<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 02:44:10 +0000</lastBuildDate><category>Sosial Budaya</category><category>Kata Tanpa Batas</category><category>Sajak</category><category>Ekonomi</category><category>Tokoh</category><category>Spiritualisme</category><category>Arts</category><category>Internet</category><title>Padhang Wengi</title><description>Jadilah cahaya ditengah kegelapan</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Maniaks)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Jadilah cahaya ditengah kegelapan</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5241077899858340965</guid><pubDate>Thu, 09 Jul 2015 21:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-07-10T04:28:19.482+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Internet</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Spiritualisme</category><title>Al Qur'an Online</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbfsQiNV6g_PbFyPxGgQ6C0ZvbzcoMBrj7aM1iKgs0si6OtrnbRzH3Yc3ZmpC4Kx-dNboDaLPhsY97t6keHJ9ucpsS5NXDO4gl0u5XmdHOLFErvdbGtpaKLDmjVLmfWfiran6fK7cbDp0/s1600/masudrana49_1428352999_2-sss.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="177" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbfsQiNV6g_PbFyPxGgQ6C0ZvbzcoMBrj7aM1iKgs0si6OtrnbRzH3Yc3ZmpC4Kx-dNboDaLPhsY97t6keHJ9ucpsS5NXDO4gl0u5XmdHOLFErvdbGtpaKLDmjVLmfWfiran6fK7cbDp0/s400/masudrana49_1428352999_2-sss.jpeg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur'an (ejaan KBBI: Alquran, Arab: القرآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia dan bagian dari rukun iman yang disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui perantaraan Malaikat Jibril; dan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-'Alaq ayat 1-5. (Wikipedia)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bulan ramadan 1436 H ini, ada baiknya kita memperbanyak ibadah, termasuk membaca Al Qur'an. Semakin berkembangnya teknologi, kadang kita terlalu sering 'bermesraan' dengan gadget-gadget terbaru dengan sedikit sekali membuka atau membaca Al-Qur'an. Atas dasar itu pula, penulis mempunyai proyek pribadi dengan membuat Al Qur'an Online yang dapat diakses oleh pengguna secara online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Qur'an Online ini sebenarnya merupakan blog yang didesain agar memudahkan pembaca untuk membaca Al Qur'an dari perangkat apa saja (browser atau smartphone) karena mempunyai desain yang responsive terhadap perangkat yang digunakan pengguna. Untuk melihatnya, silahkan klik &lt;a href="http://thequran-online.blogspot.com/" target="_blank"&gt;link disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Al Qur'an Online ini dapat bermanfaat.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2015/07/al-quran-online.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbfsQiNV6g_PbFyPxGgQ6C0ZvbzcoMBrj7aM1iKgs0si6OtrnbRzH3Yc3ZmpC4Kx-dNboDaLPhsY97t6keHJ9ucpsS5NXDO4gl0u5XmdHOLFErvdbGtpaKLDmjVLmfWfiran6fK7cbDp0/s72-c/masudrana49_1428352999_2-sss.jpeg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-7248560867472931331</guid><pubDate>Tue, 04 Mar 2014 13:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-04T20:47:21.932+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>SWOT dalam perencanaan organisasi gerakan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOsvPnZueWJGWKQ9lWM6zpJBKINoyuN2QVaM64mqcLS9fOmyMYU8eGgdaGXMQctvhTJsFBT1I4dD96mwuCRatPhGXWGCV91_npyfVIKfqlIYxEYh0Ze3Hl0xLsRPgJvIGMp13fdhevC5w/s1600/swot_analysis_497x330.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOsvPnZueWJGWKQ9lWM6zpJBKINoyuN2QVaM64mqcLS9fOmyMYU8eGgdaGXMQctvhTJsFBT1I4dD96mwuCRatPhGXWGCV91_npyfVIKfqlIYxEYh0Ze3Hl0xLsRPgJvIGMp13fdhevC5w/s1600/swot_analysis_497x330.jpg" height="265" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perencanaan strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya (termasuk modal dan sumber daya manusia) untuk mencapai strategi ini. Strategi dalam pencapian tujuan organisasi dapat dirumuskan sebelumnya dengan melakukan suatu analisis terhadap keseluruan indikasi dalam organisasi tersebut. Dengan mengadakan analisis maka sang pemimpin mampu menemukan formula (strategi) yang baik untuk mengarahkan seluruh potensi organisasi, guna pencapaian tujuan organisasi. Pemimpin seperti inilah yang cerdas dalam memimpin serta mengarahkan organisasi maju kedepan, dan bukan pada hanya rutinitas organisasi.Berbagai teknik analisis dapat digunakan dalam proses ini, termasuk salah satunya menggunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Analisis SWOT merupakan salah satu analisis yang sering digunakan dalam pengambilan keputusan (decision making) dalam berbagai bidang, mulai dari bisnis, perusahaan, pemerintahan sampai organisasi gerakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi keputusan organisasi. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari sebuah organisasi atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities)yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru. Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan di Amerika.&lt;a href="file:///E:/Makalah%20SWOT/MAKALAH/SWOT%20dalam%20perencanaan%20organisasi%20gerakan.docx#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal dan faktor internal organisasi. Berikut merupakan pengertian singkat tentang konsep SWOT :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Strengths (Kekuatan) adalah segala hal yang dibutuhkan pada kondisi yang sifatnya internal organisasi agar supaya kegiatan-kegiatan organisasi berjalan maksimal. Misalnya : kekuatan keuangan, motivasi anggota yang kuat, nama baik organisasi terkenal, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih, anggota yang pekerja keras, memiliki jaringan organisasi yang luas, dan lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Weaknesses (Kelemahan) adalah terdapatnya kekurangan pada kondisi internal organisasi, akibatnya kegiatan-kegiatan organisasi belum maksimal terlaksana. Misalnya : kekurangan dana, memiliki orang-orang baru yang belum terampil, belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai organisasi, anggota kurang kreatif dan malas, tidak adanya teknologi dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Opportunities (Peluang) adalah faktor-faktor lingkungan luar yang positif,yang dapat dan mampu mengarahkan kegiatan organisasi kearahnya. Misalnya : Kebutuhan lingkungan sesuai dengan tujuan organisasi, masyarakat sedang membutuhkan perubahan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap organisasi yang bagus, belum adanya organisasi lain yang melihat peluang tersebut, banyak pemberi dana yang berkaitan dengan isu yang dibawa oleh organisasi dan lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Threats(Ancaman) adalah faktor-faktor lingkungan luar yang mampu menghambat pergerakan organisasi. Misalnya : masyarakat sedang dalam kondisi apatis dan pesimis terhadap organisasi tersebut, kegiatan organisasi seperti itu lagi banyak dilakukan oleh organisasi lainnya sehingga ada banyak kompetitor atau pesaing, isu yang dibawa oleh organisasi sudah basi dan lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Diagram SWOT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuPf3ixLTzbjtiGo3YiK6TztpO9k_jUed95jVU3EHlo_YGXrU-wiGjvgHGimVC-6EaeHusv1COyH58QmswDGu6H90eSndIIgbI-YB_ncRWqvBSVbLNq1Vi1Vo2bodYwWqomgrZCml0UnQ/s1600/a1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuPf3ixLTzbjtiGo3YiK6TztpO9k_jUed95jVU3EHlo_YGXrU-wiGjvgHGimVC-6EaeHusv1COyH58QmswDGu6H90eSndIIgbI-YB_ncRWqvBSVbLNq1Vi1Vo2bodYwWqomgrZCml0UnQ/s1600/a1.jpg" height="240" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kuadran I&lt;/b&gt;     : Merupakan situasi yang sangat menguntungkan. Organisasi tersebut memiliki kekuatan dan peluang, sehingga dapat mengarahkan seluruh potensi internal organisasi untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif. (Growth Oriented Strategy)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kuadran II&lt;/b&gt;    : Meskipun menghadapi berbagai ancaman, organisasi ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi. Diversifikasi yakni membuat strategi yang berbeda (lain dari yang biasanya) dengan memanfaatkan kekuatan internal, sehingga dimasa yang akan datang memungkinkan terciptanya peluang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kuadran III &lt;/b&gt;: Organisasi medapatkan peluang (eksternal) yang sangat besar, tetapi dilain pihak, ia menghadapi beberapa kendala/kelemahan internal. Fokus organisasi ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal organisasi sehingga dapat merebut peluang dari luar tersebut dengan baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kuadran IV &lt;/b&gt;: Ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, organisasi tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal. Strategi yang digunakan yakni mempertahankan diri untuk membangun kekuatan internal dan meminimalisir kelemahan.&lt;a href="file:///E:/Makalah%20SWOT/MAKALAH/SWOT%20dalam%20perencanaan%20organisasi%20gerakan.docx#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Analisis SWOT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pengambilan sebuah keputusan dalam organisasi gerakan, analisis SWOT sangat disarankan karena kesederhanaan metodenya tanpa harus mengorbankan efektifitas hasilnya. Implementasi SWOT sangat bergantung dengan situasi dan kondisi suatu organisasi, baik itu situasi kondisi internal maupun eksternal. Agar mencapai hasil yang maksimal dalam analisis SWOT, seorang organisatoris harus mampu merangkum berbagai indikasi yang digunakan untuk menghitung analisis SWOT itu sendiri. Data yang dikumpulkan dari masing-masing elemen SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) nantinya harus diperbandingkan untuk memperoleh kondisi yang sebenarnya dari suatu organisasi. Berbagai indikasi SWOT yang sudah dirangkum, harus dituliskan dalam tabel analisa SWOT agar lebih jelas dalam melihat kondisi yang nyata. Berikut merupakan tabel analisis SWOT yang dapat kita gunakan sebagai bahan perbandingan :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZUJuT3c4FE7iWZcVvknF42ffKtu2asLXn1L5Zr5EVqS09faJE8WOidGQCSBltScEsGett4-VJe-tSpFjQ1mFVNJF72gAljAv8Q3DO5EsVIrLvHQ0O3ef45HUuEZ0hk57dNZhq9E937YA/s1600/a2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZUJuT3c4FE7iWZcVvknF42ffKtu2asLXn1L5Zr5EVqS09faJE8WOidGQCSBltScEsGett4-VJe-tSpFjQ1mFVNJF72gAljAv8Q3DO5EsVIrLvHQ0O3ef45HUuEZ0hk57dNZhq9E937YA/s1600/a2.jpg" height="200" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah setiap elemen SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) kita rangkum, kita dapat melihat gambaran yang lebih mendetail tentang kondisi organisasi atau pemecahan masalah yang dihadapi organisasi. Gambaran tersebut dapat mengarahkan kita ke dalam bentuk strategi yang dapat kita gunakan dalam menghadapi suatu masalah organisasi. Berikut merupakan bentuk strategi yang dapat kita pakai berdasar dari analisis elemen SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang sudah kita rangkum :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3tKRAJoQf3LcMEHHMfNIepKLjM8OjKsQjJhKP4DfIoJPyfriIhRK7yI9Uf-wJMlAULMOTwiUuAe9EonovQ3FRWxJcYGU17-WK8HL0VdGhFBDBMwQNSYNXrwDAaGrV6VwGPpzthdd_Vbg/s1600/a3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3tKRAJoQf3LcMEHHMfNIepKLjM8OjKsQjJhKP4DfIoJPyfriIhRK7yI9Uf-wJMlAULMOTwiUuAe9EonovQ3FRWxJcYGU17-WK8HL0VdGhFBDBMwQNSYNXrwDAaGrV6VwGPpzthdd_Vbg/s1600/a3.jpg" height="270" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Strategi OS &lt;/b&gt;adalah strategi yang ditetapkan berdasarkan jalan pikiran organisasi yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Inilah yang merupakan strategi agresif positif yaitu menyerang penuh inisiatif dan terencana. Datalah program atau kegiatan yang akan dilaksanakan, kapan waktunya dan dimana dilaksanakan, sehingga tujuan organisasi akan tercapai secara terencana dan terukur. Dalam strategi SO, organisasi mengejar peluang-peluang dari luar dengan mempertimbangkan kekuatan organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Strategi OW&lt;/b&gt; adalah strategi yang ditetapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan dalam organisasi. Dalam hal ini perlu dirancang strategi turn around yaitu strategi merubah haluan. Maksudnya, terkadang anda harus mundur satu atau dua langkah ke belakang untuk maju melangkah jauh ke depan. Peluang eksternal yang besar penting untuk diraih, namun permasalahan internal atau kelemahan yang ada pada internal organisasi lebih utama untuk dicarikan solusi, sehingga capaian peluang yang besar tadi perlu diturunkan skalanya sedikit. Dalam hal ini kelemahan-kelemahan organisasi perlu diperbaiki dan dicari solusinya untuk memperoleh peluang tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Strategi TS &lt;/b&gt;adalah strategi yang ditetapkan berdasarkan kekuatan yang dimiliki organisasi untuk mengatasi ancaman yang terdeteksi. Strategi ini dikenal dengan istilah strategi diversifikasi atau strategi perbedaan. Maksudnya, seberapa besar pun ancaman yang ada, kepanikan dan ketergesa-gesaan hanya memperburuk suasana, untuk itu pahamilah bahwa organisasi  anda memiliki kekuatan yang besar yang bersifat independen dan dapat digunakan sebagai senjata untuk mengatasi ancaman tersebut. Mulailah mengidentifikasi kekuatan dan menggunakannya untuk mengurangi ancaman dari luar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Strategi TW&lt;/b&gt; adalah strategi yang diterapkan kedalam bentuk kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Karena dalam kondisi ini, organisasi anda sedang dalam bahaya, kelemahan menimpa kondisi internal sedangan ancaman dari luar juga menyerang. Bila anda tidak mengambil strategi yang tepat, maka kondisi ini bisa berdampak buruk bagi citra dan eksistensi organisasi kedepan. Yang perlu anda lakukan adalah bersama seluruh elemen organisasi merencanakan suatu kegiatan untuk mengurangi kelemahan organisasi, dan menghindar dari ancaman eksternal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="file:///E:/Makalah%20SWOT/MAKALAH/SWOT%20dalam%20perencanaan%20organisasi%20gerakan.docx#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; History of SWOT Analysis, Tim Friesner, diakses tanggal 21 Januari 2010. (Wikipedia) &lt;br /&gt;&lt;a href="file:///E:/Makalah%20SWOT/MAKALAH/SWOT%20dalam%20perencanaan%20organisasi%20gerakan.docx#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; http://rickyanggili.blogspot.com&lt;div&gt;
&lt;div id="ftn2"&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2014/03/swot-dalam-perencanaan-organisasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOsvPnZueWJGWKQ9lWM6zpJBKINoyuN2QVaM64mqcLS9fOmyMYU8eGgdaGXMQctvhTJsFBT1I4dD96mwuCRatPhGXWGCV91_npyfVIKfqlIYxEYh0Ze3Hl0xLsRPgJvIGMp13fdhevC5w/s72-c/swot_analysis_497x330.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5289835281316861999</guid><pubDate>Sat, 28 Dec 2013 17:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-12-29T00:44:26.623+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sajak</category><title>Setengah Kesempurnaan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0H6tjDMgNrqi1IkWN0fShQTQu5Oqf8Lmzrmg4FajPQXul-jiskFgnEsMqFpE8XVUhTgP_UpGDVOe2457d0fVCahfhYWE85bWJUlynnZxG7QEG9fwWBGBEP1X6tzAZJcthJWaMgyD5mYI/s1600/Setengah+Kesempurnaan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0H6tjDMgNrqi1IkWN0fShQTQu5Oqf8Lmzrmg4FajPQXul-jiskFgnEsMqFpE8XVUhTgP_UpGDVOe2457d0fVCahfhYWE85bWJUlynnZxG7QEG9fwWBGBEP1X6tzAZJcthJWaMgyD5mYI/s640/Setengah+Kesempurnaan.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ketika hujan turun,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
dia menyuburkan tanaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
membuatnya basah oleh keindahan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Saat mentari datang,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
dia menghangatkan dunia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
menjadikannya tempat hidup bagi manusia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
dan&amp;nbsp;diwaktu kau datang,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
kau memberi kebahagiaan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
karena kau adalah setengah kesempurnaan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Jogja, 11 januari 2010&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/12/setengah-kesempurnaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0H6tjDMgNrqi1IkWN0fShQTQu5Oqf8Lmzrmg4FajPQXul-jiskFgnEsMqFpE8XVUhTgP_UpGDVOe2457d0fVCahfhYWE85bWJUlynnZxG7QEG9fwWBGBEP1X6tzAZJcthJWaMgyD5mYI/s72-c/Setengah+Kesempurnaan.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-7750058312931426731</guid><pubDate>Wed, 20 Nov 2013 18:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-11-21T01:28:25.266+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ekonomi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh</category><title>Dimensi Ekonomi-Politik Pembangunan Indonesia (Pidato Pengukuhan Prof. Boediono, Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiipiHnz0zwsIeiyz-rjJG-eora63XOdzK-4X4tdKEIw-oYlgRO-xiCRwvrQegv291Bd68ZXwIpR6ORSQ-tJW8Y5VMDYjWOb-qyQ5pPG0i_-EBowYUfI9I5R2WECunjDhe8PkKYhwMVHQI/s1600/Boediono1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiipiHnz0zwsIeiyz-rjJG-eora63XOdzK-4X4tdKEIw-oYlgRO-xiCRwvrQegv291Bd68ZXwIpR6ORSQ-tJW8Y5VMDYjWOb-qyQ5pPG0i_-EBowYUfI9I5R2WECunjDhe8PkKYhwMVHQI/s1600/Boediono1.jpg" height="212" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Oleh: Prof. Dr. Boediono&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang saya hormati Ketua, Sekretaris dan para Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Gadjah Mada, Yang saya hormati Ketua, Sekretaris dan para Anggota Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Yang saya hormati Rektor, para Anggota Senat Akademik Universitas Gadjah Mada, Yang saya hormati Rektor, para Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada, Sivitas Akademika dan Para Hadirin yang saya muliakan,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu kebahagiaan yang tak terhingga bagi saya dapat berdiri di sini untuk menyampaikan beberapa pemikiran saya kepada sidang Majelis yang terhormat ini. Apa yang akan saya sampaikan di sini menyangkut masalah yang, menurut pandangan saya, menyentuh kepentingan kita semua sebagai warga dari bangsa ini, dan bahkan kepentingan anak-cucu kita. Masalah itu adalah mengenai reformasi yang kita laksanakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hampir sembilan tahun sudah kini bangsa Indonesia menempuh jalur perjalanan baru dalam sejarahnya, jalur demokrasi dan pluralisme. Keputusan itu kita ambil sendiri secara sadar sebagai bangsa tanpa didikte oleh siapa pun. Sekarang, setelah mengalami serentetan peristiwa sosial-politik yang menentukan sejarah bangsa dan bahkan dibarengi dengan berbagai cobaan alam, dan masih dalam suasana eforia reformasi yang belum juga reda, kita sepatutnya menghela nafas dan merenung sejenak dan menanyakan pada diri kita: ke mana arus peristiwa dan perkembangan selama ini akan membawa kita, apakah kita akan sampai pada apa yang kita impikan dulu sewaktu kita mengambil sikap sejarah yang krusial itu? Are we on the right track? Apakah ada yang perlu kita koreksi?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertanyaan-pertanya an besar ini tentu tidak mungkin dijawab dalam satu jam. Namun dengan segala kerendahan hati perkenankan saya mengajak para hadirin sekalian untuk bersama saya mengeksplorasi beberapa segi penting dari pertanyaan-pertanya an tersebut. Saya sangat sadar bahwa uraian saya maksimal hanya akan dapat memberikan jawaban parsial terhadap sebagian dari pertanyaanpertanyaa n besar tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya akan memulai dengan mengingat kembali apa sebenarnya yang kita inginkan sewaktu kita menggulirkan reformasi beberapa tahun lalu. Kemudian, berdasarkan itu dan mengacu kepada hasil-hasil riset yang dapat kita baca akhir-akhir ini, saya akan mencoba mendefinisikan secara umum pengertian ”jalur yang benar”. Karena hanya dengan menyepakati apa yang kita maksud dengan ”the right track”, baru kita bisa menjawab apakah kita ”on the right track”. Sisa waktu yang tersedia akan saya gunakan untuk mengupas simpul-simpul kritis sepanjang jalur perjalanan kita ke depan dan apa yang seyogyanya kita lakukan dan siapkan untuk menghadapinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tuntutan Reformasi&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Marilah kita mulai dengan mengajukan pertanyaan: sebenarnya apa motif dasar yang mendorong kita sebagai bangsa memutuskan untuk melakukan perubahan mendasar dalam tata kehidupan sosial-politik kita lebih dari delapan tahun lalu?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk memperoleh perspektif yang benar kita perlu mengingat kembali peristiwa-peristiwa sebelumnya yang membawa kita ke momen yang krusial itu. Selama lebih dari 30 tahun menakhodai negara, Orde Baru telah berhasil mengangkat kondisi kehidupan ekonomi dan sosial di Indonesia secara sangat berarti. Penghasilan per kapita meningkat dari sekitar hanya USD 70 pada pertengahan 1960an menjadi lebih dari USD 1000 pada pertengahan 1990an. Prasarana yang langsung melayani masyarakat maupun yang mendukung kegiatan ekonomi dibangun secara luas. Kemiskinan menurun drastis dan berbagai indikator kesejahteraan sosial mulai dari harapan hidup, tingkat kecukupan gizi, tingkat kematian ibu dan anak, sampai ke tingkat partisipasi pendidikan, ketersediaan air bersih dan perumahan, semuanya menunjukkan perbaikan yang berarti. Indonesia menjadi contoh pembangunan yang sukses.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan perbaikan taraf hidup seperti itu, mengapa timbul keresahan dan tuntutan yang makin mengental untuk perubahan di kalangan masyarakat atau, lebih tepatnya, di antara para elite masyarakat? Jawabannya terletak pada perkembangan di segi lain dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di tengah kemajuan itu, terutama dalam dasawarsa terakhir Orde Baru, tumbuh persepsi di kalangan masyarakat, yang makin mengental setiap hari, bahwa praktek korupsi, penyalahgunaan kewenangan di jajaran pemerintahan dan kroniisme di kalangan dunia usaha makin meluas. Meskipun pers dikendalikan, ceritera mengenai hal itu terus merebak dan kasus-kasus nyata terungkap. Rasa keadilan masyarakat terusik. Namun dalam konstelasi politik yang ada, saluran-saluran untuk kritik, disensi, protes dan koreksi, tersumbat. Keresahan dan ketidakpuasan berakumulasi, siap meledak apabila ada pemicu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan pemicu itu akhirnya tiba. Krisis keuangan yang mulai muncul pada pertengahan 1997 terus memburuk dan memasuki tahun 1998 berkembang menjadi krisis ekonomi skala luas dengan dampak negatif yang langsung dirasakan oleh masyarakat banyak. Harga barang kebutuhan pokok naik tajam dan PHK terjadi dimana-mana. 3 Keresahan yang semula sebatas kalangan elite berkembang menjadi ketidakpuasan sosial yang akhirnya menjadi kerusuhan masal. Indonesia memasuki tahap krisis multidimensi dan perubahan politik mendasar kemudian terjadi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari peristiwa yang penuh ketegangan dan hiruk-pikuk itu tidak mudah untuk menyarikan aspirasi masyarakat yang berkembang pada waktu itu. Namun apabila kita telusuri motif dasar gerakan reformasi, barangkali empat tema merangkum sebagian besar dari tuntutan tersebut, yaitu: (1) perbaikan ekonomi, (2) perbaikan tata pemerintahan atau governance, (3) supremasi hukum dan (4) demokrasi. Singkatnya, masyarakat menginginkan Indonesia yang makmur, bersih dari KKN, taat hukum dan demokratis.4 Bukan tuntutan yang mudah, tapi itulah keinginan rakyat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
