<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Nofie Iman</title>
	
	<link>http://nofieiman.com</link>
	<description>A notable words of Nofie Iman, a business consultant, majoring at investment and strategic management issues. If you are a looking for business/financial related information, you've come to the right place.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Aug 2010 12:50:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/nofieiman" /><feedburner:info uri="nofieiman" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>nofieiman</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:feedFlare href="http://add.my.yahoo.com/rss?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/my/addtomyyahoo4.gif">Subscribe with My Yahoo!</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsgator.com/ngs/subscriber/subext.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.newsgator.com/images/ngsub1.gif">Subscribe with NewsGator</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://feeds.my.aol.com/add.jsp?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://o.aolcdn.com/favorites.my.aol.com/webmaster/ffclient/webroot/locale/en-US/images/myAOLButtonSmall.gif">Subscribe with My AOL</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bloglines.com/sub/http://feeds.feedburner.com/nofieiman" src="http://www.bloglines.com/images/sub_modern11.gif">Subscribe with Bloglines</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.netvibes.com/subscribe.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.netvibes.com/img/add2netvibes.gif">Subscribe with Netvibes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://fusion.google.com/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://buttons.googlesyndication.com/fusion/add.gif">Subscribe with Google</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.pageflakes.com/subscribe.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.pageflakes.com/ImageFile.ashx?instanceId=Static_4&amp;fileName=ATP_blu_91x17.gif">Subscribe with Pageflakes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><item>
		<title>Menerka Juara Piala Dunia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/Y1EY4E4m8Os/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2010/06/menerka-juara-piala-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 15:09:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[bola]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Football manager seringkali digaji lebih besar daripada fund manager karena mereka dituntut untuk bisa mengkuantifikasikan hal-hal yang mustahil untuk dikuantifikasi, sebut saja tingkat keahlian pemain mengolah bola, strategi permainan, mental dan tempramen, dan faktor-faktor non-teknis lainnya. Kesalahan kecil akan membuat perbedaan yang cukup signifikan antara kemenangan dan kekalahan. Seperti yang pernah saya tulis di Twitter, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F06%2Fmenerka-juara-piala-dunia%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F06%2Fmenerka-juara-piala-dunia%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/world-cup-2010.jpg" alt="Piala Dunia 2010" /></p>
<p><em>Football manager</em> seringkali digaji lebih besar daripada <em>fund manager</em> karena mereka dituntut untuk bisa mengkuantifikasikan hal-hal yang mustahil untuk dikuantifikasi, sebut saja tingkat keahlian pemain mengolah bola, strategi permainan, mental dan tempramen, dan faktor-faktor non-teknis lainnya. Kesalahan kecil akan membuat perbedaan yang cukup signifikan antara kemenangan dan kekalahan.</p>
<p>Seperti yang pernah saya tulis di <a href="http://twitter.com/imanomics">Twitter</a>, ada beberapa statistik menarik yang bisa diambil dari sepakbola dan Piala Dunia. Misalnya, rata-rata pemain bola ternyata berlari menempuh jarak 10 hingga 15 km per pertandingan dan melakukan 100 <em>sprint</em>, 15 <em>heading</em>, dan 18 <em>tackle</em>. Pemain bola tipikal menghabiskan energi sekitar 1400kCal dalam satu pertandingan.</p>
<p>Biasanya, pemain berinteraksi dengan bola antara 90 hingga 140 kali, namun waktu per interaksi tersebut tak lebih dari 60-90 detik. Jadi, yang membedakan antara pemain hebat dengan pemain biasa-biasa saja adalah seberapa efektif gerakan yang ia lakukan selama berinteraksi dengan bola. Kedua, pergerakan tanpa bola (<em>off the ball</em>) lebih berpengaruh dan membuat perbedaan besar daripada pergerakan dengan bola.<span id="more-545"></span></p>
