<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020</atom:id><lastBuildDate>Sun, 19 Apr 2026 22:14:47 +0000</lastBuildDate><category>keluarga</category><category>lawas</category><category>anak-anak</category><category>anak</category><category>baru</category><category>hujan</category><category>istri</category><category>jadul</category><category>cinta</category><category>ibu-ibu</category><category>nasi kucing</category><category>Ada Langit Di Rumahku</category><category>Buah Pisang yang Hilang</category><category>Dari pintu ke pintu</category><category>Siapa Takut Jatuh Cinta</category><category>aku</category><category>andai</category><category>asymetric warfare</category><category>bapak</category><category>baru selimut</category><category>berkaos</category><category>berlibur</category><category>beyonce</category><category>binal</category><category>buku</category><category>bunga</category><category>ciuman</category><category>dari hati ke hati</category><category>ditipu</category><category>doa</category><category>engkau</category><category>gaya</category><category>girl power</category><category>guru</category><category>haru</category><category>hidup</category><category>ibu</category><category>ikhlas</category><category>ilmu</category><category>imajinasi</category><category>keberangkatan</category><category>kejengkelan di rumahku</category><category>kejujuran</category><category>kelas pinggiran</category><category>keluarga ibu anak cinta</category><category>kelurga</category><category>kemiskinan</category><category>keponakan dari desa persaudaraan silaturahmi</category><category>kesulitan</category><category>ketika</category><category>konser</category><category>kucing</category><category>kucing keluarga serambi baru</category><category>lebaran</category><category>liburan</category><category>masyarakat</category><category>mati</category><category>meditasi</category><category>mencintai</category><category>mengeluh</category><category>merenung</category><category>mimpi</category><category>mobil</category><category>murid</category><category>ngelamun</category><category>nonton</category><category>nostalgia</category><category>numpang</category><category>pagi hari</category><category>paku di kepala</category><category>panci</category><category>pembantu</category><category>pendidikan</category><category>pengabdian</category><category>pengetahuan</category><category>penyesalan</category><category>percayai</category><category>perempuan</category><category>perjalanan</category><category>prie</category><category>refleksi</category><category>refleksi 2009</category><category>ronda</category><category>rossi televisi</category><category>sakit</category><category>salah</category><category>salah jurusan</category><category>sampai</category><category>sandal buruk rupa</category><category>sekolah</category><category>sherina dan indonesia</category><category>singlet</category><category>sms</category><category>sopir</category><category>sosial</category><category>spiritual</category><category>turangga titihan sekaring bawana</category><category>waktu</category><category>wanita</category><title>Merenung Sampai Mati (Unofficial PRIE GS Blogs)</title><description>Blog ini berisikan kumpulan tulisan dari Prie GS, seorang Penulis sekaligus Kartunis asal Semarang, Jawa Tengah.&#xa;&#xa;Nama saya Sarjono dan Merenung Sampai Mati, adalah buku pertama beliau yang saya baca. Tulisan-tulisannya yang sederhana, menggelitik, dan kritis ternyata dapat sekaligus menampar kesadaran terdalam dari setiap manusia yang mengaku masih punya akal dan perasaan :d</description><link>http://priegs.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Sarjono)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>201</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-9064121368665654108</guid><pubDate>Fri, 12 Jul 2013 17:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-13T00:34:18.579+07:00</atom:updated><title>Makna itu tergantung pemberian kita</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman di keluarga saya, barangkali pengalaman ini tidak bermutu, tetapi saya ingin menceritakannya. Ini tentang kelakuan saya selaku suami yang suatu kali sangat ingin makan dirumah, karena saya ini pernah sangat terpenjara oleh citra masakan yang dibuat ibu saya dan pada perkawinan awal-awal kami, saya ingin masakan seperti inilah yang dimasak oleh istri saya. Sebagian kita pasti pernah sangat dekat dengan masakan ibu dan masakan itu pasti telah menjajah lidah kita terlalu lama sehingga kepada istri-istri kita, kita juga menghendaki rasa yang pernah diciptakan atau digubah oleh ibu-ibu kita, ini pengalaman yang saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dikantor melapar-laparkan diri, karena anda bisa bayangkan bahwa syarat sebuah makan enak disamping lauknya yang cocok juga kelaparan harus menjadi syaratnya. Maka kelaparan itu harus saya bikin ada di puncaknya. Saya pulang, saya sudah interogasi istri bahwa masakan itu sudah siap sempurna, maka dengan segenap ekspresi suami yang berterima kasih kepada istri tercinta, saya ciumi dia sebelum saya menyantap masakan kesukaan saya ini, dan awalan ini betul-betul nyaris menjadi sempurna jika tidak, jika tidak bahwa masakan ini ternyata lupa diberi garam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tegangnya pemasak pemula ini, tapi begitu ingin dia membahagiakan suaminya, tetapi akhirnya bencana inilah yang terjadi. Anda bisa bayangkan ditengah kelaparan yang begitu sengitnya saya harus makan sayur, sayur yang saya bayangkan seenak masakan ibu saya, tetapi ini sama sekali tanpa garam. Saat itu, rambut saya nyaris menjadi keriting seketika oleh sebuah uap kemarahan. Kalau anda pecinta makan di rumah, kalau anda sudah lama dijajah oleh masakan ibu anda. Maka diawal-awal perkawinan anda, persoalan-persoalan semacam ini akan menjadi persoalan yang tidak sederhana. &quot;Istri salah bumbu&quot;, ini membutuhkan silaturahmi yang tidak singkat waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tapi untunglah pada saat itu saya berfikir praktis saja, ini kalau saya bercerai hanya gara-gara soal garam rasanya kok tidak lucu, mosok hanya karena soal garam saja ini harus menjatuhkan talak kepada istri. Maka saat itu saya membayangkan kelaparan di papua, ini apapun masakan istri saya ini kalau saya makan di papua sana, wah pasti enak sekali. kalau makanan ini saya makan tepat di pengungsian-pengungsian korban banjir di banjarnegara jawa tengah, di jember jawa timur, soal garam ini pasti menjadi tidak penting. Jadi makanan di depan saya ini bisa saya beri makna sesuai dengan kehendak saya. Ketika ia saya tatap dengan makna seorang pengungsi yang sedang kelaparan, semua masalah itu ternyata rampung dengan tiba-tiba. Nah, pemberian makna ini ternyata tergantung pada keputusan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PrieGS/AS)&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/07/makna-itu-tergantung-pemberian-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>13</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5048083820022135122</guid><pubDate>Mon, 01 Jul 2013 09:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-01T16:06:33.425+07:00</atom:updated><title>Bubur Skotel</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
Memasak sebagai seni sebetulnya sudah berlangsung sejak lama. Penemuan onde-onde, klepon, nagasari, srundeng dan semacamnya dalam khanasah makanan Jawa adalah peristiwa kesenian yang unik. Makanan sebagai gabungan seni, akulturasi kebudayaan dan pengetahuan ilmiah juga tercermin dari penemuan tauge, trasi dan tape. Jadi makan memang tidak cuma soal urusan perut tetapi juga pengetahuan dan kesenian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi gerak makanan itu kini meluas lagi yakni makanan sebagai pertunjukkan. Akhirnya memasak menjadi hiburan dan akibatnya keluarga saya menjadi korban. Tiba-tiba seni mengumpulkan resep meninggi di rumah kami. Anak-anak dan istri jadi sering berkerumun di depan TV sambil sesekali berteriak wuaaaa yummyyy… . Makin lama mereka tidak cuma berteriak tetapi jua berburu makanan seperti yang dimasak di TV itu. Hampir saja saya marah saat suatu hari harus mengantar mereka membeli sejenis roti yang ternyata harus di masak lama sekali, dan setelah keluar ternyata roti itu cuma seukuran jempol kaki. Bentuknya bena-benar tidak sepadan dengan lamanya kami menungu. Menurut saya, rasanya sama sekali tak istimewa dibanding penderitaan saya menahan kesal begitu lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi makanan yang membuat saya marah itu, adalah makanan yang menakjubakan anak-anak saya. Mereka takjub pada hiasannya, pada prosesnya, pada bahannya, dan pada seluruh soal-soal yang sama sekali tak menarik hati saya. Bagi saya, makanan itu soal kenyang, kunyah dan telan belaka. Tapi bagi mereka, makanan telah menjadi sesuatu yang tak melulu dikaitkan cuma dengan lapar. Lapar pun mereka rela menungu kalau resepnya belum ketemu, kalau bahannya kurang satu, kalau bumbunya tidak yang itu, dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tak mungkin saya mencegah mereka mengurus kesibukan yang tidak menarik minat saya itu. Lagi pula saya tak mungkin melawan dua anak plus ibunya, satu lawan tiga, kalah suara. Begitu saya baru mau angkat bicara, serempak mereka sudah mebantahnya. Akhirnya saya biarkan saja kesibukan itu, dan katimbang kesepian saya pura-pura ikut gembira walau dengan perasaan menderita. Sampai suatu kali istri saya, dengan dukungan anak-anak tentu, akan mencoba memasak skotel seperti di acara TV yang mereka tonton. Semuanya sibuk dan berkeringat di dapur, dengan saya sok mondar-mandir ikut sibuk cuma demi kepanatasan saja. Singkat cerita, rampung juga ramuan ini dibuat. Tapi menjelang babak –babak akhir, istri mulai terlihat gelisah karena ternyata ia tak punya alat yang pemanggangan yang semestinya. Skotel itu gagal matang dan pejal seperti lazimnya, melainkan malah menjadi bubur dengan bentuk acak-acakan tak terkendali. Istri tampak terpukul. Bubur sktotel ini seolah-olah mempermalukan seluruh reputasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, saya sama sekali tidak terganggu dengan apa yang ia sebut kegagalan pemanggangan. Saya malah tak sabar untuk mengambil sendok dan menyantap makanan yang belum pernah saya kenal ini. Enak. Selanjutnya saya sibuk melahap makanan ini tak peduli apakah ia skotel padat atau skotel cair. Sementara istri sibuk dengan perasaan galau atas kegagalan masakannya, saya sibuk menambah lagi bubur lezat ini. Jadi konsentrasi orang itu berbeda-beda. Itulah kenapa sumber kesedihan dan kegembiraan manusia juga berbeda-beda. (Prie GS)&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/07/bubur-skotel.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8635051344628479696</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:49:59.742+07:00</atom:updated><title>Paksaan Kebaikan</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;i&gt;Kebaikan itu butuh dipaksakan, kalau memang terpaksa itulah jalan satu-satunya. Jangankan yang menjalankan keterpaksaan. Bahkan yang memaksapun tak kalah menderita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah dipaksa dan juga memaksa. Saya pernah terpaksa ikut orang, terpaksa ikut saudara, dan terpaksa ikut kerja paksa. Benar-benar kerja paksa. Terpaksa, karena pekerjaan lain sepertinya tidak ada. Setiap pulang kerja seluruh kemalangan seperti menimpa kepala saya.  Pekerjaanya berat, tidak bergengsi, rendah bayarannya, panjang waktunya, singkat istirahatnya, dan galak mandornya. Saking beratnya, saya hanya kuat bekerja selama  2 hari saja. Dengan gagah saya keluar. Gagah dalam arti  tanpa mengambil  upah. Gagah sambil merana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah ikut saudara hanya agar bisa nebeng  tidur dan makan.  Rasanya tersiksa sekali. Tidur tidak tenang karena harus bangun tepat waktu,  makan tidak tenang karena tidak boleh banyak-banyak. Saya miskin, tapi saudara saya juga miskin. Sesama orang miskin harus perasa. Saya penah bekerja dengan pekerjaan yang  tidak saya sukai. Rasanya menderita. Karena tidak suka dengan pekerjaan itu ,saya jadi tidak suka dengan orang-orang disekitarnya. Maka gandalah penderitaan saya. Sudah tersiksa dengan pekerjaan, tersiksa pula dengan pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua keterpaksanan itu saya baru tahu bahwa dia adalah manfaat di kelak kemudian hari. Karena baru jelas ada apa  dibalik keterpaksaan. Ia adalah peletak landasan. Kerja 2 hari di pabrik ternyata adalah pondasi dalam  bekerja selama bertahun-tahun di kemudian hari sampai di hari ini. 2 hari sebagai pondasi hasilnya dinikmati sebagai penyangga untuk masa panjang di kemudian hari. Numpang hidup  adalah bekal sadar bergaul dengan manusia di hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang sia-sia dari keterpaksaan yang saya jalani selama ini. Mengingat ini semua saya kini agak menega-negakan  mengajak yang lain untuk memaksakan diri terhadap  yang mereka tidak suka. Bukan tidak cuma tidak enak, tapi juga tidak tega. Apalagi yang menyangkut orang-orang terdekat saya,  anak, istri, saudara dekat. Melihat anak menderita adalah kelemahan orangtua. Tapi  tega tidak tega, rumus hidup jelas ada  tujuan hidup yang harus dicapai dengan jerih payah.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
