<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221</atom:id><lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 21:57:37 +0000</lastBuildDate><category>Reportase</category><category>Perikanan</category><category>Kesehatan</category><category>Pendowo</category><category>Dunia.Islam</category><category>Biografi-Sejarah</category><category>Peternakan</category><category>Belajar</category><category>Renungan</category><category>Coretanku</category><category>Foto-Gambar</category><category>Wisata</category><category>Sains</category><category>Tips-Triks</category><category>Pertanian-Perkebunan</category><category>Info</category><category>Krakatau</category><category>Astronomi</category><category>Doa</category><category>Motivasi-Psikologi</category><category>Berita</category><category>Serba-serbi</category><category>Doeloe</category><title>!-.-! Hermawan Pujakelam !!! PEMATANG TAHALO KECAMATAN JABUNG KABUPATEN LAMPUNG TIMUR</title><description>Membudayakan Teknologi Informasi Pedesaan, Menjalin Silaturami dan Komunikasi....
Untuk Info dan sebagainya silahkan kirim email ke pematangtahalo@gmail.com</description><link>http://pematangtahalo.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>381</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/pujakelam" /><feedburner:info uri="pujakelam" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Hermawan = Pematang Tahalao Jabung Lampung Timur</itunes:subtitle><itunes:summary>Membudayakan Teknologi Informasi Pedesaan, Menjalin Silaturami dan Komunikasi.... Untuk Info dan sebagainya silahkan kirim email ke pematangtahalo@gmail.com</itunes:summary><feedburner:emailServiceId>pujakelam</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-8060888213448927876</guid><pubDate>Fri, 06 Jan 2012 03:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-06T10:09:58.447+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Renungan</category><title>Yuk, Menabung di 'Bank Akhirat'...Bunganya Menggiurkan</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/-L9bOKMDHV-A/TwZl-Ukb6CI/AAAAAAAABrY/px3BhA9X9lU/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-OuHFfCYoEBs/TwZmBJ0q9QI/AAAAAAAABrg/n47cEpW4kDk/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="177" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh: Nandang saputra     &lt;br /&gt;Ketika ingin menabung atau mendepositokan uang di bank konvensional, biasanya para nasabah akan mencari bank yang memberikan bunga paling besar. Di samping segi keamanannya dan keterpercayaannya. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Jika di bank-bank konvensional mungkin hanya menawarkan beberapa belas persen dalam setahun, bank yang satu ini menawarkan bunga 700 persen untuk tiap kali setoran. Bukan dalam setahun, tapi setiap kali setoran diberikan bunga 700 persen. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Itu belum termasuk “promo-promo” yang diadakan bank tersebut. Untuk membuka rekeningnya tidak ada batasan minimal. Berapapun akan diterima. Tidak ada biaya administrasi per bulannya. Mau? Inilah 'bank Akhirat'. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tidak ada setoran minimal yang ditentukan untuk membuka rekening tabungan. “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu…” (QS&amp;#160; Al-Baqoroh: 267)&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya, memperoleh pahala yang besar.” (QS Al-Hadiid: 7)      &lt;br /&gt;“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shale?” (QS Al-Munaafiquun: 10)       &lt;br /&gt;Dari tiga keterangan tersebut tidak dijelaskan besaran pasti untuk kita melakukan setoran. Yang diminta hanya sebagian. Bisa sebagian kecil, bisa sebagian besar. Tergantung diri kita masing-masing maunya berapa. Ketika kita sudah menyedekahkan harta kita, maka otomatis catatan kebaikan di buku amal kita akan bertambah. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dan, “bunga” yang kita dapatkan dari hasil sedekah kita adalah 700 persen. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus benih. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS&amp;#160; Al-Baqoroh: 261)&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hitung-hitungannya, menurut saya: 1 butir benih x 7 bulir x 100 benih = 700 benih. Itu minimalnya. Kalo kita lihat di hitungan tersebut, setiap benih itu bisa menghasilkan tujuh bulir. Kalo kita punya 700 benih berarti jadi 4.900 bulir yang akan menghasilkan lagi 100 biji pada masing-masing bulir. Begitu seterusnya. Tak akan pernah berhenti. Hal itu bisa kita lihat di ayat tersebut. “Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bank akhirat ini memang tidak punya kantor resmi. Tapi kita bisa melakukan setoran di mana saja. Misal, ke orang tua, sanak-saudara, anak-anak yatim, orang miskin, dan musafir.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS Al-Baqoroh: 215)      &lt;br /&gt;Mudah kan?&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Juga, tak perlu khawatir salah catat setoran. “Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Baqoroh: 121)&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dengan membuka rekening di bank akhirat ini berarti kita telah menyimpan harta kita dalam bank teraman di dunia bahkan di akhirat. Yang namanya tabungan tentu saja harta yang kita tabung sebenarnya masih ada hak kita. Hanya saja kita memang tidak memegangnya. Apalagi di bank akhirat ini kita tidak bisa melakukan penarikan tunai. Tapi kita bisa merasakan manfaat dari tabungan kita tersebut. Bisa di dunia ini atau di akhirat nanti. Wallahu a'lam bish-shawab. republika.co.id&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-8060888213448927876?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/Vbnjmm11N6s" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/Vbnjmm11N6s/yuk-menabung-di-akhirat-menggiurkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-OuHFfCYoEBs/TwZmBJ0q9QI/AAAAAAAABrg/n47cEpW4kDk/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2012/01/yuk-menabung-di-akhirat-menggiurkan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-4140449016534115501</guid><pubDate>Thu, 05 Jan 2012 07:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-05T14:33:24.351+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Serba-serbi</category><title /><description>&lt;p&gt;&lt;a href="http://career.garuda-indonesia.com/"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: block; float: none; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: auto; border-left-width: 0px; margin-right: auto" title="FA (28-01-12)" border="0" alt="FA (28-01-12)" src="http://lh5.ggpht.com/-M4J9OQrHV_M/TwVSQgtlhpI/AAAAAAAABrQ/RGI44Nz8q5Q/FA2801124.jpg?imgmax=800" width="396" height="552" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-4140449016534115501?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/_-TB77w7Zt4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/_-TB77w7Zt4/fa-28-01-12.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-M4J9OQrHV_M/TwVSQgtlhpI/AAAAAAAABrQ/RGI44Nz8q5Q/s72-c/FA2801124.jpg?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2012/01/fa-28-01-12.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-8313523874926147366</guid><pubDate>Wed, 21 Dec 2011 02:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-21T09:31:34.496+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>"Anda Benar-benar Raja Krakatau..."</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-F1OCwZMkqBo/TvFE_1_xteI/AAAAAAAABq4/0a1-MmtlSdg/s1600-h/image3.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh4.ggpht.com/-5Uhr1NyXSs4/TvFFA6s71gI/AAAAAAAABrA/dI9SsEm9-XU/image_thumb1.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Profesor Tukirin Partomihardjo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengambil sampel dari gundukan yang mengeluarkan uap panas dan gas di lereng Gunung Anak Krakatau, Senin (15/8/2011). &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Tukirin Partomihardjo biasanya tinggal di kepulauan gunung api tanpa penduduk itu selama satu atau dua minggu, tetapi pernah juga hingga 45 hari. Pengalaman hidup sempadan maut di Krakatau tak membuatnya kapok. Saat itu, Tukirin dan tiga kru Zebra Film hendak membuat film dokumenter baru saja mendarat di pantai Anak Krakatau ketika tiba-tiba gunung api itu meletus hebat. Bom batuan pijar dan abu mengepung.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Mereka terjebak di pulau itu, sementara perahu nelayan yang mengantarkan mereka memilih menjauh karena ketakutan. &amp;quot;Kami tidak tahu bagaimana akhirnya bisa selamat. Semuanya lari Setelah agak reda, baru kami dijemput. Sampai sekarang saya masih menganggapnya keajaiban,&amp;quot; kata dia.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tukirin mendapat julukan &amp;quot;King of Krakatau&amp;quot;, &amp;quot;Raja Krakatau&amp;quot;. Julukan &amp;quot;Sang Raja Krakatau&amp;quot; ini awalnya dipopulerkan para peneliti dari Jepang.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Bagaimana Anda mendapat julukan ini?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Awalnya, profesor pembimbing saya di Universitas Kagoshima, yang kemudian pindah ke Universitas Kyushu, menceritakan tentang saya kepada mahasiswanya sebagai &amp;quot;orang kuat dari Krakatau&amp;quot;. Mungkin maksudnya bercanda, tetapi waktu saya diundang ke Kyushu tiba-tiba saya diajak panco oleh salah satu mahasiswa di sana.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dia masih muda dan badannya besar. Saya waktu itu sudah berumur 55 tahun, sedangkan dia berumur 29 tahun. Jadi, bisa dibayangkan, kalau panco, sekali dipegang pasti saya kalah. Tapi, dia rupanya sangat serius dan memaksa untuk membuktikan ucapan profesor pembimbing saya itu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Lalu saya bilang, saya baru mau meladeni kalau kamu ke Krakatau karena saya terkenal sebagai orang kuat dari Krakatau. Singkat cerita, dia melakukan penelitian ke Krakatau dan begitu tiba di sana kembali dia menantang saya panco. Karena saya merasa kok anak muda kurang ajar, serius nantang orang tua panco, akhirnya saya kerjai dia. Saya mau panco di puncak Gunung Rakata.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Lalu kami berdua naik ke gunung, pagi-pagi berangkat dan berencana sampai jam 12 siang. Saya sudah pengalaman dan tahu medan, tetapi dia tidak tahu medan. Apalagi badannya besar, tidak cocok untuk mendaki gunung. Baru setengah perjalanan dia sudah menyerah. Saya paksa dia untuk naik, saya dorong dan tarik dia agar bisa naik sampai ke atas. Sampai tertatih-tatih. Akhirnya dengan tenaga yang tersisa dia sampai ke puncak.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Begitu sampai di atas, saya tawari untuk main panco. Tetapi, karena tangannya sudah rusak kena batu-batu dan duri akibat terperosok berkali-kali, akhirnya dia menyerah tanpa saya harus menyentuh tangannya. Dia pun mengaku kalah. Akhirnya kami turun dan saya anggap sudah tidak ada berita soal panco.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tetapi saya salut dengan orang Jepang, dia begitu konsekuen. Begitu tiba di bawah, di depan banyak orang, tanpa malu-malu dia mencium kaki saya dan mengatakan,&amp;quot;&lt;em&gt;Tukirin you are a real King of Krakatau&lt;/em&gt;.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Dari mana mendapat kekuatan fisik itu?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Saya rajin main &amp;quot;golf&amp;quot; sejak kecil. Golf bukan dengan tongkat, melainkan dengan sabit alias membabat rumput. Sebagai anak kedua dari 10 bersaudara, saya harus rajin membantu orangtua, petani penggarap. Mencari kayu bakar di hutan, mencangkul sawah, atau memanjat kelapa adalah kegiatan masa kecil saya. Lebih dari sekadar kekuatan ragawi, yang lebih penting adalah kekuatan mental. Sayangnya kekuatan mental ini sekarang banyak tak dimiliki anak-anak muda kita.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Apakah itu juga yang menyebabkan sulit mencari penerus?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ya. Sampai sekarang saya belum menemukan penerus peneliti muda yang tertarik kepada Krakatau. Selain karena minimnya dukungan dana pemerintah, kalau saya perhatikan, daya juang yang muda-muda menghadapi tantangan alam itu agak kurang. Padahal, saya sebenarnya tidak bisa berenang, tetapi saya tidak kapok ke Krakatau walaupun ke mana-mana harus pakai pelampung. Saya hanya bisa berharap anak-anak muda kita agar bangkit, mau melihat sejarah bangsa, dan harus berani menghadapi tantangan. (&lt;strong&gt;AIK/INE&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-8313523874926147366?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/ypyFloXDTHc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/ypyFloXDTHc/benar-benar-raja-krakatau.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh4.ggpht.com/-5Uhr1NyXSs4/TvFFA6s71gI/AAAAAAAABrA/dI9SsEm9-XU/s72-c/image_thumb1.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/benar-benar-raja-krakatau.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-8786540437678684559</guid><pubDate>Wed, 21 Dec 2011 02:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-21T09:28:45.108+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Hancurnya Benteng Alam</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/-gQ3RtaYIB-M/TvFEVGs-9tI/AAAAAAAABqo/qb8h9RZbAbs/s1600-h/image4.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-Gak1hRIdHO0/TvFEWW42FpI/AAAAAAAABqw/_Hdu4uXRgBk/image_thumb2.png?imgmax=800" width="195" height="151" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Bukit Kunyit atau yang dahulu disebut Goenoeng Koenjit di timur Teluk Betung, Kampung Skip, Kelurahan Bumiwaras, Bandar Lampung, Agustus. Dulu, bukit ini menjorok 120 meter ke laut, dan menjadi benteng alami dari terpaan tsunami. Saat ini, bukit kapur ini tergerus oleh penambangan liar. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Yulvianus Harjono      &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Dhuar...!&amp;quot; tiba-tiba terdengar suara keras memekakkan telinga dari perbukitan itu. Bersamaan suara menggelegar, jatuh ratusan ton batu berukuran raksasa—rata-rata seukuran sepeda motor.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Di atas lereng bukit, seorang petambang batu bergelantungan, terlilit seutas tali tambang sambil memegang sebilah linggis. Rupanya, suara batu-batu besar menggelegar yang jatuh dari lereng terjal bukit itu hasil cukilan linggisnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kawasan Gunung Kunyit yang tingginya 300-400 meter di atas permukaan laut tersebut, saat ini merupakan kawasan penambangan liar galian C. Batu- batu dari perbukitan ini dijual ke sejumlah daerah di Bandar Lampung sebagai bahan fondasi rumah atau bangunan.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Goenoeng Koenjit&amp;quot;, demikian orang Belanda menamai kawasan perbukitan di pesisir selatan Teluk Betung, Bandar Lampung, itu. Namun, saat ini, kawasan perbukitan karst tersebut tidak lagi terlihat seperti gunung.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Penambangan liar tak terkendali selama puluhan tahun telah menghabisi perbukitan itu. Kini, diperkirakan hanya tersisa 30-40 persen dari total luas perbukitan sesungguhnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pemandangan di kawasan yang disebut Gunung Kunyit oleh warga lokal itu kini mencengangkan. Bukit-bukit bebatuan dan pasir terlihat terpenggal-penggal membentuk tebing yang curam setinggi puluhan meter hingga ke puncak bukit.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Dulu, ketika saya masih kecil, badan gunung ini masih terlihat (menjorok) sampai ke laut. Sekarang, lambat laun mulai habis (ditambang),&amp;quot; ujar Adi (32), warga Bandar Lampung, memberikan gambaran kondisi Gunung Kunyit pada masa lalu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tak mengherankan, siapa pun yang mencoba mencari letak Gunung Kunyit melalui Google Maps, wahana teknologi informasi ini akan menunjuk lokasi gunung di lepas pantai, bukan daratan! Saat ini, jarak bukit dengan pantai sekitar 120 meter.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bagong (32), petambang batu yang biasa beraktivitas di Gunung Kunyit, membenarkan, puluhan tahun lalu, cakupan dari perbukitan ini sangat luas, mencapai puluhan hektar. Kini, luasnya kurang dari 10 hektar. Bahkan, sebagian areal bekas perbukitan yang ditambang kini menjadi permukiman penduduk, kebanyakan warga petambang setempat.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Dulu, kalau mau menambang (batu) sampai ke pinggir laut. Bahkan, (material) diangkut pakai kapal ke daratan,&amp;quot; ujar Bagong, mengungkapkan kisah yang diceritakan petambang batu dari generasi-generasi sebelumnya di wilayah tersebut.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Bunuh diri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hancurnya kawasan Gunung Kunyit layak disayangkan. Pasalnya, pada masa lalu, terutama kala meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883, perbukitan karst yang menjulang itu menjadi benteng alamiah penahan tsunami. Awan panas yang keluar dari tubuh Krakatau mendorong terjadinya tsunami atau gelombang raksasa yang menyapu pesisir di barat Jawa dan Lampung, termasuk pesisir tempat Bukit Kunyit berada hingga ketinggian 30 meter.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Kalau tidak ada Gunung Kunyit, bisa jadi tempat kami tinggal ini hancur disapu (tsunami) saat itu,&amp;quot; ungkap Sapami (39), warga Teluk Betung Selatan, yang tinggal tak jauh di belakang Gunung Kunyit.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Padahal, penambangan batu di Gunung Kunyit sangat berisiko. Pekerja harus memecahkan batu-batu di puncak-puncak bukit atau tebing dengan peralatan seadanya, martil dan linggis.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Untuk pengaman, penggali batu menggantungkan nyawanya pada seutas tambang yang membelit di tubuhnya. Sementara, tugas pengumpul batu tak kalah berbahaya karena batu yang menggelinding sewaktu-waktu dapat menimpa mereka, jika lengah sedikit saja.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Faktanya, risiko-risiko besar macam itu tak menciutkan nyali para petambang ilegal yang menggantungkan hidupnya dari batu-batu itu. Nurdin (54), salah seorang petambang di Desa Kunyit Laut, Teluk Betung Selatan, mengaku sudah tiga kali terkena longsoran kerikil atau batu saat menambang. Tiga tahun lalu, Nurdin nyaris kehilangan nyawanya. Ia tertimpa longsoran batu-batu besar, salah satunya hampir seukuran televisi 40 inci, saat memindahkan batu-batu ke dalam truk.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Alhamdulillah, masih selamat. Masih bisa kerja untuk beri makan keluarga,&amp;quot; ungkapnya. Namun, peristiwa itu tak bisa menutupi jejak mengerikan. Akibat kejadian itu, tulang-tulang punggung Nurdin remuk pada beberapa bagian. Badannya kini membungkuk, tulang-tulangnya bengkok dan menonjol terlihat di punggungnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Saat itu, Nurdin hanya tiga bulan libur untuk memulihkan kondisinya. Ia lalu kembali bekerja menambang batu, menapaki risiko yang sama.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sudah tak terhitung lagi petambang liar di kawasan Bukit Kunyit yang meregang nyawa. Sebulan lalu, Handan, seorang petambang batu lainnya, di wilayah ini tewas akibat jatuh dan tertimpa batu sehingga tubuhnya remuk.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Gantungan hidup&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pekerjaan menambang batu di Bukit Kunyit memang sangat berisiko. Namun, dorongan warga untuk mencari rupiah demi bertahan hidup, mengalahkan segalanya. Itulah masa depan anak-cucu mereka.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Habis, mau bagaimana lagi? Tidak ada pekerjaan lain yang memungkinkan,&amp;quot; ujar Nurdin, pria yang bekerja sebagai petambang batu liar selama sepuluh tahun. Padahal, upah mengangkut batu ke truk dengan risiko yang cukup tinggi ini hanya Rp 20.000 per hari. Dalam sehari, penggali batu mendapat upah Rp 60.000.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menjadi petambang batu, baik mereka yang menggali maupun sekadar mengumpulkan batu, adalah jalan mudah mengais rupiah. Asal berani mengambil risiko. Tak perlu modal, tak perlu keahlian. Tak ayal, banyak warga yang dulunya nelayan, beralih menjadi petambang yang berlokasi di kawasan pesisir Kota Bandar Lampung ini.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Kerja semacam ini, kan enggak butuh syarat ijazah, enggak pakai modal pula. Bisa kapan saja kerja dan istirahat,&amp;quot; ujar Eman (21), warga Teluk Betung Selatan lainnya, yang sesekali menambang batu di Bukit Kunyit.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bagi Eman, menambang batu merupakan pekerjaan turun- temurun dari kakeknya. Ayahnya meninggal di bukit akibat angin duduk atau serangan jantung. &amp;quot;Kala sudah urusan perut &lt;em&gt;mah, ya kerok&lt;/em&gt; (mau bagaimana lagi), Mas,&amp;quot; ungkapnya, tentang alasan menggeluti pekerjaan berisiko ini.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Eman sangat sadar dengan risiko pekerjaannya. Namun, ia barangkali tak paham bahwa pemangkasan Bukit Kunyit ibarat &amp;quot;bunuh diri&amp;quot; secara massal. Tak sekadar membahayakan diri sendiri, penghancuran Gunung Kunyit—tanpa upaya pencegahan pemerintah—juga menghabisi benteng alam yang terbukti melindungi mereka dari ancaman tsunami.(&lt;strong&gt;Indira Permanasari/Ahmad Arif&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt;    &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-8786540437678684559?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/xIsXF2DQX-g" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/xIsXF2DQX-g/hancurnya-benteng-alam.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-Gak1hRIdHO0/TvFEWW42FpI/AAAAAAAABqw/_Hdu4uXRgBk/s72-c/image_thumb2.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/hancurnya-benteng-alam.