<p>Menariknya, dari 8 pertandingan pertama di Piala Dunia 2010, hanya tercipta 13 gol. Angka ini merupakan yang terendah setidaknya sejak tahun 1978. Sejauh ini, rata-rata gol per pertandingan baru 1,7&#8212;-lebih rendah dibanding Piala Dunia empat tahun lalu yang di atas 2. Selain itu, sepanjang sejarah, negara tuan rumah biasanya selalu lolos penyisihan grup. Hanya 6 dari 18 tuan rumah yang gagal mencapai semi-final. Tapi nampaknya Afrika Selatan kali ini akan berbeda.</p>
<p>Bagaimana dengan pengaruh ketinggian? Dilihat dari faktor geografis, Afrika Selatan terletak di daerah dengan kontur di mana sebagian besar berupa dataran tinggi (plato). Mayoritas permainan dari total 64 pertandingan dilakukan di dataran tinggi (di atas 1.500 meter). Hal ini sedikit banyak tentu berpengaruh pada permainan yang terjadi di atas lapangan.</p>
<p>Ambil contoh pertandingan Perancis lawan Uruguay yang dilakukan di Cape Town (ketinggian sekitar 1.080 meter). Pemain Perancis berlari menempuh jarak 101,5 km atau 9,2 km per pemain. Bandingkan dengan pertandingan Afrika Selatan kontra Meksiko yang dilakukan di Johannesburg (1.753 meter). Rata-rata pemain Meksiko berlari 10,5 km per pemain, sementara Afrika Selatan 10,8 km&#8212;-sungguh merupakan selisih yang cukup signifikan.</p>
<p>Dus, secara psikologis faktor ketinggian membuat jarak yang ditempuh pemain di setiap pertandingan akan berkurang demi menjaga stamina dan menghemat energi. Jumlah <em>sprint</em> yang dilakukan juga berkurang drastis. Bisa Anda lihat bagaimana Messi atau Ronaldo relatif tidak terlalu banyak berlari seperti ketika di Barcelona atau Real Madrid. Selain itu, tempo di babak kedua juga tidak selalu menjadi lebih cepat&#8212;-bisa jadi malah melambat. </p>
<p>Ketinggian juga membuat bola bergulir lebih cepat dan lebih sulit dikendalikan, baik itu oleh pemain atau penjaga gawang. Tim/pemain yang &#8220;frustasi&#8221; akan lebih banyak melakukan tembakan dari luar kotak penalti (yang belum tentu akurat) ketimbang melakukan terobosan ke dalam. Tim yang pemainnya hebat karena punya &#8220;bakat alami&#8221; bermain bola yang baik akan lebih diuntungkan dibandingkan dengan tim yang hebat karena &#8220;latihan.&#8221;</p>
<p>Faktor aerodinamika ini juga berpengaruh pada &#8220;pelintiran&#8221; (<em>curving</em>) bola. Di tempat tinggi, bola Jabulani yang ditendang melintir akan berkurang lengkungannya hingga 50-60 cm. Sebaliknya, bola akan bergulir lebih cepat yang membuat seolah-olah reaksi/reflek penjaga gawang menurun. Jadi saya memprediksikan Piala Dunia kali ini akan sangat sedikit gol yang tercipta dari tendangan bebas karena biarpun bergerak sedikit lebih cepat, arah bola lebih mudah diantisipasi.</p>
<p>Tentu saja faktor fisik juga berperan besar. Bermain di level Piala Dunia berarti dipaksa bermain menembus batas kemampuan fisik yang dimiliki pemain. Kalau rata-rata tipikal pemain bola &#8220;hanya&#8221; berlari cepat 2 km dan melakukan 70 <em>sprint</em> berjarak 400 meter pada pertandingan biasa, maka kini mereka dipaksa untuk berlari cepat sampai 3 km dan melakukan 100 <em>sprint</em> yang menempuh jarak setidaknya 700 meter.</p>
<p>Kalau sudah begini faktor kelelahan dan tingkat kerentanan terhadap cedera akan sangat tinggi. Tim-tim seperti Spanyol, Inggris, Belanda, Perancis, atau Brazil agak &#8220;dirugikan&#8221; karena mayoritas pemain mereka bermain di liga utama dunia (Eropa) dengan intensitas yang padat dan melelahkan. Sebaliknya, tim-tim medioker bisa sedikit bernapas lega. Mungkin inilah alasan utama mengapa Maradona memilih banyak pemain dari Liga Apertura untuk mengisi skuadnya.</p>
<p>Dan seperti biasa, dari tahun ke tahun, Piala Dunia makin sulit diprediksi. Sepakbola sudah menjadi komoditas korban globalisasi. Pemain A bermain di negara B, membela tim C, dilatih oleh manajer dari negara D, mengadopsi strategi negara E, begitu seterusnya. Akibatnya, standar deviasi dari tim terkuat dan tim terlemah menjadi bias.</p>
<p>Salah satu sponsor utama Piala Dunia 2010, Castrol, membuat <a href="http://www.castrolfootball.com/predictor/tournamentpredictor/">prediksi</a> berdasarkan kalkulasi rating dan performa tim di setiap pertandingan. Awalnya mereka memprediksikan Brazil dan Spanyol bertemu di final dengan Brazil sebagai juaranya. Kini mereka tetap mengunggulkan Brazil, namun dengan Argentina di final dan Inggris kontra Portugal di perebutan tempat ketiga.</p>
<p>Saya sendiri menjagokan Argentina. Menurut saya, Afrika Selatan &#8220;mirip&#8221; seperti Amerika Selatan dan negara terkuat di sana dengan <em>skill</em> individu pemainnya yang di atas rata-rata adalah Brazil dan Argentina. Bedanya, Brazil lebih banyak diisi pemain yang berasal dari liga-liga Eropa. Selain itu, Argentina terlihat lebih eksotis dalam menyerang. Maradona juga punya pendekatan personal yang unik terhadap para pemainnya. Selama Argentina bisa memperbaiki bek sayapnya dan Messi menemukan &#8220;chemistry&#8221; yang sama seperti di Barcelona, bisa jadi Argentina jawaranya.</p>
