<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Nofie Iman</title>
	
	<link>http://nofieiman.com</link>
	<description>A notable words of Nofie Iman, a business consultant, majoring at investment and strategic management issues. If you are a looking for business/financial related information, you've come to the right place.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 22:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/nofieiman" /><feedburner:info uri="nofieiman" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>nofieiman</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:feedFlare href="http://add.my.yahoo.com/rss?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/my/addtomyyahoo4.gif">Subscribe with My Yahoo!</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsgator.com/ngs/subscriber/subext.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.newsgator.com/images/ngsub1.gif">Subscribe with NewsGator</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://feeds.my.aol.com/add.jsp?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://o.aolcdn.com/favorites.my.aol.com/webmaster/ffclient/webroot/locale/en-US/images/myAOLButtonSmall.gif">Subscribe with My AOL</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bloglines.com/sub/http://feeds.feedburner.com/nofieiman" src="http://www.bloglines.com/images/sub_modern11.gif">Subscribe with Bloglines</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.netvibes.com/subscribe.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.netvibes.com/img/add2netvibes.gif">Subscribe with Netvibes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://fusion.google.com/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://buttons.googlesyndication.com/fusion/add.gif">Subscribe with Google</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.pageflakes.com/subscribe.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.pageflakes.com/ImageFile.ashx?instanceId=Static_4&amp;fileName=ATP_blu_91x17.gif">Subscribe with Pageflakes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><item>
		<title>Menulis Itu Gampang—Siapa Bilang?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/1Fs8t3gnta8/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/menulis-itu-gampang-siapa-bilang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 22:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=1118</guid>
		<description><![CDATA[Philip Roth pernah bilang, &#8220;Writing isn&#8217;t hard work. It&#8217;s a nightmare.&#8221; Harus diakui bahwa menulis adalah pekerjaan yang monoton, pasif, dan produknya relatif &#8220;tidak jelas.&#8221; Dibandingkan dengan tukang bangunan misalnya, produk yang dikerjakan seorang penulis hanyalah barisan kata-kata yang menjemukan. Maka tak heran bila diperlukan keuletan dan determinasi yang luar biasa tinggi untuk bisa menjadi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Philip Roth pernah bilang, &#8220;<em>Writing isn&#8217;t hard work. It&#8217;s a nightmare.</em>&#8221; Harus diakui bahwa menulis adalah pekerjaan yang monoton, pasif, dan produknya relatif &#8220;tidak jelas.&#8221; Dibandingkan dengan tukang bangunan misalnya, produk yang dikerjakan seorang penulis hanyalah barisan kata-kata yang menjemukan. Maka tak heran bila diperlukan keuletan dan determinasi yang luar biasa tinggi untuk bisa menjadi seorang penulis yang jempolan.</p>
<p>Menulis sesuatu yang mudah dipahami pembaca juga bukan perkara gampang. <span class="highlight"><em>If the product looks effortless, there are lots of work went into it.</em></span> Kalau Anda menemukan satu kalimat atau paragraf yang &#8220;enak&#8221; dibaca, bisa dipastikan penulisnya menyusun kalimat/paragraf itu dengan susah payah. Mungkin penulisnya sudah membaca dan melakukan riset mendalam. Mungkin penulisnya telah melakukan kontemplasi yang matang. Mungkin penulisnya punya segudang pengalaman di bidang tersebut.</p>
<p>Menulis yang baik butuh pemahaman (<em>reasoning</em>) dan logika berpikir (<em>logic</em>) yang kuat. <em>You can&#8217;t teach anyone to write without a basic grasp of logic and without giving them access to the critical thinking skills required for the journey that a good writing demands.</em> Menulis juga butuh pengetahuan mendalam akan kebenaran topik (<em>inherent truth</em>) yang Anda tulis. Kombinasi antara <em>reasoning</em>, <em>logic</em>, dan <em>truth</em> inilah yang akan membuat tulisan Anda lebih berisi. <em>This is a lot of work indeed.</em><span id="more-1118"></span></p>
<p>Anda mungkin berpikiran bahwa istilah yang <em>sophisticated</em> menggambarkan tulisan yang berkualitas. Salah besar. Tulisan yang bagus justru tulisan yang menggunakan kalimat sederhana yang pendek, langsung menuju pokok masalah yang ingin disampaikan, menghindari penggunaan jargon asing, dan memanfaatkan penggunaan kata yang tepat&#8212;tidak kurang, tidak juga lebih. <span class="highlight"><em>Using overwhelmed jargon, believe me, will only insult your readers&#8217; intelligence.</em></span></p>
<p>Celakanya, pendidikan di Indonesia tidak mengajarkan kita menulis dengan baik. Kita cenderung berputar-putar dalam mengemukakan pendapat. Argumen yang seharusnya bisa ditulis dalam satu kalimat, harus dijabarkan dalam ratusan kata. Tak percaya? Lihatlah pidato politik pejabat kita: 10% isi, 90% kata-kata yang berbusa. Simak acara debat dan talkshow di televisi kita: 60 menit <em>airtime</em>, 15 menit <em>useful content</em>.</p>
<p>Pendidikan kita juga tidak membiasakan bagaimana menyusun argumen dan berpendapat dengan baik. Banyak tulisan mahasiswa saya yang harus &#8220;melipir&#8221; terlebih dahulu sebelum sampai pada inti permasalahan. Banyak dari mereka yang seolah sungkan menyatakan pendapatnya. Padahal, menulis yang bagus harus didasari satu gagasan pokok yang jelas. Satu saja. Namun gagasan itu harus di-<em>backup</em> dengan riset, data, pengalaman, atau logika yang runtut.</p>
<p>Tantangan lain dalam menulis adalah bagaimana memelihara konsistensi. Tidak mudah untuk menjaga agar ide dan pendapat Anda tetap kongruen satu sama lain&#8212;terutama dalam tulisan panjang seperti buku atau laporan tugas akhir. Ketika ada orang lain yang tidak sependapat dengan argumen Anda, <em>how you&#8217;re going to defend your views? How to maintain your consistency? Can you provide evidence/example/analogy?</em></p>
