<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Ransel Kecil</title>
	
	<link>http://ranselkecil.com</link>
	<description />
	<lastBuildDate>Wed, 15 May 2013 08:00:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ranselkecil" /><feedburner:info uri="ranselkecil" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Ulasan Buku: “Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia’s Capital”</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/GZEuey0v8S0/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/ulasan/ulasan-buku-jakarta-25-excursions-in-and-around-indonesias-capital/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 03:49:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit Adinugroho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3734</guid>
		<description><![CDATA[<img class="alignleft" src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/05/Jakarta_AndrewMelanie.jpg" alt="Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia&#039;s Capital" width="200" />

Kemarin saya baru dibelikan buku "<a href="http://www.amazon.com/Jakarta-Excursions-Around-Indonesias-Capital/dp/0804842248">Jakarta: 25 Excursions In and Around Jakarta's Capital</a>" oleh istri saya. Sudah lama saya mengincar buku ini karena isinya merekomendasikan jalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) ke lokasi-lokasi Jakarta yang umumnya tidak ada di buku panduan wisata atau bahkan tidak direkomendasikan pemerintah, misalnya melalui program "<a href="http://www.jakarta-tourism.go.id">Enjoy Jakarta!</a>".

Temuilah Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood, pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Pada bagian perkenalan, Andrew mengaku ketika pertama kali pindah ke Jakarta, ia merasa seperti "sudah mati dan masuk neraka". Sempat frustrasi, namun cepat beradaptasi, Andrew kemudian mulai berkeliling Jakarta dengan sepeda dan peta. Ia mengakui, lama-kelamaan ia jatuh cinta dengan Jakarta. Kehidupan yang dulu "nyaman" di Amerika Serikat dan profesi lalu sebagai penjaga perdamaian di Republik Georgia ditinggalkan untuk kemudian menjadi penulis perjalanan bersama istrinya, Melanie, sang fotografer, yang ditemuinya ketika bekerja di Tbilisi, Republik Georgia dulu.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/05/Jakarta_AndrewMelanie.jpg?w=200" alt="Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia&#039;s Capital" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Kemarin saya baru dibelikan buku &#8220;<a href="http://www.amazon.com/Jakarta-Excursions-Around-Indonesias-Capital/dp/0804842248">Jakarta: 25 Excursions In and Around Jakarta&#8217;s Capital</a>&#8221; oleh istri saya. Sudah lama saya mengincar buku ini karena isinya merekomendasikan jalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) ke lokasi-lokasi Jakarta yang umumnya tidak ada di buku panduan wisata atau bahkan tidak direkomendasikan pemerintah, misalnya melalui program &#8220;<a href="http://www.jakarta-tourism.go.id">Enjoy Jakarta!</a>&#8220;.</p>
<p>Temuilah Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood, pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Pada bagian perkenalan, Andrew mengaku ketika pertama kali pindah ke Jakarta, ia merasa seperti &#8220;sudah mati dan masuk neraka&#8221;. Sempat frustrasi, namun cepat beradaptasi, Andrew kemudian mulai berkeliling Jakarta dengan sepeda dan peta. Ia mengakui, lama-kelamaan ia jatuh cinta dengan Jakarta. Kehidupan yang dulu &#8220;nyaman&#8221; di Amerika Serikat dan profesi lalu sebagai penjaga perdamaian di Republik Georgia ditinggalkan untuk kemudian menjadi penulis perjalanan bersama istrinya, Melanie, sang fotografer, yang ditemuinya ketika bekerja di Tbilisi, Republik Georgia dulu.</p>
<p>Saya tidak banyak membeli buku panduan wisata, dan sekalinya membeli, biasanya untuk destinasi luar negeri. Biasanya saya tak begitu tertarik membeli buku panduan wisata di Jakarta, karena memang jarang atau tidak ada, atau buku-buku seputar Jakarta biasanya ditujukan pada ekspat atau pengunjung. Tentu, buku Whitmarsh ini juga diakuinya ditujukan terutama pada ekspat, tetapi bagi saya yang orang lokal sekalipun, banyak dari destinasi dan rekomendasi yang tidak terpikirkan oleh saya. Selain itu, menarik untuk mengetahui bagaimana seorang Andrew dan Melanie, yang bukan asli Jakarta, melihat Jakarta dan mengkurasi kota ini sebegitu rapi dan menariknya.</p>
<p>Sesuai judulnya, buku ini merekomendasikan 25 rute perjalanan di kota Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Puncak, Jatiluhur, Jonggol). Ke-25 rute ini tidak semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, tetapi sebisa mungkin, Andrew merekomendasikan untuk melakukannya dengan jalan kaki atau menaiki transportasi umum. Saya kagum dengan detil-detil seperti mendeskripsikan secara tepat jalan dan lingkungannya (baca: &#8220;<em>ancer-ancer</em>&#8220;), harga-harga transportasi umum dan gerai makanan yang biasanya tak mungkin digunakan atau dikunjungi turis kebanyakan, sampai bagaimana memahami karakter penduduk di Jakarta dan menghadapi jalan raya yang &#8220;kejam&#8221;. </p>
<p>Ulasan-ulasannya juga sangat jujur, tidak semata memuji, tapi juga tidak menjelek-jelekkan. Apa adanya. Misalnya, ketika mendeskripsikan Kota Tua, ia menggunakan kata &#8220;<em>grungy</em>&#8220;, namun mengerti potensinya belum terbangun dengan baik. Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua tidak begitu lengkap, katanya, tetapi justru yang menjadi magnet adalah arsitektur gedungnya. Selain itu, buku panduan wisata ini tidak berusaha untuk memberi informasi kontak untuk setiap tempat, tetapi ia justru ingin pembacanya fokus pada perjalanan itu sendiri.</p>
<p>Tidak ada yang pernah membayangkan jalan kaki di Jakarta untuk berwisata, termasuk saya sendiri. Saya jalan kaki hanya untuk keperluan kerja atau jika memang butuh. Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood membuka mata saya kembali bahwa masih ada harapan untuk melihat Jakarta dari sisi lain, dari sisi yang lebih individual. Tipsnya adalah, &#8220;Sebisa mungkin, jauhi jalan-jalan utama dan lihatlah kehidupan di balik jalan raya. Surga dunia,&#8221; katanya. Saya mengerti maksudnya. Jika di Sudirman, mulailah melihat Bendungan Hilir dan selami &#8220;kampung&#8221; di tengah kota. Pondok Indah pun dapat menjadi menarik jika kita menjelajah jalan-jalan di belakangnya, tidak hanya arteri atau Mal Pondok Indah. Taman pemakaman umum (TPU) pun dapat menjadi atraksi yang menarik bagi Andrew, &#8220;tempat yang tenang dari hiruk-pikuk lalu-lintas.&#8221; </p>
<p>Tak kalah menarik, jika banyak buku panduan wisata hanya merekomendasikan wisata kuliner yang terkenal, nyaman atau &#8220;ramah&#8221; kepada turis, maka Andrew justru juga merekomendasikan makanan di gerobak seperti gorengan. Atau, bagaimana dengan mencoba bekam atau terapi api bersamaan dengan spa mewah yang nyaman?</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/GZEuey0v8S0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/ulasan/ulasan-buku-jakarta-25-excursions-in-and-around-indonesias-capital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/ulasan/ulasan-buku-jakarta-25-excursions-in-and-around-indonesias-capital/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menikmati Pantai Pribadi di Kuta, Lombok</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/x8gzD33gD0M/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/menikmati-pantai-pribadi-di-kuta-lombok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 02:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arresty Wahyu Andhini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3728</guid>
		<description><![CDATA[Awal tahun lalu, saya dan suami berkesempatan untuk berbulan madu ke Pulau Seribu Masjid—tetangga Pulau Seribu Pura yang tersohor itu. Ya, akhirnya saya berhasil menjejakan kaki di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, setelah sekian lama saya menuliskan pulau ini di "<em>bucket list</em>" yang saya miliki.

