<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Nofie Iman</title>
	
	<link>http://nofieiman.com</link>
	<description>A notable words of Nofie Iman, a business consultant, majoring at investment and strategic management issues. If you are a looking for business/financial related information, you've come to the right place.</description>
	<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 23:23:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/nofieiman" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>nofieiman</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:feedFlare href="http://add.my.yahoo.com/rss?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/my/addtomyyahoo4.gif">Subscribe with My Yahoo!</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsgator.com/ngs/subscriber/subext.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.newsgator.com/images/ngsub1.gif">Subscribe with NewsGator</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://feeds.my.aol.com/add.jsp?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://o.aolcdn.com/favorites.my.aol.com/webmaster/ffclient/webroot/locale/en-US/images/myAOLButtonSmall.gif">Subscribe with My AOL</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bloglines.com/sub/http://feeds.feedburner.com/nofieiman" src="http://www.bloglines.com/images/sub_modern11.gif">Subscribe with Bloglines</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.netvibes.com/subscribe.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.netvibes.com/img/add2netvibes.gif">Subscribe with Netvibes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://fusion.google.com/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://buttons.googlesyndication.com/fusion/add.gif">Subscribe with Google</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.pageflakes.com/subscribe.aspx?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://www.pageflakes.com/ImageFile.ashx?instanceId=Static_4&amp;fileName=ATP_blu_91x17.gif">Subscribe with Pageflakes</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Fnofieiman" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>The Economics of Cristiano Ronaldo</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/Dc68nd0G8Ig/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2009/06/the-economics-of-cristiano-ronaldo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 23:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[bola]]></category>

		<category><![CDATA[pemain]]></category>

		<category><![CDATA[sepak]]></category>

		<category><![CDATA[transfer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[
Jual beli pemain bola mirip-mirip dengan jual beli saham. Membeli pemain di peak performance bisa dibilang bad timing, sama seperti membeli saham di harga tertingginya. Membeli pemain di puncak permainannya memang bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, ia mungkin bisa berpotensi mendongkrak prestasi klub barunya. Tapi di sisi lain, ia pasti dibanderol dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/ronaldo-madrid.jpg" alt="The Economics of Cristiano Ronaldo" /></p>
<p><span class="highlight">Jual beli pemain bola mirip-mirip dengan jual beli saham.</span> Membeli pemain di <em>peak performance</em> bisa dibilang <em>bad timing</em>, sama seperti membeli saham di harga tertingginya. Membeli pemain di puncak permainannya memang bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, ia mungkin bisa berpotensi mendongkrak prestasi klub barunya. Tapi di sisi lain, ia pasti dibanderol dengan harga premium melebihi harga wajarnya.</p>
<p>Setelah mendapatkan Kaka seharga £56 juta kini Madrid menggaet Ronaldo di harga £80 juta. Jumlah yang sebenarnya luar biasa fantastis, sekalipun untuk seorang pemain top kelas dunia. Pembelian ini konon memberikan keuntungan bersih sekitar £67,5 bagi Glazer family, pemilik Manchester United. Untuk ukuran sebuah klub sepakbola&#8212;-apalagi di jaman krisis seperti sekarang&#8212;-angka tersebut tentu saja luar biasa.</p>
<p>Menurut penelitian Stefan Szymanski (Cass Business School, London), korelasi antara transfer pemain dengan peringkat klub di liga sebenarnya hanya sekitar 16% saja. Sebaliknya, pengeluaran untuk membayar gaji korelasinya cukup signfikan, sekitar 92%. Makin tinggi klub berani membayar pemainnya, biasanya makin tinggi pula peringkatnya di liga. Namun, berapa besar jumlah yang dibayarkan dalam bentuk <em>transfer fee</em> rasanya tidak terlalu memberikan kontribusi signifikan.<span id="more-509"></span></p>
<p>Sayangnya para manajer dan pemilik klub rasanya <span class="highlight">jarang membaca jurnal dan riset ilmiah semacam ini.</span> :)</p>
<p>Jujur saja, saya fans Real Madrid sejak sekitar tahun 1996&#8212;-bukan seperti kebanyakan orang yang baru kenal Madrid di era Galacticos. Di musim 1996 itu Madrid masih diperkuat Santiago Canizares, Fernando Hierro, Manuel Sanchis, Fernando Redondo, Ivan Zamorano, disusul kemudian masuknya Roberto Carlos, Clarence Seedorf, dan duo Predrag Mijatovic-Davor Suker. Di masa itu, Guti dan Raul Gonzales masih sama-sama debutan.</p>
<p>Tapi sepanjang yang saya tahu, <span class="highlight">sejarah Real Madrid memang selalu unik</span>. Selain punya prestasi segudang, Madrid juga punya rekor panjang dalam hal pembelian pemain yang memecahkan rekor transfer. Tak sedikit transfer pemain yang dilakukan secara cukup kontroversial, seperti Luis Figo yang dicomot dari Barcelona atau David Beckham dan Kaka yang sebelumnya dianggap banyak orang &#8220;<em>untouchable</em>&#8221; di klub masing-masing. Selain itu, baik pemain maupun pelatih sama-sama punya <em>turnover</em> tinggi di Madrid.</p>
<p>Tetap saja, Real Madrid tidak pernah kapok membeli pemain dengan harga premium. Nampaknya, Madrid selalu punya cara untuk meng-<em>cover</em> pembelian itu&#8212;-entah dari kontrak hak siar, penjualan <em>merchandise</em>, atau pertandingan persahabatan. Dampak negatifnya, pemain binaan akademi sendiri seolah jadi anak tiri. Sebut saja Roberto Soldado atau Juan Manuel Mata yang malah berkembang (dan berlipat ganda harganya) di klub lain. Akibatnya, setelah era Raul dan Casillas, tidak ada lagi <em>icon</em> Madrid yang bisa dibanggakan.</p>
<p>Memang benar bahwa <span class="highlight">pasar transfer pemain bola bisa dibilang irasional</span>. Di pasar ini, tujuan jual-beli pemain tidak selalu untuk <em>profit maximization</em>. Bisnis pada umumnya biasanya selalu sengit dalam kompetisi. Kesalahan setitik saja bisa berujung kebangkrutan. Tapi bisnis sepakbola berbeda. Kerugian atau kesalahan fatal pun jarang berujung pada kebangkrutan, merjer, atau akuisisi oleh klub lain. Sekalipun mereka punya rasio utang yang tinggi, rasanya tak ada yang perlu dikuatirkan.</p>
<p>Irasionalitas lain biasanya juga nampak pada posisi pemain yang dijualbelikan. Penyerang dan pemain tengah lazimnya dihargai jauh lebih mahal daripada penjaga gawang dan pemain bertahan&#8212;-walaupun baik penyerang dan penjaga gawang memegang peranan sama pentingnya. Selain itu, pemain dari negara sepakbola (seperti Brazil, Argentina, Italia, Spanyol, Portugal) cenderung dihargai lebih mahal daripada pemain dari negara &#8220;asing&#8221; seperti Mesir atau Albania misalnya.</p>
<p>Betapapun, Madrid adalah klub dengan bentuk demokrasi populis yang unik. Real Madrid dimiliki oleh sekitar 70 ribu <em>socios</em>, bukan oleh pemegang saham. Florentino Perez dipilih oleh mereka dan sudah tentu pembelian Kaka dan Ronaldo adalah cara untuk menjawab amanah mereka. Tentu &#8220;wajar&#8221; kalau pembelian pemain seringkali tidak masuk di akal. Siapapun presidennya, apapun akan dilakukan demi memuaskan fans, sponsor, dan media setempat. Padahal Perez tentu masih ingat bahwa Galacticos bentukannya di era 2003-2006 tidak banyak memberi prestasi.</p>
<p>Tapi itulah Real Madrid. Mereka tak melulu mengejar uang. Ada kebanggaan, gengsi, dan prestise yang seringkali harus dinomorsatukan. Madrid tahu bahwa <em>brand</em> mereka terlalu kuat untuk bangkrut begitu saja. Madrid selalu punya cara untuk mengembalikan <em>return on investment</em> mereka. Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa uang £80 juta sekalipun dianggap lumrah hanya untuk seorang pemain. <span class="highlight">Inilah <em>the economics of Cristiano Ronaldo</em>.</span></p>
<p>Sementara untuk Manchester United, ada &#8220;teori&#8221; yang mengatakan bahwa pemain yang cemerlang lalu meninggalkan Theatre of Dreams tidak akan pernah bisa mendapatkan kesuksesannya kembali. Sebut saja George Best, Lee Sharpe, Jaap Stam, Andrei Kanchelskis, bahkan David Beckham sekalipun. Best, Kanchelskis, Beckham&#8212;-dan sekarang Ronaldo&#8212;-bahkan sama-sama menggunakan nomor punggung &#8220;keramat&#8221; 7. Menarik untuk ditunggu siapa incaran Ferguson untuk mengganti CR7. Tapi yang juga tak kalah seru adalah menyimak bagaimana dua matahari terbit di Bernabeu nanti.</p>
<p><em>Hala Madrid!</em></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=Dc68nd0G8Ig:xhTDNSW5gjs:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/Dc68nd0G8Ig" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2009/06/the-economics-of-cristiano-ronaldo/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2009/06/the-economics-of-cristiano-ronaldo/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Narsis 2.0</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/yjMDsIgPLsA/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2009/04/narsis-20/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 15:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<category><![CDATA[narsis]]></category>

