indonesia akan berpesta demokrasi. Selama beberapa minggu lewat, panggung politik nasional sudah lebih dahulu &#8220;panas&#8221; dengan manuver-manuver para petingginya.
Ada satu hal menarik yang sudah saya dengar beberapa kali mengenai pemilu. Salah satunya adalah menguraikan kata &#8220;pemilu&#8221; seperti halnya kata &#8220;pemukul&#8221;atau kata &#8220;pengantar&#8221;.
Kata &#8220;pemukul&#8221; sendiri [...]]]></summary>
		<content type="html" xml:base="http://ipoet.net/log/2009/04/pemilu-dan-setidaknya/"><![CDATA[<p>Pemilu 2009 sudah diambang mata. Terhitung 7 hari dari sekarang, rakyat Indonesia akan berpesta demokrasi. Selama beberapa minggu lewat, panggung politik nasional sudah lebih dahulu &#8220;panas&#8221; dengan manuver-manuver para petingginya.</p>
<p>Ada satu hal menarik yang sudah saya dengar beberapa kali mengenai pemilu. Salah satunya adalah menguraikan kata &#8220;pemilu&#8221; seperti halnya kata &#8220;pemukul&#8221;atau kata &#8220;pengantar&#8221;.</p>
<p>Kata &#8220;pemukul&#8221; sendiri dapat diartikan sebagai suatu alat untuk memukul, sebagaimana kata &#8220;pengantar&#8221; dapat berarti sebagai sebuah permulaan / media untuk mengantarkan sesuatu. Menjadi sedikit lucu karena kata &#8220;pemilu&#8221; sendiri adalah sebuah singkatan dari &#8220;Pemilihan Umum&#8221;, namun karena result-nya seringkali malah mengecewakan, kata itu dipelesetkan dan diartikan sebagai &#8220;alat / permulaan / media untuk memberikan rasa pilu&#8221;.</p>
<p>Memang, sejarah bangsa ini dalam hal keterwakilan rakyat sebagai salah satu ciri negara demokrasi lebih banyak menghasilkan kegagalan. Skandal suap, tindakan asusila, arogansi, sifat kekanak-kanakan yang berujung kepada baku hantam, dan masih banyak hal negatif lainnya sering mewakili pencitraan lembaga legislatif kita itu.</p>
<p>Namun yang menjadi pertanyaan, apakah hal itu sepenuhnya kesalahan para anggota dewan yang terhormat itu?<span id="more-244"></span></p>
<p>Mari kita lihat saja fakta dan kenyataan di lapangan. Di masa kampanye, kita banyak menemukan slogan-slogan yang dipergunakan sebagai alat untuk membujuk dan mempengaruhi. Kata-kata yang paling sering ditemukan seperti &#8220;bukti bukan janji&#8221;, &#8220;berjuang&#8221;, &#8220;mengemban amanah&#8221;, dan &#8220;untuk rakyat&#8221; kerap kita temui bertebaran dan tak jarang malah mengotori pemandangan.</p>
<p>Seringnya, kata-kata tersebut tak lebih dari slogan. Jarang sekali ada caleg / partai yang bisa menjelaskan visi dan misinya agar dapat mudah dicerna, karena umumnya mengandung kalimat-kalimat multi-tafsir seperti halnya ramalan dari REG WETON atau REG RAMAL atau REG lainnya.</p>
<p>Selain tidak mungkin untuk menuliskan program kerja dalam sebuah spanduk ataupun baliho, mungkin juga karena sebetulnya para caleg itu tidak memiliki kemampuan untuk memberikan sebuah revolusi &#8211;perubahan secara cepat&#8211; setidaknya apabila berdiri sendiri. Disinilah mungkin diperlukannya sebuah tulisan kecil bertanda bintang (*) yang menyebutkan &#8220;syarat dan ketentuan berlaku&#8221;.</p>
<p>Kenyataannya, seorang anggota DPR tidak akan pernah bisa merubah hidup seluruh konstituennya dalam masa tugasnya, apalagi jika yang bersangkutan hanya terpilih sendiri, ataupun jika fraksinya adalah fraksi minoritas. Reality bites; demokrasi ditentukan oleh suara terbanyak. Pun jika fungsi mereka yang kemudian diharapkan adalah sebagai penyambung lidah rakyat &#8211;dalam hal ini konstituennya, tetap saja sulit untuk memenuhi ekspektasi rakyat.</p>
