<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863</atom:id><lastBuildDate>Thu, 21 May 2009 10:14:18 +0000</lastBuildDate><title>Psikologi Indonesia Goes Blogging</title><description>Blog  yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.</description><link>http://www.psigoblog.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Khrisnaresa Adytia)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>78</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/psigoblog/GQYu" /><feedburner:info uri="psigoblog/gqyu" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-5466575510626521413</guid><pubDate>Mon, 04 May 2009 14:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-04T07:32:50.688-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikosis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">erotomania</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikopatologis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikopat</category><title>Erotomania</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Erotomania atau biasa dikenal dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;de Clerambault’s syndrome &lt;/span&gt;merupakan suatu bentuk gangguan kepribadian dimana para penderitanya memiliki keyakinan yang merupakan waham bahwasannya ada seseorang, biasanya yang memiliki status sosial lebih tinggi (selebritis, bintang rock, orang terkenal, wanita sosialita, bos, dll), memendam perasaan cinta kepada si penderita, atau mungkin memiliki suatu bentuk hubungan intim. Gangguan kepribadian ini rata-rata penderitanya adalah kaum pria.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali ditelaah oleh psikiater asal perancis yang bernama Gaetan Gatian Clerambault, yang menyusun sebuah makalah yang membahas tentang gangguan kepribadian macam ini pada tahun 1921. walau referensi awal yang sejenis dengan gangguan ini telah ada dalam tulisan Hipokrates, Erasistratus, Plutark, dan Galen. Dalam dunia psikiatri sendiri referensi sejenis ini telah ada pertama kali dalam tahun 1623 dalam sebuah risalah berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maladie d’amour ou melancolie erotique&lt;/span&gt; yang ditulis oleh Jacques Ferrand, dan juga disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“old maid’s psychosis”, “erotic mania”&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“erotic self-referent delusions”&lt;/span&gt; sampai kemasa sekarang dimana disebut sebagai bentuk dari Erotomania atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;de Clerambault’s Syndrome&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti utama dari bentuk sindrom ini adalah si penderita memiliki suatu waham atau delusi keyakinan bahwa ada orang lain, yang biasanya memiliki status sosial yang lebih tinggi, secara sembunyi-sembunyi memendam perasaan cinta kepadanya. Para penderita selalu yakin bahwa subjek dari delusi mereka secara rahasia menyatakan cinta mereka dengan isyarat halus seperti bahasa tubuh, pengaturan perabot rumah, atau dengan cara lain yang kemungkinan tidaklah mungkin (jika yang menjadi sasaran adalah seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;public figure&lt;/span&gt; maka akan diartikan secara salah oleh penderita, terhadap sesuatu yang tertulis dalam media massa tentang orang tersebut). Sering kali orang yang menjadi objek dalam delusi, hanya memiliki sedikit sekali hubungan atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan sang penderita. Walau demikian sang penderita tetap percaya bahwa sang objek-lah yang memulai semua hubungan khayal itu. Delusi Erotomania sering ditemukan dalam sebuah gejala awal dari sebuah gangguan delusional atau dalam konteks Skizofrenia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang subjek yang berada dalam delusi tidaklah pernah ada dalam dunia nyata, nemun yang lebih sering terjadi, subjek adalah publik figur seperti penyanyi terkenal, aktor, aktris, politikus, selebritis dll. Erotomania juga disebut-sebut sebagai suatu penyebab perilaku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalking&lt;/span&gt; yaitu suatu bentuk perilaku memperhatikan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang diperhatikan, lalu perlahan melakukan suatu upaya pendekatan yang bersifat mengganggu, biasanya dengan obsesi bahwa korban adalah orang yang perlu ditolong atau bahkan dimusnahkan. Selain itu Erotomania juga disebut sebagai penyebab dari bentuk suatu tindakan yang mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percobaan pembunuhan terhadap Mantan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan oleh John Hinckley, Jr. dilaporkan telah diakibatkan oleh erotomania yang diderita Hinckley, yang merasa bahwa artis Jodie Foster akan membeberkan kepada publik bahwa ia cinta kepadanya setelah ia membunuh sang presiden. Hinckley sendiri terbebas dari jeratan hukum karena didiagnosa memiliki gangguan jiwa (skizofrenia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah daftar beberapa artis yang menjadi korban dari gangguan kepribadian ini:&lt;br /&gt;Linda Ronstadt&lt;br /&gt;David Letterman&lt;br /&gt;Madonna&lt;br /&gt;Barbara Mandrell&lt;br /&gt;Ronald Reagan&lt;br /&gt;Steven Spielberg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.helium.com/items/263966-defining-erotomania"&gt;http://www.helium.com/items/263966-defining-erotomania&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://psychology.wikia.com/wiki/Erotomania"&gt;http://psychology.wikia.com/wiki/Erotomania&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cetrione.blogspot.com/2008/06/erotomania.html"&gt;http://cetrione.blogspot.com/2008/06/erotomania.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-5466575510626521413?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/zff0P2m9Uw0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/zff0P2m9Uw0/erotomania.html</link><author>noreply@blogger.com (Amarilldo)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/05/erotomania.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-3808427244457256312</guid><pubDate>Mon, 04 May 2009 07:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-04T07:34:57.315-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">stalking</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikosis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sosiopat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikopatologis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikopat</category><title>Stalking : Bentuk Perhatian Dari Seseorang Yang Tidak Pernah Diharapkan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah anda merasa ada orang lain yang mulai mengganggu hidup anda dengan memberikan ancaman melalui surat atau email dan juga berbagai macam gangguan lain seperti telepon tanpa suara atau terdengar suara mengancam, mulai dari yang bersifat hanya sebatas ucapan sampai kepada tindakan nyata. Atau anda sering mendapatkan perhatian dari orang yang belum anda kenal sebelumnya berupa hadiah, kiriman bunga, surat cinta. dimana anda merasa bahwa mereka selalu saja menemukan diri anda dimanapun, bahkan anda tidak bisa bersembunyi sama sekali, mereka ada dan nyata, mengikuti dan membuntuti anda. Anda sadar kalau semua ini bukanlah sebuah bentuk paranoid belaka, melainkan memang benar adanya, dan menghantui hidup anda. Mereka memaksa anda untuk merasa terancam, tidak tenang dan berada dibawah tekanan. Jika anda pernah mengalami gangguan demikian kemungkinan besar yang terjadi pada diri anda adalah, anda telah menjadi korban dari perilaku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt;, Yaitu suatu bentuk kelainan yang dimiliki seseorang yang terobsesi dengan diri anda. Mereka merasa diri anda memang pantas diperlakukan demikian dengan dasar keyakinan waham yang mereka yakini didalam kepala mereka yang selalu berisikan pemujaan terhadap diri anda dan juga ide-ide “kegilaan” yang berkenaan pada diri anda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengertian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalking&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalking&lt;/span&gt; adalah kata yang digunakan dalam menunjuk pada suatu perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang atau mungkin sekelompok orang terhadap orang lain. Dalam dunia psikologi sendiri kata stalking digunakan untuk mendefinisikan suatu bentuk perilaku yang cenderung bersifat gangguan, hal ini juga digunakan pada bidang hukum dimana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt; didefinisikan sebagai salah satu bentuk tindakan kriminal. Pada awalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalking &lt;/span&gt;digunakan dalam mengartikan tindakan mengganggu yang didapati oleh para orang terkenal, seperti selebritis, dari seseorang yang tidak ia kenal dimana orang tersebut yang mana para pelakunya telah memiliki suatu bentuk obsesi tersendiri kepada para korbannya. Hal ini pertama kali digunakan dalam sebuah tabloid di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang psikologi dan psikiatri sendiri stalking diartikan oleh Meloy (1998) dan juga Stieger, Burger dan Schild (2008), yang mana oleh mereka suatu perilaku dapat dikategorikan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt; jika korban melaporkan sekurang-kurangnya 2 bentuk perilaku yang bersifat mengganggu dimana waktu kejadiannya terjadi kurang dari 2 minggu dan selalu memberikan rasa takut kepada korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranah Perilaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalking&lt;/span&gt; telah diterapkan kedalam banyak bentuk dari perilaku, yang juga didasari oleh berbagai macam motif. Obsesi adalah dasar dari perilaku stalking, dimana sang pelaku akan melakukan observasi dan juga melakukan kontak dengan korbannya semua ini bertujuan untuk memenuhi keinginannya untuk memiliki kedekatan dengan korban. Tidak jarang juga bahwa para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;mengikuti korban sampai ketempat mereka beraktifitas dan sampai ketempat mereka tinggal, juga mereka tertarik terhadap informasi-informasi yang bersifat personal dari korbannya seperti nomor telepon, alamat email, ukuran pakaian, nama lengkap dan lain-lain yang cenderung bersifat privasi. dimana mereka juga berusaha mencari informasi tentang jati diri korban melalui berbagai macam hal seperti internet, arsip personal, atau media lain yang mengandung informasi tentang diri korban, bahkan ada yang sampai mendekati orang-orang terdekat dari korban untuk memperoleh hal tersebut yang jelas dilakukan tanpa ijin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik diri seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;cenderung memiliki kepercayaan yang salah didalam dirinya, terkadang kepercayaan salah itu berbentuk bahwa orang yang menjadi targetnya memiliki rasa cinta kepada sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker. &lt;/span&gt;Dasar ini muncul dari kecenderungan Erotomania (suatu bentuk gangguan kepribadian dimana penderitanya yakin bahwa seseorang yang lebih tinggi status sosialnya mencintai dirinya, dan hal ini biasa ditemukan pada pria) yang dimiliki pada seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker. &lt;/span&gt;Selain itu perilakunya juga didasari oleh keinginan sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;untuk menolong korbannya dari sesuatu, padahal jelas bahwa orang tersebut tidaklah memerlukan pertolongan. Sehingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking &lt;/span&gt;juga dapat dikemas dalam suatu tindakan yang bersifat legal seperti menelepon, mengirimkan hadiah atau mengirimkan surat dan email. Namun semua itu datang dari orang yang tidak diharapkan dan malahan menimbulkan gangguan dan ketidak-nyamanan, karena sang korban tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;yang berperilaku berlebihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku merugikan sang korban seperti fitnah dan mencemarkan nama baik korban seringkali ditemui dalam suatu kasus, hal ini merupakan suatu cara bagi stalker untuk dapat berperilaku kejam yang merupakan hasrat mereka kepada para korbannya, dilakukan tanpa empati, seperti merasakan apa kira-kira yang dirasakan orang lain dari apa yang telah ia lakukan terhadapnya, tidak ada rasa empati pada diri seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker, &lt;/span&gt;mereka cacat dalam hal tersebut, membuat mereka menjadi lebih sadis, seperti dikatakan oleh Dr. Meloy (1998), bahwa setiap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;adalah psikopat, yaitu pribadi yang tidak memiliki hati nurani dan memiliki tingkat narsisis yang terlampau tinggi. Selain itu perilaku sadis yang mereka tunjukkan mendapat dorongan dari dalam pikiran mereka yang telah mengalami berbagai macam waham, dan biasanya daripadanya mereka mendapat kesimpulan bahwa diri korban memang pantas diperlakukan dengan cara yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stalker memandang para korbannya buruk dan lemah sehingga dari kepercayaan sesat itu mereka merasa pantas untuk memperlakukan para korbannya dengan buruk atau bahkan berperilaku seperti ingin menolong mereka. Hal ini semakin mendorong waham didalam pikiran mereka untuk dapat memperlakukan sang korban dengan layaknya apa yang mereka delusikan seperti untuk disakiti atau untuk ditolong. Jika mereka menebar fitnah dan juga menyebarkan kejelekan karakter dari sang korban, hal tersebut akan dapat mengisolasi kehidupan sang korban yang pada akhirnya akan menimbulkan perasaan akan kekuasaan bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;dan kendali lebih atas diri korban. Adapun kiranya para stalker melakukan diagnosa terhadap sang korban terhadap dengan kesimpulan bahwa sang korban memiliki suatu gangguan mental tertentu yang menyebabkan dirinya perlu ditolong atau mungkin perlu disakiti, kepercayaan ini sangat absolut didalam diri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;yang mengakibatkan korban merasa sangat tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku manipulatif adalah senjata bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker, &lt;/span&gt;tindakan yang bersifat legal namun penuh dengan gangguan adalah salah satu cara dari sikap manipulatif yang mereka miliki. Akan lebih berbahaya jika korban sampai termakan oleh perilaku manipulatif mereka karena seorang stalker menginginkan suatu hal yang cenderung tidak rasional bagi korbannya. Bahkan demi mendapat perhatian dari korbannya tidak jarang ada bentuk perilaku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;yang sampai mengancam akan melakukan bunuh diri jika tuntutannya tidak dipenuhi. Semua ditujukan agar sang korban mau membuka hubungan dengan dirinya. Bentuk-bentuk ancaman dan kekerasan seperti perusakan barang-barang korban sering kali ditemui dalam kasus-kasus perilaku stalking. setelah menakut-nakuti korban, bentuk kejahatan biasanya berlanjut kepada perilaku kekerasan seksual dan juga penyerangan secara fisik yang dari keduanya dapat menimbulkan bekas yang serius pada jiwa dan raga korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi Gender Yang Berhubungan Dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalking&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaporakan bahwa matoritas pelaku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking &lt;/span&gt;adalah kaum pria, dan sedikit ditemukan pada kaum wanita. Berdasarkan hasil catatan dan juga diagnosa psikiatris dari pria dan wanita yang melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking &lt;/span&gt;tidaklah jauh berbeda, namun pada kaum pria telah tercatat sebelumnya memiliki sejarah terlibat kasus kejahatan yang telah menjurus pada kriminalitas. Selain itu kecenderungan durasi waktu yang dihabiskan untuk menguntit pada korbannya juga tidak jauh berbeda antara yang pria dan yang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;wanita biasanya mereka mencari korban dari orang yang telah mereka kenal sebelumnya, seperti yang memiliki hubungan profesional, dan mereka jarang mencari target korban dari orang asing. Kecenderungan pada wanita juga ditemui bahwa mereka dapat men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalk &lt;/span&gt;wanita lainnya, berbeda dengan stalker pria yang secara umum hanya mencari korban dari lawan jenisnya saja. Di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“study of women who stalk” &lt;/span&gt;Purcell, Pathe dan Mullen, menyimpulkan terdapat 2 variabel psikiatris utama yang membedakan perilaku ini pada pria dan wanita, yaitu dalam motif yang mendasari dan dalam hal pemilihan korban. Pada wanita motif yang didapati adalah untuk mendapatkan keintiman dengan para korbannya, yang biasanya adalah orang yang telah ia kenal sebelumnya, korban biasanya adalah yang bekerja pada bidang pelayanan sosial seperti dokter, perawat, terapis, dan konselor, namun tetap tidak menutup kemungkinan pada pria didalam bidang yang lain. selain itu pada wanita jarang ditemukan bentuk-bentuk ancaman dan juga kekerasan yang dilakukan terhadap korbannya, berbeda pada pria yang dalam aksinya seringkali ditemukan tindakan mengancam dan juga kekerasan terhadap korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stalking"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Stalking&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.trutv.com/library/crime/criminal_mind/psychology/stalkers/5.html"&gt;http://www.trutv.com/library/crime/criminal_mind/psychology/stalkers/5.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://odllirama.blogspot.com/"&gt;Amarilldo&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-3808427244457256312?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/XpAnbac6338" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/XpAnbac6338/stalking-bentuk-perhatian-dari.html</link><author>noreply@blogger.com (Amarilldo)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/05/stalking-bentuk-perhatian-dari.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-5134299088605931293</guid><pubDate>Sun, 03 May 2009 08:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-04T00:31:14.067-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikosis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sosiopat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikopatologis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kepribadian</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikopat</category><title>Tipe-tipe Stalker</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.psigoblog.com/2009/05/stalking-bentuk-perhatian-dari.html"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalker&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; atau dalam bahasa Indonesia adalah Penguntit merupakan perilaku yang sangat meresahkan bagi para korbannya, bayangkan diri anda diikuti oleh seseorang tanpa sepengetahuan anda pastilah keadaan ini sangatlah mengganggu bagi anda sekalian, apalagi sam pai memberikan ancaman dan juga ketidaknyamanan kepada diri kita. Menurut Dr. J. Reid Moley yang merupakan seorang penulis dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Violent Attachments&lt;/span&gt; dan yang juga merupakan editor dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Psychology of  Stalking&lt;/span&gt; mengatakan bahwa bentuk cinta patologis biasa muncul pada kaum pria.