		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin Anda sudah tahu. Dalam mitologi Yunani kuno, konon seorang pemuda bernama Narcissus sedang berjalan-jalan menyusuri danau. Suatu saat ia membungkuk di tepi danau hendak meminum sedikit airnya. Narcissus baru sadar betapa tampan dirinya dari bayangan yang tercermin di atas permukaan danau dan jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Ia mencoba mengulurkan tangannya dan hendak mencium [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin Anda sudah tahu. Dalam mitologi Yunani kuno, konon seorang pemuda bernama Narcissus sedang berjalan-jalan menyusuri danau. Suatu saat ia membungkuk di tepi danau hendak meminum sedikit airnya. Narcissus baru sadar betapa tampan dirinya dari bayangan yang tercermin di atas permukaan danau dan jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Ia mencoba mengulurkan tangannya dan hendak mencium bayangannya sendiri. Sayangnya, Narcissus kemudian tergelincir dan mati tenggelam. Para dewa mereinkarnasi jasadnya menjadi bunga yang dinamai bunga narcissus.</p>
<p><span class="highlight">Agak sulit menebak kapan pertama kali gelombang narsis 2.0 menyerbu dunia maya di Indonesia.</span> Sejak kali pertama blog menjadi populer di Indonesia, gelagatnya memang sudah terlihat. Orang-orang ngeblog hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya eksis di dunia maya&#8212;-atau lebih parah lagi, biar nongol kalau kita <em>googling</em> namanya. Tapi gelombang yang agak santer mungkin terjadi ketika Friendster menjadi sangat ngetren ditunjang dengan murahnya ponsel-ponsel berkamera VGA.<span id="more-507"></span></p>
<p>Bisa ditebak, semua jadi berlomba-lomba mengoptimalkan jumlah foto di Friendster. Foto dilakukan di mana saja demi kejar setoran. Posenya juga benar-benar <em>gak nahan</em>&#8212;-dengan gaya diimut-imutkan, didekatkan kamera dengan <em>angle</em> yang tinggi, sudut bibir sedikit dimonyongkan, dan mata disipitkan agar mirip artis Jepang. Kalau kurang, Photoshop bisa dikerahkan untuk memanipulasi foto, terutama untuk menyembunyikan jerawat dan tanda lahir yang tidak diinginkan.</p>
<p>Friendster mendadak jadi aneh. Kosakata baru seperti &#8220;akyu&#8221;, &#8220;luthu&#8221;, &#8220;kamuwh&#8221; mendadak jadi populer. Friendster sontak penuh dengan <em>glitter</em> dan <em>blip</em> animasi yang menyolok mata. Profil ditulis dengan kombinasi huruf kapital dan huruf kecil yang menyusahkan pembacanya. Jumlah teman dan testimonial sudah menjadi indikator populer tidaknya seseorang. Inilah mengapa akhirnya saya menutup Friendster sejak sekitar setahun lalu.</p>
<p><span class="highlight">Kini, penderita <em>narcissistic personality disorder</em> (NPD) nampaknya justru kian akut.</span> Kehadiran Facebook (dan microblogging seperti Twitter dan Plurk) agaknya membuat narsisme kian populer. Banyak anak sekolah merengek minta dibelikan Blackberry dengan alasan untuk menunjang tugas&#8212;-padahal hanya untuk <em>update</em> status atau chatting dengan teman di jam pelajaran. Mejeng di kafe dan mall menjadi rutinitas wajib dengan &#8220;sengaja&#8221; menonjolkan Blackberry. Walhasil, ponsel berfitur canggih itu hanya digunakan sepersekian dari kemampuan maksimalnya.</p>
<p>Dulu, bermain laptop cuma menjadi <em>privilege</em> para eksekutif muda. Tapi sekarang, banyak anak muda yang pamer laptop di <em>coffee shop</em>. Masa bodoh dengan spesifikasi, chipset, dan semacamnya. Kalau perlu beli Apple yang lebih cute dan seksi&#8212;-walaupun tak tahu bagaimana mendayagunakan MacOS. Hotspot gratisan menjadi target utama demi mengakses Facebook atau bermain game online. Kalau perlu, pesan minum satu tapi buat barengan dan pura-pura cuek nongkrong berjam-jam.</p>
<p>Kamera SLR, yang dulunya cuma dipakai para profesional, kini menjadi kamera sejuta umat. Dengan dalih hobi dan meningkatkan kreatifitas, kamera canggih ini malah cuma jadi senjata untuk menambah foto-foto narsis dengan resolusi tinggi. Kamera yang setidaknya dibanderol Rp 7-15 juta menjadi tidak optimal karena setting yang dipakai hanya default/auto. Album di Facebook penuh dengan foto diri sendiri. Yang lebih parah, setiap teman di-tag di foto-foto tersebut.</p>
<p>Facebook memang fenomena. Ia bisa membuat penggunanya seolah wartawan infotainment yang selalu memburu informasi tentang dapur orang lain. Ia membuat penggunanya sibuk memelototi status orang lain, memberi komentar, atau bergantian menulis di wall orang lain. Sama seperti yang terjadi di Friendster, <a href="http://www.indosat.com/Indosat_Program/Indosat_Program/Indosat_FansBerry">makin gaul di Facebook berarti makin eksis</a>. Hari ini add 100 orang, besok 200, minggu depan 1000 orang&#8212;-padahal yang benar-benar dikenal cuma 50an saja. Menulis notes di Facebook menjadi wajib, walaupun cuma asal comot dari tulisan/blog orang lain.</p>
<p>Bisa disimpulkan bahwa <span class="highlight"><em>we have trained our selves and our communities to be narcissistic</em></span>. Memang benar, Freud pernah mengatakan bahwa narsis &#8220;<em>is an essential part of all of us from birth</em>.&#8221; Manusia, <em>by its nature</em>, memang punya hasrat ingin dicintai, dihormati, dan dipuji. Namun segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak bisa dibenarkan. Apalagi kalau ujung-ujungnya justru membuat kita sombong dan cenderung menganggap remeh orang lain.</p>
<p>Dalam mitosnya, ketampanan Narcissus sampai membuat orang mempertanyakan umurnya kepada peramal Tiresias. Kata Tiresias, &#8220;Narcissus bisa hidup lama, kecuali jika dia belajar mengetahui dirinya sendiri.&#8221; <span class="highlight">Jadi, jangan terlalu narsis deh, kalau kita ingin berumur panjang.</span> :)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=yjMDsIgPLsA:eWdG4shs7I0:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/yjMDsIgPLsA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2009/04/narsis-20/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2009/04/narsis-20/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Blog Sudah Mati?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/sf8vaRHImis/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2009/03/blog-sudah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 15:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<category><![CDATA[life cycle]]></category>

