<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544</atom:id><lastBuildDate>Mon, 07 Sep 2026 05:31:02 +0000</lastBuildDate><category>Pengetahuan</category><category>Renungan</category><category>Buddhis</category><category>Informasi</category><category>Lirik Lagu Buddhis</category><category>Semangat</category><category>Kisah Nyata</category><category>Syukur</category><category>Paritta / Sutta</category><category>Tokoh Buddhis</category><category>Emosi</category><category>Joke</category><category>Plum Village Songs</category><category>Pemimpin</category><category>web</category><title>Give Light and People Will Find The Way</title><description>The collection of stories try to help people to find their way. To share, to care, and to love.</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Fang)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>447</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-3244005187164663698</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:57:17.233+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Bikkhu dan Makhluk Halus Penghuni Hutan</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Sang Buddha sedang                    berdiam di Savatthi 
bersama dengan murid-muridnya, Sang Buddha                    
memerintahkan kelima ratus orang muridnya untuk berlatih diri,          
          bermeditasi di hutan untuk mencapai tingkat kesucian. Kelima  
                  ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju ke suatu 
desa yang                    cukup besar. Penduduk desa yang ketika 
mengetahui murid-murid                    Sang Buddha mendatangi desa 
mereka, segera menyambutnya dengan                    menyiapkan tempat 
untuk beristirahat, dan mempersembahkan bubur                    dan 
makanan lainnya. Mereka lalu bertanya:&lt;br /&gt;
“Kemanakah Bhante akan pergi?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Para bhikkhu itu menjawab:&lt;br /&gt;
“Kami akan pergi ke suatu tempat yang                    nyaman”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span id=&quot;more-5087&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Penduduk desa itu menyarankan:&lt;br /&gt;
“Bhante, tinggallah di hutan di dekat                    desa kami ini 
selama tiga bulan, sehingga kami dapat mempelajari                    
Dhamma dibawah bimbinganmu”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Para bhikkhu menyetujuinya, dan para penduduk berkata lagi:&lt;br /&gt;
“Bhante, di dekat desa kami ada hutan                    kecil, Bhante dapat tinggal di sana”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju hutan yang                    ditunjukkan penduduk desa.&lt;br /&gt;
Di dalam hutan itu banyak terdapat makhluk                    halus penghuni hutan, mereka mengetahui kedatangan para bhikkhu,&lt;br /&gt;
“Sekumpulan bhikkhu akan datang ke                    hutan ini, apabila
 para bhikkhu itu tinggal di sini, pasti tidak                    enak 
lagi kita berdiam di sini bersama anak dan istri”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka turun dari pohon dan duduk di bawah, mereka berpikir                    lagi:&lt;br /&gt;
“Kalau bhikkhu-bhikkhu itu tinggal                    di sini hanya satu
 malam, besok mereka pasti pergi dari hutan                    ini”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka lalu duduk diam di bawah pohon. Tetapi keesokkan harinya         
           setelah para bhikkhu berpindapata ke desa di dekat hutan itu 
                   dan makan hasil pindapatanya, ternyata mereka kembali
 ke hutan                    itu. Para makhluk halus penghuni hutan itu 
berpikir:&lt;br /&gt;
“Besok, kalau ada yang mengundang                    mereka, mereka 
pasti pergi dari sini. Kalau hari ini mereka                    tidak 
jadi pergi, besok mereka pasti pergi”. Setelah berpikir                 
   demikian, mereka duduk kembali di bawah pohon sepanjang malam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Makhluk halus penghuni hutan ragu-ragu,                    apakah para 
bhikkhu itu akan segera pergi dari tempat tinggal                    
mereka, lalu berpikir kembali:&lt;br /&gt;
“Apabila para bhikkhu ini tinggal                    di sini selama tiga
 bulan, pasti tidak enak lagi tinggal di                    sini, 
lagipula kita sudah lelah sekali duduk di bawah. Bagaimana              
      yah, caranya supaya para bhikkhu ini pergi dari sini?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Karena merasa terganggu akhirnya makhluk halus penghuni hutan           
         itu mengganggu para bhikkhu supaya mereka pergi dari tempat    
                tinggal mereka. Siang dan malam hari para bhikkhu itu 
diganggu,                    ada yang melihat kepala-kepala beterbangan,
 ada pula yang melihat                    badan tanpa ada kepalanya 
berjalan-jalan, lalu terdengar suara-suara                    yang 
menyeramkan.&lt;br /&gt;
Pada waktu yang bersamaan, para bhikkhu                    itu banyak 
yang menderita bermacam-macam penyakit, ada yang                    
sakit batuk, pilek atau sakit-sakit lainnya. Mereka lalu saling         
           bertanya:&lt;br /&gt;
“Saudaraku, kamu sakit apa?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya sakit pilek”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya batuk-batuk”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Saudaraku, hari ini saya melihat                    banyak kepala beterbangan”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Saudaraku, di malam hari saya melihat                    badan tanpa kepala berjalan-jalan”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mendengar suara-suara yang menyeramkan”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Saudaraku, kita harus meninggalkan                    tempat ini, 
tempat ini tidak cocok untuk kita. Mari kita menemui                    
Guru kita, Sang Buddha”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka meninggalkan hutan itu dan menemui                    Sang 
Buddha, setelah memberikan hormatnya dengan bernamaskara,               
     mereka lalu duduk dan menceritakan mengapa mereka kembali, Sang    
                Buddha lalu berkata:&lt;br /&gt;
“Bhikkhu, mengapa kalian tidak dapat                    tinggal di hutan itu?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Para bhikkhu menjawab:&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, kami tidak dapat lagi                    tinggal di sana, 
tempat itu amat menyeramkan, banyak hal menakutkan                    
yang kami lihat dan alami. Tempat itu tidak nyaman untuk kami,          
          jadi kami memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali menemui
                    Yang Mulia”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Bhikkhu, kamu harus kembali ke tempat                    itu”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf Yang Mulia, kami tidak mau kembali                    ke sana”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Bhikkhu, ketika kamu pergi ke hutan                    itu untuk 
pertama kalinya, kamu tidak membawa “senjata”.                    Dan 
sekarang kamu harus membawa “senjata” bila kamu                    
kembali ke sana”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
“Senjata apakah itu Yang Mulia?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Buddha lalu menjawab,&lt;br /&gt;
“Aku akan memberikan senjata yang                    dapat kamu bawa kemana pun kamu pergi”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Inilah yang harus dilaksanakan&lt;br /&gt;
oleh mereka-mereka yang tekun dalam kebaikan.&lt;br /&gt;
Dan telah mencapai ketenangan bathin.&lt;br /&gt;
Ia harus pandai, jujur, sangat jujur.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Merasa puas, mudah dirawat&lt;br /&gt;
Tiada sibuk, sederhana hidupnya&lt;br /&gt;
Tenang indrianya, selalu waspada&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
Tahu malu, tidak melekat pada keluarga &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Tak berbuat kesalahan walaupun kecil&lt;br /&gt;
yang dapat dicela oleh para Bijaksana.&lt;br /&gt;
Hendaklah ia selalu berpikir:&lt;br /&gt;
“Semoga semua makhluk sejahtera dan damai,&lt;br /&gt;
semoga semua makhluk berbahagia”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Makhluk apapun juga&lt;br /&gt;
Baik yang lemah atau yang kuat tanpa kecuali&lt;br /&gt;
Yang panjang atau yang besar&lt;br /&gt;
yang sedang, pendek, kurus atau gemuk&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Yang terlihat atau tidak terlihat&lt;br /&gt;
Yang jauh maupun yang dekat&lt;br /&gt;
Yang telah terlahir atau yang akan dilahirkan&lt;br /&gt;
Semoga semuanya berbahagia&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Jangan menipu orang lain&lt;br /&gt;
Atau menghina siapa saja,&lt;br /&gt;
Janganlah karena marah dan benci&lt;br /&gt;
Mengharapkan orang lain mendapat celaka&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya&lt;br /&gt;
Untuk melindungi anaknya yang tunggal&lt;br /&gt;
Demikianlah terhadap semua makhluk&lt;br /&gt;
Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Hendaknya pikiran kasih sayang&lt;br /&gt;
Dipancarkannya ke seluruh penjuru alam,&lt;br /&gt;
ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling&lt;br /&gt;
Tanpa rintangan, tanpa benci, atau permusuhan&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Sewaktu berdiri, berjalan, atau duduk&lt;br /&gt;
Atau berbaring sesaat sebelum tidur&lt;br /&gt;
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini&lt;br /&gt;
Yang dinamakan “Kediaman Brahma”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Tidak berpegang pada pandangan yang salah&lt;br /&gt;
Tekun dalam sila dan memiliki kebijaksanaan,&lt;br /&gt;
Hingga bathinnya bersih dari segala nafsu indria&lt;br /&gt;
Maka ia tak akan lahir lagi dalam rahim manapun juga&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selesainya Sang Buddha                    mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta, Sang Buddha berkata:&lt;br /&gt;
“Bhikkhu, bacakanlah Karaniya Metta                    Sutta ini, ketika
 kamu hendak masuk ke dalam hutan, dan ketika                    hendak 
memasuki tempat meditasi”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berkata demikian, Sang Buddha melepaskan para bhikkhu                    kembali ke hutan.&lt;br /&gt;
Para bhikkhu menghormat Sang Buddha dan                    kembali ke 
hutan dengan membawa “senjata” yang telah                    Sang Buddha
 ajarkan. Dengan membacakan Karaniya Metta Sutta                    
bersama-sama, mereka masuk ke dalam hutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Makhluk halus penghuni hutan mendengar                    Karaniya Metta
 Sutta, yang menggambarkan cinta kasih dan belas                    
kasihan kepada semua makhluk. Sesudahnya mereka amat senang             
       dan merasa bersahabat dengan para bhikkhu. Kemudian mereka 
mendatangi                    para bhikkhu dan minta ijin agar 
diperbolehkan membawakan mangkok-mangkok                    dan 
jubah-jubah. Mereka membersihkan tangan dan kaki para bhikkhu,          
          lalu menempatkan penjagaan yang kuat di sekelilingnya. Mereka 
                   duduk bersama-sama para bhikkhu, berjaga-jaga. 
Suara-suara dan                    bayangan-bayangan menakutkan tidak 
ada lagi, para bhikkhu menjadi                    tenang dan nyaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka segera duduk bermeditasi, melatih                    diri pada 
siang dan malam hari, untuk mendapatkan Pandangan                    
Terang. Dengan pikiran yang terpusat dan terkendali mereka merenungkan  
                  kematian, tentang tubuh yang mudah rusak dan membusuk,
 lalu                    mereka menarik kesimpulan,&lt;br /&gt;
“Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka lalu mengembangkan Pandangan Terang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Buddha yang sedang bermeditasi mengetahui                    bahwa 
murid-muridnya mulai mengembangkan Pandangan Terang, lalu               
     ia berbicara kepada mereka:&lt;br /&gt;
“Demikianlah bhikkhu. Tubuh ini rapuh                    bagaikan tempayan”.&lt;br /&gt;
Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengirimkan bayangan dirinya       
             yang dapat terlihat dengan jelas oleh murid-muridnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Sang Buddha berada amat jauh,                    tetapi para 
bhikkhu dapat melihat Sang Buddha dalam bentuk yang                    
nyata, dengan memancarkan sinar yang amat terang, Sang Buddha           
         mengucapkan syair:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Dengan menyadari                    bahwa tubuh ini rapuh 
bagaikan tempayan, maka hendaknya seseorang                    
memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota dan menyerang mara         
           dengan senjata kabijaksanaan”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(Dhammapada, Citta Vagga                    no. 8)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia harus menjaga apa yang telah                    ditaklukkannya dan tidak melekat pada apapun juga.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: samaggi-phala.or.id &lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/bikkhu-dan-makhluk-halus-penghuni-hutan.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-1799084686306750895</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:30:59.541+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><title>Buddha Jaya Mangala Gatha</title><description>Bāhum sahassam-abhinimmita-sāyudhantam&lt;br /&gt;
Grīmekhalam udita-ghora-sasena-māram&lt;br /&gt;
Dānādi-dhamma-vidhinā jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-mara.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mārātirekam-abhiyujjhita-sabba-rattim&lt;br /&gt;
Ghorampanāḷavaka-makkham-athaddha yakkham&lt;br /&gt;
Khantī-sudanta-vidhinā jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-yakkha.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nāḷāgirim gaja-varam atimattabhūtam&lt;br /&gt;
Dāvaggi-cakkam-asanīva sudāruṇantam&lt;br /&gt;
Mettambuseka-vidhinā jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-gaja-nalagiri.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ukkhitta-khaggam-atihattha sudāruṇantam&lt;br /&gt;
Dhāvan-ti-yojana-pathanguli-mālavantam&lt;br /&gt;
Iddhībhisankhata-mano jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-angulimala.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katvāna kaṭṭham-udaram iva gabbhinīyā&lt;br /&gt;
Ciñcāya duṭṭha-vacanam jana-kāya-majjhe&lt;br /&gt;
Santena soma-vidhinā jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-mengalahkan-cinca.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saccam vihāya mati-saccaka-vāda-ketum&lt;br /&gt;
Vādābhiropita-manam ati-andhabhūtam&lt;br /&gt;
Paññā-padīpa-jalito jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-saccaka.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&amp;nbsp; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nandopananda-bhujagam vibudham mahiddhim&lt;br /&gt;
Puttena thera-bhujagena damāpayanto&lt;br /&gt;
Iddhūpadesa-vidhinā jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-raja-naga-nandopananda.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duggāha-diṭṭhi-bhujagena sudaṭṭha-hattham&lt;br /&gt;
Brahmam visuddhi-jutim-iddhi-bakābhidhānam&lt;br /&gt;
Ñāṇāgadena vidhinā jitavā munindo&lt;br /&gt;
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-dewa-brahma-baka.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Etā&#39;pi Buddha-jaya-mangala-aṭṭha-gāthā&lt;br /&gt;
Yo vācano dinadine sarate matandī&lt;br /&gt;
Hitvānaneka-vividhāni cupaddavāni&lt;br /&gt;
Mokkham sukham adhigameyya naro sapañño.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Terjemahan Indonesia&lt;/h4&gt;
Dengan seribu tangan,&lt;br /&gt;
yang masing-masing memegang senjata&lt;br /&gt;
Dengan menunggang gajah Girimekhala, &lt;br /&gt;
Māra bersama pasukannya meraung menakutkan;&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan Dhamma-Dāna&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-mara.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari Māra yang membuat onar sepanjang malam&lt;br /&gt;
Adalah Yakkha Āḷavaka yang menakutkan, bengis dan congkak&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya, menjinakkannya dengan kesabaran;&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-yakkha.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nāḷāgiri gajah mulia menjadi sangat gila&lt;br /&gt;
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar,&lt;br /&gt;
bagai senjata roda atau halilintar;&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan percikan air cinta kasih;&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-gaja-nalagiri.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat kejam, dengan pedang terhunus dalam tangan yang kokoh kuat;&lt;br /&gt;
Angulimāla berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana &lt;br /&gt;
dengan berkalung untaian jari;&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya &lt;br /&gt;
dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan;&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-angulimala.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuat perutnya gendut seperti wanita hamil &lt;br /&gt;
dengan mengikatkan sepotong kayu;&lt;br /&gt;
Ciñcā memfitnah di tengah-tengah banyak orang&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya &lt;br /&gt;
dengan sikap kesatria dan kedamaian;&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-mengalahkan-cinca.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Saccaka, yang biasanya berkata menyimpang dari kebenaran&lt;br /&gt;
Dengan pikiran buta, mengembangkan teorinya bagaikan bendera;&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya &lt;br /&gt;
dengan terangnya pelita kebijaksanaan;&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-saccaka.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nandopananda naga berpengertian salah memiliki kekuatan besar;&lt;br /&gt;
Putra Sang Buddha yang terkemuka (Moggallāna Thera)&lt;br /&gt;
sebagai naga pergi untuk menjinakkan;&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kekuatan sakti&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-raja-naga-nandopananda.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaikan ular yang melilit pada lengan, &lt;br /&gt;
demikian pandangan salah dimiliki;Oleh Bakā, &lt;br /&gt;
dewa Brahma yang memiliki sinar dan kekuatan&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan obat pengetahuan&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-dewa-brahma-baka.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baca Kisah &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah delapan Syair Kemenangan Sempurna Sang Buddha&lt;br /&gt;
Yang seharusnya dibaca dan direnungkan setiap hari tanpa rasa malas;&lt;br /&gt;
Hingga mampu mengatasi berbagai rintangan&lt;br /&gt;
Orang bijaksana dapat mencapai Pembebasan dan Kebahagiaan. </description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/buddha-jaya-mangala-gatha.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-2012376539594386441</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:28:22.398+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Menaklukkan Dewa Brahma Baka</title><description>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Duggahaditthi bhujagena sudattha                    hattham&lt;br /&gt;
Brahmam visudhi jutimiddhi bakabhidhanam&lt;br /&gt;
Nanagadena vidhina jitava munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasa bhavatu te jayamangalani &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Bagaikan ular yang melilit pada lengan,&lt;br /&gt;
Demikian pandangan salah dimiliki oleh Baka, Dewa Brahma yang                    memiliki sinar dan kekuatan&lt;br /&gt;
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan obat pengetahuan&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna &lt;span id=&quot;more-5425&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Sang Buddha sedang bersemayam                    di Vihara 
Jetavana, Beliau mengetahui bahwa Dewa Brahma Baka,                    
mempunyai pandangan yang salah. Ia berpendapat bahwa Brahma-loka        
            (=Alam Brahma) adalah kekal, tetap untuk selama-lamanya, 
abadi,                    tidak berubah; selain di alam Brahma tidak ada
 penyelamatan                    atau pembebasan secara menyeluruh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di dalam kelahirannya yang terdahulu,                    Dewa Brahma 
Baka yang berlatih meditasi, terlahir kembali di                    
Surga Vehapphala. Beliau berada di sana selama lima ratus kalpa         
           2), lalu terlahir kembali di Surga Subhakinna. Sesudah berada
                    di sana selama enam puluh empat kalpa, ia terlahir 
kembali di                    Surga Abhassara, di sana ia berada selama 
delapan kalpa. Di                    Surga Abhassara inilah ia mempunyai
 pandangan salah. Ia lupa                    bahwa ia pindah dari Alam 
Brahma yang tertinggi dan terlahir                    di Alam Surga yang
 lebih rendah yaitu Surga Abhassara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha mengetahui pandangan yang salah                    ini. 
Beliau lalu menghilang dari Vihara Jetavana dan muncul                  
  di Alam Brahma. Vasavatti Mara mengetahui maksud Sang Guru Agung      
              ini; dan ia berniat untuk menghalangi, ia lalu pergi ke 
Alam                    Brahma yang sama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Sang Buddha mulai berbicara                    dengan Dewa 
Brahma Baka, Mara menyela pembicaraan dengan mengatakan                 
   bahwa Dewa Brahma Baka amat bijaksana dan mempunyai kekuatan         
           terhadap Dewa Brahma lainnya. Bahwa ialah yang menciptakan 
dunia                    ini, menciptakan Gunung Maha Meru (nama gunung 
tertinggi di                    dunia ini), dan menciptakan dunia-dunia 
lain; ia pula yang menentukan                    kasta atau tingkatan 
suatu mahluk; ia pula yang menciptakan                    bermacam-macam
 binatang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mara berkata kepada Sang Buddha :&lt;br /&gt;
“Tidak ada seorang pertapapun sebelum Kamu yang berpikir                
    bahwa dunia ini tidak abadi. Dan sesudah mempelajari bahwa segala   
                 sesuatu itu tidak abadi, mereka langsung masuk ke 
neraka. Ada                    beberapa Dewa Brahma yang menyangkal hal 
ini, mereka menyatakan                    bahwa segala sesuatu adalah 
abadi, maka mereka terlahir kembali                    di Alam Brahma. 
Karena itu, lebih baik Kamu mengajarkan hal                    yang 
sama, seperti yang para Dewa Brahma lakukan. Saya memberiMu             
       nasehat ini, kalau Kamu mengajarkan doktrin yang sama, maka      
              Kamu akan memperoleh hadiah yang sama pula; tetapi kalau 
Kamu                    menyangkalnya maka Kamu akan hancur.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi Sang Buddha menjawab :&lt;br /&gt;
“Saya tahu siapa kamu ini. Kamu adalah Mara si Penggoda,                    janganlah kamu berpikir kamu dapat mengelabuiKu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian Dewa Brahma Baka berkata bahwa Alam                    
Brahma selalu ada, di mana tidak ada kehancuran ataupun kematian.       
             Tidak ada perpindahan dari satu alam ke alam lain; segala 
sesuatunya                    selalu kekal, tetap, abadi, mutlak dan 
tidak berubah; selain                    di Alam Brahma tidak ada 
keselamatan. Dan banyak Para Buddha                    sebelum Buddha 
Gotama, kemanakah mereka lenyap? Tidak ada seorangpun                   
 yang dapat mengatakan mereka pergi kemana; dan akan lebih baik         
           apabila Buddha Gotama merasa malu dengan doktrinNya, dan 
lebih                    baik menerima doktrin yang sama dengan para 
Dewa Brahma.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi Sang Buddha Gotama memperlihatkan kemampuanNya                
    yang luar biasa kepada Dewa Brahma Baka, dengan menjelaskan         
           tentang enam kelahiran Dewa Brahma Baka yang terdahulu, 
dimana                    Beliau sendiri menghilang tanpa diketahui 
berada di mana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Buddha lalu menjelaskan :&lt;br /&gt;
Dalam salah satu kelahirannya, Dewa Brahma Baka adalah seorang          
          pertapa yang bertempat tinggal di tepi sungai. Pada waktu itu,
                    ada lima ratus orang pedagang datang dengan membawa 
keretanya                    ke tempat yang sama pula, mereka amat sopan
 dan ramah. Tidak                    lama kemudian, sapi jantan pertama 
yang menarik kereta, pulang                    kembali ke rumah dan 
diikuti sapi-sapi jantan lainnya. Keesokan                    paginya, 
para pedagang itu tidak mempunyai minyak, makanan ataupun               
     air minum, mereka amat kelaparan dan kehausan. Mereka amat lemas,  
                  hanya berbaring saja dengan berpikir mereka akan mati 
di sana.                    Tetapi pertapa yang melihat mereka dalam 
kesulitan membawakan                    air minum, sehingga para 
pedagang itu selamat dari kematian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada lain waktu, beberapa pencuri                    mencuri di suatu
 desa, mereka mengambil barang yang mereka sukai.                    Si 
Pertapa yang mengetahui perbuatan para pencuri itu, lalu                
    menciptakan suara-suara dari barang-barang yang mereka curi         
           itu, dalam lima tangga nada yang cukup keras, sehingga para  
                  pencuri itu terkejut dan membuang barang-barang yang 
mereka                    curi. Dengan ketakutan mereka melarikan diri, 
karena mengira                    raja datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada kesempatan lain, penduduk dari dua desa                    yang 
bersisian di tepi sebuah sungai setuju pergi bersama-sama               
     naik sebuah kapal untuk berdagang. Kepergian mereka diketahui      
              oleh Naga jahat yang berniat ingin menghancurkan mereka, 
tetapi                    pertapa yang mengetahui niat jahat Naga itu 
lalu menampakkan                    dirinya sebagai garuda raksasa. 
Garuda itu menakut-nakuti dan                    menyerang Naga jahat 
itu, sehingga Naga tersebut terbang ketakutan                    tanpa 
menyentuh para pedagang. Mereka selamat dari mara bahaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena tindakan-tindakannya yang penuh dengan                    
cinta kasih kepada mahluk lain inilah, yang menyebabkan pertapa         
           itu terlahir kembali di Alam Brahma.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha Gotama menunjukkan                    kemampuanNya yang 
luar biasa sebagai seorang Buddha dalam membabarkan                    
Dhamma, menjelaskan tentang Empat Kesunyataan Mulia. Sehingga           
         pada akhirnya pikiran dari seribu dewa di Alam Brahma terbebas 
                   dari kemelekatan dan pandangan keliru.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dewa Brahma Baka mengakui bahwa apa yang Sang                    
Buddha Gotama katakan adalah benar, dan mengakui pengetahuan            
        Sang Guru Agung yang luar biasa, sehingga ia menyatakan diri    
                berlindung kepada Sang Tri Ratna, demikian pula para 
Dewa Brahma                    lainnya. Sang Buddha lalu pulang kembali 
dari Alam Brahma ke                    Vihara Jetavana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: samaggi-phala.or.id &lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-dewa-brahma-baka.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-8805149869645827750</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:28:07.702+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Menaklukkan Raja Naga Nandopananda</title><description>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Nandopananda bhujagam vibudham                    mahiddhim&lt;br /&gt;
Puttena Thera bhujagena damapayanto&lt;br /&gt;
Iddhupadesa vidhina jitava munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasa bhavatu te jayamangalani &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt; Nandopananda naga berpengertian                    salah memiliki kekuatan besar&lt;br /&gt;
Putra Sang Buddha yang Terkemuka (Moggallana Thera) sebagai                    naga pergi untuk menjinakkan&lt;br /&gt;
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kekuatan kesaktian&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu hari, jutawan Anathapindika, sesudah                    
mendengarkan Ajaran Sang Buddha di Vihara Jetavana, mengundang          
          Sang Guru Agung dengan lima ratus bhikkhu untuk menerima dana 
                   pada esok harinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span id=&quot;more-5422&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pagi-pagi sekali, pada saat Sang Buddha memeriksa                    
keadaan di dunia ini, Beliau melihat Raja Naga Nandopananda             
       mempunyai pandangan salah, tetapi mempunyai karma baik untuk     
               berlindung kepada Sang Tri Ratna. Sang Guru juga melihat 