<p>Anggaplah menulis seperti membuat rute perjalanan. Anda hendak berjalan dari Sudirman menuju Pondok Indah. Ada banyak jalan yang bisa Anda lalui. Tapi Anda harus memutuskan satu saja rute yang diambil. Yakinkan pembaca Anda bahwa rute itu adalah pilihan yang terbaik. Kemukakan argumen Anda. Misalnya, rute pilihan Anda terbukti paling cepat dan bebas macet. Pastikan pembaca memperoleh manfaat dari pilihan itu. Tentu orang lain akan bilang rute lain jauh lebih baik. <em>But why should you care? <span class="highlight">This is your writing, not theirs.</span></em></p>
<p>Dan terakhir, yang sering dilupakan, adalah bagaimana menulis dalam bahasa pembaca. Pembaca buku-buku saya misalnya, kebanyakan tidak ingin tahu apa itu perencanaan keuangan. Mereka cuma ingin cepat kaya. Mereka tidak ingin belajar menghitung valuasi. Mereka cuma ingin tahu saham apa yang moncer hari ini. <em>That is how we read, talk, speak, and think.</em> Memahami apa yang ada di balik kepala pembaca Anda akan membuat pembaca lebih respek dan memiliki trust pada apa yang Anda tulis.</p>
<p>Mungkin dalam hati Anda berpikiran, &#8220;Wah, betul juga ya. Kok saya sampai nggak kepikiran soal itu sih?&#8221; <em>Well, you wouldn&#8217;t.</em> :)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=1Fs8t3gnta8:6vJXoTaF2Hc:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/1Fs8t3gnta8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/menulis-itu-gampang-siapa-bilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/menulis-itu-gampang-siapa-bilang/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Cara Memulai Investasi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/djS65spQC40/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/cara-memulai-investasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 22:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=1108</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini dibuat karena banyaknya pertanyaan yang sama ditanyakan berulang-ulang. Saking seringnya mendapat pertanyaan ini, saya bahkan sampai menyiapkan piring cantik buat penanya yang beruntung. (halah) Jadilah saya susun tulisan panjang ini sebagai referensi untuk Anda yang ingin tahu atau baru ingin memulai berinvestasi. Ada dua poin penting yang menjadi dasar tulisan ini. Pertama: bahwa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/cara-memulai-investasi.jpg" alt="Cara Memulai Investasi" /></p>
<p>Tulisan ini dibuat karena banyaknya pertanyaan yang sama ditanyakan berulang-ulang. Saking seringnya mendapat pertanyaan ini, saya bahkan sampai menyiapkan piring cantik buat penanya yang beruntung. (halah) Jadilah saya susun tulisan panjang ini sebagai referensi untuk Anda yang ingin tahu atau baru ingin memulai berinvestasi.</p>
<p>Ada dua poin penting yang menjadi dasar tulisan ini. Pertama: bahwa investasi itu adalah <span class="highlight">pengorbanan di masa sekarang untuk memperoleh hasil yang lebih baik di masa depan</span>. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Dan kedua: investasi adalah bagaimana <span class="highlight">membuat <em>money work harder than you</em></span>, bukan bagaimana Anda bekerja untuk uang.</p>
<p><em>So, let&#8217;s get stuck in.</em><span id="more-1108"></span></p>
<h3>Before We Get Started</h3>
<p>Sebelum memulai, ada baiknya Anda lihat diri Anda sekarang. Berapa &#8220;uang dingin&#8221; yang Anda miliki saat ini? Jangan gunakan uang yang dijatah untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Berapa banyak Anda mau berkomitmen untuk menyisihkan dana setiap bulan atau setiap tahunnya? Tiap orang punya latar belakang dan preferensi masing-masing yang berbeda satu sama lain.</p>
<p>Kalau sudah melihat sikon diri sendiri, sekarang tentukan tujuan investasi Anda. Berapa besar target yang ingin Anda capai? Berapa lama jangka waktu yang Anda miliki? Apakah mau menyisihkan dana untuk pensiun? Ingin naik haji lima tahun lagi? Menabung untuk pendidikan anak Anda kelak? Sekedar ingin terlihat keren menyandang status sebagai &#8216;investor&#8217;? Atau ingin diam-diam kawin lagi dan butuh dana untuk menghidupi istri muda? (eh)</p>
<p>Kalau sudah, pertanyaannya sekarang, seberapa kuat Anda berkomitmen untuk beneran berinvestasi? Secara psikologis, manusia lebih suka bersenang-senang hari ini (<em>instant gratification</em>) daripada <a href="http://nofieiman.com/menunda-kesenangan-sesaat/">menunda demi kesenangan yang lebih besar di masa depan</a>. Nah, bisakah Anda melawan godaan ini? Bayangkan, teman Anda punya iPhone 5 terbaru dan Anda masih menggunakan handphone yang Anda beli tiga tahun lalu. Teman Anda mencicil mobil baru tiap bulannya, sementara Anda mencicil saham dan reksadana. Teman Anda bisa mengelus-elus mobil barunya yang masih mulus. Anda bisa mengelus-elus apa? <span class="highlight"><em>I&#8217;m not saying it&#8217;s going to be easy, but I&#8217;m telling you it&#8217;s probably going to be worth it.</em></span></p>
<p>Tapi di sisi lain, jangan pula bersikap terlalu impulsif. Berinvestasi karena produk X atau bank Y menawarkan Samsung S4 baru atau mobil Avanza? Tertarik membeli reksadana atau saham karena harganya belakangan naik? Anda sih bisa saja keluar dari rumah dan naik angkutan apapun seadanya (ojek, angkot, bus, taksi), dan tiba di tempat yang dituju. Tapi perjalanan investasi tidak sama dengan perjalanan ke Kelapa Gading atau ke Pasar Minggu.</p>
<h3>Tabungan/Deposito vs. Inflasi</h3>
<p>Pada poin kedua yang sudah saya singgung di atas, tujuan investasi adalah to <em>make money work harder than you</em>, sedemikian hingga Anda tidak perlu bekerja susah payah lagi di kemudian hari. Anda bisa menikmati kerja keras investasi Anda sementara Anda tak perlu bekerja dan bebas melakukan sesuatu yang menjadi hobi, passion, atau cita-cita Anda.</p>
<p>Nah, untuk mencapai itu semua, diperlukan instrumen investasi yang (1) bisa mengalahkan inflasi, dan (2) pada akhirnya kelak bisa menutup biaya hidup Anda tanpa Anda harus bekerja. Inflasi adalah ilusi yang mematikan karena menggerus kekayaan Anda tanpa Anda sadari. Lima tahun lalu, Rp 10.000 bisa buat makan bakso berdua. Tapi sekarang, dengan nominal yang sama cuma dapat satu porsi saja. Lima tahun lagi mungkin cuma bisa dapat kerupuknya saja.</p>
<p>Saya tidak menyebut tabungan dan deposito sebagai instrumen investasi karena untuk mengalahkan inflasi saja ia gagal. Misalnya, suku bunga deposito di BCA untuk nominal di bawah Rp 2 miliar bunganya hanya 4,5%. Tabungan (Tahapan BCA) di bawah Rp 1 miliar cuma dapat bunga 1,3%. Bandingkan dengan inflasi kita yang ada di kisaran 6%. Kalau cuma ditabung, kekayaan Anda akan tergerus 4,7% tiap tahunnya, sementara kalau didepositokan, akan tergerus 1,5% per tahun.</p>
