<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DigitalMind</title>
	<atom:link href="http://blog.novanadrian.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.novanadrian.com</link>
	<description>Novan Adrian</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Dec 2015 06:59:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=4.3.1</generator>
	<item>
		<title>Go-Jek: Fenomena dan Kelemahannya</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/go-jek-fenomena-dan-kelemahannya/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/go-jek-fenomena-dan-kelemahannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2015 12:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[credit]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[go-jek]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelemahan]]></category>
		<category><![CDATA[startup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[<p>Go-jek saat ini sedang jadi fenomena yang luar biasa bagi masyarakat di kota-kota besar di Indonesia, khususnya di Jakarta. Gue pertama kali mendengar berita tentang Go-Jek sekitar tahun 2010, waktu itu sistem pemesanannya masih pake SMS, telpon dan juga Twitter. Go-Jek menjadi booming sejak sang founder, Nadiem Makarim, memutuskan untuk fokus mengembangkan Go-Jek, perkembangannya secara mengejutkan&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/go-jek-fenomena-dan-kelemahannya/">Go-Jek: Fenomena dan Kelemahannya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Go-jek saat ini sedang jadi fenomena yang luar biasa bagi masyarakat di kota-kota besar di Indonesia, khususnya di Jakarta. Gue pertama kali mendengar berita tentang Go-Jek sekitar tahun 2010, waktu itu sistem pemesanannya masih pake SMS, telpon dan juga Twitter. Go-Jek menjadi booming sejak sang founder, Nadiem Makarim, memutuskan untuk fokus mengembangkan Go-Jek, perkembangannya secara mengejutkan melesat cepat sejak awal Januari 2015 kemarin dengan diluncurkannya aplikasi Go-Jek. Gue sendiri menjadi pengguna aktif kurang lebih sejak dua bulan setelah aplikasinya diluncurkan. Setelah beberapa bulan menggunakan Go-Jek, ada beberapa hal yang menurut gue menjadi kelemahannya, bahkan ada yang cenderung merugikan.<br />
<span id="more-403"></span></p>
<h1>High Latency</h1>
<p>Atau dengan kata lain lemot. Mau mesen <a href="http://www.go-jek.com/">Go-Jek</a> responnya lama banget dan susah dapat driver. Ini hal yang wajar terjadi kalau suatu aplikasi mengalami lonjakan jumlah pengguna yang ga seimbang dengan server capacity, akibatnya jumlah hit yang besar membuat server jadi agak lama dalam merespon request. Issue ini sempat mengganggu di awal terjadinya lonjakan pengguna, tapi saat tulisan ini dibuat issue ini udah ga ada lagi. Aplikasi Go-Jek sekarang udah bisa dibuka dengan lancar pada jam-jam sibuk.</p>
<h1>Hidden Order</h1>
<p>Ini hal yang cukup mengganggu yang dialami sebagian besar pengguna. Order hampir satu jam tapi ga ada driver yang ngambil. Padahal di peta ada banyak driver. Setelah coba disamperin langsung, ternyata pesenannya ga muncul di HP driver nya. Kan kesel <img src="http://blog.novanadrian.com/wp-includes/images/smilies/frownie.png" alt=":(" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Ternyata <a href="https://id.linkedin.com/pub/nadiem-makarim/91/137/370">Nadiem</a> sendiri juga mengalami hal serupa <img src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<div id="attachment_404" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3631_1024.jpg"><img class="size-full wp-image-404" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3631_1024.jpg" alt="Drivernya rame, tapi ga ada satupun yang nyangkut :(" width="640" height="1136" /></a><p class="wp-caption-text">Drivernya rame, tapi ga ada satupun yang nyangkut :(</p></div>
<p>Setelah Ideafest 8 Agustus kemarin, Nadiem mengklaim bug tersebut udah diperbaiki. Dan sepertinya memang sudah, karena sekarang cukup gampang dapat driver. Disamping itu juga driver Go-Jek saat ini udah sangat banyak. Berdasarkan data terakhir yang gue baca, jumlah driver Go-Jek sudah mencapai sekitar 16,000 orang dan pada saat tulisan ini dibuat Go-Jek baru aja selesai proses recruitment besar-besaran di GBK dengan quota 2000 orang. Jadi kemungkinan sekarang jumlah drivernya sudah mencapai sekitar 18,000 orang. (<strong>update</strong>: setelah gue cross check ternyata sudah mencapai sekitar 180,000 drivers)</p>
<h1>Not-So-Good Customer Support</h1>
<p>Sejak mulai booming, Customer Support (CS) sering dapat complain terutama terkait dua masalah diatas. Gue pernah sekali ngalami kondisi terpaksa menelpon CS karena ada masalah dengan order dan Go-Jek credit.</p>
<p>Waktu itu gue order untuk mengambil dokumen di Mampang untuk diantar ke rumah. Setelah mesen gue baru sadar ternyata petanya salah, padahal gue udah memasukkan alamat dan nama gedung yang benar. Kemungkinan besar ini karena Go-Jek mengambil informasi lokasi dari external source seperti Foursquare yang banyak duplicate location dengan posisi yang ga akurat. Karena lokasi salah, maka gue pun membatalkan order dan membuat order baru dengan lokasi yang benar dan ternyata biayanya lebih murah karena jaraknya lebih dekat. Sialnya, driver yang gue cancel ga sadar kalau dia udah di cancel sehingga dia keburu sampai di lokasi dan mengambil dokumen yang gue pesen. Akibatnya driver kedua yang gue pesen pulang dengan tangan kosong :))</p>
<p>Setelah dokumen gue terima dan order diselesaikan, ternyata Go-Jek credit gue dipotong berdasarkan order pertama yang lokasinya salah dan biayanya lebih mahal. Nah, disini proses yang menyebalkan dimulai, dimana ketika gue harus nelpon CS untuk complain bersamaan dengan kondisi sistem Go-Jek sedang lemot. Maka CS pun ga bisa ngasih solusi apa-apa dan ujung-ujungnya meminta gue menerima biaya yang dibebankan <img src="http://blog.novanadrian.com/wp-includes/images/smilies/frownie.png" alt=":(" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<h1>Driver Fraud</h1>
<p>Ini yang paling ngeselin. Karena driver Go-Jek berasal dari latar belakang yang sangat beragam, ada diantara oknum driver Go-Jek yang bermental maling. Driver yang nakal ini biasanya ngambil order dari penumpang yang milih pembayaran pake Go-Jek credit dan menyelesaikan order tanpa mengantar penumpang. Pickup order and finish. Jadinya, penumpangnya ga kemana-mana tapi Go-Jek credit langsung kena potong dan masuk ke rekening driver <img src="http://blog.novanadrian.com/wp-includes/images/smilies/frownie.png" alt=":(" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Memang sih sedang ada promo ceban (dan sekarang 15 ribu), jadinya ga terlalu rugi. Tapi tetap aja ini kurang ajar banget namanya. Untungnya ada sistem rating untuk melaporkan driver-driver yang nakal seperti ini.</p>
<p>Tapi memang sistem Go-Jek yang langsung menghitung biaya transaksi berdasarkan tujuan yang ditentukan di awal ini jadi cenderung merugikan pengguna. Tidak seperti Uber Taxi yang menghitung biaya transaksi berdasarkan waktu dan jumlah kilometer yang ditempuh.</p>
<h1>Go-Jek Credit Anomaly</h1>
<p>Sekitar bulan Juli 2015 kemarin, gue dan istri kaget ngeliat Go-Jek credit istri gue yang tiba-tiba melonjak drastis dengan nilai yang rasa-rasanya ga mungkin didapat dari referral.</p>
<div id="attachment_405" style="width: 1034px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3626_1024.jpg"><img class="size-full wp-image-405" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3626_1024.jpg" alt="Go-Jek Credit Fantastis" width="1024" height="1024" /></a><p class="wp-caption-text">Go-Jek Credit Fantastis</p></div>
<p>Beberapa hari kemudian gue lihat di Twitter ada banyak yang complain karena Go-Jek credit yang dibelinya tiba-tiba menghilang. Rupanya Go-Jek sedang berusaha memperbaiki kesalahan sistem dengan menarik kembali Go-Jek credit yang salah kirim. Celakanya, Go-Jek credit yang dibeli secara sah juga ikut ketarik :))</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_Screen-Shot-2015-07-14-at-9.29.09-PM_1024.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-406" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_Screen-Shot-2015-07-14-at-9.29.09-PM_1024.jpg" alt="thumb_Screen Shot 2015-07-14 at 9.29.09 PM_1024" width="505" height="615" /></a></p>
<p>Cukup fatal memang, dan dampaknya cukup mengganggu buat legal and loyal customers, terutama bagi mereka yang kehilangan Go-Jek credit yang cukup besar nilainya.</p>
<h1>Celah Kemanan</h1>
<p>Setelah insiden bertambahnya Go-Jek credit secara tiba-tiba, gue iseng melakukan QC kecil-kecilan buat mencari tahu apa ada kemungkinan lain yang bisa bikin Go-Jek credit bertambah secara drastis. And I found it <img src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Celah keamanan ini sebenarnya cukup sepele, tapi menyebabkan pengguna bisa mendapatkan Go-Jek credit dengan nilai yang tak terbatas. Berikut ini salah satu pengguna yang berhasil menggunakan celah keamanan di Go-Jek untuk menambah Go-Jek credit. Atas alasan privasi, nama dan profile picture yang bersangkutan terpaksa gue sensor hehehe.</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3781_1024.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-407" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3781_1024.jpg" alt="thumb_IMG_3781_1024" width="640" height="1136" /></a></p>
<p>Celah keamanan ini pastinya bakal sangat merugikan Go-Jek. Bayangkan kalau para driver Go-Jek punya komunitas seperti Prize Hunter, mereka bisa memainkan fraud seperti yang gue sebutkan diatas dengan bantuan sesama driver Go-Jek dan dengan memanfaatkan celah keamanan ini. Go-Jek credit yang bisa di dapatkan tanpa batas ini memungkinkan para Go-Jek driver untuk main &#8220;pickup order-and-finish&#8221; dalam waktu singkat dan dalam sehari mereka bisa dapat jutaan rupiah tanpa harus kemana-mana.</p>
<p>Untungnya saat tulisan ini dibuat, celah keamanan ini sudah diperbaiki, karena kebetulan ada temen yang baru bergabung dengan application development team di Go-Jek yang menanyakan langsung ke gue tentang celah keamanan ini.</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3708_10241.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-411" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3708_10241.jpg" alt="thumb_IMG_3708_1024" width="640" height="1136" /></a></p>
<p>Lalu beberapa hari kemudian muncul lah.. <img src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3784_1024.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-412" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2015/08/thumb_IMG_3784_1024.jpg" alt="thumb_IMG_3784_1024" width="640" height="330" /></a></p>
<p>Dan dengan alasan etika, mohon untuk tidak menanyakan detil celah keamanannya ya <img src="http://s.w.org/images/core/emoji/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> (<strong>update 11-dec-2015</strong>: belakangan gue dapat informasi dari driver GoJek kalo ternyata celah keamanan ini membuat 1400 driver GoJek kena suspend, karena sepertinya banyak yang memanfaatkan celah keamanan ini. Sebagai salah satu yang memanfaatkan celah keamanan ini, gue pribadi minta maaf yang sebesar-besarnya kepada driver GoJek yang pernah gue tumpangi dan kena suspend karena isu ini)</p>
<hr />
<p>Demikian beberapa kelemahan gue yang pernah gue alami dan alhamdulillah sebagian besar kelemahannya sudah diperbaiki. Semoga aplikasi Go-Jek semakin bagus dan stabil juga Customer Support nya semakin handal.</p>
<p>Nemu kelemahan Go-Jek yang lain? Silahkan tulis dikomentar <img src="http://blog.novanadrian.com/wp-includes/images/smilies/simple-smile.png" alt=":)" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/go-jek-fenomena-dan-kelemahannya/">Go-Jek: Fenomena dan Kelemahannya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/go-jek-fenomena-dan-kelemahannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahensi ke Ahensi</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/ahensi-ke-ahensi/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/ahensi-ke-ahensi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2015 02:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Works]]></category>
		<category><![CDATA[advertising]]></category>
		<category><![CDATA[agency]]></category>
		<category><![CDATA[ahensi]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ahensi (begitulah orang-orang agency menyebutnya), tempat kerja pernah gue cap sebagai tempat yang ga akan pernah gue singgahi sebagai tempat kerja gue karena jam kerjanya yang lumayan gila. Kadang ga mengenal jam pulang dengan ritme kerja seperti musik heavy metal. Tapi justru disitulah gue terdampar selama lebih dari 3 tahun, menyesalkah? Adalah masbro Herdiansah ini yang bertanggung jawab&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/ahensi-ke-ahensi/">Ahensi ke Ahensi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ahensi (begitulah orang-orang agency menyebutnya), tempat kerja pernah gue cap sebagai tempat yang ga akan pernah gue singgahi sebagai tempat kerja gue karena jam kerjanya yang lumayan gila. Kadang ga mengenal jam pulang dengan ritme kerja seperti musik heavy metal. Tapi justru disitulah gue terdampar selama lebih dari 3 tahun, menyesalkah?</p>
