<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0"><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037</id><updated>2024-11-08T22:40:53.382+07:00</updated><category term="Cerpen"/><category term="Ruang Putih"/><category term="Sujiwo Tejo"/><category term="Wayang Durangpo"/><category term="A.S. Laksana"/><category term="M. Shoim Anwar"/><category term="Sunlie Thomas Alexander"/><category term="Cikie Wahab"/><category term="Eka Kurniawan"/><category term="Fanny Chotimah"/><category term="Ilham Q. Moehiddin"/><category term="J. Sumardianta"/><category term="Muhidin M. Dahlan"/><category term="Puisi"/><category term="Raudal Tanjung Banua"/><category term="Wahyudin"/><category term="Yetti A.KA"/><category term="Adi Wicaksono"/><category term="Adrian Perkasa"/><category term="Agus Noor"/><category term="Bamby Cahyadi"/><category term="Beni Setia"/><category term="Benny Arnas"/><category term="Dahlia Rasyad"/><category term="Damhuri Muhammad"/><category term="Djoko Pitono"/><category term="Erie Setiawan"/><category term="Guntur Alam"/><category term="Hary B. Kori'un"/><category term="I Putu Agus Phebi Rosadi"/><category term="Indah Darmastuti"/><category term="Irawan Hadikusumo"/><category term="Karta Kusumah"/><category term="Laily Lanisy"/><category term="Mardi Luhung"/><category term="Mashuri"/><category term="Muliadi G.F."/><category term="Mustofa W. Hasyim"/><category term="N. Marewo"/><category term="Nugroho Suksmanto"/><category term="Purwadmadi"/><category term="Riadi Ngasiran"/><category term="Risda Nur Widia"/><category term="Sitok Srengenge"/><category term="Sulfiza Ariska"/><category term="Sunaryono Basuki KS."/><category term="Swistien Kustantyana"/><category term="Triyanto Triwikromo"/><category term="Wi Noya"/><category term="Wina Bojonegoro"/><title type="text">Pekan Baca</title><subtitle type="html">Arsip Ruang Putih, Wayang Durangpo &amp; Cerpen Jawa Pos edisi Minggu</subtitle><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/posts/default" rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default?redirect=false" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/" rel="alternate" type="text/html"/><link href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" rel="hub"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false" rel="next" type="application/atom+xml"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><generator uri="http://www.blogger.com" version="7.00">Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-3662137150828946505</id><published>2015-08-30T21:38:00.000+07:00</published><updated>2015-09-24T16:19:43.812+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="M. Shoim Anwar"/><title type="text">Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue</title><content type="html">Oleh. &lt;b&gt;M. SHOIM ANWAR&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhehKKf_-lJOsuxxiej8CiH3Iv3DeAcqOZ8sIeAIkvhfTMArTskutkQ6Ux6JP3zh8QQbl7kbasAypXjE2ayJ11T86dvmHlFYCa_hyHdRrMk0iXfaRty3_2B9Pxl0QkBuWWzxJPWpFQ85Sns/s1600/Bambi+dan+Perempuan+Berselendang+Baby+Blue+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhehKKf_-lJOsuxxiej8CiH3Iv3DeAcqOZ8sIeAIkvhfTMArTskutkQ6Ux6JP3zh8QQbl7kbasAypXjE2ayJ11T86dvmHlFYCa_hyHdRrMk0iXfaRty3_2B9Pxl0QkBuWWzxJPWpFQ85Sns/s200/Bambi+dan+Perempuan+Berselendang+Baby+Blue+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue" width="146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;IRAMA&lt;/b&gt; salsa terdengar mengiringi rancak kaki para pedansa. Lantai porselin warna susu tampak kemilau hingga seperti tanpa permukaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki-kaki itu menembus batas. Telapaknya saling menyanggah antara yang di atas dan yang di bawah. Mereka memainkan langkah ke berbagai arah. Dan saat kaki itu terangkat nampak ada ruang kosong di antaranya. Gerakan pun memutar dengan cepat membentuk &lt;i&gt;alemana&lt;/i&gt; yang enak ditonton. Pantulan itu terlihat agak mengabur, tapi indah dilihat karena membentuk siluet yang makin ke dalam makin meremang. Meski musik mengalun, langkah sepatu masih terdengar bersamaan dengan kaki-kaki itu beradu. Kadang lembut, kadang keras, sesuai dengan tempo yang dimainkan oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Irama itu memang bertempo cepat, dinamis, ceria, dan terkesan patah-patah. Ada empat pasang yang terlihat melantai di &lt;i&gt;dance floor&lt;/i&gt;. Sementara yang lain duduk-duduk menunggu polonaise berikutnya. Saya sudah pernah melihat muka-muka mereka, tapi tidak semua nama saya akrabi. Perkenala dengan mereka yang lain boleh dikata kenal-kenal anjing, artinya hanya sekadar menyapa basa-basi. Mereka bilang “halo” dan saya pun membalasnya dengan “halo” pula. Inilah salah satu tempat para pedansa berkumpul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyisir pandang ke ruang di depan resepsionis. Di sana ada Siane, Bu Reni, Dori, dan Beni. Di arena tampak pasangan Devira dan Deny begitu bersemangat. Barangkali saja itu dansa terakhir karena Devira pernah cerita kalau Deny mau pindah tugas ke Jakarta. Arianto, pasangan Devira yang dulu, melihatnya dari sofa bersama sang istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya amati kembali empat pasang pedansa sambil bersandar di pilar. Ternyata salah satunya adalah orang yang saya cari. Dia adalah Bami. Lelaki itu kelihatan semakin tambum malam ini. Dia sudah nampak kelelahan mengikuti irama salsa. Gerakan-gerakannya mulai kedodoran. Tengkuknya tetap maju-mundur seperti dulu sehingga tidak nyaman dionton. Tengkuk yang tambah menonkol membuat dia seperti sapi berpunuk. Sementara perempuan pasangannya tampak jauh lebih muda. Ini pasti &lt;i&gt;gacoan&lt;/i&gt; baru sang hakim itu sehingga dengan bangga dipertontonkan sebagai partner barunya. Apa saja mungkin bagi Bambi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin perempuan muda pasangan Bambi itu masih baru di dunia dansa. Gerakan-gerakannya masih tampak kaku, kakinya sering &lt;i&gt;kesrimpet&lt;/i&gt; dan mati langkah. Bambi yang berusaha mengendalikan pun jadi tidak leluasa karena di sendiri kepayahan membawa perutnya yang gendut. Tak ada yang menarik untuk diperhatikan pada diri Bambi. Dia masih saja suka pakai kemeja dengan kancing bagian atas terbuka dua buah. Sementara perempuannya mengenakan gaun terusan warna hitam dengan dada terbuka plus selendang &lt;i&gt;baby blue&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sesi salsa berakhir, Bambi beranjak minggir dan duduk di sofa. Saya segera mendekatinya. Ini kesempatan terbaik. Bambi nampak agak terkejut melihat saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai…,” kata perempuan muda yang tadi diajak Bambi berdansa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai,” saya membalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenalkan,” Bambi menunjuk ke perempuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Miske,” perempuan itu mengulurkan tangan, sementara tangan kiri menyibakkan rambut panjangnya yang menjurai ke pipi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anik,” saya juga memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka membenahi duduknya dan bergeser. Saya ikut duduk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kok cepat turunnya?” saya memulai lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak kuat kalau terus salsa,” Bambi menepuk-nepuk perutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Niati saja olahraga,” komentar saya sinis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terlalu berat membawa badannya,” kata Miske.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gemuk lambang kemakmuran,” saya menimpali, makin sinis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau saya ini sudah obesitas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ikut program &lt;i&gt;liposuction&lt;/i&gt; saja. &lt;i&gt;Kan&lt;/i&gt; uangnya banyak,” saya menyindir lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa itu?” Bambi mendongak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sedot lemak. &lt;i&gt;Kayak gak&lt;/i&gt; tahu &lt;i&gt;aja&lt;/i&gt;,” saya agak melengos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia juga bisa nyedot,” Bambi menunjuk ke Miske. Perempuan itu tertawa sambil mencubit lengan Bambi. Bambi segera merangkulkan lengan kirinya ke pundak Miske.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau dia &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; nyedotnya bagian tertentu saja.” saya ikut menimpali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Miske yang berkulit putih bersih itu tersenyum. Ada behel berhias permata di sepanjang gigi atasnya, semacam pagar untuk menekan agar posisi gigi tidak tonggos ke depan. Keberadaannya amat kontras dengan Bambi yang berkulit cenderung gelap plus muka agak bopeng-bopeng. Beberapa saat kami lantas terdiam. Bambi mengusap lehernya dengan sapu tangan warna cokelat. Napasnya terdengar mendengus karena kepayahan. Perempuan itu bibirnya masih menahan senyum sambil melihat Bambi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak heranlah saya kalau perempuan muda itu lengket di pelukan Bambi. Sudah bukan rahasia lagi kalau perempuan muda belia yang suka keluar malam menjalin hubungan dengan lelaki berumur. Bagi sang perempuan, umur dan kegendutan Bambi mungkin tak masalah. Yang penting uang dan kesenangan dapat diperoleh dengan mudah. Kesadaran utuh mungkin telah ada pada diri perempuan itu bahwa Bambi memang harus diperas hartanya dan digunakan perempuan itu untuk mempercantik penampilan guna bersenang-senang dengan para lelaki lain yang lebih muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perempuan muda itu mungkin tidak hanya minta behel, selendang baju, kaus, celana, tas, sandal, sepatu, perhiasan, telepon seluler, benda-benda kesukaannya, makan-makan, tapi juga pelesiran ke tempat-tempat yang jauh dengan naik pesawat dan tidur di hotel berbintang. Dengan bermain dua muka, mungkin juga lebih, perempuan muda itu ingin mempertunjukkan penampilan glamornya di hadapan teman-temannya pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Udah&lt;/i&gt; lama pasangan dengan Pak Bambi?” saya berbasa-basi dengan Miske.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Belum.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Udah&lt;/i&gt; kerja apa masih kuliah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuliah,” jawab Miske pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jurusan apa?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akuntansi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah, &lt;i&gt;ngitung&lt;/i&gt; duit terus ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuma angka-angka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gak &lt;i&gt;nyambi&lt;/i&gt; kerja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Nggak&lt;/i&gt;,” Miske menggeleng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih kuliah dan belum kerja. Setelah semua keinginannya terpenuhi, saya percaya perempuan muda itu akan mencari seribu alasan ketika diajak Bambi keluar. Saat itulah Bambi akan sadar kebusukan perempuan muda itu. Atau, bisa jadi, Bambi sendiri sudah paham apa yang akan terjadi kelak karena Bambi juga sadar bahwa dirinya adala lelaki busuk. Bambi mungkin menganggapnya sebagai hubungan transaksional seperti halnya membeli gula-gula di warung: dikuliti, disesap, lalu dibuang plastiknya sebagai benda yang tak berguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bambi mungkin juga tak menganggap berarti terhadap harta benda yang dikeluarkan. Dia juga tahu mengajak ngobrol perempuan nakal di klubmalam pun harus membayar mahal, apalagi mengajaknya kencan. Mungkin Bambi malah menganggap harga perempuan muda yang diajaknya itu jauh lebih murah dibanding harga perempuan nakal yang diajaknya berkencan semalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya masih mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan Bambi. Rasanya sudah tidak sabar. Pikiran-pikiran buruk makin kuat dalam diri saya. Lewat telepon terlalu tidak memadai. Beruntung Bambi beranjak dari duduknya untuk pamit ke toilet. Saya biarkan dulu bebrapa saat agar dia usai. Lalu saya menyusulnya. Saya cegat dia di mulut toilet laki-laki. Nah itu dia keluar. Beberapa saat dia berhenti membenahi kancing celananya. Tampak ada yang basah di sekitar resluiting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku ingin bicara,” kata saya di mulut toilet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bicara apa?” Bambi mengarahkan pandangan ke muka saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putusanmu. Mengapa aku kau kalahkan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah mengusahakan agar kau yang menang di pengadilan, tapi tak ada &lt;i&gt;dissenting opinion&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana ada, wong hakim tunggal, cuma kamu saja!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah saya mintakan pendapat di luar sidang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mimpin sidang kan kamu. Dengan hakim tunggal mestinya kau bisa putuskan sesuai janjimu!”&lt;br /&gt;
Bambi tampak sangat tidak nyaman. Wajahnya memerah, dia lihat ke segala arah. Sengaja saya menghadang langkahnya agar tidak menghindar. Saya pun sengaja mengeraskan suara agar didengar banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pengacara tergugat pintar. Dia bisa menggugurkan tuntutan jaksa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi mengapa dulu kamu mendorong-dorong aku agar menggugat perkara itu. Kamu panas-panasi aku. kamu menjanjikan akan memenangkan aku. Terus untuk apa kamu minta uang &lt;i&gt;segitu&lt;/i&gt; banyak yang katanya untuk minta tolong pada anggota majelis lainnya? Kau bagikan pada siapa saja uang itu? Atau kau nikmati sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan bicara seperti itu. Kamu bisa dikenakan pasa perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak bodoh. Saat penyerahan uang itu di rumah, aku sudah pasang CCTV agar bisa merekam semuanya. Sudah telanjur basah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bambi sontak terperangan lagi, wajahnya warna bunga waribang. Dia berusaha lepas dari blockade. Saya menghalanginya dengan merentangkan tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu bisa banding kalau tidak puas,” katanya kemudian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu rusan nanti!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masih ada waktu tiga hari,” Bambi mengacungkan jarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di pengadilan tinggi yang ngurusi sudah beda. Omongnya saja bisa memenangkan kasus. Mana buktinya? Gombal!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya cecar terus dia. Bambi berusaha keras lepas dari kepungan. Ternyata sudah banyak orang yang memperhatikan kami. Beberapa di antaranya malah mendekat dan berkerumun. Petugas sekuriti datang menyibak kerumunan itu. Dia mencoba menenangkan saya. Saya tak peduli. Biar dianggap kampungan sekalipun. Saat itulah Bambi mempergunakan kesempatan untuk lepas. Saya pegangi lengannya. Dia meronta dan berusaha mencabut. Karena hampir lepas, lengan itu saya dekap dengan kedua tangan. Makin kuat dia meronta, makin kuat pula saya mempertahankannya. Saya tergoncang-goncang. Bambi meronta. Lengannya berusaha dicabut sekuat tenaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan setengah memaksa, pihak sekuriti berusaha melepaskan tangan saya. Dia mintaagar saya tidak menciptakan keributan. Kedua tangan saya ditepuk-tepuk. Lengan Bambi juga berusaha dilepaskan. Kerumunan terjadi dengan cepat. Beberapa orang membantu melepaskan cengkeraman saya. Akhirnya lengan Bambi benar-benar lepas. Dia dengan cepat menggeblas pergi. Sekuriti berusaha mendinginkan saya. Saya memilih masuk ke toilet. Brengsek! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali saja banyak yang simpat mendengar kasus saya.  Begitu membuka pintu toilet, Devi sudah menunggu saya di ruang khusus wanita itu. Ternyata Devira tahu sepak terjang Bambi. Mereka meman tinggal di kawasan yang sama. Bambi ternyata suka membakar-bakar orang agar berperkara di pengadilan, terutama yang terkait perkara perdata. Mereka yang posisinya kuat dan dinilai akan menang didekati oleh Bambi, dirayu dan dimenangkan di pengadilan. Tentu saja, kata Devira, tidak ada yang gratis. Yang dimintai uang itulah yang dimenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu persis kasusku. Tapi mengapa aku tidak dimenangkan?” saya bertanya pada Devira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibu tahu,” Devira meyakinkan, “perempun yang diajak berdansa tadi itu adalah anak dari almarhum Pak Madali, yang Ibu gugat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namanya Miske, katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan. Nama aslinya Kiara. Sebagai ahli waris, dia tak pernah datang ke pengadilan. Hanya diwakili oleh kuasa hukumnya. Ibu dipermainkan Pak Bambi demi mendapatkan Kiara.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku memang pernah mendengar nama itu. Setan semuanya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski emosi sudah dapat saya kuasai, dada saya makin membara. Saya keluar dari toilet bersama Devira. Suasana sudah lebih sepi. Empat pasang pedansa tampak di arena. Brengsek, tak tahu malu! Salah satu pasangan itu ternyata Bambi dan Miske. Mereka melantai lagi. Irama rumba mengalun. Tubuh mereka terlihat lebih merapat. Irama ini memang cocok sebagai &lt;i&gt;dance of love&lt;/i&gt;. Saya perhatikan pasangan Bambi dan perempuan berselendang baby blue dengan hati panas. Mereka tampak sangat mesra. Tangan mereka saling memegang tubuh pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialan lagi! Ketika sesi &lt;i&gt;rumba&lt;/i&gt; berakhir, saya melihat pasangan Bambi dan Miske tetap berangkulan sambil berjalan meninggalkan arena. Ternyata kedua insan ini tidak memilih duduk, tapi berjalan menuju &lt;i&gt;lift&lt;/i&gt;. Saya perhatikan mereka hingga masuk ke ruang &lt;i&gt;lift&lt;/i&gt;. Menutup dan terus naik. Entah ke kamar nomor berapa. Bambi dan Miske ternyata telah menjalin hubungan tidak hanya di lantai dansa dan mempermainkan peradilan, namun telah sampai pula ke ceruk-ceruk yang sangat pribadi. &lt;i&gt;Cuk!&lt;/i&gt; ***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Surabaya, Agustus 2015&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/3662137150828946505/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/bambi-dan-perempuan-berselendang-baby.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/3662137150828946505" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/3662137150828946505" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/bambi-dan-perempuan-berselendang-baby.html" rel="alternate" title="Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhehKKf_-lJOsuxxiej8CiH3Iv3DeAcqOZ8sIeAIkvhfTMArTskutkQ6Ux6JP3zh8QQbl7kbasAypXjE2ayJ11T86dvmHlFYCa_hyHdRrMk0iXfaRty3_2B9Pxl0QkBuWWzxJPWpFQ85Sns/s72-c/Bambi+dan+Perempuan+Berselendang+Baby+Blue+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-2448941765341221484</id><published>2015-08-23T23:27:00.000+07:00</published><updated>2015-09-24T11:42:36.546+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Risda Nur Widia"/><title type="text">Kutukan Lembah Baliem</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;RISDA NUR WIDIA&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDxo4OIscdhPwwMvJNMhCEdlVhc2HKtazFLJ5wPwv4YVKvoQ4zBPRfKkPPOFFxupT-2evdre26yjEPxZiR6cdC8_9EX0OkC3viIgGXGV2-Cd9NHPdjGvmhlvHdilhkEBBpy-DYJ_OyfGzx/s1600/Kutukan+Lembah+Baliem+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Kutukan Lembah Baliem oleh Risa Nur Widia" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDxo4OIscdhPwwMvJNMhCEdlVhc2HKtazFLJ5wPwv4YVKvoQ4zBPRfKkPPOFFxupT-2evdre26yjEPxZiR6cdC8_9EX0OkC3viIgGXGV2-Cd9NHPdjGvmhlvHdilhkEBBpy-DYJ_OyfGzx/s200/Kutukan+Lembah+Baliem+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Kutukan Lembah Baliem oleh Risa Nur Widia" width="125" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;DI&lt;/b&gt; Lembah Baliem &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;, kesedihan adalah darah dan pengorbanan. Kenangan merupakan kepedihaan. Pagi itu, di dalam &lt;i&gt;honai-honai&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; yang lembab, para mama telah berkumpul dan menangis. Sebuah kepergian kembali terulang. Kepergian yang tak pernah menghadirkan kebahagian; selain kesediahan. Sepanjang hari yang muram itu, setiap pasang mata khusuk menekuri mayat seorang pria yang telah meregang tanpa nyawa. Mengenaskan. Tubuhnya koyak-moyak. Darahnya meleleh melumuri setiap lubang luka. Panah masih tertancap gagah di dadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada kata. Hanya tangis dan usaha melupakan rasa sedih dengan doa-doa. Panjang. Tabah dipanjatkan. Begitu pun dengan mamamu. Ia terpekur dengan air mata berlinang. Kulit wajahnya yang kecoklatan memudar pucat, dan matanya leleh karena berkabung. Ia juga telah tiga kali jatuh pingsang; mendapati kenyataan kalau seorang pria yang ia cintai meninggal. Tetapi tangis tidak menyelamatkan apapun. Mayat papamu tetap saja tak kembali hidup. Bahkan doa-doa hanya seleberasi pemanis keadaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kau masih ingat, sebelum fajar benar-benar merekah, perang antar suku kembali pecah. Sekelompok anggota suku dari &lt;i&gt;uma&lt;/i&gt; lain menyerbu &lt;i&gt;uma&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;-mu. Mereka menghancurkan apa saja: kebun, &lt;i&gt;wamai&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;, dan &lt;i&gt;honai-honai&lt;/i&gt;. Mereka membakar semunya. Tidak tersisa. Papamu, sebagai seorang kain dengan tangan besi memimpin anggota lainya untuk membalas dendam; melunasi hati warga desa yang hancur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rengek mamamu sebelum papamu pergi. “Jangan lakukan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak! Mereka harus merasakan pembalasan kita!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akan bertambah banyak jatuhnya korban kalau kau menanggapi amarahmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papamu tidak menghiraukan. Isi kepalanya sudah menjadi batu. Hatinya mengeras karena amarah. Dendam.  Ia tetap pergi bersama sekolompok pasukan kecil menuju medan laga. Mata papamu meninggalkan &lt;i&gt;honai&lt;/i&gt;, dan tangannya erat menggenggam anak panah berpoles racun. Begitu juga dengan para laki-laki lain yang telah kalap untuk berperang. Mereka membawa senjata masing-masing di tangan: &lt;i&gt;moliage, valuk, wim,&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;koroko&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;. Semua benda itu seakan telah dilumuri kebencian: siap mencari korban. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka pergi. Dan mamamu sepanjang hari dihantui rasa gelisah yang buta: terus menangis, tak makan, hingga melupakan kondisi tubuhnya yang lemah karena sakit.  Detik dan menit berlalu. Hingga akhirnya sebelum senja benar-benar tenggelam di antara bukit-bukit yang mengapit desamu, pasukan kecil itu kembali dengan memanggul wajah lusuh. Kutuk para dewa menimpa mereka. Papamu terkapar dengan anak panah yang menacap pongah di dadanya. Darah meleleh. Melumat seluruh tubuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, ketika melihat jazad papamu, mamamu langsung menangis. Sepasang sungai kesedihan mengalir deras di matanya. Akan tetapi, tangisan tidak merubah apapun. Papamu tetap pergi bersama dendam dan amarah yang tak pernah tuntas. Kau pun hanya terpekur; ikut menangisi kepergian papamu. Hatimu sedih mendapati semua kenyataan. Dan kau tak tahu, bagaimana cara terbaik untuk mengakhiri kesedihan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Semua kesedihan dan malapetaka ini berawal dari cintamu yang terlarang. Cinta yang tak dapat dikekalkan oleh hukum dan tata-cara adat. Kau jatuh cinta pada seorang pemuda di kampung seberang. Seorang pemuda yang tampan. Baik. Namun papa dan mamamu melarang kau berhubungan dengan pria itu. Mereka menganggap: hubungan kalian adalah sebuah dosa. Kau pun berpikir: mengapa cintamu menjadi terlarang? Apakah karena hukum-hukum para dewa yang tidak memperbolehkanmu berhubungan dengan pemuda itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya kau tahu, kalau pemuda yang kau kasihi masih memiliki kekerabatan denganmu. Orang tua pemuda itu adalah adik kandung papamu. Yang lebih buruk lagi:  mereka merupakan seseorang yang pernah tersingkirkan dari desa, karena mencuri seekor babi &lt;i&gt;Ap Waregma&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;. Kesalahan itulah yang membuat keluargnya harus pergi dari &lt;i&gt;uma&lt;/i&gt;. Dan tinggal di uma lain di seberang hutan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, cinta memang tidak berumah. Cinta selalu mengetuk setiap pintu yang mau menerimanya. Cinta telah membutakan pikiranmu. Kau langar semua hukum-hukum adat; petuah-petuah nenek moyangmu yang melarang untuk menikahi seseorang yang masih memiliki kekerabatan. Kau tetap berhubungan denganya, hingga papamu mengetahui semua larangan kau langgar. Bahkan, darah ayahmu semakin memanas; saat memergokimu dan kekasihmu sedang bergumul di dalam &lt;i&gt;wamai&lt;/i&gt;. Babi-babi itu seakan berkhianat kepadamu. Mereka berseloroh, mengolok-olokmu, ketika melihat papamu menghajar pemuda itu hingga hampir mampus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kejadian itulah perang antar suku terajadi. Orang tua pemuda tersebut tak terima anaknya mendapatkan perlakuan tak beradab. Mereka merencanakan sebuah serengan balasan ke &lt;i&gt;uma&lt;/i&gt;-mu. Hingga akhirnya, mereka menghancurkan apapun di sana. Tak terkecuali cinta kalian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Siang itu dalam upacara perkabungan, kau tampak begitu pilu. Kau termenung tanpa kata; dan di dadamu menumpuk dosa dan rasa bersalah yang kau anggap tak dapat dimaafkan. Kau berpikir: kalau kau adalah sumber semua malapetakan ini. Akan tetapi, kau tidak mengerti: mengapa air matamu tak dapat mengalir? Apakah kau sudah terjerumus dalam laknat para dewa yang kalis dan tak berbantah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para mama terus menangisi kepergian papamu. Seorang &lt;i&gt;Ap Kain&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;, tetua suku, datang. Ia termenung ketika melihat jazad papamu yang telah biru dan kaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua perselisihan harus segera diselesaikan!” Katanya lantang. “Jangan sampai mayat ini ketika dikebumikan masih menyimpan dendam dan amarah. Itu hanya akan mengundang mala petaka untuk kita semua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, sebuah upacara &lt;i&gt;Kaneka Hagasir&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt; pun diadakan. Sebuah upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh dua orang kepala suku untuk mendamaikan keadaan. Upacara yang dipersembahkan untuk papamu dan seorang yang berselisih dengannya. Upacara itu dipimpin oleh &lt;i&gt;Ap Kain&lt;/i&gt;. Dua orang kepala suku itu pun dipertemukan disebuh tanah lapang. Julur-julur rumput kecoklatan tampak lebat menangkupi sekeliling tempat, dan tebing-tebing curam menganga di sisi kanannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah perundingan yang cukup sulit terjadi. Dua belah pihak tampak bersikukuh kalau semua kejadian berawal dari masing-masing kelompok. Perang hampir kembali terjadi. Setiap orang yang telah berjaga-jaga membawa: &lt;i&gt;moliage, maluk, dan sege&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;; sudah saling menodong. Namun, Otiz, seorang &lt;i&gt;Ap Kain&lt;/i&gt; yang menengahi perundingan kedua suku berselisih dapat melerai peperangan. Mereka akhirnya mau membayar denda berupa delapan ekor babi dan hasil kebun untuk kematian ayahmu. Upacara pemakaman pun diadakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Setelah tubuh papamu dilumuri darah babi (lambang penyucian dari segala dosa), dan dikermasi hingga tak menyisakan bentuk selain abu yang akan diambil setelah tiga hari pembakaran; kau semakin tenggelam di dalam kemurungan. Rasa sedih yang bersemayam di dalam hatimu tidak juga hilang. Darah babi sebagai simbul pensucian itu tidak dapat mengobati luka. Para mama terus menangisi kepergian ayahmu. Bahkan, seluruh warga di kampungmu sepakat akan mandi lumpur selama rentang waktu tertentu untuk memperingati kesedihan; setelah meninggalnya papamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau semakin merasa bersalah. Kau tidak dapat menanggung semua dosa itu.  Malam harinya, di dalam &lt;i&gt;ebei&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;, kau dan mamamu masih meratapi kepergian papamu. Para mama pun berkumpul di tempat itu—dengan tubuh beraroma lumpur—memanjatkan doa-doa. Mereka menghiburmu agar tidak larut dalam kesedihaan yang mendalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang mama mencoba menentaramkan hatimu. “Semua ini telah ditentukan oleh para dewa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau hanya mengangguk; mencoba menenangkan diri. Tetapi, kau tidak juga dapat membuang rasa sedih itu. Kau terpekur dalam ruangan sembari mengenang berbagai hal: tentang ayahmu dan dosa-dosa yang kau lakukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan, selintas terpikir di dalam benakmu: bila dapat kau ingin mengulang segalanya. Kau ingin peristiwa ini tak terjadi, dan, rasa sedih yang mengutukimu tidak datang megusik. Akan tetapi, waktu tidak dapat melompat mundur. Semuanya telah tejadi dan, kau terjebak di dalam arus kepedihan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam masih terjaga ketika setiap orang terlelap dalam buai kesedihan dan kantuk. Kau meninggalkan mereka. Kau melangkah keluar ebe’i dan termenung sebentar menatap langit malam yang cerah. Rembulan yang tampak separuh seperti mata sabit yang tajam; mengoyak perut langit dan memuntahkan biji-biji cahaya kecil tak beraturan. Kau pandang bintang yang tidak lagi berkerdip ke arahmu. Kau berdesis: ‘semuanya telah menjahuimu.’ Kau terkena kutuk para dewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau tinggalkan &lt;i&gt;uma&lt;/i&gt; yang lenggang dengan melompati sebuah pagar. Angin malam berdesir. Dingin 15  menyergap kulit. Dan kegelapan seakan tak memiliki ujung. Malam itu kau berharap: agar kau ditubruk hewan buas. Karena setelah itu semua kesalahanmu akan lunas—bila kau mati. Namun, hal itu tidak juga terjadi. Para dewa tetap membencimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau melangkah hingga ke sebuah tebing. Kau termangu di sana; kembali meratap sedih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desismu pelan. “Terbuat dari apa rasa sedih ini?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam semakin tua dan lolong anjing menggema dari kejahuan. Permandani langit yang indah tidak mampu mengobati hatimu. Kau terus diuntit: rasa sedih, kehilangan, dan dosa yang menususk-nusuk. Pedih. Kau harus melunasi semua kutuk itu kepada para dewa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah aku bisa menebus rasa sedih ini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau pun mengambil sebuah batu runcing; kemudian mentap gemetar jemarimu yang lentik; yang pernah menimbulkan gejolak peperangan. Kau ingin melunasi segalanya. Membuang seluruh dosa; melunasi kutuk para Dewa. Namun, perasaan getir masih sesekali menghantuimu. Kau tak sampai hati bila memotong jarimu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ahh&lt;/i&gt;, apalah arti sebuah jari-jari ini daripada rasa sedih yang bergelantungan di dalam hati, gumammu menekuri. Kau kembali memandang jemarimu yang indah itu, hingga... &lt;i&gt;hmm..&lt;/i&gt;. darah mengalir lembut dan perih mulai menjalar di lengan tangan kananmu. Suara anjing kembali mengonggong tujuh kali di antara bayang bukit-bukit yang menjulang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Di Lembah Baliem, kesedihan adalah darah dan pengorbanan. Kenangan merupakan kepedihaan. Pagi itu, kau terbangun dengan sebuah jari kelingking yang putus. Begitu pun dengan mamamu. Pada malam yang sama tanpa sepengetahuanmu, ia diam-diam juga memotong jari manis di tangan kirinya. Semua itu ia lakukan untuk menebus rasa sedih yang membebani hati; menebus kutuk para dewa. Kau memandang mamamu yang tinggal memiliki masing-masing dua jari di kedua tanganya. Semua jarinya memang telah terpotong untuk sebuah: kesedihan. (*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;small&gt;&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;small&gt;
&lt;li&gt;Lembah Baliem merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Uma = kampung/desa&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wamai = kandang babi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Moliage, valuk, wim, dan koroko merupakan Perkakas berkebunan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ap Waregma, Kepala suku kecil/wakil&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ap Kain, Kepala suku besar/ketua&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kaneka Hagasir, upacara keagamaan untuk menyejahterakan kelurga dan untuk mengawali serta mengakhiri perang&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sege = panah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ebei = rumah untuk wanita&lt;/li&gt;
&lt;/small&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;&lt;b&gt;RISDA NUR WIDIA&lt;/b&gt;. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua syambera menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nomintaro Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: &lt;i&gt;Bunga-Bunga Kesunyian&lt;/i&gt; (2015). </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/2448941765341221484/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/kutukan-lembah-baliem.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2448941765341221484" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2448941765341221484" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/kutukan-lembah-baliem.html" rel="alternate" title="Kutukan Lembah Baliem" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDxo4OIscdhPwwMvJNMhCEdlVhc2HKtazFLJ5wPwv4YVKvoQ4zBPRfKkPPOFFxupT-2evdre26yjEPxZiR6cdC8_9EX0OkC3viIgGXGV2-Cd9NHPdjGvmhlvHdilhkEBBpy-DYJ_OyfGzx/s72-c/Kutukan+Lembah+Baliem+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-5923237437629067252</id><published>2015-08-16T22:46:00.000+07:00</published><updated>2015-09-24T11:02:17.001+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sunlie Thomas Alexander"/><title type="text">Ateng</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;SUNLIE THOMAS ALEXANDER&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXxVV_15GQjOkWCu7DAU-LIjtZHhRpeLvmvanf7aYzSNb2gHIJiI9hEJrmxfDpzesH5GJrJUB-5DIc-24DKjAV6rUwwhnmCsbGbwplgwQ6Jdc5SuXRUhxY075cc5wk4elQ9kl9owhQ-E2Y/s1600/Ateng+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Ateng" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXxVV_15GQjOkWCu7DAU-LIjtZHhRpeLvmvanf7aYzSNb2gHIJiI9hEJrmxfDpzesH5GJrJUB-5DIc-24DKjAV6rUwwhnmCsbGbwplgwQ6Jdc5SuXRUhxY075cc5wk4elQ9kl9owhQ-E2Y/s200/Ateng+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Ateng" width="193" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;SETIAP KALI&lt;/b&gt; melihat anak-anak atau remaja bermain sepak bola di tanah lapang, entahlah, aku selalu teringat pada Ateng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, bukan. Ia bukan pemain bola dari kesebelasan kampung manapun. Ia cuma seorang bocah kecil penjual es bungkus batangan yang selalu menjajakan dagangannya bila ada anak-anak bertanding bola di lapangan SMP St. Yosef, tempatku bersekolah dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga, mulai dari sepakbola, senam, atletik, hingga kasti, lapangan rumput yang berbatasan dengan hutan dan kebun milik warga itu juga dipakai untuk upacara bendera setiap hari Senin. Kendati luasnya hanya separo lebih dari Lapangan Hijau--lapangan sepakbola kebanggaan kota kecamatan kami-- tapi itu sudahlah cukup bagi anak-anak SD dan SMP (juga anak-anak sekitar lainnya) bermain bola dengan riang hampir saban sore setelah sekolah bubar. Tanpa alas kaki, sebagian bertelanjang dada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ya, Ateng selalu berada di sana dengan termos besar berisi es dagangan. Es itu bikinan ibunya sendiri. Enak dan tidak memakai pemanis buatan, ukurannya pun lebih panjang dari yang dijual orang lain. Ada bermacam-macam rasa; mangga, limun jeruk, cincau, kacang hijau, sirsak, juga durian jika sedang musimnya. Dan setiapkali bisa dipastikan ia akan pulang dengan termos yang sudah kosong. Es jualannya itu ludes tak bersisa lantaran dijadikan sebagai taruhan. Baik oleh dua kelompok anak-anak yang bertanding maupun antarpenonton. Ya, sudah menjadi ketentuan, pihak yang kalah wajib mentraktir yang menang dengan es dagangan Ateng....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itulah jika ada "pertandingan besar", seringkali ia mengajak serta adik perempuannya yang tampak terhuyung-huyung menenteng termos besar ke pinggir lapangan. Kami sebut "pertandingan besar" lantaran laga itu sudah diumumkan sejak jauh hari dari mulut ke mulut. Biasanya karena ada satu kelompok yang menantang kelompok lainnya. Tentu saja dibumbui dengan sedikit ejek-mengejek, saling memanasi. Sehingga pertandingan itu pun menjadi laga yang ditunggu-tunggu dan mengundang lebih banyak penonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, Ateng tidak punya saingan sama sekali. Memang awalnya ada satu anak penjaja es lain yang ikut berjualan kalau ada pertandingan. Tapi karena esnya hampir tak laku, lama-kelamaan anak itu tak pernah muncul lagi. Ah, entahlah. Seolah-olah sudah disepakati bersama--oleh kelompok mana pun yang bermain bola di sana, juga setiap penonton yang datang--hanya es jualan Atenglah yang boleh dipakai untuk taruhan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AKU&lt;/b&gt; tak pernah bermain bola di sana kecuali saat pelajaran olahraga, meskipun ingin sekali. Apa boleh buat, aku tidak punya kesebelasan. Teman-teman akrabku tak cukup sebelas orang untuk membentuk satu tim. Di antara kami, hanya Fa Siu yang pernah bermain dalam pertandingan sore hari di lapangan itu karena ia bergabung dengan tim sepupunya yang jadi kapten. Aku dan beberapa kawan lainnya harus puas hanya menjadi penonton di pinggir lapangan sembari berteriak-teriak menyemangati kesebelasan yang kami dukung dengan taruhan sebatang es Ateng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Toh kami juga punya pertandingan sendiri di garasi rumah trio kakak-beradik A Ha - A Li - A Wen yang lumayan luas. Garasi itu tidak terpakai lagi sejak mobil Panther metalik ayah mereka dijual. Cukup menggunakan bola plastik kecil dengan sandal jepit sebagai pengganti tiang gawang, kami bermain dua lawan dua atau tiga lawan tiga. Atau, kalau sudah agak sore ketika jemuran telah diangkat, kami bisa bermain di halaman rumah mereka yang berpasir dengan menambah dua pemain lagi dan menggunakan bola plastik lebih besar. A Nen, anak tetanggaku kadang kala ikut denganku bermain di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Trio A Ho-A Li- A Wen selalu berebutan jadi penyerang, tapi lebih suka menjadi kiper. Tanganku memang terlalu kecil dan kurus untuk menahan tendangan bola kulit yang berat; jari tengahku pernah terkilir dan bengkak seminggu lebih saat menepis bola kulit pada sebuah pertandingan di sekolah. Tetapi menangkap bola plastik, akulah jagonya! Dan percayalah, gawangku tak mudah dibobol lawan. Bola tinggi, tengah maupun rendah, bahkan tendangan yang paling deras sekali pun sudah bisa kuhalau dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, di depan gawang dari tumpukan batu, sandal, atau reranting, waktu itu aku kerap membayangkan diriku sebagai Sergio Goycoechea, sang penyelamat Tim Tango Argentina dalam Piala Dunia 1990. Juga Hans van Breukelen dan David Siemen...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ateng juga tak pernah ikut bermain bola di lapangan sekolah itu seperti halnya diiriku. Kalau ia bermain, kukira ia bakal dijuluki Maradona. Mungkin Maradona dari Panji Pasir, karena rumahnya berada di kampung Panji Pasir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun begitu, kerap kali ia dengan rela menjadi pemungut bola out yang melayang ke dalam hutan atau terpental masuk ke kebun warga. Bahkan tak segan-segan Ia terjun ke dalam kolong kecil yang terletak di belakang salah satu gawang untuk mengambil bola yang jatuh ke dalam air. Selain itu, kadang-kadang ia juga suka mengggratiskan sebatang-dua batang esnya pada beberapa anak yang jadi kapten tim. Bahkan A Fuk nyaris tak pernah membayar jika membeli esnya di luar pertandingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak SMP YPN yang berseberangan dengan sekolahku itu dikenal bintang lapangan yang haus gol. Bermain sebagai penyerang, idolanya adalah Marco van basten. Itulah sebabnya, terkadang Ia mengenakan kaos bernomor punggung sembilan ke lapangan, walau bukan berwarna oranye. Ia juga punya tiga lembar poster pemain terbaik Eropa itu; tertempel di dinding kamar dan ruang tamu rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, bagi kami ketika itu, pamor A Fuk tidaklah kalah dengan Sudrajat pemain Mantung atau Aan pemain Kampung Sungai Ketok yang selalu menjadi momok bagi tim-tim lawan di Lapangan Hijau pada setiap turnamen Agustusan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ORANG&lt;/b&gt;-orang Tionghoa di kota kecilku sebetulnya  tak terlalu menggilai sepak bola. Daripada bermain, mereka memang lebih suka bertaruh bola. Setiapkali TVRI --yang ebrkat iuran televisi Anda dan bekerjasama dengan SDSB-- menyiarkan siaran langsung pertandingan sepak bola, niscaya di mana-mana bakal kau temukan mereka sedang memasang taruhan. Tidak tua, tidak muda. Dari seribuan hingga ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Bahkan warung-warung kopi pun ramai dengan pembicaraan tentang bola, lengkap dengan segala analisis dan predisksi. Apalagi ketika turnamen-turnamen akbar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak demikian halnya dengan basket. Hampir setiap kampung Tionghoa di kota kecamatan ini memiliki sebuah klub basket. Malahan ada satu kampung yang memiliki sampai tiga klub. Para tukang ikan dan penjual daging babi pun punya klub basketnya sendiri-sendiri. Nama kedua klub itu simpel saja: Pasar Ikan dan Pasar Babi Belinyu. Yang terakhir sering disingkat PBB.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain mengikuti turnamen Agustusan atau camat Cup, klub-klub yang rajin berlatih itu juga kerap menyelenggarakan turnamen antarkampung. Seolah tak mau kalah dengan sepak bola. Setahuku, biasanya mereka mengumpulkan iuran dari warga kampung masing-masing. Klub basket Kelabang Merah dari Hoi Nam Kai (Jalan Melati)--seingatku--yang paling sering mengadakan turnamen Piala Kelabang Merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Toh, bukan berarti tak ada sama sekali orang Tionghoa yang berkecimpung dalam sepak bola level Lapangan Hijau. Meskipun jumlahnya barangkali bisa kau hitung dengan jari. Salah satunya adalah A Liung, tentangga sebelah rumahku. Ia bermain sebagai bek untuk kesebelasan kampung Padang lalang, diajak oleh Pardi temannya di STM YPN yang mayoritas anak Melayu. Kendati penampilannya biasa-biasa saja, ia pun menjadi salah satu pujaan kami, anak-anak Tionghoa, setiap kali timnya berlaga di Lapangan Hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, speerti yang telah kukatakan sebelumnya, Lapangan Hijau adalah lapangan sepak bola kebanggaan kota kecamatan kami. Tempat perhelatan berbagai turnamen antarkampung. Mulai dari turnamen Agustusan, Piala Lurah Kutopanji, Piala Haji Amrin (yang ini seorang pengusaha Melayu fans Inter Milan), hingga tiga kali Camat Cup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, wajar saja jika anak-anak yang hobi bermain bola selalu bermimpi untuk tampil di sini. Walaupun--ya, seperti halnya lapangan bola sekkolahku--lapangan yang terletak di daerah Perumnas ini juga jauh dari layak. Tanahnya tidak rata dan terdapat sisa-sisa akar pohon di sejumlah titik. Dan pada saat-saat menjelang sebuah turnamen, sibuklah panitia memotong rumput-rumputnya yang meranggas liar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A Fuk, bintang lapangan sekolahku itu, tentunya juga ingin sekali bermain bola di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun orangtua kami kerap melarang kami menonton pertandingan di Lapangan Hijau. "Nanti kalian berkelahi dengan anak-anak Melayu," kata ayahku. "Atau dipukul preman!" tambah ibuku dengan mimik serius. Tapi kami selalu mengindahkan larangan itu. Tetap saja kami bertandang ke Lapangan Hijau. Kalau soal berkelahi, para pemain juga kerap berkelahi di tengah lapangan, pikirku. Sudah terlalu sering kami melihat wasit dikejar-kejar dan dipukuli. Bahkan perkelahian massal di antara suporter acapkali terjadi sampai polisi harus turun tangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, meskipun beberapa kali ada teman-temanku yang dipalak anak-anak Melayu, kami tak pernah kapok. Pertandingan-pertandingan itu terlalu seru untuk dilewatkan. Apalagi jika kesebelasan Sungai Ketok main. A Nen pernah sampai nangis-nangis dikurung ayahnya di kamar karena tak bisa menyaksikan sundulan kepala Aan. Bagi kami, dengan rambutnya yang panjang (meski tak gimbal), ia seperti Ruud Gullit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertandingan bakal kian seru lagi apabila ada kesebelasan yang mencarter pemain dari luar kota. Dan ini sudah menjadi hal yang lumrah. Ada yang mencarter pemain dari Sungailiat, ada yang dari Pangkalpinang atau Mendo Barat. Tentu saja pemain-pemain yang cukup ternama. Bahkan kesebelasan Gunung Muda pernah pencarter pemain dari PS Bangka, Rudi Botak. Penonton benar-benar membludak waktu itu. Kendati ujung-ujungnya mereka harus menelan kekalahan telak 1-3 dari Kumpai. Sehingga membuat Mang Sardi--sang kepala desa yang sering berbelanja ke toko ayahku-- mencak-mencak smapai dua minggu lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Huh! Apanya yang pemain PS Bangka?! Masih bagusan menantuku main bola!" gerutunya dengan wajah memerah. Hampir semua penggemar sepak bola di kota kecilku tahu siapa Aswin, menantunya yang dijuluki Ricky Yakob Belinyu itu. Tapi setelah menikahi seorang gadis Palembang, Bang Aswin ikut bersama istrinya hengkang ke seberang. Ai, entahlah berapa banyak uang yang sudah mereka keluarkan untuk membayar Rudi Botak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika itu ayahku cuma senyum-senyum saja memaklumi. Toh, Ia juga tak mengenal satu pun pemain sepak bola di kota kecil kami, apalagi pemain PS Bangka. Juga tidak peduli. Tapi kalau para pemain klub-klub tenar Eropa, jangan ditanya. Ia hampir hafal semuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya beberapa orang Tionghoa dewasa yang kerap terlihat di pinggiran Lapangan Hijau. Itu pun karena rumah mereka memang tak jauh dari Perumnas. Ya, tidak seperti turnamen basket Agustusan di SMP YPN yang senantiasa penuh sesak dengan orang-orang Tionghoa. Besar-kecil, tua-muda, lelaki-perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Tionghoa olahraganya basket, sepak bola adalah olahraga orang Melayu! Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana tradisi ganjil ini bermula di kota kecilku. Seakan-akan ada tembok pemisah di antara ekdua olahraga itu yang tak kelihatan. Seingatku, barulah pada tahun 2000-an ada klub basket Melayu yang dibentuk oleh anak-anak rantauan yang pulang liburan kuliah dari Bandung atau Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dipikir-pikir sekarang, kukira hal ini bukanlah karena orang Tionghoa tidak suka bermain dan menonton sepak bola di Lapangan Hijau. Namun barangkali lantaran mereka takut berkonflik dengan orang Melayu dan memilih menghindar...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ATENG&lt;/b&gt; tentunya juga tak pernah berjualan es di pinggir Lapangan Hijau. Mungkin tepatnya tidak berani. Jika tidak ada pertandingan bola di lapangan sekolahku, ia akan menjajakan es dagangannya sepanjang jalan, dari rumah ke rumah, ke setiap pintu toko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kembali ke lapangan yang selalu tergenang setiapkali hujan di belakang SMP St Yosef itu: ketika aku naik ke kelas tiga SMP, pihak sekolah membangun dua buah gawang permanen untuk menggantikan tiang-tiang gawang dari bambu. Dan tidak lama kemudian, berlangsunglah Uskup Cup yang melibatkan hampir semua SMP Katolik di bawah wilayah Keuskupan Pangkalpinang. Termasuk yang bertanding dari Belitung dan Kepulauan Riau. Suasana begitu meriah. Aku datang setiap sore ke lapangan dan es dagangan Ateng pun laris-manis meskipun tak ada kesebelasan yang bertaruh. Aku sduah lupa sekolah mana yang keluar jadi pemenang kala itu, tapi yang pasti sekolahku gugur di babak penyisihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selepas itu, ada beberapa kali turnamen antarsekolah yang diselenggarakan di sana. Namun rasanya pertandingan-pertandingan dengan taruhan es Ateng--"Ateng Cup!" seloroh A Li suatu kali--tetap saja tak tergantikan. Lebih menggairahkan. Jerit kesakitan ketika tulang kering sengaja diadu, teriakan amrah karena di-tackle keras dari depan maupun belakang, diving mencolok di depan mata, badan yang berlumuran lumpur, umpatan-umpatan jorok dari penonton, dan tentu saja perkelahian-perkelahian kecil. Semua itu seakan memberikan sensasi tersendiri yang tak kami dapatkan dari pertandingan-pertandingan turnamen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan seiring waktu, berbagai laga "Ateng Cup" kian menegangkan. A Fuk yang putus sekolah akhirnya memutuskan keluar dari timnya dan menjadi pemain carteran. Tentu saja kali ini ia dengan uang. Berapa harganya, itu tergantung kepada yang nego. Hanya saja, ia cuma bisa bertanding pada hari Minggu. Karena setelah putus sekolah ia harus bekerja sebagai pegawai toko kelontong di pasar dari pagi sampai sore.