The “Right” Track&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekarang marilah kita kembali kepada pertanyaan: Are we on the right track? Agar jelas arah pembahasan saya, perkenankan saya memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini sejak awal. Dengan berbagai catatan penting yang akan saya uraikan nanti, jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah: ya, kita di jalur yang benar. Ini samasekali tidak berarti bahwa kita sudah pasti akan sampai pada tujuan yang kita inginkan. Tidak ada jaminan seperti itu. Pada setiap tahap dalam perjalanan, kita sebagai bangsa harus melewati momen pilihan dan titik persimpangan yang memerlukan keputusan dan langkah strategis. Marilah kita melihat lebih dalam apa yang kita maksud dengan “the right track”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak ada suatu jalur yang paling benar. Sejarah mencatat bahwa rute yang dilalui oleh berbagai bangsa sangatlah beragam. Tetapi ini tidak berarti bahwa kita tidak dapat mengidentifikasi pola-pola umum dalam sejarah kemajuan bangsa-bangsa. Identifikasi pola-pola umum dan penjelasannya merupakan bagian penting dari kegiatan para ahli sejarah dan ilmu sosial lainnya. Sekarang sudah banyak studi, baik teoritis maupun empiris, yang dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan: pola-pola umum mana yang terbuka bagi kita. Bagi Indonesia pilihan itu sebenarnya lebih mudah, karena gerakan reformasi telah menjatuhkan pilihannya pada jalur demokrasi. Dalam literatur ekonomi-politik terdapat kristalisasi pandangan mengenai garis besar proses transformasi dari masyarakat berpenghasilan rendah, tertutup dan tidak demokratis menuju masyarakat yang makmur, terbuka dan demokratis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Fondasi Ekonomi. Salah satu kristalisasi pandangan itu adalah mengenai fondasi ekonomi dari demokrasi. Intinya adalah bahwa pada tahap awal perjalanannya masyarakat berpenghasilan rendah, tertutup dan belum demokratis seyogyanya pembangunan ekonomi lebih dahulu.5 akal karena pada tingkat penghasilan rendah, masyarakat akan disibukkan oleh kegiatan yang paling mendasar, yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya dari hari ke hari. Kebutuhan atau (menggunakan jargon ekonomi) ”permintaan” akan demokrasi akan bersemi pada tingkat hidup yang lebih tinggi dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.6 Pengalaman berbagai negara juga menunjukkan memusatkan upayanya pada Secara intuitif dalil ini masuk bahwa begitu permintaan akan demokrasi ini merebak dan memperoleh momentumnya, biasanya tidak bisa dihentikan lagi.7 Kita bisa perdebatkan, tetapi menurut penilaian saya Indonesia saat ini sudah mencapai tahap ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa tingkat kemajuan ekonomi merupakan faktor penentu penting bagi keberlanjutan demokrasi. Suatu studi yang banyak diacu menyimpulkan bahwa, berdasarkan pengalaman empiris selama 1950-90, rejim demokrasi di negara-negara dengan penghasilan per kapita 1500 dolar (dihitung berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP)-dolar tahun 2001) mempunyai harapan hidup hanya 8 tahun. Pada tingkat penghasilan per kapita 1500-3000 dolar, demokrasi dapat bertahan rata-rata 18 tahun. Pada penghasilan per kapita di atas 6000 dolar daya hidup sistem demokrasi jauh lebih besar dan probabilitas kegagalannya hanya 1/500.8 Posisi Indonesia di mana? Apabila kita hitung berdasarkan PPP-dolar 2006 penghasilan per kapita Indonesia diperkirakan sekitar 4000 dolar sedangkan batas kritis bagi demokrasi sekitar 6600 dolar. Kita belum 2/3 jalan menuju batas aman bagi demokrasi. Kita akan kembali membahas ini nanti.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejumlah studi empiris lain, terutama oleh para ekonom, menyimpulkan bahwa demokrasi bukan penentu utama prestasi ekonomi.9 Menurut pandangan ahli-ahli ini, terutama bagi negara-negara berpenghasilan rendah, rule of law lebih menentukan kinerja ekonomi daripada demokrasi per se. Apabila kesimpulan ini benar maka negaranegara berpenghasilan rendah dapat memacu pertumbuhan ekonominya, meskipun mereka belum siap menerapkan demokrasi, asalkan mereka dapat memperbaiki rule of law. Tetapi, seperti yang saya singgung tadi, dengan meningkatnya kemakmuran demokrasi akan makin ”diminta” oleh masyarakat. Sementara itu, pada tahap ini demokrasi juga makin penting bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi. Seorang ahli ekonomi pembangunan kenamaan melihat demokrasi sebagai suatu meta-institution atau institusi induk yang dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya institusi-institusi lain yang berkualitas, artinya efektif dan dengan tatakelola atau governance yang baik.10 Hal ini penting mengingat konsensus yang sekarang berkembang di kalangan ahli dan praktisi adalah bahwa mutu institusi atau governance merupakan kunci keberhasilan pembangunan. Apabila institusi yang baik menentukan keberhasilan pembangunan, dan demokrasi adalah sistem yang kondusif bagi perkembangan institusi semacam itu, maka demokrasi menjadi penentu bagi pembangunan ekonomi. Pada tahap kemajuan ekonomi yang makin tinggi, pertumbuhan ekonomi akan makin mengandalkan pada fleksibilitas sistem ekonominya, kemajuan teknologi dan peningkatan mutu faktor produksi, yang kesemuanya bersumber dari inisiatif dan inovasi oleh para pelaku ekonomi. Dan kita tahu bahwa inisiatif dan inovasi tumbuh paling subur di alam demokrasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi apa kesimpulan umum kita? Pada tahap awal, pembangunan ekonomi diprioritaskan karena hal itu akan sangat mengurangi risiko kegagalan demokrasi. Pada tahap selanjutnya interaksi antara ekonomi dan demokrasi makin erat dan keberadaan demokrasi makin menentukan kinerja ekonomi dan keberlanjutannya. Tetapi demokrasi adalah tanaman jangka panjang. Menabur benih lebih dini lebih baik. Dilema12. Dilema mendasar yang dihadapi demokrasi, sejak Plato, adalah bagaimana memadukan rasionalisme dengan populisme, pemerintahan yang efektif dengan pemerintahan yang representatif, teknokrasi dengan demokrasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dilema. Dilema mendasar yang dihadapi demokrasi, sejak Plato, adalah bagaimana memadukan rasionalisme dengan populisme, pemerintahan yang efektif dengan pemerintahan yang representatif, teknokrasi dengan demokrasi. Dilema ini sangat kongkrit, dan akut, bagi demokrasi yang baru berkembang, seperti di negara kita. Di satu sisi, kita ingin memacu pembangunan ekonomi yang pada hakekatnya memerlukan langkah cepat dan kebijakan ekonomi yang rasional, konsisten dan berwawasan jangka panjang – short term pain for long term gain. Di sisi lain, sistem politik yang berjalan, karena mekanisme yang belum mantap, tidak mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan decisive. Risiko distorsi terhadap kebijakan yang rasional juga tinggi karena tidak jarang kepentingan sempit dan jangka pendek mendominasi wacana pengambilan keputusan di lembaga legislatif dan bahkan eksekutif, tanpa ada mekanisme koreksi yang efektif. Inilah sebabnya mengapa para ahli berpendapat bahwa kebijakan ekonomi, sampai batas tertentu, perlu di-insulasikan dari hiruk-pikuk politik sehari-hari. Independensi bank sentral, yang sekarang sudah umum diterima, adalah satu perwujudan dari pemecahan dilema ini. Apakah pemecahan serupa dapat diterapkan di bidang lain seperti kebijakan fiskal, industri dan perdagangan atau lingkungan hidup, sekarang masih diperdebatkan para ahli.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang penting, posisi strategis mengenai imbangan antara teknokrasi dan demokrasi harus diambil oleh setiap bangsa pada setiap tahap perjalanannya. Di masa Orde Baru, dengan plus dan minusnya, proses kebijakan ekonomi diproteksi dari proses politik sehari-hari, paling tidak selama dua dasawarsa pertama. Sekarang, format itu tidak cocok lagi. Format yang baru harus kita temukan dan posisi strategis yang pas harus kita ambil. Ia tidak bisa dibiarkan hanya sebagai hasil sampingan dari proses politik praktis. Taruhannya terlalu besar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelompok Pembaharu. Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan proses transformasi menuju masyarakat yang makmur, demokratis dan terbuka Kelompok inilah yang menjadi ujung tombak dan pengawal proses transformasi itu. Tanpa kelompok pembaharu, proses transformasi akan berisiko mandeg atau keluar dari jalur yang kita inginkan. Pertumbuhan ekonomi membantu tumbuhnya kelompok pembaharu, tapi ia harus memenuhi 2 syarat, yaitu: (1) pertumbuhan itu menyentuh dan dapat dinikmati oleh sebagian besar rakyat (broad based) dan (2) prosesnya lebih mengandalkan pada kegiatan berdasarkan hasil kerja, inisiatif dan ingenuitas sumberdaya manusianya dan bukan semata dari hasil penjualan kekayaan alam, bantuan luar negeri atau pada rezeki nomplok lainnya. Untuk mendukung berkembangnya kelompok pembaharu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tidak cukup. Dua syarat tersebut harus juga dipenuhi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Siapakah kelompok pembaharu itu dan apa peran mereka dalam proses transformasi? 13 Sejarah mencatat bahwa kelompok ini bisa datang dari latarbelakang sosial yang berbeda. Di Inggris pada tahap krusial transformasinya inti dari kelompok pembaharu adalah para pengusaha – atau kaum borjuis. Istilah kaum borjuis mempunyai konotasi buruk di negeri ini karena dikaitkan dengan teori Marx yang memposisikannya sebagai kelas yang menguasai alat-alat produksi masyarakat dan menggunakannya untuk mengeksploitir buruh. Dalam konteks teori sosial non-Marxist kelompok ini diposisikan lebih netral. Studi para ahli sejarah ekonomi umumnya melihat bahwa di Inggris kelompok ini telah berperan sebagai pembaharu sosial, pada awalnya dalam meruntuhkan struktur feodal yang ada dan selanjutnya menjadi ujung tombak dan pengawal proses modernisasi dan demokratisasi14. Pola seperti itu kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa lainnya. Di Amerika Serikat proses transformasi oleh&amp;nbsp;kelompok ini berlangsung lebih cepat karena dari awal tidak ada struktur feodal yang harus diruntuhkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di negara-negara seperti Jerman dan Jepang kaum borjuis, paling tidak pada tahap awalnya, bukan penggerak utama transformasi. Mereka tidak sekuat dan se-independen rekan-rekannya di Inggris atau Amerika Serikat. Di Jerman, justru kaum birokrat (yang terdiri dari para exaristokrat) yang menjadi kelompok pembaharu. Jerman pada abad 19 mempunyai sistem birokrasi paling modern di dunia dan, melalui reformasi birokrasi, mereka menciptakan rule of law yang mantap dan sistem jaminan sosial modern. Di Jepang cikal-bakal dari kelompok pembaharu adalah kaum samurai yang mentransformasikan diri menjadi motor penggerak modernisasi. Di Jerman dan terutama di Jepang proses modernisasi tidak serta merta melahirkan demokrasi. Di kedua negara ini, demokrasi baru berakar setelah Perang Dunia II. Dan prosesnya pun tidak sepenuhnya berasal dari dinamika intern, tetapi sebagian karena tekanan dari negara-negara penakluknya, khususnya Amerika Serikat, yang menginginkan&amp;nbsp;demokrasi diterapkan di negara-negara tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi negara berkembang barangkali akan terlalu lama untuk menunggu terbentuknya kelompok pembaharu secara alamiah seperti di negara-negara tersebut. Negara berkembang seyogyanya tidak mengandalkan satu atau dua kelompok sosial saja sebagai kelompok pembaharunya. Yang terbaik adalah mendorong terbentuknya koalisi luas, yang terdiri dari para demokrat dari semua segmen sosial. Kelompok pembaharu ini dapat meliputi unsur-unsur reformis dari kaum pengusaha, intelektual, profesional, birokrat, pemuda, aktivis LSM dan lain-lain. Mereka diikat oleh kesamaan platform, yaitu memperjuangkan nilai-nilai demokrasi seperti hak asasi manusia, keterbukaan, kebebasan berusaha, good governance, rule of law dan sebagainya. Di sementara negara berkembang, termasuk Indonesia, kelompok semacam ini sudah mulai terbentuk dan berperan, meskipun masih terbatas. Mereka adalah elemen strategis dalam proses modernisasi dan demokratisasi. 14 Landes (1999)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jalur Yang Penuh Risiko. Proses modernisasi dan demokratisasi adalah perjalanan yang panjang dan penuh risiko.15 Ada yang mengibaratkan alur tranformasi itu sebagai kurva-J yang menggambarkan risiko kegagalan yang besar pada awal proses itu tetapi kemudian berangsur menyurut pada tahap selanjutnya. 16 Ada yang menggambarkannya sebagai proses meniti jalur yang penuh pusaranpusaran vicious circles dan, kalau beruntung, virtuous circles.17 Ada pula yang menggambarkannya sebagai perjalanan di jalan yang penuh persimpangan yang menuntut keputusan yang benar.18 Proses sejarah tidak mengenal belas kasihan. Hanya bangsa yang mempunyai pandangan ke depan, keyakinan, keuletan dan kecerdasan yang dapat menyelesaikan perjalanannya. Yang lainnya tidak beranjak dari posisi awalnya, atau menjadi negara gagal (failed states) atau bahkan hilang dari peta sejarah. Hukum Darwin juga berlaku bagi seleksi antara bangsa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jalur Kita Ke Depan&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam uraian kita tadi, tersirat risiko-risiko yang mungkin dihadapi oleh bangsa yang hendak melaksanakan modernisasi dan demokratisasi. Marilah kita sekarang mencermati risiko-risiko tersebut secara lebih mendalam, dan sekaligus mengkaitkannya dengan kondisi yang dihadapi bangsa kita dewasa ini. Saya akan menguraikannya di bawah tiga rubrik besar, yaitu:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(1) Kohesi sosial&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(2) Kinerja ekonomi dan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(3) Kelompok pembaharu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kohesi sosial. Syarat yang paling mendasar bagi keberhasilan proses transformasi setiap bangsa adalah kemampuannya untuk mempertahankan eksistensi dan keutuhannya sepanjang perjalanan. Pada akhirnya kemampuan itu tergantung pada kekuatan kohesi sosialnya. Setiap bangsa memiliki kapasitas kohesi sosial yang berbeda. Ada bangsa yang – karena sejarah, kultur dan struktur sosialnya – mempunyai kohesi sosial yang kuat dan tahan terhadap tekanan dan bantingan. Jepang, Korea dengan kultur yang homogen adalah contoh untuk ini. Bangsa lain, seperti India dan Indonesia, karena keragaman kultur dan heterogenitas masyarakatnya, memiliki daya tahan yang intrisik lebih rendah. Bangsa lain yang kurang beruntung, seperti Yugoslavia dan Irak, memiliki sejarah panjang pertikaian antar kelompok di dalamnya, sehingga begitu orang kuat pemersatunya tiada, pertikaian muncul kembali dan bangsa itu pecah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang perlu diwaspadai, terutama pada tahap-tahap awal yang rawan, adalah bahwa suatu bangsa harus pandai-pandai menjaga keseimbangan antara kekuatan kohesi sosialnya di satu sisi dan kecepatan perubahan yang ingin dilaksanakannya di sisi lain. Setiap perubahan selalu membawa stress dan strain. Imbangan mana yang paling tepat bagi suatu bangsa, pada akhirnya terpulang pada kenegarawanan dan kearifan pemimpin bangsa atau kaum elitenya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari segi kekuatan kohesi sosialnya Indonesia barangkali termasuk dalam kelompok peringkat sedang. Kita beruntung karena kita tidak mempunyai sejarah perseteruan yang mendalam antar kelompok, suku dan agama di antara kita, seperti di Yugoslavia dan Irak. Kita beruntung karena para pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa ini telah berhasil menempa kesadaran berbangsa yang sampai sekarang tetap kokoh dan merupakan modal politik bangsa. Namun kita patut selalu menyadari pula bahwa bangsa kita memiliki keragaman budaya, agama, tradisi dan bahkan temperamen yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Kita perlu tetap ingat bahwa separatisme bukan hal yang asing dalam sejarah kita sejak kemerdekaan, meskipun tidak pernah menjadi kekuatan dominan. Demokratisasi, desentralisasi, modernisasi dan transformasi menuju keterbukaan, apabila tidak dikelola dengan arif, dapat menciptakan kekuatan-kekuatan sentrifugal. Sebaliknya, pendidikan, pertumbuhan ekonomi yang tersebar&amp;nbsp;(broad based) dan penerapan good governance akan memperkuat kohesi sosial.19&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang juga perlu kita ingat adalah bahwa modal politik berupa kesadaran berbangsa yang diwariskan oleh para pendahulu kita, meskipun sampai sekarang masih tetap kuat, dengan pergantian generasi akan terus berkurang apabila tidak ada upaya sadar untuk mengisinya kembali. Upaya nation building dari para pendiri bangsa ini belum selesai dan mungkin tidak pernah selesai. Kita wajib meneruskannya, meskipun (atau lebih tepatnya, justru karena) kita hidup dalam era globalisasi. Kita mendambakan suatu kesadaran kebangsaan memaknai bahwa, apapun perbedaan kita, kita tetap saudara, bahwa lawan politik adalah lawan bertanding dan bukan musuh yang harus dilenyapkan. Seperti kata ki dalang: Tego larane ora tego patine. Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan. Hanya apabila kita telah mendekati kematangan berbangsa seperti itu kita dapat sedikit relaks dalam upaya nation building kita. Tapi itu adalah kemewahan yang barangkali baru akan dinikmati oleh anak-cucu&amp;nbsp;kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Stagnasi, Kemunduran dan Krisis Ekonomi. Risiko besar lain yang menghadang perjalanan transformasi bangsa adalah stagnasi ekonomi, atau kemunduran ekonomi atau, lebih serius lagi, krisis ekonomi. Apabila ini terjadi besar kemungkinan proses transformasi akan kandas di tengah jalan. Tadi saya mensitir sebuah studi yang mengatakan bahwa sistem demokrasi di negara dengan penghasilan per kapita rendah (di bawah 6600 PPP-dolar 2006) rawan terhadap kegagalan. Saya juga sebutkan bahwa prioritas utama bagi negaranegara berpenghasilan rendah seyogyanya adalah tumbuh untuk secepatnya meninggalkan daerah penuh risiko ini. Stagnasi, apalagi kemunduran ekonomi, akan meningkatkan lagi risiko kegagalan demokrasi yang sudah tinggi bagi negara-negara tersebut. Krisis ekonomi hampir pasti akan menjatuhkan rejim politik yang ada – yang akan menimbulkan diskontinuitas dalam perjalanan bangsa itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengalaman Indonesia sendiri membuktikan dalil tersebut. Mari kita menoleh ke belakang sejenak.20 Pada masa Demokrasi Parlementer 1950-58 ketidakstabilan politik yang dicerminkan oleh kabinet yang terlalu sering berganti mengakibatkan kebijakan ekonomi yang terputusputus dan tidak efektif. Problema defisit ganda – defisit APBN dan neraca pembayaran – tak tertangani dengan baik, stabilitas ekonomi makin memburuk dan pertumbuhan ekonomi lambat.21 Karena tidak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat banyak, sistem politik yang ada makin kehilangan legitimasinya. Kegagalan di bidang ekonomi, menyebabkan eksperimen demokrasi kita yang pertama setelah kemerdekaan gagal. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sistem politik yang menggantikannya, Demokrasi Terpimpin – Sistem politik yang menggantikannya, Demokrasi Terpimpin – 65 menjanjikan pemerintahan yang lebih stabil dan peran negara yang lebih besar dalam pengendalian kehidupan ekonomi. Namun sistem ini juga tidak dapat memberikan hasil yang didambakan masyarakat. Inflasi lepas kendali, produksi nasional merosot dan kehidupan sehari-hari semakin berat. Pada waktu itu bangsa kita sebenarnya mengalami suatu krisis ekonomi yang berat, yang akhirnya bermuara pada perubahan sistem politik.22 Bagi generasi yang mengalami masa itu (termasuk saya sendiri) tentu masih ingat betapa sulitnya kehidupan sehari-hari pada waktu itu. Namun, di tengah-tengah kesulitan hidup itu kita, terutama mereka yang muda usia, juga merasakan adanya suatu kebanggaan yang luar biasa di hati kita masing-masing sebagai warganegara dari bangsa yang, di arena internasional, disegani dan terkadang ditakuti. Namun itu semua tidak&amp;nbsp;mengubah berlakunya dalil bahwa kemerosotan ekonomi, apalagi krisis ekonomi, berakibat fatal terhadap suatu orde politik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masa Orde Baru 1966-98 adalah masa kestabilan politik yang terpanjang dalam sejarah Indonesia merdeka. Kestabilan politik itu telah memungkinkan dilaksanakannya kebijakan ekonomi yang konsisten dan berkesinambungan. Hasilnya berupa pertumbuhan ekonomi sebesar ratarata 7% selama tiga dasawarsa yang dibarengi dengan stabilitas ekonomi yang cukup mantap, pembangunan infrastruktur besar-besaran yang memperlancar kegiatan ekonomi dan makin menyatukan Indonesia serta perbaikan yang berarti dari berbagai indikator sosial dan pembangunan manusia. Pada gilirannya semua perbaikan itu makin memperkuat stabilitas politik, sampai terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997. Suatu prestasi sosial-ekonomi yang, kalau kita jujur, sangat mengesankan. 23 &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Orde ini akhirnya jatuh karena konfluensi dari paling tidak tiga perkembangan, yaitu: akumulasi dari kepengapan politik, makin meluasnya kroniisme dan korupsi, dan pada tahap akhirnya, kondisi kehidupan yang berat sebagai akibat dari krisis ekonomi. Krisis tersebut menyingkap kelemahan dan kerentanan institusional yang sebelumnya terselubung oleh tempo ekonomi yang tinggi. Lembaga-lembaga penting penyangga kehidupan ekonomi dan masyarakat serta pemerintahan mengalami paralisis atau semi-paralisis dengan akibat antara lain respons kebijakan yang tidak koheren terhadap krisis. Kemudian terjadilah reaksi berantai yang membawa Indonesia ke jurang krisis yang lebih dalam. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masa Orde Baru memberikan paling tidak tiga pelajaran. Pertama, kinerja ekonomi yang berkesinambungan disertai perbaikan taraf hidup masyarakat luas merupakan syarat wajib (necessary conditions) bagi kelangsungan hidup suatu orde politik. Kedua, dalam jangka panjang selain kinerja ekonomi yang mantap, kelangsungan hidup suatu orde politik ternyata juga ditentukan oleh faktor-faktor lain, yaitu keterbukaannya dan mutu tatakelola atau governance-nya (sufficient conditions). Ketiga, dalil bahwa krisis ekonomi yang berat diikuti oleh pergantian orde politik kembali terbukti. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alur sejarah kita menggambarkan suatu progresi proses challenge and response. Pada akhir masa Demokrasi Parlementer rakyat mendambakan pemerintahan yang stabil dan kuat untuk memecahkan masalah bangsa. Respons yang timbul adalah orde Demokrasi Terpimpin yang menjanjikan pemerintahan yang kuat dan stabil. Pemerintahan memang tidak lagi jatuh bangun, tetapi kehidupan ekonomi makin memburuk. Pada akhir masa orde ini tuntutan masyarakat yang paling dominan adalah perbaikan ekonomi. Orde Baru berhasil menjawab tuntutan ini dengan mewujudkan perbaikan ekonomi dan sosial yang mengesankan, tetapi gagal merespons tuntutan lain yang makin mengkristal, yaitu dambaan akan demokrasi, keterbukaan, pemberantasan KKN dan penegakan hukum. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Orde Reformasi kemudian lahir, dan jangan lupa Universitas Gadjah Mada ikut membidaninya! Orde ini mencoba menjawab tantangan tersebut. Sampai saat ini sudah ada empat presiden yang, dengan gaya beliau masing-masing dan dalam konteks situasi kongkrit yang dihadapi, telah berupaya melaksanakan amanah ini dengan sebaikbaiknya. Pergantian presiden tidak mengganti orde politik. Suatu pertanda baik bagi kestabilan sistem politik. Di negeri ini demokrasi sudah mekar dan bersemi, meskipun unsur-unsurnya belum berfungsi sepenuhnya seperti yang kita inginkan. Keterbukaan dan kebebasan berpendapat, dengan plus dan minusnya, sudah merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan di bidang ini Indonesia diakui yang paling maju di kawasan ini. sudah bergulir, meskipun meragukan keberlanjutannya. sudah mulai kelihatan bentuknya dan langkah-langkah awal sudah diambil, meskipun kepastian hukum masih tetap menjadi keluhan utama dari para investor. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut hemat saya, kita sekarang berada pada jalur menuju tuntutan reformasi, meskipun masih banyak PR yang belum selesai. Risiko utama yang kita hadapi pada tahap ini adalah apabila kita sebagai bangsa kehilangan gairah dan stamina untuk melanjutkan perjalanan kita, atau apabila kita kehilangan kepercayaan atau kesabaran pada proses reformasi yang kita jalankan, atau apabila kita asyik terlena dalam eforia dan hingar-bingar ”demokrasi” sehingga melupakan tujuan reformasi yang sebenarnya. Apabila itu terjadi, maka itu sungguh sebuah tragedi (lagi) dalam sejarah bangsa kita. Pengalaman kita menunjukkan bahwa kemungkinan- kemungkinan seperti itu bukanlah sekedar risiko teoritis. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Marilah kita kaitkan kondisi kita saat ini dengan hasil-hasil penelitian empiris yang telah saya singgung di muka. Kenyataan yang perlu kita waspadai adalah bahwa dari segi penghasilan per kapita, kita masih berada pada zona risiko tinggi untuk keberhasilan demokrasi. Seperti yang telah saya sebutkan penghasilan per kapita Indonesia pada tahun 2006 (atas dasar PPP-dolar 2006) diperkirakan sekitar 4000 dolar, masih agak jauh dari batas aman 6600 dolar. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Strategi yang terbaik Pemberantasan KKN secara sistematik ada sementara kalangan yang masih Kerangka reformasi di bidang hukum adalah untuk secepatnya meninggalkan zona bahaya ini. Marilah kita berhitung sejenak. Seandainya kita, dengan segala upaya kita, berhasil menumbuhkan ekonomi kita dengan 7% setahun, maka dengan laju pertumbuhan penduduk 1,2% setahun penghasilan per kapita kita akan tumbuh dengan sekitar 5,8% setahun. Dengan laju ini kita akan mencapai ambang zona aman dalam 9 tahun. Apabila PDB kita tumbuh di bawah 7% waktu untuk mencapai zona aman bagi demokrasi tentu lebih panjang lagi. Yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa 9 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengawal demokrasi Indonesia yang baru mekar. Risiko-risiko yang saya sebutkan tadi dapat terjadi. Tanpa harus mengorbankan demokratisasi yang kita jalankan, hambatanhambatan terhadap pertumbuhan ekonomi yang timbul karena proses demokrasi atau, apalagi, karena ekses-eksesnya,&amp;nbsp;harus kita hilangkan. Kita harus berani mengambil posisi strategis yang jelas mengenai imbangan antara teknokrasi dan demokrasi. Ini semua justru demi keberlanjutan demokrasi itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kelas Pembaharu. Seperti yang telah saya sebutkan tadi, salah satu simpul kritis dalam pembangunan demokrasi adalah terciptanya suatu kelas pembaharu yang handal yang berperan sebagai pendorong dan pengawal demokratisasi. Saya ingin tegaskan bahwa demokrasi di sini harus kita artikan secara substantif dan mencakup tidak hanya mekanisme formal demokrasi (pemilihan umum yang bebas dan terbuka, multi-partai, pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif, peran pers dan organisasi kemasyarakatan dan sebagainya), tetapi juga nilai-nilai dasar yang memberi sukma pada demokrasi. Pembedaan antara demokrasi dalam arti mekanisme formalnya dan demokrasi dalam arti substantif, teramat penting karena tidak jarang kita merasa bahwa hampir semua persyaratan formal demokrasi telah kita penuhi, tetapi kita kecewa karena dalam kehidupan nyata kita belum merasakan suasana demokrasi seperti yang dijanjikan konseptornya atau seperti yang dinikmati oleh&amp;nbsp;masyarakat di negara demokrasi yang telah mapan. Itu adalah kasus demokrasi tanpa sukma.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanpa adanya kelas pembaharu yang handal proses demokratisasi akan menghasilkan demokrasi tanpa sukma, atau berhenti di tengah jalan, atau berjalan tanpa arah atau, lebih buruk, melahirkan antitesis dari demokrasi. Kemungkinan- kemungkinan ini pernah terjadi dalam sejarah bangsa-bangsa. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya akan mengambil beberapa contoh. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengalaman Sejarah. Haiti adalah sebuah republik yang secara formal demokratis selama lebih dari 200 tahun setelah mendapatkan kemerdekaan dari Perancis pada tahun 1804. Sekarang Haiti tetap negara miskin dengan penghasilan per kapita USD 450 dan hampir selalu dirundung kekacauan setiap pergantian pemerintahan (yang dalam kenyataan memerintah dengan cara yang jauh dari kaidah-kaidah demokrasi). Masalah utamanya, menurut hemat saya, adalah karena tidak pernah ada kelompok masyarakat yang mampu berperan sebagai pengawal demokrasi beserta nilai-nilai dasarnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kontraskan Haiti dengan India. Pada saat kemerdekaannya India adalah juga negara yang miskin (penghasilan per kapita sekitar USD 50) dengan berbagai keterbelakangan sosial dan struktur masyarakat yang feodal. India beruntung karena sewaktu di bawah jajahan Inggris cukup banyak kaum elite-nya berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan modern dan menduduki posisi-posisi di birokrasi pemerintah kolonial. Sebagian juga berhasil menjadi pelaku-pelaku tangguh di bidang industri dan perdagangan. Pada saat kemerdekaannya kelompok elite ini memutuskan untuk mengadopsi demokrasi dan berkomitmen untuk mengawalnya. Apabila ada satu orang yang merupakan pengejawantahan komitmen itu, ia adalah Nehru. Nehru adalah seorang demokrat sejati. Menghadapi realitas sosial yang jauh dari ideal untuk demokrasi, dan pada waktu para pengamat pada tahun 1950an dan 1960an ramai-ramai meng-kontraskan prestasi ekonomi India yang medioker dengan pertumbuhan ekonomi Republik Rakyat Cina yang spektakuler, Nehru dan para elite India tetap tegar pada komitmennya pada demokrasi.24 Hasilnya, di India demokrasi, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, merupakan realita hidup selama enampuluh tahun, di Cina masih berupa cita-cita, sampai sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejarah juga mencatat bagaimana demokrasi ”dibajak” di tengah jalan karena kelompok pengawalnya tidak cukup kuat menghadapi pihak anti-demokrasi. 25 Jerman pada masa Republik Weimar (1919-1933) adalah negara demokratis dan bukan negara miskin. Krisis ekonomi yang berkepanjangan (hiperinflasi dan kemudian depresi) dan ketidakberdayaan pemerintah untuk menanganinya menyebabkan Hitler dan partai Nazi-nya, yang menjanjikan pengakhiran kesengsaraan itu, meraih suara mayoritas dalam pemilihan umum. Krisis ekonomi telah sangat memperlemah kelas menengah, pembawa panji demokrasi. Melalui proses demokrasi Hitler mengambil kendali negara, dan dari sana ia membunuh demokrasi. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagaimana di Indonesia? Kelompok pembaharu di Indonesia barangkali masih jauh lebih kecil daripada di India. Tetapi ia berkembang cepat, terutama sejak masa reformasi dan khususnya di kalangan kaum muda. Kita juga punya satu plus dibanding India – kondisi stratifikasi dan mobilitas sosial di Indonesia jauh lebih baik. Oleh karena itu kita semestinya tidak boleh terlalu pesimis mengenai prospek perkembangan demokrasi di Indonesia. Pertanyaan yang relevan adalah bagaimana kelompok ini dapat lebih didorong untuk memperkuat proses modernisasi dan demokratisasi di negara kita. Mengenai hal ini perkenankan saya menyampaikan sekedar pemikiran awal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertumbuhan Ekonomi. Langkah yang paling efektif untuk memperkuat kelompok pembaharu, kembali lagi, adalah memacu pertumbuhan ekonomi yang tersebar (broad based), karena dari situlah awal terciptanya kelas menengah. Sebaliknya, kemunduran ekonomi dan krisis ekonomi harus dihindari karena dari situlah awal dari kepunahan kelas menengah. Saya telah singgung bahwa selain pertumbuhan ekonomi itu harus tersebar, ia harus memenuhi satu syarat lain, yaitu bersumber dari kegiatan-kegiatan enterpreunerial dalam iklim kompetisi yang sehat26. Hal ini penting karena akhirnya ia menentukan kelas menengah macam apa yang akan timbul. Pengalaman di sejumlah negara, dan sebagian dari pengalaman kita sendiri, mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berasal dari rezeki nomplok hasil penjualan kekayaan alam (seperti minyak) dapat menciptakan kelas menengah, tetapi lebih berupa kelompok konsumen kelas menengah. Kelompok ini belum tentu kelas menengah yang mempunyai&amp;nbsp;komitmen untuk mengawal demokrasi. Demikian pula pertumbuhan ekonomi yang didasarkan pada praktek-praktek kroni-isme, kolusi antara penguasa dan pengusaha serta praktek-praktek monopolistik lainnya. Ia mungkin dapat menghasilkan laju yang tinggi, tapi ia tidak akan sustainable karena tidak akan melahirkan kelas menengah yang mau memperjuangkan demokrasi, good governance dan kepastian hukum. Yang muncul bukanlah kelompok pembaharu tetapi kelompok pemburu rente, bukan sistem ekonomi pasar yang penuh vitalitas tetapi kapitalisme palsu atau ersatz capitalism, yang lebih kompatibel dengan oligarki daripada dengan demokrasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengembangan UKM. Selain menciptakan iklim usaha dan iklim kompetisi yang sehat pemerintah dapat memacu terbentuknya kelompok pembaharu dengan mendorong perkembangan kelompok wirausaha yang tangguh melalui program-program khusus untuk menghilangkan kendala-kendala yang dihadapi oleh usaha kecil dan menengah untuk meng-akses pembiayaan, teknologi, layanan infrastruktur dan pasar. Pengusaha kecil dan menengah adalah embrio dari kelas menengah yang tangguh. Karenanya program pengembangan UKM merupakan elemen penting dalam upaya pengembangan demokrasi. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pribumi-Non Pribumi. Satu permasalahan khusus dan sensitif yang dihadapi Indonesia sejak kemerdekaan adalah hubungan pengusaha pribumi dan non-pribumi. Saya tidak berpretensi dapat menyarankan solusi untuk permasalahan yang rumit ini. Saya hanya bisa mengatakan bahwa persoalan ini seyogyanya dibahas secara terbuka dan dicarikan pemecahannya bersama. Menurut pandangan saya, untuk kepentingan pembangunan Indonesia dalam jangka panjang, tidak ada solusi lain kecuali menyatukan kedua kekuatan itu untuk membangun bangsa. Upaya itu harus menjadi bagian dari program besar integrasi bangsa, dengan mengikis secara bertahap tapi sistematis sekat sosio-ekonomikultur al antara kedua kelompok ini. Masing-masing kelompok, atau lebih tepatnya kaum elite dari masing-masing kelompok, harus lebih membuka diri dan mengambil inisiatif untuk saling menjangkau dan dengan kejujuran mencari titik-titik temu, dengan seluas mungkin melibatkan generasi mudanya. Negara patut&amp;nbsp;mendorong dan memfasilitasi secara adil dan sungguh-sungguh proses ini. Thailand dan Filipina, dengan cara mereka masing-masing, sudah melangkah lebih maju daripada kita. Malaysia barangkali belum terlalu jauh dari kita. Kita harus melihat proses ini sebagai bagian integral dari perjalanan panjang bangsa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendidikan. Langkah penting lain untuk membentuk kelompok pembaharu yang handal adalah melalui pendidikan. Inilah yang terjadi di India. Ini pulalah yang terjadi di Indonesia di jaman Belanda, meskipun dengan jumlah yang jauh lebih kecil. Dengan segala keterbatasannya di masa penjajahan, pendidikan yang bermutu telah melahirkan kelompok elite yang tangguh. Di alam kemerdekaan, dengan segala kemudahan dan peluang yang terbuka, tidak ada alasan mengapa hasil serupa, atau yang lebih baik lagi, tidak terjadi. Sayangnya di negara kita hal itu belum terjadi. Mengapa? Kuncinya terletak pada materi pendidikan yang pas dan proses belajar-mengajar yang efektif. Keduanya masih perlu terus kita upayakan. Ada dua catatan penting di sini. Pertama, penyediaan pendidikan bermutu bagi elite bangsa harus didasarkan pada sistem seleksi terbuka berdasarkan prestasi atau merit system dan bukan berdasarkan hak-hak dan kedudukan istimewa. Kedua, agar demokrasi mengakar,&amp;nbsp;pendidikan elite itu harus tetap dibarengi dengan pelaksanaan program pendidikan dasar yang bermutu dan terbuka lebar bagi semua anak Indonesia. Di bidang pendidikan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keterbukaan. Faktor pendukung penting lain bagi perkembangan kelas pembaharu adalah keterbukaan dengan dunia luar. Semakin terbuka dan semakin terintegrasi negara tersebut dengan komunitas dunia, semakin subur pertumbuhan kelas pembaharu di negara itu. Arus informasi, manusia, barang dan jasa serta investasi dari luar adalah katalis bagi perkembangan kelompok pembaharu. Indonesia sekarang tergolong negara yang paling bebas dari segi arus informasi. Sepanjang yang bisa kita lihat tidak ada hambatan sistemik bagi wartawan, akademisi, pengusaha, profesional, LSM asing untuk masuk ke Indonesia. Ini semua dapat dipastikan akan sangat membantu tumbuhnya kelompok pembaharu di negeri ini. Risiko keamanan memang ada, dan akan selalu ada. Tetapi, demi tujuan yang lebih besar, masalah itu harus tetap dikelola secara proporsional. Keikutsertaan Indonesia di banyak forum, baik regional maupun global, telah dan akan makin membuka pikiran kita terhadap praktek-praktek&amp;nbsp;terbaik di dunia dan sangat berguna bagi upaya kita untuk membangun institusi-institusi pendukung modernisasi dan demokratisasi. Investasi dari luar negeri, terutama dari negara-negara yang menjunjung tinggi asas-asas good governance di negaranya, perlu kita buka lebar, bukan hanya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kita, tetapi juga untuk meningkatkan mutu institusi-institusi bisnis dan pemerintahan kita. Ingat tidak jarang dunia usaha kita belajar praktek-praktek terbaik dari interaksi dan kemitraan mereka dengan perusahaan-perusaha an asing. Ingat pula bahwa perbaikan kinerja birokrasi kadangkala dipicu dan dipacu oleh adanya keluhan atau protes dari perusahaan-perusaha an asing yang beroperasi di sini. Dalam hal keterbukaan, menurut hemat saya, kita sudah di jalur yang benar. Jangan kita putar kembali jarum jam.27&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rekapitulasi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sekarang marilah kita rekapitulasi apa saja yang telah kita bicarakan sampai saat ini. Kita memulai dengan bertanya ke mana perjalanan yang kita lakukan selama hampir sembilan tahun ini akan membawa kita? Apakah kita pada jalur yang akan membawa kita ke tujuan reformasi atau tidak? Jawabannya, dengan sejumlah catatan penting, adalah: ya, kita pada ”jalur yang benar”. Kita telah menjatuhkan pilihan, yaitu memilih jalur demokrasi untuk membangun bangsa kita. Dengan pilihan tersebut, serta dengan menarik pelajaran dari pengalaman kita sendiri dan pengalaman negara-negara lain yang mengikuti jalur ini, kita memperoleh gambaran mengenai jalan yang kemungkinan akan kita lalui ke depan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahap awal faktor ekonomi Kemungkinan kegagalan demokrasi sangat penghasilan per kapita rendah dan secara progresif menurun dengan kenaikan penghasilan. Ekonomi dapat tumbuh tanpa demokrasi, selama rule of law dapat ditegakkan. Pada tingkat kemakmuran yang lebih tinggi, demokrasi pada gilirannya akan makin menjadi penentu sangat menentukan. tinggi pada tingkat keberlanjutan peningkatan kemakmuran. Hubungan positif timbal balik antara ekonomi dan demokrasi makin kuat. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada setiap tahap, peran kelompok pembaharu, yaitu suatu koalisi kekuatan lintas kelompok masyarakat yang disatukan oleh platform yang mendukung modernisasi dan demokratisasi, sangat krusial. Kelompok ini akan tumbuh subur dalam lingkungan ekonomi yang tumbuh secara tersebar (broad based) dan dilandasi oleh tatakelola yang baik dan iklim usaha yang sehat. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Risiko yang paling mendasar bagi Indonesia adalah bagaimana menjaga eksistensi dan keutuhan bangsa sepanjang perjalanan transformasinya. Kita memiliki modal politik yang cukup untuk ini, tetapi ia harus terus-menerus dipupuk kembali dan diperkuat. Program penguatan kesadaran berbangsa dan nation building harus tetap menjadi bagian integral dari pembangunan Indonesia. Keikutsertaan kita dalam globalisasi tidak boleh melengahkan kita dalam nation building. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Risiko besar kedua yang kita hadapi adalah tingkat kemakmuran ekonomi bangsa kita yang masih rendah sehingga risiko kegagalan demokrasi masih tinggi. Pada tahap ini Indonesia sebaiknya memberikan prioritas tertinggi bagi upaya memacu pertumbuhan ekonomi dan sejauh mungkin menghindari krisis ekonomi. Untuk mendukung kinerja ekonomi, kita harus berani menarik garis strategis mengenai imbangan yang pas antara teknokrasi dan demokrasi. Apabila hasil riset yang ada dapat kita jadikan pegangan, Indonesia masih akan memerlukan waktu paling tidak sembilan tahun lagi untuk mencapai ”zona aman” bagi demokrasinya. Sementara itu, berbagai kerawanan akan bersama kita dan demokrasi yang baru mekar ini perlu dikawal. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Risiko besar ketiga adalah apabila kelompok pembaharu yang handal tidak dapat berkembang. Apabila ini terjadi proses transformasi akan mandeg di tengah jalan atau membelok salah arah. Pengalaman sejarah kita dan negara lain mengindikasikan bahwa timbulnya KKN, kroni-isme dan praktek monopolistik merupakan faktor risiko besar yang menghadang kita. Kita tidak boleh mengulang pengalaman pahit kita. Kelompok pembaharulah yang diharapkan mengawal proses tranformasi agar tetap berjalan, dan berjalan di jalur yang benar. Perkembangan kelompok ini dapat dan perlu didorong dengan: (1) menjaga agar pertumbuhan ekonomi tersebar dan ditopang oleh good governance dan iklim usaha yang sehat, (2) mendorong perkembangan UKM, (3) mengupayakan penyatuan kekuatan pribumi dan non-pribumi, (4) menyediakan pendidikan bermutu bagi kelompok pembaharu dan (5) tetap menjaga keterbukaan dan interaksi kita dengan dunia luar. Itulah inti dari pembahasan kita hari ini. Semua langkah&amp;nbsp;yang saya sebutkan hanya akan membuahkan hasil dalam jangka panjang. Generasi kita ditakdirkan untuk menanam, anak-cucu kita yang memanen.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ungkapan Terimakasih &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terlalu banyak pihak yang berhak menerima apresiasi dan rasa terimakasih saya untuk saya sebut satu per satu. Untuk mengurangi risiko ada yang terlewatkan perkenankan saya menyampaikan rasa terimakasih yang tulus kepada semua sejawat dan rekan kerja di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Universitas Gadjah Mada atas kerjasama dan persahabatan kita selama ini. Di Kampus Biru ini saya dibentuk dan dibesarkan. Universitas Gadjah Mada sudah menjadi bagian dari diri saya. Saya juga ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada semua rekan kerja dan sahabat di berbagai instansi di Jakarta atas kerjasama dan persahabatannya selama ini. Dengan segala keterbatasan, kita bersama-sama telah berupaya memberikan yang terbaik bagi bangsa. Keluarga saya meminta saya untuk tidak menyampaikan terimakasih bagi mereka. Tidak perlu, kata mereka. Mereka hanya meminta saya untuk memberikan lebih banyak perhatian dan waktu bagi mereka. Untuk sementara ini, nampaknya permintaan ini&amp;nbsp;belum dapat saya penuhi. Terakhir saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh hadirin yang telah berkenan meluangkan waktu untuk hadir pada acara hari ini. Demikianlah seluruh uraian saya. Semoga Tuhan selalu melimpahkan rakhmat-Nya kepada kita semua. Terimakasih.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Download versi Ms. Wordnya &lt;a href="https://docs.google.com/file/d/0B9Pwe93Npgrzb3NMV2d0Z1ZadEU/preview" target="_blank"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/11/dimensi-ekonomi-politik-pembangunan.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiipiHnz0zwsIeiyz-rjJG-eora63XOdzK-4X4tdKEIw-oYlgRO-xiCRwvrQegv291Bd68ZXwIpR6ORSQ-tJW8Y5VMDYjWOb-qyQ5pPG0i_-EBowYUfI9I5R2WECunjDhe8PkKYhwMVHQI/s72-c/Boediono1.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5948054545796706372</guid><pubDate>Thu, 14 Nov 2013 10:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-11-15T15:34:51.778+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Arts</category><title>Che dalam sebuah Bingkai</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNL7yyFbUsbrYQQTHwpkeaGk8Jl2mbNruhDtPZaUwWRewIkZ6tM0NQI_dzOcvkRmIOR_41LkFmNrfAGz5j0PWaMUbXtKl1mOfZdSz9EHBwJDsUL2Z3pRiSYLSeAnwfsznSdI-PJ2ZebWI/s1600/Cheee.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="440" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNL7yyFbUsbrYQQTHwpkeaGk8Jl2mbNruhDtPZaUwWRewIkZ6tM0NQI_dzOcvkRmIOR_41LkFmNrfAGz5j0PWaMUbXtKl1mOfZdSz9EHBwJDsUL2Z3pRiSYLSeAnwfsznSdI-PJ2ZebWI/s640/Cheee.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBejmRU7Nq5xDaa3TAKUYz6DYEjFCLtoKO-jejCbZA_93kxPn56LPXmGXlWwi9QWNcRsdaiQt7u-C6L-8Me3KVJZ4IxJv8SWeziBVEy9dkkn6EeopcjIk0t1Nj2bymputs-TQFJ2D3TFc/s1600/IMG00743-20131108-2357.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBejmRU7Nq5xDaa3TAKUYz6DYEjFCLtoKO-jejCbZA_93kxPn56LPXmGXlWwi9QWNcRsdaiQt7u-C6L-8Me3KVJZ4IxJv8SWeziBVEy9dkkn6EeopcjIk0t1Nj2bymputs-TQFJ2D3TFc/s640/IMG00743-20131108-2357.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7rkivBuhTPqqa1bgsBvFu4godbKnKb73HhluRpDFKKNhA9JuSBZTr4x4C0YGF5G3dHDPbxR413P2QJ4kca04h-lUq39R-paaRoWcFUOLhy1WImAGwdOjnxIFcyVO71KqbQmoCjhjWBcA/s1600/IMG00747-20131109-0001.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7rkivBuhTPqqa1bgsBvFu4godbKnKb73HhluRpDFKKNhA9JuSBZTr4x4C0YGF5G3dHDPbxR413P2QJ4kca04h-lUq39R-paaRoWcFUOLhy1WImAGwdOjnxIFcyVO71KqbQmoCjhjWBcA/s640/IMG00747-20131109-0001.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimy3CC8R0WbpVs1mF7Q4vaMiQr28G47jLrxKtc23Zaxg4mzQ0qaQ4Q1maCQRNJfJcuqeshhzWYWxvODUNY0Kk2bAFYk1C1EcABh4EJtFGmSikLf1riRNERt75zpKknCFH1Ag6sEOjV2Iw/s1600/IMG00744-20131108-2358.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimy3CC8R0WbpVs1mF7Q4vaMiQr28G47jLrxKtc23Zaxg4mzQ0qaQ4Q1maCQRNJfJcuqeshhzWYWxvODUNY0Kk2bAFYk1C1EcABh4EJtFGmSikLf1riRNERt75zpKknCFH1Ag6sEOjV2Iw/s640/IMG00744-20131108-2358.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Che Guevara (Tokoh Revolusi Kuba) dibingkai dalam sebuah &lt;i&gt;art gravity&lt;/i&gt; yang menghiasi dinding kamar. Terima kasih untuk seniman,&amp;nbsp;&lt;a href="https://plus.google.com/u/0/111041419694618118840" target="_blank" title="Lihat Profile Hasbullah H. Moti di Google+"&gt;+Hasbullah H. Moti&lt;/a&gt;&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;&lt;a href="https://plus.google.com/105679948775753899075" target="_blank" title="Lihat Profile Hasan Gembel di Google+"&gt;+Gembel Uyye&lt;/a&gt;&amp;nbsp;atas seni dan karyanya. Menerima lukis &lt;i&gt;wall gravity&lt;/i&gt; area Jogjakarta dan sekitarnya. Hubungi&amp;nbsp;&lt;a href="https://plus.google.com/105679948775753899075" target="_blank" title="Lihat Profile Hasan Gembel di Google+"&gt;+Gembel Uyye&lt;/a&gt;&amp;nbsp;untuk informasi lebih lanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan halangi kami untuk berkreasi!!!</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/11/che-dalam-sebuah-bingkai.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNL7yyFbUsbrYQQTHwpkeaGk8Jl2mbNruhDtPZaUwWRewIkZ6tM0NQI_dzOcvkRmIOR_41LkFmNrfAGz5j0PWaMUbXtKl1mOfZdSz9EHBwJDsUL2Z3pRiSYLSeAnwfsznSdI-PJ2ZebWI/s72-c/Cheee.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5276825173374491962</guid><pubDate>Sun, 03 Nov 2013 14:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-11-03T21:52:05.315+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Spiritualisme</category><title>Tafsir Al-Qur’an tentang Penciptaan Langit</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFM3PUR_ufMImpuwRYCbI3TKECZHvlNtyjbgB9oCkEjF6e5EbcsXydFCVmhfhCROOjxBPYkxxlsNAsVhsimcH-kK9NxkKnQn8JpxEznYCTVPXyUuDDrfNkGW9zRIjyT5PQYWKUy5LPJyo/s1600/Al-quran.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFM3PUR_ufMImpuwRYCbI3TKECZHvlNtyjbgB9oCkEjF6e5EbcsXydFCVmhfhCROOjxBPYkxxlsNAsVhsimcH-kK9NxkKnQn8JpxEznYCTVPXyUuDDrfNkGW9zRIjyT5PQYWKUy5LPJyo/s1600/Al-quran.jpg" height="265" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Quran adalah pedoman yang wajib diikuti oleh semua umat muslim di manapun dia berada. Al-Quran adalah sumber hukum bagi orang islam dalam menjalani setiap amal ibadahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena dari Al-Quranlah kita dapat memahami apa saja yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan dan apa saja yang Allah larang kepada kita untuk dilakukan. Al-Quran juga adalah sebuah bukti keagungan Allah, dengan mukjizat yang Dia turunkan ini maka kita menyadari bahwa sebenarnya tidak mungkin Nabi Muhammad yang membuatnya, karena di dalamnya terdapat hal – hal ghaib dan wawasan yang luar biasa luas yang tidak mungkin seorang dapat mengetahuinya dengan sendirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila seorang muslim mengikuti ajaran agamanya yang ada dalam Al-Quran, maka niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia juga di akhirat. Semua yang terkandung dalam Al-Quran adalah kebaikan dan kebenaran, maka seorang muslim dalam melaksanakan semua aktivitas – aktivitasnya seharusnya menjadikan Al-Quran sebagai landasan baginya untuk beramal dan beraktivitas. Dan orang yang paling mengikuti Al-Quran dalam kegiatan dan, aktivitas, dan amalannya adalah Nabi Muhammad. Hal ini dijelaskan oleh Aisyah istri Rasulullah bahwasanya&amp;nbsp;akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Quran, yang artinya bahwa setiap tindakan dan aktivitas yang dilakukan oleh Rasulullah semuanya berlandaskan Al-Quranul Karim. Maka sudah seharusnya bagi kita, ummat Nabi Muhammad agar mengikuti tuntunan Nabi kita yaitu Nabi Muhammad dengan cara mengamalkan apa yang ada di Al-Quran, atau setidaknya kita berusaha untuk mengamalkannya. Akan tetapi bila kita termasuk orang yang hanya membaca Al-Quran saja, maka kita pun sudah mendapatkan pahala dari bacaan kita, apalagi jika kita dapat mengamalkan yang ada di dalam Al-Quran, yang notabene tidak semua dari kita dapat melakukannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Qur’an merupakan ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah kepada manusia agar manusia mengerti dan tahu terutama tentang alam sekitaranya yang pada waktu itu manusia masih memilki pengetahuan yang minim tentang alam semesta. Pada zaman Nabi dan para sahabat, banyak hal-hal yang masih bersifat misteri tantang ayat-ayat yang diturunkan Allah. Setelah ilmu pengetahuan berkembang, banyak ayat-ayat Al-Quran terbukti berjalan seiringan dengan ilmu pengetahuan. Saat manusia masih buta tentang alamnya, Al-Qur’an datang dengan membawa perubahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Surah Al-Baqarah Tentang Penciptaan Langit&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu bukti bahwa Al-Quran adalah mukjizat yang agung adalah, dalam Al-Quran kita dapat mendapati fenomena – fenomena keilmuan yang mana fenomena-fenomena tersebut baru dapat diketahui dan dianalisa pada zaman modern ini. Salah satu contoh adalah keajaiban dalam bidang astonomi. Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyatakan tentang penciptaan alam semsta, diantaranya adalah firman Allah yang berbunyi :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
”Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu"[1]&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah sendiri yang menciptakan langit dan bumi, karena kata dhamir yang digunakan dalam ayat ini adalah huwa yang artinya dia seseorang. Maka dalam ayat ini kita dapat melihat kebesaran Allah dalam menciptakan bumi dan langit, yang Dia lakukan sendiri tanpa bantuan dari siapapun, karena Allah Maha Kuat dan Maha Agung. Allah juga Maha Mengetahui, maka ilmu pengetahuan Allah meliputi segalanya, termasuk ilmu tentang penciptaan alam semesta. Pengertian ini sama dengan yang terkandung dalam ayat lainnya:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;
”Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian lahirkan dan yang kalian sembunyikan)?”[2]&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengertian ini juga sama dalam ayat yang lainnya:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
“Katakanlah: Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kalian adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat ) demikian itulah Tuhan semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi,’datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa’. Keduanya menjawab,’Kami datang dengan suka hati’. Maka Dia menjadikan tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharany dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”[3]&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menciptakan bumi dan langit dengan tahapan-tahapan dan fungsinya masing-masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kembali kepada penjelasan surat al-Baqarah ayat 29, yaitu ketika sahabat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa sahabat lainnya menafsirkan tentang ayat ini berkata,” Pada mulanya Allah menjadikan air dan metakkan ‘Arasy di atasnya, kemudian ketika akan menjadikan makhluk, Dia mengeluarkan uap air dikeringkan dan Dia menjadikannya tanah, kemudian membelahnya menjadi tujuh petaka dalam dua hari: Ahad dan Senin. Lalu meletakkan bumi di atas ikan yang tersebut dalam ayat 1 surat al-Qalam. Ikan besar (nun) berada di dalam air. Ar berada di atas permukaan batu, sedangkan batu berada di atas panggung malikat. Malaikat berada di atas batu besar dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut Luqman bahwa ia bukan berada di langit, bukan pula di bumi. Kemudian ikan besar itu bergerak, maka goncanglah bumi, lalu Allah memasang pasak yang berupa gunung-gunung, sehingga bumi menjadi tenang.[4]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin tanpa adanya perkembangan sains, kita tidak akan mempercayai semua yang tertulis dalam Al-Quran. Tapi dengan adanya teknologi sekarang yang berkembang menyebutkan bahwa pada dasarnya bumi itu sendiri memiliki lapisan-lapisan lagit yang berjumlah beberapa lapisan. Setiap lapisan-lapisan itu sendiri mempunyai fungsi dan ketinggian yang berbeda satu sama lain. “Para ilmuan menemukan bahwa atmosfer terdiri dari beberapa bagian. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dari ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan yang terdekat dengan bumi disebut dengan troposfer. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer stratosfer. Lapisan ozon adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut mesosfer. Termosfer berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut ionosfer. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. bagian ini dinamakan eksosfer.”[5]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kekuasaan Allah Dalam Penciptaan Langit&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ayat kedua yang menceritakan tentang alam semesta terdapat dalam surat Adz-Dzariyat pada ayat 47. Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;
“Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan/tangan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ayat ini juga menandakan bahwasanya Allah itu Maha Agung, dan hanya milik Allah saja semua yang ada di langit dan di bumi. Kekuasaan Allah yang Maha Luas itu dapat kita rasakan bila kita selaku muslim bisa menyadarinya. Dengan selalu menambah wawasan agamanya dan terus belajar maka kita tahu bahwa semua yang ada di sekitar kita adalah milik Allah, maka tidak sepatutnya bagi manusia untuk menyombongkan dirinya. Semakin banyak yang diketahui tentang kekuasaan Allah itu, bertambah pula kesadran bahwa ilmu yang dimiliki manusia sangatlah terbatas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagian ulama, terutama ulama-ulama terdahulu memaknai kata aydin dengan tangan yang sesungguhnya. Jadi Allah benar-benar memiliki tangan secara hakiki. Adapun sebagian ulama yang lainnya, yaitu ulama-ulama kontemporer memaknai kata tersebut dengan kekuasaan. Adapun yang mengartikannya dengan tangan, maka hanya Allah saja yang mengetahui bagaimana tangan-Nya itu.[6]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ayat diatas berbentuk kalimat nominal atau aljumlahismimiyah, yang bertujuan li ta’kid wal istimrar dan itu mengindikasikan bahwa proses yang dikemukakan pada ayat ini berlangsung secara terus menerus. Makna banayang tercantum pada ayat diatas,  dalam konteks penciptaan langit (as-sama’) dipergunakan oleh Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya yang lain dengan makna: kekuatan, otoritas, kontrol. Jadi penciptaan langit / galaksi dilakukan atau ditangani dengan control langsung dari Allah dengan system yang berlangsung. Selanjutnya, ungkapan wa inna lamusiuna yang menggunakan ism fail semakin memperbuat makana keberlangsungan proses penciptaan galaksi-galaksi ini, dan lafal ini menunjukkan bahwa: galaksi / langit it uterus menerus berkembang dan melakukan ekspansi. Hal tersebut sejalan dengan sifat hukum singularitas alam semesta, yang telah diteliti oleh para ilmuan akhir abad-20.[7]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan dua ayat yang telah diungkapkan di atas, maka dapat dibuktikan bahwa Al-Quran adalah kitab yang universal, yang tidak hanya berisi tentang kaidah-kaidah agama saja. Dan yang paling penting adalah bahwa kebenaran yang terdapat dalam Al-Quran, terutama tentang alam semesta dapat dibuktikan dengan perkembangan sains.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di dalam Al-Quran masih banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta. Di antaranya adalah surat Az-Zumar Allah berfirman :&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
”Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam"[8]&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ayat ini berbicara tentang fungsi langit dan bumi. Di dalam ayat yang lain Allah juga berfirman :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
”Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya"[9]&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ayat ini berbicara juga tentang fungsi langit bagi kehidupan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang tidak hanya berbicara tentang penciptaan alam semesta, akan tetapi juga berbicara tentang ilmu pengetahuan lainnya ataupun hal-hal yang berhubungan dengan sains. Maka kita bisa menyatakan bahwa sesungguhnya Al-Quran ternyata kaya makna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Qur’an diturunkan pada masa Nabi Muhammad SAW atau 1400 tahun dari sekarang. Bisa dipastikan pada saat itu teknologi dan perkembanan ilmu pengetahuan tidak sepesat sekarang. Pada jaman dulu, benda angkasa yang paling jauh yang bisa dilihat oleh manusia di bumi hanyalah bintang, dan bentuknya-pun hanya titik-titik kecil. Kalau dibandingkan dengan sekarang, dengan menggunakan teknologi yang maju kita dapat menyaksikan kekuasaan Tuhan yang Maha Besar. Kita, manusia itu sendiri merupakan satu titik kecil ditengah angkasa raya yang sangat besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukti-bukti Al-Qur’an yang selama ini diketahui tidak bersinggungan dengan ilmu-ilmu pengetahuan terutama astronomi. Seperti sudah dipaparkan diatas tadi tentang ulasan-ulasan mengenai berbagai ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang ilmu-ilmu astronomi yang mengindikasikan bahwa Al-Qur’an itu sendiri bersifat universal dan selamanya. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayat yang diturunkan pada masa Nabi Muhammad sampai masa sekarang masih terbukti kebenarannya. Hal yang diutarakan 1400 tahun sebelum kita ternyata masih terbukti sampai sekarang dan berjalan seiringan dengan ilmu pengetahuan dan kalau kita menggunakan logika manusia biasa hal itu sungguh sangat tidak masuk akal. Ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an itu bersifat selamanya. Dan ini juga tidak menutup kemungkinan bahwa dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang lebih maju lagi, bukti-bukti akan kebenaran Al-Qur’an akan semakin terungkap. Wallahualam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[1] Al-Qur’an Surat Al Baqarah 2;29&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[2] Al-Qur’an Surat Al-Mulk 67; 14&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[3] Al-Quran Surat Fushilat 41; 9-12&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[4] Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, (2004). Surabaya, PT. Bina Ilmu, hal. 86-88&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[5] General Science, 1985, hal. 319-322&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[6] Tafsir Al Azhar Juz 27, Prof.Dr. Hamka, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[7] Tafsir Ayat-ayat Sains dan social, Andi Rosadisastra, Penerbit Amzah, 2007.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[8] Al-Quran surat Az-Zumar;39: 5&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[9] Al-Quran surat Al-Anbiyaa;21:32&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;REFERENSI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Qur’an Surat Al Baqarah 2;29&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Qur’an Surat Al-Mulk 67; 14&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Quran Surat Fushilat 41; 9-12&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, (2004). Surabaya, PT. Bina Ilmu, hal. 86-88&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
General Science, 1985, hal. 319-322&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tafsir Al Azhar Juz 27, Prof.Dr. Hamka, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tafsir Ayat-ayat Sains dan social, Andi Rosadisastra, Penerbit Amzah, 2007.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Quran surat Az-Zumar;39: 5&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Quran surat Al-Anbiyaa;21:32&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/11/tafsir-al-quran-tentang-penciptaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFM3PUR_ufMImpuwRYCbI3TKECZHvlNtyjbgB9oCkEjF6e5EbcsXydFCVmhfhCROOjxBPYkxxlsNAsVhsimcH-kK9NxkKnQn8JpxEznYCTVPXyUuDDrfNkGW9zRIjyT5PQYWKUy5LPJyo/s72-c/Al-quran.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5793842649662508833</guid><pubDate>Sun, 03 Nov 2013 14:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-11-03T21:42:17.895+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kata Tanpa Batas</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>Dan Bumi pun Menangis</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5fYDQnJPojqokkVr5twTJOlWZiypZ6xlRN-S2yvOQ2TzR74BDRWuAH9qPuWpY4AoIu72Hc1qs-UY0rZeNNMfoE6zfq_zjKOv5Bfn7n70qYkDPkoaX6_91XfXjKb7NGz6ZJ-z8xrJ7Iw8/s1600/bumi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5fYDQnJPojqokkVr5twTJOlWZiypZ6xlRN-S2yvOQ2TzR74BDRWuAH9qPuWpY4AoIu72Hc1qs-UY0rZeNNMfoE6zfq_zjKOv5Bfn7n70qYkDPkoaX6_91XfXjKb7NGz6ZJ-z8xrJ7Iw8/s1600/bumi.jpg" height="300" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam setiap pilihan hidup, pasti ada efek baik dan buruk sebagai sebuah konsekuansi yang selalu ada dan menyertai setiap pilihan yang ada. Kondisi yang sama juga berlaku terhadap corak produksi kapitalisme yang telah dipakai oleh sebagian Negara dunia sebagai system ekonominya. Disatu sisi, kapitalisme menawarkan berbagai solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Menurut beberapa pakar ekonom kapitalis, system ekonomi kapitalisme dapat menyelesaikan masalah-masalah yang membelenggu manusia seperti, kemiskinan, pengangguran dan berbagai kasus terutama yang berhubungan dengan masalah ekonomi. Layaknya setiap pilihan, termasuk system ekonomi pasti akan menimbulkan efek buruk yang patut kita waspadai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kapitalisme pada dasarnya merupakan sebuah system ekonomi dimana seseorang diarahkan untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Modal merupakan kata kunci dalam memahami prinsip kapitalisme secara keseluruhan. Kebebasan seorang individu diberi ruang yang&amp;nbsp;luas untuk memproduksi apapun, tanpa ada harus campur tangan dari siapapun, termasuk Negara. Konsep ini sering kita dengar sebagai liberalisasi pasar. Kapitalisme dan liberalism merupakan paduan yang menjadi dasar kebanyakan system ekonomi yang dipakai oleh sebagian Negara didunia. Keduanya mengakibatkan adanya eksploitasi besar-besaran terhadap alam untuk mencapai keuntungan yang menjadi tujuan awal dari system ekonomi tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Eksploitasi yang dilakukan oleh kapitalisme pada dasarnya tidak dibatasi oleh nilai-nilai apapun, bahkan nilai agama sekalipun. Nilai yang ada dalam kapitalisme hanya nilai untuk  mencari modal sebesar-besarnya. Kondisi diatas semakin memperparah eksploitasi yang dilakukan oleh system terhadap alam. Keuntungan diperbesar sedemikian rupa, tapi alam semakin terpuruk keadaannya. Ekploitasi kapitalisme terhadap alam melalui perusahaan pertambangan menimbulkan efek yang buruk bagi alam sendiri. Eksploitasi dalam berbagai jenis sector tambang telah meningkatkan rusaknya ekosistem alam dari berbagai sisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada abad ke-21, kapitalisme telah menjejakkan kakinya dibumi hamper ratusan tahun lamanya. Efek-efek buruk dari penjarahan kapitalisme telah kita rasakan pada awal abad ini. Kasus global warming merupakan contoh nyata dari keserakahan kapitalisme. Pemanasan bumi yang terjadi merupakan imbas langsung dari berbagai limbah pabrik dan berbagai macam limbah dari system produksi kapitalisme. Limbah pabrik tersebut mempengaruhi berbagai lapisan ozon yang ada di atmosfer. Dari seabad yang lalu, suhu bumi meningkat beberapa celcius karena sinar ultraviolet yang dipancarkan dari matahari tidak dapat dipantulkan kembali oleh lapisan atmosfer bumi. Meningkatnya suhu bumi, merupakan akibat langsung dari system kapitalisme yang mempunyai corak eksploitasi total dalam segala bidang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akibat lain dari gejala alam adalah perubahan musim. Dalam beberapa tahun terakhir, musim selalu ditandai dengan berbagai macam bencana yang berhubungan dengan perubahan cuaca yang drastic. Perubahan musim yang tidak jelas ini menyebabkan berbagai kerugian, baik fisik maupun material, terutama orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari musim. Petani dan nelayan yang berada di Negara-negara miskin dan berkembang akan langsung merasakan akibatnya. Bumi memang sedang menangis melihat keserakahan manusia yang terwakili oleh system kapitalisme.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/11/dan-bumi-pun-menangis.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5fYDQnJPojqokkVr5twTJOlWZiypZ6xlRN-S2yvOQ2TzR74BDRWuAH9qPuWpY4AoIu72Hc1qs-UY0rZeNNMfoE6zfq_zjKOv5Bfn7n70qYkDPkoaX6_91XfXjKb7NGz6ZJ-z8xrJ7Iw8/s72-c/bumi.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-6160621676667193859</guid><pubDate>Sun, 03 Nov 2013 14:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-11-03T21:39:59.188+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kata Tanpa Batas</category><title>Kausalitas dan Hubungannya dengan Momentum</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirImkXJh3mCBnvz4YUROYqPNzccSv3cZREagE1LZYjzAGbbcIU7n7JfgcoI6qGNjbYj1GL15qIlosMvUddm4Wb6N5vlzulJQOROIHOdgaTGwQG1xYFc_EsJHxxtkJ-VB1xBfB4ZBBQ5Vw/s1600/sebab+akibat.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirImkXJh3mCBnvz4YUROYqPNzccSv3cZREagE1LZYjzAGbbcIU7n7JfgcoI6qGNjbYj1GL15qIlosMvUddm4Wb6N5vlzulJQOROIHOdgaTGwQG1xYFc_EsJHxxtkJ-VB1xBfB4ZBBQ5Vw/s1600/sebab+akibat.jpg" height="267" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perhatikan sebuah peristiwa dibawah ini :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;A adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan di Yogyakarta. Sehari-hari, A dikenal sebagai aktivis yang ada di kampusnya. Sedangkan B adalah seorang polisi anti huru-hara. Pada waktu itu, presiden SBY mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM dalam negeri dari Rp 4.500,- menjadi Rp 6.000,-. A sebagai seorang aktivis yang melihat keputusan ini sebagai keputusan yang tidak memihak kepada rakyat melakukan aksi demonstrasi di depan istana agung Yogyakarta. Sedangkan B, sebagai seorang polisi anti huru-hara ditugaskan untuk menjaga istana agung dari aksi demonstrasi tersebut. A dan B bertemu dalam satu peristiwa.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/i&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari peristiwa diatas dapat diperoleh fakta bahwa :&lt;/div&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;A dan B mempunyai motif atau sebab yang berbeda satu sama lain.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;A dan B bertemu dalam satu peristiwa yang sama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Prinsip sebab-akibat hadir karena ada prinsip sebab-akibat lain yang mendahuluinya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kausalitas menciptakan momentum yang berbeda antara subjek-subjek yang berbeda pula.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada point (1) dijelaskan bahwa A dan B sebagai sebuah subjek yang masing-masing berbeda latar belakang dan pekerjaannya mempunyai motif yang berbeda satu sama lain. Motif ini sendiri tercipta berdasarkan hukum kausalitas yang mendahuluinya. jika si A tidak kuliah di Yogyakarta, dia tidak mungkin bertemu dengan B, seorang polisi yang ditugaskan di depan istana agung pada waktu demonstrasi tersebut. Baik A maupun B mempunyai masing-masing sebab yang menyebabkan mereka bertemu dalam satu momentum yang sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada point (2) menjelaskan tentang momentum yang tercipta dari sebab-akibat yang mendahuluinya. A dan B bertemu di depan istana agung pada hari demonstrasi terjadi. Momentum disini adalah sebagai hasil dari motif masing-masing subjek yang berbeda. Dari contoh diatas bisa dilihat bahwa momentum yang ada (A dan B bertemu di depan istana agung), tercipta karena ada sebab yang melatarbelakangi keduanya, walaupun sebab A dan B tidak sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di point (3) dijelaskan bahwa sebab-akibat hadir karena ada sebab-akibat yang mendahuluinya. Point ini merupakan rangkuman dari dua point diatas. A hadir di depan istana agung karena dia adalah mahasiswa yang melakukan demonstrasi untuk menolak kenaikan harga BBM. Jika A tidak dikuliahkan di jogja, momentum seperti contoh diatas bisa saja tidak terjadi. Jika orang tua si A tidak mampu membiayai kuliah, momentum tersebut tidak dapat terjadi. Hal ini menjadi prinsip kausalitas yang ada untuk menciptakan momentumnya sendiri. Pada dasarnya sebab –akibat berputar dengan menghadirkan setiap momentum dalam setiap perputarannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada point (4) menjelaskan bahwa prinsip sebab-akibat hadir dalam berbagai peristiwa yang membentuk momentumnya tersendiri. Beberapa sebab-akibat yang terjadi dapat bertemu disatu momentum yang sama. Seringkali sebab-akibat yang ada tidak berhubungan langsung dengan sebab-akibat lain, bahkan bertolak belakang. A sebagai seorang mahasiswa pasti bertemu dengan kawan-kawannya untuk membahas tentang aksi demonstrasi yang akan dilakukan. Pertemuan dia dengan kawan-kawannya merupakan momentum sendiri karena ada prinsip sebab-akibat yang mendahuluinya. Hal itu juga dialami oleh si B sebagai seorang polisi. Sebelum dia turum ke lapangan untuk mengamankan demonstrasi, dia pasti akan bertemu dengan komandannya dalam proses koordinasi. Peristiwa dimana dia dan komandannya bertemu merupakan momentum yang tercipta karena ada prinsip kausalitas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prinsip kausalitas atau sebab-akibat setiap kali kali hadir dalam kehidupan kita. Dari contoh peristiwa diatas, bisa dilihat bahwa A sebagai seorang mahasiswa bertemu dengan B yang merupakan seorang polisi dalam satu momentum tersendiri. Tetapi sebelum momentum itu sendiri hadir, ada hukum sebab-akibat yang mendahuluinya. Prinsip sebab akibat ini sendiri hadir sebagai akibat dari sebab-akibat yang ada sebelumnya. Prinsip kausalitas menghadirkan kausalitasnya yang lain, dan disetiap kausalitas-kausalitas tersebut tercipta momentum-momentum yang berbeda. Hubungan yang ada berbentuk perputaran prinsip kausalitas dengan momentum.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/11/kausalitas-dan-hubungannya-dengan.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirImkXJh3mCBnvz4YUROYqPNzccSv3cZREagE1LZYjzAGbbcIU7n7JfgcoI6qGNjbYj1GL15qIlosMvUddm4Wb6N5vlzulJQOROIHOdgaTGwQG1xYFc_EsJHxxtkJ-VB1xBfB4ZBBQ5Vw/s72-c/sebab+akibat.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-1736787901584140342</guid><pubDate>Sun, 03 Nov 2013 14:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-11-03T21:35:09.288+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>Relevansi Pemikiran Rousseau tentang Voting terhadap Pengambilan Kebijakan dewasa ini</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilJR-QiMtWjaAuMuUAkDjbltTkBNIDGcxJck_mlD78mB4kYm2DAo4OnSnCAsZU4SDAjM1QzyNICG8Tc-w-BCy7Vt3mYReMfTnRa-K0wQUjFx6W90YPYu64C3z9IfaVsw7cxpUzMT_GlXc/s1600/Jean-Jacques-Rousseau-008.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilJR-QiMtWjaAuMuUAkDjbltTkBNIDGcxJck_mlD78mB4kYm2DAo4OnSnCAsZU4SDAjM1QzyNICG8Tc-w-BCy7Vt3mYReMfTnRa-K0wQUjFx6W90YPYu64C3z9IfaVsw7cxpUzMT_GlXc/s1600/Jean-Jacques-Rousseau-008.jpg" height="240" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pandangan Rousseau tentang Voting&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jean Jacques Rousseau adalah seorang pemikir politik Barat yang lahir pada abad dimana ilmu pengetahuan di Eropa sedang berkembang dengan pesat. Kondisi &lt;i&gt;social cultural&lt;/i&gt; yang terjadi di Eropa pada waktu itu banyak mempengaruhi pandangan-pandangan pemikir-pemikir politik, termasuk Rousseau.  Jean Jacques Rousseau (1712-78), kendati merupakan anggota komunitas &lt;i&gt;philosophie&lt;/i&gt; di Prancis abad ke-18, tidaklah seperti apa yang sekarang kita sebut seorang “filsuf”. Meski demikian dia mempunyai pengaruh yang kuat dalam filsafat, juga dalam susastera, selera, perilaku, dan politik.[1]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rousseau merupakan pemikir yang produktif, terutama dalam bidang politik. Didalam  salah satu bab di dalam bukunya ‘&lt;i&gt;du contract social&lt;/i&gt;’, Rousseau menjelaskan tentang voting. Dalam kontrak social dalam suatu masyarakat, proses pengambilan keputusan merupakan tindakan yang tidak gampang dilakukan karena setiap masyarakat terbagi atas individu yang berbeda satu sama lain. Warga negara memiliki hanya&amp;nbsp;satu kepentingan dan masyarakat memilki satu kehendak tunggal.[2] Hal ini menjadikan suatu perbedaan kepentingan dalam masyarakat tersebut, tetapi keputusan di dalam masyarakat harus tetap ada. Konsekuensinya akan ada suara mayoritas dan ada oposisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mayoritas bagaimanapun tetap merupakan kelompok yang paling diuntungkan dalam pengambilan voting karena secara kuantitas pasti akan menang. Tetapi bagaimana dengan oposisi? Jika didalam kontrak social terdapat oposisi maka oposisi tidak akan mengesahkan hasil dari kontrak tersebut melainkan hanya mencegah agar oposisi tidak menjadi bagian dari kontrak tersebut. Dalam logika sederhananya, semisal pada suatu waktu negara terbentuk, masyarakat tersebut menyetujui tentang pemerintah yang berkuasa, dan jika ada oposisi (tidak setuju) maka harus keluar dari masyarakat tersebut. Tetapi dalam banyak kasus, oposisi harus bisa mengubah pandangan dan pemikiran mereka menjadi sama seperti mayoritas agar eksistensi mereka diwilayah itu tetap ada. Namun yang menjadi pertanyaan disini adalah bagaimana seseorang bisa menjadi bebas sekaligus dipaksa menyesuaikan diri dengan kehendak yang bukan kehendaknya disini?