		<category><![CDATA[tren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Blog sifatnya hanya tren sesaat&#8230; Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu.&#8221;
&#8212;-Roy Suryo [source]
Teman saya pernah mengutarakan kritiknya, &#8220;Kalau semua orang ngomong, trus siapa yang mau dengerin?&#8221; Katanya, &#8220;Kalau semua orang ngeblog, lantas siapa yang mau baca?&#8221; Awalnya saya kurang ngeh dengan komentar itu, tapi lama-lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Blog sifatnya hanya tren sesaat&#8230; Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu.&#8221;<br />
&#8212;-Roy Suryo [<a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/26/time/163732/idnews/900330/idkanal/398"><em>source</em></a>]</p></blockquote>
<p>Teman saya pernah mengutarakan kritiknya, &#8220;Kalau semua orang ngomong, trus siapa yang mau dengerin?&#8221; Katanya, &#8220;Kalau semua orang ngeblog, lantas siapa yang mau baca?&#8221; Awalnya saya kurang <em>ngeh</em> dengan komentar itu, tapi lama-lama saya pikir ada benarnya juga. Sekarang siapa saja bisa bikin blog. Jumlah blog di Indonesia juga sudah segitu banyak. <span class="highlight">Mungkin blog sudah mendekati titik jenuh (<em>saturation level</em>)</span>.<span id="more-502"></span></p>
<h3>Life-Cycle Blog</h3>
<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/blog-life-cycle.jpg" alt="Blog Life-Cycle" /></p>
<p>Perhatikan gambar di atas. Secara umum, adopsi suatu produk inovasi bisa digambarkan seperti <em>S-curve</em> di atas. Awalnya penetrasi suatu inovasi terjadi secara sangat lambat, namun kemudian mengalami pertumbuhan secara eksponensial. Sesampainya di puncak kurva, penetrasi inovasi kemudian bergerak dengan relatif datar dan stagnan.</p>
<p>Sekitar tahun 1993, blog dimulai oleh para <em>IT geek</em> yang membuat kumpulan link di sela-sela kesibukan mereka. Istilahnya, <em>technology enthusiasts</em>. Merekalah innovator yang mengenalkan blog pertama kali karena secara teknis membuat blog di masa itu membutuhkan kemampuan <em>programming</em> yang tidak gampang. Di masa itu, NCSA yang kemudian diikuti Netscape meluncurkan &#8220;<em>What&#8217;s New</em>&#8221; yang berisi kumpulan link ke situs-situs tertentu.</p>
<p>Kemudian, blog mulai diadopsi oleh para jurnalis, orang yang memang membutuhkan platform untuk mempublikasikan opini mereka. Bisa dibilang merekalah <em>early adopter</em> di bidang ini. Tentu para kolumnis itu belum jauh-jauh dari topik seputar IT. Kalau Anda masih ingat, di tahun 1997 Dave Winer meluncurkan Scripting News, yang kemudian merilis software <em>blog publishing</em> yang disebut Manila dan Radio Userland. Di tahun yang sama, Slashdot juga membuka jalur blog berita mereka.</p>
<p>Pertumbuhan yang cukup signifikan mungkin terjadi di tahun 1999. Brigitte Eaton meluncurkan Eatonweb Portal yang berisi kumpulan blog di masa itu. Metafilter juga lahir di tahun yang sama. Penyebab dari ledakan jumlah blog adalah mulai bermunculannya aplikasi blog seperti Pitas dan Blogger (diluncurkan oleh Pyra). Penetrasi blog makin gencar di awal dekade 2000. Aplikasi blog mulai bermunculan, misalnya Greymatter, Livejournal, MovableType, B2/Cafelog (sebelum menjadi Wordpress), dan masih banyak lagi.</p>
<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/blog-adoption.jpg" alt="Blog Adoptions" /></p>
<p>Namun, menurut saya, sejak 3-4 tahun lalu penetrasi blog sudah masuk ke fase <em>late adopters</em>. Orang-orang yang konservatif ikut masuk. Misalnya, ibu-ibu rumah tangga atau pelajar sekolah yang mungkin tidak terlalu membutuhkan blog ternyata ikut-ikutan terjun dalam aktivitas blogging. Hal ini bisa dimaklumi karena aktivitas blogging makin mudah dan pilihan juga makin banyak. Blogger (yang kemudian mengakuisisi Blogspot, lalu dibeli oleh Google) terus menyempurnakan fitur bloggingnya. MovableType juga meluncurkan Typepad yang diikuti pMachine yang membuat Expression Engine. Wordpress juga ikut meluncurkan wordpress.com. Selain itu, <em>photo-blogging</em>, <em>podcasting</em>, dan <em>video-blogging</em> juga kian marak.</p>
<p>Terakhir, blog diadopsi oleh para <em>laggards</em>, <span class="highlight">golongan yang sesungguhnya justru skeptis terhadap inovasi</span>. Mereka adalah orang yang sama sekali tidak punya urusan dengan blog, namun terpaksa mengadopsi blog agar tidak ketinggalan jaman. Misalnya, para caleg yang berkampanye dengan blog, menteri dan aparat pemerintahan, atau artis yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan teknologi.</p>
<h3>Blog Hanya Tren Sesaat?</h3>