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kesebelasan juga mulai mencarter para pemain Melayu, bahkan anak-anak Madura dari kampung Air Asem. Sejumlah nama yang masih kuingat antara lain: Bujang, Hasan, si Dul alias Fuad, Mursid, Mujab, Fauzi, Mahwi, Ali Fakih...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entahlah, apakah mereka memang begitu hebat (si Dul misalnya, meliuk-liuk speerti Romario setiap menggiring bola) atau karena lawan yang sudah keder duluan saat berhadapan, yang jelas kelompok yang mencarter mereka hampir bisa dipastikan akan keluar jadi pemenang. Kecuali Jun Loi si Franco Barresi dari Sin Cong (kampung Karang Lintang) dan A Kok, tak ada yang berani beradu tulang kering atau men-tackle mereka, apalagi sampai menarik kaos. Sehingga, untuk mempecundangi mereka--ah, entah siapa pulayang mencetuskan gagasan sinting ini--solusi satu-satunya adalah: diam-diam oleskan minyak babi pada bola!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manjur? Aku tidak tahu. Tapi Mursid berkali-kali gagal mengeksekusi tendangan penalti, dan Hasan, di boncel ikal dari Wasre, suatu kali terkena (bukan kartu merah, tapi) malaria sehabis bertanding!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;NAMUN&lt;/b&gt; segalanya tiba-tiba berubah. Itu sebelum aku dan beberapa kawan mulai mengkliping gambar-gambar sepak bola dari berbagai koran dan tabloid olahraga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hmm, semuanya bermula dari suat hari--satu sore yang cerah--ketika semua pemain dari kesebelasan yang memenangkan laga mendadak sakit perut dan mencret-mencret sesampai di rumah. Tak terkecuali Jun Loi dan si Dul yang hari itu dicarter! Bahkan A Fen yang sekelas denganku dua hari tidak masuk sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua gempar. Apa yang terjadi? Otak kami langsung berputar dengan cepat. Hanya satu jawabannya: Ateng!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata dugaan kami memang tidak meleset, meskipun awalnya ia menyangkal mati-matian. Adalah A Fat, salah satu pemain lawan yang diam-diam datang ke rumah Jun Loi dan membocorkan semuanya. Lantaran sudah tahu bakal kalah, demikianlah A Fat--yang merasa berhutang budi karena pernah diberi contekan oleh Jun Loi saat ulangan umum--mengaku, Chin Kwet Ngian, sang kapten tim, dan beberapa kawannya menyuap Ateng untuk mencampurkan air sabun ke dalam sejumlah es jualannya yang dijadikan taruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, sudah bisa ditebak ceritanya, Jun Loi dan anak-anak lain yang menjadi korban marah bukan kepalang. Perkelahian tak terhindarkan. Seketika lapangan bola itu pun menjelma menjadi arena baku-hantam. Aku tidak tahu kelompok mana yang keluar sebagai pemenang kali ini. Aku sendiri tidak menyaksikannya. Tampaknya sih sama-sama bonyok!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua hari kemudian, kudengar Ateng dicegat beramai-ramai di tengah jalan saat sedang berjualan. Ia dipukul sampai babak-belur dan meraung-raung minta ampun. Aku hanya bisa menghela nafas ketika itu, merasa beruntung tidak ada kawan-kawan akrabku yang terlibat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, semenjak kejadian itulah, ia tak pernah lagi tampak berjualan es di pinggir lapangan sekolahku. Meski anak-anak tetap bermain bola saban sore, tetap memasang taruhan. Hanya saja taruhannya bukan lagi es bungkus, melainkan uang! Penonton pun semakin ramai, termasuk orang-orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi setelah masuk SMA, lambat-laun aku kian jarang menonton pertandingan bola di lapangan itu. Dan akhirnya nyaris tak pernah bertanding lagi. Terakhir kali aku mendengar tentang Ateng adalah dua tahun silam ketika aku pulang kampung. Kabarnya ia cukup sukses di Tangerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ia punya &lt;i&gt;showroom&lt;/i&gt; motor di sana. Aku nyaris pangling saat ia menyapaku. Badannya gemuk dan putih," kata A Fuk yang kini berjualan sayur di pasar, lalu menambahkan. "Ia memberiku uang. Kau tahu berapa? Tiga juta saat kubuka amplopnya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya tersenyum. Terbayang lagi olehku serang anak kurus-kecil berkulit legam dengan rambut acak-acakan sedang menenteng termos di pinggir lapangan. Hm, sampai sekarang, aku tak pernah tahu, siapa namanya yang sebenarnya....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setahuku, sejak dulu, sejak aku mengenalnya, semua orang sudah memanggilnya Ateng. Karena tubuhnya yang boncel mengingatkan kami pad apelawak yang cukup populer pada masa itu. (*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Jogokariyan, Yogyakarta, Juni-Juli 2015&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/5923237437629067252/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/ateng.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/5923237437629067252" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/5923237437629067252" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/ateng.html" rel="alternate" title="Ateng" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXxVV_15GQjOkWCu7DAU-LIjtZHhRpeLvmvanf7aYzSNb2gHIJiI9hEJrmxfDpzesH5GJrJUB-5DIc-24DKjAV6rUwwhnmCsbGbwplgwQ6Jdc5SuXRUhxY075cc5wk4elQ9kl9owhQ-E2Y/s72-c/Ateng+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-3836928987240121846</id><published>2015-08-09T22:32:00.000+07:00</published><updated>2015-09-24T10:44:04.086+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mardi Luhung"/><title type="text">Teropong Kan</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;MARDI LUHUNG&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZjtQNRsQ9unsuWiINUD3iXX7q-ujVpZRwl8FCM9-mxFy2dnnh-naeJkcQ_51jCIK-jwOBhh5r3GDaaBYpFERO9-cExyLtFNGqf-lcNBTgpc4RRPpl97p3R0JHbvDK5OUvysheiKfr-3JN/s1600/Teropong+Kan+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Teropong Kan" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZjtQNRsQ9unsuWiINUD3iXX7q-ujVpZRwl8FCM9-mxFy2dnnh-naeJkcQ_51jCIK-jwOBhh5r3GDaaBYpFERO9-cExyLtFNGqf-lcNBTgpc4RRPpl97p3R0JHbvDK5OUvysheiKfr-3JN/s200/Teropong+Kan+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Teropong Kan" width="147" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;Oleh seluruh isi Alam hatimu tak terpuaskan...*&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KAN&lt;/b&gt; melongo. Tak percaya. Diucek-ucek matanya. Tetap melongo. Apa ini mimpi atau bukan? Sekali lagi Kan tak percaya. Sebab, telur (yang sebesar telur puyuh) yang barusan keluar dari anusnya itu lain. Sesuatu yang bukan basah, bau dan menjijikkan. Tapi, kering, agak bundar, dan indah seperti emas. Emas? Ya, telur itu memang emas. Emas murni. Yang jika ditimbang, mungkin seberat sekian puluh gram. Berat yang aduhai. Berat, yang dijual cepat-cepatan, akan mendapatkan uang kurang lebih sekian ratus juta. Sekian ratus juta? Wah, Kan kembali tak percaya. Untuk apa uang sebanyak itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kembali Kan tak percaya. telur emas yang telah dimasukkan ke dalam tas kresek kecil itu ditatapnya. "Ini emas. Benar-benar emas. Dan ini telurku," bisik Kan kepada dirinya sendiri. Bisikan yang takut  untuk didengar orang lain. Bisikan yang mungkin paling mendebarkan yang pernah Kan lakukan.  Dan malamnya, di hadapan Kan telah terpampang tumpukan uang. Uang dari hasil menjual telur emasnya. "Aneh, benar-benar aneh.." Dan ketika tidur, Kan pun bermimpi  berada di sebuah pantai. Pantai yang indah. Pantai yang dengan segala kenikmatannya. Dan Kan bahagia, sebab dialah tuan di pantai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantai yang putih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantai yang bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantai yang ketika angin mendesir, seribu keliningan seperti sama-sama bergoyang. Sama-sama menghamburkan suara-suara yang merdu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantai, yang mungkin seumur hidup, hanya dapat dilihat oleh Kan di majalah-majalah atau selebaran-selebaran untuk pariwisata. Selebaran-selebaran yang begitu menyala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dari mana datangnya ide, Kan merasa mesti mengubah nasib. Nasib yang tak jelas. Nasib yang dpaat dikatakan memprihatinkan. Nasib yang oleh pameo (yang pernah didengar Kan): "Seperti si miskin yang mesti segera ditolong. Sebab, jika tidak, maka akan memasuki dunia keputusasaan. Dunia galau yang tak terjabarkan. Dunia yang gampang melakukan perbuatan yang bersifat potong-kompas. Mencuri, menelikung, menggarong, terus bunuh diri." Ya, mendengar kata bunuh diri, Kan merinding. Sebab, orang bunuh diri adalah orang yang celaka. Di samping nyawanya gentayangan. Kelak di hari perhitungan juga susah untuk digolongkan ke jenis apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis pelawan, tidak. Jenis penerima, tidak. Jenis pelawan sekaligus penerima, juga tidak. Karenanya menurut cerita kakek-nenek Kan, orang bunuh diri adalah orang yang susah untuk masuk ke mana-mana. Surga menolak, neraka menampik. Cuma bis amelayang, melayang dan melayang. Melayang bersama yang lain. Yang juga bunuh diri. Yang nyawanya gentayangan. Gentayangan di ruang dan wkatu yang tak terbatas. Ruang dan wkatu yang gelap. Yang penuh dengan teriakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Beri kami batas akhir. Beri kami batas akhir!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cukuplah sampai di sini saja!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami tak mampu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sungguh! Kami tak mampu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tolong, kembalikan saja kami ke dunia!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami akan mengubah apa yang telah kami putuskan!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami benar-benar tak mampu menanggungnya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kan kembali merinding. Dan meski cerita kakek-neneknya tentang nasib nyawa orang bunuh-diri itu belum dilihatnya, tapi Kan merasa kecut. Jadinya, agar tak masuk ke situasi seperti itu, Kan pun mendatangi orang-orang pinter. Bertanya tentang cara, bagaimana bisa lepas dari nasibnya yang memprihatinkan itu. Dan rata-rata, orang-orang pinter yang ditemuinya, meminta syarat yang aneh-aneh. Puasa, bertapa, minum ramuan, atau pantang untuk melewati bayangan pohon tertentu. Yang semuanya, bagi Kan begitu tak masuk akal. Sebab, ujung-ujungnya, Kan pun mesti menyerahkan duit sebagai pengganti maharnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Berapa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wah, ini bukan masalah berapanya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lalu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, apa untuk mengganti maharnya, ikhlas atau enggak?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ha, ha, ha, tentu saja Kan tertawa. Orang-orang pinter itu memang sungguh lucu. Bayangkan, ada orang yang minta tolong dari keprihatinan kok malah disuruh membayar? Memangnya, orang yang minta tolong itu punta duit. Lagian, jika memang punya, ngapain juga minta tolong. Kan pun menelan ludah. Meninggalkan semuanya. Sampai suatu sore, di tepi sebuah telaga, datanglah seorang berpakaian aneh pada Kan. Bajunya hijau, celananya hijau, kaos kakinya hijau, sepatunya hijau, dan tas kopernya pun hijau. O ya, di setiap si orang hijau (kita sebut seperti itu) bergerak, selalu diikuti bunyi bip-bip-bip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bip-bip-bip, "selamat sore," sapa si orang hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sore juga," sahut Kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bip-bip-bip, "tampaknya ada yang perlu dibantu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kan terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bip-bip-bip,"ayolah jangan ragu, aku bantu," tambah si orang-hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kan emmandnagi orang-hijau lebih seksama. Kan merasa ini orang kok aneh banget. Dan bunyi bip-bip-bip (bunyi yang aneh itu), pun selalu mengiringi geraknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan si orang-hijau tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kan mengernyit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa, tiba-tiba saja si orang-hijau membuka tas kopernya. Mengambil sebutir pil. Bip-bip-bip," telanlah, nanti persoalanmu terjawab." Kan menerima pil itu. Dan si orang-hijau lenyap. Bip-bip-bip, "Ingatlah, setelah menelan pil itu, setiap enam bulan sekali, kau akan bertelur emas!" Suara si orang-hijau menggema. Dan sebuah piring terbang mungil pun melayang menjauhi telaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Di kamarnya yang sumpek, Kan masih memegang pil pemberian si orang hijau. Antara percaya dan tidak, Kan menelitinya. Lalu pikirannya berputar: "Siapa si orang-hijau itu? Jangan-jangan dia itu jin? Atau makhluk-angkasa-luar yang mengadakan penelitian? Tapi entahlah, yang jelas siapa pun dia, pasti ingin menolongku. Apalagi dia tak minta imbalan." Glek! Pil itu ditelannya. Sesaat kemudian, Kan meras tubuhnya dirubungi semut. Semut-merah yang ganas. Semut-merah yang menggigit-gigit. Semut-merah yang tak kelihatan. "Ampun!" teriak Kan. Terus segalanya gelap. Antara sadar dan tidak, Kan mendengar suara bip-bip-bip yang bersusulan. Lalu sebuah cahaya menyorot. Cahaya yang pelan-pelan membesar. Mmebesar. Membesar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika sampai pada puncaknya, cahaya yang membesar itu pun berpusar. Berpusar ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah. Terus bergulung. Dan bergulung Membentuk aneka rupa. Rupa mata, telinga, hidung, pohon, gunung, sayap, lalu, hup! Rupa lubang cahaya pun menganga di hadapan Kan. Lubang cahaya yang panjang, Lubang cahaya yang pangkalnya etrbuka. Terus menyergap diri Kan, seperti sergapan seekor ular lapar. Akh, Kan pun tiba-tiba merasa sudah terlentang di ranjang besi yang mengkilat. Beberapa makhluk aneh bermasker membedah pencernaannya, "Di mana aku?" itu pertanyaan Kan sebelum segalanya kembali ke dalam gelap. Gelap yang tak berdinding. Gelap yang tak tertebak. Gelap yang tak bergerak. Dan gelap yang membuat setiap pertanyaan jadi terbungkus rapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan Kan berubah. Yang dulu memprihatinkan kini tidak lagi. Seperti sebuah sulap. Bimsalabim, Kan pun menjelma ke diri Kan yang lain . Kan yang jika ingin ini itu tinggal menunjuk. Tak perlu susah-susah. Apalagi Kan yang ini sudah punya rumah sebesar alun-alun. Dengan kamar sebanyak seratus. Kamar dengan perabotan yang semuanya berwarna hijau. Tapi, apa cerita selesai di sini? Ternyata tidak. Sebab, dengan keseriusan, Kan membangun laboratorium khusus di salah sau kamar di rumahnya. Laboratorium itu diisi dengan teropong yang mendongak ke atas. Teropong yang bisa mengamati setiap gerak bulan, bintang, komet, atau benda-benda laingit lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benda-benda langit yang tak jelas kapan disebaranakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dimana pula titik pusatnya. Dan kenapa begitu terjaga dan patuh pada peredaran yang tak tertulis tapi begitu kukuh. Peredaran yang membuat setiap mata yang melihatnya berkhayal seperti ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"pasti ada yang tak terlihat yang mengikat semuanya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pasti talinya besar dan kuat."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan tali itu digenggam oleh raksasa super besar."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Raksasanya punya sayap."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi, aku kok tak melihatnya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, pasti tak melihatnya. Raksasanya kan gaib."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Gaib? Kau kok tahu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ufh."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau pasti ngelindur?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sudah, sudah..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya, sudah. Jangan diteruskan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Karena itu bukan tali."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lalu apa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pokooknya bukan tali."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Loh,"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pokoknya bukan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aneh?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tepat, keanehanlah yang mengikatnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apa yang dicari oleh Kan di atas sana? Ya, itu tak lain adalah piring terbang mungil yang dulu pernah dilihatnya menjauhi telaga. Piring terbang mungil, yang melesat bersamaan dengan lenyapnya si orang hijau-hijau. Piring terbang mungil (yang dalam pikiran Kan) adalah pasti kendaraan si orang-hijau. Si orang-hijau yang telah memberinya pil. Pil yang telah menjadikan anusnya setiap enam bulan sekali mengeluarkan telur emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun-tahun pun berlalu. Ternyata, Kan berumur panjang. Panjang sekali. Dan saat ini, adalah saat kesekian ratus tahun. Saat ketika Kan sudah tua. Dan saking tuanya, tak jelas berapa sudah umurnya. Istrinya telah lama meninggal. Dan anak-anaknya pun sudah entah ke mana. Tak terkenang. Sehingga, Kan tak tahu, siapa saja cucu-cucunya, juga cicit-cicitnya, juga anak-anak dari cicit-cicitnya. Yang jelas, siapa saja yang datang, dan emngaku keturunannya, disambut.  Dan semuanya pun diberi telur emasnya. Terus pergi. Tanpa berani untuk mengganggu kesuntukan Kan. Kesuntukan untuk mengamati langit dengan teropongnya yang kini makin canggih dan tajam. Teropong (yang ternyata selama ini), tak pernah menangkap gerak piring terbang mungil dari kendaraan si orang-hijau dulu. Teropong, yang hanya menjangkau kegelapan langit yang jauh, jauh sekali. Dan teropong (yang membuat orang-orang yang ada), pun menyebut diri Kan, sebagai peneropong-sepuh yang pandangannya gentayangan tanpa batas akhir. (*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;* petikan puisi Ghazal, Mohammad Iqbal (Sastra Sufi Sebuah Antologi, ed-Abdul Hadi WM)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;Tentang Mardi Luhung:&lt;/b&gt; Nama asli Mardi Luhung adalah Hendry. Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. DIa lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media.  Buku puisi tunggalnya: &lt;i&gt;Terbelah Sudah Jantungku&lt;/i&gt; (1996), &lt;i&gt;Wanita yang Kencing di Semak&lt;/i&gt; (2002), &lt;i&gt;Ciuman Bibirku yang Kelabu&lt;/i&gt; (2007) dan &lt;i&gt;Buwun&lt;/i&gt; (2010).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dalam &lt;i&gt;Bisang Puisi&lt;/i&gt; (2002), &lt;i&gt;Cakrawala Sastra Indonesia&lt;/i&gt; (2004), &lt;i&gt;International Literary Biennale di Salihara&lt;/i&gt; (2005 dan 2013) serta diundang dalam Festival Kesenian Yogyakarta XVIII/2006. Tahun 2010 mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award. Sedangkan, kumpulan cerpen pertamanya adalah: &lt;i&gt;Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku&lt;/i&gt; (2011).</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/3836928987240121846/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/teropong-kan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/3836928987240121846" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/3836928987240121846" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/teropong-kan.html" rel="alternate" title="Teropong Kan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZjtQNRsQ9unsuWiINUD3iXX7q-ujVpZRwl8FCM9-mxFy2dnnh-naeJkcQ_51jCIK-jwOBhh5r3GDaaBYpFERO9-cExyLtFNGqf-lcNBTgpc4RRPpl97p3R0JHbvDK5OUvysheiKfr-3JN/s72-c/Teropong+Kan+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-2548858178925168272</id><published>2015-08-02T23:14:00.000+07:00</published><updated>2015-09-18T23:19:02.960+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilham Q. Moehiddin"/><title type="text">Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;ILHAM Q. MOEHIDDIN&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNYRrBKcIra8WT7J28Mo5dwgovLG5jXrRnxmvTh9li1l5CLw1spdQVCcD3jxlp8KkD90Hi9AYQWnIgQfaEX5vaxjxBMnuuJc3uzwiXzaJ0MIeoGh2z0fXiA_oeQapFecM5hqumeB9fqtCi/s1600/Tuhan+Kecil+di+Vsyehrad+Hills+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNYRrBKcIra8WT7J28Mo5dwgovLG5jXrRnxmvTh9li1l5CLw1spdQVCcD3jxlp8KkD90Hi9AYQWnIgQfaEX5vaxjxBMnuuJc3uzwiXzaJ0MIeoGh2z0fXiA_oeQapFecM5hqumeB9fqtCi/s200/Tuhan+Kecil+di+Vsyehrad+Hills+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills" width="126" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;#1&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DI&lt;/b&gt; bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi --dengan kecuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di &lt;i&gt;Vsyehrad Hills&lt;/i&gt; membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau suka buku? Lavinsky duduk tepat di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak!" jawab gadis itu dengan ketus --namanya Lalena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"Aku tidak suka saja!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentu kau punya alasan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena meliriknya dengan jengkel. Lavinsky menyentuh bibirnya sendiri. "Baiklah," selanya tenang, "Bagaimana dengan bunga? Apa kau suka bunga?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku juga tak suka bunga!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aneh--" Lavinsky bergumam, "--biasanya perempuan suka pada bunga."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku bukan perempuan seperti itu!" Lalena menyahutinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky tersenyum. Jemarinya menyentuh tangan Lalena. "Kau tak suka buku, juga bunga. Lalu, apa yang kau sukai?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa kau begitu ingin tahu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky menggeleng cepat. "Tidak. Ceritalah jika kau suka saja."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kecanggungan menyergap. Dua menit yang terasa lama. Lalena memandangi sebagian Praha di bawah sana. Ia menyukai ketenangan seperti itu. "Aku menyukai belati dan gunting kuku," suara gadis itu datar sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bola mata Lavinsky membesar. Sebenarnya ia sedang penasaran mengapa Lalena kerap menghabiskan kesendiriannya di kafetaria ini. Suasana di tempat ini tidak cocok untuk merenung. Lalu, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan sesuatu tentang belati dan gunting kuku. Bukankah itu aneh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mudah bercakap-cakap dengan gadis pendiam seperti Lalena. Pun jarang ada gadis yang sudi berbicara pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Tapi tampaknya Lalena tak punya apapun, kecuali lamunan yang bisa ia ceritakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;#2&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky bertemu lalena saat hujan pertama di bulan November, di kafetaria kecil di satu bagian di Bukit Vsyehrad ini. Gadis itu sedang sendirian di meja dekat jendela, memandangi rincis hujan di luar sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aneh cara gadis itu menatapnya. Hanya beberapa detik mata mereka bertemu dan gadis itu buru-buru membuang pandangannya. Lavinsky ingin mengenalnya, mendekatinya dan sopan meminta untuk bisa duduk semeja dengannya. Lalena setuju saja. Perkenalan dan obrolan kecil bersama dua sloki Vodka yang tandas sebelum mereka berpisah untuk urusan masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa mereka kerap bertemu di kafetaria ini. Lalena tak p[ernah banyak bicara, kecuali jawaban kecil atas satu-dua pertanyaan Lavinsky. Barangkali --untuk standar Lavinsky-- Lalena adalah gadis paling ebruntung. Ia bukan sejenis lelaki yang serius. Tetapi untuk Lalena, entah bagaimanaLavinsku berhasil emnahan diri dari sikap isenganya. Lavinsky tiba-tiba menjelma lelaki paling ramah, tak seperti Lavinsky yang suka berpura-pura mendengarkan kesah para perempuan dan mengakhiri kesepian mereka dengan omong kosong dengan perapian bersama sebotol Vernaccia merah ceri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku penasaran perihal gunting kuku itu," gumam Lavinsky.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu tentang seorang lelaki--" Jawab Lalena tanpa berkedip. Matanya berkilat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seorang lelaki?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"--Lelaki itu mati karena gunting kuku."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky tertegun. Lalena mengawali seritanya dengan intonasi yang aneh. Lebih aneh dari suara Phoebe saat mendesiskan bagian-bagian menakutkan dari kisah kematian di perkemahan musim panas Arawak kepada anak-anak yang mengelilingi api unggun dalam film &lt;i&gt;Sleepaway Camp&lt;/i&gt;. "Bagaimana gunting kuku bisa membuat seorang lelaki--mati?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena berpaling ke jendela. "Diabetes. Gunting kuku melukainya dan dosa membuat lukanya membusuk dengan cepat," nafas Lalena memburu. "Aku ada di dunia ini karena lelaki itu menjejalkan cintanya pada ibuku dengan cara dan di tempat yang tak pantas."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky menahan kagetnya. Lidahnya tiba-tiba pahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata gadis itu berkaca-kaca. "Seperti perempuan Liguria umumnya, ibuku punya garis pelipis yang menarik. Beliau cantik sekali," ujarnya kemudian. "Ibuku menjadi pelayan di kafetaria ini saat lelaki itu menggodanya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Well&lt;/i&gt; --itu perkenalan yang cukup lancar"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena mendengus. Ia tak peduli pada sindiran Lavinsky.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibuku hanya menceritakan apa yang ia ingin aku ketahui. Mungkin saja ibuku memang pernah menerimanya. Tapi menurutku, ibu lebih suka menempatkannya seperti seekor &lt;i&gt;dubuk&lt;/i&gt; yang gelisah."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena mengangguk pelan dan menatap Lavinsky. Perbukitan Vsyehrad yang basah dan ebrangin seperti  membenarkan dugaan Lavinsky pada temperamen gadis di depannya itu. "Lelaki itu merenggut kehormatan ibuku di toilet kafetaria ini. Jahanam mengurung ibuku di toilet sebelum menuntasnya urusannya kurang dari satu menit."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Heh--" Lavinsky menarik bibirnya. Itu cara berani mengungkapkan sesuatu dan itu benar-benar hal yang mengejutkan dari seorang gadis perenung seperti Lalena. Diam-diam Lavinsky tertawa dalam hati mendengar kalimat terakhir Lalena. Ia usap mukanya, lalu menyisiri rambut sendiri dengan jemari. Ini kisah rumit. Tidak pernah mudah menceritakan kepedihan macam itu tanpa perlu terdengan satir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seharusnya lelaki itu memberi ibuku peluang melepaskan gairahnya di sebuah motel kecil, daripada sebumur hidup merasa dipecundangi di lantai toilet yang basah dan dingin."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jengah. Lavinsky jengah mendnegarnya. Pembicaraan ini tak nyaman lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vodka dari sloki kedua membuat tubuh mereka hangat. Lalena memperlihatkan deritanya seperti buku yang terbuka. Tidakkah cukup rumit setelah beberapa pertemuan yang tak pernah direncanakan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentang belati itu?" Lavinsky menyodorkan lagi sesloki vodka pada Lalena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tak suka langusng ke topik itu!" Gadis itu berubah ketus. Lalena tiba-tiba didera amarah setelah meneguk isi slokinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky mengangkat alisnya. Tidak mudah membaca gadis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;#3&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai Lalena, gadis itu hanya punya sedikit cinta. Ia menyukai detil kecil yang ia pikir bis amengubah hidupnya.  Ia berimajinasi tentang detil-detil kecil itu. Imajinasi yang membuatnya sanggup membangun benteng paling aman untuk menyimpan semua impian dan kenyataan --sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky ingin percaya bahwa apa yang ia dengar dari gadis itu hanya bentuk lain dari imajinasinya. Bukan kenyataan yang memuakkan. Tetapi, tampak sekali bahwa perasaan gadis itu tak bertepi. Pengalaman yang ingin ia jelmakan serupa Juan Dahlmann di negeri selatan versinya snediri --dalam kisah Borges.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Baiklah." Lavinsky bersabar. "Lanjutkan saja cerita gunting kuku itu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena bernafas pelan-pelan sebelum mengibaskan kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibu melakukan semua itu tanpa perhitungan. Ibu sedang mengandung diriku, saat kembali ke kafetaria ini, setiap hari selama dua pekan, akhirnya ibuku bertemu lelaki itu. Ia bersama tiga kawannya dan berlagak tak mengenali ibuku. Di meja yang kerap mereka pesan, mereka menertawai gadis pelayan yang bermuka masam usai mereka goda."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky mengusap tengkuknya. "Sebentar Lalena--" tahannya, "--apakah bagian ini ada hubungannya dengan belati?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Belum," desis Lalena. "Ini masih tentang diabetes!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky buru-buru mengangkat tangannya, tersenyum ramah dan enggan menanggapi kekesalan Lalena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lelaki itu kembali membuntutui seorang gadis pelayan ke toilet. Ya. Lelaki itu hendak mengulang apa yang ia perbuat pada ibuku. Gadis pelayan itu sedang menggigil ketakutan dan berusaha menuntupi tubuhnya saat ibuku menggedor pintu. Ibuku menarik tubuh pelayan itu, mendorong lelaki yang belum sempat membereskan dirinya itu hingga terhuyung dan selangkangnya terluka karena menabrak wastafel."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lelaki itu suklar ditemukan setelah kejadian iyu, kan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena tak menggubris Lavinsky. "Ibuku tak perklu mencarinya, karena lelaki itulah yang kerap datang menemui ibuku. Di hari saat ibuku berkenan menemuinya, kondisi lelaki itu sudah payah. Ia mencium kaki ibuku dan memohon maafnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibumu memaafkannya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seharusnya tidak--" Lalena mengatupkan matanya, "--wanita yang terluka sukar melupakan. Tetapi lelaki yang bersalah seperti &lt;i&gt;dubuk&lt;/i&gt; kebiri yang akan mengikutimu kemana pun. 'Dubuk' yang selalu datang pagi-pagi dan duduk di depan pintu apartemen ibuku."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Lalena menyala lagi. Lavinsky menelan ludah. "Kondisi lelaki itu memburuk. Dosa, penyesalan dan kebencian ibuku, membuat lukanya membusuk dengan cepat. Tak ada dokter yang cukup gila untuk mengurusi luka di selangkang lelaki dengan diabetes akut. Aku lahir sebulan setelah lelaki itu tak bisa berdiri tegak. Barangkali kau mengira, itulah hal terburuk yang harus ia alami?" Lalena menyeringai. "Bukan --bukan itu. Maaf yang tak diberikan ibuku adalah siksaan paling buruk yang harus ia tanggung."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibumu memaafkannya?" Ulang Lavinsky.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hanya jika lelaki itu telah berkalang tanah."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky bergidik. "Bukankah menyangkali lelaki itu berarti menyangkali dirimu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu soal lain. Ibu lebih suka melihat jasad lelaki itu daripada memberinya maaf atas namaku. Mungkin ibu menyukai beban yang ia ciptakan sendiri. Ia memilih caranya sendiri."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amarah dalam suara Lalena itu membuat mereka terdiam. Vodka sudah lama kosongdari dua sloki mereka. Udara dingin merasuk dari hujan di luar sana. Lavinsky merasa tertampar. Ingatannya terbang ke sebuah tempat di mana mungkin saja seorang wanita sedang menunggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana lelaki itu setelahnya?" Lavinsky memecahkan kebisuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mati!" Tak ada ekspresi di wajah Lalena. "Ia menyerah. Tekanan akibat kebisuan ibuku dan deraan penyakitnya, membuat lelaki itu menikam jantungnya dengan belati."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky menyerahkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia cukup terkejut saat tahu posisi belati dalam kisah Lalena dan memaklumi pilihan lelaki itu mengakhiri hidupnya. Lavinsky kini tahu alasan gadis itu menyukai belati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah kau masih ingin emndengarkan kisah belati itu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky menggeleng. "Cukup tentang kuku dan diabetes saja."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena mengangguk. Angin yang masuk lewat pintu membuat anak rambut emnari di dahi dan pelipisnya. Cantik sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;#4&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Lalena menjelajahi se potong Praha di bawah sana. Jembatan &lt;i&gt;Karluvmost&lt;/i&gt; dan orang-orang yang tergesa di bawah hujan dalam selubung ponco. Matanya menyapu dinding menara &lt;i&gt;Zizkov&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Jam Astronomi&lt;/i&gt; di Balai Kota. Pucuk pepohonan bergerak-gerak di sepanjang sisi sungai Vltava yang tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibuku tenggelam dan aku tak sempat menyelamatkannya." Lalena tiba-tiba berbicara seraya memejamkan mata. Air mukanya berubah saat mengatakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hah?" Lavinskygelagapan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibu menghabiskan waktu dengan imajinasinya. Tangannya tak bosan menari di atas kertas, tenggelam bersama semua kesedihan yang ia tuliskan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia baru saja keliru, mengira gadis itu bicara tentang ibunya yang tenggelam di sungai Vltava. Ternyata bukan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelipis Lalena mengeras. "Aku bukukan semua tulisan ibu, walau aku sendiri menolak membacanya. Sukar bagiku memahami cara ibuku tenggelam dalam kesedihannya. Kini kau tahu alasan mengapa aku tak menyukai buku."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lavinsky mengangguk seraya menuliskan sesuatu di serbet dan menyelipkannya di antara halaman terakhir &lt;i&gt;The Prague Cemetery&lt;/i&gt;. Ia tepuk lengan Lalena, menyorongkan buku Umberto Eco itu ke dekatnya. Lewat isyarat matanya, Lavinsky ingin gadis itu membaca apa yang sudah ia tulis, sebelum meletakkan sejumlah uang di meja dan segera meninggalkan kafetaria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalena memandangi punggung Lavinsky yang menjauh. Ia baca pesan yang ditulis untuknya: &lt;i&gt;Aku harus menyelesaikan sedikit urusan. Aku menyukai percakapan kecil ini, Lalena. tapi aku tidak mau menjadi Tuhan. Sungguh mati --itu pekerjaan yang paling tidak diinginkan oleh siapapun.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu tersenyum kecil. Lalu, matanya kembali mengalir di sungai Vltava. (*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Molenvliet, Maret 2015&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;ILHAM Q. MOEHIDDIN&lt;/b&gt;. Banyak menulis cerpen. &lt;i&gt;Buku Perempuan-Perempuan Liguira&lt;/i&gt; (2015) adalah kumpulan cerpen terbarunya.</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/2548858178925168272/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/tuhan-kecil-di-vsyehrad-hills.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2548858178925168272" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2548858178925168272" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/08/tuhan-kecil-di-vsyehrad-hills.html" rel="alternate" title="Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNYRrBKcIra8WT7J28Mo5dwgovLG5jXrRnxmvTh9li1l5CLw1spdQVCcD3jxlp8KkD90Hi9AYQWnIgQfaEX5vaxjxBMnuuJc3uzwiXzaJ0MIeoGh2z0fXiA_oeQapFecM5hqumeB9fqtCi/s72-c/Tuhan+Kecil+di+Vsyehrad+Hills+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-7546964869957295022</id><published>2015-07-26T22:35:00.000+07:00</published><updated>2015-09-18T22:48:37.571+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karta Kusumah"/><title type="text">Blowing in The Wind</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;KARTA KUSUMAH&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KINI&lt;/b&gt; kau adalah sebuah suara yang keluar dari mulut seorang penyanyi kafe pada pukul tiga dini hari yang lelah: &lt;i&gt;"How many roads must a man walk down before you call him a man?" &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT9IKHwFJZT3JKd0IsKSWP7oN6vjha4VFPSOG6IFt7f069mhBvtzg_KrzlrZyRbzMxm_ADrfheHaCKk3Kkwfg1nM3NlzWerNO_otCjjCa-4dtb82ymnfOcB7JdAeAvGo6pbRtLYJ58G82K/s1600/Blowing+in+the+Wind+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Blowing in the Wind" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT9IKHwFJZT3JKd0IsKSWP7oN6vjha4VFPSOG6IFt7f069mhBvtzg_KrzlrZyRbzMxm_ADrfheHaCKk3Kkwfg1nM3NlzWerNO_otCjjCa-4dtb82ymnfOcB7JdAeAvGo6pbRtLYJ58G82K/s200/Blowing+in+the+Wind+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Blowing in the Wind" width="119" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kemudian kau terbentur ke lantai yang lembab dan dingin. Tak berkutik beberapa saat sebelum sepasang sepatu dari langkah yang terburu-buru menendangmu, menyebabkan kau terlempar ke kolong meja bernomor empat belas di mana seorang lelaki sedang memandang langit-langit cafe dengan tatapan yang berusaha menunjukkan --pada seekor cicak yang kebetulan berada tepat di hadapan sepasang matanya-- betapa letihnya ia dini hari itu. Lelaki itu menghirup napas dalam-dalam. Kau terbawa ke dalam paru-parunya. Selang beberapa detik, ia mengembuskan napas dengan kuat. Kau terlempar dan melekat di rambut seorang perempuan yang sedang merapikan rias wajah, rambut, dan busana. Ia mematut dirinya di hadapan cermin kecil. Memoles bibirnya dengan gincu merah, menambah tebal bedaknya, dan kemudian menyibakkan rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kau kembali terlempar. Terlempar masuk ke salah satu lubang ventilasi toilet yang ada di cafe itu. Kau terjatuh ke dalam tas seseorang. Seseorang yang ternyata sebentar lagi akan pergi meninggalkan cafe itu dan entah akan menuju ke mana. Barangkali ia akan pulang ke rumah, membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa setiap akan pulang dini hari. Membuka pintu dengan gelagat seorang pencuri . Masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Merebahkan diri lantas tidur dan ketika tertidur matahari telah condong  ke arah pantai. Atau bisa jadi, seseorang itu tidak akan pulang ke rumah. Ia hanya pergi dari cafe itu. Menyusuri jalan-jalan yang lengang. Kendaraan yang lewat satu-satu terkadang menawarkan tumpangan namun selalu ia jawab dengan menggelengkan kepala sebab ia sendiri tidak tahu akan ke mana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia hanya ingin pergi dari cafe itu, melepaskan dirinya dari keramaian orang-orang yang justru semakin membuatnya merasa kesepian. Keluar dari toilet, ia sedikit berlari, dan tepat di pintu cafe itu ia tersandung. Tasnya terlempar sejangkauan lengan darinya. Seluruh isi tasnya berserakan. Termasuk kau yang kebetulan sedang berada di dalam sana. Kau terserak agak jauh --karena kau adalah sebuah suara yang keluar dari mulut seorang penyanyi cafe pada pukul tiga dini hari. Seorang penyanyi cafe yang ketika kau berada di luar cafe itu sedang melafalkan: &lt;i&gt;"How many seas must a white dove sail  before she sleeps in the sand?"&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau adalah sebuah suara yang kini sedang tergeletak di tengah jalan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sekitar empat puluh kilometer per jam. Kau belum beranjak ke mana-mana ketika mobil itu melintas menabrakmu. Membuatmu tersangkut di nomor polisi mobil itu. Kau membacanya. Bukan kendaraan dari kota ini. Kau tetap tersangkut di sana. Terbawa menyusiri jalan-jalan yang dijelajahinya. Hingga, pada sebuah pantai, mobil itu mendadak berhenti. Kau terlempar dan mendarat di hamparan pasir pantai yang basah. Kau melekat di sana. Si pengendara mobil itu keluar. Duduk tepat di sampingmu. Ia tidak tahu kau ada di sampingnya. Ia kemudian merebahkan dirinya. Tertelentang memandang langit dini hari yang bersih dari apapun, kecuali bayang-bayang kekasihnya dan kenangan yang diputar ulang dalam pandangannya. Ia sedang berusaha mengingat kapan terakhir kali ia dan kekasihnya mengunjungi pantai ini. Ia sedang berusaha mengingat apakah yang mereka lakukan ketika mengunjungi pantai ini terakhir kali. Apakah ia dan kekasihnya membuat rumah pasir yang sangat besar atau biasa saja? Apakah rumah pasir itu ia bentengi dengan batu-batu karang atau membiarkan ombak yang bergerak ke tepian meluluhlantakkannya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sedang berusaha mengingat apakah ketika mengunjungi pantai ini terakhir kali mereka  sempat tertawa dan berbahagia? Ataukah semua ingatannya itu palsu? Ingatan palsu yang ia ciptakan sendiri demi membantah kenyataan bahwa selembar foto yang kini ada di genggamannya menampilkan sesuatu yang lain. Sebuah foto lelaki  yang memotret dirinya sendiri untuk dikirimkan pada kekasihnya yang jauh dan bahkan tak pernah ia temui sama sekali. Angin berembus agak kencang, membawamu menjauh drai lelaki yang sedang ditikam ingatan fiktif itu sehingga kau tidak bisa tahu bahwa kau sedang melagukan pelan-pelan lirik ini: &lt;i&gt;"Yes, how many times can a man turn his head pretending he just doesn't see?"&lt;/i&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau adalah sebuah suara yang melayang-layang diterjang angin laut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bergerak semakin jauh drai tongkang dan perahu nelayan yang seakan berkedip mengucapkan selamat jalan. Angin itu terus membawamu menyusuri atap demi atap, membentur tiang demi tiang, kemudian menghempaskanmu di depan pintu lobi sebuah hotel bintang empat. Kau mengerti namun tetap saja ingin bertanya ketika seorang lelaki menuntun seorang perempuan muda mentah dengan wajah sayu dengan mata yang seakan menyimpan segala kesediahn di dunia menuju meja &lt;i&gt;reception&lt;/i&gt;. Kau sungguh-sungguh mengerti namun tak bisa membendung pertanyaan mengapa begitu mudah bagi seseorang untuk merasa punya hak terhadap diri orang lain? Mengapa begitu mudah kesedihan berubah menjadi semacam barang yang bisa diberi harga? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau masih ingin melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang sungguh telah kau mengerti jawabannya itu seandainya tidak ada petugas &lt;i&gt;public area&lt;/i&gt; yang sedang meneteng &lt;i&gt;vacuum cleaner&lt;/i&gt; dan berdiri di hadapanmu, menyalakan perangkat kerjanya, dan tanpa sengaja mengisapmu ke dalam tabung yang dipenuhi debu dan barangkali juga ampas keringat orang-orang yang mesti tetap terjaga dan menghabiskan waktu tidurnya demi keinginan-keinginan kecil, seperti: membayar kamar sewa kontrakan, menebus televisi yang tergadai, melunasi kredit kendaraan, membeli obat demam, atau bahkan menghadiahkan sehelai rok bermotif kembang untuk seorang perempuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam tabung yang dipenuhi debu dan hal-hal lain yang bisa saja luput dari pengamatanmu itu kau merasa betapa dunia yang sedemikian luasnya akan bermakna lain bagi mereka yang dihimpit ketiadaan kuasa atas dirinya sendiri. Betapa kegemerlapan kota-kota hanya cara manusia menghadapi kegagapannya atas kegelapan yang bisa tiba-tiba datang dari segala sisi menyelimuti kehidupan ini. Kau tidak tahu ke mana petugas yang mengisapmu dengan &lt;i&gt;vacuum cleaner&lt;/i&gt; itu akan membawamu, tetapi melalui sebuah celah di antara selang dan tabung perangkat kerjanya itu kau  lamat-lamat mendengar sebuah lagu mengalun: &lt;i&gt;"How many years can people exist, before they're allowed to be free?"&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau kini tak tahu ke mana kau akan terus melayang setelah ellaki itu membuka tutup tabung &lt;i&gt;vacuum cleaner&lt;/i&gt; dan menuangkanmu ke selokan di &lt;i&gt;basement&lt;/i&gt; hotel bintang empat itu. Yang kau tahu hanya betapa tengik aroma air di selokan itu. Yang kau tahu hanya air itu akan terus mengalir menuju sungai-sungai, muara-muara. Kau ingin menghindar dari serangan aroma tengik dan segala sampah itu tapi apa yang kau lakukan hanya semakin memperjelas bahwa kau tak berdaya. Kau hanya sebuah suara. Sebuah suara yang dengan alasan tertentu, suatu kali, akan mampu menjawab pertanyaan yang datang bertubi-tubi dari ibumu yang nyaris gila; istrimu yang mendekam di penjara; dan anakmu yang dua malam yang lalu mengiris nadi, dengan sebuah kalimat sakti: &lt;i&gt;"The answer is blowing in the wind..."&lt;/i&gt; *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;(Padang, 2015)&lt;br /&gt;
Untuk Heru Joni Putra &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Catatan: Sebuah variasi atas lirik lagu "Blowing in the Wind," Bob Dylan.. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;KARTA KUSUMAH&lt;/b&gt;, tinggal di Padang. Bekerja di Komunitas Seni Nan Tumpah.&lt;/i&gt;</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/7546964869957295022/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/blowing-in-wind.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7546964869957295022" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7546964869957295022" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/blowing-in-wind.html" rel="alternate" title="Blowing in The Wind" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT9IKHwFJZT3JKd0IsKSWP7oN6vjha4VFPSOG6IFt7f069mhBvtzg_KrzlrZyRbzMxm_ADrfheHaCKk3Kkwfg1nM3NlzWerNO_otCjjCa-4dtb82ymnfOcB7JdAeAvGo6pbRtLYJ58G82K/s72-c/Blowing+in+the+Wind+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-2904295385699449542</id><published>2015-07-19T14:16:00.000+07:00</published><updated>2015-07-19T14:16:00.077+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sitok Srengenge"/><title type="text">Puisi-Puisi Sitok Srengenge</title><content type="html">&lt;b&gt;Manifestasi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta adalah kata yang bersikeras mewakilimu&lt;br /&gt;
agar aku bisa menamai dan menyebutmu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kicau merdu tanpa burung&lt;br /&gt;
desah perdu di lereng gunung&lt;br /&gt;
memantul di langit yang rindu lautan&lt;br /&gt;
berjatuhan sebagai peluh hujan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta adalah gerak bermiliar molekul yang bersekutu&lt;br /&gt;
mewujudkan dirimu agar aku bisa mengenalimu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Riap anak rambut, kerjap pelupuk&lt;br /&gt;
syaraf yang berdenyut, tubuh yang menggeliat lentuk&lt;br /&gt;
Mata yang bagai mutiara menyimpan kilau palung lautan&lt;br /&gt;
menimangku seperti buih, mengubah hatiku jadi buah&lt;br /&gt;
sampai jatuh ke dalam geloranya yang basah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta adalah ruh yang tulus menghuni tubuh&lt;br /&gt;
agar aku bisa menyentuhmu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Getar magnet yang merambat di kulit&lt;br /&gt;
seperti tangan langit merabai wajah lautan&lt;br /&gt;
di mana aku mengapung bagai rerepih&lt;br /&gt;
atau puting beliung yang mengguncang jantung hutan&lt;br /&gt;
di mana aku lumpuh usai meluruhkan benih &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang cinta menampakkan diri sebagai hijau daun&lt;br /&gt;
gairah yang mengalun di hamparan ladang jagung&lt;br /&gt;
layar perahu para petualang yang tak menemu arah pulang&lt;br /&gt;
kepak sayap gaib malaikat yang menyebabkan siang dan malam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadilah kau siang hari&lt;br /&gt;
karena malam adalah ibuku yang mengurai diri&lt;br /&gt;
demi bisa menemaniku tidur tanpa menjadikanku Oedipus&lt;br /&gt;
agar tak ada peniti emas menakik mata air darah di mataku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta adalah hasrat suara yang meronta di mulut kelu si gagu&lt;br /&gt;
seperti gerak naluri yang membimbingku kepadamu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gaung genta yang didentur angin bukit laung azan tanpa muazin&lt;br /&gt;
dendang tembang tanpa biduan, lenguh setubuh tanpa kelamin&lt;br /&gt;