<p><span id="more-333"></span></p>
<p>Adalah masbro <a title="Herdiansah" href="http://www.herdiansah.com" target="_blank">Herdiansah</a> ini yang bertanggung jawab dalam &#8220;menjerumuskan&#8221; gue ke dunia ahensi, khususnya digital agency. Selama gue jadi <a title="Hidup Sebagai Freelancer" href="http://blog.novanadrian.com/hidup-sebagai-freelancer/">freelancer</a> gue banyak dapet project dari ahensi melalui masbro yang lebih dikenal dengan panggilan mas Ade ini. And I thank him for that.</p>
<p>Gue tergolong baru di dunia ahensi ini, baru mulai nyemplung di ahensi sekitar tahun 2011 setelah 1,5 tahun mencoba peruntungan di dunia Freelance. Beda dengan sebelumnya di software house dimana gue sempat bertahan sampai 5 tahun di satu perusahaan, di ahensi gue hanya bertahan rata-rata 1 tahun di satu perusahaan.</p>
<p>Lalu pertanyaannya adalah apakah benar kerja di ahensi persis seperti yang gue takutkan dulu? Mari kita bahas satu per satu ahensi yang pernah gue singgahi.</p>
<p><strong>Disclaimer:</strong> kondisinya mungkin sudah berubah sejak terakhir gue kerja disitu.</p>
<h2>1. <a href="http://www.toolbardigital.com">Toolbar Digital</a></h2>
<p>Saat gue mulai hopeless dengan dunia freelance mendadak ada panggilan dari perusahaan head hunter untuk interview di perusahaan ini dan alhamdulillah keterima sebagai freelance web developer disini.</p>
<p>Toolbar Digital ini adalah anak perusahaan dari <a href="http://www.pratamagroup.com">Pratama Group</a>, sebuah ahensi yang sudah berumur lebih dari seperempat abad. Lokasi kantornya di Rawamangun dan ada banyak expat dari India disini. Ownernya biasa dipanggil bu Merry. Satu pesan beliau saat one-on-one session yang gue inget banget sampe sekarang, &#8220;Kalo kamu mau sukses, jangan konsumtif!&#8221;. Lalu pulang kantor gue mampir ke Midnight Sale. Maap bu saya anaknya cepat lupa. <img src="http://blog.novanadrian.com/wp-includes/images/smilies/frownie.png" alt=":(" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Pada saat gue bergabung tahun 2011, Toolbar Digital baru berumur sekitar 2 tahun dengan jumlah pegawai sekitar 10 orang. Tim technical nya cuma ada gue doang. Untungnya workload gue masih terhitung normal. Mungkin karena dalam beberapa project, porsi kerjaan untuk web development tidak sebanyak porsi kerjaan yang lain (media dan content). Gue bahkan masih sempat ngerjain project freelance juga. Oh ya, berhubung status gue disini freelance web developer, gue diijinkan untuk ngantor cuma 3 hari dalam seminggu dan gue bebas mengerjakan project freelance baik diluar maupun dalam jam kantor. Dan karena status gue cuma freelancer, gue ga dapat benefit apapun, seperti jaminan kesehatan, jamsostek, bonus, dan lain-lain.</p>
<p>Sebulan kemudian gue ajak mas Ade untuk bergabung, juga sebagai freelancer, karena saat ituToolbar Digital sedang butuh interactive developer. Itulah momen dimana dia akhirnya masuk ke dalam ahensi lagi setelah selama bertahun-tahun diluar ahensi.</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/07/toolbar-team.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-386" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/07/toolbar-team.jpg" alt="toolbar-team" width="800" height="534" /></a></p>
<p>Pengalaman pertama bergabung dengan ahensi ini rasanya asing banget buat gue. Banyak istilah yang ga gue kenal dan suasana kerja yang jauh berbeda dengan kantor gue sebelumnya. Kalo di kantor sebelumnya gue lebih banyak bertemu dengan orang-orang geek yang kurang suka gaul, di ahensi gue justru bertemu dengan banyak orang supel yang gaulnya ga ketulungan dengan sense of humor yang diatas rata-rata.</p>
<p>Untungnya disini gue ketemu dengan banyak orang-orang baik hati yang mau membimbing gue keluar dari kegaringan.</p>
<h2>2. Digital Identity (DId)</h2>
<p>Sekitar bulan Juli 2012, gue dapet panggilan interview lewat Facebook Message yang dikirim melalui LinkedIn. Weird, I know. Setelah proses interview, gue pun bergabung dengan Digital Identity, unit bisnis digital dari <a href="http://fortuneindo.com/">Fortune Indonesia</a>, perusahaan ahensi tertua di Indonesia yang didirikan oleh pak Indra Abidin.</p>
<p>Pada saat gue bergabung, DId baru berumur sekitar 3 tahun dengan jumlah pegawai kurang dari 20 orang. Disini gue mulai paham dengan seluk beluk ahensi. Mulai kenal dengan ahensi-ahensi yang ada di Jakarta, mulai paham bedanya ATL dan BTL, mulai paham dengan struktur organisasinya, mulai ngerti beda role strategic dengan creative, mulai tahu apa sebenarnya yang dikerjain sama orang content, mulai terbiasa disebut technologist ketimbang programmer atau developer, dan lain-lain.</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/07/did-workspace1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-388" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/07/did-workspace1.jpg" alt="did-workspace" width="800" height="600" /></a></p>
<p>Seperti di Toolbar Digital, disini gue juga ga punya team mate. Awalnya workload gue cukup normal, mungkin karena saat gue bergabung fokus DId lebih ke media, berhubung mas Firzi (business director DId, anaknya pak Indra) juga sebelumnya dari unit bisnis media. Seiring pergeseran fokus ke development, pelan-pelan workload gue pun meningkat. Begitu gue kewalahan, sebagian project pun dilempar ke vendor. Dan ada masanya dimana gue akhirnya tumbang terkapar sakit karena ga kuat handle multiple projects sendirian. Untungnya kemudian temen developer seperjuangan di Toolbar Digital, <a href="http://www.ryanriatno.com/">Ryan Riatno</a>, berhasil gue ajak bergabung buat berbagi workload.</p>
<p>Overall, gue cukup hepi kerja disini karena selain lokasi kantor yang cukup dekat dari rumah (cuma 30 menit dari rumah, sekali naik angkot dari Cipedak ke Ragunan), orang-orangnya juga asik, seru dan kompak banget.</p>
<h2>3. <a href="http://www.mirumagency.com/indonesia">Mirum Agency</a></h2>
<p>Mirum Agency sebelumnya dikenal dengan nama XM Gravity (XMG), berganti nama menjadi Mirum sejak awal 2015 lalu. Gue tahu tentang XMG dari teman kerja di DId, konon katanya XMG adalah the best digital agency in town. Dari situ gue mulai banyak baca tentang XMG dengan CEO nya yang sangat inspiratif, <a href="https://id.linkedin.com/in/kevinmintaraga">Kevin Mintaraga</a>. Beruntung gue bisa kenal dengan Kevin sekitar Agustus 2013 saat dia baru mulai merintis <a href="http://www.bridestory.com">Bride Story</a> yang sekarang sudah menjadi leading wedding portal di Indonesia. I adore him since then. Dan ketika dia menawarkan gue untuk kerja di XMG, dengan senang hati gue terima tanpa banyak pertimbangan. Tahu apa itu <em>pertimbangan</em>? Itu nama marga, contohnya <em>Garth Pertimbangan</em>. Oke maap garing.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-385" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/07/xmgravity-workspace.png" alt="xmgravity-workspace" width="520" height="260" /></p>
<p>Pengalaman kerja di XMG sungguh luar biasa buat gue. Disini gue belajar banyak hal dari orang-orang hebat. Standar kerja yang tinggi, semangat kerja yang luar biasa, teamwork yang solid, dan visi yang jauh ke depan adalah beberapa hal berharga yang gue pelajari disini.</p>
<p>Hal yang paling gue suka di XMG adalah XMG mengutamakan employee happiness. Banyak hal dilakukan perusahaan untuk menjaga employee untuk tetap happy, seperti outing sampai keluar negeri, makan siang gratis, nonton bioskop bareng (#XMNobar), XM Award, kebijakan pulang jam 2 siang di hari jumat minggu terakhir (atau dikenal dengan Fast and Fridayous), dan masih banyak lagi. Menurut Kevin, tujuan XMG dari awal didirikan bukan untuk menjadi the best agency, tapi the happiest agency. Dan karena itu di XMG ada sebutan Happy Agents untuk para employee nya.</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/07/xmg-team.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-389" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/07/xmg-team.jpg" alt="xmg-team" width="662" height="504" /></a></p>
<p>Pengalaman bekerja di XMG menjadi bekal yang berharga dan membuat gue cukup berani untuk memulai usaha sendiri. XMG menjadi ahensi terakhir gue sebelum akhirnya mencoba untuk nekad mendirikan perusahaan sendiri. Thanks to papi bos Nanda Ivens dan Kevin untuk dukungannya.</p>
<hr />
<p>So, menyesalkah gue &#8216;terjerumus&#8217; di ahensi? Awalnya gue kira begitu. Lalu gue teringat bagaimana dulu gue berusaha untuk lepas dari &#8216;kurungan&#8217; cubicle yang kaku dan membosankan dengan cara kerja berpindah-pindah meja dan sekali-sekali kerja dari cafe.</p>
<p>Ketika masuk ahensi, gue melihat lingkungan kerjanya sesuai dengan karakter gue yang lebih suka bekerja ditempat yang mendukung kreativitas dan tidak membosankan. Ini yang  membuat gue cepat beradaptasi dan merasa nyaman kerja di ahensi. Di ahensi gue juga belajar yang namanya pekerjaan bisa menjadi ruang bermain yang menantang dan menyenangkan.</p>
<p>Semoga nantinya gue juga bisa membuat perusahaan gue menjadi tempat kerja yang menyenangkan buat tim gue, seperti halnya yang dilakukan <a href="http://www.vishenlakhiani.com/">Vishan Lakhiani</a> dengan <a href="http://www.mindvalley.com">Mind Valley</a> nya.</p>
<p>Aamiin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>* featured image was taken from <a href="https://sherlykarakawa.files.wordpress.com/2015/03/shutterstock_197903273.jpg">here</a></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/ahensi-ke-ahensi/">Ahensi ke Ahensi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/ahensi-ke-ahensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Dekade Tsunami Aceh</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/satu-dekade-tsunami-aceh/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/satu-dekade-tsunami-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2014 11:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hari ini, satu dekade sejak tsunami melumpuhkan daerah Aceh dan sekitarnya, menyisakan luka dan trauma yang mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Saya tidak berada disana saat musibah terjadi, tapi mendengar cerita dari apa yang dialami oleh keluarga dan teman dekat saya cukup membuat saya bisa membayangkan dengan jelas apa yang mereka alami. Ini yang membuat saya merinding saat&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/satu-dekade-tsunami-aceh/">Satu Dekade Tsunami Aceh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, satu dekade sejak tsunami melumpuhkan daerah Aceh dan sekitarnya, menyisakan luka dan trauma yang mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Saya tidak berada disana saat musibah terjadi, tapi mendengar cerita dari apa yang dialami oleh keluarga dan teman dekat saya cukup membuat saya bisa membayangkan dengan jelas apa yang mereka alami. Ini yang membuat saya merinding saat menonton film 2012 sementara sebagian besar orang berpendapat film tersebut biasa saja. Mereka tidak tahu rasanya memiliki ibu yang nyaris diterjang ombak setinggi pohon kelapa.<span id="more-359"></span></p>
<p>Saat itu jam 7 pagi saat salah seorang teman kosan seberang yang kebetulan sama-sama berasal dari Aceh berteriak, &#8220;Cepat lihat Metro TV, Aceh gempa!&#8221;. Spontan saya coba menghubungi keluarga di Banda Aceh, tidak ada yang mengangkat telpon. Belakangan saya tahu kalau saat saya telpon mereka sedang merangkak keluar dari rumah karena dengan gempa berkekuatan 8,5SR bahkan untuk berdiri saja sulit. Dan 30 menit kemudian komunikasi ke Aceh putus total, saya tidak bisa menghubungi siapapun di Banda Aceh. Air dari lautan menyerbu daratan, menutupi hampir seluruh kota Banda Aceh, menyapu bersih apapun yang dilaluinya dan meratakan rumah-rumah dengan tanah.</p>
<p>Setelah komunikasi terputus, saya tidak tahu sama sekali kondisi keluarga di Banda aceh, ada ibu dan abang saya serta istri dan anaknya yang saya tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak. Saya cuma bisa mendapatkan informasi melalui TV. Suasana saat itu memang sangat mencekam, mayat bergelimpangan dimana-mana, jaringan listrik juga mati sehingga suasana menjadi gelap gulita di seluruh Banda Aceh. Bahkan Najwa Shihab yang saat itu masih reporter biasa tak bisa menahan tangis di depan kamera. Baru tiga hari kemudian ibu saya berhasil menelpon ke Jakarta, dari situ saya tahu ibu dan abang saya serta istri dan anaknya selamat dan mereka sedang mengungsi di Medan. Rasa cemas menyelimuti keluarga saya ketika kami belum juga mendapatkan kabar keberadaan kakak dari ayah saya, dia dan suaminya tidak ditemukan disekitar rumah mereka. Dan mereka akhirnya tidak pernah ditemukan.</p>
<p>Tsunami juga membawa pergi salah satu sahabat terbaik saya, teman yang saya kenal sejak kecil. Namanya Fedrian, kami biasa memanggilnya Fred. Dialah orang yang selalu menjadi panutan saya daam banyak hal. Saya banyak meniru caranya berpakaian, menulis, menggambar, dan bahkan jokes nya yang menurut saya lucu.</p>
<div id="attachment_362" style="width: 2261px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/12/fedrian-edi.jpg"><img class="size-full wp-image-362" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/12/fedrian-edi.jpg" alt="Fedrian dan Edi" width="2251" height="2994" /></a><p class="wp-caption-text">Fedrian dan Edi</p></div>