<p>Beberapa bank (juga BPR) memang ada yang menawarkan <em>rate</em> lebih tinggi. Tapi perlu dicatat bahwa LPS hanya menjamin simpanan pada nominal dan <em>rate</em> tertentu. Kalau lebih dari itu, LPS tak mau tanggung jawab. Satu-satunya &#8220;keuntungan&#8221; deposito menurut saya adalah bilyet depositonya bisa digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan kredit di bank yang bersangkutan, walaupun hanya 80-90% dari dana yang Anda depositokan dengan bunga sekitar 3-4% dari bunga deposito yang Anda peroleh.</p>
<p>Alternatif yang lebih menarik mungkin Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang ditawarkan hampir tiap tahun sejak 2006 lalu. Pertama kali diluncurkan, suku bunga ORI001 besarnya 12,05%, tapi belakangan suku bunganya makin menurun&#8212;mungkin karena peminatnya makin banyak. ORI007 dan ORI008 misalnya cuma dipatok 7,95% dan 7,3% saja. ORI009 bahkan cuma ditawarkan di 6,25% (jatuh tempo 15 Oktober 2015).</p>
<h3>Investasi Reksadana</h3>
<p>Saya pernah menulis buku tentang <a href="http://www.elexmedia.co.id/buku/detail/9789792724349">reksadana</a> beberapa tahun lalu. Bagi para pemula, saya memang sering menyarankan reksadana untuk &#8216;<em>test the water</em>&#8216;, sebagai wahana untuk menguji dan melatih Anda dalam berinvestasi. Reksadana relatif mudah dilakukan, bisa memperkenalkan Anda terhadap dunia investasi dan pasar modal, serta relatif bisa dimulai dengan modal yang kecil.</p>
<p>Cara memulai investasi di reksadana juga gampang. Anda cukup mencari produk reksadana yang sesuai, pilih manajer investasinya, baca prospektusnya, lalu lakukan pembelian (<em>subscription</em>) dan transfer dananya. Anda bisa membeli langsung melalui manajer investasi atau membelinya lewat agen (bank) yang ditunjuk. Pilihan produknya juga beragam, mulai dari reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, reksadana campuran, reksadana ETF, dan reksadana indeks. Daftar lengkapnya bisa Anda lihat di <a href="http://www.infovesta.com/">sini</a>.</p>
<p>Membuka rekening reksadana tak beda jauh seperti membuka rekening bank. Anda akan diminta untuk mengisi formulir, menyiapkan fotokopi identitas, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak Anda investasikan. Satuan reksadana dihitung berdasar unit penyertaan (UP) dan nilai aktiva bersih (NAB). Semisal hari ini reksadana X harga NAB-nya Rp 1.300. Anda berencana membeli 1.000 unit penyertaan. Maka Anda membutuhkan dana Rp. 1,3 juta (plus komisi/<em>fee</em>).</p>
<p>Seandainya akhir tahun nanti harga NAB-nya Rp 1.500 dan Anda hendak mencairkan reksadana Anda, maka keuntungan Anda sebesar Rp 200 ribu (minus komisi/<em>fee</em>/pajak). Sebaliknya, andaikata harga NAB-nya turun jadi Rp 1.000, maka kerugian Anda jadi Rp 300 ribu (plus komisi/<em>fee</em>). Tiap tahun (atau tengah tahun), manajer investasi akan mengirimkan Anda laporan investasi reksadana Anda. Laporan inilah yang menjadi bukti/konfirmasi atas kepemilikan reksadana Anda.</p>
<p>Kalau mau ingin serius terjun ke dunia investasi, saya sebenarnya tidak terlalu menyarankan reksadana sebagai komponen utama untuk investasi. Alasan pertama, faktor biaya yang tinggi membuat kinerjanya jadi kurang optimal (saya pernah menulisnya di <a href="http://nofieiman.com/evolusi-filosofi/">sini</a>). Sebenarnya ada alternatif yang bagus, yaitu reksadana indeks, namun pilihannya masih terbatas dan faktor biayanya masih dipertanyakan. Alasan kedua, silakan Anda lihat daftar orang terkaya di Indonesia (atau di dunia). Anda akan menemukan nama-nama orang kaya berkat saham, properti, atau bisnis&#8212;tapi tidak dari reksadana.</p>
<h3>Investasi Saham</h3>
<p>Banyak orang membahasakan investasi saham sebagai <em>trading</em> saham&#8212;yang tak jarang hanya mengandalkan rumor dan menggunakan <em>margin</em> yang tinggi. Tentu investasi model semacam itu jelas tidak disarankan. Selain berisiko tinggi, bisa bikin jantungan dan mengancam keharmonisan rumah tangga. Investasi saham yang dimaksud adalah investasi yang dilakukan dengan terukur, dihitung berdasar valuasi yang baik, dan direncanakan dengan matang. Saya lebih menyarankan pendekatan fundamental dan jangka panjang, bukan <em>short-term trading</em> dan spekulasi.</p>
<p>Memulai investasi saham mirip dengan memulai investasi reksadana. Anda harus membuka rekening di sekuritas terlebih dahulu sebelum bisa bertransaksi (lengkapnya bisa dilihat di <a href="http://www.idx.co.id/Home/Brokers/BrokersinYourCity/tabid/100/language/en-US/Default.aspx">sini</a>). Yang membedakan antara broker/sekuritas yang satu dengan yang lain biasanya pada jenis layanan yang diberikan, biaya yang dibebankan kepada investor, dan pada kekuatan modal (MKBD) yang dimiliki. Mirip seperti membuka rekening reksadana, Anda akan diminta untuk mengisi formulir, membuka rekening dana investor (RDI), menyiapkan fotokopi identitas, NPWP, dan berkas-berkas lainnya. Setelah rekening saham Anda aktif, biasanya 3&#215;24 jam, barulah Anda bisa menyetor dana (deposit) dan mulai melakukan transaksi saham.</p>
<p>Belakangan ini, banyak broker/sekuritas memberikan layanan <em>online trading</em> yang murah dan mudah diakses dari manapun. Anda juga bisa memulai investasi dengan modal awal yang cukup rendah, mulai dari Rp 5-10 juta&#8212;walaupun pilihannya jadi lebih terbatas. Bagi pemula, biasanya saya sarankan untuk memilih saham-saham <em>blue chip</em> (LQ45) yang solid. Kalau masih bingung, Anda bisa meniru (<em>mirroring</em>) dari reksadana saham. Ambil salah satu reksadana saham yang kinerjanya bagus, <em>download</em> prospektusnya, lihat komposisi isi perutnya, lalu belilah saham-saham itu sesuai preferensi dan sikon Anda. Walaupun isinya lebih berbasis <em>historical data</em> dan hanya meng-<em>cover</em> <em>top holding</em> saja, tapi setidaknya informasi ini bisa memberikan Anda sedikit &#8216;<em>clue</em>.&#8217;</p>
<p>Berdasar pengalaman dari beberapa klien saya, selama Anda tidak memilih saham abal-abal maka kinerja investasi Anda akan cukup memuaskan&#8212;jauh di atas bunga deposito. Bagi mereka yang lebih <em>advanced</em>, saya biasanya menyarankan metode valuasi yang lebih kompleks untuk melihat (<em>spotting</em>) <a href="http://nofieiman.com/evolusi-filosofi/">saham-saham yang masih murah dan punya upside potential bagus</a>.</p>
<h3>Investasi Emas</h3>
<p>Saya pernah menulis buku tentang <a href="http://www.zahra.co.id/index.php?do=book.detail&#038;id=978-979-1208-16-1">investasi emas</a> beberapa tahun lalu tepat pada saat terjadi krisis finansial 2008. Buku tersebut adalah salah satu buku pertama yang membahas tentang emas&#8212;jauh sebelum hingar bingar soal kebun emas dan dinar emas. Di buku itu, saya tidak menyarankan emas sebagai investasi &#8216;per se&#8217;, tetapi lebih sebagai diversifikasi dan <em>hedging</em> risiko.</p>