<p>Untuk lebih gampangnya, mari kita ilustrasikan saja jumlah pemilih (DPT) nasional adalah 150 juta. Jika jumlah kursi DPR yang diperebutkan untuk masa bakti 2009-2014 adalah 560 kursi, maka dengan pembagian rata-rata (tanpa menghiraukan angka <acronym title="Bilangan Pembagi Pemilih">BPP</acronym>, sistem <acronym title="Parliamentary Threshold">PT</acronym> dan lain sebagainya) 77 <acronym title="Daerah Pemilihan">Dapil</acronym>, masing-masing dapil mendapat jatah 7 kursi, dengan masing-masing menjadi &#8220;representasi&#8221; 278.000-an konstituen (Ilustrasi ini bukan sistem yang sebenarnya)</p>
<p>Nah, seorang anggota legislatif terpilih harus masuk ke dalam sebuah komisi, yang masing-masing komisi memiliki fungsi yang berbeda pula (<a title="Daftar Komisi DPR" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Perwakilan_Rakyat#Komisi">lihat disini untuk lebih lengkapnya</a>). Sedangkan banyak caleg yang masih belum memiliki bayangan tentang cara kerja ini, dan sudah menjanjikan kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Menurut hasil perbincangan saya politik warung kopi saya, yang termasuk kriteria sejahtera untuk rakyat pada umumnya adalah harga-harga kebutuhan pokok yang terjangkau, tersedianya pekerjaan, biaya sekolah dan kesehatan gratis, dan sejenisnya. Tidak mungkin, saya ulangi dengan cetak tebal, <strong>tidak mungkin seorang caleg bisa menyediakan ini untuk konstituennya apabila berdiri sendiri</strong>. Hal-hal di atas dapat dihasilkan dari kerjasama bukan hanya seluruh anggota DPR, tapi juga kerjasama dengan DPD, dan presiden beserta jajaran kabinetnya.</p>
<p>Melihat iklim politik saat ini yang masih mementingkan keterpilihan secara mayoritas (dengan kata lain sebagai penguasa) untuk dapat memperjuangkan hal-hal diatas, dan dengan sistem negara kita yang multi-partai, akan sangat sulit mewujudkan &#8220;kesejahteraan&#8221; untuk masyarakat kecil.</p>
<p>Saya sedari dulu tidak pernah setuju dengan konsep ekonomi yang mengundang investor asing sebanyak-banyaknya ke negara ini untuk menanamkan modal, dengan tujuan akhir membuka lapangan kerja secara masif. Kita sudah belajar dari sejarah, bahwa masuknya perusahaan-perusahaan asing ke negara ini malah mencederai kaum marjinal. Melalui kasus Freeport kita sudah melihat bagaimana penduduk asli malah disingkirkan setelah dikeruk kekayaan tanah nenek moyangnya secara luar biasa, melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 juga kita telah melihat bagaimana para buruh di negara ini hanya menjadi objek pelengkap penderita.</p>
<p>Dibutuhkan sebuah komitmen kuat untuk tidak hanya memperhatikan ekonomi makro, tapi juga ekonomi mikro negara ini. Mungkin hal itu masih lama lagi baru akan terwujud untuk Indonesia. Tapi terlepas dari semua sikap skeptis dan sinikal terhadap jalannya sistem politik di negara ini, sudah menjadi tugas kita para kaum terpelajar untuk pro-aktif mencari figur-figur yang benar-benar peduli terhadap negara, dan memberikan sumbangsih kita dengan turut serta memilih pada saat pemilu 2009.</p>
<p>Jika memang tidak ada figur yang tepat untuk memajukan dan memakmurkan negara ini, setidaknya berikanlah suara untuk orang-orang yang berkomitmen untuk tidak menghancurkan negara ini. Tugas mereka hanya menjaga agar uang yang kita bayarkan melalui pajak kita tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Setidaknya, jangan lagi para wakil rakyat yang &#8220;terhormat&#8221; itu membuat pilu.</p>
<p>Mungkin untuk saat ini, kata &#8220;setidaknya&#8221; sudah cukup.</p>
<p>Bagaimana dengan sisanya? Alfred Simanjuntak sudah menjawabnya lewat &#8220;Bangun Pemudi Pemuda&#8221;.</p>
]]></content>
		<link rel="replies" type="text/html" href="http://ipoet.net/log/2009/04/pemilu-dan-setidaknya/#comments" thr:count="6" />
		<link rel="replies" type="appication/atom+xml" href="http://ipoet.net/log/2009/04/pemilu-dan-setidaknya/feed/atom/" thr:count="6" />
		<thr:total>6</thr:total>
	<feedburner:origLink>http://ipoet.net/log/2009/04/pemilu-dan-setidaknya/</feedburner:origLink></entry>
	</feed>