<p>Ini adalah foto Fred (kiri) dan <a href="https://twitter.com/EdisiSpecial">Edi</a> (kanan) pada saat kami mengadakan Tryout UMPTN untuk siswa SMA di Banda Aceh, tepatnya di SMU 3 Banda Aceh. Fred dan Edi adalah seniman grafis yang sama-sama memiliki selera humor yang baik. As you can see.</p>
<p>Tsunami membawa Fred beserta seluruh keluarganya, ayah, ibu, kakek, nenek dan dua adiknya. Kakak tertuanya adalah satu-satunya bagian dari keluarga utama yang tersisa karena kebetulan saat itu yang bersangkutan sudah menetap di Timur Tengah. Menurut kabar dari keluarga dekatnya, hanya jasad kakek dan dua adiknya yang ditemukan.</p>
<p>Saya mengenalnya dari kecil, karena itu saya sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Kehilangannya seperti kehilangan keluarga sendiri. Bahkan 1 dekade masih belum bisa mengobati. Foto dibawah ini untuk mengenangnya. T-Shirt dan celana pendek yang saya pakai adalah satu-satunya &#8220;kenang-kenangan&#8221; dari Fred yang masih saya simpan sampai sekarang.</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/12/fred-legacy.jpg"><img class="aligncenter wp-image-366 size-full" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/12/fred-legacy.jpg" alt="" width="1200" height="1600" /></a>Selamat beristirahat dengan tenang sahabat, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Nya. We always miss you.</p>
<p><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/12/stupak.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-367" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2014/12/stupak.jpg" alt="Stupak" width="492" height="330" /></a></p>
<p><em>Feature image was taken from <a href="http://bebaslepasblog.files.wordpress.com/2014/09/masjid-baiturrahman.jpg">this website</a>.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/satu-dekade-tsunami-aceh/">Satu Dekade Tsunami Aceh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/satu-dekade-tsunami-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Polemik Frontend dan Backend</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/polemik-frontend-dan-backend/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/polemik-frontend-dan-backend/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2014 03:06:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Programming]]></category>
		<category><![CDATA[backend]]></category>
		<category><![CDATA[development]]></category>
		<category><![CDATA[frontend]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bagi yang berkecimpung di dunia web development pasti udah sangat familiar dengan istilah frontend backend. Baik client maupun teammate sering menggunakan istilah ini untuk menjelaskan struktur website. Berdasarkan pengalaman gue, istilah frontend backend ini punya penafsiran yang berbeda-beda setidaknya dari tiga perspektif. Apa aja itu? Persepektif Client Client umumnya hanya bisa memahami suatu website dari apa&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/polemik-frontend-dan-backend/">Polemik Frontend dan Backend</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi yang berkecimpung di dunia web development pasti udah sangat familiar dengan istilah frontend backend. Baik client maupun teammate sering menggunakan istilah ini untuk menjelaskan struktur website. Berdasarkan pengalaman gue, istilah frontend backend ini punya penafsiran yang berbeda-beda setidaknya dari tiga perspektif. Apa aja itu?<span id="more-348"></span></p>
<p><strong>Persepektif Client</strong></p>
<p>Client umumnya hanya bisa memahami suatu website dari apa yang bisa mereka lihat. Bagian yang bisa dilihat ini dibagi dua bagian: bagian yang bisa dilihat oleh semua orang, dan bagian yang hanya bisa dilihat oleh mereka sendiri. Dalam hal ini, bagi client frontend adalah bagian yang bisa dilihat oleh mereka dan user / customer mereka sedangkan backend adalah bagian dimana cuma mereka yang bisa melihatnya, atau lebih sering disebut Admin Page atau CMS.</p>
<p><strong>Perspektif Developer</strong></p>
<p>Karena developer cenderung melihat dari sisi teknisnya, maka bagi developer frontend adalah segala sesuatu yang dapat dilihat oleh user (client dan customernya) atau biasa disebut presentation layer. Disini tempat teknologi HTML, CSS, dan Javascript berkuasa.</p>
<p>Sedangkan backend adalah tempat data yang dikirimkan dari user (frontend) diproses, diolah, dan kemudian disimpan ditempat penyimpanan yang disebut database. Sebagai contoh, proses login membutuhkan user memasukkan username dan password yang kemudian dikirimkan ke backend untuk dicek apakah username dan password benar atau tidak dan memberikan respon balik ke frontend. Teknologi yang digunakan disini ada banyak, ada PHP, Java, Python, Ruby, dan masih banyak lagi.</p>
<p><strong>Perspektif System Architect</strong></p>
<p>System Architect adalah orang technical yang biasa melihat sistem dalam skala yang lebih besar melalui helicopter view. Kalo developer melihat frontend dan backend adalah bagian dari website atau aplikasi, maka dalam skala yang lebih besar System Architect mendefinisikan frontend dan backend sebagai dua sistem yang berbeda.</p>
<p>Dalam hal ini, frontend didefinisikan sebagai user-facing system, atau sistem yang berhubungan atau berinteraksi langsung dengan user. Sedangkan backend adalah sistem yang berinteraksi dengan sistem lainnya.</p>
<p>Sebagai contoh, pada saat kita mengisi pulsa dari internet banking, sistem internet banking akan mengirimkan pesan ke sistem Payment Gateway, dan selanjutnya Payment Gateway ini berkomunikasi dengan sistem topup engine yang ada dalam telco operator untuk melakukan topup pulsa ke nomor handphone user. Dalam kasus ini, internet banking adalah frontend, sedangkan Payment Gateway dan Topup Engine adalah backend.</p>
<p>Itulah 3 perspektif yang umumnya ada dalam website / application development. So, kalo nanti terlibat diskusi yang mengunakan istilah frontend dan backend ini, pastikan dulu perspektif siapa yang digunakan sebelum berargumen biar ga miskomunikasi.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/polemik-frontend-dan-backend/">Polemik Frontend dan Backend</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/polemik-frontend-dan-backend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permasalahan Facebook PHP SDK di CodeIgniter</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/permasalahan-facebook-php-sdk-di-codeigniter/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/permasalahan-facebook-php-sdk-di-codeigniter/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Apr 2013 02:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Programming]]></category>
		<category><![CDATA[codeigniter]]></category>
		<category><![CDATA[facebook-sdk]]></category>
		<category><![CDATA[php]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bagi yang terbiasa menggunakan framework CodeIgniter dan sedang mulai coba bikin Facebook Apps dengan menggunakan Facebook PHP SDK biasanya akan mengalami masalah dengan security system di CodeIgniter. Semoga penjelasan berikut ini bisa membantu yang juga sedang mengalami masalah dengan Facebook PHP SDK + CodeIgniter. CodeIgniter menghapus isi predefined variable $_REQUEST dengan alasan keamanan. Celakanya variable&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/permasalahan-facebook-php-sdk-di-codeigniter/">Permasalahan Facebook PHP SDK di CodeIgniter</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi yang terbiasa menggunakan framework CodeIgniter dan sedang mulai coba bikin Facebook Apps dengan menggunakan Facebook PHP SDK biasanya akan mengalami masalah dengan security system di CodeIgniter. Semoga penjelasan berikut ini bisa membantu yang juga sedang mengalami masalah dengan <a href="https://github.com/facebook/facebook-php-sdk" target="_blank">Facebook PHP SDK</a> + <a href="http://ellislab.com/codeigniter" target="_blank">CodeIgniter</a>.</p>
<p><span id="more-302"></span></p>
<p>CodeIgniter menghapus isi predefined variable <a href="http://php.net/manual/en/reserved.variables.request.php" target="_blank">$_REQUEST</a> dengan alasan keamanan. Celakanya variable tersebut digunakan secara intensif dalam Facebook PHP SDK. Jadi harus dilakukan sedikit tweak supaya Facebook PHP SDK bisa akur dengan CodeIgniter. Catatan, code berikut merupakan potongan class construction dari controller.</p><pre class="crayon-plain-tag">function __construct() {

	    parent::__construct();

		$this-&gt;referer = $this-&gt;input-&gt;server('HTTP_REFERER');

		// Stop cache
	    $this-&gt;output-&gt;set_header("Cache-Control: private, no-store, no-cache, must-revalidate, post-check=0, pre-check=0");
	    $this-&gt;output-&gt;set_header("Pragma: no-cache");

	    // IE Fix
	    if(strpos($this-&gt;agent-&gt;agent_string(), 'MSIE') !== FALSE) {
	        $this-&gt;output-&gt;set_header('p3p: CP="ALL DSP COR PSAa PSDa OUR NOR ONL UNI COM NAV"');
	    }

	    // Repopulate _REQUEST ... Facebook needs it.
	    $request_uri = $_SERVER['REQUEST_URI'];
	    $request_uri = explode('?',$request_uri);
	    if(count($request_uri) &gt; 1) {
	        parse_str($request_uri[1], $_REQUEST);
	    }

        // load Facebook SDK library
        $this-&gt;load-&gt;library('Facebook', array(
            'appId' =&gt; YOUR_APP_ID,
            'secret' =&gt; YOUR_APP_SECRET,
            'fileUpload' =&gt; false,
            'cookie' =&gt; true
        ));

        //get fb user_id
        try {
            $this-&gt;signed_request = $this-&gt;facebook-&gt;getSignedRequest();
            $this-&gt;fb_id = $this-&gt;facebook-&gt;getUser();
	    $me = $this-&gt;facebook-&gt;api('/'.$this-&gt;fb_id);
            $this-&gt;access_token = $this-&gt;facebook-&gt;getAccessToken();
        } catch(FacebookApiException $e) {
            log_message('error', 'Failed getting Facebook ID. '.$e-&gt;getMessage());
        }        		
    }</pre><p>Semoga trik diatas bisa membantu mengatasi permasalahan Facebook PHP SDK + CodeIgniter. Punya hasil yang berbeda? Silahkan tulis di komentar.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/permasalahan-facebook-php-sdk-di-codeigniter/">Permasalahan Facebook PHP SDK di CodeIgniter</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/permasalahan-facebook-php-sdk-di-codeigniter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lesson Learned in 2012</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/lesson-learned-in-2012/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/lesson-learned-in-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Apr 2013 01:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tahun 2012 adalah tahun yang luar biasa buat gue karena di tahun 2012 gue mendapatkan pelajaran berharga tentang hidup. Di penghujung tahun 2011 lalu gue akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi freelancer dan mulai menjalani pekerjaan sebagai&#8230; semi-freelancer. Apa itu semi-freelancer? November 2011 kemarin gue bergabung dengan digital agency di bilangan Rawamangun dengan jam kerja yang&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/lesson-learned-in-2012/">Lesson Learned in 2012</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2012 adalah tahun yang luar biasa buat gue karena di tahun 2012 gue mendapatkan pelajaran berharga tentang hidup.<span id="more-274"></span></p>
<p>Di penghujung tahun 2011 lalu gue akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi <a title="Hidup Sebagai Freelancer" href="http://blog.novanadrian.com/hidup-sebagai-freelancer/">freelancer</a> dan mulai menjalani pekerjaan sebagai&#8230; semi-freelancer. Apa itu semi-freelancer? November 2011 kemarin gue bergabung dengan digital agency di bilangan Rawamangun dengan jam kerja yang tidak full, gue di bolehkan untuk hanya masuk 3 kali seminggu dan juga boleh mengambil project diluar kantor. Secara status sebenarnya masih freelancer tapi juga harus tetep ngantor 3 kali seminggu dan juga punya penghasilan tetap seperti pegawai. Jadi gue sebut aja semi-freelancer lah. Pendapatan tetap yang gue dapet cukup membantu perekonomian rumah tangga gue karena pendapatan gue sebagai freelancer kadang ga menentu, kalo lagi rejeki sebulan bisa dapet banyak, kalo lagi sepi 3 bulan bisa kering.</p>
<p>Bulan Maret 2012 gue dan istri mendapat ujian, <a href="http://dianismarani.wordpress.com/2012/11/19/mola-hidatidosa-dan-penyakit-trofoblas-ganas-part-1/" target="_blank">istri gue mengalami hamil anggur dan harus di kuret</a>. Ini adalah kedua kalinya dia dikuret, dimana sebelumnya pernah dikuret karena janinnya yang baru berumur 6 minggu tidak berkembang. Setelah di kuret untuk kedua kalinya, ternyata <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mola_hidatidosa" target="_blank">sel trofoblas</a> nya terus berkembang menjadi ganas dan harus di kemo. Kata dokter cuma kemo ringan, tapi tetap aja biaya yang dikeluarkan cukup besar. Kalo gue masi full freelancer mungkin gue ga tau harus bayar pake apa.</p>