<p>Saya bukan penggemar emas. Biasanya saya tidak menyarankan komposisi emas yang terlalu besar dalam portofolio Anda&#8212;tak lebih dari 10-15%. Alasan pertama, emas hanya naik bila didorong oleh faktor krisis, perang, bencana, dan <em>catastrophe</em> lainnya. Kedua, hasil <em>trace back</em> ke belakang juga membuktikan bahwa emas masih kalah dari saham, reksadana, dan properti. Dan terakhir, yang menurut saya paling penting, emas tidak memberikan <em>cashflow</em> seperti halnya instrumen investasi yang lain. Anda hanya bisa merealisasikan profit investasi emas Anda ketika Anda menjualnya lagi.</p>
<p>Bagi Anda yang tertarik berinvestasi emas, saya menyarankan untuk berinvestasi dalam bentuk fisik. Anda bisa membelinya dari toko-toko emas atau dari <a href="http://www.logammulia.com/home-id.php">Logam Mulia (PT Antam)</a>. Beli emas secara legal dan lengkapi dengan dokumen (sertifikat) yang resmi. Simpanlah dalam tempat yang aman atau sewa <em>safe deposit box</em> di bank. Saya tidak menyarankan membeli emas dalam bentuk surat/sertifikat (buat apa?). Saya juga tidak menyarankan membeli emas dengan mencicil/berhutang&#8212;karena emas bisa turun harganya. Saya juga tidak menyarankan membeli lewat pihak ketiga semisal lewat MLM/arisan yang dibungkus investasi emas.</p>
<p>Secara hitung-hitungan, lebih menguntungkan membeli dalam bentuk batangan/lantakan. Pecahan yang kecil (50 gram atau yang lebih kecil) biasanya lebih &#8220;mahal&#8221; daripada pecahan yang besar (di atas 50 gram), tetapi lebih mudah diperjualbelikan kembali karena pasarnya lebih luas. Kalau Anda punya uang nganggur dan mau &#8220;menabung&#8221; emas tapi dana terbatas, Anda bisa membeli dari pecahan terkecil 5 gram (sekitar Rp 3 juta). Ketika hendak menjual kembali, akan lebih menguntungkan kalau Anda ketemu <em>buyer</em> langsung, seperti famili atau teman kantor, daripada menjualnya ke toko emas.</p>
<h3>Investasi Properti</h3>
<p>Strategi berinvestasi di properti bisa dimulai dengan mencari rumah seken yang ada di kisaran harga Rp 500 juta ke bawah (tergantung lokasi). Rumah di atas Rp 500 juta pasarnya cenderung menyempit dan spesifik. Selain itu, rumah kelas Rp 500 juta ke bawah lebih pas untuk disewakan bagi PNS atau pegawai kantoran yang baru menikah (keluarga muda). Kalaupun Anda ingin menjualnya kembali, dengan harga segitu relatif tidak sulit bagi Anda untuk menemukan pembeli.</p>
<p>Usahakan Anda bisa mematok biaya sewa 3-7% dari harga properti. Tergantung pada wilayahnya, potensi naiknya harga properti (<em>capital gain</em>) berkisar antara 10-20% per tahun. Kalau Anda menggunakan pembiayaan dari KPR untuk mendapatkan rumah tersebut, buat perhitungan dan perencanaan yang matang. Hitung juga nilai dari bangunan rumah tersebut. Harga tanah memang cenderung selalu naik, tapi nilai bangunan akan turun karena termakan usia dan cuaca. Salah satu risiko yang harus diwaspadai ketika menyewakan rumah adalah rumah menjadi tidak terurus dan banyak timbul kerusakan.</p>
<p>Ketika Anda hendak membeli rumah untuk disewakan, perhatikan bahwa harga yang diminta penjual tidak selalu mencerminkan nilai sebuah rumah. Pintar-pintarlah menemukan barang bagus dimana penjualnya sedang butuh uang (BU). Kalau untuk disewakan, usahakan membeli properti yang harganya 70-80% dari harga pasar. Dalam membeli rumah untuk disewakan, gunakan pertimbangan obyektifitas, jangan gunakan faktor <em>like-dislike</em>, karena toh rumah tersebut tidak untuk Anda tinggali sendiri.</p>
<p>Faktor lokasi jelas sangat mempengaruhi sukses tidaknya berinvestasi di properti. Pastikan Anda memilih kawasan yang sudah &#8220;hidup&#8221; dan ditinggali, bukan rumah kosong yang dibeli spekulan. Pilih juga kawasan dengan fasilitas perbelanjaan, transportasi, dan sekolah/kampus yang memadai. Kalau Anda membeli dari developer, pastikan juga <em>track record</em> developer tersebut bisa dipercaya.</p>
<h3>Oke, Selanjutnya Bagaimana?</h3>
<p>Seperti slogan Nike, <em>just do it</em>! <a href="http://blogs.marketwatch.com/encore/2013/04/25/whats-the-best-money-move-you-ever-made/">Mulailah segera</a>. Tak usah terlalu banyak membuat perhitungan yang terlalu <em>njlimet</em> di tahap-tahap awal. Sisihkan uang &#8220;dingin&#8221; yang Anda punya, pilih salah satu instrumen yang Anda suka, lalu mulailah berinvestasi. Jangan takut rugi. Mulailah dengan investasi yang bisa dilakukan dengan modal yang relatif kecil terlebih dahulu. Anggaplah ini sebagai ongkos belajar. Daripada Anda bayar jutaan rupiah untuk <a href="http://nofieiman.com/jebakan-motivator/">seminar yang tak jelas</a>, lebih baik untuk belajar investasi langsung.</p>
<p>Jangan berharap <em>return</em> tinggi dalam waktu singkat, terutama di masa-masa awal Anda berinvestasi. Kalau Anda mengharapkan <em>return</em> yang menakjubkan dalam tempo sekejap, lebih baik Anda masuk ke partai dan melamar jadi bendahara umum atau makelar proyek. Fokuslah pada proses pembelajaran, mengumpulkan pengetahuan serta pengalaman, dan profit akan datang dengan sendirinya. <span class="highlight"><em>Your purpose is to make mistakes, but in the right direction.</em></span></p>
<p><em>Top-up</em> investasi Anda agar terus bertumbuh, atau biasa juga disebut <em>cost averaging</em>, yaitu secara periodik melakukan penambahan pada investasi Anda. Anggaplah seperti menabung. Ada dua hal yang bisa dilakukan: (1) <em>increase your income</em>, dan/atau (2) <em>live below your means</em>. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mendapatkan tambahan dana untuk bisa diinvestasikan. Bedanya, <em>live below your means</em> punya limit bawah (pengeluaran Anda tak mungkin nol, bukan?), sementara <em>increase your income</em> secara teknis tak punya limit maksimal (Anda bisa punya penghasilan tak terbatas).</p>
<p>Lakukan <em>fine tuning</em> sambil jalan. Dalam perjalanannya, Anda akan ketemu dengan <em>return</em>, <em>fee</em>, komisi, pajak, dan hal-hal menarik lainnya. Kalau dirasa kurang pas, Anda bisa melakukan <em>adjustment</em>. Semisal komposisi reksadana Anda terlalu besar, maka Anda bisa mencairkan sebagian untuk dipindahkan ke yang lain. Atau, semisal Anda terlalu banyak komposisi di saham tertentu, Anda bisa memindahkan sebagian ke saham yang lain. Kalau ada yang menawar properti Anda dengan harga tinggi, Anda bisa menjualnya untuk dipindahkan ke instrumen lain&#8212;atau, lebih baik lagi, ditransfer ke rekening saya. :)</p>
