<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>purwokerto dan sekitarnya</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (abah lc)</managingEditor><pubDate>Thu, 5 Sep 2024 14:52:22 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">70</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://banyumasane.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title/><link>http://banyumasane.blogspot.com/2016/07/blog-post.html</link><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Sat, 16 Jul 2016 01:32:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-6947568491982898470</guid><description></description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lumpuh 4 Jam, Jalur Kereta Cirebon-Purwokerto</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/03/lumpuh-4-jam-jalur-kereta-cirebon.html</link><category>NewsFlash</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Sun, 4 Mar 2012 00:31:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-5120091984158350455</guid><description>BREBES - Perjalanan Kereta Api (KA) di jalur Cirebon-Purwokerto lumpuh  selama 4 jam, setelah salah satu rangkaian gerbong Ka Senja Utama dari  Yogyakarta menuju Jakarta anjlok di wilayah Talok Kecamatan Bumiayu,  Brebes, Sabtu (3/3) pukul 22.30.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada korban jiwa dalam  peristiwa tersebut. Namun demikian, sejumlah perjalanan Ka tertahan di  beberapa stasiun. Kereta kelas bisnis itu mulai anjlok saat melewati  Stasiun Bumiayu. Namun demikian kereta terus melaju sebelumnya akhirnya  berhenti di kilometer 311 atau sekitar 1 kilometer dari Stasiun Bumiayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum  kereta itu anjlok, sejumlah pedagang di Stasiun Bumiayu mengaku melihat  percikan api dibawah gerbong. Mardi (35) penumpang di gerbong 3,  menyatakan selain merasakan guncangan, gerbong juga dipenuhi asap.  "Seluruh penumpang panik. Tapi Syukur alhamdulillah semua selamat," kata  dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyusul kejadian itu, PT KAI DAOP V Purwokerto langsung  melakukan penanganan. Proses evakuasi gerbong yang anjlok cukup memakan  waktu lama karena harus menunggu peralatan yang didatangkan dari  Purwokerto. Sejumlah aparat kepolisian yang dipimpin langsung Kapolsek  Bumiayu AKP Sukoyo juga terlihat guna mengamankan lokasi kejadian.  Perjalanan kereta kembali normal setelah proses evakuasi selesai pukul  02.30 (Minggu, 4/3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Humas PT DAOP V Surono menjelaskan kereta  mengalami anjlok setelah as depan pada gerbong ke tiga bergeser.  "Seluruh penumpang selamat," tegasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun mengenai penyebab  kejadian, menurutnya masih dalam penyelidikan. Diakui, kejadian tersebut  mengakibatkan sejumlah perjalanan kereta lainnya tertahan. Diantaranya,  Ka Bengawan tertahan di Stasiun Kretek, Ka Kutojaya dan Ka Senja Utama  Solo tertahan di Stasiun Patuguran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Ka Taksaka dan Bima  tertahan di Stasiun Purwokerto. Surono juga memastikan jalur tersebut  aman dilintasi kereta "Memang ada bagian rel yang rusak, tapi itu sudah  ditangani," imbuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;
Read more: http://koranwawasan. blogspot. com/&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>asal usul purbalingga</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/03/asal-usul-purbalingga.html</link><category>Culture</category><category>Purbalingga</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Fri, 2 Mar 2012 11:29:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-8096183527735497604</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;Sebuah nama yang pasti tidak akan tertinggal ketika  membicarakan sejarah Purbalingga adalah Kyai Arsantaka, seorang tokoh  yang menurut sejarah menurunkan tokoh-tokoh Bupati Purbalingga.Kyai  Arsantaka yang pada masa mudanya bernama Kyai Arsakusuma adalah putra  dari Bupati Onje II. Sesudah dewasa diceritakan bahwa kyai Arsakusuma  meninggalkan Kadipaten Onje untuk berkelana ke arah timur dan  sesampainya di desa Masaran  (Sekarang di Kecamatan Bawang, Kabupaten  Banjarnegara) diambil anak angkat oleh Kyai Wanakusuma yang masih anak  keturunan Kyai Ageng Giring dari Mataram.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada tahun 1740 – 1760, Kyai Arsantaka menjadi demang  di Kademangan Pagendolan (sekarang termasuk wilayah desa Masaran),  suatu wilayah yang masih berada dibawah pemerintahan Karanglewas  (sekarang termasuk kecamatan Kutasari, Purbalingga) yang dipimpin oleh  Tumenggung Dipayuda I. Banyak riwayat yang menceritakan tenang heroisme  dari Kyai Arsantaka antara lain ketika terjadi perang Jenar, yang  merupakan bagian dari perang Mangkubumen, yakni sebuah peperangan antara  Pangeran Mangkubumi dengan kakaknya Paku Buwono II dikarenakan Pangeran  mangkubumi tidak puas terhadap sikap kakanya yang lemah terhadap  kompeni Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam perang jenar ini, Kyai Arsantaka berada didalam  pasukan kadipaten Banyumas yang membela Paku Buwono. Dikarenakan jasa  dari Kyai Arsantaka kepada Kadipaten Banyumas pada perang Jenar, maka  Adipati banyumas R. Tumenggung Yudanegara mengangkat putra Kyai  Arsantaka yang bernama Kyai Arsayuda menjadi menantu. Seiring dengan  berjalannya waktu, maka putra Kyai Arsantaka yakni Kyai Arsayuda menjadi  Tumenggung Karangwelas dan bergelar Raden Tumenggung Dipayuda III.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masa masa pemerintahan Kyai Arsayuda dan atas saran  dari ayahnya yakni Kyai Arsantaka yang bertindak sebagai penasihat, maka   pusat pemerintahan dipiindah dari Karanglewas ke desa Purbalingga yang  diikuti dengan pembangunan pendapa Kabupaten dan alun-alun. Nama  Purbalingga ini bisa kita dapati didalam kisah-kisah babad. Adapun Kitab  babad yang berkaitan dan menyebut Purbalingga diantaranya adalah Babad  Onje, Babad Purbalingga, Babad Banyumas dan Babad Jambukarang. Selain  dengan empat buah kitap babat tsb, maka dalam  merekonstruksi sejarah  Purbalingga, juga melihat arsip-arsip peninggalan Pemerintah Hindia  Belanda yang tersimpan dalam koleksi Aarsip Nasional Republik  Indonesia.Berdasarkan sumber-sumber diatas, maka melalui Peraturan  daerah (perda) No. 15 Tahun 1996 tanggal 19 Nopember 1996, ditetapkan  bahwa hari jadi Kabupaten Purbalingga adalah 18 Desember 1830 atau 3  Rajab 1246 Hijriah atau 3 Rajab 1758 Je.&lt;/div&gt;&lt;h4&gt;Peninggalan Sejarah&lt;/h4&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain kekayaan budaya dan beberapa macam upacara  tradisional, di Purbalingga terdapat berbagai peninggalan sejarah  purbakala. Benda- benda purbakala tersebut tersebar di wilayah  Purbalingga, antara lain :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Batu Lingga &lt;div align="justify"&gt;Berada di desa Candinata Kecamatan Kutasari + 8 km dari kota Purbalingga, merupakan penginggalan nenek moyang.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gua Genteng &lt;div align="justify"&gt;Berada di desa Candinata Kecamatan Kutasari + 8 km  dari kota Purbalingga. Gua ini letaknya di lereng bukit terbentuk dari  lelehan lava yang membeku, gua ini kadang-kadang dikunjungi oleh  orang-orang yang ingin bersemedi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Giri Cendana &lt;div align="justify"&gt;Berada di desa Kojongan kecamatan Bojongsari + 5 km  dari kota Purbalingga. Merupakan makam Bupati Purbalingga yang bergelar  Adipati Dipokusumo, Adipati Dipokusumo ini memegang tapuk pimpinan  pemerintahan Kabupaten Purbalingga, yaitu Dipokusumo II,III, IV, V dan  VI, sedangkan adipati yang pertama adalah Raden Tumenggung Dipayuda III,  yang mulai memerintah pada saat ditetapkannya KabupatenPurbalingga pada  tanggal 18 Desember 18830.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gombangan &lt;div align="justify"&gt;Berada di Dukuh Brubahan Desa Kajongan, Kecamatan  Bojongsari + 5 km ke utara dari arah kota purbalingga. Merupakan tempat  mandi yang berupa sumber mata air dan ramai dikunjungi pada malam hari,  terutama pada malam jum?at kliwon. Menurut kepercayaan masyarakat, mata  air tersebut dapat memberikan tuah bagi yang mandi ditempat ini dan  konon awet muda, dapat mendapatkan jodoh dan naik derajat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sendang / Petirtaan &lt;div align="justify"&gt;Berada di desa Semingkir, Kecamatan Kutasari + 7 km  dari kota Purbalingga. Sendang ini konon dapat memberikan tuah bagi yang  mempercayainya. Di kunjungi pada malam malam tertentu.6. MAKAM KYAI  WILAH   Berada di desa Karangsari kecamatan Kalimanah + 5 km dari kota  Purbalingga. Merupakan tokoh beragama islam yang cukup berpengaruh.  Tempat ini sering dikunjungi orang-orang yang ingin mendoakan dan  mengharap berkah dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Batu Lingga, Yoni dan Palus &lt;div align="justify"&gt;Berada di Desa Kedungbenda Kecamatan Kemangkon + 14 km dari kota Purbalingga. Merupakan peninggalan pada masa hindu.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Makam Narasoma &lt;div align="justify"&gt;Berada di kelurahan Purbalingga Lor kecamatan  Purbalingga9. ARDI LAWET   Berada di Desa Panusupan Kecamatan Rembang +  30 km dari kota Purbalingga. Merupakan obyek wisata ziarah, karena  sebagian besar pengunjungnya adalah para peziarah yang menginginkan  berkah dari syekh Jambu Karang, seorang tokoh penyebar agama Islam di  daerah Kab. Purbalingga. Di tempat ini terdapat kuku dan rambut Syekh  Jambu Karang yang dikeramatkan. Hari-hari ramai adalah Rabu Pon, karena  menjelang malam Jum?at kliwon atau Kamis Wage diadakan upacara buku  klambu dan yang paling ramai dikunjungi adalah Rabu Pon Bulan Suro.  Untuk mencapai lokasi ke Ardi Lawet dapat ditempuh melalui dua jalur  yaitu : Purbalingga – Bobotsari – Karanganyar – Karangmoncol – Rajawana –  Panusupan – Ardi Lawet, atau Purbalingga – Kaligondang – Pengadegan –  Rembang – Rajawana – Panusupan – Ardilawet&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;
Sumber: http://pur balinggakab .go.id&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>SEJARAH KEBUMEN</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/03/sejarah-kebumen.html</link><category>Culture</category><category>Kebumen</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Fri, 2 Mar 2012 11:24:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-4282156655930648625</guid><description>Seperti halnya  Daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai latar  belakang kultur budaya dan sejarah  yang berbeda-beda, Kabupetan Kabumen  memiliki   sejarah tersendiri yaitu berdiri Kabupaten Kebumen dimana  maksud yang dikandung untuk memberikan rasa bangga dan memiliki bagi  warga masyarakat Kabupaten Kebumen yang selanjutnya dapat menumbuh  kembangkan potensi-potensi yang ada sehingga dapat memajukan pembangunan   di segala bidang .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah awal mulanya adanya Kebumen tidak dapat dipisahkan dengan  sejarah Mataram Islam. Hal ini disebabkan adanya beberapa keterkaitan  peristiwa yang ada dan dialami Mataram membawa pengaruh bagi  terbentuknya Kebumen yang  masih didalam lingkup kerajaan Mataram. Di  dalam Struktur kekuasaan Mataram  lokasi kebumen termasuk di daerah  Manca Negara Kulon  ( wilayah Kademangan Karanglo ) dan masih dibawah  Mataram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan Perda Kab. Kebumen nomor 1 tahun 1990 tentang Penetapan Hari  Jadi Kabupaten kebumen dan beberapa sumber lainnya dapat diketahui  latar belakang berdirinya Kabupaten kebumen antara lain ada beberapa  versi yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #996633; font-size: x-large;"&gt;Versi I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi Pertama asal mula lahirnya Kebumen dilacak dari berdirinya Panjer .  Menurut sejarahnya  menurut sejarahnya, Panjer berasal dari tokoh yang  bernama &lt;a href="http://kebumenkab.go.id/kibagusbodronolo"&gt;Ki Bagus Bodronolo.&lt;/a&gt;Pada  waktu Sultan Agung  menyerbu ke Batavia ia membantu menjadi prajurit  menjadi pengawal pangan dan kemudian diangkat menjadi senopati. Ketika  Panjer dijadikan menjadi kabupaten dengan bupatinya Ki Suwarno( dari  Mataram ), Ki Bodronolo diangkat menjadi Ki Gede di Panjer Lembah (  Panjer Roma ) dengan gelar Ki Gede Panjer Roma I, Pengangakatan tersebut  berkat jasanya menangkal serangan Belanda yang akan mendarat di Pantai  Petanahan   sedangkan anaknya Ki Kertosuto sebagai patihnya Bupati  Suwarno.Demang Panjer Gunung, Adiknya Ki Hastrosuto membantu ayahnya di  Panjer Roma, kemudian menyerahkan jabatannya kepada Ki Hastrosuto dan  bergelar Ki Panjer Roma II. Tokoh ini sangat berjasa karena memberi  tanah kepada Pangeran Bumidirja. yang terletak di utara Kelokan sungai  Lukulo dan kemudian dijadikan padepokan yang amat terkenal.  Kedatangan  Kyai P Bumidirja menyebabkan kekhawatiran dan prasangka, maka dari itu  beliau menyingkir ke desa Lundong sedang Ki panjer Roma II bersama  Tumenggung Wongsonegoro Panjer gunung menghindar dari kejaran pihak  Mataram. Sedangkan Ki Kertowongso dipaksa untuk taat kepada Mataram dan  diserahi Penguasa dua Panjer, sebagai Ki Gede Panjer III yang kemudian  bergelar Tumenggung Kolopaking I ( karena berjasa memberi kelapa aking  pada Sunan Amangkurat I ). dari Veri I dapat disimpulkan bahwa lahirnya  Kebumen mulai  dari  Panjer  yaitu tanggal 26 Juni 1677.