<p>Tapi tentu saja saya mengharapkan ada kejutan-kejutan spesial di turnamen ini. Misalnya seperti Kroasia di Piala Dunia 1998 atau Turki di Piala Dunia 2002. Begitu juga dengan Denmark di Piala Eropa 1992 atau Yunani di Piala Eropa 2004. Mungkin Meksiko dan duo Korea bisa jadi kuda hitam yang layak diperhitungkan. Bagi saya, makin sulit ditebak makin menarik, makin banyak gol makin menghibur.</p>
<p>Kalau dalam investasi selalu ada &#8220;<em>disclaimer</em>&#8221; bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan, maka dalam sepakbola juga ada &#8220;<em>excuse</em>&#8221; bahwa bola itu bulat dan setiap kemungkinan bisa saja terjadi. Nah, bagaimana dengan prediksi Anda?</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F06%2Fmenerka-juara-piala-dunia%2F&amp;t=Menerka%20Juara%20Piala%20Dunia" id="facebook_share_both_545" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_545') || document.getElementById('facebook_share_icon_545') || document.getElementById('facebook_share_both_545') || document.getElementById('facebook_share_button_545');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_545') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=Y1EY4E4m8Os:VmgOk67jDxw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/Y1EY4E4m8Os" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2010/06/menerka-juara-piala-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2010/06/menerka-juara-piala-dunia/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Memaknai Kembali Hari Kartini</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/GvJ2DnHBBqo/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2010/04/memaknai-kembali-hari-kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 03:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seseorang itu tidak dilahirkan sebagai perempuan, namun menjadi perempuan.&#8221; &#8212;-Simone de Beauvoir Jujur saja, tanpa bermaksud mendiskreditkan peran Kartini, saya sering mempertanyakan kiprah Kartini baik di masanya maupun dalam konteksnya di jaman modern ini. Kartini sebenarnya cukup beruntung terlahir sebagai kaum borjuis Jawa, mengenyam pendidikan barat, dan punya privilige yang tak dimiliki kaum perempuan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F04%2Fmemaknai-kembali-hari-kartini%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F04%2Fmemaknai-kembali-hari-kartini%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<blockquote><p>&#8220;Seseorang itu tidak dilahirkan sebagai perempuan, namun menjadi perempuan.&#8221; &#8212;-Simone de Beauvoir</p></blockquote>
<p>Jujur saja, tanpa bermaksud mendiskreditkan peran Kartini, saya sering mempertanyakan kiprah Kartini baik di masanya maupun dalam konteksnya di jaman modern ini. Kartini sebenarnya cukup beruntung terlahir sebagai kaum borjuis Jawa, mengenyam pendidikan barat, dan punya <em>privilige</em> yang tak dimiliki kaum perempuan di masanya yang hanya dianggap sebagai &#8220;<em>konco wingking</em>&#8220;. <span class="highlight">Saya yakin bahwa yang punya ide untuk memajukan perempuan di masa itu tak cuma Kartini.</span></p>
<p>Memang benar bahwa Kartini sering mengeluhkan apa yang ia pikirkan lewat korespondensinya dengan Stella Zeehandelaar&#8212;-terutama tentang praktik pingit pada gadis Pribumi. Tapi yang kemudian mengumpulkan dan menerbitkannya menjadi buku adalah orang Belanda. Kartini memang mendirikan sekolah wanita, tapi karena pengaruh suaminya, tidak ada masalah dalam pendirian sekolah tersebut. Faktanya, ia tetap menjadi korban sistem karena dinikahi bupati berumur di usianya yang masih belasan.</p>
<p>Selain Kartini, kita tahu ada Cut Nyak Dien dan Christina Martha Tiahahu yang jadi panglima perang tersohor. Ada juga Dewi Sartika atau Maria Walanda Maramis yang membaktikan dirinya sebagai pendidik. Kiprah mereka jelas lebih konkrit daripada sekadar (maaf) menulis surat-surat. Ironisnya, kita tahu persis tanggal lahir Kartini, tapi jarang yang tahu kapan hari lahir Jendral Soedirman atau Mohammad Hatta. Sungguh sebuah kultus individu yang terkesan agak berlebihan.<span id="more-537"></span></p>
<p>Ada yang berpendapat bahwa Kartini diangkat sebagai icon pahlawan wanita oleh Presiden Soekarno karena dua alasan. Pertama, ada kepentingan untuk mengunggulkan rezim ke-Jawa-an mengingat representasi Jawa di masa itu sangat kuat. Kedua, presiden pertama kita memang pengagum wanita&#8212;-dan Kartini bisa dibilang cukup ayu untuk ukuran perempuan Jawa.</p>