&lt;span class="fullpost"&gt; Yang mana gejalanya selalu diikuti oleh gejala sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. setelah pertemuan pertama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalker&lt;/span&gt; akan mengembangkan perasaan seperti kegila-gilaan dan menempatkan objek cinta mereka pada bentuk pemujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sang penguntit (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt;) kemudian akan memulai pendekatan kepada objek namun ketika hubungan itu terjadi stalker akan membuat perilaku mereka merujuk pada penolakan terhadap sang objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. penolakan yang ia lakukan kemudian akan menimbulkan delusi dan kemudian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt; tersebut akan memproyeksikan persaannya kepada sang objek dalam bentuk keyakinan bahwa “dia mencintai saya juga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. penguntit tersebut akan selalu mengembangkan sebuah bentuk kemarahan untuk menyembunyikan rasa malunya yang merupakan bahan bakar dari pengejaran terhadap objeknya. Sekarang ia ingin mengontrol kepada bentuk gangguan atau bahkan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalker&lt;/span&gt; memiliki keharusan dalam menyalurkan fantasi narsistisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. kekerasan adalah hal yang paling sering dilakukan ketika objek cinta dituduh bersalah sebagai bentuk dari imajinasi akan pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meloy mengatakan bahwa setiap stalker adalah seorang psikopat yang dengan kata lain mereka memiliki taraf empati pada tingkat yang rendah atau telah kehilangan akan empati itu sama sekali. Hubungan yang mereka jalani cenderung menjadi sadistis dikarenakan berdasarkan akan keinginan untuk berkuasa atas yang lainnya. Dikatakan juga bahwa hal ini berhubungan dengan kedekatan awal masa kehidupan yang mereka alami, dimana mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang baik dari oragn-orang terdekatnya (keluarga). Meloy juga mengatakan bahwa seorang psikopat secara biologis memiliki predisposisi untuk melakukan aktivitas antisosial karena mereka miliki sistem saraf otonomik yang hiper-reaktif. Kejahatan atau eksploitasi terhadap orang lain bersifat sangat menarik untuk mereka. Yang dengan demikian maka berarti mereka termotivasi untuk melakukan sesuatu yang menegangkan sistem saraf mereka dan mereka tidak memiliki perasaan saat menyakiti orang lain seperti halnya orang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data Departemen Hukum di Amerika, selama setahun saja mereka telah menerima laporan bahwa 1,5 juta orang disana telah di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt; dan lebih dari 2/3nya adalah perempuan. Juga fakta bahwa 90% wanita dibunuh oleh suami atau pasangan mereka dengan sebelumnya telah di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt;. Perbandingannya adalah 1 diantara 12 wanita dan 1 diantara 45 pria merupakan korban &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt; di Amerika. Diramalkan kira-kira 10 juta orang akan menjadi korban stalker dimasa depan. Sedangkan diantara para selebritis dan orang-orang kelas atas sendiri, satu perusahaan keamanan telah mengumpulkan lebih dari 300.000 komunikasi yang berhubungan dengan kegiatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara banyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt; hanya melakukan kejahatan dalam bentuk ancaman, hanya sedikit persentase yang membuktikan mereka melakukan ancaman mereka, menghancurkan properti dan menyakiti hewan peliharaan. Dengan meningkatnya popularitas Internet, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyberstalking&lt;/span&gt; telah menjadi suatu bentuk baru dari lahan yang berbahaya. Banyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalker &lt;/span&gt;yang sebelumnya telah memiliki catatan kriminal dan juga menunjukkan adanya tindak kekerasan yang pernah dilakukan, gangguan mood, gangguan kepribadian atau juga psikosis. Setidaknya setengah dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt; melakukan bentuk ancaman kepada korban mereka, dimana peningkatan kemungkinan untuk tindakan kekerasan semakin terjadi. Frekuensi dari tindaka kekerasan berkisar 25% sampai 35%, dengan kebanyakan tindak kekerasan terjadi diantara orang-orang yang sebelumnya memiliki hubungan yang romantis dimasa yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan buruk ini terjadi karena Stress emosional yang hebat kepada target yang akan menjadi korban. Beberapa orang telah kehilangan pekerjaan mereka atau secara terpaksa mengganti identitas diri mereka dan berpindah. Kemungkinan mereka mendapatkan suatu bentuk kecemasan yang ekstrim, gangguan tidur dan juga depresi. Beberapa bahkan melakukan bunuh diri. Jika mereka memiliki anggota keluarga atau anak yang berada dibawah ancaman, mereka akan merasa bersalah dan  memiliki rasa takut yang berlebihan kepada orang lain. walaupun kecelakaan ini dilaporkan, namun penahanan secara hukum hanya dapat dilakukan dalam lingkup kecil, terhadap gangguan yang bersifat verbal. Pada kenyataannya beberapa hukum telah digunakan sebagai suatu resiko dasar dari bahaya atau suatu bentuk pola kejadian sebelum perlindungan secara formal ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah untuk memprediksi siapa yang menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt;. Mungkin saja ia adalah bekas pacar atau mungkin juga seseorang biasa yang telah menentukan targetnya dalam sebuah pertemuan dengan calon korban. Juga mungkin tetangga yang memiliki sikap permusuhan, atau seorang penjaga toko video dan mungkin juga hanya seseorang yang hanya pernah melihat korbannya di jalanan. Bahkan seseorang yang tidak memiliki obsesi terhadap tindakan pelecehan sebelumnya dapat menjadi pelaku dalam jenis kejahatan ini. Menurut Janet S. Rulo-Pierson, seorang konselor rumah sakit, hal ini dikarenakan mereka merubah secara perlahan dunia kenyataan ke dunia imajinasi yang ternyata lebih memberikan kenyamanan dan juga kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat-sifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt; telah dikembangkan dan menurut Dr. Michael Zona dan koleganya dari University Of Southern California School Of Medicine, Stalker muncul dalam 3 varietas dengan corak jahat dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalking&lt;/span&gt; yang terbagi dalam 4 kategori penting, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Obsesi Sederhana&lt;br /&gt;Hal ini kebanyakan terjadi pada seorang pria dengan seorang wanita, dimana keduanya pernah berada pada keadaan keintiman seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cinta Obsesional&lt;br /&gt;Cinta-obsesional yang dimiliki seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalker&lt;/span&gt; cenderung kepada pemikiran tentang seseorang selebritis atau seseorang yang telah ia lihat dari kejauhan dan kemudian dia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt;) mengembangkan kepercayaan yang tidak realistis didalam kepalanya bahwa sang target memiliki persetujuan untuk menjalin hubungan dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Erotomania&lt;br /&gt;Seseorang yang mengalami keadaan ini memiliki tingkat obsesi yang lebih ekstrim dikarenakan mereka percaya dengan yakin bahwa korban mereka memiliki perasaan cinta kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pencari Korban Secara Acak&lt;br /&gt;Menuntut gangguan dan perilaku stalking ketika tidak ada, perilaku ini biasanya terjadi pada seseorang yang memiliki gangguan kepribadian histrionik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode lain yang digunakan untuk kategorisasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker&lt;/span&gt; datang dari panduan klasifikasi tindak kejahatan milik F.B.I, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Non-domestic stalker&lt;/span&gt;, yaitu mereka yang melakukannya dengan tidak memiliki hubungan personal dengan korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Terorganisir, mereka yang melakukannya atas dasar kalkulasi dan tindak agresi yang terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Delusional, mereka yang melakukannya atas dasar keyakinan sesat seperti erotomania&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Domestic stalker&lt;/span&gt;, mereka yang pernah memiliki hubungan dengan korban dan merasa termotivasi untuk melanjutkan hubungan, hal ini merupakan dasar dari 60% perilaku stalking dan bentuk agresi ini akan berlanjut pada bentuk kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stalker &lt;/span&gt;cenderung menjadi tidak terkendali atau dibawah kendali, tetapi selalu lebih cerdik dari pada bentuk kriminal yang lain. mereka sering kali memiliki pengalaman gagal dalam sebuah hubungan. Mereka juga cenderung untuk menyakiti korban mereka dan juga secara seksual. Mereka juga selalu mengidealisasikan orang lain, dan cenderung meminimalisasi apa yang mereka kerjakan untuk terlihat. Proyek yang bermotif kepada orang-orang biasanya tidak memiliki dasar yang benar, dan merasionalisasi bahwa target memang pantas untuk menerima gangguan dan juga kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stalker &lt;/span&gt;melihat aksi mereka dengan kerangka kerja yang berdasarkan pada waham dan mereka juga tidak membutuhkan bantuan saat melakukan aksinya. Bahkan sebagian melakukannya dengan cara yang profesional. setiap pelaku kasus yang ada dalam suatu kejadian sebenarnya dapat diperbaiki dengan menyerahkannya kepada terapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.trutv.com/library/crime/criminal_mind/psychology/stalkers/5.html"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://odllirama.blogspot.com/"&gt;Amarilldo&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-5134299088605931293?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/5lV6s5VFqN4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/5lV6s5VFqN4/tipe-tipe-stalker.html</link><author>noreply@blogger.com (Amarilldo)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/05/tipe-tipe-stalker.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-3743206738428746119</guid><pubDate>Fri, 10 Apr 2009 17:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-16T18:47:03.679-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ganteng</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">dewasa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">stereotipe</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pemilu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tinggi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">presiden</category><title>Siapakah Kira-kira Presiden Kita Nanti? Kemungkinan Besar, sih, yang Paling Tinggi, Paling Ganteng, dan Paling “Terlihat” Dewasa</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JJu7Lj_I/AAAAAAAAAC0/9HLm7XD_ep4/s1600-h/d2746213a6f8879e.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 81px; height: 102px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JJu7Lj_I/AAAAAAAAAC0/9HLm7XD_ep4/s320/d2746213a6f8879e.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323124084883296242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JJmTXbKI/AAAAAAAAAC8/I6Xw8R-RrPU/s1600-h/ef0f073e03f0143e.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 101px; height: 102px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JJmTXbKI/AAAAAAAAAC8/I6Xw8R-RrPU/s320/ef0f073e03f0143e.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323124082568817826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7WVJ1kI/AAAAAAAAADU/pxddqOUQLIM/s1600-h/a58b6c99a4992dcc.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 116px; height: 102px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7WVJ1kI/AAAAAAAAADU/pxddqOUQLIM/s320/a58b6c99a4992dcc.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323126036786435650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JQVYirPI/AAAAAAAAADE/tCCgZ1axVhQ/s1600-h/4e66ba4ed3312130.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 72px; height: 101px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JQVYirPI/AAAAAAAAADE/tCCgZ1axVhQ/s320/4e66ba4ed3312130.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323124198286208242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JQd7svQI/AAAAAAAAADM/N0t0ctVQaXA/s1600-h/prabowo-dalem.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 71px; height: 99px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JQd7svQI/AAAAAAAAADM/N0t0ctVQaXA/s320/prabowo-dalem.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323124200581152002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7QJ6HiI/AAAAAAAAADc/mqG1CRtmVwc/s1600-h/b8320200098da1f0.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 85px; height: 100px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7QJ6HiI/AAAAAAAAADc/mqG1CRtmVwc/s320/b8320200098da1f0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323126035128655394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7UVpNxI/AAAAAAAAADk/KgniW73aFvs/s1600-h/7051cdafa80a0c10.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 74px; height: 99px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7UVpNxI/AAAAAAAAADk/KgniW73aFvs/s320/7051cdafa80a0c10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323126036251621138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7ijd_3I/AAAAAAAAADs/43RmzvW0mpQ/s1600-h/58c68a60a731754a.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 65px; height: 97px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-K7ijd_3I/AAAAAAAAADs/43RmzvW0mpQ/s320/58c68a60a731754a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323126040067702642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah selesai menyontreng untuk Pemilu Legislatif tanggal 9 April kemarin, kita akan segera masuk bilik suara lagi untuk memilih calon presiden negara ini. Pemilihan presiden Indonesia yang sekarang ini adalah kali kedua bagi kita untuk memilih presiden secara langsung. Jadi, belum banyak data yang bisa dipakai untuk memprediksi siapa kira-kira pemenang ajang puncak pesta demokrasi lima tahun sekali itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi, jangan khawatir. Negara sahabat kita, Amerika, sudah berkali-kali memilih presidennya secara langsung. Mereka sudah punya beberapa prediktor untuk mengira-ngira pemenang pemilu Presiden. Dibawah ini Psigoblog sajikan beberapa yang menarik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tinggi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oh, suka yang tinggi-tinggi? Bagi orang Amerika, jawabannya adalah: Ya! Percaya atau tidak, tinggi badan adalah modal yang cukup penting kalau anda mau jadi presiden Amerika Serikat. Hanya 6-7 orang presiden AS yang tingginya hampir sama dengan orang kebanyakan. Sisanya jangkung-jangkung. Lihat saja Clinton, Ronald Reagan, bahkan George Washington. Rata-rata tinggi mereka diatas 1,8 meter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memangnya apa hubungan tinggi badan dan kemampuan seseorang untuk menjadi presiden? Tidak ada.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi itu kalau pemilihan presiden berdasarkan kemampuan seseorang. Dalam demokrasi, pemilihan pemimpin dilakukan secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;voting&lt;/span&gt;. Jadi, faktor yang menentukan seseorang untuk jadi presiden bukanlah kemampuan, tapi “kemampuan” untuk mendapatkan &lt;i style=""&gt;vote&lt;/i&gt; masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nah, tinggi badan membuat seorang terlihat menarik sehingga dapat MENARIK &lt;i style=""&gt;vote&lt;/i&gt; masyarakat. Hal ini karena orang yang tinggi biasanya dianggap memiliki kemampuan &lt;i style=""&gt;leadership&lt;/i&gt; yang baik serta maskulin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Stereotipe ini mungkin tidak benar. Tapi, kan, masyarakat tidak melihat kehidupan sehari-hari si capres. Yang terlihat hanya tinggi badan. Jadi masyarakat “percaya” saja sama stereotipe yang dia pegang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menarik&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maksud menarik disini lebih ke menarik dibagian muka (ganteng atau cantik). Pernah dengar, kan, pada tahun 2004 banyak ibu-ibu yang milih SBY karena dia ‘ganteng’?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ya, wajah ganteng memang membuat seseorang lebih disukai orang lain. Alasannya adalah karena dia lebih dianggap sehat, “subur”, dan kuat sehingga orang lain percaya padanya. Yang jelas, salah satu capres AS (kalau tak salah Ronald Reagan) dianggap menang pemilu karena lawannya tak sudi di make-up saat akan debat di TV nasional, sehingga wajah lawannya itu terlihat berminyak di hadapan seluruh rakyat AS.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Terlihat” Dewasa&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;John Edwards tak mendapat dukungan dari rekan-rekannya sesama kader partai Demokrat saat akan maju jadi presiden. Padahal dia tinggi (tepat 1,8 meter) dan ganteng. Alasannya adalah, dia terlihat terlalu &lt;i style=""&gt;baby face&lt;/i&gt;. Ternyata, penampilannya yang sangat anak muda tersebut membuat orang percaya kalau sifat-sifat dia masih seperti anak muda (dapat dipercaya, jujur, tapi submisif dan naif).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ternyata penampilan juga punya andil, ya? Iyalah, mana ada masyarakat yang mau dipimpin oleh orang yang terlihat kayak anak muda yang masih suka hura-hura (walau pun saat ini sudah terjadi, presiden Madagascar baru berusia 34 tahun dan mantan DJ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalau begitu, apakah ketiga faktor ini akan dapat memprediksi hasil pemilu presiden nanti? Coba anda buat sendiri daftar tinggi badan, kegantengan, dan “kedewasaan” capres yang akan maju dan lihat hasilnya. (Dion)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Sumber:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;- Social Psychology (11th edition) karya Baron, Byrne, dan Branscombe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;- Artikel di majalah Bobo yang pernah dibaca penulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;- Film dokumenter “Face: Beauty” produksi BBC&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;- Gambar: SBY &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.e-sailings.com/"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;(www.e-sailings.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:85%;"&gt;), JK (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.indonesiamatters.com/"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;www.indonesiamatters.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:85%;"&gt;),  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Megawati (portal.1und1.de), &lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:85%;"&gt;HNW &lt;a href="http://www.detiknews.com/"&gt;(www.detiknews.com&lt;/a&gt;), Prabowo (www.cbc.ca), Wiranto&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (news.bbc.co.uk), SHB ( www.flickr.com), Sutiyoso (www.tempointeractive.com)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;- www.nomoreodor.com&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-3743206738428746119?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/nzUXaRafRMU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/nzUXaRafRMU/siapakah-kira-kira-presiden-kita-nanti.html</link><author>ramaximus_dionius@yahoo.com (Dion Dan Dunia)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_TjNR9dcomrs/Sd-JJu7Lj_I/AAAAAAAAAC0/9HLm7XD_ep4/s72-c/d2746213a6f8879e.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/04/siapakah-kira-kira-presiden-kita-nanti.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-5119193971891655086</guid><pubDate>Fri, 10 Apr 2009 09:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-10T03:17:15.957-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lucifer effect</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kepahlawanan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">abu ghraib</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Philip Zimbardo</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">heroism</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi</category><title>Mempertimbangkan Kepahlawanan Dalam Diri Kita</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/Sd8canS1gxI/AAAAAAAAAQ0/vTzJF3dtPwI/s1600-h/lucifer-effect-cover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/Sd8canS1gxI/AAAAAAAAAQ0/vTzJF3dtPwI/s200/lucifer-effect-cover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323004528125379346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Philip Zimbardo, dalam penelitiannya tentang mengapa orang baik dapat berubah menjadi jahat dan sebaliknya, menemukan bahwa ada dua faktor utama yang mendasari hal tersebut, yakni:&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;1. Disposisi (dapat dikatakan sebagai kepribadian bawaan seseorang)&lt;br /&gt;2. Situasi (situasi tertentu dapat membuat orang menjadi jahat atau baik)&lt;br /&gt;3. Sistem  (Politik, ekonomi, dll yang menciptakan suatu situasi yang dialami orang-orang)&lt;br /&gt;Dari ketiga hal tersebut, peneliti psikologi terdahulu masih yakin bahwa seseorang memiliki sifat jahat dikarenakan mereka memang memiliki 'bibit' jahat sedari lahir. Namun Zimbardo menemukan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia menemukan bahwa faktor lingkunganlah yang lebih besar dalam membuat seseorang menjadi jahat. Pada tahun 1970an, ia melakukan eksperimen yang berisiko besar mengenai hal tersebut, yaitu "Stanford Prison Experiment".