<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>What I Think</title><link>http://prajnas.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/prajnas" /><description>Curahan gagasan, pemikiran, dan uneg-uneg seputar kehidupan.</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</managingEditor><lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 07:55:34 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">178</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="prajnas" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>prajnas</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Mendewasakan Demokrasi - Edisi Revisi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/w-wsWa-U3vE/mendewasakan-pelaku-demokrasi-edisi.html</link><category>Pendidikan Orang Dewasa</category><category>Demokrasi</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Sun, 22 Jan 2012 10:01:12 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-5004614491339872852</guid><description>&lt;i&gt;Lagi-lagi, &lt;a href="http://politikana.com/baca/2010/09/26/mendewasakan-pelaku-demokrasi" target="_blank"&gt;tulisan lama&lt;/a&gt; yang saya daur ulang, dengan perbaikan di sana-sini...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada garis pembatas yang jelas dalam masyarakat modern yang memberi indikasi kapan seorang pribadi menjadi orang dewasa. Pada beberapa masyarakat primitif, pembatas tersebut bisa berupa ritual inisiasi yang mengantar seseorang pada masa kedewasaan. Biasanya masa dewasa dimulai pada awal duapuluhan (yang ditandai dengan beberapa peristiwa penanda) dan berlanjut hingga akhir hayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedewasaan, biasanya diproses melalui pendidikan. Itulah fungsi pendidikan dasar, yang biasanya diberlakukan hingga anak berusia 17 tahun. 18 tahun ke atas, ia akan dipandang sebagai "orang dewasa mula", yang sudah memungkinkannya menentukan nasib sendiri. Lagipula, dalam proses remaja menuju dewasa, mereka akan cenderung mengurangi atau bahkan menghilangkan (disengage) dari pengaruh orang dewasa yang selama ini "mengendalikannya." Setting lain pendewasaan, tentu pengalaman hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang dewasa, seseorang sudah melalui bertahun-tahun kehidupan, dan ia mengalami banyak hal dan belajar dari pengalaman itu. Sebagian orang bahkan membentuk dirinya, sikapnya, dan perilakunya berdasarkan pengalaman empirik tersebut, meski usianya masih sangat muda. Pengalaman, adalah sesuatu yang nyata yang dapat dialami sendiri, dan ini seringkali dijadikan sumber belajar yang utama bagi orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang dewasa punya kebutuhan hidup yang mendorong dirinya melakukan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan status sosialnya. Ketika kehidupan berubah-ubah, kebutuhan itu akan muncul, sehingga ini adalah saat terbaiknya untuk belajar. Biasanya orang dewasa menginginkan pengetahuan yang spesifik, tepat sesuai dengan kebutuhannya. Contohnya, ketika pertama kali bekerja di sebuah perusahaan, orang cenderung belajar untuk beradaptasi secara alamiah, ketika di tempat kerja ada peralatan baru, maka ia dituntut mempelajari penggunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika menjadi dewasa, terjadi perubahan orientasi dalam belajar, dari belajar karena diwajibkan dan setengah terpaksa, menjadi belajar untuk memecahkan masalah yang dihadapi atau mampu melakukan sesuatu. Artinya, ia akan berorientasi pada materi belajar yang bisa diterapkan segera setelah kegiatan belajar selesai, bukan pengetahuan yang tertunda, seperti teori-teori para ilmuwan. Orang dewasa tidak belajar berdasarkan prioritas ilmu pengetahuan, tetapi berdasarkan urutan tindakan pemecahan masalah. Meski demikian, orang dewasa memiliki toleransi yang relatif lebih tinggi dalam hal menerima pengetahuan tertunda, daripada anak-anak/remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Motivasi belajar orang dewasa lebih cenderung tumbuh dari dalam dirinya sendiri, daripada karena pengaruh di luar dirinya. Kondisi ini bukan sesuatu yang alami, tetapi memang terkondisi, terutama dalam konteks sekolah. Motivasi ini akan sulit dipaksakan, meskipun bisa, dan akan menghambat proses pembelajaran, karena pada dasarnya orang dewasa menolak belajar dengan cara keharusan/paksaan tanpa rasionalisasi yang jelas bagi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika orang dewasa harus kembali belajar, ia tidak bisa dipandang sebagai anak-anak dengan tubuh yang luar biasa besar. Mereka adalah orang dewasa, dengan karakteristiknya. Seseorang menjadi dewasa ketika merasa memiliki kekuasaan atas dirinya, mampu membuat keputusan untuk dirinya sendiri, dan bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Orang dewasa tidak suka/keberatan kalau diperintah terus menerus, dan hanya menurut seperti anak-anak. Orang dewasa membutuhkan informasi untuk dapat mengambil keputusan, dan bertindak menurut pertimbangannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari karakter di atas, maka terdapat perbedaan yang khas antara anak-anak dengan orang dewasa. Tentu kita masih ingat ketika SD-SMA, apa motivasi utama kita pergi ke sekolah? Siapa yang mengendalikan proses belaja kita? Kenapa kita lebih suka menunggu waktu liburan? Tapi bandingkan, apa yang terjadi jika kita mengerjakan sesuatu yang memenuhi &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt; kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BELAJAR atau mempelajari sesuatu berdasarkan kebutuhan dan ketertarikan, adalah fitrahnya orang dewasa. Buat mereka, mempelajari sesuatu harus menguntungkan, atau menghindarkan sesuatu yang merugikan terjadi, meski bisa dilihat dari berbagai sisi. Misalnya mengenai apa yang ia ingin capai, lingkup ketertarikannya bisa mulai dari kesehatan, hingga masalah pencapaian diri. Mengenai figur seperti apa yang mereka cita-citakan, bisa mulai dari menjadi orang tua yang baik, hingga selalu menjadi yang nomor satu. Apa yang mereka ingin lakukan, bisa berkisar dari ekspresi diri, hingga hingga mendapat perhatian orang lain. Berdasarkan apa yang mereka ingin minimalisir, mulai dari pemanfaatan waktu hingga menghindari dipermalukan di depan publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi secara umum, pengaruh terbesar bagi orang dewasa untuk belajar adalah persoalan sosioekonomi. Ini membangun motif, yang akan cenderung pada persoalan pekerjaan yang layak, pendapatan, baru pada peningkatan derajat pendidikan. Masyarakat di "kelas" terendah dalam hal sosioekonomis, akan menempatkan pencapaian derajat pendidikan tinggi dalam prioritas yang rendah. Mereka akan cenderung pada topik-topik keseharian, dan jangka pendek, seperti meningkatkan pendapatan, atau mendapat pekerjaan yang lebih 'enak'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dimana letak demokratisasi dalam tatanan kehidupan masyarakat kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini bisa dikatakan masih pada level demokrasi yang bisa 'meningkatkan pendapatan', atau menawarkan pekerjaan lebih 'enak'. Kalau pada masa dewasa ini kita harus belajar berdemokrasi, sudah tidak ada &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; sekolahan yang layak digunakan. Yang ada tinggal ranah informal. Dimana seharusnya pendidikan politik? Pendidikan berdemokrasi itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekerjaan rumah besar bagi sistem pendidikan dasar untuk membereskan itu, atau kita hanya akan berputar-putar pada persoalan demokrasi prosedural. Tapi pendidikan dasar malah mengkhianati cita-cita demokrasi, terutama karena UUD 45 sudah menetapkan DEMOKRASI PANCASILA sebagai model negara kita. Pendidikan kita baru sampai pada tahap 'menghafalkan' nilai-nilai, bukan pada pemahaman dan penerapannya. Butir-butir Pancasila sibuk didaftarkan dan dihafalkan, karena akan diujikan secara tertulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upaya pendidikan dasar yang seharusnya diarahkan pada demokratisasi, terkadang malah terjebak pada pendidikan ala otoritarian, kental dengan feodalisme, bahkan ada yang sektarian. Rupanya virus Orde Baru tidak sepenuhnya mati di era reformasi ini, dan sebagai sebuah virus, memang tidak pernah ada obat yang sanggup membunuhnya. Yang ada adalah upaya melemahkannya, dan menjadikannya sebagai vaksin. Ya, kita butuh vaksin anti-feodalisme dan otoritarian ala Orde Baru kalau mau benar-benar mendewasakan demokrasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi karena tuntutan perut, pendidikan dasar dan menengah kita justru malah didorong ke arah vokasional, dengan justifikasi menekan angka pengangguran. Kurikulum pendidikan dasar dipenuhi gagasan kewirausahaan. Pemerintah sibuk mendorong iklan-iklan sekolah teknik menengah, STM, digembar-gemborkan seolah bisa menjawab persoalan pengangguran. Padahal persoalan baru akan muncul, karena lulusan STM hanyalah para dewasa muda, yang dipaksa menjadi dewasa karena negara perlu mengubah statistik pengangguran. Jenjang pendidikan dengan masing-masing fungsinya, sudah hampir tidak jelas tahapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal sederhana saja. Ada kemampuan &lt;i&gt;lifeskill&lt;/i&gt; yang harus ditumbuhkan di pendidikan dasar hingga menengah. &lt;i&gt;Lifeskills&lt;/i&gt; bukan &lt;i&gt;vocational skills&lt;/i&gt;, karena kita seharusnya punya diploma yang bisa dipilih beradasarkan minat siswa selepas sekolah menengah. Bermodal ijazah sekolah menengah atas, asumsinya ia sudah siap menjadi manusia dewasa seutuhnya.&amp;nbsp;Bermodal sertifikat diploma, ia bisa menentukan keahlian apa yang ingin ditekuninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demokrasi, bukanlah kemampuan vokasional, tetapi ia adalah kemampuan menjalani hidup, &lt;i&gt;to be a complete human being&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-5004614491339872852?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUS3hitP9JntuAG2eJyqxjY4AZU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUS3hitP9JntuAG2eJyqxjY4AZU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUS3hitP9JntuAG2eJyqxjY4AZU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUS3hitP9JntuAG2eJyqxjY4AZU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=w-wsWa-U3vE:9yd4fW_Oi1U:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/w-wsWa-U3vE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-23T01:01:12.602+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2012/01/mendewasakan-pelaku-demokrasi-edisi.html</feedburner:origLink></item><item><title>It's Just...</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/OAq5IH_Qbbc/its-just.html</link><category>Pendidikan Orang Dewasa</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Mon, 09 Jan 2012 22:37:57 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-1062371771282311584</guid><description>&lt;a href="http://imgur.com/6VDZd"&gt;&lt;img alt="" src="http://i.imgur.com/6VDZd.jpg" title="Hosted by imgur.com" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://9gag.com/fast#1675850"&gt;http://9gag.com/fast#1675850&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-1062371771282311584?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFUgqC1M3TwYtLccYFOEVoTPRMM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFUgqC1M3TwYtLccYFOEVoTPRMM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFUgqC1M3TwYtLccYFOEVoTPRMM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFUgqC1M3TwYtLccYFOEVoTPRMM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=OAq5IH_Qbbc:ICC1vsXjW0o:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/OAq5IH_Qbbc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-10T13:37:57.734+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2012/01/its-just.html</feedburner:origLink></item><item><title>Lupakan Tuhan Sejenak</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/zG7hkwn7Slg/lupakan-tuhan-sejenak.html</link><category>Bencana</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Mon, 26 Dec 2011 17:47:28 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-110515553146794158</guid><description>&lt;b&gt;REPOST&lt;/b&gt;: Mengenang Tsunami Aceh, 26 Desember 2004...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Bencana sudah berangsur surut.&lt;br /&gt;
Kita boleh memaki Tuhan, atau memohon ampunan.&lt;br /&gt;
Kita dipersilakan menangis tersedu di depan televisi atau meneteskan airmata di atas koran. Kita bahkan dihimbau untuk memberi bantuan semampunya pada mereka yang menjadi korban bencana.&lt;br /&gt;
Tapi ingat, ada satu hal yang mungkin juga dipikirkan oleh segelintir orang.&lt;br /&gt;
Apa yang akan dilakukan bangsa ini enam bulan ke depan? Satu tahun ke depan? Lima tahun ke depan?&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;object width="320" height="266" class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/4t1ga-f4Fm0/0.jpg"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/4t1ga-f4Fm0&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;
&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;
&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/4t1ga-f4Fm0&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEDIA massa sudah mengabarkan betapa dunia turut berduka atas bencana ini. Thailand sudah sepakat untuk menyusun sistem peringatan dini atas bencana tsunami ENAM BULAN ke depan. Apa agenda pemerintah kita? Apakah kita akan (lagi-lagi) lupa, dengan ratusan ribu nyawa yang menggelepar di pesisir Aceh? Seperti kita juga pernah lupa pada apa yang telah terjadi di Maumere? Di Biak? Di Nabire?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bencana ini bukan yang pertama. Mungkin kali ini dampaknya yang paling besar dalam catatan sejarah. Sekejam itukah Tuhan di mata kita? Adakah nama MAHA PEMARAH dalam deretan nama-nama Tuhan? Mungkin Tuhan memang sudah mulai bosan (seperti syair lagu Ebiet G. Ade), tapi kalau terus-terusan mempermasalahkan Tuhan, enam bulan atau enam tahun lagi mungkin tsunami yang lebih dahsyat keburu datang. Dan apa yang sudah kita lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara manusia di bumi yang dianggap saleh dan diberi kewenangan oleh manusia lain untuk menjadi saleh, malah membuat keputusan yang absurd. Entah demi apa, atau karena kekurangtahuan, ratusan ribu mayat yang bisa mendatangkan bencana baru itu tetap harus dikuburkan. Apakah Tuhan yang sudah sedemikian sibuknya itu masih akan mempermasalahkan, jika umatnya harus dibakar, karena kalau tidak kuman-kuman dan penyakit mematikan akan menyebar, membunuhi sisa-sisa umatnya yang selamat dari bencana tsunami? Alih-alih selamat dari tsunami, mungkin mereka akan berhadapan dengan bencana epidemik yang lain. Sungguh penderitaan tiada ujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AGENDA yang harus dilakukan ke depan, agar para korban ini tidak merasa terus-terusan didera bencana, menjadi sangat krusial. Tidak saja untuk menenangkan kekhawatiran mereka tentang masa depan, tapi juga menenangkan semua pihak yang setiap saat bisa saja menjadi korban bencana. Tapi sifat pelupa bangsa ini sungguh memalukan. Bak menunggu Godot, agenda yang berwawasan sistem di masa depan sungguh sulit diprediksi kapan datangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita semua sudah diberitahu, bahwa negeri ini adalah negeri bencana. Satu-satunya negara yang sarat dengan ancaman dari alam, tapi (mungkin) satu-satunya negara yang tidak punya sikap antisipatif. Semuanya reaktif. Spontan. Dan kalau sudah terjadi, mulailah Tuhan kembali dipersalahkan. Lihat saja catatan kecelakaan di sektor transportasi pada tahun 2004 yang lalu. Berapa nyawa melayang akibat kesalahan yang sifatnya mendasar? Ribuan, bahkan mungkin sudah mencapai ratusan ribu jika kita mau terus menghitung mundur. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak sedap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa yang sudah kita lakukan pada sistem? Nyaris tidak ada. Sistem sudah hampir kehilangan makna, kalau tidak mau dibilang tereliminasi oleh kepentingan segelintir orang. Aturan tidak penting lagi, karena kepentingan berada di atas segalanya. Kaum elit selalu mendapat perlakuan khusus, dan karenanya menjadi pembenaran atas pelanggaran-pelanggaran. Mana yang lebih penting sulit untuk dirumuskan. Asal Bapak senang, asal perut kenyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DALAM situasi kalut dan kacau, masih saja terdengar suara-suara sumbang tentang ketidakadilan. Cerita tentang sukarelawan yang kalah antri dengan pejabat-pejabat 'pelancong bencana', tentang tenda-tenda mewah di sekeliling mayat dan reruntuk bangunan, tentang "oknum" yang menjual bantuan, tentang birokrat penjilat yang lebih suka mengekor pantat atasannya daripada menolong nyawa rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memilukan memang. Teater absurd ala Godot yang hanya dipentaskan di panggung-panggung, di sini adalah sebuah keniscayaan. Lelucon Srimulat sampai kehilangan bahan, karena semua hal satir dan paradoks sudah kita pentaskan bersama-sama di alam nyata. Mungkin benar, bahwa Tuhan ternyata memiliki &lt;em&gt;sense of humor&lt;/em&gt; yang berlebihan. Segala kekalutan dan kekacauan yang terjadi di negeri ini, tampaknya bagi Tuhan adalah lelucon yang menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Lihat apa yang dilakukan para pejabat?!&lt;br /&gt;
Menggelikan.&lt;br /&gt;
Lihat apa yang dilakukan para pemimpin agama?!&lt;br /&gt;
Tidak kalah absurd.&lt;br /&gt;
Lihat apa yang terjadi pada para relawan?!&lt;br /&gt;
Terseok-seok memeras keringat dan airmata.&lt;/blockquote&gt;
&lt;b&gt;Sementara siapa yang harusnya bertanggung jawab?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sibuk menyenangkan atasan yang datang berkunjung untuk ikut-ikutan menunjukkan belasungkawa, lalu pulang dan tetap menunggangi volvo ber-AC di jalan-jalan raya. Sibuk membuka-buka koran mencari investasi paling menguntungkan di masa depan. Sibuk mendirikan perusahaan-perusahaan kontraktor bangunan agar kelak kebagian proyek rekonstruksi Aceh yang nilainya trilyunan.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Kapan kita akan bicara mengenai sistem yang lebih nyata?&lt;br /&gt;
Bicara mengenai antisipasi, bukan sekedar reaksi.&lt;br /&gt;
Menunggu bencana lain datang?&lt;br /&gt;
Menunggu Tuhan bosan?&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
*untuk para relawan yang berkeringat di Aceh dan sekitarnya*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-110515553146794158?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/urd3gWJNG2ERSf2YZ0EjKoS4BA0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/urd3gWJNG2ERSf2YZ0EjKoS4BA0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/urd3gWJNG2ERSf2YZ0EjKoS4BA0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/urd3gWJNG2ERSf2YZ0EjKoS4BA0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=zG7hkwn7Slg:E6m690x_P9Q:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/zG7hkwn7Slg" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-27T08:47:28.336+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2005/01/lupakan-tuhan-sejenak.html</feedburner:origLink></item><item><title>The Tragedy of The Commons</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/D_hK4K_RllE/tragedy-of-commons.html</link><category>#politikana</category><category>Populer</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Tue, 13 Dec 2011 22:36:58 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-6209173699732172688</guid><description>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_WBmNsBt4aMA/SpQ3uR-HbxI/AAAAAAAABT8/AXf2lm-ijLA/s1600-h/cartoon_commons2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373981523597291282" src="http://3.bp.blogspot.com/_WBmNsBt4aMA/SpQ3uR-HbxI/AAAAAAAABT8/AXf2lm-ijLA/s400/cartoon_commons2.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 400px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 276px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tragedi ini ditulis oleh Garrett Hardin (1915 - 2003) pada tahun 1960-an. Jadi bacaan wajib ornop-ornop, terutama yang bergerak di isu sumberdaya alam. Tapi, saya pengen menggunakan cerita Hardin ini untuk isu yang lain juga. Intinya persis seperti yang tampak pada ilustrasi komik yang tampil. Komik itu saya ambil langsung dari webnya &lt;a href="http://www.garretthardinsociety.org/gh/about_gh.html"&gt;Hardin Society&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Intinya, hitung-hitungan untung rugi untuk diri/kelompok sendiri lebih dipentingkan, dan tidak melihat dampak keseluruhan. Sumberdaya yang seharusnya bisa dikelola dan dimanfaatkan bersama, jadi takkan pernah cukup untuk mengatasi ambisi satu orang, atau satu kelompok kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negara ini juga. Bukan cuma sumberdaya alam, tapi sumberdaya manusia, serta sumberdaya keragamannya juga. Keragaman kita yang diramu dalam Bhinneka Tunggal Ika, itu bukan isapan jempol. Itu ungkapan yang serius. Harus diakui bahwa kita itu berbeda. Ada Islam, Kristen, Budha, Hindu. Ada Papua, Maluku, Ambon, Dawan, Flores, Bugis, Kaili, Dayak, dan seterusnya sampai ke ujung barat sana. Keberagaman itulah Indonesia, yang harus dijaga keseimbangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keragaman, atau Diversity, seperti keseimbangan ekologi di alam. Kalau terganggu ekosistem-nya, maka akan ada spesies yang mati, atau terpaksa harus hijrah ke tempat lain yang lebih layak/nyaman ditinggali. Meski populasi suatu spesies itu kecil dalam ekosistem, dan 'kelakuannya' dianggap aneh oleh spesies yang lain, tapi keberadaannya memang diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini semua demi keseimbangan alam semesta. Mereka sudah tau takaran yang tepat, sehingga alam ini bisa berjalan dengan baik. Yang dominan tidak sok jago dan mengumbar kekuasaan, yang tidak dominan cukup tahu diri dan tidak rewel. Semua sudah diatur porsinya. Inilah potret 'keseimbangan' versi alam yang menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyakitnya cuma satu, Serakah. Merasa kurang, dan kurang. Padahal, semuanya sudah cukup. Ketika masing-masing sudah punya kebebasan, ada yang pengen berkuasa atas kebebasan itu. Kekuasaan memang godaan. Berkuasa, serasa menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Dengan berkuasa seolah sama dengan mampu mensejahterakan. Persis seperti kesombongan Firaun kan? Atau mirip dengan cerita Lord of The Rings yang visualnya memukau itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, &lt;i&gt;The Tragedy of The Commons&lt;/i&gt;, mungkin terjadi jika kita kurang bisa memahami porsi-porsi tadi secara benar dan proporsional. Contoh kecil sudah tampak di depan mata, dan akan bertambah seiring waktu berjalan. Tapi, sekali lagi ini bukan saja cerita tentang sumberdaya alam yang diperebutkan, sehingga kemudian malah semuanya tidak kebagian. Tapi juga tentang sumberdaya yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-6209173699732172688?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8qOxf-LzD9A_9k55rt7lTAkdL_o/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8qOxf-LzD9A_9k55rt7lTAkdL_o/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8qOxf-LzD9A_9k55rt7lTAkdL_o/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8qOxf-LzD9A_9k55rt7lTAkdL_o/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=D_hK4K_RllE:uIoS46_TUrc:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/D_hK4K_RllE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-14T13:36:58.220+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_WBmNsBt4aMA/SpQ3uR-HbxI/AAAAAAAABT8/AXf2lm-ijLA/s72-c/cartoon_commons2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2009/08/tragedy-of-commons.html</feedburner:origLink></item><item><title>Karena Informasi adalah Koentji!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/3XI3kjX_uxs/karena-informasi-adalah-koentji.html</link><category>chico mendes</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Mon, 28 Nov 2011 17:23:30 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-2987996544463479283</guid><description>&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/kY6h2IpevMY" width="100%"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chico Mendes kecil, hanya bisa bengong ketika hasil sadapan karet Ayahnya kali ini tetap saja tidak pernah mencukupi untuk membayari hutang kepada para pengijon itu. Seorang pemuda di dekat pintu, meliriknya penasaran. Ia menangkap ketidakpuasan si Chico Mendes kecil, tetapi juga ketidakberdayaannya.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
"40 kg!" ujar si pengijon membacakan hasil timbangan Chico dan Ayahnya.&lt;br /&gt;
Pemuda itu terkejut. Ia mencoba menyanggah, “Bukankah timbangan itu menunjukan angka 70 kg?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau gue bilang 40 kg, ya segitulah timbangannya!”, demikian sang pengijon menjawab dengan sorot tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, bukankah timbangan itu menunjuk angka 70 kg?” sambar pemuda itu makin keras.&lt;br /&gt;
“Lu pasti orang baru di sini, anak muda,” sang pengijon menunjukkan ketidakenangannya sambil menggebrak meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah ini memang 40 kg”, ujar ayah Chico Mendes, mencoba cari aman saja. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan kegusaran si pengijon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, orang tua selalu lebih bijak dari anak muda, sepertimu. Lekaslah kau tanda tangan di sini hai orang tua!” sang pengijon segera menyodorkan buku tanda terima, dan menyelesaikan transaksi tak adil itu.&amp;nbsp;Ayah Chico pun menorehkan sesuatu di buku itu, dan mereka menerima pembayarannya.&lt;/blockquote&gt;
Hasil sadapan karet waktu itu dihargai 10 Cruzerio (Rp 18 dengan kurs saat ini) per kilogramnya, tetapi Ayah Chico hanya menerima 10 cruzeiro, untuk '40 kg' hasil sadapannya. Mereka harus membayar hutang sebesar 25 cruzeiro serta bunganya yang sebesar 5 cruzeiro.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di perjalanan pulang, Mendes kecil masih penasaran, dan mencoba menanyakan kebenaran hal tersebut. Sang ayah tetap meyakinkan Mendes kecil bahwa mereka harus tetap menuruti apa yang dikatakan sang pengijon, dengan harapan mereka mendapatkan hidup yang lebih baik di kemudian hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang pemuda, Wilson Pinheiro, langsung sadar bahwa para petani itu selalu miskin karena mereka tak bisa berhitung. Mereka jadi sasaran empuk para pengijon, yang selalu memanipulasi hasil timbangan, belum lagi dengan sistem rentenir yang menyebabkan para petani itu tidak pernah bisa lepas dari jeratan hutang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa bisa berbuat sesuatu, Wilson Pinheiro mengikuti Mendes dan ayahnya hingga ke rumah mereka. Ia minta diajari cara menyadap karet kepada ayah Chico, dan sebagai imbalannya ia minta ijin untuk mengajari Chico membaca dan berhitung. Inilah awal revolusi yang terjadi di Hutan Amazon, Brasil itu, dengan Chico Mendes sebagai pahlawannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sedikit adegan pembuka film The Burning Season, bercerita tentang&amp;nbsp;Chico Mendes yang dikenal sebagai Pahlawan Hutan Amazon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chico Mendes, &lt;a href="http://dotearth.blogs.nytimes.com/2008/12/22/the-uncertain-legacy-of-chico-mendes/" target="_blank"&gt;pada awalnya bukanlah pahlawan hutan tropis&lt;/a&gt;. Ia adalah ketua organisasi buruh penyadap karet, Ia tidak punya wawasan biodiversity, atau pentingnya Hutan Amazon sebagai salah satu paru-paru dunia. Yang ia tahu adalah mitos bernama&amp;nbsp;Cirupira, sang kekuatan supernatural yang akan marah jika hutan tempatnya bersemayam dirusak manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan tapi pasti, berkat pendidikan yang didapatnya dari&amp;nbsp;Pinheiro, ia sadar, bahwa satu-satunya sumber nafkah desa mereka adalah dari menyadap karet, dan karenanya keberadaan hutan karet adalah sebuah harga mati. Warga desa tidak memiliki keterampilan lain sebagai upaya mencari nafkah bagi penghidupan mereka. Sayangnya kepentingan itu bertabrakan dengan kepentingan lain, yang atas nama pembangunan ingin menyingkirkan sebagian hutan demi keuntungan korporasi lokal, penguasa lalim, maupun korporasi multinasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sukses mendirikan &lt;a href="http://www.edf.org/article.cfm?ContentID=1552" target="_blank"&gt;Rubber Tappers National Council (CNS)&lt;/a&gt;, dan&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.forestpeoples.org/templates/what_we_do.shtml" target="_blank"&gt;Forest People Alliance&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;Chico Mendes dengan bantuan wartawan, akhirnya berhasil menembus forum di PBB, dan di sanalah ia ditasbihkan sebagai pahlawan hutan tropis. Ia mendesak agar bantuan lembaga keuangan dunia, menghentikan atau menunda bantuan mereka terhadap proyek pembangunan yang akan menebas hutan tropis di Brasil, selama masyarakat yang hidup tergantung dari hutan itu tidak mendapatkan kompensasi berarti. Gelar yang sama sekali tidak diduganya ketika harus berangkat, tapi sedikit banyak, momen itu membawa berkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harga mati perjuangan Chico, akhirnya memang dibayar sangat mahal. &lt;a href="http://www.nytimes.com/1998/12/26/opinion/chico-mendes-s-legacy.html?pagewanted=2&amp;amp;src=pm" target="_blank"&gt;Kurang lebih 982 nyawa&lt;/a&gt;&amp;nbsp;termasuk nyawa&amp;nbsp;Pinheiro dan Chico Mendes sendiri, menjadi korban akibat berkonfrontasi dengan kekuatan korporasi yang didukung 'preman' lokal dan penguasa setempat.&amp;nbsp;Kematian Chico mendapat sorotan dunia internasional, dan akhirnya memaksa koalisi jahat itu mundur teratur. Sebagian wilayah Hutan Amazon Brasil dilindungi oleh Undang-undang, meski tidak mengurangi aksi pembabatannya hingga hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
INDONESIA juga pernah punya banyak kisah sejarah dengan &lt;a href="http://news.okezone.com/read/2008/08/16/1/137401/gedung-joeang-45-rancang-revolusi-kemerdekaan" target="_blank"&gt;gerakan pendidikan yang berupaya melahirkan revolusi&lt;/a&gt;. Sebut saja upaya&amp;nbsp;seorang pemuda bernama&amp;nbsp;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/A.M._Hanafi" target="_blank"&gt;AM Hanafi&lt;/a&gt;, teman dekat Soekarno. Ia lahir pada tahun 1918, dan meninggal di Perancis, 2004. Pada era Orda Baru, ia turut disingkirkan karena kedekatannya dengan Bung Karno. Ia akhirnya memilih minta suaka ke Perancis, dan akhirnya menetap di sana hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AM di depan namanya merupakan singkatan dari Anak Marhaen, yang&amp;nbsp;pada sekitar 1940 - 1941&amp;nbsp;mencoba memulai revolusi dengan mendirikan Pendidikan Kilat (Diklat) Politik "Penyambutan Revolusi Kemerdekaan." Upaya ini akhirnya kandas dengan masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942. Detil cerita tentang AM Hanafi bisa dibaca di milis PPINDIA, pada &lt;a href="http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-SEKELUMIT-KENANGAN-TENTANG-AMHANAFI-1" target="_blank"&gt;Bagian-1&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-SEKELUMIT-KENANGAN-TENTANG-AMHANAFI-2-MANTAN-MENTERI-DUBES-DAN-JENDERAL-RI-JADI-PENJAGA-MALAM" target="_blank"&gt;Bagian-2&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-SEKELUMIT-KENANGAN-TENTANG-AMHANAFI-3-DARI-JENDERALMANTAN-MENTERI-DAN-DUBES-MENJADI-PENGELOLA-RESTORAN" target="_blank"&gt;Bagian-3&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan, yang ujungnya-ujungnya membawa informasi kepada mereka yang tertindas, bisa mendorong terjadinya revolusi. &lt;a href="http://gunsasongkorahmanu.blogspot.com/2011/01/filsafat-pendidikan.html" target="_blank"&gt;Pendidikan&lt;/a&gt;, yang menurut Freire tak mungkin tidak berpihak, adalah alat yang paling efektif, karena dampaknya akan berkelanjutan.&amp;nbsp;Dalam diskusi tentang situasi dan kondisi sosial politik terkini, guru dan siswa akan memperoleh pengalaman saling belajar terkait kemungkinan perubahan-perubahan sosial yang mungkin dilakukan melalui proses pendidikan. Pemikiran ini menggambarkan bahwa pendidikan memiliki tugas utama untuk membebaskan siswa dari lingkungan hemologi struktur sosial kaum yang berkuasa. Tugas itu terkait dengan tujuan pendidikan pembebasan untuk mencpai keadilan kesejahteraan sosial bagi kaum tertindas (Ellias dan Merriam, 1984).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua penguasa yang lalim, pasti benci dengan arus informasi yang terbuka dan mengalir cepat di antara warganya. Karena pendidikan formal biasanya dikuasai oleh negara, maka memelintir materi pendidikan demi kelanggengan kekuasaan, adalah langkah yang biasa dilakukan. Langkah lainnya, seperti yang pernah kita alami di jaman Orde Baru, dan bisa kita lihat juga di berita belakangan ini, tentang aksi massa di Mesir dan Tunisia. Pembredelan, dan pemblokiran sumber informasi, serta salurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih mencari cara revolusi? Mari gunakan jalur pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-2987996544463479283?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FXIGKzmDQa86qt-_NApLDE2wZgQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FXIGKzmDQa86qt-_NApLDE2wZgQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FXIGKzmDQa86qt-_NApLDE2wZgQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FXIGKzmDQa86qt-_NApLDE2wZgQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=3XI3kjX_uxs:jaaZV8Zzuzs:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/3XI3kjX_uxs" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-29T08:23:30.910+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://img.youtube.com/vi/kY6h2IpevMY/default.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/01/karena-informasi-adalah-koentji.html</feedburner:origLink></item><item><title>Gugat Negara karena Melanggar Hak Warganya</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/z8qFYDUctZ8/negara-layak-digugat-karena-melanggar.html</link><category>UUD 45</category><category>Demokrasi</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Mon, 24 Oct 2011 23:50:39 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-3611202476948512417</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2KlnECwqe1I/SkBbTdm-jZI/AAAAAAAABIc/RC8hLvfas88/s1600/mimpi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://2.bp.blogspot.com/-2KlnECwqe1I/SkBbTdm-jZI/AAAAAAAABIc/RC8hLvfas88/s640/mimpi.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