hanya                    Bhikkhu Moggallana yang mempunyai kemampuan 
untuk menaklukkan                    Raja Naga itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha meminta Bhikkhu Ananda                    untuk memanggil
 lima ratus muridNya untuk menyertai Beliau ke                    Surga 
Tavatimsa 2). Sang Buddha beserta para bhikkhu terbang                  
  di udara. Dalam perjalanan menuju Surga Tavatimsa, mereka melintas    
                di atas kediaman Nandopananda. Ketika itu, ia sedang 
menikmati                    makanannya yang enak. Ia sangat marah 
melihat para bhikkhu terbang                    melintas di atas 
kediamannya, dan berniat untuk menghalangi                    perjalanan
 mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia lalu bergelung melingkari Gunung                    Sineru 
sebanyak tujuh kali dan kepalanya berada di puncak gunung.              
      Ia menciptakan kegelapan, membuat segala sesuatu tidak kelihatan, 
                   sehingga menyebabkan Surga Tavatimsa tidak dapat 
terlihat. Kegelapan                    yang terjadi dengan mendadak ini,
 menyebabkan Bhikkhu Ratthapala                    berkata kepada Sang 
Buddha, bahwa tidak ada surga maupun Istana                    Vejayanta
 dapat terlihat pada hari itu. Sang Buddha lalu menjelaskan             
       kepadanya bahwa Raja Naga Nandopanandalah yang menyembunyikan    
                gunung tersebut. Setelah mendengar penjelasan Sang Guru,
 Bhikkhu                    Ratthapala berkata ia akan pergi dan 
menaklukkan Raja Naga itu,                    tetapi Sang Buddha tidak 
mengijinkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian Bhikkhu Bhaddiya maju                    ke depan, 
menawarkan diri untuk menaklukkannya, tetapi Sang                    
Buddha juga tidak mengijinkannya. Kemudian Bhikkhu Rahula dan           
         beberapa bhikkhu lainnya juga tidak diijinkan oleh Sang Buddha 
                   untuk menaklukkan Raja Naga itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan seijin Sang Buddha, Bhikkhu Moggallana                    
pergi untuk menaklukkan Raja Naga Nandopananda. Beliau lalu             
       mengubah dirinya seperti Raja Naga juga, lalu mendekati 
Nandopananda.                    Ia lalu melingkari Nandopananda 
sebanyak empat belas kali dengan                    ekornya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia menaruh kepalanya di atas kepala Nandopananda                    
dan menekannya ke bawah ke Gunung Sineru. Raja Naga berusaha            
        keras untuk melepaskan diri dengan menyemburkan bisanya. Tetapi 
                   Bhikkhu Moggallana mengirimkan serangan balasan, yang
 lebih                    kuat daripada Raja Naga yang membuat Raja Naga
 itu amat menderita.                    Kemudian Raja Naga menyemburkan 
api, dan Bhikkhu Moggallana                    juga melakukan hal yang 
sama. Semburan api itu amat menyakiti                    Raja Naga, 
tetapi sebaliknya semburan api Raja Naga tidak menyakiti                
    Bhikkhu Moggallana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nandopananda lalu berteriak dengan marah :                    “Siapakah engkau?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Saya adalah Moggallana,” jawab                    Bhikkhu Moggallana yang sudah kembali ke wujudNya semula.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sesudah itu Bhikkhu Moggallana masuk ke dalam                    
salah satu kuping Raja Naga dan keluar dari kuping lainnya.             
       Ketika Raja Naga membuka mulutnya, Bhikkhu Moggallana memasuki   
                 perutnya, dan mulai berjalan naik turun, dari kepala 
sampai                    ke ekor dan dari ekor sampai ke kepala. Sang 
Buddha menegur                    Bhikkhu Moggallana dan mengingatkanNya
 akan kekuatan Raja Naga                    itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raja Naga amat marah dengan gangguan pada                    ususnya 
yang amat menyakitkan. Ia lalu memutuskan untuk menekan                 
   sampai mati kalau Bhikkhu Moggallana keluar dari mulutnya. Ia        
            lalu berkata :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, keluarlah dan jangan berjalan naik turun di                    dalam perutku ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi Bhikkhu Moggallana keluar tanpa diketahuinya.                 
   Ketika Raja Naga itu melihatNya sudah berada di luar, ia lalu        
            menyemburkan racun berbisanya yang lain. Bhikkhu Moggallana 
                   dengan segera masuk ke Jhana Keempat 3), di sana 
semburan racun                    berbisa itu tidak dapat menyentuh 
selembar rambutpun di tubuhNya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain Sang Buddha, hanya Bhikkhu Moggallana                    yang 
dapat masuk ke Jhana Keempat dengan segera. Para bhikkhu                
    lainnya harus mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan bermeditasi.
                    Bagaimanapun mereka tidak akan dapat dengan segera 
memasuki                    Jhana Keempat agar dapat terhindar dari 
semburan racun berbisa                    Raja Naga itu, karena apabila 
terlambat mereka akan hangus menjadi                    abu. Sang Buddha
 telah mengetahui kejadian yang amat kritis                    ini, dan 
tidak mengijinkan para bhikkhu yang lain, kecuali hanya                 
   Bhikkhu Moggallana yang dapat menaklukkan Raja Naga ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nandopananda menerima kekalahannya dan mengubah                    dirinya menjadi seorang pemuda dan berkata :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, saya ingin berlindung kepadaMu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia bersimpuh di kaki Bhikkhu Moggallana. Kemudian                    
Bhikkhu Moggallana mengatakan bahwa Sang Buddha ada di sini             
       dan mereka lalu pergi menemui Beliau.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bhikkhu Moggallana membawa Raja Naga ke hadapan                    Sang Buddha, lalu bersujud :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, saya ingin berlindung kepada Buddha, Dhamma                    dan Sangha.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha bersabda :&lt;br /&gt;
“O, Raja Naga, semoga kamu bahagia.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan diiringi ke lima ratus bhikkhu, Sang                    Buddha
 lalu melanjutkan perjalanan menuju Surga Tavatimsa menemui             
       Raja Sakka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah selesai, Sang Buddha kemudian kembali                    ke 
Savatthi. Jutawan Anathapindika yang sedang menunggu kedatangan         
           Sang Buddha untuk memberikan dananya, mendengar bahwa Bhikkhu
                    Moggallana dapat menaklukkan Raja Naga Nandopananda 
merasa amat                    gembira, lalu ia mempersembahkan dana 
kepada Sang Buddha dan                    ke lima ratus bhikkhu 
terus-menerus selama satu minggu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keterangan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1.Naga : Mahluk Asura yang mempunyai                    kesaktian&lt;br /&gt;
2.Surga Tavatimsa : Alam 33 Dewa yang diketuai oleh Dewa Sakka&lt;br /&gt;
3.Jhana Keempat : Salah satu tingkat pencapaian meditasi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: samaggi-phala.or.id &lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-raja-naga-nandopananda.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-1835123426603134408</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:27:48.632+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Menaklukkan Saccaka</title><description>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Saccam vihãya matisaccaka                    vãdaketum&lt;br /&gt;
Vãdãbhiropitamanam atiandabhutam&lt;br /&gt;
Paññãpadipa jalito jitavã munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt; Saccaka, yang biasanya berkata                    menyimpang dari Kebenaran&lt;br /&gt;
Dengan pikiran buta, mengembangkan teorinya bagaikan bendera&lt;br /&gt;
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan terangnya pelita kebijaksanaan&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna &lt;span id=&quot;more-15317&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang pertapa yang mempunyai                    kemampuan untuk 
mengingat lima ratus argumentasi dan perdebatan,                    tiba
 di Vesali dan ia disambut dengan baik di tempat itu. Seorang           
         pertapa wanita yang mempunyai kemampuan yang sama juga datang  
                  ke Vesali. Para pemimpin bangsa Licchavi lalu 
mempertemukan                    keduanya dalam suatu perdebatan seru. 
Ketika mereka terbukti                    sebanding sebagai pendebat, 
tidak dapat saling mengalahkan,                    orang-orang Licchavi 
lalu mendapatkan ide bahwa pasangan yang                    demikian 
pasti akan menghasilkan anak-anak yang pandai. Mereka                   
 lalu mengatur pernikahan di antara keduanya. Mereka mempunyai          
          empat orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. 
Anak-anak                    perempuan itu bernama : Sacca, Lola, 
Avavadaka dan Patacara,                    sedangkan anak laki-laki 
diberi nama Saccaka. Kelima anak ini                    ketika mencapai 
usia dewasa telah mempelajari seribu argumentasi                    dan 
perdebatan, lima ratus dipelajari dari ibu mereka dan lima              
      ratus dari ayah mereka. Orang tua mereka mengajarkan kepada       
             anak-anak perempuannya demikian : “Bila ada pria yang dapat
                    membuktikan kekeliruan dari pendapatmu, maka engkau 
harus menjadi                    istrinya, namun bila ia seorang 
pertapa, engkau harus menjadi                    muridnya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah beberapa waktu kemudian, orang tua                    mereka 
meninggal dunia. Ketika orang tuanya telah meninggal                    
dunia, Saccaka tetap tinggal di tempat yang sama, mempelajari           
         pengetahuan dan tradisi bangsa Licchavi dan mengajar para 
pangeran                    Licchavi. Ke empat orang saudara perempuan 
Saccaka membawa sebuah                    cabang pohon apel, mengembara 
sebagai pendebat dari kota ke                    kota dan pada akhirnya 
tiba di Savatthi. Mereka lalu menanam                    cabang pohon 
apel tersebut di depan gerbang kota dan berkata                    
kepada para pemuda yang berada di sana : “Bila ada seorang              
      pria, apakah dia orang biasa ataupun seorang pertapa yang dapat   
                 menandingi kami di dalam mempertahankan suatu pendapat,
 biarkan                    ia mengacak tumpukan tanah dan menginjak 
cabang pohon ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah berkata demikian mereka memasuki kota                    untuk mengumpulkan dana makanan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika itu Yang Mulia Sariputta, setelah merapikan                   
 dan membersihkan vihara, dan mengunjungi orang-orang sakit,            
        Beliau memasuki kota Savatthi untuk berpindapatta. Yang Mulia   
                 Sariputta lalu melihat dan mendengar tentang cabang 
pohon tersebut,                    Beliau lalu meminta para pemuda yang 
ada di situ untuk mencabut                    cabang pohon dan 
melemparkannya ke tanah. Beliau lalu berkata                    :&lt;br /&gt;
“Katakanlah kepada yang telah menanam cabang pohon ini,                 
   apabila mereka telah selesai bersantap untuk datang dan menemuiKu    
                di ruangan di atas gerbang Vihara Jetavana.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Mulia Sariputta lalu memasuki kota dan                    
setelah selesai bersantap, Beliau duduk menunggu di ruangan             
       di atas gerbang Vihara Jetavana. Demikian pula dengan para 
pertapa                    wanita itu, setelah mereka kembali dari 
mengumpulkan dana makanan,                    mereka menemukan cabang 
pohon yang mereka tanam telah tercabut                    dan tergeletak
 di tanah. Mereka segera menanyakan siapa yang                    telah 
berani melakukannya. Para pemuda di situ mengatakan bahwa               
     Yang Mulia Sariputtalah yang telah melakukannya, bila mereka       
             ingin berdebat, mereka ditunggu di ruangan di atas gerbang 
vihara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para pertapa wanita itu lalu kembali ke kota,                    
diikuti dengan banyak penonton yang ingin menyaksikan perdebatan        
            itu. Mereka lalu menuju ke tempat di mana Yang Mulia 
Sariputta                    menunggu. Mereka segera mengajukan seribu 
macam pertanyaan kepada                    Yang Mulia Sariputta, dan 
Beliau dapat menjawab semua pertanyaan                    itu dengan 
baik, sampai akhirnya tidak ada lagi yang dapat mereka                  
  tanyakan. Yang Mulia Sariputta bertanya, apa lagi yang akan           
         mereka utarakan, mereka menjawab : “Tidak ada lagi yang        
            akan kami tanyakan Yang Mulia.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Mulia Sariputta berkata : “Saya                    akan mengajukan satu pertanyaan kepada kalian.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi mereka tidak dapat menjawab                    pertanyaan itu, akhirnya mereka mengaku kalah:&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, kami mengaku kalah, Andalah pemenangnya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Apa yang akan kalian lakukan sekarang?”                    tanya Yang Mulia Sariputta.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka menjawab :&lt;br /&gt;
“Orang tua kami menasihatkan demikian : ‘Apabila kamu dikalahkan        
            di dalam suatu perdebatan oleh orang biasa, maka kamu harus 
                   menjadi istrinya, tetapi apabila ia seorang pertapa, 
kamu harus                    menjadi muridnya.’ Oleh karena itu, kami 
mohon kepada Yang Mulia                    untuk membimbing kami 
memasuki kehidupan suci.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Mulia Sariputta menyetujui dan mentahbiskan                    
mereka dalam Sangha Bhikkhuni yang bernama Uppalavana. Dan dalam        
            waktu yang singkat, mereka semua mencapai Tingkat Kesucian 
Arahat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saudara laki-laki mereka, Saccaka belajar                    lebih 
banyak dibandingkan saudara-saudara perempuannya. karena                
    selain ia belajar dari orang tuanya, ia juga belajar kepada         
           guru-guru yang lain. Saccaka menetap di Vesali menjadi guru  
                  bagi para pangeran. Ia terkenal sebagi pendebat ulung,
 yang                    tak terkalahkan dan ia ditakuti oleh 
lawan-lawannya. Karena                    ia merasa semakin banyak ilmu 
yang dipelajari, ia takut tubuhnya                    akan meledak, 
karena itu ia memakai ikat pinggang besi. Kepada                    
semua orang ia memproklamirkan : “Tidak seorangpun yang                 
   mempunyai ilmu yang melebihi diriku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan banyak orang yang menjadi pengikutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu hari, Saccaka bertemu dengan Yang                    Mulia
 Assaji, yang sedang berpindapatta di kota Vesali. Ketika               
     melihat Beliau, ia berpikir alangkah baiknya kalau ia dapat        
            melakukan perdebatan dengan Sang Buddha. Ia telah sering 
mendengar                    tentang Sang Buddha, tetapi ia ingin 
mengetahui terlebih dahulu                    apa yang diajarkan oleh 
Sang Guru Agung. Ia lalu menghampiri                    Yang Mulia 
Assaji dan bertanya : “Yang Mulia, bagaimanakah                    
Bhikkhu Gotama mengajar murid-muridNya? Apakah Ajaran Beliau            
        yang paling mutakhir dan paling populer?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Mulia Assaji menjawab : “Yang Maha                    Suci 
menerangkan : Bentuk (=Rupã) adalah tidak kekal                    
(=Aniccã); Kelompok perasaan (=Vedanã) adalah                    tidak 
kekal; Pencerapan (=Saññã) adalah                    tidak kekal; Bentuk
 batin yang berhubungan dengan keinginan                    (=Sankhãrã) 
adalah tidak kekal; Kesadaran (=Viññãna)                    adalah tidak
 kekal; dan Segala yang berwujud adalah tanpa jiwa                    / 
inti (=Anattã).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah Yang Maha Suci mengajarkan murid-muridNya                
    dan inilah Ajaran Beliau yang paling mutakhir dan paling populer.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Saccaka mendengar pernyataan ini, ia                    
berkata : “Sebelumnya saya tidak pernah mendengar doktrin               
     seperti itu, saya akan menemui Bhikkhu Gotama dan meyakinkan       
             Beliau akan kesalahan besar ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebelumnya Saccaka takut mengadakan perdebatan                    
dengan Sang Buddha karena ia belum mengetahui Ajaran Beliau,            
        tapi sekarang rasa takutnya telah lenyap dan dengan membual     
               tentang apa yang akan dicapainya, ia membujuk para 
pangeran                    untuk menyertainya menemui Sang Buddha. Ia 
berangkat ke Vihara                    Mahavana, dengan diiringi lima 
ratus orang pangeran Licchavi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha telah mengetahui Saccaka akan                    datang 
menemuiNya, sekembali dari berpindapatta Beliau lalu                    
meminta para bhikkhu untuk menyiapkan tempat duduk di bawah             
       sebuah pohon di hutan yang berdekatan dengan vihara tersebut.    
                Ketika Saccaka datang, ia dipersilakan menuju ke tempat 
tersebut.                    Para penduduk yang mendengar bahwa Saccaka 
datang dengan disertai                    lima ratus orang pangeran, 
untuk berdebat dengan Sang Buddha,                    berduyun-duyun 
datang ke hutan itu untuk menyaksikan perdebatan                    seru
 itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah Saccaka memberikan salam hormat kepada                    
Sang Buddha, Saccaka meminta ijin untuk mulai mengajukan pertanyaan.    
                Sang Buddha berkata, ia dapat bertanya apa saja yang 
ingin ditanyakannya.                    Saccaka lalu mengajukan 
pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakannya                    
kepada Yang Mulia Assaji. Sang Buddha menjawab pertanyaan itu           
         dengan memberi penjelasan yang menyeluruh dan terperinci 
mengenai                    dasar-dasar Ajaran Beliau, dan menunjukkan 
kekeliruan pandangan                    Saccaka. Untuk orang-orang 
tertentu, hanya seorang Samma Sambuddha                    yang dapat 
meyakinkan dan meluruskan pandangan mereka yang keliru,                 
   dan Saccaka adalah salah seorang di antaranya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah perdebatan berlangsung beberapa saat,                    Sang
 Buddha mengajukan sebuah pertanyaan kepada Saccaka, tetapi             
       ia diam tidak menjawab. Untuk kedua kalinya Sang Buddha bertanya,
                    Saccaka tetap diam. Kemudian Sang Buddha bertanya 
untuk ketiga                    kalinya, pada saat itu raja para dewa 
yaitu Dewa Sakka dengan                    memegang kapak di tangannya, 
berdiri melayang di udara, tepat                    di atas kepala 
Saccaka dan berkata :&lt;br /&gt;
“Saccaka, apabila kamu tidak mau menjawab pertanyaan Sang               
     Tathagata yang telah diajukan untuk ketiga kalinya, maka Aku       
             akan membelah kepalamu menjadi tujuh bagian.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hanya Sang Buddha dan Saccaka yang dapat melihat                    Dewa Sakka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhirnya Saccaka mengakui bahwa Ajaran Sang                    Buddha
 benar, ia mengaku kalah. Keringat membasahi tubuhnya                   
 sehingga jubahnya basah kuyup. Melihat kejadian ini, Sang Buddha       
             menunjukkan bahwa jubah Saccaka basah kuyup oleh keringat 
sedangkan                    Beliau sendiri tidak berkeringat 
sedikitpun. Merasa terkalahkan                    Saccaka tertunduk dan 
diam seribu bahasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang pangeran Licchavi bernama Durmukha                    
mengibaratkan Saccaka sebagai seekor kepiting yang semua kakinya        
            telah patah. Saccaka mengakui kekalahannya. Kemudian ia 
bertanya                    lagi tentang Ajaran Sang Buddha yang lebih 
terperinci.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia lalu mengundang Sang Buddha berserta murid-muridNya               
     untuk menerima dana makanan yang dipersembahkan di tempat 
kediamannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada kesempatan lain, Saccaka                    seorang diri 
mengunjungi Sang Buddha untuk mendengarkan uraian                    
lebih lanjut tentang Dhamma Yang Mulia. Uraian Dhamma ini tercantum     
               di dalam Maha Saccaka Sutta.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber: samaggi-phala.or.id &lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-saccaka.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-8793804326157024542</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:27:36.204+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Mengalahkan Cinca</title><description>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Katvãna katthamudaram                    iva gabbhiniyã&lt;br /&gt;
Ciñcãya duttha vacanam janakãya majjhe&lt;br /&gt;
Santena somaviddhinã jitavã munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt; Setelah membuat perutnya gendut seperti                    wanita hamil dengan mengikatkan sepotong kayu&lt;br /&gt;
Cinca memfitnah di tengah-tengah banyak orang&lt;br /&gt;
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan sikap kesatria dan                    kedamaian&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;span id=&quot;more-15316&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada saat para pertapa kehilangan                    banyak pengikut 
yang menyokong kehidupan mereka, mereka amat                    iri 
melihat banyak orang, baik kaya maupun miskin mendatangi                
    Sang Buddha untuk menyampaikan hormat dan mendengarkan Dhamma.      
              Mereka lalu melakukan perbuatan buruk, dan 
berteriak-teriak                    di tengah jalan : “Hai 
saudara-saudara ….. Apakah hanya                    Bhikkhu Gotama saja 
yang dapat menjadi seorang Buddha? Kami                    adalah para 
Buddha juga! Apakah hanya dengan berdana kepadaNya                    
saja yang akan memperoleh kebajikan? Yang berdana kepada kami,          
          juga akan memperoleh kebajikan yang sama. Karena itu kamu 
harus                    memberikan dana dan penghormatan kepada kami 
juga.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi penduduk di desa itu tetap tidak memperhatikan                
    mereka. Akhirnya para pertapa dengan diam-diam berkumpul bersama    
                dan berunding : “Dengan cara bagaimana kita dapat 
mencela                    Bhikkhu Gotama di depan orang banyak, 
sehingga orang-orang akan                    berhenti memberikan dana 
dan penghormatan kepadaNya?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada waktu itu di Savatthi, tinggallah seorang                    
pertapa wanita bernama Cinca Manavika. Ia mempunyai kecantikan          
          dan keelokan yang luar biasa. Dari tubuhnya memancar sinar 
terang                    seperti seorang dewi. Seorang penasihat 
pertapa yang kasar mengusulkan,                    dengan bantuan Cinca 
mereka akan dapat mencela Sang Buddha Gotama.                    Para 
pertapa yang lain menyetujui usulannya. Mereka lalu memanggil           
         Cinca Manavika.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cinca Manavika mendatangi para pertapa, lalu                    
memberi hormat dan berdiri menanti, tetapi para pertapa itu             
       diam saja. Ia lalu bertanya : “Ada masalah apakah Anda           
         ingin bertemu dengan saya?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertanyaan ini diulangnya tiga kali, tetapi                    para 
pertapa itu diam saja. Kemudian ia berkata lagi : “Tuan                 
   yang mulia, saya datang menghadap untuk memperoleh jawaban.          
          Ada masalah apakah Anda ingin bertemu dengan saya? Mengapa 
Anda                    tidak mau menjawab pertanyaanku?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Saudari,” jawab salah seorang pertapa,                    “Tahukah 
kamu, kalau Bhikkhu Gotama sangat merugikan kami,                    
sehingga penghasilan dan penghormatan orang-orang kepada kami           
         menjadi hilang?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tidak yang mulia, saya tidak mengenalnya,                    tetapi adakah yang dapat saya bantu dalam hal ini?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Saudari, kalau kamu mengharapkan kami                    hidup 
sejahtera, gunakanlah segala kemampuanmu, susunlah rencana              
      untuk mencela Bhikkhu Gotama, sehingga orang-orang tidak 
memberikan                    dana dan penghormatan lagi kepadaNya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cinca Manavika menjawab : “Baiklah yang                    mulia, 
saya akan melakukannya, jangan khawatir.” Setelah                    
berkata demikian, ia pergi dari pertapaan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejak saat itu, Cinca meningkatkan keahliannya                    
dalam bidang kewanitaan untuk mencapai maksudnya. Ia lalu menyusun      
              rencana, apabila penduduk Savatthi kembali dari Vihara 
Jetavana                    setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan 
oleh Sang Buddha,                    ia dengan sengaja mengenakan mantel
 panjang yang berwarna merah                    menyala, menyemprotkan 
minyak wangi dan mengenakan untaian bunga                    di 
tangannya, dan berjalan menuju ke arah Vihara Jetavana. Orang-orang     
               bertanya : “Mau kemana kamu pada malam hari begini?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Saya mau pergi kemana saja, apa urusannya                    denganmu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia lalu menghabiskan malam itu di dekat Vihara                    
Jetavana, di tempat para pertapa. Keesokan harinya ketika para          
          penduduk keluar dari rumah menuju ke vihara untuk menyampaikan
                    hormatnya kepada Sang Buddha, ia berjalan balik 
pulang masuk                    ke kota, seperti ia baru saja kembali 
dari Vihara Jetavana.                    Orang-orang bertanya : “Tidur 
di mana kamu semalam?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Apa urusannya dengan kamu, di mana saya                    tidur semalam?” jawabnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah satu setengah bulan berlalu, apabila                    orang
 bertanya dengan pertanyaan seperti di atas, ia selalu                  
  menjawab :&lt;br /&gt;
“Oh, saya menghabiskan malam ini di Vihara Jetavana sendirian                    bersama Bhikkhu Gotama di Ruang Dhammasala.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena jawabannya itulah membuat orang-orang                    
mempunyai perasaan curiga dan khawatir, tetapi mereka tidak             
       percaya akan apa yang dikatakan Cinca. Mereka bertanya-tanya     
               : “Ini benar atau salah…?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika tiga minggu sampai empat bulan berlalu,                    
Cinca lalu membalut perutnya dengan kain, sehingga terlihat             
       ia sedang hamil muda. Ia lalu pergi dan berkata kepada para      
              penduduk : “Saya mengandung bayi dari Bhikkhu Gotama.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi ia menipu dengan melakukan perbuatan                    yang 
sangat bodoh. Ketika delapan sampai sembilan bulan berlalu,             
       ia mengikat dengan kuat sepotong kayu di perutnya, dan 
menutupinya                    dengan jubah panjang. Ia lalu membuat 
seluruh tubuhnya membengkak,                    dengan cara memukuli 
tangan, kaki dan punggungnya dengan sepotong                    tulang 
kerbau. Ia merasa tubuhnya seperti orang yang sedang                    
hamil tua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada malam itu ia mendatangi Ruang                    Dhammasala dan 
berdiri di hadapan Sang Buddha. Saat itu Sang                    Buddha 
sedang duduk di tempat duduknya yang indah, di tengah                   
 Ruang Dhammasala dan sedang membabarkan Dhamma. Dengan berdiri         
           di hadapan Sang Buddha, Cinca Manavika membuka mulutnya, 
mencerca                    dengan berkata: “Hai Bhikkhu Yang Perkasa, 
kekuatanMu adalah                    mengumpulkan orang ketika sedang 
mengajarkan AjaranMu; dengan                    suaraMu yang halus dan 