Selama ini saya mengenal Lombok karena dua hal. Pertama, sebagai penggemar kuliner, siapa yang tidak pernah mendengar nama masakan khas Lombok, ayam taliwang, yang pedas namun sangat lezat itu, dilengkapi plecing kangkung yang segar? Dua masakan tersebut adalah menu khas Lombok yang sudah terkenal di seluruh Indonesia.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/05/arresty_kutalombok01.jpg" alt="Panorama Pantai Kuta, Lombok" class="full" />
<span class="caption">Panorama Pantai Kuta, Lombok.</span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun lalu, saya dan suami berkesempatan untuk berbulan madu ke Pulau Seribu Masjid—tetangga Pulau Seribu Pura yang tersohor itu. Ya, akhirnya saya berhasil menjejakan kaki di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, setelah sekian lama saya menuliskan pulau ini di &#8220;<em>bucket list</em>&#8221; yang saya miliki.</p>
<p>Selama ini saya mengenal Lombok karena dua hal. Pertama, sebagai penggemar kuliner, siapa yang tidak pernah mendengar nama masakan khas Lombok, ayam taliwang, yang pedas namun sangat lezat itu, dilengkapi plecing kangkung yang segar? Dua masakan tersebut adalah menu khas Lombok yang sudah terkenal di seluruh Indonesia.</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/05/arresty_kutalombok01.jpg?w=960" alt="Panorama Pantai Kuta, Lombok" class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Panorama Pantai Kuta, Lombok.</span></p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/05/arresty_kutalombok03.jpg?w=960" alt="Panorama Pantai Kuta, Lombok" class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Sudut lain panorama Pantai Kuta, Lombok.</span></p>
<p>Hal kedua yang membuat saya mengenal Lombok ini adalah Gili Trawangan, sebuah &#8220;<em>gili</em>&#8221; (pulau kecil) di sebelah Barat Laut Pulau Lombok yang memiliki pantai yang super cantik dengan pasir nan halus dan warna air hijau kebiruan. Sebenarnya ada  gili-gili lain yang tak kalah cantiknya tersebar di sekitar Pulau Lombok, namun Gili Trawangan adalah salah satu yang terbesar dan juga memiliki fasilitas paling lengkap.</p>
<p>Namun, bukan hanya kuliner khas Lombok dan Gili Trawangan yang meninggalkan memori menyenangkan selama saya berbulan madu di sana. Ada tempat lain, suatu tempat yang bisa dikatakan harta karun tersembunyi Pulau Lombok. Namanya adalah Pantai Kuta. Ya, Kuta di Pulau Lombok.</p>
<p>Pantai Kuta ini terletak di Desa Kuta yang lokasinya tak jauh dari Lombok International Airport, bandara baru yang terletak di wilayah Praya, menggantikan bandara yang sebelumnya berlokasi di Mataram. Pantai ini kira-kira hanya 20-30 menit menggunakan taksi dari bandara Praya yang bersih dan bernuansa modern itu.</p>
<p>Untuk akomodasi, cukup banyak fasilitas penginapan yang terdapat di sekitar Pantai Kuta ini. Dari <em>cottage-cottage</em> sederhana hingga hotel bintang lima, silahkan dipilih yang sesuai anggaran.</p>
<p>Berbeda dengan Kuta di Bali yang sangat padat dan komersial, Pantai Kuta yang satu ini bagaikan putri cantik yang amat pemalu. Meski memiliki pemandangan yang sangat indah—bisa dikatakan lebih cantik dari kembarannya di pulau sebelah—pantai ini terhitung amat sepi. Ketika saya dan suami berkunjung ke sana, hanya ada dua pengunjung lain ditambah beberapa penjual pernak-pernik khas Lombok yang hilir mudik menawarkan kaos atau songket Sasak.</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/05/arresty_kutalombok02.jpg?w=960" alt="Detil pasir Pantai Kuta, Lombok" class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Detil pasir Pantai Kuta, Lombok, seperti merica.</span></p>
<p>Warna air di Pantai Kuta mungkin tidak hijau kebiruan seperti di Kepulauan Gili. Namun, pantai ini memiliki pasir khas berwarna putih kecoklatan yang bulat-bulat seukuran biji merica. Agak geli-geli saat menginjaknya dengan kaki telanjang. Ombaknya pun bergulung-gulung relatif tenang. Namun saya rasa, keunggulan utama Pantai Kuta yang membuatnya luar biasa, boleh jadi adalah lanskapnya yang dikelilingi oleh karang-karang dan bukit-bukit hijau. Dari sudut tertentu, pantai ini seakan-akan terperangkap oleh bukit-bukit tersebut yang membuatnya tampak seperti danau. Sungguh indah.</p>
<p>Bayangkan, alangkah menyenangkannya menghabiskan waktu sambil tidur-tiduran santai membaca novel lalu sesekali bermain air di pantai yang berpemandangan indah namun nyaris tak berpenghuni. Benar-benar seperti pantai milik pribadi!</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/x8gzD33gD0M" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/menikmati-pantai-pribadi-di-kuta-lombok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/catatan/menikmati-pantai-pribadi-di-kuta-lombok/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Warta Ransel #2</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/QLdnZiiuFoU/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/dari-kami/warta-ransel-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Apr 2013 03:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3718</guid>
		<description><![CDATA[<h3><a href="http://www.wikihow.com/Ride-a-Bicycle-in-Jakarta" title="Bagaimana mengendarai sepeda di Jakarta, sebuah artikel WikiHow">Bagaimana mengendarai sepeda di Jakarta
</a></h3>

Bukan masalah ada atau tidaknya artikel tentang ini di Wikihow, tetapi ternyata ada yang peduli bagaimana memandu pesepeda amatir untuk menavigasi Jakarta yang sudah hiruk-pikuk dengan sepeda motor, mobil dan pengguna jalan lain. Semoga berguna.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/nyc_1973_subway.png" alt="Suasana subway Kota New York tahun 1973" width="500" />

<h3><a href="http://www.buzzfeed.com/briangalindo/20-gritty-photos-from-the-nyc-subway-in-1973 " title="Foto-foto suasana subway di Kota New York tahun 1973, penuh grafiti">Foto-foto suasana subway di Kota New York tahun 1973, penuh grafiti</a></h3>

Foto-foto nostalgia dari subway (kereta bawah tanah) di Kota New York tahun 1973. Walau pada hari ini suasana stasiunnya tidak banyak berubah, yang jelas gerbong kereta hari ini lebih bersih, terutama bersih dari grafiti.

<h3><a href="http://www.windowsofnewyork.com" title=""Windows of New York"">Jendela-jendela New York
</a></h3>

Menikmati sebuah kota tidak hanya dari tulisan, tapi juga mencermati secara visual, lalu mendokumentasikannya. Jose Guizar adalah seorang desainer grafis di Kota New York yang rajin mendokumentasikan jendela-jendela di gedung-gedung kotanya dalam ilustrasi sederhana nan elegan.

<h3><a href="http://loco2.com/destinations">Loco2</a></h3>

Loco2 adalah situs yang didedikasikan khusus untuk perjalanan kereta api di Eropa, sekaligus memfasilitasi pemesanan tiket secara terintegrasi.

<h3><a href="http://edition.cnn.com/2010/TRAVEL/12/22/flying.phobia/index.html">Tips mengatasi takut terbang</a></h3>

Anda takut naik pesawat terbang? Anda tentu tidak sendiri, ini beberapa tipsnya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://www.wikihow.com/Ride-a-Bicycle-in-Jakarta" title="Bagaimana mengendarai sepeda di Jakarta, sebuah artikel WikiHow">Bagaimana mengendarai sepeda di Jakarta<br />
</a></h3>
<p>Bukan masalah ada atau tidaknya artikel tentang ini di Wikihow, tetapi ternyata ada yang peduli bagaimana memandu pesepeda amatir untuk menavigasi Jakarta yang sudah hiruk-pikuk dengan sepeda motor, mobil dan pengguna jalan lain. Semoga berguna.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/nyc_1973_subway.png?w=500" alt="Suasana subway Kota New York tahun 1973" data-recalc-dims="1" /></p>
<h3><a href="http://www.buzzfeed.com/briangalindo/20-gritty-photos-from-the-nyc-subway-in-1973 " title="Foto-foto suasana subway di Kota New York tahun 1973, penuh grafiti">Foto-foto suasana subway di Kota New York tahun 1973, penuh grafiti</a></h3>
<p>Foto-foto nostalgia dari subway (kereta bawah tanah) di Kota New York tahun 1973. Walau pada hari ini suasana stasiunnya tidak banyak berubah, yang jelas gerbong kereta hari ini lebih bersih, terutama bersih dari grafiti.</p>
<h3><a href="http://www.windowsofnewyork.com" title=""Windows of New York"">Jendela-jendela New York<br />
</a></h3>
<p>Menikmati sebuah kota tidak hanya dari tulisan, tapi juga mencermati secara visual, lalu mendokumentasikannya. Jose Guizar adalah seorang desainer grafis di Kota New York yang rajin mendokumentasikan jendela-jendela di gedung-gedung kotanya dalam ilustrasi sederhana nan elegan.</p>
<h3><a href="http://loco2.com/destinations">Loco2</a></h3>
<p>Loco2 adalah situs yang didedikasikan khusus untuk perjalanan kereta api di Eropa, sekaligus memfasilitasi pemesanan tiket secara terintegrasi.</p>
<h3><a href="http://edition.cnn.com/2010/TRAVEL/12/22/flying.phobia/index.html">Tips mengatasi takut terbang</a></h3>
<p>Anda takut naik pesawat terbang? Anda tentu tidak sendiri, ini beberapa tipsnya.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/QLdnZiiuFoU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/dari-kami/warta-ransel-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/dari-kami/warta-ransel-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Warta Ransel #1</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/rBeIhPmyc9o/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/dari-kami/warta-ransel-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 01:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3703</guid>
		<description><![CDATA[Salam untuk pembaca semua. Mulai hari ini Ransel Kecil akan juga menulis soal berita-berita atau pernak-pernik dunia perjalanan, untuk menyemarakkan lagi isi situs ini. Kami akan memasukkan pranala-pranala yang relevan dengan dunia perjalanan dari waktu ke waktu. Semoga bisa berguna sebagai inspirasi atau referensi perjalanan.