<p>Tapi yang lebih parah adalah bagaimana kita memaknai 21 April. Hari Kartini jaman sekarang dimaknai sebagai lomba berpakaian adat (kebaya) yang sebenarnya nggak nyambung dengan spirit emansipasi. Media juga mengekspos &#8220;keperkasaan&#8221; perempuan yang bekerja misalnya sebagai pengemudi truk, montir bengkel, tukang bangunan, atau profesi lain yang lazimnya dikerjakan kaum adam.</p>
<p>Dengan meminta kesetaraan gender, perempuan malah terkesan menjustifikasi stigma bahwa kaumnya tidak setara dengan laki-laki. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan berbeda dan tidak pernah sama. Tapi justru dalam perbedaan itu, keduanya saling melengkapi. <em>Not to compete, but to complete each other.</em></p>
<p>Teruntuk mereka yang merasa 21 April adalah hari spesialnya, selamat Hari Kartini. <span class="highlight">Yakinlah bahwa setiap perempuan harus mau dan mampu menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. <em>There&#8217;s a hero lies in you.</em></span></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F04%2Fmemaknai-kembali-hari-kartini%2F&amp;t=Memaknai%20Kembali%20Hari%20Kartini" id="facebook_share_both_537" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_537') || document.getElementById('facebook_share_icon_537') || document.getElementById('facebook_share_both_537') || document.getElementById('facebook_share_button_537');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_537') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=GvJ2DnHBBqo:SV19HeoI2Qw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/GvJ2DnHBBqo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2010/04/memaknai-kembali-hari-kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2010/04/memaknai-kembali-hari-kartini/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rejected, Again and Again</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/AxSopbYZKG0/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2010/04/rejected-again-and-again/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 06:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[manage]]></category>
		<category><![CDATA[personality]]></category>
		<category><![CDATA[reject]]></category>
		<category><![CDATA[rejection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Have you ever been rejected by a man/woman you love? Have you ever wondered why your job application is getting ignored? Don&#8217;t know what to do when your business proposal is rejected in favor of a competitor? Hate yourself for not able to overcome this problem? Believe me, you are not the only one facing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F04%2Frejected-again-and-again%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F04%2Frejected-again-and-again%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/rejection-letter.jpg" alt="Rejected, Again and Again" /></p>
<p>Have you ever been rejected by a man/woman you love? Have you ever wondered why your job application is getting ignored? Don&#8217;t know what to do when your business proposal is rejected in favor of a competitor? Hate yourself for not able to overcome this problem? Believe me, you are not the only one facing this problem.</p>
<p>I&#8217;ve been turned down by couple girls I pursued. I&#8217;ve been rejected by MIT Sloan School of Management and London School of Economics. A number of prestigious institutions/companies rejected my job application at the final stage. I used to get rejected by investors when I propose my business plan. I hope you&#8217;re feeling more comfortable now. :)</p>
<p>For most people, the fear of rejection can often be an enormous stumbling block to overcome. They aren&#8217;t willing to admit it openly, having the fear of being laughed and mocked by others. But let&#8217;s take a look at some stories on successful people and <span class="highlight">how they handled rejections in such a positive way.</span><span id="more-534"></span></p>
<p>Ted Turner, an American media mogul and philanthropist, regards his rejection by Princeton and Harvard University. He says that everything he did so far became possible without a college degree. After receiving the dreaded letter, he attended Brown University where he became captain of the sailing team and vice-president of the Brown Debating Union.</p>
<p>As you may already know, he left college after his father cut off financial support and joined his father&#8217;s billboard company. He then built into the media empire that spawned CNN. In an interview, he says that while it is better to have a degree, particularly from a brand-name school, &#8220;you can be successful without it.&#8221;</p>