lembut keluar dari bibirMu. Sayang sekali                    ternyata 
Kamu adalah orang yang menjadikan saya hamil dan saya                   
 akan melahirkan tidak lama lagi. Tetapi, Kamu juga tidak berusaha      
              untuk menyediakan tempat berbaring di ruangan ini untukku,
 ataupun                    menawarkan kepadaku susu, minyak ataupun 
keperluan lainnya yang                    aku butuhkan. Batalkan semua 
tugas yang harus Kamu kerjakan,                    tidakkah Kamu katakan
 ke orang-orang yang menjadi pengikutMu,                    seperti Raja
 Kosala, Anathapindika dan Visakha pendukungMu yang                    
terkenal itu. Katakanlah : ‘Berikanlah apa yang perempuan muda          
          ini butuhkan.’ Kamu mengetahui dengan baik bagaimana membuat  
                  kesenangan, tetapi Kamu tidak mengetahui bagaimana 
memelihara                    anak yang menjadi keturunanMu ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cinca mencerca Sang Tathagata                    di tengah-tengah 
orang banyak, seperti seorang perempuan yang                    membawa 
kotoran di tangannya dan ingin mengotori permukaan bulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha yang diganggu oleh Cinca saat                    Beliau membabarkan Dhamma hanya berkata :&lt;br /&gt;
“Saudari, apa yang kamu katakan itu benar atau salah, hanya                    Tathagata 1) dan kamu yang tahu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ya, Bhikkhu Yang Perkasa, siapakah yang                    dapat 
memutuskan apakah hal ini benar atau salah kalau hanya                  
  saya dan Kamu yang tahu?” jawab Cinca.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada saat itu juga tempat duduk Dewa Sakka                    2) 
terasa panas. Dewa Sakka mencari sebabnya mengapa tempat                
    duduknya menjadi panas, Beliau segera menyadari bahwa : “Cinca      
              Manavika berbohong dengan menuduh Sang Tathagata.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dewa Sakka lalu berkata sendiri : “Saya                    akan membuat masalah ini menjadi terang dan jelas.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dewa Sakka beserta keempat dewa                    lainnya pergi ke 
Ruang Dhammasala itu. Para Dewa itu lalu mengubah                    
dirinya menjadi tikus-tikus kecil. Dengan satu gigitan dari             
       tikus-tikus kecil itu, tali yang mengikat kayu di perut perempuan
                    itu putus. Pada waktu itu juga angin bertiup dengan 
kencangnya                    sehingga jubah panjang itu terlepas dari 
tubuh Cinca, dan sepotong                    kayu segera jatuh dari 
perutnya. Kayu itu menimpa kaki dan memutuskan                    
jari-jari kakinya. Orang-orang berteriak :&lt;br /&gt;
“Perempuan jahat ini telah mencerca Yang Maha Sempurna,                    usir dia dari sini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan segera mereka lalu mencengkeram kepalanya,                    
dengan segumpal tanah dan tongkat di tangan mereka mengusir             
       Cinca, lalu melemparkan Cinca keluar dari Vihara Jetavana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika ia tidak terlihat lagi oleh Sang Tathagata,                   
 bumi di hadapannya merekah terbelah dua dan membenamkannya sampai      
              di kedua lututnya, dan api Neraka Avici 3) segera 
menyambarnya.                    Tubuh Cinca lalu ditelan kobaran api, 
dan seperti diselimuti                    oleh selimut yang indah, 
dengan segera ia terlahir kembali di                    Neraka Avici.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejak saat itu orang-orang tidak menghormati                    para 
pertapa itu lagi, sebaliknya pengikut Sang Buddha bertambah             
       banyak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keesokan harinya, para bhikkhu berdiskusi                    di Ruang Dhammasala :&lt;br /&gt;
“Bhante, Cinca Manavika karena kesalahannya menuduh Yang                    Maha Suci, Yang Maha Sempurna, ia menjadi hancur.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Guru Agung mendekati mereka dan bertanya                    :&lt;br /&gt;
“O, Para Bhikkhu, apa yang kalian bicarakan?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika mereka menjelaskan apa yang mereka                    perbincangkan, Sang Buddha lalu menjelaskan :&lt;br /&gt;
“O, Para Bhikkhu, ini bukanlah yang pertama kali ia melakukan           
         kesalahan dengan melakukan tuduhan bohong kepadaKu dan menjadi 
                   hancur. Ia telah melakukan hal yang sama pada 
kelahirannya yang                    terdahulu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah berkata demikian, Sang Guru lalu bersabda                    :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;i&gt;Kalau seorang raja melihat dengan jelas kesalahan pada suatu                    bagian&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;
Sesudah ia sendiri menyelidiki semua fakta dengan teliti&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;
Baik kecil maupun besar, ia tidak harus memberikan hukuman&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah berkata demikian, Beliau menjelaskan                    hal 
ini secara terperinci di dalam Maha Paduma Jataka (No. 472),            
        di Nipata Dua Belas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keterangan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt;Tathagata : Yang Maha Sempurna; Sebutan untuk Sang Buddha           
             yang digunakan oleh Beliau apabila berbicara untuk diriNya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dewa Sakka : Raja para dewa&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Neraka Avici : Salah satu dari neraka yang menakutkan&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Sumber: samaggi-phala.or.id &lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-mengalahkan-cinca.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-8990916892686809132</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:27:23.961+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Menaklukkan Angulimala</title><description>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Ukkhitta khagga matihattha sudãrunantam&lt;br /&gt;
Dhãvantiyo janapathan gulimãla vantam&lt;br /&gt;
Uddhibhisankhatamano jitavã munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt; Sangat kejam dengan pedang terhunus dalam                    tangan yang kokoh kuat&lt;br /&gt;
Angulimala berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana dengan                    berkalung untaian jari&lt;br /&gt;
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kesaktian&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;span id=&quot;more-15315&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istri kepala penasehat (Purohita                    Brahmana) Raja 
Pasenadi Kosala yang bernama Mantani, melahirkan                    
seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, semua senjata           
         di dalam kota berkilau mengeluarkan cahaya yang terang 
benderang.                    Kejadian ini menyebabkan ayahnya bertanya 
kepada ahli perbintangan,                    mereka meramalkan bahwa 
anak tersebut di kemudian hari akan                    menjadi perampok.
 Keesokan harinya, ketika ia mengunjungi istana,                    sang
 ayah bertanya kepada Raja Pasenadi, apakah tadi malam Raja             
       dapat tidur nyenyak. Raja menjawab, tadi malam ia tidak dapat    
                tidur dengan nyenyak karena melihat semua senjata di 
dalam gudang                    berkilauan. Hal ini menandakan adanya 
bahaya yang akan menimpa                    Raja sendiri atau 
kerajaannya. Brahmana tersebut lalu menyampaikan                    
kepada Raja, bahwa semalam istrinya telah melahirkan seorang            
        anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, tidak hanya pedang 
kerajaan,                    semua senjata yang ada di seluruh kota 
berkilauan, yang menandakan                    bahwa anaknya kelak akan 
menjadi perampok.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Brahmana tersebut bertanya kepada Raja, apakah                    
Raja menghendaki agar ia membunuh anaknya yang baru lahir itu.          
          Raja lalu bertanya, apakah anak tersebut kelak akan menjadi   
                 kepala perampok ataukah menjadi perampok tunggal. Ia 
menjawab                    bahwa anak tersebut akan menjadi perampok 
tunggal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raja tidak terlalu khawatir, karena beliau                    
beranggapan bahwa kerajaannya tidak akan dapat dikacaukan hanya         
           oleh seorang perampok. Jadi beliau membiarkan anak tersebut  
                  hidup dan tumbuh menjadi dewasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak itu diberi nama Ahimsaka, yang berarti                    tidak 
melukai siapapun (=tanpa kekerasan). Anak itu diberi nama               
     demikian karena ia berasal dari keluarga yang tidak pernah dinodai 
                   dengan kejahatan dan juga karena sifat anak itu 
sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Ahimsaka dewasa, ia disekolahkan                    di Taxila,
 suatu pusat pendidikan yang terkenal pada masa lampau.                 
   Ahimsaka amat pandai, dapat melampaui murid-murid yang lain          
          dan menjadi murid yang paling menonjol, dan ia amat disayang  
                  oleh gurunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Teman-temannya menjadi iri kepadanya.                    Mereka 
berusaha mencari kesalahan agar Ahimsaka dapat dihukum.                 
   Mereka tidak dapat mencela kemampuan maupun reputasi baik keluarga   
                 Ahimsaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka lalu memfitnah bahwa Ahimsaka telah                    
melakukan hal yang tidak pantas dengan istri gurunya. Mereka            
        lalu membagi kelompoknya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama
                    memberitahukan kepada guru mereka tentang kesalahan 
Ahimsaka,                    kelompok kedua dan ketiga membenarkan apa 
yang dikatakan oleh                    kelompok yang pertama. Ketika 
guru mereka tidak mempercayai                    apa yang mereka 
katakan, mereka mengusulkan supaya guru mereka                    
membuktikannya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Guru Ahimsaka kemudian melihat istrinya berbicara                    
dengan ramah kepada Ahimsaka, hal ini menambah kecurigaannya,           
         sehingga ia merencanakan untuk melenyapkan Ahimsaka. Sebagai   
                 orang terpelajar, di dalam usahanya untuk melenyapkan 
Ahimsaka,                    ia tidak melakukannya secara terbuka, 
karena ia takut tidak                    ada lagi murid yang mau berguru
 kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Oleh karena itu ia berkata kepada Ahimsaka                    :&lt;br /&gt;
“Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut,              
      kecuali kamu dapat mengumpulkan seribu buah jari tangan kanan     
               manusia sebagai biaya pendidikanmu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Guru Ahimsaka mengira bahwa Ahimsaka tidak                    akan 
pernah berhasil melaksanakan keinginannya. Dan di dalam                 
   usahanya untuk mengumpulkan jari manusia, ia pasti akan tertangkap   
                 oleh pengawal raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ahimsaka menjawab, bahwa di dalam                    keluarga mereka 
tidak mempunyai kebiasaan untuk melakukan kejahatan                    
kepada orang lain. Berulang-ulang Ahimsaka memohon kepada gurunya,      
              agar ia dapat membayar biaya pendidikannya dengan cara 
yang                    lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. 
Apabila ia menolak                    melaksanakannya, ia akan mendapat 
kutukan. Karena ia mempunyai                    keinginan yang kuat 
untuk belajar dan tidak ada jalan lain lagi                    untuk 
melanjutkan pendidikannya, ia lalu mempersenjatai dirinya               
     dan masuk ke hutan Jalini di Kosala, yang merupakan pertemuan      
              dari delapan jalan dan mulai membunuh siapapun yang lewat 
di                    situ untuk mengumpulkan jari tangan manusia sesuai
 dengan permintaan                    gurunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jari yang terkumpul digantungnya                    pada sebuah 
pohon. Namun karena jari-jari tersebut selalu dihancurkan               
     oleh burung gagak dan burung pemakan bangkai, ia lalu membuat      
              untaian jari untuk memastikan jumlah jari yang telah 
dikumpulkannya.                    Sejak itu ia dikenal dengan nama 
Angulimala (=Untaian Jari).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rakyat lalu pergi ke Savatthi, menghadap Raja                    
untuk memberitahukan bahwa jumlah penduduk semakin berkurang,           
         karena kekejaman seorang perampok yang selalu membunuh penduduk
                    yang lewat di hutan itu. Mereka memohon supaya Raja 
mengirim                    pasukan untuk menangkapnya. Raja mengabulkan
 permohonan rakyat                    dan segera memerintahkan pasukan 
kerajaan untuk menyelidiki                    perampok tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Brahmana yang merupakan ayah Ahimsaka, berkata                    
kepada istrinya bahwa ia amat khawatir kalau-kalau perampok             
       yang kejam itu adalah anak mereka sendiri, dan bertanya apa      
              yang harus mereka lakukan. Istrinya lalu berkata, 
sebaiknya                    ia cepat-cepat pergi ke hutan, sebelum 
pasukan kerajaan tiba,                    untuk menyadarkan anaknya. 
Namun brahmana itu menolak untuk                    pergi. Istri 
brahmana itu lalu memutuskan untuk masuk ke hutan                    
seorang diri. Dengan kecintaan seorang ibu terhadap anaknya             
       yang amat besar, ia meratap dan berseru agar anaknya mau 
mengikuti                    tradisi keluarga, berhenti melakukan 
pembunuhan dan berkata                    bahwa pasukan raja sedang 
dalam perjalanan untuk menangkapnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada waktu yang sama, Sang Buddha yang sedang                    
bersemayam di Vihara Jetavana melihat dengan Mata Buddha (melalui       
             Maha Karuna Samapatti), bahwa dari kumpulan karma baik yang
                    dimiliki pada kehidupannya yang lampau, Angulimala 
memiliki                    cukup banyak kebajikan untuk menjalani 
kehidupan sebagai seorang                    bhikkhu dan mempunyai 
kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian                    Tertinggi 
yaitu menjadi Arahat pada kehidupan ini juga. Sang                    
Buddha juga melihat bahwa ibu Angulimala dapat terbunuh apabila         
           Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi 
                   untaian jari yang diminta oleh gurunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk mencegah hal ini, Sang Buddha                    lalu mengubah 
wujudNya menjadi seorang bhikkhu dan segera memasuki                    
hutan. Para pengembala dan petani berusaha mencegah Sang Buddha         
           untuk masuk ke hutan seorang diri, karena empat puluh orang  
                  yang pergi bersama-sama pun dapat dibunuh oleh 
Angulimala. Meskipun                    mendapat peringatan, Sang Buddha
 tetap melanjutkan perjalanNya                    dengan berdiam diri. 
Untuk kedua dan ketiga kalinya mereka berusaha                    
mencegah Sang Guru masuk ke hutan tersebut, namun Sang Buddha           
         dengan berdiam diri tetap meneruskan perjalananNya masuk ke    
                dalam hutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada pagi hari itu, Angulimala telah mengumpulkan                    
sembilan ratus sembilan puluh sembilan buah jari dan telah merencanakan 
                   bahwa siapapun yang ditemuinya pada hari itu harus 
dibunuhnya.                    Tetapi ia mendapat kesulitan untuk 
menemukan orang yang dapat                    dibunuhnya, karena 
orang-orang selalu berjalan dalam rombongan                    yang 
besar dan bersenjata lengkap.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhirnya ia melihat seorang bhikkhu                    seeang 
berjalan seorang diri, tanpa membawa senjata. Ia berpikir               
     tentu amat mudah untuk membunuhnya. Angulimala lalu membawa        
            pedang, tameng, anak panah beserta busurnya mengikuti Sang 
Buddha                    dari jarak yang dekat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha menunjukkan kesaktianNya, sehingga                    
bagaimanapun Angulimala berusaha berlari sekuat tenaga, sedangkan       
             Sang Buddha berjalan dengan kecepatan biasa, ia tetap tidak
                    dapat menyusul Sang Buddha.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Angulimala lalu berpikir, “Saya telah                    mengejar 
gajah, kuda, kijang dan dapat mengalahkan mereka, sekarang              
      meskipun saya sudah berlari sekuat tenaga, dan Bhikkhu ini 
berjalan                    dengan kecepatan biasa saja, saya tetap 
tidak dapat mendekatiNya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan terengah-engah dan berkeringat,                    ia 
berteriak meminta Sang Buddha untuk berhenti : “&lt;i&gt;Tittha&lt;/i&gt;                  
  (+Berhentilah) &lt;i&gt;Samana!&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha menjawab : “Saya sudah berhenti!                    Hentikan dirimu sendiri!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Angulimala keheranan akan jawaban Sang Buddha                    dan bertanya : “Apa maksudMu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha menjawab :&lt;br /&gt;
“Saya telah bertekad untuk melimpahkan kasih sayang kepada              
      semua mahluk, sedangkan kamu tidak mempunyai belas kasih terhadap 
                   mahluk lain. Oleh karena itu Saya sudah berhenti, 
sedangkan                    kamu belum berhenti melakukan pembunuhan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena tumpukan karma baik Angulimala                    yang amat 
besar pada kehidupannya yang lampau, bahwa ia diberi                    
tahu oleh Buddha Padumuttara, bahwa ia akan menjadi seorang             
       Arahat. Sebagai seorang yang mempunyai kemampuan untuk menjadi   
                 seorang Arahat, setalah mendengar apa yang dikatakan 
oleh Sang                    Buddha, ia mengetahui bahwa pertapa mulia 
ini adalah Buddha                    Gotama yang karena cinta kasihNya 
yang amat besar datang untuk                    menolongnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Angulimala segera melemparkan untaian jari                    dan 
senjatanya, lalu bernamaskara di kaki Sang Buddha dan memohon           
         untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Sambil mengangkat   
                 tanganNya, Sang Buddha berkata :&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Ehi Bhikkhu&lt;/i&gt; (Mari, O Bhikkhu).”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian Angulimala dapat menerima                    delapan 
kebutuhan pokok seorang bhikkhu pada saat yang bersamaan                
    dan langsung menerima Upasampada, tanpa terlebih dahulu menjadi     
               seorang samanera. Dengan disertai oleh Angulimala, Sang 
Buddha                    kembali ke Vihara Jetavana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara itu Raja Pasenadi Kosala didesak                    untuk 
menangkap perampok Angulimala. Sudah menjadi kebiasaannya               
     untuk menemui Sang Buddha apabila ada kejadian genting. Setalah    
                Raja Pasenadi Kosala bernamaskara, lalu duduk di salah 
satu                    sisi, Sang Buddha bertanya :&lt;br /&gt;
“O, Raja, ada hal apakah yang membuat anda risau?&lt;br /&gt;
Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menantang anda?&lt;br /&gt;
Apakah para Pangeran Licchavi dari Vesali?&lt;br /&gt;
Atau para bangsawan sainganmu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raja lalu menjelaskan masalah yang sedang                    
dihadapinya, ia mengakui tidak dapat menangkap Angulimala si            
        perampok yang haus darah itu. Sang Buddha lalu bertanya :&lt;br /&gt;
“Apa yang akan anda lakukan kalau perampok itu memakai                    jubah seorang bhikkhu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raja menjawab :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, saya akan menghormatinya seperti saya menghormat                    kepada seorang bhikkhu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada saat itu Bhikkhu Angulimala sedang duduk                    di dekat Sang Buddha. Beliau lalu berkata kepada raja :&lt;br /&gt;
“O, Raja, inilah Angulimala.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raja Pasenadi Kosala menjadi ketakutan,                    badannya 
gemetar, rambutnya berdiri. Sang Buddha lalu menenangkannya             
       dan berkata bahwa ia tidak perlu takut lagi, karena Angulimala   
                 telah menjadi seorang bhikkhu. Raja lalu mendekati 
Bhikkhu Angulimala                    dan menanyakan tentang orang 
tuanya, dan menawarkan untuk memenuhi                    semua 
kebutuhannya. Pada saat itu Bhikkhu Angulimala telah menjalani          
          latihan hidup di hutan, berpindapatta, memakai jubah dari kain
                    perca yang terdiri dari tiga bagian. Oleh karena itu
 ia menolak                    tawaran raja, karena ia sudah tidak 
memerlukannya lagi. Kemudian                    Raja Pasenadi Kosala 
memberi hormat kepada Bhikkhu Angulimala                    dan 
menyatakan keheranannya kepada Sang Buddha akan perubahan               
     yang dialami oleh Bhikkhu Angulimala. Ia lalu pulang ke istana     
               dengan hati yang bahagia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu hari, ketika Bhikkhu                    Angulima sedang 
berpindapatta di Savatthi, Beliau melihat seorang                    
wanita yang sangat kesakitan karena akan melahirkan. Beliau             
       melihat penderitaan wanita itu, tergerak hatinya, lalu berpikir  
                  :&lt;br /&gt;
“Betapa menderitanya mahluk hidup, betapa menderitanya                    mahluk hidup!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beliau yang pernah membunuh sembilan ratus                    
sembilan puluh sembilan orang, sekarang merasa amat kasihan             
       melihat seorang wanita menderita kesakitan karena akan 
melahirkan.                    Ketika Beliau selesai berpindapatta dan 
makan pagi, Beliau pergi                    ke vihara menemui Sang 
Buddha dan menyampaikan apa yang dilihatnya.                    Sang 
Buddha lalu meminta Bhikkhu Angulimala pergi menemui wanita             
       itu dan berkata :&lt;br /&gt;
“Saudari, sejak saat saya dilahirkan dalam Keluarga Ariya,              
      saya tidak sadar, dengan sengaja telah membunuh mahluk hidup.     
               Berdasarkan kebenaran ini, semoga anda selamat dan semoga
 anak                    anda selamat.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beliau lalu pergi menemui wanita yang akan                    
melahirkan bayinya. Layar penyekat diletakkan melingkari sang           
         ibu, Bhikkhu Angulimala duduk dan mengulang Paritta yang 
diajarkan                    Sang Buddha. Segera saja bayi tersebut 
lahir dengan mudah dan                    selamat. (Kemanjuran Paritta 
Angulimala Sutta ini masih terbukti                    hingga saat ini).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak lama kemudian, Bhikkhu Angulimala mencapai                    Tingkat Kesucian Arahat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu hari, ketika Yang Mulia Angulimala                    
sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau dilempari bongkahan            
        tanah, tongkat dan batu. Kepalanya terluka, bercucuran darah    
                dan mangkokNya pecah. Beliau pulang kembali ke vihara 
dan mendekati                    Sang Buddha yang sedang duduk. Sang 
Buddha yang melihat keadaanNya                    lalu menjelaskan, 
bahwa semua kejadian ini adalah akibat dari                    perbuatan
 burukNya, yang sesungguhnya dapat membuatNya menderita                 
   di Alam Neraka selama ribuan tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekarang Yang Mulia Angulimala hidup menyendiri,                    
menikmati Kebahagiaan dari Kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan 
                   Kebijaksanaan, meninggal dunia dan mencapai Nibbana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para bhikkhu membicarakan tempat kelahiran                    kembali
 dari Yang Mulia Angulimala, Sang Buddha memberitahu                    
mereka, bahwa Beliau telah mencapai Nibbana. Para bhikkhu keheranan,    
                bagaimana mungkin seseorang yang telah melakukan begitu 
banyak                    pembunuhan dapat mencapai Nibbana. Sang Buddha
 menjawab bahwa                    pada masa yang lampau, karena 
bimbingan yang kurang baik, Angulimala                    telah 
melakukan perbuatan-perbuatan buruk namun kemudian ketika               
     Beliau mendapat bimbingan yang baik, Beliau menjalani kehidupan    
                suci. Dengan demikian Beliau dapat mengatasi perbuatan 
buruk                    dengan perbuatan baiknya. Setalah berkata 
demikian, Sang Buddha                    mengucapkan syair :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;“Mereka yang dapat mengatasi                    perbuatan buruk 
mereka dengan perbuatan baik, menyinari dunia                    ini, 
bagaikan bulan yang terbebas dari awan.” (Dhammapada                    
173).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Sumber: samaggi-phala.or.id</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-angulimala.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-8700429321698716911</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:27:06.094+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Menaklukkan Gaja Nalagiri</title><description>&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Nãlãgirim gajavaram atimatta                    bhutam&lt;br /&gt;
Dãvaggi cakka masaniva sudãrunantam&lt;br /&gt;
Mettambuseka vidhinã jitavã munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt; Nalagiri gajah mulia menjadi sangat gila&lt;br /&gt;
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar, bagai senjata roda atau                    halilintar&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kemampuan pikiran                    sakti yang mengagumkan&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;span id=&quot;more-5407&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha seperti biasa sedang berjalan                    ke suatu
 daerah untuk membabarkan Dhamma kepada umatNya. Beliau                 
   diiringi oleh murid-muridNya, yang penuh cinta kasih dan pengabdian  
                  yang besar kepada Sang Buddha, Sang Guru Agung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Melihat Sang Buddha yang dicintai oleh murid-muridNya,                    menyebabkan Devadatta berpikir :&lt;br /&gt;
“Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak ada satu mahlukpun                 
   yang dengan melihat Kesempurnaan Manusia Gotama mampu dan berani     
               untuk menyentuhNya. Tetapi raja gajah Nalagiri adalah 
binatang                    yang amat galak dan liar, ia tidak 
mengetahui kesucian Buddha,                    Dhamma serta Sangha. Ia 
akan saya lepaskan untuk menghancurkan                    Bhikkhu 
Gotama.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian Devadatta pergi menemui Raja Ajatasattu                    
dan membicarakan masalah ini. Raja terpengaruh oleh penjelasannya       
             dan memanggil penjaga gajah, lalu memberi perintah :&lt;br /&gt;
“Penjaga, besok kamu harus memberi minuman keras kepada                 
   Nalagiri. Dan lepaskanlah Nalagiri di jalan raya saat Bhikkhu        
            Gotama sedang berjalan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Devadatta bertanya kepada penjaga itu berapa                    
banyak air yang biasa diberikan kepada gajah itu, penjaga itu           
         menjawab :&lt;br /&gt;
“Delapan guci.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Devadatta lalu berkata :&lt;br /&gt;
“Besok, berikan kepada Nalagiri enam belas guci minuman                 
   keras dan lepaskan dia ke arah jalan raya yang akan dilalui          
          oleh Bhikkhu Gotama.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Baiklah,” jawab penjaga itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raja lalu menabuh tambur di seluruh kota dan                    mengumumkan :&lt;br /&gt;
“Besok gajah Nalagiri akan menjadi mabuk karena minum minuman           
         keras dan akan dilepas ke dalam kota. Penduduk di kota ini 
dapat                    melakukan semua pekerjaannya hanya pada pagi 