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam eksperimen ini, ia meminta bantuan sukarelawan untuk rela bermain peran sebagai sipir penjara dan narapidananya untuk 2 minggu penuh.  Penelitian ini melibatkan orang-orang yang sama sekali tidak punya sejarah masuk penjara atau melakukan tindak kriminal apapun, dapat dikatakan bahwa mereka semua orang baik-baik. Dari awal penelitian, mereka betul-betul diskenariokan sebagai narapidana, mulai dari dijemput di rumah masing-masing dengan mobil polisi dan borgol dari polisi, hingga aturan-aturan di penjara simulasi yang terletak di ruang bawah tanah Universitas Stanford. Hari-hari pertama penelitian  berlangsung sesuai perkiraan, namun pada beberapa hari setelah itu, ada kejadian-kejadian di luar dugaan. Para sipir mulai bertindak di luar instruksi dengan alasan 'mendidik' para napi yang tidak disiplin, diikuti dengan reaksi melawan dari napi. Bahkan ada salah satu napi yang sampai tantrum dan akhirnya harus dikeluarkan dari penelitian karena khawatir akan mendapati efek negatif dari eksperimen tersebut. Karena kekacauan yang terus menerus terjadi, penelitian tersebut diakhiri hanya dalam waktu seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian tersebut, Zimbardo menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan adalah faktor yang sangat kuat dan dominan dalam mengubah seseorang dari baik menjadi jahat ataupun sebaliknya (penemuan yang menentang teori lama bahwa disposisi (kepribadian) seseorang merupakan hal yang dominan dalam merubah tingkah laku seseorang. Dan dari penelitiannya, Zimbardo menawarkan solusi, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Heroism&lt;/span&gt; atau 'kepahlawanan' untuk melawan bobroknya sistem dan situasi yang dihasilkan demi kebaikan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepahlawanan yang dimaksud bukanlah pahlawan dalam artian Superman atau hal-hal yang mencengangkan lainnya. Yang dimaksud dengan kepahlawanan adalah kepahlawanan dalam artian berani menentang sistem yang buruk dan fokus pada pemecahan situasi yang buruk menjadi baik dengan menjadi sedikit 'devian' atau berbeda dari orang lain. Zimbardo mencontohkan bahwa dalam kasus penjara &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Ghraib_torture_and_prisoner_abuse"&gt;Abu Ghraib&lt;/a&gt;, ada seseorang yang berani mengungkap perlakuan para sipir yang tidak manusia di sana kepada media, yaitu &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Darby"&gt;Joe Darby&lt;/a&gt;. Ia berani menanggung ancaman-ancaman teror hanya untuk melakukan 'apa yang seharusnya ia lakukan'. Dan itulah yang disebut dengan kepahlawanan oleh Zimbardo yang ia tuangkan dalam bukunya, &lt;a href="http://www.amazon.com/Lucifer-Effect-Understanding-Good-People/dp/1400064112"&gt;"The Lucifer Effect"&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="padding-left: 0px; display: none;" ontop="true"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 0px; display: none;" ontop="true"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-left: 0px; display: none;" ontop="true"&gt;&lt;/div&gt;&lt;object width="560" height="340"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/OsFEV35tWsg&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/OsFEV35tWsg&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="340"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Philip Zimbardo dalam Ted.com menjelaskan tentang penelitiannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bila berkaca pada keadaan negeri kita, dimana banyak pelanggar lalu lintas dan pelanggar hak-hak asasi manusia di depan mata kita, seharusnya kita malu dan kembali berpikir untuk melakukan tindak kepahlawanan. Seperti slogan yang selalu dikatakan oleh teman saya, &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;"Everyone could be a hero, no matter what". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk lebih lengkap, dapat kunjungi website resmi &lt;a href="http://www.lucifereffect.com/"&gt;Lucifer Effect&lt;/a&gt;. (Khrisnaresa)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-5119193971891655086?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/lgBlUrZ4yTE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/lgBlUrZ4yTE/mempertimbangkan-kepahlawanan-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Khrisnaresa Adytia)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/Sd8canS1gxI/AAAAAAAAAQ0/vTzJF3dtPwI/s72-c/lucifer-effect-cover.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/04/mempertimbangkan-kepahlawanan-dalam.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-3354401000628703646</guid><pubDate>Thu, 26 Mar 2009 03:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-25T20:58:15.698-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">spiritual</category><title>Ateisme Atau Skeptisisme?</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;Waktu menghadiri LGBT &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anonymous - &lt;/span&gt;hehehe, bukan deng, tapi hanya salah satu acara LGBT yang mengadakan nonton film Milk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;-&lt;/span&gt; seorang pembicaranya berkata, "Saya ini agnostik". FYI, acara diadakan di Gereja Kristen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan sang pembicara mengingatkan kepada para ateis dadakan yang waktu dulu sempat jadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;trend &lt;/span&gt;di antara teman-teman saya yang saya yakin bahwa mereka menjadi ateis bukan karena landasan teori hasil kontemplasi, melainkan hanya ikutan, biar keren enggak punya Tuhan, atau biar disangka pintar, biar disangka pemikir atau calon filsuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya untuk jadi seorang pemikir atau filsuf, harus ateis dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lebih tepatnya itu skeptis. Bagi saya skeptis itu wajar. Manusia memiliki indera yang ditakdirkan untuk melihat benda konkrit. Benda abstrak hanya bisa dilihat melalui keyakinan dan pemahaman. Bertanya tentang apa yang menjadi agamanya itu wajar - apalagi agama sudah didogma pada manusia sedari kecil, oleh karena itu saya pernah meragukan ajaran agama saya dan saya bertanya kepada orang-orang. Namun sayang reaksi yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya langsung di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;judge &lt;/span&gt;tidak boleh ragu, dipandang sebelah mata oleh kakak kelas agamis dengan jawabannya, "Kenapa harus bertanya tentang Tuhan sih? Kenapa kamu tidak ikuti skenarionya saja?". Itu melarang hak manusia untuk berpikir, namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, yang sedari kecil sudah diberi agama Islam dan tidak diberi kesempatan untuk memilih agama, bertanya apakah perasaan takut pada Tuhan memang berasal dari keyakinan saya atau dari didikan yang sudah membudaya? Lalu bagaimana jika agama itu ternyata tidak ada, sengaja dibuat untuk mengendalikan hidup manusia yang kelewat bebas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya belajar filsafat, banyak tanggapan bahwa filsafat itu membuat orang ateis. Setelah membaca, ternyata beberapa tokoh seperti Nietzsche, Camus, Sartre, dan lainnya itu ateis. Karena saya berada di ranah psikologi, mari kita melihat sisi ateis melalui Sigmund Freud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freud melihat agama itu infantil, seperti anak kecil yang ingin menyelesaikan masalah nyata dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wishful thinking&lt;/span&gt;. Manusia jadi mengharapkan keselamatan secara pasif dari Tuhan daripada mencari jalan untuk mengusahakannya sendiri dan mengembangkan potensinya. Manusia jadi mengharapkan sebuah penyelamat yang memang tidak pernah ada. Parahnya, ini dialami oleh semua orang, sehingga Freud menyebutnya dengan neurosis kolektif. Neurosis adalah dasar teori Freud. Neurosis terjadi apabila orang bereaksi tidak adekuat atas suatu pengalaman yang amat emosional. Misalnya seorang perempuan yang dengan sengaja menghilangkan ingatan akibat pemerkosaan yang pernah dialaminya. Tanpa ia sadari, konflik emosional itu dimunculkan melalui perilaku yang seperti tidak ada hubungannya. Misalnya perilaku obsesif kompulsif - terus-terusan mencuci tangan dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akur dengan Nietzsche yang berpendapat bahwa agama hanyalah belenggu "manusia super", Freud beranggapan agama menggagalkan kemungkinan manusia untuk mengembangkan diri dan untuk mencapai tingkat kebahagiaan yang sebenarnya dapat saja tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat, kan, bedanya yang mana skeptis dan ateis. Apalagi ateis nge-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;trend&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saya bertemu dengan kakak kelas saya, mungkin saya akan menjelaskan bahwa dalam agama, terdapat dimensi intelektual. Bukan untuk merasionalkan agama (karena yang rasional namanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;science&lt;/span&gt;) tetapi untuk bertanya tentang apa yang dianutnya. Bagi saya, totalitas orang beragama bukan hanya menganut apa yang diturunkan orang tua, tetapi mendalaminya dengan pertanyaan. Dan bagi saya, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang berasal dari keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com"&gt;Nia&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-3354401000628703646?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/pBlMsa49Vf8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/pBlMsa49Vf8/ateisme-atau-skeptisisme.html</link><author>niawmiaw@yahoo.com (Nia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/03/ateisme-atau-skeptisisme.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-5186722500249585306</guid><pubDate>Sun, 22 Mar 2009 04:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-21T21:33:59.180-07:00</atom:updated><title>Vital</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Banyak manusia yang dipenjara gara-gara urusan "bawahan": memperkosa, mencabuli, melecehkan, menghamili anak sendiri, menikah dengan anak kecil, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;incest&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, pedofilia, kedapatan memperbanyak video dewasa di internet, dan lainnya. Saya takjub karena sebesar apa sih dorongan seksual seseorang sehingga bisa membawa diri mereka sendiri menderita pada akhirnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dua berita yang saya baca beberapa hari yang lalu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1. Kepala sekolah melecehkan muridnya dengan menyuruh si murid melepas semua bajunya hanya karena si murid terlambat. Seharusnya si kepala sekolah bisa berpikir bahwa andai saja ia menahan nafsunya, ia tidak akan dipecat dari jabatannya, mencoreng namanya sendiri, dan masuk televisi dengan muka disamarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2. Selanjutnya berita yang merefleksikan betapa tidak manusiawinya manusia gara-gara urusan bawahan yang saya dapat dari &lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" href="http://cnn.ch/2009/WORLD/europe/03/16/austria.incest.trial.fritzl/index.html"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i2.cdn.turner.com/cnn/2009/WORLD/europe/03/16/austria.incest.trial.fritzl/art.austria.fritzl.arrives.court.apa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 292px; height: 219px;" src="http://i2.cdn.turner.com/cnn/2009/WORLD/europe/03/16/austria.incest.trial.fritzl/art.austria.fritzl.arrives.court.apa.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;b&gt;ST. POELTEN, Austria (CNN) &lt;/b&gt; -- A verdict in the case of Josef Fritzl, the Austrian man accused of keeping his daughter in a cellar for decades and fathering her seven children, could come as early as Thursday, a court official told reporters Monday. As his trial began behind closed doors Monday Fritzl pleaded guilty to incest and other charges, but denied charges of murder and enslavement -- the most serious charges against him. Fritzl arrived at the courthouse in St. Poelten covering his face with a blue binder to shield himself from reporters, television cameras and photographers and escorted by a phalanx of police officers.&lt;br /&gt;&lt;p&gt; Fritzl was charged in November with &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;incest &lt;/span&gt;and &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;the repeated rape of his daughter&lt;/span&gt;, Elisabeth, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;over a 24-year&lt;/span&gt; period.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; But he was also charged with the &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;murder &lt;/span&gt;of one of the children he fathered with her, an infant who died soon after birth. State Prosecutor Gerhard Sedlacek said Michael Fritzl died from lack of medical care.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; In all, Fritzl is charged with: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;murder, involvement in slave trade (slavery), rape, incest, assault and deprivation of liberty&lt;/span&gt;, Sedlacek's office said. He could face a maximum sentence of life in prison if convicted of murder. Mayer said Sunday that Fritzl expected to spend the rest of his life in prison.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; "This man obviously led a double life for 24 years. He had a wife and had seven kids with her. And then he had another family with his daughter, fathered another seven children with her," said Franz Polzer, a police officer in Amstetten, the town where Fritzl lived, at the time of his arrest.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; The case first came to light in April 2008 when Elisabeth's daughter, Kerstin, became seriously ill with convulsions.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Elisabeth persuaded her father to allow Kerstin, then 19, to be taken to a hospital for treatment.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Hospital staff became suspicious of the case and alerted police, who discovered the family members in the cellar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;a href="http://topics.cnn.com/topics/josef_fritzl" class="cnnInlineTopic"&gt;Fritzl&lt;/a&gt; confessed to police that he raped his daughter, kept her and their children in captivity and &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;burned the body of the dead infant in an oven in the house&lt;/span&gt;. Elisabeth told police the infant was one of twins who died a few days after birth.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; When Elisabeth gained her freedom, she told police her father began sexually abusing her at age 11. On August 8, 1984, she told police, her father enticed her into the basement, where he drugged her, put her in handcuffs and locked her in a room.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Fritzl explained Elisabeth's disappearance in 1984 by saying the girl, who was then 18, had run away from home. He backed up the story with letters he forced Elisabeth to write.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Hehe, gila ya?&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bagaimana bisa seorang bapak memiliki nafsu kepada darah dagingnya sendiri? Ya tentu bisa, sudah banyak kok kejadian seperti ini. Namun saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Elisabeth diperkosa ratusan kali selama 24 tahun sampai melahirkan anak dalam keadaan disekap. Pasti ia tidak tahu rasanya bersenang-senang dengan orang lain seusianya, merasakan enaknya udara pagi, atau membentuk keluarga sendiri. Pasti dunianya luluh lantak!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Betul kata Sigmund Freud bahwa manusia hanya urusan seks dan agresi. Yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan menyerap nilai-nilai yang diajarkan orang tua dan lingkungan. Namun jika sudah seperti ini, apa bedanya manusia dengan binatang?&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;(&lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com"&gt;Nia&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-5186722500249585306?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/3PghiCt6GQc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/3PghiCt6GQc/vital.html</link><author>niawmiaw@yahoo.com (Nia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/03/vital.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-7733992641433439084</guid><pubDate>Mon, 02 Mar 2009 19:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-02T11:52:48.779-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ekspresi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wajah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">grimace project</category><title>Atur Ekspresi Wajah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/Saw4TpMYIDI/AAAAAAAAAMI/cuCV7zOKOz0/s1600-h/Picture+2.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 353px; height: 190px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/Saw4TpMYIDI/AAAAAAAAAMI/cuCV7zOKOz0/s400/Picture+2.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308679970889408562" /&gt;&lt;/a&gt;Vienna University of Technology mempunyai project "Grimace", yaitu suatu generator pembuat ekspresi wajah pada model wajah yang disediakan berdasarkan emosi. Silahkan berkunjung ke website &lt;a href="http://grimace-project.net/"&gt;ini&lt;/a&gt; untuk mencoba.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-7733992641433439084?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/GuyTOSwq0pA" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/GuyTOSwq0pA/atur-ekspresi-wajah.html</link><author>noreply@blogger.com (Khrisnaresa Adytia)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/Saw4TpMYIDI/AAAAAAAAAMI/cuCV7zOKOz0/s72-c/Picture+2.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/03/atur-ekspresi-wajah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-3224148370228773246</guid><pubDate>Fri, 27 Feb 2009 04:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-26T20:46:50.596-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nasionalisme</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">review buku</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kepribadian</category><title>Manusia Indonesia Kini ala Mochtar Lubis</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Kj6WPNPnkrI/SadtVrLb6vI/AAAAAAAAACY/mDhgGqMnNdQ/s1600-h/Manusia+Indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Kj6WPNPnkrI/SadtVrLb6vI/AAAAAAAAACY/mDhgGqMnNdQ/s320/Manusia+Indonesia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307330905014790898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku Manusia Indonesia adalah sebuah buku yang diangkat dari ceramah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mochtar_Lubis"&gt;Mochtar Lubis&lt;/a&gt; di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tanggal 6 April 1977. didalamnya menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, dikatakan dalam 6 buah sifat yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Di Indonesia nama Mochtar Lubis telah dikenal sebagai seorang  pengarang dan jurnalis. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Serta beliau sering kali mendapat penghargaan atas karya-karya tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala tuduhan yang dijadikan oleh Mochtar Lubis pada dasarnya hanyalah merupakan sebuah stereotip tentang keadaan manusia Indonesia yang tergeneralisasi. Namun stereotip itu sendiri tidaklah seluruhnya benar dan juga tidak seluruhnya salah. Stereotip terbentuk dari adanya pengalaman dan juga pengamatan sehingga melekat pada manusia Indonesia, walau dalam sisi tidak benarnya, stereotip diperkuat oleh prasangka dan juga generalisasi. Buku ini sudah ada sejak tahun 1977, namun kenapa ketika penulis membaca dan mengamati ternyata isinya sungguh cukup relevan dengan keadaan lingkungan masyarakat Indonesia saat ini. Padahal Muchtar Lubis sendiri juga mengatakan dalam tanggapan atas tanggapan dalam buku ini tentang subjektifitas dalam pemikirannya, setelah menerima kritik dan masukkan dari bapak psikologi Indonesia, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sarlito_Wirawan_Sarwono"&gt;Sarlito Wirawan&lt;/a&gt;, tentang tidak bisanya menggeneralisasi penduduk Indonesia yang pada dasarnya bersifat majemuk dari berbagai aspek. Ditambahkan lagi oleh Sarlito Wirawan bahwa profil kepribadian tentang manusia Indonesia yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis hanya didasari pengamatan-pengamatannya sendiri tanpa didasari oleh data-data objektif yang demikian segala tuduhan itu tidak memberi gambaran persis berapa persen sebenarnya dari manusia Indonesia yang dimaksud oleh Mochtar Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri manusia Indonesia yang pertama menurut Mochtar Lubis adalah munafik atau hipokritis Dalam ciri yang pertama ini dijelaskan bahwa kemunafikan merupakan sifat manusia Indonesia sebagai contoh, negara kita dipimpin oleh manusia-manusia beragama yang memakai simbol-simbol agama entah itu pada nama (seperti gelar) atau aksesoris pakaian, namun coba diperhatikan bahwa masih ditemukan tempat-tempat prostitusi baik itu didalam kota maupun diluar kota, dan yang parahnya lagi mereka tumbuh subur bagai jamur. Pidato-pidato tentang kebajikan dan kebijaksanaan ada dimana-mana, diucapkan dan didengarkan, namun korupsi masih saja merajalela. Manusia Indonesia juga terkenal bersikap alim hanya dilingkungannya sendiri, jika sudah datang keluar negeri maka mereka akan segera mencari kepuasan seperti pergi ke-nightclub dan prostitusi. Manusia-manusia memakai topeng dengan tujuan mencari selamat sendiri, memakai prinsip terhadap atasan dengan sikap ABS (asal bapak senang), penggunaan kata bapak yang menurut Mochtar Lubis bukanlah kata panggilan yang cocok kepada atasan dikarenakan yang memanggil bapak pastilah anak dan anak berada dibawah kuasa bapak yang berkuasa penuh.  Yang demikian tadi adalah yang ada pada jaman Mochtar Lubis yaitu 1977 kebelakang, dan kini mari coba kita bandingkan dengan keadaan bangsa Indonesia kini. Rasa-rasanya pada sebagian titik tidaklah berubah seperti korupsi sepertinya baru beberapa tahun terakhir ini saja gencar dilakukan berarti kira-kira sudah lama juga bangsa ini terbelit masalah korupsi pada para pengurus negaranya. Mungkin yang kini berbeda adalah keberadaan klab malam di Indonesia sudah berstandar Internasional sehingga para pengunjung sudah tidak perlu lagi lari keluar negeri untuk menikmati semua fasilitas hedonis itu. Kemunafikan pada manusia Indonesia ternyata pada masa sekarang sudah merambak pada berbagai macam aspek, banyak sekali kalau kita perhatikan mulut-mulut manis yang mengumbar janji, mengatakan yang kebalikan dari apa yang akan dilaksanakan, topeng-topeng kepalsuan, bagai penebar kebaikan pada tampak luar yang berhati busuk dan berwatak yang buruk didalamnya. Sama seperti milik Mochtar Lubis semua ini hanyalah stereotip, benarkah atau tidak benarkah semua hanyalah tuduhan tapi beralasan. Yang jelas dalam masyarakat kita sekarang masih ada juga mereka-mereka yang tidak bersifat munafik, mereka yang tidak hipokrisi dan masih ada mereka yang baik secara luar dan dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada ciri yang kedua adalah enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, kata “bukan saya” merupakan suatu kata penyelamat dalam menghadapi sesuatu yang tidak baik atau berakibat buruk. Lepas dari tanggung jawab dengan mengatakan “saya hanya melaksanakan tugas dari atasan” merupakan pembelaan paling ampuh dari suatu kesalahan yang dilakukan. dalam Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebutkan korupsi yang ada di Pertamina sebagai contoh nyata, dimana pada saat itu ratusan juta dollar uang negara dikorupsi, belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh jajaran Pertamina mulai dari Presiden Direktur hingga ke lapisan bawah, namun tidak seorangpun yang dituntut. Kalau dilihat berarti kebobrokan dalam tubuh Pertamina sudah berlangsung sekian lama, sampai beberapa waktu lalu semua terbongkar, walau belum tuntas. 30 tahun lebih berarti memang Pertamina menjalankan semua praktek kotornya. Selain itu manusia Indonesia jika menerima sesuatu yang bersifat mengangangkat derajatnya seperti penghargaan dan pujian maka akan langsung diterima, walau mungkin salah sasaran dalam pemberiannya. Manusia Indonesia menurut yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tidak akan sungkan-sungkan untuk tampil kedepan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Dari ciri yang kedua ini memang sudah sangat menyedihkan apa yang terjadi pada masa tahun 1977 kebelakang tersebut. namun jika penulis samakan dengan masa tahun 2009, sepertinya kenyataan ini masih tidak berubah. Lihat saja para pelaku korupsi yang saling salah-menyalahkan, tidak mau mengaku dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak-pihak lain, sampai akhirnya diketahui bahwa korupsi yang terjadi berjalan secara “Berjamaah”, begitulah kiranya ditulis dalam beberapa koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri yang ketiga adalah jiwa Feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan dalamnya bahwa nilai-nilai Feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah, terjadi revolusi kemerdekaan yang sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif dikarenakan seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka adalah benar dalam setiap tindakannya, ketidak bolehan dalam menyangkal walau itu salah sekalipun merupakan salah satu keburukan dari feodalisme, selain itu juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain. seperti yang ada dalam jaman sekarang dimana seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan karena alasan yang benar, merupakan suatu bentuk dari feodalisme, tidak didengarnya suara mereka yang ada dibawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Hanya saja kerajaan yang dimaksud sudah bukan raja lagi sebagai pemimpin namun raja-raja tersebut sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur dan lainnya. Nyata sekali bahwa feodalisme menghambat proses perkembangan manusia dikarenakan tidak sampainnya kritik terhadap pemimpin dikarenakan 2 hal yaitu bawahan yang segan dalam melakukannya dan pemimpin yang tidak mau mendengar suara dari bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri keempat adalah Manusia Indonesia masih percaya takhayul, sepertinya sudah berlangsung lama semua ini, tak perlu dipertanyakan lagi tentang apa yang terjadi pada masa 1977 kebelakang tersebut. coba saja lihat keadaan sekarang, siaran tv menampilkan segala macam sihir, kuntilanak, jailangkung, pocong, genderuwo, dan aksi dukun-men-dukun. Belum lagi ditambah film-film bioskop yang menampilkan segala macam judul berbau setan dan makhluk halus, dan film-film layar lebar tersebut dibuat atas dasar adanya permintaan pasar terhadap jenis film misteri horor. Yang terbaru dari takhayul ini adalah kisah dukun-dukun cilik yang dapat menyembuhkan sembarang penyakit, mereka kedapatan pasien sampai puluhan ribu orang dalam sehari. Sungguh mengejutkan memang dalam keadaan dunia yang sudah modern dan dikuasai oleh iptek seperti ini masih ada mereka yang mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin dijelaskan oleh rasio. Kepercayaan terhadap segala macam keramat-keramat juga masih ada di Indonesia, dan para pelakunya juga sebagian adalah manusia-manusia berijazah yang dikatakan berpendidikan itu. Namun dalam tanggapannya penulis setuju dengan Sarlito Wirawan, yang mengatakan dalam taggapan terhadap ceramah Mochtar Lubis, bahwa mengenai mitos dan mistik bukanlah monopoli manusia Indonesia semata, melainkan suatu sifat hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman (security need). Selama manusia masih belum bisa mengatasi bahaya-bahaya dan ancaman-ancaman dengan dengan kemapuan dan ilmu penghetahuannya sendiri, selama itu manusia masih akan mencari pelindung terhadap mitos dan mistik. Dalam hal manusia Indonesia Sarlito Wirawan mengatakan bahwa gejala mitos dan mistik ini lebih banyak terdapat di kalangan “angkatan tua”. Dikarenakan mereka tidak menerima pendidikan yang layak, namun karena jasa-jasanya pada masa revolusi maka mereka harus mengisi kedudukan penting dalam pemerintahan. Dengan sendirinya kemampuan dan ilmu yang mereka milik belumlah cukup untuk memegang jabatan itu dan mereka masih merasa kurang “secure” dalam memegang jabatan mereka itu, maka larilah mereka kepada praktek-praktek perdukunan dan mistik. Dikalangan angkatan yang lebih muda seperti para sarjana atau mahasiswa, terlihat bahwa praktek-praktek mistik sudah jauh berkurang, meskipun belum dapat dikatakan sudah hilang sama sekali. Sarlito Wirawan yakin dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dinegara kita, maka mitos dan mistik pun akan makin berkurang, demikianlah apa yang dikatakan oleh Sarlito Wirawan dalam tanggapannya terhadap manusia Indonesia ala Mochtar Lubis. Tapi sepertinya pernyataan dari Sarlito Wirawan tampaknya meleset, kenyataannya di Indonesia hal mistik malah semkin merebak dari hari-ke-hari, hal ini ditunjukkan dengan munculnya klinik-klinik “spiritual healing” (yang bagi penulis hal ini merupakan suat modernisasi dari praktek perdukunan dengan menggunakan bahasa inggris dengan nama “spritual healing”). Ditambah lagi ilmu psikologi kini memiliki mazhabnya yang keempat yaitu psikologi transpersonal yang didalamnya membahas dimensi sprirtual manusia termasuk hal-hal mistik. Namun dalam satu sisi memang benar kegemaran terhadap mistisme ini bukanlah sekedar monopoli dari manusia Indonesia saja melainkan juga pada masyarakat barat dengan film-film berbau exorcism, vampir, dracula, zombi, sihir-sihir seperti Harry Potter dan lain sebagainya. Nampaknya mungkin semua manusia sudah mulai tidak rasional lagi, dan menikmati hal tersebut, yang dimungkinkan terjadi karena semakin sedikitnya rasa aman yang dapat dimiliki pada jaman sekarang ini pada sebagian masyarakat yng mengakibatkan mengambil jalan irasional untuk mendapatkan kebutuhannya akan rasa aman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri kelima dari manusia Indonesia adalah artistik, berjiwa seni, hal ini memang sudah dapat terlihat dari kayanya budaya daerah yang ada di Indonesia yang dalam tiap-tiap daerahnya memiliki keseniannya masing-masing. Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan, dengan demikian maka masyarakat Indonesia memang memiliki jiwa berkarya dan mencintai keindahan. Belum lagi ditemukan peninggalan-peninggalan bangunan kuno, seperti candi-candi yang menakjubkan, menandakan bahwa manusia Indonesia memiliki peradabannya sendiri. bahkan dimasa sekarang ini musik Indonesia dikabarkan telah “menjajah” negeri tetangganya Malaysia, dengan adanya suatu bentuk pemboikotan terhadap radio swasta di Malaysia, dikarenakan lebih sering memutar lagu artis dari Indonesia dibandingkan lagu dari artis lokalnya sendiri. selain itu banyak juga hasil karya asli anak bangsa yang sudah diekspor keluar negeri dan kebanyakan dari hal itu adalah karya-karya kesenian. Jadi kalau masalah seni bangsa ini tidak perlu takut, selama masih ada generasi penerus yang mau mempertahankannya maka kesenian tradisional ini akan selalu terjaga kelestariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri yang keenam adalah memiliki watak dan karakter yang lemah. Tidak kuatnya manusia Indonesia dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya merupakan bahasan yang menjadi inti ciri keenam manusia Indonesia. Mochtar Lubis mengatakan hal ini ditandai dengan adanya pelacuran-pelacuran Intelektual dalam banyak bidang. Pelacuran intelektual sebagai contohnya adalah manipulasi hasil yang ditujukan agar dapat mempertahankan suatu penguasa lain, seperti seseorang ahli pangan mengatakan bahwa tidak berbahaya menggunakan suatu produk dari produsen tertentu, padahal produk yang dijual mengandung zat yang berbahaya bagi pengkonsumsi, namun karena sudah diberikan upah, maka ahli tersebut menutupi kenyataan dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah pada produk tersebut, sehingga dikatakan sebagai pelacuran intelektual. Yang terjadi kini dalam pemerintahan adalah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bersifat menyengsarakan rakyat, para ahli yang bersangkutan pada bidangnya masing-masing tidak melakukan apa-apa walaupun tahu pada kenyatannya bahwa kebijakan yang ada itu salah, sehingga para ahli itu dapat dikatakan sebagai pelacur intelek. Tidak kuatnya seseorang dalam mempertahankan kebenaran akan membawa keburukan bagi masyarakat luas, dikerenakan tanpa kebenaran maka yang terjadi adalah pembolak-balikkan yang menuju pada ketidak jelasan, sehingga yang terjadi adalah bergesernya nilai-nilai dalam masyarakat kearah yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam ciri ini memang berkesan menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun dengan ini semua diharapkan tidak menjadi suatu bentuk kebencian terhadap bangsa sendiri, melainkan sebagai cermin dalam bertindak. Walau semua penjabaran Mochtar Lubis adalah subjektif dan tidak mewakili, namun sepertinya kalau dipikirkan ada kebenaran dalam pengamatan yang telah ia lakukan. Menurut &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/21/00524966/masa.depan.manusia.indonesia-nya.mochtar.lubis"&gt;ST Sularto (dalam Kompas)&lt;/a&gt; pernah ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali ”manusia Indonesia”, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan. Makin parah. Andaikan permintaan itu disampaikan kembali, di saat Mochtar Lubis sudah tiada (meninggal 2 Juli 2004), niscaya ia menangis di alam baka. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang kerdil, bukan bangsa yang lemah, namun bangsa yang belum menunjukkan taringnya kepada dunia. Diharapkan pada masa yang akan datang manusia Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain, walau sekarang sudah demikian adanya namun rasanya masih ada sebagian dari manusia-manusia Indonesia yang tidak merasakan hal yang sama. Semoga dari tulisan yang jauh dari sempurna dan membutuhkan banyak kritik ini dapat menjadi masukkan bagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;a href="http://odllirama.blogspot.com/"&gt;Amarilldo&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-3224148370228773246?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/A1fxLpXRiW0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/A1fxLpXRiW0/manusia-indonesia-kini-ala-mochtar.html</link><author>noreply@blogger.com (Amarilldo)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_Kj6WPNPnkrI/SadtVrLb6vI/AAAAAAAAACY/mDhgGqMnNdQ/s72-c/Manusia+Indonesia.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/02/manusia-indonesia-kini-ala-mochtar.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-6326016480837929054</guid><pubDate>Tue, 24 Feb 2009 13:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-24T06:13:23.931-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bedah film</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">homoseksual</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">review film</category><title>Milk (2008)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.wilderoastcafe.com/blog/wp-content/uploads/2008/11/MilkMovie.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 325px; height: 225px;" src="http://www.wilderoastcafe.com/blog/wp-content/uploads/2008/11/MilkMovie.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Senin malam, saya nonton film Milk di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Film Milk - yang aktor utamanya, Sean Penn, mendapatkan penghargaan aktor terbaik di Oscar - menceritakan tentang seorang tokoh Harvey Milk sebagai orang aktivis yang berjuang untuk mendapatkan persamaan hak kaum homoseksual. Tidak hanya bercerita tentang karirnya saja, tapi film ini menceritakan tentang kehidupan pribadi seorang Harvey Milk.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Harvey Milk (Sean Penn) adalah seseorang pekerja New York yang pada usia 40, ia memutuskan untuk &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;out of closet&lt;/span&gt; (membuka diri mengenai status homoseksual), pindah ke San Fransisco pada tahun 1972 bersama pacarnya yang bernama Scott Smith (James Franco), dan membuka bisnis. Semula membuat komunitas kemudian menjadi kandidat politik untuk San Francisco City Supervisior pada tahun 1977. Ia menjadi gay pertama yang mengikuti pemilihan umum di California.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'Times New Roman';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Untuk mencapai kursi pemerintahan tentu tidak mudah karena Harvey Milk harus melewati pandangan miring mengenai homoseksual dari masyarakat dan terutama para saingannya, salah satunya Dan White. Digambarkan diskriminasi pada tahun 1977 bahwa homoseksual di-satu-kluster-kan dengan prostitusi, sering &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;clash &lt;/span&gt;dengan polisi, dan sulit mendapatkan pekerjaan. Dengan dukungan dari teman-temannya dan kepiawaiannya berpidato, Harvey Milk mendapat simpati banyak orang.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Saya menonton film ini bersama Q-munity. Q-munity adalah komunitas untuk orang-orang yang &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;concern &lt;/span&gt;dengan masalah LGBT. Setelah menonton film ini, dua perwakilan dari Q-munity yang bernama Egi dan Fitri menjelaskan secara singkat tentang sejarah terbentuknya pergerakan homoseksual di Amerika dan mengajak peserta festival film untuk berdiskusi mengenai film dan tema homoseksual itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Seorang perempuan bertanya masalah sensitif mengenai pandangan agama yang menganggap homoseksual itu sebuah dosa. Fitri menjawab, " Saya jadi ingat ketika teman saya meluncurkan sebuah buku tentang homoseksual. Ada seorang laki-laki yang sangat tidak setuju dengan homoseksual di negara yang mayoritas muslim ini. Lantas moderator dari peluncuran buku tersebut menjawab, '&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Jika mayoritas negara ini adalah muslim, maka kami adalah muslim&lt;/span&gt;'". Saya menyimpulkan bahwa mereka ingin dianggap sama seperti mayoritas dan tidak ingin dinilai berdasarkan agama. Simpulan saya di dalam hati ditanggapi oleh salah seorang peserta yang menurut saya bijak dengan berkata, "Semua manusia itu mulia di mata Tuhan dan konsep baik dan buruk disebabkan oleh pandangan orang lain. Apalagi manusia, secara psikologis, terlahir biseksual.". Kemudian saya menyimpulkan lagi, manusia tidak memiliki hak untuk menilai berdosa atau tidaknya seseorang.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Lalu ada orang lain yang bertanya, "Saya menganggap kalian biasa saja seperti orang lain, tapi mereka kalian membentuk sebuah komunitas yang seolah-olah menguatkan identitas kalian?"&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Saya percaya bahwa seseorang yang dilahirkan berbeda dengan orang lain (cacat secara mental atau fisik) atau mengalami sesuatu yang membuat mereka berbeda dengan orang lain (HIV/AIDS, misalnya) akan memiliki tahapan psikologis. Semula seseorang bisa merasa takut, mengucilkan diri, membuka diri secara terbatas, dan mencari orang lain yang senasib dengannya untuk berbagi rasa, pengenalan, mendapat kepercayaan, dan mendapatkan dukungan sosial. Tidak usah jauh-jauh ke kecacatan atau penyakit deh, misalnya seseorang memiliki hobi yang sama dengan orang lain, mereka akan membentuk suatu komunitas. Jadi, menurut saya, tanpa harus menjadi cacat, harus HIV/AIDS, bahkan homoseksual pun, manusia akan berkelompok atau membentuk komunitas.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Saya cukup takjub mendengar GKI memutar fim Milk dan mengundang komunitas LGBT. Bagi saya, walaupun buka skala nasional, itu adalah sebuah kemajuan bahwa seseorang yang memiliki nilai-nilai agama yang kuat pun mau menerima orang lain yang berbeda dengannya. Saya bukan menolak atau mengiyakan LGBT. Bagi saya yang terbaik adalah seseorang nyaman dengan dirinya dan tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain. Itu sudah cukup.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;"&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;If it were true that children mimicked their teachers, you'd sure have a hell of a lot more nuns running around&lt;/span&gt;" - Harvey Milk -&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;(&lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com/"&gt;Nia&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-6326016480837929054?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/1PxCDYfwtpY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/1PxCDYfwtpY/milk-2008.html</link><author>niawmiaw@yahoo.com (Nia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/02/milk-2008.