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #996633; font-size: x-large;"&gt;Versi II&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah Kabupaten Kebumen dimulai sejak Tumenggung Arung Binang I yang  masa mudanya bernama JAKA SANGKRIP  yang berdarah Mataram dan dititipkan  kepada pamannya  Demang Kutawinangun. Setelah dewasa lalu mencari  ayahnya ke keraton Mataram dan setelah membuktikan keturunan Raja maka  ia diangkat menjadi Mantri Gladag, kemudian sampai Bupati Nayaka dengan  Gelar Hanggawangsa. setelah diambil menantu oleh Patih Surakarta   kemudian diangkat menjadi Tumenggung Arung Binang I sampai dengan  keturunannya yang Ke III sedangkan Arung Binang IV sampai ke VIII secara  resmi menjadi Bupati Kebumen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #996633; font-size: x-large;"&gt;Versi III&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asal mula nama Kebumen adalah adanya tokoh KYAI. PANGERAN BUMIDIRJA.  Beliau adalah bangsawan ulama dari Mataram, adik Sultan Agung Hanyokro  Kusumo. Ia dikenal sebagai penasihat raja, yang berani menyampaikan apa  yang benar itu benar dan apa yang salah itu salah. Kyai P Bumidirjo  sering memperingatkan raja bila sudah melanggar batas-batas keadilan dan  kebenaran. Ia berpegang pada prinsip : agar raja adil dan bijaksana.  Disamping itu juga ia sangat kasih dan sayang kepada rakyat kecil. Kyai P  Bumidirjo memberanikan diri memperingatkan keponakannya, yaitu Sunan  Amangkurat I. Karena sunan ini sudah melanggar paugeran keadilan dan  bertindak keras dan kejam. Bahkan berkompromi dengan VOC (Belanda) dan  memusuhi bangsawan ,ulama dan rakyatnya. Peringatan tersebut membuat  kemarahan Sunan Amangkurat I dan direncanakan akan dibunuh, Karena  menghalangi hukum qishos terhadap Kyai P Pekik dan keluarganya (  mertuanya sendiri ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menghadapi hal itu, Kyai P Bumidirjo lebih baik pergi meloloskan  diri dari kungkungan  sunan Amangkurat I. Dalam perjalanan ia tidak  memakai nama bangsawan , namun memakai nama Kyai Bumi saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kyai P Bumidirjo sampai ke Panjer dan  mendapat hadiah tanah di sebelah  utara kelok sungai Lukulo , pada tahun 1670. Pada tahun itu juga  dibangun padepokan/pondok yang kemudian dikenal dengan nama daerah Ki  bumi atau Ki-Bumi-An, menjadi KEBUMEN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu bila lahirnya Kebumen diambil dari segi nama, maka versi  Kyai Bumidirjo yang dapat dipakai dan mengingat latar belakang  peristiwanya tanggal 26 Juni 1677.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan bukti-bukti sejarah  bahwa Kebumen berasal dari kata Bumi,  nama sebutan bagi P Kyai Bumidirjo , mendapat awalan  Ke dan akhiran an  yang menyatakan tempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu berarti Kabumen mula mula adalah tempat tinggal P Bumidirjo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam perjalanan sejarah Indonesia pada saat dipegang Pemerintah  Hindia Belanda telah terjadi pasang surut dalam pengadaan dan  pelaksanaan belanja negara , keadaan demikian memuncak sampai klimaksnya  sekitar tahun 1930. Salah satu perwujudan pengetatan anggaran belanja  negara itu adalah penyederhanaan tata pemerintahan dengan penggabungan  daerah-daerah Kabupaten (regentschaap) . Demikian pula  halnya dengan  Kabupaten Karanganyar dan Kebupaten Kebumen telah mengalami penggabungan  menjadi  satu daerah Kabupaten menjadi Kabupaten Kebumen. Surat  keputusan tentang penggabungan kedua daerah ini tercatat dalam lembaran  negara Hindia Belanda tahun 1935 nomor 629. Dengan ditetapkannya Surat  Keputusan tersebut maka Surat Keputusan terdahulu tanggal 21 juli 1929  nomor 253 artikel nomor 121 yang berisi penetapan daerah kabupaten  Kebumen dinyatakan dicabut atau tidak berlaku lagi. Ketetapan baru  tersebut telah mendapat persetujuan  Majelis Hindia Belanda dan  Perwakilan Rakyat (Volksraad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai akibat ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka luas wilayah  Kabupaten Kebumen yang baru yaitu : Kutowingun , Ambal , Karanganyar dan  Kebumen. Dengan demikian Surat Keputusan Gubernur Jendral De Jonge  Nomor 3 tertanggal 31 Desember 1935 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari  1936 dan sampai saat ini tidak berubah .Sampai sekarang Kabupaten  Kebumen telah memiliki Tumenggung/Adipati/Bupati sudah sampai 29 kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="" name="kibagusbodronolo"&gt;&lt;/a&gt;KI BAGUS BODRONOLO&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/sejarah/bodronolo.gif" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: #996633; font-size: x-large;"&gt;JAKA SANGKRIP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaka Sangkrip adalah anak Kyai Hanggayuda , karena sejak kecil ia  menderita penyakit Ketrapen "puru"  ia tidak disenangi keluarganya. pada  waktu berumur 16 s/d 17 tahun ia meninggalkan Kutawinangun dan berguru  kepada Kyai Amat Yusuf di desa  Bojongsari dan memakai nama samaran  Surawijaya dan termasuk murid yang luar biasa.  Setelah selesai berguru  lalu meninggalkan desa Bojongsari menuju desa Selang dan berguru ngaji  kepada Kyai Jaiman. Di masa mudanya Jaka Sangkrip atau Surawijaya senang  melakukan tapa brata dan menolong orang  antara lain yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Di desa Prajutan Surawijaya melakukan tapa di bawah pohon "benda",  tapa Ngluwat (berkubur diri).  karena kesaktiannya ia dapat menyembuhkan  penyakit lumpuh yang dialami Keluarga Nalagati.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di Karangbolong saat melakukan tapa di Gua Menganti ia mendapat  wasiat cemeti (cambuk), dan di hutan Moros ia bertemu Kumbang ali-ali  (roh halus) yang selalu membantu kesulitan Surawijaya dengan cara  menjelma menjadi kera putih.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di Gunung Brecong bertapa dengan mengikuti peredaran matahari pagi  hari menuju ke timur, sore hari menuju ke barat, selama 15 hari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di Pantai Selatan bertapa menimbun diri di dalam pasir. &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bertapa lalu menuju ke Gunung Bulupitu dan memperistri ratu jun  bernama Nawangwulan. atas nasihat istrinya itu ia lalu pulang ke  Kutawinangun dan diberi senjata" Kyai Naracabala".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada waktu itu Kutawinangun diduduki oleh Demang Prawiragati sedangkan Kyai Hanggayuda  bersembunyi di Ngabean.&lt;br /&gt;
http:// kebumenkab .go.id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table border="5" cellspacing="1"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" colspan="5" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="200%"&gt; &lt;h1 align="center"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: medium;"&gt;NAMA-NAMA TUMENGGUNG/ADIPATI  /BUPATI&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" colspan="5" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="200%"&gt; &lt;span style="color: black; font-size: medium;"&gt;&lt;b&gt;YANG PERNAH MEMIMPIN KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" bgcolor="#ffff00" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="9%"&gt; &amp;nbsp; &lt;/td&gt; &lt;td bgcolor="#ffff00" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="41%"&gt; &amp;nbsp; &lt;/td&gt; &lt;td align="center" bgcolor="#ffff00" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="25%"&gt; &amp;nbsp; &lt;/td&gt; &lt;td bgcolor="#ffff00" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="25%"&gt; &amp;nbsp; &lt;/td&gt; &lt;td bgcolor="#ffff00" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;NO&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="41%"&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;N A M A&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="25%"&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;TAHUN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="25%"&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;NAMA DAERAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: cyan;" width="25%"&gt; &lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;center&gt;FOTO&lt;/center&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;PANEMBAHAN BODRONOLO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1642-1657&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;PANJER&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;HASTROSUTO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1657-1677&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;PANJER&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;3&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KALAPAKING&amp;nbsp; I&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1677-1710&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;PANJER&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;4&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT.KALAPAKING&amp;nbsp; II&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1710-1751&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;PANJER&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;5&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT.KALAPAKING&amp;nbsp; III&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1751-1790&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;PANJER&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;6&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT.KALAPAKING&amp;nbsp; IV&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1790-1833&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;PANJER&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;7&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT. ARUNGBINANG IV&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1833-1861&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;PANJER&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;8&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT. ARUNGBINANG IV&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1861-1890&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;9&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT. ARUNGBINANG IV&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1890-1908&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;10&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT. ARUNGBINANG IV&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1908-1934&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;11&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT. ARUNGBINANG IV&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1934-1942&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;12&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R. PRAWOTOSOEDIBYO.S&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1942-1945&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;13&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;KRT. SAID PRAWIROSASTRO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1945-1947&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/k.r.t.prawiro_sastro_1945_1947.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;14&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;RM. SOEDJONO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1947-1948&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.m.soedjono_1947_1948.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;15&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R.M. ISTIKNO SOSROBUSONO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1948-1951&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.mohamad_istikno_sosro_busono_1948_1951.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;16&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R.M. SLAMET PROJORAHARDJO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1951-1956&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.m.slamet_prodjo_rahardjo_1951_1956.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;17&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R. PROJOSUDARTO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1956-1961&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.prodjo_soedarpo_1956_1961.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;18&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R. SUDARMO SUMOHARDJO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1961-1963&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.soedarmo_soemohardjo_1961_1963.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;19&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R.M. SUHARJO NOTOPROJO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1963-1964&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.m.soehardjo_notoprodjo_1963_1964.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;20&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;DRS. R. SOETARJO KOLOPAKING&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1964-1966&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.soetardjo_kolopaking_1964_1966.