<p>Istri gue menjalani kemo setiap 3 minggu sekali, dan diawal kemo sempat mengalami dampak kemo seperti panas tinggi, sariawan parah, dan kulit memerah. Kemo itu tugasnya membunuh sel sehingga anti-body nya bereaksi. Untunglah mulai pada kemo ketiga dokter memberikan obat infus yang menghilang efek tersebut. Kebetulan dokter yang menangani istri gue adalah temen dekat om gue, kami pun dibebaskan biaya konsultasi alias gratis. Alhamdulillah dimudahkan.</p>
<p>Kami juga sempat mengalami masalah dengan pembayaran di awal kemo karena pihak asuransi istri gue menolak klaim dengan alasan klaim maternity tidak termasuk dalam tanggungan. Walaupun diagnosa dari dokter menyebutkan adanya kelainan sel dan tidak ada hubungannya dengan kuret (yang digolongkan sebagai maternity) tapi pihak asuransi tetap bersikukuh menolak klaim dan menganggap itu tergolong maternity. Pihak kantor istri gue protes dan juga mengancam untuk tidak melanjutkan kontrak kalo mereka menolak klaim. Pihak asuransi tidak bergeming, jadi mau ga mau biaya rumah sakit harus kami tanggung sendiri.</p>
<p>Gue inget cerita temen gue yang pernah mengalami musibah, dia kecelakaan motor dan kakinya patah sehingga dia harus bed rest selama 3 bulan. Dan selama bed rest dia cuma bisa bermain dengan komputer yang terhubung dengan internet. Dari situ dia mulai belajar tentang internet marketing dan hingga akhirnya dia punya pendapatan ratusan juta per bulan. Beberapa tahun kemudian dia mengalami kecelakaan dan kakinya patah lagi. Tanggapan dia tentang musibah kali ini cukup mind-blowing buat gue, dia bilang &#8220;Kalo abis kecelakaan gini biasanya gue bakal dapet duit banyak lagi nih&#8221;. Baru kali ini gue liat ada orang yang excited pas kena musibah. Ini baru namanya berbaik sangka terhadap ujian yang diberikan Nya. Cerita ini bener-bener menginspirasikan gue untuk melakukan hal yang sama pada hal yang sedang gue alami. Alih-alih pusing dengan permasalahan yang sedang kami alami, gue memilih untuk berasumsi bahwa dibalik ujian ini ada nikmat yang luar biasa yang sedang dipersiapkan untuk kami.</p>
<p>Disinilah gue mulai mengalami hal-hal yang sukar gue anggap sebagai suatu kebetulan. Pada saat tabungan kami mulai menipis, tiba-tiba ada yang ngasih project. Pembayaran project yang tadinya tertunda tiba-tiba turun pada saat gue harus bayar tagihan rumah sakit. Dan yang paling mengharukan buat kami adalah pada saat kemo sudah hampir selesai, tiba-tiba pemilik perusahaan tempat istri gue bekerja memberikan bantuan uang tunai yang cukup untuk melunasi seluruh biaya kemo dari awal sampai selesai. Kejutan tidak berhenti sampai disitu, setelah istri mulai menjalankan kemo terakhir, gue dapat panggilan interview dan diterima bekerja dikantor yang lokasinya sangat dekat dengan rumah dan dengan benefit diatas ekspektasi gue, padahal sebelumnya gue tidak pernah mengajukan lamaran.</p>
<p>Gue speechless. Serentetan kejadian tersebut terasa seperti mukjizat bagi kami. Berbagai kata-kata bijak yang dulunya terdengar klise berputar-putar dikepala gue. Ujian yang baru kami lewati begitu melekat dipikiran gue yang membuat gue selalu merinding setiap kali ngebaca ayat berikut:</p>
<p>&#8220;<i>Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan&#8221;</i> (Q.S. 94: 5-6).</p>
<p>Subhanallah, sederhana dan tak terbantahkan. Dan kini gue bisa merasakan excitement yang sama dengan temen gue setiap kali mendapatkan ujian. Semakin berat ujian yang diberikan, semakin gue exciting, karena gue percaya besar kecil nya ujian berbanding lurus dengan nikmat / rezeki yang akan diberikan Nya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/lesson-learned-in-2012/">Lesson Learned in 2012</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/lesson-learned-in-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apple in My Life</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/apple-in-my-life/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/apple-in-my-life/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 03:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[apple]]></category>
		<category><![CDATA[mac]]></category>
		<category><![CDATA[macbook]]></category>
		<category><![CDATA[osx]]></category>
		<category><![CDATA[pc]]></category>
		<category><![CDATA[windows]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[<p>Gue bukan Apple fanboy dan gue juga tidak membenci PC. Tiga tahun belakangan ini gue hampir tidak pernah menggunakan PC. Baru 3 bulan terakhir gue kembali menggunakan PC untuk membagi fokus kerja. Berhubung tempat gue kerja sekarang memberikan PC, jadi rasanya sayang aja kalo ga dimanfaatkan. Tulisan gue kali ini mengenai pengalaman gue sebagai pengguna&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/apple-in-my-life/">Apple in My Life</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Gue bukan Apple fanboy dan gue juga tidak membenci PC. Tiga tahun belakangan ini gue hampir tidak pernah menggunakan PC. Baru 3 bulan terakhir gue kembali menggunakan PC untuk membagi fokus kerja. Berhubung tempat gue kerja sekarang memberikan PC, jadi rasanya sayang aja kalo ga dimanfaatkan. Tulisan gue kali ini mengenai pengalaman gue sebagai pengguna PC yang beralih ke Mac.<br />
<span id="more-171"></span></p>
<p>Gue mengenal komputer sejak tahun 1990 dan PC pertama gue adalah komputer Acer dengan processor 286 dengan harddisk 60Mb dan memory 128kb. Dan gue udah merasakan transformasi sistem operasi PC mulai dari MS-DOS 3.3 hingga yang terakhir gue gunakan sekarang, Win7.</p>
<p>Sekitar awal tahun 2000-an gue mulai mengenal Apple dari internet dan temen kampus. Produk Apple yang pertama kali gue liat adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/IMac" target="_blank">iMac</a> G3 dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/IBook" target="_blank">iBook</a> G3 (ClamShell) yang bentuknya bulet dan imut itu. Sepintas iMac dan iBook G3 ini keliatan girly banget tapi keliatan lebih keren kalo dibandingin dengan PC dan laptop pada waktu itu. Cuma gue ga tertarik untuk beli karena selain mahal iMac G3 ga gampang untuk di upgrade hardware nya.</p>
<div style="width: 296px" class="wp-caption aligncenter"><img title="iMac G3" alt="" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c0/IMac_Bondi_Blue.jpg" width="296" height="326" /><p class="wp-caption-text">iMac G3</p></div>
<div style="width: 239px" class="wp-caption aligncenter"><img title="iBook G3" alt="" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/e9/Clamshell_iBook_G3.jpg" width="239" height="275" /><p class="wp-caption-text">iBook G3</p></div>
<p>Dari situ gue mulai ngikutin perkembangan Apple. Gue mulai mengagumi produk-produk apple sejak dirilisnya iMac dan iBook dan gue bercita-cita untuk bisa menggunakan produk Apple suatu saat nanti. Pada saat Apple merilis <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/MacBook" target="_blank">Macbook</a>, itu adalah produk Apple terindah yang pernah gue liat. Pada saat produsen lain memproduksi laptop dengan warna hitam, Apple mengeluarkan laptop dengan warna putih yang elegan. Gue sendiri menggunakan laptop Sony Vaio yang diberikan kantor pada waktu itu. Pas lagi jalan-jalan di Ambassador, gue mampir ke Emax (salah satu Apple Store) dan gue ngeliat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Apple_Pro_Keyboard" target="_blank">Apple Pro Keyboard</a> yang seluruh tombolnya berwarna putih. Gue langsung tertarik dan langsung memboyong Apple Pro Keyboard pulang untuk dipasang di PC butut gue.</p>
<div id="attachment_176" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/apple-keyboard.gif"><img class="size-medium wp-image-176" title="Apple Pro Keyboard" alt="" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/apple-keyboard-300x198.gif" width="300" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Apple Pro Keyboard</p></div>
<p>Beberapa bulan kemudian, pada saat sedang gue mengunjungi pameran komputer yang diadakan secara rutin setiap tahunnya di JHCC, gue ngeliat ada stand yang ngejual <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Apple_Mighty_Mouse" target="_blank">Mighty Mouse</a>. Gue langsung jatuh cinta dengan penampilannya. Mighty Mouse adalah mouse yang paling unik yang pernah gue liat karena waktu itu semua mouse memiliki 2 button dan 1 up-down-scroll yang bisa diklik sedangkan Mighty Mouse tidak memiliki button untuk diklik,  tapi digantikan dengan pressure sensor untuk mendeteksi klik dan juga 1 scroll button yang bisa digerakkan 360 derajat. Selain itu, Mighty Mouse punya 2 button &#8220;tersembunyi&#8221; dibagian pinggir yang bisa berfungsi untuk mengaktifkan fitur <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dashboard_(Mac_OS)" target="_blank">Dashboard</a> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Expos%C3%A9_(Mac_OS_X)" target="_blank">Exposé</a>.</p>
<p>Awalnya menggunakan Mighty Mouse butuh penyesuaian, karena selain button yang tidak biasa, Mighty Mouse juga lebih berat daripada mouse pada umumnya. Ini karena Mighty Mouse yang gue gunakan adalah wireless mouse sehingga butuh batre untuk hidup dan beban batre menambah berat Mighty Mouse. Kalo diliat sepintas Mighty Mouse ini mirip sabun mandi.</p>
<div id="attachment_174" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img class="size-medium wp-image-174 " title="Mighty Mouse" alt="" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/Apple-Mighty-Mouse-Specs-300x195.png" width="300" height="195" /><p class="wp-caption-text">Mighty Mouse</p></div>
<div id="attachment_175" style="width: 240px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/sabun-dove.jpg"><img class="size-medium wp-image-175" title="Sabun Mandi" alt="" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/sabun-dove-240x300.jpg" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sabun Mandi</p></div>
<p>Lengkap sudah. Bagi gue, kombinasi Apple Pro Keyboard, Mighty Mouse, dan PC butut gue ini sudah cukup memuaskan hasrat gue untuk memiliki produk Apple. Tapi jujur, kombinasi yang kacau sebenarnya, seperti menikahkan Datuk Maringgih dengan Siti Nurbaya. So wrong, but feels so good. Rasanya seperti baru beli Mac Pro tapi dengan kualitas yang jauh dibawah standard dan, yang lebih absurd lagi, bersistem operasi Linux karena kebetulan waktu itu gue cuma install <a href="http://www.slackware.org/" target="_blank">Slackware</a> di PC gue.</p>
<p>Pada pertengahan 2007, Apple kembali membuat gue amaze dengan iPod Touch nya tapi harganya cukup fantastis ketika pertama kali dirilis. Setelah beberapa bulan sabar nungguin harga turun, baru gue punya cukup uang untuk beli iPod Touch First Generation. Selang beberapa bulan iPod Touch itu gue hibahkan ke <a href="http://www.twitter.com/yuke_corner" target="_blank">salah satu sohib gue</a> sebagai hadiah perkawinannya.</p>
<p>Baru pada pertengahan 2008, berbekal bonus dari kantor akhirnya gue bisa beli sebuah Macbook Unibody, laptop Apple pertama yang menggunakan lapisan aluminium yang membuatnya lebih ringan dibanding Sony Vaio gue waktu itu. Namun beberapa bulan kemudian Apple mengeluarkan revisi dari Macbook Unibody yaitu Macbook Pro menggantikan versi Macbook Pro lama sebelum menggunakan aluminium unibody dan Macbook Unibody langsung dinyatakan diskontinyu. Damn! Macbook Pro baru tersebut bukan cuma serupa dengan Macbook Unibody, tapi juga dilengkapi dengan FireWire dan backlit keyboard. Gue langsung pasang iklan di Kaskus untuk menjual Macbook Unibody gue dan alhamdulillah langsung terjual dalam semalam walaupun gue harus merugi karena harganya jatuh gara-gara rilis terbaru Macbook Pro. Keesokan harinya gue langsung berangkat ke iBox Senayan dan berbekal sedikit pinjaman uang dari temen gue, akhirnya gue bisa ngeboyong Macbook Pro pulang.</p>
<p>Pengalaman pertama bermigrasi ke Mac itu awalnya cukup menyusahkan seperti halnya beralih ke Linux. Banyak aplikasi yang biasa digunakan di Windows tidak ditemukan pengganti yang sepadan atau malah tidak ada penggantinya sama sekali. Tapi sukurnya semua fungsi utama yang gue perlukan untuk menyelesaikan pekerjaan gue tersedia karena dalam proses development gue memang menggunakan tools yang multi-platform seperti Eclipse untuk IDE, Firefox+firebug untuk testing+debugging, dan phpMyAdmin untuk mysql client. Inilah daftar lengkap aplikasi yang gue gunakan di Windows berikut padanannya:</p>
<div>
<table id="wp-table-reloaded-id-1-no-1" class="wp-table-reloaded wp-table-reloaded-id-1">
<thead>
	<tr class="row-1 odd">
		<th class="column-1" style="width:150px;">WINDOWS</th><th class="column-2" style="width:150px;">MAC</th>
	</tr>
</thead>
<tbody>
	<tr class="row-2 even">
		<td class="column-1">Eclipse</td><td class="column-2">Eclipse</td>
	</tr>
	<tr class="row-3 odd">
		<td class="column-1">Notepad++</td><td class="column-2">Text Wrangler</td>
	</tr>
	<tr class="row-4 even">
		<td class="column-1">Microsoft Office</td><td class="column-2">Microsoft Office</td>
	</tr>
	<tr class="row-5 odd">
		<td class="column-1">Adobe CS</td><td class="column-2">Adobe CS</td>
	</tr>
	<tr class="row-6 even">
		<td class="column-1">ThunderBird</td><td class="column-2">ThunderBirt --> Entourage --> Mail</td>
	</tr>
	<tr class="row-7 odd">