<p>Beberapa waktu lalu, ketika Roy Suryo mengklaim bahwa blog hanya tren sesaat, (hampir) semua orang protes. Tapi kalau kita lihat sekarang, <em>to some extent</em>, apa yang dikatakan Mas Roy ada benarnya juga. Secara jumlah, mungkin ada ratusan ribu blog di Indonesia. Namun tak banyak yang masih kontinu dan rajin mengupdate informasi di blognya.</p>
<p>Salah satu aggregator besar blog Indonesia, Merdeka.or.id, sudah wafat. <a href="http://thegadgetnet.com/">Mas Budi Putra</a>, sudah tidak menulis sejak November tahun lalu&#8212;-sama seperti <a href="http://jalansutera.com/">Mas Pujiono</a>. <a href="http://priyadi.net">Bung Priyadi</a> malah sudah hiatus sejak Juni tahun lalu. <a href="http://enda.goblogmedia.com/">Bung Enda</a> juga sudah jarang menulis posting seperti dulu, melainkan hanya sebatas kumpulan link saja. Di kalangan selebritis, <a href="http://blog.diansastrowardoyo.net/">si gigi kelinci</a> juga makin jarang menulis.</p>
<p>Layanan blog lokal seperti Dagdigdug, Blogdetik, Kompasiana (Kapanlagi dan Seleb.tv untuk para artis) memang sempat menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Namun faktanya, antusiasme itu tak pernah bertahan dari beberapa bulan saja. Dari beberapa blog yang saya subscribe via Google Reader, makin sedikit yang rutin melakukan update. Mungkin hanya <a href="http://gbt.blogspot.com/">Pak Budi Rahardjo</a> yang punya banyak blog dan masih terus aktif hingga sekarang. Nama-nama besar seperti <a href="http://ndorokakung.com/">Ndoro Kakung</a>, <a href="http://blogombal.org/">Paman Tyo</a>, <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/">Iman Brotoseno</a>, adalah segelintir yang masih terus eksis ngeblog.</p>
<p>Dengan makin maraknya <em>internet business</em>, tak sedikit juga blog yang mungkin tetap update namun dikomersilkan secara asal-asalan. Blog, yang harusnya <em>user-centered content</em>, menjadi penuh dengan blok-blok iklan. Selain mengganggu pandangan, <em>loading time</em> untuk membuka blog jadi jauh lebih lambat. Posting yang tadinya bermutu menjadi bercampur aduk dengan tulisan-tulisan <em>paid review</em> tak jelas. Yang dulunya punya jalan terang benderang menjadi belok entah kemana.</p>
<p>Apa penyebabnya? Alasan pertama, menurut saya, mengelola blog jelas perlu semangat dan motivasi tinggi. Kalau pemiliknya tak punya modal spirit untuk menulis dan berbagi, jelas blog susah bertahan hidup. Alasan kedua, <span class="highlight">blog akan digantikan oleh produk inovasi lain yang lebih menarik</span>, misalnya: Facebook, Twitter, Plurk, atau produk-produk inovasi lain.</p>
<h3>Apa Blog akan Punah?</h3>
<p>Yang namanya inovasi, ada yang langsung punah, ada pula yang tetap bertahan. Begitu ponsel diluncurkan, <em>pager</em> lalu dilupakan. Begitu CD dikenalkan ke pasar, disket langsung ditinggalkan. Tapi ada pula produk inovasi yang tetap bertahan. Printer dot-matrix di Indonesia, misalnya, walaupun sudah tergantikan printer laser dan inkjet, malah tetap eksis dan punya pangsa pasar tersendiri: wartel dan warnet.</p>
<p>Kelemahan tipikal blogger adalah bahwa <em>bloggers pop off instantly about everything</em>. Manusia secara umum punya kompetensi tertentu yang unik namun terbatas. Kalau kita memaksakan diri menulis sesuatu yang di luar kompetensi kita, hasilnya sama seperti memaksa Tom Hanks bermain film komedi. Alangkah lebih baik kalau blog kita berfokus pada <em>circle of competence</em> kita saja. Salah satu contoh bagus misalnya <a href="http://ngupingjakarta.blogspot.com/">Nguping Jakarta</a> atau <a href="http://rovicky.wordpress.com/">Dongeng Geologi</a>.</p>
<p>Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah <em>readership</em>. Blogger seharusnya hanya boleh mengabdi kepada Tuhan dan pembacanya. Tidak ada masalah kalau blog ingin digarap secara komersil, namun bagaimanapun juga kepentingan pembaca harus tetap diutamakan. Percuma punya blog dengan sejuta tulisan bagus tapi tak ada yang mau membaca.</p>
<p>Menurut saya, blog masih merupakan salah satu media pertukaran informasi yang sangat efektif. <span class="highlight">Blog bukan tren sesaat, tapi euforia blog adalah tren sesaat.</span> :)</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=sf8vaRHImis:Q71FUz3EFKo:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/sf8vaRHImis" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2009/03/blog-sudah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2009/03/blog-sudah-mati/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pasar Modal: Mafia dan Ajang Judi?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/chiOl3_ILno/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2009/02/pasar-modal-mafia-dan-ajang-judi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 21:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Investment]]></category>

