<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 08:01:59 +0000</lastBuildDate><category>Hadits</category><category>Aqidah</category><title>Pesantren Nurul Ikhwan</title><description>Pusat pendidikan dan pembelajaran Islam di bogor jawa barat</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Pusat pendidikan dan pembelajaran Islam di bogor jawa barat</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-5180901418649760162</guid><pubDate>Mon, 06 Aug 2012 05:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-05T23:40:51.044-06:00</atom:updated><title>AQIDAH ISLAM</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;h3 style="font-weight: normal; text-align: left;"&gt;&lt;u&gt;~ &lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/08/antara-al-quran-dan-tauhid.html" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Antara Al-Qur'an dan Tauhid&lt;/a&gt; ~&lt;/u&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Allah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style="font-weight: normal;"&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style="font-weight: normal;"&gt;“Wahai  umat manusia,  sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas  dari Rabb  kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang  terang-benderang.”&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&amp;nbsp;(QS. an-Nisaa’: 174)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Allah adalah  penolong  bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari   kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong   mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju   kegelapan-kegelapan.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Baqarah: 257) &lt;a href="http://www.blogger.com/Allah%20ta%E2%80%99ala%20berfirman%20%28yang%20artinya%29,%20%E2%80%9CWahai%20umat%20manusia,%20sungguh%20telah%20datang%20kepada%20kalian%20keterangan%20yang%20jelas%20dari%20Rabb%20kalian,%20dan%20Kami%20turunkan%20kepada%20kalian%20cahaya%20yang%20terang-benderang.%E2%80%9D%20%28QS.%20an-Nisaa%E2%80%99:%20174%29%20Allah%20ta%E2%80%99ala%20berfirman%20%28yang%20artinya%29,%20%E2%80%9CAllah%20adalah%20penolong%20bagi%20orang-orang%20yang%20beriman,%20Allah%20mengeluarkan%20mereka%20dari%20kegelapan-kegelapan%20menuju%20cahaya,%20adapun%20orang-orang%20kafir%20itu%20penolong%20mereka%20adalah%20thoghut%20yang%20mengeluarkan%20mereka%20dari%20cahaya%20menuju%20kegelapan-kegelapan.%E2%80%9D%20%28QS.%20al-Baqarah:%20257%29" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Read more...&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/08/aqidah-islam.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-1651565855096558380</guid><pubDate>Mon, 06 Aug 2012 05:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-05T23:35:33.518-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aqidah</category><title>Antara Al Qur’an dan Tauhid</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span id="sasText" style="left: -9999px; position: fixed; top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Wahai  umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas  dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang  terang-benderang.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. an-Nisaa’: 174)&lt;br /&gt;
Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Allah adalah  penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari  kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong  mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju  kegelapan-kegelapan.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Baqarah: 257)&lt;br /&gt;
Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Dan apakah orang  yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang  membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan  orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar  darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir  terhadap apa yang mereka kerjakan.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-An’aam: 122)&lt;br /&gt;
Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan  menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur’an dan cahaya iman.  Keduanya dipadukan oleh Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di dalam firman-Nya (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Dahulu  kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman,  akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya  Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang  Kami kehendaki.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. asy-Syura: 52)&lt;br /&gt;
Ibnul Qoyyim&amp;nbsp;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berkata, “…Dan sesungguhnya kedua  hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di  dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling  agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang  bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu&lt;/i&gt;, hal. 38)&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;A. Tauhid Intisari Ajaran al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi&amp;nbsp;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mengatakan,  “al-Qur’an berisi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan  sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut dengan istilah&amp;nbsp;&lt;i&gt;tauhid &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/ilmu"&gt;ilmu&lt;/a&gt; dan pemberitaan&lt;/i&gt;.  Selain itu al-Qur’an juga berisi seruan untuk beribadah hanya  kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta ajakan untuk mencampakkan  sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan istilah&amp;nbsp;&lt;i&gt;tauhid kehendak dan tuntutan&lt;/i&gt;. al-Qur’an itu juga berisi perintah dan larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan&amp;nbsp;&lt;i&gt;hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya&lt;/i&gt;.  Selain itu, al-Qur’an juga berisi berita tentang kemuliaan yang Allah  berikan bagi orang yang mentauhidkan-Nya, apa yang Allah lakukan kepada  mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan yang dianugerahkan  untuk mereka di akherat. Itulah&amp;nbsp;&lt;i&gt;balasan atas tauhid&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang dia  miliki. Di sisi yang lain, al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai  keadaan para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada  mereka selama di dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akherat.  Maka itu adalah&amp;nbsp;&lt;i&gt;hukuman bagi orang yang keluar dari hukum tauhid&lt;/i&gt;.  Ini menunjukkan bahwa seluruh bagian al-Qur’an membicarakan tentang  tauhid, hak-haknya, dan balasan atasnya. Selain itu, al-Qur’an pun  membeberkan tentang masalah syirik, keadaan pelakunya, serta balasan  atas kejahatan mereka.” (lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;Syarh al-’&lt;a href="http://muslim.or.id/aqidah"&gt;Aqidah&lt;/a&gt; ath-Thahawiyah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan&amp;nbsp;&lt;i&gt;takhrij&lt;/i&gt;&amp;nbsp;al-Albani, hal. 89 cet. al-Maktab al-Islami)&lt;br /&gt;
Syaikh as-Sa’di&amp;nbsp;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berkata, “Secara keseluruhan  al-Qur’an mengandung penetapan tauhid dan penolakan atas lawannya.  Mayoritas ayat mengandung penetapan dari Allah terhadap tauhid uluhiyah  dan keharusan untuk memurnikan ibadah semata-mata untuk Allah yang tiada  sekutu bagi-Nya. Di dalamnya juga diberitakan bahwasanya segenap rasul  tidaklah diutus melainkan untuk mengajak kaumnya supaya beribadah kepada  Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan  bahwasanya tidak ada tujuan Allah dalam menciptakan jin dan manusia  selain agar mereka beribadah kepada-Nya. Dikabarkan pula bahwasanya  seluruh kitab suci dan para rasul yang diutus bahkan fitrah dan akal  sehat manusia; semuanya telah menyepakati pokok ini. Yang hal itu  merupakan pokok yang paling mendasar diantara seluruh pokok ajaran  agama. Dan barangsiapa yang tidak beragama dengan agama ini -yang pada  hakikatnya adalah pemurnian ibadah kepada Allah, hati dan juga amalan,  untuk Allah semata- maka seluruh amalnya sia-sia.” (lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Qowa’id al-Hisan li Tafsir al-Qur’an&lt;/i&gt;, sebagaimana dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Majmu’ah al-Kamilah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[8/23])&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;B. Metode al-Qur’an Dalam Menetapkan Keesaan Pencipta&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan 3 metode al-Qur’an dalam menetapkan hal ini:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Suatu perkara yang sudah pasti bahwa sesuatu yang baru ada maka pasti ada yang menciptakannya. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu sebelumnya, ataukah mereka sendiri yang menciptakan?”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS.  ath-Thur: 35). Ayat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin makhluk  tercipta begitu saja tanpa ada pencipta, atau bahkan dia menciptakan  dirinya sendiri, itu lebih tidak mungkin lagi. Maka hanya ada satu  kemungkinan bahwa mereka ada karena diciptakan oleh Allah semata&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Keteraturan alam semesta ini menunjukkan bahwa ia memiliki satu  pencipta dan pengatur yang mengatur segala sesuatu yang ada di dalamnya.  Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Allah tidaklah  mengangkat seorang anak pun dan tidak ada bersama-Nya sesembahan yang  lain -yang benar- sebab jika ada niscaya setiap sesembahan itu akan  pergi membawa ciptaannya dan sebagiannya tentu akan mengalahkan yang  lain.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Mukminun: 91)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kepatuhan segenap makhluk dalam menjalankan tugasnya masing-masing  di alam semesta ini. Oleh sebab itu tatkala berdialog dengan Fir’aun  Nabi Musa&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘alaihis salam&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mengungkapkan hal ini kepadanya. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menceritakan (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Dia  (Fir’aun) berkata: “Siapakah Rabb kalian berdua wahai Musa?” Musa pun  menjawab: “Rabb kami adalah yang telah memberikan penciptaan kepada  seluruh makhluk-Nya dan kemudian menunjuki mereka.