		<td class="column-1">Putty</td><td class="column-2">Terminal</td>
	</tr>
	<tr class="row-8 even">
		<td class="column-1">TightVNC</td><td class="column-2">ChickenVNC</td>
	</tr>
	<tr class="row-9 odd">
		<td class="column-1">TortoiseSVN</td><td class="column-2">SCPlugin</td>
	</tr>
	<tr class="row-10 even">
		<td class="column-1">Total Commander</td><td class="column-2">N/A (Finder?)</td>
	</tr>
	<tr class="row-11 odd">
		<td class="column-1">WinSCP</td><td class="column-2">Cyber Duck (and it sucks)</td>
	</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div></div>
<div>Setelah lama sibuk mencari padanan aplikasi, akhirnya gue sadar pada dasarnya beralih ke Windows itu sama saja dengan &#8220;move on&#8221; setelah putus dari pacar. Kita tidak sepantasnya menyamakannya dengan sang &#8220;mantan&#8221;, sebaliknya kita mencoba menerima apa yang bisa diberikannya. Begitu gue mencoba untuk membuka diri terhadap kultur di sistem operasi OS X, gue merasa jauh lebih nyaman dengan berbagai aplikasi sederhana  dengan fitur yang fundamental tapi sangat berguna. Membuat gue semakin sadar bahwa selama ini Windows telah memperumit hidup gue dengan menyediakan fitur-fitur yang sebenarnya ga gue butuhkan. Banyak hal ajaib yang gue temukan dan itu semua sekarang sudah sangat akrab di keseharian gue sehingga membuat gue sering merasa canggung ketika menggunakan PC. Beberapa hal ajaib tersebut digambarkan dengan sempurna oleh <a href="http://sisigelapdianara.tumblr.com/post/15897955289/ajaibnya-macbook-dan-osx" target="_blank">seorang pengguna PC yang &#8220;terpaksa&#8221; menggunakan Mac</a>.</div>
<div><img class="aligncenter size-medium wp-image-219" title="IMG_0003" alt="" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_0003-224x300.jpg" width="224" height="300" /></div>
<p>Itulah laptop yang sampai sekarang ini menemani sepak terjang gue sebagai Freelance Web Developer.  Saat ini bodynya udah ga mulus lagi karena sering diperlakukan semena-mena tapi dia ga pernah menyusahkan. Battery life cycle nya juga udah melebihi 500 dan sudah peringatan untuk mengganti batre. Tapi karena masi mampu bertahan selama kurang lebih 3 jam tanpa charger, gue rasa penggantian batre nya bisa ditunda dulu sampe bener-bener sekarat hehe.</p>
<div id="attachment_177" style="width: 264px" class="wp-caption aligncenter"><img class="size-full wp-image-177" title="Coconut Battery" alt="" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/coconutBattery.png" width="264" height="433" /><p class="wp-caption-text">Coconut Battery</p></div>
<p>Secara performance nya juga masih tetap bisa diandalkan, terutama setelah memory nya di upgrade jadi 8Gb. Hang? Pernah sih, tapi itu juga masih bisa diitung dengan jari tangan gue dan selama kurang lebih 3 tahun ini baru sekali doank mengalami Kernel Panic (atau BSOD dalam Windows). Satu hal yang pasti, menggunakan Mac itu menyehatkan karena selama menggunakan Mac ga pernah ngalamin yang namanya sakit kepala ngurusin virus dan malware.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/apple-in-my-life/">Apple in My Life</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/apple-in-my-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng Lembah Kapuk</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/dongeng-lembah-kapuk/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/dongeng-lembah-kapuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 12:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapuk Valley]]></category>
		<category><![CDATA[depok]]></category>
		<category><![CDATA[gunadarma]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan komputer]]></category>
		<category><![CDATA[kapuk valley]]></category>
		<category><![CDATA[margonda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mungkin banyak dari kalian yang tidak paham dengan apa yang tertuang disini. Dongeng tentang sebuah lembah yang membuat cara komunikasi segelintir orang berubah. Inilah tulisan tentang sebuah lingkungan tempat  gue tumbuh selama satu dekade yang hadir sebagai muara bagi pertanyaan &#8220;Apa itu Kapuk Valley dan apa keistimewaannya?&#8221;. Peringatan: tulisan ini banyak sekali menggunakan istilah-istilah dalam&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/dongeng-lembah-kapuk/">Dongeng Lembah Kapuk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin banyak dari kalian yang tidak paham dengan apa yang tertuang disini. Dongeng tentang sebuah lembah yang membuat cara komunikasi segelintir orang berubah. Inilah tulisan tentang sebuah lingkungan tempat  gue tumbuh selama satu dekade yang hadir sebagai muara bagi pertanyaan &#8220;Apa itu Kapuk Valley dan apa keistimewaannya?&#8221;. Peringatan: tulisan ini banyak sekali menggunakan istilah-istilah dalam jaringan komputer.<br />
<span id="more-157"></span><br />
Bagi yang pernah kuliah di Universitas Gunadarma Depok dan sering ke Kampus D mungkin udah ga asing dengan daerah Kapuk. Pintu masuk nya pun cuma beberapa meter di depan pintu masuk kampus yang konon katanya termasuk World Class University itu. Gue sendiri udah ngekos di daerah kapuk sejak pertama kali kuliah sampai lulus, dan baru keluar dari kapuk setelah akhirnya memutuskan meminang <a href="http://www.detakhujan.com" target="_blank">anak pak Cecep dan ibu Desi yang geulis itu</a>. Gang Kapuk, begitu orang asli situ menyebutnya karena dikenal sebagai daerah yang banyak pedagang kapuknya. Semasa gue ngekos disitu memang banyak tukang kapuk yang berseliweran menawarkan jasa &#8220;isi ulang&#8221; kapuk kasur. Btw, dulu belum ada counter pulsa, bahkan handphone tidak cukup populer waktu itu karena masih termasuk barang mewah, pager hadir sebagai media komunikasi alternatif yang lebih modern ketimbang surat dan telpon rumah. Internet juga termasuk hal baru, cuma ada beberapa warnet yang buka dengan tarif yang cukup mahal sekitar Rp. 12,000,- per jam dengan kecepatan 56Kbps karena kecepatan modem yang paling cepat pada saat itu adalah 56Kbps. Bisa dibayangkan betapa sabarnya orang-orang pada waktu itu. Tidak heran pantatnya pada lebar. Don&#8217;t look at my ass!</p>
<p>Pada pertengahan tahun 1999, gue dan temen kosan gue <a href="http://www.facebook.com/isulaema" target="_blank">Iman Sulaeman</a> terdaftar sebagai mahasiswa Teknik Informatika Gunadarma yang sempat satu kelas di tingkat satu, kami pisah kelas di tingkat dua. Ada hal unik mengenai sohib gue yang satu ini. Pertama, dia punya dua akte lahir, dan sampai sekarang pun ga tau mana yang benar-benar valid. Kedua, entah dapet ide darimana dia mendadak minta dipanggil &#8220;Eqi&#8221;, sebuah nama panggilan yang sama sekali ga ada hubungan dengan nama aslinya. Berhubung gue udah terlanjur terbiasa manggil dia &#8220;Man&#8221; dan gue menghormati keinginannya maka gue panggil dia &#8220;Maneq&#8221;. Kami berdua tertarik dengan jaringan komputer, mata kuliah yang baru kami akan dapatkan di tingkat tiga. Dengan pengetahuan seadanya, dipenghujung tahun 2000 kami berusaha membangun sendiri jaringan komputer dikosan. Hanya berdua. Itu pun cuma untuk main game <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Half-Life:_Opposing_Force" target="_blank">Opposing Force</a>, salah satu expansion pack dari game <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Half-Life_(video_game)" target="_blank">Half-Life</a>. Sebagai informasi, bermain Opposing Force dengan hanya satu lawan di map (lapangan virtual bagi First-Person Shooter (FPS) game) yang besar itu membosankan. Karena besarnya map yang digunakan kadang butuh waktu beberapa menit untuk bisa saling ketemu dan tembak-tembakan. Kadang kalo udah mulai frustasi gue teriak &#8220;Neq! Posisi lo dimana? Gue samperin dah!&#8221;.</p>
<p><img style="vertical-align: middle; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://cdn.steampowered.com/v/gfx/apps/50/0000000157.1920x1080.jpg?t=1270240399" alt="Opposing Force" width="320" height="240" /></p>
<p>Diseberang kami ada sebuah kosan berjudul Pondok Sentosa (Posen) yang terdiri dari kurang lebih 32 kamar dimana 16 kamar diantaranya terhubung dengan jaringan komputer. Dan mereka juga doyan main Opposing Force. Kentara dari suara tembakan yang kami dengar tiap malam. Muncul dipikiran gue kalo aja jaringan komputer kosan gue bisa nyambung dengan mereka sepertinya bakal jadi sesuatu yang seru! Jadilah kami berangkat ke Mangga Dua (pusat komputer terbesar di Jakarta) untuk membeli kabel <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/BNC_connector" target="_blank">BNC</a> sepanjang 50 meter. Kabel BNC ini sebenarnya bukan barang murah, kabel <a href="../../id.wikipedia.org/wiki/Pasangan_berpilin" target="_blank">UTP</a> saat itu juga masih tergolong langka. Kami menghabiskan sebagian besar uang bulanan kami untuk membeli kabel BNC ini. Sebuah investasi yang tidak murah untuk sebuah kepuasan bermain game. Tapi belakangan kami sadar kalo investasi ini jauh lebih berharga dari yang kami kira. Sebagai informasi, jaringan pada saat itu belum menggunakan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ethernet_hub" target="_blank">hub</a> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Network_switch" target="_blank">switch</a> dan hanya menggunakan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bus_network" target="_blank">Topologi Bus</a> untuk menghubungkan antar komputer dimana ujung-ujung dari jaringannya disebut dengan Terminator dan apabila ada komputer baru yang ingin nyambung maka harus dihubungkan dengan salah satu Terminator.</p>
<div style="width: 383px" class="wp-caption aligncenter"><img style="display: block;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a0/BNC_connector.jpg/639px-BNC_connector.jpg" alt="" width="383" height="360" /><p class="wp-caption-text">BNC Connector</p></div>
<div style="width: 480px" class="wp-caption aligncenter"><img style="display: block;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5f/BNC-Technik.jpg/800px-BNC-Technik.jpg" alt="" width="480" height="194" /><p class="wp-caption-text">BNC Tee Connectors with Terminator</p></div>
<p style="text-align: left;">Pemasangan kabel ini juga cukup dramatis, karena selain harus menghadapi maut dengan naik keatap kosan juga disaksikan dengan tatapan curiga oleh induk semang yang khawatir tagihan listriknya tiba-tiba membengkak, ternyata diujung kabel kami harus menghadapi penolakan dari salah satu sesepuh dikosan tersebut. Namun dengan sedikit negosiasi dengan beberapa sesepuh lain dikosan yang bersangkutan akhirnya kami dapat restu untuk menyolokkan kabel kami ke Terminator mereka. Sejak saat itu, setiap kali gue dan Iman mendengar suara tembakan dari kosan sebelah, kami langsung buru-buru ngidupin komputer dan bergabung di medan perang. Saat satu tembakan headshot dari gue berhasil melumpuhkan salah seorang pemain dari kosan tetangga maka teriakan lantang pun terdengar dari kosan seberang menyeruak ditengah bisingnya suara tembakan: NGEPET!</p>
<p>Kebetulan salah satu temen kelas kami ada yang ngekos di Posen, namanya <a href="http://www.facebook.com/ivan.drajatsukma" target="_blank">Ivan Drajatsukma</a> asli Bandung. Kalo main Opposing Force dia suka pake nickname Tatang karena kebiasannya di Opposing Force menggunakan senjata linggis dan memukul-mukulkannya ke dinding sehingga berbunyi &#8220;Tang! Tang! Tang!&#8221;. Kami bertiga adalah mahasiswa yang sedang dalam masa pertumbuhan dan sedang lucu-lucunya waktu itu. Dan yang namanya mahasiswa seringkali dihadapkan dengan hal yang menyebalkan seperti tugas praktikum. Untungnya tugas praktikum ini boleh dikumpulkan dalam file Microsoft Word. Si tatang ini termasuk yang rajin bikin tugas praktikum. Jadi lah setiap H-1 menjelang praktikum gue &#8220;malakin&#8221; tugas praktikum dari dia. Disinilah gue baru ngerasain keuntungan lain dari jaringan kosan ini. Gue ga perlu harus nyamperin kekosan untuk ngopi tugas praktikum. File tugas bisa dikirim lewat jaringan, tinggal kopi ke disket (saat itu flashdisk masih termasuk barang mewah) lalu ke rental komputer terdekat untuk ngeprint. Saat itulah gue mulai bermimpi, gimana kalo misalnya gue bisa ngopi tugas praktikum dari temen kelas yang kosannya terpisah beratus-ratus meter dari gue tanpa harus ke kosannya? Bagi gue, itulah pertama kali nya gue bermimpi tentang sesuatu. Gue belum pernah membayangkan suatu hal begitu kuat sebelumnya. Masa kecil gue penuh dengan mimpi palsu tentang &#8220;Mau jadi apa kalo udah gede nanti?&#8221;.</p>
