<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pusat Studi Islam Al-Manar</title>
	<atom:link href="http://almanar.co.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://almanar.co.id</link>
	<description>Membangun Masyarakat Muslim Berpengetahuan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Feb 2026 13:12:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.12</generator>
	<item>
		<title>_xmlrpc_check_1770815571_1881</title>
		<link>http://almanar.co.id/_xmlrpc_check_1770815571_1881.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bury]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2026 13:12:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1772</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hakikat Musibah Dalam Perspektif Al-Qur&#8217;an (video)</title>
		<link>http://almanar.co.id/hakikat-musibah-dalam-perspektif-al-quran-video.html</link>
					<comments>http://almanar.co.id/hakikat-musibah-dalam-perspektif-al-quran-video.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2021 06:07:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Almanar TV]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1067</guid>

					<description><![CDATA[Akhir-akhir ini, banyak musibah yang menimpa negeri Indonesia, mulai dari jatuhnya pesawat, banjir bandang, gempa bumi, tanah longsong, erupsi gunung merapi dan lain sebagainya. Lantas… apa sebenarnya hakikat musibah dilihat dari sudut pandang Al-Qur&#8217;anul Karim? Mari saksikan penjelasannya yang disampaikan oleh Ust. H. Abdul Muyassir, Lc. M.Pd.i. ketua STIS Al-Manar Jakarta. Mudah2an bisa menambah Pengetahuan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, banyak musibah yang  menimpa negeri Indonesia, mulai dari jatuhnya pesawat, banjir bandang, gempa bumi, tanah longsong, erupsi gunung merapi dan lain sebagainya.</p>
<p>Lantas… apa sebenarnya hakikat musibah dilihat dari sudut pandang Al-Qur&#8217;anul Karim? Mari saksikan penjelasannya yang disampaikan oleh Ust. H. Abdul Muyassir, Lc. M.Pd.i. ketua STIS Al-Manar Jakarta.</p>
<p>Mudah2an bisa menambah Pengetahuan kita, Menambah Keimanan dan Ketakwaan kita… Aamiin…</p>
<p> Jangan Lupa Shadaqohnya dengan Cara Subscribe, Like, Comment dan Share Sebanyak2nya Supaya Pahala Jariyah kita dapatkan Semua…AAMIIN Ya ALLAH</p>
<p><iframe loading="lazy" width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/HJrgO74aG4g" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://almanar.co.id/hakikat-musibah-dalam-perspektif-al-quran-video.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Surat Ar Rahman (audio)</title>
		<link>http://almanar.co.id/surat-ar-rahman-audio.html</link>
					<comments>http://almanar.co.id/surat-ar-rahman-audio.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2021 01:00:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Almanar TV]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1063</guid>

					<description><![CDATA[Kasih Manusia, Sering Bermusim… Kasih Allah, Tiada Bertepi… ??? Kita sebagai manusia sering terpedaya pada kasih sayang dan janji manusia. Sebaliknya meragukan kasih sayang Allah dan kebenaran janji-Nya. Al-Qur&#8217;an Surat Ar-Rahman adalah bukti Cinta Kasih Allah sebagai Sang Pencipta. Di dalamnya terkandung makna yang amat dalam akan keagungan Ciptaan-Nya. Simak bacaan merdunya oleh KH. Munir [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kasih Manusia,<br /> Sering Bermusim…<br /> Kasih Allah, <br /> Tiada Bertepi…<br />            ???<br /> Kita sebagai manusia sering terpedaya pada kasih sayang dan janji manusia. <br /> Sebaliknya meragukan kasih sayang Allah dan kebenaran janji-Nya. <br /> Al-Qur&#8217;an Surat Ar-Rahman adalah bukti Cinta Kasih Allah sebagai <br /> Sang Pencipta. <br /> Di dalamnya terkandung makna yang amat dalam akan keagungan Ciptaan-Nya. <br /> Simak bacaan merdunya oleh KH. Munir Hasan, Lc., M.HI. </p>
<p>
</p>
<p><iframe loading="lazy" width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/NW8PcgVcru4" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://almanar.co.id/surat-ar-rahman-audio.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karakteristik Pecinta Nabi</title>
		<link>http://almanar.co.id/karakteristik-pecinta-nabi.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hasan Bishri, Lc.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2020 03:16:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[cinta nabi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta rasul]]></category>
		<category><![CDATA[pecinta nabi]]></category>
		<category><![CDATA[pecinta rasul]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1056</guid>

					<description><![CDATA[Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bercerita sebagaimana yang dicatat Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Kitab Tafsirnya, Jilid 2 halaman 310. “Suatu hari, datanglah seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri, dan lebih aku cintai daripada keluargaku, lebih aku cintai daripada anak kandungku sendiri. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bercerita sebagaimana yang dicatat Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Kitab Tafsirnya, Jilid 2 halaman 310. “Suatu hari, datanglah seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri, dan lebih aku cintai daripada keluargaku, lebih aku cintai daripada anak kandungku sendiri. Jika aku di rumah aku selalu ingat dirimu sehingga aku tidak sabar untuk segera menemuimu dan melihat wajahmu. </p>
<p>Jika aku ingat akan datangnya kematianku dan kematianmu, aku sadar bahwa derajat Engkau di Surga akan ditinggikan bersama para nabi. Sedangkan aku jika masuk Surga, aku takut tidak lagi bisa melihatmu. Rasulullah tidak menanggapi curhat orang tersebut sampai turunlah kepadanya ayat, “Dan siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang yang shalih. Dan, mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. an-Nisa’: 69).”</p>
<p><strong>Besarnya Cinta Shahabat pada Nabi</strong></p>
<p>Para shahabat adalah generasi Islam terbaik, cinta mereka kepada Rasulullah sangat besar. Tidak sekadar kata-kata atau ucapan, tapi betul-betul mereka buktikan dengan tindakan. Mereka rela berkorban dengan harta bahkan jiwa untuk membela dan menjaga Rasulullah. Seberapa besarnya cinta mereka pada Rasulullah? Mari kita simak ungkapan Abu Sufyan radhiyallahu’anhu sebelum dia masuk Islam. “Saya tidak pernah melihat sekelompok manusia yang sangat mencintai seseorang melebihi besarnya cinta para shahabat Muhammad pada diri Muhammad”. (Kitab Ma’rifatush Shahabah: 8/ 268)<br /> Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anh juga pernah ditanya tentang seberapa besar cintanya para shahabat terhadap Rasulullah. Dia menjawab, “Demi Allah, Rasulullah adalah sosok yang paling kami cintai, melebihi cinta kami terhadap harta kami, anak-anak kami, ayah dan ibu kami, bahkan cinta kami terhadap Rasulullah melebihi cinta orang yang kehausan terhadap air yang dingin.” (Kitab as-Syifa, karya al-Qadhi ‘Iyadh: 2/ 568)</p>
<p><strong>Karakteristik Pecinta Nabi</strong></p>
<p>Mencintai Rasulullah adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Cinta yang sebenar-benarnya, bukan sekadar di bibir tapi juga tertanam mendalam di hati dan terpancar nyata pada perilaku atau perbuatan. Seperti cintanya para shahabat, para tabi’in dan generasi rabbani setelah mereka. Berikut ini adalah Karakteristik para Pecinta sejati Nabi.</p>
<ol>
<li>Membenarkan Ajaran Nabi<br />
Simaklah bagaimana Abu Bakar radhiyallahu’anhu membuktikan seberapa besar cintanya pada Rasulullah dengan selalu membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah, diantaranya saat perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang ditempuh Rasulullah dalam waktu kurang dari semalam. Banyak orang yang ragu bahkan tidak percaya, tapi Abu Bakar dengan tegas mengatakan, “Jika Muhammad berkata seperti itu, dia pasti benar (tidak bohong).” (Kitab al-Bidayah wan Nihayah: 3/ 108).</li>
<li>Meneladani dan Mengikuti Sunnahnya<br />
