<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Nofie Iman</title>
	
	<link>http://nofieiman.com</link>
	<description>A notable words of Nofie Iman, a business consultant, majoring at investment and strategic management issues. If you are a looking for business/financial related information, you've come to the right place.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 10:20:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/nofieiman" /><feedburner:info uri="nofieiman" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>nofieiman</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:feedFlare href="http://add.my.yahoo.com/rss?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/my/addtomyyahoo4.gif">Subscribe with My Yahoo!</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsgator.com/ngs/subscriber/subext.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.newsgator.com/images/ngsub1.gif">Subscribe with NewsGator</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://feeds.my.aol.com/add.jsp?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://o.aolcdn.com/favorites.my.aol.com/webmaster/ffclient/webroot/locale/en-US/images/myAOLButtonSmall.gif">Subscribe with My AOL</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bloglines.com/sub/http://feeds.feedburner.com/nofieiman" src="http://www.bloglines.com/images/sub_modern11.gif">Subscribe with Bloglines</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.netvibes.com/subscribe.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.netvibes.com/img/add2netvibes.gif">Subscribe with Netvibes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://fusion.google.com/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://buttons.googlesyndication.com/fusion/add.gif">Subscribe with Google</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.pageflakes.com/subscribe.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.pageflakes.com/ImageFile.ashx?instanceId=Static_4&amp;fileName=ATP_blu_91x17.gif">Subscribe with Pageflakes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><item>
		<title>Paradoks Kebahagiaan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/w_XTWwPfhRI/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/paradoks-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[Dulu saya berpikiran bahwa ketika kelak saya mempunyai uang, maka hidup saya akan lebih bahagia. Sewaktu belum punya kendaraan, saya beranggapan bahwa setelah nanti punya motor/mobil sendiri, saya akan lebih happy. Saya juga dulu sering berangan-angan bisa travelling ke luar negeri karena hal itu mungkin akan membuat saya senang dan bangga. Tapi setelah membaca buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fparadoks-kebahagiaan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fparadoks-kebahagiaan%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dulu saya berpikiran bahwa ketika kelak saya mempunyai uang, maka hidup saya akan lebih bahagia. Sewaktu belum punya kendaraan, saya beranggapan bahwa setelah nanti punya motor/mobil sendiri, saya akan lebih <em>happy</em>. Saya juga dulu sering berangan-angan bisa <em>travelling</em> ke luar negeri karena hal itu mungkin akan membuat saya senang dan bangga.</p>
<p>Tapi setelah membaca buku <a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/1422162664/itemid-20" title="Passion and Purpose: Stories from the Best and Brightest Young Business Leaders"><em>Passion and Purpose: Stories from the Best and Brightest Young Business Leaders</em></a>, saya seperti disadarkan bahwa rahasia bahagia itu tidak terletak pada diri saya sendiri, melainkan pada kebahagiaan kita bersama.</p>