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;21&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R. SUYITNO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1966-1968&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;22&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;MASHUD MERTOSUGONDO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1968-1974&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.mashoed_merto_soegondo_1968_1974.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;23&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;R. SOEPENO SURYODIPROJO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1974-1979&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/r.soepeno_soerjodiprodjo_1974_1979.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;24&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;Drs. H.DADIYONO YUDOPRAYITNO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1979-1984&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/drs.h.ahmad_dadijono_joedo_prajitno_1980_1985.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;25&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;DRS. ISWARTO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1984-1985&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;26&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;H. M.C. TOHIR&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1985-1990&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/h.m.choirudin_tohir_1985_1990.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;27&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;H. M. AMIN SOEDIBYO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1990-1995&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &amp;nbsp;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;28&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;H.M. AMIN SOEDIBYO&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;1995-2000&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/kol.cin.amin_soedibyo_1990_2000.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;29&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;Dra. RUSTRININGSIH&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;2000 - 2005&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/dra.hj.rustriningsih.msi_2000_2008.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;30&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;Dra. Hj. RUSTRININGSIH, M.Si&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;2005 - 2008&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/dra.hj.rustriningsih.msi_2000_2008.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;31&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;K.H.M NASHIRUDDIN AM&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;2008-2010&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/k.h.m.nashiruddin.am_2008_2010.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="9%"&gt; &lt;b&gt;31&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="41%"&gt; &lt;b&gt;H. BUYAR WINARSO, SE&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;2010-....&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;b&gt;KEBUMEN&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td align="center" style="background-color: #ccccff; background-position: left center; border-color: rgb(128, 0, 0); border-style: outset; color: purple;" width="25%"&gt; &lt;center&gt;&lt;/center&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://kebumenkab.go.id/data/bupati_kebumen/h_buyar_winarso_2010_.JPG" width="100px" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>CILACAP AKAN SEGERA MILIKI REGULASI TENTANG RETRIBUSI PENGENDALIAN MENARA TELEKOMUNIKASI</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/03/cilacap-akan-segera-miliki-regulasi.html</link><category>Cilacap</category><category>NewsFlash</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Thu, 1 Mar 2012 10:38:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-5246454635995464650</guid><description>Perkembangan dan pertumbuhan menara telekomunikasi di  Cilacap sangat pesat. Hingga saat ini tercatat 231 menara telekomunikasi  yang tersebar di 24 Kecamatan.  Keberadaan menara tersebut, tentunya  berdampak pada pada tata ruang wilayah. Untuk itu perlu dilakukan  pengendalian agar pemanfaatan ruang mempunyai manfaat yang besar bagi  masyarakat Kabupaten Cilacap. &lt;br /&gt;
Hal tersebut dikemukakan, Kepala  Dishub Kominfo Kabupaten Cilacap, Drs. Dian Setyabudi, MM, dihadapan  para operator telekomunikasi pada rapat sosialisasi rancanagan perda  tentang retribusi pengendalian menara, Kamis (23/02) lalu di gedung  Jalabumi Cilacap. &lt;br /&gt;
Sosialisasi disamping dihadiri para operator telekomunikasi, juga dihadiri Ketua Komisi C DPRD Kustiwa, dan SKPD terkait. &lt;br /&gt;
Lebih  lanjut Dian menyampaikan, mensikapi perkembangan kemajuan tehnologi  informasi tersebut, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009  tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, diperlukan suatu kesamaan  pemahaman Pemkab dengan para operator, tentang perlunya regulasi dalam  pengendalian menara telekomunikasi. &lt;br /&gt;
Untuk itu dalam waktu dekat,  Pemkab Cilacap akan segera mengajukan Raperda tentang Retribusi  Pengendalian Menara Telekomunikasi kepada DPRD Kabupaten Cilacap untuk  dibahas dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. (hromly)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HUMAS CILACAP.&amp;nbsp;&amp;nbsp; http:// humascilacap .info&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://humascilacap.info/v2/cetak.php?id=3427"&gt; &lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Fakultas Pertanian UNSOED Alami Kelonjakan Peminat Calon Mahasiswa di Saat Trend Studi Pertanian di Indonesia Cenderung Menurun</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/03/fakultas-pertanian-unsoed-alami.html</link><category>Education</category><category>NewsFlash</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Thu, 1 Mar 2012 10:37:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-9179828271728228127</guid><description>&lt;div class="rtejustify"&gt;  “ …. &amp;nbsp;orang bilang tanah kita tanah surga&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;  Tongkat kayu dan batu jadi tanaman &amp;nbsp;(Koes Plus) “&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;  &lt;img alt="" src="http://www.unsoed.ac.id/sites/default/files/FAPERTA%20UNSOED.JPG" style="border-style: solid; border-width: 2px; float: right; height: 234px; margin: 2px; width: 350px;" /&gt;Lirik  lagu lawas yang dipopulerkan oleh band legendaris Indonesia di era  60-70’an ini, seolah ingin menggambarkan betapa Indonesia dianugrahkan  bumi yang subur dan menjanjikan kualitas kehidupan dari hasil olahannya.  Namun, bila kita menyimak rubrik pendidikan di majalah berita mingguan  nasional Gatra Edisi 22 Pebruari 2012 yang bertajuk &amp;nbsp;‘Negeri Agraris  Minus Minat Pertanian’ seolah mengingatkan kita akan kenyataan bahwa  justru di negeri yang kerap menahbiskan dirinya sebagai bangsa berbudaya  pertanian, namun justru kehilangan pesonanya bagi para anak bangsa  untuk menuntut ilmu&amp;nbsp; dan mendalami ilmu pertanian itu sendiri. Mengutip  Pembantu Rektor Bidang Akademik Institut Pertanian Bogor, Yonny  Koesmaryono, bahwa persepsi akan pertanian yang identik dengan lumpur,  kumur dan tidak menyejahterakan memberi kontribusi pada minat generasi  muda di republik ini untuk studi di pertanian. Bahkan menyitir Direktur  Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan &amp;amp; Kebudayaan RI,  Djoko Santoso,&amp;nbsp; terdapat trend menurun selama lima tahun ke belakang.&amp;nbsp;  Peneliti dari IPB yang juga Guru Besar Ilmu Hama &amp;amp; Penyakit Tanaman,  Prof. Safrida Manuwoto mengungkapkan, bahwa ketersediaan lapangan  kerja, pertimbangan karir, gengsi, status sosial dan besarnya pendapatan  adalah hal-hal yang turut menyumbang kemerosotan minat studi calon  mahasiswa dalam ilmu pertanian di Indonesia, khususnya dalam kurun waktu  2003-2008 sekitar - 4,7 %.&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;  Bagaimana dengan Ilmu Pertanian di UNSOED ? Berdasarkan data tahun  2011, jumlah peminat masuk program studi sarjana bidang ilmu pertanian,  yakni Agroteknologi, Agribisnis, Teknik Pertanian serta Ilmu &amp;amp;  Teknologi Pangan, menunjukkan kecenderungan laju kenaikan 35,5 % di mana  Program Studi S1 Agroteknologi mengalami kenaikan sebesar 59,2 %,  Agribisnis (37,9 %), Teknik Pertanian (20,7 %) serta Ilmu &amp;amp;  Teknologi Pangan (24,3 %). &amp;nbsp;Menariknya, meski terjadi kenaikan minat,  namun Fakultas Pertanian UNSOED sebagai pengelola studi ilmu-ilmu  tersebut , tetap &amp;nbsp;berkomitmen dalam &amp;nbsp;menjaga kualitas kompetitif calon  mahasiswa. Hal ini terlihat dengan rata-rata hanya 9,37 % yang diterima  dari total peminat 4639 calon mahasiswa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;  Realitas ini sesungguhnya patut mendapatkan apresiasi. Di saat  kecenderungan secara nasional menunjukkan trend menurun, &amp;nbsp;&amp;nbsp;Fakultas  Pertanian UNSOED&amp;nbsp; berhasil menunjukkan eksistensinya sekaligus menjaga  ruh dari negeri agraris ini. Terlebih pula sejalan dengan identitas  &amp;nbsp;UNSOED sebagai pusat keunggulan dalam pengembangan sumberdaya pedesaan  berkelanjutan. &amp;nbsp;Namun demikian, fenomena ini juga sekaligus tantangan  bagi setiap akademisi dalam bidang pertanian di UNSOED untuk senantiasa  mengakselerasi, mengembangkan kualitas &amp;nbsp;proses pembelajaran dan mutu  pendidikan serta memperluas jejaring dalam mengedukasi publik, baik  calon siswa maupun pengguna lulusan, untuk memastikan keterjaminan  eksistensi insan-insan Pertanian Universitas Jenderal Soedirman di  masyarakat sebagai sosok-sosok yang membanggakan dan dapat diandalkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;  Sebagai informasi, saat ini, Fakultas Pertanian UNSOED didukung oleh 5  Guru Besar, 34 Doktor, 112 Magister/Master &amp;amp; 2 Sarjana, dan mengasuh  4 Program Studi S1 &amp;amp; 2 Program Studi D3, yakni S1 Agroteknologi, S1  Agribisnis, S1 Ilmu &amp;amp; Teknologi Pangan serta S1 Teknik Pertanian.  Sedangkan dua program studi ahli madya yang diasuh adalah D3 Agrobisnis  dan D3 Perencanaan Sumberdaya Lahan.&amp;nbsp; Program Sudi S1 Agroteknologi  memiliki Akreditasi ‘A’ dengan keunggulan di bidang perencanaan,  perancangan, pengembangan dan evaluasi produksi tanaman dan sistem  budidaya pertanian. Selain itu, dukungan infrastruktur&amp;nbsp; laboratorium  yang representatif , seperti Laboratorium Agronomi &amp;amp; Holtikultura,  Pemuliaan Tanaman &amp;amp; Bioteknologi, Ilmu Tanah &amp;amp; Sumberdaya lahan,  Perlindungan Tanaman, Manajemen Agribisnis, Perencanaan &amp;amp;  Pengembangan Sumberdaya, Teknologi Pengolahan, Manajemen Agroindustri,  Pangan &amp;amp; Gizi serta Mekanisasi Pertanian&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;  Berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru,&amp;nbsp; pada tahun 2012, Fakultas  Pertanian menerima 82 mahasiswa baru tanpa melalui seleksi ujian tulis  atau SNMPTN Undangan &amp;nbsp;yang terdiri dari 40 kursi untuk Agroteknologi,  (16) Agribisnis, (14) Ilmu &amp;amp; Teknologi Pangan dan (12) Teknik  Pertanian.Sedangkan melalui Jalur SNMPTN Ujian Tulis 2012, Fakultas  Pertanian menerima &amp;nbsp;164 mahasiswa baru yang terdiri dari 80 kursi untuk  Agroteknologi, (32) Agribisnis, (28) Ilmu &amp;amp; Teknologi Pangan dan  (24) Teknik Pertanian&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;  Proficiat Fakultas Pertanian UNSOED ! Maju Terus Pantang Menyerah (Wis)&lt;/div&gt;&lt;div class="rtejustify"&gt;http://www. unsoed. ac.id &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Data Pejabat Baru Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/data-pejabat-baru-dinas-pendidikan.html</link><category>Education</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Thu, 23 Feb 2012 01:13:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-4063988499406531568</guid><description>&lt;div class="entry"&gt;                                         1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BANYUMAS&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Drs. PURWITO, M. Hum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Pembina Utama Muda, IV/c&lt;br /&gt;
NIP. 19570427 198503 1 009&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; SEKRETARIS DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BANYUMAS&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;PARDIYONO, SH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Pembina, IV/a&lt;br /&gt;
NIP. 19651107 199303 1 007&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; KASUBBAG UMUM&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;WAHYU ADHI FIBRIANTO, S.STP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Penata&amp;nbsp; Tk. I, III/d&lt;br /&gt;
NIP. 19780220 199612 1 001&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; KASUBBAG BINA PROGRAM&lt;br /&gt;
WICKY SRI ERLANGGA ADITYA, S.Sos., M.Si.&lt;br /&gt;
Penata, III/c&lt;br /&gt;
NIP. 19770312 199803 1 003&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; KASI SARPRAS DIKMEN&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;ICHYA MAHLUQIE, ST.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Penata Muda Tk. I, III/b&lt;br /&gt;