hari, sesudah itu                    tidak boleh ada satu orangpun yang 
berada di jalan raya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Devadatta lalu turun dari istana dan mendatangi                    
kandang gajah Nalagiri, ia mendekati penjaga gajah itu dan berkata      
              :&lt;br /&gt;
“Saya katakan kepadamu, kita mampu untuk menghancurkan                  
  seseorang dari posisinya yang tinggi ke posisi yang rendah.           
         Dan menaikkan posisi seseorang yang rendah menjadi posisi yang 
                   tinggi. Kalau kamu menginginkan kehormatan, besok 
pagi-pagi                    sekali, berikan Nalagiri enam belas guci 
minuman keras dan ketika                    Bhikkhu Gotama melewati 
jalan itu, lukailah gajah itu dengan                    tongkat berduri.
 Karena gajah yang kesakitan itu akan marah,                    ia akan 
menerobos kandangnya dan berlari keluar, arahkanlah                    
ia ke jalan raya di mana Bhikkhu Gotama sedang berjalan. Maka           
         gajah itu akan menghancurkanNya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keduanya setuju dengan rencana seperti itu.                    Berita
 ini bergema ke seluruh kota. Pengikut Sang Buddha mendengar            
        berita ini amat khawatir, lalu mendatangi Vihara dan meminta    
                Sang Buddha untuk tidak masuk ke kota esok hari, karena 
ada                    bahaya besar yang menghadang Beliau. Mereka 
berjanji akan membawakan                    semua kebutuhan yang 
diperlukan oleh Sang Guru beserta murid-muridNya.                    
Tatapi Sang Buddha menyatakan tetap akan menjalankan tugasNya           
         seperti biasa. Para pengikutNya melihat bahwa mereka tidak akan
                    merubah rencana Sang Guru Agung akhirnya mereka 
meninggalkan                    Vihara dengan perasaan amat khawatir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah mereka pergi, Sang Buddha                    merenungkan 
semua keluargaNya yang sudah mengerti akan Kebenaran.                   
 Beliau juga melihat apabila Nalagiri berhasil ditaklukkanNya,          
          maka delapan puluh ribu mahluk akan mendapatkan pengertian 
yang                    jelas tentang Dhamma Yang Mulia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keesokan paginya, Beliau memanggil Ananda,                    dan 
berkata untuk memberitahukan kepada para bhikkhu di delapan             
       belas vihara yang berada di sekitar Rajagaha untuk menyertaiNya  
                  masuk ke kota. Bhikkhu Ananda melaksanakan apa yang 
diminta                    oleh Sang Guru, dan semua bhikkhu berkumpul 
di Vihara Veluvana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha dengan disertai oleh semua murid-muridNya,               
     berjalan memasuki Rajagaha. Penjaga gajah itu bekerja sesuai       
             dengan instruksi Devadatta dan banyak orang berkerumun di 
sekitar                    jalan raya. Para pengikut Sang Buddha 
berpikir :&lt;br /&gt;
“Hari ini mungkin akan terjadi pertempuran antara Sang                  
  Guru Agung dan gajah liar itu. Kami akan menyaksikan kekalahan        
            gajah Nalagiri dari Sang Buddha yang tiada bandingannya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penduduk lalu menaiki atap-atap rumah, gudang-gudang                    yang ada di sekitar jalan raya itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi ada pula pertapa lain yang berpikir                    :&lt;br /&gt;
“Nalagiri adalah gajah yang amat galak, binatang liar dan               
     tidak mengetahui kebaikan dan cinta kasih yang besar dari seorang  
                  Buddha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu 
Gotama                    dan Beliau akan meninggal. Hari ini kami akan 
melihat apa yang                    terjadi denganNya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para pertapa lalu berdiri di atas sebuah gudang                    
dan di tempat-tempat yang tinggi. Gajah Nalagiri melihat Yang           
         Maha Sempurna berjalan menghampirinya, penduduk yang ada di    
                sana amat ngeri melihat gajah tersebut. Gajah yang amat 
kesakitan                    itu berlari dengan liarnya, ia 
menghancurkan pagar rumah-rumah                    dan mengangkat 
belalainya tinggi-tinggi, serta menginjak-injak                    
kereta menjadi hancur berantakan. Dengan kuping dan ekornya             
       yang terangkat, ia berlari dengan kencangnya seperti gunung      
              yang tinggi menghampiri Yang Maha Sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para bhikkhu yang melihat gajah Nalagiri berlari                    mendatangi Sang Buddha, memberitahu Sang Guru Agung :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, gajah Nalagiri berlari di sepanjang jalan                  
  ini, ia adalah binatang yang amat galak dan liar, ia pembunuh         
           manusia. Kami mohon Yang Mulia balik kembali.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“O….Para Bhikkhu datanglah ke sini,                    jangan takut; 
tidak ada satu mahlukpun yang dapat menghancurkan                    
Sang Tathagata dengan suatu serangan. Tathagata mencapai Parinibbana    
                bukan karena suatu serangan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para bhikkhu, tetap memperingatkan Sang Guru                    
sampai tiga kali. Yang Mulia Sariputta lalu meminta Sang Buddha         
           dengan berkata :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, apabila ada satu persembahan yang harus diberikan          
          kepada seorang ayah, maka beban itu terletak pada anak 
sulungnya.                    Saya akan mengalahkan binatang ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha lalu berkata :&lt;br /&gt;
“Sariputta, kekuatan seorang Buddha adalah satu hal dan                    pengikutnya adalah hal yang lain.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beliau menolak tawaran itu, dan berkata :&lt;br /&gt;
“Sariputta, tetaplah tinggal di sini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para bhikkhu lainnya juga meminta ijin untuk                    
mengalahkan gajah liar itu, tetapi Sang Guru menolak permintaan         
           mereka. Kemudian Yang Mulia Ananda, pembantu Sang Buddha yang
                    mempunyai pengaruh besar terhadap Sang Buddha, tidak
 mampu bersikap                    diam dalam menghadapi masalah ini, ia
 lalu berteriak :&lt;br /&gt;
“Biarkan gajah itu membunuh saya terlebih dahulu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Mulia Ananda berdiri di depan Sang Buddha,                    
siap untuk mengorbankan hidupnya untuk Sang Tathagata. Tetapi           
         Sang Buddha berkata kepadanya :&lt;br /&gt;
“Bergeserlah Ananda, jangan berdiri di hadapanKu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Mulia Ananda berkata :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, gajah ini amat galak dan liar, ia dapat membunuh           
         orang, seperti nyala api pada permulaan suatu lingkaran. 
Biarkanlah                    ia membunuh saya terlebih dahulu dan 
sesudah itu ia baru dapat                    menghampiri Yang Mulia.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Mulia Ananda memohon tiga kali, dan Beliau                    
tetap berdiri di depan Sang Tathagata, Beliau tidak mau mundur.         
           Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan kesaktianNya membuat 
Yang                    Mulia Ananda berada di belakang Beliau dan 
menempatkanNya di                    tengah-tengah para bhikkhu yang 
tengah berkerumun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada waktu itu ada seorang ibu, terlihat oleh                    
pandangan gajah Nalagiri, ibu itu amat ketakutan, ia ingin berlari      
              karena ketakutan, tetapi anaknya terjatuh ketika ia ingin 
menggendong                    anak itu di pinggangnya. Posisinya berada
 di antara Sang Tathagata                    dan gajah Nalagiri, ibu itu
 berusaha berlari. Gajah itu mengejar                    ibu tersebut, 
ibu tersebut terpaku berdiri di tempatnya dengan                    amat
 ketakutan bersama anaknya yang menjerit sekeras-kerasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hati Sang Buddha bergetar, dengan penuh cinta                    
kasih yang terpancar dengan kuatnya (odissakametta) dan dengan          
          suaraNya yang penuh kelembutan seperti suara Dewa Brahma, 
memanggil                    Nalagiri :&lt;br /&gt;
“Ho..! Nalagiri…! Siapa yang mebuatmu menjadi gila dengan               
     enam belas guci minuman keras, kamu tidak diperintahkan untuk      
              menyerang orang lain, tetapi diarahkan untuk menyerangKu. 
Jangan                    keluarkan kekuatanmu dengan merusak tanpa 
tujuan, datanglah                    kepadaku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mendengar suara Sang Buddha, Nalagiri membuka                    
matanya dan melihat tubuh Sang Buddha yang bersinar terang.             
       Ia menjadi gelisah dan dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha   
                 yang amat besar, maka pengaruh minuman keras yang amat 
kuat                    itu hilang. Dengan menurunkan belalainya dan 
mengoyang-goyangkan                    kupingnya ia mendatangi dan 
berlutut di kaki Sang Tathagata.                    Kemudian Sang 
Tathagata berkata :&lt;br /&gt;
“Nalagiri, kamu adalah gajah jahat, Aku adalah Gajah Buddha,            
        tidak jahat dan liar, tidak membunuh manusia, tetap 
mengembangkan                    cinta kasih.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sambil berkata demikian Sang Tathagata lalu                    
mengulurkan tangan kananNya dan mengelus-elus kepala gajah itu          
          dan mengajarkan Dhamma kepadanya dengan bersabda :&lt;br /&gt;
“Jangan menyerang Sang Buddha, O, gajah..! Dengan pikiran               
     akan melukaiNya, akan membuatmu menderita. Pembunuh seorang        
            Buddha tidak akan memperoleh alam kehidupan yang baik 
setelah                    kematiannya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Bebaskanlah dirimu dari mabuk-mabukkan                    dan 
melakukan perbuatan bodoh. Karena orang yang bodoh tidak                
    akan dapat pergi ke alam yang baik. Kamu harus melakukan perbuatan  
                  baik sehingga kamu dapat menuju ke alam bahagia.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seluruh badan gajah itu bergetar karena diliputi                    
oleh kebahagiaan yang amat besar, dan ia sekarang bukan hanya           
         binatang berkaki empat biasa lagi, tetapi ia telah mencapai    
                Tingkat Kesucian Pertama (&lt;i&gt;Sotapanna&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penduduk yang melihat keajaiban ini berseru                    dengan
 gembira dan bertepuk tangan dengan riang. Dengan penuh                 
   kebahagiaan, mereka menutupi badan gajah itu dengan hiasan-hiasan.   
                 Kemudian Nalagiri terkenal dengan nama Dhanapalaka 
(pemilik                    kekayaan) dan ia menjadi amat jinak dan 
tidak menyakiti siapapun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah Sang Buddha memperlihatkan                    keajaiban ini, 
Beliau berpikir adalah tidak patut untuk mencari                    dana
 di tempat yang sama. Sesudah mengalahkan para pertapa tersebut,        
            dengan diiringi oleh murid-muridNya, Beliau melangkah menuju
                    ke kota seperti orang yang telah memenangkan suatu 
pertempuran                    dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. 
Para penduduk menuju                    Vihara Jetavana, berdana makanan
 berupa nasi, minuman dan makanan                    enak lainnya kepada
 Sang Guru Agung beserta murid-muridNya.                    Penduduk 
kota itu telah menanam kebajikan yang besar sekali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;Sumber: samaggi-phala.or.id&lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-gaja-nalagiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-1754780002446716272</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:26:49.626+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Menaklukkan Yakkha</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;i&gt;Mãrãtireka mabhiyujjhita sabbarattim&lt;br /&gt;
Gorampanãlavaka makkhamathaddha yakkham&lt;br /&gt;
Khanti sudhanta vidhinã jitavã munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni &lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;i&gt; Lebih dari Mara yang membuat onar sepanjang                    malam&lt;br /&gt;
Adalah Yakkha Alavaka yang menakutkan, bengis dan congkak&lt;br /&gt;
Raja para Bijaksana menaklukkannya, menjinakkan dengan kesabaran&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;span id=&quot;more-5403&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sudah menjadi kebiasaan Raja Alava, ketika                    sedang 
mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang melelahkan,         
           ia selalu menghibur diri dengan pergi berburu ke hutan selama
                    tujuh hari tanpa henti. Pada saat itu, ketika sedang
 mengepung                    binatang buruannya di sebuah hutan, raja 
memerintahkan kepada                    para pengawalnya, untuk menjaga 
agar tidak seekor binatang pun                    yang dapat meloloskan 
diri. Namun seekor rusa dapat menerobos                    penghalang 
yang berada di dekat raja. Raja mengejar rusa itu                    
seorang diri, sesudah mengejar rusa itu cukup jauh, akhirnya            
        ia dapat membunuh rusa itu. Ia memang tidak membutuhkan daging  
                  rusa itu tetapi untuk menunjukkan kehebatannya di 
hadapan para                    pengawalnya, ia memotong rusa itu 
menjadi dua bagian. Lalu ia                    mengikatkannya pada 
sepotong kayu. Raja lalu berjalan kembali                    ke tempat 
ia telah meninggalkan para pengawalnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam perjalanan kembali ke tempat                    para pengawal 
yang menunggunya, raja tiba di bawah sebuah pohon                    
Banyan [2], di perempatan sebuah jalan. Karena ia amat lelah,           
         maka ia berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon 
tersebut.                    Pohon Banyan ini adalah tempat kediaman 
Yakkha Alavaka (raksasa)                    yang mempunyai kebiasaan 
untuk membunuh orang-orang yang mendekati                    pohon 
tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yakkha Alavaka menangkap raja yang sedang                    berteduh
 di bawah pohon itu. Raja amat ketakutan dan berjanji                   
 apabila Yakkha Alavaka tidak membunuh dan melepaskannya, maka          
          ia akan mempersembahkan korban sebagai pengganti dirinya, 
seorang                    manusia dan sepiring nasi setiap hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi Yakkha Alavaka menjawab :&lt;br /&gt;
“Kalau kamu kembali ke istana, kamu pasti akan melupakan                
    janjimu ini. Saya hanya dapat menangkap orang-orang yang mendekati  
                  pohon ini, oleh karena itu saya tidak akan 
melepaskanmu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raja berkata dengan amat ketakutan,                    bahwa apabila 
suatu hari ia ingkar janji, Yakkha Alavaka dapat                    
mendatangi istana untuk mengambil korbannya. Setelah menerima           
         janji dari raja ini, Yakkha Alavaka lalu melepaskan raja untuk 
                   kembali pulang ke istana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setibanya di istana, raja memanggil                    walikota dan 
menceritakan apa yang telah terjadi. Walikota bertanya                  
  kepada raja; apakah ketika berjanji kepada Yakkha Alavaka, raja       
             menyebutkan kapan berakhirnya persembahan korban itu. Raja 
mengatakan,                    ia tidak menyebutkannya. Walikota 
menyesali karena raja telah                    melakukan suatu kesalahan
 besar, namun ia berjanji untuk mengatasi                    bencana 
ini, tanpa menyusahkan raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian walikota pergi ke penjara,                    dan berkata 
bahwa narapidana yang telah dijatuhi hukuman mati                    
karena membunuh, akan dibebaskan apabila mereka membawa sepiring        
            nasi dan mempersembahkannya di bawah pohon Banyan. Para 
pembunuh                    menyambut gembira usul ini, tetapi ketika 
mereka mendekati pohon                    Banyan tersebut, mereka 
ditangkap dan dibunuh oleh Yakkha Alavaka.                    Setelah 
narapidana sudah habis, perintah ini dialihkan kepada                   
 para pencuri dan merekapun dibunuh oleh Yakkha Alavaka, sehingga       
             penjara akhirnya kosong.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu perintah ini diteruskan kepada orang                    yang 
tidak bersalah, yang dituduh melakukan kesalahan yang tidak             
       mereka lalukan. Karena cara ini akhinya tidak berhasil, perintah 
                   ini lalu dialihkan kepada orang-orang yang berusia 
lanjut. Orang-orang                    tua ini diambil dari rumah lalu 
dibawa ke pohon Banyan tersebut.                    Raja lalu 
memberitahukan kepada walikota bahwa rakyat mengeluh                    
karena kakek nenek mereka diambil dari rumah mereka. Raja lalu          
          memerintahkan cara lain untuk memenuhi janjinya kepada Yakkha 
                   Alvaka. Walikota lalu berkata apabila ia tidak 
diijinkan untuk                    mengorbankan orang-orang berusia 
lanjut, ia harus mengorbankan                    bayi-bayi. Ketika 
penduduk mengetahui hal ini, sebagian dari                    mereka 
terutama ibu-ibu yang mempunyai bayi ataupun yang sedang                
    hamil pindah ke negara lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kejadian ini berlangsung selama                    dua belas tahun 
lamanya. Sehingga tidak ada lagi anak kecil                    yang 
tersisa, kecuali putera raja sendiri. Karena tidak ada                  
  jalan lain, maka raja dengan terpaksa merelakan puteranya sendiri     
               untuk dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka. Ratu dan 
selir-selir                    raja menangis tersedu-sedu, ketika raja 
memerintahkan agar membawa                    puteranya untuk 
dipersembahkan kepada Yakkha Alavaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di pagi hari yang sama, Sang Buddha ketika                    itu 
sedang bersemayam di Vihara Jetavana. Beliau melihat dengan             
       Mata BuddhaNya, bahwa Pangeran Alava mempunyai karma baik, ia    
                dapat mencapai Tingkat Kesucian Anagami [3]. Demikian 
pula Yakkha                    Alavaka, ia masih mempunyai karma baik 
karena ia dapat mencapai                    Tingkat Kesucian Sotapanna 
[4]. Kemudian Sang Buddha membawa                    mangkuk pindapatta 
dan meninggalkan Vihata Jetavana menuju ke                    pintu 
kediaman Yakkha Alavaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penjaga pintu memperingatkan Sang Buddha,                    untuk 
jangan mendekat karena berbahaya. Majikannya sangat kejam,              
      bahkan kepada orang tuanya sendiri dia tidak pernah menaruh       
             hormat. Sang Buddha berkata, bahwa tidak akan terjadi 
apapun                    terhadap diriNya, asalkan Beliau diijinkan 
untuk menetap semalam                    di tempat itu. Penjaga pintu 
kemudian mengatakan bahwa majikannya                    akan mencabut 
jantung siapapun yang datang mendekat dan akan                    
mengoyak tubuh korbannya menjadi dua bagian. Sang Buddha tetap          
          mendesak untuk tinggal di sana satu malam. Akhirnya penjaga   
                 itu berkata ia akan meminta ijin dahulu kepada 
majikannya di                    Hutan Himala.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah penjaga itu pergi, Sang                    Buddha lalu 
memasuki tempat tinggal Yakkha Alavaka dan duduk                    di 
singgasana, tempat yang biasa diduduki oleh Yakkha Alavaka.             
       Para selir dari istana datang dan memberi hormatnya kepada Sang  
                  Buddha. Sang Guru lalu membabarkan Dhamma kepada 
mereka, mengajarkan                    untuk mengasihi semua mahluk dan 
tidak menyakiti siapapun. Setelah                    mendengarkan Dhamma
 mereka mengucapkan “Sadhu”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika gandrabbha atau pengawal                    memberitahukan 
kepada Yakkha Alavaka bahwa Sang Buddha sedang                    berada
 di tempat kediamannya, ia sangat marah dan berkata dengan              
      suara keras; bahwa Bhikkhu Gotama akan sangat menderita karena    
                telah memasuki tempat tinggalnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika itu para Yakkha yaitu Satagira dan                    Hemavata
 bersama para pengikutnya sedang dalam perjalanan menuju                
    ke suatu pertemuan. Para Yakkha ketika terbang di angkasa harus     
               menghindari jalur yang biasa dilewati para Dewa. Tempat 
tinggal                    Yakkha Alavaka dikelilingi pagar besi dan di 
atasnya dilindungi                    jala emas. Kedua Yakkha tersebut 
harus melintasi tempat ini                    dari dekat, dan karena 
para Yakkha tidak diperkenankan untuk                    mendekati Sang 
Buddha (kecuali untuk memberi penghormatan kepada                    
Beliau), mereka tertangkap dan ketika ingin mencari penyebabnya,        
            mereka menemukan Sang Guru Agung sedang duduk di tahta 
Yakkha                    Alavaka, keduanya lalu menghampiri dan 
menghormati Beliau.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah itu mereka pergi ke Hutan                    Himalaya. Pada 
saat itu, mereka bertemu dengan Yakkha Alavaka                    dan 
memberitahukan bahwa suatu kejadian yang menguntungkan telah            
        terjadi padanya. Karena Sang Buddha sedang berada di tempat     
               kediamannya, dan dia harus pergi untuk menyambut Beliau. 
Mendengar                    hal ini, Yakkha Alavaka menjadi gelisah dan
 bertanya :&lt;br /&gt;
“Siapakah Sang Buddha ini yang telah berani memasuki tempat                    tinggalku?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kedua Yakkha menjawab :&lt;br /&gt;
“Apakah kamu tidak mengenal Sang Buddha, Penguasa ke Tiga                    Alam [5]?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yakkha Alavaka berkata bahwa siapapun Beliau,                    ia akan mengusirnya dari tempat kediamannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian kedua temannya itu berkata :&lt;br /&gt;
“Yakkha Alavaka, kamu hanyalah bagaikan seekor anak kerbau              
      yang baru lahir di dekat seekor kerbau dewasa. Bagaikan gajah     
               kecil di dekat raja pemimpin suku. Bagaikan seekor 
serigala                    tua di dekat seekor singa yang perkasa. Apa 
yang dapat kamu                    perbuat?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yakkha Alavaka berdiri dari tempat duduknya                    dengan
 penuh kemarahan, ia lalu menaruh kakinya di puncak Gunung              
      Ratgal, ia tampak seperti kobaran api dan berkata: “Sekarang      
              kita lihat, siapakan yang lebih kuat.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yakkha Alavaka dengan penuh kemarahan menendang                    
Gunung Kailasa, yang menimbulkan percikan api seperti besi panas        
            yang dipukul dengan palu. Sekali lagi ia berteriak dengan 
kerasnya                    : “Saya adalah Yakkha Alavaka ………!” Dan 
suaranya                    menggema ke seluruh Jambudwipa (India).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tanpa menunda lagi, Yakkha Alavaka                    pergi ke tempat
 kediamannya dan berusaha keras untuk mengusir                    Sang 
Buddha. Ia menciptakan badai hebat yang didatangkan dari                
    empat penjuru, yang dapat menumbangkan pohon dan bukit karang       
             berukuran besar. Tetapi dengan kekuatan cinta kasih Sang 
Buddha,                    semua itu tidak dapat melukai Beliau. Setelah
 itu terjadi hujan                    lebat, hujan senjata, hujan pasir,
 arang, abu dan kegelapan.                    Namun tidak ada satupun 
yang dapat melukai Sang Buddha. Kemudian                    Yakkha 
Alavaka mengubah wujudnya menjadi mahluk yang sangat                    
menyeramkan, namun Sang Buddha tidak menghentikannya dan membiarkan     
               Yakkha Alavaka melakukannya sepanjang malam, sehingga ia 
menjadi                    amat lelah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian ia melemparkan senjatanya                    yang amat 
sakti, namun tidak berhasil juga. Ketika itu para                    
Dewa mulai berkumpul untuk menyaksikan pertandingan ini. Yakkha         
           Alavaka sangat heran menyaksikan senjata andalannya tidak 
berdaya,                    dan mencari penyebabnya. Ia menemukan bahwa 
semua itu adalah                    karena cinta kasih dan kasih sayang 
Sang Buddha yang amat besar.                    Cinta kasih hanya dapat 
ditaklukkan dengan cinta kasih, bukan                    dengan 
kemarahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian Yakkha Alavaka meminta dengan lemah                    
lembut kepada Sang Buddha untuk meninggalkan tempat kediamannya         
           dan Sang Buddha yang telah mengetahui bahwa kemarahannya 
telah                    ditaklukkan dengan kelembutan. Beliau berdiri 
dan meninggalkan                    tempat tersebut. Melihat hal ini, 
Yakkha Alavaka berpikir :&lt;br /&gt;
“Saya telah menentang Pertapa ini sepanjang malam dengan                
    tanpa membawa hasil, dan sekarang hanya dengan satu kata Beliau     
               meninggalkan tempat ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Melihat hal ini hatinya menjadi lembut. Namun                    
demikian ia berpikir, akan lebih baik lagi apabila ia mengetahui        
            apakah Sang Buddha pergi karena kemarahan atau 
ketidakpatuhan,                    ia lalu memanggil Beliau :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, silakan masuk,” kata Yakkha Alavaka.                    
Sang Buddha lalu masuk menghampirinya. Tiga kali hal tersebut           
         diulangi, namun ketika Yakkha Alavaka berkata untuk yang 
keempat                    kalinya, supaya Sang Buddha meninggalkan 
kediamannya, Sang Buddha                    menolak dan menanyakan apa 
yang dapat Beliau lakukan untuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Baiklah Yang Mulia, saya akan mengajukan                    sebuah pertanyaan,” kata Yakkha Alavaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sudah menjadi kebiasaan Yakkha Alavaka untuk                    
menangkap para pertapa dan bhikkhu yang datang ke tempat kediamannya    
                dan bertanya kepada mereka, jadi ia berpikir ia akan 
melakukan                    hal yang sama terhadap Sang Buddha.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu ia berkata :&lt;br /&gt;
“Apabila Anda tidak mau menjawab pertanyaan saya, saya                  
  akan mengacaukan pikiran Anda, atau membelah jantung Anda, atau       
             memegang kedua kaki dan melemparkan Anda ke seberang Sungai
                    Gangga.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha menjawab :&lt;br /&gt;
“Tidak saudara, Saya melihat tidak ada satupun mahluk di                
    dunia ini maupun di alam dewa, di alam Brahma, para pertapa,        
            brahmana, para dewa dan manusia yang dapat mengacaukan 
pikiran                    Saya, membelah jantung ataupun memegang ke 
dua kaki dan melemparkan                    Saya ke seberang Sungai 
Gangga. Tetapi saudara, tanyakanlah                    yang ingin kamu 
ketahui.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yakkha Alavaka kemudian menanyakan pertanyaan-pertanyaan                    sebagai berikut :&lt;br /&gt;
“Apakah milik manusia yang paling berharga?&lt;br /&gt;
Praktek apakah yang membawa kebahagiaan?&lt;br /&gt;
Apakah yang paling manis dari semua rasa?&lt;br /&gt;
Bagaimana cara yang terbaik dalam menjalani kehidupan ini?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Buddha menjawab:&lt;br /&gt;
“Keyakinan adalah milik manusia yang paling berharga.&lt;br /&gt;
Dhamma yang dipraktekkan dengan benar akan menghasilkan kebahagiaan.&lt;br /&gt;
Kebenaran adalah yang termanis dari semua rasa.&lt;br /&gt;
Kehidupan yang dijalani dengan pengertian adalah yang terbaik.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian Yakkha Alavaka bertanya lagi :&lt;br /&gt;
“Bagaimanakah seseorang menyeberangi arus?&lt;br /&gt;
Bagaimanakah seseorang menyeberangi laut?&lt;br /&gt;
Bagaimanakah seseorang mengatasi penderitaan?&lt;br /&gt;
Bagaimanakah seseorang disucikan?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang Maha Sempurna menjawab :&lt;br /&gt;
“Dengan keyakinan seseorang menyeberangi arus.&lt;br /&gt;
Dengan perhatian benar seseorang menyeberangi laut.&lt;br /&gt;