<p>Lalu teori Law of Attraction seolah berlaku, ketika kita sangat menginginkan sesuatu maka alam bekerja secara ajaib dan misterius untuk mewujudkannya. Selang beberapa hari setelah kosan gue terhubung dengan Posen, <a href="http://www.facebook.com/simple.agie">Agie Triwijaya</a> (Agie) dari kosan Pondok Rakyat (Porak) menghampiri kosan gue untuk minta izin untuk menghubungkan kosan mereka ke kosan gue. Pada titik ini, jaringan kami mengalami evolusi dengan mulai menggunakan Hub namun tetap menggunakan kabel BNC sebagai penghubung antara Hub Posen dan Pinix. Lalu ada kosan Depan Warung (Depwar) yang letaknya disamping kosan gue. Trus ada Wisma Palem (Palem) yang letaknya agak jauhan dikit. Berikutnya, kosan yang dengan penuh perjuangan diajak untuk bergabung adalah kosan khusus wanita bernama Dhanisa. Saat kosan Dhanisa bergabung adalah salah satu momen mengharukan menurut gue. Karena disini nyaris semua, ya nyaris seluruh cowok yang sudah terhubung dengan jaringan ikut bergotong royong bahu-membahu untuk menghubungkan kosan Dhanisa ini. Bahkan kami sempat patungan untuk membelikan kabel BNC sepanjang kurang lebih 100 meter dimana dulu harga BNC sekitar Rp. 6,500,- per meternya. Dengan bergabungnya Dhanisa, maka saat itu total yang bergabung ada kurang lebih 30 orang. Saat Dhanisa bergabung Kapuk Valley mulai mempunyai variasi dimana tidak semuanya menyukai game. Gue dan Maneq mencoba hal baru dengan menghadirkan radio streaming online dengan menggunakan <a href="http://www.shoutcast.com">ShoutCast</a> yang bisa didengarkan melalui <a href="http://www.shoutcast.com">WinAmp</a> dan kami menggunakan nama Radio.Net untuk menyebut radio kami ini.</p>
<p>Pada saat diadakannya buka puasa bersama pertama di Posen tanggal 22 November 2002 atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 1423, tercetuslah ide dari salah satu sesepuh Posen yang dipanggil Peypey (gue ga tau nama asli nya siapa) untuk membentuk kepengurusan yang secara serius mengurus infrastruktur jaringan, maka hari itu secara resmi terbentuklah kepengurusan Kapuk Valley dan gue ditunjuk sebagai ketua nya karena gue yang pertama kali mencetuskan jaringan antar kosan ini. Sebenarnya gue tidak punya pengalaman berorganisasi dan gue tidak punya mental pemimpin, tapi bagi gue ini lah saatnya untuk mencoba belajar menjadi pemimpin. Sebagai langkah awal, gue mulai membentuk struktur kepengurusan. Gue udah lupa struktur awal kepengurusan, yang gue inget adalah Fahziandy (atau biasa dipanggil Paji) sebagai wakil ketua, <a href="http://www.facebook.com/felixbayu" target="_blank">Felix Bayu Ananto</a> (Meong) sebagai koordinator, dan <a href="http://www.facebook.com/ceinando" target="_blank">Ferry Fernando</a> (ceinando) sebagai Network Administrator. Gue belajar banyak dari manusia ceking yang satu ini. He&#8217;s my Shifu. Dialah yang membuat gue terdorong untuk mempelajari jaringan komputer lebih dalam. Uniknya, dia tidak pernah mau memberikan penjelasan lengkap atas pertanyaan-pertanyaan gue. Alih-alih menjawab pertanyaan gue, dia hanya memberi secuil clue dan sisanya gue harus cari sendiri. Sebelum akhirnya cabut dari kosan, beliau mewariskan buku yang dari judulnya aja udah cukup berat menurut gue (berbanding lurus dengan tebal bukunya): &#8220;Network Security&#8221;, sebuah foto kopi dari buku import yang isinya membahas tentang keamanan jaringan komputer pada masa itu. Ceinando akhirnya digantikan oleh <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1235715170" target="_blank">Doni Wijayanto</a>. Sekilas tentang profil admin ini, orangnya super secure. Dia membuat password untuk server yang terdiri dari kurang lebih 16 karakter campuran huruf, angka, dan meta karakter yang bahkan dia sendiri ga apal. Dan setiap kali dia mau login ke server, semua orang yang ada dikamar akan &#8220;diusir&#8221; karena dia harus buka contekan password yang sebenarnya dia simpan dibawah keyboard komputernya.  Oh ya, di dalam struktur kepengurusan ada Divisi RnD yang terdiri atas <a href="http://www.facebook.com/rozan" target="_blank">M. Rozan</a>, <a href="http://www.facebook.com/dodhy.permadi" target="_blank">Dodhy Permadi</a> (c0d0t), dan Gustaman (sebenarnya ada beberapa nama lagi tapi sebagian gue lupa dan sebagiannya udah gue lupakan).</p>
<div id="attachment_136" style="width: 96px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/logo_kaval.jpeg"><img class="size-full wp-image-136 " src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/logo_kaval.jpeg" alt="" width="96" height="96" /></a><p class="wp-caption-text">Logo Kapuk Valley</p></div>
<p>Adalah menjadi tradisi Kapuk Valley apabila ada kosan baru yang ingin terhubung maka Pengurus akan melakukan sosialisasi ke kosan tersebut dengan menjelaskan prosedur pendaftaran dan tata tertib yang berlaku di Kapuk Valley dan setelah mereka menandatangani kesepakatan untuk mematuhi tata tertib tersebut barulah kosan tersebut boleh dihubungkan dengan jaringan Kapuk Valley. Tradisi ini membuat kosan yang baru terhubung dengan Kapuk Valley merasa dekat dan merasa memiliki Kapuk Valley. Ini juga yang membuat mereka mau membaur dengan member yang lain baik secara on-the-LAN (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_wilayah_lokal" target="_blank">Local Area Network</a>) maupun off-the-LAN. Selain itu Kapuk Valley juga mempunyai tradisi mengadakan acara rekreasi tahunan yang disebut dengan Kaval Tour, terutama pada saat libur panjang. Daerah tujuan Kaval Tour pertama adalah pulau Haleuleungan, sebuah pulau yang terletak ditengah laut dekat Tanjung Lesung, Banten. Pulau Haleuleungan bisa dibilang tidak terawat dan bukan untuk tujuan wisata karena sebenarnya pulau tersebut dijadikan perkebunan oleh pemiliknya dan hanya dijaga oleh beberapa orang saja. Setiap bulan puasa Kapuk Valley juga mempunyai tradisi mengadakan acara buka puasa.</p>
<p>Setelah kepengurusan Kapuk Valley terbentuk, Ceinando  mulai menerapkan sistem Domain Controller dengan menggunakan komputer pribadi nya sebagai Domain Server. Awalnya dibentuk domain KAPUK-VALLEY namun akhirnya di revisi dengan menghilangkan dash menjadi KAPUKVALLEY. Setelah Ceinando keluar dari Posen, Kapuk Valley kembali patungan untuk membuat dedicated domain server. Tidak semua komponen dibeli, tapi ada juga yang komponen hasil sumbangan, sehinggga akhirnya jadilah satu buah CPU Pentium III dengan memory 128mb yang di &#8220;paksa&#8221; menjalankan Windows 2000 Server + Domain Controller. Microsoft Exchange juga di install sebagai media komunikasi antar member (Email dan Messenger). Karena menggunakan Microsoft Exchange, maka otomatis Messenger yang digunakan adalah MSN Messenger for Exchange (berbeda dengan versi MSN Messenger untuk internet). MSN Messenger ini bisa dibilang salah satu terobosan dalam jaringan Kapuk Valley karena dilengkapi dengan fitur Voice dan Video Chat dan fitur ini Voice/Video chat ini masih tergolong baru pada saat itu sehingga cukup digemari oleh member Kapuk Valley, apalagi untuk berkomunikasi dengan member dari kosan Dhanisa. Pernah ada kejadian lucu dimana ada anak dari kosan gue sedang voice chat dengan salah satu member dari kosan Dhanisa dengan volume speaker yang bisa kedengaran dalam radius 50m. Sebenarnya ini bukan masalah besar karena memang anak-anak mahasiswa disekitar kapuk memang dikenal suka semena-mena kalo lagi nyetel lagu. Tapi ini menjadi permasalahan karena dilakukan pada jam 11 malem dan yang terdengar adalah suara cewek. Mendadak kosan gue penuh dengan pemuda-pemuda AKamSi (Anak Kampung Sini) yang kasak-kusuk mencari asal muasal suara wanita. Walaupun udah dibilang tidak ada wanita disini tapi mereka tetap tidak percaya. Mereka memeriksa setiap sudut kamar bahkan sampai kamar mandi. Setelah di demonstrasikan voice chat baru lah mereka bubar teratur dengan memalukan sambil meninggalkan sedikit &#8220;wejangan&#8221; yang kedengarannya cuma untuk menutup kemaluan (maksud nya rasa malu) mereka aja. &#8220;Maaf ya mas, kami cuma tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Soalnya sekarang banyak sekali yang nginepin cewek&#8221;. Pada titik ini, Kapuk Valley melanjutkan evolusi nya dengan mulai menggunakan Switch yang jauh lebih pinter daripada Hub. Kapuk Valley juga membeli switch tambahan yang digunakan sebagai switch sentral, yaitu switch yang khusus untuk menghubungkan switch dari kosan-kosan yang terhubung dengan jaringan Kapuk Valley. Switch sentral pertama ini bermerk TP-Link 16 port yang dilengkapi dengan module-slot dan console port.</p>
<p>Bergabungnya kosan Dhanisa seperti magnet, kalau sebelumnya kami membutuhkan waktu setahun untuk membentuk jaringan dengan 5 kosan, namun setelah Dhanisa bergabung hanya dalam kurun waktu satu dua bulan kosan-kosan yang ada disekitar kami mulai menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan jaringan Kapuk Valley. Kosan Wisma Palem yang letaknya agak jauh menyatakan keinginan nya untuk bergabung setelah mendengar ada kosan wanita yang bergabung dalam jaringan. Lalu diikuti dengan kosan Rantau yang letaknya dibelakang kosan Porak. Kosan ini punya member yang jauh lebih banyak dari kosan-kosan lain yang sudah terhubung ke jaringan Kapuk Valley. Sehingga dengan bergabungnya kosan Rantau membuat jumlah member melonjak hampir mencapai seratus orang. Kosan Biru dan kosan Babe yang letaknya diseberang kosan Rantau pun menyusul kosan Rantau untuk bergabung. Kosan Biru menghubungkan kosannya dengan kosan gue sedang kan kosan Babe menghubungkan kosannya dengan kosan Posen. Kosan Wisma Putih yang letaknya persis di depan kosan Biru ga mau ketinggalan, dan ada juga kosan Bara yang letaknya jauh diujung selatan Kapuk yang ikut menghubungkan kosannya dengan kosan gue. Kabel kosan Bara ini sempat dikhawatirkan tidak berhasil terhubung dengan baik karena panjang kabel nya melebihi 100m sementara panjang optimal kabel UTP adalah 100m. Setelah kabel disambungkan ternyata kosan Bara bisa terhubung dengan baik walaupun mengalami sedikit penurunan network response time.</p>
<p>Pada pertengahan 2003, aksi cracking untuk pertama kali menyeruak di jaringan Kapuk Valley. <a href="http://www.facebook.com/angga.hutabarat" target="_blank">Angga Marihotama</a> (Rest In Peace), atau biasa dipanggil Angga, dari kosan Palem membuat heboh jaringan Kapuk Valley dengan aksi nya membobol beberapa komputer, terutama member dari kosan Dhanisa. Aksi angga ini sempat memancing kemarahan member Kapuk Valley yang terkena serangan dan hampir mengarah terjadinya kerusuhan namun akhirnya dapat diselesaikan secara baik-baik. Sisi positifnya dari insiden ini adalah member Kapuk Valley kemudian menjadi lebih sadar akan keamanan komputer nya sendiri dan mereka belajar tentang bagaimana melindungi komputer mereka dari serangan cracker maupun virus walaupun banyak dari mereka yang tidak punya pengetahuan tentang komputer.</p>
<p>Pada pertengahan 2004, Codot berinisiatif membangun server khusus game, yaitu Ragnarok, game yang sempat sangat populer pada saat itu. Seperti hal nya Domain Server, komponen komputer nya juga hasil patungan bersama. Hampir 80% member Kapuk Valley ikutan bermain, termasuk gue. Game ini bahkan membuat kelulusan gue tertunda selama setahun karena skripsi yang ga kelar-kelar. Gue juga coba-coba untuk bikin server Half-Life Dedicated Server di linux box gue berhubung saat itu game <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Counter-Strike" target="_blank">Counter-Strike</a> mulai populer menggeser Opposing Force. Tapi sayang peminatnya kurang karena Dedicated Server susah untuk dikendalikan untuk pindah-pindah map atau mengatur waktu permainan. Tidak selesai sampai disitu, Codot juga membuat File Server berbekal harddisk 128GB (yang tergolong cukup besar waktu itu) yang cukup untuk menampung ratusan file software, mp3, dan puluhan judul film, and yes, termasuk bokep. Entah karena nasib atau karma, beberapa minggu kemudian server tersebut mengalami kerusakan cukup serius sehingga harddisk yang digunakan tidak bisa berfungsi dengan normal. Maka berakhir sudah riwayat File Server Kapuk Valley yang sangat singkat umurnya itu. Gue sendiri, setelah gagal dengan Half-Life dedicated Server, akhirnya menjadikan linux box gue yang spefisikasi hardware nya tergolong minim sebagai Web Server. Dan berbekal web server ini, Codot kembali membuat terobosan baru dengan membuat aplikasi simulasi <a href="http://ugpedia.gunadarma.ac.id/content/12/1845/id/ujian-semester-pendek_mandiri.html" target="_blank">Ujian Mandiri</a>. Web Simulasi Ujian Mandiri ini, yang selanjutnya di beri nama Kaval UM, sangat populer dikalangan member Kapuk Valley terutama yang berstatus mahasiswa Gunadarma. Karena selain mereka dipermudah untuk mempelajari sistem Ujian Mandiri Gunadarma, ternyata soal-soal yang disediakan pada Kaval UM mendekati soal aslinya. Tidak heran, karena memang database yang digunakan adalah database Ujian Mandiri dari Gunadarma itu sendiri berhubung c0d0t adalah salah satu programmer yang ikut membuat aplikasi Ujian Mandiri Gunadarma (pstt, off the record!). Otomatis success rate para peserta Ujian Mandiri member Kapuk Valley melonjak drastis. Kaval UM menyelamatkan dua hal sekaligus, nilai IPK dan kantong mahasiswa. Karena untuk sekali Ujian Mandiri mahasiswa harus merogoh kocek sebesar Rp. 40,000,- per mata kuliah (Ini rate sekitar tahun 2005, sekarang udah lebih mahal). Belum lagi kalo mereka harus mengulang kembali Ujian Mandiri karena gagal mendapatkan nilai yang diinginkan. Kadang mahasiswa bisa menghabiskan Rp. 800,000,- sampai Rp. 2,000,000,- demi membuat IP jongkok menjadi mendekati Cum Laude (sistem akademik Gunadarma membatasi IPK dibawah Cum Laude bagi mahasiswa yang mengambil Ujian Mandiri). Dan pada saat Kapuk Valley sedang membutuhkan wadah untuk berdiskusi, <a href="http://www.facebook.com/rahmada" target="_blank">Riko Rasota Rahmada</a> (Riko) dari kosan Biru menghadirkan Forum Kaval untuk pertama kali nya. Pada saat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Defense_of_the_Ancients" target="_blank">DoTA</a> mulai booming, gue pun berinisiatif untuk membuat BattleNet server menggunakan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/PvPGN" target="_blank">PvPGN</a>, satu-satunya emulator BattleNet yang gue tau waktu itu yang bisa dijalankan dengan mulus di Linux.</p>