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan  Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).</li>
<li>Banyak Menyebut Namanya (Bershalawat Padanya)<br />
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS.al-Ahzab: 56). Dan, kaliamat shalawat yang paling utama menurut ijma’ ulama adalah Shalawat Ibrahimiyah, seperti yang kita baca di Tahiyat akhir dalam Shalat.</li>
<li>Rindu Berjumpa Dengannya<br />
“Di antara umatku yang paling cinta kepadaku adalah orang-orang yang hidup sesudahku, yang mana di antara mereka ingin melihatku walau harus mengorbankan keluarga dan harta benda.” (HR. Muslim).</li>
<li>Mengutamakan Nabi daripada Yang Lain<br />
“Tidak akan sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya tunduk terhadap apa yang aku bawa.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dan dishahihkan Imam Nawawi). Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya meninggalkannya karena adanya pendapat atau ajaran lainnya.” (Kitab I’lamul Muwaqi’in: 1/ 7).</li>
<li>Mencintai al-Qur’an dan Mengamalkannya<br />
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Hendaknya seseorang tidak bertanya tentang dirinya kecuali (tentang kedudukan) al-Qur’an (di hatinya). Jika ia mencintai al-Qur’an, maka ia akan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Baihaqi)</li>
<li>Mencintai Mereka yang Dicintai Nabi<br />
“Siapa yang mencintai Ali, sungguh ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci Ali sungguh ia telah membenciku” (HR. al-Hakim). Di riwayat lain, “Siapa yang mencintai keduanya (yakni: al-Hasan dan al-Husein), sungguh ia telah mencintaiku. Dan, siapa yang membenci keduanya, sungguh ia telah membenciku” (HR. Ahmad). Di hadits lain, “Siapa yang mencintaiku, maka hendaklah ia mencintai Usamah” (HR. Muslim).</li>
<li>Membenci dan Memusuhi yang Dibenci Nabi<br />
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya….” (QS. al-Mujadilah: 22).</li>
<li>Membela Nabi dari Serangan Musuhnya<br />
Bukti cinta kita pada Nabi adalah membelanya jika ada yang menghina dan melecehkannya, baik saat beliau masih hidup atau sudah wafat. Ditambah lagi dengan  membela ajarannya bila ada yang mencoba untuk mencemari dan menyelewengkannya.  “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hasyr: 8)</li>
<li>Tidak Mengkultuskanya<br />
Kita wajib mencintai Rasulullah karena itulah bukti kesempurnaan iman, tapi cinta kita tidak boleh berlebihan atau melampui batas syari’at yang ada. Ingat pesan Rasulullah, “Wahai manusia, hati-hatilah dari ucapan kalian, dan janganlah kalian diperdayakan oleh syetan! Saya adalah Muhammad, hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, aku tidak suka kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang telah Allah berikan kepadaku.” (HR. Ahmad)</li>
</ol>
<p><strong>Penutup<br /></strong>Sikap Ghuluw (berlebihan dalam agama) adalah prilaku yang sangat berbahaya, bisa menyeret pelakunya kepada kesyirikan, termasuk ghuluw dalam mencintai Nabi. Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya, “Jangan kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan `Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).<br /> Sungguh beruntung kalau kita termasuk kelompok yang mencintai Rasulullah dengan benar, meskipun kita tidak pernah melihat beliau secara langsung. Karena cinta kita terebut akan mendatangkan rahmat dan ampunan Allah dan keberkahan-Nya di dunia ini, serta menjadi penyelamat kita dari siksa neraka di akhirat kelak. Rasulullah pernah bersabda, “Seseorang itu (di akhirat kelak) akan berkumpul bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari Muslim). Wallahul musta’an.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>8 Amalan Penolak Bala Dan Musibah</title>
		<link>http://almanar.co.id/8-amalan-penolak-bala-dan-musibah.html</link>
					<comments>http://almanar.co.id/8-amalan-penolak-bala-dan-musibah.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ahmad Tarmudli, Lc. M.Hi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2020 01:50:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bala]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[penolak bala]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=970</guid>

					<description><![CDATA[Saat ini, bangsa kita selalu akrab dengan musibah dan bencana. Hampir setiap hari kehidupan bangsa ini diwarnai oleh bencana alam, kecelakaan transportasi, wabah penyakit, kekeringan, gagal panen, banjir, longsor dan lain-lain. Pendekatan pemimpin negeri ini selalu menggunakan pendekat hukum kausalitas dan melupakan Tuhan sebagai pengendali hukum kausalitas itu sendiri. Hampir bisa dipastikan setiap manusia pernah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Saat ini, bangsa kita selalu akrab dengan musibah dan bencana. Hampir setiap hari kehidupan bangsa ini diwarnai oleh bencana alam, kecelakaan transportasi, wabah penyakit, kekeringan, gagal panen, banjir, longsor dan lain-lain. Pendekatan pemimpin negeri ini selalu menggunakan pendekat hukum kausalitas dan melupakan Tuhan sebagai pengendali hukum kausalitas itu sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hampir bisa dipastikan setiap manusia pernah ditimpa musibah. Entah itu kehilangan harta benda, kecelakaan, ditimpa penyakit dan lain-lain. Meski sudah menjadi suratan takdir, secara naluri, tak ada manusia yang ingin ditimpa musibah, terutama di luar kemapuannya. “Ya Allah jangan Engkau bebankan kepada kami sesuatu (musibah) yang kami tidak mampu menanggungnya.” (Al-Baqarah: 286)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Namun jika sudah terjadi dan tertimpa musibah, maka seorang mukmin harus menerimanya dengan ridla, tidak boleh mengeluh atau marah. Harus tetap sabar. Sebab di balik setiap bencana dan musibah selalu ada hikmah. Allah ingin agar dengan musibah itu, manusia tetap kokoh dengan keimanannya. Keimanan akan teruji kualitasnya di antaranya dengan musibah. Dengan musibah itu Allah ingin menuliskan pahala buat hamba-Nya yang tertimpa dan menggugurkan dosa-dosanya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Apakah manusia mengira bahwa manusia itu akan mengatakan “kami beriman” sementara mereka tidak diuji?. Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar keimanannya dan orang-orang yang dusta” (Al-Ankabut: 2)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Meski sudah menjadi takdir, manusia tetap tidak tahu selama belum terjadi. Kewajiban manusia adalah berusaha (al-akhdzu bil asbab) agar terhindar. Yang terpenting dari semua itu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan meminta kepadan-Na agar terhindar dari musibah dan bala.</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Pertama, Berdoa</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Karena hakikat musibah adalah ujian dari Allah, tak ada salah jika seorang mukmin meminta dan memohon kepada-Nya agar dihindarkan dari ujian itu. Allah juga yang memerintahkan berdoa dan berjanji akan memenuhinya. Dengan do’a dan memohon agar terhindar dari bencana dan mara bahaya, Allah akan menghindarkannya. Doa juga diyakini menolak takdir.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dari Tsuban, Rasulullahbersabda, “Tidaklah ada yang menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang menambah usia kecuali amal kebajikan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah dengan satu doa yang tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahim, kecuali Allah memberinya salah satu dari tiga; menyegerakan pengabulan doanya di dunia, atau balasannya akan disimpan untuk di akhirat, atau dia akan dihindarkan dari marabahaya dan keburukan.” Mereka bertanya, “Jika kami memperbanyak doa?” Beliau menjawab, “Allah lebih banyak mengbulkannya.”(HR. Ahmad, Baihaqi)</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Kedua, Sedekah</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Sedekah yang dimaksud adalah berinfak yang wajib, terutama di sini adalah yang sunnah. Sebab jika zakat (sedekah wajib) harus menunggu harta mencapai kadar tertentu. Sementara sedekah secara umum, bisa dilakukan meski dengan keterbatasan finansial dengan kadar sesuai kemampuan kita. Ini berarti kita bisa bersedekah setiap hari. Jika bisa kita lakukan, kita akan mendapatkan doa malaikat setiap pagi, “Ya Allah, berikan kepada orang yang berinfak pengganti dari yang diinfakkan dan berikan orang yang enggan berinfak kebinasaan.” </span><br />