<p>Bila Anda merasa terbantu dengan tulisan ini, silakan <em>share</em> via Twiter, Facebook, atau media lainnya. Jangan lupa <a href="http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=nofieiman">berlangganan</a> untuk mendapatkan kiriman artikel via email. Bila ada pertanyaan/komentar, jangan segan untuk <a href="http://nofieiman.com/inquiry/">hubungi saya</a>.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=djS65spQC40:dT655gEh8mU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/djS65spQC40" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/cara-memulai-investasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/cara-memulai-investasi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jebakan Motivator</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/nz49bY0AwC8/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/jebakan-motivator/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Apr 2013 01:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=1097</guid>
		<description><![CDATA[Seandainya saya jadi motivator, barangkali sayalah motivator terburuk di dunia. Pertama, saya tidak suka &#8220;nggambleh&#8221; berbicara tentang manisnya hidup. Saya lebih suka bercerita (atau menulis) tentang hidup secara apa adanya&#8212;ya sisi manisnya, tapi juga lebih sering sisi pahitnya. Kedua, kalau saya kasih motivasi kepada Anda, &#8220;ceumungudh kakaaa \(´▽`)/&#8221; misalnya, kok kesannya malah garing. :) Kawan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Seandainya saya jadi motivator, barangkali sayalah motivator terburuk di dunia. Pertama, saya tidak suka &#8220;<em>nggambleh</em>&#8221; berbicara tentang manisnya hidup. Saya lebih suka bercerita (atau menulis) tentang hidup secara apa adanya&#8212;ya sisi manisnya, tapi juga lebih sering sisi pahitnya. Kedua, kalau saya kasih motivasi kepada Anda, &#8220;<em>ceumungudh kakaaa \(´▽`)/</em>&#8221; misalnya, kok kesannya malah garing. :)</p>
<p>Kawan saya pernah berujar dengan nada yang lebih ekstrim, &#8220;Ngapain bayar mahal cuma untuk dibohongin dengan cerita manis?&#8221; Saya pun cuma membalas ringan, &#8220;Orang memang suka dengerin yang seger daripada dengerin yang bener.&#8221; Saya bukannya anti atau benci terhadap motivator. Saya hanya tidak menyukai hal-hal yang membuat hidup makin susah dan <em>miserable</em>. Dan keberadaan motivator, karena satu dan lain hal, masuk dalam kategori tersebut.</p>
<p>Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia sedikit banyak memang berpengaruh dalam melahirkan profesi motivator. Mereka yang sudah nyaman di tengah piramida, berusaha untuk mempertahankan posisinya, atau malah berusaha naik kelas. Sementara mereka yang masih ada di bawah, <em>the bottom of the pyramid</em>, juga tergiur ingin naik jadi anggota kelas menengah. Semua ingin merubah hidup. Solusi mudahnya: motivator.<span id="more-1097"></span></p>
<p>Berkembangnya industri motivator (self-help) ini juga diamini oleh editor saya. Beliau bercerita bahwa kebanyakan buku <em>best-seller</em> saat ini memang bertema motivasi dan pengembangan diri. Lucunya, mereka (para motivator tersebut) menulis buku, menerbitkannya lewat penerbit, lalu membeli sendiri buku-buku tersebut untuk dijual lagi di seminar&#8212;tak heran jika buku-buku mereka selalu jadi <em>best-seller</em>. Kebanyakan motivator memang kaya raya bukan dari jualan buku, melainkan dari <em>up-selling</em> lewat seminar, <em>training</em>, dan <em>workshop</em> privat.</p>
<p>Masalahnya adalah motivator mengajari kita untuk &#8220;mengabaikan&#8221; realita dan membuat <em>positive illusion</em> dalam diri kita sendiri. <em>Positive illusion</em> adalah kecenderungan untuk terlalu optimis dalam menghadapi situasi dan kondisi di hadapan kita. Karena mengabaikan realita, akibatnya kita jadi terlalu <em>lebay</em> mengukur kemampuan diri kita sendiri. <span class="highlight"><em>We overestimate our ability to control outcomes that have some element of chance and overestimate the extent to which good things are going to happen, especially to us.</em></span></p>
<p>Entah mengapa, kebanyakan motivator-motivator yang saya teliti mengajari kita untuk &#8220;membohongi&#8221; diri sendiri. <em>Pretend bad things won&#8217;t happen. Silver linings will save us every time.</em> Padahal, hidup selalu punya dua sisi yang berbeda. Tak selalu hal baik akan terjadi pada diri kita. Satu kejadian mungkin terlihat buruk, tetapi bisa menjadi <em>blessing in disguise</em> bila dilihat di sisi yang lain&#8212;begitu juga sebaliknya. Kemampuan untuk melihat suatu kejadian secara lebih komprehensif (<em>helicopter view</em>) inilah yang membuat kita bisa lebih bijaksana.</p>
<p>Kebanyakan motivator yang saya teliti juga menceritakan tentang apa yang audiens ingin dengarkan, bukan apa yang &#8220;seharusnya&#8221; audiens dengarkan. Cerita-cerita manis (tapi tidak komprehensif) tentang mereka membuat kita terjebak pada efek <em>reality distortion field</em>. Efek ini membuat kita meyakini bahwa diri kita sama hebatnya dengan mereka. Efek ini juga membuat kita mempercayai bahwa kesuksesan akan diperoleh kita seperti apa yang kita bayangkan&#8212;tetapi tidak akan diperoleh pada orang lain.</p>
<p><em>Indeed, <span class="highlight">it&#8217;s easy to create a dream life for yourself and NOT take any steps towards achieving it</span>.</em> Saya bermimpi akan bisa mendirikan perusahaan teknologi yang hebat, lalu membawanya ke publik (IPO), dan saya akan jadi trilyuner dalam semalam. Saya bermimpi akan menghabiskan hari-hari saya <em>traveling</em> keliling dunia, bermain golf setiap hari, dan menikahi Raisa lalu hidup bahagia selamanya. Terdengar indah, bukan? Maka tak heran bila sekali kita &#8220;dibuai&#8221; motivasi, kita akan cenderung ketagihan untuk &#8220;dibuai&#8221; lagi.</p>
<p>Lebih parah lagi, cerita-cerita manis tadi membuat kita justru tak lagi fokus dalam mengusahakan mimpi-mimpi kita. <em>They will pretend that they can give you a life of no pain or suffering. They will try to make everything sound way easier than it its. <span class="highlight">This will trick your brain into thinking you&#8217;ve actually done something.</span></em> Kita merasa seolah-olah kita sudah mencapai mimpi-mimpi kita. <em>We like to feel like we&#8217;re making progress&#8212;even when we aren&#8217;t.</em> Dengan membaca buku tentang fitness, seolah-olah kita sudah langsing dan sehat. Dengan membaca biografi Steve Jobs, seolah-olah kita sama hebatnya dengan dia. Dengan melihat video Tiger Woods di YouTube, kita merasa seolah pukulan kita sama bagusnya.</p>