[3]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam menjawab pertanyaan ini, Rousseau menjawab sendiri dalam bukunya bahwa warga negara memberikan persetujuannya kepada semua hukum atau undang-undang, termasuk hukum yang ditetapkan, kecuali para oposisinya. Bahkan mereka harus mematuhi undang-undang yang menghukumnya jika dia berani melanggar. Kehendak yang konstan dari semua anggota negara adalah kehendak umum dengan menaruh hormat padanya, maka mereka menjadi warga negara dan bebas. Dalam himpunan masyarakat modern, ketika sebuah undang-undang diajukan, yang menjadi perhatian mereka bukan apakah undang-undang yang diajukan itu disetujui atau tidak, tetapi apakah undang-undangitu sesuai dengan kehendak umum yang merupakan kehendak mereka sendiri. Dengan memberikan suaranya, setiap orang menyatakan pendapatnya dan kehendak umum yang diperoleh melalui perhitungan suara. Karena itu, ketika pendapat yang bertentangan dengan pendapat saya menang, lebih kurang membuktikan bahwa saya keliru, dan bahwa apa yang saya piker merupakan kehendak umum ternyata tidaklah demikian. Jika pendapat khusus saya dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, saya akan menemukan oposisi atas apa yang menjadi kehendak saya, dan dalam hal itulah saya tidak akan menjadi bebas.[4]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Implikasi Voting dalam kehidupan politik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam beberapa pengambilan keputusan, voting sangat diperlukan dalam beberapa kondisi. Tetapi walaupun begitu nilai keputusan yang dibuat melalui cara ini mempunyai kekuatan karena hasil dari voting ini merupakan suara terbanyak. Walaupun ada kelompok yang tidak mendapatkan apa yang menjadi keinginan karena suaranya minoritas (oposisi). Dalam contoh kasus voting yang pernah ada dalam tingkatan internasional adalah kasus nuklir Iran yang menyeret Iran ke Dewan Keamanan PBB. Pada waktu itu Dewan Tetap dan Dewan Tidak Tetap PBB sedang mengambil keputusan apakah akan menjatuhi sanksi embarfo ekonomi kepada Iran karena kasus nuklir. Dewan Tetap dan Dewan tidak Tetap melakukan voting yang mayoritas menyetujui adanya sanksi embargo, hanya Indonesia yang tidak ingin menjatuhi sanksi. Walaupun disini Indonesia bertindak sebagai oposisi, tetapi Indonesia tidak keluar dari forum itu. Dalam kasus yang lain tentang pengambilan keputusan ini adalah pemilihan umum. Dalam level ini setiap individu memiliki hak yang sama untuk memilih. Dalam perjalanannya, ada suara yang menerima dan menolak calon tertentu. Tapi tetap saja proses voting berjalan didalamnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[1] Betrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007, hal 894&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[2] Jean Jacques Rousseau, Du Contract Social, Visimedia, Jakarta, 2007, hal. 182.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[3] Ibid,. hal. 184.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[4] Ibib,. Hal. 184-185.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Losco, Joseph and Leonard Williams, Political Theory Volume II, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Russell, Betrand, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogayakarta, 2007&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rouseau, Jean-Jacques, Du Contract Social, Visimedia, Jakarta, 2007&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/11/relevansi-pemikiran-rousseau-tentang.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilJR-QiMtWjaAuMuUAkDjbltTkBNIDGcxJck_mlD78mB4kYm2DAo4OnSnCAsZU4SDAjM1QzyNICG8Tc-w-BCy7Vt3mYReMfTnRa-K0wQUjFx6W90YPYu64C3z9IfaVsw7cxpUzMT_GlXc/s72-c/Jean-Jacques-Rousseau-008.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-8947777404464483274</guid><pubDate>Wed, 30 Oct 2013 05:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-30T12:35:28.278+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>Semar sebagai contoh ‘lurah’ daerah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiab5gA2C3EfCRyOG8nSvr9ZfDSkBxwhAZ4CfwFvowZRjihROI-rNJj7fQzP5PaLIZpW7QJK454TB2eDVjwtHHGt5QjE3K5AkxfeQdAUKxaDAQbgp8lR1n6EAUi7UK73ol4BGAPu5ymuDs/s1600/09-semar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="390" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiab5gA2C3EfCRyOG8nSvr9ZfDSkBxwhAZ4CfwFvowZRjihROI-rNJj7fQzP5PaLIZpW7QJK454TB2eDVjwtHHGt5QjE3K5AkxfeQdAUKxaDAQbgp8lR1n6EAUi7UK73ol4BGAPu5ymuDs/s400/09-semar.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tokoh semar merupakan tokoh yang tidak lagi asing di telinga kita. Nama asli semar adalah Kyai Lurah Semar Badranaya. Karakter Semar ada dalam setiap cerita-cerita pewayangan dan tokoh ini dikenal dalam cerita pewayangan yang sudah mengalami proses asimilasi budaya antara budaya lokal dengan cerita aslinya. Tokoh Semar banyak menghiasi cerita pewayangan dan termasuk dalam tokoh-tokoh punakawan selain gareng, petruk dan bagong. Semar mempunyai posisi yang menarik dalam cerita-cerita pewayangan jawa karena Semar adalah seorangpunggawa pemerintah. Peran dan posisi Semar juga tidak bisa dianggap enteng dalam cerita-cerita pewayangan. Tokoh semar bisa disejajarkan dengan prabu Kresna dalam hal keluhurannya. Semar mempunyai sifat yang jujur, ramah, sopan, humoris dan bertanggung jawab walaupun secara fisik Semar bukanlah tokoh yang dicitrakan sebagai tokoh yang tampan, berwibawa, ataupun hal-hal yang baik secara fisik lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kondisi yang berbeda bisa kita lihat saat kita melihat para ‘lurah’ daerah kita sekarang. Hampir sebagian kepala daerah kita mempunyai karakter yang sangat berlainan dengan karakter Semar. Walaupun secara fisik para pemimpin itu baik –tampan, berwibawa, kaya, dsb-, tetapi karakternya masih dipertanyakan. Kondisi ini diperparah dengan budaya politik yang hadir dalam masyarakat Indonesia seperti sekarang. Untuk menjadi kepala daerah, seorang calon harus&amp;nbsp;mengeluarkan dana yang tidak sedikit dalam proses kampanyenya. Budaya politik yang berkembang seperti sekarang ini mempersempit ruang gerak masyarakat tingkat bawah dalam partisipasinya terhadap pencalonan mereka menjadi pemimpin daerah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seorang pemimpin, sedikit banyak harus bisa mencontoh Semar sebagai abdi negara. Bukan sifat-sifat fisik yang diunggulkan, melainkan sifat-sifat dari pribadi seorang calon pemimpin yang menjadi pertimbangan. Tetapi untuk bisa melihat sifat dan karakter seorang calon juga bukan masalah yang gampang untuk dilihat, karena hal tersebut sangat bersifat abstrak dan tidak bisa dilihat secara kasat mata. Ditambah sebagian masyarakat yang menjadi pemilih tidak tahu menahu kehidupan pribadi yang dijalani oleh calon pemimpin. Akhirnya masyarakat hanya melihat aspek-aspek yang bisa dilihat secara kasat mata, semisal wajah, kewibawaan, kekayaan, dsb, padahal, aspek-aspek tersebut bukan menjadi esensi dasar bagi seorang pemimpin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai salah seorang punakawan, Semar merupakan simbolisasi dari seorang yang arif dan bijak. Semar juga merupakan pengasuh dan penasehat kaum ksatria dalam cerita mahabarata dan ramayana. Seorang ‘lurah’ harus bisa mengasuh rakyatnya sama seperti mengasuh anak sendiri. Selain memimpin, kepala daerah juga harus bisa mengasuh rakyatnya dalam ‘peperangan’ antara baik dan buruk, seperti Semar dalam mahabarata dan ramayana. Kondisi ini sangat berlainan dengan potret kepala daerah yang ada sekarang. Bukannya menjadi pengasuh, melainkan minta diasuh oleh rakyatnya. Kepala daerah adalah seorang pengasuh rakyat, minimal bertanggung jawab dari wilayah yang dia pimpin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semar pada dasarnya adalah perpaduan antara rakyat kecil dan dewa kahyangan. Dalam cerita pewayangan, peperangan antara yang baik dan buruk dimenangkan oleh golongan baik (kesatria) dengan asuhan semar. Walaupun pada dasarnya cerita pewayangan ini hanya fiksi dan simbolisasi, kita bisa menjadikan cerita ini sebagai panduan kita dalam memerintah ataupun memilih calon pengabdi rakyat agar peperangan yang kita jalani antara baik dan buruk didunia ini bisa dimenangkan oleh jalan kebaikan. Jika seorang kepala daerah mempraktekkan makna filosofis dalam sosok Lurah Semar, bisa dilihat bahwa rakyat akan menghormatinya sama seperti penghormatan terhadap dewa.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/10/semar-sebagai-contoh-lurah-daerah.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiab5gA2C3EfCRyOG8nSvr9ZfDSkBxwhAZ4CfwFvowZRjihROI-rNJj7fQzP5PaLIZpW7QJK454TB2eDVjwtHHGt5QjE3K5AkxfeQdAUKxaDAQbgp8lR1n6EAUi7UK73ol4BGAPu5ymuDs/s72-c/09-semar.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-2864809241405959620</guid><pubDate>Wed, 30 Oct 2013 05:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-30T12:32:10.293+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kata Tanpa Batas</category><title>Waktu, Gerak dan Tuhan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3Npu0tl001ljXbbhmxm1sdj_6tOHay6zJOCBHVXozbZJu6B2sucOuqgJxBzWaJJl8IH_-jig306_HeYY6y_WICM1oWVe6a9EvUTiIu2KUlalqxAYnXzLwUl3zOrW1ItwxJzRF9stoA7M/s1600/waktu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3Npu0tl001ljXbbhmxm1sdj_6tOHay6zJOCBHVXozbZJu6B2sucOuqgJxBzWaJJl8IH_-jig306_HeYY6y_WICM1oWVe6a9EvUTiIu2KUlalqxAYnXzLwUl3zOrW1ItwxJzRF9stoA7M/s400/waktu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Waktu, apa itu waktu? Sebuah pertanyaan yang seringkali kita lupakan. Padahal kata ‘waktu’ itu sendiri sudah menjadi kata-kata yang sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mau sedikit menggali jeli dalam pemikiran, kita akan banyak sekali melihat bahwa kita sebenarnya kurang atau bahkan mungkin tidak mengetahui makna dari kata yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ‘waktu’ itu sendiri. Lalu, apakah waktu itu? Dimana waktu itu berada? Bagaimana kita tahu waktu itu ada? Apakah waktu bergerak? Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas  sedikit banyak akan muncul saat kita berbicara tentang waktu. Mau tidak mau kita harus menjawab pertanyaan diatas, jika kita ingin memahami waktu itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Apakah waktu itu?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, waktu merupakan seluruh rangkaian saat ketika proses; perbuatan atau keadaaan berada atau berlangsung. Kata ini juga sering disebut dalam berbagai pelajaran, termasuk fisika dan filsafat. Tapi, apakah sebenarnya hakikat waktu itu sendiri?. Dalam kehidupan sehari-hari waktu mengacu pada perhitungan hari yang ada. Detik, menit, jam merupakaan satuan-satuan sering dipakai dalam memahami waktu. Tetapi, apakah satuan-satuan yang ada merupakan waktu itu sendiri?.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak, karena satuan-satuan itu diciptakan oleh manusia dengan alat penunjuk waktu atau jam. Jadi dengan kata lain jika satuan-satuan tersebut merupakan waktu maka boleh dikatakan bahwa waktu itu sendiri ciptaan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari keterangan diatas, kita bisa mamahami bahwa waktu tidak bisa kita indera dalam alam material. Dengan melihat sifat diatas, dapat dikatakan bahwa waktu pada dasarnya merupakan abstraksi dari dari ide manusia. Jika waktu hanya merupakan abtraksi, kenapa kita bisa memahami berbagai ilmu dalam alam semesta dengan konsepsi waktu?. Waktu pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dalam ruang. Setiap ada ruang, pasti ada waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Lalu, bagaimana kita tahu bahwa waktu itu ada?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Waktu tidak bisa dilepaskan dari ruang, bahkan sedetikpun mereka tidak boleh terlepas satu sama lain. Kita dapat memahami waktu karena pada dasarnya ruang waktu tidak terlepas. Saat salah satunya ada, maka yang lainnya akan ada juga. Saat keduanya berpadu, maka kita melihat adanya gerak yang terjadi dalam ruang waktu, bahkan kita bisa menghitungnya. Kita bisa melihat bahwa gerak itu sendiri merupakan konsepsi yang sering digunakan dalam menghitung waktu yang selama ini kita ketahui. Detik, menit, dan jam lahir dari konsepsi yang ada tentang gerak, bukan tentang waktu itu sendiri. Bahkan bisa dikatakan bahwa selama ini kita mengukur gerak dalam ruang, bukan gerak dalam waktu, karena pada dasarnya waktu itu sendiri tidak bergerak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Kenapa Tuhan abadi?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pengetahuan kita mengenai agama, konsepsi Tuhan yang ada selalu digambarkan dengan dengan sifatnya yang Maha. Segala macam sifat Tuhan yang kita tahu mendasarkan pada kesempurnaan Dia sebagai sesuatu Dzat yang harus kita yakini. Tetapi, apakah memang benar sifat-sifat Tuhan seperti itu memang ada? Sehingga kita benar-benar menyakini bahwa Tuhan itu sendiri adalah sempurna, atau kita cukup puas dengan menyakini bahwa Tuhan harus ada tanpa bertanya? Itu masalah pilihan dalam memahami-Nya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu saat teman saya pernah bertanya tentang keberadaaan Tuhan “Apakah Tuhan bergerak atau tidak? Lalu aku menjawab “Tuhan itu tidak bergerak”. Lalu dia bertanya lagi “jika Tuhan tidak bergerak, bagaimana Dia menciptakan kita, menciptakan alam semesta dan mengaturnya, atau bahkan bagaimana mungkin sesuatu yang tidak bergerak bisa menjadi Tuhan?” pada titik pertanyaan itu aku sedikit ragu menjawabnya karena secara sekilas pertanyaan sekaligus pernyataannya logis dan masuk akal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selang beberapa lama aku memikirkannya, aku baru bisa menjawabnya setelah aku belajar tentang ruang dan waktu. Pada dasarnya, gerak hanya hadir dalam konsepsi kita tentang ruang. Apapun yang bergerak dalam ruang berarti sesuatu itu pasti terikat dengan waktu. Dalam konteks ini, aku bisa memahami bahwa Tuhan tidak bergerak karena Tuhan sendiri tidak terikat dalam konteks ruang waktu. Bagaimanapun sesuatu bergerak, pasti perubahan akan melingkupinya. Jadi pada dasarnya Tuhan meliputi ruang waktu yang ada, sehingga Dia tidak  terikat dalam konsepsi gerak yang ada didalamnya. Tuhan bisa mempengaruhi segala gerak yang ada, tetapi segala gerak yang ada tidak akan bisa mempengaruhi kekuasaan Tuhan sendiri. Alam semesta hanya secercah cahaya Allah Yang Maha Agung. Wallahualam.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/10/waktu-gerak-dan-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3Npu0tl001ljXbbhmxm1sdj_6tOHay6zJOCBHVXozbZJu6B2sucOuqgJxBzWaJJl8IH_-jig306_HeYY6y_WICM1oWVe6a9EvUTiIu2KUlalqxAYnXzLwUl3zOrW1ItwxJzRF9stoA7M/s72-c/waktu.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5177584549687537415</guid><pubDate>Mon, 28 Oct 2013 20:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-29T03:12:48.850+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh</category><title>Sekilas tentang Ki Hajar Dewantara</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC0OXM8g2j2XyzfJRd2slOyMWkomVfiJrvTcFowvhqQMzUXxnqv45K_ffJ3VZnaR3Firc0CiMK0NYs84XgGzLA-XYgFj0EQ1QUm-9euQ3IiwpT78aJog57T_W4q8OgeJ3LtP4fSjP7FFU/s1600/mei016.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC0OXM8g2j2XyzfJRd2slOyMWkomVfiJrvTcFowvhqQMzUXxnqv45K_ffJ3VZnaR3Firc0CiMK0NYs84XgGzLA-XYgFj0EQ1QUm-9euQ3IiwpT78aJog57T_W4q8OgeJ3LtP4fSjP7FFU/s400/mei016.jpg" width="362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Ki Hajar Dewantara mungkin sudah sering kita dengar dalam berbagai media. Tapi tidak banyak yang tahu tentang pemikiran dan perjalanan hidup beliau. Nama asli beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat kemudian nama ini diganti dengan nama Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah tokoh dan aktivis pendidikan Indonesia pada zaman kolonialisme Belanda, karena kegigihannya tersebut, beliau diangkat menjadi Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan presiden no. 305 tanggal 28 November 1959. Hari kelahiran beliau (2 Mei 1889) juga dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ki Hajar Dewantara aktif dalam memperjuangkan pendidikan, terutama bagi kaum pribumi. Beliau juga mendirikan sekolah Nasionaal Onderwijs Institut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada tanggal 3 Juli 1922 sebagai sebuah anti-tesis pendidikan-pendidikan Belanda. Perguruan ini sangat menekankan pentingnya rasa nasionalis bagi setiap muridnya. Melalui pendidikan beliau ingin menanamkan kesadaran akan nasionalisme bagi orang-orang pribumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ajaran beliau yang masih sering kita dengar sampai sekarang adalah tut wuri handayani (dibelakang memberi dorongan). Semboyan ini berasal dari kalimat aslinya yang berbunyi ‘ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’. Ing ngarsa sung tulada  (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (ditengah membangun peluang untuk berprakarsa) dan tut wuri handayani (dibelakang memberi dorongan).  Masing-masing kalimat tersebut dapat mengajari kita tentang nilai filosofis dari pendidikan yang seharusnya. Semboyan ini diadopsi oleh pemerintah sebagai semboyan pendidikan Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kita sebagai sebuah bangsa yang terdidik seharusnya sadar akan nilai-nilai filosofis yang dibawa oleh Ki Hajar Dewantara. Nilai-nilai filosofis tersebut hanya menjadi sebuah hiasan dinding untuk mempercantik wajah luar pendidikan kita. Tetapi saat kita memasuki lebih dalam lagi wajah pendidikan kita, kita akan melihat bahwa para pemimpin rakyat yang suka korupsi sebagian besar adalah hasil cetakan pendidikan kita, kiblat pendidikan kita adalah bercorak Barat yang bersifat emperis-materialisme dan berbagai contoh nyata lainnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai filosofis dari Bapak Pendidikan kita. Jika kondisi seperti diatas tidak berubah, maka tidak dipungkiri lagi bahwa nilai-nilai filosofis pendidikan kita berubah menjadi simbol kosong tanpa makna.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/10/sekilas-tentang-ki-hajar-dewantara.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC0OXM8g2j2XyzfJRd2slOyMWkomVfiJrvTcFowvhqQMzUXxnqv45K_ffJ3VZnaR3Firc0CiMK0NYs84XgGzLA-XYgFj0EQ1QUm-9euQ3IiwpT78aJog57T_W4q8OgeJ3LtP4fSjP7FFU/s72-c/mei016.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5080646320788484442</guid><pubDate>Mon, 28 Oct 2013 20:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-29T03:09:27.424+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kata Tanpa Batas</category><title>Mencari Dunia Tanpa Dosa</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0iUxzWLcB8TYXaQOfgnJBrO9woU7mnsKUuAF3pl6c_hC9tZq-mobsilZtKQ_gCoNz7CwTEgOGAKVpTBhCqONW1SUOVXVbI_evBnz_A77eq9T5j3UFnEcjyqAdYa_EAJWnMjpkaZOwR2g/s1600/Jesus_Christ.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0iUxzWLcB8TYXaQOfgnJBrO9woU7mnsKUuAF3pl6c_hC9tZq-mobsilZtKQ_gCoNz7CwTEgOGAKVpTBhCqONW1SUOVXVbI_evBnz_A77eq9T5j3UFnEcjyqAdYa_EAJWnMjpkaZOwR2g/s400/Jesus_Christ.jpg" width="295" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sebuah pertanyaan dari dulu yang masih terngiang dipikiran. apakah ada sebuah dunia yang tidak ada dosa? sebuah dunia yang dihuni tanpa kemunafikan? sebuah dunia dimana tidak ada penindasan?&lt;br /&gt;mencoba berpikir, merajut butir-butir tanya dan menetapkan hati, bahwa masih ada dunia yang seperti itu.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;Tapi, setiap hari kaki melangkah. setiap jam mencoba bertanya. dan setiap detik meyakinkan hati. rasanya seperti bergulat dengan diri sendiri, tidak bisa menang, sekaligus tidak bisa kalah.&lt;br /&gt;berpikir untuk tidak tercipta didunia, tetapi sang khalik mencipta tanpa sia-sia. ingin berbuat buruk, selalu ada norma yang bersuara. ingin berbuat baik, tidak ada guna didunia yang hanya diukur dari materialistiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;aku ingin pergi, tapi pergi kemana…&lt;br /&gt;aku ingin mati, tapi takut neraka&lt;br /&gt;aku ingin berbuat baik, tidak ada gunanya&lt;br /&gt;apakah aku harus menyerah?&lt;br /&gt;mencari dunia tanpa dosa…&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/10/mencari-dunia-tanpa-dosa.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0iUxzWLcB8TYXaQOfgnJBrO9woU7mnsKUuAF3pl6c_hC9tZq-mobsilZtKQ_gCoNz7CwTEgOGAKVpTBhCqONW1SUOVXVbI_evBnz_A77eq9T5j3UFnEcjyqAdYa_EAJWnMjpkaZOwR2g/s72-c/Jesus_Christ.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-590715083298513494</guid><pubDate>Wed, 23 Oct 2013 16:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-23T23:33:59.012+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ekonomi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>Indonesia dalam Cengkraman Korporatokrasi Global</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzUZ9_UXZYtcznqsrze6FRZcDuj_qSGvDNPUtpey6X7l6jn1J3g6vLJBFzYqtks2EQkNfNEcZkl8u6YL9lADaFCB01Rh3TiQf602xTGGz_EyFP3swYBMC_xEh4B3Xt8dz1h7hOAs3h5Zk/s1600/peta-tambang-indonesia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzUZ9_UXZYtcznqsrze6FRZcDuj_qSGvDNPUtpey6X7l6jn1J3g6vLJBFzYqtks2EQkNfNEcZkl8u6YL9lADaFCB01Rh3TiQf602xTGGz_EyFP3swYBMC_xEh4B3Xt8dz1h7hOAs3h5Zk/s400/peta-tambang-indonesia.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Pengertian Awal&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Korporatokrasi pada dasarnya merupakan merupakan sebuah system yang terdiri dari berbagai kumpulan kekuasaan baik yang berada dalam tingkatan nasional maupun internasional untuk mecapai suatu tujuan kolektif. John Perkins mengunakan istilah korporatokrasi untuk menunjukkan bahwa dalam rangka membangun imperium global, maka berbagai korporasi global, bank, dan dan pemerintahan bergabung menyatukan kekuatan financial dan politiknya untuk memaksa masyarakat dunia mengikuti kehendak mereka[1].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Korporatokrasi hadir dalam sebuah system yang tersusun secara sistematis yang menguasai berbagai unsur politik (kekayaan, militer, media massa dsb) untuk mengumpulkan dan mengakumulasi sumber daya alam secara terus-menerus. Pada prinsipnya korporatokrasi bekerja hampir sama dengan system kapitalisme bekerja. Tetapi korporatokrasi tidak hanya menggunakanmodal yang dimilikinya untuk terus melakukan pengakumulasian modalnya menjadi lebih banyak, lebih lanjut korporatokrasi juga menggunakan elemen-elemen lain selain elemen kapitalisme itu sendiri. Dengan kata lain korporatokrasi merupakan metamorphosis kapitalisme yang berkembang terus dalam proses dialektika dan seleksi alam yang menyertainya. Menurut Bapak Amien Rais, korporatokrasi memiliki 7 unsur, yaitu: korporasi-korporasi besar; kekuatan politik pemerintahan tertentu, terutama Amerika dan kaki tangannya; perbankan internasional; kekuatan militer; media massa; kaum intelektual yang dikooptasi; dan terakhir yang tidak kalah penting adalah elite nasional Negara-negara berkembang yang bermental inlander, komprador atau pelayan[2].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bagaimana Korporaktokrasi berjalan?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti yang ditulis oleh Bapak Amien Rais bahwa unsur-unsur korporatokrasi itu sendiri meliputi 7 unsur. Setiap unsur-unsur itu bekerja erat satu sama lain untuk membentuk suatu system yang menguntungkan untuk korporatokrasi itu sendiri. Korporasi besar itu sendiri awalnya hanya bergerak dalam wilayah Negara induknya saja. Tapi setelah terjadinya over production, mereka melakukan ekspansi dan eksploitasi ke Negara-negara lain yang mempunyai orientasi awal yaitu akumulasi keuntungan yang dilakukan secara terus menerus. Hal ini terjadi pada Negara-negara yang menjalankan system kapitalisme sebagai system ekonominya. Contoh yang sangat nyata adalah Amerika Serikat. Didalam system kapitalisme itu sendiri tidak mengenal adanya batasan nilai, apapun bentuk nilai tersebut. Satu-satunya nilai yang diakui adalah akumulasi modal itu sendiri. Korporasi-korporasi besar melakukan ‘penjajahan’terhadap Negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia dengan cara melakukan deregulasi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan dari Negara-negara tersebut agar menguntungkan pihak korporasi itu sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan bantuan lembaga-lembaga perbankan internasional (khususnya IMF dan World Bank) yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada korporasi-korporasi tersebut. Dengan kata lain, negara-negara dunia ketiga harus mematuhi kebijakan lembaga internasional tersebut karena terikat pada suatu perjanjian internasional. Hal ini tentunya sangat merugikan Negara-negara dunia ketiga karena tidak lain dan tidak bukan lembaga internasional itu sendiri merupakan ‘bagian’ dari korportokrasi global. ‘Penjajahan’ ini diperparah oleh elit birokrasi Negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang bermoral inlander. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah jelas-jelas memihak korporasi tersebut karena pembuat kebijakan itu sendiri sudah tidak tahu ‘siapa dirinya’.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Keuntungan yang didapat oleh Korporatokrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada dasarnya korporatokrasi itu ada berpusat dari adanya korporasi-korporasi besar yang ada di dunia. Dengan kekuatan modal yang mereka punyai, mereka dapat membentuk suatu tatanan baru dunia. Tujuan mutlak korporasi adalah mencai keuntungan maksimal dengan biaya minimal dan waktu minimal[3]. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa kejahatan kerah putih (white collar crime) di Amerika merugikan Negara sebesar 300-500 miliar dollar per tahun. Tapi jika diperbandingkan dengan kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan biasa sangat menunjukkan perbendaan yang sangat signifikan yaitu kejahatan biasa hanya 3,8 milyar dollar per tahun[4]. Hal ini merupakan kasus yang sungguh ironis. Belum lagi keuntungan yang didapat dari pengurasan sumber daya alam dari Negara dunia ketiga yang terikat kontrak dengan para korporasi-korporasi besar tersebut. Jutaan atau bahkan miliaran dollar hanya dinikmati oleh korporasi-korporasi tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Dampak bagi Negara Dunia Ketiga&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Negara-negara yang paling terkena dampak dari system eksploitasi seperti ini adalah Negara Dunia Ketiga. Hal ini terjadi karena sumber daya alam yang ada di Negara tersebut tidak bisa dinikmati oleh rakyatnya sendiri, melainkan dinikmati oleh korporasi-korporasi tersebut. Kenyataan ini harus diterima oleh Negara-negara tersebut. Sementara kondisi pendidikan, ekonomi dan keshatan bagi rakyat Negara dunia ketiga yang memprihatinkan, tapi di sisi lain keuntungan sumber daya alam yang ada di tanah mereka malah dinikmati oleh pihak lain. Di Indonesia, kasus yang paling mencolok dan mendapat sorotan media adalah kasus Freeport. Miliaran dollar dihasilkan oleh tambang-tambang milik Freeport, tetapi kondisi masyarakat papua sendiri masih dalam kondisi yang mengenaskan. Hal ini terjadi karena proses penghisapan yang dilakukan oleh para korporatokrasi itu sendiri didalam wilayah Indonesia yang semakin lama semakin menancapkan kukunya di bumi pertiwi ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Bagaimana Indonesia melepaskan diri dari cengkraman Korporatokrasi Global&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Indonesia sudah sangat lama dalam cengkraman korporatokrasi global. Sejak jaman Orde Baru, investor-investor asing masuk dengan pengesahan UU dari DPR. Harus dilihat bahwa sebenarnya masalah di Indonesia terjadi karena elite birokratnya ‘lupa’ siapa sebenarnya mereka. Hal ini menjadikan keputusan yang dibuat tidak berdasar pada kepentingan rakyat Indonesia sendiri, melainkan untuk kepentingan korporasi asing. Maka daripada itu untuk mengentaskan permsalahan di Indonesia adalah dengan mencari orang-orang yang duduk di pemerintahan tidak lupa kenapa mereka ada disitu? Dan momen pemilu 2009 merupakan langkah yang cukup menentukan apakah Indonesia akan mendapatkan pemimpin yang tidak ‘pelupa’ atau Indonesia akan mendapatkan pemimpin yang akan meneruskan penjajahan asing terhadap negeri ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[1] Amien Rais “&lt;i&gt;Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia&lt;/i&gt;” PPSK Press, Yogyakarta. Hal. 81 yang dikuti dari bukunya John Perkins, Confesions of an Economic Hit Man, London, Penguin Books Ltd, 2006.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[2] Ibid., hal. 83.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[3] Ibid,. hal. 84.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
[4] Corporate Crime Reporter, http//www.corporatecrimereporter.com/top 100.html/ yang dikutip dalam bukunya Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa; Selamatkan Indonesia.&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/10/indonesia-dalam-cengkraman.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzUZ9_UXZYtcznqsrze6FRZcDuj_qSGvDNPUtpey6X7l6jn1J3g6vLJBFzYqtks2EQkNfNEcZkl8u6YL9lADaFCB01Rh3TiQf602xTGGz_EyFP3swYBMC_xEh4B3Xt8dz1h7hOAs3h5Zk/s72-c/peta-tambang-indonesia.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-1552688830316199292</guid><pubDate>Tue, 08 Oct 2013 18:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-09T01:36:52.129+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>Membudayakan Globalisasi atau menglobalisasikan Budaya</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHhEaoAQ73MVWF3KrcxpZq6zuFK4ZIsQcYmX1FhR-t2rGhCNxKWMqkCmYjqQNhCihnXY1Hx4_zEVGyc0kNpPWVrs1u5tkvni0ClhRXmebdhp4TjG6WlfXGOqL61GH-T53eQJru4Q6Zqyc/s1600/culture.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHhEaoAQ73MVWF3KrcxpZq6zuFK4ZIsQcYmX1FhR-t2rGhCNxKWMqkCmYjqQNhCihnXY1Hx4_zEVGyc0kNpPWVrs1u5tkvni0ClhRXmebdhp4TjG6WlfXGOqL61GH-T53eQJru4Q6Zqyc/s320/culture.jpg" width="289" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat kita melihat dua rangkaian kata diatas, hal yang pertama kita lihat hanyalah rangkaian kata yang urutannya hanya dibalik. Dalam rangkaian kata diatas hanya terdiri dari dua kata yaitu globalisasi dan budaya. Tapi perbedaan satu dengan yang lain terlihat pada makna yang terkandung dalam kedua kalimat tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada rangkaian kata pertama dimana budaya merupakan kata pertama dan globalisasi pada urutan kedua menunjukkan tentang kondisi yang terjadi dalam masyarakat Indonesia saat ini. Globalisasi yang merupakan produk metamorfosis dari kapitalisme sudah menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat. Segala hal yang berbau globalisasi diindentikkan dengan hal yang baik dimana doktrin seperti itu harus diterima oleh setiap negara, terutama negara-negara dunia ketiga. Hal ini menjadikan globalisasi sebagai tren, baik itu dipaksakan atau tidak, globalisasi harus bisa diterima dan dijalankan oleh setiap negara.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Globalisasi merupakan sebuah dunia dimana jarak antara satu negara dengan negara lain semakin sempit. Perpindahan barang dan jasa dilakukan dengan lebih mudah. Batas-batas yang dulu ada, seperti, peraturan tentang wilayah, bea cukai, ijin imigrasi dsb-nya sekarang dibatasi, sehingga jalur perpindahan suatu barang dan jasa, maupun ideologi semakin mudah. Dengan berkembangnya bidang teknologi dan informasi dewasa ini, globalisasi dapat berkembang dengan pesatnya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kenapa dengan adanya globalisasi, sistem ekonomi kapitalisme yang paling diuntungkan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menjawab pertanyaan diatas dapat dilihat dari negara-negara penyokong globalisasi tidak lain adalah negara-negara kapitalisme. Bahkan bisa dilihat bahwa globalisasi merupakan metamorfosis baru kapitalisme. Hal ini bisa dilihat dari sistem kapitalisme itu sendiri bekerja. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, peran pasar adalah lebih besar daripada peran negara. Negara tidak lagi mempunyai peran terhadap pasar. Tapi kapitalisme tidak bisa menghasilkan keuntungan terbesar jika negara lain, terutama negara dunia ketiga tidak melakukan hal yang serupa, yaitu menyerahkan urusan pasar tidak lagi kepada negara, melainkan kepada pasar itu sendiri. Lebih lanjut, produk yang dihasilkan oleh kapitalisme harus mempunyai daerah pemasaran. Masalah terbesar kapitalisme terbesar dalam masalah ini adalah aturan-aturan dari negara lain terhadap bea masuk suatu barang dari negara lain. Dengan menggunakan globalisasi sebagai cara agar aturan-aturan itu bisa diminimalisir, kapitalisme menjadi semakin mudah dalam mencari daerah pemasaran produk mereka.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu, bagaimana globalisasi dapat menjadi budaya?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Budaya dalam perkembangannya selalu merupakan tindakan/norma yang diikuti oleh masyarakat. Dalam masyarakat manapun, bentuk budaya pasti berkembang, karena bagaimanapun sekelompok manusia yang hidup dan tinggal disuatu tempat akan mengembangkan budayanya sendiri, entah itu besar ataupun kecil, dikenal atau tidak. Globalisasi sendiri merupakan suatu perkembangan masyarakat dimana tingkat mobilitas dan akses masyarakat terhadap informasi mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Globalisasi menjadi suatu kondisi dimana sethiap masyarakat ataupun negara tidak bisa menghindarinya. Pada arus perkembangan globalisasi, setiap individu, masyarakat dan negara akan saling berinteraksi satu sama lain. Dalam konteks ini, bukan tidak mungkin suatu bentuk interaksi yang terjadi adalah dalam bentuk budaya. Tapi bentuk interaksi seperti apa yang bisa terjadi antara individu yang hidup dalam suatu budaya tertentu? Interaksi yang dimaksud disini merupakan interaksi antara suatu budaya tertentu dengan individu yang hidup dalam budaya lain. Hasil yang dapat terjadi antara interaksi di atas adalah interaksi positif dan interaksi negatif. Yang pertama, interaksi positif antara individu dengan budaya dapat menghasilkan suatu individu yang berwawasan luas. Individu tersebut akan melihat suatu bentuk budaya dari masyarakat lain yang menyebabkan pemikiran individu tersebut tidak hanya terbatas pada budayanya saja. Yang kedua, yaitu interaksi negatif yang dapat terjadi terhadap seorang individu yang telah dipengaruhi oleh budaya lain. Saat seorang individu melihat suatu bentuk budaya lain dan budaya itu mempengaruhinya sehingga seseorang tersebut akan masuk kedalam budaya barunya itu dan melakukan suatu bentuk tindakan/ucapan yang sudah terpengaruh oleh budaya lain. Pada tingkat yang lebih parah, jika dalam suatu masyarakat sudah terpengaruhi oleh budaya lain, maka akhirnya budayanya sendiri akan hilang ditelan jaman karena tidak ada lagi individu yang melestarikan budayanya sendiri. Dapat kita misalkan seperti ini, individu A hidup dalam budaya A dan individu B hidup dalam budaya B. Interaksi yang dapat terjadi adalah pertama, interaksi antara individu A dengan individu B ataupun sebaliknya. Interaksi kedua adalah interaksi antara individu A dengan budaya B ataupun sebaliknya dan interaksi yang ketiga adalah interaksi antara budaya A dengan budaya B ataupun sebaliknya. Interaksi positif dan negatif dapat terjadi melalui contoh diatas. Saat suatu budaya tidak dapat melewati seleksi budaya seperti contoh diatas maka dapat dipastikan budaya itu akan mati. Bahkan dalam tingkatan yang lebih parah, akan ada suatu bentuk hegemoni budaya dimana hanya akan ada satu atau beberapa budaya yang masih bertahan. Globalisasi menyebabkan proses itu semakin cepat dengan semakin mudahnya akses terhadap informasi.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kenapa kapitalisme dapat bertahan dalam budaya globalisasi?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam budaya globalisasi, gerak arus pertukaran informasi terjadi dengan sangat cepat. Informasi yang bergerak dapat berupa pemikiran, ideologi, perkembangan teknologi informasi, berita dsb. Jika pertukaran arus informasi, terutama hal-hal yang berkaitan dengan dengan ideologi, mengapa sampai sekarang ideologi yang mencolok adalah kapitalisme?&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kapitalisme pada dasarnya adalah suatu sistem ekonomi yang berorientasi pada pasar. Sistem ini memungkinkan seseorang atau perusahaan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Cara yang dilakukan oleh kapitalisme untuk mendapat keuntungan sendiri berdasar pada keuntungan yang tertinggi, artinya segala cara dapat dilakukan selama cara yang dipakai dapat menghasilkan keuntungan. Pada dasarnya kapitalisme sendiri bukan merupakan budaya, tetapi kapitalisme menciptakan suatu budaya sendiri dimana budaya itu berorientasi pada pasar. Kapitalisme mempengaruhi pasar atau masyarakat dengan menciptakan budaya baru dalam masyarakat tersebut agar budaya itu dapat mendukung usaha penjualan produk-produk dari perusahaan-perusahaan kapitalis. Kapitalisme menciptakan budayanya sendiri dengan tujuan keuntungan sebesar-besarnya. Misalkan, secara genetis, warna kulit orang indonesia adalah coklat, tetapi perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam bidang kecantikan merubah stigma itu melalui berbagai media dengan mengatakan bahwa orang indonesia dapat menjadi putih. Dengan menyakinkan masyarakat bahwa putih itu cantik, maka masyarakatpun akan mulai membeli berbagai produk kecantikan dari perusahaan-perusahaan tadi untuk berusaha memutihkan warna kulitnya. Masyarakat dibentuk untuk menjadi konsumen sejati. Yang diinginkan kapitalis adalah pikiran masyarakat hanyalah membeli produk-produk yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan kapitalis. Akhirnya budaya yang ditunjukkan oleh masyarakat hanya budaya konsumeristik dan hedonistik.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu bagaimana dengan budaya yang ada dalam masyarakat tersebut?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jawaban untuk menjawab pertanyaan diatas adalah adanya proses seleksi budaya. Budaya-budaya masyarakat setempat yang tidak mempunyai individu-individu untuk melestarikan budaya-budaya tersebut akan hilang ditelan oleh zaman. Individu-individu dalam masyarakat tersebut telah terbentuk oleh budaya-budaya yang diciptakan oleh kapitalisme. Pada tingkat tertentu, budaya-budaya kapitalisme yang bertahan akan menjadi bentuk hegemoni budaya. Hegemoni budaya terbentuk melalui budaya-budaya yang dapat bertahan dalam seleksi budaya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika memang begitu adanya, apakah hanya budaya yang dibentuk oleh sistem kapitalisme yang dapat bertahan? Dapatkah budaya lokal dapat bertahan dari gempuran budaya kapitalistik?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Interaksi antar budaya dapat berkembang satu sama lain dan menimbulkan akibat tersendiri bagi budaya-budaya tersebut. Interaksi yang dihasilkan dapat berupa interaksi yang bersifat positif dimana budaya-budaya yang berinteraksi tidak hilang satu sama lain, bahkan dalam tingkat tertentu pula, akan terjadi proses akulturasi antar budaya tersebut. Seperti contoh adalah penyebaran islam di nusantara yang menggunakan metode budaya. Para wali pada waktu menyebarkan islam tidak dengan secara frontal sama dengan budaya timur tengah pada waktu awal islam berdiri, tetapi melalui budaya lokal. Contoh yang lebih nyata adalah kisah arsitektur masjid dibeberapa kota di Indonesia lebih menyerupai dengan bangunan budaya setempat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam era globalisasi, dimana kapitalisme menciptakan suatu bentuk budaya sendiri untuk kepentingan kapitalisme itu sendiri, interaksi dengan budaya lokal tidak dapat terhindarkan. Sebagian besar interaksi antara budaya lokal dengan budaya yang diciptakan oleh kapitalisme bersifat negatif, walaupun sebagian yang lain dapat bersifat positif. Dengan interaksi yang bersifat negatif, pertarungan antar keduanya tidak dapat dihindarkan. Budaya yang diciptakan oleh kapitalisme menyerang pemikiran individu-individu yang hidup dalam masyarakat yang mempunyai budaya lokalnya sendiri. Individu-individu tersebut dibentuk untuk menjadi seseorang yang mempunyai cara berpikir konsumeristik dan hedonis. Saat hal itu itu terjadi, individu-individu tersebut tidak mempunyai keinginan lagi untuk melestarikan budayanya sendiri. Seperti contoh, dalam adat istiadat jawa seorang perempuan itu harus berpakaian sopan (dalam agama juga dianjurkan) jika hendak bepergian atau keluar rumah, tetapi pakaian-pakaian model sekarang lebih menunjukkan bagian-bagian tubuhnya. Bahkan pengaruh-pengaruh seperti ini telah sampai dalam tingkatan budaya pedesaan. Dengan pengaruh media yang begitu kuat, para kapitalis memanfaatkannya dengan menunjukkan bahwa seorang perempuan itu harus berpakaian seperti yang ada diiklan agar dapat dinilai cantik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kondisi-kondisi seperti contoh diatas dapat mematikan budaya lokal yang ada dalam masyarakat tersebut. Budaya-budaya lokal yang ada dalam masyarakat akan tergantikan oleh budaya-budaya ciptaan para kapitalis dan akhirnya budaya ciptaan kapitalis (konsumeristik dan hedonis) akan menjadi hegemoni budaya baru yang ada dalam masyarakat. Tetapi sebagai seorang yang mengerti budayanya sendiri, masyarakat harus dapat menyeleksi nilai-nilai budaya yang ada dalam globalisasi. Pada dasarnya kita tidak dapat lepas dari yang namanya globalisasi, karena akan terus menerus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Saat kita memandang suatu budaya, bukan berarti budaya baru yang datang bersama globalisasi tersebut harus ditolak hanya karena budaya tersebut merupakan salah satu efek globalisasi melainkan dengan melihat dan menyeleksi nilai-nilai positif yang ada dalam budaya tersebut. Dan bukan menjadi kemungkinan, salah satu cara untuk menyelamatkan budaya kita adalah dengan memasukkan nilai-nilai positif dari budaya tersebut dengan budaya lokal masyarakat kita (akulturasi budaya). Sebagai seorang yang tahu dan mengerti akan pentingnya budaya sendiri, kita tidak harus membudayakan globalisasi, melainkan dengan mengglobalisasikan budaya kita sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12.0pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/10/membudayakan-globalisasi-atau.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHhEaoAQ73MVWF3KrcxpZq6zuFK4ZIsQcYmX1FhR-t2rGhCNxKWMqkCmYjqQNhCihnXY1Hx4_zEVGyc0kNpPWVrs1u5tkvni0ClhRXmebdhp4TjG6WlfXGOqL61GH-T53eQJru4Q6Zqyc/s72-c/culture.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5099127322987593451</guid><pubDate>Tue, 01 Oct 2013 13:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-09T01:09:30.808+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ekonomi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>Polemik Tempe</title><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiJY23VQdY4482hgDy1yJgIq4lTJ0Xk8bl3pwAm89aTQA9Bi80-FYojgWlj3tPGm96bFV9k3xeZetjnxjo_08SLGojj1z5CMbglpgwDKJaMWC7U76gyzUg7BWPHR1x1O9TlcOjDaHd-YM/s1600/12-gagasan-800x523.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiJY23VQdY4482hgDy1yJgIq4lTJ0Xk8bl3pwAm89aTQA9Bi80-FYojgWlj3tPGm96bFV9k3xeZetjnxjo_08SLGojj1z5CMbglpgwDKJaMWC7U76gyzUg7BWPHR1x1O9TlcOjDaHd-YM/s320/12-gagasan-800x523.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;Ilustrasi harga kedelai (solopos.com)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harga tempe dan berbagai jenis makanan yang berasal dari kedelai saat ini sedang terombang-ambing dengan harga yang tidak menentu. Naiknya harga tempe, tahu dan berbagai macam jenis makanan yan berasal dari kedelai disebabkan tidak lain oleh minimnya stok kedelai nasional yang membuat pedagang kedelai menaikkan harga jual kedelai. Kondisi tersebut berimbas pada para pengrajin tahu tempe di berbagai wilayah di Indonesia. Berbagai cara dilakukan agar para pengrajin tetap beroperasi dengan minimnya bahan baku. Mulai dari memperkecil ukuran tempe, mengurangi jumlah produksi atau bahkan mengurangi jumlah karyawan sebagai bentuk pengurangan biaya produksi yang dilakukan oleh pengrajin tahu tempe agar usahanya tidak gulung tikar. Namun tidak jarang berbagai usaha yang dilakukan oleh para pengrajin tempe tidak berpengaruh begitu besar bagi usahanya. Di berbagai daerah, para pengusaha tahu tempe tetap saja berguguran satu persatu karena tingginya harga bahan baku dan membuat cost of production melambung tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masalah tempe menjadi polemik tersendiri di Indonesia karena makanan tersebut merupakan makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Jumlah produksinya juga berbanding lurus dengan jumlah masyarakat Indonesia. Artinya, semakin naiknya jumlah populasi di Indonesia, maka semakin besar pula produksi tahu tempe di pasaran. Maka tidak aneh jika kebutuhan kedelai nasional pun akan semakin bertambah untuk mencukupi kebutuhan nasional. Jika konstruksi pemikiran masyarakat sejak dulu yang melihat bahwa tahu tempe merupakan makanan orang menengah kebawah namun kondisi sekarang sangat berbeda. Jika masalah tempe ini tidak terselesaikan, maka dapat dipastikan bahwa tahu tempe akan menjadi makanan yang hanya akan dikonsumsi oleh kalanga menengah keatas. Mungkin jika ingin lebih jauh berandai-andai, tahu tempe bisa saja menjadi sejarah karena ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia yang disebabkan oleh tingginya harga produksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Permasalahan yang mendasar dapat dilihat dari segi ketidakseimbangannya jumlah bahan baku produksi dengan kebutuhan produksi tahu tempe itu sendiri. Produksi yang besar tidak diimbangi oleh bahan baku yang besar pula. Akhirnya untuk menutup ketidakseimbangan tersebut, pemerintah melalui institusi terkait menggunakan metode impor sebagai salah satu cara untuk menutupi kebutuhan produksi tahu tempe. Namun harus dilihat bahwa metode impor, pada dasarnya merupakan metode yang sifatnya jangka pendek dimana kebijakan tersebut hanya untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada momen-momen tertentu (misalnya lebaran atau hari besar lainnya) dimana jumlah permintaan tahu tempe sedang tinggi. Namun kebijakan jangka panjang melalui swasembada pangan tidak terlalu diperhatikan. Ditambah juga keuntungan para importir yang ingin terus meraup keuntungan dengan situasi ekonomi yang tidak menentu menambah daftar panjang salah urus negeri ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap tahun, kebutuhan kedelai dalam negeri sekitar 2,5 juta ton per tahun dimana 700-800 ton per tahun merupakan produksi dalam negeri&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Polemik%20Tempe/Polemik%20Tempe.docx#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Tak ayal, sisa dari kekurangan tersebut harus ditutupi oleh impor dari luar negeri melalui para importir. Bagi para importir sendiri, kondisi tersebut merupakan lahan menguntungkan yang harus digarap. Pemerintah sendiri tidak menempatkan kebijakan produksi dalam negeri sebagai prioritas utama yang harus dijalankan dalam menangani masalah pangan di Indonesia. Padahal, kebijakan impor merupakan kebijakan yang sifatnya sangat beresiko. Impor sendiri merupakan kebijakan yang sangat tergantung dengan kondisi perekonomian global. Jika kondisi perekonomian global sedang tidak menentu, kondisi tersebut juga akan berimbas pada harga barang-barang yang berhubungan dengan barang-barang impor. Mungkin kondisinya tidak terlalu parah jika barang-barang impor tersebut merupakan barang yang tidak berhubungan dengan kelangsungan hidup (elektronik, sandang, dll) secara langsung, namun jika barang tersebut merupakan barang-barang yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup (pangan, energi, dll) maka kondisinya akan lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari kebijakan yang salah tersebut, akhirnya muncul oknum-oknum yang mencari keuntungan sendiri melalui naiknya harga pangan tersebut, terutama kedelai. Kartel atau mafia pangan tersebut mencoba memainkan harga untuk meraup keuntungan yang tinggi. Pemerintah yang menetapkan harga khusus kedelai oleh Kementerian Perdagangan dalam bentuk harga jual pemerintah sebesar Rp 8.490 per kilogram masih terlalu tinggi. Dalam dua bulan, pelaku aksi ambil untung dari kebijakan tata niaga kedelai yang tidak tepat ini bisa meraup lebih dari Rp 1 triliun. Menurut Ketua Umum Dewan Kedelai Nasional Benny A Kusbini, Rabu (Tribunnews.com-11/9/2013), tidak seharusnya para importir menjual kedelai dengan harga setinggi itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