<p>Scott McNeally, co-founder of Sun Microsystems, was rejected once and then again, by Stanford and Harvard business school MBA program. Having graduated from Harvard, he was annoyed that admission board wouldn&#8217;t take a chance on him directly right out of college.</p>
<p>He practiced the perseverance that later would characterize his career. He kept trying and trying, taking a job as a plant foreman for a manufacturer, and climbing his way up in sales. By the third year out of school, he granted admission to Stanford Graduate School of Business where he met Sun Microsystems co-founder, Vinod Khosla.</p>
<p>There is another similar story to Ted Turner and Scott McNeally. Warren Buffett, one of the most successful investors in the world, acknowledged that his rejection by Harvard Business School as a turning point in his life. At that time he had a feeling of dread and a fear of disappointing his father.</p>
<p>The Harvard rejection brought him to Columbia University where he met Benjamin Graham and David Dodd, two investing experts he admired. From these mentors, he learned essential principles that guided his investment style. That rejection also benefited his alma mater where he gave more than $12 million to Columbia.</p>
<p>Harold Varmus, Nobel laureate in medicine, says getting rejected twice by Harvard Medical School, where a dean advised him to enlist in the military, was soon forgotten as he plunged into his studies at Columbia University&#8217;s med school. If you&#8217;re being rejected, Dr. Varmus advises you to immerse yourself in other things that welcomes you.</p>
<p><span class="highlight">Well, rejection is part and parcel of life.</span> Rejections from your school, your boss, your business partners, rejections from man/woman you love, even being rejected from your own family. But that shouldn&#8217;t stop you from moving on in life. In fact, you should learn to graciously accept the rejection.</p>
<p>Picture it this way. Teenagers who face rejection will be joining good company, including Nobel laureates, billionaire philanthropists, university presidents, constitutional scholars, and other leaders of business, media, and the arts who once received college or graduate-school rejection letters of their own.</p>
<p>You might be rejected by a man/woman you love. You might be sad and disappointed. But once you get yourself back, you would have remembered that it wasn&#8217;t as scary what you had thought. You would have probably already overcome a great deal of your fear. It&#8217;s just like the first time riding a bicycle. You will come up with some accidents, but that doesn&#8217;t stop you. In fact, experiences were gained.</p>
<p>You need to realize that in order to find your ideal &#8230; (school, job, partner, spouse, you name it), you have to try out many options. You should be keeping your eye out for all possibilities that may come along. Indeed, it is unwise to limit yourself to only one door. <span class="highlight">It is quite possible that you dislike a thing which is might be good for you, and that you love a thing which is probably bad for you.</span></p>
<p>I don&#8217;t know a single successful person who hasn&#8217;t failed multiple times. Most likely hundreds of times. Avoiding rejection is impossible. Rejections happen in our lives, whether by choice or circumstance. <span class="highlight">How we cope with these, how we move forward&#8212;-that&#8217;s much more important.</span></p>
<p>As Warren Buffet mentioned after Harvard Business School said no, &#8220;I thought was a crushing event at the time, has turned out for the better.&#8221;</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F04%2Frejected-again-and-again%2F&amp;t=Rejected%2C%20Again%20and%20Again" id="facebook_share_both_534" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_534') || document.getElementById('facebook_share_icon_534') || document.getElementById('facebook_share_both_534') || document.getElementById('facebook_share_button_534');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_534') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=AxSopbYZKG0:djM21N8kZbs:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/AxSopbYZKG0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2010/04/rejected-again-and-again/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2010/04/rejected-again-and-again/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Distribusi Pendapatan vs. Kebahagiaan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/gD2Mw2u35z0/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2010/02/distribusi-pendapatan-vs-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 08:18:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economics]]></category>