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Thaha:  49-50). Ini semua Allah beberkan di dalam al-Qur’an dalam rangka  mewajibkan manusia untuk beribadah kepada Allah semata (bertauhid  uluhiyah). Barangsiapa yang tidak melaksanakan tauhid uluhiyah maka dia  bukanlah seorang muslim (diringkas dari&amp;nbsp;&lt;i&gt;at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-’Aali&lt;/i&gt;, hal. 32-35)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;C. Metode Penetapan Tauhid Di Dalam al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan&amp;nbsp;&lt;i&gt;hafizhahullah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;telah menyebutkan berbagai macam metode al-Qur’an dalam menyerukan tauhid uluhiyah. Diantaranya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Perintah untuk beribadah kepada-Nya dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Sebagaimana dalam ayat (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. an-Nisaa’: 36). Dalam firman-Nya (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian…”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Sampai ayat,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Baqarah: 21-22)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pemberitaan dari Allah bahwasanya makhluk diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. adz-Dzariyat: 56)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pemberitaan bahwasanya Allah mengutus segenap rasul untuk mengajak  beribadah kepada-Nya dan melarang penyembahan kepada selain-Nya. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang berseru-: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. an-Nahl: 36)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Perintah untuk bertauhid uluhiyah berdasarkan pengakuan terhadap  keesaan Allah dalam hal rububiyah, penciptaan, dan pengaturan alam.  Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&lt;i&gt;“Janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, akan tetapi sujudlah kepada Yang telah menciptakannya.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Fushshilat: 37). Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;juga berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Apakah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak menciptakan?”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. an-Nahl: 17)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Perintah untuk beribadah kepada-Nya dengan landasan keesaan Allah  dalam hal sifat-sifat kesempurnaan; yang hal itu tidak dimiliki oleh  sesembahan-sesembahan orang musyrik (selain Allah). Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Maka  beribadahlah kepada-Nya dan teruslah bersabar dalam beribadah  kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Maryam: 65). Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Milik Allah nama-nama yang terindah itu, maka berdoalah kepada Allah dengannya.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-A’raf: 180). Allah menceritakan &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/dakwah"&gt;dakwah&lt;/a&gt; Nabi Ibrahim&lt;i&gt;&amp;nbsp;‘alaihis salam&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kepada ayahnya (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Wahai  ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak  melihat, dan tidak merasa cukup darimu barang sedikitpun.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Maryam: 42). Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;juga berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Jika kalian berdoa kepada mereka, maka mereka tidak akan bisa mendengar doa kalian.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Fathir: 140)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembuktian kelemahan sesembahan-sesembahan orang musyrik. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Apakah  mereka akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak bisa  menciptakan apapun, sementara mereka sendiri justru diciptakan. Tidak  mampu untuk memberikan pertolongan kepada mereka. Menolong diri mereka  sendiri pun tidak mampu.”&lt;/i&gt;(QS. al-A’raf: 191-192). Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Katakanlah:  Serulah sesembahan-sesembahan selain-Nya yang kalian sangka [benar]  itu. Karena mereka tidaklah kuasa untuk menyingkap bahaya dari kalian,  dan tidak sanggup merubah apa-apa.”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(QS. al-Israa’: 56)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembuktian kebodohan orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Siapakah  yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah,  sesuatu yang tidak bisa memenuhi seruannya hingga hari kiamat, sedangkan  mereka itu dari doa yang mereka panjatkan adalah melalaikan.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Ahqaf: 5)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penjelasan mengenai akibat buruk yang diterima oleh orang-orang  musyrik serta keadaan yang mereka alami bersama dengan  sesembahan-sesembahan mereka di akherat kelak. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Dan pada hari kiamat nanti mereka/sesembahan-sesembahan itu akan mengingkari syirik yang kalian lakukan.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Fathir: 14)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bantahan Allah kepada orang-orang musyrik yang mengangkat perantara  dalam beribadah kepada Allah. Allah tegaskan bahwa seluruh syafa’at  adalah milik-Nya, tidak diminta kecuali kepada-Nya, dan tidak ada yang  bisa memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Apakah  mereka mengangkat selain Allah sebagai pemberi syafa’at, maka  katakanlah; meskipun seandainya mereka itu tidak memiliki apa-apa dan  tidak pula berakal. Katakanlah; seluruh syafa’at itu hanya milik Allah.  Milik-Nya kerajaan langit dan bumi.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. az-Zumar: 43-44). Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;juga berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Siapakah yang bisa memberikan syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Baqarah: 255)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penjelasan bahwasanya sesembahan selain Allah tidak menguasai  sedikit pun kemanfaatan bagi orang yang menyembahnya. Apabila demikian  keadaannya maka mereka sama sekali tidak berhak untuk disembah. Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berfirman (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Katakanlah:  Serulah siapa pun yang kalian sangka layak disembah selain Allah,  padahal mereka itu tidak memiliki kekuasaan seberat dzarrah pun di  langit dan di bumi, dan mereka juga sama sekali tidak punya peran serta  dalam penciptaan langit dan bumi, dan tidak ada diantara mereka yang  menjadi pembantu bagi-Nya.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. Saba’: 22)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Allah memberikan berbagai perumpamaan di dalam al-Qur’an untuk  menjelaskan betapa besar kebatilan syirik. Diantaranya adalah firman-Nya  (yang artinya),&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah maka  seolah-olah dia terjatuh dari langit dan kemudian disambar oleh burung  atau dibawa pergi oleh tiupan angin ke tempat yang sangat jauh.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QS. al-Hajj: 31) (diringkas dari&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad&lt;/i&gt;, hal. 43-47)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;D. Surat al-Fatihah dan Tauhid&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Syaikh Shalih al-Fauzan&amp;nbsp;&lt;i&gt;hafizhahullah&amp;nbsp;&lt;/i&gt;berkata, “Surat ini mengandung makna-makna yang agung. Di dalamnya terkandung ketiga macam tauhid. Yang pertama adalah&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘al-Hamdu lillahi Rabbil ‘alamin’&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di dalamnya terkandung tauhid rububiyah. Lalu&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘ar-Rahmanir Rahim, Maaliki yaumid diin’&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di dalamnya terkandung tauhid asma’ wa shifat.&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in’&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di dalamnya terkandung tauhid ibadah. Sehingga ia telah mencakup ketiga macam tauhid tersebut.”&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah&lt;/i&gt;, hal. 7 cet. Dar al-Imam Ahmad)&lt;br /&gt;
Syaikh Shalih al-Fauzan&amp;nbsp;&lt;i&gt;hafizhahullah&amp;nbsp;&lt;/i&gt;mengatakan, “Di  dalamnya terkandung bantahan bagi kaum mulhid/atheis yang menganggap  alam semesta ini tidak memiliki pencipta. Di dalam surat ini terkandung  bantahan bagi mereka tatkala ia menetapkan bahwa alam memiliki Rabb yang  menciptakannya, sebagaimana ditegaskan dalam kata ‘Rabbul ‘alamin’.  Rabb bermakna yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk dengan segala  bentuk kenikmatan. Dia lah yang memperbaiki dan menguasainya. Semua  makna ini telah termasuk dalam kata Rabb. Sehingga di dalamnya telah  terkandung bantahan bagi kaum mulhid/atheis.”&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah&lt;/i&gt;, hal. 8-9 cet. Dar al-Imam Ahmad)&lt;br /&gt;
Syaikh Shalih al-Fauzan&amp;nbsp;&lt;i&gt;hafizhahullah&amp;nbsp;&lt;/i&gt;mengatakan, “Di dalamnya juga terkandung bantahan bagi orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah&amp;nbsp;&lt;i&gt;subhanahu wa ta’ala&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Iyyaka na’budu&lt;/i&gt;mengandung  pemurnian ibadah untuk Allah semata; sehingga di dalamnya terkandung  bantahan bagi orang-orang musyrik yang menyertakan selain Allah dalam  beribadah kepada-Nya. Di dalamnya juga terkandung bantahan bagi berbagai  kelompok umat ini yang melenceng dari jalan kebenaran semacam Jahmiyah,  Mu’tazilah, dan Asya’irah; yang mereka tersesat dalam masalah takdir.  Ia juga mengandung bantahan bagi orang-orang yang menolak sifat-sifat  Allah; yaitu kaum Mu’aththilah yang menolak nama-nama dan sifat-sifat  Allah sebagaimana halnya kaum Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah,  Maturidiyah, dan lain sebagainya. Setiap kelompok yang menolak semua  sifat Allah ataupun sebagiannya, maka surat ini membantah mereka semua.”  (lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah&lt;/i&gt;, hal. 9-10 cet. Dar al-Imam Ahmad)&lt;br /&gt;
Syaikh al-Utsaimin&amp;nbsp;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berkata, “al-Fatihah adalah  Ummul Qur’an; dikarenakan seluruh maksud ajaran al-Qur’an terkandung di  dalamnya. Ia telah mencakup tiga macam &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/tauhid"&gt;tauhid&lt;/a&gt;.  Ia juga mencakup penetapan risalah, hari akhir, jalan para rasul dan  jalan orang-orang yang menyelisihi mereka. Segala perkara yang terkait  dengan pokok-pokok syari’at telah terkandung di dalam surat ini. Oleh  karena itu ia disebut dengan Ummul Qur’an.” (lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;Syarh al-Mumti’&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[2/82])&lt;br /&gt;