<h3><a href="http://www.telegraph.co.uk/travel/travelnews/9997638/Sri-Lankan-government-to-track-tourists.html ">Pemerintah Sri Lanka mulai melakukan pelacakan pada wisatawan</a></h3>
Pemerintah Sri Lanka mulai melakukan pelacakan pada wisatawan yang berkunjung ke negara mereka demi keselamatan dan keamanan. Beberapa kejadian kekerasan terjadi di negara itu dan jika dibiarkan akan mengancam industri pariwisatanya.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/Screen-Shot-2013-04-17-at-8.24.49-AM.png" alt="Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda" width="500" />

<h3><a href="http://edition.cnn.com/2013/04/12/world/europe/rijksmuseum-reopens/index.html?eref=edition&#038;utm_source=dlvr.it&#038;utm_medium=feed" />Rijskmuseum di Amsterdam, Belanda, dibuka kembali</a></h3>
Setelah renovasi yang memakan waktu 10 tahun dan biaya 498 juta dolar Amerika, Rijksmuseum, sebuah museum seni di Amsterdam, Belanda, dibuka kembali. Wajib kunjung jika ke sana.

<h3><a href="http://www.etsy.com/search?q=travel%20organizer&#038;order=most_relevant&#038;view_type=gallery&#038;ship_to=ZZ&#038;ref=auto7" />Koleksi <em>travel organizer</em> dari Etsy</a></h3>
Jika ingin pernak-pernik wisata yang berbeda, coba beberapa opsi <em>travel organizer</em> dari Etsy ini, atau jadikan inspirasi untuk membeli di tempat lain.

<h3><a href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/04/130413_lion_air_jatuh.shtml" />Lion Air Bandung-Denpasar Jatuh di dekat Bandara Ngurah Rai</a></h3>
Penerbangan Lion Air dengan kode JT904 jurusan Bandung - Denpasar jatuh sebelum landasan (<em>undershooting</em>) di dekat Bandara Ngurah Rai, Pulau Bali. Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan kali ini. Investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih berlanjut. Banyak spekulasi hadir soal kecelakaan ini, antara lain <em>downdraft</em> atau pergerakan udara secara tiba-tiba yang jika pesawat tidak kuat atau terlalu lambat, maka akan membuatnya jatuh. 

<h3><a href="http://intelligenttravel.nationalgeographic.com/2011/09/16/cool-passport-stamps/" />Cap paspor dari berbagai negara di seluruh dunia</a></h3>
Beberapa koleksi cap paspor negara-negara eksotis yang mungkin tak semua dari kita bisa menerimanya. Cap paspor, menurut tulisan tersebut, adalah seperti "medali kehormatan" bagi para pengelana.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Salam untuk pembaca semua. Mulai hari ini Ransel Kecil akan juga menulis soal berita-berita atau pernak-pernik dunia perjalanan, untuk menyemarakkan lagi isi situs ini. Kami akan memasukkan pranala-pranala yang relevan dengan dunia perjalanan dari waktu ke waktu. Semoga bisa berguna sebagai inspirasi atau referensi perjalanan.</p>
<h3><a href="http://www.telegraph.co.uk/travel/travelnews/9997638/Sri-Lankan-government-to-track-tourists.html ">Pemerintah Sri Lanka mulai melakukan pelacakan pada wisatawan</a></h3>
<p>Pemerintah Sri Lanka mulai melakukan pelacakan pada wisatawan yang berkunjung ke negara mereka demi keselamatan dan keamanan. Beberapa kejadian kekerasan terjadi di negara itu dan jika dibiarkan akan mengancam industri pariwisatanya.</p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/Screen-Shot-2013-04-17-at-8.24.49-AM.png?w=500" alt="Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda" data-recalc-dims="1" /></p>
<h3><a href="http://edition.cnn.com/2013/04/12/world/europe/rijksmuseum-reopens/index.html?eref=edition&#038;utm_source=dlvr.it&#038;utm_medium=feed" />Rijskmuseum di Amsterdam, Belanda, dibuka kembali</a></h3>
<p>Setelah renovasi yang memakan waktu 10 tahun dan biaya 498 juta dolar Amerika, Rijksmuseum, sebuah museum seni di Amsterdam, Belanda, dibuka kembali. Wajib kunjung jika ke sana.</p>
<h3><a href="http://www.etsy.com/search?q=travel%20organizer&#038;order=most_relevant&#038;view_type=gallery&#038;ship_to=ZZ&#038;ref=auto7" />Koleksi <em>travel organizer</em> dari Etsy</a></h3>
<p>Jika ingin pernak-pernik wisata yang berbeda, coba beberapa opsi <em>travel organizer</em> dari Etsy ini, atau jadikan inspirasi untuk membeli di tempat lain.</p>
<h3><a href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/04/130413_lion_air_jatuh.shtml" />Lion Air Bandung-Denpasar Jatuh di dekat Bandara Ngurah Rai</a></h3>
<p>Penerbangan Lion Air dengan kode JT904 jurusan Bandung &#8211; Denpasar jatuh sebelum landasan (<em>undershooting</em>) di dekat Bandara Ngurah Rai, Pulau Bali. Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan kali ini. Investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih berlanjut. Banyak spekulasi hadir soal kecelakaan ini, antara lain <em>downdraft</em> atau pergerakan udara secara tiba-tiba yang jika pesawat tidak kuat atau terlalu lambat, maka akan membuatnya jatuh. </p>
<h3><a href="http://intelligenttravel.nationalgeographic.com/2011/09/16/cool-passport-stamps/" />Cap paspor dari berbagai negara di seluruh dunia</a></h3>
<p>Beberapa koleksi cap paspor negara-negara eksotis yang mungkin tak semua dari kita bisa menerimanya. Cap paspor, menurut tulisan tersebut, adalah seperti &#8220;medali kehormatan&#8221; bagi para pengelana.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/rBeIhPmyc9o" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/dari-kami/warta-ransel-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/dari-kami/warta-ransel-1/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Magnet Spiritual</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/pHKbO2P5JG8/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/foto/magnet-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 00:35:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abiyoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3684</guid>
		<description><![CDATA[Arab Saudi serupa lampu, dan umat Muslim adalah laron-laron yang tak henti beterbangan menghampirinya. Tiap tahunnya jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke sini untuk melaksanakan ibadah umroh atau haji, ritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad 1400 tahun yang lalu. Di negeri berdebu ini beragam manusia dan budaya yang melekat padanya berinteraksi, berdinamika, bergesekan, serta berangkulan di bawah nafas yang sama: perjalanan spiritual.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/1-copy.jpg" alt="Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka&#039;bah selama tujuh kali." class="full" />
<span class="caption">Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka'bah selama tujuh kali.</span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Arab Saudi serupa lampu, dan umat Muslim adalah laron-laron yang tak henti beterbangan menghampirinya. Tiap tahunnya jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke sini untuk melaksanakan ibadah umroh atau haji, ritual yang diajarkan oleh Nabi Muhammad 1400 tahun yang lalu. Di negeri berdebu ini beragam manusia dan budaya yang melekat padanya berinteraksi, berdinamika, bergesekan, serta berangkulan di bawah nafas yang sama: perjalanan spiritual.</p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/1-copy.jpg?w=960" alt="Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka&#039;bah selama tujuh kali." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Selama dua puluh empat jam non-stop para peziarah bergantian bertawaf mengelilingi Ka&#8217;bah selama tujuh kali.</span></p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/2-copy.jpg?w=960" alt="Lantai 3 Masjidil Haram merupakan tempat luas tak beratap yang langsung dilewati oleh angin malam. Di sini biasa terlihat beberapa penziarah tidur berselimutkan sajadah selepas sholat malam sembari menunggu Shubuh." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Lantai 3 Masjidil Haram merupakan tempat luas tak beratap yang langsung dilewati oleh angin malam. Di sini biasa terlihat beberapa penziarah tidur berselimutkan sajadah selepas sholat malam sembari menunggu Shubuh.</span></p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/3-copy.jpg?w=960" alt="Ritual dalam ibadah umroh yang terakhir, tahalul, mensyaratkan para penziarah laki-laki untuk mencukur rambut mereka. Hal tersebut melahirkan banyak barber shop yang tersebar di sekitar Masjidil Haram. Ongkosnya 10 real untuk cukur pendek dan 20 real untuk cukur sampai habis." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Ritual dalam ibadah umroh yang terakhir, tahalul, mensyaratkan para penziarah laki-laki untuk mencukur rambut mereka. Hal tersebut melahirkan banyak barber shop yang tersebar di sekitar Masjidil Haram. Ongkosnya 10 real untuk cukur pendek dan 20 real untuk cukur sampai habis.</span></p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/4-copy.jpg?w=960" alt="Di Mekkah, hampir semua hal dipisahkan tempatnya antara laki-laki dan perempuan. " class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Di Mekkah, hampir semua hal dipisahkan tempatnya antara laki-laki dan perempuan.</span></p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/5-copy.jpg?w=960" alt="Berburu binatang merupakan salah satu hal yang dilarang untuk dilakukan di Mekkah. Itulah sebabnya kota ini dihuni oleh banyak sekali burung merpati." class="full" data-recalc-dims="1" /> <span class="caption">Berburu binatang merupakan salah satu hal yang dilarang untuk dilakukan di Mekkah. Itulah sebabnya kota ini dihuni oleh banyak sekali burung merpati.</span></p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/6-copy.jpg?w=960" alt="Pemandangan dari Jabal Rahmah, bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah mereka dilempar dari surga. Para penziarah menuliskan nama mereka dan pasangan mereka di bebatuan yang ada di sini karena dipercaya membawa berkah." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Pemandangan dari Jabal Rahmah, bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah mereka dilempar dari surga. Para penziarah menuliskan nama mereka dan pasangan mereka di bebatuan yang ada di sini karena dipercaya membawa berkah.</span></p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/7-copy.jpg?w=960" alt="Sebuah toko di pusat kota Jeddah yang sudah tentu mengundang orang Indonesia untuk masuk." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Sebuah toko di pusat kota Jeddah yang sudah tentu mengundang orang Indonesia untuk masuk.</span></p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/8-copy.jpg?w=960" alt="Sepasang lanjut usia duduk berteduh di bawah papan peringatan di pinggir Laut Merah, Kota Jeddah. Di dasar laut ini konon terkubur jasad Fir&#039;aun dan pasukannya yang ditenggelamkan oleh Nabi Musa." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Sepasang lanjut usia duduk berteduh di bawah papan peringatan di pinggir Laut Merah, Kota Jeddah. Di dasar laut ini konon terkubur jasad Fir&#8217;aun dan pasukannya yang ditenggelamkan oleh Nabi Musa.</span></p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/9copy.jpg?w=960" alt="Payung-payung raksasa dipasang di halaman Masjid Nabawi, Madinah, untuk melindungi para penziarah dari sengatan matahari." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Payung-payung raksasa dipasang di halaman Masjid Nabawi, Madinah, untuk melindungi para penziarah dari sengatan matahari.</span></p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/04/10-copy.jpg?w=960" alt="Seorang pegawai sedang membuat roti khubuz (roti bundar pipih khas Arab) di sebuah kedai di Kota Madinah." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Seorang pegawai sedang membuat roti khubuz (roti bundar pipih khas Arab) di sebuah kedai di Kota Madinah.</span></p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 17/04/2013</li>
</ul>
</div>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/pHKbO2P5JG8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/foto/magnet-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/foto/magnet-spiritual/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Guest Inn Muntri, George Town, Penang, Malaysia</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/hUis1HKJ1Yk/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/akomodasi/guest-inn-muntri-george-town-penang-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 07:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rosvita Sitorus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akomodasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3669</guid>
		<description><![CDATA[<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/03/rosvita_muntri01.jpg" alt="Suasana lobi." width="500" height="396" />
<span class="caption">Suasana lobi.</span>