Dengan usaha seseorang mengatasi penderitaan.&lt;br /&gt;
Dengan kebijaksanaan seseorang disucikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yakkha Alavaka bertanya kembali :&lt;br /&gt;
“Bagaimanakah kebijaksanaan diperoleh?&lt;br /&gt;
Bagaimanakah kekayaan didapatkan?&lt;br /&gt;
Bagaimanakah ketenaran diperoleh?&lt;br /&gt;
Bagaimanakah mempererat persahabatan?&lt;br /&gt;
Ketika meninggalkan dunia ini menuju ke dunia lain, bagaimana                    agar orang tidak bersedih?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Guru Agung menjawab :&lt;br /&gt;
“Orang yang memiliki keyakinan, perhatian dan pandai memperoleh         
           kebijaksanaan dengan mendengarkan Dhamma dari Para Suci, Yang
                    membimbing ke Nibbana. Dia yang melaksanakan apa 
yang pantas                    dilaksanakan, tidak tergoyahkan dan giat 
berusaha, memperoleh                    kekayaan. Dengan kebenaran 
seseorang memperoleh ketenaran. Kedermawanan                    
mempererat persahabatan. Perumah tangga setia yang memiliki             
       keempat kebajikan ini : kejujuran, moral yang baik, semangat     
               dan kedermawanan, tidak akan menderita setelah meninggal 
dunia.                    Tanyakanlah kepada para pertapa dan brahmana 
yang lain, apakah                    ada yang lebih hebat dari pada 
kejujuran, pengendalian diri,                    kedermawanan dan 
kesabaran.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah mengerti dengan baik maksud dari sabda                    Sang Buddha, Yakkha Alavaka berkata :&lt;br /&gt;
“Yang Mulia, bagaimana saya dapat bertanya kepada para                  
  pertapa dan brahmana yang lain? Hari ini saya telah mengetahui        
            rahasia dari kebahagiaan saya di masa yang akan datang. 
Untuk                    kebaikan saya sendiri, Sang Tathagata telah 
datang ke Avali.                    Hari ini telah saya ketahui di mana 
timbunan jasa yang menghasilkan                    buah yang berlimpah. 
Dari desa ke desa, dari kota ke kota, saya                    akan 
mengembara memberikan penghormatan kepada yang Maha Sempurna            
        dan kepada Dhamma Yang Mulia.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada saat Yakkha Alavaka mengucapkan hal ini,                    
Pangeran Alava sedang diantarkan ke tempat kediamannya. Ketika          
          para pengawal mendengarkan kata “Sadhu”, mereka mengetahui    
                bahwa kata ini tidak pernah diucapkan kecuali di hadapan
 Sang                    Buddha, oleh karena itu mereka mendekat tanpa 
rasa takut. Ketika                    memasuki tempat kediaman Yakkha 
Alavaka, mereka melihat Yakkha                    Alavaka sedang 
bernamaskara, menghormat kepada Sang Buddha.                    Para 
pengawal mengatakan bahwa hari ini mereka datang untuk                  
  membawa Pangeran Alava yang akan dipersembahkan sebagai korban        
            kepada Yakkha Alavaka, ia dapat memakan dagingnya dan 
meminum                    darahnya atau melakukan apa saja yang 
diinginkannya. Yakkha                    Alavaka merasa amat malu 
mendengar pernyataan ini, ia lalu mempersembahkan                    
Pangeran kepada Sang Buddha.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Guru Agung memberkati Pangeran Alava                    dan 
menyerahkannya kembali kepada para pengawal yang menyambutnya           
         dengan sukacita. Sejak saat itu Pangeran Alava diberi nama 
Hatthalavaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penduduk desa amat ketakutan ketika                    melihat 
Pangeran Alava dibawa pulang kembali ke istana. Ketika                  
  mereka mendengar apa yang telah terjadi, mereka serentak berseru      
              :&lt;br /&gt;
“Sadhu, Sadhu, Sadhu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemudian Sang Buddha meninggalkan tempat kediaman                    
Yakkha Alavaka, pergi ke desa untuk berpindapatta. Setelah Sang         
           Buddha selesai bersantap, Beliau duduk di bawah pohon. Raja  
                  dan para penduduk berduyun-duyun menemui dan 
memberikan hormatnya                    dengan bernamaskara. Sang Guru 
Agung menjelaskan kepada mereka                    tentang Alava Sutta, 
yang menyebabkan ribuan di antara mereka                    mencapai 
Tingkat Kesucian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Pangeran Alava dewasa,                    ayahnya 
memberitahukan bahwa ia diselamatkan dari kematian oleh                 
   Sang Buddha, maka ia harus pergi menemui, memberikan hormat          
          dan melayani Beliau. Pangeran melakukan apa yang dikatakan 
oleh                    ayahnya dan bersama dengan lima ratus orang 
pengikutnya mencapai                    tingkat kesucian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keterangan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt; Yakkha : Raksasa&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pohon Banyan : Sejenis pohon beringin&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Anagami : Orang suci tingkat ketiga yang tidak akan terlahir                        kembali.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sotapanna : Prang suci tingkat pertama yang akan terlahir                        kembali tidak lebih dari tujuh kali.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiga Alam :
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Alam Bahagia atau Alam Surga&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Alam Manusia&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Alam Menderita&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&amp;nbsp;Sumber: samaggi-phala.or.id &lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-yakkha.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-4525953118785275118</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2018 06:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-07-28T13:26:32.867+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Paritta / Sutta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Kisah Menaklukkan Mara</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;i&gt;Bãhum sahassa mabinimmita sãyudhantam&lt;br /&gt;
Girimekhalam udita ghora sasena mãram&lt;br /&gt;
Dãnãdi dhamma vidhinã jitavã munindo&lt;br /&gt;
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;i&gt; Dengan seribu tangan, yang masing-masing                    memegang senjata&lt;br /&gt;
Dengan menunggang gajah Girimekkhala,&lt;br /&gt;
Mara bersama pasukannya meraung menakutkan&lt;br /&gt;
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan dana dan paramita                    yang lainnya&lt;br /&gt;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span id=&quot;more-15314&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di dalam perjuanganNya yang luar biasa untuk                    
mencapai Penerangan Sempurna, Bodhisatva Siddhartha yang sedang         
           duduk bermeditasi di bawah pohon Bodhi di Bodhgaya, dengan 
tekad                    yang amat kuat, untuk tidak akan bangun dari 
tempat dudukNya                    sebelum memperoleh Penerangan 
Sempurna dan mencapai Nibbana,                    datanglah Mara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mara adalah mahluk halus atau penggoda, yang                    
bermaksud menghalang-halangi Bodhisatva memperoleh Penerangan           
         Sempurna. Mara muncul dengan disertai oleh bala tentaranya yang
                    amat besar, bermaksud menyerang Bodhisatva 
Siddhartha.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Balatentara Mara yang amat mengerikan ini                    
mengelilingi Bodhisatva, dari depan sejauh dua belas yojana             
       &lt;sup&gt;1)&lt;/sup&gt;, dari belakang sejauh dua belas yojana, dari kiri dan kanan                    selebar sembilan yojana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mara sendiri membawa seribu senjata yang amat                    
berbahaya dan duduk menunggangi Gajah Girimekhala, yang amat            
        besar dengan tinggi seratus lima puluh yojana. Diikuti dengan   
                 bala tentaranya yang berwajah amat menyeramkan, mereka 
semuanya                    membawa senjata dengan meraung menakutkan, 
siap menyerang Bodhisatva                    Siddhartha.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada saat Mara mendatangi Bodhisatva dengan                    bala 
tentara yang begitu besar, maka para dewa, seperti Maha                 
   Brahma, Sakka, Rajanaga Mahakala dan para dewa lainnya, menyingkir   
                 dari tempat itu. Bodhisatva menghadapi sendiri Mara 
beserta                    bala tentaranya dengan berlindung kepada 
sepuluh Paramita yang                    telah sejak lama dilatihnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sepuluh Paramita itu adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt; &lt;i&gt;Dana Paramita (Kesempurnaan Kerelaan Hati)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Sila Paramita (Kesempurnaan Kemoralan)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Nekkhama Paramita (Kesempurnaan Pelepasan Keduniawian)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Panna Paramita (Kesempurnaan Kebijaksanaan)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Viriya Paramita (Kesempurnaan Semangat)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Khanti Paramita (Kesempurnaan Kesabaran)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Sacca Paramita (Kesempurnaan Kebenaran)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Adhitthana Paramita (Kesempurnaan Tekad)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Metta Paramita (Kesempurnaan Cinta Kasih)&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Upekkha Paramita (Kesempurnaan Keseimbangan Batin) &lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan berlindung kepada sepuluh                    Paramita inilah, 
maka semua usaha Mara beserta bala tentaranya                    untuk 
menakut-nakuti Bodhisatva, dengan hujan besar yang disertai             
       angin kencang dan halilintar yang menggelegar terus-menerus,     
               juga diikuti dengan pemandangan-pemandangan lain yang 
amat mengerikan                    ternyata gagal semua. Akhirnya Mara 
dengan penuh kemarahan menyambit                    Bodhisatva dengan 
senjatanya yang terakhir yaitu Cakkavudha                    &lt;sup&gt;2)&lt;/sup&gt;.
 Tetapi senjata ini berubah menjadi payung yang amat indah,             
       yang dengan tenang bergantung dan memayungi Bodhisatva.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bumi telah menjadi saksi, bahwa                    Bodhisatva 
Siddhartha telah lulus dari semua kesulitan dan layak                   
 untuk menjadi seorang Buddha.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang Bodhisatva berkata :&lt;br /&gt;
“Dengan melihat bala tentara pada semua sisi berbaris dengan            
        Mara yang mengatur di atas Gajah Girimekhala. Aku maju ke depan 
                   untuk berperang, Mara tidak akan dapat mendorongKu 
dari posisiKu.                    Bala tentaramu dengan dunia beserta 
dewa-dewa tak terkalahkan.                    Dengan KebijaksanaanKu, 
Aku terus menghancurkan mereka, bagaikan                    Aku 
menghancurkan mangkok yang belum dibakar. Dengan mengawasi              
      pikiranKu, dan dengan kesadaran yang kuat, Aku akan mengembara    
                dari negara ke negara, sambil melatih banyak murid. 
Dengan rajin                    dan bersungguh-sungguh, dalam 
mempraktekkan AjaranKu, mereka                    tidak akan 
memperdulikanmu dan akan pergi ke tempat yang tidak                    
ada lagi penderitaan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Gajah Girimekhala lalu berlutut                    di hadapan 
Bodhisatva dan Mara menghilang, lari tunggang langgang                  
  bersama dengan bala tentaranya. Para dewa yang menyingkir ketika      
              Mara datang menyerang, datang kembali menghampiri 
Bodhisatva.                    Mereka semua amat bahagia dengan 
keberhasilan Bodhisatva Siddhartha                    menaklukkan Mara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keterangan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt; Yojana : Ukuran panjang yang digunakan di India, 1 yojana                        kurang lebih 7 mil.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt; Cakkavudha : Senjata Mara yang amat sakti&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Sumber: samaggi-phala.or.id&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2018/07/kisah-menaklukkan-mara.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-4274048902039373792</guid><pubDate>Mon, 11 Jun 2012 06:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-11T13:46:16.183+07:00</atom:updated><title>Bocah 6 Tahun Rawat Ayahnya yang Lumpuh</title><description>&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; text-align: justify;&quot;&gt;Berikut sebuah artikel yang menggugah hati dan sekaligus memberikan inspirasi terutama bagi saya dan harapannya kepada para pembaca juga. Sebuah kisah kehidupan seorang bocah kecil di Nantong, China Daratan (RRC) yang masih berusia 6 tahun namun harus ikut menanggung beban hidup dan dengan penuh semangat merawat orang tuanya yang karena sakit hingga lumpuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #ff6600;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Bocah 6 Tahun Rawat Papanya yang Lumpuh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;wp-caption aligncenter&quot; style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: left; width: 281px;&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;Tse Tse kecil sedang menyuapi papanya yang lumpuh.&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;http://farm4.static.flickr.com/3584/3495358576_1b2d394997_m.jpg&quot; style=&quot;border: 1px solid rgb(238, 238, 238);&quot; title=&quot;Tse Tse kecil sedang menyuapi papanya yang lumpuh.&quot; width=&quot;271&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot; style=&quot;color: #888888; font-size: 1em; font-style: italic; margin-bottom: 10px; padding: 0px;&quot;&gt;
Tse Tse kecil sedang menyuapi papanya yang lumpuh.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
[Dajiyuan, 17 Des 2008] Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bersama ibunya mengambil botol air mineral bekas sebagai tambahan pendapatan keluarga.&amp;nbsp;&lt;span id=&quot;more-3410&quot;&gt;&lt;/span&gt;Cerita Tse Tse ini banyak menyentuh hati teman di internet, hanya beberapa jam, sudah puluhan ribu orang yang mengkliknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #ff6600;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Adegan yang Mengharukan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Begitu sampai di rumah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air, lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar, karena handuk terlalu besar buat dia, Tse Tse membutuhkan 3 sampai 4 menit baru bisa mengeringkannya, kemudian dengan handuk itu dia menyeka wajah ayahnya dengan lap itu. Dia sangat teliti melapnya, sepertinya khawatir kurang bersih. Setelah selesai, Tse Tse kemudian berjingkat melap punggung ayahnya, di belakang, selesai semua, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Tse Tse tahun ini berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD, tinggal di jalan Baoan, desa Nantong, papanya Xiong Chun pada 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot menyusut, di bawah leher semua lumpuh, untuk mengobati penyakitnya dia telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan ibunya yang bekerja di pabrik, dengan penghasilan kecil itulah mereka bertahan hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan, namun Tse Tse malah harus sekuat tenaga mendorong ayahnya pulang. Ketika mau menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, menoleh kendaraan yang lalu lalang, setelah aman dia baru menyeberang. Setiap ketemu tempat yang tidak rata, Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari belakang, wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Dari sekolah sampai rumah jaraknya sekitar 1.500 meter, harus ditempuh selama 20 menit.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;color: #ff6600;&quot;&gt;Satu Keluarga 3 Orang Menempati Rumah&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: small;&quot;&gt;&lt;strong&gt;8 m&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan kamar kecil seukuran 8&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: x-small;&quot;&gt;m&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;, hanya besi seng menutupi atap yang menghalangi cahaya masuk ke kamar, di atap tergantung sebuah lampu energi kecil. Dalam rumah penuh debu, yang paling mencolok adalah penghargaan Tse Tse yang tergantung di dinding. Terhadap sekeluarga yang pendapatan bulanannya hanya sekitar 1.000 RMB (Rp. 1,5 juta) bisa dikatakan, sebuah TV 21″ sudah merupakan barang mewah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Sebuah ranjang atas dan bawah sudah memenuhi seluruh kamar, di atasnya penuh dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun berkata, “&lt;em&gt;itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat tergantung di dinding, itu adalah meja belajar Tse Tse, juga adalah meja makan keluarga&lt;/em&gt;.“&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Di samping pintu yang luasnya tidak sampai 1&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: x-small;&quot;&gt;m&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;, ada “dapur” yang dibuatnya sendiri, di samping kompor masih tersisa sebatang kubis. “&lt;em&gt;Makanan dan minyak di rumah semua diberikan oleh teman mamanya, satu hari tiga kali makan, cuma makan malam yang agak luma&lt;/em&gt;&lt;em&gt;yan, di rumah jarang makan daging, namun setiap minggu mereka akan mengeluarkan sedikit biaya untuk mengubah kehidupan anaknya, namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan.&lt;/em&gt;” Kata Xiong Chun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #ff6600;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Setiap Hari Memijat Papanya 3 Kali&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;wp-caption alignright&quot; style=&quot;background-color: white; color: #333333; float: right; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin: 0px 0px 10px 15px; text-align: left; width: 250px;&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;Tangan Mungil Tse Tse sedang memijak kaki papanya&quot; height=&quot;160&quot; src=&quot;http://farm4.static.flickr.com/3381/3495358362_c80aaff518_m.jpg&quot; style=&quot;border: 1px solid rgb(238, 238, 238);&quot; title=&quot;Tangan Mungil Tse Tse sedang memijak kaki papanya&quot; width=&quot;240&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot; style=&quot;color: #888888; font-size: 1em; font-style: italic; margin-bottom: 10px; padding: 0px;&quot;&gt;
Tangan Mungil Tse Tse sedang memijak kaki papanya&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Mama Tse Tse bekerja di pabrik, setiap siang hari dia akan menyisakan sedikit waktu pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya, setelah menyuapi dia segera balik ke pabrik bekerja, tanggung jawab merawat suaminya semua di bebankan ke pundak Tse Tse.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat papanya lagi, baru tidur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
“&lt;em&gt;Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga&lt;/em&gt;.” Xiong Chun sangat sayang anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan mengatakan:&amp;nbsp; ”&lt;em&gt;Tse Tse sangat mengerti. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini&lt;/em&gt;.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #ff6600;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Boneka 5 Yuan yang Paling Disukai Tse Tse&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;
Mama membawa dia memungut bo&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;wp-caption alignright&quot; style=&quot;background-color: white; color: #333333; float: right; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin: 0px 0px 10px 15px; text-align: left; width: 176px;&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;Tse Tse dengan tekun merawat papanya&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;http://farm4.static.flickr.com/3624/3495358464_d8623af028_m.jpg&quot; style=&quot;border: 1px solid rgb(238, 238, 238);&quot; title=&quot;Tse Tse dengan tekun merawat papanya&quot; width=&quot;166&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;wp-caption-text&quot; style=&quot;color: #888888; font-size: 1em; font-style: italic; margin-bottom: 10px; padding: 0px;&quot;&gt;
Tse Tse dengan tekun merawat papanya&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
tol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut satu mainan mobil plastik bekas di tempat sampah, dia bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari akan main sebentar dengan mobil plastiknya itu. Yang Xianfui berkata, kemarin mama dan anak pergi memungut besi bekas, bisa dijual 20 Yuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu, itu yang paling disayanginya. Malam hari juga mengendongnya tidur. “&lt;em&gt;Dia melihat boneka itu di toko, beberapa kali dia memintanya, 5 Yuan, saya tidak tega terus, akhirnya saya nekat membelikannya&lt;/em&gt;,” Kata Xiong Chun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #ff6600;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Begitu Tidak Boleh Sekolah, Langsung Menangis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk mengirit biaya listrik,setiap hari begitu pulang sekolah Tse Tse akan memindahkan “Meja kecilnya” keluar, mengejar siang hari menyelesaikan PR-nya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
“&lt;em&gt;Uang sekolahnya setahun sekitar 3.000 sampai 4.000, kami tidak sanggup. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga melepaskan berobat lag&lt;/em&gt;i,” kata Xiong Chun. Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja, Tse Tse begitu tahu langsung menangis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
Xiong Chun berteriak, “&lt;em&gt;Hidup normal saja bermasalah, masih harus kasih dia sekolah, sungguh susah, bila sudah tidak mungkin, biar dia berhenti saja&lt;/em&gt;.” Tse Tse yang sedang bermain boneka, begitu mendengar kata papanya, langsung menangis. Xiong Chun menarik Tse Tse ke sisinya, membujuk: “&lt;em&gt;Papa akan usahakan kamu sekolah, biar kamu bisa sekolah!&lt;/em&gt;” Setelah dibujuk beberapa kali, Tse Tse baru berhenti menangis, dengan tangan mungilnya dia menyeka air matanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; color: #333333; font-family: Georgia, &#39;Times New Roman&#39;, Times, serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 10px; padding: 0px; text-align: left;&quot;&gt;
“&lt;em&gt;Terhadap Tse Tse, saya sungguh menyesal…&lt;/em&gt;.,” sambil menangis tersedu, Xiong Chun sudah tidak dapat berkata lagi. Xiong Chun berkata: “&lt;em&gt;Saya percaya pasti akan sembuh, Tse Tse adalah harapan say&lt;/em&gt;a.”&amp;nbsp;[Shenzhennews]&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/06/bocah-6-tahun-rawat-ayahnya-yang-lumpuh.html</link><author>noreply@blogger.com (Sofyan Lie)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://farm4.static.flickr.com/3584/3495358576_1b2d394997_t.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-789103858576078120</guid><pubDate>Fri, 04 May 2012 06:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-04T13:33:14.961+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Informasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Nilai Sebuah Kejujuran</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial; font-size: 12px;&quot;&gt;&quot;&lt;em&gt;MINTALAH BON STRUK PEMBAYARAN TRANSAKSI ANDA DI KASIR KAMI. Tanpa bon struk, pembayaran belanja Anda dianggap gratis. Kami akan membayar 2 kali lipat transaksi Anda&lt;/em&gt;.&quot;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tulisan tersebut terpasang di atas&amp;nbsp;&lt;em&gt;counter&lt;/em&gt;&amp;nbsp;kasir dan di atas tempat cuci rambut sebuah jaringan salon terkemuka di Indonesia. Jaringan salon ini biasanya ada di&amp;nbsp;&lt;em&gt;mall&lt;/em&gt;&amp;nbsp;atau&amp;nbsp;&lt;em&gt;junction&lt;/em&gt;&amp;nbsp;terbaru. Tulisan di atas terasa sedikit berlebihan karena pemilik salon ini kelihatannya tidak bisa mengendalikan operasional salonnya, terutama dalam mengatur arus uang kas yang masuk. Jadi pemilik salon minta bantuan konsumen untuk melaporkan karyawannya yang melakukan kecurangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila ada orang asing yang mengerti Bahasa Indonesia membaca tulisan itu, pasti dia akan sedikit menggerutu. Konsumen yang membeli seharusnya memang berhak mendapatkan bon struk pembelian layanan tanpa diminta. Struk adalah hak konsumen sebagai tanda bukti pembelian yang sah. Mengapa konsumen harus meminta? Apakah kasirnya malas mencetak struk? Apakah printer struknya sering rusak? Atau gerai yang mau menghemat kertas (&lt;em&gt;go-green&lt;/em&gt;) sehingga tidak mencetak struk bila tidak diminta?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;202&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/otherimage/0-0000000cashier_6.gif&quot; style=&quot;border-bottom-left-radius: 5px 5px; border-bottom-right-radius: 5px 5px; border-top-left-radius: 5px 5px; border-top-right-radius: 5px 5px;&quot; width=&quot;217&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Mahalnya Sebuah Kejujuran&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagi konsumen yang mengerti, tulisan di atas sebenarnya berbicara tentang masalah kejujuran. Kejujuran siapa? Ya kejujuran kasir dalam melakukan transaksi. Maksudnya? Ada oknum kasir yang enggan memasukkan transaksi konsumen ke dalam mesin kasir sehingga transaksi ini tidak tercatat dalam sistem kasir. Dengan demikian pada tutup kasir nanti akan ada kelebihan uang kas di dalam laci atau di dalam kantong oknum kasir itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemana larinya uang ini? Tergantung kesepakatan antara oknum kasir tadi dan karyawan lain; misalnya dibagi rata sesama karyawan sehingga semua karyawan akan tutup mulut dan tidak melaporkan praktik curang oknum kasir itu pada atasan atau pemilik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Gerai salon yang saya baru saja datangi termasuk gerai yang sepi meskipun ada di dalam sebual mall. Kabarnya, omset perharinya rata-rata cuma sampai 3 juta, tetapi masing-masing karyawan bisa membawa pulang ekstra 50 ribu (tidak termasuk tip) per harinya. Bila gerai salon tadi memiliki 10 karyawan maka rata-rata per hari ada 500 ribu rupiah yang beredar diluar kasir. Bila dikalikan 30 (hari kerja salon) akan menjadi 15 juta per bulan. Itu baru dari satu gerai salon yang sepi, bisa kita bayangkan jumlah uang yang hilang itu untuk ratusan cabangnya di seluruh Indonesia. Wah jumlah yang cukup besar juga ya?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Memilih Kasir Jujur&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pengalaman saya, sangatlah sulit untuk bisa merekrut kasir yang bisa jujur untuk waktu yang lama. Bilapun ada kasir yang jujur, awalnya saja biasanya jujur, lama-lama bila dia sudah mengetahui kelemahan sistem, tidak jarang hatinya jadi tergoda juga untuk berbuat curang. Fenomena orang kepercayaan juga begitu. Kadang-kadang justru orang kepercayaanlah yang banyak &quot;meminjam&quot; atau menghilangkan uang perusahaan. Karyawan ataupun kasir yang paling jujur adalah diri kita sendiri, bila kita adalah seorang pemilik bisnis yang mau menunggui gerai kita setiap hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Memasang Internet Kamera&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemilik bisnis bisa memasang internet camera (CCTV) pada beberapa sudut gerainya, sehingga setiap gerak-gerik karyawan bisa dimonitor dan bila perlu diputar ulang untuk penyidikan. Bila karyawan tahu setiap gerakannya diawasi, tingkah laku karyawan niscaya akan berangsur berubah. Kelemahan dari solusi ini adalah adanya biaya investasi awal pembelian hardware dan biaya bulanan akses internet. Bila anda berpikir untuk menjalankan solusi ini secara&amp;nbsp;&lt;em&gt;off-line&lt;/em&gt;(gambar direkam di&amp;nbsp;&lt;em&gt;hard-disk&lt;/em&gt;&amp;nbsp;lokal) jangan heran bila&amp;nbsp;&lt;em&gt;hardware&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Anda akan sering gagal atau bermasalah. Saat terjadi kasus kehilangan atau pencurian, sering camera CCTV pas sedang tidak bekerja alias rusak (atau sengaja dimatikan oleh si oknum karyawan).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Memakai Sistem Reward and Punishment&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sistim&amp;nbsp;&lt;em&gt;reward and punishment&lt;/em&gt;&amp;nbsp;seperti memasang tulisan peringatan kepada konsumen untuk minta struk kasir bisa saja dilakukan dan terkesan cukup bijaksana untuk dilakukan. Akan tetapi cara ini juga cukup mudah disiasati oleh oknum kasir yang berpengalaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sungguh diluar dugaan, saya pernah menemukan seorang oknum kasir yang saat hendak menghitung barang mengajukan pertanyaan, &quot;Pak, mau dicetak struknya nggak?&quot; Saya diam saja, kemudian dia melanjutkan sambil jarinya menunjuk sebuah stiker di mesin&amp;nbsp;&lt;em&gt;cash register&lt;/em&gt;: &quot;Kalau tidak cetak struk hemat kertas, kan&lt;em&gt;&amp;nbsp;go-green&lt;/em&gt;&amp;nbsp;pak.&quot; Wah berapa banyak konsumen yang bersimpati dan mengiyakan untuk tidak minta struk, dan berapa banyak konsumen yang sudah terperdaya dengan alasan oknum kasir seperti ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pembayaran Non-Cash dengan EDC&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cara paling jitu untuk mengatasi masalah kejujuran kasir seperti di atas adalah dengan menggunakan teknologi mesin&lt;em&gt;Electronic Data Capture (EDC)&amp;nbsp;&lt;/em&gt;dari bank penerbit kartu debit atau kartu kredit. Jadi semua transaksi di gerai dilakukan secara&amp;nbsp;&lt;em&gt;non-cash&lt;/em&gt;&amp;nbsp;melalui mesin EDC yang diarahkan masuk ke satu nomor rekening tertentu (yang tidak bisa diubah tanpa persetujuan pemilik rekening). Lebih praktis karena tidak ada risiko uang palsu, risiko salah hitung, risiko saat setor tunai, atau risiko uang hilang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk bisa memiliki fasilitas mesin EDC ini memang dikenai biaya 2% untuk pembayaran dengan kartu kredit dan 0% untuk pembayaran dengan kartu debit. Bila pembayaran pelanggan bisa berangsur-angsur diarahkan menjadi&amp;nbsp;&lt;em&gt;non-cash&lt;/em&gt;memakai&amp;nbsp;&lt;em&gt;debit card&lt;/em&gt;; maka risiko kehilangan transaksi yang disebabkan oleh oknum kasir akan tidak lagi terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk mendorong pelanggan membayar dengan debit card, Anda bisa memberikan diskon tambahan 1% khusus untuk pembayaran dengan debit card. Pelanggan yang membayar&amp;nbsp;&lt;em&gt;cash&amp;nbsp;&lt;/em&gt;tidak mendapatkan diskon. Pertanyaannya hanya: &quot;&lt;strong&gt;Beranikah Anda hanya menerima transaksi non-cash&lt;/strong&gt;?&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selamat mencoba.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