<blockquote><p>Happiness comes from the intersection of what you love, what you&#8217;re good at, and what the world needs.We&#8217;ve been told time and again to keep finding the first. Our schools helped developed the second. It&#8217;s time we put more thought on the third. Putting problems at the center of our decision-making changes everything. It&#8217;s not about the self anymore. It&#8217;s about what you can do and how you can be a valuable contributor.</p></blockquote>
<p>Bahagia itu didapat ketika kita <span class="highlight">memindahkan pusat dari &#8220;<em>to the end of yourself</em>&#8221; menuju &#8220;<em>to the greater good</em>.&#8221;</span><span id="more-927"></span></p>
<p>Hal ini kemudian menyadarkan saya bahwa semata-mata mengejar keinginan atau <em>passion</em> pribadi, tidak serta merta akan membuat kita bahagia. Pernyataan bahwa &#8220;<em>follow your passion and everything will turn out great</em>&#8221; adalah sesuatu yang <em>misleading</em>. Lebih parah lagi, hal itu justru membuat kita terlihat sangat egois. <em>Fulfillment comes only when your passion, talent, role, assignment, and the greater good all come together.</em></p>
<p>Pada dasarnya, di lubuk hati dan pikiran terdalam setiap manusia, pasti ingin membuat perbedaan. Kita ingin memberi kontribusi. Kita ingin memberi pengaruh kepada lingkungan sekitar kita. Kita ingin merubah dunia. Kita ingin memberi <em>impact</em>. <em>We want to matter.</em> Sayangnya, seperti ditulis pada kutipan di atas, selama ini kita hanya berfokus pada aspek <em>what we love</em> dan what <em>we&#8217;re good at</em>&#8212;-bukan pada <em>what the world needs</em>.</p>
<p>Yang menarik, buku tersebut juga menjelaskan bahwa makin kita berfokus pada diri kita sendiri, maka kita akan cenderung makin tidak bahagia. Sebaliknya, ketika kita mulai mengabaikan perhatian pada diri sendiri dan mulai melihat dunia yang lebih besar, kita akan jauh lebih bahagia. <span class="highlight"><em>We become happier if we worry less about what makes us happy.</em></span></p>
<p>Jadi, mulai sekarang coba lihat ke sekeliling kita. Adakah peluang dimana kita bisa melakukan perubahan positif? <em>A genuine impact? A positive contribution?</em> Adakah tempat dimana kita bisa mengarahkan <em>passion</em> dan talenta kita untuk membuat perbedaan?</p>
<p>Mari berhenti mengejar kebahagiaan diri sendiri. Mari mulai memberi kontribusi! Mari mulai membawa perubahan!</p>
<p>__________<br />
PS: Bagi rekan-rekan yang ingin berbagi kebahagiaan bersama, mari bergabung di <a href="http://sedekahrombongan.com/" title="#SedekahRombongan">#SedekahRombongan</a>. 100% dana disampaikan untuk para dhuafa yang menjadi sasaran! Sukarelawan yang mendukung gerakan bahkan turun ke lapangan tanpa mendapatkan imbalan. Selengkapnya kunjungi <a href="http://sedekahrombongan.com/" title="#SedekahRombongan">http://sedekahrombongan.com/</a>.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=w_XTWwPfhRI:3dRZ5WiDRZQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/w_XTWwPfhRI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/paradoks-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/paradoks-kebahagiaan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Average vs. Extraordinary</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/aEmC4PZLLsI/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/average-vs-extraordinary/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 03:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[No one will ever need more than 640KB of RAM. —Bill Gates Cobalah Anda kunjungi Taman Kanak-kanak (TK) terdekat di sekitar Anda. Masuklah ke salah satu kelas dan tanyai mereka, &#8220;Anak-anak, siapa di antara kalian yang bisa bernyanyi?&#8221; Niscaya semua anak mengangkat tangannya dengan penuh semangat. Sepuluh tahun kemudian, setelah mereka masuk ke SMU, cobalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Faverage-vs-extraordinary%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Faverage-vs-extraordinary%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<blockquote><p>No one will ever need more than 640KB of RAM.<br />