		<category><![CDATA[bursa]]></category>

		<category><![CDATA[judi]]></category>

		<category><![CDATA[mafia]]></category>

		<category><![CDATA[modal]]></category>

		<category><![CDATA[saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[
Warren Buffet pernah bilang, &#8220;It is only when the tide goes out, that you know who was swimming naked.&#8221; Tahun-tahun lalu, ketika bursa sedang bullish, even monkey can make money. Namun, ketika krisis datang bertubi-tubi seperti saat ini, baru ketahuan siapa yang bermasalah dan siapa yang benar-benar bermasalah.
Idealnya, sektor riil dan sektor finansial bisa berjalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nofieiman.com/wp-content/images/bursa-efek-indonesia.jpg" alt="Pasar Modal: Mafia dan Ajang Judi?" /></p>
<p>Warren Buffet pernah bilang, &#8220;<em>It is only when the tide goes out, that you know who was swimming naked</em>.&#8221; Tahun-tahun lalu, ketika bursa sedang <em>bullish</em>, <span class="highlight"><em>even monkey can make money</em></span>. Namun, ketika krisis datang bertubi-tubi seperti saat ini, baru ketahuan siapa yang bermasalah dan siapa yang benar-benar bermasalah.</p>
<p>Idealnya, sektor riil dan sektor finansial bisa berjalan beriringan menunjang kemakmuran umat manusia. Namun, ketika oknum-oknum yang bergerak di dalamnya sudah tidak lagi berada di jalan yang lurus, bursa menjadi meja judi yang penuh dengan serigala-serigala kelaparan. Kalau sudah begini, yang menjadi korban biasanya selalu yang kecil dan yang lemah.<span id="more-500"></span></p>
<h3>Bumi Resources: The Next Enron?</h3>
<p>Teman saya bilang, saham BUMI adalah saham (maaf) iblis: utang begitu besar, malas membagi dividen, dan manajemen tidak mengutamakan kepentingan investor. Saham ini dimiliki begitu banyak orang. Isu yang beredar juga beragam. Mulai dari rencana <em>go international</em>, menemukan tambang emas, dan segudang rumor lainnya. Manajemen tidak memiliki suara mayoritas, namun kelakuan mereka benar-benar menggelikan.</p>
<p>November 2008 lalu misalnya, manajemen BUMI berjanji akan melakukan <em>buy back</em> terhadap 3,3 miliar saham mereka di harga Rp 2.500 per lembar. Saat itu harga saham BUMI masih ada di kisaran Rp 1.000 per lembar. Januari awal tahun ini, BUMI masih berjanji bahwa rencana <em>buy back</em> dari kas internal tetap akan dilakukan dengan <em>deadline</em> 16 Februari 2009. Harga saham BUMI waktu itu ada di kisaran Rp 500 per lembar.</p>
<p><em>Surprisingly</em>, Dileep Sivastava malah seenak perutnya mengatakan bahwa <em>buy back</em> bukan sesuatu yang wajib dilakukan. Entahlah. Barangkali menurutnya pasar modal kita tak beda dengan pasar pagi dimana kita bisa berkoar seenaknya. Kalau di NYSE direktur BUMI bisa diseret masuk bui, namun di sini, Bapepam-LK masih saja bersikap lemah lembut kepada mereka.</p>
<p>Selain soal isu <em>buy back</em>, manajemen BUMI juga bertingkah dengan mengatakan hendak mengakuisisi PT Fajar Bumi dan PT Pendopo Energi serta menambah kepemilikan mereka di PT Dharma Henwa Tbk (DEWA). Transaksi ini ditengarai cukup material dan mengandung benturan kepentingan. Lagi-lagi Bapepam-LK berlemah lembut kepada sepak terjang mereka yang jelas-jelas melanggar aturan karena seharusnya mereka melakukan <em>public exposure</em> terlebih dahulu. Lucunya, Bapepam-LK dan BEI minggu ini tidak jadi menggelar rencana pembahasan terhadap BUMI sampai batas waktu yang tidak disebutkan. Aneh.</p>
<p>Sekelompok pemegang saham ritel berusaha meng-<em>counter</em> sepak terjang manajemen BUMI dengan membentuk Kumpulan Investor Pemegang Saham (KIPS) BUMI. Sayangnya, Bapepam-LK kurang suportif terhadap inisiatif ini. Padahal ada <em>free folating</em> saham BUMI sebanyak 58% yang sebenarnya bisa menjadi pengendali di manajemen BUMI. Kalau KIPS BUMI bisa berjalan mulus, seharusnya BUMI bisa lebih dikendalikan. Selain itu, KIPS-BUMI juga bisa menjadi cermin bagi emiten lain agar tak seenaknya berbuat <em>neko-neko</em> di pasar.</p>
<p>Yang juga menjadi pertanyaan bagi saya adalah ketidakterbukaan terhadap repo BUMI. Orang-orang menilai BUMI mahal karena KPC dan Arutmin&#8212;-perusahaan bagus yang nampaknya jatuh ke tangan yang salah. Dugaan saya, KPC dan Arutmin memang sudah digadaikan dan saat ini BUMI kesulitan menebus repo mereka. BUMI lantas merengek kepada Pemerintah untuk membantu, namun ditolak mentah-mentah oleh Ibu Sri Mulyani. Mudah-mudahan saya salah. Namun kalau ternyata memang demikian adanya, Mei nanti BUMI bakal gagal bayar dan <span class="highlight">saatnya BUMI kembali ke habitatnya semula</span>.</p>
<h3>Bucket Shop, Fraud, Scams, Swindles</h3>
<p>Yang juga masih hangat adalah kasus kolapsnya PT Sarijaya Permana Sekuritas (SP) gara-gara penggelapan dana Rp 245 miliar oleh Herman Ramli (HR). Jujur saja, kasus ini terasa aneh karena ada kesan SP seolah-olah dikorbankan untuk kepentingan yang lebih besar. HR sudah ditangkap 24 Desember 2008, namun SP baru disuspensi pada 6 Januari 2009. Apakah petinggi Bapepam dan BEI ogah kehilangan muka saat Presiden SBY membuka hari <em>trading</em> pertama? Atau sengaja memberi kesempatan agar rekening pihak-pihak tertentu bisa diamankan?</p>