Imam Ibnu Katsir&amp;nbsp;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berkata, “Sebagaimana dikatakan oleh sebagian &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/salaf"&gt;salaf&lt;/a&gt; bahwa al-Fatihah menyimpan rahasia [ajaran] al-Qur’an, sedangkan rahasia surat ini adalah kalimat&amp;nbsp;&lt;i&gt;‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in’&lt;/i&gt;. Bagian yang pertama (&lt;i&gt;Iyyaka na’budu&lt;/i&gt;) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/syirik"&gt;syirik&lt;/a&gt;. Adapun bagian yang kedua (&lt;i&gt;Iyyaka nasta’in&lt;/i&gt;)  adalah pernyataan sikap berlepas diri dari [kemandirian] daya dan  kekuatan, serta menyerahkan [segala urusan] kepada Allah ‘azza wa jalla.  Makna semacam ini dapat ditemukan dalam banyak ayat al-Qur’an.” (lihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;a href="http://muslim.or.id/tafsir"&gt;Tafsir&lt;/a&gt; al-Qur’an al-’Azhim&lt;/i&gt;&amp;nbsp;[1/34] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;Penulis: &lt;a href="http://abumushlih.com/antara-al-quran-dan-tauhid.html/"&gt;Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;Muslim.Or.Id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="credit"&gt;&lt;br /&gt;
Dari artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/aqidah/antara-al-quran-dan-tauhid.html"&gt;Antara Al Qur’an dan Tauhid — Muslim.Or.Id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/08/antara-al-quran-dan-tauhid.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-8422233317779594686</guid><pubDate>Tue, 31 Jul 2012 08:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-04T20:14:23.320-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hadits</category><title>Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum’at Pertengahan Ramadhan   Dari artikel Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum’at Pertengahan Ramadhan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span id="sasText" style="left: -9999px; position: fixed; top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bismillah&lt;/i&gt;.  Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga  senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;
Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar  derajat hadits huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan  Ramadhan yang bertepatan dengan hari Jumat.&lt;br /&gt;
Maka kami katakan, bahwa para ulama hadits terdahulu maupun yang  hidup di zaman sekarang telah menerangkan dengan jelas dan gamblang  bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang masalah tersebut tidak ada  satu pun yang shahih dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;,  baik ditinjau dari segi sanad hadits maupun realita yang ada. Bahkan  semuanya adalah hadits-hadits munkar dan palsu yang didustakan atas nama  Nabi &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
Berikut ini akan saya sebutkan teks (lafazh) hadits tersebut dengan sanadnya, serta studi kritis para ulama terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;div dir="RTL" style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;قَالَ نُعَيْمٌ  بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ :  حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ  الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ  مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون  مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في  ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف  من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من  خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من  يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا  أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا  للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ  اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ  يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)&lt;/div&gt;Nu’aim bin Hammad berkata:&amp;nbsp;“Telah menceritakan kepada kami Abu Umar,  dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab  bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari  Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud &lt;i&gt;radhiallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;, beliau bersabda:&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Bila  telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di  bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku,  pent) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul  Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?”  Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/ramadhan"&gt;Ramadhan&lt;/a&gt;,  pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang  tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar  dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa.  Jika kalian telah melaksanakan &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/shalat"&gt;shalat&lt;/a&gt;  Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah  pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian,  sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara  menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah:  “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami  Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan  selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan  binasa”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
(Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab &lt;i&gt;Al-Fitan&lt;/i&gt; I/228, No.638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab &lt;i&gt;Kanzul ‘Ummal&lt;/i&gt;, No.39627).&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Derajat Hadits&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Hadits ini derajatnya &lt;b&gt;palsu&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(m&lt;i&gt;audhu’&lt;/i&gt;),  karena di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi hadits yang pendusta  dan bermasalah sebagaimana diperbincangkan oleh para ulama hadits. Para  perawi tersebut ialah sebagaimana berikut ini&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;1. Nu’aim bin Hammad&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dia seorang perawi yang &lt;i&gt;dha’if&lt;/i&gt; (lemah),&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang &lt;i&gt;dha’if&lt;/i&gt; (lemah)”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin&lt;/i&gt;, karya An-Nasa’i I/101 no.589)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt; yang tidak mempunyai dasar sanad (sumber asli, pent).”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Imam Al-Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-&lt;a href="http://muslim.or.id/tag/sunnah"&gt;Sunnah&lt;/a&gt;, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan&lt;b&gt;”&amp;nbsp; &lt;/b&gt;(Lihat &lt;i&gt;Mizan Al-I’tidal&lt;/i&gt; karya imam Adz-Dzahabi IV/267).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Tidak boleh bagi siapa pun  berhujjah dengannya, dan ia telah menyusun kitab Al-Fitan, dan  menyebutkan di dalamnya keanehan-keanehan dan  kemungkaran-kemungkaran”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;As-Siyar A’lam An-Nubala&lt;/i&gt; X/609).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;2. Ibnu Lahi’ah (Abdullah bin Lahi’ah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dia seorang perawi yang &lt;i&gt;dha’if&lt;/i&gt; (lemah), karena mengalami kekacauan dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang &lt;i&gt;dha’if&lt;/i&gt; (lemah)”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin&lt;/i&gt;, karya An-Nasa’i I/64 no.346)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Dia mengalami kekacauan  di dalam hafalannya setelah kitab-kitab haditsnya terbakar”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Taqrib At-Tahdzib&lt;/i&gt; I/319 no.3563).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Abdul Wahhab bin Husain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dia seorang perawi yang &lt;i&gt;majhul&lt;/i&gt; (tidak dikenal).&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Al-Hakim berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang &lt;i&gt;majhul&lt;/i&gt; (tidak jelas jati dirinya dan kredibilitasnya)”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Al-Mustadrak&lt;/i&gt; No. 8590)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam &lt;i&gt;At-Talkhish&lt;/i&gt;: “Dia mempunyai riwayat hadits palsu.”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Lisan Al-Mizan&lt;/i&gt;, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani II/139).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;4. Muhammad bin Tsabit Al-Bunani&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dia seorang perawi yang &lt;i&gt;dha’if&lt;/i&gt; (lemah dalam periwayatan hadits) sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Hibban dan An-Nasa’i.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang &lt;i&gt;dha’if&lt;/i&gt; (lemah)”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yahya bin Ma’in berkata: “Dia seorang perawi yang tidak ada apa-apanya”(Lihat &lt;i&gt;Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal&lt;/i&gt;, karya Ibnu ‘Adi VI/136 no.1638).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ibnu Hibban berkata: “Tidak boleh berhujjah dengannya, dan tidak boleh pula meriwayatkan darinya”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Al-Majruhin&lt;/i&gt;, karya Ibnu Hibban II/252 no.928).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Imam Al-Azdi berkata: “Dia seorang yang gugur riwayatnya”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Tahdzib At-Tahdzib&lt;/i&gt;, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani IX/72 no.104)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;5. Al-Harits bin Abdullah Al-A’war Al-Hamdani.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dia seorang perawi pendusta, sebagaimana dinyatakan oleh imam Asy-Sya’bi, Abu Hatim dan Ibnu Al-Madini.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia bukan seorang perawi yang kuat (hafalannya, pent)”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Al-Kamil Fi Dhu’afa Ar-Rijal&lt;/i&gt;, karya Ibnu ‘Adi II/186 no.370).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tentangnya: “Imam  Asy-Sya’bi telah mendustakan pendapat akalnya, dan dia juga dituduh  menganut paham/madzhab Rafidhah (syi’ah), dan di dalam haditsnya  terdapat suatu kelemahan”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Taqrib At-Tahdzib&lt;/i&gt; I/146 no.1029).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ali bin Al-Madini berkata: “Dia seorang pendusta”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.” (&lt;i&gt;Siyar A’lam An-Nubala’&lt;/i&gt;, karya imam Adz-Dzahabi IV/152 no.54)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Ini&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Al-Uqaily &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata: “Hadits ini tidak memiliki dasar dari hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang &lt;i&gt;tsiqah&lt;/i&gt; (terpercaya), atau dari jalan yang &lt;i&gt;tsabit&lt;/i&gt; (kuat dan benar adanya).”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Adh-Dhu’afa Al-Kabir&lt;/i&gt; III/52).&lt;br /&gt;