—Bill Gates</p></blockquote>
<p>Cobalah Anda kunjungi Taman Kanak-kanak (TK) terdekat di sekitar Anda. Masuklah ke salah satu kelas dan tanyai mereka, &#8220;Anak-anak, siapa di antara kalian yang bisa bernyanyi?&#8221; Niscaya semua anak mengangkat tangannya dengan penuh semangat. Sepuluh tahun kemudian, setelah mereka masuk ke SMU, cobalah ajukan pertanyaan yang sama. Berani jamin, tak lebih dari hitungan jari yang mengacungkan tangannya. Apa yang berbeda? Anak-anak di TK percaya mereka bisa bernyanyi <span class="highlight"><em>because no one had told them otherwise</em></span>.</p>
<p>Lord Kelvin, ilmuwan Inggris yang juga presiden British Royal Society, pernah berujar, &#8220;<em>Heavier-than-air flying machines are impossible.</em>&#8221; Astronom dan ahli matematika Simon Newcomb juga berkata serupa, &#8220;<em>Flight by machines heavier than air is unpractical and insignificant, if not utterly impossible.</em>&#8221; Dan bahkan Thomas Alva Edison juga berkomentar, &#8220;<em>It is apparent to me that the possibilities of the aeroplane, which two or three years ago were thought to hold the solution to the [flying machine] problem, have been exhausted, and that we must turn elsewhere.</em>&#8221;</p>
<p>Orang-orang pintar tersebut mengatakan bahwa tidak mungkin ada benda (pesawat) yang bisa melayang dan diterbangkan manusia. Tapi, kendati seluruh dunia memandang Orville Wright dan Wibur Wright tidak waras karena dianggap menentang hukum fisika (gravitasi), pada akhirnya mereka berdua berhasil membuktikan keyakinan mereka. Walaupun cibiran itu datang dari orang &#8220;besar&#8221; seperti Edison, Newcomb, dan Kelvin, bukan berarti Wright bersaudara menjadi gentar. Justru sebaliknya, cibiran itu membuat Wright bersaudara makin bersemangat untuk membuktikan keyakinan mereka.<span id="more-907"></span></p>
<p>Apa yang bisa kita simpulkan dari sini?</p>
<p><span class="highlight"><em>Extraordinary results will require you to have extraordinary beliefs.</em></span> Kita membutuhkan <em>extraordinary beliefs</em> karena makin &#8220;nyleneh&#8221; dan makin &#8220;tidak normal&#8221; gagasan kita menurut standar ukuran orang kebanyakan, maka makin tinggi pula <em>effort</em> yang harus kita keluarkan untuk melawan indoktrinasi dan tekanan sosial dari kiri-kanan kita. Sebaliknya, kalau kita hanya mengikuti anjuran orang-orang kebanyakan, maka pencapaian yang akan kita peroleh juga seperti orang kebanyakan. <em>Average beliefs will lead you to average results. As simple as that.</em></p>
<p>Dalam sebuah riwayat diceritakan, Luqman dan anaknya berniat menjual keledai di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Luqman menaiki punggung keledai sementara anaknya berjalan menuntun keledai. Di perjalanan, orang-orang mencibir, &#8220;Dasar orang tua tak tahu diri, ia enak-enakan duduk di atas keledai sementara anaknya berjalan di padang pasir yang terik.&#8221; Luqman dan anaknya lalu bertukar tempat. Luqman menuntun keledai sedangkan anaknya duduk di atas keledai. Di perjalanan, orang-orang mencibir lagi, &#8220;Anak durhaka, enak-enakan duduk di atas keledai sementara orang tuanya berjalan kaki.&#8221; </p>
<p>Sekarang Luqman dan anaknya sama-sama duduk di atas punggung keledai. Di perjalanan, orang lain berkomentar, &#8220;Dasar gila, tak punya rasa kasihan, hewan lemah begitu dinaiki dua orang sekaligus.&#8221; Kemudian Luqman turun dan mencari sebatang kayu yang agak panjang. Diikatlah kaki keledai depan dan belakang, lalu mereka masukkan kayu di antara kaki keledai tadi untuk menggotong. Mereka melanjutkan perjalanan sambil menggotong keledai. Tak lama, orang mencibir, &#8220;Dasar gila, keledai hidup kok digotong seperti mati?&#8221;</p>