<span style="color: #000000;">Rasulullah bersabda, “Obati orang sakit dengan sedekah.” (HR. Baihaqi, dihasankanoleh Al-Albani dalam Shahih Al Jami) Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sedekah itu memadamkan amarah Allah dan menolak kematian yang buruk.” (HR. IbnuHibban)</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Ketiga, Shalat Sunnah, Terutama Shalat Malam</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Semakin dekat seseorang dengan Allah, ia makin dicintainya. Tingkat kedekatan seseorang dibuktikan dengan seringnya menjalankan shalat sunnah. Lebih dekat lagi dilakukan ketika sebagian besar manusia sedang tertidur sementara dia mendekatkan diri kepada Allah. Selain mengangkat derajat tinggi di sisi-Nya, shalat malam juga sebagai penolak mara bahaya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Rasulullah bersabda, “Lakukanlah shalat malam karena ia adalah jalan orang-orang shalih sebelum kalian, mendekatkan kalian kepada Allah, mencegah dari dosa, menghapus kesalahan dan keburukan, dan mengusir penyakit dari tubuh” (HR. Tirmidzi). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila menghadapi sesuatu maka beliau melakukan shalat.(HR. Al-Baghawi)</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Keempat, Memperbanyak Istighfar</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Ini termasuk penyebab terpenting dalam menolak balak dan menyelesaikan masalah dan problema. Sebab pada dasarnya bencana dan bala yang menimpa manusia dikarenakan dosa dan maksiat. Maka jalan untuk menghindarkan dari mara bahaya itu adalah dengan meminta ampun (istighfar) atas dosa-dosa kita. Tidak cukup sesekali, tapi istighfar harus menjadi tradisi dan kebiasaan lisan seorang mukmin saban harinya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Dan tidaklah Allah mengadzab mereka sementara engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka, dan tidak Dia mengazhab mereka sementara mereka beristighfar” (Al-Anfal: 33)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“Maka aku katakan kepada mereka: `Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (Nuh: 10-12)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang selalu menjaga (mengucapkan) istighfar, Allah akan menjadika baginya bagi setiap kesempitan ada jalan keluar dan setiap kesedihan ada kegembiraan dan Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Kelima, Banyak Bersalawat kepada Nabi</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Bersalawat kepada Nabi Muhammad adalah bukti pengakuan kita sebagai umatnya sekaligus bukti kecintaan kepadanya. Ketika bersalawat, saat itu kita berwasilah kepada Allah agar dihindarkan dari bencana.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam sebuah hadits disebutkan, apabila dua pertiga malam pertama sudah berlalu maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, dzikirlah kepada Allah, dzikirlah kepada Allah. Telah datang hari ketika tiupan pertama menggoncang alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua, telah datang kematian dengan segala isinya dan datang kematian dengan segala isinya. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Aku perbanyak salawat kepadamu berapa yang aku jadikan untuk dalam salawatku?” beliau menjawab, “Terserah engkau.” Dia berkata: Seperempat. Beliau menjawab, “Terserah dirimu, jika engkau tambah itu lebih baik bagimu.” Dia berkata: Separuh. Beliau berkata, “Terserah engkau. Jika engkau tambah itu lebih baik bagimu.” Dia berkata: Dua pertiga. Beliau berkata, “Terserah engkau jika engkau tambah itu lebih baik.” Dia berkata: Aku jadikan untuk salawatku semuanya. Beliau bersabda, “Kalau begitu kesedihanmu akan diselesaikan dan dosa-dosamu diampuni.”(HR. Tirmidzi dan Ahmad)</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Keenam, Kebajikan dan Amal Shalih</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Secara umum, segala macam kebajikan adalah bentuk ketundukan kita kepada Allah. Kebajikan itu juga mengundang rahmat-Nya. Artinya Allah sayang terhadap hamba-Nya yang berbuat kebajikan dan membenci kejahatan dan keburukan. Semakin banyak kebajikan, semakin Allah merahmati. Semakin banyak kemaksiatan, semakin Allah murka. </span><br />
<span style="color: #000000;">Rasulullah bersabda, “Perbuatan-perbuatan baik itu menjaga dari kematian-kematian buruk, bencana dan musibah. Orang-orang yang senantiasa melakukan kebajikan di dunia adalah orang-orang ahli kebajikan di akhirat.” (HR. Thabrani, dishahihkan oleh al-Albani) “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl: 128)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam hadits disebutkan ada tiga orang yang terjebak dalam sebuah gua. Pintu gua itu tertutup oleh batu yang jatuh. Mereka tidak bisa keluarga. Lantas ketiganya lalu bertawasul dengan amal shalih mereka masing-masing. Maka Allah membukannya. (HR. Bukharidan Muslim)</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Ketujuh, Membantu dan Meringankan Orang Muslim</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Rasulullah shallallahual aihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membantu menutupi kebutuhan saudaranya maka Allah akan menutupi kebutuhannya. Barang siapa yang meringankan dan membebaskan seorang muslim dari bencana maka Allah akan membebaskannya dari bencana dan kesulitan di hari kiamat.”(HR. Muslim dan Tirmidzi)</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000;">Kedelapan, Memperbanyak Tasbih (membaca subhanallah)</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Allah menjelaskan kisah Nabi Yunus ketika ditelan ikan besar. Kemudian Allah mengeluarkannya karena di antaranya Nabi Yunus banyak membaca tasbih (mensucikan Allah). “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”(Ash-Shaffat: 141-142)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Doa Dzun Nuun (nabi Yunus) pada saat di dalam perut ikan besar adalah: (artinya: tidak ada tuhan kecuali Engkau ya Allah, Engkau Maha Suci dan aku termasuk orang zhalim). Tidaklah seorang mukmin selalu membacanya dalam suatu hal melainkan Allah akan mengabulkan baginya.”(HR. Tirmidzi).</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Wallahu a’lam.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://almanar.co.id/8-amalan-penolak-bala-dan-musibah.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode dan Prinsip Dakwah</title>
		<link>http://almanar.co.id/metode-dan-prinsip-dakwah.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Idrus Abidin, Lc. MA]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2020 04:35:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[metode dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[mubaligh]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1041</guid>