		<category><![CDATA[konsumsi]]></category>
		<category><![CDATA[mall]]></category>
		<category><![CDATA[perbelanjaan]]></category>
		<category><![CDATA[properti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dibandingkan, saat ini kita punya spending power yang jauh lebih besar daripada 40-50 tahun lalu&#8212;-dan itu terjadi di hampir seluruh level pendapatan masyarakat. Hampir semua lapisan masyarakat bisa membeli dan mendapatkan barang yang lebih baik dan lebih banyak daripada sebelumnya. Banyak dari kebutuhan yang di tahun 1970-80an dianggap belum ada namun menjadi sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F02%2Fdistribusi-pendapatan-vs-kebahagiaan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F02%2Fdistribusi-pendapatan-vs-kebahagiaan%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kalau dibandingkan, saat ini kita punya <em>spending power</em> yang jauh lebih besar daripada 40-50 tahun lalu&#8212;-dan itu terjadi di hampir seluruh level pendapatan masyarakat. Hampir semua lapisan masyarakat bisa membeli dan mendapatkan barang yang lebih baik dan lebih banyak daripada sebelumnya. Banyak dari kebutuhan yang di tahun 1970-80an dianggap belum ada namun menjadi sesuatu yang wajib dimiliki saat ini.</p>
<p>Tentu saja, orang-orang kaya yang berada di lapis teratas menjadi makin kaya daripada sebelumnya. Kekayaan mereka meningkat signifikan, begitu pula dengan kebutuhan mereka. Sementara orang-orang yang berada di lapisan menengah mengalami peningkatan kekayaan, namun tidak terlalu eksponensial. Baru mereka yang berada di lapis bawahnya menikmati potongan kue yang jauh lebih kecil.</p>
<p>Menariknya, ketika dikaitkan dengan kebahagiaan, <span class="highlight">kekayaan ternyata menjadi hal yang relatif, bukan menjadi ukuran yang mutlak</span>. Sebagai contoh, orang-orang primitif yang hidup di gubug pedalaman di suatu negara miskin di dunia ini ternyata bisa hidup sama bahagianya dengan mereka yang tinggal di sebuah rumah yang luas di negara maju.<span id="more-531"></span></p>
<p>Namun, setelah mereka yang tinggal di pedalaman menikmati akses televisi, standar kebahagiaan mereka akan menurun. Mereka tidak lagi membandingkan kesuksesan mereka dengan sekitar lingkungan mereka, melainkan dengan orang-orang kaya di belahan dunia lainnya. Kalau sebelumnya mereka tidak butuh kendaraan atau telepon seluler, kini mereka merasa &#8220;membutuhkan&#8221; barang-barang tersebut.</p>
<p>Hal menarik lainnya adalah bahwa ternyata <span class="highlight">jauh lebih mudah menunjukkan (baca: memamerkan) kekayaan daripada menyembunyikan kekurangan kita</span>. Kita relatif sulit untuk &#8220;berpura-pura&#8221; kalau kita mengendarai Mercedes Benz atau mengenakan arloji Patek Philippe. Sebaliknya jauh lebih mudah untuk menutupi kalau ada psikiater atau <em>debt collector</em> yang datang ke rumah kita.</p>
<p>Pendek kata, standar kebahagiaan dalam diri kita diukur berdasar seberapa banyak kekayaan yang kita miliki dibandingkan dengan milik orang lain. Kalau tidak punya bekal benteng &#8220;iman&#8221; yang kuat, makin sering kita bergaul dengan orang-orang yang lebih kaya, maka makin bergeser pula standar kebahagiaan kita. Celakanya, tak jarang nafsu untuk mengejar gap tersebut harus dibiayai dengan utang, bukan dengan peningkatan pendapatan sendiri.</p>
<p>Pusat perbelanjaan barangkali juga bisa menjadi salah satu indikator menarik untuk melihat bagaimana faktor pendapatan mempengaruhi kehidupan konsumsi kita. Mall dan pertokoan menjadi tempat untuk saling membandingkan standar kebahagiaan (dan kekayaan) dengan orang-orang dari lapis golongan yang beragam. Lagi-lagi, kalau tidak dibekali &#8220;iman&#8221; yang kuat, <span class="highlight">makin banyak pusat perbelanjaan tentu justru makin membawa mudharat</span>.</p>
<p>Buku karya Ellen Dunham-Jones dan June Williamson yang berjudul &#8220;<a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0470041234/itemid-20">Retrofitting Suburbia: Urban Design Solutions for Redesigning Suburbs</a>&#8221; mencatat bahwa di tahun 1986 Amerika mempunyai pusat perbelanjaan rata-rata 15 kaki persegi per kapita. Itu merupakan angka terbesar di dunia waktu itu.</p>
<p>Di tahun 2003, jumlah itu meningkat jadi 20 kaki persegi per kapita. Di bawah Amerika, menyusul Kanada dengan 13 kaki persegi per kapita dan Australia dengan 6.5 persegi per kapita. Di Eropa, angka tertinggi dipegang Swedia dengan rata-rata 3 kaki persegi per kapita. Jumlah itu belum termasuk ledakan akibat <em>property boom</em> yang terjadi beberapa tahun kemudian.</p>