<p>SP adalah sekuritas yang bagus dengan SDM yang cukup <em>dedicated</em> dan profesional. Mereka berdiri sejak 1990 dan punya cabang dan basis nasabah yang tersebar di seantero negeri. Anehnya, solusi penyelesaian kasus SP diarahkan untuk membubarkan SP. Proses verifikasi juga bertele-tele. Akibatnya, nasabah seperti diharuskan untuk memindahkan rekeningnya dari SP. Selain itu, rekening SP juga diblokir. Tentu saja mereka tidak bisa membayar gaji karyawan atau membayar rekening telepon, listrik, hingga sewa kantor. Kalau sudah hancur begini, <span class="highlight">mana ada investor waras yang mau membeli dan menyelamatkan SP?</span></p>
<p>Sesungguhnya, apa yang dilakukan HR sebenarnya &#8220;wajar&#8221; karena semua sekuritas punya fasilitas <em>margin</em> untuk nasabahnya. Siapapun yang memiliki sekuritas, bisa melakukan <em>trading</em> dengan <em>margin</em> semau dia walaupun mungkin tidak sesuai dengan prinsip <em>good corporate governance</em> (GCG). Kalau <em>owner</em> (atau orang penting di negeri ini) meminta sesuatu, sulit bagi manajemen sekuritas untuk berani menolak. Di &#8220;dunia persilatan&#8221; banyak diketahui bahwa manajemen sebuah sekuritas bisa terlibat aktif dalam penggorengan saham-saham di bursa. Semua itu bisa sah dilakukan dengan berlindung di balik label &#8220;pelaku pasar&#8221;.</p>
<p>Namun, Bapepam-LK seolah tidak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu dan terkesan melempar tanggung jawab. <em>Common practices</em> seperti HR ini sebenarnya sudah diketahui Bapepam-LK sejak lama, namun mereka tidak melakukan tindakan preventif. Mereka berjanji membuka akses <em>investor area</em> supaya nasabah investor bisa memonitor secara langsung portofolio mereka. Ini tentu aneh. Sama seperti Anda membuka rekening bank lalu diberi buku tabungan dan kartu ATM. Anda memang bisa mengecek saldo Anda tiap saat, tapi siapa yang bisa menjamin uang Anda tidak dibawa kabur oleh oknum bank?</p>
<p>Sudah sepatutnya pemerintah melakukan <em>bail-out</em> atas kerugian nasabah SP dan mencopot pejabat-pejabat terkait yang bertanggung jawab atas kasus tersebut. Regulasi perlu ditinjau kembali sembari mengawasi kelakuan semua sekuritas dengan ketat. HR dan semua pejabat SP yang terbukti bersalah juga harus diproses karena sudah lebih dari dua bulan, namun tak jelas bagaimana kelanjutan nasib HR.</p>
<h3>Menilik dari Sejarah</h3>
<p>Mei 1995 lalu, Jopie Widjaja dengan leluasa mengambilalih kepemilikan saham PT Bank Papan Sejahtera Tbk. Jopie menguasai saham bank itu karena mampu memanfaatkan lubang aturan pasar modal yang tidak mencantumkan tata cara <em>take over</em> atau <em>tender offer</em>. Jopie kemudian melego 19,80% saham Bank Papan ke Hashim Djojohadikusumo. Dari penjualan saham Bank Papan itu, pemilik perusahaan taksi Steady Safe itu mampu meraup untung besar.</p>
<p>Tak kalah menarik kasus dugaan <em>insider trading</em> lain seperti Semen Gresik (1998), Bank Central Asia (2001), dan Indosat (2002). Dari transaksi saham Semen Gresik, Bapepam mendata ada 90 pihak yang diduga terlibat dan mengetahui proses privatisasi lanjutan Semen Gresik. Dari jumlah itu, ada tiga pihak yang telah secara langsung diduga meraup keuntungan sekitar Rp 55 milyar. Namun, tak ada pihak yang didaulat sebagai tersangka. Kasus ini pun ikut terkubur mengikuti bergulirnya waktu.</p>
<p>Bapepam mengendus dugaan manipulasi pasar atas transaksi saham BCA ketika muncul pergerakan dan perubahan harga saham setelah <em>stock split</em>. Data BEJ menunjukkan dominasi beli dari beberapa broker pada perdagangan 15 Mei hingga 12 Juni 2001. Setelah itu, antara 13-29 Juni, broker yang sama menjual saham BCA sehingga harganya turun. Permainan itu diduga telah menyebabkan manipulasi harga. Namun, menurut Bapepam tidak ada fakta yang mengindikasikan adanya <em>insider trading</em> dalam transaksi itu.</p>
<p>Merrill Lynch Indonesia (ML) diduga melakukan transaksi saham Indosat karena adanya <em>insider information</em>. Pasalnya, Merrill Lynch disebut-sebut sebagai penasihat keuangan Indosat. Selain itu, ML termasuk broker yang paling banyak melakukan transaksi jual dan beli saham Indosat, saat pemerintah melakukan pelepasan saham. Tudingan yang awalnya dilemparkan Laksamana Sukardi itupun tak pernah dibuktikan. Kasusnya lenyap.</p>
<p>Kasus <em>cornering</em> saham Bank Pikko antara Januari sampai Februari 1997 juga menarik. Harga saham Bank Pikko pada periode itu berkisar antara Rp 875 sampai Rp 1.425. Benny Tjokrosaputro melakukan transaksi saham melalui PT Multi Prakarsa Investama Securities dengan menggunakan nama 13 pihak lain. Perdagangan saham Bank Pikko menjadi sangat aktif dan harganya meningkat 20%. Bapepam berupaya mengusut kasus itu, namun Benny Tjokrosaputro dan Pendi Tjandra &#8220;hanya&#8221; diwajibkan untuk menyerahkan keuntungan yang diperoleh tanpa sanksi hukum lain.</p>