<p>Faktanya, semua mimpi-mimpi itu bukanlah sesuatu yang gampang dilakukan. Mendirikan perusahaan butuh kerja keras. Membawanya <em>go public</em> perlu perhitungan matang. Bahkan untuk bisa memukul bola golf dengan tepat saja butuh latihan. Belum lagi menikahi Raisa (eh!). Bermimpi besar adalah sesuatu yang bagus dan memotivasi, tapi mawas diri dan penuh perhitungan juga tak kalah penting. <span class="highlight"><em>Stretch what you think is possible and expand what you believe is possible BUT don&#8217;t pretend to believe what you don&#8217;t.</em></span></p>
<p><em>Dreams and motivations is good, but nothing beats the action needed. If you want to be a billionaire, then find a way to erect a value-creating organisation that provides an absurd amount of value to people&#8212;that takes amazing focus and drive. <span class="highlight">If it&#8217;s your dream, then you got to move towards it. If it&#8217;s not, then don&#8217;t chase it.</span></em> Jujurlah pada diri sendiri. Barangkali saya tidak perlu memiliki sebuah perusahaan besar yang <em>go public</em>. Mungkin saya sudah cukup <em>happy and content</em> dengan sawah dan perkebunan kecil di kampung. Barangkali saya tak butuh keliling dunia, cukup bisa umrah dan naik haji saja. Dan mungkin perempuan yang membuat saya bahagia bukan Raisa, melainkan Alyssa Soebandono (haiyah).</p>
<p>Terakhir, saya percaya akan kemampuan <em>inner-self</em> seorang manusia, siapapun Anda. Tuhan menciptakan manusia dengan kondisi yang sangat sempurna. Percayalah, Anda tak butuh dimotivasi siapapun. Anda sudah hebat. Kalau Anda butuh disemangati, sungkem saja ke ibu atau ayah Anda. Atau curhat dan minta dukungan dari pasangan Anda. Dan tak lupa berdoa kepada Yang Maha Menguasai Segalanya. Itu sudah lebih dari cukup.</p>
<p>Dan by the way, Anda tak perlu membayar Rp 2,500,000 untuk motivasi ini. :)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=nz49bY0AwC8:7SImr90ZOGA:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/nz49bY0AwC8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/jebakan-motivator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/jebakan-motivator/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>A Man’s Advice to His 20-Year Old Self</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/gZikS0goW1k/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/a-mans-advice-to-his-20-year-old-self/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Apr 2013 16:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=1079</guid>
		<description><![CDATA[[Disclaimer: Tulisan ini agak berbeda daripada tulisan biasanya berdasar request dari salah satu pembaca.] Usia 20an memang periode yang cukup krusial dalam hidup. Kamu akan mengalami transisi yang begitu beragam, mulai dari kuliah, lulus kuliah, terjun ke dunia nyata, menghadapi banyak masalah&#8212;where your life is a brand new place. I&#8217;m writing this because I found [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em>[Disclaimer: Tulisan ini agak berbeda daripada tulisan biasanya berdasar request dari salah satu pembaca.]</em></p>
<p>Usia 20an memang periode yang cukup krusial dalam hidup. Kamu akan mengalami transisi yang begitu beragam, mulai dari kuliah, lulus kuliah, terjun ke dunia nyata, menghadapi banyak masalah&#8212;where your life is a brand new place. </p>
<p>I&#8217;m writing this because I found it to be much harder than I expected. Everyone I&#8217;ve talked to about the transition agrees. Yet, nobody talks about this transition much, so I thought I&#8217;d write a little something about it. This is the advice that I wish someone had given me when I was 20.<span id="more-1079"></span></p>
<h3>#1 Always invest in yourself</h3>
<p>Cuma ada dua jenis investasi yang pasti menguntungkan di dunia ini. Pertama, investasi akhirat, dengan membelanjakan harta kita di jalan Tuhan (Tuhan tidak pernah ingkar janji, bukan?). Kedua, investasi di dirimu sendiri, misalnya dengan menabung dan berinvestasi untuk masa depan kamu kelak. Makin cepat makin baik, karena efek compounding interest-nya makin besar.</p>
<p>Tapi &#8220;invest in yourself&#8221; tak melulu sebatas investasi secara uang/materi. Bisa juga dengan investasi dalam bentuk pendidikan&#8212;you can never argue with education, it truly doesn&#8217;t go away. Bisa juga dengan berinvestasi pada relationship lewat menjalin hubungan orang-orang yang potensial dan give positive influence. Atau, bisa juga investasi di badan kamu dengan cara tidak merokok/minum, mengkonsumsi makanan yang sehat, dan rajin berolahraga.</p>
<h3>#2 Time is the most valuable commodity</h3>
<p>Komoditas paling mahal di dunia ini adalah waktu. Tak peduli kamu orang kaya, anak presiden, artis beken, kamu cuma punya jatah 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. So, berhentilah menunda-nunda. <span class="highlight">Stop procrastinating. This is the most difficult thing to develop in your 20s.</span> Tapi di sisi lain, usia 20an adalah usia emas untuk mencoba dan mengeksplorasi hal-hal baru dalam hidup.</p>
<p>Want to run for a marathon? Fancy learning a foreign language? Traveling around the world? How to play music? Do it now. Don&#8217;t wait until your 30s or later to start doing awesome stuff like I did. Its really hard to get into a routine if you&#8217;ve never done it. Laziness begets laziness begets laziness. The time is now to stop wandering around. You can&#8217;t turn back time. Don&#8217;t end up like me. :)</p>
<h3>#3 Don&#8217;t follow your passion</h3>
<p>Steve Jobs pernah memberi pidato di Stanford tentang &#8220;follow your passion.&#8221; Ini menarik, tapi bisa misleading. Yang jauh lebih penting dari &#8220;follow your passion&#8221; adalah: <span class="highlight">identify your distinctive competence and match it with a market opportunity</span>. The key to occupational happiness is to first figure out what you&#8217;re passionate about and then find a job (or business) that matches this passion.</p>
<p>Kalau Steve Jobs hanya mengejar passion saja, mungkin ia akan menjadi biksu vegetarian yang tinggal di kuil antah berantah. Steve Jobs didn&#8217;t start Apple because he loved technology. He cared about making something that other people could benefit from. The important point is to not just follow your passion but something larger than yourself.</p>
<h3>#4 Focus on high-leveraged action</h3>
<p>Menyambung poin sebelumnya, karena waktu yang kamu miliki terbatas, maka fokuslah untuk mengerjakan hal-hal yang sekiranya memberi impact lebih besar. Baik itu untuk urusan sekolah/kuliah, relationship, bisnis/profesional, olahraga, hobi, apapun itu. Tinggalkan hal-hal remeh temeh. Don&#8217;t sweat small stuff. <span class="highlight">You&#8217;ll probably end up doing much less things, but you&#8217;ll be doing it very well.</span></p>