<p>Sementara ini belum ditemukan data yang pasti tentang luas pusat perbelanjaan di Indonesia. Tapi ambil contoh di Jakarta. Kalau kita jalan dari Megamall, tak sampai 1 km ketemu Pluit CBD. Tak jauh dari situ ada Season City (Latumenten) dan Citraland. Tak sampai 1 km lagi ada Mall Taman Anggrek dan mall baru depan Mediterranean. Mungkin terlalu cepat kalau kita menyimpulkan bahwa akan terjadi <em>property crash</em> dalam waktu dekat&#8212;-namun bukan berarti kita boleh mengabaikan fenomena semacam ini.</p>
<p>Kalau berkaca dari krisis keuangan 2008 lalu, mustinya kita bisa belajar dari Amerika. Konsumsi rumah tangga mereka ditopang lewat utang. Beban yang begitu berat lambat laun akan melahirkan <em>crash</em>. Idealnya, pembangunan difokuskan untuk memperluas jalan, memperbaiki sekolah, membangun taman kota dan ruang publik lainnya.</p>
<p>Sialnya, yang terhormat wakil rakyat tampaknya terlalu sibuk memikirkan soal ini. Mereka sepertinya lebih suka memaksakan kehendak politiknya dibandingkan memikirkan masa depan ekonomi bangsa ini. Jangankan memikirkan untuk membuat rakyat lebih bahagia, memikirkan pemerataan distribusi pendapatan saja sepertinya masih sangat mustahil. :(</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2010%2F02%2Fdistribusi-pendapatan-vs-kebahagiaan%2F&amp;t=Distribusi%20Pendapatan%20vs.%20Kebahagiaan" id="facebook_share_both_531" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_531') || document.getElementById('facebook_share_icon_531') || document.getElementById('facebook_share_both_531') || document.getElementById('facebook_share_button_531');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_531') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=gD2Mw2u35z0:lNweoTxi30Y:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/gD2Mw2u35z0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2010/02/distribusi-pendapatan-vs-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2010/02/distribusi-pendapatan-vs-kebahagiaan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mendapatkan Rp 1 Miliar dalam 3 Hari</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/nh3r6inabRk/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2009/11/bagaimana-mendapatkan-rp-1-miliar-dalam-3-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 09:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Investment]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[penipuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=526</guid>
		<description><![CDATA[Saya akan mengajari Anda trik melakukan tipuan yang gampang namun mujarab. Di Inggris, tipuan ini konon dilakukan para bandar kepada para penggemar sepakbola untuk memasang taruhan skor pertandingan. Tapi kali ini akan saya jelaskan aplikasinya untuk dunia investasi karena lebih applicable. It does work, karena orang-orang kebanyakan ketika berurusan dengan uang cenderung bodoh, ignorant, sekaligus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2009%2F11%2Fbagaimana-mendapatkan-rp-1-miliar-dalam-3-hari%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2009%2F11%2Fbagaimana-mendapatkan-rp-1-miliar-dalam-3-hari%2F&amp;source=imanomics&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Saya akan mengajari Anda trik melakukan tipuan yang gampang namun mujarab. Di Inggris, tipuan ini konon dilakukan para bandar kepada para penggemar sepakbola untuk memasang taruhan skor pertandingan. Tapi kali ini akan saya jelaskan aplikasinya untuk dunia investasi karena lebih <em>applicable</em>. <em>It does work</em>, karena orang-orang kebanyakan ketika berurusan dengan uang <span class="highlight">cenderung bodoh, <em>ignorant</em>, sekaligus serakah (<em>greed</em>),</span> sehingga trik ini hampir pasti 100% berhasil.</p>
<p>Pertama, kumpulkan daftar kontak 1,000 orang&#8212;-bisa offline atau online. Anda bisa memanfaatkan buku/direktori telepon, buku alumni, daftar email, Facebook, Twitter, dan masih banyak lagi. Katakan pada mereka bahwa Anda punya informan/orang dalam yang terpercaya, atau katakan bahwa Anda punya metode analisis saham yang sangat canggih, dan Anda tahu 100% seperti apa harga saham X selama 3 hari ke depan.</p>
<p>Yakinkan kepada mereka bahwa mereka mungkin tidak percaya kepada Anda, tapi Anda punya sesuatu yang sangat valid dan tidak dimiliki investor lain. Sebagai pembuktian (<em>free trial</em>), Anda akan menginformasikan pada mereka pergerakan salah satu saham (misalnya saham X) selama 3 hari ke depan secara cuma-cuma.<span id="more-526"></span></p>
<p>Kemudian, bagi 1,000 kontak tersebut jadi dua kelompok (masing-masing 500 orang). Kepada kelompok pertama, Anda mengatakan bahwa saham X besok pagi akan naik. Sementara kepada kelompok kedua, Anda mengatakan bahwa saham X akan turun. Ternyata keesokan harinya saham X naik. Lupakan kelompok kedua. Hubungi lagi kontak Anda di kelompok pertama. Katakan, &#8220;Tuh kan bener metode/informasi saya. Coba kita lihat lagi besok pagi.&#8221;</p>