					<description><![CDATA[Metode dan Prinsip Dakwah. ✍️ Idrus Abidin. Dakwah adalah sebuah aktifitas yang bertumpu pada keahlian mendialogkan pesan-pesan keislaman kepada audiens dengan memperhatikan situasi, kondisi, tempat, budaya dan adat istiadat yang melingkupi. Dakwah paling utama dan mendasar adalah ajakan secara persuasif melalui sikap dan etika mulia, berlapiskan kasih sayang; dengan berharap masyarakat di sekitar kita mendapatkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Metode dan Prinsip Dakwah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/270d.png" alt="✍" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Idrus Abidin.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dakwah adalah sebuah aktifitas yang bertumpu pada keahlian mendialogkan pesan-pesan keislaman kepada audiens dengan memperhatikan situasi, kondisi, tempat, budaya dan adat istiadat yang melingkupi. Dakwah paling utama dan mendasar adalah ajakan secara persuasif melalui sikap dan etika mulia, berlapiskan kasih sayang; dengan berharap masyarakat di sekitar kita mendapatkan tularan kebaikan langit yang membumi. Idealisme benar yang merealitas. Moderat tanpa terperosok dalam kubangan kebablasan. Menyelesaikan masalah tanpa masalah (Pegadaian kali ?). Toleran tanpa ikut arus serba boleh (ibahiyah). Tegas tanpa kehilangan nuansa kelembutan. Itulah kategori dakwah persuasif (dakwah bi al-hal). Stoknya adalah konsistensi dalam kebaikan dalam rentang waktu yang panjang. Efeknya kadang lebih besar daripada dakwah lisan karena pesona keindahan akhlak itu begitu menarik di mata umumnya masyarakat. Terutama di lingkungan keluarga dekat dan keluarga besar, dakwah persuasif ini jauh lebih tepat dan sangat efektif. Akhlak mulia menunjukkan sikap jujur terhadap diri sendiri sehingga sangat potensial melipatgandakan kepercayaan orang-orang sekitar kepada kita. Kita eksis sebabnya karena kita mampu beternak kepercayaan dari lingkungan sekitar kita. Itulah hasil dari sikap cekatan kita membangun self leadership pada diri kita masing-masing sebagai da&#8217;i.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dakwah lisan beda lagi. Mubaligh harus bisa menyesuaikan diri dengan audiens dalam penggunaan retorika &#8220;bahasa&#8221;. Secanggih apapun keilmuan seorang alim, dalam komunikasi dakwah, tidak akan dianggap berhasil tanpa keahlian lain berupa kompetensi menyederhanakan pesan. Di sinilah dibedakan antara seorang da&#8217;i murni (muballigh) dengan alim ulama ahli ilmu. Masyarakat awan tentu tidak memiliki keahlian membedakan keduanya. Karena bagi mereka alim dan da&#8217;i itu yang penting pintar mengemas pesan-pesan keagamaan; apalagi kalau lucunya tak kepalang tanggung ?. Akhirnya, alim ulama ahli ilmu (Mufti) kadang tidak dikategorikan sebagai da&#8217;i atau muballig oleh awamers karena ketidakmampuan para alim ulama itu menyesuaikan diri dengan selera umum. Akhirnya, segala persoalan ditanyakan kepada da&#8217;i yang kadang susah dibedakan dengan peserta stand up komedi yang bernuansa &#8220;dakwah&#8221; itu. Jika da&#8217;inya tidak mengerti batasan (kelemahan) diri, jawaban ngaur bin serampangan itu pasti diobral di layar-layar Tv Nasional. Jadinya, gampang jadi objek tertawaan dan lelucon oleh alim ulama. Bahkan, dalam kadar tertentu, sang da&#8217;i bisa dianggap &#8220;menipu&#8221; ummat. Karena popularitas mendahului kapasitas. Isi tas lebih prioritas daripada kontinyuitas dalam memerangi ilmu yang masih pas-pasan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setidaknya dakwah lisan tidak keluar dari kategori berikut :</span></p>
<p><span style="color: #000000;">1. Dakwah Hikmah : yaitu pesan keislaman yang disampaikan kepada masyarakat umum yang serba awam dengan masalah keislaman dan mereka pun menerima pesan tersebut tanpa penolakan karena fitrah mereka yang masih bersih. Walaupun realitas diri mereka masih jauh dari pesan-pesan dakwah yang disampaikan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">2. Dakwah dengan nasehat yang baik (mauidzah Hasanah). Yaitu pesan dakwah yang disampaikan kepada kelompok tertentu yang sebenarnya sudah mengerti yang benar. Hanya saja, hawa nafsu dan rasionalitas Iblis menyeretnya kepada dosa, maksiat dan penyimpangan. Agar kembali kepada kebenaran dengan mentalak tiga kemaksiatan itu, sang da&#8217;i berusaha menyampaikan pesan dakwah dengan nasehat yang menyentuh. Sehingga yang bersangkutan menyesal hatinya. Beristigfar lisannya. Menahan fisiknya dari kesalahan masa lalu. Memperbaiki sikapnya dengan kebenaran yang telah ia kenal sebelumnya. Bahkan, supaya tidak mudah lagi terbawa arus banjir maksiat, ia menempatkan diri dalam kerumunan orang-orang taat. Jadi, dakwah versi ini, merubah sikap seseorang atau sekelompok masyarakat tanpa mengungkit kesalahan apalagi nyinyir terhadapnya. Kegiatan ini tidak lebih dari sikap saling menasehati karena adanya kesamaan level antara penasehat dan objek dakwah. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh da&#8217;i yang berbeda haluan Mazhab akidah dan pilihan rel fiqih. Tentunya selama mereka masih berada pada frekwensi yang sama; Ahlu Sunnah wal Jama&#8217;ah. Tak perlu debat dengan maksud agar otot-otot keilmuan tampil berseliweran disertai makian, bumbu-bumbu nyiyiran, sikap merendahkan hingga senyum kemenangan terhadap lawan yang membisu dan tampak terpojok di depan ranah publik.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">3. Debat dengan cara yang baik. Fokus kepada kebenaran; bukan untuk kemenangan apalagi berharap tumpukan ketenaran. Dakwah versi ini hanya bersifat defensif (bertahan dan menangkis tuduhan dan serangan verbal peradaban/Mazhab lain). Sebaiknya kita menghindari dakwah opensif dengan metode dialektik seperti ini. Terutama kalau kita belum terlatih dan belum punya pemetaan intelektual keilmuan yang cukup dalam. Keahlian dalam komparasi antara beragam pendapat berbeda dan sikap saling menghargai mutlak di sini. Karena kalau tidak, hasilnya hanya pertengkaran, cerai berai dan sikap cuek yang tentunya terlarang dalam konsep keislaman kita. Namun demikian, metode dakwah ini tetap dibutuhkan untuk mendialogkan perbedaan yang ada. Tetapi harus sesuai koridor (dhawabith) yang telah dirumuskan oleh ulama kita dalam etika berbeda pendapat (adabul ikhtilaf wa adabul jadal wal munazharah). Tentu kalau etika berbeda pendapatan beda lagi babnya ??. Setidaknya, itulah yang saya pahami dari firman Allah berikut :</span></p>
<p><span style="color: #000000;">ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik (mauizah hasanah). Dan, debat serta bantahlah mereka dengan cara-cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS an-Nahl : 125).</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Lalu, gimane menurut lhu-lhu pade bro-bro ? ?? ?</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sisi-Sisi Perbedaan Antara Muballig (Ahli Retorika Dakwah) dan Alim Ulama (Ahli Hukum Islam dan Basis Dasar Ijtihad)</title>
		<link>http://almanar.co.id/sisi-sisi-perbedaan-antara-muballig-ahli-retorika-dakwah-dan-alim-ulama-ahli-hukum-islam-dan-basis-dasar-ijtihad.html</link>
					<comments>http://almanar.co.id/sisi-sisi-perbedaan-antara-muballig-ahli-retorika-dakwah-dan-alim-ulama-ahli-hukum-islam-dan-basis-dasar-ijtihad.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Idrus Abidin, Lc. MA]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2020 00:59:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ahli hukum]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[ijtihad]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muballig]]></category>
		<category><![CDATA[muballigh]]></category>
		<category><![CDATA[retorika]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1037</guid>