<p>Akhirnya mereka menurunkan keledai dan melepaskan ikatannya. Sekarang mereka berjalan bertiga: Luqman, anaknya, dan keledai. Tapi apa lacur. Seseorang yang mereka temui kemudian malah berkomentar, ”Dasar bapak dan anak sama bodoh dengan keledainya. Ada kendaraan kok tidak dinaiki?” Itulah manusia, yang pada umumnya punya sifat sok tahu, namun juga bodoh, dan keras kepala. Dan lingkungan mengkondisikan demikian. Celaka sudah.</p>
<p><em>Most people are ordinary.</em> Kebanyakan orang biasa-biasa saja. Ikutilah omongan orang-orang di sekeliling Anda, maka Anda akan jadi orang biasa-biasa saja. Tetapi kalau Anda punya keyakinan tinggi, Anda punya gagasan cemerlang, Anda merasa bisa membawa pengaruh bagi lingkungan Anda, Anda merasa bisa memberi <em>impact</em> lebih bagi dunia ini, maka <em>go for it</em>. Abaikan orang-orang di sekeliling Anda yang cuma bisa mencibir dan berkata nyinyir.</p>
<p><span class="highlight"><em>Average beliefs will lead you to average results. Extraordinary beliefs will lead you to extraordinary results.</em></span></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=aEmC4PZLLsI:gPMUTRgaRew:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/aEmC4PZLLsI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/average-vs-extraordinary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/average-vs-extraordinary/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Matematika Kota Jakarta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/PUBkwxRLjR4/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/matematika-kota-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 04:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Mari kita bermain hitung-hitungan angka. Andai kita sekarang punya monorel dengan rute Lebak Bulus-Jakarta Kota. Bila ditarik garis lurus menyusuri Fatmawati, Blok-M, Sudirman, Thamrin, Harmoni, Hayam Wuruk, maka total jarak tempuhnya sekitar 20 km. Seandainya monorel kita berjalan dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam, maka Lebak Bulus-Jakarta Kota bisa ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fmatematika-kota-jakarta%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fmatematika-kota-jakarta%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Mari kita bermain hitung-hitungan angka. Andai kita sekarang punya monorel dengan rute Lebak Bulus-Jakarta Kota. Bila ditarik garis lurus menyusuri Fatmawati, Blok-M, Sudirman, Thamrin, Harmoni, Hayam Wuruk, maka total jarak tempuhnya sekitar 20 km. Seandainya monorel kita berjalan dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam, maka Lebak Bulus-Jakarta Kota bisa ditempuh dalam waktu 30 menit saja.</p>
<p>Memang benar. Realitanya tentu tidak seindah itu. Kalau kita pakai kendaraan sendiri, waktu tempuhnya bisa jadi 3 jam. Jarak tempuh juga lebih jauh karena kita mungkin harus lewat jalan tikus untuk menghindari macet atau kita harus memutari Sudirman-Thamrin untuk mengelak dari 3-in-1. Alhasil jarak yang ditempuh mungkin bisa membengkak jadi 30 km.</p>
<p>Jumlah penduduk Jakarta Selatan sekitar 1,8 juta (2010). Apabila ditambah dengan penduduk daerah Ciputat, Pondok Cabe, Pamulang, dan sekitarnya, anggap saja 2,5 juta. Misalkan 5% saja dari angka tersebut adalah orang kantoran atau anak sekolah/kuliah yang tempat kerja atau sekolah/kuliahnya di daerah utara. Maka, bisa diasumsikan ada 125 ribu orang yang setiap paginya memanfaatkan rute Lebak Bulus-Jakarta Kota.<span id="more-899"></span></p>