<p>Awal tahun 2005, isu tentang sweeping penggunaan Windows bajakan mulai merebak. Kepengurusan Kapuk Valley mulai mempertimbangkan untuk melakukan migrasi ke Linux. Pengurus pun melakukan simulasi penggunaan Linux sebagai pengganti Windows Server yang secara fitur sudah sangat melekat dikeseharian member Kapuk Valley. Domain Controller digantikan oleh <a href="http://www.samba.org" target="_blank">Samba</a>, Active Directory digantikan oleh <a href="http://www.openldap.org/" target="_blank">OpenLDAP</a>. Beban terberatnya adalah menggantikan fitur MSN Messenger for Exchange. Saat itu alternatif terbaik yang didapat adalah dengan menggunakan <a href="http://www.jabber.org" target="_blank">Jabber</a> tapi sayangnya tidak satupun Jabber client pada saat itu yang memiliki fasilitas voice / video chat. Setelah melakukan simulasi selama kurang lebih sebulan, akhirnya Kapuk Valley pun bermigrasi ke Linux. Alhamdulillah proses migrasi berhasil dilakukan nyaris tanpa masalah. Network Administrator pun bertambah satu, <a href="http://www.facebook.com/uji.baskoro" target="_blank">Uji Baskoro</a> (Mboy) hadir untuk membackup Doni. Namun karena kurang menguasai Linux, Doni akhirnya mundur sebagai Network Administrator. Setelah Doni &#8220;resign&#8221;, Kapuk Valley mendapatkan Network Administrator baru bernama <a href="http://www.facebook.com/rabngl" target="_blank">Roy Abu Bakar</a> dari kosan Babe yang kebetulan sangat menguasai Linux. Momen bergabungnya Roy juga cukup unik. Saat itu dia &#8220;tertangkap basah&#8221; sedang mengacak-acak komputer beberapa member Kapuk Valley menggunakan <a href="http://www.metasploit.com/modules/exploit/windows/dcerpc/ms03_026_dcom" target="_blank">DCom exploit</a> yang pada saat itu sedang heboh karena berhasil secara serempak melumpuhkan ribuan server di dunia yang menggunakan Windows. Gue yang kebetulan saat itu sedang menggunakan komputer <a href="http://www.facebook.com/tegrex" target="_blank">S.A Rinaldo</a> (Nando) dari Porak yang sedang disusupi oleh Roy melihat satu per satu folder hilang. Lewat linux box yang khusus gue gunakan untuk ngoprek, gue coba exploit balik ke komputer nya Roy yang ternyata belum di patch. Gue pun &#8220;menyita&#8221; dcom exploit dari komputer Roy berikut hasil scan KTP Roy sebagai barang bukti. Setelah proses &#8220;penangkapan&#8221;, gue dan beberapa temen gue nyamperin Roy di kosannya dan dari ngobrol-ngobrol singkat kami sepakat untuk menawarkan Roy menjadi Network Administrator Kapuk Valley. Roy pun menerima tawaran itu. Bergabungnya Roy menjadi Network Administrator membawa kemajuan besar bagi server Kapuk Valley. Roy menerapkan system security yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh pengurus. Seperti penerapan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Intrusion_Detection_System" target="_blank">IDS (Intrusion Detection System)</a> yang secara otomatis melakukan pemblokiran terhadap <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alamat_IP" target="_blank">IP Address</a> yang terindikasi berusaha melakukan penyerangan ke server dan mengunci penggunaan IP Address dengan mencocokkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/MAC_address" target="_blank">MAC Address</a> nya sehingga satu IP Address hanya bisa digunakan oleh satu komputer saja demi menghindari penyalahgunaan IP Address untuk melakukan kegiatan yang tidak diizinkan seperti cracking atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spoofing_attack" target="_blank">spoofing</a>.</p>
<p>Selang dua tahun setelah File Server tewas, pada tahun 2006 gue mulai menggerakkan member Kapuk Valley untuk menghidupkan kembali File Server. Berdasarkan polling sederhana yang gue lakukan, sebagian besar member Kapuk Valley bersedia untuk menyumbang Rp. 50,000,- untuk menghidupkan kembali File Server. Setelah uang terkumpul, gue dan teman-teman pengurus membeli beberapa komponen komputer termasuk harddisk 500GB yang waktu itu harga nya cukup mahal (diatas satu juta rupiah). Demi menjaga moral bersama, kali ini File Server tidak diisi dengan bokep karena mengingat saat itu member wanita Kapuk Valley makin banyak dan juga sudah mulai ada dari warga sekitar yang bergabung dalam jaringan Kapuk Valley. Sharing bokep pun dilakukan pada masing-masing komputer member baik secara bebas, private, sesuai permintaan atau khusus cowok.</p>
<p>Begitu banyaknya fasilitas umum yang tersedia di jaringan Kapuk Valley membuat pertumbuhan member Kapuk Valley meningkat rata-rata 100 sampai 150 orang pertahunnya hingga akhirnya member Kapuk Valley mencapai lebih dari 1000 orang dengan 82 kosan yang terhubung pada tahun 2006/2007 yang mana merupakan tahun keemasan bagi Kapuk Valley. Pengurus Kapuk Valley sempat kewalahan menerima pendaftaran member baru yang begitu membludak.Hal yang paling seru adalah ketika banyak member Kapuk Valley membagikan file-file berupa film, software, gambar, source code, tugas kuliah, dan lain-lain yang umumnya sulit didapatkan secara bebas dengan menggunakan fitur Network Sharing. Ini juga diakui oleh beberapa pengunjung setia jaringan Kapuk Valley (biasanya teman kosan member yang tidak ngekos di Kapuk) yang rajin bolak-balik ke Kapuk Valley hanya untuk mendapatkan update film, mp3, atau software terbaru.</p>
<div id="attachment_129" style="width: 304px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/kapukvalley_network_2009_s.pdf"><img class="size-full wp-image-129 " title="Kapukvalley Network Map &amp; Structure (2009)" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/map_t.png" alt="Kapukvalley Network Map &amp; Structure (2009)" width="304" height="111" /></a><p class="wp-caption-text">Kapukvalley Network Map &amp; Structure (2009)</p></div>
<p>Tidak hanya berbagi secara on-the-LAN, Kapuk Valley juga sempat secara rutin menggelar workshop bertemakan Computer Network Fundamental yang tujuan memberikan pengetahuan mendasar tentang jaringan komputer pada member Kapuk Valley sehingga setiap member Kapuk Valley mempunyai kemampuan untuk menjaga infrastruktur jaringan yang ada di kosannya sendiri maupun infrastruktur Kapuk Valley. Pada workshop tersebut member diajarkan tentang <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Topologi_jaringan" target="_blank">topology jaringan</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alamat_IP" target="_blank">IP Address</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Subnet_mask" target="_blank">subnet mask</a>, cara membuat kabel <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:UTP-Straight.png" target="_blank">straight</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ethernet_crossover_cable" target="_blank">crossover</a>, cara memperbaiki jaringan yang rusak/putus, cara melindungi komputer dari serangan cracker, dan lain-lain. Dalam penyebaran koneksinya, Kapuk Valley seringkali mendapat pertentangan dari induk semang kosan. Mulai dari yang khawatir dengan tagihan listrik yang membengkak sampai ada yang tanpa alasan memotong kabel jaringan yang menghubungkan antar kosan. Selain itu, Kapuk Valley juga harus menghadapi ancaman petir setiap tahun nya dimana dalam sekali dentuman beberapa switch/hub bisa &#8220;tewas&#8221; seketika. Hal terburuk yang pernah terjadi adalah ketika Kapuk Valley harus mengganti 12 switch sentral sekaligus yang rusak karena petir. Ini adalah pengeluaran yang sangat besar bagi Kapuk Valley yang pendapatannya hanya mengandalkan biaya registrasi member sementara saat itu tidak ada iuran rutin. Dalam kondisi-kondisi seperti itulah pengetahuan yang diajarkan pada saat workshop menjadi berguna. Member mampu secara persuasif menjelaskan ke induk semangnya masing-masing tentang jaringan komputer terutama tentang berapa banyak listrik yang dikonsumsi oleh jaringan komputer (yang mana sebenarnya sangat kecil sekali) sehingga keberadaan jaringan komputer dapat diterima oleh induk semang dan juga secara swadaya, tanpa bantuan pengurus, member dapat memperbaiki kabel jaringan yang putus atau rusak baik karena faktor alam maupun karena unsur kesengajaan.</p>
<p>Setelah beberapa tahun menjadi pengurus Kapuk Valley, gue mulai merasa sulit membagi waktu antara Kapuk Valley dan pekerjaan kantor. Seringkali gue harus menginap dikantor dan tidak terlalu mengikuti perkembangan Kapuk Valley. Alasan tersebut mendorong gue untuk mengadakan rotasi kepengurusan karena bagi gue kepengurusan yang berumur lebih dari dua tahun itu ga sehat. Kapuk Valley pun mengadakan pemilu yang pertama pada tahun 2006 dan ternyata lagi-lagi gue yang terpilih jadi ketua. Nasib. Baru setelah tahun 2008 hasil pemilu &#8220;membebaskan&#8221; gue dari kepengurusan Kapuk Valley dengan terpilihnya <a href="http://www.facebook.com/handsen.ham" target="_blank">Handsen</a> (Ham) sebagai ketua yang baru menggantikan gue. Oh ya, pada saat pemilu Kapuk Valley juga melakukan sensus untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan account dengan cara membuka pendaftaran ulang. Member yang tidak melakukan daftar ulang dianggap non-aktif karena kebijakan Kapuk Valley membolehkan orang yang sudah tidak berdomisili di Kapuk untuk kembali menggunakan account tersebut apabila suatu saat orang tersebut kembali berdomisili di Kapuk.</p>
<p>Gue memang udah ga berdomisili di Kapuk lagi, dan juga udah ga ngikutin lagi perkembangan Kapuk Valley. Tapi bagi gue, Kapuk Valley adalah hal yang luarbiasa yang pernah terjadi dalam hidup gue yang membuat gue sangat mensyukuri setiap detik yang pernah gue lalui ketika masih menjadi member aktif di Kapuk Valley. Bukan hanya sebagai lingkungan, tapi Kapuk Valley udah menjadi &#8220;orang tua kedua&#8221; gue yang mendidik dan membesarkan gue hingga gue bisa seperti sekarang ini dengan mempertemukan gue dengan orang-orang hebat seperti Ceinando, Doni, Rozan, Meong, Roy, Mboy, Yoga, dan masih banyak lagi yang ga bisa gue sebutin satu persatu disini. Gue bisa bilang, tanpa Kapuk Valley gue mungkin tidak pernah bisa memiliki apa yang gue miliki sekarang. Dan gue percaya, bukan cuma gue yang berpikir demikian karena dalam satu dekade terakhir keberadaaan Kapuk Valley sudah memberikan manfaat yang besar tidak hanya bagi member Kapuk Valley tapi juga orang-orang yang pernah berkunjung ke lingkungan Kapuk Valley. Alasan gue membuat tulisan ini adalah agar setiap orang, baik yang masih mapun yang sudah tidak berdomisili di Kapuk Valley dapat menghargai dan bersukur atas apa yang mereka bisa atau pernah dapatkan di Kapuk Valley karena gue melihat kecenderungan Kapuk Valley dipenuhi oleh orang-orang bergabung dengan alasan games dan internet tanpa (mau) tau bagaimana perihnya orang-orang sebelum mereka membangun Kapuk Valley hingga bisa mereka nikmati seperti sekarang ini dan mereka-mereka itulah yang akhirnya menjadikan Kapuk Valley sebagai &#8220;warnet pribadinya&#8221; tanpa pernah menghargai dan menghormati keberadaan Kapuk Valley itu sendiri.</p>
<p>Semoga tulisan ini bisa membuka pikiran bagi kalian yang mempunyai hubungan dengan Kapuk Valley, baik itu member aktif, alumni, maupun sekedar pengunjung aja dan semoga Kapuk Valley tetap bertahan sampai kapanpun. Amin.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/dongeng-lembah-kapuk/">Dongeng Lembah Kapuk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/dongeng-lembah-kapuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Sebagai Freelancer</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/hidup-sebagai-freelancer/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/hidup-sebagai-freelancer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 03:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Works]]></category>
		<category><![CDATA[cost]]></category>
		<category><![CDATA[developer]]></category>
		<category><![CDATA[freelance]]></category>
		<category><![CDATA[programmer]]></category>
		<category><![CDATA[project]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mengapa Freelance? Apa yang salah dengan menjadi pegawai yang setiap bulan terima gaji walaupun sedang tidak ada kerjaan? Entah bagaimana dengan Freelancer yang lain, cuma gw sempat merasa konyol menjadi pegawai sewaktu menerima side job yang cuma butuh waktu dua minggu tapi fee nya hampir sama dengan gaji sebulan. Jangan salah, diawal karir menjadi pegawai&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/hidup-sebagai-freelancer/">Hidup Sebagai Freelancer</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Mengapa Freelance? Apa yang salah dengan menjadi pegawai yang setiap bulan terima gaji walaupun sedang tidak ada kerjaan? Entah bagaimana dengan Freelancer yang lain, cuma gw sempat merasa konyol menjadi pegawai sewaktu menerima side job yang cuma butuh waktu dua minggu tapi fee nya hampir sama dengan gaji sebulan.</p>