					<description><![CDATA[Sisi-Sisi Perbedaan Antara Muballig (Ahli Retorika Dakwah) dan Alim Ulama (Ahli Hukum Islam dan Basis Dasar Ijtihad) ✍️ Idrus Abidin. Kemampuan memuaskan logika audiens merupakan keahlian berbeda dengan kapasitas memahami dasar-dasar argumentasi (Al-Qur&#8217;an, as-Sunnah, Ijma&#8217; dan Qiyas dll) untuk menemukan ketentuan hukum yang melatari setiap aktivitas keislaman maupun hukum baru bagi peristiwa yang terjadi di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Sisi-Sisi Perbedaan Antara </span><br /><span style="color: #000000;">Muballig (Ahli Retorika Dakwah) dan Alim Ulama (Ahli Hukum Islam dan Basis Dasar Ijtihad)</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/270d.png" alt="✍" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Idrus Abidin.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kemampuan memuaskan logika audiens merupakan keahlian berbeda dengan kapasitas memahami dasar-dasar argumentasi (Al-Qur&#8217;an, as-Sunnah, Ijma&#8217; dan Qiyas dll) untuk menemukan ketentuan hukum yang melatari setiap aktivitas keislaman maupun hukum baru bagi peristiwa yang terjadi di zaman modern ini.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Seharusnya, sebelum kita berpropesi sebagai muballig; sebaiknya kita sudah melalui proses karantina untuk pembekalan demi mendownload keahlian memahami dasar-dasar argumentasi yang mendukung kita untuk bisa mendeteksi bahwa hukum tertentu adalah status yang paling dekat dengan ruh Islam.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kapan obsesi kita lebih terpokus ke kapasitas memuaskan audiens dibandingkan kemampuan memahami motode penggalian hukum (istinbath) maka da&#8217;i lebih cenderung memberdayakan tips-tips yang mudah diterima oleh masyarakat dibanding berusaha menyampaikan hal-hal yang diinginkan oleh Allah ta&#8217;alaa.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Yang jelas, hukum-hukum fiqih tidak mungkin kontradiksi dengan rasio dan nalar yang sehat. Kalau hukum fiqih itu betul pasti rasional dan memuaskan jiwa audiens. Kalau ada hukum fiqih tidak memenuhi unsur rasional dan memuaskan nalar sehat, dicurigai ada kesalahan identifikasi oleh nalar terhadap hukum fiqih tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Beberapa poin berikut makin menegaskan sisi-sisi perbedaan koridor kerja antara muballig dan alim ulama dalam kerja-kerja dakwah dan perbaikan diri, keluarga, masyarakat, negara dan agama.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">1. Kemampuan beretorika merupakan keahlian yang didukung oleh perangkat lain sehingga da&#8217;i mampu menyederhanakan masalah ke benak audiens. Tentu keahlian beretorika tidaklah dimiliki oleh semua alim ulama. Maka, ketidakmampuan mengkomunikasikan pesan-pesan dengan cara yang lebih relevan dengan nalar audiens bersumber dari kurangnya sarana dan keahlian retorika; bukan karena kekurangan hukum fiqih.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">2. Hukum-fiqih tidak harus disampaikan oleh alim ulama kepada seluruh masyarakat tanpa memperhatikan kondisi dan realitas yang mengitari. Di samping itu, hukum fiqih juga memperhatikan tahapan dalam pelaksanaannya. Terkadang, ada kondisi dan tempat tertentu yang belum memungkinkan suatu hukum fiqih disampaikan. Karena efek buruknya jauh lebih besar dibanding maslahat yang diharapkan. Belum lagi antara orang yang baru berislam dengan kelompok yang memiliki latar belakang keislaman memiliki kebutuhan berbeda terhadap penjelasan hukum fiqih. Semuanya harus dilayani sesuai kebutuhan masing-masing. Mimbar-mimbar masjid dan ruang-ruang pegawai kantoran serta kegiatan budaya masyarakat yang terkadang dimanfaatkan untuk menyampaikan dakwah teroris tidak cukup kuat untuk diarahkan ke pengkajian Islam; tapi hanya sebatas pengajian. Adapun pengkajian dan penelitian keislaman membutuhkan kelompok dan latar belakang tertentu serta alim ulama yang mapan di bidangnya masing-masing sesuai jurusan yang ditempuh; termasuk pendalaman metode penemuan hukum Islam melalui serangkaian proses ijtihad. Di sini, retorika tidak terlalu penting. Karena yang dibutuhkan adalah kompetensi ilmiah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">3. Kepuasan audiens tidak semata-mata terkait dengan argumentasi rasional saja. Tetapi kepuasan tersebut juga dipengaruhi oleh aspek psikologis, sisi sosial, nuansa budaya dan faktor adat istiadat serta kondisi politik. Maka, jangan heran jika risalah para nabi terutama di awal debut dakwah mereka, seringkali dijadikan bahan ejekan dan olok-olokan. Bahkan dianggap sihir, lelucon masa lalu atau sejenis dongeng dan mitos baru. Belum lagi, objek dakwah seringkali mengajukan banyak persyaratan dan tuntutan kepada para nabi agar mereka mau menerima ajakan para utusan Allah ta&#8217;alaa itu. Maka, kepuasan objek dakwah sangat dipengaruhi pula oleh syahwat dan hawa nafsu mereka (kecenderungan dan orientasi). Sehingga perlu juga dipahami bahwa kewajiban da&#8217;i atau alim ulama; bahkan para nabi dan rasul sekalipun, bukanlah membuat banyak masyarakat beriman dan mengamalkan petunjuk-petunjuk Islam. Bukan pula standar keberhasilan da&#8217;i, alim ulama bahkan nabi dan rasul dilihat dari kepuasan masyarakat. Tetapi kewajiban dakwah itu bertumpu pada tersampaikannya pesan-pesan dan kehendak ilahi melalui penjelasan, penerangan dan penyampaian berita langit kepada masyarakat luas.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">4. Kepuasan audiens umumnya sangat dipengaruhi oleh kelembutan, kasih sayang, kebaikan dan perhatian da&#8217;i. Semua itu merupakan hal-hal yang berada di luar ketentuan hukum Fiqih. Kadang suatu ketentuan hukum Fiqih ditolak oleh seseorang atau sekelompok masyarakat, namun dengan sentuhan khusus dari kelembutan sang da&#8217;i dan alim hal tersebut menjadi akses utama ke jiwa dan nalar audiens. Pointer ini sudah disinggung pada status tentang metode dan manhaj dakwah sehari sebelumnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">5. Kesesuaian hukum fiqih dengan rasio dan nalar masyarakat tidak berarti bahwa suatu hukum fiqih harus selaras dengan nalar mayoritas objek dakwah. Terkadang untuk beberapa orang, hukum Fiqih tertentu sulit dipahami seketika. Dibutuhkan waktu, penjelasan tambahan dan kondisi serta keadaan berbeda untuk bisa membuat mereka merasa puas dan menerima ketentuan hukum tertentu tersebut. Jadinya, menggantungkan hukum fiqih dengan kepuasan rasio manusia menunjukkan kurangnya kualitas keimanan terhadap syari&#8217;at Allah ta&#8217;alaa. Karena ketika itu, persoalan bukan lagi antara hukum fiqih dengan rasio masyarakat, tetapi tidak lebih dari kegagalan bernalar sang audiens ketika berusaha memahami substansi hukum fiqih tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jadi, setiap muslim hendaknya memiliki standar baku dalam membedakan antara pengetahuan seputar hukum fiqih dengan tata cara memuaskan objek dakwah. Juga, masyarakat perlu terus dibina agar mereka paham perbedaan antara penceramah dan alim ulama. Kalau awamers ditanya tentang bagus tidaknya tilawah seseorang ketika imam di masjid atau mushalla; terutama saat Ramadhan, dipastikan standar mereka adalah merdunya suara. Adapun kepasihan, hampir tidak mereka pahami. Karena teori-teori tahsin dan tajwid belum pernah mereka pelajari. Itulah contoh sederhana bedanya da&#8217;i (muballig) dan ahli Fiqih. Wallahu a&#8217;lam.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Semoga Berisi kilasan ilmu dan tetesan inspirasi sob-sob ya ? See you more. Keep Istiqomah. May be Allah bless us.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Diadaptasi dari :</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ma&#8217;rakatun Nash; Ma&#8217;a at-Tahrif al-Muashir Li al-Ahkam wa al-Mafahim al-Syar&#8217;iyyah. Karya, Dr. Fahd bin Sholih al-Ajlan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tentunya dengan beragam penyesuaian.</span></p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://almanar.co.id/sisi-sisi-perbedaan-antara-muballig-ahli-retorika-dakwah-dan-alim-ulama-ahli-hukum-islam-dan-basis-dasar-ijtihad.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masjid; Antara Shalat Jama&#8217;ah, Jum&#8217;atan dan Fungsi Sosial Saat Covid-19.</title>
		<link>http://almanar.co.id/masjid-antara-shalat-jamaah-jumatan-dan-fungsi-sosial-saat-covid-19.html</link>
					<comments>http://almanar.co.id/masjid-antara-shalat-jamaah-jumatan-dan-fungsi-sosial-saat-covid-19.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Idrus Abidin, Lc. MA]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2020 15:05:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[covid]]></category>
		<category><![CDATA[covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[darurat]]></category>
		<category><![CDATA[flu]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1032</guid>