”Kalaupun ada kenaikan harga akibat depresiasi rupiah atas dollar AS, seharusnya baru terjadi pertengahan Oktober 2013, bukan sekarang,” katanya.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedelai yang dijual para importir saat ini sudah dibeli dua bulan lalu atau sebelumnya. Jadi, kedelai masih harga lama, yaitu Rp 5.600-Rp 6.000 per kilogram. Sementara depresiasi rupiah baru terjadi Agustus 2013. Stok kedelai di tangan importir biasanya 1,5 kali kebutuhan bulanan atau 300.000 ton. Selain itu, stok di perjalanan sekitar 200.000 ton. Jadi, total stok menjadi 500.000 ton, yang dibeli dengan harga lama tersebut. Dengan menjual kedelai Rp 8.490 per kilogram, dipotong biaya pengapalan dan asuransi, para importir masih mengantongi untung minimal Rp 2.000 per kilogram atau Rp 1 triliun hanya dalam waktu dua bulan. Itu keuntungan minimum karena hanya 11.900 ton kedelai dijual dengan harga khusus itu. Lebih dari 488.000 ton dijual dengan harga pasar yang lebih tinggi&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Polemik%20Tempe/Polemik%20Tempe.docx#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukan cuma faktor eksternal, naiknya nilai tukar USD terhadap rupiah, namun juga faktor internal, yaitu salah urus terhadap masalah pangan di Indonesia menjadi problem yang sampai saat ini belum teratasi di Indonesia. Kasus-kasus serupa akan terjadi lagi di kemudian hari, baik dalam kasus kedelai ataupun kasus pangan yang lain, jika pemerintah tetap mempergunakan kebijakan jangka pendeknya dalam menangani kasus pangan di Indonesia karena pangan merupakan kebutuhan dasar yang menunjang keberlangsungan hidup manusia. Apalagi dalam kondisi dan situasi perekonomian global yang tidak menentu, menjadi ukuran agar Indonesia tidak mengandalkan bahwa impor merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah pangan di Indonesia. Kedaulatan Pangan adalah kedaulatan rakyat Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Polemik%20Tempe/Polemik%20Tempe.docx#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://economy.okezone.com/read/2013/09/11/320/864282/kenapa-harga-kedelai-melambung"&gt;http://economy.okezone.com/read/2013/09/11/320/864282/kenapa-harga-kedelai-melambung&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Polemik%20Tempe/Polemik%20Tempe.docx#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.tribunnews.com/bisnis/2013/09/12/harga-kedelai-masih-tinggi-importir-untung-rp-1-triliun"&gt;http://www.tribunnews.com/bisnis/2013/09/12/harga-kedelai-masih-tinggi-importir-untung-rp-1-triliun&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div id="ftn2"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/10/polemik-tempe.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiJY23VQdY4482hgDy1yJgIq4lTJ0Xk8bl3pwAm89aTQA9Bi80-FYojgWlj3tPGm96bFV9k3xeZetjnxjo_08SLGojj1z5CMbglpgwDKJaMWC7U76gyzUg7BWPHR1x1O9TlcOjDaHd-YM/s72-c/12-gagasan-800x523.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5826128823605004064</guid><pubDate>Tue, 12 Mar 2013 20:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-09T01:11:39.074+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh</category><title>Ali Syari’ati</title><description>&lt;b style="text-align: justify;"&gt;1. Pengantar Biografi Ali Syariati&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3kX7LSM20W0uaCW5F_Kf6teThiDBNP1Sj8JL_p5CcsAoN772gpCirnDfqtACEhniDg8bgKaGNWAZF63qIt6wVj41yJCC2FngGQTUOZz2G0glAij4aU630GJIYdVDJiN-bvjCgpZvNTJI/s1600/220px-Dr_Ali_Shariati.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3kX7LSM20W0uaCW5F_Kf6teThiDBNP1Sj8JL_p5CcsAoN772gpCirnDfqtACEhniDg8bgKaGNWAZF63qIt6wVj41yJCC2FngGQTUOZz2G0glAij4aU630GJIYdVDJiN-bvjCgpZvNTJI/s320/220px-Dr_Ali_Shariati.jpg" width="245" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ali Syariati, anak pertama dari pasangan Muhammad Taqi dan Zahra, dilahirkan pada tanggal 24 November 1933 di sebuah desa kecil di Kahak, sekitar 70 kilometer dari Sabzevar, Iran bagian Tenggara. Keluarga Zahra tinggal di Kahak dan Ali dilahirkan dirumah kakeknya dari pihak Ibu. Dia anak pertama sekaligus anak laki-laki satu-satunya didalam keluarga, dengan tiga orang saudaranya, Tehereh, Tayebeh, dan Batul (Afsanah). Ali Syariati hidup dalam masyarakat urban kelas menengah kebawah.&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_edn1"&gt;[i]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ali Syariati kecil hidup dimasa perang besar dunia II sedang berkecamuk, tidak terkecuali di Iran. Pada musim semi tahun 1941, sebulan setelah sekutu menginvasi Iran, Ali memasuki tahun pertama di sekolah dasar.&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_edn2"&gt;[ii]&lt;/a&gt; Setelah selesai menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Ibnu Yamin, pada bulan September 1947, Ali memasuki sekolah menengah Firdausi. Ali menyelesaikan tingkat kesembilannya di Firdausi. Meskipun demikian, sebagai ganti meneruskan sekolahnya ke tingkat diploma, dia mengambil jalan lain. Pada tahun 1950, atas permintaan ayahnya, Muhammad Taqi, dia mengikuti ujian masuk di Institut Keguruan (Danesyara-ye Moqadimati) yang ketat.&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_edn3"&gt;[iii]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keterlibatan aktif Ali dalam politik dimula dari periode ini. Dia sudah mengenal politik dan wacana kenegaraan walaupun hanya terbatas pada ranah-ranah diskusi. Ali lulus dari Institut Keguruan pada tahun 1952. Semenjak musim gugur pada tahun yang sama, dia bekerja di Kementrian Pendidikan dan dikirim ke sekolah dasar Ketabpur di Ahmadabad. Selain menulis, Ali Syari’ati mulai pula menyampaikan berbagai ceramah dan kuliah di Markaz Nasyr al-Haqa’iq al-Islamiyyah di Masyhad yang didirikan oleh ayahnya. Markaz Nasyir al-Haqaiq al-Islamiyyah di Masyhad mempunyai andil besar dalam berbagai aktivitas yang terjadi di samping dekade tiga puluhan, dan berpengaruh terhadap kehidupan para praktisi dan kaum terpelajar. Lembaga ini memainkan peran yang sangat besar dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran Ali Syari’ati, dan sebaliknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika berumur 23 tahun, Ali Syari’ati masuk Fakultas Sastra Universitas Masyhad. Di sinilah Syari’ati untuk pertama kali masuk penjara selama 8 bulan sebagai akibat gerakan oposisinya melawan rezim, di bawah pimpinan Gerakan Perlawanan Nasional (NRM) Cabang Masyhad. Setelah lulus dari Universitas Masyhad ia melanjutkan pendidikan tingginya ke Universitas Sorbonne, Perancis atas beasiswa pemerintah Iran. Di Prancis sendiri, Ali Syariati menemukan lebih banyak sumber ilmu pengetahuan yang tidak ada di Iran pada waktu itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keberadaan Syari’ati di Paris bersamaan pula dengan masa-masa munculnya kebangkitan baru dalam mengembangkan sayap-sayap kemajuan gerakan keagamaan di dalam negeri Iran. Tidak memakan waktu lama, muncullah gelombang gerakan kebebasan yang melanda Iran. Dan penguasapun segera melakukan penangkapan-penangkapan terhadap tokoh-­tokoh gerakan kebebasan negeri ini. Sebagian di antara mereka ditembak mati, dan sebagian lagi dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa secara keji, yang ditujukan pula untuk menghancurkan gerakan nasionalis dan keagamaan, khususnya para tokoh gerakan kebebasan Iran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam gerakan inilah, Ali Syari’ati termasuk dan melibatkan diri, tanpa henti dia menulis dan memproklamirkan apa yang diyakininya sebagai suatu yang hak serta menganalisa gerakan Islamiyah yang telah terbentuk di bawah pimpinan Ayatullah Khomeini. Sementara itu, sebagian besar penerbitan berbahasa Persia di luar negeri selalu saja bernada non agama, bahkan anti agama, sekalipun gerakan di dalam negeri Iran secara fundamental adalah Islamiyah dan seluruh asasnya adalah ideologi keagamaan progresif. Para intelektual Iran di luar negeri cenderung mengabaikan kenyataan sosial dalam negeri Iran serta hakikat perjuangan rakyatnya, karena maksud buruk, persekongkolan diam-diam ataupun kebodohan mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah memperoleh gelar doktor, pada 1964 ia kembali ke Iran. Dalam perjalanan pulang ke Iran, ia ditangkap di perbatasan lalu dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan bahwa ketika sedang kuliah di Prancis ia telah terlibat dalam berbagai aktivitas politik. Setelah dibebaskan pada tahun 1965 ia mulai mengajar di Masyhad University. Sebagai seorang pakar sosiologi muslim, menurut prinsip-prinsip Islam, menjelaskan dan mendiskusikan prinsip-prinsip itu bersama para mahasiswanya. Dalam waktu singkat ia meraih popularitas di kalangan mahasiswa dan berbagai golongan sosial yang berbeda di Iran. Inilah yang dijadikan alasan oleh rezim penguasa untuk menghentikan kuliah-kuliahnya di Universitas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemecatan Syari’ati dari universitas Masyhad tidak menghentikan kegiatan-kegiatannya. Bahkan, kejadian itu memberinya kesempatan untuk memasuki panggung baru sebagai pemikir dan aktivis revolusioner. Ia kemudian pindah ke Teheran dan menjadi anggota dewan pengurus Husayniyah Irsyad. Dengan menjadikan Husayniyah Irsyad sebagai lembaga pengetahuan, penelitian dan dakwah Islam yang besar, Syari’ati berusaha mempersiapkan generasi muda Iran untuk pergolakan revolusioner. Ia mengajari mereka, bahwa Islam bukan hanya susunan kepercayaan yang religius, melainkan pula sebuah ideologi revolusioner yang lain bisa menentang segala bentuk pelanggaran dan gangguan Barat terhadap Iran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahun 1969 adalah masa-masanya yang paling produktif. Salah satu kuliahya di bulan Oktober 1968, diterbitkan dengan judul Ravisy-I Syinakh-I (Approaches to the understanding of Islam, Cara Memahami Islam). Pada tahun 1969 ini juga, otobiografinya berjudul Kavir (Padang Garam) diterbitkan. Sejarah telah mencatat bahwa perjalanan hidup Ali Syari’ati ditumpahkan dalam perjuangan menegakkan keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan serta melawan segala bentuk eksploitasi dan penindasan dengan menandaskan Islam sebagai basis ideologinya. Perjuangan itu tidak hanya diwujudkan dalam dataran intelektual, namun juga melalui perjuangan praksis. Ali Syari’ati hidup saat Iran digoncang oleh persoalan yang sangat rumit, Iran di bawah pemerintahan Syah Pahlavi telah menggerogoti budaya religius Islam yang mestinya punya tanggung jawab moral terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik dan kultural masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika Syah Iran hendak mengadakan pesta megah 2500 tahun kerajaan Persia, dalam rangka tahun baru Iran (Naruz), Ali Syari’ati bercerita tentang 5000 tahun penindasan di Iran. Pada 13 November 1971, ia melancarkan pidatonya yang terkenal “Tanggung Jawab Seorang Syi’ah”, yang berisi agitasi militan dan revolusioner untuk mengajak mahasiswa-mahasiswanya meruntuhkan rezim Syah. Ali Syari’ati juga secara terang-terangan mengkritik ulama resmi yang disebutnya sebagai “Borjuasi Kecil” bahkan lebih pedas ia mencemooh mereka “sebagai anjing dan keledai” menurutnya, banyak ulama yang berpandangan sangat picik yang hanya bisa mengulang-ulang doktrin Fiqh secara bodoh. Karena kekritisannya, Syari’ati akhirnya dianggap pemerintah Syah sebagai “srigala ganas” yang harus disingkirkan dan dimusnahkan. Ia pun dianggap sebagai seorang “marxisme” dan kemudian dipenjarakan pada tahun 1973.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena desakan masyarakat Iran dan juga protes dari dunia internasional, pada 20 Maret 1975, terpaksa Syari’ati dibebaskan. Walaupun dibebaskan, Ali Syari’ati tetap diawasi dengan ketat. Menyadari dirinya diawasi dan dibatasi serta tidak bisa berkembang di Iran, Syari’ati pergi ke London, Inggris. Tetapi pada 19 Juni 1977, Syari’ati ditemukan tewas di South Hamton, Inggris. Pemerintah Iran menyatakan Syari’ati tewas akibat penyakit jantung, tetapi banyak yang percaya bahwa dia dibunuh oleh polisi rahasia (SAVAK) Iran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syari’ati lalu dikuburkan di Damaskus, Suriah, bersebelahan dengan makam Zainab, cucu Nabi dan Saudara perempuan Imam ketiga, Husain bin Ali, pada 27 Juni 1977. Upacara pemakamannya dipimpin oleh Musa al-Sadr pemimpin Syi’ah Lebanon. Kematiannya menjadi mitos “Islam militan”, popularitasnya memuncak selama berlangsungnya revolusi Iran, Februari 1979. Saat itu, fotonya mendominasi jalan-jalan di Teheran, berdampingan dengan Ayatullah Khomeini.&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_edn4"&gt;[iv]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;2. Revolusi Iran dan Latar Belakangnya&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjB3269P5D_KaDdwu6wk-r10AUnl3M-8k4_w7tLNfVy5nU4S4HKsVvH6io2Maxq7Ub4e4XmbGokktjqe1N0VVj0KnP3JHMCfiRlZFO0k84l9EHlBdEPXjEFHt8HP4wCYJB56Oz2JGkcsuo/s1600/Iran.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="367" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjB3269P5D_KaDdwu6wk-r10AUnl3M-8k4_w7tLNfVy5nU4S4HKsVvH6io2Maxq7Ub4e4XmbGokktjqe1N0VVj0KnP3JHMCfiRlZFO0k84l9EHlBdEPXjEFHt8HP4wCYJB56Oz2JGkcsuo/s400/Iran.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akhir 1920-an, Reza Syah, seorang perwira militer, merebut kekuasaan dan mendirikan Dinasti Pahlevi. Terimbas oleh langkah rekan sezamannya di Turki, Mustafa Kemal (Attaturk) yang memusatkan perhatiannya pada modernisasi dan pemerintahan terpusat yang kuat serta mengandalkan angkatan bersenjata dan birokrasi modern. Berbeda dengan Attaturk, Syah tidak menghapuskan lembaga-lembaga keagamaan, tetapi hanya membatasi dan mengontrol mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak itu Iran mengalami proses pembentukan negara bangsa yang serupa dengan proses yang berlangsung di Turki dan sejumlah negara lainnya. Negara menjadi motor perkembangan ekonomi dan perkembangan kebudayaan model Barat. Namun berbeda dengan Turki, golongan menengah menjadi kelas penopang utama bagi Rezim Pahlevi. Selain itu, Syah juga mengembangkan angkatan bersenjata baru yang lebih kuat. Banyak ulama yang mendukung pengambilalihan kekuasaan oleh Reza Syah guna memulihkan monarki yang kuat untuk meredam pengaruh asing.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berakhirnya Perang Dunia II, Inggris dan Rusia sekali lagi mencampuri urusan pemerintah Iran demi kepentingannya. Mereka memaksakan pergantian Syah dan mengangkat putranya yang belum dewasa, Muhammad Reza Pahlevi tahun 1941 sebagai boneka penguasa di Iran. Antara tahun 1941 sampai 1953, Iran menjalani periode pergolakan yang terbuka antara sejumlah protektor asing dan sejumlah partai politik internal. Amerika Serikat lambat laun menggeser pengaruh Inggris dan Rusia, akhirnya menjadi pelindung utama Iran pasca perang. Salah satu alasan utama dari campur tangan Amerika Serikat adalagh kekhawatirannya bahwa Iran akan memperkuat pengaruh Uni Soviet dan komunisme di Iran. Penyelesaian tersebut mengembalikan rezim yang otoriter dan terpusat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Hossien Bashiriyeh, ada lima landasan kekuasaan yang dibangun Syah yang kemudian memicu timbulnya revolusi dan menyebabkan jatuhnya Syah. Pertama, kontrol negara yang sangat besar atas sumber-sumber keuangan, khususnya minyak; Kedua, progam stabilisasi, pertumbuhan ekonomi dan intervensi ekonomi rezim kedalam sistem ekonomi; Ketiga, mobilisasi massa dan penciptaan suatu keseimbangan antara kelas-kelas melalui kontrol dan intervensi rezim; Keempat, pembentukan hubungan-hubungan patron client dengan kaum borjuis kelas atas; serta Kelima, diperluasnya peranan kekuatan penekan (khususnya SAVAK), dan ketergantungan pada Barat terutama dukungan politik militer AS.&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_edn5"&gt;[v]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akhir dekade 70-an, dunia dikejutkan degan peristiwa revolusi Islam yang terjadi di Iran. Revolusi yang oleh beberapa pengamat Barat, seperti John L. Esposito disebut sebagai “Salah satu pemberontakan rakyat terbesar dalam sejarah umat manusia” berhasil menggulingkan rezim otoriter pimpinan Reza Syah Pahlevi. Revolusi ini merupakan hasil suatu proses akumulasi ketidakpuasan rakyat Iran terhadap kebijakan Syah, baik di bidang ekonomi, politik, agama maupun sosial budaya. Keberhasilan revolusi itu banyak ditentukan oleh dua faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Di satu pihak, terciptanya persatuan di antara kelompok-kelompok penentang Syah, baik yang berpaham Nasionalisme (Front Nasional), Islamisme (organisasi-organisasi yang dibentuk oleh para mullah) maupun yang berpaham Marxisme (Mujahiddin dan Fayden Khalq). Di lain pihak, muncul kelompok ulama seperti Ayathullah Murthada Muthahari, Ayatullah Khomeini sebagai lambang pemersatu, serta tokoh intelektual seperti Ali Syariati sebagai konseptor akar ideologi revolusi. Hal ini dimungkinkan oleh tradisi dan ideologi Islam Syi’ah yang berakar kuat di kalangan rakyat Iran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Revolusi Islam Iran melahirkan konfigurasi yang khas antara Iran dan Institusi Islam, bahkan revolusi ini merupakan sebuah peristiwa terbesar dalam sejarah masyarakat Iran. Revolusi tersebut menandai puncak pergolakan politik antara penguasa Iran dan kelompok ulama yang telah berlangsung lama, akibatnya terjadi perubahan fundamental dalam sistem kenegaraan Iran yang berpengaruh terhadap sistem Pemerintahan Iran sampai sekarang.&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_edn6"&gt;[vi]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;3. Pemikiran Ali Syari’ati&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ali Syariati merupakan sosok yang sukar untuk dipahami. Di satu sisi, dia pernah dianggap sebagai seorang Marxis, tetapi disisi lain, dia juga tidak jarang menulis artikel dan buku tentang keislaman. Guru pertama Ali Syariati adalah ayahnya sendiri, Muhammad Taqi Syariati. Dari ayahnya itu pula, Ali sudah terbiasa bergelut dengan dunia buku melalui perpustakaan milik ayahnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika Ali Syariati di Sorbone Prancis, ia menjalin hubungan secara pribadi dengan para intelektual terkemuka, seperti Louis Massignon, seorang Islamolog Perancis beragama Katholik, Jean Paul Sartre, seorang filsuf Eksistensialism dan Jacques Bergue. Dia juga bertemu dengan Henri Bergson dan Albert Camus. Ali Syari’ati sangat tertarik untuk mempelajari studi keislaman dan sosiologi. Aliran sosiologi Prancis yang analitis dan kritis rupanya sangat berkesan padanya, namun meskipun pernah tertarik oleh sosiologi semacam ini, pandangan sosiologi Syari’ati adalah gabungan antara ide dan aksi. Pendekatan positivis terhadap masyarakat yang menganggap sosiologi sebagai ilmu mutlak, maupun pendekatan Marxis murni baginya tidaklah menyakinkan. Pendekatan-pendekatan tersebut tidak mampu memahami atau menganalisa kenyataan-kenyataan di dunia non industri, yang sering disebut sebagai dunia ketiga. Karena itu, Syari’ati terus mencari sosiologi yang bisa menafsirkan dan menganalisa kenyataan-kenyataan kehidupan rakyat yang berada di bawah tindakan imperialisme, yang akhirnya disetujui oleh kaum komunis Eropa, dalam perjuangan mereka merebut kembali martabat dan kemerdekaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
George Gurvich, profesor sosiologi Universitas Sorbonne sangat berpengaruh pada diri Ali Syari’ati. Gurvich adalah seorang komunis yang membelot melawan kediktatoran Stali, fasisme dan penjajahan Perancis atas Aljazair. Kombinasi sosok intelektual dan aktivis yang terjun langsung ke lapangan melawan ketidakadilan ini sedikit banyak membentuk semangat intelektual yang juga aktivis politik revolusioner. Dari dia pula, Ali Syari’ati menyerap pandangan tentang konstruksi sosiologi Marx, khususnya analisis tentang kelas sosial. Dari Jaegues Berque, Syari’ati menyerap wawasan sosiologi Islam, sedangkan dengan Fanon, ia sering berkorespondensi dan saling bertukar ide tentang peran Islam seputar tema anti kolonialisme.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pergerakan di Perancis itu, Syari’ati menjadi redaktur jurnal Iran-e Azad (free Iran) yang baru didirikan organisasi itu. Dia juga menulis di jurnal Nameh-e Par, dan menyumbangkan revolusioner al-Jazair, al-Mujahid. Karena peduli dengan gerakan revolusi dunia ketiga itulah, Syari’ati akrab dengan pemikiran, seperti Franz Fanon (wafat 1961), Aime Cesaire dan Amilcar Cabral (wafat 1973). Bahkan dia sempat ditahan karena memberikan kuliah kepada para mahasiswa revolusioner Kongo. Satu sumber menyatakan bahwa, Syari’ati ditahan di Paris karena aktivitasnya dalam gerakan pembebasan Aljazair dan dikirim ke City Prison.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemahaman Islam yang ditawarkan Ali Syariati berbeda dengan pemahaman mainstream saat itu. Islam yang dipahami banyak orang di masa Syariati adalah Islam yang hanya sebatas agama ritual dan fiqh yang tidak menjangkau persoalan-persoalan politik dan sosial kemasyarakatan. Islam hanyalah sekumpulan dogma untuk mengatur bagaimana beribadah tetapi tidak menyentuh sama sekali cara yang paling efektif untuk menegakkan keadilan, strategi melawan kezaliman atau petunjuk untuk membela kaum tertindas (mustadâfin).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Islam yang demikian itu dalam banyak kesempatan sangat menguntungkan pihak penguasa yang berbuat sewenang-wenang dan mengumbar ketidakadilan, karena ia bisa berlindung di balik dogma-dogma yang telah dibuat sedemikian rupa untuk melindungi kepentingannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syariati berpendapat bahwa Islam lebih dinamis dari pada agama lainnya. Terminologi Islam memperlihatkan tujuan yang progresif. Di Barat, kata “politik” berasal dari bahasa Yunani “polis” (kota), sebagai suatu unit administrasi yang statis, tetapi padanan kata Islamnya adalah “siyasah”, yang secara harfiyah berarti “menjinakkan seokor kuda liar,”, suatu proses yang mengandung makna perjuangan yang kuat untuk memunculkan kesempurnaan yang inheren.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Islam, dalam pandangan Syariati bukanlah agama yang hanya memperhatikan aspek spiritual dan moral atau hanya sekadar hubungan antara hamba dengan Sang Khaliq (Hablu min Allah), tetapi lebih dari itu, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;