(PrieGS/)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/paksaan-kebaikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7738274373079144637</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:49:23.999+07:00</atom:updated><title>Mandat Peran</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;i&gt;Negara yang kaya bukan yang besar penghasilannya, melainkan yang menyediakan banyak peran bagi warganya. Saya menonton pertunjukan seni perkusi dari Korea dengan takjub. Sederatan pemuda berwajah gaul menabuh aneka gendang Korea. Diantaranya cuma gendang kecil saja. Dikatakan “cuma”, karena bukan grand piano yang megah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi  pianis atau drammer masih terdengar agak bergengsi.  Tapi  menjadi penabuh gendang, mungkin masih agak ribet. Menyebut diri sebagai pemain musikpun hanya pemusik sukses yang disambut baik. Jangan coba-coba bagi pemusik yang masih merintis jalan. Apalagi yang cuma menabuh perkusi kecil. Tapi mereka  tidak peduli. Mereka  tetap menabuh dengan sepenuh jiwa. Mereka tampak bahagia dengan alat musiknya yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegasnya, bukan alat itu, tapi mereka bahagia dengan pilihan hidupnya. Mereka bukan tidak tahu ada boyband yang gemerlap, atau   seni perkusi hidup dengan pasar yang terbatas. Seperti sahabat saya yang seorang pantomim di Jogja. Ia bukan tidak paham kalau pantomim tidak seperti musik dangdut. Tapi ada yang lebih penting dari kesadaran kualitatif, yaitu kesadaran intuitif.  Itu membuat manusia  melayani panggilan peran. Sedangkan kesadaran kalkulatif hanya  untuk panggilan strategi yang menguntungkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran kalkulatif memiskinkan peradaban. Karena yang disebut cita-cita tinggi hanya insinyur, dokter, tentara, atau polisi.  Itu juga  yang mempengaruhi minat pilihan jurusan kuliah. Yang dipadati mahasiswa cuma jurusan yang  mudah cari kerja. Jenis pekerjaanpun akhirnya cuma itu-itu  saja, dengan PNS sebagai puncaknya. Pekerjaan yang itu-itu saja itu tentu bukan pekerjaan buruk,  amat baik malah. Tapi pekerjaan yang baik jumlah nya bukan cuma itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kalau  bangsa  cita-citanya cuma dari itu ke itu saja. Rejeki akhirnya cuma dari jenis  itu-itu saja. Masih sebatas tukang rakit dan pemburu bagi hasil saja. “Sumber daya alamku diolah sajalah, aku cukup diberi keuntungan saja”. Itulah hasil dari sekolah yang untuk cari kerja, bukan cari ilmu.  Akhirnya dia memang berhasil mendapat pekerjaan, tapi tidak mendapat ilmu. Akhirnya rendahlah bayarannya.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
(PrieGS/)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/mandat-peran.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-1890287142534581346</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:48:35.740+07:00</atom:updated><title>Karma Kata</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;i&gt;Sebutan Monas di hari-hari ini hampir selalu dikaitkan dengan nama Anas Urbaningrum. Bukan karena dua kata itu kebetulan mengandung kesamaan, tapi karena konteks pengucapan yang pernah ada, yaitu “gantung saya di Monas”. Itu kata yang diucapkan Anas saat itu demi meyakinkan publik bahwa dugaan korupsi itu menurutnya tidak benar.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar atau tidak itu soal yang tidak menarik untuk dikaji di rubrik ini. Jauh lebih menarik untuk mengamati perjalanan  kata-kata itu, karena kata punya rutenya sendiri. Mulut hanya alat produksi kata-kata, bukan pengendali. Begitu kata diucapkan, si pengucap akan kehilangan kekuasaan atas kata-katanya sendiri.  Anas tentu tidak  membayangkan kalau perjalanan kata-katamya akan menjadi seperti ini. Begitu uga saat hakim membuat metafora “seperti  ustad di kampung maling”, untuk mengiaskan sebuah konteks persoalan dalam kiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa jadinya jika yang kiasan dan yang nyata tidak mau dibedakan. Secara logis keduanya berbeda. Tapi di pasar bebas kata-kata, yang logis dan yang tidak  bisa diatur sekehendaknya. Metafora itu menyinggung sebagian kalangan. Persoalannya siapa ustad dan siapa malingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tersingung akan melihat kata maling dalam arti yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman kyai saja bisa naik bisa turun. Kiasan ini sedang mengiaskan kemungkinan satu dengan yang lain. Soal iman turun naik bisa menimpa siapa saja, apakah kayi atau petugas pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyinggung soal  pajak, sulit untuk  tidak menyebut nama Gayus. Entah butuh berapa lama untuk menghentikan konotasi antara Gayus dengan persekongkolan pajak. Pertama, karena skala persoalannya yang besar, kedua karena usaha Gayus, sambil di tahanan ia bisa menonton tenis di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah mengapa ingatan publik yang mereda memanas lagi. Begitu khas kududukan Gayusdengan pajak, sampai-sampai  kondektur bus berteriak “Gayus, Gayus..” ketika berhenti di kantor pajak. Guyus pasti tak menyangak jika namanya akan berkembang sejuah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu erat kaitan kata dan karma. Tegasnya, karma kata itu memanng ada walau ini bukan soal yang perlu dicemaskan. Karena  karma baru bekerja setelah ada konteks pendorong yang ada disebaliknya. Maka pilihlah selalu konteks yang jauh dari bahaya, sehingga kata itu appaun bunyinya, atau  yang kasar sekalipun, menjadi tidak berbahaya.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
(PrieGS/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/karma-kata.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4614195040512014729</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:47:48.609+07:00</atom:updated><title>Hutang Kejujuran</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;i&gt;Pintar itu penting, tapi jujur itu mendesak. Krisis Yunani misalnya, ditandai oleh hal yang mengejutkan: negeri itu ternyata tidak jujur dalam utang. Jumlah yang sebenarnya ternyata lebih besar dari yang diakui. Teknik negara menyembunyikan utang ternyata ada. Utang terbesar negara bukan kepada negara tetangga tapi kepada rakyat negara itu sendiri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak negara besar  ternyata diancam kebangkrutan karena ketidakjujurannya. Negara semacam itu penuh utang bukan karena miskin tapi karena ada yang sangat boros. Untuk mengisi satu perut di negara kaya bisa setara 20 perut di negara miskin. Apakah karena perut mereka terlalu besar? Tidak, kaya miskin sama bentuk perutnya, yang berbeda adalah keinginan. Keinginan itulah induk keborosan. Tidak ada satupun jenis kekayaan yang bisa melayani keborosan, apalagi jika dasarnya tidak benar-benar  kaya, tapi boros! Maka keborosan itu  bisa dilayani dengan satu cara: bohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi  kebohongan terbesar negara bukan soal besaran utang.  Utang uang hanya teknikal, yang lebih bahaya adalah utang fundamental,  utang  yang skalanya tidak bisa dirampungkan hanya dengan uang. Utang informasi misalnya. Kedudukan informasi dalam hidup seseorang ternyata amat fundamental. Anda boleh diguyur berbagai fasiltas, tapi ketika ada satu informasi yang disembunyikan untuk Anda, maka Anda akan merasa tidak dihargai. Ini bisa berbahaya. Ia akan terus mencari teman, membuat kelompok, dan butuh jalan keluar kalau perlu dengan menumbangkan pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya negara yang surplus secara ekonomi tapi minus informasi tidak banyak arti. Rakyat tidak cukup diberi makan,  tapi juga perlu diberi informasi. Kedudukan roti tidak lebih tinggi dari kebutuhan atas informasi. Tidak mengapa lapar roti, sepanjang tidak lapar informasi.  Lapar ditengah kejujuran  lebih menguatkan  ketimbang kenyang hasil kebohongan. Libia dan Kuba adalah conto h teraktual dari ilustrasi ini. Setelah utang informasi,  ada utang lain yaitu utang keadilan. Kerugian atas uang tidak sedramatik rugi keadilan.  Rugi uang mudah dilupakan, tapi rugi keadilan akan berbuntut panjang. Orang yang mengikrarkan “saya dizalimi” adalah pihak yang sudah merasa di puncak penderitaan dan siap mengibarkan bendera perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan Indonesia? Rasanya, lengkap utang kita, mulai dari soal uang,  informasi, dan keadilan. Itu kabar buruknya. Kabar baiknya, dibanding negara pintar dan kaya, skala bahaya kita tidak sebesar rmereka. Ternyata makin pintar makin bahaya jika kejujuran tidak ada. Walau yang terakhir  dari semua itu pasti sudah tidak pintar, juga tidak jujur. Semoga yang terakhir itu bukan kita.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
(PrieGS/)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/kebaikan-tanpa-ilmu_5.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-1627560052310588438</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:46:00.455+07:00</atom:updated><title>Partai Pecah Belah</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;i&gt;Jika jumlah kekecewaan meningkat, maka jumlah partai saya bayangkan juga akan meningkat. Kalau bayangan ini benar, akan ada partai politik yang didirikan cuma dengan azas kecewa. Kecewa dengan masa lalu dan berhayal akan masa depan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang kecewa, masa lalu selalu salah, dan  masa depan selalu cerah. Bagi yang berbakat kecewa, masa depan akan selalu mengecewakan begitu jadi masa kini. Akhirnya dia lebih suka membayangkan masa depan sebagai masa depan, dan  sulit menjadi masa kini, karena melulu ada didepan. Jika masa lalu terus dipersalahkan dan masa depan diimpikan, maka masa kini selalu jadi yang diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak  yang meremehkan masa kini itu amat sulit menghentikan kebiasaan menyumpahi masa lalu dan hayalannya akan masa depan. Karena itu banyak masa kini yang diterlantarkan. Misalnya, bermimpi bebas dari banjir, sambil saat ini tetap membuang sampah dengan serampangan.  Masa depan yang dibayangkan akan lebih cerah itu adalah bayi yang tak pernah dikandung tapi ingin dilahirkan. Ini logika yang rancu, tidak mengandung tapi bermimpi ingin melahirkan. Mengandung itu tirakatnya, kelahiran itu pahalanya. Pahala tanpa tirakat sama saja kredit tanpa cicilan. Ini tidak mungkin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan mereka yang masih mempertahankan  tradisi korupsi dan suap, tapi memimpikan negara  makmur dan tentram. Ada masa depan yang dibayangkan indah tapi dijalankan secara tidak indah pada hari ini. Bagaimana mungkin membangun istana pasir, tapi mengharapkannya menjadi istana betulan di masa depan. Banyak masa kini sibuk dikecewai daripada disetiai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengingkar masa kini adalah orang yang merasa isi hari ini selalu kurang. Sebab kelebihan dibayangkan cuma ada di masa depan. Padahal apa yang diburu didepan itu letaknya akan selalu di depan. Masa  depan yang telah menjadi  hari ini tidak dianggap tidak punya arti lagi karena tiba-tiba ada di depan lagi.  Karena itu perburuan terhadap masa depan yang  pasti adalah dengan penghormatan kepada hari ini. Maka jika hari ini yang ada cuma penghianatan  terhadap saat ini, percayalah, masa depan akan sulit menepati janji.  Jika hari ini pekerjaan kita menghianati tata ruang, maka kota-kota di masa depan tidak akan memberi keadaan layak huni. Adalah mustahil membayangkan kerukunan, kalau hari ini perpecahan selalu kita semaikan.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