					<description><![CDATA[✍️ Idrus Abidin Dalam kondisi darurat covid-19 seperti sekarang, masjid berfungsi sebagai pusat kewarasan (hidayah dlm bentuk berbeda) yang diharapkan menjadi solusi utama pada setiap keadaan dan tempat; dunia akhirat. Maka prinsip menjauhi bahaya lebih diutamakan dibandingkan mengoleksi maslahat (dar&#8217;ul mafasid muqaddamun &#8216;ala jalbil mashaleh) menjadi prinsip Islam yang dijadikan standar operasional (SOP). Diantara wujud [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/270d.png" alt="✍" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Idrus Abidin</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam kondisi darurat covid-19 seperti sekarang, masjid berfungsi sebagai pusat kewarasan (hidayah dlm bentuk berbeda) yang diharapkan menjadi solusi utama pada setiap keadaan dan tempat; dunia akhirat. Maka prinsip menjauhi bahaya lebih diutamakan dibandingkan mengoleksi maslahat (dar&#8217;ul mafasid muqaddamun &#8216;ala jalbil mashaleh) menjadi prinsip Islam yang dijadikan standar operasional (SOP). Diantara wujud pelaksanaannya:</span></p>
<p><span style="color: #000000;">1. Adzan sebagai pengingat waktu shalat tetap harus selalu beralun dg modifikasi beberapa lafaz adzan seperti yang diatur dalam mekanisme ilmu fiqih. Fungsinya, memanggil beberapa orang sebagai perwakilan warga dalam pelaksanaan shalat 5 waktu. Terutama pengurus DKM dg jumlah maksimal 15 orang yang tidak sedang mengalami gejala flu dan penyakit lain yang mengarah ke indikasi covid-19. Termasuk fungsi lain azan sebagai pengusir setan dan terapi ruqyah yang diharapkan menjauhkan covid-19 dari lingkungan sekitar masjid. Dua fungsi terakhir seringkali dilupakan oleh kita-kita semua saat shalat di rumah padahal urgensinya sangat tinggi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">2. Shalat jama&#8217;ah sendiri terhitung fardhu kifayah yang berlevel sangat dianjurkan secara massal (dlm kondisi normal). Sedang bagi setiap individu, berjamaah merupakan anjuran kelas atas (sunnah muakkadah) tentunya ketika tanpa uzur. Kalau adzan dan shalat jama&#8217;ah 5 waktu tidak terlaksana di sebuah komunitas saat tidak ada uzur seperti hujan deras, covid-19, perang dll; maka semua orang di kompleks dan komunitas tersebut dianggap berdosa dan dikelabui oleh setan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ini nanti bisa menjadi dasar pelaksanaan shalat tarawih darurat di saat musim covid-19. Sekalipun tetap setiap DKM wajib terus memantau perkembangan dan situasi terupdate sebelum Ramadhan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">15 orang dalam pembahasan ini bisa dipenuhi kuotanya sesuai dengan kesepakatan dg cara bergiliran. Artinya, bagi warga yang ingin melepas rindunya dg shalat berjamaah, termasuk Jum&#8217;atan; bisa lapor dan mendaftar ke DKM. Mereka akan dijadwal dan digilir dengan warga lain yang punya minat serupa.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">3. Penting juga melaksanakan qunut nazilah setiap waktu atau setiap shalat jahriah seperti magrib, isya dan subuh oleh imam yang kompeten, meminta agar covid-19 ini segera diangkat y oleh Allah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">4. Mana yang lebih utama; shalat di rumah atau jama&#8217;ah di masjid?</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Masalah keutamaan seperti ini menjadi lahan perdebatan di kalangan ulama madzhab dari dulu hingga sekarang. Tentunya pendapat jadi beragam dengan pertimbangan dalil dan sudut pandang yang bervariasi pula. Dan, itu akan memperkaya horison dan menunjukkan Rahmat Allah bagi manusia. Sehingga bisa menjadi opsi pilihan masing-masing sesuai kondisi diri dan sekitar. Minimal 3 kategori pendapat berikut ini bisa muncul :</span></p>
<p><span style="color: #000000;">A. Lebih utama di rumah dg tetap berjamaah dg istri dan anak-anak serta keluarga dekat lain yang ada di rumah. Alasannya darurat dan mengikuti fatwa ulama.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">B. Lebih utama di masjid bagi pengurus DKM dan lebih utama di rumah bagi selain pengurus DKM. Ini menunjukkan besarnya tanggung jawab pengurus DKM seiring besarnya peluang mereka masuk surga dan terhindar dari ancaman neraka.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">C. Lebih utama di masjid, walaupun bukan pengurus DKM. Alasannya, wilayah kita belum termasuk zona merah covid-19. Maka, masjid masih bisa menggunakan SOP normal.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketiga pendapat tersebut di atas mutlak adanya karena perbedaan sudut pandang. Tapi bagi saya, pendapat B jauh lebih proporsional dan profesional. Dalam banyak kasus fiqih, pengurus DKM tetap harus melaksanakan kegiatan shalat sekalipun masyarakat sekitar sudah dianggap tidak perlu lagi ikut shalat. Seperti ketika hari raya idul Fitri atau idul Adha bertepatan dengan hari Jum&#8217;at. DKM tetap dianjurkan untuk mengadakan Jum&#8217;atan untuk mengakomodasi masyarakat yang memilih shalat Jum&#8217;at dan menganggapnya lebih utama dibanding sekedar shalat duhur di masjid.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Contoh lain yang juga jadi lahan perdebatan ilmiah para ulama fiqih masa lalu dan sekarang adalah puasa di saat perjalanan yang terhitung tidak melelahkan. Seperti naik pesawat ke Surabaya, Sumatra, Makassar dll dari Jakarta dg kisaran 1-2 jam durasi perjalanan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">A. Ada yang menganggap berbuka lebih utama karena memanfaatkan rukhsah (keringanan dan diskon) dari Allah.Belum lagi argumen yang menyatakan, susah tidaknya perjalanan bukanlah yang dimaksud syari&#8217;at sebagai standar. Karena susah mudah itu termasuk perkara relatif yang tidak sama dalam ukuran setiap orang (ghairu mundhabithah). Safarlah yang menjadi standar utama (illah). Sedangkan rasa susah (masyaqqah) hanya hikmah yang tidak baku dan tidak sepakem dg Safar sebagai illah (mundhabithah). Makanya, selama perjalanan tersebut sudah termasuk dalam kategori Safar, maka berbuka pasti lebih utama</span></p>
<p><span style="color: #000000;">B. Ada pula yang berpendapat puasa lebih utama karena tidak adanya rasa susah (masyaqqah) yang menjadi alasan adanya rukhsah tersebut. Belum lagi, mengganti puasa saat suasana bukan ramadhan (tidak mendukung) jauh lebih susah dibanding puasa di saat Safar sekalipun ada rukhsah (diskon).</span></p>
<p><span style="color: #000000;">C. Ada juga yang memilih pendapat yang mengatakan, keutamaan puasa atau tidak di saat Safar ditentukan oleh kondisi sang musafir masing-masing. Saat dia merasa ringan untuk puasa maka itu yang utama. Tapi jika terasa berat maka berbuka lebih utama. Demikianlah contoh yang ada yang menunjukkan betapa dinamisnya hukum fiqih bagi mereka-mereka yang mengerti basis-basis dasar ijtihad dalam Islam.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">5. Seputar Pemanfaatan Masjid untuk Kepentingan Sosial.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Rapat adalah salah satu ranah sosial yang kadang dipermasalahkan ketika diadakan di masjid. Alasannya, bertentangan dengan semangat sosial distancing yang dianjurkan ulama dan Umara. Sehingga membolehkan rapat di masjid berarti mengumpulkan orang yang potensial menimbulkan fitnah dari masyarakat sekitar; termasuk rentan disatroni oleh petugas keamanan seperti polisi dan danramil. Juga rapat bisa dilakukan via medsos seperti zoom dan perangkat serupa.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tentu jawabannya adalah selama mengikuti prosedur sosial distancing dan tidak lebih dari 15 orang tentu masih belum melanggar aturan bersama. Apalagi jika orang-orang yang terlibat masih steril dari covid-19. Belum lagi jika tingkat urgensi pertemuan termasuk tinggi. Seperti pembangunan TK al-Wafaa yang sudah mepet karena kontrakan akan berakhir dan dana sudah siap. Maka akhirnya dilaksanakan di masjid dengan tanpa melanggar ketentuan yang ada. Termasuk melapor ke pihak RT, RW dan pihak keamanan. Belum lagi, pasar dan jalanan umum masih ramai. Padahal, pasar lebih kotor dan lebih sulit dilakukan sosial distancing dibanding dengan kompleks perumahan. Masa&#8217; masjid yang lebih steril seolah &#8220;haram&#8221; digunakan. (Argumentasi terakhir ini rentan dianggap ambigu dan meruntuhkan tesis utama tulisan ini ?)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Demikianlah yang diterapkan di perumahan muslim Orchid Green Park, Sawangan, Depok sebagai bagian dari ikhtiar dakwah. Semoga bermanfaat. Tetap siap menerima masukan dan ide-ide baru yang relevan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Depok, 11 April 2020. (Sabtu)</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://almanar.co.id/masjid-antara-shalat-jamaah-jumatan-dan-fungsi-sosial-saat-covid-19.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengembaraan Intelektual</title>