_________&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Drs. Mukti Wibawa, MBA&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;em&gt;Inspirational Business Motivator &amp;amp; Marketing Consultant&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;em&gt;mukti@consultant.com&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/3522/Nilai_Sebuah_Kejujuran/&quot;&gt;http://www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/3522/Nilai_Sebuah_Kejujuran/&lt;/a&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/05/nilai-sebuah-kejujuran.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-7277540211313605127</guid><pubDate>Wed, 02 May 2012 02:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-02T09:07:29.656+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Penebang Kayu yang Tidak Tahu Budi</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: #505050; font-family: Arial, Helvetica; font-size: 12px; line-height: 21px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;br style=&quot;margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;alignleft size-full wp-image-1190&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;http://pempeknyonya.com/wp-content/uploads/2011/06/penebang-kayu.jpg&quot; style=&quot;border-bottom-color: rgb(204, 204, 204); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-color: rgb(204, 204, 204); border-left-style: solid; border-left-width: 1px; border-right-color: rgb(204, 204, 204); border-right-style: solid; border-right-width: 1px; border-style: initial; border-top-color: rgb(204, 204, 204); border-top-style: solid; border-top-width: 1px; display: inline; float: left; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 2px; margin-left: 0px; margin-right: 7px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;penebang-kayu&quot; width=&quot;201&quot; /&gt;Pada jaman dahulu, di suatu desa, ada seorang penebang kayu yang sangat miskin, sehingga dia hanya mempunyai sebuah kapak untuk bekerja dan menghidupi anak-anak dan istrinya. Dengan sangat sulit dia bisa memperoleh enam pence (sejenis mata uang) setiap hari. Dia dan istrinya harus bekerja membanting tulang dari subuh hingga larut malam agar mereka dapat hidup dengan tidak kehabisan makanan. Apabila mereka beristirahat, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Apa yang harus saya lakukan?” katanya, suatu hari, “Saya sekarang sangat lelah, istri dan anakku tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, dan saya sudah tidak sekuat dulu lagi memegang kapak ini, untuk memperoleh sekerat roti untuk keluargaku. Ah, begitu buruknya nasib bagi orang miskin, ketika mereka dilahirkan ke dunia ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Sementara dia masih berkeluh-kesah, sebuah suara memanggilnya dengan penuh rasa iba: “Apa yang kamu keluhkan?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Bagaimana saya tidak suka mengeluh, apabila saya tidak memiliki makanan?” katanya. “Pulanglah ke rumahmu,” kata suara itu, “galilah tanah di sudut pekaranganmu, dan kamu akan menemukan harta karun di bawah sebuah dahan yang telah mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Ketika penebang kayu ini mendengar hal ini, dia langsung berlutut di tanah, dan berkata: “&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tuan&lt;/strong&gt;, siapakah nama tuan? siapakah tuan yang begitu baik hati?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Namaku&amp;nbsp;&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Merlin&lt;/strong&gt;,” kata suara itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Ah! Tuan, Tuhan akan memberkahimu apabila kamu datang menolongku dan menyelamatkan keluargaku dari kemelaratan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Pergilah cepat,” kata suara itu, “dan dalam satu tahun, kembalilah ke sini, dan berikanlah saya penjelasan tentang apa saja yang kamu lakukan dengan uang yang kamu temukan di sudut pekaranganmu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Tuan, Saya akan mengunjungimu dalam satu tahun, atau setiap hari, apabila kamu memerintahkan saya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Lalu sang penebang kayu pulang ke rumahnya, menggali tanah pada sudut pekarangannya dan disana dia menemukan harta karun yang telah dijanjikan. Betapa gembiranya mereka sekeluarga karena telah lepas dari kemiskinan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Karena tidak ingin tetangganya tahu mengapa mereka tiba-tiba menjadi kaya, dia masih pergi ke dalam hutan dengan membawa kapak, sehingga seolah-olah dia bekerja keras dan secara perlahan-lahan terangkat dari kemiskinan menjadi kemakmuran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Pada akhir tahun, dia pergi ke dalam hutan untuk memenuhi janjinya. Dan suara itu berkata, “Jadi kamu akhirnya datang!” “Ya&amp;nbsp;&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tuan&lt;/strong&gt;,” “Dan bagaimana kamu membelanjakan harta tersebut?” “Tuan, keluargaku sudah dapat makan makanan yang baik dan berpakaian yang bagus, dan kami selalu berterima kasih kepadamu setiap hari.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Keadaan kamu sekarang menjadi lebih baik kalau begitu, tapi katakan padaku, apakah masih ada hal yang kamu inginkan?” “Ah, ya, Tuan, saya ingin menjadi walikota di tempat saya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Baiklah, dalam empat puluh hari kamu akan menjadi walikota.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Oh, beribu-ribu terima kasih, pelindungku yang baik.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Pada tahun kedua, penebang kayu yang kaya datang ke hutan dengan baju baru yang sangat baik dan mengenakan atribut bahwa dia adalah walikota.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Bapak Merlin&lt;/strong&gt;,” panggilnya, “datanglah dan berbicaralah padaku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Saya di sini,” kata suara itu, “apa yang kamu harapkan?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Seorang pejabat tinggi baru saja meninggal kemarin, dan anak laki-laki saya, dengan bantuanmu, ingin menggantikannya, Saya meminta kebaikan hatimu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Dalam empat puluh hari, hal yang kamu inginkan akan terwujud,” kata Merlin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Begitu pula dalam empat puluh hari, anaknya menjadi pejabat tinggi, dan mereka masih juga belum puas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Pada akhir tahun ketiga, penebang kayu tersebut mencari lagi Merlin di hutan, dan dengan suara yang merendahkan, dia berkata “&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Merlin&lt;/strong&gt;, maukah kamu membantu saya?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Apa yang kamu kehendaki?” kata suara itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Putriku berharap agar dapat menikah dengan seorang pejabat,” katanya. “Harapanmu akan terwujud,” balas Merlin, dan dalam empat puluh hari, anak perempuan penebang kayu itu menikah dengan seorang pejabat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Dan begitulah akhirnya waktu terus berlalu, hingga pada akhir tahun keempat, istrinya yang bijaksana menyuruhnya kembali kesana untuk berterima kasih, tetapi penebang kayu itu menjawab:”Mengapa saya harus masuk kembali ke hutan itu untuk berbicara dengan mahluk yang tidak pernah saya lihat? Saya sekarang sangat kaya, mempunyai banyak teman, dan namaku sangat di hormati semua orang.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Pergilah sekali lagi,” kata istrinya, “Kamu harus memberi dia salam dan berterima kasih atas segala kebaikannya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Akhirnya penebang kayu itu dengan menunggangi kudanya, diikuti oleh dua orang pelayan, masuk ke dalam hutan dan mulai berteriak: “&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Merlot! Merlot!&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Saya tidak membutuhkan kamu lagi, karena sekarang saya cukup kaya.” Merlin membalasnya, “Sepertinya kamu lupa saat kamu masih miskin, tidak cukup makan, dengan hanya berbekal kapak, kamu dengan susah payah mendapatkan enam pence setiap hari! Saya saya memberikan kamu berkah pertama kali, kamu berlutut dengan kedua kakimu, dan memanggil saya ‘&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Tuan&lt;/strong&gt;‘, setelah berkah kedua, kamu hanya memanggil saya ‘&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Bapak&lt;/strong&gt;‘ dan setelah yang ketiga, kamu memanggilku dengan ‘&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Merlin&lt;/strong&gt;‘ saja, sekarang dengan sombongnya kamu memanggilku ‘&lt;strong style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Merlot&lt;/strong&gt;‘! kamu mungkin berpikir bahwa kamu sudah sangat kaya dan hidup dengan baik dan tidak memerlukan lagi saya, Mari kita lihat nanti, selama ini kamu tidak memiliki hati yang baik dan selalu bertindak bodoh, tetaplah menjadi bodoh, dan tetaplah menjadi miskin seperti saat pertama saya bertemu dengan kamu.” Penebang kayu itu tertawa terbahak-bahak, mengangkat bahunya dan tidak mempercayai apa yang dikatakan kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Dia kembali ke rumahnya, tapi dengan cepat anaknya yang sekarang menjadi pejabat tinggi, meninggal, putrinya yang menjadi istri seorang pejabat juga menderita sakit keras dan akhirnya meninggal. Kesialan menimpanya terus menerus dan saat perang pecah, serdadu dari kedua belah pihak yang berperang, memasuki rumahnya, merampas minuman dan makanan yang ada di lumbungnya, membakar semua ladangnya, juga rumahnya, hingga dia tidak memiliki uang satu penny pun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Ketika tiba masa untuk membayar pajak, dia tidak mempunyai uang di kantongnya, sehingga dia terpaksa menjual semua ladangnya. “Lihat,” kata penebang kayu yang tidak tahu berterimakasih itu, sambil menangis, “Saya telah kehilangan semua yang saya miliki, uang, ladang, kuda, anak-anakku! Mengapa saya tidak percaya kepada Merlin? hanya kematian yang belum menjemput saya, saya sudah tidak tahan dengan penderitaan ini.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Tidak begitu,” kata istrinya yang bijaksana, “Kita harus mulai bekerja keras kembali.” “Dengan apa?” kata penebang kayu, “Kita bahkan sudah tidak memiliki seekor keledaipun untuk bekerja!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
“Dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita,” kata istrinya lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Tuhan hanya memberikan mereka sebuah keranjang, yang dipinjam dari tetangganya. Dengan keranjang ini di punggungnya dan kapak di tangannya, dia akhirnya masuk ke hutan untuk bekerja menebang kayu, mencoba untuk mencari kayu untuk mendapatkan enam pence sehari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Semenjak itu, dia tidak pernah mendengar suara Merlin lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
By Mrs. E. B. Maw&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; margin-bottom: 15px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;
Sumber :&amp;nbsp;http://pempeknyonya.com/pempek/2011/06/penebang-kayu-yang-tidak-tahu-budi/&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/05/penebang-kayu-yang-tidak-tahu-budi.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-3964533347508196655</guid><pubDate>Mon, 30 Apr 2012 03:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-30T10:13:17.165+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Nyata</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Semangat</category><title>Xu Yuehua, Tanpa Kaki Merawat 130 Anak Yatim Piatu</title><description>&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Xu Yuehua, seorang wanita tanpa kaki yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sebuah yatim piatu di China, sungguh perkerjaan yang luar biasa. Dulunya Xu Yuehua adalah seorang gadis kecil yang normal seperti teman-temannya. Sampai pada suatu saat, waktu mengumpulkan batubara di rel kereta api. dan sebuah kecelakaan kereta api membuat Xu kehilangan kedua kakinya pada usia 13 tahun. Tidak ada kaki di usia yang sangat muda mungkin bagai dunia telah berakhir bagi Xu yuenhua. Apalagi Xu Yuehua saat itu adalah yatim piatu. Tidak semua orang bisa menghadapi kenyataan hidup ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcoqiT0N_31zw_rn_UGx4v3SBRVSMkfeS_yjaGy9BARwNWv5qmyua4JJx6Ku8Yxx8VtuGRzZENHR_pSLvPaORcv5iyaKVmANeEDDE3llXidbDcLl23GtXMFEx7HIyZC_2yvsQTPLFNZp87/s1600/Xu+Yuehua+9.jpeg&quot; style=&quot;color: #417394; text-decoration: none;&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcoqiT0N_31zw_rn_UGx4v3SBRVSMkfeS_yjaGy9BARwNWv5qmyua4JJx6Ku8Yxx8VtuGRzZENHR_pSLvPaORcv5iyaKVmANeEDDE3llXidbDcLl23GtXMFEx7HIyZC_2yvsQTPLFNZp87/s1600/Xu+Yuehua+9.jpeg&quot; style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; max-width: 100%;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Xu Yuehua dengan sabar mengurus anak yatim piatu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Disaat dimasa frustasi, Xu Yuehua segera sadar untuk menjadikan hidup dan tubuhnya berguna untuk sesama selama dia diberi kesempatan hidup di dunia. Ia telah merasakan waktu kecil sebagai yatim piatu dulu, dan dengan mengandalkan dua kursi kayu pendek untuk menyangga tubuhnya dan untuk berjalan, Xu melanjutkan hidupnya dengan tujuan dan semangat yang mulia, yaitu mengasuh dan membesarkan anak-anak yatim piatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Di Xiangtan Social Welfare House yang membantunya melalui masa-masa sulit ini Xu menemukan panggilannya. Saat ini, Xu telah menjalani 37 tahun merawat anak-anak yatim piatu di lembaga kemanusiaan ini. Dengan keterbatasannya, sudah 130 anak yang dibesarkan Xu. Memang tidak mudah untuk berpindah dari ranjang yang satu ke ranjang lain menggunakan bangku pendek. Belum lagi saat harus menyusui, meredakan tangisan bayi yang rewel dan mengajak mereka bermain. Namun wanita yang disebut ‘The Stool Mama’ ini melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Dengan melakukan yang terbaik, satu per satu kekhawatiran dalam kehidupan Xu Yuehua seakan dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Pada tahun 1987, Xu menikah dengan Lai Ziyuan, seorang petani sayur di panti asuhan yang sama dan melahirkan anak laki-laki, Lai Mingzhi, tiga tahun kemudian. Xu mengaku sangat bahagia dengan hidup dan pengabdiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Dalam benaknya, cacat fisik bukanlah menjadi batasan ataupun halangan seseorang untuk melakukan sesuatu dan berbagi demi mengurusi orang lain. Bahkan dengan kerendahannya hatinya yang sangat tulus, perempuan tersebut mengatakan, dirinya bukanlah orang hebat. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk memberikan kasih sayang seorang ibu. Untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung, karena telah kehilangan orang tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Ia telah merasakan kehilangan kedua orangtuanya sejak masih kecil. Mulai saat itulah, dirinya dirawat di Rumah Yatim Piatu Xiantan. Dengan menggunakan kursi kecil untuk menggantikan kedua kakinya tersebut, Xu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti memberi makan, mencuci, mengganti selimut, bahkan kadang membuatkan sepatu untuk 130 anak yatim asuhannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLfLjFzfCNmkGrBZMYQs5ZUHigq9rdjg3kfDZSZWkL0zojLwSBQynFGayPcCeg9tsgf3UsR_rIsDiuQRM0b5wfgPh1nNnFGg7q_mKqVyKhl_A3OjShk6h_7pAx7Wfu8OTy1-EF20zVfatD/s1600/Xu+Yuehua+4.jpeg&quot; style=&quot;color: #417394; text-decoration: none;&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLfLjFzfCNmkGrBZMYQs5ZUHigq9rdjg3kfDZSZWkL0zojLwSBQynFGayPcCeg9tsgf3UsR_rIsDiuQRM0b5wfgPh1nNnFGg7q_mKqVyKhl_A3OjShk6h_7pAx7Wfu8OTy1-EF20zVfatD/s1600/Xu+Yuehua+4.jpeg&quot; style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; max-width: 100%;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Xu Yuehua sedang berbincang dengan Sheng Li anak yatim pertama yang dibesarkan olehnya&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Mengasuh dengan Sepenuh Hati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Seperti dikutip dari Orange.co.uk, Rabu (22/12), Sheng Li, salah seorang anak asuh Xu Yueahua menuturkan, bahwa Xu merupakan pahlawan di mata anak-anak penghuni rumah panti asuhan Xiantan. “Tanpa Ibu Besar (panggilan untuk Xu Yuehua), mungkin saya sudah meninggal sejak lama. Suara kursi kecil yang menjadi tanda datangnya Ibu Besar merupakan suara yang terindah yang pernah saya dengar hingga saat ini,” ungkap Sheng Li.Meski telah memiliki keluarga sendiri Xu tetap merawat anak-anak di panti asuhan di tempat dirinya dulu dibesarkan. “Saya bukanlah orang hebat. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu memberikan kasih sayang seorang ibu untuk anak-anak malang itu,” ucap Xu merendah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL70XSj4-9NM73MSOqarasSXa1WMYHkZWTQp1a0f6mmMICeZBiXFjuBMRCOUeC2Nj7gYFLLw_M0OLZ_qOW_Z3BQnjpNC2qna3Bnp5KVvpcSCEchmpsB2EfgWH9ujqlIPv_hdwbQlur8E3y/s1600/Xu+Yuehua+8.jpeg&quot; style=&quot;color: #417394; text-decoration: none;&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL70XSj4-9NM73MSOqarasSXa1WMYHkZWTQp1a0f6mmMICeZBiXFjuBMRCOUeC2Nj7gYFLLw_M0OLZ_qOW_Z3BQnjpNC2qna3Bnp5KVvpcSCEchmpsB2EfgWH9ujqlIPv_hdwbQlur8E3y/s1600/Xu+Yuehua+8.jpeg&quot; style=&quot;border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-image: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; max-width: 100%;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kebahagiaan selalu ada dalam setiap orang yang selalu berpikir positif, berpikir maju dan tidak berkubang dalam penderitaannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px;&quot;&gt;Sumber :&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/goog_1715250004&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;http://forum.kompas.com/internasional/46461-xu-yuehua-tanpa-kaki-merawat-130-anak-yatim-piatu.html</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/xu-yuehua-tanpa-kaki-merawat-130-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcoqiT0N_31zw_rn_UGx4v3SBRVSMkfeS_yjaGy9BARwNWv5qmyua4JJx6Ku8Yxx8VtuGRzZENHR_pSLvPaORcv5iyaKVmANeEDDE3llXidbDcLl23GtXMFEx7HIyZC_2yvsQTPLFNZp87/s72-c/Xu+Yuehua+9.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-2237500322292394131</guid><pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-24T01:19:37.152+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Informasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Anak 6 Tahun Jualan Limun Demi Selamatkan Ayahnya</title><description>&lt;div class=&quot;text_11&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 12px; line-height: 15px; padding-top: 5px; text-align: -webkit-left;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Suatu kali Drew Cox, 6 tahun, menggelar meja di depan halaman rumahnya yang berumput dan tak berpagar di Gladewater, Texas, Amerika Serikat. Di situlah ia berjualan limun dalam gelas di atas meja dengan selembar karton bertulisan &quot;&lt;em&gt;Please Help My Dad&lt;/em&gt;&quot;. Ia menjual limun 25 cent segelasnya.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semula tetangganya tak begitu memperhatikannya. Namun setelah ada tetangganya yang menghampirinya dan membaca karton itu, si tetangga kontan tersentuh hatinya. Drew, anak pasangan Randy Cox dan Tonya Cooley Cox, berjualan limun dan makanan kecil untuk mengumpulkan uang yang akan diberikan pada orangtuanya untuk menebus obat-obatan bagi sang ayah, Randy Cox, 30 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Randy memang didiagnosa terkena penyakit seminoma, sejenis kanker yang langka. Untuk penyembuhannya ia harus menjalani terapi dengan biaya yang lumayan besar. Randy harus menjalani empat siklus terapi. Seminggu pertama ia harus datang ke tempat pengobatannya dan menjalani terapi selama enam jam setiap hari selama seminggu. Setelah itu berhenti selama dua minggu. Kemudian terapi lagi seminggu dan berhenti dua minggu. Dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Saya sedih. Saya ingin ayah bisa kembali sehat,&quot; kata Drew memberi alasan kenapa berjualan limun seperti dikutip KLTV, Texas. &quot;Saya melakukan ini (berjualan) karena ingin menolongnya dengan mengumpulkan uang untuk menebus obat,&quot; katanya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Randy mengaku sedih melihat apa yang dilakukan anak pertama dari tiga anaknya itu. &quot;Itu ungkapan kasih sayangnya pada saya,&quot; katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.andriewongso.com/otherimage/0-0000000000000000001drew2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;drew&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;175&quot; src=&quot;http://www.andriewongso.com/otherimage/0-0000000000000000001drew2.jpg&quot; style=&quot;max-width: 100%;&quot; title=&quot;drew&quot; width=&quot;234&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Lalu kabar pun tersebar. Para tetangganya datang ke halaman rumah Randy untuk membeli limun Drew. Bahkan orang-orang di kawasan yang berada di luar kompleks rumahnya pun berdatangan. Dalam sehari itu jalanan di depan rumah Randy penuh oleh mobil-mobil yang diparkir. Sejumlah orang, baik anak-anak maupun orang dewasa ramai-ramai membantu Drew untuk melayani pembeli lain. Dan tentu saja mereka membayar tak seharga seperti yang ditawarkan Drew, 25 cent segelas. Hari itu Drew bisa mengumpulkan pendapatan sampai US$10.000.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tak hanya itu, orangtua teman sekolah Drew ada juga yang menggagas penggalangan dana lewat Facebook. Dan dalam waktu yang tak terlalu lama sudah terkumpul US$3.500. &quot;Kita tahu bahwa cinta bisa datang dari seorang anak kecil. Sangat mengagumkan,&quot; kata seorang penyumbang. (foto: KLRV.com)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber :&amp;nbsp;http://m.andriewongso.com/artikel/aw_corner/5172/Anak_6_Tahun_Jualan_Limun_Demi_Selamatkan_Ayahnya/&lt;/div&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/anak-6-tahun-jualan-limun-demi.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-8646399225645856129</guid><pubDate>Thu, 19 Apr 2012 03:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-24T01:21:24.065+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah Nyata</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Semangat</category><title>Kisah Nyata - Semangkuk Nasi Putih</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu ada seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi. Dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih.&quot; Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan, &quot;Dapatkah Ibu menyiram sedikit kuah sayur di atas nasi saya?&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum, &quot;Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir: &quot;Kuah sayur gratis.&quot; Lalu ia memesan semangkuk lagi nasi putih. &quot;Semangkuk tidak cukup anak muda? Kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.&quot; Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Bukan, saya akan membawanya pulang. Besok saya akan membawa nasi itu ke kampus sebagai makan siang saya!&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota. Demi menuntut ilmu ia datang ke kota dan mencari uang sendiri untuk kuliah. Kesulitan dalam keuangan, itu sudah pasti ia alami.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berpikir sampai di situ pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan di bawah nasi. Kemudian ia membungkus nasi tersebut, sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja, dan memberikannya kepada pemuda ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini. Hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi? Suaminya kemudian berbisik kepadanya, &quot;Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya. Harga dirinya pasti akan tersinggung. Lain kali dia tidak akan datang lagi. Jika dia makan ke tempat lain dan hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah?&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Engkau sungguh baik hati. Sudah menolong orang, masih juga engkau menjaga harga dirinya.&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku?&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Terima kasih, saya sudah selesai makan.&quot; Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikkan badan, melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Besok singgah lagi ya! Engkau harus tetap bersemangat!&quot; kata sang suami sambil melambaikan tangan. Dengan perkataannya itu ia bermaksud mengundang pemuda ini agar jangan segan-segan datang lagi besok.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu. Mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka. Sama seperti biasa setiap hari ia hanya memesan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari sampai pemuda ini tamat kuliah. Selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada suatu hari, ketika suami isteri ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah pengumuman bahwa rumah makan mereka harus digusur. Tiba-tiba mereka akan kehilangan mata pencaharian. Dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada saat ini masuklah seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek, kelihatannya seperti seorang Direktur dari kantor bonafide.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Apa kabar? Saya adalah Wakil Direktur dari sebuah perusahaan. Saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami. Perusahaan kami telah menyediakan semuanya. Kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian ke sana. Keuntungannya akan dibagi dua dengan perusahaan.&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Siapakah direktur di perusahaan kamu? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!&quot; sepasang suami istri ini berkata dengan terheran-heran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Kalian adalah penolong dan kawan baik Direktur kami. Direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian. Hanya itu yang saya tahu, yang lain dapat kalian ketahui setelah kalian bertemu dengannya.&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Akhirnya, pemuda yang biasa memakan semangkuk nasi putih ini muncul. Setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang Presiden Direktur yang sukses. Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini. Jika mereka tidak membantunya, dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi Direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam ia berkata kepada mereka, &quot;Bersemangat ya! Di kemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian. Sampai bertemu besok!&quot;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. Terharu? Ayo, jangan sungkan untuk berbuat baik hari ini... You never know what will happen tommorow.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;SUMBER :&amp;nbsp;http://sparepartsalatberat.blogspot.com/2012/03/semangkok-nasi-putih.html&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/kisah-nyata-semangkuk-nasi-putih.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-872280844348751704</guid><pubDate>Fri, 13 Apr 2012 08:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-19T10:59:53.438+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Bagaimana Untuk menangani hinaan dan mempertahankan Cinta Kasih</title><description>&lt;br /&gt;
Anda tidak perlu menjadi. seorang buddhis untuk menghargai logika dan keindahan kutipan cerita di bawah ini..&lt;br /&gt;
*Sang Buddha menjelaskan bagaimana untuk menangani hinaan dan mempertahankan cinta kasih..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari sang Buddha berjalan melintasi sebuah desa. Seorang pemuda kasar yang sangat marah muncul dan mulai menghinanya&lt;br /&gt;