Salah satu hal yang jadi agenda wajib bagi saya dalam mempersiapkan suatu perjalanan adalah mencari tempat menginap di daerah tujuan. Perjalanan saya ke Penang, Malaysia, pada akhir Januari 2013 sudah saya rencanakan sejak setahun sebelumnya. Rencananya saya akan berangkat dengan dua orang teman yang semuanya wanita. Ketika tiket pesawat rute SBY-PEN-KUL-JOG sudah di tangan, yang sibuk dilakukan adalah mencari tempat menginap dan membuat rencana jalan-jalan. Berhubung saya berencana berangkat dengan dua orang teman, maka hal ini menjadi PR bersama, agar semua bisa sreg nantinya dan tidak ada yang mengeluh karena merasa tidak cocok dengan tempat menginap yang sudah dipilih.

Awalnya hal ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan, mencari, membaca ulasan dan menyortir pilihan-pilihan tempat menginap yang ada. Berbagai penawaran dari situs web seperti Agoda, Booking.com dan Hotels.com kami banding-bandingkan harga, fasilitas dan lokasinya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu hal yang jadi agenda wajib bagi saya dalam mempersiapkan suatu perjalanan adalah mencari tempat menginap di daerah tujuan. Perjalanan saya ke Penang, Malaysia, pada akhir Januari 2013 sudah saya rencanakan sejak setahun sebelumnya. Rencananya saya akan berangkat dengan dua orang teman yang semuanya wanita. Ketika tiket pesawat rute SBY-PEN-KUL-JOG sudah di tangan, yang sibuk dilakukan adalah mencari tempat menginap dan membuat rencana jalan-jalan. Berhubung saya berencana berangkat dengan dua orang teman, maka hal ini menjadi PR bersama, agar semua bisa sreg nantinya dan tidak ada yang mengeluh karena merasa tidak cocok dengan tempat menginap yang sudah dipilih.</p>
<p>Awalnya hal ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan, mencari, membaca ulasan dan menyortir pilihan-pilihan tempat menginap yang ada. Berbagai penawaran dari situs web seperti Agoda, Booking.com dan Hotels.com kami banding-bandingkan harga, fasilitas dan lokasinya.</p>
<p>Jumlah kami yang bertiga semakin memperkecil pilihan, umumnya hotel menyediakan kamar standar dengan tempat tidur <em>double</em> atau <em>twin</em>, kalau pun ada kamar yang bisa untuk bertiga, atau bisa ditambah <em>extra bed</em>, harga akhirnya di atas anggaran yang kami rencanakan. Selain itu, tidak banyak pilihan kamar hotel dengan fasilitas yang memadai dengan lokasi yang bagus dan harga yang tidak terlalu mahal untuk mahasiswa seperti kami, terutama juga dikarenakan waktu kunjungan kami yang jatuh pada <em>long weekend</em> di Malaysia, banyak tempat menginap rekomendasi para blogger yang sudah penuh. </p>
<p>Masing-masing dari kami pun mengajukan pilihan. Saya akhirnya memilih Guest Inn Muntri yang menyediakan kamar jenis <em>dorm</em> dengan 4 <em>bunk bed</em>, kamar mandi luar dan walaupun tidak ada pemisahan antara kamar khusus wanita dan laki-laki, namun dengan harga RM28 per malam sudah termasuk sarapan, dan lokasinya yang strategis menurut saya itu merupakan tawaran yang bagus. Selain itu sudah lama saya ingin merasakan pengalaman menginap di <em>dorm</em>, karena selama ini meski pernah menginap di penginapan murah meriah tipe “3S” (Sangat Sangat Sederhana), seperti ketika saya ke Pacitan, saya tidak pernah berbagi kamar dengan orang lain, selalu menyewa kamar pribadi, paling <em>banter</em> dengan fasilitas kamar mandi di luar. Namun, seorang teman saya lebih menyukai kamar dengan fasilitas kamar mandi dalam agar memiliki privasi lebih, sementara yang satu lagi <em>oke-oke</em> saja walau harus berbagi kamar di <em>dorm</em>. Cukup lama kami menunda pemilihan hotel ini karena preferensi masing-masing tadi, kami hanya memesan dua opsi berbeda yaitu <em>dorm</em> di Guest Inn Muntri tadi dan satu kamar superior di hotel lain lewat website Booking.com, karena di sini tidak ada biaya pembatalan asalkan tidak melewati batas waktu yang ditentukan. Tentunya, sambil terus mencari pilihan-pilihan lainnya.</p>
<p>Akhirnya kami sampai pada titik bosan memilih-milih hotel, terlalu banyak ulasan yang kami baca dan waktunya pun sudah semakin dekat. Untungnya saya berhasil meyakinkan teman-teman saya untuk memilih Guest Inn Muntri dengan alasan untuk mencoba pengalaman baru, karena memang tidak ada seorang pun di antara kami yang pernah menginap di <em>dorm</em>. Toh, saya pikir karena kami bertiga, jadi kami hanya akan sekamar dengan seorang tamu lain, kalaupun digabung dengan tamu laki-laki, tidak akan jadi masalah. Namun menjelang hari keberangkatan, seorang teman saya terpaksa harus membatalkan perjalanannya. Jadilah kami hanya berangkat berdua. Saya jadi harap-harap cemas, berharap semoga tidak sekamar dengan <em>roommate</em> laki-laki yang kelakuannya aneh-aneh. Karena dari cerita pengalaman pejalan wanita lain yang menginap di <em>dorm</em>, apalagi yang campur, mereka pernah harus sekamar dengan tamu laki-laki yang kadang pulang ke <em>dorm</em> dalam keadaan mabuk dan “nyasar” ke tempat tidur orang lain. </p>
<p>Setibanya di Penang kami langsung menuju tempat menginap, sesuai namanya penginapan kami ini terletak di Lebuh Muntri. Berbekal peta lokasi Guest Inn Muntri dari Google Maps kami mulai mencari-cari. Ketika itu kami sudah berada di Lebuh Muntri, di lokasi yang tepat seperti ditunjukkan di peta, namun Guest Inn Muntri ini tak juga tampak. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya ketemu juga. </p>
<p>Dari luar Guest Inn Muntri ini nampak seperti rumah toko bertingkat model lama, ruangan di dalamnya memanjang ke belakang. Di area depan, meja resepsionis langsung digabung dengan lobi yang merupakan tempat untuk sarapan juga, dan ada meja bilyar di tengah-tengah lobi.</p>
<p>Melihat banyak sepatu di area dekat pintu masuk dan adanya pemberitahuan untuk melepas alas kaki, awalnya kami pikir kami diharuskan untuk melepas sepatu juga ketika masuk hotel, ternyata itu hanya berlaku bagi tamu yang menginap di lantai atas, mungkin agar tidak berisik ketika tamu berjalan lalu-lalang di lantai atas. Air minum pun tersedia di lobi, para tamu bisa mengisi ulang botol minum masing-masing di sini, sehingga bisa berhemat. Air panas serta teh dan kopi instan juga tersedia gratis. Selalu ada  tamu yang <em>nongkrong-nongkrong</em> di lobi sambil bermain bilyar, atau sekedar minum kopi sambil internetan, karena tersedia wifi gratis yang lumayan kencang koneksinya. Selain itu yang bisa dilakukan ketika nongkrong di lobi adalah membaca coretan serta pesan dan kesan para tamu yang pernah menginap di Guest Inn Muntri, ada saja pesan lucu yang ditulis di sini. Di lobi juga tersedia beberapa sepeda yang bisa disewa. Sarapan yang disediakan tiap jam 8 pagi berupa roti tawar dengan beberapa pilihan selai dan butter, ada juga oatmeal, yang bisa dimakan sepuasnya. </p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/03/rosvita_muntri01.jpg?resize=500%2C396" alt="Suasana lobi." data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Suasana lobi.</span></p>
<p>Kami kemudian diantar ke kamar yang sangat persis seperti yang ditampilkan di internet, kamar kecil bercat putih itu tampak segar dengan adanya kotak penyimpanan yang dicat warna-warni, lumayan memberi efek ceria. Kotak penyimpanan dengan kunci ini terdapat di masing-masing tempat tidur. Karena tidak ada jendela, kami mengandalkan AC yang untungnya bukan AC sentral. Ada empat kamar mandi di lantai bawah, dua berada di tengah dan dua lagi di bagian belakang, selama menginap saya tidak pernah mengalami harus mengantri kamar mandi. Karena kami penghuni kamar yang pertama, jadi kami bebas memilih tempat tidur. Ketika sedang berbenah di kamar, datanglah staf hostel dengan seorang tamu yang akan menjadi teman sekamar kami. Setelah berkenalan, <em>roommate</em> tersebut bernama James yang berasal dari Republik Rakyat Cina, untungnya bahasa Inggrisnya lancar, sehingga tidak sulit untuk berkomunikasi. Dia pun asyik diajak mengobrol dan bertukar informasi.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/03/rosvita_muntri02.jpg?resize=500%2C375" alt="Suasana di dorm." data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Suasana di <em>dorm</em>.</span></p>
<p>Keesokan harinya, staf hotel datang lagi ke kamar menanyakan tempat tidur mana yang masih kosong, dia juga menanyakan apa kami tidak keberatan jika digabung dengan seorang tamu laki-laki lagi, karena dia juga berasal dari Indonesia. Rupanya tamu tadi berasal dari Surabaya, bernama Noval. Klop-lah kami ngobrol dan saya pun menawarkan untuk jalan bersama karena agenda jalan-jalan kami siang itu ternyata sama, mengelilingi objek wisata yang ada di sekitar George Town. Lokasi penginapan ini memang strategis, karena hanya dengan berjalan kaki beberapa menit kami sudah sampai ke objek wisata seperti Cheong Fatt Tze Mansion, Cathedral of the Assumption, Penang State Museum dan St. George’s Church, juga dekat dengan halte bis. Staf hotel, yang kami panggil “<em>uncle</em>” serta seorang pria yang bergantian <em>shift</em> jaga sangat ramah dan membantu sekali, kami pun masing-masing diberi peta Penang, serta dijelaskan mengenai objek wisata dan cara pergi ke sana. Staf hotel lainnya ternyata orang Indonesia yang kami panggil Mak Siti, beliau berasal dari Jepara dan baru sekitar dua tahun bekerja di Penang. Mak Siti ramah dan baik banget, mungkin karena sama-sama dari Indonesia, kami sampai sedih ketika harus berpamitan. </p>
<p>Akhirnya keinginan saya menginap di <em>dorm</em> kesampaian juga. Saya tak ragu lagi menginap di <em>dorm</em>. Asal pintar memilih, seperti mencari yang khusus wanita dan dengan jumlah <em>bed</em> yang tidak terlalu banyak dalam satu kamar agar tidak berisik, pasti lancar. Selain lebih hemat, juga bisa menambah teman baru. Bagi yang belum pernah menginap di <em>dorm</em>, silakan mencoba.</p>
<p>Guest Inn Muntri Sdn Bhd.<br />
17, Muntri Street<br />
10200 Georgetown, Penang<br />
Tel: +60 04 263 3228<br />
Fax: +60 04 262 3229<br />
Email: <a href="mailto:booking@guestinn.com.my">booking@guestinn.com.my</a></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/hUis1HKJ1Yk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/akomodasi/guest-inn-muntri-george-town-penang-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/akomodasi/guest-inn-muntri-george-town-penang-malaysia/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sebuah Puisi Tersembunyi di Madhya Pradesh</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/4F_qeA7i_L0/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/sebuah-puisi-tersembunyi-di-madhya-pradesh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2013 02:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nina Irawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3649</guid>
		<description><![CDATA[Embun itu masih ada, waktu kami beranjak pergi menuju Orchha yang letaknya cukup jauh dari Khajuraho. Masih bertempat di Madhya Pradesh, Orchha terletak 15 km dari stasiun kota Jhansi atau sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari khajuraho. Saya berharap keputusan yang saya ambil tepat untuk mengunjungi tempat ini mengingat tidak begitu banyak informasi yang saya peroleh dari internet sebelumnya. 