NIP. 19800928 200502 1 006&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; KABID DIKDAS&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Drs. EDY RAHARDJO&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Pembina, IV/a&lt;br /&gt;
NIP. 19610309 198012 1 003&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;dindikbanyumas .net &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kas Pegadaian Purwokerto digasak Perampok Senpi</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/kas-pegadaian-purwokerto-digasak.html</link><category>NewsFlash</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Thu, 23 Feb 2012 01:04:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-2793005028967999859</guid><description>&lt;div id="newstext"&gt;PURWOKERTO -- Kantor pegadaian di  Jalan Jenderal Soedirman  Purwokerto, menjadi sasaran perampokan.  Untungnya, aksi kawanan perampok  yang berjumlah 6 orang orang ini,  tidak menyebabkan adanya korban  terluka.&lt;br /&gt;
Sedangkan barang berharga yang dibawa kawanan tersebut, tidak   terlalu besar karena mereka segera kabur begitu alarm berbunyi keras.   Aksi perampokan tersebut, terjadi Rabu (22/2) dinihari, sekitar pukul   01.33.&lt;br /&gt;
''Yang berhasil dibawa kabur oleh kawanan tersebut terdiri dari 7   unit handphone berbagai merek, serta uang tunai Rp 700.000,'' kata   Satpam Kantor Pegadaian, Tri Widodo (30), Rabu (22/2).&lt;br /&gt;
Peristiwa itu terjadi saat Tri sedang berjaga di kantor pegadaian,   sambil menonton TV di pos keamanan kantor tersebut. Saat itulah, kawanan   yang berjumlah empat orang menerobos masuk dan menodong korban dengan   senjata api.&lt;br /&gt;
''Saya tidak berani melawan karena mereka menodongkan  senjata api,''  kata warga Desa Notog Kecamatan Patikraja Kabupaten  Banyumas tersebut.&lt;br /&gt;
Setelah itu, mereka menyeret petugas keamanan tersebut ke dalam   gedung pegadaian, bahkan mereka sempat memukuli korban beberapa kali.&lt;br /&gt;
sumber REPUBLIKA . CO.ID, &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kwarcab Banyumas Minta Polres Purbalingga Usut Tuntas Perusakan Mobil</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/kwarcab-banyumas-minta-polres.html</link><category>NewsFlash</category><category>Purbalingga</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 22:37:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-1690632360659299257</guid><description>&lt;div align="left" class="text_article" style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: #444444; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; orphans: 2; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: -webkit-left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0.3em;"&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;b style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;PURWOKERTO&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;- Ketua Kwarcab Banyumas, Didi Rudwianto meminta Polres Purbalingga segera mengusut tuntas perusakan mobil Pemkab Banyumas yang ditumpangi anggota Pramuka.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Ia mengatakan kejadian pelemparan batu oleh suporter Persibangga Purbalingga merupakan kejadian yang tak terduga.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;"Harapan ke depan tidak terjadi di masa yang akan datang dan semoga kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi pengurus Persibangga," kata Ka Kwarcab Banyumas Didi Rudwianto melalui Kasi Bina Muda, Handoko, Kamis (23/2/2012) siang.&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;&lt;br style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;" /&gt;Sebelumnya, bus milik Pemkab Banyumas Rabu (22/12/2012) petang dilempari suporter bola di jalan raya Jompo, Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Bus mengalami kerusakan parah di bagian kaca depan, samping kanan dan belakang. Seorang pembina pendamping mengalami luka bocor di bagian kepala dan anak-anak trauma ketakutan. Pelemparan tersebut diduga salah sasaran (*)&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;TRIBUNJATENG . COM,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Laporan Reporter Tribun Jogja, Hanan Wiyoko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="left" class="font11" style="background-color: white; color: #323233; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 12px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Editor : budi_pras&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Usai Persibangga vs Persibas, Rombongan Pramuka Diserang Suporter</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/usai-persibangga-vs-persibas-rombongan.html</link><category>NewsFlash</category><category>Purbalingga</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 22:36:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-6315208588740374745</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://kotaperwira.com/" style="color: #004276; text-decoration: none;" title="Purbalingga"&gt;PURBALINGGA&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;– Bus milik Pemkab Banyumas yang membawa rombongan&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://kotaperwira.com/kwarcab-pramuka-purbalingga-gelar-pusdiklatcab-kursus-mahir-dasar" style="color: #004276; text-decoration: none;" title="See also Kwarcab Pramuka Purbalingga Gelar Pusdiklatcab Kursus Mahir Dasar"&gt;Pramuka&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;diserang puluhan orang berkaus merah yang diduga suporter sepak bola, kemarin sore. Akibat kejadian itu, satu orang menderita luka parah dan tujuh luka ringan.&lt;span id="more-4490"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Kaca bus pecah di bagian depan, samping kanan, dan belakang. Korban luka parah yakni Agus Candra, pembina&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://kotaperwira.com/purbalingga-borong-kejuaraan-di-persari-jateng-2011" style="color: #004276; text-decoration: none;" title="See also Purbalingga Borong Kejuaraan di Persari Jateng 2011"&gt;Pramuka&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Banyumas. Kepalanya terkena pecahan kaca. Dia dilarikan ke&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;RS Margono Soekarjo Purwokerto&lt;/strong&gt;. Adapun korban yang luka ringan diperbolehkan pulang setelah dirawat di lokasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Pelemparan itu terjadi di perbatasan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Purbalingga, sesaat menjelang kepulangan suporter dan pemain&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://kotaperwira.com/psy-war-jelang-derby-panas-persibangga-vs-persibas" style="color: #004276; text-decoration: none;" title="See also Psy War Jelang Derby Panas Persibangga vs Persibas"&gt;Persibas Banyumas&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;setelah bertanding melawan tuan rumah&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://kotaperwira.com/persibangga-purbalingga-tak-boleh-remehkan-pesik-kuningan" style="color: #004276; text-decoration: none;" title="See also Persibangga Purbalingga Tak Boleh Remehkan Pesik Kuningan"&gt;Persibangga Purbalingga&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;di&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://kotaperwira.com/persibangga-kembali-satu-grup-dengan-persibas-di-divisi-i-pssi" style="color: #004276; text-decoration: none;" title="See also Persibangga Kembali Satu Grup dengan Persibas di Divisi I PSSI"&gt;Stadion Goentoer Darjono&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Salah seorang pembina Pramuka Banyumas,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Pujatman Agung Nugroho&lt;/strong&gt;, menuturkan, rombongannya dalam perjalanan pulang dari Semarang. Bus membawa 16 anggota Pramuka dan tiga pembina yang baru mengikuti lomba tingkat SMP se-Jateng.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Sampai di depan SPBU&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://kotaperwira.com/berita/kalimanah" style="color: #004276; text-decoration: none;" title="Kalimanah"&gt;Kalimanah&lt;/a&gt;, Purbalingga, bus dipepet puluhan pengendara sepeda motor berseragam merah.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Karena takut, pengemudi menghentikan bus di depan Akper Yakpermas, sekitar dua kilometer dari SPBU. Tempat itu masuk wilayah Kabupaten Banyumas. Begitu berhenti, bus dilempari batu oleh pengendara motor. Penumpang yang ketakutan berhamburan keluar, lalu masuk gedung Akper.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; margin: 0px; orphans: 2; padding: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Kabag Ops Kompol Jemino Polres Purbalingga menjelaskan, pelaku pelemparan diduga salah sasaran. Bus Pramuka disangka mengangkut pemain Persibas, karena bertulis Pemkab Banyumas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: white; color: black; font-family: Arial,serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, serif; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 19px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bus Rombongan Pramuka BMS Diserang Suporter Bola Purbalingga</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/bus-rombongan-pramuka-bms-diserang.html</link><category>headnews</category><category>NewsFlash</category><category>Purbalingga</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 22:34:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-1376084237878657723</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIOH7HcsxvDAfzydGCDIKqu4LreYw7FkqI5WC8G-vRazp5Vjj_P7XHYh1LLlenDxBora30H-hbksgXkhuwawluGrR80E3H2b0822TguuL0aWb2D54TCeAdI_UgNf5I0joSuXXPmnoK4IX9/s1600/bawor1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIOH7HcsxvDAfzydGCDIKqu4LreYw7FkqI5WC8G-vRazp5Vjj_P7XHYh1LLlenDxBora30H-hbksgXkhuwawluGrR80E3H2b0822TguuL0aWb2D54TCeAdI_UgNf5I0joSuXXPmnoK4IX9/s320/bawor1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puluhan suporter Persibangga Purbalingga melakukan perusakan terhadap  bus milik pemkab banyumas yang berisi anggota pramuka penggalang kwarcab  Banyumas yang sedang melintas di jalan raya jompo sokaraja. Akibatnya  seorang anggota pramuka mengalami mengalami luka serius di bagian kepala  dan terpaksa dilarikan ke rs margono soekardjo. Dan puluhan lainnya  luka ringan. Sementara bus mengalami kerusakan parah pecah kaca depan,  samping kanan dan belakang. Setelah melakukan perusakan para pelaku yang  baru saja menyaksikan pertandingan antara Persibangga Purbalingga  kontra Persibas Banyumas langsung melarikan diri kembali masuk kota  purbalingga. Ketua rombongan Agung, mengisahkan kronologi kejadian, saat  bus melintas di perbatasan banyumas purbalingga tiba-tiba dihentikan  oleh puluhan suporter yang menggunakan sepeda motor. Mereka  menggedor-gedor bus dan memaksa bus berhenti. Tak berhenti sampai di  situ masa melempari bus dengan batu. "Kami semua yang ada dalam bus  panik, terutama anggota putri semuanya&lt;/div&gt;&lt;div class="fbChatMessage fsm direction_ltr" data-jsid="message" id="msg_877670376_1849002179" style="text-align: justify;"&gt;terutama  anggota putri semuanya berteriak dan menangis. Mungkin para pelaku   mengira kami rombongan pemain yang baru saja bertanding," kata Agung.  Korban dan semua penumpang bus dievakuasi ke kampus AKPER YAPERMAS yang  tak jauh dari lokasi kejadian. Sampai berita ini diturunkan polisi dari  polres purbalingga masih berjaga jaga di TKP. (gps)&lt;/div&gt;&lt;div class="fbChatMessage fsm direction_ltr" data-jsid="message" id="msg_877670376_1849002179" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="fbChatMessage fsm direction_ltr" data-jsid="message" id="msg_877670376_1849002179" style="text-align: justify;"&gt;------------------------------------------------------------------------------- &lt;/div&gt;&lt;div class="fbChatMessage fsm direction_ltr" data-jsid="message" id="msg_877670376_1849002179" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Kutipan detik.com :=&amp;gt; Banyumas&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Bus milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, Jawa Tengah yang ditumpangi 20 anggota Pramuka Kwarcab Banyumas dirusak oleh puluhan suporter bola. Akibat kejadian tersebut salah seorang penumpang pramuka harus dilarikan ke rumah sakit.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Kejadian ini terjadi saat bus melewati perbatasan Banyumas-Purbalingga, pada Rabu (22/2/2012) sekitar pukul 17.00 WIB. Beberapa penumpang juga mengalami luka ringan.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Puluhan pemuda yang melakukan perusakan tersebut diduga dari suporter Persibangga Purbalingga. Bus plat merah bertuliskan 'Pemkab Banyumas' itu dirusak saat melintas di jalan Raya Jompo, Sokaraja-Banyumas, Jawa Tengah atau tak jauh dari tugu perbatasan dan pos Satlantas Purbalingga, oleh puluhan pemuda bersepeda motor&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Sekitar 15 menit, puluhan pemuda tersebut melempari bus dengan batu, bambu dan rantai gir sepeda motor. Kaca depan, samping kanan dan belakang bus warna putih rusak parah. Batu seukuran kepalan tangan dewasa ditemukan di dalam bus.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Perusakan bus ini dilatarbelakangi pertandingan sepak bola antar kabupaten yang bertetangga. Rabu sore di Stadion Goentur Darjono, Purbalingga. Pertandingan antara Persibangga Purbalingga dengan Persibas Banyumas tersebut dimenangkan oleh Persibangga Purbalingga dengan skor 1-0.