<p>Jangan terlalu banyak membuat komitmen, terlihat seolah-olah &#8220;sibuk&#8221;, waktunya habis, tetapi tidak ada hasil yang remarkable. Punya satu sabuk hitam di karate jauh lebih baik daripada punya sabuk merah di Judo, plus sabuk coklat di Taekwondo, plus sabuk hijau di Jujitsu, dll. I was didn&#8217;t know how to run a successful business, so instead of learning how to run 1 successful business, I started 5 unsuccessful businesses and called it &#8220;diversification&#8221;. Don&#8217;t do that.</p>
<h3>#5 Un-comfortability is good for you</h3>
<p>Zona nyaman itu berbahaya, seperti katak yang berada dalam panci yang dipanaskan. Awal mulanya ia merasa baik-baik saja, sampai kemudian ia terlambat untuk melompat keluar. Nah, mumpung masih 20an, cobalah untuk keluar dari zona nyaman. Ibarat sebuah jeruk, kamu tidak akan bisa mendapatkan sari pati terbaiknya kalau tidak memerasnya kuat-kuat. Your comfort zones need to be stretched.</p>
<p>Caranya bisa macam-macam. Kalau selama ini kamu selalu tinggal bersama orang tua, cobalah pindah ke kota (atau negara) lain yang asing. Kalau selama ini kamu selalu tidur 8 jam sehari, cobalah kurangi jadi 6 jam sehari. Kalau selama ini pengeluaran bulanan kamu sekian juta, cobalah bertahan hidup dengan separonya saja. <span class="highlight">Most people don&#8217;t like it, because it make them feel uncomfortable, painful; but it is through discomfort and stretching that you become stronger and grow.</span></p>
<h3>#6 What others think and say doesn&#8217;t matter</h3>
<p>Usia 20an biasanya banyak dipengaruhi oleh opini orang-orang di sekitar. Kamu memilih jurusan/kuliah karena teman-teman kamu. Kamu memilih profesi tertentu karena kata orang memang sudah seharusnya begitu. Kamu memutuskan untuk kuliah, bekerja, menikah, membeli rumah, dengan berdasar pada &#8220;apa kata orang&#8221;. Lama kelamaan kamu akan lelah mengikuti semua apa kata orang. Lagipula, ini adalah hidup kamu, bukan hidup mereka.</p>
<p>Mendengarkan nasihat orang lain sebagai input/saran tentu tak masalah. Tapi jangan sampai terlalu banyak memikirkan apa kata orang. Dalam banyak hal, apa kata orang bukan sesuatu yang penting dalam hidup kamu. Tak jarang, opini orang kebanyakan justru menyesatkan. It&#8217;s not what they think and say about you, instead, how you feel about yourself. <span class="highlight">As long as you&#8217;re true to yourself, you&#8217;re on a right direction.</span></p>
<h3>#7 Learn how to code</h3>
<p>Belajar coding sebenarnya mirip analoginya dengan belajar matematika. Tapi belajar pure maths jelas tidak menarik dan kurang applicable. <span class="highlight">Learn how to code is much more sexy and appealing.</span> Jaman sekarang makin menarik belajar coding karena pemanfaatannya jauh lebih luas, mulai dari membuat website, men-develop aplikasi, sampai mem-publish apps untuk Android atau iPhone. Keren bukan?</p>
<p>Oke, mungkin kamu bukan (atau tidak tertarik untuk jadi) seorang programmer. Walau begitu, ada banyak manfaat yang bisa kamu peroleh dari belajar coding. Coding mengajari logika berpikir yang baik dan runtut. Skill ini sangat bermanfaat ketika kamu kelak bertambah usia. Coding juga mengajari kamu persistensi tinggi. Bayangkan kamu sudah menulis 100 baris kode, tapi gagal di-run, dan kamu harus men-trace balik dari awal. Dan coding itu juga seni. Aplikasi A dan B mungkin sama-sama bisa menjalankan fungsi X, tapi cara mereka menuliskan source code-nya bisa berbeda.</p>
<p><center>***</center></p>
<p>Usia 20an memang usia emas dan cukup menentukan kemana kamu akan bergerak di masa depan. Mungkin beberapa advice di atas terdengar agak nyeleneh, tapi percayalah, you can only connect the dots looking backward. Believe me, you&#8217;ll thank me later.</p>
<p><span class="highlight">Last but not least, laugh when you can, apologise when you should, and just let go what you can&#8217;t change.</span> Life is short, but it can be amazing. Enjoy!</p>
<p>PS: Your mom is right. Your dad is wise. Love them unconditionally.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=gZikS0goW1k:ZM71-JFXhbg:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/gZikS0goW1k" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/a-mans-advice-to-his-20-year-old-self/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/a-mans-advice-to-his-20-year-old-self/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Enam Tahun Penantian</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/m4mHRPMeIpI/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/enam-tahun-penantian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Apr 2013 15:35:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=1071</guid>
		<description><![CDATA[Dibandingkan Steven Spielberg, mungkin Ang Lee belum ada apa-apanya. Di malam penganugerahan Academy Award beberapa waktu lalu, Life of Pi &#8220;hanya&#8221; memperoleh 11 nominasi Oscar. Jumlah ini masih di bawah Lincoln karya Steven Spielberg yang memperoleh 12 nominasi. Tapi ada cerita menarik dibalik perjuangan dan kesuksesan Ang Lee. Ang Lee mendaftar jurusan perfilman di University [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/ang-lee.jpg" alt="Ang Lee" /></p>
<p>Dibandingkan Steven Spielberg, mungkin Ang Lee belum ada apa-apanya. Di malam penganugerahan Academy Award beberapa waktu lalu, <a href="http://www.imdb.co.uk/title/tt0454876/">Life of Pi</a> &#8220;hanya&#8221; memperoleh 11 nominasi Oscar. Jumlah ini masih di bawah <a href="http://www.imdb.co.uk/title/tt0443272/">Lincoln</a> karya Steven Spielberg yang memperoleh 12 nominasi. Tapi ada cerita menarik dibalik perjuangan dan kesuksesan Ang Lee.</p>
<p>Ang Lee mendaftar jurusan perfilman di University of Illinois pada tahun 1978. Ayahnya keberatan dengan pilihan anaknya karena di Broadway hanya tersedia 200 peran untuk 50.000 pekerja seni. Ayahnya makin skeptis karena di masa itu sangat jarang seorang berkebangsaan China bisa menembus industri film Hollywood. Walau begitu, Lee nekat terbang ke Amerika mengejar mimpinya. Keputusan ini harus dibayar mahal dengan memburuknya hubungan Lee dengan ayahnya selama dua puluh tahun berikutnya.<span id="more-1071"></span></p>
<p>Pada akhirnya, Lee berhasil lulus dan mulai mengejar mimpinya. Di tahun 1984, ia mulai bekerja serabutan seperti membantu kru film, bekerja sebagai asisten editor, dan sejumlah pekerjaan tak penting lainnya di belakang layar. Pada saat yang bersamaan, ia juga mengirimkan skenario karyanya kepada sejumlah rumah produksi yang berbeda. Semua berujung pada penolakan. Tapi Lee masih percaya bahwa inilah jalan hidupnya.</p>