"Orchha" artinya "tersembunyi". Dan seperti arti dari namanya, semua hal yang ada di kota kecil ini memang seakan-akan "tersembunyi" dari sentuhan peradaban luar, menyepi di pinggir Sungai Betwa. Kota kuno yang seakan tertidur ini mengisahkan peradaban dinasti raja Bundela pada masa sekitar abad ke-15 di setiap sudut istana, benteng, dan kuilnya. Akibat letaknya yang memang tersembunyi di antara hutan yang mengelilinginya, kota ini bahkan terbebas dari sentuhan penjajahan kerajaan Mughal di masa itu.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/nina_orccha06.jpg" alt="Jahangir Mahal." class="full" />
<span class="caption">Jahangir Mahal.</span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Embun itu masih ada, waktu kami beranjak pergi menuju Orchha yang letaknya cukup jauh dari Khajuraho. Masih bertempat di Madhya Pradesh, Orchha terletak 15 km dari stasiun kota Jhansi atau sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari khajuraho. Saya berharap keputusan yang saya ambil tepat untuk mengunjungi tempat ini mengingat tidak begitu banyak informasi yang saya peroleh dari internet sebelumnya. </p>
<p>&#8220;Orchha&#8221; artinya &#8220;tersembunyi&#8221;. Dan seperti arti dari namanya, semua hal yang ada di kota kecil ini memang seakan-akan &#8220;tersembunyi&#8221; dari sentuhan peradaban luar, menyepi di pinggir Sungai Betwa. Kota kuno yang seakan tertidur ini mengisahkan peradaban dinasti raja Bundela pada masa sekitar abad ke-15 di setiap sudut istana, benteng, dan kuilnya. Akibat letaknya yang memang tersembunyi di antara hutan yang mengelilinginya, kota ini bahkan terbebas dari sentuhan penjajahan kerajaan Mughal di masa itu.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/nina_orccha06.jpg?w=960" alt="Jahangir Mahal." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Jahangir Mahal.</span></p>
<p>Memasuki kota ini, tampak beberapa <em>backpacker</em> sedang lalu-lalang. Musim dingin memang waktu terbaik mengunjungi tempat ini. Di kiri-kanan jalan tampak beberapa usaha hostel kecil yang memasang tarif sekitar 750-1000 ruppee dan kafe-kafe kecil memasang promosi simbol Lonely Planet sebagai rekomendasinya.</p>
<p>Orchha Fort Complex adalah bangunan yang pertama kali menyambut saya saat menginjakkan kaki di kota ini. Di dalam kompleks ini, dapat ditemui istana Raaj Mahal. Adalah Rudra Pratap Singh dari dinasti Bundela yang membangun konstruksi awal dari Raaj Mahal walau akhirnya baru kelar dibangun di masa pemerintahan Bharti Chandra. Istana ini berdesain seperti bujur sangkar, namun terbagi menjadi dua sayap. Di satu sisi bangunan ini memiliki empat lantai dan di tiga sisi lainnya memiliki lima lantai. Raja Madhukar Shah-lah yang pada akhirnya menyempurnakan desain dari Raaj Mahal di akhir abad ke-16 setelah melakukan beberapa renovasi. Kombinasi arsitektur Hindu dan Islam amat kental terlihat di sini. Dinding istana Raaj Mahal ini sebagian melukiskan perjalanan hidup Rama dan Krishna, inkarnasi dewa Wisnu, sedangkan sebagian lain melukiskan kegiatan masyarakat seperti duel, berburu, menggambar, dan lain-lain.Kondisi istana ini sebenarnya cukup memprihatinkan, karena memang kurang dipelihara. Tampak sebagian lukisan di dinding yang koyak dan terhapus oleh waktu. Sebagian dinding lain dipenuhi coretan-coretan nakal pengunjung. Sayang sekali karena bangunan ini sangat kokoh dan indah secara historis. </p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/nina_orccha01.jpg?w=960" alt="Raaj Mahal." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Raaj Mahal.</span></p>
<p>Jehangir Mahal adalah bangunan kedua yang dapat ditemui dalam lokasi kompleks ini.  Bangunan indah berlantai tiga dengan air mancur di tengah-tengahnya  ini dibangun dan diperuntukan bagi raja Jehangir setiap beliau berkunjung ke Orchha dan merupakan simbol persahabatan Bundela dan Mughal. Area dalam bangunan ini amat gelap, dan tidak dianjurkan berfoto memakai &#8216;blitz&#8217; karena dapat merusak lukisan di dinding yang ada. Hati-hati saat menaiki tangga, karena memang licin dan cukup curam. Pemandangan di atas balkon lantai atas memang sangat memukau dengan kabut yang mengelilingi bangunan ini. Di kejauhan tampak tempat penyimpanan kandang kuda raja dan Turkish bath serta kompleks kuil shiva Panchmukhi Mahadeva. Sudut mata saya menangkap sebuah bangunan dua lantai yang dinamakan Rai Praveen Mahal , dikelilingi oleh taman  Anand Mahal di sekitarnya. Pemandu saya segera menjawab rasa keingintahuan saya dengan menjelaskan siapa Rai Praveen yang dimaksud ini. Lambat laun terungkaplah sebuah kisah cinta yang menyertai sosok ini. Praveen adalah seorang penari istana yang sangat terkenal kecantikan dan bakatnya bahkan dalam hal berpuisi, berkuda, dan memainkan alat musik. Selain sebagai penari, ia juga merupakan istri dari Raja Indrajit Singh yang memerintah di abad ke-16. Bangunan Praveen Mahal ini dibangun olehnya sebagai lambang cintanya terhadap Rai Praveen. Lukisan di dinding melukiskan Rai Praveen dalam berbagai gaya dan ungkapan emosi. Sedemikian tersohornya kabar kecantikan Rai Praveen, sehingga menarik perhatian raja Jehangir dari Mughal untuk memperisterinya dan menaruhnya di harem. Saat itu Indrajit sangat tidak berdaya, sehingga Rai Praveen akhirnya mendatangi  sendiri istana Mughal untuk menemui Jehangir demi menyelamatkan Orchha. Pada kesempatan itu Praveen mengungkapkan isi hatinya dalam puisi. Puisi itu menggambarkan bahwa ia hanyalah seorang kasta terendah dalam Hindu. Raja Jehangir yang memang seorang yang bijak dapat menangkap kegelisahan Rai Praveen dalam puisinya. Ia pun menghargai keinginan Praveen dan membiarkannya kembali ke Orchha dengan penuh rasa hormat. Raj Praveen Mahal akhirnya bukan hanya sebuah monumen belaka, namun perwujudan kesetiaan seorang isteri terhadap suaminya. </p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/nina_orccha05.jpg?w=960" alt="Rai Praveen Mahal." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Rai Praveen Mahal.</span></p>
<p>Kisah cinta Praveen tidak menghentikan langkah saya menyusuri kompleks ini lebih lanjut. Sheesh Mahal adalah bangunan yang masih merupakan bagian dari Jehangir Mahal yang sudah berubah fungsi menjadi hotel. Wow, ada hotel di dalam sebuah benteng, saya tidak dapat membayangkan sensasinya seperti apa bermalam di sana. Kuil Raja Ram Nadir merupakan satu-satunya kuil yang menyembah Ram sebagai raja. Raja Madhukar Singh terkenal sebagai pemuja Krishna, sedangkan istrinya Ganeshi Bai sangat memuja Ram. Lagi-lagi pemandu saya membuai saya dengan legenda mengenai asal muasal nama tempat ini. Alkisah Madhukar Singh sering meledek dan membujuk istrinya untuk juga menyembah Krishna. Hal ini berbuah pertengkaran yang menyebabkan sang istri diam-diam pergi ke Ayodhya untuk menemui Ram dan dibawa ke Orchha. Sesampai di Ayodhya, Ram bersedia ikut dengannya namun mengajukan tiga persyaratan. Pertama, ia bersedia pergi ke Orchha dalam bentuk bayi. Kedua, sesampainya di Orchha, ia akan menjadi raja di sana. Dan terakhir bila muncul Pushya Nakshatra (zodiak ke-9 dari 27 zodiak dlm astrologi Hindu), ia akan selamanya bersemayam di tempat ia berada. Ratu tentu saja mengiyakan semua persyaratan ini dan dengan gembira membawa Ram ke Orchha. Sementara itu Madhukar bermimpi tentang Krishna yang menyuruh dirinya untuk tidak membeda-bedakan antara dirinya dan Ram, oleh karena kedua sosok ini sebenarnya adalah perwujudan yang sama. Setelah sang ratu kembali, Madhukar menghadiahinya berbagai hal sebagai wujud permintaan maaf. Hal ini ditolak mentah-mentah oleh ratu yang memilih berdiam di dalam kamarnyadi dalam istana sambil berniat akan membawa bayi Ram ke Chatturbuj keesokan harinya. Namun ternyata takdir berkata lain. Malam itu terjadilah Pushya Nakshatra, sehingga bayi Ram pun bertransformasi dan melebur ke dalam sosok istana. Sebagai janji ratu pada Ram, istana tersebut akhirnya dinamakan Ram Raj Nadir, sebuah istana dan sebuah kuil yang memuja Ram.  </p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/nina_orccha03.jpg?w=960" alt="Chaturbhuj Monastery of Orchha." class="full" data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Chaturbhuj Monastery of Orccha.</span></p>
<p>Chaturbhuj Monastery Orchha yang terletak di kawasan sebelah barat ini sudah menarik perhatian saya semenjak datang. Sosoknya yang tinggi menjulang di atas bukit mengingatkan saya akan salah satu gereja katedral bergaya Eropa di Goa. Amatlah kaget waktu saya mengetahui bahwa ini adalah sebuah kuil Hindu yang awalnya diperuntukan untuk &#8220;menyimpan&#8221; Dewa Ram. Arti kata Chaturbhuj adalah seseorang berlengan empat, yang tentu saja merefleksikan Dewa Wisnu. Bangunan batu ini tampak sepi dari ornamen, kecuali tampak gambaran lotus yang terbenam di bagian eksteriornya. Untuk memasukinya, kita harus menaiki beberapa rangkaian anak tangga namun tidak terjal. Bangunan ini memang sangat unik dengan menara yang berbentuk lancip selayaknya gereja. Senter amat diperlukan karena pada siang haripun area dalam bangunan gelap dan tampak kotoran kelewar di sana-sini. Menilik arsitekturnya yang berbeda, amat pantas bila bangunan ini adalah sosok perhatian utama dibanding bangunan lain di Orchha. </p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/nina_orccha02.jpg?w=500" alt="Raaj Mahal." data-recalc-dims="1" /><br />
<span class="caption">Raaj Mahal.</span></p>
<p>Kuil Lakshmi Narayan merupakan bangunan unik yang merupakan perpaduan antara benteng dan kuil dan keharmonisan gaya Bundela dan Mughal. Dindingnya secara rapi tertata lukisan yang indah. Bangunan ini didedikasikan untuk menyembah dewi Lakshmi, walau hingga kini tidak spesifik Dewa mana yang disembah di sini. </p>
<p>Orchha juga dikelilingi bangunan seperti kuil kecil yang disebut chhatris yang terletak di sepanjang sungai Betwan. Bangunan ini berjumlah sekitar 14 buah dan merupakan bangunan dasar dari arsitektur Hindu dengan gaya Mughal. Namun demikian, di balik sosoknya yang berwarna kecoklatan dengan atap runcingnya, keberadaannya di balik kabut dan refleksinya pada permukaan air menambah sisi melankolis dari sungai Betwan itu sendiri.</p>
<p>Satu hal yang saya sadari dari akhir perjalanan ini adalah bahwa Orchha bukanlah kumpulan arsitektur bangunan kuno belaka, namun sebuah kota yang setiap dindingnya punya cerita; yang setiap lukisannya merefleksikan sebuah budaya dimana dongeng tentang persahabatan, cinta, pengorbanan, pengkhianatan, dan mitos seakan bersuara dari setiap sudut monumen yang ada&#8230;</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 20/02/2012</li>
</ul>
</div>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/4F_qeA7i_L0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/sebuah-puisi-tersembunyi-di-madhya-pradesh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/catatan/sebuah-puisi-tersembunyi-di-madhya-pradesh/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pacu Adrenalin ke Puncak Bromo</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/3srZO_o751E/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/pacu-adrenalin-ke-puncak-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2013 01:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setepanus Edi Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3639</guid>
		<description><![CDATA[Pandangan saya berkeliling. Di depan saya adalah samudera pasir yang seperti hamparan gurun tak bertepi. Bisikan pasirnya sampai di telinga seolah mengucapkan salam. Di sisi kanan, pelangi menyapa seakan mengucapkan selamat datang. Saya berdiri mematung, memandang puncak Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu.