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-5389669467356675633</guid><pubDate>Wed, 21 Dec 2011 02:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-21T09:24:38.877+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Keindahan yang Berbahaya</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-tHAgG9dc7qE/TvFC3rgyJDI/AAAAAAAABqg/lJutpgE8Ej8/s1600-h/image2.png"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-tHAgG9dc7qE/TvFC3rgyJDI/AAAAAAAABqk/Vl8Bt8hbXyg/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-80DU7fK5LEE/TvFC7gMlWsI/AAAAAAAABqY/ebbUpo2ab_Q/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Asap solfatara yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, terkumpul dan membentuk awan kecil di atasnya, Rabu (17/8/2011). Di gunung ini, tim Ekspedisi Cincin Api Kompas memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Indira Permanasari dan Ahmad Arif      &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Cemara laut (&lt;em&gt;Casuarina Sp&lt;/em&gt;) dan barisan pohon keben (&lt;em&gt;Barringtonia Sp&lt;/em&gt;) yang hijau meneduhkan pedalaman Pulau Rakata. Di tepian pantai, hamparan kangkung laut (&lt;em&gt;Ipomoea pes-caprae&lt;/em&gt;) menutupi pasir. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik, seekor biawak cepat-cepat menyelusup ke balik semak-semak. Kehidupan sedemikian semarak di pulau itu.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Tidak terbayangkan, 128 tahun lalu, pulau hijau itu merupakan tanah kosong tanpa kehidupan. Di balik pesonanya, pulau terpencil di Selat Sunda itu menyimpan sejarah kelam. Pada 27 Agustus 1883, Krakatau meletus hebat, menyisakan hanya sepertiga tubuhnya yang kemudian dikenal sebagai Pulau Rakata. Tebaran abu, batu apung, dan material lainnya menyelimuti pulau itu dan memusnahkan kehidupan di atasnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, justru letusan dan sejarah Krakatau itulah yang menarik orang dari berbagai penjuru dunia untuk datang. Sejak lama letusan Krakatau ibarat magnet yang menyedot pelancong. Bahkan, pada Mei 1883, saat Krakatau pertama kali meletus, serombongan turis yang penasaran datang ke sana dengan kapal pesiar.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Perusahaan Netherland-Indies Steamship Company yang menawarkan &amp;quot;paket wisata&amp;quot; berlayar ke Krakatau dengan kapal uap Governor General Loudon langsung diserbu calon penumpang. Sebanyak 86 penumpang kapal itu dibawa mengelilingi Krakatau, hanya seminggu setelah Krakatau untuk pertama kalinya meletus pada Mei 1883. Bahkan, kapten kapal GG Loudon, TH Lindeman, menyediakan sebuah perahu kecil agar para peserta dapat menjejakkan kaki di Pulau Krakatau yang tengah menggelegak.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Pemandangan pulau itu fantastis: pulau itu telanjang dan kering, hutan tropisnya yang kaya telah lenyap, dan asap naik dari pulau seperti keluar dari oven,&amp;quot; tulis AL Schuurman, yang turut dalam kapal GG Loudon.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pemandangan asap yang keluar dari puncak di Krakatau dan hutan lebat yang terbakar akibat letusan memesona kalangan kaya Belanda di Jakarta. Kapal GG Loudon pun rutin membawa penumpang melintas di sekitar Krakatau. Bahkan, saat Krakatau akhirnya meletus hebat dan mengirim tsunami pada 27 Agustus 1883, GG Loudon tengah berada di perairan Selat Sunda membawa 111 penumpang. Kapal ini selamat karena nasib baik.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sebagaimana riwayat pendahulunya, asap dan batu pijar yang dilontarkan Anak Krakatau saat ini juga menjadi atraksi utama wisata. Sejak muncul tahun 1927, Anak Krakatau menjadi primadona di kompleks kepulauan Krakatau. Bahkan, pariwisata di kawasan Pantai Anyer-Carita hingga Lampung tak akan bergairah tanpa daya dukung Anak Krakatau dan aktivitasnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten Achmad Sari Alam mengatakan, pada saat gelombang Selat Sunda tidak tinggi dan cuaca cerah, wisatawan dapat diajak melihat panorama Anak Krakatau lengkap dengan lelehan lava pijar ataupun letupan seperti kembang api pada malam hari ketika gunung api tersebut sedang beraktivitas.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Samuel (30) dari Italia datang ke pesisir Pasauran, Banten, bersama tiga temannya, termasuk yang tertarik dengan aktivitas Krakatau. Mereka pernah mendengar tentang sejarah kedahsyatan letusan Krakatau dan menghabiskan sekitar dua hari berkeliling di kawasan itu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Kami bisa membayangkan kedahsyatan letusan Krakatau. Apalagi, di Italia, kami juga punya gunung-gunung api dengan letusan besar seperti Etna dan Vesuvius yang mengubur kota Pompeii. Di dunia, nama Krakatau tak kalah terkenal,&amp;quot; ujarnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tak hanya di Indonesia, keindahan, sejarah, dan fenomena letusannya membuat gunung-gunung api potensial menjadi tujuan wisata di dunia sejak dulu kala. Haraldur Sigurdsson dari Universitas of Rhode Islands dan Rosaly Lopes-Gautier dari Fet Propulsion Laboratory dalam tulisannya, &lt;em&gt;Volcanoes and Tourism&lt;/em&gt;, menyebutkan, pada abad ke-17 dan ke-18, para aristokrat mengunjungi Vesuvius dan Etna sebagai paket tur besar.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di Eropa, Thomas Cook membuka jalur kereta api khusus ke puncak Vesuvius pada tahun 1880 yang banyak mengangkut kaum aristokrat. Jalur tersebut hancur sebanyak tiga kali karena aliran lava dan tidak dibangun lagi setelah letusan tahun 1944. Cook juga menghadapi ancaman dari orang-orang lokal Italia yang selama ini mendapatkan penghasilan dari mengangkut turis ke puncak gunung dengan kursi tandu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pelancong mengunjungi gunung berapi dengan beragam alasan, salah satunya ialah menyaksikan dari dekat kekuatan alam. Ketegangan menyaksikan dari dekat gunung api yang sedang meletus menarik jutaan orang tiap tahun untuk mengunjungi gunung-gunung aktif meletus, seperti Kilauea (Hawai), Stromboli (Italia), dan Arenal (Kosta Rika).&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, di balik pesonanya, berwisata ke Anak Krakatau tetaplah berbahaya. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono mengatakan, pada tahun 1980-an, pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Amerika Serikat (AS) tewas saat menyaksikan letusan Anak Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Oleh karena itu, Ketua Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Anton S Tripambudi mengingatkan agar wisatawan dan nelayan tetap mematuhi imbauan supaya tidak mendekati Anak Krakatau dalam radius 2 kilometer. Batasan jarak ini merujuk pada pengalaman saat Anak Krakatau terakhir meletus bisa melontarkan batu sejauh 1,5 kilometer, yakni sudah mencapai perairan di sekeliling pulau ini. Wisatawan dilarang mendarat ke Pulau Anak Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Untuk kasus Gunung Anak Krakatau (GAK) boleh didarati kalau statusnya aktif normal atau di Level I. Namun, begitu masuk Level II (Waspada), gunung api tidak boleh didekati,&amp;quot; kata Anton.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Meski demikian, batas 2 kilometer itu kerap tidak digubris.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Informasi dari orang-orang kapal, kadang dijumpai ada wisatawan, terutama orang asing, yang mendarat di GAK,&amp;quot; kata Anton.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pada pengujung Agustus 2011 pun terlihat beberapa wisatawan asing yang mendarat dan berkemah di Anak Krakatau meskipun larangan mendekati pulau gunung api itu di radius 2 km masih diberlakukan. Tak hanya itu, beberapa wisatawan lain terlihat berenang di air laut yang hangat.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bahkan, saat status gunung ini dinaikkan menjadi Siaga (Level III) pada 30 September 2011, pengunjung yang hendak ke Krakatau tak juga berkurang. Aktivitas vulkanik di dalam dapur magma yang sangat tinggi beberapa pekan terakhir juga tak menimbulkan jeri pelancong.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hayun, pengelola penginapan di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, mengatakan, mayoritas wisatawan, utamanya wisatawan asing, yang berkunjung ke tempatnya mengaku tertantang melihat Anak Krakatau saat aktif dari dekat. Mereka tak cukup melihat semburan lava pijar dari kawah Anak Krakatau pada malam hari yang bisa dilihat dari Pulau Sebesi atau kompleks Kepulauan Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Padahal, Krakatau sebenarnya tidak hanya keindahan letusan dan riwayatnya yang seram. Di Krakatau, pelancong tidak hanya bisa bertualang dan berkesempatan menyaksikan letusan saat-saat Krakatau memuntahkan isi perutnya, tetapi juga dapat menikmati flora dan fauna yang hidup di kepulauan itu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Terlebih lagi, gugusan Kepulauan Krakatau yang luasnya 13.605 hektar ini masuk ke dalam kawasan cagar alam dan ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia (1991) dan merupakan laboratorium alam bagi teori suksesi.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di Krakatau, pelancong bisa belajar bagaimana kehidupan tumbuh berkembang di daratan yang pernah steril dari kehidupan. Pelaku wisata dan pemerintah semestinya bisa cerdas menangkap peluang yang belum banyak tergarap ini.(&lt;strong&gt;Cyprianus Anto Saptowahyono&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-5389669467356675633?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/rDxTU-n0eSI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/rDxTU-n0eSI/keindahan-yang-berbahaya.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-80DU7fK5LEE/TvFC7gMlWsI/AAAAAAAABqY/ebbUpo2ab_Q/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/keindahan-yang-berbahaya.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-3216766316655378398</guid><pubDate>Wed, 21 Dec 2011 02:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-21T09:18:40.367+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Sumber Pengetahuan Penting Ada di Krakatau</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-Zi8KHeOmf-U/TvFB3hIWbSI/AAAAAAAABp4/tWNlZaVmDbA/s1600-h/image%25255B2%25255D.png"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-Zi8KHeOmf-U/TvFB3hIWbSI/AAAAAAAABqA/xQQewZXWM4Q/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh3.ggpht.com/-FRtSXHCzDzU/TvFB_fRkOTI/AAAAAAAABqE/_dLvOITuwN0/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;a&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mengamati tumbuhan harendong (Melastoma malabathricum) di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Senin (15/8/2011). Di gunung ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Berdasarkan survei antara 1981 dan 2008 telah ditemukan sebanyak 122 jenis pohon berkayu, 42 jenis semak belukar, 71 jenis tanaman merambat, dan 173 jenis tanaman obat-obatan. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Krakatau memang tak hanya berarti petaka dan kematian. Tukirin dan para ahli botani telah memberikan pelajaran bahwa Krakatau juga sumber pengetahuan penting bagi geologi, vulkanologi, hingga biologi. Tracey Louise Parish dari Universitas Utrecht, Belanda, menyebutkan, Krakatau merupakan sebuah kasus yang unik dan tak ternilai yang mengisahkan bagaimana penghancuran dan pemulihan kehidupan kembali di alam tropis yang kompleks.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Lebih istimewa lagi karena penghancuran dan pemulihan itu tercatat sedari awal. &amp;quot;Biografi Pulau Krakatau sangat lengkap. Terlengkap yang pernah dibuat di dunia ini. Hanya Krakatau, pulau yang sejak letusan dinyatakan steril selalu terdata secara reguler penambahan populasinya,&amp;quot; kata Tukirin. &amp;quot;Dalam hal ini, kita harus berterima kasih kepada ilmuwan dunia, khususnya Belanda, yang mencatat sejak dini.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Selain itu, munculnya Anak Krakatau juga memberikan kesempatan sekali lagi kepada peneliti untuk membangun teori tentang suksesi ekologi dan kolonisasi di sebuah pulau yang muncul dari laut. Tumbuhnya Anak Krakatau juga memberikan pembelajaran bagaimana letusan-letusan itu memengaruhi arah suksesi di pulau lain sekitarnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Krakatau memberikan pelajaran tentang Bumi yang hidup dan terus tumbuh. Kelahiran dan kematian gunung api, lalu kebangkitan kembali ekologi di tabula rasa, adalah pokoknya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, sudahkah kita belajar?&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hidup berdamping dengan gunung api merupakan kemestian yang dialami masyarakat Nusantara sedari dulu. Diberkahi 129 gunung api aktif, atau 30 persen dari gunung api di dunia, tak memungkinkan kita menjauhinya Di balik ancaman dan petaka yang dikirimnya, gunung api menciptakan bentang alam Nusantara yang istimewa dan unik, selain juga kekayaan mineral dan panas bumi yang berlimpah. Namun, pertanyaan kuncinya adalah bagaimana siasat kita hidup berdampingan dengan gunung-gunung api itu?&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Selama ini kita baru sedikit mengetahui soal Anak Krakatau dan juga kaldera Proto Krakatau. Penelitian tentang hal ini masih sangat kurang,&amp;quot; kata Sutikno Bronto, &amp;quot;Bahkan, masih banyak masyarakat yang tidak tahu keberadaan kaldera-kaldera tua itu.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Minimnya pengetahuan dasar tentang Krakatau ini membuat pengetahuan tentang potensi ancaman dari Anak Krakatau yang terus tumbuh membesar itu juga nyaris tidak ada. Bagaimana mau melakukan mitigasi bencana jika kita tak cukup pengetahuan tentangnya. &amp;quot;Semuanya bermuara pada minimnya dana dan perhatian ke soal-soal gunung api,&amp;quot; keluh Surono.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dia menceritakan, saat Anak Krakatau menggeliat di bulan Oktober 2001 itu, selama lebih dari dua minggu, pusat kontrol gunung api di kantornya kehilangan akses langsung terhadap perkembangan Anak Krakatau dan gunung-gunung api di seluruh Indonesia. &amp;quot;Sambungan satelit diputus karena tagihannya tidak dibayar,&amp;quot; kata Surono. &amp;quot;Akhirnya kembali ke manual, perkembangan situasi gunung api dilaporkan lewat SMS, faks, dan telepon.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Surono juga menceritakan tentang kurangnya alat, petugas pemantauan, dan tenaga ahli yang menangani gunung api. &amp;quot;Belum semua gunung api terpantau. Kami terpaksa memilih mitigasi terhadap gunung api yang letusannya bisa berdampak besar terhadap masyarakat,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Setiap tenaga ahli di PVMBG, kata Surono, harus menangani minimal lima gunung api. &amp;quot;Ini kondisi sangat tidak ideal. Di Jepang, satu gunung api dikeroyok oleh puluhan ahli,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bahkan, Singapura yang tak memiliki gunung api selangkah lebih maju dibandingkan Indonesia. Negara tetangga yang relatif aman dari bencana geologi ini memiliki pusat kajian tentang gunung api, Earth Observatory of Singapore, di bawah naungan Nanyang Technological University. &amp;quot;Beberapa ahli kita bergabung di sana,&amp;quot; kata Surono. Ke depan, barangkali Indonesia harus belajar tentang gunung api dari Singapura.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Seperti penelitian geologi dan vulkanologi yang minim, perhatian di bidang botani juga sangat kurang. &amp;quot;Yang memanfaatkan Krakatau, laboratorium suksesi alam satu-satunya dan terlengkap, kebanyakan peneliti dan media asing,&amp;quot; kata Tukirin.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tukirin satu-satunya peneliti botani dari Indonesia, yang bertahan menekuni suksesi Krakatau. &amp;quot;Saya menjadi peneliti Krakatau awalnya karena kebetulan. Semua penelitian saya ke Krakatau sejak 1980-an tidak dibiayai Pemerintah Indonesia sepeser pun, tetapi nebeng dari penelitian universitas dan lembaga luar negeri,&amp;quot; kata Tukirin, yang ke Krakatau minimal setahun sekali ini.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kita memiliki keajaiban alam tiada duanya, tetapi tidak peduli. &amp;quot;Saat ke Oxford, ditanya saya meneliti Krakatau, profesor di sana langsung bilang, Krakatau selalu jadi rujukan dalam kuliah biogeografi. Di sekolah-sekolah di Jepang, pelajaran tentang suksesi primer juga selalu mengambil contoh Krakatau. Tapi, di Indonesia banyak yang tak paham soal keunikan Krakatau ini,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Senja mulai menjelang saat perahu kayu membelah gelombang, meninggalkan kehidupan dan kehijauan yang mulai pulih di tengah keterpencilan kompleks Krakatau. Tukirin sekali lagi menatap puncak Anak Krakatau yang mengepulkan asap tipis. &amp;quot;Semakin lama, pemulihan alam di Krakatau semakin sulit karena hutan di Jawa dan Sumatera yang menjadi sumber benih semakin hilang,&amp;quot; ujarnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kekhawatiran Tukirin perlahan mewujud. Perlahan-lahan bayangan kawasan pesisir Banten kian jelas dan membesar. Lampu-lampu hotel, perumahan, dan cerobong asap pabrik menyesaki pinggir pantai, tak menyisakan lagi ruang bagi hutan. Sepanjang kawasan yang pernah tersapu tsunami letusan Krakatau itu kini penuh sesak dengan manusia.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hampir malam saat kami tiba di Pantai Carita-Anyer, debur ombak memecah pantai. Angin sepoi-sepoi. Nun jauh, dalam samar, Anak Krakatau berdiam diri di tengah laut. Inilah pantai yang sejak zaman Belanda telah menjadi tempat warga Jakarta lari dari penat.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tsunami setinggi 25 meter yang pernah melanda kawasan ini saat Krakatau meletus pada 1883 nyaris tak terlihat jejaknya selain karang sebesar rumah yang terserak di pekarangan salah satu hotel di sana. Tak banyak pengunjung yang mengenali riwayat batu karang itu yang, menurut catatan Simkin dan Fiske (1983), terbongkar dari bawah laut dan terseret ke pantai karena empasan tsunami.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bagi Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Banten Achmad Sari Alam, Gunung Anak Krakatau dan aktivitas vulkaniknya merupakan aset wisata belaka. &amp;quot;Anak Krakatau itu bukan ancaman, tapi potensi wisata yang dapat dimanfaatkan untuk mengundang wisatawan datang ke Banten, terutama ke kawasan pantai sepanjang Anyer-Carita,&amp;quot; kata Achmad.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pada saat gelombang Selat Sunda tidak tinggi dan cuaca cerah, wisatawan dapat diajak melihat panorama Anak Krakatau lengkap dengan lelehan lava pijar maupun letupan seperti kembang api di malam hari ketika gunung api tersebut sedang beraktivitas vulkanik. &amp;quot;Anak Krakatau sudah masuk ke dalam paket wisata yang ditawarkan bagi turis yang hendak berkunjung ke Indonesia, baik mereka yang datang berwisata melalui Lampung maupun Banten,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sekalipun Anak Krakatau terus memberikan peringatan dengan letusan-letusan kecil nyaris sepanjang tahun, nyaris tak ada kekhawatiran bahwa bencana akan mungkin kembali terulang. Cara pikir masyarakat di pesisir Banten dan Lampung itu mengingatkan pada keadaan sebelum letusan Krakatau 1883.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Memang, setiap orang pernah mendengar cerita tentang letusan di zaman kuno, dan ada orang yang mengamati peta dan beranggapan mereka pernah mendengar cerita ketika Jawa dan Sumatera merupakan satu pulau yang kemudian terbelah menjadi dua akibat peristiwa vulkanik mahadahsyat di zaman dahulu,&amp;quot; tulis Winchester. &amp;quot;Sebagian orang waktu itu beranggapan Krakatau sudah lama padam dan tidak lagi berbahaya.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sejarah seperti berulang. Anak Krakatau bagi kebanyakan orang hanyalah tontonan, dan batu pijar yang kerap dilontarkannya seolah kembang api tahun baru yang sama sekali tidak berbahaya. &amp;quot;Asalkan tak terlalu dekat,&amp;quot; kata Achmad. Sungguh, sejarah kehancuran itu sudah terkubur dalam-dalam di benak masyarakat.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-3216766316655378398?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/IGI9ctqlJpg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/IGI9ctqlJpg/sumber-pengetahuan-penting-ada-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh3.ggpht.com/-FRtSXHCzDzU/TvFB_fRkOTI/AAAAAAAABqE/_dLvOITuwN0/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/sumber-pengetahuan-penting-ada-di.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-8272439648329485604</guid><pubDate>Tue, 13 Dec 2011 02:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-13T09:24:18.096+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Di Antara Semua Gunung Api, Krakatau Terpopuler</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/-ZMrwkXQnumw/Tua3SZWDVQI/AAAAAAAABpk/_KWkwtvA6Ug/s1600-h/image3.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-1JB6MfiZRZo/Tua3TZY1ZeI/AAAAAAAABps/qYTUbPI6TZo/image_thumb1.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Gunung Anak Krakatau lahir kembali dari kedalaman 180 meter, pascaerupsi tahun 1883, dan terus bertambah tinggi hingga saat ini, Perairan Selat Sunda, Rabu (17/8/2011). Gunung di tengah Perairan Selat Sunda di antara Pulau Jawa dan Sumatera ini menarik untuk dicermati, tak hanya dari atas, tapi juga dari bawah permukaan air tempat ia berada. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Gunung Krakatau barangkali merupakan gunung api Indonesia terpopuler di dunia. Bibliografi yang dibuat Brodie dan Kusumadinata pada 1982 mencatat 1.083 karangan telah dibuat terkait letusan Krakatau. Hingga kini, publikasi tentang Krakatau terus berlangsung, terutama karena Anak Krakatau yang tumbuh cepat dan sangat aktif.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Krakatau mendapatkan reputasinya terutama karena letusannya yang hebat tahun 1883. Selain itu, juga karena saat itu dunia baru menemukan alat komunikasi telegram sehingga kabar tentang letusan Krakatau dengan cepat tersebar dan menjadi berita hangat di sejumlah koran dunia.