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Seorang saksi mata, Arhanu Nugroho Eka Saputra (19) melihat bus dari arah timur sudah dibuntuti puluhan suporter. Begitu bus melintas tugu perbatasan, saksi melihat pengendara motor yang berboncengan mengedor-gedor bus dan mulai melempari batu. Begitu bus berhenti, ia masih melihat para pemuda merusak bus.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;"Usai merusak mereka kabur berbalik arah. Ada beberapa juga yang ditangkap polisi," kata Nugroho yang saat kejadian sedang duduk di depan warnet tak jauh dari lokasi kejadian.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Saksi korban, Hariana Adhy Candra (27), menderita luka bocor di bagian kepala karena lemparan batu dari arah depan. Andalan Seksi Protokoler Kwarcab Banyumas ini sempat memberi aba-aba ke penyerang bahwa mereka rombongan pramuka namun tetap diserang.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;"Mereka melempari dari arah depan, kanan dan belakang. Anak-anak saya minta tiarap. Hampir 15 menit kami dilempari," kata Heriana yang duduk di kursi depan samping kiri.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Ia mengisahkan saat bus dilempari suasana di dalam bus sangat mencekam. Banyak anak-anak perempuan yang menangis dan sebagian lagi memekikan 'Allohu Akbar'.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;"Kita tak tahu kenapa diserang. Semua tiarap hingga seorang warga masuk ke bus dan memberitahukan sudah aman," kata Heriana warga Rawalo, Banyumas.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Kasi Bina Muda Kwarcab Banyumas, Handoko mengatakan rombongan tersebut merupakan kontingen Lomba Tingkat (IV) Jawa Tengah yang dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Banyumas. Bus tersebut berisi 16 pelajar SMPN 1 Patikraja dan SMPN 1 Sumbang, satu sopir dan tiga pembina pendamping.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;"Anak-anak mengalami shock, mereka ketakutan dan segera dievakuasi menggunakan truk dalmas ke sanggar pramuka untuk dijemput keluarga," kata Handoko yang menambahkan regu putra berhasil menyabet juara umum di perkemahan yang digelar Sabtu-Rabu (18-22/2/2012).&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; display: inline !important; float: none; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;Selain mengakibatkan korban luka dan ketakukan, perusakan juga mengakibatkan kaca-kaca bus mengalami kerusakan parah di bagian kaca depan, samping kanan dan belakang. Sampai berita ini diturunkan polisi dari Polres Banyumas masih berjaga jaga di TKP yang merupakan daerah perbatasan kedua kabupaten.&lt;/span&gt;&lt;br style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" /&gt;&lt;b style="-webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: white; color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; font-style: normal; font-variant: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;(arb/van)&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="fbChatMessage fsm direction_ltr" data-jsid="message" id="msg_877670376_1849002179" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fbChatMessage fsm direction_ltr" data-jsid="message" id="msg_877670376_1849002179" style="text-align: justify;"&gt;-------------------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIOH7HcsxvDAfzydGCDIKqu4LreYw7FkqI5WC8G-vRazp5Vjj_P7XHYh1LLlenDxBora30H-hbksgXkhuwawluGrR80E3H2b0822TguuL0aWb2D54TCeAdI_UgNf5I0joSuXXPmnoK4IX9/s72-c/bawor1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Bupati Sidak SMPN 5 Purwokerto dan Kecamatan Kedungbanteng</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/bupati-sidak-smpn-5-purwokerto-dan.html</link><category>NewsFlash</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Mon, 20 Feb 2012 19:27:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-4537897215941625051</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="berita_headline"&gt;Bupati Banyumas, Drs Mardjoko MM, Rabu  siang (15/2) kemarin melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SMP Negeri 5  Purwokerto, Jl M Yamin Purwokerto dan Kantor Kecamatan Kedungbanteng.  Kehadiran Bupati didampingi oleh Kabag Umum Setda, Agus Nur Hadie dan  Kabag Humas Setda, Untung Sugiyanto. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan sidak di SMPN 5 Purwokerto untuk melihat kesiapan sekolah dalam  menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2012, dan untuk memantau  langsung kegiatan belajar mengajar dan ekstra kurikuler yang  dilaksanakan di sekolah. Sementara kunjungan ke Kecamatan Kedungbanteng  terkait kesiapan kecamatan ini menghadapi penerapan E-KTP tahun ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di SMPN 5 Purwokerto rombongan bupati diterima oleh Kepala Sekolah,  Sulistyaningsih SPd MPd bersama beberapa guru. Selama lebih kurang 30  menit bupati menyaksikan secara langsung proses belajar mengajar di  beberapa kelas, termasuk kegiatan pada pelajaran muatan lokal,  diantaranya seni musik Calung Banyumasan dan seni Karawitan. Bupati  Mardjoko bahkan berkenan menyaksikan kemahiran para siswa dalam  memainkan musik Calung Banyumasan dan seni Karawitan yang merupakan  hasil dari keuletan dan kerja keras para siswa setempat dengan bimbingan  Kepala Sekolah dan para guru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bupati memberikan apresiasi kepada SMPN 5 Purwokerto yang memiliki ciri  khas yaitu komitmen dalam mengajarkan dan memajukan kesenian, khususnya  kesenian khas Banyumas. Beliau meminta agar ciri khas ini terus  dipertahankan dan dikembangkan. Kemudian Bupati juga berpesan kepada  para siswa dan guru untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam  menghadapi UAN tahun 2012. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala SMPN 5 Purwokerto, Sulistyaningsih SPd mengatakan, secara umum  siswa, guru dan jajaran pengurus sekolah telah siap menghadapi UAN tahun  2012 mendatang. Soal kemahiran anak didiknya memainkan alat musik  tradisional, Sulistyaningsih menjelaskan, pelajaran kesenian termasuk  mulok kesenian Calung Banyumasan dan Karawitan memang mendapat perhatian  khusus di sekolah tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping dijadikan sebagai identitas khas dan daya saing sekolah,  katanya, langkah ini merupakan wujud komitmen dan bagian dari misi  sekolah untuk turut berpartisipasi aktif melestarikan kesenian  tradisional, khususnya kesenian khas Banyumas. Upaya ini ternyata mampu  mengantarkan sekolah ini meraih beberapa prestasi di bidang seni, bahkan  tahun 2011 yang lalu wakil dari sekolah ini berhasil menjadi juara 1  Lomba Karawitan SLTP Tingkat Provinsi Jawa Tengah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai meninjau SMPN 5 Purwokerto, Bupati Mardjoko berkunjung ke Kecamatan  Kedungbanteng, diterima oleh Camat Kedungbanteng, Muntorikin SH MHum.  Di kantor Kecamatan Kedungbanteng, Bupati Mardjoko meninjau dan melihat  langsung kegiatan para pegawai dalam melayani masyarakat, di hampir  setiap ruang pelayanan dan administrasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada Bupati Mardjoko, Camat Muntorikin melaporkan, pada prinsipnya  Kecamatan Kedungbanteng telah siap melaksanakan program E-KTP. ”Kami  menunggu petunjuk dan tindak lanjut dari dinas terkait sambil terus  melakukan pembenahan-pembenahan di berbagai bidang untuk meningkatkan  kesiapan pelaksanaan E-KTP yang rencananya mulai bulan April mendatang”  jelasnya. www .banyumaskab. go.id&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>75 %Bus Semarang-Purwokerto Kurang Layak</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/75-bus-semarang-purwokerto-kurang-layak.html</link><category>headnews</category><category>NewsFlash</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Mon, 20 Feb 2012 19:25:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-5538380838244084</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdsWdbfmC5TUzMgVFHZcytANUH59t0J4VQeBUaL0BDnZleWpvTNjmoRfTaf6siSTkIU7vOzah82wIjKMKSJI9oetdJGWCEDwcMT6sx5r08sqlQbcKhWV-C45Sm3zMVDxjZK5dKGkYcNghI/s1600/bus-jurusan-purwokerto-ilustrasi-_120215175515-693.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdsWdbfmC5TUzMgVFHZcytANUH59t0J4VQeBUaL0BDnZleWpvTNjmoRfTaf6siSTkIU7vOzah82wIjKMKSJI9oetdJGWCEDwcMT6sx5r08sqlQbcKhWV-C45Sm3zMVDxjZK5dKGkYcNghI/s320/bus-jurusan-purwokerto-ilustrasi-_120215175515-693.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Jawa Tengah  menyatakan, sekitar 75 persen dari 320 bus jurusan Semarang-Purwokerto  kurang layak sehingga membahayakan keselamatan pengguna jalan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepala Unit Pelayanan Perhubungan Wilayah Magelang, Dinas  Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Jateng Hery  Prayitno mengatakan armada jurusan Semarang-Purwokerto paling buruk  dibandingkan dengan jurusan lain, seperti Semarang-Solo dan  Semarang-Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia mengatakan, hal tersebut usai memantau razia kendaraan umum di  Terminal Madureso Temanggung yang dilakukan Dishubkominfo Jateng,  Dishubkominfo Kabupaten Temanggung, dan Kepolisian Resor (Polres)  Temanggung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia mengatakan bus jurusan Semarang-Solo atau Semarang-Yogyakarta  rata-rata masih bagus meskipun sebagian juga ada yang kurang layak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Di Jawa Tengah ada program peremajaan sehingga semua armada bisa laik jalan," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia menambahkan, kasus kecelakaan selama ini karena faktor manusia,  antara lain kondisi pengemudi tidak fit saat mengendarai. Ke depan akan  melibatkan Dinas Kesehatan dan PMI untuk melakukan cek kesehatan pada  kru angkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Faktor kendaraan yang tidak laik jalan juga jadi penyebab  kecelakaan. Untuk itu perlu pembenahan pada kendaraan meskipun kendaraan  tidak perlu baru," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk operasi kendaraan sendiri, kata dia, sebenarnya rutin  melakukannya, terutama di Unit Pelayanan Perhubungan Wilayah Magelang  yang meliputi Wonosobo, Magelang, dan Temanggung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kami berharap pemilik armada bisa mematuhi aturan, baik secara teknis kendaraan maupun kelengkapan surat kendaraan," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten  Temanggung mengatakan hasil dari operasi sejumlah kendaraan ditilang  karena melanggar aturan, antara lain satu armada travel yang STNK-nya  sudah mati, kendaraan angkutan tanpa dilengkapi izin trayek, dan  angkutan dengan uji kelaikan yang telah kedaluwarsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Temuan dalam operasi hari ini, banyak kendaraan yang secara teknis  sebenarnya tidak layak dan kami masih melakukan pembinaan," katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="newsmeta" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Redaktur:&lt;/b&gt; Ramdhan Muhaimin&lt;/div&gt;&lt;div class="newsmeta" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt; Antara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdsWdbfmC5TUzMgVFHZcytANUH59t0J4VQeBUaL0BDnZleWpvTNjmoRfTaf6siSTkIU7vOzah82wIjKMKSJI9oetdJGWCEDwcMT6sx5r08sqlQbcKhWV-C45Sm3zMVDxjZK5dKGkYcNghI/s72-c/bus-jurusan-purwokerto-ilustrasi-_120215175515-693.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Unsoed Purwokerto Buka Pendaftaran SNMPTN</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/unsoed-purwokerto-buka-pendaftaran.html</link><category>Education</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 12:14:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-3955772030385957025</guid><description>&lt;strong&gt;PURWOKERTO,&amp;nbsp; -&lt;/strong&gt; Universitas Jenderal  Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, mulai membuka pendaftaran  Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012.&lt;br /&gt;
"Pendaftaran yang telah dibuka khusus untuk SNMPTN Jalur Undangan,  yakni sejak 1 Februari hingga 8 Maret 2012," kata Kepala Bagian Hubungan  Masyarakat Unsoed Purwokerto, Endang Istanti di Purwokerto, Jumat  (10/2).&lt;br /&gt;
Dia mengatakan, pendaftaran SNMPTN Jalur Ujian Tertulis akan  dilaksanakan bersama Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lainnya secara dalam  jaringan, pada 10-31 Mei 2012. Kuota mahasiswa yang diterima melalui  SNMPTN Jalur Undangan maupun SNMPTN Jalur Ujian Tertulis itu mencapai 60  persen dari total mahasiswa yang akan diterima Unsoed sekitar 5.000  orang.&lt;br /&gt;
"Dari 60 persen tersebut, 20 persen di antaranya melalui jalur undangan dan 80 persen jalur ujian tertulis," ucapnya.&lt;br /&gt;
Sekitar 40 persen sisa dari kuota keseluruhan, kata dia, 20 persen di  antaranya untuk calon mahasiswa yang mendaftar melalui jalur Seleksi  Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Mandiri dan 20 persen lainnya melalui  Ujian Masuk Bersama (UMB) Nusantara.&lt;br /&gt;
Dia menambahkan, pendaftaran SPMB Mandiri Ujian Tulis S1/D3 Unsoed  akan dilaksanakan pada 2-11 Juli 2012, sedangkan SPMB Ujian Tulis S1  Paralel pada 20 Juli-2 Agustus 2012.&lt;br /&gt;