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-4158403202762258416</guid><pubDate>Thu, 05 Feb 2009 11:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-16T00:27:12.586-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Freud</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">^Lora^</category><title>Anal Stage Freud dan Shopping!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_261KjguBrO0/RqgQ8E6Mm6I/AAAAAAAAAUU/Nzj_gO9Vwzg/s400/GreetedByShit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 257px; height: 257px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_261KjguBrO0/RqgQ8E6Mm6I/AAAAAAAAAUU/Nzj_gO9Vwzg/s400/GreetedByShit.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:donotoptimizeforbrowser/&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"MS Gothic";  panose-1:2 11 6 9 7 2 5 8 2 4;  mso-font-alt:"ＭＳ ゴシック";  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face  {font-family:Cambria;  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Verdana;  panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face  {font-family:"\@MS Gothic";  panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:128;  mso-generic-font-family:modern;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:fixed;  mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Cambria","serif";  mso-fareast-font-family:Cambria;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing  {mso-style-priority:99;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:2;  tab-stops:list .5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacingCxSpFirst, li.MsoNoSpacingCxSpFirst, div.MsoNoSpacingCxSpFirst  {mso-style-priority:99;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:2;  tab-stops:list .5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacingCxSpMiddle, li.MsoNoSpacingCxSpMiddle, div.MsoNoSpacingCxSpMiddle  {mso-style-priority:99;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:2;  tab-stops:list .5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacingCxSpLast, li.MsoNoSpacingCxSpLast, div.MsoNoSpacingCxSpLast  {mso-style-priority:99;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:2;  tab-stops:list .5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3, li.NoteLevel3, div.NoteLevel3  {mso-style-name:"Note Level 3";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:3;  tab-stops:list 1.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3CxSpFirst, li.NoteLevel3CxSpFirst, div.NoteLevel3CxSpFirst  {mso-style-name:"Note Level 3CxSpFirst";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:3;  tab-stops:list 1.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3CxSpMiddle, li.NoteLevel3CxSpMiddle, div.NoteLevel3CxSpMiddle  {mso-style-name:"Note Level 3CxSpMiddle";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:3;  tab-stops:list 1.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3CxSpLast, li.NoteLevel3CxSpLast, div.NoteLevel3CxSpLast  {mso-style-name:"Note Level 3CxSpLast";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:3;  tab-stops:list 1.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4, li.NoteLevel4, div.NoteLevel4  {mso-style-name:"Note Level 4";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:4;  tab-stops:list 1.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4CxSpFirst, li.NoteLevel4CxSpFirst, div.NoteLevel4CxSpFirst  {mso-style-name:"Note Level 4CxSpFirst";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:4;  tab-stops:list 1.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4CxSpMiddle, li.NoteLevel4CxSpMiddle, div.NoteLevel4CxSpMiddle  {mso-style-name:"Note Level 4CxSpMiddle";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:4;  tab-stops:list 1.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4CxSpLast, li.NoteLevel4CxSpLast, div.NoteLevel4CxSpLast  {mso-style-name:"Note Level 4CxSpLast";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:1.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:4;  tab-stops:list 1.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5, li.NoteLevel5, div.NoteLevel5  {mso-style-name:"Note Level 5";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:5;  tab-stops:list 2.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5CxSpFirst, li.NoteLevel5CxSpFirst, div.NoteLevel5CxSpFirst  {mso-style-name:"Note Level 5CxSpFirst";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:5;  tab-stops:list 2.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5CxSpMiddle, li.NoteLevel5CxSpMiddle, div.NoteLevel5CxSpMiddle  {mso-style-name:"Note Level 5CxSpMiddle";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:5;  tab-stops:list 2.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5CxSpLast, li.NoteLevel5CxSpLast, div.NoteLevel5CxSpLast  {mso-style-name:"Note Level 5CxSpLast";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:5;  tab-stops:list 2.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6, li.NoteLevel6, div.NoteLevel6  {mso-style-name:"Note Level 6";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:6;  tab-stops:list 2.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6CxSpFirst, li.NoteLevel6CxSpFirst, div.NoteLevel6CxSpFirst  {mso-style-name:"Note Level 6CxSpFirst";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:6;  tab-stops:list 2.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6CxSpMiddle, li.NoteLevel6CxSpMiddle, div.NoteLevel6CxSpMiddle  {mso-style-name:"Note Level 6CxSpMiddle";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:6;  tab-stops:list 2.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6CxSpLast, li.NoteLevel6CxSpLast, div.NoteLevel6CxSpLast  {mso-style-name:"Note Level 6CxSpLast";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:2.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:6;  tab-stops:list 2.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7, li.NoteLevel7, div.NoteLevel7  {mso-style-name:"Note Level 7";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:7;  tab-stops:list 3.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7CxSpFirst, li.NoteLevel7CxSpFirst, div.NoteLevel7CxSpFirst  {mso-style-name:"Note Level 7CxSpFirst";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:7;  tab-stops:list 3.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7CxSpMiddle, li.NoteLevel7CxSpMiddle, div.NoteLevel7CxSpMiddle  {mso-style-name:"Note Level 7CxSpMiddle";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:7;  tab-stops:list 3.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7CxSpLast, li.NoteLevel7CxSpLast, div.NoteLevel7CxSpLast  {mso-style-name:"Note Level 7CxSpLast";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:7;  tab-stops:list 3.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8, li.NoteLevel8, div.NoteLevel8  {mso-style-name:"Note Level 8";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:8;  tab-stops:list 3.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8CxSpFirst, li.NoteLevel8CxSpFirst, div.NoteLevel8CxSpFirst  {mso-style-name:"Note Level 8CxSpFirst";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:8;  tab-stops:list 3.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8CxSpMiddle, li.NoteLevel8CxSpMiddle, div.NoteLevel8CxSpMiddle  {mso-style-name:"Note Level 8CxSpMiddle";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:8;  tab-stops:list 3.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8CxSpLast, li.NoteLevel8CxSpLast, div.NoteLevel8CxSpLast  {mso-style-name:"Note Level 8CxSpLast";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:3.75in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:8;  tab-stops:list 3.5in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9, li.NoteLevel9, div.NoteLevel9  {mso-style-name:"Note Level 9";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:4.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:9;  tab-stops:list 4.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9CxSpFirst, li.NoteLevel9CxSpFirst, div.NoteLevel9CxSpFirst  {mso-style-name:"Note Level 9CxSpFirst";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:4.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:9;  tab-stops:list 4.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9CxSpMiddle, li.NoteLevel9CxSpMiddle, div.NoteLevel9CxSpMiddle  {mso-style-name:"Note Level 9CxSpMiddle";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:4.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:9;  tab-stops:list 4.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9CxSpLast, li.NoteLevel9CxSpLast, div.NoteLevel9CxSpLast  {mso-style-name:"Note Level 9CxSpLast";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-type:export-only;  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:0in;  margin-left:4.25in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-add-space:auto;  text-indent:-.25in;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:9;  tab-stops:list 4.0in;  font-size:12.0pt;  font-family:"Verdana","sans-serif";  mso-fareast-font-family:"MS Gothic";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Cambria;  mso-fareast-font-family:Cambria;  mso-hansi-font-family:Cambria;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  ol  {margin-bottom:0in;} ul  {margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Cambria","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Sigmund Freud merumuskan teori perkembangan yang disebut psikoseksual. Teori ini memberikan lima fase dari perkembangan, yaitu oral, anal, falic, laten dan genital. Menurut Freud, perkembangan psikologis seseorang ditentukan dari kepuasan tiga (oral, anal, genital) wilayah ini, contohnya seseorang yang kurang terpuaskan oral-nya ketika masih kecil akan tumbuh menjadi anak yang cerewet, suka bergosip, merokok, gigit jari, obesitas, atau apapun juga yang memuaskan nafsu oral-nya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Nah, yang ingin aku bahas kali ini adalah kepribadian anal seseorang. Anal berhubungan dengan toilet training di masa kecil – menurut penulis – juga sampai seseorang dewasa. Freud mengatakan bahwa fiksasi oral terjadi pada orang-orang yang sangat menuntut kebersihan, keras kepala, hidup berdasarkan aturan dan &lt;u&gt;pelit&lt;/u&gt;. Tapi ini tergantung bagaimana toilet training kita ketika kita masih kecil. Ada anak-anak yang menyimpan pup-nya (tidak ia keluarkan), dan ada anak-anak yang tidak bisa mengontrol pengeluarannya (pup dan pee dimana2).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Aku melihat adanya benang merah antara pengeluaran uang dan pengeluaran pup. Beberapa contoh yang aku temui:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;1) Selalu mengeluarkan pup, sehari bisa tiga kali. Begitu juga dengan mengeluarkan uang, seperti tidak dikontrol.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;2) Agak susah mengeluarkan pup (tidak setiap hari), suka shopping, kondisi keuangan cukup.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Orang pertama jelas pengeluaran uang dan pengeluaran pup berjalan searah. Semakin besar pengeluaran pup, semakin besar juga pengeluaran uang haha. Tapi yang kedua, mengapa susah pup tapi suka shopping? Penjelasan sementara adalah adanya &lt;i style=""&gt;guilt&lt;/i&gt; dari pengeluaran uangnya, sehingga ia menyimpan ‘bentuk’ lain (berupa pup), atau ingin shopping tapi lagi ga ada duit – bisa saja. ;)&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Apakah ada hubungan kausal dari pengeluaran pup dan pengeluaran lain (uang)? Karena yang terpenting dari konsep ini adalah perbuatan yang tidak disadari, dilakukan secara unconscious dan tersembunyi dari kesadaran. Jadi mungkin saja ketika kamu tidak bisa pup (selain jarang makan buah dan sayur yah), ada sesuatu yang salah dengan pengaturan keuanganmu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Selamat mengeksplorasi hidup sehat secara fisiologis dan psikologis! :P&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;(Lora)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-4158403202762258416?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/MRpBe4v2LRU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/MRpBe4v2LRU/anal-stage-freud-dan-shopping.html</link><author>noreply@blogger.com (Laura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_261KjguBrO0/RqgQ8E6Mm6I/AAAAAAAAAUU/Nzj_gO9Vwzg/s72-c/GreetedByShit.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/02/anal-stage-freud-dan-shopping.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-5100352665236021022</guid><pubDate>Thu, 05 Feb 2009 11:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-05T03:45:29.900-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mitos</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kematian</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">^Lora^</category><title>Kematian</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i105.photobucket.com/albums/m229/Angels365/Anubis-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 313px; height: 199px;" src="http://i105.photobucket.com/albums/m229/Angels365/Anubis-1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CClien-06%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;   &lt;o:pixelsperinch&gt;72&lt;/o:PixelsPerInch&gt;   &lt;o:targetscreensize&gt;1024x768&lt;/o:TargetScreenSize&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CClien-06%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:donotoptimizeforbrowser/&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Gothic"; 	panose-1:2 11 6 9 7 2 5 8 2 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ ゴシック"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Gothic"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Cambria","serif"; 	mso-fareast-font-family:Cambria; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	tab-stops:list .5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacingCxSpFirst, li.MsoNoSpacingCxSpFirst, div.MsoNoSpacingCxSpFirst 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	tab-stops:list .5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacingCxSpMiddle, li.MsoNoSpacingCxSpMiddle, div.MsoNoSpacingCxSpMiddle 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	tab-stops:list .5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoNoSpacingCxSpLast, li.MsoNoSpacingCxSpLast, div.MsoNoSpacingCxSpLast 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	tab-stops:list .5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3, li.NoteLevel3, div.NoteLevel3 	{mso-style-name:"Note Level 3"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:3; 	tab-stops:list 1.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3CxSpFirst, li.NoteLevel3CxSpFirst, div.NoteLevel3CxSpFirst 	{mso-style-name:"Note Level 3CxSpFirst"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:3; 	tab-stops:list 1.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3CxSpMiddle, li.NoteLevel3CxSpMiddle, div.NoteLevel3CxSpMiddle 	{mso-style-name:"Note Level 3CxSpMiddle"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:3; 	tab-stops:list 1.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel3CxSpLast, li.NoteLevel3CxSpLast, div.NoteLevel3CxSpLast 	{mso-style-name:"Note Level 3CxSpLast"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:3; 	tab-stops:list 1.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4, li.NoteLevel4, div.NoteLevel4 	{mso-style-name:"Note Level 4"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:4; 	tab-stops:list 1.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4CxSpFirst, li.NoteLevel4CxSpFirst, div.NoteLevel4CxSpFirst 	{mso-style-name:"Note Level 4CxSpFirst"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:4; 	tab-stops:list 1.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4CxSpMiddle, li.NoteLevel4CxSpMiddle, div.NoteLevel4CxSpMiddle 	{mso-style-name:"Note Level 4CxSpMiddle"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:4; 	tab-stops:list 1.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel4CxSpLast, li.NoteLevel4CxSpLast, div.NoteLevel4CxSpLast 	{mso-style-name:"Note Level 4CxSpLast"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:4; 	tab-stops:list 1.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5, li.NoteLevel5, div.NoteLevel5 	{mso-style-name:"Note Level 5"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:5; 	tab-stops:list 2.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5CxSpFirst, li.NoteLevel5CxSpFirst, div.NoteLevel5CxSpFirst 	{mso-style-name:"Note Level 5CxSpFirst"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:5; 	tab-stops:list 2.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5CxSpMiddle, li.NoteLevel5CxSpMiddle, div.NoteLevel5CxSpMiddle 	{mso-style-name:"Note Level 5CxSpMiddle"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:5; 	tab-stops:list 2.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel5CxSpLast, li.NoteLevel5CxSpLast, div.NoteLevel5CxSpLast 	{mso-style-name:"Note Level 5CxSpLast"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:5; 	tab-stops:list 2.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6, li.NoteLevel6, div.NoteLevel6 	{mso-style-name:"Note Level 6"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:6; 	tab-stops:list 2.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6CxSpFirst, li.NoteLevel6CxSpFirst, div.NoteLevel6CxSpFirst 	{mso-style-name:"Note Level 6CxSpFirst"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:6; 	tab-stops:list 2.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6CxSpMiddle, li.NoteLevel6CxSpMiddle, div.NoteLevel6CxSpMiddle 	{mso-style-name:"Note Level 6CxSpMiddle"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:6; 	tab-stops:list 2.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel6CxSpLast, li.NoteLevel6CxSpLast, div.NoteLevel6CxSpLast 	{mso-style-name:"Note Level 6CxSpLast"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:2.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:6; 	tab-stops:list 2.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7, li.NoteLevel7, div.NoteLevel7 	{mso-style-name:"Note Level 7"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:7; 	tab-stops:list 3.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7CxSpFirst, li.NoteLevel7CxSpFirst, div.NoteLevel7CxSpFirst 	{mso-style-name:"Note Level 7CxSpFirst"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:7; 	tab-stops:list 3.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7CxSpMiddle, li.NoteLevel7CxSpMiddle, div.NoteLevel7CxSpMiddle 	{mso-style-name:"Note Level 7CxSpMiddle"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:7; 	tab-stops:list 3.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel7CxSpLast, li.NoteLevel7CxSpLast, div.NoteLevel7CxSpLast 	{mso-style-name:"Note Level 7CxSpLast"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:7; 	tab-stops:list 3.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8, li.NoteLevel8, div.NoteLevel8 	{mso-style-name:"Note Level 8"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:8; 	tab-stops:list 3.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8CxSpFirst, li.NoteLevel8CxSpFirst, div.NoteLevel8CxSpFirst 	{mso-style-name:"Note Level 8CxSpFirst"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:8; 	tab-stops:list 3.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8CxSpMiddle, li.NoteLevel8CxSpMiddle, div.NoteLevel8CxSpMiddle 	{mso-style-name:"Note Level 8CxSpMiddle"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:8; 	tab-stops:list 3.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel8CxSpLast, li.NoteLevel8CxSpLast, div.NoteLevel8CxSpLast 	{mso-style-name:"Note Level 8CxSpLast"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:3.75in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:8; 	tab-stops:list 3.5in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9, li.NoteLevel9, div.NoteLevel9 	{mso-style-name:"Note Level 9"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:4.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:9; 	tab-stops:list 4.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9CxSpFirst, li.NoteLevel9CxSpFirst, div.NoteLevel9CxSpFirst 	{mso-style-name:"Note Level 9CxSpFirst"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:4.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:9; 	tab-stops:list 4.