lirih memanggilmu tanpa kautahu siapa yang bertalkin&lt;br /&gt;
nafasnya segemerisik gaun peri di ranting kemuning&lt;br /&gt;
menggeriapkan bulu-bulu tengkukmu&lt;br /&gt;
seperti ketika kau bercumbu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui kau aku bisa melihat cinta&lt;br /&gt;
mungil dan anggun seperti kedasih&lt;br /&gt;
ungu serupa kelopak selasih&lt;br /&gt;
tanpa aroma seperti tubuh orang suci&lt;br /&gt;
penuh damba seperti doa untuk orang mati &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang cinta ngembara dengan gaun berumbai seperti angin&lt;br /&gt;
mengusap semua benda untuk menemu mata paling bening&lt;br /&gt;
mata menjadi suar yang memberi cinta wujud tak asing&lt;br /&gt;
menyihir seluruh pandangan hingga tak ingin berpaling &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini kau bisa menyebutku dan aku menyebutmu&lt;br /&gt;
setelah kata, yang semula menandai Dia,&lt;br /&gt;
merujuk ke kita: molekul-molekul yang bersenyawa&lt;br /&gt;
menyatakan cinta&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;2013 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sajak Suwung &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada apa-apa di sini, di dalam sajak ini&lt;br /&gt;
Tak terbentang pantai landai, rindang pohonan,&lt;br /&gt;
di mana kau bebas berbaringan menyadari diri&lt;br /&gt;
kerdil dan rentan di tengah keluasan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terlihat lumba-lumba jumpalitan di lambung teluk&lt;br /&gt;
tak juga bianglala melenting lentuk ketika kau terpuruk&lt;br /&gt;
Tak tampak kerjap lampu kapal di batas pandang&lt;br /&gt;
atau rasi bintang kematian di langit kesadaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terdengar seseorang mendendangkan gita asmara&lt;br /&gt;
tak juga sekecap puji tentang dirimu yang layak dikasihi&lt;br /&gt;
Tak terjadi bincang perihal cinta teramat berharga&lt;br /&gt;
yang mustahil dibeli meski tak muskil dimiliki &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terhampar tanah di tepi hutan, berundak ke lembah&lt;br /&gt;
Tak hadir seseorang di sisimu yang sedia jadi mempelai&lt;br /&gt;
dan seorang lagi buah hati, maka tak sepetak rumah&lt;br /&gt;
bisa kaubangun dari reruntuk angan dan andai &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak teraba tali gaib yang mengikatmu dengan mereka&lt;br /&gt;
begitu kukuh sehingga dilanda lindu pun tak rubuh&lt;br /&gt;
Tak secupang cumbuan di atas seprei berbunga&lt;br /&gt;
pun tak terendus ruap peluh usai setubuh &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada sedu-sedan, tak juga gelak tawa kebahagiaan&lt;br /&gt;
samp ai menyerah pada diam. Tak terjadi kengerian&lt;br /&gt;
seperti ketika jantungmu kehabisan debar di antara&lt;br /&gt;
rahang serigala dan tanganmu gemetar tak berdaya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terhidu harum tanah sehabis hujan atau semerbak&lt;br /&gt;
bunga yang ditebar angin selatan. Tak seekor prenjak&lt;br /&gt;
pun berkeciap di dahan flamboyan, menandakan&lt;br /&gt;
tak seorang handaitaulan akan bertandang &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada apa-apa di dalam sajak ini. Bahkan&lt;br /&gt;
fantasi kedamaian di mana pikiran terasa lengang&lt;br /&gt;
dan hidupmu mendadak ringan pun takterbersit,&lt;br /&gt;
barangkali lantaran tak terpilah manis dan pahit &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak kautemukan seorang yang setia menunggu ketika&lt;br /&gt;
kau gentar merayap di sebentang titian yang melintang&lt;br /&gt;
di atas jurang, tak ada yang peduli kau selamat tiba&lt;br /&gt;
di seberang atau terpelanting jatuh dan lumat di batuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada. Tak ada yang kekal dalam kenangan, tak ada&lt;br /&gt;
yang patut ditakutkan. Rengkuhlah maut ke dekapan&lt;br /&gt;
dan jika kau akui ia ada, kau bebas dari segala&lt;br /&gt;
kau lepas ke tak ada&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;2013 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SITOK SRENGENGE&lt;/b&gt;, penyair yang juga menulis novel dan esai.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Bukunya, antara lain; &lt;i&gt;On Nothing, TriPitaKala&lt;/i&gt; (trilogi puisi), &lt;i&gt;Menggarami Burung Terbang&lt;/i&gt; (novel), &lt;i&gt;Cinta di Negeri Seribu Satu Tiran Kecil&lt;/i&gt; (esai). Ia tinggal di Yogyakarta, mengelola Serithong Seni Srengenge dan Penerbit KataKita.</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/2904295385699449542/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/puisi-puisi-sitok-srengenge.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2904295385699449542" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2904295385699449542" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/puisi-puisi-sitok-srengenge.html" rel="alternate" title="Puisi-Puisi Sitok Srengenge" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-7468336512975762632</id><published>2015-07-19T13:28:00.000+07:00</published><updated>2015-07-19T13:28:00.627+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cikie Wahab"/><title type="text">Tenun Abu Haf</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;CIKIE WAHAB&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgv55jtgqWQIg3BoMZSUBOjVV679DjdSuECZcjGLwx2Qxc7j70WWes0jj9Lr0ChbchFYB3qA-Fv0Bsn0s5-m65pZ45-ebOEBoW__jGvPU9E7l0JcrBT84q0MnHB8kOkADru5gxFHM44N87M/s1600/Tenun+Abu+Haf+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Tenun Abu Haf" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgv55jtgqWQIg3BoMZSUBOjVV679DjdSuECZcjGLwx2Qxc7j70WWes0jj9Lr0ChbchFYB3qA-Fv0Bsn0s5-m65pZ45-ebOEBoW__jGvPU9E7l0JcrBT84q0MnHB8kOkADru5gxFHM44N87M/s200/Tenun+Abu+Haf+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Tenun Abu Haf" width="115" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;SEORANG&lt;/b&gt; tukang tenun muncul di simpang jalan yang menghubungkan dua bangunan besar. Di pundaknya ada gendongan berisi lembaran kain dan benang. Matanya memerah dan ada perban di dahinya yang hitam. Tukang tenun itu bernama Abu Haf. Ia tiba di Pekanbaru setelah berjam-jam menyelundup di tumpukan kain yang dibawa lewat kapal di Pelabuhan Duku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinar matahari yang garang menyuntik kakinya yang tidak bersepatu. Sandalnya tipis dan jempolnya kapalan. Beberapa kali ia menahan langkahnya agar sandal itu tidak putus. Ia merasa tersesat dan tidak tahu harus mencari alamat yang tertera dalam kertas lusuhnya. Seorang kenalan lama yang pernah ia temui saat di kepulauan yang barangkali bisa membantu dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dengan wajah penuh keletihan, ia mencari tempat berteduh dengan bersandar di dinding bangunan besar. Keringatnya pelan-pelan melintas di pelipisnya hingga ia sadar ada seorang anak lelaki yang memperhatikan ia sejak tadi. Abu Haf menoleh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapak membawa apa?” tanya anak lelaki itu kepada Abu Haf. Gendongan di pundak Abu Haf berwarna sangat terang sehingga anak lelaki berumur tiga belas tahun itu tertarik melihatnya. Anak itu cukup pintar untuk mengetahui apa yang terjadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tersesat, Pak?” Anak itu bertanya lagi dan memperhatikan kaki Abu Haf yang dihinggapi lalat kecil. Abu Haf tersenyum. Ia melihat bagaimana anak itu menatapnya, mereka saling memperhatikan hingga Abu Haf bertanya mengenai pertolongan yang bisa ia dapatkan dari anak lelaki itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak itu diam cukup lama. Lalu ia menjawab, “Aku tak bisa melakukan apa-apa. Apa yang kau butuhkan dariku, Pak? Kau tahu kalau manusia adalah makhluk yang lemah, lalu kenapa kau minta tolong padaku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena kau yang ada di sini.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yakin? Bapak yakin? Lihatlah sekeliling, orang-orang tengah bergegas, begitu ramai.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau jangan mengolok-olokku anak kecil. Aku sedang tidak ingin marah.” Abu Haf berjongkok dan menyandarkan punggungnya tetap di dinding. Ia melihat gendongannya dan merasa sangat lapar sekali. Ia melihat bungkusan kerupuk di tangan anak kecil itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisakah kau memberiku makanan? Aku lapar,” Abu Haf memelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak kecil itu menghela napas dan ikut bersandar di dinding. Mata mereka sama-sama menghadap ke jalan. Di mana orang-orang tampak acuh meskipun matahari seakan membakar kulit-kulit mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kondisi Bapak sebelum ini? Aku masih kelas enam SD, aku juga tidak memiliki uang selain uang milik juragan. Dan aku ingin bertanya padamu, apa yang ada dalam bungkusan kain itu?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Haf tersenyum-senyum dan merasa senang saat ada yang bertanya tentang apa yang ia bawa. Ia merasa harus menceritakan segalanya, maka ia mulai bercerita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku seorang tukang tenun kain dari Kelantan. Dan aku membuka kios di kepulauan yang dekat sekali dengan arus balik perdagangan. Aku belajar tenun sedari kecil, pada keluarga yang telah mewarisi keberuntungan ini. Aku menenun saat orang-orang tertidur pulas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibuku memang berasal dari Kelantan, sementara namaku diambil dari nama kakekku yang berasal dari daerah padang pasir. Aku tidak cepat puas sehingga ketika aku sudah menginjak remaja, aku berani meminjam modal dan membuka kios kecil-kecilan. Usaha itu berkembang beberapa tahun setelahnya. Aku sangat bahagia ketika itu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak lelaki itu mendengarkan sambil memeluk lututnya. Matanya melihat senyum tipis di wajah Abu Haf yang dibayangi sinar matahari dari pantulan kanopi pertokoan. Abu Haf kembali melanjutkan cerita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak semua bisa melakukan seperti yang aku lakukan. Tangan ini keajaiban. Aku memakai benang emas dan perak yang berkualitas tinggi sehingga seorang perempuan pemilik gudang benang jatuh hati kepadaku.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa namanya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fatimah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hubungan kami baik-baik saja pada awalnya karena sebatas perdagangan, namun lama kelamaan aku terhanyut dan harus menikahinya karena sebuah kesalahan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengerti, Pak.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Haf terkikik. “Kau masih kecil. Lain kali saja aku ceritakan bagian itu. Sekarang aku butuh bantuanmu. Siapa namamu?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Malik. Aku hanya pedagang kerupuk. Dan kita senasib!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Haf menggeleng cepat dan mengelus dagunya. Ada ketidaksenangan dalam ucapannya bahwa ia tidak sama dengan anak lelaki itu. “Aku pedagang tenun. Kain-kain itu mahal, Malik. Dan itu beda dengan kerupukmu.” Jari-jemari Abu Haf menepuk-nepuk dadanya dari balik baju lusuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau punya kain, kau bisa jual benda itu dan tidak butuh bantuanku. Benar, kan?” Malik memandanginya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Haf terdiam. Rasa sadarnya muncul seketika. Ia menunjukkan raut wajah penuh iba. “Kau belum mendengarkan lanjutan kisahku. Aku mengalami masa-masa sulit ketika menikah dengan Fatimah. Aku lupa banyak hal dan kiosku terbakar dalam sekejap saja. Aku kehilangan mesin, benang, dan kain-kain. Hanya ini yang dapat kuselamatkan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Innalillahi&lt;/i&gt;. Kasihan sekali engkau, Bapak.” Malik berdiri dan menunjuk ke seberang jalan. “Di sana ada masjid. Tadi pagi ada yang mengadakan acara dan banyak makanan. Bapak bisa minta jika lapar. Aku tidak bisa memberikan kerupuk ini, karena ini bukan hakku.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benarkah? Ada makanan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi iya. Sekarang aku tidak yakin. Acaranya selesai satu setengah jam yang lalu. Bapak bisa salat di sana.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kakiku sakit. Lihatlah, sandalku tak bisa lagi dipakai. Aku ingin mencari pertolongan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pertolongan siapa?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa saja. Aku ingin menemui sahabatku dan meminjam uang padanya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa Bapak yakin ia akan meminjamkan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Haf mendongak. Melihat Malik yang masih berdiri di bawah sinar matahari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak akan ada yang menolongmu, Bapak. Tidak ada.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Haf mengabaikan perkataan Malik. Anak itu berlari-lari kecil ke seberang jalan dan menghilang saat Abu Haf berusaha mengejarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Haf sudah menjual semua kainnya pada seorang pedagang. Ia mendapat uang dua juta rupiah. Uang yang masih kurang untuk memulai usahanya yang baru. Kaki-kakinya masih dihinggapi lalat. Bekas luka itu menghitam dan Abu Haf berniat membeli sepatu untuk kakinya. Ia tertawa saat mengingat perkataan Malik. Baginya ia bisa melakukan apa saja. Ia bisa bekerja pada orang lain untuk sementara waktu dan mengumpulkan uang kembali untuk membeli alat penenun baru. Maka ia kembali menelusuri alamat yang tertera dalam kertas lusuhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menyewa tukang ojek yang akan membantunya mencari alamat. Dua jam mencari, ia belum juga mendapatkan hasil. Abu Haf malah mendapat kekesalan dari si tukang ojek dan ia ditinggal begitu saja di daerah yang sepi. Abu Haf marah dan mengumpat. Sepatu barunya terkena cipratan lumpur dan ia berusaha membersihkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ia terlihat begitu menyedihkan, ia tak sengaja bertemu dengan seseorang yang ia cari. Sahabatnya itu kebetulan sekali lewat di sana dengan mobil dan Abu Haf beruntung dibawa ke rumah sahabatnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi?” tanya sahabatnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bangkrut. Istriku meminta cerai. Bisakah aku meminta bantuanmu?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabatnya berpikir sejenak. “Jika kau pikir aku bisa membantumu, itu salah. Kau sudah salah menemui orang.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Salah? Kenapa? Apa yang terjadi padamu. Bukankah kau juga sukses dan kaya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi aku tidak mendapat tugas untuk membantumu,” jawab sahabatnya datar. Tentu saja penolakan ini membuat sekujur tubuh Abu Haf gemetar. Teringat ia akan kain-kain yang hangus terbakar, tangisan anak dan istrinya, sumpah serapah dari pembeli yang menuduhnya berbuat curang, lalu tentang kakinya yang sakit, tentang anak kecil bernama Malik dan tentang sahabatnya yang enggan sekali membantunya sedikit saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan membuat kain-kain terbaik. Songket dan segalanya. Aku bisa. Aku bisa. Kau harus membantuku, teman,” melas Abu Haf. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku buru-buru. Jika nanti kau berniat pergi, ada sedikit uang untuk menyewa tukang ojek,” jawab sahabatnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Asu&lt;/i&gt;,” Abu Haf mengumpat. Tanpa pamit dan dengan perasaan terhina ia pergi dari rumah itu dan menuju tempat di mana ia harus menemukan Malik pertama kali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak akan ada yang menolongmu, Bapak. Juallah kain itu. Bapak jangan sombong. Bapak salah meminta. Jika Bapak punya uang kenapa butuh bantuanku?” kata-kata Malik terngiang dalam kepalanya. Ia tahu anak itu pasti berada di halaman masjid. Ia ingin menumpahkan kekesalannya saat itu juga. Ia terus mencari, hingga sadar sepatu barunya tertinggal di rumah sahabatnya tadi. Ia malah memakai sandal bututnya kembali dan uang yang ia pegang dalam saku bajunya raib. Entah dicuri oleh siapa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapak mencariku?” Malik muncul dengan tersenyum. Makin geramlah hati Abu Haf dan ia mengangkat tangannya ingin menempeleng. Seketika itu tangannya terasa kaku. Ia tertunduk lemas dan Abu Haf menangis sejadi-jadinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau siapa, Nak?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku Malik. Penjual kerupuk keliling. Jika Bapak butuh sesuatu, salat saja dulu. Nanti kita cerita lagi. Jika Bapak perlu sesuatu, mintalah pada Allah terlebih dahulu.” Malik berkata dan kembali bercengkrama dengan teman sebayanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbayang oleh Abu Haf kain tenun yang ia jual dan tangannya yang terasa gatal. Abu Haf memandangi anak itu lagi sebelum ia berwudu dan masuk ke dalam masjid. Dan rasa-rasanya sudah berpuluh tahun ia tidak pernah meminta kepada Yang Maha Kuasa dan menuhankan kain tenunnya. *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pekanbaru, Juni 2015 &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/7468336512975762632/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/tenun-abu-haf.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7468336512975762632" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7468336512975762632" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/tenun-abu-haf.html" rel="alternate" title="Tenun Abu Haf" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgv55jtgqWQIg3BoMZSUBOjVV679DjdSuECZcjGLwx2Qxc7j70WWes0jj9Lr0ChbchFYB3qA-Fv0Bsn0s5-m65pZ45-ebOEBoW__jGvPU9E7l0JcrBT84q0MnHB8kOkADru5gxFHM44N87M/s72-c/Tenun+Abu+Haf+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-8923688706313999054</id><published>2015-07-12T22:53:00.000+07:00</published><updated>2015-07-19T13:00:14.249+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mustofa W. Hasyim"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi"/><title type="text">Puisi-puisi Mustofa W. Hasyim</title><content type="html">&lt;b&gt;Cermin Retak Seribu &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernahkah engkau merasa hari-hari &lt;br /&gt;
berubah menjadi cakrawala? &lt;br /&gt;
sunyi menancapkan tiang-tiang,&lt;br /&gt;
bendera membisu &lt;br /&gt;
jamur membusukkan percakapan &lt;br /&gt;
bisikan dan siul pergaulan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di rumah-rumah kampung dan desa &lt;br /&gt;
cermin diretakkan kecemasan &lt;br /&gt;
yang disembunyikan dalam tawa &lt;br /&gt;
dan canda cabul tak mengenal harga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Benarah masih ada republik dan negara &lt;br /&gt;
ketika pasar bingung &lt;br /&gt;
menghanguskan impian &lt;br /&gt;
menghajar langkah-langkah bayi? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah melewati masa tangis dan luka &lt;br /&gt;
mengharap pada lagu &lt;br /&gt;
pengembara waktu &lt;br /&gt;
melepaskan panah-panah bercahaya: &lt;br /&gt;
senyuman &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;2015&lt;/i&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Cermin Lautan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mana yang lebih berarti, gelombang dan air &lt;br /&gt;
menguasai permukaan &lt;br /&gt;
ataukah pelabuhan, dermaga dan kapal &lt;br /&gt;
kecil nelayan? &lt;br /&gt;
garis batas tak terbaca &lt;br /&gt;
pelanggaran tak terasa &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kisah lama disebutkan,&lt;br /&gt;
pelayaran jauh &lt;br /&gt;
untuk meneguhkan jiwa &lt;br /&gt;
bahasanya, jangkar-jangkar raksasa &lt;br /&gt;
ditancapkan pada kedalaman sunyi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang muncul kegaduhan &lt;br /&gt;
laut menjadi wilayah perang &lt;br /&gt;
kapal dan pesawat bernafsu mesiu &lt;br /&gt;
saling menghadang dan menembakkan &lt;br /&gt;
kematian &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa kehabisan nyanyi? &lt;br /&gt;
Siapa kehabisan doa? &lt;br /&gt;
Ketika mesin bor menusuk wajah bumi &lt;br /&gt;
Di bawah air, tambang dan gas &lt;br /&gt;
dihisap ke angkasa &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peta penaklukkan selalu dibuat baru &lt;br /&gt;
disambut gembira, "Silakan Mister &lt;br /&gt;
kuasailah lautan kami." &lt;br /&gt;
Ruh-ruh yang terkubur di sana &lt;br /&gt;
menyalakan mata. &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;2015&lt;/i&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Cermin Tubuh &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membaca usia wajah, rindu bergera bersama &lt;br /&gt;
malam. Nama-nama berbaris di bulu mata, panggilan sunyi &lt;br /&gt;
Senantiasa wangi embun dada, membuat  &lt;br /&gt;
janji mencumbu. Gemetar, gugup, kurang &lt;br /&gt;
tuntas dalam menari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serpihan gelisah, berlayarlah kisah-kisah lama.&lt;br /&gt;
Tanpa pelabuhan, &lt;br /&gt;
berputar-putar pada yang samar &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, ini sejarah tubuh. Jangan kau lupakan hangatnya.&lt;br /&gt;
Kaki dan pelukan &lt;br /&gt;
Malam menghisap keringat, siang membuatnya banjir, &lt;br /&gt;
Bayang-bayang licin dari waktu.&lt;br /&gt;
Hasilkan nada, warna kulit, &lt;br /&gt;
menuju keript senja &lt;br /&gt;
Melahirkan kembali &lt;br /&gt;
Cinta. &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;2015&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bulan Mei &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kau kira langit tidak bisa mendidih kembali? &lt;br /&gt;
Hujan telah lewat dan sembunyi di balik musim &lt;br /&gt;
Kadang masih ada mendung, menghadang pengembara &lt;br /&gt;
Menyerah ke mana? Menyerah kepada siapa? &lt;br /&gt;
Rindu kebebasan belantara, dan hari meledak satu-satu lewat dinding kota. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa kau kira langit tidak bisa menghantam bumi? &lt;br /&gt;
Dengan gema dan gempa yang tidak terduga &lt;br /&gt;
Arah selalu disembunyikan oleh Tuhan &lt;br /&gt;
Agar yang suka menebak makin mabuk makna &lt;br /&gt;
lupa pada jejak semut yang rapuh di rerumputan terlindung doa semesta.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;2015&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MUSTOFA W. HASYIM&lt;/b&gt;, ketua Studio Pertunjukan Sastra Jogjakarta, kumpulan puisinya, antara lain, &lt;i&gt;Pohon Tak Lagi Bertutur&lt;/i&gt;.</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/8923688706313999054/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/puisi-puisi-mustofa-w-hasyim.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/8923688706313999054" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/8923688706313999054" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/puisi-puisi-mustofa-w-hasyim.html" rel="alternate" title="Puisi-puisi Mustofa W. Hasyim" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-4102897252653193174</id><published>2015-07-12T21:11:00.000+07:00</published><updated>2015-07-19T11:26:25.860+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Guntur Alam"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Swistien Kustantyana"/><title type="text">Spektrum Banksy</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;SWISTIEN KUSTANTYANA&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;GUNTUR ALAM&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEHcCfMFp-2iyY3TCEwVHl1OjVH_v7SP0lqoRSKrZtm4JHy_yX2OXxyhl3641nuPyeR2Jawtl3V4fyot7pueBIitYI5zId3PmLm_6Hfp6IaujC81QTyJsbFd_0Dm_71s7QxC-BnSV-izLO/s1600/Spektrum+Banksy+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Spektrum Banksy" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEHcCfMFp-2iyY3TCEwVHl1OjVH_v7SP0lqoRSKrZtm4JHy_yX2OXxyhl3641nuPyeR2Jawtl3V4fyot7pueBIitYI5zId3PmLm_6Hfp6IaujC81QTyJsbFd_0Dm_71s7QxC-BnSV-izLO/s200/Spektrum+Banksy+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Spektrum Banksy" width="122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;PERNAHKAH&lt;/b&gt; kau membayangkan jika malaikat pencabut nyawa jatuh cinta pada korbannya? Iya, aku tahu seharusnya malaikat tak punya perasaan, tak mengenal cinta, dan tak mengenal rasa cemburu. Namun, aku benar-benar jatuh cinta pada Aya. Spektrum Cahaya --nama lengkapnya. Perempuan yang tiga bulan lagi harus kucabut nyawanya, dengan tanganku sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Dadaku tiba-tiba berdebar saat pertama kali menatap wajahnya. Untuk kau ketahui, selama hidupku, itu kejadian pertama dadaku berdebar. Aya menghentikan aktivitasnya saat aku datang. Tangan kanannya yang semula lincah mengoperasikan &lt;i&gt;mouse&lt;/i&gt; kini bergeming. Tubuhnya menegang kaku. Entahlah, apakah Aya merasakan kehadiranku? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dia memandang sekeliling, mengamati ruangan  kamar mungilnya. Lalu, matanya melayang ke luar jendela, mengikuti sepasang burung gereja yang terbang di antara kabel-kabel telepon. Aya mendorong kursinya pelan, lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia menyibak gorden, membiarkan cahaya matahari sore menerobos masuk. Di bawah sana, orang-orang berlalu-lalang. Dan matanya berhenti pada sepasang muda-mudi yang berjalan sembari bergenggaman tangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aya menghela napas. Melihat muda-mudi itu membuat Aya teringat dengan Bran. Brandon Reese nama lengkapnya, laki-laki campuran Inggris-Indonesia yang Aya kenal saat dia masih kuliah di Universitas of Cambridge. Ibu Brand berasal dari Jawa. Seumur hidupnya, Bran baru dua kali datang ke Indonesia. Kesamaan asal negara ibulah yang membuat mereka akrab dan Aya jatuh cinta padanya. Namun sayang, hubungan mereka hanya seumur jagung. Alasan perpisahan mereka sebenarnya sepele, Aya tak kunjung bisa melepaskan adat ketimmurannya, termasuk masalah kevirginan. Sementara Bran yang lahir dan besar di Inggris menganggap Aya kolot. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan keduanya sempat renggang, tetapi seiring waktu mereka kembali akrab. Menjadi teman. Terlebih karena ibu Bran menganggap Aya seperti anaknya sendiri. Melihat Aya, membuat dia merasa tak sendiri di tanah yang jauh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teringat pada Bran membuat Aya memutar badannya. Dia melihat sebuah foto yang ada di atas meja. Foto Bran yang tengah berada di Bristol. Aya beranjak ke sana. Disentuhnya foto itu dengan jari, ada sedikit debu. Bran tampak tersenyum lebar di samping tembok yang memuat grafiti. Sebuah buku tergeletak di atas meja, &lt;i&gt;Bransky: The man behind te wall&lt;/i&gt;. Aya menghirup napas. Matanya berlari ke arah amplop besar berisi hasil &lt;i&gt;medical check up&lt;/i&gt;-nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Aku mewujudkan impian kecil kita terlebih dahulu.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan tangan Bran di balik foto itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aya segera berjalan menuju meja kerjanya. Tangannya bergerak lincah dengan &lt;i&gt;mouse&lt;/i&gt;. Layar komputer menampilkan berbagai halaman penuh warna. Aku terperanjat saat membaca alamat web yang Aya kunjungi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Aya memang sudah tahu aku akan menjemputnya tak lama lagi. Karena itulah dia ingin mewujudkan mimpi kecilnya; berjalan menyusuri jalan-jalan di Bristol sembari memotret grafiti karya Bansky yang tersebar di sudut-sudut kota. Mataku masih sempat membaca kertas-kertas yang meluncur dari printer di meja kerjanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bansky. Upfest. Bristol. Ticket. Hotel. British Embassy. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KAU&lt;/b&gt; tahu, aku tidak selalu seperti ini. Tugas utamaku hanyalah menjemput yang memang harus pergi dari dunia ini. Sudah itu saja. Namun kadang aku ingin mengunjungi orang-orang tertentu beberapa bulan sebelumnya. Agar dia tahu dia akan pergi meninggalkan dunia ini. Agar dia menyelesaikan semua urusannya. Termasuk mewujudkan mimpi. Seperti yang kulakukan pada Aya. Hanya saja, kali ini ada hal yang tak terduga. Aku justru jatuh cinta pada senyum manis dan binar matanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin inilah dosa termanis yang pernah dilakukan oleh malaikat sepertiku. Aku tak bisa lepas dari perasaan ganjil ang bersarang didadaku. Perasaan terlaranng. Debar yang membuatku tak bisa menahan diri untuk terus mengunjungi Aya. Berada di dekatnya membuatku bahagia. Ganjil sekali, kan? Aku datanng. Terus, dan terus. Mengikuti perjalanan hidupnya yang tak lama lagi. Seperti sekarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sanalah dia duduk bersandar di sofa, di sebelah tas punggungnya. Lobi Hotel Ibis London Heathrow Airport tidak seramai biasanya. Aya menguap sesekali, jari-jemarinya terselip di dalam buku tebal bersampul merah dengan judul &lt;i&gt;A Game of Throes: Perebutan Takhta&lt;/i&gt;. Dia membaca keras-keras untuk mengusir kantuknya, "Inilah yang kulakukan demi cinta." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Demi cinta Cersei Lannister!" Kalimat itu terdengar dibarengi suara tawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu akhirnya datang. Aku sudah tahu Aya menunggunya, tetapi tetap saja dadaku terasa kebas melihat kemunculan Bran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Akhirnya kamu datang juga." Aya berdecak kesal. Dia tak berusaha bangun dari posisi duduknya. Bran yang masih tersenyum memandang Aya dan tak berkedip. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aya Strak!" Ucapnya dengan senyum jail. Dia mengacak rambut Aya dan duduk di sebelahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh, Bran Stark. Hormatlah pada kakakmu," cengiran lebar muncul di wajah Aya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum getir melihat mereka berdua. Sejak dulu mereka selalu suka saling menggoda dengan nama Aya Stark dan Bran Stark. Mereka berdua penggemar serial &lt;i&gt;Games of Thrones&lt;/i&gt; dan memuja Klan Stark. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutelan ludah. Ternyata patah hati sesakit ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bran memeluk Aya erat. Lebih lama dari yang kuharapkan. Aya menyurukkan kepalanya di dada Bran. &lt;i&gt;"I miss you,"&lt;/i&gt; ucap Bran lirih di telinga Aya. Rasa sesak di dadaku kian menggumpal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Me too,"&lt;/i&gt; Aya berbisik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BRAN&lt;/b&gt; dan Aya. Dadaku ngilu ketika melihat catatan mereka berdua di masa lalu. Di sebuah senja di bawah langit  terbuka, pameran seni Bansky Art diadakan. Bansky, nama samaran seorang seniman grafity yang karyanya banyak ditemukan di Bristol. Grafity Bansky membuat orang merasa orang perlu mengerti satire. Teknik stensil yang sering digunakan Bansky merefleksikan kritik sosial dan politik dengan lebih anggun di banyak tembok Bristol. Aya jatuh cinta pada Bansky. Begitu juga Bran. Aya memamerkan keahliannya dalam bidang fotografi dengan membuat kolasegrafity Bansky. Bran membuat film dokumenter tentang karya-karya Bansky yang ada di Bristol. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bran dan Aya jatuh cinta, berpacaran, lalu memutuskan untuk berpisah. Harusnya aku bahagia dengan kenyataan itu, tetapi tidak melihat kondisi mereka sekarang. Mereka duduk bergandengan tangan di dalam bus National Express yang akan membawa mereka ke Bristol Bus Station. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kedatanganmu mendadak sekali," Bran berdecak. Tangan kanannya meremas tangan kiri Aya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak mendadak, kok.  Kan sudah kukasih tahu seblulan llau," kilah Aya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tetap saja mendadak. Kan kita janjian ketemu Juli nanti di Upfest," sahut Bran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya sih,"  Aya menyahut sekenanya. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Bran dan menutup matanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau lelah? wajahmu tampak pucat," tangan kiri Bran mengelus rambut Aya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aya menggelengkan kepalanya lema. "Tidak. Aku hanya ingin menyimpan kenangan ini, Bran." Aya sengaja menyembunyikan rahasianya pada Brand. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat mereka berdua, dadaku terasa meledak. Hancur berkeping-keping. Rasanya sesak sekali, aku kesulitan bernapas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga setengah jam kemudian Bran dan Aya sudah tiba di Bristol Bus Station. Aya merapatkan jaketnya, memandang langit sejenak, lalu menghirup napas panjang. Udara Bristol memenuhi paru-parunya. "Kita langsung melihat Wall hanger ya" ucap Aya seraya tersenyum kepada Bran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Your wish is my command, my Lady,"&lt;/i&gt; Bran mengedipkan sebelah matanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh menit kemudian mereka sudah menyusuri jalanan yang tak begitu ramai. Suhu 9 derajat Celcius membuat Aya berulang-ulang menggosokkan kedua tangannya. Bangunan sewarna tanah yang berjejer rapi di sepanjang Park Street tampak seragam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aya memandang tembok cokelat menjulang di depannya dan berdecak kagum, &lt;i&gt;"Wall Hanger."&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Graffity favoritmu," desis Bran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya, karena menurutku grafity yang ini brilian. Aku pernah baca. Laki-laki yang bergelantungan di luar jendela itu Keith Allen, anggota tim manajemen Bansky, dan perempuan itu patner hidup Bansky," cerocos Aya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bran tertawa. "Kau suka sekali ya dengan &lt;i&gt;Wall hanger&lt;/i&gt;." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aya ikut tertawa. &lt;i&gt;"It's because Bansky is amazing. He is so creative. Creativity is great!" &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"He is,"&lt;/i&gt; Bran memandang Aya lekat-lekat. "Omong-omong, kau sudah baca buku yang kukirimkan? &lt;i&gt;Bansky: The man behind the wall.&lt;/i&gt;" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aya mengangguk. "Aku paling suka saat Bansky bilang, melukis tak selesai saat kuasmu diletakkan. Ketika itulah, hal sesungguhnya dimulai. Reaksi publik yang sebenarnya memberikan arti dan nilai. Seni jadi hidup, justru ketika kamu memiliki argumen tentangnya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu mengingatnya?" Bran tersenyum. "Aku juga suka bagian itu. Tapi alasan Bansky menggunakan teknik stensil itu juga menarik. Ternyata stensil mampu memicu revolusi dan menghentikan perang." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya terus berjalan dan mengomentari semua karya Bansky. Selama perjalanan itu, Bran tak sekalipun melepaskan tangan Aya. Dia terus menggenggamnya seakan takut Aya hilang dan diambil orang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat grafiti Branks yang menggambarkan seorang suami memergoki istrinya selingkuh, lalu memandang jauh ke depan di jendela, sementara istrinya ada di belakangnya. Suami itu tak tahu bila selingkuhan istrinya tengah bergantung di bawah jendela apartemen mereka, membuat hatiku mencelos. Aku tak dapat lagi menahan perasaan yang meledak-ledak dalam dadaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa bisa kukontrol, aku berjalan ke arah Bran dan Aya. Mereka tak menyadari kedatanganku. Saat jarak kami sudah sangat dekat, kutarik nyawa Aya dari ubun-ubunnya. Dia yang tengah tertawa bersama Bran mendadak terkulai. Bran terenyak. Memanggil namanya. Hening &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru kali ini aku merasa demikian  bahagia. Namun kebahagiaan itu seketika sirna saat aku teringat isi perintah tentang kematian Aya; &lt;i&gt;dia akan meninggal bukan karena sakitnya, tetapi karena kesedihan dan kesepian serta ketidak-bahagiaan yang bersarang di dada&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan dada Aya, tetapi dadaku. Sungguh, jika malaikat maut bisa menangis, aku ingin menangis petang jelang musim dingin ini. *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;Jakarta - Pali - Seoul - Pali - Pemalang, 2015 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;Semoga lekas sembuh, T. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Swistien Kustantyana&lt;/b&gt;, menulis cerpen dan novel remaja. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Guntur Alam&lt;/b&gt;, buku kumpulan cerpen gotiknya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, sedang proses terbit di Gramedia Pustaka Utama.&lt;/i&gt;</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/4102897252653193174/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/spektrum-banksy.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/4102897252653193174" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/4102897252653193174" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/spektrum-banksy.html" rel="alternate" title="Spektrum Banksy" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEHcCfMFp-2iyY3TCEwVHl1OjVH_v7SP0lqoRSKrZtm4JHy_yX2OXxyhl3641nuPyeR2Jawtl3V4fyot7pueBIitYI5zId3PmLm_6Hfp6IaujC81QTyJsbFd_0Dm_71s7QxC-BnSV-izLO/s72-c/Spektrum+Banksy+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-6984499303366350341</id><published>2015-07-05T14:41:00.001+07:00</published><updated>2015-07-05T14:41:46.000+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Adi Wicaksono"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type="text">Pulang</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;ADI WICAKSONO&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAHIWoHAxApTEMETeLPNmQrCnlnnWwlzeDwRWqVpxo9ek4jXRAn2Q8X6OeJP4vZ9d1bHd02ClB0X0XMsmrknoEPjJnlJ423yWmxt29lxs52dZPd15jadneV8ZlUcFqWQ0DnyfN-d1d9ltt/s1600/Pulang+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Pulang" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAHIWoHAxApTEMETeLPNmQrCnlnnWwlzeDwRWqVpxo9ek4jXRAn2Q8X6OeJP4vZ9d1bHd02ClB0X0XMsmrknoEPjJnlJ423yWmxt29lxs52dZPd15jadneV8ZlUcFqWQ0DnyfN-d1d9ltt/s200/Pulang+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Pulang" width="121" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;IBU&lt;/b&gt; menelepon mengabarkan bahwa adikku Hanum sudah mendapatkan jodoh, Baskara namanya, seorang insinyur yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum, lelaki baik-baik dari keluarga baik-baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagiku ini sebuah kejutan. Bagaimanapun Hanum adalah perempuan yang sulit didekati laki-laki, sehingga agak sulit pula mendapatkan jodoh. Beberapa kali ia menjalin hubungan dengan laki-laki, tapi kemudian mereka lekas menjauh setelah mengetahui watak Hanum yang lugas, kritikal, bahkan terkadang agak sinis. Tapi, setiap kali putus hubungan, Hanum cuek saja dan seolah tidak ambil pusing. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ia bilang ia tidak mau sembrono memilih suami. Ia tidak menginginkan perkawinan yang membawa sengsara. Perkawinan adalah suatu &lt;i&gt;deal&lt;/i&gt; yang dibuat secara bebas. Suatu kesepakatan yang demokratis dan egaliter. Masing-masing harus mampu memikul kewajiban dan tanggung jawab sebaik-baiknya. Begitu ia selalu berkata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan agaknya, dari sekian laki-laki yang pernah dekat dengannya, belum ada yang memenuhi persyaratan semacam itu. Ini yang membuat ibu semakin cemas. Sementara umurnya terus bertambah. Ia sudah menyelesaikan S2 Filsafat (yang ia sebut sebagai sekolah &lt;i&gt;kelangenan&lt;/i&gt; lantaran dunia yang ia tekuni adalah manajemen), dan juga sudah bekerja di sebuah bank dengan gaji lumayan. Jadi tidak ada alasan buat menunda-nunda kawin, apalagi ia anak perempuan, begitu ibu selalu berkata. Dan sedap kali Ibu mendesaknya, ia hanya berlenggang pergi sambil tertawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah aku memperkenalkan seorang teman, tentu setelah berkali-kali dibujuk ibu, membawanya menginap di rumah dengan alasan yang kubuat sewajar mungkin. Tentu saja Hanum tersinggung berat karena menurutnya kami telah kelewat gegabah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak dapat mencari jodoh, ia menghujatku habis-habisan. Ia bilang bahwa aku tak layak menaruh iba padanya karena justru akulah yang harusnya dikasihani. Akulah yang musti menengok tengkuk sendiri karena dilihat dari segi umur aku sudah sangat telat menikah. Ia bilang aku sok bijak, padahal dengan sikap itu aku justru tampak menyedihkan, naïf, konyol, dan sebagainya dan sebagainya. Ia benar-benar murka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan setelah kejadian itu aku malas berurusan dengannya. Sesekali ia masih menulis &lt;i&gt;e-mail&lt;/i&gt; dan bilang jika memang tak ada laki-laki yang “patut” dijadikan suami, apa salahnya jika tidak kawin? Siapa takut? Wah, wah, wah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu bagaimana mulanya hingga ibu mengetahui idenya itu. Dan seperti yang kuduga, kemudian giliran ibu yang murka. Benar-benar murka. Sejak itu Hanum tak berani bermain-main dengan ide itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang aku iba juga ketika melihat tingkah polahnya yang sok kul untuk menyembunyikan rasa iri saat menyaksikan kebahagiaan kawan-kawannya yang berkunjung ke rumah bersama suami dan anak-anak mereka yang lucu dan menggemaskan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kali ia bertanya apakah aku tidak berpikir untuk kawin? Tentu saja aku ingin kawin. Tapi sebaiknya kamu pikirkan dirimu. Soalnya kamu perempuan, tak baik kawin telat. Begitu aku menjawab. Dan seperti yang kuduga, ia marah besar. Perempuan? Apa maksud, Mas? Apa bedanya laki-laki dan perempuan? Mas benar-benar picik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena malas berdebat, aku tak pernah meladeninya. Rupanya ia mengerti sopan santun sehingga ketika menelepon ia hanya bercerita hal-hal remeh tanpa juntrungan. Caranya bercerita begitu kolokan dan manja sehingga membuatku semakin sayang padanya. Ia adalah adikku satu-satunya, gadis kecilku yang cantik, cerdas, kadang nyentrik dan suka bertindak nyeremput bahaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, setelah naik jabatan di kantornya ia kian jarang menelepon. Sementara aku juga terjebak oleh kesibukan yang kian padat, sehingga cukup lama kami tak saling berkontak. Lalu aku pulang kampung dalam rangka acara lamaran adikku itu. Tentu, aku juga pulang pada hari perkawinannya untuk menggantikan peran bapak yang sudah meninggal. Acara perkawinan itu menurutku terlalu gemerlap dan mahal. Tapi agaknya itu kehendak yang tak dapat ditawar dari keluarga Baskara dalam mengungkapkan rasa syukur sekaligus pernyataan diri orang yang memiliki “kedudukan” meski dengan cara yang berlebih-lebihan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sela-sela pesta perkawinan itu ibu menarikku ke kamar dan dengan suara pelan serta sungguh-sungguh, ia bertanya: “Kapan kamu menikah?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sadar aku menggeleng. Ibu juga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, sejak Hanum menikah, aku selalu jadi sasaran keprihatinan famili-famili. Mereka selalu bertanya kepada ibu kenapa aku tak juga menikah. Dan ibu terus berupaya memberi penjelasan yang dapat diterima nalar orang biasa. Dan setelah mendengar penjelasan ibu, mereka biasanya akan mengatakan bahwa pada saatnya aku pasti akan menikah. Mereka mengatakan hal itu dengan sikap menyemangati, tapi sesungguhnya mengandung nada keprihatinan yang sangat dalam. Maka, ketika ibu mengajukan pertanyaan itu, dadaku benar-benar sesak. Dan semua terasa kian menyesakkan ketika Lebaran tiba. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, saat mudik, kuterima usul Mas Ton untuk membawa Ndari, gadis sekantor yang tabiatnya tak jauh beda dengan Hanum. Bagiku ide itu agak gila juga. Tapi Ndari berkata, daripada susah menjawab pertanyaan tamu-tamu yang datang berlebaran, juga untuk menggirang-girangkan hati ibu, ide itu layak dicoba. Ndari juga tidak keberatan jika harus memerankan diri sebagai seorang calon istri yang “baik dan benar” serta calon menantu yang sopan, lembut, ramah dan supel, tahu sikon, &lt;i&gt;merak ati&lt;/i&gt;. Ia yakin dapat memainkan peran itu dengan sempurna sehingga akan membuat calon mertua jatuh hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah bagaimana juntrungannya hingga akhirnya ibu benar-benar jatuh hati kepada Ndari. Tapi, entah bagaimana juntrungannya pula Hanum mencium akal bulusku itu. Setelah aku kembali ke Jakarta ia menelepon, tentu untuk menghujat perbuatanku yang menurutnya kurang senonoh itu. Ia bilang aku benar-benar tidak tahu belas kasihan dan tak punya hati karena menipu ibu, mempermainkan orang tua. Aku adalah anak durhaka, pengecut, kampungan, dan sebagainya dan sebagainya. Awas, &lt;i&gt;kuwalat!&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, boleh juga sih, Mbak Ndari itu. Dia perempuan dalam arti sebenar-benarnya perempuan. Cantik, cerdas, punya pendirian, mandiri, supel dan tidak sombong.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pokoknya Hanum juga jatuh hati kepada Ndari. Dan Ndari hanya ketawa enteng ketika kuceritakan semua itu, lalu bertanya ringan: “Lalu &lt;i&gt;gimana&lt;/i&gt;?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Gimana&lt;/i&gt; apanya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maunya Mas &lt;i&gt;gimana&lt;/i&gt;? Mau apa &lt;i&gt;enggak&lt;/i&gt; ngawini aku?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kelabakan. Teman-teman kantor tertawa ngakak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau Mas mau, aku oke-oke saja, kok. Di mata calon mertua dan Hanum, aku &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; sudah lulus &lt;i&gt;fit and proper test&lt;/i&gt;. Jadi mau apalagi?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu aku &lt;i&gt;gimana&lt;/i&gt;, dong?” timpal Rudi, setengah serius setengah bercanda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Telat. Kurang cepat. &lt;i&gt;Enggak&lt;/i&gt; jelas. Maju mundur &lt;i&gt;kayak&lt;/i&gt; mobil mau parker,” sahut Ndari dengan ringan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iyalah, Dik. Tinggal tentukan harinya saja. Kita semua sudah siap dengan kontingen lengkap. Ya, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;, Saudara-saudara?” kata Mas Ton yang segera disambut yel-yel yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka meledekku habis-habisan hingga entah bagaimana aku jadi murka. Mereka semua sangat terkejut. Tak terkecuali Ndari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pada suatu kesempatan makan berdua di kantin kantor, tiba-tiba Ndari bertanya dengan nada bersungguh-sungguh: “Jadi, Mas &lt;i&gt;enggak&lt;/i&gt; tertarik sama aku ya? Maksudku, apakah &lt;i&gt;enggak&lt;/i&gt; sebaiknya kita coba. Maksudku, &lt;i&gt;enggak&lt;/i&gt; ada salahnya &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;, kalau kita saling menjajaki? Maksudku...” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku diam saja. Dan dengan nada sedikit jengkel ia berkata; “Benar kata Hanum...” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebelum aku sempat menanggapi, Ndari sudah berlalu dengan senyum yang menurutku agak meremehkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, rupanya, mereka sudah berkomplot. Oke. Oke. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Lebaran berikutnya aku mudik tanpa Ndari. Ibu dan Hanum tampak menahan diri untuk bertanya ihwal Ndari, dan aku pun tak membuka peluang untuk membuka pembicaraan soal itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malamnya, di tengah kegembiraan yang melimpah dan riuhnya tamu-tamu yang berdatangan, dengan wajah berpendar-pendar, tiba-tiba Hanum mengumumkan bahwa kami akan pindah ke rumah baru. Para sanak famili segera berebut menyalami ibu untuk mengucapkan selamat. Ibu sekilas menatapku, dan entah kenapa aku mendadak membuang muka lalu menunduk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setengah berbisik ibu menjelaskan bahwa keputusan pindah ke rumah baru itu lantaran desakan Hanum dan Baskara yang bertubi-tubi. Rumah baru dengan halaman yang luas itu telah dibeli oleh Baskara. Menurut ibu, rumah yang sekarang sudah terlalu bising oleh padatnya permukiman dan udaranya tidak bagus lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tidak usah khawatir. Ini &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; rumah warisan bapak. Rumah ini tidak akan dijual. Nanti dijadikan kos-kosan saja,” ibu menambahkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu Hanum juga mengumumkan bahwa dirinya bersama Baskara dan ibu segera berangkat naik haji. Para tamu segera berebut menyalami ibu sembari mengucapkan syukur dan puji-pujian kepada Tuhan. Ibu gugup menyambut limpahan segala restu dalam kegaduhan itu. Sekali lagi, ibu sekilas menatapku, dan aku kembali membuang muka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malamnya, ibu menjelaskan bahwa keputusan naik haji itu lantaran desakan Hanum dan Baskara yang bertubi-tubi. Ya, ya, ya. Aku tahu, sudah lama sekali ibu menyimpan niat itu, bahkan semenjak bapak masih hidup, meski kemudian hanya tinggal cita-cita belaka karena memang tidak pernah berhasil mengumpulkan uang untuk membayar ONH. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang tahu, setelah bertahun-tahun menjadi guru di sekolah dasar desa, kesuksesan bapak dimulai dengan pembelian sepeda merek &lt;i&gt;Gazelle&lt;/i&gt; warna hitam yang setiap hari digosok hingga mengkilap dengan semir Kiwi. Beberapa tahun kemudian bapak menukar-tambah sepeda itu dengan sepeda merek &lt;i&gt;Humber&lt;/i&gt; (kuncen) hijau daun yang berbunyi cik-cik, dan entah bagaimana asal mulanya, sepeda itu kemudian dilego, dan setelah ditambah dengan uang penjualan sebidang tanah, Bapak berhasil membeli sebuah vespa warna hijau. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak kemudian mengajukan pensiun dini lalu mulai berdagang hasil bumi. Dengan vespanya, bapak mondar-mandir hingga kota-kota yang jauh, sering selama berhari-hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang harus bekerja keras, demikian bapak berkata setiap pagi saat memanasi mesin vespanya. Dan itu terbukti. Aku dan Hanum berhasil merampungkan kuliah lantaran kerja keras bapak. Ketika usaha dagang sedang bagus-bagusnya, bapak dan ibu sudah siap-siap naik haji. Tapi tiba-tiba bapak jatuh sakit. Segala upaya ditempuh, semua jenis mengobatan dicoba, tapi tak berhasil. Uang tabungan, tanah dan semua barang berharga tandas untuk biaya pengobatan bapak. Usaha dagang hasil bumi itu juga tamat, tak ada sisa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itu ibu sudah mengubur dalam-dalam cita-citanya untuk naik haji. Kebahagiaan dalam mengasuh cucu-cucu, menyaksikan mereka tumbuh, sungguh lebih dari cukup, begitu ibu berkata dengan muka berbinar saat anak-anak Hanum lahir. Dan ketika Baskara diam-diam membayar ONH ibu, sungguh itu sebuah kejutan yang sempurna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah kebahagiaan melimpah dan riuhnya tetangga-tetangga yang hendak melepasnya ke tanah suci, dengan wajah berat ibu menarikku ke kamar: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibu benar-benar tidak tahu apa-apa. Semua biaya sudah dibayar oleh Baskara. Sebenarnya aku mau menolak, tapi dia memaksa. Aku minta kamu mengerti.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak berkata apa-apa. Dengan suara yang lebih berat dan nada memohon ibu meneruskan kata-katanya: “Kalau kamu punya uang, pakailah untuk menikah. Jangan berpikir macam-macam. Jangan pikirkan aku. Lebih baik pikirkan masa depanmu. Ketika bapak meninggal, kamu belum menikah. Maka, sebelum mati, aku ingin melihat kamu menikah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, aku hanya menunduk, tak dapat menjawab permintaan ibu. Ibu berkata bahwa ia akan berdoa di Multazam agar aku segera menikah. Ibu yakin doanya akan terkabul. Aku mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu aku benar-benar bingung dengan diriku. Seharusnya aku senang ibu berhasil mewujudkan cita-citanya yang sudah begitu lama terkubur. Seharusnya aku ikut menghambur dalam riuh hangatnya famili-famili dan para tetangga yang hibuk selamatan setelah ibu pulang dari tanah suci, dan bukannya mengurung diri dalam kamar, lalu dengan segala dalih buru-buru kembali ke Jakarta. Sementara ibu hanya tersenyum pahit saat aku pamitan sambil mengatakan semoga menjadi haji mabrur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu tak bertanya lagi ihwal niatku untuk menikah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu benar, aku harus memikirkan diriku sendiri, ibu benar, jika punya uang sebaiknya kupakai untuk menikah. Tapi ibu juga benar, kenyataannya aku tak punya banyak uang. Gajiku tak seberapa untuk hidup di Jakarta. Aku hanya sanggup mengontrak rumah petak yang tak lekang dari nyamuk dan banjir di daerah Condet. Maka sungguh naif jika membanding-bandingkan diri dengan Baskara. Tapi aku tidak membanding-bandingkan diri. Aku hanya bingung kenapa aku jadi kelewat sensitif. Mungkin karena semakin tua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alaaah. Sama saja. Jangan berbelit-belit. Kamu munafik,” potong Rudi tanpa basa-basi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang realistis, aja, Bung. Jangan terlalu banyak mimpi. Yang jelas, sekarang, kamu mau melamar Ndari atau tidak. Kalau tidak, sudah ada seorang insinyur yang siap melamarnya. Usianya jauh lebih muda. Brondong yang tajir, &lt;i&gt;gitu loh&lt;/i&gt;. Mobilnya BWM seri 5 terbaru.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah bagaimana aku jadi panik. Aku buru-buru menemui Ndari dan tanpa basa-basi mengatakan niatku untuk melamarnya. Ia sangat terkejut dan terperangah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, entah bagaimana, tanpa basa-basi pula, Ndari menyatakan menerima. Aku sendiri sangat terkejut dengan keputusan itu. Hingga beberapa hari aku masih belum yakin terhadap apa yang telah aku lakukan. Rupanya Ndari juga demikian. Ia masih bingung kenapa tanpa berpikir panjang langsung menerima lamaranku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kami tak hendak memperpanjang masalah. Tanpa membuang waktu kami menyiapkan hal ihwalnya, termasuk menemui ibu tanpa memberi tahu sebelumnya. Tapi tiba-tiba Hanum menelepon tengah malam memberi tahu bahwa ibu jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Pada saat bicara di telepon, Hanum menangis sesenggukan. Aku panik. Jangan-jangan waktunya sudah sampai. Aduh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esoknya, sesampai di Jogja aku langsung ke rumah sakit, melihat ibu terbaring lemas di ruang Unit Gawat Darurat. Tapi Hanum tak ada di situ. Beberapa famili memberi tahu bahwa ia sedang berada di kejaksaan menemani Baskara yang sedang disidik lantaran terlibat kasus korupsi, lengkap dengan ingar-bingar demo dan berita koran yang cukup heboh. Aku terperangah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, beberapa bulan kemudian, ketika Baskara menjalani proses persidangan di pengadilan, ibu kembali masuk rumah sakit. Sementara Hamum mengajukan cuti kerja. Selama proses persidangan Baskara, ibu dan Hanum nyaris tak saling bicara. Dan setelah Baskara divonis bersalah, aku pulang kembali dengan membawa Ndari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menemui ibu yang terbaring lemas. Tubuhnya kering seperti kulit kayu. Matanya redup. Redup dan tua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air matanya keluar saat mendengar bahwa aku dan Ndari hendak menikah. Hanum memeluk Ndari cukup lama, lalu pergi membawa tas, rantang makanan dan oleh-oleh lain. Ia hendak membesuk Baskara di penjara. ***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/6984499303366350341/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/pulang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/6984499303366350341" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/6984499303366350341" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/07/pulang.html" rel="alternate" title="Pulang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAHIWoHAxApTEMETeLPNmQrCnlnnWwlzeDwRWqVpxo9ek4jXRAn2Q8X6OeJP4vZ9d1bHd02ClB0X0XMsmrknoEPjJnlJ423yWmxt29lxs52dZPd15jadneV8ZlUcFqWQ0DnyfN-d1d9ltt/s72-c/Pulang+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-7873477855089692711</id><published>2015-06-29T13:34:00.000+07:00</published><updated>2015-06-30T00:27:34.653+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Irawan Hadikusumo"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ruang Putih"/><title type="text">Seni Rupa tanpa Kanvas</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;IRAWAN HADIKUSUMO&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Imagine peace&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;as you write a wish&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;and hang it on the&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wish Tree &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;(Yoko Ono, Spring 2015) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;INI&lt;/b&gt; bukan lirik lagu dari Yoko Ono, janda mendiang John Lennon, dedengkot Beatles yang terkenal dengan lagu &lt;i&gt;Imagine&lt;/i&gt; yang sudah menjadi ikon lagu abadi. Alih-alih sebuah puisi atau bait lagu, melainkan karya seni rupa yang diciptakan Yoko Ono khusus untuk Artjog 2015, perhelatan seni rupa di Jogjakarta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Yoko Ono menghadirkan karya seni instalasi berupa tiga pohon maja yang tumbuh di lereng Gunung Merapi. Pengunjung dapat berinteraksi dengan menuliskan doa harapan yang boleh digantung di dahan dan ranting pohon hidup. Seni, dalam persepsi Yoko Ono, diharapkan bisa melebur dengan masyarakat yang mengidamkan kehidupan damai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Seni rupa selama ini sering diidentikkan dengan lukisan di atas media kanvas. Bagaimana bentuk dan model seni rupa tanpa kanvas, seperti karya Yoko Ono itu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban atas pertanyaan tersebut coba disodorkan penyelenggara Artjog 2015, yang dimulai 6 Juni lalu dan berakhir hari ini (28/6). Ajang seni yang telah memasuki penyelenggaraan tahun kedelapan itu sedang mengharubirukan kehidupan kesenian di kota budaya tersebut. Artjog sebagai magnet kegiatan seni rupa menarik pelaku seni untuk meramaikan Jogjakarta dengan mengadakan lebih dari seratus perhelatan paralel selama sebulan berupa seni rupa, musik, tari, drama, film, dan sastra yang dikunjungi masyarakat serta pencinta seni dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmC7GtM0p70yS9FITYy9TYG8FZQ2MSPgK0zg06VxO_4aKZ4BIsWZPaVC0eL_yx28jY4whGHVuN0NoS3lFklm_OJBDE1ge6DCIeNcshDmsAyv-1_kuegmCtpxCOs1o-iePDokpzJeBp1jm8/s1600/Seni+Rupa+tanpa+Kanvas+-+ArtJog+2015.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Seni Rupa tanpa Kanvas - ArtJog 2015" border="0" height="236" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmC7GtM0p70yS9FITYy9TYG8FZQ2MSPgK0zg06VxO_4aKZ4BIsWZPaVC0eL_yx28jY4whGHVuN0NoS3lFklm_OJBDE1ge6DCIeNcshDmsAyv-1_kuegmCtpxCOs1o-iePDokpzJeBp1jm8/s400/Seni+Rupa+tanpa+Kanvas+-+ArtJog+2015.jpg" title="Seni Rupa tanpa Kanvas - ArtJog 2015" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;SERBAMESIN: Karya Jompet Kuswidananto yang berjudul &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;Order and Atter #1&lt;i&gt;”&lt;/i&gt; di ArtJog 2015.&lt;br /&gt;
Karya instalasi seni ini terinspirasi keriuhan kampanye Pemilu 2014.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Artjog 2015 menampilkan 103 karya seni rupa dari 86 seniman, 12 di antaranya merupakan seniman dari luar Indonesia. Penyelenggara menghadirkan sensasi dengan mempertunjukkan satu saja lukisan berupa cat akrilik di atas media kanvas. Karya-karya lainnya yang ditampilkan berupa seni media (&lt;i&gt;media art&lt;/i&gt;) seperti video seni, instalasi seni, foto kontemporer, seni pertunjukan (&lt;i&gt;performance art&lt;/i&gt;), dan seni media digital. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang sudah beberapa tahun ini seni rupa dunia menunjukkan kecenderungan mulai bosan dengan media kanvas. Perkembangan teknologi yang melimpah ruah serta efek globalisasi mengusik persepsi dunia seni rupa atas penggunaan media yang sejak dulu didominasi kanvas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biennale Jogja 2011 telah memulai menyelenggarakan ajang seni rupa yang minim lukisan di atas kanvas. Sesuai fungsi &lt;i&gt;biennale&lt;/i&gt; yang merupakan pembelajaran dan tidak berniat komersial, tidak mengikuti tren pasar, bahkan membidik kecenderungan apresiasi seni di masa mendatang. Saat itu banyak yang terperanjat melihat karya-karya seni rupa yang dipamerkan. Empat tahun sudah berlalu, sekarang muncullah Artjog 2015, bursa seni rupa (&lt;i&gt;art fair&lt;/i&gt;) yang bersifat komersial dan berani menampakkan dirinya tidak hanya mengandalkan penjualan karya seni rupa berbasis media konvensional. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ini langkah nekat yang tidak memperhitungkan aspek komersial? Heri Pemad, penggagas Artjog menerangkan, sudah banyak kolektor seni rupa yang mengoleksi karya-karya seni rupa berbasis seni media. Apalagi, tema perhelatan kali ini dikaitkan dengan Fluxus, suatu gerakan seni yang mengambil sikap anti-&lt;i&gt;art&lt;/i&gt; dengan antara lain menghilangkan batas antara penonton dan karya seni rupa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa seniman kondang merespons perhelatan ini dengan menampilkan karya seni rupa yang di luar pakem mereka. Syamsul Arifin, misalnya, yang biasanya mengeksplorasi media kanvas, kali ini mengekspresikan idenya dalam bentuk seni video bertajuk &lt;i&gt;Segala yang Ada Kembali Tiada&lt;/i&gt;. Berupa tiga video yang menggambarkan icon figure ciptaan Syamsul yang beralih wujud dari debu menjadi debu secara berulang-ulang. Proses kehidupan sesaat yang tunduk dan berserah diri kepada Sang Pencipta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agan Harahap yang unggul dalam media fotografi kontemporer sengaja menghadirkan seni rupa berwujud media lampu yang membentuk kalimat #_and justice for all. Hasil riset Agan atas media sosial dituangkan dalam bentuk karya interaktif yang mengajak pengunjung mengakses &lt;i&gt;hashtag&lt;/i&gt; tersebut di berbagai media sosial. Berisi serial fotografi tentang parodi permasalahan hokum yang tak kunjung tuntas di negeri kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komunitas Mes 56, garda terdepan seniman fotografi kontemporer Indonesia, mencoba mengolah bentuk media lainnya. Wimo Ambala Bayang bermain-main dengan kata-kata yang disitir dari puisi Sutardji Calzoum Bachri, penyair yang membebaskan kata-kata dari kungkungan pengertian dan mengembalikan fungsi kata seperti dalam bentuk mantra. Realisasinya berupa kata-kata seperti &lt;i&gt;“Kakikau lukakah kakiku luka”, “Kalau kakiku kaku lukakau luka”,&lt;/i&gt; yang ditulis di atas puluhan &lt;i&gt;skateboard&lt;/i&gt; dalam instalasi &lt;i&gt;Belajar Membaca&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jim Allen Abel, yang akrab dipanggil Jimbo, menampilkan meja makan yang disorot video menampilkan hidangan makanan dan sebagian wajah enam orang yang sedang menyantap makanan serta minuman sambil berinteraksi sosial memperbincangkan secara santai topik, isu, dan desas-desus politik selama berlangsungnya Pilpres 2014. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angki Purbandono, anggota Mes 56 paling senior, tidak menampilkan media &lt;i&gt;light box&lt;/i&gt; yang membuatnya dikenal dunia seni rupa, namun kalender harian bergambar pacarnya (sekarang menjadi istrinya), yang setia mengisi hari-harinya selama di balik jeruji lembaga pemasyarakatan dengan meng-&lt;i&gt;upload&lt;/i&gt; foto dirinya. Selain itu, Angki dkk, mantan para napi, mendapat ruangan khusus bernama Prison Art Lab yang menyajikan berbagai bentuk daun menjadi barang seni rupa berjudul &lt;i&gt;Atas Nama Daun&lt;/i&gt;. Hikmah dari terkurungnya Angki di lapas karena bermain-main dengan daun kanabis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isu mengenai swasembada pangan diangkat Eddi Prabandono. Puluhan piring makan berisi tanah yang ditumbuhi bibit padi tergolek di lantai bersanding dengan mesin pengaduk semen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengunjung pameran juga diajak berinteraksi dengan karya-karya seniman. Seperti halnya merasakan bermain tenis meja berhias mural di alas meja dan dinding sekelilingnya tanpa menggunakan net pembatas. Bermain &lt;i&gt;video games&lt;/i&gt; berjudul &lt;i&gt;Bedil&lt;/i&gt; yang merupakan karya instalasi dalam bentuk sebuah permainan tembak-menembak. Pengunjung mendapatkan sepucuk senjata untuk menumpas oknum-oknum yang berniat menghancurkan infrastruktur Kota Jogjakarta di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menikmati musik dari televisi jadul di ruangan yang didekor untuk membangkitkan memori personal dari kehidupan masa silam. Membawa sejumput tanah yang akan diperjualbelikan dalam karya seni instalasi “Jual Tanah”! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa jadinya bila kita berimajinasi dengan ilustrasi yang ada di kemasan berbagai merek teh? Terra Bajraghosa tidak hanya memamerkan &lt;i&gt;printing&lt;/i&gt; gambar yang ada di berbagai merek teh, namun juga mengolah animasi interaktif sehingga kita bisa memilih ilustrasi seperti yang ada di kemasan teh Tjap Bandulan, Tjap Gardoe, Tjap Tjatoet, Tjap Angon, dan The Gopek menjadi ilustrasi bergerak yang mempunyai narasi sendiri dan bukan sekadar hadir sebagai merek barang komoditas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Handiwirman Saputra menegaskan bahwa kedudukan seni rupa kontemporer sebagai cara adalah ide, bentuk merupakan hasil, dalam karya instalasi berjudul &lt;i&gt;Luar Tampak Dalam-Dalam Tampak Luar&lt;/i&gt;. Bukan dibalik tersedia media seni rupa terlebih dahulu, baru berpikir gagasan apa yang akan dituangkan dalam media tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurator Artjog 2015 Bambang “Toko” Witjaksono menyatakan pentingnya keberadaan karya seni yang “tak terbatas” di tengah dunia yang semakin tak berjarak. Karya seni yang tidak lagi dibatasi dominasi salah satu media saja, tapi bisa melibatkan dan memprovokasi semua indra serta membawa pengunjung larut dalam seni. (*) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;IRAWAN HADIKUSUMO&lt;/b&gt;, Pencinta seni, tinggal di Surabaya </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/7873477855089692711/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/seni-rupa-tanpa-kanvas.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7873477855089692711" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7873477855089692711" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/seni-rupa-tanpa-kanvas.html" rel="alternate" title="Seni Rupa tanpa Kanvas" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmC7GtM0p70yS9FITYy9TYG8FZQ2MSPgK0zg06VxO_4aKZ4BIsWZPaVC0eL_yx28jY4whGHVuN0NoS3lFklm_OJBDE1ge6DCIeNcshDmsAyv-1_kuegmCtpxCOs1o-iePDokpzJeBp1jm8/s72-c/Seni+Rupa+tanpa+Kanvas+-+ArtJog+2015.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-2248539190568157117</id><published>2015-06-28T14:17:00.001+07:00</published><updated>2015-06-28T14:17:53.551+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Damhuri Muhammad"/><title type="text">Prahara Meja Makan</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;DAMHURI MUHAMMAD&lt;/b&gt; - &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjSPd1sw0joyK5RYpLO1K6Fl5oEK2QFxCmnMVHZqukOW8Lc1sL2wtIJ7iEA5ytn3UIu5GLuWBXXvgAj4HSCyTw7z6VWWSyEf3YevzTaNKNCEZVdXXnujKS-P-QFqD3-5DQ00pnLFAlgd-O/s1600/Prahara+Meja+Makan+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Prahara Meja Makan" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjSPd1sw0joyK5RYpLO1K6Fl5oEK2QFxCmnMVHZqukOW8Lc1sL2wtIJ7iEA5ytn3UIu5GLuWBXXvgAj4HSCyTw7z6VWWSyEf3YevzTaNKNCEZVdXXnujKS-P-QFqD3-5DQ00pnLFAlgd-O/s200/Prahara+Meja+Makan+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Prahara Meja Makan" width="168" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;SUDAH&lt;/b&gt; lama Buyung memendam hasrat hendak melihat mobil sedan. Maklum, kampungnya amat udik. Jalannya nyaris belum pernah dilintasi sedan. Bila ada mobil yang melintas, itu hanya truk rongsok pengangkut kayu bakar yang datang Senin dan Kamis, dengan suara mesin serupa erangan pengidap sesak napas paling parah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masa itu, Buyung hanya tahu sedan dari sinema akhir pekan di layar televisi hitam-putih milik tetangga. Melihat sedan dari kejauhan, bagi Buyung, bagai mengamati malaikat Ridwan dalam wujud benda, dan gairah ingin menghampirinya barangkali seperti gairah Musa yang hendak bertemu Tuhan di bukit Thursina. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Mujurlah bagi Buyung, karena di sebuah petang, sedan mengilat tiba-tiba terparkir di halaman rumahnya. Keluarga kecil saudara perempuan ibunya sedang berlibur. Mereka tinggal di kota provinsi dan pulang kampung dengan mengendarai sedan baru. Buyung mendekatinya, mengendap-endap dengan segenap rasa penasaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan kau pegang. Buyung! Itu mobil mahal. Lecet sedikit bisa tergadai dua musim panen sawah ibumu untuk menggantinya,” bentak suami dari kakak perempuan ibunya. Hardikan yang disertai suara gigi bergemeretuk dan mata membelalak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika mental Buyung menciut. Gairahnya lumpuh tiba-tiba. Rasa ingin tahunya berubah jadi gemetar dan gigil-lutut yang hanya bisa ia bereskan dengan melarikan diri secepat mungkin. Perlu dicatat. Buyung baru mendekat dengan cara mengendap-endap, belum sungguh-sungguh bersentuhan dengan bodi sedan itu! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itu Buyung tidak lagi berani mendekat bila sedan itu pulang di waktu lain. Sedapat-dapatnya ia memicingkan mata sebelum menaiki tangga kayu rumahnya. Niat untuk membusungkan dada di hadapan kawan-kawan sembari menceritakan pengalaman menaiki sedan baru --meski dalam keadaan mesin mati-- ia kuburkan hidup-hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kali keluarga saudara perempuan ibunya pulang, Buyung lebih suka tidak berada di rumah. Ia lebih riang saat bergabung dengan teman-teman sesama penggembala kambing, atau kawan-kawan sesama penggila adu ayam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kesendirian di tengah padang ilalang, sambil menunggu kambing-kambing piaraannya kenyang, Buyung kerap berimajinasi. Ia membayangkan kambing-kambing itu kelak akan berkembangbiak. Buyung akan mengantinya dengan beberapa ekor sapi muda. Dan, setelah sapi-sapi itu beranak-pinak, akan tibalah saatnya Buyung menggantinya dengan sebuah mobil sedan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Di kampung itu pula Buyung berubah menjadi pribadi yang ganas. Apa pasal? Lagi-lagi keluarga saudara perempuan ibu yang sedang pulang kampung. Rumpun tebu yang saban hari ia siangi, dan kelak setelah besar dan memanjang akan ia tebang. Akan ia jadikan bekal penyangga dahaga bersama teman-teman penggembala kambing. Setelah matang dan siap untuk dipanen, yang tersisa dari tebu itu hanya akar dan tunggul-tunggulnya. Tiga orang anak dari saudara perempuan ibu telah mendahuluinya. Mereka menyantap potongan-potongan tebu sambil berjingkrak-jingkrak dengan segenap kegirangan anak-anak kota yang sedang piknik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buyung murka. Bujukan ibu tiba. Masih ada banyak rumpun tebu. Tak usah risaukan tebu-tebu yang sudah ditebang. Buyung memadamkan nyala kemarahan. Tak ada protes. Tak ada keributan. Tapi Buyung, pemilik paling absah dari rumpun tebu yang ditebas begitu saja, tak bisa mengikhlaskan kesewenang-wenangan itu, bahkan hingga ia tumbuh dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hari kemudian ada makan malam bersama. Keluarga saudara perempuan ibu Buyung tampak lahap. Suami dan tiga anaknya yang rakus alang-kepalang --seperti orang yang tidak makan tiga hari-- sampai berkeringat saking lezatnya hidangan di meja makan. Lalu, tibalah giliran Buyung menyentuh piring lauk, dan rupanya di situlah rahasia besar kelahapan mereka. Betapa makan malam mereka tidak akan semarak? Lauk utama yang tersuguh di meja adalah daging ayam jago muda kesayangan Buyung. Si Bijo Taji yang berbulan-bulan dirawat Buyung dengan kelembutan dan kasih sayang telah disembelih tanpa sepengetahuan dirinya. Inilah penyembelihan kedua setelah kasus mobil sedan, yang telah merenggut keberanian masa kanak-kanak Buyung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selera makan Buyung musnah dalam hitungan detik. Mana mungkin ia tega mengunyah-ngunyah daging ayam jago yang ia belai-belai dan ia mandikan saban pagi. Piring di hadapan Buyung melayang, lalu bersarang tepat di kening salah satu anak saudara perempuan ibunya. Pecah berkeping lima. Beling dan butiran-butiran nasi bergelimang, berserak di meja dan lantai. Prahara tak terbendung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat anaknya bersimbah luka, suami dari saudara perempuan ibu bangkit hendak membalas serangan Buyung. Sigap Buyung meloncat dan melesat lari menuju dapur. Bukan lantaran takut, melainkan untuk mengambil sebilah kapak pembelah kayu yang tergeletak tak jauh dari tungku. Buyung berbalik secepat kibasan sayap Bijo Taji saat bertarung di gelanggang aduan. Mata kapak menghunjam permukaan meja makan. Ayunan kedua terarah tepat di rusuk kiri suami dari saudara perempuan ibu. Mata kapak menyilang tipis dan merobek kemeja putihnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak-anak manis yang kekenyangan itu menjerit-jerit ketakutan dan lari terkencing-kencing. Saudara perempuan ibu terpaku diam dengan muka pucat. Ketakutan jenis itulah yang melanda Buyung saat suaminya menghardik dalam peristiwa mobil sedan, berbulan-bulan sebelumnya. Buyung menatap mata mereka satu per satu, dengan kapak yang masih dalam genggaman. Mati kalian semua! Batin Buyung, dalam amarah yang meluap-luap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anak ayam jantan kita masih banyak, Nak. Kau bisa miliki semuanya. Asal kau buang kapak itu jauh-jauh!” bujuk ibu sambil menangis terisak-isak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Meski semua ayam jantan di kampung ini disedekahkan padaku, kematian Bijo Taji tetap kematian. Dan kalian adalah pembunuhnya”, balas Buyung dengan sorot mata buas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buyung akhirnya berhenti. Amuk-amarah ia gumpal baik-baik. Segera ia enyah dari rumah itu. Mereka beruntung. Kematian Bijo Taji tak berbalas kematian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak prahara meja makan itu Buyung makin gemar menyendiri. Setiap ada keramaian di rumahnya --terutama karena saudara-saudara ibu pulang dari rantau-- ia akan mundur teratur. Buyung tak peduli mereka bagi-bagi uang dengan cara salam tempel, atau mereka kenduri bersama sanak-saudara yang lain. Buyung lebih bersukaria dengan kambing-kambing piaraan, dan ayam jago generasi baru, meski tak akan pernah bisa menggantikan posisi almarhum Bijo Taji. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buyung merasa lebih pantas bersaudara dengan kawanan binatang ketimbang berbasa-basi dengan sanak-saudara yang sedang berkumpul di rumahnya --hanya untuk mengharapkan uang receh. Buyung tak tergiur untuk bergaul apalagi berbaur dengan anak-anak kota dengan segala kemewahan dan keangkuhan yang mereka bawa pulang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, orang-orang kampung Buyung ramah menyambut dan melayani mereka. Karib-kerabat Buyung lebih hormat dan gemar membungkuk-bungkuk pada orang kaya ketimbang orang jujur, apalagi kaum yang tak mujur. Di mata mereka, keluarga saudara-saudara ibu Buyung yang berlimpah harta adalah tauladan tentang orang-orang yang berhasil menghela peruntungannya. Keluarga besar Buyung harum namanya, tampak sangat mulia di permukaan, padahal tercela luar biasa di kedalaman. Bergonta-ganti mobil saban tahun, berderma di sana-sini, tapi perangainya membusuk di kaus kaki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang usia dewasa, Buyung berkesempatan melancong ke ibu kota, Jakarta. Tempat anak-anak dari saudara perempuan ibunya meniti karir. Demi menghormati nasihat ibu, Buyung memaksakan diri mampir dan menginap satu malam saja di rumahnya. Tak banyak waktu untuk berbincang dengan Nyonya Besar, karena ia sibuk berdandan di kamarnya ketimbang bertanya perihal kabar ibu Buyung di kampung. Buyung lebih nyaman berbicara dengan anjing piaraan ketimbang dengan tuan rumah --Nyonya Besar yang selalu menjadi kebanggaan saudara perempuan ibu Buyung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hari kemudian Buyung tiba di kampung. Di sana sudah menunggu saudara perempuan ibu, yang tak lain adalah ibu dari Nyonya Besar di Jakarta itu. Entah kenapa ia pulang bukan di waktu semestinya, dan begitu antusias menunggu Buyung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu tidak menanyakan oleh-oleh dari Jakarta, tapi ia begitu ingin melihat isi tas punggung Buyung. Setelah teliti memeriksa semua isinya.ibu Buyung menggeleng tiga kali pada saudara perempuannya. Ada apa rupanya? Buyung bertanya. Keduanya diam dan berlalu begitu saja. Tak lama berselang Buyung tahu, ternyata kedatangan saudara perempuan ibu adalah kedatangan sebagai utusan guna memastikan apakah ada barang penting dalam tas punggung Buyung. Dalam perjalanan Buyung dari Jakarta menuju kampung, saudara perempuan ibu telah menerima pesan penting; &lt;i&gt;Ikat pinggang suamiku hilang tolong periksa isi tas Buyung begitu sampai di kampung&lt;/i&gt;. Kepulangan Buyung adalah kepulangan sebagai buron yan mungkin lebih berbahaya dari teroris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepatah kata pun ibu Buyung tak memberikan pembelaan. Ia relakan anak laki-lakinya tertuduh maling. Untunglah kapak masa kecil sudah dibuang jauh-jauh. Mungkin karena sudah terlatih untuk menerima keterhinaan, Buyung tidak membuat prahara di hari nahas itu. Ia menggulung amarah dan kembali bergaul dengan binatang-binatang kesayangannya. Namun, tuduhan maling itu tak pernah bisa ia maafkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah rupa-rupa prahara kecil yang telah membinasakan keriangan masa belia Buyung di tanah kelahiran. Kampung yang berhasil membuat ia menjadi pecandu kesepian. Kampung tempat bersemayamnya Bijo Taji yang disembelih atas nama kegembiraan. Kampung yang tak akan pernah menganggap Buyung berguna sebelum ia pulang menghela keberlimpahan. Kampung yang hendak ia lupakan meski kenangan masa kecil itu telah menjadi darah di tubuh lapukya... *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;2015&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;DAMHURI MUHAMMAD&lt;/b&gt;, alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada.Telah menerbitkan sejumlah buku fiksi dan nonfiksi. Sehari-hari bekerja sebagai editor dan fotografer parowaktu. la bermukim di pinggiran Jakarta. </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/2248539190568157117/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/prahara-meja-makan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2248539190568157117" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2248539190568157117" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/prahara-meja-makan.html" rel="alternate" title="Prahara Meja Makan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjSPd1sw0joyK5RYpLO1K6Fl5oEK2QFxCmnMVHZqukOW8Lc1sL2wtIJ7iEA5ytn3UIu5GLuWBXXvgAj4HSCyTw7z6VWWSyEf3YevzTaNKNCEZVdXXnujKS-P-QFqD3-5DQ00pnLFAlgd-O/s72-c/Prahara+Meja+Makan+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-9018961401340466975</id><published>2015-06-21T20:59:00.000+07:00</published><updated>2015-06-24T00:13:09.560+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sunlie Thomas Alexander"/><title type="text">Sunat</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;SUNLIE THOMAS ALEXANDER&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0Jw0pAYQbKMh4RYjkWDnnYxiy0XPhe2rDeNM6gcq3_1tNxNKQTPSmNJPGlAHtzIWCBSTUe89fO2rLpxZLwRa7ECIRm76pzGhUfeTEDjvB5kiXweaG11Mdl-kjmmqwHWK6h3To63DEytkD/s1600/Sunat+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Sunat" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0Jw0pAYQbKMh4RYjkWDnnYxiy0XPhe2rDeNM6gcq3_1tNxNKQTPSmNJPGlAHtzIWCBSTUe89fO2rLpxZLwRa7ECIRm76pzGhUfeTEDjvB5kiXweaG11Mdl-kjmmqwHWK6h3To63DEytkD/s200/Sunat+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Sunat" width="145" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;PERCAYAKAH&lt;/b&gt; Anda? Kalau di kampung halamanku, khitan atau yang lebih kerap kita sebut sunat, tak hanya membuat anak-anak Melayu menjelang akil baliq menangis ketakutan setiapkali mendengarnya, tetapi juga anak-anak Tionghoa. Ya, kendati mereka mungkin tak bakal mengalaminya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana ceritanya, sunat bisa menjadi semacam momok bagi anak-anak Tionghoa. Yang kutahu sejak aku masih kecil, kata itu memang sudah jadi ancaman yang kerapkali terlontar dari mulut orangtua kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;“Kalau besok kau masih mancing ke &lt;i&gt;kolong&lt;/i&gt; belakang sekolahmu itu, kusuruh Mantri Rusdi sunat kau!” tukas ibuku dengan mata melotot saat aku telat pulang sekolah dengan seragam basah kuyup kotor. Mendengar ancaman Ibu yang tampak bersungguh-sungguh, nyariku --yang kala itu baru duduk di bangku kelas tiga SD-- seketika menciut. Kubayangkan Mantri Rusdi menyeringai lebar sambil mengeluarkan gunting tajam dari dalam tas hitam yang selalu dibawanya. Gunting itu digerak-gerakkannya di depan wajahku. Tanpa sadar aku langsung memegangi pinggang celana pendekku erat-erat… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kata teman sekelasku Amir, kakaknya Fuad waktu disunat menggunakan sebilah bambu. Tentu saja aku makin kaget. Bayangkan, betapa sakitnya ujung “burung”-mu diiris dengan bambu tajam! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu kalau nyunatnya dukun kampung, Lie. Kalau yang nyunat mantri, tititmu akan dipotong pakai pisau bedah!” ujar Paman Choi lalu tertawa terkekeh. Aku terbelalak lebar. Bayangan gunting tajam mengerikan di tangan Mantri Rusdi seketika lenyap berganti dengan sebilah pisau lancip berkilat! Kali ini aku hampir menangis. Dan malamnya aku benar-benar bermimpi dikejar-kejar ribuan pisau terbang. Sementara mantri puskesmas berkumis lebat seperti Pak Raden yang sering menjahitkan pakaiannya ke toko jahit ayahku itu mengeluarkan tawa seram di depan pelupuk mataku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, itu puluhan tahun yang silam. Jauh sebelum aku memutuskan masuk Islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“LALU&lt;/b&gt; apa yang membuat Mas memilih masuk Islam? Karena teman, ulama, atau… Hmm, mendapatkan mimpi?” tanya Faturrahman, wartawan tabloid &lt;i&gt;Suluh Hidayah&lt;/i&gt; yang mewawancaraiku untuk rubrik ‘Mualaf’. Aku tersenyum kecil. Lagi-lagi aku harus menghadapi pertanyaan yang tak mudah dijawab itu. Pertanyaan sama yang entah sudah berapa puluh kali diajukan orang kepadaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah pertama kalinya aku meladeni wawancara wartawan seputar keislamanku. Sebelumnya, bulan Ramadhan beberapa tahun lalu, seorang temanku yang bekerja di surat kabar lokal juga pernah menelepon, memintaku menuliskan pengalamanku sebagai mualaf. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian berani bayar berapa?” tanyaku berkelakar waktu itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksud Abang?” terdengar suara Dani temanku di seberang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau ceritanya biasa-biasa saja, honornya standar. Tapi kalau sampai diusir dari rumah atau dikejar-kejar dengan parang, honornya dua kali lipat,” kataku sambil tertawa geli karena teringat beberapa kisah kesaksian para mualaf yang pernah kubaca. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ai, Abang ini! Aku kan tidak meminta Abang menulis cerpen,” gerutu Dani sebelum menutup telepon. Sejak itu, ia tak pernah menghubungiku meminta tulisan lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fatur tampak menatapku dengan wajah setengah melongo melihatku tertawa sendiri. Sekali lagi, aku merasa kesulitan menjawab pertanyaannya yang terkesan mudah itu. Jika aku menjawab secara teologis, tentu perlu energi berlebih untuk menjelaskannya dan belum tentu dipahami oleh semua pembaca. Namun jika aku menjawab karena teman atau sesosok ulama kharismatik, itu sama saja dengan berbohong. Karena mimpi? Kalau mimpi disunat sih iya! Hahaha! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ai, percayakah Anda, kalau sampai sekarang --walaupun sudah pernah merasakan bagaimana disunat-- aku masih sering bermimpi dikejar-kejar oleh Mantri Rusdi dengan pisau bedah?  Kata ibuku saat aku pulang terakhir kali, Pak Mantri itu sudah sakit-sakitan. Kutaksir usianya kini telah hampir 80. “Anak bungsunya sekarang jadi dokter,” tambah Ibu. Aku kembali menerawang, mengenang masa-masa ketika aku lari ketakutan dan bersembunyi di dapur setiapkali ia datang ke toko ayahku untuk menjahitkan atau memperbaiki pakaian. Padahal sebenarnya Mantri Rusdi orang yang ramah dan murah senyum; tak segalak tampangnya. Ia kerap memberi permen pada adik perempuanku, A Ling. Di saku celananya memang selalu tersedia banyak permen untuk membujuk anak-anak kecil yang takut disuntik. Dan ibu-ibu --Melayu maupun Tionghoa (termasuk ibuku)-- lebih mempercayainya daripada para dokter. Setiapkali kami jatuh sakit, ibuku pasti membawa kami ke tempat praktek Mantri Rusdi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi alangkah panjang jarum suntiknya, &lt;i&gt;Mak!&lt;/i&gt; Alat suntik bertabung kaca itu jauh lebih menyeramkan dari film &lt;i&gt;Sundel Bolong&lt;/i&gt; yang dibintangi Suzanna. Apakah pisau sunatnya juga berukuran besar? Pikirku waktu itu dengan tubuh gemetaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja ketika itu aku tidak menyangka kalau suatu hari diriku bakal disunat. Mungkin demikian pula halnya dengan tetanggaku, Chao Men Fui… Meskipun ia pasti takkan sesulit diriku menjawab ketika ditanya orang kenapa masuk Islam. Sebab alasannya jelas dan tak perlu direnungkan: “Aku mau nikah!” katanya dengan sumringah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;YA&lt;/b&gt;, mendadak aku teringat lagi pada tetangga lamaku itu, ingat cerita menggelikan saat ia disunat. Kejadiannya sekitar empat tahun silam. Tak lama setelah aku kembali ke Jogja usai cuti kuliah dua semester. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adik A Fui (begitulah sehari-hari kami memanggilnya), A Kiun adalah teman akrabku sejak kecil. Rumah orangtua mereka pun hanya terpisah empat rumah dari rumahku.  Usia A Fui dua puluh satu tahun di atasku. Kalau aku tidak salah hitung, umurnya saat itu sudah 47 tahun. Bujang tua. Tapi jika diolok, ia bakal dengan cueknya (atau pura-pura cuek) berkilah dengan mengutip ujar-ujar &lt;i&gt;anglo-saxon&lt;/i&gt;: “Hidup itu dimulai pada umur empat puluh, Bung!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu bagaimana ia bertemu dengan gadis Melayu yang kabarnya baru dua tahun tamat SMA itu (sampai sekarang ia tak sempat cerita). Kira-kira tiga minggu sebelum pernikahannya, tiba-tiba saja ia meneleponku dengan nada gembira. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lie, bulan depan aku mau lamaran.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha? Yang benar? Orang mana? Janda ya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan! Kau tahulah seleraku, mana mau aku sama janda! Perawan dong. Baru 20 tahun.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaget juga aku mendengarnya. Gila! Ternyata benar-benar ada gadis yang mau dengan dia. Pakai guna-guna dari dukun sakti mana dia? Pikirku gemas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah…,” lanjutnya di telepon, “Aku mau tanya sama kau.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Soal apa?” aku masih sulit percaya ia akan menikahi gadis sebelia itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Cewek&lt;/i&gt; yang mau aku lamar ini orang Melayu…, “ ia berhenti sesaat, seperti mengambil nafas. “Aku sudah mengucap &lt;i&gt;syahadat&lt;/i&gt;. Dan besok lusa aku mau disunat…” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi aku terkejut, tapi kemudian terbahak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, hei! Kau jangan tertawa!” ia berteriak di seberang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, iya. Apa yang mau kau tanyakan?” aku setengah mati menahan geli. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau kan sudah disunat. Nah, bagaimana rasanya itu? Maksudku setelah obat penghilang sakitnya reda… Apakah sakit kalau kencing?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar suaranya yang kini berubah cemas, aku benar-benar tak bisa menahan tawa lagi. Itu tiga minggu sebelum aku mendengar kabar dari A Kiun, kalau sang kakak melabrak dokter yang menyunatinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lho, memangnya kenapa?” tanyaku heran dalam pembicaraan telepon. Belum apa-apa A Kiun sudah tertawa bergelak. Mau tahu apa yang terjadi? Ternyata, menurut A Fui, setelah disunat --maaf-- burungnya sulit bangun! Termasuk di pagi hari yang dingin. Masya Allah! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar atau tidak apa yang diceritakan adiknya itu, mungkin hanya Tuhan dan A Fui sendiri yang tahu. Aku tak berani menanyakan hal itu kepadanya setiapkali pulang dan bertemu dengannya. Tampaknya ia juga tak ingin menyinggung-nyinggung lagi apa yang menimpa dirinya itu. Yang jelas, setahun setelah pernikahannya yang sempat bikin heboh para tetangga itu, A Fui bercerai dengan istrinya…. Aah! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“SEHABIS&lt;/b&gt; bersunat, jangan sampai melangkahi tahi ayam. Kau bisa ketimpa sial!” Atau, “Jangan sesekali melewati bawah jemuran pakaian wanita. Bisa-bisa kau impoten!” Ada lagi yang lebih menggelikan, “Kalau mau cepat sembuh, kau harus tiduri janda.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah pantangan yang beredar di kampungku semasa kanak-kanak. Konyol tapi tampaknya cukup dipercayai oleh teman-teman Melayuku seperti Amir, Panjul, Mustafa, dan lain-lainnya. Karena itu, kami pun kerap melemparkan kelakar untuk menakut-nakuti ketika salah satu dari mereka baru habis disunat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, kalau jalan lihat-lihat, Jul. Tadi kau baru saja langkahi tahi ayam!” celetuk Mustafa dengan mimik serius. Seketika pucatlah wajah Panjul yang baru seminggu disunat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana? Mana? Tidak ada tahi ayamnya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua terbahak-bahak melihat bagaimana anak gendut itu kalang-kabut mencari-cari onggokan tahi ayam di seputar halaman sekolah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mungkin A Fui, tetanggamu itu, juga langkahi tahi ayam atau lewati bawah jemuran Lie,” kata istriku tertawa, “Kau dulu tidak tiduri janda kan?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ikut tertawa membayangkan A Fui yang brewokan dengan sarung kedodoran menginjak tahi ayam di pekarangan rumahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi lain padang lain belalang, lain orang lain pula kasusnya. Puluhan tahun silam, mendiang kakekku pernah bercerita tentang seorang Tionghoa --anggota perkumpulan Lo Kung Hui &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;-- yang bersunat dan selamat dari pembantaian pasca 65. Aku ingat ketika itu Kakek mengisahkannya sambil berbisik-bisik: “Kalian tahu, mendiang bapaknya Haji Amran itu orang Tionghoa. Namanya Chin Hon. Haji Amran itu anak dari istri keduanya. Setelah resmi masuk Islam, ia tinggal di kampung Melayu dan menikah lagi.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pantas Pak Haji itu tampangnya mirip orang kita,” ujar ibuku mengangguk-angguk. “Lalu istri pertama dan anak-anaknya ke mana?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek menggeleng. “Ada yang bilang pindah ke Palembang. Ada yang bilang ke Medan. Tidak ada yang tahu pasti.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membayangkan wajah Haji Amran yang salah satu putrinya adalah kakak kelasku. Anak itu cantik dan putih seperti amoy. Tapi wajah Haji Amran, kalau aku mau jujur, seperti Cu Pak Kai! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sssstt! Jangan &lt;i&gt;katain&lt;/i&gt; orang!” hardik Ayah mendelik mendengar celetukanku. A Ling cekikikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hm, percaya tidak?” tanya Kakek kemudian dengan mata berbinar-binar, “kalau si Chin Hon itu bersunat setelah mendapatkan petunjuk dari Dewa Kwan Kong dalam mimpinya…” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami semua saling pandang lalu melongo. Melihat wajah kami yang tampak bloon, Kakek terkekeh. “Ya, setelah tiga malam berturut-turut Kwan Ti mendatanginya lewat mimpi,” katanya usai menghirup kopi dalam cangkirnya dua teguk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MENURUT&lt;/b&gt; kakekku, kejadian itu tak lama selepas peristiwa penampakan golok suci sang dewa perang di langit timur yang menggemparkan seluruh kota kecil kami. Dimana orang-orang kemudian mulai mengaitkannya dengan bencana besar yang akan datang. Apalagi saat itu situasi politik di Jakarta memang mulai panas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kwan Ti menampakkan diri kepadanya dalam mimpi pada suatu malam sepulangnya dari rapat di kantor Lo Kung Hui yang sekarang jadi rumah dinas Koramil itu,” tukas Kakek melanjutkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Potong! Potong ujung kemaluanmu!” perintah sang dewa dengan mata melotot galak dan wajah memerah sangar. Sosok tinggi besar berseragam militer Tiongkok kuno dan memegang sebilah golok bercula dengan tangkai panjang itu persis lukisan di altar ruang tengah rumahnya yang sudah lama tak terurus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chin Hon tersentak bangun dari tidurnya dengan pakaian basah kuyup. Dan ketika melewati ruang tengah hendak ke dapur mengambil air minum, sekonyong-konyong ia mencium aroma dupa yang santer dari arah altar peninggalan mendiang ayahnya yang sudah bertahun-tahun tak pernah digubrisnya itu --bahkan sekedar membersihkan dan menyalakan sebatang dupa pada hari-hari besar. Kala itu Chin Hon hanya menggeleng-geleng dan menganggap dirinya masih setengah sadar. Lantaran rasa lelah usai rapat seharian, akhirnya ia pun kembali ke tempat tidur dan terlelap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, awalnya ia memang mengacuhkan penampakan Kwan Kong dalam mimpinya itu dan menduganya bunga tidur semata. Sebagai lulusan Tiong Hoa Hwee Koan &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;, ia sudah terbiasa berpikir rasional dan menganggap dewa-dewi hanyalah takhyul belaka. Namun keesokan malamnya, mimpi yang sama kembali terulang. Puncaknya pada malam ketiga, Dewa Kwan Kong tampak marah sekali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau kau tak mau potong, biar aku yang potong dengan golokku!” bentak pahlawan bangsa Han dalam roman &lt;i&gt;Sam Kok&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; itu sambil mengayunkan golok bercula ke arah selangkangannya. Chin Hon menjerit keras dan terguling ke bawah ranjang. Ia mengadu kesakitan saat kepalanya terantuk ke lantai semen. Saat itulah ia mencium bau asap pekat dan langsung terbatuk-batuk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bergegas bangkit dari lantai, Chin Hon berlari keluar kamar. Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat altar tua sang dewa di ruang tengah itu sedang terbakar… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia langsung masuk &lt;i&gt;Fui Kau&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt; setelah itu?” tanya Ibu tidak sabaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“AKU&lt;/b&gt; tidak tahu di mana Chin Hon bersunat. Apakah pada dukun Melayu atau seorang mantri,” kata Kakek kemudian, kali ini sambil menyalakan sebatang rokok kretek. “Tapi itu menyelamatkannya. Kalian tahu, tak lama sesudah itu terjadi peristiwa Gestapu…” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek merendahkan suaranya sedemikian rupa, sehingga adikku A Ling yang baru duduk di bangku kelas satu SMP buru-buru merapatkan diri pada Ibu. Asap rokoknya yang putih kebiru-biruan meliuk-liuk tertiup angin yang masuk dari jendela yang separuh terbuka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika hal itu akhirnya ketahuan oleh para anggota perkumpulan Lo Kung Hui lainnya --lanjut Kakek lagi-- Chin Hon menjadi bahan tertawaan. Bahkan sebagian temannya mengecamnya habis-habisan; menuduhnya irasional dan kontra-revolusioner! Sampai kira-kira setengah tahun kemudian…. Kakek menarik nafas ketika hendak meneruskan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Apa yang terjadi?” lagi-lagi Ibu tidak sabaran. Kakek tersenyum getir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian tahu Ming &lt;i&gt;Suk,&lt;/i&gt; kan?” tanyanya dengan mata tertuju kepada ayahku. “Seorang putranya juga anggota Lo Kung Hui… Kecuali Chin Hon, semua anggota dibawa, entah ke mana. Rumah mereka dikedor malam-malam. Itu sebulan sebelum sekolahmu diambil alih oleh tentara. Kau ingat? Ai, kau kelas dua waktu itu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak lagi ingat dengan detail semua yang diceritakan Kakek saat itu. Namun aku mencoba membayangkan rumah Chin Hon yang tak luput dikedor oleh segerombolan orang. Mungkin istrinya yang membukakan pintu, atau barangkali anak tertuanya. Kubayangkan istrinya itu menjerit-jerit ketika orang-orang menyerbu masuk ke dalam rumah dengan beringas. Chin Hon yang mengenakan piyama tidur, pucat pasi dan gemetaran di tepi ranjang saat pintu kamarnya didobrak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ikut kami komunis!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“A-aku bukan komunis…” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau anggota Lo Kung Hui! Namamu ada dalam daftar!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sudah keluaar…” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seret dia!!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“T-tunggu! Tunggu… Aku ini Muslim…” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kepalaku terdengar umpatan-umpatan rasis yang agaknya tak pantas kuutarakan di sini, mungkin disertai dengan cacimaki yang membawa-bawa ‘babi’ dan ‘anjing’. Kubayangkan pula, tak ada seorang pun dari gerombolan itu yang percaya dengan pengakuan Chin Hon yang ketakutan. Istri dan anak-anaknya menangis meraung-raung. Namun salah seorang dari gerombolan itu tiba-tiba membentak: “Buka celananya! Kita periksa!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;APAKAH&lt;/b&gt; Anda percaya kisah yang dituturkan mendiang kakekku saat aku kelas dua SMA ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, sebagaimana halnya cerita burung Chao Men Fui yang sulit bangun sehabis disunat, tentu saja aku tidak tahu sejauh mana kebenarannya. Barangkali setengahnya sudah dibumbui oleh Kakek sendiri atau orang lain yang menyampaikan kisah ini kepadanya. Siapa tahu? Hanya saja, setiapkali mengingat cerita ini, aku selalu terkenang pada Laksamana Muslim, Cheng Ho yang dipuja oleh orang-orang Tionghoa dengan khitmad di klenteng Sam Po Kong, Semarang… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mas?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya… Oh, maaf,” aku tersadar oleh panggilan Fatur. Hampir saja aku lupa kalau ia masih menunggu jawabanku.*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Jogokariyan, Jogjakarta, Mei 2015&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;Catatan: &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;