<p>Seandainya monorel tersebut sudah ada, maka kita semua sudah memotong jarak tempuh 1,25 juta km per harinya atau 456,25 juta km per tahun. Misalkan untuk setiap jarak 25 km yang kita lewati, kita butuh 1 liter bensin, maka per hari kita menghemat 50 ribu liter bensin per hari atau 18,25 juta liter bensin per tahun. Kalau dirupiahkan (Rp 5.500 per liter bensin), maka penghematannya adalah Rp 275 juta per hari atau Rp 100,375 miliar per tahun.</p>
<p>Itu baru penghematan dari sisi rupiah. Kita belum menghitung faktor kerusakan lingkungan akibat polusi udara. Kita juga belum memasukkan faktor perbaikan jalan dan sarana prasarana yang pastinya butuh <em>maintenance</em> lebih tinggi. Kita juga tidak memasukkan faktor stress, kelelahan, atau bahkan gangguan mental akibat dari kemacetan yang timbul.</p>
<p>Tapi jangan lupa, kita punya komoditi yang amat mahal harganya: <span class="highlight">waktu</span>.</p>
<p>Misalkan monorel kita sudah <em>established</em> 5 tahun lalu, maka ada jarak sejauh 2,28 miliar km yang tidak perlu ditempuh oleh penduduk Jakarta Selatan dan sekitarnya. Kalau kecepatan monorel rata-rata 40 km/jam, maka waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut adalah 57,03 juta jam, atau 2,38 juta hari, atau 6.510 tahun. Bila monorel tersebut beneran sudah ada sejak 5 tahun lalu, <span class="highlight"><em>it can save six thousand, five hundred, and ten years of their lives not wasted in a fucking car/bus/motorcycle stuck in the traffic jam.</em></span></p>
<p>Sayangnya bapak presiden yang terhormat sepertinya lebih sibuk nulis lagu dan bikin album daripada membuat analisis sederhana seperti ini.</p>
<p>Sayangnya bapak gubernur yang terhormat sepertinya juga sedang sibuk untuk mempersiapkan strategi memenangkan masa jabatan berikutnya.</p>
<p>Sayangnya cuma saya (dan Anda) yang masih bisa berpikir waras. :)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=PUBkwxRLjR4:RoGMTUivUD4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/PUBkwxRLjR4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/matematika-kota-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/matematika-kota-jakarta/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Balada Bangsa Pemalas</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/DwtTlo2XuJM/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/balada-bangsa-pemalas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 02:20:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=889</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan mahasiswa saya pemalas. Mereka malas datang ke kelas tepat waktu. Mereka malas membaca buku dan materi yang diberikan. Mereka malas mengerjakan PR dan tugas. Mereka juga malas bertanya dan berpartisipasi di dalam kelas. Bekerja keras itu berisiko tinggi. Kalau Anda sudah berusaha keras dan gagal, Anda tidak mendapatkan reward dan self-protection atas usaha yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fbalada-bangsa-pemalas%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fbalada-bangsa-pemalas%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kebanyakan mahasiswa saya pemalas. Mereka malas datang ke kelas tepat waktu. Mereka malas membaca buku dan materi yang diberikan. Mereka malas mengerjakan PR dan tugas. Mereka juga malas bertanya dan berpartisipasi di dalam kelas.</p>
<p><span class="highlight">Bekerja keras itu berisiko tinggi.</span> Kalau Anda sudah berusaha keras dan gagal, Anda tidak mendapatkan <em>reward</em> dan <em>self-protection</em> atas usaha yang sudah Anda keluarkan. Misalkan Anda tidak belajar dengan sungguh-sungguh dan memperoleh nilai C dalam ujian, maka itu bukanlah persoalan besar&#8212;-Anda cuma kurang berusaha dengan keras. Tapi semisal Anda sudah belajar dengan serius tapi tetap memperoleh nilai C, maka Anda akan merasa bahwa mungkin Anda memang benar-benar bodoh.</p>