<p>Jangan salah, diawal karir menjadi pegawai gw pernah berada di posisi dimana gw lebih mementingkan pengetahuan dan pengalaman, uang bukan masalah. Tapi sekarang bagi gw ada yang jauh lebih penting dan berharga dari pengetahuan dan pengalaman. Uang? Bukan, tapi KEBEBASAN. Freelance bisa memberikan kebebasan yang tidak bisa didapatkan pada saat menjadi pegawai. Freelance tidak mengenal tempat dan waktu kerja. There&#8217;s no nine-to-six, there&#8217;s no cubicle. Tidak ada batasan. Bisa kerja jam 8 pagi sambil tiduran dikasur atau jam 4 sore sambil nikmatin latté vanilla hangat di salah satu sudut café.</p>
<p>Tapi apakah menjadi Freelancer selalu seindah itu? Tidak juga, setidaknya ada beberapa hal yang HARUS diperhatikan untuk menjadi Freelancer.</p>
<p><span id="more-45"></span></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-94" title="" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/uploads/2012/01/36-freelancing-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p>Sejak gw memutuskan menjadi Freelancer Maret 2009 silam, tidak ada satupun dari keluarga yang setuju, termasuk mantan pacar gw dulu (yang mana sekarang udah jadi <a href="http://dianismarani.wordpress.com" target="_blank">Istri</a>), tapi dia dengan sangat bijaksana mendukung keputusan gw dan siap dengan segala resikonya. Dan berdasarkan pengalaman (well, belajar dari kesalahan untuk lebih tepatnya) selama menjadi Freelancer selama kurang lebih 1 tahun 9 bulan (sampai tulisan ini dibuat), inilah hal-hal yang menurut gw perlu diperhatikan pada saat memutuskan menjadi Freelancer.</p>
<p><strong>Self Marketing</strong></p>
<p>Perlu dicatat, Freelancer BUKAN Entrepreneur. Freelancer adalah self-employement dimana artinya kita bekerja untuk diri kita sendiri. Berbeda dengan Entrepreneur yang mempekerjakan orang lain untuk usahanya. Namun seperti halnya entrepreneur, Freelancer juga memerlukan marketing, cuma bedanya yang dipasarkan adalah diri kita sendiri.</p>
<p>Pada saat memulai menjadi Freelancer, kita harus belajar untuk mempromosikan diri kita. Bisa ke temen, relasi, mantan klien, atau keluarga sekalipun. Kirimi mereka email atau SMS yang isi nya kira-kira menyebutkan &#8220;Hei, gw baru resign nih, mau nekat jadi freelancer. Kalo ada project, feel free untuk contact gw ya. Harga bisa cincai lah, sesuai kualitas. Dan yang jelas lo pasti kecipratan deh. Jangan lupa lho!&#8221;. Ya silahkan dibahasakan dengan baik untuk masing-masing recipient.</p>
<p><strong>Saving</strong></p>
<p>Nah, ini penting nih. Tanpa ini menjadi Freelancer akan menjadi jalan pintas untuk bunuh diri. Karena Freelancer yang baru terjun seringkali mengalami masa-masa sepi orderan atau kadangkala ada project yang harusnya selesai dalam sebulan tapi molor berbulan-bulan. Saving alias tabungan adalah salah satu penyangga keuangan (<em>buffer</em>) pada masa-masa sulit pada saat menjadi Freelancer.</p>
<p>Tambahan, pada saat menghitung nilai suatu project, penting untuk memasukkan nilai tambahan yang bisa menjadi <em>buffer</em> untuk berjaga-jaga kalau projectnya molor. Nilai nya juga bisa berbeda-beda untuk tiap project. Rumus nya kira-kira begini:</p>
<p><em>Buffer</em> = Biaya Hidup Sebulan x 0.75 x Prediksi Lama Molor</p>
<p>Misalkan jadwal pengerjaan 1 bulan dan prediksi molor nya 3 bulan. Kalau biaya hidup sebulan adalah 2 juta, maka <em>Buffer</em> = 2,000,000 x 0.75 x 3 = Rp. 4,500,000,-</p>
<p>Bagaimana memprediksikan suatu project akan molor atau tidak? Ini tergantung jam terbang. Semakin sering handle project, semakin sering ketemu dengan berbagai tipe klien, semakin mudah memprediksikan suatu project bakal molor atau tidak. Misalnya begini, ada klien, salah satu mall terkemuka, minta dibuatkan official website dimana isinya informasi tentang tenant-tenant yang ada di mall tersebut (store info, product info, promo / sale, etc). Misalkan dia punya 100 tenant dan untuk mengumpulkan data dari 1 tenant saja membutuhkan waktu 1 hari (biasanya tenant belum tentu bisa menyediakan data yang dibutuhkan dalam 1 hari), maka butuh waktu 100 hari (3 bulan 10 hari) untuk mengumpulkan data dari semua tenant. Dan biasanya klien jenis ini minta project kelar dalam sebulan.</p>
<p><strong>Incoming Project</strong></p>
<p>Bisa dibilang ini adalah jaminan untuk resign. Setidaknya setelah resign udah langsung ada pendapatan dan kerjaan biar dapur tetap bisa ngebul. Boleh aja ga ada project asal tabungan cukup. Jadi selama nyari project ga perlu khawatir besok mau makan apa. Lebih bagus lagi kalo punya project chaining, yaitu rangkaian project baik yang siap jalan maupun masih menjadi prospek dan dimasukkan dalam Freelance Project Timeline.</p>
<p>Demikian beberapa hal yang menurut gw perlu diperhatikan pada saat memutuskan untuk menjadi Freelance. Kalo ada komentar, tambahan, masukan atau pertanyaan silahkan disebutkan lewat komen atau email.</p>
<p>Semoga bermanfaat. Semangat!</p>
<div></div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/hidup-sebagai-freelancer/">Hidup Sebagai Freelancer</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/hidup-sebagai-freelancer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My new roommate</title>
		<link>http://blog.novanadrian.com/my-new-roommate/</link>
		<comments>http://blog.novanadrian.com/my-new-roommate/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 09:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Novan Adrian]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.novanadrian.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[<p>Beberapa bulan yang lalu temen gw, Rere, menitipkan seekor kucing betina piaraannya ke gw, berhubung dia udah ga bisa lagi memelihara kucing tersebut di kosan nya. Namanya Dede. Umurnya baru beberapa bulan sewaktu dititipkan ke gw. Bulunya agak lebat dan halus mirip anggora, berwarna putih dari kepala sampe ekor. Ada bonus dua buletan abu-abu dia&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/my-new-roommate/">My new roommate</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan yang lalu temen gw, <span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.facebook.com/Rere.dian.pebriana">Rere</a></span>, menitipkan seekor kucing betina piaraannya ke gw, berhubung dia udah ga bisa lagi memelihara kucing tersebut di kosan nya. Namanya Dede. Umurnya baru beberapa bulan sewaktu dititipkan ke gw. Bulunya agak lebat dan halus mirip anggora, berwarna putih dari kepala sampe ekor. Ada bonus dua buletan abu-abu dia kepala, mirip tanda  dahi orang yang rajin sholat, sehingga muncul rumor Dede rajin sholat [-_-]&#8217;</p>
<p><span id="more-42"></span></p>
<div id="attachment_56" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_362_small.jpg"><img class="size-medium wp-image-56" title="Dede" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_362_small-300x225.jpg" alt="Juragan Dede" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Juragan Dede</p></div>
<p>Sebenarnya Dede tidak bernasib lebih baik dengan kepindahannya ke kosan gw karena gw masuk kerja pagi dan pulang malam mulai dari Senin sampe Jumat. Jadi gw cuma punya waktu malam hari dan weekend untuk ngurusin Dede. Untuk urusan makanan Dede tergolong bawel. Setiap gw pulang kantor dia udah nongkrongin pintu kamar gw. Kadang baru beberapa langkah sebelum gw mencapai pintu dia udah muncul seolah hapal dengan bunyi sepatu gw. Atau paling telat pas gw mulai masukin kunci ke pintu, bunyi gemerincing gantungan kunci kamar gw bikin dia datang tergopoh-gopoh sambil mengeong. Sekalinya nongol di depan gw, dia bakal mengeong konstan sampe gw nuangin whiskas di tempat makannya. Kadang ngeong nya kedengaran setengah berteriak sambil tengadah ke arah lemari tempat gw naro whiskas, seolah nunjukin kalo dia udah mulai kesel karena gw cuekin. Dede kadang suka laper pagi-pagi, jam 7 dia udah ngeong-ngeong di depan kamar gw. Kalo gw ga buka pintu dia bisa tambah kenceng ngeongnya, persis rentenir lagi nagih utang. Untungnya Dede jarang laper pagi.</p>
<p>Di kosan gw ada beberapa kucing liar jantan dan dua ekor kucing jantan piaraan anak kosan. Jarang ada kucing betina di sekitar kosan gw. Sejauh yang gw pernah liat cuma ada satu kucing liar betina, warnanya item dengan totol-totol kuning dan putih, perawakannya kurus dan kucel. Jelas tidak sebanding dengan Dede. Persaingan yang tidak sehat ini membuat Dede begitu &#8216;laris&#8217; dikalangan para pejantan, seperti Cathy Sharon diantara penyamun. Kalo lagi musim kawin, para pejantan pada pedekate secara bergantian. Suara pemikat betina yang mereka keluarkan bikin gw eneg, rasanya pengen nimpukin para kucing jantan pake sendal kayu yang dipake buat ngambil wudhu di musholla yang ada di gedung-gedung mall ato perkantoran. Sampai akhirnya terdengar raungan miris penderitaan (campur kenikmatan?) dari Dede ketika salah satu dari para bajingan itu berhasil menggagahi Dede. Dan beberapa minggu kemudian Dede pun melenggang di depan kamar gw dengan perut yang membesar.</p>
<p>Menjelang kelahiran buah hati nya Dede mulai melakukan inspeksi pada sudut-sudut kamar gw, berusaha menemukan posisi yang pas untuk bersalin, dan gw pun siap dengan kalkulasi biaya penginapan dan persalinan untuk diserahkan ke Dede (yeah, dia akan rela ngebayar dengan ASI nya. Yaiks!). Setelah beberapa menit ngendus sana sini, seperti nya pilihan jatuh pada lemari pakaian gw dimana bagian bawah nya berisi pakaian-pakaian usang yang bertumpuk sehingga Dede yakin dia bisa bersalin disitu dengan nyaman. Ok, noted. Selepas Dede keluar dari kamar, gw bongkar lemari gw dan mulai menyelamatkan pakaian-pakaian yang masi bisa dipakai dan naro pakaian-pakaian yang udah bener-bener ga kepake buat alas Dede bersalin nantinya.</p>
<div style="width: 320px" class="wp-caption alignnone"><img class=" " title="Proses Kelahiran ketiga" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMG_0041_small.jpg" alt="IMG_0041_small.jpg" width="320" height="426" /><p class="wp-caption-text">Proses Kelahiran ketiga</p></div>
<p>Keesokan siangnya ketika gw udah siap-siap untuk berangkat ke rumah temen gw tiba-tiba Dede ngeloyor masuk kamar dan langsung menuju pojok lemari yang udah gw siapin. Sesaat kemudian Dede mulai mengeong-ngeong ga jelas. Bolak balik keluar masuk lemari. Berbaring dilantai sebentar, trus masuk ke lemari lagi. Tiba-tiba dia mengeong keras, dan sebuah daging merah keluar dari (maap) anus nya. Gw shock, ternyata itu bukan kepala, tapi pantat! Anak si Dede lahir sungsang! Pada erangan berikutnya Dede akhirnya berhasil mengeluarkan bayi pertamanya. Dan dia pun sibuk menjilat si bayi sambil menggigit ari-ari nya.</p>
<p>Gw ga bisa ngikutin proses persalinan sampai tuntas karena gw musti cabut ke tempat temen jadi gw tinggalin Dede dengan anaknya dan jendela kamar sengaja gw biarin terbuka biar Dede bebas keluar masuk kamar. Sekembalinya gw keesokan hari nya, Dede udah ngejoprak dengan empat bayi baru nya yang lucu-lucu dan mereka semua nya berbulu putih. Congratulation Dede!</p>
<p>Btw, sejauh ini Dede udah tiga kali melahirkan. Kelahiran pertama dua ekor, satu putih satu nya abu-abu, dan dua-dua nya hilang entah kemana. Kelahiran kedua juga dua ekor, satu putih satu abu-abu coklat, kali ini yang abu-abu coklat menghilang. Konon ada anak kecil yang ngebawa kabur, tinggal lah satu anak Dede yang tersisa dari kelahiran sebelumnya. Jadi total anak Dede sekarang ada lima ekor, dan kelimanya berbulu putih. Sungguh sangat tidak kreatif! &gt;.&lt;</p>
<div style="width: 480px" class="wp-caption alignnone"><img class=" " title="Anak dari kelahiran pertama" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_352_small.jpg" alt="IMAGE_352_small.jpg" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Anak dari kelahiran pertama</p></div>
<div style="width: 480px" class="wp-caption alignnone"><img class=" " title="Anak dari kelahiran kedua" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_005_small.jpg" alt="IMAGE_005_small.jpg" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Anak dari kelahiran kedua</p></div>
<div id="attachment_53" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_024_small.jpg"><img class="size-medium wp-image-53 " title="Dudu" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_024_small-300x225.jpg" alt="Anak yang hilang" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Dudu, Anak yang hilang</p></div>
<div id="attachment_54" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><a href="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_025_small.jpg"><img class="size-medium wp-image-54" title="Didi" src="http://blog.novanadrian.com/wp-content/files/2010/04/IMAGE_025_small-300x225.jpg" alt="Didi" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Didi, Anak Dede yang tersisa</p></div>
<p><img src="file:///Users/novan/Pictures/Dede/IMAGE_024.jpg" alt="" /></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com/my-new-roommate/">My new roommate</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="http://blog.novanadrian.com">DigitalMind</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.novanadrian.com/my-new-roommate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