&lt;li&gt;
Lo Kung Hui: Perkumpulan buruh Tionghoa yang berafiliasi kepada PKI.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiong Hoa Hwee Koan (Asosiasi Tionghoa) adalah sebuah perkumpulan untuk memajukan pembaruan Konfusian dari kebudayaan Tionghoa lokal dengan mengedepankan pendidikan berbahasa Tionghoa modern. Karakter sekolah ini menggunakan bahasa Mandarin dalam pengajarannya, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, tetapi tidak memberikan pelajaran bahasa Belanda. Model mereka adalah sekolah modern di Tiongkok dan Jepang, dengan pengaruh Barat yang kuat dalam mata pelajarannya. Sekolah Tiong Hoa Hwee Koan yang pertama dibuka di Batavia (1901), Pangkalpinang-Bangka (1907), Belinyu-Bangka (1908), Sungailiat-Bangka (1910) dan Toboali-Bangka (1912).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Roman &lt;i&gt;Tiga Kerajaan&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;The Three Kingdom&lt;/i&gt;). Salah satu roman sastra klasik Tiongkok termashyur. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Fui Kau&lt;/i&gt; (Mandarin: &lt;i&gt;Hui Ciau&lt;/i&gt;): Agama orang Hui. Disebut demikian karena Islam dikenal sebagai agama suku minoritas Hui di Tiongkok. Sampai sekarang sebutan itu masih kerap digunakan oleh orang Tionghoa di Bangka-Belitung.&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;/ol&gt;
</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/9018961401340466975/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/sunat.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/9018961401340466975" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/9018961401340466975" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/sunat.html" rel="alternate" title="Sunat" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0Jw0pAYQbKMh4RYjkWDnnYxiy0XPhe2rDeNM6gcq3_1tNxNKQTPSmNJPGlAHtzIWCBSTUe89fO2rLpxZLwRa7ECIRm76pzGhUfeTEDjvB5kiXweaG11Mdl-kjmmqwHWK6h3To63DEytkD/s72-c/Sunat+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-204361334723143581</id><published>2015-06-14T19:21:00.000+07:00</published><updated>2015-06-23T23:36:04.497+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Benny Arnas"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type="text">Bawang Merah dan Ibunya</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;BENNY ARNAS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIFndEUCK440BQ7xJErJV8LfnIGq2SeaYeM-RhERvN57Fqxhhg3FPaXUPDakzwqj6Y4x5pn4WBFMsoOmALTeByfeuPdKM4Tw29TwUCf-e86rpFPldmSOcfpG2e75ZPUIMDmd1ZkB9Tjdli/s1600/Bawang+Merah+dan+Ibunya+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos - Bawang Merah dan Ibunya" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIFndEUCK440BQ7xJErJV8LfnIGq2SeaYeM-RhERvN57Fqxhhg3FPaXUPDakzwqj6Y4x5pn4WBFMsoOmALTeByfeuPdKM4Tw29TwUCf-e86rpFPldmSOcfpG2e75ZPUIMDmd1ZkB9Tjdli/s200/Bawang+Merah+dan+Ibunya+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos - Bawang Merah dan Ibunya" width="148" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;SEJAK&lt;/b&gt; berusia tiga tahun, karena pipinya selalu bersemu merah dan matanya kerap berair ketika tertawa saking senangnya, ia dipanggil Bawang Merah. Tentu saja bukan ayahnya yang memulai, melainkan teman-temannya. Lambat-laun, mungkin karena mendapati anak gadisnya tak keberatan dengan pangggilan itu, sang ayah pun memanggilnya begitu. Sebenarnya ketika Bawang Merah baru saja masuk sekolah dasar, ayahnya sudah bertanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau mendengar cerita Bawang Merah  dan Bawang Putih?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Merah menggeleng. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"Gurumu belum menceritakannya?" tanyanya lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang merah menggeleng lagi. "Aku baru memakai seragam merah-putih sepuluh hari, Yah." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ayah mengangguk-angguk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi lima harinya kami disuruh menggambar saja. Guru-gurunya sering rapat. Memangnya apa itu rapat, Yah?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ayah hanya tersenyum. Lalu ia menjelaskan dengan cara yang bertele-tele. Seharusnya guru-guru di sekolah sudah memberi pengertian tentang arti sebuah kata sebelum menyerang telinga anak-anak dengan kosakata yang baru bagi usia mereka. Bawang Merah akhirnya mengangguk setelah terdiam cukup lama dengan kening berlipat. Sang ayah tahu, anaknya mengangguk bukan karena paham, melainkan bingung dengan penjelasannya. Anak zaman sekarang memang pandai bersandiwara. Ini adalah efek televisi yang selalu gagal ia singkirkan karena Bawang Merah seperti tak bisa hidup tanpanya. Kotak keparat itu seperti menjelma menjadi pengganti ibunya yang pergi meninggalkan mereka lima tahun lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nanti gurumu pasti akan menceritakan dongeng itu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sepertinya tidak, Yah," jawab Bawang Merah polos. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa?" tanya ayahnya penasaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kemarin aku sudah tanya-tanya pada Bawang Putih. Di sekolah kami tidak ada pelajaran mendongeng." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban itu seperti kabel telanjang yang menyetrum kupingnnya. Bagaimana ia lupa kalau sejak dulu pelajaran mendongeng di negeri ini diampu oleh orangtua yang seringkali tak kalah sibuknya dengan para guru yang mengikuti seminar dan pelatihan ini-itu untuk mendapatkan gaji tujuh juta per tiga bulan atas nama sertifikasi. O ya, yang lebih membuatnya kesetrum adalah nama teman anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Benar, Yah!" jawab Bawang Merah agak kesal ketika sang ayah menanyakan pertanyaan yang sama untuk keempat kalinya. "Dia dipanggil Bawang Putih karena kulitnya seputih bawang putih tetapi bau tubuhnya tak sedap walaupun ibunya selalu membedakinya usai mandi. Dia juga sama sepertiku. Hanya memiliki satu orangtua. Bedanya, aku punya ayah sedangkan dia punya ibu. O ya, katanya ayah sering main ke rumahnya. Ayah sering mengajak ibunya keluar untuk membelikannya jagung bakar rasa nano-nano. Ayah jahat!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ayah benar-benar tak menyangka: bagaimana anaknya memiliki kemampuan bicara seperti menyanyikan sebuah lagu pendek dengan melodi tak terduga pada reffrain. Ia mengejar Bawang Merah yang berlari menuju kamarnya. Ia tahu, pintnya sengaja tak dikunci: yang diharapkan perempuan merajuk adalah seseorang yang ia sayangi memeluknya diam-diam dari belakang. Ah, ia baru tahu, kalau itu juga berlaku untuk perempuan kecil seusia Bawang Merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Maafkan Ayah, Sayang," kalimat itu terdengar minor, seperti pembukaan lagu himne yang murung. Ia mengelus kepala Bawang Merah yang ditutupi boneka bebek berwarna kuning yang ia beri nama Beki. Pasti Bawang Merah sudah menunggu momen ini hingga ia bisa mempraktikkan adegan ngambek seorang gadis yang dimarahi ayahnya karena pulang lewat pukul sembilan malam di sinetron yang sering ia tonton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Merah membalikkan tubuhnya. Ia tidak --atau memang gagal-- menangis. Bagaimanapun, tak mudah menjadi pemain sinetron. Anak-anak memang tak tahu kalau gadis dalam sinetron yang mereka tonton telah meneteskan obat mata pada matanya sebelum adegan ngambek itu diambil. "Jadi mulai sekarang Ayah juga akan membelikanku jagung bakar rasa nano-nano, kan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ayah bernapas lega. "Kau juga suka jagung bakar, sayang?" tanyanya dengan senyum kemenangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Merah mengangguk. "Tapi aku belum pernah makan jagung bakar rasa nano-nano. Kata Bawang Putih, rasanya seperti sosis yang yang dicelupkan ke saus tomat lalu dilumuri abon ikan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
O, anak-anak kadang memiliki selera sastra dalam mengungkapkan sesuatu yang rumit --yang nano-nano.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"O ya, kenapa Ayah tidak menikah saja dengan ibunya Bawang Putih?" Apa? Untung saja ayahnya tidak mengidap penyakit jantung. "Jadi Ayah tidak harus bolak-balik ke rumah kita dan rumah Bawang Putih hanya untuk membelikan kami jagung bakar rasa nano-nano?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Merah dan Bawang Putih kini memiliki orangtua yang lengkap. Mereka sering melakukan aktivitas bersama-sama; jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, berenang, berkebun, dan tentu saja makan jagung bakar rasa nano-nano. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ayah sebenarnya merasa sangat bersalah pada mantan istrinya yang kini memilih tinggal di rumah kayu di utara kota yang berjarak dua puluh kilometer dari rumah mereka. Ketika akan bercerai dulu, sebagaimana umumnya, mereka meributkan hak asuh anak mereka satu-satunya. Walaupun perseteruan itu dimenangkan olehnya, namun ada dua syarat yang harus ia penuhi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Membolehkan istrinya bertemu kapan saja dengan anaknya. &lt;br /&gt;
2. Ia tidak menikah lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celakanya, ia telah mengingkari syarat-syarat itu. Syarat pertama ia langgar ketika Bawang Merah merayakan ulangtahun keduanya. Ia baru bisa menyebutkan kata "Ibu" dengan bunyi "Wu" ketika ayahnya mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia satu tahun sebelumnya.  Namun, waktu dan kebersamaan dengan keluarga baru telah membuatnya abai pada risiko pelanggaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku akan selalu memantau kehidupanmu dengan caraku sendiri. Bila kau melanggar perjanjian itu, aku takkan membiarkan kehidupan kau dan keluarga barumu berjalan lama." Ancaman istrinya kala itu terdengar sangat menyeramkan. Namun, hari ini, ancaman itu dikenang sebagai lelucon. Memangnya siapa kau hingga bisa mencelakakan kami? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Merah dan Bawang Putih tiga minggu lagi akan menghadapi ujian kenaikan kelas dan guru mereka belum juga menceritakan dongeng Bawang merah dan Bawang Putih. Mereka belajar di rumah dari pulang sekolah hingga pukul sembilan malam. Tentu saja pernyataan ini sangat hiperbolis karena sebenarnya mereka juga masih punya waktu tidur siang, mandi sore, makan malam dan bersendagurau bersama keluarga. Pada suatu malam, ketika berdua saja dengan ayahnya, Bawang Merah mengeluhkan tabiat saudara dan ibu tirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ayah tak ada di rumah, katanya, Bawang Putih selalu mendapatkan jatah makan lebih banyak, waktu tidur siang dan mandi sore lebih lama, dan boleh bertanya tentang PR kepada ibunya berkali-kali, sedangkan aku tidak. Itu sudah berlangsung lama. Sebenarnya, katanya lagi, itu sangat bertolak belakang dengan sifat Bawang Putih dalam dongeng, tukasnya dengan wajah yang sedih bercampur kesal karena baru hari ini terpikir untuk mengatakan yang sebenarnya.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi, gurumu sudah menceritakan dongeng itu, Sayang?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih rupanya lebih menarik perhatian ayahnya daripada diskriminasi yang menimpa putri kandungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pada hari ketika aku tak masuk sekolah karena flu, Bu Guru mendongeng di kelas. Kata teman-teman, Bu Guru sengaja mendongeng pada hari itu agar aku tidak tersinggung dengan isi ceritanya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ohhh...." Ayahnya merasa sangat bersalah. Ia bermaksud meraih Bawang Merah ke dalam pelukannya tapi anak gadisnya itu menjauh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sejak itu Bawang Putih selalu bilang kalau aku anak jahat karena yang namanya Bawang Merah itu pasti jahat! Bu Guru juga bilang kalau bawang putih selalu lebih enak dipandang dan lebih dihargai daripada bawang merah. Buktinya: para petani lebih senang menanam bawang putih karena di pasar harga bawang putih lebih mahal daripada bawang merah. O ya, Bu Guru menambahlan: daya tahan tubuhku lebih buruk sehingga lebih mudah sakit yang membuatku tidak bisa berangkat ke sekolah hari itu, sedangkan Bawang Putih selalu sehat. Benarkah begitu, Yah? Benarkah harga bawang putih lebih mahal daripada bawang merah? Benarkah saudara tiriku lebih sehat? Aku baru sakit sehari kan, Yah? Aku menyesal mengikuti saran Ayah tidak masuk sekolah hari itu hanya karena flu ringan." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya terdiam. Ia memendam kegeraman pada guru anak-anaknya di sekolah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa ayah menamaiku Bawang Merah?" suaranya melengking sebelum tiba-tiba putus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan Ayah, sayang, melainkan..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa Ayah membiarkan saja teman-teman memanggilku Bawang Merah?" Bawang Merah menangis. Ia berlari menuju kamarnya. Kali ini ia mengunci pintunya dari dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan paginya, Bawang Merah tak ada di kamarnya. Ia meninggalkan pesan di atas secarik kertas. Aku ingin bekerja untuk nenek sakti. Aku ingin Bawang Putih tahu bahwa akulah yang berhak mendapatkan upah labu berisi emas permata dari nenek karena aku anak yang baik, bukan dia seperti yang diceritakan dongeng itu! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan cemas dan gemas bertabrakan dalam dada sang ayah. Anak kecil memang pengkhayal yang berbahaya. Ia menunjukkan kertas itu pada istrinya dan Bawang Putih. Hampir saja Bawang Putih tertawa apabila ujung kakinya tidak diinjak oleh ibunya. Mereka pun mulai memainkan peran, memasang wajah seperti awan bulan Januari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang ayah mencari Bawang Merah kemana-mana, termasuk ke rumah mantan istrinya yang kini lebih layak disebut gubuk. Di sana ia hanya menemukan seorang perempuan renta yang tak pernah menjawab pertanyaannya karena pikun. Ia pikir mantan istrinya sudah lama pindah dari rumah itu karena seorang duda kaya yang kesepian berhasil menemukannya dan memboyongnya ke istana. Ia tak pernah berpikir kalau anaknya baru saja disuruh nenek pikun itu menyapu halaman belakang gubuk itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua minggu kemudian, menjelang siang. Bawang Putih dan ibunya terkejut mendapati Bawang Merah berdiri di muka pintu dengan gaun merah yang mahal, giwang berlian di kedua telinganya, dan kalung mutiara pada lehernya yang kelihatan lebih jenjang dari sebelumnya. "Kalian pasti terkejut, kan?" ujarnya dengan senyum pongah. "Walaupun minggu depan ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan, tapi aku datang bukan untuk belajar bersama. Lagi pula, aku pasti tak diijinkan Bu Guru ikut ujian karena terlalu sering  bolos. Akhir-akhir ini pasti Bu Guru sering mendongeng di kelas, kan? Apalagi harga Bawang Putih masih mahal dan aku tak kunjung masuk kelas bukan karena sakit, melainkan malas atau lari dari rumah. Wah, Bawang Merah memang tak bisa sebanding dengan Bawang Putih yang baik, selalu sehat, dan kabar-kabarnya sudah bisa mengatasi bau badannya dengan mengoleskan deodoran di kedua ketiaknya." Ia memandang Bawang Putih yang masih dikerubungi keheranan dengan senyum yang lebih mirip seringaian. "O ya, aku boleh masuk, kan?" kata-katanya bukan hanya terdengar pongah, melainkan juga lebih dewasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Putih dan ibunya saling pandang. Mata mereka menyimpan pertanyaan dan keheranan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku hanya ingin menunjukkan kepada kalian kalau labu berisi emas-permata itu benar-benar ada dan benar-benar aku dapatkan. Tidakkah kalian juga ingin melihatnya? Hemm, atau ingin dapat bagian?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Putih dan ibunya memberi jalan. Keheranan bercampur ketakjuban membuat mereka abai mencurigai cara bicara Bawang Merah yang lebih mirip orang kerasukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Merah menuju kamarnya dengan langkah paling anggun dalam sejarah hidupnya. Seolah dikomando, tentu saja karena keinginan mendapatkan emas-permata, Bawang Putih dan ibunya mengikuti. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ini!" bawang Merah menunjukkan labu sebesar bola kasti kepada ibu dan saudara tirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Putih hendak mencangking labu itu tapi ibunya mencegah. "Bagaimana kalau isinya ular, kalajengking, lipan, lintah, dan binatang beracun dan mematikan lainnya?"  tanyanya ragu-ragu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya ia belum pernah melihat labu seukuran bola kasti. Artinya, buah labu yang diberikan Bawang Merah saat ini adalah labu yang kecil. Dugaannya menjadi sempurna ketika Bawang Merah mengeluarkan labu seukuran bola sepak dari balik rok gaunnya yang mengembang. "Atau kalian lebih memilih yang ini?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Putih dan ibunya langsung menggeleng. Dongeng tentang akhir hayat Bawang Merah yang tragis --akibat digigit binatang-binatang mematikan yang keluar dari labu yang lebih besar-- mengiang-ngiang dalam benak mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, mengapa pula kita harus cemas, anakku. Kau Bawang Putih, bukan Bawang Merah!" seru ibunya kesal sebelum mengempaskan labu kecil yang ada di tangan Bawang Putih  ke dekat kaki Bawang Merah. Perempuan itu memang licik. Apabila isi labu kecil itu adalah binatang-binatang mematikan, tentu Bawang Merahlah yang pertama kali digigitnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu labu bola kasti itu pecah, isinya berhamburan, Bawang Merah refkleks melompat menjauh. Namun tidak dengan Bawang Putih dan ibunya. Seperti kesetanan mereka memungut isinya. Bawang Merah tak habis pikir, bagaimana mungkin mereka memungut ular, kalajengking, lipan, dan lintah, dengan riang gembira. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bawang Putih dan ibunya masih seperti kesetanan, mengenakan binatang-binatang menjijikkan itu di bagian tubuh mereka, seolah mengalungkan kalung mutiara di leher, gelang emas di kedua pergelangan tangan dan kaki, giwang bermata rubi di kedua centil telinga, dan bros dari berlian di dekat dada dan kerah baju. Bulu kuduk Bawang Merah bergidik melihat semuanya. tiba-tiba ia ingat kata-kata seorang nenek yang mengaku-aku sebagai ibunya (pengakuan yang sulit ia terima namun tak berniat dibantah): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Berikanlah labu kecil kepada ibu dan saudara tirimu agar mereka tahu bahwa dongeng tak layak diimani. Kebaikan hanya milik yang benar dan keburukan untuk yang serakah." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, ibu dan saudara tirinya mengerang kesakitan. Bawang Merah sebenarnya ingin menyingkirkan binatang-binatang menjijikkan itu dari tubuh mereka tapi ia takut binatang-binatang itu malah menyasarnya. Kini, Bawang Merah justru keluar kamar. Menguncinya dari luar. Di ruang tengah, nenek yang mengaku ibunya sudah berdiri dengan kedua tangan terbuka, seolah siap menerimanya dalam pelukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mana ayah?" tanya Bawang Merah ketus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentu saja aku tak tahu," jawab perempuan tua itu sembari menurunkan kedua tangannya. Sepertinya ia kecewa dengan sikap Bawang Merah yang tak menggubris rentangan tangannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bohong! Kau pasti telah memainkan sihirmu untuknya pula!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengapa kau sepanik ini? Aku benar-benar tak tahu. Siapa tahu dia memang belum pulang kerja. Kita tunggu saja." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku mengkhawatirkannya. Ayah tidak jahat seperti ibu dan saudara tiriku," jawabnya dengan napas megap-megap &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi ia jahat padaku. Ibumu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tidak percaya. Ibuku sudah mati dan tidak mungkin hidup lagi sebagai nenek sihir. Lagi pula, mana ada penyihir yang baik!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ayahmu menyiksaku. ia bermain serong dengan perempuan yang akhirnya menjadi ibu tirimu. Ialah yang membuatku rela menjadi penyihir yang berwajah empat puluh tahun lebih tua dari usia aslinya demi membalaskan dendam itu! Kata-kata itu hanya bergeliat dalam kepala perempuan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, ia berdiri dalam geming dengan mata yang nanar. Ia akan menunggu kedatangan pengkhianat itu untuk mengatakan bahwa ancamannya dulu sesungguhnya tidak main-main. Anaknya benar. Mana ada penyihir yang baik.*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Lubuklinggau, 25-26 Mei 2013 &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;BENNY ARNAS&lt;/b&gt; lahir di Lubuklinggau, 8 Mei 1983. Buku terbarunya &lt;i&gt;Bersetia&lt;/i&gt; (Mizan, 2014) dan &lt;i&gt;Cinta Tak Pernah Tua&lt;/i&gt; (GPU, 2014). </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/204361334723143581/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/bawang-merah-dan-ibunya.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/204361334723143581" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/204361334723143581" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/bawang-merah-dan-ibunya.html" rel="alternate" title="Bawang Merah dan Ibunya" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIFndEUCK440BQ7xJErJV8LfnIGq2SeaYeM-RhERvN57Fqxhhg3FPaXUPDakzwqj6Y4x5pn4WBFMsoOmALTeByfeuPdKM4Tw29TwUCf-e86rpFPldmSOcfpG2e75ZPUIMDmd1ZkB9Tjdli/s72-c/Bawang+Merah+dan+Ibunya+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-8458793690945596178</id><published>2015-06-07T22:08:00.000+07:00</published><updated>2015-06-23T22:46:30.555+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="N. Marewo"/><title type="text">Berjalan di Atas Kaca</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;N. MAREWO&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“CERITAKAN&lt;/b&gt; padaku tentang keajaiban,” remaja usia dua belas tahun itu berkata dengan nada memohon pada pamannya di suatu siang yang gerah. Di emperan depan sang paman bersandar di dinding dan mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusan. Bekas pelaut itu menghela napas. Wajahnya mendadak serius. Dinyalakannya rokok sambil mengepulkan asap seakan lupa dengan siapa ia bersama, lalu bercerita:  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlJxEIPx2UmNXaoZ0V5-SxoCWGzwp-5Fu4qoztJMj4GoWMtR1mGGVfU37kcuF_NTkuqcotkHypnk83g12cczMh6n2JJCYMPjQ9erJ-dy_NaFfgA7PURuO4lPRusrxJj6sBR1mH19ukfu2u/s1600/Berjalan+di+Atas+Kaca.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Berjalan di Atas Kaca" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlJxEIPx2UmNXaoZ0V5-SxoCWGzwp-5Fu4qoztJMj4GoWMtR1mGGVfU37kcuF_NTkuqcotkHypnk83g12cczMh6n2JJCYMPjQ9erJ-dy_NaFfgA7PURuO4lPRusrxJj6sBR1mH19ukfu2u/s200/Berjalan+di+Atas+Kaca.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Berjalan di Atas Kaca" width="79" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kelamin dan biji pelir menciut seakan hilang dilahap ikan, rata dengan badan akibat kedinginan dan lama terendam. Kepala rasanya begitu berat. Sepanjang hari matahari tak henti-henti memanggang. Leher menjuntai, bersandar pada jeriken tempat tangan terikat. Bola mata perih akibat ditepuk air laut. Angin kencang menerpa tak tahu ampun. Harapan terulur seperti benang layang-layang dilepas. Cuaca sangat buruk. Arus menyeret sementara gelombang menghantam setinggi pohon. Antara sadar dan terjaga kulihat diri dalam sebuah sampan. Semacam sampan yang biasa kita pakai memancing ikan. Tampaknya seperti di bawah kolong jembatan. Cahaya lampu kelap-kelip. Sepertinya aku memasuki kota yang belum pernah kukenal. Tetapi aku menepi saja. Rasanya di pinggiran kali yang lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Terdengar gemericik air --obrolan orang berkerumun seperti di pasar ikan. Hidungku mencium wangi sate yang diiris sebesar kotak korek api. Kulihat nasi hangat dari beras tumbuk terbaru yang dibawa dari gunung. Terlihat wajah ceria dan senyuman Bunda. Kutatap wajah ibu menunggu, memanggilku. Sebelah tangannya menjinjing serantang makanan. Disuguhinya nasi saat aku menepi. Ada sayur-sayuran dari kacang panjang dan bunga turi yang dimasak asam, lengkap sambal kesukaanku. Ada irisan bawang, kecap, cabe yang dipotong kecil-kecil dan jeruk nipis. Daging yang masih berasap karena hangat kurendam air laut sebelum kutarik dari tusuknya. Kulahap sedikit-sedikit. Ibu memandangku sambil tersenyum. Dikasihnya aku serantang air minum. Kuteguk sampai habis. Bisa kau bayangkan bagaimana kenyangnya terasa. Jidatku keringatan karena melahap makanan dengan nikmat.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu hari keempat. Kubuka mata yang berat. “Maha Suci Allah….” kataku dalam hati. Mungkin mimpi. Tapi sepertinya bukan. Kulihat di mana-mana bintang beredar bagai kelap-kelip lampu yang kulihat di kolong jembatan itu. Di mana-mana air. Lautan luas. Kutelan air liur sebagaimana menghisap manisan dan sisa pepaya yang tersangkut di mulut. Kupandang samudera, seakan-akan apa yang terjadi benar-benar peristiwa sungguhan. Kacang panjang dan bunga turi sepertinya masih tersangkut di gigi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagas, Arlan dan Parno terkulai tak berdaya. Kepala dan leher kami lemas seperti belut pingsan. Belum ada tanda-tanda akan terlihat perahu, atau kapal yang membantu. Hidup telah ditakdirkan. Maut kita bawa ke mana-mana. Bila ditakdirkan mati maka kuterima. Di mana hendak berlari? Bagaimana menghindari ajal? Ke mana meminta perlindungan dalam samudera seluas itu jika tak berserah diri kepada-Nya? Di mana pula kita tak berserah diri?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami akhirnya berempat. Sore yang murung perahu yang kami tumpangi tak tertolong. Badan perahu tenggelam seperti bekas kaleng minuman terinjak sepatu. Suasana sangat histeris. Lautan tak berjarak dari langit. Para penumpang berhamburan menyelamatkan diri bagai abu tertiup dari asbak. Empat jeriken dan seutas tali sepertinya sedang menanti saat seluruh isi kapal tercebur ke laut. Kami melompat menuju jeriken-jeriken lalu mengikat tangan masing-masing pada tiap jeriken yang mendekati kami. Kami mengikrarkan janji --akan tetap bersama dalam keadaan bagaimanapun. Hidup atau mati tetap bersama. Kami tak hendak berpisah. Meski mati ingin jasad kami dalam keadaan terapung.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gelombang datang mengayun. Kami pasrah, berusaha menolong diri. Tampak sosok istri seorang kawan tertimpa gelombang. Ia hendak menolong bayinya. Tapi ibu muda itu tak tertolong, hilang menit itu juga. Sempat kami lihat bayinya tergeletak di papan. Papan dari mana tak tahu. Siapa yang menyimpan pun tak tahu. Bayi itu terapung bagai busa, seperti ada yang mengangkat. Lama ia terayun diombang-ambing gelombang. Aku berdoa buat bayi itu. Dan tiba-tiba gelap menghadang. Ia lenyap dari pandangan. Tangisan anak lainnya terngiang hilang tertimbun ombak. Aku teringat ibu, ayah, wajah istri dan anak-anak saat rumah kutinggalkan. Aku berdoa buat mereka. Teringat pesan ayah agar mengisap jempol bila mendapat musibah di lautan. Kulakukan dari hari ke hari. Kuisap jempol untuk menahan diri dari haus dan lapar. Anehnya, meski sangat lapar aku sedikit terbantu. Meski sangat haus agaknya bisa bertahan. Kita memang tak boleh takabur. Hidup tak cuma di lidah dan di perut. Kusuapi jiwa dengan apa yang dapat membuat bertahan. Namun sampai kapan terseret arus? Adakah diriku akan mati dengan cara itu? Apakah hidupku berakhir pada jeriken? Aku rela menerima segalanya bila ditakdirkan. Siapa sanggup menolak?  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Parno membangunkanku dan kawan-kawan yang lain.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat!”, katanya. Matanya berbinar.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lampu-lampu,” tangannya menunjuk gelombang yang membukit.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lampu-lampu?” tanyaku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sudah sampai,” katanya, tersenyum senang.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai ke mana?” Bagas menanyakan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah buta kau?!” ia membentak.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Apakah kalian tidak lihat pulau sebesar itu?”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, kawan,” jawabku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mana mata kalian? Sialan! Kita sudah dekat, sudah sampai. Itu pulau. Pohon-pohon. Kapal-kapal. Gunung. Tunggu apa lagi. Ayo, kita berenang.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berenang?” tanya Arlan, heran.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berenang ke pulau itu, monyet.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan pulau, Parno. Kita di tengah samudera. Lihat gelombang yang menggunung itu,” bantah Arlan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah gila kalian. Kalian bilang gelombang itu pulau,” ia terheran-heran.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biar aku sendiri yang pergi.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke mana?” tanyaku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa tanya?” ia terburu-buru hendak melepas tali dari jeriken.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tak ada pulau!” kata Bagas mengingatkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam, bangsat! Nanti kau kubunuh!” katanya mengancam.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami terdiam, tak lagi berkata-kata. Hanya mata kami saling memandang --melihat saja apa yang ia lakukan. “Jangan ada yang menahanku,” katanya seraya mengeluarkan belati.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapa-siapa yang menahanku akan kubunuh,” lalu ia memotong tali yang menyatukan tangannya dengan jeriken. Dikasihkannya aku belati sebelum ia berenang. Tampak seonggak tubuh terhadang ombak melawan arus. Kilauan cahaya dari deburan air hilang bersamaan dengan lumatnya teriakan histeris.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Malam bergeser. Hari berlalu. Kapal atau perahu yang diharapkan untuk memberi bantuan seakan cuma khayalan. Memang, pernah kusaksikan ada orang-orang menjaring ikan di malam buta. Kurasa mereka penghuni laut dan tak menggubris kami. Untuk bertahan aku masih mengisap jempol tangan dan kaki --mencoba tegar dalam kepasrahan. Subuh sebelumnya aku bermimpi mengunyah pisang bakar dan meneguk secangkir kopi. Mimpi-mimpi aneh. Laut sarat keanehan. Kadang-kadang terlihat kota penuh lampu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering hidung kami mencium aroma ayam dan bebek panggang. Terkadang terdengar orang-orang mengobrol, dengusan ternak, suara kokok ayam dan kicauan burung. Bagas semakin payah. Aku juga. Arlan sama. Tapi Bagas gelisah sekali.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mau sendirian,” katanya suatu pagi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa berubah pikiran? Kita sudah berikrar hidup atau mati tetap bersama,” Arlan menanggapi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah!” Suaranya mendesis. “Kau sendiri lihat bagaimana nasib Parno,” kataku memperingatkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Memang. Tapi kalian punya rencana buruk terhadapku,” sahutnya dan membuang muka.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Rencana apa?” Arlan bertanya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian kira aku tidak tahu itikad busuk kalian. Jangan berpura-pura,” lanjutnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berpura-pura apa?” tanyaku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian pikir aku tidak tahu? Diam-diam kalian bersekongkol mau memakanku, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah, Bagas…” kata Arlan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingat, kawan….”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingat apa?”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingat Tuhan…” Bagas tak menggubris. Aku menggeleng.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan lupa,” kataku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hidup dan mati ditentukan oleh-Nya. Kita tak akan pernah bisa berlari. Dalam kapal emas yang penuh intan dan berlian pun tidak. Kalau ditakdirkan mati, mati.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lepaskan!” teriaknya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalian penjahat. &lt;i&gt;Kok&lt;/i&gt; tega-teganya mau memakan daging teman sendiri.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana mungkin kami berpikir memakanmu?!” tanya Arlan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percayalah,” kataku, berusaha meyakinkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita sudah berjanji sehidup semati.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lepaskan aku,” tangannya mendorong tubuhku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak percaya pada kalian.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau ke mana?” tanyaku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lepaskan. Biarkan aku sendirian. Aku akan berenang.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau lihat sendiri gelombang itu. Ke mana hendak menghindar? Ini samudera, sobat. Tak bisa dilawan dengan nafsu. Alam tak tertaklukkan.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lepaskan aku…. Kalian membawa sial.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau sadar, &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; apa yang kau ucapkan?” tanya Arlan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sadar apa? Lepaskan aku.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pikirkanlah….”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong…. Bantu aku,” pintanya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong. Tolonglah aku….”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sulit kami lakukan,” kataku menanggapi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terus terang, aku sangat tersiksa bersama kalian. Tolong… Lepaskan aku.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau itu maumu,” hatiku sedih seperti tercabik-cabik.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tega memotong tali yang menyatukan jeriken dan tangannya. Tapi ia terus mengiba. Ajaib. Setelah dilepas tubuh Bagas terangkat ke udara. Seperti manusia terbang dalam film-film horror; naik beberapa meter di atas permukaan air. Mata kami takjub beberapa saat. Kakinya tidak menyentuh air --seperti seseorang yang dapat terbang. Tak lama berselang tubuhnya berputar makin cepat seperti gasing. Beberapa saat kemudian tubuh yang berputar merendah lalu naik beberapa meter sebelum akhirnya tercebur ke dalam air. Semacam jangkar yang dibuang, atau beton yang terlempar ke laut --tak kelihatan lagi. Hening…  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***  &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Di serambi ini,” lelaki itu menepuk bahu bocah yang duduk di samping.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita berada dalam lautan itu, Nak – dalam keadaan tangan terikat. Batang leher lunglai, bersandar pada jeriken. Tiap saat menunggu panggilan. Hidup seperti dedaunan yang bertuliskan nama-nama. Bukan soal kapan daun gugur sebab mati bisa kapan saja. Bagaimana mengisi hidup dan memahami wajah yang terpantul di kaca. Tiap saat bisa saja manusia berubah haluan seperti halnya Arlan yang berpikir mengunyah dagingku. Bila pernah bertanya siapa yang menyimpan rasa pada buah-buahan. Bila memikirkan siapa memasukkan aroma pada benda-benda.... “  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau kopi, Paman?” tanya bocah itu. Pamannya tak menggubris.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan samudera. Juga bukan daratan dan udara,” ujarnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua itu hanya ruang. Tetap saja kita akan menjadi mayat seperti tiga temanku. Kita tak pernah tau bagaimana meninggal, hanya punya pilihan menata hidup – bukan menata kematian. Kita dalam perjalanan memilih lorong untuk terus melangkah di atas cermin tak berkesudahan – memantulkan segala yang dirajut dengan tangan, kaki, hati dan pikiran.”  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibu sudah membuatkanmu kopi….” Ia mengenang aroma sate dan wangi kopi yang pernah dirasainya dalam mimpi.***  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;N. MAREWO&lt;/b&gt; dilahirkan di Bima, Pulau Sumbawa pada 1966. Hobinya bepergian ke banyak belahan dunia seperti Amerika Serikat, Meksiko, Afrika Utara, Turki, negara-negara di Asia dan Eropa. Salah satu kumpulan cerpennya yang sudah dibukukan berjudul Lalat-Lalat dan Burung-Burung Bangkai. Novel-novelnya yang sudah diterbitkan berjudul Lambo, Satu Hari di Yogya, Jangan Menangis Bangsaku, Pulang, Budak, Filmbuehne am Steinplatz dan Legian Kuta. Karya-karya yang tercuat dari keunikan proses pencariannya pernah diulas Dr. Mathias Diederich dari Frankfurt University di jurnal internasional yang diterbitkan The German Association for Asian Studies (DGA – Deutsche Gesellschaft fur Asiankunde) dan melabelnya sebagai penulis benua Asia yang fenomenal. </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/8458793690945596178/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/berjalan-di-atas-kaca.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/8458793690945596178" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/8458793690945596178" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/06/berjalan-di-atas-kaca.html" rel="alternate" title="Berjalan di Atas Kaca" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlJxEIPx2UmNXaoZ0V5-SxoCWGzwp-5Fu4qoztJMj4GoWMtR1mGGVfU37kcuF_NTkuqcotkHypnk83g12cczMh6n2JJCYMPjQ9erJ-dy_NaFfgA7PURuO4lPRusrxJj6sBR1mH19ukfu2u/s72-c/Berjalan+di+Atas+Kaca.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-4476109034677119589</id><published>2015-05-31T21:22:00.000+07:00</published><updated>2015-06-23T22:47:01.035+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilham Q. Moehiddin"/><title type="text">Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;ILHAM Q. MOEHIDDIN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXGQGL_0lxJOu6icbEMbyaXXqc5RSic-aPmp26kYk7KE-gQS2iZyYpMFGPmnTusTQ7_e8ECX2DwnpxQEuKp189KxY27K9l91i02_6hb2vUxrFF5m6FoLaiDi0d4E3PkdKs-XJGjPimP_5h/s1600/Hikayat+Kota+Orang-Orang+Putus+Asa+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXGQGL_0lxJOu6icbEMbyaXXqc5RSic-aPmp26kYk7KE-gQS2iZyYpMFGPmnTusTQ7_e8ECX2DwnpxQEuKp189KxY27K9l91i02_6hb2vUxrFF5m6FoLaiDi0d4E3PkdKs-XJGjPimP_5h/s200/Hikayat+Kota+Orang-Orang+Putus+Asa+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa" width="156" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;1/ &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BERJALANLAH&lt;/b&gt; ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka. Telaga Dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. "Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!" kecam para Apua (tetua adat). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya Penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah &lt;i&gt;para pendahulu&lt;/i&gt; dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarah. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2/ &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota ynag ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah &lt;i&gt;para pendahulu&lt;/i&gt;. Kelakuanmu itu sangat terlarang!" Begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penasaranku telah menyusahkannya. tetapi, siapapun yang dilarang dengan nada kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;--Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus-asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang kumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka coba-coba mengubah kalimat keramat yang telah dipahatkan ke tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena menista &lt;i&gt;para pendahulu&lt;/i&gt;, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3/&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Jika kau mengikuti bayangan burung Nasar yang sedang terbang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena setitik harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu di batas kota. &lt;i&gt;--Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggalkan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada masanya mereka melakukan sebuah ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai napak tilas dari tugu batu di batas kota, melafazkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepian telaga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak pernah mereka garap. Mereka menghabiskan apa yang ada dan tak peduli jika kelak punah apa pun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yanng dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan. --Harapan adalah dosa mahabesar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dilarung ke dasar telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan bola-bola jamur putih berlendir ynag tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah ynag mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka kerap pingsan seusai memuntahkannya kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apua bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita dari kematian &lt;i&gt;Para Pendahulu&lt;/i&gt; melalui bola-bola jamur putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk karena kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus-asaan yang diberkatkan kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Darah dan luka adalah keputusasaan tanpa batas. Tapi itulah harga sebuah kepatuhan, kata Apua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4/&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;
Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apa pun melebihi keputus-asaan mereka sendiiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti apa yang mereka sampaikan pada setiap orang yang datang ke sini, padaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa &lt;i&gt;Para Pendahulu&lt;/i&gt; memilih kekal di dasarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga humbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. "Pamali, pamali, pamali--" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis," ujarku memohon. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?" Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, "cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Baiklah, jika Tuan tak mau," aku menenangkannya, "tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika si penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. "Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah telah jelas--siapapun yang dilarang dengan kalimat beranama seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgah setiap tempat mereka berkumpul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5/&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Mendongaklah --saat kau mang mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu di depan gerbang kota ini?" Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku. Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. "Tapi aku tak memahami maksudnya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang itu mendelik. "Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?" Aku mendebatnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menegakkan punggung. "Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengawas Kota itu mengangguk tegas. "Tidak ada. Terima saja keadaan kami. Kau tahu --kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang telah kami lakukan turun temurun." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis" --Karenanya, kau akan kami hukum!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tunggu!" Aku berdiri, "aku bahkan bukan warga kota ini." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Pengawas Kota tak hirau padaku lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang telah menganggukkan kepala mereka padanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalian!" Pengawas Kota itu menunjuk dua orang di belakangku, "bawa orang ini ke telaga!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tunggu dulu!--" Aku menolak perlakuan mereka. tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;--Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti  sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dasar telaga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti berlompatan dari bibirku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau tahu --jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat lagi menuliskannya dalam ceritaku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu nyarius tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada apa di bawah sana?" Gadis itu mendesak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Di bawah sana banyak ikan --banyak sekali," suaraku nyaris hilang. "Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak &lt;i&gt;Para Pendahulu&lt;/i&gt;." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku.*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;b&gt;Molenvliet, Januari 2013 &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;ILHAM Q. MOEHIDDIN&lt;/b&gt;, banyak menulis cerpen. Baru saja menerima Anugerah Green Pen Award 2015. </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/4476109034677119589/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/05/hikayat-kota-orang-orang-putus-asa.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/4476109034677119589" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/4476109034677119589" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/05/hikayat-kota-orang-orang-putus-asa.html" rel="alternate" title="Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXGQGL_0lxJOu6icbEMbyaXXqc5RSic-aPmp26kYk7KE-gQS2iZyYpMFGPmnTusTQ7_e8ECX2DwnpxQEuKp189KxY27K9l91i02_6hb2vUxrFF5m6FoLaiDi0d4E3PkdKs-XJGjPimP_5h/s72-c/Hikayat+Kota+Orang-Orang+Putus+Asa+-+Cerpen+Jawa+Pos.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-6889528021208331206</id><published>2015-05-24T14:59:00.000+07:00</published><updated>2015-05-24T15:06:11.767+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Yetti A.KA"/><title type="text">Telepon Keluarga</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;YETTI A.KA&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TELEPON&lt;/b&gt; di rumah ini sudah lama tak berdering. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun. Namun, benda itu tetap berada di atas meja bulat dengan alas kain putih yang selalu bersih. Persis di samping telepon, sebuah buku catatan pesan dengan sampul hitam dibiarkan terbuka, seolah-olah telepon itu akan segera berbunyi dan ada berita penting yang harus dicatat dengan tergesa. Dan orang yang paling suka melakukannya --mencatat setiap pesan yang disampaikan lewat telepon itu-- adalah aku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglX2Lmlp-Us5wHYDILYmwraM-UuhXwqxum1V19Xci4LmZXcMHFT1Esdenb3aG8eXxxTYf6OMwzWNqywjqVIBtdUB-0cJhWrjkA_P5ZFRTM-OPmg1UNUkhGg7QQiJlkF-IkMJOFyO3M-vtX/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Telepon+Keluarga.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Telepon Keluarga" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglX2Lmlp-Us5wHYDILYmwraM-UuhXwqxum1V19Xci4LmZXcMHFT1Esdenb3aG8eXxxTYf6OMwzWNqywjqVIBtdUB-0cJhWrjkA_P5ZFRTM-OPmg1UNUkhGg7QQiJlkF-IkMJOFyO3M-vtX/s200/Cerpen+Jawa+Pos+-+Telepon+Keluarga.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Telepon Keluarga" width="105" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di rumah ini aku hanya seorang anak angkat. Tentang itu memang sama sekali tidak disembunyikan oleh siapa pun. Itulah yang kusukai dari keluarga ini. Keterbukaan (meski tak banyak orang siap dengan itu). Mereka tak menyembunyikan apa pun dariku. Saat aku berusia sembilan tahun, Nenek Ce --begitu kami semua memanggilnya-- mengajakku bicara di bawah pohon yang, bibitnya, paman beli di luar negeri saat ia bertugas sebagai diplomat dan pohon itu tentu mahal sekali dan di sanalah Nenek Ce memberi tahu dari mana asal usulku (di bawah pohon yang mahal itu!) --dan hari ini setelah kupikir-pikir, jangankan manusia, setiap benda saja perlu asal-usul dan Nenek Ce sama sekali tidak bersalah telah melakukannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Hal pertama yang dikatakan Nenek Ce: Kamu bukan anak... --ia menyebut salah seorang anaknya, lalu salah seorang yang lain dan lain lagi yang dulu kukira mereka semua adalah orang tuaku sebab aku memang memanggil semua paman dan bibi-bibiku itu dengan sebutan Papa, Ayah, Daddy, Papi, Mama, Ibu, Mami-- tapi kamu orang yang sama penting dengan... --ia menyebut semua nama cucunya. Selanjutnya Nenek Ce bertanya: Apa kau ingin tahu di mana ibu kandungmu? Sebenarnya aku lebih ingin tahu siapa ayahku ketimbang soal ibu --dan aku tidak tahu kenapa-- tapi aku mengangguk saja ketika itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami semua tidak tahu keberadaan ibumu," ujar Nenek Ce menyesal. Ia merangkul pundakku. Mencium rambutku. Mengelus pipiku dengan jemarinya yang lembut. Dalam hati aku sudah menduga jawaban itu dan barangkali itu yang membuatku tak terlalu ingin tahu. Aku pernah mendengar tentang anak-anak yang dibuang di halaman rumah seseorang dan mungkin begitu juga yang terjadi padaku. Anak-anak seperti kami barangkali memang menyimpan kemarahan pada seorang ibu yang telah meninggalkan kami dengan selembar kain dan botol susu. Jadi kami lebih baik membayangkan saja seorang ayah yang mungkin tidak tahu apa-apa. Kalau saja ia tahu kami dibuang --walau ia seorang bajingan sekalipun-- tetap ada kemungkinan ia bersedih dan menyesali atas ketidaktahuannya, atas sikap pengecutnya tidak bersama ibu ketika kami dilahirkan. Namun seorang ibu yang membuang bajinya? Ah, sama sekali tak ada celah kami bisa berpikir lain kecuali ia seorang PENJAHAT. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memang harus menulisnya dengan huruf besar meski kata Nenek Ce, "Semua ibu pasti mencintai anaknya. Kalau ia melakukan kesalahan itu karena ia sangat tak berdaya. Mungkin ia terpojok, bingung, marah, dan saat itu tak ada orang bersamanya. Kau bisa bayangkan betapa sulitnya?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nenek Ce menatap mataku dan kulihat matanya sangat sendu seakan-akan ia diutus oleh ruh ibuku --kalau misalnya ibu sudah mati-- untuk menyampaikan sebuah kebenaran yang aku tidak tahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hati aku justru menganggap itu semua alasan yang banyak digunakan perempuan-perempuan dewasa yang salah jalan dalam hidupnya untuk bisa melakukan apa pun sesuka hatinya, termasuk membuang bayi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat makan malam bersama seluruh keluarga besar. Nenek Ce mengumumkan pada semua orang tentang pembicaraan kami. Aku diam saja. Begitu pula saat semua mata menatap ke arahku untuk memastikan kalau aku baik-baik saja, kalau aku tak terluka, kalau aku masih seorang anak ceria yang selama ini mereka kenal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu mereka melakukan itu karena rasa cinta yang besar dan karenanya aku tak perlu menyikapinya dengan emosi berlebihan selain tetap diam dan sesekali tersenyum dengan sedikit mengembungkan pipi dan kemudian itu membuat mereka semua tertawa sembari mencubiti pipiku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami makan seperti biasa; makan sambil terus bercerita. Di rumah kami, meja makan memang bukan sekadar tempat makan seperti kebanyakan keluarga yang melarang siapa pun bicara dan hanya membolehkan setiap orang untuk fokus pada piringnya masing-masing. Kami justru sebaliknya, acara makan malam di keluarga kami amat meriah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, jika ada yang berubah adalah benda-benda di sekitar kami yang menjadi tua dan segera dimasukkan ke gudang. Atau pohon-pohon baru yang dibawa paman. Atau rambut Nenek Ce yang bertambah putih dan berkilau dan para paman dan bibiku yang mulai terlihat lamban dalam melakukan beberapa pekerjaan karena tubuh mereka yang mengembang juga kelahiran beberapa orang sepupu baru yang begitu lucu dan memberikan kegembiraan bagi kami semua dan pada akhirnya mulai bertambah pula rumah-rumah baru untuk paman dan bibi di kota-kota lain dan itu artinya rumah kami makin berkurang penghuninya hingga yang tersisa kami berdua saja: aku dan Nenek Ce. Pada saat itulah dering telepon menjadi penting buat kami. Menjadi penghubung kami dengan para paman dan bibi dan sepupu-sepupu selain masa liburan kantor dan sekolah atau hari raya agama kami &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa pagi ini telepon sudah berdering?" tanya Nenek Ce. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa ada di antara paman-pamanmu yang meninggalkan pesan?" tanyanya lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bibimu sudah menelepon dan memastikan kapan akan pulang?" tanya Nenek Ce lagi dan lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan aku segera membacakan apa-apa yang kutulis di buku catatan pesan. Itu memang tugasku. Setiap aku menerima telepon dari para paman dan bibi dan semua sepupu, aku harus mencatatnya karena itu merupakan kabar untuk keluarga dan nantinya semua orang harus tahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu pagi, saat itu tengah bulan Juli, aku terbangun dengan hati yang mekar. Ketika itu aku sudah berusia dua puluh tahun, sudah dua kali patah hati, dan sedang kuliah di sastra -dan aku nyaris tak percaya jika aku sudah sebesar itu dalam waktu yang terasa singkat- kulihat Nenek Ce duduk murung menghadap meja dekat batang pohon --aku juga tak tahu nama pohon itu dan sungguh ada banyak pohon di sekitar rumah kami yang tidak kutahu namanya-- dua cangkir teh melati masih mengeluarkan uap. Salah satu cangkir itu tentu saja untukku sebab di rumah kami hanya aku dan Nenek Ce yang suka teh. Sebagian paman dan bibiku suka minum air putih di pagi hari, sebagian yang lain suka kopi. Semua sepupuku suka susu, baik yang rasa cokelat maupun vanila. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di musim libur ini, rumah kami memang sangat ramai. Namun besok semua akan kembali ke rumah masing-masing, di kota-kota yang tersebar di dalam maupun luar negeri. Nenek Ce memiliki tujuh anak lelaki dan tiga anak perempuan. Dua dari pamanku memilih tidak menikah. Dari semua anak-anaknya Nenek Ce memiliki sembilan orang cucu, ditambah aku jadi sepuluh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semua orang belum bangun," ujar Nenek Ce menoleh ke arahku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertawa kecil. Semalam, semua paman dan bibi dan para sepupu berkumpul di halaman belakang dan kami tidur sangat larut. Kami melakukan berbagai hal. Dan tentu saja lebih banyak makan-makan. Kami memang keluarga yang seru kalau soal makanan. Selebihnya kami diskusi tentang kuliner hingga sepak bola. Juga memperdebatkan tentang politik yang akhir-akhir ini menghangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghirup aroma tanah bercampur embun dan daun-daun muda. Segar sekali. Aku ingin menahannya lama-lama dalam paru-paruku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semalaman ini kau tidak tidur, bukan?" tanya Nenek Ce. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ragu-ragu aku mengangguk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tahu kau tidak bisa tidur lagi jika sudah lewat pukul satu," katanya terkekeh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga Nenek, pikirku dan ikut terkekeh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada satu kebenaran yang belum kusampaikan padamu," kata Nenek Ce, "dan kebenaran ini hanya aku yang tahu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatap Nenek Ce. Merasa takut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau tidak ingin tahu siapa ayahmu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa cemas membuat tubuhku segera mengeluarkan keringat, membuat kulit leherku lembap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nenek Ce menyebut sebuah nama dengan cepat seakan-akan ia takut berubah pikiran. Namun aku merasa tak benar-benar mendengar nama itu atau aku mendengarnya tapi segera mengeluarkannya lagi. Nama itu mengambang demikian lama seperti sebuah kata tak bertuan. Dan butuh beberapa tahun bagiku untuk meyakini kalau nama yang disebut Nenek Ce itu adalah nama pamanku yang suka sekali membawa pulang bibit pohon ke mana pun ia pergi dan menanamnya di pekarangan rumah. Ia salah seorang paman yang memilih tidak menikah dan paling pendiam dibanding yang lain. Rambutnya selalu sangat pendek dan mengenakan kaca mata dengan tangkai warna alami batang kayu. Lumayan tampan tapi terlihat mengerikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu Nenek Ce memang tidak mengumumkan tentang pembicaraan kami dalam acara makan malam keluarga padahal aku menunggu-nunggunya. Aku bukan menginginkan seorang ayah, tapi aku ingin tahu reaksinya. Aku penasaran sekali apa ia menyesal tidak mengetahui tentangku selama ini dan mungkin ia akan menebusnya dengan cara tertentu. Namun kini aku berpikir barangkali saja Nenek Ce tidak melakukannya karena ia tahu pengumuman itu tak akan mengubah apa-apa. Tidak akan membuat paman menoleh ke arahku dengan cara menatap yang berbeda. Tidak akan membuat ia tersentuh dan serta merta mengungkapkan betapa ia berdosa karena telah menolak seorang perempuan yang tengah mengandungku puluhan tahun lalu dan membuat perempuan itu membuangku saal lahir --meski sebenarnya tidak sungguh-sungguh membuang sebab aku diantar ke sebuah pintu yang tepat; pintu rumah kami ini dan Nenek Ce yang pertama kali menyambutku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, seperti biasa, semua pamanku kembali ke rumah masing-masing setelah masa liburan habis. Aku dan Nenek Ce terus menunggu telepon dari mereka untuk mendengar kabar kelulusan para sepupu atau kabar kenaikan pangkat paman dan bibi atau kabar lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Nenek Ce meninggal dunia, aku masih terus menunggu telepon. Hanya saja, sejak itu pula telepon itu sudah jarang berdering, hingga tidak sama sekali. Aku terus menunggu. Paman dan bibi yang lain boleh melupakanku, tapi pamanku yang suka pohon dan telah menolak ibu dan memilih tidak menikah itu seharusnya suatu ketika menelepon ke rumah untuk mengatakan sesuatu yang akan kucatat di buku pesan dan kelak kubacakan pada Nenek Ce. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memijit pangkal hidungku. Kini usiaku sudah tiga puluh tujuh, lajang, tidak pernah meninggalkan rumah, dan kadang-kadang berpikir kalau Nenek Ce masih bersamaku, dan pada hari libur keluarga besar kami berkumpul di sini, walau kenyataannya sudah lama sekali aku sudah hidup sendirian, dan tepat saat aku berpikir begitu telepon di depanku benar-benar berdering. Hanya satu kali. Setelah itu mati. *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;GP, 2015&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;YETTI A.KA&lt;/b&gt;, tinggal di Padang, Sumatera Barat </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/6889528021208331206/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/05/telepon-keluarga.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/6889528021208331206" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/6889528021208331206" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/05/telepon-keluarga.html" rel="alternate" title="Telepon Keluarga" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglX2Lmlp-Us5wHYDILYmwraM-UuhXwqxum1V19Xci4LmZXcMHFT1Esdenb3aG8eXxxTYf6OMwzWNqywjqVIBtdUB-0cJhWrjkA_P5ZFRTM-OPmg1UNUkhGg7QQiJlkF-IkMJOFyO3M-vtX/s72-c/Cerpen+Jawa+Pos+-+Telepon+Keluarga.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-771079331866626702</id><published>2015-05-10T17:01:00.000+07:00</published><updated>2015-06-24T17:13:54.732+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="J. Sumardianta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ruang Putih"/><title type="text">Silang Sengkarut Takdir Istana</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;J. SUMARDIANTA&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWsnIyMCTJWSJv2WFumabIGcu8xIpiuFEOuqAkvtS_eJhyeVoEbTtUp91PSZgpuZsWQ_nnV2e3kreUjU1OYziwH0iC4Mf_7rhdEE1B3wgAokDLkNl2Ikws5ohQyu0xMCD1Y0qqEvDNGQTD/s1600/Jogkarta+Raja+Mataram.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Silang Sengkarut Takdir Istana - Ruang Putih Jawa Pos" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWsnIyMCTJWSJv2WFumabIGcu8xIpiuFEOuqAkvtS_eJhyeVoEbTtUp91PSZgpuZsWQ_nnV2e3kreUjU1OYziwH0iC4Mf_7rhdEE1B3wgAokDLkNl2Ikws5ohQyu0xMCD1Y0qqEvDNGQTD/s200/Jogkarta+Raja+Mataram.jpg" title="Silang Sengkarut Takdir Istana - Ruang Putih Jawa Pos" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;JEPANG&lt;/b&gt; abad ke-18 dilanda wabah cacar merah. Epidemi itu menewaskan sebagian besar populasi kaum laki-laki. Akibatnya, Shogun Tokugawa, pemimpin tertinggi kekaisaran, terpaksa didelegasikan kepada kaum perempuan hingga tiga generasi. Tokugawa Tsunayoshi merupakan generasi kelima Shogun Jepang. Shogun perempuan dengan tindak tanduk kontroversial. Maklumatnya menggegerkan sekujur negeri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinamika politik istana berpusat kepada keinginan para bangsawan agar Tsunayoshi punya anak lelaki. Pelbagai intrik bermuara kepada hasrat suksesi tersebut supaya generasi penerus Shogun kembali bercorak patriarki, bukan matriarki. Lord Nobuhira, suami resmi Shogun, tidak memberikan keturunan. Perkawinan Shogun dengan selir Lord Denbe hanya menghasilkan balita, putri Matsu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Nobuhira, guna memperkuat posisinya di lingkungan istana, merekrut Emmonosuke. Pemuda dari Kyoto itu didapuk sebagai pelayan senior puri suami resmi. Shogun Tsunayoshi terpikat kepada ketampanan dan kecerdasan Emmonosuke. Shogun meminta suami resminya merelakan pelayan senioirnya itu. Shogun menginginkan Emmonosuke menjadi gundik. Sayang, Emmonosuke berusia 35 tahun. Peraturan istana melarang Shogun bercinta dengan lelaki berusia 35 tahun. Emmonosuke lalu didapuk menjadi bendahara kekaisaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wewenang bendahara istana sangat strategis. Emmonosuke, guna mengurangi intrik dan konflik, menyarankan Shogun agar Lord Denbe dibuatkan puri sendiri. Denbe sangat dekat dengan Lord Keishon. Ayah kandung Shogun itu di kalangan para bangsawan dijuluki “rubah lua yang licik”. Suatu hari istana dirundung kiamat kecil. Putri Matsu wafat pada usia 6 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka berlarat bagi Shogun, Denbe, dan Keishon. Tetapi, kesedihan tidak berlangsung lama. Gemuruh istana justru menggeliat dipicu kesedihan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nobuhira, Denbe, dan Keishon punya tabiat sama. Mereka gemar jor-joran, bersaing menyelenggarakan festival panggilan malam. Pesta pora tari bugil gaduh di kebun istana lewat audisi kesenian diikuti para pemuda yang datang dari pelbagai pelosok negeri. Pemuda-pemuda yang lolos seleksi akan diperkenankan menghadiri panggilan malam. Secara urut, mereka diundang Shogun untuk bercinta di kamarnya. Hasilnya, nihil. Jangankan melahirkan orok lelaki. Shogun bahkan setelah 17 tahun, sesudah kematian putri Matsu, tidak pernah bisa hamil lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shogun terkadang juga minta diantar ke Puri Narisada agar bisa bercinta lagi dengan Oguri, suami gubernur Narisada. Oguri adalah pacar Shogun di masa mudanya. Shogun juga mengajak tidur Sudasu, anak lelaki pasangan Narisada-Oguri. Oguri dan Sudasu tewas. Mereka depresi berat mengkhianati istri dan ibu. Wilayah gubernuran dikembalikan Narisada kepada Shogun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shogun pernah meminta dua orang pemuda masuk ke biliknya. Bukan buat &lt;i&gt;orgi&lt;/i&gt; (bercinta campur aduk) dengan Shogun. Kedua pemuda homo itu justru disuruh bercinta diranjang Shogun. Kedua pemuda ketakutan hendak dihukum mati gara-gara menolak permintaan Shogun. Salah seorang pemuda menghunus &lt;i&gt;katana&lt;/i&gt; (pedang pendek) hendak menikam diri. Aksi harakiri itu digagalkan Emmonosuke. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pedang ini buat melindungi Shogun. Bukan untuk dikotori darahmu,” ujar Emmonosuke sambil mengusir kedua pemuda tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shogun, atas anjuran ayahnya, mengeluarkan dekret konyol. Shogun lahir pada tahun anjing. Agar bisa melahirkan bayi laki-laki, dikeluarkan “dekret mengasihi makhluk hidup”. Anjing dibiarkan merajalela di mana-mana. Bahkan, anjing harus dipanggil Yang Mulia. Dekret gila itu makan korban. Seorang perempuan muda tewas dicabik-cabik gerobolan anjing liar saat berbelanja di pasar. Semua orang hanya bisa menonton. Mereka, karena takut dihukum berat oleh Shogun, tidak berani menolong gadis malang tersebut. Jangankan mengusir anjing, seorang kepala keamanan istana dipecat hanya gara-gara menggebuk lalat yang hinggap di wajahnya sampai mati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu malam Shogun nyaris celaka. Dia hampir dibunuh dengan menggunakan belati oleh seorang pemuda yang lolos audisi panggilan malam. Beruntung, Emmonosuke sigap. Pelayan istana yang dijuluki “penjaga ranjang Shogun” itu berhasil mencegah pertumpahan darah dengan menebas tangan pelaku dengan menggunakan samurai. Saat diinterogasi Asanuma, pemuda itu mengaku dendam kepada Shogun. Tsunayoshi disebutnya sebagai Shogun tidak tahu malu dan penggila laki-laki muda. Shogun menyedihkan dengan dekret bodoh. Gadis muda yang tewas dikeroyok anjing di pasar itu tunangan Asanuma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokugawa Tsunayoshi akhirnya sadar. Dia menetapkan Lord Kofu sebagai Shogun baru bergelar Tokugawa Tsunatoyo. Shogun baru dipilih karena prestasinya sebagai gubernur Kofu. Tsunayoshi menentang keinginan ayahnya yang menginginkan ibu tirinya diangkat sebagai Shogun. Tsunayoshi yang sudah bertobat berpikiran sinergis: memutus mata rantai kegilaan dengan mengembalikan takhta kekaisaran pada tradisi patriarki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Kraton Yogyakarta sedang gaduh. Ujung dari seluruh kehebohan tidak lain sengketa soal suksesi. Sri Sultan Hamengku Buwono X belum lama ini mengeluarkan titah yang dianggap kontroversial. Pertama, penyebutan Buwono diganti menjadi Bawona. Kedua, kata Khalifatullah dalam gelar Sultan “Ngarso Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sedasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat” dihilangkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, penyebutan &lt;i&gt;kaping sedasa&lt;/i&gt; diganti &lt;i&gt;kaping sepuluh&lt;/i&gt;. Keempat mengubah perjanjian pendiri Mataram Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan. Kelima, menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun. Sultan juga mengubah nama anak pertamanya. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi. Sultan dinilai tengah menyiapkan anak pertamanya itu sebagai putrid mahkota penerus takhta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adik-adik lelaki Sri Sultan HB X, yakni Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadikusumo, Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo, GBPH Yudhaningrat, GBPH Cakraningrat, GBPH Condrodiningrat, GBPH Suryaningrat, GBPH Suryonegoro, dan GBPH Hadinegoro menentang titah Sultan. Mereka menganggap, jika gelar itu dihilangkan, Sultan sudah bukan raja Kasultanan Jogjakarta lagi. Sultan dinilai tidak mengikuti &lt;i&gt;paugeran&lt;/i&gt; dan hendak memutus tradisi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh anak Sultan HB X adalah perempuan. Menurut tradisi, bila Sultan tidak mempunyai anak laki-laki, yang menjadi penerus suksesi tidak lain adik lelaki tertua yang bergelar KGPH. Jika tidak kunjung terurai, sengketa itu bisa berakibat serius bagi masyarakat Jogjakarta dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jogjakarta selama ini menjadi barometer kehidupan Indonesia. Saking damainya, Jogjakarta dijuluki “miniatur surge”. Kota tersebut paling sulit dirajam kerusuhan karena ada figur-figur pemersatu keratin kasultanan. Solo gampang rusuh karena krisis keteladanan. Para bangsawannya bertikai melulu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat sekarang galau. Bangsawannya ribut, Jogjakarta jadi gampang dibikin gaduh. Konflik pilkada bakal mengeras karena absennya &lt;i&gt;solidarity maker&lt;/i&gt; sebagai juru damai. Apalagi, simbol-simbol budaya Jogjakarta sudah mengalami pergeseran. Kota budaya berubah menjadi kota kosmopolitan akibat terdesaknya penduduk asli oleh warga pendatang. Kota pelajar berubah menjadi megapolitan neoliberal akibat pembangunan mal, hotel, dan apartemen yang tidak terkendali. Di mana-mana kapitalisme itu identik keserakahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan sebuah kebetulan: konflik Kraton Yogyakarta berdekatan waktunya dengan konflik di lingkungan Golkar, PPP, KMP-KIH, Polri-KPK, dan Ahok-DPRD DKI. Mengapa? Semakin rasional manusia modern semakin irasional mentalitasnya. Jangankan bermental menang-menang (&lt;i&gt;win-win solution&lt;/i&gt;). Konflik tetap terbelenggu otak reptil kalah-menang atau menang-kalah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemangku kepentingan keraton harus mengedepankan sinergis -cara berpikirku ketemu cara berpikirmu menghasilkan cara berpikir kita. Mari mendahulukan “kita” ketimbang “aku” agar istana tidak menjadi tempat silang sengkarut takdir (&lt;i&gt;the castle of crossed destinies&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;J. SUMARDIANTA&lt;/b&gt;, penulis buku &lt;i&gt;Guru Gokil Murid Unyu&lt;/i&gt; (2013) dan &lt;i&gt;Habis Galau Terbitlah Move-On&lt;/i&gt; (2014)</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/771079331866626702/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/05/silang-sengkarut-takdir-istana.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/771079331866626702" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/771079331866626702" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/05/silang-sengkarut-takdir-istana.html" rel="alternate" title="Silang Sengkarut Takdir Istana" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWsnIyMCTJWSJv2WFumabIGcu8xIpiuFEOuqAkvtS_eJhyeVoEbTtUp91PSZgpuZsWQ_nnV2e3kreUjU1OYziwH0iC4Mf_7rhdEE1B3wgAokDLkNl2Ikws5ohQyu0xMCD1Y0qqEvDNGQTD/s72-c/Jogkarta+Raja+Mataram.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-2000989702975154712</id><published>2015-04-05T15:49:00.000+07:00</published><updated>2015-05-24T14:42:29.221+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Muliadi G.F."/><title type="text">Cerita dari Negeri Siput</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;MULIADI G.F.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENGUJUNG&lt;/b&gt; semester ini, teman sejawatku, Pak Toni, mendapat kejutan dari sebuah cerita siswa anonim di mading sekolah. Sudah setahun dia pindah ke sekolah di kampung kami, tapi sepertinya masih perlu waktu lama sampai dia mengenali siswa-siswanya; dia tak punya bayangan siapa kiranya yang telah menulis cerita itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrbNRL7rBUxRIMAmkiWHCMtbDJxgRP3XXRkk05uqNF4ytrC0EiGgVI0qCFx9PgDPAfRQVNOm7jpBqtTLYe8bh1PwT3av98dGw1_JvZ0i62Mx39HR-UO3HUZhGuossT16E3-pT7jGiTUrLh/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Cerita+dari+Negeri+Siput.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Cerita dari Negeri Siput" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrbNRL7rBUxRIMAmkiWHCMtbDJxgRP3XXRkk05uqNF4ytrC0EiGgVI0qCFx9PgDPAfRQVNOm7jpBqtTLYe8bh1PwT3av98dGw1_JvZ0i62Mx39HR-UO3HUZhGuossT16E3-pT7jGiTUrLh/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Cerita+dari+Negeri+Siput.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Cerita dari Negeri Siput" width="103" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Aku tahu itu untuk dia karena terlihat sekilas, di atas titimangsa, sebuah kalimat singkat: &lt;i&gt;"Untuk Pak Toni"&lt;/i&gt;. Meski itu pasti mengejutkan baginya tapi aku menduga, sebagai guru bahasa, Pak Toni diam-diam pasti bangga juga ada salah seorang di antara siswa-siswanya bisa menulis seperti itu. Para pembaca, orang-orang yang lewat kemudian membaca cerita tersebut, pasti punya penilaian tersendiri terhadapnya. Dan, di tengah-tengah merekalah, pagi itu aku dan Pak Toni berdiri. Tanpa sadar --sepertinya sudah menjadi kebiasaanku-- aku membaca dengan bersuara, dimulai dari tepi atas kertas di mana tertulis dengan huruf besar-besar judul cerita itu, diikuti paragraf pembuka yang mengenaskan: &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
DONGENG TENTANG DONGENG TENTANG DONGENG &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku melihat daun-daun jatuh dalam kepalaku, melayang turun dengan pelan tak ubahnya sedang mengiris-iris kelam. Semut-semut berjumpalitan di atas daun-daun itu. Mendarat di dasar lubang, tak terdengar apa-apa. tak terdengar suara berdebuk seperti bila sebuah benda berat terjatuh. Mereka, semut-semut itu, lalu mendirikan tenda dari daun-daun kering. Ketika hujan setipis jarum luruh ke dalam lubang, mereka berteduh di bawah tenda daun itu. Untuk menghangatkan badan, mereka membuat api unggun..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dari mana mereka mendapat api?" sela istrimu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hei, lupakah kamu?" sergahmu cepat, tak rela dia memotong cerita. "Cerita ini mengambil &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; di dalam kepalaku. Jadi ketika aku menginginkan sebuah objek maka serta-merta objek itu akan muncul sendiri di dalamnya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, melantur!" kata perempuan itu membalikkan badan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya sudah, kalau tak mau dengar lagi," engkau pura-pura pasang badan, sambil memandang lampu yang telah padam di langit-langit kamar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku ingin mendengar dongeng," suara istrimu tak jelas, seperti menggumam, karena ditangkupkannya kedua tangan di depan mulut. "Bukan cerita amburadul seperti itu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau menoleh memandang punggungnya. Tepat setahun lalu kalian menikah dan mulai tidur bersama. Engkau meninggalkan kota dan pindah ke kampung, tinggal di rumah orang tua istrimu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bapak dan ibu sudah tua, harus ada yang menemani mereka," kata istrimu dulu. "Baiklah," katamu setuju waktu itu; meski adalah dusta kalau batinmu tidak memprotes: "Kenapa harus aku? Kenapa bukan menantu-menantu yang lain?" Akan tetapi, madu manis awal pernikahan mampu melarutkan segala hal, termasuk soal-soal semacam itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sore, iseng-iseng kau bertanya kepada istrimu: "Bagaimana kalau kita sesekali menginap di hotel?" katamu sambil membayangkan sebuah hotel di ibu kota kabupaten yang hanya berjarak delapan kilometer dari kampung. Bisa diperkirakan itu bukan iseng semata. Engkau tentu sadar akan "paradoks angin ribut" di rumah panggung tua seperti rumah mertuamu: betapapun tak diharapkannya, angin kencang bisa menyamarkan goyangan rumah panggung reyot. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar dugaan, perempuan itu menyambut dengan senyum terkulum: "Kapan?" Dia begitu antusias.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkat cerita kalian pun sampai ke hotel itu, masuk ke satu kamar yang cukup resik, berlantai marmer putih mengkilat yang masih menyisakan samar-samar bau cairan pembersih lantai. Di dalam kamar, membujur sebuah ranjang &lt;i&gt;spring-bed&lt;/i&gt;. ada pula meja rias, televisi, pendingin udara, dan tepat di sebelah kiri dari pintu masuk, terdapat sebuah pintu menuju kamar mandi. Di samping jendela, berdiri lemari plastik bergambar pohon sakura. Saat menengadah, pada empat sudut langit-langit kamar tampak berjuntaian hiasan guntingan kertas berbentuk kupu-kupu dan bintang-bintang. Kamar yang sangat sederhana, sekaligus sedikit norak --apalagi dengan adanya hiasan kertas itu-- tapi tak ada lagi yang lebih bagus dari itu. Untuk satu malam, kamar itu menjadi milik kalian. Dan di sana, tak diperlukan angin ribut untuk menyamarkan "aktivitas" yang telah kau rencanakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal pertama yang kalian lakukan di kamar itu adalah makan malam. Dalam perjalanan ke hotel, kalian telah singgah membeli makanan. Soto banjar kesukaan istrimu, dan untukmu sendiri, &lt;i&gt;pallu basa&lt;/i&gt;. Murah meriah. Kalian menyantapnya di atas tempat tidur. Acara makan itu sesekali diselingi tawa cekikikan karena sensasi pengalaman baru makan di ranjang seperti itu. Betul-betul hanya berdua. Di rumah mertuamu engkau akan ditegur habis-habisan bila melakukannya: "Anak tak tahu adat! Makan itu mesti bersama-sama!" --mungkin demikian yang akan dikatakan mertua perempuanmu yang nyinyir itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini pasti akan jadi malam yang indah, katamu dalam hati. Setelah makan, engkau mandi sementara istrimu memesan teh kepada pihak hotel. Ketika giliran dia mandi, kau telah bersandar di ranjang dengan memakai pakaian sejenis kimono berbahan satin merah marun. Selagi bersantai seperti itu, di dalam benakmu mulai berpendaran ulat-ulat keemasan yang berbisik-bisik halus: &lt;i&gt;nanti begini, setelah itu lakukan ini, atau kecuplah lembut keningnya seperti ini, di sini, atau berbaliklah ke sisi ini... seperti itu.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau tersenyum-senyum sendiri. Tiada yang tabu dari semua hal itu. Kau bukan lagi seorang bujangan. Semua itu sudah halal, bisikmu kepada diri sendiri. Karena merasa tak bijak menghabiskan semuanya sebelum istrimu menyatakan kesediaannya sendiri dengan tanpa kata, engkau berusaha mengabaikan ulat-ulat tadi dengan berusaha memusatkan perhatian ke lampu yang menyala tepat di tengah langit-langit kamar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pintu kamar mandi terbuka, meruaplah harum melati ke dalam kamar itu. Dengan gerakan yang seolah tak kasat mata, istrimu memadamkan lampu, lalu menyalakan lilin, kemudian berbaring di sisimu. Setelah itu dia bergerak ke atas, mengecup mesra pipimu, lalu melekatkan bibirnya di daun telingamu. Suaranya lirih: "Tadi aku memikirkan sesuatu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau pun tersenyum samar. Ulat-ulat keemasan dalam kepalamu tertawa nakal. "Apakah gerangan?" katamu selembut mungkin, menatap mata istrimu di tengah cahaya redup kamar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ceritakan kepadaku sebuah dongeng," &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ha?&lt;/i&gt; Perempuan itu kadang memperlihatkan dirinya sebagai makhluk yang sulit dimengerti. Begitulah istrimu selama ini. Engkau tak bisa mengerti kenapa dalam suasana seperti malam itu dia malah ingin mendengarkan dongeng. Engkau tahu dia menginginkanmu, seperti halnya dirimu yang menginginkannya. Tapi kenapa dongeng? Ada apa dengan dongeng? Untuk beberapa jenak kau mengumpat-umpat dalam hati. Namun, bagaimanapun juga kau ingin membahagiakan istrimu pada malam itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, secepat kilat, ingatan membawamu berlari melintasi dua kabupaten menuju perpustakaan universitas tempatmu kuliah dulu. Di rak sebelah barat --kau teringat-- rak di mana terdapat tulisan &lt;i&gt;KAMUS&lt;/i&gt; di atasnya. Tepat sebelah kiri bila dilihat dari pintu masuk, dalam barisan kamus-kamus yang berjejer rapi, terdapat sebuah kamus bersampul merah yang tebalnya bahkan mengalahkan buku direktori telepon. Ingatanmu meraihnya: &lt;i&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga&lt;/i&gt;, tertulis berderet ke bawah di sampulnya; kamus terbitan Balai Pustaka. Ingatanmu lalu membukanya, mencari huruf &lt;i&gt;d&lt;/i&gt;, huruf &lt;i&gt;d&lt;/i&gt;, huruf &lt;i&gt;d&lt;/i&gt;. Sekilas kau lihat kata-kata yang diawali huruf &lt;i&gt;d&lt;/i&gt; berada di halaman dua ratus sekian. Matamu dengan cepat memindai, melompat-lompat mencari kata &lt;i&gt;dongeng&lt;/i&gt;, kata &lt;i&gt;dongeng&lt;/i&gt;, kata &lt;i&gt;dongeng&lt;/i&gt;, dan... eureka! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kau menemukannya: &lt;i&gt;cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh), demikian arti pertama kata dongeng. Adapun arti kedua: dongeng adalah perkataan yang bukan-bukan atau tidak benar.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh yang bisa kauingat, begitulah adanya. Proses itu rupanya telah tertanam kuat dalam memori di kepalamu. Engkau pernah melakukannya untuk tugas mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama Indonesia. Bila mengetahui hal ini, mungkin dosen pengampu mata kuliah itu akan mempertimbangkan nilai C minus yang dulu kau peroleh dinaikkan sedikit menjadi C plus, ya, bila saja... tapi tidak akan lagi. Engkau berani meneleponnya malam-malam dan menanyakan hal itu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah tetap mengherankan buatmu saat menyadari mengapa justru dalam suasana malam yang seharusnya romantis dan "semi-erotis", katakanlah begitu, seperti malam itu, kau malah disibukkan oleh pengertian kata &lt;i&gt;dongeng&lt;/i&gt;. Profesor yang menjadi dosenmu itu tak pernah menyampaikan bahwa dongeng juga berfungsi sebagai pengantar sebelum "berduaan" dengan istri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana, bisa tidak?" Lihat, istrimu mendesak. "Harus ya! Kalau tidak..." Dengar, dengan ancaman pula! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau mencoba berdalih: "Saat ini perhatianku sedang terpusat ke arah lain. Jadi sepertinya sulit" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pokoknya harus!" Lihat sekali lagi, dia melengos sambil melipat kedua lengan di depan dada. "Kamu kan guru bahasa, masak tidak bisa?" katanya menyudutkanmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batinmu mengkal. Sampai ke situkah tanggung jawab seorang guru bahasa, sampai ke urusan tempat tidur segala? Haluan perahumu mulai berbelok. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski demikian, engkau masih ingin berusaha menyenangkan hati istrimu. Karena pengertian pertama kata &lt;i&gt;dongeng&lt;/i&gt; terasa cukup sulit dan jauh bagimu, ini bisa dimaklumi mengingat serbuan ulat-ulat keemasan tadi yang kini telah sampai taraf semakin menggemaskan, sehingga membuatmu sulit memusatkan perhatian pada satu hal yang terpenting saat itu, engkau pun memutuskan untuk melandaskan dongengmu pada arti kata &lt;i&gt;dongeng&lt;/i&gt; yang kedua: &lt;i&gt;perkataan yang bukan-bukan atau tidak benar, ini lebih praktis untuk situasi saat itu. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau mulai membangun ceritamu dengan menyebutkan sekenanya kata-kata yang muncrat dari benakmu, dengan mengabaikan kritik-diri (di sini kau juga bisa memasukkan kami) yang berwujud koor dengan nada mencemooh &lt;i&gt;"huu, itu melantur, ini melantur, itu ngawur, huuu..."&lt;/i&gt; di sekeliling kata-katamu. Dan akhirnya, seperti yang sudah kau duga sebelumnya, dia menolak ceritamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sialan, " kau mengumpat putus asa. Apa yang terjadi kemudian? Tak sesuai harapan. Istrimu bangkit mematikan lilin, menyalakan lampu, dan memilih tidur memunggungimu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau terpaksa menelan keinginanmu dengan perasaan pahit yang sekilas mengingatkanmu pada rasa air rebusan daun kumis kucing. Setelah itu, kau habiskan waktu beberapa lama dengan hanya menatap lampu. Dan sisa malam itu pun berlalu begitu saja, seiring dengkuran halus yang terdengar dari balik punggung perempuan di sampingmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya, tatkala berada di rumah kembali, perasaan suntuk dan sebal serta keinginan melampiaskannya pada sesuatu menuntunmu meraih pulpen dan kertas kwrato bekas ketikan RPP, kemudian menuliskan semua pengalaman malam sebelumnya dengan sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, serinci-rincinya, yang tampaknya tak bisa terpuaskan dengan satu-dua halaman saja. Malam berikutnya, menjelang tidur, tanpa niat yang pasti kau sodorkan tulisan itu kepada istrimu. Dia membacanya dengan muka masam, sangat serius. Lalu, seperti menyadari sesuatu, sudut bibirnya bergerak-gerak, dan ketegangan yang menyelimuti wajahnya (dan hatimu) berakhir saat dia terpingkal-pingkal seraya menutup muka dengan kedua tangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang terjadi sebelum itu, serta yang terjadi setelahnya, mestinya menjadi pengalaman yang indah untuk kalian berdua sepenuhnya, andaikata keesokan harinya kau tidak menceritakannya kepada kami di kelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Selanjutnya..., " katamu, setelah tersenyum cerah menunggu kami selesai tertawa dan siap menyimak kembali dengan wajah serius, "setelah bangkit dari tawa, istriku membuatku merinding dengan menatap mataku lekat-lekat sekitar lima detik. Hening. Was-was. Gelombang-gelombang laut. Kuncup! Segurat intuisi merambat halus di sudut bibirnya. Dan, segala yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Apa itu? Hemm, suatu saat nanti kalian juga akan tahu.." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Suatu saat nanti kalian juga akan tahu?&lt;/i&gt; Aku selalu muak dengan kalimat sok tahu ini. Sekarang pun kami sudah tahu, dalam usia kami yang rerata lima belas tahun ini, kami sudah tahu, bahkan salah seorang dari kami mungkin lebih cerdas dan bisa berimajinasi lebih baik dibanding engkau, hingga dapat melihat dengan jelas sesuatu di balik kata-kata itu --sampai pada kata-kata yang kau gunakan untuk mengelabui diri sendiri. Juga jangan mengira karena tinggal di kampung maka kami tidak bisa tahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau tak menyadarinya, malah terus saja bicara: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sebelum kami berdua tenggelam lebih jauh di ranjang, batinku masih sempat menceletuk, 'dunia ini aneh, heh?' Haha!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami hanya ikut tertawa, lebih keras lagi, terbahak-bahak. Namun bahkan sebelum engkau selesai menceritakan dongeng itu, kami telah menjadikannya lelucon terbaik yang pernah ada sampai saat ini, lelucon yang sanggup bertahan berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, hingga bertahun-tahun kemudian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Untuk Pak Toni&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Negeri Siput, Mei 2014 &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat setelah membaca titimangsa itu aku menoleh, dan kulihat teman sejawatku Pak Toni tak lagi di tempatnya. Mungkin dia telah lebih dulu selesai membaca dan langsung pergi. Aku tak sempat mengetahui reaksinya atau mengamati bagaimana ekspresi wajahnya setelah membaca, tapi kukira dia tentu merasa terpukul. Mengingat-ingatnya lagi sekarang, dengan mudah aku teringat saran guru senior kepada Frank Mc Court dalam memoarnya yang terkenal, &lt;i&gt;TeacherMan&lt;/i&gt;: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nak, jangan ceritakan apa pun tentang dirimu. Mereka hanya anak-anak. Anda adalah guru. Anda memiliki hak untuk privasi. Para hama kecil itu kejam. Mereka bukan teman sejati Anda. Anda tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali potongan-potongan hidup Anda yang tetap tertanam di kepala mereka, jangan beritahukan apa pun kepada mereka." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bertemu kembali dengan Pak Toni pada jam istirahat pertama, aku mendapat kesan berbeda. Dari jauh tampak dia keluar dari kelas dengan senyum merekah lebar dan wajah yang cerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hama kecil yang manis," katanya berisyarat kepadaku ketika kami berpapasan. Aku ragu apa betul dia tak marah karena tulisan di mading tadi? Dia berjalan melewatiku menuju ruang kepala sekolah. Saat aku bertanya ada urusan apa, dia hanya menjawab bahwa dia dipanggil menghadap oleh, seperti katanya sendiri, "hama besar", sambil mengedipkan matanya ke arahku. Ah, Pak Toni, Pak Toni, sungguh di luar dugaan... Mungkin diperlukan kebijaksanaan yang melimpah untuk tetap tersenyum seperti dirinya sekarang. *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Barru, 2011 / Jakarta, 2014 &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;MULIADI G.F.&lt;/b&gt;, lahir di Barru, Sulawesi Selatan. </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/2000989702975154712/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/04/cerita-dari-negeri-siput.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2000989702975154712" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/2000989702975154712" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/04/cerita-dari-negeri-siput.html" rel="alternate" title="Cerita dari Negeri Siput" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrbNRL7rBUxRIMAmkiWHCMtbDJxgRP3XXRkk05uqNF4ytrC0EiGgVI0qCFx9PgDPAfRQVNOm7jpBqtTLYe8bh1PwT3av98dGw1_JvZ0i62Mx39HR-UO3HUZhGuossT16E3-pT7jGiTUrLh/s72-c/Cerpen+Jawa+Pos+-+Cerita+dari+Negeri+Siput.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-7584215796911798458</id><published>2015-03-29T18:48:00.000+07:00</published><updated>2015-05-24T15:07:25.588+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Raudal Tanjung Banua"/><title type="text">Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;RAUDAL TANJUNG BANUA&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7f-sNVyzDGvjjsIab-20wAA5gp9FQEminRd8D6De5E1wQp7onTkWF4dlohY6rU2WYJ5NVPSBjY9eJ6zWW62sBVhdoJuZbteNHdBV3mKyz8kEJMGbNtCwcMYABQhsTTL0ovGR_xMmV1Kq5/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Kota-kota+Kecil+yang+Kulewati.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7f-sNVyzDGvjjsIab-20wAA5gp9FQEminRd8D6De5E1wQp7onTkWF4dlohY6rU2WYJ5NVPSBjY9eJ6zWW62sBVhdoJuZbteNHdBV3mKyz8kEJMGbNtCwcMYABQhsTTL0ovGR_xMmV1Kq5/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Kota-kota+Kecil+yang+Kulewati.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit" width="104" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;DALAM&lt;/b&gt; perjalanan ke suatu tempat, aku sering dibuat takjub justru oleh tempat-tempat yang dilewati, kadang melebihi ketakjubanku pada tempat yang dituju. Barangkali, bisik batinku, tempat bernama kota tujuan telah akrab dikenal, dan kau bakal punya cukup waktu untuk tinggal hingga bosan. Sementara tempat berupa kota kecil yang dilewati hanya lintas sekejap, dari balik jendela bus yang melaju atau kereta yang berlari. Kau tak bisa menyentuhnya, dan kalaupun berhenti, tak bisa lama-lama, mungkin sekian menit di stasiun, seperempat jam di rumah makan atau sebatang rokok saja di warung kopi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aroma tanahnya mulai membubung ke pangkal hidung dan hiruk-pikuknya mulai diresapi, saat itu lonceng keberangkatan kereta berdentang. Atau kernet yang cekatan mencongkel ban telah selesai dan berkata sambil melap tangan, "Berangkat, berangkat!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sekali dua, dalam perjalanan ke kota tujuan, aku mengendarai kendaraan sendiri, namun toh kota-kota yang dilewati tetap saja sebagai kota yang dilewati. Tak lebih. Kota tujuan selalu lebih pasti, sabar menanti. Sebaliknya, membuat kita bergegas, serasa ada terus memanggil. Akan tetapi, ajaibnya, kerap kali kota-kota kecil yang dilewati meninggalkan kesan mendalam, semacam riap penasaran yang membuat takluk.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kali melewati Caruban, dalam bus Jogja-Surabaya atau Denpasar, aku selalu tergeragap melihat kepala seseorang yang beruban tiba-tiba muncul di tepi jalan, dekat kios rokok, lalu menghilang ke ujung gang. Sebenarnya tak menghilang, sebab pikiranku membuntut, bahkan memintasnya. Ya, kulihat kepala yang disangga badan gempal itu masuk ke sebuah rumah, menyalakan rokok yang baru ia beli, duduk menghadap jendela, di samping komputer yag masih nyala. Aku bayangkan dirinya seperti sosok ayah yang menangis, duduk sendirian dalam gelap, dalam sebuah cerita yang pernah ia tulis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ruangan sebelah, seorang bocah terlelap, dan itu saat yang baik buatnya menggarap apa yang berkelebat di kepala, ke dalam tulisan yang saban minggu ia kirim ke koran-koran. Ia menulis sambil mengasuh anaknya yang terkecil, sedari istrinya yang seorang guru pergi mengajar dan anak-anaknya yang lain berangkat ke sekolah. Kadang tetangganya lancang membuyarkan lamunannya. Seseorang iseng bermain senapan angin, membidik ke arah dapur; seorang ibu suka ribut dengan monyet piaraannya yang ia beri nama Chairil. Betapa! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lahir  di Soreang, di barat Pulau Jawa, ia kini bergulat dengan hidupnya yang ia sebut "ganjil", di kota kecil Jawa Timur. Aku tak punya bayangan keganjilan lain dari hidupnya, kecuali jika mengasuh setiap anak yang lahir karena istri bekerja di luar rumah, dapat disebut ganjil. Atau caranya bertahan hidup dengan menulis dan menulis, di tengah harga-harga yang mencekik. Tak pernah bosan ia; begitu setia. Bisa jadi sikapnya yang rada keras kepala untuk tidak memerbitkan buku. Bertahun-tahun ia hanya punya &lt;i&gt;Legiun Asing&lt;/i&gt; yang sesekali masih dapat dijumpai di lapak buku loak, hal yang mungkin membuatnya merasa tak perlu menerbitkan buku lagi, meski ada saja penerbit meminta karyanya. Dan ia menolak dingin, ah, sebenarnya sinis; namun sembari itu ia tak henti menulis bahkan untuk terbitan kecil komunitas. Tidakkah di tengah pesta-pora dunia terbitan, yang mengelak bisa disebut ganjil? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang itu, Anda tahu, Beni Setia, nama yang senantiasa bangkit tiap kali aku melewati Caruban, entah mengapa. Adakah segala sesuatu perlu alasan dan penjelasan? Aku tak punya alasan untuk itu, dan tak bakal sanggup menjelaskannya. Biarlah nama itu bangkit meriap dari jendela bus, seolah rambut yang beruban menjinakkan waktu dengan langkah gontai ke dalam gang. Sekali waktu ia memutar wajah membelakangi kios rokok tepi jalan. Saat itulah mata kami bersirobok tanpa ucapan. Segalanya berlalu dalam keabadian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
DARI Caruban, sehabis Madiun, aku pernah menyusur lebih ke pedalaman: Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan. Karena menemani istriku meneliti batik, kedatanganku tak cukup sekali. Jika naik bus dari Jogja tempat kami tinggal, kami turun di Madiun, berganti bus untuk melanjutkan perjalanan ke selatan. Aku akan tergeragap melewati beberapa kota kecil yang merentangkan &lt;i&gt;deja vu&lt;/i&gt;: Balong, Slaung, Tegalombo atau Sawo. Jika kami berangkat lewat jalur Klaten dan Gunungkidul, di sekitar Wonogiri aku pun tersirap saat memasuki Jatisrono, Wuryantoro, Baturetno, Purwantoro, Badegan atau Sumoroto. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu kota-kota kecil pelintasan di tengah hamparan sawah, di lembah Pegunungan Sewu; hijau dan biru menyatu jadi latar kota, mengaduk perasaanku entah dengan warna apa. Sebab seiring dengan itu nama-nama serentak bangkit, meriapkan ingatanku pada sebuah buku bertuliskan warna merah, di atas latar kusam abu-abu; &lt;i&gt;Madiun 1948&lt;/i&gt;. &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, ketika di Madiun, tiada nama yang terlalu menyengat di pikiran. Satu dua nama teringat, tapi tergenang di kepala, mampet. Sama halnya ketika di Jogja, sesekali saja aku mengingat Soedirman, namun di jalur alternatif Pegunungan Sewu, namanya bangkit beribu, mengharuku. Ya, kota-kota di jalur itu tak hanya menyuguhkan peristiwa &lt;i&gt;longmars&lt;/i&gt; tentara merah ke garis demarkasi pada masa agresi pertama, juga jalur gerilya Jenderal Soedirman pada agresi Belanda yang kedua. Tanpa disadari, garis &lt;i&gt;longmars&lt;/i&gt; tentara merah dan peta rute gerilya membentuk irisan di beberapa kota, seolah gerhana di semesta sejarah kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, Madiun dan Jogja identik dengan tujuan utama. Sebagaimana sosok Soedirman, muara segala cerita tentang gerilya. Tandunya menjelma Gunung Wilis dan Lawu di kepalaku; kerucut yang menaung kisah-kisah abadi di buku sejarah. Meski tak ada jaminan anak-anak sekolah terus ingat, toh namanya erat melekat di dinding kelas, plang jalan, rumah sakit dan universitas. Sebaliknya nama-nama (yang terlanjur dianggap) kecil disebut serba sedikit, semacam kota lintasan yang jauh dari tujuan. Tapi, siapa nyana, lantaran itu ia menimbulkan rasa penasaran, tatapan sekilas yang kekal seumur badan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kiranya, di kota kecil yang kulewati, nama-nama bangkit bersama peristiwa tak terduga. Di Balong, menjelma tengah hari, di antara deretan pohon mahoni, kulihat bayang-bayang seorang laki-laki tambun menyeberang jalan. Ia merapat, sehingga bayangannya menyatu dengan bayang pohon. Beberapa pemuda dari balik pohon lain mengikuti jejaknya. Dalam gema panjang udara lengang, seolah kudengar mereka bercakap dalam nada tegang. Puncaknya, si tambun melepas tembakan dan seseorng terkapar di seberang. Orang-orang lari berkerumun. Saat itulah si tambun keluar, tangkas membajak sebuah dokar yang lewat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia acungkan pistolnya ke udara, lalu bersama dokar yang dipacu kencang, ia bergerak menuju Sumoroto. Para pemuda yang perhatiannya tadi sempat teralih, segera sadar dan bergegas mengejar naik sepeda. Di Sumanding, dokar berpapasan dengan sebuah mobil yang ternyata berisi para perwira. Maka terjadilah tembak-menembak antara perwira di mobil melawan seorang tak kenal menyerah di atas dokar yang terbuka. Lalu, kuda dokar rebah terjungkal! Ringkik panjangnya terasa bergema di telingaku hingga sekarang. Menyusul laki-laki tambun jatuh berdebum. Sambil memegang dadanya yang sebelah kiri, ia regang kata penghabisan, "Aku Musso, lebih baik mati daripada menyerah. Tapi aku tetap merah putih!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian senyap. Hanya mesin bus terdengar pelan merayap. Kaca depannya seolah layar dari mana aku melihat gambar laki-laki tambun terbaring di atas tikar pandan. Tangan gempalnya terlipat ke dada yang buncah oleh darah. O, Musso, jauh dari Moskow, di kota kecil Sumoroto engkau akhirnya terbaring; bersama darah yang tak kunjung mengering! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Waktu itu, 31 Oktober 1948: 11.00... &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba bus yang kutumpangi &lt;i&gt;ngerem&lt;/i&gt; mendadak. Ada rombongan pengantin di atas rangkaian kereta kelinci, muncul dari tikungan. Aku tersentak. Dari plang sebuah sekolah kubaca nama tempat kami berhenti: Slaung. Ajaib, hatiku juga terasa &lt;i&gt;suwung&lt;/i&gt;. Teringat dulu di Slaung ada juga yang berpapasan di jalan. Sesama kawan, tapi awal mereka berpencar. Alimin bermobil dari selatan, dari utara tiba rombongan Musso beserta Amir. Mereka menepi di sebuah warung berunding. Di Slaung mereka bermalam, untuk akhirnya berpisah karena kelebut subuh, Alimin dan rombongannya sudah berangkat menuju Solo, lewat Baturetno. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubayangkan, Musso dan Amir yang kelelahan bangun agak siang, lalu melanjutkan perjalanan. Sesampai di Tegalombo mereka pun berpisah; Musso ke selatan, Amir ke utara. Ketika Pacitan diserbu tentara republik, susah-payah Musso berbalik ke arah Ponorogo. Dan berakhir di Sumoroto, daerah &lt;i&gt;warok&lt;/i&gt; dan bekas Kerajaan Bantarangin. Senyap, dingin.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