Dia mengatakan, pendaftaran UMB Nusantara akan dilaksanakan pada 18  Juni-17 Juli 2012. "UMB Nusantara ini akan diikuti 12 PTN dan 12  perguruan tinggi swasta se-Indonesia. Khusus Jawa Tengah hanya diikuti  tiga PTN, yakni Unsoed, Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan  Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)," ucapnya. &lt;strong style="color: #cccccc;"&gt;suaramerdeka.com&lt;/strong&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lima Masalah Ancam Pelaksanaan E-KTP Purbalingga</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/lima-masalah-ancam-pelaksanaan-e-ktp.html</link><category>NewsFlash</category><category>Purbalingga</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 12:12:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-6339853303237787494</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;PURBALINGGA,&amp;nbsp; -&lt;/strong&gt; Komisi A DPRD  Purbalingga mencatat, setidaknya terdapat lima poin utama yang bisa  mengganjal rencana pelaksanaan program nasional KTP elektronik di  Purbalingga pada Juni mendatang. Permasalahan yang dimaksud para wakil  rakyat, tak hanya pada tataran persiapan. Namun, juga pada proses  pelaksanaan program dengan gelontoran dana APBD 2012 senilai Rp 500  juta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari aspek persiapan, disebutkan akurasi data kependudukan  yang masih bermasalah akan membuat perekaman data membutuhkan kerja  ekstra keras. "Apalagi, data yang salah itu banyak," ucap anggota Komisi  A, Sumoyo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditambahkan, fasilitas pelaksanaan program yang belum  sepenuhnya oleh pemerintah kecamatan. Di antaranya, seperangkat alat  komputer, pemindai sidik jari, scaner, printer, tripod dan juga kamera.  "Sudah mendekati akhir Februari, tapi masih ada yang belum menerima  fasilitas itu. Waktunya sudah mepet. Apalagi, katanya pertengahan Maret  mau perekaman data," tuturnya, Rabu (15/2).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di luar pemberian  fasilitas dari Dindukcapil, hingga kini, pemerintah kecamatan juga masih  sibuk menyiapkan fasilitas infrastruktur. Mulai dari penyediaan ruang  sampai dengan penambahan daya listrik. "Malah itu ada fasilitas tower  SIAK yang rusak. Padahal seharusnya sudah tidak bermasalah dengan itu,"  tambah anggota Komisi A lainnya, Nurul Hidayah di gedung dewan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia  berujar, Komisi A juga menyoroti masalah banyaknya jumlah penduduk di  beberapa kecamatan. Khususnya, wilayah yang memiliki jumlah penduduk  wajib KTP di atas 50 ribu. Di Kabupatan Purbalingga, dari 18 kecamatan  yang ada, terdapat empat kecamatan yang jumlah penduduknya tergolong  tinggi yakni Bukateja, Mrebet, Kaligondang dan Rembang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam  sehari, alat bisa memproduksi sekitar 300 E-KTP. Sedangkan di satu  kecamatan hanya ada empat petugas yang bekerja. "Ini harus  diperhitungkan tenaga dan waktu pengerjaannya," ucap Nurul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumoyo kembali mengemukakan, masalah warga Purbalingga yang ada di  luar daerah dan juga sudah berusia lanjut, patut mendapatkan perhatian  serius. Jika pengaturan waktu tak tepat, bisa menghambat pekerjaan yang  ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Warga normal paling membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit untuk  membuat KTP. Kalau orang yang sudah lanjut usia kan sudah pasti  membutuhkan waktu lebih dari itu. Mungkin sekitar 7 menit," tuturnya. &lt;strong&gt;suaramerdeka.com&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Komite Sekolah Sepakat Hapus Pungutan</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/komite-sekolah-sepakat-hapus-pungutan.html</link><category>Education</category><category>Purbalingga</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 12:12:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-523648092396959569</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PURBALINGGA-&lt;/span&gt; Jajaran Komite  Sekolah tingkat SLTP se-Kabupaten Purbalingga yang mengikuti rapat  sosialisasi Permendikbud Nomor 60 tahun 2011, sepakat akan menghilangkan  pungutan di SLTP negeri mulai tahun ajaran baru 2012/2013 (Juni). K&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;o&lt;/span&gt;mite bersama Dewan Pendidikan juga akan melaporkan jika masih ada pelanggaran pungutan dalam tahun ajaran baru nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Soedino SE mengatakan,  selain lesepakatan menghapus pungutan, sekolah juga diminta melakukan  perubahan APBS (Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah) segera. Karena, ada  penambahan pemasukan dari kenaikan dana BOS sebesar 40 persen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih lanjut dikatakan, saat ini sudah ada sekolah yang sudah komitmen  menjalankan kontrak proyek selama 3 tahun anggaran yang memungkinkan  adanya pungutan pada siswa. Padahal, Permendagri itu melarang adanya  pungutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya menyarankan, silakan diputus saja kontrak pembangunan itu sembari  meminta ijin kepada Bupati. Jika kepala daerah menyetujui tetap jalan,  silakan saja,” terangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika pungutan tetap dilakukan, Dewan Pendidikan tetap melaporkan  tindakan pungutan yang dilakukan sekolah dengan cara apapun. Meski  disetujui bupati, tetap akan dilaporkan dengan rinci. Pihaknya akan  melaporkan kepada Menteri terkait.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diketahui, Permendikbud Nomor 60 Tahun 2011 tentang Larangan  Pungutan Biaya Pendidikan pada Ssekolah Dasar dan SMP seharusnya sudah  berlaku sejak Januari 2012. Disisi lain, kabupaten Purbalingga baru saja  menerbitkan Perda Pembiayaan Pendidikan. Tumpang tindih aturan itu yang  menyebabkan ketidakpastian bagi sekolah dalam menyambut tahun ajaran  baru mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu terkait diterapkannya permendikbud 60, Komite sekolah SLTP  juga khawatir. Pasalnya selama ini guru tidak tetap (GTT) maupun  pegawai tidak tetap (PTT) dibayar dari bantuan APBD sebesar Rp 2.000 per  jam. Jika komite tak melakukan pungutan kepada masyarakat, honor mereka  akan tetap kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami komite yang menandatangani kesepakatan pembayaran itu. Jika tetap  tak ada tambahan honor, BTT/PTT akan mengejar Komite. Lalu sekolah bisa  saja lepas tangan. Komite menginginkan adanya kenaikan honor GTT/PTT,  setidaknya sebulan bisa mencapai atau mendekati UMK,” kata Soedino  mewakili para Komite SLTP. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(amr/bdg) jpnn .com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Retno Supriyanti: Pembuat Alat &amp; Software Detektor Dini Katarak Dengan Olah Citra Digital</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/retno-supriyanti-pembuat-alat-software.html</link><category>Education</category><category>headnews</category><category>NewsFlash</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 12:04:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-2522212914971746335</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfyNQUoQ7yqspQKEubRb_ssZnLC17A1-RTZ-aSqAyUGV3zUQrWTxsXlUjyyKYVzycXzAyeh06GamhYDBaBJ7C-V2p5_Goaz9MXeVYKTTH0raPPQMgB8TZ32fnMsE0EmUm6thT28l-xPMO0/s1600/retno-supriyanti-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfyNQUoQ7yqspQKEubRb_ssZnLC17A1-RTZ-aSqAyUGV3zUQrWTxsXlUjyyKYVzycXzAyeh06GamhYDBaBJ7C-V2p5_Goaz9MXeVYKTTH0raPPQMgB8TZ32fnMsE0EmUm6thT28l-xPMO0/s1600/retno-supriyanti-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTidZDOZwVg9mZNM2YyN3t4QR7zIjvq-pkCwQRMg6pOQ452bC8RLV3qcZruhfhjysDXLbXTsqsiQKysPAUrwEP8bZg9z69TWhPaHCBJn4_fIuIaVcviy1ENMlFIpHhcFqZnAAVJbPFwS68/s1600/detektor-dini-katarak-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTidZDOZwVg9mZNM2YyN3t4QR7zIjvq-pkCwQRMg6pOQ452bC8RLV3qcZruhfhjysDXLbXTsqsiQKysPAUrwEP8bZg9z69TWhPaHCBJn4_fIuIaVcviy1ENMlFIpHhcFqZnAAVJbPFwS68/s1600/detektor-dini-katarak-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dr. Eng. Retno Supriyanti, ST, MT, dosen jurusan teknik elektro Fakultas Sainstek Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto,&amp;nbsp; berhasil membuat alat dan &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; untuk mendeteksi dini penyakit katarak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Katarak adalah perubahan lensa mata yang seharusnya jernih dan tembus  pandang menjadi keruh, akibatnya objek yang dilihat menjadi kabur dan  meyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Normalnya lensa mata jernih. Bila terjadi proses katarak, lensa  menjadi buram seperti kaca susu. Apabila proses ini dibiarkan, maka lama  kelamaan mata akan mengalami kebutaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Katarak terjadi secara perlahan-lahan, sehingga penglihatan terganggu  secara beragam sesuai tingkat kekeruhan lensa. Katarak tidak menular  dari satu mata ke mata yang lain, namun dapat terjadi pada kedua mata  secara bersamaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini, biasanya dokter spesialis mata menggunakan &lt;em&gt;slit-lamp&lt;/em&gt; ataupun &lt;em&gt;optalmoskop&lt;/em&gt;.  Pada umumnya dokter spesialis mata akan menggunakan alat ini untuk  menentukan jenis, kekeruhan dan letak dari katarak, serta untuk  membedakannya dari penyakit mata lain yang mempunyai gejala mirip dengan  katarak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alat yang ditemukannya terbilang sederhana, karena menggunakan kamera digital.&lt;em&gt; “Temuan ini dari hasil desertasi saya di Nara Institute of Science and Technology, Jepang, bersama tim,”&lt;/em&gt; kata Retno saat paparan di gedung rektorat Unsoed Purwokerto (13/2).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia melanjutkan, metode tersebut sudah mendapatkan dua patent, yaitu  dari Japan Patent dengan nomor&amp;nbsp; 2008-035367 dan International Patent  dengan nomor PCT JP2009/52572.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Investor dari patent tersebut adalah satu tim yang terdiri dari Dr  Eng&amp;nbsp; Retno Supriyanti ST MT,&amp;nbsp; Hitoshi Habe DInfo, Prof Masatsugu Kidode,  dan Prof Satoru Nagata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil temuan tersebut dilirik banyak konglomerat untuk diproduksi  secara massal. Tawaran tak hanya datang dari konglomerat asal Indonesia  saja, tapi juga dari konglomerat Jepang dan Cina.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Retno mendiskusikan tawaran dari konglomerat Indonesia tersebut,  dengan anggota tim penemu lain yang seluruhnya berasal dari Nara  Institute of Science and Technology (NIST) , Jepang.&amp;nbsp; &lt;em&gt;”Sampai saat  ini, Bu Retno memang belum melakukan negoisasi secara langsung dengan  konglomerat tersebut, tapi tawaran itu sudah ada,”&lt;/em&gt; kata Humas Keluarga Alumni Unsoed, Alief Einstein.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://indonesiaproud.files.wordpress.com/2012/02/detektor-dini-katarak-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Menurutnya,  meski temuan itu disebutkan sebagai temuan tim dari NIST, namun temuan  itu sejatinya memang hasil rekayasa teknologi yang dilakukan Retno. Hal  ini karena desertasi program doktoral di NIST yang dibuat Retno,  menyangkut pembuatan alat deteksi dini katarak, dengan judul desertasi &lt;em&gt;Cataract Screening Techniques under Limited Health Facilities.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alat tersebut, kata Retno, sudah dipraktekkan untuk bakti sosial di Desa Gemuruh, Kecamatan Padamara, Purbalingga.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfyNQUoQ7yqspQKEubRb_ssZnLC17A1-RTZ-aSqAyUGV3zUQrWTxsXlUjyyKYVzycXzAyeh06GamhYDBaBJ7C-V2p5_Goaz9MXeVYKTTH0raPPQMgB8TZ32fnMsE0EmUm6thT28l-xPMO0/s72-c/retno-supriyanti-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lahan Situs Purbakala Ditanami Warga</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/lahan-situs-purbakala-ditanami-warga.html</link><category>NewsFlash</category><category>Wonosobo</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Thu, 16 Feb 2012 22:02:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-6663084846027650149</guid><description>&lt;a href="" name="news-foto"&gt;&lt;/a&gt;                              &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BATUR&lt;/span&gt;-Lahan di areal  situs purbakala dan pariwisata di Dataran Tinggi Dieng banyak dipakai  masyarakat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara  mencatat, ada 80 hektar tanah kepemilikan Balai Pelestarian Peninggalan  Purbakala BP3 Jateng yang digunakan masyarakat untuk bertani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Akibat pengolahan lahan ini,dikawatirkan akan berdampak kepada situs  purbakala yang ada di Dataran Tinggi Dieng. "Keadaan sudah lebih baik  dari 5 atau 6 tahun lalu. Sudah ada 37 hektar tanah yang berhasil  disertifikasi, terutama di kompleks Candi Arjuna dan Museum," jelas  Bupati Sutedjo Slamet Utomo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan, masyarakat Dieng mulai mengolah tanah di sekitar situs  sejak adanya reformasi tahun 1998. "Pasca reformasi masyarakat  ramai-ramai mematok lahan yang dikiranya lahan kosong" ujarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini, selain membebaskan Zona BP3&amp;nbsp; atau zona inti yang termasuk di  dalamnya komplek candi Arjuna&amp;nbsp; dan museum, lahan yang belum dibebaskan  dinyatakan sebagai wilayah pengembangan. "Jadi sampai sekarang masih  dimanfaatkan oleh para petani, namun dengan sistem sewa," ujarnya. Dia&amp;nbsp;  menambahkan, para petani tersebut sudah diberi sosialisasi. Apabila  nanti lahan tersebut akan dipakai pemerintah, mereka bersedia  mengembalikan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.