<p>Kasus serupa terjadi pada transaksi saham PT Primarindo Asia Infrastruktur (BIMA) beberapa tahun lalu. Namun, kasus yang cukup menghebohkan itu tak pernah ketahuan hasil akhirnya. Tahun 2004, terjadi juga kasus Bank Global dan kegagalan PT Great River membayar bunga obligasi. Lagi-lagi kasusnya menggantung karena tersangka keburu kabur ke luar negeri. <span class="highlight">Harusnya pemerintah bisa belajar dari kasus yang sudah-sudah.</span></p>
<h3>Masalah-Masalah Potensial Lainnya</h3>
<p>Masalah lain yang juga menarik adalah soal aturan <em>chain listing</em>. Aturan tersebut diberlakukan terhadap induk dan anak perusahaan yang sama-sama <em>listing</em> di bursa. Apabila anak perusahaan menyumbang consolidated income lebih dari 50% bagi induknya, maka ia harus melakukan <em>delisting</em> agar investor terhindar dari risiko yang tidak diinginkan. Contohnya, APEX yang diakuisisi MIRA harus segera <em>delisting</em>.</p>
<p>Namun, ternyata aturan ini terbukti masih pilih kasih. Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dengan induknya Multipolar Tbk (MLPL) atau Global Mediacom (BMTR) dan Media Nusantara Citra (MNCN) sebenarnya juga terkena aturan ini, namun tetap enak saja nongkrong di bursa. Rasa-rasanya, tidak mungkin mereka dikeluarkan karena ujung-ujungnya akan menggerus <em>fee</em> yang masuk ke BEI. Selain itu, BEI sudah berkoar-koar akan menambah jumlah emiten yang terdaftar di bursa.</p>
<p>Aturan lain seperti merjer dan akuisisi model <em>leveraged buy out</em> (LBO) juga nampaknya belum diatur dengan begitu bagus oleh Bapepam-LK. Bisa dibayangkan, Grup Bakrie di tahun 1999 terancam default dan meninggalkan utang lebih dari USD 1 miliar. Utang tersebut secara teknis tidak bisa diubah menjadi equity dan baru bisa lunas setelah lebih dari 100 tahun. Lucunya, Aburizal Bakrie tahun lalu bisa dinobatkan menjadi orang terkaya di Indonesia.</p>
<p>Hal-hal semacam ini hanya terjadi di Indonesia. U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) yang terkenal ganas saja masih kecolongan kasus Enron atau WorldCom&#8212;-<span class="highlight">apalagi di Indonesia?</span></p>
<h3>Concluding Remarks</h3>
<p>Teman saya bilang, aturan investasi tidak akan pernah <em>fair</em>. Ini soal hukum alam, yang kecil dan yang lemah selalu jadi korban. Katanya, industri pasar modal memang dirancang sedemikian rupa agar institusi keuangan, emiten yang terdaftar di bursa, maupun <em>brokerage house</em> yang terlibat di dalamnya bisa mendapatkan keuntungan lebih dulu. Bisa &#8220;dimaklumi&#8221; karena mau tidak mau, pemerintah mendapatkan pendapatan terbesar dari mereka. Mungkin peraturan ini bisa berubah, bila investor retail di indonesia nanti jumlahnya sangat besar, mengalahkan lembaga institusi. </p>
<p>BEI mungkin memang penuh dengan intrik. Harapannya, Bapepam-LK bisa menjadi <em>watchdog</em> agar permainan bisa berjalan secara fair. Namun jujur saja, kasus-kasus semacam ini menunjukkan adanya kesan bahwa <span class="highlight">Bapepam-LK hanya seperti (maaf) antek dari kepentingan-kepentingan yang lebih besar</span>. Kalau kepentingan itu meminta suspensi, maka bursa akan disuspen. Kalau kepentingan itu meminta kasusnya jangan diusut, maka Bapepam-LK juga diam saja.</p>
<p>Investasi saham memang berisiko tinggi. Ada banyak risiko investasi di dalamnya seperti <em>capital risk</em>, <em>currency risk</em>, <em>liquidity risk</em>, <em>financial risk</em>, <em>market risk</em>, dan seterusnya. Kalau rugi/kalah karena salah mengambil strategi, <em>it&#8217;s perfectly fine</em>. Namun menjadi konyol kalau modal amblas hanya gara-gara regulatornya meleng.</p>
<p>Saya jadi ingat pidato inaugurasi Ronald Reagan. Ia berujar, &#8220;<em>In this present crisis, government is not the solution to our problem; government is the problem</em>.&#8221; Pidato itu dilakukan 20 Januari 1981, namun sungguh relevan dengan keadaan saat ini.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=chiOl3_ILno:OdexLL1MPe0:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/chiOl3_ILno" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2009/02/pasar-modal-mafia-dan-ajang-judi/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2009/02/pasar-modal-mafia-dan-ajang-judi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Deciding When to Invest</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/nofieiman/~3/DaLxcCRB5tM/</link>
		<comments>http://nofieiman.com/2009/02/deciding-when-to-invest/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 16:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nofie Iman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Investment]]></category>