”&lt;i&gt;Adalah perlu menjelaskan tentang apa yang kita maksud dengan Islam. Dengannya kita maksudkan Abu Zar; bukan Islamnya Khaffah . Islam keadilan dan kepemimpinan yang pantas; bukan Islamnya penguasa, aristokrasi dan kelas atas. Islam kebebasan, kemajuan (progress) dan kesadaran; bukan Islam perbudakan, penawanan dan pasivitas. Islam kaum mujahid; bukan Islamnya kaum ulama. Islam kebajikan dan tanggungjawab pribadi dan protes; bukan Islam yang menekankan dissimulasi (taqiyeh) keagamaan, wasilah ulama dan campur tangan Tuhan. Islam perjuangan untuk keimanan dan pengetahuan ilmiah; bukan Islam yang menyerah, dogmatis, dan imitasi tidak kritis (taqlid) kepada ulama&lt;/i&gt;”.&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_edn7"&gt;[vii]&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sikap yang ditunjukkan Ali Syariati jelas ditekankan untuk para ulama yang pada waktu itu cenderung lebih bersikap pasif dan lebih memihak kepada Rezim Pahlevi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ali Syariati juga menawarkan sebuah konsep yaitu rausyanfikr atau ‘orang-orang yang tercerahkan’ sebagai upaya kritis terhadap pemikiran para ulama yang mendukung kekuasaan Rezim Pahlevi. Peran rausyanfikr dalam perubahan masyarakat dalam pemikiran Ali Syari’ati, sebangun dengan apa yang pernah dibayangkan oleh Antonio Gramsci tentang intelektual organik. Gramsci memetakan potensi intelektual menjadi dua kategori, yaitu itelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan oleh proses produksi, sebaliknya intelektual organik adalah mereka yang memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili. Intelektual organik itu, menurut Gramsci, tidak harus mereka yang fasih berbicara dan berpenampilan seorang intelektual, tetapi lebih dari itu, yaitu mereka yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis, sebagai pembangun, organisator, penasehat tetap, namun juga unggul dalam semangat matematis yang abstrak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi Syari’ati, rausyanfikr adalah kunci pemikirannya karena tidak ada harapan untuk perubahan tanpa peran dari mereka. Mereka adalah agen perubahan sosial yang nyata, karena pilihan jalan mereka adalah meninggalkan menara gading intelektualisme dan turun untuk terlibat dalam problem-problem real masyarakat. Mereka adalah katalis yang meradikalisasi massa yang sedang tidur panjang menuju revolusi melawan penindas. Masyarakat dapat mencapai lompatan kreatifitas yang tinggi menuju perubahan fundamental struktur sosial-politik akibat peran katalis rausyanfikr.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ali Syari’ati juga berpendapat bahwa revolusi sosial bukan hanya suatu keharusan tapi juga suatu keniscayaan.  Pemikirannya ini didasarkan pada teori determinisme-historis.  Dalam teori tersebut, sejarah masyarakat manusia bergerak secara siklis, dimana tahap pertama merupakan masa jaya sistem Habil. Selanjutnya, pada tahap kedua, terjadi pergeseran.  Masyarakat dikuasai sistem Qabil. Di akhir tahapan, sistem Habil kembali merebut kendali masyarakat. Transisi antara tahap kedua dan tahap ketiga berbentuk revolusi sosial.  Revolusi sosial berarti bahwa pelaku utama revolusi tersebut adalah massa atau rakyat (al-nas).  Kendalanya, al-nas tak selalu sadar akan kondisi ketertindasan mereka dalam masyarakat Qabilian. Oleh karena itu, dibutuhkan figur yang “memicu dan menumbuhkan” kesadaran akan adanya konflik dialektis di masyarakat. Figur tersebut adalah rausyanfikr. Rausyanfikr bekerja tidak dengan tangan kosong.  Ia menggerakkan kesadaran revolusioner massa dengan instrumen ideologi.  Jadi, aktor proses kelahiran revolusi sosial adalah rausyanfikr, dan pelaku gerakan revolusinya sendiri adalah al-nas (massa, rakyat).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumbangan yang paling monumental dari pemikiran Ali Syari’ati adalah tesisnya yang menyatakan bahwa “kesadaran kolektif” yang menjadi basis kekuatan revolusioner tidak selalu berangkat dari kesadaran kelas, tetapi juga bisa dari kesadaran agama. Agama dalam konteks ini tentu saja bukan agama dalam pemahaman umum, tetapi agama yang telah mengalami “ideologisasi” sehingga mampu memberi kekuatan revolusioner. Oleh karena itu, tidak heran jika setelah revolusi Iran terjadi, maka kerangka teoritik yang biasanya dijadikan konseptualisasi “social movement” menjadi berantakan, karena sering meremehkan faktor budaya sebagai kekuatan “symbolic resistance”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Catatan Kaki&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_ednref1"&gt;[i]&lt;/a&gt; Ali Rahmena, ‘Ali Syariati; Biografi Politik Intelektual Revolusioner’, Erlangga, Jakarta 2000. Hal. 53&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_ednref2"&gt;[ii]&lt;/a&gt; Ibid,. Hal. 55&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_ednref3"&gt;[iii]&lt;/a&gt; Ibid,. Hal. 59-60&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_ednref4"&gt;[iv]&lt;/a&gt; http://www.referensimakalah.com/2012/11/biografi-ali-syariati.html&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_ednref5"&gt;[v]&lt;/a&gt; Ira Lapindus, ‘Sejarah Sosial Umat Islam’ Bagian 3, Terj. Ghufron A. Mas’adi, Raja Grafindo, Jakarta 1999. Hal. 48-49&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_ednref6"&gt;[vi]&lt;/a&gt; Akhmad Satori, ‘Sistem Pemerintahan Iran Modern’, RausyanFikr Institute, Yogyakarta 2012. Hal. 71-72&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="file:///E:/SEKBER/DATA/Ali%20Syariati.rtf#_ednref7"&gt;[vii]&lt;/a&gt; http://www.mustikoning-jagad.com/en/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=901:ali-syariati-islam-agama-pembebasan&amp;amp;catid=36:spiritualitas&amp;amp;Itemid=55&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div id="edn7"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2013/03/ali-syariati.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3kX7LSM20W0uaCW5F_Kf6teThiDBNP1Sj8JL_p5CcsAoN772gpCirnDfqtACEhniDg8bgKaGNWAZF63qIt6wVj41yJCC2FngGQTUOZz2G0glAij4aU630GJIYdVDJiN-bvjCgpZvNTJI/s72-c/220px-Dr_Ali_Shariati.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-6011791211808406967</guid><pubDate>Tue, 02 Oct 2012 19:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-09T01:22:28.422+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sajak</category><title>Kesepian</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga17FMbHYj15UMvPCjb48o71uhOnazy_xWqLanIZwR_hFVtVT4CVEbbMZw4SvdmkKBuNBLkuzK1TY21grmgsOajCrvk1jdSJIZKm4mElfzs8tjcRTEcueu7rHQRkX_6io2oYLUI-Pxcbo/s1600/kesepian.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="379" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga17FMbHYj15UMvPCjb48o71uhOnazy_xWqLanIZwR_hFVtVT4CVEbbMZw4SvdmkKBuNBLkuzK1TY21grmgsOajCrvk1jdSJIZKm4mElfzs8tjcRTEcueu7rHQRkX_6io2oYLUI-Pxcbo/s640/kesepian.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Aku adalah pengembara malam&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Menelusuri jejak-jejak kehidupan&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Berharap akan ada satu harapan&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Diantara gelagat orang-orang&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Berjalan dalam kesunyian&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ingin kuteriak&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“&lt;i&gt;Matilah bumi beserta isinya&lt;/i&gt;”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tapi itu hanyalah pelarian&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Karena aku adalah kesepian&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Jogja, 9 januari 2009&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2012/10/kesepian.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga17FMbHYj15UMvPCjb48o71uhOnazy_xWqLanIZwR_hFVtVT4CVEbbMZw4SvdmkKBuNBLkuzK1TY21grmgsOajCrvk1jdSJIZKm4mElfzs8tjcRTEcueu7rHQRkX_6io2oYLUI-Pxcbo/s72-c/kesepian.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-3024409351743576585</guid><pubDate>Mon, 03 Sep 2012 08:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-09-03T18:29:32.901+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sajak</category><title>Kertas itu, untuk apa kertas itu?</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4-nnF1KViwsLdfh-t9fICm-UWebgc6nilyHJeCFPVCh8woujcoo9WjG4gfyYAvc0h5p7tmAZSF0Ni2CCvl9DR6RhP-sWDxqUxT4I2aYNFSJ5hBxv_LxSg8ZK34PgqiDCm6KnbDEjZ0ko/s1600/uang_1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4-nnF1KViwsLdfh-t9fICm-UWebgc6nilyHJeCFPVCh8woujcoo9WjG4gfyYAvc0h5p7tmAZSF0Ni2CCvl9DR6RhP-sWDxqUxT4I2aYNFSJ5hBxv_LxSg8ZK34PgqiDCm6KnbDEjZ0ko/s320/uang_1.jpg" width="580" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Mereka berjalan ribuan kilo&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Apa yang mereka cari&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Hanya kertas yang bernilai materi&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Dengannya mereka bisa makan esok hari&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Cucuran keringat yang kau keluarkan setiap hari&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Untuk apa kau melakukannya&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Hanya untuk membuat perut kenyang walau sehari&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Dan bisa melanjutkannya lain hari&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Manusia, manusia…&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Apa yang kau cari?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Apakah kebahagiaan, kesenangan, atau kepuasan&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Kenapa semuanya harus diukur dari materi&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tanpa uang kau akan mati&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tapi kematian tidak bisa dibeli dengan uang&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Karena kita hidup dalam dunia uang&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Jogja, 5 Januari 2009&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2012/09/kertas-itu-untuk-apa-kertas-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4-nnF1KViwsLdfh-t9fICm-UWebgc6nilyHJeCFPVCh8woujcoo9WjG4gfyYAvc0h5p7tmAZSF0Ni2CCvl9DR6RhP-sWDxqUxT4I2aYNFSJ5hBxv_LxSg8ZK34PgqiDCm6KnbDEjZ0ko/s72-c/uang_1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-5438746957645985494</guid><pubDate>Thu, 05 Apr 2012 17:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-09-03T18:30:07.972+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sajak</category><title>Ibu pertiwi menangis lagi</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjprqRpasecy68TQjOCfavCIMmnOANGtflbXo_T7Yrk0ZTPpCEa71-H9dxbtTzsxObRSXfE_sBMmv5Hypdl__yASM6CE_W8s0BEJWsmgDhclCOOdByQKwm65cJbDRXw-Jib8RgfY69CbXA/s1600/1313465565782282687.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5727965788625513458" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjprqRpasecy68TQjOCfavCIMmnOANGtflbXo_T7Yrk0ZTPpCEa71-H9dxbtTzsxObRSXfE_sBMmv5Hypdl__yASM6CE_W8s0BEJWsmgDhclCOOdByQKwm65cJbDRXw-Jib8RgfY69CbXA/s400/1313465565782282687.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 350px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 580px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Air mata ibu pertiwi jatuh kembali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Setelah sebelumnya menangis meratapi negeri &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Apa yang salah dari negeri ini &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Seperti dirudung bencana &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap hari &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Selalu ada saja tangis bayi, &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tangis bayi minta susu &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tapi sang ibu bingung mencari utang kesana kemari &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tangis bayi kelaparan &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tapi sang ibu menahan lapar &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Atau, tangis bayi yang dilahirkan dinegeri ini    &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ibu pertiwi menangis lagi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Masih tetap menangisi negeri ini  A&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
nak-anak yang terbuang &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Mencari hidup dijalanan &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Apa yang mereka harapkan &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Seragam putih merah untuk dianggap sebagai murid sekolah &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Bukan disini, dijalanan penuh polusi    &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ibu pertiwi, apa yang terjadi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Negeri yang makmur, negeri yang subur &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Kemana larinya negeri itu &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Apa kita terlalu banyak dosa, &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sampai-sampai kita ditinggal pergi negeri kita sendiri &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sayang sekali, dinegri yang subur &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Banyak orang hancur &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ibu pertiwi, jangan menangis lagi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ini semua salah kami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Jogja, 19 April 2009&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2012/04/ibu-pertiwi-menangis-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjprqRpasecy68TQjOCfavCIMmnOANGtflbXo_T7Yrk0ZTPpCEa71-H9dxbtTzsxObRSXfE_sBMmv5Hypdl__yASM6CE_W8s0BEJWsmgDhclCOOdByQKwm65cJbDRXw-Jib8RgfY69CbXA/s72-c/1313465565782282687.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-3958927290241091648</guid><pubDate>Mon, 02 Apr 2012 16:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-09-03T17:08:19.663+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kata Tanpa Batas</category><title>Pledoi seorang 'Anarkis'</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgubBTqi6Jp8QPGf2PoWIJ3zrm6QvOOz6NhQT42FDzTf2NfzbV3Elc07TMVQxMrfVDbOC92FAelavWC691gs6FYpzhgAaEdoVAwm4cR9V6uopdpMlaNtlvAwwTtf1pt_TC0fMfIdFvD1yyV/s1600/bentrokan.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgubBTqi6Jp8QPGf2PoWIJ3zrm6QvOOz6NhQT42FDzTf2NfzbV3Elc07TMVQxMrfVDbOC92FAelavWC691gs6FYpzhgAaEdoVAwm4cR9V6uopdpMlaNtlvAwwTtf1pt_TC0fMfIdFvD1yyV/s1600/bentrokan.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 350px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 580px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Mereka bilang saya perusak. Mereka bilang saya pemarah. Mereka bilang saya perusuh. Tapi apakah benar seperti itu yang mereka pikirkan tentang saya. Saya memang merusak, karena saya jenuh dengan bualan para birokrat. Saya memang pemarah, melihat banyaknya korupsi di negeri ibu pertiwi. Saya memang perusuh, ketika kata-kata sudah tidak didengar lagi. Lalu dimana salah saya? Bahkan ketika saya membela mereka, saya tetap terhina, terhujat dan dianggap sebagai sampah yang harus dilenyapkan. Ah tak mengapa, walau mereka tidak tahu betapa saya memperjuangkan hak-hak mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dihujani peluru karet hal biasa, dipukulin polisi itu lebih lumrah. Mereka menganggap saya melakukannya hanya dengan duit Rp 50.000,-. Apakah hanya dengan melihat sebagian kecil berarti mengganggap semua sama. Dimana logika kalian? Kami membela kalian, kami memperjuangkan hak kalian. Apakah sikap seperti ini yang didapat ketika seseorang membela kepentingan kalian, walaupun seorang tersebut tidak mementingkan kepentingannya. Terlalu banyak yang kami pertaruhkan untuk kalian. Masa depan, harta yang tidak seberapa, bahkan nyawa beberapa dari kami yang disapa oleh peluru, nyasar atau memang sasaran. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atau hasil yang kalian inginkan. Hasil ketika suatu rezim jatuh, baru dianggap pahlawan. Lalu bagaimana jika suatu rezim tidak jatuh, apakah kita kalah dimata kalian yang nilainya tidak lebih dari seorang preman pasar yang sukanya berbuat onar.   Disanjung ketika menang, dihujat ketika kalah. Itu bukanlah sikap kesatria dari masyarakat berbudaya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apakah anarkis itu salah? &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anarkis adalah suatu tindakan. Apakah suatu tindakan bisa dianggap baik atau buruk?. Berbuat jujur juga suatu tindakan, tapi apakah selamanya berbuat jujur itu baik. Lalu ketika bapakmu dikejar orang hendak dibunuh dan bersembunyi dibawah kolong tidurmu, apakah kau akan mengungkap kejujuran terhadap orang yang mengejar bapakmu. Apakah itu sikap yang bijak. Jawabannya, tidak selamanya tindakan menjadi acuan baik buruknya suatu perbuatan. Anarkis juga suatu tindakan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu pertanyaan apa berikutnya... &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagaimana tindakan anarkis itu muncul?&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Tulisan ini ditujukan penulis untuk kawan-kawan mahasiswa dalam aksi penolakan kenaikan harga BBM 28 Maret 2012)&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2012/04/pledoi-seorang-anarkis.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgubBTqi6Jp8QPGf2PoWIJ3zrm6QvOOz6NhQT42FDzTf2NfzbV3Elc07TMVQxMrfVDbOC92FAelavWC691gs6FYpzhgAaEdoVAwm4cR9V6uopdpMlaNtlvAwwTtf1pt_TC0fMfIdFvD1yyV/s72-c/bentrokan.jpg" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-6153923258707348947</guid><pubDate>Sat, 31 Mar 2012 15:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-09-03T18:30:52.879+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sajak</category><title>Dengan menyebut asmamu</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSoLGs3h-RZLOaQyoaI9u8PUZX-IzsaiV6vOXywZYFlX6ag771MVE7SKrv-mc-IfhbeQ11rNqYxmRx2b16EpfCiZcYQWNyY3tNkdiM8_jZHEZu1luggCIgo-w-AdJDwGwV10f4tTlEwZM/s1600/namesofallah1.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="350px" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSoLGs3h-RZLOaQyoaI9u8PUZX-IzsaiV6vOXywZYFlX6ag771MVE7SKrv-mc-IfhbeQ11rNqYxmRx2b16EpfCiZcYQWNyY3tNkdiM8_jZHEZu1luggCIgo-w-AdJDwGwV10f4tTlEwZM/s400/namesofallah1.jpg" width="580px" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Dengan menyebut asmamu aku terpaku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Melihat wajahmu runtuh hatiku &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Mendengar suaramu menyejukkan hatiku    &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Inginku merasa tanpa ada asa &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Berkata tanpa ada suara &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Hidup dengan redup&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Mati tanpa sunyi&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
2 November 2008&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2012/03/dengan-menyebut-asmamu.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSoLGs3h-RZLOaQyoaI9u8PUZX-IzsaiV6vOXywZYFlX6ag771MVE7SKrv-mc-IfhbeQ11rNqYxmRx2b16EpfCiZcYQWNyY3tNkdiM8_jZHEZu1luggCIgo-w-AdJDwGwV10f4tTlEwZM/s72-c/namesofallah1.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2606600310181399038.post-1364282895386940574</guid><pubDate>Fri, 30 Mar 2012 15:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-10-09T01:23:51.083+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ekonomi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Budaya</category><title>Globalisasi dan Tinjauan Analisis terhadap Negara Berkembang</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZtIfL-sc_bted2rpNKb6vex_SrlC0JEoqYaWYBgwB09ioHMyzUj5nX7OfdUdaWnWGaq0mvmTdhR6KX_vDjURSV7fcTknTWq9w23fWFEc-fcILp_D5EjLg3MOj_ohsbQc8LUg4Zzb2gjHu/s1600/menjadi+miskin.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;img border="0" height="205" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZtIfL-sc_bted2rpNKb6vex_SrlC0JEoqYaWYBgwB09ioHMyzUj5nX7OfdUdaWnWGaq0mvmTdhR6KX_vDjURSV7fcTknTWq9w23fWFEc-fcILp_D5EjLg3MOj_ohsbQc8LUg4Zzb2gjHu/s320/menjadi+miskin.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Globalisasi, mungkin kata itu sering kita dengarkan di televisi, radio, surat kabar ataupun percakapan sehari-hari. Kata globalisasi sendiri muncul pada dekade akhir abad ke-20. Globalisasi telah menjadikan pertukaran barang dan jasa dengan mudah terjadi melewati batas-batas territorial Negara. Globalisasi menjadikan dunia seperti Global Village. Dengan adanya Globalisasi, negara-negara dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, bahkan individu dalam suatu negara dengan individu di negara lain dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, baik dalam hal komunikasi, pertukaran komoditi, pertukaran informasi, dll. Hal tersebut menjadikan globalisasi sebagai arah baru bagi perkembangan negara-negara selanjutnya. Tapi apakah globalisasi benar-benar sesuai dengan yang selalu digembar-gemborkannya?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak berakhirnya perang dingin, dunia dilanda oleh suatu arus perubahan yang bersifat global. Pada mulanya wujud daripada perubahan tersebut terutama sekali terlihat dalam perkembangan sistem informasi dan transportasi dengan fenomena yang mempersingkat jarak didalam hubungan antara negara atau antara wilayah, baik dalam arti ruang maupun waktu. Jelas sekali bahwa perkembangan yang demikian telah dimungkinkan oleh terjadinya kemajuankemajuan yang menakjubkan dalam bidang Iptek. Tentu saja kemajuan-kemajuan Iptek tersebut telah tercapai berkat adanya kemampuan ekonomi untuk mendukungnya Adanya keterkaitan antara kedua faktor ini menimbulkan peruhahan-perubahan yang luar biasa didalam masyarakat. Sekarang ini keterbukaan semakin kuat berembus, dengan dipayungi oleh globalisasi yang berarti menjadikan segala sesuatunya global, meraksasa menjangkau seluruh dunia, keterbukaan dan globalisasi sepertinya menjadi pasangan yang sangat ideal, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Globalisasi kemungkinan besar tidak akan ada bila keterbukaan tidak muncul dan begitu sebaliknya. Seluruh entitas yang mewarnai kehidupan masyarakat dunia tidak ada lagi yang tidak terpengaruh oleh sihir globalisasi. Produk, teknologi, kebudayaan sampai informasi merasuk jauh pada kehidupan masyarakat, tidak hanya di negara asalnya tetapi sampai ke seluruh negeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Implikasi Globalisasi terhadap negara berkembang&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Era globalisasi adalah sebuah era di mana proses integrasi dalam bidang ekonomi demikian jelas sehingga sistem ekonomi nasional harus mengintegrasikan diri dengan sistem ekonomi global berdasarkan keyakinan pada perdagangan bebas yang telah dicanangkan pada era sebelumnya, baik era kolonialisme maupun neo-kolonialisme. Dengan masuknya era global seperti itu, yang terjadi kemudian adalah adanya dominasi global atas Negara-negara Selatan (khususnya) seperti Indonesia pada sistem ekonomi, politik, dan budaya. Negara-negara Utara sebagai Negara pemberi utang. Ideologi TNCs (Trans National Corporations) adalah buah paling mutakhir dari sistem global ekonomi dunia, sehingga pasar bebas menjadi ideologi tunggalnya. Efek langsung dari globalisasi adalah bidang ekonomi. Ekonomi suatu negara akan diintegrasikan kedalam sistem ekonomi global. Barang-barang luar negeri akan dengan sangat mudah masuk ke dalam suatu negara (tidak ada intervensi negara dalam pasar karena pasar sudah ter-integrasi kedalam pasar global). Melalui berbagai perjanjian internasional dan adanya organisasi internasional yang mengatur kebijakan ekonomi dunia (IMF dan World Bank), dominasi negara dalam pasar terus-menerus digerus oleh berbagai kebijakan-kebijakan IMF dan World Bank. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia karena ekonomi Indonesia belum siap untuk menghadapi arus Globalisasi. Jika Indonesia memaksakan diri, maka kemungkinan produk-produk local akan disingkirkan oleh produk luar negeri dan menjadikan negara ini sebagai negara konsumen. Jika hal itu terjadi maka efek domino terhadap kondisi social-politik di Indonesia akan terjadi. Jika produk-produk Indonesia tidak bisa bersaing maka perusahaan local dapat mengalami kerugian dan mengadakan PHK terhadap karyawannya. Imbas dari globalisasi bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi, tetapi masuk kedalam bidang social. Globalisasi membuat arus masuk informasi menjadi tanpa batas, termasuk pornografi, pelecehan seksual dan kekerasan yang dapat mempengaruhi generasi muda bangsa. Dengan adanya televisi, internet, email dan layanan komunikasi lainnya yang merupakan imbas dari globalisasi membuat informasi bagi remaja dan anak-anak tidak terkontrol. Globalisasi berimbas juga pada masalah lingkungan. Dengan masuknya modal tanpa batas, perusahaan pertambangan asing akan berlomba untuk mengeksploitasi alam Indonesia. Dengan masuknya perusahaan tambang asing, maka pencemaran lingkungan pasti tidak akan bisa dihindarkan. Kebijakan pemerintah mengizinkan operasi pertambangan pada kawasan hutan lindung dan konservasi, sudah pasti akan mempercepat lenyapnya hutan Indonesia. “Industri keruk” tambang akan mengubah hamparan hutan hijau Indonesia menjadi padang pasir kekuningan dengan lubang-lubang beracun didalamnya. Saat ini saja terdapat 150 perusahaan yang telah mengantongi izin Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mrmbuka tambang. Mereka akan beroperasi pada kawasan hutan seluas 11.441.852 hektar. Tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada dasarnya segala hal yang diciptakan manusia mempunyai efek baik dan buruk bagi manusia itu sendiri. Globalisasi juga mempunyai sifat seperti itu. Globalisasi disatu sisi menawarkan kebaikan tapi disisi lain juga kita akan terjebak pada keterpurukan jika tidak mewaspadainya. Pengaruh globalisasi juga harus dilihat dari ‘siapa yang memprakarsainya’ yaitu negara-negara Barat. Hal ini patut diwaspadai karena sumber daya alam kita yang melimpah dan bukan tidak mungkin negara-negara tersebut juga mengincarnya dengan mempengaruhi masyarakat kita tentang ‘betapa baiknya globalisasi’. Rakyat (elit penguasa dan rakyat biasa) harus meng-counter efek buruk dari globalisasi. Jika hanya rakyat biasa saja yang mencoba meng-counter-nya maka hal itu hanya akan sia-sia. Apapun taktik dan strategi yang akan dipakai untuk meng-counter efek buruk dari globalisasi akan sia-sia jika tidak ada dukungan elit penguasa dan rakyat biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Buku&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Abrahamsen, Rita. 2004, ‘Sudut Gelap Kemajuan Relasi Kuasa Dalam Wacana Pembangunan’, Lafadl Pustaka, Jogjakarta.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Dwi Putro, Widodo dan Farid Tolomundu. 2006, ‘Menolak Takluk&amp;nbsp;Newmont versus Hati Nurani’, Titik Koma, Mataram.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Website&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;http://www.walhi.or.id/kampanye/energi/050714_glob-psrbbs-bbm_cu/&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/10/25/0003.html&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;http://ekisonline.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=22&amp;amp;Itemid=28&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;http://arsip.info/kriminal/penjajahan/baru/globalisasi/ekonomi/08_07_05_001543.html&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jurnal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Susanto, Joko, ‘Kajian Teoritik tentang Pengaruh Globalisasi terhadap Proses Demokratisasi, Masyarakat, Kebudayaan dan Politik’, Th XIII, No 2, April 2000&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Qodir, Zuly, ‘Globalisasi, Neoliberalisme dan the New Sosial Movement pengalaman Muhammadiyah’, Jurnal Mandatory Edisi 4/Tahun 4/2008 © Institute for Research and Empowerment (IRE), Yogyakarta&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Georgia, serif; font-size: 100%; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>https://padhangwengi.blogspot.com/2012/03/globalisasi-dan-tinjauan-analisis.html</link><author>noreply@blogger.com (Maniaks)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZtIfL-sc_bted2rpNKb6vex_SrlC0JEoqYaWYBgwB09ioHMyzUj5nX7OfdUdaWnWGaq0mvmTdhR6KX_vDjURSV7fcTknTWq9w23fWFEc-fcILp_D5EjLg3MOj_ohsbQc8LUg4Zzb2gjHu/s72-c/menjadi+miskin.jpg" width="72"/></item></channel></rss>