(jat/din) .jpnn. com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tabel Gaji PNS, TNI dan POLRI 2012</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/tabel-gaji-pns-tni-dan-polri-2012.html</link><category>Economics</category><category>headnews</category><category>NewsFlash</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Thu, 16 Feb 2012 21:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-6307321316613525471</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggV39-tsn-db8pv8zP3nBnzL_hFK8WzlqPav39yiYGIUJjIrtpLrtZceeiSpvZWS8hMdoCrp2fDbwu7MX3vfdgGjr23Y-Z3kAoNe4wnOH5_Ov3NulVDGRfJEebXS_F0EHjYSJOIL1QOOcj/s1600/gaji-tni.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggV39-tsn-db8pv8zP3nBnzL_hFK8WzlqPav39yiYGIUJjIrtpLrtZceeiSpvZWS8hMdoCrp2fDbwu7MX3vfdgGjr23Y-Z3kAoNe4wnOH5_Ov3NulVDGRfJEebXS_F0EHjYSJOIL1QOOcj/s1600/gaji-tni.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxr3og4wBz-4r8zkpsmQKgSPDPJAlkhwMWqKqGk1xiaZzIJ7wUz-to2B8-aBGRAgHKWBSKWNY06gmqcLBaasISOA-WBlJsQIuyFZxlPjkkl415unnekUtTfW8VBInhDTWV0EIf9xr5-Z7C/s1600/pns2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxr3og4wBz-4r8zkpsmQKgSPDPJAlkhwMWqKqGk1xiaZzIJ7wUz-to2B8-aBGRAgHKWBSKWNY06gmqcLBaasISOA-WBlJsQIuyFZxlPjkkl415unnekUtTfW8VBInhDTWV0EIf9xr5-Z7C/s1600/pns2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtbYMQm6BDgp8prAMUD9ubwt_8TwblXqcfTyq2JD3gkggG8i4szwg9Zj7d2jA4kXp-s9FFO3MaCZ5-GZPYI3RrfrSMTxvtadcFc3L8o8RHX0C481CL2WW2VLdLQbrsyUdYj1O2GT0i3XHN/s1600/polisi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtbYMQm6BDgp8prAMUD9ubwt_8TwblXqcfTyq2JD3gkggG8i4szwg9Zj7d2jA4kXp-s9FFO3MaCZ5-GZPYI3RrfrSMTxvtadcFc3L8o8RHX0C481CL2WW2VLdLQbrsyUdYj1O2GT0i3XHN/s1600/polisi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidp49D1VlEi-2iIBTsWBD__Dhf0fau4tGe1hHIM4Mt1h6n_fVt8rl7wMk7eGz053TklQbAg-6ttaaHGLr3fzJmfh3ePolfml0bO4yVPsBSfznMoLhFPMEL2H6xqj1U73b-rn1XArV7xRMU/s1600/tabel_gapok_2012.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidp49D1VlEi-2iIBTsWBD__Dhf0fau4tGe1hHIM4Mt1h6n_fVt8rl7wMk7eGz053TklQbAg-6ttaaHGLr3fzJmfh3ePolfml0bO4yVPsBSfznMoLhFPMEL2H6xqj1U73b-rn1XArV7xRMU/s1600/tabel_gapok_2012.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA -&lt;/strong&gt; Presiden Susilo Bambang Yudhoyono&amp;nbsp;(SBY)  secara serentak pada tanggal 6 Februari lalu telah menandatangani  Peraturan Pemerintah Nomor 15, 16 dan 17 Tahun 2012 tentang Perubahan  Gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota Tentara Nasional Indonesia  (TNI), dan anggota Kepolisian Republik Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikutip dari laman Setkab, Kamis (16/2/2012), dengan keluarnya PP  baru itu, kini gaji pokok terendah PNS sebelum remunerasi adalah Rp  1.260.000 (untuk golongan 1a masa kerja 0 tahun), anggota TNI dan Polri  adalah Rp 1.325.000 (untuk prajurit satu dan bhayangkara dua dengan masa  kerja 0 tahun).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gaji tersebut di luar tunjangan keluarga yang besarnya untuk  istri/suami 10% dari gaji pokok dan anak 2% dari gaji pokok, tunjangan  pangan sebesar nilai beras per 10 kg/orang,&amp;nbsp; tunjangan jabatan untuk  pejabat struktural maupun fungsional, tunjangan umum untuk yang tidak  memegang jabatan struktural maupun fungsional .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ketentuan mengenai gaji baru PNS berlaku mulai 1 Januari 2012,” bunyi Pasal 1 Ayat 2 PP No. 15/2012.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang sama juga berlaku untuk gaji baru anggota TNI dan Polri  sebagaimana bunyi Pasal 1 ayat 2 PP No. 16/2012 dan Pasal 1 ayat 2 PP  No. 17/2012.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam diktum menimbang dari PP No. 15, 16 dan 17 itu disebutkan,  bahwa dasar perubahan gaji PNS, TNI dan Polri adalah untuk meningkatkan  daya guna dan hasil guna, serta kesejahteraan PNS, anggota TNI dan  Polri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam lampiran PP No. 15/2012 disebutkan, gaji pokok terendah untuk  PNS Golongan III a dengan masa kerja 0 tahun adalah Rp 2.046.100  (sebelumnya Rp 1.902.300) dan tertinggi IIId dengan masa kerja 32 tahun  adalah Rp 3.742.300 (sebelumnya Rp 3.332.000).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedang untuk golongan IVa masa kerja 0 tahun adalah Rp 2.436.100  (sebelumnya Rp 2.245.000), sedang tertinggi untuk golongan IVe masa  kerja 32 tahun adalah Rp 4.608.700 (sebelumnya Rp 4.100.000).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk prajurit dua TNI atau bhayangkara Polri dengan masa kerja 0  tahun sesuai PP No. 16/2012 dan PP No. 17/2012 gaji pokoknya) adalah Rp  1.325.000 (sebelumnya Rp 1.230.000). Sedang prajurit TNI dengan pangkat  kopral kepala atau prajurit Polri dengan pangkat ajun brigadir polisi  dengan masa kerja 32 tahun menerima gaji pokok sebesar Rp 2.365.600  (sebelumnya Rp 2.134.600).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun perwira pertama TNI dengan pangkat letnan dua atau inspektur  polisi dua masa kerja 0 tahun menerima gaji pokok Rp 2.198.400  (sebelumnya Rp 2.032.100).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara perwira TNI dengan pangkat kapten atau ajun komisaris  polisi dengan masa kerja 32 tahun memperoleh gaji pokok Rp 3.803.100  (sebelumnya Rp 3.385.000).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk perwira tinggi TNI dengan pangkat Brigjen, Laksamana Pertama  atau Marsekal Pertama dan Polri dengan pangkat Brigjen dengan masa kerja  0 tahun&amp;nbsp; menerima gaji pokok Rp 2.644.400.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan perwira tinggi TNI dengan pangkat Laksama, Jendral dan  Marsekal atau dengan Polri dengan pangkat Jendral dengan masa kerja 32  tahun memperoleh gaji pokok Rp 4.717.500 (sebelumnya Rp 4.072.000). &lt;b&gt;tribunnews .com&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggV39-tsn-db8pv8zP3nBnzL_hFK8WzlqPav39yiYGIUJjIrtpLrtZceeiSpvZWS8hMdoCrp2fDbwu7MX3vfdgGjr23Y-Z3kAoNe4wnOH5_Ov3NulVDGRfJEebXS_F0EHjYSJOIL1QOOcj/s72-c/gaji-tni.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Peluncuran Perdana KA Angkutan Semen Arjawinangun – Purwokerto</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/peluncuran-perdana-ka-angkutan-semen.html</link><category>headnews</category><category>NewsFlash</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Thu, 16 Feb 2012 21:50:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-4061683320733452158</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZwDNXLUzMNFK_OtQEucn3UDNDFAJEeJBSAz2Nqo9NFQE34nbRj2BG8U7M47jpQttYFWG_H8Ktcb7K9S30rKl4kSMtIFqxBOBLsHSQbB8QgUWCYujYHGKNWdqgV4_yRax0I4du6ztaTb9M/s1600/semen+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZwDNXLUzMNFK_OtQEucn3UDNDFAJEeJBSAz2Nqo9NFQE34nbRj2BG8U7M47jpQttYFWG_H8Ktcb7K9S30rKl4kSMtIFqxBOBLsHSQbB8QgUWCYujYHGKNWdqgV4_yRax0I4du6ztaTb9M/s320/semen+1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai realisasi dari perjanjian kerja  sama nomor: 336/p/hk/d6/2011 tanggal 25 November 2011 antara PT.KAI  dengan PT.Kereta Api Logistik, bertempat di Stasiun Arjawinangun (Daop 3  Cirebon) pada tanggal 15 Februari 2012 diadakan peluncuran perdana KA  angkutan semen merek tiga roda dengan relasi Arjawinangun – Purwokerto.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rangkaian KA angkutan Semen yang sedang persiapan pemuatan di Stasiun Arjawinangun&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;eluncuran perdana KA angkutan semen ini ,  ditandai dengan Semboyan 40 oleh Devuty Vice President Daop 3 Cirebon,  Sumedi Heru &amp;nbsp;dengan disaksikan oleh para pejabat Kantor Pusat PT.KAI dan  PT.KA Logistik. KA perdana angkutan semen bernomor PLB 8096 tersebut,  berangkat dari Stasiun Arjawinangun pada jam 00:58 &amp;nbsp;WIB dan tiba di  Stasiun Purwokerto jam 05:58 WIB. Pada peluncuran perdana, KA angkutan  semen Arjawinangun – Purwokerto membawa rangkaian 12 ppcw dengan total  muatan 504 ton.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://www.kereta-api.co.id/images/semen%202.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Muatan Semen Tigaroda di atas gerbong PPCW berkapasitas muat 30 ton&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KA angkutan semen ini rencananya  memiliki standformasi yang terdiri dari 17 ppcw 30 ton plus 1 gerbong  kabus. Diharapkan angkutan semen relasi Arjawinangun – Purwokerto ini,  pada setiap bulannya ditargetkan dapat mengangkut sebanyak 13.770 ton  semen.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atas keberhasilan realisasi kerjasama  tersebut, diharapkan angkutan semen relasi Arjawinangun – Purwokerto  ini, dapat meningkatkan nilai kontribusi pendapatan bagi Daop 3 Cirebon  dan Daop 5 Purwokerto. &lt;strong&gt;(Humaska) http://www . kereta-api. co.id/informasi-media/berita-ka/373-peluncuran-perdana-ka-angkutan-semen-arjawinangun--purwokerto.html&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZwDNXLUzMNFK_OtQEucn3UDNDFAJEeJBSAz2Nqo9NFQE34nbRj2BG8U7M47jpQttYFWG_H8Ktcb7K9S30rKl4kSMtIFqxBOBLsHSQbB8QgUWCYujYHGKNWdqgV4_yRax0I4du6ztaTb9M/s72-c/semen+1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Desa Wisata Ketenger</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/desa-wisata-ketenger.html</link><category>Culture</category><category>headnews</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Tue, 14 Feb 2012 05:27:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-4937228893418846926</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb_lF6Z_WXFQnYgWffq3-g_M1NZiJREjIhNSxZp5qwmmKkofnynaorX_Ql4d9i7QW7hPSZlvQiTsqMxG4akyoSoPQqwG2xDBiA9D1LRIg8m8DZ6d6vjlG7Rs7D9syGPWYClI9-r7afxABj/s1600/batssrraden.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb_lF6Z_WXFQnYgWffq3-g_M1NZiJREjIhNSxZp5qwmmKkofnynaorX_Ql4d9i7QW7hPSZlvQiTsqMxG4akyoSoPQqwG2xDBiA9D1LRIg8m8DZ6d6vjlG7Rs7D9syGPWYClI9-r7afxABj/s1600/batssrraden.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="berita_headline"&gt;Desa  Ketenger Kecamatan Baturraden adalah desa wisata yang berfungsi sebagai  penyangga utama obyek wisata Baturraden. Dengan potensi alamnya yang  benar-benar diandalkan sebagai potensi wisata, seperti Curug Gede, Curug  Kembar, Curug Kabayan. Di samping itu masih ada Rumah Putih, Jalan  Kereta Tebu (Jawa: LORI), dan Wisata Pendidikan.&lt;br /&gt;
Dengan kesejukan  alamnya dan pengairan yang baik, dua hal ini yang oleh masyarakat Desa  Wisata Ketenger dimanfaatkan untuk menanam bunga potong dan kolam  pancingan, sehingga itu semua bisa menambah daya tarik bagi wisatawan.&lt;br /&gt;
Bagi  wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Ketenger dapat menikmati  indahnya suasana malam hari dengan hiburan kesenian seperti Calung,  Ebeg, Band/Orkes Melayu ataupun Genjring. Masyarakat di Desa Wisata  Ketenger menyediakan Home Stay sebanyak 41 rumah dengan kamar tidur  sejumlah 74, dengan fasilitas cukup memadai. Bagi wisatawan mancanegara  tidak perlu repot karena tenaga guide berbahasa Inggris telah siap,  sekaligus tersedia berbagai cinderamata khas setempat.&lt;br /&gt;
Masyarakat di  Desa Wisata Ketenger telah mampu membuat kerajinan tangan berupa tas  tangan dari mute, meja-kursi atau patung dari akar pohon dan makanan  khas Banyumas. Itulah potensi yang terkandung di desa Wisata Ketenger  Kecamatan Baturraden, yang masih terus diupayakan peningkatannya demi  kepuasan wisatawan.&lt;/span&gt;                                           &lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr bgcolor="#EAEAEA" valign="middle"&gt;           &lt;td&gt;&lt;img height="1" src="http://banyumaskab.go.id/images/spacer.gif" width="1" /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;
&lt;tr valign="middle"&gt;           &lt;td&gt;&lt;div align="right" class="berita_sumber"&gt;                        &lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="srtwrg_pengirim"&gt;Sumber Berita : &lt;span class="tahoma11"&gt;Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Hit : &amp;nbsp;1849&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb_lF6Z_WXFQnYgWffq3-g_M1NZiJREjIhNSxZp5qwmmKkofnynaorX_Ql4d9i7QW7hPSZlvQiTsqMxG4akyoSoPQqwG2xDBiA9D1LRIg8m8DZ6d6vjlG7Rs7D9syGPWYClI9-r7afxABj/s72-c/batssrraden.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Petilasan Mahameru</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/petilasan-mahameru.html</link><category>Culture</category><category>headnews</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Tue, 14 Feb 2012 05:25:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-6228554034626243673</guid><description>&lt;span class="berita_headline"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibLOh9VySESZ5dnKuAeGimYWo02FLz9_PBB2P2gKFgdngc3Ka8LvbxlvMTAVJ8GevhGoZzMxej2B-wf9EgQqayG-RY6DGCCLi9qRW4G1zR7ijTRosSdFwNksnPyGF0d36zVN83CVQPSTF8/s1600/mahameru.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibLOh9VySESZ5dnKuAeGimYWo02FLz9_PBB2P2gKFgdngc3Ka8LvbxlvMTAVJ8GevhGoZzMxej2B-wf9EgQqayG-RY6DGCCLi9qRW4G1zR7ijTRosSdFwNksnPyGF0d36zVN83CVQPSTF8/s1600/mahameru.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Petilasan di tempai ini hanyalah sebuah  tugu batu dan� sebuah� megalitik� tempat pemujaan� ritual kuno / ritual  tradisional, yang tidak diketahui kapan dibangun dan siapa yang  membangun.� &lt;br /&gt;