(PrieGS/)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/partai-pecah-belah.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7699083677989456319</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:45:15.391+07:00</atom:updated><title>Kebaikan Tanpa Ilmu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;i&gt;Seperti jamaknya barang baru, ia menyita semua konsentrasi. Begitu pulang saya langsung menuju ke situ. Barang baru itu adalah kolam ikan koi saya yang baru.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kolam amatiran. Kelas kolam ini hanya ikut-ikutan. Tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk bergairah. Saya membeli ikan-ikan itu sendiri, saya menguras kolam itu sendiri, dan saya memberi makan ikan-ikan itu sendiri. Kata “sendiri” saya  tekankan untuk menunjukkan bahwa  ini adalah proyek pribadi&lt;br /&gt;Begitu perhatiannya saya, walau sejenakpun tidak saya  biarkan ikan-ikan koi itu kelaparan. Begitu datang saya taburi makanan, begitu mau pergi saya taburi makanan. Saya tidak ingin ikan-ikan itu menderita. Dalam sehari, bisa bekali-kali kolam itu saya taburi  makanan. Hasilnya, ikan-ikan koi itu langsung gemuk dalam beberapa hari. Tapi kemudian, satu persatu ikan mati. Hari ini mati satu, besok mati satu, esoknya lagi mati satu. Saya sungguh sedih.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;Tapi teman saya malah tertawa melihat kesedihan saya.  “Ikan koi tidak butuh banyak makan. Ia tahan lapar. Sehari  cukup diberi makan 2 kali, itupun tak sebanyak ini”, kata teman saya. Berlanjutlah kuliah umum tentang bagaimana cara bijak beternak ikan koi. Banyak keharusan yang harus dijalankan. Dan keharusan itulah yang saya langgar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ikan-ikan itu  tidak mati karena penyakit, tapi karena kekenyangan. Ikan-ikan itu mati bukan hasil kejahatan, tapi karena cinta dan kasih sayang. Kebaikan tanpa ilmu ternyata bukan hanya tidak ada gunanya, tapi ia amat berbahaya. Kita bisa mencintai seseorang, sambil pelan-pelan membunuhnya tanpa menyadarinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
(PrieGS/)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/kebaikan-tanpa-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3291707003524065081</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:44:30.091+07:00</atom:updated><title>Siang dan Malam</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;i&gt;Siang dan malam bukan karena bumi berputar. Bumi berputar, iya, tapi itu soal teknis, ada yang lebih ideologis. Bumi berputar agar kita mengenal kerja dan istirahat secara bergiliran. Putaran bumi bukan untuk hal lain, melainkan untuk kepentingan kita manusia. Juga mengapa udara dan air diciptakan tepat ukuran. Karena meski tersedia, tapi jika tidak tepat takaran tidak berguna bagi paru-paru manusia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya seluruh mata rantai di dunia diadakan untuk kepentingan hidup makhluk dengan manusia sebagai pusatnya.  Ini adalah mandat yang  menggairahkan untuk dikelola. Maka mari kita lihat logika ini dengan segenap konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pusatnya birokrasi, maka  betapa besarnya kekuasan mereka. Birokrasi bisa membuat sekolah RSBI lalu dibubarkan. Bagaimana dengan manusia sebagai pusat dalam menjalankan mandatnya? Banyak sekali pusat yang ditinggalkan. Pemimpin pusat jika tidak sibuk memimpin dia korupsi. Itulah yang ditinggalkan. Pusat hanya untuk rekreasi  tapi posisinya ada di pinggir. Pusat sebagai tempat kerja hanya jadi tempat rekreasi dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar adalah tempat niaga. Maka  jika pedagang memanipulasi timbangan, maka ia kehilangan pusatnya sebagai tempat perdagangan, ia menjadi pusat penipuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita adalah penghuni pusat. Setiap kita menunggu pos jaga masing-masing. Di hari ini banyak sekali  pos jaga kosong yang ditinggalkan penjaganya, sehingga banyak pos peran yang tidak terjaga.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/siang-dan-malam.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4046925537312222773</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 14:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T21:41:13.811+07:00</atom:updated><title>Sengat Lebah</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
Tak disangka bunga yang saya siram menyimpan sarang lebah. Maka ketika air mengguyurnya, lebah-lebah itu bubar dan kalap sambil serang sana sini. Kaget dengan serangan itu, saya berusaha melindungi wajah. Tapi seekor lebah memilih daerah yang bebas dari pengawasan yaitu kaki, tepatnya jempol kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakitnya tidak seberapa, yang sangat justru karena rasa kagetnya. Tapi yang paling teringat adalah perasaan ngeri dan trauma. Sengatan itu adalah horor yang terekam di benak saya sejak masa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu musibah belum selengkap sekarang. Kejahatan juga masih mengenal etika. Malingpun masih tau diri kalau yang punya rumah masih terjaga. Karenanya sengatan lebah telah menjadi ancaman yang menakutkan pada saat itu. Beritanya segera tersiar  sebagai kegemparan. Hari ini tersengat, besok bengkak-bengkak dan jadi tontonan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan lebah, sarang dan sengatnya adalah mengingat banyak trauma. Begitu juga dengan sarang lebah dan  bunga dalam pot. Penafsiran saya adalah pot itu telah menjadi sarang bahaya sehingga ia pantas disingkirkan. Biar saya saja yang jadi korban. Jangan oranglain, tetangga, apalagi istri dan anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tragedy itu, pot dan bunga itu saya tatap dengan pandangan permusuhan. Tapi ternyata cuma membuang pot itu menjadi kegiatan yang terus tertunda. Bunga itu masih saja ada disitu walau sudah tidak pernah saya sirami lagi. Saya berharap bunga itu layu, dan lebah-lebah itu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiap kali melewatinya ada rasa penasaran. Bunga itu tidak juga mati. Lebah-lebah  itu juga masih merubungi sarangnya. Saya jadi tergerak untuk mengamati lebah-lebah itu. Mereka tetap tekun menjaga yang harus dijaga. Mereka tidak menyerang saya. Mereka hanya mempertahankan diri dari perusuh yang akan menghancurkan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan saya merasa sayalah sumber masalahnya. Saya mulai diserang rasa bersalah. Sudut pandang saya terlalu dipenuhi trauma masa silam. Saya hanya melihat lebah sebagai makhluk penyerang belaka, padahal ia hanya mempertahankan diri. Saya lupa, lebah adalah binatang yang bertanggungjawab terhadap tugas. Akhirnya bunga itu kembali saya siram. Saya memutuskan untuk hidup berdampingan dengannya sebagai pihak yang sama-sama sedang menjalankan tugas.&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
(PrieGS /)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2013/04/sengat-lebah.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8724787421325783603</guid><pubDate>Sat, 05 Nov 2011 15:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-05T22:10:52.272+07:00</atom:updated><title>Jangan Remehkan Soal Remeh</title><description>Jangan anggap remeh soal remeh yang tidak kita anggap. Itulah alasan kenapa soal-soal yang amat berbahaya  berasal dari soal-soal yang tak pernah kita duga. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Saya juga tidak pernah di hari itu yang penuh cerita sukses, hampir saja gugur gara-gara soal ini: lupa pipis. Hari itu ada sebuah pertemuan yang membiat hidup saya semangat: ketemu teman kolega untuk  sebuah pekerjaan yang amat saya sukai. Mulai  dari perjalanan, sampai pertemuan lennya lancar, pertemuananya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh pencapaian hari itu rasanya sempurna. Datang  dijemput pulang diantar, dan kerja dihargai. Tapi persoalannnya, sejak pagi saat di jemput sampai siang saat di antara pulang, saya hanya sibuk memikirkan pekerjaan, dan lupa bh setelah  semua terlambat. Saat saya mulai kebelet itu, saya sudah berada di  sebuah kemacetan yang amat parah di jalan tol menuju bandara. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tanda-tanda kurang beres mulai terasa sejak mobil merangkak menuju tol. Untuk cuma sekedar menjangkau pintu tol saja sudah demikian pelan, cuma seinci demi gerbang tol,  derita ini sudah  bulat  sempurna. Saya sudah  tak perlu lagi menyembunyikan derita saya di hadapan teman yang  dengan penuh rasa hormat mengemudi di  sebelah saya.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Sejak berangkat sampai pulang, kami berdua bercerita soal yang serba besar-besar. Soal politik, soal asungguh tak enak hati ketika dari sebuah tema yang heroik mendakak saja harus berbelok pada pernyataan: ‘’Maaf ada toliet tidak ya?’’&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Teman itu melirik saya sekilas. Cukup cuma sekali  dan ia segera menangkap seluruh penderitaan. Karena cerita selanjutnya kami berdua menderita jalan. Dan kedua-duanya sama-sama buntu. ‘’Apa kita keluar tol?’’ ia bertanya. Pertanyaan yang tak ada perlunya karena si penanya sendiri tak tahu jawabannya. Masuk atau keluar tak banyak artinya karena bahkan cuma untuk keluar, kami  dihadapkan pada.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Tetapi untuk meneruskan perjalanan dan mencari kemungkinan di depan, sama gelapnya. Kemacetan itu benar-benar membunuh harapan untuk menjangkau toilet Kendaraan merayap setindak demi  setindak dan celah kosong untuk berhenti tidak ada. Kalau kami nekat berhenti akan menimbulkan kegemparan karena hanya akan menimbulkan kemarahan pihak yang di belakang.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Saya sudah  melirik-lirik di dalam mobil dikosongkan dan Anda pasti tahu untuk apa. Celakanya itu pun tidak ada.Tetapi ketika segalanya sudah  tak tertahankan dan hampir saja saya jebol begitu di dalam mobil. Ini kebelet pipis terparah selama nebaknya. Tapi intinya, jangan pernah remehkan soal yang tampaknya remeh. Kedua, ini kabar baiknya: selalu ada pertolongan yang terduga: kantong plastik itu misalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2011/11/jangan-remehkan-soal-remeh.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3693702086323913006</guid><pubDate>Sun, 01 May 2011 15:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-01T22:47:29.974+07:00</atom:updated><title>Menjemput Anak</title><description>Sudah lama menjemput anak pulang sekolah saya masukkan sebagai bagian penting kegiatan begitu waktunya tersedia.  Makin lama saya makin menikmati pekerjaan ini karena  kelengkapan nilainya. Ada nilai senang-senang belaka, seperti misalnya ketemu temanyang di antaranya memang membuat saya senang memandangnya.  