Kenapa menggugat negara? Lembaga pun bukan?&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ya &lt;a href="http://pontianak.tribunnews.com/2011/10/25/rakyat-melarat-gugat-presiden"&gt;pemerintah saja kalau gitu yang digugat&lt;/a&gt;. Toh katanya ada yang namanya Citizen Lawsuit (CLS). Gugatan CLS pertama kali terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tahun 2003, pada kasus penelantaran TKI Malaysia di Nunukan. Namun sempat vakum beberapa lama, hingga muncul putusan CLS yang memenangkan warga dalam kasus Ujian Nasional (UN) 2009.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir, adalah kasus&amp;nbsp;Ketua Majelis Hakim PN Jakpus, Ennid Hasanuddin, yang menghukum para tergugat untuk segera membuat UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Hakim menilai para tergugat, yaitu Presiden RI, Ketua DPR, Wapres RI, Menko Kesra, Menko Perekonomian, Menkeu, Menkum HAM, Menkes, Mensos, Menakertrans dan Menhan telah melakukan perbuatan melawan hukum karena lalai tidak membuat UU BPJS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negara layak digugat karena tidak mampu menyediakan pemenuhan hak bagi warganya. Semoga masih pada ingat dengan Hak-hak dan kewajiban warga negara, yang tercantum dari Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 UUD 1945. Beberapa hak tersebut antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.&amp;nbsp;Pasal ini menunjukkan asas keadilan sosial dan kerakyatan, yaitu pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi “&lt;i&gt;Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan&lt;/i&gt;”.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hak membela negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan “&lt;i&gt;Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara&lt;/i&gt;.”&amp;nbsp;Selain itu, dalam Pasal 30 ayat (1) juga dinyatakan “&lt;i&gt;Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara&lt;/i&gt;”.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hak berpendapat, berserikat dan berkumpul, seperti yang tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945 yang berbunyi “&lt;i&gt;Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang&lt;/i&gt;”.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hak kebebasan beragama dan beribadat sesuai dengan kepercayaannya, sesuai dengan Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945, di Pasal 29 ayat (2) dinyatakan “&lt;i&gt;Negara menjamin kemerdekaan tiap- tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu&lt;/i&gt;.”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hak untuk mendapatkan pengajaran, seperti yang tercantum dalam Pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD 1945. "&lt;i&gt;(1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.&amp;nbsp;(2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem&amp;nbsp;pengajaran nasional yang diatur dengan Undang-undang"&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Hal ini dijelaskan dalam Pasal 32 UUD 1945 ayat (1), “&lt;i&gt;Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya&lt;/i&gt;”.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;￼￼￼Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial.&amp;nbsp;Pasal 33 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) UUD 1945 berbunyi: "&lt;i&gt;(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan,&amp;nbsp;(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara,&amp;nbsp;(3) Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat,&amp;nbsp;(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar asas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional,&amp;nbsp;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang."&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial. Dalam Pasal 34 UUD 1945 dijelaskan bahwa “&lt;i&gt;Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara&lt;/i&gt;.”&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
Dari delapan hak warga tersebut di atas, berapa yang sudah dilanggar negara? Hampir semuanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Karena penyelenggaraan negara yang korup, rakyatnya sebagian sibuk mengawasi kerjaan pemerintah. Tiap hari masih banyak saja yang mengeluhkan kinerja &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2011/10/25/114658/1751987/10/divonis-5-tahun-cirus-sinaga-ajukan-banding"&gt;birokrat korup&lt;/a&gt;, yang seringkali memeras pengusaha dalam membangun bisnisnya. Akhirnya, pengusaha banyak yang memilih menjadi penjilat penguasa, dan muncullah kongkalikong 3P, penguasa, pengusaha, dan politisi. Pengusaha kecil, marjinal, sibuk memunguti remah-remahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Lantaran sibuk mengawasi kerjaan pemerintah, banyak yang menelantarkan nafkahnya. Berapa banyak waktu yang terbuang percuma untuk demonstrasi, sampai mengajukan tuntutan hukum. Akhirnya malah ada yang menjadi profesional pengawas negara, dan mencari nafkah dari sana, demi penghidupan yang layak. Padahal sudah ada lembaga negara seperti &lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2011/05/12/17195764/Inilah.Gaji.Bulanan.Para.Anggota.DPR"&gt;DPR yang dibayar &lt;/a&gt;dari keringat rakyatnya untuk mengerjakan hal itu.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Karena nafkahnya terlantar, untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah saja tidak mampu. Pendidikan bukan untuk seluruh warga negara, karena justru sekolah favorit diperuntukkan orang kaya dan berbakat jenius. Anak miskin akan tetap bodoh, dan lestari. Dengan &lt;a href="http://www.kopertis12.or.id/2011/08/17/alokasi-anggaran-pendidikan-2012-rp-2866-triliun-diprioritaskan-untuk-bos-sekolah-rusak.html"&gt;jatah 20% APBN&lt;/a&gt;, menyediakan buku gratis untuk rakyatnya saja tidak mampu.&amp;nbsp;Sekolah katanya gratis sampai pendidikan dasar (SD-SMP), tapi pengelolaan sekolah tidak transparan. Pungutan sana-sini dengan berbagai dalil masih terjadi.&amp;nbsp;Korupsi dimana-mana, bahkan kepala sekolah punya forum arisan yang sejatinya adalah kumpulan setoran ke birokrasi pendidikan di daerahnya. Penadahnya adalah kepala daerah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;a href="http://tolakunas.com/index.php"&gt;Ujian nasional&lt;/a&gt; yang dibuat dengan dalih memetakan kualitas pendidikan Indonesia, boro-boro dijalankan secara konsisten. Antara standar kompetensi yang diajarkan, dengan standar kelulusan yang diinginkan, relevansinya sering meleset. Apa yang diajarkan dengan apa yang diujikan tidak konsisten. Infrastruktur pendidikan belum merata di seluruh Indonesia. Kurikulum bongkar pasang tetapi tidak semakin baik, malah semakin kehilangan rohnya. Titipan sana sini melupakan fungsi utama pendidikan, bahwa materi yang diajarkan seharusnya hanya konsep-konsep mendasar yang menjadi bekalnya di pendidikan yang lebih tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kaum yang cerewet dan kritis ini biasanya kelas menengah. Tapi kelas menengah kita adalah para "Sadikin", sakit sedikit miskin. Bayangkan biaya rumah sakit kalau ada keluarga yang harus dirawat. Tak mungkin dijangkau kelas menengah, apalagi kelas bawah. Kalaupun bisa melalui layanan asuransi, &amp;nbsp;yang setengah hati. Harga obat didominasi korporasi, sehingga biaya rumah sakit bisa tertutupi, tapi biaya obat mahal setengah mati. Tidak sedikit kasus pasien meninggal gara-gara ongkos yang belum/tak sanggup terbayar. Salah satunya kasus &lt;a href="http://rony.dgworks.net/2011/10/23/membisniskan-orang-sakit/"&gt;Nisa ini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sumberdaya alam yang katanya&lt;i&gt;&amp;nbsp;dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, &lt;/i&gt;faktanya hanya memakmurkan segelintir orang saja. Kontrak karya perusahaan pengelola sumberdaya alam di Indonesia, dianggap kontrak antar privat, dan berlindung di belakang Hukum Perdata. Padahal kontrak itu sejatinya cuma ijin usaha pertambangan, yang seharusnya bisa menjadi dokumen publik. Nyatanya kita tak pernah tahu apa isi kontraknya. &lt;a href="http://www.inilah.com/read/detail/1785313/kesdm-tolak-publikasi-kkks-migas"&gt;Pemerintah menolak membuka isinya&lt;/a&gt; kepada publik.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dalam soal beragama, jangan ditanya. Ada kelompok kecil yang dianggap menodai agama, lalu dibantai beramai-ramai, tapi &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2011/07/28/brk,20110728-348898,id.html"&gt;pembantainya cuma dihukum ringan&lt;/a&gt; dengan alasan tak masuk akal. Katanya pembantaian terjadi karena merasa diserang duluan. Pemerintah sedang membuat justifikasi terhadap tindak pembunuhan massal, harga nyawa semakin murah di negara ini. Belum lagi soal &lt;a href="http://www.kbr68h.com/berita/nasional/14186-dprd-bogor-masih-diam-tekait-pemkot-vs-gki-yasmin-"&gt;peribadatan umat yang digusur berkali-kali&lt;/a&gt;, tanpa perlindungan dan upaya penyelesaian yang jelas dari pemerintah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dalam hal kebudayaan, berapa banyak cagar budaya, &lt;a href="http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=172231:jangan-berikan-imb-bangunan-bersejarah&amp;amp;catid=14:medan&amp;amp;Itemid=27"&gt;artefak bersejarah di berbagai kota&lt;/a&gt;, yang dibiarkan menjadi mall atau apartemen hanya demi pendapatan daerah? Siapa yang peduli? Dengan alasan pertumbuhan ekonomi, mall dan apartemen menjadi prioritas, padahal cagar budaya itu juga bisa dioptimalkan menjadi industri pariwisata yang juga tidak sedikit mendatangkan devisa. Pilih mana, wisatawan manca negera datang dengan dolar-nya, atau konsumen domestik yang muter-muter rupiah? kalau industri pariwisata serius dikerjakan, pundi-pundi devisa terjaga,&amp;nbsp;cagar budaya tidak merana.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kemerdekaan berpendapat? Baiklah. Di era paska reformasi mungkin jauh lebih baik daripada jaman Orde Baru. Ini harus disyukuri. Saya mensyukurinya, karena kalau tidak, tulisan ini tidak akan pernah sampai ke hadapan Anda. Tapi pasal pencemaran nama baik masih menjadi hantu, dan seringkali menjadi senjata untuk membunuh kebebasan berpendapat. Ibu-ibu mengeluhkan layanan publik swasta, malah dituntut milyaran. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Prita_Mulyasari"&gt;Ibu Prita&lt;/a&gt; namanya, mungkin Anda belum lupa.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Lihat berapa banyak orang menjadi pahlawan karena menjadi penyelamat sesama warga. Ajaibnya, ia melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Bersyukur masih banyak warga negara yang mau peduli. Tapi sampai kapan? Sementara negara kemana?&amp;nbsp;Sibuk dengan pertempuran antar kepentingan politik, dan bagi-bagi kue kekuasaan dan penghasilan demi partainya. Pengemplang pajak trilyunan dibiarkan, penyebab bencana besar malah diambil alih tanggung jawabnya oleh negara. Pelakunya, bebas cengengesan di layar kaca.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Siapa yang tak mau jadi kaya raya? Siapapun pasti mau, termasuk saya. Catatannya adalah, seberapa banyak kita, warga negara yang bisa menjadi kaya bersama-sama? Seberapa besar jurang kesenjangan itu akan dibiarkan menganga? Negara itu ada, karena rakyatnya. Tapi pengelola negara tampaknya jadi pelupa, seperti kacang yang lupa sama kulitnya. Peran negara tidak perlu sampai mengurusi urusan ranjang atau cara berpakaian warganya, cukup pada hal-hal mendasar saja. Dengan begitu, distribusi kemakmuran bisa terjaga.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Melanggar UUD 45, seharusnya menjadi kejahatan luar biasa.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-3611202476948512417?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CX1cvfVTkQS52opbS6MxJMGIGEg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CX1cvfVTkQS52opbS6MxJMGIGEg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CX1cvfVTkQS52opbS6MxJMGIGEg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CX1cvfVTkQS52opbS6MxJMGIGEg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=z8qFYDUctZ8:B7SLcw7aV2M:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/z8qFYDUctZ8" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-25T13:50:39.448+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-2KlnECwqe1I/SkBbTdm-jZI/AAAAAAAABIc/RC8hLvfas88/s72-c/mimpi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/10/negara-layak-digugat-karena-melanggar.html</feedburner:origLink></item><item><title>Mengapa #OccupyWallStreet Relevan di Dunia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/qmLJ5pz0Ma4/mengapa-occupywallstreet-relevan-di.html</link><category>bank century</category><category>Korupsi</category><category>#occupywallstreet</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Tue, 01 Nov 2011 07:32:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-1283726589385032159</guid><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nRC_KwPorm4/Tp6kAOH6MeI/AAAAAAAAChA/QtjOg9NFT7Y/s1600/wallstreetposter.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-nRC_KwPorm4/Tp6kAOH6MeI/AAAAAAAAChA/QtjOg9NFT7Y/s320/wallstreetposter.jpg" width="211" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Adbusters.org&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Perekonomian tidak bisa lepas dari urusan politik, dan sebaliknya. Kredo ini rasanya sudah sering kita dengar. Jadi, sudahlah, mendikotomikan keduanya tidak perlu dilakukan. Perdebatan soal itu jadinya juga tidak perlu dilanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekonomi yang ditandai dengan tingkat produksi dan konsumsi masyarakat, ujung-ujungnya hanyalah persoalan distribusi kemakmuran. Semakin luas distribusinya, berarti semakin merata kemakmurannya. Mulai jadi masalah kalau distribusi itu mulai tidak merata, dikuasai oleh orang-orang tertentu, dan yang paling menyakitkan tentu saja; hanya dikuasai oleh pihak yang dekat dengan kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sinilah muncul kesenjangan, dan tentu kecemburuan sosial. Ketika pengusaha menyokong kekuasaan dengan uangnya, maka tak 'salah' kalau penguasa kemudian memberinya banyak kemudahan dan jalan pintas, bahkan tak tanggung-tanggung, terkadang masuk ke lingkaran kekuasaan itu sendiri dan membuat kebijakan yang bias pengusaha. Itu bisa terjadi, karena pengusaha, terkadang juga bermuka dua sebagai politisi di partai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Krisis Ekonomi Ulah Bankir dan Lembaga Keuangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kongkalikong pengusaha, penguasa, dan politisi makin menjadi. Ujungnya, adalah penguasaan kemakmuran oleh kalangan terbatas. Ternyata, inipun terjadi di Amerika Serikat. Pada jaman George Bush Junior berkuasa, ia dengan jelas menyebut bahwa pengusaha adalah bagian tak terpisahkan dari kekuasaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ketika ekonomi Amerika jatuh, pengusaha memohon bantuan pemerintah. Sementara pemerintah tak punya alasan menolak, lantaran besarnya tentakel sebuah korporasi sudah hampir menyerupai negara itu sendiri. Tak diselamatkan mati bapak, diselamatkan mati ibu. Pemerintah dalam dilema. Tapi mereka memilih menyelamatkan bapak. Ibu pertiwi mereka pun terlunta-lunta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sedikit menyegarkan ingatan kita pada penyebab krisis di Amerika, ini ada video infografis yang menerangkan bagaimana krisis itu bisa terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/Q0zEXdDO5JU/0.jpg" height="360" width="100%"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Q0zEXdDO5JU&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;





   &lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;





   &lt;embed width="100%" height="360"  src="http://www.youtube.com/v/Q0zEXdDO5JU&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://0.gvt0.com/vi/iYhDkZjKBEw/0.jpg" height="360" width="100%"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/iYhDkZjKBEw&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;





   &lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;





   &lt;embed width="100%" height="360"  src="http://www.youtube.com/v/iYhDkZjKBEw&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Krisis itu sedemikian hebatnya sehingga perusahaan keuangan terbesar mereka berjatuhan satu persatu. Industri otomotif goyah. Pemerintah Amerika pun terpaksa mem-bailout perusahaan-perusahaan besar yang bangkrut. Tapi apa mau dikata, perekonomian terlanjur kolaps. Puluhan bahkan ratusan ribu menjadi pengangguran. Warga Amerika mulai resah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang semakin membuat resah adalah, para top eksekutif perusahaan-perusahaan yang bangkrut itu tak tersentuh hukum. Bahwa mereka sudah melakukan praktik dagang yang berisiko tinggi, juga tidak menjadi perhatian penegak hukum. Mereka melenggang dengan bebas, dengan jutaan dollar di kantongnya. Dan seperti kredo di atas, sebagian dari mereka adalah lingkaran dalam kekuasaan itu sendiri. Mereka bisa dengan mudah mendikte kebijakan pemerintah, karenanya upaya mereka yang tadinya ilegal, bisa jadi legal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
Film dokumenter&amp;nbsp;Charles Ferguson,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=FzrBurlJUNk"&gt;Inside Job&lt;/a&gt;, menceritakan kekacauan ini dengan sangat menarik.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kegagalan Kapitalisme di Dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
&lt;b&gt;UPDATE&lt;/b&gt;: Sebuah artikel dari&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.newscientist.com/article/mg21228354.500-revealed--the-capitalist-network-that-runs-the-world.html"&gt;newscientist.com&lt;/a&gt;&amp;nbsp;ini menunjukkan siapa saja yang menguasai bisnis global. &lt;i&gt;Check it out&lt;/i&gt;!&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Kongkalikong yang sama ternyata juga terjadi di mana-mana. Praktek perdagangan yang beresiko tinggi ternyata dipraktekkan di berbagai negara, dan menyebabkan kekacauan yang hampir sama. Eropa saat ini juga mengalami krisis yang cukup menegangkan, hingga kasus London Riot pun dengan mudah meletup di UK. Kesenjangan ekonomi semakin besar di berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan perekonomian ini pun digadang sebagai kegagalan sistem kapitalisme dunia. Dalam sebuah artikel di Forbes, salah satu majalah keuangan terkemuka, muncul sebuah opini tentang kegagalan kapitalisme yang ditulis oleh&amp;nbsp;Nouriel Roubini, berjudul&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.forbes.com/2009/02/18/depression-financial-crisis-capitalism-opinions-columnists_recession_stimulus.html"&gt;Laissez-Faire Capitalism Has Failed&lt;/a&gt;. Krisis kali itu memang hampir mendekati situasi yang terjadi di tahun 30-an yang terkenal dengan istilah &lt;i&gt;Great Depression&lt;/i&gt; di Amerika. Bahkan ada yang menyebut lebih buruk dari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ketika demonstrasi &lt;a href="http://www.thenation.com/article/163719/occupy-wall-street-faq"&gt;#OccupyWallStreet&lt;/a&gt; dimulai di Amerika Serikat, dengan mudah isu ini menyebar kemana-mana. Terinspirasi oleh pendudukan lapangan Tahrir pada saat revolusi Mesir menurunkan pemimpinnya Hosni Mubarak, warga Amerika berbondong-bondong mendatangi Wall Street, simbol kekuatan perekonomian Amerika tempat berkantornya para elit perbankan yang dianggap merampok perekonomian Amerika. Gagasan ini sebelumnya juga dilakukan Michael Moore dalam film dokumenternya &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=JeROnVUADj0"&gt;Capitalism: A Love Story&lt;/a&gt;. Di sana ia mengajukan penahanan sipil terhadap petinggi beberapa lembaga keuangan yang di-&lt;i&gt;bailout&lt;/i&gt; pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
Moreover, in many countries, the banks may be too big to fail but also too big to save, as the fiscal/financial resources of the sovereign may not be large enough to rescue such large insolvencies in the financial system. -&amp;nbsp;Nouriel Roubini, &lt;a href="http://www.forbes.com/2009/02/18/depression-financial-crisis-capitalism-opinions-columnists_recession_stimulus.html"&gt;Forbes&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
Apakah Indonesia juga menganut kapitalisme? Entahlah. Menurut UUD 45 sih tidak begitu, tapi prakteknya kok sulit dibedakan. Koperasi yang katanya menjadi soko guru perekonomian Indonesia, tidak kelihatan batang hidungnya. Ia hanya menjadi pelengkap penderita perekonomian kita. Ketika kasus Century meletup, pemerintah menggelontorkan uang 6,7 Trilyun untuk bank tak jelas bernama Century, semua orang terhenyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya para petinggi bank itu kena hukuman 15 tahun penjara, terutama dua investor asing yang sampai kini entah dimana. Yang tersisa hanya Robert Tantular, yang ternyata punya hubungan dengan orang dalam Bank Indonesia. Ia memiliki piutang hampir 1 M, hanya itu yang kita tahu. DPR menyatakan &lt;a href="http://www.antaranews.com/berita/1267633593/mayoritas-anggota-dpr-memilih"&gt;kebijakan dan implementasi &lt;i&gt;bail out&lt;/i&gt; tersebut bermasalah&lt;/a&gt;, tetapi tindak lanjutnya hingga sekarang masih gelap. Entah data apalagi yang kita tak pernah dengar dari media mainstream.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transparansi tidak terjadi. Aliran uang meski dikatakan tidak melibatkan akun-akun pejabat atau petinggi partai, tidak serta merta meyakinkan kita bahwa mereka tidak ikut terlibat. 6,7 T itu katanya harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia, karena dampak sistemik yang diperdebatkan itu, sifatnya jadi keputusan subyektif. Beruntunglah ekonomi Indonesia tidak benar-benar kolaps setelah &lt;i&gt;bailout&lt;/i&gt; itu dilakukan, seperti yang terjadi di Amerika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tetap saja, kongkalikong penguasa, pengusaha, dan politisi adalah benang kusut yang sulit diurai, tetapi tampak jelas di depan mata. Kasus korupsi hilang, atau kena vonis seringan maling ayam. Bahkan ada koruptor bidikan KPK yang divonis bebas merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Argumen 99% masyarakat yang tersingkir oleh 1% elit penguasa kekayaan di Amerika, mungkin tidak sepenuhnya akurat untuk diterapkan di Indonesia. Tapi argumen itu kini jadi simbol bagi perlawanan terhadap marjinalisasi rakyat pada akses menuju kemakmuran. Ketidakmerataan distribusi kemakmuran, menyebabkan kesenjangan ini terjadi juga di Indonesia. Perlindungan terhadap penjahat keuangan, juga semakin memperburuk citra pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si 1% boleh berargumen, mereka juga masyarakat. Tetapi dalam sistem yang korup, mereka adalah pihak yang diuntungkan karena memiliki akses khusus, bukan sekedar peluang terbuka yang diambil dalam kompetisi yang adil. Dalam persaingan bebas yang adil, peluang seharusnya membuka kesempatan bagi siapa saja, bukan bagi mereka yang memiliki akses khusus tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, transparansi harus segera ditegakkan. Urai benang kusut kongkalikong 3P itu; Pengusaha, Penguasa, dan Politisi. Demi distribusi kemakmuran, yang berkeadilan untuk seluruh rakyat Indonesia!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-1283726589385032159?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G37XOuAIBONwITaz_tz3dPeHn-A/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G37XOuAIBONwITaz_tz3dPeHn-A/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G37XOuAIBONwITaz_tz3dPeHn-A/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G37XOuAIBONwITaz_tz3dPeHn-A/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=qmLJ5pz0Ma4:8MeyKN7lXRI:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/qmLJ5pz0Ma4" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-01T21:32:45.050+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-nRC_KwPorm4/Tp6kAOH6MeI/AAAAAAAAChA/QtjOg9NFT7Y/s72-c/wallstreetposter.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/10/mengapa-occupywallstreet-relevan-di.html</feedburner:origLink></item><item><title>Jangan Datang ke Indonesia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/Il0glYAFYys/jangan-datang-ke-indonesia.html</link><category>Politik</category><category>portugal</category><category>timtim</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Mon, 10 Oct 2011 11:54:10 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-4514156554828868027</guid><description>Ini ada iklan, entah dari mana tapi ada tulisan Portugal 1993 di dalamnya. Katanya, "Don't Spend Your Holidays in Indonesia". Ini mengenai Timor Timur, atau sekarang disebut Timor Leste.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;object height="344" width="425"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/AVJAru_TKNo&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;
&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;
&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/AVJAru_TKNo&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" height="344" width="425"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya, lebih dari 200.000 orang telah mati di Tim-Tim, ulah pemerintah Indonesia, jadi kalau Anda berlibur ke Indonesia, ketika Anda menikmati indahnya Bali, atau Pulau Jawa, ribuan rakyat Tim-Tim sedang meregang nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, ini memang cerita lama. Bahkan Indonesia sudah &lt;a href="http://www.guardian.co.uk/world/2008/jul/15/indonesia.easttimor?gusrc=rss"&gt;mengaku bersalah&lt;/a&gt; atas banyak kasus pelanggaran HAM di sana, jadi mau apa lagi. Persoalannya, itu kan kerjaan rezim lama, Orde Baru. Jadi, kalau memang terbukti, ya sudah, mengaku salah saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iklan pemboikotan seperti ini biasanya dilakukan secara diam-diam, atau melalui cara gerilya. Yang menarik, apakah iklan ini tayang bener di TV Portugal sana? Kalau iya, berarti pemerintah Portugal memang sengaja dan mendukung pernyataan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, ini Tim-Tim, belum Papua...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-4514156554828868027?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TW_aZoWbP1LkdpbA1I8Z3d5jQI0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TW_aZoWbP1LkdpbA1I8Z3d5jQI0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TW_aZoWbP1LkdpbA1I8Z3d5jQI0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TW_aZoWbP1LkdpbA1I8Z3d5jQI0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/prajnas?a=gyqEfNqL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/prajnas?d=281" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/Il0glYAFYys" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-11T01:54:10.983+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2008/09/jangan-datang-ke-indonesia.html</feedburner:origLink></item><item><title>Menalar Logika Fahri Hamzah dkk.</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/7cRkaSQmZ8U/menalar-logika-fahri-hamzah-dkk.html</link><category>PKS</category><category>DPR-RI</category><category>KPK</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Sun, 09 Oct 2011 09:44:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-8312539264034972268</guid><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZiAMVnHJWqY/TpHNUImQt7I/AAAAAAAACf0/cwLmRvrxB5A/s1600/finance-perform.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZiAMVnHJWqY/TpHNUImQt7I/AAAAAAAACf0/cwLmRvrxB5A/s320/finance-perform.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;www.reputationinstitute.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Hari ini masih saja ramai suara-suara penentang KPK. Tapi yang lebih menyedihkan adalah argumen yang diajukannya.&amp;nbsp;Pertama, Fahri Hamzah menyatakan soal lembaga superbody-nya KPK. Lalu muncul petinggi PKS yang menyatakan suara Fahri tidak bertentangan dengan PKS. Dan yang terakhir, muncul staf ahli hukum Annis Matta, Amin Fahrudin yang bikin argumen baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya gara-gara KPK kasus korupsi malah semakin numpuk, bukannya semakin berkurang. Lalu KPK disebut bikin negara tekor, karena dengan biaya operasional pertahunnya sekarang ini, dana yang dikembalikan ke negara tidak lebih banyak. &amp;nbsp;Menurutnya data itu diambil dari ICW. Mungkin data dari &lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2011/09/15/17230677/Anggaran.KPK.Besar.tapi.Hasil.Minim"&gt;Komite Pengawas KPK&lt;/a&gt; yang dimaksud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksut 'lo?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara biaya operasionalnya KPK sendiri berkisar Rp 170 miliar per tahun. Jangan lupa, &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2010/12/14/183729/1524830/10/anggaran-penindakan-2011-dipangkas-kpk-terancam-jadi-lsm"&gt;anggaran penindakan&lt;/a&gt; pada tahun 2011 ini justru dipangkas hampir 7 Milyar,&amp;nbsp;dari Rp 26,3 milyar pada 2010 menjadi Rp 19,2 milyar untuk 2011.&amp;nbsp;Sementara anggaran pencegahan, hanya disebut lebih besar dari penindakan, jadi diasumsikan lebih besar dari 19,2 Milyar. Siapa lagi yang menyunat anggaran kalau bukan DPR?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dibandingkan dengan biaya operasional DPR RI dan hasilnya, maka kita bisa lihat angka yang menarik. Berita dari &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2011/10/09/124313/1739962/10/kinerja-dpr-2011-lebih-buruk-dibanding-2010"&gt;detik.com&lt;/a&gt;, tampak bahwa&amp;nbsp;produktifitas DPR periode 2009-1014 semakin merosot. Belum ada satu pun RUU yang masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2011 yang telah disahkan sebagai UU baru. Dua RUU yang disahkan per Oktober 2011 adalah ajuan pada tahun 2010. Tahun 2012, DPR RI sudah menyetujui anggaran untuk mereka &lt;a href="http://www.dpr.go.id/id/berita/lain-lain/2011/apr/08/2658/dpr-ri-tetapkan-anggaran-dpr-ri-tahun-2012"&gt;sebesar 3,5 Trilyun&lt;/a&gt;!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau menggunakan logika orang-orang PKS itu, entahlah siapa yang sebenarnya bikin tekor negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-8312539264034972268?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yrrZzUy1aeMV6i5vANbFE6wrSio/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yrrZzUy1aeMV6i5vANbFE6wrSio/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yrrZzUy1aeMV6i5vANbFE6wrSio/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yrrZzUy1aeMV6i5vANbFE6wrSio/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=7cRkaSQmZ8U:gVgcuIwwPkU:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/7cRkaSQmZ8U" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-09T23:44:49.130+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ZiAMVnHJWqY/TpHNUImQt7I/AAAAAAAACf0/cwLmRvrxB5A/s72-c/finance-perform.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/10/menalar-logika-fahri-hamzah-dkk.html</feedburner:origLink></item><item><title>Marzuki Alie Nggak Mungkin Serius</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/WJe9kEoqItI/marzuki-alie-nggak-mungkin-serius.html</link><category>sumpah pocong. komite etik kpk</category><category>marzuki alie</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Thu, 06 Oct 2011 11:36:17 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-8115991953876969697</guid><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fXI1WD3aJmo/To30xDHwTFI/AAAAAAAACfY/VRLznXM_BbM/s1600/funny_liberal_media_bias_shirt.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-fXI1WD3aJmo/To30xDHwTFI/AAAAAAAACfY/VRLznXM_BbM/s200/funny_liberal_media_bias_shirt.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #228822; font-family: arial; line-height: 15px;"&gt;zazzle.com&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Ketua DPR RI itu bikin rame lagi. Gara-gara hasil Komite Etik KPK terus jadi polemik, dia bilang kalau hukum nggak ada yang mau percaya, coba pake &lt;i&gt;lie detector&lt;/i&gt; atau sumpah pocong. Sumpah Pocong??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Plis deh ah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menarik perhatian saya, bukan sekedar sumpah pocongnya, tapi kenapa kalimat MA tentang Komite Etik KPK yang merambah soal pidana, tenggelam begitu saja oleh sumpah pocong? Lebay-nya media kayaknya memang udah parah, separah-parahnya. Substansi pernyataan MA jadi kabur, dan tersisa bubuk umbo rampe nya saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bukan pendukung MA. Terkadang dia memang nyebelin. Tapi kali ini pelintiran media bener-bener aneh. Kalau mau diperiksa hasil keputusan Komite Etik KPK itulah yang tampak aneh. Tapi saya juga bukan ahli hukum, jadi ini penalaran biasa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba pake logika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komite Etik, seharusnya hanya membuat pernyataan seputar etika. Tetapi dalam laporan hasil Keputusan Komite Etik KPK itu, pernyatannya eksplisit mengatakan bahwa terperiksa bebas dari indikasi tindakan pidana. Lha, kok jadi hakim yang memutus perkara pidana di pengadilan? Coba lihat kutipan dari &lt;a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/252931-hasil-keputusan-lengkap-komite-etik-kpk"&gt;Vivanews ini&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, Tahoma, Arial, 'Trebuchet MS'; font-size: 12px; line-height: 20px;"&gt;&lt;em style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; font-family: inherit; font-size: 12px; font-style: italic; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444;"&gt;Pertama,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong style="border-bottom-width: 0px; border-color: initial; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-style: initial; border-top-width: 0px; color: #444444; font-family: inherit; font-size: 12px; font-style: inherit; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; outline-color: initial; outline-style: initial; outline-width: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Muhammad Busyro Muqoddas&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444;"&gt;. Putusannya adalah, Komite Etik beranggapan tidak ditemukan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;indikasi pelanggaran pidana maupun pelanggaran kode etik pimpinan&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444;"&gt; yang dilakukan oleh terperiksa. Dengan demikian, terperiksa dinyatakan bebas, tidak bersalah, atas semua hal yang dipersangkakan pada dirinya. Keputusan ini diambil dengan suara bulat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