Petilasan Mahameru terletak di sebuah puncak gunung� kurang lebih  1000 m tingginya dari permukaan air laut� dan berada di kawasan hutan  pinus serta tanaman keras lain milik Perhutani. &lt;br /&gt;
Untuk mencapai puncak tersebut� diperlukan perjuangan yang berat,  karena� hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki mendaki lereng gunung�  yang sangat terjal. Jalan setapak� masih sangat alami sehingga� sangat  licin� terutama pada saat musim penghujan. &lt;br /&gt;
Secara administratif kawasan Mahameru� masuk di wilayah Desa Watu  Agung, Kecamatan Tambak, kurang lebih 75 km dari kota purwokerto.&lt;br /&gt;
Masyarakat kuno meyakini, bahwa tempat-tempat suci biasanya�diyakini  berada di puncak-puncak gunung atau di puncak bukit,� atau didataran  tinggi yang lain. Karena di tempat itulah diyakini para dewa dan roh-roh  nenek moyang bersemayam.&lt;br /&gt;
Meru adalah sebuah simbol tempat suci tertinggi� dalam keyakinan kuno  / keyakinan tradisional yang dilambangkan dengan bentuk gunung.  Mahameru berarti tempat� paling suci dalam ajaran ritual kuno /  keyakinan tradisional. &lt;br /&gt;
Menurut cerita masyarakat, yang pertama kali� membangun dan berdiam  di tempat tersebut yakni�Eyang Gusti atau�ada pula yang menyebut� Eyang  Permana yang hidup pada masa� Kadipaten Pasirluhur. Eyang Gusti� atau  Eyang Permana mempunyai tugas dari Sultan Pajang untuk menyebarkan agama  Islam di daerah- daerah yang� penduduknya belum memeluk Islam. Dan  setiap satu tahun sekali pada bulan Maulud (Robiul Awwal) Eyang Gusti  Permana harus melaporkan hasil tugas-tugasnya kepada Sultan Pajang .  Suatu ketika�� dalam perjalan pisowanan dari� Pasir Luhur� ke Demak�  lewat� daerah� selatan, Eyang Gusti Permana sempat tinggal, menjalankan  tugas mengislamkan penduduk, serta berdiam beberapa lama� di kawasan�  tersebut. Untuk menghargai dan mengenang� petilasan Eyang Gusti� atau  Eyang Permana tersebut , masyarakat� sejak dahulu melaksanakan ziarah  dan napak tilas dengan berbagai maksud dan tujuan.&lt;br /&gt;
Sumber Berita : &lt;span class="tahoma11"&gt;Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas&amp;nbsp;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibLOh9VySESZ5dnKuAeGimYWo02FLz9_PBB2P2gKFgdngc3Ka8LvbxlvMTAVJ8GevhGoZzMxej2B-wf9EgQqayG-RY6DGCCLi9qRW4G1zR7ijTRosSdFwNksnPyGF0d36zVN83CVQPSTF8/s72-c/mahameru.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ekspor Kamaboko-ita dan Gomaki ke Jepang Tetap Lancar</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/ekspor-kamaboko-ita-dan-gomaki-ke.html</link><category>Economics</category><category>headnews</category><category>Purbalingga</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Mon, 13 Feb 2012 03:44:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-1668427440410551577</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbVBrgccJTssNP9zh-EviCSSUe0360FBUQQOL9HDsnb3fXLzDTIqV6083xg4MtxmrnjLviofyJuhIBWsm6g413UpWWHau4QZM3KsHAiLdKccucH6a1_8YenySCrthvEj3bb35oieavC4JJ/s1600/kamaboko-ita-web+pbg.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbVBrgccJTssNP9zh-EviCSSUe0360FBUQQOL9HDsnb3fXLzDTIqV6083xg4MtxmrnjLviofyJuhIBWsm6g413UpWWHau4QZM3KsHAiLdKccucH6a1_8YenySCrthvEj3bb35oieavC4JJ/s320/kamaboko-ita-web+pbg.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbVBrgccJTssNP9zh-EviCSSUe0360FBUQQOL9HDsnb3fXLzDTIqV6083xg4MtxmrnjLviofyJuhIBWsm6g413UpWWHau4QZM3KsHAiLdKccucH6a1_8YenySCrthvEj3bb35oieavC4JJ/s1600/kamaboko-ita-web+pbg.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbVBrgccJTssNP9zh-EviCSSUe0360FBUQQOL9HDsnb3fXLzDTIqV6083xg4MtxmrnjLviofyJuhIBWsm6g413UpWWHau4QZM3KsHAiLdKccucH6a1_8YenySCrthvEj3bb35oieavC4JJ/s320/kamaboko-ita-web+pbg.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Purbalingga, Humas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="SV"&gt;  – Meski wilayah Jepang tengah dilanda bencana gempa bumi disertai  tsunami dan bahaya radiasi nuklir Fukushima, namun ekspor produksi  Kamaboko-ita (tatakan makanan ikan yang diolah) dan Gomaki (alat  sembahyang) untuk orang Jepang, tetap jalan terus. Kamaboko-ita dan  Gomaki diproduksi oleh PT N.Y.P. Woodwork — perusahaan PMA yang sahamnya  dimiliki Yamagashi Woodworking Ltd. (Jepang) &lt;span&gt; &lt;/span&gt;dan beroperasi di Desa Gemuruh, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga (Jateng). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Kenzaburo  Sugimoto, pemilik dan Presiden Direktur (Presdir) N.Y.P. Woodwork,  menjelaskan, permintaan ekspor ke Jepang masih tetap dan tidak  terpengaruh bencana tsunami di Jepang. Dalam satu bulan, setidaknya  mengirimkan enam kontainer Kamaboko-ita dan Gomaki dengan nilai ekspor  selama setahun antara 800 juta Yen hingga 1 milyar Yen. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;”Ekspor  produk kami tidak terpengaruh. Kami masih lancar mengirimkan  Kamaboko-ita dan Gomaki ke Taiwan dan Jepang,” ujar Kenzaburi Sugimoto,  Senin (21/03/2011). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Disebutkan  Kenzaburo, selain produk utama Kamaboko-ita dan Gomaki, pihaknya juga  memproduksi segala kemasan kayu yang sangat halus olahannya, seperti  kotak sake, kotak cokelat dan kotak perhiasan. ”Produk olahan tersebut  semuanya untuk memenuhi sebagian besar pasar Jepang, dan sebagian kecil  ke Taiwan. Produk kami kendalanya hanya pada ketersediaan bahan baku  berupa kayu pinus yang sangat terbatas,” kata Kenzaburo. (Humas/y)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;http://www .purbalinggakab.go.id/teknologi-industri/ekspor-kamaboko-ita-dan-gomaki-ke-jepang-tetap-lancar &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr color="maroon" width="85%" /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbVBrgccJTssNP9zh-EviCSSUe0360FBUQQOL9HDsnb3fXLzDTIqV6083xg4MtxmrnjLviofyJuhIBWsm6g413UpWWHau4QZM3KsHAiLdKccucH6a1_8YenySCrthvEj3bb35oieavC4JJ/s72-c/kamaboko-ita-web+pbg.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Industri Rambut Palsu Terbesar No. 2 Di Dunia</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/industri-rambut-palsu-terbesar-no-2-di.html</link><category>Economics</category><category>Purbalingga</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Mon, 13 Feb 2012 03:43:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-1792848189968038913</guid><description>Kabupaten Purbalingga mulai tahun 2008 adalah untuk membangun dirinya  sebagai pusat manufaktur rambut dan bulu mata palsu kedua di dunia,  setelah Gwangju, Korea Selatan. Purbalingga kini memiliki 18 industri  manufaktur dan rambut bulu palsu, semua datang dari modal asing, dan  telah menyerap 30.000 pekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepercayaan itu, menurut Bupati  Purbalingga Triyono Budi Sasongko, muncul pekan lalu ketika dia diundang  oleh para pengusaha Korea Selatan mengunjungi sejumlah wig-membuat  industri di Korea Selatan. "Dari hasil kunjungan itu, saya percaya  industri wig Purbalingga adalah industri ramput palsu nomor satu di  Indonesia, serta kedua di dunia setelah Gwangju," katanya, Sabtu (12 /  7).     Kabupaten Purbalingga keberhasilan pemerintah menarik investor asing  dari industri wig, katanya, bisa menjadi citra tersendiri bagi  Purbalingga yang hanya dikenal sebagai satu kota kecil di Jawa Tengah.  "Foto atau citra sebagai kota rambut palsu, setidaknya akan menjadi ikon  tersendiri bagi kota kecil seperti Purbalingga ini," lanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam  hal pendapatan, Bupati Purbalingga mengakui, keberadaan 18 investor  asing hampir tidak ada kontribusinya terhadap Purbalingga, selain hanya  pajak bumi bangunan. Sisanya dari pajak ekspor untuk setiap produk  diekspor ke negara-negara lain, banyak dinikmati oleh pemerintah pusat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun,  PMA adalah 18, katanya, bisa memberikan jalan keluar dari kekacauan  yang dialami pengangguran selama ini Purbalingga. Oleh karena itu, kami  tetap mendukung investasi asing yang dapat memberikan lapangan kerja  dalam jumlah besar. "Misalnya, seperti sekarang, telah menyerap 30.000  orang dalam pembuatan wig industri," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Humas Pemkab  Purbalingga Djoko Triwinarso mengatakan, selain 18 asal luar negeri  Korea Selatan bergerak di bidang usaha pembuatan wig, Purbalingga juga  memiliki satu lagi PMA dari Jepang bergerak dalam usaha pembuatan  alat-alat kayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari 19 PMA, lanjutnya, telah meningkatkan nilai  investasi asing selama tahun pada tahun 2007 kemarin Purbalingga, yang  naik menjadi Rp 39 miliar, atau naik sekitar 37 persen dibandingkan  dengan tahun sebelumnya. Selama tahun 2002-2007 saja, Kabupaten  Purbalingga disetujui tujuh proyek PMA dengan nilai 6830000000 dolar AS,  dan sekarang dapat menyediakan lapangan kerja untuk 3726 orang.  dn-Buruh_Rambut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersamaan, Purbalingga telah melakukan tujuh  proyek lain FDI senilai US $ 7725000000 dan telah menyediakan lapangan  kerja bagi 3.433 orang. "Sebagian besar semua proyek asing, rata-rata  orang dapat menyerap 575 pekerja. Jumlah itu jauh di atas rata-rata  kerja di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta, "jelasnya.&lt;br /&gt;
http://www.purbalinggakab.go.id/teknologi-industri/industri-rambut-palsu-terbesar-no-2-di-dunia</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menelusuri Bisnis Esek-esek di Purwokerto (2)</title><link>http://banyumasane.blogspot.com/2012/02/menelusuri-bisnis-esek-esek-di_11.html</link><category>Economics</category><category>NewsFlash</category><category>Purwokerto</category><author>noreply@blogger.com (abah lc)</author><pubDate>Sat, 11 Feb 2012 17:38:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-545948226288934630.post-2976302073709171581</guid><description>&lt;div class="smJudul"&gt;   &lt;h3&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h2&gt;Gadis Persembahan untuk Pelicin Relasi&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="smIsi"&gt;&lt;div id="mulai"&gt;&lt;b&gt;SABTU&lt;/b&gt; (18/11) siang pekan lalu, saya sengaja diajak seorang teman untuk menemani relasi bisnisnya yang baru datang dari luar kota. Sebut saja Bay (25), yang bekerja di sebuah perusahaan jasa penjualan sepeda motor dan mobil di Purwokerto. Relasinya yang berjumlah tiga orang datang ke Kota Satria ini untuk mengecek hasil penjualan barang dan meminta laporan bulanan. &lt;/div&gt;Karena sebulan terakhir ini penjualan barang sedang lesu, dia tak kurang akal agar sang pimpinan di kantor pusat atau tim pengecek tidak kecewa. &lt;br /&gt;
Kalau dia sekadar melaporkan hasil perdagangan senyatanya, mungkin bisa mendapat peringatan atau penilaian minus. Lalu, diajaklah tim tersebut untuk pertemuan di sebuah rumah makan. Dari sana, pembicaraan sudah melebar sampai ke banyak hal. Termasuk kedatangan tim ini yang juga membutuhkan waktu istirahat dan suasana segar. &lt;br /&gt;
Setelah tamunya masuk ke hotel di kawasan Baturraden, dia meminta saya menemani rekannya di sebuah tempat hiburan di kawasan kota. Dari pertemuan dengan lelaki bertubuh gempal, Bay mengutarakan maksudnya. ''Aku butuh tiga gadis. Bisa &lt;i&gt;kan &lt;/i&gt;carikan,'' pintanya.&lt;br /&gt;
Lelaki itu menimpali. ''Mau yang mahasiswa, pelajar, SPG atau STW (setengah dewasa),'' jawabnya.&lt;br /&gt;
Karena tim yang datang itu berumur bervariasi antara 30-40 tahun, disepakatilah mahasiswi dua dan satu SPG. Seusai shalat Magrib, pertemuan diatur. Tiga gadis persembahan itu (begitu sebutan pelicin bisnis-relasi) kemudian diantarkan lelaki gempal tersebut ditemani Bay ke rumah makan yang tak jauh tempat mereka menginap. Setelah cocok di harga dan penampilan para gadis, lelaki gempal yang dikenal sebagai kontak jaringan para gadis persembahan itu kemudian pamit. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Karaoke&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Seusai makan, untuk menghidupkan suasana, dilanjut ke tempat karaoke, menyewa sebuah ruangan khusus. Setelah suasana keakraban yang penuh kehangatan antara relasi Bay dan gadis-gadis penakluk ini terjalin, saya dan dia meninggalkannya. ''&lt;i&gt;Ntar&lt;/i&gt; kalau sudah selesai tak kontak kamu lagi,'' ucap salah satu tim pengecek barang dari Jakarta itu kepada Bay. Bay lalu menjawab. ''Siap bos,'' ujarnya.&lt;br /&gt;
Apa yang dijalankan Bay untuk menjamu relasi bisnisnya itu, sebenarnya bukan hal baru di kota-kota yang sudah mengakar kehidupan metropolisnya. Hal seperti ini juga banyak dilakukan pihak tertentu untuk menyervis tamu, teman kerja dari luar kota, rekan kantor ataupun kunjungan dari pejabat atau bikrokat tertentu yang tidak berombongan. &lt;br /&gt;
Yang mengoperasikan mencari gadis-gadis persembahan, itu bisa lewat sopir-sopir kantoran, pengemudi taksi, pekerja tempat hiburan dan hotel, penjaga kampus ataupun indekos mewah atau melalui informan lain yang sudah dekat dengan si gadis. Itu bisa dari kalangan metroseksual, pekerja ataupun mahasiswa. (&lt;b&gt;Agus Wahyudi&lt;/b&gt;-42s)&lt;br /&gt;
http://www.suaramerdeka.com/harian/0611/23/ban06.htm &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></item></channel></rss>