Ada yang karena kecantikannya, ada yang karena kecerdasannya, ada yang karena naluri  keibuannya yang mengesankan saat menuntun putra-putri mereka. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Ada pula nilai yang agak serius, misalnya soal pendidikan. Sebetulnya berat sekali mengantar dan menjemput anak  itu setiap kali karena  kerepotan teknisnya terus meninggi dari hari  ke hari. Lalu lintas makin tambah padat saja dan tempat parkir makin tak ada.  Setelah repot  mengantar, lalu repot membiayai karena biaya sekolah juga makin meninggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi serepot-repotnya mengantar dan membiayai, pasti jauh lebih repot lagi adalah anak-anak itu sendiri sebagai pihak yang harus menjalani.  Tas mereka berat sekali, pelajaran mereka banyak  sekali dan jam sekolah mereka panjang sekali.  Jam yang panjang, di dalam tahun yang lama, jadi betapa lelahnya. Apa jadinya jika sudah begini berlelah-lelah, bermahal-mahal dan berlama-lama, cuma keliru kurikulumnya. &lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Karenanya sambil mengamati anak-anak dengan tas punggung yang berat itu, saya membayangkan sekolah dengan rasa cemas dan rindu.  Rindu, bahwa hingga kini belum tergantikan. Tetapi apa jadinya, jika lembaga sepenitng ini, misalnya, harus menanggung setidaknya dua soal prinsipil.  Pertama metodologi,  kedua kejujuran.&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Soal yang pertama itu saja sampai sekarang belum rampung diperdebatkan. Bagi para awam mudah saja mengujinya, apapun alasannya, sepanjang masih rendah produktivitas sebuah bangsa,i bagi masa depan mereka. Dan ini yang terpenting, adakah anak-anak telah menjadi objek industri dengan pendidikan sebagi kedoknya?&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Karena  jika cuma soal metodologi,  jika cuma soal kurikulum yang keliru, tidak perlu ada yang ditakutkan  sepanjang  semua itu sekadar risiko dari  sebuah pembelajaran. Kekeliruan bagi sebuah  upaya, adalah kewajaran.  Jauh  bedanya, dengan kekeliruan hasil dari sebuah ketidak jujuran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celakanya di Indonesia ini, ketidak jujuran itu bisa merambah ke mana-mana bahkan sampai ke pendidikan dan peribadatan. Karenanya, saya sempatkan  berdoa: semoga sekolah, tempat anak-anak kita menggadaikan waktunya yang panjang itu, dijaga dari aneka perilaku yang tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2011/05/menjemput-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5650665851725408497</guid><pubDate>Sun, 01 May 2011 15:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-01T22:43:49.893+07:00</atom:updated><title>Anak-anak Melukis Tugu Muda</title><description>Sebuah panitia lomba gambar memacak tema &#39;&#39;Semarang Kota Atlas&#39;&#39; bagi peserta. Hasilnya, hampir semua peserta menggambar Tugu Muda. Fakta ini memicu beberapa penafsiran, tapi paling menonjol adalah tingginya naluri keseragaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya sampai saat ini, bakat untuk menjadi seragam masih menjadi ancaman yang mencemaskan. Pendidikan menuju seragam itu bahkan telah kita mulai begitu dini, lewat anak-anak pula. Itulah kenapa kehidupan sosial kita pernah begitu kesepian. Sepi imajinasi, sepi inisiatif dan sepi eksperimen. Berimajinasi menjadi sesuatu yang tak biasa. Berinisiatif menjadi kegiatan yang langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam kehidupan sehari-hari, akibat dari itu semua sungguh terasa. Sebagai penonton film, kita pernah sangat rendah diri jika harus nonton film Indonesia. &#39;&#39;Aktingnya wagu, ceritanya mudah diduga,&#39;&#39; begitu komentar yang biasa. Komentar ini telah dibikin umum, karena kelemahan film kita bukan cuma akting dan cerita. Tapi bagaimana mungkin menuntut yang lain sedang soal cerita saja belum rampung. Tapi bagaimana soal cerita hendak dibereskan sedang pelajaran berimajinasi tak pernah diberikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jika harus bercerita kita hanya bisa menghafal konvensi yang sudah ada tapi gagal bereksplorasi. Jika musim &#39;&#39;Ratapan Anak Iri&#39;&#39; tiba, seluruh cerita di Indonesia akan penuh ratapan dan air mata. Jika cerita hantu tengah digemari, hantu-hantu akan langsung bergentayangan di seluruh negeri. Seniman lalu tak beda dengan petani tadah hujan yang bekerja atas dasar perintah musim. Di luar musim yang ada, ia tak berani lagi bekerja karena tak biasa menyemai musim yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jika harus berakting, akting itu harus serba ngotot dan tegang. Kita belum merasa menangis jika belum berteriak dan memelototkan mata segede bola, belum merasa kejam jika belum berbuat sadistis. Lalu pernahlah kita memiliki tradisi cerita sedih yang fantastis. Sudah menjadi anak tiri, cacat pula. Sudah cacat, sial pula. Ia masih harus dijahili teman sebaya, tertabrak bus, kejatuhan tangga, dituduh maling, diuber-uber.... Pendek kata, kita belum merasa bahwa si anak itu menderita jika belum kita siapkan penderitaan yang spektakuler, jika langit belum runtuh menimpa kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun profesi yang kita pilih selalu muncul rangsangan untuk menjadi peniru. Jika seorang musisi menemukan campur sari, penemuan itu langsung menjadi milik bersama, dinikmati sebagai pesta. Kredo profesi kita karenanya ialah: biarlah orang lain menemukan, tapi kitalah pemakainya. Biarlah orang lain yang bekerja, tapi kita jua penikmatnya. Jadi wajar jika para penemu, pioner dan kaum peneliti menjadi mahkluk paranoid. Belum pula ia hendak menggubah lagu, telah keburu terbayang wajah pembajak kasetnya. Belum pula ia hendak menemukan sesuatu, telah keburu tegang oleh hebatnya pelanggaran hak cipta. Jadilah mereka orang yang tidak cuma menjadi peragu, tapi juga penakut dan akhirnya malah tak siap berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam cuaca yang menakutkan semacam itu, rasa aman adalah kebutuhan utama. Dan rasa aman itu diperolrh justru setelah seseorang menjadi pembajak, penjiplak, pengikut dan tampil seragam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka anak-anak yang diminta melukis Kota Semarang pun harus membayangkan Tugu Muda, membayangkan Monas jika harus melukis Jakarta. Tentu bayangan itu tidak keliru. Tapi bahwa mereka melakukan bayangan yang sama adalah sebuah persoalan. Tentu anak-anak itu juga bukan pihak yang keliru karena bisa apa mereka tanpa para pembisik, pendesain dan penggemar keseragaman yaitu: kita! (03)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2011/05/anak-anak-melukis-tugu-muda.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-5592081706503239194</guid><pubDate>Thu, 09 Sep 2010 18:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-10T01:50:32.523+07:00</atom:updated><title>SMS Lebaran</title><description>Salah satu kegiatan Lebaran yang mustahil diabaikan adalah membalas dan mengirim SMS Lebaran. Luar biasa peran SMS ini dalam menyiapkan paket lebaran yang praktis, efisien dan murah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan. Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan kita bisa menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang pergi ke lain benua. ‘’Saya sedang di Roma,’’ balas seorang teman cuma dalam hitungan menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi begitulah galibnya sebuah berkah, ia sekaligus juga menggandeng musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah demikian menyita kegiatan kita. Karena praktis, gampanglah kita melakukannya. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita habis untuk melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tak aneh, jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter menemui kerabat dan saudara, tapi setelah ketemu, kerjaan kita cuma memencet-mencet keypad handphone belaka. Suami mencet, anak-anak mencet, istri mencet, maka lupalah kita pada saudara jauh yang tengah berada di depan mata. Tapi ooo, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone itu, ia mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena begitu murah SMS ini maka begitu gampang kita mengirim dan membalasnya. Karena gampang jadi sering, karena sering jadi selalu. Karena selalu jadi mahal. Karena mahal boroslah hidup kita hanya karena tipuan sang murah itu. Malah begitu murahnya SMS ini, sehingga ia bisa menghasut penonton seantero negara untuk mengirim dukungan pada pemenang lomba. Maka SMS yang murah ini sanggup mendatangkan keuntungan yang besoaaaaar sekali jumlahnya. Hebatnya, kita yang keluar biaya, para pemenang lomba itu pula yang mendapat hadiahnya. Jadi karena jebakan kesan hemat, hidup kita malah menjadi boros. Karena jebakan murah, hidup kita menjadi mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu efektif SMS ini sebagai ganti silaturahmi. Begitu efektifnya sehingga berlaku rumus satu ucapan untuk semua. Satume, satu ucapan rame-rame. Maka ucapan yang sampai ke saya adalah juga ucapan yang sampai ke Anda. Anda dan saya sama saja. Yang saya pun menjadi kita. Dan di dalam kita, unsur saya menjadi tak penting lagi. Maka ketika kita menerima ucapan generik semacam ini, ada perasaan bahwa kita cuma sebagai kita, bukan saya. Kita hanya menjadi elemen dari yang banyak. Tidak ada yang khusus dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka setiap kali kita mendengar dering SMS di handphone kita, kita tidak tegang lagi. Ah paling begitu-begitu juga. Kita tersanjung atas kiriman SMS dari para sahabat, kerabat dan saudara itu. Kita mencintai mereka dan mereka pun pasti mencintai kita. Tapi sebagaimana layaknya orang yang mencintai, ia menolak untuk dimadu. Jika ucapan yang saya terima adalah juga ucapan dikirim ke banyak manusia, apa boleh buat, saya terpaksa merasakan dilema perasaan itu: bahagia karena dicintai sekaligus sedih karena dimadu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ketika di antara berondonggan SMS itu masih terselip ada nama kita di dalamnya, ada SMS yang ditulis khusus untuk kita, ia akan segera menjadi SMS yang berbeda. Ia dekat, khusus, dekat dan penuh cinta. Ia sungguh SMS yang menggoda kita untuk segera membalas dengan kekhususan pula. Maka jika engkau mencintai saudaramu, kenapa engkau tak menggenapi cintamu dengan mengetik namanya dalam teleponmu. Karena hanya dengan menambahkan nama yang tak seberapa itu, engkau akan mendapatkan cinta saudaramu dengan kualitas yang tak pernah engkau duga sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/09/sms-lebaran.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-6214583055842521046</guid><pubDate>Sun, 05 Sep 2010 15:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-05T22:37:20.469+07:00</atom:updated><title>Candu Diri Sendiri</title><description>Ternyata lebih gampang membangun gedung yang terbakar katimbang menangkap pembakarnya. Itulah yang dialami Pemerintah Kota Semarang yang telah meresmikan Gedung Setda belum lama ini. Rp 11,7 miliar dihabiskan untuk biaya renovasi. Sekitar 100 perajin dari Jepara didatangkan untuk menggarap ukiran kayunya. Sementara si pembakar entah sembunyi di mana. Pemkot telah menyerahkan urusannya pada polisi, polisi menyerahkan pada kejaksaan dan Kepala Kejaksaan mengaku belum banyak tahu karena ia adalah pejabat baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta di atas bisa mengundang berbagai penafsiran. Tapi salah satu yang menarik ialah tentang tafsir yang menunjukkan betapa dalam kemiskinan pun kita lebih bersemangat membangun katimbang mencegah perusak pembangunan. Lebih gampang mengganti lampu-pampu taman yang pecah katimbang menangkap pemecahnya. Lebih baik mengaspal jalan kembali katimbang mencegah penggalian lobang yang bisa terjadi setiap kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan pikiran kita dalam memecahkan masalah tampaknya memang lebih suka &quot;berpikir ke depan&quot; katimbang mengusut hal-hal yang ada di belakang. Maka jika publik mempersoalkan pemasangan papan reklame di kawasan terlarang, seorang pejabat bisa berkata: &quot;Sudahlah kenapa harus dibesarkan-besarkan. Mari kita berpikir saja soal masa depan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika penggalian harta karun kemudian memancing keributan, seorang petinggi bisa mengatakan: &quot;Yang bersangkutan sudah dimarahi habis-habisan. Sudah minta maaf. Maka sudahlah.