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tak hanya dikaji secara ilmiah, Krakatau juga menjadi sumber inspirasi karya sastra (kebanyakan ditulis orang Eropa), lukis, hingga film. Suryadi dalam pengantar bukunya, &lt;em&gt;Syair Lampung Karam&lt;/em&gt; (2009), menyebut beberapa sastrawan Eropa yang terinspirasi Krakatau dalam karyanya, seperti &lt;em&gt;Ballantyne&lt;/em&gt; (1889), &lt;em&gt;Raabe &lt;/em&gt;(1930), &lt;em&gt;MacLean &lt;/em&gt;(1958), &lt;em&gt;Furneaux &lt;/em&gt;(1964), &lt;em&gt;Jacquemard &lt;/em&gt;(1969), dan &lt;em&gt;Avalone &lt;/em&gt;(1969).&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Adapun beberapa film yang terinspirasi Krakatau di antaranya dibuat oleh Teaching Film Custondians (1933), Twentieth Century-Fox, Joe Rock Productions (1966). Belakangan ada juga film &lt;em&gt;Krakatoa East of Java &lt;/em&gt;yang diproduksi American Broadcasting Companies Inc, dan juga film drama dokumenter yang diproduksi kantor berita Inggris, BBC, berjudul &lt;em&gt;Krakatoa The Last Days &lt;/em&gt;(2006). National Geographic dan beberapa stasiun televisi asing juga berkali-kali membuat film dokumenter soal Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dibandingkan dengan karya orang luar, karya ilmiah, sastra, ataupun film yang dibuat masyarakat Nusantara nyaris tidak ada. Kitab Raja Purwa yang dibuat Ronggowarsito tahun 1869 merupakan yang tertua yang mengisahkan Gunung Krakatau, yang dalam bukunya disebut Gunung Kapi.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Belakangan, ditemukan kembali &lt;em&gt;Syair Lampung Karam&lt;/em&gt;, yaitu kesaksian pribumi soal letusan Krakatau pada 1883 yang ditulis dalam bahasa Melayu dan beraksara Arab. Suryadi, pengajar di Universitas Leiden, Belanda, menemukan syair ini dalam tumpukan arsip di kampusnya. Lelaki asal Sumatera Barat ini kemudian mengalihaksarakan dan menerbitkannya tahun 2009. Dia menyebut catatan ini sebagai salah satu kesaksian pribumi yang paling awal dan penting, tetapi kerap dilewatkan.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-8272439648329485604?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/fqdGoF0ngxI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/fqdGoF0ngxI/di-antara-semua-gunung-api-krakatau.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-1JB6MfiZRZo/Tua3TZY1ZeI/AAAAAAAABps/qYTUbPI6TZo/s72-c/image_thumb1.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/di-antara-semua-gunung-api-krakatau.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-2377006454813683607</guid><pubDate>Tue, 13 Dec 2011 02:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-13T09:21:54.434+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Tsunami Krakatau yang Mematikan</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/-xNDn5TdAzFs/Tua2uf0PgVI/AAAAAAAABpU/qABCY5BwFy4/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh6.ggpht.com/-U-lkuXWUF70/Tua2v-WY2TI/AAAAAAAABpc/Q4mWsIT1UYU/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Koral atau batu karang yang terhempas dari laut jauh ke daratan dekat mercusuar Anyer, Serang, Banten, Minggu (21/8/2011). Batu karang ini salah satu jejak dahsyatnya tsunami letusan Gunung Krakatau 1883. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Letusan Krakatau menelan korban jiwa lebih dari 36.000 orang dan menghancurkan pesisir Lampung dan barat Jawa. Kengerian itu terutama ditimbulkan oleh tsunami yang terjadi menyusul letusan ini.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Begitu hebatnya tsunami saat itu hingga mengubah lanskap pesisir barat Jawa, seperti Anyer dan Carita. Jejak tsunami ini bisa dilihat dari sebaran bongkahan terumbu karang di pesisir Banten dengan diameter 0,5 meter-5 meter. Terumbu karang itu terbongkar dari laut dan terangkat oleh tsunami. Salah satu batu karang terbesar yang ditemukan memiliki berat 600 ton yang hingga kini terdapat di halaman hotel di dekat mercusuar Anyer.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tinggi tsunami di pesisir barat Jawa seperti di Merak, menurut kesaksian, mencapai lebih dari 25 meter, di Teluk Betung gelombang mencapai 15 meter, bahkan di beberapa tempat mencapai 35 meter.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Terjadinya tsunami saat letusan Krakatau 1883 menimbulkan perdebatan. Para ahli geologi, oseanografi, dan paleotsunami menyusun sejumlah skenario penyebab tsunami, antara lain ledakan di bawah laut, runtuhnya kubah dalam skala besar di bagian utara Krakatau, dan luncuran piroklastik (awan panas).&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, lewat berbagai penelitian dan simulasi tsunami di laboratorium, semakin diyakini bahwa luncuran piroklastik atau awan panaslah yang membangkitkan tsunami. &amp;quot;Letusan saja tidak cukup untuk membangkitkan tsunami dahsyat seperti yang terjadi saat letusan Krakatau tahun 1883. Teori lain, yakni jatuhnya kubah gunung dapat menimbulkan tsunami, tetapi syaratnya keruntuhan yang membentuk kaldera itu harus mendadak atau tiba-tiba,&amp;quot; ujar geolog yang meneliti paleotsunami, Gegar Prasetya. Letusan Krakatau membentuk kaldera berdiameter 7 kilometer di kedalaman 270 meter. Permasalahannya, tidak ada yang tahu apakah jatuhnya kubah itu secara perlahan atau tiba-tiba.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Gegar juga pernah membuat percobaan serupa di laboratorium untuk menguji keempat teori itu untuk keperluan disertasinya tentang tsunami tahun 1998 di Laboratorium BPPT, Yogyakarta. Gegar membuat model tsunami gunung berapi untuk membuktikan teori letusan gunung, runtuhnya formasi kaldera, dan luncuran awan panas berdasarkan peristiwa letusan Krakatau pada 1883. Model fisik digunakan sebagai prototipe letusan Gunung Krakatau dan tsunami dalam simulasi itu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Dari simulasi diketahui, tsunami disebabkan oleh luncuran awan panas,&amp;quot; ujar Gegar. Sebuah letusan besar atau dahsyat tidak dapat memproduksi ombak seperti yang terjadi pada letusan Krakatau tahun 1883. Percobaan serupa pernah dilakukan peneliti lain di Jerman dan menunjukkan hasil yang sama.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kesimpulan itu juga didukung dengan survei dan pengujian terhadap sampel inti yang diambil dari dasar laut di kawasan Krakatau oleh geolog Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat. Haraldur yang melakukan penyelaman sekitar tahun 1990-an itu menemukan material awan panas di dasar laut yang melingkar dan hampir simetris di sekitar Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Gegar meyakini, setelah letusan Krakatau, luncuran awan panas yang seperti buldoser dan kecepatannya dapat mencapai ratusan kilometer per jam itu membangkitkan tsunami tinggi. Tsunami itulah yang menelan pesisir dan menewaskan penduduk di sekitar.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tidak hanya menimbulkan tsunami, luncuran awan panas membakar permukiman dan penduduk di bagian tenggara Lampung. Johanna Beyerinck, istri dari petugas kontroler Belanda, Willem Beyerinck, menuliskan kesaksiannya. Pasangan itu dan tiga anak mereka tinggal di desa pesisir Katimbang di Lampung, sekitar 40 kilometer sebelah utara Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pada 27 Agustus, pukul lima pagi, Johanna berkeliling dan melihat api di mana-mana. Mereka yang bertahan di gubuk-gubuk terpukul awan panas dari ledakan Krakatau pukul 10.02 dan menderita luka bakar. Dari 3.000 orang yang berada di kawasan itu, sekitar 10.000 orang meninggal karena terbakar oleh abu panas membara.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Gegar menjelaskan, terdapat dua jenis material awan panas, yakni material padat dan gas. &amp;quot;Material padat, dengan berat jenisnya, akan masuk ke laut. Sedangkan material yang lebih ringan, seperti gas, menjalar di permukaan laut dan mencapai pesisir. Itu yang membumihanguskan Desa Katimbang. Gas dan panas itu membakar orang-orang. Setelah itu, datanglah tsunami,&amp;quot; ujarnya.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-2377006454813683607?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/GO7l6DVACjY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/GO7l6DVACjY/tsunami-krakatau-yang-mematikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh6.ggpht.com/-U-lkuXWUF70/Tua2v-WY2TI/AAAAAAAABpc/Q4mWsIT1UYU/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/tsunami-krakatau-yang-mematikan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-1636750924129152621</guid><pubDate>Mon, 12 Dec 2011 02:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-13T09:27:14.636+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Haul Krakatau Mulai Dilupakan Warga</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-qTU78lqQzx4/TuVpSZ5LQBI/AAAAAAAABpE/AO80vNT3vLs/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh3.ggpht.com/-rcjIhJtMvPo/TuVpT5NyyfI/AAAAAAAABpM/WxRW8G6tWeI/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Suasana Haul Krakatau yang digelar di Masjid Caringin, Labuan, Banten, Kamis (22/9/2011). Acara yang digelar secara sederhana untuk mengenang meletusnya Krakatau tahun 1883 ini hanya diikuti sedikit warga. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Mamad Salwa (57) adalah warga Caringin di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dia generasi keempat saksi mata letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Mamad masih memelihara ingatan petaka Krakatau yang dikisahkan orangtuanya secara turuntemurun. &amp;quot;Hari itu, Jumat, 23 Syawal tahun 1300 Hijriah. Setelah bunyi letusan yang sangat keras, api menyembur dari arah Krakatau di tengah laut. Lalu langit tiba-tiba menjadi gelap,&amp;quot; kisahnya.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Laut pun surut. Ikan menggelepar di pantai. &amp;quot;Kakek buyut saya segera lari karena ketakutan. Tetapi, banyak warga desa lainnya yang justru ke laut mengambil ikan. Merekalah yang kemudian menjadi korban,&amp;quot; kata Mamad.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Saat sebagian besar warga sibuk mengambil ikan di pantai atau sekadar terperangah melihat keajaiban itu, air laut tiba-tiba datang menerjang. Gelombang tsunami menghantam, menewaskan nyaris seluruh warga desa. ”Kakek buyut kami selamat, tetapi saudara dan tetangganya kebanyakan tewas. Total warga Labuan yang tewas disebutkan 7.000 orang,” katanya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tiap tahun Mamad dan beberapa warga lainnya menggelar haul, semacam ritual doa bersama untuk mendoakan leluhur mereka yang menjadi korban. &amp;quot;Kami diberi amanat oleh orangtua agar setiap tahun menggelar haul ini,&amp;quot; kata dia.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tahun ini haul kembali diperingati. Namun, hanya sekitar 30 orang yang datang. Pengeras suara sudah berkali-kali memanggil warga agar datang ke Masjid Besar Labuan, tempat doa bersama akan digelar. Namun, sebagian besar warga tak acuh.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Acara itu cuma begitu-begitu saja dan sudah sering dilakukan,&amp;quot; kata Nuril (24) yang memilih menjaga warung kelontongnya, sekitar 20 meter dari Masjid Labuan. Dari warungnya, suara doa bersama itu jelas terdengar.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Mamad Salwa resah dengan semakin sedikitnya warga yang datang ke haul. ”Terutama anak-anak muda, mereka tidak mengerti dan tidak peduli dengan riwayat tanah ini,” kata dia. Padahal, menurut Mamad, peringatan ini sebenarnya bukan sekadar mendoakan leluhur. Mereka sekaligus merawat ingatan dan mendorong warga agar terus waspada bahwa tetangga mereka, Gunung Krakatau, bisa sewaktu-waktu kembali mengirim bala bencana.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ingatan manusia memang terlalu pendek, apalagi bila dibandingkan periode letusan besar gunung api yang bisa ratusan hingga ribuan tahun. Ketika Anak Krakatau tengah membangun kekuatan sebagaimana leluhurnya, ingatan warga terhadap petaka yang diakibatkan letusan Gunung Krakatau justru semakin pudar.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Warga kembali memadati kawasan yang pernah dihancurkan tsunami dan dihanguskan awan panas akibat letusan Krakatau pada 1883, nyaris tanpa persiapan memadai. Tsunami yang berpotensi kembali terjadi hanya dibentengi bukit-bukit yang dikeruk, tanggul yang rapuh, jalur evakuasi yang tumpang tindih dengan pipa gas rawan meledak, serta pengetahuan tentang mitigasi bencana yang minim.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, rumah-rumah nelayan rapat berjajar di pinggir pantai. Penghuninya kebanyakan berasal dari Cirebon, Brebes, dan sejumlah daerah di Jawa Timur. Tsunami setinggi 15 meter yang melanda kawasan ini lebih dari 200 tahun lalu tak terlihat lagi jejaknya, selain batu karang mati yang teronggok di pantai. Saat tsunami melanda kawasan ini, batu karang itu terbongkar dari dasar laut dan terbawa hingga jauh ke daratan. Sebagian batu karang itu kini dibongkar dan diratakan untuk fondasi rumah.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Dulu pantai ini berlubang-lubang penuh batu karang. Malah ada kampung lama yang setelah tsunami tenggelam di tengah laut. Orang-orang menyebutnya Karang Kabua. Tempat itu katanya dulu nyambung dengan pantai ini,&amp;quot; ujar Agus (46), warga Desa Teluk.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Agus merupakan generasi kedua. Keluarganya berasal dari Jawa Tengah yang datang ke Desa Teluk akhir tahun 1950-an. &amp;quot;Orang di sini semuanya pendatang. Leluhur kami meratakan pantai yang penuh karang dan membangun rumah di atasnya,&amp;quot; ujarnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Setelah letusan Krakatau, kawasan pesisir di sepanjang Labuan menjadi lahan kosong tak berpenghuni. Orang asli yang selamat dari bencana itu takut untuk tinggal kembali di tepi pantai. &amp;quot;Kalau pendatang seperti kami, tidak tahu pas meletusnya, jadi kami tidak takut tinggal di sana,&amp;quot; kata Agus. Krakatau bagi para pendatang justru memberinya rezeki lantaran banyaknya turis yang ingin berkunjung ke sana dan menyewa perahu mereka.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sama seperti Labuan, Pulau Sebesi, yang seluruh penduduk aslinya tewas tersapu tsunami akibat letusan Krakatau 1883, juga kembali dipenuhi warga pendatang. Kepala Desa Tejang, Sebesi, Syahroni (45), bercerita, seluruh warga Pulau Sebesi merupakan pendatang dari Banten, Lampung, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat. Mereka juga mulai menghuni Sebesi sekitar tahun 1950.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tidak adanya sambungan memori warga dengan Krakatau agaknya juga menyebabkan warga Sebesi tidak memiliki trauma dan ketakutan terhadap Anak Krakatau. Padahal, dari pulau itu, Anak Krakatau terlihat sangat dekat. Nyaris setiap Anak Krakatau meletus, abunya menutup seluruh genteng warga.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tanah yang subur dan laut yang kaya ikan membuat warga abai dengan risiko letusan Anak Krakatau. Sebaliknya, kiriman abu Krakatau justru disyukuri sebagai berkah karena menyuburkan kebun kakao, pisang, dan kopra.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tiadanya kepedulian terhadap risiko Anak Krakatau juga terlihat di Teluk Betung, Lampung. Gunung Kunyit, benteng alam yang melindungi warga Teluk Betung saat tsunami melanda kawasan ini tahun 1883, kini nyaris musnah karena ditambang.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Penambangan liar yang tidak terkendali selama puluhan tahun menyebabkan bukit yang dulu menjorok 120 meter ke laut berubah menjadi teluk. &amp;quot;Kalau tidak ada Gunung Kunyit, bisa jadi tempat kami tinggal ini hancur disapu tsunami saat itu (letusan Krakatau 1883),&amp;quot; kata Sapami (39), warga Teluk Betung Selatan.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kini, sepanjang kawasan pesisir Teluk Lampung yang pernah dihantam tsunami hingga ketinggian 30 meter ini telah disulap menjadi permukiman padat dan kawasan industri. Dari 1,2 juta jiwa penduduk Bandar Lampung, 10 persen di antaranya tinggal di kawasan pesisir ini.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di kawasan industri Cilegon, Banten, bukit-bukit yang menjadi tumpuan evakuasi jika tsunami terjadi juga ditambang, misalnya, terjadi di Cikuasa Atas. Proyek penyebaran 40.000 pamflet berisi kiat-kiat penyelamatan dari bencana tsunami tak mempan menghadapi cangkul para petambang yang lapar.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sejak tahun 2007, Pemerintah Kota Cilegon melalui pusat krisis—yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan—mulai menyosialisasikan kiat penyelamatan dari bencana industri, gempa, dan tsunami. Selain menyebar pamflet, mereka juga menyiapkan 15 lokasi evakuasi dan memasang jalur-jalurnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tak semua warga paham dengan taktik mitigasi yang lebih mengandalkan penyebaran pamflet dan papan pengumuman ini. &amp;quot;Orang pasang plang tsunami seperti buang air. Habis pasang kabur. Apa maksudnya tidak pernah dijelaskan ke warga,” kata Yayat (37), warga Citeureup, Kecamatan Panimbang.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sementara sebagian jalur evakuasi di Cilegon ternyata berada di atas pipa gas yang gampang meledak. Persis di depan menara sirine peringatan tsunami yang dibangun di jalur itu, sebuah papan peringatan lain menyebutkan, &amp;quot;Perhatian! Sepanjang jalur ini tertanam pipa gas tekanan tinggi.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kota yang pernah dilanda tsunami ini juga menjadi pusat industri dan sebagian adalah industri kimia gampang terbakar. &amp;quot;Kami lebih takut pabrik kimia meledak daripada letusan Krakatau,&amp;quot; kata Saiful (30), warga Kampung Kopo Kidul, Cilegon.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kebakaran pabrik kimia di kawasan industri itu memang kerap terjadi sehingga segar menghantui ingatan warga. Misalnya, pada Febuari 2009, ledakan terjadi di salah satu tangki di sebuah pabrik pengolahan zat kimia di kawasan industri Ciwandan yang mengakibatkan lima pekerja terluka. Awal Febuari 2011, kembali warga Cilegon dikejutkan dengan ledakan pabrik kimia di kawasan industri Ciwandan.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pemilihan Cilegon sebagai industri lebih karena kecelakaan sejarah. Kota-kota di Indonesia dibangun tanpa memperhitungkan ancaman gempa, tsunami, dan letusan gunung api. &amp;quot;Belum ada kota yang memperhatikan aspek bencana alam, seperti gempa dan tsunami dalam pembangunannya,&amp;quot; kata Danny Hilman, ahli gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Padahal, jejak petaka yang diakibatkan Krakatau jelas terbaca dan Anak Krakatau kini tengah membangun kekuatannya.&lt;strong&gt;(Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-1636750924129152621?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/XIFtnj_-br8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/XIFtnj_-br8/haul-krakatau-mulai-dilupakan-warga.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh3.ggpht.com/-rcjIhJtMvPo/TuVpT5NyyfI/AAAAAAAABpM/WxRW8G6tWeI/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/haul-krakatau-mulai-dilupakan-warga.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-4961420243056823594</guid><pubDate>Mon, 12 Dec 2011 02:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-13T09:26:29.834+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Karkata, Kekatu, hingga Kagak Tau</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/-LnBi4Kzs94w/TuVoZRvUhLI/AAAAAAAABo0/-vYkjnDKtxI/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh4.ggpht.com/-CnS73q-nCfc/TuVoacXFnkI/AAAAAAAABo8/tpwz0e7SNnE/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; Catatan orang Eropa pertama tentang Krakatau terdapat dalam peta yang dibuat Lucas Janszoon Waghenaer tahun 1584. Dia menulis dalam peta itu Pulo Cartcata untuk menunjuk pulau gunung api di selatan Sunda. Sejak itu, nama Krakatau muncul dalam catatan pelaut Eropa dalam berbagai variasi nama, di antaranya Rakata, Krakatoa, Krakatoe, atau Krakatao.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Suryadi (2009) menyebutkan, setidaknya ada tiga versi asal mula nama Krakatau. Pertama dari bahasa Sanskerta, karkataka, karkata, atau karka, yang artinya 'kepiting' atau 'lobster'. Kedua, penamaan itu diambil dari bunyi mirip suara beo putih yang pernah menghuni daerah itu. Ketiga, dari kosakata bahasa Melayu, kelakatu, yang berarti 'semut bersayap putih'.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Selain itu, menurut Suryadi, ada juga cerita yang menyatakan tentang nama pulau itu muncul akibat sebuah kekeliruan berbahasa. Disebutkan bahwa ketika seorang kapten kapal bertanya kepada penduduk asli tentang nama pulau gunung api, yang disebut belakangan menjawab kagak tau, yaitu jargon dalam bahasa Betawi yang berarti 'saya tidak tahu'.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pujangga Jawa, Ronggowarsito (1869) dalam Kitab Raja Purwa menyebut Gunung Krakatau sebagai Gunung Kapi. Buku ini merupakan yang tertua yang dibuat pribumi tentang Gunung Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Simon Winchester (2003) dengan jitu menulis, penyebutan nama geografis memang menjadi masalah besar bagi Indonesia yang pernah menderita akibat beban penjajahan dari banyak bangsa. Tempat yang sama bisa mendapat nama sampai tiga kali, atau bahkan lebih. Pertama nama pribumi, kemudian nama yang diberikan oleh penjajah (bisa berbeda nama dari Portugis, Inggris, hingga Belanda—hanya Jepang yang pelit memberi nama), kemudian nama pengganti di zaman pascakolonial.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pulau-pulau yang berada di kompleks Krakatau ini juga menunjukkan kompleksitas ini. Panjang—nama pribumi atau purba—menjadi Pulau Lang oleh Belanda, kemudian sekarang menjadi Rakata Kecil. Sertung menjadi Verlaten (bahasa Belanda, artinya ’pulau kesepian yang ditinggalkan penghuninya’), dan sekarang kembali menjadi Sertung.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-4961420243056823594?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/12DMR16p-Pg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/12DMR16p-Pg/karkata-kekatu-hingga-kagak-tau.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh4.ggpht.com/-CnS73q-nCfc/TuVoacXFnkI/AAAAAAAABo8/tpwz0e7SNnE/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/karkata-kekatu-hingga-kagak-tau.