DI Baturetno aku pernah berhenti minum kopi (waktu itu kami membawa kendaraan sendiri), di sebuah warung dekat sawah. Banyak juga orang lain ikut minum, para petani yang mau pulang atau baru datang hendak mengatur air. Mereka bercerita dalam tegur sapa, dan tertawa tanpa prasangka. Cahaya petang menyepuh padi yang berombak, dari mana aku menampak bayang-bayang deretan punggung bergegas di pematang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Apakah rombongan Alimin yang hendak meminta perlindungan kepada para petani yang sejinak burung-burung tekukur ini? &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana kabar Yatno sekarang, Pak De?" seseorang bertanya pada lelaki setengah baya yang duduk mencangking gelas kopinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Masih di Jogja. Tampaknya bakal betah," jawabnya sambil tersenyum padaku. Itu cukup membuyarkan lamunanku; bak menghalau burung tekukur ke padang tutur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jual bakso apa kacamata, Pak De?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kacamata. Ia buka optik di Bantul, di depannya ia tulisi besar-besar &lt;i&gt;'Optik Tengah Sawah Terkenal Murah'!&lt;/i&gt;" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang tertawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Memang anak petani, ke mana-mana tak lupa sawah," gerutu seseorang di sudut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lha, iya, &lt;i&gt;wong&lt;/i&gt; optiknya benar-benar di tengah sawah," jawab orang yang disapa "Pak De" itu dengan mimik lucu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itulah, Pak De, anak petani mau bikin apa-apa mana bisa jauh dari sawah..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Sek, sek, opo hubungane sawah karo rego murah?&lt;/i&gt;" laki-laki di sudut tadi garuk kepala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya tanya cucuk, juga &lt;i&gt;ndak tau&lt;/i&gt;. Yatno, anakku, hanya &lt;i&gt;mesem-mesem&lt;/i&gt;. Tapi ada benarnya dia. Yang berhubungan &lt;i&gt;karo&lt;/i&gt; sawah pasti murah &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt;? Upah murah, gabah murah..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Beras mahal, Pak De!" sambar laki-laki bertopi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lha, iya, pupuk &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; juga mahal..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdengar lagi tawa menyambut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu, di Jogja, perantau Baturetno banyak berjualan bakso dan kacamata. Kini dengan perantara kacamata, lamunanku kembali memintas bayangan punggung di pematang. Ketika salah seorang menoleh ke belakang, sesosok wajah menyengatku. Wajah laki-laki kurus berjenggot tipis: Wikana! Dia yang berdiri rapat dengan Bung Karno-Hatta dalam kumandang proklamasi di langit Jakarta, berselang tiga tahun ia kepalkan tangan di Madiun, untuk akhirnya jadi pelarian di bukit kapur. Di Baturetno ia berpisah dengan Alimin, kemudian di rumah seorang penduduk, ia duduk di depan cermin. Ia copot gigi palsunya, ia cukur jenggotnya (apakah juga mengganti kecamatanya?). Lalu ia kembali ke ibu kota lewat "ppintu belakang": Baturetno-Karangmojo. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyamaran yang sempurna! Bahkan aku pun nyaris tak mengenalnya, susah-payah kukembalikan ingatan padanya. Bayangan itu hablur sudah. Sebelum pamit kepada para petani yang jiwanya semurni lumpur sawah, kutandaskan kopiku dalam rasa berbeda: &lt;i&gt;O, dunia, bukan sekadar panggung sandiwara! &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
TIAP melewati hutan jati Ngawi, mataku akan setengah terpejam membayangkan adegan silam yang bukan sandiwara. &lt;i&gt;Penduduk desa terheran-heran melihat ribuan orang tiba-tiba muncul, tak hanya tentara dan penduduk sipil. juga para perempuan dan anak-anak yang digendong di pinggang. Jalan penuh sesak oleh manusia&lt;/i&gt;. &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tahu, setelah meninggalkan Tegalombo, Amir dan rombongan terus ke utara. Meski berhasil melintasi jalur kereta dan jalan raya utama di hutan jati antara Solo dan Madiun, dekat Walikukun, Ngawi, rombongan Amir tak kalah susah-payah menyelamatkan diri. Mereka menyetop kereta api barang hanya untuk menyeberang seolah permisi hendak lewat. Lalu melintasi jalan raya, membuat kendaraan berhenti dari kedua arah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah megapa pada bagian ini aku teringat cerita waktu di kampung tentang kisah tikus menyeberang jalan. Konon mereka di bawah asuhan Khaidir dan Nabi Sulaiman. Waktu itu, di hulu sungai kampungku ada proyek irigasi yang menggempur bukit dan tebing batu. Maka sosok yang mengerti bahasa binatang dan kasih pada semua makhuk itu menggiring mereka ke tempat aman. Tapi, juru selamat manakah gerangan yang menggiring rombongan Amir? Sebuah insiden malah terjadi di sini. Massa menangkap penumpang sebuah mobil. Mobil mereka dibakar, dan mereka dibunuh. Seorang di antaranya Gubernur Soerjo, veteran Perang Surabaya, yang baru menghadiri pembukaan PON di Solo.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Kedunggalar kini berdiri Monumen Gubernur Soerjo, tangan kiri menekan tongkat tangan kanan menunjuk terangkat. Ia dikawal dua patung  polisi; ke mana yang lain pergi? Ke mana sopirnya yang tertembak lebih dulu? Di kepalaku berkelabat kalimat pembuka novel Kundera tentang lupa dan gelak tawa: Klement Gottwald, ketua komunis Ceko, menghilangkan wajah mantan rekan politiknya pada foto mereka di balkon. Tapi topi yang dia pinjam dari si rekan nangkring abadi di kepala Klement.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
DENGAN mata berkaca dan hati yang takzim, engkau tentu pernah membaca kisah-kisah &lt;i&gt;longmars&lt;/i&gt; negeri ini. Satu di antaranya perjalanan panjang pasukan Siliwangi dari Bandung ke Jogjakarta. Sedih dan terlunta. Tak hanya fisik, juga mental-psikologis akibat Perjanjian Renville yang hanya menyisakan republik tak lebih sekepal tangan.Namun kisah &lt;i&gt;longmars&lt;/i&gt; pasukan merah dari selatan ke utara Jawa tiada kalah menyengsarakan. Dan ironisnya, pasukan Siliwangilah yang mengejar mereka! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika lewat Wirosari, kota kecil dekat Purwodadi, darahku bergolak bagai Bledug Kuwu, membayangkan rombongan berjalan dari Randublatung dan Cepu. Ya, setelah insiden di Kedunggalar, dalam nestapa tak berampun, masih ada seribu satu anggota keluarga  dan delapan ratus pasukan Amir yang bersisa. Mereka terus berjalan. Tak kalah ironis, mereka menuju garis demarkasi di seberang Kali Lusi, garis yang notabene ditoreh sendiri oleh Amir di atas geladak kapal Renville! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melewati Sukolilo dari Pati, aku menghirup aroma durian di sepanjang jalan kota kecil perbukitan itu. Kubayangkan rombongan pelarian timbul-tenggelam di balik tikungan, memanjang, naik-turun, memikul beban. Dari Wirosari ke Sukolilo, garis demarkasi tak jauh lagi, namun segalanya tetap tak mudah. Bahkan makin dekat, semakin membayang kekhawatiran. Maut dan kemungkinan ditangkap. Maka mereka mendahului menangkap. Lebih dari 20 orang dibawa ke kebun durian, lalu dilepas, dititipi surat ajakan menghentikan perang saudara. Adakah kata terlambat untuk menghentikan pembunuhan sesama bangsa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu, ternyata punya limitnya sendiri. Sesekali mungkin bisa dijinakkan. Ingatlah langkah gontai pengarang kita di gang Caruban, bersama uban manis di kepala. Tapi lebih sering liar seperti telegraf mengimbau-imbau Musso dari Moskow. Ibarat itulah surat-surat kusam-kelabu di saku tawanan Sukolilo; surat cinta yang datang terlambat, saat revolusi tiba di ujungnya. Hanya ada dua pilihan: mati atau takluk. Membayangkannya saja hatiku remuk. Bersama kalimat yang kubaca dalam buku abu-abu, berkelebat bayangan anjing herder Maladi Yusuf yang berlari melolong-lolong seolah minta tolong kepada langit sehening batu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga di rawa-rawa Godang. Tiga orang kakap ditangkap. Djokosoejono, Maroeto Daroesman, dan Sardjono. Seolah tak percaya pada langit yang terbuka atau kisah anjing masuk surga, mereka hanya yakin ikhtiar total di bumi. Maka mereka mengaku tak akan menyeberang ke wilayah &lt;i&gt;status quo&lt;/i&gt;, kecuali ingin bergabung dengan pasukan Soediarto dan Soejato yang ternyata telah dihancurkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Amir Syarifuddin, mantan perdana menteri yang tertangkap dalam pucat disentri, bukankah masih memegang Injil, kitab langit yang dijanjikan? &lt;i&gt;Sesungguhnya pada-Mu, tak ada yang mustahil&lt;/i&gt;. Namun, jika itu lelucon, aku dan &lt;i&gt;Sampeyan, toh&lt;/i&gt; masih bisa melihat di peron, bayang-bayang Amir membaca Shakespeare, di kereta langsir, membawanya ke Jogja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
AMIR, dalam perjalanan Medan-Sibolga, seharusnya namamu bangkit lebih dahulu, saat di jendela bus kulihat gereja dan masjid bersilih. Ya, kubayangkan seorang pemuda Batak dengan dua kitab suci, masih terus gelisah mencari. Tapi semua sia-sia, maksudku, sosokmu sia-sia jadi utuh di kepalaku. Sadarlah aku bahwa nama-nama tak bisa dibangkitkan. Nama-nama bangkit sendiri bersama peristiwa, perasaan tanpa alasan atau &lt;i&gt;deja vu&lt;/i&gt;.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, di Perbaungan akhirnya bangkit sebuah nama, masih beraroma revolusi, meski tak lama. Dan ia juga bernama Amir. Amir Hamzah. Penyair yang mencintai tanah airnya seperti cintanya kepada ibunda yang memanggil pulang. Gubahan syahdu syair-syair Amir, seperti nasibnya yang berakhir di ujung sangkur para pembakar istana.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lewat di Prapat, terbayang Syahrir turun ke air, di tepian danau. Air mengelucak saat ia membasuh muka, Membuat bayang-bayang Syahrir cepat jadi pudar, seolah teraduk ujung dayung Banda Neira. Kueja nama Soekarno dan Agus Salim. Tapi bersama bus yang melaju wajah mereka bersalin jadi deretan cemara gunung. Mungkin saatnya aku melupakan nama-nama, memejamkan mata dalam lelah. Namun begitu masuk Balige, aneh, nama seorang opung mengepungku tiba-tiba: Sitor --Sitor Situmorang! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Siapakah yang meminta sebuah kota dilahirkan? Siapakah yang membuat sebuah nama berkecambah di udara lengang? &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bus berhenti dekat pasar dengan deretan los beratap rumah adat, serupa huta di kaki bukit. Suasananya hiruk sedikit. Lengking pluit tukang parkir. Deru mesin dan decit rem. Irama tortor di kaki lima. Suara-suara kental keras berpilin dalam percakapan akrab. Ah, Balige, kota yang bergerak di antara dua dunia. Dunia dulu dan kini. Ritus dan liturgi. Bioskop, kantor praja dan sekolah berdiri, namun dunia lama tetap meninggi: pasar yang penuh tawar-menawar, upacara demi upacara dirayakan. Kutemukan gerak laju kota itu dalam sosok Situmorang. Dia yang tercengang akan dunia baru, sambil mengenang silau tepian danau di mana ibu diam menunggu. &lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecuali Balige, di nama Sitor kota lain pun bangkit. Kota pertama, Sibolga, yang ia sebut "Kota S", pernah dinyatakannya sebagai:...&lt;i&gt;kota yang tumbuh tak berguna&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;. Kuduga bukan karena tak berguna --sebagaimana diakuinya kemudian-- tapi kota itu terlalu kosmopolit bagi jiwanya yang sedang mencari pijakan. Ia berpisah tanpa ikatan, kecuali mimpi samudera dan benua jauh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tarutung di lembah Silindung memberinya cinta-kasih tertuntung. Percintaan remaja yang nelangsa oleh ciuman pertama, gugup tertuda. Maklum, selain bioskop, listrik, air ledeng, kantor residen dan tangsi garmisun, di Tarutung ada gereja dan wajah suci bapak pendeta. Dan Balige, kuduga tempat di mana Sitor mula-mula jadi "manusia perbatasan".&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;O, ternyata bukan hanya kota-kota yang membangkitkan nama-nama, nama-nama pun membangkitkan kota-kota! &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, menyebut Sitor tak hanya tiga kota di jantung Sumatera jadi hidup, meski kini perlahan redup: Balige, Sibolga, Tarutung. Juga tiga ibu kota yang kian renta dan sayup: Jogja, Bukittinggi, Jakarta. Bahkan di namanya kota-kota dunia lintas menderap: Singapura, Paris, Amsterdam, Islamabad. Lalu Apeldoorn, dalam dekapan alzheimer... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kawan, bagiku tak ada yang lebih mendebarkan selain meunggu giliran pijat, tak ada paling menakutkan selain menunggu gigi dicabut, tak ada yang lebih membuat gugup kecuali naik bus dan kita bersiap untuk berteriak, "Stop, Pak Sopir!" Itu semua membuat kencing melimpah di kantong kemih, dan dada serasa mau pecah. Jika ketiganya sudah terlaksana --badan dipijat, gigi dicabut, bus berhenti-- segalanya terasa lega, dan kita segera lupa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam perjalanan ke kota tujuan, debar pada kota-kota lintasan membuatku tak mudah lupa. Terlebih jika ia bersekutu dengan nama-nama. Tak mesti nama dan peristiwa besar, tapi entah mengapa dan bagaimana sanggup membuat kepalaku teleng. Apalagi yang akan kukatakan tentang ini? Kurasa aku harus berhenti. Mumpung bus menunggu penumpang, aku tak perlu berteriak minta turun. Biarlah sesekali kota lintasan kujelajahi, bersama nama-nama yang mungkin sudah dilupakan. Hingga ia pun bernama tujuan, lebih pasti, menanti. &lt;i&gt;Sabar, setia selalu&lt;/i&gt;.&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt; *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Balige- Grobogan-Jogja, 2013-2015 &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;RAUDAL TANJUNG BANUA&lt;/b&gt;, sastrawan kelahiran Taratak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dia kini mengelola Komunitas Rumah Lebah Jogjakarta, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;Catatan: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. &lt;i&gt;Madiun 1948: PKI Bergerak&lt;/i&gt; oleh Harry A. Poeze (KITLV-YPI, 2011) &lt;br /&gt;
2.&lt;i&gt; ibid&lt;/i&gt;, hal. 264. Berbagai adegan dan peristiwa yang berhubungan dengan &lt;i&gt;longmars&lt;/i&gt; Amir, dkk. bersumber dan diceritakan ulang dari buku ini. &lt;br /&gt;
3. Lihat &lt;i&gt;Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45. Penyair Danau Toba&lt;/i&gt; (SH, 1981). &lt;br /&gt;
4. Lihat &lt;i&gt;Salju di Paris&lt;/i&gt; (Gramedia, 1994) &lt;br /&gt;
5. Istilah Subagio Sastrowardoyo dalam &lt;i&gt;Pengarang Indonesia sebagai Manusia Perbatasan&lt;/i&gt; (BP, 1989). Dalam kasus ini, menurutnya, Sitor penyair paling parah tingkat keterasingannya. &lt;br /&gt;
6. Amir Hamzah, "Padamu Jua".</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/7584215796911798458/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/kota-kota-kecil-yang-kulewati-dan-nama.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7584215796911798458" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7584215796911798458" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/kota-kota-kecil-yang-kulewati-dan-nama.html" rel="alternate" title="Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7f-sNVyzDGvjjsIab-20wAA5gp9FQEminRd8D6De5E1wQp7onTkWF4dlohY6rU2WYJ5NVPSBjY9eJ6zWW62sBVhdoJuZbteNHdBV3mKyz8kEJMGbNtCwcMYABQhsTTL0ovGR_xMmV1Kq5/s72-c/Cerpen+Jawa+Pos+-+Kota-kota+Kecil+yang+Kulewati.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-5052137746716285716</id><published>2015-03-22T18:33:00.000+07:00</published><updated>2015-05-24T15:08:20.481+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bamby Cahyadi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type="text">Tidak Mudah Menjadi Hantu</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;BAMBY CAHYADI &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SULTAN&lt;/b&gt; Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas akibat sengatan listrik di ruang tamu rumahnya. Ya, ketika itu usianya 38 tahun, dan apabila ia masih menjalani kehidupan sebagai manusia bernyawa maka kini ia genap 45 tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZE1lL0ZQ_KI-3GwwjGKnBO925vD9dK7TYgGSgvuNk2SFaM6oMalyr63V6i25_3mpkBvdIHi5o5lxn21fRlXZUhdT-UoErTozDKQa9YesPI62Ja7EDFT2yg5ZjTBmxIUEp0NQEMQ0Gceo2/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Tidak+Mudah+Menjadi+Hantu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Tidak Mudah Menjadi Hantu" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZE1lL0ZQ_KI-3GwwjGKnBO925vD9dK7TYgGSgvuNk2SFaM6oMalyr63V6i25_3mpkBvdIHi5o5lxn21fRlXZUhdT-UoErTozDKQa9YesPI62Ja7EDFT2yg5ZjTBmxIUEp0NQEMQ0Gceo2/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Tidak+Mudah+Menjadi+Hantu.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Tidak Mudah Menjadi Hantu" width="98" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sultan Saladdin adalah lelaki baik-baik. Berumur tiga puluh delapan tahun kala itu, menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertama tanpa anak, pernikahan kedua ia beroleh dua orang anak. la bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah mingguan ternama di ibu kota, dan ia begitu mencintai buku, terutama buku sastra. Ia bergabung dengan komunitas penikmat sastra dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sastra yang diselenggarakan oleh komunitas di mana ia menjadi anggota, meskipun bukan sebagai anggota aktif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedengarannya memang konyol dan agak berlebihan, Sultan Saladdin baru mengetahui kematiannya setelah 7 tahun kemudian. 7 tahun, bukan 7 bulan, apalagi 7 hari. Lalu ke mana saja ia selama 7 tahun setelah kematiannya yang menyedihkan itu? Ia sendiri tampak bingung. Dahinya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. Saat ini ia merasa masih hidup. Dan, saat ini ia berada di sini, di rumahnya sendiri, sebagai hantu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dengan kondisi masih linglung. Sultan Saladdin berjalan menuju dinding ruang tamu, agak ragu-ragu ia menerabas masuk melalui dinding dan ia berhasil. Ia bisa menembus dinding tanpa terhalang lapisan semen dan batu bata di dalamnya. Ia lolos begitu saja serupa angin yang menembus kelambu. Ia kini di kamar tidur, istri dan anak-anaknya tidak ada di rumah saat ini. Kamar tidur lengang. Ia melihat sebuah sisir yang tergeletak di atas kasur. Dengan tangan kanannya ia berusaha untuk mengambil sisir tersebut dan memindahkannya ke meja rias, namun hal itu tidak bisa dilakukannya. Sisir itu seperti menjelma menjadi air yang hendak digenggam. Sultan Saladdin hanya memegang udara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai hantu yang baru berada di dunia lain, Sultan Saladdin belum menyadari bahwa untuk memindahkan benda para hantu harus mempelajarinya secara serius, karena dibutuhkan kemauan, kesabaran, kerja keras, dan stamina yang mumpuni. Pada kenyataannya menjadi hantu tidaklah mudah bagi Sultan Saladdin. Ia mulai frustrasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Saladdin beranjak dari kamar tidur, ia menembus dinding kamar tidur menuju ruang makan. Ia tertegun sejenak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika tiba di ruang makan, ia berharap mendapatkan suasana yang lebih ceria ketimbang di kamar tidurnya yang muram. Kenyataannya ia menemukan sebuah ruang yang begitu sepi. Ia melihat sekeliling ruangan. Ada meja makan, enam kursi, dan lemari pendingin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah jam besar menghadap ke arah Sultan Saladdin, dan ia mengamati jarum detiknya bergerak dengan jemu, seakan menegaskan lambatnya pergantian waktu bagi hantu seperti dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak ada siapa-siapa," gumamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Saladdin menghela napas, bertanya-tanya mengapa ia menjadi hantu setelah 7 tahun kematiannya. Ia memiringkan kepala, berpikir keras lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi hantu setelah 7 tahun kematian memang sesuatu yang aneh. Namun karena ia memiliki daya ingat yang luar biasa, perlu diingat ia seorang wartawan semasa hidupnya. Samar-samar lantas makin tajam dan jelas Sultan Saladdin ingat ketika masa ia hidup, 7 tahun yang lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Saladdin ingat betul, sehari sebelum kematiannya ia menonton berita di sebuah kafe di kawasan Kuningan dekat kantor KPK. Sambil minum secangkir kopi hitam tanpa gula dengan Salman Rusdie, Sofyan Muharram, dan Sabar Dwisunu. Mareka adalah sesama wartawan dari media yang berbeda. Salman wartawan senior &lt;i&gt;Koran Koma&lt;/i&gt;, Sofyan reporter dari &lt;i&gt;Merko TV&lt;/i&gt;, dan Sabar selaku juru kamera. Mereka baru saja meliput konferensi pers yang digelar oleh Ketua KPK Ibrahim Saman tentang penangkapan salah satu pimpinan KPK, Bumbung Wijaya Kusumah, oleh Bareskrim Mabes Polri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada yang luput dari ingatan Sultan Saladdin kejadian pada malam musibah itu terjadi. Malam itu Jakarta dicekam musim hujan yang keji. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuh tahun yang lalu, esok hari setelah ia minum kopi di kafe dekat kantor KPK seperti biasa ia pulang dari kantornya dengan mengendarai motor kesayangannya menjelang tengah malam. Ia mengendarai motornya dari seputaran Senayan menuju Tebet, Jakarta Selatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, di beberapa tempat orang-orang masih tampak menggerombol. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung yang menjual kopi dan minuman keras murahan yang masih buka di depan kompleks perumahannya. Semakin malam situasi semakin sepi. Orang-orang yang bergerombol tampak menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba, ketika ia sampai di rumahnya hujan pun telah turun dengan deras. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuka pintu pagar dan memarkirkan motornya di depan teras rumah, Sultan Saladdin mendadak merasa ada yang tidak beres dengan istri dan anak-anaknya. Malam itu, tidak seperti biasanya istri atau anak-anaknya tidak membukakan pintu untuk menyambut kedatangannya ketika deru motor menggerung di depan pintu pagar. Sampai-sampai mereka pun lupa menyalakan lampu teras. Hatinya mendadak merasa was-was, perasaan khawatir menyeruak menggigit-gigit ulu hatinya. Apakah istri dan anak-anak tidak berada di rumah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah suatu ketika, saat ia pulang kerja malam hari, keadaan rumah lengang seperti rumah yang tak ada penghuninya. Lampu teras padam, di dalam rumah gelap gulita dan tak terdengar samar-samar suara televisi yang ditonton anak-anaknya. Waktu itu, karena bingung dan ponsel istri dan anak-anaknya tidak bisa dihubungi, ia kembali ke depan kompleks dan bertanya kepada pemilik warung di situ. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah Bapak melihat ke mana istri dan anak-anak saya pergi?" tanya Sultan Saladdin kepada pemilik warung. Biasanya apabila berpergian dengan kendaraan umum, mereka selalu menunggu taksi atau angkot di depan warung itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tadi ibu dan anak-anak naik taksi ke arah sana, Pak," jawab pemilik warung menunjuk ke arah Manggarai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, waktu itu kekhawatiran Sultan Saladdin segera pupus ketika menerima pesan pendek dari istrinya bahwa ia dan anak-anak ke rumah orang tua istrinya karena sang ayah mertua terkena serangan jantung. Legalah hati Sultan Saladdin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam ini berbeda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan seorang suami dan ayah dari dua orang anak ini tiba-tiba membuat hati Sultan Saladdin semakin gelisah. Setelah ia mencopot helm yang membungkam kepalanya dan menanggalkan jaket yang memeluk tubuhnya, diketuk-ketuklah pintu rumah sambil mengucapkan salam berulang-ulang, tapi tak ada jawaban dari dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah suara deras hujan mengalahkan suara ketukan pada pintu?" batinnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia nyaris tak tahan menunggu selama beberapa menit di dalam kesuraman teras rumah dan perangkap malam yang basah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya ia melangkah dengan napas membeku dan rasa dingin yang tiba-tiba menyebar ke bagian lehernya. Ia pergi ke belakang rumah, pintu di sana sudah digembok, biasanya memang begitu. Selepas senja pintu belakang itu selalu dikunci. Perasaan Sultan Saladdin semakin diamuk kecemasan yang bergulung-gulung ketika ia mengetuk-ngetuk jendela kamar istri dan anak-anaknya tak ada sahutan dari dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia kembali ke depan teras dan berusaha mengintip dari celah gorden. Ia kembali mengetuk pintu yang berdiri tegak itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena rasa khawatir dan penasaran yang begitu melilit, ia mencoba mendobrak pintu rumahnya dengan beberapa tendangan. Namun tidak memberi hasil, misalnya pintu rumah jebol dan berantakan seperti di film-film laga. Ia kemudian ingat, pintu rumahnya dibuat dari material kayu yang tak mudah didobrak dan dijebol apalagi hanya dengan tendangan kaki seorang wartawan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Saladdin kembali mengintip melalui celah gorden yang tersibak kesiur kipas angin di ruang tamu. Betapa terperanjat, ia seperti disengat beribu binatang kalajengking. Dari sela-sela gorden yang melambai-lambai akibat tiupan kipas angin ia melihat seluruh lantai di ruang keluarga berwarna merah. Hanya warna merah yang ia lihat di dalam rumah yang remang itu. Warna merah darah! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Saladdin tercekat beberapa saat. Ia lantas berteriak, namun suaranya nyaris tercekik di tenggorokan menyangkut di udara. Kakinya bergetar, lututnya terperangkap dalam gemetar ketika melihat tubuh istrinya, Sumiati Susanti, terlentang dengan leher bersimbah darah. Kedua anaknya, Sukma Saladdin anak pertamanya telungkup, juga penuh darah. Sedangkan, Satria Saladdin anak kedua, digenangi darah seluruh tubuhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tolong-tolong! Istri dan anak-anak saya dibunuh...!" teriak Sultan Saladdin histeris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetangganya dan orang-orang semakin ramai berdatangan dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sultan Saladdin. Akhirnya pintu berhasil didobrak dengan bantuan petugas keamanan kompleks. Ketua RT telah menghubungi polsek setempat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Sultan Saladdin menyeruak masuk ke ruang tamu sambil berteriak-teriak, ketika itu pula ia jatuh terjerembab dan kepalanya membentur lantai yang penuh dengan aliran darah istri dan anak-anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia merasa seperti disetrum oleh listrik dengan daya sengat yang sangat tinggi. Pandangan Sultan Saladdin gelap, semuanya menjadi berwarna hitam pekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas. Ada sesuatu yang luput, ia bukan tewas tersengat listrik, ia hanya terpeleset genangan darah istri dan anak-anaknya. Ia jatuh terjerembab ke lantai. Lantas pingsan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kenyataannya, Sultan Saladdin hanyalah seorang yang kehilangan kewarasannya. Ia seringkali merenungkan dan lantas membuat alur cerita cerdik dan situasi ganjil yang membingungkan selayak cerita dari buku-buku sastra yang sering ia baca. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia punya kebiasaan berbicara sendiri, kemudian ia melihat sekeliling, berharap tak ada seorang pun yang mendengarnya. Ia kerap mengunjungi kuburan istri, kedua anaknya, dan kuburanku. Terkadang ia membawa bunga dan hanya duduk-duduk seperti berpikir di pinggir kuburan. Lantas ia berbicara sendiri, mengedar pandangan, dan berharap tak ada orang yang mendengarnya. Ya, ia menjadi gila sejak saat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah keterlibatanku dalam kisah ini. Aku adalah pendengar setia cerita-cerita Sultan Saladdin ketika ia berbicara sendirian sambil ia menenggak vodka atau wiski dan merasakan alkohol mengirimkan arus panas ke dalam darah dan tulangnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi rasa kehilangan. Sultan Saladdin memilih menjadi pemabuk yang gila. Tapi tidak mudah menjadi hantu sepertiku. *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Jakarta, 12 Februari 2015 &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
&lt;b&gt;Bamby Cahyadi, &lt;/b&gt;lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan cerpen terbarunya &lt;i&gt;Perempuan Lolipop&lt;/i&gt; (2014). </content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/5052137746716285716/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/tidak-mudah-menjadi-hantu.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/5052137746716285716" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/5052137746716285716" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/tidak-mudah-menjadi-hantu.html" rel="alternate" title="Tidak Mudah Menjadi Hantu" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZE1lL0ZQ_KI-3GwwjGKnBO925vD9dK7TYgGSgvuNk2SFaM6oMalyr63V6i25_3mpkBvdIHi5o5lxn21fRlXZUhdT-UoErTozDKQa9YesPI62Ja7EDFT2yg5ZjTBmxIUEp0NQEMQ0Gceo2/s72-c/Cerpen+Jawa+Pos+-+Tidak+Mudah+Menjadi+Hantu.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-7460546746577326028</id><published>2015-03-15T18:02:00.001+07:00</published><updated>2015-05-24T15:11:39.722+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laily Lanisy"/><title type="text">Hari Ini Qi Genap Berusia 21 Tahun</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;LAILY LANISY&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKfARQui_IBvjArOfPDVagijYKv_yIoNDGeilTTpueHFhs9QeepBHR8xYBbonztMptXCTEpZGGPuu5pHeapmhYuQBGgEZAcJLMpdgfpJ1eK39dnJCF7tORs736tLY9Bx70MsEqeAdukTF-/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Hari+Ini+Qi+Genap+Berusia+21+Tahun.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos: Hari Ini Qi Genap Berusia 21 Tahun" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKfARQui_IBvjArOfPDVagijYKv_yIoNDGeilTTpueHFhs9QeepBHR8xYBbonztMptXCTEpZGGPuu5pHeapmhYuQBGgEZAcJLMpdgfpJ1eK39dnJCF7tORs736tLY9Bx70MsEqeAdukTF-/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Hari+Ini+Qi+Genap+Berusia+21+Tahun.jpg" title="Cerpen Jawa Pos: Hari Ini Qi Genap Berusia 21 Tahun" width="176" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;NAMAKU&lt;/b&gt; Qi. Nama yang tidak lazim, sehingga wajar bila hanya beberapa orang yang bisa melafalkan namaku dengan benar. Salah sarunya adalah nenekku yang biasa aku panggil Simak. Simak buta huruf, dia tidak tahu bagaimana menulis dan membaca namaku. Yang dia tahu ayahku memanggilku dengan ucapan Chi, dengan bibir agak dikulum dan ditarik ke bawah. Jadi dengan cara persis seperti itu dia memanggilku. Ibu kandungku sendiri, yang aku panggil dengan sebutan Mbak Ning tidak sefasih itu bila memanggilku. Mbak Ning memanggilku Ci, ringan seperti dalam Ciri Tegal. Kebanyakan orang memanggilku Ki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama lengkapku Tan Qi Zi dari bahasaTiongkok yang berarti giok yang anggun dari keluarga Tan. Kok namaku bisa Tiongkok sekali? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pada awal tahun 1991, kala Mbak Ning baru berusia enam belas tahun, dia memutuskan untuk kabur dari desa kecilnya di Merakurak, Tuban. Mbak Ning sudah bosan hidup melarat Mbak Ning sudah bosan menanam cabe di ladang orang dengan hasil yang tidak pernah cukup untuk hidup layak. Mbak Ning berkeyakinan bahwa masa depannya berada di kota besar seperti di Surabaya. Nasib membawanya ke Kertalindo, pabrik kertas milik pengusaha Taiwan yang baru saja dibangun di pinggiran Kota Surabaya. Menjadi buruh di pabrik kertas jauh lebih nyaman dibanding bekerja di ladang cabe di bawah sengatan matahari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pabrik masih baru, puluhan tenaga ahli didatangkan langsung dari Taiwan. Mereka ditugaskan untuk mengawasi lini produksi, memberi pelatihan dan memegang jabatan inti. Entah siapa yang memulainya, banyak di antara pria Taiwan itu kawin kontrak dengan wanita-wanita di sekitar pabrik. Jangka waktu kontrak sesuai dengan jangka waktu penempatan mereka. Selama mereka berada di Surabaya, para wanita itu adalah istri mereka. Begitu tugas mereka selesai, selesai pula perkawinan mereka. Sang pria pulang ke Taiwan, sang wanita kembali jadi buruh pabrik. Memang ada juga beberapa wanita yang beruntung bisa dibawa pulang ke Taiwan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbak Ning yang cantik, belia, dengan postur tubuh yang indah serta senyum yang luar biasa menawan segera menarik perhatian salah satu dari tenaga ahli tersebut, Tan Liu Wei, yang berusia 55 tahun, lebih dari tiga kali usia Mbak Ning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa masa perkenalan yang panjang, di bulan April tahun 1991, Mbak Ning kawin dengan Mister Tan. Mbak Ning dibelikan rumah di Sinar Galaxy. Pada tahun 90-an, Sinar Galaxy merupakan salah satu pengembang paling bergengsi di Surabaya. Kalau melihat dia mampu membelikan rumah di Sinar Galaxy, rasa-rasanya Mr Tan, bukan sekadar ahli mesin kertas di Kertalindo. Posisinya pasti lebih tinggi dari itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setahun kemudian aku lahir. Ayahku memberi nama Tan Qi Zi. Mbak Ning memboyong Simak dari Tuban ke Surabaya untuk mengasuhku. Itulah sebabnya sampai sekarang aku merasa lebih dekat dengan nenekku daripada dengan ibuku. Menurut Simak, ayahku sangat memanjakanku dan memujaku. Namun, sebulan setelah ulang tahunku yang ketiga, tepat di hari ulang tahun Mbak Ning yang ke 21, ayahku pulang ke Taiwan. Meninggalkan Mbak Ning dan aku untuk melanjutkan hidup di Surabaya. Sementara dia melanjutkan hidupnya bersama keluarga resminya di Taiwan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak hari itu Mbak Ning dan aku tidak pernah bertemu dan berhubungan dengan ayahku lagi. Ayahku sirna dari kehidupan kami. Aku tidak begitu merasa kehilangan karena sejak kecil aku sudah dipersiapkan untuk menerima kenyataan bahwa ayahku adalah ayah pinjaman. Ada anak-anak lain di negara lain yang lebih berhak daripada aku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbak Ning tidak pernah mengungkapkan mengapa dia mau menerima pinangan ayahku, padahal dari awal dia tahu dengan pasti kalau pada akhirnya dia bakal ditinggal pulang ke Taiwan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Uang. Apalagi alasannya?" Simak selalu berkomentar sinis setiap kali hal itu kusinggung. Dan setiap kali pula Mbak Ning hanya mengembangkan senyumnya yang luar biasa menawan. Tidak berusaha menyangkal tuduhan Simak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ibumu baru bisa tenang kalau ada uang di tangannya?" lanjut Simak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukankah kita semua demikian, Mak?' sahut Mbak Ning dengan suara lembut. "Tanpa uang, sampai hari ini kita harus mengais-ngais ladang tetangga untuk menanam cabe." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbak Ning benar. Uang tidak pernah menjadi masalah bagi kami. Sejak ditinggal ayahku, Mbak Ning membuka rumah makan Taiwan di Tunjungan Plaza. Restoran yang berkembang pesat. Siapa nyana remaja jebolan SMP dari Merakurak ini bisa berubah menjadi wanita yang piawai mengelola usaha kuliner. Dari hasil restoran inilah Mbak Ning membiaya hidup kami bertiga. Kami memang tidak hidup berlebih, tapi kami jauh dari kekurangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Restoran itu adalah detak jantung Mbak Ning. Walaupun pegawainya banyak, Mbak Ning selalu hadir di restoran dari buka hingga tutup. Kehidupan sosial Mbak Ning berlangsung di restoran. Kehidupan pribadi, dia tidak punya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu, waktu aku masih di SMA, pernah ada pria yang akrab dengan Mbak Ning. Oom Widi namanya. Kepala cabang sebuah bank nasional. Orangnya baik dan penuh perhatian. Selalu cekatan membantu Mbak Ning di restoran dan sering membantuku menyelesaikan tugas sekolah. Lebih dari empat tahun mereka menjalin hubungan. Namun tiba-tiba Oom Widi raib entah ke mana. Kalau ditanya ke mana perginya Oom Widi, Mbak Ning hanya mengangkat bahu pasrah. Kalau ditanya mengapa Oom Widi pergi, Mbak Ning membuang muka. Sepertinya aku tidak bakal mengetahui penyebab pisahnya mereka. Namun ulang tahunku yang ke-21 akhirnya aku bisa memahami semuanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi itu aku masih terlelap ketika telepon genggam yang kuletakkan di atas meja di samping tempat tidurku bernyanyi nyaring. Kubuka mataku, tapi badanku tidak mau bergerak. Aku masih mengantuk. Tadi malam aku terjaga hingga larut untuk mempersiapkan ujian sore nanti. Telepon terus berdering. Dengan malas kuraih telepon tersebut. Dari Mbak Ning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, Mbak," sapaku setengah sadar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sudah bangun, Ci?" tanya Mbak Ning. Di latar belakang aku mendengar suara yang berisik. Pasti Mbak Ning sedang berbelanja di pasar. "Cuma mau mengingatkan jangan lupa mampir di restoran sehabis kuliah." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Baik, Mbak," janjiku. Setelah menutup telepon aku meloncat dari atas tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar. Di atas meja makan telah tersedia nasi tumpeng. Aku baru sadar kalau hari ini hari ulang tahunku. Setiap ulang tahunku Simak selalu menyediakan tumpeng di atas meja makan. Hari ini tidak terkecuali. Hari ulang tahunku yangke-21. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Selamat ulang tahun, Qi," Simak tiba-tiba muncul dari dapur dan memelukku erat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terima kasih, Mak," ucapku. "Umurku sudah 21 tahun. Mak, enggak perlu bikin tumpeng lagi untukku" lanjutku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan untukmu, Qi," sahut Simak. "Tumpeng itu sebagai ungkapan rasa syukur Simak yang telah diberi kepercayaan oleh Gusti Allah untuk momong kamu," imbuhnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukannya aku adalah kecelakaan, Mak? Bukannya tidak seharusnya Mbak Ning punya anak di dalam perkawinannya?" Aku mengingatkan. Simak tertawa renyah sambil memotong tumpengnya dan meletakkan ujungnya di atas piringku dan menambahkan segala lauk-pauknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku hanya menggoda ibumu, Qi. Aku senang melihat ibumu marah, setiap kali aku bilang kalau kamu adalah buah kecelakaan. Aku sedih melihat ibumu menjalani hidup ini tanpa emosi. Ayahmu pergi, ibumu pasrah. Widi pergi, ibumu lagi-lagi pasrah. Kok tidak ada keinginan untuk melawan seperti waktu dia minggat dari Merakurak dulu..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mak, mengapa Oom Widi meninggalkan Mbak Ning? Kukira Oom Widi serius dan mau kawin dengan Mbak Ning," tanyaku melihat peluang melintas di depan mataku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Widi memang berniat untuk mengawini ibumu. Beberapa kali dia melamar ibumu dan beberapa kali pula ibumu memintanya untuk menunggu," ungkap Simak. "Terakhir kali dia melamar, ibumu memintanya untuk menunggu tiga tahun lagi. Widi tidak mau untuk menunggu tiga tahun lagi. Dia pindah ke Jakarta dan kawin dengan wanita pilihan ibunya," sambung Simak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengapa harus menunda tiga tahun padahal aku yakin Mbak Ning juga mencintai Oom Widi?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada banyak hal yang tidak bisa kupahami dari ibumu, Qi. Salah satunya adalah membiarkan Widi pergi," bisik Simak. Aku tidak bertanya-tanya lagi dan dengan berdiam diri menyantap nasi tumpeng bikinan Simak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Usai ujian sore itu, aku langsung menuju ke Tunjungan Plaza. Walaupun pura-pura tidak ingat akan ulang tahunku, tapi aku tahu kalau Mbak Ning sudah mempersiapkan hidangan spesial untuk menyambut hari lahirku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dugaanku benar. Meski malam itu restoran penuh pengunjung, Mbak Ning sengaja mengosongkan deretan meja di pojok kiri dan menghiasinya dengan balon-balon berwarna merah dan emas. Mataku pasti menyiratkan protes karena cepat-cepat Mbak Ning bilang: "Hanya kita-kita saja kok, Ci. Tapi sebelum kita merayakan ulang tahunmu, ada tamu yang harus kamu temui dulu," lanjutnya sambil menggandengku menuju ke ruang VIP. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Siapa?" tanyaku heran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Lawyer&lt;/i&gt; ayahmu diantar manajer Kertalindo." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Lawyer&lt;/i&gt; dan Kertalindo?" aku semakin heran. Mbak Ning tidak sempat menjawab pertanyaanku. Pintu ruang VIP terbuka dan di dalamnya aku melihat dua pria berseragam Kertalindo dan seorang wanita Taiwan. Setelah memperkenalkan kami. Mbak Ning segera berlalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mbak,"panggilku, "Mbak tidak ikut?" Mbak Ning menggeleng. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mereka ingin berbicara rahasia denganmu, Ci," jelas Mbak Ning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Mbak Ning pergi, Miss Wu, lawyer dari keluarga Tan Liu Wei mulai menjelaskan maksud kedatangannya. Bicaranya berputar-putar tidak karuan, mungkin karena keterbatasan bahasa Indonesianya atau untuk menghindari agar aku tidak tersinggung mendengar ucapannya. Intinya sebenarnya singkat. Pernikahan Mbak Ning dengan ayahku tidak diakui hukum. Baik hukum di Indonesia maupun hukum di Taiwan. Artinya, aku anak haram yang tidak berhak untuk menuntut warisan dari ayahku termasuk investasinya di Kertalindo. Kekayaan ayahku akan jatuh ke tangan tiga anak sahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah Mr Tan sudah meninggal?" potongku mendengar dia menyebut-nyebut soal warisan. Sengaja aku mengalamatkan ayahku dengan sebutan Mr Tan untuk menekankan betapa asingnya dia dalam kehidupanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Belum," jawab Miss Wu cepat. "Beliau dalam keadaan sehat dan fit. Maksud saya, bila beliau meninggal, Anda tidak berhak untuk menuntut warisan," tambahnya. Aku baru mau mengatakan kalau aku tidak mengenal ayahku dan tidak pernah menginginkan warisan darinya, Miss Wu cepat-cepat melanjutkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Menyadari hal tersebut, begitu Anda lahir, Mr Tan membuka &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt;, dana perwalian untuk Anda. &lt;i&gt;Trust fund&lt;/i&gt; itu dikelola oleh salah satu bank di Taipei yang Mr Tan tunjuk hingga Anda berusia 21 tahun. Begitu Anda berusia 21 tahun, seperti hari ini, secara otomatis dana tersebut menjadi milik Anda. Anda berhak untuk memutuskan apakah Anda mau tetap menggunakan bank tersebut untuk mengelola dana Anda atau Anda mau memindahkannya ke bank lain.  Kami ke sini untuk membahas mengenai dana perwalian ini." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengapa saya tidak pernah tahu adanya &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; ini?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sengaja dirahasiakan darimu, Ki," kali ini yang menjawab Pak Hutapea, kepala divisi hukum Kertalindo. "Karena ada beberapa hal yang dapat membatalkan &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; tersebut sebelum kamu berusia 21 tahun," lanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Misalnya apa?" tanyaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Salah satunya bila ibumu kawin sebelum kamu berusia 21 tahun." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa?" seruku bagai disengat kalajengking, "Apakah ibuku tahu mengenai &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; dan persyaratan-&lt;br /&gt;
persyaratannya ini?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya. Tiga tahun lalu, melalui kami, ibumu pernah meminta izin dari Mr Tan untuk kawin dengan seorang pria. Seorang banker kalau tidak salah. Ibumu meminta agar Mr Tan menghapus syarat agar dia tidak kawin sebelum usiamu 21 tahun. Mr Tan menolak permohonannya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terdiam. Kini semuanya jelas sudah. Kini aku mengerti mengapa Mbak Ning meminta Oom Widi menunda perkawinan hingga tiga tahun. Mbak Ning menunggu usiaku genap 21 tahun. Mbak Ning mencoba mempertahankan uang yang menjadi hakku. Mbak Ning tidak rela kalau gara-gara dia kawin, uang di &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; itu tidak bisa jatuh ke tanganku. Mbak Ning benar-benar tersandera. Kalau saja aku tahu alasannya, aku akan mengatakan kepada Mbak Ning untuk tidak memedulikan &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; tersebut dan kawin dengan Oom Widi. Kita tidak membutuhkan &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; ini, Mbak Ning. Selama 18 tahun kita telah membuktikan kalau kita bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Mengapa Mbak Ning harus melepas Oom Widi untuk dana yang tidak seberapa ini? Tidak seberapa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau boleh tahu, seberapa besar dana yang ada di &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; ini?" tanyaku ingin tahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pada waktu kelahiranmu, Mr Tan memasukkan dana sekitar 3 juta dollar Amerika. Saat ini dananya sudah berkembang mendekati 7 juta dollar atau setara dengan 70 miliar rupiah," jawab Miss Wu. Tujuh puluh miliar?? Pantas Mbak Ning begitu getol untuk mempertahankannya. Berapa ton cabe yang bisa dia beli dengan uang sebanyak itu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencoba untuk tidak terpengaruh dengan bilangan yang begitu besar tersebut aku berkata sambil beranjak dari kursiku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tolong sampaikan kepada Mr Tan, uang di &lt;i&gt;trust fund&lt;/i&gt; itu tidak cukup besar untuk menggantikan masa muda ibuku yang hilang. Tidak cukup besar untuk menggantikan pengorbanan ibuku yang harus melepaskan satu-satunya pria yang pernah dia cintai. Tidak cukup besar untuk membeli harga diri kami." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Maksud Anda?" kejar Miss Wu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya tidak sudi menerima uangnya. Delapan belas tahun kami bisa hidup tanpa bantuannya. Kami masih bisa hidup delapan puluh tahun lagi tanpa dirinya, bila Tuhan mengijinkan..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga tamuku terguncang. Mereka membelalakkan matanya tidak percaya. Aku berjalan keluar dari ruang VIP. Di deretan meja di ujung kiri yang berhiaskan balon berwarna merah dan emas, kulihat Mbak Ning duduk termenung. Sendiri dan nampak rapuh. Gadis kecil dari Merakurak yang berkeiinginan untuk hidup layak. Dia tersenyum melihat aku berjalan mendekatinya. Senyumnya yang biasa sangat menawan, kali ini terlihat ragu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana hasilnya, Ci?" tanya Mbak Ning. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mbak Ning, kadang uang itu adalah berkah. Tapi tidak jarang uang itu adalah kutukan," jawabku sambil duduk di sampingnya dan memeluk pundaknya. "Gara-gara uang itu, Mbak Ning tidak bisa mengenyam kebahagiaan hidup bersama Oom Widi." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan bilang kalau kamu menolak uang itu. Kamu berhak mendapatkan setiap sen dari uang itu," tegur Mbak Ning gusar. Kupeluk Mbak Ning dengan erat. Kegusarannya mulai mereda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita tidak membutuhkan uang itu, Mbak. Kita tidak pernah dan tidak akan membutuhkan uang itu," bisikku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Uang yang sangat besar, Ci," bantah Mbak Ning tidak lagi gusar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Uang yang sangat besar yang tidak kita butuhkan, Mbak," sahutku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu yakin?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sangat yakin. Delapan belas tahun dia mengingkari eksistensi kita, Mbak. Sekarang saatnya kita mengingkari eksistensinya," sahutku bersemangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbak Ning mengembangkan senyumnya yang luar biasa menawan. Aku ikut tersenyum. Kami masih dalam keadaan tersenyum, ketika Miss Wu dan dua petinggi Kertalindo keluar dari ruang VIP dan kami masih tetap tersenyum ketika mereka meninggalkan restoran kami. *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Laily Lanisy, &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