Ibnul Jauzi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata: “Hadits ini dipalsukan atas nama Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/i&gt;”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Al-Maudhu’aat&lt;/i&gt; III/191).&lt;br /&gt;
Syaikh Al-Albani&amp;nbsp;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata: “Hadits ini palsu (&lt;i&gt;maudhu’&lt;/i&gt;).  Dikeluarkan oleh Nu’aim bin Hammad dalam kitab Al-Fitan.” Dan beliau  menyebutkan beberapa riwayat dalam masalah ini dari Abu Hurairah dan  Abdullah bin Mas’ud &lt;i&gt;radhiyallahu anhuma&lt;/i&gt;&lt;b&gt;. &lt;/b&gt;(Lihat &lt;i&gt;Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah&lt;/i&gt; no.6178, 6179).&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Aziz bin Baz&amp;nbsp;&lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata: “Hadits ini tidak mempunyai dasar yang benar, bahkan ini adalah hadits yang batil dan dusta”&amp;nbsp;(Lihat &lt;i&gt;Majmu’ Fatawa Bin Baz&lt;/i&gt; XXVI/339-341).&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hadits ini adalah &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt; &lt;i&gt;maudhu’&lt;/i&gt; (palsu). Tidak boleh diyakini sebagai kebenaran, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;. Karena disamping sanad &lt;a href="http://muslim.or.id/category/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt;  ini tidak ada yg dapat diterima sebagai hujjah, juga realita telah  mendustakannya. Sebab telah berlalu tahun-tahun yang banyak dan telah  terjadi berulang kali hari Jum’at yang bertepatan dengan tanggal lima  belas (pertengahan) bulan &lt;a href="http://muslim.or.id/ramadhan"&gt;Ramadhan&lt;/a&gt;, namun kenyataannya tidak pernah terjadi sebagaimana berita yang terkandung di dalam &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt; ini, &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kita dilarang keras menyebarluaskannya kepada orang  lain baik melalui media cetak, maupun elektronik, atau dalam obrolan dan  khutbah kecuali dalam rangka menjelaskan sisi kelemahan, kepalsuan, dan  kebatilannya, serta bertujuan untuk memperingatkan umat darinya.&lt;br /&gt;
Jika kita telah melakukan ini, berarti kita telah bebas dan selamat dari ancaman keras Nabi &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;, yaitu berupa masuk neraka bagi siapa saja yang sengaja berdusta atas nama beliau, baik dengan tujuan menjelekkan Nabi &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt; dan ajarannya, atau dalam rangka membela Nabi dan memotivasi kaum muslimin untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah.&lt;br /&gt;
Demikian jawaban atas pertanyaan dalam masalah ini yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/ilmu"&gt;ilmu&lt;/a&gt; yang bermanfaat bagi kita semua.&lt;br /&gt;
Telah selesai ditulis pada hari Rabu, 04 Januari 2012 di kediamannya, Klaten – Jawa Tengah.&lt;br /&gt;
—&lt;br /&gt;
Penulis: &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/ustadz"&gt;Ustadz&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Muhammad Wasitho Abu Fawwaz, Lc.&lt;br /&gt;
Artikel&amp;nbsp;&lt;a href="http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/03/"&gt;http://abufawaz.wordpress.com&lt;/a&gt;&amp;nbsp;dengan pengeditan seperlunya oleh redaksi &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-775187255708699449</guid><pubDate>Tue, 31 Jul 2012 08:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-04T20:14:23.321-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hadits</category><title>Peringatan Keras Bagi Para Pedagang</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Nabi Muhammad &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ  بْنِ شِبْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ ” قِيلَ: يَا رَسُولَ  اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: ” بَلَى  وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ “&lt;/div&gt;Dari ‘Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;bersabda: “&lt;em&gt;Para pedagang adalah tukang maksiat&lt;/em&gt;”.  Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah  Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “&lt;em&gt;Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu&lt;/em&gt;”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;Tahdzibul Atsar&lt;/em&gt;&amp;nbsp;1/43, 99, 100, At Thahawi dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;Musykilul Atsar&lt;/em&gt;&amp;nbsp;3/12, Al Hakim 2/6-7)&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Derajat Hadits&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Al Hakim berkata: “Sanadnya shahih”. Penilaian beliau disetujui oleh Adz Dzahabi, demikian juga Syaikh Al Albani (&lt;em&gt;Silsilah Ahadits Shahihah&lt;/em&gt;, 1/707).&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Faidah Hadits&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Larangan keras berdusta dan bersumpah palsu dalam berdagang secara khusus.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Larangan keras berdusta dan bersumpah palsu secara umum karena yang dimaksud&amp;nbsp;&lt;em&gt;fujjar&lt;/em&gt;&amp;nbsp;oleh Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;dalam hadits adalah orang yang berbuat demikian.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;فُجَّارُ&amp;nbsp;(&lt;em&gt;fujjar&lt;/em&gt;) adalah bentuk jamak dari&amp;nbsp;فاجر&amp;nbsp;(&lt;em&gt;fajir&lt;/em&gt;) yang artinya ‘orang yang sering melakukan perbuatan dosa dan menunda-nunda taubat’ (lihat&amp;nbsp;&lt;em&gt;Lisanul ‘Arab&lt;/em&gt;). Dari sini diketahui sangat kerasnya larangan berdusta dan bersumpah palsu dalam berdagang, sampai-sampai Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;menyebut para pedagang sebagai&amp;nbsp;&lt;em&gt;fujjar&amp;nbsp;&lt;/em&gt;atau tukang maksiat secara mutlak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al Mu’tashar (&lt;/em&gt;1/334),&amp;nbsp;Imam Jamaludin Al Malathi Al Hanafi (wafat 803 H) berkata: “Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;menyebut  pedagang sebagai tukang maksiat secara mutlak karena demikianlah yang  paling banyak terjadi, bukan berarti secara umum mereka demikian. Orang  arab biasa memutlakan penyebutan pujian atau celaan kepada sekelompok  orang, namun yang dimaksud adalah sebagian saja. Sebagaimana firman  Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu&lt;/em&gt;” (QS. Az Zukhruf: 44)&lt;br /&gt;
juga firman Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Dan kaummu mendustakannya (azab di akhirat)&lt;/em&gt;” (Qs. Al An’am: 66)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak salah jika dikatakan bahwa kebanyak para pedagang berbuat demikian karena Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;mengabarkan: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;يا معشر التجار إن الشيطان والإثم يحضران البيع فشوبوا بيعكم بالصدقة&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa hadir dalam jual-beli. Maka iringilah jual-belimu dengan&amp;nbsp;banyak bersedekah&lt;/em&gt;” (HR. Tirmidzi 1208, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bukti ke-&lt;em&gt;faqih&lt;/em&gt;-an para sahabat Nabi dalam ilmu agama.  Mereka segera mengetahui dua dalil yang nampak bertentangan. Hal ini  tidak mungkin disadari oleh orang yang tidak faqih dalam ilmu agama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika dua dalil nampak bertentangan, selama ada jalan untuk mengkompromikan keduanya, maka wajib dikompromikan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hadits ini bukan demotivator untuk berdagang, melainkan hanya  peringatan agar berbuat jujur dan tidak mudah bersumpah ketika  berdagang. Buktinya Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&amp;nbsp;&lt;/em&gt;sendiri adalah pedagang. Abu Bakar ASh Shiddiq&amp;nbsp;&lt;em&gt;radhiallahu’anhu&amp;nbsp;&lt;/em&gt;adalah pedagang pakaian. Umar&amp;nbsp;&lt;em&gt;radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;&amp;nbsp;pernah berdagang gandum dan bahan makanan pokok. ‘Abbas bin Abdil Muthallib&amp;nbsp;&lt;em&gt;radhiallahu’anhu&amp;nbsp;&lt;/em&gt;adalah pedagang. Abu Sufyan&amp;nbsp;&lt;em&gt;radhiallahu’anhu&amp;nbsp;&lt;/em&gt;berjualan&amp;nbsp;&lt;em&gt;udm&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(camilan yang dimakan bersama roti) (Dikutip dari&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al Bayan Fi Madzhab Asy Syafi’i&lt;/em&gt;, 5/10).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hadits ini bukan demotivator untuk berdagang, karena banyak dalil lain yang memotivasi untuk berdagang. Diantaranya: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada&lt;/em&gt;” (HR. Tirmidzi no.1209, ia berkata: “Hadits hasan, aku tidak mengetahui selain lafadz ini”)&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ  قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ:  «عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ&lt;/div&gt;Dari Rafi’ bin Khadij ia berkata, ada yang bertanya kepada Nabi:  ‘Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?’. Rasulullah  menjawab: “&lt;em&gt;Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap perdagangan yang mabrur (baik)&lt;/em&gt;”&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;—&lt;br /&gt;
Penulis: Yulian Purnama&lt;br /&gt;
Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html"&gt;Muslim.Or.Id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-1089806651077408965</guid><pubDate>Tue, 31 Jul 2012 08:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-04T20:14:23.321-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hadits</category><title>Keutamaan Ziarah Kubur</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span id="sasText" style="left: -9999px; position: fixed; top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ  بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ  بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى  هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ  فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ  أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ  أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ  الْمَوْتَ »&lt;/div&gt;Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua  berkata: Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin  Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia  berkata: Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; berziarah  kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah  orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “&lt;i&gt;Aku meminta  izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak  diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi  kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat  mengingatkan engkau akan kematian&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;
(HR. Muslim no.108, 2/671)&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Faidah:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Haram hukumnya memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir (&lt;i&gt;Nailul Authar&lt;/i&gt; [219], &lt;i&gt;Syarh Shahih Muslim&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Lin Nawawi&lt;/i&gt; [3/402]). Sebagaimana juga firman Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman  memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun  orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)&lt;/i&gt;” (QS. At Taubah: 113)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berziarah kubur ke makam orang kafir hukumnya boleh (&lt;i&gt;Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi&lt;/i&gt;,  3/402). Berziarah kubur ke makam orang kafir ini sekedar untuk  perenungan diri, mengingat mati dan mengingat akhirat. Bukan untuk  mendoakan atau memintakan ampunan bagi &lt;i&gt;shahibul qubur&lt;/i&gt;. (&lt;i&gt;Ahkam Al Janaaiz Lil Albani&lt;/i&gt;, 187)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika berziarah kepada orang kafir yang sudah mati hukumnya boleh,  maka berkunjung menemui orang kafir (yang masih hidup) hukumnya juga  boleh (&lt;i&gt;Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi&lt;/i&gt;, 3/402).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hadits ini adalah dalil tegas bahwa ibunda Nabi &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; mati dalam keadaan kafir dan kekal di neraka (&lt;i&gt;Syarh Musnad Abi Hanifah&lt;/i&gt;, 334)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tujuan berziarah kubur adalah untuk menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian (&lt;i&gt;Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi&lt;/i&gt;, 3/402)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;An Nawawi, Al ‘Abdari, Al Haazimi berkata: “Para ulama bersepakat bahwa ziarah kubur itu boleh bagi laki-laki” (&lt;i&gt;Fathul Baari&lt;/i&gt;,  4/325). Bahkan Ibnu Hazm berpendapat wajib hukumnya minimal sekali  seumur hidup. Sedangkan bagi wanita diperselisihkan hukumnya. Jumhur  ulama berpendapat hukumnya boleh selama terhindar dari fitnah, sebagian  ulama menyatakan hukumnya haram mengingat hadits , &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;لَعَنَ اللَّه زَوَّارَات الْقُبُور&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Allah melaknat wanita yang sering berziarah kubur&lt;/i&gt;” (HR. At Tirmidzi no.1056, komentar At Tirmidzi: “Hadits ini hasan shahih”)&lt;br /&gt;
Dan sebagian ulama berpendapat hukumnya makruh (&lt;i&gt;Fathul Baari&lt;/i&gt;, 4/325). Yang &lt;i&gt;rajih insya Allah&lt;/i&gt;, hukumnya boleh bagi laki-laki maupun &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/wanita"&gt;wanita&lt;/a&gt;  karena tujuan berziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan  mengingat akhirat, sedangkan ini dibutuhkan oleh laki-laki maupun  perempuan (&lt;i&gt;Ahkam Al Janaaiz Lil Albani,&lt;/i&gt; 180).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ziarah kubur mengingatkan kita akan akhirat. Sebagaimana riwayat lain dari hadits ini: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;زوروا القبور ؛ فإنها تذكركم الآخرة&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat&lt;/i&gt;” (HR. Ibnu Maajah no.1569)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ziarah kubur dapat melembutkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun  sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat  melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian  akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak &lt;/i&gt;&lt;i&gt;(qaulul hujr), ketika berziarah&lt;/i&gt;” (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam &lt;i&gt;Shahih Al Jaami’&lt;/i&gt;, 7584)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ziarah kubur dapat membuat hati tidak terpaut kepada dunia dan zuhud  terhadap gemerlap dunia. Dalam riwayat lain hadits ini disebutkan: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروا القبور فإنها تزهد في الدنيا وتذكر الآخرة&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun  sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat  membuat kalian zuhud terhadap dunia dan mengingatkan kalian akan akhirat&lt;/i&gt;” (HR. Al Haakim no.1387, didhaifkan Al Albani dalam &lt;i&gt;Dha’if Al Jaami’&lt;/i&gt;, 4279)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Munawi berkata: “Tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati  yang kelam selain berziarah kubur. Dengan berziarah kubur, lalu  mengingat kematian, akan menghalangi seseorang dari maksiat, melembutkan  hatinya yang kelam, mengusir kesenangan terhadap dunia, membuat &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/musibah"&gt;musibah&lt;/a&gt;  yang kita alami terasa ringan. Ziarah kubur itu sangat dahsyat  pengaruhnya untuk mencegah hitamnya hati dan mengubur sebab-sebab  datangnya dosa. Tidak ada amalan yang sedahsyat ini pengaruhnya” (&lt;i&gt;Faidhul Qaadir&lt;/i&gt;, 88/4)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Disyariatkannya ziarah kubur ini dapat mendatangkan manfaat bagi yang berziarah maupun bagi &lt;i&gt;shahibul qubur &lt;/i&gt;yang diziarahi (&lt;i&gt;Ahkam Al Janaiz Lil Albani&lt;/i&gt;, 188). Bagi yang berziarah sudah kami sebutkan di atas. Adapun bagi&amp;nbsp; &lt;i&gt;shahibul qubur &lt;/i&gt;yang  diziarahi (jika muslim), manfaatnya berupa disebutkan salam untuknya,  serta doa dan permohonan ampunan baginya dari peziarah. Sebagaimana &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt;: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;كيف أقول لهم يا رسول  الله؟ قال: قولي: السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله  المستقدمين منا والمستأخرين وإنا إن شاء الله بكم للاحقون&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Aisyah bertanya: Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ucapkanlah: &lt;b&gt;Assalamu  ‘alaa ahlid diyaar, minal mu’miniina wal muslimiin, wa yarhamullahul  mustaqdimiina wal musta’khiriina, wa inna insyaa Allaahu bikum  lalaahiquun&lt;/b&gt; (Salam untuk kalian wahai kaum muslimin dan  mu’minin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah  mendahului (mati), dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati).  Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian&lt;/i&gt;” (HR. Muslim no.974)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ziarah kubur yang syar’i dan sesuai &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/sunnah"&gt;sunnah&lt;/a&gt; adalah ziarah kubur yang diniatkan sebagaimana &lt;a href="http://muslim.or.id/category/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt;  di atas, yaitu menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan  kematian. Adapun yang banyak dilakukan orang, berziarah-kubur dalam  rangka mencari barokah, berdoa kepada &lt;i&gt;shahibul qubur&lt;/i&gt; adalah ziarah kubur yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt;. Selain itu Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; juga melarang &lt;i&gt;qaulul hujr &lt;/i&gt;ketika berziarah kubur sebagaimana &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt; yang sudah disebutkan. Dalam riwayat lain disebutkan: &lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;ولا تقولوا ما يسخط الرب&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Dan janganlah mengatakan perkataan yang membuat Allah murka&lt;/i&gt;” (HR. Ahmad 3/38,63,66, Al Haakim, 374-375)&lt;br /&gt;
Termasuk dalam perbuatan ini yaitu berdoa dan memohon kepada &lt;i&gt;shahibul qubur&lt;/i&gt;, ber-&lt;i&gt;istighatsah &lt;/i&gt;kepadanya, memujinya sebagai orang yang pasti suci, memastikan bahwa ia mendapat rahmat, memastikan bahwa ia masuk surga, (&lt;i&gt;Ahkam Al Janaiz Lil Albani&lt;/i&gt;, 178-179)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak benar persangkaan sebagian orang bahwa &lt;i&gt;ahlussunnah&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;salafiyyin&lt;/i&gt; melarang ummat untuk berziarah kubur. Bahkan &lt;i&gt;ahlussunnah&lt;/i&gt;  mengakui disyariatkannya ziarah kubur berdasarkan banyak dalil-dalil  shahih dan menetapkan keutamaannya. Yang terlarang adalah ziarah kubur  yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam &lt;/i&gt;yang menjerumuskan kepada perkara bid’ah dan terkarang mencapai tingkat &lt;a href="http://muslim.or.id/tag/syirik"&gt;syirik&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;—&lt;br /&gt;