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-6150895478385996984</guid><pubDate>Tue, 06 Dec 2011 02:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-06T09:34:41.060+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Penemuan Telegram Kabarkan Dahsyatnya Letusan Krakatau</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/-Sr3kTyc-UuY/Tt1_N7RD0RI/AAAAAAAABok/gpccrwOlkYw/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh4.ggpht.com/-MWQVGHZ3jFw/Tt1_PUn12YI/AAAAAAAABos/CBuwNLxpynE/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Koral atau batu karang yang terhempas dari laut jauh ke daratan dekat mercusuar Anyer, Serang, Banten, Minggu (21/8/2011). Batu karang ini salah satu jejak dahsyatnya tsunami letusan Gunung Krakatau 1883. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dibandingkan letusan Gunung Tambora di Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) pada 1815, letusan Gunung Krakatau masih kalah besar, baik kekuatan maupun dampaknya. Berbeda dengan letusan Tambora yang terekam samar dan dampak globalnya baru dideteksi lebih dari 100 tahun kemudian, letusan Krakatau diketahui warga dunia dalam bilangan jam.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Dampak letusan Tambora baru diketahui ketika peneliti di kantor meteorologi Amerika Serikat, WJ Humphreys, pada tahun 1930-an menemukan hubungan antara cuaca buruk di dunia Barat pada 1816 dan letusan Gunung Tambora. Adapun letusan Krakatau telah menjadi berita utama di koran-koran di Eropa tak lama kemudian.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tsunami yang menyebar luas ke berbagai penjuru dunia pada 27 Agustus 1883 juga terdeteksi dengan cepat bahwa sumbernya Krakatau. Sepanjang tanggal 27 Agustus dan sehari setelahnya, telegram dari Batavia (Jakarta)—160 km dari Krakatau—berkali-kali dikirim ke Singapura. Dari sana kabar kemudian menyebar jauh hingga Inggris.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bunyi telegram menyebutkan kepanikan suasana di Jakarta waktu itu. &amp;quot;Batavia saat ini hampir gelap gulita—lampu gas menyala sepanjang malam—tak dapat berkomunikasi dengan Anjer (Anyer)— beberapa jembatan hancur, sungai-sungai meluap karena gelombang laut yang menuju daratan,&amp;quot; demikian isi telegram yang dikirim pada sore hari, 27 Agustus.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kemudian, pukul 11.00 pada 28 Agustus, sebuah telegram kembali diterima di Singapura, &amp;quot;Anjer, Tjeringin, dan Telok Beting hancur lebur.&amp;quot; Setengah jam kemudian kabar buruk kembali dikirim, &amp;quot;Mercusuar di Selat Sunda menghilang.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Berikutnya, telegram itu mengirim informasi lebih detail tentang gelombang laut setinggi 40 meter yang menghanyutkan terumbu karang seberat 600 ton ke daratan Anyer. Disebutkan, sedikitnya 36.417 orang tewas, sebagian besar karena gelombang tsunami, dan 165 desa hancur.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Berita yang cepat menyebar itu tak membuat warga Australia bagian selatan, Perth, Colombo, dan Rodriguez (sejauh 4.800 km), harus lama bertanya-tanya tentang suara gelegar letusan yang terdengar dari rumah mereka pada 27 Agustus. Demikian halnya warga dunia menjadi cepat tahu bahwa tsunami yang melanda pantai Sri Lanka dan perubahan tinggi permukaan air laut di Selandia Baru, Alaska dan Saluran Inggris pada hari itu adalah dampak Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Para meteorolog dunia juga dengan cepat menghubungkan bahwa cuaca dingin yang terjadi sepanjang tahun 1883 hingga paruh pertama 1884 adalah berkat letusan Krakatau. Awan dari abu vulkanik naik ke atas mencapai ketinggian 50-80 km dan mengitari bumi dengan kecepatan jet beberapa kali. Suhu udara menjadi lebih dingin akibat sinar matahari terhalang abu vulkanik lebih dari satu tahun lamanya di beberapa wilayah bumi. Volume material yang dikeluarkan diperkirakan sekitar 18-21 kilometer kubik yang terdiri dari 9-10 kilometer kubik batu-batu berat.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Letusan Krakatau merupakan bencana besar pertama di dunia yang terjadi setelah jaringan kabel telegraf menyambung di seluruh dunia. Dua belas tahun sejak Samuel Morse pada 24 Mei 1844 mengirimkan pesan pertama dari gedung Mahkamah Agung di Washington kepada koleganya Alfred Vail, di Baltimore, telegram sudah disambung ke istana besar di Buitenzorg ke kantor-kantor di Batavia. Jawa kemudian terhubung ke dunia internasional sejak 1859, melalui Singapura, sehingga berita letusan Krakatau bisa dengan cepat menyebar luas.&lt;strong&gt;(Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-6150895478385996984?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/60gX98CQl6g" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/60gX98CQl6g/penemuan-telegram-kabarkan-dahsyatnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh4.ggpht.com/-MWQVGHZ3jFw/Tt1_PUn12YI/AAAAAAAABos/CBuwNLxpynE/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/penemuan-telegram-kabarkan-dahsyatnya.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-4535316315983316050</guid><pubDate>Mon, 05 Dec 2011 05:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-05T12:49:03.638+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Letusan Krakatau dalam Catatan</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/-6Fne4wSE3QQ/TtxbRy1tpcI/AAAAAAAABoU/fNrmwvIaj34/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-eY6P9lAqHlQ/TtxbTCn86iI/AAAAAAAABoc/lS5vuFKktxE/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="189" height="144" /&gt;&lt;/a&gt; Saat letusan Gunung Krakatau tahun 1883, teknik pendokumentasian canggih seperti sekarang belum ada. Sekalipun seismograf mulai dikembangkan, belum ada jaringan yang mendunia, apalagi seismograf yang beroperasi dalam radius 5.000 kilometer dari Krakatau ataupun teknologi satelit.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Rekaman suara, seperti telepon dan radio, telah ditemukan, tetapi belum digunakan di belahan timur dunia. Teknologi film sudah lahir, tetapi belum fleksibel dan mudah dibawa seperti saat ini. Keterbatasan ini membuat dokumentasi melalui tulisan lebih banyak tersedia. Korespondensi, jurnal, dan berita koran merupakan rekaman utama peristiwa letusan Krakatau.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Catatan-catatan dikumpulkan oleh Tom Simkin dan Richard S Fiske dalam bukunya, &lt;em&gt;Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and Its Effects&lt;/em&gt;. Sementara satu-satunya tulisan pribumi tentang letusan itu termuat dalam &amp;quot;Syair Lampung Karam&amp;quot; yang dialihaksarakan Suryadi Sunuri. Berikut beberapa ringkasan catatan tersebut.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Catatan Kapten Johan Lindeman yang membawa Kapal Governor General Loudon melalui Selat Sunda. Kapal berangkat dari Batavia membawa rombongan sebanyak 86 penumpang menuju&amp;#160; Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Minggu, 26 Agustus 1883, kapal mulai dihujani abu dan batu apung. Angin mulai bertiup kencang dan kapal berjuang melewati Krakatau, lalu melepas jangkar di dekat Teluk Betung, Lampung. Senin, 27 Agustus, sekitar pukul 7 terlihat gelombang besar yang kemudian tumpah dan menyapu daratan. Dengan tenaga uap, kapal menuju Anyer, sementara hujan lumpur dan abu membuat lapisan tebal dan orang sulit bernapas. Suasana semakin gelap, dan pukul 10.30 pagi kegelapan total segelap malam menyelimuti. Disusul angin topan dan gelombang tinggi setinggi surga (langit) dan membuat orang-orang khawatir bakal terkubur gelombang, namun kapal terus melaju dengan kepala kapal menghadap ke gelombang. Sore hari, angin mereda. Kegelapan menyelimuti hingga subuh pukul 4 keesokan harinya, 28 Agustus. Hari itu, sekitar pukul 6.50 sore, sampai dengan selamat di Teluk Bantam. Dalam perjalanan pulang itu, terlihat bagian tengah Krakatau telah menghilang.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Laporan koran &lt;em&gt;Java Bode&lt;/em&gt;. Senin 27 Agustus 1883, tiba-tiba, sekitar pukul 9, langit menjadi gelap. Orang-orang tidak bisa melihat dalam jarak dekat dan lilin-lilin pun dinyalakan. Abu mulai berjatuhan, sementara langit di bagian barat tampak cahaya kekuningan. Telegram pertama diterima dari Serang yang mengabarkan letusan Krakatau. Letusannya terdengar dan pijaran apinya terlihat pada malam hari di Serang. 28 Agustus 1883, dari Serang datang kabar kondisi hujan abu dan korban jiwa di Anyer.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;GF Tydemann adalah seorang letnan kapal perang Koningin Emma der Nederlander. Tydemann menceritakan kedatangan tsunami. Pukul 9.30 pagi, kegelapan mulai menyelimuti. Tekanan udara di dalam kapal berubah drastis, menimbulkan tekanan aneh di telinga. Sementara itu, hujan abu semakin tebal. Bukan tekanan angin ternyata, melainkan tekanan air yang mengganggu kapal hingga pukul 12.00 siang. Air mulai naik dengan cepat sebelum sore hari. Begitu cepat dan tingginya sehingga segera menyapu bagian atas dermaga. Dan tiba-tiba air bergulung menuju permukiman, dari sana terdengar teriakan dan tangis ketakutan. Orang-orang dalam paniknya berusaha memanjat apa pun yang mengambang, ke kapal-kapal di dermaga, kapal uap pemerintah Siak, dan akhirya juga ke kapal Tydemann.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Satu-satunya kesaksian pribumi ditulis Muhammad Saleh dalam bentuk &amp;quot;Syair Lampung Karam&amp;quot;. Ahli filologi dan dosen/peneliti di Universitas Leiden, Suryadi Sunuri, mengalihaksarakan naskah yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab-Melayu (Jawi). Setelah meneliti syair itu, Suryadi berpendapat, pengarang menulis syair itu di Kampung Bengkulu yang kemudian dikenal sebagai Bencoolen Street di Singapura. Muhammad Saleh menyatakan datang dari Tanjung Karang, Lampung, dan mengaku menyaksikan langsung malapetaka akibat letusan Krakatau. Boleh jadi Saleh mengungsi ke Singapura lantaran bencana itu. Berikut penggalan syairnya yang menceritakan kedahsyatan letusan Krakatau:&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;….&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di dalam hal demikian peri,      &lt;br /&gt;Berbunyi meriam tiga kali,       &lt;br /&gt;Kerasnya itu tidak terperi,       &lt;br /&gt;Bertambah gentar seisi negeri.       &lt;br /&gt;Isi negeri sangat ketakutan,       &lt;br /&gt;Kerasnya bunyinya tiada tertahan,       &lt;br /&gt;Turunlah angin sertanya hujan,       &lt;br /&gt;Mengadang mata umat sekalian       &lt;br /&gt;Banyaklah lari membawa hartanya ,       &lt;br /&gt;Di dalam perahu, sampan, koleknya,       &lt;br /&gt;Dipukul gelombang hilang dianya       &lt;br /&gt;Harta, perahu, habis semuanya.       &lt;br /&gt;....&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-4535316315983316050?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/Y-Lh7aE0rcw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/Y-Lh7aE0rcw/letusan-krakatau-dalam-catatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-eY6P9lAqHlQ/TtxbTCn86iI/AAAAAAAABoc/lS5vuFKktxE/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/letusan-krakatau-dalam-catatan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-4556553168330528987</guid><pubDate>Mon, 05 Dec 2011 05:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-05T12:47:50.872+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Peta Terakhir Jelang Letusan Dahsyat Krakatau</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-goAjxsV7w6U/TtxbAA1ZAII/AAAAAAAABoE/7_7Gd4wQbhM/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-C-49Sc3SB9A/TtxbBBIsAqI/AAAAAAAABoM/L05W9ZNeK18/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Peta Krakatau yang dibuat HJG Ferzenaar pada 11 Agustus 1883. Peta ini merupakan yang terakhir yang dibuat sebelum pulau gunung api ini hancur karena meletus pada 27 Agustus 1883. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Setelah 200 tahun tertidur, pada 19 Mei 1883, Batavia (Jakarta) dikejutkan dengan dentuman keras, melebihi bunyi meriam terkeras. Kaca-kaca jendela bergetar hebat bahkan jam dinding berhenti berdetak karena sapuan gelombang kejut. Abu dan batu apung berjatuhan di Selat Sunda, menggiring orang untuk melongok ke puncak Perbuatan, salah satu puncak di pulau gunung api Krakatau, yang tiba-tiba meletus.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Namun, setelah kegaduhan itu, Krakatau kembali tenang. Pulau dengan tiga kawah itu tidur tenang, dikitari laut biru yang dalam. Setelah hari keempat berlalu dengan damai, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Frederik s'Jacob menyimpulkan saat yang bagus untuk melihat Krakatau dari dekat, melihat apa yang terjadi, dan yang lebih penting lagi: untuk menyimpulkan apakah kejadian serupa bisa terulang kembali. Dia mengutus insinyur pertambangan, AL Schuurman, pergi ke sana.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Berbeda dengan kekhawatiran s'Jacob, perusahaan pelayaran The Netherlands Indies Steamship Company melihat Krakatau sebagai potensi besar untuk mendatangkan turis sehingga dengan sigap menyodorkan kapal wisata, Gouverneur-Generaal Loudon. &amp;quot;Pada Sabtu, 26 Mei, perwakilan perusahaan menempelkan pengumuman di klub Harmonie dan Concordia, mengiklankan 'wisata menyenangkan' dan mengumumkan harga yang kompetitif sebesar hanya 25 guilder,&amp;quot; tulis Winchester.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pada Minggu sore, kapal uap berbobot mati 1.239 ton itu terisi penuh dengan 86 penumpang dan Schuurman berada di antara mereka sebagai wakil dari pemerintah. Setelah berlayar semalaman, kapten Loudon, TH Lindeman, membuang sauh jauh dari pulau itu. Dia meminjamkan perahu kepada Schuurman. Ditemani beberapa orang yang berani dan penuh rasa ingin tahu, Schuurman mendekati pulau dengan susah payah.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Dengan mengikuti jejak orang yang paling berani atau mungkin yang paling tolol, kami mendaki lebih jauh tanpa halangan apa pun selain abu yang ambles di bawah kaki kami. Jalannya berada di atas bukit dari mana kami bisa melihat beberapa pokok pohon yang patah mencuat dari lapisan abu, beberapa tonggak menunjukkan bahwa cabang-cabangnya direnggut dengan paksa,&amp;quot; tulis Schuurman.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kelompok kecil ini terus merangsek naik dengan nekad hingga mendekati dasar kawah, yang menurut Schuurman tertutup oleh &amp;quot;kerak buram berkilat-kilat,&amp;quot; yang kadang-kadang membara merah dan mengeluarkan ”gulungan asap dalam gelembung-gelembung raksasa yang banyak tetapi rapat”. Schuurman akhirnya kembali ke Loudon setelah Lindeman berkali-kali membunyikan klakson.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dua bulan kemudian Krakatau berangsur dilupakan. Hingga pada 11 Agustus, kapten angkatan darat Belanda, HJG Ferzenaar, diperintahkan menyurvei Krakatau untuk kepentingan topografi militer. Dia melewatkan dua hari di sana dan mencatat ada 14 lubang semburan di atas pulau itu. Ia membuat peta pulau itu secara detial, termasuk titik-titik berwarna merah yang menjadi pusat semburan.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dia memberi catatan bahwa survei yang lebih rinci &amp;quot;harus menunggu sampai nanti, sebab pengukuran di sana masih sangat berbahaya; setidaknya, saya tidak akan suka menerima tanggung jawab mengirimkan seorang surveyor.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, Krakatau tidak pernah bisa dipetakan lagi. Pada 27 Agustus 1883, pulau ini meledak dan hancur berkeping-keping. Peta Pulau Krakatau yang dibuat Ferzenaar adalah yang terakhir yang pernah dibuat.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ledakan berkekuatan 21.574 kali bom atom (De Neve, 1984) itu tak hanya menghancurkan tubuh Pulau Krakatau. Kehancuran juga melanda pesisir Banten dan Lampung. Gelombang awan panas dan tsunami melanda, menghancurkan desa-desa di pesisir Banten dan Lampung, serta menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kengerian itu digambarkan oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam, satu-satunya laporan pandangan mata yang dibuat pribumi tentang letusan Krakatau. Muhammad Saleh lewat bait syairnya menggambarkan di atas langit terlihat seperti bunga api beterbangan seperti bahala yang diturunkan Tuhan dan membuat hati takut bukan kepalang. Kegelapan menyelimuti, guncangan gempa tiada henti, dan datang gelombang menghanyutkan. &amp;quot;Besar gelombang tidak terperi, lalulah masuk ke dalam negeri, berlarian orang ke sana kemari...,&amp;quot; tulis Muhammad Saleh.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Petaka Krakatau itu menambah derita rakyat yang beratus tahun disengsarakan ekonomi kolonial dan priyayi pribumi yang mengisap. &amp;quot;Tak disangsikan lagi bahwa wabah penyakit ternak dan wabah demam, serta kelaparan yang diakibatkannya, dan letusan Gunung Krakatau yang menyusul, telah menjadi pukulan hebat bagi penduduk,&amp;quot; tulis Sartono Kartodirdjo, dalam buku Pemberontakan Petani di Banten 1888.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menurut sejarawan terkemuka ini, &amp;quot;... letusan Gunung Krakatau menyebabkan luas tanah yang tidak dapat digarap menjadi lebih besar lagi, terutama di bagian barat afdeling Caringin dan Anyer.&amp;quot; Kondisi kesengsaraan yang kemudian bertemu dengan gerakan sosial-keagamaan ini menjadi pemantik kesadaran rakyat untuk melawan Belanda, yang dianggap sebagai pendosa dan biang dari segala kesengsaraan itu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dua bulan setelah letusan Krakatau, kerusuhan pecah di Serang. Seorang serdadu Belanda ditikam, pelakunya kabur di tengah keramaian. Kejadian berulang sebulan kemudian. Serentetan perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan hingga pada Juli 1888 muncullah pemberontakan petani Banten.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-4556553168330528987?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/2moqtH41FU8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/2moqtH41FU8/peta-terakhir-jelang-letusan-dahsyat.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-C-49Sc3SB9A/TtxbBBIsAqI/AAAAAAAABoM/L05W9ZNeK18/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/peta-terakhir-jelang-letusan-dahsyat.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-6839280652866334612</guid><pubDate>Mon, 05 Dec 2011 05:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-05T12:45:01.431+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Kebangkitan Roh Krakatau dari Dasar Laut</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/-YSuHOA464ks/TtxaV4B126I/AAAAAAAABn0/Nk36mxs4y9w/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-WM_Ik7aiiNE/TtxaW1Y9JqI/AAAAAAAABn8/Si3kZRXpL-U/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ledakan dahsyat dari bawah laut yang mengawali lahirnya Anak Krakatau terekam pada tahun 1928-1929. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kebangkitan roh Krakatau itu awalnya dilihat oleh sekelompok nelayan pada suatu sore, 29 Juni 1927. &amp;quot;Dengan suara bergemuruh, gelembung-gelembung gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut,&amp;quot; tulis Simon Winchester (2003), menggambarkan kemunculan gunung baru dari bekas kaldera Krakatau, &amp;quot;Gelembung-gelembung itu meledak menjadi awan-awan yang menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk.&amp;quot;&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Mendengar kabar samar dari warga, pada Januari 1928, geolog Belanda, JMW Nash, datang ke bekas kaldera Krakatau. Dia pun menyaksikan munculnya pulau baru atau lebih persisnya lapisan pasir berbentuk separuh lingkaran sepanjang sekitar 10 meter. Di pusat lengkungan, dia melihat gundukan batuan setinggi 8,93 meter di atas permukaan laut yang masih berasap. Lapisan pasir ini merupakan embrio kelahiran pulau gunung api yang diberi nama: Anak Krakatau. Gundukan yang menjadi pusat semburan itu kemudian terus menyembul ke atas dan menjadi kawahnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kemunculan Anak Krakatau persis dengan ramalan Verbeek. Pada 1885, setelah beberapa kali kunjungan ke Krakatau, dia memperingatkan tentang kemungkinan kebangkitan roh Krakatau, &amp;quot;...jika gunung api ini melakukan aktivitas baru, diperkirakan pulau-pulau akan muncul di tengah cekungan laut yang dikitari oleh puncak Rakata, Sertung, dan Panjang, sebagaimana Pulau Kaimeni muncul dalam Kelompok Santorini, dan persis sebagaimana kawah Danan dan Perbuatan itu sendiri dulu dibentuk di laut di dalam dinding-dinding kawah purba.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kelahiran kembali Anak Krakatau pasca-kehancuran 1883 menguatkan kisah tentang Proto Krakatau. Spekulasi ini awalnya disampaikan oleh George Adriaan De Neve yang menduga kaldera kuno Krakatau meledak pada abad ketiga masehi. Dia mendasarkan dugaannya pada dokumen sejarah dan deposit vulkanik yang terdapat di bawah laut Selat Jawa.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Ada bukti bahwa jauh sebelum letusan 1883—barangkali 60.000 tahun yang lalu atau sebelum itu—ada sebuah gunung yang jauh lebih besar yang oleh beberapa orang geolog disebut Krakatau Purba yang mereka yakini setinggi 6.000 kaki dan terpusat di sebuah pulau yang nyaris bundar sempurna, dengan diameter 9 mil,&amp;quot; sebut Winchester.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, sebuah letusan dahsyat meluluhlantakkan pulau itu sehingga terbentuk gugusan pulau yang terdiri dari empat buah pulau kecil. Di ujung utara gugusan itu ada dua pulau karang yang rendah dan berbentuk bulan sabit, yang di timur disebut Panjang dan di sebelah barat disebut Sertung. Di dalam lingkaran yang dibentuk kedua pulau tadi, terdapat Polish Hat, yaitu potongan kecil batuan vulkanik, dan sebuah pulau yang terdiri dari tiga puncak, yaitu Rakata di puncak selatan, Danan di bagian tengah, dan Perbuatan di utara.