		<link>http://almanar.co.id/pengembaraan-intelektual.html</link>
					<comments>http://almanar.co.id/pengembaraan-intelektual.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Idrus Abidin, Lc. MA]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2020 02:09:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengembaraan]]></category>
		<category><![CDATA[pengembaraan intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[syari'ah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1027</guid>

					<description><![CDATA[Pengembaraan Intelektual. Bagian 1. By. Idrus Abidin. Tulisan ini memadukan antara : 1. Sikap Intelektual Islam Liberal (Mengurai Kejumudan Berfikir, Merusak Citra Agama Atas Nama Pembaharuan).2. Sikap Intelektual Islam Moderat (Pembaharuan Islam Ala Klasik). Modern tanpa kebablasan. 3. Pengalaman real lapangan. Titik sentral Pembaharuan (tajdid) yang digelorakan oleh kalangan muslim liberal dunia, termasuk di Indonesia; [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Pengembaraan Intelektual.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Bagian 1.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">By. Idrus Abidin.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tulisan ini memadukan antara :</span></p>
<p><span style="color: #000000;">1. Sikap Intelektual Islam Liberal (Mengurai Kejumudan Berfikir, Merusak Citra Agama Atas Nama Pembaharuan).</span><br /><span style="color: #000000;">2. Sikap Intelektual Islam Moderat (Pembaharuan Islam Ala Klasik). Modern tanpa kebablasan. </span><br /><span style="color: #000000;">3. Pengalaman real lapangan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Titik sentral Pembaharuan (tajdid) yang digelorakan oleh kalangan muslim liberal dunia, termasuk di Indonesia; bertumpu pada realitas. Realitas tersebut umumnya berdasarkan pengertian Barat (Wordfiew) sekuler; termasuk prinsip praktis yang digunakan dalam membaca teks-teks syari&#8217;at (framework). Sehingga Islam dibaca dengan penafsiran tertentu dengan memberikan porsi keutamaan pada realitas. Bahkan, realitas tampaknya dianggap patokan pasti (qath&#8217;i), sedang teks-teks keagamaan/syariat harus mengikuti panduan realitas tersebut karena dianggap hanya sebatas perkiraan (zhanni). Itulah makna Islam sesuai dengan semangat setiap zaman dan semua tempat dalam nalar kaum liberal. Maka, jungkir baliklah standar baku prosedur memahami teks-teks keagamaan yang dipelopori oleh Nabi, sahabat, tabi&#8217;in. Prosedur baku dan terhitung sakral dalam internal Ahlu Sunnah; terutama kalangan Atsariyah. Prosedur baku tersebut dikenal dengan Tafsir bi al-Matsur dalam dunia Tafsir. Yaitu pendekatan dan prosedur pemahaman syariat mengikuti alur riwayat (atsar). Perbedaan ekstrim antara Islam kanan dan Islam kiri inilah yang melahirkan sikap saling tuduh antara dua pola dan dua kecenderungan tersebut. Islam progresif vs Islam Jumud. Islam ingklusif vs Islam Eksklusif. Islam liberal vs Islam Literal. Tampak hanya ada dua pilihan bagi publik awam dan pemula; seolah tidak ada kombinasi baru (sintesis).</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Alhamdulillah, kami sudah hidup dalam ke-2 nuansa intelektual tersebut. Yang dibilang (dituduh) Islam fundamental, Literal, eksklusif, Islam Jumud dll kami selami lewat studi perbandingan madzhab di kampus biru; LIPIA, Jakarta. Semua rumpun mata kuliah di kampus ini serba berbeda tinjuan mazhabnya. Walaupun itu bertahap adanya. Di akidah misalnya, diawali dengan akidah sederhana dalam bentuk mudzakkirah (catatan pendek sekedar rangkuman) di kelas persiapan bahasa (I&#8217;dad Lughawi) dan pemantapan bahasa (Takmili). Di Fakultas syari&#8217;ah, kitab al-Qaul al-Mufidnya Syaikh Utsaimin sebagai Syarah kitab at-Tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab dipelajari. Masih satu pendekatan. Namun, di semester 4 kalau tidak salah, perbedaan pendapat dalam ranah teologi Islam dengan pendekatan ilmu Kalam yang serba filosofis bahasanya mulai dipelajari. Kitab Aqidah Washithiyah dijadikan mata kuliah resmi. Kepala kami pun cenut-cenut membaca teks klasik itu dengan perdebatan intelektual dialektis (jadal) tingkat tinggi. Bahkan, sejak selesai fakultas syari&#8217;ah tahun 2005 hingga hari ini, masih banyak yang belum saya pahami dengan baik dari kitab tersebut. Mungkin karena nilai intelektualnya yang tinggi; terutama di kalangan Ahlu Sunnah Atsariyah. Kadang harus dihapal jawabannya walau tidak ngerti isinya sebagai pertanggungjawaban di kelas-kelas ujian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Di fiqih dan Ushul Fikih pun sama. Awalnya satu Mazhab. Fikih Syafi&#8217;iyah yg merangkum ragam pendapat di internal mazhab tersebut ada di kitab Kifatyatul Akhyar. Sebagai Syarah dari kitab Matn Abi Syuja&#8217;. Lagi-lagi kepala cenut-cenut. Seolah bayi yang dipaksa makan nasi goreng pedes. Hehehe. Itu di Takmili. Ushul Fiqihnya pake kitab Syaikh Shalih Utsaimin. Sastra Arabnya (Balagah) yang berkategori 3 serangkai ; Badi&#8217;, Bayan dan Ma&#8217;ani tak kalah susahnya. 2 tahun pertama di I&#8217;dad Lughawi seolah merangkum 9 tahun belajar resmi di negara-negara Arab dari SD ke SMP. Sedang 1 tahun di Takmili seperti perasan ilmu 3 tahun di SMA Arab yang harus dijilat sempurna. Teks-teks sastra Arab itu seperti mantra-mantra sakti atau azimat yang berisi banyak simbol; susah dimengerti maksudnya. Bagi saya, 1 tahun di Takmili itu lebih &#8220;memenjarakan&#8221; dibanding 4 tahun di karantina fakultas syari&#8217;ah. Gramatika Arabnya (Nahwu) memakai standar Alfiyah Ibnu Malik yang disederhanakan penjelasannya oleh kementerian pendidikan Arab Saudi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Di Fakultas Syari&#8217;ah, semuanya perbedaan pendapat. Hanya sejarah Dakwah Imam Abdul Wahhab saja yang rada-rada standar. Mata kuliah lain serba njelimet. Ushul Fiqih make Raudhatu an-Nazhir karya Ibnu Qudamah. Rekaman dialektik antara Mazhab fuqaha dan mutakkalimin hadir bagai sinetron persilatan Bramakumbara atau Tuturtinular atau sejenisnya di Indonesia. Seru tapi berat. Muktazilah pun selalu ikut serta dalam diskusi ala Indonesia Lawyers Club (ILC) itu. Tampak jauh berbeda dengan muktazilah plus hari ini yang doyan banget dg pluralisme agama. Di Fiqih, kitab Bidayatul Mujtahid karya filosof Ibnu Rusyd dipake. Tambah mumet kepala gue dg beragam perbedaan Mazhab. Di Hadits Hukum, buku Subulussalam; Syarah kitab Bulugulb Maram dijadikan panduan kuliah. Mazhab resmi Syi&#8217;ah Zaidiyah dijadikan Mazhab ke-5 oleh Imam ash-Sha&#8217;nani. So, jangan anggap anak-anak LIPIA hanya belajar Sunnah tanpa tahu Syi&#8217;ah loh ya; terutama di ranah Fiqih.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Di mata kuliah Tafsir pun lagi-lagi perbedaan yang tampak. Pendekatan riwayat (ma&#8217;tsur) dan metode rasional (dirayah) ikut meramaikan mata kuliah di ranah tafsir ini. Walaupun kadar jelimetnya lumayan standar. Di pelatihan penulisan karya ilmiah berupa skripsi di Indonesia, malah di Lipia 3 x (semester 4, 6 dan 8). Tentunya pake bahasa Arab resmi. Yaaah&#8230; Itulah sekelumit pengembaraan intelektual kami di Islam tekstual kata para kaum liberal. Saya termasuk bersyukur (puas dan bangga) pernah &#8220;babak belur&#8221; dalam gemblengan naskah-naskah klasik ulama masa lalu di kampus biru itu (Kampus Arab Rasa Indonesia). Walaupun saya sendiri biasa-biasa aja ilmunya. Tidak sepertii alumni lain yang telah menasional, bahkan internasional ; Ust. Anis Matta, Ust. Bahtiar Nasir, Ust. Zaitun Rasmin, (Trio Sul Sel). Ust. KH Dr. Asrorun Ni&#8217;am dan KH. Dr. Kholil Nafis di NU, Ust. Ahmad Heryawan, dll. Silahkan ditambahkan gaes ! Hehehe ?</span></p>