<p>Dengan kata lain, kalau Anda berusaha keras dan gagal, ada ketakutan yang muncul bahwa Anda mungkin memang tidak berbakat atau tidak ditakdirkan untuk sukses di bidang tersebut. Sebaliknya, kalau Anda tidak berusaha keras dan gagal, Anda bisa menghibur diri Anda sendiri dengan ilusi bahwa seandainya Anda berusaha 100%, pasti Anda akan berhasil. Kalau Anda belum berusaha dengan keras dan gagal, Anda bisa bilang, &#8220;<em>I could have gotten an A if only I had tried. But I didn&#8217;t. I&#8217;m as good as that guy/girl.</em>&#8220;<span id="more-889"></span></p>
<p>Tentu saja, faktanya tidak demikian.</p>
<p>Sewaktu final NBA beberapa waktu lalu, Lebron James berkomentar di televisi, &#8220;<em>I&#8217;m not going to hang my head low. I know how much work as a team we put into it. I know how much work individually that I&#8217;ve put into it&#8230; I think you can never hang your head low when you know how much work, how much dedication you put into the game.</em>&#8221;</p>
<p>Tak banyak orang yang berani mengakui kegagalan ketika mereka sudah berusaha keras namun belum berhasil. Tak banyak orang yang seperti Lebron James. Kebanyakan orang memilih untuk menjadi pemalas. Kalau ditanya soal pencapaian, mereka lebih suka mencari alibi yang menarik daripada mengejar pencapaian dengan sungguh-sungguh. Saya gagal jadi juara karena kurang latihan. IPK saya jeblok karena saya tak punya buku yang bisa dipakai buat belajar. Penjualan saya tak mencapai target karena orang-orang di tim saya payah. Dan seribu satu alibi lainnya.</p>
<p>Jadi, buat apa mengejar pencapaian yang tinggi? <span class="highlight"><em>Achievement doesn&#8217;t settle anything permanently.</em></span> Pencapaian yang kita dapat saat ini harus kita kejar lagi di hari berikutnya, di jenjang yang lebih tinggi, dan seterusnya. Jadi, mengapa harus repot-repot mengejar pencapaian yang tinggi? Kalau kita menang kompetisi tahun ini, toh tahun depan kita harus mempertahankan gelar tersebut. Kalau IPK semester ini di atas 3.5, tetap saja semester depan harus belajar supaya dapat 3.5 lagi. Kalau penjualan bulan ini sudah melebihi target, bulan depan pasti target akan dinaikkan. Jadi, buat apa repot-repot?</p>
<p>Menjadi pemalas punya banyak keuntungan. Pertama, mereka tak perlu repot mencari <em>role model</em> untuk ditiru. Kedua, di jaman yang penuh tekanan seperti ini, orang berharap banyak kepada Anda. Akibatnya, tekanan itu membuat Anda makin sulit untuk mengakui kegagalan. Ketiga, menjadi pemalas itu tidak berisiko&#8212;-Anda hanya perlu mencari alibi untuk melindungi kegagalan Anda.</p>
<p>Maka, jadilah orang yang pemalas, jadilah orang yang manja, jadilah orang yang nyaman dininabobokkan dalam <em>comfort zone</em>. Lalu tunggulah hingga alam semesta memaksa Anda dengan tekanan, masalah, bencana, musibah, atau kehilangan&#8211;sampai mau tidak mau Anda dipaksa harus bangun, dipaksa harus berusaha lebih keras dalam menjalani hidup.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=DwtTlo2XuJM:TDDl6wiSQPs:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/DwtTlo2XuJM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/balada-bangsa-pemalas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/balada-bangsa-pemalas/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mari Berhenti Berinovasi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/DRqiKSYa0pI/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/mari-berhenti-berinovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 03:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=886</guid>