Semua terperiksa diuraikan dengan penjelasan yang hampir sama, menyinggung persoalan pidana. Bener kata MA, bahwa urusan pidana ya wilayahnya penegak hukum. Pemutusnya ya hasil sidang pengadilan, apakah divonis bebas, atau divonis penjara. Kalau persoalan pelanggaran etika, ya itu jelas wewenang mereka. Judulnya saja Komite Etik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulan dari kalimat MA itu buat saya, sebenarnya justru menyindir Komite Etik yang berani membuat pernyataan tidak adanya pelanggaran pidana (pernyataan hukum), tanpa pengadilan. Kalau Komite tidak percaya pada hukum untuk menentukan siapa salah dan benar, sudah aja pake sumpah pocong. Mungkin... mungkin begitu maksudnya MA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini, dan juga mungkin kali yang lalu, MA pun jadi sasaran tembak. Kalimat Kang Jalaludin Rahmat terus terngiang di kepala saya. "&lt;i&gt;Media (TV) memang paling pintar memilah berita yang sampah dan bukan sampah, dan menayangkan sampahnya saja&lt;/i&gt;." Anda salah, Kang Jalal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata bukan cuma TV yang kelakukannya begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-8115991953876969697?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/v8BmKhnXrK_FPkaOB14gsI_YOZg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/v8BmKhnXrK_FPkaOB14gsI_YOZg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/v8BmKhnXrK_FPkaOB14gsI_YOZg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/v8BmKhnXrK_FPkaOB14gsI_YOZg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=WJe9kEoqItI:7EIRTooveYI:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/WJe9kEoqItI" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-07T01:36:17.552+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-fXI1WD3aJmo/To30xDHwTFI/AAAAAAAACfY/VRLznXM_BbM/s72-c/funny_liberal_media_bias_shirt.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/10/marzuki-alie-nggak-mungkin-serius.html</feedburner:origLink></item><item><title>Demi Tuhan, Mereka Masih Anak-anak!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/peru7C90i0c/demi-tuhan-mereka-masih-anak-anak.html</link><category>kebonwaru</category><category>wartawan</category><category>penjara anak</category><category>Anak SMA 6</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Thu, 01 Dec 2011 19:15:56 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-2877491798114370720</guid><description>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-W_V4urJxC-M/SNtYEluReBI/AAAAAAAAAko/h2PSeWm6JY0/s1600/gelas-api.png" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-W_V4urJxC-M/SNtYEluReBI/AAAAAAAAAko/h2PSeWm6JY0/s200/gelas-api.png" width="163" /&gt;&lt;/a&gt; Sebenarnya masih banyak masalah lain yang lebih penting daripada terus-menerus meributkan kasus 'SMA 6 Jakarta vs Wartawan' ini. Tapi lama-lama kuping dan mata saya gatel juga menyimak berita di media massa dan media sosial yang terus menyudutkan para siswa, seolah mereka-lah yang paling layak diganjar caci maki dan kecaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan soal siapa yang salah, karena di mata saya dua-duanya salah. Kekerasan itu sama sekali bukan jalan keluar, dan yang harus diingat, kekerasan bukan cuma yang bersifat fisik. Kekerasan dalam bentuk psikis juga bentuk kekerasan, bahkan dampaknya mungkin lebih permanen dan fatal. Bahwa telah terjadi kekerasan di antara kedua pihak, maka keduanya tidak patut merasa paling benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ancaman penjara bagi anak-anak yang diduga terlibat, menjadi ganjalan di hati saya. Masuk penjara, bukan cuma hukuman fisik yang mereka akan terima, tapi juga hukuman mental yang luar biasa. Buat saya, memasukkan anak ke penjara yang tak ramah anak sama saja mendidik mereka menjadi preman baru, dengan teknik baru yang lebih mengerikan. Penjara, bukan jawaban bagi anak-anak yang berkonflik dengan hukum. &lt;i&gt;Percayalah&lt;/i&gt;. &lt;a href="http://kebonwaru.wordpress.com/2009/12/21/ini-penjara-bung-bagian-1/"&gt;Ini penjara, bung&lt;/a&gt;!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, demi Tuhan, mereka itu masih anak-anak!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau Anda belum pernah masuh ke rutan, dimana para pesakitan menunggu vonis pengadilan, cobalah berkunjung ke rutan, misalnya di Kebonwaru, Bandung. Di sana tahanan anak dan orang dewasa berada dalam satu lingkungan. Apa yang saya lihat adalah, anak-anak itu menjadi bulan-bulanan para tahanan dewasa. Tak perlu detilnya apa saja yang mereka alami di sana. Pertanyaannya, siapa yang akan bela mereka di dalam sana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali-kali, &lt;a href="http://kebonwaru.wordpress.com/2009/12/04/mengeksplorasi-kelebihan-anak/"&gt;bermainlah dengan mereka&lt;/a&gt;. Tanya apa perasaan anak-anak yang harus masuk ke rutan. Dengarkan baik-baik keluhannya. Lalu cobalah berempati pada situasi yang dihadapinya.&amp;nbsp;Sebutlah satu kasus, dimana seorang anak menusuk polisi. Orang boleh bilang anak itu biadab, anak setan, kriminil, atau apalah. Tapi siapa yang mau peduli bahwa ia melakukan itu karena berkali-kali ayahnya diperlakukan tidak layak oleh si oknum polisi? Kalau Anda berharap anak itu berpikir jernih layaknya orang dewasa, yang ia lakukan adalah melapor ke polisi. Lalu apa yang akan ia dapat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayahnya bukan pejabat, atau preman yang dicekoki duit aparat. Ia bukan anak sekolahan yang pulang pergi ke sekolah disupiri mobil pribadi. Bermimpi pun tidak mungkin untuk bisa belajar di sekolah yang jalan di sekitarnya habis buat parkiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak bilang anak-anak yang berkonflik dengan hukum itu tidak boleh dihukum. Kesalahan harus dibayar. Tetapi caranya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau berurusan dengan anak. Anak itu lebih banyak berbuat karena emosinya daripada akalnya. Beda dengan yang sudah&amp;nbsp;&lt;i&gt;bangkotan&lt;/i&gt;, seperti koruptor yang melakukan kejahatan dengan penuh kesadaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi anak atau remaja, pertemanan adalah nomor satu. Ia hidup karena kebanggaan yang dibangunnya dalam komunitas. Gengsi mereka nomor satu.&amp;nbsp;Pilihan untuk bisa eksis buat mereka adalah menunjukkan apa yang dihormati di komunitas itu.&amp;nbsp;Tapi tak semua punya uang untuk dipamerkan, petantang-petenteng bawa gadget sebagai simbol kelas sosial, atau &lt;i&gt;gerang-gerung&lt;/i&gt; mesin motor - mobil sambil boncengan bersama pasangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sialnya, komunitas seperti geng motor atau sejenisnya adalah tempat yang ideal untuk mendapatkan pengakuan. Di tempat seperti itulah mereka bisa diterima. Di sana tidak ada yang nanya, "BB-mu model apa? Sudah pernah pake aplikasi ini itu belum?" Mereka lebih peduli dengan berapa kali dikejar polisi di jalan tapi lolos, atau berapa banyak hasil jarahan di jalan yang bisa diuangkan untuk modal mabok bareng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang Anda bisa tebak, apa yang mereka banggakan kalau keluar dari penjara?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kasus ketika anak di penjara, orang tuanya tak sudi datang menjenguk. Maka keluar dari penjara, mereka tak tahu harus kemana. Menggelandang adalah jalan keluar. Tak usah menunggu bertahun-tahun, dalam hitungan bulan ia akan muncul lagi di rutan, dengan kasus yang lebih serius. Di Indonesia ini, anak masuk penjara itu &lt;i&gt;seperti jalan satu arah&lt;/i&gt;. Sekali masuk, keluar itu hanya sementara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendekati orang tua pernah dilakukan teman-teman ketika mendampingi anak di rutan. Pada sesi tertentu, kami minta ia membuat surat untuk orang tuanya atau sekedar surat curahan hati mereka. Lalu ada teman yang akan menyampaikan surat-surat itu kepada orang tua mereka. Tidak sedikit yang menolak membaca, tapi tak sedikit pula yang bercucuran air mata membaca surat lugu anak-anak itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... *mbrebes mili*...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam satu diskusi kecil bersama teman ketika memperhatikan perkembangan kasus Anak SMA 6 vs Wartawan ini, kami membayangkan seharusnya sekolah-sekolah lain mulai peka. Ajaklah anak-anak itu mengenal profesi kewartawanan. Pertemukan mereka lebih sering, dalam kegiatan yang positif. Kenalkanlah mereka dengan etika jurnalisme, peran jurnalisme dan media, dan cerita-cerita di lapangan tentang perjuangan wartawan mengungkap kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan yang bijak, sebaiknya juga aktif mengenalkan diri kepada anak-anak muda itu. Datanglah ke sekolah-sekolah, berkegiatanlah dengan mereka. Sibukkan anak-anak muda itu dengan kebanggaan yang lain daripada setiap hari nongkrong tak jelas juntrungannya. Waktu luang mereka yang tak terisi dengan jelas, biasanya adalah awal dari penyimpangan perilakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Bullying&lt;/i&gt; yang mereka terima dalam bentuk sindiran, kata-kata yang menyudutkan, merendahkan, adalah hukuman yang menyakitkan. Jangankan dengan kata-kata, saling pelotot saja bisa bikin darah mendidih. Kalau energi sumbu pendek begini tidak tersalurkan di tempat yang tepat, ia bisa meledak dimana-mana, tak terkendali. Kalau orang dewasa masih berperilaku seperti ini, maka kedewasaannya patut ditinjau kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi anak-anak remaja itu berat, kita semua pernah mengalaminya bukan? Syukurlah kalau Anda bisa melewatinya dengan nyaman. Sayang, tidak semua bisa merasakan hal serupa. Tuntutan orang dewasa agar mereka 'cepat dewasa', sementara dunia anak-anak sudah tak mau menerima mereka, adalah jurang besar yang harus dilalui setiap remaja.&amp;nbsp;Bagi sebagian besar anak-anak kita yang marjinal, jurang itu tidak menyediakan jalan tol. Kalapun ada jalan tol, mereka tak sanggup membeli mobil yang boleh lewat di sana. Mereka akan terus jadi marjinal, atau nekat mencari jalan berputar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, jangan sembarangan mendorong anak ke ranah pidana. Kalau masih memungkinkan jalan lain, tempuhlah jalan itu. Ada yang namanya&lt;i&gt; &lt;a href="http://kebonwaru.wordpress.com/2009/12/27/restorative-justice-bagi-anak-yang-berkonflik-dengan-hukum-akh/"&gt;restorative justice&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi masa depan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-2877491798114370720?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lMdVhtVnCQhitxzlzX9SUjsQSiA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lMdVhtVnCQhitxzlzX9SUjsQSiA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lMdVhtVnCQhitxzlzX9SUjsQSiA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lMdVhtVnCQhitxzlzX9SUjsQSiA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=peru7C90i0c:IKw0WUQ7uUo:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/peru7C90i0c" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-02T10:15:56.162+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-W_V4urJxC-M/SNtYEluReBI/AAAAAAAAAko/h2PSeWm6JY0/s72-c/gelas-api.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/09/demi-tuhan-mereka-masih-anak-anak.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Patung itu...</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/7xdZMT7f5iA/tentang-patung-itu.html</link><category>Purwakarta</category><category>Twitter</category><category>Patung Wayang</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Sun, 18 Sep 2011 10:57:18 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-4606938564995856554</guid><description>Patung perwayangan bernilai ratusan juta rupiah di Purwakarta jadi sasaran amuk massa. Sasaran pertama mereka patung &lt;b&gt;Gatot Kaca&lt;/b&gt; di Parapatan Comro. Aksi kemudian dilanjutkan ke Pertigaan Bunder dan Jalan Baru. Dua patung, masing-masing &lt;b&gt;Semar&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Bima&lt;/b&gt; pun juga ikut roboh. Nyaris saja terjadi bentrokan massa dengan aparat setelah aksi penghancuran &lt;b&gt;Patung Arjuna&lt;/b&gt; di Pertigaan Jalan BTN setelah digagalkan polisi. Ada apa rupanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script src="http://storify.com/prajnamu/patuung-wayang-itu.js?template=slideshow"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;noscript&gt;&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;lt;a href="http://storify.com/prajnamu/patuung-wayang-itu" target="_blank"&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;gt;View "Patung Wayang itu..." on Storify&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;lt;/a&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;gt;&lt;/noscript&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-4606938564995856554?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Og19Sxr27DfpWvDAh3NL5JIdeGU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Og19Sxr27DfpWvDAh3NL5JIdeGU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Og19Sxr27DfpWvDAh3NL5JIdeGU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Og19Sxr27DfpWvDAh3NL5JIdeGU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=7xdZMT7f5iA:uLTwetuTOAw:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/7xdZMT7f5iA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-19T00:57:18.267+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/09/tentang-patung-itu.html</feedburner:origLink></item><item><title>Hari Literasi Internasional: Bagaimana Mengajarkan Orang Dewasa Membaca</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/1pb0msntpUw/hari-literasi-internasional-bagaimana.html</link><category>Pendidikan Orang Dewasa</category><category>Buta Aksara</category><category>Pendidikan</category><category>Jane Vella</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Thu, 08 Sep 2011 06:07:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-8143562540169335676</guid><description>&lt;blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
September 8 was proclaimed International Literacy Day by UNESCO on November 17, 1965. It was first celebrated in 1966. Its aim is to highlight the importance of literacy to individuals, communities and societies. On International Literacy Day each year, UNESCO reminds the international community of the status of literacy and adult learning globally. Celebrations take place around the world. Some 774 million adults lack minimum literacy skills; one in five adults is still not literate and two-thirds of them are women; 72.1 million children are out-of-school and many more attend irregularly or drop out.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- &lt;a href="http://www.unesco.org/new/en/education/themes/education-building-blocks/literacy/"&gt;UNESCO&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Literasi, dalam program pemerintah seringkali diterjemahkan lurus menjadi program Calistung, Baca-Tulis-Hitung. Paling tidak itulah program awal yang berkaitan dengan literasi, karena memang yang menjadi target adalah angka melek-huruf rakyat Indonesia. Standar minimum melek huruf di Indonesia memang bisa membaca, baik itu huruf latin, dan/atau huruf Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan informasi di web tempointeraktif.com, pada semester pertama 2006, jumlah buta aksara mencapai 8,36 persen atau 3.182.492 orang. Pemerintah menargetkan buta aksara usia 15 tahun ke atas, turun menjadi 5 persen pada 2009. Masih banyak lagi berita tentang buta huruf, atau buta aksara yang terdokumentasi di tempointeraktif, periksa saja &lt;a href="http://www.tempo.co/hg/topik/masalah/1474/"&gt;tautan ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-k8a86zdtyGE/Tmi95YQQPVI/AAAAAAAACSQ/RKwr34MOGb4/s1600/mediaLiteracy.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-k8a86zdtyGE/Tmi95YQQPVI/AAAAAAAACSQ/RKwr34MOGb4/s1600/mediaLiteracy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Belakangan, dari situs &lt;a href="http://www.paudni.kemdiknas.go.id/dikmas/index.php/component/content/article/93-artikel/689-integrasi-pemberantasan-buta-huruf.html"&gt;Dikmas Kemendiknas&lt;/a&gt;, ada kutipan dari media bahwa angka buta aksara kita, kata Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh, mencapai 4,8 persen dari jumlah penduduk. Itu setara dengan 8,5 juta jiwa. 60 persen dari 8,5 juta jiwa tersebut adalah kaum perempuan. Biasanya kemampuan membaca tidak benar-benar nihil, tetapi hilang karena setelah lulus kelas 3-4 SD, kegiatan membaca hilang dari kegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang mungkin sering dilupakan dalam kaitannya dengan kemampuan membaca, adalah kemampuan menulis. Seringkali fokus utama melatih anak membaca, adalah memaksakan bahan bacaan. Banyak yang lupa, bahwa sekedar bacaan, tanpa ada tindak lanjutnya, akan membuat anak bosan. Membaca seharusnya menjadi aktifitas yang berkelanjutan, karena ada kepentingan dibaliknya. Kecuali kita bicara tentang orang-orang yang memang gemar membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melatih ketertarikan untuk membaca, bisa dimulai dengan aktifitas menulis. Apalagi sekarang media untuk menulis tersedia dimana-mana secara gratis. Koran-koran rajin mengajak anak sekolah mengadakan kegiatan menulis, apalagi di internet, menulis bisa dilakukan lewat blog, atau layanan semacamnya.&amp;nbsp;Dengan menulis, anak bisa didorong untuk membaca. Ketika &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;, anak bisa diminta mencari informasi sebagai bahan &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;, baik itu dari koran, majalah, buku, atau di internet sendiri. Hal ini bisa berlaku juga bagi orang dewasa yang sulit membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Membiasakan Membaca Bagi Orang Dewasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angka buta aksara banyak disumbangkan oleh kalangan orang dewasa. Karena itu ada upaya Kejar Paket A, pendidikan non-formal yang ditujukan untuk orang dewasa yang belum bisa membaca. Tapi Paket A ini sekarang sering digunakan untuk penyetaraan, sehingga kurikulumnya malah terjebak dalam kesetaraan dengan pendidikan formal yang notabene untuk anak usia sekolah. Lalu harus bagaimana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di suatu desa di Tasikmalaya, pernah ada sekelompok ibu-ibu yang ketika berkegiatan untuk isu kesehatan anak, tidak mampu membaca KMS (Kartu Menuju Sehat). Sebagian lagi bahkan tidak bisa membaca rapot sekolahan anaknya. Bagaimana ia akan mengontrol kesehatan dan pendidikan anaknya, jika membaca saja sulit? Apa yang bisa dilakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu-ibu itu kemudian diminta membuat jurnal. Kecil saja, mulai dari membuat daftar belanja, menuliskan catatan kesehatan si anak (kapan sakit, apa yang terjadi, dst.). Setip minggu, ketika kumpul dengan pendampingnya, catatan ibu-ibu tersebut diperiksa bersama-sama. Mereka boleh cerita, kesulitannya apa, senangnya apa, lalu bersama-sama dibahas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara itu di awal kegiatan memang sulit, tetapi lama-lama ketika sudah mulai terbiasa, mereka bisa membangun kebiasaan membacanya sendiri. Jangan harapkan ia langsung doyan baca koran setiap hari. Kebiasaan seperti itu tidak mungkin dibangun dalam hitungan bulan, dan juga tidak dalam kondisi lingkungan yang serba terbatas akses informasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang perlu diperhatikan dalam membantu mereka menulis, adalah membuat kegiatan rutin yang 'memaksa' mereka membuat tulisan. Sependek apapun tulisan itu. Tahap demi setahap, tugasnya mulai dibuat kompleks, hingga suatu saat mereka bahkan tidak sadar, sudah mampu membuat surat beberapa paragraf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengumpulkan mereka dalam satu kelas, lalu diajari menulis dan membaca layaknya anak SD, bukan pendekatan yang tepat. Mereka adalah orang dewasa, yang ketika melakukan sesuatu butuh pembenaran. Mereka hanya akan melakukan sesuatu yang memberi mereka benefit, kalau perlu profit dalam jangka pendek. Hal ini alamiah, dan wajar saja dalam pemikiran orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, kejar paket A, yang biasanya diperuntukkan orang dewasa, jangan menggunakan kurikulum sekolah formal. &amp;nbsp;Sekolah formal memiliki tujuan pendidikan yang berbeda dengan pendidikan untuk orang dewasa. &lt;b&gt;Jane Vella&lt;/b&gt;, salah seorang tokoh pendidikan orang dewasa dengan pendekatan &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.globalearning.com/dialogue-education.htm"&gt;dialogue education&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, bahkan sangat ekstrim menerjemahkan kebutuhan ini. Buat dia, pendidikan orang dewasa harus menyelesaikan masalah mereka, pada saat itu juga. Tidak ada istilah berjenjang untuk pendidikan bagi orang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini 8 September 2011. Entah masih ada atau tidak yang merayakan Hari Literasi Internasional ini dengan merefleksikan lagi, bagaimana metode pembelajaran kita pada orang dewasa agar mereka tidak lagi buta aksara. Apalagi sekarang &lt;a href="http://medialiterasi.co.cc/kajian/literasi-baru/literasi-setengah-hati.html/"&gt;literasi sudah berkembang&lt;/a&gt; karena adanya teknologi informasi dan komunikasi baru. Semoga masih ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-8143562540169335676?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u8b-Z6-yrBlRqpgtCLz1WgM_NA4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u8b-Z6-yrBlRqpgtCLz1WgM_NA4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u8b-Z6-yrBlRqpgtCLz1WgM_NA4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u8b-Z6-yrBlRqpgtCLz1WgM_NA4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=1pb0msntpUw:-vcwFW8VcIw:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/1pb0msntpUw" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-08T20:07:04.587+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-k8a86zdtyGE/Tmi95YQQPVI/AAAAAAAACSQ/RKwr34MOGb4/s72-c/mediaLiteracy.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/09/hari-literasi-internasional-bagaimana.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sulitnya Menentukan Bulan Baru</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/F00qzsXeKro/sulitnya-menentukan-bulan-baru.html</link><category>Idul Fitri</category><category>Ramadhan</category><category>Rukyah</category><category>Hisab</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Wed, 19 Oct 2011 17:00:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-381544953940359533</guid><description>&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-f13c2TmsX9E/Ti11jQab7VI/AAAAAAAAB8k/rr2JpVH8heg/s1600/Nino_satria-small.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-f13c2TmsX9E/Ti11jQab7VI/AAAAAAAAB8k/rr2JpVH8heg/s200/Nino_satria-small.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kisruh seputar penentuan bulan baru, 1 Syawal 1432 Hijriyah menjadi berita besar belakangan ini. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah"&gt;Tahun Hijriyah&lt;/a&gt;, atau Kalender Islam yang digunakan umat muslim, tidak sama dengan tahun Masehi yang digunakan pada umumnya.&amp;nbsp;Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, sedangkan kalender biasa (kalender Masehi) menggunakan peredaran matahari.&amp;nbsp;Tahun kalender Hijriyah,&amp;nbsp;dinamakan demikian karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari beragam pendapat, saya yang awam soal astronomi cuma bisa mencoba mencari informasi yang selengkapnya di berbagai sumber. Intinya yang ingin saya tahu adalah, kapan sebenarnya bulan baru itu muncul. Yang perlu diingat, jam kita menghitung tanggal baru setelah melewati pukul 12.00 tengah malam, sedangkan kalender Hijriyah akan menandai hari baru ketika hari itu bulan sudah mulai muncul. Berikut ini adalah&amp;nbsp;temuan-temuan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari situs&amp;nbsp;&lt;a href="http://timeanddate.com/"&gt;timeanddate.com&lt;/a&gt;, inilah fase perpindahan bulan dalam bulan Agustus. Karena saya berdomisili di Bandung, saya coba gunakan lokasi Kota Bandung sebagai acuan. Menurut perhitungan situs ini, kemunculan bulan baru terjadi pada tanggal 30 Agustus 2011, pukul 06.28 WIB. Artinya pada saat itu, bulan telah berganti meski bulan hanya tampak sebesar 2%, yang artinya sulit dilihat oleh mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-FWb7p4O3rSg/TlzyxFkakNI/AAAAAAAACLA/lQGKqVw5RZo/s1600/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.24.27+PM.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" id=":current_picnik_image" src="http://3.bp.blogspot.com/-FWb7p4O3rSg/TlzyxFkakNI/AAAAAAAACLA/lQGKqVw5RZo/s1600/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.24.27+PM.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Sedangkan pula dari situs &lt;a href="http://www.moon-phases.net/calendar/index.php"&gt;moon-phases.net&lt;/a&gt;&amp;nbsp;pada tanggal 31 Agustus 2011 baru dihitung sebagai bulan baru. Sayangnya tidak dijelaskan pada pukul berapa bulan baru tersebut muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-g1cGzvoU16g/Tlz3UeEP6PI/AAAAAAAACLM/tO5FWI9yQjY/s1600/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.40.42+PM.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" id=":current_picnik_image" src="http://1.bp.blogspot.com/-g1cGzvoU16g/Tlz3UeEP6PI/AAAAAAAACLM/tO5FWI9yQjY/s1600/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.40.42+PM.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
Dari situs yang lain,&amp;nbsp;&lt;a href="http://aa.usno.navy.mil/cgi-bin/aa_moonphases.pl?year=2011&amp;amp;ZZZ=END"&gt;aa.usno.navy.mil&lt;/a&gt;&amp;nbsp;perhitungan mereka menentukan bulan baru sudah terjadi pada tanggal 29 Agustus 2011, pukul 03.04 waktu UTC, atau 10.04 WIB.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oRKdsSU5DWc/Tlzy4s_XHLI/AAAAAAAACLE/2_ytP-36ZQM/s1600/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.25.18+PM.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" id=":current_picnik_image" src="http://3.bp.blogspot.com/-oRKdsSU5DWc/Tlzy4s_XHLI/AAAAAAAACLE/2_ytP-36ZQM/s1600/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.25.18+PM.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sama dengan hasil perhitungan dari&amp;nbsp;&lt;a href="http://aa.usno.navy.mil/cgi-bin/aa_moonphases.pl?year=2011&amp;amp;ZZZ=END"&gt;aa.usno.navy.mil&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;situs &lt;a href="http://eclipse.gsfc.nasa.gov/phase/phase2001gmt.html"&gt;NASA&lt;/a&gt;&amp;nbsp;juga menghitung&amp;nbsp;bulan baru muncul sejak tangggal 29 Agustus 2011 pukul 03.04 waktu UTC, atau jika dikonversi pada jam Indonesia, kira-kira pukul 10.04 WIB pagi. Dengan perubahan tanggal Hijriyah yang dihitung paska tenggelamnya matahari, atau ba'da Magrib, maka pada tanggal 29 Agustus selepas Maghrib, bulan baru sudah masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-How6vUQIt7U/Tl0AHFma_VI/AAAAAAAACLQ/V5RaK7BqAQs/s1600/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.58.43+PM.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="276" id=":current_picnik_image" src="http://3.bp.blogspot.com/-How6vUQIt7U/Tl0AHFma_VI/AAAAAAAACLQ/V5RaK7BqAQs/s640/Screen+Shot+2011-08-30+at+9.58.43+PM.png" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah data yang digunakan oleh&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.muhammadiyah.or.id/news-392-detail-penjelasan-majelis-tarjih-dan-tajdid-pp-muhammadiyah-soal-penetapan-idul-fitri-besok.html"&gt;Muhammadiyah&lt;/a&gt;, yang menggunakan teknik Hisab dalam menentukan kalender Hijriyah.&amp;nbsp;Berbeda dengan teknik Rukyah yang membutuhkan pengamatan Hilal secara langsung, metode Hisab tidak perlu menunggu Hilal terlihat oleh mata. Pada tanggal 29 Agustus 2011 itu, memang Hilal tidak akan terlihat oleh mata karena penampakannya sangat tipis. Karena itu pula, muncul perbedaan pandangan akan datangnya 1 Syawal 1432. Mana teknik yang paling benar, tentu sulit diputuskan oleh orang awam macam saya, dan artikel ini memang tidak bertujuan demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi-lagi, terlepas dari kontroversi ini, menurut saya baik metode Hisab atau Rukyah tidak perlu dipertentangkan secara ekstrim. Dengan melihat data di atas, baik Rukyah maupun Hisab sebenarnya menggunakan data yang sama. Jadi, apakah sesulit itu menentukan bulan baru? Secara teknis seharusnya tidak sulit. Persoalannya adalah, ini tentang keyakinan, bukan hitungan semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda percaya bahwa &lt;b&gt;hanya dengan pandangan mata&lt;/b&gt; kita bisa memastikan datangnya bulan baru, artinya Anda percaya pada Rukyah. Jika Anda percaya dengan &lt;b&gt;perhitungan secara matematis&lt;/b&gt; yang akurasinya [sangat] detil tetapi tidak bisa dibuktikan dengan mata biasa, artinya Anda percaya dengan metode Hisab. Keduanya bisa dipastikan perbedaannya tidak akan lebih dari satu hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