tinggal di &lt;a href="mailto:lailylanisy@yahoo.com"&gt;lailylanisy@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;
</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/7460546746577326028/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/hari-ini-qi-genap-berusia-21-tahun.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7460546746577326028" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/7460546746577326028" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/hari-ini-qi-genap-berusia-21-tahun.html" rel="alternate" title="Hari Ini Qi Genap Berusia 21 Tahun" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKfARQui_IBvjArOfPDVagijYKv_yIoNDGeilTTpueHFhs9QeepBHR8xYBbonztMptXCTEpZGGPuu5pHeapmhYuQBGgEZAcJLMpdgfpJ1eK39dnJCF7tORs736tLY9Bx70MsEqeAdukTF-/s72-c/Cerpen+Jawa+Pos+-+Hari+Ini+Qi+Genap+Berusia+21+Tahun.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-5756919290382532489</id><published>2015-03-08T17:17:00.000+07:00</published><updated>2015-05-24T15:13:31.021+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hary B. Kori'un"/><title type="text">Perempuan yang Keluar dari Papan Iklan</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;HARY B. KORI'UN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DIA&lt;/b&gt; keluar dari papan iklan raksasa di simpang jalan itu, tengah malam saat jalanan terlihat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Aku baru pulang dari kantor ketika dia melangkah pelan-pelan, menjejakkan kaki ke aspal, kemudian mengibas-ngibaskan jins biru dan kemeja putihnya. Itu busana yang dipakainya, yang juga menjadikan dia bintang di papan iklan dan iklan televisi sebuah &lt;i&gt;brand&lt;/i&gt; busana terkenal, yang sudah hampir seratus tahun lebih jins, kemeja, jaket, ikat pinggang, atau &lt;i&gt;t-shirt&lt;/i&gt;-nya digandrungi orang semua usia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4fnCC2PfA3Ulz4ljZPKEjteE-FgghzduQfl4mQGv5QXneJ2JMEORY01b6A6MF20FPaGpPvwX67a7NAQoqOkWxsiRGUBreFUEjEeEb-k_B_0Fi7chE5q3mNx53ZcLVGdLEtJOi1hFaOHY5/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Perempuan+yang+Keluar+dari+Papan+Iklan.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos - Perempuan yang Keluar dari Papan Iklan" border="0" height="118" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4fnCC2PfA3Ulz4ljZPKEjteE-FgghzduQfl4mQGv5QXneJ2JMEORY01b6A6MF20FPaGpPvwX67a7NAQoqOkWxsiRGUBreFUEjEeEb-k_B_0Fi7chE5q3mNx53ZcLVGdLEtJOi1hFaOHY5/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Perempuan+yang+Keluar+dari+Papan+Iklan.jpg" title="Cerpen Jawa Pos - Perempuan yang Keluar dari Papan Iklan" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Aku turun dari mobil dan mengikutinya. Aku kenal wajahnya, artis film terkenal yang sering pilih-pilih peran, tak pernah mau bermain di serial televisi, dan hanya mau membintangi satu iklan, yakni &lt;i&gt;brand&lt;/i&gt; busana terkenal itu. Semua orang tahu siapa dia karena iklannya hampir setiap waktu ada di televisi dan wajahnya terpampang di papan iklan yang tersebar di hampir seluruh kota di negeri ini. Tapi, aku memang tak pernah bertemu langsung dengannya. Anehnya, aku justru dipertemukan dengannya dalam momen yang sureal dan di luar nalarku ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sadar ada yang membuntuti, dia kemudian berhenti dan menoleh kepadaku. Jarak kami hanya sekitar satu meter. Dia tersenyum, cantik sekali. Aku langsung lupa dengan kejadian tadi, bahwa dia baru saja keluar dari papan iklan itu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada yang aneh?" tanyanya dengan senyum yang sangat manis. Lampu kota yang temaram tak bisa menyembunyikan kecantikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya, aneh..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sebuah foto pesohor di papan iklan keluar dari tempatnya dan berubah wujud menjadi manusia asli. Apakah tak aneh?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia bukan sejenis hantu atau vampire yang bisa mengisap darahku. Senyumnya mahamanis, matanya lembut, bibirnya ranum, gelombang rambutnya benar-benar asli dan tak memperlihatkan bahwa dia wanita jadi-jadian yang hanya muncul di malam hari seperti dalam film-film horor murahan yang belakangan banyak diputar di gedung bioskop dan televisi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku capek terus berada di sana. Kalau sudah malam seperti ini aku merasa sendiri, dan senyumanmu seperti sia-sia karena tak ada yang melihatnya...," katanya, kembali dengan suara lembutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Di papan iklan itu kau merasa hidup sebagai manusia?" Suaraku pasti terdengar tergagap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hei, halooo... lihatlah, aku hidup, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;? Seperti manusia lain, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;? Coba pegang tanganku..." Dia mengulurkan tangannya, dan aku menggenggam jemarinya. Kami bersalaman. Benar, dia memang benar-benar hidup, terasa ada yang hangat mengalir ke pori-pori tanganku. "Aku bukan sejenis bayangan yang tak bisa dipegang, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya, aku percaya..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menawarkan kepadanya untuk naik ke mobilku dan keliling kota sampai pagi. Dia mau. Di dalam mobil, aku tak merasakan firasat apaapa, misalnya bulu kudukku bergidik atau hal-hal lain yang seolah mengisyaratkan dia makhluk lain yang akan menggangguku seperti di film-film horor sialan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Setiap malam kau keluar dari papan iklan itu?" tanyaku ketika kami sudah berada di jalan tol. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya. Dan mungkin baru kamu yang memergoki aku keluar dari sana..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ke mana saja kalau jalan sendirian?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ke mana saja, sampai aku bosan dan harus kembali ke papan iklan itu lagi sebelum muncul dari barat..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya tajam. "Kok seperti vampire? Takut matahari?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum. "Supaya tak membuat orang pingsan saat lewat dan melihat aku tak ada di papan iklan..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk-angguk, antara paham dan bingung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami melewati sebuah simpang yang di sana juga ada papan iklan yang memajang dirinya. Heran, pas pada bagian tubuhnya, terlihat hanya warna hitam yang ada. Di tempat lain di papan yang sama, gambarnya juga sama, pas pada bagian tubuh dia yang ada hanya warna hitam. "Kok seluruh papan iklan yang ada dirimu semuanya menghitam?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya pastilah, gambarnya kan sama. Kalau aku pergi dari sana, tentu semuanya juga menghilang. Kalau hanya di satu papan iklan yang hilang dan lainnya tidak, berarti aku lebih dari satu dong..." Terdengar suaranya halus dan renyah, dan dia mengatakannya sambil tertawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu, pelan-pelan kutepikan mobilku. Aku memandanginya dengan seksama. "Benar apa yang kau katakan? Berarti papan iklan serupa yang ada di Rimbo Bujang, Sampit, Sungai Penuh, Muara Encim, Pacitan, atau Ende, semuanya juga menghitam pas di foto dirimu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau tak percaya?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seharusnya aku tak percaya..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi kini kamu mau tak mau harus percaya, kan?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya, karena kau berada di mobilku, dan aku melihat seluruh papan iklan itu bolong, berwarna hitam, tak ada dirimu..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah aku menakutkanmu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggeleng pelan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah kau merasakan aku mirip hantu, kuntilanak, Sundel Bolong, atau mirip Suzanna dan Joyce Erna seperti dalam film-film yang dibintanginya?" katanya seperti menahan senyum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terus, apakah kau merasa tak nyaman aku di sini? Kalau &lt;i&gt;gitu&lt;/i&gt;, biar aku turun..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak, aku nyaman. Tetapi , aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semua orang punya sisi rahasia yang tak boleh diketahui orang lain..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, kami keliling kota di atas jalan tol. Saat subuh, saat matahari hampir muncul di timur, dia minta berhenti. "Aku harus kembali ke habitatku," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Di mana?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Di sana..." Dia menunjuk sebuah papan iklan raksasa yang hanya berisi beberapa tulisan dan di sebelahnya ada warna hitam, tempat foto dirinya biasanya terpampang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita bisa bertemu lagi?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tak bisa janji." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita hidup di dunia masing-masing. Meskipun ada saatnya kita bisa bersama seperti semalaman tadi, tetapi kita tak bisa memastikan apakah di lain waktu aku akan bisa menemuimu lagi." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia membuka pintu mobil, menyeberangi jalan, menoleh kepadaku beberapa saat dengan senyum mahamanis, lalu hanya dalam hitungan detik warna hitam di papan iklan raksasa itu sudah terisi oleh fotonya dengan posisi dan bentuk senyum yang sama seperti semula. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seperti berada dalam dunia mimpi menyaksikan itu semua. Lama aku termenung dan memandangi papan iklan itu, melihat dia yang tersenyum manis, sangat manis. Sangat cantik... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
ESOK malamnya aku menunggu beberapa meter dari papan iklan tempat dia keluar itu. Tak menunggu lama, aku melihat dia keluar dari fotonya terpajang. Sama seperti kemarin, dia menjejakkan kakinya pelan-pelan, kemudian dengan  tangannya dia menepuk-nepuk jins dan bajunya seolah-olah ada debu yang menempel di sana. Dia langsung memandang mobilku, dan dengan senyum manis dia menghampiri kaca sebelah kiri yang memang sudah kubuka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Boleh numpang, Mas?" tanya dengan senyum menggoda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu bukan Sundel Bolong atau Wewe Gombel, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?" aku balas menggodanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Idih si Mas ini. &lt;i&gt;Mosok&lt;/i&gt; cantik-cantik begini dibilang Sundel Bolong dan Wewe Gombel?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan bersemangat aku turun dan membukakan pintu untuknya. Kami kembali jalan-jalan keliling kota. Wajahnya kelihatan semringah. "Sudah lama aku tak berkomunikasi dengan manusia. Aku selalu sendirian..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dalam kehidupan nyatamu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tak punya kehidupan nyata." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendadak aku menginjak rem. Mobil berhenti. Dadaku berdegup. "Maksudmu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya. Aku tak punya kehidupan nyata. Kehadiranku hanya maya. Kadang hanya seperti bayangan, ada tapi tak nyata. Kadang hanya seperti angin, terasa tapi tak kasat mata..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Maya... Betul namamu Maya Karina, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya, hampir semua orang tahu namaku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Maya, lihat dunia di luar sana. Semua orang hidup mengejar mimpi dan harapan untuk menjadi sukses seperti dirimu. Tapi, di tengah kesuksesanmu, kamu malah merasa begitu..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kadang, kita hidup ini  &lt;i&gt;sawang-sinawang&lt;/i&gt; kata orang Jawa. Kita menganggap orang lain sukses dan bahagia, padahal belum tentu orang itu sebahagia kita hidupnya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya tak paham." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Suatu saat kamu akan paham." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Waduh, kenapa malam-malam begini kita cerita yang sedih-sedih?" Aku berusaha mencairkan suasana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memang merasakan hidup di malam hari, karena di siang hari hampir separonya kuhabiskan di tempat tidur. Entah mengapa seluruh pikiranku berjalan saat malam tiba. Ide-ideku muncul saat matahari sudah tenggelam. Ini yang membuat atasanku membiarkanku menyelesaikan semua tugas gambarku di malam hari. Aku ingin ceria di malam hari, termasuk malam ini, bersama Maya Karina, pesohor yang seperti dikirimkan Tuhan untuk menemaniku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam berikutnya, malam berikutnya lagi, dan malam-malam berikutnya lagi, kami terus bertemu. Kadang kami mampir di &lt;i&gt;coffee shop&lt;/i&gt; yang buka sampai pagi dan ngobrol di sana hingga subuh sebelum matahari muncul, karena dia harus kembali ke "habitatnya". Di lain waktu, kami berhenti di sebuah ruasjalan tol, dan ngobrol di sana sambil melihat mobil yang masih lalu-lalang meski sudah dini hari. Di waktu yang lain, kami ngobrol di pantai sambil menunggu pagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia suka lagu-lagu sentimentil Celine Dion, Roxette, Madonna, ata Adele. Dia gandrung pada lagu &lt;i&gt;Because You Love Me&lt;/i&gt; yang mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang dulu begitu menyanjungnya. Dia juga suka &lt;i&gt;Some One Like You&lt;/i&gt; ketika hubungannya mulai renggang dengan sang kekasih. Any One --lagu sendu yang sempat dilarang di Jerman karena menginspirasi banyak wanita untuk bunuh diri-- juga lama menemaninya saat dia terpuruk karena putus dari kekasihnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seluruh kata hatimu diwakili lagu-lagu itu?" tanyaku berusaha menghiburnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku cengeng ya?" Dia berusaha tersenyum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu normal kok..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hening sejenak. "Kamu pernah patah hati?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditanya seperti itu, aku tergagap. "Bagaimana bisa patah hati, jatuh cinta saja nggak pernah." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oooo..." Dia tertawa lepas. Aku senang bisa melihatnya bisa tertawa lepas seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Berarti aku masih punya kesempatan dong..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak menjawabnya, sibuk mengatur dadaku yang berdegup kencang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, malam itu menjadi malam terakhir kami bertemu setelah sekian waktu kami selalu bersama di malam-malam sepi. Malam esoknya setelah terakhir kami bertemu, aku tak menemukan fotonya di papan iklan tempat ia selalu keluar di malam hari untuk menemuiku. Yang terlihat di sana hanya warna hitam pas di bagian tubuhnya. Tak percaya dengan itu, aku kemudian mencari persimpangan lain yang selama ini terpampang papan iklan yang memajang foto dirinya. Juga hanya ada warna hitam pas di tubuhnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam benar-benar sepi. Aku sendirian. Aku merasa benar-benar sendirian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esoknya, aku melihat papan iklan yang selama ini memajang dirinya sudah berubah iklan minuman segar dengan pemain sepak bola terkenal sebagai bintangnya. Di tempat lain juga sudah berubah. Aku semakin merasa sendirian. Ke mana aku harus mencarinya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga suatu hari, entah di mana, aku menemukan sebuah artikel koran tentang kematian seorang model dan bintang film terkenal bernama Maya Karina, yang jatuh dari lantai 24 sebuah apartemen. Diduga, dia dibunuh. Nama seorang pejabat teras di sebuah kementerian disebut-sebut ada hubungannya dengan kematiannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*** &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
SUATU malam, ketika sedang sendirian di kantor menyelesaikan pekerjaan gambar, telepon selulerku bergetar. Sebuah nomor tak dikenal masuk. Terdengar suara bergemuruh dan sepertinya dari jarak yang sangat jauh. Suara seorang perempuan yang kukenal bicara, tetap dengan latar suara bergemuruh itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa kabar Rama... Aku minta maaf pergi darimu tanpa kabar apa-apa. Seperti yang pernah kukatakan kepadamu, aku tak punya kehidupan nyata. Kehadiranku hanya maya. Kadang hanya seperti bayangan, ada tapi tak nyata. Kadang hanya seperti angin, terasa tapi tak kasat mata... Aku ingin mengatakan ini dan jangan kamu tertawa ya. Cintaku padamu, Rama, nyata. Tak seperti diriku yang maya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak bisa menjawab apa-apa. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasakan jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan. Aku menemukan, sekaligus kehilangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini nyata, bukan maya...*** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pekanbaru-Jakarta, September 2014 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
HARY B. KORI'UN adalah wartawan &lt;i&gt;Riau Pos&lt;/i&gt;. Buku kumpulan cerpen tunggalnya adalah &lt;i&gt;Tunggu Aku di Sungai Duku&lt;/i&gt; (2012). Novelnya, &lt;i&gt;Nyanyian Batanghari&lt;/i&gt; (2005), &lt;i&gt;Jejak Hujan&lt;/i&gt; (2005), &lt;i&gt;Nyanyi Sunyi dari Indragiri&lt;/i&gt; (2006), &lt;i&gt;Malam, Hujan&lt;/i&gt; (2007), &lt;i&gt;Mandiangin&lt;/i&gt; (2008), &lt;i&gt;Nyanyian Kemarau&lt;/i&gt; (2010), dan &lt;i&gt;Luka Tanah&lt;/i&gt; (2014).</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/5756919290382532489/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/perempuan-yang-keluar-dari-papan-iklan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/5756919290382532489" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/5756919290382532489" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/perempuan-yang-keluar-dari-papan-iklan.html" rel="alternate" title="Perempuan yang Keluar dari Papan Iklan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4fnCC2PfA3Ulz4ljZPKEjteE-FgghzduQfl4mQGv5QXneJ2JMEORY01b6A6MF20FPaGpPvwX67a7NAQoqOkWxsiRGUBreFUEjEeEb-k_B_0Fi7chE5q3mNx53ZcLVGdLEtJOi1hFaOHY5/s72-c/Cerpen+Jawa+Pos+-+Perempuan+yang+Keluar+dari+Papan+Iklan.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7976400029546626037.post-4387656542588269236</id><published>2015-03-01T15:49:00.000+07:00</published><updated>2015-05-24T15:17:27.392+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Triyanto Triwikromo"/><title type="text">Serat Bolonggrowong dan Buku-Buku Lain yang Dibakar oleh Polisi Agama</title><content type="html">Oleh &lt;b&gt;TRIYANTO TRIWIKROMO&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AKU&lt;/b&gt; diteror. Paviliun yang baru saja kujadikan perpustakaan, dibakar orang, saat aku, suami, dan anak-anak berlibur ke Gunung Bromo. Tidak semua buku jadi onggokan kertas hangus. Hanya beberapa, terutama yang berkaitan dengan agama, yang tak bisa diselamatkan. Aku tak tahu mengapa beberapa buku yang kuanggap tidak terlalu penting justru dikeluarkan dari paviliun sebelum api melahap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPq2sFI5Z7WgeqojTa10kka7dcuyJUp1eA9eqbCTh8GzKSHgkL4oQM_Gs1SgAAVtnKw6o9sGKHeiAIb66_0X1-znJLf7I5lnqrOy0EjvaqqfBb99jFANay9cecJkp3AnKUbU4Wb39SdklE/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Serat+Bolonggrowong+dan+Buku-Buku+Lain+yang+Dibakar+oleh+Polisi+Agama.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="Cerpen Jawa Pos - Serat Bolonggrowong dan Buku-Buku Lain yang Dibakar oleh Polisi Agama" border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPq2sFI5Z7WgeqojTa10kka7dcuyJUp1eA9eqbCTh8GzKSHgkL4oQM_Gs1SgAAVtnKw6o9sGKHeiAIb66_0X1-znJLf7I5lnqrOy0EjvaqqfBb99jFANay9cecJkp3AnKUbU4Wb39SdklE/s1600/Cerpen+Jawa+Pos+-+Serat+Bolonggrowong+dan+Buku-Buku+Lain+yang+Dibakar+oleh+Polisi+Agama.jpg" title="Cerpen Jawa Pos - Serat Bolonggrowong dan Buku-Buku Lain yang Dibakar oleh Polisi Agama" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Suasana berada di paviliun kacau balau. Buku-buku yang dipilih untuk tidak dibakar berserakan. Ada beberapa yang terbuka. Ada yang masih terbungkus plastik. Di antara semua itu, halaman 713 buku &lt;i&gt;Gunung Jiwa&lt;/i&gt; karya Gao Hingjian perihal "ketiadaan kegembiraan dan salju-salju turun" disobek. Halaman 197-224 &lt;i&gt;Kisah Lelaki Tua dan Seekor Anjing, Kumpulan Cerita Pendek Cina Kontemporer &lt;/i&gt;yang disunting oleh Zhu Hong berisi cerpen "Gerak Maju Mobil Patroli Militer" karya Tang Dong dicoret-coret dan seluruh kata "perahu" dalam novel &lt;i&gt;The God of Small Thing&lt;/i&gt; karya Arundhati Roy diberi lingkaran spidol merah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Aku curiga mengapa si pembakar memperlakukan buku-buku milik ahli sejarah yang sedang meneliti perilaku manusia-manusia abad ke-19 yang mulai meninggalkan agama --sepertiku-- dengan cara aneh. Aku curiga mengapa hanya buku-buku yang berkait dengan agama yang dibakar. Dugaanku, dia --yang menempelkan kertas bertuliskan "Polisi Agama" di salah satu brankas digeletakkan di taman-- tak lebih dan tak kurang adalah pembakar iseng dan gila. Di dunia ini tidak ada orang yang mau bersusah payah menyatroni rumah orang hanya untuk membakar buku, bukan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukira satu-satunya cara mengetahui motif pembakaran, kita harus menemukan manusia sableng yang mungkin saja justru bukan seorang polisi itu. Namun, sebelum itu, sebaiknya kenalilah buku-buku yang dibakar terlebih dulu. Aku yakin dengan mengetahui buku-bukuku, kau akan segera paham, manusia macam apa yang sedang menerorku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. ZABALAWI, BALAZAWI, LABAWAZI &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huda, seorang teman dari Kairo, memberiku buku bergambar orang-oang yang sedang mendaki bukit pada Desember 2002. Buku itu bertajuk &lt;i&gt;Zabalawi, Balazawi, Labawazi&lt;/i&gt;. Aku kaget mendapatkan nama Balazawi dan Labawazi dalam buku yang ditulis oleh Ibnu Sahal itu karena sebelumnya aku pernah membaca cerita pendek "Zabalawi". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi dalam karya pengarang Mesir Najib Mahfuz, &lt;i&gt;izinkan aku menceritakan dengan caraku sendiri&lt;/i&gt;, adalah sosok penyembuh yang dicari oleh Ibnu Ali. Ibnu Ali hanya mengenal Zabalawi dari sebuah lagu pada masa kanak-kanak. Meskipun demikian dia sangat percaya Zabalawi adalah wali Allah. Karena itulah, perjalanan mencari sang wali pun dimulai. Mula-mula Ibnu Ali bertemu dengan hakim Syekh Qamar. Sayang sekali, Syekh Qamar hanya bilang, "Dia memang pernah hidup, tetapi banyak orang tidak tahu di mana dia sekarang." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Ali putus asa. Akan tetapi, tak mungkin dia pulang. Pulang hanya akan mengakibatkan dia mati. Karena itulah, Ibnu Ali percaya pada informasi Syekh Qamar: mungkin saja Zabalawi berada di daerah Birjawi. Di Birjawi, dia bertemu dengan seorang pemilik toko buku. Pemilik toko buku ini memberi denah yang menggambarkan di mana saja Zabalawi biasa tinggal. Pencarian pun dilanjutkan, tetapi tetap saja Ibnu Ali tak menemukan sosok yang bakal memberikan mukjizat kesembuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada perjalanan berikutnya Ibnu Ali bertemu dengan tukang seterika. "Yang jelas, dia masih hidup, Aku tak punya waktu lagi mencarinya. Hanya orang-orang muda sepertimu yang sanggup mencari, mencari, mencari, mencari, dan terus mencari..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya dia pun bertemu dengan seorang penggubah lagu. "Aku baru saja membuat lagu tentang Zabalawi. Segera carilah dia di bar. Bukan tidak mungkin kau akan bertemu dengan Zabalawi di sana." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Ali pun kemudian ke bar. Di bar dia dipaksa mabuk. Akhirnya dia tertidur dan begitu bangun kepalanya basah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Siapa yang mengguyurkan air ke kepalaku?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Zabalawi," kata seseorang, lirih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Zabalawi?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, Zabalawi. Dia tahu kalau &lt;i&gt;Sampean&lt;/i&gt; sakit. Dia membelai &lt;i&gt;Sampean&lt;/i&gt; dan sekarang aku kira &lt;i&gt;Sampean&lt;/i&gt; sudah sembuh dari sakit." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah itu berhenti di sini. Kisah pencari yang tidak menemukan seseorang yang dicari, tetapi justru ditemukan oleh si tercari, itu berhenti pada ketakjuban Ibnu Ali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi aku lebih takjub ketimbang Ibnu Ali karena selain Zabalawi, aku juga menemukan Balazawi dan Labawazi di buku ini. Dikisahkan oleh Ibnu Sahal, mereka bertemu di bar sesaat setelah Zabalawi menyembuhkan Ibnu Ali. Inilah percakapan mereka. Inilah percakapan tiga orang yang wajah dan perilakunya sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balazawi: Apakah kau benar-benar menyembuhkan Ibnu Ali? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi: Tidak! Dia yang menyembuhkan dirinya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Labawazi: Dengan apa dia menyembuhkan dirina sendiri? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi: Dengan mencari. Ketika mencariku, pada saat sama dia sesungguhnya menemukan hal-hal paling tidak dipercaya, tidak mungkin digapai, tetapi meringankan kehidupan, dan menyembuhkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balazawi: Jika kau tidak menemukan Ibnu Ali, apakah dia akan sembuh? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi: Pasti sembuh. Aku menemu dia karena aku ingin meyakinkan diriku betapa aku masih berguna untuk orang lain. Bukan untuk menyembuhkan. Bukan untuk memberi mukjizat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Labawazi: Kalau begitu, apakah hakikat mencari? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi: Mencari adalah proses menemukan. Akan tetapi kau tidak harus menemukan untuk disebut sebagai sang penemu. Ibnu Ali tak menemukan aku. Akulah yang menemukan dia. Akan tetapi sejak berniat mencari aku, sesungguhnya dia sudah menemukanku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balazawi: Apakah kau perlu ada? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi: Tidak perlu. Dongeng tentang aku sudah akan menyembuhkan para pencari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Labawazi: Apakah aku bisa menjadi dongeng penyembuh? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi: Siapa pun bisa menjadi dongeng penyembuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Balazawi: Caranya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zabalawi: Kau harus percaya masih banyak orang sakit yang mencari kesembuhan. Kau harus percaya masih ada pencari yang asyik-masyuk mencari dirimu di dalam kegelapan dan ketidakterdugaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog ketiga penyembuh ini masih panjang. Akan tetapi percayalah, aku telah mengutipkan hal terpenting dan tidak lupa mengungkapkan ketakjubanku pada buku yang beberapa kali ingin kutukarkan dengan &lt;i&gt;Kisah Lima Keluarga, Telaah Kasus Orang Meksiko dalam Kebudayaan Kemiskinan karya Oscar Lewis&lt;/i&gt; terbitan 1988 itu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. PEDOMAN UMUM MASUK KE KAPAL KESELAMATAN &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tidak salah buku ini ditulis oleh Don Gonzalo dari Desa Azteca, Meksiko pada 1959. Aku mendapatkan buku bersampul biru di dekat tong sampah depan Hotel Holiday Inn Express Times Square. Aku tak tahu apakah orang-orang New York suka membuang buku setelah mereka tuntas membaca atau buku berbahasa Inggris itu memang dianggap tidak berguna. Buku bertajuk &lt;i&gt;Sepuluh Pedoman Umum Masuk ke Perahu Keselamatan&lt;/i&gt; ini, kau tahu, berkesan meledek kepandiran penulisnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut kukutipkan pedoman-pedoman itu: &lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Karena perjalanan kita akan sangat jauh, silakan manusia dan para hewan kencing dulu. Kencing di kapal akan membuat kita tenggelam dalam air seni yang pesing.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jangan saling membunuh. Jumlah kita sangat terbatas. Tentu saja kalian boleh bercumbu untuk menghasilkan keturunan. Disarankan jangan saling mengintip.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selama perjalanan, sebaiknya tidur saja. Jangan menghalang-halangi siapa pun untuk bermimpi. Mimpi itu menyehatkan jiwa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Percakapkan hal-hal yang lucu saja. Kelucuan bisa membuat kita panjang umur.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jangan meloncat kalau kapal belum tersangkut di bukit.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Manusia pelajarilah bahasa binatang, binatang pelajarilah bahasa tumbuhan, dan tumbuhan pelajarilah bahasa manusia. Siapa tahu ketika di darat kelak kalian bertetangga.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Belajarlah berdoa. Tak ada nahkoda piawai di kapal ini.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pelajari juga bahasa hiu. Jika sewaktu-waktu kau jatuh ke laut, ajak dia bercakap-cakap tentang apa pun agar kau tidak menjadi mangsa paling empuk.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika kapal telah tersangkut di bukit, berteriaklah, "Apakah aku telah sampai di rumah-Mu, Tuhan?"&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika pada akhirnya tak kau temui daratan, mintalah pada Tuhan, "Jadikan aku apa pun agar aku bisa tetap bisa menebak apa yang seharusnya dilakukan seluruh makhluk ketika segalanya hendak dimusnahkan." &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Aku kira ini bukan 10 pedoman biasa. Aku kira ini sebuah amsal bagi seluruh penumpang kapal yang terpesona pada "Kabar (Kabur) Keselamatan". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. KEBUN TANPA AGAMA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendapat buku bertajuk asli &lt;i&gt;Jardin Sans Religion&lt;/i&gt; ini dari Dominique pada 15 September 2008. Fabel yang menyerupai &lt;i&gt;Animal Farm &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/i&gt; ini selesai ditulis oleh Desiree pada 17 Agustus 1945. Karena tak paham bahasa Prancis, aku meminta temanku, Udonk Chefudonk, menerjemahkan buku itu. Ketika memberikan hasil terjemahan, dia bilang kepadaku, "Kuberi judul buku lucu ini &lt;i&gt;Kebun Tanpa Agama&lt;/i&gt;. Kuharap kau tidak akan menjadi ateis setelah membacanya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Udonk berlebihan. Buku ini tak lebih dan tak kurang hanya merupakan percakapan semut, ulat, ular, kupu-kupu, siput, capung, dan beberapa hewan yang biasa berkeliaran di kebun tentang agama. Mereka merasa 10 hari lagi bakal kiamat dan mereka membutuhkan agama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hanya agama yang akan menyelamatkan kita," kata capung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi hewan-hewan di kapal Nuh tak beragama dan mereka semua selamat," kata siput. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saat itu hewan memang tidak perlu beragama," capung memberi penjelasan, "Kita harus meniru manusia. Mereka selamat dari segala malapetaka karena mereka beragama." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oke, mari kita beragama!" kata ulat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Agama akan menghaluskan hati kita!" kata kupu-kupu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Agama akan membuat kita saling mengasihi!" teriak ular. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tunggu dulu! Apakah agama kita ama dengan agama manusia?" tanya siput, "apakah agama yang kita pilih nanti membuat kita menjadi makhluk penuh cinta? Pertanyaanku berikutnya, apakah di kebun ini ada agamar, nabi, malaikat, kitab suci, mukjizat, surga, dan neraka?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah akan ada badai kalau kita tidak beragama?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah ada banjir?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah ada bahasa yang dikacaukan?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah ada api yang menyembur dari berbagai penjuru?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentu saja aku tak tahu!" kata capung, "aku tak pernah beragama dan membaca Kitab Suci-Nya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau kau tidak tahu, mengapa kau menganjurkan kami beragama?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja percakapan tidak behenti sampai di situ. Selama 10 hari mereka mendiskusikan sesuatu yang tak pernah mereka pahami itu. Hari pertama, mereka membahas hubungan antara gerimis dan agama. Hari kedua, mengorek relasi warna langit dan surga. Hari ketiga, membeda perbedaan api dan neraka. Hari keempat, mempertanyakan hakikat malaikat dan hewan-hewan pemangsa. Hari kelima, menghitung jumlah dosa masing-masing. Hari keenam, belajar memahami nuansa sinar matahari. Hari ketujuh, mereka beristirahat. Hari kedelapan, mereka melupakan apa pun yang pernah mereka bicarakan. Hari kesembilan, mereka mengingat amal apa pun yang pernah dilakukan. Hari kesepuluh, mereka bingung apakah akan beragama atau tidak tetapi tetap yakin pada saat itu kiamat akan datang.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus terang aku bingung apakah sesungguhnya mereka perlu beragama atau tidak ketika sebentar lagi seseorang akan membakar kebun itu dengan tanpa pernah memikirkan agama para hewan dan tumbuhan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. SIDDHARTA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu buku yang tidak pernah bisa kubaca dengan tuntas. Buku itu bertajuk &lt;i&gt;Siddharta&lt;/i&gt; karya Hermann Hesse. Setiap sampai pada halaman 156-162, aku tidak sanggup meneruskan membaca halaman-halaman lain. Aku tak tahu apakah novel itu berakhir pada 170 atau 174. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba kau baca sendiri kisah ini, kisah setelah Siddharta ditanya oleh Govinda, tentang apakah dia punya ajaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Siddharta, "Kau tahu, temanku yang baik, sejak aku masih muda, ketika kita hidup di hutan besama para pertapa, aku mulai tidak memercayai guru-guru dan ajaran, dan meninggalkan mereka. Aku tetap memegang ini. Walaupun begitu, aku punya banyak guru sejak itu. Seorang pelacur cantik menjadi guruku sangat lama, dan seorang pedagang kaya adalah guruku, dan beberapa pejudi yang bermain dadu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Suatu kali, bahkan seorang pengikut Budhha yang berjalan kaki menjadi guruku; dia duduk bersamaku ketika aku tertidur di hutan saat berziarah... Tetapi aku paling banyak belajar dari sungai ini, dan dari pendahuluku, Vasudeva, tukang tambang. Dia orang yang sangat bersahaja, dia bukan pemikir, tetapi dia tahu apa yang dibutuhkan, persis seperti Gautama, dia orang yang sempurna, seorang yang suci." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di titik ini aku sudah mulai meneteskan air mata. Sadar bertapa aku tidak pernah berguru pada apa pun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu ketika Siddharta berkata lagi kepada Govinda, tentang cinta, tentang sesuatu yang disepelekan siapa pun, aku benar-benar menangis. Bagaimana tidak menangis jika Siddharta bilang, "...aku hanya tertarik pada kemampuan mencintai dunia, bukan menistanya, bukan membencinya dan diriku mampu memandangnya... dengan cinta dan ketakjuban dan penghormatan tinggi...?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menangis karena aku yakin aku telah lama menyepelekan cinta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. SERAT BOLONGGROWONG &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku ini  ditulis pada akhir abad ke-19 dan aku yakin dianggit oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita atau seseorang yang meniru cara-cara menulis pujangga yang hidup pada 15 Maret 1802 hingga 24 Desember 1873 itu. Jika pernah membaca &lt;i&gt;Serat Gatholoco&lt;/i&gt;, yang juga dicurigai ditulis oleh cucu Raden Ngabehi Yasadipura II, kau akan mudah sekali menafsirkan buku bertajuk &lt;i&gt;Serat Bolonggrowong&lt;/i&gt; ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya perlu kuingatkan, kita harus menjadi pembaca tabah agar bisa memasuki jiwa Bolonggrowong. Bolonggrowong, tokoh utama buku yang kubeli dari pedagang buku bekas di Surakarta ini, suka meledek pembaca. Di bagian awal dia bilang dalam bahasa Jawa yang sangat kasar: &lt;i&gt;kalian semua lebih mirip anjing/ membaca buku tidak dengan hati hening/ baru kalimat pertama sudah mendengus-dengus/ menganggap pujangga sekadar tinja hangus&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bagian akhir dia meledek dengan lebih kasar lagi, &lt;i&gt;"Piye, Su,"&lt;/i&gt; kata Bolonggrowong, perempuan yang seluruh tubuhnya berlendir itu, &lt;i&gt;"apakah kau masih jadi anjing jalanan/ setelah membaca seluruh sumpah serapahku/ apakah kau masih kudisan/ dan makin menjauh dengan Gusti Allah-mu?"&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja bagian awal dan akhir itu tidak terlalu penting. Inti buku ini terletak pada perdebatan seorang penjual buku bernama Cahya Semunar dengan Bolonggrowong di pasar. "Aku telah membaca hampir semua buku," kata Cahya Semunar,"Aku ingin bertanya kepadamu buku apa yang kau anggap paling berguna untuk hidup?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tak pernah membaca buku," jawab Bolonggrowong, "Setiap yang kau lihat -gerak angin, kelebat anjing, kepak sayap gagak, dan api yang membakar jerami- adalah buku. Paham semua tanda-tanda alam dan zaman lebih berharga daripada pengetahuan dari 1.000 buku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah kau berani berdebat tentang nabi dan agama denganku?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dalam soal debat, tak ada yang perlu kutakuti." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Berapa jumlah nabi di Jawa? Kau tak akan mengatakan Adam lahir di Jawa, perahu Nuh terdampar di Gunung Merapi, dan Sulaiman yang membangun Borobudur, bukan?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika tahu jumlah wali wudhar &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; maka kau akan tahu berapa jumlah nabi di Jawa. Jika kau tahu, siapa yang kali pertama menyebut &lt;i&gt;macan&lt;/i&gt; untuk &lt;i&gt;macan&lt;/i&gt;, kau akan tahu apakah Nabi Adam lahir di Jawa atau Sumatera. Jika tahu apakah Borobudur dibangun oleh aneka burung, satwa air, dan hewan-hewan melata, maka kau akan tahu pula apakah Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman atau Raja Samaratungga." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah kau hendak mengatakan kita memiliki lebih dari 1.000 nabi?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tergantung ada atau tidak 1.000 nabi yang dibuatkan semacam s&lt;i&gt;irah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;selawatan&lt;/i&gt;." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Berapa jumlah malaikat?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sejumlah yang kau angankan." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Satu, 10, 100, 1.000?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika kau menginginkan 10, malaikatmu akan berjumlah 10. Jika kau menginginkan 100 malaikatmu akan berjumlah 100. Jika kau menginginkan bersayap, mereka akan bersayap. Jika kau menginginkan berwajah burung, mereka tidak akan berwajah ular." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semua penjelasanmu sepertinya tak bersandar pada kitab." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Justru aku bertolak dari segala yang kuketahui dari balik Dinding Rahasia." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah Dinding Rahasia?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesuatu yang menjadi tirai bagi apa pun yang tidak kau ketahui di alam fana." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semacam Dinding Hantu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Justru Ia merupakan Dinding Tuhan." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dinding Tuhan?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya. Ia sebenarnya semacam cermin raksasa tempat semua manusia melihat apakah dia sudah menjadi makhluk yang layak menyatu dengan-Nya. Di Dinding Rahasia inilah kau bisa bertanya, 'Gusti, apakah aku telah layak menjadi makhluk paling suci atau sekadar satwa sengsara?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, kau mulai berlagak seperti wali." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku memang wali. Wali bagi diriku sendiri." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kata-katamu makin dangkal.Mulutmu makin ceriwis." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah tidak sebaliknya? Coba aku bertanya: lewat pintu surga yang mana agar kita segera sampai kepada-Nya?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lewat satu pintu yang telah ditetapkan." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hanya satu pintu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hanya satu pintu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah kau yakin Gusti Allah hanya menyediakan satu pintu? Bagaimana jika ternyata Ia menyediakan 1.000 pintu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tetap hanya memilih satu pintu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pintu yang mana?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pintu yang paling kuyakini." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau pintu itu ternyata telah ditutup, apakah kau juga akan ngotot berdiri di depan pintu dan mengetuk pintu itu sepanjang waktu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahya Semunar terdiam. Dia kian bingung menghadapi Bolonggrowong. Sebaliknya, merasa mendapat angin, Bolonggrowong mencecar Cahya Semunar dengan beberapa pertanyaan lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Menurutmu, apakah ajaran utama kehidupan?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengenal Gusti Allah." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Salah! Kau harus mengenal dirimu sendiri dulu. Lalu apa lagi?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Memahami para nabi." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Salah! Kau harus memahami para tetanggamu dulu. Lalu apa lagi?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Menghajar dajal." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Salah! Kau harus menghajar diri sendiri dulu. Lalu apa lagi?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentu saja sembahyang." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sembahyang untuk siapa?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentu untuk Allah semata." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Salah! Sembahyang adalah wujud cinta kita kepada-Nya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual-beli kita kepada-Nya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahya Semunar kian terdiam. Meskipun demikian, dia tidak gentar berdebat dengan Bolonggrowong. Dia mengubah taktik. Dia meledek Bolonggrowong dengan bahasa sangat kasar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Menurutmu apakah kau manusia? Bukankah tubuhmu berlendir dan wajahmu tak beda dari raut anjing?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tak keberatan dianggap sebagai anjing. Yang menentukan aku anjing atau siput tak lain Gusti Allah semata." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan sok bersandar kepada Allah. Siapa kau sebenarnya?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Namaku Bolonggrowong. Aku bukan siapa-siapa. Aku tiada tetapi selalu ada." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau semacam Khidir?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan. Aku hanyalah sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan. Aku sesuatu yang bolong. Growong. Jangan sekali-kali memujiku. Aku mati jika dipuji. Jangan sekali-kali mencintaiku. Aku mati saat dicintai. Tetap saja anggap aku tak ada. Aku hanya ingin sekali-kali --mungkin bersama Khidir-- mengingatkanmu: hidup itu permainan masa kecil sebelum kau mati dalam dekapan maut yang memesona. Sekarang, kau tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun aku ini siapa." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. BUKU-BUKU YANG BELUM KUBACA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya masih ada beberapa buku lagi yang dibakar. Mungkin ada 10 atau 11 buku. Di antara buku-buku itu ada yang belum kubaca, antara lain &lt;i&gt;The End of Religion&lt;/i&gt; yang ditulis oleh Bruxy Cavey, &lt;i&gt;The End of Faith: Religion, Terror, and The Future of Reason&lt;/i&gt; (Sam Harris), &lt;i&gt;Masa Depan Tuhan, Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme&lt;/i&gt; (Karen Armstrong), &lt;i&gt;Taksih Betah Agama Ageming Aji&lt;/i&gt; (Bagong Slamet Triyono), dan &lt;i&gt;Semacam Gangguan Kecil pada Tawa Tuhan&lt;/i&gt; (manuskrip kumpulan cerita pengarang tak terkenal). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. NOTA BENE: BUKU TERLARANG &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya satu. Judulnya: &lt;i&gt;Rahasia Kematian Agama-Agama Baru, Rahasia Kebangkitan Agama-Agama lama&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, silakan mencari pembakar buku-buku itu. Jika sudah ketemu, kontak aku, Gabriela Maruroh, di nomor 08164889612 atau gabriela@yahoo.com. *** &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Semarang, 25 Januari 2015&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan: &lt;br /&gt;
1. &lt;i&gt;Animal Farm&lt;/i&gt; adalah novel karya George Orwell. &lt;br /&gt;
2. &lt;i&gt;Wali wudhar&lt;/i&gt;, paling tidak menurut Al Makin dar UIN Sunan Kalijaga, dipahami oleh para kiai istana sebagai nabi, bukan wali. &lt;i&gt;Wali wudhar&lt;/i&gt; bisa berkomunikasi dengan alam gaib dan langit. Mereka mendapatkan wangsit, ilham, bisikan, tuntunan, dan wahyu untuk menyelamatkan tanah, iman, dan harga diri. &lt;br /&gt;
&lt;hr align="left" width="50%" /&gt;
TRIYANTO TRIWIKROMO, peraih Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2009. Bukunya, antara lain, &lt;i&gt;Surga Sungsang&lt;/i&gt; (Lima Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014), dan kumpulan puisi &lt;i&gt;Kematian Kecil Kartosoewirjo&lt;/i&gt; (2015).</content><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/feeds/4387656542588269236/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/serat-bolonggrowong-dan-buku-buku-lain.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/4387656542588269236" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/7976400029546626037/posts/default/4387656542588269236" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://pekanbaca.blogspot.com/2015/03/serat-bolonggrowong-dan-buku-buku-lain.html" rel="alternate" title="Serat Bolonggrowong dan Buku-Buku Lain yang Dibakar oleh Polisi Agama" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11848711664009991583</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPq2sFI5Z7WgeqojTa10kka7dcuyJUp1eA9eqbCTh8GzKSHgkL4oQM_Gs1SgAAVtnKw6o9sGKHeiAIb66_0X1-znJLf7I5lnqrOy0EjvaqqfBb99jFANay9cecJkp3AnKUbU4Wb39SdklE/s72-c/Cerpen+Jawa+Pos+-+Serat+Bolonggrowong+dan+Buku-Buku+Lain+yang+Dibakar+oleh+Polisi+Agama.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>