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Keberadaan pulau-pulau ini sebelum letusan 1883 memang tak terbantahkan. Dari laporan-laporan perjalanan penjelajah Barat, pulau-pulau itu dulunya telah dihuni. Kapal Resolution dan Discovery yang dipimpin penjelajah Inggris terkenal, Kapten James Cook, pernah berhenti di Pulau Krakatau dua kali. Kedua kapal itu sedang dalam perjalanan mencari dunia selatan. Seperti yang dicatat oleh kolega Cook, botanikus Joseph Banks, pada Januari 1771, &amp;quot;Di malam hari membuang sauh di bawah pulau tinggi yang di kalangan para pelaut disebut Cracatoa dan oleh orang-orang India Pulo Racatta.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Banks melanjutkan laporannya, &amp;quot;... pagi ini ketika bangun kami melihat ada banyak rumah dan pohon-pohon perkebunan di Cracatoa, jadi barangkali kapal bisa menambah bekal di sini.&amp;quot; Enam tahun kemudian Cook kembali singgah di sana dan masih menemukan desa-desa dengan ladang lada dan aneka tanaman lainnya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Jauh sebelum para geolog berspekulasi soal keberadaan Proto Krakatau, orang-orang Jawa kuno sebenarnya telah memiliki keyakinan tentang keberadaan gunung ini. Bahkan, dalam mitologi Jawa, konon, Pulau Sumatera dan Jawa awalnya masih menyatu. Letusan Krakatau dianggap telah memisahkan daratan ini hingga menjadi dua pulau, seperti dituturkan dalam Kitab Raja Purwa yang ditulis pujangga Surakarta, Ronggowarsito, pada tahun 1869.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Alkisah, daratan Jawa dan Sumatera waktu itu masih menyatu. Suatu ketika, Sri Maharaja Kanwa, yang memimpin tanah Jawa, terbawa angkara dan menikam seorang pertapa yang bernama Resi Prakampa hingga tewas. Seketika itu juga Gunung Batuwara terdengar bergemuruh. Gunung Kapi—nama lama Krakatau—mengimbanginya dengan letusan dahsyat, keluar apinya merah mengangkasa, guruh guntur, air pasang menggelora, lalu datang bencana berupa air bah dan hujan lebat. Nyala api yang merah membara tidak terpadamkan oleh air, malah semakin besar. Gunung Kapi runtuh bercerai-berai masuk ke dalam bumi.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Air laut menggenangi daratan, mencapai Gunung Batuwara atau Gunung Pulosari ke timur hingga Gunung Kamula, Gunung Pangrango atau Gunung Gede, dan ke barat hingga Gunung Rajabasa di Lampung. Ketika laut telah surut kembali, Krakatau dan tanah-tanah di sekitarnya telah menjadi lautan. Di bagian barat laut dinamakan Pulau Sumatera dan di bagian timur dinamakan Jawa.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Narasi dalam Kitab Raja Purwa ini, bagi sebagian ilmuwan Barat hanyalah dongeng yang awalnya dipandang sebelah mata. Kitab ini nyaris tak pernah menjadi rujukan penelitian tentang Krakatau. Namun, belakangan, temuan lapisan endapan yang jauh lebih tua dibandingkan letusan 1883 menguatkan bahwa Krakatau pernah meletus sebelum tahun itu.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Sebelum pembentukan kaldera 1883, Krakatau minimal dua kali meletus. Kami menemukan dua kelompok hasil letusan kaldera di bawah lapisan endapan yang terbentuk pada tahun 1883, lokasi persisnya di singkapan timur-tenggara Pulau Rakata dan Panjang,&amp;quot; kata Sutikno.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pendataan karbon yang dilakukan oleh Haraldur Sigurdsson tahun 1999 menemukan, di bawah endapan akibat letusan 1883 terdapat endapan yang terbentuk pada tahun 1215 masehi dan 6600 sebelum masehi.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ahli tsunami, Gegar Prasetya, juga meyakini keberadaan Krakatau Purba yang pernah meletus jauh lebih hebat dibandingkan letusan tahun 1883. Bahkan, tidak menutup kemungkinan &amp;quot;dongeng&amp;quot; tentang pemisahan Jawa dan Sumatera akibat letusan Krakatau itu adalah kenyataan geologi.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ken Wohletz dari Los Alamos National Laboratory telah membuat simulasi tentang kemungkinan pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera itu akibat letusan leluhur Anak Krakatau. Kesimpulannya, letusan super (supereruption) berskala 8 dalam indeks letusan gunung api (volcanic explosivity index /VEI) sebagaimana letusan gunung api super (supervolcano) Toba di Sumatera Utara bisa sangat mungkin pernah terjadi di Krakatau.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tak gampang membayangkan bagaimana kedahsyatan letusan Proto Krakatau itu, mengingat letusan Krakatau pada 1883 saja sudah sedemikian mengerikan dan menimbulkan petaka tak terperi.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;)&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-6839280652866334612?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/-eqkp0DtzA4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/-eqkp0DtzA4/kebangkitan-roh-krakatau-dari-dasar.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-WM_Ik7aiiNE/TtxaW1Y9JqI/AAAAAAAABn8/Si3kZRXpL-U/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/kebangkitan-roh-krakatau-dari-dasar.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-1550588355918220951</guid><pubDate>Mon, 05 Dec 2011 05:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-05T12:43:12.230+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Krakatau dalam Kitab Raja Purwa</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-LlQJhdJYSg8/TtxZ54nqnnI/AAAAAAAABnk/tIqfgwzis2I/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh3.ggpht.com/-vj9YtzmcNMU/TtxZ7cw93EI/AAAAAAAABns/5ZGjTr3catQ/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Gunung Anak Krakatau &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Seluruh dunia terguncang hebat, dan guntur menggelegar, diikuti hujan lebat dan badai, tetapi air hujan itu bukannya mematikan ledakan api Gunung Kapi, melainkan semakin mengobarkannya; suaranya mengerikan; akhirnya Gunung Kapi dengan suara dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke bagian terdalam dari bumi,&amp;quot; demikian sepenggal isi Kitab Raja Purwa yang dibuat pujangga Jawa dari Kesultanan Surakarta, Ronggowarsito. Salinan kitab itu masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional, Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Kitab itu diterbitkan tahun 1869 atau 14 tahun sebelum letusan Krakatau. Penyebutan Gunung Kapi tak banyak dikenal pada periode itu sehingga tulisan Ronggowarsito membingungkan banyak kalangan. Namun, deskripsi berikutnya dalam buku itu semakin mirip dengan peristiwa tsunami saat Krakatau meletus pada 1883, &amp;quot;Air laut naik dan membanjiri daratan, negeri di timur Gunung Batuwara sampai Gunung Raja Basa dibanjiri oleh air laut; penduduk bagian utara negeri Sunda sampai Gunung Raja Basa tenggelam dan hanyut beserta semua harta milik mereka.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Penggambaran Ronggowarsito ini mengusik kesadaran Gegar Prasetya, ahli tsunami dan kelautan. &amp;quot;Apakah tulisan Ronggowarsito ini semacam ramalan atas peristiwa akan datang (letusan Krakatau 1883) atau dia menggambarkan peristiwa letusan Krakatau di masa silam?&amp;quot; kata Gegar.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Mantan peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini menemukan naskah Ronggowarsito saat melakukan penelitian di perpustakaan Universitas Leiden (Belanda) untuk menyelesaikan program doktoral. &amp;quot;Saya membaca buku Ronggowarsito yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Padahal, aslinya beraksara dan berbahasa Jawa. Sebagai keturunan Jawa, hal ini sebenarnya memalukan,&amp;quot; kata dia.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dari catatan Ronggowarsito yang penuh misteri ini, akhirnya Gegar berkeyakinan bahwa Krakatau pernah meletus sebelum tahun 1883. Apalagi di buku edisi kedua yang diterbitkan pada 1885 atau dua tahun setelah letusan Krakatau, Ronggowarsito menulis penanda tahun dan deskripsi lokasi Gunung Kapi yang bisa dipastikan adalah Krakatau, &amp;quot; ...di tahun Saka 338 (416 Masehi) sebuah bunyi menggelegar terdengar dari Gunung Batuwara yang dijawab dengan suara serupa yang datang dari Gunung Kapi yang terletak di sebelah barat Banten modern.&amp;quot;(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Litbang: Rustiono&lt;/strong&gt;) &lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-1550588355918220951?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/1abw-eJqGaU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/1abw-eJqGaU/krakatau-dalam-kitab-raja-purwa.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh3.ggpht.com/-vj9YtzmcNMU/TtxZ7cw93EI/AAAAAAAABns/5ZGjTr3catQ/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/krakatau-dalam-kitab-raja-purwa.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-3590946274833674896</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 06:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T13:47:00.550+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Geliat Anak Krakatau yang Hiperaktif</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/-KpPJplQuWZ4/Tthz0q0maNI/AAAAAAAABnI/-8K5yhfjzrU/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-PAZ4FzpA6Y0/Tthz10GlFfI/AAAAAAAABnQ/IPYJNAr1iro/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mendaki Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Senin (15/8/2011). Di gunung ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Semula kami tak menganggap aneh lapisan putih kekuningan yang menutupi sebagian besar punggung Anak Krakatau. Hingga dua bulan kemudian, di ruang pusat pemantauan gunung api di Bandung, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono menunjukkan foto terbaru yang diambil dari Anak Krakatau. Saat itu 20 Oktober 2011, status Anak Krakatau yang selama beberapa bulan Waspada dinaikkan menjadi Siaga sejak 30 September 2011. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Anak Krakatau seperti 'panuan', putih semua,&amp;quot; katanya, sambil menunjukkan foto lapisan putih yang nyaris menutupi seluruh tubuh Krakatau. Warna putih kekuningan, menurut Surono, menandakan adanya gas belerang yang bocor karena tingginya tekanan dari dalam perut gunung. &amp;quot;Fenomena kebocoran sedemikian luas ini belum pernah terjadi sebelumnya,&amp;quot; ujar Surono. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tak hanya lapisan putih, kompleks Krakatau juga mengirim ribuan gempa setiap harinya. &amp;quot;Lihatlah, nyaris tiap menit, Krakatau mengirim lima kali gempa. Dalam sehari bisa lebih dari 5.000 gempa. Ini tidak biasanya,&amp;quot; kata Surono, menunjukkan garis di layar komputer yang naik-turun secara hiperaktif. Komputer di Ruang Pemantauan Gunung Api di Bandung itu tersambung dengan dua alat deteksi gempa di Anak Krakatau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Gempa yang terjadi di gunung api berstatus Siaga lain biasanya hanya puluhan hingga ratusan kali. Oleh karena itu, polah Anak Krakatau memusingkan. Surono memperkirakan, letusan Anak Krakatau—jika pun meletus—kemungkinan lebih besar dibandingkan rentetan letusan tahun 2007. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Surono dan stafnya terus berjaga-jaga memantau perkembangan Anak Krakatau. Walaupun pada saat yang bersamaan, enam gunung api berstatus Siaga dan 16 lainnya Waspada, perhatian para vulkanolog ini tak bisa lepas dari Anak Krakatau. Perkembangan Anak Krakatau terus terpampang di layar komputer Pemantauan Gunung Api itu. Nyaris sepanjang tahun, gunung ini meletus. Biasanya hanya rehat beberapa saat untuk kemudian meletus lagi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sebagaimana suksesi alam yang terus berkembang di atasnya, Gunung Anak Krakatau juga terus tumbuh dengan cepat. Sangat cepat. &amp;quot;Pertama kali ke sini tahun 1980-an, hanya butuh setengah jam untuk sampai di puncaknya. Sekarang gunung ini sudah jauh lebih tinggi. Dua jam mendaki juga belum tentu bisa sampai puncak,&amp;quot; kata Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Anak Krakatau, yang muncul dari dasar laut sedalam 180 meter kini menjelma menjadi sosok yang megah. Sudradjat (1982) mencatat, dalam lima tahun, kawah Anak Krakatau tumbuh dari ketinggian 8,93 mdpl menjadi 66,8 mdpl pada tahun 1933, dan menjadi 132,32 mdpl pada 1941, lalu menjadi 169,67 mdpl pada 1968. Walaupun beberapa ambruk karena terjadi letusan, secara bertahap Anak Krakatau terus bertambah tinggi. Penambahan tinggi juga diikuti dengan bertambahnya luas pulau. Pada pengukuran tahun 1930, panjang Pulau Anak Krakatau masih 450 meter x 900 meter, tetapi pada 1981 telah mencapai 1.950 meter x 2.000 meter. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dengan menganalisis kecepatan pertumbuhannya, Sutikno Bronto (1990) memperkirakan, pada tahun 2040 volume Gunung Anak Krakatau akan melebihi volume Gunung Rakata, Danan, dan Perbuatan menjelang letusan tahun 1883. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Meskipun Anak Krakatau menunjukkan tanda-tanda semakin tinggi dan aktif, menurut Surono, publik tak perlu terlalu cemas. Krakatau masih dalam tahap membangun. ”Sifat magma Anak Krakatau belum seperti ibunya yang dacite (kental). Sekarang magma masih basaltik (encer) dan miskin gas. Meletus mungkin iya, dan bisa lebih besar dibandingkan tahun 2007, tetapi belum bisa membongkar tubuh gunung seperti pendahulunya saat meletus 1883,” kata dia. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Geolog Belanda, Reinout Willem van Bemmelen (1948), menyebutkan, perubahan sifat magma dari basaltik ke dacite di Anak Krakatau kemungkinan memakan waktu beberapa abad. Namun, proses ke arah itu ternyata tengah berjalan. Geolog Belanda, George Adriaan De Neve (1981), mengamati adanya perubahan kimia magma di Krakatau dari basa yang ditandai dengan kadar silika (SiO2) rendah ke asam dengan kadar silika (SiO2) tinggi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dia menganalisis kimia batuan lava hasil letusan Anak Krakatau sejak tahun 1930 hingga tahun 1981 dan menemukan persentase silika cenderung meningkat. Misalnya letusan pada November 1992 mengandung silika 53,95 persen dan lava pada Juni 1993 kandungannya menjadi 53,97 persen, dan pada Juli 1996 menjadi 54,77 persen. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pertumbuhan Anak Krakatau juga terlihat dari gejolak dasar kaldera yang tersembunyi di dalam laut. Menyelami kaldera yang tercipta dari letusan Krakatau 1883 itu, di titik penyelaman antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung, terlihat ratusan gundukan kecil menyembul dari lantai laut di kedalaman 10 meter. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sebagian gundukan berdiameter sekitar 30-60 cm itu mengeluarkan &amp;quot;asap&amp;quot; putih, persis gunung yang tengah erupsi. Lapisan putih kekuningan di puncak gundukan mengingatkan pada kebocoran belerang di permukaan Anak Krakatau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sutikno Bronto, profesor riset di bidang gunung api dari Pusat Survei Geologi, terkejut saat menyaksikan foto-foto pemandangan bawah laut itu. Tahun 1990, Sutikno bekerja sama dengan sejumlah ahli kelautan dan gunung api dari Universitas Rhode Island (Amerika Serikat), yaitu Haraldur Sigurdsson, Steven Carey, dan Charles Mandeville yang meneliti bawah laut Krakatau. &amp;quot;Pemandangan itu belum ada. Ini temuan baru,&amp;quot; kata dia. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sutikno belum bisa memastikan fenomena &amp;quot;gunungan&amp;quot; kecil di bawah laut Krakatau itu. &amp;quot;Harus diambil sampelnya dan diteliti di laboratorium untuk mengetahuinya. Tetapi, melihat wujudnya, ada kemungkinan itu gas yang mengandung banyak unsur belerang atau solfatara,&amp;quot; katanya penuh bersemangat. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, sejurus kemudian, Sutikno terlihat gundah. &amp;quot;Pengetahuan kita tentang kondisi kaldera Krakatau di bawah laut sangat sedikit. Survei bawah laut Krakatau sangat jarang dilakukan karena biayanya sangat mahal,&amp;quot; kata dia. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Gelembung udara (bubble) juga keluar tak jauh dari &amp;quot;gunungan&amp;quot; kecil itu, menandakan ada gas yang keluar dari perut bumi. Gelembung juga ditemukan di pinggir pantai di Pulau Rakata yang berkedalaman sekitar tiga meter. &amp;quot;Gundukan dan gelembung udara ini bisa jadi pertanda pembentukan bakal gunung api baru, selain Anak Krakatau yang sudah lebih dulu muncul,&amp;quot; kata Sutikno. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menurut penelitian Sutikno, Krakatau memiliki kecenderungan membentuk beberapa anak gunung api. Seperti sebelum letusan 1883, Pulau Krakatau memiliki tiga gunung api yang saling menyambung. Posisi Anak Krakatau sekarang adalah puncak Danan, yang berada di tengah Pulau Krakatau lama. &amp;quot;Ke depan bisa jadi akan muncul puncak baru di sebelah Anak Krakatau sebagaimana puncak Perbuatan dan Rakata dulu,&amp;quot; kata dia. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Saat ini, Anak Krakatau secara teori masih dalam tahap membangun sehingga belum mampu menghasilkan energi letusan yang besar sekali. &amp;quot;Tetapi, tetap saja ada kekecualian,&amp;quot; kata Sutikno, menjelaskan kemungkinan lain. &amp;quot;Jika tiba-tiba magma Anak Krakatau berinteraksi dengan air bawah laut atau tiba-tiba ada injeksi magma dari sumber lain yang lebih asam, Anak Krakatau bisa sangat berbahaya.&amp;quot; &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pengecualian itu memang bukan hal yang muskil mengingat Selat Sunda yang menjadi rumah bagi Anak Krakatau ini berada di zona penunjaman lempeng benua yang hiperaktif. Selama lempeng Indo-Australia terus menumbuk lempeng Euro-Asia, dapur magma yang menjadi rahim bagi kelahiran &amp;quot;roh&amp;quot; Anak Krakatau terus mendapat suplai energi baru.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-3590946274833674896?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/bR9j7VFfCXQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/bR9j7VFfCXQ/geliat-anak-krakatau-yang-hiperaktif.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-PAZ4FzpA6Y0/Tthz10GlFfI/AAAAAAAABnQ/IPYJNAr1iro/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/geliat-anak-krakatau-yang-hiperaktif.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-3134472997262469592</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T10:54:44.366+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Krakatau Ibarat Buku Kehidupan</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-6KBrZ0KkrCk/TthL_vkD7_I/AAAAAAAABm4/sp-YfdH9r1U/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh6.ggpht.com/-xDugWWuViR0/TthMAgtTeAI/AAAAAAAABnA/dQ4cCKf1dYU/image_thumb%25255B3%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mengamati tumbuhan harendong (Melastoma malabathricum) di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Senin (15/8/2011). Di gunung ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Berdasarkan survei antara 1981 dan 2008 telah ditemukan sebanyak 122 jenis pohon berkayu, 42 jenis semak belukar, 71 jenis tanaman merambat, dan 173 jenis tanaman obat-obatan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — Batas hidup dan mati di Krakatau memang tipis. Kematian satu spesies sering kali menjadi tapak kehidupan bagi spesies lainnya. Perlahan, gelombang laut, angin, dan burung mengantarkan bakal kehidupan ke tabula rasa itu. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Enam bulan setelah Cotteau menemukan laba-laba di Rakata, Verbeek menyaksikan munculnya beberapa bilah rumput. Tiga tahun berikutnya, Treub melaporkan adanya paku-pakuan yang menutupi seluruh interior pulau dari pantai hingga puncak. Selain koloni paku-pakuan, Treub mencatat enam spesies ganggang biru dan hijau yang membentuk lapisan lembab mirip agar-agar dan menjadi lingkungan tempat tumbuh tanaman lainnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Lumut memberikan kelembaban yang memungkinkan paku–pakuan seperti paku kinca (&lt;em&gt;Nephroplepis hirsutula&lt;/em&gt;) dan paku perak (&lt;em&gt;Pityrogramma calomelanos&lt;/em&gt;) berkembang. &amp;quot;Paku-pakuan pun berumur pendek. Setelah mati, jasadnya menjadi habitat baru tanaman lain untuk tumbuh,&amp;quot; ujar Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di atas bekas paku-pakuan itu rerumputan mulai berkecambah, disusul alang-alang dan gelagah. Jenis rumput-rumputan itu baru akan tumbuh setelah lahar mendingin, biasanya dua atau tiga tahun setelah letusan. Kehadiran rumput-rumputan menciptakan iklim mikro sederhana yang dapat dimanfaatkan tanaman lain, seperti anggrek tanah. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pada tahun 1897 atau 14 tahun setelah letusan, pedalaman Pulau Rakata telah ditutupi oleh rumput-rumput tipe savana dengan dominasi gelagah (&lt;em&gt;Saccharum spontaneum&lt;/em&gt;) dan ilalang (&lt;em&gt;Imperata cylindrica&lt;/em&gt;) yang diselingi kelompok-kelompok kecil pohon. Kehadiran tumbuh-tumbuhan berbunga menambah semarak. Sedangkan pakis dan paku-pakuan tetap berkuasa di dataran yang lebih tinggi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di pantai, formasi kangkung laut (&lt;em&gt;Ipomoea pes-caprae&lt;/em&gt;) telah merata dan komunitas tanaman pantai seperti keben (&lt;em&gt;Barringtonia asiatica&lt;/em&gt;) dan cemara laut (&lt;em&gt;Casuarina equisetifolia&lt;/em&gt;) hidup berkelompok di banyak tempat. Kehidupan baru itu disaksikan oleh Boerlage yang mengadakan eksplorasi botani ke Krakatau pada tahun 1896 dan 1897. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Alang-alang lalu mati, menjadi penyedia humus yang akan ditumbuhi tanaman seperti harendong (&lt;em&gt;Melastoma affine&lt;/em&gt;). Lingkungan yang dapat dihidupi perlahan tercipta,&amp;quot; ujar Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tahun 1906, vegetasi Rakata semakin kaya. Ahli botani dari Jerman, Erns Alfred, dalam bukunya The New Flora of the Volcanic Island of Krakatau, 1908, mencatat adanya 99 tanaman berbunga. Vegetasi pantai telah berkembang dengan dominasi tanaman cemara laut (&lt;em&gt;Casuarina equisetifolia&lt;/em&gt;), keben (&lt;em&gt;Barringtonia asiatica&lt;/em&gt;), ketapang (&lt;em&gt;Terminalia catappa&lt;/em&gt;), nyamplung (&lt;em&gt;Calophyllum inophyllum&lt;/em&gt;), dan waru laut (&lt;em&gt;Hibiscus tiliaceus&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Perlahan tercipta tanah hutan muda yang berkelanjutan. Pada periode itu pula, tanaman seperti berbagai jenis beringin (&lt;em&gt;Ficus spp&lt;/em&gt;), mara (&lt;em&gt;Macaranga tanarius&lt;/em&gt;), dan tanaman hutan sekunder lainnya berkembang serta menempati dataran rendah berumput. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kebanyakan bibit tanaman yang mengisi Rakata diantarkan gelombang laut. &amp;quot;Karena itu, tumbuhan pantai yang pertama muncul,&amp;quot; kata Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Biji tumbuhan pantai biasanya dilindungi alat apung alami yang membuatnya bisa menyeberangi lautan. Misalnya, kulit buah keben yang kedap air dan berisi spons untuk mengapung. Setelah mendarat di pantai, kulit buah itu akan terdegradasi sehingga air bisa masuk dan merangsang biji keben untuk berkecambah. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tumbuhan-tumbuhan pionir itu mampu hidup di lingkungan ekstrem yang sedikit unsur hara dan terbatas air. &amp;quot;Tanaman pionir biasanya berumur pendek, cepat tumbuh, daunnya lebar, dan sistem perakarannya dalam. Pemencarannya efektif, begitu sampai dan lingkungan memungkinkan untuk hidup, dia pun cepat bertumbuh,&amp;quot; ujar Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Benih lain yang sampai di pantai, tetapi bukan merupakan tanaman pionir, tidak akan tumbuh. Tukirin lalu memungut buah nipah yang tergeletak di pesisir. &amp;quot;Ini tidak akan dapat bersemai di Pulau Krakatau karena nipah butuh tumbuh di air sadah dan berlumpur. Ini jenis mangrove dalam,&amp;quot; ujarnya. Setelah vegetasi pantai berkembang, burung dan kelelawar pemakan buah hadir dan memencarkan biji berbagai jenis tumbuhan ke tempat yang lebih jauh. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Peneliti Krakatau dari Universitas Utrecht, Tracey Louise Parrish, menuliskan dalam Krakatau: Genetic Consequences of Island Colonization, bahwa semua kehidupan di Krakatau diasumsikan berasal dari luar Krakatau. Cikal-bakal kehidupan itu setidaknya menempuh jarak 30 kilometer atau lebih dari pesisir terdekat pulau besar seperti Jawa dan Sumatera. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pulau-pulau lain yang lebih dekat dengan Krakatau, seperti Sebesi dan Sebuku, juga berperan besar sebagai sumber hayati. &amp;quot;Semakin habisnya hutan-hutan di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sebesi memperlambat suksesi di Krakatau. Satu-satunya hutan yang masih menyediakan benih tinggal Ujung Kulon,&amp;quot; ujar Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sebagai pulau terbesar dan tertinggi dalam gugusan Krakatau, Rakata menjadi satu-satunya pulau dengan tingkat perkembangan komunitas vegetasi paling matang tanpa terlalu banyak terganggu letusan Anak Krakatau. Luas pulau dan ketinggiannya yang bervariasi membuat lebih banyak jenis tumbuhan dapat hidup. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pola suksesi di dua pulau lainnya di kompleks Krakatau, Sertung dan Panjang awalnya juga nyaris serupa dengan di Rakata. Vegetasi di kedua pulau itu secara umum menunjukkan tipe serupa meski kehadiran dan kelimpahan jenis tumbuhan penyusun hutannya secara lokal berbeda. Sampai kemudian muncul Anak Krakatau di permukaan perairan. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Anak Krakatau yang meletus nyaris tiap tahun memberikan arah suksesi yang berbeda pada Pulau Panjang dan Sertung. Secara geografis, kedua pulau ini terletak lebih dekat dari Anak Krakatau dibandingkan Rakata. Timbunan abu letusan Anak Krakatau yang sering mencapai ketebalan hingga satu meter, menurut Tukirin, sangat memengaruhi perkembangan vegetasi di dua pulau itu. Tak mengherankan, sejak tahun 1930-an tutupan hutan di kedua pulau ini secara umum didominasi jenis kedoya (&lt;em&gt;Desoxylum gaudichaudianum&lt;/em&gt;) dan ketimunan (&lt;em&gt;Timonius compressicaulis&lt;/em&gt;). Dua jenis pohon yang pemencarannya dibantu burung ini mampu beradaptasi terhadap timbunan abu vulkanik. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Agustus 2011, ketiga pulau di kompleks Krakatau ini ibarat gundukan yang permukaannya dilapisi karpet hijau tebal. Semakin perahu mendekat ke bibir pantai di Pulau Rakata, semakin jelas tampak pohon-pohon keben berjajar di pantai. &amp;quot;Inilah keajaiban alam yang dihadirkan Krakatau dan menarik perhatian semua ahli biologi di seluruh dunia,&amp;quot; kata Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dari Krakatau, para ahli itu belajar tentang proses dasar pembentukan ekosistem pulau kecil yang ternyata sangat kompleks. Ada faktor pemencaran, invasi, persaingan, adaptasi, hingga kepunahan. &amp;quot;Dari Krakatau kita bisa belajar untuk memahami proses pembentukan hutan. Pengetahuan ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan pemahaman ketika kita ingin merestorasi hutan-hutan kita yang rusak di tempat-tempat lain,&amp;quot; ujarnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bagi Tukirin dan para ahli biologi, kompleks Krakatau itu merupakan buku yang menyimpan jawaban penting tentang kehidupan. Berbeda dengan para vulkanolog dan geolog, yang menelisik tentang dahsyatnya letusan Krakatau di masa lalu dan bagaimana kita harus terus bersiaga terhadapnya, Tukirin dan para biolog mengamati bagaimana daya hidup bisa bermula dan berkembang dari tabula rasa yang diciptakan sebuah letusan gunung api. Inilah sisi lain Krakatau yang jarang dilihat. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Daya rusak letusan gunung api ternyata diimbangi daya hidup dengan kekuatan setara untuk bangkit dari kehancuran. Unsur penting bagi kehidupan itu ternyata adalah berbagai jenis spesies kecil nyaris tak terlihat yang mengerumuni lapisan belerang panas.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-3134472997262469592?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/NujBcGFpk_c" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/NujBcGFpk_c/krakatau-ibarat-buku-kehidupan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh6.ggpht.com/-xDugWWuViR0/TthMAgtTeAI/AAAAAAAABnA/dQ4cCKf1dYU/s72-c/image_thumb%25255B3%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/krakatau-ibarat-buku-kehidupan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-7198340633699190797</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T14:01:30.245+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Galapagos Versus Krakatau</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-ZoCyy685bMY/TthKloYPxrI/AAAAAAAABnY/KkDms89ys_E/s1600-h/image2.png"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-ZoCyy685bMY/TthKloYPxrI/AAAAAAAABnc/Z8-gUqCVqMs/s1600-h/image4.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-Rw5XTD7Np14/TthLn3V1pTI/AAAAAAAABmw/K2v5KKclyG4/image_thumb%25255B4%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mengamati vegetasi bibir pantai Gunung Anak Krakatau, di antaranya rumput liar (Spinifex littoreus), Selasa (16/8/2011). Di kawasan ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Berdasarkan survei antara 1981 dan 2008 telah ditemukan sebanyak 122 jenis pohon berkayu, 42 jenis semak belukar, 71 jenis tanaman merambat, dan 173 jenis tanaman obat-obatan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Saat ditanya tentang pulau yang paling menarik di Bumi, kebanyakan ahli biologi evolusi klasik akan menjawab Galapagos. Pulau gunung api yang mengapung di Samudra Pasifik, sekitar 972 kilometer dari Ekuador, ini merupakan ibu bagi teori evolusi Charles Darwin. Terasing di lautan, Galapagos telah dikolonisasi oleh spesies dari daratan sejak jutaan tahun lampau, menciptakan berbagai jenis spesies yang khas. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Charles Darwin (1809-1882) menjadi geolog pertama yang mengunjungi Galapagos tahun 1835. Saat itu, dia menemani Kapten Robert Fitzroy menumpang kapal Beagle untuk menyurvei daerah pesisir Amerika selatan (1831-1836). Saat itulah, Darwin mulai dikenal dengan tulisan-tulisan geologisnya sebelum akhirnya dikenal sebagai Bapak Evolusi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Darwin tidak hanya terpesona oleh fenomena geologis di Kepulauan Galapagos, dia juga terkesima oleh biota unik dan luar biasa yang dia temukan di sana. Pertemuan dari tiga arus, aktivitas inti bumi, dan keterisolasian membentuk perkembangan kehidupan hewan tidak biasa seperti penyu raksasa, iguana, dan berbagai jenis kutilang yang menginspirasi Darwin membangun teori seleksi alam dan berikutnya teori evolusi manusia yang mengguncang dunia. Keragaman hayati Galapagos dianggap sebagai museum hidup dan percontohan evolusi sehingga UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia yang dilindungi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, di balik keistimewaan spesies di Galapagos, ada lubang yang tak terjawab tentang bagaimana proses kolonisasi terjadi di sana. Kalau suksesi dan evolusi di Galapagos tidak ada catatan kapan mulainya, Krakatau justru sebaliknya. Krakatau menjadi lokasi yang telah dikunjungi ahli-ahli biologi setelah letusan hebat menghancurkan kepulauan ini pada 1883. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Banyak peneliti beranggapan pulau itu steril pascaletusan dan tahap demi tahap kedatangan kehidupan di pulau itu pun dicatat lewat berbagai kunjungan peneliti, khususnya Belanda. &amp;quot;Tahapan kehidupan di Krakatau terdata paling lengkap. Teori-teori suksesi primer di kawasan tropis lahir dari kegiatan penelitian di kompleks Krakatau, begitu juga pengetahuan tentang pembentukan hutan tropis yang kompleks,&amp;quot; ujar ahli botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Profesor Tukirin Partomihardjo, yang aktif meneliti vegetasi di Krakatau selama 30 tahun. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Krakatau menyediakan peluang langka bagi peneliti yang ingin mendeteksi evolusi di pulau dalam kurun waktu lebih pendek dan skala ruang terbatas. Bahkan, kemunculan Gunung Anak Krakatau di atas permukaan laut tahun 1929 sekali lagi memberikan kesempatan kepada peneliti mengamati suksesi primer dan dampak dari letusan kepada kehidupan di sekitarnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ahli botani dari Jerman, Alfred Ernst, dalam bukunya, The New Flora of The Volcanic Island of Krakatau (1908) menganalisis bagaimana kehidupan kembali hadir di Krakatau. Ia mendapati ekosistem Krakatau pada tahap lebih primitif daripada yang dilihat Charles Darwin di Kepulauan Galapagos. Krakatau mendemonstrasikan kekuatan alam kembali membangun ekologi yang kompleks dari tabula rasa.(&lt;strong&gt;Tim Penulis:Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-7198340633699190797?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/Rm_39zWCCnQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/Rm_39zWCCnQ/galapagos-versus-krakatau.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-Rw5XTD7Np14/TthLn3V1pTI/AAAAAAAABmw/K2v5KKclyG4/s72-c/image_thumb%25255B4%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/galapagos-versus-krakatau.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-3597113981134767553</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T14:02:03.084+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Laba-laba Bangkitkan Kehidupan di Krakatau</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/-0UJ8TDS-QFI/TthJ9N6up1I/AAAAAAAABmU/EjqDgyJAh7A/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-8FEvfd_f1Ms/TthJ-gxyrFI/AAAAAAAABmc/LBxSrn1BruU/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Profesor Tukirin Partomihardjo, periset pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, memotret laba-laba di hutan Pulau Rakata, Selat Sunda, Rabu (17/8/2011). Berdasarkan penelitian, laba-laba adalah binatang yang pertama hidup pasca-letusan Gunung Krakatau 1883. Di Pulau Rakata yang merupakan bagian dari Gunung Krakatau purba, tim ekspedisi memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Di balik kedahsyatan letusannya, Krakatau mengajarkan tentang kekuatan daya hidup. Sedemikian dahsyat daya hancur gunung ini, sedemikian cepat pula kehidupan kembali hadir. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Dimulai dari laba-laba yang merajut jejaring di atas hamparan tabula rasa, aneka jenis makhluk hidup kemudian tumbuh dan berkembang di sana. Krakatau membangun tubuhnya, menghancurkan diri, lalu melahirkan Anak Krakatau, untuk menempa kita agar bersiasat hidup bersanding alam. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;*** &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kehidupan ternyata hadir dengan cara yang tak terduga. Ketika menyusuri lereng Anak Krakatau yang tertutup lapisan putih belerang dan sepertinya muskil untuk dihuni makhluk hidup, tiba-tiba kami dikagetkan teriakan Tukirin. &amp;quot;Lihat, banyak serangga di sini.&amp;quot; &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dengan bergairah, Tukirin mengumpulkan berbagai jenis serangga dari gundukan putih yang mengepulkan asap tebal. Sebagian serangga telah mati terpanggang. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tersembunyi di dalam cerukan bekas aliran lahar yang dipenuhi pasir dan lapili—kepingan lava berongga bergaris tengah 2-50 mm—Tukirin juga menemukan pakis kecil yang baru tumbuh. Tanaman berwarna hijau pucat itu kontras dengan warna legam tanah. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Secepat kehidupan terenggut, Tukirin menambahkan, secepat itu pula daya hidup datang menggeliat. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Krakatau menjadi ajang pertunjukan daya tahan kehidupan yang luar biasa. Pemusnahan akibat letusan gunung api Krakatau yang hiperaktif selalu diikuti dengan kemunculan kehidupan baru. &amp;quot;Tak lama setelah letusan Krakatau pada Agustus 1883, telah ditemukan laba-laba. Dialah spesies pertama di pulau gunung api ini,&amp;quot; kata Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dia kemudian menuturkan kisah tentang kembalinya kehidupan di Krakatau. Kisah berawal dari perjalanan botanikus Belgia, Edmond Cotteau, yang datang ke Rakata pada Mei 1884, atau sembilan bulan setelah letusan. Cotteau datang bersama rombongan ekspedisi yang dibiayai Pemerintah Perancis. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bertolak dari Batavia menggunakan kapal tongkang pengangkut batu, rombongan kesulitan mendarat di Rakata. Pantai yang mendangkal dipenuhi abu dan batu apung nyaris mustahil didekati kapal. Setelah mengelilingi pulau itu, mereka akhirnya menemukan ceruk sempit di sudut barat laut, yang diapit dinding lava terjal berlapis abu dan batu apung. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Cotteau dan rombongan awalnya hanya menemukan alam gersang sebagaimana dilaporkan Verbeek. &amp;quot;Vegetasi menakjubkan yang dulu sering dikagumi tidak tersisa. Yang terlihat hanyalah onggokan tonggak pohon, yang memutih dan kering, di tengah hamparan daratan gersang.&amp;quot; &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, Cotteau yang berjalan sendirian ke arah selatan dari tempat pendaratan menemukan sesuatu yang mengubah persepsinya. Di antara hamparan pasir yang panas, dia melihat sesosok makhluk kecil yang bergairah. &amp;quot;Laba-laba kecil itu sibuk membuat jaring di atas pasir!&amp;quot; seru Cotteau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Laba-laba itu seperti menenun jaring kehidupan di atas lapisan pertama tabula rasa. Dengan tekun, artropoda (binatang beruas) ini menebar jaring untuk mencari makan. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pemandangan itu membuat Cotteau optimistis bahwa kehidupan baru kembali hadir di tabula rasa Rakata. &amp;quot;Sangat penting, menyaksikan langkah demi langkah kehidupan baru hadir di tanah ini. Berkat kehangatan matahari tropis dan hujan yang berlimpah, tanaman hijau subur akan kembali pulih,&amp;quot; sebut Cotteau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Optimisme Cotteau terbukti. Kehidupan kembali pulih di Krakatau. &amp;quot;Laba-laba adalah binatang yang sangat pantropis, tersebar di mana-mana. Anak laba-laba, yang halus seperti debu, dengan mudah diterbangkan angin lalu diterjunkan ke pulau ini,&amp;quot; ujar Tukirin menjelaskan. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Penelitian Ian Thornton di Anak Krakatau menguatkan temuan Cotteau. Dalam bukunya, Island Colonization, 2007, Thornton menyebutkan, organisme pertama yang membangkitkan kehidupan di tabula rasa Krakatau ternyata bukanlah tanaman. Dalam sistem rantai makanan klasik, kehidupan berawal dari tanaman atau produsen, baru kemudian diikuti herbivora (spesies pemakan tumbuhan) lalu karnivora (spesies pemakan hewan). Adalah artropoda (termasuk laba-laba) penerjung payung dari luar area yang menjadi sumber energi utama pembangkit kehidupan itu. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Di area kosong Anak Krakatau, yang tertutup sempurna abu dan lava, kami menemukan sekelompok serangga penerjun payung, sama dengan yang ditemukan di Gunung St Helens dan Hawaii setelah letusan,&amp;quot; tulis Ian Thornton, yang pernah meneliti Krakatau bersama Tukirin. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tahun 1985, Thornton memasang jaring 1,5 meter di atas aliran lava yang mengering. Dalam 10 hari dia berhasil mengumpulkan 70 spesies artropoda, meliputi laba-laba, lalat, dan berbagai jenis serangga lainnya. Dua puluh individu dikumpulkan per meter persegi dalam sehari. Diperkirakan sedikitnya setengah juta serangga tiba di area seluas 2,34 kilometer persegi di Anak Krakatau dalam kurun 10 hari. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, kehidupan laba-laba di pulau itu hanyalah sesaat. Di pulau yang kosong tak ada mangsa untuk dijerat. &amp;quot;Laba-laba tidak dapat bertahan hidup lama di sana. Dia segera mati. Namun, kematiannya sangat berharga bagi Krakatau. Tubuhnya terurai menjadi materi organik yang nantinya diserap tumbuhan yang datang berikutnya,&amp;quot; kata Tukirin.(&lt;strong&gt;Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-3597113981134767553?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/sD17Dvz1gH4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/sD17Dvz1gH4/laba-laba-bangkitkan-kehidupan-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-8FEvfd_f1Ms/TthJ-gxyrFI/AAAAAAAABmc/LBxSrn1BruU/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/laba-laba-bangkitkan-kehidupan-di.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-6883562607337002052</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T13:59:59.172+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Krakatau Menyingkap Rahasia Kehidupan</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-Y7ZZsFg76mM/TthJesNz8bI/AAAAAAAABmE/C10Kep_O5Vo/s1600-h/image%25255B3%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh6.ggpht.com/-CBFbIKPpJMk/TthJgIRNvhI/AAAAAAAABmM/rWH_iJW4yFY/image_thumb%25255B3%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Gunung Anak Krakatau lahir kembali dari kedalaman 180 meter, pascaerupsi tahun 1883, dan terus bertambah tinggi hingga saat ini, Perairan Selat Sunda, Rabu (17/8/2011). Gunung di tengah Perairan Selat Sunda di antara Pulau Jawa dan Sumatera ini menarik untuk dicermati, tak hanya dari atas, tapi juga dari bawah permukaan air tempat ia berada.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;15 Agustus 2011. Langit cerah tanpa awan. Matahari terasa dekat, teriknya memanggang. Puncak Anak Krakatau menyemburkan asap tipis, delapan puluh meter dari jangkauan. Batuan lepas berguguran saat diinjak dan udara bertuba menyesakkan napas. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Sejauh mata memandang di ketinggian itu hanyalah batuan runcing, pasir, abu, dan bom—batuan pijar yang setelah mendingin tampak seperti gumpalan lumpur berwarna hitam legam tetapi sangat keras dan pejal. Bom yang saat dilontarkan bersuhu lebih dari 600 derajat celsius itu menciptakan lubang-lubang di dalam tanah, sebagian menghanguskan tanaman. Suhu pada permukaan tanah tercatat mencapai 45 derajat celsius. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Semakin ke atas menuju puncak, daratan tertutup lapisan putih kekuningan berbau belerang. Di balik lapisan putih itu, bumi seperti bergolak, panasnya menguar dan menyengat kulit. Pada kedalaman setengah meter bisa mencapai 60 derajat celsius. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kondisi lingkungan yang ekstrem membatasi perkembangan vegetasi hanya pada zona di bawah 200 meter dari permukaan laut (mdpl). Cemara laut (&lt;em&gt;Casuarina equisetifolia&lt;/em&gt;) hanya bertahan di pesisir pantai. Di beberapa bagian terdapat tegakan campuran waru laut (&lt;em&gt;Hibiscus tiliaceus&lt;/em&gt;), mara (&lt;em&gt;Macaranga tanarius&lt;/em&gt;), dan beringinan (&lt;em&gt;Ficus fulva&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Ficus septica&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Sebelum letusan Oktober-November 2010, di kawasan ini masih banyak paku-pakuan. Bahkan cemara juga sudah mulai tumbuh. Semua tersapu habis sekarang,&amp;quot; kata Tukirin Partomihardjo (59). Selama 30 tahun, profesor botani dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu meneliti suksesi ekologis di Krakatau. Dia mendata spesies yang datang dan hilang di Krakatau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menurut Tukirin, tak diragukan lagi, Anak Krakatau yang kerap meletus menyebabkan kehidupan muskil hadir di zona 200 mdpl hingga ke puncaknya di ketinggian sekitar 286 mdpl. Suasana &amp;quot;kekosongan&amp;quot; itu mengingatkan pada catatan Rogier DM Verbeek, geolog Belanda, yang datang ke Krakatau pada 11 Oktober 1883 atau enam minggu setelah letusan hebat mengguncang pada 27 Agustus 1883. &amp;quot;Permukaan tanah asli terkubur lapisan abu dan batu apung. Daerah ini masih sedemikian panasnya, sehingga beberapa pemikul barang yang bertelanjang kaki terus berjingkat-jingkat seperti menari.&amp;quot; &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Verbeek menjadi orang pertama di Rakata, kepingan pulau yang tersisa setelah Krakatau meletus. Pulau Krakatau yang semula tersusun dari tiga puncak, yaitu Danan (450 mdpl), Perbuatan (120 mdpl), dan Rakata (822 mdpl), kemudian runtuh ke dalam laut. Hanya tersisa setengah tubuh Rakata yang berbentuk bulan sabit menghadap kaldera yang tersembunyi di kedalaman 180 meter di bawah permukaan laut. Sedangkan Pulau Sertung dan Panjang, sisa kaldera tua sebelum letusan 1883 yang berada di lingkar luar Pulau Krakatau semakin bertambah luas dan tinggi karena tertimbun abu dan batu apung sampai ketebalan lebih dari 50 meter. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pada waktu itu, daratan Rakata masih terlalu panas. Verbeek menyaksikan air hujan yang berubah menjadi uap saat menyentuh lantai pulau yang panas. Aliran lumpur mengucur dari tebing yang dilapisi lava. Ia tak melihat tanda-tanda kehadiran makhluk hidup di sana. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sertung dan Panjang juga tak menyisakan kehidupan, selain tonggak-tonggak kayu mati yang hangus terbakar. Gambaran tentang hutan lebat dalam sketsa John Webber, anggota tim ekspedisi Kapten James Cook yang menyinggahi Krakatau dan pulau-pulau di sekelilingnya sebelum 1883, sama sekali tak terlihat jejaknya. Verbeek pun berkesimpulan, seluruh kehidupan di pulau itu pasti telah musnah. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pendapat itu kemudian didukung sejumlah ahli botani, seperti Melchior Treub, Direktur Kebun Raya Bogor (1880-1909) sehingga memunculkan konsep tentang area kosong (&lt;em&gt;clean slate&lt;/em&gt;) atau tabula rasa. Treub (1888) meyakini, seluruh kehidupan di kawasan Krakatau musnah karena abu vulkanik yang sangat panas dan batu apung menutup kawasan ini dari pantai sampai titik tertinggi hingga ketebalan 80 meter. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, pendapat lain dikemukakan Cornelis Andreis Backer, anak buah Treub. Pada tahun 1908, dia mengunjungi Krakatau dan berpendapat bahwa terdapat akar, benih, dan organisme tanah yang mungkin bertahan dalam lubang yang terlindung di beberapa tempat di bagian selatan Rakata. Pendapat ini dibuatnya setelah dia melihat adanya batang kayu besar yang masih segar di bawah timbunan batu apung. Di lereng agak tinggi di bagian selatan, dia juga menemukan abu tidak terlalu tebal menutupi. Dia berpendapat bahwa musim hujan pada bulan September dan Oktober 1883 mungkin menyebabkan bertahannya kehidupan. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tukirin menolak pendapat Backer. &amp;quot;Batang kayu yang ditemukan Backer bukan dari Rakata, tetapi dibawa gelombang laut beberapa tahun setelah letusan, lalu tertimbun longsoran batu apung,&amp;quot; katanya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tukirin semakin yakin bahwa letusan Krakatau pada 1883 telah menciptakan tabula rasa setelah dia menemukan tonggak kayu menjadi arang, yang tersingkap di tebing pantai Rakata. &amp;quot;Arang kayu itu tertimbun batu apung dan pasir hingga kedalaman lebih dari 20 meter meter. Tidak mungkin ada kehidupan bertahan di bawah timbunan sedalam itu,&amp;quot; katanya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hilangnya seluruh kehidupan setelah letusan 1883 atau adanya beberapa kehidupan yang bertahan masih menjadi perdebatan dengan bukti dan alasan masing-masing. &amp;quot;Kontroversi ini menjadi begitu mapan sehingga ia sudah lama diberi nama the Krakatoa (Krakatau) &lt;em&gt;problem&lt;/em&gt;,&amp;quot; tulis Simon Winchester (2003). &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, bagaimana pun kerasnya perdebatan, setiap ahli botani tetap saja tergelitik untuk mengetahui bagaimana kehidupan mengisi Krakatau pasca-letusan besar itu? Kapan, siapa atau apa, yang pertama kali datang dan mengolonisasi tabula rasa—atau setidaknya nyaris seperti tabula rasa itu? (&lt;strong&gt;Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-6883562607337002052?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/HftYzv_cUAk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/HftYzv_cUAk/krakatau-menyingkap-rahasia-kehidupan.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh6.ggpht.com/-CBFbIKPpJMk/TthJgIRNvhI/AAAAAAAABmM/rWH_iJW4yFY/s72-c/image_thumb%25255B3%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/krakatau-menyingkap-rahasia-kehidupan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-3506155350305128999</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T13:55:36.295+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Jejak Krakatau Sebelum 1883</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/-mDkbI8-D31s/TthJM4NLuRI/AAAAAAAABl0/3DI1CF-bF28/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh5.ggpht.com/-vF7TtK4MBxY/TthJN2YNQ1I/AAAAAAAABl8/8XCqmZXImD4/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas bersama Profesor Tukirin Partomihardjo (kiri), peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengamati vegetasi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Senin (15/8/2011). Di kawasan ini, tim memfokuskan eksplorasi mengenai suksesi alam. Gunung Anak Krakatau, pada awal kemunculannya tidak dihuni makhluk hidup, kini menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Berdasarkan survei antara 1981 dan 2008 telah ditemukan sebanyak 122 jenis pohon berkayu, 42 jenis semak belukar, 71 jenis tanaman merambat, dan 173 jenis tanaman obat-obatan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Ahmad Arif dan Indira Permanasari&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pandangan mata awas memandang laut, menunggu saat gelombang menjauh. Hanya ada kesempatan beberapa detik, ditambah keberuntungan, agar tubuh tidak diterjang ombak yang terkadang tinggi hingga mencapai dinding tebing.&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Kami harus berhitung sebelum menyeberang dengan merayapi tebing licin itu. Sekali dua kali keberuntungan menyertai. Namun, saat berada di satu cerukan, ombak besar tiba-tiba datang menerjang. Kami hanya bisa merapat ke dinding, memunggungi laut, dan menanti gelombang yang segera datang itu, sementara tangan erat berpegangan pada karang. Ombak yang datang seperti palu yang dihantamkan. Tubuh basah dan lelah.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Belum lepas dari lelah, tebing terjal tiba-tiba menghadang. Sebatang kayu berselimut lumut jadi satu-satunya jembatan dan di bawah, debur ombak mencipta jeri. Namun, tak ada pilihan lain selain terus melangkah.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Perjalanan mendebarkan itu kami lalui untuk mencari jejak kehidupan di kompleks Krakatau sebelum gunung ini meletus pada 27 Agustus 1883. Seperti dikisahkan ahli botani Inggris, Joseph Banks, yang mengunjungi Krakatau pada Januari 1771, pulau itu dulu diselimuti hutan lebat. &amp;quot;Kami membuang sauh di bawah pulau tinggi yang di kalangan pelaut disebut Cracatoa dan oleh orang India Pulo Racatta. Kami melihat banyak rumah dan pepohonan lebat.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Banks ke pulau itu bersama armada Inggris yang dipimpin Kapten James Cook dengan kapalnya, Resolution dan Discovery. Mereka dalam perjalanan mencari terra australis incognita (dunia selatan yang misterius). Seniman armada itu, John Webber, melukiskan Krakatau sebagai pulau yang dipenuhi pohon kelapa, rerumputan tinggi, pakis, dan hutan lebat dengan latar belakang gunung raksasa dengan dua puncak.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Jejak arang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Perjalanan kami mulai sejak pukul 07.30, 17 Agustus 2011. Awalnya kami pergi ke Pulau Sertung, sekitar 4 kilometer dari Pulau Rakata. Selain Rakata dan Anak Krakatau, Sertung dan Panjang merupakan bagian dari kompleks kepulauan Krakatau yang berada di dalam kaldera purba. Anak Krakatau berada di titik pusat.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di tepi pantai Sertung yang sunyi, pagi itu, Tukirin Partomihardjo (59), ahli botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengajak kami sejenak berdiri dan mengibarkan bendera Merah Putih. Profesor yang telah 30 tahun meneliti di Krakatau ini memimpin upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ia mengingatkan pentingnya memelihara Krakatau sebagai laboratorium alam dunia yang tidak ternilai.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Seusai upacara, kami mulai menyusuri hutan Sertung yang dipadati pohon melinjo. Sesekali bunyi riuh burung mencipta gaduh di hutan sepi. &amp;quot;Tanah di sini total tertutup abu sehingga cocok buat tanaman berbiji kecil, seperti melinjo,&amp;quot; ujar Tukirin.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pukul 10.00, kami menyeberangi kaldera Krakatau dan mendarat di Legon Cabai, sisi timur Rakata. Hutan lebat menyelimuti pulau itu. Dedaunan yang luruh membentuk lapisan tebal. Suara burung riuh terdengar. Variasi pohon dan hutan di sini lebih rapat dibandingkan Sertung. ”Hutan di Rakata lebih stabil dibandingkan di Sertung yang banyak terganggu letusan Anak Krakatau,” kata Tukirin.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Setelah dua jam mendaki tanah berpasir, kami tiba di ketinggian 212 meter dari permukaan laut. Di tebing tinggi itu, kami menemukan sisa batang-batang kayu yang telah jadi seperti arang. Kayu itu tercetak di lapisan lava yang membeku, lalu tertimbun lapisan abu dan batu apung dengan kedalaman hingga lebih dari 20 meter.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tebalnya material vulkanik yang menimbun arang itu, menurut Tukirin, membuktikan bahwa kehidupan tidak mungkin bertahan di pulau ini setelah letusan 1883. Tukirin lalu mengajak kami melihat kayu yang terarangkan di tepi pantai di sisi lain Pulau Rakata. &amp;quot;Tempatnya lumayan jauh, sekitar lima jam jalan,&amp;quot; katanya menawarkan. &amp;quot;Namun, itu akan menjelaskan betapa seluruh pulau ini memang pernah tertimbun abu.&amp;quot;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kami pun bergegas menuju titik yang ditunjukkan Tukirin. Selama satu dua jam pertama, perjalanan cukup mengasyikkan. Kami masuk ke dalam teduhnya hutan. Namun, perjalanan berikutnya cukup melelahkan karena kami harus menyusuri pantai yang terik.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sekitar pukul 16.00, kami akhirnya tiba di tepi pantai yang diapit tebing dengan ketinggian lebih dari 50 meter. Tonggak-tonggak kayu, berwarna hitam legam menyerupai arang, menyembul di tebing yang tersusun dari batu apung dan abu. Saat Krakatau meletus pada 1883, jatuhan awan panas yang bersuhu lebih dari 500 derajat celsius telah menutup sempurna pulau ini. Pepohonan lebat yang dilukis John Webber sebelum letusan bisa dipastikan musnah terpanggang. Jejak arang itu menjadi bukti penting tentang penciptaan tabula rasa atau area yang steril di kawasan ini setelah letusan.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Jejak ini membuktikan Krakatau steril setelah letusan. Tak mungkin ada yang bertahan hidup ditimbun material panas setebal ini. Kehidupan binatang dan juga tanaman yang kita temui saat ini di sini muncul dari nol,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tak terasa senja mulai datang. Kami harus bergegas kembali ke tenda di sisi lain Rakata sebelum gelap.(&lt;strong&gt;C Anto Saptowalyono&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-3506155350305128999?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/Y5eZOEqu7A8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/Y5eZOEqu7A8/jejak-krakatau-sebelum-1883.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh5.ggpht.com/-vF7TtK4MBxY/TthJN2YNQ1I/AAAAAAAABl8/8XCqmZXImD4/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/jejak-krakatau-sebelum-1883.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-8929423230427500304</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T13:56:33.876+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Antara Mitigasi dan Godaan Pasir Besi</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/-qFPn0WRvCRc/TthI_SG_CNI/AAAAAAAABlk/h920T3pXRG4/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh6.ggpht.com/-ZqOO6_HV4qQ/TthJAk_3vqI/AAAAAAAABls/g3EJ2PdIzm0/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Tim Ekspedisi Cincin Api menapak lereng Gunung Anak Krakatau, perairan Selat Sunda, yang merupakan pasir vulkanik berwarna hitam, Senin (15/8/2011). Pasir hitam Gunung Anak Krakatau ini menggiurkan bagi sebagian pihak karena kualitas kandungan besinya tinggi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Ahmad Arif,Yulvianus Harjono, dan Indira Permanasari&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pasir lembut menghampar luas di kaki Gunung Anak Krakatau. Warnanya hitam legam dan lengket di kaki yang basah. Di kejauhan, puncak Anak Krakatau terus menyemburkan asap, memberikan sinyal tanda bahaya, tetapi sekaligus menjanjikan pasokan pasir yang seolah tanpa batas. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Hingga sebelum Juni 1927, Anak Krakatau masih tersembunyi di laut. Kemunculannya ditandai dengan semburan air panas berbau belerang pada Juni 1927. Sejak saat itu, gunung ini tumbuh cepat hingga kini mencapai ketinggian 285 meter di atas permukaan laut. Dengan laju pertambahan ketinggian rata-rata 4 meter per tahun, Anak Krakatau dikhawatirkan suatu saat akan kembali meletus hebat sebagaimana leluhurnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Damin (70), nelayan dari Desa Teluk, Teluk Betung, Lampung, menyaksikan perkembangan Anak Krakatau tersebut sejak gunung itu masih berupa gundukan batu dan pasir yang menyembul di tengah laut. &amp;quot;Saat masih kecil, saya kadang berenang di sekitarnya. Sekarang sudah tinggi sekali, bikin ngeri. Bagaimana nanti kalau meletus,&amp;quot; ujarnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Melihat pertumbuhan Anak Krakatau itu, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga mulai didera &amp;quot;kekhawatiran&amp;quot;. Pada tahun 2008, mereka menyusun rencana mitigasi guna mengurangi dampak bencana dengan menggandeng perusahaan swasta. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, rencana mitigasi itu menuai kontroversi karena lebih difokuskan kepada rekayasa fisik gunung. Bupati Lampung Selatan (saat itu) Zulkifli Anwar memberikan kuasa kepada perusahaan swasta tersebut untuk &amp;quot;membonsai&amp;quot; Anak Krakatau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Awalnya, beberapa pejabat di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan persetujuan. Namun, Kepala PVMBG Surono, yang waktu itu baru saja menjabat, menentangnya. Menurut Surono, upaya mitigasi itu tak lebih dari penambangan pasir besi dengan dalih mitigasi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Wendy Melfa yang menggantikan Zulkifli sebagai bupati kembali melanjutkan program ini pada 2009. Dia mengizinkan dua kapal keruk beroperasi di perairan Anak Krakatau. Kembali upaya ini ditentang, termasuk oleh Kementerian Kehutanan, karena dianggap melanggar konservasi Cagar Alam Laut Krakatau. &amp;quot;Mereka bilang mitigasi, tetapi kapal itu menyedot pasir,&amp;quot; kata Endang Widiastuti, dosen Biologi Kelautan Universitas Lampung. Proyek mitigasi akhirnya ditangguhkan setelah ditentang banyak kalangan. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, upaya ini dilanjutkan Bupati Lampung Selatan yang baru, Rycko Menoza, mulai 2011. Perusahaan yang digandeng juga masih sama. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Fokus ke manusia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Surono kembali menolak rencana mitigasi yang diajukan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan tersebut. Menurut dia, pendekatan mitigasi itu keliru. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang harus diperhatikan dalam mitigasi bencana adalah manusia, bukan merekayasa gunungnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Mitigasi secara struktural dengan membuat saluran untuk mengalirkan lava dan mengurangi material di Anak Krakatau tidak perlu dilakukan. Tidak ada penduduk di sana,&amp;quot; ujar Surono. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Direktur Eksekutif Walhi Lampung Hendrawan juga mengkhawatirkan mitigasi hanyalah alibi untuk mengeksploitasi Anak Krakatau. &amp;quot;Pasir hitam di Anak Krakatau memiliki kualitas kelas I,&amp;quot; ujarnya &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menyandang status sebagai cagar alam laut, aktivitas di kompleks Krakatau sangat dibatasi, apalagi penambangan, tentulah dilarang. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Apalagi, bagi kalangan ahli botani, kompleks Krakatau adalah laboratorium alam yang sangat penting. &amp;quot;Ini satu-satunya laboratorium alam di dunia yang memiliki catatan rinci sejak awal kemunculan spesies dari kondisi steril akibat letusan. Kompleks Krakatau ini harus dijaga tetap alami,&amp;quot; kata ahli botani dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Tukirin Partomihardjo. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Berkeras&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sekretaris Daerah Lampung Selatan Sutono membantah pengajuan permohonan mitigasi in-situ (dalam kawasan) dilandasi kepentingan ekonomi. Menurut dia, mitigasi bencana Anak Krakatau perlu dilakukan dengan dua cara, yaitu ex-situ (di luar kawasan) dan in-situ. Upaya mitigasi in-situ, ungkap dia, bisa dilakukan dengan cara membuat saluran pengarah lava dan mengurangi material di gunung berupa pasir besi. Adapun ex-situ berupa sosialisasi dan penyiapan ke warga. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Jadi, ini untuk keperluan jangka panjang. Kalau terjadi bencana, yang bakal dirugikan kan masyarakat kami,&amp;quot; tuturnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Selain pengambilan material, disebut juga soal pemasangan sistem peringatan dini dan penyuluhan kepada warga tentang dampak bencana Anak Krakatau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Warga Pulau Sebesi justru mempertanyakan proyek ini. ”Mereka lebih tertarik mengambil pasir. Itu bisa merusak karang yang jadi rumah ikan. Padahal, sebagian warga adalah nelayan,” ujar Jon, warga Sebesi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menurut Jon, yang lebih dibutuhkan warga Sebesi sebenarnya adalah sosialisasi soal ancaman bahaya dan pelatihan kesiapsiagaan terhadap letusan Anak Krakatau. Sejauh ini, warga pulau berpenghuni yang terdekat dengan Anak Krakatau itu belum pernah sekali pun mendapatkan pembelajaran tentang mitigasi bencana. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Potensi produksi tambang bijih besi di pulau ini mencapai 5.071 meter kubik. Pasir besi di Anak Krakatau memang menggoda. &amp;quot;Pengusaha sih enak dapat pasir besinya.... Kami tetap saja diabaikan. Jangan-jangan memang kami hanya jadi alasan untuk penambangan,&amp;quot; kata Muchtar, warga Sebesi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-8929423230427500304?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/iga9qXbMLiM" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/iga9qXbMLiM/antara-mitigasi-dan-godaan-pasir-besi.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh6.ggpht.com/-ZqOO6_HV4qQ/TthJAk_3vqI/AAAAAAAABls/g3EJ2PdIzm0/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/antara-mitigasi-dan-godaan-pasir-besi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-860565099120101096</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T13:57:30.686+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Geliat Krakatau yang Terkepung</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-TLc5fFsehDM/TthIyhF7IHI/AAAAAAAABlU/vn7oIyp856Q/s1600-h/image%25255B4%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh4.ggpht.com/-Y-edovsWbl0/TthIzsr9tVI/AAAAAAAABlc/-9XKZyfFoCA/image_thumb%25255B4%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Bestian Nainggolan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Diskursus dampak letusan Gunung Krakatau sebagaimana yang terjadi tahun 1883, perlahan tenggelam dalam terjangan arus pemaknaan Krakatau sebagai kawasan ekonomi strategis yang menggiurkan. Dalam situasi semacam ini, mitigasi bencana rawan tergelincir dalam jebakan ekonomi. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Gunung Anak Krakatau belakangan ini menggeliat. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat ribuan aktivitas kegempaan setiap hari. Statusnya pun ditingkatkan dari Waspada menjadi Siaga. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Namun, aktivitas Krakatau dianggap belum terlalu mengkhawatirkan. Aktivitas Krakatau kali ini hanya disikapi dengan imbauan agar masyarakat tetap tenang, serta tidak memercayai isu tsunami. Masyarakat pun dilarang mendekati kawah dalam radius 2 kilometer. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bagi sekitar 2.531 penduduk Desa Tejang, Pulau Sebesi, kawasan terdekat Krakatau, geliat Krakatau menjadi keseharian. &amp;quot;Kalau sekadar hujan abu, batuk-batuk, itu sudah biasa,&amp;quot; kata Syaifuddin, Kepala Desa Tejang. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Menggiurkan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tampaknya, Krakatau yang &amp;quot;menakutkan&amp;quot; hanya cerita lampau. Sebagian penduduk Kalianda, Lampung Selatan, misalnya, tidak lagi menyimpan banyak jejak keganasan Krakatau. Terjangan tsunami pada tahun 1883, seolah tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan. Warga kini justru menangkap laut sebagai &amp;quot;peluang&amp;quot; peningkatan ekonomi. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Pantai kami sangat tenang, malah lebih mirip danau,&amp;quot; ungkap Harji, pekerja sebuah resor di Kalianda. Ia optimistis masa depan pantai Kalianda, berikut daya tarik Krakatau, menjadi tujuan wisata favorit. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Optimisme Harji juga menyelimuti warga lainnya. Apalagi pemerintah juga menebarkan nuansa optimisme dengan akan dibangunnya Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Jawa-Sumatera. Jembatan sepanjang 29 kilometer tersebut, menurut rencana, akan mulai dibangun tahun 2014, dan biayanya sekitar Rp 150 triliun. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Edi Novian, kepala Subdirektorat Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Kabupaten Lampung Selatan, mengungkapkan, dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) 2011-2031 kabupatennya, mengakomodasikan berbagai peluang dengan dibangunnya JSS. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Pembangunan rel kereta, jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar, dan pelebaran jalan sepanjang pantai Kalianda dijanjikan akan terwujud. Pantai Canti, Merak Belatung, Wartawan, Marina, dan pantai lainnya di wilayah ini menjadi tempat persinggahan lantaran pengguna kendaraan pribadi di- arahkan melintas jalan pantai. &amp;quot;Potensi ekonomi dan pariwisata kami akan berbuah,&amp;quot; ungkapnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tidak hanya Lampung, Banten juga menuai manfaat dari jembatan tersebut. Kehidupan industri, khususnya industri kimia dan pariwisata, yang terfokus di kawasan Selat Sunda, semakin marak. Saat ini saja, geliat investasi di Banten pesat. Hingga Juli 2011 tercatat 193 proyek dengan investasi sebesar Rp 12,9 triliun, urutan ke-4 dari 33 provinsi penerima investasi terbesar. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Melihat segenap langkah antisipatif kedua provinsi, terbayangkan betapa semaraknya aktivitas ekonomi di sepanjang Selat Sunda, kawasan yang juga rawan bencana. Persoalannya kini, seberapa jauh upaya mitigasi diwujudkan di kedua wilayah ini? &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Komodifikasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kemungkinan terjadinya bencana telah terpaparkan dalam perencanaan. Letusan Krakatau paling dikhawatirkan akan melanda 7 kawasan industri strategis Banten, 2 pembangkit listrik, 4 kawasan pariwisata, dan fasilitas ekonomi rakyat. Menjadi semakin parah lantaran di dalam kawasan tersebut terdapat 35 industri pengolah bahan kimia berikut 26 pelabuhan kimia. Artinya, bencana letusan ataupun tsunami berpotensi mengakibatkan bencana ledakan kimia ataupun gas beracun yang mengancam 417.015 jiwa di Cilegon, Serang, dan Pandeglang. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Langkah mengurangi risiko bencana dilakukan. Kota Cilegon, tempat berkumpulnya industri kimia, memiliki pusat krisis yang menyebarkan informasi kemungkinan bencana. &amp;quot;Kami menempatkan dua sirene peringatan dini di Ciwandan dan Tegal wangi,&amp;quot; ungkap Lilit Basuki dari Pusat Pengendalian Operasi, Crisis Centre Cilegon. Selain itu, jalur evakuasi telah ditentukan di kawasan ini. Begitu terjadi bencana, tsunami misalnya, sirene aktif mengingatkan penduduk. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Beberapa waktu lalu pernah ada latihan bencana, sekarang tidak lagi. Lagi pula buat apa, Krakatau tidak akan meletus,&amp;quot; ungkap Wahidin, yang lebih dari 30 tahun bermukim di Pantai Carita. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Bagi Wahidin, sekalipun bencana tiba, itu sebagai takdir. Dalam situasi demikian, sosialisasi bencana menjadi kurang efektif. Malah, tidak jarang yang terjadi selanjutnya muncul aksi &amp;quot;pembangkangan&amp;quot; warga, terutama kalangan pemegang kuasa. &amp;quot;Lihat saja keberadaan vila sepanjang pantai yang jelas rawan, tetapi sulit dikendalikan,&amp;quot; ungkap Achyar. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Jika Banten bersama masyarakatnya masih bergelut dalam persoalan efektivitas mitigasi, Lampung Selatan justru menginterpretasikan model mitigasi Krakatau secara berbeda. Lampung selatan justru mengeruk material padat Krakatau di kawasan cagar alam, dengan dalih untuk semacam kantong lahar. Pemerintah pun menjalin kerja sama dengan swasta. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Tampaknya, di balik langkah-langkah mitigasi, aroma kalkulasi bisnis menyengat. Mitigasi pun terkomodifikasi.(&lt;strong&gt;Khrisna Panolih/Rustiono/Litbang Kompas&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-860565099120101096?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/UBVisXP-SPs" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/UBVisXP-SPs/geliat-krakatau-yang-terkepung.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh4.ggpht.com/-Y-edovsWbl0/TthIzsr9tVI/AAAAAAAABlc/-9XKZyfFoCA/s72-c/image_thumb%25255B4%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/geliat-krakatau-yang-terkepung.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-2657863792848835350</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T13:58:14.285+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Di Bawah Bayangan Krakatau</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/-maa7yNe1DXg/TthIkAMWE_I/AAAAAAAABlE/HyYLfLiIt_I/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh6.ggpht.com/-ucQL0xigZcM/TthIlCg52tI/AAAAAAAABlM/-CHar9hAeYE/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Suasana perkampungan di Desa Tejang, Pulau Sebesi, Rajabasa, Lampung, Jumat (12/8/2011). Pulau Sebesi, yang semua penduduk aslinya tewas tersapu letusan Krakatau pada 1883, kembali dipenuhi warga pendatang dari Banten, Lampung, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat. Mereka tidak mempunyai memori dan rasa takut terhadap Anak Krakatau yang posisinya sangat dekat dengan Pulau Sebesi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, dan Ahmad Arif &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Suasana perkampungan di Desa Tejang, Pulau Sebesi, Rajabasa, Lampung, Jumat (12/8/2011). Pulau Sebesi, yang semua penduduk aslinya tewas tersapu letusan Krakatau pada 1883, kembali dipenuhi warga pendatang dari Banten, Lampung, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat. Mereka tidak mempunyai memori dan rasa takut terhadap Anak Krakatau yang posisinya sangat dekat dengan Pulau Sebesi. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Kehidupan telah menggeliat di Pulau Sebesi saat matahari baru saja meninggalkan batas cakrawala. Para kuli sibuk memasukkan tandan pisang, kelapa, cokelat, dan hasil bumi lainnya ke kapal yang sandar di dermaga. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Pulau Sebesi, Gunung Anak Krakatau bergeliat. Dari Sebesi, pulau berpenghuni yang paling dekat dengan Anak Krakatau, asap putih terlihat mengepul dari puncak gunung. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Setiap kali Anak Krakatau meletus, rumah dan kebun warga pasti tertutup abu. Munawaroh (36), warga Pulau Sebesi, mengatakan, abu letusan menyelusup masuk ke rumah. &amp;quot;Makanan yang telah dimasak harus ditutup karena abunya di mana-mana,&amp;quot; ujar perempuan itu. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, warga Sebesi seperti tak terusik dengan aktivitas gunung itu. ”Toh, letusannya tidak pernah besar,” demikian Ahmad Suheri (45), warga Desa Tejang, Sebesi. Ahmad tak pernah terpikir, Anak Krakatau akan meletus. Di matanya, gunung itu kecil untuk bisa membawa malapetaka hingga ke desanya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Padahal, letusan Krakatau pada Agustus 1883 pernah memusnahkan kehidupan di Pulau Sebesi. Ahli botani Belgia, Edmond Cotteau, yang datang ke Sebesi, Mei 1884, menggambarkan dalam bukunya, Krakatau en de Straat Soenda (1886), seluruh pulau ini terkubur lapisan abu bercampur batu apung hingga kedalaman lebih dari 10 meter. Ia menemukan bekas desa yang telah binasa. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Di antara sisa rumah yang hancur dan potongan perabot rumah, ada lima puluh kerangka. Beberapa dilapisi sarung berwarna-warni. Orang-orang malang itu tercekik di bawah hujan dingin lumpur,&amp;quot; tulisnya. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hingga kini, warga Sebesi kerap menemukan peninggalan yang terkubur, seperti perhiasan, pecahan keramik, dan koin Belanda. Bahkan, beberapa warga juga menemukan kerangka manusia. Salah seorang warga, Hayun (39), mengatakan, peninggalan itu biasa ditemukan saat menggali sumur di kedalaman 6-8 meter. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pendatang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kedahsyatan Krakatau pada masa lalu sama sekali tak mencekam warga Sebesi. Semua penduduk Sebesi merupakan pendatang yang tidak memiliki sambungan ingatan dengan masa lalu pulau ini. &amp;quot;Penduduk di sini semuanya pendatang. Kebanyakan dari Serang, Banten. Sisanya dari Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Banjarmasin,&amp;quot; ujar Muchtar, tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Desa Tejang. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Setelah letusan Krakatau, Pulau Sebesi tanpa penghuni. Baru sekitar tahun 1938 warga berdatangan ke sana. Semula seluruh pulau ini dikuasai Belanda, lalu diserahkan kepada seorang penguasa bernama Mohamad Saleh Ali. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Penghuni awal pulau ini kebanyakan orang asal Lampung yang membuka perkebunan lada dan kemudian kelapa. Sejak tahun 1970-an, orang Jawa datang ke sana. &amp;quot;Perkebunan yang telah dibuka lalu diburuhkan ke orang Jawa,&amp;quot; kata Muchtar. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kini, mayoritas penduduk menjadi petani yang hidup dari hasil kakao, pisang, dan kopra. &amp;quot;Punya 1 hektar saja kebun kakao, penghasilannya setara pegawai negeri golongan awal. Sebulan rata-rata Rp 2 juta-Rp 3 juta,&amp;quot; ungkap Syahroni (45), Kepala Desa Tejang. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Namun, di pulau ini warga hanya ”menumpang” lantaran tidak memiliki sertifikat atau bukti otentik atas kepemilikan tanah. Sampai saat ini, sengketa tanah di Sebesi antara pemerintah dan keturunan Mohamad Saleh Ali masih belum usai dan warga tetap diwajibkan membayar semacam &amp;quot;pajak&amp;quot; kepada ahli waris pulau tersebut. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Persoalan status tanah itu tak membuat pendatang di Sebesi meninggalkan pulau tersebut. Kesuburan tanah dan ketersediaan air membuat warga betah. Penduduk pulau bertambah hingga kini 2.700 jiwa. Rumah sebagian besar warga terbuat dari batu bata bersemen. Jaringan listrik dan telepon seluler tersedia. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Keempat dusun di pulau ini pun terhubung jalan beton sepanjang 2,8 kilometer. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tanpa persiapan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hidup berkecukupan di Sebesi membuat masyarakat terlena dari ancaman bencana Krakatau yang bisa datang kapan saja. Pemerintah juga seakan tutup mata. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Masyarakat yang tinggal di pulau terdekat dengan Krakatau belum disiapkan mengantisipasi bencana. &amp;quot;Jalur dan lahan evakuasi juga belum ada hingga kini,&amp;quot; ujar Ahyar Abu, tokoh masyarakat di Pulau Sebesi. &amp;quot;Masyarakat tidak tahu ke mana harus lari jika Krakatau meletus.&amp;quot; &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Kebingungan jelas terlihat saat tsunami melanda Aceh tahun 2004. Warga Sebesi yang panik dengan isu bahwa tsunami Aceh mencapai Selat Sunda berlarian tak tentu arah sambil berteriak-teriak, &amp;quot;Banjir... banjir....&amp;quot; &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Syahroni membenarkan, hingga saat ini belum ada kegiatan mitigasi ataupun sosialisasi bencana Krakatau. Ia berkeyakinan, jika dipersiapkan dengan baik, jatuhnya korban bisa dikurangi. Pulau Sebesi memiliki Gunung Sebesi setinggi 884 meter, yang bisa menjadi zona evakuasi jika tsunami tiba-tiba menerjang kawasan ini. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Lampung Muhammad Fadli mengakui, sejauh ini belum ada kegiatan mitigasi di Lampung terkait ancaman letusan Anak Krakatau. Alasannya klasik, yakni ketiadaan anggaran. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Di tengah minimnya persiapan menghadapi ancaman bencana ini, warga merespons aktivitas Krakatau dengan penuh kepasrahan. &amp;quot;Kita sudah yakin. Mati dan hidup diserahkan kepada Allah. Walaupun mengungsi di puncak gunung sana (Puncak Sebesi), kalau Tuhan sudah menghendaki, mati juga kami. Lagi pula kami sudah terbiasa dengan keadaan, aman, aman saja,&amp;quot; kata Muchtar. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-2657863792848835350?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/f7uDGNyBdRU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/f7uDGNyBdRU/di-bawah-bayangan-krakatau.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh6.ggpht.com/-ucQL0xigZcM/TthIlCg52tI/AAAAAAAABlM/-CHar9hAeYE/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/di-bawah-bayangan-krakatau.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7752571215497885221.post-734814495483133285</guid><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T14:03:07.244+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sains</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Krakatau</category><title>Ancaman Tsunami dari Gunung Api</title><description>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/-yY6jXGhxrFM/TthIVCVU8fI/AAAAAAAABk0/k2Opp-i9I6g/s1600-h/image%25255B1%25255D.png"&gt;&lt;img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://lh4.ggpht.com/-MWOpFly9SAQ/TthIWGnTYDI/AAAAAAAABk8/Whwz1Qd3q84/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" width="244" height="124" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Ahmad Arif dan Indira Permanasari&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Terdiri dari kepulauan, sebagian di antaranya pulau-pulau gunung api, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara paling rentan terdampak tsunami vulkanik. Letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada tahun 1883, yang memicu tsunami raksasa, menjadi bukti tentang kondisi geologi Indonesia yang hiperaktif itu. &lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;p align="justify"&gt;Petaka Krakatau 1883 telah membuka mata dunia bahwa kombinasi antara letusan gunung api dan tsunami bisa menjadi ancaman yang sangat mematikan. Tsunami ini merupakan tsunami vulkanik yang terbesar dan berdampak paling luas yang pernah tercatat dalam sejarah. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;James E Begét, peneliti dari Alaska Volcano Observatory (2000), menyebutkan, dalam 250 tahun terakhir telah terjadi 90 tsunami yang diakibatkan gunung api, dan 25 persen di antaranya berdampak fatal terhadap kehidupan. Tsunami akibat gunung api yang tertua yang teridentifikasi terjadi saat letusan Gunung Santorini di Yunani pada 1638 sebelum Masehi. Kombinasi letusan gunung dan tsunami ini yang diduga menghancurkan peradaban Kreta. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Letusan Gunung Vesuvius di Italia pada tahun 79, yang mengubur Pompeii, juga disusul gelombang tsunami. Tsunami besar juga terjadi di Jepang, saat Gunung Unzen meletus pada tahun 1792. Tinggi gelombang yang diduga terjadi karena longsoran saat Gunung Unzen meletus diperkirakan mencapai 55 meter, dan menewaskan lebih dari 10.000 jiwa. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Gegar Prasetya, peneliti dari Amalgamated Solution and Research (ASR), lembaga penelitian di bidang tsunami dan bencana alam, mengatakan, terdapat 18 gunung api di Indonesia yang berpotensi menimbulkan tsunami jika meletus. Dari 18 gunung api itu, hanya tiga gunung api yang memiliki data rinci dan terpantau perkembangannya saat ini. Ketiga gunung itu adalah Anak Krakatau di Selat Sunda, yang menyebabkan tsunami saat meletus tahun 1883; Tambora di Sumbawa, saat meletus tahun 1815; dan Banda Api di Laut Banda. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Selain tiga gunung itu, beberapa gunung api yang diduga kuat pernah menyebabkan tsunami di masa lalu, di antaranya, adalah Rokatinda di Pulau Flores, yang meletus tahun 1928; Pulau Ruang pada 1889, Pulau Awu pada 1856 dan 1892, Pulau Gamkonora pada 1673, dan Pulau Gamalama pada 1871. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Gunung Api Makian di Halmahera, Karangetan di Sangihe, dan Una-Una di Teluk Tomini juga diduga kuat pernah menyebabkan tsunami. Selain itu, gu- nung api bawah laut di sekitar Pulau Weh juga pernah mengirim tsunami hingga ke Banda Aceh. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Pengetahuan kita tentang tsunami yang diakibatkan letusan gunung api masih sangat sedikit karena kejadiannya sudah sangat lama dan sedikitnya catatan. Kebanyakan, pengetahuan itu berasal dari sedimen tsunami,&amp;quot; kata Gegar. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menurut Gegar, potensi bencana tsunami yang dipicu letusan gunung api di Indonesia cukup tinggi karena banyaknya pulau gunung api aktif atau gunung-gunung api yang tubuh gunungnya berada di lautan. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pelajaran Krakatau&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Belajar dari letusan Krakatau tahun 1883, tsunami yang terjadi menyusul letusan gunung api bisa lebih mematikan. Tinggi gelombang dan jangkauan tsunami akibat letusan gunung api juga tak kalah tinggi dibandingkan dengan jika tsunami disebabkan gempa tektonik. Tsunami Krakatau mencapai ketinggian 30-40 meter di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Ahli gunung api dari Pusat Survei Geologi, Sutikno Bronto, mengatakan, tsunami yang disebabkan letusan Krakatau tahun 1883 merupakan salah satu yang terbesar yang pernah diperbuat gunung api, sehingga para ahli berlomba untuk mengkaji penyebab terjadinya tsunami tersebut. &amp;quot;Mengapa 1883 menimbulkan tsunami dan banyak korban di Selat Sunda? Mengapa di Katimbang banyak orang meninggal dan luka bakar?&amp;quot; kata Sutikno. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Sejauh ini, para ahli belum bersepakat tentang penyebab munculnya tsunami pascaletusan Krakatau. ”Setidaknya ada lima hipotesis yang dibuat terkait bagaimana tsunami itu terjadi,” kata Sutikno. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hipotesis pertama, tsunami tersebut disebabkan oleh runtuhan. Setelah material letusan dilontarkan ke atas, kemudian jatuh ke bawah. &amp;quot;Jatuhnya material ke laut inilah yang diduga membentuk tsunami,&amp;quot; kata Sutikno. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Adapun hipotesis kedua menyebutkan, letusan Krakatau telah menyebabkan terjadinya cekungan di dalam laut. Air laut masuk mengisi ke dalam kaldera dan kemudian membalik ke luar menjadi gelombang tsunami. Pendukung teori ini di antaranya Yokoyama (1981). &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Longsoran gunung api ke arah tertentu (debris avalanche) merupakan hipotesis ketiga. ”Saat meletus, material letusan keluar dari samping tubuh gunung sehingga menimbulkan longsoran yang menyebabkan tsunami,” kata Indyo Pratomo, ahli geologi dari Museum Geologi Bandung. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hipotesis keempat, tsunami Krakatau disebabkan karena awan panas yang masuk ke bawah laut. Naiknya suhu air laut secara tiba-tiba akibat limpahan awan panas ini menyebabkan terjadinya perubahan tekanan sehingga memicu terjadinya gelombang tsunami. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Hipotesis kelima juga menyebutkan tsunami Krakatau disebabkan awan panas. Bedanya, awan panas tidak masuk ke dalam air, tetapi merambat di atas permukaan air laut. Rambatan awan panas inilah yang memicu gelombang tsunami. Pendapat ini didukung ahli kelautan dan gunung api dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat, Haraldur Sigurdsson dan Steven Carey. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&amp;quot;Hipotesis ini dikuatkan kesaksian warga Katimbang yang terbakar awan panas. Awan panas itu merambat di atas air laut, sambil merambat juga memicu tsunami,&amp;quot; kata Sutikno. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Anak Krakatau&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Walaupun masih jadi kontroversi, tsunami yang menerjang pasca-letusan Krakatau telah disepakati sebagai faktor pembunuh terbesar saat gunung ini meletus pada tahun 1883 dan menewaskan 36.000 jiwa. Melihat dinamika ini, tsunami merupakan faktor penting yang harus dilihat dalam memitigasi Anak Krakatau yang saat ini tumbuh cepat dan membentuk tubuh gunung menyerupai leluhurnya, Krakatau. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Anak Krakatau tumbuh di tengah bekas letusan Krakatau, 1883. Pada tahun 2008, diameter Anak Krakatau telah mencapai 4 kilometer dengan ketinggian 273 meter. Gegar pernah membuat simulasi letusan dan tsunami dengan skenario runtuhnya tubuh gunung guna melihat potensi terjadinya tsunami berdasarkan diameter dan ketinggian gunung saat itu. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Lewat simulasi itu, dalam waktu 45 menit sebagian besar gelombang telah mencapai pesisir di sekitar Selat Sunda dan masuk ke Laut Jawa. Gelombang paling tinggi sekitar 9 meter menimpa Ujung Kulon. Sementara di sepanjang Anyer, Carita, dan Labuan, ketinggian gelombang 4 meter hingga 7 meter. Gelombang pertama yang mencapai lokasi-lokasi tersebut dalam waktu 28-60 menit. Di pesisir Sumatera, ketinggian gelombang 1,5 meter hingga 4 meter dan gelombang pertama yang mencapai pantai dalam waktu 18-66 menit. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Dalam simulasi itu terlihat betapa ketinggian gelombang dan waktu tempuhnya, terutama di barat Jawa, berpotensi menghancurkan dan menelan korban jiwa. Mitigasi terhadap tsunami bagi penduduk di pesisir pantai sekitar Selat Sunda menjadi keharusan. Apalagi daerah-daerah tersebut kini padat permukiman dan kegiatan perekonomian warga. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;Menurut Gegar, dalam sejarahnya, Gunung Krakatau kemungkinan sudah beberapa kali menimbulkan tsunami saat meletus. Catatan pujanngga Jawa, Rongowarsito, juga menyebutkan, sekitar tahun 416, Krakatau purba meletus hebat dan mengirim tsunami hingga jauh ke pedalaman Lampung dan Pulau Jawa. &lt;/p&gt;    &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7752571215497885221-734814495483133285?l=pematangtahalo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pujakelam/~4/MV79tjyprO8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/pujakelam/~3/MV79tjyprO8/ancaman-tsunami-dari-gunung-api.html</link><author>noreply@blogger.com (Hermawan Pujakelam)</author><media:thumbnail url="http://lh4.ggpht.com/-MWOpFly9SAQ/TthIWGnTYDI/AAAAAAAABk8/Whwz1Qd3q84/s72-c/image_thumb%25255B1%25255D.png?imgmax=800" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pematangtahalo.blogspot.com/2011/12/ancaman-tsunami-dari-gunung-api.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating><media:description type="plain">Hermawan = Pematang Tahalao Jabung Lampung Timur</media:description></channel></rss>