&quot; Jika seorang kedapatan korupsi dan publik ramai-ramai meminta keadilan hukum, seorang tokoh penting bisa berkata: &quot;Kenapa pula harus ada hukuman. Toh duitnya sudah dikembalikan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita seperti manusia yang diprogram hanya untuk bergerak maju dan berpikiran maju. Artinya, jika seorang pejabat tengah berkuasa, yang menyita pikirannya bukan program pembangunan secara terpadu, melainkan pembangunan menurut kepentinganku dan mumpung masih dalam periodeku. Soal kerepotan periode di belakangku bukan urusanku. Maka wajar jika hasil pembangunan bisa demikian ruwet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada cukup bukti tentang kebijakan yang terbukti keliru. Ada tempat rekreasi yang dibuat hanya untuk tidak laku. Ada kebun binatang yang dipindah lokasi hanya untuk mati suri. Ada tebing-tebing dikepras yang membuat dataran tak memiliki tekstur tanah lagi. Ada restoran yang didirikan di atas ruang publik. Ada lapangan yang telah membawa kegembiraan dijual untuk lokasi bangunan....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua jenis kebijakan itu adalah indikasi betapa bersemangat kita ini dalam memikirkan masa depan: masa depan kita sendiri. Semangat itu bahkan telah melebar begitu jauh sampai ke sopir-sopir angkutan yang bisa berhenti dan ngetem sembarangan tak peduli bikin macet jalan. Sampai ke pedagang kaki lima yang menggasak trotoar dan merugikan para pejalan kaki. Sampai ke para pengusaha yang berhasil mengeruk kredit raksasa untuk dibikin macet secara sengaja. Sampai ke pemilik bank yang membobol banknya sendiri untuk dilarikan ke luar negeri....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua dari kita ternyata adalah pemikir masa depan yang hebat: masa depan kita sendiri. Maka terjadilah tabrakan kepentingan yang begitu hebat dengan akibat yang jelas: kebangkrutan Indonesia. Sementara dalam situasi bangkrut begini pembelaan atas diri sendiri itu terus saja berlanjut. Solar kembali langka karena punya potensi diselundupkan ke luar negeri dan dijual ilegal ke pihak industri. Makin tampak segar sayur-mayur Indonesia justru makin menakutkan karena dugaan banyaknya olesan pestisida.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita benar-benar manusia yang begitu mandiri karena di luar diri sendiri dianggap tak ada kepentingan lain lagi. Itulah kenapa di masa sulit, kita masih sempat membakar bendera tetangga dan merobohkan pagar kedutaaanya segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan ini sangat bisa dimengerti karena prioritas kita memang serba kepada diri sendiri. Maka demi menyalurkan kemarahan ini kita bisa menganggap remeh risiko bahwa orang lain juga bisa ganti membakar bendera, ganti bisa menganiaya dan mengangkat senjata. Perkara akibat dari ini semua akan timbul kerusakan hebat, apalah yang aneh dari kerusakan toh sudah sejak lama kita biasa melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka ketersingungan diri sendiri ini harus dipertajam sedemikian rupa. Bahwa hukuman cambuk atas TKI itu memang tidak manusiawi. Maklum, kita adalah bangsa yang punya banyak cadangan kemanusiaan. Terbukti untuk menangkap seorang buron saja bisa butuh waktu demikan lama karena rasa tak tega. Mengadili kasus korupsi memang harus hati-hati karena tak enak hati. Apapun bentuk kesalahan seseorang harus segera mendapat pengampunan jika permintaan maaf sudah dilontarkan. Sebesar apapun sebuah masalah harus segera dikecilkan lewat anjuran &quot;jangan dibesar-besarkan&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengagumkan cara kita mengabaikan masa silam. Itulah kenapa dunia hukum kita terkenal sangat lambat karena hukum memang selalu mengurus masa silam. Pengggerak hukum semacam itu logis jika kehilangan interes karena pikirannya memang selalu tersita ke masa depan: masa depannya sendiri. Akibatnya ada pemutus keadilan malah bisa ganti diadili, diusut kekayaannya, terancam dipecat atau minimal dimutasi karena diduga melakukan perbuatan tercela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kalau mau tegas, pengadil yang mengadili petugas keadilan itu juga harus diadili karena memberi fatwa pengadilan yang tidak adil. Pengertian &quot;melakukan perbuatan tercela&quot; itu adalah kesalahan yang sangat tidak jelas bentuknya. Dan ketidakjelasan ini bisa saja disengaja sepanjang yang menjadi alasan memang demi nama baik korps sendiri, demi toleransi kolega sendiri. Jadi, kata &quot;sendiri&quot; itu begitu hebat perannya hingga bisa membuat orang lain tidak ada dan kepentingannya boleh dirusak begitu saja. (03)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/09/candu-diri-sendiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8682718448101156867</guid><pubDate>Sat, 28 Aug 2010 09:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-28T16:59:57.109+07:00</atom:updated><title>Nama Tuhan di Sebuah Kuis</title><description>SEBUAH kuis televisi memberi pertanyaan sebagai berikut: apakah si anu adalah menteri tertua dalam kabinet anu. Pertanyaan ini segera membingungkan peserta kuis. Mimik kebingungannya jelas sekali. Dalam kebingungan itulah dia menenteramkan diri dengan bacaan basmallah: bismillah, dengan nama Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika diteruskan maksud si penjawab ini tentu akan bermakna sebagai berikut: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar. Jika diteruskan lagi, jawaban itu akan bertambah menjadi: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar, meski saya ngawur. Meski ngawur yang penting nama Allah sudah saya sebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena saya percaya, Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Pemurah. Meski saya benar-benar tidak tahu karena saya tidak cukup ilmu untuk menebak umur pak menteri ini, apalagi mendata umur semua menteri dalam kabinet, maka sebaiknya saya serahkan urusan ini langsung kepada Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat. Untuk itulah nama Allah perlu saya bawa-bawa dalam kuis ini. Kuis berhadiah lagi! Begitu barangkali peta bawah sadar si penjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hasilnya? Jawaban peserta ini, meski sudah pakai basmallah tetap saja salah. Jadi, terbukti sudah tentang sifat Maha Pengasih Allah itu dengan justru tidak mengabulkan pihak yang telah merayu-Nya sepanjang orang ini tak cukup ilmu atas sesuatu. Meski telah dibujuk, Tuhan menolak untuk bertindak tidak adil. Selamanya, kebodohan hanya membuahkan ketidaktahuan. Jika sudah bodoh masih tega membawa-bawa nama Tuhan hanya agar ia pintar mendadak, ini sungguh keterlaluan. Dan jika proses dari tidak tahu menjadi tahu cukup hanya dengan menyebut nama Tuhan, sikap ini benar-benar hendak meremehkan Tuhan yang seolah-olah gampang dibujuk dan dirayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara manusia dalam membawa-bawa nama Tuhan ini sering demikian percaya diri. Seorang petinju yang kebetulan beragam Islam, bisa demikian habis-habisan mengeksploitasi Tuhan. Ia bisa muncul dengan sajadah terbang sambil diiringi adzan. Di tengah ring ia bersyahadat, memuji Allah dan Rasulnnya. Luar biasa kecintaan petinju ini pada agamnya, tapi eee, akhirnya kalah juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi-lagi begitu dingin cara Tuhan ini mendemonstrasikan keadilan-Nya. Tak peduli apakah nama-Nya di sebut dan dipuja-dipuji, tak peduli apakah orang berdoa secara demonstratif atau sembunyi-sembunyi, Ia tetap memberikan kemenangan bagi petinju yang lebih keras jotosannya, lebih bagus staminanya dan lehih baik tekniknya. Orang-orang yang luas ilmunya itu, lepas dari ia angkuh atau rendah hati, iman atau ingkar, tak menghalangi Tuhan untuk menepati janji-Nya dalam mengangkat derajat mereka naik beberapa tingkat. Jadi, betapa Tuhan lebih meminta manusia untuk lebih dulu mematuhi hukum-Nya ketimbang buru-buru memuja nama-Nya. Tuhan tidak ingin para hamba-Nya bersikap gampangan dan menjadi penipu. Karena ada tingkat pemujaan formal, besar sekali risiko penggampangan dan penipuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyebut kata Allah ribuan kali jauh lebih &#39;&#39;gampang&#39;&#39; ketimbang harus bekerja keras menafkai keluarga, menyekolahkan anak-anak, dan mendidik mereka menjadi anak-anak yang baik. Rasanya Tuhan tidak memerintahkan manusia cuma sibuk memuja-Nya tapi lupa menepati aturan-Nya. Karena pemujaan Tuhan tanpa kepatuhan atas peraturan Tuhan adalah sebuah penipuan. (03)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(PrieGS/)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/08/nama-tuhan-di-sebuah-kuis.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2534782994935851664</guid><pubDate>Thu, 19 Aug 2010 23:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-20T06:53:00.558+07:00</atom:updated><title>Anak Saya Kalah Lomba</title><description>Soal yang hampir tak bisa Anda hindarkan ketika menjadi orang tua adalah mendapati anak yang ikut berlomba dan kalah. Lomba apa saja, karena anak-anak memang masih ingin menjadi apa saja, tak terkecuali anak-anak saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada kekalahan yang enak. Beberapa di antaranaya malah menyakitkan. Melihat anak sakit oleh sebuah kekalahan adalah pemandangan yang bikin masgul. Berikut ini ada beberapa cara untuk menghadapi kekalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, sakit secara bersama-sama. Si anak kecewa, orang tua apa lagi. Meskipun dari mulut orang tua bisa berkata: &#39;&#39;Tak usah kecewa. Masih ada kesempatan,&#39;&#39; tapi nasihat ini tak banyak gunanya karena kekecewaan terdalam justru terdapat di wajah orang tua ini. Nasihat ini lebih untuk menghibur hati mereka sendiri katimbang hati anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, labrak saja dewan juri dan protes bahwa penilaiannya tidak jujur. Betapa ada peraturan lomba yang tidak dijalankan dan itu merugikan peserta termasuk anak Anda. Protes ini diharapkan agar memberi kesan bahwa kekalahan itu bukan kerena anak kita goblok tapi karena lomba yang penuh kecurangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dunia politik, strategi ini terkenal dengan taktik pengalihan isu. Jika isu ini terlalu keras, ada cara isu yang lebih lunak, misalnya: &#39;&#39;Anak saya sakit. Ketika ikut lomba badannya sedang panas. Saking panasnya sampai ketika ketiaknya saya ukur, termometernya bengkok begini.&#39;&#39;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, Anda bisa menempuh apa yang dilakukan teman saya ini. Sepanjang anak masih mudah  dikibuli, katakan saja ia selalu menjadi pemenang dalam setiap lomba yang ia ikuti. Caranya mudah, sebelum lomba usai, ajak dia pulang dan belikan piala di pasar grosir dan tulis namanya lengkap dengan gelar juaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke empat adalah cara yang amat sulit, tetapi saya sangat ingin mencobanya, yakni menikmati kekalahan. Melihat wajah anak yang sedang kalah, adalah melihat wajah saya sendiri ketika sedang menjalani penderitaan serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah wajah yang malu, sakit, marah, kecil hati dan kecewa. Merasakan derita serupa sedang menimpa anak saya, adalah perasaan menyakitkan. Tetapi kekalahan demi kekalahan dalam lomba yang banyak saya derita di masa remaja itu ternyata adalah modal yang baik sekali bagi kekuatan saya di hari ini. Terutama kekuatan menertawai diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sekali perubahan dalam hidup saya ketika saya mulai mudah tertawa termasuk pada  soal-soal yang selama ini saya anggap menyakiti hati. Maka jika kekalahan ternyata mendatangkan manfaat  sebaik ini, betapa keliru jika saya tidak mengembangkan prasangka baik terhadap kekalahan sejak dini. Saya termasuk terlambat menyemai perilaku ini, sehingga terlalu banyak rasanya waktu yang saya habiskan untuk sakit di hadapan kekalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin tidak cuma anak saya, tetapi juga siapa saja merasakan sensasi kekalahan ini. Berani sakit, berani malu, berani memberikan kemenangan kepada pihak yang berhak, adalah latihan mental yang baik sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberanian semacam itulah yang ternyata menjadi modal untuk menjadi pemenang di kelak kemudian. Bukan cuma sekadar menjadi pemenang sebuah perlombaan tetapi juga menang dalam kehidupan. &#39;&#39;Jadi, anakku, kamu boleh kalah dalam lomba, tetapi jangan kalah di dalam hidup.