<em>Hardtop</em> tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, karena terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan. Untuk naik, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Ongkos naik kuda sendiri sangat variatif. Ada yang menawarkan Rp50.000, ada yang Rp70.000, bahkan ada yang menawarkan ongkos Rp100.000. Namun, bila ingin lebih dalam menikmati sensasinya, berjalan kaki menjadi pilihan yang tepat. Sambil berjalan, resapi pemandangan yang indah dengan latar belakan gunung Semeru yang selalu mengeluarkan asap raksasa secara berkala. Telusuri tiap jengkalnya!

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo05.jpg" alt="Patahan kawah Gunung Bromo." class="full" /> <span class="caption">Patahan kawah Gunung Bromo.</span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pandangan saya berkeliling. Di depan saya adalah samudera pasir yang seperti hamparan gurun tak bertepi. Bisikan pasirnya sampai di telinga seolah mengucapkan salam. Di sisi kanan, pelangi menyapa seakan mengucapkan selamat datang. Saya berdiri mematung, memandang puncak Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu.</p>
<p><em>Hardtop</em> tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, karena terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan. Untuk naik, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Ongkos naik kuda sendiri sangat variatif. Ada yang menawarkan Rp50.000, ada yang Rp70.000, bahkan ada yang menawarkan ongkos Rp100.000. Namun, bila ingin lebih dalam menikmati sensasinya, berjalan kaki menjadi pilihan yang tepat. Sambil berjalan, resapi pemandangan yang indah dengan latar belakan gunung Semeru yang selalu mengeluarkan asap raksasa secara berkala. Telusuri tiap jengkalnya!</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo05.jpg?w=960" alt="Patahan kawah Gunung Bromo." class="full" data-recalc-dims="1" /> <span class="caption">Patahan kawah Gunung Bromo.</span></p>
<p>Udara dingin memaksa saya melilitkan syal di leher, menarik rapat-rapat kancing jaket dan sarung tangan. Mengenakan pakaian tebal, saya, dan beberapa kawan menuju kawah Bromo. Memang Gunung yang terletak 2.392 meter di atas permukaan laut ini terkenal memiliki hawa yang sangat dingin mencapai 10 sampai 0 derajat celcius. </p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo07.jpg?w=960" alt="Sinar matahari yang terik." class="full" data-recalc-dims="1" /> <span class="caption">Sinar matahari yang terik.</span></p>
<p>Awalnya saya begitu bersemangat lantaran kontur yang dilalui landai. Tapi setelah berapa lama, rasanya kaki semakin berat diajak melangkah. Medan berundak-undak naik turun, ditambah dengan sinar matahari yang terik menerpa kulit dan tiupan angin yang membuat pasir berterbangan.</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo06.jpg?w=960" alt="Medan berundak-undak naik turun." class="full" data-recalc-dims="1" /><span class="caption">Medan berundak-undak naik turun.</span></p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo04.jpg?w=960" alt="Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga." class="full" data-recalc-dims="1" /><span class="caption">Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga.</span></p>
<p>Hal yang paling mengganggu saat berjalan menuju kawah Gunung Bromo adalah debu. Debunya sangat banyak dari bekas pengunjung lain yang berjalan, bekas kuda, atau debu yang terkena angin. Jadi, jangan lupa menggunakan kacamata dan penutup hidung agar debu tak mengganggu Anda. Kita juga harus hati-hati dengan kotoran kuda yang banyak berserakan di jalan, jangan sampai terinjak. Beberapa kali saya berhenti sekadar istirahat mengatur napas, hingga akhirnya sampailah di dasar ujung tangga menuju kawah Gunung Bromo. Di titik ini adalah tempat melepas lelah kita terakhir, sebelum menaiki ratusan anak tangga untuk sampai bisa dibibir kawah. Saya menyempatkan membeli secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh.</p>
<p>Konon katanya jumlah tangga di tempat ini berubah–ubah jika dihitung. Tapi sebaiknya, nikmati saja perjalanan pendakian ini daripada menghitung  dan mengkalkulasikan jumlah anak tangga. Dengan degup jantung yang agak kencang dan langkah berat satu demi satu anak tangga berhasil dilalui. Ada yang memberi strategi untuk setengah berlari karena akan lebih cepat dan tidak terasa tekanan di tulang lutut. Ini berhasil, buktinya rekan saya sudah sampai ke puncak, sementara saya masih tertinggal di belakang dengan napas tersengal-sengal. Perjalanan menuju Puncak Bromo, memang bukanlah perjalanan yang mudah. Apalagi anak tangga dipenuhi debu pasir yang cukup licin, membuat pengunjung harus ekstra hati-hati. </p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo03.jpg?w=960" alt="Pemandangan dari atas kawah." class="full" data-recalc-dims="1" /> <span class="caption">Pemandangan dari atas kawah.</span></p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo02.jpg?w=960" alt="Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri." class="full" data-recalc-dims="1" /><span class="caption">Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.</span></p>
<p>Tapi seakan tak kenal lelah, kaki saya terus melangkah. Mendebarkan sekaligus memesona. Sensasi itulah yang terasa saat saya harus menaiki ratusan anak tangga ini. Perjuangan tidak berhenti, saya harus meniti jalan sempit yang berbatasan dengan kawah. Sungguh memacu adrenalin. Pengunjung berjejal di bibir kawah, tanpa ada pengaman. Ini yang membuat kawan saya lainnya tepar menyerah pada kondisi. </p>
<p>Hingga akhirnya, rasa pegal kedua kaki tertebus dengan pemandangan begitu indah dan spektakuler dari Puncak Bromo. <em>Trekking</em> yang melelahkan seolah terbayar lunas, letih pun sirna seketika. Saya berhasil menaklukan Puncak Bromo, objek yang telah mendunia dan popularitasnya di Jawa Timur menduduki peringkat pertama. Sesampainya di Puncak Bromo, saya dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap dari dekat. Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri. </p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/setep_bromo01.jpg?w=960" alt="Pelangi menyapa." class="full" data-recalc-dims="1" /><span class="caption">Pelangi menyapa.</span></p>
<p>Selain mengamati kawah Bromo, saya juga menyaksikan keindahan Gunung Batok yang persis berada di sebelah Gunung Bromo. Jika melayangkan pandangan kebawah, kita juga bisa menyaksikan pengunungan di sekitar yang memagari lautan pasir yang menghijau dan terdapat sebuah pura di tengahnya. Pura Poten. Sebuah pura milik masyarakat Suku Tengger yang terletak di tengah lautan pasir gunung Bromo. Sangat indah. Benar-benar pemandangan luar biasa, sulit buat kamera untuk menceritakannya selain dengan sepasang mata. Di atas ini, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Ilahi.</p>
<p>Tunggu apa lagi? Siap bertualang dan pacu adrenalin anda!</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 20/02/2012</li>
</ul>
</div>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/3srZO_o751E" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/pacu-adrenalin-ke-puncak-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/catatan/pacu-adrenalin-ke-puncak-bromo/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menyambut Pagi di Lok Baintan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/e8sjS27IcKg/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/catatan/menyambut-pagi-di-lok-baintan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2013 01:03:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aziz Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3608</guid>