<p><span style="color: #000000;">6 tahun lamanya penjara ilmiah itu kualami dengan beragam rasa (nano-nano kali ?). Hingga kampus itu kontraksi, lahirlah daku sebagai salah satu sarjana alam ghaib (selevel S.Ag di kampus nasional). 6 tahun lamanya, seperti masa studi fakultas kedokteran, tapi beda jurusan. Mereka di Kesehatan biologis, kami di kesehatan psikologis keislaman ???</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Catatan :</span></p>
<p><span style="color: #000000;">1. Pengembaraan intelektual di Dunia Akademik &#8220;Progresif&#8221; ala liberal ntar nyusul aja ya. Biar ga kepanjangan dan ga ngebosenin.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Bersambung. In syaa Allah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pagi di Jum&#8217;at Berkah, 3 April 2020</span><br /><span style="color: #000000;">(9 Sya&#8217;ban 1441 H.)</span></p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://almanar.co.id/pengembaraan-intelektual.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahasia Keistimewaan Islam (Takdir Syar&#8217;i dan Takdir Kauni).</title>
		<link>http://almanar.co.id/rahasia-keistimewaan-islam-takdir-syari-dan-takdir-kauni.html</link>
					<comments>http://almanar.co.id/rahasia-keistimewaan-islam-takdir-syari-dan-takdir-kauni.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Idrus Abidin, Lc. MA]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2020 14:49:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keistimewaan islam]]></category>
		<category><![CDATA[rasio]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>
		<category><![CDATA[takdir kauni]]></category>
		<category><![CDATA[takdir syar'i]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://almanar.co.id/?p=1024</guid>

					<description><![CDATA[Allah adalah otoritas pengetahuan. Dia maha mengetahui semua maslahat dan mafsadat; dulu, sekarang dan nanti. Dia pula maha mengetahui manusia; fitrah, potensi baik buruk, lahir batin dan segala yang membahagiakan dan menyengsarakan mereka di dunia dan akhirat. Karenanya, selain diciptakan, manusia juga dituntun dengan beragam petunjuk; nabi beserta kitab suci. Bahwa hidup bertujuan; bukan tanpa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Allah adalah otoritas pengetahuan. Dia maha mengetahui semua maslahat dan mafsadat; dulu, sekarang dan nanti.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dia pula maha mengetahui manusia; fitrah, potensi baik buruk, lahir batin dan segala yang membahagiakan dan menyengsarakan mereka di dunia dan akhirat. Karenanya, selain diciptakan, manusia juga dituntun dengan beragam petunjuk; nabi beserta kitab suci. Bahwa hidup bertujuan; bukan tanpa maksud. Semuanya didasari oleh Rahmat, sekalipun ada sebagian karena hikmah. Intinya, tidak ada yang sia-sia. Semua itu sudah dirangkum oleh Allah dalam Al-Qur&#8217;an; dijelaskan oleh nabi secara detil via ucapan, perbuatan, penetapan (taqrir); termasuk perkara agama (adab) dan gambaran postur fisik beliau lewat narasi sahabat, tabi&#8217;in hingga sekarang; bahkan hingga masa depan. Dijelaskan oleh oleh alim ulama otoritatif sepanjang zaman di setiap tempat. Sehingga menjadi hujjah di akhirat kelak. Itulah Islam.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jika manusia dibiarkan tanpa bimbingan Islam; pasti mereka binasa dengan kezaliman sendiri, orang lain, bahkan oleh setan jin. Rasio mandiri manusia tidak mampu menjangkau masa sekarang dan masa depan, sekaligus gelap tentang masa lalu. Maka, dipastikan tidak ada rasio manusia yang bisa dijadikan standar baku dalam menyelesaikan perselisihan antar manusia. Hanya Islam (Qur&#8217;an dan Sunnah) yang sudah terbukti secara empiris mengakurkan manusia di era Madinah. Maka tak heran, kata Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, &#8220;Generasi terbaik adalah zamanku. Baru menyusul era setelahnya (3x)&#8221;.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Apa rahasianya? Karena rasio tunduk patuh pada Allah; talaqqi murni pada sumber kebenaran dan kebaikan. Mereka hanya cukup memahami dan mengamalkan. Itulah fungsi utama rasio. Mereka berijtihad saat blm ada Wahyu. Atau pada hal-hal yang tidak terkait agama (keislaman) seperti umumnya masalah duniawi. Jika kepada dokter saja umumnya manusia manggut-manggut, kenapa terhadap hadits nabi sering ngeyel?! Bukankah nabi adalah otoritas dunia akhirat, lahir batin. Sedang dokter hanya garansi kesehatan fisik duniawi?!.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maka, wahai rasio! Duduklah di singgasanamu; pahami kehendak Allah dan rasulNya. Jangan terlalu berani menolak sesuatu yang belum engkau mengerti. Seperti fatwa ulama terkait covid-19. Yang engkau pahami saja masih sangat terbatas. Pahamilah dirimu. Engkau seperti mata. Tanpa cahaya, engkau bukanlah apa-apa. Timbanglah sesuatu sesuai kemampuanmu. Gunung, bukan engkau yang berhak mengukurnya. Padahal itu masalah murni duniawi. Apalagi seputar masalah ghaib, buta sekali pengamatanmu. Hanya dengan cahaya ilahi engkau bisa mengerti; itupun masih banyak yang engkau salahpahami. Ghaib itu pun masih ghaib skala duniawi; belum ghaib versi ukhrawi. Saat musim covid-19 aja engkau bingung; mana yang lebih maslahat untuk dirimu. Keluar dengan resiko tertular dan menularkan; ataukah diam. Resikonya, dapurmu terancam ga ngepul. Maka, firman Tuhanmu,<em> &#8220;Bisa jadi engkau benci sesuatu, padahal baik bagimu. Atau, engkau senang sesuatu, padahal buruk untukmu.&#8221;</em> (QS Al-Baqarah: 216)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pimpinlah dirimu mengamati rahasi ilahi di balik alam semesta; langit, bumi, gunung, tumbuhan dll. Jika kamu jujur mengikuti fitrahmu, pasti kau imani Allah dan mengamalkan syari&#8217;atNya. Karena bukti kekuasaan, bentuk keteraturan, wujud perhatian, bukti profesionalitas tersibak dengan nyata di hadapan mata batin dan mata lahirmu. Itulah tujuannya ia dicipta. Selain itu, engkau berbekal keahlian yang membuatmu dipercaya. Sebagai ilmuwan kualitas atas; sebab kemudahan telah ungkau persembahkan kepada mereka via sains dan tekhnologi yang engkau teliti. Walaupun, sadarlah; tekhnologi dan sains memang memudahkan, tapi belum tentu membahagiakan. Karena bahagia itu ada pada rasa syukur, penuh harap yang disertai rasa takutmu pada Allah. Hanya Islam yang mengajarkan itu padamu. Sains dan teknologi memberimu sejumput kemudahan. Jika engkau sertai dengan tuntutan Islam tadi; kebahagiaan itu akan mengejarmu hingga surgaNya; tempat keabadian.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Itu, tentang alam semesta. Di dunia sosial, rumusnya lebih rumit lagi. Ada kebebasan manusia. Mereka kadang mau kadang tidak. Dunia manusia tidak konstan. Banyak faktor dan pertimbangan di balik sikap dan karakter manusia itu. Maka, wahai rasio, tak mudah bagimu mengerti sosiologi, psikologi, antropologi, ekonomi dll. Bahkan dunia manusia itu unik, jika dibandingkan alam hewani. Tak akan kau jumpai wahai rasio, hewan mana pun suka sesama jenis; bercinta tanpa malu di hadapan umum (emang hewan ga peduli kali&#8230;?). Tapi di dunia manusia, itu ada loh. Bahkan dari sejak era nabi Luth. Tanya kenapa? Karena setan bro <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/263a.png" alt="☺" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />. Maka, wahai rasio; pahami batasanmu. Tahu dirilah ! Hanya di situ engkau boleh berfungsi sebagai referensi pengetahuan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kalau tidak demikian, ketahuilah wahai rasio; engkau hanyalah hawa nafsu Iblis yang diliputi oleh angkara murka (syubhat dan syahwat). Titik</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://almanar.co.id/rahasia-keistimewaan-islam-takdir-syari-dan-takdir-kauni.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