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9CxSpMiddle, li.NoteLevel9CxSpMiddle, div.NoteLevel9CxSpMiddle 	{mso-style-name:"Note Level 9CxSpMiddle"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:4.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:9; 	tab-stops:list 4.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.NoteLevel9CxSpLast, li.NoteLevel9CxSpLast, div.NoteLevel9CxSpLast 	{mso-style-name:"Note Level 9CxSpLast"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:4.25in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	text-indent:-.25in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:9; 	tab-stops:list 4.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Verdana","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Gothic"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Cambria; 	mso-fareast-font-family:Cambria; 	mso-hansi-font-family:Cambria;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Cambria","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;Hidup manusia, seperti juga makhluk lainnya, adalah seperti tanaman yang hijau kemudian menguning dan layu. Manusia terlahir, beraktivitas, prokreasi, kemudian wafat. Kehidupan dan kematian adalah sebuah siklus hidup yang menandakan eksistensi manusia. Kedua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Walau begitu, kematian tetap merupakan sumber rasa takut, putus asa, dan luka bagi kebanyakan orang ketika menghadapinya, bukan hanya menghadapi kematiannya sendiri melainkan juga ketika menghadapi kematian orang terdekatnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Semua perasaan tidak berdaya muncul, ini adalah ‘kekalahan’ akhir.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Agama dan juga kepercayaan barat maupun timur telah mencoba memberikan jalan keluar bagi mereka yang takut mati dan kesakitan ketika kehilangan orang yang disayang. Agama menawarkan kehidupan setelah kematian, suatu kelahiran kembali, serta tawaran transenden lain untuk membantu seseorang ‘lega’ atau setidaknya mengurangi rasa takutnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Aku punya 2 orang kenalan yang paling cocok dalam menjelaskan rasa takut ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;-Seorang wanita lanjut usia yang cukup aktif beribadah sekali dalam seminggu, yah bisa dikategorikan sebagai ‘melek tuhan’lah. Namun ia sangat takut sakit, setiap bulannya bisa menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk pengobatan. Wanita ini secara berkala memimpikan ibunya (yang sudah meninggal) memberikan pesan bahwa ‘belum waktunya ia meninggal’.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;-Wanita setengah baya yang tiba-tiba saja jatuh sakit, tidak bisa bernafas (lupa istilah medisnya apa). Ketika diperiksa sama sekali tidak ditemukan sebab, kemungkinan merupakan peristiwa psikologis. Setelah diusut ternyata gejala pertama kali dialami ketika binatang kesayangannya meninggal. Binatang kesayangannya yang selama beberapa bulan terakhir telah sulit untuk makan dan berjalan (karena terlalu tua), wanita ini selalu menyuapinya sebagai wujud sayang. Oh ya wanita ini juga sangat rajin beribadah dan aktif dalam kegiatan keagamaan, seminggu minimal 3 kali!&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang ini? Mereka berdua memiliki kesamaan ‘takut akan kematian’. Wanita pertama takut mati sehingga ia berusaha segiat mungkin untuk tidak sakit, setiap ada gejala sedikit langsung berobat ke dokter, dan mimpinya menjadi alat untuk ‘menghibur’ keinginannya untuk tetap hidup. Wanita kedua setelah merawat binatang peliharaannya yang sudah tua mulai membayangkan dirinya saat dia sudah tua nanti, tidak bisa jalan, hanya bisa makan makanan halus, dan siapakah yang akan merawatnya. Ia takut, panik dan tidak bisa bernafas.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Saya tidak tahu, apa agama telah gagal menyokong seseorang untuk menghadapi kematian, atau hanya kebetulan saja dalam kasus kedua wanita itu. Well, kita kan tidak boleh langsung menggeneralisasi. ;)&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Buddha menjelaskan kita akar dari penderitaan manusia. Begitu juga mitos klasik dari Yunani. Mungkin beberapa dari kita familiar dengan cerita Kronos yang memakan anak-anaknya. Berikut ceritanya:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Kronos mengambil tahta tertinggi dewa-dewa ketika membunuh ayahnya sendiri (Uranus), ketakutan akan hal yang sama terjadi pada dirinya (dibunuh oleh anaknya sendiri untuk merebut tahta) maka ia memakan anak-anaknya ketika mereka lahir. Sampai pada suatu hari ketika Rhea, istrinya, melahirkan Zeus ditengah malam, Rhea langsung menitipkan Zeus kepada ibunya (Gaia) kemudian membiarkan Kronos memakan batu sebagai gantinya. Akhirnya Kronos memuntahkan kelima anaknya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;Mitologi ini mengingatkan kita bahwa kematian merupakan sumber dari penderitaan. Bagaimana tidak? Karena takut mati, Kronos jadi parno ga jelas, hidup dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perasaan was-was setiap harinya. Kronos disebut juga ‘waktu’ (seperti Shiva dalam mitologi Hindu). Bagaimanapun juga waktu akan ‘memakan’ semua orang, sampai akhirnya ‘batu kebijaksanaan’ tertelan sehingga manusia bisa kembali ‘hidup’. Batu kebijaksanaan merupakan apa yang diyakini sebagai kebijaksanaan yang diperlukan seseorang manusia untuk memahami eksistensinya, yang berarti ada hidup begitu juga ada mati. :)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; page-break-after: avoid;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Are you frightened of death? Then death will swallow you. Are you not, then you will gain the true meaning of life.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;(Lora)
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-5100352665236021022?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/vKSyTxYB2bY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/vKSyTxYB2bY/kematian.html</link><author>noreply@blogger.com (Laura)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/02/kematian.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-6578754185480217819</guid><pubDate>Fri, 23 Jan 2009 03:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-22T19:54:09.720-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">stres</category><title>Sekilas Tentang Stres</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Secara teoritis,  dalam terminologi psikologi kesehatan, stres adalah kondisi di mana  individu mem&lt;b&gt;persepsi&lt;/b&gt;kan adanya &lt;b&gt;kesenjangan&lt;/b&gt; antara &lt;b&gt;tuntutan&lt;/b&gt;  fisiologis maupun psikologis dari &lt;b&gt;lingkungan&lt;/b&gt; dengan &lt;b&gt;sumber  daya&lt;/b&gt; yang dimiliki &lt;b&gt;individu&lt;/b&gt; untuk memenuhi kebutuhan tuntutan  tersebut.&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Tertekan menghadapi  tiga buah ujian dalam hari satu yang sama karena merasa belum menguasai  bahan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;mengeluh karena  harus melakukan rangkaian gerak senam lantai sementara rasanya koordinasi  gerak motorik diri tidak mendukung;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;tidak percaya  diri saat harus memimpin sebuah organisasi; dan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;merasa tidak  cukup menarik untuk mendapatkan hati gebetan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;adalah beberapa  contoh implikasi pemahaman stres tersebut. Mudahnya, kita dikatakan  sedang stres saat ada stressor (&lt;i&gt;challenging events&lt;/i&gt;; tuntutan  lingkungan) yang kita nilai tidak cukup terpenuhi oleh kemampuan kita  (&lt;i&gt;resources&lt;/i&gt;; sumber daya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Nah, saat stres,  apa sih yang kemudian kita lakukan? Mencari pelipur lara, lari dari  kenyataan, atau secara heroik menyelesaikan masalah yang menjadi penyebabnya?  Pilihan apapun yang Anda ambil, (lagi-lagi) secara teoritis dikenal  sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;coping&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Karena stres melibatkan adanya persepsi  kesenjangan, maka &lt;i&gt;coping&lt;/i&gt; dapat dirumuskan sebagai &lt;b&gt;upaya&lt;/b&gt;  untuk &lt;b&gt;mengatasi persepsi kesenjangan &lt;/b&gt; tersebut. Sebagai sebuah upaya, &lt;b&gt;coping tidak selalu mengarah pada  penyelesaian masalah &lt;/b&gt;(stressor-nyah). Anda bisa saja "berserah  pada Tuhan" dalam menghadapi ujian karena itu membantu Anda merasa  lebih mampu menghadapinya. Walaupun itu tidak membuat Anda dalam sekejap  menguasai bahan, bukankah ada pepatah "do your best and let God  do the rest"?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Dalam &lt;i&gt;coping&lt;/i&gt;,  Anda dapat melakukannya &lt;b&gt;&lt;i&gt;problem-focused&lt;/i&gt; (P)&lt;/b&gt;, yang menitikberatkan  pada upaya pemecahan masalah, dan atau&lt;i&gt; &lt;/i&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;emotion-focused (E)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yang menekankan pada regulasi emosi.  Berikut adalah beberapa bentuk strategi &lt;i&gt;coping&lt;/i&gt; yang dirangkum  Folkman dan Lazarus sepanjang penelitian mereka :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;1. &lt;b&gt;Planful  problem-solving (P)&lt;/b&gt;, di mana Anda melakukan analisa terhadap situasi  untuk mendapatkan solusi dan didukung oleh pengambilan langkah-langkah  untuk menyelesaikan masalah. Tahu bahwa Anda akan menghadapi tiga ujian  sekaligus di hari Senin, Anda kemudian menimbang-nimbang waktu yang  Anda punyai untuk belajar; tingkat kesulitan sekaligus banyaknya bahan  tiap ujian untuk dapat menentukan bahan mana yang akan Anda pelajari  lebih dulu; proporsi waktu belajar; dan cara belajar apa yang efektif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;2. &lt;b&gt;Confrontive  coping&lt;/b&gt; &lt;b&gt;(P)&lt;/b&gt;. Dalam melaksanakan strategi ini, Anda berani  untuk melakukan respon yang asertif untuk merubah situasi. Anda melancarkan  keberatan pada dosen atau pihak fakultas tentang dilaksanakannya tiga  ujian sekaligus dalam satu hari, misalnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;3. &lt;b&gt;Seeking  social-support&lt;/b&gt; &lt;b&gt;(P/E)&lt;/b&gt;. Strategi ini dapat dilakukan untuk  menyelesaikan masalah maupun untuk regulasi emosi. Cemas menghadapi  keharusan melakukan repertoire senam lantai yang sulit, Anda bisa meminta  bantuan seorang teman untuk melatih Anda (P) atau berkeluh kesah pada  sahabat (E).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;4. &lt;b&gt;Distancing&lt;/b&gt; &lt;b&gt; (E)&lt;/b&gt; terjadi saat Anda, umumnya secara kognitif, "menjauhi"  permasalahan yang Anda hadapi. Entah Anda berusaha tidak memikirkan  repertoire senam lantai yang belum dikuasai atau Anda membangun pemahaman,  "Ah, itu kan cuma untuk nilai olahraga ajah. Gurunya juga nilai  usaha kita, yah, gak pusing lah."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;5. &lt;b&gt;Escape-Avoidance&lt;/b&gt; &lt;b&gt; (E)&lt;/b&gt;. Dalam pelaksanaannya, Anda "melarikan diri" dari  masalah yang Anda hadapi. Anda dapat melakukannya dengan tenggelam dalam  pikiran bahwa masalah tersebut dapat terselesaikan dengan sendirinya  atau Anda menyerah latihan senam lantai karena sudah pasrah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;6. &lt;b&gt;Self-control  (E)&lt;/b&gt; adalah hal-hal yang mencakup pengendalian diri untuk memodulasi  emosi. Anda mungkin murah hati memberikan toleransi pada kekurangan  anggota organisasi yang Anda pimpin atau bahkan berusaha menutup-nutupi  kecemasan Anda memimpin organisasi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;7. &lt;b&gt;Accepting  Responsibility (E)&lt;/b&gt;. Ketika Anda menyadari posisi dalam permasalahan  sekaligus berupaya  memperbaiki keadaan. Saat organisasi yang Anda pimpin  tidak berhasil mencapai target yang diharapkan (memenangkan suatu kompetisi,  misalnya), Anda mungkin saja melihatnya sebagai akibat dari ketidakmampuan  Anda melakukan pembagian kerja yang baik. Untuk itu, Anda menerima kekurangan  tersebut dan melakukan perbaikan pembagian kerja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;8. &lt;b&gt;Positive  reappraisal (E) &lt;/b&gt;adalah saat Anda mencoba mendapatkan pemahaman positif  dari sebuah masalah. Walaupun Anda patah hati karena merasa tidak cukup  menarik sehingga si gebetan tidak memperhatikan Anda, hal tersebut Anda  lihat sebagai pengalaman berharga yang mengajarkan sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Secara umum,  tidak dapat ditentukan strategi manakah yang paling baik untuk mengatasi  stres. Bahkan, kita cenderung untuk mengkombinasikan strategi di atas.  Sangat mungkin Anda meninggalkan masalah tersebut sejenak untuk menjernihkan  pikiran sebelum berkutat menyelesaikannya. Ada begitu banyak varian  masalah yang menyebabkan stres yang berbeda-beda dan, tentunya kita  pun dapat memilih strategi yang tepat untuk mengatasinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Dengan memahami  stres sekaligus strategi &lt;i&gt;coping&lt;/i&gt;, saya harap hidup Anda menjadi  lebih "mudah". Idealnya, kunci-kunci mengatasi stres telah  diketahui. Nah, dapatkah Anda mencocokkan kunci-kunci tersebut?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;(Melita Tarisa)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-6578754185480217819?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/FpvOlN1o7QU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/FpvOlN1o7QU/sekilas-tentang-stres.html</link><author>noreply@blogger.com (Khrisnaresa Adytia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/01/sekilas-tentang-stres.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-6014771146828940155</guid><pubDate>Sun, 18 Jan 2009 02:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-17T18:20:26.246-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">review film</category><title>The Bubble</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://actualchaos.blog.friendster.com/files/the_bubble.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 352px;" src="http://actualchaos.blog.friendster.com/files/the_bubble.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Produksi:&lt;/span&gt; Metro Communications (2006)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sutradara:&lt;/span&gt; Eytan Fox&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cast:&lt;/span&gt; Ohad Knoller, Yousef "Joe" Sweid, Daniela Wircer, Alon Friedmann, Ruba Blal, Shredy Jabarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menonton The Bubble di salah satu komunitas kreatif di Bandung, &lt;a href="http://www.rlwriterscircle.blogspot.com/"&gt;Reading Lights Writer's Circle&lt;/a&gt;. Film ini bercerita tentang romantisme antara dua orang pria yang bertemu di medan perang. Naom, seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tentara Israel, bertemu dengan Ashraf, seorang warga negara Palestina. Tidak diceritakan bagaimana mereka bisa saling mengenal dan saling suka, tiba-tiba cerita loncat ke bagian Ashraf mengunjungi Naom di Tel Aviv, Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya Romeo dan Juliet, begitu pula dengan Naom dan Ashraf, hanya saja cerita ini dilatarbelakangi dengan keadaan politik yang panas antara Israel dan Palestina. Cinta mereka terhalang oleh pandangan miring orang Israel terhadap Palestina sehingga warga Palestina tidak bisa bekerja di Israel dan inilah yang membuat Ashraf terpaksa pergi jauh dari Naom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mereka diperparah dengan kondisi politik yang kian mengancam. Satu saat, kakaknya Ashraf yang baru menikah, tidak sengaja tertembak oleh tentara Israel. Kakak iparnya pun merencanakan misi balas dendam terhadap Israel. Namun karena tekanan rasa bersalah terhadap kakaknya, Ashraf yang mengambil alih misi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat film ini membuat saya berpendapat bahwa perang adalah hal yang tidak adil. Bagaimana bisa dua pemerintahan saling berseteru untuk mendapatkan sesuatu atas negara tapi mengorbankan penduduknya sendiri? Masyarakat sipil harus terkena imbas dengan pengawalan ekstra ketat atau dicurigai macam-macam padahal mereka tidak tahu apa-apa adalah hal yang tidak adil. Nafsu untuk menguasai membuat manusia jauh dari zaman yang beradab. Negara, rumah, manusia tidak lebih dari sebuah miniatur kecil yang bisa diporak-porandakan jika si penguasa sudah bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini mengandung konten dewasa. Hal ini patut diketahui jika ingin ditonton bersama keluarga atau bersama anak di bawah umur. Tidak ada adegan darah-darahan atau kata-kata kasar. Jangan berharap bahwa film ini dapat dihubungkan dengan keadaan Israel dan Palestina sekarang karena film ini murni romantisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com"&gt;Nia&lt;/a&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-6014771146828940155?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/vEkwzssLnQg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/vEkwzssLnQg/produksi-metro-communications-2006.html</link><author>niawmiaw@yahoo.com (Nia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/01/produksi-metro-communications-2006.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-231519881749800183</guid><pubDate>Mon, 12 Jan 2009 09:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-12T01:15:58.944-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">subjective well-being</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">happiness</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kebahagiaan</category><title>Apa yang Kamu Maksud dengan "Bahagia"?</title><description>Kebahagiaan. Bila dibicarakan, tidak akan ada titik temunya karena hal tersebut sangatlah pribadi. Ada orang yang bahagia hanya dengan makan teratur 3 hari sekali, ada juga orang yang tidak bahagia meski sudah memiliki mobil lebih dari 1. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang sangat pribadi bila kita menanyakan pada diri kita masing-masing, namun tidak sedikit penelitian psikologi yang dilakukan untuk mengetahui apa itu "bahagia" dan mengalami "kebahagiaan" sebagai upaya 'menggeneralisasi' arti kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang penelitian tentang kebahagiaan, hal tersebut sudah menjadi perhatian para ilmuwan psikologi untuk menjadi kajian ilmiah. Tujuannya hanya 1: menemukan rumus umum bagi manusia untuk bahagia, meskipun setiap orang memiliki makna kebahagiaannya sendiri-sendiri. Ada beberapa ilmuwan Psikologi yang telah menemukan kebahagiaan dengan pemaknaannya masing-masing dari hasil penelitian. Sebut saja Veenhoven, Psikolog asal Belanda yang mengatakan satu kalimat, "Bahkan surga pun akan menjadi neraka bila kita berpikir bahwa surga itu tidak menyenangkan". Ia mengemukakan bahwa bahagia atau tidak, bergantung pada bagaimana kita memandang hidup, bagaimana kita bersyukur terhadap apa yang sudah kita miliki. Arbiyah (2008) yang meneliti tentang hubungan antara rasa bersyukur dengan kebahagiaan menemukan bahwa rasa bersyukur memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan. Semakin besar rasa bersyukur seseorang, maka semakin bahagia pula orang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonja Lyubomirsky, seorang psikolog Amerika yang berasal dari Rusia tertarik meneliti tentang kebahagiaan karena pada masa kecilnya di Amerika, ia terheran-heran melihat orang-orang yang murah senyum padanya - sesuatu yang tidak biasa dilihatnya di negara asalnya, Rusia. Ia mendefinisikan seseorang yang bahagia adalah seseorang yang sering merasakan emosi positif, seperti: senang, riang, bertekad, dan emosi-emosi lainnya. Penemuan Sonja tersebut baru hanya melingkupi aspek 'emosi' atau aspek perasaan seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ed Diener, seorang psikolog yang sudah lama mengkaji mengenai kebahagiaan atau "Subjective Well-being" (menurut istilahnya) mengatakan bahwa ada 2 aspek yang harus dipertimbangkan saat menelaah apakah seseorang telah mengalami kebahagiaan. Kedua aspek tersebut adalah aspek afektif (emosi) seperti yang telah dikatakan Sonja Lyubomirsky dan aspek kognitif. Kebahagiaan pada aspek kognitif seseorang dilihat dari seberapa puaskah seseorang terhadap hidupnya dengan terlebih dahulu menimbang-nimbang apa yang telah ia miliki dan jalani. Salah satu pertanyaan yang dapat mengindikasikan apakah seseorang telah puas secara kognitif adalah, "Bila ada kesempatan untuk mengulang hidup anda, sejauh apakah anda ingin mengubah hidup anda?". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Martin Seligman, Presiden American Psychological Association dan pendiri aliran psikologi Positif, yang mengatakan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya atau "Authentic Happiness" akan didapat apabila seseorang menjalankan apa yang sesuai dengan karakter moral, yaitu hal yang kita anggap sesuai dengan pandangan hidup kita.  Ia menyebutkan ada 6 karakter moral utama yang ada pada manusia dan keenam karakter moral tersebut berbeda-beda pada masing-masing individu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran mengenai kebahagiaan sudah menjadi hal yang menarik umat manusia sejak beribu-ribu tahun lalu. Filsuf Yunani kuno membedakan 2 jenis kebahagiaan, yaitu eudaimonia dan hedonis. Telah menjadi pertanyaan apakah seseorang bahagia karena telah mencapai hal yang diinginkannya ataukah ia bahagia karena sedang menjalani hal yang diinginkannya. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai kebahagiaan yang tidak dapat dijawab dengan sederhana. Meskipun begitu, sebagai bentuk kontribusi kita terhadap penemuan 'rumus' kebahagiaan hidup, mungkin kita semua dapat merenungkan apa arti kebahagiaan menurut diri kita masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-231519881749800183?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/EldX5nAj3Y4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/EldX5nAj3Y4/apa-yang-kamu-maksud-dengan-bahagia.html</link><author>noreply@blogger.com (Khrisnaresa Adytia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/01/apa-yang-kamu-maksud-dengan-bahagia.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-134401718757959365</guid><pubDate>Sun, 11 Jan 2009 11:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-11T03:32:56.655-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">orang tua</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi</category><title>Fakta menarik dari Reality Show “Nanny 911” dan “Super Nanny”</title><description>&lt;div class="fullpost" align="justify"&gt;&lt;span&gt;Seperti biasa, sabtu dan minggu sore adalah waktu kesenangan saya karena ada acara Nanny 911 dan Super Nanny di Metro TV. Saya suka acara itu karena acara itu memberikan pada saya asupan dari gambaran penerapan psikologi di kehidupan nyata. Tapi, ada satu hal menarik yang baru diperhatikan oleh otak saya yang lambat mencerna informasi pada saat saya nonton acara-acara itu minggu ini: konsep acara yang sedemikian rupa dari acara-acara itu menyebabkan peran antagonis dan protagonis di kedua reality show itu menjadi terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diperhatikan, porsi terbanyak dari kedua acara itu adalah rekaman perilaku si anak. Dari awal, si anak memperlihatkan perilaku nakal. Lalu, ditengah acara (dan ini merupakan porsi terbesar dari acara), diperlihatkanlah si anak mendapatkan perlakuan untuk memperbaiki perilakunya. Akhirnya, di penghujung acara, diperlihatkan si anak berubah jadi anak yang bisa di atur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep acara seperti ini membuat si anak terlihat sebagai orang yang memegang peran antagonis. Mereka diperlihatkan sebagai manusia-manusia kecil yang sulit diatur, yang berkata kasar, dan sering melakukan tindakan diluar aturan. Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Kausalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah terpikirkan oleh kita, apakah hal yang menyebabkan anak-anak “nakal” itu berperilaki seperti itu? Menurut saya yang cukup mencintai Pavlov, penyebabnya adalah pemeran lain yang seringkali digambarkan sebagai korban, dua orang yang sering terlihat kelelahan, dan patut dikasihani: kedua orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yep! Sebenarnya, penyebab dari kenakalan anak-anak itu adalah orang tua mereka. Anak-anak yang tak bisa di atur adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil menjalankan disiplin. Anak-anak yang memukul saudara mereka sendiri adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil mengajarkan rasa kasih sayang pada saudara. Anak-anak yang berkata kotor adalah hasil dari orang tua yang tak mengajarkan cara berbicara yang baik. Kesimpulannya, anak-anak itu adalah hasil dari orang tua yang tidak kompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya, acara tersebut memiliki konsep seperti ini:&lt;br /&gt;Pada adegan awal, diperlihatkan kesalahan-kesalahan pengasuhan orang tua.&lt;br /&gt;Lalu, diperlihatkan orang tua yang mulai memperbaiki perilaku mengasuh mereka.&lt;br /&gt;Akhirnya, diperlihatkanlah orang tua yang berhasil belajar menjadi “orang tua sebenarnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, nama acaranya harus diganti menjadi “Parents’ Boot Camp 911” dan “Super Parent Trainer”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-134401718757959365?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/P8XV8Oo8E94" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/P8XV8Oo8E94/fakta-menarik-dari-reality-show-nanny.html</link><author>ramaximus_dionius@yahoo.com (Dion Dan Dunia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/01/fakta-menarik-dari-reality-show-nanny.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-2271309224640747635</guid><pubDate>Fri, 02 Jan 2009 10:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-02T02:18:51.295-08:00</atom:updated><title>Happy New Year 2009!</title><description>Untuk semua psigoblog reader, psigoblog writer, dan semua manusia di bumi ini, selamat tahun baru 2009! semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua..!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-2271309224640747635?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/qbvGUHSKGpw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/qbvGUHSKGpw/happy-new-year-2009.html</link><author>noreply@blogger.com (Khrisnaresa Adytia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2009/01/happy-new-year-2009.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-5732049878156079786</guid><pubDate>Mon, 29 Dec 2008 07:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-28T23:44:10.865-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">karir</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">^Lora^</category><title>What to do with Your Psychology Degree?? [1]</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://destiutami.files.wordpress.com/2007/10/toga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 341px; height: 341px;" src="http://destiutami.files.wordpress.com/2007/10/toga.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Halo semua, apa kabar? Saya harap semua dalam kondisi kesehatan yang fit di akhir tahun 2008 ini. Setiap pergantian tahun tentu selalu ada refleksi mengenai apa yang telah terjadi pada hari-hari di tahun terakhir ini. Semua kesalahan, kebahagiaan, kegagalan, kemenangan, ataupun kesempatan, semuanya bergejolak memenuhi tempat di sudut otak penganalisa saya. Setelah mengevaluasi apa yang telah terjadi, yah seperti kebanyakan orang lainnya, saya pun kemudian mencoba untuk membuat resolusi 2009, apa yang akan saya lakukan, dan target-target hidup di tahun mendatang. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Lalu saya teringat salah seorang teman yang men-tag saya pada notes-nya di Facebook.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar minggu lalu, teman saya ini mengutarakan kekhawatiran akan kelulusan yang ada di depan matanya. Melalui tulisannya, ia terlihat ragu apakah ia mampu menghadapi tuntutan bagi seorang S.psi. Oleh karena itu dalam notes-nya yang cukup panjang itu ia menjabarkan list kemampuan yang harus dimiliki Sarjana Psikologi. Saya memang tidak memiliki semua kemampuan yang dituliskan disana, tapi toh saya juga tidak menyukai pekerjaan konvensional dibalik meja. Pemikiran tersebut membawa saya pada pertanyaan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;        Sebelum menjawab pertanyaan diatas terlebih dahulu harus memperhatikan beberapa hal penting. &lt;b style=""&gt;Pertama&lt;/b&gt; adalah memilih pekerjaan yang cocok untuk diri sendiri. McDonald dan Das (2008) memberikan empat tingkatan dalam pemilihan karir:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Self-awareness&lt;/i&gt;: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai keahlian, kemampuan, kesukaan, nilai, keinginan, lingkungan pekerjaan yang disuka, dan pertimbangan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hidup. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Misalnya seseorang yang tidak menyukai lingkungan pekerjaan kompetitif akan mempertimbangkan hal tersebut untuk mengambil pekerjaan yang lebih personal dan bebas. &lt;/span&gt;Contoh pertanyaan yang menyangkut &lt;i style=""&gt;self-awareness&lt;/i&gt;:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 85.05pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Do I like dealing with members of the public?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 85.05pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Do I like working alone or in an open-plan off&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;ce as a part of a team?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 85.05pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Do I want to work in a busy dynamic workplace, or a less pressured, more sedate environment?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 85.05pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Do I want to earn a lot of money?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 85.05pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Do I need autonomy and independence in how I work?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 85.05pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Do I like a variety of tasks or do I want to be a specialist?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0.0001pt 85.05pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Do I want to eventually become a manager with lots of responsibilities, or am I happy being a member of a team?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Opportunity&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt; awareness&lt;/i&gt;: dalam tahap ini seseorang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai industri atau organisasi spesifik yang membuatnya tertarik, dan melihat kemungkinan jika ia bisa bekerja ditempat tersebut. Misalnya saya menjadi seorang pelatih lumba-lumba, yah masih mungkinlah secara lumba-lumba dilatih dengan prinsip belajar punishment-reinforcement. ;p&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;Evaluation and decision making&lt;/i&gt;: mengevaluasi pilihan karir yang dipilih, membuat daftar pro dan kontra, serta memutuskan tujuan. Misalnya menjadi pelatih lumba-lumba, pro-nya: pekerjaan menyenangkan, tidak terlalu kompetitif, bebas dan personal, lots of fun. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Kontra-nya: bau, kemungkinan kecelakaan tinggi karena licin, penghasilan segitu-gitu aja. Nah dari daftar tersebut ditentukanlah kira-kira karir apa yang paling baik buat diri Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Taking action&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;: mengidentifikasi langkah-langkah apa saja yang menjadi kebutuhan untuk dapat meraih tujuan karir tersebut, bahkan kalau perlu mengembangkan strategi aktif agar dapat meraihnya. Misalnya: menjadi pelatih lumba-lumba dari sekarang mulai mempelajari reinforcement pada binatang, cari koneksi di Taman Safari atau Gelanggang Samudra, mulai coba-coba dengan melatih anjing, dst.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="ListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mudah-mudahan melalui langkah diatas kita bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita, yang ‘gue banget gitu loch’. ;p Amin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;McDonald, M., Das, M. (2008). What to do with your psychology degree. E-book: McGraw-Hill Education&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://destiutami.files.wordpress.com/2007/10/toga.jpg&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/profile/07482682142372503880"&gt;Lora&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-5732049878156079786?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/Zaa2Yp1SCkU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/Zaa2Yp1SCkU/what-to-do-with-your-psychology-degree_28.html</link><author>noreply@blogger.com (Laura)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/12/what-to-do-with-your-psychology-degree_28.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-8385264404386257582</guid><pubDate>Mon, 29 Dec 2008 07:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-28T23:44:38.234-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">karir</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ebook</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">^Lora^</category><title>What to do with Your Psychology Degree?? [2]</title><description>&lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;        Jika ada yang memperhatikan posting sebelumnya dengan judul yang sama, maka saya hanya memberikan hal &lt;b style=""&gt;pertama&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;        Nah, pada posting ini saya mencoba memberikan hal penting &lt;b style=""&gt;kedua&lt;/b&gt; dari pertanyaan tersebut, yaitu mengetahui seperti apakah sumber daya yang dicari oleh perusahaan. Menurut penelitian Harvey, Moon dan Geall, 139 manajer di Inggris (yah sayangnya di Inggris, mudah-mudahan bisa memberikan gambaran sedikit untuk kita di Indonesia) mengidentifikasi beberapa keahlian kunci yang mereka cari dari lulusan, antara lain (dalam McDonald &amp;amp; Das, 2008):&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Intellect – including a range of attributes such as analysis, critique, synthesis and an ability to think things through in order to solve problems&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Knowledge – understanding the basic principles of a subject discipline, general knowledge, knowledge of the organisation and commercial awareness, although in many organisations knowledge of something is much less important than the ability to acquire knowledge&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Attitude to learning – a willingness and ability to learn and to continue learning, to appreciate that learning is an ongoing process&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Flexibility and adaptability – be able to respond to change, to pre-empt change and ultimately lead change&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Self-regulatory skills – self-discipline, time-keeping, ability to deal with stress, prioritisation, planning, and an ability to ‘juggle’ several things at once&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Self-motivation – ranging from being a self-starter to seeing things through to a successful conclusion, and including characteristics such as resilience, tenacity, perseverance and determination&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Self-assurance – including self-conf&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;dence, self-awareness, self-belief, self- suff&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;ciency, self-direction and self-promotion&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Communication – written and verbal, formally and informally, with a wide range of people both internal and external to the organisation&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Interpersonal skills – the ability to relate to and feel comfortable with people at all levels in the organisation, as well as a range of external stake- holders, to be able to make and maintain relationships as circumstances change&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Team work –&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; often in more than just one team, and to be able to readjust roles from one project situation to another in an ever-shifting work situation. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;        Nah setelah mengetahui hal-hal penting akhirnya pertanyaan: “Apa sih yang bisa aku lakukan dengan gelar S.Psi?” bisa segera dijawab! Jawabannya:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“BUAAANNYAAAAAAKKK……!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;        Hahaha, kebetulan psikologi adalah ilmu yang berhubungan dengan manusia, dan setiap pekerjaan di dunia ini pasti memiliki unsur manusia didalamnya, maka seorang sarjana psikologi memiliki keberuntungan untuk memilih beragam pilihan karir. Bersyukurlah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;        Pada penghujung tulisan ini saya ingin menawarkan e-book yang akan dengan senang hati saya share kepada Anda. Judulnya What to do with your psychology degree, didalamnya ada puluhan pilihan karir untuk gelar psikologi lengkap dengan job description, lingkungan pekerjaan, hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan dari karir tersebut, keahlian yang dibutuhkan, bahkan ada average salary-nya (hoho tapi dalam poundsterling :P). Cukup membantu bagi para sarjana psikologi yang masih bingung dengan masa depannya ;). &lt;/span&gt;Bisa minta sendiri atau melalui e-mail di profile saya. Salam.&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Cambria;font-size:12;"  &gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/profile/07482682142372503880"&gt;Lora&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-8385264404386257582?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/3iojqRnQpQw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/3iojqRnQpQw/what-to-do-with-your-psychology-degree.html</link><author>noreply@blogger.com (Laura)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/12/what-to-do-with-your-psychology-degree.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-1525608827108644564</guid><pubDate>Sat, 20 Dec 2008 03:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-19T19:42:56.404-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perempuan</category><title>Tentang Perempuan</title><description>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/SUxox7KCkZI/AAAAAAAAAKM/9p0ecl9VJ28/s1600-h/woman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 273px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/SUxox7KCkZI/AAAAAAAAAKM/9p0ecl9VJ28/s400/woman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281711669901431186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;                                                                    *taken from Flickr by Hellophotokitty&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;There cannot be true democracy unless women are given the opportunity to take responsibility for their own lives.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Hillary Clinton)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan menentukan pilihan adalah prinsip utama dalam bangun ideal emansipasi perempuan milik saya pribadi. Secara spesifik, prinsip tersebut saya maksudkan begini : perempuan, sebagaimana halnya pria, selayaknya mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Baiknya, perempuan tidak hanya menjadi bentuk “degradasi laki-laki” yang dianggap tidak mampu membuat keputusan untuk menentukan pilihannya, entah karena dinilai terlalu emosional atau tidak rasional. Cermati saja petikan kalimat berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;[A few years from now, your sole responsibility will be taking care of your husband and children. You may all be here for an easy A, but the grade that matters the most is the grade he gives you.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pria dimanjakan oleh ragam pilihan hidup, hingga awal abad 18, peran utama yang ditegaskan oleh masyarakat kepada perempuan adalah sebagai istri dari seorang pria. Jane Austen (1775-1817) mengangkat permasalahan ini lewat tokoh-tokoh perempuan dalam novelnya. Elizabeth Bennet dalam Pride and Prejudice, Emma Watson dalam Emma, serta Elinor dan Marianne Dashwood dalam Sense and Sensibility memberikan gambaraan permasalahan yang utama, kalau bukan satu-satunya, perempuan saat itu : menemukan laki-laki yang tepat untuk membangun pernikahan yang ideal, di mana bobot ketepatan dan ideal digantungkan pada status kebangsawanan dan finansial. Menurut saya, Austen dengan jeli menyelipkan mimpinya akan kebebasan perempuan dengan mempromosikan cinta sebagai nilai dasar sebuah pernikahan, alih-alih status kebangsawanan dan finansial, dalam tulisannya. Harapnya, perempuan menyadari bahwa menikah adalah sebuah pilihan. Lebih indah dengan hadirnya cinta, lebih bahagia bila itu adalah sebuah pilihan bebas.