&#39;&#39; (Prie GS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/08/anak-saya-kalah-lomba.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2990868259894217173</guid><pubDate>Wed, 18 Aug 2010 14:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-18T21:16:00.083+07:00</atom:updated><title>Di Sebuah Lomba Gambar</title><description>Seperti tahun sebelumnya, setiap perayaan Agustusan tiba, lagi-lagi aku kebagian jadi panitia lomba. Yang paling sering adalah lomba lukis, mungkin karena latar belakangku yang kartunis. Sebetulnya, dibanding kesibukanku, pekerjaan ini amat menggangu. Untuk mengurus pekerjaanku sendiri saja aku seperti kekurangan waktu. Apalagi harus mengurus pekerjaan kampung seperti ini. Sudah tak dibayar, tombok waktu dan tenaga, tambah mengganggu pekerjan resmi pula. Jadi kalau boleh menghindar, aku jelas lebih suka menghindari. Tapi untunglah, di dunia ini ada soal-soal yang tak bisa kita hindari walau tak kita sukai. Karena ternyata ada sebentuk kegembiraan, yang tersembunyi di balik soal-soal yang kita benci. Maka kusarankan: berhati-hatilah pada kebencian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esok hari lomba akan dimulai, malam hari pikiranku sudah penat oleh tumpukan beban. Beban terberat datang dari pikiranku: pikiran menolak apa yang  sedang tidak aku ingini. Maka malam itu, menjadi malam yang berat dan aku ingin keburu menjemput pagi. Ingin secepatnya mengerjakan tugas terpaksa ini, bukan untuk rajin, tetapi agar pekerjaan itu rampung secepatnya. Ia seperti meminum obat yang karena kepahitannya, kita buru-buru ingin menelan karena tak punya lain pilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lomba baru akan dimulai pukul delapan waktu undangan. Disebut waktu undangan karena dari apa yang tertulis di undangan, waktu bisa molor satu hingga dua jam. Tapi kurang satu jam dari waktu yang diundangkan itu, peserta sudah banyak berdatangan. Anak-anak yang hampir semuanya telah bersiap, berdandan dan bersisir rapi. &quot;Anak saya sakit, tapi hari ini memaksa diri sembuh hanya agar bisa ikut lomba ini,&quot; kata seorang Bapak. &quot;Anak saya malah  semalam tak bisa tidur, keburu ingin pagi,&quot; kata Bapak yang lain. Ada bapak, ibu, kakak, mbak, bulik paman, semua menggiring anak-anak itu seperti hendak berangkat ke medan perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi inikah lomba yang aku ingin hindari itu, pikirku. Lomba yang oleh anak-anak ditafsirkan dengan begitu penuh sensasi. Hadiahnya tidak seberapa, jumlah juaranya juga cuma untuk sedikit anak saja tetapi kegembiraan yang dibawa lomba ini, sangup membuat anak tidur sambil keburu melihat pagi, membuat anak yang sakit sembuh karena memaksa diri. Rasa bersalahku langsung bergolak. Lomba ini langsung aku mulai tepat waktu dengan semangat tinggi. Jam delapan tepat, waktu udangan, lomba dimulai. Ku ira inilah lomba gambar tingkar RT paling tepat waktu di dunia! Untuk apa? Untuk menghormati anak-anak yang datang juga amat tepat waktu ini. Mereka harus segera mendapat hak-haknya, karena mereka sudah menunaikan kewajibannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu menerima kertas gambar, semuanya menjadi amat sibuk, amat serius dan kertas putih itu, bagi anak-anak seperti sebuah arena pertempuran hidup dan mati. Tegang, fokus, serius. Bagi kami, orang tua ini, lomba ini hanyalah sekadar kegembiraan Agustusan, tetapi tidak bagi anak-anak ini. Sekali lagi: inilah lomba yang memaksa mereka bisa sembuh dari sakit dan peristiwa yang terbawa mimpi sehinga memaksa anak-anak rela bangun pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu jam saja yang disediakan untuk batas waktu lomba, tetapi ketika waktunya lewat, banyak kertas baru tergambar sebagian saja. Ada kerepotan yang tidak sederhana bagi anak-anak ini untuk menerjemahkan kriteria yang rumit bikinan panitia yang tua-tua ini. Ketika dinyatakan waktu habis, kepanikan merejalela di mana-mana. Tak tega pada keadaan ini, kuputuskan untuk mengubah secara radikal aturan lomba: tak ada batas waktu. Seberapa lama kalian perlu waktu, kami panitia, akan menunggu. Keputusan yang disambut sorak-sorai. Lomba kemudian berlangsung nyaris tanpa aturan. Bapak, ibu, kakak, mbak, seluruh pengantar itu boleh ikt bantu-bantu: ikut mewarnai, menambah ide, mengarahkan, membenarkan... Pokoknya jadilah lomba gambar paling ruwet se Indonesia tapi gantinya ia mendatangkan kegembiraan sedemikian rupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat seorang bapak harus menggelesot menemani anaknya, seorang ibu harus mengipasi putrinya, seorang kakak menjaga adiknya, seorang paman  menyemangati keponakan. Melihat kerukunan semacam itu, aku lupa pada kelelahanku. Pekerjaan yang semulai aku ingin hindari ini akhirnya menjadi pekerjaan yang aku banggai karena akulah ketua panitianya.&lt;br /&gt;
(/)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/08/di-sebuah-lomba-gambar.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3428113997661359402</guid><pubDate>Tue, 03 Aug 2010 11:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-03T18:46:34.031+07:00</atom:updated><title>Handphone Baru</title><description>Silih berganti adalah soal yang harus dijalani. Termasuk soal handphone. Jika boleh memilih, sebetulnya saya jenis lelaki penganut monogami, termasuk soal HP. Setiap harus berganti handphone, selalu ada perasaan sedih, setidaknya enggan. Kenapa saya sebut harus? Karena cuma keharusan itu sajalah yang membuat saya tergerak mengganti barang ini. Ada yang karena kecebur kolam, ada yang karena saking tuanya hingga banyak tombolnya tak jalan lagi, dan ada pula yang hilang di tengah jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sebab-sebab dramatik itu, betapapun tua sebuah handphone, rasanya malah makin dekat saja saya kepadanya. Seluruhnya sudah saya akrapi. Dan keakrapan terhadap apa saja, termamsuk kepada barang-barang, adalah keakrapan kita kepada makhluk juga. Ada perasaan sebagai teman, saudara, dan akhirnya berkembang sebagai anggota keluarga. Maka ketika harus berpisah dengan HP yang lama, sering muncul perasan tak tega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya menulis kolom ini,  saya terpaksa  berganti handphone lagi, untuk kesekian kali. Walau saya sebut ‘’kesekian’’ tidak  berarti bahwa begitu  seringnya saya berganti. Melainkan karena memang ada sekian persoalan yang seperti yang  sudah saya sebutkan di depan: ada yang ketuaaan, ada yang tercebur kolam, ada yang hilang, dan oya, ada pula yang pernah cuma bisa menerima SMS tapi tak bisa mengirimnya kembali. Seperti galibnya sebuah pergantian, ia selalu ‘’harus’’ yang lebih baru dan  lebih tinggi, lebih mahal, lebih asing dan buntutnya menjadi  lebih rumit, lebih menjengkelkan… walau pasti juga lebih menggoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi godaan itu bukan  soal besar bagi saya. Ada banyak hal yang membuat saya tergoda, tetapi pasti bukan soal handphone. Jadi betapapun mahalnya, betapapun canggihnya, perasaan saya kepadanya biasa-biasa saja. Mau di dalam HP itu ada radio, ada video, ada televisi, ada kulkas sekalipun, saya tidak menganggapnya sebagai tawaran yang luar biasa. Dari handphone, betapapun canggih, sebetulnya cuma terbagi dalam dua fungsi saja, pokok  dan tidak pokok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sering dipercangih diperbaiki, dipermahal itu tak lebih dari yang tidak pokok. Yang pokok tetap saja seperti sedia kala. Tak banyak berubah. Dan itu cukup bagi saya. Maka ketika hendak berganti barang pun, saya cuma ingin kembali pada yang pokok-pokok saja, walau saya tidak menolak sejumlah perbaikan, misalnya suara yang lebih terang, sinyal yang lebih baik, memori yang lebih besar dan seterusnya. Tetapi selebihnya kembali lagi pada kebutuhan pokok itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi niat saya kembali ke pokok ini semakin tidak mudah, karena ada mode dan anak-anak. Anak-anak dengan modenya adalah ikan dengan airnya. Begitu agresifnya mereka pada  mode itu sehingga kalau mereka belum kuat bermode sendiri akan menempuh jalan apa saja termasuk memperalat  bapaknya. Handphone baru ini sepenuhnya adalah kebutuhan saya tetapi merekalah  penentunya. Maka lengkaplah sudah, barang baru ini seluruhnya adalah sebuah gangguan. Cuma untuk mencari  sebuah fungsi saja harus menguras tenaga dan  pikiran sedemikan rupa. Seluruh prosedurnya seperti rimba belantara. Sekadar mengirim SMS saja, dengan alat baru ini sungguh menimbulkan kepayahan. Saya hampir-hampir menyerah karena marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebelum barang ini saya banting (dan itu pasti tidak mungkin) saya teringat anjuran sederhana. Bahwa ada sebuah fase, yang manusia diminta bersabar atas kepayahannya. Fase itu bernama fase menuntut ilmu. Tidak ada yang enak dari pihak  yang  sedang belajar. Kerjanya tak ada lain kecuali keliru, bodoh dan menderita. Tetapi sejauh saya amati, keberanian saya menderita itulah yang membuat saya menemukan seluruh keasyikan hidup di hari ini, termasuk dipercayai menulis kolom ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terkira hambatan saya dalam menulis saat itu. Tetapi betapa seluruh hambatan itu cuma kesepadanan dengan nilai yang disediakan. Seluruh jenis pekerjaan baru, perpindahan, pergeseran ke  arah yang lebih baru selalu menimbulkan kesakitan. Tuntaskan saja karena ia memang mengajak kita ke tata nilai yang baru, nilai yang selalu  lebih memartabatkan. Kuncinya, lalui saja seluruh tahap kesulitan yang jujur saja, memang menjengkelkan itu. (Prie GS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/08/handphone-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-4422032334085070140</guid><pubDate>Wed, 28 Jul 2010 13:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-28T20:04:00.715+07:00</atom:updated><title>Anggrek Melengkung</title><description>Di sisi kiri pagar rumah saya ada anggrek hutan yang dipot begitu saja. Saya sebut begitu saja, karena sebetulnya ia anggrek yang tak terawat. Kalau pun selalu kami sirami, tak lebih untuk sebuah kewajaran saja. Tetapi dari sisi tata letak, perawatan dan perhatian, ia adalah tanaman sebatang kara. Terburuk adalah letaknya yang sedemikian rupa itu sehingga cahaya sama sekali tidak pernah menjangkaunya. Ia nyelip diujung pagar dengan matahari yang selalu terhalang untuk menyentuhnya. Tegasnya, ia anggrek tanpa sinar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi selama ia berada di pagar itu, tak henti-hentinya ia memberi kami bunga jika musimnya telah tiba. Ungu, segar dan tahan berlama-lama. Jika bunga itu merekah, bukan cuma kami yang menyapa, tetapi juga orang-orang lewat dan para tetangga. &#39;&#39;Duh cantiknya,&#39;&#39; begitu biasanya kata mereka. Setiap  komentar, membuat kami bahagia. Begitulah memang watak pujian. Jika pun ia dialamatkan kepada barang-barang kita, bahagiannya akan singgah ke kita juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sekian lama anggrek ini memberi kami bunga