		<description><![CDATA[Marilah kita berhenti sejenak mengagung-agungkan jargon &#8220;inovasi.&#8221; Leonardo Da Vinci, Henry Ford, Albert Einstein, atau Thomas Alva Edison adalah segelintir tokoh yang bisa dibilang inovator di bidangnya masing-masing. Namun, mereka sendiri sangat jarang menyebut kata tersebut. Kajian literatur yang dilakukan oleh Berkun (2008) dari memoar, biografi, maupun catatan hidup dari tokoh-tokoh tadi malah menunjukkan banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fmari-berhenti-berinovasi%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2Fmari-berhenti-berinovasi%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Marilah kita berhenti sejenak mengagung-agungkan jargon &#8220;inovasi.&#8221; Leonardo Da Vinci, Henry Ford, Albert Einstein, atau Thomas Alva Edison adalah segelintir tokoh yang bisa dibilang inovator di bidangnya masing-masing. Namun, mereka sendiri sangat jarang menyebut kata tersebut. Kajian literatur yang dilakukan oleh Berkun (2008) dari memoar, biografi, maupun catatan hidup dari tokoh-tokoh tadi malah menunjukkan banyak kosakata seperti &#8220;<em>problem</em>,&#8221; &#8220;<em>experiment</em>,&#8221; &#8220;<em>solve</em>,&#8221; &#8220;<em>exploration</em>,&#8221; &#8220;<em>change</em>,&#8221; &#8220;<em>risk</em>,&#8221; dan &#8220;<em>prototype</em>.&#8221; Jadi buat apa kita menyebut kata &#8220;inovasi&#8221; secara berlebihan?</p>
<p>Maka tak heran bila inovasi akhirnya hanya menjadi sesuatu yang dilebih-lebihkan (<em>overrated</em>). Akademisi, praktisi industri, bahkan pemerintah tak jarang memaknai inovasi secara salah kaprah. Inovasi yang memiliki makna sakral akhirnya hanya menjadi jargon (<em>buzz word</em>) yang lemah kesaktiannya. Memang benar, kita mungkin telah merasa mengadopsi slogan dan sikap mental (<em>attitude</em>) inovasi namun tidak benar-benar memaknai kedalamannya. Memang benar, kita fasih menguasai literatur terkini tentang inovasi, tapi kita tidak pernah menyelami infrastruktur di balik paradigma tersebut.</p>
<p>Sikap yang boleh dibilang arogan ini bisa membuat kita semua <span class="highlight">terjebak (<em>stuck</em>) pada jejak langkah (<em>trajectory</em>) yang salah</span>. Celakanya, sekali kita memilih langkah yang salah, kita akan terus tersesat dalam labirin yang kian menjauhkan kita dari pintu keluar. <span id="more-886"></span></p>
<p>Kita sangat fasih mengadopsi teknologi-teknologi terbaru—sebut saja BlackBerry, iPad, kamera DSLR, dan piranti-piranti canggih lainnya. Tapi apakah adopsi tersebut bisa meningkatkan kapasitas kita sebagai manusia? Piawai mengoperasikan iPad bukan berarti lantas membuktikan bahwa kita lebih pintar. Menenteng kamera DSLR terkini juga tidak otomatis membuktikan bahwa kita adalah fotografer profesional. Lebih celaka lagi bila adopsi tersebut didorong oleh alasan gengsi semata dan hanya dimanfaatkan untuk keperluan yang remeh (<em>trivial</em>).</p>
<p>Kita juga begitu terobsesi untuk meningkatkan daya saing dan mengejar ketertinggalan lewat inovasi—tapi dengan ceroboh melompati tahap-tahap yang semestinya harus dilalui. Kita ingin mengadopsi teknologi wireless (WiMAX), tapi lupa bahwa infrastruktur kabel telekomunikasi kita masih berantakan. Kita ingin segera beralih pada masyarakat berbasis virtual money (<em>e-money</em>), tapi lupa bahwa infrastruktur keuangan kita belum benar-benar solid. Kita ingin lolos ke Piala Dunia dengan menaturalisasi pemain asing, tapi mengabaikan proses pembinaan dan kompetisi usia dini.</p>
<p>Jejak langkah (<em>trajectory</em>) yang salah tersebut <span class="highlight">tercermin pada corak masyarakat kita yang aneh dan tergagap-gagap</span>. Di jalan Thamrin-Sudirman kita dengan mudah menemukan mobil Ferrari atau Porsche terkini, tapi tak jauh masuk ke dalam, ada permukiman kaum proletar yang termarjinalkan. Tak sedikit dari kita yang menenteng BlackBerry iPad dengan bangga, tapi ada sekolah yang tak memiliki papan tulis dan atapnya bocor. Televisi menayangkan sinetron yang tokohnya terlihat kaya dan mapan, padahal mayoritas penduduk kita masih berada di level menengah bawah. Kita juga rajin mengadopsi teknologi komputer dan audio video terkini yang mahal harganya, tapi CD dan DVD bajakan tersebar dimana-mana. Pasar saham tumbuh signifikan, tapi petani dan pengrajin di daerah masih kesulitan memasarkan hasil kerjanya.</p>