		<category><![CDATA[invest]]></category>

		<category><![CDATA[mutual fund]]></category>

		<category><![CDATA[stock]]></category>

		<category><![CDATA[timing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nofieiman.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Earlier this week I received a number of questions from readers. They were asking quite similar questions whether it is the right time to top-up their investment in either stocks or mutual funds. As Warren Buffet said, &#8220;Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.&#8221; One or two years ago, we [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Earlier this week I received a number of questions from readers. They were asking quite similar questions whether it is the right time to top-up their investment in either <a href="http://nofieiman.com/2008/12/peluang-investasi-di-tahun-2009/">stocks or mutual funds</a>. As Warren Buffet said, &#8220;Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.&#8221; One or two years ago, we were very fearful when others are very greedy. But today, others are fearful yet we have not turned greedy.</p>
<p>I should clarify that to be a successful investor, <span class="highlight">you have to look beyond the conventional realm of the financial markets in today&#8217;s economic climate</span>. First, being contrarian does not always mean taking an opposite direction on the same road&#8212;-sometimes it just means taking a different road. Secondly, there is a difference between a contrarian and a reverse conformist. A contrarian is not someone who is blindly take an opposite position of the crowd indiscriminately.<span id="more-496"></span></p>
<p>It also should be noted that there is one major difference between us&#8212;-regular &#8220;Joe Average&#8221; investor&#8212;-and Warren Buffett. We can only think of investments in the context of a financial market, but for Buffett it may mean investing outside the financial system. He has a lot of money and influence to cut deals in order to secure entire business outright. Many of these businesses are simply inaccessible from the stock market.</p>
<p>Although Buffett is one of the globe&#8217;s wisest investor, he is not always good at everything. He has never experienced the Great Depression or hyperinflation period. The world today is at a turning point and certainly there is no guarantee that it will return to the world that Buffett experienced all his life. Indeed, I admire him as an exceptionally astute businessman, a legendary investor, and a great philanthropist. But &#8220;copy-paste&#8221; his perspective into the general is a dangerous trap to base one&#8217;s investment decisions on. If you just follow Buffett&#8217;s way as is, <span class="highlight">it might put you at a severe disadvantage</span>.</p>
<p>I would love to see a strong rally although I don&#8217;t think it will happen in a month or two. At this moment, everyone is sitting on their hands until they see everyone else move first. Unfortunately, no one knows what the trigger will be. Quoting Marc Faber, financial institutions are sitting on huge piles of cash as they sell their assets and hoard it. It is probably only a matter of time before there&#8217;s a positive trigger.</p>
<p>I believe there will be an Obama rally which will stimulate the U.S. economy which in turn will stimulate our stock market as well. We&#8217;re preparing for a massive country-wide election in 2009 that if run smoothly will also stimulate our economy. However, in the mean time, we will have a bumpy ride with the stock market having good days and bad days.</p>
<p>My investment strategy during this crisis period is simply <span class="highlight">liquidate and wait</span>. The idea is fairly straight forward. First, you&#8217;ve got to ask yourself what you think the aftermath of this crisis will be. If you believe that hyperinflation will occur just like in the great crash of 1929, then it is a priority to accumulate gold&#8212;-or buy ETF gold and gold mining stocks. If you believe that this crisis is temporary, you might want to buy cheap stocks from invulnerable sectors such as consumer goods.</p>
<p>The next step of this strategy is to liquidate a portion of your assets and wait for the crash. If you had already identified the second step after this crisis, then it&#8217;s time to buy up the assets. Again, this strategy is not perfect. The financial crisis may take quite a long while to arrive. Keeping your assets in the form of fiat money will mean that they will lose their value through the ravages of monetary inflation in the meantime.</p>
<p>I don&#8217;t know whether this strategy to be good or bad because it will depend on one&#8217;s personality, risk-tolerance, and personal circumstances. However, if you are the sort who is particularly risk-adverse, perhaps this strategy may be suitable for you. Using this strategy allow me to minimize losses while reaping the benefit of capital gain and stock dividend at the same time.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?a=DaLxcCRB5tM:AUDIht64d88:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/nofieiman?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/nofieiman/~4/DaLxcCRB5tM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nofieiman.com/2009/02/deciding-when-to-invest/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://nofieiman.com/2009/02/deciding-when-to-invest/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