padahal dengan perawatan ala kadarnya, sampailah saya pada  keheranan yang tak kami pikir sebelumnya. Yakni, betapa seluruh tubuh angrek ini ternyata bergerak ke satu jurusan saja, yakni menjulur ke luar, tepat ke bibir pagar arahnya. Gerakan ini tidak kami bentuk, tetapi anggrek itu sendirilah yang membentuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Butuh waktu bertahan-tahun bagi  tanaman ini untuk membengkokkan diri seperti itu, tetapi agaknya itulah satu-satunya cara agar ia hidup, bertumbuh dan bisa mendermakan elok lewat bunga-bunganya. Butuh waktu bertahun-tahun! Dan taksiran saya, lebih dari sepuluh tahun sudah  sejak anggrek itu ada di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu siapa yang meminta anggrek ini melengkungkan tubuh untuk menuju arah yang sama? Ternyata adalah kebutuhannya atas cahaya. Pojok yang dihuni anggrek ini adalah sisi gelap dan cuma di luar pagar itulah cahaya berada. Setitik demi  setitik anggrek  ini menjulurkan tubuhnya. Sel demi sel ia mengulur diri untuk menuju cahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cahaya itu memang cuma beberapa inchi saja dari tubuhnya, ia cukup di luar pagar, wilayah yang tak terhalang tembok tetangga. Tetapi bagi anggrek ini, itulah jarak yang amat jauh, yang harus ditempuh dengan hitungan tahun, lebih dari sepuluh tahun karena pot itu telah ada di sana sejak  putri kecil saya yang balita dan kini ia  telah beranjak dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya jadi malu pada anggrek yang senantiasa berjuang mencari cahaya tanpa mengeluh ini. Sebuah perjalanan yang intens, yang secara konsisten ia lakukan tak peduli apakah kami sedang memperhatikannya atau tidak. &#39;&#39;Yang saya tau, cahaya itu ada di sana, dan langkah ini, harus terus menuju ke sana,&#39;&#39;begitulah pasti tekat anggrek ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak perlu saya menebak-nebak karena ia telah menyodori kami bukti atas seluruh jerih payahnya. Maka setiap melihat anggrek itu, saya melihat kekuatan keyakinan, atas segala sesuatu, betapapun lemahnya, siapapun akan menjadi amat kuat jika ia sedang rindu berjalan menuju cahaya. (Prie GS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/07/anggrek-melengkung.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3967832614312486596</guid><pubDate>Mon, 05 Jul 2010 15:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-05T22:18:00.408+07:00</atom:updated><title>Keyboard Kurang Nada</title><description>Keyboard kuno itu ada di rumah karena terpaksa. Tetapi karena betapapun dia adalah keyboard kami menyambut baik kedatangannya walau tak sampai benar-benar jatuh cinta. Ia dari jenis yang tua yang seorang saudara kami pun telah bosan karena itulah kepada kami ia mewariskan barangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di rumah, karena ia bukan barang kesayangan, siapa saja boleh membunyikan. Intinya, ia menjadi barang umum saja. Sesekali saya memerlukan juga mengakrapi barang ini. Tetapi lama-lama bosan juga dan ia menjadi barang yang terlupakan. Karena fungsinya mulai dinilai tidak sepadan dengan kebutuhan barang ini pun diungsikan ke kamar lain yang sebetulnya lebih cocok disebut gudang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari waktu ke waktu ia cuma terlihat jika kami memasuki ruang yang berarti gudang itu. Pada awalnya, sebagian tubuhnya masih kami selimuti. Jika selimut itu terlepas, masih suka kami benahi. Tetapi makin lama, bahkan membenahi selimutnya pun tak pernah lagi. Bukan tak sempat, karena perhatian ke arahnya tak ada lagi. Debu di wajahnya menebal dari hari ke hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai suatu hari, saya melihat barang ini dan ingin memainkannya lagi. Tapi debu dan pembiaran itu agaknya sudah terlalu lama hingga keadaan keyboard itu telah sedemikian rupa. Ia seperti seseorang yang tak pernah tersentuh kasih sayang lalu patah hati dan memilih menghancurkan dirinya sendiri. Didorong rasa iba, saya mengelap dan memainkannya sekadar untuk bersilaturahmi. Agak kaget juga ketika sampai di beberapa bagian ada tuts yang mati. Dengan nada yang tak lengkap, barang ini sudah tak bisa dimainkan lagi, apalagi kami bukan ahli. Maka apa saja lagu yang saya coba, jatuhnya tak pernah bisa rampung juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saya main di kunci yang paling mudah, kunci itu tiba-tiba menjadi susah karena nada yang hilang itu tepat di nada pertama, do. Mana mungkin saya menyanyi tanpa do, karena ia serupa membangun rumah tampa pondasi. Saya coba mengingat lagu termudah sekalipun, ternyata tak ada yang bisa terbentuk tanpa bunyi do. Tetapi saya mencoba menantang diri sendiri, apa jadinya jika saya dihukum gantung jika tidak sanggup menyanyi tanpa do? Ayo menyanyilah meskipun tak lengkap nadamu, bujuk saya pada diri sendiri. Lagipula ada tujuh nada, dan kamu cuma kehilangan satu, tambah saya di dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka mulailah saya mencoba memainkan harmoni tanpa do. Pada mulanya tidak cuma aneh, tetapi juga menderita. Bermusik tanpa nada dasar sama saja pelari tanpa garis start dan tak ada finish. Bukan jarak yang menjadi persoalan tapi lebih pada berjalan tanpa jelas ke tujuan itulah yang melelahkan. Tetapi karena tak ada lain pilihan, terus bernyanyi itulah yang bisa saya lakukan. Saya putuskan saja, setiap garis yang saya temui, adalah sebuah start. Setiap nada adalah nada dasar dan saya boleh berhenti kapan saja bukan dengan nada sebagai penandanya, tetapi cukup kelelahan saya sendiri saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jadilah saya main menggila di hadapan keyboard tua ini. Yang saya sebut menggila itu bukan karena teknik saya yang tinggi, melainkan apapun keterbatasan tekniknya, saya boleh memijit nada sesuka saya. Jika ada penonton bertepuk, yang bertepuk itu akhirnya juga cuma saya. Jika ada penonton yang ngomel, pengomel itu juga cuma saya. Karena pemain, penonton dan juri saya rangkap sendiri akhirnya tak ada permainan baik-buruk, benar salah. Hantam saja senantiasa. Hasilnya, inilah permaianan musik saya paling hebat sepanjang saya berhenti bermain musik sejak SMA. Ngawur dan sama sekali tak ada enaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi apapun sebutannya, saya bisa bermain nikmat sekali, lama sekali untuk ukuran orang iseng dan bahagia sekali. Cuma berkurang sebuah nada, ternyata memang tak perlu menghalangi seseorang untuk bernyanyi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(/Nv@)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/07/keyboard-kurang-nada.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-2417468019340480167</guid><pubDate>Sat, 03 Jul 2010 12:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-03T19:10:00.746+07:00</atom:updated><title>Lulus Seratus Persen</title><description>Saat itu sekolahku lulus seratus persen, dengan aku menjadi bagian dari kelulusan. Kami semua berteriak dalam kegembiraan, tetapi anehnya kenapa masih ada kesedihan diam-diam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyangka kesedihan itu bersumber dari perpisahan kami dari&amp;nbsp; kenangan: dari sekolah, guru-guru, teman-teman, dan penjaga. Soal-soal yang semula biasa-biasa saja, baru ketika hendak&amp;nbsp; berpisah, semuanya menjadi muncul dan berharga.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Saat itu, imajinasi kesedihanku baru sebatas menjangkau wilayah itu, tetapi tidak kini. Ada lagi agaknya sumber kesedihanku yang pelan-pelan terbaca di saat ini. Dulu sumber kesedihan ini tersimpan dalam, tanpa aku tahu, tetapi terus terasakan. Terasa tapi tidak tahu, itulah yang membingungkan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Kini, tanpa ragu aku menebak sumber kesedihan misterius itu, ia tak lain adalah nilai matematika di ijazahku. Nilai itu cuma enam, terjelek di antara seluruh nilaiku. Aku menyangka nilai ini muncul lantaran kebencian guru matematikaku kepadaku. Diam-diam aku marah&amp;nbsp; sekali pada guru itu. Nilai enam ini adalah noda di ijazahku yang akan terpatri di situ nyaris selamanya. Sekian lama aku sakit oleh nilai itu karena dan hampir saja aku menolak untuk melihat ijasah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini aku malu sekali pada prasangkaku. Guru itu ternyata adalah guru yang amat baik kepadaku. Seorang guru lain diam-diam meyakinkanku, jika ukurannya adalah hasil ujian asli, nilai matematika bukan enam, tapi empat. Angka enam itu ternyata sudah&amp;nbsp; terlalu tinggi untuk kemampuanku dan guru itulah yang membelaku. Jika cuma mengandalkan hasil ujian, aku adalah murid yang tidak lulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa, meskipun aku ikut-ikutan bergembira, tetap saja ada kesedihan tersembunyi di hatiku. Karena ternyata kelulusan itu sejatinya bukan milikku. Itulah kenapa kebohongan itu tak bisa lenyap dari hati walau tak ada orang yang tahu. Menikmati sesuatu yang bukan milikku ternyata hanya kegembiraan semu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan nilai ijazah palsu itu ternyata memang hanya kuat membelaku seperti nilai aslinya, cuma empat itu sajalah,&amp;nbsp; sesuai dengan kemampuanku. Buktinya seluruh sekolah lanjutan yang kuanggap favorit, yang kusangka sesuai dengan derajatku, semuanya menolakku. Semua sekolah itu pasti membutuhkan nilai delapan asli untuk lulus seleksi, bukan nilai enam itu pun palsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, satu-satunya sekolah yang mau menerimaku adalah sebuah sekolah&amp;nbsp; baru yang sedang butuh murid, yang masuk sore pulang petang dengan gedung menginduk, itupun bobrok pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terkira rasa rendah diriku jika harus berpapasan dengan anak-anak yang masuk pagi. Ketika mereka pulang kami berangkat dan dari pandangan mereka aku tahu, mereka mencibirku. Keterbalikan jadwal ini sungguh setara rasanya dengan keterbalikkan nasibku. Tetapi beginilah memang mestinya murid dengan nilai empat ini. Bahkan masih ada sekolah yang mau menerimaku pun mestinya sudah sebuah anugerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di&amp;nbsp; sekolah bobrok inilah ternyata aku menemukan teman-teman terbaik, guru-guru terbaik, lingkungan terbaik dan banyak sekali kebaikan lain yang tak pernah aku bayangkan. Begitu menyadari nilaiku cuma empat, dan cuma sekolah inilah yang mau menerimaku, rasa cintaku pada sekolah ini tumbuh pelan dan pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya seluruh&amp;nbsp; usaha&amp;nbsp; kupompakana agar yang empat ini menjadi enam, tujuh dan&amp;nbsp; seterusnya, sekuatku, sebisaku, yang penting aku tidak lagi menipu. Ternyata, menyangkut soal nilai ijazah itu, yang paling berharga bukanlah besarannya, melainkan kejujurannya. Empat yang kuterima sebagai keaslikanku ternyata jauh lebih berguna katimbang enam tapi palsu.&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/07/lulus-seratus-persen.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-3909044635403984084</guid><pubDate>Tue, 29 Jun 2010 18:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-05T00:38:03.822+07:00</atom:updated><title>Syarat Seorang Penipu</title><description>Seorang teman mengeluh tentang teman baiknya yang tega menipu. &quot;Bukan cuma apa yang ditipu, tetapi siapa yang menipu, itulah yang menyakitkan hatiku,&quot; kata si teman ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak hendak meyangkal pernyataannya. Pertama, tak baik pihak sedang menderita bukan mendapat bantuan, tetapi malah mendapat penyangkalan. Kedua, semakin dekat seseorang dengan kita, akan menjadi penuh harapan kita kepadanya. Itulah kenapa ditipu teman dekat, dua kali lipat kesakitannya. Karena menjadi selalu baik dan selalu dipercaya, itulah harapan kita kepada teman dekat. Menjadi semakin dekat, semakin banyak syarat yang kita tetapkan kepadanya. Maka ketika ia semakin dekat tapi semakin tidak bisa dipercaya, adalah kesakitan ekstra. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku tergoda dengan kata &quot;tapi&quot; yang jamak menjadi kebiasaan hampir seluruhnya dari kita ketika tengah berhadapan dengan persoalan tertentu. Misalnya jika kita adalah pihak bermasalah dan butuh nasihat. Contohnya begini: kamu ngerti perbuatanmu itu sesat. Maka bertobatlah. Percayalah, sembilan dari sepuluh peminta nasihat cenderung akan menutupnya dengan kata: tapi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang: tapi kan tidak mudah untuk bertobat begitu saja. Ada yang: tapi butuh waktu dong. Ada yang: sudah kucoba, tapi gagal melulu. Begitu juga dengan teman yang sedang tertipu ini. Kata &quot;tapi&quot; tampak menjadi persoalan tebesarnya. Kata itu jauh lebih membuatnya menderita, katimbang perasaan kehilangan sesuatu hasil dari tertipu. &quot;Tapi kan dia teman dekatku. Sudah seperti keluargaku,&quot; begitulah fokusnya terus menuju. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi betapa kata &quot;tapi&quot; itu adalah biang persoalan besar dalam hidup. Baiklah aku jelaskan urut-urutannya: tertipu dan kehilangan itu jelas sudah pendertaan. Tapi tenyata kita merasa tidak cukup menderita dan butuh menambahnya dengan menu ekstra, yakni karena teman baik itulah penipunya. Semua ini gara-gara ada banyak syarat yang kita tetapkan atas segala sesuatu, termasuk kepada para teman baik, teman dekat dan kepada para penipu itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada teman dekat itu misalnya, kita tetapkan syarat bahwa yang dekat itu selalu harus baik, terpercaya, dan tidak boleh menipu. Padahal kedekatan dan kepercayaan itu sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagaimana mungkin dua soal yang berbeda harus dipaksa untuk menjadi sama dan satu. Pemaksaan itulah yang mendatangkan bermacam-macam persoalan dalam hidup. Maka jika rumusnya diubah: bahwa orang dekat juga boleh menipu, bahwa teman baik juga boleh menjadi buruk, bahwa kebaikan juga boleh dibalas keburukan, berbeda pula perasaan kita kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata boleh ini kalau tidak hati-hati, juga akan mendatangkan kata &quot;tapi&quot; lagi. Misalnya: tapi kan kejam sekali sudah diberi kebaikan malah membalas keburukan. Iya sih, tapi kan boleh, karenanya ternyata itu semua bisa terjadi. Lalu siapa yang memperbolehkan, ya hukum kemungkinan itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada sesuatu yang mungkin, manusia hanya bisa diberi ruang untuk kompromi. Tersedia berbagai bentuk pilihan kompromi, mulai dari yang rendah dan murah, hingga yang mahal dan tinggi. Tergantung selera dan kemampuan Anda. Boleh menderita sambil ngomel dn mengutuk kanan-kiri, boleh pula menderita sambil tetap menyalami tamu-tamu seperti biasa sambil ngobrol seolah tak pernah terjadi apa-apa. Sesuatu yang mungkin terjadi akan tetap terjadi jika memang harus terjadi, lepas apakah kita menolak atau menyetujui! &lt;br /&gt;
(Prie GS/)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/06/syarat-seorang-penipu.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-7917624621720068139</guid><pubDate>Mon, 28 Jun 2010 01:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-28T08:20:00.199+07:00</atom:updated><title>Istri sakit</title><description>Wajah istriku pucat. Tapi memang begitulah biasanya jadi tak&amp;nbsp; apa-apa. Pokoknya baik kegembiraan maupun keluhan harus disuarakan. Jika dia diam saja, berarti keadaan baik-baik&amp;nbsp; saja. Pucat itu pasti cuma pembawaan, bukan soal yang harus dikhawatirkan.&lt;br /&gt;
Dugaanku keliru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ada jenis suara yang harusnya terdengar tanpa harus bersuara. Itulah tanda namanya. Seorang pakar komunikasi malah mencatat, secara rata-rata, manusia paling banyak omong pun hanya mengekspresikan perasaaannya dalam 7 persen dengan kata-kata, dan 18 persen dalam&amp;nbsp; suara (lenguhan, desis, desah, dan seterusnya). Lalu apa sisanya? Perasaan itu banyak dikatakan lewat bahasa tubuh, 55 persen angkanya. Di dalam pemilu, angka ini sering disebut sebagai kemenangan mutalk, saking besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kasus ini aku keliru membaca tanda itu. Jika aku yang cerewet saja, oleh&amp;nbsp; sebuah penelitian dianggap sedikit saja menggunakan kata-kata, apalagi istriku yang pendiam. Ia pasti memakai lebih banyak tanda. Ia mestinya sudah&amp;nbsp; berkata-kata dengan pucatnya itu. Ketika si pucat ini dibiarkan, baru ia meningkatkan dosisnya menjadi mual. Mual ini meningkat lagi menjadi pusing dan gigil demam. Tanda itu kemudian telah begitu lengkapnya sehingga ia tak perlu lagi kubaca. Aku sudah butuh panik untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu inilah urut-urutan kepanikan itu: istriku pasti kena demam berdarah yang di kampungku memang menjadi wabah. Mual itulah tanda yang paling kupercaya karena aku juga pernah diserang penyakit yang sama. Lalu kubayangkan prosedur penanganannya. Malam ini juga, jika muntahnya tidak&amp;nbsp; reda, aku harus membawanya ke rumah sakit. Masuk dulu ke poliklinik, mendaftar, menunggu, diperiksa dan mendengar apa vonisnya. Di tahap ini saja sudah tidak sederhana ongkosnya, baik ongkos perasaan, pikiran dan tenaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara tenaga, saya harus menyetir sendiri karena tengah malam tak enak rasanya minta bantuan bahkan kepada sopir&amp;nbsp; sendiri. Secara pikiran, aku harus mengalkulasi seluruh kerepotan rumah jika istri harus menginap di rumah sakit berhari-hari. Bagaimana pula nanti kalau semua kamar penuh karena jumlah orang sakit sering tidak sebanding dengan kamar rumah sakit. Jika pun semua ini sudah&amp;nbsp; teratasi, masih ada lagi beban perasaan, yakni, memandangi istri yang harus menahan kesakitan, pasti butuh ketabahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, aku sungguh dicekam oleh sebuah kecemasan hebat. Kubabayangkan,&amp;nbsp; setelah malam ini soal rumah&amp;nbsp; sakit kubersekan, besok aku harus memandikan anak-anak, menyuapi, mengantarnya ke sekolah menemaninya tidur dan mengambil seluruh&amp;nbsp; urusan yang&amp;nbsp; selama ini dikerjakan itsri. Bukan saya mengeluh, tetapi itulah urusan yang pasti saya kebingungan mengerjakan karena harus mulai dari mana dan dengan cara apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum nanti jika aneka tagihan rumah tangga itu datang, beli air, bayar belanja, listrik, telepon dan&amp;nbsp; semacamnya. Belum lagi kalau urusannya merumit, misalnya harus mencari kartu asuransi, surat ini, formulir itu, kuitansi ini, yang selama ini seluruhnya&amp;nbsp; adalah daerah kekuasaan istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu, rumahku terasa gelap, karena gelapnya pikiranku. Padahal istri belaum benar-benar ke rumah sakit. Ia masih di rumah, dan&amp;nbsp; penyakitnya itu makin malam makin mereda, dan benar-benar reda di pagi harinya. Seluruh&amp;nbsp; kegentaranku itu, syukurlah berhenti sebagai&amp;nbsp; bayangan belaka. Tetapi bayangan itulah yang memaksaku melihat istri dengan cara berbeda. Selama ini kesehatannya, kebaikannya, pekerjaannya, sering kuanggap biasa-biasa saja karena pikirku, begitulah memang seharusnya. Itu sudah&amp;nbsp; tugasnya. Kini, tampak, bahwa semua itu bukan barang biasa. Ia adalah soal-soal&amp;nbsp; yang luar biasa yang aku terlambat melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/06/istri-sakit.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1153652566320118020.post-8474983653170703083</guid><pubDate>Sat, 26 Jun 2010 14:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-26T21:12:00.368+07:00</atom:updated><title>Menguras Bak Mandi</title><description>Menguras bak mandi bukan soal asing bagi saya bahkan hingga di hari ini. Alasan utamanya bukan karena saya menyukai pekerjaan ini, melainkan karena tidak ada pembantu di rumah kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ketika saya mulai asyik dengan pekerjaan sendiri, banyak sekali pekerjaan rumah tangga diambil alih istri. Begitu banyak rupanya item pekerjaan itu yang celakanya tak semuanya mudah diidentifikasi. Jenisnya tak pernah jelas tetapi kelelahannya demikian tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa istri&amp;nbsp; bisa amat terpukul jika pekerjaannya tidak diapresiasi. Tidak dianggap mengerjakan apa-apa cuma karena hasilnya tidak kelihatan dan suasana rumah tampak miskin perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak banyak berubah. Padahal baru saya sadari, apa yang dikerjakan istri itu memang soal-soal yang begitu banyak daftarnya tetapi hampir seluruhnya adalah jenis pekerjaan sunyi. Itulah jenis pekerjaan yang memang tidak berujung&amp;nbsp; karena selalu&amp;nbsp; sambung menyambung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri tak sekali mengerjakan tugas seperti ini. Hasilnya saya bisa kerenggosan kelelahan dan berhenti di tengah jalan karena jumlah pekerjaan baru itu bisa bermunculan sebanyak pohon di hutan. Rampung ini muncul itu. Semula saya hanya ingin merapikan tumpukan buku. Tetapi belum rampung buku itu rapi, ternyata di sana juga ada&amp;nbsp; mainan anak, ada&amp;nbsp; kertas makalah, ada ini, ada itu, ada anu, yang semuanya butuh dikembalikan, dirapikan dan ditata ulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah satu sudut rapi, sudut yang lain jadi terlihat brengsek. Tiba-tiba saya melihat terlalu banyak pakaian kotor, pakaian&amp;nbsp; setengah kotor yang keduanya harus disendirikan tetapi tak cukup ruang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persoalan yang satu menimbulkan persoalan berikutnya karena baru terasa betapa banyak tindakan indispliner di sana-sini. Ada yang gemar menaruh ganti sembarangan, ada kaos kaki yang kemarin begitu sulit dicari ternyata cuma menggeletak di sini. Ada handuk yang digantung begitu saja padahal bukan di situ tempat semestinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rampung menata yang satu mata ini sudah melotot lagi pada aneka VCD yang banyak beserak dan sudah sekian lama tak dikelompokkan menurut aturan. Begitu banyak pelanggaran&amp;nbsp; terjadi yang membuat saya marah tidak cuma kepada anak-anak, tetapi juga kepada diri sendiri. Karena di antara pelanggar itu ternyata juga saya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pokoknya, ke manapun mata memandang, saya cuma melihat begitu banyak kekacauaan di sekujur ruang. Inilah derita yang muncul di setiap saya mengerjakan pekerjaan rumah dan itulah derita yang selama ini pasti diderita istri, termasuk ketika harus menguras bak mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian lama saya hanya mandi tanpa pernah lagi menguras bak mandi, berarti demikian lama sudah istri menderita kesengsaraan ini. Karenanya, tak sekali saya melihat ia begitu lelah, walau lewat pengakuannya sendiri, ia lelah untuk sebuah pekerjaan bernama entah. Pekerjaan yang ia sebut sebagai melelahkan tetapi tidak kelihatan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Maka ketika suatu kali ia tampak pucat kelelahan padahal saya tahu ia masih harus menguras bak mandi, entah ilham kebaikan apa yang masuk di kepala, saya memutuskan mendahului. Saya bersihkan kamar mandi itu habis-habisan, saya kucurkan airnya yang bersih hingga&amp;nbsp; berlimpahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bayangkan, ini bukan sekedar kegiatan menguras bak, ini adalah persiapan membuat persembahan perkawinan. Akan saya buktikan bahwa hadiah perkawinan adalah sesuatu yang amat murah dan jika mau setiap hari bisa saya berikan.&lt;br /&gt;
(Prie GS/bnol)&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Merenung Sampai Mati ~ Un-Official PrieGS Blogs

http://priegs.blogspot.com&lt;/div&gt;</description><link>http://priegs.blogspot.com/2010/06/menguras-bak-mandi.html</link><author>noreply@blogger.com (Sarjono)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>