<p>Dalam karya klasiknya, The Innovator&#8217;s Dilemma, Christensen (1997) mengatakan bahwa perubahan teknologi adalah penggerak dalam inovasi. Tapi tanpa ruh yang jelas, inovasi akan kehilangan arah. Inovasi seharusnya berangkat dari realita yang berkembang di sekitar kita. Inovasi seharusnya bukan semata-mata mengadopsi apa yang sudah dilakukan orang (bangsa) lain tanpa memikirkan konteks lokal pengadopsinya. Teknologi hanyalah alat bantu yang membuka pintu masuk menuju kehidupan yang lebih baik. Terbaru dan tercanggih tidak selalu berarti terbaik.</p>
<p>Meminjam istilah Herry-Priyono (2010), inovasi seharusnya merupakan <span class="highlight">kapasitas untuk memperbarui daya-hidup (<em>viability</em>) suatu masyarakat</span>. Inovasi selayaknya dimaknai sebagai aktivitas yang kita lakukan bersama-sama agar kehidupan kita bisa berlanjut, bertahan, dan berkembang menjadi lebih baik. Seharusnya kita justru merasa malu apabila inovasi-inovasi yang telah kita lakukan selama ini tidak menjadikan daya-hidup kita sebagai manusia menjadi lebih baik.</p>
<p>Mungkin kita tidak membutuhkan inovasi mobil pribadi yang nyaman dan irit bahan bakar. Mungkin yang kita butuhkan hanyalah sarana transportasi massal yang murah, handal, dan bisa memindahkan ribuan (atau bahkan jutaan) manusia dengan cepat dan aman.</p>
<p>Mungkin kita tidak membutuhkan inovasi di pasar modal (<em>capital market</em>) dan pasar uang (<em>money market</em>) kita. Mungkin yang kita butuhkan hanyalah program pendampingan bagi petani, nelayan, dan pengrajin di daerah agar mereka bisa memasarkan hasil jerih payahnya tanpa perlu terlibat dengan rentenir, pengijon, dan tengkulak.</p>
<p>Mungkin kita tidak membutuhkan inovasi pembangkit listrik bertenaga nuklir terbaru. Mungkin yang kita butuhkan hanyalah pembangkit listrik bertenaga air ukuran mini yang bisa diproduksi dengan murah dan dipasang di sungai-sungai pedalaman Papua dan Kalimantan.</p>
<p>Mungkin kita tidak membutuhkan inovasi tayangan yang futuristik dan penuh efek 3D. Mungkin yang kita butuhkan hanyalah tayangan seperti &#8220;Keluarga Cemara&#8221; atau &#8220;Si Doel Anak Sekolahan&#8221; yang memuat kebijakan lokal (<em>local wisdom</em>) seperti kebanyakan masyarakat kita.</p>
<p>Jadi, marilah kita berhenti berinovasi. Sebaliknya, mari kita sama-sama memperbaiki etos dan cara berpikir kita. Berangkatlah dari problematika riil yang kita hadapi di lingkungan sekitar kita. Temukan solusi yang benar-benar bernilai untuk memecahkan masalah itu. Dan terakhir, gunakanlah amunisi tersebut untuk <span class="highlight">meningkatkan daya-hidup kita sebagai umat manusia</span>.</p>
<p><small></small><small>Referensi:</p>
<ul>
<li>Berkun, S. (2008) Why Innovation is Overrated. <em>Harvard Business Review Blogs.</em> http://blogs.hbr.org/berkun/2008/07/why-innovation-is-overrated.html</li>
<li>Christensen, C. M. (1997), <em>The innovator&#8217;s dilemma: when new technologies cause great firms to fail</em>, Boston, Massachusetts, USA: Harvard Business School Press.</li>
<li>Herry-Priyono, B. (2010) <em>Menanam Kembali Inovasi.</em> Outline diskusi &#8220;Membumikan Inovasi,&#8221; Centre for Innovation Policy &#038; Governance, Jakarta, 8 Desember 2010.</li>
</ul>
<p></small></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=DRqiKSYa0pI:KcfR7RsUdHg:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/DRqiKSYa0pI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/mari-berhenti-berinovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/mari-berhenti-berinovasi/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>