Perbedaan satu hari itu tetap sah, karena Nabi Muhammad SAW dalam berbagai hadis, diriwayatkan memang terkadang berpuasa selama 29 hari, atau 30 hari. Dari situs pernyataan Muhammadiyah tersebut, disebutkan bahwa hasil penyelidikan Ibnu Hajar menemukan, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;
Selamat Idul Fitri, mari bersama-sama rayakan kemenangan ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-381544953940359533?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uaZpDfqtx0J15Ti7TqAE9N7puoc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uaZpDfqtx0J15Ti7TqAE9N7puoc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uaZpDfqtx0J15Ti7TqAE9N7puoc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uaZpDfqtx0J15Ti7TqAE9N7puoc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=F00qzsXeKro:52vN8IE89d4:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/F00qzsXeKro" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-20T07:00:01.433+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-f13c2TmsX9E/Ti11jQab7VI/AAAAAAAAB8k/rr2JpVH8heg/s72-c/Nino_satria-small.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/08/sulitnya-menentukan-bulan-baru.html</feedburner:origLink></item><item><title>Dua Nyawa Melayang Karena Menuntut Janji</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/Jw6dnr-K8G0/dua-nyawa-melayang-karena-menuntut.html</link><category>Medco</category><category>Kekerasan</category><category>JARI</category><category>Morowali</category><category>Sulawesi Tengah</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Thu, 25 Aug 2011 21:11:46 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-5649102673915020870</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4mU9BVvNG7c/SmFHl3KKNOI/AAAAAAAABMk/9MOS5yjNwfw/s1600/ebh-8.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-4mU9BVvNG7c/SmFHl3KKNOI/AAAAAAAABMk/9MOS5yjNwfw/s320/ebh-8.jpg" width="226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pantau beritanya dari &lt;a href="http://news.google.co.id/news/story?pz=1&amp;amp;jfkl=true&amp;amp;cf=all&amp;amp;ned=us&amp;amp;hl=id&amp;amp;q=JOB+Pertamina-Medco+E%26P+Tomori&amp;amp;ncl=dbfo1W0j09ynnfMRRuGu4boGilfYM&amp;amp;cf=all&amp;amp;start=30"&gt;Google News&lt;/a&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua orang &lt;a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/242716-dua-orang-tewas-dalam-bentrok-di-luwuk"&gt;dilaporkan&lt;/a&gt; tewas, sementara enam orang lainnya menderita luka tembak ketika berunjukrasa di lokasi kilang &amp;nbsp;minyak di Pulau Tiaka, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kilang itu dioperasikan oleh &lt;i&gt;Joint Operating Body&lt;/i&gt; (JOB) Pertamina-Medco E&amp;amp;P Tomori. Menurut Kapolres Morowali, AKBP Suhirman, anggotanya terpaksa menembak dua warga dalam aksi demonstrasi tanggal 22 Agustus yang berakhir rusuh karena mereka dinilai membahayakan aparat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warga melakukan unjuk rasa, karena&amp;nbsp;&lt;b&gt;JOB Pertamina –Medco E&amp;amp;P Tomori&lt;/b&gt; tidak memberikan hak-hak masyarakat setempat sejak tahun 2007. Perusahaan tersebut sebelumnya telah menjanjikan pemberian mesin-mesin kerja kepada masyarakat setempat, bantuan beasiswa, &lt;i&gt;community development&lt;/i&gt; serta pembangunan Desa Mamosalato. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana berita yang beredar di media massa? Dari penelusuran di internet, Saya temukan dua versi pemberitaan yang agak berbeda. Satu versi dari pihak aparat, dan versi lain dari LSM&amp;nbsp;Jaringan Advokasi Rakyat Indonesia (JARI) yang disampaikan dalam &lt;a href="http://www.jurnas.com/news/38171/Penembakan_Warga_di_Tiaka_Versi_JARI/1/Nasional"&gt;konferensi pers&lt;/a&gt; pada tanggal 24 Agustus yang lalu. Mari kita lihat ringkasan dari kedua versi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;UPDATE&lt;/b&gt;: &lt;a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/243091-warga-morowali--tak-ada-warga-sandera-polisi"&gt;Warga Membantah telah Menyandera Polisi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Versi Aparat Keamanan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sabtu, 20 Agustus 2011.&lt;/i&gt; Aksi demonstrasi warga itu mulai terjadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Minggu, 21 Agustus 2011&lt;/i&gt;. Terjadi bentrok antara aparat Polres Luwuk dengan massa. Saat itu ada sekitar 50 masyarakat yang membawa senjata tajam dan bom molotov ke daerah pengeboran minyak. Kelompok massa itu langsung merusak enam sumur.&amp;nbsp;Selesai melakukan pengerusakan dua karyawan Medco disandera oleh massa.&amp;nbsp;Setelah kejadian itu, sekitar 80 anggora polisi dan Brimob mendatangi lokasi untuk menjaga keamanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Senin, 22 Agustus 2011.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Dua orang karyawan Medco yang disandera oleh massa berhasil kabur dan diselamatkan oleh polisi. Masyarakat kemudian kembali ke lokasi menggunakan beberapa perahu. Polisi berusaha melakukan negosiasi dengan masyarakat mengenai duduk persoalannya, tapi tampaknya tidak berhasil.&amp;nbsp;Satu sumur dibom molotov.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat dituding justru menyerang polisi yang melakukan penjagaan. Tiga polisi reguler dan satu anggota Brimob disandera dengan cara dibawa kabur menggunakan perahu. Massa juga mengambil alih senjata polisi. Baku tembak pun terjadi antara massa dengan polisi. Mereka pergi tapi bahan bakar habis di tengah jalan, dan malah minta ke polisi. Pada saat tembak menembak inilah, diklaim pihak keamanan jatuh dua korban tewas dari pihak masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Versi JARI (Jaringan Advokasi Rakyat Indonesia)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sabtu, 20 Agustus 2011&lt;/i&gt;. 20 orang masyarakat dari Desa Kolobawah Kecamatan Mamasalo, Kabupaten Morowali bersama dengan empat orang mahasiswa berangkat menuju lokasi unjuk rasa menggunakan perahu. Mereka hanya melakukan aksi selama 5 menit, sekitar pukul 07.50 WITA. Tiba-tiba 30 aparat gabungan polisi, TNI dan Security Pertamina-Medco mengepung peserta aksi. Meski demikian, aksi jalan terus. Masyarakat meminta bertemu dengan pimpinan perusahaan, tetapi tidak bisa terpenuhi. Akhirnya masyarakat diminta pulang untuk mengatur jadwal pertemuan kembali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat meminta jaminan agar pertemuan berikutnya bisa terjadi, sempat terjadi aksi dorong-mendorong hingga akhirnya diberikan jaminan sebuah speed boat.&amp;nbsp;Sekitar pukul 09.15 WITA, rombongan pulang dengan membawa speed boat tersebut.&amp;nbsp;Setelah berada sekitar 100 meter dari lokasi, tiba-tiba terdengar sekitar delapan kali suara tembakan ke arah perahu dan speed boat. Seketika itu pula mereka panik sekaligus marah atas tembakan-tembakan yang diarahkan pada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Minggu, 21 Agustus 2011&lt;/i&gt;. Masyarakat pun memberikan peringatan terhitung 1x24 jam agar pihak perusahaan meminta maaf atas insiden penembakan. Namun permintaan itu tidak ditanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Senin, 22 Agustus 2011&lt;/i&gt;. Sekitar 100 orang dengan 5 perahu berangkat ke lokasi anjungan Medco Tamari-Pertamina.&amp;nbsp;Saat aksi berlangsung sempat terjadi kericuhan lantaran dalam hitungan menit rombongan massa sudah dikepung oleh aparat gabungan. Beberapa fasilitas perusahaan terkena lemparan batu dan kayu dalam situasi &lt;i&gt;chaos&lt;/i&gt; yang berlangsung sekitar 15-20 menit. Setelah situasi &amp;nbsp;mereda, masyarakat kemudian memutuskan pulang. Terinventarisir ada lima orang masyarakat yang luka karena bentrokan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah lima perahu rombongan masyarakat berjarak 750 meter dari lokasi, tiba-tiba perahu masyarakat dikejar oleh &lt;i&gt;speed boat&lt;/i&gt; berisikan 15 orang aparat bersenjata lengkap, yang menembaki masyarakat di dalam perahu. Suasana menjadi kacau, apalagi ketika disadari ada seorang mahasiswa yang luka tertembak di dada. Masing-masing perahu coba menyelamatkan diri dan menjauh dari speed boat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya di Luwuk, masyarakat menyadari masih ada satu perahu yang tidak terlihat. Masyarakat akhirnya menemukan perahu yang hilang terombang-ambing di tengah laut. Keempat perahu kemudian mendekat ke perahu yang hilang, dan menemukan dua orang sudah dalam keadaan tidak bernyawa, lima luka-luka, dan dua lagi dalam keadaan shock ketakutan di sudut perahu. Perahu tersebut ternyata kehabisan bahan bakar dan diserang oleh aparat yang menggunakan &lt;i&gt;speed boat&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang Kasus&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Koordinator lapangan aksi demontrasi ke kilang minyak Medco,&amp;nbsp;Andi M Sondeng yang juga menjadi tersangka utama&amp;nbsp;dalam kasus kerusuhan ini, menuliskan melalui blog &lt;a href="http://morowalifuture.blogspot.com/"&gt;morowalifuture.blogspot.com&lt;/a&gt;&amp;nbsp;betapa masyarakat Mamosalato tidak memperoleh keuntungan apapun dari pengoperasian kilang minyak tersebut. Yang diuntungkan, menurutnya, hanyalah oknum-oknum pejabat di Pemda Morowali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;“Kekayaan alam yang begitu melimpah di Morowali, seharusnya menjadikan masyarakat di daerah ini sejahtera. Mengapa tidak, kekayaan alam yang terkandung di bumi Morowali setidaknya terdapat 10 jenis sumber galian tambang. Tidak hanya daratan, perairan Morowali juga memiliki sumber daya mineral berupa minyak bumi dan gas alam. Akan tetapi kondisi tersebut tidak memberikan manfaat yang berarti buat daerah, khususnya bagi masyarakat Morowali.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sebut saja, pertambangan minyak bumi yang ada di wilayah Mamosalato dan BungkuUtara dikenal dengan ladang Minyak Tiaka Blok Trili. Hingga pengoperasiannya oleh Job Pertamina Medco sejak 2001 hingga 2011, keberadaan ladang minyak di wilayah ini belum memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat di dua wilayah ini.&amp;nbsp;Ironisnya sumber pencaharian nelayan tradisional yang berpuluh-puluhtahun sebagai sumber penghidupan masyarakat menjadi tidak dapat di akses,”&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;Tuntutan utama yang ingin mereka ajukan adalah kepastian hukum terhadap hak-hak masyarakat yang diklaim telah dirugikan oleh kehadiran pengoperasian tambang ini. Perlu ada kepastian hukum yang memaksa pihak perusahaan untuk menepati janjinya kepada masyarakat sekitar, dan pemberian sanksi jika mereka ngemplang. Saat ini, menurut tulisan Andi, tidak ada aturan hukum yang jelas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;Ingat, kata kunci dari penyelesaian masalah Blok Minyak di TIAKA adalah mengenaiKepastian Hukum atas kewajiban Perusahaan Pertambangan yang mengoperasikan Blok TIAKA tersebut. Hal itu dapat ditempuh dengan penetapan PERDA. Jika tidak, maka tidak akan ada dasar hukum, bagi upaya paksa dari Pemerintah Daerah terlebih lagi oleh Masyarakat untuk menuntut Perusahaan Tambang Minyak TIAKA memenuhi segala kewajibannya kepada masyarakat.&lt;/blockquote&gt;Dia menuliskan, hingga kepemimpinan Anwar Hafid, dana &lt;i&gt;community development&lt;/i&gt; sudah defisit,&amp;nbsp;bahkan pembagian hasil untuk daerah beberapa tahun tidak diterima oleh Pemda. Hal ini tentu saja sangat membingungkan bagi pemerintah daerah Morowali. Polda Sulteng pun &lt;a href="http://www.harianmercusuar.com/?vwdtl=ya&amp;amp;pid=15371&amp;amp;kid=all"&gt;membenarkan&lt;/a&gt; bahwa pemicu terjadinya aksi tersebut lantaran JOB Pertamina-Medco tidak memberikan apa yang menjadi hak masyarakat setempat. “Adalah janji-janjinya (Medco) yang tidak ditepati,” kata Kapolda Brigjen Pol Dewa Parsana. Menyikapi kejadian ini, pemilik perusahaan belum mau memberikan komentar. Mereka akan melakukan diskusi terlebih dahulu bersama Bupati Morowali, Polda Sulteng serta Polres Morowali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Entah bagaimana kasus ini akan berakhir. Kematian dua orang ini, terlepas bagaimana sebenarnya insiden itu terjadi, adalah bukti bahwa menuntut penegakan hukum di negara ini masih jadi barang langka. Mungkin agak klise kalau dikatakan bahwa kepentingan korporasi lebih diprioritaskan daripada masyarakat awam. Tapi faktanya, siapa yang mampu memberi upeti besar kepada aparat kemanan, biasanya memang mendapat prioritas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------- &lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Gambar oleh Eddie B. Handono&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-5649102673915020870?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-KIlcHXwZejcn4IWe8JnLqCsfQU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-KIlcHXwZejcn4IWe8JnLqCsfQU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-KIlcHXwZejcn4IWe8JnLqCsfQU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-KIlcHXwZejcn4IWe8JnLqCsfQU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=Jw6dnr-K8G0:f6H46dflmPQ:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/Jw6dnr-K8G0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-26T11:11:46.096+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-4mU9BVvNG7c/SmFHl3KKNOI/AAAAAAAABMk/9MOS5yjNwfw/s72-c/ebh-8.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/08/dua-nyawa-melayang-karena-menuntut.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pamer Avatar Follower</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/DqQG-BIJZ1g/pamer-avatar-follower.html</link><category>Twitter</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Mon, 22 Aug 2011 01:57:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-5938206148438405861</guid><description>Ternyata ada web aplikasi yang bisa membantu kita memamerkan avatar &lt;i&gt;follower&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;following&lt;/i&gt; kita di blog/web. Simpel, tinggal login dengan Twitter, pilih mana yang akan divisualisasikan, ambil kodenya. Nah, inilah wajah para follower saya di akun @prajnamu. Hallo followers! :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://twitter.com/wartawanbodoh"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1421651293/Hat_with_Press_tag_normal.jpg" title="wartawan bodoh" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/NowViral"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1238634682/virus_normal.GIF" title="Viral Videos" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/azmi_212"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1367734733/wirosableng_normal.jpg" title="azmi" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/HelpJCCRockland"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1360481909/CWN_Jacinda_normal.jpg" title="Help JCC Rockland" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/devieriana"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504259015/Copy_20of_20hitam_20bw_normal.jpg" title="Devi Eriana Safira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/AlaynaaMartin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1321653043/18_normal.jpg" title="Alayna Martin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ociinovitasari"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1381307565/IMG00878-20110527-1238_normal.jpg" title="ocii novitasari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/vqrizki"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1408274321/310282703_normal.jpg" title="vicky Anur" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/herylink"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1290994981/self_portrait_3_normal.jpg" title="Hery Nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/kmandira"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1474669744/kmlogosgray_normal.png" title="kalyANamandira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/matriphe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1219276749/avatar_normal.jpg" title="Muhammad Zamroni" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/tayasutarya"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387187220/si_ganteng_kalem_normal.jpg" title="taya asep sutarya" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/weirdnews"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/264173650/war_normal.jpg" title="Weird News" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Iwan_FGII"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1402506049/_MG_0045c_normal.JPG" title="Iwan Hermawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ChatSociety"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1389264711/chat_normal.png" title="ChatSociety" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/huzaefaho"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1093164282/41385_1389202070_739_n_normal.jpg" title="ova huzaefah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ramdan40"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_2_normal.png" title="ramdan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KoffieGoenoeng"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1127086850/logo_KGFt_normal.jpg" title="Koffie Goenoeng" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sherlyayudhinna"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_6_normal.png" title="sherly ayu dhinnasih" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ridha_edlith"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1375680195/DSC00023_normal.JPG" title="ridha sari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RichQuigley"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1142504631/RQ_IMG_1804_150x150_normal.jpg" title="Rich Quigley" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/glorymuchtar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="gloryislamicmuchtary" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Rosalvaj617"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1286394955/Mypic035_normal.jpg" title="Rosalva Hanes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/anitaskyy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1499522164/wisuda1_normal.jpg" title="Anita" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/om_panjul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1479170149/eVvSKsIr_normal" title="panji suryo nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ayuunoor"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1500752353/325206324_normal.jpg" title="Ayu Murni L. Noor" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/diniehernawati"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1401693718/D_MJL_normal.JPG" title="Dinie Hernawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/getstoried"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1291586038/46754_429848844716_502089716_4779471_164123_n_normal.jpg" title="Michael Margolis" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TVIMUNDICA"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1417375694/Logo_canal_up_normal.png" title="TV IMUNDICA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/omsotong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1507763762/avatar_normal.png" title="Angky Kartadimadja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/cah_kalong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="achmad irzan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/djmetroe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1383428618/59604_1299450666795_1846269223_582204_1593113_n_normal.jpg" title="Larry" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/reaz_theprince"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1376964299/IMG0265A_normal.jpg" title="Reaz Ahmed" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/finfin88"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1505034707/Rein_haru_3_normal.jpg" title="Fifin Alfin Agustin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/SuperHiperDicas"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1300763961/Bot_o_normal.jpg" title="SuperHiperDicas" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/teknorama10"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1158391473/babycomputer_normal.jpg" title="Tekno Rama" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/viena17"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1316760778/jadi_normal.jpg" title="viena" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KratonPedia"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1290137952/KratonPedia_trp_normal.png" title="KratonPedia" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/esterlyn_stevez"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1411739020/deadmau555_normal.jpg" title="esterlyn estevez" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/MA_DPR"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1259332334/edit_normal.JPG" title="Marzuki Alie Dr" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/OllaRilva"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1414934111/olaa_normal.jpg" title="Willava rilva" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/charlessiahaan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1226077424/charles_web_normal.jpg" title="charles siahaan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/putrawarwerwarw"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_3_normal.png" title="putra warwerwarwer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/apotekcare"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1418346274/apotekcare_normal.jpg" title="apotekcare" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Jonogundul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1407420002/gundul_normal.jpg" title="Jono Gundul" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DigitalAmyG"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Amy G" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mgreantara"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1503332814/salsil_normal.jpg" title="Muki Ginanjar R." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/lutfimuhammad75"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1415445948/tm_normal.jpg" title="lutfi muhammad" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RosinaSmades671"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387451439/1589509736jenifer-20071028-331065_normal.jpg" title="Rosina Smades" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/motulz"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1391488577/motzz2_normal.jpg" title="anto motulz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/uwa_dadang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1427356018/Foto1134_normal.jpg" title="Dadang Sudardja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sharingkeliling"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1430475793/b_Sharing_Keliling__icon_100x100__normal.png" title="Sharing Keliling" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bolariacom"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/973609929/bolariaicon_normal.jpg" title="bolaria" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/evi_putriyansah"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1501712076/evi_putriyansah_2726451446522019905_normal.jpg" title="evi putriyansah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/FGII_Group"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_1_normal.png" title="DPP FGII" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/dennypiliang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/835558705/IMG_0007_normal.JPG" title="Denny Hendrawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mungo141"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1461901522/HANS1_normal.JPG" title="1984" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/a7gshop"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1441532116/shop.anime7graphic_normal.png" title="Anime7Graphic Shop" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Nurafiatin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1295928373/IMG1029A_normal.jpg" title="Nur Afiatin " width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/liarachma019"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1499061699/ava_normal.png" title="lia  rachmawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/titutismail"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1496087682/325072934_normal.jpg" title="titutismail" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/nikeprima"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1446311308/photo__27__normal.JPG" title="nike prima" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/addteman"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1454639067/249828_10150251013139002_352394949001_8506434_5700834_n_normal.jpg" title="Power Of Marketing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/karunadas1"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1448274894/Alone_One_normal.jpg" title="karuna das" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/memethmeong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1495235459/tmp_image_file_profile_normal.jpg" title="medina wulandari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/randyeagar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/60524866/Randy_CRS_crop_normal.jpg" title="randyeagar" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adith76"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1499096971/avatar_denkoplak_RI_normal.jpg" title="denKoplak" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/polecat101"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/308334771/002_DSCF0003_normal.JPG" title="T. Wayne Coss" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Cox2Natalie"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1480529484/natalie_normal.png" title="Natalie Cox" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/radixhidayat"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1489777425/Radix-Kuning_normal.jpg" title="Radix J. Hidayat" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/novalaulia13"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1494423353/281976_2017570247616_1494661389_31949210_6754543_n_normal.jpg" title="noval aulia rachman" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sariiey"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1496258409/2_normal.jpg" title="Tri Sari Arum" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ari_holik"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1490726454/2011-07-08_18.22.35_edit1_normal.jpg" title="ari black" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/EchaSiluetMan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1497978472/Rezza_normal.jpg" title="echarezza" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TryToBeOrdinary"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1503834584/me_myself_and_i_copy_normal.jpg" title="Sandy Wiradipradja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ikazain"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1124234544/n655547777_1297764_5751_normal.jpg" title="Fadilla Tourizqua" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RegaPurwanto"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1216198291/Foto0715_normal.jpg" title="Capunk_Regha" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Piaggio_ID"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1385186938/Piaggiogrouplogo_copy_normal.jpg" title="Piaggio" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/colonelseven"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1497780140/PSI_1955_normal.jpg" title="Iqbal Prakasa" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Aleshiazau"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1487106646/1581674655profile43_normal.jpg" title="Brooke Cervantes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DeasBudiawan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1214285550/untitled_normal.jpg" title="Deas Budiawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TheAndrographer"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1484099767/images_normal.jpg" title="The Andrographer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aditgrafos"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1461118542/Pasmotogrey_normal.JPG" title="Arief Adityawan S." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/yd1nif"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1292284966/Foto_289__normal.jpg" title="Agus Gunawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/badutromantis"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504839945/image_normal.jpg" title="intan_ap" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/gurudigitaleuy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1472177704/logo_normal.jpg" title="Medresa Foundation" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/4dsites"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/770394405/logo_normal.png" title="4dsites" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/No1WebSource"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/930092306/no1web_normal.png" title="Web Outsourcing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/GreenMBADegree"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Green MBA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/JoffinJoy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1234385758/07122010004_normal.jpg" title="Joffin Joy" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bangaip"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1496856674/fotoid_normal.jpg" title="Syarief Hidayatullah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aman_zahri"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1395811837/aman_normal.jpg" title="Aman Zahri" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Mike_Arnone"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/277895356/4642_96745946850_651891850_2511972_3711430_n_normal.jpg" title="Michael Arnone" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/wiradarma5000"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1487758987/454trgyt676_normal.jpg" title="Wira Darma" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/siadit"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1501190199/image_normal.jpg" title="Aditia Sudarto" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/asipasti"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1503907383/asi-pasti_normal.jpg" title="ASI, PASTI!" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bravoyunan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1297093806/281163771_normal.jpg" title="Yunanhelmy Balamba" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adionggo"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/304035658/adi_normal.jpg" title="adi onggoboyo" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Loviegiq"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1427371380/GBOK-1018_normal.jpg" title="Lovie Frantz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/howl777"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="howl" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/wartawanbodoh"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1421651293/Hat_with_Press_tag_normal.jpg" title="wartawan bodoh" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/NowViral"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1238634682/virus_normal.GIF" title="Viral Videos" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/azmi_212"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1367734733/wirosableng_normal.jpg" title="azmi" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/HelpJCCRockland"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1360481909/CWN_Jacinda_normal.jpg" title="Help JCC Rockland" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/devieriana"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504259015/Copy_20of_20hitam_20bw_normal.jpg" title="Devi Eriana Safira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/AlaynaaMartin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1321653043/18_normal.jpg" title="Alayna Martin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ociinovitasari"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1381307565/IMG00878-20110527-1238_normal.jpg" title="ocii novitasari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/vqrizki"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1408274321/310282703_normal.jpg" title="vicky Anur" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/herylink"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1290994981/self_portrait_3_normal.jpg" title="Hery Nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/kmandira"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1474669744/kmlogosgray_normal.png" title="kalyANamandira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/matriphe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1219276749/avatar_normal.jpg" title="Muhammad Zamroni" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/tayasutarya"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387187220/si_ganteng_kalem_normal.jpg" title="taya asep sutarya" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/weirdnews"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/264173650/war_normal.jpg" title="Weird News" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Iwan_FGII"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1402506049/_MG_0045c_normal.JPG" title="Iwan Hermawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ChatSociety"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1389264711/chat_normal.png" title="ChatSociety" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/huzaefaho"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1093164282/41385_1389202070_739_n_normal.jpg" title="ova huzaefah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ramdan40"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_2_normal.png" title="ramdan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KoffieGoenoeng"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1127086850/logo_KGFt_normal.jpg" title="Koffie Goenoeng" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sherlyayudhinna"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_6_normal.png" title="sherly ayu dhinnasih" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ridha_edlith"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1375680195/DSC00023_normal.JPG" title="ridha sari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RichQuigley"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1142504631/RQ_IMG_1804_150x150_normal.jpg" title="Rich Quigley" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/glorymuchtar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="gloryislamicmuchtary" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Rosalvaj617"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1286394955/Mypic035_normal.jpg" title="Rosalva Hanes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/anitaskyy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1499522164/wisuda1_normal.jpg" title="Anita" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/om_panjul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1479170149/eVvSKsIr_normal" title="panji suryo nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ayuunoor"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1500752353/325206324_normal.jpg" title="Ayu Murni L. Noor" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/diniehernawati"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1401693718/D_MJL_normal.JPG" title="Dinie Hernawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/getstoried"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1291586038/46754_429848844716_502089716_4779471_164123_n_normal.jpg" title="Michael Margolis" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TVIMUNDICA"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1417375694/Logo_canal_up_normal.png" title="TV IMUNDICA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/omsotong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1507763762/avatar_normal.png" title="Angky Kartadimadja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/cah_kalong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="achmad irzan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/djmetroe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1383428618/59604_1299450666795_1846269223_582204_1593113_n_normal.jpg" title="Larry" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/reaz_theprince"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1376964299/IMG0265A_normal.jpg" title="Reaz Ahmed" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/finfin88"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1505034707/Rein_haru_3_normal.jpg" title="Fifin Alfin Agustin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/SuperHiperDicas"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1300763961/Bot_o_normal.jpg" title="SuperHiperDicas" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/teknorama10"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1158391473/babycomputer_normal.jpg" title="Tekno Rama" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/viena17"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1316760778/jadi_normal.jpg" title="viena" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KratonPedia"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1290137952/KratonPedia_trp_normal.png" title="KratonPedia" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/esterlyn_stevez"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1411739020/deadmau555_normal.jpg" title="esterlyn estevez" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/MA_DPR"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1259332334/edit_normal.JPG" title="Marzuki Alie Dr" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/OllaRilva"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1414934111/olaa_normal.jpg" title="Willava rilva" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/charlessiahaan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1226077424/charles_web_normal.jpg" title="charles siahaan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/putrawarwerwarw"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_3_normal.png" title="putra warwerwarwer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/apotekcare"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1418346274/apotekcare_normal.jpg" title="apotekcare" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Jonogundul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1407420002/gundul_normal.jpg" title="Jono Gundul" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DigitalAmyG"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Amy G" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mgreantara"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1503332814/salsil_normal.jpg" title="Muki Ginanjar R." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/lutfimuhammad75"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1415445948/tm_normal.jpg" title="lutfi muhammad" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RosinaSmades671"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387451439/1589509736jenifer-20071028-331065_normal.jpg" title="Rosina Smades" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/motulz"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1391488577/motzz2_normal.jpg" title="anto motulz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/uwa_dadang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1427356018/Foto1134_normal.jpg" title="Dadang Sudardja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sharingkeliling"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1430475793/b_Sharing_Keliling__icon_100x100__normal.png" title="Sharing Keliling" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bolariacom"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/973609929/bolariaicon_normal.jpg" title="bolaria" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/evi_putriyansah"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1501712076/evi_putriyansah_2726451446522019905_normal.jpg" title="evi putriyansah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/FGII_Group"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_1_normal.png" title="DPP FGII" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/dennypiliang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/835558705/IMG_0007_normal.JPG" title="Denny Hendrawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mungo141"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1461901522/HANS1_normal.JPG" title="1984" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/a7gshop"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1441532116/shop.anime7graphic_normal.png" title="Anime7Graphic Shop" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Nurafiatin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1295928373/IMG1029A_normal.jpg" title="Nur Afiatin " width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/liarachma019"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1499061699/ava_normal.png" title="lia  rachmawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/titutismail"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1496087682/325072934_normal.jpg" title="titutismail" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/nikeprima"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1446311308/photo__27__normal.JPG" title="nike prima" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/addteman"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1454639067/249828_10150251013139002_352394949001_8506434_5700834_n_normal.jpg" title="Power Of Marketing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/karunadas1"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1448274894/Alone_One_normal.jpg" title="karuna das" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/memethmeong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1495235459/tmp_image_file_profile_normal.jpg" title="medina wulandari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/randyeagar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/60524866/Randy_CRS_crop_normal.jpg" title="randyeagar" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adith76"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1499096971/avatar_denkoplak_RI_normal.jpg" title="denKoplak" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/polecat101"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/308334771/002_DSCF0003_normal.JPG" title="T. Wayne Coss" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Cox2Natalie"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1480529484/natalie_normal.png" title="Natalie Cox" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/radixhidayat"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1489777425/Radix-Kuning_normal.jpg" title="Radix J. Hidayat" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/novalaulia13"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1494423353/281976_2017570247616_1494661389_31949210_6754543_n_normal.jpg" title="noval aulia rachman" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sariiey"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1496258409/2_normal.jpg" title="Tri Sari Arum" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ari_holik"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1490726454/2011-07-08_18.22.35_edit1_normal.jpg" title="ari black" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/EchaSiluetMan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1497978472/Rezza_normal.jpg" title="echarezza" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TryToBeOrdinary"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1503834584/me_myself_and_i_copy_normal.jpg" title="Sandy Wiradipradja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ikazain"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1124234544/n655547777_1297764_5751_normal.jpg" title="Fadilla Tourizqua" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RegaPurwanto"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1216198291/Foto0715_normal.jpg" title="Capunk_Regha" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Piaggio_ID"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1385186938/Piaggiogrouplogo_copy_normal.jpg" title="Piaggio" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/colonelseven"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1497780140/PSI_1955_normal.jpg" title="Iqbal Prakasa" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Aleshiazau"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1487106646/1581674655profile43_normal.jpg" title="Brooke Cervantes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DeasBudiawan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1214285550/untitled_normal.jpg" title="Deas Budiawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TheAndrographer"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1484099767/images_normal.jpg" title="The Andrographer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aditgrafos"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1461118542/Pasmotogrey_normal.JPG" title="Arief Adityawan S." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/yd1nif"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1292284966/Foto_289__normal.jpg" title="Agus Gunawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/badutromantis"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504839945/image_normal.jpg" title="intan_ap" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/gurudigitaleuy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1472177704/logo_normal.jpg" title="Medresa Foundation" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/4dsites"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/770394405/logo_normal.png" title="4dsites" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/No1WebSource"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/930092306/no1web_normal.png" title="Web Outsourcing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/GreenMBADegree"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Green MBA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/JoffinJoy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1234385758/07122010004_normal.jpg" title="Joffin Joy" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bangaip"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1496856674/fotoid_normal.jpg" title="Syarief Hidayatullah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aman_zahri"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1395811837/aman_normal.jpg" title="Aman Zahri" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Mike_Arnone"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/277895356/4642_96745946850_651891850_2511972_3711430_n_normal.jpg" title="Michael Arnone" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/wiradarma5000"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1487758987/454trgyt676_normal.jpg" title="Wira Darma" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/siadit"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1501190199/image_normal.jpg" title="Aditia Sudarto" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/asipasti"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1503907383/asi-pasti_normal.jpg" title="ASI, PASTI!" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bravoyunan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1297093806/281163771_normal.jpg" title="Yunanhelmy Balamba" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adionggo"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/304035658/adi_normal.jpg" title="adi onggoboyo" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Loviegiq"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1427371380/GBOK-1018_normal.jpg" title="Lovie Frantz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/howl777"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="howl" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/wartawanbodoh"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1421651293/Hat_with_Press_tag_normal.jpg" title="wartawan bodoh" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/NowViral"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1238634682/virus_normal.GIF" title="Viral Videos" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/azmi_212"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1367734733/wirosableng_normal.jpg" title="azmi" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/HelpJCCRockland"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1360481909/CWN_Jacinda_normal.jpg" title="Help JCC Rockland" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/devieriana"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504259015/Copy_20of_20hitam_20bw_normal.jpg" title="Devi Eriana Safira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/AlaynaaMartin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1321653043/18_normal.jpg" title="Alayna Martin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ociinovitasari"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1381307565/IMG00878-20110527-1238_normal.jpg" title="ocii novitasari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/vqrizki"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1408274321/310282703_normal.jpg" title="vicky Anur" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/herylink"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1290994981/self_portrait_3_normal.jpg" title="Hery Nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/kmandira"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1474669744/kmlogosgray_normal.png" title="kalyANamandira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/matriphe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1219276749/avatar_normal.jpg" title="Muhammad Zamroni" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/tayasutarya"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387187220/si_ganteng_kalem_normal.jpg" title="taya asep sutarya" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/weirdnews"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/264173650/war_normal.jpg" title="Weird News" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Iwan_FGII"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1402506049/_MG_0045c_normal.JPG" title="Iwan Hermawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ChatSociety"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1389264711/chat_normal.png" title="ChatSociety" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/huzaefaho"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1093164282/41385_1389202070_739_n_normal.jpg" title="ova huzaefah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ramdan40"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_2_normal.png" title="ramdan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KoffieGoenoeng"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1127086850/logo_KGFt_normal.jpg" title="Koffie Goenoeng" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sherlyayudhinna"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_6_normal.png" title="sherly ayu dhinnasih" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ridha_edlith"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1375680195/DSC00023_normal.JPG" title="ridha sari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RichQuigley"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1142504631/RQ_IMG_1804_150x150_normal.jpg" title="Rich Quigley" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/glorymuchtar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="gloryislamicmuchtary" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Rosalvaj617"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1286394955/Mypic035_normal.jpg" title="Rosalva Hanes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/anitaskyy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1499522164/wisuda1_normal.jpg" title="Anita" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/om_panjul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1479170149/eVvSKsIr_normal" title="panji suryo nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ayuunoor"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1500752353/325206324_normal.jpg" title="Ayu Murni L. Noor" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/diniehernawati"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1401693718/D_MJL_normal.JPG" title="Dinie Hernawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/getstoried"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1291586038/46754_429848844716_502089716_4779471_164123_n_normal.jpg" title="Michael Margolis" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TVIMUNDICA"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1417375694/Logo_canal_up_normal.png" title="TV IMUNDICA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/omsotong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1507763762/avatar_normal.png" title="Angky Kartadimadja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/cah_kalong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="achmad irzan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/djmetroe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1383428618/59604_1299450666795_1846269223_582204_1593113_n_normal.jpg" title="Larry" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/reaz_theprince"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1376964299/IMG0265A_normal.jpg" title="Reaz Ahmed" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/finfin88"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1505034707/Rein_haru_3_normal.jpg" title="Fifin Alfin Agustin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/SuperHiperDicas"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1300763961/Bot_o_normal.jpg" title="SuperHiperDicas" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/teknorama10"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1158391473/babycomputer_normal.jpg" title="Tekno Rama" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/viena17"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1316760778/jadi_normal.jpg" title="viena" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KratonPedia"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1290137952/KratonPedia_trp_normal.png" title="KratonPedia" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/esterlyn_stevez"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1411739020/deadmau555_normal.jpg" title="esterlyn estevez" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/MA_DPR"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1259332334/edit_normal.JPG" title="Marzuki Alie Dr" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/OllaRilva"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1414934111/olaa_normal.jpg" title="Willava rilva" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/charlessiahaan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1226077424/charles_web_normal.jpg" title="charles siahaan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/putrawarwerwarw"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_3_normal.png" title="putra warwerwarwer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/apotekcare"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1418346274/apotekcare_normal.jpg" title="apotekcare" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Jonogundul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1407420002/gundul_normal.jpg" title="Jono Gundul" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DigitalAmyG"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Amy G" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mgreantara"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1503332814/salsil_normal.jpg" title="Muki Ginanjar R." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/lutfimuhammad75"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1415445948/tm_normal.jpg" title="lutfi muhammad" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RosinaSmades671"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387451439/1589509736jenifer-20071028-331065_normal.jpg" title="Rosina Smades" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/motulz"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1391488577/motzz2_normal.jpg" title="anto motulz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/uwa_dadang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1427356018/Foto1134_normal.jpg" title="Dadang Sudardja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sharingkeliling"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1430475793/b_Sharing_Keliling__icon_100x100__normal.png" title="Sharing Keliling" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bolariacom"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/973609929/bolariaicon_normal.jpg" title="bolaria" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/evi_putriyansah"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1501712076/evi_putriyansah_2726451446522019905_normal.jpg" title="evi putriyansah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/FGII_Group"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_1_normal.png" title="DPP FGII" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/dennypiliang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/835558705/IMG_0007_normal.JPG" title="Denny Hendrawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mungo141"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1461901522/HANS1_normal.JPG" title="1984" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/a7gshop"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1441532116/shop.anime7graphic_normal.png" title="Anime7Graphic Shop" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Nurafiatin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1295928373/IMG1029A_normal.jpg" title="Nur Afiatin " width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/liarachma019"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1499061699/ava_normal.png" title="lia  rachmawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/titutismail"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1496087682/325072934_normal.jpg" title="titutismail" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/nikeprima"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1446311308/photo__27__normal.JPG" title="nike prima" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/addteman"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1454639067/249828_10150251013139002_352394949001_8506434_5700834_n_normal.jpg" title="Power Of Marketing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/karunadas1"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1448274894/Alone_One_normal.jpg" title="karuna das" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/memethmeong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1495235459/tmp_image_file_profile_normal.jpg" title="medina wulandari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/randyeagar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/60524866/Randy_CRS_crop_normal.jpg" title="randyeagar" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adith76"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1499096971/avatar_denkoplak_RI_normal.jpg" title="denKoplak" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/polecat101"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/308334771/002_DSCF0003_normal.JPG" title="T. Wayne Coss" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Cox2Natalie"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1480529484/natalie_normal.png" title="Natalie Cox" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/radixhidayat"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1489777425/Radix-Kuning_normal.jpg" title="Radix J. Hidayat" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/novalaulia13"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1494423353/281976_2017570247616_1494661389_31949210_6754543_n_normal.jpg" title="noval aulia rachman" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sariiey"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1496258409/2_normal.jpg" title="Tri Sari Arum" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ari_holik"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1490726454/2011-07-08_18.22.35_edit1_normal.jpg" title="ari black" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/EchaSiluetMan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1497978472/Rezza_normal.jpg" title="echarezza" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TryToBeOrdinary"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1503834584/me_myself_and_i_copy_normal.jpg" title="Sandy Wiradipradja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ikazain"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1124234544/n655547777_1297764_5751_normal.jpg" title="Fadilla Tourizqua" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RegaPurwanto"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1216198291/Foto0715_normal.jpg" title="Capunk_Regha" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Piaggio_ID"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1385186938/Piaggiogrouplogo_copy_normal.jpg" title="Piaggio" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/colonelseven"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1497780140/PSI_1955_normal.jpg" title="Iqbal Prakasa" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Aleshiazau"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1487106646/1581674655profile43_normal.jpg" title="Brooke Cervantes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DeasBudiawan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1214285550/untitled_normal.jpg" title="Deas Budiawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TheAndrographer"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1484099767/images_normal.jpg" title="The Andrographer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aditgrafos"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1461118542/Pasmotogrey_normal.JPG" title="Arief Adityawan S." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/yd1nif"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1292284966/Foto_289__normal.jpg" title="Agus Gunawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/badutromantis"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504839945/image_normal.jpg" title="intan_ap" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/gurudigitaleuy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1472177704/logo_normal.jpg" title="Medresa Foundation" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/4dsites"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/770394405/logo_normal.png" title="4dsites" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/No1WebSource"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/930092306/no1web_normal.png" title="Web Outsourcing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/GreenMBADegree"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Green MBA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/JoffinJoy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1234385758/07122010004_normal.jpg" title="Joffin Joy" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bangaip"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1496856674/fotoid_normal.jpg" title="Syarief Hidayatullah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aman_zahri"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1395811837/aman_normal.jpg" title="Aman Zahri" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Mike_Arnone"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/277895356/4642_96745946850_651891850_2511972_3711430_n_normal.jpg" title="Michael Arnone" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/wiradarma5000"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1487758987/454trgyt676_normal.jpg" title="Wira Darma" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/siadit"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1501190199/image_normal.jpg" title="Aditia Sudarto" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/asipasti"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1503907383/asi-pasti_normal.jpg" title="ASI, PASTI!" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bravoyunan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1297093806/281163771_normal.jpg" title="Yunanhelmy Balamba" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adionggo"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/304035658/adi_normal.jpg" title="adi onggoboyo" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Loviegiq"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1427371380/GBOK-1018_normal.jpg" title="Lovie Frantz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/howl777"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="howl" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/wartawanbodoh"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1421651293/Hat_with_Press_tag_normal.jpg" title="wartawan bodoh" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/NowViral"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1238634682/virus_normal.GIF" title="Viral Videos" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/azmi_212"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1367734733/wirosableng_normal.jpg" title="azmi" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/HelpJCCRockland"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1360481909/CWN_Jacinda_normal.jpg" title="Help JCC Rockland" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/devieriana"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504259015/Copy_20of_20hitam_20bw_normal.jpg" title="Devi Eriana Safira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/AlaynaaMartin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1321653043/18_normal.jpg" title="Alayna Martin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ociinovitasari"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1381307565/IMG00878-20110527-1238_normal.jpg" title="ocii novitasari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/vqrizki"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1408274321/310282703_normal.jpg" title="vicky Anur" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/herylink"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1290994981/self_portrait_3_normal.jpg" title="Hery Nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/kmandira"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1474669744/kmlogosgray_normal.png" title="kalyANamandira" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/matriphe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1219276749/avatar_normal.jpg" title="Muhammad Zamroni" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/tayasutarya"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387187220/si_ganteng_kalem_normal.jpg" title="taya asep sutarya" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/weirdnews"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/264173650/war_normal.jpg" title="Weird News" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Iwan_FGII"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1402506049/_MG_0045c_normal.JPG" title="Iwan Hermawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ChatSociety"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1389264711/chat_normal.png" title="ChatSociety" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/huzaefaho"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1093164282/41385_1389202070_739_n_normal.jpg" title="ova huzaefah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ramdan40"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_2_normal.png" title="ramdan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KoffieGoenoeng"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1127086850/logo_KGFt_normal.jpg" title="Koffie Goenoeng" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sherlyayudhinna"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_6_normal.png" title="sherly ayu dhinnasih" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ridha_edlith"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1375680195/DSC00023_normal.JPG" title="ridha sari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RichQuigley"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1142504631/RQ_IMG_1804_150x150_normal.jpg" title="Rich Quigley" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/glorymuchtar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="gloryislamicmuchtary" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Rosalvaj617"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1286394955/Mypic035_normal.jpg" title="Rosalva Hanes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/anitaskyy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1499522164/wisuda1_normal.jpg" title="Anita" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/om_panjul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1479170149/eVvSKsIr_normal" title="panji suryo nugroho" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ayuunoor"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1500752353/325206324_normal.jpg" title="Ayu Murni L. Noor" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/diniehernawati"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1401693718/D_MJL_normal.JPG" title="Dinie Hernawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/getstoried"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1291586038/46754_429848844716_502089716_4779471_164123_n_normal.jpg" title="Michael Margolis" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TVIMUNDICA"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1417375694/Logo_canal_up_normal.png" title="TV IMUNDICA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/omsotong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1507763762/avatar_normal.png" title="Angky Kartadimadja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/cah_kalong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="achmad irzan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/djmetroe"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1383428618/59604_1299450666795_1846269223_582204_1593113_n_normal.jpg" title="Larry" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/reaz_theprince"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1376964299/IMG0265A_normal.jpg" title="Reaz Ahmed" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/finfin88"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1505034707/Rein_haru_3_normal.jpg" title="Fifin Alfin Agustin" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/SuperHiperDicas"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1300763961/Bot_o_normal.jpg" title="SuperHiperDicas" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/teknorama10"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1158391473/babycomputer_normal.jpg" title="Tekno Rama" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/viena17"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1316760778/jadi_normal.jpg" title="viena" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/KratonPedia"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1290137952/KratonPedia_trp_normal.png" title="KratonPedia" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/esterlyn_stevez"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1411739020/deadmau555_normal.jpg" title="esterlyn estevez" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/MA_DPR"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1259332334/edit_normal.JPG" title="Marzuki Alie Dr" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/OllaRilva"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1414934111/olaa_normal.jpg" title="Willava rilva" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/charlessiahaan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1226077424/charles_web_normal.jpg" title="charles siahaan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/putrawarwerwarw"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_3_normal.png" title="putra warwerwarwer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/apotekcare"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1418346274/apotekcare_normal.jpg" title="apotekcare" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Jonogundul"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1407420002/gundul_normal.jpg" title="Jono Gundul" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DigitalAmyG"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Amy G" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mgreantara"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1503332814/salsil_normal.jpg" title="Muki Ginanjar R." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/lutfimuhammad75"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1415445948/tm_normal.jpg" title="lutfi muhammad" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RosinaSmades671"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1387451439/1589509736jenifer-20071028-331065_normal.jpg" title="Rosina Smades" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/motulz"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1391488577/motzz2_normal.jpg" title="anto motulz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/uwa_dadang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1427356018/Foto1134_normal.jpg" title="Dadang Sudardja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sharingkeliling"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1430475793/b_Sharing_Keliling__icon_100x100__normal.png" title="Sharing Keliling" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bolariacom"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/973609929/bolariaicon_normal.jpg" title="bolaria" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/evi_putriyansah"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1501712076/evi_putriyansah_2726451446522019905_normal.jpg" title="evi putriyansah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/FGII_Group"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_1_normal.png" title="DPP FGII" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/dennypiliang"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/835558705/IMG_0007_normal.JPG" title="Denny Hendrawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/mungo141"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1461901522/HANS1_normal.JPG" title="1984" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/a7gshop"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1441532116/shop.anime7graphic_normal.png" title="Anime7Graphic Shop" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Nurafiatin"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1295928373/IMG1029A_normal.jpg" title="Nur Afiatin " width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/liarachma019"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1499061699/ava_normal.png" title="lia  rachmawati" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/titutismail"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1496087682/325072934_normal.jpg" title="titutismail" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/nikeprima"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1446311308/photo__27__normal.JPG" title="nike prima" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/addteman"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1454639067/249828_10150251013139002_352394949001_8506434_5700834_n_normal.jpg" title="Power Of Marketing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/karunadas1"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1448274894/Alone_One_normal.jpg" title="karuna das" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/memethmeong"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1495235459/tmp_image_file_profile_normal.jpg" title="medina wulandari" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/randyeagar"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/60524866/Randy_CRS_crop_normal.jpg" title="randyeagar" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adith76"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1499096971/avatar_denkoplak_RI_normal.jpg" title="denKoplak" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/polecat101"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/308334771/002_DSCF0003_normal.JPG" title="T. Wayne Coss" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Cox2Natalie"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1480529484/natalie_normal.png" title="Natalie Cox" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/radixhidayat"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1489777425/Radix-Kuning_normal.jpg" title="Radix J. Hidayat" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/novalaulia13"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1494423353/281976_2017570247616_1494661389_31949210_6754543_n_normal.jpg" title="noval aulia rachman" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/sariiey"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1496258409/2_normal.jpg" title="Tri Sari Arum" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ari_holik"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1490726454/2011-07-08_18.22.35_edit1_normal.jpg" title="ari black" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/EchaSiluetMan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1497978472/Rezza_normal.jpg" title="echarezza" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TryToBeOrdinary"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1503834584/me_myself_and_i_copy_normal.jpg" title="Sandy Wiradipradja" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/ikazain"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1124234544/n655547777_1297764_5751_normal.jpg" title="Fadilla Tourizqua" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/RegaPurwanto"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1216198291/Foto0715_normal.jpg" title="Capunk_Regha" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Piaggio_ID"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1385186938/Piaggiogrouplogo_copy_normal.jpg" title="Piaggio" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/colonelseven"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1497780140/PSI_1955_normal.jpg" title="Iqbal Prakasa" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Aleshiazau"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1487106646/1581674655profile43_normal.jpg" title="Brooke Cervantes" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/DeasBudiawan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1214285550/untitled_normal.jpg" title="Deas Budiawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/TheAndrographer"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1484099767/images_normal.jpg" title="The Andrographer" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aditgrafos"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1461118542/Pasmotogrey_normal.JPG" title="Arief Adityawan S." width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/yd1nif"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1292284966/Foto_289__normal.jpg" title="Agus Gunawan" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/badutromantis"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1504839945/image_normal.jpg" title="intan_ap" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/gurudigitaleuy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1472177704/logo_normal.jpg" title="Medresa Foundation" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/4dsites"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/770394405/logo_normal.png" title="4dsites" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/No1WebSource"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/930092306/no1web_normal.png" title="Web Outsourcing" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/GreenMBADegree"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_5_normal.png" title="Green MBA" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/JoffinJoy"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1234385758/07122010004_normal.jpg" title="Joffin Joy" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bangaip"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1496856674/fotoid_normal.jpg" title="Syarief Hidayatullah" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/aman_zahri"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/1395811837/aman_normal.jpg" title="Aman Zahri" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Mike_Arnone"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a0.twimg.com/profile_images/277895356/4642_96745946850_651891850_2511972_3711430_n_normal.jpg" title="Michael Arnone" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/wiradarma5000"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1487758987/454trgyt676_normal.jpg" title="Wira Darma" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/siadit"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1501190199/image_normal.jpg" title="Aditia Sudarto" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/asipasti"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a2.twimg.com/profile_images/1503907383/asi-pasti_normal.jpg" title="ASI, PASTI!" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/bravoyunan"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/profile_images/1297093806/281163771_normal.jpg" title="Yunanhelmy Balamba" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/adionggo"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/304035658/adi_normal.jpg" title="adi onggoboyo" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/Loviegiq"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a1.twimg.com/profile_images/1427371380/GBOK-1018_normal.jpg" title="Lovie Frantz" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://twitter.com/howl777"&gt;&lt;img border="0" height="48" src="http://a3.twimg.com/sticky/default_profile_images/default_profile_4_normal.png" title="howl" width="48" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://sxoop.com/twitter/"&gt;Get your twitter mosaic here.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-5938206148438405861?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2ZdYVxSFDWx7_HtgMuTadew0hQE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2ZdYVxSFDWx7_HtgMuTadew0hQE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2ZdYVxSFDWx7_HtgMuTadew0hQE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2ZdYVxSFDWx7_HtgMuTadew0hQE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=DqQG-BIJZ1g:AV4hEHG6maI:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/DqQG-BIJZ1g" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-22T15:57:45.977+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/08/pamer-avatar-follower.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bubarkan Partai yang Kadernya Korupsi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/Rlv25Kv0824/bubarkan-partai-yang-kadernya-korupsi.html</link><category>Politik</category><category>Golkar</category><category>Korupsi</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Wed, 10 Aug 2011 02:59:21 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-1344742527867768677</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-67jGZ2z8ypI/TkJPLrFstrI/AAAAAAAACDg/_ecPueBBcUA/s1600/golkar-bubar.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-67jGZ2z8ypI/TkJPLrFstrI/AAAAAAAACDg/_ecPueBBcUA/s1600/golkar-bubar.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kedengarannya bagus, dan sangat baik untuk diterapkan. Tapi ketika mendengar kalimat itu muncul dari kader partai kuning, Golkar, saya pun langsung &lt;a href="http://indragirinews.com/partai/ketua-dpd-golkar-terkesan-lindungi-politisi-terlibat-korupsi.html"&gt;berkerut jidat&lt;/a&gt;. Ya, yang bicara seperti itu adalah Bambang Soesatyo (BS), kini menjabat sebagai Wakil Bendahara&amp;nbsp;Partai Golkar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logika BS kelihatannya juga benar. Partai, yang seharusnya menyuarakan kepentingan rakyat pemilihnya, tentu tidak layak menjadi partai kalau untuk suara dukungan saja sudah dimanipulasi. Apalagi jika partai itu bekerja dengan memanfaatkan dana korupsi, untuk membeli suara dukungan terhadapnya. Dari &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2011/08/10/101931/1700552/10/politisi-golkar-partai-yang-kadernya-terlibat-korupsi-sebaiknya-dibubarkan"&gt;Detik.com&lt;/a&gt;, mari kita lihat kutipan kalimat BS mengenai argumennya tersebut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"Belajar dari pengalaman Korea Selatan dan Thailand. Partai yang kadernya terlibat korupsi yang dimungkinkan sebagian hasil korupsi untuk mendanai partai, sebaiknya dibubarkan," tutur Bambang kepada detikcom, Rabu (10/8/2011).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Juga bila terlibat penipuan atau kejahatan Pemilu. Kader atau petingginya yang memegang jabatan publik melakukan pembohongan kepada publik," tuturnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Partai tersebut dibubarkan, dilarang eksis karena dinilai dapat membahayakan negara dan bangsa apabila mereka berkuasa," tandasnya.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Ada beberapa hal menarik di balik pernyataan ini. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt; soal korupsi. Kita tahu korupsi berarti memanfaatkan uang negara untuk kepentingan pribadi, atau kepetnigan kelompok/golongannya. Korupsi juga jadi tindak pidana luar biasa, karena pada prakteknya, menerima suap dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara bisa disebut sebagai korupsi juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kader Partai yang biasanya dipasang sebagai pejabat negara, mulai jadi menteri hingga jajaran di bawahnya, tentu punya peluang besar korupsi untuk partainya. Bahkan konon, anggota DPR yang sudah duduk di Senayan sana, punya kewajiban menyumbang ke partainya, sehingga tidak jarang korupsi besar-besaran ada justru ada di DPR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, soal penggunaan dana korupsi. Ketika korupsinya sendiri sudah memuakkan, ditambah lagi uang korupsi itu dipakai untuk membeli suara, tentu lebih memuakkan lagi. Ini benar-benar kejahatan partai yang paling rendah dan tidak bisa ditolerir. Karena tugas partai adalah meyakinkan masyarakat bahwa mereka punya kemampuan mewjudkan janji-janjinya. Jika meyakinkan masyarakat saja tak mampu, lalu membeli suara untuk mendapatkannya, maka partai itu sejatinya adalah partai invalid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal kedua ini terkait dengan kritik BS tentang partai yang melakukan kecurangan/kejahatan dalam pemilu. Membeli suara adalah bentuk kejahatan juga dalam pemilu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, kita lihat data dari ICW, yang pernah membuat daftar politisi koruptor. Tahun 2011 ini ICW pernah membuat presentasi berjudul &lt;b&gt;Perburuan Rente Pendanaan Partai Politik&lt;/b&gt;. Data ini cukup menarik, karena di dalamnya ada daftar politisi yang masuk dalam daftar koruptor. Pertanyaannya adalah, berapa banyak kader Partai Golkar di sana? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum melihat daftarnya, dalam presentasi itu juga menampilkan kira-kira bagaimana terjadinya korupsi oleh kader partai di tubuh pemerintahan dan legislatif. Beberapa butir menarik antara lain adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Melalui Birokrasi Pusat&lt;/b&gt;:&amp;nbsp;menempatkan kader di posisi strategis kekuasaan (kementrian atau BUMN),&amp;nbsp;Membajak kebijakan dan anggaran untuk kepentingan partai.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Melalui Birokrasi Daerah&lt;/b&gt;:&amp;nbsp;Mendorong penguasaan posisi pemimpin politik lokal (kepala daerah),&amp;nbsp;&lt;i&gt;Candidacy buying&lt;/i&gt; dalam seleksi calon kepala daerah, membajak kebijakan dan anggaran daerah (Merancang program dan anggaran untuk kepentingan partai politik).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Melalui DPR/DPRD&lt;/b&gt;:&amp;nbsp;Candidacy buying dalam seleksi anggota DPR/DPRD,&amp;nbsp;Menguasai komisi-komisi strategis,&amp;nbsp;Membajak kebijakan dan anggaran,&amp;nbsp;Transaksi dalam pemilihan pejabat publik, atau&amp;nbsp;Transaksi dalam legislasi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Melalui Pengusaha&lt;/b&gt;:&amp;nbsp;Sumbangan illegal untuk kampanye,&amp;nbsp;Donatur partai,&amp;nbsp;Fee proyek.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;Inilah &lt;a href="http://www.berita2.com/nasional/politik--hankam/9895-daftar-politisi-korupsi-yang-masuk-penjara.html"&gt;daftar para koruptor &lt;/a&gt;dari Partai Golkar dalam dokumen ICW tersebut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;Andiwarsita Adinugroho |&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Ketua &amp;nbsp;Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI)&amp;nbsp;(anggota DPR periode 1999-2004 dari Fraksi Golkar).&lt;br /&gt;
Andiwarsita &amp;nbsp;menjadi tersangka kasus APHI dituntut oleh pengadilan Jakarta Selatan dengan delapan tahun penjara yang merugikan negara sebesar Rp 9,5 miliar. Pada 12 November 2005 PN Jakarta Pusat memvonis 6 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;2.&amp;nbsp;Saleh Djasit&lt;/b&gt; | Anggota Komisi VII DPR RI periode 2004-2009 dari Fraksi Partai Golkar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terkait dengan kasus dugaan korupsi pengadaan 20 alat pemadam kebakaran Pemrov Riau yang merugikan negara sekitar Rp4,7 miliar. Kasusnya diproses oleh KPK.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;3.&amp;nbsp;Hamka Yamdu&lt;/b&gt; |&amp;nbsp;Anggota Komisi XI DPR RI periode 1999-2004 dari Partai Golkar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kasus aliran dana Bank Indonesia ke DPR. Belum ada status, namun sudah dicekal. Sudah diperiksa oleh Badan Kehormatan DPR. Penanganan kasus saat ini masih dalam proses hukum KPK. Jangan lupa kasus asusila yang menimpanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;b&gt;4.&amp;nbsp;Azwar Chesputra&lt;/b&gt; | Anggota Komisi Kehutanan (Komisi IV) DPR - Partai Golkar.&lt;br /&gt;
Kasus korupsi alih fungsi hutan Pantai Air Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5.&amp;nbsp;Fahri Andi Leluasa&lt;/b&gt; | Anggota Komisi Kehutanan (Komisi IV) DPR - Partai Golkar.&lt;br /&gt;
Kasus korupsi alih fungsi hutan Pantai Air Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;6. Anthony Zeidra Abidin&lt;/b&gt; | Anggota Komisi XI DPR RI periode 1999-2004.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kasus aliran dana Bank Indonesia ke DPR. Belum ada status, namun sudah dicekal. Sudah diperiksa oleh Badan Kehormatan DPR. Penanganan kasus saat ini masih dalam proses hukum KPK.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Ini hanyalah beberapa nama yang tercatat oleh ICW, dan itupun baru dari satu dokumen. ICW tentu punya dokumen yang berisi daftar nama yang lebih panjang lagi. Semakin panjang daftarnya, semakin menunjukkan bahwa partai yang saat ini ada mungkin memang perlu diperiksa lebih teliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan lupa juga dengan kasus yang kabarnya melibatkan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie atau Ical. Ia dituding terkait dugaan &lt;a href="http://www.wartadunia.com/lira-desak-kpk-periksa-ical-terkait-alkes.html"&gt;korupsi alat kesehatan&lt;/a&gt; di Kementerian Koordinator Kesra pada 2006 senilai Rp 36,2 miliar. Orang nomor satu di Partai Golkar itu melakukan penunjukan langsung kepada PT Bersaudara untuk melakukan pengadaan alkes saat ia masih menjabat Menko Kesra pada 2006.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, gagasan BS untuk memberi peluang menutup partai yang kadernya korupsi, saya setuju. Ini gagasan brillian, yang harus didukung. Yang selalu bisa diragukan adalah implementasinya. KPK, yang seharusnya menjadi lembaga independen bagi pemberantasan korupsi - karena Kejaksaan dan Kepolisian sudah sulit dipercaya - kini justru sedang berada di titik nadirnya. Partai Golkar, yang sedikit banyak merasa beruntung dengan melemahnya KPK, punya motif besar diduga sebagai salah satu dalang dari melemahnya KPK.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan KPK, POLRI. dan KEJAKSAAN yang sama-sama 'banci', pemberantasan korupsi tidak akan kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;*Gambar dari halaman FB '&lt;a href="https://www.facebook.com/group.php?gid=113214714458"&gt;Gerakan Anti Golkar&lt;/a&gt;'.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-1344742527867768677?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FKIdCHBD0BmYlKRNH0GbeGTJEFg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FKIdCHBD0BmYlKRNH0GbeGTJEFg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FKIdCHBD0BmYlKRNH0GbeGTJEFg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FKIdCHBD0BmYlKRNH0GbeGTJEFg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=Rlv25Kv0824:Df8Y9dvu74w:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/Rlv25Kv0824" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-10T16:59:21.079+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-67jGZ2z8ypI/TkJPLrFstrI/AAAAAAAACDg/_ecPueBBcUA/s72-c/golkar-bubar.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/08/bubarkan-partai-yang-kadernya-korupsi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Belajar Dari Film Hana Kimi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/TNH8e3KUVRo/wiki.html</link><category>Oguri Shun</category><category>Horikita Maki</category><category>Hisaya Nakajo</category><category>Hana Kimi</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Tue, 30 Aug 2011 09:03:11 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-9027473489376693373</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WSmKjLxcHII/Til4MTC-29I/AAAAAAAAB6Y/bbOc16BFQUU/s1600/Hanakimi_chart.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="312" src="http://4.bp.blogspot.com/-WSmKjLxcHII/Til4MTC-29I/AAAAAAAAB6Y/bbOc16BFQUU/s640/Hanakimi_chart.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://wiki.d-addicts.com/Hanazakari_no_Kimitachi_e"&gt;wiki.d-addicts.com/Hanazakari_no_Kimitachi_e&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Saya bukan penggemar berat film Jepang, tapi juga tidak pernah sungguh-sungguh membencinya. Saya cuma merasa menjadi generasi yang tidak cocok dengan genre film-film seperti itu. Yang saya maksud bukan cuma film-film kartun Jepang, tetapi juga beberapa film drama yang sering ditayangkan oleh televisi di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena alasan di atas, saya miskin referensi soal film-film itu. Tapi banyak teman-teman yang memang beda generasi, punya koleksi yang cukup luar biasa. Dari situlah saya jadi ikut-ikutan menonton beberapa di antaranya. Semua yang sempat saya tonton adalah film seri, sehingga butuh waktu panjang untuk menyelesaikan keseluruhan ceritanya. Salah satunya adalah drama komedi romantis, &lt;a href="http://wiki.d-addicts.com/Hanazakari_no_Kimitachi_e"&gt;&lt;i&gt;Hanazakari no Kimitachi e&lt;/i&gt;.