Penulis: &lt;a href="http://kangaswad.wordpress.com/"&gt;Yulian Purnama&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;Muslim.Or.Id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/keutamaan-ziarah-kubur.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-8149205479104244321</guid><pubDate>Tue, 31 Jul 2012 08:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-07-31T03:09:07.523-06:00</atom:updated><title>Hadits</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="background-color: #f3f3f3; color: black; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/sejarah-tahun-baru.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;~ Sejarah Tahun Baru ~&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillah.&lt;/i&gt; Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;keluarga,  para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.  Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang  hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka  dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah  pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah  mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat  ini bisa menjawabnya... &lt;a href="http://www.blogger.com/goog_1562622202"&gt;read more,,,,,&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;section id="main"&gt; &lt;section id="mainleft"&gt; &lt;div id="latest-article"&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/keutamaan-ziarah-kubur.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;~ Keutamaan Ziarah Kubur ~&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;/div&gt;&lt;/section&gt;&lt;/section&gt;&lt;span id="sasText" style="left: -9999px; position: fixed; top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ  بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ  بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى  هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ  فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ  أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ  أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ  الْمَوْتَ »&lt;/div&gt;Dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua  berkata: Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin  Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia  berkata: Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; berziarah  kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah  orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “&lt;i&gt;Aku meminta  izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak  diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi  kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat  mengingatkan engkau akan kematian&lt;/i&gt;” &lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/keutamaan-ziarah-kubur.html" target="_blank"&gt;Read more,,,,,&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html" target="_blank"&gt;~ Peringatan Keras bagi Para Pedagang ~&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style="font-weight: normal; text-align: left;"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;&lt;span id="sasText" style="left: -9999px; position: fixed; top: 0px;"&gt;Nabi Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ  بْنِ شِبْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ ” قِيلَ: يَا رَسُولَ  اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: ” بَلَى  وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ “&lt;/div&gt;Dari ‘Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah&amp;nbsp;&lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bersabda: “&lt;i&gt;Para pedagang adalah tukang maksiat&lt;/i&gt;”.  Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah  Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “&lt;i&gt;Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu&lt;/i&gt;”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;Tahdzibul Atsar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;1/43, 99, 100, At Thahawi dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;Musykilul Atsar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;3/12, Al Hakim 2/6-7)&lt;br /&gt;
&lt;div id="credit"&gt;&lt;br /&gt;
Dari artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html"&gt;Peringatan Keras Bagi Para Pedagang — Muslim.Or.Id&lt;/a&gt; by &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;null&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Nabi Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-size: 18px; text-align: right;"&gt;عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ  بْنِ شِبْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ ” قِيلَ: يَا رَسُولَ  اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: ” بَلَى  وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ “&lt;/div&gt;Dari ‘Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah&amp;nbsp;&lt;i&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bersabda: “&lt;i&gt;Para pedagang adalah tukang maksiat&lt;/i&gt;”.  Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah  Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “&lt;i&gt;Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu&lt;/i&gt;”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;Tahdzibul Atsar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;1/43, 99, 100, At Thahawi dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;Musykilul Atsar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;3/12, Al Hakim 2/6-7)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/peringatan-keras-bagi-para-pedagang.html" target="_blank"&gt;Read more...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 class="title" style="font-weight: normal; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;~Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum’at Pertengahan Ramadhan~&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="title" style="text-align: left;"&gt;&lt;span id="sasText" style="left: -9999px; position: fixed; top: 0px;"&gt;&lt;i&gt;Bismillah&lt;/i&gt;.  Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga  senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;
Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar derajat &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt; huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan &lt;a href="http://muslim.or.id/ramadhan"&gt;Ramadhan&lt;/a&gt; yang bertepatan dengan hari Jumat.&lt;br /&gt;
&lt;div id="credit"&gt;&lt;br /&gt;
Dari artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html"&gt;Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum’at Pertengahan Ramadhan — Muslim.Or.Id&lt;/a&gt; by &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;null&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;&lt;h3 class="title" style="text-align: left;"&gt;&lt;span id="sasText" style="left: -9999px; position: fixed; top: 0px;"&gt;&lt;i&gt;Bismillah&lt;/i&gt;.  Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga  senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;
Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar derajat &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits"&gt;hadits&lt;/a&gt; huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan &lt;a href="http://muslim.or.id/ramadhan"&gt;Ramadhan&lt;/a&gt; yang bertepatan dengan hari Jumat.&lt;br /&gt;
&lt;div id="credit"&gt;&lt;br /&gt;
Dari artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/hadits/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di-hari-jumat-pertengahan-ramadhan.html"&gt;Hadits Palsu Huru Hara Akhir Zaman Di Hari Jum’at Pertengahan Ramadhan — Muslim.Or.Id&lt;/a&gt; by &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;null&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;i&gt;Bismillah&lt;/i&gt;.  Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat  dan salam semoga  senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin  Abdullah &lt;i&gt;shallallahu alaihi wasallam&lt;/i&gt;, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan ajarannya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;
Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan dari beberapa orang seputar   derajat hadits huru-hara akhir zaman yang terjadi pada pertengahan bulan   Ramadhan yang bertepatan dengan hari Jumat. &lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/hadits-palsu-huru-hara-akhir-zaman-di.html" target="_blank"&gt;Read more...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/sejarah-tahun-baru.html"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/hadits.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-6120473527846905643</guid><pubDate>Tue, 31 Jul 2012 08:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-04T20:14:23.321-06:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Hadits</category><title>Sejarah Tahun Baru</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;www.muslim.or.id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;Alhamdulillah.&lt;/em&gt; Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;keluarga,  para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.  Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang  hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka  dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah  pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah  mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat  ini bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Sejarah Tahun Baru Masehi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM  (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai  kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional  Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain  kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli  astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu  dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan  orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung  sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun  45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga  memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada  bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam  kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM,  dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau  Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius  Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]&lt;br /&gt;
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai  dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun  baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak  dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.&lt;br /&gt;
Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,&lt;br /&gt;
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ  فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ  أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ  الْأَضْحَى&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan  Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan,  ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang  Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu  hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”&lt;/em&gt;[2]&lt;br /&gt;
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (‘ied) di tengah kaum  muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar  meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini  adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar  perayaan yang Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;maksudkan  sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum  muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul  Adha.&lt;br /&gt;