<p>Saat itu Ang Lee berusia 30 tahun. Bagi seorang Chinese, usia 30 adalah titik dimana seseorang seharusnya sudah mapan dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Sementara Lee saat itu hanya bisa mengirimkan skenario, menunggu jawaban dari rumah produksi, sembari terus bermimpi suatu saat bisa menjadi <em>movie director</em> profesional.</p>
<p>Untungnya Lee memiliki seorang istri yang sangat mendukung mimpinya itu. Istrinya, Jane, adalah seorang <em>microbiologist</em> teman semasa kuliah Lee. Jane bekerja di sebuah lab riset farmasi kecil dengan penghasilan yang pas-pasan. Saat itu mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Haan.</p>
<p>Lee menjalani hari-harinya dengan mengurus segala pekerjaan rumah tangga dan mengasuh Haan. Ia juga masih terus membaca, mereview film, menulis skrip, dan mengirimkannya dengan harapan suatu saat ada yang tertarik membiayai filmnya itu. Setiap malam, Lee membacakan cerita kepada Haan sampai ia tertidur. Bagi seorang laki-laki, menjalani hidup seperti ini tentu merupakan sesuatu hal yang memalukan.</p>
<p>Sampai suatu hari, Lee memutuskan bahwa mimpinya itu hanyalah ilusi belaka. Ia harus menghadapi realita hidup yang ada di depan matanya. Akhirnya Lee kemudian diam-diam mengambil kursus komputer di <em>community college</em> dekat tempat tinggalnya di White Plains, New York. Ia berpikir bahwa pengetahuan dan pengalaman menggunakan komputer akan membuat dirinya lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Menyadari perubahan perilaku suaminya, Jane curiga dan menemukan jadwal materi kuliah di tas milik Lee. Tapi Jane hanya diam saja sepanjang malam.</p>
<p>Keesokan paginya sebelum berangkat kerja, Jane hanya berkata, &#8220;<em>Ang, don&#8217;t forget your dream.</em>&#8221; Pernah suatu hari, saudara-saudara Jane memberinya uang yang cukup besar agar Lee membuka restoran China. Tapi uang itu ditolak Jane. Ia percaya dan mendukung mimpi Lee sepenuhnya. Ia juga mengingatkan kepada suaminya, &#8220;<span class="highlight"><em>I&#8217;ve always believed that you only need one gift. Your gift is making films. There are so many people studying computers already. They don&#8217;t need Ang Lee to do that. If you want that golden statue, you have to commit to the dream.</em></span>&#8221;</p>
<p>Lee kemudian mengambil berkas-berkas kursus komputernya, lalu merobek-robeknya, dan membuangnya ke tempat sampah. Selama enam tahun berturut-turut ia bekerja keras tanpa mendapatkan <em>feedback</em> apapun dari industri film yang dicintainya itu. Barulah pada tahun 1990, di usianya yang ke-36, Lee memenangkan kontes penulisan skrip yang disponsori oleh Pemerintah Taiwan. Tahun berikutnya, Ia mulai menyutradai karya pertamanya yang berjudul <a href="http://www.imdb.com/title/tt0105652/">Pushing Hands</a>.</p>
<p>Setelah <a href="http://www.imdb.com/title/tt0105652/">Pushing Hand</a>, Lee kemudian menyutradarai <a href="http://www.imdb.co.uk/title/tt0107156/">The Wedding Banquet</a>. Film inilah yang membukakan jalan baginya menembus pasar Amerika. Walaupun telah memenangkan nominasi <em>Best Foreign Picture</em>, tapi ia masih belum &#8220;dianggap&#8221; oleh industri perfilman Hollywood. Dua tahun berikutnya, <a href="http://www.imdb.co.uk/title/tt0114388/">Sense and Sensibility</a> mulai mengangkat nama Lee. Akhirnya semua kerja keras dan pengorbanan Lee terbayar ketika <a href="http://www.imdb.co.uk/title/tt0190332/">Crouching Tiger, Hidden Dragon</a> sukses di pasaran. Menyusul kemudian <a href="http://www.imdb.co.uk/title/tt0388795/">Brokeback Mountain</a> dan terakhir <a href="http://www.imdb.co.uk/title/tt0454876/">Life of Pi</a>.</p>
<p>Persistensi luar biasa dari seorang Lee dan pengorbanan yang begitu besar dari Jane selama enam tahun tanpa hasil akhirnya terbayar sudah.</p>
<p>Kini, semua orang tentu ingin memperoleh kesuksesan seperti apa yang dirasakan Ang Lee saat ini. Tapi apa iya semua orang mau berkorban seperti apa yang sudah Lee (dan Jane) lakukan? Orang sering bilang, &#8220;<em>follow your passion!</em>&#8221; atau &#8220;<em>if you do what you love, success will follows</em>.&#8221; Tapi seberapa kuatkah Anda menunggu? Atau lebih baik segera keluar dan mencari pilihan lain yang lebih menarik? Kebanyakan orang memilih keluar.</p>
<p>Bayangkan saat ini Anda ada di situasi seorang Ang Lee di tahun 1990. Enam tahun ke depan Anda harus menjalani hidup yang begitu <em>miserable</em> sampai tahun 2019. Itu artinya habis masa kepemimpinan presiden calon pengganti SBY kelak. Setiap lebaran dan pertemuan keluarga, Anda harus menghadapi pertanyaan orang-orang, &#8220;Gimana kabar film kamu?&#8221; Sementara orang lain yang sepantaran Anda sudah memperoleh kesuksesan, Anda masih saja jalan di tempat.</p>
<p>Seorang atlit tentu ingin mendapatkan medali perlombaan. Seorang penulis novel pasti ingin karyanya jadi <em>top best-seller</em>. Seorang musisi pasti ingin albumnya memperoleh platinum. Seorang entrepreneur pasti ingin usahanya bisa mendunia. Seorang investor tentu ingin harga saham yang dimilikinya naik berlipat ganda. Tapi seberapa besar pengorbanan yang diperlukan untuk meraih semua itu?</p>
<p>Memang benar, bakat dan jenius berkontribusi besar pada kesuksesan seseorang. Tapi, menurut saya, yang jauh lebih penting adalah <span class="highlight"><em>your ability to out-last everyone through the tough and crappy times</em></span>. Dan itu bisa dilakukan dengan determinasi yang tinggi, dukungan kuat dari orang-orang di sekitar Anda, atau karena memang tak ada lagi pilihan lain.</p>
<p>Ketika manuskrip Anda ditolak, masihkah Anda antusias menghasilkan karya-karya baru? Ketika pembajakan ada dimana-mana, masihkah Anda mau menggubah lagu dan membuat demo rekaman? Ketika pasar sedang <em>bearish</em>, masihkah Anda <em>confident</em> dengan saham Anda? Ketika sedang didera cidera, bisakah Anda tetap berlari dan memenangkan lomba?</p>
<p>Life of Pi memang film (dan novel) yang sangat menarik. Tapi Ang Lee juga memberikan inspirasi: <span class="highlight"><em>your achievements of tomorrow may be very well be planted with the seeds of today&#8217;s disappointments</em></span>.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=m4mHRPMeIpI:eDb_nyhAQ3I:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/m4mHRPMeIpI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/enam-tahun-penantian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/enam-tahun-penantian/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