<p>Bagi kembali kelompok kedua jadi dua (masing-masing 250 orang). Kepada 250 orang pertama, Anda mengatakan bahwa besok saham X akan naik. Sebaliknya, kepada 250 kedua, Anda mengatakan bahwa saham X besok akan turun. Ternyata saham X keesokan harinya turun. Lupakan kontak 250 orang pertama tadi. Hubungi kembali kontak 250 orang Anda yang kedua. Lakukan lagi trik serupa. Bagi 250 orang tadi jadi dua kelompok, masing-masing 125 orang, katakan pada 125 orang pertama bahwa saham X besok akan naik, dan kepada 125 orang lainnya bahwa saham X akan turun.</p>
<p>Kalau ternyata besok saham X turun, maka Anda hanya perlu fokus pada 125 orang terakhir. Mereka akan menganggap Anda seorang &#8220;dewa&#8221; karena mampu menebak harga saham secara tepat selama tiga hari berturut-turut. Dijamin, 125 orang tersebut <span class="highlight">mau melakukan apa saja</span> karena Anda sudah terbukti &#8220;jagoan&#8221; dalam menebak harga saham.</p>
<p>Sekarang tinggal bagaimana Anda &#8220;memanfaatkan&#8221; 125 orang calon korban tersebut. Misalnya, Anda bisa menjual <em>membership</em> situs Anda yang berisikan tebakan terhadap harga saham-saham lainnya dengan iuran keanggotaan misal Rp 1 juta sebulan. Atau, Anda bisa memprospek agar mereka mau &#8220;menitipkan&#8221; investasi misal Rp 10 juta saja kepada Anda untuk Anda kelola. Jadilah kreatif. Gunakan imajinasi Anda.</p>
<p>Kalau Anda ingin mendapatkan tangkapan yang besar, Anda harus melakukan tipuan jangka panjang (<em>long con</em>). Caranya, lakukan tipuan tadi selama 1 minggu atau 2 minggu agar calon korban lebih percaya kepada trik Anda. Ada baiknya Anda mengumpulkan daftar kontak yang lebih besar. Misalnya Anda punya 1 juta kontak, dengan metode tersebut (<em>split half, keep contacting correct leads</em>), selama seminggu Anda akan punya 15 ribu kontak yang percaya kepada Anda.</p>
<p>Makin besar daftar kontak Anda tentu makin besar pula jumlah yang calon korban yang bisa Anda tipu. Anda bisa juga memanfaatkan orang lain supaya bisa menjangkau daftar kontak yang lebih banyak. Gunakan trik-trik persuasif dan buat <em>twists</em> sebagai bumbu jualan. Kalau perlu gunakan metode <em>viral</em>, kepada calon korban Anda, bujuk supaya mereka mau mengajak teman/saudara dengan iming-iming persentase keuntungan.  </p>
<p>Dengan asumsi Anda punya 1,000 kontak dan melakukan tipuan ini selama 3 hari, maka Anda akan punya 125 orang calon korban. Seandainya masing-masing menitipkan Rp 10 juta kepada Anda, maka Anda akan mendapatkan Rp 1,25 miliar. <em>Not a bad idea.</em> Jaman serba susah begini, nggak gampang lho mendapatkan Rp 1,25 miliar dalam 3 hari tanpa perlu susah payah. :)</p>
<p><center>* * *</center></p>
<p><strong>Tulisan di atas bukan untuk mengajari Anda menjadi penipu dan berbuat kriminal.</strong> Sebaliknya, tulisan ini saya buat agar Anda lebih <em>aware</em> terhadap penipuan. Tulisan tersebut terinspirasi dari seorang teman yang nyaris tertipu oleh oknum broker yang berusaha menjual produk investasi bodong dengan metode mirip seperti di atas. Ada baiknya Anda mempelajari logika berpikir seorang penipu karena mereka selalu dua-tiga langkah di depan korbannya.</p>
<p><em>Last but not least</em>, tidak ada cara cepat untuk mendapatkan uang tanpa susah payah. Semua dibangun dengan pondasi kerja keras, semangat, dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Tidak ada formula rahasia. Kalau tidak banyak orang yang sukses, bukan karena formulanya yang salah, <span class="highlight">tetapi karena hanya sedikit orang yang punya persistensi semacam itu</span>.</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fnofieiman.com%2F2009%2F11%2Fbagaimana-mendapatkan-rp-1-miliar-dalam-3-hari%2F&amp;t=Bagaimana%20Mendapatkan%20Rp%201%20Miliar%20dalam%203%20Hari" id="facebook_share_both_526" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_526') || document.getElementById('facebook_share_icon_526') || document.getElementById('facebook_share_both_526') || document.getElementById('facebook_share_button_526');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_526') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=nh3r6inabRk:NwBjDGdY0vs:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/nh3r6inabRk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2009/11/bagaimana-mendapatkan-rp-1-miliar-dalam-3-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2009/11/bagaimana-mendapatkan-rp-1-miliar-dalam-3-hari/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