		<description><![CDATA[Sesaat setelah menunaikan ibadah sholat subuh, saya melawan dinginnya kota Banjarmasin dengan sepeda motor untuk menjemput teman saya yang bernama Nurul menuju warung soto banjar Bang Amat, dimana perahu sewaan kami atau yang biasa disebut orang Banjar “kelotok” menunggu. Sesampainya di warung soto banjar Bang Amat, teman kami satu lagi bernama Micah telah menunggu bersama kelotok yang sudah kami pesan sehari sebelumnya seharga Rp200.000. Kelotok yang dapat menampung hingga sepuluh orang tersebut memang terlalu besar untuk kami bertiga, namun tidak ada pilihan lain karena kami tidak mempunyai rombongan sebesar itu. Jadilah kami bertiga naik ke kelotok tersebut dan siap melihat keunikan pasar terapung Lok Baintan.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/aziz_lokbaitan01.jpg" alt="Pasar Terapung" class="full">
<span class="caption">Pasar terapung.</span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sesaat setelah menunaikan ibadah sholat subuh, saya melawan dinginnya kota Banjarmasin dengan sepeda motor untuk menjemput teman saya yang bernama Nurul menuju warung soto banjar Bang Amat, dimana perahu sewaan kami atau yang biasa disebut orang Banjar “kelotok” menunggu. Sesampainya di warung soto banjar Bang Amat, teman kami satu lagi bernama Micah telah menunggu bersama kelotok yang sudah kami pesan sehari sebelumnya seharga Rp200.000. Kelotok yang dapat menampung hingga sepuluh orang tersebut memang terlalu besar untuk kami bertiga, namun tidak ada pilihan lain karena kami tidak mempunyai rombongan sebesar itu. Jadilah kami bertiga naik ke kelotok tersebut dan siap melihat keunikan pasar terapung Lok Baintan.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/aziz_lokbaitan01.jpg?w=960" alt="Pasar Terapung" class="full" data-recalc-dims="1"><br />
<span class="caption">Pasar terapung.</span></p>
<p>Pasar terapung Lok Baintan adalah pasar terapung yang direkomendasikan Nurul sebagai orang Banjar asli karena pasar terapung ini berbeda dengan pasar terapung Kuin yang berada di aliran sungai Barito. Pasar terapung Lok Baintan berada di aliran Sungai Martapura dan kata Nurul, pasar terapung ini lebih sepi dan lebih tradisional karena sebagian besar wisatawan berkunjung ke pasar terapung Kuin yang telah terkenal.</p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/aziz_lokbaitan03.jpg?w=960" alt="Pasar Terapung" class="full" data-recalc-dims="1"/><br />
<span class="caption">Pasar terapung dari sisi lain.</span></p>
<p>Perjalanan dimulai dari warung soto banjar Bang Amat menuju ke pasar terapung Lok Baintan yang memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan kami berkejaran dengan terbitnya sang fajar yang menembus kabut pagi di Sungai Martapura. Kami dapat menikmati pemandangan aktifitas pagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai serta bersamaan dengan para penjual pasar terapung yang muncul dari berbagai anak sungai menuju arah yang sama dengan kami.</p>
<p>Kami datang lebih awal sehingga lokasi pasar terapung masih terbilang sepi. Tidak lama kemudian kami dapat melihat para pedagang dan pembeli berdatangan satu persatu dari balik kabut pagi yang masih menemani. Transaksi jual beli di pasar terapung ini sebagian besar dilakukan oleh para perempuan, mulai dari seorang ibu yang mendayung kelotok bersama anaknya yang berusia sekitar lima tahun hingga ibu-ibu lanjut usia yang sekedar ingin bercengkerama dengan teman sebaya mereka.</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/aziz_lokbaitan05.jpg?w=960" alt="Bercengkerama di atas Kelotok" class="full" data-recalc-dims="1" /> <span class="caption">Bercengkerama di atas Kelotok.</span></p>
<p>Bahan makanan yang dijual di pasar ini tidak selalu sama setiap harinya karena para penjual di sini langsung menjual sayuran, buah-buahan, serta bahan makanan lainnya langsung dari kebun mereka masing-masing. Saat kami berkunjung ke pasar terapung ini ternyata sedang musim pisang dan jeruk, sehingga begitu banyak pedagang yang menjajakan buah-buahan tersebut. Selain sayuran dan buah-buahan terdapat pula kue basah khas banjar yang sangat cocok untuk dimakan di pagi hari. Pembayaran di pasar ini sebagian masih melakukan transaksi berupa barter dan sebagian lagi menggunakan uang.</p>
<p>Hanya sekitar satu sampai dua jam para penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli di pasar terapung ini. Setelah membeli beberapa kue basah serta sekantong jeruk kami pun pulang bersamaan dengan para pedagang dan penjual yang satu persatu meninggalkan lokasi pasar terapung Lok Baintan tersebut. Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan untuk mampir ke jembatan gantung Lok Baintan yang bertempat tidak jauh dari pasar terapung Lok Baintan.</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/aziz_lokbaitan04.jpg?w=960" alt="Jembatan Gantung Lok Baintan" class="full" data-recalc-dims="1" /> <span class="caption">Jembatan Gantung Lok Baintan.</span></p>
<p>Jembatan gantung Lok Baintan memang tidak terlalu modern dan megah namun kesederhanaan inilah yang membuat saya tertarik untuk melihatnya lebih dekat. Ketika pagi hari seperti saat kami datang, dari atas jembatan ini kami dapat melihat lalu-lalang para pelajar menyebrangi sungai menuju sekolah serta para pekerja yang melewati jembatan yang apabila dilewati sepeda motor akan bergoyang. Suasana sederhana seperti inilah yang jarang saya temukan di kota besar seperti Jakarta.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/aziz_lokbaitan02.jpg?w=960" alt="Soto Banjar" class="full" data-recalc-dims="1"/><br />
<span class="caption">Soto Banjar.</span></p>
<p>Akhirnya kami sampai kembali ke warung soto banjar Bang Amat yang juga merupakan akhir dari perjalanan kami. Sepertinya sangat tepat waktu saat kami tiba di warung soto ini, saat itu pula waktu sarapan pagi. Kami segera memesan soto banjar yang mempunyai kuah bening dengan irisan telur bebek dan suwiran daging ayam. Makan soto banjar dengan pemandangan lalu lalang kelotok sungai Martapura serta pikiran yang merangkum seluruh perjalanan membuat pagi itu begitu sempurna. </p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 20/02/2012</li>
</ul>
</div>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/e8sjS27IcKg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/catatan/menyambut-pagi-di-lok-baintan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/catatan/menyambut-pagi-di-lok-baintan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Raja Ampat</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/y2ljaRRrVZ8/</link>
		<comments>http://ranselkecil.com/foto/raja-ampat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2013 07:21:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Diana Suciawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ranselkecil.com/?p=3613</guid>
		<description><![CDATA[Lelahnya karena perjalanan dari tepat pukul 12.00 WIB dini hari tadi pagi hingga sore ini ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIT terbayar sudah. Saya sekarang berada di salah satu tempat impian saya: Raja Ampat, Indonesia.