Perhatikan penjelasan&amp;nbsp;&lt;em&gt;Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’&lt;/em&gt;, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:&lt;br /&gt;
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan  secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara  periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi  dalam ied terkumpul beberapa hal:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah  dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau  golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang  terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;,&lt;br /&gt;
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak&lt;/em&gt;.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari  kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu  termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di  samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang  lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena  menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-&lt;br /&gt;
Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;  sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang  Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik  dalam berpakaian atau pun berhari raya.&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah, Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ  قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا  رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ  أُولَئِكَ »&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.&lt;/em&gt;” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-, “&lt;em&gt;Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?&lt;/em&gt;” Beliau menjawab, “&lt;em&gt;Selain mereka, lantas siapa lagi?&lt;/em&gt;“[4]&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ  وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ  لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ  وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian  sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika  orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh  lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.”&lt;/em&gt; Kami (para sahabat) berkata,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”&lt;/em&gt; Beliau menjawab, “&lt;em&gt;Lantas siapa lagi?”&lt;/em&gt; [5]&lt;br /&gt;
An Nawawi -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan&amp;nbsp;&lt;em&gt;syibr&lt;/em&gt; (sejengkal) dan&amp;nbsp;&lt;em&gt;dziro’&lt;/em&gt; (hasta) serta lubang&amp;nbsp;&lt;em&gt;dhob&lt;/em&gt;  (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa  tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan  Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan  berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini  adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah  terjadi saat-saat ini.”[6]&lt;br /&gt;
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.  Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai  model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang  setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk  pula perayaan tahun baru ini.&lt;br /&gt;
Ingatlah, Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (&lt;em&gt;tasyabbuh&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;
Beliau bersabda,&lt;br /&gt;
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”&lt;/em&gt; [7]&lt;br /&gt;
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian,  penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil  Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Ketiga:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang  kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara  orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada  malam pergantian tahun.&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Daripada waktu kaum muslimin sia-sia,  mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid.  Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada  manfaatnya”&lt;/em&gt;, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh.  Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa  tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual  kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika  itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan  meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.&lt;br /&gt;
Jika ada yang mengatakan,&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Daripada menunggu tahun baru diisi  dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang  penting kan niat kita baik.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu  Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai  tuntunan Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,&lt;br /&gt;
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;
Ibnu Mas’ud lantas berkata,&lt;br /&gt;
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.&lt;/em&gt;” [9]&lt;br /&gt;
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan M&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;engucapkan Selamat Tahun Baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir  dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim  memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini  tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).&lt;br /&gt;
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi  ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang  kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah&amp;nbsp;sesuatu yang  diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah  memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti  mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau  dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau  memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun  dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari  raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat  atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini  lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih  dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang  yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat  pada maksiat lainnya.&lt;br /&gt;
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut.  Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang  mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada  seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas  mendapatkan kebencian dan murka Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;.”[10]&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk  menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini  diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari,  kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang  kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak  mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi  hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah  kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Na’udzu billahi min dzalik.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu  bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa  itu termasuk dosa besar.&lt;br /&gt;
Ibnul Qoyyim -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- mengatakan, “Kaum muslimin  tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib  (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar  dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain,  zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan  mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia  dan akhirat.”[11]&lt;br /&gt;
Adz Dzahabi –&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- juga mengatakan, “Orang yang  mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar.  Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti  orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput  darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya  sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat.  Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi,  celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]&lt;br /&gt;
Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;pun mengancam dengan  kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu.  Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;bersabda,&lt;br /&gt;
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir&lt;/em&gt;.”[13]&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam.&lt;/strong&gt; Dari Abu Hurairah, Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam&lt;/em&gt;.”[14]  Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari  oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena  bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga  malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut  namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan  mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i&lt;/strong&gt; dibenci oleh Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.  Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang  tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau  berkata,&lt;br /&gt;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya&lt;/em&gt;.”[15]&lt;br /&gt;
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/em&gt;tidak  suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin  melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat  shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul  orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah  kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur  lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu  yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari&amp;nbsp;&lt;em&gt;ikhtilath&lt;/em&gt;(campur  baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan  mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan  kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang  berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang  terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan  muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan  kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah&amp;nbsp;&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;, Rasulullah&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ  مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا  الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا  الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى  وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini  suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah  dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah  dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina  kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan  berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau  mengingkari yang demikian&lt;/em&gt;.”[17]&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan,  terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu  kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu  orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal  mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;,&lt;br /&gt;