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Hanazakari no Kimitachi e&lt;/i&gt; di Indonesia lebih dikenal dengan nama &lt;i&gt;Hana Kimi&lt;/i&gt;, yang sebenarnya sebuah singkatan dari &lt;i&gt;&lt;b&gt;Hana&lt;/b&gt;zakari&lt;b&gt; &lt;/b&gt;no&lt;b&gt; Kimi&lt;/b&gt;tachi e&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Hana Kimi&lt;/i&gt; diadaptasi dari manga karya &lt;a href="http://www.goodreads.com/author/show/164153.Hisaya_Nakajo"&gt;Hisaya Nakajo&lt;/a&gt; dengan judul yang sama. Soal ceritanya dan siapa yang main di film itu bukan hal yang mau saya bahas di tulisan ini. Yang menarik perhatian saya adalah, bagaimana saya menemukan praktik pembelajaran yang unik sekaligus sangat bermakna di dalam film itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Drama seri ini sendiri berkisah tentang bagaimana seorang remaja putri, Ashiya Mizuki (&lt;a href="http://wiki.d-addicts.com/Horikita_Maki"&gt;Horikita Maki&lt;/a&gt;), yang 'kesengsem' dengan penampilan seorang atlet lompat tinggi, Sano&amp;nbsp;Izumi (&lt;a href="http://wiki.d-addicts.com/Oguri_Shun"&gt;Oguri Shun&lt;/a&gt;). Hingga suatu saat, di luar dugaan mereka bertemu dalam situasi yang buruk. Ashiya diganggu para &lt;i&gt;gangster&lt;/i&gt;, lalu Sano menyelamatkannya. Sial bagi Sano, ia tidak sempat meloloskan diri, dan terluka di bagian pergelangan kaki. Luka itu 'menyebabkannya' tidak bisa lagi menekuni lompat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa bersalah, Ashiya kemudian nekad mendatangi Sano dan berpura-pura menjadi laki-laki supaya bisa satu sekolah dengannya. Misinya cuma satu, membuat Sano mau kembali lompat tinggi. Dari sinilah cerita fim itu dibangun dalam 12 episode. Hubungan antar teman, konflik cinta di antara mereka, dalam &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; sekolah meski adegan belajar di kelas merupakan adegan langka. Tapi ini salah satu keunikannya, karena di sana pesan-pesan pendidikan justru bermunculan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam drama seri&lt;i&gt; &lt;/i&gt;itu&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; ada seorang figur dokter sekolahan yang dikisahkan sebagai seorang &lt;i&gt;'gay'&lt;/i&gt;. Tapi bagaimana ia membangun hubungan dengan murid-muridnya, memberi contoh perilaku bagi ideal bagi seorang guru. Dalam salah satu adegan, ia meminjam kaca mata guru lainnya, dan membersihkannya karena 'berkabut'. Kira-kira ia bilang begini kepada rekannya itu, "Kaca mata Anda tampak berkabut, mungkin tak akan bisa melihat seperti apa sebenarnya anak-anak (sekolah) itu." Kalimat yang cukup 'dalam'. Potongan videonya bisa Anda lihat di bawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://i.ytimg.com/vi/mANxDcobvfU/0.jpg" height="266" width="100%"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/mANxDcobvfU?f=user_uploads&amp;c=google-webdrive-0&amp;app=youtube_gdata" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="100%" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/mANxDcobvfU?f=user_uploads&amp;c=google-webdrive-0&amp;app=youtube_gdata" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama ini guru, para pendidik, bahkan orang tua, banyak yang merasa tahu, dan berhak memutuskan apa yang terbaik buat siswanya/anak-anaknya. Orang dewasa, orang tua, pendidik, seringkali tidak mampu memahami anak-anak ramaja, pertentangan batinnya, gejolak emosinya. Ini menjadi sebab utama banyak kasus kenapa anak remaja merasa tidak punya tempat di rumah atau di sekolah. Mereka tidak punya ruang mengekspresikan dirinya, dan terpojok oleh harapan orang dewasa di sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat guru dalam film itu sungguh menggetarkan saya. Kalimat yang sangat sederhana, tetapi mungkin nasihat yang paling tepat untuk para guru/pendidik, atau orang tua yang memiliki anak remaja. Anak-anak, apalagi yang sudah beranjak remaja, harus memiliki cukup ruang untuk menemukan dirinya. Mereka adalah pemilik masa depan, dan tak layak dikungkung dalam ketakutan berlebihan orang dewasa di masa lalunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memahami film-film Asia yang belakangan populer di kalangan remaja, jadi satu hal penting buat para pendidik dan orang tua. Jangan sampai praduga tentang kebiasaan membaca komik Jepang, atau mencontoh idola-idola dari sana, menjadi penghalang untuk melihat apa yang sebenarnya sedang mereka pelajari. Bahwa tidak semua hal pantas dicontoh -tanpa mau memahami apa yang mereka baca dan tonton- kita, orang dewasa, akan gagal mengartikulasikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-9027473489376693373?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQAASwMUIYzn6RCOFWhhEBe3yRI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQAASwMUIYzn6RCOFWhhEBe3yRI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQAASwMUIYzn6RCOFWhhEBe3yRI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQAASwMUIYzn6RCOFWhhEBe3yRI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=TNH8e3KUVRo:bTiSOZGgJhQ:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/TNH8e3KUVRo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-30T23:03:11.465+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-WSmKjLxcHII/Til4MTC-29I/AAAAAAAAB6Y/bbOc16BFQUU/s72-c/Hanakimi_chart.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/07/wiki.html</feedburner:origLink></item><item><title>Apa Kata Android tentang iOS 5?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/_60NrUrCVFo/apa-kata-android-tentang-ios-5.html</link><category>Populer</category><category>Android</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Thu, 04 Aug 2011 00:40:03 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-2853406088078075165</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JsuPe5pQwHI/Ti5Ag564AYI/AAAAAAAAB9c/9wRGbjQ8qAc/s1600/snap-pulldown-android.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-JsuPe5pQwHI/Ti5Ag564AYI/AAAAAAAAB9c/9wRGbjQ8qAc/s320/snap-pulldown-android.png" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Apple dan Google, tampaknya akan semakin meramaikan pasar OS untuk smartphone. iOS5 baru saja dirilis, sementara Android kini sudah mencapai versi 3.1. Kedua OS untuk &lt;i&gt;smartphone&lt;/i&gt; ini memang sedang jaya-jayanya, bahkan menurut klaim pihak Apple di WWDC 2011, iOS tetap yang teratas menguasai pasar &lt;i&gt;smartphone&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pengguna Android, meski masih setia dengan versi &lt;a href="http://forum.xda-developers.com/showthread.php?t=914513"&gt;2.2.9 Hackdroid&lt;/a&gt; versi developer independen, karena &lt;i&gt;handheld&lt;/i&gt; saya, SE Xperia X8 memang hanya diperbarui hingga versi 2.1. Beberapa &lt;i&gt;developer&lt;/i&gt; di forum xda-developer sedang bekerja keras memperbarui Android 2.3 agar bisa bekerja penuh dengan X8. Ini bagian yang saya suka dari Android :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Habis nonton video WWDC 2011 di website &lt;a href="http://events.apple.com.edgesuite.net/11piubpwiqubf06/event/"&gt;Apple Events&lt;/a&gt;, saya jadi tertarik pada satu hal, yang menurut saya terkait dengan apa yang sudah dimiliki Android sejak dulu. Begitu melihat demo iOS5 tentang &lt;a href="http://www.engadget.com/photos/ios-5-notification-center/"&gt;Notification Center&lt;/a&gt;, saya langsung teringat dengan &lt;i&gt;pull down menu&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;status bar&lt;/i&gt; di Andorid, yang juga berperan sama. Setelah &lt;i&gt;googling&lt;/i&gt; sana-sini mencoba mencari informasi, saya temukan dua artikel paling relevan dengan apa yang saya pikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan dari CNet misalnya, membandingkan beberapa OS secara &lt;i&gt;head to head.&lt;/i&gt; Seperti yang Anda bisa lihat, &lt;i&gt;Notification Centre&lt;/i&gt; sudah digunakan oleh Andorid sejak tahun 2008, yang dikenal dengan &lt;i&gt;Notification Pull-down&lt;/i&gt;. Memang secara tampilan, Notification Centre iOS5 memiliki ciri khas nya sendiri, khas grafis antarmuka dari Apple. Lagipula, iOS5 menawarkan tampilan notifikasi pada saat telepon sedang terkunci. Sedangkan fitur integrasi Twitter dengan iOS5, di Android sudah menyediakan fitur &lt;i&gt;Share&lt;/i&gt;, yang memungkinkan kita mengirimkan tautan dari peramban ke aplikasi buatan pihak ketiga Android, misalnya ke Twitter, Facebook, atau aplikasi lain yang relevan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah screenshot tabel perbandingan beberapa mobile OS yang saya ambil dari web &lt;a href="http://reviews.cnet.com/8301-19512_7-20068741-233.html?tag=cnetRiver"&gt;reviews.CNet.com&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6g_B5a4c_28/Ti5AvNwBMUI/AAAAAAAAB9g/YI8CN3LN6-g/s1600/Picture+80.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-6g_B5a4c_28/Ti5AvNwBMUI/AAAAAAAAB9g/YI8CN3LN6-g/s1600/Picture+80.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Fitur lain yang diperkenalkan iOS5 adalah Safari untuk iOS yang menyertakan &lt;i&gt;tabbed browsing&lt;/i&gt;, fungsi “&lt;i&gt;reader&lt;/i&gt;” seperti yang dimiliki safari versi Mac OS X, dan “&lt;i&gt;reading list&lt;/i&gt;”. &lt;i&gt;Tabbed browsing&lt;/i&gt; dan fungsi "&lt;i&gt;reader&lt;/i&gt;" tentu bukan aneh bagi Anda pengguna &lt;i&gt;browser&lt;/i&gt; Safari, sedangkan fungsi "&lt;i&gt;reading list&lt;/i&gt;" adalah daftar artikel yang Anda tandai melalui sistem &lt;i&gt;bookmark&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Android, &lt;i&gt;multi tab&lt;/i&gt; Android &lt;i&gt;native browser&lt;/i&gt; memang belum ada, yang ada hanya multi halaman. Ia tidak ditampakkan sebagai tab, tetapi kita bisa browsing dengan beberapa halaman aktif sekaligus. Dengan menekan tombol menu, kita bisa mengkases halaman mana yang akan dibaca. Dari beberapa third party browser yang saya pernah coba, tidak ada yang benar-benar menggunakan multi tab, tetapi hanya &lt;i&gt;multi page browsing&lt;/i&gt;. Entah setelah peluncuran iOS ini, mungkin para developer di Google atau para developer independen lainnya akan mulai 'bertindak'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan fitur kamera dan aplikasi untuk email, Android memang cukup tertinggal. Kamera iPhone selama ini sangat populer di kalangan kamera smartphone karena kemampuannya yang superior. Sementara Android, tergantung pada vendor device yang menggunakannya. Samsung sejauh ini memiliki teknologi kamera yang cukup canggih. Demikian pula dengan aplikasi email, di Android tersedia aplikasi email dan GMail, yang dua-duanya memiliki fitur yang standar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fitur lainnya yang dibahas dalam peluncuran itu tidak terlalu populer di kalangan user pemula seperti saya, jadi tidak dibahas lebih lanjut. Tapi jika melihat beberapa fitur yang membuat Android tampak ketinggalan, kita perlu menunggu bagaimana reaksi developer Android untuk menyikapi tantangan iOS5 ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simak juga perbandingan yang lain di artikel &lt;a href="http://www.droiddog.com/android-blog/2011/06/breakdown-android-2-3-vs-ios-5-for-iphone/"&gt;Breakdown: Android 2.3 vs iOS 5 for iPhone&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-2853406088078075165?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sn6ydyoDpVqN-2GA7SBeH8-WVAg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sn6ydyoDpVqN-2GA7SBeH8-WVAg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sn6ydyoDpVqN-2GA7SBeH8-WVAg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sn6ydyoDpVqN-2GA7SBeH8-WVAg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=_60NrUrCVFo:3pjxyu4qR5I:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/_60NrUrCVFo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-04T14:40:03.701+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-JsuPe5pQwHI/Ti5Ag564AYI/AAAAAAAAB9c/9wRGbjQ8qAc/s72-c/snap-pulldown-android.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/06/apa-kata-android-tentang-ios-5.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bersikap Adil Sejak Dalam Pikiran</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/s-ygrZUr5rQ/bersikap-adil-sejak-dalam-pikiran.html</link><category>Pramoedya Ananta Toer</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Sun, 20 Nov 2011 17:27:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-7985275729927681641</guid><description>Berlaku adil memang tidak mudah. Terutama jika cara pandang telah terkontaminasi oleh &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;. Apapun bentuk sumber informasinya, tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi selalu menjadi rujukan, yang terkadang tanpa &lt;em&gt;reserve&lt;/em&gt; menjadi panduan dalam mengambil keputusan. Keadilan bisa terpinggirkan begitu rupa, hanya karena informasi &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt; yang dominan. Kini bahkan yang media sosial telah mulai menjadi &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuan Minke, tokoh ciptaan Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu tetraloginya, Bumi Manusia, adalah tokoh yang&amp;nbsp; mengucapkan kalimat dalam judul artikel ini, "BERSIKAP ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN".&amp;nbsp; Konteksnya adalah prinsip pokok  jurnalisme, dimana dalam menerima dan mengolah fakta haruslah seobyektif  mungkin. Sejak dalam bentuk "pikiran", belum "tertuang" menjadi  "kata-kata", kita sudah harus adil. Supaya yang keluar pun hasilnya  obyektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betulkah masih ada ruang dan waktu untuk bersikap adil sejak dalam pikiran?  Bukankah  jika sudah tidak sejalan, dianggap berseberangan secara  ideologi atau tidak sepaham, maka sudah dikatakan sebagai lawan?  Bukankah sekarang ini informasi menjadi alat untuk  menundukkan  pihak lain, atau menggalang dukungan untuk pembenaran sebuah tindakan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Mari kita tengok dari ruang yang paling kecil, keluarga. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku &lt;em&gt;jaga image (jaim)&lt;/em&gt; seseorang, bisa jadi kebiasaan karena lingkungan keluarga mendesaknya untuk tampil sempurna di tengah ketidaksempurnaan. Seringkali seseorang tidak menjadi dirinya sendiri, karena harus memenuhi selera orang lain, semacam &lt;em&gt;benchmark&lt;/em&gt;, yang bisa berbentuk etika atau tata krama, seringkali jadi kode etik dalam keluarga. Sementara "orang lain" itu, terkadang tidak lain adalah keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Etika atau tata krama tentu sesuatu yang dibangun sesuai konteks sosialnya. Biasanya sesuatu yang dirujuk untuk hal-hal yang baik. Kakunya nilai-nilai dalam etika ini, kemudian menjadi alat untuk menyamaratakan kasus. Sedikit saja seseorang melanggar kode etik, maka seolah tidak ada jalan kembali. &lt;em&gt;Social punishment&lt;/em&gt; yang menimpa seseorang, bisa lebih kejam daripada hukuman fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersikap adil sejak dalam pikiran, kita harus bisa menyisihkan citra  yang melekat kuat pada satu subyek. Pencitraan itu sendiri bisa lahir oleh sebuah tindakan  yang disengaja  dan direncanakan, atau sesuatu yang terjadi dengan begitu  saja. Ia bisa  terjadi dengan begitu saja, karena ada nilai yang terlanggar. Citra itu bisa sedemikian kuatnya,  tetapi sayangnya citra bukanlah kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih ada kebenaran lain di  balik kebenaran semu hasil pencitraan, asal kita mau bersikap adil sejak  dalam pikiran. Citra dan pelabelan terhadap seseorang hanya karena tampilan luarnya saja, adalah sikap yang tidak adil sejak dalam pikiran. Bersikap &lt;i&gt;prejudice&lt;/i&gt;, hanya karena kata yang diucapkan, atau karena pakaian yang dikenakan, adalah cara pandang yang dangkal. Kita butuh lebih dari sekedar itu untuk kemudian merespon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;Nilai-nilai &lt;/em&gt;yang jadi kode etik itu, seharusnya selalu di-&lt;em&gt;upgrade&lt;/em&gt; sesuai perkembangan jaman. Nilai-nilai kekeluargaan, tidak berlaku di saat kita ditilang, tetapi berlaku ketika keluarga kita mendapati sebuah situasi kesusahan. Yang menjadi salah kaprah, &lt;em&gt;nilai-nilai itu menjadi benchmark&lt;/em&gt; yang diberlakukan tidak pada tempatnya, hanya karena sesuatu yang sudah dilakukan sekian lama, dianggap mengandung nilai kebenaran yang paling tinggi. Hanya karena nilai-nilai itu menjadi &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Lalu anggota-anggota keluarga itu akan tumbuh besar, dan mulai memasuki dunia yang lain.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersikap adil sejak dalam pikiran menjadi sulit, karena desakan nilai yang berlaku sebagai &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;, tidak mudah ditentang. Menentang &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;, harus siap menerima risiko dikucilkan. Mengikuti arus &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;, harus siap dengan risiko menentang suara hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KKN di era Orba, tidak lain lahir karena penerapan nilai kekeluargaan  yang keluar dari rel profesionalisme. Merekrut saudara sendiri tentu  bukan sebuah larangan, tetapi ada etika lain di tempat bekerja, yang  kita sebut sebagai profesionalisme itu. Memaksakan KKN meski melanggar profesionalisme, adalah sebuah dilema bagi orang yang mau berpikir adil sejak dalam pikiran. Dilema yang bisa mengakibatkan runtuhnya ikatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beradunya nilai dalam keluarga dan tempat bekerja, menjadi persoalan rutin masyarakat kota. Antara keluarga dan tempat bekerja, di kota adalah dua dunia yang bisa sangat berbeda. Tidak seperti jaman dulu di desa, ketika jenis pekerjaan tidak terlalu beraneka ragam, bahkan cenderung seragam, atau paling tidak memiliki kedekatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam desakan kontradiksi nilai-nilai ini, ruang dan waktu semakin sempit untuk membangun sikap adil sejak dalam pikiran. Sikap adil sejak dalam pikiran membutuhkan lebih banyak waktu untuk merekam informasi, mengolahnya, agar menghasilkan sebuah keputusan yang benar-benar adil. Tapi manusia tidak seperti komputer yang hanya terdiri dari mesin logika berargumen ganda, ya dan tidak. Manusia juga dianugerahi emosi, yang tidak punya ukuran standar yang pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membawa tradisi keluarga ke ruang bekerja, atau sebaliknya membawa tradisi bekerja ke ruang keluarga, akan melahirkan benturan nilai. Lalu terbentuklah watak bangsa, yang diwakili oleh sikap kenegaraan petinggi-petingginya. Kegagalan menyelesaikan konflik di tingkat mikro, terbawa hingga ke tingkat makro; melahirkan kerusuhan. Di sinilah tingkat kedewasaan dibutuhkan. Di sinilah ruang dan waktu jeda untuk dapat bersikap adil sejak dalam pikiran, menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Lalu di mana seharusnya perilaku adil dalam pikiran itu disemai?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan informal dalam keluarga, dan lingkungan sekitar, pendidikan non-formal di lingkungan kerja, dan pendidikan formal yang dilakukan di sekolah, jarang sekali menyentuh sisi-sisi perbenturan nilai-nilai di atas. Pendididikan informal dibiarkan tertinggal jauh dengan nilai-nilai yang sudah kadaluarsa, sementara pendidikan formal meluncur sangat cepat mengikuti arus modernisasi. Pendidikan non-formal, hidup enggan mati tak mau, karena sebagian lahannya malah diserobot ranah formal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan di tingkat keluarga dan lingkungan, meski tak pernah ada kurikulumnya, adalah tulang punggung pembentukan watak bangsa. Tidak mungkin hanya meletakkan tanggung jawab pendidikan karakter bangsa pada pendidikan formal saja. Justru ruang informal inilah, dimana manusia dilatih berkonflik sejak lahir dan dibesarkan, akan melahirkan manusia-manusia tangguh, dan adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkungan dan keluarga adalah arena belajar yang sesungguhnya, sementara sekolah formal hanyalah simulasi belaka. Jadi sungguh salah kalau menilai, semua yang bertitel, berpendidikan tinggi di sekolah formal, kemudian menjadi manusia beradab dan bisa berlaku lebih adil. Apalagi kalau diukur dari sisi materi saja. Rasanya itu adalah pikiran abad pertengahan di Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fenomena mainstream belakangan ini, orang dengan mudah terbawa oleh informasi yang tidak diperiksa dulu keakuratannya. Orang ikut-ikutan menghujat karena informasi yang belum tentu akurat, sebaliknya ada pula orang yang disanjung sedemikian tingginya, juga karena informasi yang masih sumir kebenarannya. Semua hanya menggantungkan penilaiannya pada citra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang berlaku di masyarakat, jelas menjadi pembelajaran bagi generasi muda ke depan. Kalau tidak dihentikan, maka kita hanya akan mengulang kesalahan yang sama yang telah dilakukan pendahulu kita di jaman Orde Baru, bahkan sebelumnya. Kita butuh perubahan. Pertanyaannya, darimana perubahan itu akan datang? Menunggu ratu adil dari langit, atau mau dimulai dari bawah saja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin bisa kita mulai sekarang, dengan memaksakan bersikap lebih adil, sejak dalam pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-7985275729927681641?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GMshYNSTzxXxNenEfwI3raLOt0Q/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GMshYNSTzxXxNenEfwI3raLOt0Q/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GMshYNSTzxXxNenEfwI3raLOt0Q/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GMshYNSTzxXxNenEfwI3raLOt0Q/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=s-ygrZUr5rQ:dD48Nk9hUEo:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/s-ygrZUr5rQ" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-21T08:27:00.279+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2011/03/bersikap-adil-sejak-dalam-pikiran.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kecoa: Rendah Sumberdaya, dan Tahan Lama</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/oGx--AQSKkY/kecoa-rendah-sumberdaya-dan-tahan-lama.html</link><category>Kecoa</category><category>Populer</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Mon, 25 Jul 2011 21:15:39 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-4927346035503850185</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-d3fYnMLFoo0/Ti4_JSOCTYI/AAAAAAAAB9Y/XH48Xwi4Ow4/s1600/kecoa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-d3fYnMLFoo0/Ti4_JSOCTYI/AAAAAAAAB9Y/XH48Xwi4Ow4/s1600/kecoa.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Katanya, kecoa ini salah satu hewan yang paling tahan lama. Sementara banyak makhluk lain punah seiring berjalannya usia bumi, binatang satu ini tetap bandel. Menurut para ahli sejarah binatang, kecoa sudah ada semenjak 350 juta tahun yang lalu. Mereka bahkan duluan hadir sebelum dinosaurus yang diyakini muncul 250 juta tahun yang lalu. Seperti binatang lainnya, mereka mengalami evolusi sampai memiliki bentuk sekarang ini, misalnya pada kakinya. Enam kaki yang dimiliki kecoa membuat mereka dapat bergerak secara mengagumkan dan berlari cepat. Tetapi secara umum, kecoa tidak mengalami perubahan bentuk yang drastis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecoa mampu hidup di semua lokasi di Bumi ini, bahkan di antartika sekalipun, kecuali pada wilayah di ketinggian di atas 6.500 kaki. Sekurang-kurangnya ada 3500 jenis (&lt;a href="http://www.planetcockroach.com/" target="_blank"&gt;planetcocroach.com&lt;/a&gt;), bahkan ada yang mengatakan mencapai 5000 jenis. Mereka memilih untuk hidup di tempat-tempat lembab, seperti pembuangan sampah, di belakang lemari, bahkan di bawah tempat tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siklus hidup kecoa sebenarnya memiliki tiga tahap perkembangan, mulai dari tahap sebagai telur, nimfa, dan tahap dewasa. Siklus dimulai dari telur yang dimasukkan ke dalam wadah sebanyak enam sampai 40 telur sekaligus. Wadah-wadah ini sering disembunyikan untuk menjaga keamanannya. Beberapa kecoa ada yang memilih untuk menjaga telur mereka, sedangkan yang lain masih ada yang membawa wadah ini bersama mereka, sampai telurnya siap menetas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika menetas telur dan kecoak muda sangat kecil dan dikenal sebagai peri. Nimfa harus melalui beberapa tahapan yang disebut &lt;i&gt;molting&lt;/i&gt;, di mana tubuh mereka akan sangat lembut dan putih. Setiap kali proses &lt;i&gt;molting&lt;/i&gt; selesai kecoa akan menjadi lebih besar, berubah warna, dan terlihat lebih seperti kecoa dewasa. Tahap dari siklus hidup kecoa bisa berlangsung dari satu bulan hingga beberapa tahun, tergantung pada lingkungan, jenis kecoa, dan prevalensi terhadap penyakit kecoa dan parasit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka hidup dengan merasakan dan makan melalui kaki-kakinya. Selain digunakan untuk jalan-jalan, kaki-kaki ini adalah "lidah" mereka dalam urusan makan. Karena itu mereka merupakan salah satu serangga yang menyebarkan bibit penyakit, terutama karena mereka nongkrong-nya di tempat-tempat yang buat kita memang "menjijikkan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa mereka bisa begitu tahan lama di dunia ini? Atau dalam kata lain kok bisa sedemikian survive? Salah satu yang menarik, mereka ini tidak butuh sumber makanan dan kondisi lingkungan yang aneh-aneh. Tidak seperti manusia yang butuh kehangatan ketika musim dingin tiba, atau butuh AC ketika tinggal di lingkungan yang sangat panas. Kelihatannya, toleransi mereka terhadap alam lebih baik dari makhluk yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Cockroaches are often associated with garbage, food that has been left out, and can often be found in the kitchen. Moist, damp, dark areas tend to attract cockroaches, and they can eat just about anything. Another interesting cockroach fact is that they can survive on literally anything including the glue on stamps and envelopes, the residue on your toothbrush, and medicine!&lt;/blockquote&gt;Sebuah laporan dalam &lt;a href="http://www.wired.com/wiredscience/2009/10/cockroach-recycling/" target="_blank"&gt;Proceedings of the National Academy of Sciences, Vol. 106, No. 43, October 27, 2009&lt;/a&gt;, menyebutkan bahwa kecoa mampu mengubah sampah menjadi sari makanan yang dibutuhkan kecoa untuk hidup. Ini berkat sejenis bakteria yang disebut &lt;i&gt;blattabacterium&lt;/i&gt;. Hal ini membuat kecoa dapat hidup dengan memakan apa saja. Efisiensi sistem daur ulang yang dilakukan bakteri tadi, membuat kecoa tidak butuh pipis. Bakteri inilah sumber kedigdayaan kecoa hingga mampu bertahan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, ini hanya sekedar berkhayal, manusia bisa lebih sejahtera hidupnya jika meniru kecoa, tidak perlu berlebihan dalam mengeksploitasi lingkungan demi kebutuhan hidupnya. Hidup dengan sumberdaya yang seadanya, mengoptimalkannya, mungkin akan lebih membawa kesejahteraan. Tentu tidak perlu sampai harus meninjeksikan &lt;i&gt;blattabacterium&lt;/i&gt; ke dalam tubuh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, isu sumberdaya alam yang digunakan untuk menopang kehidupan manusia semakin menjadi isu besar. Energi alternatif diperkirakan menjadi primadona di masa depan, karena sumber energi kita saat ini tidak akan bertahan lama. Isu krisis energi sudah menjadi isu global, karena tampaknya umat manusia semakin tidak bisa hidup tanpa energi. Gagasan mengenai energi alternatif pun harus segera digagas, misalnya yang &lt;a href="http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/" target="_blank"&gt;satu ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain mencari energi alternatif, tentu ada baiknya mengurangi konsumsi energi untuk hal-hal yang berlebihan. Kecoa mungkin bisa jadi inspirasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-4927346035503850185?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xhdFxG-CIz2DyYPFe4LcTcJtxcI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xhdFxG-CIz2DyYPFe4LcTcJtxcI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xhdFxG-CIz2DyYPFe4LcTcJtxcI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xhdFxG-CIz2DyYPFe4LcTcJtxcI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=oGx--AQSKkY:sWudss2TaZA:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/oGx--AQSKkY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-26T11:15:39.717+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-d3fYnMLFoo0/Ti4_JSOCTYI/AAAAAAAAB9Y/XH48Xwi4Ow4/s72-c/kecoa.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2010/12/kecoa-rendah-sumberdaya-dan-tahan-lama.html</feedburner:origLink></item><item><title>Wikileaks: Arena Perang Dunia Digital</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/yhZvzl6T8ek/wikileaks-arena-perang-dunia-digital.html</link><category>anonymous</category><category>wikileaks</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Thu, 24 Nov 2011 15:13:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-8209701715221615533</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qdFftSBOdDw/Ts7Pcjk0pRI/AAAAAAAACto/d4RgY-pO-A0/s1600/anonymous_4chan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="360" src="http://4.bp.blogspot.com/-qdFftSBOdDw/Ts7Pcjk0pRI/AAAAAAAACto/d4RgY-pO-A0/s640/anonymous_4chan.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.newoes.com/wikileaks-indonesia" target="_blank"&gt;Wikileaks&lt;/a&gt; mendapat serangan hebat yang sempat mengakibatkannya tidak bisa online selama beberapa waktu. Kabarnya, mereka mendapat serangan terus menerus dari &lt;em&gt;hacker&lt;/em&gt; yang entah disewa, atau memang kepentingannya terganggu oleh keberadaan Wikileaks. Wikileaks sampai harus membuat banyak cadangan mirror web server supaya tetap bisa diakses. Tapi, bantuan datang dari mana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merespon serangan itu, komunitas&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.4chan.org/"&gt;4chan&lt;/a&gt;, yang terkenal dengan &lt;i&gt;anonymous&lt;/i&gt; user-nya melakukan serangan balik. Yang jadi sasaran antara lain layanan Paypal dan sebuah Bank di Swiss, karena mereka memutuskan hubungan bisnis dengan Wikileaks. Komunitas anonim laiin pun tampaknya turut bergabung.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
A&amp;nbsp;4chan spokesman named “Coldblood” has said that any web site that is “bowing down to government pressure” is a potential target of DDoS attacks, which flood a site with requests until it is shut down. The attacks are being performed under the name&amp;nbsp;&lt;a href="http://arstechnica.com/tech-policy/news/2010/09/operation-payback-attacks-continue-until-we-stop-being-angry.ars"&gt;Operation Payback&lt;/a&gt;, which has also initiated attacks against anti-piracy groups such as the Recording Industry Association of America. If the campaign is valid, then Amazon, EveryDNS.net, MasterCard, Visa and others could also be targets — since all have cut off WikiLeaks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://arstechnica.com/tech-policy/news/2010/12/4chan-rushes-to-wikileaks-defense-forces-swiss-banking-site-offline.ars"&gt;Ars Technica reports&lt;/a&gt; that the attacks against&amp;nbsp;&lt;a href="http://thepaypalblog.com/"&gt;PayPal took its blog offline&lt;/a&gt;temporarily but the main PayPal site wasn’t shut down. But the&amp;nbsp;&lt;a href="http://postfinance.ch/"&gt;Swiss bank’s web site &lt;/a&gt;was unavailable for more than 16 hours. The bank was targeted because it shut one of WikiLeaks founder Julian Assange’s bank accounts because he liked about his residency on an application form. But even as it has lost access to revenue sources such as PayPal, the&lt;a href="http://eu.techcrunch.com/2010/12/08/wikileaks-continues-to-fund-itself-via-tech-startup-flattr/"&gt; startup Flattr, created by Peter Sunde, co-founder of torrent site Pirate Bay, has been raising money&lt;/a&gt; for WikiLeaks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Earlier today, Assange was arrested by the British police on sex charges related to an investigation in Sweden. He is fighting extradition, but also posted a missive dubbed, “&lt;a href="http://www.theaustralian.com.au/in-depth/wikileaks/dont-shoot-messenger-for-revealing-uncomfortable-truths/story-fn775xjq-1225967241332"&gt;Don’t shoot the messenger for revealing uncomfortable truths&lt;/a&gt;.” The idea of WikiLeaks, he wrote, was to use internet technologies in new ways to report the truth. He noted that Sarah Palin says he should be “hunted down like Osama bin Laden.” Assange also said that in its four-year history, WikiLeaks’ publications haven’t led to any deaths.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
There are thus a lot of contradictions in what 4chan is doing, where its forces are preventing sites from speaking out and are punishing those sites because they want to hinder WikiLeaks from speaking out. The site of Assange’s Swedish prosecutors has also been taken offline. 4chan itself has also come under attack, and WikiLeaks itself has been under continuous cyber attack. Hundreds of mirror sites have sprouted to make sure that WikiLeaks does not go offline. Make no mistake. This is an&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Infowar"&gt; infowar&lt;/a&gt;. In a&lt;a href="http://twitter.com/#!/jpbarlow/status/10627544017534976"&gt;recent tweet&lt;/a&gt;, cyber guru John Perry Barlow said just that, “The first serious infowar is now engaged. The field of battle is WikiLeaks. You are the troops.”&lt;/blockquote&gt;