Setelah cukup beristirahat, saya dan teman seperjalanan mulai menjelajahi kepulauan ini pada hari berikutnya.

<img src="http://ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat02.jpg" alt="Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya..." class="full" />

Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Lelahnya karena perjalanan dari tepat pukul 12.00 WIB dini hari tadi pagi hingga sore ini ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIT terbayar sudah. Saya sekarang berada di salah satu tempat impian saya: Raja Ampat, Indonesia.</p>
<p>Setelah cukup beristirahat, saya dan teman seperjalanan mulai menjelajahi kepulauan ini pada hari berikutnya.</p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat01.jpg?w=960" alt="Saya sedang tengah tertidur di kapal ketika teman-teman berteriak, &quot;Pelangi!&quot; Setelah mencari sesaat, saya menemukannya tengah malu-malu bersembunyi di balik awan, di batas horizon." class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Saya sedang tengah tertidur di kapal ketika teman-teman berteriak, &#8220;Pelangi!&#8221; Setelah mencari sesaat, saya menemukannya tengah malu-malu bersembunyi di balik awan, di batas horizon.</p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat02.jpg?w=960" alt="Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya..." class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya&#8230;</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat03.jpg?w=960" alt="Setelah menambatkan tali kapal, kami turun dan melewati dermaga berpagar merah. " class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Setelah menambatkan tali kapal, kami turun dan melewati dermaga berpagar merah.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat04.jpg?w=960" alt="Kami terus melangkah dengan riang walau matahari bersinar terik tanpa ampun, karena kami tahu, kami sedang berada di salah satu surga di Indonesia. " class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Kami terus melangkah dengan riang walau matahari bersinar terik tanpa ampun, karena kami tahu, kami sedang berada di salah satu surga di Indonesia.</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat05.jpg?w=960" alt="Melewati pagar biru di pulau cantik ini, kami mencari penduduk yang biasa membuat kerajinan tangan anyaman khas pulau ini. " class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Melewati pagar biru di pulau cantik ini, kami mencari penduduk yang biasa membuat kerajinan tangan anyaman khas pulau ini.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat06.jpg?w=960" alt="Kami lalu bertemu dengan Mama Maria, yang sedang menganyam topi. Berbagai kerajinan yang tersedia berupa tas, topi, tempat buku, dan lainnya, mulai dari harga Rp100.000 hingga Rp350.000 per buah. " class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Kami lalu bertemu dengan Mama Maria, yang sedang menganyam topi. Berbagai kerajinan yang tersedia berupa tas, topi, tempat buku, dan lainnya, mulai dari harga Rp.100.000 hingga Rp.350.000 per buah.</p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat07.jpg?w=960" alt="Sambil melihat para Mama menganyam, aku tersenyum melihat adik kecil yang tengah berbaring manja di kaki Mamanya ini..." class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Sambil melihat para ibu menganyam, aku tersenyum melihat adik kecil yang tengah berbaring manja di kaki ibunya ini&#8230;</p>
<p><img src="http://i1.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat08.jpg?w=960" alt="Sembari menunggu, aku melihat ke halaman. " class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Sembari menunggu, aku melihat ke halaman. Ya, ampun!</p>
<p><img src="http://i2.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat09.jpg?w=960" alt="Ah, kalau adik satu yang satu ini pasti baru saja dikeroyok temannya dengan pasir." class="full" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Ah, kalau adik satu yang satu ini pasti baru saja dikeroyok temannya dengan pasir.</p>
<p><img src="http://i0.wp.com/ranselkecil.com/wp-content/uploads/2013/02/diana_rajaampat10.jpg?w=960" alt="Tak lama kemudian, topi pesanan kami sudah selesai. &quot;Terima kasih, Mama!&quot; Sampai jumpa lagi, Pulau Arborek. Kami pasti kembali lagi." class="full" data-recalc-dims="1" /> </p>
<p>Tak lama kemudian, topi pesanan kami sudah selesai. &#8220;Terima kasih, Mama!&#8221; Sampai jumpa lagi, Pulau Arborek. Kami pasti kembali lagi.</p>
<div class="footnotes">
<ul>
<li>Disunting oleh SA 18/02/2013</li>
</ul>
</div>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ranselkecil/~4/y2ljaRRrVZ8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ranselkecil.com/foto/raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://ranselkecil.com/foto/raja-ampat/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