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ&lt;br /&gt;
“&lt;em&gt;Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain&lt;/em&gt;.”[18]&lt;br /&gt;
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah  dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya  dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al  Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti  walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan  yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja  dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan  perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam  waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang  pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala  hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru  sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang  yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap  orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah  sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta  yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan,  kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb.  Padahal Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; telah berfirman,&lt;br /&gt;
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.  Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”&lt;/em&gt; (Qs. Al Isro’: 26-27)&lt;br /&gt;
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan:&amp;nbsp;&lt;em&gt;“Dan  janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.  Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah  menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan,  “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang  benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang  menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang  keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan,  “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam  berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk  berbuat kerusakan.”[20]&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu  sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal  yang sia-sia. Nabi&amp;nbsp;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,&lt;br /&gt;
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”&lt;/em&gt; [21]&lt;br /&gt;
Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa)  menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu  akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat.  Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan  penghuninya.”[22]&lt;br /&gt;
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang  telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan  tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan  ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya.  Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah  cela. Allah&amp;nbsp;&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;br /&gt;
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup  untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang  kepada kamu pemberi peringatan?”&lt;/em&gt; (Qs. Fathir: 37). Qotadah  mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil  yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari  menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]&lt;br /&gt;
Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru.  Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan  satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim  tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya  merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang  bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan  banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang  sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan  berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia.  Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih  baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah  semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan  seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah  keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah  petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku  masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan  (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya  kepada-Nya-lah aku kembali.”&lt;/em&gt; (Qs. Hud: 88)&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa  shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H&lt;br /&gt;
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;
Artikel www.muslim.or.id&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/sejarah-tahun-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-9200471779882981054</guid><pubDate>Tue, 24 Jul 2012 07:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-07-24T01:13:33.995-06:00</atom:updated><title>Logo ponpes Nurul Ikhwan</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj99cm74SyLRGZopSdUjq_tEydyoExFIE3Wedohou7wghB9GzfYqG6iGjWO2aBakViD23lc6HLFRkdLrAvfuhQyDUVrU9FEGdqxPs818tHFMpQbaTMFjAinDDCO4arqACy5eE1kFpEJu_s/s1600/Untitled-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj99cm74SyLRGZopSdUjq_tEydyoExFIE3Wedohou7wghB9GzfYqG6iGjWO2aBakViD23lc6HLFRkdLrAvfuhQyDUVrU9FEGdqxPs818tHFMpQbaTMFjAinDDCO4arqACy5eE1kFpEJu_s/s320/Untitled-2.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/logo-ponpes-nurul-ikhwan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj99cm74SyLRGZopSdUjq_tEydyoExFIE3Wedohou7wghB9GzfYqG6iGjWO2aBakViD23lc6HLFRkdLrAvfuhQyDUVrU9FEGdqxPs818tHFMpQbaTMFjAinDDCO4arqACy5eE1kFpEJu_s/s72-c/Untitled-2.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-5302092017059351615</guid><pubDate>Mon, 23 Jul 2012 02:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-07-22T21:33:40.018-06:00</atom:updated><title/><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyyPQw4OUJxMOV0DLQEvcBYNm1fWQjxq-C0EufVfetho0TVuqrEKFT-eVflT5ANf2ZxEjFrqY5e2F78g1vJOx9NK6MHEMV6otUFsXhfhjuZRM_SlYX34TV0h6DHCACfMi61RO_ulHKpTI/s1600/IMG_0243+copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="142" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyyPQw4OUJxMOV0DLQEvcBYNm1fWQjxq-C0EufVfetho0TVuqrEKFT-eVflT5ANf2ZxEjFrqY5e2F78g1vJOx9NK6MHEMV6otUFsXhfhjuZRM_SlYX34TV0h6DHCACfMi61RO_ulHKpTI/s200/IMG_0243+copy.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/blog-post_22.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyyPQw4OUJxMOV0DLQEvcBYNm1fWQjxq-C0EufVfetho0TVuqrEKFT-eVflT5ANf2ZxEjFrqY5e2F78g1vJOx9NK6MHEMV6otUFsXhfhjuZRM_SlYX34TV0h6DHCACfMi61RO_ulHKpTI/s72-c/IMG_0243+copy.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-2553406684920672260</guid><pubDate>Thu, 19 Jul 2012 10:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-07-19T04:55:39.974-06:00</atom:updated><title/><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" height="785" style="border-bottom-left-radius: 15px; border-bottom-right-radius: 15px; border-top-left-radius: 15px; border-top-right-radius: 15px; border: 2px solid rgb(0, 0, 0); margin: -245px 0pt 0pt; padding: 0px;" width="572"&gt; &lt;param name="src" value="http://id.imediabiz.com/MivoTV.swf?r50000" /&gt;&lt;param name="allowfullscreen" 
value="true" /&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="sameDomain" /&gt;&lt;param name="devicefont" value="false" /&gt;&lt;param name="menu" value="true" /&gt;&lt;param name="pluginspage" value="http://mivo.tv/ImediabizTV.swf?r=50000" /&gt;&lt;param name="quality" value="high" /&gt;&lt;param name="scale" value="noscale" /&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent" /&gt;&lt;embed style="padding: 0px; margin: -245px 0pt 0pt; border: 2px solid #000000; 
border-radius: 15px 15px 15px 15px;" width="572" height="785" type="application/x-shockwave-flash" 
src="http://id.imediabiz.com/MivoTV.swf?r50000" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="sameDomain" 
devicefont="false" menu="true" pluginspage="http://mivo.tv/ImediabizTV.swf?r=50000" quality="high" 
scale="noscale" wmode="transparent" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/center&gt; &lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/blog-post.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-2828383633615446419</guid><pubDate>Thu, 19 Jul 2012 07:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-07-19T02:10:18.388-06:00</atom:updated><title>Backlink</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://www.upload.co.id/view.php?filename=962cooltext732209573.gif" target="_blank"&gt;&lt;img alt="FREE photo hosting by Upload Indonesia - Free images Hosting" src="http://www.upload.co.id/images/962cooltext732209573_tn.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
buat teman-teman yang ingin tukar backlink,,,&lt;br /&gt;
silahkan copy paste kode di bawah ini :&lt;br /&gt;
&amp;lt;a href="http://www.upload.co.id/view.php?filename=962cooltext732209573.gif" target="_blank"&amp;gt;&amp;lt;img src="&lt;a href="http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/backlink.html"&gt;http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/backlink.html&lt;/a&gt;" alt="FREE photo hosting by Upload Indonesia - Free images Hosting"&amp;gt;&amp;lt;/a&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah itu kirim email ke pesantrennurulikhwan@gmail.com agar kami bisa memasang backlink anda..&lt;br /&gt;
terima kasih...&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/backlink.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5201862634197145442.post-2353537795447140487</guid><pubDate>Thu, 19 Jul 2012 07:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-07-31T03:26:00.338-06:00</atom:updated><title>Dengarkan Al-quran online</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;iframe frameborder="0" src="http://m.alquran-indonesia.com/mquran/index.php/quran" style="border: 0px; height: 800px; width: 470px;"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pesantrennurulikhwan.blogspot.com/2012/07/dengarkan-al-quran-online.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>