*&quot;Anda tidak berhak mengajari orang lain..!!!&quot; Dia berteriak. &quot; Kamu sama bodohnya dengan orang lain. Kamu bukanlah apa apa selain munafik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
**Buddha tidak marah dengan hinaan ini. Sebaliknya, Beliau bertanya kepada sang pemuda. &quot;Katakanlah padaku jika kamu membeli hadiah untuk seseorang, dan seseorang itu tidak mengambilnya, Siapakah pemilik hadiah itu?&lt;br /&gt;
*Sang Pemuda terkejut diberi pertanyaan yang aneh. Kemudian dia menjawab &quot; Hadiah itu akan menjadi milik saya karena saya yang membeli hadiah itu&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Sang Buddha tersenyum dan berkata: &quot;Hal itu benar, dan sama saja dengan kemarahan. Jika kamu menjadi marah dengan ku dan saya tidak merasa terhina, maka kemarahan itu akan kembali padamu. Anda kemudian menjadi satu2nya yang tidak bahagia, bukan saya. Semua yang anda lakukan akan menyakiti diri anda sendiri.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&quot;Jika anda ingin berhenti menyakiti diri sendiri maka anda harus menyingkirkan kemarahan dan ubahlah menjadi cinta kasih. Ketika kamu membenci orang lain, diri andalah yang akan menjadi tidak bahagia. Tetapi ketika anda mencintai orang lain, semua orang menjadi bahagia..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&amp;nbsp;http://kisahmotivasihidup.blogspot.com/2012/02/bagaimana-untuk-menangani-hinaan-dan.html#</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/bagaimana-untuk-menangani-hinaan-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-7982645422923449709</guid><pubDate>Fri, 13 Apr 2012 08:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-19T11:00:34.189+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Manfaat Melakukan Pelimpahan jasa</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
Manfaat Pelimpahan Jasa. Apakah temen-temen tahu? Ternyata pelimpahan jasa dalam tradisi agama Buddha banyak manfaatnya lho, mau tahu apa saja manfaat pelimpahan jasa?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Di dalam tradisi kita sebagai umat Buddha, memperingati upacara kematian atau memperingati saat-saat kematian orang yang kita sayangi, saat-saat wafat orang yang kita cintai sesungguhnya telah dimulai sejak jaman Sang Buddha. Tentu saja bukan hanya dengan mengirim makanan, mengirim pakaian kepada orang tua atau almarhum.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ada beberapa hal yang memang diajarkan oleh Sang Buddha dalam upacara peringatan kematian seperti hari ini. Ada dua cerita yang berkembang dalam masyarakat Buddhis. Cerita yang pertama telah sering kita dengar yaitu cerita seorang murid Sang Buddha yang paling sakti, yang paling hebat, bernama Bhante Moggalana. Dalam bahasa Mandarin, cerita ini dikenal sebagai Mu Lien Ciu Mu (Y.M. Moggalana menolong ibunya). Cerita inilah yang paling dikenal masyarakat luas. Padahal cerita itu tidak terdapat dalam Tripitaka. Menurut cerita ini, pada waktu sedang bermeditasi, Bhante Moggalana mempergunakan kemampuan batinnya untuk melihat alam-alam lain selain alam manusia. Memang bagi kita yang sudah biasa melatih meditasi, sebetulnya melihat alam lain bukanlah sesuatu hal yang luar biasa. Melihat alam surga, melihat alam neraka bukanlah sesuatu yang sulit. Surga 26 tingkat pun bisa dilihat satu demi satu. Tidak ada masalah. Pada waktu itu Bhante Moggalana melihat surga, tempat para dewa dan dewi yang lebih dikenal orang dengan istilah ‘malaikat’. Selain itu, beliau juga melihat ke alam-alam menderita, alam setan, setan raksasa yang kita sebut Asura, setan kelaparan atau alam peta dan juga alam neraka. Bhante Moggalana dengan prihatin melihat alam-alam menderita yang sangat menyedihkan ini. Di salah satu alam setan kelaparan, Bhante Moggalana melihat ibunya terlahir di situ. Di sana, terlihat ibunya dalam keadaan kurus kering dan telanjang bulat. Bhante Moggalana merasa sangat kasihan sekali kepada ibunya. Beliau berusaha menolong ibunya. Beliau mencoba memberikan makanan dan minuman kepada ibunya. Namun, segala pemberian beliau bukannya menolong ibunya; pemberiannya justru menambah penderitaan ibunya. Karena kebingungan atas kegagalannya menolong sang ibu, Bhante Moggalana menghadap Sang Buddha. Bhante Moggalana bertanya kepada Sang Buddha tentang sebab musabab kegagalan usaha pertolongannya kepada ibunya. Sang Buddha menjelaskan bahwa bila akan menolong makhluk di alam menderita hendaknya orang melakukannya dengan cara pelimpahan jasa. Pelimpahan jasa adalah melakukan suatu perbuatan baik atas nama orang yang telah meninggal yang akan ditolong.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Oleh karena itu, Bhante Moggalana kemudian disarankan oleh Sang Buddha untuk memberikan persembahan jubah dan makanan kepada pada bhikkhu Sangha atas nama ibunya. Nasehat Sang Buddha ini diikuti oleh Bhante Moggalana. Beberapa waktu kemudian Bhante Moggalana mengundang para bhikkhu, mempersembahkan dana makan, mempersembahkan jubah, kemudian melakukan pelimpahan jasa atas nama ibunya. Setelah melaksanakan upacara pelimpahan jasa, Bhante Moggalana bermeditasi lagi. Dengan mata batinnya beliau mencari ibunya di alam peta. Ketika bertemu, keadaan ibunya jauh berbeda. Ibunya kini kelihatan segar, sehat, awet muda, pakaiannya bagus, rapi dan bersih. Melihat hal itu, Bhante Moggalana berbahagia. Berdasarkan cerita itulah orang mengenal upacara pelimpahan jasa. Upacara pelimpahan jasa ini juga sering dihubungkan dengan tradisi mendoakan para makhluk menderita yang dilaksanakan setiap tanggal 15 di bulan 7 menurut penanggalan Imlek. Itulah cerita tradisi.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Bila cerita di atas adalah merupakan cerita yang berkembang dalam tradisi masyarakat tertentu, maka ada cerita lain yang memang terdapat dalam kitab suci Tri Pitaka. Kitab Suci Tri Pitaka memberikan cerita dengan versi lain tentang upacara pelimpahan jasa. Cerita ini berhubungan dengan raja Bimbisara. Raja Bimbisara suatu ketika mengundang Sang Buddha dan seluruh bhikkhu ke istana. Raja dalam kesempatan itu mempersembahkan dana makan serta jubah. Setelah berdana, raja merasakan kebahagiaan. Para bhikkhu pun lalu pulang ke vihara bersama dengan Sang Buddha. Raja Bimbisara sangat berbahagia pada hati itu, karena dia punya kesempatan mengundang Sang Buddha ke istana. Akan tetapi pada malam harinya raja memperoleh banyak gangguan dari para makhluk tak tampak. Ia banyak mendengar jeritan dan tangisan dari makhluk tak tampak. Raja akhirnya tidak dapat tidur semalaman. Pada pagi keesokan harinya raja Bimbisara segera pergi ke vihara, bertemu dengan Sang Buddha. Sang raja bertanya kepada Sang Buddha tentang gangguan yang dialaminya, padahal ia baru saja melakukan perbuatan baik.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sang Buddha menerangkan bahwa para makhluk yang mengganggu itu sebenarnya adalah sanak keluarga raja sendiri dari banyak kehidupan yang lalu. Namun, karena mereka telah melakukan kesalahan, mereka kemudian terlahir di alam menderita, alam setan kelaparan. Oleh karena itu, Sang Buddha kemudian menyarankan kepada raja agar ia sekali lagi mengundang para bhikkhu ke istana. Bila para bhikkhu telah sampai di istana, raja hendaknya mempersembahkan dana makanan dan jubah atas nama para makhluk menderita yang pernah menjadi saudaranya itu. Keesokan harinya, raja Bimbisara mengundang para bhikkhu dan Sang Buddha untuk menerima persembahan dana makan dan jubah. Kemudian jasa kebaikannya dilimpahkan kepada mereka. Para makhluk menderita itu merasakan pula kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan inilah yang menyebabkan mereka mati dari alam menderita dan terlahir kembali di alam bahagia.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dalam kesempatan itulah Sang Buddha membabarkan Tirokuddha Sutta. Sang Buddha bersabda bahwa di dinding-dinding, di gerbang-gerbang, di persimpangan-persimpangan jalan banyak keluarga kita yang terlahir di alam menderita menunggu kebaikan hati kita. Mereka menanti pelimpahan jasa kita dengan penuh kesedihan. Ketika sanak keluarganya berpesta pora dan menikmati kebahagiaan, tidak ada satu pun di antara mereka yang diingat. Padahal di sana tidak ada perdagangan, tidak ada warung dan restoran. Lalu bagaimana caranya kita menolong mereka? Kita bisa menolong mereka dengan melakukan kebaikan, dan melimpahkan jasanya kepada mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dalam masyarakat, pelimpahan jasa kadang-kadang dihubungkan dengan tradisi melakukan upacara tertentu pada bulan tujuh menurut penanggalan Imlek. Padahal menurut agama Buddha sebetulnya pelimpahan jasa tidak harus menunggu bulan tujuh. Sebab, belum tentu pada bulan tujuh nanti kita masih tetap hidup! Kalau kita juga ikut meninggal, justru malahan kitalah yang menerima pelimpahan jasa! Sebetulnya pelimpahan jasa bisa dilaksanakan setiap saat, bahkan setiap malam pun kita bisa merenung. ‘Semoga dengan semua kebaikan yang telah saya lakukan sampai malam hari ini, almarhum papa dan mama memperoleh kebahagiaan sesuai dengan kondisi karmanya saat ini.’ Kenapa dipilih ‘bulan tujuh’, ini tentu ada sebabnya. Dasar pemilihan ini dari kebiasaan Tiongkok. Bulan tujuh adalah bulan pergantian musim. Kita pun dapat melihat di Indonesia kalau pada Bulan Tujuh udara sangatlah dingin, bulan menggigil! Oleh karena itu, dalam bulan ini cukup banyak orang yang sakit. Karena banyaknya orang sakit maka para orang tua jaman dahulu menganggapnya sebagai banyaknya gangguan setan. Setan yang mengganggu berasal dari neraka yang, katanya, sedang ‘dibuka’. Oleh sebab itu, para leluhur kita dahulu kemudian melakukan upacara tertentu agar tidak memperoleh bencana karena gangguan para setan tadi. Itulah, secara singkat, awal munculnya tradisi upacara di bulan tujuh tanggal lima belas. Secara Agama Buddha, sekali lagi, pelimpahan jasa dapat dilakukan setiap saat, tanpa harus menunggu bulan-bulan tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Apakah pelimpahan jasa itu masih bermanfaat bila dilakukan di jaman sekarang ini? Masih! Ada kisah nyata. Ada seorang samanera yang ibunya meninggal dunia. Karena dia Buddhis, dia mengerti bagaimana caranya berbuat baik. Dia mengundang seorang bhikkhu dengan satu samanera yang lain lagi untuk membacakan Paritta. Setelah selesai dia mempersembahkan dana. Di sini ada baiknya disebutkan jumlahnya karena jumlahnya ini berhubungan dengan cerita ini. Mereka masing-masing mendapatkan selembar amplop yang berisi Rp. 5000,00. Beberapa hari kemudian samanera yang mengadakan pelimpahan jasa itu menceritakan bahwa ibunya telah mendatanginya lewat mimpi. Dalam mimpi, ibunya mengatakan kini ia telah mempunyai uang. Ibunya, dalam mimpi, menunjukkan uang dua lembar @ Rp. 5000,00!&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ada cerita yang lain lagi. Ada seorang ibu yang sudah lama menjadi janda. Suatu malam suaminya datang dalam mimpi dan meminta selembar baju. Setelah bangun, sang istri kemudian pergi ke pasar untuk membeli kain yang seukuran suaminya, juga yang warna dan motifnya yang disenangi suaminya. Si istri kemudian meletakkan semuanya itu di meja penghormatan yang ada foto almarhum di atasnya. Dia kemudian membaca Paritta. Selesai ber-Paritta dia mengatakan: ‘Niat saya hari ini mau berdana, atas nama suami saya, semoga dengan kekuatan kebaikan ini suami saya memperoleh kebahagiaan sesuai dengan kondisi karmanya saat ini.’ Sesudah selesai, kainnya ini tidak dibakar, tetapi didanakan kepada salah seorang pengurus Vihara atas nama almarhum suaminya. Seminggu kemudian ibu ini mimpi lagi suaminya datang. Suaminya puas dengan pemberian bajunya, hanya saja ia mengeluh kalau ukuran bajunya tidak sesuai, kekecilan. Ibu ini terbangun, kemudian merenungkan arti mimpinya. Dia teringat bahwa ketika membeli kain ukurannya sama dengan ukuran suaminya, padahal orang yang menerima dana badannya lebih besar daripada suaminya. Pantas kekecilan! Keesokan harinya, istri yang setia ini pergi ke pasar lagi untuk membeli kain kekurangannya, dan dia berikan kepada penjaga vihara itu. Penjaga vihara itu justru heran atas pengertian si ibu. Ia baru saja akan menghubungi si ibu karena kainnya memang kurang ukurannya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dari cerita ini jelas kelihatan bahwa sebetulnya pelimpahan jasa secara Buddhis itu dapat diterima oleh para makhluk yang kita kirimi. Hanya saja, syaratnya makhluk itu harus terlahir di alam Paradatupajivika Peta. Kalau dia tidak terlahir di alam itu, kalau dia terlahir di salah satu dari 26 alam surga, atau terlahir di alam neraka, maka makhluk ini tidak bisa menerima pelimpahan jasa kita. Kalau demikian, apakah manfaat bagi kita membacakan Paritta untuk makhluk yang tidak terlahir di alam peta tersebut? Apabila orang yang meninggal itu tidak terlahir di alam Peta tersebut, minimal selama kita membacakan Paritta seperti hari ini, selama itu pula pikiran, ucapan serta perbuatan kita dipupuk untuk sesuatu yang baik, mendoakan agar almarhum berbahagia. Kenal atau pun tidak kenal kepadanya kita tetap mendoakan semoga almarhum berbahagia. Maka selama setengah jam itu, pikiran, ucapan dan perbuatan kita telah melaksanakan kebaikan. Bayangkan kalau pagi setengah jam, malam setengah jam lagi, berarti hari ini kita punya satu jam yang berisi pikiran, ucapan, dan perbuatan kita baik. Kalau tiap pagi dan malam kita bisa membaca Paritta setengah jam, maka dalam satu bulan kita dapat mengumpulkan sekitar 30 jam untuk berpikir dan berbuat yang baik. Luar biasa, begitu besar kesempatan melakukan perbuatan baik. Hanya dengan membaca Paritta saja! Cobalah bila kita duduk selama satu jam. Pikiran dengan mudah mengembara kemana-mana. Kadang timbul pikiran baik, tetapi tidak jarang muncul pikiran jahat. Tetapi dengan diisi kegiatan membaca Paritta, maka pikiran, ucapan serta perbuatan kita otomatis terisi pula dengan kebaikan. Satu jam setiap hari, 30 jam satu bulannya kita berkesempatan mengembangkan kebaikan hanya dengan membaca Paritta. Oleh karena itu, seringlah membaca Paritta, apalagi pada upacara-upacara semacam ini. Bagus. Dalam upacara ini, selain kita telah melaksanakan kebaikan dengan membaca Paritta, kita juga dapat melimpahkan jasa kebaikan itu kepada almarhum. Bukankah kita dengan mambaca Paritta berarti tealh berbuat baik? Datang dari tempat yang jauh khusus untuk membacakan Paritta. Kita pun juga bisa melimpahkan jasa itu kepada sanak-keluarga kita sendiri yang sudah meninggal. Sanak keluarga kita yang terdiri dari kakek-nenek, orang tua maupun para leluhur dan kerabat kita lainnya. Mereka juga perlu kita berikan pelimpahan jasa agar mereka berbahagia. Jadi, pelimpahan jasa dapat dilaksanakan oleh siapa pun dan kapan pun juga. Karena pelimpahan jasa ini akan membawa manfaat baik bagi yang meninggal maupun kita yang hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Nah itu tadi sedikit bacaan tentang manfaat melakukan pelimpahan jasa. semoga bermanfaat bagi anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sumber :&amp;nbsp;http://yoedi.net/tanya-jawab/manfaat-melakukan-pelimpahan-jasa/&lt;/div&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/manfaat-melakukan-pelimpahan-jasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-2011764775745875307</guid><pubDate>Thu, 12 Apr 2012 03:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-19T11:01:36.984+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buddhis</category><title>ANAK YANG MEMBUNUH ORANGTUANYA</title><description>&lt;br /&gt;
Kisah ini terdapat di dalam salah satu bagian dari Kitab Suci Tripitaka. Dikisahkan tentang&lt;br /&gt;
salah satu dari dua murid utama Sang Buddha Gotama, bernama Yang Mulia Moggallana.&lt;br /&gt;
Meskipun Beliau sudah mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi, Arahat, dan mempunyai&lt;br /&gt;
kemampuan fisik dan batin yang amat tinggi, tetapi Beliau meninggal dengan cara yang amat&lt;br /&gt;
menyedihkan, yaitu dikepung oleh para penjahat dan dipukuli sampai meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Sang Buddha lalu menjelaskan perbuatan yang telah dilakukan oleh Yang Mulia Moggallana&lt;br /&gt;
pada salah satu kehidupannya yang lampau, sehingga ia harus menerima cara kematiannya&lt;br /&gt;
yang amat menyedihkan itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Pada masa lampau, terdapatlah seorang pemuda yang amat baik budi. Ia mengerjakan semua&lt;br /&gt;
pekerjaan rumah tangganya sendiri, seperti menanak nasi, membersihkan rumah serta merawat&lt;br /&gt;
kedua orangtua yang matanya buta itu dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Kedua orangtuanya mengkhawatirkan anaknya yang bekerja seorang diri, mereka lalu berkata&lt;br /&gt;
kepada anaknya :&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&quot;Anakku, kamu pasti terlalu capai mengerjakan semua pekerjaan seorang diri, baik di dalam&lt;br /&gt;
rumah maupun mencari kayu bakar di hutan. Kalau kamu setuju, kami akan melamarkan&lt;br /&gt;
seorang anak gadis untuk menjadi isterimu, supaya dapat membantu meringankan&lt;br /&gt;
pekerjaanmu.&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Anak itu lalu menjawab :&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&quot;Ibu, saya tidak memerlukan bantuan apa-apa, saya sanggup mengerjakan semuanya. Selama&lt;br /&gt;
ayah dan ibu masih hidup, sayalah yang akan menjaga dan merawatmu dengan tanganku&lt;br /&gt;
sendiri.&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Berkali-kali ia menolak usul kedua orangtuanya untuk mengambil seorang isteri. Tetapi ayah&lt;br /&gt;
dan ibunya terus mendesak, sehingga akhirnya ia diam saja dan menerima seorang gadis muda&lt;br /&gt;
untuk menjadi isterinya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Hanya beberapa hari saja isterinya mau merawat kedua orangtuanya. Setelah itu ia berkata&lt;br /&gt;
kepada suaminya, bahwa ia tidak sanggup lagi untuk merawat kedua orangtua itu dan tidak&lt;br /&gt;
ingin hidup bersama mereka lagi, ia tidak senang dengan kehidupan seperti itu.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Dengan menunjukkan ketidak-senangannya, ia selalu berkata :&lt;br /&gt;
&quot;Saya tidak sanggup untuk hidup lebih lama lagi bersama ayah dan ibumu yang buta itu.&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Suaminya tidak menghiraukan ocehan isterinya, sampai pada suatu hari isteri muda itu&amp;nbsp;mengambil tanah merah, kulit kayu dan butir-butir gandum, ia menebarkannya dimana-mana, di&lt;br /&gt;
sekitar rumah itu. Ketika suaminya pulang dan bertanya, apa yang telah terjadi, isterinya&lt;br /&gt;
menjawab :&lt;br /&gt;
&quot;Suamiku, semua ini adalah perbuatan orangtuamu yang buta itu, mereka mengotori seluruh&lt;br /&gt;
rumah ini, saya tidak sanggup lagi untuk hidup bersama mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Ia katakan hal itu berulang-ulang, terus-menerus. Si Suami yang semula ragu-ragu, akhirnya&lt;br /&gt;
menjadi percaya dengan perkataan isterinya, dan sebagai seseorang yang belum mencapai&lt;br /&gt;
tingkat kesempurnaan, ia menjadi kesal dengan kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&quot;Isteriku, jangan khawatir,&quot; kata suaminya, &quot;Saya akan menemukan jalan yang paling tepat&lt;br /&gt;
untuk membuang mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Kemudian ia memberi makan kepada kedua orangtuanya sambil berkata :&lt;br /&gt;
&quot;Ayah dan ibu, ada salah satu keluarga kita yang sangat mengharapkan kedatanganmu, marilah&lt;br /&gt;
kita datang mengunjungi mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Ia lalu membantu kedua orangtuanya yang buta masuk ke dalam kereta, ia juga ikut pergi&lt;br /&gt;
bersama mereka. Ketika mereka berada di tengah hutan yang sangat lebat, ia berkata kepada&lt;br /&gt;
ayahnya :&lt;br /&gt;
&quot;Ayah peganglah tali kekang ini, lembu-lembu ini dapat berjalan ke arah yang kita tuju dengan&lt;br /&gt;
baik, di sini banyak para perampok bersembunyi, menunggu orang-orang yang lewat. Saya&lt;br /&gt;
turun dulu melihat keadaan di sekitar tempat ini.&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Ia lalu memberikan tali kekang itu kepada ayahnya, dan segera turun dari kereta,&lt;br /&gt;
diarahkannya kereta itu masuk ke dalam hutan yang amat lebat.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Anak muda itu mulai membuat keributan, teriakan-teriakan, amat berisik seolah-olah ada&lt;br /&gt;
segerombolan perampok yang akan menyerang. Ketika kedua orangtua mendengar suara yang&lt;br /&gt;
amat berisik itu, mereka ketakutan dan berpikir :&lt;br /&gt;
&quot;Wah, ada segerombolan perampok yang akan menyerang kita.&quot; Mereka lalu berkata dengan&lt;br /&gt;
berteriak : &quot;Anakku, kami sudah tua, cepatlah pergi, selamatkanlah dirimu, jangan perhatikan&lt;br /&gt;
kami lagi. Pergilah, cepat pergi....!&quot;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Ketika kedua orangtua itu berteriak menyuruhnya pergi, anak laki-laki itu juga berteriakteriak seperti teriakan perampok, ia lalu memukuli kedua orangtuanya itu sampai mati, dan&lt;br /&gt;
membuang mayatnya ke dalam hutan lebat.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Setelah melakukan perbuatan yang kejam itu, ia pulang ke rumah. Ia amat menyesali&lt;br /&gt;
perbuatannya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Setelah menceritakan perbuatan Bhikkhu Moggallana di masa yang lampau, Sang Buddha&lt;br /&gt;
lalu berkata :&lt;br /&gt;
&quot;O Para Bhikkhu, karena perbuatan buruk yang telah dilakukannya, pada salah satu&lt;br /&gt;
kehidupannya di masa yang lampau, dengan membunuh ayah dan ibunya yang buta, ia harus&lt;br /&gt;
menerima kematiannya dengan cara yang mengerikan seperti itu. Inilah kelahirannya yang&lt;br /&gt;
terakhir di dalam lingkaran Samsara ini, meskipun ia telah menjadi orang suci, ia tetap tidak&lt;br /&gt;
dapat melarikan diri dari akibat perbuatan buruk yang telah dilakukannya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&amp;nbsp;website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/anak-yang-membunuh-orangtuanya.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-4687243723314109559</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2012 14:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-19T11:05:09.057+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>KISAH NYATA PEKERJA ABORSI DAN AKIBATNYA</title><description>oleh : Bhante Wongsin Labhiko&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat Dhammapada syair ke-17 berbunyi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Di dunia ini Ia 
menderita, Di dunia sana Ia menderita. Perilaku kejahatan menderita di 
kedua dunia itu, Ia meratap ketika berpikir, &quot;Aku telah berbuat jahat&quot;, 
dan Ia akan lebih menderita lagi ketika berada di alam sengsara.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada
 sebuah kisah nyata, yang terjadi sekitar 46 tahun yang lalu (sebelum 
Bhante Wongsin menjadi Bhikkhu). Di Thailand terdapat sebuah vihara yang
 jauh dari orang desa maupun kota. Di lingkungan Vihara, ada pohon bodhi
 yang sangat besar, umurnya diperkirakan sudah ratusan tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada
 hari itu Bhante Wongsin dan gurunya (Luangpi Jagaro) yang pada waktu 
itu menjadi kepala vihara di sana menunjukkan kepada Bhante Wongsin 
seorang wanita yang sedang menari-nari sambil bertepuk tangan dan 
berteriak,&quot;Selamat jalan anakku, selamat jalan anakku, kita tidak lama 
akan bertemu lagi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus berulang-ulang ia ucapkan. Ya... wanita
 tersebut memang terganggu jiwanya. Wanita tersebut bernama Duen yang 
artinya bulan. Bhante Wongsin bertanya pada gurunya, &quot;Apa yang 
menyebabkan wanita itu menjadi gila?&quot; Lalu Luangpu Jagaro mulai 
menceritakan kehidupan wanita itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar 45 tahun yang lalu, 
kehidupan wanita itu amatlah jaya. Itu disebabkan karena ia berhasil 
dalam pekerjaannya, tapi sayangnya pekerjaan itu amatlah bertentangan 
dengan Dhamma &amp;amp; Vinaya. Pekerjaannya sebagai penggugur kandungan 
atau aborsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya wanita itu sering dinasehati oleh para 
Bhikkhu bahwa pekerjaan itu tidak baik, disarankan untuk mencari 
pekerjaan lain yang lebih baik, yaitu pekerjaan yang tidak melanggar 
sila. Karena bila hal itu terus dilakukan akan mengakibatkan penderitaan
 di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi wanita itu menjawab,&quot;Bhante, saya
 ingin mencari uang yang cukup banyak, setelah cukup maka saya akan 
berhenti, saya sanggup menanggung semua resiko bahkan yang terburuk 
sekali pun.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pekerjaannya menggugurkan kandungan, ia 
mendapat banyak uang. Penghasilannya bisa mencapai 500 sampai 100 baht 
per harinya, maka tidak heran ia bisa membangun rumah yang sangat besar 
dan mewah. Kemudian ia menikah dengan seorang laki-laki pilihannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun,
 dua bulan kemudian rumahnya yang megah itu habis terbakar, ia menjadi 
miskin dan kehidupannya kembali seperti dulu, menjalankan pekerjaannnya 
sebagai penggugur kandungan. Tetapi pasiennya tidaklah sebanyak dulu. 
Kian hari pasiennya kian sedikit. Satu tahun kemudian wanita tersebut 
melahirkan seorang bayi laki-laki yang gemuk, manis dan sangat lucu. 
Kehadirannya membawa kebahagiaan bagi sepasang suami istri itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini
 mereka sekeluarga tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana. Karena
 kesederhanaannya itu, banyak anjing yang dapat keluar masuk dengan 
mudah ke gubuk tersebut, lalu memakan beras milik si wanita. Beras yang 
dengan susah paya ia dapat kian hari kain berkurang, sehingga membuatnya
 jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suami istri itu kemudian menyiapkan rencana untuk 
membalas dendam kepada anjing-anjing itu bila mereka datang kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang
 larut malam saat suami istri itu tertidur, terdengar suara 
mencurigakan. Si istri terbangun kemudia membangunkan suaminya untuk 
menjalankan rencana buruk mereka. Mereka siap mengayunkan pedang yang 
sudah di asah, secepat kilat sang suami mengayunkan pedang ke arah suara
 yang mencurigakan dan ..... kreekkk!! Sekali penggal, tidak terdengar 
lagi suara apapun, setelah itu dengan geram dipotong-potongnya tubuh itu
 menjadi 12 bagian. Lalu setelah selesai, suami istri itu bergegas 
menyalakan pelita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namin betapa terkejutnya pasangan suami istri 
itu, setelah mengetahui apa yang telah mereka lakukan. Makhluk yang 
telah dibunuhnya ternyata bayinya sendiri yang dikira seekor anjing yang
 sering mencuri beras. Bayi yang sangat disayanginya telah penuh dengan 
lumuran darah dan sudah tidak berbentuk, yang terlihat cuma 
potongan-potongan daging akibat sabetan pedang. Suami istri itu tidak 
percaya akan apa yang dilihatnya, semuanya sudah terlanjur, ia hanya 
bisa menangis sejadi-jadinya sambil berteriak-teriak hingga akhirnya ia 
pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya setelah mayat bayi mereka dikremasi, 
suaminya ditangkap dan ditahan karena dituduh telah membunuh secara keji
 dan terencana. Sedangkan Duen, sang istri kehilangan kesadarannya 
akibat penyesalan dan kesedihan yang teramat sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin 
inilah akibat dari perbuatan yang telah ia lakukan karena menekuni 
pekerjaan yang salah yaitu membantu orang lain menghilangkan nyawa 
makhluk lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun makhluk tersebut mungkin masih berupa 
gumpalan darah atau belum berwujud manusia, namun di dalamnya telah 
terdapat unsur kehidupan, sehingga jika unsur itu dihilangkan, maka ia 
telah melakukan pembunuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hal ini telah ia lakukan secara 
berulang-ulang tanpa merasa takut ataupun menyesal sehingga bila saatnya
 tiba maka sesal pun akan datang, namun sayang penyesalan selalu datang 
terlambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu maka kita seharusnya senantiasa 
berhati-hati dalam bertindak dan senantiasa mengingat akan ajaran Sang 
Buddha karena perbuatan buruk yang ditanam akan menghasilkan akibat yang
 buruk pula jika dilaksanakan. Ini adalah hukum yang abadi dan akan 
berlalu sampai kapan pun juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{Sahabat Sedharma yang berbahagia janganlah 
kita melakukan hubungan yang tidak aman apabila anda tidak berniat 
memiliki keturunan jangan karena kesalahan kita mengakibatkan nyawa 
seorang bayi hilang begitu saja sebaiknya hindarilah hubungan di luar 
nikah apabila anda sudah menikah gunakanlah pengaman seaman-aman 
mungkin}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&amp;nbsp; Majalah Vipassana 
tahun ke-9/Mei 2001 &amp;amp; http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,22024.msg392716.html#msg392716</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/kisah-nyata-pekerja-aborsi-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-1878222494746985741</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2012 14:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-09T21:11:48.638+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Wortel, Telur atau Kopi</title><description>&lt;div class=&quot;aboveUnitContent&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;tlTxFe&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/p480x480/409454_10150477626791805_300530356804_8875650_248295216_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; aria-label=&quot;Foto: Wortel, Telur atau Kopi



Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan 
mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana 
menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. 
Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.



Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan 
air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut 
mendidih. Ia memasukkan wortel di panci pertama, telur di panci kedua 
dan kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa 
berkata-kata.



Si anak membungkam dan menunggu denga tidak sabar, memikirkan apa yang 
sedang dikerjakan sang Ayah. Setelah 20 menit, sang Ayah mematikan api. 
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan 
letakkannya di mangkuk yang lain dan menuangkan kopi di mangkuk 
lainnya.



Lalu ia bertanya kepada anaknya,&amp;quot;Apa yang kau lihat, nak?

&amp;quot;Wortel, telur dan kopi.&amp;quot; jawab si Anak.



Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia 
melakukannya dan merasakan wortel terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya 
mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia 
mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir Ayahnya meminta 
untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya
 yang khas.



Setelah itu si Anak bertanya,&amp;quot;Apa arti semua ini , Ayah?&amp;quot;

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang 
sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.



Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Setelah 
direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.



Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang 
berupa cairan. Setelah direbus, isinya menjadi keras.



Bubuk Kopi mengalami perubahan unik. Setelah berada di dalam rebusan 
air, bubuk kopi merubah air tersebut.



&amp;quot;Kamu termasuk yang mana?,&amp;quot; tanya ayahnya. &amp;quot;Ketika 
kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel,
 telur atau kopi?&amp;quot;



Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya 
penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah menjadi lunak dan kehilangan 
kekuatan.



Apakah Anda adalah Telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa
 yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian 
atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi 
apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?



Ataukah Anda adalah bubuk Kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu 
yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada 
suhu 100 derajat celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa
 semakin nikmat.



Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu
 akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga 
membaik.&quot; border=&quot;0&quot; class=&quot;img&quot; height=&quot;303&quot; src=&quot;http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/p480x480/409454_10150477626791805_300530356804_8875650_248295216_n.jpg&quot; width=&quot;403&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_root text_exposed&quot; id=&quot;id_4f82e941a8bc55161718970&quot;&gt;
  Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai 
kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat 
baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia 
sudah lelah untuk berjuang. Sepert&lt;span class=&quot;text_exposed_hide&quot;&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;inya setiap kali satu masalah selesai, timbul
 masalah baru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia 
mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di 
panci-panci tersebut mendidih. Ia memasukkan wortel di panci pertama, 
telur di panci kedua dan kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya 
mendidih tanpa berkata-kata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Si anak membungkam dan menunggu 
denga tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang Ayah. 
Setelah 20 menit, sang Ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan 
menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan letakkannya di mangkuk yang 
lain dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Lalu ia bertanya 
kepada anaknya,&quot;Apa yang kau lihat, nak?&lt;br /&gt; &quot;Wortel, telur dan kopi.&quot; 
jawab si Anak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya 
merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan wortel terasa lunak.
 Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah 
membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. 
Terakhir Ayahnya meminta untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika 
mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Setelah itu si Anak 
bertanya,&quot;Apa arti semua ini , Ayah?&quot;&lt;br /&gt; Ayahnya menerangkan bahwa 
ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi 
masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Wortel sebelum 
direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Setelah direbus, wortel 
menjadi lembut dan lunak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Telur sebelumnya mudah pecah. 
Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Setelah direbus,
 isinya menjadi keras.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bubuk Kopi mengalami perubahan unik. 
Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt; &quot;Kamu termasuk yang mana?,&quot; tanya ayahnya. &quot;Ketika kesulitan 
mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur 
atau kopi?&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt; Apakah Anda adalah 
wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan 
kesulitan, kamu menyerah menjadi lunak dan kehilangan kekuatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Apakah Anda adalah Telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan 
jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian
 atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi
 apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt; Ataukah Anda adalah bubuk Kopi? Bubuk kopi merubah air panas, 
sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal
 pada suhu 100 derajat celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi 
terasa semakin nikmat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika 
keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan 
membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_root text_exposed&quot; id=&quot;id_4f82e941a8bc55161718970&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;text_exposed_root text_exposed&quot; id=&quot;id_4f82e941a8bc55161718970&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;Sumber : http://www.facebook.com/artikelbuddhis &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/wortel-telur-atau-kopi.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-6337552835568470865</guid><pubDate>Mon, 09 Apr 2012 13:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-19T11:05:21.830+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>&quot;Belajar Dari Penjaga Kuburan Yang Bijaksana&quot;</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4oOYQgJ21k1khx2M-oa-zQAQJQ0b0ze7dA_LnsLJmm7Um-9KTPBUfoAKsHmacL87laVa4_hpZlQ0MKsSvMItC4kRZk8swZWjW_8mg7YVQO6gmNoPRzrH5229KLdN1fypOpaViNPx-m7k/s1600/428179_10150528787766805_300530356804_9013303_868743598_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;217&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4oOYQgJ21k1khx2M-oa-zQAQJQ0b0ze7dA_LnsLJmm7Um-9KTPBUfoAKsHmacL87laVa4_hpZlQ0MKsSvMItC4kRZk8swZWjW_8mg7YVQO6gmNoPRzrH5229KLdN1fypOpaViNPx-m7k/s320/428179_10150528787766805_300530356804_9013303_868743598_n.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang sopir turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir 
di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan dan 
berkata, &quot;Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil it&lt;span class=&quot;text_exposed_hide&quot;&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;u?&quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt; Penjaga kuburan segera berjalan di belakang sopir itu. Seorang 
wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha 
tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata,&quot;Saya Ny. Steven. 
Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda 
agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak
 saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan 
hati Anda.&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. 
Tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda.&quot; jawab
 pria itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &quot;Apa, maaf?&quot; tanya wanita itu dengan gusar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 &quot;Ya, Nyonya, karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat 
keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya
 berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya 
jumpai, atau mereka yang sedang bersedih, Nyonya,&quot; jawab pria itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera 
pergi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari 
mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 &quot;Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny. Steven. Saya 
datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa 
bulan yang lalu.&lt;br /&gt; Ketika saya secara langsung mengantarkan 
kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu
 tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia. 
Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi 
saya benar-benar yakin bahwa kebaikan hati, cinta kasih dan belas kasih 
adalah obat yang memulihkan saya!&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ada prinsip yang mungkin 
kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain 
sesungguhnya kita menolong diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;Sumber : http://www.facebook.com/artikelbuddhis&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fcg&quot;&gt; &lt;/span&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/04/belajar-dari-penjaga-kuburan-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4oOYQgJ21k1khx2M-oa-zQAQJQ0b0ze7dA_LnsLJmm7Um-9KTPBUfoAKsHmacL87laVa4_hpZlQ0MKsSvMItC4kRZk8swZWjW_8mg7YVQO6gmNoPRzrH5229KLdN1fypOpaViNPx-m7k/s72-c/428179_10150528787766805_300530356804_9013303_868743598_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-8015311139318732186</guid><pubDate>Tue, 06 Mar 2012 03:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-06T10:14:53.405+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Informasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><title>5 Burung Dalam Mitologi Dunia</title><description>&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Oleh: Galih Pakuan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;[UNIKNYA.COM]: Burung hinggap dalam kehidupan manusia melalui mitos dan keyakinan. Burung membuat sebagian manusia memosisikannya umpama dewa, ksatria dan brahmana. Hal tersebut menyebabkan burung jadi aksesorisseorang dukun, prajurit, penyair, dan orang yang dianggap dekat dengan kehidupan dan kematian. Berikut lima mitologis burung di dunia:&lt;span id=&quot;more-560&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;1. Phoenix&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/250px-Phoenix-Fabelwesen.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; clear: left; color: #cd1713; float: left; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-thumbnail wp-image-565&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/250px-Phoenix-Fabelwesen-150x150.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: white; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-color: initial; border-left-color: rgb(221, 221, 221); border-left-style: solid; border-left-width: 1px; border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-right-style: solid; border-right-width: 1px; border-style: initial; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-style: solid; border-top-width: 1px; font-size: 13px; margin-bottom: 5px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;150&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Burung yang hidup dalam keyakinan bangsa Romawi, Yunani, ia digambarkan dengan segala keindahan, keanggunan dan kekuatannya. Berdasarkan mitos, burung Phoenix ini hidup selama 500 tahun. Burung Api ini digambarkan memiliki bulu sangat indah berwarna merah dan keemasan. Phoenix dikatakan dapat hidup selama 500 atau 1461 tahun. Setelah hidup selama itu, Phoenix membakar dirinya sendiri. Setelah itu, dari abunya, munculah burung Phoenix muda. Siklus hidup burung Phoenix seperti itu (regenerasi), bangkit kembali setelah mati, lalu muncul sebagai sosok yang baru. Phoenix merupakan simbol dari keabadian, lambang dari siklus kehidupan setelah mati, dan simbol dari kebangkitan tubuh setelah mati.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;2. Bennu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/benu6.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; clear: left; color: #cd1713; float: left; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-thumbnail wp-image-564&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/benu6-150x150.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: white; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-color: initial; border-left-color: rgb(221, 221, 221); border-left-style: solid; border-left-width: 1px; border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-right-style: solid; border-right-width: 1px; border-style: initial; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-style: solid; border-top-width: 1px; font-size: 13px; margin-bottom: 5px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;150&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Merupakan burung yang berfungsi sebagai korespondensi Mesir ke Phoenix, dan dikatakan jiwa dari Dewa Matahari Ra. Beberapa julukan dari Bennu adalah, ‘Dia yang datang&amp;nbsp; menjadi seorang diri’, ‘Naik Satu’, dan ‘Tuhan dari Yobel’. Bennu adalah nama umum yang diberikan kepada burung dalam bahasa Inggris, vokal asli dari nama dieja sebagai Mesir BNN oleh ahli-ahli Taurat. Bennu burung phoenix adalah mitologi Mesir. Burung ini juga dikaitkan dengan terbitnya Nil, kebangkitan, dan matahari.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;3. Huma&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/220px-Homa.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; clear: left; color: #cd1713; float: left; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-thumbnail wp-image-566&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/220px-Homa-150x150.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: white; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-color: initial; border-left-color: rgb(221, 221, 221); border-left-style: solid; border-left-width: 1px; border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-right-style: solid; border-right-width: 1px; border-style: initial; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-style: solid; border-top-width: 1px; font-size: 13px; margin-bottom: 5px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;150&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Burung legendaris dari fabel sufi yang dikatakan tidak pernah beristirahat, menghabiskan seluruh hidupnya terbang mengelilingi bumi, dan tidak pernah mendarat. Ada juga legenda yang mengatakan dia tidak memiliki kaki. Kata huma berasal dari dua kata yang berbeda, ‘hu’ melambangkan jiwa dan ‘ma’ melambangkan air. Dalam mitologi Turki, Huma memiliki persamaan dengan burung kumay atau umay, dimana umay adalah dewi kesuburan dan keperawanan. Dalam tradisi sufi, menangkap huma merupakan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Orang yang mampu menangkap huma tidak akan bertahan hidup lebih dari empat puluh hari.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;4. Garuda&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/garuda.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; clear: left; color: #cd1713; float: left; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-thumbnail wp-image-563&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/garuda-150x150.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: white; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-color: initial; border-left-color: rgb(221, 221, 221); border-left-style: solid; border-left-width: 1px; border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-right-style: solid; border-right-width: 1px; border-style: initial; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-style: solid; border-top-width: 1px; font-size: 13px; margin-bottom: 5px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;150&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Burung ini juga merupakan simbol Negara Republik Indonesia. Tubuhnya berwarna emas, wajahnya putih cerah, sayapnya merah, memiliki paruh layaknya elang, dengan mahkota dikepalanya. Di dalam agama hindu Garuda menempati posisi yang sangat penting, Dewa Krishna mengendarainya untuk membunuh sosok Narakasura. Dalam cerita lainnya Raja Hari menunggangi Garuda untuk menyelamatkan Gayendra.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;5. Fenghuang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/220px-Fenghuang.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; clear: left; color: #cd1713; float: left; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;size-thumbnail wp-image-567&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;http://uniknya.com/wp-content/uploads/2011/04/220px-Fenghuang-150x150.jpg&quot; style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: white; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-color: rgb(221, 221, 221); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-color: initial; border-left-color: rgb(221, 221, 221); border-left-style: solid; border-left-width: 1px; border-right-color: rgb(221, 221, 221); border-right-style: solid; border-right-width: 1px; border-style: initial; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-style: solid; border-top-width: 1px; font-size: 13px; margin-bottom: 5px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; vertical-align: baseline;&quot; width=&quot;150&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Pada awalnya Fenghuang digambarkan sebagai dua ekor burung dimana yang jantan disebut Feng dan yang betina disebut Huang. Mulai muncul pada awal dinasti Shang (sekitar 4.000 tahun yang lalu). Pada masa dinasti Han (2.200 tahun yang lalu) dua burung ini sering digambarkan saling berhadapan satu dengan yang lain. Namun pada masa dinasti Yuan, kedua sosok ini digabungkan dan secara umum disebut sebagai Phoenix atau Raja Para Burung. Namun semenjak masa Raja Jiajing (1522 – 1566), burung ini kembali dijadikan dua sosok yang berbeda. Yang jantan dapat dikenali dari 5 /3 bulu ekor (lima / tiga ~ ganjil ~ yang) sementara yang betina memiliki 2 bulu ekor (satu ~ genap ~ yin). (**)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 17px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-size: 13px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 10px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/03/5-burung-dalam-mitologi-dunia.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-3799958021718302021</guid><pubDate>Tue, 06 Mar 2012 02:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-06T10:04:35.921+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Persahabatan - Khalil Gibran</title><description>&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt=&quot;Persahabatan&quot; src=&quot;http://27.media.tumblr.com/tumblr_lwk7z3OuQG1qgsugeo1_500.jpg&quot; style=&quot;max-width: 100%; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dia  menjawab:&lt;br /&gt;
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.&lt;br /&gt;
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.&lt;br /&gt;
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.&lt;br /&gt;
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.&lt;br /&gt;
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam  persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.&lt;br /&gt;
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;&lt;br /&gt;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.&lt;br /&gt;
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.&lt;br /&gt;
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.&lt;br /&gt;
Gerangan apa sahabat itu jika  kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?&lt;br /&gt;
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!&lt;br /&gt;
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.&lt;br /&gt;
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..&lt;br /&gt;
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~ Khalil Gibran</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/03/persahabatan-khalil-gibran.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4235182570929089544.post-1789399385646564989</guid><pubDate>Wed, 11 Jan 2012 05:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-11T12:56:46.957+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Informasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengetahuan</category><title>Makna Simbolik Hidangan Imlek</title><description>Hari Raya Tahun Baru Imlek bukan hanya sekedar ritual tahunan biasa dan budaya saja, tetapi juga merupakan budaya yang sekaligus menyatu dengan kepercayaan, walaupun demikian bagi mereka yang berbeda agama, maka mereka bisa turut merayakan hanya dari sudut budayanya saja. Disamping itu tidak ada salahnya untuk menambah wawasan pengetahuan kita mengetahui makna simbolik dari hidangan makanan yang disajikan pada hari raya tersebut. Sama seperti makanan untuk upacara adat atau keagamaan lainnya, makanan khas Tahun Baru Imlek juga sarat dengan berbagai macam makna simbolik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasakan kepercayaan orang-orang Tionghoa yang kaya pada umumnya selalu menyediakan 12 macam masakan dan 12 macam kue-kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti yang berkaitan dengan kemakmuran, panjang umur, kebahagiaan maupun keselamatan. Walaupun demikian bagi mereka yang tidak mampu maka cukup dengan makan mie panjang umur (siu mie) dan minum arak, tetapi ini hanya berlaku untuk mang Ucup saja, maklum arak itu adalah minum wajibnya Mang Ucup setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat merayakan tahun baru Imlek kebanyakan orang Tionghoa membuat Samseng (artinya: tiga macam daging kurban) yang terdiri dari tiga jenis macam binatang yaitu ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan dibuatnya Samseng tersebut adalah sebagai perlambang sifat dari hewan; agar kita sebagai manusia tidak meniru sifat yang dilakukan oleh ketiga jenis binatang tersebut. Babi pemalas, karena kerjanya hanya makan dan tidur. Ayam yang suka pindah-pindah pada saat makan, sehinggga ketika makanan yang ada didepan matanya belum habis pun sudah mau pindah lagi ke tempat lain atau melambangkan sifat yang serakah. Lain halnya dengan ikan bandeng, karena kulit ikan itu bersisik maka ini bisa diumpamakan seperti seekor ular, dengan pengertian agar kita jangan berlaku jahat pada orang lain seperti ular.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ada juga yang menghubungkan ikan sebagai perlambang rezeki, karena dalam logat Mandarin kata ”ikan” sama bunyinya dengan kata ”yu” yang berarti rezeki oleh sebab itulah dibanyak restoran Tionghoa terutama di Holland selalu ada aquarium ikan ikan mas yang melambangkan rejeki yang dilumuri dengan emas yang berjibun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu seperti juga pada saat merayakan pesta HUT; mie juga merupakan satu makanan wajib, sebab mie itu melambangkan panjang umur terutama Siu Mie / Shou Mian = “Mie pajang umur”. Mie ini harus disajikan tanpa putus dari ujung awal ke ujung akhir jadi benar-benar merupakan satu utaian mie, sebab dengan demikian diharapkan umur kita pun tidak akan putus-putusnya alias manjang terus. Walaupun demikian pada saat mau disantap mie tersebut boleh dipotong, maklum apabila saatnya tiba toh akhirnya usia manusia tersebut akan putus juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kueh Keranjang atau Nian Gao atau lebih sering disebut kue kranjang (tii kwee) adalah kue wajib imlek. Kue ini mendapat nama dari cetakannya yang terbuat dari keranjang. Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kue-kue yang disajikan pada hari raya tahun baru Imlek pada umumnya ada jauh lebih manis daripada biasanya, sebab dengan demikian diharapkan di tahun mendatang jalan hidup kita bisa menjadi lebih manis lagi daripada di tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kue wajib lainnya adalah kue lapis legit (spekkoek) sebagai pelambang datangnya rezeki yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih di tahun yang akan datang, sehingga dengan demikian bisa dapat merasakan kehidupan yang lebih lebih manis dan lebih legit lagi. Kue lapis legit yang sering juga disebut sebagai “Thousand Layer Cake”, walaupun memang benar menggunakan mentega dari Belanda (roomboter), tetapi orang-orang di Belanda nya sendiri, mereka tidak mengenal kue itu. Mungkin perkataan “spek” ini diambil dari bahasa Belanda yang berarti lapisan lemak babi (bacon = bahasa Inggris), karena bentuknya mirip spek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buah-buahan wajib yang sudah pasti adalah pisang raja atau pisang mas yang melambangkan mas atau kemakmuran. Begitu juga dengan jeruk kuning dan diusahakan yang ada daunnya sebab ini melambangkan kemakmuran yang akan selalu tumbuh terus. Sedangkan tebu melambangkan kehidupan manis yang panjang. Walaupun demikian harus dihindari buah-buahan yang berduri seperti salak atau durian, terkecuali nanas karena namanya Wang Li yang ucapannya mirip dengan kata Wang (berjaya) disamping itu nanas juga bisa dilambangkan&lt;br /&gt;
sebagai mahkota raja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain buah-buahan dianjurkan juga untuk makan manisan seperti kolang kaling agar pikiran bisa menjadi jernih terus dan juga agar-agar yang sebaiknya disajikan dalam bentuk bintang agar kehidupan maupun jabatannya dimasa yang akan datang bisa menjadi lebih terang dan bersinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain makanan yang wajib disajikan ada juga makanan yang sebaiknya dihindari atau dipantangkan seperti bubur, sebab ini melambangkan kemiskinan atau kesusahan. Maklum pada saat musim kelaparan di Tiongkok mereka tidak bisa menyajikan nasi. Disamping itu makanan-makanan yang berasa pahit seperti pare dan fumak sebaiknya ini juga dihindari sebab makanan tersebut melambangkan kepahitan hidup.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://www.gangbaru.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=55&amp;amp;Itemid=64&quot;&gt;http://www.gangbaru.com/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=55&amp;amp;Itemid=64&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://peoplewillfindtheway.blogspot.com/2012/01/makna-simbolik-hidangan-imlek.html</link><author>noreply@blogger.com (Fang)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>