&lt;br /&gt;Bukankah memang soal kebebasan menentukan pilihan ini yang  berulang kali diteriakkan oleh perempuan-perempuan revolusioner kepada dunia? Perjuangan perempuan Amerika di pertengahan abad 18 untuk memperoleh hak suara dalam politik di dunianya menunjukkan keinginan perempuan untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidupnya pula. RA Kartini, disela menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, menyadari bahwa perempuan juga mempunyai hak, kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Menyadari hal tersebut, ia mengambil kesempatan pendidikan yang dipunyainya dan menciptakan kesempatan yang sama bagi perempuan lainnya : memperjuangkan hak perempuan untuk mendapat pendidikan. Dengan menyadari bahwa kebebasan adalah modal yang dipunyainya, perempuan dapat melihat lebih luas lagi mengenai kesempatan yang tersedia untuknya. Ia dapat menyelami peluang-peluang yang ada, yang tak jarang ia ciptakan sendiri. Bukan semata karena ia harus bebas dari stigma sosial yang ada, melainkan karena itulah tugasnya sebagai manusia!&lt;br /&gt;Sekarang ini, menjadi seorang istri dan ibu memang sudah tidak lagi menjadi pilihan yang wajib diambil oleh setiap perempuan. Perempuan dengan gagahnya telah meruntuhkan sebagian besar tembok kaca yang menghalangi mereka untuk menentukan pilihan hidup mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia. Konsekuensinya, perempuan dan dunia harus siap untuk menghargai ragam bentuk pilihan yang digenggam oleh perempuan. Tanpa melecehkan, tanpa merendahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;[“Do you think I’ll wake up one morning and regret not being a lawyer?”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Yes, I’m afraid that you will.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Not as much as I’ll regret not having a family, not being there to raise them. I know exactly what I’m doing and it doesn’t make me any less smart. This must seem terrible to you.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I didn’t say that. I-“&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sure you did. You always do. You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul to her central hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I can do anything I wanted. This is what I want.”]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menantikan hari di mana emansipasi perempuan sungguh terwujud, seperti yang dimimpikan perempuan-perempuan masa lalu yang terkungkung praktik patriarkhi, seperti yang selalu diperjuangkan perempuan-perempuan di pelbagai belahan dunia. Untuk itu, sambil menunggu hari itu tiba, saya akan senantiasa menggunakan kebebasan saya untuk menentukan pilihan hidup saya sendiri. (Gandhi pernah berpesan, ‘Jadilah perubahan yang ingin kau lihat pada dunia’)&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda? :’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Melita Tarisa)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-1525608827108644564?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/4lPh2r3gBq0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/4lPh2r3gBq0/tentang-perempuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Khrisnaresa Adytia)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_GvWtvwOyagY/SUxox7KCkZI/AAAAAAAAAKM/9p0ecl9VJ28/s72-c/woman.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/12/tentang-perempuan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-2541400350023260247</guid><pubDate>Mon, 15 Dec 2008 08:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-15T01:06:41.585-08:00</atom:updated><title>S.Psi...just being tester and scoring???</title><description>Pernah dapet mata kuliah "KOde etik" AKA KoDet???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya sech positive thinkingnya udah pd tau lah ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tau kan teman kalo seseorang yang nama belakangnya, cuma diembel-embeli "S.Psi" hanya boleh jadi tester dan skorer (aih..pecetak skor kali yah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;              &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pasal 10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Interpretasi hasil pemeriksaan psikologik tentang klien atau pemakai jasa psikologi hanya boleh dilakukan oleh Psikolog berdasarkan kompetensi dan kewenangan.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya kalo saya sech sedih banget dengan hal itu, dengan kata lain selama 4 tahun mengenyam (mengkonsumsi??? ga lah ya :) bangku kuliah di jurusan psikologi, ujung-ujungnya cuma bisa dengan aktual menggunakan PD I aja "..&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kepada anda akan diaadakan tes psiologi&lt;/span&gt;...and bla-bla-bla)..then score it...JUST IT!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus mata kuliah grafis, dan PD PD sesudah PD 1 itu kemana larinya??? dimana nilai gunanya, sebagai pengetahuan saja?? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalo just for being a tester gitu, lulusan SMP aja di trainning 2 hari yakin dech pasti bisa melakukannya, dan utk skoring...cukup kasih kunci jawabannya aja jadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harus kan S,Psi berpotensi hanya semacam demikian???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari sikapi ini dg bijak kawand...^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-2541400350023260247?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/1Q4_z-13FaQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/1Q4_z-13FaQ/spsijust-being-tester-and-scoring.html</link><author>noreply@blogger.com (agee_gee)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">9</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/12/spsijust-being-tester-and-scoring.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-6740139871494147374</guid><pubDate>Sun, 07 Dec 2008 04:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-06T20:36:59.807-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi lingkungan</category><title>Apakah Benar Berakar Dari Perut?</title><description>Saya terinspirasi nulis ini karena nonton MTV Switch dimana artis-artis berkampanye untuk mematikan alat yang menggunakan listrik jika tidak perlu karena isu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;global warming&lt;/span&gt;. Saya jadi bertanya, mengapa hanya sedikit orang Indonesia yang berkampanye tentang lingkungan dengan catatan lebih sedikit lagi yang mematikan listrik di siang hari, memisahkan sampah organik dan anorganik, pakai sepeda, dan lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan jadi melebar ketika nonton Animal Planet dimana ada seorang perempuan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengerti bahasa monyet. Mengapa orang Indonesia jarang melakukan suatu penelitian mendalam mengenai hewan atau tumbuhan, malah mereka melakukan kekerasan yang mendalam pada tumbuhan dalam bentuk pembalakan hutan liar atau gelonggong sapi agar mendapat keuntungan? Dalam sastra Indonesia, alam selalu diceritakan sebagai lingkungan yang bersahabat dan memberikan kemakmuran bagi yang tinggal disekitarnya. Tapi itu dalam sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya sering mendapat jawaban, "Ya karena manusia Indonesia masih berkutat pada perut. Jangankan memikirkan lingkungan sementara perut aja belum jelas mau diisi apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adil, kenapa orang-orang jadi menyalahkan perut? Kalau benar memang segala permasalahan berasal dari perut, bagi saya ini primitif karena diperbudak oleh nafsu makan. Kalau benar berakar dari perut, Amerika yang notabene negara maju dan tidak perlu dipertanyakan tentang urusan perut pun &lt;a href="http://www.commondreams.org/headlines05/0613-02.htm"&gt;berkontribusi &lt;/a&gt;pada perusakan lingkungan. Saya jadi sanksi kalau ini karena masalah perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, kira-kira apa sih yang menyebabkan ketidakpedulian manusia Indonesia terhadap lingkungannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com"&gt;-Nia-&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-6740139871494147374?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/I__idMSeg9k" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/I__idMSeg9k/apakah-benar-berakar-dari-perut.html</link><author>niawmiaw@yahoo.com (Nia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">15</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/12/apakah-benar-berakar-dari-perut.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-8402623932264419545</guid><pubDate>Mon, 01 Dec 2008 22:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-01T14:57:29.100-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">spiritual</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">psikologi transpersonal</category><title>Psikologi Transpersonal</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring berjalannya waktu, hal ini terjadi dalam semua bidang ilmu. Demikian halnya dengan ilmu psikologi. Setelah mengenal beberapa mazhab seperti psikoanalisis, bihavioristik dan humanistik, kini dunia psikologi memperkenalkan psikologi transpersonal. Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara singkat mengenai mazhab keempat dalam ilmu psikologi yaitu psikologi transpersonal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi Transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik, hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Dengan menyadari betul tentang keadaan manusia yang bukan hanya terletak pada dunia fisik semata dan meyakini bahwa inti terpenting dari individu terletak pada dunia spiritual yang bersifat kasat mata dan abstrak. dengan kata lain psikologi transpersonal memandang  kita sebagai makhluk spiritual yang memiliki pengalaman  manusia dan bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spriritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbekal teori dan juga penelitian yang sesuai dengan sifat keobjektifan ilmu pengetahuan, maka dalam perkembangan pengkajian terhadap berbagai macam hal-hal mistis dan kebatinan tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan bahkan dipelajari, selama dalam penggunaannya memberikan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan kehidupan manusia. Dari hasil penelitian Telah dibuktikan bahwa Individu cenderung untuk tidak membicarakan pengalaman puncak mereka dengan orang lain. Alasan yang paling banyak adalah bahwa mereka merasa pengalaman itu bersifat sangat personal, intim, dan tidak ingin mereka bagi; bahwa mereka tidak mempunyai kata-kata yang memadai untuk menceritakannya; atau mereka ketakutan jika orang lain akan melecehkan pengalaman itu atau menganggap mereka tidak waras atau sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi transpersonal mengkombinasikan ketiga mazhab psikologi yang telah ada sebelumnya dengan cara mendialogkan semua teori dengan keadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Meski selalu mendapat tentangan keras dari mereka yang beraliran positivis dan juga materialis dilain sisi psikologi transpersonal mendapatkan tempat yang baik dalam bidang akademik dengan dimulainya berbagai macam penelitian yang bertujuan mengkaji dimensi spiritual manusia,  dengan ini maka era milennium ini yang disebut-sebut sebagai era aquarian benar-benar telah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-8402623932264419545?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/JMd2yZFZrz0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/JMd2yZFZrz0/psikologi-transpersonal.html</link><author>noreply@blogger.com (Amarilldo)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/12/psikologi-transpersonal.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-9214702592266237362</guid><pubDate>Sun, 30 Nov 2008 08:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-28T23:44:24.255-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">^Lora^</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Psikoanalisis</category><title>Bayi dengan Kemampuan Sosial – dan Ilusi Perkembangan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.freakinfreebies.com/baby-free-samples/cute-baby.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 352px; height: 263px;" src="http://www.freakinfreebies.com/baby-free-samples/cute-baby.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kutipan dibawah ini diambil dari majalah rohani yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;awake&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   ”Menurut para peneliti di Yale University, AS, anak-anak bayi bahkan yang masih berusia enam bulan telah mengembangkan ”kemampuan memberi penilaian terhadap perilaku orang sebelum mereka (dapat) berbicara”. Anak-anak bayi yang berusia antara enam hingga sepuluh bulan memperhatikan sebuah boneka bermata besar yang mencoba mendaki bukit, sementara boneka-boneka lain ada yang berupaya membantunya atau mendorongnya turun. Lalu, anak-anak itu ”disuruh memilih boneka mana yang ingin mereka ambil untuk mainan”, jelas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Houston Chronicl&lt;/span&gt;e. ”Hampir semua bayi memilih boneka yang senan membantu ketimbang boneka yang nakal.” Jadi, surat kabar itu mengatakan bahwa sampai taraf tertentu, ”bahkan anak-anak bayi sudah dapat membedakan antara teman bermain yang nakal dan yang baik, serta tahu membuat pilihan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penelitian diatas, kira-kira saya dapat menebak mengapa bayi-bayi tersebut memilih mainan yang ’baik’ dibandingkan mainan nakal yang tidak membantu. Tebakan klise, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survival&lt;/span&gt;. Bayi dalam ’ketidakmampuan’nya sudah memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;software bawaan&lt;/span&gt; untuk menghindari bahaya – dalam hal ini yaitu boneka-boneka yang akan menarik dirinya jika ia mendaki bukit. Sebuah fakta yang menakjubkan! Masing-masing dari kita ketika lahir kedalam dunia sudah memiliki komponen bawaan yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;berguna&lt;/span&gt; bagi kelangsungan kehidupan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa kemudian komponen tersebut seakan-akan ’hilang’ ketika seseorang beranjak remaja (dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;later development&lt;/span&gt;)? Kita sering keliru memilih teman yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat remaja ingin mengidentifikasi dirinya sebagai ’seorang populer dengan kekuasaan dimana-mana (dengan aktivitas ber&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;gosip&lt;/span&gt;, menjelekkan orang lain, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;being cruel&lt;/span&gt;, etc)’, dan setiap anak seems dying supaya bisa masuk kedalam kelompok tersebut. Atau kelompok populer lain yaitu anak bandel yang merokok, mabuk, nge-trek, pembolos, etc sebagai prototipe ’cowok keren’. Semua itu pasti pernah terbersit dalam pikiran kita, saya maupun Anda setidaknya sekali dalam hidup ini. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It must be cool to be identified as their gang&lt;/span&gt;”. Tapi kemudian kita mengabaikan survival, dan membiarkan insting kematian (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;thanatos&lt;/span&gt;) kita menguasai pikiran kita. Komponen bawaan kita semenjak bayi pun akhirnya terlupakan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to choose the better instead of worse-naughty friends&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Needs&lt;/span&gt;, mungkin jawabannya. Jika melihat piramida kebutuhan Maslow, maka kebutuhan akan rasa aman (yang kita lihat melalui perilaku survival bayi) beranjak pada kebutuhan lain yang skalanya lebih tinggi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sense of belongingness&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;self-esteem&lt;/span&gt; adalah kebutuhan yang bisa diperoleh seseorang dalam keanggotaan kelompok ‘keren’ tersebut, tapi saya rasa mereka kemudian mengabaikan ‘kebutuhan’ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;security&lt;/span&gt;. Perkembangan manusia setelah anak-anak menciptakan sebuah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ilusi&lt;/span&gt; yang berdasar pada kebudayaan dan kebutuhan. Dengan mengidentifikasi diri dengan kelompok, maka seseorang mungkin merasa aman, tapi sebenarnya tidak mendapatkan ‘aman’ itu sendiri. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rasa aman hanyalah ilusi dari keadaan ketidak-amanan yang sebenarnya&lt;/span&gt;. Sehingga kebutuhan diatasnya pun juga hanyalah ilusi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”So prepare your ammunitions. Get out of the illusions. Identify your self as a man that we are human meant to be by the evolution.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/profile/07482682142372503880"&gt;Lora&lt;/a&gt; ^^&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-9214702592266237362?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/doLLdZqlESM" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/doLLdZqlESM/bayi-dengan-kemampuan-sosial-dan-ilusi.html</link><author>noreply@blogger.com (Laura)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/11/bayi-dengan-kemampuan-sosial-dan-ilusi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-4638140780632156068</guid><pubDate>Wed, 26 Nov 2008 12:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-26T04:30:13.389-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mind reading</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kognitif</category><title>Latihan Empathic Accuracy (membaca pikiran orang lain versi sederhana)</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span&gt;Sebetulnya, kemampuan membaca pikiran orang lain dapat terjadi secara sadar. Namun ada kondisi-kondisi yang harus dimiliki seseorang agar dia dapat melakukannya. Seseorang harus memiliki jenjang pendidikan yang tinggi (agar bisa menangkap maksud tersirat dari kata-kata dan bahasa tubuh), intelijensi tinggi (khususnya kepintaran verbal), pikiran yang terbuka dan kesehatan mental yang baik (agar dia tak mencampuradukkan antara emosi orang lain yang “tertangkap” dan emosi yang dimilikinya). Selain itu, ada beberapa kiat agar dapat membaca pikiran orang lain dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat pertama, kenali orang yang hendak kita baca pikirannya. Dengan mengenali orang tersebut, kita tahu arti tersirat dari kata-kata yang dikeluarkannya dan bahasa tubuhnya. Selain itu, kita juga tahu konteks dari petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh orang itu kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat kedua, latihan. Mintalah umpan balik dari kesimpulan dari hasil mindsight yang kita lakukan. Dengan begitu, kita tahu simpula kita yang salah dan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat ketiga, perhatikan mata dari orang lain. Biasanya, emosi yang bersifat dasar sedih, senang, marah, dan jijik) dapat terbaca dari mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat keempat, jadilah orang yang ekspresif. Keekspresifanbersifat menular. Saat kita bersikap ekspresif, orang lain juga akan lebih ekspresif. Dengan begitu, lebih banyak petunjuk yang diberikan oleh orang tersebut.&lt;br /&gt; Kiat kelima, rileks. Karena kita dapat merasakan emosi orang, artinya orang dapat merasakan emosi kita. Jika kita merasa tegang, emosi tersebut bisa di-copy oleh orang yang hendak kita baca pikirannya, sehingga membuat emosi dirinya yang sebenarnya menjadi tertutup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='//blogger.googleusercontent.com/tracker/1088912194914232863-4638140780632156068?l=www.psigoblog.com'/&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/psigoblog/GQYu/~4/FLvmzUHEJCg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/psigoblog/GQYu/~3/FLvmzUHEJCg/latihan-empathic-accuracy-membaca.html</link><author>ramaximus_dionius@yahoo.com (Dion Dan Dunia)</author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.psigoblog.com/2008/11/latihan-empathic-accuracy-membaca.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