"Perang terbuka" ini berawal ketika PayPal menyatakan menghentikan layanan untuk Wikileaks setelah ditekan pemerintah AS. Sementara&amp;nbsp;Departemen Luar Negeri AS menyangkal mereka telah mengontak langsung pihak Paypal.&amp;nbsp;Para hacker ini lalu memanfaatkan media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk berbagi informasi dan mengumumkan kegiatan mereka. Melalui akun&amp;nbsp;Anonymous di Twitter, &lt;a href="http://twitter.com/Anon_Operation" target="_blank"&gt;@Anon_Operation&lt;/a&gt;, para pembela sempat mengumumkan aktivitas mereka, tetapi tak lama kemudian akun tersebut dibekukan oleh pihak Twitter. Padahal akun itu sudah memiliki 20.000 pengikut.&amp;nbsp;Pihak twitter tampaknya membekukan akun tersebut karena dianggap akun tersebut dengan sengaja menerbitkan sebuah tautan ke database nomor kartu kredit, lengkap waktu kadaluarsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi&amp;nbsp;Operation Payback tidak tinggal diam. Mereka memperingatkan akan menyerang Twitter bila diskusi tentang Wikileaks disensor. Apakah itu akan terjadi, kita tunggu saja berita selanjutnya. Yang pasti, 'medan perang' wikileaks ini tampaknya bisa melebar kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara di Facebook, akun mereka juga kena pembekuan. Fans Page Operation Payback dibekukan karena dianggap telah melanggar aturan yang dicantumkan Facebook. salah satu pasal yang dimaksud, adalah melakukan tindakan illegal di facebook. Dalam &lt;em&gt;screenshot&lt;/em&gt; yang dirilis &lt;a href="http://blogs.forbes.com/mikeisaac/2010/12/08/facebook-and-twitter-suspend-operation-payback-accounts/" target="_blank"&gt;blog.forbes.com&lt;/a&gt; dan&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.huffingtonpost.com/2010/12/08/anonymous-operation-payba_n_794130.html" target="_blank"&gt;huffingtonpost.com&lt;/a&gt;, tampak bahwa para pendukung Operation Payback sedang saling memberi selamat atas keberhasilan mereka menyerang beberapa laman penting. Padahal, dalam sebuah berita di &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/12/09/brk,20101209-297727,id.html" target="_blank"&gt;tempointeraktif.com&lt;/a&gt;, tertulis bahwa Facebook belum menutup fans page tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Yang pasti, kata Facebook, sampai saat ini laman fans Wikileaks di Facebook tidak melanggar hukum. "Tapi akmi terus memantau situasi mutakhir." Akun Wikileaks di Facebook saat ini memiliki 1.087.178 anggota.&lt;/blockquote&gt;
Wikileaks sendiri sepertinya akan mampu bertahan.&amp;nbsp;Mereka sekarang memiliki beberapa alamat di internet dan lebih dari 500 situs menawarkan salinan muatan Wikileaks. Lawan yang dihadapi Wikileaks jelas bukan sembarangan, namun Wikileaks juga memiliki pendukung yang tak kalah tangguh, yang telah siap mempertahankan masa depan situs tersebut. Hebatnya, mereka datang dari berbagai komunitas, yang terhubung oleh semangat kebebasan informasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakah informasi rahasia yang berkaitan dengan Indonesia? &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2010/12/08/170825/1511863/10/pemerintah-analisa-dampak-kasus-wikileaks-agar-tak-rugikan-ri" target="_blank"&gt;Menurut&amp;nbsp;Menteri Luar Negeri&lt;/a&gt;, Marty Natalegawa, pemerintah Indonesia enggan memberikan komentar terus-menerus mengenai apa yang dibocorkan oleh WikiLeaks. Indonesia tidak akan bereaksi berlebihan terhadap hal ini.&amp;nbsp;"Bukan merupakan praktek pemerintah Indonesia maupun pemerintah manapun juga yang memberikan komentar terhadap informasi yang sifatnya rahasia, informasi intelijen, apalagi yang sifatnya dibocorkan secara tidak sepatutnya," ujarnya. Sementara politisi Golkar, &lt;a href="http://www.inilah.com/read/detail/1036562/ditunggu-bocoran-skandal-century-di-wikileaks" target="_blank"&gt;Bambang Soesatyo&lt;/a&gt;, sempat melemparkan isu tentang kemungkinan adanya bocoran info soal Century dari Wikileaks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin perang informasi melalui propaganda media massa sudah sering kita lihat, tapi kali ini, pertempuran para 'hacker' yang biasanya biasa kita lihat di layar perak, terjadi di dunia yang sesungguhnya. Peristiwa hacker menyerang situs tertentu memang bukan peristiwa baru. Banyak sudah peristiwa yang sama terjadi sebelumnya. Tetapi yang menyebabkan munculnya solidaritas komunitas lain, untuk ikut membantu dan masuk ke medan pertempuran itu, mungkin kasus wikileaks ini salah satu yang menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I imagine that right now, you're feeling a bit like Alice. Hmm? Tumbling down the rabbit hole?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- The Matrix&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Gambar dan artikel dari sini:&amp;nbsp;&lt;a href="http://arstechnica.com/tech-policy/news/2010/12/4chan-rushes-to-wikileaks-defense-forces-swiss-banking-site-offline.ars"&gt;http://arstechnica.com&lt;/a&gt; dan dari sini:&amp;nbsp;&lt;a href="http://venturebeat.com/2010/12/07/4chans-hackers-come-to-the-defense-of-wikileaks-by-attacking-its-enemies/"&gt;http://venturebeat.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-8209701715221615533?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KY5zwGocUrHHaC2eyJz4moYU9lg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KY5zwGocUrHHaC2eyJz4moYU9lg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KY5zwGocUrHHaC2eyJz4moYU9lg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/KY5zwGocUrHHaC2eyJz4moYU9lg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=yhZvzl6T8ek:T0VfJS7r5ug:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/yhZvzl6T8ek" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-25T06:13:20.004+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-qdFftSBOdDw/Ts7Pcjk0pRI/AAAAAAAACto/d4RgY-pO-A0/s72-c/anonymous_4chan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2010/12/wikileaks-arena-perang-dunia-digital.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kita Butuh Pamplet Masa Darurat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/fBZLF1sn1cM/kita-butuh-pamplet-masa-darurat.html</link><category>manikebu</category><category>rendra</category><category>lekra</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Sun, 18 Dec 2011 19:49:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-6339287937459200915</guid><description>Suatu ketika, Rendra menulis dalam Sajak Sebatang Lisong. Ini potongannya:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya. Tetapi pertanyaanku. Membentur jidat penyair–penyair salon. Yang bersajak tentang anggur dan rembulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya. Dan delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan. Termangu–mangu di kaki dewi kesenian …&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah sajakku. Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian. Bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir. Bila terpisah dari masalah kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...&lt;/blockquote&gt;Saya lalu teringat perseteruan Manikebu dan Lekra. Perseteruan intelektual, yang tampaknya bisa mencerdaskan, ternyata masih buram di mata banyak generasi muda, seperti saya. Generasi yang lahir di masa jaya Orde Baru, kehilangan sentuhan sejarah, karena diputuskan secara semena-mena di meja operasi cangkok ideologi, bernama Pembangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas nama pembangunan, perbedaan dan perdebatan dikebiri. Akhirnya, sejarah yang saya pahami, dan mungkin juga generasi di bawah saya, adalah sejarah tunggal miliki penguasa, sang pemenang. Pemeo "Sejarah ditulis oleh sang Pemenang", mendapatkan pembuktiannya di era Orde Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil, apa yang saya akan ungkapkan mengenai Manikebu vs Lekra, mungkin sama sekali tidak relevan dengan kenyataannya. Bahkan dari beberapa sumber yang saya baca, saya tetap merasa, apa yang saya tahu ini bisa diragukan keotentikannya. Tapi saya akan coba melihatnya dengan logika sederhana saja, logika awam yang mencoba menatap budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BANYAK pihak, atau banyak orang awam yang memaknai peristiwa Manikebu ini sebagai pergerakan budaya. Bahwa seni harus berdiri di atas universalitas, karenanya tak boleh berpanglimakan politik. Ini adalah persepsi awam tentang cara pandang Manikebu. Sementara terhadap Lekra, yang afiliasinya sangat kuat dengan salah satu partai besar pada waktu itu, PKI, adalah partai pengusung realisme sosialis yang memasung kerangka berpikir kesenian di bawah gerakan politik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah wawancara, Gunawan Muhammad menyatakan bahwa banyak kesalahan pahaman tentang humanisme universal yang katanya ada di balik gagasan Manikebu. Yang ditentang Manifes Kebudayaan adalah asas politik sebagai panglima, jika itulah yang dimaksud sebagai 'menjadi soko guru realisme sosialis'. Jika politik sebagai panglima, maka sama dengan partai yang akan mengendalikan kesenian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara, Manikebu yang disusun tahun 1963 itu, muncul setelah melihat bahwa sosialisme dapat diperjuangkan tanpa doktrin realisme sosialis. Di masa 60-an itu, muncul penyair bebas seperti Yevtushenko dll. di Uni Soviet, tapi mereka tak mengikuti doktrin realisme sosialis. Doktrin realisme sosialis dianggap bersifat represif dalam kehidupan seni, karenanya ia ditentang. Di Eropa Timur misalnya, para sastrawan membangkang, sebut saja Vaclac Havel, yang kemudian jadi Presiden Cheko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pramoedya Ananta Toer, salah satu dedengkot Lekra, malah pernah menyatakan bahwa ia tak pernah membela realisme sosialis. Ia memang pernah diminta berbicara mengenai realisme sosialis di UI, tetapi kemudian ia merasa dicap sebagai pendukung realisme sosialis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyoal Manikebu, menurut Pram itu persoalan pada masa Soekarno, saat  perang dingin sedang memanas. Semua orang bersatu melawan Barat yang menghendaki Indonesia jadi jarahannya. Pram mengaku membantu Soekarno dan itu didukung oleh semua yang menghendaki Indonesia menjadi negara yang mandiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Pram menuding Manifes Kebudayaan yang menghendaki kebebasan kreatif, dibelakangnya ada operasi Central Intelligence Agency (CIA). Munculnya Manikebu, menurut Pram setelah CIA mengadakan sebuah kongres. Pram bahkan mengutip Soekarno, yang mengatakan bahwa Soekarno tahu orang-orang yang menerima uang dari Amerika berikut jumlahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dokumen lain, Joebaar Ajoeb sang Sekretaris Umum Lekra pernah menyatakan bahwa Lekra tegas menolak tawaran PKI untuk menempatkannya di bawah sub-ordinat organisasi partainya. Menurutnya, kira-kira menjelang akhir tahun 64, gagasan itu  disampaikan kepada anggota Pimpinan Pusat Lekra. Jika Lekra setuju pada gagasan itu, maka praktis sama saja dengan mem-PKI-kan LEKRA. Nyoto, Anggota Sekretariat Pimpinan Pusat LEKRA yang juga adalah juga Wakil Ketua II CC PKI, ikut serta menolak gagasan mem-PKI-kan LEKRA itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TERLEPAS dari berbagai versi perseteruan Manikebu vs Lekra di atas, yang menarik buat saya adalah bagaimana seni, budaya, dan politik saling terkait satu sama lain. Jika ada pandangan bahwa perseteruan Manikebu vs Lekra adalah perseteruan budaya, ada pula yang memandang bahwa ini adalah perseteruan politik, di atas ranah budaya. Mungkin lebih tepatnya perseteruan politik yang menyeret seniman dengan cara pandang kebudayaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyimak berbagai berita belakangan ini, perseteruan juga sedang terjadi di antara kaum elit. Saya tidak tahu siapa mereka, apa agendanya, dan bagaimana caranya 'bermain'. Tapi saya merasakan, belakangan ini perseteruan yang mengemuka sungguh tidak 'berbudaya' kalau tidak mau dibilang tidak beradab. Kita disuguhi perseteruan antar mafia bermodalkan uang besar dan kekuasaan. Tidak ada perang karya, yang ada cuma  sekedar perang pernyataan-pernyataan pemelintir makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah era Wiji Tukul yang kena ciduk penguasa, belum terdengar lagi generasi pelanjutnya. Kehadiran karya-karya yang dapat diapresiasi sekaligus mencerahkan masyarakat, semakin langka. Dulu anak muda masih bisa berkeluh kesah dengan menyanyikan lagu Bongkar, atau Bento. Panggung- panggung hiburan rakyat diisi dengan sentilan-sentilan kritik pedas tapi cerdas. Kini panggung hiburan malah didominasi lelucon kasar, menghina kekurangan orang lain, bahkan melecehkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah budayawan-budayawan kita sedang lelap, menjadi salon, yang hanya bisa bersajak tentang anggur dan rembulan? Atau karena panggung-panggung itu kini sudah dimonopoli pula oleh penguasa dan pengusaha?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="360" src="http://www.youtube.com/embed/MQxEgrwJLkk?rel=0" width="100%"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.&amp;nbsp;&lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-6339287937459200915?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EXjKVpB8MUtLeDFBR_O9VucK5g8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EXjKVpB8MUtLeDFBR_O9VucK5g8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EXjKVpB8MUtLeDFBR_O9VucK5g8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EXjKVpB8MUtLeDFBR_O9VucK5g8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=fBZLF1sn1cM:2gLg3_D7o3k:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/fBZLF1sn1cM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-19T10:49:20.900+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://img.youtube.com/vi/MQxEgrwJLkk/default.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2010/11/kita-butuh-pamplet-masa-darurat.html</feedburner:origLink></item><item><title>Bencana itu, Semoga Cepat Berlalu</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/zHSSu6kLF5Y/bencana-itu-semoga-cepat-berlalu.html</link><category>Bencana</category><category>merapi</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Sun, 20 Nov 2011 18:00:55 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-3982501538604658547</guid><description>&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-X9wG1gvjo78/TsmwfxoulAI/AAAAAAAACrA/WxELbpIa-wY/s1600/jumlah_penduduk_merapi_bnpb.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-X9wG1gvjo78/TsmwfxoulAI/AAAAAAAACrA/WxELbpIa-wY/s1600/jumlah_penduduk_merapi_bnpb.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merapi, mungkin sedang 'lelah'. Semoga saja ia &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/11/18/147286-pvmbg-sebut-intensitas-erupsi-merapi-terus-menurun" target="_blank"&gt;lekas tertidur&lt;/a&gt;. Dengan begitu, warga punya waktu untuk berbenah. Setelah berhari-hari 'mengamuk', kehancuran yang diakibatkannya, bukan saja mencabut ratusan nyawa, tapi juga berpotensi membuat jutaan jiwa lainnya terancam kelangsungan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paska bencana nanti, para korban bencana tidak saja akan dihadapkan dengan kondisi porak poranda, tetapi juga masa depan penghidupan di wilayahnya masing-masing. Upaya rekonstruksi infrastruktur mungkin bisa dilakukan, tapi dalam masa itu, mau berbuat apa para korban ini&amp;nbsp;untuk makan sehari-hari?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka jelas bukan warga yang manja. Hidup di pegunungan, dengan medan yang tidak seramah di kota, adalah pilihan yang tidak main-main. Dari sanalah mereka biasa menghidupi dirinya dan keluarganya. Beternak, bertani, hingga bekerja sebagai kuli galian pasir, adalah mata pencaharian yang tidak mudah dilakukan. Tapi setidaknya, pekerjaan itu memberi mereka kesempatan melanjutkan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paska bencana ini, bukan saja rumah atau anggota keluarga yang hilang, tetapi juga mata pencarian mereka. Dan berkah sisa-sisa debu vulkanik yang ditinggalkan amuk Merapi, tidak bisa dipanen besok, atau minggu depan. Butuh paling tidak 10 tahun untuk dapat memanfaatkan kembali lahan-lahan pertanian yang rusak, dan butuh berbulan-bulan untuk memperbaiki sumber air yang tercemar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Partikel debu vulkanik&amp;nbsp;kaya akan unsur hara penyubur tanah, dan&amp;nbsp;sangat mudah lapuk sehingga sangat bagus digunakan sebagai bahan material tanah. Tempat tandus akan jadi subur.&amp;nbsp;Namun, proses penyuburannya perlu waktu paling tidak 10 tahun. Itu&amp;nbsp;&lt;a href="http://sains.kompas.com/read/2010/11/09/10143792/Sumur.Tercemar.Harus.Dikuras" target="_blank"&gt;menurut ahli mineralogi liat dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor, Iskandar&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun&amp;nbsp;debu yang sudah dingin dapat langsung dimanfaatkan sebagai media tanam, tetapi tidak akan sesubur 10 tahun kemudian. Sifatnya sama dengan pasir umumnya. Upaya lain untuk percepatan dapat dilakukan dengan menambah kompos, urea, dan ekstrak senyawa humat—senyawa hasil ekstraksi bahan organik pada humus. Tapi dalam uji laboratorium, penambahan senyawa akan mempercepat pelapukan hingga cukup lima tahun saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi kondisi sumber air.&amp;nbsp;Debu vulkanik gunung berapi bersifat mudah mengendap dalam air, sehingga air sumur yang terkena debu vulkanik akan tetap terlihat jernih. Namun,&amp;nbsp;kandungan logam berat yang menempel pada debu vulkanik dan mengendap di dasar sumur tetap berbahaya bagi manusia, meski jumlahnya amat sedikit.&amp;nbsp;Jenis logam berat pada debu vulkanik, antara lain, kadmium (Cd) dan tembaga (Cu), tidak diperkenankan sama sekali terpapar ke tubuh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mencegah risiko dari zat-zat mikro berbahaya, sumur sebaiknya dikuras terlebih dahulu sebelum digunakan. Bayangkan, menguras sumur. Jelas ini bukan perkara mudah pula, meski tidak mustahil. Ini mau tidak mau harus dilakukan, karena air bersih, dan air sehat, adalah salah satu elemen penting dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SAAT ini, paling tidak ada 4 kabupaten yang terancam; Kab. Sleman, Magelang, Klaten, dan Boyolali. Keempat kabupaten ini yang paling dekat dengan puncak Merapi, dan daerah yang paling mungkin akan mengalami permasalahan besar dalam hal penghidupan warganya. Padahal, satu kecamatan rata-rata penghuninya 30.000-60.000 jiwa. Di setiap kabupaten, rata-rata ada 10 kecamatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara, dana bencana yang disiapkan pemerintah paling tidak baru ada 200M.&amp;nbsp;Dari kebutuhan dana yang secara ideal berjumlah Rp 10 triliun atau 1 persen dari volume APBN, pemerintah baru memenuhi 0,2 persen saja atau sekitar Rp 200 miliar.&amp;nbsp;Hal itu diungkapkan oleh Direktur Kawasan Khusus Daerah Tertinggal Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Suprayoga Hadi kepada&amp;nbsp;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/11/16/13512982/Dana.Bencana.Idealnya.Rp.10.Triliun" target="_blank"&gt;Kompas.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada berita baik pagi ini dari &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/18/04084283/jaminan.hidup.dan.lokasi.baru.disiapkan" target="_blank"&gt;Kompas&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengusulkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk memberikan jaminan hidup kepada warga korban Merapi selama tiga bulan hingga enam bulan setelah mereka pulang ke rumah.&amp;nbsp;Sementara terhadap korban banjir di Wasior, Papua Barat, serta korban tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Wasior, Selasa (16/11), menyatakan akan menjamin hidup eks korban bencana selama enam bulan.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
Untuk tahap rekonstruksi dan rehabilitasi akan digunakan dana bantuan luar negeri.&amp;nbsp;Pemprov Jateng dan DIY akan membangun permukiman sementara bagi korban Merapi yang rumahnya rusak dan mengupayakan perekonomian keluarga berputar. Permukiman ini akan ditinggali selama satu tahun sambil menunggu pembangunan rumah permanen dengan bantuan dana pemerintah pusat.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
Jadi, sementara rencana itu dimatangkan, upaya kita bersama masih sangat diperlukan. Ada foto-foto kiriman&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.yfrog.com/froggy.php?username=uradn" target="_blank"&gt;seorang kawan&lt;/a&gt;, yang juga menjadi relawan di lapangan, melalui jejaring sosial Twitter. Bahu membahu sesama warga, baik relawan dari wilayah bencana maupun dari luar, masih sangat diperlukan. saat ini saja, masih banyak bantuan menumpuk di stasiun kereta, akibat tidak dapat terdistribusikan ke lokasi. Jumlah relawan masih terlalu sedikit dibandingkan kebutuhan di lapangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga semua akan baik-baik saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
----------------------- &lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-3982501538604658547?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vhhIlzt1LTaxM2oC0thTQ6Fh4Vc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vhhIlzt1LTaxM2oC0thTQ6Fh4Vc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vhhIlzt1LTaxM2oC0thTQ6Fh4Vc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vhhIlzt1LTaxM2oC0thTQ6Fh4Vc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=zHSSu6kLF5Y:LdoIHccRa1g:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/zHSSu6kLF5Y" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-21T09:00:55.192+07:00</app:edited><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-X9wG1gvjo78/TsmwfxoulAI/AAAAAAAACrA/WxELbpIa-wY/s72-c/jumlah_penduduk_merapi_bnpb.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2010/11/bencana-itu-semoga-cepat-berlalu.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pendidikan: Utopis, Tapi Perlu</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/prajnas/~3/wBFHSNJ3KyU/pendidikan-utopis-tapi-perlu.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (rahadian p. paramita)</author><pubDate>Sun, 20 Nov 2011 17:32:42 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7669352.post-7799346478917100112</guid><description>&lt;object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" height="390" width="100%"&gt;&lt;param name="data" value="http://www.youtube.com/v/zDZFcDGpL4U&amp;amp;hl=en_GB&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;version=3" /&gt;
&lt;param name="allowFullScreen" value="true" /&gt;
&lt;param name="allowScriptAccess" value="always" /&gt;
&lt;param name="src" value="http://www.youtube.com/v/zDZFcDGpL4U&amp;amp;hl=en_GB&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;version=3" /&gt;
&lt;param name="allowfullscreen" value="true" /&gt;
&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" width="100%" height="390" src="http://www.youtube.com/v/zDZFcDGpL4U&amp;amp;hl=en_GB&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;version=3" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" data="http://www.youtube.com/v/zDZFcDGpL4U&amp;amp;hl=en_GB&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;version=3"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menonton video di atas, tiba-tiba saya teringat dengan beberapa tulisan lama, yang bertema pendidikan. Tulisan aslinya berjudul &lt;a href="http://www.unesco.org/delors/utopia.htm" target="_blank"&gt;Education: The Necessary Utopia&lt;/a&gt;, oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jacques_Delors" target="_blank"&gt;Jacques Delors&lt;/a&gt;. Tulisan ini adalah sebuah pengantar dari sebuah kumpulan artikel berjudul&amp;nbsp;Learning: the Treasure Within, yang diterbitkan oleh UNESCO.&amp;nbsp;Judul artikel pengantar itu sangat menarik, sekaligus provokatif, menurut saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Delors adalah ketua dari&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.unesco.org/delors/workcom.html" target="_blank"&gt;International Commission on Education for the Twenty-first Century&lt;/a&gt;. Komisi ini dibentuk UNESCO tahun 1993, beranggotakan 14 orang dari berbagai belahan dunia dan berbagai latar belakang budaya serta pendidikan. Komisi ini bercita-cita merumuskan seperti apa bentuk pendidikan di abad-21.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti dari kerja komisi ini, melahirkan 4 pilar pendidikan secara umum:&amp;nbsp;&lt;strong&gt;(1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menerapkan&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Learning to know&lt;/strong&gt; (belajar untuk mengetahui), hubungan Guru-Murid harus diubah menjadi hubungan fasilitator-pembelajar. Guru juga dituntut untuk dapat berperan sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa. Istilah untuk siswa tetap pembelajar, dengan asumsi mereka belajar untuk dirinya sendiri, mereka membelajarkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Learning to do&lt;/strong&gt; (belajar untuk melakukan sesuatu) hanya dapat terjadi jika sekolah mampu mengaktualisasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minat siswanya dalam situasi yang konkrit. Kalau Anda percaya&amp;nbsp;bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan, mungkin Anda juga harus percaya bahwa tumbuh kembangnya bakat dan minat sangat bergantung pada lingkungan. Mungkin ada kasus tertentu dimana anak tumbuh menjadi anomali di lingkungannya, tetapi sebagian besar akan mencontoh apa yang terjadi di lingkungannya. Anak adalah produk lingkungannya, terutama lingkungan dimana ia mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar dengan mempraktekkan pengetahuan serta keterampilanya, merupakan cara paling ampuh. Maka apa yang berlaku di sekolah, dengan kepura-puraan kurikulum yang ambisius, tetapi pada akhirnya dihadapkan pada realitas ujian nasional dengan standar yang semu pula, adalah pembelajaran luar biasa bagi anak.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
"Tidak perlu repot belajar, menemukan sesuatu, yang penting pintar-pintarlah menjawab soal ujian." Lebih mudah lagi, tunggu saja kunci jawaban dari guru.&lt;/blockquote&gt;
Pilar berikutnya, &lt;strong&gt;Learning to be&lt;/strong&gt; (belajar untuk menjadi seseorang). Hal ini erat sekali kaitannya dengan pemenuhan ketertarikan manusia pada sesuatu. Tidak semua manusia tertarik menjadi insinyur, atau jadi dokter. Masing-masing orang punya cita-citanya sendiri. Bahkan saya pernah punya teman yang cita-citanya sederhana saja, pengen jadi supir traktor, segala macam traktor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Anda semua pasti tahu, bagaimana cita-cita yang tak mendatangkan duit macam supir traktor itu akan dibunuh secara sistematis dalam masyarakat kita. Sekolah sudah mengajarkan bagaimana struktur sosial kita dibentuk, yang antara lain karena status kesarjanaan.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
"Sekolah lah nak, kumpulkan S sebanyak-banyaknya". Orang seolah lupa, bahwa amanatnya bukan Sekolah selama-lamanya, tapi menuntut ilmu selama-lamanya. Menuntut ilmu, atau belajar, tidak sama dengan sekolah.&lt;/blockquote&gt;
Kita sudah dibuat lupa, bahwa semua profesi di muka bumi akan saling terkait. Semua orang saling membutuhkan. Dan tidak semua sekolah menyediakan pengalaman yang mampu membentuk kompetensi sebuah profesi. Sekolah saat ini cenderung hanyalah labsite, percontohan mini yang sama sekali tidak bisa disamakan dengan dunia nyata. Bahkan lebih parah lagi, cuma sekedar ajang kursus adu jitu menghitung kancing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terakhir adalah &lt;strong&gt;Learning to live together&lt;/strong&gt; (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Pilar keempat ini, membangun kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, dan hidup berdampingan dalam perbedaan. Kondisi seperti ini sangat kita butuhkan di Indonesia, mengingat kebhinekaan yang kita miliki, baik dari aspek ras, suku, agama, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Berita belakangan ini sudah tentu tidak asing di telinga kita, tentang pertempuran antar pemeluk agama, bahkan dalam agama yang sama, atau pertempuran antar ideologi yang dimodali uang besar sekali hingga mampu memionkan manusia di garis depan agar mau menyabung nyawa. Atas nama sebuah ideologi politik, yang bahkan pengusungnya tak fasih memidatokannya.&lt;/blockquote&gt;
Video di atas, adalah ceramah dari &lt;a href="http://sirkenrobinson.com/skr/" target="_blank"&gt;Sir Ken Robinson&lt;/a&gt;, seorang ahli pendidikan berbasis kreativitas, yang mengkritisi paradigma pendidikan, terutama di Amerika (karena contohnya sebagian besar dari sana).&amp;nbsp;Sir Ken menawarkan perubahan paradigma yang cukup revolusioner, dari pendidikan yang berkiblat pada industri, dan sarat dikotomi, kembali pada pendidikan yang memanusiakan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdengar indah di telinga, dan sedap pula dipandang mata. Animasi yang diperagakan dalam video itu berupaya memvisualkan pandangan Sir Ken dengan sangat baik, sangat memikat untuk disimak. Tapi apakah juga mudah untuk diterapkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://sirkenrobinson.com/skr/" target="_blank"&gt;Sir Ken&lt;/a&gt; menawarkan cara pandang pendidikan sebagai upaya pembelajaran secara kolaboratif, karena memisahkan individu dalam proses belajar dan mengukur pencapaiannya secara terstandar, akan membuat jurang yang besar dalam komunitas. Standarisasi seperti ini yang ditentang oleh Sir Ken Robinson.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada memandang pendidikan sebagai sebuah proses yang konvergen, &lt;a href="http://sirkenrobinson.com/skr/" target="_blank"&gt;Sir Ken&lt;/a&gt; menawarkan cara pandang yang divergen. Divergent Thinking, tidak sama dengan kreativitas. Tetapi ia merupakan inti dari tumbuhnya kreativitas. Berpikir secara divergen, menumbuhkan kemampuan berpikir alternatif. Tidak ada jawaban tunggal. Semua punya alternatif. Ini dicontohkannya dengan kasus penjepit kertas.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
Berapa banyak kemungkinan yang bisa kita temukan untuk mendayagunakan Penjepit Kertas? Dengan cara pandang divergen, katanya bisa menghasilkan lebih dari 200 kemungkinan.&lt;/blockquote&gt;
Saat ini, kita jelas membutuhkan cara pandang seperti itu. Berbagai kebuntuan menghadapi masalah, karena kita masih berpikir dalam kerangka-kerangka yang sempit, dan dikotomis. Penguasa yang memiliki kekuasaan untuk melakukan perubahan, malah sibuk membuat kompromi yang justru menjeratnya dalam kerikuhan politik. Terobosan jarang dibuat, dengan alasan konstitusional. Padahal kualitas konstitusi juga banyak yang patut dipertanyakan. Don't think outside the box! There is no box!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, seperti paragraf awal dalam tulisan &lt;a href="http://www.unesco.org/delors/utopia.htm" target="_blank"&gt;Jacques Delors&lt;/a&gt;, pendidikan bukan tongkat ajaib ala Harry Potter yang tinggal diayun sambil baca mantera. Ia adalah upaya jangka panjang yang harus dilakukan tanpa kenal lelah.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
The Commission does not see education as a miracle cure or a magic formula opening the door to a world in which all ideals will be attained, but as one of the principal means available to foster a deeper and more harmonious form of human development and thereby to reduce poverty, exclusion, ignorance, oppression and war.&lt;/blockquote&gt;
Pendidikan, mungkin bisa dianggap sebagai utopis, karena dampaknya jangka panjang, sementara kebutuhan sudah demikian mendesak. Tapi lagi-lagi, judul tulisan Delors mengingatkan kita, bahwa pendidikan mungkin sebuah utopis, tetapi sebuah utopis yang memang diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ceramah lengkap Sir Ken Robinson bisa disimak di &lt;a href="http://www.thersa.org/events/vision/archive/sir-ken-robinson" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt; (55:20 menit). Terima kasih pada teman Puti, yang telah memberi tautan tentang video ini lewat FB.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------&lt;br /&gt;
say it, you'll have it.   &lt;a href="https://plus.google.com/105261949216963267718?%20%20rel=author"&gt;Saya di Google+&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;
Selengkapnya, kunjungi http://prajnas.blogspot.com
&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7669352-7799346478917100112?l=prajnas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SMIBP8msQc5cUXFZwXC_oan4yWg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SMIBP8msQc5cUXFZwXC_oan4yWg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SMIBP8msQc5cUXFZwXC_oan4yWg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/SMIBP8msQc5cUXFZwXC_oan4yWg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?a=wBFHSNJ3KyU:trYUvPvnjuA:xD1eprFKJ5M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/prajnas?d=xD1eprFKJ5M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/prajnas/~4/wBFHSNJ3KyU" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-21T08:32:42.949+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://prajnas.blogspot.com/2010/10/pendidikan-utopis-tapi-perlu.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

